Anda di halaman 1dari 117

MAKALAH

“LAPORAN AUDIT DAN PENUGASAN ASURANS AUDIT”

Disusun untuk memenuhi tugas terstruktur


Mata Kuliah Pemeriksaan Akuntansi I
Dosen Pengampu: Enung Nurhayati, S.E., M. Si., Ak., CA.

Disusun Oleh :
Kelompok 13
1. Erika Agustina (20170610105)
2. Inka Alifia (20170610141)
3. Ririn Novita (20170610031)

Kelas : Akuntansi 3A

PRODI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS KUNINGAN
Jl. Tjut Nyak Dhien No. 36A Cijoho Kuningan
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan
karunia kepada kami sehingga kami senantiasa dapat menyelesaikan makalah ini
dengan tepat waktu. Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada dosen mata
kuliah Pemeriksaan Akuntansi I yang telah memberikan pengajaran kepada kami,
serta kepada teman-teman yang membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Kami harap makalah ini dapat berguna terutama bagi mahasiswa yang
mengambil mata kuliah Pemeriksaan Akuntansi I, baik yang ada di luar maupun
di dalam lingkup Universitas Kuningan. Makalah ini juga dapat digunakan
sebagai referensi tambahan bagi kalangan pelajar dan mahasiswa. Namun, kami
menyadari sepenuhnya makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih
banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Oleh karena itu, kami
mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun untuk menyempurnakan
makalah ini.
Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Kuningan, 16 Desember 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................... ii
DAFTAR ILUSTRASI..................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................1
1.1 Latar Belakang............................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................3
1.3 Tujuan Penulisan ........................................................................................ 3

BAB II LANDASAN TEORI .......................................................................... 5

2.1 Elemen – Elemen Dasar dari Laporan Auditor ......................................... 5


2.2 Tipe – Tipe Laporan yang Menyatakan Opini Audit ................................. 19
2.3 Penekanan terhadap Paragraf Permasalahan .............................................. 34
2.4 Situasi – Situasi yang dapat Menghasilkan Opini Selain dari Opini yang
Tidak Dimodifikasi ................................................................................... 43
2.5 Ketidakpastian yang Mengarah ke Kualifikasi Opini ................................ 47
2.6 Komunikasi dengan Pihak – Pihak yang Bertanggung Jawab atas Tata
Kelola ........................................................................................................ 49
2.7 Laporan Audit Bentuk Panjang .................................................................. 57
2.8 Surat Manajemen ....................................................................................... 59
2.9 Penugasan – Penugasan Area Tertentu ...................................................... 61
2.10 Penugasan Reviu ...................................................................................... 68
2.11 Penugasan Asurans Selain Audit atau Reviu atas Informasi Keuangan
Historis (ISEA 3000-3688) ....................................................................... 71
2.12 Jasa – Jasa yang Terkait ........................................................................... 99
BAB III RINGKASAN JURNAL YANG RELEVAN ................................... 105
3.1 Latar Belakang ........................................................................................... 105
3.2 Metode Penelitian....................................................................................... 106
3.3 Kesimpulan ................................................................................................ 106
3.4 Kelebihan Penelitian .................................................................................. 107
3.5 Kekurangan Penelitian ............................................................................... 107

ii
BAB IV PENUTUP ......................................................................................... 108
4.1 Kesimpulan ................................................................................................ 108
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 111

iii
DAFTAR ILUSTRASI

1.1 Pernyataan atas Laporan Keuangan Schlumberger oleh Pejabat Perusahaan 7


1.2 Laporan Auditor atas Laporan Keuangan yang Disajikan Berdasarkan
Kerangka Penyajian Wajar yang Dirancang untuk Memenuhi Kebutuhan
Informasi Keuangan Secara Umum bagi Beragam Pengguna ...................... 9
1.3 Contoh Laporan yang Tidak Dimodifikasi untuk Perusahaan Amerika Serikat
Wal-Mart Store, Inc. ...................................................................................... 18
1.4 Laporan Auditor Independen dengan Opini Wajar dengan Pengecualian
karena Ketidakmampuan untuk Memperoleh Kecukupan Bukti Audit yang
Memadai ........................................................................................................ 23
1.5 Laporan Auditor Independen dengan Opini Tidak Wajar Berdasarkan Prinsip-
Prinsip Akuntansi yang Berterima Umum (Generally Accepted Accounting
Principles) ...................................................................................................... 26
1.6 Laporan Auditor Independen dengan Opini Menolak Memberikan Opini
karena Auditor Tidak Mampu Memperoleh Kecukupan Bukti Audit yang
Memadai Terkait Banyak Elemen di dalam Laporan Keuangan ................... 30
1.7 Laporan Auditor Independen Wajar Tanpa Pengecualian (Unqualified
Opinion) dengan Penekanan Wajib terhadap Permasalahan karena
Ketidakpastian Penting yang terkait dengan Ketepatan Prinsip Keberlanjuian
Usaha.............................................................................................................. 37
1.8 Laporan Audit yang Tidak Dimodifikasi untuk Wal-Mart Tahun 2011 ........ 40
1.9 Laporan Audit untuk Apple, lnc. Tahun 2008 ............................................... 41
1.10Bentuk Contoh Laporan untuk Laporan Keuangan yang Disajikan
Berdasarkan Kerangka Kerja Bertujuan Khusus ........................................... 63
1.11 Bentuk Laporan Reviu dengan Opini Wajar Tanpa Pengecualian ............... 70
1.12 Contoh-Cont0h Laporan Keuangan Prospektif ............................................. 77
1.13Ilustrasi Laporan yang Menyatakan Opini Wajar Tanpa Pengecualian terkait
Pengendalian Internal atas Pelaporan Keuangan (Laporan secara Terpisah) 80
1.14 Contoh Laporan Tertulis dari Manajemen ................................................... 82

iv
1.15Laporan Asurans yang Terbatas dan independen mengenal Pelaporan yang
Berkelanjutan ................................................................................................ 88

v
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Laporan audit sangat singkat karena terdiri tidak lebih dari beberapa
baris. Oleh karena laporan tersebut cukup singkat, pihak-pihak yang tidak
memiliki pengetahuan dalam pengauditan dapat menggambarkannya sebagai
bentuk laporan yang memerlukan sedikit lebih banyak formalitas hukum yang
mengurangi substansinya. Hal ini merupakan paradoks karena laporan audit,
meskipun hanya memuat beberapa kata, memerlukan banyak perhatian dan
merupakan penyempurnaan dari proses audit yang ketat dan panjang.
Sebagai ilustrasi dari panjangnya proses yang kemudian berkurang
menjadi beberapa kata, sebuah studi di Amerika Serikat menemukan bahwa
dalam setahun, kantor akuntan publik berskala global dengan lima klien
terbesar memerlukan rata-rata waktu pekerjaan audit selama 128.000 jam per
klien. Pekerjaan audit ini menghasilkan laporan eksternal yang memuat hanya
175 kata atau kurang. Baru-baru ini, opini audit menjadi lebih panjang, tetapi
tetap lebih sedikit dari 300 kata. Ada pihak yang kemudian menyimpulkan
bahwa untuk mendapatkan beberapa kata, banyak waktu yang diperlukan
untuk melakukan pekerjaan audit, sehingga akuntan seakan-akan harus
menjadi penyair. Kemungkinan lainnya, cukup singkatnya laporan ini tidak
mendapatkan perhatian dari para pengguna laporan keuangan. Penulis dari
studi yang sama menyatakan bahwa investor yang cemas tidak ingin
mencampuradukkan daftar panjang dari pekerjaan yang dilakukan dengan
temuan-temuan yang didapatkan secara terinci (bayangkan seberapa
panjangnya laporan yang akan dibuat setelah waktu 128.000 jam yang
dihabiskan untuk melakukan pekerjaan audit tersebut) ketika pesan terakhir
adalah "OK, tidak apa-apa.”
Namun, selain laporan audit eksternal yang cukup ringkas ini, auditor
diharapkan dapat menangani sejumlah permasalahan terkait akuntansi dan
pengauditan secara lebih ekstensif dalam laporan audit bentuk panjang. Baru-

1
baru ini juga, International Auditing and Assurance Standards Board
(IAASB), Public Company Accounting Oversight Board (PCAOB) Amerika
Serikat, dan lembaga-lembaga lainnya sedang memikirkan bentuk laporan
yang lebih panjang dan terperinci dalam waktu dekat.

International Standards on Auditing (ISA) menjelaskan konsep-konsep


utama yang berlaku untuk audit atas laporan keuangan dan penugasan area-
area tertentu.
International Standards for Review Engagements (ISRE) dapat
digunakan saat melakukan reviu atas informasi keuangan historis. Terdapat
dua standar untuk penugasan reviu: 2400, "Penugasan untuk Melakukan
Reviu Laporan Keuangan" dan 2410, "Reviu atas Informasi Keuangan
Interim yang Dilakukan olch Auditor Entitas yang Independen."
International Standard on Assurance Engagements (ISAE) 3000,
"Penugasan Asurans Selain Audit atau Reviu atas Informasi Keuangan
Historis" menjelaskan konsep-konsep yang berlaku untuk jasa-jasa asurans
yang pokok tugasnya tidak terkait dengan informasi keuangan historis.
Standar-standar ISAE dikelompokkan ke dalam dua bagian, yakni: (1) ISAE
3000- 3399, yang mana topik-topiknya dapat digunakan untuk seluruh
penugasan asurans, dan (2) ISAE 3400-3699, yang meajadi subjek dari
standar-standar tertentu, seperti standar-standar yang berkaitan dengan
pemeriksaan terhadap informasi keuangan yang prospektif dan laporan
keberlanjutan.
Penugasan-penugasan yang dicakup di dalam International Standards on
Related Services (ISRS) didasarkan pada "Kerangka Kerja Jasa-Jasa yang
Terkait." Standar-standar berdasarkan kerangka kerja ini (ISRS) baru-baru ini
diterapkan pada dua tipe jasa yang terkait, yakni: prosedur yang disepakati
(ISRS 4400) dan kompilasi (ISRS 4410) tertentu.

2
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa sajakah elemen-elemen dasar dari laporan auditor?
2. Apa sajakah tipe-tipe laporan yang menyatakan opini audit?
3. Bagaimanakah penekanan terhadap paragraf permasalahan?
4. Apa sajakah situasi-situasi yang dapat menghasilkan opini selain dari opini
yang tidak dimodifikasi?
5. Apa sajakah ketidakpastian yang mengarah ke kualifikasi audit?
6. Bagaimanakah komunikasi-komunikasi dengan pihak-pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola?
7. Apa yang dimaksud dengan laporan audit bentuk panjang?
8. Apa yang dimaksud dengan surat manajemen?
9. Apa sajakah penugasan-penugasan area tertentu?
10. Apa itu penugasan reviu?
11. Apa sajakah penugasan asurans selain audit atau reviu atas informasi
keuangan historis?
12. Apa sajakah jasa-jasa yang terkaitnya?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Mampu untuk memahami elemen-elemen dasar dari laporan auditor
2. Mampu untuk memahami tipe-tipe laporan yang menyatakan opini audit
3. Mampu untuk memahami penekanan terhadap paragraf permasalahan
4. Mampu untuk memahami situasi-situasi yang dapat menghasilkan opini
selain dari opini yang tidak dimodifikasi
5. Mampu untuk memahami ketidakpastian yang mengarah ke kualifikasi
audit
6. Mampu untuk memahami komunikasi-komunikasi dengan pihak-pihak
yang bertanggung jawab atas tata kelola
7. Mampu untuk memahami rincian yang dimuat dalam laporan audit bentuk
panjang
8. Mampu untuk memahami isi dari surat manajemen
9. Mampu untuk memahami penugasan area-area tertentu

3
10. Mampu untuk memahami apa yang dimaksud dengan penugasan reviu
11. Mampu untuk memahami penugasan asurans selain audit atau reviu atas
informasi keuangan historis
12. Mampu untuk memahami jasa-jasa yang terkait dalam penugasan audit

4
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Elemen-Elemen Dasar dari Laporan Auditor


ISA 700, "Membentuk Opini dan Melaporkannya atas Laporan
Keuangan," menyatakan bahwa: "Auditor harus mengevaluasi apakah laporan
keuangan telah disiapkan, dalam seluruh hal yang bersifat material,
berdasarkan ketentuan yang tercantum dalam kerangka pelaporan keuangan
yang berlaku. Evaluasi ini harus menyertakan pertimbangan atas aspek-aspek
kualitatif dari praktik akuntansi entitas, termasuk indikator-indikator adanya
kemungkinan bias dalam penilaian manajemen.” Laporan auditor harus
memuat pernyataan opini vang tertulis jelas atas laporan keuangan secara
keseluruhan.
Dalam buku ini di edisi pertama dan edisi kedua, laporan auditor (opini
auditor) memiliki format yang berbeda. Format tersebut berlaku secara umum
di seluruh dunia. Namun, kami saat ini telah memiliki format baru
sebagaimana yang diatur dengan ISA 700 dan format ini berbeda dari format
yang digunakan di beberapa negara. Format tersebut akan ditetapkan dengan
standar ISA dalam waktu dekat, akan tetapi saat ini organisasi terkait standar
audit di dunia sedang berusaha untuk memberikan format yang akan
memberikan informasi yang lebih banyak mengenai proses audit bagi para
pengguna laporan auditor. Sebagai contoh PCAOB di Amerika Serikat telah
mengeluarkan konsep yang ditujukan untuk mengumpulkan komentar publik
terkait potensi arahan dari proyek penetapan standar yang diajukan atas isi
dan bentuk laporan untuk laporan keuangan auditan.

2.1.1 Isi dari Laporan Auditor


Laporan auditor harus dibuat secara tertulis dan mencakup elemen-
elemen dasar berikut yang akan didiskusikan secara lebih terperinci di bagian
berikutnya (perhatikan llustrasi 1.2).
 Judul, misalnya "Laporan Auditor Independen."

5
 Penerima, sebagaimana yang disyaratkan berdasarkan situasi-situasi
penugasan, misalnya, "Pemegang Saharn ABC Company.”
 Paragraf pembuka yang mengidentifikasi laporan keaangan yang diaudit.
 Deskripsi terkait tanggung jawab manajemen untuk menyiapkan laporan
keuangan.
 Deskripsi terkait tanggung jawab auditor untuk menyatakan opini atas
laporan keuangan dan ruang lingkup audit yang dilakukan, termasuk:
- Referensi dari International Standards on Auditing, beserta undang-
undang atau regulasinya.
- Deskripsi terkait audit berdasarkan standar-standar tersebut.
 Paragraf opini yang memuat pernyataan opini atas laporan keuangan dan
referensi dari kerangka pelaporan keuangan yang berlaku yang digunakan
untuk menyiapkan laporan keuangan (termasuk mengidentifikasi
yurisdiksi asal dari kerangka laporan keuangan yang bukan merupakan
Standar Pelaporan Keuangan Internasional [International Financial
Reporting Standards] atau Standar Akuntansi Sektor Publik Internasional
[International Public Sector Accounting Standards]).
 Tanda tangan auditor.
 Tanggal laporan auditor.
 Alamat auditor.

Judul
Laporan auditor harus memiliki judul yang tepat yang mana hal ini akan
membantu pembaca untuk mengidentifikasi dan membedakannya dengan
mudah dari laporan-laporan lainnya, seperti misalnya laporan yang berasal
dari manajemen. Judul yang paling sering digunakan adalah "Auditor
Independen" atau "Laporan Auditor” yang merupakan judul untuk
membedakan laporan auditor dari laporan-laporan yang mungkin diterbitkan
oleh pihak-pihak lain.

6
Penerima
Laporan harus ditujukan sesuai kebutuahan berdasarkan situasi-situasi
penugasan dan regulasi yang berlaku. Laporan biasanya ditujukan, baik untuk
pemegang saham maupun dewan pengawas maupun dewan direksi dari
entitas yang laporan keuangannya telah diaudit. Di beberapa negara, seperti
Belanda, laporan auditor sama sekali tidak ditujukan untuk penerima-
penerima tertentu karena laporan tersebut dimaksudkan untuk digunakan oleh
(anonim) masyarakat luas.

ILUSTRASI 1.1
Pernyataan Atas Laporan Keuangan Schlumberger Oleh Pejabat Perusahaan
Pernyataan dari Chief Executive Officer

Saya, Andrew Gould, menyatakan bahwa:


1. Saya telah mereviu laporan tahunan dari Schlumberger Limited ini dalam
bentuk Laporan 10-K.
2. Berdasarkan pengetahuan yang saya miliki, laporan keuangan ini tidak
memuat pernyataan apapun yang tidak benar atas fakta-fakta yang bersifat
material atau mengabaikan untuk menyatakan fakta fakta yang bersifat
material yang diperlukan untuk membuat pernyataan ini, mengingat situasi-
situasi yang mana pernyataan tersebut dibuat, tidak ada hal yang
menyesatkan terkait periode yang dicakup dalam laporan ini.
3. Berdasarkan pengetahuan yang saya miliki, laporan keuangan, dan informasi
keuangan lainnya yang disertakan dalam laporan ini, disajkan secara wajar
dalam seluruh hal yang bersifat material terkait kondisi keuangan, hasil
operasi, dan arus kas dari perusahaan pada, dan untuk, periode yang
disajikan delam laporan ini.
4. Pejabat perusahaan yang menyatakan hal lainnya dan saya bertanggung
jawab untuk menetapkan dan mempertahankan pengungkapan terkait
prosedur dan peagendalian (sebagaimana yang dijelaskan dalam Exchange
Act Rules 13a-15(e) dan 15d-15(e)) perusahaan dan memiliki:
(a) Rancangan pengungkapan terkait prosedur dan pengendalian, atau
penyebab pengungkapan terkait prosedur dan pengendalian akan
dirancang dengan supervisi dari kami, untuk memastikan bahwa
informasi yang bersifat material terkait perusahaan telah kami ketahui
dari pihak-pihak lain dalam entitas yang dimaksud, termasuk anak
perusahaan konsalidasiannya, terutama selama periode saat laporan ini
sedang disiapkan.
(b) Evaluasi efektivitas pengungkapan terkait presedur dan pengendalian
perusahaan dan penyajian kesimpulan kami dalam laporan ini mengenai
efektivitas pengungkapan terkait prosedur dan pengendalian sampai akhir

7
periode yang dicakup dalam laporan ini berdasarkan evaluasi yang telah
dilakukan.
(c) Pengungkapan yang dicantumkan di laporan ini mengenai setiap
perubahan dalam pengendalian internal perusahaan atas pelaporan
keuangan yang terjadi selama kuartal fiskal yang terbaru (kuartal fiskal
keempat delam konteks laporan tahunan) yang berdampak secara
material, atau kemungkinan besar berdampak secara material terhadap
pengendalian internal perusahaan atas pelaporan keuangan.
5. Saya dan pejabat penusahaan yang mengesahkan lainnya telah
mengungkapkan ke auditor perusahaan dan komite audit dari dewan direksi
perusahaan (atau individu-individu yang menempati fungsi serupa)
berdasarkan evaluasi terbaru kami terhadap pengendalian intemal atas
pelaporan keuangan:
(a) Seluruh defisiensi penting dan kelemahan yang bersifat material dalam
rancangan atau pelaksanaan pengendalian internal atas pelaporan
keuangan yang kemungkinan besar berdampak menugikan pada
kemampuan perusahaan untuk mencatat, memproses, mengikhtisarkan,
dan melaporkan informasi keuangan.
(b) Setiap kecurangan, baik yeng bersifat material maupun tidak material,
yang melibatkan manajemen atau karyawan lainnya yang memiliki
peranan penting dalam pengendalian internal perusahaan atas pelaporan
keuangan.

Tanggal: 3 Maret 2008 /s/ Andrew Gould


______________________________
Andrew Gould
Pimpinan dan Chief Executive Officer

Paragraf Pembuka atau Paragraf Pendahuluan


Laporan harus mengidentifikasi entitas yang laporan keuangannya telah
diaudit. Laporan ini harus mencantumkan nama entitas, serta tanggal dan
periode yang dicakup oleh laporan keuangan. Laporan harus menyatakan
bahwa laporan keuangan telah diaudit dengan mengidentifikasi judul dari
setiap penyataan yang menyertakan laporan keuangan. Laporan juga harus
merujuk pada ikhtisar kebijakan-kebijakan akuntansi yang penting dan
informasi penjelas lainnya.

8
ILUSTRASI 1.2
Laporan Auditor atas Laporan Keuangan yang Disajikan Berdasarkan Kerangka
Penyajian Wajar yang Dirancang untuk Memenuhi Kebutuhan Informasi
Keuangan Secara Umum bagi Beragam Pengguna
Laporan Auditor Independen

Kepada: Penerima yang tepat.

Laporan atas laporan keuangan


Kami telah mengaudit laporan keuangan tahun 20XX dari Perusahaan XYZ di
Amsterdam yang terlampir bersama laporan ini, yang mana terdiri atas laporan
posisi keuangan perusahaan dan konsolidasiannya pada tahun 20XX, laporan
laba rugi komprehensif perusahaan dan konsolidasiannya, laporan perubahan
ekuitas, dan laporan arus kas untuk tahun yang kemudian berakhir, serta catatan
atas laporan keuangan, yang di dalamnya memuat ikhtisar mengenai kebijakan-
kebijakan akuntansi yang penting dan informasi penjelas lainnya.

Tanggung jawab manajemen


Manajemen bertanggung jawab terhadap penyusunan dan penyajian laporan
keuangan tersebut secara wajar sesual Standar Pelaporan Keuangan
Internasional (International Financial Reporting Standards) yang diadopsi oleh
Uni Eropa dan sesuai dengan Bagian 9, Buku 2, Dutch Civil Code, serta
terhadap penyusunan laporan dewan manajemen sesuai Bagian 9, Buku 2,
Dutch Civil Code. Selanjutnya, manajemen bertanggung jawab atas
pengendalian intemal yang ditetapkan menjadi kebutuhan untuk memungkinkan
penyusunan laporan keuangan yang bebas dari salah saji material, baik karena
kecurangan maupun kesalahan.

Tanggung jawab auditor


Tanggung jawab kami adalah untuk menyatakan opini atas laporan keuangan
tersebut berdasarkan audit yang kami lakukan. Kami melakukan audit ini
berdasarkan Dutch Law, termasuk Dutch Standards on Auditing. Hal ini
meminta kami patuh terhadap ketentuan etika, serta merencanakan dan
melakukan audit untuk memperoleh asurans yang memadai terkait apakah
laporan keuangan bebas dari salah saji material.

Audit termasuk melakukan sejumlah prosedur untuk memperoleh bukti audit


terkait jumlah dan pengungkapannya dalam laporan keuangan. Prosedur-
prosedur yang dipilih tergantung dari penilaian auditor, termasuk penilaian
risiko salah saji material atas laporan keuangan, baik karena kecurangan
maupun kesalahan.

Dalam membuat penilaian risiko tersebut, auditor mempertimbangkan


pengendalian internal yang relevan dengan penyusunan dan peryajian laporan

9
keuangan entitas tersebut secara wajar daiam merancang sejumlah prosedur
audit yang sesuai dengan segala situasi, tetapi tidak untuk tujuan menyatakan
opini terkait efektivitas pengendalian internal entitas. Audit juga termasuk
mengevaluasi ketepatan kebijakan akuntansi yang digunakan dan kewajaran
estimasi akuntansi yang dibuat oleh manajemen, serta mengevaluasi seluruh
penyajian laporan keuangan tersebut. Kami yakin bahwa bukti audit yang kami
peroleh cukup den tepat untuk memberikan dasar bagi opini audit kami.

Opini mengenai laporan keuangan


Dalam opini kami, laporan keuangan memberikan gambaran yang benar dan
wajar mengenai posisi keuangan XYZ pada tanggal 31 Desember 20XX,
sementara hasilnya dan arus kasnya untuk tahun yang kemudian berakhir sesuai
dengan Standar Pelaporan Keuangan Internasional (Intenational Financial
Reporting Standards) yang diadopsi oleh Uni Eropa dan sesuai dengan Bagian
9, Buku 2, Dutch Civil Code.

Laporan sesuai ketentuan hukum dan perundang-undangan lainnya


Berdasarkan ketentuan hukum, yakni Bagian 2: 393, sub 5 (e) dan (f) dari
Dutch Civil Code, kami tidak memiliki defisiensi untuk melaporkan hasil
pemeriksaan kami terkait apakah laporan dewan manajemen telah disusun
berdasarkan Bagian 9, Buku 2, Dutch Civil Code sejauh yang dapat kami nilai
dan/atau apakah informasi yang diperlukan berdasarkan Bagian 2: 392, sub 1
(b)-(h) telah ditambahkan. Selanjutnya, kami melaporkan bahwa laporan dewan
manajemen konsisten dengan laporan keuangan sebagaimana yang disyaratkan
dalam Bagian 2: 391, sub 4, Dutch Civil Code sejauh yang dapat kami nilai.

Tempat, tanggal
(Nama dan Kantor akuntan publik)
(Nama auditor ekstemal dan tanda tangannya)

Tanggung Jawab Manajemen atas Laporan Keuangan


Bagian Tanggung Jawab Manajemen dalam laporan auditor menjelaskan
tanggung jawab dari pihak-pihak di dalam organisasi yang bertanggung
jawab terhadap penyusunan laporan keuangan. Laporan auditor tidak perlu
merujuk secara khusus ke "manajemen," tetapi harus menggunakan istilah
yang tepat sesuai kerangka hukum yang berlaku di negara-negara tertentu. Di
beberapa yurisdiksi, referensi yang tepat mungkin untuk pihak-pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola. Laporan auditor harus mencantumkan
bagian dengan judul "Tanggung Jawab Manajemen [atau istilah lain yang
tepat] atas Laporan Keuangan.”

10
Laporan auditor harus menjelaskan tanggung jawab manajemen terhadap
penyajian laporan keuangan. Deskripsi yang dimaksud harus menyertakan
penjelasan bahwa manajemen bertanggung jawab terhadap penyajian laporan
keuangan sesuai kerangka pelaporan keuangan yang berlaku, dan terhadap
pengendalian internal yang memungkinkan adanya penyajian laporan
keuangan yang bebas dari salah saji material, baik karena kecurangan maupun
kesalahan. Ketika laporan keuangan disusun berdasarkan kerangka penyajian
wajar, penjelasan mengenai tanggung jawab manajemen terhadap laporan
keuangan dalam laporan auditor harus merujuk pada "penyusunan dan
penyajian laporan keuangan secara wajar” atau “penyajian laporan keuangan
yang memberikan gambaran yang benar dan wajar," yang sesuai dalam
berbagai situasi.

Tanggung Jawab Auditor


Laporan auditor akan mencantumkan bagian dengan judul "Tanggung
Jawab Auditor.” Laporan auditor harus menyatakan bahwa tanggung jawab
auditor adalah untuk menyatakan opini atas laporan keuangan berdasarkan
audit yang dilakukannya. Laporan auditor juga harus menyatakan bahwa
audit telah dilakukan berdasarkan International Standards on Auditing.
Laporan audit menjelaskan bahwa standar-standar 1SA meminta auditor
patuh terhadap ketentuan etika dan bahwa auditor merencanakan dan
melakukan audit untuk memperoleh asurans yang memadai mengenai apakah
laporan keuangan tersebut bebas dari salah saji material.
Terdapat pembahasan secara historis di paragraf kedua atau "paragraf
ruang lingkup" yang menyajikan format laporan auditor berdasarkan
"tanggung jawab auditor" (paragraf ketiga, keempat, dan kelima) yang
menjelaskan ruang lingkup audit dengan menyatakan bahwa:
 Audit termasuk melakukan sejumlah prosedur untuk memperoleh bukti
audit terkait jumlah dan pengungkapannya dalam laporan keuangan.
 Prosedur-prosedur yang dipilih tergantung dari penilaian auditor, termasuk
penilaian risiko salah saji material atas laporan keuangan, baik karena

11
kecurangan maupun kesalahan. Dalam membuat penilaian risiko tersebut,
auditor mempertimbangkan pengendalian internal yang relevan dengan
penyusunan laporan keuangan entitas tersebut untuk merancang sejumlah
prosedur audit yang sesuai dengan segala situasi, tetapi tidak untuk tujuan
menyatakan opini terkait efektivitas pengendalian internal entitas. (Dalam
situasi-situasi ketika auditor juga bertanggung jawab untuk menyatakan
opini terkait efektivitas pengendalian internal dalam hubungannya dengan
audit atas laporan keuangan, auditor harus mengabaikan frasa bahwa
pertimbangan auditor terhadap pengendalian internal tidak bermaksud
untuk menyatakan opini terkait efektivitas pengendalian internal.)
 Audit iuga termasuk mengevaluasi ketepatan kebijakan-kebijakan
akuntansi yang digunakan dan kewajaran estimasi akuntansi yang dibuat
oleh manajemen, serta seluruh penyajian laporan keuangan tersebut.

Ketika laporan keuangan disusun berdasarkan kerangka penyajian wajar,


maka deskripsi mengenai audit dalam laporan auditor harus merujuk pada
"penyusuran dan penyajian laporan keuangan entitas secara wajar" atau
"penyusunan laporan keuangan yang memberikan gambaran secara benar dan
wajar,” sesuai dalam berbagai situasi. Laporan auditor harus menyatakan
apakah auditor yakin bahwa bukti audit yang telah diperoleh auditor cukup
dan tepat untuk memberikan dasar bagi opini auditor.

Paragraf Opini
Laporan auditor akan mencantumkan bagian dengan judul "Opini.”
Ketika menyatakan opini yang tidak dimodifikasi (wajar tanpa
pengecualian) atas laporan keuangan yang disajikan berdasarkan kerangka
penyajian wajar, opini auditor harus menggunakan salah satu frasa berikut,
yang dianggap setara:
 Laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam seluruh hal yang
bersifat material ... berdasarkan [kerangka pelaporan keuangan yang
berlaku]. Atau

12
 Laporan keuangan memberikan gambaran secara benar dan wajar ...
berdasarkan [kerangka pelaporan keuangan yang berlaku].

Ketika menyatakan opini tidak dimodifikasi atas laporan keuangan yang


disajikan berdasarkan kerangka kepatuhan, maka opini auditor adalah agar
laporan keuangan disiapkan, dalam seluruh hal yang bersifat material,
berdasarkan [kerangka pelaporan keuangan yang berlaku]. Jika referensi
terkait kerangka pelaporan keuangan yang berlaku dalam opini anditor tidak
terkait dengan Standar Pelaporan Keuangan Internasional (International
Financial Reporting Standards) yang diterbitkan oleh International
Accounting Standards Board atau Standar Akuntansi Sektor Publik
Internasional (International Public Sector Accounting Standards) yang
diterbitkan oleh International Public Sector Accounting Standards Board,
maka opini auditor harus mengidentifikasti yurisdiksi asal dari kerangka yang
dimaksud.
Paragraf opini dari lap0ran auditor harus menunjukkan secara jelas
kerangka pelaporan keuangan yang digunakan untuk menyajikan laporan
keuangan (termasuk mengidentifikasi negara asal kerangka pelaporan
keuangan ketika kerangka yang digunakan bukan Standar Pelaporan
Keuangan Internasional) dan menyatakan opini auditor terkait apakah laporan
keuangan memberikan gambaran yang benar dan wajar (atau yang disajikan
secara wajar dalam seluruh hal yang bersifat material) berdasarkan kerangka
pelaporan keuangan dan apakah laporan keuangan tunduk terhadap ketentuan
perundang-undangan, jika sesuai.
International Standard on Auditing (1SA) 200, menyatakan bahwa tujuan
dari audit adalah meningkatkan tingkat kepercayaan para pengguna yang
dimaksud terhadap laporan keuangan. Hal ini didapatkan dengan pernyataan
opini oleh auditor terkait apakah laporan keuangan telah disajikan dalam
seluruh hal yang bersifat material berdasarkan kerangka pelaporan keuangan
yang berlaku. Kerangka pelaporan keuangan ditetapkan berdasarkan Standar

13
Pelaporan Keuangan Internasional (International Financial Reporting
Standards-IFRS) dan perkembangan praktik umumnya dalam negara
merupakan peraturan yang diterbitkan oleh organisasi profesional dengan
pertimbangan yang tepat terkait kewajaran dengan memperhatikan peraturan
daerah.
Untuk memberitahu para pembaca terkait konteks kewajaran yang
dinyatakan, maka opini auditor perlu menunjukkan kerangka yang menjadi
dasar bagi laporan keuangan dengan menggunakan kata seperti "...
berdasarkan Standar Akuntansi Internasional-International Accounting
Standards (atau [judul kerangka pelaporan keuangan dengan referensi dari
negara asal]) ....”

Laporan Sesuai Ketentuan Hukum dan Perundang Undangan Lainnya


Jika auditor menangani tanggung jawab pelaporan lainnya dalam laporan
auditor atas laporan keuangan selain tanggung jawab auditor berdasarkan ISA
untuk melaporkan laporan keuangan, tanggung jawab pelaporan lainnya harus
ditangani dalam bagian yang terpisah di laporan auditor yang diberi judul
"Laporan sesuai Ketentuan Hukum dan Perundang-Undangan Lainnya," atau
sebaliknya sesuai dengan isi bagian laporan tersebut.

Tanda Tangan Auditor dan Tanggal Laporan


Laporan auditor harus ditandatangani.
Laporan harus diberi tanggal. Auditor harus memberikan tanggal laporan
tidak lebih awal dari tanggal saat auditor memperoleh kecukupan bukti audit
yang memadai yang menjadi dasar bagi opini auditor atas laporan keuangan
mencakup bukti bahwa: (a) seluruh laporan yang terdiri atas laporan-laporan
keuangan yang telah disiapkan, termasuk catatan-catatan terkait; dan (b)
pihak-pihak yang otoritasnya diakui telah menyatakan hahwa mereka
bertanggung jawab atas laporan keuangan tersebut. Hal ini menginformasikan
kepada para pembaca bahwa auditor telah mempertimbangkan pengaruh pada
laporan keuangan dan pada laporan atas sejumlah peristiwa atau transaksi

14
yang diketahui auditor dan yang terjadi sampai tanggal tersebut. Oleh karena
tanggung jawab auditor adalah untuk melaporkan laporan keuangan yang
disusun dan disajikan oleh manajemen, auditor tidak seharusnya memberikan
tanggal laporan lebih awal dari tanggal laporan keuangan tersebut
ditandatangani atau disetujui oleh manajemen.

Alamat Auditor
Laporan harus menyebutkan lokasi tertentu yang biasanya merupakan
kota tempat kantor akuntan publik berada, yang mana auditornya memberikan
jasa kepada klien yang diaudit. Standar Pengauditan (Auditing Standard)
PCAOB No.1 juga mensyaratkan bahwa auditor perlu mencantumkan nama
kota dan negara bagian (atau kota dan negara, dalam kasus auditor nonlokal)
dari laporan auditor yang akan diterbitkan. Catatan: pada beberapa negara
tidak disyaratkan untuk mencantumkan alamat auditor secara khusus dalam
laporan auditor.

Tanda Tangan
Laporan harus ditandatangani sesuai nama kantor akuntan publik, atau
nama auditor yang bertugas, atau kedua-duanya, jika diperlukan. Laporan
auditor biasanya ditandatangani sesuai nama kantor akuntan publik karena
audit diasumsikan menjadi tanggung jawab kantor akuntan publik tersebut.
Catatan: pada beberapa negara (seperti: Amerika Serikat, Inggris, atau
Belanda) baru-baru ini tidak mensyaratkan adanya tanda tangan dari auditor
yang bertugas. Pencantuman nama auditor yang bertugas dalam laporan audit
sudah cukup memadai.

2.1.2 Format-Format Lainnya dari Laporan Auditor

Auditor mungkin diminta untuk melakukan audit berdasarkan standar


pengauditan dari yurisdiksi tertentu ("standar pengauditan nasional"), tapi
selain itu juga tetap harus tunduk terhadap ISA yang berlaku saat melakukan

15
audit. Jika hal ini merupakan kasus, maka laporan auditor dapat merujuk pada
International Standards on Auditing selain standar pengauditan nasional.
Namun, auditor harus membuat referensi terhadap ISA dan standar
pengauditan nasional hanya jika tidak ada konflik di antara ketentuan-
ketentuan yang dicantumkan di dalam kedua standar yang dapat
menyebabkan auditor membentuk opini yang berbeda, atau tidak
menyertakan Penekanan terhadap Paragraf Permasalahan yang disyaratkan
1SA dalam situasi-situasi tertentu. Selanjutnya, laporan auditor masih harus
menyertakan setiap elemen yang disyaratkan berdasarkan format dari ISA
ketika auditor menggunakan tata letak atau susunan kata-kata yang ditentukan
berdasarkan standar pengauditan nasional. Ketika laporan auditor merujuk
pada standar pengauditan nasional (national auditing standards) dan
International Standards on Auditing, maka laporan auditor harus
mengidentifikasi yurisdiksi asal dari standar pengauditan nasional. Jika
perusahaan yang diaudit merupakan perusahaan yang sahamnya
diperdagangkan di bursa saham Amerika Serikat, maka Standar Pengauditan
PCAOB No.1 mensyaratkan bahwa dalam laporan tersebut, auditor harus
merujuk pada "standar yang dikeluarkan oleh Public Company Accounting
Oversight Board" sebagai gantinya, yang baru-baru ini dilaporkan di paragraf
kedua atau paragraf ruang lingkup.

2.1.3 Bentuk dari Laporan Auditor

Tipe laporan audit yang paling umum adalah standar laporan audit yang
tidak dimodifikasi (secara historis disebut sebagai laporan audit wajar tanpa
pengecualian). Laporan ini digunakan untuk lebih dari 90 persen dari seluruh
laporan audit yang ada. Laporan audit lainnya disebut sebagai "laporan audit
selain laporan yang tidak dimodifikasi." Laporan audit selain laporan yang
tidak dimodifikasi mencakup laporan-laporan yang menyatakan adanya: opini
tidak wajar (adverse opinion), opini menolak memberikan opini (disclaimer
of opinion), dan opini yang dimodifikasi (perhatikan Bagian 12.4).

16
Bentuk laporan auditor umumnya akan berbentuk laporan yang tidak
dimodifikasi yang biasanya hanya terdiri atas tiga paragraf (pendahuluan,
ruang lingkup, dan opini), tetapi saat ini laporan audit tersebut dapat terdiri
atas beberapa paragraf sepanjang elemen-elemen dasar dapat dicakup di
dalamnya (Pendahuluan, Tanggung Jawab Manajemen, Tanggung Jawab
Auditor [termasuk ruang lingkup audit], dan Opini Auditor). Untuk opini
yang tidak dimodifikasi atas laporan keuangan, PCAOB baru-baru ini
mensyaratkan laporan yang terdiri atas tiga paragraf seperti biasanya.
Laporan ini juga dapat mencakup paragraf setelah paragraf opini yang disebut
sebagai "Penekanan terhadap Paragraf Permasalahan" (perhatikan ISA 706).
Pada beberapa negara, paragraf yang menyebutkan kualifikasi merupakan
hasil dari prosedur atau pengungkapan akuntansi yang tidak memadai yang
mungkin dicantumkan sesaat sebelum paragraf opini.
Ilustrasi 1.3 menunjukkan standar susunan kata-kata untuk laporan
audit yang tidak dimodifikasi.
Paragraf terakhir dalam standar laporan yang tidak dimodifikasi
menyatakan bahwa kesimpulan auditor didasarkan pada hasil-hasil
pemeriksaan audit. Paragraf ini dinilai begitu penting karena seluruh laporan
audit sering kali menyebutnya sebagai "opini auditor.” Paragraf opini
dinyatakan sebagai opini daripada pernyataan atas fakta-fakta yang bersifat
absolut atau jaminan. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa
kesimpulan didasarkan pada kearifan profesional.
Standar Pengauditan (Auditing Standard) PCAOB di Amerika Serikat
baru-baru ini mensyaratkan penggunaan bentuk laporan yang terdiri atas
empat paragraf. Pertama adalah pendahuluan, paragraf ruang lingkup adalah
paragraf kedua, paragraf opini adalah paragraf ketiga, dan kemudian terdapat
paragraf yang menjelaskan bahwa auditor juga perlu mengaudit pengendalian
internal. Ilustrasi 1.3 merupakan bentuk laporan yang tidak dimodifikasi dari
perusahaan yang berlokasi di Amerika Serikat, Wall-Mart Stores.

17
2.1.4 Opini yang Dimodifikasi

Laporan auditor dipertimbangkan akan dimodifikasi dalam dua situasi


yang berbeda:
1. Permasalahan yang tidak memengaruhi Opini Auditor (yang dapat berarti
menambahkan Penekanan terhadap Paragraf Permasalahan [Emphasis
of Matter Paragraph]).
2. Permasalahan yang memengaruhi Opini Auditor (contoh yang dapat
disebutkan terkait hal itu adalah: (a) opini wajar dengan pengecualian
(qualified opinion). (b) opini menolak memberikan opini (disclaimer of
opinion), dan (c) opini tidak wajar (adverse opinion).

Oleh karena pemahaman pengguna akan menjadi lebih baik jika bentuk
dan isi dari setiap tipe laporan adalah seragam, maka ISA 705, "Modifikasi
terhadap Opini dalam Laporan Auditor Independen" mencantumkan susunan
kata-kata yang disarankan untuk menyatakan opini wajar dengan
pengecualian, opini tidak wajar, atau opini menolak memberikan opini.

ILUSTRASI 1.3
Contoh Laporan yang Tidak Dimodifikasi untuk Perusahaan Amerika Serikat
Wal-Mart Store, Inc.
Laporan dari Kantor Akuntan Publik yang Terdaftar dan Indeponden

Dewan Direksi dan Pemegang Saham dari Wal-Mart Stores, Inc.


Kami telah mengaudit laporan posisi keuangan konsolidasian per tanggal 31
Jarnuari 2012 dan 31 Januari 2011 dari Wal Mart Stores, Inc., beserta laporan
laba rugi konsolidasian, laporan laba rugi komprehensif, laporan ekuitas
pemegang saham, dan laporan arus kas yang terkait untuk masing-masing tahun
dari periode tiga tahun yang berakhir pada tanggal 31 Januari 2012 yang
terlampir bersama laporan ini. Laporan keuangan tersebut merupakan tenggung
juwab dari manajemen Perusahaan. Tanggung jawab kami adalah untuk
menyatakan opini atas laporan keuangan tersebut berdasarkan audit yang kami
lakukan.

Kami melakukan audit berdasarkan standar yang dikeluarkan oleh Public


Company Aocounting Oversight Board (Amerika Serikat). Standar-standar

18
tersebut meminta kami merencanakan dan melakukan audit untuk memperoleh
asurans yarg memadai terkait apakah laporan keuangan tersebut bebas dari
salah saji material. Audit termasuk memeriksa bukti yang mendukung jumlah
dan pengungkapannya dalam laporan keuangan atas dasar pengujian. Audit
termasuk juga menilai prinsip-prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi
penting yang dibuat oleh manajemen, dan mengevaluasi penyajian laporan
keuangan secara keseluruhan. Kami yalin bahwa audit yang kami lakukan dapat
memberikan dasar yang memadai bagi opini yang kami berikan.

Berdasarkan opini kami, laporan-laporan keuangan yang disebutkan di paragraf


pertama telah disajikan secara wajar dalam seluruh hal yang bersifat material.
Laporan posisi keuangan konsolidasian Wal-Mart Stores, inc, pada tanggal 31
Januari 2012 dan 31 Januari 2011, beserta hasil operasi dan arus kas
konsolidasiannya untuk masing-masing tahun dari periode tiga tahun yang
berakhir pada tanggal 31 Januari 2012 telah sesuai dengan Prinsip-Prinsip
Akuntansi yang Berterima Umum (Generally Accepted Accounting Principles
di Amerika Serikat).

Kami juga telah mengaudit pengendalian intemal Wal-Mart Stores, Inc. atas
pelaporan keuangan pada tanggal 31 Januari 2012 sesuai Standar yang
dikeluarkan oleh Public Company Accounting Oversight Board (Amerika
Serikat), berdasarkan kriteria yang ditetapkan dalam Kerangka Pengendalian
Internal yang Terintegrasi (Internal Control-Integrated Framework) yang
dikeluarkan oleh Committee of Sponsoring Orgonizations of the Treadway
Commission dan laporan kami pada tanggal 27 Maret 2012 telah menyatakan
opini wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion).

Ernst & Young


Rogers, Arkansas
27 Maret 2012

2.2 Tipe-Tipe Laporan yang Menyatakan Opini Audit


Opini yang dinyatakan dalam laporan auditor mungkin merupakan
salah satu dari keempat tipe opini berikut: opini yang tidak dimodifikasi
(opini wajar tanpa pengecualian), opini wajar dengan pengecualian, opini
tidak wajar, atau opini menolak memberikan opini.

2.2.1 Standar Laporan Auditor dengan Opini yang Tidak Dimodifikasi


Laporan auditor dengan opini yang tidak dimodifikasi harus dinyatakan
ketika auditor menyimpulkan bahwa laporan keuangan yang disajikan
berdasarkan kerangka pelaporan keuangan yang didentifikasi dalam seluruh

19
hal yang bersifat material. Laporan auditor yang mencantumkan opini yang
tidak dimodifikasi juga menunjukkan secara implisit bahwa setiap perubahan
dalam prinsip-prinsip akuntansi atau dalam metode penerapannya, beserta
pengaruhnya telah ditentukan dengan tepat dan diungkapkan di dalam laporan
keuangan. Ilustrasi 1.2 menunjukkan contoh susunan kata-kata untuk laporan
auditor dengan opini yang tidak dimodifikasi.

Persyaratan untuk Memberikan Opini yang Tidak Dimodifikasi (0pini


Wajar Tanpa Pengecualian)
Dalam upaya membentuk opini tersebut. auditor harus menyimpulkan
terkait apakah auditor telah memperoleh asurans yang memadai mengenai
apakah laporan keuangan secara keseluruhan bebas dari salah saji material,
baik karena kecurangan maupun kesalahan Kesimpulan tersebut harus
memperhitungkan apakah kecukupan bukti audit yang memadai telah
diperoleh. jika salah saji yang tidak dapat diperbaiki sifatnya material, baik
untuk masing-masing salah saji maupun salah saji secara keseluruhan; dan
evaluasi-evaluasi tertentu terkait hubungan di antara laporan keuangan
dengan persyaratan yang dicantumkan dalam kerangka pelaporan keuangan
yang berlaku. Evaluasi atas kepatuhan terhadap kerangka pelapora mencakup
pertimbangan mengenai aspek kualitatif dari praktik-praktik akuntansi entitas,
termasuk indikator-indikator kemungkinan adanya bias dalam penilaian
manajemen. Auditor secara khusus harus mengevaluasi:
 Apakah laporan keuangan mengungkapkan secara memadai terkait
kebijakan-kebijakan akuntansi penting yang dipilih dan apakah kebijakan-
kebijakan tersebut konsisten dan tepat digunakan.
 Kewajaran estimasi akuntansi yang dibuat oleh manajemen.
 Apakah informasi yang disajikan dalam laporan keuangan tersebut
relevan, reliabel, dupat dibandingkan, dan dapat dipahami.
 Apakah pengungkapan memungkinkan pengguna yang dimaksud dapat
memahami pengaruh dari sejumlah transaksi dan peristiwa yang bersifat
material terkait informasi yang dinyatakan di dalam laporan keuangan.

20
 Apakah terminologi yang digunakan di dalam laporan keuangan, termasuk
judul dan setiap laporan keuangan sudah tepat.

Ketika laporan keuangan disajikan berdasarkan kerangka penyajian


wajar, maka evaluasi yang terkait juga akan mencakup apakah laporan
keuangan mencapai penyajian secara wajar. Evaluasi auditor terkait apakah
laporan keuangan mencapai penyajian secara wajar mencakup pertimbangan
atas seluruh penyajian, struktur, dan isi dari laporan keuangan; dan apakah
laporan keuangan dan catatan atas laporan keuangan yang terkait
merepresentasikan sejumlah transaksi dan peristiwa yang mendasarinya
mencapai penyajian secara wajar.
Jika auditor menyimpulkan bahwa laporan keuangan secara
keseluruhan tidak bebas dari salah saji material berdasarkan bukti bukti audit
yang ada, atau auditor tidak mampu memperoleh kecukupan bukti audit yang
memadai, maka auditor harus memodifikasi opininya dalam laporan auditor
dengan menyatakan opini wajar dengan pengecualian, opini tidak wajar, atau
opini menolak memberikan opini.

2.2.2 Laporan Auditor yang Memuat Opini yang Dimodifikasi

Auditor akan menyatakan opini wajar dengan pengecualian (qualified


opinion) ketika:
 Telah memperoleh kecukupan bukti audit yang memadai, sehingga auditor
dapat menyimpulkan bahwa salah saji bersifat material, baik untuk
masing-masing salah saji maupun salah saji secara keseluruhan, tetapi
tidak pervasif terhadap laporan keuangan. Atau
 Auditor tidak mampu memperoleh kecukupan bukti audit yang memadai
sebagai dasar bagi opininya, tetapi auditor menyimpulkan bahwa
kemungkinan pengaruh salah saji yang tidak dapat dideteksi dalam laporan
keuangan jika ada, dapat bersifat material tetapi tidak pervasif.

21
Konsep utamanya adalah mempertimbangkan materialitas dan
penyebarannya. Informasi dikatakan material (material) jika pengabaian
atau salah saji informasi dapat memengaruhi keputusan-keputusan ekonomi
yang diambil pengguna berdasarkan laporan keuangan. Materialitas
bergantung pada ukuran komponen atau kesalahan yang dinilai di situasi-
situasi tertentu dari pengabaian atau salah saji informasinya. Oleh karena itu,
materialitas memberikan titik ambang batas atau pisah batas (cut-off) selain
menjadi karakteristik kualitatif yang utama yang mana informasinya harus
didapatkan jika informasi tersebut memang berguna. Pervasif (pervasive)
adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pengaruh salah saji laporan
keuangan atau kemungkinan pengaruh salah saji yang tidak dapat dideteksi
dalam laporan keuangan karena ketidakmampuan memperoleh kecukupan
bukti audit yang memadai. Berilut pengaruh pervasif pada laporan keuangan
tersebut dalam pertimbangan auditor.
 Tidak terbatas pada elemen, akun, atau komponen tertentu dari laporan
keuangan.
 Jika sangat terbatas, merepresentasikan atau dapat merepresentasikan
bagian penting dari laporan keuangan.
 Dalam kaitannya dengan pengungkapan, merupakan hal yang mendasar
bagi pengguna untuk memahami laporan keuangan.

Contoh susunan kata-kata dari laporan audit dengan opini wajar dengan
pengecualian diberikan di dalam Ilustrasi 1.4. llustrasi ini merupakan laporan
audit dengan opini wajar dengan pengecualian berdasarkan ketidakmampuan
untuk memperoleh kecukupan bukti audit yang memadai. Hal yang harus
dicatat bahwa di beberapa negara, auditor tidak diizinkan menerima
penugasan ketika diketahui ada keterbatasan ruang lingkup.

2.2.3 Laporan Auditor yang Memuat Opini Tidak Wajar

Auditor harus menyatakan opini tidak wajar ketika auditor


menyimpulkan bahwa salah saji yang telah memperoleh kecukupan bukti

22
audit yang memadai tersebut bersifat material dan pervasif terhadap laporan
keuangan, baik untuk masing-masing salah saji maupun salah saji secara
keseluruhan.
Opini tidak wajar dinyatakan ketika pengaruh dari ketidaksepakatan
begitu material dan pervasif terhadap laporan keuangan, sehingga auditor
dapat menyimpulkan bahwa kualifikasi dari laporannya tidak memadai untuk
mengungkapkan laporan keuangan yang sifatnya menyesatkan atau tidak
lengkap.
Contoh susunan kata-kata dari laporan auditor yang memuat opini tidak
wajar atas salah saji material pada laporan keuangan karena tidak adanya
konsolidasi terhadap anak perusahaannya ditunjukkan di llustrasi 1.5.

ILUSTRASI 1.4
Laporan Auditor Independen dengan Opini Wajar dengan Pengecualian karena
Ketidakmampuan untuk Memperoleh Kecukupan Bukti Audit yang Memadai
Laporan Auditor Independen

Kepada: Penerima yang tepat.

Laporan atas laporan keuangan


Kami telah mengaudit laporan keuangan tanun 20XX dari Perusahaan XYZ di
Amsterdam yang terlampir bersama laporan ini, yang mana terdiri atas laporan
posisi keuangan perusahaan dan konsolidasiannya pada tangsal 31 Desember
20XX, perhitungan laba den rugi perusahaan dan konsolidasiannya untuk tahun
yang kemudian berakhir dan catatan atas laporan keuangan yang terkait, yang di
dalamnya memuat ikhtisar mengenai kebijakan-kebijakan akuntansi yang penting
dan informasi penjelas lainnya.

Tanggung jawab manajemen


Manajemen bertangung jawab terhadap penyusunan dan penyajian laporan
keuangan tersebut secara wajar dan terhadap penyusunan laporan dewan
manajemen berdasarkan Bagian 9, Buku 2, Dutch Civil Code. Selanjutnya,
manajemen bertanggung jawab atas pengendalian internal yang ditetapkan
menjadi kebutuhan untuk memungkinkan penyusunan laporan keuangan yang
bebas dari salah saji material, baik karena kecurangan maupun kesalahan.

Tanggung jawab auditor


Tanggung jawab kami adalah untuk menyatakan opini atas laporan keuangan
tersebut berdasarkan audit yang kami lakukan. Kami melakukan audit ini

23
berdasarkan Dutch Law, termasuk Dutch Standards on Auditing. Hal ini meminta
kami patuh terhadap ketentuan etika, serta merencanakan dan melakukan audit
untuk memperoleh asurans yarg memadai terkait apakah laporan keuangan bebas
dari salah saji material.

Audit termasuk melakukan sejumlah prosedur untuk memperoleh bukti audit


terkait jumlah dan pengungkapannya dalam laporan keuangan. Prosedur-prosedur
yang dipilih tergantung dari penilaian auditor, termasuk penilaian risiko salah saji
material atas laporan keuangan, baik karena kecurangan maupun kesalahan.
Dalam membuat penilaian risiko tersebut. auditor mempertimbangkan
pengendalian internal yang relevan dengan penyusunan dan penyajian laporan
keuangan entitas tersebut secara wajar dalam merancang sejumlah prosedur audit
yang sesuai dengan segala situasi, tetapi tidak untuk tujuan menyatakan opini
terkait efektivitas pengendalian internal entitas. Audit juga termasuk
mengevaluasi ketepatan kebijakan akuntansi yang digunakan dan kewajaran
estimasi akuntansi yang dibuat oleh manajemen, serta mengevaluasi seluruh
penyajian laporan keuangan tersebut.

Kami yakin bahwa bukti audit yang kami peroleh cukup dan tepat untuk
memberikan dasar bagi opini wajar dengan pengecualian.

Dasar bagi opini wajar dengan pengecualian


Investasi XYZ di Penusahaan ABC, perusahaan asing yang diperoleh selama
tahun berjalan dan diperhitungkan dengan metode ekuitas, dilakukan pada ... di
laporan posisi keuangan pada tanggal ... XXXX, dan bagian XYZ atas laba bersih
ABC dari ... disertakan di dalam laporan laba Nilai Buku XYZ untuk tahun yang
kemudian berakhir. Kami tidak dapat memperoleh kecukupan bukti audit yang
memadai terkait jumlah investasi XYZ yang tercatat di ABC pada tanggal ...
XXXX, dan begian XYZ atas laba bersih ABC untuk tahun tersebut karena kami
menolak akses terhadap informasi tertadap informasi keuangan, manajemen, dan
auditor dari ABC. Konsekuensinya, kami tidak dapat menentukan apakah
penyesuaian terhadap jumlah tersebut diperlukan.

Opini wajar dengan pengecualian atas laporan keuangan


Dalam opini kami, laporan keuangan memberikan gambaran yang benar dan wajar
mengenai posisi keuangan XYZ tanggal 31 Desember 20XX, sementara hasilnya
untuk tahun yang kemudian berakhir sesuai dengan Bagian 9, Buku 2, Dutch Civil
Code, kecuali untuk kemungkinan pengaruh atas permasalahan yang dijelaskan di
peragraf Dasar bagi opini wajar dengan pengecualian.

Laporan sesuai ketentuan hukum dan perundang-undangan lainnya


Berdasarkan ketentuan hukum, yakni Bagian 2: 393, sub 5 (e) dan (f) dari Dutch
Civil Code, kami tidak memiliki defisiensi untuk melaporkan hasil pemeriksaan
kami terkait apakah laporan dewan manajemen telah disusun berdasarkan Bagian
9, Buku 2, Dutch Civil Code sejauh yang dapat kami nilai dan/atau apakah
intormasi yang diperlukan berdasarkan Bagian 2: 392, sub 1 (b)-(h) telah

24
ditambahkan. Selanjutnya, kami melaporkan bahwa laporan dewan manajemen
konisisten dengan laporan keuangan sebagaimana yang disyaratkan dalam Bagian
2: 391, sub 4 Dutch Civil Code sejauh yang dapat kami nilai.

Tempat, tanggal
(Nama dan Kantor akuntan publik)
(Nama auditor ekstermal dan tanda tangannya)

Perhatikan bahwa laporan dengan opini tidak wajar memiliki paragraf


sebelum paragraf opini tidak wajar, yang mana paragraf tersebut
mendiskusikan ketidaksepakatan. Sebagai contoh di ilustrasi 1.5, auditor
tidak sepakat dengan manajenen terkait konsolidasi terhadap anak
perusahaannya.
Hal ini cukup jelas dari membaca paragraf opini bahwa laporan dengan
opini tidak wajar kemungkinan memiliki pengaruh yang sangat negatif
terhadap para pembaca laporan dan laporan keuangan yang terkait; oleh
karenanya, laporan-laporan tersebut hanya diterbitkan setelah seluruh upaya
untuk meyakinkan klien agar menyesuaikan laporan keuangannya telah gagal.
Pilihan lainnya hanya tersedia bagi auditor dalam situasi-situasi ini, yakni
mengundurkan diri dari penugasan.

2.2.4 Laporan Auditor yang Memuat Opini Menolak Memberikan Opini

Auditor akan menolak memberikan opini ketika auditor tidak dapat


memperoleh kecukupan bukti audit yang memadai yang menjadi dasar bagi
opininya, dan auditor menyimpulkan bahwa kemungkinan pengaruh dari
salah saji yang tidak dapat dideteksi terhadap laporan keuangan dapat bersifat
material dan pervasif. Auditor juga akan menolak memberikan opini ketika
auditor menyimpulkan bahwa tidak mungkin membentuk opini atas laporan
keuangan karena potensi keterkaitannya dengan ketidakpastian dan
kemungkinan pengaruh kumulatifnya terhadap laporan keuangan di dalam
situasi-situasi yang sangat jarang menyertakan banyak ketidakpastian,
meskipun telah memperoleh kecukupan bukti audit yang memadai.

25
Laporan auditor yang memuat opini yang menolak memberikan opini
harus dinyatakan ketika kemungkinan pengaruh dari keterbatasan ruang
lingkup bersifat begitu material dan pervasif, sehingga auditor tidak dapat
memperoleh kecukupan bukti audit yang memadai, dan oleh karenanya tidak
dapat menyatakan opini atas laporan keuangan.
Contoh susunan kata-kata dari laporan audit dengan opini menolak
memberikan opini terhadap keterbatasan ruang lingkup (karena
ketidakmampuan auditor untuk memperoleh kecukupan bukti audit yang
memadai mengenai satu elemen dari laporan keuangan) ditunjukkan di
Ilustrasi 1.6.

ILUSTRASI 1.5
Laporan Auditor Independen dengan Opini Tidak Wajar Berdasarkan Prinsip-
Prinsip Akuntansi yang Berterima Umum (Generally Accepted Accounting
Principles)
Laporan Auditor Independen

[Kepada: Penerima yang tepat.]

Laporan atas laporan keuangan


Kami telah mengaudit laporan keuangan tahun 20XX dari Perusahaan XYZ di
Amsterdam yang terlampir bersama laporan ini, yang mana terdiri atas laporan
posisi keuangan perusahaan dan konsolidasiannya pada tanggal 31 Desember
20XX, laporan laba rugi komprehensif perusahaan dan konsolidasiannya,
laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas untuk tahun yang kemudian
berakhir, serta catatan atas laporan keuangan, yang di dalamnya memuat
ikhtisar mengenai kebijakan-kebijakan akuntansi yang penting dan informasi
penjelas lainnya.

Tanggung jawab manajemen


Manajemen bertanggung jawab terhadap penyusunan dan penyajian laporan
keuangan tersebut secara wajar sesuai Standar Pelaporan Keuangan
Internasional (International Financial Reporting Standards) yang diadopsi oleh
Uni Eropa dan sesuai dengan Bagian 9, Buku 2, Dutch Civil Code, serta
terhadap penyusunan laporan dewan manajemen sesuai Bagian 9. Buku 2,
Dutch Civil Code. Selanjutnya, manajemen bertanggung jawab atas
pengendalian internal yang ditetapkan menjadi kebutuhan untuk memungkinkan
penyusunan laporan keuangan yang bebas dari salah saji maternal, baik karena
kecurangan maupun kesalahan.

26
Tanggung jawab auditor
Tanggung jawab kami adalah untuk menyatakan opini atas laporan keuangan
tersebut berdasarkan audit yang kami lakukan. Kami melakukan audit ini
berdasarkan Dutch Law, termasuk Dutch Standards on Auditing. Hal ini
meminta kami patuh terhadap ketentuan etika, serta merencanakan dan
melakukan audit untuk memperoleh asurans yang memadai terkait apakah
laporan keuangan bebas dari salah saji material.Audit termasuk melakukan
sejumlah prosedur untuk memperoleh bukti audit terkait jumlah dan
pengungkapannya dalam laporan keuangan. Prosedur-prosedur yang dipilih
tergantung dari penilaian auditor, termasuk penilaian risiko salah saji material
atas laporan keuangan, baik karena kecurangan maupun kesalahan. Dalam
membuat penilaian risiko tersebut, auditor mempertimbangkan pengendalian
intenal yang relevan dengan penyusunan dan penyajian laporan keuangan
entitas tersebut secara wajar dalam merancang sejumlah prosedur audit yang
sesuai dengan segala situasi, tetapi tidak untuk tujuan menyatakan opini terkait
efektivitas pengendalian internal entitas. Audit juga termasuk mengevaluasi
ketepatan kebijakan akuntansi yang digunakan dan kewajaran estimasi
akuntansi yang dibuat oleh manajemen, serta mengevaluasi seluruh penyajian
laporan keuangan tersebut.
Kami yakin bahwa bukti audit yang kami peroleh cukup dan tepat untuk
memberikan dasar bagi opini tidak wajar.

Dasar bagi opini tidak wajar


Provisi atas liabilitas pensiun tak bersyarat tidak dicatat di dalam laporan posisi
keuangan sebagaimana yang disyaratkan berdasarkan Bagian 9, Buku 2, Dutch
Civil Code. Pada tanggal laporan posisi keuangan, jumlah provisi yang
disyaratkan sekitar ... Konsekuensinya, ekuitas dan hasil bersih perusahaan dan
pengaruh dari pajak yang diperhitungkan masing-masing dilebihsajikan sebesar
... dan ...

Opini tidak wajar atas laporan keuangan


Dalam opini kami, laporan keuangan tidak memberikan gambaran yang benar
dan wajar mengenai posisi keuangan XYZ pada tanggal 31 Desember 20XX,
sementara hasilnya dan arus kasnya untuk tahun 20XX sesuai dengan Standar
Pelaporan Keuangan Internasional (International Financial Reporting
Standards) yang diadopsi oleh Uni Eropa dan Bagian 9, Buku 2, Dutch Civil
Code karena signifikansi permasalahan yang dijelaskan di paragraf Dasar bagi
opini tidak wajar.

Laporan sesuai ketentuan hukum dan perundang-undangan lainnya


Berdasarkan ketentuan hukum, yakni Bagian 2: 393, sub 5 (e) dan (f) dari
Dutch Civil Code, kami tidak memiliki defisiensi untuk melaporkan hasil
pemeriksaan kami terkait apakah laporan dewan manajemen telah disusun
berdasarkan Bgian 9, Buku 2, Dutch Civil Code sejauh yang dapat kami nilai
dan/atau apakah informasi yang diperlukan berdasarkan Bagian 2: 392, sub 1
(b)-(h) telah ditambahkan. Selanjutnya, kami melaporkan bahwa laporan dewan

27
manajemen konsisten dengan laporan keuangan sebagaimana yang disyaratkan
dalam Bagian 2: 391, sub 4, Dutch Civil Code sejauh yang dapat kami nilai.

Tempat, tanggal
(Nama dan Kantor akuntan pubik)
(Nama auditor eksternal dan tanda tangannya)

Ketika auditor menyatakan menolak memberikan opini lebih sering


daripada tidak ada temuan mengenai pengendalian internal (pengendalian
atau ketidakefektifan maupun ada/tidak adanya pengendalian, atau
kombinasinya). Oleh karenanya cukup membantu untuk memahami ISA 265,
"Mengomunikasikan Defisiensi dalam Pengendalian Internal untuk Pihak-
Pihak yang Bertanggung lawab atas Tata Kelola dan Manajemen."
Kapanpun auditor mengeluarkan laporan audit selain laporan yang tidak
dimodifikasi, auditor harus menyertakan deskripsi yang jelas mengenai
seluruh alasan substantif yang harus disertakan dalam laporan dan kualifikasi
terkait kemungkinan pengaruhnya pada laporan keuangan. Informasi ini harus
dilbuat di paragraf yang terpisah sebelum paragraf opini atau opini menolak
memberikan opini, dan dapat menyertakan referensi untuk pembahasan secara
lebih ekstensif, jika ada, dalam catatan atas laporan keuangan.

2.2.5 Konsekuensi dari Ketidakmampuan untuk Memperoleh


Kecukupan Bukti Audit yang Memadai karena Batasan yang
Diberikan Manajemen setelah Auditor Menerima Penugasan

Apabila auditor kemudian menyadari bahwa manajemen telah


memberikan batasan ruang lingkup audit yang mana auditor
mempertimbangkan kemungkinan perlunya menyatakan opini wajar dengan
pengecualian (qualfied opinion) atau untuk menolak memberikan opini atas
laporan keuangan setelah menerima penugasan, maka auditor harus meminta
manajemen menghapus batasan-batasan tersebut. Apabila manajemen
menolak untuk nenghapus batasan-batasan tersebut, maka auditor harus
mengomunikasikan permasalahan yang dimaksud ke pihak-pihak yang

28
bertanggung jawab atas tata kelola dan menentukan apakah mungkin untuk
melakukan prosedur-prosedur alternatif agar memperoleh kecukupan bukti
audit yang memadai.
Apabila auditor tidak dapat memperoleh kecukupan bukti audit yang
memadai, maka auditor harus menentukan adanya kemungkinan pengaruh
dari salah saji yang tidak dapat dideteksi atas laporan keuangan. Apabila
pengaruhnya bersifat material tetapi tidak pervasif, maka auditor harus
menyatakan opini wajar dengan pengecualian. Apabila auditor menyimpulkan
bahwa kemungkinan pengaruh dari salah saji yang tidak dapat dideteksi atas
laporan keuangan dapat bersifat material dan pervasif, maka auditor harus
mengundurkan diri dari proses audit. Apabila pengunduran diri dari proses
audit dilakukan sebelum mengeluarkan laporan auditor tidak dapat dilakukan
atau tidak memungkinkan, maka auditor harus menolak memberikan opini
atas laporan keuangan. Sebelum pengunduran diri tersebut, auditor akan
mengomunikasikan setiap permasalahan terkait salah saji yang dapat
diidentifikasi ke pihak-pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola.
Ketika auditor mempertimbangkan perlunya menyatakan opini tidak
wajar (adverse opinion) atau opini menolak memberikan opini atas laporan
keuangan secara keseluruhan, maka laporan auditor seharusnya juga menolak
memberikan opini tidak dimodifikasi terkait kerangka pelaporan keuangan
yang serupa atas satu laporan keuangan atau satu atau lebih elemen, akun,
atau komponen tertentu dari laporan keuangan. Pernyataan opini tidak
dimodifikasi di dalam laporan yang sama di berbagai situasi yang dimaksud
akan bertolak belakang dengan opini tidak wajar atau opini menolak
memberikan opini atas laporan keuangan secara keseluruhan.

29
ILUSTRASI 1.6
Laporan Auditor Independen dengan Opini Menolak Memberikan Opini karena
Auditor Tidak Mampu Memperoleh Kecukupan Bukti Audit yang Memadai
Terkait Banyak Elemen di dalam Laporan Keuangan
Laporan Auditor Independen

Kepada: Penerima yang tepat.

Laporan atas laporan keuangan


Kami ditugaskan untuk mengaudit laporan keuangan tahun 20XX dari Perusahaan
XYZ di Amsterdam yang terlampir bersama laporan ini, yang mana terdiri atas
laporan posisi keuangan pada tanggal 31 Desember 20XX, perhitungan laba dan
rugi untuk tahun yang kemudian berakhir, serta catatan atas laporan keuangan,
yang di dalamnya memuat ikhtisar mengenai kebijakan-kebjakan akuntansi dan
informasi penjelas lainnya.

Tanggung jawab manajemen


Manajemen bertanggung jawab terhadap penyusunan dan penyajian laporan
keuangan tersebut secara wajar dan terhadap penyusunan laporan dewan
manajemen, yang mana keduanya sesuai dengan Bagian 9, Buka 2, Dutch Civil
Code. Selanjutnya, manajemen bertanggurg jawab atas pengendalian internal yang
ditetapkan menjadi kebutuhan untuk memungkinkan penyusunan laporan
keuangan yang bebas dari salah saji material, baik karena kecurangan maupun
kesalahan.

Tanggung jawab auditor


Tanggung jawab kami adalah untuk menyatakan opini atas laporan keuangan
tersebut berdasarkan audit yang kami lakukan sesuai Dutch Law, temasuk Dutch
Standards on Auditing. Namun, karena permasalahan telah djelaskan di peragraf
Dasar bagi opini monolak memberikan opini, maka kami tidak dapat memperoleh
kecukupan bukti audit yang memadai yang memberikan dasar bagi opini audit.
Dasar bagi opini menolak memberikan opini

Kami tidak ditunjuk sebagai auditor perusahaan sampai setelah tanggal 20XX,
sehingga dengan demikian kami tidak mengobservasi pehitungan fisik persediaan
pada awal dan akhir tahun. Kami tidak dapat memuaskan diri sendiri dengan cara-
cara alternatif terkait jumlah persediaan yang dimiliki pada tanggal ... 20XX-1 dan
tanggal ... 20XX yang masing-masing dinyatakan di dalam laporan posisi
keuangan pada ... dan ...

Selain itu, pengenalan dari sistem piutang usaha yang baru terkomputerisasi pada
bulan September 20XX menyebabkan sejumlah kesalahan dalam akun piutang
usaha. Sampai tanggal laporan auditor kami, manajemen masih dalam proses
memparbaiki defisiensi sistem dan sejumlah kesalahan tersebut. Kami tidak dapat

30
mengonfirmasi atau memverifikasi dengan cara-cara altenatif terkait total jumlah
piutang usaha yang dicantumkan di dalam laporan posisi keuangan pada tanggal
... sampai ... 20XX. Akibat permasalahan tersebut, kami tidak dapat menentukan
apakah setiap penyesuaian yang telah ditemukan penting dalam kaitannya dengan
persediaan dan piutang usaha yang tercatat atau tidak tercatat, dan elemen-elemen
yang diperlukan untuk perhitungan laba dan rugi.

Opini menolak memberikan opini atas laporan keuangan


Kami tidak mampu memperoleh kecukupan bukti audit yeng memadai untuk
memberikan dasar bagi opini audit kami, karena signifikansi permasalahan yang
djelaskan di paragraf Dasar bagi opini menolak memberikan opini.

Laporan sesuai ketentuan hukum dan perundang-undangan lainnya


Berdasarkan ketentuan hukum, yakni Bagian 2: 393, sub 5 (e) dan (f) dari Dutch
Civil Code, kami tidak memilki defisiensi untuk melaporkan hasil pemeriksaan
kami terkait apakah laporan dewan manajemen telah disusun berdasarkan Bagian
9, Buku 2, Dutch Civil Code sejauh yang dapat kami nilai dan/atau apakah
informasi yang diperlukan berdasarkan Bagian 2: 392, sub 1 (b)-(h) telah
ditambahkan. Selanjutnya, kami melaporkan bahwa laporan dewan manajemen
kansisten dengan laporan keuangan sebagaimana yang disyaratkan dalam Bagian
2: 391, sub 4, Dutch Civil Code sejauh yang dapat kami nilai.

Tempat, tanggal
(Nama dan Kantor akuntan pubilk)
(Nama auditor eksternal dan tanda tangannya)

2.2.6 Bentuk dan Isi Laporan Auditor Ketika Opininya Dimodifikasi

Ketika auditor memodifikasi opininya atas laporan keuangan, maka


auditor akan menyertakan sebuah paragraf dalam laporan auditor yang
memberikan penjelasan terkait dasar bagi modifikasi yang dilakukannya.
Paragraf ini ditempatkan segera sebelum paragraf opini dalam laporan auditor
yang berjudul "Dasar bagi Opini Wajar dengan Pengecualian,” "Dasar bagi
Opini Tidak Wajar,” atau "Dasar bagi Opini Menolak Memberikan Opini”
yang sesuai. Auditor menyertakan deskripsi dan kuantifikasi dari pengaruh
keuangan atas salah saji di dalam paragraf Dasar bagi modifikasi. Jika dinilai
tidak praktis untuk mengukur pengaruh keuangan yang dimaksud, maka
auditor harus menyatakannya di dalam paragraf Dasar bagi modifikasi. Jika
modifikasi berasal dari ketidakmampuan untuk memperoleh kecukupan bukti

31
audit yang memadai, maka auditor harus mencantumkan sejumlah alasan
terkait ketidakmampuannya ini di dalam paragraf Dasar hagi modifikasi.
Jika ada salah saji material pada laporan keuangan yang berkaitan
dengan pengungkapan yang bersifat naratif, maka penjelasan mengenai
bagaimana pengungkapan salah saji harus disertakan di dalam paragraf Dasar
bagi modifikasi. Jika salah saji material berkaitan dengan tidak adanya
pengungkapan informasi yang perlu diungkapkan, maka auditor harus
mendiskusikan terkait tidak adanya pengungkapan tersebut dengan pihak-
phak yang bertanggung jawab atas tata kelola; menjelaskan sifat dasar dari
informai yang tidak dicantumkan di paragraf Dasar bagi modifikasi; dan
menyertakan sejumlah pengungkapan dari informasi yang tidak dicantumkan
tersebut.

2.2.7 Paragraf Opini Ketika Opini adalah Opini yang Dimodifikasi

Ketika auditor memodifilasi opini auditnya, maka auditor menggunakan


judul "Opini Wajar dengan Pengecualian (Qualified Opinion),” Opini Tidak
Wajar (Adverse Opinion),” atau "Opini Menolak Memberikan Opini
(Disclaimer of Opinion)" yang sesuai untuk paragraf opini. Ketika auditor
menyatakan opini wajar dengan pengecualian, maka auditor menyatakan di
dalam paragraf opini bahwa kecuali untuk pengaruh dari permasalahan yang
dijelaskan di dalam paragraf Dasar bagi Opini Wajar dengan Pengecualian di
laporan auditor, laporan keuangan disajikan secara wajar dalam seluruh hal
yang bersifat material (atau memberikan gambaran yang benar dan wajar)
berdasarkan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku ketika pelaporan
sesuai dengan kerangka penyajian wajar atau kerangka pelaporan keuangan
yang berlaku ketika pelaporan sesuai dengan kerangka kepatuhan. Ketika
modifikasi berasal dari ketidakmampuannya untuk memperoleh kecukupan
bukti audit yang memadai, maka auditor harus menggunakan frasa "kecuali
untuk kemungkinan pengaruh dari permasalahan (sejumlah permasalahan) ...”
yang terkait dengan opini yang dimodifikasi.

32
Ketika auditor menyatakan opini tidak wajar (adverse opinion), maka
auditor akan menyatakan di dalam paragraf opini di laporan auditor bahwa
karena signifikansi permasalahan (sejumlah permasalahan) yang dijelaskan di
paragraf Dasar bagi Opini Tidak Wajar mengenai laporan keuangan yang
tidak disajikan secara wajar (atau tidak memberikan gambaran yang benar
dan wajar) berdasarkan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku ketika
pelaporan seuai dengan kerangka penyajian wajar; atau berdasarkan kerangka
pelaporan keuangan yang berlaku ketika pelaporan sesuai dengan kerangka
kepatuhan.
Ketika auditor menolak memberikan opini karena ketidakmampuannya
untuk memperoleh kecukupan bukti audit yang memadai, maka auditor
menyatakan di dalam paragraf opini bahwa karena signifikansi permasalahan
(sejumlah permasalahan) yang dijelaskan di paragraf Dasar bagi Opini
Menolak Memberikan Opini, auditor tidak dapat memperoleh kecukupan
bukti audit yang memadai untuk memberikan dasar bagi opini auditnya; dan
karenanya, auditor tidak menyatakan opini atas laporan keuangan.

2.2.8 Deskripsi Mengenai Tanggung Jawab Auditor terhadap Opini


Wajar dengan Pengecualian, Opini Tidak Wajar, atau Opini
Menolak Memberikan Opini

Ketika auditor menyatakan opini wajar dengan pengecualian atau opini


tidak wajar, maka auditor harus mengubah deskripsi mengenai tanggung
jawab auditor untuk menyatakan bahwa auditor yakin kalau bukti audit yag
telah diperolehnya cukup dan tepat untuk memberikan dasar bagi opini audit
yang dimodifikasi.
Ketika auditor menolak memberikan opini karena ketidakmampuannya
untuk memperoleh kecukupan bukti audit yang memadai, maka auditor harus
mengubah paragraf pendahuluan (introductory) di laporan auditor yang
menyatakan bahwa auditor telah ditugaskan untuk mengaudit laporan
keuangan. Auditor juga harus mengubah deskripsi mengenai tanggung jawalb

33
auditor dan deskripsi mengenai ruung lingkup audit dengan hanya
menyatakan hal berikut:
Tanggung jawab kami adalah untuk menyatakan opini atas laporan
keuangan berdasarkan audit yang dilakukan sesuai dengan International
Standards on Auditing. Namun karena permasalahan (sejumlah
permasalahan) yang dijelaskan di dalam paragraf Dasar bagi Opini Menolak
Memberikan Opini, maka kami tidak dapat mermperoleh kecukupan bukti
audit yang memadai untuk memberikan dasar bagi opini audit.

2.3 Penekanan terhadap Paragraf Permasalahan


Auditor sering kali harus menarik perhatian para pengguna laporan
keuangan terhadap permasalahan untuk membentuk opini atas laporan
keuangan, meskipun disajikan atau diungkapkan secara tepat di dalam
laporan keuangan, yang mana hal ini cukup penting karena merupakan dasar
bagi pemahaman pengguna atas laporan keuangan; atau setiap permasalahan
lainnya yang relevan bagi pemahaman pengguna atas audit, tanggung jawab
auditor, atau laporan auditor. Bagian dari opini ini disebut sebagai penekanan
terhadap paragraf permasalahan atau paragraf permasalahan lainnya.
Penekanan terhadap Paragraf Permasalahan (Emphasis of Matter
Paragraph) adalah paragraf yang disertakan di dalam laporan auditor yang
merujuk pada permasalahan yang disajikan atau diungkapkan secara tepat di
dalam laporan keuangan, yang mana hal ini cukup penting karena merupakan
dasar bagi pemahaman pengguna atas laporan keuangan sesuai penilaian
auditor. Paragraf Permasalahan Lainnya (Other Matter Paragraph) adalah
paragraf yang disertakan di dalam laporan auditor yang merujuk pada
permasalahan selain permasalahan yang disajikan atau diungkapkan secara
tepat di dalam laporan keuangan yang relevan bagi pemahaman pengguna
atas audit, tanggung jawab auditor, atau laporan auditor sesuai penilaian
auditor.
Ketika auditor menyertakan Penekanan terhadap Paragraf Permasalahan
di dalam laporan auditor, maka auditor harus mencantumkannya segera

34
setelah paragraf Opini di dalam laporan auditor dan menggunakan judul
"Penekanan terhadap Permasalahan.” Selanjutnya, auditor akan menyertakan
di dalam paragraf, referensi yang jelas terhadap permasalahan yang sedang
ditekankan dan pengungkapan relevan yang telah sepenuhnya menjelaskan
permasalahan tersebut dapat ditemukan di dalam laporan keuangan, serta
menunjukkan bahwa opini auditor tidak dimodifikasi terkait permasalahan
yang ditekankan ini.
Jika auditor mempertimbangkan pentingnya mengomunikasikan
permasalahan selain permasalahan yang disajikan atau diungkapkan di dalam
laporan keuangan yang relevan bagi pemahaman pengguna atas audit, maka
auditor harus menyertakannya di dalam paragraf yang ada di laporan auditor
dengan judul "Permasalahan Lainnya." Paragraf ini ditempatkan segera
setelah paragraf Opini dan paragraf Penekanan terhadap Permasalahan.
Dalam berbagai situasi tertentu, laporan auditor mungkin dimodifikasi
dengan menambahkan paragraf penekanan terhadap permasalahan untuk
menyoroti permasalahan yang memengaruhi laporan keuangan. Paragraf
penekanan terhadap permasalahan yang ditambahkan tidak akan
memengaruhi opini auditor. Paragraf ini harus mengikuti paragraf opini dan
menyatakan bahwa opini auditor tidak dimodifikasi oleh paragraf ini.
Biasanya, auditor dapat menulis paragraf penekanan terhadap
permasalahan ketika:
 terdapat ketidakpastian (uncertainty) penting yang dapat memengaruhi
laporan keuangan, yang mana penyelesaiannya tergantung pada peristiwa-
peristiwa yang di terjadi di masa depan. Contoh ketidakpastian yang dapat
ditekankan termasuk: keberadaan transaksi-transaksi dari pihak yang
berelasi, permasalahan akuntansi yang dinilai penting yang terjadi setelah
tanggal laporan posisi keuangan, permasalahan yang memengaruhi
perbandingan laporan keuangan dengan laporan keuangan tahun
sebelumnya (misalnya, perubahan dalam metode akuntansi), dan litigasi,
kontrak jangka panjang, pemulihan terhadap nilai aset, kerugian atas
aktivitas operasi yang dihentikan;

35
 menyoroti permasalahan yang bersifat material meagenai permasalahan
keberlanjutan usaha. (llustrasi 12.7 menunjukkan paragaraf penekanan
terhadap permasalahan yang berkaitan dengan keberlanjutan usaha;
perhatikan ISA 570, "Keberlanjutan Usaha-Going Concern");
 terdapat sejumlah permasalahan lainnya.

Berikut ilustrasi dari paragraf penekanan terhadap permasalahan atas


ketidakpastian penting di dalam laporan auditor.
Penekanan techadap Permasalahan.
Kami memberikan perhatian terbadap Catatan X pada laporan keuangan
yang menjelaskan ketidakpastian yang berkaitan dengan hasil gugatan
hukum yang diajukan terhadap perusahaan oleh Perusahaan XYZ.
Terkait permasalahan ini, opini kami adalah opini tidak wajar.
Atau:
Tanpa kami menyatakan opini, kami memberikan perhatian terhadap
Catatan X pada laporan keuangan. Perusahaan merupakan terdakwa
dalam gugatan hukum terkait dugaan pelanggaran atas hak paten tertentu,
serta klaim terbadap royalti dan ganti rugi. Perusahaan telah mengajukan
banding dan pra peradilan, serta meminta proses pengungkapan informasi
terhadap tindakan-tindakan yang sedang berlangsung. Hasil akhir dari
permasalahan saat ini tidak dapat ditentukan, dan tidak ada provisi untuk
setiap liabilitas yang mungkin timbul dari laporan keuangan yang telah
disajikan ini.

2.3.1 Ketidakpastian dalam Paragraf Penekanan terhadap


Permasalahan
Contoh ketidakpastian yang mungkin ditekankan termasuk keheradaan
dari transaksi-transaksi pihak yang berelasi, permasalahan akuntansi penting
yang terjadi setelah tanggal laporan posisi keuangan, permasalahan yang
memengaruhi perbandingan laporan keuangan dengan laporan keuangan

36
tahun sebelumnya (misalnya, perubahan dalam metode akuntansi). Ilustrasi
1.7 memberikan contoh susunan kata-kata untak paragraf ketidakpastian
terkait ketidakpastian keberlanjutan usaha.
Ketidakpastian laininya, bergantung pada tingkat materialitasnya dan
undang-undang negara yang berlaku, yang dapat mengarahkan terhadap
adanya modifikasi dari laporan yang tidak dimodifikasi atau laporan yang
dimodifikasi atau laporan yang menolak memberikan opini. Contoh-
contohnya mencakup: hasil dari litigasi yang utama dan hasil dari kontrak
jangka panjang, estimasi dari pemulihan nilai aset, dan kerugian atas aktivitas
operasi yang dihentikan. Jika entitas menolak untuk membuat perbaikan yang
diperlukan atas informasi yang dilampirkan bersama laporan keuangan ini,
dan ketika terdapat tambahan peraturan perundang-undangan untuk
melaporkan tanggung jawab ini, laporan juga dapat dimodifikasi.
Jika ketidakpastian bersifat penting dan material, serta tidak
diungkapkan secara memadai dalam catatan, auditor mungkin berharap untuk
mengeluarkan opini yang dimodifikasi atau opini menolak memberikan opini.

ILUSTRASI 1.7
Laporan Auditor Independen Wajar Tanpa Pengecualian (Unqualified Opinion)
dengan Penekanan Wajib terhadap Permasalahan karena Ketidakpastian
Penting yang terkait dengan Ketepatan Prinsip Keberlanjuian Usaha
Laporan Auditor Independen

Kepada: Penerima yang tepat.

Laporan atas laporan keuangan


Kami telah mergudit laporan keuangan tahun 20XX dari Perusahaan XYZ di
Amsterdam yang terlampir bersama laporan ini, yang mana terdiri atas
laporan keuangan perusahaan dan konsalidasiannya, serta laporan posisi
keuangan perusahaan dan konsolidasiannya pada tanggal 31 Desember tahun
20XX. laporan laba rugi komprehensif perusahaan dan konsolidasiannya,
laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas untuk tahun yang kemudian
berakhir, serta catatan atas laporan keuangan, yang di dalamnya memuat
ikhtisar mengenai kebijakan-kebijakan akuntansi yang penting dan informasi
penjelas lainnya.

37
Tanggung jawab manajemen
Manajemen bertanggung jawab terhadap penyusunan dan penyajian laporan
keuangan tersebut secara wajar sesuai Standar Pelaporan Keuangan
Internasional (International Financial Reporting Standards) yang diadopsi
oleh Uni Eropa dan sesuai dengan Bagian 9, Buku 2, Dutch Civil Code serta
terhadap penyusunan laporan dewan manajemen sesuai Bagian 9, Buku 2,
Dutch Civil Code. Selanjutnya, manajemen bertanggung jawab atas
pengendalian internal yang ditetapkan menjadi kebutuhan untuk
memungkinkan penyusunan laporan keuangan yang bebas dari salah saji
material, baik karena kecurangan maupun kesalahan.

Tanggung jawab auditor


Tanggung jawab kami adalah untuk menyatakan opini atas laporan keuangan
tersebut bendasarkan audit yang kami lakukan. Kami melakukan audit ini
berdasarkan Dutch Law, termasuk Dutch Standards on Auditing. Hal ini
meminta kami patuh terhadap ketentuan etika, serta merencanakan dan
melakukan audit untuk memperoleh asurans yang memadai terkait apakah
laporan keuangan bebas dari salah saji material. Audit termasuk melakukan
sejumlah prosedur untuk memperoleh bukti audit terkait jumlah dan
pengungkapannya dalam laporan keuangan. Prosedur-prosedur yang dipilih
tergantung dari penilaian auditor, termasuk penilaian risiko salah saji
material atas laporan heuangan, baik karena kecurangan maupun kesalahan.
Dalam membuat penilaian risiko tersebut. auditor mempertimbangkan
pengendalian intemal yang relevan dengan penyusunan dan penyajan laporan
keuangan entitas tersebut secara wajar dalam merancang sejumlah prosedur
audit yang sesuai dengan segala situasi, tetapi tidak untuk tujuan menyatakan
opini terkait efektivitas pengendalian internal entitas. Audit juga termasuk
mengevaluasi ketepatan kebijakan akuntansi yarg digunakan dan kewajaran
estimasi akuntansi yang dibuat oleh manajemen, serta mengevaluasi seluruh
penyajian laporan keuangan tersebut.
Kami yakin bahwa bukti audit yang kami peroleh cukup dan tepat untuk
memberikan dasar bagi opini audit kami.

Opini mengenai laporan keuangan


Dalam opini kita, laporan keuangan memberikan gambaran yang benar dan
wajar mengenai posisi keuangan XYZ pada tanggal 31 Desember 20XX,
sementara hasilnya dan arus kasnya untuk tahun yarn kemudian berakhir
sesuai dengan Standar Pelaporan Keuangan Internasional (International
Financial Reporting Standards) yarg diadopsi oleh Uni Eropa dan sesuai
dengan Bagian 9, Buku 2, Dutch Civil Code.

Penekanan terhadap ketidakpastian terkait asumsi keberlanjutan usaha


Kami memberikan perhatian pada Catatan X untuk laporan keuangan yang
menyatakan bahwa perusahaan menanggung kerugian bersih sebesar …
selama tahun yang berakhir pada tanggal … 20XX dan sampai tanggal

38
tersebut, nilai liabilitas jangka pendek perusahaan melebihi total nilai
asetnya, yakni sebesar … Kondisi-kondisi tersebut, beserta hal-hal lainnya
sebagaimana yang tercantum di dalam Catatan X menunjukkan adanya
ketidakpastian yang bersifat material yang mungkin menyebabkan besarnya
keraguan terkait kemampuan perusahaan untuk melanjutkan usahanya
(keberlanjutan usaha). Opini kami adalah tidak wajar terkait permasalahan
ini.

Laporan sesuai ketentuan hukum dan perundang-undangan lainmya


Berdasarkan ketentuan hukum, yakni Bagian 2: 393, sub 5 (e) dan (f) dari
Dutch Civil Code, kami tidak memiliki defisiensi untuk melaporkan hasil
pemeriksaan kami terkait apakah laporan dewan manajemen telah disusun
berdasarkan Bagian 9, Buku 2, Dutch Civil Code sejauh yang dapat kami
nilai dan/atau apakah informasi yang diperlukan berdasarkan Bagian 2: 392,
sub 1 (b)-(h) telah ditambahkan. Selanjutnya, kami melaporkan bahwa
laporan dewan manajemen konsisten dengan laporan keuangan sebagaimana
yang disyaratkan dailm Bagian 2: 391, sub 4, Dutch Civil Code sejauh yang
dapat kami nilai.

Tempat, tanggal
(Nama dan Kantor akuntan publik)
(Nama auditor eksternal dan tanda tangannya)

Ilustrasi 1.8 dan 1.9 menunjukkan laporan wajar tanpa pengecualian


dari dua perusahaan besar berskala internasional, Wal-Mart dan Apple, yang
mana masing-masing membutuhkan paragraf penekanan terhadap
permasalahan.

2.3.2 Penekanan Keberlanjutan Usaha terhadap Permasalahan


Asumsi keberlanjutan usaha (going concern assumption) adalah salah
satu asumsi fundamental yang mendasari penyajian laporan keuangan.
Perusahaan biasanya dianggap sebagai entitas yang dapat terus melanjutkan
usahanya (keberlanjutan usaha) yakni melanjutkan operasinya untuk masa
depan yang dapat diperkirakan sebelumnya. ISA 570 menetapkan standar dan
memberikan panduan atas tanggung jawab auditor yang terkait dengan
ketepatan asumsi keberlanjutan usaha sebagai dasar untuk menyajikan laporan
keuangan. Ketika pertanyaan yang terkait dengan ketepatan asumsi
keberlanjutan usaha muncul, auditor harus mengumpulkan kecukupan bukti

39
audit yang memadai untuk mencoba menyelesaikan pertanyaan yang terkait
dengan kemampuan entitas melanjutkan operasinya untuk masa depan yang
dapat diperkirakan sebelumnya bagi kepuasan auditor.

ILUSTRASI 1.8
Laporan Audit yang Tidak Dimodifikasi untuk Wal-Mart Tahun 2011
Laporan dari Kantor Akuntan Publik yang Terdaftar dan Independen

Dewan Direksi dan Pemegang Saham dari Wal-Mart Stores, lnc.


Kani telah mengaudit laporan posisi keuangan konsolidasian per tanggal 31
Januari 2011 dan 31 Januari 2010 dari Wal-Mart Stores, Inc., beserta laporan
laba rugi konsolidasian, laporan ekuitas pemegang saham, dan laporan arus kas
yang terkait untuk masing masing tahun dari periode tiga tahun yarg berakhir
pada tanggal 31 Januari 2011 yang terlampir bersama laporan ini. Laporan
keuangan tersebut merupakan tanggung jawab dari manajemen perusahaan.
Tanggung jawab kami adalah untuk menyatakan opini atas laporan keuangan
tersebut berdasarkan audit yang kami lakukan.

Kami melakukan audit berdasarkan standar yang dikeluarkan oleh Public


Company Accounting Oversight Board (Amerika Serikat). Standar-standar
tersebut meminta kami merencanakan dan melakukan audit untuk memperoleh
asurans yang memadai terkait apakah laporan keuangan tersebut bebas dari
salah saji material. Audit termasuk memeriksa bukti yang mendukung jumlah
dan pengungkapannya dalam laporan keuangan atas dasar pengujian. Audit
termasuk juga menilai prinsip-prinsip akuntansi yang diunakan dan estimasi
penting yang dibuat oleh manajemen, dan mengevaluasi penyajian laporan
keuangan secara keseluruhan. Kami yakin bahwa audit yang kami lakukan
dapat memberikan dasar yang memadai bagi opini yang kami berikan.
Berdasarkan opini kita, laporan-laporan keuangan yang disebutkan di paragraf
pertama telah disajikan secara wajar dalam seluruh hal yang bersifat material.
Laporan posisi keuangan konsolidasian Wal-Mart Stores, Inc. pada tanggal 31
Januari 2011 dan 31 Januari 2010, beserta hasil operasi dan arus kas
konsolidasiannya untuk masing-masing tahun dari periode tiga tahun yang
berakhir pada tanggal 31 Januari 2011 telah sesuai dengan Prinsip-Prinsip
Akuntansi yang Berterima Umum (Generally Accepted Accounting Principles
di Amerika Serikat).

Sebagaimana yang didiskusikan di dalam Catatan 2 untuk laporan keuangan


konsolidasian yang efektif per tanggal 1 Mei 2010, prusahann telah memilih
untuk mengubah metode akuntansi untuk persediaannya berdasarkan metode
persediaan ritel.
Kami juga telah mengaudit pengendalian internal Wal-Mart Stores, Inc. atas
pelaporan keuangan pada tanggal 31 Januari 2012 sesuai Standar yang
dikeluarkan oleh Public Company Accounting Oversight Board (Amerika

40
Serikat), berdasarkan kriteria yang ditetapkan dalam Kerangka Pengendalian
Internal yang Terintegrasi (Internal Control-Integrated Framework) yang
dikeluarkan oleh Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway
Commission dan laporan kami poda tanggal 30 Maret 2011 telah menyatakan
opini wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion).

/S/ Ernst & Young LLP


Rogers, Arkansas
30 Maret 2011

Jika pengungkapan yang memadai telah dibuat di dalam laporan


keuangan, auditor harus menyatakan opini yang tidak dimodifikasi dan
menyertakan paragraf Penekanan terhadap Permasalahan dalam laporan
auditor untuk menyoroti adanya ketidakpastian yang bersifal material yang
berkaitan dengan peristiwa atau kondisi yang dapat menyebabkan besarnya
keraguan atas kemampuan entitas untuk melanjutkan usahanya (keberlanjutan
usaha) dan memberikan perhatian pada catatan atas laporan keuangan yang
mengungkapkan peristiwa atau kondisi tersebut.
Perusahaan mungkin mengalami masalah keberlanjutan usaha. Indikasi-
indikasi tersebut dapat dikurangi oleh faktor-faktor lainnya; seperti,
pelanggaran dalam pembayaran kembali sejumlah pinjaman dapat diatasi
dengan rencana manajemen untuk menjadwalkan ulang pinjaman, penjualan
atas aset, dan lain lain.

ILUSTRASI 1.9
Laporan Audit untuk Apple, lnc. Tahun 2008
Laporan dari Kantor Akuntan Publik yang Terdaftar dan Independen

Dewan Direksi dan Pemegang Saham dari Apple, Inc.


Kami telah mengaudit laporan posisi keuangan konsolidasian dan anak
perusahaanya (Perusahaan) per tanggal 27 September 2008 dan 29 September
2007 dari Apple, inc., beserta laporan aktvitas operasi konsolidasiannya,
laporan ekuitas pemegang saham, dan laporan arus kas yang terkait untuk
masing-masing tahun dari periode tiga tahun yang berakhir pada tanggal 28
September 2008 yang terlampir bersama laporan ini. Laporan keuangan
konsolidasian tersebut merupakan tanggung jawab darii manajemen perusahaan.
Tanggung jawab kami adalah untuk menyatakan opini atas laporan keuangan

41
konsolidasian tersebut berdasarkan audit yang kami lakuaan.

Kami melakukan audit berdasarkan standar yang dikeluarkan oleh Public


Company Accounting Oversight Board (Amerika Serikat). Standar-standar
tersebut meminta kami merencanakan dan melakukan audit untuk memperoleh
asurans yang memadai terkait apakah laporan keuangan tarsebut bebas dari
salah saji material. Audit termasuk memeriksa bukti yang mendukung jumlah
dan pengungkapannya dalam laporan keuangan atas dasar pengujian. Audit
termasuk juga menilai prinsip-prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi
penting yang dibuat oleh manajemen, dan mengevaluasi penyajian laporan
keuangan secara keseluruhan. Kami yakin bahwa audit yang kami lakukan
dapat memberikan dasar yang memadai bagi opini yang kami berikan.

Berdasarkan opini kita, laporan-laporan keuangan konsolidasian yang


disebutkan di paragraf pertama telah disajikan secara wajar dalam seluruh hal
yang bersifat material. Laporan posisi keuangan Apple, Inc. dan anak
perusahaannya pada tanggal 27 September 2008 dan 29 September 2007,
beserta hasil operasi dan arus kasnya untuk masing-masing tahun dari periode
tiga tahun yang berakhir pada tanggal 27 September 2008 telah susuai dengan
Prinsip-Prinsip Akuntansi yang Berterima Umum (Generally Accepted
Accounting Principles di Ameria Serikat).

Sebagaimana yang didiskusikan di dalam Catatan 1 untuk laporan keuangan


konsolidasian yang efektif per tanggal 30 September 2007, perusahan telah
mengadopsi Financial Accounting Standards Board Interpretation No. 48,
Akuntansi untuk Ketidakpastian Pajak Penghasilan - interpretasi dari FASB
Statement No. 109.

Kami juga telah mengaudit pengendalian internal Apple, Inc. atas pelaporan
keuangan pada tanggal 27 September 2008 sesuai Standar yang dileluarkan oleh
Public Company Accounting Oversight Board (Amerika Serikat), berdasarkan
kriteria yang ditetapkan dalam Kerangka Pengendalian Internal yang
Terintegrasi (Internal Control-Integrated Framework) yang dkeluarkan oleh
Committee.of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission (COSO)
dan laporan kami pada tanggal 4 November 2008 telah menyatakan opini wajar
tanpa pengecualan (unqualifed opinion) terkait efektivitas pengendalian.internal
perusahaan atas pelaporan keuangan.

KPMG LLP
Mountain View, California
4 November 2008

2.3.3 Pengungkapan terkait Keberlanjutan Usaha


Setelah auditor melakukan sejumlah prosedur tambahan yang dianggap
perlu, memperoleh seluruh informasi yang dibutuhkan, dan

42
mempertimbangkan pengaruh dari rencana manajemen, auditor harus
menentukan apakah pertanyaan-pertanyaan yang muncul terkait keberlanjutan
usaha telah diselesaikan dengan baik. Jika pertanyaan terkait keberlanjutan
usaha tidak dapat diselesaikan, auditor harus mengungkapkan kondisi-kondisi
utama yang menyebabkan adanya keraguan mengenai kemampuan entitas
untuk melanjutkan aktivitas operasinya di masa depan yang dapat
diperkirakan sebelumnya di dalam laporannya secara memadai.
Pengungkapan seharusnya:
 menjelaskan kondisi-kondisi utama yang menyebabkan adanya keraguan;
 menyatakan bahwa terdapat keraguan terkait keberlanjutan usaha; oleh
karenanya, entitas mungkin tidak dapat merealisasikan aset-asetnya dan
menyelesaikan liabilitas-liabilitasnya dalam aktivitas bisnis yang normal;
 menyatakan bahwa laporan keuangan tidak menyertakan setiap
penyesuaian yang terkait dengan pemulihan dan klasifikasi atas jumlah
aset yang tercatat atau jumlah dan klasifikasi atas liabilitas yang mungkin
seharusnya diperlukan bagi entitas yang tidak mampu melanjutkan
usahanya (keberlanjutan usaha)

Sebelumnya, Ilustrasi 1.7 menunjukkan contoh susunan kata-kata terkait


keberlanjutan usaha jika permasalahan yang dimaksud telah diungkapkan
secara memadai.

2.4 Situasi-Situasi yang dapat Menghasilkan Opini Selain dari Opini yang
Tidak Dimodifikasi
Berdasarkan ISA 700, setidaknya terdapat dua situasi yang mana
auditor tidak dapat menyatakan opini yang tidak dimodifikasi (wajar tanpa
pengecualian):
 Keterbatasan dalam ruang lingkup (ketidakmampuan untuk memperoleh
kecukupan bukti audit yang memadai).

43
 Pertimbangan auditor terkait pengaruh atau kemungkinan pengaruh yang
sifatnya pervasif dari berbagai hal yang dicantumkan di dalam laporan
keuangan.

Situasi-situasi yang dijelaskan di poin 1—keterbatasan ruang lingkup,


seperti auditor yang tidak mampu memperoleh kecukupan bukti audit yang
memadai—dapat menghasilkan opini wajar dengan pengecualian (qualified
opinion) atau opini menolak memberikan opini (disclaimer of opinion).
Sementara situasi-situasi yang dijelaskan di poin 2—pertimbangan auditor
terkait pengaruh atau kemuagkinan pengaruh yang sifatnya pervasif dari
berbagai hal yang dicantumkan di dalam laporan keuangan—dapat
menghasilkan opini yang dimodifikasi (wajar tarpa pengecualian) atau opini
tidak wajar (adverse opinion).
Selain keterbatasan ruang lingkup dan ketidaksepakatan dengan
manajemen, laporan audit sering kali dimodifikasi jika terdapat
ketidakpastian yang sifainya material, sepert laporan keuangan yang tidak
sesuai dengan standar-standar akuntansi dan tidak memiliki independensi.
Jika auditor menyimpulkan hahwa laporan keuangan secara
keseluruhan tidak bebas dari salah saiji material berdasarkan bukti-bukti audit
yang diperoleh; atau auditor tidak dapat memperoleh kecukupan bukti audit
yang memadai untuk menyimpulkan bahwa laporan keuangan secara
keseluruhan bebas dari salah saji material, maka auditor harus memodifikasi
opininya dalam laporan auditor berdasarkan ISA 705.

2.4.1 Keterbatasan dalam Ruang Lingkup


Keterbatasan ruang lingkup muncul ketika para auditor dengan alasan
apapun tidak dapat memperoleh informasi dan penjelasan yang dianggap
perlu untuk audit. Ruang lingkup mungkin dibatasi dengan ketidakmampuan
unluk melakukan prosedur yang dianggap perlu oleh auditor dan tidak adanya
catatan-catatan akuntansi yang sesuai.

44
Sebagai contoh, klien terkadang dapat menetapkan batasan dalam ruang
lingkup pekerjaan auditor ketika syarat penugasan mengharuskan auditor
tidak akan melakukan prosedur audit yang diyakini auditor perlu.
Keterbatasan ruang lingkup juga dapat disebabkan oleh situasi-situasi di luar
pengendalian, baik oleh klien maupun auditor. Ketika batasan-batasan
dikarenakan situasi-situasi di luar pengendalian klien, maka opini yang
dimodifikasi lebih mungkin dihasilkan.
Keterbatasan ruang lingkup mungkin disebabkan oleh situasi-situasi
tertentu, misalnya, ketika waktu penunjukan auditor membuatnya kesulitan
untuk mengamati perhitungan fisik persediaan. Hal ini juga dapat muncul
ketika catatan-catatan akuntansi dianggap tidak memadai atau ketika auditor
tidak mampu melakukan prosedur audit yang diperlukan. Dalam situasi-
situasi tersebut, auditor harus berupaya melakukan sejumlah prosedur
alternatif yang memadai untuk memperoleh kecukupan bukti audit yang
mendukung opini yang tidak dimodifikasi.

Penjelasan Mengenai Keterbatasan


Ketika terdapat keterbatasan dalam ruang lingkup pekerjaan auditor
(ketidakmampuan untuk memperoleh kecukupan bukti audit yang memadai)
yang menghalanginya untuk menerbitkan laporan auditor yang memuat opini
yang tidak dimodifikasi, maka laporan tersebut seharusnya memberikan
penjelasan mengenai keterbatasan yang dimaksud. Ketika modifikasi muncul
dari ketidakmampuan untuk memperoleh kecukupan bukti audit yang
memadai, maka auditor menggunakan frasa yang sesuai "kecuali untuk
kemungkinan pengaruh dari berbagai hal…” untuk opini yang dimodifikasi.
Susunan kata-kata dari opini seharusnya menunjukkan bahwa opini yang
dimodifikasi terkait adanya kemungkinan penyesuaian terhadap laporan
keuangan yang mungkin diperlukan ketika tidak ada keterbatasan. Dalam
kasus yang mana keterbatasan menjadi begitu penting ketika auditor tidak
dapat menyatakan opininya, maka laporan auditor memuat opini yang disebut
opini menolak memberikan opini. Sebelumnya di bab ini, Ilustrasi 12.8

45
memberikan contoh laporan auditor yang memuat opini wajar dengan
pengecualian (qualified opinion) karena ketidakmampuan auditor untuk
memperoleh kecukupan bukti audit yang memadai.

Tidak Menerima Penugasan


ISA 210 menyatakan bahwa ketika terdapat keterbatasan dalam syarat
penugasan yang ditawarkan yang mana diyakini auditor kalau pihaknya perlu
menerbitkan laporan auditor yang memuat opini menolak memberikan opini,
maka auditor biasanya tidak akan menerima penugasan audit kecuali memang
persyaratan tersebut diatur berdasarkan hukum atau peraturan perundang-
undangan yang berlaku. Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang
berlaku, auditor tidak seharusnya menerima penugasan audit ketika
keterbatasan yang ada melanggar kewajiban hukumnya.

2.4.2 Ketidaksepakatan dengan Manajemen


Auditor dapat menyatakan ketidaksepakatannya dengan manajemen terkait:
 Penerimaan terhadap kebijakan-kebijakan akuntansi yang dipilih.
 Metode pelaksanaan kebijakan, termasuk penilaian dan pengungkapan
yang memadai dalam laporan keuangan.
 Kepatuhan laporan keuangan teradap regulasi dan ketentuan perundang-
undangan yang relevan.

Jika setiap ketidaksepakatan tersebut bersifat material,, maka auditor


harus menyatakan opini wajar dengan pengecualian (qualified opinion). Jika
pengaruh dari ketidaksepakatan tersebut sifatnya begitu material dan pervasif
terhadap laporan keuangan, yang mana auditor menyimpulkan bahwa
kualifikasi yang ada tidak akan memadai untuk mengungkapkan sifat laporan
keuangan yang menyesatkan atau tidak lengkap, maka opini tidak wajar yang
seharusnya dinyatakan.

46
2.5 Ketidakpastian yang Mengarah ke Kualifikasi Audit
Standar Internasional dari LAASB menetapkan kualifikasi opini
berdasarkan keterbatasan dalam ruang lingkup dan ketidaksepakatan dengan
manajemen sebagai kondisi-kondisi yang mengarahkan ke laporan auditor
yang memuat opini yang dimodifikasi atau opini tidak wajar. Namun,
beberapa ketidakpastian tertentu dapat mengarahkan ke laporan auditor yane
memuat kualifkasi opini di banyak negara. Ketidakpastian-ketidakpastian
tersebut mencakup: ketidakpastian yang bersifat material, tidak adanya
konsistensi, independensi auditor, dan laporan yang nengacu pada tenaga ahli
dan kecurangan.

2.5.1 Materialitas dan Tidak Adanya Konsistensi


Materialitas merupakan pertimbangan penting dalam menentukan
ketepatan tipe laporan atas serangkaian situasi yang terjadi. Selama
pelaksanaan audit, materialitas berarti jumlah yang ditetapkan auditor di
bawah besarnya salah saji yang tidak dapat dideteksi yang tidak mungkin
memengaruhi persepsi pengguna terhadap laporan keuangan secara
keseluruhan. Auditor juga dapat menganggap sebuah komponen bersifat
material jika inklusi atau pengecualian dari komponen tersebut pada laporan
keuangan dinilai cukup penting untuk memengaruh keputusan yang telah
dibuat oleh pengguna laporan keuangan yang tepat. Jika besarnya salah saji
dalam laporan keuangan begitu signifikan, yang mana laporan keuangan
secara keseluruhan terpengaruh secara material, maka kiranya perlu untuk
menyatakan opini wajar dengan pengecualian maupun opini tidak wajar,
tergantung pada sifat dasar salah saji yang dimaksud.
Tidak adanya konsistensi dalam penerapan prinsip-prinsip akuntansi di
periode berjalan dengan periode sebelumnya mungkin memerlukan adanya
modifikasi terhadap opini yang tidak dimodifiksi berdasarkan beberapa
standar di banyak negara. Sebagai contoh, US GAAP mensyaratkan bahwa
perubahan dalam prinsip-prinsip akuntansi atau penerapannya dapat
diungkapkan secara memadai dan oleh karenanya laporan audit dapat

47
dimodifikasi dengan menambahkan paragraf penjelasan yang
mendeskripsikan sifat perubahan yang dimaksud. Pada sebagian besar negara,
jika auditor tidak sepakat dengan ketepatan dari perubahan prinsip-prinsip
akuntansi yang dimaksud, maka opini yang dinyatakannya adalah opini yang
dimodifikasi.
Kami mendiskusikan modifikasi yang diperlukan berdasarkan masalah
keberlanjutan usaha, kecurangan, dan ketidakpatuhan terhadap undang-
undang yang berlaku di tempat lain di dalam pembahasan bab ini. Masalah
keberlanjutan usaha telah didiskusikan di bagian sebelummya. Permasalahan
mengenai kecurangan dan ketidakpatuhan yang didiskusikan dengan pihak-
pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola akan dibahas di bagian
berikutnya.

2.5.2 Independensi Auditor


Panduan Etika bagi Akuntan Profesional (Guideline on Ethics for
Prefessional Accountansts) dari 1FAC menekankan betapa pentingnya
independensi auditor, baik dalam tampilan maupun realitanya. Namun.
standar pengauditan dari ISA tidak mensyaratkan adanya opini yang
dimodifikasi atau opini menolak memberikan opini jika auditor bersikap tidak
independen, walaupun hal ini hanya terjadi di beberapa negara. Beberapa
negara, seperti Belanda, tidak mengizinkan auditor menerima penugasan jika
auditor bersikap tidak independen.

2.5.3 Referensi bagi Tenaga Ahli


Ketika menyatakan opini yang tidak dimodifilkasi, auditor dalam
laporannya umumnya tidak harus mengacu pada pekerjaan dari tenaga ahli
karena referensi semacam ini dapat disalahartikan sebagai kualifikasi bagi
opini auditor atau bagian tanggung jawabnya. Jika auditor mengeluarkan
opini selain dari opini yang tidak dimodifikasi sebagai hasil dari pekerjaan
tenaga ahli atau auditor lainnya, maka dalam beberapa situasi, auditor dapat
menjelaskan pekerjaan dari tenaga ahli.

48
2.6 Komunikasi dengan Pihak-Pihak yang Bertanggung Jawab atas Tata
Kelola
Para auditor diwajibkan untuk mengomunikasikan temuan-temuan
auditnya kepada manajemen dan dewan direksi perusahaan. Hal ini tidak
hanya dinyatakan di dalam standar ISA, tetapi juga disyaratkan berdasarkan
undang-undang di beberapa negara. Permasalahan audit terkait kepentingan
tata kelola harus dikomunikasikan oleh auditor kepada dewan direksi atau
komite audit yang biasanya menyertakan: kelemahan dalam pengendalian
internal yang bersifat material, ketidakpatuhan terhadap undang-undang dan
regulasi, kecurangan yang melibatkan manajemen, pertanyaan yang berkaitan
dengan integritas manajemen, dan sejumlah persoalan lainnya.

2.6.1 Komunikasi dengan Komite Audit


ISA 260 menyatakan bahwa komunikasi dua arah yang efektif penting
dalam membantu auditor dan pihak-pihak yang bertanggung jawab atas tata
kelola urtuk memahami beberapa permasalahan yang terkait dalam konteks
audit, serta mengembangkan hubungan kerja yang bersifat konstruktif.
Komunikasi penting bagi auditor dalam memperoleh informasi yang relevan
dengan audit dari pihak-pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola.
(Sebagai contoh, pihak-pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola dapat
membantu auditor dalam memahami entitas dan lingkungan entitas, dalam
mengidentifikasi sumber-suinber bukti audit yanıg tepat, serta dalam
memberikan informasi terkait sejumlah transaksi atau peristiwa. tertentu.)
"Tata kelola" adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan peranan
individu yang dipercaya untuk melakukan supervisi, mengendalikan, dan
mengarahkan entitas. Individu-individu tersebut merupakan pihak-pihak yang
bertanggung jawab atas pelaporan keuangan dan untuk memastikan bahwa
perusahaan dapat mencapai tujuannya. Pihak-pihak yang bertanggung jawab
atas tata kelola perusahaan biasanya adalah dewan direksi atau dewan
pengawas atau komite audit.

49
Komite audit merupakan lembaga yang dibentuk oleh dewan direksi
perusahaan untuk memungkinkan dewan direksi fokus pada sejumlah
permasalahan yang memengaruhi pelaporan eksternal dan pengendalian
internal dalam beberapa kasus. Umumnya, dewan direksi terdiri atas
direktur-direktur yang berasal dari luar perusahaan (outside director).
Komite audit menentukan dan menilai kinerja kantor akunta public. Komite
audit mengembangkan hubungan profesional dengan kantor akuntan publik
eksternal untuk memastikan bahwa beberapa permasalahan akuntansi dan
pengendalian telah didiskusikan dengan tepat. Selain mengevaluasi laporan
audit eksternal, komite audit juga mengevaluasi laporan audit internal,
mereviu representasi manajemen, dan ikut serta dalam pengungkapan
aktivitas perusahaan ke publik. Standar Pengauditan Internasional
(International Standards on Auditing) 250, 260 dan 300 seluruhnya
diterapkan pada hubungan komunikasi di antara auditor eksternal dan komite
audit.

2.6.2 Komunikasi terkait Defisiensi Pengendalian Internal


ISA 265 mendiskusikan bentuk komunikasi di antara auditor dengan
manajemen dan pihak-pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola saat
auditor telah mengidentifikasi defisiensi pengendalian internal di dalam audit
yang dilakukan atas laporan keuangan. Defisiensi pengendalian internal
(deficiency in internal control) ada ketika: (1) pengendalian yang dirancang,
diimplementasikan, atau dioperasikan sedemikian rupa tidak mampu
mencegah. atau mendeteksi, dan memperbaiki salah saji dalam laporan
keuangan tepat waktu; atau (2) hilangnya pengendalian yang diperlukan
untuk mencegah, atau mendeteksi, dan memperbaiki salah saji dalam laporan
keuangan tepat waktu. Defisiensi penting dari pengendalian internal
(significant deficiency in internal control) adalah defisiensi atau gabungan
dari defisiensi pengendalian internal yang dinilai cukup penting untuk
mendapatkan perhatian dari pihak-pihak yang bertanggung jawab atas tata
kelola sesuai kearifan profesional yang dimiliki auditor. Auditor perlu

50
memperoleh pemahaman mengenai pengendalian internal yang relevan
dengan audit ketika mengidentifikasi dan menilai risiko salah saji material.
Auditor harus mengomunikasikannya dengan manajemen pada tingkat
pertanggungjawaban yang sesuai secara tepat waktu, serta menuliskan
defisiensi penting dari pengendalian internal dengan pihak-pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola, dan setiap defisiensi lainnya dari
pengendalian internal yang dapat diidentifikasi selama audit yang mana hal
ini tidak dikomunikasikan oleh pihak-pihak lainnya kepada manajemen, serta
yang dinilai cukup penting untuk mendapatkan perhatian dari manajemen
sesuai kearifan profesional yang dimiliki auditor.
Auditor perlu menyertakan komunikasi secara tertulis terkait defisiensi
penting dari pengendalian internal, yakni:
 Deskripsi mengenai defisiensi dan penjelasan terkait potensi pengaruhnya.
 Kecukupan informasi yang memungkinkan pihak-pihak yang bertanggung
jawab atas tata kelola dan manajemen memahami konteks dari
komunikasi. Auditor harus menjelaskan secara khusus terkait;
- Tujuan audit adalah agar auditor menyatakan opini atas laporan
keuangan.
- Audit termasuk pertimbangan mengenai pengendalian internal yang
relevan terhadap penyajian laporan keuangan dalam upaya merancang
prosedur-prosedur audit yang tepat dengan segala situasi, tetapi tidak
untuk tujuan menyatakan opini atas efektivitas pengendalian internal.
- Beberapa permasalahan yang dilaporkan terbatas hanya pada defisiensi-
defisiensi tersebut yang telah diidentifikasi auditor selama audit dan
yang telah disimpulkan atuditor sebagai hal yang dinilai cukup penting
untuk dilaporkan kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab atas tata
kelola.

51
2.6.3 Struktur Tata Kelola
Struktur tata kelola yang bervariasi antarnegara merefleksikan latar
belakang kultur dan hukum. Sebagai contoh, fungsi supervisi dan fungsi
manajemen di beberapa negara secara hukum dipisahkan ke dalam lembaga-
lembaga yang berbeda, seperti dewan pengawas (secara keseluruhan atau
sebagian besar merupakan pejabal non eksekutif) dan dewan manajemen
(yang merupakan pejabat eksekutif). Pada negara-negara lainnya, seperti
Amerika Serikat, kedua fungsi tersebut masing-masing memiliki tanggung
jawab hukum sebagai satu kesatuan.
Ketentuan lembaga akuntansi profesional berskala nasional, peraturan
perundang-undangan, atau regulasi dapat memberikan kewajiban bagi auditor
untuk menciptakan adanya komunikasi terkait permasalahan yang
menyangkut tata kelola. Ketentuan tambahan mengenai komunikasi tersebut
tidak dicantumkan di dalam Standar Pengauditan Internasional (International
Standards on Auditing), walaupun hal tersebut dapat memengaruhi isi,
bentuk, dan waktu dari komunikasi yang dilakukan dengan pihak-pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola.

2.6.4 Permasalahan Audit terkait Kepentingan Tata Kelola


"Permasalahan audit terkait kepentingan tata kelola" merupakan
permasalahan yang muncul dari audit yang dilakukan atas laporan keuangan
dan merupakan permasalahan penting bagi individu-individu yang
bertanggung jawab atas tata kelola. Permasalahan audit terkait kepentingan
tata kelola dapat dikomunikasikan oleh auditor kepada dewan direksi atau
komite audit yang mana umumnya mencakup:
 kelemahan dari pengendalian internal yang bersifat material;
 ketidakpatuhan terhadap undang-undang dan regulasi;
 kecurangan yang melibatkan manajemen;
 pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan integritas manajemen;
 pendekatan unum dan seluruh ruang lingkup audit;

52
 pemilihan dari, atau perubahan dalam, sejumlah kebijakan dan praktik
akuntansi yang sifatnya penting, yang memiliki pengaruh yang sifatnya
material terhadap laporan keuangan;
 potensi pengaruh dari setiap risiko dan eksponur penting terhadap laporan
keuangan, seperti litigasi yang tertunda yang perlu diungkapkan di dalam
laporan keuangan;
 penyesuaian audit terhadap catatan-catatan akuntansi yang bersifat
penting;
 ketidakpastian yang bersifat material terkait kemampuan entitas untuk
melanjutkan usahanya (keberlanjutan usaha);
 ketidaksepakatan dengan manajemen terkait permasalahan yang dapat
menjadi penting bagi laporan keuangan entitas atau laporan auditor
(komunikasi-komunikasi tersebut mencakup pertimbangan terkait apakah
permasalahan telah, atau belum dapat, diselesaikan, serta signifikansi dari
permasalahan tersebut);
 ekspektasi modifikasi terhadap laporan auditor.

2.6.5 Kondisi-Kondisi yang Dilaporkan


Permasalahan pengendalian internal yang utama (kelemahan yang
bersifat material atau kondisi-kondisi yang dilaporkan [reportable
conditions]) harus dilaporkan ke manajemen dan dewan direksi jika
diperlukan. Dalam memutuskan apakah permasalahan merupakan kondisi
yang dilaporkan, auditor mempertimbangkan faktor-faktor seperti ukuran
perusahaan dan karakteristik kepemilikannya, struktur organisasi, serta
kompleksitas dan keragaman dari aktivitas-aktivitas perusahaan. Sebagai
contoh, defisiensi struktur pengendalian internal merupakan kondisi yang
dilaporkan untuk lembaga keuangan yang berskala besar dan kompleks,
namun bukan merupakan kondisi yang dilaporkan untuk kepentingan
perusahaan manufaktur berskala kecil.

53
Kondisi-kondisi yang dilaporkan umumnya dikomunikasikan dalam
bentuk surat secara terpisah, yang juga disebut sebagai surat manajemen
(management letter). Surat manajemem juga mencakup sejumlah saran untuk
perbaikan pengendalian internal yang berfokus pada keuangan, kepatuhan,
dan proses operasional.

2.6.6 Kecurangan dan Ketidakpatuhan terhadap Undang-Undang


Sebagaimana yang disyaratkan oleh ISA 240, auditor harus
mengomunikasikan kepada manajemen terkait setiap kelemahan
pengendalian internal yang bersifat material mengenai pencegahan atau
deteksi kecurangan dan kesalahan, yang mana hal tersebut menarik perhatian
auditor sebagai hasil dari pelaksanaan audit. Auditor juga harus memastikan
bahwa pihak-pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola telah
mendapatkan informasi terkait setiap kelemahan pengendalian internal yang
bersifat material mengenai pencegahan atau deteksi kecurangan, baik yang
menarik perhatian auditor menurut manajemen maupun yang telah
diidentifikasi oleh auditor selama audit.
Berdasarkan penilaian risiko tersebut, auditor harus merancang
sejumlah prosedur audit untuk memperoleh asurans yang memadai bahwa
salah saji yang muncul dari kecurangan dan kesalahan yang bersifat material
terhadap laporan keuangan dapat dideteksi seluruhnya. Ketika auditor
menghadapi situasi-situasi yang dapat mengindikasikan bahwa terdepat salah
saji material di dalam laporan keuangan yang dihasilkan dari kecurangan atau
kesalahan, maka auditor harus melakukan sejunmlah prosedur untuk
menentukan apakah terdapat salah saji material dalam laporan keuangan.

Pengunduran Diri Auditor


Jika auditor menyimpulkan bahwa pihaknya tidak mungkin terus melakukan
audit sebagai akibat dari salah saji yang berasal dari kecurangan maupun
dugaan kecurangan, maka mengundurkan diri dari penugasan harus

54
dipertimbangkan secara serius. Jika auditor mengundurkan diri, maka auditor
harus:
 mendiskusikan dengan pihak-pihak yang bertanggung jawab atas tata
kelola terkait pengunduran diri auditor dari penugasan dan alasan
pengunduran diri tersebut;
 mempertimbangkan apakah terdapat ketentuan profesional atau hukum
untuk melaporkan kepada otoritas yang berwenang terkait pengunduran
diri auditor dari penugasan dan alasan pengunduran diri tersebut.

Kecurangan atau Kesalahan yang Dilaporkan kepada Pihak Ketiga


Kewajiban auditor terkait kerahasiaan biasanya akan menghalanginya
melaporkan kecuranga atau kesalahan kepada pihak ketiga. Namun, dalam
situasi-situasi tertentu, hukum atau peraturan perundang-undangan
mengesampingkan kewajiban ini. Sebagai contoh, auditor di Amerika Serikat
diwajibkan untuk melaporkan adanya kecurangan atau kesalahan yank
dilakukan lembaga keuangan kepada otoritas pengawasan. Di Belanda, jika
para anggota direksi tidak mengambil langkah-langkaoh perbaikan yang
memadai, sementara kecurangan yang ada dianggap bersifat material, maka
auditor haras mengundurkan diri dari penugasan Jika penugasan semacam ini
merupakan statutory audit, maka auditor harus melaporkan pengunduran
dirinya kepada Ministry of Justice. Di Prancis, auditor harus melaporkan
tindakan ilegal dan kecurangan yang ada kepada pemerintah. Auditor di
Inggris berkewajiban untuk menyelidiki permasalahan yang sifatnya
mencurigakan dan memiliki kewajiban untuk melaporkannya sama seperti
halnya auditor yang ada di Amerika Serikat. Auditor di Jerman harus
melaporkan kecurangan kepada dewan direksi di dalam laporan auditornya;
hal ini juga ditunjukkan di dalam SPT Pajak (tax return) perusahaan dan oleh
karenanya secara tidak langsung, hal ini juga merupakan laporan kepada
otoritas yang berwenang. Auditor di Meksiko bertanggung jawab atas
kelalaiannya jika auditor telah mengetahui adanya kegagalan dalam
pengendalian internal, atau jika auditor menyadari dan tidak melaporkannya.

55
Auditor mungkin tidak bertanggung jawab jika auditor telah memberitahu
manajemen terkait kekurangan dalam pengendalian internal di area-area yang
mana kejahatan bisa saja dilakukan, namun tidak memberitahu karena area-
area yang mana kejahatan dilakukan tersebut tidak memiliki keterkaitan erat
dengan laporan keuangan, kejahatan yang terjadi dalam hubungaunya dengan
pihak lain, atau tindak pidana yang memiliki "kekuatan luar biasa."

Sejumlah Permasalahan yang Dikomunikasikan ke Pihak-Pihak yang


Bertanggung Jawab atas Tata Kelola
Sejumlah permasalahan yang dikomunikasikan oleh auditor ke pihak-pihak
yang bertanggung jawab atas tata kelola adalah permasalahan yang
menyangkut kearifan profesional tetapi biasanya akan mencakup:
 Pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan kompetensi dan integritas
manajemen.
 Kecurangan yang melibatkan manajemen.
 Kecurangan lainnya yang menghasilkan salah saji material pada laporan
keuangan.
 Salah saji material yang disebabkan oleh kesalahan.
 Salah saji yang menunjukkan kelemahan pengendalian internal yang
bersifat material, termasuk rancangan atau operasional dari proses
pelaporan keuangan entitas.
 Salah saji yang dapat menyebabkan adanya salah saji material pada
laporan keuangan di masa yang akan datang.

Auditor harus mengomunikasikannya dengan komite audit, dewan


direksi. dan manajemen senior terkait ketidakpatuhan terhadap undang-
undang dan regulasi yang berlaku yang menarik perhatian auditor, yang mana
masing masing sesuai dengan situasinya. Jika audilor mencurigai bahwa
anggota dari manajemen senior, termasuk anggota dewan direksi yang ikut
serta dalam tindakan ketidakputuhan, maka auditor harus melaporkan

56
permasalahan tersebut ke otoritas entitas yang lebih tinggi di atasnya, seperti
komite audit atau dewan pengawas, jika ada.

2.7 Laporan Audit Bentuk Panjang


Auditor di banyak negara biasanya menyiapkan laporan bentuk panjang
bagi dewan direksi entitas, selain laporan bentuk pendek yang dipublikasikan
ke publik yang didiskusikan bab ini. Topik yang dicakup di dalam laporan
dapat beragam karena tidak ada standar yang mengatur hal tersebut, tetapi
tipe laporan bentuk panjang akan mencakup:
 gambaran dari penugasan audit;
 analisis laporan keuangan;
 diskusi mengenai manajemen risiko dan pengendalian internal;
 berbagai topik pilihan sesuai situasi yang ada;
 independensi auditor dan pengendalian kualitas;
 fee

Gambaran umumnya, laporan bentuk panjang akan mendiskusikan sifat dasar,


ruang lingkup, organisasi, tingkat materialitas, pekerjaan audit baru, serta
pekerjaan dengan tenaga ahli dan auditor lainnya.

2.7.1 Pembahasan Mengenai Permasalahan Keuangan


Hal-hal dari laporan keuangan yang menjadi sorotan telah didiskusikan.
Sejumlah permasalahan akuntansi perlu dijelaskan. Beberapa permasalahan
juga perlu dipertimbanuk dari sisi akuntansi, seperti provisi, akrual, dan
liabilitas kontigensi. Perubahan klien kebijakan akuntansi di tingkat nasional
dan internasional perlu dijelaskan terkait dampaknya pada laporan keuangan.
Akuisisi dan divestasi, serta dampaknya terhadap akun-akun laporan
keuangan harus dijelaskan di dalamnya. Posisi keuangan perusahaan terkait
kemungkinan pendanaan maupun pendanaan kembali, serta rasio utang terkait
perjanjian utang den kemungkinan kegagalan atasnya.

57
Topik-topik laporan keuangan lainnya, seperti ketidaksepakatan atau
pembahasan dengan menajemen, serta pengembangan klien ke depannya
telah direviu. Manajemen dan auditor bisa jadi tidak sepakat atas beberapa
permasalahan tertentu dalam laporan keuangan, sehingga laporan bentuk
panjang harus menunjukkan hal tersebut. Pengembangan klien ke depannya
memengaruhi laporan tahunan yang dapat mencakup pembahasan mengenai
ketidakpastian di masa depan dan peristiwa kemudian.

2.7.2 Pembahasan Mengenai Risiko


Manajemen risiko dan pengendalian internal sebenarnya merupakan hal
yang lebih penting bagi dewan direksi. Pembahasan mengenai risiko dalam
laporan bentuk panjang dapat mencakup:
 operasional utama dan risiko keuangan;
 efektivitas dari manajemen risiko klien:
 kualitas dari pelaporan internal dan akuntansi manajemen;
 kecurangan dan penyimpangan;
 kepatuhan terhadap etika dan area-area tertentu, seperti perbendaharaan,
bisnis baru. pengendalian kualitas.

Topik-topik pengendalian internal yang diungkapkan dapat mencakup:


kekuatan dan kelemahan dari pengendalian internal, sejumlah rekomendasi
untuk memperbaiki pengendalian, teknologi informasi, dan departemen audit
internal.
Manajemen risiko merupakan topik penting bagi anggota dewan direksi.
Tentu saja, klien tertarik membahas operasional utama dan risiko keuangan,
sehingga keduanya telah direviu setidaknya sejauh keduanya memiliki
keterkaitan dengan audit. Efektivitas dari manajemen risiko klien dan kualitas
dari pelaporan internal dan akuntansi manajemen cukup berarti bagi dewan
direksi. Hal yang sangat penting adalah pembahasan mengenai setiap dugaan
kecurangan dan penyimpangan oleh auditor atau pihak-pihak lain yang tidak
diungkapkan dalam audit. Etika industri memengaruhi posisi moral dan

58
hukum dari klien, sehingga pembahasan mengenai kepatuhan terhadap
standar etika menjadi sangat penting. Area dari manajemen kualitas yang
paling sering dibicarakan adalah terkait efektivitas perbendaharaan,
pengembangan bisnis baru, dan pengendalian kualitas.

2.7.3 Pembahasan Mengenai Topik-Topik Lain


Mungkin ada topik-topik yang tidak secara khusus dibahas, namun
auditor merasa perlu melakukan pembahasan karena situasi-situasi yang
terjadi di perusahaan, situasi perekonomian, maupun audit. Topik-topik
tersebut dapat termasuk pajak, pensiun, fungsi perbendaharaan, dan
ketentuan-ketentuan terkait audit.
Area-area terkait audit yang dapat didiskusikan, termasuk di antaranya
proyek konsultasi khusus terkait laporan keuangan, pengendalian risiko,
jaminan asuransi, dan ketentuan mengenai pensiun. Area-area lainnya terkait
audit yang mungkin direviu adalah pekerjaan terkait kewajiban perpajakan,
dan proyek ketetapan (constancy project) seperti penetapan tolok ukur biaya
(cost benchmarking), teknologi informasi, dan logistik.
Selanjutnya, hal ini menjadi praktik terbaik atau telah ditetapkan
berdasarkan undang-undang di beberapa negara, yang mana auditor
menjelaskan bagaimana independensi auditor telah dijamin, dan jenis
prosedur-prosedur pengendalian kualitas yang dilakukannya untuk membuat
laporan audit yang berkualitas tinggi. Termasuk juga, menyajikan gambaran
dari fee audit yang diperbandingkan dengan anggarannya, dan fee-fee lainnya.

2.8 Surat Manajemen


Surat manajemen mengidentifikasi sejumlah permasalahan yang tidak
perlu diungkapkan di dalam Laporan Keuangan Tahunan, tetapi
merepresentasikan perhatian yang diberikan dan sejumlah saran yang dicatat
auditor selama audit. Surat manajemen merupakan surat auditor yang
ditujukan bagi klilen. Surat manajemen memuat kesimpulan yang dinyatakan

59
akuntan publik terkait sejumlah prosedur dan kebijakan akuntansi
perusahaan, pengendalian internal, dan kebijakan operasional. Evaluasi yang
telah dilakukan dengan sistem yang ada saat ini, menunjukkan sejumlah
permasalahan. Beberapa rekomendasi untuk perbaikan juga disebutkan.
Termasuk juga pembabahasan dari setiap permasalahan yang mungkin
memerlukan tindakan perbaikan dengan segera. Surat manajemen merupakan
tipe surat "bernada baik (feel good)" yang tidak hanya dirancang untuk
menunjukkan sejumlah permasalahan, tetapi juga menawarkan beberapa
solusi dan memberikan beberapa pendekatan khusus yang dapat bermanfaat
bagi perusahaan.
Tidak ada format atau ketentuan bagi surat manajemen berdasarkan
standar-standar yang dikeluarkan International Auditing and Assurance
Standards Board atau sebagian besar standar berskala nasional lainnya.
Kantor akuntan publik dapat mengembangkan format dan iki tertentu bagi
organisasi mereka sendiri dari waktu ke waktu. Beberapa di antaranya dapat
memilih untuk hanya menyertakan komunikasi-komunikasi yang diwajibkan
oleh ISA 240. "Tanggung Jawab Auditor Terkait Kecurangan di dalam Audit
atas Laporan Keuangan;" ISA 250, "Pertimbangan Berdasarkan Undang-
Undang dan Regulasi di dalam Audit atas Laporan Keuangan;” ISA 260,
"Komunikasi dengan Pihak-Pihak yang Bertanggung Jawab atas Tata
Kelola;" dan ISA 265, "Mengomunikasikan Defisiensi dalam Pengendalian
Internal kepada Manajemen dan Pihak-Pihak yang Bertanggung Jawab atas
Tata Kelola." Kantor akuntan publik lainmya telah mengadopsi bahasa
alternatif yang cenderung akan mereka gunakan. Dalam kasus-kasus tertentu,
susunan kata-kata yang ditambahkan atau dimodifikasi dapat dilakukan
mengingat situasi-situasi tertentu yang terjadi pada klien audit. Ketika
mengomunikasikan materi-materi yang tidak diwajibkan berdasarkan
sejumlah standar dan peraturan perundang-undangan, auditor harus
memastikan bahwa tidak ada konflik dalam komunikasi dengan tujuan umum
yang ditetapkan berdasarkan standar-standar dari IAASB.

60
2.9 Penugasan-Penugasan Area Tertentu

Standar laporan-laporan audit didasarkan pada sejumlah laporan


keuangan yang “diambil secara keseluruhan." Namun, terkadang auditor
dapat meminta laporan keuangan berdasarkan informasi keuangan historis,
tapi yang tidak didasarkan pada laporan keuangan secara keseluruhan atau
IFRS atau standar akuntansi rasional yang ditentukan. Auditor menyebut tipe
pekerjaan ini sebagai pemeriksaan atas laporan keuangan historis yang
merupakan contoh utama dari penugasan-penugasan area tertentu.
Para auditor dapat memeriksa informasi keuangan historis untuk
laporan-laporan dengan tujuan khusus. Auditor mungkin diminta untuk
melaporkan komponen-komponen laporan keuangan, seperti ketika bank
meminta audit atas piutang usaha (komponen dari laporan posisi keuangan)
dalam mengantisipasi pembiayaan. Terkadang ada audit-audit yang
memberikan opini atas kepatuhan terhadap kesepakatan hukum yang berlaku
di perusahaan. Sebagan contoh, subkontraktor dapat meminta dilakukan audit
untuk memberikan kenyamanan bagi kontraktor utama. Manajemen atau
direksi dapat meminta ikhtisar laporan keuangan. Bisnis-bisnis berskala kecil
umumnya tidak diwajibkan untuk mengikuti IFRS atau standar nasional.
Bisnis-bisnis berskala kecil dapat membuat laporan keuangan dengan basis
kas, basis pajak penghasilan, atau basis yang diwajibkan oleh lembaga
pembuat regulasi.

2.9.1 Daftar Laporan-Laporan dari Area Tertentu

Sejumlah laporan penugasan dari area-atea tertentu, termasuk hal-hal


berikut:

1. Sejumlah Laporan atas Laporan Keuangan yang Disajikan Berdasarkan


Kerangka Kerja yang Bertujuan Khusus (ISA 800), seperti laporan-laporan
yang sesuai dengan basis pajak dari akuntansi, penerimaan dan
pengeluaran kas dari akuntansi, ketentuan pelaporan keuangan yang

61
ditetapkan olen regulator atau sejumlah ketentuan pelaporan keuangan
berdasarkan kontrak.

2. Sejumlah Laporan atas Audit Laporan Keuangan dan Elemen, Akun, atau
Komponen Tertentu dari Laporan Keuangan (ISA 805).

3. Sejumlah Laporan atas Ikhtisar Laporan Keuangan (ISA 810).

Sejumiah Laporan atas Laporan Keuangan yang Disajikan Berdasarkan


Kerangka Kerja yang Bertujuan Khusus (ISA 800)
Kerangka Kerja yang Bertujuan Khusus (Special Purpose Framework)
merupakan kerangka kerja pelaporan keuangan yang dirancang untuk
memenuhi kebutuhan informasi keuangan bagi para pengguna tertentu dan
terkait dengan serangkaian laporan keuangan yang bertujuan khusus yang
disajikan secaralengkap, termasuk catatan-catatannya yang terkait. Kerangka
kerjä pelaporan keuangan dapat berupa kerangka penyajian yang wajar atau
kerangka kepatuhan.
Berikut contoh-contoh dari kerangka kerja yang bertujuan khusus.
- Basis pajak dari akuntansi untuk serangkaian laporan keuangan yang
menyertai SPT pajak penghasilan (tax return) entitas.

- Basis penerimaan dan pengeluaran kas dari akuntansi untuk arus kas,

- Informasi yang mana entitas mungkin diminta untuk menyajikannya


kepada kreditur.

- Ketentuan pelaporan keuangan yang ditetapkan oleh regulator


untukmemenuhi persyaratan dari regulator tersebut.

- Ketentuan pelaporan keuangan berdasarkan kontrak, seperti perjanjian


obligasi, perjanjlian utang, atau hibah proyek.

62
ILUSTRASI 1.10
Bentuk Contoh Laporan untuk Laporan Keuangan yang Disajikan Berdasarkan
Kerangka Kerja Bertujuan Khusus
Laporan Auditor Independen

Kepada: Penerima yang tepat.

Laporan atas laporan keuangan


Kami telah mengaudit laporan keuangan dari Perusahaan XYZ yang terlampir
bersama laporan ini, yang mana terdiri dari laporan posisi keuangan pada tanggal
31 Desember 20XX, laporan laba rugi untuk tahun yang kemudian berakhir, serta
catatan-catatan atas laporan keuangan, yang di dalamnya memuat ikhtisar
mengenai kebijakan-kebljakan akuntansi dan informasi penjelas lainnya. Laporan
keuangan tersebut telah disajikan oleh manajemen XYZ berdasarkan prinsip-
prinsip akuntansi fiskal yang dimiliki Belanda yang dicantumkan di dalam Dutch
Tax Law.

Tanggung Jawab manajemen


Manajemen bertanggung jawab terhadap penyusunan laporan keuangan tersebut
berdasarkan kebijakan-kebijakan akuntansi fiskal yang dimiliki Belanda yang
dicantumkan di dalam Dutch Tax Law, Selanjutnya, manajemen bertanggung
jawab atas pengendalian Internal yang ditetapkan menjadi kebutuhan untuk
memungkinkan penyusunan laporan keuangan yang bebas dari salah saji material,
baik karena kecurangan maupun kesalahan.

Tanggung Jawab auditor


Tanggung jawab kami adalah untuk menyatakan opini atas laporan keuangan
tersebut berdasarkan audit yang kami lakukan. Kami melakukan audit ini
berdasarkan International Standards on Auditing. Standar tersebut meminta kemi
petuh terhedap katontuan otiko, sorta moronoanakan dan melakukan audit untuk
memperoleh asurans yang memadal terkait apakah laporan keuangan bebas dari
salah sali material.

Audit termasuk melakukan sejumiah prosedur untuk memperoleh bukti audit


terkait jumlah dan pengungkapannya dalam laporan keuangan. Prosedur-prosedur
yang dipilih tergantung dari penilaian auditor, termasuk penijaian risiko salah saji
material atas laporan keuangan, baik karena kecurangan maupun kesalahan.
Dalam membuat penitaian risiko tersebut, auditor mempertimbangkan
pengendalian internal yang relevan dengan penyusunan laporan keuangan entitas
tersebut dalam merancang sejumlah prosedur audit yang sesuai dengan segala
situasi, tetapi tidak untuk tujuan menyatakan opini terkait efektivitas pengendalian
internal entitas. Audit juga termasuk mengevaluasi ketepatan kebijakan akuntansi
yang digunakan dan kewajaran estiması akuntansi yang dibual oleh manajemen,
serta mengevaluasi seluruh penyajlan laporan keuangan tersebut.

63
Kami yakin bahwa bukti audit yang kami peroleh cukup dan tepat untuk
memberikan dasar bagi opini audit kami.

Opini
Dalam opini kami, laporan keuangan XYZ untuk tahun yang berakhir pada
tanggal 31 Desember 20XX telah disajikan berdasarkan kebijakan-kebijakan
akuntans! fiskal yang dimiliki Belanda yang dicantumkan di dalam Dutch Tax
Law dalam seluruh hal yang bersifat material.

Basis akuntansi dan batasan pada distribusi dan penggunaan


Tanpa memodifikasi opini kami, kami memberikan perhatian pada catatan X
untuk laporan keuangan, yang menjelaskan tujuan khusus dari laporan, termasuk
basis akuntansi. Laporan keuangan semata mata hanya ditujukan untuk ... dan
disajikan semata-mata untuk membantu XYZ mematuhi Tax Law. Sebagai
hasilnya, laporan keuangan mungkin tidak sesuai untuk tujuan-tujuan lainnya.
Selanjutnya, laporan auditor kami semata-mata hanya ditujukan untuk XYZ dan
Dutch Tax Authorities dan tidak seharusnya didistribusikan untuk atau digunakan
olen pihak-pihak lain selain XYZ dan Dutch Tax Authorities.

Tempat, tanggal
(Nama Kantor akuntan publik)
(Nama auditor)

Laporan auditor atas laporan keuangan yang bertujtian khusus harus


menjelaskan tujuan dari penyajian laporan keuangan teriebut, dan jika perlu,
terhadap pengguna yang dimaksud, atau merujuk pada catatan di dalam
laporan keuangan yang bertujuan yang memuat informasi tersebut. Jika
manajemen memiliki pilihan kerangka kerja pelaporan keuangan dalam
mempersiapkan laporan keuangan yang dimaksud, maka laporan tersebut
perlu memberikan penjelasan terkait tanggung jawab manajemen terhadap
laporan keuangan, serta juga perlu menyertakan referensi atas tanggung
jawab manajemen untuk menentukan kerangka kerja pelaporan keuangan
yang akan digunakan, yang dapat diterima di situasi-situasi tersebut.
Laporan auditor atas laporan keuangan yang bertujuan khusus perlu
menyertakan penekanan terhadap paragraf permasalahan untuk
memberitahu para pengguna dan laporan auditor bahwa laporan keuangan
disajikan berdasarkan kerangka kerja yang bertujuan khusus, dan sebagai

64
hasilnya, laporan keuangan mungkin tidak sesuai untuk tujuan-tujuan lainnya.
Auditor perlu mencantumkan paragraf ini dengan judul yang sesuai.
Laporan auditor atas laporan keuangan yang disajikan berdasarkan
Kerangka Kerja yang Bertujuan Khusus seharusnya mencantumkan
pernyataan yang menunjukkan basis akuntansi yang digunakan. Paragraf
opini dari laporan tersebut harus menyatakan apakah laporan keuangan telah
disajikan sesuai dengan basis akuntansi yang ditentukan dalam seluruh hal
yang bersifat material. Ilustrasi 1.10 memberikan contoh laporan untuk
laporan keuangan yang disajikan berdasarkan ketentuan yang dicantumkan di
dalam kontrak.

Sejumlah Laporan atas Audit Laporan Keuangan dan Elemen, Akun,


atau Komponen Tertentu dari Laporan Keuangan (ISA 805)
Auditor mungkin diminta untuk menyatakan opini terhadap satu atau
lebih elemen laporan keuangan (misalnya, piutang usaha, persediaan,
perhitungan bonus karyawan, atau ketentuan mengenai pajak penghasilan).
Tipe penugasan semacam ini mungkin dilakukan sebagai penugasan secara
terpisah atau dalam hubungannya dengan audit atas laporan keuangan entitas.
Namun, tipe penugasan semacam ini tidak menghasilkan laporan atas laporan
keuangan secara keseluruhan, dan oleh karenanya, auditor hanya akan
menyatakan opini terkait apakah elemen-elemen tertentu yang diaudit telah
disajikan sesuai standar-standar akuntansi.
Laporan auditor atas elemen-elemen laporan keuangan harus
menyertakan pernyataan yang menunjukkan basis akuntansi yang digunakan
untuk elemen-elemen yang disajikan atau merujuk pada kesepakatan yang
menjelaskan basis akuntansi tersebut. Opini harus menyatakan apakah
elemen-elemen yang disajikan sesuai dengan basis akuntansi yang telah
ditentukan dalam seluruh hal yang bersifat material.
Ketika opini tidak wajar atau opini menolak memberikan opini atas
seluruh laporan keuangan telah dinyatakan, auditor harus melaporkan elemen-
elemen dari laporan keuangan hanya jika elemen-elemen tersebut tidak begitu

65
ekstensif untuk menyusun sebagian besar laporan keuangan. Jika melakukan
hal sebaliknya, maka hal ini dapat menyamarkan laporan atas seluruh laporan
keuangan.

Sejumlah Laporan atas ikhtisar Laporan Keuangan (ISA 810)


Beberapa pengguna laporan keuangan mungkin hanya tertarik pada
laporan yang menyoroti posisi keuangan perusahaan. Oleh karena itu,
perusahaan mungkin hanya memerlukan pernyataan-pernyataan yang
mengikhtisarkan laporan keuangan auditannya setiap tahun. Auditor
seharusnya hanya melakukan penugasan untuk melaporkan terkait ikhtisar
laporan keuangan jika auditor telah menyatakan opini audit atas laporan
keuangan yang menjadi sumber dari ikhtisar tersebut.
Ikhtisar laporan keuangan sangat kurang terinci jika dibandingkan
dengan laporan keuangan auditan setiap tahunnya. Oleh karena itu, sifat dasar
dari ikhtisar informasi yang dilaporkan perlu ditunjukkan secara jelas.
Laporan tersebut perlu mengingatkan pembaca bahwa ikhtisar laporan
keuangan harus dibaca dalam kaitannya dengan laporan keuangan auditan
yang paling baru dari perusahaan.
Hal-hal yang membuat ikhtisar laporan keuangan berbeda dari laporan-
laporan lainnya di pembahasan ini adalah laporan tersebut menyertakan
elemen (c) sampai elemen (e) berikut. Berikut adalah elemen-elemen dasar di
dalam laporan atas ikhtisar laporan keuangan:
a. Judul menunjukkan hal tersebut secara jelas sebagai laporan dari auditor
yang independen.

b. Penerima yang tepat.

c. Paragraf pendahuluan yang:

- Mengidentifikasi ikhtisar laporan keuangan yang sedang dilaporkan


oleh auditor.

66
- Mengidentifikasi laporan keuangan auditan. Merujuk pada laporan
auditor atas laporan keuangan auditan, tanggal laporan tersebut, dan
fikta bahwa opini yang tidak dimodifikani (wajar tanpa pengecualian)
telah dinyatakan atas laporan keuangan auditan tersebut.

- Jika tanggal dari laporan auditor atas ikhtisar laporan keuangan lebih
terlambat dari tanggal laporan auditor atas laporan keuangan auditan,
nyatakan bahwa ikhtisar laporan keuangan dan laporan keuangan
auditan tidak mencerminkan pengaruh dari peristiwa yang terjadi
setelah tanggal laporan auditor atas laporan keuangan auditan.

- Pernyataan yang menunjukkan bahwa ikhtisar laporan keuangan tidak


memuat seluruh pengungkapan yang diwajibkan oleh kerangka
pelaporan keuangan yang digunakan dalam penyajian laporan keuangan
auditan, dan bahwa aktivitas membaca ikhtisar laporan keuangan tidak
dapat menggantikan aktivitas membaca laporan keuangan auditan.

d. Penjelasan terkait tanggung jawab manajemen atas ikhtisar laporan


keuangan, yang menjelaskan bahwa manajemen bertanggung jawab
terhadap penyajian ikhtisar laporan keuangan sesuai kriteria yang
ditentukan.

e. Pernyataan bahwa auditor bertanggung jawab untuk menyatakan opini atas


ikhtisar laporan keuangan berdasarkan sejumlah prosedur yang ditetapkan
oleh ISA.

f. Paragraf yang menyatakan opini secara jelas.

g. Tanda tangan auditor.

h. Tanggal laporan auditor.

i. Alamat auditor.

67
Laporan auditor atas ikhtisar laporan keuangan diberi tanggal setelah tanggal
laporan audiar atas laporan keuangan, yang mana dari laporan keuangan
tersebut merupakan sumber dan ikhtisar laporan keuangan.

2.10 Penugasan Reviu

2.10.1 Penugasan terkait Audit Laporan Keuangan

Tujuan dari audit atas laporan keuangan adalah memungkinkan


auditor untuk menyatakan opini terkait apakah laporan keuangan telah
disajikan sesuai kerangka pelaporan keuangan yang telah ditetapkan dalam
seluruh hal yang bersifat material. Pernyataan berupa kesimpulan yang
diambil oleh auditor dirancang untuk memperbesar tingkat keyakinan para
pengguna yang dimaksud terhadap laporan keuangan historis,.Standar-
standar penugasan audit adalah ISA 200 sampai ISA 299.

2.10.2 Penugasan terkait Reviu Laporan Keuangan (ISRE 2000-2699)

Reviu laporan keuangan memiliki kesamaan dengan audit atas


laporan keuangan, yang mana reviu mewajibkan adanya persyaratan
penugasan, perencanaan, pertimbangan atas pekerjan yang dilakukan oleh
pihak-pihak lain, dokumentasi, dan memberikan perhatian pada peristiwa
kemudian (subsequent events). Perbedaan utama dari reviu laporan
keuangan dan audit atas laporan keuangan adalah bahwa di dalam laporan
reviu, penugasan hanya terbatas pada prosedur-prosedur yang dilakukan
(terutama penyelidikan yang dilakukan oleh manajemen dan sejumlah
prosedur analitis).
Tujuan dari reviu laporan keuangan adalah memungkinkan auditor
untuk menyatakan (didasarkan pada sejumlah prosedur yang tidak ekstensif
sebagaimana yang diperlukan di dalam audit atas laporan keuangan secara
keseluruhan) bahwa "tidak ada yang menarik perhatian auditor yang
membuat auditor percaya bahwa laporan keuangan tidak memberikan

68
gambaran yang benar dan wajar (atau tidak disajikan secara wajar dalam
seluruh hal yang bersifat material) berdasarkan [kerangka pelaporan
keuangan yang telah ditetapkan]." Cara menyatakan opini semacam ini
disebut dengan asurans negatif (negative assurance).

Prosedur-Prosedur Audit Terbatas


Kecukupan bukti yang memadai untuk melakukan reviu laporan
keuangan terbatas pada penyelidikan, prosedur analitis, inspeksi terbatas,
dan prosedur pengumpulan bukti tambahan hanya di beberapa kasus
tertentu. Penyelidikan (inquiry) termasuk pencarian informasi dari pihak-
pihak yang memiliki pengetahuan, baik di dalam maupun di luar entitas.
Prosedur analitis (analytical procedures) termasuk analisis atas rasio dan
trend penting, yang di antaranya adalah investigasi yang dilakukan terkait
fluktuasi dan hubungan yang tidak konsisten dengan informasi yang relevan
lainnya atau menyimpang dari jumlah yang diprediksikan. Inspeksi
(inspection) yang terdiri dari pemeriksaan catatan, dokumen, atau aset
berwujud dilakukan secara terbatas.
Penugasan reviu biasanya tidak termasuk mengumpulkan bukti
terkait rancangan dan pelaksanaan pengendalian internal. atau memperoleh
bukti untuk mendukung sejumlah temuan dari penyelidikan atau prosedur
analitis, tidak sebagaimana audit yang dilakukan atas laporan keuangan
secara keseluruhan (misalnya, bukti-bukti yang menguatkan). Penugasan
reviu tidak menggunakan teknik pengumpulan bukti yang digunakan di
dalam audit atas laporan keuangan, seperti observasi, konfirmasi,
perhitungan ulang, pelaksanaan kembali, atau inspeksi yang dilakukan
secara ekutensif .

69
ILUSTRASI 1.11

Bentuk Laporan Reviu dengan Opini Wajar Tanpa Pengecualian


Laporan Reviu untuk...

Kami telah mereviu laporan posisi keuangan Perusahaan ABC per tanggal 31
Desember 19XX, beserta laporan laba rugi. laporan perubahan enitas, dan laporan
arus kas untuk tahun yeng kemudian berakhir yang terlampir bersama laporan ini.
Laporan keuangan tersebut merupakan tanggung jawab dari manajemen
Perusahaan. Tanggung jawab kami adalah untuk menerbitkan laporan atas laporan
kuangan tersebut berdasarkan reviu yang telah kami lakukan.

Kami telah melakukan reviu sesuai dengan International Standards on Review


Enggements 2400 (atau merujuk pada sejumlah standar atau praktik nasional yang
relevan yang berlaku untuk penugasan reviu). Standar ini meminta kami untuk
merencanakan dan melakukan reviu agar memperoleh asurans yang moderat
terkait apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material. Reviu yang
dlakukan tenbatas terutama untuk mengajukan sejumlah pertanyaan ke personil
perusahaan dan beberapa prosedur analitis yang dalakukan pada data keuangan,
dan kemudian memberikan lebih sedikit asurans dari pada audit. Kami tidak
melakukan audit, dan oleh karenanya kami tidak menyatakan opini audit.

Berdasarkan reviu yang telah kami lakukan, tidak ada yang menarik perhatian
kami, yang menyebabkan kami percava bahwa laporan keuangan yang terlampir
bersama laporan ini tidak memberikan gambaran yang benar dan wajar (atau tidak
disajikan secara wajar dalam seluruh hal yang bersifat material) sesuai
International Accounting Standards.

(Tanggal)
(Praktis)
(Alamat)

Laporan Reivu atas Laporan Keuangan


Laporan terkait reviu atas laporan keuangan seharusnya memuat
elemen-elemen dasar berikut, yang biasanya ditempatkan di dalam susunan
seperti yang ada di bawah ini. (perhatikan Ilustrasi 1.12 untuk contoh laporan
reviu dengan opini wajar tanpa pengecualian):
(a) Judul.

(b) Penerima yang tepat.

(c) Paragraf pembuka atau pendahuluan yang mencakup:

70
(i) Identifikasi laporan keuangan yang mana reviu atas laporan keuangan
tersebut telah dilakukan.

(ii) Pernyataan terkait tanggung jawab manajemen entitas dan tanggung


jawab auditor.

(d) Paragraf ruang lingkup yang menjelaskan sifat dasar dari reviu, termasuk:

(i) Referensi ke ISRE ini berlaku untuk penugasan reviu, maupun


sejumlah standar atau praktik nasional yang relevan.

(ii) Pernyataan bahwa reviu terbatas terutama pada penyelidikan dan


sejumlah prosedur analitis.

(iii) Pernyataan bahwa audit belum dilakukan, prosedur yang dilakukan


memberikan lebih sedikit asurans daripada audit, dan opini audit yang
terkait dengan hal tersebut belum dinyatakan.

(e) Pernyataan asurans negatif.

(f) Tanggal laporan.

(g) Alamat praktisi.

(h) Tanda tangan praktisi.

Kesimpulan Reviu
Kesimpulan reviu dapat berupa opini wajar tanpa pengecualian
(unqualified), wajar dengan pengecualian (qualified), atau tidak wajar
(adverse). Opini wajar tanpa pengecualian menawarkan asurans negatif. Jika
terdapat hal-hal yang mengurangi gambaran yang benar dan wajar
berdasarkan kerangka pelaporan keuangan yang telah ditetapkan, yang mana
hal tersebut menarik perhatian auditor, maka auditor dapat menyatakan
pengecualian (qualification) atas asurans negatif yang diberikan; atau
memberikan opini tidak wajar (adverse opinion). Ketika pengaruh dari hal-

71
hal tersebut begitu material dan pervasif terhadap laporan keuangan, yang
mana pengecualian dianggap tidak memadai, maka pernyataan tidak wajar
menyatakan bahwa laporan keuangan tidak memberikan gambaran yang
benar dan wajar (atau "tidak disajikan secara wajar dalam seluruh hal yang
bersifat material”) sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang telah
ditetapkan.
Auditor harus memberikan tanggal dilaporan reviu sesuai tanggal reviu
tersebut diselesaikan, termasuk melakukan sejumlah prosedur yang terkait
dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi sampai tanggal laporan. Namun,
auditor tidak harus memberikan tanggal di laporan reviu lebih awal dari
tanggal di laporan keuangan yang telah disetujui oleh manajemen tersebut.

2.11 Penugasan Asurans Selain Audit atau Reviu atas Informasi Keuangan
Historis (ISAE 3000-3699)

International Standard on Assurance Engagements (ISAE)


menetapkan prinsip-prinsip dasar dan prosedur-prosedur penting bagi para
akuntan profesional di dalam praktik publik untuk pelaksanaan penugasan
asurans pada pokok tugas selain informasi keuangan historis. Contoh
penugasan pada pokok tugas selain informasi keuangan historis dapat
berupa pelaporan atas pengendalian internal, pelaporan terkait
keberlanjutan, dan penugasan mengenai informasi keuangan prospektif.
Standar-standar mengenai penugasan asurans pada pokok tugas
selain informasi keuangan historis dapat memiliki dua komponen utama.
1. Topik-topik yang berlaku untuk seluruh penugasan asurans (ISAE 3000-
3399).

2. Standar-standar tertentu atas pokok tugas (ISAE 3400-3699).

72
2.11.1 Topik-Topik yang Berlaku untuk Seluruh Penugasan Asurans
(ISAE 3000- 3399)

Beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika memberikan jasa


asurans selain audit atau reviu atas informasi keuangan historis. Beberapa
pertimbangan yang serupa dengan audit atas laporan keuangan, termasuk
etika, pengendalian kualitas, syarat penugasan, perencanaan, materialitas,
penggunaan pekerjaan dari tenaga ahli, peristiwa kemudian, dan
dokumentasi. Pertimbangan utama dari laporan asurans yang berbeda dari
audit atas laporan keuangan adalah pilihan pada tingkat asurans, penerimaan
penugasan, pokok tugas (subject matter), dan pelaporan.
Saat ini, standar ISAE 3000 merupakan satu-satunya standar yang
berlaku untuk seluruh pokok tugas (ISAE 3000-3399), Standar ini
menetapkan kerangka kerja bagi penugasan asurans selain audit atau reviu
atas informasi keuangan historis. Standar-standar lain akan ditambahkan
oleh IAASB sesuai kebutuhan.

2.11.2 Penugasan Asurans yang Memadai dan Terbatas

ISAE mengizinkan auditor melakukan dua tipe penugasan asurans,


yakni: "penugasan asurans yang memadai (reasonable assurance
engagements)" dan "penugasan asurans yang terbatas (limited assurance
engagements)."
Tujuan dari penugasan asurans yang memadai adalah pengurangan
risiko penugasan asurans pada tingkat rendah yang dapat diterima di segala
situasi penugasan sebagai dasar bagi bentuk pernyataan positif atas
kesimpulan yang diambil praktisi.
Tujuan dari penugasan asurans yang terbatas adalah pengurangan
risiko penugasan asurans pada tingkatan yang dapat diterima di segala
situasi penugasan, tetapi risikonya lebih besar daripada penugasan asurans
yang memadai, sebagai dasar bagi bentuk pernyataan negatif atas
kesimpulan yang diambil praktisi.

73
2.11.3 Penerimaan Penugasan

Berdasarkan ISAE, asurans dapat diberikan untuk berbagai pokok


tugas, yang mana proses penerimaan penugasan yang memadai merupakan
hal yang penting. Pada tahapan penerimaan penugasan, auditor harus
memverifikasi kelima elemen penugasan asurans yang dapat digunakan
pada penugasan-penugasan tertentu, sebelum menandatangani surat
penugasan.
Ketika klien meminta auditor mengubah penugasan menjadi
penugasan non asurans atau dari penugasan asurans yang memadai menjadi
penugasan asurans yang terbatas, maka auditor tidak seharusnya menyetujui
perubahan tersebut tanpa justifikasi yang masuk akal. Perubahan di dalam
situasi-situasi yang memengaruhi persyaratan dari para pengguna yang
dimaksud, atau kesalahpahaman terkait sifat dasar dari penugasan biasanya
akan menjustifikasi permintaan terhadap perubahan penugasan tersebut. Jika
perubahan semacam ini telah dilakukan, maka auditor tidak dapat
mengabaikan bukti-bukti yang telah diperoleh sebelum perubahan terjadi.

2.11.4 Laporan Asurans terkait Penugasan ISAE

Laporan asurans harus mencantumkan elemen-elemen dasar berikut,


yang biasanya ditempatkan di dalam susunan seperti yang ada di bawah ini.
(a) Judul.

(b) Penerima yang tepat.

(c) Identifikasi dan penjelasan atas informasi pokok tugas.

(d) Identifikasi atas kriteria.

(e) Jika sesuai, penjelasan atas setiap keterbatasan bawaan yang penting
terkait evaluasi atau pengukuran pokok tugas terhadap kriteria.

(f) Ketika-kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi atau mengukur


pokok tugas tersedia bagi para pengguna tertentu yang dimaksud, atau

74
hanya relevan untuk tujuan-tujuan tertentu, maka diperlukan pernyataan
yang membatasi penggunaan laporan asurans bagi para pengguna yang
dimaksud atau untuk tujuan tersebut.

(g) Pernyataan yang mengidentifikasi pihak-pihak yang bertanggung jawab


dan menjelaskan tanggung jawab dari pihak-pihak yang bertanggung
jawab dan praktisi.

(h) Pernyataan bahwa penugasan dilakukan berdasarkan ISAE.

(i) Ikhtisar dari pekerjaan yang dilakukan.

(j) Kesimpulan yang diambil praktisi.

(k) Tanggal laporan asurans.

(l) Nama perusahaan atau praktisi, dan lokasi tertentu.

Walaupun saat ini belum disebutkan di dalam ISAE 3000, laporan tersebut
juga akam mencantumkan tanda tangan praktisi.

2.11.5 Standar-Standar Tertentu atas Pokok Tugas (ISAE 3400-3699)

ISAE dapat mencakup berbagai pokok tugas keuangan nonhistoris,


seperti informasi keuangan prospektif, tata kelola perusahaan, pengendalian
internal, dan keberlanjutan. Pokok tugas yang saat ini dicakup di dalam
pernyataan IAASB antara lain:
- ISAE 3400, "Pemeriksaan atas Informasi Keuangan Prospektif."

- ISAE 3402, "Laporan Asurans terkait Pengendalian di Organisasi Jasa."

- ISAE 3410, "Penugasan Asurans atas Pernyataan Greenhouse Gas."

- ISAE 3420, "Penugasan Asurans untuk Melaporkan Kompilasi dari


Informasi Keuangan Proforma yang Disertakan di dalam Prospektus."

75
2.11.6 Contoh Keberadaan Standar-Standar Selain IAASB yang
Digunakan di dalam Penugasan Asurans

Berikut contoh keberadaan standar-standar yang mungkin


dipertimbangkan di dalam sistem dan proses, informasi nonkeuangan,
maupun penugasan asurans perilaku.
- Sarbanes-Oxley, Section 404 terkait Standar Audit Pengendalian
Internal.

- Global Reporting Initiative (GRI) terkait Panduan untuk Pelaporan


Keberlanjutan.

- SA 8000, Standar-Standar bagi Akuntabilitas Sosial terhadap


Karyawan.

Pemeriksaan terkait Informasi Keuangan Prospektif (ISAE 3400)


"Informasi keuangan prospektif" berarti informasi keuangan
didasarkan pada sejumlah asumsi terkait beberapa peristiwa yang dapat
terjadi di masa depan. Informasi keuangan prospektif dapat berbentuk
perkiraan, proyeksi, atau kombinasi dari keduanya. "Perkiraan (forecast)"
adalah informasi keuangan prospektif yang disajikan berdasarkan sejumlah
asumsi manajemen terhadap peristiwa-peristiwa di masa depan (asumsi
dengan estimasi terbaik). Sementara "proyeksi (projection)" merupakan
informasi keuangan prospektif yang disajikan berdasarkan sejumlah asumsi
hipotetis terkait peristiwa-peristiwa di masa depan dan tindakan yang dapat
atau tidak dapat diambil oleh manajemen, seperti kemungkinan adanya
merger dari dua perusahaan. Proyeksi merupakan skenario "bagaimana jika
(what if)."
Laporan atas pemeriksaan terkait informasi keuangan prospektif
dapat menggunakan beberapa bentuk. Laporan mungkin berbentuk laporan
prospektus untuk memberikan informasi mengenai ekspektasi di masa
depan bagi para investor potensial. Laporan mungkin dapat berbentuk
laporan tahunan untuk memberikan informasi kepada pemegang saham,

76
lembaga pembuat regulasi, dan pihak-pihak yang berkepentingan lainnya.
Laporan ini dapa digunakan sebagai laporan kepada pemilik dana terkait
perkiraan arus kas.

ILUSTRASI 1.12
Contoh-Cont0h Laporan Keuangan Prospektif
(A) Intisari dari Laporan yang Tidak Dimodifikasi (Wajar Tanpa Pengecuallan)
atas Perkiraan

Laporan Auditor Bagi...

Kita telah memeriksa perkiraan berdasarkan International Standards on Auditing


yang berlaku bagi pemeriksaan atas informasi keuangan prospektif, Manajemen
bertanggung jawab terhadap perkiraan tersebut, termasuk sejumlah asumsi yang
mendasarinya, yang disebutkan di Catatan X.

Berdasarkan pemeriksaan yang kita lakukan atas bukti-bukti yang mendukung


sejumlah asumsi tersebut. Tidak ada yang menarik perhatian kita yang
menyebabkan kita percaya bahwa asumsi-asumsi yang dimaksud tidak
memberikan dasar yang memadai bagi perkiraan yang dibuat. Selanjutnya,
menurut opini kita, perkiraan tersebut telah dipersiapkan dengan tepat berdasarkan
sejumlah asumsi dan disajikan sesuai (nama standar yang digunakan).

Hasil-hasil aktual kemungkinan berbeda dari perkiraan karena sejumlah peristiwa


yang telah diantisipasi sering kali tidak terjadi sebagaimana yang diekspektasikan,
yang mana perbedaannya mungkin bersifat material.

(Tanggal)

(Alamat)

(B) Intisari dari Laporan yang Tidak Dimodifikasi (Wajar Tanpa Pengecualian)
atas Proyeksi

Laporan Auditor bagi...

Kita telah memeriksa proyeksi berdasarkan International Standards on Auditing


yang berlaku bagi pemeriksaan atas informasi keuangan prospektif. Manajemen
bertanggung Jawab terhadap proyeksi tersebut, termasuk sejumlah asumsi yang
mendasarinya, yang disebutkan di Catatan X.

Proyeksi ini telah disiapkan bagi (menjelaskan tujuan). Oleh karena entitas berada
di dalam tahapan awal (start up), maka proyeksi telah disiapkan menggunakan
serangkaian asumsi yang menyertakan asumsi-asumsi hipotetis mengenai

77
sejumlah peristiwa dan tindakan-tindakan manajemen di masa depan yang tidak
perlu diekspektasikan akan terjadi. Konsekuenisinya, para pembaca perlu
diingatkan bahwa proyeksi ini mungkin tidak tepat untuk tujuan-tujuan selain
yang dijelaskan sebelumnya.

Berdasarkan pemeriksaan yang kita lakukan atas bukti-bukti yang mendukung


sejumlah asumsi tersebut, tidak ada yang menarik perhatian kita yang
menyebabkan kita percaya bahwa asumsi-asumsi yang dimaksud tidak
memberikan dasar yang memadai bagi proyeksi yang dibuat, yang
mengasumsikan bahwa (menyatakan atau mengacu pada asumsi-asumsi hipotetis).
Selanjutnya, menurut opini kita, proyeksi tersebut telah dipersiapkan dengan tepat
berdasarkan sejumlah asumsi dan disajikan sesuai (nama standar yang digunakan).

Bahkan jika peristiwa-peristiwa yang telah diantisipasi menggunakan asumsi-


asumsi hipotetis yang dijelaskan sebelumnya memang benar terjadi, maka hasil-
hasil aktual kemungkinan masih dapat berbeda dari proyeksi karena sejumlah
peristiwa yang telah diantisipasi lainnya sering kali tidak terjadi sebagaimana
yang diekspektasikan dan perbedaannya mungkin bersifat material.

(Tanggal)

(Alamat)

Informasi Keuangan Prospektif Menawarkan Tingkat Asurans yang


Moderat
Pelaporan terkait informasi keuangan prospektif sangat subjektif.
Informasi keuangan prospektif berkaitan dengan sejumlah peristiwa dan
tindakan yang belum terjadi dan mungkin tidak terjadi. Walaupun bukti
mungkin tersedia untuk mendukung sejumlah asumsi tersebut, bukti ini
berorientasi masa depan, dan oleh karenanya, bersifat spekulatif: Hal ini
berarti bahwa bukti tersebut tidak menawarkan tingkat asurans vang sama
dengan informasi keuangan historis. Oleh karena itu, auditor tidak berada
dalam posisi untuk menyatakan opini terkait apakah hasil-hasil yang
ditunjukkan di dalam informasi keuangan prospektit akan dapat dicapai atau
tidak.
Berdasarkan tipe bukti yang tersedia, maka mungkin sulit bagi
auditor untuk memperoleh tingkat kepuasan yang cukup agar dapat

78
memberikan pernyataan opini yang bersifat positif. Auditor umumnya hanya
dapat memberikan tingkat asurans yang moderat.

Laporan atas Pemeriksaan terkait Informasi Keuangan Prospektif


Laporan yang diberikan oleh auditor atas pemeriksaan terkait
informasi keuangan prospektit berbeda dari laporan atas informasi keuangan
historis karena laporan tersebut memuat hal-hal berikut.
- Identifikasi atas informasi keuangan prospektif.

- Pernyataan bahwa manajemen bertanggung jawab terhadap informasi


keuangan prospektif, termasuk asumsi-asumsi yang mendasari hal
tersebut.

- Referensi terhadap tujuan dan/atau distribusi dari informasi keuangan


prospektif yang dibatasi, jika dapat dilakukan.

- Pernyataan asurans yang negatif terkait apakah asumsi-asumsi


memberikan dasar yang memadai bagi informasi keuangan prospektif.

- Opini terkait apakah informasi keuangan prospektif tersebut telah


disajikan dengan tepat berdasarkan sejumlah asumsi dan disajikan
sesuai kerangka pelaporan keuangan yang relevan.

- Pengingat yang tepat mengenai pencapaian hasil-hasil yang ditunjukkan


dengan informasi keuangan prospektif tersebut.

Sinyal-sinyal di dalam laporan atas informasi keuangan prospektif


harus dinyatakan secara jelas. Sinyal-sinyal tersebut akan menyatakan
bahwa hasil-hasil aktual kemungkinan berbeda dari informasi keuangan
prospektif karena sejumlah peristiwa yang telah diantisipasi sering kali tidak
terjadi sebagaimana yang diekspektasikan, yang mana perbedaannya dapat
bersifat material. Dalam kasus yang berkaitan dengan proyeksi, pengingat
dapat berupa "informasi keuangan prospektif yang telah disajikan untuk
[menyatakan tujuan], menggunakan serangkaian asumsi yang menyertakan

79
asumsi-asumsi hipotetis mengenai sejumlah peristiwa dan tindakan-tindakan
manajemen di masa depan yang tidak perlu diekspektasikan akan terjadi."
Ilustrasi 1.12 menunjukkan contoh intisari yang diperoleh dari
laporan yang tidak dimodifikasi (wajar tanpa pengecualian) atas perkiraan
dan laporan yang tidak dimodifikasi (wajar tanpa pengecualian) atas
proyeksi.

2.11.7 Pengendalian Internal atas Penugasan Asurans terkait


Pelaporan Keuangan

Saat ini, terdapat berbagai standar untuk pelaporan pengendalian internal.


Pelaporan yang paling umum didasarkan pada SOX 404, yang diwajibkan
bagi seluruh perusahaan yang diperdagangkan di bursa sabam Amerika
Serikat, termasuk perusahaan-perusahaan yang berkantor pusat di luar
Amerika Serikut. Berlaku juga untuk perusahaan-perusahaan yang terdaftar
di Japanese-SOX, Jepang Mulai bulan Juni 2011, standar IAASB yakni
ISAE 3402, "Laporan Asurans terkait Pengendalian di Organisasi Jasa"
berlaku efektif, yang menetapkan sejumlah standar untuk pengauditan
terkait pengendalian internal di perusahaan jasa. Oleh karena SOX
merupakan standar yang paling umum digunakan di seluruh dunia, kita
fokus pada SOX sebagai contoh standar dari Pelaporan Pengendalian
Internal.

ILUSTRASI 1.13
Ilustrasi Laporan yang Menyatakan Opini Wajar Tanpa Pengecualian terkait
Pengendalian Internal atas Pelaporan Keuangan (Laporan secara Terpisah)
Laporan dari Kantor Akuntan Publik yang Terdaftar dan Independen

(Paragraf Pendahuluan)
Kita telah mengaudit laporan posisi keuangan dari W Company per tanggal 31
Desember 20XB dan 31 Desember 20X7 beserta laporan laba rugi, laporan
ekuitas pemegang saham dan laba komprehensif, dan laporan arus kas yang terkait
untuk masing-masing tahun dari periode tiga tahun yang berakhir pada tanggal 31
Desember 20X8 yang terlampir bersama laporan ini. Kita juga telah mengaudit

80
pengendalian intermal atas pelaporan keuangan W Company sampal tanggal 31
Desember 20X8 berdasarkan (kriteria pengendalian yang telah ditentukan,
misalnya, "kriteria yang telah ditetapkan di dalam Kerangka Pengendalian Internal
yang Terintegrasi (Internal Control – Integrated Framework) yang diterbitkan
oleh Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission
(COSO)”]. Manajemen W Company bertanggung jawab terhadap laporan
keuangan tersebut untuk mempertahankan pengendallan intenal yang efektif atas
pelaporan keuangan, dan bagi penilaiannya terkait efektivitas pergendalian
internal atas pelaporan keuangan yang terlampir bersama laporan (judul laporan
manajemen). Tanggung jawab kita adalah untuk menyatakan opini atas laporan
keuangan tersebut dan opini terkait pengendalian internal atas pelaporan keuangan
perusahaan berdasarkan audit yang kita lakukan.

(Paragraf Ruang Lingkup)


Kita melakukan audit berdasarkan standar-standar yang dikeluarkan oleh Public
Company Accounting Oversight Board (Amerika Serikat). Standar-standar
tersebut meminta kita merencanakan dan melakukan audit untuk memperoleh
asurans yang memadai terkait apakah laporan keuangan tersebut bebas dari salah
saji material dan apakah pengendalian internal yang efektit atas pelaporan
keuangan telah dipertahankan dalam seluruh hal yang bersifat material. Audit
yang kita lakukan atas laporan keuangan termasuk memeriksa bukti yang
mendukung jumlah dan pengungkapannya dalam laporan keuangan atas dasar
pengujian, menilai prinsip-prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi-
estimasi penting yəng dibuat oien manajemen, serta mengevaluasi penyajian
laporan keuangan secara keseluruhan. Audit yang kita lakukan terkait
pengendalian internal stas pelaporan keuangan termasuk memperoleh pemahaman
terkait pengendalian internal atas pelaporan kauangan, menilai risiko deri adanya
kelemehan-kelemahan yang bersifat meterial, serta menguji dan mengevaluasi
rancangan dan pelaksanaan pengendalian internal yang efektif berdasarkan isiko-
risiko yang dinilai tersebut. Audit yang kita lakukan juga termasuk melakukan
sejumlah prosedur lainnya yang kita anggap perlu di segala situasi. Kita yakin
bahwa audit yang kita lakukan dapat memberikan dasar yang memadai bagi opini
yang kita berikan.

(Paragraf terkait Definisi)


Pengendalian internal atas pelaporan keuangan perusahaan adalah proses yang
dirancang untuk memberikan asurans yang memadai mengenai keandalan
pelaporan keuangan dan penyajian laporan keuangan untuk tujuan eksternal sesuai
Prinsip-Prinsip Akuntansi yarg Berterima Umum (Generally Accepted Accounting
Principles). Pengendalian internal atas pelaporan keuangan perusahaan termasük
sejumlah kebijakan dan prosedur yang (1) berkenaan dengan pengelolaan catatan
yang secara akurat dan wajar merefleksikan sejumlah transaksi dan disposisi aset
perusahaan dalam rincian yang memadai; (2) memberikan asurans yang memadai
bahwa transaksi-transaksi yang dicatat diperlukan untuk memungkinkan
penyajian laporan keuangan yang sesuai dengan Prinsip-Prinsip Akuntansi yang
Berterima Umum, serta penerimaan dan pengeluaran parusahaan hanya dilakukan

81
berdasarkan otorisasi manajemen dan direktur perusahaan; dan (3) memberikan
asurans yang memadai mengenai pencegahan atau deteksi yang tepat waktu atas
akuisisi. penggunaan, atau disposisi aset perusahaan yang tidak diotorisasi yang
dapat berdampak material terhadap laporan keuangan.

(Paragraf terkait Keterbatasan Bawaan)


Oleh karena keterbatasan bawaannya, pengendalian internal atas pelaporan
keuangan tidak dapat mencegah atau mendeteksi salah saji. Selain itu, sejumlah
proyeksi atas setiap evaluasi terkait efektivitas untuk periode yang akan datang
menjadi subjek bagi risiko, yang mana pengendalian dapat menjadi tidak
memadai akibat perubahan kondisi, atau karena tingkat kepatuhan terhadap
sejumlah kebijakan atau prosedur tersebut mengalami penurunan.

(Paragraf opini)
Berdasarkan opini kita, laporan-laporan keuangan yang disebutkan di paragraf
pertama telah disajikan secara wajar dalam seluruh hal yang bersifat material.
Laporan posisi keuangan dari W Company pada tanggal 31 Desember 20X8 dan
31 Desember 20X7, beserta hasil operasi dan arus kasnya untuk masing-masing
tahun dari periode tiga tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 20X8 telah
sesuai dengan Prinsip-Prinsip Akuntansi yang Berterima Umun (Generally
Accepted Accounting Principles di Amerika Serikat). Menurut opini kita juga, W
Company telah mempertahankan pengendalian internal yang efektif atas
pelaporan keuangan sampai tanggal 31 Desember 20X8 dalam seluruh hal yang
bersifat material berdasarkan (mengidentifikasi kriteria pengendalian, misalnya,"
melakukan, dalam semua hal yang material, pengendalian yang efektif terhadap
laporan keuangan tanggal 31 Desember 2OXB, berdasarkan [jelaskan kriteria
pengendalian, "kriteria yang telah ditetapkan di dalam Kerangka Pengendalian
Internal yang Terintegrasi (Internal Control - Integrated Framework) yang
diterbitkan oleh Committee Sponsoring Organizations of the Treadway
Commission (COSO)"].

(Tanda Tangan)
(Kota dan Negara Bagian atau Negara)
(Tanggal)

ILUSTRASI 1.14
Contoh Laporan Tertulis dari Manajemen
Manajemen bertanggung jawab untuk menetapkan dan mengeola pengendalian
internal yang memadai atas pelaporan keuangan bagi perusahaan. Manajemen
telah menilai pergendalian internal atas pelaporan keuangan perusahaan sampai
tanggal 31 Desember 201X. Oleh karena keterbatasan bawaannya pengendalian
internal atas pelaporan keuangan tidak ditujukan untuk memberikan asurans yang
abstrak bahwa salah satu dalam laporan keuangan dapat dicegah atau dideteksi.

82
Berdasarkan penilaian yang diakukan manajemen, manajemen percaya bahwa
sampai tanggal 31 Desember 200X, perusahaan telah mempertahankan
pengendalian internal yang efektif atas pelaporan keuangan, tema pergelolaan
catatan dalam rincian yang memadai secara akurat dan wajar yang dapat
merefleksikan sejumlah transaksi dan disposisi aset perusahaan, serta kebijakan
dan prosedur yang memberikan asurans yang memadai bahwa (a) transaksi-
transaksi yang dicatat diperlukan untuk memungkinkan penyajian laporan
keuangan yang sesuai dengan Prinsip-Prinsip Akuntansi yang Berterima Umum
(Generaly Accepted Accaunting Principies di Amerka) dan (b) penerimaan dan
pengeluaran perusahaan hanya dilakukan berdasakan otorisasi manajamen dan
direktur peruahaan sesuai kriteria pengendalian internal yang efektif atas
pelaporan keuangan yang telah ditetapkan di dalam Kerangka Pengendalian
Internal yang Terintegrasi (Internal Control - Integrated Framework) yang
diterbitkan oleh Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway
Commision (COSO).

Nama kantor akuntan publik yang terdaftar dan independen) telah mengaudit
laporan keuangan perusahaan untuk tahun fiskal yang berakhir pada tanggal 31
Desember 20X8 dan pengendalian internal atas pelaporan keuangan perusahaan
samipalitanggal 31 Desember 20X8.

Pelaporan Berdasarkan SOX 404


Surbanes-Oxley Act (SOX) tahun 2002 mewajibkan sertifikasi atas
pengendalian internal oleh Chief Executive Officer (CEO) dan Chief
Financial Officer (CFO) dari seluruh perusahaan yang diperdagangkan di
bursa saham Amerika Serikat, termasuk perusahaan-perusahaan yang
berkantor pusat di luar Amerika Serikat. SOX juga mewajibkan auditor
perusahaan untuk memberikan opini atas laporan pengendalian internal
yang diberikan manajemen.
Sejumlah peraturan terkait pelaporan pengendalian internal yang
dipublikasikan oleh SEC mengharuskan laporan tahunan perusahaan untuk
menyertakan laporan pengendalian internal dari manajemen yang memuat:
- pernyataan terkait tanggung jawab manajemen untuk menetapkan dan
mempertahankan pengendalian internal yang memadai atas pelaporan
keuangan bagi perusahaan;

83
- pernyataan yang mengidentifikasi kerangka kerja yang digunakan oleh
manajemen untuk mengevaluasi efektivitas pengendalian internal
perusahaan atas pelaporan keuangan;

- penilaian manajemen terkait efektivitas pengendalian internal


perusahaan atas pelaporan keuangan, termasuk pernyataan terkait
efektif atau tidaknya pengendalian internal perusahaan atas pelaporan
keuangan tersebut. Penilaian perlu menyertakan pengungkapan dari
setiap "kelemahan yang bersifat material” di dalam pengendalian
internal perusahaan atas pelaporan keuangan yang telah ditentukan oleh
manajemen;

- Pernyataan bahwa kantor akuntan publik yang terdaftar, yang


mengaudit laporan keuangan yang dilampirkan di dalam laporan
tahunan telah menerbitkan laporan atestasi terkait penilaian manajemen
atas pengendalian internal perusahaan atas pelaporan keuangan.

Standar-Standar untuk Penyajian dan Penerbitan Laporan Audit


Public Company Accounting Oversight Board (PCAOB) Amerika
Serikat telah menetapkan standar audit pengendalian internal (Audit
Standard 5) yang diperlukan oleh perusahaan-perusahaan yang sahamnya
diperdagangkan secara publik di Amerika Serikat. Regulasi yang ditetapkan
PCAOB meminta kantor akuntan publik untuk menjelaskan ruang lingkup
pengujiannya atas struktur pengendalian internal perusahaan dan sejumlah
prosedur yang dilakukan terkait evaluasi pengendalian internalnya
berdasarkan SOX, Section 404 (b) di dalam laporan auditnya. Dalam
laporan auditnya, kantor akuntan publik yang terdaftar perlu juga
menjelaskan kelemahan-kelemahan yang bersifat material di dalam
pengendalian internal perusahaan dan setiap ketidakpatuhan yang bersifat
material yang ditemukan. Perhatikan Ilustrasi 1.13 untuk contoh opini
aiditor atas pengendalian internal.

84
Penilaian Manajemen terkait Pengendalian Internal atas Pelaporan
Keuangan
Manajemen memberikan laporan tertulis mengenai penilaiannya
sebagaimana yang ditunjukkan di llustrasi 1.14.

Ilustrasi Laporan dengan Opini Wajar Tanpa Pengecualian terkait


Efektvitas Pengendalian Internal
Auditor perlu melaporkan asersi manajetmen. Ilustrasi 1.13
memberikan contoh laporan auditor terkait pengendalian internal. Paragraf
pendahuluan menyatalan bahwa praktisi telah mengaudit penilaian
manajemen terkait bagaimana perusahaan mengelola pengendalian internal
yang efektif atas pelaporan keuangan. Paragraf tersebut juga menjelaskan
mengenai tanggung jawab manajemen dan auditor. Paragraf terkait definisi
memberikan penjelasan mengenai sejumlah kebijakan dan prosedur
pengendalian internal perusahaan. Paragraf ruang lingkup memberitahu
bagaimana auditor mengikuti standar-standar PCAOB dalam audit yang
dilakukannya, yang kemudian menjadi dasar yang memadai bagi opininya.
Paragraf terkait keterbatasan bawaan merupakan paragraf yang menolak
menyatakan bahwa pengendalian internal tidak dapat mendeteksi atau
mencegah salah saji. Paragraf opini menyatakan opini auditor terkait
efektivitas pengendalian internal atas pelaporan keuangan. Paragraf tersebut
juga mengacu pada audit yang dilakukan atas laporan keuangan.

Laporan Asurans terkait Pengendalian di Organisasi Jasa (ISAE 3402)


Berbagai perusahaan (entitas pengguna) memanfaatkan organisasi
jasa untuk jasa-jasa tertentu, misalnya, jasa penggajian. Oleh karena entitas
pengguna kemungkinan akan mengandalkan sejumlah pengendalian di
organisasi jasa tersebut, IAASB menerbitkan standar untuk mengaudit
pengendalian di organisasi jasa yang mungkin relevan bagi pengendalian
internal entitas pengguna, yang mana hal ini terkait dengan pelaporan

85
keuangan. Standar ini melengkapi ISA 402. "Pertimbangan Audit terkait
Pemanfaatan Organisasi Jasa oleh Entitas."
Tujuan-tujuan dari auditor jasa adalah untuk memperoleh asurans
yang memadai terkait apakah tujuan yang dimaksud telah didasarkan pada
kriteria yang sesuai dalam seluruh hal yang bersifat material:
 Penjelasan organisasi jasa terkait sistemnya yang menyajikan sistem
yang dirancang dan diimplementasikan selama periode waktu tertentu
secara wajar (atau dalam kasus laporan tipe 1, pada tanggal yang telah
ditentukan).
 Pengendalian yang terkait dengan tujuan-tujuan pengendalian yang
dinyatanan dalam penjelasan organisasi jasa terkait sistemnya yang telah
dirancang dengan sesuai selama periode waktu tertentu (atau dalam kasus
laporan tipe 1. pada tanggal yang telah ditentukan).
 Ketika dicantumkan di dalam ruang lingkup penugasan, sejumlah
pengendalian telah dilakukan secara efektif untuk memberikan asurans
yang memadai bahwa tujuan-tujuan pengendalian yang dinyatakan di
dalam penjelasan organisasi jasa terkait sistemnya telah dicapai selama
periode waktu tertentu.

Serta melaporkan hal-hal tersebut berdasarkan temuan-temuan yang


didapatkan auditor jasa.

Tipe Laporan
Berdasarkan ISAE 3402, terdapat dua tipe laporan yang dapat digunakan
terkait pelaporan pengendalian di organisasi jasa:
- Laporan tipe 1 merupakan laporan mengenai penjelasan dan rancangan
pengendalian di organisasi jasa.

- Laporan tipe 2 merupakan laporan mengenai penjelasan, rancangan, dan


efektivitas pelaksanaun pengendalian di organisasi jasa.

86
Agar dapat memverifikasi efektivitas pengendalian operasional di organisasi
jasa, entitas pengguna perlu meminta laporan tipe 2 dari organisasi jasa.

2.11.8 Penugasan Asurans yang Berkelanjutan

Pelaporan terkait Keberlanjutan


Verifikasi atas laporan keberlanjutan memberikan sejumlah asersi
mengenai kinerja ekonomi, lingkungan, dan sosial yang telah menjadi jasa
asurans yang cukup berkembang. Faktor penggerak yang penting atas
permintaan ini adalah:
- Ketentuan hukum untuk melaporkan terkait beberapa permasalahan
lingkungan di berbagai negara.

- Kebutuhan sebagai bagian dari skema perdagangan emisi.

- Pelaporan terkait keberlanjutan secara sukarela dapat memberikan


informasi bagi para pemangku kepentingan.

Selain laporan keberlanjutan secara terpisah, pelaporan yang terintegrasi


menjadi praktik yang umum dilakukan saat ini. Pelaporan yang terintegrasi
merupakan proses yang menghasilkan komunikasi terkait penciptaan nilai
dari waktu ke waktu, yang mana paling terlihat di "laporan yang
terintegrasi" secara periodik. Laporan yang terintegrasi merupakan bentuk
komunikasi yang ringkas terkait bagaimana strategi, tata kelola, kinerja, dan
prospek organisasi menyebabkan adanya penciptaan nilai dalam jangka
pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Laporan yang terintegrasi
harus disusun berdasarkan International Integrated Reporting Framework.
Sementara komunikasi yang dihasilkan dari pelaporan yang terintegrasi
akan menguntungkan berbagai pemangku kepentingan, terutama bagi
mereka yang bertujuan menjadi penyedia modal keuangan.

87
ILUSTRASI 1.15
Laporan Asurans yang Terbatas dan independen mengenal Pelaporan yang
Berkelanjutan
Laporan Auditor Independen

Kepada: Dewan Pengawas dan Pemegang Saham Koninklijke Philips Electronics


N.V.

Pendahuluan
Kita dilibatkan oleh Dewan Pengawas dari Koninklijke Philips Electronics N.V.
(selanjutnya disebut Philips) untuk memberikan asurans terkait informasi di
bagian pernyataan mengenai keberlanjutan di dalam Laporan Tahunan Tahun
2012 dengan mencantumkan informasi yang merujuk pada bagian kinerja sosial
dan kinerja lingkungan (selanjutnya disebut "Informasi terkait Keberlanjutan").
Dewan Manajemen bertanggung jawab dalam penyusunan dan penyajian Infomasi
terkait Keberlanjutan secara wajar, termasuk identifikasi mengenai hal-hal yang
bersifat material. Tanggung jawab kita adalah menerbitkan laporan asurans
berdasarkan penugasan yang akan diuraikan di bagian selanjutnya.

Ruang Lingkup
Penugasan asurans yang kita lakukan dirancang untuk memberikan asurans yang
memadai mengenai apakah informasi terkait Keberlanjutan telah disajikan secara
wajar dalam seluruh hal yang bersifat material sesuai kriteria pelaporan. Kita tidak
memberikan asurans apapun terkait pencapaian dari sejumlah tujuan, target, dan
ekspektasi Philips.
Kriteria Pelaporan dan Standar Asurans
Philips menggunakan Sustainability Reporting Guidelines G3.1 of the GLobal
Reporting InitIative yang didukung oleh sejumlah panduan yang dikembangkan
secara internal sebagaimana yang dijelaskan di dalam pendekatan untuk pelaporan
terkait keberlanjutan di bagian pernyataan mengenai keberlanjutan di Laporan
Tahunan tersebut. Hal ini penting untuk menggambarkan data pelaksanaan dalam
konteks informasi penjelas tersebut. Kita percaya bahwa kriteria tersebut sesuai
dengan gambaran dari tujuan penugasan asurans kita.

Kita melakukan penugasan ini berdasarkan International Standard for Assurance


Engagement (ISAE 3000), "Penugasan Asurans Selain Audit atau Reviu atas
Informasi Keuangan Historis," yang diterbitkan oleh International Auditing and
Assurance Standards Board. Standar ini mewajibkan, di antara hal-hal lainnya,
tim asurans memiliki pengetahuan secara khusus, keterampilan dan kompetensi
profesional yang diperlukan untuk memberikan asurans terkait informasi yang
berkelanjutan, dan bahwa mereka patuh terhadap persyaratan dari Kode Etik bagi
Akuntan Profesional (Code of Ethies for Professional Accountants) dari
Intemational Federation of Accountants untuk memastikan independensinya.

88
Pelaksanaan Pekerjaan
Sejumlah prosedur yang kita lakukan temasuk menilai kesesuaian dari kebijakan-
kebijakan akuntansi yang digunakan, mengevaluasi rancangan dan implementasi,
menguji efektivitas pelaksanaan dari sistem dan proses untuk mengumpulkan dan
memproses Informasi kualitatif dan kuantitatif di dalam Informasi terkait
Keberlanjutan (termasuk implementasi hal tersebut di sejumlah situs web), dan
mengevaluasi seluruh penyajian informasi terkait keberlanjutan di dalam ruang
lingkup kita. Kita juga mengadakan wawancara dengan pihak manajemen yang
relevan dan telah mengevaluasi dokumentasi menggunakan sampel untuk
menentukan apakah Informasi tersebut telah didukung dengan bukti yang cukup.

Kita juga telah mereviu apakah informasi lainnya terkait keberlanjutan di dalam
Laporan Tahunan Tahun 2012 konsisten dengan Informasi terkait Keberlanjutan
sesuai batasan kompetensi yang kita miliki.

Opini
Berdasarkan opini kita, Informasi terkait Keberlanjutan telah disajikan secara
wajar dalam seluruh hal yang bersifat material sesuai kriteria pelaporan.

Kita juga melaporkan bahwa informasi lainnya terkait keberlanjutan di dalam


Laporan Tahunan Tahun 2012 konsisten dengan Informasi terkait Keberlanjutan
sesuai batasan kompetensi yang kita miliki.

Amsterdam, Belanda
25 Februari 2013
KPMG Accountants N.V.
J.F.C. van Everdingen RA

ILUSTRASI 1.15 (LANJUTAN)


Laporan Asurans yang Independen

Kepada: Dewan Pengawas dan Pemegang Saham Koninklijke Philips Electronics


N.V.

Pendahuluan
Kita dilibatkan oleh Dewan Pergawas dari Koninklijke Philips Electronics N.V.
untuk memberikan asurans terkait informasi di bagian pernyataan mengenai
keberlanjutan di dalam Laporan Tahunan Tahun 2011. Dewan Manajemen
bertanggung jawab dalam penyusunan dan penyajian informasi di bagian
pernyataan mengenai keberlanjutan tersebut secara wajar. Tanggung jawab kita
adalah memberikan asurans terkait informasi yang dimuat di dalam Laporan
Tahunan ini.

Ruang Lingkup
Penugasan kita telah dirancang untuk memberikan:

89
- Asurans yang terbatas mengenai apakah Informasi di dalam pernyataan terkait
keberlanjutan telah disajkan secara wajar dalam seluruh hal yang bersifat
material sesuai kriteria pelaporan.
- Asurans yang memadai mengenai apakah infomasi di dalam pernyataan terkait
keberlarjutan Laporan Tahunan Tahun 2011 ini telah disajikan dalam seluruh
hal yang bersifat material sesuai kriteria pelaporan.

Prosedur-prosedur yang dilakukan untuk memperoleh tingkat asurans yang tebatas


ditujukan untuk menentukan data-data yang dapat diterima dan sifatnya kurang
ekstensif jika dibandingkan ketika melakukan sejumlah prosedur untuk
memperoleh tingkat asurans yang memadai.

Prosedur-prosedur yang kita lakukan untuk memperoleh tingkat asurans yang


terbatas temasuk mereviu sistem dan proses pengelolaan data, menilal kesesualan
dari kebljakarkebijakan akuntansi yang digunakan, menilai rancangan dan
keberadaan dan proses pengumpulan dan pelaporan data pada sejumlah situs web
secara terbatas, serta mengevaluasi seluruh penyajian Informasi terkait
keberlanjutan di dalam ruang lingkup kita.

Untuk informasi yang menjadi subjek dari tingkat asurans yang memadai,
sejumlah prosedur tambahan harus dilakukan. Prosedur-prosedur tersebut
termasuk menguji efektifitas pelaksanaan dari sajumlah sistem dan metode yang
digunakan untuk mengumpulkan dan memproses data dan Informasi yang
dilaporkan.

Kita juga telah mereviu apakah Informasi terkait Keberlanjutan di bagian yang
menyoroti kinerja di Laporan Tahunan ini menyatakan bahwa laporan Manajemen
telah dijelaskan di paragraf pendahuluan dari laporan keuangan kelompok usaha
secara konsisten dengan informasi yang dicantumkan di bagian pernyataan
menigenai keberlanjutan sesuai batasan kompetensi yang kita miliki.

Kriteria Pelaporan
Koninklijko Philips Electronics N.V. menggunakan Sustainability Reporting
Guidelines G3.1 of the Global Reporting Initiative yang didukung oleh sejumlah
panduan yang dikembangkan secara internal sebagaimana yang dijelaskan di
dalam pendekatan untuk pelaporan terkait keberlanjutan di bagian pernyataan
mengenai keberlanjutan tersebut. Hal ini penting untuk menggambarkan data
pelaksanaan dalam konteks informasi penjelas tersebut. Kita percaya bahwa
kriteria tersebut sesuai dengan gambaran dari tujuan penugasan asurans kita.

Standar-Standar
Kita melakukan penugasan ini berdasarkan International Standard for Assurance
Engagement (SAE 3000), "Penugasan Asurans Selain Audit atau Reviu atas
IInformasi Keuangan Historis,” yang diterbitkan oleh International Auditing and
Assurance Standards Board. Standar ini mewajibkan, di antara hal-hal lainnya,
tim asurans memilki pengetahuan secara khusus, keterampilan dan kompetensi

90
profesional yang diperlukan untuk memahami informasi yang berkelanjutan, dan
bahwa mereka patuh terhadap persyaratan dari Kode Etik bagi Akuntan
Profesional (Code of Ethics for Professional Accountants) dari International
Federation of Accountants untuk memastikan independensinya.

Kesimpulan
Berdasarkan pekerjaan kita yang telah dijelaskan di dalam laporan ini, kita
mengambil kesimpulan bahwa:
- Tidak ada yang menarik perhatian kita yang menunjukkan bahwa informasi di
bagian pernyataan mengenai Keberlanjutan tidak menyajikan secara wajar
dalam seluruh hal yang bersifat material sesuai kriteria pelaporan.
- Informasi di dalam pernyataun terkait keberkanjutan dari Laporan Tahunan
Tahun 2011 ini telah disajikan dalam seluruh hal yang bersifat material sesuai
kriteria pelaporan.

Kita juga melaporkan bahwa Informasi terkait Keberlanjutan di bagian yang


menyoroti kinerja menyatakan bahwa laporan Manajemen telah dijelaskan di
paragraf pendahuluan dari laporan keuangan kelompok usaha secara konsisten
dengan Informasi yang dicantumkan di bagian pernyataan mengenai keberlanjutan
sesuai batasan kompetensi yang kita miliki.

Amsterdam, Belanda
23 Februari 2012
KPMG Accountants N.V.
MA. Soeting RA

Seluruh negara anggota Uni Eropa telah mengadopsi EU


Modernisation Directive (2003/51) ke dalam undang-undang nasional, yang
mana setiap perusahaan perlu menyediakan Reviu Bisnis (Business Review)
dengan menyertakan indikator kinerja nonkeuangan, lingkungan, dan sosial
sejauh yang diperlukan untuk suatu pemahaman mengenai kinerja
perusahaan. Namun, Modernisation Directive tidak memuat ketentuan
pengungkapan secara khusus. Beberapa negara telah melangkah lebih jauh,
seperti Prancis, yang mana Grenelle II Act (2012) merupakan langkah maju
untuk pelaporan yang terintegrasi karena perusahaan harus menyertakan
informasi mengenai konsekuensi sosial dan lingkungan atas aktivitasnya,
serta komitmen sosialnya terhadap pengembangan yang berkelanjutan di
dalam laporan manajemen tahunannya. Pada tahun 2008, Financial

91
Statements Act di Denmark mewajibkan pengungkapan CSR secara khusus
bagi perusahaan-perusahaan besar, sementara seluruh perusahaan milik
negara di Swedia mempublikasikan laporan yang berkelanjutan. Pemerintah
Inggris telah mengumumkan pelaporan karbon yang sifatnya wajib dan baru
bagi seluruh perusahaan yang terdaftar di bagian utama dari London Stock
Exchange mulai tahun 2013. Banyak negara di seluruh dunia memiliki
peraturan mengenai risiko lingkungan (keuangan), seperti Amerika Serikat,
Kanada, dan Australia, yang mana Corporations Act (2001) mewajibkan
perusahaan yang menyusun Laporan Direktur (Director's Report) untuk
menjelaskan rincian pelaksanaan dalam hubungannya dengan regulasi
lingkungan. Di negara-negara lainnya, bursa efek lokal telah
memperkenalkan berbagai pelaporan terkait keberlanjutan bagi perusahaan-
perusahaan yang terdaftar, seperti di Tiongkok (Shanghai/Shenzen), Afrika
Selatan (Johannesburg), dan Brasil (Bovespa).
Standar-standar yang paling umum digunakan terkait keberlanjutan
adalah GRI Sustainability Reporting Guidelines. Terkait standar asurans,
IAASB telah mengembangkan standar ISAE 3410, "Penugasan Asurans
terkait Greenhouse Gas Statements" yang berlaku efektif sejak tanggal 30
September 2013.
Greenhouse Gas Protocol (GHG Protocol) adalah perangkat
akuntansi internasional yang paling banyak digunakan untuk memahami,
menguantifikasi, dan mengelola emisi gas rumah kaca. GHG Protocol
merupakan bentuk kemitraan di antara World Resources Institute (WRI) dan
World Business Council for Sustainable Development (WBCSD). GHG
Protocol bekerja sama dengan kelompok usaha, pemerintah, dan pecinta
lingkungan di selurah dunia untuk membangun generasi baru dari suatu
program yang kredibel dan efektif untuk mengatasi perubahan iklim.
Selain membahas keberlanjutan ekonomi, lingkungan, dan sosial,
kita akan mendiskusikan GRI Guidelines dan Standar ISAE 3410.

92
2.11.9 Keberlanjutan Ekonomi

Dimensi ekonomi dari keberlanjutan memberikan perhatian terkait


dampak organisasi pada situasi perekonomian dari para pemangku
kepentingannya, serta pada sistem perekonomian di tingkat lokal, nasional,
dan global. Indikator ekonomi di dalam konteks pelaporan terkait
keberlanjutan fokus pada cara organisasi memengaruhi para pemangku
kepentingannya, baik dengan interaksi ekonomi secara langsung maupun
tidak langsung.

2.11.10 Keberlanjutan Lingkungan

Dimensi lingkungan dari keberlanjutan memberikan perhatian


terkait dampak organisasi pada sistem alam yang hidup maupun yang tidak
hidup, termasuk ekosistem, tanah, udara, dan air. Susunan pelaporan
memberikan angka-angka yang dinormalisasi (misalnya, penggunaan
sumber daya per unit keluaran) dan angka-angka absolut. Organisasi
didorong mengaitkan masing-masing kinerjanya dengan sistem ekologi
yang lebih luas di dalam area tempat organisasi tersebut beroperasi. Sebagai
contoh, organisasi dapat berusaha melaporkan keluaran polusinya terkait
kemampuan lingkungan (lokal, regional, maugun global) untuk menyerap
polutan-polutan tersebut.

2.11.11 Keberlanjutan Sosial

Dimensi sosial dari keberlanjutan memberikan perhatian terkait


dampak organisasi pada sistem sosial di dalam area tempat organisasi
tersebut beroperasi. Kinerja sosial dapat diukur melalui analisis dampak
organisasi terhadap para pemangku kepentingannya di tingkat lokal,
nasional, dan global. Dalam beberapa kasus, indikator sosial memengaruhi
aset tak berwujud organisasi, seperti modal sumber daya manusia dan
reputasinya. GRI telah menetapkan sejumlah indikator dengan

93
mengidentifikasi aspek-aspek kinerja utama di sekitar area praktik tenaga
kerja, hak asasi manusia, dan beberapa permasalahan dalam skala yang
lebih luas yang memengaruhi pelanggan, komunitas, dan pemangku
kepentingan lainnya di masyarakat.
Laporan asurans dari Philips merupakan contoh yang sangat baik
dari tipe pelaporan ini. Laporan ini didasarkan pada panduan generasi ketiga
dari Global Reporting Initiative (G3.1) dan memiliki tingkat pelaksanaan
GRI, yakni A+. lustrasi 1.15 memberikan asurans bagi auditor terkait
laporan manajemen Philips dari laporan Philips yang terintegrasi.

GRI Sustainability Reporting Guidelines


Sebagian besar pelaporan lingkungan dan sosial yang dilakukan oleh
perasahaan-perusahaan besar mengikuti panduan yang dikeluarkan oleh
Global Reporting Initative (GRI). yakni Sustainability Reporting
Guidelines. Panduan tersebut digunakan secara sukarela oleh sejumlah
organisasi untuk melaporkan dimensi ekonomi, lingkungan, dan sosial atas
aktivitas produk, dan jasanya. Laporan dapat digunakan untuk tujuan-tujuan
berikut, di antaranya:
- Tolak ukur (benchmarking) dan menilai pelaksanaan keberlanjutan
sesuai dengan undang-undang, norma, peraturan, standar-standar
pelaksanaan, dan inistatif secara sukarela.

- Menunjukkan bagaimana organisasi memengaruhi dan dipengaruhi oleh


sejumlah ekspektasi terkait perkembangan yang berkelanjutan.

- Membandingkan pelaksanaan yang ada di dalam organisasi dan antar


organisasi yang berbeda dari waktu ke waktu.

Laporan yang didasarkan pada GRI Guidelines 3.1 terdiri dari dua bagian,
yakni:
Bagian 1 – Prinsip-Prinsip dan Panduan Pelaporan
 Prinsip-prinsip untuk mendefinisikan isi laporan:

94
- Materialitas informasi yang dicantumkan di dalam laporan harus
mencakup sejumlah topik dan indikator yang mencerminkan
dampak ekonomi, lingkungan, dan sosial yang penting bagi
organisasi atau yang akan memengaruhi penilaian dan keputusan
dari para pemangku kepentingan secara substantif.

- Ketercakupan pemangku kepentingan organisasi yang melaporkan


harus mengidentifikasi para pemangku kepentingannya dan
menjelaskan bagaimana organisasi akan merespons terkait
ekspektasi dan kepentingan para pemangku kepentingannya secara
memadai di dalam laporan.

- Konteks keberlanjutan: laporan harus menyajikan bagaimana


organisasi melaksanakan keberlanjutan dalam konteks yang lebih
luas.

- Kelengkapan: cakupan dari sejumlah topik dan indikator penting,


dan definisi dari batasan laporan harus cukup merefleksikan
dampak ekonomi, lingkungan, dan sosial yang signifikan, serta
memudahkan para pemangku kepentingan untuk menilai
pelaksanaan dari organisasi yang melaporkan di dalam periode
pelaporan.

 Prinsip-prinsip untuk menentukan kualitas laporan: keseimbangan,


komparabilitas, akurasi, ketepatan waktu, keandalan, dan kejelasan.

 Panduan mengenai bagaimana menentukan batasan laporan.

Bagian 2 - Standar Pengungkapan


 Strategi dan profil: penjelasan dari strategi dan analisis organisasi yang
melaporkan, profil organisasi, parameter laporan, tata kelola, komitmen
terhadap dorongan eksternal dan keterlibatan pemangku kepentingan.

95
 Pendekatan manajemen: penjelasan terkait tujuan dan kinerja
manajemen, kebijakan, tanggung jawab organisasi, pelatihan dan
kesadaran, serta pengawasan dan tindak lanjut.

 Indikator-indikator kinerja: ukuran-ukuran dampak atau pengaruh dari


organisasi yang melaporkan yang terdiri dari indikator ekonomi,
lingkungan, dan sosial. Kategori sosial dijabarkan lebih lanjut menjadi
subkategori tenaga kerja, hak asasi manusia, masyarakat, dan tanggung
jawab atas produk.

Selama tahun 2013, GRI Guideline G4 akan tersedia, yang akan


menyediakan lebih banyak panduan mengenai pelaporan yang terintegrasi.
GRI Guidelines yang terbaru akan tersedia di situs web GRI:
http://www.globalreporting.org.

Penugasan Asurans terkait Greenhouse Gas Statements (ISAE 3410)


ISAE 3410 berkaitan dengan penugasan asurans untuk melaporkan
pernyataan mengenai Greenhouse Gas (GHG) entitas. Tujuan dari praktisi
adalah:
(a) Untuk memperoleh asurans yang memadai atau terbatas, jika
diperlukan, terkait apakah pernyataan GHG bebas dari salah saji
material, baik karena kecurangan maupun kesalahan, sehingga
memungkinkan praktisi mengambil kesimpulan yang mengungkapkan
tingkat asurans.

(b) Untuk melaporkan sesuai dengan temuan-temuan praktisi, terkait


apakah:

(i) Dalam kasus penugasan asurans yang memadai, pernyataan GHG


disusun dalam seluruh hal yang bersifat material sesuai kriteria
yang berlaku, atau

(ii) Dalam kasus penugasan asurans yang terbatas, apapun yang telah
menarik perhatian praktisi dapat menyebabkan praktisi percaya

96
bahwa pernyataan GHG tidak disusun dalam seluruh hal yang
bersifat material sesuai kriteria yang berlaku berdasarkan sejumlah
prosedur yang telah dilakukan dan bukti-bukti yang diperoleh.

(c) Untuk mengomunikasikan hal-hal lainnya selain yang diwajibkan oleh


ISAE tersebut, sesuai temuan-temuan yang diperoleh praktisi.

Pertimbangan utama dari laporan asurans yang berbeda dari audit atas
laporan keuangan adalah pada pilihan tingkat asurans (asurans yang terbatas
versi asurans yang memadai), penerimaan penugasan, pokok tugas, dan
pelaporan.

Pelaporan atas Greenhouse Gas Statement


Laporan auditor atas Greenhouse Gas Statement berbeda dari laporan atas
informasi keungan historis karena laporan tersebut memuat hal-hal berikut:
 Identifikasi atas pernyataan GHG, termasuk periode (periode-periode)
yang tercakup, dan, jika setiap informasi yang dicantumkan di
pernyatan teriebut tidak disertakan di dalam kesimpulan praktisi, maka
identifikasi yang jelas dariinformasi menjadi subjek dari asurins dan
informasi yang dikecualikan, bersamaan dengan pernyataan bahwa
praktisi belum melakukan prosedur apapun terkait informasi yang
dikecualikan tersebut, dan karenanya, tidak ada kesimpulan yang dapat
dinyatakan atas hal tersebut.

 Pernyataan bahwa kuantifikasi GHG merupakan subjek dari


ketidakpastian bawaan.

 Jika pernyataan GHG menyertakan pengurangan emisi sebagaimana


yang dinyatakat di dalam kesimpulan praktisi, maka perlu terdapat
identifikasi atas pengurangan emisi tersebut, dan pernyataan terkait
tanggung jawab praktisi atas hal tersebut.

 Identifikasi terkait kriteria yang berlaku.

97
 Penjelasan dari tanggung jawab praktisi, termasuk:

- Pernyataan bahwa penugasan telah dilakukan sesuai ISAE 3410,


"Penugasan Asurans terkait Greenhouse Gas Statements."

- Ikhtisar terkait sejumlah prosedur yang dilakukan praktisi. Dalam


kasus penugasan asurans yang terbatas, hal ini perlu menyertakan
pernyataan bahwa sejumlah prosedur yang dilakukan di dalam
penugasan asurans yang terbatas bervariasi bentuknya, dan
cakupannya tidak seluas penugasan asurans yang memadai.
Sebagai hasilnya, tingkat asurans yang diperoleh di dalam
penugasan arurans yang terbatas lebih rendah secara subatansial
jika dibandingkan dengan asurans yang akan diperoleh jika
penugasan asurans yang memadai yang dilakukan.

 Kesimpulan praktisi dinyatakan dalam bentuk positif terkait kasus


penugasan asurans yang memadai atau dalam bentuk negatif terkait
kasus penugasan asurans yang terbatas mengenai apakah pernyataan
GHG telah disusun dalam seluruh hal yang bersifat material sesuai
kriteria yang berlaku.

ISAE 3420, Penugasan Asurans untuk Melaporkan Kompilasi dari


Informasi Keuangan Proforma yang Disertakan di dalam Prospektus
(ISAE 3420)
ISAE 3420, "Penugasan Asurans untuk Melaporkan Kompilasi dari
Informasi Keuangan Proforma yang Disertakan di dalam Prospektus berlaku
efektif pada tanggal atau setelah tanggal 31 Maret 2013. ISAE ini berkaitan
dengan penugasan asurans yang memadai yang dilakukan oleh praktisi
untuk melaporkan kompilasi dari informasi keuangan proforma yang
disertakan di dalam prospektus kepada pihak-pihak yang bertanggung
jawab.

98
2.12 Jasa-Jasa yang Terkait

Selain penugasan asurans, auditor dapat dilibatkan di dalam


penugasan non asurans. LAASB mengungkapkan dua tipe penugasan non
asurans di dalam "Kerangka Kerja Jasa-Jasa Terkait", yakni: penugasan
untuk melakukan sejumlah prosedur yang disepakati terkait informasi
keuangan (ISRS 4400) dan penugasan kompilasi (1SRS 4410). Kedua tipe
tersebut merupakan bagian dari International Standards on Related Services
(ISRS) yang saat ini dibahas di “Kerangka Kerja Jasa-Jasa Terkait."
Laporan yang diterbitkan oleh auditor dalam hubungannya dengan
penugasan audit menunjukkan seluruh elemen yang dijelaskan di dalam
Kerangka Kerja Asurans (Asurance Framework)," seperti kompilasi atau
penugasan untuk melakukan sejumlah prosedur yang disepakati, yang
seharusnya menyatakan secara jelas kalau laporan tersebut tidak
menawarkan asurans.
Lebih lanjut, laporan tersebut tidak ditujukan untuk memperkuat
tingkat kepercayaan yang dapat dimiliki para pengguna yang dimaksud.
Penugasan jasa yang terkait umumnya merupakan pemeriksaan
terhadap laporan keuangan historis untuk mengembangkan kesimpulan
berdasarkan sejumlah kriteria, tetapi bukan opini audit. Dalam beberapa
kasus, tipe penugasan semacam ini juga dapat dikaitkan dengan informasi
yang ada di dalam laporan keuangan historis lainnya.

Penugasan untuk Melakukan Sejumlah Prosedur yang Disepakati


terkait Informasi Keuangan (ISRS 4400)
Penugasan atas sejumlah prosedur yang disepakati (agreed-upon
procedures engagement) merupakan penugasan yang mana pihak-pihak
yang ikut serta adalah akuntan profesional atau pengguna yang dimaksud
untuk menentukan sejumlah prosedur yang akan dilakukan dan auditor
memberikan laporan atas temuan-temuan faktual sebagai hasil dari sejumlah
prosedur yang dilakukan tersebut.

99
Sejumlah prosedur yang disepakati tidak dianggap sebagai
penugasan asurans. Walaupun pengguna laporan yang dimaksud dapat
memperoleh sedikit asurans dari laporan atas temuan-temuan faktual,
penugasan ini tetap tidak ditujukan untuk memberikan kesimpulan yang
memberikan tingkat asurans sebagaimana juga yang dapat dinyatakan oleh
auditor. Akan tetapi, para pengguna yang dimaksud dapat menilai sejumlah
prosedur dan temuan, untuk kemudian mengambil kesimpulannya sendiri.

Tujuan
Tujuan penugasan atas sejumlah prosedur yang disepakati adalah agar
auditor dapat melakukan prosedur-prosedur audit yang pada dasarnya telah
disepakati oleh auditor, perusahaan, dan beberapa pihak ketiga, serta
melaporkan temuan-temuan faktual yang diperoleh. Laporan tersebut
terbatas hanya untuk pihak-pihak yang telah menyepakati prosedur-
prosedur. Ini karena pihak-pihak lainnya tidak mengetahui alasan-alasan
dari prosedur yang dimaksud, sehingga dapat salah menginterpretasikan
hasil-hasilnya.

Independensi yang Tidak Diwajibkan


Independensi bukan merupakan salah satu syarat dalam penugasan atas
sejumlah prosedur yang disepakati; namun, syarat atau tujuan dari
penugasan maupun standar-standar nasional dapat mewajibkan auditor
untuk patuh terhadap persyaratan mengenai independensi dari IESAA Code
of Ethics. Ketika auditor tidak independen, maka pernyataan mengenai
pengaruhp akan dibuat di dalam laporan atas temuan-temuan faktual.

Hal-Hal yang Disepakati


Auditor harus memastikan bahwa seluruh pihak yang terlibat memiliki
pemahaman yang jelas mengenai sejumlah prosedur yang disepakati dan
kondisi penugasan. Hal-hal yang harus disepakati di antara auditor dan
manajemen termasuk:

100
- Sifat dasar penugasan termasuk fakta bahwa tidak ada asurans yang akan
dinyatakan prosedur-prosedur yang dilakukan.

- Identifikasi terkait informasi keuangan yang mana sejumlah prosedur


yang disepakan akan dilakukan.

- Sifat dasar, waktu, dan cakupan dari prosedur-prosedur tertentu yang


akan dilakukan.

- Bentuk antisipatif dari laporan atas temuan-temuan faktual. Penugasan


Asurans dan Penugasan Non Asurans Lairnya.

- Keterbatasan pada distribusi laporan atas temuan-temuan faktual. Ketika


keterbatasan tersebut bertentangan dengan ketentuan hukum, jika ada,
maka auditor tidak akan menerima penugasan tersebut.

Prosedur Prosedur yang Dilakukan


Penugasan untuk melakukan sejumlah prosedur yang disepakati dapat
membuat auditor melakukan prosedur-prosedur tertentu atas informasi
pokok tugas, seperti data keuangan (misalnya, utang usaha, piutang usaha,
pembelian dari pihak-pihak yang berelasi, serta penjualan dan keuntungan
dari segmen entitas), laporan keuangan (misalnya, laporan posisi keuangan)
atau bahkan serangkaian laporan keuangan yang lengkap.
Prosedur-prosedur yang berlaku di dalam penugasan untuk
melakukan sejumlah prosedur yang disepakati dapat mencakup:
penyelidikan dan analisis, kompilasi ulang, perbandingan dan pemeriksaan
akurasi klerikal lainnya, observasi, inspeksi, dan pengambilan konfirmasi.

Laporan
Laporan atas penugasan untuk melakukan sejumlah prosedur yang
disepakati perlu menjelaskan tujuan dan prosedur yang disepakati di dalam
penugasan tersebut secara terinci dan memadai, sehingga memudahkan

101
pembaca untuk memahami sifat dasar dan cakupan dari pekerjaan yang
dilakukan. Laporan atas temuan-temuan faktual harus memuat, di antara
hal-hal lainnya, penjelasan atas temuan-temuan faktual yang diperoleh
auditor termasuk sejumlah kesalahan dan pengecualian yang ditemukan
secara terinci dan memadai, serta pernyataan bahwa laporan ini terbatas
hanya untuk pihak-pihak yang telah menyepakati prosedur- prosedur yang
akan dilakukan.

Penugasan untuk Mengompilasikan Informasi Keuangan (ISRS 4410)


Tujuan dari penugasan kompilasi bagi akuntan adalah untuk
menggunakan keahlian akuntansinya untuk mengumpulkan,
mengklasifikasikan, dan mengikhtisarkan informasi keuangan, yang mana
hal ini bertolak belakang dengan keahlian pengauditan. Hal ini biasanya
perlu dilakukan dengan mengurangi rincian data menjadi bentuk yang
mudah dikelola dan dipahami tanpa keharusan untuk menguji sejumlah
asersi berdasarkan informasi tersebut. Prosedur yang dilakukan tidak
memungkinkan akuntan dapat menyatakan asurans apapun atas informasi
keuangan.

Indenpendensi
Tidak seperti penugasan asurans, independensi bukan merupakan
persyaratan untuk penugasan kompilasi. Namun, kode etik atau undang-
undang atau regulasi nasional dapat menjelaskan persyaratan atau
pengungkapan terkait independensi yang dimaksud.

Pemahaman terhadap Syarat Penugasan


Akuntan harus memastikan bahwa ada pemahaman yang jelas di antara
klien dan akuntan terkait syarat penugasan. Hal-hal yang perlu
dipertimbangkan, di antara hal-hal lainnya, termasuk:

102
- Penggunaan dan distribusi yang dimaksudkan atas informasi keuangan,
serta batasan, baik karena penggunaannya maupun distribusinya jika
diperlukan.

- Identifikasi atas kerangka pelaporan keuangan yang berlaku.

- Tujuan dan ruang lingkup dari penugasan kompilasi.

- Tanggung jawab praktisi, termasuk persyaratan untuk mematuhi


ketentuan etika yang relevan.

- Tanggung jawab manajemen.

- Bentuk dan isi laporan praktisi yang diharapkan.

Prosedur Kompilasi
Penugasan kompilasi biasanya termasuk penyajian laporan keuangan (yang
dapat atau tidak dapat menjadi bagian dari serangkaian laporan keuangan
yang lengkap), tetapi juga dapat termasuk pengumpulan, klasifikasi, dan
ikhtisar atas informasi keuangan lainnya.
Akuntan harus membaca informasi yang telah dikompilasikan dan
mempertimbangkan apakah informasi tersebut telah memiliki bentuk yang
sesuai dan bebas dari salah saji material yang riil. Jika informasi yang
dikompilasikan ini tidak memuaskan akuntan, maka akuntan tersebut
diminta untuk menyampaikannya agar mendapatkan perhatian dari pihak
manajemen, serta meminta informasi tambahan atau informasi yang berar.
Akuntan biasanya tidak diminta untuk menilai pengendalian internal,
memverifikai setiap hal atau penjelasan; atau membuat sejumlah pertanyaan
untuk ditanyakan ke pihak manajemen agar dapat menilai keandalan dan
kelengkapan informasi yang diberikan.

103
Pelaporan atas Penugasan Kompilasi
Laporan atas penugasan kompilasi harus memuat, di antara persyaratan
lainnya, yakni:
 Pernyataan bahwa praktisi telah mengompilasikan informasi keuangan
berdasarkan informasi yang diberikan oleh manajemen.

 Penjelasan mengenai tanggung jawab manajemen atau pihak-pihak


yang bertanggungjawab atas tata kelola dalam kaitannya dengan
penugasan kompilasi, dan informasi keuangarn. jika diperlukan.

 Penjelasan mengenai tanggung jawab praktisi dalam mengompilasikan


informasi keuangan termasuk bahwa penugasan telah dilakukan sesuai
ISRS, dan bahwa praktisi telah mematuhi ketentuan etika yang relevan.

 Penjelasan bahwa:

- Oleh karena penugasan kompilasi bukan merupakan penugasan


asurans, praktisi tidak diwajibkan memverifikasi akurasi atau
kelengkapan informasi yang diberikan olea manajemen untuk
kompilasi; dan

- Berdasarkan hal tersebut, praktisi tidak menyatakan opini audit atau


kesimpulan reviu terkait apakah laporan keuangan telah disusun
berdasarkan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku.

Informasi keuangan yang dikompilasi oleh akuntan harus memuat referensi


seperti "Tida Diaudit," "Dikompilasi tanpa Audit atau Reviu" atau "Merujuk
ke Laporan Kompilasi" pada setiap halaman dari informasi keuangan atau
pada halaman depan dari serangkaian laporan keuangan yang lengkap."

104
BAB III
RINGKASAN JURNAL YANG RELEVAN

Judul Jurnal : Pengaruh Pengalaman Dan Keahlian Terhadap Ketepatan


Pemberian Opini Audit Melalui Skeptisisme Profesional Auditor
Penulis : Angga Hermawan, Rosita Wulandari
Reviewer :-
Tanggal :-

3.1 Latar Belakang


Opini auditor merupakan pendapat yang diberikan oleh auditor tentang
kewajaran penyajian laporan keuangan perusahaan tempat auditor melakukan
audit. Ikatan Akuntan Indonesia (2012) menyatakan bahwa: Laporan audit
harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara
keseluruhan jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan, maka
alasanya harus dinyatakan.
Pemberian opini audit seorang akuntan publik dalam menjalankan
profesinya harus mengacu pada standar yang ditetapkan yaitu Standar Profesi
Akuntan Publik (SPAP) dari Institute Akuntan Publik Indonesia (IAPI).
Peran auditor dalam memberikan opini atas laporan keuangan sangatlah
penting. Dalam memberikan opini terhadap kewajaran sebuah laporan
keuangan, seorang auditor harus memiliki sikap skeptis untuk bisa
memutuskan atau menentukan sejauh mana tingkat keakuratan dan kebenaran
atas bukti-bukti maupun informasi dari klien. Skeptisisme profesional adalah
sikap yang mencakup pikiran yang selalu mempertanyakan dan melakukan
evaluasi secara kritis terhadap bukti audit (SA Seksi 230, SPAP, 2011 ).
Standar auditing tersebut mensyaratkan agar auditor memiliki sikap
skeptisisme profesional dalam mengevaluasi dan mengumpulkan bukti audit
terutama yang terkait dengan penugasan mendeteksi kecurangan. Meskipun
demikian, dalam kenyatannya seringkali auditor tidak memiliki skeptisisme
profesional dalam melakukan proses audit.

105
Penggunaan kemahiran profesional dengan cermat dan seksama
menurut auditor untuk melaksanakan skeptisisme profesional. Hal ini
membuktikan bahwa skeptisisme profesional harus dimiliki dan diterapkan
oleh auditor sebagai profesi yang bertanggung jawab atas opini yang
diberikan pada laporan keuangan. Seorang auditor yang memiliki skeptisisme
profesional tidak akan menerima begitu saja penjelasan dari klien, tetapi akan
mengajukan pertanyaan untuk memperoleh alasan, bukti dan konfirmasi
mengenai obyek yang dipermasalahkan. Keahlian dan pengalaman
merupakan suatu komponen penting bagi auditor dalam melakukan prosedur
audit karena keahlian seorang auditor juga cenderung mempengaruhi tingkat
skeptisisme profesional auditor.

3.2 Metode Penelitian


Jenis penelitian ini termasuk penelitian deskriptif. Analisis data deskriptif
menurut Sukmadinata, N. S, (2011) yaitu suatu metode penelitian yang
ditujukan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, yang
berlangsung pada saat ini ata u saat lampau. Proses analisis data merupakan
usaha untuk memperoleh jawaban atas permasalahan penelitian. Metode
analisis deskriptif yang digunakan dalam penelitian ini berupa statistik
deskriptif untuk memberikan gambaran mengenai Pengalaman dan Keahlian
terhadap Ketepatan Pemberian Opini Audit melalui Skeptisisme Profesional
Auditor. Dimana penelitian dilakukan pada Kantor Akuntan Publik (KAP) di
daerah Jakarta Selatan.

3.3 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan mengenai pengaruh
pengalaman dan keahlian terhadap ketepatan pemberian opini audit melalui
skeptisisme profesional auditor di KAP Jakarta selatan, maka dapat
disimpulkan sebagai berikut : (1) Pengalaman berpengaruh terhadap
ketepatan pemberian opini audit dengan Sehingga H1 di terima. (2) Keahlian
berpengaruh terhadap ketepatan pemberian opini audit, Sehingga H2 di

106
terima. (3) Skeptisisme professional auditor tidak memediasi Pengalaman
terhadap ketepatan pemberian opini auditor sehingga H3 di tolak. (4)
Skeptisisme professional auditor tidak memediasi Keahlian terhadap
ketepatan pemberian opini auditor, sehingga H4 di tolak.

3.4 Kelebihan Penelitian


1. Memaparkan secara jelas, lengkap, dan detail.
2. Penulisan jurnal ini teratur dan sesuai dengan kaidah penulisan jurnal.
3. Kata yang digunakan juga dalam jurnal ini bersifat baku dan sesuai
dengan Kamus EYD.
4. Objek penelitian yang digunakan merupakan objek yang tepat sehingga
dapat menghasilkan output yang dapat digunakan oleh auditor sebagai
informasi untuk meningkatkan ketepatan pemberian opini auditnya.

3.5 Kekurangan Penelitian


1. Jumlah sampel yang diperoleh dalam penelitian ini cukup kecil, hal
ini disebabkan karena peneliti hanya melakukan penelitian di wilayah
DKI Jakarta selatan saja.
2. Tidak tersedianya tambahan variabel lain yang dapat diduga
memengaruhi kepuasan kerja auditor serta cara-cara dalam mengukur
tingkat kepuasan kerja auditor agar lebih memahami tentang penelitian
ini.
3. Data yang digunakan hanya meggunakan kuesioner sebagai alat
pengumpulan data penelitian.
4. Data dan responden yang diteliti terbatas.

107
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan ISA 700, laporan auditor yang memuat opini yang tidak
dimodifikasi harus menyertakan elemen-elemen dasar berikut: judul;
penerima; paragraf pembuka atau pendahuluan; deskripsi terkait tanggung
jawab manajemen untuk menyiapkan laporan keuangan; deskripsi terkait
tanggung jawab auditor untuk menyatakan opini atas laporan keuangan, dan
ruang lingkup audit yang dilakukan; paragraf opini yang memuat pernyataan
opini atas laporan keuangun; laporan terkait tanggung jawab pelaporan
lainnya; tanggal laporan auditor; alamat auditor; dan tanda tangan auditor.
Tipe laporan audit yang paling umum adalah standar laporan audit yang
tidak dimodifikasi (secara historis disebut sebagai laporan audit wajar tanpa
pengecualian). Laporan ini digunakan untuk lebih dari 90 persen dari seluruh
laporan audit lainnya disebut sebagai "laporan audit selain laporan yang tidak
dimodifikasi." Laporan audi selain laporan yang tidak dimodifikasi mencakup
laporan-laporan yang menyatakan adanya opini tidak wajar (adverse opinion),
opini menolak memberikan opini (disclaimer of opinion) dan opini yang
dimodifikasi. Bentuk laporan auditor umumnya akan berbentuk laporan yang
tidak dimodifikasi yang biasanya hanya terdiri atas tiga paragraf
(pendahuluan, ruang lingkup dan opini), tetapi saat ini laporan audit tersebut
dapat terdiri atas beberupa paragraf sepanjang elemen-elemen dasar dapat
dicakup di dalamnya (Pendahuluan. Tanggung Jawab Manajemen Tanggung
Jawab Auditor (termasuk ruang lingkup audit), dan Opini Auditor). Laporan
ini juga dapat mencakup paragraf setelah paragraf opini vang disebut sebagai
"Penekanan terhadap Paragraf Permasalahan" (perhatikan ISA 706). Pada
beberapa negara, paragraf yang menyebutkan kualifikasi merupakan hasil dari
prosedur atau pengungkapan akuntansi yang tidak memadai yang mungkin
dicantumkan sesaat sebelum paragraf opini.
Laporan auditor dengan opini yang tidak dimodifikasi harus dinyatakan
ketika auditor menyimpulkan bahwa laporan keuangan yang disajikan

108
berdasarkan kerangka pelaporan keuangan yang diidentifikasi dalam seluruh
hal yang bensifat material. Dalam upaya membentuk opini tersebut, auditor
harus menyimpulkan terkait apakah auditor telah memperoleh asurans yang
memadai mengenai apakah laporan keuangan secara keseluruhan bebas dari
salah saji material, baik karena kecurangan maupun kesalahan. Auditor harus
mengevaluasi:
- Apakah laporan keuangan mengungkapkan secara memadai terkait
kebijakan-kebijakan akuntansi penting yang dipilih dan apakah kebijakan-
kebijakan tersebut konsisten dan tepat digunakan.
- Kewajaran estimasi akuntansi yang dibuat oleh manajemen.
- Apakah informasi yang disajikan dalam laporan keuangan tersebut
relevan, reliabel, dapat dibandingkan, dan dapat dipahami.
- Apakah pengungkapan memungkinkan pengguna yang dimaksud dapat
memahami pengaruh dari sejumlah transaksi dan peristiwa yang bersifat
material terkait informasi yang dinyatakan di dalam laporan keuangan.
- Apakah terminologi yang digunakan di dalam laporan keuangan, termasuk
judul dari setiap laporan keuangan sudah tepat.
Jasa audit adalah pekerjaan yang dilakukan oleh kantor akuntan publik
bagi para kliennya. Kecuali untuk jasa konsultasi, pekerjaan yang dilakukan
auditor didasarkan pada panduan standar penugasan yang ditetapkan oleh
International Auditing and Assurance Standards Board (IAASB).

Terdapat dua tipe penugasan asurans, yakni penugasan asurans yang


memadai dan penugasan asurans yang terbatas. Tujuan dari penugasan
asurans yang memadai adalah pengurangan risiko penugasan asurans pada
tingkat rendah yang dapat diterima di segala situasi penugasan sebagai dasar
bagi bentuk pernyataan positif atas kesimpulan yang diambil praktisi. Tujuan
dari penugasan asurans yang terbatas adalah pengurangan risiko penugasan
asurans pada tingkatan yang dapat diterima di segala situasi penugasan, tetapi
risikonya lebih besar daripada penugasan asurans yang memadai, sebagai
dasar bagi bentuk pernyataan negatif atas kesimpulan yang diambil praktisi,

109
Perbedaan utama dari reviu laporan keuangan dan audit atas laporan
keuangan adalah bahwa di dalam laporan reviu, penugasan hanya terbatas
pada prosedur-prosedur yang dilakukan (terutama penyelidikan yang
dilakukan oleh manajemen dan sejumlah prosedur analitis), serta laporan
reviu. Tujuan dari reviu laporan keuangan adalah memungkinkan auditor
untuk menyatakan apakah segala sesuatu "yang menarik perhatian auditor
dapat menyebabkan auditor percaya bahwa laporan keuangan tidak disusun
dalam seluruh hal yang bersifat material berdasarkan kerangka pelaporan
keuangan yang telah ditetapkan (asurans negatif)."

110
DAFTAR PUSTAKA

Hayes, R., Wallage, P., dan Gortemaker, H. (2017). Prinsip-prinsip Pengauditan


International Standards on Auditing (edisi ketiga). Jakarta: Salemba
Empat
Hermawan, Angga dan Rosita Wulandari. Pengaruh Pengalaman Dan Keahlian
Terhadap Ketepatan Pemberian Opini Audit Melalui Skeptisisme
Profesional Auditor. Jakarta

111