Anda di halaman 1dari 24

ASUHAN KEPERAWATAN

ANAK DENGAN LEUKEMIA

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Keperawatan Anak II

Dosen Pengampu : Natalia Devi Oktarina, S.Kep., Ns, M.Kep., Sp.Kep.

Disusun Oleh Kelompok 13 :

1. Halimah Wahyuningtiyas (010117A035)


2. Mega Widiawati Oktafiani (010117A055)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS NGUDI WALUYO
2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit kanker darah (Leukemia) menduduki peringkat tertinggi
kanker pada anak. Namun, penanganannya di Indonesia masih terbilang
lambat. Leukemia perlu diketahui sedini mungkin, untuk mewujudkan hal
tersebut diperlukan adanya sebuah sistem pakar (Ghozali & Eviyanti, 2016).
Berdasarkan catatan International Confederation of Childhood
Cancer Parent Organizations (ICCCPO). Jumlah anak penderita kanker di
seluruh dunia diperkirakan berjumlah 250.000 atau sekitar 4% dari seluruh
penderita kanker. Jumlah tersebut, 20% yang memperoleh perawatan
memadai. Sementara di Indonesia, menurut catatan Departemen Kesehatan
(Depkes), penderita kanker setiap tahunnya diperkirakan mencapai 100
penderita baru diantara 100.000 penduduk. Dengan jumlah penduduk 20 juta,
maka diperkirakan setiap tahunnya ditemukan sekitar 200.000 penderita
kanker baru di Indonesia. Yang memprihatinkan, kanker pada anak sangat
sulit dideteksi sejak dini. Itulah sebabnya lebih dari 60 persen anak penderita
kanker yang ditangani secara medis sudah memasuki stadium lanjut (Ghozali
& Eviyanti, 2016).
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu definisi leukemia?
2. Apa anatomi dan fisiologi leukemia?
3. Apa etiologi leukemia?
4. Bagaimana patofisiologi leukemia?
5. Bagaimana pathway leukemia?
6. Apa saja jenis leukemia?
7. Apa saja klasifikasi leukemia?
8. Apa saja manifestasi klinis?
9. Apa saja stadium leukemia?
10. Apa saja komplikasi leukemia?
11. Bagaimana pemeriksaan penunjang?
12. Bagaimana penatalaksanaan medis?
13. Apa saja asuhan keperawatan pada anak dengan leukemia?

C. Tujuan
1. Mengetahui definisi leukemia
2. Mengetahui etiologi leukemia
3. Mengetahui anatomi dan fisiologi leukemia
4. Mengetahui patofisiologi leukemia
5. Mengetahui pathway leukemia
6. Menngetahui jenis leukemia
7. Mengetahui klasifikasi leukemia
8. Mengetahui manifestasi klinis
9. Mengetahui stadium leukemia
10. Mengetahui komplikasi leukemia
11. Mengetahui pemeriksaan penunjang
12. Mengetahui penatalaksanaan medis
13. Mengetahui asuhan keperawatan pada anak dengan leukemia
BAB II

KONSEP TEORI

A. Definisi
Leukemia ialah penyakit akut atau menahun karena adanya satu tipe
leukosit tidak matang yang berkembang biak secara ganas di dalam sumsum
tulang atau kelenjar limfa, yang kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya;
kanker darah (KBBI, 2019). Kanker darah atau blood cancer adalah kondisi
ketika sel darah yang menjadi abnormal atau ganas. Sebagian besar kanker ini
bermula di sumsum tulang tempat sel darah diproduksi. Terdapat tiga jenis
kanker darah, yaitu leukemia, limfoma, dan multiple myeloma (Willy, 2019).

B. Anatomi dan Fisiologi

Darah terdiri dari sejumlah komponen dengan fungsi yang berbeda-beda, yaitu
(Willy, 2019):
a. Sel darah merah, berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.
b. Sel darah putih, berfungsi membentuk antibodi dan melawan infeksi.
c. Sel keping darah (trombosit), berperan dalam proses pembekuan darah.
d. Plasma darah, berfungsi membawa sel-sel darah beserta protein dan nutrisi
ke seluruh tubuh, serta membuang limbah sisa metabolisme dari tubuh.
1. Organ Pembentuk Darah
Sebelum bayi lahir, hatinya berperan sebagai organ utama dalam
pembentukan darah. Saat tumbuh menjadi seorang manusia, fungsi pokok hati
adalah menyaring dan mendetoksifikasi segala sesuatu yang dimakan, dihirup,
dan diserap melalui kulit. Ia menjadi pembangkit tenaga kimia internal,
mengubah zat gizi makanan menjadi otot, energi, hormon, faktor pembekuan
darah, dan kekebalan tubuh.

2. Organ Yang Terlibat dalam Sistem Kekebalan Tubuh

a. Nodus Limfe
Dalam tubuh manusia ada semacam angkatan kepolisian dan
organisasi intel kepolisian yang tersebar di seluruh tubuh. Pada sistem ini
terdapat juga kantor-kantor polisi dengan polisi penjaga, yang juga dapat
menyiapkan polisi baru jika diperlukan. Sistem ini adalah sistem limfatik
dan kantor-kantor polisi adalah nodus limfa. Polisi dalam sistem ini adalah
limfosit. Sistem limfatik ini merupakan suatu keajaiban yang bekerja untuk
kemanfaatan bagi umat manusia. Sistem ini terdiri atas pembuluh limfa-tik
yang terdifusi di seluruh tubuh, nodus limfa yang terdapat di beberapa
tempat tertentu pada pembuluh limfatik, limfosit yang diproduksi oleh
nodus limfa dan berpatroli di sepanjang pembuluh limfatik, serta cairan
getah bening tempat limfosit berenang di dalamnya, yang bersirkulasi
dalam pembuluh limfatik. Cara kerja sistem ini adalah sebagai berikut:
Cairan getah bening dalam pembuluh limfatik menyebar di seluruh tubuh
dan berkontak dengan jaringan yang berada di sekitar pembuluh limfatik
kapiler. Cairan getah bening yang kembali ke pembuluh limfatik sesaat
setelah melaku-kan kontak ini membawa serta informasi mengenai jaringan
tadi. Infor-masi ini diteruskan ke nodus limfatik terdekat pada pembuluh
limfatik. Jika pada jaringan mulai merebak permusuhan, pengetahuan ini
akan diteruskan ke nodus limfa melalui cairan getah bening.

b. Timus
Selama bertahun-tahun timus dianggap sebagai organ vestigial atau
organ yang belum berkembang sempurna dan oleh para ilmuwan
evolusionis dimanfaatkan sebagai bukti evolusi. Namun demikian, pada
tahun-tahun belakangan ini, telah terungkap bahwa organ ini merupakan
sumber dari sistem pertahanan kita.

c. Sumsum Tulang
Sumsum tulang janin di rahim ibunya tidak sepenuhnya mampu
memenuhi fungsinya memproduksi sel-sel darah. Sumsum tulang mam-pu
mengerjakan tugas ini hanya setelah lahir. Akankah bayi ini terkena anemia
saat di dalam kandungan? Tidak. Pada tahap ini, limpa akan bermain dan
memegang kendali. Merasakan bahwa tubuh mem-butuhkan sel darah
merah, trombosit, dan granulosit, maka limpa mulai memproduksi sel-sel
ini selain memproduksi limfosit yang merupakan tugas utamanya.

d. Limpa
Unsur menakjubkan lainnya dari sistem pertahanan kita adalah limpa.
Limpa terdiri dari dua bagian: pulp merah dan pulp putih. Limfosit yang
baru dibuat di pulp putih mula-mula dipindahkan ke pulp merah, lalu
mengikuti aliran darah. Kajian saksama mengenai tugas yang dilak-sanakan
organ berwarna merah tua di bagian atas abdomen ini menying-kapkan
gambaran luar biasa. Fungsinya yang sangat sulit dan rumitlah yang
membuatnya sangat menakjubkan. Keterampilan limpa tidak hanya itu.
Limpa menyimpan sejumlah ter-tentu sel darah (sel darah merah dan
trombosit). Kata “menyimpan” mungkin menimbulkan kesan seakan ada
ruang terpisah dalam limpa yang dapat dijadikan tempat penyimpanan.
Padahal limpa adalah organ kecil yang tak memiliki tempat untuk sebuah
gudang. Dalam kasus ini limpa mengembang supaya ada tempat tersedia
untuk sel darah merah dan trombosit. Limpa yang mengembang disebabkan
oleh suatu penyakit juga memungkinkan memiliki ruang penyimpanan
yang lebih besar.

3. Pembentukan Dan Perkembangan Sistem Imun dan Sel-Sel Darah Dari Janin
Hingga Lansia

a. Usia janin minggu pertama


Kehidupan embrio sel darah premitif yang berinti diproduksi dalam yolk
sac.
b. Usia janin minggu kedua
Pembentukkan terjadi pada pulau-pulau darah di sakus vitelinus/yolk sac
(kantung kuning telur). Pada minggu kedua ini terbentuk eritrosit premitif
(sel yang masih berinti).
c. Usia janin minggu ke-empat
Janin mulai membentuk struktur manusia. Saat ini telah terjadi
pembentukkan otak, sumsum tulang dan tulang belakang serta jantung dan
aorta.
d. Usia janin minggu ke-lima
Pada minggu ke lima terbentuknya 3 lapisan yaitu lapisan ectoderm,
mesoderm dan endoderm. Hati yang sebagai organ utama untuk
memproduksi sel-sel darah merah terbentuk pada minggu-minggu ini yang
termasuk dalam lapisan endoderm.
e. Usia janin minggu ke-enam
Pembentukkan terjadi pada hepar dan lien juga pada timus (pembentukan
limfosit). Pada minggu-minggu ini juga terbentuk eritrosit yang
sesungguhnya (sudah tidak berinti) juga terbentuk semi granulosit dan
tromobosit. Selain itu juga limfosit (dari timus).
f. Usia janin minggu ke-lima belas
Pada minggu-minggu ini tulang dan sumsung tulang terus berkembang.
g. Usia janin minggu ke-enam belas
Pembentukkan terjadi pada sumsung tulang karena sudah terjadi proses
osifikasi (pembentukan tulang). Tapi ada juga yang menyebutkan kalau
terjadi di medulolimfatik (di medulla spinalis dan limfonodi). Tapi
limfonodi ini untuk maturasi. Dan pada minggu ke enam belas ini sudah
terbentuk darah lengkap.
h. Pada dasarnya sumsum tulang dari semua tulang memproduksi sel darah
merah sampai seseorang berusia 5 tahun; tetapi sumsum dari tulang
panjang, kecuali proksimal humerus dan tibia, menjadi sangat berlemak
dan tidak memproduksi lagi setelah kurang lebih berusia 20 tahun.
i. Di atas umur 20 tahun, kebanyakan sel darah merah diproduksi dalam
sumsum tulang membranosa, seperti vertebra, sternum, iga dan ilium.
Sehingga bertambahnya usia tulang-tulang ini sumsum menjadi kurang
produktif.
C. Etiologi
Etiologi leukemia anak tidak diketahui dan kemungkinan bersifat
multitaktorial. Faktor genetic dan lingkungan memegang peranan penting.
Terdapat banyak translokasi kromosom non-acak rekuren pada sel leukemia.
Translokasi dapat menyebabkan pembentukan gen baru, yang ekspresinya
dapat menghasilkan protein baru dengan kemampuan bertransformasi.
Pada leukemia mield kronik, translokasi antara kromosom 9 dan 22
menghasilkan gen gabungan yang menggabungkan bagian dari dua gen, BGR
dan ABL protein yang dibentuk oleh dua gen baru ini berperan penting dalam
perkembangan leukemia myeloid kronik. Sebagai tambahan, genotip tertentu
dapat merupakan predisposisi terjadinya leukemia akut pada seorang anak
pasien dengan sindrom Down, anemia Fanconi, sindrom Bloom, ataksia-
telangiektasia, sindrom Wiskott-Aldrich, dan neurofibromatosis tipe 1, semua
mengalami peningkatan resiko untuk terjadinya leukemia akut.
Saudara kandung dari anak dengan leukemia juga mengalami
peningkatan resiko untuk terkena leukemia (sekitar 2-4 kali lipat diatas
populasi anak). Resiko ini meningkat bagi saudara kembar (hingga 25% untuk
kembar monozigot).
Pada pasien tertentu dengan leukemia, tatanan gen reseptor gen yang
unik atau translokasi kromosom spesifik yang menandakan clone leukemik,
pasien dapat terlihat pada sel darah tali pusat dan darah neonatus yang dapat
digunakan untuk penapisan penyakit metabolic, hal ini menunjukkan bahwa
kemungkinan etiologi in utero. Terdapat laporan tentang leukemia familial.
Faktor lingkungan yang dapat meningkatkan resiko leukemia meliputi radiasi
pengion dan paparan terhadap agen kemoterapi tertentu, khususnya inhibitor
topoisomerase II. (Karen dkk, 2014)
D. Patofisiologi
Kanker dimulai dari sel-sel pada jaringan tubuh. Leukemia berbeda dari
kebanyakan kanker lainnya, yang mana tidak menghasilkan tumor. Karena
leukemia ini akibat dari tidak terkontrolnya bagian sel-sel darah, sel kanker ini
dapat berkembang biak dalam sistem peredaran darah. Leukemia merupakan
suatu penyakit yang ditandai pertambahan jumlah sel darah putih (Leukosit).
Pertambahan ini sangat cepat dan tidak terkendali, serta bentuk sel-sel darah
putihnya tidak normal. Pada pemeriksaan mikroskopis apus darah tepi, terlihat
sel darah putih muda, besar-besar, dan selnya masih berinti (Megakariosit).
Beberapa ahli menyebut leukemia sebagai keganasan sel darah putih
(Neoplasma Hematologi). Pada kondisi normal, sel-sel akan tumbuh dan mati
sesuai dengan mekanisme yang diatur oleh tubuh sehingga sel tua akan mati
dan digantikan oleh sel muda (Ghozali & Eviyanti, 2016).
Leukemia terjadi saat proses pematangan dari sistem sel menjadi sel
darah putih mengalami gangguan dan menghasilkan perubahan ke arah
keganasan. Perubahan tersebut sering kali melibatkan penyusunan kembali
bagian dari kromosom (bahan genetik sel yang kompleks) (Ghozali & Eviyanti,
2016).

E. Pathway
(Lampiran)

F. Jenis
Berdasarkan sel asal ALL (85%)
AML (12%)
CML (2%)
CLL (jarang)
Berdasarkan FAB (French- ALL (L1-3)
American-British) AML (Mo-7)
Berdasarkan ALL SEL T
Immunophenotyping ALL SEL B
G. Klasifikasi
Leukemia dapat dibedakan berdasarkan perkembangan penyakitnya, yaitu
(Ghozali & Eviyanti, 2016):
1. Leukemia Kronis
Leukemia kronis memiliki perjalanan penyakit yang tidak begitu
cepat sehingga memiliki harapan hidup yang lebih lama, hingga lebih dari
1 tahun bahkan ada yang mencapai 5 tahun.
2. Leukemia Akut
Leukemia dapat timbul pada sel-sel lymphoid atau sel-sel myeloid.
Leukemia mempengaruhi sel-sel lymphoid disebut lymphocytic leukemia.
Leukemia mempengaruhi sel-sel myeloid disebut myeloid leukemia atau
myelogenous leukemia. Leukemia akut ditandai dengan suatu perjalanan
penyakit yang sangat cepat, mematikan, dan memburuk.
Ada empat jenis kanker darah, yaitu (LSS, 2012):
1. Leukemia Limfositik Akut, atau Acute lymphoblastic (lymphocytic)
leukemia (ALL); paling sering terjadi pada anak-anak, pada dewasa (≥65
𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛).
2. Leukemia Myeloid Akut, atau Acute myeloid (myelogenous) leukemia
(AML); sering terjadi pada dewasa daripada anak-anak.
3. Leukemia Limfositik Kronis, atau Chronic lymphocytic leukemia (CLL);
sering diderita oleh orang dewasa (>55 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛), dewasa muda, dan
hampir tidak ada pada anak-anak.
4. Leukemia Myeloid Kronis, atau Chronic myeloid (myelogenous)
leukemia (CML); sering terjadi pada orang dewasa, anak-anak.

H. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala leukemia akut berhubungan dengan infiltrasi sel-sel
leukemik ke jaringan normal, menyebabkan kegagalan sumsum tulang
(anemia, neutropenia, trombositopenia) ataupun infiltrasi jaringan spesifik
(kelenjar getah bening, hati, limpa, otak, tulang, kulit, gusi, testis).
Gejala yang sering timbul adalah demam, pucat, petekie atau ekimosis,
letargi, malaise anoreksia dan nyeri tulang atau sendi. Pemeriksaan fisis
seringkali memperlihatkan adanya limfadenopati dan hepatosplenomegaly.
Keterlibatan susunan saraf pusat (SSP) jarang terjadi pada saat datang
pertama. Testis sering menjadi lokasi ekstramedular LLA, pembesaran satu
atau kedua testis tanpa nyeri dapat terlihat.
Pasien dengan LLA sel T lebih sering terjadi pada lelaki dengan usia
lebih tua (8-10) tahun dan sering memiliki hitung leukosit yang tinggi, massa
mediastinum anterior, limfadenopati servikal, hepatosplenomegaly, dan
keterlibatan SSP.
Pada pasien dengan LMA, tumor jaringan lunak ekstramedular dapat
ditemukan diberbagai lokasi. Perwarnaan dengan mieloperoksidase pada tumor
dapat memberikan warna kehijauan, tumor seperti ini dikenal dengan sebutan
kloroma. (Karen dkk, 2014)
I. Stadium
Stadium Keterangan
0 Ditandai dengan jumlah limfosit yang jauh di atas batas normal,
tetapi tidak ada gejala lain dari leukemia. Stadium ini biasa disebut
tahap leukemia limfositik indolens (lambat berkembang).
I Ditandai dengan jumlah limfodit yang jauh di atas batas normal dan
adanya pembesaran kelenjar getah bening dari normal.
II Ditandai dengan jumlah limfosit yang jauh di atas batas normal,
adanya pembesaran hati atau limpa dari normal (disebut
hepatomegali atau splenomegali), dan adanya kemungkinan
pembesaran kelenjar getah bening.
III Ditandai dengan jumlah limfosit yang jauh di atas batas normal,
jumlah sel darah merah di dalam darah terlalu sedikit, serta adanya
pembesaran kelenjar getah bening, hati atau limpa.
IV Ditandai dengan jumlah limfosit yang jauh di atas batas normal,
jumlah trombosit yang terlalu sedikit. Bahkn disertai pembesaran
kelenjar getah bening, hati atau limpa serta jumlah sel darah merah
yang terlalu sedikit.
J. Komplikasi
Komplikasi jangka pendek terutama disebabkan oleh supresi sumsum
tulang akibat kemoterapi. Pasien dapat mengalami perdarahan dan anemia
bermakna yang memerlukan transfusi trombosit atau darah. Neutropenia
dengan jumlah neutrophil di bawah 500/mm3, terutama di bawah 100
neutrophil/mm3, merupakan predisposisi terjadinya infeksi bakteri bermakna
pada pasien. Imunosupresi meningkatkan resiko pneumonia Pneumocystis
jiroveci (carinii). Profilaksis dengan trimertropim-sulfametoksazol oral atau
pentamidin aerosol dapat mencegah hal ini. Pasien yang belum pernah terkena
varisela atau belum mendapatkan vaksin varisela beresiko untuk mendapat
infeksi berat. Bila terpapar, seorang pasien non-imun sebaiknya mendapatkan
immunoglobulin varisela-zoster. Pasien dengan LMA memiliki periode
neutropenia yang memanjang, yang meningkatkan risiko infeksi bakteri dan
jamur . Profilaksis dengan penisilin dan flukonazol seringkali diberikan. Gejala
sisa terapi jangka panjang lebih jarang ditemukan dibandingkan dengan era
terapi sebelumnya, yang sering terjadi pada survivor yang diterapi pada tahun
1980-an dan sebelumnya. Gejala sisa ini meliputi gangguan neurokognitif,
perawakan pendek, obesitas, gangguan fungsi jantung, infertilitas, neoplasma
ganas sekunder dan masalah psikososial (Karen dkk, 2014).
Kanker darah dapat menyebabkan komplikasi serius bila tidak ditangani.
Beberapa komplikasi tersebut adalah (Willy, 2019):
1. Tubuh sering terkena infeksi, akibat kekurangan sel darah putih.
2. Perdarahan yang bisa mengancam nyawa, terutama bila terjadi di otak,
paru-paru, lambung, dan usus.
3. Gangguan pada tulang, meliputi nyeri, pengapuran, hingga patah tulang.
4. Penurunan fungsi ginjal atau bahkan gagal ginjal.

K. Pemeriksaan Penunjang
1. Tes darah
Melakukan tes hitung darah lengkap untuk dapat mengetahui jumlah sel
darah merah, sel darah putih, dan trombosit. Dugaan kanker darah akan
semakin kuat bila jumlah salah satu atau seluruh jenis sel darah terlalu
banyak atau terlalu sedikit, serta ditemukan sel darah yang bentuknya tidak
normal.
Selain hitung darah lengkap, dokter akan memeriksa profil protein,
seperti globulin, serum protein electrophoresis, dan imunofiksasi, guna
mendeteksi multiple myeloma dan tingkat agresivitas sel kanker. Pada
penderita multiple myeloma, tes darah juga dilakukan untuk mengetahui
fungsi ginjal, kadar kalsium, dan kadar asam urat.
2. Aspirasi sumsum tulang
Aspirasi sumsum tulang dilakukan dengan mengambil sampel jaringan
dari sumsum tulang pasien menggunakan jarum tipis. Sampel jaringan
tersebut kemudian akan diperiksa di laboratorium guna melihat gangguan di
‘pabrik darah’ dan menentukan jenis kanker darah yang menyerang
penderita.
3. Biopsi kelenjar getah bening
Biopsi kelenjar getah bening dilakukan dengan mengambil sampel
jaringan dari kelenjar getah bening yang membengkak untuk diperiksa di
bawah mikroskop.
4. Uji Rumpel-Leede/ Uji torniquet (+)
5. Retikulositopenia (turunnya jumlah eritrosit muda)
6. Trombositopeni (rendahnya jumlah trombosit dalam darah)

L. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksaan leukemia berdasarkan perkembangan penyakitnya (Ghozali &
Eviyanti, 2016):
LEUKEMIA KRONIS LEUKEMIA AKUT
Solusi pengobatannya dengan Solusi pengobatannya dengan
transfusi darah dan suntikan transfusi sel darah merah,
eritropoetin, transfusi trombosit, kemoterapi, transfusi trombosit,
pemberian antibiotik, pencangkokan pemberian antibiotik, dan beberapa
sumsum tulang, pemberian obat kombinasi dari obat kemoterapi,
interferon alfa, dan terapi penyinaran pencangkokan sumsum tulang.
digunakan untuk memperkecil
ukuran kelenjar getah bening, hati
atau limpa.
Penatalaksaan leukemia berdasarkan jenis sel:

ALL
1. Terapi induksi dengan tambahan kortikosteroid dan vinca alkaloid
2. Intrathecal kemoterapi (methotrexate) sebagai profilaksis SSP6
3. Maintenance : kemoterapi dosis rendah selama 3 tahun
4. Anti virus untuk mengurangi efek samping kortikosteroid
5. Transpalantasi sumsum tulang dapat menyembuhkan penyakit
AMLTerapi induksi dan terapi konsolidasi
1. Terapi induksi (kemoterapi) → untuk membunuh selleukimia
2. Cytarabine (cystosal, ara C) daunorubbin (daunomycin,cerubidine) atau
mitoxantrone atau idarubicin, mercaptopurine(purinethol)
3. Supportive care (darah dan platelet) untuk infeksi,perdarahan, mukositis dan
diare.
4. Granulocyte growth factor.Terapi konsolidasi/post remisi (untuk
menghilangkan sisa sel leukimia yangtidak terdeteksi secara klinis) →
CytarabineTransplantasi sumsum tulang Donor sumsum tulang menggantikan
produksi sel darah. Sebelumnya dilakukan kemoterapi dan radiasi untuk
menghancurkan sumsum iskemik.Bisa terjadi resiko penolakan dan infeksi.

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Identitas Pasien
Nama anak, tanggal masuk, No.RM, tempat/tanggal lahit, BB/TB saat
lahir, jenis kelamin, pendidikan anak, anak ke-, nama ayah dan pekerjaan,
nama ibu dan pekerjaan, pendidikan orang tua, alamat, diagnosa medis.
2. Keluhan Utama
3. Riwayat Kehamilan dan Kelahiran
Prenatal, intranatal, postnatal.
4. Riwayat Kesehatan Dahulu
Penyakit yang diderita sebelumnya, pernah dirawat di RS, obat-obatan
yang pernah digunakan, alergi, kecelakaan, riwayat imunisasi:
Imunisasi I II III
BCG 1 bulan 2 bulan 3 bulan
DPT 1 bulan 2 bulan 3 bulan
POLIO 9 bulan - -
CAMPAK 1 bulan - -
HEPATITIS B 0 bulan 2 bulan 6 bulan

5. Riwayat Kesehatan Saat Ini


6. Riwayat Kesehatan Keluarga
7. Riwayat Tumbuh Kembang
Kemandirian dan bergaul, motorik kasar, motorik halus, kognitif dan
bahasa, lain-lain (emosi labil atau stabil).
8. Riwayat Sosial
Yang mengasuh klien, hubungan dengan anggota keluarga, hubungan
dengan teman sebaya, pembawaan secara umum, lingkungan rumah.
9. Kebutuhan Dasar Sehari-hari : makan, minum, tidur, mandi, eliminasi,
bermain.

B. Pemeriksaan
1. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum
b. TB/BB
c. Kepala : lingkar kepala, rambut.
d. Mata : sklera, konjungtiva, palpebra, pupil.
e. Telinga : simetris, serumen, pendengaran.
f. Hidung : septum simetris, sekret, polip.
g. Mulut : kebersihan, warna, kelembapan, gusi berdarah, lidah, gigi.
h. Leher : kelenjar getah bening, kelenjar tiroid.
i. Dada, Jantung, Paru-paru : inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi.
j. Perut : inspeksi, auskultasi, palpasi, perkusi.
k. Punggung
l. Ekstremitas : kekuatan, tonus otot.
2. Pemeriksaan Tumbuh Kembang
a. DDST
b. Status Nutrisi
3. Pemeriksaan Psikososial
4. Pemeriksaan Spiritual

C. Pemeriksaan Laboratorium dan Pencitraan (Karen, 2014)


1. Apus darah tepi, Aspirat sumsum tulang atau keduanya. Untuk
mendiagnosis leukemia akut, akan ditemukannya sel blas prematur. Kecuali
pada pasien yang secara fisiologis tidak stabil, aspirat sumsum tulang
sebaiknya segera dilakukan untuk memastikan diagnosis.
2. Analisis sitogenik sebaiknya dikerjakan pada semua kasus leukemia akut.
Tipe-tipe tertentu leukemia limfoblastik dan mieloid memiliki abnormalitas
kromosom spesifik.
3. Teknik flurescence in situ hybridization (FISH) atau polymerase chain
reaction (PCR) sekarang dilakukan pada sebagian besar kasus leukemia
karena banyak abnormalitas kromosom yang tidak tampak pada kariotipe
rutin.
4. Pungsi lumbal harus selalu dilakukan pada saat diagnosis untuk
mengevaluasi kemungkinan keterlibatan SSP.
5. Foto toraks sebaiknya dikerjakan pada semua pasien untuk menyingkirkan
adanya massa mediastinum anterior, yang sering terlibat pada LLA sel T.
6. Elektrolit, kalsium, fosfat, asam urat, serta fungsi ginjal dan hati harus
dipantau pada semua pasien.

D. Diagnosa Keperawatan
1. Sebelum penatalaksanaan
a. Keletihan b/d anemia (00093)
b. Risiko infeksi b/d imunitas menurun (00004)
c. Hipertermi b/d proses inflamasi (00007)
d. Nyeri akut b/d peningkatan tekanan pada periosteum (00132)
e. Risiko perdarahan b/d proses pembekuan darah terganggu (00206)
2. Setelah penatalaksanaan (kemoterapi)
a. Kerusakan integritas jaringan b/d stomatitis (00044)
b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d nafsu
makan menurun (00002)
c. Gangguan citra tubuh b/d rambut rontok (00118)
d. Kerusakan integritas kulit b/d kulit kering dan gampang luka (00046)
e. Defisien volume cairan b/d diare, dehidrasi (00027)
f. Konstipasi b/d susah BAB (00011)

E. Rencana Keperawatan
Sebelum penatalaksanaan
NANDA NOC NIC
Hipertermi b/d Termoregulasi (0800) Manajemen lingkungan
proses Definisi : keseimbangan (6480)
inflamasi antara ,mendapatkan panas - Hindari dari paparan dan
(00007) dan kehilangan panas aliran udara yang tidak
Definisi: Suhu Setelah dilakukan asuhan perlu, terlalu panas atau
inti tubuh di keperawatan 1x24 jam terlalu dingin
atas kisaran masalah dapat teratasi - Sesuaikan suhu
normal diurnal dengan kriteria hasil : lingkungan dengan
karena - Merasa merinding kebutuhan pasien, jika
kegagalan saat dingin suhu tubuh berubah
termoregulasi. - Berkeringat saat - Kendalikan atau cegah
panas kebisingan yang tidak
- Menggigil saat diinginkan atau
dingin berlebihan, bila
- Denyut nadi radial memungkinkan
- Tingkat pernafasan - Manipulasi pencahayaan
- Melaporkan untuk manfaat terapeutik
kenyamanan suhu .

Risiko infeksi Respon pengobatan Manajemen obat (2380)


b/d imunitas (2301) Definisi : Fasilitas
menurun penggunaan dan efektifitas
(00004) Definisi : Efek yang resep yang aman serta
Definisi: terapeutik dan penggunaan obat bebas
Rentan merugikan dari Atktivitas – aktivitas
mengalami peresepan obat a. Tentukan obat apa
invasi dan yang diperlukan,dan
multiplikasi Setelah dilakukan asuhan kelola menurut resep
organisme keperawatan 3x24 jam dan atau protokol
patogenik masalah dapat teratasi b. Tentukan kemampuan
yang dapat dengan kriteria hasil : pasien untuk
mengganggu - Efek terapeutik yang mengobati diri sendiri
kesehatan. diharapkan c. Monitor efektifitas
- Perubahan kimia cara pemberian obat
darah yang yang sesuai
diharapkan d. Monitor pasien
- Perubahan gejala tentang efek
yang diharapkan terapeutik obat
- Pemeliharaan kadar e. Monitor tanda dan
darah yang gejala toksisitas obat
diharapkan f. Monitor efek samping
- Respon perilaku obat
yang diharapkan g. Monitor respon
- Reaksi alergi terhadap perubahan
- Dampak buruk pengobatan dengan
- Interaksi pengobatan cara yang tepat
- Intoleransi h. Pertimbangkan
pengobatan factor-faktor yang
- Efek perilaku yang dapat menghalangi
merugikan pasien untuk
mengkonsumsi obat
yang diresepkan
i. Identifikasi jenis obat
bebas yang diguakan
j. Pertimbangkan
apakah pasien
menggunakan obat
berbasis budaya dan
kemungkinan adanya
efek dari penggunaan
obat bebas dan obat
yang diresepkan

Risiko Manajemen diri : Terapi


perdarahan b/d Antikoagukan (3101) Manajemen Terapi
proses Definisi : tindakan Trombolitik (4270)
pembekuan seseorang untuk mengelola
darah terapi agar mempertahankan Definisi : Mengumpulkan
terganggu waktu pembekuan darah danmenganalisis data pasien
(00206) dalam dosis yang untuk mempercepat
Definisi: diresepkan dan mencegah keamanan , penyediaan agen
Rentan komplikasi yang dapat mengurangi
mengalami Setelah dilakukan asuhan thrombus
penurunan keperawatan 3x24 jam Aktivitas-aktivitas :
- Verifikasi identitas
volume darah, masalah dapat teratasi pasien
yang dapat dengan kriteria hasil : - Dapatkan riwayat
mengganggu - Berpartisipasi pada atau kondisi penyakit
kesehatan. putusan kesehatan dan riwayat medis
- Menggunakan obat - Lakukan pemeriksaan
sesuai resep fisik (misalnya
- Mencari informasi ,penampilan
tentang hasil umum,denyut
laboratrium untuk nadi,tekanan darah
waktu pembekuan ,frekuensi pernapasan
- Mencari informasi ,suhu ,tingkat
yang potensial nyeri,tinggi badan
terjadi dan berat badan)
- Monitor tanda dan - Jelaskan semua
gejalaperdarahan procedure pada pasien
- Menggunakanstrateg dan orang yang
i untuk mencegah penting bagi pasien
perdarah internal - Ijinkan orang yang
Monitor tanda-tanda pening bagi pasien
vital berada di sisi tempat
tidur jika
memungkinkan
- Tentukan jika pasien
akan menerima terapi
- Siapkan terapi
trombolik jika
diindikasikan
- Dapatkan area untuk
akses intravena
tambahan
- Hindari pengambilan
sampel pada arteri
untuk menghindari
komplikasi
perdarahan
- Siapkan agen
trombolik sesuai
protocol dsitu

Setelah penatalaksanaan terapi (kemoterapi).


NANDA NOC NIC
Kerusakan Penyembuhan luka Manajemen Pruritus (3550)
integritas kulit b/d primer (1102) Definisi: Pencegahan dan
kulit kering dan pengobatan terhadap gatal-gatal
gampang luka Definisi : Tingkat Aktivitas – aktivitas :
(00046) regenerasi sel dan - Tentukan penyebab
Definisi: jaringan setelah terjadinya pruritus
Kerusakan pada penutupan luka (misalnya dermatitis
epidermis dan/atau Setelah dilakukan kontak,kelainan sistemik
dermis. asuhan keperawatan dan obat-obatan )
2x24 jam masalah - Lakukan pemeriksaan
dapat teratasi dengan fisik untuk
kriteria hasil : mengidentifikasi
- Memperkirak terjadinya kerusakan
an kondisi kulit (misalnya
kulit lesi,bula,ulserasi dan
- Memperkirak abrasi)
an kondisi - Brikan antipruritic sesuai
tepi luka dengan indikasi berikan
- Peningkatan kompres dingin untuk
suhu kulit meringankan iritasi
- Indtruksikan pasien
untuk meminimalisisr
keringat dengan
menghindari lingkungan
yang hangat dan panas

Gangguan citra Citra tubuh (1200) Dukungan kelompok 5430


tubuh b/d rambut Definisi ; Pemanfaatan
rontok (00118) Definisi: Presepsi kelompok di lingkungan sekitar
Definisi: Konfusi terhadap penampilan untuk memberikan dukungan
dalam gambaran dan fungsi tubuh emosional dan informasi
mental tentang sendiri kesehatan kepada semua
diri-fisik individu. Setelah dilakukan anggotanya
asuhan keperawatan Aktivitas – aktivitas :
3x24 jam masalah - Kaji tingkatan dari
dapat teratasi dengan kesesuaian system
kriteria hasil : pendukung yang telah
- Gambaran ada
internal diri - Manfaatkan kelompok
- Kesesuaian pendukung selama masa
antara transisi untuk memantu
realitas tubuh pasien beradaptasi
dan ideal dengan lingkungannya
tubuh dengan - Identifikasi kelompok-
penampilan kelompok pendukung
tubuh yang telah ada sebagai
- Sikap pilihan kepada pasien
terhadap - Tekankan pentingnya
menyentuh koping yang efektif
bagian tubuh
yang terkena
dampak
- Penyesuaian
terhadap
tampilan fisik
- Penyesuaian
terhadap
status
kesehatan

Defisiensi volume Keseimbangan Terapi intravena (IV)


cairan b/d diare, elektrolit (0601) Definisi : Pemberian dan
dehidrasi (00027) monitor cairan intravena dan
Definisi: Definisi : pengobatan
Penurunan cairan Keseimbangan Aktivitas-aktivitas :
intravaskular, cairan didalam ruang - Verifikasi perintah untuk
interstitial dan/atau intraselular dan terapi IV
intraselular. Ini ekstraslular tubuh - Periksa tipe
mengacu pada caiaran,jumlah,kadaluars
dehidrasi, Setelah dilakukan a,karakteristik dari
kehilangan cairan asuhan keperawatan cairan ,dan tingat
saja tanpa 3x24 jam masalah merusak pada container
perubahan kadar dapat teratasi dengan - Seleksi dan siapkan IV
natrium kriteria hasil : pompa infus ,sesuai
- Tekanan indikasi
darah - Identifikasi pasien yang
- Denyut nadi mendapatkan
radial pengobatan apakah
- Tekanan cocok dengan instruksi
arteri rata- medis
rata - Berikan pengobatan IV
- Tekanan ,sesuai yang diresepkan
vena sentral dan monitor untuk
- Denyut hasilnya
perifer
- Keseimbanga
n intake dan
output dalam
24 jam
- Berat badan
stabil
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Leukemia adalah suatu jenis kanker darah. Gangguan ini disebabkan
oleh sel darah putih yang diproduksi melebihi jumlah yang seharusnya ada.
Leukemia akut pada anak adalah suatu kelainan atau mutasi pembentukan sel
darah putih oleh sumsum tulang anak maupun gangguan pematangan sel-sel
tersebut selanjutnya. Gangguan ini sekitar 25-30% jumlahnya dari seluruh
keadaan keganasan yang didapat pada anak. Leukemia terdiri dari dua tipe
besar, yakni acute lymphoblastic leukemia dan acute myeloid leukemia.
Jumlah penderita acute lymphoblastic leukemia umumnya lebih banyak
dibandingkan jenis acute myeloid leukemia. Penyebab utama penyakit
kelainan darah ini sampai sekarang belum diketahui secara pasti, dan masih
terus diteliti. Namun, faktor genetik berperan cukup penting pada beberapa
penelitian yang dilakukan. Dengan kata lain, ada hubungannya dengan faktor
keturunan, selain tentunya banyak faktor penyebab lain yang bervariasi sesuai
kasus per kasus dan jenis subtipe yang didapat.
Terapi yang diberikan pada penderita leukemia akut bertujuan untuk
menghancurkan sel-sel leukemia dan mengembalikan sel-sel darah yang
normal. Terapi yang dipakai biasanya adalah kemoterapi (pemberian obat
melalui infus), obat-obatan, ataupun terapi radiasi. Untuk kasus-kasus
tertentu, dapat juga dilakukan transplantasi sumsum tulang belakang.
Mengenai kemungkinan keberhasilan terapi, sangat tergantung waktu
penemuan pertama penyakit si penderita. Apakah dalam stadium awal atau
sudah lanjut, subtipe penyakit, teratur tidaknya jadwal terapi yang dilakukan,
timbul Relapse (kambuh) atau tidak selama terapi maupun kemungkinan
penyebab yang bisa diperkirakan.
DAFTAR PUSTAKA

Ghozali, M. F., & Eviyanti, A. (2016). SISTEM PAKAR DIAGNOSA DINI


PENYAKIT LEUKIMIA DENGAN METODE “CERTAINTY
FACTOR.” KINETIK. https://doi.org/10.22219/kinetik.v1i3.122

Karen J. Marcdante, Robert M. Kliegman, Hal B. Jenson dan Richard E. Behrman.


2014. NELSON ILMU KESEHATAN ANAK ESENSIAL. Singapore:
Elsevier

Dochterman, J.M., Bulechek, G.M., Butcher, H.K., & Wagner, C.M. 2016. Nursing
Interventions Classification (NIC) Edisi Keenam. Indonesia:
CV.Mocomedia, Mosby Elsevier

Moorhead, S. Johnson, M. Maas, M.L. Swanson, E. 2016. Nursing Outcome


Classification (NOC) Edisi Kelima. Indonesia: CV.Mocomedia, Mosby
Elsevier

Nanda Internasional. 2017. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2018-


2020 (NANDA) Edisi Ke-11. Jakarta: EGC.

KBBI. 2019. DEFINISI LEUKEMIA. https://kbbi.web.id/leukemia

Willy, Tjin. 2019. Alodokter: Kanker Darah. https://www.alodokter.com/kanker-


darah.

LSS. (2012). Understanding Leukemia. Leukemia & Lymphoma Society

http://nurseairlangga.org/