Anda di halaman 1dari 386

SAKSI BISU

DUMB WITNESS
pustaka-indo.blogspot.com
pustaka-indo.blogspot.com
SAKSI BISU

pustaka-indo.blogspot.com
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002
Tentang Hak Cipta

Lingkup Hak Cipta


Pasal 2:
1. Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang
Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya,
yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa
mengurangi pembatasan menurut peraturan perundangan-undangan
yang berlaku.

Ketentuan Pidana:
Pasal 72
1. Barangsiapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan
perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (1) atau Pasal
49 Ayat (1) dan Ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-
masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit
Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama
7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00
(lima miliar rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedar-
kan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil
pelanggaran hak cipta atau hak terkait sebagai dimaksud pada Ayat
(1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun
dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah).

pustaka-indo.blogspot.com
Agatha Christie

SAKSI BISU

Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama


Jakarta, 2012

pustaka-indo.blogspot.com
DUMB WITNESS
by Agatha Christie
Agatha Christie™ Dumb Witness
Copyright © 1937 Agatha Christie Limited.
All rights reserved.

SAKSI BISU
GM 402 01 12 0027
Alih bahasa: Indri K. Hidayat
Sampul: Staven Andersen
Hak cipta terjemahan Indonesia:
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Jl. Palmerah Barat 29-37
Blok I, Lt. 5
Jakarta 10270
Indonesia
Diterbitkan pertama kali oleh
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama,
anggota IKAPI,
Jakarta, Juni 1984

Cetakan kedelapan: Juni 2000


Cetakan kesembilan: Agustus 2003
Cetakan kesepuluh: Maret 2012

384 hlm; 18 cm
ISBN 978 – 979 – 22 – 8128 – 6

Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta


Isi di luar tanggung jawab percetakan

pustaka-indo.blogspot.com
Untuk
PETER
Anjingku
sahabat dan sumber inspirasiku

pustaka-indo.blogspot.com
pustaka-indo.blogspot.com
Daftar Isi

1. Pemilik Puri Hijau 9


2. Keluarga 24
3. Kecelakaan 33
4. Miss Arundell Menulis Surat 45
5. Hercule Poirot Menerima Surat 50
6. Puri Hijau 60
7. Santap Siang di Restoran George 72
8. Di Puri Hijau 80
9. Rekonstruksi Kecelakaan Miss Arundell 105
10. Kunjungan ke Rumah Miss Peabody 119
11. Berkunjung ke Gubuk Miss Tripp 134
12. Poirot Mempersoalkan Kasusnya 146
13. heresa Arundell 155
14. Charles Arundell 167
15. Miss Lawson 180
16. Mrs. Tanios 201
17. Dokter Tanios 210
18. ’Yang Terselubung’ 220
19. Mr. Purvis 231
20. Kunjungan Kedua ke Puri Hijau 247
21. Apoteker. Juru Rawat. Dokter 259
22. Perempuan di Tangga Sana 276
23. Kedatangan Dr. Tanios 296

pustaka-indo.blogspot.com
24. Sangkalan heresa 307
25. Membayangkan Kembali 317
26. Mrs. Tanios Menolak Berbicara 327
27. Kunjungan Dokter Donaldson 341
28. Korban Kedua 348
29. Pemeriksaan Lebih Lanjut di Puri Hijau 356
30. Penutup 380

pustaka-indo.blogspot.com
1
Pemilik Puri Hijau

MISS ARUNDELL meninggal pada tanggal 1 Mei. Sa-


kitnya hanya sebentar. Walaupun begitu, kematiannya
tidak terlalu mengejutkan Market Basing, kota kecil
yang ditinggalinya sejak ia berusia enam belas tahun.
Usia Miss Arundell sudah di atas tujuh puluh, dan
sejak lama orang tahu bahwa kesehatannya kurang
baik. Delapan belas bulan sebelum kematiannya, ia
sudah hampir mengembuskan napas terakhir akibat
serangan penyakit yang sama.
Kematian putri terakhir dari kelima anak almarhum
Jenderal Arundell itu memang tidak mengejutkan
siapa pun. Tetapi ada satu hal yang mengejutkan. Su-
rat wasiatnya! Membaca isinya, berbagai reaksi bisa
timbul pada setiap orang: heran, gembira, marah, pu-
tus asa, dan tentu saja gosip. Berminggu-minggu,
bahkan berbulan-bulan setelahnya, masih itu juga

pustaka-indo.blogspot.com
yang dipercakapkan orang di Market Basing. Setiap
orang punya opini masing-masing. Dari Mr. Jones
penjual sayur, sampai ke Mrs. Lamphrey yang pegawai
kantor pos. ”Pasti ada apa-apanya. Kauingat saja kata-
kataku ini.” Begitu yang dikatakan Mrs. Lamphrey
kepada setiap orang yang dijumpainya.
Yang menambah kecurigaan orang: surat itu baru
dibuat pada tanggal 21 April. Di samping itu, be-
berapa keluarga terdekat Miss Arundell datang tepat
sehari sebelum Paskah. Fakta-fakta ini menjadi sema-
cam bahan pergunjingan yang menyenangkan bagi
masyarakat Market Basing yang sehari-harinya hidup
monoton.
Ada satu orang yang diduga kuat tahu lebih ba-
nyak daripada yang mau diakuinya. Dia adalah Miss
Wilhelmina Lawson, wanita yang bekerja sebagai pe-
layan pribadi Miss Arundell. Namun, seperti yang
lain-lain, Miss Lawson pun menyatakan terkejut sekali
ketika surat wasiat itu dibacakan.
Banyak orang tak percaya akan pernyataan Miss
Lawson. Tapi hanya seorang yang mengetahui kebe-
narannya, dan orang itu sudah mati. Emily Arundell.
Ia lebih suka menyimpan ”kebijaksanaan”-nya dalam
dirinya sendiri. Bahkan kepada penasihat hukumnya
sekalipun, wanita itu tak pernah mengemukakan mo-
tif yang melatarbelakangi tindakannya. Ia hanya mene-
rangkan sejelas-jelasnya apa yang diinginkannya.
Sikapnya yang ”pendiam” itu merupakan kunci wa-
tak wanita yang dalam segala hal betul-betul mewakili
produk generasinya. Ia memiliki kebaikan sekaligus
keburukannya. Ia keras dan sering menjengkelkan,
10

pustaka-indo.blogspot.com
namun hatinya penuh kehangatan. Kata-katanya ta-
jam, tetapi tindakannya selalu mencerminkan ke-
baikan hatinya. Dari luar ia tampak sentimental, na-
mun di dalam ia cerdik. Sering ia mengancam
teman-temannya, tapi tak jarang pula mereka menik-
mati kemurahan hati wanita itu. Ia mempunyai rasa
tanggung jawab yang sangat besar terhadap keluarga.
Hari Jumat sebelum Paskah, Emily Arundell berdiri
di ruang tamu Puri Hijau sambil memberi bermacam-
macam perintah kepada Miss Lawson.
Kecantikan dan keanggunannya tidak hilang di-
makan usia, ia masih tetap tegak dan tegap. Gerakan-
nya gesit.
”Di mana saja kauatur tempat tidur mereka?” tanya-
nya.
”Mm—mudah-mudahan yang saya lakukan tidak
salah—Dokter dan Mrs. Tanios di Ruang Tidur Jati,
heresa di Ruang Tidur Biru, dan Mr. Charles di be-
kas kamar tidur anak-anak dulu...”
”Tempatkan heresa di kamar anak-anak dan
Charles di Ruang Tidur Biru,” sela Miss Arundell.
”Baik, Miss. Maafkan saya. Saya pikir kamar anak-
anak kurang sesuai untuk...”
”Kamar itu cukup bagus untuk heresa.”
Pada zamannya, wanita selalu menduduki tempat
kedua. Laki-laki dianggap anggota masyarakat yang
terpenting.
”Sayang anak-anak tidak ikut datang,” kata Miss
Lawson.
Walaupun kurang bisa menguasai anak-anak, wa-
nita itu sangat menyukai mereka.
11

pustaka-indo.blogspot.com
”Empat tamu sudah cukup banyak,” komentar
Miss Arundell. ”Bella terlalu memanjakan anak-anak-
nya,” tambahnya. ”Itu sebabnya mereka kurang bisa
menurut.”
Minnie Lawson berkata, ”Mrs. Tanios—wanita itu
ibu yang baik sekali.”
Miss Arundell mengiyakan, ”Ia memang baik se-
kali.”
”Tentu berat hidup di daerah terpencil macam
Smyrna,” ujar Minnie Lawson sambil menghela na-
pas.
”Itu kemauannya sendiri. Ia harus menanggung
sendiri risikonya,” kata Miss Arundell menimpali. ”Se-
baiknya aku ke kota sekarang—membereskan pesanan
kita untuk malam Minggu nanti.”
”Biar saya saja yang pergi,” cegah Miss Lawson.
”Sebaiknya aku pergi sendiri. Rogers perlu sedikit
kata-kata keras, dan kau—kau agak kurang tegas,
Minnie. Bob! Mana anjing itu?”
Seekor anjing terrier berbulu keriting melompat-
lompat menuruni tangga, menghampiri majikannya.
Ia berputar-putar sambil menyalak-nyalak gembira.
Keduanya keluar melintasi pintu depan dan jalan
setapak yang teratur rapi di halaman menuju pintu
gerbang utama.
Masih di pintu, Miss Lawson berdiri menyaksikan
kepergian mereka sambil tersenyum seperti orang pan-
dir. Tiba-tiba terdengar suara serak di belakangnya.
”Sarung bantalnya, Miss—yang Anda berikan tadi
bukan pasangannya.”
”Oh? Apa iya? Bodohnya aku ini...”
12

pustaka-indo.blogspot.com
Maka Miss Lawson kembali menekuni tugas rutin-
nya dalam rumah tangga Puri Hijau.
Emily Arundell, didampingi Bob, tampak sebagai
pemandangan mewah berjalan menelusuri jalan utama
Market Basing.
Ia orang kaya yang sangat dihormati. Di setiap
toko yang dimasukinya, Emily Arundell selalu disam-
but dengan tergopoh-gopoh oleh pemilik toko sendiri.
Semua orang tahu siapa wanita itu: pemilik Puri
Hijau, wanita hasil didikan masa lalu yang kini jarang
didapati.
”Selamat pagi, Miss. Bisa saya bantu? Kurang ha-
lus? Oh, maaf. Baiklah kalau itu memang yang Anda
inginkan. Tidak. Tentu saja kami tak akan mengirim-
kan barang yang kurang bagus ke Puri Hijau. Ya,
Miss—akan saya awasi sendiri pengirimannya.”
Di toko penjual sayur tampak beberapa wanita.
Satu di antaranya berpakaian mewah walau tubuhnya
agak kegemukan.
”Pagi, Emily,” sapa wanita itu.
”Oh. Pagi, Caroline.”
Caroline Peabody bertanya, ”Menunggu tamu dari
kota?”
”Ya. Mereka datang semua: heresa, Charles, dan
Bella.”
”Jadi, Bella juga pulang?”
”Ya.”
Sepatah kata. Tapi keduanya tahu betul apa yang
tersirat di dalamnya.
Bella Winter, kemenakan Emily Arundell, menikah
dengan orang Yunani. Tidak seorang pun dari Ke-
13

pustaka-indo.blogspot.com
luarga Arundell yang ”ningrat” itu menikah dengan
bangsa yang dipandang rendah.
Untuk mengenakkan suasana yang menjadi cang-
gung, Caroline Peabody berkata, ”Suami Bella sangat
cerdas dan menyenangkan.”
”Betul,” sambut Miss Arundell.
Ketika keduanya meninggalkan toko penjual sayur,
Miss Peabody bertanya, ”Kudengar heresa bertu-
nangan dengan anak Donaldson?”
Miss Arundell mengangkat bahu. ”Anak muda za-
man sekarang—pikiran mereka terlalu pendek,” ujar-
nya. ”Kalau hubungan mereka serius, kupikir mereka
tidak bisa cepat-cepat kawin. Pemuda itu tak punya
uang.”
”Tapi heresa kan punya uang,” komentar Caroline
Peabody.
Dengan kaku Miss Arundell menyahut, ”Mana ada
laki-laki mau dihidupi istrinya?”
Miss Peabody tertawa. ”Buat anak muda zaman
sekarang, kelihatannya itu tidak jadi soal. Kau dan aku
sudah kolot, Emily. Yang tak bisa kumengerti cuma
satu: apa yang dilihat heresa pada diri laki-laki itu.”
”Dia dokter yang pandai.”
”Hah. Kaku, susah diajak bicara. Pada zaman kita
dulu laki-laki macam begitu jadi bahan bulan-bu-
lanan.”
Percakapan berhenti sejenak sementara Miss Pea-
body membayangkan pemuda-pemuda yang tampan
dan menawan pada zamannya...
Sambil menarik napas panjang ia berkata, ”Suruh
Charles main ke tempatku, kalau dia mau.”
14

pustaka-indo.blogspot.com
”Tentu. Akan kusampaikan pesanmu.”
Kedua wanita itu berpisah.
Sudah lebih dari lima puluh tahun mereka saling
mengenal. Miss Peabody tahu benar beberapa hal
yang mengecewakan dalam kehidupan Jenderal
Arundell, ayah Emily. Ia tahu juga bahwa perkawinan
homas Arundell sangat mengejutkan saudara-saudara
perempuannya. Itulah sebabnya sangat mudah bagi
Caroline Peabody menarik kesimpulan tentang apa
yang terjadi pada generasi muda Arundell.
Meskipun demikian, Emily dan Caroline tak per-
nah menyinggung-nyinggung masalah yang peka ini
dalam pembicaraan mereka. Keduanya sangat menjun-
jung tinggi kehormatan keluarga, berjiwa solider, dan
sangat tertutup mengenai persoalan keluarga.
heresa, misalnya. Kehidupan gadis itu tidak lagi
bisa dikuasai Emily sejak heresa berpenghasilan sen-
diri pada usia 21. Ia menjadi gadis yang terkenal se-
jak itu. Potretnya sering dimuat di majalah. Dan ia
menjadi anggota kehidupan bebas yang penuh pesta
pora di London. Pesta yang sering berakhir di kantor
polisi. Popularitas semacam itu bukan untuk anggota
Keluarga Arundell. Begitu pikir Emily. Ia sangat me-
nentang cara hidup heresa. Menanggapi pertunangan-
nya, Emily ragu. Pertama, karena ia menganggap
Dokter Donaldson kurang memenuhi standar untuk
Keluarga Arundell. Kedua, ia sadar bahwa heresa tak
mungkin bisa menjadi istri yang baik bagi dokter
desa itu.
Pikiran wanita itu beralih pada Bella. Bella tak ada
kekurangannya. Dia wanita yang baik sekali—ibu dan
15

pustaka-indo.blogspot.com
istri yang penuh kasih sayang. Tingkah lakunya patut
dicontoh—tapi, agak membosankan! Meskipun begitu
Bella belum bisa dianggap sempurna. Bella kawin de-
ngan orang asing—dan, bukan sekadar orang asing.
Orang Yunani. Bagi Emily Arundell, orang Yunani
tidak lebih daripada orang Yahudi. Sikap dan tingkah
laku Dokter Tanios yang menyenangkan serta kepan-
daiannya yang tersohor tidaklah menambah nilai pria
itu di mata Emily Arundell. Ia curiga terhadap sikap
dan pujian yang sering kali dilontarkan pria itu. Dan
untuk alasan ini pulalah Emily sulit menyukai kedua
anak mereka. Keduanya sangat mirip dengan sang
ayah—tak sedikit pun darah Inggris tampak pada diri
mereka.
Dan kemudian Charles...
Ya, Charles...
Tak ada gunanya membutakan diri terhadap fakta.
Charles sangat tampan dan menyenangkan. Tapi ia
tak bisa dipercaya...
Emily Arundell mengeluh. Tiba-tiba saja ia merasa
lelah, tua, dan begitu sedih...
Rasanya tidak lama lagi ia bisa bertahan...
Pikirannya melayang pada surat wasiat yang dibuat-
nya bertahun-tahun lalu.
Sedikit untuk pembantu-pembantu yang setia, dan
sedikit untuk yayasan sosial—bagian terbesar kekayaan-
nya akan dibagi rata di antara ketiga orang yang me-
rupakan keluarga terdekatnya yang masih hidup...
Tak ada salahnya membuat rencana seperti itu. Na-
mun, terlintas dalam pikirannya—kalau-kalau ada cara
yang bisa mencegah Bella mendapatkan warisan itu.
16

pustaka-indo.blogspot.com
Emily tak rela suami Bella menyentuh uangnya... Ia
akan menanyakan hal ini kepada Mr. Purvis.
Emily Arundell membelok dan memasuki pintu
gerbang Puri Hijau.
Charles dan heresa Arundell tiba dengan menum-
pang mobil—sedangkan suami-istri Tanios dengan
kereta api.
Charles dan adiknya datang lebih dahulu. Tinggi,
tampan, dan dengan sikapnya yang sedikit mengejek,
Charles menyapa bibinya, ”Halo, Bibi Emily! Apa
kabar? Kelihatannya Bibi sehat-sehat saja.”
Lalu diciumnya pipi wanita tua itu.
heresa menempelkan pipinya yang penuh dan se-
gar pada pipi Emily yang telah tampak keriput.
”Apa kabar, Bibi Emily?”
Kelihatannya heresa kurang sehat, pikir Emily. Di
balik make-up-nya yang tebal, ia kelihatan pucat. Dan
di sekeliling matanya tampak lingkaran gelap.
Mereka minum teh di Ruang Santai. Bella tak
henti-hentinya memandang saudara sepupunya,
heresa, mencoba mengingat seteliti mungkin model
baju yang dikenakannya. Bella sangat menyukai pa-
kaian. Sayangnya, ia tidak mempunyai selera yang
bagus. Pakaian heresa mahal, dan modelnya agak
berani. Tapi tubuh heresa memang bagus dan cocok
untuk pakaiannya.
Ketika datang ke London dari Smyrna, Bella men-
coba meniru keanggunan heresa. Tetapi kelihatannya
murahan dan tidak cocok dengan kepribadiannya.
Dokter Tanios bertubuh besar, berjanggut tebal,
dan pembawaannya selalu gembira. Ia berbicara de-
17

pustaka-indo.blogspot.com
ngan Miss Arundell. Suaranya hangat dan sangat me-
mesona orang yang mendengarnya. Bahkan, Miss
Arundell pun terpesona.
Miss Lawson sangat sibuk. Ia mondar-mandir mem-
bawa piring berisi kue-kue dan menyiapkan minuman
untuk tamu-tamunya. Beberapa kali Charles berdiri
membantunya. Tapi sedikit pun Miss Lawson tidak
menunjukkan rasa terima kasih.
Setelah selesai minum teh, mereka berjalan-jalan di
taman. Charles berbisik kepada adiknya, ”Lawson tak
menyukaiku. Aneh, kan?”
Dengan mengejek heresa berkata, ”Sangat aneh.
Jadi terbukti masih ada orang yang tidak terpikat
pesonamu, Charles.”
Charles meringis. Katanya, ”Untungnya cuma Miss
Lawson...”
Di taman, Miss Lawson berjalan dekat Mrs.
Tanios. Ia menanyakan keadaan anak-anak. Wajah
Bella Tanios menjadi hidup. Dan, ia lupa mengamati
heresa. Dengan penuh semangat ia bercerita tentang
kedua anaknya.
Bella merasa Minnie Lawson mendengarkan cerita-
nya dengan penuh simpati.
Seorang laki-laki berwajah serius dan berkacamata
tempel dipersilakan menemui mereka di halaman oleh
seorang pelayan. Laki-laki berambut pirang itu ke-
lihatan malu-malu. Miss Arundell menyapanya dengan
sopan.
heresa berseru, ”Halo, Rex!”
Ia menggelayut pada lengan laki-laki itu. Lalu me-
reka berdua pergi.
18

pustaka-indo.blogspot.com
Charles mencibir. Ia pun berlalu dan menghampiri
tukang kebun yang dulu pernah menjadi sahabat-
nya.
Ketika Miss Arundell masuk kembali ke dalam ru-
mah, Charles sedang bermain-main dengan Bob. Bob
berdiri di puncak tangga. Di mulutnya tergigit bola
mainannya. Ekornya bergerak-gerak.
”Ayo, Bob!” seru Charles.
Bob perlahan-lahan melipat kaki belakangnya de-
ngan bola masih di moncongnya. Kemudian dengan
hati-hati anjing itu mendorong bolanya semakin ke
pinggir mulutnya. Ketika bolanya terlepas dan meng-
gelinding ke bawah, ia berdiri sambil menyalak-nyalak
gembira. Charles memungut bola itu dan melempar-
kannya kembali kepada Bob. Bob menangkap dengan
mulutnya. Dan, permainan pun diulang berkali-kali.
”Ini mainannya sehari-hari,” ujar Charles.
Emily Arundell tersenyum.
”Kalau diteruskan, dia kuat bermain berjam-jam,”
katanya.
Miss Arundell masuk ke Ruang Santai, dan Charles
mengikutinya. Bob menyalak-nyalak menarik per-
hatian. Ketika dilihatnya Charles terus mengikuti
tuannya, anjing itu tampak kecewa.
Sambil memandang ke luar jendela, Charles ber-
kata, ”Lihatlah heresa dan pemuda idamannya itu.
Pasangan aneh!”
”Kaupikir heresa serius?”
”Oh. heresa sangat tergila-gila padanya!” ujar
Charles. ”Aneh. Tapi begitu adanya. Mungkin karena
caranya memandang heresa. Ia memandang heresa
19

pustaka-indo.blogspot.com
bukan sebagai wanita hidup melainkan sebagai pre-
parat yang hendak diselidiki. heresa suka diperlaku-
kan begitu. Kasihan. Laki-laki itu miskin. Selera
heresa mahal.”
Acuh tak acuh, Miss Arundell berkata, ”heresa
bisa mengubah cara hidupnya—kalau dia mau. Dan
lagi dia punya penghasilan.”
”Apa? Oh, ya. Tentu saja.”
Pandangan Charles memancarkan rasa bersalah.
Ketika mereka sedang duduk-duduk di Ruang
Santai sambil menanti siapnya santapan malam, tiba-
tiba terdengar bunyi berdebam dari arah tangga.
Charles masuk dengan wajah merah.
”Maaf, Bibi Emily. Terlalu lama menungguku?
Hampir saja aku jatuh dari loteng. Anjing itu—dia
meninggalkan bolanya di atas.”
”Kau sembrono, Bob,” seru Miss Lawson sambil
membungkuk dekat Bob.
Bob memandangnya dengan penuh kebencian, ke-
mudian berpaling.
”Itu sangat berbahaya,” ujar Miss Arundell. ”Minnie,
ambil bolanya dan simpan.”
Tergopoh-gopoh Miss Lawson keluar.
Di meja makan, Dokter Tanios memonopoli perca-
kapan. Ia menceritakan kehidupannya yang menye-
nangkan di Smyrna.
Mereka masuk ke kamar masing-masing tak lama
setelah selesai makan malam. Sambil membawa gu-
lungan benang wol, kacamata, tas beludru, dan se-
buah buku, Miss Lawson mengantarkan majikannya
ke ruang tidurnya.
20

pustaka-indo.blogspot.com
Dengan wajah berseri-seri ia berceloteh, ”Sangat
menyenangkan laki-laki itu—Dokter Tanios. Bella
tentu senang ditemani laki-laki seperti dia setiap saat.
Meskipun, oh, aku tak berani membayangkan hidup
di daerah terpencil seperti itu. Air harus dimasak
dulu. Susu cuma ada susu kambing... Hi, bagaimana
rasanya?”
Miss Arundell menyela, ”Sudah kaukatakan pada
Ellen supaya membangunkanku jam setengah tu-
juh?”
”Ya, Miss Arundell. Sudah saya katakan juga dia
tak perlu menyiapkan teh, tapi... tidakkah lebih
baik... Maksud saya, pendeta di Southbridge yang ter-
kenal paling bijaksana itu mengatakan sebetulnya ti-
dak wajib kita puasa sebelum...”
Sekali lagi Miss Arundell menyela, ”Aku belum
pernah makan atau minum apa pun sebelum misa
pagi, dan aku tidak akan membiasakan begitu. Kalau
kau lebih suka makan atau minum dulu, silakan.”
”Bukan begitu maksud saya...”
Miss Lawson merasa tersinggung dan malu.
”Lepaskan ikat leher Bob,” perintah Miss Arundell.
Buru-buru Miss Lawson melaksanakan perintah
majikannya.
Berusaha menyenangkan hati majikannya, ia ber-
kata, ”Malam ini sangat menyenangkan. Mereka se-
muanya kelihatannya senang di sini.”
”Hmm,” komentar Miss Arundell, ”mereka ke sini
untuk mendapatkan yang mereka ingini.”
”Oh, Miss Arundell...”
”Minnie, aku sama sekali bukan orang bodoh! Aku
21

pustaka-indo.blogspot.com
cuma ingin tahu, siapa di antara mereka yang berani
mengatakan lebih dulu.”
Rasa ingin tahu Miss Arundell tidak berusia pan-
jang. Keesokan paginya, ketika ia pulang dari misa
pagi bersama Miss Lawson lebih-kurang pukul sem-
bilan, Dokter dan Mrs. Tanios sedang duduk-duduk
di Ruang Makan. Kakak-beradik Arundell tidak keli-
hatan. Setelah sarapan, sementara yang lain meninggal-
kannya, Miss Arundell duduk menuliskan sesuatu di
notesnya.
Charles masuk lebih-kurang pukul sepuluh.
”Maaf kesiangan, Bibi Emily. Tapi heresa lebih-le-
bih lagi. Dia belum bangun.”
”Setengah sebelas sarapan akan dibersihkan dari
meja. Zaman sekarang memang jadi mode: tidak pe-
duli dengan jadwal kerja pembantu. Tapi, tidak begitu
di rumahku.”
”Bagus!” ujar Charles.
Ia mengambil sepotong daging, dan duduk di de-
kat bibinya. Seperti biasa, tawa dan senyumnya sangat
memesona. Emily Arundell pun tersenyum sayang
kepadanya. Merasa mendapat angin, Charles berkata,
”Bibi Emily—maaf kalau aku merepotkan. Tapi aku
sedang perlu sekali uang. Aku harus melunasi utang.
Bisa Bibi menolongku? Seratus saja.”
Wajah bibinya menjadi kaku, dan pandangannya
menunjukkan rasa tidak senang.
Emily Arundell bukan orang yang takut menge-
mukakan pikirannya. Dan ia pun mengatakan dengan
terus terang apa yang ada dalam otaknya.
Di Ruang Tamu, hampir saja Miss Lawson ber-
22

pustaka-indo.blogspot.com
tubrukan dengan Charles yang keluar dari Ruang
Makan. Diliriknya pemuda itu dengan penuh tanda
tanya. Ketika ia masuk ke Ruang Makan, didapatinya
Miss Arundell duduk tegak dengan wajah merah pa-
dam.

23

pustaka-indo.blogspot.com
2
Keluarga

CHARLES berlari ke loteng dan mengetuk pintu ka-


mar tidur adiknya. Jawaban ”Masuk” terdengar seketi-
ka. Dan Charles pun masuk.
heresa duduk di tempat tidurnya sambil menguap.
Charles mendekatinya, dan duduk di tepi tempat
tidur.
”Kau cantik sekali, heresa,” ujarnya sambil meman-
dangi adiknya dengan kagum.
Dengan tajam heresa berkata, ”Ada apa?”
Charles meringis.
”Hmm, judesnya. Aku menduluimu, Sayang.”
”Lalu?”
Charles merentangkan lengannya ke bawah sambil
mengangkat bahu.
”Tak ada gunanya! Bibi Emily marah padaku. Dia
menyatakan bahwa dia tidak punya bayangan tentang

24

pustaka-indo.blogspot.com
mengapa keluarga terdekatnya berkumpul di dekatnya.
Dan dia juga menyebutkan, bahwa keluarga terdekat
yang katanya menyayanginya itu akan kecewa.”
”Mestinya kau menunggu dulu,” ujar heresa tak
acuh.
Charles tersenyum.
”Aku takut kau atau Tanios menduluiku. Dan aku
sungguh kuatir, heresa, kita gagal kali ini. Bibi
Emily bukan orang bodoh.”
”Tak ada yang pernah mengatakan dia bodoh.”
”Aku malah mencoba memberinya angin.”
”Maksudmu?”
”Kukatakan dia pandai sekali. Tapi, bagaimanapun
dia tak akan bisa membawa kekayaannya ke kubur.
Mengapa dia tak mau melepaskannya sedikit?”
”Kau bodoh, Charles!”
”Sama sekali tidak! Aku cuma sedikit mempraktik-
kan teori psikologi. Tak baik selalu membenarkan
kata perempuan tua itu. Dan aku cuma menyatakan
apa yang masuk akal. Kalau dia mati, kita toh akan
mendapat uangnya—tak ada salahnya kan kalau dia
mulai berpisah dengan hartanya sedikit demi sedikit?
...Supaya kita tidak tergoda mempercepat prosesnya.”
”Dia tahu maksudmu?” tanya heresa marah.
”Itu aku kurang yakin. Dia tidak mengatakan apa-
apa. Cuma bilang terima kasih—dengan agak tajam—
atas nasihatku, dan bahwa dia bisa menjaga diri. ’Po-
koknya aku sudah mengingatkan,’ kataku. Dan dia
menjawab, ’Aku tak akan melupakannya.’”
Dengan sangat marah heresa berkata, ”Kau betul-
betul bodoh, Charles.”
25

pustaka-indo.blogspot.com
”Aku tak peduli, heresa. Aku dalam kesusahan.
Dan perempuan tua itu hidup dengan enaknya—enak
sekali, tanpa banyak pengeluaran. Paling-paling ia
menggunakan tak lebih dari sepersepuluh pendapatan-
nya. Buat apa sih? Dia tak perlu apa-apa! Sedangkan
kita—muda, saatnya menikmati hidup! Tapi... Oh, se-
kadar untuk memukul kita, aku yakin perempuan itu
bisa bertahan hidup sampai seratus tahun. Aku ingin
bersenang-senang sekarang... Kau pun begitu...”
heresa mengangguk.
Perlahan-lahan dan sedikit tersendat-sendat, heresa
berkata, ”Mereka tidak mengerti. Orang-orang tua
itu... Mereka tidak dapat mengerti... Mereka tak tahu
apa artinya hidup ini!”
Beberapa menit kakak-beradik itu terdiam.
Charles bangkit.
”Selamat berjuang. Mudah-mudahan kau berhasil.
Tapi aku tak yakin.”
”Aku agak menggantungkan diri pada Rex—sebagai
taktik. Kalau saja aku bisa meyakinkan Emily akan
kepandaiannya—dan akan kesempatan yang bisa di-
dapatnya bila ia tak perlu bergumul dengan pasien di
kampung untuk mencari nafkah... Oh, Charles, de-
ngan modal beberapa ribu saja, dunia kita akan lain
sekali!”
”Kudoakan kau berhasil. Tapi aku ragu. Kau selama
ini agak terlalu boros. heresa, bagaimana menurut
pikiranmu? Mungkinkah Bella atau Tanios mendapat-
kan sesuatu?”
”Aku tak bisa melihat manfaat uang buat Bella.
Seleranya terlalu murah.”
26

pustaka-indo.blogspot.com
”Mungkin bukan untuk dirinya sendiri. Tapi Bella
pasti butuh uang untuk anak-anaknya. Uang sekolah,
les musik, makanan bergizi... Yah... bukan Bella, ku-
pikir. Tapi Tanios. Dia suka sekali uang. Kau tahu
kan, uang Bella dipakainya berspekulasi, dan akhirnya
hilang begitu saja.”
”Kaupikir Bibi Emily akan memberinya warisan?”
”Tidak. Akan kuusahakan ia tak mendapat apa-
apa,” ujar Charles geram.
Charles turun ke ruang bawah. Bob ada di ruang
tamu. Anjing itu dengan gembira menyambut keda-
tangan Charles.
Bob berlari-lari kecil menuju Ruang Santai. Sesam-
pai di pintu, ia menengok ke belakang—menarik
perhatian Charles.
”Ada apa?” tanya Charles sambil mengikutinya.
Bob melompat ke dalam dan duduk menanti di
dekat lemari kecil.
Charles mendekatinya.
”Apa maksudmu?”
Bob menggoyang-goyangkan ekornya dan meman-
dang tajam ke arah laci lemari itu sambil mengeluar-
kan suara aneh seolah mengharapkan sesuatu.
”Ingin sesuatu di dalam situ?”
Charles menarik laci yang paling atas. ”Oh, oh...
aku tahu sekarang,” ujarnya sambil alisnya terangkat.
Di sudut laci didapatinya setumpuk uang.
Charles mengambil tumpukan itu dan menghitung-
nya. Dengan tersenyum lebar diambilnya tiga lembar
uang pound, dua lembar uang puluhan shilling, dan
27

pustaka-indo.blogspot.com
dimasukkannya ke sakunya. Sisanya dikembalikannya
ke sudut laci.
”Idemu bagus, Bob,” katanya. ”Pamanmu Charles
akhirnya dapat jalan keluar. Setidaknya ada uang tu-
nai tersedia di tangan.”
Bob menyalak galak waktu Charles menutup kem-
bali laci.
”Maaf, Bob,” ujarnya sambil menarik laci yang ke-
dua. Di sudut laci itu terlihat bola mainan Bob.
Charles mengambilnya. ”Nih, bermainlah sepuas
hatimu.”
Bob menangkap bola yang dilemparkan Charles
kepadanya. Sementara Bob bermain dengan riangnya,
Charles keluar menuju halaman. Udara segar, dan
matahari bersinar cerah. Wangi bunga lili semerbak
menusuk hidungnya.
Dr. Tanios duduk di samping Miss Arundell. Ia
sedang membicarakan bagusnya pendidikan Inggris
untuk anak-anak, dan menyatakan penyesalannya bah-
wa ia tak sanggup membiayai pendidikan seperti itu
untuk anak-anaknya.
Charles tersenyum sinis. Ia menggabungkan diri ke
dalam percakapan mereka, dan sedikit demi sedikit
mengalihkan topik pembicaraan.
Emily Arundell tersenyum lembut kepadanya. Da-
lam hati Charles merasa bibinya senang ia mengalih-
kan pembicaraan ke hal-hal lain.
Semangat Charles tumbuh kembali. Mungkin,
akhirnya, sebelum pulang ia...
Charles terlalu optimistis.
Dr. Donaldson menjemput heresa dengan mobil-
28

pustaka-indo.blogspot.com
nya siang itu. Mereka pergi ke Worthem Abbey, salah
satu gereja yang terindah. Dari situ mereka berjalan-
jalan ke hutan kecil yang tak jauh letaknya dari gereja
itu.
Di sana Rex menceritakan kepada heresa tentang
teori-teorinya dan juga tentang beberapa percobaannya.
heresa kurang mengerti, tetapi ia mendengarkan de-
ngan penuh perhatian. Dalam hati ia berkata, ”Bukan
main pandainya Rex—dan ia begitu memesona.”
Tunangannya berhenti bicara, dan dengan ragu-
ragu bertanya, ”Ceritaku membosankan, heresa?”
”Oh, sama sekali tidak. Ceritamu sangat menarik,
Sayang,” jawab heresa tegas. ”Lanjutkan. Kau meng-
ambil darah kelinci yang sakit itu, lalu...”
Dr. Donaldson melanjutkan ceritanya.
Aneh rasanya bagi heresa. Hampir tak ada di an-
tara kawan-kawannya yang bekerja seserius Rex. Kalau
toh ada yang bekerja, mereka selalu berkeluh kesah.
Seperti telah sekali atau dua kali terlintas dalam
pikirannya, gadis itu merasa aneh bahwa dirinya bisa
jatuh cinta pada Rex Donaldson. Mengapa hal yang
sama sekali tak masuk akal dan gila ini bisa terjadi?
Terjadi pada dirinya?
Dahinya berkerut. Pikirannya melayang kepada ka-
wan-kawannya. Mereka hidup bebas ceria, dan sangat
sinis. Cinta, bagi mereka, perlu untuk hidup. Tapi
buat apa terlalu serius memikirkannya? Mereka jatuh
cinta dan tak lama kemudian berpisah. Jatuh cinta
lagi—dan berpisah lagi.
Tapi perasaannya terhadap Rex Donaldson ini lain;
lebih dalam daripada yang pernah dirasakannya se-
29

pustaka-indo.blogspot.com
belumnya. Ia merasa kali ini tak mungkin ia berpisah
untuk jatuh cinta lagi dengan yang lain. Ia sangat
membutuhkan Rex. Segalanya pada diri Rex membuat-
nya terpesona. Ketenangan dan kesendiriannya—sung-
guh berbeda dari kawan-kawannya yang ribut dan tak
pernah berpikir, pikirannya yang jernih dan penuh
ilmu, serta sesuatu yang lain—yang tak pernah dapat
dimengertinya secara sempurna namun bisa dirasakan
melalui instingnya—kekuatan tersembunyi yang ada
dalam diri laki-laki bersikap sederhana dan patuh
ini.
Ia tahu Rex sangat jenius, dan baginya profesi me-
rupakan yang paling utama. Ia sadar bahwa bagi Rex
ia hanya merupakan sebagian kecil kehidupan yang
diperlukannya. Kesadaran ini menambah daya tarik
Rex baginya. Kali ini heresa menyadari dengan se-
penuh hati dan pikirannya, bahwa ia untuk pertama
kalinya mau menerima tempat kedua. Ini sangat me-
narik hatinya. Untuk Rex, ia mau melakukan apa
saja—apa saja!
”Betapa besarnya arti uang,” ujar heresa menera-
wang jauh ke depan. ”Kalau saja Bibi Emily mening-
gal, kita bisa segera kawin dan kau bisa pergi ke
London. Di sana kau bisa punya laboratorium sendiri
lengkap dengan kelinci-kelinci percobaannya, dan kau
tak perlu lagi bekerja keras mengobati anak-anak yang
sakit campak dan wanita-wanita tua berpenyakit le-
ver.”
Donaldson berkata, ”Bibimu bisa hidup sampai
bertahun-tahun lagi, kalau dia berhati-hati.”
”Aku tahu...”
30

pustaka-indo.blogspot.com
Di ruang tidur berukuran besar dengan perabotan-
nya yang kuno, Dr. Tanios berkata kepada istrinya,
”Aku sudah mempersiapkan jalannya. Sekarang giliran-
mu, Sayang.”
Dr. Tanios menuangkan air dari galon ke baskom
porselen berhiaskan gambar mawar.
Bella Tanios duduk di depan kaca rias. Ia mencoba
menyisir rambutnya seperti heresa, tapi hasilnya ti-
dak sebagus yang diinginkannya.
Ia tidak segera menjawab.
”Aku tak mau—minta uang pada Bibi Emily,” kata-
nya.
”Uang itu bukan untuk dirimu sendiri, Bella; un-
tuk anak-anak. Kita sudah mencoba menginvestasikan
apa yang kita miliki, tetapi gagal.”
Bella melirik suaminya. Tapi laki-laki itu tak tahu
karena membelakangi istrinya.
”Apa pun alasannya, lebih baik tidak... Bibi Emily
susah dimengerti. Dia murah hati, kadang-kadang,
tapi tak suka kalau kita meminta,” balas Bella sedikit
keras kepala.
Tanios mendekati istrinya sambil mengeringkan ta-
ngan dengan handuk.
”Kau biasanya tidak keras begini, Bella. Ingat, buat
apa kita jauh-jauh datang ke sini?”
Bella bergumam, ”Aku tak pernah berpikir... mak-
sudku,... bukan untuk minta uang...”
”Tapi kau setuju bahwa satu-satunya harapan kita
untuk bisa menyekolahkan anak-anak dengan pan-
tas—cuma dengan bantuan bibimu.”
31

pustaka-indo.blogspot.com
Bella Tanios tidak menjawab. Ia bangkit dan ber-
jalan tanpa tujuan.
Wajahnya tetap lembut. Suami yang pandai sering
menggunakan kelemahlembutan istrinya sebagai sen-
jata.
Akhirnya Bella berkata, ”Siapa tahu Bibi Emily sen-
diri akan mengusulkan...”
”Mungkin saja, tapi aku belum melihat tanda-tanda-
nya sejauh ini.”
”Coba anak-anak kita bawa. Bibi Emily pasti sangat
menyayangi Mary. Dan Edward begitu cerdas...”
Tanios menimpali, ”Kupikir bibimu kurang suka
pada anak-anak. Tak ada gunanya membawa mereka.”
”Oh, Jacob...”
”Ya, ya, Sayang. Aku tahu perasaanmu. Tapi pe-
rawan tua Inggris yang satu ini... Bah! Dia bukan
manusia. Dan kita ingin berbuat yang sebaik-baiknya
untuk anak-anak kita, kan? Memberikan bantuan sedi-
kit buat kita tak akan memberatkan Miss Arundell.”
Mrs. Tanios berpaling kepada suaminya. Wajahnya
merah padam.
”Oh, Jacob, jangan sekarang. Memang itu kurang
bijaksana. Tapi aku... Oh, lebih baik tidak.”
Tanios berdiri dekat di belakang istrinya, lengannya
merangkul bahunya. Bella merinding, namun ia
diam—betul-betul diam.
Tanios, dengan suara lembut, berkata, ”Bagaimana-
pun, Bella, kupikir... kupikir kau mau melakukan apa
yang kuminta... Biasanya kau mau, meskipun mula-
mula menolak... Ya, kupikir kau mau melakukan apa
yang kukatakan...”
32

pustaka-indo.blogspot.com
3
Kecelakaan

SELASA sore. Pintu samping yang menuju halaman


terbuka. Miss Arundell berdiri di ambang pintu dan
melemparkan bola kepada Bob yang kemudian ber-
lari-lari mengejarnya.
”Sekali lagi, Bob,” ujar Emily Arundell. ”Yang ba-
gus kali ini.”
Sekali lagi bolanya menggelinding, dan Bob berlari
mengejarnya dengan sekuat tenaga.
Miss Arundell membungkuk, memungut bola dari
tempat Bob meletakkan dekat kakinya, kemudian ma-
suk. Bob mengikutinya dari belakang. Emily Arundell
menutup pintu samping, dan masuk ke Ruang Santai.
Dengan Bob masih mengikutinya, Emily Arundell me-
narik laci dan menyimpan bola Bob di tempatnya.
Ia memandang jam dinding di atas perapian. Pukul
setengah tujuh.

33

pustaka-indo.blogspot.com
”Istirahat sebentar sebelum makan malam, Bob.”
Emily Arundell menaiki tangga menuju kamar tidur-
nya. Bob menemaninya. Berbaring di dipan dengan
Bob mendengus-dengus di kakinya, Emily Arundell
mengeluh. Lega rasanya sudah hari Selasa. Besok tamu-
tamunya akan pulang. Malam Minggu kemarin tidak
menambah pengetahuannya, cuma saja lebih meyakin-
kan apa yang telah lama diketahuinya. Ia semakin ya-
kin bahwa ia harus memercayai pikirannya sendiri.
Kepada dirinya sendiri ia berkata, ”Aku semakin
tua, kukira...” Lalu dengan agak terkejut, ”Aku me-
mang sudah tua...”
Ia berbaring dengan mata terpejam sekitar setengah
jam lamanya. Kemudian Ellen datang membawakan
air panas untuk mandi. Emily Arundell bangkit dan
mulai menyiapkan diri untuk makan malam.
Dokter Donaldson diundang makan malam. Emily
Arundell ingin menggunakan kesempatan itu untuk
mengenal dari dekat pemuda idaman heresa. Ia ma-
sih belum bisa menerima kenyataan bahwa heresa
yang begitu cemerlang ingin menikah dengan laki-laki
yang kaku dan serius ini. Ia juga tak bisa menerima
bahwa laki-laki yang kaku dan serius itu ingin meni-
kah dengan perempuan macam heresa.
Meskipun demikian, tak banyak hasil yang diraih
Emily. Malam semakin larut, tetapi tak sedikit pun
pengetahuannya tentang Rex Donaldson bertambah.
Pemuda itu sangat sopan dan sikapnya resmi. Menurut-
nya, pemuda itu agak membosankan. Diam-diam ia
setuju dengan pendapat Miss Peabody. ”Memang, jauh
lebih menarik pemuda-pemuda zaman kami dulu.”
34

pustaka-indo.blogspot.com
Dokter Donaldson tak tinggal sampai larut malam.
Pukul sepuluh ia sudah mohon diri. Setelah pemuda
itu pulang, Emily pun pamit—ingin tidur agak sore.
Ia pergi ke atas, begitu juga tamu-tamunya. Mereka
agak diam malam ini. Miss Lawson tinggal di bawah
menyelesaikan tugasnya: melepaskan Bob supaya ber-
lari-lari sebentar sebelum tidur, mematikan api di
perapian, memeriksa pintu-pintu dan jendela, meng-
gulung karpet supaya jauh dari api.
Kira-kira lima menit kemudian, ia datang dengan
terengah-engah ke kamar tidur majikannya.
”Semuanya saya bawa,” ujarnya sambil meletakkan
gulungan benang wol dan sebuah buku perpustakaan.
”Mudah-mudahan bukunya bagus. Gadis penjaga per-
pustakaan itu bilang mereka tak punya buku yang
tertulis di daftar Anda. Katanya, dia yakin Anda akan
menyukai buku ini.”
”Gadis itu tak punya selera,” komentar Miss
Arundell.
”Oh, maaf. Seharusnya saya...”
”Jangan pikirkan hal itu, Minnie,” hibur Emily
Arundell. ”Itu bukan kesalahanmu. Bagaimana siang
tadi? Menyenangkan?”
Wajah Miss Lawson berseri-seri. Ia kelihatan ber-
semangat dan muda kembali.
”Sangat menyenangkan. Terima kasih banyak. Anda
sangat baik hati—memikirkan perasaan saya. Kami
memanggil roh orang yang sudah meninggal, dan me-
minta pesan-pesan mereka. Cukup banyak pesan yang
tertulis di papan kami... Oh, untunglah kegiatan sema-
cam itu masih diizinkan...”
35

pustaka-indo.blogspot.com
Sambil tersenyum Miss Arundell mengomentari,
”Hati-hati saja. Kalau Pendeta mendengar itu...”
”Tapi, Miss Arundell, kupikir tak ada salahnya me-
lakukan permainan itu. Seharusnya Mr. Londsale
meneliti dulu. Picik orang yang menyalahkan sesuatu
tanpa meneliti lebih dulu masalahnya. Julia dan Isabel
Tripp bukan wanita sembarangan. Mereka pengikut
sejati aliran spiritual.”
”Terlalu sejati untuk orang yang masih hidup,” ujar
Miss Arundell.
Miss Arundell tak peduli dengan Julia dan Isabel
Tripp. Pakaian mereka menggelikan. Begitu juga ma-
kanan dan sikap mereka. Mereka bukan wanita hasil
kebudayaan tertentu, tak punya akar yang baik—dan
tak punya pendidikan! Tapi ia tak mau mencela sa-
habat baik Minnie.
Minnie tampak sangat gembira malam ini. Mata-
nya bersinar-sinar. Ia berjalan kian-kemari dalam ka-
mar tidur majikannya. Sebentar menyentuh ini, dan
sebentar lagi mengelus itu. Ia tak tahu apa yang di-
lakukannya. Ia cuma ingin menunjukkan perasaannya,
lewat kedua matanya yang cerah dan bersinar-sinar.
Dengan takut-takut dan agak tergagap-gagap wanita
itu berkata, ”Kalau saja Anda di sana tadi, Miss
Arundell... Aku tahu Anda bukan orang yang mudah
memercayai hal-hal semacam itu. Tapi malam ini ada
pesan untuk seorang berinisial E.A. Aku yakin sekali
melihat inisial itu tertulis. Pesannya datang dari orang
yang meninggal bertahun-tahun lalu—laki-laki, ten-
tara, yang sangat tampan. Isabel jelas sekali melihat
wajahnya. Pasti itu Mr. Jenderal Arundell. Pesannya
36

pustaka-indo.blogspot.com
sangat indah, disampaikan dengan penuh kasih sa-
yang, dan di dalamnya tersirat bahwa dengan kesa-
baran semuanya dapat dicapai.”
”Papa orangnya tidak sentimental,” ujar Miss
Arundell.
”Tapi, orang berubah—di dunia sana, Miss
Arundell. Semuanya berubah. Di sana mereka cuma
mengenal kasih sayang dan pengertian. Pesan yang
tertulis di papan kami menyatakan sesuatu mengenai
kunci—kupikir maksudnya kunci lemari Boule. Mung-
kinkah pesan itu benar?”
”Kunci lemari Boule?” tanya Miss Arundell tajam.
Suaranya menunjukkan perasaan tertarik pada cerita
Miss Lawson.
”Saya pikir begitu. Saya pikir mungkin ada hu-
bungannya dengan surat-surat penting—atau semacam-
nya. Pernah ada pesan yang menulis tentang perabot
tertentu. Dan akhirnya ternyata ditemukan surat wa-
siat dalam perabot itu.”
”Tidak ada surat wasiat dalam lemari Boule,” ujar
Miss Arundell dengan agak kasar. ”Pergilah tidur,
Minnie. Kau lelah. Begitu juga aku. Kapan-kapan kita
undang Julia dan Isabel Tripp ke sini.”
”Oh, tentu akan sangat menyenangkan, Miss
Arundell. Selamat tidur. Tak ada lagi yang Anda perlu-
kan? Mudah-mudahan Anda tidak terlalu lelah dengan
begitu banyak orang di sini. Besok saya suruh Ellen
membersihkan Ruang Santai sampai bersih. Rokok
mereka meninggalkan bau tak sehat. Anda sungguh
baik hati membiarkan mereka merokok di situ.”
37

pustaka-indo.blogspot.com
”Kita tidak boleh terlalu menentang yang modern,
Minnie,” kata Miss Arundell. ”Selamat tidur.”
Waktu wanita itu meninggalkan ruang tidurnya,
Emily Arundell jadi meragukan bahwa aliran spiritual
berpengaruh baik bagi Minnie. Matanya kadang-ka-
dang menerawang terlalu jauh, dan ia tampaknya
menjadi lelah dan terlalu terpengaruh perasaannya.
Aneh yang dikatakannya mengenai lemari Boule,
pikir Miss Arundell sambil membaringkan diri di tem-
pat tidur. Ia tersenyum tak senang mengingat peris-
tiwa yang terjadi bertahun-tahun lalu. Lemari Boule
itu pernah dibuka setelah Papa meninggal. Dan yang
keluar botol-botol brendi kosong. Hal itu tak mung-
kin diketahui Minnie Lawson, apalagi Julia dan Isabel
Tripp. Bahwa lemari Boule disebut-sebut mereka, itu
membuat orang jadi ragu-ragu untuk seratus persen
tidak memercayai kebenaran aliran mereka...
Di tempat tidurnya yang berukuran besar itu Miss
Arundell tak bisa memejamkan mata. Akhir-akhir ini
ia sering sulit tidur. Tapi ia tak mau meminum obat
tidur yang diberikan Dokter Grainger. Obat tidur bu-
kan untuknya. Obat tidur dipakai orang-orang yang
lemah, yang tak kuasa menahan sakit.
Sering Miss Arundell bangun dan berjalan kian-ke-
mari dalam rumahnya, mengambil buku, memeriksa
hiasan dinding, mengatur kembali bunga yang sudah
teratur dalam vas, menulis surat... sambil menunggu
kantuknya tiba. Bahkan dalam kesepian malam, ia
merasakan ada sesuatu yang hidup dalam rumahnya.
Dan ia menyukai perasaan itu. Seolah-olah roh me-
reka ada di sekitarnya. Roh kakak dan adik perem-
38

pustaka-indo.blogspot.com
puannya: Arbella, Matilda, dan Agnes; roh homas,
adik laki-lakinya yang sangat dekat dengannya sampai
ia direbut wanita itu! Bahkan juga roh Jenderal John
Laverton Arundell, tiran yang menawan, yang sering
memerintah anak-anaknya dengan kekerasan, tapi
yang selalu menjadi kebanggaan mereka.
Pikirannya melayang kepada tunangan kemenakan-
nya. ”Laki-laki itu tak akan berani minum! Katanya
dia laki-laki. Tapi cuma air bening yang diminumnya
malam tadi! Air bening! Sedang aku saja berani mi-
num anggur khusus kesukaan Papa.”
Lain dengan Charles. Dia laki-laki sejati. Oh, kalau
saja Charles bisa dipercaya. Kalau saja orang tak tahu
bahwa dengannya...
Pikirannya terpecah belah... kini Emily Arundell
mengingat kembali semua kejadian sejak malam Ming-
gu lalu...
Rasanya semuanya meresahkan...
Ia mencoba membuang jauh-jauh perasaan kuatir-
nya. Tapi tak bisa.
Ia bangkit, dan dengan bantuan cahaya lampu ti-
durnya yang temaram dilihatnya jam dinding. Pukul
satu. Ia tak mengantuk sedikit pun.
Dikenakannya sandal dan kimono. Ia ingin turun,
sekadar memeriksa buku-buku yang akan dibayarnya
besok pagi.
Seperti bayang-bayang, wanita itu keluar menyeli-
nap dari dalam kamar tidurnya. Ditelusurinya jalan
menuju anak tangga yang diterangi sebuah lampu ke-
cil. Lampu itu selalu dibiarkan menyala sepanjang
malam.
39

pustaka-indo.blogspot.com
Sampai di ujung koridor, ia mengulurkan tangan-
nya—hendak berpegang pada susuran yang terdapat
di sisi tangga. Tapi, tanpa diduga-duga, tiba-tiba saja
ia terjungkal. Gagal menjaga keseimbangan badannya,
wanita tua itu terguling dan jatuh menggelinding ke
bawah.
Empasan tubuhnya di lantai, teriakannya yang me-
lengking, memecah keheningan malam, mengusik ke-
lelapan tidur seisi rumah. Pintu-pintu dibuka, dan
lampu dinyalakan.
Miss Lawson melongok ke luar kamarnya yang ter-
letak paling dekat tangga.
Berteriak histeris, wanita itu tergopoh-gopoh turun.
Yang lain berdatangan satu per satu. Charles menguap
dan masih mengenakan jas kamar. heresa, tubuhnya
cuma diselubungi sehelai kain sutra warna gelap.
Bella, dengan kimono biru laut dan rambut penuh
gulungan.
Dengan pikiran tak menentu, Emily Arundell terba-
ring di lantai. Bahu, pergelangan kaki, dan seluruh
tubuhnya terasa sakit. Ia sadar dirinya dikelilingi
orang. Sadar juga bahwa Minnie Lawson meraung-
raung sambil merabai tubuhnya tak keruan, bahwa
Bella berdiri melongo, dan bahwa Charles—dari tem-
pat yang jauh sekali—bicara, ”Bola Bob penyebabnya!
Lagi-lagi anjing bodoh itu meninggalkan bolanya di
sini. Lihat, ini dia bolanya. Kasihan Bibi Emily.”
Kemudian Emily merasa dirinya didekati orang
yang menguasai situasi. Yang lain-lain diperintahkan-
nya minggir. Orang itu berlutut di sampingnya, me-
40

pustaka-indo.blogspot.com
rabai tubuhnya dengan penuh pengetahuan tentang
bagian-bagian yang perlu diperiksanya.
Perasaan lega meliputi diri Emily. Ia merasa aman.
Dengan suara tegas Dokter Tanios berkata, ”Un-
tung tidak apa-apa. Tak ada patah tulang. Cuma shock
dan sedikit lecet-lecet.”
Setelah sekali lagi menyuruh orang-orang di sekitar-
nya minggir, Dokter Tanios mengangkat tubuh Emily
dan menggendongnya kembali ke kamarnya. Di situ
ia memeriksa denyut nadi Emily. Kemudian sambil
mengangguk ia menyuruh Minnie—yang masih saja
menangis meraung-raung—keluar mengambil brendi
dan botol air panas.
Dalam keadaan bingung tak menentu seperti itu
dan dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya, Emily
Arundell merasa bersyukur ada Jacob Tanios di dekat-
nya. Ia merasa aman di tangan laki-laki profesional
semacamnya. Laki-laki itu memberikan perasaan yakin
serta menumbuhkan kembali kepercayaan dirinya. Itu
memang tugas dan kewajiban dokter.
Namun ada sesuatu—ya, ada sesuatu yang mem-
buatnya resah. Ia tak tahu apa, dan enggan mencari
jawabnya sekarang. Ia akan minum brendi yang diberi-
kan kepadanya, dan tidur. Itu perintah dokter.
Hanya saja hatinya yakin akan sesuatu. Sesuatu
yang hilang. Ya, ada sesuatu yang hilang.
Oh, ia tak mau berpikir... Bahunya amat sakit. Di-
minumnya isi gelas yang disodorkan kepadanya.
Terdengar Dokter Tanios berkata, suaranya sejuk
dan meyakinkan,
”Dia akan sehat kembali besok.”
41

pustaka-indo.blogspot.com
Dan, Emily pun memejamkan mata.
Ia terbangun oleh bunyi yang tak asing—salak an-
jing.
Sebentar saja Emily jadi benar-benar terjaga.
Bob—Bob yang nakal! Ia menyalak-nyalak minta
dibukakan pintu. Begitu selalu nadanya menyalak ka-
lau semalaman tidak pulang. Lembut memelas seolah
menyampaikan permintaan maaf dan minta dirinya
diterima kembali di rumah.
Miss Arundell memasang telinga. Oh, beres. Ter-
dengar Minnie turun membukakan pintu buat Bob,
dan dengan suara tertahan ia memarahi Bob, ”Kau
memang nakal sekali, Bobsie...!” Terdengar bunyi
pintu dibuka. Pintu dapur. Tempat tidur Bob letaknya
di bawah meja dapur.
Kini Emily Arundell sadar apa yang semalam dirasa-
nya hilang. Bob! Dalam keadaan normal, Bob pasti
ikut-ikutan menonton dirinya ketika ia terbaring ke-
bingungan di kaki tangga semalam. Paling tidak, ka-
lau ia sudah terkunci di dapur, ia akan menyalak-nya-
lak sambil menggurat-gurat pintu dapur dengan
kukunya—minta dibukakan pintu. Itu kalau Bob ada
di rumah.
Jadi itulah yang mengganggu pikirannya tadi ma-
lam. Sekarang semuanya sudah jelas. Bob rupanya
pergi mencari kesenangan di luar rumah. Ia memang
sekali-sekali suka begitu. Naluri hewaninya kadang-ka-
dang melupakan sopan santun yang telah diajarkan
kepadanya. Bob, Bob! Oh, tapi ia selalu minta maaf
sesudahnya.
Masalahnya sudah gamblang kini. Tapi, benarkah?
42

pustaka-indo.blogspot.com
Apa lagi yang seolah masih mengganjal pikirannya?
Kecelakaan itu—kecelakaan yang baru saja dialaminya.
Ya, rasanya ada hubungannya dengan itu.
Benar. Ada orang yang mengatakan—Charles,
orangnya. Ya, Charles mengatakan ia jatuh karena
bola Bob—karena Bob meninggalkan lagi bolanya di
dekat tangga...
Bola itu ada di sana—Charles memungut dan me-
nunjukkan bola itu kepada yang lain...
Emily Arundell merasa pusing. Bahunya berdenyut-
denyut. Tubuhnya yang lecet terasa perih... Namun,
di balik segala penderitaannya, pikirannya tetap terang
dan jernih. Ia tidak kebingungan lagi. Ingatannya sa-
ngat jelas.
Ia mengingat segala peristiwa yang terjadi sejak pu-
kul enam sore kemarin... satu per satu... sampai tiba
pada saat ia berada di ujung tangga, hendak turun...
Tiba-tiba ia diliputi ketakutan yang dahsyat...
Pasti—pasti pikirannya salah... Orang memang cen-
derung membayangkan yang aneh-aneh setelah meng-
alami kecelakaan. Ia kembali lagi kepada pikirannya
semula. Ia berusaha, betul-betul berusaha, mengingat
kakinya menyentuh benda bulat—bola Bob—sebelum
melangkah dan terjatuh...
Tapi tidak. Ia yakin sekali tak ada bola yang meng-
halangi langkahnya.
Bukan bola, melainkan...
”Bah! Ini semua cuma perasaanku,” ujar Emily
Arundell pada dirinya sendiri. ”Cuma bayangan-ba-
yangan tolol.”
43

pustaka-indo.blogspot.com
Walaupun begitu, akal sehat dan otaknya yang
amat cerdik itu tak mau menerima kesimpulannya
sendiri. Ia bukan orang bodoh.

44

pustaka-indo.blogspot.com
4
Miss Arundell
Menulis Surat

JUMAT.
Tamunya sudah pulang semua.
Mereka pulang hari Rabu, seperti rencana semula.
Masing-masing menawarkan diri untuk tinggal lebih
lama, menemaninya. Tetapi Emily Arundell menolak
semua tawaran mereka. Ia lebih suka ”ketenangan”.
Selama dua hari semenjak kemenakannya mening-
galkan Market Basing, tak henti-hentinya Emily
Arundell merenung. Sering tak kedengaran olehnya
Minnie berbicara kepadanya. Ia cuma memandang
wanita itu dengan acuh tak acuh dan menyuruhnya
mengulangi lagi kata-katanya.
”Shock-nya belum hilang,” ujar Minnie Lawson.
”Aku kuatir dia tak bisa kembali seperti dulu lagi,”
tambahnya mengungkapkan isi hatinya.

45

pustaka-indo.blogspot.com
Sebaliknya, Dokter Grainger sangat membesarkan
hati.
Katanya, satu-dua hari lagi Miss Arundell sudah
boleh meninggalkan tempat tidur, dan bahkan boleh
turun ke ruang bawah. Dikatakannya pula bahwa wa-
nita itu sangat beruntung tulangnya tidak ada yang
patah, bahwa ia pasien yang sebetulnya tidak memerlu-
kan dokter—dan, bahwa jika semua pasien sikapnya
seperti itu, ia bisa tutup praktik.
Biasanya, Emily Arundell menangkis kata-kata dok-
ternya dengan penuh semangat. Ia dan Dokter
Grainger tua itu sudah lama sekali bersahabat. Dokter
Grainger sering mengancam, dan Miss Arundell men-
tah-mentah menantang. Keduanya menemukan ba-
nyak kesenangan dalam persahabatan mereka.
Tapi kini, sesudah dokternya pergi, Emily Arundell
berbaring dengan dahi berkerut. Ia masih terus ber-
pikir—dan berpikir. Kata-kata Minnie Lawson cuma
setengah kedengaran olehnya. Tapi, tanpa diduga-duga
ia tersentak dan kembali ke lingkungannya yang nya-
ta. Kalau sudah begitu, kata-kata Minnie Lawson di-
tanggapinya dengan tajam.
”Bobsie, Bobsie,” ujar Minnie Lawson sambil mem-
bungkuk membelai Bob yang sedang berbaring di atas
permadani di kaki tempat tidur majikannya. ”Kalau
kau tahu betapa fatal akibat kelalaianmu, Bobsie—kau
pasti akan sangat menyesal dan bersedih.”
Emily Arundell membentak, ”Jangan bodoh kau,
Minnie! Di Inggris berlaku hukum bahwa tak seorang
pun boleh dituduh bersalah sebelum kesalahannya
terbukti. Tak tahukah kau akan hukum itu?”
46

pustaka-indo.blogspot.com
”Oh, tapi kita kan tahu...”
Sekali lagi Emily membentaknya, ”Kita tidak tahu
apa-apa sama sekali. Hentikan tindakan dungumu
itu—jalan sana, jalan sini, sentuh ini, sentuh itu.
Menjengkelkan sekali. Tak tahukah kau bagaimana
mesti bersikap di kamar orang sakit? Pergi kau! Suruh
Ellen ke sini.”
Dengan patuh Miss Lawson keluar dari kamar ma-
jikannya.
Emily Arundell memandang wanita itu dengan sedi-
kit menyesali kata-katanya. Walau sering menjengkel-
kan, Minnie Lawson selalu berusaha melakukan tugas-
nya dengan sebaik-baiknya.
Kerut-kerut kembali menghiasi dahinya.
Ia bingung dan sedih tiada menentu. Biasanya ia
benci melihat orang bersikap seperti dirinya saat itu.
Pikirannya yang hidup dan kemauannya yang keras
selalu mengatakan bahwa selalu ada jalan keluar dari
situasi yang bagaimanapun sulitnya. Tetapi kali ini ia
betul-betul tak mengerti langkah apa yang harus di-
ambilnya.
Adakalanya ia bimbang akan pikirannya sendiri,
akan daya ingatannya. Tapi, tak ada seorang pun tem-
pat ia bisa mencurahkan isi hatinya.
Setengah jam kemudian, ketika Miss Lawson masuk
dengan berjingkat-jingkat ke kamar majikannya, dilihat-
nya majikannya tidur. Hampir saja cangkir yang di-
bawanya terjatuh ketika tiba-tiba Miss Arundell ber-
kata, ”Mary Fox,”
”Apa?” tanya Miss Lawson.
”Sudah jadi tulikah kau, Minnie? Mary Fox, kata-
47

pustaka-indo.blogspot.com
ku. Perempuan yang kujumpai di Cheltenham tahun
lalu. Dia saudara pastor yang ada di Kathedral Exeter.
Kemarikan cangkir itu. Kau kurang hati-hati. Isinya
kautumpahkan, Minnie. Dan ingat, jangan lagi ber-
jingkat-jingkat kalau masuk ke kamarku. Tingkah se-
perti itu sangat menjengkelkan. Sekarang, turunlah
kau. Ambilkan buku telepon.”
”Bisa saya bantu cari nomornya? Atau Anda mung-
kin perlu satu alamat?”
”Kalau aku ingin kaulakukan itu, tentu sudah ku-
katakan dari tadi, Minnie. Lakukan perintahku. Bawa
buku itu ke sini, dan letakkan map yang berisi kertas
suratku di meja samping ranjangku.”
Miss Lawson mengikuti perintah yang diterima-
nya.
Setelah yakin semua permintaan majikannya ter-
penuhi, ia pun beranjak meninggalkan kamar Miss
Arundell. Tanpa diduga-duga, Emily Arundell berkata,
”Kau baik dan setia, Minnie. Jangan hiraukan kalau
aku membentakmu. Aku tahu itu menyakitkan. Tapi,
kau sangat sabar dan baik kepadaku.”
Miss Lawson keluar dengan wajah bersemu merah.
Mulutnya komat-kamit menyemburkan kata-kata yang
tak jelas.
Duduk bersandar di tempat tidurnya, Miss
Arundell menulis surat. Ia menulis dengan perlahan-
lahan dan sangat berhati-hati. Kadang-kadang ia ber-
henti untuk berpikir atau menggarisbawahi kata-kata
yang telah ditulisnya.
Berkali-kali ia mencoret kata-kata yang baru ditulis-
nya. Ia tidak berusaha menyalin kembali halaman yang
48

pustaka-indo.blogspot.com
dipenuhi coretan. Di sekolahnya dulu, ia diajar untuk
tidak membuang-buang kertas tulis. Akhirnya, dengan
puas ia menandatangani suratnya dan memasukkannya
ke amplop. Ia menuliskan nama di bagian depan
amplop itu. Kemudian diambilnya sehelai kertas tulis
baru. Kali ini ia membuat draft. Setelah membaca kem-
bali dan membetulkan beberapa bagian pada surat ini,
disalinnya isinya. Dibacanya sekali lagi dengan hati-
hati—lalu, dimasukkannya ke amplop. Di bagian
depannya ia menuliskan: Mr. William Purvis, Kantor
Pengacara Purvis, Purvis, Charlesworth, Harchester.
Diambilnya kembali amplop pertama yang bertulis-
kan M. Hercule Poirot di bagian depannya. Kemu-
dian, dibukanya buku telepon. Setelah menemukan
alamatnya, dituliskannya alamat itu pada amplop
tadi.
Ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Miss Arundell cepat-cepat memasukkan amplop
yang baru diberinya alamat ke salah satu kantong
pada map kertas suratnya.
Ia tidak ingin menimbulkan kecurigaan Minnie.
Minnie terlalu suka mencampuri urusan orang lain.
”Masuk,” serunya sambil membaringkan kembali
tubuhnya dengan lega.
Ia telah mengambil langkah yang diperlukannya
untuk mengatasi situasi.

49

pustaka-indo.blogspot.com
5
Hercule Poirot
Menerima Surat

KEJADIAN yang baru saja kuceritakan tadi tentulah


tidak kuketahui sampai berbulan-bulan sesudahnya.
Tetapi, dengan menanyai berbagai anggota keluarga
Miss Arundell secara teliti, dapatlah kususun urut-
urutan kejadiannya dengan cukup sempurna.
Kami, Poirot dan aku, baru terlibat dalam skandal
itu sendiri setelah menerima surat Miss Arundell.
Ingat benar aku akan hari itu. Suatu hari yang panas
dan gersang menjelang akhir bulan Juni.
Poirot sedang melakukan pekerjaan rutinnya: mem-
buka surat yang diterimanya dari petugas pos pagi.
Dipungutnya surat-surat itu satu per satu, diamat-
amatinya dengan cermat, dan baru kemudian dengan
hati-hati ia membuka amplopnya menggunakan pisau
pemotong kertasnya. Setelah membaca isinya dengan

50

pustaka-indo.blogspot.com
sungguh-sungguh, ia meletakkan surat itu pada salah
satu dari keempat tumpukan yang terletak di seberang
termos cokelatnya. Poirot punya kebiasaan minum
cokelat sebagai sarapan. Pekerjaannya ini dilakukan
tiap hari seperti mesin.
Begitu teratur dan lancar langkah-langkahnya me-
lakukan pekerjaan itu, hingga penyimpangan sedikit
saja pada gerakannya segera menarik perhatian orang
yang bersamanya.
Saat itu aku sedang duduk dekat jendela, memper-
hatikan lalu lintas di bawah. Aku baru saja kembali
dari Argentina. Hatiku serasa hidup kembali berada
di tengah deru kota London.
Kutengok Poirot, dan sembari tersenyum kukata-
kan, ”Poirot, boleh aku menebak sesuatu?”
”Hmm. Tentu saja. Apa itu?”
Kutegakkan dudukku. Lalu dengan angkuh kukata-
kan, ”Pagi ini kau menerima surat yang menarik per-
hatianmu!”
”Kau memang benar-benar seorang Sherlock
Holmes! Ya, tepat sekali.”
Aku tertawa.
”Aku kenal cara kerjamu, Poirot. Kalau kau sampai
membaca sebuah surat dua kali, pasti ada sesuatu di
dalamnya yang menarik perhatianmu.”
”Itu kesimpulanmu sendiri, Hastings!”
Sambil tersenyum Poirot menyodorkan surat yang
kami perbincangkan kepadaku.
Kuterima surat itu. Aku meringis. Tulisannya beng-
kok-bengkok—model tulisan kuno, dan penuh co-
retan di sana-sini.
51

pustaka-indo.blogspot.com
”Mesti kubacakah surat ini, Poirot?” keluhku.
”Tidak ada yang mengharuskanmu, Kawan.”
”Mau kasih tahu apa isinya?”
”Lebih baik kaubaca sendiri supaya kau bisa me-
nyimpulkannya. Tapi, kalau kau segan, tak usah repot-
repot.”
”Aku ingin tahu isinya,” protesku.
Poirot berkomentar tak acuh, ”Percuma. Surat itu
tak ada isinya.”
Kupikir Poirot mulai mempermainkanku. Tanpa ber-
lama-lama, kucurahkan perhatianku pada surat itu.

M. Hercule Poirot.

Dengan hormat,
Setelah lama sekali kebingungan, saya menulis (kata
yang terakhir dicoret). Saya terpaksa menulis surat ke-
pada Anda dengan harapan Anda bisa membantu saya
memecahkan suatu masalah yang sangat pribadi sifatnya
(dua kata terakhir digarisbawahi rangkap tiga).
Saya mengenal nama Anda. Miss Fox dari Exeter
pernah menyebutkan nama Anda kepada saya. Miss Fox
sendiri tidak kenal Anda. Ia cuma mengatakan saudara
perempuan kakak iparnya (namanya, maaf, saya lupa)
menceritakan kebaikan dan kebijaksanaan Anda yang
luar biasa (kata-kata luar biasa digarisbawahi). Tentu
saja saya tidak menanyakan apa masalahnya yang per-
nah Anda bantu pemecahannya itu (masalahnya digaris-
bawahi). Meskipun begitu, Miss Fox mengatakan ma-
salahnya sangat menyedihkan dan rahasia (empat kata
terakhir diberi garis bawah tebal).
52

pustaka-indo.blogspot.com
Aku berhenti membaca tulisan yang sukar sekali
dibaca itu.
”Poirot, mestikah kuteruskan?” tanyaku. ”Rasanya
berbelit-belit sekali.”
”Lanjutkan, Kawan. Sabar.”
”Sabar,” gerutuku. ”Ini sih tak ada bedanya dengan
membaca... Oh, aku jadi membayangkan laba-laba
yang kecempelung ke botol tinta lalu berjalan di atas
kertas ini... Hasilnya pasti guratan-guratan macam
tulisan ini.”
Sekali lagi kualihkan perhatianku kepada surat di
tanganku.

Dalam dilema yang sedang saya hadapi ini, saya pi-


kir Anda bisa membantu menyelidiki beberapa hal.
Masalahnya, seperti yang tentunya Anda ketahui, sangat
memerlukan kebijaksanaan, dan saya—tidak perlu kira-
nya saya kemukakan di sini, betapa saya berdoa (kata
berdoa ini digarisbawahi dua kali) supaya masalah
ini—semoga apa yang ada dalam pikiran saya ini—ti-
dak benar. Saya sadar, orang sering cenderung memper-
sulit masalah yang sesungguhnya amat sederhana.

”Ada halaman yang hilang, mungkin?” gumamku


agak heran.
Poirot tertawa.
”Tidak. Tidak ada.”
”Tidak masuk akal. Apa sih yang sebenarnya di-
bicarakan wanita ini?”
”Teruskan saja, Bung.”

53

pustaka-indo.blogspot.com
Masalahnya, seperti yang Anda mengerti... Bah! Yang
ini sudah kubaca tadi. Nah! Ini... sampai di sini aku
tadi.

Dalam situasi begini, saya yakin Anda dapat meng-


hargai pikiran saya yang satu ini, tak seorang pun dapat
saya mintai pendapat di Market Basing ini. (Kutengok
kembali kepala suratnya. Puri Hijau, Market Basing,
Berks.) Tentunya Anda juga dapat mengerti betapa ti-
dak enaknya perasaan saya (tidak enak digarisbawahi).
Sejak beberapa hari belakangan ini, berkali-kali saya
menuduh diri saya terlalu membayangkan yang tidak-ti-
dak (empat kata terakhir digaris tiga di bawahnya).
Namun, hati saya semakin tidak enak. Berkali-kali pula
saya yakinkan diri saya, bahwa perasaan saya itu tidak
ada artinya dan bahwa saya bodoh kalau terlalu meng-
hanyutkan diri terhadap perasaan seperti itu, tetapi—
tetap saja. Perasaan tidak enak dalam hati saya tidak
mau hilang. Saya merasa pasti akan hal itu. Berpikir
begini terus-menerus sangat memengaruhi kesehatan
saya. Tentu saja saya ada dalam posisi yang sulit, karena
saya tidak bisa mengatakan apa pun kepada siapa pun
(apa pun kepada siapa pun diberi garis bawah tebal).
Mungkin Anda berpikir bahwa semuanya ini hanyalah
masalah yang sepele. Memang. Mungkin jawaban terha-
dap masalah ini pun sebetulnya sepele (sepele digaris-
bawahi). Meskipun begitu, meski bagaimanapun sepele
kelihatannya, saya selalu gelisah dan ketakutan sejak
kecelakaan yang disebabkan bola mainan anjing itu.
Saya minta pendapat dan nasihat Anda dalam hal ini.
Saya yakin ini akan sangat meringankan beban pikiran
54

pustaka-indo.blogspot.com
saya. Mohon Anda kabarkan berapa imbalan yang Anda
minta, dan apa yang harus saya lakukan dalam hal
ini.
Sekali lagi, saya tekankan di sini, bahwa tidak ada
seorang pun di sini yang tahu mengenai hal ini. Fakta-
nya, saya tahu, sangat sepele dan tidak penting, tapi
kesehatan saya buruk dan perasaan saya (perasaan di-
beri garis bawah tiga kali) tidak lagi seperti dulu. Ke-
kuatiran seperti ini jelek bagi diri saya. Dan, semakin
saya pikirkan masalahnya, semakin saya yakin akan ke-
benaran pikiran saya—bahwa saya tidak mungkin
salah. Tentu saja saya tidak akan mengatakan apa pun
(ini digarisbawahi) kepada siapa pun (juga digaris-
bawahi).

Nasihat Anda yang segera sangat saya harapkan.

Hormat saya,
Emily Arundell

Kubalik surat itu dan kubaca lagi setiap halaman


dengan teliti. ”Tapi, Poirot,” seruku, ”Apa maksudnya
surat ini?”
Poirot mengangkat bahu.
”Benar. Apa sebetulnya maksudnya?”
Kuketuk-ketuk surat itu dengan tak sabar.
”Bukan main! Mrs.—atau, Miss—kah dia?”
”Kupikir dia seorang Miss. Gaya suratnya khas
gaya surat perawan tua.”
”Benar,” ujarku. ”Perawan tua yang cerewet. Aku
tidak mengerti.”
55

pustaka-indo.blogspot.com
Poirot menarik napas.
”Persis seperti yang kaubilang, tanpa susunan dan
tanpa metode. Hastings...”
”Persis,” potongku cepat-cepat. ”Tidak memakai
otak sama sekali.”
”Bukan begitu, Kawan.”
”Lalu, apa maksudnya menulis surat seperti itu?”
”Hm. Hm,” gumam Poirot. ”Isinya memang nyaris
tidak ada.”
”Bertele-tele, ke sana kemari, tapi tidak ada tujuan-
nya. Mungkin dia cuma mau mengatakan anjingnya
terserang penyakit asma... Oh, sungguh membingung-
kan. Begitu, tapi kau membacanya sampai dua kali,
Poirot.”
Poirot tersenyum.
”Kalau kau, Hastings—apa yang hendak kaulaku-
kan? Membuangnya ke tempat sampah?”
”Kupikir begitu,” sahutku sambil sekali lagi mene-
liti surat yang masih kupegang. ”Mungkin pikiranku
sedang buntu. Tapi, sungguh mati, aku tidak melihat
sesuatu yang menarik dalam surat ini.”
”Ada yang sangat menarik—yang langsung menarik
perhatianku begitu amplopnya kubuka.”
”Tunggu,” cegahku. ”Jangan katakan dulu. Kucoba
sekali lagi mencari point yang menarik perhatianmu.
Mungkin kali ini aku bisa menemukannya.” Aku jadi
penasaran. Kuteliti lagi surat itu. Akhirnya aku cuma
bisa menggeleng.
”Aku menyerah, Sobat. Perempuan tua itu terlalu
berbelit-belit. Mungkin insting yang menyebabkan-
mu...”
56

pustaka-indo.blogspot.com
Poirot tampak tersinggung.
”Insting! Kau tahu betapa aku membenci kata yang
satu itu, Hastings. Perasaan tidak kupakai dalam
urusan begini. Otak! Sekali lagi, otak yang kupakai.
Matamu kurang jeli, Hastings.”
”Oke,” komentarku lelah. ”Sebutkan sekarang di
mana kebodohanku.”
”Kau tidak bodoh, cuma kurang jeli.”
”Sudahlah! Katakan sekarang apa yang menarik per-
hatianmu itu. Paling-paling...”
Poirot tidak memedulikan omelanku. Dengan te-
nang sekali ia berkata, ”Yang menarik tanggalnya.”
”Tanggalnya?”
Kupungut kembali suratnya. Pada sudut kiri atas
kulihat tertulis: 17 April.
”Ya,” komentarku lambat. ”Memang aneh. Tanggal
17 April.”
”Sekarang sudah tanggal 28 Juni. Mencurigakan,
bukan? Lebih dari dua bulan lalu surat itu ditulis.”
Aku menggeleng dengan bimbang.
”Siapa tahu itu tidak punya arti apa-apa. Salah tu-
lis. Maksudnya mau menulis 17 Juni, keliru jadi 17
April.”
”Seandainya toh betul begitu, masih tetap aneh.
Berarti baru sepuluh atau sebelas hari kemudian surat
itu kuterima. Tapi dugaanmu itu pasti salah. Lihat
kertasnya, dan warna tintanya. Surat ini ditulis lebih
dari cuma sepuluh atau sebelas hari yang lalu. Aku
yakin tanggal yang tertulis di situ tidak salah. Tapi,
apa sebabnya surat itu tidak segera dikirimkan?”
”Itu gampang dijelaskan,” ujarku. ”Penulisnya ragu-
57

pustaka-indo.blogspot.com
ragu, dan memutuskan untuk tidak mengirimkan-
nya.”
”Kalau begitu, mengapa tidak dia musnahkan saja
suratnya, dan bukannya menunggu sampai begitu
lama baru mengirimkannya?”
Harus kuakui, sulit menjawab pertanyaan Poirot
yang satu ini. Aku tak berhasil mencari jawaban yang
memuaskan. Karena itu aku cuma menggeleng.
Poirot manggut-manggut.
”Sekarang kau tahu, kan? Ini sungguh-sungguh
mencurigakan.”
Ia beranjak kembali ke meja tulisnya, mengambil
pena.
”Akan kaujawab surat itu?” tanyaku.
”Oui, mon ami.”—”Ya, Sobat.”
Hening meliputi suasana ruang kerja Poirot. Yang
kudengar cuma gesekan penanya dengan kertas. Udara
terasa pengap. Bau debu dan aspal panas menerobos
masuk melalui jendela.
Poirot bangkit. Surat yang baru ditulis dipegangnya.
Dibukanya laci, dan dikeluarkannya kotak kecil. Dari
dalam kotak itu Poirot mengeluarkan prangko. Di-
basahinya belakang prangko itu dengan busa basah,
lalu ia pun siap menempelkannya pada amplop.
Tetapi, tiba-tiba ia tertegun. Dengan prangko basah
masih di tangannya, ia menggeleng-geleng.
”Non!” serunya. ”Tindakan begini salah.” Poirot
merobek surat yang baru ditulisnya dan melemparkan
serpihan kertasnya ke dalam keranjang sampah. ”Bu-
kan begitu caranya. Kita harus pergi ke sana.”
”Maksudmu ke Market Basing?”
58

pustaka-indo.blogspot.com
”Persis. Apa salahnya? Daripada kepanasan di Lon-
don hari ini... Hawa pedesaan tentu lebih menyenang-
kan.”
”Terserah kalau itu maumu,” ujarku. ”Kita naik
mobil?”
Aku baru saja dapat mobil bekas merek Austin.
”Bagus! Cuacanya pas benar buat melancong naik
mobil. Tak perlu dasi—cukup jaket dan syal sutra...”
”Poirot—buat apa? Kita toh bukan mau ke kutub?”
protesku.
”Yah, untuk jaga kesehatan saja. Kita mesti baik-
baik menghindari lu sekarang ini,” komentar Poirot.
”Meskipun hari gerah seperti ini?” tanyaku kehe-
ranan.
Tanpa memedulikan protesku, Poirot mengambil
jaket, mengenakannya, dan kemudian melilitkan syal
sutra pada lehernya. Ia meletakkan prangko yang te-
lah dibasahinya tadi di atas kertas pengisap dengan
bagian yang basah di sebelah atas. Setelah itu kami
pun berangkat.

59

pustaka-indo.blogspot.com
6
Puri Hijau

TAK terbayangkan olehku bagaimana rasanya Poirot


dalam pakaiannya yang seperti itu. Aku sendiri, yang
tanpa jaket dan syal, sudah merasa dipanggang sebe-
lum kami keluar dari lalu lintas London yang hiruk-
pikuk. Mobil berkap terbuka bukan tempat yang
nyaman pada siang sepanas itu.
Sekeluar dari London, semangatku timbul kem-
bali.
Perjalanan kami memakan waktu sekitar satu sete-
ngah jam. Sudah hampir pukul dua belas ketika kami
sampai di Market Basing. Dulunya kota ini terletak
di pinggir jalan utama. Sekarang sudah ada jalan by-
pass hampir lima kilometer mil di utaranya. Dengan
demikian Market Basing terhindar dari kebisingan
lalu lintas jalan raya antarkota. Kota itu tidak kehi-
langan keanggunan dan ketenangan masa lalunya.

60

pustaka-indo.blogspot.com
Satu-satunya jalan raya dan pasar berpelataran luas
yang ada di situ seolah-olah mengatakan, ”Aku per-
nah menjadi tempat penting. Orang berpendidikan
akan tetap menganggapku demikian. Biarkan dunia
modern yang serba tergesa-gesa lewat di jalannya yang
baru dan megah. Aku dibangun pada zamanku—za-
man setia kawan dan keindahan—dan aku harus tetap
bertahan.”
Tempat parkir di pasar itu cukup luas meski cuma
beberapa mobil diparkir di situ. Kuparkir Austin-ku,
dan Poirot pun menanggalkan pakaiannya yang ber-
lebihan. Ia meraba kumisnya, memeriksa apakah ben-
tuknya tetap rapi dan simetris.
Pertanyaan kami yang pertama tidak mendapatkan
respons yang memuaskan. ”Maaf, saya sendiri orang
baru di sini.” Pada penglihatan kami, hampir mustahil
ada orang baru di kota kuno ini. Aku pun merasa
bahwa kami berdua sudah mulai menjadi perhatian
orang. Pembawaan kami tidak sesuai dengan ling-
kungan kota yang masih penuh tradisi itu.
”Puri Hijau?” Laki-laki gendut bermata bulat yang
kami tanyai memandang kami dengan keheran-he-
ranan. ”Terus saja. Pasti ketemu. Anda tidak mungkin
tersesat. Setelah melewati bank, rumah besar yang
pertama di kiri jalan. Namanya tertulis di pintu ger-
bangnya.” Sekali lagi ia berkata, ”Pasti ketemu.”
Pandangannya mengikuti kepergian kami.
”Oh Tuhan,” keluhku. ”Aku merasa diriku aneh di
tengah-tengah kota seperti ini. Tapi, kau, Poirot, kau
lebih kelihatan aneh lagi.”

61

pustaka-indo.blogspot.com
”Maksudmu, aku kelihatan seperti orang asing.
Begitu?”
”Persis,” jawabku.
”Padahal pakaianku jahitan penjahit Inggris.”
”Pakaian bukan satu-satunya tolok ukur,” sahutku.
”Kepribadianmu itu lho, Poirot. Sangat mencolok.
Sering aku heran kelebihanmu ini bisa berjalan ber-
dampingan dengan kariermu. Maksudku, ini bisa
menghambat karier pada orang lain.”
Poirot menarik napas.
”Itu karena kau punya bayangan yang salah tentang
detektif, Hastings. Detektif tidak perlu selalu memakai
janggut palsu dan bersembunyi di balik pilar! Janggut
palsu itu cuma kedok. Sedang bersembunyi—itu
cuma dilakukan detektif-detektif pemula. Hercule
Poirot lain. Aku cuma perlu duduk dan berpikir.”
”Lalu mengapa kita mesti berjalan berpanas-panas
seperti ini?”
”Jawabanmu bagus sekali, Hastings. Ini pertama
kalinya kau menang angka dariku.”
Tanpa menemui kesukaran, kami menemukan Puri
Hijau. Namun sesuatu membuat kami terkejut. Papan
bertuliskan nama agen jual/beli rumah terpampang di
depannya.
Sementara kami memperhatikan papan nama itu,
terdengar salak anjing. Dari antara daun-daunan, ku-
lihat berdiri seekor anjing. Anjing terrier. Bulunya
keriting dan kumal. Kakinya mengangkang, dan ia
menyalak-nyalak riang.
”Lihatlah aku,” begitu kira-kira kata anjing itu.
”Aku penjaga rumah ini. Tapi jangan takut! Aku me-
62

pustaka-indo.blogspot.com
mang suka menyalak-nyalak begini. Dan ini memang
tugasku. Tapi aku senang kalian datang. Pagi ini aku
bosan sekali. Pekerjaan yang sedikit ini menghiburku.
Mau masuk? Mudah-mudahan ya. Aku ingin teman
mengobrol.”
”Hai, Bung!” ujarku.
Anjing itu mendekat, dan melongok melalui sela-
sela jeruji pagar. Ia mendengus-dengus. Ekornya ber-
goyang-goyang. Ia tampak agak curiga.
”Aku mesti begini,” katanya seolah-olah. ”Aku be-
lum dikenalkan kepada kalian. Tapi kelihatannya ka-
lian baik-baik.”
”Anjing cerdik,” ujarku.
”Guk,” sahut anjing itu ramah.
”Nah, Poirot?” tanyaku mengalihkan perhatian dari
anjing itu.
Ekspresi Poirot aneh. Aku tak bisa menebak apa
maknanya—semacam perasaan senang yang tertahan.
Begitulah!
”Kecelakaan yang disebabkan bola mainan anjing,”
gumamnya. ”Paling tidak, kita telah ketemu dengan
anjing di sini.”
”Guk.” Kawan baru kami mengamati gerak-gerik
kami. Kemudian ia duduk dan menguap. Matanya
menatap kami penuh harap.
”Apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanyaku.
Pertanyaan yang sama tampak pada mata si an-
jing.
”Meneruskan perjalanan ke Firma—apa tadi?—
Firma Gabler and Stretcher,” ujar Poirot sambil me-
lihat kembali ke papan di depan Puri Hijau.
63

pustaka-indo.blogspot.com
”Sudah kutebak,” komentarku.
Kami berputar haluan, kembali ke arah pasar. Ka-
wan baru kami menggonggong, seolah memprotes
kepergian kami.
Firma Gabler and Stretcher berkantor di sekitar
pasar. Kami masuk ke ruangan kantor yang agak ge-
lap. Di situ kami disambut wanita muda yang tampak-
nya menderita adenoid. Matanya sayu tanpa sema-
ngat.
”Selamat pagi,” sapa Poirot sopan.
Wanita muda itu sedang berbicara di telepon. Ia
mempersilakan kami duduk dengan anggukan. Di
depan mejanya cuma ada satu kursi. Untunglah aku
menemukan kursi lagi yang segera kuseret ke dekat
kursi yang sudah diduduki Poirot.
”Saya tidak bisa mengatakan,” ujar wanita itu
dingin. ”Saya tidak tahu berapa harganya... Apa? Oh,
sumur, saya kira—tapi saya tidak yakin... Maaf. Ya...
dia sedang keluar... Saya tidak tahu... Ya. Nanti saya
tanyakan kepadanya... Ya... 8135? Bisa diulang lagi?
Oh... 8935... 39... Oh, 5135... Ya. Saya akan minta
dia menelepon Anda nanti... Setelah jam enam... Oh,
maaf. Sebelum jam enam. Terima kasih banyak.”
Ia meletakkan gagang telepon, menuliskan 5319
pada secarik kertas, dan dengan acuh tak acuh meng-
alihkan pandangannya kepada Poirot.
Segera Poirot membuka pembicaraan,
”Kelihatannya ada rumah dijual di pinggiran kota
ini. Puri Hijau namanya, kalau saya tak salah.”
”Apa?”
”Rumah yang akan disewakan atau dijual,” ulang
64

pustaka-indo.blogspot.com
Poirot lambat-lambat dan dengan sangat jelas. ”Puri
Hijau.”
”Oh, Puri Hijau,” ucap wanita muda tadi tak jelas.
”Puri Hijau?”
”Betul, Miss. Itu yang saya tanyakan.”
”Puri Hijau,” ujar wanita itu lagi. Tampaknya ada
yang ingin ia sembunyikan. ”Oh, Mr. Gabler yang
tahu tentang rumah itu.”
”Kalau begitu, bolehkah saya bertemu dengan Mr.
Gabler?”
”Sedang keluar,” jawabnya. Ia kelihatan puas.
Ekspresinya seolah mengatakan, ”Satu-nol.”
”Jam berapa kembalinya?”
”Tidak tahu,” sahutnya.
”Saya sedang mencari rumah di sekitar sini,” kata
Poirot.
”Oh,” komentar wanita itu tak acuh.
”Saya tertarik sekali pada Puri Hijau. Boleh saya
melihat brosur rumah itu?”
”Brosur?” Wanita itu tampak terkejut.
”Ya. Brosur atau data-data yang seadanya mengenai
rumah itu.”
Dengan segan ia membuka laci dan mengeluarkan
setumpuk kertas. Kemudian ia berseru, ”John!”
”Ya, Miss?”
”Kau punya data-data... apa Anda bilang tadi?”
”Puri Hijau,” ucap Poirot jelas.
”Ini dia iklannya—terpasang jelas sekali di sini,”
ujarku sambil menunjuk pada papan iklan yang ter-
gantung di dinding.
Wanita itu memandangku dingin. Dua-satu. Begitu
65

pustaka-indo.blogspot.com
kelihatannya ia berpikir, meskipun jelas-jelas per-
mainan itu curang.
”Kau tidak tahu surat-surat mengenai rumah itu
kan, John?” tambahnya.
”Tidak, Miss,” jawab yang ditanya. ”Di arsip ba-
rangkali.”
”Maaf,” kata wanita itu. ”Mungkin surat-surat me-
ngenai rumah itu sedang dipinjam orang.”
”C’est dommage.”—”Sayang.”
”Apa?”
”Sayang.”
”Ada bungalo cantik di Hemel End—dua kamar
tidur, satu ruang duduk.” Ia bicara tanpa semangat,
sekadar menunaikan tugas.
”Terima kasih. Saya tidak tertarik.”
”Ada lagi yang lain. Halamannya luas. Punya ru-
mah taman. Data-datanya ada di sini sekarang.”
”Tidak. Terima kasih. Saya cuma ingin tahu sewa
Puri Hijau.”
”Puri Hijau tidak disewakan,” kata wanita itu.
Akhirnya ia meninggalkan sikap tidak tahu-menahu-
nya mengenai Puri Hijau. Sekali lagi gayanya seperti
ia menang angka lagi. ”Rumah itu hendak dijual. Se-
gera.”
”Tapi di papannya saya baca disewakan/dijual.”
”Oh, saya tidak tahu-menahu tentang papan itu.
Yang saya tahu cuma rumah itu dijual.”
Pintu dibuka. Seorang laki-laki setengah baya be-
rambut kelabu masuk dengan terburu-buru. Matanya
memandang kami bersinar-sinar. Alis matanya naik
seperti menanyakan sesuatu kepada anak buahnya.
66

pustaka-indo.blogspot.com
”Ini Mr. Gabler,” ujar wanita muda tadi.
Mr. Gabler membuka pintu ke dalam.
”Silakan masuk, Sir,” katanya sambil menunjukkan
kursi. Sementara itu dia berjalan mengelilingi meja
kerjanya ke kursinya sendiri. Ia duduk menghadap
kami.
”Bisa saya bantu?”
Poirot memulai lagi.
”Saya ingin mengetahui data-data mengenai Puri
Hijau...”
Poirot tak sempat menyelesaikan kalimatnya. Mr.
Gabler sudah mengambil alih pembicaraan.
”Oh, Puri Hijau! Penawaran yang menarik sekali
itu! Baru saja dipasarkan. Jarang ada rumah taraf itu
dijual dengan harga serendah ini. Selera orang seka-
rang rupanya kembali lagi ke model kuno. Orang
mulai bosan dengan model-model bangunan sekarang.
Mereka ingin yang antik; gedung yang bagus, kuat,
dan buatan zaman dulu. Puri Hijau ini sungguh-sung-
guh istimewa. Modelnya, suasananya... segalanya be-
nar-benar menyerupai zaman Georgia dulu. Itu justru
yang dicari orang sekarang. Puri Hijau tidak akan
lama ada di daftar penjualan kami. Pasti cepat laku.
Kemarin, Sabtu yang lalu, ada anggota Parlemen yang
melihat. Kelihatannya dia sangat tertarik. Janji akan
datang lagi Sabtu depan. Ada lagi orang lain yang
melihat. Kalau tidak salah dari Bursa Saham. Orang
mencari ketenangan sekarang ini. Mereka ingin men-
jauhi keramaian kota. Rumah desa banyak dijual.
Tapi, hidup di desa itu kurang bermutu. Lain dengan
Puri Hijau ini. Puri Hijau mutunya luar biasa. Tahu
67

pustaka-indo.blogspot.com
sendiri bagaimana mutu bangunan kuno. Jauh lebih
bagus buatannya daripada bangunan sekarang. Juga
lebih kuat. Pasti cepat lakunya.”
Mr. Gabler berhenti bicara. Kecapekan kelihatan-
nya.
”Apa rumah itu sering ganti tangan tahun-tahun
belakangan ini, Sir?” tanya Poirot.
”Sebaliknya, Sir. Rumah itu dimiliki oleh satu ke-
luarga selama lebih dari lima puluh tahun. Keluarga
Arundell. Sangat dihormati di sini. Mereka itu sisa-
sisa pendidikan zaman dulu. Putrinya...” Ia membuka
pintu dan berseru, ”Tolong ambilkan surat-surat Puri
Hijau, Miss Jenkins. Cepat.” Dan kembali ke kursi-
nya.
”Saya sedang mencari rumah di luar London,” ujar
Poirot. ”Di kota kecil, bukan terlalu di desa. Anda
mengerti maksud saya, kan?”
”Tentu. Tentu, Sir. Tinggal di desa kurang nyaman.
Pertama, pembantu jarang mau bekerja di desa. Di
sini, di Market Basing ini, Anda bisa merasakan kehi-
dupan desa tanpa mengurangi fasilitas yang bisa di-
dapat di kota.”
Miss Jenkins masuk membawa sehelai kertas ber-
huruf ketik. Diletakkannya kertas itu di hadapan
majikannya, dan ia pun disuruh keluar oleh Mr.
Gabler.
”Ini dia,” ucap Mr. Gabler. Ia membaca tulisan
pada kertas di hadapannya. ”Rumah kuno penuh ka-
risma: empat ruang tamu, delapan kamar tidur dan
kamar pakaian, ruang kantor, dapur luas, bangunan
pelayan terpisah, istal kuda, dan sebagainya. Air su-
68

pustaka-indo.blogspot.com
mur, taman, pemeliharaan murah, luas tanah dan ba-
ngunan 12.000 meter persegi. Punya beberapa rumah
taman, dan sebagainya, dan sebagainya. Harga per-
mintaan 2.850 pound. Damai.”
”Boleh dilihat?”
”Tentu, Sir. Tentu.” Mr. Gabler menulis dengan
penuh semangat. ”Nama dan alamat Anda?”
Aku agak terkejut. Poirot menyebut dirinya dengan
nama Parotti.
”Ada satu atau dua rumah lain di catatan kami yang
mungkin menarik bagi Anda,” lanjut Mr. Gabler.
Poirot membiarkan laki-laki itu berbicara.
”Jadi Puri Hijau bisa dilihat setiap saat?” tanya-
nya.
”Tentu, Sir. Tentu,” jawabnya. ”Akan saya telepon
pelayannya. Supaya mereka siap-siap.”
”Kapan Anda akan melihat?” tanyanya. ”Sekarang,
atau sesudah makan siang nanti?”
”Sesudah makan siang,” jawab Poirot.
”Akan saya telepon mereka. Saya katakan kira-kira
jam dua. Begitu, ya?”
”Terima kasih. Anda tadi menyebut pemiliknya—
Miss Arundell. Betulkah itu?”
”Lawson. Miss Lawson. Itu pemiliknya yang baru.
Miss Arundell sudah meninggal. Belum lama. Itu se-
babnya Puri Hijau dijual. Percayalah—rumah itu pasti
cepat lakunya. Antara Anda dan saya saja... kalau
Anda tidak jadi membelinya, saya rasa saya sendiri
yang akan membelinya. Ini rahasia. Seperti sudah saya
katakan tadi, sudah dua peminatnya. Mereka pasti
mengajukan tawaran satu atau dua hari lagi. Mereka
69

pustaka-indo.blogspot.com
berlomba-lomba. Mudah-mudahan saja Anda tak ke-
duluan.”
”Miss Lawson ingin cepat-cepat menjualnya?”
Mr. Gabler mengangguk penuh rahasia.
”Begitulah. Rumah itu terlalu besar untuknya—wa-
nita setengah baya yang hidup sendirian. Ia ingin
menjual Puri Hijau dan membeli rumah di London.
Bisa dimengerti. Itulah sebabnya dijual begitu mu-
rah.”
”Kira-kira harganya bisa ditawar?”
”Itulah. Cepat-cepat saja ajukan tawaran, dan beres-
kan. Saya yakin tak ada kesukaran kalau Anda me-
nawar tidak terlalu jauh dari harga permintaannya.
Membangun rumah seperti itu sekarang bisa habis
enam ribu pound... belum lagi harga tanah dan pera-
botnya.”
”Miss Arundell. Apakah dia meninggalnya menda-
dak?”
”Sebetulnya tidak juga. Mungkin memang sudah
saatnya. Umurnya sudah tujuh puluh lebih dan dia
sudah lama sakit-sakitan. Dia yang paling akhir me-
ninggal di antara saudara-saudaranya. Mungkin Anda
kenal atau mengetahui sesuatu tentang keluarga
itu?”
”Saya punya beberapa kenalan yang katanya punya
keluarga di daerah sini. Nama mereka juga Arundell.
Jadi saya pikir mungkin masih ada hubungannya.”
”Mungkin sekali. Ada empat bersaudara. Perempuan
semua. Yang satu kawin sudah tua. Yang tiga lagi hi-
dup di sini sampai akhir hayatnya. Miss Emily yang
bertahan paling lama. Sangat dihormati di sini.”
70

pustaka-indo.blogspot.com
Mr. Gabler menyerahkan surat pengantar kepada
Poirot.
”Anda datang lagi, kan? Memberitahukan kepu-
tusan Anda? Memang di sana-sini perlu diperbaharui.
Tapi, berapalah biaya memperbaiki satu atau dua ka-
mar mandi? Itu toh gampang diatur.”
Kami beranjak meninggalkan ruangan kerja Mr.
Gabler. Sebelum keluar, terdengar suara Miss Jenkins,
”Tadi ada telepon dari Mrs. Samuel. Dia minta ditele-
pon kembali. Negeri Belanda—nomornya 5391.”
Seingatku, itu bukan nomor yang ditulis Miss
Jenkins tadi. Kukira bukan juga nomor yang disebut-
kan peneleponnya tadi.
Aku yakin Miss Jenkins sedang membalas dendam—
karena ia dipaksa mencari surat-surat Puri Hijau.

71

pustaka-indo.blogspot.com
7
Santap Siang
di Restoran George

DI luar, kukatakan kepada Poirot bahwa Mr. Gabler


sesuai dengan namanya—cerewet.
Poirot tersenyum sambil manggut-manggut.
”Dia pasti kecewa kalau kau tidak muncul lagi,”
ujarku. ”Ia begitu yakin kau akan membelinya.”
”Betul. Tapi kelihatannya dia tak sadar dirinya di-
kibuli.”
”Sebaiknya kita makan dulu sebelum kembali ke
London. Atau, mungkin kau lebih suka makan di
perjalanan saja?”
”Hastings, aku belum punya rencana buat menin-
ggalkan Market Basing begitu cepat. Tujuan kita da-
tang ke sini belum lagi tercapai.”
Aku diam keheranan.
”Maksudmu—oh, buat apa? Bukankah nenek itu
sudah mati?”

72

pustaka-indo.blogspot.com
”Tepat.”
Nadanya mengucapkan itu membuatku lebih ter-
bengong-bengong. Nyata benar bahwa otak Poirot
sangat dipengaruhi surat yang diterimanya pagi tadi.
”Tapi, Poirot,” protesku, ”buat apa kaulakukan se-
muanya ini kalau orangnya sudah mati? Dia tidak
bisa menjelaskan apa-apa kepadamu. Problem apa pun
yang dihadapinya waktu menulis surat itu—sudah le-
wat. Perkaranya sudah selesai.”
”Gampang sekali kau mengesampingkan urusan ini,
Hastings. Dengar, tidak ada satu perkara pun bisa
dianggap selesai sebelum Hercule Poirot mengundur-
kan diri dari perkara itu.”
Mestinya, dari pengalaman aku harus tahu, bahwa
berbantah dengan Poirot tak ada gunanya. Tapi toh
kuteruskan juga.
”Tapi, karena dia sudah mati...”
”Persis, Hastings. Persis. Persis sekali. Berkali-kali
kauulang fakta penting yang satu itu tanpa menyadari
kepentingannya. Miss Arundell sudah mati.”
”Tapi ingat, Poirot. Ia meninggal biasa-biasa saja...
tidak ada keanehan yang menyangkut kematiannya.
Kaudengar sendiri Mr. Gabler bilang begitu.”
”Dia juga yang mengatakan Puri Hijau ditawarkan
dengan harga 2.850 pound. Kau juga percaya itu?”
”Tentu saja tidak. Menurutku itu cuma taktik su-
paya Puri Hijau cepat laku. Siapa tahu keadaannya
sudah parah sekali—perlu perbaikan dari fondasi sam-
pai atap? Aku yakin, dalam hal begitu, kliennya mau
menerima tawaran yang jauh lebih rendah dari harga
permintaannya. Dari depan memang kelihatan bagus.
73

pustaka-indo.blogspot.com
Nyatanya, yang punya ingin cepat-cepat membebaskan
diri dari rumah itu. Pasti ada apa-apanya.”
”Nah,” tukas Poirot, ”makanya jangan gampang
saja mengatakan, ’Kan Gabler bilang begitu.’ Seolah-
olah ia nabi yang ucapannya tidak bisa salah saja.”
Hampir aku memprotesnya. Tapi, dengan isyarat
Poirot menghentikan niatku bicara. Kami tepat melin-
tasi pintu masuk sebuah restoran. Restoran George.
Dan kami pun masuk.
Seorang pelayan mempersilakan kami masuk ke
ruangan berukuran sedang dengan semua jendela ter-
tutup rapat. Udara di situ dipenuhi aroma daging
panggang. Kami dilayani pelayan yang kira-kira sete-
ngah umur. Napas pelayan itu terdengar berat. Hi-
dangan yang disajikan kepada kami terdiri atas daging
kambing dengan kubis dan kentang. Kelihatannya
kami satu-satunya tamu siang itu. Selesai dengan hi-
dangan utama, disajikan buah-buahan dan agar-agar.
Sebagai hidangan penutup, pelayan kami menghidang-
kan cairan yang disebutnya sebagai kopi dengan be-
berapa potong biskuit.
Poirot memanggil pelayan itu.
”Ya. Saya tahu tempatnya, Sir. Hemel Down ham-
pir lima kilometer dari sini—di Jalan Much Benham.
Rumah Pertanian Nylor kira-kira satu setengah kilo.
Ada jalan kecil menuju ke situ selewat Patung Kepala
Raja. Bisset Grange? Rasanya saya belum pernah men-
dengar. Puri Hijau—dekat sekali, Sir. Cuma beberapa
menit berjalan dari sini.”
”Ya. Saya sendiri sudah melihatnya dari luar,” ujar
74

pustaka-indo.blogspot.com
Poirot. ”Saya rasa Puri Hijau-lah yang paling cocok.
Bagaimana keadaannya? Masih bagus?”
”Bagus sekali. Atapnya, saluran airnya... Oh, kalau
Puri Hijau saya tahu... semuanya bagus. Kuno me-
mang. Belum pernah dipugar sama sekali. Tamannya
sangat indah. Miss Arundell sangat mencintai taman-
nya.”
”Saya dengar pemiliknya bernama Miss Lawson.”
”Betul itu, Sir. Sekarang memang kepunyaan Miss
Lawson. Ia dulunya pelayan pribadi Miss Arundell.
Waktu Miss Arundell meninggal, semua kekayaannya
diwariskan kepada Miss Lawson. Semuanya... rumah,
dan... oh, pokoknya semuanya.”
”Oh ya? Oh, mungkin Miss Arundell tidak punya
sanak saudara yang masih hidup.”
”Sebetulnya bukan begitu, Sir. Miss Arundell pu-
nya beberapa orang kemenakan. Mereka masih hidup.
Tapi yang selalu menemaninya ya Miss Lawson itu.
Dan lagi... yah, dia sudah tua. Jadi begitulah, Sir.”
”Mungkin cuma rumah yang diwariskan. Jadi sukar
dibagi-bagi.”
Telah beberapa kali kuperhatikan, pertanyaan yang
sering tidak berhasil mendapatkan jawaban bila di-
tanyakan secara blak-blakan—dengan menyatakan
asumsi yang salah malah akan mendapatkan jawaban-
nya yang benar.
”Ooooh, uangnya banyak sekali, Sir. Banyaaak se-
kali. Orang tidak menyangka nenek itu punya uang
sebanyak itu. Surat wasiatnya dimuat di koran, leng-
kap dengan jumlah uangnya dan lain-lainnya. Kalau
75

pustaka-indo.blogspot.com
tidak salah, jumlahnya tiga... atau empat ratus ribu
pound, Sir.”
”Bukan main,” seru Poirot. ”Seperti dongeng saja!
Jadi pelayan itu kaya mendadak? Hmmm... masih
mudakah dia? Maksudku, kalau masih muda Miss
Lawson bisa foya-foya...”
”Tidak, Sir. Ia sudah cukup tua. Sekitar... yah, sete-
ngah baya.”
”Kemenakan Miss Arundell tentu sangat kecewa,”
ujar Poirot.
”Tentu saja, Sir. Mereka sangat terkejut dan ke-
cewa. Sama sekali tidak diduga-duga. Orang jadi ber-
pendapat macam-macam. Ada yang menyalahkan
Miss Arundell—tidak mewariskan harta miliknya ke-
pada darah dagingnya sendiri. Tapi ada juga orang
yang berpendapat—orang bebas memberikan miliknya
kepada siapa yang disukainya. Keduanya tentu ada
benar salahnya, Sir.”
”Sudah lamakah Miss Arundell tinggal di sini?”
”Ya, Sir. Dia dan saudara-saudara perempuannya.
Mereka putri Jenderal Arundell. Saya belum lahir wak-
tu ayahnya itu hidup, Sir. Saya cuma banyak mende-
ngar ceritanya. Dia tokoh yang disegani, Sir. Pernah
memimpin pasukan di India.”
”Banyakkah putri jenderal itu?”
”Setahu saya yang tinggal di sini tiga orang, Sir.
Selain itu ada yang kawin satu. Miss Matilda, Miss
Agnes, dan Miss Emily. Yang lebih dulu meninggal
itu Miss Matilda, lalu Miss Agnes. Miss Emily yang
paling akhir.”
”Dan itu baru-baru saja?”
76

pustaka-indo.blogspot.com
”Awal Mei—atau, mungkin juga akhir April, Sir.”
”Sudah lamakah sakitnya?”
”Dia memang sakit-sakitan sejak lama. Dari dulu
begitu. Tahun lalu sudah hampir meninggal karena
sakit kuning, Sir. Tapi tidak jadi. Kalau tidak salah,
sudah sejak lima tahun yang lalu dia sakit-sakitan,
Sir.”
”Tapi di sini banyak dokter, kan?”
”Yah. Ada, Sir. Dr. Grainger. Sudah dua puluh ta-
hunan dokter itu di sini. Kebanyakan orang berobat
kepadanya. Orangnya agak aneh. Tapi ia sangat pan-
dai. Tak ada tandingannya, Sir. Dia punya partner
kerja. Dokter muda. Dr. Donaldson namanya. Ada
memang yang lebih senang berobat ke dokter muda
ini. Dia tipenya lain dengan Dr. Grainger. Masih ada
satu lagi, Sir... Namanya Dr. Harding. Pasiennya ku-
rang banyak, Sir.”
”Dr. Grainger kelihatannya dokternya Miss Arundell.
Betul?”
”Betul, Sir. Berkali-kali sudah dokter itu menyem-
buhkan Miss Arundell. Dia memang suka menantang
orang, Sir—supaya hidup terus.”
Poirot mengangguk-angguk. ”Sebelum tinggal di
daerah baru, orang harus mempelajari dulu ling-
kungannya. Salah satunya cari tahu dokter mana yang
baik.”
”Betul sekali, Sir.”
Poirot minta diambilkan bon makanannya dan
memberikan tip cukup banyak kepada pelayan itu.
”Terima kasih banyak, Sir. Terima kasih. Mudah-
mudahan Anda jadi menetap di sini.”
77

pustaka-indo.blogspot.com
”Mudah-mudahan,” sahut Poirot. Kami keluar dari
Restoran George.
”Puas kau, Poirot?” tanyaku sewaktu kami melang-
kahkan kaki kembali ke jalan.
”Sama sekali belum, Sobat.”
Poirot membelok ke arah yang tidak kuduga-
duga.
”Mau ke mana lagi, Poirot?” tanyaku.
”Gereja. Di sana mungkin ada sesuatu yang mena-
rik.”
Aku cuma bisa geleng-geleng.
Poirot hanya sebentar meneliti bagian dalam ge-
reja.
Ia keluar, dan seperti orang iseng, menelusuri ha-
laman gereja, membaca tulisan pada nisan-nisan yang
berjajar di situ.
Aku tidak terkejut melihat ia berhenti di depan
semacam monumen terbuat dari marmer. Tulisan yang
agak buram pada monumen itu menyebutkan:

UNTUK MENGENANG
JOHN LAVERTON ARUNDELL
JENDERAL RESIMEN SIKH KE-24
YANG BERISTIRAHAT DALAM KRISTUS
PADA
19 MEI 1888
DALAM USIA 69 TAHUN
”PERJUANGKAN PERJUANGAN YANG BAIK
DENGAN IMAN DAN HATI NURANI
YANG MURNI.”

78

pustaka-indo.blogspot.com
JUGA
MATILDA ANN ARUNDELL
YANG MENINGGAL PADA
10 MARE T 1912
”AKU AKAN BANGKIT DAN PERGI KEPADA
BAPAKU.”

JUGA
AGNES GEORGINA MARY ARUNDELL
YANG MENINGGAL PADA
20 NOVEMBER 1921
”MINTALAH MAKA AKAN DIBERIKAN
KEPADAMU.”

Tulisan yang selanjutnya tampak baru dan sangat


jelas:

JUGA
EMILY HARRIET LAVERTON ARUNDELL
YANG MENINGGAL PADA
1 MEI 1936
”JADILAH KEHENDAKMU.”

Poirot berdiri memandangi monumen itu beberapa


menit lamanya.
”Tanggal satu Mei... satu Mei...” gumamnya. ”Dan
sekarang, tanggal 28 Juni—kuterima suratnya. Kau
mengerti kan, Hastings—ini harus dijelaskan?”
Aku mengerti.
Maksudku, aku tahu Poirot berniat mengungkapkan
teka-teki yang katanya perlu dijelaskan itu.
79

pustaka-indo.blogspot.com
8
Di Puri Hijau

SEKELUAR dari halaman gereja, langkah kami pasti


menuju Puri Hijau. Kupikir Poirot akan tetap ber-
peran sebagai calon pembeli. Poirot mendorong pintu
gerbangnya, dan langsung menuju pintu depan.
Kali ini kawan baru kami, si Terrier, tidak tampak,
meskipun suaranya terdengar di kejauhan. Kupikir
anjing itu ada di sekitar dapur.
Kami mendengar langkah kaki di ruang depan. Se-
orang wanita membukakan pintu. Wajahnya sangat
menyenangkan. Umurnya lima puluhan. Segera terli-
hat bahwa wanita ini pelayan. Pelayan peninggalan
zaman silam, yang jarang ada sekarang.
Poirot memperkenalkan diri.
”Ya, Sir. Tadi kami sudah ditelepon agen yang mau
menjualkan rumah ini. Silakan masuk.”
Kerai yang pagi tadi tertutup kini tampak terbuka

80

pustaka-indo.blogspot.com
lebar menyambut kedatangan kami. Menurut pengli-
hatanku, segala sesuatu di situ amat bersih dan terpeli-
hara baik. Wanita yang menemani kami tampaknya
sangat berhati-hati.
”Ini Ruang Paginya, Sir.”
Kupandangi ruangan itu. Bagus dan menyenangkan.
Jendelanya besar-besar dengan pemandangan ke jalan.
Perabotnya berat dan kuno, model Zaman Victoria.
Meskipun begitu, ruangan itu dihuni pula oleh se-
buah rak buku ringan dan satu stel kursi santai ber-
warna putih menarik.
Kami bersikap sebagai layaknya calon pembeli ru-
mah. Berdiri mengamati, sambil berkomentar sema-
cam ”Bagus sekali”, ”Menyenangkan”, ”Ruangan apa
Anda bilang tadi?”
Kami dibawa ke ruangan yang berseberangan letak-
nya dengan Ruang Pagi. Yang ini jauh lebih luas.
”Ini Ruang Makan, Sir.”
Ruangan ini betul-betul diperaboti dengan model
Victoria. Meja makan besar dari kayu berpelitur gelap,
bufet berukir dan berpelitur sama gelapnya, serta
kursi makan dengan bantalan kulit asli. Pada dinding-
nya tergantung beberapa potret. Kelihatannya potret
keluarga.
Si Terrier masih terdengar terus menyalak-nyalak.
Mula-mula suaranya terdengar jauh. Tiba-tiba suara-
nya terdengar lebih jelas, bersamaan dengan bunyi
kakinya yang berlari-lari kecil.
”Siapa yang berani-berani masuk? Kuhajar dia,”
begitu kelihatannya ia berkata.
”Oh, Bob—kau mulai nakal lagi ya...,” seru
81

pustaka-indo.blogspot.com
pelayan yang menyertai kami. ”Jangan hiraukan dia,
Sir. Dia tidak galak.”
Melihat siapa tamunya, Bob segera mengubah sikap-
nya. Ia menghampiri kami dan memperkenalkan diri
dengan manis.
”Aku senang berkenalan denganmu,” begitu pan-
dangannya berkata sementara dia mengelilingi kami
sambil mendengus-dengus. ”Maafkan salakanku tadi.
Aku cuma melakukan tugas. Aku harus berhati-hati
membiarkan tamu masuk. Hidupku membosankan.
Aku senang kau bertamu. Kau mengerti jiwa anjing.
Punya anjingkah kau di rumahmu?”
Kata-kata itu seolah ditujukannya kepadaku. Ku-
tepuk dia.
”Anjing ini manis,” ujarku kepada pelayan tadi.
”Memang, Sir.”
”Sudah tuakah dia?”
”Belum. Bob baru berumur enam tahun. Kadang-
kadang kelakuannya masih seperti anjing kecil. Meng-
gigit-gigit sandal Koki, dan membawanya ke mana-
mana. Dipikirnya itu mainan. Mendengar dia
menyalak seperti tadi, Anda tidak akan percaya bila
saya katakan anjing ini sangat lembut. Satu-satunya
orang yang diserangnya cuma tukang pos. Dan sam-
pai sekarang tukang pos kami selalu ketakutan jika
melihat Bob.”
Sekarang Bob mengamati ujung bawah pantalon
Poirot. Setelah puas menelitinya, ia mendengus-de-
ngus dan kembali ke dekatku. Duduk sambil memi-
ringkan kepala, ia memandangku penuh harap.
82

pustaka-indo.blogspot.com
”Saya tidak mengerti mengapa anjing sangat mem-
benci tukang pos,” ujar pelayan itu lagi.
”Pasti ada alasannya,” komentar Poirot. ”Anjing
makhluk yang cerdik; ia mengambil kesimpulan dari
apa yang dilihatnya. Ia segera tahu siapa-siapa yang
boleh masuk rumah, dan siapa-siapa yang tidak. Eh
bien—Baiklah, siapa orangnya yang sering ngotot me-
ngetuk pintu rumah tapi tak pernah dipersilakan ma-
suk? Tukang pos. Pasti dalam pikiran anjing itu, si
tukang pos bukan tamu yang disukai majikannya.
Maka anjing itu merasa punya tugas mengusir orang
yang tidak disukai ini; menggigitnya bila perlu. Jalan
pikirannya bagus. Dapat diterima akal sehat.”
Poirot tersenyum kepada Bob.
”Dia sangat pandai kelihatannya.”
”Ya. Betul, Sir. Kadang-kadang Bob seperti manusia
malahan.”
Pelayan itu membuka pintu ke ruangan yang lain.
”Ini Ruang Santai, Sir.”
Ruangan ini kelihatannya penuh kenangan lama.
Tirai jendelanya yang bermotif mawar tampak sudah
lusuh. Dindingnya digantungi lukisan-lukisan dari cat
air. Di sana-sini diletakkan patung porselen berbentuk
penggembala. Bantal-bantal kursinya bersarung bahan
rajutan. Tampak beberapa potret lusuh dalam pigura
indah yang terbuat dari perak. Yang paling menarik
perhatianku adalah boneka-boneka perempuan yang
diletakkan dalam peti kaca. Ada dua boneka. Yang
satu memegang alat pintal benang, yang lain memang-
ku kucing. Boneka-boneka itu terbuat dari kertas tisu,
dan dibentuk bagus sekali.
83

pustaka-indo.blogspot.com
Ruang ini betul-betul mengingatkan orang pada
zaman dulu, zaman kehidupan tenang dan damai.
Ruang semacam ini betul-betul diciptakan untuk ber-
santai. Di sini para wanita duduk mengerjakan ke-
rajinan tangan. Dan bila ada anggota keluarga dari
jenis laki-laki ikut nimbrung dan merokok di situ,
dapat dibayangkan betapa keras kerja pelayan mem-
bersihkan ruangan itu setelahnya.
Perhatianku tertarik oleh sikap Bob. Ia duduk se-
perti memikirkan sesuatu di dekat lemari kecil ber-
bentuk elegan dan berlaci dua.
Ketika tahu kuperhatikan, ia mengeluarkan bunyi-
bunyian aneh, memandangku, kemudian memandang
lemari kecil di sampingnya.
”Apa yang kauinginkan?” tanyaku.
Perhatian kami terhadap Bob rupanya menyenang-
kan pelayan yang menemani kami. Pasti wanita itu
sangat sayang pada Bob.
”Bola mainannya, Sir. Bolanya selalu disimpan di
situ. Itu sebabnya dia duduk di situ dan minta di-
ambilkan bolanya.” Suaranya berubah. Dengan suara
hampir melengking ia berkata kepada Bob, ”Bolamu
tidak di situ lagi, Sayang. Bola Bob sekarang di dapur
tempatnya. Di dapur, Bobsie.”
Bob mengalihkan perhatiannya kepada Poirot de-
ngan tak sabar.
”Perempuan ini tolol,” matanya berkata. ”Lain de-
nganmu. Kau kelihatannya berotak. Bola ada tempat-
nya—laci ini salah satunya. Di situ selalu ada bola.
Sekarang pun harus ada. Itu logis, kan?”
84

pustaka-indo.blogspot.com
”Hei, bolamu sudah tidak ada di situ sekarang,”
ujarku.
Dia memandangku ragu. Ketika kami beranjak me-
ninggalkan ruangan itu, ia mengikuti kami dengan
sikap tidak yakin.
Kami dibawa melihat berbagai lemari, ruangan tem-
pat menyimpan jas di ruang bawah, dan dapur kecil.
”Di sini Miss sering merangkai bunga, Sir.”
”Kau bekerja di sini sudah lama?” tanya Poirot.
”Dua puluh dua tahun, Sir.”
”Sendirian?”
”Sekarang saya berdua dengan Koki, Sir.”
”Dia juga sudah lama bekerja untuk Miss Arun-
dell?”
”Empat tahun, Sir. Koki yang sebelumnya mening-
gal dunia.”
”Seandainya aku jadi membeli rumah ini, maukah
kau terus bekerja di sini?”
Wajah pelayan itu bersemu merah.
”Anda baik sekali, Sir. Tapi saya sudah ingin isti-
rahat. Miss Arundell meninggali sedikit uang. Saya
punya rencana tinggal di tempat saudara saya. Saya
cuma tinggal di sini membantu Miss Lawson—sampai
rumah ini terjual—menjaga dan merawat rumah ini,
maksud saya.”
Poirot mengangguk.
Sementara suasana menjadi hening, terdengar suara
baru: Bum, bum, bum. Suara itu terdengar berulang-
ulang dari ruangan atas.
”Itu Bob, Sir.” Pelayan itu tersenyum. ”Rupanya
85

pustaka-indo.blogspot.com
dia menemukan bolanya. Dia selalu bermain bola di
tangga. Itu mainan kesukaannya.”
Ketika kami sampai ke kaki tangga, sebuah bola
hitam menggelinding sampai ke bawah. Kupungut
bola itu dan kutengok Bob di kepala tangga. Ia se-
dang berbaring. Mulutnya menganga dan ekornya
bergerak-gerak. Kulemparkan bola itu kepadanya. Bob
menangkapnya dengan mulut. Digigitnya bola itu be-
berapa lama, kemudian dilepaskannya hingga bola itu
kembali menggelinding ke bawah.
”Kalau sudah bermain bola, bisa berjam jam, Sir.
Apalagi kalau ada temannya. Seharian pun ia tidak
puas. Cukup, Bob. Tuan-tuan ini ke sini bukan untuk
main bola denganmu.”
Anjing bisa menjadi penolong. Perhatian dan ke-
sukaan kami pada Bob telah menjembatani hubungan
kami dengan pelayan itu. Ia menjadi ramah dan tidak
lagi kaku. Sementara kami menuju ruang tidur di
lantai atas, ia bercerita dengan penuh semangat me-
ngenai kelucuan-kelucuan Bob. Bola Bob dibiarkan
berhenti di kaki tangga. Waktu kami melewatinya,
Bob kelihatannya sangat marah, karena kami tak mau
terus bermain-main dengannya. Meskipun begitu, ia
turun—mengambil sendiri bolanya—dan mengikuti
kami.
Di ruang tidur, Poirot mulai memancing pelayan
itu.
”Ada empat Miss Arundell yang pernah tinggal di
sini. Betulkah?” tanyanya.
”Mula-mula begitu, Sir. Tetapi itu sebelum saya
bekerja di sini. Waktu saya masuk, tinggal Miss Agnes
86

pustaka-indo.blogspot.com
dan Miss Emily yang ada di sini. Miss Agnes mening-
gal beberapa tahun kemudian. Sebetulnya dia yang
paling muda di antara saudara-saudaranya. Aneh, dia
pergi mendului yang lain.”
”Mungkin ia tidak sekuat kakaknya.”
”Tidak, Sir. Aneh, memang. Tapi, nona saya—Miss
Emily Arundell—dari dulu yang paling sering sakit-
sakitan. Sepanjang hidupnya ia hampir selalu ber-
urusan dengan dokter. Miss Agnes kuat dan sehat.
Tapi dia meninggal lebih dulu. Sedang Miss Emily
yang ringkih malah hidup paling lama. Aneh sekali,
bukan?”
”Benar. Sering kali yang aneh-aneh begitu yang
terjadi.”
Poirot meneruskan kalimatnya itu dengan cerita
mengenai pamannya. Aku tak akan bersusah-susah
mengisahkan kembali ceritanya di sini. Yang jelas ce-
rita Poirot mempunyai pengaruh yang menguntung-
kan. Obrolan mengenai kematian dan yang sebangsa-
nya ternyata lebih mudah membuka kunci lidah
orang daripada topik-topik lainnya. Kini Poirot dalam
posisi siap menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang
dua puluh menit lalu akan disambut dengan sikap
curiga dan garang.
”Apakah Miss Arundell lama dan parah sakitnya?”
”Tidak, Sir. Tapi kesehatannya memang sudah sejak
lama buruk. Dua tahun lalu Miss pernah sakit kuning
hebat. Beliau tidak bisa makan sama sekali. Dokter
Grainger pun ragu Miss akan bisa tetap hidup. Tapi
Dokter Grainger tahu cara menyembuhkan Miss
Arundell. Miss Arundell orangnya harus ditantang,
87

pustaka-indo.blogspot.com
begitu katanya. Dokter Grainger kalau tak salah bi-
lang begini, ’Sudah yakin ingin mati, Emily?’—dan
Miss menjawab, ’Aku masih punya keinginan buat
hidup, Dokter.’ Dokter Grainger lalu mengatakan,
’Hm, bagus! Senang aku mendengarnya.’ Pernah Miss
dirawat oleh suster dari rumah sakit. Susternya ber-
pikir—sudah tidak ada harapan. Ia mengadu kepada
Dokter Grainger bahwa Miss tak mau makan sama
sekali. Dokter memarahinya, Sir. ’Omong kosong,’
katanya, ’Kau tak tahu bagaimana menyuruhnya ma-
kan. Tantang dia!’ Apa yang dikatakan Dokter
Grainger sesudah itu tak pernah saya lupakan, Sir.
Begini katanya, ’Aku mengerti kau masih muda, Sus-
ter. Kau belum mengerti betapa kuat pertarungan
dalam jiwa orang tua untuk mempertahankan hidup-
nya. Justru orang-orang muda yang umumnya lebih
gampang mati. Mereka kurang punya gairah untuk
melanjutkan hidup. Orang yang bisa mencapai usia
tujuh puluh tahun menandakan dia tangguh dan pu-
nya kemauan hidup besar.’ Dan itu memang benar,
Sir. Orang-orang tua memang mengagumkan. Begitu
hidup dan begitu bergairah menjaga kekuatan badan-
nya. Itu sebabnya, saya kira, mereka bisa hidup begitu
lama dan menjadi begitu tua. Orang yang gairah hi-
dupnya hampir tak ada pasti cepat mati.”
”Yang kaukatakan sangat betul. Dan Miss Arundell
bagaimana orangnya? Apakah seperti begitu—besar
semangat hidupnya?”
”Ya, Sir. Kesehatannya memang jelek. Tapi otak-
nya... bukan main. Ia cerdas. Kemauannya kuat. Buk-
88

pustaka-indo.blogspot.com
tinya ia sembuh. Oh, juru rawatnya betul-betul ter-
kejut ketika itu.”
”Sembuh sama sekali?”
”Benar, Sir. Tentu saja Miss harus berdiet. Mula-
mula makanannya cuma boleh direbus atau dikukus.
Miss sama sekali tak boleh makan goreng-gorengan.
Miss juga tidak boleh makan makanan yang berlemak,
tidak boleh makan telur. Oh, tentu saja sangat mem-
bosankan makanannya.”
”Tapi yang penting dia sehat kembali, kan?”
”Benar, Sir. Memang Miss beberapa kali jatuh sakit
lagi setelah sakit kuning yang hebat itu. Tapi tak per-
nah separah yang satu itu. Miss kadang-kadang agak
sembrono sih—sembrono mengawasi makanannya
sendiri, maksud saya...”
”Sakitnya yang terakhir—apakah sama dengan sakit-
nya yang parah dua tahun lalu itu?”
”Hampir sama, Sir. Tubuhnya menjadi berwarna
kekuning-kuningan, dan kelihatannya sangat mende-
rita. Salah Miss sendiri. Malam itu Miss makan kare.
Kan kare berlemak sekali, Sir.”
”Oh, jadi sakitnya mendadak?”
”Memang begitu, Sir. Tapi Dokter Grainger me-
ngatakan sebetulnya Miss sudah agak lama sakitnya.
Miss selesma—udaranya memang kurang enak hari-
hari itu. Lalu Miss makan makanan yang terlalu ber-
lemak...”
”Mengapa Miss Lawson tidak mencegahnya? Dia
pelayan pribadi Miss Arundell, bukan?”
”Mana bisa Miss Lawson melarang Miss Arundell.
Miss Arundell tidak mau diperintah orang lain, Sir.”
89

pustaka-indo.blogspot.com
”Apakah waktu sakit dua tahun lalu Miss Lawson
sudah menjadi pelayan pribadi Miss Arundell?”
”Belum, Sir. Ia baru setahun bekerja di sini.”
”Sebelum Miss Lawson bekerja di sini, apakah Miss
Arundell juga punya pelayan pribadi?”
”Ada beberapa orang, Sir, yang pernah jadi pelayan
pribadi Miss Arundell. Ganti-ganti terus.”
”Oh, jadi pelayan pribadinya rupanya tak betah
tinggal lama seperti pelayan lainnya?” komentar Poirot
sambil tersenyum.
Wajah Ellen merah padam.
”Lain, Sir. Miss Arundell jarang keluar. Dan lagi...”
Ia berhenti.
Poirot memerhatikannya sejenak. Kemudian kata-
nya, ”Aku mengerti bagaimana umumnya sikap wa-
nita yang sudah lanjut usia. Mereka terlalu menuntut
kesempurnaan. Kecerewetan mereka bisa menghabiskan
kesabaran orang yang melayani mereka.”
”Anda pandai sekali, Sir. Tepat sekali yang Anda
katakan tadi. Pada mulanya, pelayan pribadi Miss me-
mang kelihatan senang. Miss Arundell punya banyak
cerita—tentang masa kecilnya, pandangan hidupnya,
tempat-tempat yang pernah dikunjunginya, dan ba-
nyak lagi masalah-masalah lain yang suka dibicarakan-
nya. Tetapi, lama-lama ceritanya habis. Kalau sudah
begitu, pelayan pribadinya cepat menjadi bosan.”
”Aku mengerti. Dan, antara kita saja, kupikir
orang yang bekerja sebagai pelayan pribadi itu umum-
nya orang yang kurang menyenangkan, bukan?”
”Betul, Sir. Rata-rata menjengkelkan mereka itu.
Dan—eh—kadang-kadang juga bodoh, Sir. Miss
90

pustaka-indo.blogspot.com
Arundell sendiri sering bosan sama mereka. Kalau su-
dah begitu, Miss mencari pelayan pribadi yang
baru.”
”Bagaimana dengan Miss Lawson? Apakah Miss
Arundell cocok dengannya?”
”Yah... tidak juga, Sir.”
”Jadi Miss Lawson tidak punya keistimewaan?”
”Rasa-rasanya tidak, Sir. Orangnya biasa-biasa
saja.”
”Kau sendiri menyukainya?”
Ellen terdiam sejenak.
”Sifatnya—tidak ada yang mesti tidak disukai, Sir.
Juga tidak ada yang mesti disukai. Agak cerewet
orangnya. Tapi itu biasa. Orang tua—pengikut
aliran... spiritual.”
”Spiritual?” tanya Poirot terkejut.
”Benar, Sir. Spiritual katanya. Sering duduk menge-
lilingi meja di ruang gelap—memanggil roh orang-
orang mati. Katanya roh bisa bicara, Sir. Saya sendiri
berpendapat perbuatan begitu tidak cocok dengan
ajaran agama.”
”Oh, jadi Miss Lawson ini spiritualis rupanya. Apa-
kah Miss Arundell juga pengikut aliran ini?”
”Oh, Miss Lawson pernah mengajaknya,” nada
Ellen mengucapkannya seolah mengungkapkan ke-
puasan yang selama ini terpendam.
”Tapi ditolak?”
”Miss Arundell bukan orang bodoh,” Ellen berkata
lagi. ”Bukan berarti Miss Arundell tidak menganggap
permainan itu tidak menyenangkan, Sir. Beliau senang.
Tapi beliau tak pernah percaya. Sering beliau mengata-
91

pustaka-indo.blogspot.com
kan, ’Coba yakinkan aku!’—tapi tak jarang juga beliau
mengelus dada sambil berkata, ’Minnie, Minnie—be-
tapa bodohnya kau percaya yang begituan.’”
”Jadi Miss Arundell bukan pengikut, cuma peng-
gemar?”
”Ya, Sir. Beliau cepat bosan. Kalau sudah begitu,
beliau suka seperti anak nakal sementara yang lain
serius.”
”Yang lain? Siapa yang lain?”
”Maksud saya Miss Lawson dan Miss Tripp.”
”Apakah Miss Lawson benar-benar percaya pada
aliran ini?”
”Ya, Sir.”
”Dan Miss Arundell sangat dekat dengan Miss
Lawson?”
Ini kedua kalinya Poirot menanyakan pertanyaan
yang sama. Jawaban yang diperolehnya pun tidak ber-
beda.
”Ah, tidak juga, Sir.”
”Tapi,” tukas Poirot, ”Miss Arundell mewariskan
semua hartanya kepadanya.”
Perubahan terjadi sangat cepat. Sikap ramah dan
kesantaian Ellen hilang, digantikan dengan sikapnya
sebagai pelayan rumah tangga yang disiplin. Perem-
puan itu menarik diri.
Dengan sopan ia berkata, ”Itu bukan urusan saya,
Sir.”
Kupikir Poirot salah langkah—kurang hati-hati
menggunakan kesempatan yang diciptakannya sendiri.
Tapi kuperhatikan ia cukup bijaksana—tidak terlalu
cepat mengembalikan situasi. Setelah memberi ko-
92

pustaka-indo.blogspot.com
mentar mengenai ukuran dan banyaknya kamar tidur,
ia melangkah ke arah tangga.
Bob tak kelihatan lagi di situ. Tapi, ketika sampai
di ujung atas tangga, kakiku tersandung sesuatu. Ham-
pir aku jatuh dibuatnya. Untung aku cepat berpe-
gangan pada pagar tangga. Kutengok, di dekat kakiku
kudapati bola mainan Bob.
Ellen buru-buru minta maaf.
”Maaf, Sir. Bob memang sembrono. Dia sering me-
ninggalkan bolanya di situ. Di atas karpet warna gelap
begini bola hitam tidak tampak jelas. Miss Arundell
sendiri pernah jatuh gara-gara bola itu. Untung saja
beliau tidak meninggal. Dokter Grainger bilang, orang
bisa saja mati karena kecelakaan seperti itu.”
Mendadak Poirot berhenti di situ.
”Maksudmu—Miss Arundell pernah jatuh dari
sini?”
”Ya, Sir. Bob memang sembrono. Habis bermain-
main meninggalkan bolanya begitu saja di situ. Nah,
Miss Arundell sering keluar dari kamarnya malam-ma-
lam. Rupanya waktu itu beliau mau turun. Malang,
Sir, kakinya tersandung bola Bob. Beliau jatuh meng-
gelinding ke bawah sana. Oh, untung saja beliau se-
lamat.”
”Banyak cederanya?”
”Tidak sebanyak yang mungkin Anda kira. Miss
Arundell sangat beruntung. Dokter Grainger berpenda-
pat begitu, Sir. Miss cuma keseleo otot punggungnya,
luka sedikit di kepala, lecet-lecet ringan, dan shock,
Sir. Seminggu beliau tidak turun dari tempat tidur.”
”Kejadian ini sudah lama terjadinya?”
93

pustaka-indo.blogspot.com
”Kira-kira... seminggu, atau... dua minggu sebelum
beliau meninggal.”
Poirot membungkuk, memungut sesuatu yang—aku
tahu—sengaja dijatuhkannya.
”Maaf. Pulpenku jatuh... Uh! Ini dia!”
Ia kembali berdiri.
”Bob rupanya memang sembrono kalau begitu,”
ujar Poirot menyelidik.
”Tapi dia tak tahu apa-apa, Sir,” bela Ellen cepat.
Suaranya lembut dan merdu. ”Bob memang sering
seperti manusia tingkahnya. Tapi, bagaimanapun ia
tetap anjing. Kita tak bisa mengharapkan terlalu ba-
nyak darinya. Miss sering susah tidur. Malam-malam,
beliau sering sibuk sendiri—ke sana-sini, turun ke
bawah kadang-kadang...”
”Seringkah begitu?”
”Hampir tiap malam, Sir. Tapi beliau tak mau di-
temani siapa pun.”
Poirot balik ke Ruang Santai sekali lagi.
”Ruangan ini sangat indah,” komentarnya. Pan-
dangannya berkeliling ke seputar ruangan, mengamati
setiap sudut dan dinding. ”Kira-kira apakah lemari
bukuku bisa masuk ke sini, Hastings?” tanyanya tiba-
tiba.
Terkejut, kujawab sebaiknya diukur saja dulu.
”Betul,” ujarnya. ”Tolong ukurkan dengan peng-
garis kecilku ini, Sobat. Sini, biar aku yang mencatat
ukurannya.”
Patuh, kuambil penggaris kecil yang disodorkannya,
dan kuukur apa yang diminta Poirot. Sementara itu
Poirot menulis di balik amplop.
94

pustaka-indo.blogspot.com
Heran aku melihat tingkahnya. Biasanya ia menca-
tat sesuatu dengan rapi dalam buku notesnya. Namun
keherananku hilang ketika Poirot menyerahkan am-
plop itu kepadaku sambil berkata, ”Betul begini kan
ukurannya? Coba periksa sekali lagi.”
Tak terlihat angka sama sekali di situ. Yang terbaca:
”Kita akan kembali lagi ke atas. Pura-puralah lupa,
kau punya janji dengan seseorang, lalu pinjamlah tele-
pon. Minta si pelayan menemanimu ke tempat tele-
pon, dan usahakan dia di situ selama mungkin.”
”Betul,” sahutku mengantongi amplop tadi. ”Ku-
pikir dua-duanya malah bisa masuk ke sini.”
”Bolehkah saya melihat sekali lagi kamar tidurnya
yang di atas?” tanya Poirot. ”Saya ingin mengukur
juga di situ.”
”Silakan, Sir.”
Kami kembali ke atas. Poirot sedang mengukur
dan memperbincangkan kemungkinan mengubah le-
tak tempat tidur dan lemari yang ada di situ ketika
tiba-tiba kutengok jam tanganku dan aku berseru de-
ngan agak terlalu lantang, ”Ya ampun, Poirot. Sudah
jam tiga! Anderson pasti marah. Aku mesti me-
neleponnya segera.” Kudekati Ellen. ”Boleh pinjam
teleponnya?”
”Tentu saja, Sir. Teleponnya di bawah, dekat Ruang
Tamu. Mari, saya antarkan.”
Ellen menyertaiku turun, dan menunjukkan tempat
telepon. Kuminta ia membantuku mencari nomor
telepon Anderson. Akhirnya, kuputar nomor telepon
orang bernama Anderson yang tidak kukenal. Untung-
95

pustaka-indo.blogspot.com
lah orangnya tak ada. Maka kutinggalkan pesan, bah-
wa aku akan meneleponnya kembali sore nanti.
Waktu aku keluar dari ruangan tempatku menele-
pon tadi, kudapati Poirot sudah turun. Ia sedang
berdiri di Ruang Tengah. Matanya bersinar-sinar. Aku
tak mengerti apa penyebab kegirangannya. Tapi aku
yakin, ada sesuatu yang menggembirakannya.
”Tentu majikanmu sangat hebat shock-nya ketika
jatuh dari ketinggian seperti ini. Apakah setelah itu ia
bersikap takut-takut, atau bersikap lain terhadap Bob
dan bolanya?”
”Bagaimana Anda bisa mengatakan begitu? Benar
sekali, Sir. Beliau gelisah terus-menerus. Pikirannya
selalu ke situ. Bahkan, ketika hampir meninggal pun
ia masih berkata-kata mengenai Bob dan bolanya. Ia
mengigau, tentu saja. Aneh-aneh yang dikatakannya...
stoples... lukisan... Bob... Saya tidak mengerti apa
maksudnya, Sir.”
”Sebentar,” ucap Poirot tiba-tiba. ”Saya perlu ke
Ruang Santai sekali lagi.”
Di situ Poirot mengamati porselen-porselen yang
menghiasi lemari dan beberapa meja kuno. Sebuah
guci bertutup tampaknya menarik perhatiannya. Guci
itu berlukiskan anjing bulldog yang duduk di depan
pintu. Di bawahnya tertulis komentar nakal: Sema-
laman keluar, tidak punya kunci...
Setahuku Poirot kurang menyukai barang-barang
antik semacam itu. Anehnya, kali ini tampaknya ia
sangat terpesona.
”Semalaman keluar, tidak punya kunci...,” gumam-
nya. ”Lucu benar! Benarkah Bob sering begitu?”
96

pustaka-indo.blogspot.com
”Jarang sekali, Sir. Bob anjing yang baik.”
”Ya, memang kelihatannya dia sangat baik. Tapi,
anjing yang terbaik pun...”
”Benar, Sir. Yang Anda katakan itu benar! Sesekali
Bob memang keluar malam. Pagi, kira-kira jam empat
ia kembali. Kalau pulang ia duduk di depan pintu,
menyalak-nyalak minta dibukakan pintu.”
”Siapa biasanya yang membukakan pintu buatnya?
Miss Lawson?”
”Yah... siapa saja, Sir—yang kebetulan mendengar-
nya. Yang terakhir Miss Lawson. Tepat pada malam
terjadinya kecelakaan itu, Sir. Maksud saya, malam
Miss Arundell jatuh dari tangga itu. Miss Lawson buru-
buru turun. Takut Bob menyalak lebih keras lagi dan
mengganggu Miss Arundell. Miss Arundell kerap ge-
lisah kalau tahu Bob tidak ada di rumah. Itulah sebab-
nya, malam itu, Miss Arundell tidak diberitahu bahwa
si Bob sedang nakal—menghilang dari rumah...”
”Maksudmu, Miss Lawson berpendapat bahwa se-
baiknya Miss Arundell tidak diberitahu?”
”Begitu katanya, Sir. Toh Bob pasti pulang. Buat
apa membuat gelisah Miss Arundell.”
”Bagaimana sikap Bob terhadap Miss Lawson? Apa-
kah Bob suka padanya?”
”Yah... kelihatannya, Sir, Bob sering benci pada
Miss Lawson. Anjing memang kadang-kadang membi-
ngungkan. Padahal Miss Lawson sangat menyayangi-
nya. Ia sering memanggil anjing itu Doggie manis
dengan penuh kasih sayang. Tapi Bob selalu meng-
geram. Tak pernah Bob mau menuruti perintah Miss
Lawson.”
97

pustaka-indo.blogspot.com
Poirot mengangguk-angguk.
Tiba-tiba ia berbuat sesuatu yang sangat mengejut-
kan.
Ia mencabut secarik kertas dari saku bajunya—surat
Miss Arundell yang diterimanya tadi pagi.
”Ellen,” ujarnya. ”Kau tahu surat ini?”
Perubahan wajah Ellen sangat kentara.
Perempuan itu ternganga. Dari matanya kelihatan
bahwa perasaannya tak menentu.
”Oh,” ujarnya hampir terloncat. ”Tidak.”
Mungkin kurang cermat pengamatanku. Tapi kesan
yang kudapat, bukan itu yang dimaksud Ellen.
Tampak memaksa dirinya berani, Ellen kemudian
berkata, ”Kalau begitu Anda... Oh, Andalah yang di-
tulisi surat itu?”
”Benar, Ellen. Aku Hercule Poirot.”
Seperti kebanyakan orang lain, Ellen tidak memper-
hatikan kartu bukti diri yang disodorkan Poirot pada
awal kunjungannya. Ellen menunduk.
”Jadi,” gumamnya, ”Anda Hercule Poirot. Oh Tu-
han!” serunya tiba-tiba. ”Koki pasti tidak percaya.”
Segera Poirot berkata, ”Bagaimana kalau kita ber-
sama ke dapur dan sekaligus membicarakan ini de-
ngan Koki.”
”Silakan, kalau Anda mau.”
Ellen terdengar agak ragu. Tampak sekali dilema
sosial macam begini baru sekali dihadapinya. Namun
sikap Poirot yang apa adanya menimbulkan keyakinan
pada diri perempuan itu. Kami melangkah ke dapur.
Ellen mengisahkan apa yang terjadi kepada perem-
puan yang sedang mengangkat ketel dari kompor gas.
98

pustaka-indo.blogspot.com
Seperti Ellen, wajah perempuan ini pun menyenang-
kan.
”Pasti kau tak percaya, Annie—tuan ini orang yang
ditulisi surat oleh Miss Arundell. Surat yang itu—
yang kutemukan dalam map surat itu...”
”Ellen, saya belum tahu sama sekali mengenai seja-
rah surat itu,” kata Poirot. ”Maukah kau mencerita-
kan—misalnya, mengapa surat itu begitu lambat di-
kirim?”
”Terus terang, Sir—kami tidak tahu apa yang mesti
kami lakukan.”
”Ya, Sir. Kami sungguh-sungguh bingung,” kata
Koki menimpali.
”Waktu Miss Lawson bersih-bersih, banyak sekali
barang yang dibuangi. Salah satunya, map berisi be-
berapa lembar kertas surat. Cantik sekali rupanya, Sir.
Bagian depannya bergambar bunga lili. Map itu ke-
punyaan Miss Arundell. Kalau beliau sakit dan ingin
menulis surat di tempat tidur, map itu yang biasanya
dipakainya. Nah, map itu dibuang Miss Lawson. Ka-
lau mau, boleh diambil, begitu katanya. Map itu
begitu bagus. Sayang dibuang. Jadi saya ambil. Saya
menyimpannya di laci. Kemarin, saya berniat me-
masukkan beberapa lembar kertas surat baru. Maksud
saya, supaya mudah kalau saya mau menulis surat
kapan-kapan. Saya iseng merogoh-rogoh lipatan map
itu. Eh, di situ saya menemukan amplop dengan tu-
lisan Miss Arundell.
”Seperti yang saya katakan tadi, Sir, saya tak tahu
apa yang mesti saya lakukan. Saya tahu pasti itu tu-
lisan Miss Arundell. Mungkin Miss Arundell mema-
99

pustaka-indo.blogspot.com
sukkannya ke situ setelah selesai menulisnya, lalu lupa
mengeposkan. Dia memang sering pelupa. Pernah
kami mencari-cari kuitansi pembayaran listrik. Lama
setelah itu baru ketemu... ternyata di rak meja tulis-
nya.”
”Apakah Miss Arundell sembrono?”
”Malah sebaliknya, Sir. Sangat rapi. Itu juga salah
satu penyebabnya. Dia tak suka melihat kertas ber-
ceceran di mana-mana. Apa yang kelihatan tercecer,
selalu disimpannya. Tapi dia pelupa, dan tak tahu lagi
di mana dulu sesuatu disimpannya.”
”Misalnya, bola Bob?” tanya Poirot tersenyum.
Yang dibicarakan melompat dari luar dan menyapa
kami dengan ramah.
”Benar, Sir. Setiap kali Bob selesai bermain-main,
beliau selalu menyimpan bolanya. Tapi bola Bob tak
pernah terselip tidak keruan. Sudah ada tempatnya
sendiri. Laci yang saya tunjukkan kepada Anda tadi
tempatnya.”
”Oh, di situ...” komentar Poirot. ”Mengenai surat
tadi, bagaimana kelanjutannya?”
”Oh, sesudah itu... saya tanya pada Annie—apa
yang sebaiknya saya lakukan. Saya tak mau membakar-
nya, Sir, saya juga tidak berani membukanya. Selain
itu, kami berpendapat surat itu bukan urusan Miss
Lawson. Jadi tak perlu diberikan kepadanya. Setelah
kami berunding sebentar, saya beri prangko amplop-
nya dan saya masukkan ke kotak pos.”
Poirot menoleh kepadaku. ”Voila,—Begitulah,” gu-
mamnya.
100

pustaka-indo.blogspot.com
Tak bisa menahan diri, aku berkomentar usil, ”Bu-
kan main! Ternyata begitu sederhana masalahnya.”
Kulihat Poirot agak terkejut dan kurang suka men-
dengar komentarku.
Ia mengalihkan kembali perhatiannya kepada
Ellen.
”Seperti yang baru saja dikatakan temanku: ternya-
ta sederhana sekali masalahnya. Kau tahu, Ellen, wak-
tu menerima surat ini aku sangat terkejut. Melihat
tanggalnya, aku jadi bertanya-tanya. Sebab, sudah le-
bih dari dua bulan yang lalu tanggalnya.”
”Oh, tentu saja, Sir,” ujar Ellen. ”Oh, kami tak
berpikir sejauh itu.”
”Di samping itu,” lanjut Poirot sambil berdeham,
”aku menghadapi sesuatu... katakanlah yang kuhadapi
itu dilema. Miss Arundell minta bantuanku. Ia me-
mintaku menyelidiki sesuatu yang sifatnya sangat pri-
badi.” Sekali lagi Poirot berdeham. ”Sekarang ternyata
Miss Arundell sudah meninggal. Aku jadi bingung...
apa yang mesti kulakukan... melaksanakan permintaan-
nya, atau apa? Yah, ini tentu saja sulit. Sulit sekali.”
Kedua perempuan itu memandang Poirot penuh
hormat.
”Mungkin sebaiknya aku menemui pengacaranya.
Miss Arundell punya pengacara, kan?”
Ellen cepat menjawab, ”Punya, Sir. Namanya Mr.
Purvis. Alamatnya di Herchester.”
”Apakah kira-kira Mr. Purvis ini mengetahui semua
masalah Miss Arundell?”
”Kemungkinan ia tahu, Sir. Seingat saya, dari dulu
Mr. Purvis yang mengurus semua masalah Miss
101

pustaka-indo.blogspot.com
Arundell. Purvis jugalah yang dipanggilnya pertama-
tama setelah dia jatuh itu.”
”Setelah Miss Arundell jatuh dari tangga itu, mak-
sudnya?”
”Benar, Sir.”
”Tunggu. Tanggal berapa persisnya kejadian itu?”
Koki itu menyahut, ”Sehari setelah Paskah. Saya
ingat sekali. Soalnya, saya terpaksa tidak bisa ambil
libur—Miss Arundell banyak tamunya. Saya ambil li-
bur hari Rabunya, setelah tamu-tamu pulang.”
Poirot merogoh almanak kecil dari sakunya.
”Tepat. Tepat sekali. Paskah jatuh pada tanggal tiga
belas. Miss Arundell jatuh pada tanggal empat belas-
nya. Lalu surat ini dia tulis tiga hari sesudahnya. Sa-
yang tidak segera diposkan. Tapi mungkin belum ter-
lambat.” Poirot berhenti sejenak. ”Kupikir-pikir,
eh—mungkin permintaan Miss Arundell itu ada hu-
bungannya dengan salah seorang tamu yang baru saja
kausebutkan.”
Komentar ini ditanggapi cepat. Pada wajah Ellen
tebersit ekspresi yang cerdik, seolah ia tahu sesuatu.
Ia berpaling kepada Koki, dan Koki menyambutnya
dengan kerlingan.
”Pasti yang dimaksud itu Mr. Charles,” ujarnya.
”Siapa saja tamunya?” tanya Poirot.
”Dokter Tanios dan istrinya, Mrs. Bella. Selain itu,
Mr. Charles dan Miss heresa, adiknya.”
”Mereka semua masih ada hubungan keluarga de-
ngan Miss Arundell?”
”Ya, Sir. Mereka kemenakan Miss Arundell. Dokter
102

pustaka-indo.blogspot.com
Tanios tentu saja bukan kemenakan langsung. Ia
suami Bella. Bella itu anak adik perempuan Miss
Arundell.”
”Jadi, ceritanya, waktu kecelakaan itu terjadi, di
sini sedang ada semacam reuni keluarga? Kapan me-
reka pulang?”
”Hari Rabu pagi, Sir. Dokter dan Mrs. Tanios da-
tang lagi ke sini hari Sabtunya. Mereka kuatir akan
keadaan beliau.”
”Bagaimana dengan Mr. Charles dan adiknya?”
”Oh, mereka juga ke sini lagi. Seminggu setelah
Dokter Tanios dan istrinya... ya, malam Minggu ter-
akhir sebelum Miss Arundell meninggal.”
Tak habis-habisnya pertanyaan Poirot ini, pikirku.
Padahal hampir semua misterinya telah terjawab. Se-
baiknya ia cepat-cepat pamitan, menurutku.
Yang kupikirkan rupanya mengalir juga ke kepala
Poirot.
”Eh bien,” ujarnya. ”Keterangan yang kalian berikan
sangat membantu. Aku akan menemui Mr. Purvis...
mm, namanya betul begitu, kan? Terima kasih banyak
atas bantuan kalian.”
Poirot membungkuk, menepuk punggung Bob.
”Brave chien, va—Anjing baik! Kau sangat setia,
kan?”
Bob tampak senang. Ia beranjak ke perapian, meng-
gigit sepotong batu bara untuk bermain-main. Ellen
memarahinya. Batu bara di mulut anjing itu dipungut
dan dilemparkannya kembali ke perapian. Bob me-
mandangku kecewa.
103

pustaka-indo.blogspot.com
”Perempuan-perempuan ini tak pernah pelit mem-
beriku makan,” begitu seolah ia berkata, ”tapi mereka
sangat membosankan. Tak bisa diajak bermain-
main.”

104

pustaka-indo.blogspot.com
9
Rekonstruksi Kecelakaan
Miss Arundell

”NAH, Poirot,” ucapku ketika kami beranjak mening-


galkan halaman Puri Hijau, ”kuharap kau sudah puas
sekarang!”
”Benar, Sobat! Aku puas.”
”Syukurlah! Semua misterinya sudah terungkap!
Tentang pelayan pribadi si nenek, tentang si nenek
itu sendiri, tentang surat yang terlambat diposkan,
dan bahkan tentang kecelakaan itu sendiri... hmm,
semuanya bisa terungkap dengan begitu sempurna
dan memuaskan. Tak kusangka!”
Poirot mendeham. Katanya kemudian, ”Tidak begi-
tu bagiku, Hastings.”
”Eh, bukankah kau sendiri barusan bilang kau
puas?”
Poirot menggeleng.
”Aku cuma bilang, secara pribadi aku puas—pe-

105

pustaka-indo.blogspot.com
rasaan ingin tahuku terpuaskan. Aku sudah tahu pe-
nyebab sesungguhnya kecelakaan itu.”
”Dan penyebabnya ternyata begitu sederhana,” le-
dekku.
”Tidak sesederhana seperti yang kauduga, Kawan.”
Poirot mengangguk-angguk berulang-ulang. Lalu lan-
jutnya, ”Tahukah kau, Hastings. Ada sesuatu yang
kuketahui, tapi tidak kauketahui?”
”Apa?” tanyaku kurang percaya.
”Aku menemukan sebatang paku tertancap pada pe-
gangan di sisi tangga yang berbatasan dengan dinding.
Persisnya, pada sisi anak tangga yang paling atas.”
Kupandangi Poirot, masih dengan perasaan kurang
percaya. Namun wajahnya begitu serius.
”Apa keanehannya ada paku di situ?”
”Pertanyaanmu kurang tepat. Seharusnya: Mengapa
harus ada paku di situ?”
”Mana aku tahu? Untuk menggantungkan sesuatu,
barangkali. Apa artinya?”
”Tentu saja ada artinya, Sobat. Dan menurutku,
tak mungkin paku itu dipakai untuk menggantungkan
sesuatu untuk urusan rumah tangga. Tempatnya
begitu khusus. Bukan cuma itu. Paku itu pun dicat
sama dengan warna pegangannya—supaya tidak keli-
hatan.”
”Tahukah kau apa sebabnya, Poirot?”
”Itu gampang ditebak. Kalau kita ingin merentang-
kan tali pada ketinggian kira-kira tiga puluh senti-
meter dari anak tangga yang paling atas: ujung tali
yang satu bisa kita ikatkan pada salah satu jeruji pa-
gar di sisi tangga itu. Tapi, untuk mengikatkan tali
106

pustaka-indo.blogspot.com
itu pada sisi tangga yang satunya lagi, kita perlu tem-
pat untuk mengikatkannya. Paku merupakan tempat
yang paling bagus.”
”Poirot,” seruku. ”Apa maksudmu?”
”Mon cher ami—Sobat, aku sedang merekonstruksi
bagaimana sesungguhnya kecelakaan itu terjadi. Mau
dengar kelanjutannya?”
”Teruskan!”
”Eh bien. Begini. Ada orang yang mengamati ke-
biasaan Bob. Maksudku, kebiasaannya meninggalkan
bola di atas tangga. Orang ini tahu, itu kebiasaan yang
bisa membahayakan orang—dengan kata lain, bisa me-
nyebabkan kecelakaan.” Poirot berhenti. Kemudian,
dengan nada suara yang berbeda ia melanjutkan, ”Mi-
salnya kau ingin membunuh seseorang, Hastings—apa
yang akan kaulakukan?”
”Terus terang aku tak tahu, Poirot. Membuat alibi
atau... oh, sungguh aku tak tahu, Poirot.”
”Ah, tentu saja susah buatmu, Kawan. Kau bukan
pembunuh berdarah dingin yang cerdik dan licin. Tak
terpikirkah olehmu jalan yang paling mudah dan
aman adalah dengan menggunakan kedok kecelakaan?
Kecelakaan bisa terjadi setiap saat, di mana saja...
dan, memang selalu terjadi di mana-mana. Kau mesti
tahu, Hastings, kadang-kadang kecelakaan itu juga
bisa dibuat terjadi.”
Poirot berhenti sebentar.
”Bola Bob yang secara tidak sengaja tergeletak di
situ menimbulkan ide pada si pembunuh. Dia tahu
kebiasaan Miss Arundell keluar malam. Ia tahu juga
Miss Arundell sudah tua, dan penglihatannya sudah
107

pustaka-indo.blogspot.com
kabur. Bukanlah hal yang mustahil bila Miss Arundell
tersandung bola itu—begitu kira-kira jalan pikiran si
pembunuh. Tapi, pembunuh tidak akan merencanakan
tindakan yang hasilnya dipengaruhi faktor untung-
untungan. Apa yang direncanakan itu harus terlak-
sana, dengan atau tanpa faktor untung-untungan tadi.
Persiapannya akan jauh lebih cermat. Tali yang di-
rentangkan dari sisi ke sisi pada anak tangga paling
atas akan membawa hasil yang lebih pasti. Paling ti-
dak, korbannya pasti akan terjungkal dan jatuh de-
ngan kepala di bagian bawah. Nah, kalau orang berda-
tangan—penyebabnya mudah sekali terlihat: Bola
Bob!”
”Ah? Itu keterlaluan,” seruku.
Dengan berat sekali Poirot menimpali, ”Benar...
keterlaluan. Tapi toh usahanya tidak berhasil. Miss
Arundell cuma terluka sedikit meskipun sebetulnya
bisa fatal akibatnya. Tentu si pembunuh kecewa. Tapi
Miss Arundell cerdik. Semua orang mengatakan bola
Bob-lah penyebabnya—dan memang terbukti bola itu
ada di sana pada waktu kecelakaan itu terjadi; namun,
mengingat-ingat kejadiannya secara teliti, Miss
Arundell yakin bukan bola Bob yang menyebabkan ia
jatuh. Ia tidak merasa kakinya tersandung bola Bob.
Ia teringat sesuatu yang lain. Ia ingat Bob menyalak
minta dibukakan pintu, subuh keesokan harinya.
”Yang ini, terus terang, cuma dugaanku. Tapi mu-
dah-mudahan tidak salah. Dan aku yakin memang
tak salah. Miss Arundell ingal betul ia telah menyimpan
kembali bola Bob sore hari sebelumnya. Bob keluar se-
108

pustaka-indo.blogspot.com
malaman, dan tidak pulang. Jadi, bukan Bob yang
menaruh bola itu di situ.”
”Ah, itu toh cuma dugaanmu, Poirot.”
Poirot menyangkal.
”Bukan cuma dugaanku, Kawan. Kata-kata Miss
Arundell sendiri—dalam igauannya sebelum ia me-
ninggal. Ia menyebut sesuatu tentang bola Bob dan
lukisan pada stoples. Kau mengerti maksudnya, kan?”
”Sama sekali tidak.”
”Ellen juga tidak mengerti. Tapi aku mengerti. Aku
jadi penasaran. Itulah sebabnya aku kembali ke Ruang
Santai, memeriksa guci-guci dan stoples-stoples tua di
situ. Ternyata benar. Di situ kudapati guci bertutup—
seperti stoples memang kelihatannya—dan pada ba-
gian luarnya terlihat lukisan seekor anjing. Benda itu
sudah kulihat sepintas sebelumnya, tapi belum kuper-
hatikan. Mendengar cerita Ellen, aku buru-buru ingin
mengamatinya. Dugaanku benar... lukisan itu meng-
gambarkan seekor anjing yang keluar semalaman. Kau
mulai bisa mengerti jalan pikiran perempuan tua itu,
kan? Bob, seperti anjing dalam lukisan di guci itu,
keluar semalaman. Jadi, bukan dialah yang menaruh
bola di situ.”
Aku bukan orang yang gampang terpana. Tetapi,
kali ini aku betul-betul terpana. Hampir berteriak,
aku berkata, ”Kau memang setan, Poirot! Aku benar-
benar kagum akan cara kerja otakmu. Aku tidak ber-
pikir sampai ke situ.”
”Siapa bilang aku berpikir, Hastings? Semuanya itu
fakta yang bisa dilihat siapa pun. Eh bien, sekarang
kau menyadari bagaimana duduk perkaranya, kan?
109

pustaka-indo.blogspot.com
Setelah kecelakaan itu, Miss Arundell terbaring sambil
terus-menerus diliputi rasa curiga. Ia resah. Perasaan-
nya mengatakan kecurigaannya tidak beralasan dan
cuma bayangannya.
”’Sejak kecelakaan yang disebabkan bola mainan
anjing itu, saya semakin gelisah.’ Itu sebabnya dia me-
nulis surat kepadaku. Karena nasib buruk, surat itu
baru sampai kepadaku dua bulan setelah ditulisnya.
Bukankah isi suratnya cocok benar
dengan semua fakta yang baru saja kita pelajari
tadi?”
”Benar,” ujarku. ”Memang cocok sekali.”
Poirot menyambung, ”Meskipun begitu, ada satu
faktor yang mesti diperhatikan. Mengapa Miss
Lawson begitu bersikeras mencegah majikannya tahu
Bob keluar malam itu?”
”Maksudmu, kau menganggapnya...”
”Maksudku, fakta kecil itu harus diperhatikan be-
tul-betul.”
Kubolak-balik masalah itu di dalam kepalaku seje-
nak.
”Yah,” ujarku menarik napas panjang. ”Semuanya
itu memang menarik—sebagai latihan mental, maksud-
ku. Dan aku angkat topi buatmu, Sobat. Rekonstruksi-
mu begitu hebat dan beralasan. Sayang benar perem-
puan tua itu telah tiada.”
”Benar, sayang sekali. Dia menulis dalam suratnya
bahwa ada orang yang berusaha membunuhnya, dan
tak lama kemudian ia meninggal.”
”Ya,” komentarku pula. ”Dan kau, Poirot, sangat
110

pustaka-indo.blogspot.com
kecewa karena meninggalnya biasa-biasa saja. Betul,
kan? Oh, ayolah... akui!”
Poirot mengangkat bahu.
”Atau, kaupikir dia mati diracun?” tanyaku meng-
goda.
Poirot menggeleng, tampaknya dengan enggan.
”Kelihatannya,” ujarnya setuju dengan pernyataan-
ku, ”Miss Arundell memang meninggal karena sebab-
sebab yang wajar.”
”Karena itu, sekarang kita bisa pulang ke London,
kan?”
”Pardon, Sobat? Kita tidak akan pulang sekarang.
Belum. Belum waktunya.”
”Apa maksudmu, Poirot?” seruku.
”Kalau kepada seekor anjing kautunjukkan kelinci,
Hastings—apakah kaupikir anjing itu akan pulang?
Tidak. Ia akan mengejar kelinci itu ke liangnya.”
”Maksudmu?”
”Anjing memburu kelinci. Hercule Poirot memburu
pembunuh. Saat ini kita dihadapkan pada pembunuh
yang gagal membunuh mangsanya. Gagal! Bagaimana-
pun, ia tetap pembunuh. Dan aku, Kawan, berniat
memburunya sampai ke sarangnya.”
Poirot mendadak membelok masuk ke suatu ha-
laman.
”Mau ke mana kau, Poirot?”
”Mencari sarangnya, Sobat! Ini rumah Dokter
Grainger—dokter yang menangani penyakit Miss
Arundell sebelum ia mati.”
Usia Dokter Grainger kira-kira enam puluh. Wajah-
nya kurus, tulang-tulangnya lancip. Dagunya agak
111

pustaka-indo.blogspot.com
mencuat ke muka. Alisnya lebat, dan matanya cerdik
berwarna keabu-abuan. Ia memandangku dengan ra-
mah, kemudian kepada Poirot.
”Apa yang bisa saya lakukan untuk Anda?” tanya-
nya.
Poirot berbicara dengan cara yang teramat mena-
rik.
”Maafkan saya, Dokter Grainger—terpaksa meng-
ganggu Anda seperti ini. Terus terang, saya ke sini
bukan untuk berobat.”
Dengan nada datar dokter itu berkata, ”Bagus.
Anda kelihatannya memang sehat-sehat.”
”Maksud kedatangan saya,” lanjut Poirot, ”begini.
Saya sedang menyusun buku mengenai kehidupan
Jenderal Arundell almarhum. Setahu saya, beliau ting-
gal di Market Basing pada tahun-tahun akhir hayat-
nya.”
Dokter Grainger tampak agak terkejut.
”Ya. Jenderal Arundell memang tinggal di sini sam-
pai saat meninggalnya. Tepatnya, di Puri Hijau—letak-
nya tak jauh dari bank. Anda sudah ke sana, mung-
kin?” Poirot mengangguk. ”Saya sendiri tidak
mengalami zaman itu. Saya baru datang ke sini pada
tahun 1919.”
”Tapi Anda kenal putrinya, kan—Miss Arundell
almarhum?”
”Ya. Saya kenal baik dengan Emily Arundell.”
”Terus terang, saya sangat terkejut mendengar dia
sudah meninggal.”
”Ya. Meninggalnya belum begitu lama. Tanggal 1
Mei lalu.”
112

pustaka-indo.blogspot.com
”Begitu yang saya dengar. Saya sebenarnya sangat
berharap bisa bertemu dengannya. Saya pikir dia ten-
tu bisa memberikan keterangan yang lengkap menge-
nai pribadi ayahnya, juga mengenai kenang-kenangan
yang ditinggalkannya.”
”Benar. Benar. Tapi, apa hubungan saya dengan
semua itu?”
Poirot bertanya, ”Apakah tidak ada lagi putra atau
putri Jenderal Arundell yang masih hidup?”
”Tidak. Semuanya sudah meninggal.”
”Berapa semuanya—putranya?”
”Lima orang. Empat perempuan, satu laki-laki.”
”Generasi selanjutnya?”
”Charles Arundell dan adiknya, heresa. Saya pikir
Anda bisa menghubungi mereka. Walaupun, terus te-
rang, saya ragu Anda akan mendapat keterangan yang
Anda perlukan. Generasi muda umumnya tidak
begitu sentimental. Jarang mereka tahu sesuatu me-
ngenai kakek mereka. Di samping Charles dan
heresa, ada satu lagi, Mrs. Tanios. Tapi, darinya
pun—rasanya—Anda tak akan dapat keterangan yang
memuaskan.”
”Mungkin mereka memiliki surat-surat penting
atau dokumentasi keluarga lainnya?”
”Mungkin saja. Tapi saya ragu. Setahu saya, banyak
kertas yang sudah dibuang dan dibakar setelah Miss
Arundell meninggal.”
Poirot menggeram, tampaknya sangat kesal.
Dokter Grainger mengamatinya dengan penuh tan-
da tanya.
”Apa yang menarik dengan Jenderal Arundell—sam-
113

pustaka-indo.blogspot.com
pai Anda berniat menulis buku mengenainya? Setahu
saya, dia bukan orang istimewa.”
”Oh.” Mata Poirot bersinar-sinar. ”Belum pernah-
kah Anda mendengar peribahasa yang mengatakan
bahwa sejarah tak pernah tahu sesuatu mengenai to-
kohnya yang terbesar? Akhir-akhir ini beberapa surat
kabar mulai menyoroti ’Indian Mutiny’ dari sudut
yang lain. Ada sesuatu yang masih belum terungkap
mengenai peristiwa bersejarah itu. Dalam bagian itu,
Jenderal Arundell memegang peranan penting. Sangat
mengagumkan! Sekarang, Dokter, masalah ini sedang
menjadi pusat perhatian.”
”Hmm, bahwa Jenderal Arundell memegang peran
dalam peristiwa itu—memang pernah kudengar.”
”Dari mana Anda mendengarnya?”
”Miss Peabody. Oh ya—ada perlunya dia Anda hu-
bungi. Dia banyak tahu mengenai Keluarga Arundell.
Ia penduduk tertua di sini. Hobinya menggosip. Tapi
tak ada salahnya Anda menghubungi wanita itu.”
”Terima kasih. Usul Anda sangat berharga. Mung-
kin Anda bisa memberikan alamat Mr. Arundell
muda... maksud saya, cucu Jenderal Arundell?”
”Charles? Oh, pemuda tak berperasaan itu. Coba
saja. Tapi menurut saya sia-sia saja menghubungi-
nya.”
”Masih mudakah dia?”
”Yah, orang tua seperti saya menganggapnya masih
muda,” ujar Dokter Grainger. Matanya bersinar nakal.
”Usianya tiga puluhan. Kelihatannya anak itu dilahir-
kan untuk merepotkan keluarganya saja. Tak punya
tanggung jawab. Penampilan dan sikapnya memang
114

pustaka-indo.blogspot.com
hebat. Sudah disekolahkan ke seluruh penjuru du-
nia—tapi sia-sia juga.”
”Bibinya tentu sangat menyayanginya?” komentar
Poirot ”Biasanya begitu.”
”Hmmm—aku tak tahu mengenai itu. Setahuku,
Emily bukan orang bodoh. Charles tak pernah ber-
hasil minta uang sepeser pun darinya. Perempuan tua
itu keras. Aku suka padanya. Sikapnya seperti sikap
prajurit sejati—dalam segala hal. Aku sangat meng-
hormatinya.”
”Apakah dia meninggal mendadak?”
”Bisa juga dikatakan begitu. Sebetulnya, keadaan
kesehatannya sudah beberapa tahun ini jelek. Tapi ia
selalu berhasil mengatasi serangan yang terberat sekali-
pun.”
”Saya dengar—maafkan saya, mengulangi gosip
yang saya dengar...” ujar Poirot sambil merentangkan
kedua lengannya lebar-lebar. ”Miss Arundell pernah
bertengkar dengan keluarganya?”
”Sebenarnya bukan bertengkar,” Dokter Grainger
berkata lambat-lambat. ”Setahu saya, tak pernah ada
pertengkaran yang terbuka.”
”Oh, maafkan saya kalau begitu.”
”Tidak apa-apa,” sahut Dokter Grainger. ”Gosip
toh milik umum.”
”Saya dengar ia mewariskan kekayaannya bukan
kepada keluarganya sendiri.”
”Benar. Semua hartanya dia wariskan kepada pe-
layan pribadinya, seorang perempuan tua yang selalu
ketakutan dan tak pernah tidak gugup. Aneh. Saya
115

pustaka-indo.blogspot.com
sendiri tidak bisa mengerti. Setahu saya, sifat Emily
tidak seperti itu.”
”Tapi mungkin itu bisa dimengerti,” ujar Poirot sam-
bil merenung. ”Miss Arundell sudah tua dan sakit-sa-
kitan. Ia sangat tergantung pada orang yang menolong
dan merawatnya sehari-hari. Kalau pelayan pribadinya
itu pandai, mudah sekali ia memengaruhinya.”
Kata-kata Poirot tepat mengenai sasarannya.
”Memengaruhi Emily Arundell? Bah! Tak mungkin!
Emily selalu memperlakukan Minnie Lawson tak le-
bih dari memperlakukan anjing. Lebih buruk lagi
malah. Tapi itu memang sifat wanita dari generasinya.
Bagaimanapun, tak bisa kita sangkal, bahwa umum-
nya, perempuan yang bekerja menjadi pelayan pribadi
itu bodoh. Kalau ia pintar, tentu bisa mencari mata
pencaharian lain yang lebih baik. Hampir tiap tahun
Emily berganti pelayan pribadi. Tapi ingat, Emily
Arundell bukan orang yang bisa dipengaruhi siapa
pun—terlebih oleh pelayan pribadinya.”
Poirot tidak menyia-nyiakan kesempatan.
”Mungkin ada surat atau dokumen keluarga yang
penting yang masih disimpan Miss Lawson?”
”Mungkin saja,” ujar Dokter Grainger. ”Perempuan
tua umumnya suka menyimpan barang-barang yang
punya kenangan. Saya pikir, Miss Lawson belum sem-
pat menyortir setengah dari barang-barang peninggalan
Emily.”
Poirot bangkit.
”Terima kasih banyak, Dokter Grainger. Anda baik
sekali.”
”Jangan berterima kasih kepada saya,” sahut si dok-
116

pustaka-indo.blogspot.com
ter. ”Maaf saya tidak bisa banyak membantu. Besar
kemungkinan Miss Peabody bisa memberi banyak ke-
terangan. Ia tinggal di Morton Manor, kira-kira satu
setengah kilometer dari sini.”
Poirot menghirup wangi bunga mawar yang meng-
hiasi meja Dokter Grainger.
”Hmmm, harum...” gumamnya.
”Memang. Kelihatannya begitu,” komentar Dokter
Grainger. ”Sayang indra penciumanku hilang beberapa
tahun lalu. Sekarang merokok tidak senikmat dulu
rasanya.”
”Oh,” ujar Poirot. ”Katanya Anda punya alamat
Mr. Arundell muda, Dokter?”
”Benar. Sebentar saya ambilkan,” ujar Dokter
Grainger sambil beranjak masuk dan mempersilakan
kami ke ruang tengah. Sesudah itu kudengar ia ber-
teriak, ”Donaldson!”
”Donaldson partner praktik saya. Dia pasti tahu
alamat mereka. Kebetulan dia bertunangan dengan
adik Charles, si heresa.”
Sekali lagi Dokter Grainger berseru, ”Donaldson!”
Seorang laki-laki muda muncul dari salah satu
ruangan yang terletak di bagian belakang rumah Dok-
ter Grainger. Perawakannya sedang. Wajahnya agak
pucat. Sikapnya agak terlalu sempurna.
Dokter Grainger menjelaskan maksud kedatangan
kami.
Mendengarnya, dokter muda itu menatap kami
dengan pandangan meneliti. Sinar kekaguman terpan-
car dari matanya yang biru jernih. Meskipun begitu,
suaranya datar ketika ia akhirnya berbicara.
117

pustaka-indo.blogspot.com
”Terus terang, saya tidak tahu di mana Charles.
Alamat heresa bisa saya berikan. Tapi saya ragu
heresa tahu di mana Charles.”
Poirot meyakinkannya bahwa alamat heresa pun
sudah cukup.
Dokter Donaldson menuliskan suatu alamat pada
buku notesnya. Setelah itu disobeknya lembaran yang
ia tulisi, dan diserahkannya kepada Poirot.
Poirot mengucapkan terima kasih dan mohon diri
kepada kedua dokter itu. Sewaktu kami berjalan ke-
luar dari halamannya, aku merasa Donaldson meng-
awasi kepergian kami—dengan pandangan agak ter-
kejut.

118

pustaka-indo.blogspot.com
10
Kunjungan
ke Rumah Miss Peabody

”PERLUKAH membual semacam itu, Poirot?” tanya-


ku.
Poirot mengangkat bahu.
”Berbohong jangan tanggung-tanggung... Mungkin,
buat orang sesuci kau agak susah ya, Hastings?! Buat-
ku biasa-biasa saja...”
”Itu jelas terlihat,” selaku.
”Maksudku, kalau toh kita terpaksa harus berbo-
hong—buatlah sekalian cerita yang menarik, romantis,
dan tentu saja yang meyakinkan!”
”Apa? Kaupikir bualanmu barusan meyakinkan?
Aku sangsi si Donaldson percaya.”
”Hm, laki-laki muda itu memang agak teliti,” kata
Poirot mengiyakan.
”Menurut penglihatanku, dia curiga,” tambahku.
”Apa alasannya dia mencurigai kita? Di dunia ini

119

pustaka-indo.blogspot.com
si dungu boleh saja menuliskan kisah hidup si dungu
lainnya. Itu sudah bukan hal aneh.”
”Oh, baru sekarang kudengar kau menyebut dirimu
dungu,” ucapku meringis.
”Eh, apa salahnya? Semua orang bisa berperan se-
bagai orang lain. Mengapa aku tidak?” sambut Poirot
dungu. ”Sayang kau menganggap iksiku barusan ku-
rang meyakinkan, Hastings. Terus terang, aku sendiri
cukup puas dengannya.”
”Apa yang akan kita perbuat sekarang?” tanyaku.
”Gampang sekali. Kita kembali ke Austin-mu, lalu
pergi ke Morton Manor.”
Morton Manor ternyata sebuah rumah peninggalan
dari zaman Victoria. Penampilannya buruk, tidak tera-
wat. Kami diterima oleh jongos. Laki-laki tua itu
tampak ragu-ragu. Ia menanyakan apakah kami sudah
punya janji untuk bertemu dengan majikannya.
”Katakan kepada Miss Peabody, bahwa kami datang
dari tempat Dokter Grainger,” ujar Poirot. Beberapa
saat kami menanti, dan keluarlah seorang perempuan
gemuk. Rambutnya tipis, terbelah rapi di tengah-te-
ngah. Gaun yang dikenakannya terbuat dari bahan
beledu warna hitam. Di sana-sini permukaannya tam-
pak sudah gundul. Selapis renda halus yang sangat
indah dilekatkan di sekeliling leher gaunnya dengan
menggunakan bros dari batu permata yang diukir.
Dia menghampiri kami dengan mengerjap-ngerjap-
kan mata. Rupanya, untuk memperjelas penglihatan-
nya. Kalimat pertama yang diucapkannya agak me-
ngejutkan, ”Jual barang, ya?”
”Tidak, Madame,” jawab Poirot.
120

pustaka-indo.blogspot.com
”Sungguh?”
”Tentu saja sungguh.”
”Bukannya jualan vakum?”
”Bukan.”
”Jualan stoking, mungkin?”
”Tidak.”
”Karpet?”
”Tidak.”
”Oh, baiklah,” ujar wanita itu akhirnya, sambil
mendudukkan diri di kursi. ”Silakan duduk.”
Perintahnya dengan patuh kami turuti.
”Maafkan saya bertanya-tanya begitu.” Tampaknya
ia merasa agak bersalah. ”Saya harus berhati-hati. Pe-
layan sering tidak bisa membedakan. Tapi, yah... me-
reka juga tidak bisa disalahkan. Suara sopan, baju
bagus, nama mentereng... Mana mereka bisa mem-
bedakan? Komandan Ridgeway. Mr. Scot Edgerton.
Kapten D’Arcy Fitzherbert. Wajah-wajah sopan dan
memesona. Tapi, belum sempat saya tahu siapa dia,
tahu-tahu dia sudah mendemonstrasikan mesin pem-
buat krim lah, ini lah, itu lah...”
Penuh perhatian, dan dengan sangat sopan, Poirot
berkata, ”Percayalah, Madame—maksud kedatangan
kami sama sekali bukan seperti itu.”
”Yah... yang penting Anda tahu ada orang-orang
yang begitu,” ujar Miss Peabody.
Poirot memulai kisahnya.
Miss Peabody mendengarkan tanpa komentar. Se-
bentar-sebentar matanya yang kecil itu berkedip-
kedip. Setelah selesai kisah Poirot, ia berkata, ”Mau
menulis buku, ya?”
121

pustaka-indo.blogspot.com
”Ya.”
”Bahasa Inggris?”
”Tentu.”
”Tapi, Anda orang asing, kan? Oh—ayolah, terus
terang saja! Anda orang asing, kan?”
”Benar.”
Wanita itu kini mengamati diriku.
”Anda sekretarisnya?”
”Ee—ya,” jawabku ragu-ragu.
”Bisa menulis dengan bahasa Inggris bagus?”
”Mudah-mudahan.”
”Hmm—di mana sekolahnya dulu?”
”Eton.”
”Hmm—kalau begitu tak mungkin bisa berbahasa
Inggris benar.”
Terpaksa aku tidak mengomentari penghinaannya,
karena wanita itu sudah berpaling kembali kepada
Poirot.
”Mau menulis kisah hidup Jenderal Arundell,
ya?”
”Benar. Anda mengenal beliau?”
”Ya. Saya kenal John Arundell. Pemabuk orang
itu!”
Sejenak suasana hening. Kemudian Miss Peabody
melanjutkan. Suaranya riang.
”Indian Mutiny, ya? Apa perlunya diungkit-ungkit?
...Yah, itu urusan Anda sendiri.”
”Tahukah Anda, Madame, ada musimnya orang
menyorot babak tertentu sejarah? Saat ini India se-
dang menjadi topiknya.”
”Ada benarnya yang Anda bilang itu. Segala se-
122

pustaka-indo.blogspot.com
suatu memang hilang-timbul—hilang-timbul. Ambil
contoh model baju. Yang dulu sekali pernah jadi mo-
del kegemaran orang, sekarang digemari lagi, setelah
tak pernah kedengaran kabarnya selama bertahun-ta-
hun.” Miss Peabody berhenti bicara. Ditatapnya
Poirot lekat-lekat. ”Nah, apa yang ingin Anda tanya-
kan?”
”Apa saja! Sejarah keluarga. Gosip. Kehidupan ru-
mah tangga... Semua yang Anda ketahui tentang ke-
luarga Arundell.”
”Soal India, saya tak pernah tahu,” ujar Miss Pea-
body. ”Terus terang, saya kurang tertarik mendengar-
kan ceritanya mengenai India. Membosankan! Jenderal
Arundell itu bodoh sebenarnya. Tapi bukan berarti ia
bukan jenderal yang baik. Memang kerap saya dengar,
kepandaian tak banyak artinya dalam kemiliteran.
Ayah saya bilang begini, ’Mau naik pangkat? Cukup
dengarkan segala yang dikatakan istri kolonel—dan
patuhi perintah atasan. Itu sudah cukup!’”
Tak punya maksud meremehkan teorinya itu,
Poirot berdiam diri dulu sebelum berkata, ”Anda ke-
nal akrab Keluarga Arundell, bukan?”
”Yah—saya kenal mereka semua,” jawab Miss
Peabody. ”Matilda. Ia anak sulung Jenderal Arundell.
Orangnya menarik sekali. Sering mengajar di Sekolah
Minggu. Lalu Emily—dia anggun sekali ketika duduk
di punggung kuda. Dia satu-satunya yang bisa me-
layani ayahnya saat sedang kumat. Bergerobak-gerobak
botol kosong dikeluarkan dari rumah itu dan dikubur
pada malam hari. Lalu—siapa berikutnya? Tunggu...
Arabella, atau homas? homas, saya pikir. Kasihan
123

pustaka-indo.blogspot.com
anak laki-laki itu. Sendirian di antara empat saudara
perempuan. Jadinya ia tolol. Sifatnya malah seperti
perempuan tua. Tak disangka dia bisa kawin. Kaget
waktu dengar dia kawin.”
Miss Peabody berdecak.
Kelihatan sekali ia senang bercerita seperti itu. Ia
hampir lupa bahwa kami ada di situ mendengarkan
ceritanya. Ia benar-benar terbuai dan terseret kembali
ke zaman mudanya dulu.
”Lalu Arabella. Sederhana. Mirip kue bantat. Meski-
pun begitu ia juga kawin. Suaminya profesor di Cam-
bridge. Sudah agak tua. Enam puluhan, kalau tak sa-
lah, waktu mereka kawin. Pernah memberi kuliah di
sini—kalau tak salah, mengenai keajaiban kimia mo-
dern. Saya selalu mendengarkan kuliahnya. Saya ingat
benar. Bicaranya tak jelas. Berewokan. Hampir tak
sepatah kata pun bisa saya tangkap. Arabella selalu
duduk di belakang. Dia sering bertanya. Waktu itu
Arabella sudah cukup tua juga. Tiga puluhan, kalau
tak salah. Mereka sudah meninggal dua-duanya. Per-
kawinan mereka kelihatannya cukup bahagia. Orang
bilang, mengawini gadis yang sederhana itu ada un-
tungnya: langsung tahu kejelekannya, dan umumnya
tak suka mengkhayal. Setelah itu Agnes. Dia yang
bungsu. Paling cantik di antara saudara-saudaranya.
Orangnya periang. Aneh, tak juga dapat jodoh. Pada-
hal orang mengira dialah yang akan laku paling cepat.
Nyatanya, dia malah tak pernah kawin sama sekali.
Dia meninggal tidak lama setelah perang selesai.”
Poirot bergumam, ”Anda bilang, Madame—per-
kawinan Mr. homas tidak terduga?”
124

pustaka-indo.blogspot.com
Sekali lagi terdengar wanita itu berdecak.
”Tak terduga. Begitu memang! Skandal sembilan
puluh hari! Tak sangka homas bisa begitu. Orangnya
pendiam, patuh, betah tinggal di rumah, dan sayang
pada saudara!”
Sejenak Miss Peabody diam.
”Ingat cerita yang menghebohkan sekitar tahun
1900-an? Tentang seorang perempuan—Mrs. Varley.
Dia dituduh membunuh suaminya, meracuni dengan
arsenik—kalau aku tak salah. Sempat disidangkan.
Tapi akhirnya ia dibebaskan dari tuduhan itu. Nah—
si homas ini begitu tergila-gila pada perempuan itu.
Semua majalah dan surat kabar yang memuat berita
mengenai perempuan itu dibacanya. Bukan itu saja.
Ia juga mengguntingi foto-foto wanita itu dan me-
nyimpannya. Tahu apa yang dilakukan homas setelah
wanita itu dibebaskan? Dia pergi ke London—me-
lamarnya. homas, si pendiam itu... Oh, orang tak
sangka. Tapi laki-laki memang begitu—susah dira-
mal!”
”Apa yang terjadi setelahnya?”
”Perempuan itu menerima lamarannya, dan mereka
kawin.”
”Bagaimana saudara-saudaranya? Tentunya mereka
sangat kaget?”
”Tentu saja. Dan mereka tidak mau menerima pe-
rempuan itu. homas sangat terpukul. Dia kemudian
meninggalkan Market Basing. Kabarnya, dia lalu me-
netap di Kepulauan Channel. Sejak itu tak pernah lagi
kedengaran beritanya. Orang tak pernah tahu apakah
perempuan itu benar membunuh suami pertamanya.
125

pustaka-indo.blogspot.com
Yang jelas, homas tidak dibunuhnya. homas mening-
gal tiga tahun setelah istrinya meninggal. Mereka pu-
nya dua anak: laki-laki dan perempuan. Pasangan yang
cantik sekali—seperti ibunya.”
”Apakah mereka sering menjenguk bibinya?”
”Setelah orangtuanya meninggal, ya. Sebelum itu
mereka masih sekolah. Sementara itu, Emily sudah
hidup sendirian di sini. Kedua anak itu dan Bella me-
rupakan sisa-sisa keturunan keluarganya yang masih
ada.”
”Bella?”
”Ya. Bella Biggs. Anak Arabella. Agak pandir anak
itu. Lebih tua beberapa tahun daripada heresa. Ia
kawin dengan orang asing yang ditemuinya di kam-
pus. Orang Yunani. Dokter. Jelek rupanya, tapi sikap-
nya cukup menyenangkan. Kasihan sebenarnya si
Bella itu. Kurang mendapat kesempatan mengenal
anak muda lainnya. Ia terlalu sibuk membantu ayah-
nya di laboratorium, dan juga merawat ibunya. Orang
asing itu satu-satunya pria yang pernah menarik per-
hatiannya...”
”Bahagiakah perkawinan mereka?”
”Kelihatannya cukup bahagia. Mereka punya dua
anak. Tinggal di Smyrna sekarang.”
”Tapi, saya dengar, mereka sedang berada di Inggris
pada saat ini.”
”Ya. Mereka datang bulan Maret lalu. Saya pikir
tak akan lama lagi mereka tinggal di sini.”
”Apakah Miss Emily Arundell menyayanginya?”
”Bella? Oh—biasa-biasa saja. Bella bukan perem-
126

pustaka-indo.blogspot.com
puan yang gemerlap. Semua perhatiannya dicurahkan
kepada anak-anaknya dan rumah tangganya.”
”Apakah Miss Emily Arundell menyetujui perka-
winan mereka?”
Miss Peabody berdecak.
”Sebetulnya Emily tidak setuju. Tapi saya pikir,
akhirnya ia agak menyukai juga bajingan itu. Pintar
orangnya. Dan perlakuannya terhadap Emily sangat
manis. Mata duitan, itu jelas.”
Poirot berdeham.
”Saya dengar Miss Arundell sangat kaya ketika me-
ninggal.”
Miss Peabody mempernyaman posisi duduknya.
”Itulah yang jadi masalah! Orang tak sangka dia
sekaya itu. Begini ceritanya. Jenderal Arundell mening-
galkan warisan yang menghasilkan pendapatan bu-
lanan yang lumayan bagi anak-anaknya. Sebagian
penghasilan yang didapat ditanamkan kembali. Pena-
naman ini boleh dibilang berhasil. Mereka punya sa-
ham di Mortland. Waktu kawin, homas dan Arabella
sudah mengambil bagian mereka. Tapi tiga yang lain-
nya tetap di sini. Hidup mereka sederhana. Saya pikir,
sepersepuluh penghasilan mereka pun tak habis me-
reka makan setiap bulannya. Selebihnya, mereka ta-
namkan kembali. Waktu Matilda meninggal, bagian-
nya dibagi dua untuk Emily dan Agnes. Dan waktu
Agnes meninggal, semuanya jadi milik Emily. Emily
meneruskan pola hidupnya yang sederhana. Sebagian
besar penghasilannya ia tanamkan kembali. Begitu
seterusnya. Alhasil... ia meninggal sebagai wanita yang
kaya raya; dan si Lawson mewarisi semuanya itu!”
127

pustaka-indo.blogspot.com
Miss Peabody mengucapkan kalimat terakhir itu
begitu rupa, seolah menunjukkan bahwa itulah kli-
maksnya.
”Apakah Anda juga terkejut mengetahuinya, Miss
Peabody?”
”Terus terang, ya. Emily selalu mengatakan bila ia
meninggal kekayaannya akan dibagi tiga untuk ketiga
kemenakannya—tentu saja setelah dikurangi dulu se-
bagai balas jasa kepada pembantu-pembantu setianya.
Surat wasiatnya yang mula-mula memang begitu isi-
nya. Hmmm—wajar saja bila terjadi kehebohan se-
waktu surat wasiatnya dibacakan, dan ternyata Lawson
yang menjadi ahli waris tunggalnya.”
”Apakah surat wasiatnya itu belum lama dibuat-
nya?”
Miss Peabody menatap tajam wajah Poirot.
”Maksud Anda—Emily dipengaruhi orang? Begitu?
Tidak mungkin! Dan lagi, Lawson bukan orangnya.
Dia perempuan bodoh. Tak mungkin berani coba-
coba ke arah situ. Terus terang, dia sendiri kaget se-
kali mengetahui isi surat wasiat Emily—begitu kata-
nya.”
Poirot tersenyum mendengar embel-embel itu.
”Surat wasiat itu dibuat sepuluh hari sebelum
Emily meninggal,” lanjut Miss Peabody. ”Pengacaranya
mengatakan semuanya sah! Yah, mungkin saja!”
”Maksud Anda?” Poirot beringsut. Wajahnya se-
rius.
”Permainan bawah tangan, begitu menurut saya,”
ujar Miss Peabody. ”Pokoknya, lihat saja. Pasti ada
yang tidak benar.”
128

pustaka-indo.blogspot.com
”Anda tahu pasti?”
”Yah, saya tak tahu. Mana saya tahu di mana letak
permainannya. Saya bukan orang hukum. Tapi ada
yang aneh dalam kasus ini. Percayalah!”
Perlahan-lahan Poirot berkata, ”Apakah sudah di-
coba menggugat isi surat wasiat itu?”
”Kelihatannya heresa sudah menghubungi penga-
cara. Tapi, sembilan dari sepuluh pengacara dapat di-
pastikan menganjurkan jangan! Saya sendiri pernah
begitu. Lima penasihat hukum mengatakan ’jangan’,
tapi saya toh tetap maju, dan buktinya saya me-
nang!”
Miss Peabody berdecak. Wajahnya berseri-seri.
”Tentunya timbul perasaan tak enak antara Miss
Lawson dan kemenakan Miss Arundell?”
”Mau apa lagi. Manusia ya begitu itu. Anda toh
sudah tahu sendiri. Kematian selalu menimbulkan
perselisihan...”
Poirot menghela napas panjang.
”Benar, Madame.”
”Begitulah manusia.”
Poirot beralih pada pokok pembicaraan yang lain.
”Benarkah Miss Arundell pengikut aliran spiri-
tual?”
Sekali lagi, Miss Peabody menatap Poirot lekat-le-
kat.
”Kalau Anda berpikir arwah almarhum Jenderal
Arundell datang menyuruh Emily mengubah surat
wasiatnya supaya semua kekayaannya jatuh ke si
Lawson, lalu Emily menurutinya, Anda salah besar!”
ujar Miss Peabody. ”Emily bukan orang bodoh. Ia
129

pustaka-indo.blogspot.com
menganggap spiritualisme sedikit lebih menarik diban-
dingkan dengan permainan kartu. Cuma itu. Sudah
ketemu Miss Tripp?”
”Belum.”
”Kalau ketemu mereka, Anda akan tahu di mana
letak kebodohannya. Menjengkelkan sekali. Kerjanya
menyampai-nyampaikan pesan dari orang mati. Isi
pesannya tak pernah masuk akal. Mereka begitu per-
caya. Minnie Lawson juga. Yah... bagi saya, kegiatan
macam itu tak lebih dari pengisi waktu senggang
saja.”
Poirot mencoba mengalihkan ke pokok pembicaraan
yang lain lagi.
”Mungkin Anda kenal dengan Charles Arundell?
Bagaimana dia?”
”Tidak bagus! Menarik memang. Tak pernah tak
bangkrut. Utang dibikinnya di mana-mana. Dia pan-
dai mendekati perempuan. Saya kenal banyak laki-laki
semacamnya! Jadi saya tahu! Lucu, homas bisa pu-
nya anak seperti itu. Betul-betul berlawanan. Entah
siapa yang menurunkan sifat jelek seperti itu! Meski-
pun begitu, saya suka pada bajingan itu. Suka, tapi
saya tak keberatan mengemukakan pendapat mengenai
anak itu: ia tega membunuh neneknya sendiri demi
uang sepeser. Tak punya moral anak itu. Saya tak me-
ngerti, bagaimana orang bisa dilahirkan tanpa moral
begitu...”
”Dan adiknya?”
”heresa?” Miss Peabody menggeleng-geleng. Per-
lahan ia berkata, ”Saya tidak tahu. Orangnya sangat
eksotis. Tidak seperti orang biasa. Bertunangan de-
130

pustaka-indo.blogspot.com
ngan Dokter Donaldson, saya dengar. Huh, laki-laki
pendiam dan sentimental... Mmm, sudah ketemu
Donaldson?”
”Dokter Donaldson, maksud Anda?”
”Betul. Orang bilang dia dokter yang pandai. Mes-
kipun begitu saya tak akan pilih laki-laki macam dia
kalau saya jadi heresa. Tapi heresa sudah dewasa.
Ia harus tahu pikiran dan keinginannya sendiri. Saya
yakin ia sudah berpengalaman.”
”Pernahkah Dokter Donaldson merawat Miss
Arundell?”
”Kadang-kadang, kalau Dokter Grainger cuti.”
”Dan pada waktu sakitnya yang terakhir?”
”Saya rasa tak pernah.”
Sambil tersenyum Poirot berkata, ”Kelihatannya,
Miss Peabody, Anda ragu akan kepandaian dokter
muda itu?”
”Saya tak pernah bilang begitu. Dugaan Anda sa-
lah! Lelaki itu cerdas dan pandai. Cuma kebetulan
saja caranya mengobati orang berbeda dari cara yang
baik, menurut saya. Kita ambil contoh. Dulu, kalau
anak kecil kebanyakan makan apel hijau dan mabuk,
dokter akan mengatakan anak itu memang mabuk
apel hijau. Dokter itu akan memberinya obat. Nah,
dokter sekarang lain. Ia tak akan menyebut si anak
mabuk apel hijau. Yang dia katakan, si anak men-
derita gejala acidosis—dietnya mesti diperhatikan. Si
anak diberi obat, pil putih kecil-kecil yang halus
buatannya tapi harganya tiga kali lipat harga pil yang
sama dengan yang diberikan si dokter tua. Banyak
ibu muda lebih menyukai dokter yang begitu. Kede-
131

pustaka-indo.blogspot.com
ngarannya lebih mengenakkan. Tapi, laki-laki muda
itu tak akan lama lagi tinggal di sini. Cita-citanya
pergi ke London. Mengambil spesialisasi.”
”Tahukah Anda, bidang spesialisasi mana yang di-
minatinya?”
”Pengobatan Serum, kalau saya tak salah. Maksud-
nya begini: menyelidiki zat-zat apa saja yang bisa di-
suntikkan ke tubuh orang sehat supaya orang itu ke-
bal terhadap penyakit tertentu. Saya sendiri belum
pernah mencobanya.”
”Apakah Dokter Donaldson sedang melakukan
eksperimen untuk jenis penyakit tertentu sekarang
ini?”
”Jangan tanya saya. Saya cuma tahu dia merasa ku-
rang bila cuma jadi dokter praktik umum. Dia ingin
mengembangkan kariernya di London. Tapi untuk itu
ia perlu uang. Padahal dia miskin sekali.”
Poirot bergumam, ”Sayang sekali. Memang banyak
terjadi kepandaian tidak bisa dikembangkan cuma
gara-gara tidak tersedianya biaya. Padahal, ada orang
yang tak habis memakan sepersepuluh penghasilan-
nya.”
”Seperti Emily Arundell,” komentar Miss Peabody.
”Orang terkejut waktu surat wasiatnya dibacakan. Bu-
kan cuma karena tahu siapa ahli warisnya. Tapi, juga
karena tahu jumlahnya yang sebegitu banyak.”
”Menurut Anda, apakah keluarga Miss Arundell
sendiri terkejut mengetahui besarnya warisan itu?”
”Itulah,” ujar Miss Peabody. Matanya bersinar-sinar.
”Saya tak bisa bilang ya atau tidak. Tapi, menurut saya,
salah satu di antara mereka pasti bisa mengira-ngira.”
132

pustaka-indo.blogspot.com
”Yang mana?”
”Mr. Charles, tentu saja. Dia pasti sudah membuat
perhitungan sendiri. Ingat, Charles tidak bodoh.”
”Tidak bodoh, cuma agak liar?”
”Yang jelas tidak membosankan macam si Donald-
son.”
Sejenak wanita itu diam. Lalu bertanya, ”Anda
mau menemuinya?”
”Itu memang maksud saya,” jawab Poirot kalem.
”Saya pikir, mungkin dia masih menyimpan surat-su-
rat mengenai kakeknya...”
”Hmm, lebih besar kemungkinannya anak muda
itu sudah membakarnya. Charles sama sekali tak pu-
nya rasa hormat terhadap generasi tuanya.”
”Yah, tak ada salahnya dicoba,” komentar Poirot.
”Orang harus mencoba semua jalan yang mungkin
ditempuh.”
”Memang,” ujar Miss Peabody datar.
Kerling mata perempuan itu rupanya membuat
Poirot merasa tidak enak. Ia bangkit.
”Saya tak akan menyita waktu Anda lebih lama
lagi, Madame. Terima kasih banyak atas informasi
yang telah Anda berikan.”
”Rasanya saya sudah memberikan informasi seleng-
kapnya, meskipun agak terlalu menyimpang dari
Indian Mutiny, ya?
”Beri kabar kalau bukunya sudah terbit,” pesannya
sebelum kami meninggalkannya. Setelah itu kudengar
jelas decak perempuan itu. Decak khas wanita zaman
Victoria yang angkuh.

133

pustaka-indo.blogspot.com
11
Berkunjung
ke Gubuk Miss Tripp

”SEKARANG,” ucap Poirot ketika kami masuk ke mo-


bil, ”apa yang akan kita lakukan?”
Mengingat pengalaman sebelumnya, aku tidak lagi
mengusulkan pulang ke London. Sebaliknya, aku
mengusulkan agar kami mencari kafe, dan minum teh
sebentar.
Poirot menggerutu.
”Dasar orang Inggris. Tak hidup kalau tak ada teh!
Tidak, mon ami. Bukan waktunya. Belum. Ini sudah
jam setengah enam. Beberapa hari lalu aku membaca
buku etika. Katanya, bertamu tak boleh melebihi jam
enam sore. Kita masih punya setengah jam sekarang.
Sebaiknya kita selesaikan dulu tugas kita.”
”Bukan main!” komentarku. ”Dan, siapa kali ini
yang akan kita kunjungi?”
”Les demoiselles—Nona-nona—Tripp.”

134

pustaka-indo.blogspot.com
”Alasanmu sekarang tetap sebagai penulis kisah hi-
dup Jenderal Arundell? Atau ganti menjadi penulis
tentang spiritualisme?”
”Jauh lebih sederhana dari yang kauduga, Kawan.
Tapi kita mesti cari informasi dulu di mana alamat
mereka.”
Tak banyak kesulitan yang kami hadapi mencarinya.
Tempat tinggal kakak-beradik Tripp ternyata sebuah
gubuk mungil yang sangat unik. Begitu unik dan
kuno sampai kupikir tinggal menunggu waktu roboh-
nya saja.
Seorang anak berusia tiga belas atau empat belasan
membukakan pintu. Dengan susah payah ia minggir
merapatkan diri ke dinding memberi jalan kami ma-
suk.
Bagian dalam gubuk itu terbuat dari kayu jati tua.
Sebuah perapian tua tampak mendominasi ruangan
yang sempit itu. Jendelanya kecil sekali. Perabotannya
dibuat sangat sederhana, sekadar bisa dipergunakan.
Tampak buah-buahan tersusun pada beberapa mang-
kuk buah. Sementara itu, di sana-sini tergantung
potret dua perempuan dalam berbagai pose. Ada yang
sedang mendekap seikat bunga, ada yang sedang me-
makai topi lebar.
Anak yang menerima kedatangan kami menggu-
mamkan sesuatu ketika meninggalkan ruang tamu.
Namun, tak lama kemudian terdengar suaranya cukup
nyaring di loteng.
”Ada tamu, Miss!”
Terdengar suara perempuan berbicara, dan dengan
135

pustaka-indo.blogspot.com
diiringi bunyi gemeresik dan gemerincing, seorang
wanita terlihat turun.
Usianya sudah mendekati lima puluhan. Rambut-
nya dibelah di tengah model Madonna. Matanya co-
kelat dan agak cekung. Gaunnya dari bahan muslin
bercorak ramai.
Poirot melangkah mendekatinya, dan dengan lancar
mulai berbicara.
”Maafkan saya mengganggu Anda, Mademoiselle.
Saya datang ke Market Basing ini mencari teman
saya. Tapi rupanya ia sudah pindah. Saya tanya orang
di jalan. Katanya Anda pasti bisa memberikan alamat-
nya.”
”Oh. Siapa teman Anda itu?”
”Miss Lawson.”
”Ooo... Minnie Lawson? Tentu saja saya tahu ala-
matnya. Dia teman baik kami. Silakan duduk,
Mr....”
”Parotti, nama saya. Dan ini kawan saya, Kapten
Hastings.”
Miss Tripp mengangguk kepadaku, lalu menyibuk-
kan diri.
”Silakan duduk di sini. Saya lebih suka kursi ber-
sandaran tegak. Sudah nyaman duduknya? Oh,
Minnie Lawson... Oh, ini dia adik saya.”
Terdengar lagi bunyi gemeresik dan gemerincing
ketika di tangga terlihat seorang wanita lain turun.
Gaunnya berwarna hijau cerah, lebih cocok dikenakan
remaja belasan tahun.
”Adik saya—Isabel. Isabel, ini Mr.—eh, Parrot, dan
temannya, Kapten Hawkins.” Perempuan yang per-
136

pustaka-indo.blogspot.com
tama tadi memperkenalkan. ”Tahukah kau, Isabel?”
tambahnya. ”Tuan-tuan ini ternyata teman Minnie
Lawson.”
Miss Isabel Tripp tidak semontok kakaknya. Perem-
puan yang satu ini malah bisa dikatakan kurus. Ram-
butnya berwarna terang dan kelihatannya dikeriting.
Sikapnya agak kekanak-kanakan, dan dengan mudah
bisa dikenali sebagai model foto-foto gadis yang ber-
pose membawa bunga. Ia bertepuk tangan kegirangan
seperti anak kecil.
”Oh, Minnie Lawson? Anda ketemu dia baru-baru
ini? Bagaimana kabarnya?”
”Sudah bertahun-tahun saya tak jumpa dengannya,”
ujar Poirot. ”Kami sama-sama kehilangan jejak. Saya
baru pulang dari perjalanan jauh. Itulah sebabnya saya
sangat terkejut dan girang bukan buatan mendengar
nasib baik yang dialaminya.”
”Benar. Minnie memang berhak mendapat rezeki.
Minnie—oh, orangnya—oh, jarang ada orang seperti
dia. Sederhana... tulus...”
”Julia,” seru Isabel tiba-tiba.
”Ada apa?”
”Bukan main. Ingatkah kau huruf P yang semalam
kita lihat di papan jelangkung kita? Tamu dari se-
berang... dan initialnya P.”
”Oh, ya... betul,” jawab Julia.
Kedua perempuan itu memandangi Poirot seperti
tidak percaya.
”Sama sekali tidak pernah salah,” kata Julia lembut.
”Apakah Anda juga tertarik pada keajaiban ini, Mr.
Parrot?”
137

pustaka-indo.blogspot.com
”Pengalaman saya masih sedikit, Mademoiselle.
Tapi seperti orang lain yang pernah tinggal di negara-
negara di Timur sana, saya pun mengakui adanya
hal-hal yang tak dapat dijelaskan di alam ini.”
”Benar,” ujar Julia. ”Tepat sekali.”
”Hmmm... Negeri Timur,” gumam Isabel. ”Daerah
asal mistis dan okultis.”
Perjalanan Poirot ke Timur, setahuku, cuma sampai
ke Siria dan dilanjutkan ke Irak. Lamanya tidak lebih
dari seminggu atau dua minggu. Mendengar kata-kata-
nya barusan, aku yakin orang mengira ia sudah ber-
tahun-tahun hidup mengembara di hutan belantara
bersama sesama pengikut aliran mistis.
Dari pengamatanku selama duduk di situ, dapat
kupastikan kedua tuan rumah kami itu vegetarian.
Mereka juga penganut teosoi, suka mempelajari ber-
bagai bangsa: Inggris, Israel, serta mempelajari ajaran
Kristen, spiritual. Mereka juga fotografer amatir keli-
hatannya.
”Kadang-kadang orang merasa,” kata Julia sambil
mendesah, ”Market Basing ini bukan tempat yang
ideal buat hidup. Tak punya keindahan, dan tak pu-
nya jiwa. Bukankah setiap manusia memerlukan jiwa
buat bisa hidup, Kapten Hawkins?”
”Ya,” sahutku malu-malu. ”Itu memang benar.”
”Tak punya imajinasi, orang akan mati,” kutip
Isabel. ”Sering saya berusaha untuk mendiskusikannya
dengan Pendeta. Tapi pandangan beliau rasanya ter-
lalu sempit. Bagaimana pandangan Anda, Mr. Parrot?
Bukankah setiap kepercayaan itu membuat orang cen-
derung berpikir sempit?”
138

pustaka-indo.blogspot.com
”Padahal segala sesuatu itu sesungguhnya sangat
sederhana,” sela Julia. ”Semua orang pada dasarnya
sudah tahu, segala sesuatu itu tak lain dari kebaha-
giaan dan cinta kasih.”
”Benar, benar!” ujar Poirot. ”Sayangnya, manusia
masih sering berselisih paham dan bertengkar, lebih-
lebih kalau berurusan dengan uang.”
”Uang itu kotor,” cela Julia.
”Miss Arundell almarhum juga pengikut aliran
Anda?”
Kedua kakak-beradik itu saling pandang.
”Saya tidak tahu,” jawab Isabel.
”Terus terang, kami tak pernah yakin akan hal itu,”
sambung Julia. ”Kadang-kadang kelihatannya dia per-
caya... tapi kata-katanya selalu mencemooh, meremeh-
kan.”
”Ah, tapi ingatkah kau saat terakhir itu? Benar-be-
nar menakjubkan.” Sambil berpaling kepada Poirot,
Isabel melanjutkan. ”Malam itu malam pertama Miss
Arundell jatuh sakit. Kami sedang berkunjung ke Puri
Hijau, dan duduk-duduk di ruang gelap bersama-
sama. Kami berempat waktu itu: Miss Arundell,
Minnie Lawson, dan kami berdua. Kami—maksud
saya Minnie dan kami berdua—menyaksikan peman-
dangan yang sangat menakjubkan. Di atas kepala
Miss Arundell tampak kepulan asap berwarna terang
membentuk semacam lingkaran suci.”
”Bercahaya?”
”Yah... asapnya memang seperti bercahaya, kan?”
tanya Julia kepada Isabel.
”Benar! Tepat! Perlahan-lahan... sedikit demi sedi-
139

pustaka-indo.blogspot.com
kit... asap itu mengepul di atas kepala Miss Arundell.
Itu pertanda bahwa ia akan pindah ke alam yang
lain.”
”Bukan main,” ujar Poirot dengan nada kagum.
”Jadi ketika itu Anda sedang duduk-duduk di ruang
gelap, kan?”
”Ya. Jelangkung kami hasilnya lebih bagus kalau
dibuat di tempat gelap. Malam itu udara hangat. Jadi
perapian pun tidak dinyalakan.”
”Ada roh yang datang dan berbicara kepada kami
waktu itu,” lanjut Isabel.
”Namanya Fatima. Katanya, ia mati pada zaman
para nabi. Pesannya indah sekali.”
”Roh itu benar-benar berbicara?”
”Tidak dengan mulut seperti kita. Bicaranya me-
lalui ketukan-ketukan. Cinta, harapan, hidup—Oh,
semua pesannya itu begitu indah.”
”Miss Arundell betul-betul sakit sesudahnya?” tanya
Poirot.
”Ya. Sesudahnya. Saya ingat, waktu itu dihidangkan
anggur dan kue-kue. Miss Arundell tak mau makan
apa-apa. Katanya tidak enak badan. Itu memang per-
mulaan sakitnya. Untunglah, ia tidak terlalu lama
menderita.”
”Ya. Miss Arundell meninggal empat hari setelah-
nya,” sambung Isabel.
”Malahan sudah ada pesan-pesannya yang disampai-
kan kepada kami,” kata Julia bersemangat. ”Katanya
ia sangat berbahagia. Semuanya indah, dan harapan-
nya—damai menyertai orang-orang yang dicintai-
nya.”
140

pustaka-indo.blogspot.com
Poirot berdeham.
”Padahal—eh, yang terjadi justru sebaliknya,
kan?”
”Kemenakannya memperlakukan Minnie keterlaluan
sekali. Kasihan Minnie,” komentar Isabel. Wajahnya
merah padam menunjukkan perasaan marahnya.
”Padahal Minnie baik, tidak materialistis sama se-
kali,” tambah Julia. ”Banyak orang yang menuduhnya
sembarangan. Katanya Minnie sengaja mendalangi
permainan kotor itu, hingga Miss Arundell terpaksa
mewariskan semua kekayaannya kepadanya.”
”Padahal dia sendiri terkejut...”
”Ia tidak percaya waktu surat wasiat itu dibacakan
penasihat hukum Miss Arundell...”
”Ia sendiri berkata kepada kami. ’Julia,’ katanya,
’aku benar-benar tak bisa percaya. Bayangkan, semua-
nya diwariskan kepadaku setelah dipotong sedikit
untuk dibagi-bagikan kepada para pelayan setianya.’
Minnie sangat terharu. Ia hampir-hampir tak kuasa
bicara. Setelah beberapa saat ia baru bisa bertanya,
berapa jumlah warisan yang diberikan kepadanya. Di-
pikirnya cuma beberapa ribu pound. Ternyata 375.000
pound. Begitu kata penasihat hukum Miss Arundell
setelah menjelaskan panjang-lebar dari mana asal se-
mua uang itu. Minnie hampir saja pingsan, begitu
katanya.”
”Ia sama sekali tidak pernah membayangkan,” cetus
Isabel. ”Ia tidak pernah berpikir nasib semacam itu
akan dialaminya.”
”Jadi begitu ceritanya kepada Anda?”
”Ya. Ia berulang-ulang menceritakan pengalamannya
141

pustaka-indo.blogspot.com
itu. Makanya, menurut saya sungguh tak patut
Arundell-Arundell muda itu bersikap seperti itu ke-
pada Minnie. Menuduh, mencurigai... Ini kan negara
merdeka...”
Poirot menggumamkan sesuatu.
”Orang toh bebas mewariskan uangnya kepada
siapa saja yang disukainya?! Miss Arundell memang
sangat bijaksana. Kelihatan sekali wanita tua itu tidak
percaya kepada keluarganya sendiri. Dan itu ber-
alasan.”
”Ah,” kata Poirot penuh antusias. ”Benarkah begi-
tu?”
Perhatiannya yang serius itu mendorong Isabel le-
bih bergairah mengisahkan ceritanya.
”Tentu saja benar. Mr. Charles Arundell—dia keme-
nakan Miss Arundell—betul-betul tidak terpuji ting-
kahnya. Semua orang tahu itu. Kalau tak salah, ia
malah dikejar-kejar polisi di negara asing. Sifatnya tak
bisa dibanggakan. Adiknya... yah, terus terang saya
belum pernah bicara sendiri dengan gadis itu. Tapi
rupanya aneh, Sir. Aneh sekali. Dia gadis ultra-
modern. Make-up-nya selalu tebal. Melihat warna bi-
birnya, saya jadi mual rasanya. Merah—seperti darah
segar. Saya pikir gadis itu sudah kena pengaruh ganja
pula... sikapnya tidak wajar. Dengar-dengar, ia ber-
tunangan dengan dokter muda, Donaldson. Tapi
Donaldson pun rupanya sering jijik melihatnya. Me-
mang dia menarik. Tapi... oh, mudah-mudahan dok-
ter muda itu cepat sadar. Donaldson seharusnya men-
dapat istri baik-baik. Gadis desa yang patuh dan
menyukai alam.”
142

pustaka-indo.blogspot.com
”Adakah sanak keluarga Miss Arundell yang lain
lagi?”
”Yang satu ini juga, Sir—kurang bisa dibanggakan.
Bukannya saya menjelek- jelekkan Mrs. Tanios. Oh,
orangnya memang sangat baik. Tapi bodohnya minta
ampun. Ia betul-betul dikuasai suaminya. Suaminya
orang Turki, kalau tak salah. Sangat memalukan, gadis
Inggris kawin dengan orang Turki. Kelihatan rendah
sekali. Mrs. Tanios seorang ibu yang sangat baik, wa-
laupun rupa anak-anaknya kurang menarik.”
”Jadi, dengan kata lain, Miss Lawson-lah yang pa-
ling pantas menerima warisan itu?”
Dengan tulus Julia menyahut, ”Minnie Lawson
benar-benar baik. Sedikit pun ia tidak materialistis.
Masalah uang sama sekali tidak pernah dipikirkannya.
Hal-hal semacam itu sangat jauh dari pikirannya.”
”Meskipun begitu, tak pernah terpikir olehnya un-
tuk menolak warisan itu?”
Isabel terperangah.
”Oh, mana ada orang yang mau berbuat begitu?”
Poirot tersenyum.
”Tentu saja tidak ada.”
”Tahukah Anda, Mr. Parrot,” ujar Julia. ”Minnie
menganggap warisan itu dipercayakan kepadanya. Ke-
percayaan yang tulus dan suci dari majikannya.”
”Ia rela berbuat sesuatu untuk Mrs. Tanios, atau
untuk kepentingan anak-anaknya,” lanjut Isabel. ”Ia
cuma tidak rela kalau suami Bella—Mr. Tanios, mak-
sud saya—menguasai hak istrinya. Itu saja.”
”Katanya, ia malah sedang berpikir-pikir untuk
memberikan uang saku bulanan kepada heresa.”
143

pustaka-indo.blogspot.com
”Bukankah semuanya itu mencerminkan kebaikan
hatinya? Padahal, selama ini mereka memperlakukan
Minnie jelek sekali.”
”Sungguh, Mr. Parrot, Minnie orang yang paling
baik. Anda toh tahu sendiri bagaimana dia itu.”
”Ya,” ujar Poirot. ”Saya mengenalnya, memang.
Tapi—di mana alamatnya?”
”Oh, maaf... Betapa bodohnya saya! Perlu saya tulis-
kan?”
”Biar saya tulis sendiri.”
Poirot mengeluarkan buku sakunya.
”17 Clanroyden Mansions, W.2. Tidak jauh dari
Whiteles. Tolong sampaikan salam kami ya, Sir. Kami
sudah agak lama juga tidak mendapat kabar dari
Minnie.”
Poirot beranjak dari duduknya. Aku mengikuti-
nya.
”Terima kasih banyak,” ucap Poirot, ”atas kera-
mahan Anda. Juga atas cerita-cerita Anda. Terima ka-
sih juga Anda mau memberikan alamat Minnie.”
”Oh, tak habis pikir mengapa orang-orang di Puri
Hijau tidak memberikan alamat Minnie,” kata Isabel.
”Pasti si Ellen! Dasar pembantu! Sukanya iri dan sangat
picik. Mereka juga sering kasar terhadap Minnie.”
Julia menjabat tangan kami penuh hormat.
”Terima kasih atas kunjungannya,” ujarnya ang-
gun.
”Oh...”
Ia melirik saudaranya.
”Apakah Anda...” Wajahnya bersemu merah. ”Apa-
kah Anda mungkin mau makan malam bersama
144

pustaka-indo.blogspot.com
kami? Tidak ada apa-apa... cuma roti, sayuran, dan
mentega... ditambah buah-buahan...”
”Hmmm... lezat kedengarannya,” sahut Poirot
buru-buru. ”Tapi sayang, kami harus segera kembali
ke London.”
Setelah bersalaman sekali lagi, kami pamit dan per-
gi.

145

pustaka-indo.blogspot.com
12
Poirot Mempersoalkan
Kasusnya

”UNTUNGLAH, Poirot,” kataku bersungguh-sungguh,


”kau segera menghindar dari tawaran makan wortel
mentah mereka! Hmm... bukan main kedua perem-
puan itu.”
”Pour nous un bon bifteck—untuk kita bistik lezat—
ditambah kentang goreng dan sebotol anggur. Mi-
numan apa yang akan disajikan kalau kita mau ya?”
”Air sumur, mungkin,” jawabku bergidik. ”Atau
sari apel nonalkohol. Heran aku. Begitu sederhana
dan seadanya. Mungkin kamar mandi dan WC pun
tak ada di situ. Yang ada cuma lubang dan pancuran
di halaman belakang.”
”Heran, memang. Ada perempuan yang suka hidup
susah begitu.” Poirot tampak berpikir. ”Padahal bukan
karena miskin. Situasi itu sengaja mereka ciptakan.
Hm... pandai juga.”

146

pustaka-indo.blogspot.com
”Sekarang, perintah apa yang diberikan kepada
sopir?” tanyaku sementara kami menikung menuju
jalan raya ke luar kota Market Basing. ”Siapa lagi
yang mendapat giliran kita kunjungi sekarang? Atau
mau balik ke Restoran George, menanyai lagi pelayan
berpenyakit asma itu?”
”Nah, sekarang, kau pasti senang mendengarnya,
Hastings. Tugas kita di Market Basing sudah sele-
sai...”
”Bagus!”
”Selesai buat hari ini saja, Sobat. Kita masih harus
kembali lagi ke sini.”
”Masih dalam rangka memburu pembunuh yang
gagal membunuh itu?”
”Persis sekali.”
”Apakah data-datamu bertambah dengan mende-
ngarkan ocehan kakak-beradik Tripp barusan?”
”Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan,” sahut
Poirot. ”Tokoh-tokoh drama kita semakin jelas ke-
tahuan sifatnya. Ceritanya mirip-mirip novelet zaman
dulu, kan? Pelayan yang papa, yang dulunya dihina
dan dicerca, berubah nasib menjadi orang yang kaya
raya, yang murah hati...”
”Menurutku, orang yang merasa dirinya sebagai
ahli waris yang sah akan segan berlaku seperti itu.”
”Benar, Hastings. Yang kaukatakan itu seratus per-
sen benar!”
Kami berdiam diri beberapa menit, sementara me-
sin Austin-ku menderu lembut mengarungi jalan me-
nuju London. Kusenandungkan lagu Little Man,
You’ve Had a Busy Day.
147

pustaka-indo.blogspot.com
”Senang, Poirot?” tanyaku akhirnya.
Poirot menyahut dingin, ”Aku tak mengerti mak-
sudmu, Hastings.”
”Yah, kelihatannya hari ini kau menghabiskan wak-
tu buat memuaskan hobimu.”
”Jadi kaupikir aku main-main?”
”Oh, tentu saja kau serius. Tapi kurasa tak ada
gunanya terlalu melibatkan diri pada kasus ini. Kau
melakukannya cuma untuk kepuasan hatimu sendiri.
Maksudku, ini bukan kasus yang nyata...”
”Au contraire—sebaliknya, ini benar-benar nyata.”
”Mungkin caraku mengemukakan salah. Yang ku-
maksud, seandainya dengan apa yang kaulakukan itu
kau bisa menyelamatkan Miss Arundell, yah, bolehlah.
Ada kepuasannya! Tapi dalam hal ini, apa gunanya...
toh nenek itu sudah meninggal.”
”Kalau begitu, mon ami, apa gunanya orang menye-
lidiki kasus-kasus pembunuhan?”
”Bukan begitu. Itu lain lagi. Maksudku, dalam ka-
sus pembunuhan biasanya jelas ada orang yang mati
terbunuh... Oh, sudahlah. Lupakan saja!” ujarku ke-
sal.
”Jangan marah! Aku mengerti maksudmu. Kau
membedakan kematian yang jelas-jelas disebabkan
oleh pembunuhan dan kematian yang kelihatannya
biasa-biasa saja. Seandainya Miss Arundell mati di-
aniaya, misalnya—bukannya mati karena penyakit
yang sudah lama diidapnya—kau tentu tak akan me-
remehkan usahaku membongkar kebenarannya.
Begitu, kan?”
”Ya.”
148

pustaka-indo.blogspot.com
”Pokoknya, ada orang yang mencoba membunuh-
nya.”
”Ya. Tapi gagal. Ada bedanya, kan?”
”Apa kau tidak ingin tahu siapa orangnya yang
ingin membunuh Miss Aruridell itu?”
”Tentu saja ingin tahu.”
”Sebenarnya lingkupnya cukup sempit,” ujar Poirot.
”Tali itu...”
”Ah, tali itu cuma ada dalam bayanganmu, Poirot,
karena kau melihat paku itu,” sanggahku. ”Siapa tahu
paku itu sudah bertahun-tahun tertancap di situ?”
”Tidak. Catnya masih baru.”
”Itu masih bisa dijelaskan.”
”Penjelasannya?”
Saat itu, tak satu alasan pun terpikir olehku. Poirot
menggunakan kesempatan itu untuk melanjutkan
teorinya sendiri.
”Ya. Lingkupnya memang sangat sempit. Tali itu
direntangkan setelah semua penghuni rumah pergi ti-
dur. Karena itu, kemungkinannya cuma penghuni
rumah pada waktu itu yang perlu dicurigai. Dengan
kata lain, orangnya ada di antara ketujuh orang yang
tinggal di Puri Hijau waktu itu. Dokter Tanios. Mrs.
Tanios. heresa Arundell. Charles Arundell. Miss
Lawson. Ellen. Koki.”
”Kupikir pelayan tak perlu kaucurigai, Poirot.”
”Perlu. Mereka juga menerima bagian warisan, mon
cher. Di samping itu, mungkin saja ada alasan lain—
sakit hati, pertengkaran, ketidakjujuran... Mana kita
tahu?”
”Itu tak mungkin.”
149

pustaka-indo.blogspot.com
”Tak mungkin. Aku setuju. Tapi, orang harus mem-
pertimbangkan setiap kemungkinan.”
”Kalau begitu, mestinya delapan orang yang harus
kaucurigai.”
”Mengapa begitu?”
Rasanya kali ini aku menang angka.
”Miss Arundell sendiri! Siapa tahu dia sengaja me-
rentangkan tali di situ dengan maksud supaya orang
lain yang jatuh?”
Poirot mengangkat bahu.
”Tidak masuk akal. Kalau benar Miss Arundell sen-
diri yang memasang tali itu, dia tentu akan berhati-
hati. Nyatanya dia sendiri yang jatuh, kan?”
Kesal, aku tidak lagi mencoba-coba membantah-
nya.
Sambil menerawang jauh sekali, Poirot berkata,
”Urut-urutan kejadiannya cukup jelas: Miss Arundell
jatuh—suratnya kepadaku—kedatangan penasihat hu-
kumnya, cuma ada satu hal yang meragukan. Apakah
Miss Arundell sengaja menahan suratnya—tidak jadi
mengirimkannya? Ataukah dia punya perasaan surat
itu sudah dikirimkan?”
”Kita cuma bisa menebak. Secara pribadi, aku ber-
pendapat Miss Arundell mengira surat itu sudah di-
poskan. Dan dia pasti heran mengapa jawabannya ti-
dak kunjung datang.”
Pikiranku sedang sibuk sendiri.
”Bagaimana pendapatmu tentang aliran spiritual
itu, Poirot? Ada artinyakah?” tanyaku. ”Maksudku,
mungkinkah yang dikatakan Miss Peabody itu benar,
arwah jenderal Arundell datang menyampaikan pesan
150

pustaka-indo.blogspot.com
supaya Miss Arundell mengubah surat wasiatnya, su-
paya semua kekayaannya itu diwariskan kepada
Minnie Lawson?”
Ragu, Poirot menggeleng,
”Bukan seperti itu bayanganku tentang Miss
Arundell.”
”Kata Miss Tripp, Miss Lawson sangat terkejut wak-
tu surat wasiat itu dibacakan,” ujarku pula.
”Begitu memang cerita Miss Lawson kepada me-
reka.”
”Tapi kau tidak percaya?”
”Mon ami, kau tahu kan, betapa pencuriganya diri-
ku! Aku tidak akan memercayai apa pun yang dikata-
kan siapa pun, kecuali bila ada buktinya.”
”Benar, Sobat,” komentarku. ”Kau memang begitu
orangnya.”
”Katanya. Bah! Apa artinya itu? Tidak ada. Sama
sekali tak ada. Mungkin saja yang dikatakan itu be-
nar. Tapi bukan tak mungkin itu sengaja dikatakan
untuk mengacaukan kita. Aku, Sobat, cuma mau ber-
urusan dengan fakta.”
”Dan faktanya...?”
”Miss Arundell jatuh. Semua orang yakin itu cuma
kecelakaan biasa. Padahal kecelakaan itu sebenarnya
tidak wajar—kecelakaan itu dibuat.”
”Buktinya... Hercule Poirot bilang begitu.”
”Oh. Sama sekali bukan! Ada bukti yang kuat:
paku itu. Bukti lain? Surat Miss Arundell sendiri.
Bukti yang lain lagi? Kata-kata yang diucapkan Miss
Arundell sebelum meninggal—tentang lukisan pada
guci, dan tentang bola Bob. Semuanya itu fakta.”
151

pustaka-indo.blogspot.com
”Fakta yang berikutnya lagi?”
”Jawaban kita sendiri terhadap pertanyaan manusia
normal. Bila Miss Arundell meninggal, siapa yang
mendapat keuntungan? Jawabnya—Miss Lawson!”
”Si Pelayan yang tak disukai itu! Di lain pihak,
yang lain-lain mengira akan mendapat sesuatu bila
Miss Arundell meninggal. Dan pada saat terjadinya
kecelakaan, mereka memang akan menerima warisan
bila Miss Arundell meninggal.”
”Tepat, Hastings. Itulah sebabnya kedudukan me-
reka semuanya sama: perlu dicurigai. Ada lagi fakta
sepele yang perlu diperhatikan: mengapa Miss Lawson
bersikeras agar majikannya tidak mengetahui Bob ti-
dak di rumah semalaman.”
”Curiga?”
”Tidak. Aku cuma mencatat fakta kecil itu. Bisa
saja itu merupakan hal wajar. Tindakan pelayan yang
bijaksana—demi ketenangan hati majikannya. Dan
menurutku, inilah yang benar.”
Kulirik Poirot. Gampang sekali ia berubah penda-
pat.
”Miss Peabody menyebutkan ada permainan di ba-
lik surat wasiat yang baru,” ujarku. ”Menurutmu, apa
maksudnya, Poirot?”
”Itu cuma caranya mengemukakan kecurigaan yang
tak bisa dideinisikannya.”
”Miss Arundell bukan potongan orang yang mudah
dipengaruhi orang lain. Jadi, kupikir, kemungkinan
itu kita abaikan saja. Juga, ia tidak mungkin bisa di-
pengaruhi hal-hal tolol semacam aliran spiritual itu.”
”Mengapa aliran itu kausebut tolol, Hastings?”
152

pustaka-indo.blogspot.com
Kupandang Poirot dengan keheran-heranan.
”Ya ampun, Poirot—perempuan-perempuan tolol
itu kan sama sekali tak masuk akal!”
Poirot tersenyum.
”Aku setuju akan penilaianmu terhadap kedua Miss
Tripp. Tapi, jangan karena hal itu dikemukakan oleh
orang yang kaunilai rendah lalu kausamaratakan nilai-
nya dengan orang yang mengemukakannya.”
”Maksudmu, kau percaya aliran itu?”
”Aku tidak menutup pikiranku untuk hal-hal se-
macam itu. Aku sendiri belum pernah mempelajari
manifestasinya. Tapi hal itu tentu bisa diterima kalau
melihat banyaknya ilmuwan yang menyatakan bahwa
mereka mengakui adanya beberapa fenomena yang
tidak bisa dijabarkan.”
”Kalau begitu, kau percaya kabut bulat bercahaya
itu benar-benar ada di atas kepala Miss Arundell?”
Poirot mengibaskan tangan.
”Aku cuma bicara secara umum, Sobat, mengomen-
tari penilaianmu yang agak terlalu sempit. Baiklah
kujelaskan sekarang. Setelah tahu dan menilai bagai-
mana Miss Tripp itu, kupikir, kita mesti hati-hati se-
kali menyaring apa yang mereka kemukakan. Perem-
puan yang dungu, tetap saja dungu, Sobat—tak
peduli apa pun yang dibicarakannya.”
”Tapi semua yang diucapkannya kauperhatikan de-
ngan sungguh-sungguh,” tuduhku.
”Itu tugasku hari ini. Mendengarkan dengan teliti.
Mendengarkan pendapat berbagai orang mengenai
ketujuh tokoh yang ingin kukenal—khususnya, ke-
lima orang yang terlibat secara langsung. Sekarang
153

pustaka-indo.blogspot.com
kita tahu aspek-aspek tertentu orang-orang ini. Ambil
contoh Miss Lawson. Dari Miss Tripp kita dengar
bahwa ia tokoh yang setia, tidak materialistis, murah
hati, dan... semuanya yang bagus-bagus. Dari Miss
Peabody lain lagi yang kita dengar: orangnya dungu,
tak punya keberanian dan pikiran untuk berbuat ja-
hat. Dokter Grainger mengatakan Miss Lawson cepat
bingung, tergantung pada orang lain, dan selalu ke-
takutan. Dari pelayan di Restoran George, kita dapat
keterangan bahwa Miss Lawson orang yang disegani.
Sedangkan Ellen mengatakan, Bob sangat membenci-
nya. Nah, bukankah masing-masing orang melihatnya
dari segi yang berbeda-beda? Begitu juga halnya de-
ngan tokoh-tokoh lainnya. Tak seorang pun berpen-
dapat positif terhadap Charles Arundell, misalnya.
Walaupun begitu, cara mereka membicarakannya ber-
beda-beda. Dokter Grainger menyebutnya tidak meng-
hargai orang tua. Miss Peabody menyatakan ia bisa
membunuh neneknya cuma untuk uang beberapa
sen—ia juga mengatakan, bahwa secara pribadi ia le-
bih menyukai Charles daripada Donaldson yang te-
kun dan patuh. Miss Tripp bukan cuma mengatakan
Charles bisa berbuat jahat. Ia malah menyebutkan
Charles sudah sering melakukannya. Semua pan-
dangan ini sangat berguna dan sekaligus menarik se-
kali. Berdasarkan semua itu kita bisa melakukan apa
yang selanjutnya mesti kita lakukan.”
”Apa?”
”Menarik kesimpulan sendiri, Sobat.”

154

pustaka-indo.blogspot.com
13
heresa Arundell

PAGI berikutnya kami menuju alamat yang diberikan


Dr. Donaldson.
Kuusulkan kepada Poirot untuk menemui penasihat
hukum Miss Arundell, tapi Poirot menolak.
”Jangan,” katanya. ”Apa yang akan kita katakan
kepadanya? Alasan apa yang akan kita ajukan untuk
mengorek info darinya?”
”Aaah, kan itu gampang, Poirot! Selama ini otakmu
tak pernah kehabisan alasan...”
”Ya. Tapi menghadapi ahli hukum lain lagi,
Hastings. Risikonya besar.”
”Baiklah kalau begitu,” ujarku. ”Jangan.”
Jadi, seperti telah kukatakan tadi, kami pergi ke
lat yang dihuni heresa Arundell. Letaknya di daerah
Chelsea. Pemandangan di sekitarnya indah, dengan
sungai jernih mengalir tak jauh dari situ. Perabotannya

155

pustaka-indo.blogspot.com
sangat modern dan tampak mahal harganya. Semua
terbuat dari krom mengilat dengan kombinasi kulit.
Karpetnya tebal bermotifkan garis-garis geometris.
Beberapa menit kami menunggu. Kemudian keluar-
lah seorang gadis. Gadis itu menemui kami dengan
wajah penuh tanda tanya.
Kelihatannya heresa Arundell berumur 28 atau
29-an. Perawakannya tinggi, dan tubuhnya amat lang-
sing. Dalam gaun hitam-putih yang dikenakannya, ia
tampak seperti lukisan yang terlalu dibuat-buat. Ram-
butnya hitam legam, wajahnya ber-make-up tebal dan
sangat putih. Alisnya yang sengaja dibentuk itu mem-
beri kesan kurang menyenangkan. Bibirnya merupa-
kan satu-satunya warna cerah. Merah manyala pada
wajah yang teramat putih. Ia juga memancarkan kesan
bahwa di dalamnya tersembunyi kekuatan dan sema-
ngat yang besar sekali. Aku sendiri tak tahu mengapa
aku memperoleh kesan seperti itu. Tapi, sungguh; ke-
san itulah yang kudapat sejak aku melihatnya.
Dengan pandangan dingin dan penuh tanda tanya
ia melihatku. Kemudian dialihkannya pandangannya
kepada Poirot.
Lelah berbohong (kukira), Poirot kali ini menunjuk-
kan kartu namanya sendiri. heresa memegang kartu
itu sambil mengamat-amatinya.
”Anda M. Poirot?” tanyanya.
Poirot mengangguk dan bersikap sangat sopan.
”Benar, Mademoiselle. Boleh saya mengganggu
Anda sebentar?”
Seolah menirukan sikap Poirot yang resmi, gadis itu
menjawab, ”Tentu saja, M. Poirot. Silakan duduk.”
156

pustaka-indo.blogspot.com
Poirot memilih kursi santai yang rendah. Sedang-
kan aku sendiri memilih yang bersandaran tegak.
Dengan anggun namun cukup santai, heresa men-
jatuhkan dirinya pada kursi pendek di dekat perapian.
Ia menawarkan rokok. Ketika kami menolak, ia pun
menyulut sebatang untuk dirinya sendiri.
”Anda mungkin sudah mengenal nama saya,
Mademoiselle?”
heresa mengangguk.
”Komplotannya Scotland Yard. Betul, kan?”
Poirot tampak senang dijuluki begitu. Dengan
merasa diri penting, ia berkata, ”Saya memang menyi-
bukkan diri saya dengan menangani masalah-masalah
kriminalitas, Mademoiselle.”
”Oh, menarik sekali kedengarannya,” ujar heresa
walaupun nadanya bosan. ”Sayang buku tanda tangan
saya hilang. Saya yakin tanda tangan Anda termasuk
yang banyak diburu.”
”Kali ini saya menghadapi masalah,” lanjut Poirot.
”Saya menerima surat dari bibi Anda.”
”Dari bibi saya?”
”Betul. Begitu saya bilang tadi,” komentar Poirot.
heresa bergumam, ”Maaf. Tapi, sungguh—saya
tidak punya bibi. Semua bibi saya sudah meninggal.
Yang terakhir meninggal lebih-kurang dua bulan
lalu.”
”Miss Emily Arundell?”
”Ya. Miss Emily Arundell namanya. Anda toh bu-
kan menerima surat dari orang yang sudah mati, M.
Poirot?”
”Adakalanya, Mademoiselle.”
157

pustaka-indo.blogspot.com
”Bukan main!”
Ada sesuatu yang baru dalam suara gadis itu. Per-
hatian, juga kehati-hatian.
”Apa yang ditulis bibi saya, M. Poirot?”
”Belum bisa saya kemukakan sekarang, Mademoi-
selle,” ujar Poirot berdeham. ”Masalahnya agak sen-
sitif.”
Sunyi. heresa Arundell mengisap rokoknya. Kemu-
dian ia berkata, ”Kedengarannya berahasia sekali,
Anda. Lalu apa hubungannya dengan saya?”
”Mademoiselle, saya harap Anda bersedia menjawab
beberapa pertanyaan.”
”Pertanyaan? Mengenai apa?”
”Mengenai keluarga Anda.”
Mata heresa membelalak.
”Itu terlalu luas, saya kira. Bisakah Anda memberi
contoh, kira-kira macam apa pertanyaannya?”
”Contohnya, bisakah Anda memberikan alamat ka-
kak Anda—Charles?”
Matanya yang tadi membelalak kembali menjadi
sempit. Tenaganya yang tadi tampak tersembunyi seka-
rang tidak kelihatan sama sekali. Ia seperti keong
yang menarik diri ke dalam siputnya.
”Tidak. Saya jarang sekali berkirim surat kepada-
nya. Dia pun begitu. Saat ini dia sedang di luar ne-
geri.”
”Oh.”
Poirot diam.
”Cuma itu yang ingin Anda tanyakan?”
”Masih ada beberapa pertanyaan lagi. Salah satu-
nya, apakah Anda puas dengan cara bibi Anda me-
158

pustaka-indo.blogspot.com
wariskan hartanya? Pertanyaan yang lain, sudah berapa
lamakah Anda bertunangan dengan Dr. Donaldson?”
”Taktik Anda cepat juga rupanya.”
”Eh bien?”
”Eh bien—kita tidak saling mengenal. Karena itu
cuma satu jawaban saya: semuanya itu bukan urusan
Anda. Ca ne vous regarde pas, M. Hercule Poirot.”
Poirot memperhatikannya tanpa kedip. Kemudian,
tanpa menunjukkan rasa kecewa sedikit pun, ia bang-
kit.
”Oh, jadi begitu! Sudah saya duga. Bagaimanapun,
biarkan saya memuji aksen bahasa Prancis Anda yang
sangat mengagumkan itu, Mademoiselle. Selamat pagi,
dan banyak terima kasih. Ayo, Hastings!”
Kami sudah sampai di pintu ketika terdengar suara
heresa. Kekuatannya yang terpendam kelihatan tim-
bul lagi. Ia tak sedikit pun beranjak dari tempat du-
duknya semula. Namun sepatah kata yang diucapkan-
nya toh mengubah suasana.
”Kembalilah!”
Poirot menurut. Ia duduk kembali dan memandang
heresa penuh tanda tanya.
”Sebaiknya kita hentikan semua pura-pura ini,”
katanya. ”Siapa tahu Anda bisa menolong saya, M.
Poirot.”
”Dengan segala senang hati, Mademoiselle. Apa
yang harus saya lakukan?”
Di antara dua kepulan asap rokok yang disembur-
kannya, ia berkata dengan tenang dan teratur.
”Tolong kasih tahu saya: bagaimana cara membatal-
kan surat wasiat itu.”
159

pustaka-indo.blogspot.com
”Oh, pengacara...”
”Ya. Tentu saja,” selanya. ”Pengacara memang bisa
melakukannya, asal kita ketemu pengacara yang tepat.
Pengacara yang saya kenal semuanya orang terhormat.
Mereka bilang surat itu sudah sah. Mereka menasihati
supaya saya tidak mencoba-coba menggugatnya. Per-
cuma, katanya. Cuma menghabiskan biaya saja.”
”Anda tidak percaya akan hal itu?”
”Saya percaya di dunia ini selalu ada cara untuk
melakukan apa pun, asal tidak terlalu takut salah, dan
berani membayar. Nah, saya dalam hal ini bersedia
membayar.”
”Anda yakin saya mau melakukannya kalau saya
dibayar?”
”Setahu saya, kebanyakan orang mau. Apa bedanya
Anda dengan yang lain? Menyangkal kejujuran diri
sendiri memang wajar... tapi itu cuma mula-mula
saja...”
”Oh, begitu. Jadi, ini merupakan bagian permainan
itu? Seandainya saya bersedia melakukannya, apa kira-
kira yang mesti saya lakukan?”
”Saya sendiri tidak tahu. Anda kan orang pandai.
Semua orang tahu itu, M. Poirot. Saya percaya Anda
bisa memikirkan suatu cara.”
”Misalnya?”
heresa mengangkat bahu.
”Itu urusan Anda. Mencuri surat wasiat itu dan
memalsukannya, misalnya. Menculik si Lawson dan
memaksanya mengaku bahwa dia memaksa Bibi
Emily menulis surat wasiat itu... Mengarang surat wa-
160

pustaka-indo.blogspot.com
siat baru yang seolah-olah dibuat Bibi Emily sesaat
sebelum meninggal... Yah, banyak cara!”
”Imajinasi Anda sangat mengagumkan, Mademoi-
selle.”
”Nah, bagaimana jawaban Anda? Saya sudah cukup
terang-terangan. Kalau Anda menolak, silakan keluar,”
kata heresa sambil menunjuk ke pintu.
”Saya tidak menolak. Tapi...” ujar Poirot.
heresa Arundell tertawa. Ia memandangku. ”Te-
man Anda kelihatannya shock. Apakah tidak sebaiknya
Anda suruh dia berjalan-jalan di luar saja sementara
kita berunding?”
Poirot memandangku jengkel.
”Kontrol sikapmu, Hastings. Maafkan dia, Mademoi-
selle. Dia memang orang yang jujur. Tapi dia sangat
setia. Kesetiaannya kepada saya seratus persen. Baiklah.
Saya ingin menekankan di sini, bahwa apa yang akan
kita lakukan tidak akan bertentangan dengan hu-
kum.”
Alis heresa terangkat.
”Hukum mempunyai banyak bidang cakupan,”
kata Poirot.
heresa tersenyum tipis. ”Baiklah. Jadi, kita sama-
sama mengerti itu. Anda ingin merundingkan bagian
yang akan Anda peroleh jika Anda berhasil?”
”Itu bisa juga kita putuskan sekarang. Saya tidak
akan meminta lebih daripada yang sewajarnya saja.”
”Oke,” ujar heresa Arundell.
Poirot beringsut ke pinggir kursi yang diduduki-
nya.
”Sekarang saya minta Anda mendengarkan apa
161

pustaka-indo.blogspot.com
yang saya katakan, Mademoiselle. Biasanya, katakan—
dalam 99 di antara 100 kasus—saya selalu berdiri di
pihak hukum. Satu lainnya—yah, itu berbeda. Mung-
kin itu karena memang lebih menguntungkan begi-
tu... Yang penting, semuanya ini harus dilaksanakan
dengan diam-diam. Anda mengerti maksud saya, bu-
kan? Saya punya reputasi, dan saya tak mau reputasi
saya terganggu. Kita harus sangat berhati-hati.”
heresa Arundell mengangguk.
”Di samping itu, saya perlu fakta-fakta yang se-
lengkapnya. Fakta-fakta yang benar! Anda mengerti
kan, Mademoiselle, bahwa bila kebenarannya sudah
diketahui, lebih gampang memikirkan taktik apa yang
akan kita lakukan?”
”Kedengarannya masuk akal,” komentar heresa.
”Baiklah, kalau Anda sudah mengerti. Sekarang,
kapan surat wasiat itu ditulis—maksud saya, tanggal
berapa?”
”Tanggal 21 April.”
”Surat wasiat yang sebelumnya?”
”Bibi Emily menulis surat wasiat itu lebih-kurang
lima tahun lalu.”
”Isinya?”
”Setelah memberikan sekadar tanda jasa kepada
Ellen dan seorang bekas koki, sisa kekayaannya dibagi
tiga untuk kemenakannya, anak saudara kandungnya,
homas dan Arabella.”
”Apakah warisan itu akan diserahkan kepada
wali?”
”Tidak. Bisa langsung diserahkan kepada kami.”
”Sekarang, hati-hati! Apakah Anda mengetahui ba-
162

pustaka-indo.blogspot.com
gaimana pembagian warisannya menurut surat wasiat
itu?”
”Oh, ya. Charles juga tahu. Begitu juga Bella. Bibi
Emily tidak pernah merahasiakan hal itu. Setidaknya,
kalau ada di antara kami yang ingin pinjam uang,
Bibi Emily selalu mengatakan, ’Kalian toh akan me-
warisi semua uangku kalau aku mati nanti.’”
”Apakah bibi Anda juga menolak kalau pinjaman
itu sifatnya sangat penting—misalnya karena ada yang
sakit?”
”Saya kira tidak.”
”Tapi bibi Anda berpendapat bahwa Anda semua-
nya sudah berkecukupan?”
”Benar, Bibi Emily memang selalu beranggapan se-
perti itu.” Suaranya terdengar pahit.
”Padahal sesungguhnya tidak begitu?”
heresa tidak segera menjawab.
”Ayah meninggalkan sedikit uang. Kami masing-
masing mendapat 30.000 pound. Uang itu disimpan
di bank. Bunganya setahun sekitar 1.200 pound. Me-
mang cukup untuk hidup yang pas-pasan. Tapi
saya...” Suara heresa tiba-tiba berubah, tubuhnya
yang langsing menegak, kepalanya terangkat tinggi,
dan ia berbicara dengan semangat menggebu-gebu.
”Tapi saya menghendaki lebih dari itu! Saya ingin
yang terbagus! Makanan paling lezat. Baju paling
indah, bukan sekadar penutup tubuh yang memadai
dengan model kampungan. Bukan. Yang saya ingin-
kan baju dengan potongan mantap dan meyakinkan.
Saya ingin hidup dan menikmati hidup ini—pelesir
ke Laut Tengah, berjemur di pantai hangat, berjudi
163

pustaka-indo.blogspot.com
dengan persediaan uang cukup, berpesta pora—pesta
yang mewah dan meriah. Saya ingin semuanya saja
yang ada di bumi celaka ini. Bukan kapan-kapan, tapi
sekarang! Saya ingin semuanya itu saat ini juga!”
Suaranya begitu menawan, mengalun lembut na-
mun pasti dan diucapkan dengan penuh semangat.
Poirot menatap gadis itu, menyimak setiap kata yang
diucapkannya dengan sungguh-sungguh.
”Dan, saya tidak salah menduga, kan—bila saya
kira saat ini Anda telah menikmati semuanya itu?”
”Benar, Hercule—semuanya itu sudah kurasakan.”
”Tinggal berapa uang Anda yang tersisa dari yang
30.000 itu?”
Tiba-tiba heresa tertawa terbahak-bahak.
”Dua ratus dua puluh satu pound lebih tujuh
pence. Itu jumlah yang setepat-tepatnya. Jadi, tanpa
hasil jangan harap kau akan dibayar.”
”Kalau memang demikian halnya, Mademoiselle,”
kata Poirot, ”saya yakin saya akan berhasil.”
”Kau berjiwa besar, Hercule. Untung saja kita ber-
temu.”
Dengan nada bisnis Poirot menyambung, ”Masih
ada beberapa hal lagi yang perlu saya ketahui. Apakah
Anda memakai ganja?”
”Tidak. Tak pernah.”
”Minum?”
”Ya, cukup banyak. Tapi bukan karena ketagihan.
Aku minum karena kawan-kawanku minum. Aku ha-
rus menyesuaikan diri dengan lingkunganku. Tapi,
kalau perlu, aku bisa menghentikan kebiasaan itu de-
ngan segera.”
164

pustaka-indo.blogspot.com
”Bagus sekali.”
”Aku kan tidak mau mabuk dan membocorkan
rahasia sendiri, Hercule.”
Poirot melanjutkan, ”Anda suka berganti-ganti pa-
car?”
”Dulu—ya.”
”Dan sekarang?”
”Cuma Rex.”
”Dokter Donaldson, maksud Anda?”
”Ya.”
”Kelihatannya dia berbeda sekali dengan kehidupan
yang baru saja Anda sebutkan tadi.”
”Memang.”
”Tapi toh Anda mencintainya? Mengapa, kalau saya
boleh tahu?”
”Alasannya, maksudmu? Yah... mengapa ya? Mengapa
Juliet jatuh cinta kepada Romeo? Sama saja begitu.”
”Salah satu sebabnya, karena Romeo kebetulan pe-
muda pertama yang dijumpainya.”
Perlahan heresa berkata, ”Rex bukan lelaki per-
tama yang kujumpai,” ujarnya. Kemudian, masih de-
ngan suara perlahan ia menambahkan, ”Tapi aku ya-
kin ia lelaki terakhirku.”
”Dia miskin, Mademoiselle.”
heresa mengangguk.
”Sangat miskin! Tapi dia tidak menginginkan keme-
wahan, keindahan, kesenangan, atau semacamnya.
Kalau perlu, ia bersedia tidak ganti baju sampai baju-
nya berlubang, makan daging kaleng setiap hari, dan
mandi dalam bak aluminium penyok. Kalau dia pu-
nya uang, uangnya akan dihabiskannya untuk mem-
165

pustaka-indo.blogspot.com
beli tabung-tabung percobaan dan mendirikan labora-
torium. Dia ambisius. Profesi adalah segalanya
baginya. Profesi, baginya, lebih penting dan lebih ber-
arti daripada diriku.”
”Apakah dia tahu Anda akan menerima warisan
bila bibi Anda meninggal?”
”Ya. Aku memberitahunya. Oh! Tapi, tentu saja
setelah kami bertunangan. Dia kawin denganku bu-
kan karena uang.”
”Sampai sekarang dia masih tunangan Anda?”
”Tentu saja.”
Poirot tidak memberi komentar. Ini kelihatannya
membuat heresa gelisah.
”Tentu saja kami masih bertunangan,” ulangnya.
”Apakah kau pernah bertemu dengannya?”
”Sudah. Kemarin, di Market Basing.”
”Oh ya? Apa katanya?”
”Saya tidak bicara apa-apa dengannya. Cuma minta
alamat kakak Anda.”
”Charles?” Suaranya kembali tajam. ”Apa perlunya
kau mencari Charles?”
”Charles? Siapa yang mencari Charles?”
Yang belakangan berasal dari suara lain yang belum
kami kenal. Suara laki-laki, suara yang nyaman dan
enak didengar.
Seorang lelaki muda berwajah kecokelatan melang-
kah masuk dengan senyum yang amat memikat.
”Siapa yang menyebut-nyebut namaku?” tanyanya.
”Aku tidak menguping, tapi kebetulan mendengar
namaku disebut-sebut. Ada apa sebenarnya, heresa?
Ayo ceritakan!”
166

pustaka-indo.blogspot.com
14
Charles Arundell

HARUS kuakui, aku tertarik pada laki-laki muda ber-


nama Charles itu sejak detik pertama memandangnya.
Ada sesuatu yang memikat pada dirinya. Matanya
simpatik, kaya akan kerlingan humor. Senyumnya sa-
ngat menawan.
Melenggang santai, ia berjalan ke tengah ruangan,
dan duduk pada lengan kursi.
”Ada apa, Non?” tanyanya lagi.
”Kenalkan. Ini M. Hercule Poirot, Charles. Kata-
nya dia bersedia melakukan pekerjaan kotor buat
membantu kita. Imbalan yang dimintanya tidak ber-
lebihan.”
”Maaf,” sela Poirot. ”Saya menyangkal bila Anda
mengatakan pekerjaan yang akan saya lakukan itu ko-
tor. Bukan pekerjaan kotor. Bagaimana kalau kita se-

167

pustaka-indo.blogspot.com
but saja semacam penipuan tanpa maksud jahat—se-
kadar agar maksud semula bibi Anda terlaksana?”
”Terserah! Anda boleh sebut itu apa saja, sesuka
hati Anda,” ujar Charles. Nadanya enak didengar, dan
tidak menyakitkan hati. ”Ngomong-ngomong, bagai-
mana ceritanya sampai heresa bisa menghubungi
Anda?”
”Adik Anda tidak pernah menghubungi saya,” kata
Poirot cepat. ”Saya datang ke sini atas kemauan saya
sendiri.”
”Menawarkan jasa?”
”Sebetulnya tidak. Saya datang hendak mencari
Anda. Adik Anda mengatakan bahwa Anda sedang di
luar negeri.”
Charles berkata, ”heresa memang adik yang bijak-
sana. Ia sangat berhati-hati. Hampir tak pernah dia
berbuat salah. Tapi, terus terang, orangnya sangat pen-
curiga.”
Charles memandang adiknya dengan sayang. Tapi
yang dipandang tidak membalas senyumnya. Ia ke-
lihatan gelisah dan berpikir.
”Saya jadi bingung. Mengapa jadi begini? Bukan-
kah Anda M. Poirot yang tersohor sebagai pemburu
penjahat paling ulung? Mengapa tiba-tiba mau me-
lakukan yang sebaliknya?”
”Kita bukan penjahat,” komentar heresa tajam.
”Tapi kami bersedia jadi penjahat,” kata Charles
sambil lalu. ”Terus terang, saya sudah berpikir-pikir
untuk membuat surat wasiat palsu. Itu satu-satunya
yang terpikir oleh saya. Saya dikeluarkan dari Oxford
karena masalah cek. Bodoh juga saya waktu itu...
168

pustaka-indo.blogspot.com
mencoret cek dan mengganti angkanya. Tentu saja
ditolak. Pernah lagi kejadian di Market Basing. Tapi
yah—itu toh karena saya kurang hati-hati. Bisa di-
maklumi! Masih coba-coba. Gagal juga kurang ada
artinya. Nah, rencana yang ini—membuat surat wa-
siat palsu yang seolah-olah dibuat Bibi Emily di tem-
pat tidur beberapa saat sebelum meninggal—saya
akui: agak riskan. Satu-satunya jalan, kita harus mem-
bujuk—kalau perlu memaksa dan mengancam Ellen
supaya mau mengaku bahwa dia menyaksikan Bibi
Emily menulis surat yang paling akhir ini. Saya tahu
itu sukar. Yah, kalau terpaksa, mengawininya pun saya
mau. Bukan karena apa-apa. Tapi karena dengan
begitu saya yakin dia tidak bisa memberikan kesaksian
yang merugikan saya.”
Charles meringis manis kepada Poirot.
”Saya jadi ngeri Anda memasang alat perekam,
bisa-bisa seluruh Scotland Yard mendengar semua
yang saya katakan tadi,” ujarnya.
”Saya tertarik pada masalah yang Anda hadapi,”
kata Poirot. Sikapnya menunjukkan rasa kurang se-
nang. ”Saya memang tidak bisa melakukan sesuatu
yang bertentangan dengan hukum. Tapi, masih ba-
nyak jalan selain...” Poirot sengaja berhenti.
Charles Arundell mengangkat bahu.
”Saya yakin ada cara lain yang bisa dipikirkan de-
ngan menggunakan kelemahan-kelemahan hukum,”
katanya. ”Anda pasti lebih tahu.”
”Siapa yang menyaksikan penandatanganan surat
wasiat bibi Anda yang baru? Maksud saya, yang di-
buat pada tanggal 21 April itu?”
169

pustaka-indo.blogspot.com
”Purvis waktu itu mengajak anak buahnya. Saksi
lainnya tukang kebun Bibi Emily.”
”Surat itu ditandatangani di hadapan Mr. Purvis?”
”Ya.”
”Dan Mr. Purvis ini orang yang reputasinya sangat
terhormat?”
”Purvis, Purvis, Charlesworth dan sekali lagi Purvis—
itu sama terhormatnya dengan Bank of England.”
”Sebenarnya,” cetus heresa, ”Mr. Purvis tak senang
Bibi Emily menulis surat yang kedua itu. Dia malah
mencoba mencegah Bibi Emily membuat surat itu.”
Charles berkata tajam, ”Dia bilang begitu kepada-
mu, heresa?”
”Ya. Aku ke kantornya kemarin.”
”Tidak baik. Sudah berkali-kali kukatakan tidak
baik. Tak ada gunanya kau mondar-mandir ke
sana.”
heresa mengangkat bahu.
Poirot berkata, ”Coba ceritakan kepada saya seba-
nyak mungkin mengenai minggu-minggu terakhir se-
belum Bibi Anda meninggal. Setahu saya, Anda ber-
dua, juga Dr. Tanios dan istrinya, tinggal di sana
selama liburan Paskah.”
”Betul.”
”Adakah kejadian yang patut dicatat selama itu?”
”Tidak.”
”Tidak ada? Saya kira...”
Charles menyela, ”Dasar egois kau, heresa! Kau—
dimabuk cinta! heresa punya pemuda idaman di
Market Basing, M. Poirot. Pemuda asli situ. Akibat-
nya, dia kurang sadar akan apa yang terjadi. Bibi
170

pustaka-indo.blogspot.com
Emily mengalami kecelakaan. Jatuh menggelinding
dari puncak tangga. Hampir saja meninggal. Sayang-
nya tidak. Kalau Bibi Emily meninggal waktu itu,
tentu semuanya ini tidak akan terjadi.”
”Jatuh dari tangga?”
”Ya. Tersandung bola anjing kesayangannya. Anjing
itu sembrono. Suka bermain bola di tangga situ. Ce-
lakanya, dia sering meninggalkan bolanya begitu saja
di situ. Bibi Emily tersandung waktu dia hendak tu-
run.”
”Kapan kejadiannya?”
”Tunggu—Selasa malam. Sebelum kami pulang.”
”Bibi Anda luka parah?”
”Sayang bukan kepalanya duluan yang menumbuk
lantai. Kalau ya, paling tidak Bibi Emily gegar otak.
Tapi tidak. Bibi Emily nyaris tidak luka sama se-
kali.”
”Dan ini sangat mengecewakan buat Anda?”
”Apa? Oh, ya, saya mengerti maksud Anda. Me-
mang, sangat mengecewakan.”
”Anda semuanya pulang pada hari Rabu-nya?”
”Benar.”
”Rabu tanggal lima belas. Sesudah itu, apakah
Anda pernah bertemu lagi dengan bibi Anda sebelum
beliau meninggal?”
”Ya. Tapi bukan malam Minggu berikutnya. Malam
Minggu yang sesudahnya. Jadi, dua minggu sesudah-
nya.”
”Oh, jadi itu tanggal 25, bukan?”
”Ya.”
”Dan kapan bibi Anda meninggal?”
171

pustaka-indo.blogspot.com
”Hari Jumat setelah itu.”
”Setelah sakit mulai hari Senin malamnya?”
”Ya.”
”Anda pulang hari Senin itu?”
”Ya.”
”Apakah selama Miss Arundell sakit, Anda datang
menjenguk?”
”Tidak. Kami baru datang hari Jumat itu. Tak sang-
ka keadaan Bibi Emily seburuk itu.”
”Jadi kedatangan Anda itu tepat sebelum beliau
meninggal?”
”Tidak. Bibi Emily sudah meninggal ketika kami
datang. Kami terlambat.”
Poirot ganti memandang heresa.
”Anda datang ke sana bersama kakak Anda?”
”Ya.”
”Dan bibi Anda tidak mengatakan apa-apa me-
ngenai surat wasiatnya yang baru?”
”Tidak,” jawab heresa.
Pada saat yang bersamaan Charles menjawab,
”Ya.”
Bicaranya sambil lalu seperti semula. Hanya saja
ada sesuatu dalam suaranya yang terdengar kurang
wajar.
”Oh. Jadi Miss Arundell mengatakan dia membuat
surat wasiat baru?”
”Charles!” seru heresa.
Charles tampak gelisah. Ia menghindari pandangan
adiknya.
”Masa kau lupa, heresa? Aku kan sudah bilang.
Bibi Emily mengultimatum. Dia duduk seperti hakim
172

pustaka-indo.blogspot.com
di pengadilan. Berpidato panjang-lebar. Katanya dia
kecewa pada semua keluarganya—maksudnya, heresa
dan saya sendiri. Bella, katanya tidak termasuk. Tapi
Bibi Emily benci dan tak bisa memercayai suami
Bella. Kalau toh Bella diwarisi sesuatu, Bibi Emily tak
mau suaminya ikut menguasai harta itu. Orang Yu-
nani tidak bisa dipercaya. ’Biarkan. Bella lebih aman
begitu saja,’ begitu kata Bibi Emily. Bibi Emily juga
mengatakan, heresa dan saya sama-sama tidak dapat
dipercaya dalam hal yang menyangkut uang. Katanya,
paling-paling uangnya dipakai berjudi dan dihambur-
hamburkan. Itulah sebabnya, katanya, ia membuat
surat wasiat yang baru. Semua kekayaannya akan di-
wariskan kepada Minnie Lawson. ’Minnie memang
agak bodoh,’ katanya, ’meskipun begitu dia setia. Aku
yakin dia berbakti padaku tanpa pamrih. Kita tidak
bisa menyalahkannya kalau otaknya kurang cerdas.
Kupikir, Charles, lebih baik kukatakan semuanya ini
kepadamu, supaya kau tidak terlalu banyak mengha-
rap dariku.’”
”Mengapa kau tidak menceritakannya kepadaku,
Charles?” tanya heresa sengit.
”Sudah!” Charles masih tetap menghindari pan-
dangan adiknya.
Poirot ganti bertanya, ”Bagaimana reaksi Anda ke-
tika itu, Mr. Arundell?”
”Reaksi?” tanyanya. ”Saya cuma tertawa. Tak baik
membalas kekasarannya dengan kekasaran pula. Bukan
begitu caranya. ’Terserah, kalau itu memang yang Bibi
inginkan,’ kataku. ’Terus terang aku kaget mendengar-
173

pustaka-indo.blogspot.com
nya, tapi itu toh uang Bibi sendiri. Bibi bebas meng-
gunakannya sesuka hati Bibi.’”
”Dan reaksi bibi Anda?”
”’Bagus,’ katanya. ’Kau sportif.’ Kubalas, ’Aku
cuma membalas kekasaran dengan kehalusan, Bibi.
Ngomong-ngomong, kalau Bibi memang tidak akan
mewarisiku apa-apa, boleh kan aku minta uang jajan
sedikit sekarang?’ Bibi Emily bilang saya anak tak
tahu malu, tapi toh memberikan juga selembar uang
lima pound.”
”Anda pandai sekali menyembunyikan perasaan,
Mr. Arundell.”
”Terus terang saya tidak menganggapnya serius.”
”Oh ya?”
”Ya. Saya pikir itu cuma taktik orang tua menakut-
nakuti anak. Saya yakin beberapa minggu kemudian
Bibi Emily akan menyobek surat wasiatnya yang baru.
Bibi Emily sangat besar rasa kekeluargaannya. Pe-
rasaan saya begitu yakin Bibi Emily akan mengubah
lagi isi surat wasiatnya kalau saja tidak meninggal se-
cepat itu.”
”Ah!” kata Poirot. ”Luar biasa! Sangat menarik!”
Semenit atau dua menit lamanya Poirot diam. Ke-
mudian ia berkata, ”Mungkinkah ada orang lain yang
mendengarkan pembicaraan itu—Miss Lawson, um-
pamanya?”
”Mungkin saja. Kami tidak berbisik-bisik waktu
itu. Dan terus terang, ketika saya keluar, si Lawson
memang sedang mondar-mandir di dekat pintu. Siapa
tahu dia memang menguping.”
Poirot mengalihkan perhatiannya kepada heresa.
174

pustaka-indo.blogspot.com
”Sungguh Anda tidak tahu sama sekali mengenai
ini?”
Belum sempat gadis itu menjawab, Charles sudah
menyela, ”heresa, aku yakin sudah menceritakannya
kepadamu. Memang tidak selengkap yang barusan
kuceritakan. Tapi aku sudah bilang kepadamu. Sung-
guh, heresa!”
Aneh. Charles menatap tajam adiknya. Tatapan
yang menunjukkan kegelisahan, dan terasa tidak pas
dalam pembicaraan itu.
Perlahan heresa berkata, ”Kalau memang benar
kau sudah menceritakannya kepadaku, tidak mungkin
aku lupa. Betul kan, M. Poirot?”
Sepasang matanya yang hitam tajam memandang
Poirot.
”Benar, Miss Arundell,” sahut Poirot pelan. ”Anda
tak mungkin lupa.”
Tiba-tiba Poirot berpaling kepada Charles.
”Coba jelaskan dengan teliti, Mr. Arundell. Apakah
waktu itu Bibi Anda mengatakan akan mengubah su-
rat wasiatnya, ataukah sudah melakukannya?”
Jawaban Charles cukup cepat.
”Sudah. Bibi Emily malah menunjukkan surat wa-
siatnya yang baru.”
Duduk Poirot menegak. Matanya terbelalak.
”Ini penting sekali. Jadi, Anda tadi bilang, bibi
Anda benar-benar menunjukkan surat wasiatnya yang
baru kepada Anda?”
Charles membuat beberapa gerakan seperti anak
kecil yang resah. Kelihatan sekali pertanyaan Poirot
memojokkan pemuda itu.
175

pustaka-indo.blogspot.com
”Ya,” ujarnya. ”Bibi Emily menunjukkan surat wa-
siat itu kepada saya.”
”Anda berani sumpah?”
”Berani.” Charles memandang Poirot dengan ge-
lisah. ”Apa pentingnya?”
heresa berdiri dari kursinya. Ia berjalan pelan-pe-
lan ke perapian, dan berdiri di dekatnya. Disulutnya
sebatang rokok baru.
”Dan Anda, Mademoiselle?” alih Poirot tiba-tiba.
”Apakah bibi Anda tidak mengatakan apa pun kepada
Anda mengenai hal ini?”
”Tidak. Bibi Emily ramah—maksudku, biasa-biasa
saja. Menasihatiku supaya mengubah cara hidupku
yang jelek, dan sebagainya. Tapi itu memang biasa
dilakukannya. Hanya saja, yang terakhir kemarin me-
mang rasanya agak lain.”
Tersenyum, Poirot berkata, ”Mungkin karena Anda
terlalu sibuk dengan tunangan Anda, Mademoi-
selle?”
Jawaban heresa pedas.
”Oh. Dia tidak di sana waktu itu. Kebetulan ada
kongres kesehatan yang harus dihadirinya.”
”Jadi, Anda belum bertemu lagi dengannya sejak
liburan Paskah?”
”Benar. Yang terakhir, waktu dia datang santap ma-
lam bersama di Puri Hijau, malam sebelum kami
pulang.”
”Maafkan pertanyaan saya ini—Apakah Anda tidak
bertengkar dengan tunangan Anda waktu itu?”
”Tentu saja tidak.”
”Saya cuma berasumsi—mencoba mencari jawab,
176

pustaka-indo.blogspot.com
mengapa ia pergi pada kunjungan Anda yang kemu-
dian.”
Charles menyela, ”Kedatangan kami setelah Paskah
itu memang tidak direncanakan sebelumnya.”
”Sungguh?”
”Oh, sudahlah! Kita terus terang saja: Bella dan
suaminya menjenguk Bibi Emily seminggu sebelum
itu. Mereka berusaha menunjukkan perhatian. Kami
kuatir mereka mendului langkah kami...”
”Kami berpikir,” kata Charles sambil tersenyum
lebar, ”bahwa kami pun sepantasnya menunjukkan
perhatian pada kesehatan Bibi Emily... Kami tahu
Bibi Emily sukar dibohongi. Dia cepat menangkap
apa yang sebetulnya ada di balik kedatangan kami
itu.”
heresa tertawa.
”Lucu, kan? Semuanya bermanis-manis demi
uang.”
”Itu juga yang dilakukan saudara sepupu Anda dan
suaminya?”
”Ya. Kehidupan Bella selama ini agak sulit. Ia ber-
usaha meniru semua model bajuku, dengan biaya tak
lebih dari seperdelapannya. Sebenarnya Bella tidak
miskin. Tapi, suaminya suka berspekulasi. Uang Bella
habis dispekulasikannya. Itu sebabnya mereka hidup
sangat sulit sekarang. Anak mereka dua orang, dan
mereka ingin menyekolahkan anak-anak itu di Inggris
sini.”
”Boleh saya minta alamatnya?” tanya Poirot.
”Sekarang mereka masih tinggal di Hotel Durham,
di Bloomsbury.”
177

pustaka-indo.blogspot.com
”Bagaimana dia orangnya? Maksud saya, saudara
sepupu Anda itu?”
”Bella? Oh, agak membosankan. Charles?”
”Benar. Sangat membosankan. Tampangnya seperti
kepik. Dia ibu yang baik—begitu juga kepik.”
”Dan suaminya?”
”Tanios? Yah, tampangnya agak aneh. Tapi dia
baik. Cerdas, menyenangkan...”
”Anda setuju, Mademoiselle?”
”Yah—harus saya akui, saya lebih menyukai Tanios
daripada Bella. Tanios dokter yang pandai sekali. Mes-
kipun begitu, sukar bagi saya untuk memercayainya.
”heresa tak pernah percaya pada siapa pun. Ter-
masuk saya,” ujar Charles sambil melingkarkan lengan-
nya pada bahu adiknya.
”Kalau ada orang yang memercayaimu, Charles,
pasti ada yang tidak beres pada orang itu,” balas he-
resa.
Charles melepaskan heresa. Kedua kakak beradik
itu kini memandang Poirot.
Poirot mengangguk dan berjalan menuju pintu.
”Akan saya kerjakan tugas saya! Memang sulit. Tapi
Mademoiselle benar—jalan bisa dicari. Ngomong-
ngomong, apakah Miss Lawson tipe orang yang bi-
ngung bila diperiksa di pengadilan?”
Charles dan heresa bertukar pandang.
”Menurut saya,” sahut Charles, ”kalau orang yang
menanyainya pandai, ia bisa mengatakan yang hitam
itu putih.”
”Terima kasih. Informasi ini sangat berguna,” ucap
Poirot.
178

pustaka-indo.blogspot.com
Ia keluar dari ruang apartemen itu, dan aku pun
mengikutinya. Di tempat penitipan topi dan jas,
Poirot mengambil topinya. Setelah itu ia berjalan me-
nuju pintu keluar. Dibukanya pintu itu, dan diempas-
kannya sedemikian rupa hingga pintu itu menutup
dengan bunyi keras. Poirot tidak keluar. Ia masih te-
tap di dalam. Berjingkat-jingkat ia kembali ke dekat
pintu ruang duduk apartemen heresa, dan tanpa
malu-malu, ditempelkannya telinganya ke dekat lu-
bang kunci. Menguping seperti itu sangat memalukan
bila dilakukan oleh orang berpendidikan. Dan kali
ini, aku malu dan marah melihat Poirot melakukan-
nya. Tapi aku tak berdaya mencegahnya. Beberapa
kali kuberi isyarat, namun Poirot tak menghiraukan-
nya.
Kemudian, jelas sekali, terdengar suara heresa
Arundell yang dalam dan bergetar mengucapkan dua
patah kata, ”Kau bodoh!”
Terdengar langkah kaki orang, dan Poirot pun ce-
pat menarik lenganku sambil setengah menyeretku
keluar melalui pintu yang tadi dibuka dan diempas-
kannya. Kali ini ia membuka dan menutupnya tanpa
bunyi.

179

pustaka-indo.blogspot.com
15
Miss Lawson

”POIROT,” ujarku, ”perlukah nguping seperti itu?”


”Tenang, Kawan—kau tak perlu malu. Toh bukan
kau yang melakukannya.”
”Ya. Tapi aku juga ikut mendengar.”
”Betul. Mademoiselle memang tidak berbisik-
bisik.”
”Itu karena dia mengira kita sudah pergi.”
”Kuakui. Kita memang sedikit curang.”
”Aku tak suka itu.”
”Moralmu agak terlalu tinggi. Tapi sudahlah. Sudah
berkali-kali kita memperdebatkannya. Kau mau bilang
permainan begitu tidak jujur, kan? Nah. Jawabku,
pembunuhan juga bukan permainan yang jujur.”
”Tapi, dalam hal ini toh tidak ada pembunuhan?”
”Jangan terlalu yakin akan pendirianmu itu.”
”Maksud memang ada—ya, maksud membunuh

180

pustaka-indo.blogspot.com
itu memang ada, mungkin. Tapi, membunuh dan
mencoba membunuh toh berbeda?”
”Ditinjau dari segi moral, keduanya sama. Tapi,
yakinkah kita bahwa yang kita hadapi ini cuma per-
cobaan membunuh?”
Kupandang Poirot dengan rasa heran.
”Tapi, Poirot, Miss Arundell meninggal wajar.”
”Sekali lagi kuulang—yakinkah kau?”
”Semua orang bilang begitu.”
”Semua orang? Oh la la!”
”Dokternya mengatakan begitu,” bantahku. ”Dr.
Grainger toh tahu penyebab kematiannya.”
”Ya. Seharusnya dia tahu penyebabnya.” Kedengaran-
nya Poirot tidak puas. ”Tapi ingat, Hastings. Tubuh
orang mati masih selalu bisa digali kembali dan di-
periksa. Dalam hal begitu, ada surat pernyataan yang
harus ditandatangani dokter yang menanganinya se-
cara jujur.”
”Aku mengerti. Tapi, dalam hal ini Miss Arundell
toh meninggal karena sakit berkepanjangan?”
”Kelihatannya.”
Suara Poirot masih menunjukkan rasa tidak puas-
nya. Kuperhatikan dia. ”Poirot,” ujarku. ”Sekarang
giliranku bertanya dengan memakai kata-kata ’Yakin-
kah kau’—Yakinkah kau bahwa kau tidak terbuai oleh
kefanatikan profesimu? Karena kau ingin menganggap-
nya sebagai pembunuhan, lalu kaupikir itu pasti pem-
bunuhan.”
Poirot kelihatan berpikir. Ia mengangguk pelan-pe-
lan.
”Di situ kau pandai, Hastings. Pembunuhan me-
181

pustaka-indo.blogspot.com
mang selalu jadi urusanku. Seperti dokter bedah yang
katakanlah spesialis di bidang usus buntu... kalau ada
pasien yang datang kepadanya dengan gejala men-
dekati usus buntu, ia akan cepat mengambil asumsi
bahwa pasiennya memang menderita usus buntu.
Begitu juga aku. Dalam menghadapi setiap kasus,
selalu aku bertanya pada diriku sendiri, ’Mungkinkah
ini pembunuhan?’ Dan, Kawan, kemungkinan itu se-
lalu ada.”
”Dalam hal ini tak banyak kemungkinannya,” ko-
mentarku.
”Tapi dia mati, Hastings! Kau tak bisa menyangkal
fakta ini. Dia mati!”
”Kesehatannya jelek. Umurnya sudah lebih dari
tujuh puluh. Bagiku, kematiannya hal yang wajar.”
”Wajar pulakah kaupikir bila heresa Arundell me-
nyebut kakaknya bodoh dengan cara seperti itu?”
”Apa hubungannya?”
”Banyak! Coba katakan—apa pendapatmu me-
ngenai pernyataan Mr. Charles bahwa bibinya mem-
perlihatkan surat wasiatnya yang baru?”
Kupandang Poirot dengan kesal.
”Pendapatmu sendiri bagaimana?” tanyaku.
Mengapa harus selalu Poirot yang bertanya?
”Menurutku itu sangat menarik—ya, menarik se-
kali. Begitu juga reaksi Miss heresa Arundell mende-
ngarnya. Gerakan mereka mencerminkan sesuatu.”
”Hm,” gumamku.
”Dari situ timbul dua pertanyaan.”
”Kelihatannya mereka pasangan penjahat yang ma-
nis sekali,” komentarku. ”Siap menghadapi segala se-
182

pustaka-indo.blogspot.com
suatu. Yang perempuan bukan main cantiknya. Dan
si pemuda—jelas sangat memesona.”
Poirot melambaikan tangan, menghentikan taksi.
Taksi itu berhenti di pinggir jalan, dan Poirot mem-
berikan alamat kepada sopirnya.
”17 Clanroyden Mansions, Bayswater.”
”Jadi, berikutnya si Lawson?” komentarku. ”Dan
sesudahnya... Keluarga Tanios?”
”Benar, Hastings.”
”Peran apa yang akan kaumainkan nanti?” tanyaku
sementara taksi yang kami tumpangi mengurangi kece-
patan dan berhenti di Clanroyden Mansions. ”Penulis
biograi Jenderal Arundell, calon pembeli Puri Hijau,
atau apa lagi?”
”Sederhana. Aku akan datang sebagai Hercule
Poirot.”
”Oh.” Aku mencibir.
Poirot cuma melirikku sambil membayar sopir tak-
si.
Nomor 17 ada di lantai dua. Seorang pelayan
muda berwajah agak tolol membukakan pintu. Kami
dipersilakan masuk ke ruang tamu yang kelihatan sa-
ngat menggelikan bila dibandingkan dengan ruang
tamu di lat heresa tadi.
Flat heresa Arundell hampir bisa dikatakan ko-
song. Sebaliknya, tempat tinggal Miss Lawson ini
begitu penuh sesak dengan perabotan dan barang-ba-
rang kecil lainnya, sampai-sampai orang hampir tidak
bisa bergerak tanpa menyenggol sesuatu.
Pintu dalam dibuka, dan seorang wanita keluar.
Badannya agak gemuk. Usianya lima puluhan. Miss
183

pustaka-indo.blogspot.com
Lawson ternyata persis seperti yang kubayangkan se-
mula. Wajahnya penuh antusias walaupun kelihatan
agak kurang cerdas. Rambutnya yang keabu-abuan
tampak acak-acakan. Ia mengenakan sepasang kaca-
mata tanpa gagang yang menempel agak terlalu ba-
wah pada hidungnya. Bicaranya terputus-putus, dan
diselingi terlalu banyak ”Ah!” atau ”Oh!”
”Selamat pagi—eee... saya tidak...”
”Anda Miss Wilhelmina Lawson?”
”Ya—ya. Itu nama saya.”
”Saya Poirot—Hercule Poirot. Kemarin saya me-
lihat-lihat Puri Hijau.”
”Oh ya?”
Mulut perempuan itu menganga lebih lebar, dan
beberapa kali ia tampak membetulkan letak rambut-
nya tanpa hasil.
”Silakan duduk,” ujarnya. ”Oh, silakan duduk di
sini. Oh! Meja itu menghalangi jalan Anda. Memang
di sini agak kepenuhan. Susah. Flat macam begini!
Sempit... Tapi, yah letaknya di tengah kota. Saya me-
mang cari yang begitu.”
Sambil berdesah ia duduk pada kursi antik. De-
ngan kacamatanya masih menempel di tempat yang
tidak semestinya, perempuan itu menyandarkan pung-
gungnya sambil memandang Poirot penuh harap.
”Saya pergi ke Puri Hijau berpura-pura jadi calon
pembeli,” lanjut Poirot. ”Tapi, saya ingin segera me-
ngatakan alasan saya yang sebenarnya, walaupun ini
sebetulnya sangat rahasia.”
”Oh, ya,” kata Miss Lawson segera. Ia tampak se-
nang dan bersemangat.
184

pustaka-indo.blogspot.com
”Ini sangat rahasia sifatnya,” lanjut Poirot. ”Maksud
saya, saya pergi ke sana itu dengan alasan lain. Mung-
kin Anda tahu, mungkin juga tidak—sebelum mening-
gal, Miss Arundell menulis surat kepada saya...”
Poirot berhenti sebentar. Kemudian melanjutkan,
”Saya detektif kenamaan.”
Berbagai ekspresi berganti-ganti menghiasi wajah
Miss Lawson. Aku tak tahu ekspresi mana yang akan
dicatat Poirot. Ketakutan, keharuan, terkejut, ber-
tanya-tanya...
”Oh,” katanya. Kemudian, setelah diam sejenak,
”Oh,” sekali lagi.
Tiba-tiba, tanpa kuduga, Miss Lawson bertanya,
”Isinya mengenai uang itu?”
Poirot pun tampaknya agak terkejut. Ia mengulur-
ulur waktu.
”Maksud Anda mengenai uang yang...”
”Ya, ya. Uang yang dicuri dari laci?”
Poirot berkata tenang, ”Apakah Miss Arundell tidak
mengatakan dia menulis surat kepada saya mengenai
uangnya?”
”Tidak. Sungguh. Saya sama sekali tidak tahu—
Oh, sungguh, saya terkejut sekali mendengarnya...”
”Anda pikir Miss Arundell tidak mengatakan ini
kepada siapa pun?”
”Saya pikir tidak. Oh, dia memang tahu...”
Miss Lawson berhenti lagi. Cepat Poirot berkata,
”Dia tahu siapa yang mengambilnya, kan?”
Miss Lawson mengangguk, dan dengan napas ter-
putus-putus melanjutkan, ”Saya pikir dia tidak
ingin—yah, maksud saya katanya—dia merasa...”
185

pustaka-indo.blogspot.com
Sekali lagi Poirot memotong omongan yang tidak
jelas itu.
”Masalah keluarga?”
”Tepat.”
”Saya mengkhususkan diri dalam hal menangani
urusan-urusan keluarga semacam ini,” ujar Poirot.
”Jadi, saya bisa memegang rahasia.”
Miss Lawson mengangguk-angguk.
”Oh, tentu saja—itu bedanya. Anda tidak seperti
polisi.”
”Tidak, tidak. Saya sama sekali tidak seperti polisi.
Polisi tak pernah mengurusi masalah seperti ini.”
”Oh. Benar. Miss Arundell sangat menjaga kehor-
matan. Dia sering kesulitan menghadapi Charles.
Tapi, tak pernah ia membicarakannya.”
”Persis,” kata Poirot. ”Nah, sekarang masalahnya
sebetulnya begini, kan? Miss Arundell menyimpan
sejumlah uang di laci...”
Poirot berhenti. Cepat-cepat Miss Lawson mem-
benarkan pernyataannya, ”Ya, uang itu dari bank.
Miss Arundell mengambilnya untuk membayar gaji
kami dan buku-buku pesanannya.”
”Berapa banyak yang hilang?”
”Empat lembar uang pound. Oh, bukan. Saya sa-
lah. Tiga lembar uang pound dan dua lembar puluhan
shilling. Saya harus mengatakan yang setepat-tepat-
nya—ya, dalam hal begini memang perlu ketepatan.”
Miss Lawson memandang Poirot penuh perhatian.
Tanpa sadar, ia menyentuh kacamatanya, hingga lebih
tidak keruan lagi letaknya. Matanya yang agak cekung
seolah hendak menelan Poirot.
186

pustaka-indo.blogspot.com
”Terima kasih, Miss Lawson. Kelihatannya Anda
tahu bagaimana harus bersikap dalam bisnis.”
Miss Lawson tampak menahan perasaannya, dan
tertawa.
”Miss Arundell kelihatannya punya alasan buat
mencurigai kemenakannya—Charles—yang mencuri
uang itu,” lanjut Poirot.
”Ya.”
”Meskipun tidak ada bukti yang pasti mengenai
siapa yang sebenarnya mengambil uang itu?”
”Oh, sudah pasti Charles yang mengambil! Mrs.
Tanios tidak akan berbuat begitu, dan suaminya—dia
orang asing—tak mungkin tahu tempat Miss Arundell
menyimpan uang. heresa Arundell juga tidak mung-
kin. Dia tidak akan mimpi mencuri uang. Uangnya
sendiri sudah banyak, dan pakaiannya tidak ada yang
jelek.”
”Siapa tahu salah seorang pelayan yang melakukan-
nya?” kata Poirot.
Miss Lawson kelihatan marah mendengarnya.
”Oh, tidak mungkin. Sungguh, tak mungkin.
Ellen, juga Annie, orang yang jujur... jujur sekali.
Saya yakin itu.”
Poirot menunggu beberapa menit lamanya. Kemu-
dian berkata, ”Mungkin Anda bisa memberi gam-
baran—oh, saya yakin Anda bisa, karena Anda orang
kepercayaan Miss Arundell...”
Miss Lawson bergumam tak menentu, ”Oh, ma-
salah itu, saya yakin... saya tidak tahu sama sekali.”
Walaupun begitu jelas kelihatan bahwa ia malu me-
nerima predikat yang diberikan Poirot.
187

pustaka-indo.blogspot.com
”Saya merasa Anda bisa menolong saya, Miss
Lawson.”
”Oh. Kalau ada yang bisa saya lakukan untuk
Anda...”
Poirot melanjutkan, ”Ini rahasia di antara kita...”
Wajah Miss Lawson penuh gairah, namun kelihatan
agak ragu.
”Punyakah Anda bayangan—mengapa Miss Arun-
dell mengubah surat wasiatnya?”
”Surat wasiatnya? Oh—surat wasiatnya?”
Miss Lawson tampak agak terkejut.
Sambil memandangnya lekat-lekat, Poirot berkata,
”Benar, kan—bahwa Miss Arundell menulis surat wa-
siat baru beberapa hari sebelum kematiannya, dan
bahwa isinya menyatakan semua kekayaannya dijatuh-
kan kepada Anda?”
”Benar, tapi saya sama sekali tidak mengetahui apa
sebabnya,” protes Miss Lawson. ”Saya sangat terkejut!
Tentu saja kejutan yang menggembirakan. Begitu baik-
nya Miss Arundell. Padahal, sekali pun ia tidak per-
nah menyinggung-nyinggung hal itu. Sama sekali ti-
dak pernah. Saya sungguh terkejut, Mr. Poirot. Dan
saya ingin meyakinkan Anda, bahwa Miss Arundell
benar-benar baik. Tentu saja saya berharap ditinggali
sesuatu—sedikit—meskipun kalau tidak pun sebenar-
nya tidak apa-apa. Tidak ada keharusan baginya me-
ninggali saya sesuatu. Tapi ini—Oh, seperti dalam
dongeng saja rasanya! Bahkan sampai sekarang, ka-
dang-kadang saya masih sulit menerima kenyataan...
Terus terang, kadang-kadang saya merasa tidak enak.
Maksud saya... yah, maksud saya...”
188

pustaka-indo.blogspot.com
Tanpa sengaja, ia menyentuh kacamatanya. Kaca-
mata tanpa gagang itu jatuh dan dipungutnya. Kemu-
dian dengan gugup ia memasangnya kembali dan
melanjutkan kata-katanya yang tidak jelas, ”Saya se-
ring merasa—yah, darah daging tetap darah daging.
Saya tidak enak Miss Arundell meninggalkan uangnya
bukan kepada darah dagingnya sendiri. Maksud saya,
oh, rasanya itu tidak betul. Bukankah begitu? Semua-
nya, lagi—dan jumlahnya demikian banyak! Tak se-
orang pun menduga! Pokoknya, saya merasa tidak
enak. Sangat tidak enak—dan orang selalu membicara-
kan—padahal, saya yakin saya bukan perempuan ja-
hat! Maksud saya, saya tak akan pernah punya ke-
inginan memengaruhi Miss Arundell dalam hal apa
pun! Dan itu pun tidak mungkin saya lakukan. Terus
terang, saya sering takut pada Miss Arundell! Pikiran-
nya begitu cerdas, kata-katanya tajam—menyakitkan
hati kadang-kadang. Sering membentak—dan, oh,
saya toh punya perasaan juga, Mr. Poirot. Saya sering
merasa tak dapat menahan perasaan saya... marah dan
benci sekali... Dan sekarang, saya tahu. Bahwa sebenar-
nya, sebenarnya, dia menyayangi saya. Oh, rasanya!
Tapi tetap saya tidak bisa melupakan, sering sekali
saya menderita, sakit hati, jengkel, dan sebagainya.
Tidak mungkin orang bisa menahan semua perasaan
seperti itu, kan?”
”Maksud Anda, Anda lebih suka melepaskan uang
itu?” tanya Poirot.
Sesaat—cuma sesaat—kulihat cahaya yang berbeda
terpancar dari mata Miss Lawson yang sayu kebiru-
biruan itu. Sejenak, terbayang olehku seorang perem-
189

pustaka-indo.blogspot.com
puan yang cerdik dan terpelajar duduk di hadapan
kami—bukan Miss Lawson yang lemah dan agak bo-
doh.
Katanya dengan tawa kecil, ”Yah—tentu saja ada
segi lainnya... Maksud saya, setiap pertanyaan dapat
dijawab dari dua segi yang berbeda. Miss Arundell
memang punya maksud meninggalkan uangnya ke-
pada saya—itu saya yakin. Kalau saya tidak mau me-
nerimanya, berarti saya tidak mengikuti keinginannya.
Dan itu tidak baik, kan?”
”Pertanyaannya sukar,” kata Poirot sambil mengge-
leng.
”Ya. Benar. Berkali-kali saya kuatir dan gelisah me-
mikirkannya. Mrs. Tanios—Bella—sangat baik, dan
ada anak-anaknya pula! Maksud saya, saya yakin Miss
Arundell tidak ingin dia yang dapat. Saya rasa, Miss
Arundell berharap saya menggunakan kebijaksanaan
saya. Dia tidak mau terang-terangan meninggali Bella
uang, karena takut suaminya akan menguasai uang
itu.”
”Suaminya?”
”Ya. Suaminya. Oh, Mr. Poirot—Bella itu boleh
dikatakan sangat ditindas oleh suaminya. Apa pun
yang diperintahkan oleh suaminya dilakukannya. Saya
yakin, disuruh membunuh pun ia akan melakukannya!
Bella sangat takut pada suaminya. Sekali-dua kali,
saya melihat dia begitu ketakutan. Itu tidak benar
kan, Mr. Poirot?”
Poirot tidak mengomentari.
”Lelaki macam bagaimana suaminya itu?” tanya-
nya.
190

pustaka-indo.blogspot.com
”Yah,” jawab Miss Lawson ragu-ragu, ”laki-laki itu
sangat menyenangkan.”
”Tapi Anda tidak memercayainya?”
”Yah—tidak. Tapi saya tak tahu,” lanjutnya ragu,
”saya merasa tak pernah bisa memercayai laki-laki!
Setelah menjadi suami, biasanya mereka itu jadi ma-
cam-macam! Istrinyalah yang akhirnya menderita!
Sungguh keterlaluan! Dr. Tanios memang selalu ber-
pura-pura sayang kepada istrinya. Di depan umum ia
penuh perhatian dan sangat memanjakannya. Oh. Si-
kapnya betul-betul menyenangkan. Tapi, saya kurang
bisa memercayai orang asing. Mereka itu terlalu ber-
seni! Yang jelas, saya yakin Miss Arundell tidak meng-
hendaki uangnya disentuh lelaki itu!”
”Miss heresa Arundell dan Mr. Charles Arundell
pun kecewa tidak menerima warisan,” ujar Poirot.
Wajah Miss Lawson merah padam.
”Uang heresa sudah cukup banyak,” katanya ta-
jam. ”Beratus-ratus pound dibelanjakannya cuma un-
tuk pakaian, dan pakaian dalamnya—itu tidak adil!
Banyak gadis manis dan sopan harus bekerja untuk
mencari nafkah...”
Poirot melengkapi kalimatnya, ”Jadi, Anda pikir
tidak ada salahnya bila dia pun berjuang untuk mem-
peroleh uang?”
Miss Lawson memandang Poirot dengan sungguh-
sungguh.
”Itu justru baik buatnya,” komentarnya. ”Dengan
begitu mungkin dia bisa sadar. Dari kesulitan dalam
hidup, kita belajar banyak hal...”
191

pustaka-indo.blogspot.com
Poirot mengangguk. Perhatiannya penuh pada Miss
Lawson.
”Dan Charles?”
”Charles tak pantas menerima sepeser pun,” kali
ini jawabnya sangat tajam. ”Miss Arundell bijaksana
memutuskan untuk tidak mewarisi pemuda itu. Pe-
muda tak tahu diri... mengancam...”
Mengancam?”
”Ya.”
”Mengancam apa? Kapan dia mengancam bibi-
nya?”
”Tunggu—waktu itu liburan Paskah. Saya ingat
sekarang. Kejadiannya tepat pada hari Minggu Pas-
kah.”
”Apa katanya?”
”Dia minta uang dan bibinya tak mau memberi!
Dia mengatakan bibinya tidak bijaksana. Katanya,
kalau bibinya tetap bersikap seperti itu, dia akan—apa
yang diucapkannya waktu itu ya?—yang jelas sangat
kasar—oh, ya, dia bilang sikap bibinya itu menantang
orang buat membunuhnya...”
”Dia mengancam akan membunuh bibinya?”
”Ya.”
”Lalu apa komentar sang bibi?”
”Miss Arundell mengatakan, ’Aku bisa menjaga
diriku sendiri, Charles.’”
”Ketika itu Anda berada di ruangan yang sama?”
”Mmm, tidak di ruangan yang sama,” jawab Miss
Lawson setelah terdiam beberapa saat.
”Tapi cukup dekat,” ujar Poirot cepat. ”Lalu bagai-
mana tanggapan Charles?”
192

pustaka-indo.blogspot.com
”Dia bilang, ’Jangan terlalu yakin.’”
Poirot berkata perlahan-lahan, ”Apakah Miss Arun-
dell menganggap ancaman itu serius?”
”Yah, saya tidak tahu... Dia tidak pernah mengata-
kannya kepada saya... Bagaimanapun, itu bukan ke-
biasaannya.”
Lagi-lagi Poirot bertanya perlahan, ”Anda tentunya
tahu Miss Arundell menulis surat wasiat baru?”
”Tidak, tidak. Sudah saya katakan tadi, saya sangat
terkejut. Saya tidak pernah mimpi...”
Poirot menyela, ”Anda tidak tahu isinya. Tapi Anda
tahu ada surat wasiat baru, kan?”
”Yah, saya cuma menduga—maksud saya, dia me-
manggil pengacaranya sementara dia berbaring...”
”Tepat. Itu setelah Miss Arundell jatuh, kan?”
”Ya. Bob—Bob itu anjing kesayangannya—anjing
itu meninggalkan bolanya di dekat puncak tangga.
Miss Arundell terpeleset dan jatuh.”
”Kecelakaan yang sangat mengerikan.”
”Oh, ya. Benar. Dokter bilang, untung Miss Arun-
dell tidak mengalami patah kaki atau tangan.”
”Untung juga tidak mati. Kecelakaan macam begitu
bisa menyebabkan kematian.”
”Benar!”
Jawabannya kedengaran begitu wajar dan jujur.
Poirot berkata sambil tersenyum, ”Saya bertemu
dengan Mr. Bob di Puri Hijau.”
”Oh, tentu saja. Dia anjing yang manis sekali.”
Jengkel benar aku mendengar anjing segagah terrier
itu dikatakan manis. Pantas Bob membenci perem-
puan ini dan tak pernah mau menuruti perintahnya.
193

pustaka-indo.blogspot.com
”Anjing itu sangat pandai, bukan?”
”Ya. Pandai sekali dia.”
”Kalau dia tahu akibat kelalaiannya tuannya bisa
meninggal, dia tentu sedih.”
Miss Lawson tidak memberi komentar. Dia cuma
menggeleng dan mendesah.
Poirot bertanya, ”Bagaimana menurut pendapat
Anda? Apakah kecelakaan itu yang mendorong Miss
Arundell mengubah surat wasiatnya?”
Kupikir, pembicaraan sudah hampir mencapai sa-
sarannya pada waktu itu. Tapi Miss Lawson rupanya
menganggap pertanyaan itu wajar-wajar saja.
”Mungkin juga,” jawabnya. ”Yang jelas dia shock
sekali. Orang lanjut usia biasanya segan berpikir ten-
tang kematian. Tapi, kecelakaan semacam itu mem-
buka pikirannya. Atau, mungkin juga membuatnya
punya perasaan bahwa hidupnya tak akan lama
lagi.”
Dengan wajar Poirot berkata, ”Waktu itu kesehatan-
nya relatif baik, bukan?”
”Oh, ya. Miss Arundell sedang sehat sekali.”
”Sakitnya datang tiba-tiba?”
”Oh, ya. Mengejutkan. Malam itu sedang ada
tamu...” Miss Lawson berhenti.
”Tamunya teman-teman Anda—Miss Julia dan
Isabel Tripp. Ya, saya sudah bertemu dengan mereka.
Orangnya cukup menyenangkan!”
Pipi perempuan tua itu bersemu merah, dan mata-
nya bersinar-sinar.
”Oh, memang. Mereka menyenangkan, kan? Bukan
main—berpendidikan—mereka itu! Berbagai ilmu me-
194

pustaka-indo.blogspot.com
reka pelajari. Mereka pengikut aliran spiritual. Mung-
kin mereka sudah menceritakan pengalaman-penga-
laman kami? Oh, sangat menyenangkan—pesan-pesan
yang disampaikan roh-roh itu.”
”Tentu. Saya yakin itu merupakan pengalaman
yang sangat menyenangkan.”
”Ibu saya sudah dua kali berbicara kepada saya,
Mr. Poirot! Oh, bukan main senangnya bila kita tahu
orang yang kita sayangi masih memikirkan kita dan
memperhatikan kita dari alam yang lain sana.”
”Ya, ya. Saya mengerti,” kata Poirot lembut. ”Apa-
kah Miss Arundell juga pengikut aliran ini?”
Wajah Miss Lawson menjadi keruh.
”Dia mau diyakinkan,” sahutnya ragu. ”Tapi, saya
rasa, Miss Arundell tidak pernah melakukan pende-
katan sebagaimana mestinya. Miss Arundell orangnya
skeptis, tidak mudah percaya. Sekali-dua kali, sikap-
nya membuat roh marah. Kalau roh marah, berita-be-
rita yang disampaikan buruk, Sir. Tak senang men-
dengarnya. Dan itu, saya yakin, karena kelakuan Miss
Arundell.”
”Bisa jadi,” kata Poirot meyakinkan.
”Tapi, pada malam terakhir...” lanjut Miss Lawson,
”Isabel dan Julia sudah menceritakan kejadian malam
terakhir kami berkumpul itu? Oh, waktu itu terjadi
semacam ectoplasm... Anda mengerti maksud saya,
kan?”
”Ya, ya. Istilah-istilahnya cukup saya kenal.”
”Kejadiannya pelan sekali. Mula-mula dari mulut
Miss Arundell keluar semacam kabut terang berbentuk
pita panjang. Pita itu naik... naik, dan membentuk
195

pustaka-indo.blogspot.com
semacam selubung di sekeliling kepalanya. Sekarang
saya yakin, Mr. Poirot. Tanpa disadarinya, Miss
Arundell tengah berada di alam peralihan pada waktu
itu. Jelas sekali saya lihat asap terang berbentuk pita
itu keluar dari mulutnya. Lalu, tak lama kemudian,
kepalanya seperti terbungkus lapisan kabut yang ber-
sinar terang.”
”Hmmm, bukan main!”
”Tapi sayang sekali, Sir—Miss Arundell tiba-tiba
merasa sakit. Kami terpaksa menghentikan permainan
jelangkung kami ”
”Anda memanggil dokter? Kapan?”
”Pagi-pagi sekali esok harinya.”
”Bagaimana hasil pemeriksaannya? Apakah penyakit
Miss Arundell dianggapnya serius?”
”Pokoknya, Dr. Grainger mengirim juru rawat dari
rumah sakit sore harinya.”
”Maaf—apakah sanak keluarga Miss Arundell di-
beritahu?”
Wajah Miss Lawson merah padam.
”Tentu saja—segera setelah Dr. Grainger menyata-
kan Miss Arundell dalam keadaan gawat.”
”Apa yang menyebabkan penyakitnya? Makanan?”
”Bukan. Saya pikir bukan, Mr. Poirot. Dr. Grainger
mengatakan, kemungkinan besar penyakitnya kambuh
karena udara yang terlalu dingin. Memang hari-hari
itu cuaca sedang sangat buruk.”
”heresa dan Charles Arundell datang pada akhir
pekan, bukan?”
”Ya,” jawab Miss Lawson pendek.
196

pustaka-indo.blogspot.com
”Kedatangan mereka sia-sia,” lanjut Poirot sambil
mengamati wajah Miss Lawson.
”Betul.” Kemudian dengan suara bernada tak suka
Miss Lawson menambahkan, ”Miss Arundell tahu
maksud kedatangan mereka yang sebenarnya.”
”Apa?” tanya Poirot sambil tetap menatap wanita
itu.
”Uang!” lontar Miss Lawson. ”Tapi mereka tidak
berhasil mendapatkannya.”
”Tidak berhasil?” tanya Poirot.
”Saya yakin... itu juga yang diburu Dr. Tanios,”
lanjut Miss Lawson.
”Dr. Tanios datangnya tidak bersamaan dengan
Charles dan heresa, kan?”
”Hari Minggu-nya. Tapi cuma sebentar, tak lebih
dari sejam.”
”Hmm... kelihatannya semua mengejar uang Miss
Arundell,” komentar Poirot.
”Ya. Dan, mengingat keadaan Miss Arundell pada
waktu itu... oh, sepertinya mereka itu tidak punya
perasaan!”
”Tepat sekali,” ujar Poirot. ”Tentu Charles dan he-
resa sangat kaget waktu Miss Arundell mengatakan
terus terang bahwa dia tidak akan mewarisi mereka
sepeser pun.”
Miss Lawson memandangnya tidak berkedip.
Poirot melanjutkan, ”Itu benar, bukan? Maksud
saya, Miss Arundell memang mengatakan hal itu de-
ngan terus terang?”
”Itu saya tidak tahu. Saya sama sekali tidak men-
197

pustaka-indo.blogspot.com
dengar apa-apa. Malah, saya lihat Charles dan heresa
berseri-seri waktu mereka pulang.”
”Ah! Jadi rupanya informasi yang saya terima tidak
benar. Miss Arundell menyimpan surat wasiatnya di
rumah—maksud saya—di Puri Hijau. Apakah itu be-
nar?”
Kacamata tempel Miss Lawson terjatuh, dan perem-
puan itu membungkuk memungutnya.
”Oh, saya sungguh-sungguh tidak tahu mengenai
hal itu. Tapi, saya pikir surat itu pasti disimpan oleh
Mr. Purvis.”
”Siapa pengacaranya?”
”Mr. Purvis.”
”Setelah Miss Arundell meninggal, apakah Mr.
Purvis datang ke Puri Hijau memeriksa surat-surat-
nya?”
”Ya.”
Poirot memandang tajam perempuan itu. Perta-
nyaannya yang selanjutnya sama sekali tidak ter-
duga, ”Anda menyukai Mr. Purvis?”
Miss Lawson tergagap kebingungan.
”Menyukai Mr. Purvis? Oh—pertanyaan Anda su-
kar dijawab. Maksud saya, saya yakin dia pandai—eh,
ahli hukum yang pandai. Tapi sikapnya agak kaku!
Maksud saya, orang kan jadi tidak senang kalau di-
ajak berbicara sampai orang itu merasa seperti—oh,
saya tidak bisa menjelaskan, Mr. Poirot. Dia orang
terhormat, tapi kasar. Anda tahu maksud saya, kan?”
”Situasinya benar-benar sulit buat Anda,” ujar
Poirot penuh simpati.
198

pustaka-indo.blogspot.com
”Benar. Sulit sekali.”
Miss Lawson mengeluh kemudian menggeleng-ge-
leng.
Poirot bangkit.
”Terima kasih banyak, Mademoiselle, atas segala
keramah-tamahan Anda. Juga atas segala bantuan
Anda.”
”Jangan bilang terima kasih kepada saya, Mr.
Poirot—saya sudah senang kalau bisa membantu. Ka-
lau masih ada hal lain yang bisa saya lakukan...”
Poirot melangkah ke luar. Namun, sebelum sampai
di pintu ia berbalik mendekati Miss Lawson. Dengan
suara pelan ia berkata, ”Saya rasa Anda perlu tahu,
Miss Lawson, Charles dan heresa ingin menggugat
surat wasiat itu.”
Mendadak pipi wanita itu merah padam.
”Tidak mungkin! Mereka tidak akan bisa,” ujarnya
penuh nafsu. ”Ahli hukum saya bilang begitu.”
”Ah,” kata Poirot, ”jadi Anda sudah minta nasihat
ahli hukum juga?”
”Tentu. Apa salahnya?”
”Anda bijaksana, Mademoiselle. Selamat siang.”
Sementara kami beranjak meninggalkan Clanroyden
Mansions, Poirot menarik napas panjang.
”Hastings, mon ami, perempuan itu persis seperti
penampilannya. Atau, mungkin juga dia aktris
jagoan.”
”Yang jelas, dia yakin kematian Miss Arundell wa-
jar,” komentarku.
Poirot tidak menyahut. Kadang-kadang dia me-
199

pustaka-indo.blogspot.com
mang bertingkah seperti orang tuli. Poirot menghenti-
kan taksi.
”Hotel Durham, Bloomsbury,” ujarnya kepada si
sopir.

200

pustaka-indo.blogspot.com
16
Mrs. Tanios

”ADA tamu, Mrs. Tanios!”


Perempuan yang sedang duduk menulis di meja di
ruangan Hotel Durham itu menoleh. Kemudian ia
bangkit dan menghampiri kami dengan ragu.
Umur Mrs. Tanios kelihatannya sudah di atas tiga
puluhan. Perawakannya tinggi semampai, rambutnya
hitam, dan wajahnya seperti penuh kekuatiran. Ia me-
ngenakan topi gaya mutakhir. Namun, letaknya ku-
rang enak dipandang mata. Gaunnya terbuat dari ba-
han katun, dan kelihatannya jauh dari kecerahan.
”Saya rasa saya tidak...” ujarnya kurang jelas.
Poirot mengangguk.
”Saya baru saja dari tempat sepupu Anda, Miss
heresa Arundell.”
”Oh. Dari heresa? Betul?”
”Boleh saya bercakap-cakap sebentar saja dengan

201

pustaka-indo.blogspot.com
Anda? Ada masalah pribadi yang perlu saya tanya-
kan.”
Dengan pandangan kosong Mrs. Tanios melihat ke
sekelilingnya. Poirot menunjuk sofa kulit di ujung
ruangan.
Sementara kami berjalan menuju sofa itu, terdengar
suara anak kecil melengking, ”Mama, mau ke mana?”
”Cuma ke situ, Sayang. Ayo, teruskan saja surat-
mu.”
Si anak, gadis kurus berumur tujuh tahunan, kem-
bali menekuni tugas beratnya. Lidahnya kadang-ka-
dang dijulurkan, seolah dengan begitu mengarang
menjadi lebih mudah.
Di sekitar sofa tak ada orang lain. Mrs. Tanios du-
duk. Ia memandang Poirot dengan penuh tanda ta-
nya.
Poirot segera memulai.
”Ini berhubungan dengan kematian Bibi Anda,
Miss Emily Arundell almarhum.”
Aku tak tahu. Apakah aku mulai membayangkan
yang bukan-bukan? Atau, memang benar mata perem-
puan itu menunjukkan ketakutan?
”Ya.”
”Miss Arundell mengganti isi surat wasiatnya tak
lama sebelum beliau meninggal. Surat wasiat barunya
menyatakan bahwa segala sesuatu miliknya diwariskan
kepada Miss Wilhelmina Lawson. Yang ingin saya
tanyakan, apakah Anda ingin bergabung dengan se-
pupu Anda—Miss heresa dan Mr. Charles Arundell?
Mereka ingin berusaha menggugat surat wasiat itu,”
lanjut Poirot.
202

pustaka-indo.blogspot.com
”Oh!” Mrs. Tanios menarik napas dalam. ”Tapi itu
tidak mungkin, kan? Suami saya sudah menanyakan
kemungkinannya kepada ahli hukum. Tapi kelihatan-
nya ia berpendapat lebih baik tidak coba-coba.”
”Ahli hukum kebanyakan terlalu berhati-hati.
Umumnya, mereka memberi nasihat untuk menghin-
darkan perkaranya sampai ke pengadilan. Tentu saja
nasihat mereka umumnya benar. Tapi, kadang-kadang
ada untungnya mengambil risiko. Saya sendiri bukan
ahli hukum. Karena itu saya melihat masalahnya dari
kacamata lain. Miss Arundell—maksud saya heresa—
sudah siap memperjuangkan haknya. Nah, Anda sen-
diri bagaimana?”
”Saya—oh, saya tidak tahu.” Mrs. Tanios dengan
gelisah mempermainkan jari-jarinya. ”Saya mesti ber-
bicara dulu dengan suami saya.”
”Tentu saja, Anda harus merundingkan dulu de-
ngan suami Anda sebelum mengambil keputusan.
Tapi, bagaimana perasaan Anda sendiri terhadap ma-
salah itu?”
”Saya tidak tahu.” Mrs. Tanios tampak lebih kuatir.
”Itu tergantung pada suami saya.”
”Tapi, Anda sendiri—bagaimana?”
Dahinya berkerut. Lalu katanya perlahan-lahan,
”Saya kurang setuju. Menurut saya, itu tidak so-
pan.”
”Oh, betulkah begitu?”
”Ya. Kalau Bibi Emily sudah memutuskan untuk
tidak memberikan uangnya kepada keluarganya sen-
diri... saya pikir, kami harus menerima keputusannya
itu.”
203

pustaka-indo.blogspot.com
”Jadi, Anda tidak kecewa?”
”Oh, tentu saja saya kecewa.”
Warna merah merambati pipinya.
”Keputusan itu sangat tidak adil. Tidak adil! Dan
sama sekali di luar dugaan. Bukan Bibi Emily rasanya
kalau ia membuat keputusan seperti itu. Sangat tidak
adil untuk anak-anak.”
”Jadi, Anda berpendapat keputusan itu bukan ke-
putusan bibi Anda sendiri?”
”Yang jelas aneh sekali.”
”Kalau begitu, mungkin sekali bibi Anda tidak ber-
tindak atas kemauan bebasnya. Menurut pendapat
Anda, mungkinkah bibi Anda dipengaruhi oleh orang
yang tidak bertanggung jawab?”
Dahi Mrs. Tanios berkerut lagi. Dengan rasa segan
yang sangat kentara, ia menjawab, ”Susahnya, saya
tidak bisa membayangkan Bibi Emily dipengaruhi
siapa pun! Beliau begitu yakin dengan keputusannya
sendiri.”
Poirot mengangguk-angguk setuju.
”Ya. Yang baru saja Anda katakan itu memang be-
nar. Dan lagi, Miss Lawson bukan tipe orang yang
berkepribadian begitu keras.”
”Oh, dia orang yang manis—agak tolol, mungkin,
tapi sangat baik hati. Itu salah satu sebab saya me-
rasa...”
”Ya, Mrs. Tanios?” pancing Poirot ketika Mrs.
Tanios tidak melanjutkan kata-katanya.
Mrs. Tanios bermain-main dengan jari tangannya.
Wajahnya tampak sangat gelisah ketika ia berkata,
”Yah, tidak pantas dan tidak semestinya menggugat
204

pustaka-indo.blogspot.com
surat wasiat itu. Saya yakin keputusan Bibi Emily ti-
dak dipengaruhi Miss Lawson. Tidak mungkin perem-
puan semacam dia merencanakan dan membujuk...”
”Saya setuju.”
”Itu sebabnya saya merasa bahwa mengajukannya
ke pengadilan sungguh tidak pantas dan tidak terpuji.
Di samping itu, biayanya juga mahal, bukan?”
Poirot diam beberapa menit lamanya sebelum ber-
kata, ”Memang mahal.”
”Dan besar kemungkinan tidak ada hasilnya. Coba
Anda bicarakan hal ini dengan suami saya. Dalam
urusan bisnis dia lebih cekatan daripada saya.”
Lagi-lagi Poirot berdiam sejenak sebelum berkata,
”Menurut perkiraan Anda, apa yang melatarbelakangi
pembuatan surat wasiat baru itu?”
Wajah Mrs. Tanios merah padam.
”Saya tidak mempunyai bayangan sama sekali,” bi-
siknya.
”Mrs. Tanios, saya sudah mengatakan tadi, saya
bukan ahli hukum. Tapi saya perhatikan Anda belum
menanyakan apa profesi saya yang sebenarnya.”
Ia memandang Poirot penuh tanda tanya.
”Saya detektif, Mrs. Tanios. Beberapa hari sebelum
meninggal Miss Arundell menulis surat kepada saya.”
Mrs. Tanios beringsut. Ia mengatupkan kedua be-
lah tangannya rapat-rapat.
”Surat?” tanyanya terkejut. ”Mengenai suami
saya?”
Agak lama Poirot mengamati perempuan itu. Lalu,
perlahan-lahan dia menyahut, ”Maaf, saya tidak ber-
hak menjawab pertanyaan Anda.”
205

pustaka-indo.blogspot.com
”Oh, jadi benar—mengenai suami saya.” Suaranya
agak keras. ”Apa katanya? Percayalah, Mr.... eh, saya
belum tahu nama Anda.”
”Nama saya Poirot. Hercule Poirot.”
”Percayalah, Mr. Poirot—bila Bibi Emily menyebut-
kan sesuatu yang jelek mengenai suami saya, itu sama
sekali tidak benar! Saya tahu siapa yang sebenarnya
memberikan bayangan semacam itu mengenai suami
saya. Itu alasan lain. Saya tidak mau ikut campur de-
ngan apa pun yang dilakukan heresa dan Charles!
heresa sangat membenci suami saya. Dia menjelek-
jelekkan suami saya! Saya yakin! Bibi Emily berpra-
duga macam-macam, karena suami saya bukan orang
Inggris. Jadi, bisa diterima kalau Bibi Emily memer-
cayai cerita buatan heresa. Tapi itu tidak benar, Mr.
Poirot. Percayalah!”
”Mama, suratnya sudah selesai!”
Cepat Mrs. Tanios berpaling. Dengan melontarkan
senyum sayang ia mengambil surat yang diacungkan
anak gadisnya.
”Bagus! Bagus sekali, Sayang! Dan gambar Mickey
Mouse-nya... Hmmm, kau betul-betul hebat.”
”Sekarang bikin apa lagi, Ma?”
”Mau beli kartu pos bergambar? Ini uangnya. Pergi
saja ke toko di sudut sana—pilih gambar yang paling
bagus, tulisi, lalu kirimkan kepada Selim.”
Anak itu pergi. Teringat olehku kata-kata Charles
Arundell. Memang, Mrs. Tanios seorang ibu dan istri
yang penuh pengabdian—seperti kepik.
”Anak satu-satunya?” tanya Poirot.
206

pustaka-indo.blogspot.com
”Oh, saya punya anak seorang lagi. Laki-laki. Ia
sedang keluar dengan ayahnya.”
”Mereka tidak pernah ikut ke Puri Hijau?”
”Oh, kadang-kadang. Tapi Anda tahu sendiri... bibi
saya sudah tua. Anak-anak kecil sering membuatnya
pusing. Meskipun begitu Bibi Emily sangat sayang
kepada mereka. Tiap Natal tak pernah lupa mengirim
hadiah buat mereka.”
”Kapan terakhir kali Anda bertemu dengan bibi
Anda?”
”Kalau tidak salah, sepuluh hari sebelum beliau
meninggal.”
”Anda dengan suami Anda dan sepupu-sepupu
Anda bersama-sama ke sana?”
”Bukan yang terakhir—itu Minggu yang sebelum-
nya. Waktu Paskah!”
”Dan seminggu setelah Paskah Anda ke sana lagi
dengan suami Anda?”
”Ya.”
”Ketika Anda datang, Miss Arundell sedang sehat
dan penuh semangat?”
”Ya, beliau kelihatan biasa saja.”
”Tidak sakit di tempat tidur?”
”Oh, ya. Bibi Emily masih harus banyak berbaring
setelah kecelakaan yang dialaminya. Tapi beliau sudah
bisa bangun dan berjalan-jalan, bahkan turun ke ba-
wah sementara kami di sana.”
”Apakah bibi Anda mengatakan ia sudah menulis
surat wasiat baru?”
”Tidak. Sama sekali tidak.”
207

pustaka-indo.blogspot.com
”Bagaimana sikapnya? Apakah sikapnya tidak ber-
ubah?”
Kali ini Mrs. Tanios tampak berpikir sebelum men-
jawab.
”Ya,” jawabnya.
Aku yakin Poirot mempunyai perasaan yang sama
denganku bahwa wanita itu berbohong.
Poirot tidak langsung berbicara. Beberapa lama ke-
mudian baru ia berkata, ”Maaf, Mrs. Tanios. Waktu
saya tanya apakah sikapnya tidak berubah, maksud
saya, bukan sikapnya terhadap Anda semuanya, me-
lainkan kepada Anda pribadi.”
Komentar Mrs. Tanios datang segera, ”Oh, begitu?
Bibi Emily sangat baik kepada saya. Beliau memberi
saya bros berlian. Anak-anak dikiriminya uang sepu-
luh shilling seorang.”
Sikap Mrs. Tanios tampak bebas dari ketegangan.
Kata-katanya lancar dan agak terburu-buru.
”Bagaimana sikapnya terhadap suami Anda? Apakah
biasa saja juga?”
Ketegangan kembali menguasai dirinya. Mrs. Tanios
menghindari tatapan Poirot waktu menjawab, ”Tentu
saja. Memangnya kenapa?”
”Oh, maaf. Bukankah Anda tadi mengatakan se-
pupu Anda—heresa, menjelek-jelekkan suami Anda?
Saya pikir, mungkin saja sikap bibi Anda jadi berubah
setelah mendengar...”
”Ya,” kata Mrs. Tanios penuh semangat. ”Anda be-
nar. Memang ada perubahan! Bibi Emily agak men-
jauhi suami saya. Sikapnya aneh. Suami saya mengan-
jurkan agar Bibi Emily minum campuran obat
208

pustaka-indo.blogspot.com
tertentu—malah suami saya susah-susah mencarikan-
nya ke apotek, membelikan, dan mencampurkan buat
Bibi Emily. Bibi Emily memang mengucapkan terima
kasih. Tapi kaku sekali caranya mengucapkan itu. Tak
lama kemudian, dengan mata kepala saya sendiri saya
menyaksikan Bibi Emily membuang obat itu.”
Sakit hati dan rasa marahnya sangat jelas keli-
hatan.
Mata Poirot berbinar-binar.
”Aneh,” ujar Poirot. Ia sangat berhati-hati agar
suaranya tidak mencerminkan apa yang ada di dalam
hatinya.
”Sungguh tidak tahu terima kasih,” lontar istri Dok-
ter Tanios itu dengan penuh emosi.
”Seperti yang Anda katakan tadi, perempuan tua
macam bibi Anda sering tidak percaya pada orang
asing,” ujar Poirot. ”Mereka pikir cuma dokter Inggris
yang bisa dipercaya.”
”Mungkin juga.” Mrs. Tanios tampak sedikit te-
nang.
”Kapan Anda kembali ke Smyrna?”
”Beberapa minggu lagi. Suami saya... Ah! Itu dia
datang bersama Edward.”

209

pustaka-indo.blogspot.com
17
Dr. Tanios

TERUS terang aku terkejut waktu pertama kali me-


mandang Dr. Tanios. Dalam benakku, selama ini ter-
bayang berbagai sikap dan sifat yang jelek mengenai
lelaki yang satu ini. Aku membayangkan dia berkulit
hitam dan berjanggut lebat, dengan mata tajam ber-
pandangan sinis dan mengerikan.
Nyatanya, yang kulihat seorang lelaki gemuk ber-
wajah berseri-seri dengan mata dan rambut berwarna
cokelat. Walaupun benar ia berjanggut, janggutnya
tipis seperti janggut seniman.
Bahasa Inggris-nya begitu lancar dan sempurna.
Nada suaranya menyenangkan, cocok dengan wajah-
nya yang jenaka.
”Kami datang, Mam,” serunya kepada istrinya de-
ngan tersenyum. ”Edward senang dan sangat terkesan

210

pustaka-indo.blogspot.com
dengan pengalaman pertamanya naik kereta bawah
tanah. Selama ini dia cuma tahu bus.”
Dilihat dari wajahnya, Edward tidak mirip dengan
ayahnya. Walaupun begitu, dia dan saudara perem-
puannya tampak sekali keturunan asingnya.
Kehadiran Dr. Tanios menyebabkan Mrs. Tanios
semakin gelisah. Dengan agak terbata-bata ia memper-
kenalkan Poirot kepada suaminya. Aku—oh, dia tidak
memedulikan diriku.
Dr. Tanios cepat mengenali nama Poirot.
”Poirot? Monsieur Hercule Poirot? Saya kenal benar
nama Anda. Ada apa sampai Anda datang mengun-
jungi kami, M. Poirot?”
”Mengenai Miss Emily Arundell,” jawab Poirot.
”Bibi istri saya? Ya, mengapa?”
Perlahan-lahan Poirot menjelaskan, ”Ada beberapa
masalah yang timbul sehubungan dengan kematian-
nya...”
Tiba-tiba saja Mrs. Tanios menyela, ”Mengenai su-
rat wasiatnya, Jacob. M. Poirot rupanya sudah berbin-
cang-bincang dengan heresa dan Charles.”
Kecanggungan yang semula tampak meliputi Dr.
Tanios lenyap. Lelaki itu menjatuhkan dirinya ke
kursi.
”Ah! Surat warisan itu, ya? Tapi apa hubungannya?
Itu toh bukan urusan kami?”
Poirot menceritakan secara singkat hasil pembica-
raannya dengan Charles dan heresa Arundell (terus
terang, bukan yang sebenarnya dibicarakan di sana)
dan dengan sangat berhati-hati mengemukakan ke-
211

pustaka-indo.blogspot.com
mungkinan untuk memperjuangkan gugatan atas surat
wasiat itu.
”Menarik sekali, Mr. Poirot. Terus terang, saya se-
tuju dengan pendapat Anda. Ada yang bisa dilakukan.
Saya bahkan sudah membicarakan hal ini dengan ahli
hukum. Tapi jawabannya mematahkan semangat. Ka-
rena itu...” Ia mengangkat bahu.
”Tadi sudah saya katakan kepada istri Anda, ahli-
ahli hukum adalah orang yang terlalu berhati-hati.
Mereka tidak mau ambil risiko. Tapi saya—lain! Dan
Anda?”
Dr. Tanios tertawa—tawa yang segar dan murni.
”Oh, saya berani ambil risiko! Saya malah sering
melakukannya—benar kan, Bella?” tanyanya sambil
tersenyum kepada istrinya, dan si istri tersenyum kem-
bali. Namun menurutku senyum perempuan itu tidak
keluar dari hati nuraninya, senyum dangkal, cuma
untuk menyenangkan hati suaminya.
Perhatian Dr. Tanios kembali kepada Poirot.
”Saya bukan ahli hukum,” katanya. ”Tapi saya ber-
pendapat bahwa masalahnya jelas sekali. Surat itu di-
buat pada saat perempuan tua itu tidak menyadari
apa yang dilakukannya. Miss Lawson orangnya pandai
dan sangat berpengaruh.”
Mrs. Tanios bergerak-gerak gelisah. Poirot segera
mengalihkan perhatiannya.
”Anda tidak setuju, Mrs. Tanios?”
Agak pelan dia menjawab, ”Miss Lawson baik se-
kali. Dan menurut saya, dia bukan orang yang pan-
dai.”
”Dia memang baik kepadamu,” ujar Dr, Tanios,
212

pustaka-indo.blogspot.com
”karena dia tidak takut padamu, Bella sayang. Kau
terlalu mudah dipengaruhi!”
Dr. Tanios berbicara dengan nada bergurau, namun
istrinya merah padam.
”Lain lagi dengan saya,” lanjut lelaki itu. ”Dia ti-
dak menyukai saya. Dan hal itu tidak disembunyikan.
Ini contohnya. Miss Arundell mengalami kecelakaan—
jatuh dari tangga—pada waktu kami sedang menginap
di sana. Saya bersikeras datang menjenguknya pada
Minggu berikutnya untuk melihat keadaan kesehatan-
nya. Miss Lawson berusaha keras mencegah maksud
kami ini. Memang dia tidak berhasil mencegah kami,
dan dia sangat kesal. Itu jelas terlihat. Alasannya jelas.
Dia ingin Miss Arundell mencurahkan perhatiannya
kepadanya saja.”
Sekali lagi Poirot berpaling kepada Mrs. Tanios.
”Anda setuju, Mrs. Tanios?”
Dr. Tanios tidak memberi istrinya kesempatan un-
tuk menjawab.
”Bella terlalu baik hati,” katanya. ”Dia tidak pernah
punya dugaan tak baik mengenai seseorang. Tapi saya
yakin dugaan saya benar. Akan saya beri contoh lain
lagi, M. Poirot. Rahasianya bisa memengaruhi Miss
Arundell adalah spiritualisme. Cara itulah yang di-
pakainya!”
”Anda pikir begitu?”
”Ya. Saya yakin benar. Sudah sering saya melihat
hal-hal semacam itu. Itu bisa menguasai orang. Anda
tentu akan heran. Tapi itu benar. Lebih-lebih, orang
seusia Miss Arundell. Saya yakin itu permulaan cerita-
nya. Ada roh, mungkin roh ayahnya, menyuruhnya
213

pustaka-indo.blogspot.com
mengubah isi surat wasiat itu dan mewariskan seluruh
kekayaannya kepada Miss Lawson. Kita harus ber-
pikir... Miss Arundell sedang dalam kondisi kesehatan
yang buruk...”
Mrs. Tanios berdesah. Poirot mengalihkan perhatian
kepadanya.
”Apakah Anda pikir itu mungkin?”
”Ayo, Bella! Bicaralah,” ujar Dr. Tanios. ”Katakan
bagaimana pendapatmu.”
Kelihatannya Dr. Tanios memberinya semangat.
Pandangannya yang selintas kepada suaminya tampak
aneh. Ia ragu-ragu. Kemudian katanya, ”Pengetahuan
saya mengenai hal-hal semacam ini sangat terbatas.
Mungkin kau benar, Jacob.”
”Nah, benar kan, M. Poirot?”
Poirot mengangguk.
”Mungkin.” Kemudian ia berkata, ”Anda pergi ke
Market Basing seminggu sebelum Miss Arundell me-
ninggal?”
”Kami ke sana pada perayaan Paskah, dan seming-
gu setelahnya. Ya. Benar.”
”Bukan. Maksud saya, Minggu yang berikutnya,
tanggal 26. Anda ada di sana pada hari Minggu-nya,
kan?”
”Oh, Jacob, betulkah?” Mrs. Tanios memandangnya
dengan terbelalak.
Suaminya berpaling dengan cepat.
”Ya. Lupakah kau? Aku cuma mampir Minggu
siang itu. Aku toh bilang kepadamu, Bella?”
Kami berdua, Poirot dan aku sendiri, memandang
214

pustaka-indo.blogspot.com
Bella. Dengan gelisah didorongnya topinya lebih ke
belakang.
”Ah, kau pasti ingat, Bella,” lanjut suaminya. ”Pa-
rah benar ingatanmu kalau begitu saja lupa.”
”Oh, ya!” ujarnya seperti minta maaf. Wajahnya
dihiasi seulas senyum tipis. ”Benar, ingatan saya ka-
dang-kadang memang memalukan. Dan lagi, itu su-
dah lebih dari dua bulan yang lalu.”
”Waktu Anda ke sana, Miss heresa dan Mr. Charles
Arundell sedang berada di sana?” tanya Poirot.
”Mungkin,” jawab Dr. Tanios, ”tapi saya tidak ber-
temu mereka.”
”Anda cuma sebentar di sana?”
”Ya, cuma lebih-kurang setengah jam.”
Lirikan Poirot yang penuh tanda tanya kelihatannya
membuat Dr. Tanios merasa tidak enak.
”Terus terang,” kata Dr. Tanios dengan mata ber-
sinar nakal, ”tadinya saya berniat pinjam uang, tapi
gagal. Saya rasa bibi istri saya kurang menyukai saya.
Sayang, sebetulnya saya sangat menyukainya. Dia
orang yang sportif.”
”Bolehkah saya menanyakan sesuatu, Dr. Tanios?”
Memang benar, atau hanya bayanganku—keragu-
raguan dan kekuatiran tampak selintas di matanya.
”Tentu, M. Poirot!”
”Bagaimana pendapat Anda mengenai Charles dan
heresa Arundell?”
Dokter itu kelihatan sangat lega.
”Charles dan heresa?” Dipandangnya istrinya de-
ngan senyum sayang. ”Bella, sayangku, kau tak kebe-
215

pustaka-indo.blogspot.com
ratan kalau aku berterus terang mengenai keluarga-
mu?”
Mrs. Tanios menggeleng. Seulas senyum menghiasi
wajahnya.
”Saya berpendapat mereka sudah rusak sampai ke
akar-akarnya. Anehnya, saya sangat suka pada Charles.
Dia bajingan, tapi bajingan yang menyenangkan. Dia
tidak bermoral, tapi itu bukan salahnya. Ia tidak
minta dilahirkan tanpa moral.”
”Dan heresa?”
Dr. Tanios ragu-ragu.
”Saya kurang yakin. Yang jelas, dia perempuan
muda yang menarik sekali. Saya berani bertaruh, dia
tidak akan ragu-ragu membunuh orang bila itu meng-
untungkannya. Itu cuma bayangan saya. Mungkin
Anda pernah mendengar ibunya pernah dituduh mem-
bunuh?”
”Ya, tapi kemudian dibebaskan.”
”Benar. ’Dibebaskan’,” ujar Dr. Tanios. ”Meskipun
begitu, perkaranya belum jelas dan sering membuat
orang bertanya-tanya.”
”Sudah bertemu dengan pemuda tunangannya?”
”Donaldson? Ya, dia pernah datang makan malam
bersama kami waktu kami di Puri Hijau.”
”Bagaimana pendapat Anda mengenai pemuda
itu?”
”Sangat pandai. Saya percaya dia bisa maju, kalau
mendapat kesempatan. Mengambil spesialisasi memer-
lukan banyak uang.”
”Maksud Anda, dia pandai dalam profesinya?”
”Tepat. Otaknya luar biasa!” Dr. Tanios tersenyum.
216

pustaka-indo.blogspot.com
”Memang belum kelihatan gemerlap di dalam masya-
rakat. Sikapnya agak kaku. Pemuda itu dan heresa
merupakan pasangan yang menggelikan. Sangat ber-
tolak belakang. Yang satu kupu-kupu masyarakat,
yang lain lebih suka tinggal di balik tirai.”
Kedua anak mereka menyerang ibunya.
”Mama, ayo makan, Ma! Lapar! Nanti kita telat
lho...”
Poirot melirik arlojinya, dan tampak terperangah.
”Oh, maaf! Saya mengganggu jam makan siang
Anda!”
Sambil memandang suaminya, Mrs. Tanios berkata
ragu-ragu, ”Mungkin Anda mau makan bersama...”
Cepat-cepat Poirot berkata, ”Terima kasih, Mrs.
Tanios. Anda sangat baik mengundang kami. Tapi
kami punya janji makan siang, dan kami sudah ter-
lambat.”
Poirot menjabat tangan suami-istri Tanios dan
anak-anak mereka. Aku pun mengikutinya.
Di lobi kami berhenti sebentar. Poirot mencoba
menelepon. Aku menunggunya dekat meja portir.
Aku masih berdiri di situ ketika kulihat Mrs. Tanios
keluar dan memandang ke sana-sini seperti mencari
sesuatu. Tampaknya dia sedang dikejar-kejar dan sa-
ngat terburu-buru. Ia melihatku, dan buru-buru meng-
hampiriku.
”Teman Anda—M. Poirot—apakah dia sudah per-
gi?”
”Belum. Sedang menelepon.”
”Oh.”
”Anda ingin berbicara dengannya?”
217

pustaka-indo.blogspot.com
Ia mengangguk. Kegelisahannya semakin menjadi-
jadi.
Poirot keluar dari ruang menelepon dan langsung
melihat kami berdiri berdekatan. Segera ia datang
menghampiri kami.
”M. Poirot,” ujar Mrs. Tanios. Suaranya berbisik,
namun tergesa-gesa. ”Ada sesuatu yang ingin saya
katakan—saya harus mengatakannya kepada Anda...”
”Ya, Mrs. Tanios?”
”Penting sekali, sangat penting. Begini...”
Mrs. Tanios berhenti bicara. Dr. Tanios dan kedua
anak mereka baru saja keluar ke lobi. Mereka datang
menghampiri kami.
”Menyampaikan kata-kata terakhir kepada M.
Poirot, Bella?”
Nada bicara Dr. Tanios berkelakar, dan senyumnya
sangat memesona.
”Ya...” sahut istrinya ragu-ragu. Kemudian lanjut-
nya, ”Yah, M. Poirot. Saya cuma ingin mengatakan
kepada Anda, tolong kasih tahu heresa bahwa kami
mendukung apa pun yang akan dilakukannya. Saya
sadar, sebagai satu keluarga, kami harus bersatu.”
Dengan tersenyum cerah Mrs. Tanios mengangguk,
lalu meraih lengan suaminya, dan mereka pun ber-
jalan ke arah ruang makan.
Kurengkuh bahu Poirot.
”Tadinya bukan itu yang mau dikatakannya,
Poirot.”
Poirot menggeleng sambil memperhatikan Keluarga
Tanios menghilang ke dalam ruang makan.
”Dia berubah pikiran,” lanjutku.
218

pustaka-indo.blogspot.com
”Ya, mon ami, dia berubah pikiran.”
”Mengapa?”
”Sayang aku tidak tahu,” gumamnya.
”Mudah-mudahan dia mengatakan yang sebenarnya
kapan-kapan,” ujarku.
”Aku tidak yakin. Takutnya, dia malah tidak akan
pernah mengatakannya....”

219

pustaka-indo.blogspot.com
18
”Yang Terselubung”

KAMI makan siang di restoran tidak jauh dari situ.


Aku sudah tak tahan ingin mendengar komentar
Poirot mengenai Keluarga Arundell.
”Nah, Poirot?” tanyaku tak sabar.
Acuh tak acuh Poirot mengalihkan perhatiannya
kepada daftar makanan yang disodorkan kepadanya.
Setelah memesan makanannya, ia bersandar dengan
santai pada sandaran kursinya, sambil memotong roti
gulungnya. Dengan nada mengejek ia berkata, ”Nah,
Hastings?”
”Apa pendapatmu mengenai mereka setelah kau
bertemu dengan semuanya?”
Jawaban Poirot sangat lambat, ”Ma foi—sangat me-
narik! Sungguh, Hastings, kasus ini merupakan studi
yang sangat memesona! Seperti membuka kotak-kotak
yang berisi kejutan. Lihat saja. Tiap kali aku mengata-

220

pustaka-indo.blogspot.com
kan, ’Saya menerima surat dari Miss Arundell sebelum
beliau meninggal’, ada-ada saja komentar yang mem-
buka sesuatu. Dari Miss Lawson, kita tahu uang Miss
Arundell dicuri orang. Mrs. Tanios langsung mengata-
kan, ’Mengenai suami saya?’ Memang ada apa dengan
suaminya? Apa perlunya Miss Arundell menulis surat
kepada Hercule Poirot mengenai Dr. Tanios?”
”Ada sesuatu yang dipikirkan wanita itu,” ujarku.
”Ya, dia tahu sesuatu. Tapi apa? Miss Peabody me-
ngatakan Charles Arundell bisa membunuh neneknya
cuma untuk uang dua pence. Miss Lawson berkata
Mrs. Tanios akan membunuh siapa pun kalau suami-
nya menyuruhnya. Dr. Tanios mengatakan Charles
dan heresa rusak sampai ke akar-akarnya, dan dia
mengingatkan kita bahwa ibu mereka pembunuh serta
memberi gambaran secara santai bahwa heresa bisa
membunuh dengan darah dingin.
”Lucu pendapat mereka, satu mengenai lainnya!
Dr. Tanios berpikir, atau mengatakan ia berpikir, bah-
wa pasti ada yang memengaruhi Miss Arundell. Se-
belum dia datang, jelas istrinya tidak berpendapat
begitu. Mula-mula dia tidak mau menggugat surat
warisan itu. Kemudian ia berbalik 180 derajat. Kau
merasa kan, Hastings... semuanya ini seperti air re-
busan. Satu per satu masalah timbul dan tenggelam.
Ada sesuatu di dalamnya—ya, ada sesuatu. Aku ber-
sumpah! Sebagai Hercule Poirot aku bersumpah, pasti
ada sesuatu!”
Aku terkesan akan kejujuran Poirot.
Setelah satu-dua menit berlalu, aku berkata, ”Mung-
kin kau benar, tapi kelihatannya begitu tidak jelas...”
221

pustaka-indo.blogspot.com
”Tapi kau setuju ada sesuatu, kan?”
”Ya,” sahutku ragu-ragu.
Poirot bersandar pada meja dan mendekatkan muka-
nya ke wajahku. Pandangannya menembus mataku.
”Kau sudah berubah. Ya, kau tidak lagi menertawa-
kanku, mengejek, dan mengata-ngataiku. Apa sebab-
nya? Pasti bukan uraianku yang panjang-lebar tadi,
non, ce n’est pas ça!—bukan, bukan itu! Tapi ada se-
suatu, sesuatu yang lain, yang memengaruhimu. Coba
katakan, Kawan, apa sebabnya kau tiba-tiba mengang-
gap kasus ini serius?”
”Kupikir,” jawabku perlahan, ”Mrs. Tanios. Ke-
lihatannya... kelihatannya dia ketakutan...”
”Takut padaku?”
”Tidak. Bukan padamu. Ada yang lain. Mula-mula
dia bicara dengan tenang dan masuk akal, wajar cara-
nya mengemukakan kekecewaannya akan surat wasiat
bibinya, tapi dia mau menerima kenyataan dan mem-
biarkannya begitu. Sikap semacam itu memang sikap
orang yang terdidik dan sedikit apatis. Tapi, tiba-tiba
saja dia berubah, semangatnya waktu dia mendukung
pendapat Dr. Tanios. Cara perempuan itu keluar ke
lobi mengejar kita, dan cara bicaranya...”
Poirot mengangguk memberiku semangat.
”Ada satu hal kecil yang mungkin tidak kauperhati-
kan...”
”Oh, semuanya kuperhatikan!”
”Maksudku, kunjungan suaminya ke Puri Hijau
pada Minggu siang itu. Rasanya aku yakin dia tidak
tahu-menahu mengenai hal itu—dia sangat terkejut,
tapi dengan cepat dia mengakui ingatannya yang ku-
222

pustaka-indo.blogspot.com
rang tajam, mengaku bahwa suaminya menceritakan
hal itu kepadanya tapi dia lupa. Aku tak suka itu,
Poirot!”
”Kau benar, Hastings, itu salah satu poin paling
penting!”
”Aku jadi punya kesan jelek.”
Poirot mengangguk pelan.
”Perasaanmu sama?” tanyaku.
”Ya, kesan itu tak bisa dihapuskan.” Poirot ber-
henti. Kemudian ia melanjutkan, ”Tapi kau menyukai
Tanios, kan? Kau merasa dia lelaki yang menyenang-
kan, terbuka, periang, dan simpatik. Menarik bila di-
bandingkan dengan bayanganmu semula...”
”Ya,” ujarku terus terang.
Dalam keheningan yang menyusul pembicaraan
kami, kuperhatikan Poirot. Lalu aku bertanya, ”Apa
yang kaupikirkan, Poirot?”
”Aku sedang membayangkan berbagai manusia:
Norman Gale yang tampan dan muda, Evelyn Howard
yang ramah, Dr. Shepherd yang menyenangkan,
Knighton yang tenang dan meyakinkan.”
”Kenapa mereka?” tanyaku.
”Mereka semua punya kepribadian yang menyenang-
kan...”
”Ya ampun, Poirot... kaupikir Tanios...”
”Tidak. Tidak. Jangan terlalu cepat mengambil ke-
simpulan, Hastings. Aku cuma mencoba menunjukkan
bahwa reaksi pribadi seseorang terhadap orang lain itu
bukan petunjuk yang aman. Orang tak boleh menjadi-
kan perasaannya sebagai bahan pertimbangan. Sebalik-
nya, faktalah yang harus dipertimbangkan.”
223

pustaka-indo.blogspot.com
”Hm,” ujarku. ”Ngomong soal fakta lagi! Oh, ja-
ngan, Poirot, jangan. Dalam ’fakta’ ini kita belum
menemukan kecocokan.”
”Aku tidak akan berpanjang-panjang, Kawan, ja-
ngan kuatir! Pertama-tama, jelas kita punya suatu ka-
sus mengenai percobaan pembunuhan. Kauakui
itu?”
”Ya,” jawabku pelan.
Sampai saat itu aku agak skeptis menanggapi re-
konstruksi Poirot mengenai berbagai kejadian pada
malam Selasa setelah Paskah. Walaupun begitu, ter-
paksa kuakui, deduksinya sangat masuk akal.
”Tres bien—bagus. Jadi pasti ada pembunuhnya.
Dan pembunuhnya salah seorang yang tinggal di Puri
Hijau pada malam itu... ehm, baiklah, orang yang
berniat membunuh kalau tak boleh dibilang pembu-
nuh!”
”Betul!”
”Jadi itu titik acuan kita—ada pembunuh. Kita
bertanya ke sana-sini. Katakanlah, kita mengaduk-
aduk lumpurnya. Dan, apa yang kita dapatkan? Ber-
macam-macam tuduhan dilontarkan dengan cara yang
biasa-biasa saja dalam percakapan kita.”
”Jadi kaupikir sebenarnya itu tidak biasa-biasa
saja?”
”Tak mungkin itu bisa dipastikan sekarang! Cerita
Miss Lawson mengenai Charles mengancam bibinya—
itu bisa sengaja, bisa juga tidak. Komentar Dr. Tanios
mengenai heresa—mungkin tanpa maksud jelek, se-
kadar pendapat seorang dokter. Sebaliknya, Miss
Peabody kelihatannya bersungguh-sungguh dengan
224

pustaka-indo.blogspot.com
komentarnya mengenai Charles Arundell, tapi itu
cuma sekadar pendapat. Begitulah seterusnya. Begitu-
lah, Kawan, kita menghadapi pembunuh yang terselu-
bung...”
”Aku ingin tahu—apa yang menjadi pendapatmu
sendiri, Poirot!”
”Hastings... Hastings... Aku tidak boleh berpen-
dapat. Itu terlarang buatku. Yang kulakukan saat ini
cuma mencerminkan kembali hal-hal tertentu.”
”Misalnya?”
”Memikirkan pertanyaan mengenai motifnya. Apa
yang kira-kira menjadi motif kematian Miss Arundell?
Jelas alasan atau motif pembunuhannya adalah ’ke-
untungan’. Siapa yang beruntung kalau Miss Arundell
mati? Kalau dia mati Selasa malam setelah Paskah?”
”Semuanya, kecuali Miss Lawson.”
”Tepat.”
”Yah, setidak-tidaknya, seorang praktis bersih.”
”Ya,” kata Poirot sambil berpikir. ”Kelihatannya
begitu. Tapi ada yang menarik: orang yang tidak akan
mendapat keuntungan sama sekali jika Miss Arundell
mati pada hari Selasa setelah Paskah itu justru mem-
peroleh segala-galanya ketika Miss Arundell meninggal
dua minggu setelah itu.”
”Apa maksudmu, Poirot?” tanyaku tidak mengerti.
”Sebab dan akibat, Kawan, sebab dan akibat.”
Kupandang dia ragu-ragu.
Katanya, ”Secara logis! Apa yang terjadi setelah ke-
celakaan?”
Sungguh benci rasanya aku kepada Poirot bila dia
sedang dalam suasana seperti ini. Apa pun yang di-
225

pustaka-indo.blogspot.com
katakan orang, selalu salah. Karena itu aku hati-hati
sekali.
”Miss Arundell terbaring di ranjangnya.”
”Betul. Dia punya banyak waktu untuk berpikir.
Lalu?”
”Dia menulis surat kepadamu.”
Poirot mengangguk.
”Ya. Dia menulis surat kepadaku. Dan suratnya ti-
dak dikirimkan. Sayang sekali.”
”Apakah kaukira ada kecurangan sampai surat itu
tidak diposkan?”
Poirot tampak berpikir. Dahinya berkerut-kerut.
”Harus kuakui, Hastings—di situ aku sama sekali
tak punya bayangan. Kupikir—dan melihat serta me-
nimbang segala sesuatu yang kita dengar, aku yakin
surat itu terlupakan. Kukira—tapi aku tidak yakin—
tidak ada orang yang menduga Miss Arundell menulis
surat semacam itu. Lanjutkan, apa yang terjadi kemu-
dian?”
”Kunjungan penasihat hukumnya,” ujarku.
”Ya, Miss Arundell memanggil penasihat hukum-
nya, dan ia datang pada waktunya.”
”Lalu Miss Arundell membuat surat wasiat baru,”
lanjutku.
”Tepat. Miss Arundell membuat surat wasiat baru
yang tidak diduga-duga isinya. Mengenai surat wasiat
ini, kita mesti sangat berhati-hati mengenai pernyataan
Ellen. Mungkin kau masih ingat, Ellen mengatakan
Miss Lawson bersikeras agar Miss Arundell tidak tahu
bahwa Bob keluar semalaman.”
226

pustaka-indo.blogspot.com
”Tapi, oh, aku tidak mengerti. Atau barangkali aku
mulai mengerti maksudmu?”
”Aku ragu!” kata Poirot. ”Seandainya benar kau
mulai mengerti maksudku, kuharap kau mengerti be-
tapa pentingnya pernyataan itu.”
Poirot memandangku tidak berkedip.
”Tentu, tentu,” ujarku buru-buru.
”Lalu,” lanjut Poirot, ”berbagai peristiwa terjadi.
Charles dan heresa datang berkunjung pada akhir
minggunya, dan Miss Arundell menunjukkan surat
wasiat barunya kepada Charles, atau begitu cerita
Charles.”
”Kau tidak percaya pada ceritanya?”
”Aku cuma percaya pada pernyataan yang sudah
dicek kebenarannya. Miss Arundell tidak menunjuk-
kannya kepada heresa.”
”Karena dipikirnya Charles toh sudah mengatakan
kepada heresa.”
”Tapi, nyatanya tidak. Apa sebabnya?”
”Menurut Charles sendiri, dia sudah menceritakan-
nya.”
”Tapi heresa mengatakan dengan pasti bahwa
Charles tidak menceritakan apa-apa mengenai hal
itu—perselisihan yang menarik dan mencurigakan.
Dan waktu kita pergi, heresa mengatai kakaknya
bodoh!”
”Aku jadi bingung, Poirot,” ujarku sederhana.
”Baiklah. Kita kembali ke urut-urutan peristiwanya.
Dr. Tanios datang pada hari Minggu-nya—besar ke-
mungkinan tanpa sepengetahuan istrinya.”
”Bagaimana kalau kita sebut saja ’mungkin’. Selan-
227

pustaka-indo.blogspot.com
jutnya, Charles dan heresa pulang pada hari Senin.
Miss Arundell dalam keadaan sehat dan penuh se-
mangat. Dia bersantap malam dengan lahapnya, dan
duduk-duduk di tempat gelap bersama kedua Miss
Tripp dan Miss Lawson. Menjelang akhir permainan
jelangkung itu, Miss Arundell merasa sakit. Ia beristi-
rahat di tempat tidur dan meninggal empat hari ke-
mudian—Miss Lawson mewarisi semua kekayaannya,
dan Kapten Hastings berpendapat bahwa kematian
Miss Arundell itu wajar!”
”Sedangkan Hercule Poirot berpendapat Miss Arun-
dell diracuni makanannya tanpa bukti sama sekali!”
”Aku punya bukti, Hastings. Ingat kembali perca-
kapan kita dengan kedua Miss Tripp. Juga pernyataan
yang mencolok dari gambaran tak jelas yang diberikan
Miss Lawson.”
”Maksudmu Miss Arundell makan kare malam itu?
Kare yang pedas dan kaya bumbu itu akan menutupi
rasa racun. Itu maksudmu?”
Poirot berkata perlahan-lahan, ”Ya. Kare itu sendiri
punya arti yang cukup penting.”
”Tapi,” ujarku, ”kalau dugaanmu itu betul, cuma
Miss Lawson dan dua pembantu lainnya di Puri Hi-
jau yang patut dicurigai.”
”Ah.”
”Atau kedua Miss Tripp? Tak mungkin. Aku tidak
percaya. Orang-orang macam mereka sama sekali be-
bas dari niat dan perbuatan jahat.”
Poirot mengangkat bahu.
”Ingat ini, Hastings. Kebodohan—atau bahkan keto-
lolan, dalam hal ini—bisa menjadi kedok yang bagus
228

pustaka-indo.blogspot.com
sekali. Dan jangan lupa akan percobaan pembunuhan
semula. Pekerjaan itu direncanakan oleh otak yang pan-
dai dan berpikiran kompleks. Semula, pembunuhannya
memang direncanakan sangat sederhana, cuma karena
si pembunuh memperhatikan kebiasaan buruk Bob
meninggalkan bolanya di puncak tangga. Pikiran buat
merentang benang dari sisi ke sisi tangga itu sangat
mudah, anak-anak pun bisa memikirkannya!”
Aku merenung.
”Maksudmu...?”
”Maksudku, yang ingin kita ketahui sebenarnya
cuma satu. Keinginan membunuh. Itu saja.”
”Tapi racun—meracuni—bukan hal sederhana. Itu
memerlukan keahlian, supaya tidak meninggalkan be-
kas,” sanggahku. ”Orang awam tak mungkin bisa
merencanakan sebagus itu. Oh, sialan. Rasanya aku
tidak percaya akan semuanya ini, Poirot! Kita tak
mungkin tahu! Semuanya itu cuma hipotesis!”
”Kau salah, Kawan. Sebagai hasil pembicaraan kita
pagi ini, aku sudah punya pegangan dan arah yang
pasti. Masih agak kabur, tapi rasanya tak mungkin
salah. Masalahnya cuma—aku takut.”
”Takut? Takut apa?”
Poirot menjawab dengan serius, ”Takut membangun-
kan anjing yang sedang tidur. Kau selalu bilang—biar-
kan, jangan ganggu anjing yang sedang tidur! Itulah
yang sedang dilakukan pembunuhnya... tidur dengan
tenangnya di bawah sinar matahari pagi... Kita tahu,
Hastings... sering kali, bila pembunuh tersinggung
harga dirinya, ia akan beraksi dan membunuh korban-
nya yang kedua, atau bahkan yang ketiga.”
229

pustaka-indo.blogspot.com
”Kau takut itu terjadi?”
Poirot mengangguk.
”Ya. Jika di antara mereka ada pembunuhnya—dan
aku yakin ada....”

230

pustaka-indo.blogspot.com
19
Mr. Purvis

POIROT memanggil pelayan, menyuruh ambilkan


bon makanan, dan membayarnya.
”Sekarang, apa lagi?” tanyaku.
”Usulmu pagi tadi. Kita menuju ke Harchester,
mewawancarai Mr. Purvis. Itu sebabnya aku menele-
pon dari Hotel Durham tadi, Sobat!”
”Kau menelepon Purvis?”
”Bukan Purvis. Yang kutelepon tadi heresa Arun-
dell. Dia kusuruh menulis surat pengantar yang isinya
memperkenalkan kita kepada Purvis. Supaya punya
harapan bisa berhasil, kita perlu diperkenalkan oleh
orang yang bersangkutan. heresa berjanji akan me-
nyuruh orang mengantarkan suratnya ke latku. Ku-
pikir surat heresa sudah menanti kita di sana.”
Bukan cuma surat yang kami temui di lat Poirot.
Charles Arundell membawa sendiri surat itu dan me-

231

pustaka-indo.blogspot.com
nunggu untuk menyerahkannya secara pribadi kepada
Poirot.
”Flat Anda sangat menyenangkan, M. Poirot,” ko-
mentarnya, sambil mengedarkan pandangannya ke
sekeliling ruang tamu.
Pada saat itu perhatianku tertarik pada laci yang
tampaknya tidak tertutup secara sempurna. Ada se-
helai kertas yang menghalanginya.
Aneh. Poirot tak biasa menutup laci-lacinya sesem-
brono itu! Kupandang Charles sambil berpikir-pikir.
Charles sendirian di situ menunggu kedatangan kami.
Tiba-tiba aku yakin Charles menghabiskan waktunya
menunggu dengan mengacak-acak kertas-kertas Poirot.
Pemuda ini rupanya memang benar-benar bajingan!
Aku merasa darahku mendidih, marah dan tidak
suka.
Charles sendiri kelihatannya santai-santai saja.
”Ini suratnya,” ujarnya sambil menyodorkan sepu-
cuk surat. ”Mudah-mudahan Anda lebih beruntung
daripada kami dalam membujuk si tua Purvis.”
”Harapannya tipis?”
”Yang pasti, sulit mengubah pikirannya... Purvis
menganggap Lawson merupakan ahli waris yang sah!”
”Pernahkah Anda dan adik Anda mengimbau Miss
Lawson, mengajaknya berbicara dari hati ke hati?”
Charles meringis.
”Itu pernah saya pertimbangkan. Tapi rasanya tidak
akan ada gunanya. Kelihatannya Miss Lawson sangat
membenci saya. Saya tidak mengerti apa alasannya.”
Charles tertawa. ”Padahal, biasanya perempuan tua
seumurnya cepat sekali menyukai saya.”
232

pustaka-indo.blogspot.com
”Hmm... itu poin yang berguna!”
”Oh, memang sudah banyak sekali gunanya. Tapi,
seperti saya katakan tadi, dengan Lawson tak ada
gunanya. Saya pikir Lawson agak antilelaki...”
”Ah!” Poirot menggeleng-geleng. ”Kalau cara yang
sesederhana itu gagal...”
”Kita mesti pakai otak kriminal!” lontar Charles
dengan enteng.
”Aha,” kata Poirot. ”Omong-omong tentang kri-
minal, anak muda, benarkah Anda mengancam bibi
Anda? Maksud saya, Anda pernah mengatakan bahwa
Anda akan membunuhnya atau kata-kata semacam
itu?”
Charles menjatuhkan dirinya ke kursi. Diselonjor-
kannya kakinya dengan santai. Namun, pandangannya
tajam ditujukan kepada Poirot.
”Siapa yang mengatakan itu?” tanyanya.
”Itu tidak penting. Tapi, benarkah itu?”
”Yah, ada benarnya.”
”Oh, coba ceritakan bagaimana yang sebenarnya!”
”Boleh saja, kalau Anda kepingin tahu, Sir! Tapi
rasanya tidak ada relevansinya. Waktu itu saya sedang
mencoba-coba mendekati Bibi Emily. Anda tahu mak-
sud saya, kan?”
”Ya.”
”Sayangnya, yang terjadi diluar rencana saya se-
mula. Bibi Emily dengan keras mengatakan bahwa
setiap usaha yang bertujuan memisahkan dia dengan
uangnya pasti tidak berhasil. Saya tidak marah. Saya
cuma bilang, ’Oh. Bibi Emily, kalau cara Bibi mena-
ngani segala sesuatu tetap seperti ini, percayalah Bibi
233

pustaka-indo.blogspot.com
akan dibunuh orang!’ Bibi Emily menanyakan apa
maksud saya dengan agak kaku. ’Cuma itu,’ jawab
saya. ”Di sini berkumpul semua kawan dan sanak ke-
luarga Bibi—mereka semuanya kelaparan seperti tikus
gereja, dan mereka cuma bisa berharap. Lalu apa yang
Bibi lakukan? Tinggal duduk di atas tumpukan uang
Bibi, tak mau berpisah sama sekali dengan yang Bibi
miliki. Itu sikap orang yang kepingin dirinya dibu-
nuh. Percayalah, Bibi Emily—kalau sampai Bibi dibu-
nuh orang, yang salah Bibi sendiri.’
”Bibi Emily memandang saya lewat atas kacamata-
nya. Dipandangnya saya dengan penuh kebencian.
’Oh,’ jawabnya tak acuh, ’jadi begitu pendapatmu,
ya?’ ’Ya,’ sahut saya. ’Kalau Bibi mau menuruti an-
juran saya, korbankanlah sedikit kekayaan Bibi itu.’
’Terima kasih, Charles,’ katanya, ’atas anjuranmu yang
bermaksud baik itu. Tapi aku cukup bisa menjaga
diriku sendiri.’ ’Terserah kalau begitu, Bibi Emily,’
jawab saya. Saya meringis, dan kelihatannya Bibi
Emily tidak semarah seperti kelihatannya. ’Pokoknya
saya sudah mengingatkan Bibi.’ ’Akan kuingat itu,
Charles,’ katanya.”
Charles berhenti bercerita.
”Begitulah ceritanya.”
”Dan karena itu,” kata Poirot, ”Anda lalu puas de-
ngan mencuri beberapa lembar uang pound dari laci.”
Charles memandang Poirot, kemudian tertawa ter-
bahak-bahak.”
”Betul-betul saya angkat topi buat Anda, M.
Poirot!” katanya. ”Anda rupanya detektif yang bukan
main! Bagaimana Anda bisa tahu tentang hal itu?”
234

pustaka-indo.blogspot.com
”Jadi itu memang benar?”
”Benar sekali! Saat itu saya sedang betul-betul ke-
habisan uang. Saya lihat ada setumpuk uang di laci,
dan saya ambil saja beberapa lembar tanpa banyak
pikir. Saya sama sekali tidak mengira bahwa dengan
diambil beberapa lembar saja akan ketahuan kurang.
Kalau ketahuan pun, pasti pembantu yang dicu-
rigai.”
Dengan dingin Poirot berkata, ”Seandainya benar
pembantu yang dicurigai, bagi mereka itu bukan ma-
salah enteng.”
Charles mengangkat bahu.
”Setiap orang membela dirinya sendiri,” gumam-
nya.
”Dan sembunyi di balik kesengsaraan orang lain,
kalau perlu,” tambah Poirot. ”Itu falsafah hidup Anda,
kan?”
Charles memandangnya dengan pandangan ingin
tahu.
”Saya tak tahu Bibi Emily tahu uangnya hilang
beberapa lembar. Bagaimana Anda bisa tahu, juga me-
ngenai yang Anda bilang saya mengancam tadi?”
”Miss Lawson yang mengatakannya.”
”Oh, kucing tua itu lagi!” (Menurutku, Charles
kelihatannya agak tak enak.) ”Dia membenci saya,
dan heresa pun tidak disukainya,” kata Charles. ”Me-
nurut Anda—masih banyak yang lain-lain lagi yang
dia rahasiakan?”
”Maksud Anda?”
”Oh. Saya tidak tahu. Cuma saja saya melihatnya
sebagai setan tua yang tak punya perasaan.” Charles
235

pustaka-indo.blogspot.com
berhenti sebentar. ”Dia membenci heresa...” tambah-
nya.
”Apakah Anda tahu Dr. Tanios datang menjenguk
bibi Anda pada hari Minggu sebelum dia mening-
gal?”
”Apa... hari Minggu waktu kami berada di sana?”
”Ya. Anda tidak bertemu dengannya?”
”Tidak. Kami keluar berjalan-jalan siang itu. Mung-
kin tepat pada waktu itu dia datang. Lucu, Bibi
Emily tidak menyebut apa-apa tentang kedatangannya.
Siapa yang memberitahu Anda?”
”Miss Lawson.”
”Lawson lagi? Rupanya dia tambang informasi.”
Charles berhenti, tapi kemudian menyambungnya,
”Tahukah Anda, Mr. Poirot—Tanios itu orangnya
baik. Saya sangat menyukainya. Dia begitu ramah dan
periang... dan selalu tersenyum!”
”Kepribadiannya memang sangat menarik,” ujar
Poirot.
Charles bangkit dari duduknya. ”Kalau saya jadi
dia, sudah lama saya bunuh Bella yang membosankan
itu! Menurut pengamatan Anda, Bella cocok sekali
jadi korban pembunuhan, kan? Oh... saya tidak akan
heran kalau suatu hari orang menemukan potongan
tubuhnya di suatu tempat!”
”Cap apa pula yang Anda berikan kepada suaminya
yang dokter itu, Mr. Arundell?” komentar Poirot ta-
jam.
”Oh, saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan
Tanios. Membunuh lalat pun dia takkan tega. Orang-
nya terlalu baik!”
236

pustaka-indo.blogspot.com
”Dan Anda sendiri bagaimana? Tegakah Anda mem-
bunuh seseorang kalau itu menguntungkan Anda?”
Charles tertawa—tawa yang renyah dan murni.
”Oh, Anda teringat lagi pada ancaman saya ter-
hadap Bibi Emily, M. Poirot? Jangan kuatir. Per-
cayalah, saya tidak menaburi sup Bibi Emily de-
ngan...” Charles terhenti beberapa saat. Kemudian
lanjutnya, ”Strychnine.”
Dengan lambaian tangan, Charles meninggalkan
lat Poirot.
”Kau mencoba-coba membuatnya takut, Poirot?”
tanyaku. ”Kalau benar itu maksudmu, kupikir kau
gagal. Kulihat tidak sedikit pun dia bereaksi yang me-
nunjukkan rasa salahnya.”
”Oh, tidakkah?”
”Kelihatannya tidak!”
”Mencurigakan, keragu-raguannya sebelum meng-
ucapkan kata ’strychnine’. Seolah-olah dia hendak
mengucapkan sesuatu, tapi cepat tersadar bahwa itu
mungkin membahayakan.”
Aku cuma mengangkat bahu.
”Siapa tahu dia berusaha mengingat nama zat pe-
racun yang kedengarannya paling keren?”
”Mungkin juga. Mungkin juga. Tapi sudah waktu-
nya kita berangkat. Kupikir, malam ini kita akan
menginap di he George, di Market Basing.”
Sepuluh menit kemudian terlihat kami berdua
mengarungi lalu lintas kota London, menuju ke luar
kota.
Kami tiba di Harchester sekitar pukul empat sore,
dan langsung menuju kantor Mr. Purvis.
237

pustaka-indo.blogspot.com
Mr. Purvis berperawakan gemuk dengan rambut
putih dan kulit kemerah-merahan. Melihatnya, orang
jadi terbayang pada tuan tanah zaman dulu. Sikapnya
hormat, tapi terjaga.
Dibacanya surat yang kami bawa, kemudian di-
pandanginya kami dari balik meja tulisnya yang me-
ngilat. Pandangannya jeli dan terasa sebagai pan-
dangan yang menyelidik.
”Tentu saja saya sudah mengenal nama Anda, M.
Poirot,” ujarnya sopan. ”Kelihatannya Miss Arundell
dan kakaknya menyewa Anda untuk membantu me-
nyelesaikan masalah warisan itu. Tapi saya tidak bisa
mengira-ngira, sudah sampai sejauh mana?”
”Bisa saya katakan begini, Mr. Purvis: saya diminta
menyelidiki masalah itu dengan lebih teliti.”
Mr. Purvis berkata datar, ”Miss Arundell dan kakak-
nya sudah mendengar pendapat saya mengenai posisi
mereka di dalam hukum. Situasinya sudah jelas-jelas
saya gambarkan dan uraikan, hingga saya rasa tidak
perlu diulangi lagi.”
”Tentu saja sudah sangat jelas bagi mereka, Mr.
Purvis,” sahut Poirot cepat. ”Tapi saya mohon Anda
tidak berkeberatan mengulangnya untuk saya, sehing-
ga saya bisa mendapat bayangan yang tepat dan jelas
mengenai situasinya.”
Pengacara di depan kami itu menunduk.
”Baiklah.”
Poirot memulai, ”Miss Emily Arundell menulis su-
rat kepada Anda, meminta Anda untuk mengerjakan
beberapa hal pada tanggal 17 April. Apakah itu be-
nar?”
238

pustaka-indo.blogspot.com
Mr. Purvis memeriksa kertas-kertas di hadapan-
nya.
”Ya. Benar.”
”Bisakah Anda menyebutkan apa-apa saja yang di-
tulisnya dalam surat itu?”
”Dia meminta saya membuat konsep surat wasiat.
Dalam surat wasiat itu harus ditulis tanda penghar-
gaan untuk dua pembantunya dan tiga atau empat
yayasan sosial. Sisa seluruh kekayaannya diwariskan
secara mutlak kepada Wilhelmina Lawson.”
”Maaf, Mr. Purvis—apakah Anda kaget waktu
membaca suratnya?”
”Saya akui—ya. Saya sangat terkejut.”
”Miss Arundell pernah menulis surat wasiat sebe-
lum itu?”
”Ya, lima tahun lalu.”
”Dalam surat wasiat yang dibuatnya lima tahun
lalu itu—setelah dikurangi untuk para pelayan dan
yayasan sosial, maka sisa kekayaannya diwariskan ke-
pada putra-putri saudara kandungnya?”
”Ya. Bagian terbesar kekayaannya dibagi tiga sama
rata untuk dua anak adik laki-lakinya, homas, dan
satu anak Arabella Biggs—adik perempuannya.”
”Apa yang terjadi dengan surat wasiat itu?”
”Sesuai dengan permintaan Miss Arundell, saya
membawanya ke Puri Hijau pada waktu saya ke sana
tanggal 21 April.”
”Saya akan sangat berterima kasih kalau Anda mau
menerangkan sejelas-jelasnya segala sesuatu yang ter-
jadi pada kunjungan Anda itu.”
Mr. Purvis berdiam diri semenit-dua menit lama-
239

pustaka-indo.blogspot.com
nya. Kemudian dengan jelas ia berkata, ”Saya sampai
ke Puri Hijau pada jam tiga sore. Salah seorang pe-
gawai saya menemani saya. Miss Arundell menerima
saya di Ruang Santai.”
”Bagaimana kelihatannya dia?”
”Menurut penglihatan saya, dia tampak sehat. Ha-
nya saja dia berjalan dengan bantuan tongkat. Penye-
babnya, setahu saya, karena beberapa hari sebelumnya
dia jatuh dari tangga. Secara umum, kesehatannya
tampaknya bagus. Lain dari itu, tampaknya ia agak
gelisah dan terlalu perasa.”
”Apakah Miss Lawson menemaninya?”
”Miss Lawson ada bersamanya waktu saya datang.
Tetapi ia segera meninggalkan kami.”
”Kemudian?”
”Miss Arundell menanyakan apakah saya sudah
mengerjakan apa yang dimintanya, dan apakah saya
membawa surat wasiat barunya untuk ditandatangani-
nya.”
”Saya katakan bahwa saya sudah mengerjakannya.
Saya... mm...” Mr. Purvis ragu-ragu sejenak. Kemu-
dian dengan kaku ia melanjutkan, ”Mungkin ada
baiknya saya katakan juga, bahwa sejauh yang pantas
dan bisa saya lakukan, saya memprotes tindakan Miss
Arundell. Saya katakan kepadanya, bahwa surat wasiat-
nya yang baru itu sangat tidak adil bagi keluarganya,
yang bagaimanapun juga adalah darah dagingnya sen-
diri.”
”Jawabnya?”
”Dia bertanya apakah uangnya boleh dipergunakan
sekehendak hatinya. Dan saya katakan tentu saja dia
240

pustaka-indo.blogspot.com
bebas menggunakan uangnya sesuka hatinya. ’Kalau
begitu, tidak ada masalah,’ katanya. Saya ingatkan dia
bahwa dia belum lama mengenal Miss Lawson. Saya
tanyakan apakah dia benar-benar yakin bahwa ketidak-
adilan yang dilakukannya kepada darah dagingnya
sendiri itu tidak akan disesalkannya. Dan jawabnya,
’Sobat, aku tahu apa yang kulakukan ini.’”
”Dia mudah sekali tersinggung, seperti yang Anda
katakan tadi?”
”Saya pikir ya, M. Poirot. Tapi saya mengerti bah-
wa dia orang yang bertanggung jawab, yang panjang
pikir, dan bukan orang bodoh. Dia sangat pandai
mengurus dan menyelesaikan masalah yang dihadapi-
nya. Meskipun saya kasihan terhadap keluarga Miss
Arundell, saya akan tetap pada pendirian saya yang
tadi mengenai Miss Arundell—di mana pun dan ka-
pan pun.”
”Itu bisa saya mengerti, Mr. Purvis. Saya hargai si-
kap dan pendirian Anda itu.”
”Miss Arundell membaca surat wasiatnya yang
lama, kemudian dia mengulurkan tangannya, meminta
konsep surat wasiat yang baru saya buatkan. Sebetul-
nya saya lebih suka menyerahkan draft lebih dulu,
tetapi dia bersikeras bahwa surat wasiat baru yang dia
minta saya buatkan itu siap untuk ditandatanganinya
ketika saya datang ke Puri Hijau. Memang tidak sulit
membuatnya, karena pembagian kekayaannya sangat
sederhana. Miss Arundell membacanya, mengangguk,
dan mengatakan akan segera menandatanganinya.
Saya masih merasa wajib untuk memperingatkannya
sekali lagi. Didengarkannya kata-kata saya dengan pe-
241

pustaka-indo.blogspot.com
nuh kesabaran, tetapi dia mengatakan bahwa kepu-
tusannya sudah pasti. Saya memanggil pegawai saya
untuk menyaksikan penandatanganannya, dan pegawai
saya bersama-sama dengan tukang kebun Miss Arun-
dell pun masuk menjadi saksi Miss Arundell mem-
bubuhkan tanda tangannya pada surat wasiat yang
baru itu. Bukan salah satu dari pelayannya yang di-
jadikan saksi, sebab sebagai ahli waris, mereka tidak
berhak menjadi saksi.”
”Setelah itu, apakah Miss Arundell menyerahkan
surat wasiat barunya kepada Anda untuk disimpan?”
”Tidak. Dia menyimpannya dalam laci meja tulis-
nya, dan laci itu dikuncinya.”
”Diapakan surat wasiatnya yang lama? Apakah su-
rat wasiat itu dimusnahkan?”
”Tidak. Surat wasiatnya yang lama disimpannya
bersama-sama dengan yang baru.”
”Di mana surat wasiat itu diketemukan, setelah dia
meninggal?”
”Masih di laci itu. Sebagai penasihat hukumnya,
saya diberi kunci hingga saya bisa memeriksa semua
surat bisnisnya setelah dia meninggal.”
”Dua-duanya ada di situ?”
”Ya. Persis seperti ketika kedua surat wasiat itu
baru dimasukkan ke situ.”
”Apakah Anda menanyakan alasannya melakukan
tindakan yang agak mengejutkan itu?”
”Saya bertanya. Tapi jawaban yang saya terima ti-
dak memuaskan. Dia cuma meyakinkan saya bahwa
dia tahu dan sadar akan apa yang dilakukannya itu.”
242

pustaka-indo.blogspot.com
”Meskipun begitu Anda tetap heran akan tin-
dakannya itu?”
”Sangat heran. Setahu saya, rasa kekeluargaan Miss
Arundell sangat kuat.”
Poirot diam. Kemudian katanya, ”Anda toh tak per-
nah membicarakan masalah itu dengan Miss Lawson?”
”Tentu saja tidak. Itu sangat terlarang untuk saya
lakukan, M. Poirot!”
Mr. Purvis tampak agak tersinggung.
”Pernahkah Miss Arundell mengatakan sesuatu
yang mempunyai implikasi bahwa Miss Lawson telah
tahu mengenai surat wasiat barunya?”
”Sebaliknya. Saya menanyakan kepadanya apakah
Miss Lawson tahu mengenai semuanya itu, dan de-
ngan agak membentak dia mengatakan Miss Lawson
tidak tahu apa-apa.
”Saya pikir, sebaiknya Miss Lawson tidak diberitahu
tentang surat wasiat baru itu. Saya berusaha menjelas-
kan dan menekankan hal ini, dan Miss Arundell keli-
hatannya berpendapat sama dengan saya.”
”Mengapa Anda menekankan hal itu, Mr. Purvis?”
Mr. Purvis memandang Poirot dengan penuh wi-
bawa.
”Itu sebaiknya tidak perlu dibicarakan. Di samping
itu, membicarakannya cuma akan membawa kekece-
waan pada waktu yang akan datang.”
”Ah!” Poirot menarik napas panjang. ”Menurut
saya, itu karena Anda berpikir bahwa ada kemungkinan
Miss Arundell mengubah pikirannya setelah itu, bu-
kan?”
Mr. Purvis menunduk.
243

pustaka-indo.blogspot.com
”Benar. Dalam dugaan saya, Miss Arundell baru
berselisih paham dengan kemenakan-kemenakannya.
Saya pikir, mungkin saja, bila hatinya sudah dingin,
dia akan mempertimbangkan kembali keputusan yang
diambilnya dengan terburu-buru itu.”
”Dalam hal begitu, apa yang mungkin dilakukan-
nya?”
”Mungkin saja dia menyuruh saya membuat surat
wasiat baru lagi.”
”Bisa juga dia mengambil cara yang lebih seder-
hana: memusnahkan surat wasiat yang baru, hingga
yang lama berlaku kembali.”
”Itu bisa didebat. Semua surat wasiat yang dibuat
terdahulu tidak berlaku lagi dengan adanya surat wa-
siat yang lebih baru.”
”Tapi, mungkin saja Miss Arundell tidak mempu-
nyai pengetahuan seluas itu mengenai hukum. Dia
pikir dengan memusnahkan surat wasiat yang baru,
yang lama dengan sendirinya akan berlaku kembali.”
”Kemungkinan itu memang ada.”
”Sesungguhnya, seandainya Miss Arundell mening-
gal tanpa menulis surat wasiat baru sebelumnya, uang-
nya akan dengan sendirinya diserahkan kepada ke-
luarganya?”
”Ya. Separuh untuk Mrs. Tanios, dan separuh lagi
dibagi dua antara Charles dan heresa Arundell. Bagai-
manapun, nyatanya, Miss Arundell tidak mengubah
keputusannya, sampai dia meninggal.”
”Itulah sebabnya saya datang,” ujar Poirot.
Mr. Purvis memandang Poirot penuh tanda ta-
nya.
244

pustaka-indo.blogspot.com
Poirot bangkit dari sandaran kursi, dan mendekat-
kan tubuhnya ke meja Mr. Purvis.
”Andaikata,” ujarnya, ”Miss Arundell ingin memus-
nahkan surat wasiat itu beberapa saat sebelum dia
meninggal. Andaikata dia yakin telah memusnahkan
surat wasiat itu—tapi, dalam kenyataannya, dia me-
musnahkan surat wasiatnya yang pertama.”
Mr. Purvis menggeleng.
”Tidak mungkin. Kedua surat wasiatnya masih te-
tap utuh.”
”Baiklah. Seandainya dia memusnahkan surat wasiat
palsu yang tidak ada isinya—dengan perasaan bahwa
dia telah memusnahkan yang asli. Dia dalam keadaan
sakit keras, itu harus diingat; menipunya dalam ke-
adaan semacam itu sangat mudah.”
”Itu memerlukan bukti,” kata Mr. Purvis keras.
”Oh, tentu saja—tentu saja...”
”Adakah, kalau boleh saya bertanya, adakah alasan
untuk berpendapat hal semacam itu terjadi?”
Poirot terperangah.
”Saya belum mau mengemukakan pendapat saya
pada kesempatan yang sedini ini...”
”Tentu, tentu,” kata Mr. Purvis, setuju dengan
kata-kata yang biasa didengarnya.
”Kalau saya boleh berkata, tentu saja ini rahasia,
ada beberapa hal yang mencurigakan dalam kasus
ini.”
”Oh, sungguh?”
Mr. Purvis mengatupkan kedua belah telapak ta-
ngannya seperti menanti sesuatu yang menyenangkan
hatinya.
245

pustaka-indo.blogspot.com
”Yang saya inginkan dari Anda, dan yang telah
saya peroleh,” lanjut Poirot, ”bahwa cepat atau lam-
bat, Miss Arundell akan mengubah pikirannya, dan
berbalik kepada keluarganya sendiri.”
”Itu hanya pendapat saya pribadi,” ujar Mr.
Purvis.
”Oh, saya mengerti itu, Mr. Purvis. Tentunya Anda
tidak bertindak sebagai pengacara Miss Lawson juga,
kan?”
”Saya anjurkan supaya Miss Lawson mencari penga-
cara lain,” kata Mr. Purvis.
Nadanya kaku.
Poirot menjabat tangan lelaki tua itu sambil meng-
ucapkan terima kasih atas kebaikan dan informasi
yang telah diberikannya.

246

pustaka-indo.blogspot.com
20
Kunjungan Kedua
ke Puri Hijau

DALAM perjalanan meninggalkan Harchester, kira-


kira setelah berjalan sejauh enam belas kilometer,
kami membicarakan situasinya.
”Memang kau punya dasar untuk apa yang kau-
ucapkan tadi, Poirot?”
”Maksudmu, Miss Arundell mungkin merasa sudah
memusnahkan surat wasiatnya yang terakhir? Tidak,
mon ami, terus terang tidak. Tapi aku merasa wajib
mengemukakan sesuatu! Mr. Purvis orang yang cerdik.
Kalau aku tidak mengajukan kemungkinan-kemung-
kinan seperti yang kukatakan tadi, dia yang akan
menanyaiku: apa yang bisa kulakukan dalam perkara
ini.”
”Kau mengingatkanku pada sesuatu, Poirot. Kau
tahu apa?”
”Tidak, mon ami.”

247

pustaka-indo.blogspot.com
”Orang meniup air sabun. Sekali tiup berpuluh-pu-
luh bola dengan aneka warna disemburkan ke udara.”
”Maksudmu, setiap bola mewakili satu omong ko-
songku?”
”Begitulah kira-kira.”
”Dan kaupikir, pada suatu hari nanti akan terjadi
tubrukan hebat di antara bola-bola itu?”
”Yang jelas, kau tak bisa terus-menerus begitu,”
ucapku.
”Kau benar. Akan tiba waktunya aku meraih bola-
bola itu satu per satu, membungkuk penuh hormat,
dan pergi meninggalkan panggung.”
”Dan para penonton bertepuk tangan buatmu?”
Poirot memandangku curiga.
”Ya, mungkin saja.”
”Tak banyak yang kita pelajari dari Mr. Purvis,”
komentarku, menghindari topik yang kurang aman.
”Memang tidak banyak. Tapi setidak-tidaknya, kita
memperoleh penegasan mengenai gambaran umum
kita semula.”
”Dan menegaskan juga pernyataan Miss Lawson
bahwa dia tidak tahu apa-apa mengenai surat wasiat
itu sampai sesudah Miss Arundell meninggal.”
”Aku sama sekali tidak menganggapnya begitu.”
”Purvis menganjurkan agar Miss Arundell tidak
memberitahukan kepada Miss Lawson, dan Miss
Arundell menjawab dia tidak punya maksud mengata-
kannya.”
”Ya, itu sangat jelas. Tapi, jangan lupa—ada lubang
kunci, dan ada kunci yang bisa membuka laci tempat
surat wasiat itu disimpan.”
248

pustaka-indo.blogspot.com
”Jadi kau berpendapat Miss Lawson mencuri de-
ngar?” tanyaku, agak kaget.
Poirot tersenyum.
”Miss Lawson bukan orang sebegitu tanpa dosanya,
mon cher. Dan kita tahu, paling tidak ia mendengar-
kan satu percakapan yang seharusnya bukan untuk
kupingnya—maksudku, percakapan antara Charles
dan bibinya mengenai ’ancaman Charles’ itu.”
Kuakui kebenarannya.
”Jadi, bukan tidak mungkin dia juga mendengarkan
percakapan antara Mr. Purvis dan Miss Arundell.
Suara Mr. Purvis jelas dan keras. Orang-orang yang
kelihatannya jinak dan penakut seperti Miss Lawson
sering mempunyai kebiasaan yang kurang terhormat,
karena itu bisa menjadi semacam hiburan baginya.”
”Ah, Poirot!” protesku.
Berkali-kali Poirot mengangguk-angguk.
”Tapi kenyataannya memang begitu, Sobat!”
Kami tiba di he George dan memesan dua kamar.
Setelah itu kami berjalan-jalan dengan tujuan Puri
Hijau.
Waktu kami membunyikan bel, Bob segera menya-
hut. Anjing itu menerobos masuk melalui Ruang Te-
ngah dan berhenti sambil menyalak-nyalak di bagian
dalam pintu depan.
Terdengar bisikan seseorang menenangkannya.
”Ayo, Bob—anjing manis, ayo... masuk ke sini!”
Walaupun segan, Bob terpaksa menuruti kemauan
orang yang menyeretnya ke Ruang Pagi.
Pintu Ruang Pagi ditutup, dan Ellen pun melepas-
kan gembok pintu depan dan membukakannya.
249

pustaka-indo.blogspot.com
”Oh, rupanya Anda yang datang, Sir!” serunya. Di-
bukanya pintu lebar-lebar. Wajahnya tampak senang.
”Silakan masuk, Sir.”
Kami masuk. Dari pintu tertutup di sebelah kiri
kami terdengar Bob menggeram, memprotes.
”Biarkan saja dia keluar,” ujarku.
”Oh, baik, Sir. Sebetulnya dia tidak apa-apa. Cuma
suaranya itu... sering kali membuat orang takut. Yah,
tapi dia memang anjing jaga yang baik.”
Ellen membuka pintu Ruang Pagi, dan Bob pun
menerobos keluar.
Bob memandang ke kiri dan ke kanan sambil men-
dengus-dengus. Tampaknya ia mengenali kami.
”Halo, Bob,” seruku. ”Apa kabar?”
Bob menggoyang-goyangkan ekornya.
Sekarang Bob mengamati Poirot. Tidak lama. Ia
segera beranjak meninggalkannya.
”Bob,” panggilku.
Dia menoleh memandangku.
”Kalian tidak perlu dijaga. Aku akan kembali ke
kandangku,” begitu seolah-olah kata Bob sambil me-
ninggalkan kami.
”Jendelanya tertutup semua. Oh, maafkan seben-
tar...” Buru-buru Ellen menghambur ke Ruang Pagi,
membuka jendela.
”Bagus,” ujar Poirot mengikutinya, sambil duduk
di salah satu kursi di situ.
Waktu aku mau mengikutinya, Bob tiba-tiba mun-
cul kembali. Ia membawa bola pada mulutnya. Ia
melompat-lompat naik tangga. Sesampainya di atas,
250

pustaka-indo.blogspot.com
ia memandang ke bawah sambil menggoyang-goyang-
kan ekornya.
”Ayo,” begitu kelihatannya dia berkata. ”Ayo, kita
main-main!”
Perhatianku teralihkan kepadanya, dan kami pun
bermain-main beberapa menit. Aku kembali ke Ruang
Pagi dengan rasa bersalah karena melalaikan tugas.
Poirot dan Ellen kedengarannya sedang asyik ber-
bicara mengenai obat-obatan dan penyakit.
”Pil putih, Sir—cuma itu yang biasanya diminum.
Dua atau tiga pil setelah makan. Begitu perintah Dr.
Grainger. Oh ya, Miss Arundell mematuhi perintah
itu. Obatnya kecil-kecil sekali. Tapi kemudian Miss
Lawson memperkenalkan obat baru. Berbentuk kap-
sul, rancangan Dr. Loughbarrow. Katanya itu kapsul
lever. Mungkin Anda sudah melihat iklannya?”
”Miss Arundell minum kapsul itu juga?”
”Ya. Mula-mula Miss Lawson yang memaksanya.
Kemudian, Miss Arundell merasakan khasiatnya, dan
sejak saat itu beliau selalu meminumnya.”
”Apakah Dr. Grainger tahu?”
”Tahu, Sir. Tapi Dr. Grainger tidak melarangnya.
’Minum saja kalau kaurasa khasiatnya bagus,’ katanya.
Lalu Miss Arundell menyahut, ’Kau boleh menertawa-
kanku, tapi sungguh, aku merasakan khasiatnya—jauh
lebih berkhasiat dari resepmu.’ Dr. Grainger tentu
saja tertawa, Sir. Katanya keyakinan lebih manjur dari-
pada obat apa pun yang pernah ditemukan orang.”
”Adakah obat lain lagi yang diminumnya?”
”Tidak. Suami Miss Bella—dokter asing itu—mem-
berinya sebotol obat. Tapi, meskipun Miss Arundell
251

pustaka-indo.blogspot.com
mengucapkan terima kasih, obat itu dibuang. Saya
melihat sendiri waktu Miss Arundell membuangnya,
Sir. Tapi itu tidak bisa disalahkan. Kita tidak tahu apa
yang diberikan orang asing itu.”
”Mrs. Tanios juga melihat waktu Miss Arundell
membuang obat itu, kan?”
”Ya. Kelihatannya dia sakit hati. Kasihan. Saya me-
ngerti maksud dokter itu baik.”
”Tentu. Tentu. Setelah Miss Arundell meninggal,
semua obat-obatannya dibuang?”
Ellen kelihatan terkejut mendengar pertanyaan
itu.
”Oh, ya, Sir. Juru rawatnya membuang semua obat
yang ada di luar. Sedangkan Miss Lawson sudah me-
ngosongkan lemari obat yang di kamar mandi.”
”Di situkah kapsul levernya disimpan?”
”Tidak. Kapsul itu diletakkan di lemari sudut di
Ruang Makan, supaya mudah mengambilnya setiap
kali selesai makan.”
”Siapa juru rawat yang merawat Miss Arundell?
Anda tahu alamatnya?”
Dengan cepat Ellen memberikan nama dan alamat-
nya.
Poirot terus menanyakan hal-hal yang berhubungan
dengan penyakit Miss Arundell sebelum meninggal.
Ellen menceritakan dengan mendetail tentang pe-
nyakitnya, tentang keluhannya, tentang gejala penya-
kit kuning yang tampak dari luar, dan tentang saat-
saat terakhirnya. Aku tak tahu apakah Poirot puas
atau tidak dengan apa yang didengarnya. Yang jelas,
ia mendengarkan dengan sabar dan kadang-kadang
252

pustaka-indo.blogspot.com
melontarkan pertanyaan, khususnya mengenai Miss
Lawson, dan lamanya Miss Lawson berada di kamar
Miss Arundell. Poirot tampaknya juga tertarik akan
pengaturan diet Miss Arundell dengan membanding-
kan segalanya dengan pengalaman keluarganya (yang
sebetulnya tidak ada) yang sekarang sudah mening-
gal.
Melihat mereka berdua begitu asyik, aku keluar
lagi ke Ruang Tengah. Bob rupanya tertidur di ujung
atas tangga. Bolanya tergeletak dekat mulutnya.
Aku bersiul membangunkannya. Ia pun cepat bang-
kit dan sigap kembali. Menutupi rasa malunya (keda-
patan tertidur), Bob segera mempermainkan bolanya
dan melemparkannya kepadaku. Kami bermain-main
beberapa lama.
Ketika aku kembali ke Ruang Pagi, Poirot sedang
membicarakan kunjungan Dr. Tanios yang tidak ter-
duga hari Minggu sebelum Miss Arundell mening-
gal.
”Ya, Sir—Mr. Charles dan Miss heresa memang
sedang berjalan-jalan ke luar. Kami memang tidak tahu
Dr. Tanios akan datang. Miss Arundell sedang ber-
baring. Waktu tahu Dr. Tanios datang, beliau sangat
terkejut. ’Dr. Tanios?’ tanyanya. ’Dengan istrinya?’ Saya
katakan dia datang sendirian. Miss Arundell menyuruh
saya mengatakan kepada Dr. Tanios bahwa Miss
Arundell akan turun.”
”Lama Dr. Tanios tinggal di sini?”
”Tidak lebih dari satu jam, Sir. Kelihatannya dia
kecewa waktu pulang.”
253

pustaka-indo.blogspot.com
”Mungkin Anda kebetulan tahu maksud kedatangan-
nya?”
”Oh, tentu saja tidak, Sir. Saya tidak tahu apa-
apa!”
”Anda tidak mendengar apa-apa sama sekali?”
Wajah Ellen memerah.
”Tidak, Sir! Saya tak pernah menguping di dekat
pintu...”
”Oh, Anda salah tangkap,” ujar Poirot segera, meng-
hindari Ellen jadi lebih tersinggung. ”Maksud saya,
mungkin saja waktu Anda membawa teh masuk,
Anda kebetulan mendengar apa yang dikatakan.”
Ellen tampak tenang mendengar penjelasan Poirot.
”Maaf, Sir, saya salah mengerti. Dr. Tanios tidak
sampai minum teh di sini.”
Poirot memandangnya, matanya bersinar nakal.
”Dan kalau saya tetap ingin tahu maksud keda-
tangan Dr. Tanios, besar kemungkinan Miss Lawson
tahu, kan?”
”Kalau dia tidak tahu, Sir, orang lain pun tak ada
yang tahu,” kata Ellen dengan nada jijik.
”Mmm...” Poirot tampaknya mencoba mengingat-
ingat sesuatu. ”Miss Lawson—kamarnya kalau tidak
salah berdekatan dengan kamar Miss Arundell,
kan?”
”Oh, tidak, Sir. Kamar Miss Lawson persis di ka-
nan atas tangga. Saya bisa menunjukkannya kepada
Anda, Sir.”
Poirot menerima tawarannya. Sementara naik tang-
ga, ia berjalan sedekat mungkin dengan dinding di
sisi tangga itu. Begitu sampai di puncak tangga, ia
254

pustaka-indo.blogspot.com
menyerukan sesuatu sambil membungkuk dan me-
megangi ujung bawah pantalonnya.
”Pantalon saya tersangkut... ah, ini dia, ada paku
di sini, di papan miring ini.”
”Oh, ya—memang ada paku di situ, Sir. Mungkin
mau copot. Baju saya sendiri sudah beberapa kali ter-
sangkut paku itu.”
”Sudah lamakah paku itu begitu?”
”Lumayan lama, Sir. Pertama kali saya melihatnya
waktu Miss Arundell masih berbaring setelah kecela-
kaan di tangga ini. Saya mencoba menariknya, tapi
tidak bisa.”
”Ada benang yang diikatkan di situ, kelihatan-
nya.”
”Ya, Sir. Saya ingat, waktu pertama kali saya me-
lihatnya ada bekas potongan benang di situ. Saya ti-
dak tahu bekas apa.”
Suara Ellen sama sekali tidak mengandung ke-
curigaan. Baginya, itu cuma salah satu kejadian dalam
rumah tangga yang tidak memerlukan penjelasan!
Poirot melangkah masuk ke kamar di sebelah ka-
nan atas tangga. Kamar itu tidak terlalu besar, tetapi
juga tidak kecil. Di salah satu sudutnya terdapat meja
dan kaca rias, di antara dua jendela yang terdapat di
situ, ada lemari dengan kaca di bagian depannya.
Tempat tidurnya terletak di kanan, di belakang pintu,
menghadap ke jendela. Di dinding sebelah kiri ter-
dapat sederet lemari kecil dengan banyak laci dan se-
buah tempat cuci tangan dari marmer.
Poirot memperhatikan sekeliling kamar itu dengan
sungguh-sungguh. Kemudian dia keluar lagi. Dia me-
255

pustaka-indo.blogspot.com
nuju gang, melewati dua kamar tidur lainnya, dan
akhirnya ke Ruang Tidur Utama, yang dulunya kamar
Emily Arundell.
”Kamar juru rawat di sebelah,” kata Ellen.
Poirot mengangguk.
Sementara kami menuruni tangga, Poirot bertanya
apakah dia boleh berjalan-jalan melihat taman.
”Oh, ya, Sir. Tentu saja. Taman di sini sedang ba-
gus-bagusnya saat ini.”
”Apakah penjaganya masih tetap yang dulu?”
”Angus? Oh, ya, Angus masih di sini. Miss Lawson
ingin agar tamannya tetap terawat, karena itu akan
menambah harga rumah ini.”
”Ya. Dia bijaksana. Membiarkan rumah dan taman-
nya tidak terawat bukan tindakan yang bijaksana.”
Tamannya sangat luas dan indah. Kami berjalan
berkeliling, sampai tibalah kami ke suatu tempat di
mana tampak seorang lelaki tua sedang sibuk bekerja.
Dengan hormat laki-laki itu mengangguk kepada
kami, lalu Poirot mengajaknya bercakap-cakap.
Mendengar kami belum lama berselang bertemu
dengan Mr. Charles rupanya menyenangkan hati laki-
laki itu. Ia menjadi lincah dan sangat ramah.
Banyak ceritanya mengenai masa kecil Charles ka-
lau anak itu berkunjung ke Puri Hijau.
”Bulan April lalu dia datang ke sini, kan?”
”Ya. Ke sini—dua akhir pekan berturut-turut. Per-
sis sebelum Miss Arundell meninggal.”
”Banyak mengobrol dengan Anda?”
”Lumayan! Kurang menyenangkan buat anak muda
macam dia berlibur di sini. Itu fakta, Sir. Kebanyakan
256

pustaka-indo.blogspot.com
dia jalan-jalan ke he George. Kadang-kadang juga
jalan-jalan di kebun sini—menghampiri saya, tanya
ini dan itu.”
”Mengenai tanaman?”
”Yah... bunga-bungaan dan semak-semak juga.”
”Semak-semak?”
Nada suara Poirot terdengar mengandung arti lain.
Dia berpaling, dan mengamati sederet kaleng yang
terletak tak jauh dari situ, pada rak. Pandangannya
berhenti pada sebuah kaleng.
”Dia mungkin ingin tahu bagaimana cara mem-
basminya?”
”Betul, Sir!”
”Ini obat pembasminya, kan?”
Poirot memutar kaleng itu perlahan-lahan dan
membaca labelnya.
”Betul, Sir,” komentar Angus. ”Yang paling mudah
memang menggunakan obat itu.”
”Apakah tidak berbahaya?”
”Tidak, asal betul cara menggunakannya, Sir. Obat
itu mengandung banyak arsenik. Mr. Charles malah
bercanda sedikit mengenai obat itu. Katanya, kalau
dia punya istri yang cerewet dan membosankan, dia
akan datang ke sini minta sedikit obat itu, Sir. Untuk
melenyapkan istrinya itu, mungkin! Saya balas dia,
dan saya katakan, siapa tahu justru istrinya yang akan
mengambilnya buat dia sendiri. Dia tertawa terbahak-
bahak.”
Kami merasa wajib tertawa menanggapi cerita yang
dianggapnya lucu itu. Poirot membuka tutup kaleng
itu.
257

pustaka-indo.blogspot.com
”Sudah hampir habis,” gumamnya.
Angus ikut melihat isi kaleng itu.
”Wah. Tak terasa, sudah sebanyak itu yang saya
pakai. Saya mesti cepat-cepat memesan lagi.”
”Ya,” ujar Poirot tersenyum. ”Seandainya saya ingin
minta sedikit untuk istri saya pun sudah tidak cu-
kup!”
Sekali lagi kami tertawa bersama-sama.
”Kelihatannya Anda belum menikah, Sir?”
”Belum.”
”Ah, belum kawin saja sudah begitu. Kalau sudah
kawin... nah, itu, baru tahu susahnya!”
”Istri Anda...?” tanya Poirot, sengaja tidak menye-
lesaikan kalimatnya.
”Oh, jangan kuatir—dia hidup, segar bugar!”
Angus kelihatan agak muram.
Setelah memuji tamannya yang bagus, kami ber-
pamitan.

258

pustaka-indo.blogspot.com
21
Apoteker,
Juru Rawat, Dokter

KALENG obat pembasmi semak itu menimbulkan


babak pemikiran baru dalam otakku. Kini aku betul-
betul curiga. Perhatian Charles pada obat itu—dan
kenyataan bahwa Angus mendapati kalengnya hampir
kosong—kelihatannya merupakan pertanda ke arah
pemikiran yang benar.
Seperti biasanya kalau aku senang atau curiga,
Poirot bersikap tak acuh.
”Meskipun terbukti ada orang yang mengambil
obat pembasmi semak itu, Hastings—belum berarti
Charles pelakunya.”
”Tapi dia toh banyak sekali mempersoalkan obat
itu dengan Angus,” sanggahku.
”Kalau memang itu tujuannya, mengobrol seperti
itu bukan tindakan yang bijaksana.”

259

pustaka-indo.blogspot.com
Kemudian Poirot melanjutkan, ”Nama zat peracun
apa yang paling cepat kauingat kalau kau ditanyai?”
”Arsenik.”
”Ya. Jadi kau mengerti mengapa Charles ragu-ragu
sebelum mengucapkan ’strychnine’ tadi pagi?”
”Maksudmu?”
”Semula dia hendak mengatakan ’menaburkan arse-
nik pada sup’, tapi tidak jadi.”
”Ah!” ucapku. ”Mengapa mesti begitu?”
”Tepat, Hastings! Mengapa? Terus terang, untuk
menjawab pertanyaan itulah aku sengaja mengelilingi
taman, mencari sumber pembasmi semak.”
”Dan kau berhasil menemukannya.”
”Ya. Aku menemukannya.”
Aku menggeleng-geleng.
”Kelihatannya bukan berita baik buat Charles. Dan
kedengarannya tadi kau membicarakan penyakit Miss
Arundell dengan Ellen. Samakah gejalanya dengan
gejala keracunan arsenik?”
Poirot menggosok-gosok hidungnya.
”Sukar untuk dikatakan. Miss Arundell merasa pe-
rutnya tidak enak—sakit.”
”Nah, itu memang gejalanya, kan?”
”Hmmm, aku kurang yakin.”
”Lalu kira-kira keracunan apa kalau begitu?”
”Eh bien, Sobat, melihat gejalanya, seperti sakit le-
ver biasa yang mematikan.”
”Oh, Poirot!,” seruku. ”Tidak mungkin itu cuma
penyakit biasa! Dia mau dibunuh!”
”Oh, là là, kok kita jadi tukar tempat?”
Tiba-tiba Poirot membelok ke apotek. Setelah lama
260

pustaka-indo.blogspot.com
memperbincangkan keluhan-keluhan pribadinya,
Poirot membeli sekotak kecil obat isap untuk sakit
tenggorokan. Kemudian, sementara obat yang dibeli-
nya itu sedang dibungkus, perhatiannya tiba-tiba ter-
tarik pada obat berbungkus menarik: kapsul lever Dr.
Loughbarrow.
”Oh, ya, Sir—obat itu bagus sekali.” Si apoteker
yang setengah baya itu berpromosi. ”Sangat muja-
rab!”
”Kalau tak salah Miss Arundell biasa meminumnya.
Miss Emily Arundell.”
”Memang betul, Sir. Miss Arundell pemilik Puri
Hijau itu. Oh, dia perempuan yang luar biasa. Saya
sering melayaninya.”
”Banyakkah obat paten yang biasa diminumnya?”
”Tidak, Sir. Tidak sebanyak yang biasa diminum
perempuan-perempuan tua lainnya. Miss Lawson, be-
kas pelayan pribadinya yang sekarang jadi ahli wa-
ris...”
Poirot mengangguk.
”Dia banyak minum obat—macam-macam pil,
obat isap, obat untuk melancarkan pencernaan, obat
tambah darah, dan sebagainya. Makin banyak botol
di lemari obatnya, makin senang dia. Padahal seka-
rang orang tidak terlalu doyan obat seperti dulu. Mes-
kipun begitu, obat-obatan yang kami jual masih ba-
nyak laku, karena ada orang yang punya kesenangan
mengumpulkan obat-obatan seperti Miss Lawson
itu.”
”Apakah Miss Arundell minum kapsul lever ini se-
cara teratur?”
261

pustaka-indo.blogspot.com
”Ya. Selama tiga bulan terakhir sebelum beliau me-
ninggal.”
”Oh ya—ada keluarganya, Dr. Tanios—kalau tak
salah—yang datang ke sini untuk membeli ramuan
obat tertentu. Betul?”
”Ya. Lelaki Yunani yang menikah dengan keme-
nakan Miss Arundell. Campuran obatnya baru rupa-
nya—saya belum pernah menjumpai campuran seperti
itu.”
Apoteker itu berbicara mengenai botani.
”Obat baru biasanya memang berkhasiat, Sir, sebab
tubuh kita lama-kelamaan menjadi kebal dengan obat
yang biasa kita minum. Betul, Sir, campuran obatnya
sangat menarik. Tapi itu bisa dimengerti—dia kan
dokter. Orangnya baik sekali. Senang mengobrol de-
ngannya.”
”Istrinya pernah belanja ke sini?”
”Pernah atau tidak ya...? Oh, saya tidak ingat.
Tapi... mmm... ya, pernah, Sir. Dia datang membeli
obat tidur—chloral. Ya, chloral—saya ingat. Dia mem-
beli dosis dua kali lipat yang biasa diberikan dok-
ter.”
”Dokter mana yang menulis resepnya?”
”Suaminya, saya pikir. Sekarang kami mesti lebih
berhati-hati, Sir. Kadang-kadang dokter salah menulis
resep. Karena itu kami sering harus mengecek ulang.
Sebab, Sir, kalau sampai terjadi sesuatu, bukan dokter-
nya yang disalahkan, tapi kami. Kami dianggap tahu
dosis yang seharusnya.”
”Itu tidak adil!”
”Ya, agak mencemaskan, saya akui. Tapi yah, saya
262

pustaka-indo.blogspot.com
tidak boleh berkeluh kesah. Amit-amit, tapi selama
ini yang seperti itu belum pernah terjadi dengan apo-
tek kami.”
Laki-laki itu mengetuk meja di hadapannya tiga
kali.
Poirot membeli sebungkus kapsul lever buatan Dr.
Loughbarrow.
”Yang ukuran berapa, Sir—25, 50, 100?”
”Yang paling besar pasti jatuhnya lebih murah,
tapi...”
”Yang lima puluh sajalah, Sir. Miss Arundell biasa-
nya mengambil yang itu.”
Poirot mengangguk, membayar, dan menerima
bungkusan kapsul levernya.
Kami pergi meninggalkan apotek tadi.
”Jadi, Mrs. Tanios pernah membeli obat tidur de-
ngan dosis melebihi normal,” ujarku setelah kami
sampai di jalan. ”Minum obat tidur melebihi dosis
kan bisa mematikan?”
”Ya, mati dengan tanpa susah-susah sama sekali.”
”Mungkinkah Miss Arundell...”
Tiba-tiba aku ingat kata-kata Miss Lawson, ”Saya
yakin dia mau membunuh siapa pun kalau disuruh
suaminya.”
Poirot menggeleng.
”Chloral itu semacam narkotik—biasanya dipakai
untuk pemati rasa dan penenang. Tapi bisa juga mem-
buat orang kecanduan.”
”Mungkinkah Mrs. Tanios kecanduan obat itu?”
Poirot menggeleng lagi.
”Tidak. Kupikir tidak. Tapi aku jadi curiga. Buat
263

pustaka-indo.blogspot.com
apa dia membeli obat tidur sebanyak itu? Mung-
kin...”
Poirot tidak melanjutkan kata-katanya. Ia segera
mengalihkan perhatiannya pada arlojinya.
”Ayo, kita cari alamat Suster Carruthers yang me-
rawat Miss Arundell pada hari-hari terakhirnya.”
Suster Carruthers ternyata wanita setengah baya
yang kelihatannya sangat bijaksana. Kali ini Poirot me-
mainkan peran baru. Ia berpura-pura mencari juru
rawat untuk ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan.
”Terus terang, ibu saya orangnya sulit. Telah bebera-
pa kali kami memanggil juru rawat muda yang pan-
dai dan cekatan. Tapi, justru karena mereka muda itu
ibu saya menentang. Beliau tidak menyukai perem-
puan muda. Mereka selalu dihinanya. Harus saya
akui, ibu saya keras dan kolot. Ia sangat menentang
segala sesuatu yang berbau modern. Karena itu, sulit
sekali bagi saya untuk mencari orang yang bisa cocok
dan sabar menghadapinya,” ujar Poirot muram.
”Saya bisa mengerti,” kata Suster Carruthers de-
ngan simpatik. ”Memang kadang-kadang menjengkel-
kan. Dengan wanita tua seperti ibu Anda, kita harus
menggunakan banyak taktik. Tidak baik membuat si
pasien marah. Lebih baik kita yang mengalah seba-
nyak mungkin. Kalau dia merasa kita tidak memaksa-
nya—tidak memerintah atau mendikte—lambat laun
dia akan bersikap santai, dan bahkan menyerah.”
”Ah! Saya yakin Anda akan cocok sekali buat ibu
saya. Anda kelihatannya mengerti perasaan wanita
tua.”
”Saya terpaksa mengerti lewat pengalaman-penga-
264

pustaka-indo.blogspot.com
laman saya,” kata Suster Carruthers sambil tertawa.
”Kesabaran dan humor ternyata banyak sekali mem-
bantu.”
”Ya, itu bijaksana sekali. Saya dengar Anda pernah
merawat Miss Arundell. Beliau pun, saya kira, bukan
pasien yang gampang.”
”Yah—bagaimana ya? Kemauannya memang keras,
tapi saya tidak mengalami kesulitan merawatnya. Tapi
mungkin saja itu karena saya tidak terlalu lama me-
rawatnya. Dia meninggal pada hari keempat dalam
rawatan saya.”
”Saya baru kemarin bertemu dengan kemenakannya,
Miss heresa Arundell.”
”Oh, sungguh? Dunia ini memang sempit!”
”Anda kenal dia?”
”Ya, tentu saja. Dia datang setelah bibinya mening-
gal, dan datang lagi buat menghadiri pemakamannya.
Sebelumnya pun saya sudah sering melihatnya, kalau
dia berjalan-jalan waktu berlibur di sini. Dia sangat
cantik.”
”Ya. Cantik sekali. Sayangnya agak terlalu kurus.”
Sadar akan pipinya sendiri yang agak montok, Sus-
ter Carruthers menjadi tersipu-sipu.
”Benar,” ujarnya. ”Sebaiknya orang tidak terlalu
kurus.”
”Kasihan dia,” lanjut Poirot. ”Saya betul-betul ka-
sihan kepadanya. Entre nous—antara kita saja,” Poirot
mendekatkan dirinya pada Suster Carruthers, dan de-
ngan setengah berbisik ia berkata, ”surat wasiat bibi-
nya sangat tidak terduga.”
265

pustaka-indo.blogspot.com
”Kelihatannya begitu,” ujar Suster Carruthers. ”Se-
tahu saya, itu menjadi bahan pembicaraan orang.”
”Saya sama sekali tidak bisa membayangkan menga-
pa Miss Arundell memutuskan untuk tidak mewarisi
keluarganya sendiri sama sekali. Tidak biasanya orang
berbuat begitu.”
”Aneh sekali memang. Dan dengar-dengar, orang
mengatakan ada sesuatu di balik semuanya itu.”
”Mungkin Anda punya bayangan—apa alasannya?
Pernahkah Miss Arundell mengatakan sesuatu me-
ngenai hal itu?”
”Tidak, tidak kepada saya.”
”Tapi dia mengatakan kepada orang lain?”
”Yah, saya pikir Miss Arundell mengatakan sesuatu
kepada Miss Lawson, dan saya dengar Miss Lawson
berkata, ’Ya. Tapi surat-surat itu dibawa Mr. Pur...’
Purvis kalau tidak salah. Saya pikir itu nama penga-
caranya. Kemudian Miss Arundell berkata, ’Aku yakin
ada di laci di bawah.’ Dan Miss Lawson mengatakan,
’Tidak. Masa lupa? Kan sudah dikirimkan ke Mr.
Purvis?’ Setelah itu pasien saya mengalami serangan
mual-mual lagi, dan Miss Lawson pergi keluar semen-
tara saya merawat Miss Arundell. Saya sering ber-
tanya-tanya, mungkinkah surat wasiat itu yang mereka
perbincangkan waktu itu.”
”Sangat mungkin.”
Suster Carruthers melanjutkan, ”Kalau memang
benar, saya pikir Miss Arundell gelisah dan ingin
mengubahnya, tapi beliau begitu lemah dan men-
derita, sampai ajalnya tiba.”
266

pustaka-indo.blogspot.com
”Apakah Miss Lawson membantu merawatnya?”
tanya Poirot.
”Oh, sama sekali tidak. Sikapnya kerap kali justru
mengganggu ketenangan pasien.”
”Jadi, Anda sendiri yang merawat Miss Arundell
selama beliau sakit? C’est formidable ça—bukan
main.”
”Ada pelayan—namanya Ellen, kalau saya tidak
salah. Dia membantu saya. Ellen sangat baik. Dia su-
dah terbiasa merawat orang sakit, dan kelihatannya
dia sangat mengerti apa yang disukai atau tidak di-
sukai Miss Arundell. Kami berdua bekerja sama de-
ngan baik sekali, saya akui. Dr. Grainger mengirim
suster jaga malam pada hari Jumat sore. Tapi Miss
Arundell sudah meninggal sebelumnya.”
”Mungkin Miss Lawson membantu menyiapkan
makanan pasien Anda?”
”Tidak. Miss Lawson sama sekali tidak melakukan
apa-apa. Terus terang, nyaris tidak ada yang perlu di-
siapkan. Semuanya sudah saya siapkan di kamar Miss
Arundell—Valentine dan brendinya, juga glukosa dan
sebagainya. Yang dilakukan Miss Lawson cuma mena-
ngis, kadang-kadang meraung-raung, mengganggu se-
mua orang.”
Sedikit nada pahit terselip dalam suara Suster
Carruthers.
”Kedengarannya,” komentar Poirot, ”Anda kurang
menghargai Miss Lawson.”
”Menurut saya, pelayan pribadi kebanyakan orang
bodoh. Mereka tidak atau kurang berpendidikan.
Cuma bekerja—katakanlah—sebagai amatiran. Dan
267

pustaka-indo.blogspot.com
umumnya, mereka perempuan yang tidak bisa bekerja
yang lain.”
”Menurut pengamatan Anda, apakah Miss Lawson
sangat dekat dengan Miss Arundell?”
”Kelihatannya begitu. Waktu Miss Arundell mening-
gal, dia yang paling histeris—malahan melebihi ke-
luarga Miss Arundell sendiri.”
”Ya, mungkin juga,” ujar Poirot sambil mengang-
guk-angguk. ”Sebab Miss Arundell tampaknya sangat
sadar ketika memutuskan untuk mewariskan seluruh
kekayaannya kepada Miss Lawson.”
”Miss Arundell sangat cerdik,” ujar Suster Carruthers.
”Pengetahuannya sangat luas.”
”Pernahkah dia membicarakan Bob—anjingnya?”
”Lucu Anda bilang begitu! Memang Miss Arundell
sering sekali membicarakannya, lebih-lebih kalau
mengigau. Tak jelas apa yang diucapkan. Yang terde-
ngar dia menyebut-nyebut Bob dan bolanya serta dia
jatuh dari tangga. Bob anjing manis. Saya sangat me-
nyayangi anjing. Kasihan Bob kelihatannya sedih se-
kali ketika majikannya meninggal. Kadang-kadang
sukar dimengerti, bukan?—Anjing sering mempunyai
perasaan seperti manusia.”
Setelah pembicaraan mengenai anjing ini, kami
minta diri.
”Ada seorang yang tampaknya sama sekali tidak
mempunyai kecurigaan,” ujar Poirot di jalan.
Suaranya kurang bersemangat.
Santap malam kami di he George sama sekali ti-
dak nikmat. Beberapa kali Poirot mengeluh, lebih-le-
bih waktu makan sup.
268

pustaka-indo.blogspot.com
”Padahal, Hastings, gampang sekali bikin sup yang
enak. Le pot au feu...”
Kuhindari topik masak-memasak ini dengan susah
payah.
Sehabis makan malam, kami mendapat kejutan.
Kami sedang duduk-duduk di lobi. Saat itu kebe-
tulan tidak ada orang lain yang duduk-duduk di situ.
Waktu makan di ruang makan tadi ada seorang laki-
laki lain yang juga sedang makan. Kelihatannya peng-
usaha. Tapi dia tidak lama tinggal di hotel. Dia keluar
setelah selesai santap malam. Aku iseng-iseng mem-
buka semacam jurnal ekonomi terbitan lama yang
tersedia di meja ketika tiba-tiba kudengar ada orang
menyerukan nama Poirot. Suara yang kudengar itu
rupanya berasal dari luar.
”Mana dia? Di sini? Oh, aku harus menemukan
orang itu!”
Pintu masuk ke lobi dibuka orang dari luar. Dr.
Grainger masuk tergopoh-gopoh dengan wajah merah
padam dan kedua alisnya bertemu di tengah. Lelaki
itu berhenti sebentar menutup pintu, kemudian meng-
hampiri kami dengan salah tingkah.
”Oh, jadi Anda di sini! M. Poirot, apa maksud
Anda datang ke tempat saya dan membual yang bu-
kan-bukan?”
”Ini dia salah satu gelembung sabunmu, Poirot,”
gumamku.
Dengan suara sangat lembut Poirot berkata, ”Oh,
Dokter, perkenankan saya menjelaskan...”
”Memperkenankan? Memperkenankan? Huh, per-
setan dengan macam-macam perkenan. Jelaskan se-
269

pustaka-indo.blogspot.com
mua duduk perkaranya! Anda detektif, kan? Detektif
yang kasak-kusuk berusaha mencari informasi! Apa
maksud Anda datang ke tempat praktik saya dan
membuat cerita-cerita bohong? Yang katanya mau me-
nulis buku biograi Jenderal Arundell lah... Oh, per-
setan!”
”Siapa yang memberitahukan identitas saya kepada
Anda?” tanya Poirot.
”Siapa? Miss Peabody, tentu saja. Dia tidak bisa
ditipu. Dia langsung tahu maksud Anda.”
”Oh, Miss Peabody—ya.” Poirot kedengarannya
sedang mencoba mengingat-ingat Miss Peabody. ”Saya
pikir...”
Dr. Grainger menyela dengan marah, ”Saya me-
nunggu penjelasan Anda, Sir!”
”Tentu saja! Penjelasannya sangat sederhana. Usaha
pembunuhan.”
”Apa? Apa yang Anda katakan?”
Dengan tenang Poirot menyahut, ”Miss Arundell
mengalami kecelakaan—jatuh dari tangga. Betul,
bukan? Tidak lama sebelum beliau meninggal.”
”Ya. Apa hubungannya? Dia terpeleset bola mainan
anjingnya sendiri.”
Poirot menggeleng.
”Tidak, Dokter. Dia bukan jatuh karena terpeleset
atau terantuk bola Bob! Ada benang yang sengaja di-
rentangkan pada ujung atas tangga itu, supaya dia
tersandung dan jatuh!”
Dr. Grainger membelalak.
”Tapi Miss Arundell tidak mengatakan begitu,”
270

pustaka-indo.blogspot.com
sanggahnya. ”Dia sama sekali tidak pernah mengata-
kan apa-apa.”
”Itu bisa dimengerti—kalau memang benar salah se-
orang keluarganya sendiri yang memasang benang itu.”
”Hmmm.” Dr. Grainger melemparkan pandangan
tajam kepada Poirot, kemudian menjatuhkan dirinya
ke kursi. ”Nah,” ujarnya pula. ”Lalu bagaimana Anda
bisa ikut campur dalam urusan ini?”
”Miss Arundell sendiri menulis surat kepada saya.
Dia menekankan kerahasiaannya. Sayangnya, surat itu
terlambat dikirimkan.”
Poirot melanjutkan ceritanya mengenai penyelidikan-
nya serta paku yang ditemukannya di papan miring
yang terdapat di sisi tangga.
Dr. Grainger mendengarkan semuanya itu dengan
sungguh-sungguh. Wajahnya serius. Amarahnya meng-
hilang.
”Anda bisa mengerti bagaimana sulitnya kedudukan
saya, bukan, Dr. Grainger?” kata Poirot akhirnya.
”Saya mengerjakan semuanya ini atas permintaan
orang yang sudah meninggal. Walaupun dia sudah
meninggal, saya merasa permintaannya memang pen-
ting dan harus dipenuhi.”
Dahi Dr. Grainger berkernyit, kedua alisnya ham-
pir bertemu di atas hidungnya.
”Anda belum punya bayangan siapa yang dengan
sengaja memasang benang di tangga itu?”
”Saya belum mempunyai bukti. Tapi itu bukan ber-
arti saya belum punya gambaran.”
”Perbuatan yang sangat terkutuk,” gumam Dr.
Grainger.
271

pustaka-indo.blogspot.com
”Ya. Mula-mula sulit menentukan apakah ada kelan-
jutan ceritanya.”
”Apa?”
”Kelihatannya Miss Arundell meninggal karena pe-
nyakit biasa. Tapi, yakinkah kita bahwa dia benar-be-
nar meninggal karena penyakit? Pernah terjadi per-
cobaan pembunuhan terhadap dirinya. Bagaimana
saya bisa yakin selanjutnya tidak terjadi percobaan
yang kedua? Dan percobaan yang kedua ini ternyata
berhasil!”
Dr. Grainger mengangguk-angguk.
”Jangan marah, Dr. Grainger—tapi, Anda pun ya-
kin Miss Arundell meninggal karena penyakitnya,
bukan? Maksud saya, apakah Anda yakin dia mening-
gal secara wajar? Saya baru saja menemukan beberapa
bukti...”
Poirot menceritakan dengan mendetail pcrcakapan-
nya dengan Angus siang tadi, serta perhatian Charles
yang tampaknya sangat besar terhadap obat pembasmi
semak itu. Poirot juga menyebutkan keterkejutan
Angus waktu tahu isi kalengnya sudah hampir ha-
bis.
Dr. Grainger mendengarkan dengan penuh per-
hatian. Ketika Poirot selesai bercerita, ia berkata,
”Saya mengerti jalan pikiran Anda. Dalam kebanyakan
kasus keracunan arsenik memang timbul keluhan akut
pada ginjal. Meskipun demikian, kasus semacam ini
agak sulit dideinisikan, karena mempunyai akibat
yang berbeda-beda. Bisa akut, sub-akut, mengenai sa-
raf atau gejala kronis. Mungkin penderita muntah-
muntah dan merasa sakit perut, tapi gejala semacam
272

pustaka-indo.blogspot.com
ini mungkin juga tidak timbul sama sekali. Sebalik-
nya, ada juga kemungkinan si penderita langsung
terkapar dan meninggal, atau menjadi lumpuh. Gejala-
nya sangat bervariasi.”
Poirot berkata, ”Eh bien, melihat fakta-faktanya,
bagaimana pendapat Anda?”
Dr. Grainger diam beberapa menit. Kemudian de-
ngan perlahan-lahan dia berkata, ”Melihat fakta-fakta-
nya, dan tanpa dilatarbelakangi pikiran lain kecuali
yang berhubungan dengan kedokteran, saya berpen-
dapat tidak ada gejala keracunan arsenik sama sekali
dalam kasus Miss Arundell. Dia meninggal karena
penyakit kuning yang disebabkan oleh kerusakan pada
hatinya. Sudah bertahun-tahun saya menjadi dokter
pribadinya. Dan selama itu, telah beberapa kali saya
mengalami penyakitnya itu kambuh. Pada waktu kam-
buh, gejala yang tampak sama dengan gejala yang
tampak pada sakitnya yang terakhir. Begitulah pen-
dapat saya, M. Poirot.”
Di situ, pembicaraan dengan sendirinya berhenti.
Rasanya seperti antiklimaks ketika tiba-tiba Poirot
mengeluarkan bungkusan kapsul lever yang dibelinya
di apotek sore tadi.
”Saya dengar Miss Arundell memakai obat ini?”
tanyanya. ”Tapi ini tidak membahayakan, bukan?”
”Obat itu? Tak ada jeleknya. Aloes—podophyllin—
zat yang terkandung di dalamnya tergolong lembut
dan tidak membahayakan,” kata Dr. Grainger. ”Dia
ingin mencoba obat itu. Dan saya tidak berkebe-
ratan.”
Dr. Grainger berdiri.
273

pustaka-indo.blogspot.com
”Anda sendiri meramu obat untuknya?” tanya
Poirot.
”Ya, pil lever ringan buat setiap kali habis makan.”
Mata Dr. Grainger bersinar aneh. ”Seandainya dia
memakan satu dos sekaligus pun tak ada bahayanya.
Saya tidak pernah meracuni pasien-pasien saya, M.
Poirot.”
Dengan tersenyum dijabatnya tangan kami, lalu dia
pergi.
Poirot membuka dos obat yang dibelinya di apotek
tadi. Isinya kapsul transparan, yang tiga perempatnya
terisi serbuk berwarna kecokelatan.
”Seperti obat mabuk laut yang pernah kuminum,”
komentarku.
Poirot membuka sebuah kapsul dan memeriksa
isinya. Dijilatnya serbuk cokelat yang baru dikeluar-
kan dari kapsulnya. Ia meringis.
”Yah,” ujarku sambil menjatuhkan pantatku ke
kursi, ”Kelihatannya tidak ada yang membahayakan.
Maksudku, kapsul buatan Dr. Loughbarrow maupun
pil ramuan Dr. Grainger! Dan lagi Dr. Grainger keli-
hatannya sangat negatif terhadap kemungkinan ke-
racunan arsenik. Apakah kau akhirnya percaya, Poirot,
sobatku yang keras kepala?”
”Aku memang keras kepala,” ujarnya.
”Jadi, meskipun kau telah mendengar keterangan
apoteker itu, juru rawat, serta dokter itu sendiri, kau
masih tetap yakin Miss Arundell dibunuh orang?”
Jawaban Poirot sangat pelan.
”Itu keyakinanku. Bukan cuma keyakinan, Has-
tings—aku merasa pasti!”
274

pustaka-indo.blogspot.com
”Ada cara untuk membuktikannya,” ujarku pelan-
pelan. ”Gali makamnya, dan periksa sisa-sisa tubuh-
nya.”
Poirot mengangguk.
”Itu langkahmu yang berikut?”
”Kawan, aku mesti sangat berhati-hati.”
”Mengapa?”
”Karena,” suaranya rendah, ”aku takut akan terjadi
tragedi yang kedua.”
”Maksudmu?”
”Aku takut, Hastings, aku takut. Itu saja.”

275

pustaka-indo.blogspot.com
22
Perempuan di Tangga Sana

KEESOKAN harinya, datang sepucuk surat yang di-


tujukan kepada Poirot. Tulisannya ragu-ragu dan mi-
ring ke atas di sebelah kanannya.

M. Poirot yang terhormat,


Saya dengar dari Ellen, Anda berkunjung ke
Puri Hijau kemarin. Kalau Anda tidak terlalu
sibuk, tolong mampir sebentar hari ini.

Hormat saya,
WILHELMINA LAWSON

”Jadi, dia sedang di sini?” komentarku.


”Ya.”
”Apa perlunya dia datang?”

276

pustaka-indo.blogspot.com
Poirot tersenyum. ”Jangan sinis begitu, Sobat. Puri
Hijau kan rumahnya sendiri sekarang.”
”Memang. Tahukah, Poirot, kelihatannya kita akan
terjepit lagi. Setiap tipuan yang dilakukan orang pada
akhirnya akan terbuka.”
”Aku sependapat denganmu, Hastings.”
”Kau masih mencurigai mereka semua?”
”Tidak. Aku cuma mencurigai seorang saja sekarang
ini.”
”Yang mana?”
”Karena baru merupakan dugaan, dan belum ada
buktinya, kupikir sebaiknya kau menarik kesimpulan
sendiri. Jangan lupa akan faktor-faktor psikologi. Itu
sangat penting. Sifat pembunuhannya mencerminkan
temperamen pelakunya—itu kunci terpentingnya.”
”Mana aku bisa tahu temperamen pembunuhnya,
kalau pembunuhnya sendiri tidak kuketahui?”
”Kau tidak memperhatikan yang barusan kukata-
kan. Kalau kaugambarkan kembali sifat-sifat yang
penting dan mencolok, tentunya, kau akan sadar siapa
sebenarnya pelaku pembunuhan itu.”
”Sungguhkah kau tahu, Poirot?” tanyaku ingin
tahu.
”Tak bisa kukatakan aku tahu, Sobat—aku belum
punya bukti. Itu sebabnya aku tidak berani berkata
lebih banyak saat ini. Tapi aku cukup yakin dan pasti
akan kebenarannya.”
”Yah,” ujarku tertawa, ”hati-hati sajalah! Kalau pem-
bunuhnya tahu, bisa-bisa terjadi tragedi seperti yang
kautakutkan.”
Poirot agak terperangah. Kelihatannya ia tidak
277

pustaka-indo.blogspot.com
menganggap komentarku tadi gurauan. Ia bergumam,
”Kau benar. Aku mesti hati-hati sekali.”
”Kau mesti pakai baju antipeluru,” gurauku. ”Bawa
alat pendeteksi racun, kalau perlu. Bahkan, tak ada
salahnya mulai menyewa tukang pukul.”
”Merci—terima kasih, Hastings! Aku akan menjaga
diriku sendiri.”
Poirot kemudian menulis kepada Miss Lawson,
memberitahukan bahwa kami akan datang ke Puri
Hijau sekitar pukul sebelas nanti.
Setelah itu kami sarapan dan berjalan-jalan ke
alun-alun. Hari sudah hampir menunjukkan pukul
setengah sebelas. Udara terasa panas dan membuat
orang mengantuk.
Aku sedang mengamati barang-barang antik yang
dipajang di etalase sebuah toko ketika tiba-tiba bahu-
ku ditepuk orang dengan keras sekali. ”Hai!” serunya
dengan lantang sekali.
Aku berputar, dan di hadapanku berdiri Miss Pea-
body. Tangannya memegang payung berukuran besar
yang tampaknya sangat kokoh. (Payung itulah yang
dipakainya memukul pundakku tadi, pikirku.)
Tak sadar akan rasa sakit yang ditimbulkannya di
pundakku, Miss Peabody memandangiku, dan dengan
nada amat puas berkata, ”Ha! Benar—tak salah
dugaanku. Memang kau yang kulihat!”
Dengan agak dingin aku menyahut, ”Mm... sela-
mat pagi. Bisa saya bantu?”
”Bagaimana kemajuan buku yang dibikin kawanmu
itu—Kehidupan Jenderal Arundell?”
278

pustaka-indo.blogspot.com
”Terus terang, dia belum mulai menulisnya,” jawab-
ku.
Miss Peabody tidak bersuara. Namun tawanya se-
gera keluar, tawa orang puas.
”Kupikir dia takakan pernah menulis buku itu.”
Dengan tersenyum aku berkata, ”Jadi Anda sudah
tahu iksi kami?”
”Memangnya kaupikir aku ini apa—perempuan
pandir?” tanya Miss Peabody. ”Tidak lama—sebentar
saja, aku sudah tahu apa yang sebenarnya dicari ka-
wanmu itu! Dia ingin aku bicara! Aku tidak berkebe-
ratan sih! Kebetulan aku memang suka mengobrol.
Sekarang susah cari orang yang senang mendengarkan
cerita orang lain. Terus terang, aku senang dengan
kunjungan kalian siang itu.”
Ia mengedip kepadaku.
”Ada apa sebenarnya?”
Aku ragu-ragu menjawabnya. Untunglah Poirot se-
gera keluar dari toko dan bergabung dengan kami. Ia
mengangguk hormat ketika melihat Miss Peabody.
”Selamat pagi, Mademoiselle. Senang sekali ber-
temu lagi.”
”Selamat pagi,” balas Miss Peabody. ”Peran apa lagi
yang kaumainkan pagi ini, Parotti atau Poirot—he?”
”Anda sangat cerdik—tahu kedok saya secepat itu,”
ujar Poirot sambil tersenyum.
”Yah—sedikit orang yang seperti kau di sekitar
sini, kan? Karena itu sulit mengatakan bagus atau je-
lek.”
”Lebih baik Anda katakan saya ini unik, Mademoi-
selle.”
279

pustaka-indo.blogspot.com
”Baiklah, kalau itu maumu,” kata Miss Peabody
acuh tak acuh. ”Nah, Mr. Poirot, tempo hari aku su-
dah menceritakan semuanya yang ingin kauketahui.
Sekarang giliranku bertanya. Ada apa sebenarnya?”
”Apakah Anda bukan menanyakan pertanyaan yang
sudah bisa Anda jawab sendiri?”
”Oooh.” Miss Peabody memandang tajam Poirot.
”Kecurangan mengenai surat wasiat itu? Atau ada
yang lain lagi? Punya rencana membongkar kuburan
Emily? Begitukah?”
Poirot tidak menjawab.
Miss Peabody mengangguk-angguk seolah ia telah
menerima jawaban yang diinginkannya.
”Sering kubayangkan,” ujar perempuan itu menyim-
pang dari pembicaraan semula, ”bagaimana rasanya...
membaca koran—membayangkan pada suatu hari
orang membongkar kuburan di Market Basing... Tak
kusangka Emily Arundell...”
Tiba-tiba Miss Peabody melemparkan tatapan me-
nyelidik kepada Poirot.
”Emily tidak suka kalau dia tahu... Sudahkah itu
kaupertimbangkan?”
”Ya, sudah.”
”Aku percaya—kau bukan orang bodoh!”
Poirot mengangguk. ”Terima kasih, Mademoiselle.”
”Melihat kumismu itu, tak banyak orang yang
akan menjulukimu seperti itu. Mengapa kau memeli-
hara kumis seperti itu? Suka?”
Aku memalingkan muka, hampir tak bisa menahan
tawa.
”Di Inggris kelihatannya seni memelihara kumis
280

pustaka-indo.blogspot.com
kurang diperhatikan orang,” sahut Poirot. Tangannya
mengusap-usap kumisnya dengan penuh kebanggaan.
”Oh, lucu!” ujar Miss Peabody. ”Syukurlah kalau
kau menyukai apa yang diberikan Tuhan. Biasanya
orang malah sebaliknya.”
Miss Peabody menggeleng-geleng dan mengeluh.
”Tak pernah mengira ada pembunuhan di tempat
terpencil seperti ini.” Lagi-lagi pandangan tajamnya
ditujukan kepada Poirot. ”Yang mana pembunuh-
nya?”
”Apakah saya mesti keras-keras mengatakannya ke-
pada Anda di tengah jalan begini?”
”Mungkin kau tidak tahu siapa pembunuhnya.
Atau, kau tahu? Oh, keturunan jelek. Aku dulu sete-
ngah mati ingin tahu apakah perempuan bernama
Varley itu betul membunuh suaminya. Tapi, yah... itu
lain lagi!”
”Anda percaya pada sifat-sifat yang menurun?”
Miss Peabody berkata cepat, ”Mudah-mudahan saja
si Tanios. Dia orang lain! Tapi harapan tidak selalu
menjadi kenyataan. Yah, kupikir aku mesti pulang.
Kelihatannya kau tidak mau menceritakan apa pun
kepadaku... Kau bekerja buat siapa?”
Dengan suara berat Poirot menjawab, ”Saya bekerja
atas perintah yang sudah meninggal, Mademoiselle.”
Jengkel sekali rasanya ketika Miss Peabody tertawa
terkekeh-kekeh mendengar keterangan Poirot tadi.
Meskipun demikian ia segera menghentikan tawanya
dan berkata, ”Maafkan aku. Seperti Isabel Tripp—
cuma itu! Bukan main! Lebih-lebih Julia. Nah, sampai
ketemu lagi. Sudah bertemu Dr. Grainger?”
281

pustaka-indo.blogspot.com
”Mademoiselle, Anda sudah membocorkan rahasia
saya.”
Miss Peabody berdecak.
”Laki-laki berpikir terlalu sederhana. Mau saja di-
bohongi. Oh, dia marah sekali waktu kuberitahu! Dia
langsung pergi mencarimu!”
”Dia sudah bertemu saya tadi malam.”
”Oh, sayang—aku tidak menyaksikan kejadian-
nya.”
”Sungguh sayang, Mademoiselle.”
Miss Peabody tertawa dan bersiap-siap meneruskan
perjalanannya. Sambil menoleh kepadaku dia berkata,
”Sampai ketemu lagi, anak muda! Jangan terlalu ter-
paku pada barang antik di toko itu—barang tiruan!”
Dengan berdecak dia meninggalkan kami.
”Dia itu baru namanya perempuan tua yang cer-
dik,” ujar Poirot.
”Kaujuluki dia begitu meskipun dia tak menyukai
kumismu?”
”Selera dan otak tidak sama, Sobat,” bantahnya.
Kami masuk ke sebuah toko, dan menghabiskan
waktu sambil melihat-lihat barang yang dijual di situ.
Hampir pukul sebelas ketika kami keluar dan berjalan
ke arah Puri Hijau.
Dengan wajah lebih merah daripada biasanya, Ellen
buru-buru membukakan pintu dan mempersilakan
kami masuk. Dari Ruang Tengah terdengar langkah
seseorang menuruni tangga. Tak lama kemudian Miss
Lawson muncul. Napasnya terengah-engah dan keli-
hatannya sedikit bingung. Rambutnya diikat dengan
saputangan sutra.
282

pustaka-indo.blogspot.com
”Maaf saya keluar dalam keadaan tidak rapi seperti
ini, M. Poirot. Saya baru saja membongkar lemari
yang selama ini belum pernah saya buka. Bukan
main. Banyak sekali barang yang dikumpulkan Miss
Arundell. Bayangkan, dia menyimpan dua lusin buku
sulam-menyulam—dua lusin!”
”Maksud Anda, Miss Arundell membeli dua lusin
buku sulam-menyulam?”
”Ya, dan menyimpannya di lemari, kemudian me-
lupakannya. Tentu saja jarumnya sudah karatan semua-
nya... sayang. Biasanya Miss Arundell suka meng-
hadiahkannya kepada para pelayan sebagai bingkisan
Natal.”
”Dia sangat pelupa?”
”Sangat! Lebih-lebih kalau menyimpan sesuatu.”
Miss Lawson tertawa, rupanya geli mengingat ke-
jadian yang pernah dialaminya. Ia mengeluarkan sapu-
tangan dan mulai membersihkan hidungnya.
”Oh,” ujarnya berkaca-kaca, ”tak pantas benar aku
menertawakannya seperti ini.”
”Anda terlalu perasa,” hibur Poirot. ”Sampai hal-hal
yang terlalu kecil pun Anda rasakan.”
”Begitu kata ibu saya selalu, M. Poirot. ’Kau terlalu
banyak memasukkan segala sesuatu ke dalam hatimu,
Mina,’ begitu ibu saya sering berkata. Berat rasanya
jadi orang yang terlalu sensitif, M. Poirot, lebih-lebih
kalau kebetulan kita perlu mencari nafkah buat hi-
dup.”
”Memang; tapi itu toh sudah lalu. Anda sekarang
tak perlu lagi bekerja susah payah. Anda bisa pesiar,
tanpa perlu mencemaskan apa pun.”
283

pustaka-indo.blogspot.com
”Ya. Itu benar,” kata Miss Lawson agak ragu-ragu.
”Tentu saja benar,” hibur Poirot. ”Ngomong-ngo-
mong tentang sifat pelupa Miss Arundell, saya jadi
mengerti mengapa surat yang ditulisnya kepada saya
sampai begitu lambat diposkannya.”
Poirot menceritakan bagaimana surat itu diketemu-
kan. Tiba-tiba pipi Miss Lawson menjadi merah.
Katanya, ”Seharusnya Ellen memberitahu saya! Lan-
cang benar dia—mengirimkan begitu saja surat itu
kepada Anda! Setidaknya, dia harus meminta pen-
dapat saya dulu. Lancang! Tak sepatah kata pun per-
nah saya dengar mengenai surat itu. Oh, keterlaluan
sekali! Memalukan!”
”Miss Lawson, saya yakin Ellen tidak bermaksud
buruk.”
”Pokoknya, saya tetap menganggap itu tidak se-
patutnya! Sangat tidak patut! Memang pembantu ka-
dang-kadang tidak tahu apa yang seharusnya mereka
lakukan. Ellen harus ingat bahwa saya pemilik rumah
ini sekarang!”
Merasa dirinya penting, Miss Lawson menegakkan
duduknya.
”Ellen sangat setia kepada majikannya, bukan?”
ujar Poirot.
”Ya. Tapi tetap saja dia salah. Seharusnya dia mem-
beritahu saya.”
”Yang penting saya telah menerima suratnya,” ujar
Poirot lagi.
”Oh, ya. Saya setuju, tidak ada gunanya meribut-
kan yang telah lewat. Meskipun begitu, saya tetap
284

pustaka-indo.blogspot.com
harus memberitahu Ellen supaya tidak bertindak se-
maunya sendiri seperti itu.”
Miss Lawson berhenti bicara. Kedua pipinya masih
tampak merah.
Poirot berdiam diri beberapa saat. Kemudian ia
bertanya,
”Anda mengundang saya datang ke sini. Ada yang
bisa saya lakukan untuk Anda, Mademoiselle?”
Kejengkelan Miss Lawson hilang secepat timbulnya.
Ia mulai bingung dan tidak keruan lagi bicaranya.
”Ehm... begini... mm... terus terang, M. Poirot...
begini... saya datang ke sini kemarin sore. Dan tentu
saja Ellen bilang Anda baru saja ke sini. Yah, saya
merasa aneh... maksud saya, yah... saya tidak tahu apa
perlunya...”
”Maksud saya datang ke sini?” tanya Poirot menye-
lesaikan kalimat Miss Lawson.
Miss Lawson memandang Poirot dengan wajah ber-
semu merah. Ia tampak tersipu-sipu, namun pan-
dangannya penuh rasa ingin tahu.
”Saya harus mengakui kesalahan saya,” ujar Poirot.
”Selama ini, seolah-olah saya memberi pengertian ke-
pada Anda bahwa isi surat Miss Arundell yang ditulis
kepada saya itu mengenai uang yang dicuri—ke-
mungkinan oleh Mr. Charles Arundell.”
Miss Lawson mengangguk.
”Sebenarnya, bukan itu isi suratnya... terus terang,
baru dari Anda saya mendengar mengenai uang yang
hilang itu... Miss Arundell sendiri menulis mengenai
kecelakaannya.”
”Kecelakaannya?”
285

pustaka-indo.blogspot.com
”Ya. Miss Arundell pernah jatuh dari tangga,
kan?”
”Betul, betul...” Miss Lawson tampak tidak percaya.
Dipandangnya Poirot dengan tatapan kosong. Lanjut-
nya, ”Maaf, saya tahu saya bodoh—tapi, apa perlunya
dia menulis kepada Anda? Setahu saya, atau kalau tak
salah Anda pernah bilang sendiri Anda detektif. Anda
bukan dokter, kan? Atau mungkin Anda juga penga-
nut kepercayaan...?”
”Bukan. Saya bukan dokter—juga bukan penganut
aliran kepercayaan tertentu. Tapi, seperti dokter, saya
sering mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan
kematian seseorang yang disebabkan oleh kecela-
kaan.”
”Kematian karena kecelakaan?”
”Sebangsa itu. Memang betul Miss Arundell tidak
meninggal akibat kecelakaan yang dialaminya. Tapi,
ia bisa meninggal karena kecelakaan itu.”
”Oh, ya... dokter bilang begitu. Tapi saya tidak
mengerti...”
Miss Lawson masih tampak bingung dan tidak per-
caya.
”Penyebab kecelakaan Miss Arundell itu diduga
bola Bob. Betul, bukan?”
”Ya. Memang. Bola Bob yang menyebabkan.”
”Sebenarnya bukan. Bukan bola Bob yang jadi pe-
nyebab Miss Arundell jatuh.”
”Maaf, M. Poirot, tapi saya melihat sendiri bola itu
ada di situ—waktu kami semua keluar begitu men-
dengar Miss Arundell berteriak.”
”Anda memang melihat bola itu. Tapi, bola itu bu-
286

pustaka-indo.blogspot.com
kan yang menyebabkan Miss Arundell jatuh. Penye-
babnya, Miss Lawson, seutas benang berwarna gelap
yang direntangkan dari sisi ke sisi tangga di bagian atas
tangga itu!”
”Tapi, tidak mungkin anjing bisa...”
”Tepat sekali,” potong Poirot. ”Anjing memang ti-
dak mungkin melakukan hal semacam itu—anjing
tidak sepandai itu—atau, boleh juga dikatakan: anjing
tidak sejahat itu... Jadi, ada orang yang sengaja me-
masang benang di situ dengan maksud...”
Wajah Miss Lawson mendadak pucat pasi. Dengan
tangan gemetar, ditutupnya wajahnya.
”Oh, M. Poirot,” raungnya, ”rasanya saya tidak
percaya. Oh, keterlaluan sekali. Maksud Anda, ada
orang yang sengaja melakukannya?”
”Ya. Sengaja.”
”Oh, keterlaluan! Itu sama saja dengan... dengan
membunuh orang.”
”Seandainya Miss Arundell meninggal, ya—dia
membunuh. Dengan kata lain, itu pembunuhan. Bu-
kan kecelakaan biasa.”
Miss Lawson menjadi histeris.
Masih dengan nada berat Poirot melanjutkan, ”Ada
sebatang paku ditancapkan pada papan pegangan di
sisi tangga. Paku itulah yang dipakai untuk mengikat-
kan benangnya. Paku itu dicat warna gelap sehingga
tidak mudah kelihatan. Pernahkah Anda merasa ada
bau cat basah yang dari mana asalnya Anda tidak
tahu?”
Miss Lawson terkesiap.
”Oh, bukan main anehnya! Kalau dipikir kembali!
287

pustaka-indo.blogspot.com
Oh, ya—tentu! Dan selama ini saya tidak pernah ber-
pikir—bermimpi—tapi memang bagaimana bisa?
Padahal, waktu itu saya merasa aneh sekali.”
Poirot mendekatkan tubuhnya pada meja yang men-
jadi batas kami dengan Miss Lawson. ”Jadi, Anda bisa
membantu kami, Mademoiselle. Sekali lagi saya kata-
kan, Anda bisa membantu kami. C’est épatant—bagus
sekali!”
”Oh, rasanya tidak terpikir waktu itu bahwa itu
penyebab... Oh...”
”Sekarang, tolong ceritakan kepada saya. Anda men-
cium bau cat—betul?”
”Ya. Mula-mula saya tidak tahu bau apa yang ter-
cium itu. Saya pikir... Oh, jadi itu bau cat? Saya pikir
itu cuma perasaan saya.”
”Kapan kejadiannya?”
”Kapan ya? Tunggu...”
”Apakah dalam liburan Paskah, waktu rumah ini
dipenuhi tamu?”
”Ya. Benar, memang pada waktu itu kejadiannya—
cuma, saya sedang mengingat-ingat hari apa tepat-
nya... Yang jelas... bukan Minggu. Bukan, dan juga
bukan Selasa, sebab Selasa malam itu Dr. Donaldson
datang makan malam di sini. Hari Rabu mereka se-
mua pulang. Oh ya, tepatnya hari Senin, M. Poirot!
Malam itu saya berbaring-baring di tempat tidur saya.
Ada sesuatu yang sedang saya pikirkan. Daging yang
saya pesan cuma cukup untuk makan malam. Saya
sangat takut Miss Arundell marah kalau mengetahui-
nya. Seharusnya saya memesan tiga setengah kilo
waktu belanja hari Sabtu-nya. Tapi, pikir-pikir, dua
288

pustaka-indo.blogspot.com
setengah kilo sudah cukup. Padahal seharusnya saya
tahu, Miss Arundell sering marah kalau persediaan
kurang. Dia suka sekali menjamu orang...”
Miss Lawson berhenti sebentar, mengambil napas.
Kemudian lanjutnya, ”Saya sedang berbaring, mem-
bayangkan apa yang akan dikatakan Miss Arundell
seandainya dia tahu keesokan paginya. Berpikir-pikir
begitu rupanya membuat saya ketiduran. Tapi, tepat
sebelum saya terlelap, ada sesuatu yang seperti mem-
bangunkan saya—bunyi semacam gesekan pada kayu,
atau sejenisnya... Saya segera bangun, duduk di tem-
pat tidur dengan waswas. Saya mencoba mencium
kalau-kalau ada bau barang terbakar... Oh, selama ini
saya paling takut sama api. Saya takut sekali kalau
terjadi kebakaran. Bayangkan, bagaimana rasanya ter-
kurung di tengah-tengah api. Saya memang mencium
sesuatu; baunya agak aneh—saya terus mengendus-
endus, mencoba menemukan bau apa itu. Yang jelas,
bukan bau asap atau sebangsanya. Saya katakan ke-
pada diri saya sendiri—kok seperti bau cat. Tapi tak
mungkin, mana ada orang mengecat tengah malam
begitu. Tapi baunya cukup tajam. Saya masih tetap
duduk sambil mencium-cium bau yang tercium tadi.
Baru setelah itu saya melihat gadis...”
”Siapa?”
”Saya melihatnya dari cermin saya, waktu itu pintu
kamar saya sedikit terbuka. Saya memang biasa me-
ninggalkannya setengah terbuka begitu, supaya kalau
Miss Arundell memanggil saya, cepat terdengar. Di
samping itu juga supaya gampang melihat apakah
Miss Arundell naik atau turun tangga. Di gang, selalu
289

pustaka-indo.blogspot.com
ada satu lampu yang menyala, jadi saya bisa dengan
mudah melihat ke luar tanpa bangkit dari tempat ti-
dur. Dari cermin itulah saya melihat dia berlutut di
tangga—heresa, maksud saya. Dia berlutut kira-kira
pada anak tangga ketiga dari atas. Kepalanya menun-
duk, seperti sedang mengamati sesuatu. Saya heran.
Mungkinkah dia sakit? saya pikir. Tapi tepat ketika
itu, dia menegakkan badan dan berjalan pergi. Jadi,
saya pikir dia mungkin terpeleset. Atau, mungkin
juga dia mengambil sesuatu yang jatuh. Tapi, tentu
saja saya tidak pernah lagi memikirkan kejadian
itu.”
”Yang membangunkan Anda mungkin bunyi palu
yang dipakai untuk menancapkan paku itu,” ujar
Poirot.
”Ya. Mungkin saja. Tapi, oh, M. Poirot—itu kan
keterlaluan—keterlaluan sekali! Dari dulu memang
saya tahu heresa agak liar, tapi berbuat sekeji itu...”
”Anda yakin itu heresa?”
”Oh, ya—tentu saja.”
”Tak mungkinkah yang Anda lihat itu Mrs. Tanios
atau salah seorang pelayan?”
Miss Lawson menggeleng-geleng dan bergumam
kepada dirinya sendiri, ”Oh, oh!” berkali-kali.
Cara Poirot memandangnya tidak bisa kumengerti.
”Bolehkah saya membuat semacam eksperimen di
atas?” pintanya. ”Saya ingin kita semuanya ke atas
untuk merekonstruksi kejadian yang baru saja Anda
ceritakan itu.”
”Merekonstruksi? Oh, sungguh, saya tidak tahu—
maksud saya, saya tak mengerti...”
290

pustaka-indo.blogspot.com
”Akan saya tunjukkan kepada Anda,” ujar Poirot
tegas, menghentikan keragu-raguan Miss Lawson. De-
ngan agak bingung, Miss Lawson mempersilakan
kami masuk dan naik ke atas.
”Mudah-mudahan kamarnya tidak berantakan,
akhir-akhir ini begitu banyak yang harus dikerjakan—
ini dan itu...”
Kamar Miss Lawson memang penuh dengan ber-
bagai benda yang rupanya hasil bongkaran lemarinya
pagi tadi. Dengan bahasanya yang acak-acakan Miss
Lawson mencoba menjelaskan bagaimana posisinya
waktu melihat pemandangan yang tampak dari cer-
minnya. Poirot sendiri kelihatannya sudah bisa mem-
bayangkan. Memang sebagian tangga tampak terpan-
tul pada cermin di kamar Miss Lawson.
”Sekarang, Mademoiselle,” pinta Poirot, ”bisakah
Anda menirukan pemandangan yang pernah Anda
saksikan dari cermin itu?”
Masih tetap menggumamkan sesuatu kepada diri-
nya sendiri, Miss Lawson segera keluar, memainkan
perannya. Sementara itu Poirot menyaksikan melalui
cermin.
Setelah selesai itu, Poirot keluar dan menanyakan
lampu mana yang selalu dibiarkan menyala sepanjang
malam.
”Yang ini—yang ini. Persis di luar pintu kamar ti-
dur Miss Arundell.”
Poirot mendekati lampu yang ditunjuk, meraih
bola lampunya, dan melepaskannya.
”Empat puluh watt. Tidak begitu terang.”
291

pustaka-indo.blogspot.com
”Memang. Lampu itu dipasang supaya gang ini ti-
dak gelap sama sekali saja.”
Setelah mengembalikan bola lampu ke tempatnya,
Poirot melangkah kembali ke dekat tangga.
”Maaf, Mademoiselle—tapi, menurut pengamatan
saya, dengan cahaya lampu yang selemah itu, ditam-
bah pula dengan jatuhnya bayangan yang ditimbulkan
lampu tadi—saya rasa Anda kurang bisa melihat de-
ngan jelas. Yakinkah Anda, yang Anda lihat itu
heresa, bukan perempuan lainnya?”
Miss Lawson bersikeras, ”Sungguh, M. Poirot! Saya
yakin benar! Saya kan kenal sekali heresa! Saya yakin
dia yang saya lihat! Kimononya yang berwarna gelap
dan bros besar mengilap yang menunjukkan inisial
namanya itu... tak salah lagi, M. Poirot! Memang
heresa yang saya lihat!”
”Jadi Anda sudah benar-benar yakin penglihatan
Anda tidak salah. Anda melihat betul inisialnya?”
”Ya. T.A. Saya kenal sekali dengan bros itu. heresa
sering mengenakannya. Berani sumpah, M. Poirot—
dia memang heresa.”
Ketegasan dan kepastiannya sangat mengagumkan
bila dibandingkan dengan caranya berbicara yang se-
lalu membingungkan.
Poirot memandangnya. Ada sesuatu yang tak bisa
kudeinisikan pada caranya memandang.
”Anda berani sumpah—betul?” tanyanya.
”Kalau... kalau perlu. Tapi memang perlu, kan?”
Sekali lagi Poirot melontarkan pandangan yang tak
bisa kudeinisikan kepada perempuan itu.
292

pustaka-indo.blogspot.com
”Itu tergantung pada hasil pemeriksaan jasadnya
nanti,” sahutnya.
”Oh... apakah itu perlu? Maksud saya, keluarganya
pasti tidak setuju bila itu dilakukan, mereka akan me-
nolak!”
”Mungkin.”
”Saya yakin mereka tidak mau tahu!”
”Tapi, seandainya itu perintah dari kepolisian, ba-
gaimana?”
”Tapi, tapi... mengapa harus begitu, M. Poirot?
Maksud saya, itu bukan... itu bukan...”
”Itu bukan apa?”
”Bukan berarti... ada yang tidak beres, kan?”
”Apakah Anda berpikir begitu?”
”Oh, mengapa tiba-tiba ada yang tidak beres? Bu-
kankah... oh, bukankah dokter, juru rawat, dan semua-
nya...”
”Jangan terlalu pikirkan hal itu,” kata Poirot te-
nang.
”Oh, bagaimana mungkin? Oh, Miss Arundell—be-
tapa malangnya dia! Padahal heresa tidak ada di sini
waktu dia meninggal.”
”Memang. heresa pulang pada hari Senin, sebe-
lum Miss Arundell sakit. Betul, kan?”
”Ya, dia berangkat pagi-pagi sekali. Jadi, pasti dia
tidak ada sangkut pautnya dengan kematian Miss
Arundell, M. Poirot?!”
”Mudah-mudahan tidak.”
”Oh Tuhan!” keluh Miss Lawson sambil mengatup-
kan kedua telapak tangannya. ”Belum pernah saya
293

pustaka-indo.blogspot.com
menyaksikan hal yang begitu keterlaluan seperti ini.
Saya sungguh tidak mengerti.”
Poirot melihat arlojinya.
”Sudah waktunya kami pulang. Kami masih harus
berjalan jauh kembali ke London. Anda sendiri,
Mademoiselle, masih mau tinggal di sini lebih lama?”
”Mm... saya belum punya rencana. Sebenarnya saya
ke sini buat semalam saja—membereskan yang perlu
dibereskan...”
”Kalau begitu, sampai bertemu lagi, Mademoiselle.
Maaf kami mengganggu ketenangan Anda.”
”Oh, M. Poirot! Anda bilang mengganggu kete-
nangan saya? Rasanya saya jadi sakit! Oh Tuhan...
oh... betapa kejamnya dunia ini! Betapa sangat kejam-
nya!”
Poirot menghentikan ocehan Miss Lawson yang
mulai tidak menentu itu dengan meraih lengan wa-
nita tua itu dan memegangnya erat-erat.
”Memang kejam dunia ini, Miss Lawson. Anda
masih bersedia bersumpah melihat heresa Arundell
berlutut di tangga pada hari Senin malam setelah Pas-
kah?”
”Oh, ya, tentu saja saya berani sumpah!”
”Anda juga berani bersumpah bahwa Anda melihat
semacam lingkaran kabut yang bercahaya di sekeliling
kepala Miss Arundell pada malam terakhir Anda ber-
sama Miss Tripp dan Miss Arundell berkumpul di
ruang gelap untuk memanggil roh orang mati?”
Mulut Miss Lawson ternganga.
”M. Poirot—oh, jangan semuanya itu Anda jadikan
bahan lelucon!”
294

pustaka-indo.blogspot.com
”Saya tidak melucu, Miss Lawson... Saya serius!”
Kemudian Miss Lawson berkata dengan sungguh-
sungguh,
”Mungkin tidak bisa dikatakan sebagai lingkaran
kabut, M. Poirot. Yang jelas, kelihatannya mau jadi
begitu, dan asalnya dari kabut berbentuk pita yang
keluar dari mulutnya.”
”Sangat mengagumkan! Au revoir, Mademoiselle.
Tolong rahasiakan dulu semuanya ini.”
”Oh, tentu saja... tentu saja. Saya tidak bermaksud
menceritakannya kepada siapa pun...”
Dengan wajah tololnya Miss Lawson menyaksikan
kepergian kami dari pintu depan Puri Hijau.

295

pustaka-indo.blogspot.com
23
Kedatangan Dr. Tanios

BEGITU meninggalkan Puri Hijau, wajah Poirot men-


dadak tegang.
”Depechons nous—ayo cepat, Hastings,” ujarnya.
”Kita mesti segera kembali ke London.”
”Ayo,” sahutku, melangkah lebih cepat—menyesuai-
kan langkahku dengan langkahnya. Diam-diam kucuri
pandang—wajahnya masih tampak tegang dan tidak
tenang.
”Siapa yang kaucurigai, Poirot?” tanyaku. ”Percaya-
kah kau bahwa heresa Arundell yang dilihat Miss
Lawson berlutut di tangga?”
Poirot tidak menjawab pertanyaanku. Dia malah
balik bertanya, ”Pikir sebelum menjawab. Menurutmu,
bisa dipercayakah kata-kata Miss Lawson tadi?”
”Apa maksudmu?”
”Kalau aku tahu, aku takkan bertanya, Hastings.”

296

pustaka-indo.blogspot.com
”Itu aku tahu. Cuma, apa maksudmu ’bisa diper-
caya’ itu?”
”Ya itu. Aku tak bisa menyatakannya dengan lebih
tepat. Yang jelas, sementara dia bercerita tadi, aku
merasakan adanya sesuatu yang tidak atau kurang nya-
ta... seolah-olah ada sesuatu—yang kecil tapi salah—
itu, ya, itu yang terasa—sesuatu yang tidak mung-
kin...”
”Kelihatannya dia yakin sekali itu heresa!”
”Ya, ya.”
”Bagaimanapun, cahaya lampu itu terlalu lemah.
Aku tidak mengerti bagaimana Miss Lawson bisa begi-
tu yakin.”
”Kau tidak membantuku, Hastings. Ada sesuatu—
yang sepele—ada hubungannya dengan... ya, aku ya-
kin—dengan kamar tidur.”
”Kamar tidur?” ulangku sementara pikiranku sibuk
membayangkan kembali detail kamar tidur Miss
Lawson. ”Oh, rasanya aku memang tidak bisa mem-
bantumu, Poirot!”
Poirot menggeleng-geleng.
”Mengapa kausebut-sebut lagi urusan roh orang
mati itu?” tanyaku.
”Itu penting.”
”Apanya yang penting? Pita bercahaya itu?”
”Kauingat bagaimana Miss Tripp menggambarkan
yang mereka saksikan malam itu?”
”Ingat. Mereka bilang kepala Miss Arundell diselu-
bungi asap berwarna terang yang membentuk sema-
cam lingkaran suci.” Aku tertawa terpingkal-pingkal.
”Masa dia orang suci semacam santa-santa! Miss
297

pustaka-indo.blogspot.com
Lawson saja ketakutan dimarahi cuma karena kurang
membeli daging. Bayangkan!”
”Ya. Kuakui, itu agak menarik.”
”Apa yang akan kita lakukan sesampai di London
nanti?” tanyaku waktu kami membelok ke he
George.
”Kita harus segera menemui heresa Arundell,” ujar
Poirot sambil membayar rekening hotel kami.
”Mengorek kebenaran cerita Miss Lawson tadi?
Tapi, bagaimana kalau dia menyangkal?”
”Mon cher, berlutut di tangga bukan perbuatan kri-
minal! Siapa tahu dia sedang membungkuk mengam-
bil penitinya yang jatuh?”
”Lalu, apa hubungannya dengan bau cat itu?”
Percakapan kami terhenti oleh kedatangan pelayan
hotel.
Dalam perjalanan kembali ke London, sangat se-
dikit yang kami perbincangkan. Aku kurang suka
mengobrol sambil mengemudikan mobil. Sementara
itu, Poirot rupanya sibuk melindungi kumisnya dari
serangan angin yang cukup keras.
Kami tiba di lat Poirot sekitar pukul 13.40.
George, pelayan Poirot yang selalu berpakaian rapi
dan sikapnya sangat keinggris-inggrisan itu, membuka-
kan pintu.
”Ada tamu menunggu, Sir. Namanya Dr. Tanios.
Sudah hampir setengah jam dia di sini.”
”Dr. Tanios? Di mana dia menunggu?”
”Di Ruang Duduk, Sir. Sebelumnya ada seorang
wanita datang ke sini, Sir. Kelihatannya sangat kecewa
dan bingung waktu saya katakan Anda tidak ada di
298

pustaka-indo.blogspot.com
rumah. Datangnya sebelum saya menerima telepon
dari Anda, jadi saya tidak bisa memberitahu kapan
Anda pulang.”
”Coba ceritakan bagaimana rupa perempuan itu.”
”Perawakannya tinggi, Sir—rambutnya berwarna
hitam dan matanya biru muda. Dia mengenakan rok
dan jas warna abu-abu. Topinya dipakai agak ke bela-
kang, tidak seperti kebanyakan orang—agak ke de-
pan.”
”Mrs. Tanios,” seruku dengan suara tertahan.
”Kelihatannya dia sedang bingung sekali, Sir. Kata-
nya dia perlu sekali bertemu dengan Anda secepat
mungkin.”
”Jam berapa datangnya?”
”Kira-kira jam setengah sebelas, Sir.”
Poirot menggeleng-geleng sementara melangkah ke
Ruang Duduk.
”Ini kedua kalinya aku tak jadi mendengar apa
yang hendak dikatakan Mrs. Tanios. Apa kira-kira
menurutmu, Hastings? Apakah menyangkut nasib—
kira-kira?”
”Yah... kali ketiga kau akan mendengarnya,” hibur-
ku.
Poirot menggeleng penuh keraguan.
”Akan adakah kali yang ketiga? Aku tidak yakin.
Ayo, kita temui suaminya.”
Dr. Tanios sedang duduk di kursi santai, membaca
salah satu buku psikologi kepunyaan Poirot. Mende-
ngar kami datang, laki-laki itu segera bangkit dan
menyalami kami.
299

pustaka-indo.blogspot.com
”Maaf saya mengganggu begini. Anda tidak marah
saya menunggui Anda seperti ini, kan?”
”Du tout, du tout—sama sekali tidak. Silakan du-
duk. Mau minum sherry?”
”Terima kasih. Masalahnya begini, M. Poirot, saya
sangat kuatir akan istri saya.”
”Kuatir akan istri Anda? Ada apa?”
Tanios menjawab, ”Baru-baru ini mungkin Anda
bertemu dengannya?”
Pertanyaannya wajar, tapi lirikan yang menyertainya
terasa tidak wajar.
Poirot menjawab seadanya, ”Saya belum bertemu
lagi dengannya sejak kami menemui Anda di hotel
kemarin.”
”Ah, saya pikir mungkin dia datang ke sini mene-
mui Anda.”
Poirot menyibukkan diri dengan menuang mi-
numan ke gelas. Katanya, ”Tidak. Apa sebabnya dia
perlu menemui saya?”
”Oh, tidak apa-apa.” Dr. Tanios menerima gelas
sherry-nya. ”Terima kasih. Terima kasih banyak. Sebe-
tulnya memang tidak ada alasan yang pasti mengapa
istri saya perlu menemui Anda. Terus terang, saya se-
dang sangat kuatir akan keadaan kesehatan istri saya.”
”Ah, kondisi badannya lemah?”
”Kesehatan isiknya bagus,” jawab Tanios perlahan-
lahan. ”Sayangnya, tidak begitu mentalnya.”
”Ah?”
”Saya sungguh kuatir, M. Poirot, dia sudah men-
capai garis batas... sewaktu-waktu dia bisa mengalami
nervous breakdown total.”
300

pustaka-indo.blogspot.com
”Oh, saya ikut sedih mendengarnya, Dr. Tanios.”
”Ini sudah agak lama kelihatannya. Dalam dua bu-
lan terakhir ini sikapnya kepada saya sudah betul-be-
tul berubah. Selalu gelisah, cepat terkejut, dan suka
membayangkan yang tidak-tidak. Bukan cuma mem-
bayangkan, M. Poirot, dia malahan mulai berangan-
angan... dan angan-angannya itu rupanya begitu hi-
dup dan kuat...”
”Sungguh?”
”Ya. Dia menderita apa yang disebut persecution
mania—semacam nafsu menganiaya.”
Poirot menggeleng-geleng dengan penuh simpati.
”Anda bisa mengerti kekuatiran saya, bukan?”
”Tentu! Tentu! Cuma, yang saya tidak mengerti,
mengapa Anda datang kepada saya? Apa yang bisa
saya lakukan buat menolong Anda, Dr Tanios?”
Dr. Tanios tampak tersipu malu.
”Saya pikir istri saya sudah, atau akan, datang ke-
mari menceritakan yang bukan-bukan. Besar kemung-
kinan dia akan mengatakan bahwa diri saya mengan-
cam keselamatannya, atau... yah, semacam itulah.”
”Tapi, apa perlunya dia datang menemui saya?”
Dr. Tanios tersenyum-senyum. Senyumnya amat
menawan, namun agak sendu.
”Anda detektif kenamaan, M. Poirot. Saya lihat
istri saya sangat terkesan bertemu dengan Anda kema-
rin. Kenyataan bahwa dia bertemu dengan detektif
bisa menimbulkan ide yang tidak-tidak pada pikiran-
nya yang sedang dalam kondisi seperti itu. Saya begi-
tu yakin dia akan mencari Anda dan mengeluarkan
isi hatinya. Orang yang sedang mengalami gangguan
301

pustaka-indo.blogspot.com
mental seperti istri saya, biasanya, mempunyai kecen-
derungan untuk menentang orang-orang yang terdekat
dan yang disayangi.”
”Oh.”
”Sungguh, M. Poirot. Saya sangat sedih. Saya sa-
ngat sayang pada istri saya.” Waktu mengucapkan ini
suara Dr. Tanios terdengar sangat lembut. ”Saya selalu
mengagumi keberaniannya—menikah dengan saya,
lelaki bangsa lain—lalu pergi mengikuti saya ke tem-
pat yang begitu jauh dari tanah airnya sendiri, me-
ninggalkan semua kawan dan sanak saudaranya. Hari-
hari terakhir ini saya sungguh-sungguh putus asa...
Bagi saya, kelihatannya cuma ada satu pilihan...”
”Ya?”
”Ketenangan dan istirahat total—serta perawatan
kejiwaan yang sesuai. Ada tempat yang menurut saya
baik, dikelola oleh seorang yang sungguh-sungguh
hebat. Ingin saya membawanya ke sana—Norfolk,
nama tempatnya—secepat mungkin. Istirahat total
dan isolasi dari segala pengaruh luar—itu yang di-
perlukan istri saya. Saya yakin, sebulan atau dua bu-
lan dirawat secara intensif di sana, pasti sudah akan
kelihatan perubahannya.”
”Ya. Saya mengerti,” ujar Poirot.
Caranya mengatakan betul-betul datar, tanpa meng-
ungkapkan sedikit pun perasaan atau tanggapannya.
Tanios meliriknya.
”Itulah sebabnya, M. Poirot, saya akan sangat ter-
tolong bila Anda mau memberi kabar kepada saya
seandainya istri saya benar-benar datang ke sini.”
302

pustaka-indo.blogspot.com
”Oh, tentu. Saya akan segera menelepon Anda.
Anda masih tinggal di Hotel Durham?”
”Ya. Saya akan kembali ke sana sekarang.”
”Istri Anda tidak ada di sana sekarang?”
”Dia meninggalkan hotel seusai sarapan tadi
pagi.”
”Tanpa mengatakan ke mana perginya?”
”Tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tidak
biasanya dia berbuat seperti itu.”
”Dan anak-anak bagaimana?”
”Anak-anak diajaknya.”
”Oh.”
Tanios berdiri.
”Terima kasih banyak, M. Poirot. Saya tidak perlu
mengatakan, bukan—bahwa bila istri saya datang dan
menceritakan kepada Anda hal-hal yang sifatnya meng-
ancam, menganiaya, dan sebagainya, Anda tidak perlu
memedulikannya. Itu merupakan salah satu gejala pe-
nyakitnya.”
”Sungguh saya ikut bersedih atas keadaan istri Anda,
Dr. Tanios,” kata Poirot dengan simpatik.
”Memang, sangat menyedihkan. Meskipun, sebagai
orang yang tahu banyak mengenai kesehatan, saya
tahu itu sebetulnya penyakit, tapi rasanya—sakit hati
saya diperlakukan begitu oleh orang yang saya sa-
yangi. Cinta kasihnya tiba-tiba saja berubah menjadi
kebencian.”
”Saya sangat bersimpati terhadap Anda, Dr. Tanios,”
kata Poirot saat menjabat tangan tamunya.
”Omong-omong...” ujar Poirot ketika Tanios sudah
hampir sampai ke pintu.
303

pustaka-indo.blogspot.com
”Ya?”
”Pernahkah Anda menulis resep chloral buat istri
Anda?”
Tanios terperangah.
”Saya... tidak. Setidaknya, akhir-akhir ini tidak per-
nah. Istri saya membenci semua jenis obat tidur.”
”Ah! Karena dia tidak percaya kepada Anda?”
”M. Poirot!”
Tanios melangkah masuk kembali dengan sangat
marah.
”Itu juga salah satu gejala penyakitnya,” ujar Poirot
tanpa ragu.
Tanios berhenti.
”Ya. Ya, tentu saja.”
”Ada kemungkinan dia mencurigai segala sesuatu
yang Anda berikan kepadanya untuk diminum atau
dimakan. Mungkin dia curiga Anda ingin meracuni-
nya?”
”Oh, M. Poirot! Anda memang benar. Jadi Anda
mengerti kasus-kasus semacam itu, kan?”
”Dalam profesi saya, sesekali orang pasti menjum-
pai kasus semacam itu. Saya tidak bermaksud menun-
da kepergian Anda, Dr. Tanios. Siapa tahu istri Anda
sudah ada di hotel menunggu Anda.”
”Ya. Mudah-mudahan. Saya sungguh-sungguh ce-
mas.”
Dr. Tanios buru-buru keluar.
Poirot segera menuju ke tempat telepon. Dibuka-
bukanya buku petunjuk nomor telepon, kemudian
diputarnya sebuah nomor.
”Halo... halo... di situ Hotel Durham? Apakah
304

pustaka-indo.blogspot.com
Mrs. Tanios ada di situ? Apa? T-A-N-I-O-S. Ya, betul.
Ya? Oh!”
Poirot meletakkan kembali gagang telepon.
”Mrs. Tanios meninggalkan hotel pagi-pagi sekali
tadi. Dia pulang jam sebelas, menunggu di dalam
taksi, sementara koper pakaiannya diambilkan dari
kamar. Setelah itu dia pergi bersama semua koper-
nya.”
”Tahukah Tanios bahwa istrinya membawa semua
kopernya?”
”Kupikir dia belum tahu sekarang.”
”Ke mana dia pergi?”
”Mana aku tahu?”
”Mungkinkah dia ke sini lagi?”
”Mungkin. Tapi aku tak yakin.”
”Mungkin dia akan menulis surat kepadamu.”
”Mungkin.”
”Apa yang bisa kita lakukan?”
Poirot menggeleng. Dia tampak gelisah dan bi-
ngung.
”Tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang. Sebaik-
nya kita cepat-cepat makan siang, dan sesudah itu
kita ke tempat heresa Arundell.”
”Kau yakin dia yang berlutut di tangga?”
”Aku tak tahu. Yang jelas, aku yakin Miss Lawson
tidak bisa melihat wajahnya dengan cahaya lampu se-
lemah itu. Yang dilihatnya cuma tubuh perempuan
yang tinggi, mengenakan kimono warna gelap. Cuma
itu.”
”Bagaimana dengan brosnya?”
”Hastings, bros bukan merupakan bagian anatomi
305

pustaka-indo.blogspot.com
seseorang! Bisa dipisahkan dari orangnya. Bisa hilang,
bisa juga dipinjam atau dicuri.”
”Dengan kata lain, kau tidak mau menduga heresa
Arundell sebagai orang yang bersalah?”
”Aku ingin mendengar pendapatnya.”
”Bagaimana kalau Mrs. Tanios ke sini lagi?”
”Itu bisa diatur.”
George masuk membawa dadar telur.
”Dengarkan, George,” kata Poirot. ”Kalau wanita
yang tadi itu datang lagi, suruh dia tunggu ya! Dan
kalau Dr. Tanios datang lagi sementara wanita itu ada
di sini, jangan sampai kaupersilakan dia masuk. Kalau
dia menanyakan apakah istrinya ada di sini, katakan
saja tidak ada. Mengerti?”
”Ya, Sir.”
Poirot melahap dadar telurnya.
”Urusan ini menjadi rumit,” ujarnya. ”Kita harus
melangkah dengan hati-hati sekali. Kalau tidak, pem-
bunuhnya akan beraksi lagi.”
”Kalau dia beraksi lagi, kau pasti bisa menangkap-
nya.”
”Ya. Tapi aku lebih suka dia tidak memakan kor-
ban lagi. Karena itu, kita mesti hati-hati sekali.”

306

pustaka-indo.blogspot.com
24
Sangkalan heresa

WAKTU kami datang, heresa sedang bersiap-siap


hendak pergi.
Ia kelihatan sangat menarik. Sebuah topi mungil
bermodel eksklusif bertengger dengan manis, menu-
tupi bagian kanan depan kepalanya. Teringat olehku
Bella mengenakan tiruan topi semacam itu kemarin—
dan seperti yang dikatakan George—cara memakainya
terlalu ke belakang. Jelas sekali dalam ingatanku bagai-
mana ia beberapa kali mendorong topinya hingga
letaknya makin ke belakang pada rambutnya yang
acak-acakan.
Poirot berkata dengan sopan, ”Bolehkah saya meng-
ganggu semenit atau dua menit saja, Mademoiselle?
Atau, itu terlalu mengganggu waktu Anda?”
heresa tertawa. ”Oh, tidak apa-apa. Silakan! Aku

307

pustaka-indo.blogspot.com
selalu terlambat paling tidak tiga perempat jam. Tidak
ada salahnya kali ini terlambat satu jam.”
heresa mempersilakan kami masuk ke ruang
tamu. Kaget sekali aku melihat Dr. Donaldson bang-
kit dari kursi di dekat jendela.
”Kau sudah jumpa dengan M. Poirot kan, Rex?”
”Ya. Di Market Basing,” sahut Donaldson kaku.
”Kau berpura-pura hendak menulis tentang kehi-
dupan kakekku yang pemabuk itu rupanya, ya?” tanya
heresa. ”Rex, sayangku, maukah kau meninggalkan
kami sebentar?”
”Terima kasih, heresa, tapi dengan berbagai per-
timbangan, menurutku lebih baik aku mendengarkan
wawancara ini.”
Sejenak keduanya beradu pandang. Pandangan he-
resa memerintah. Sedangkan pandangan Donaldson
tidak mau mengalah. heresa kelihatan marah.
”Baiklah, kalau itu maumu!” bentaknya. Dr.
Donaldson kelihatannya tak gentar.
Dia duduk lagi di kursi yang tadi didudukinya,
dekat jendela. Buku yang sedang dibacanya ia letak-
kan pada lengan kursi. Rupanya buku mengenai ke-
lenjar bawah otak.
heresa duduk pada kursi rendah kesukaannya. Di-
pandangnya Poirot dengan tidak sabar.
”Kau sudah bertemu dengan Purvis? Bagaimana
hasilnya?”
Tanpa menyatakan pendapat, Poirot menjawab,
”Kemungkinannya ada, Mademoiselle.”
heresa memandangnya penuh perhatian. Kemu-
dian melontarkan pandangannya kepada si dokter.
308

pustaka-indo.blogspot.com
Kupikir itu semacam peringatan yang ingin disampai-
kannya kepada Poirot.
”Menurut saya,” lanjut Poirot, ”mengenai hal itu
lebih baik saya laporkan lain kali, kalau rencana saya
sudah lebih pasti.”
Seulas senyum tipis sejenak muncul pada wajah
heresa.
Poirot lebih lanjut mengatakan, ”Saya baru saja
pulang dari Market Basing. Di sana saya bertemu dan
berbicara dengan Miss Lawson. Saya ingin mendengar
penjelasan Anda, Mademoiselle. Apakah Anda pada
tanggal 13 April malam berlutut di tangga setelah se-
mua orang pergi tidur?”
”Oh, Hercule Poirot, pertanyaanmu aneh sekali!
Apa perlunya aku berlutut di situ?”
”Pertanyaannya, Mademoiselle, bukan apa perlunya,
melainkan apakah Anda melakukannya?”
”Kurasa tidak.”
”Untuk Anda ketahui, Mademoiselle, Miss Lawson
mengatakan Anda melakukannya.”
heresa mengangkat bahunya yang indah.
”Apakah itu penting?”
”Sangat penting.”
heresa memandang Poirot dengan ramah, dan
Poirot balas memandangnya.
”Aneh!” ujar heresa.
”Maaf, Anda bilang apa?”
”Aneh sekali!” kata heresa. ”Bagaimana pendapat-
mu, Rex?”
Dr. Donaldson batuk.
309

pustaka-indo.blogspot.com
”Maafkan saya, M. Poirot. Apa tujuan Anda me-
nanyakan itu?”
Poirot merentangkan kedua lengannya lebar-lebar.
”Sangat sederhana! Ada orang yang sengaja menan-
capkan paku di tempat yang strategis pada papan pe-
gangan di sisi tangga. Paku itu dicat sedemikian rupa
sehingga warnanya mirip dengan warna papan pe-
gangan tempatnya ditancapkan.”
”Apakah ini semacam ilmu gaib baru?” tanya
heresa.
”Tidak, Mademoiselle. Masalahnya jauh lebih
umum dan sederhana daripada itu. Pada malam beri-
kutnya, Selasa malam, seseorang mengikatkan seutas
benang atau tali pada paku itu dan merentangkannya
serta mengikatkan ujung lain dari benang atau tali itu
pada pagar yang terdapat di sisi lain tangga. Akibat-
nya, ketika Miss Arundell keluar dari kamarnya dia
tersandung dan jatuh.”
heresa menarik napas dengan keras.
”Bola Bob!”
”Maaf, tapi bukan!”
Hening sejenak. Keheningan itu dipecahkan oleh
Donaldson dengan suara yang tenang dan saksama,
”Maaf, bukti apa yang Anda miliki sebagai pendu-
kung pernyataan Anda itu?”
Dengan sama tenangnya Poirot menjawab, ”Bukti
adanya paku itu, tulisan Miss Arundell sendiri dalam
suratnya yang ditujukan kepada saya, dan akhirnya
bukti yang disampaikan Miss Lawson, bahwa dia me-
nyaksikan seseorang berlutut di tangga itu pada tang-
gal 13 April.”
310

pustaka-indo.blogspot.com
Suara heresa terdengar kembali.
”Miss Lawson bilang aku yang melakukannya,
kan?”
Poirot tidak menjawab. Dia cuma menunduk sedi-
kit.
”Itu bohong! Aku tidak melakukan hal semacam
itu sama sekali!”
”Mungkin Anda jongkok untuk mengambil se-
suatu?”
”Aku tidak pernah berlutut di tangga itu!”
”Hati-hati, Mademoiselle.”
”Aku tidak pernah di situ! Aku tidak pernah keluar
dari kamar setelah masuk buat tidur selama aku meng-
inap di situ.”
”Miss Lawson mengenali Anda.”
”Mungkin Bella Tanios atau salah satu pelayan
yang dilihatnya.”
”Dia mengatakan Anda yang dilihatnya.”
”Pembohong!”
”Miss Lawson mengenali kimono dan bros yang
Anda kenakan.”
”Bros? Bros apa?”
”Bros dengan inisial Anda.”
”Oh, ya—aku tahu bros itu! Tapi dia bohong!”
”Jadi Anda menyangkal bahwa yang dilihat Miss
Lawson itu Anda?”
”Kalau kata-kataku menuduhnya...”
”Anda lebih pandai menipu daripada dia—begitu-
kah?”
Dengan tenang heresa menjawab, ”Mungkin itu
benar. Tapi kali ini aku mengatakan yang sebenarnya.
311

pustaka-indo.blogspot.com
Aku sama sekali tidak berlutut di tangga itu untuk
kepentingan apa pun.”
”Anda punya bros yang dimaksud?”
”Mungkin masih ada. Ingin melihatnya?”
”Kalau Anda tidak berkeberatan, Mademoiselle.”
heresa bangkit dan meninggalkan ruang tamu.
Keheningan yang mengikuti kepergian gadis itu terasa
kaku. Cara Dr. Donaldson memandang Poirot, menu-
rutku, seperti caranya mengamati sediaan di laborato-
rium.
heresa datang kembali. ”Ini dia!”
Gadis itu setengah melemparkan brosnya kepada
Poirot. Bros itu besar, terbuat dari logam putih mengi-
lap dengan bentuk T.A. dalam sebuah lingkaran. Ku-
akui, bros itu cukup besar dan terang bila dilihat dari
jarak jauh melalui cermin di kamar Miss Lawson.
”Aku tidak pernah lagi memakainya. Sudah bosan,”
ujar heresa. ”London rasanya penuh dengan per-
hiasan macam begitu. Semua orang memakainya.”
”Tapi harganya masih mahal waktu Anda mem-
belinya?”
”Oh, ya, memang. Mula-mula bros macam ini me-
rupakan barang eksklusif.”
”Kapan itu?”
”Natal tahun lalu, kalau tak salah. Ya, sekitar wak-
tu itu.”
”Pernah Anda meminjamkannya kepada orang
lain?”
”Tidak.”
”Anda membawanya ke Puri Hijau?”
312

pustaka-indo.blogspot.com
”Kurasa ya. Ya. Aku memang membawanya. Aku
ingat sekarang.”
”Anda meninggalkannya sembarangan? Atau, per-
nahkah bros itu lepas dari tangan Anda selama Anda
tinggal di sana?”
”Tidak. Bros itu kupasang pada sweter hijauku.
Dan aku ingat betul—selama di sana aku memakai
sweter itu setiap hari.”
”Dan pada malam hari?”
”Bros itu tetap menempel di sweter.”
”Sweternya?”
”Oh—sweternya kugantungkan di kursi.”
”Anda yakin tidak ada orang yang melepaskan bros
itu dari sweter Anda dan mengembalikannya lagi ke-
esokan harinya?”
”Aku cukup yakin hal seperti itu tidak terjadi!
Mungkin saja ada orang yang mencoba meniruku,
tapi kurasa itu pun tak mungkin!”
Dahi Poirot berkerut. Ia bangkit, dikaitkannya bros
itu perlahan-lahan pada bagian depan jasnya, dan ia
berjalan ke dekat cermin yang terletak di atas meja
pada sudut ruang tamu. Ia berdiri di depannya, kemu-
dian perlahan-lahan mundur, melihat pantulan pada
cermin dari kejauhan.
”Bodoh! Betapa bodohnya aku ini!” serunya.
Poirot kembali. Diserahkannya bros itu kepada
heresa. Sambil membungkuk dia berkata, ”Anda be-
nar, Mademoiselle. Bros ini memang tidak pernah le-
pas dari tangan Anda! Maafkan kebodohan saya.”
”Aku suka akan kerendahan hatimu,” ujar heresa,
313

pustaka-indo.blogspot.com
mengancingkan brosnya dengan asal-asalan. Setelah
itu ia memandang Poirot.
”Ada yang lain lagi? Aku mesti pergi.”
”Yang lain bisa dibicarakan lain kali.”
heresa berjalan ke pintu. Poirot dengan suara te-
nang berkata, ”Ada kemungkinan harus dilakukan
penggalian makam Miss Arundell. Benarkah...”
Mendadak sontak heresa menghentikan langkah-
nya. Bros yang dipegangnya jatuh ke lantai.
”Apa?”
Dengan jelas Poirot berkata, ”Ada kemungkinan
jasad Miss Arundell harus diperiksa.”
heresa berdiri terpaku. Tangannya tergenggam te-
gang. Ia berbicara dengan suara pelan tapi marah,
”Apakah ini ulahmu? Yang jelas, itu tidak bisa dilaku-
kan tanpa izin tertulis keluarganya.”
”Anda salah, Mademoiselle. Itu bisa dilakukan atas
perintah yang berwenang.”
”Oh Tuhan!” seru heresa.
Ia berbalik dan berjalan kian-kemari.
Donaldson berkata, ”Kupikir, tak ada gunanya ma-
rah-marah begitu, Tessa. Aku tahu kesannya bagi
orang luar kurang enak, tapi...”
heresa menyela, ”Jangan bodoh, Rex!”
Poirot bertanya, ”Apakah kemungkinan itu meng-
ganggu ketenangan Anda, Mademoiselle?”
”Tentu saja! Tidak sopan kedengarannya. Kasihan
Bibi Emily! Mengapa dia mesti digali dari kubur-
nya?”
”Kukira,” ujar Donaldson, ”ada keragu-raguan me-
ngenai penyebab kematiannya?” Dokter muda itu
314

pustaka-indo.blogspot.com
memandang Poirot penuh rasa ingin tahu. Lanjutnya,
”Saya akui, saya kaget. Saya pikir kematian Miss
Arundell disebabkan oleh penyakit yang sudah lama
diidapnya.”
”Kau pernah menceritakan seekor kelinci dan ke-
rusakan pada hatinya,” kata heresa. ”Aku sudah lupa
ceritanya, tapi kalau tak salah kau memasukkan darah
orang berpenyakit kuning ke tubuh kelinci itu. Se-
telah itu kauambil darah kelinci itu dan kausuntikkan
ke tubuh kelinci lainnya, dan akhirnya, kausuntikkan
darah kelinci yang kedua itu ke tubuh orang. Orang
itu jadi punya penyakit lever.”
”Itu cuma buat melukiskan pengobatan melalui se-
rum,” kata Donaldson sabar.
”Sayangnya, terlalu banyak kelinci dalam cerita
itu!” heresa tertawa. ”Tak ada di antara kita yang
memelihara kelinci.” heresa kini memandang Poirot.
Suaranya berubah. ”M. Poirot, benarkah itu?” tanya-
nya.
”Benar, Mademoiselle, tapi ada beberapa cara un-
tuk menghindari hal itu.”
”Kalau begitu, hindari!” suaranya hampir menye-
rupai bisikan. Walaupun begitu pasti dan memaksa.
”Hindari, berapa pun besarnya yang harus kita korban-
kan!”
Poirot bangkit.
”Itu perintah Anda?” Suaranya sangat formal.
”Ya. Itu perintahku.”
”Tapi, Tessa...,” sela Donaldson.
heresa berputar menghadap ke tunangannya.
”Diam. Dia bibiku. Mengapa bibiku harus digali
315

pustaka-indo.blogspot.com
dari kuburnya? Tahukah kau, berita apa yang akan
ditulis di koran dan gosip apa yang akan timbul?”
heresa berbalik menghadapi Poirot. ”Cegah tindakan
itu! Kuberikan carte blanche—kuasa sepenuhnya. Laku-
kan apa saja, asal tindakan itu tidak dilakukan.”
Poirot mengangguk hormat.
”Akan saya lakukan yang saya bisa lakukan,
Mademoiselle. Au revoir, Mademoiselle, au revoir,
Doctor.”
”Oh, pergi!” seru heresa. ”Kenapa aku mesti ber-
temu dengan kalian!”
Kami meninggalkan ruang tamu heresa. Kali ini
Poirot tidak berusaha menguping lagi. Dia sengaja
tinggal lebih lama di luar ruang tamu itu.
Dan itu berhasil. Suara heresa terdengar jelas dan
keras, ”Jangan pandang aku seperti itu, Rex.” Kemu-
dian, dengan tersendat, ”Oh, sayangku!”
Terdengar suara Dokter Donaldson, ”Laki-laki itu
bermaksud jahat.”
Poirot meringis. Ditariknya tanganku ke luar.
”Ayo,” katanya, ”c’est drôle, ca—lucu!”
Secara pribadi, kupikir lelucon itu konyol.

316

pustaka-indo.blogspot.com
25
Membayangkan Kembali

TIDAK, kupikir, sementara aku buru-buru mengikuti


Poirot. Tak ada keragu-raguan lagi sekarang. Miss
Arundell memang mati dibunuh, dan heresa tahu.
Tapi, dia sendirikah pelakunya, atau ada orang lain?
Yang jelas heresa ketakutan. Tapi, takut buat diri-
nya sendiri atau buat orang lain? Mungkinkah orang
lain itu si dokter yang tenang dan cermat?
Mungkinkah Miss Arundell mati karena penyakit
sungguhan yang sengaja dimasukkan ke tubuhnya?
Sampai titik tertentu semuanya terasa pas—ambisi
Donaldson dan dugaannya bahwa heresa akan me-
nerima warisan bila bibinya mati. Dan, pemuda itu
datang makan malam pada hari Selasa. Gampang se-
kali sengaja meninggalkan sebuah jendela terbuka.
Tengah malam dia kembali untuk memasang benang

317

pustaka-indo.blogspot.com
di tangga. Tapi, bagaimana ceritanya dia bisa mema-
sang paku di situ?
Ah. heresa bisa melakukannya. Ya, heresa bekerja
sama dengan tunangannya. Kalau mereka bekerja
sama, perkaranya jadi jelas. Mungkin juga heresa
sendiri yang memasang benang itu. Kejahatan perta-
ma, kejahatan yang gagal—itu hasil pekerjaan heresa.
Yang kedua, yang berhasil, hasil pekerjaan Donaldson
yang memang ahli dalam hal semacam itu.
Ya, rasanya memang pas.
Meskipun begitu, ada keganjilannya. Mengapa
heresa menyebut-nyebut penyuntikan darah kelinci
berpenyakit lever ke tubuh manusia? Kalau begitu,
rupanya dia tidak tahu... Tapi pikiranku jadi kacau,
maka kuhentikan spekulasiku.
Aku bertanya kepada Poirot, ”Kita ke mana seka-
rang, Poirot?”
”Kembali ke latku. Mungkin Mrs. Tanios ada di
sana.”
Pikiranku berpindah ke jalur yang lain.
Mrs. Tanios! Misteri lain lagi! Kalau Donaldson
dan heresa memang bersalah, apa peran Mrs. Tanios
dan suaminya yang selalu tersenyum itu? Apa yang
ingin dikatakan perempuan itu kepada Poirot, dan
mengapa suaminya berusaha mencegahnya?
”Poirot,” ucapku merendahkan diri. ”Rasanya aku
jadi pusing. Mereka tidak melakukannya bersama-
sama, kan?”
”Membunuh dengan membentuk sindikat? Sindikat
keluarga? Tidak. Kali ini tidak. Ada tanda-tanda bah-
318

pustaka-indo.blogspot.com
wa semuanya ini dilakukan oleh satu otak, cuma satu
otak. Masalah kejiwaannya sudah jelas.”
”Maksudmu, heresa atau Donaldson yang melaku-
kannya, tapi bukan mereka berdua? Paling tidak
Donaldson mengambilkan palu buat heresa...”
”Oh, Hastings, sejak saat Miss Lawson mencerita-
kan kesaksiannya, kusadari adanya tiga kemungkinan:
(1) Miss Lawson memang menceritakan yang sebenar-
nya. (2) Miss Lawson mengarang-ngarang cerita itu
untuk kepentingan dirinya sendiri. (3) Miss Lawson
yakin akan kebenaran ceritanya berdasarkan bros yang
dikenalnya—tapi, seperti kukatakan tadi, bros bisa
dipisahkan dari pemiliknya.”
”Ya, tapi heresa ngotot bros itu tidak pernah lepas
dari tangannya.”
”Yang dikatakannya itu memang benar. Ada satu
hal kecil yang sangat penting, tapi belum kucer-
mati.”
”Tumben,” ujarku bersungguh-sungguh.
”N’est-ce pas? Orang tidak ada yang sempurna. Se-
tiap orang bisa lupa sesuatu.”
”Karena umur semakin tua?”
”Tidak ada hubungannya dengan umur,” kata
Poirot dingin.
”Baiklah, apa hal kecil yang penting itu?” tanyaku.
Saat itu kami tepat sedang membelok masuk ke pela-
taran gedung tempat lat Poirot terletak.
”Akan kutunjukkan.”
Kami tiba di lat Poirot.
George membukakan pintu. Menjawab pandangan
Poirot yang penuh tanda tanya, lelaki itu menggeleng.
319

pustaka-indo.blogspot.com
”Belum, Sir. Mrs. Tanios belum ke sini. Juga tidak
ada telepon, Sir.”
Poirot masuk ke ruang duduk. Sejenak dia mon-
dar-mandir seperti orang bingung. Kemudian diraih-
nya telepon. Mula-mula diputarnya nomor Hotel
Durham.
”Ya, ya. Ah, Dr. Tanios, ini dari Hercule Poirot.
Apakah istri Anda sudah kembali? Belum? Oh... Dia
membawa barang-barangnya semua? ...Dan anak-anak
juga? ...Anda tidak punya bayangan ke mana pergi-
nya...? Ya... Oh, tentu... Kalau jasa saya bisa berguna
bagi Anda? Saya pernah mengalami hal yang serupa...
Hal semacam itu bisa dilakukan dengan diam-diam...
Tidak, tentu saja tidak... Ya, itu memang benar... Ten-
tu... tentu. Saya menghargai maksud Anda.”
Poirot meletakkan gagang telepon.
”Dr. Tanios tidak tahu ke mana istrinva pergi,”
ujarnya serius. ”Kupikir yang dikatakannya itu me-
mang benar. Kekuatiran yang kudengar dalam suara-
nya bukan dibuat-buat. Tanios tidak mau berurusan
dengan polisi. Itu bisa dimengerti. Ya, itu bisa kume-
ngerti. Dia juga menolak bantuanku. Itu yang kurang
bisa kumengerti... Dia ingin istrinya ditemukan, tapi
tak mau aku mencarinya... Kelihatannya dia yakin
bisa menyelesaikan sendiri masalah ini. Katanya, tidak
mungkin istrinya bersembunyi lama-lama—sebab, dia
cuma membawa uang sedikit. Di samping itu, dia
membawa anak-anak. Ya, kupikir dia bisa segera me-
nemukan istrinya. Tapi, Hastings, gerak kita mesti le-
bih cepat. Kurasa ini sangat penting.”
320

pustaka-indo.blogspot.com
”Percayakah kau bahwa Mrs. Tanios agak miring?”
tanyaku.
”Kupikir dia sedang dalam keadaan sangat gelisah
dan kecapekan.”
”Tapi tidak sebegitu parahnya sampai mesti dirawat
di rumah perawatan orang gila, kan?”
”Pasti tidak.”
”Aku tidak mengerti semua ini, Poirot.”
”Maafkan aku, Hastings—terus terang, kupikir kau
memang tidak mengerti sama sekali.”
”Rasanya... oh, terlalu banyak aspeknya.”
”Memang. Tapi untuk bisa berpikir jernih, kita
mesti bisa memisahkan satu dari lainnya.”
”Poirot, sudah lamakah kau menduga ada delapan
kemungkinan dan bukannya tujuh?”
Dengan datar Poirot menjawab, ”Itu sudah kuper-
timbangkan sejak heresa Arundell mengatakan ia
bertemu Donaldson yang terakhir—pada malam pe-
muda itu datang bersantap malam bersama di Puri
Hijau—tepatnya, tanggal 14 April.”
”Aku kurang mengerti...” cetusku.
”Apanya yang kurang kaumengerti?”
”Yah, bisa kumengerti kalau Donaldson merencana-
kan pembunuhan secara ilmiah—dengan suntikan atau
sejenisnya. Tapi kenapa dia mesti menggunakan cara
janggal semacam merentangkan benang di tangga?”
”En vérité—terus terang saja, Hastings, kadang-ka-
dang aku kehabisan kesabaran berdebat denganmu!
Yang satu merupakan metode tingkat tinggi yang
cuma bisa dilakukan orang yang cukup berpenge-
tahuan di bidang itu. Betul, kan?”
321

pustaka-indo.blogspot.com
”Ya.”
”Yang satunya lagi sangat sederhana dan bisa di-
lakukan siapa pun. Betul?”
”Ya.”
”Nah, Hastings—berpikirlah! Coba duduk dengan
tenang, pejamkan mata, dan pakai otakmu.”
Kupatuhi perintahnya. Aku bersandar di kursi dan
kututup mataku. Otakku sibuk melaksanakan perintah
Poirot yang ketiga. Tapi hasilnya tidak banyak.
Kubuka mataku. Kulihat Poirot tengah memandang-
ku dengan pandangan juru rawat terhadap pasien ke-
cilnya yang tidur terlelap.
”Eh bien?”
Aku berusaha keras menandingi sikap Poirot.
”Yah,” ucapku, ”kupikir orang yang memasang be-
nang bukan tipe orang yang merencanakan pembu-
nuhan dengan menggunakan cara-cara ilmiah.”
”Tepat.”
”Rasanya janggal kalau otak yang sudah terbiasa
berpikir kompleks tiba-tiba memikirkan sesuatu yang
kekanak-kanakan seperti merencanakan pemasangan
benang itu.”
”Benar.”
Merasa diberi angin, aku meneruskan, ”Karena itu,
satu-satunya pemikiran yang logis adalah begini, ke-
duanya direncanakan oleh orang yang berbeda. Jadi,
yang kita hadapi ini dua kali percobaan pembunuhan
oleh dua orang yang berbeda.”
”Kaupikir itu bukan cuma kebetulan?”
”Kau sendiri bilang bahwa dalam setiap kasus pem-
bunuhan selalu ditemukan faktor kebetulan.”
322

pustaka-indo.blogspot.com
”Ya. Itu memang benar. Dan harus kuakui.”
”Jadi?”
”Siapa kaupikir kedua orang tertuduhmu itu?”
”Donaldson dan heresa Arundell. Jelas sekali per-
cobaan pembunuhan kedua yang ternyata berhasil itu
merupakan pekerjaan dokter. Sebaliknya, kita tahu
heresa tersangkut dalam usaha pembunuhan yang
pertama. Kupikir, keduanya bekerja sendiri-sendiri
dalam hal ini.”
”Kau senang sekali bilang ’kita tahu’, Hastings. Apa
pun yang mungkin kauketahui, aku yakin aku sendiri
tidak tahu apakah heresa terlibat atau tidak.”
”Tapi menurut cerita Miss Lawson...”
”Cerita Miss Lawson cuma cerita Miss Lawson.”
”Tapi, katanya...”
”Katanya—katanya... Selalu kau percaya begitu saja
dengan apa yang dikatakan orang. Sekarang dengar,
mon cher. Aku pernah mengatakan kepadamu, ada
yang tidak benar dalam cerita Miss Lawson.”
”Ya. Aku ingat kau pernah berkata begitu. Tapi
kau sendiri tidak tahu apanya yang kaurasa tidak be-
nar itu.”
”Sekarang aku sudah tahu. Sebentar akan kutunjuk-
kan kepadamu apa yang mestinya sejak semula lang-
sung kulihat.”
Poirot melangkah ke dekat meja tulisnya. Dibuka-
nya laci dan dikeluarkannya sepotong karton. Karton
itu dipotongnya dengan gunting, lalu ia memberi isya-
rat kepadaku supaya aku tidak melihat apa yang se-
dang dilakukannya.
323

pustaka-indo.blogspot.com
”Sabar, Hastings. Sebentar lagi kita akan melakukan
percobaan kita.”
Tak lama kemudian kudengar Poirot menyerukan
sesuatu dengan nada puas. Diletakkannya gunting,
dan dibuangnya sisa karton ke keranjang sampah. Se-
telah itu ia pun segera melangkah mendekatiku.
”Jangan lihat dulu. Tutup matamu sementara aku
menyematkan sesuatu pada jaketmu.”
Kuturuti perintahnya sambil tertawa. Kedengaran-
nya Poirot puas dengan apa yang dilihatnya. Perlahan-
lahan ditariknya aku menuju kamar tidur yang paling
dekat dengan ruang duduknya.
”Sekarang buka matamu, Hastings. Pandang dirimu
di cermin. Pada jaketmu kau mengenakan bros indah
berinisial namamu. Cuma, bien entendu—tentu saja,
brosmu bukan terbuat dari logam mengilap atau emas
atau platina, brosmu cuma terbuat dari karton seder-
hana.”
Kupandangi diriku dalam cermin sambil tersenyum.
Tangan Poirot memang sangat terampil. Kulihat pada
jaketku menempel bros yang sangat mirip dengan
bros heresa—lingkaran dari karton mengelilingi ini-
sialku, A.H.
”Eh bien,” ujar Poirot. ”Kau puas? Brosmu indah
sekali, kan—dengan inisialmu pula...”
”Kuakui, memang bagus sekali.”
”Memang tidak mengilap dan bersinar-sinar, tapi
kauakui kan, bros itu kelihatan cukup jelas dari ke-
jauhan?”
”Ya. Aku tak meragukannya.”
”Tepat. Ragu-ragu bukan sifatmu. Mudah per-
324

pustaka-indo.blogspot.com
caya—itulah. Dan sekarang, Hastings, coba buka ja-
ketmu.”
Dengan heran kuturuti permintaannya. Poirot sen-
diri melepaskan jasnya dan ganti mengenakan kepu-
nyaanku sambil sedikit menghadap ke belakang.
”Sekarang,” ujarnya, ”lihat bagaimana brosmu tiba-
tiba jadi kepunyaanku.”
Poirot berbalik menghadapku. Kupandang dia,
mula-mula aku tidak mengerti. Baru kemudian aku
tahu maksudnya.
”Oh, bodohnya! Tentu saja. H.A. yang kautuliskan
pada bros itu, bukan A.H.!”
Poirot tersenyum lebar. Dikembalikannya jaketku,
dan dikenakannya jasnya sendiri.
”Tepat!” katanya. ”Sekarang kau tahu apa sebabnya
aku merasa cerita Miss Lawson salah. Miss Lawson
mengatakan dia melihat jelas inisial heresa pada bros
itu. Tapi, jangan lupa, Miss Lawson melihat dari cer-
min. Jadi, kalau memang dia melihat inisial, kebalikan-
nyalah yang sebenarnya dilihatnya pada cermin itu.”
”Mungkin,” ucapku, ”dan mungkin juga dia sadar
yang dilihatnya kebalikannya.”
”Mon cher, terpikirkah itu olehmu barusan? Tapi
kau tidak berseru, ’Ha! Poirot, kau salah—itu H.A.,
bukan A.H.’ Tidak, kau tidak berseru begitu. Padahal,
menurutku, kau jauh lebih pandai daripada Miss
Lawson. Jangan katakan perempuan seperti Miss
Lawson terbangun, lalu masih dalam keadaan setengah
tidur segera menyadari bahwa T.A. yang dilihatnya
sesungguhnya A.T. Tidak, Kawan, itu tidak sesuai de-
ngan mentalitas Miss Lawson.”
325

pustaka-indo.blogspot.com
”Dia ngotot yang dilihatnya itu heresa,” ujarku
perlahan.
”Kau sudah semakin dekat dengan kenyataannya,
Kawan. Ingatkah kau, aku pernah bilang, tidak mung-
kin Miss Lawson bisa melihat dengan jelas wajah
orang yang dilihatnya. Lalu apa yang langsung diingat-
nya?”
”Bros heresa—tanpa menyadari bahwa dia melihat-
nya dalam cermin, yang berarti bahwa yang dikatakan-
nya tidak benar.”
Telepon berdering nyaring. Poirot segera mengham-
bur menjawabnya.
Ia cuma mengucapkan beberapa kata, ”Ya? Ya...
tentu. Ya, lumayan. Siang, mungkin. Jam dua? Ke-
lihatannya bisa.”
Diletakkannya gagang telepon, dan ia pun berpa-
ling kepadaku sambil tersenyum.
”Dr. Donaldson ingin berbincang-bincang dengan-
ku. Dia mau ke sini besok, jam dua. Ada kemajuan-
nya, mon ami, ada kemajuannya.”

326

pustaka-indo.blogspot.com
26
Mrs. Tanios
Menolak Berbicara

KETIKA aku tiba keesokan paginya, kulihat Poirot


sedang sibuk menulis di meja tulisnya.
Ia mengacungkan tangan sebagai isyarat sapaan,
tapi segera menyibukkan dirinya kembali dengan yang
sedang ditulisnya. Akhirnya dilipatnya kertas yang di-
tulisi itu, dimasukkannya ke amplop, dan direkatnya
amplopnya dengan lem.
”Sedang apa kau?” tanyaku berkelakar. ”Mencatat
kasus yang sedang kauselesaikan buat disimpan di le-
mari besi hingga orang bisa meneruskan usahamu bila
kau sendiri terbunuh hari ini?”
”Dugaanmu tidak banyak meleset, Hastings!”
Sikapnya bersungguh-sungguh.
”Kaupikir pembunuhnya sudah menjadi berbahaya
sekarang?”
327

pustaka-indo.blogspot.com
”Pembunuh selalu berbahaya,” sahut Poirot serius.
”Sayangnya fakta itu sering kurang diperhatikan.”
”Ada berita baru?”
”Dr. Tanios menelepon.”
”Istrinya belum ditemukan?”
”Belum.”
”Kalau begitu, aman.”
”Aku tidak yakin.”
”Kau tidak berpikir Mrs. Tanios dibunuh orang,
kan?”
Poirot menggeleng. Tampaknya dia ragu-ragu.
”Kuakui,” gumamnya, ”aku ingin sekali tahu di
mana perempuan itu sekarang.”
”Oh,” ujarku. ”Dia pasti ketemu.”
”Optimismemu membuatku lega kadang-kadang,
Hastings.”
”Oh Tuhan... maksudmu kaupikir Mrs. Tanios
akan kita ketemukan dalam keadaan terbungkus dan
terpotong-potong?”
Poirot berkata pelan, ”Aku merasa kekuatiran Dr.
Tanios agak berlebih-lebihan, tapi cuma itu. Yang per-
tama-tama mesti kita lakukan hari ini adalah mene-
mui Miss Lawson.”
”Kau mau mengatakan kepadanya mengenai keke-
liruan penglihatannya pada bros itu?”
”Tentu saja tidak. Fakta itu cuma buatku sendiri
sampai tiba saatnya yang tepat buat menyatakan-
nya.”
”Lalu, apa yang mau kaukatakan?”
”Itu, mon ami, akan kaudengar sendiri nanti.”
”Omong kosong lagi?”
328

pustaka-indo.blogspot.com
”Kadang-kadang kau menyakitkan hati, Hastings.
Orang akan mengira aku suka berbohong bila men-
dengar kata-katamu barusan.”
”Kupikir kau memang suka berbohong, Poirot.
Aku malah mulai yakin kau sungguh-sungguh suka
berbohong.”
”Kuakui—kadang-kadang aku kagum akan kepan-
daianku menciptakan sesuatu yang kedengarannya
begitu realistis.”
Tak kuasa aku menahan tawa. Poirot memandangku
dengan ejekan, dan kami pun berangkat ke Clanroy-
den Mansions.
Kami dipersilakan masuk ke ruang tamunya yang
terasa sangat penuh dengan berbagai barang, dan tak
lama kemudian Miss Lawson keluar dengan tergopoh-
gopoh. Sikapnya lebih tidak menentu daripada biasa-
nya.
”Oh, M. Poirot, selamat pagi! Oh... berantakannya.
Maafkan. Tapi pagi ini rasanya repot sekali. Sejak
Bella datang...”
”Apa? Bella?”
”Ya, Bella Tanios. Dia datang setengah jam yang
lalu dengan anak-anaknya. Mereka kelihatannya sa-
ngat kecapekan. Oh, kasihannya mereka itu. Sungguh,
saya tidak tahu apa yang mesti saya lakukan. Anda
tahu, M. Poirot—dia meninggalkan suaminya.”
”Meninggalkan Dr. Tanios?”
”Katanya begitu. Oh, tapi saya yakin tindakannya
itu bijaksana. Malangnya anak itu...”
”Dia bercerita terus terang kepada Anda?”
”Yah... sebenarnya tidak juga, M. Poirot. Dia sama
329

pustaka-indo.blogspot.com
sekali tidak mau mengatakan apa-apa. Cuma ber-
ulang-ulang dikatakannya bahwa dia meninggalkan
suaminya dan tidak akan mau kembali lagi!”
”Ini merupakan langkah yang sangat serius.”
”Tentu saja! Seandainya suaminya orang Inggris,
akan saya bujuk agar dia mau... tapi suaminya kan
bukan orang Inggris. Dan lagi, tidak tega saya melihat-
nya... dia begitu ketakutan. Tak tahu saya apa yang
dilakukan laki-laki itu terhadap istrinya sampai istri-
nya seperti itu. Dari dulu saya sudah menduga, orang
Turki kadang-kadang bisa berlaku kejam.”
”Dr. Tanios bukan orang Turki. Dia orang
Yunani.”
”Oh, ya, tentu, kebalikannya—maksud saya, me-
reka yang biasanya dibunuh oleh orang Turki... oh,
atau saya jadi berpikir tentang orang Yahudi? Sama
saja! Pokoknya, saya rasa Bella tak perlu kembali ke-
pada suaminya. Bukankah begitu, M. Poirot? Eh, dia
bilang... dia tidak mau kembali. Dia malah tak mau
suaminya tahu di mana dia berada.”
”Separah itu?”
”Ya. Maka dari itu. Anak-anaknya... katanya. Bella
takut suaminya membawa mereka kembali ke Smyrna.
Kasihan! Oh, tahukah Anda, M. Poirot, dia tidak pu-
nya uang sama sekali—sama sekali. Dia tidak tahu
lagi ke mana dia mesti pergi atau apa yang mesti dia
lakukan. Katanya dia ingin bekerja mencari nafkah;
tapi, oh, M. Poirot, itu tak segampang yang dikata-
kan, kan? Saya tahu susahnya cari pekerjaan. Dan
Bella tidak punya pendidikan khusus.”
”Kapan dia meninggalkan suaminya?”
330

pustaka-indo.blogspot.com
”Kemarin. Semalam dia menginap di hotel kecil
dekat Paddington. Dia datang ke sini karena tidak
tahu mesti ke mana lagi. Oh, kasihannya anak
itu...”
”Dan Anda mau menolongnya? Betapa baik hati
Anda, Miss Lawson.”
”Oh, M. Poirot, sungguh... saya merasa itu kewa-
jiban saya. Tapi tentu saja sangat sulit. Flat ini terlalu
kecil, kamarnya tidak ada lagi—di samping itu,
oh...”
”Kenapa Anda tidak menyuruhnya tinggal di Puri
Hijau saja?”
”Mungkin seharusnya begitu—tapi, oh, suaminya
pasti akan datang mencarinya ke sana. Sementara ini,
saya sewakan dia kamar di Hotel Wellington di
Queen’s Road. Dia tinggal di situ dengan nama sa-
maran Mrs. Peters.”
”Oh,” ucap Poirot.
Sejenak ia diam. Kemudian katanya, ”Saya ingin
bertemu dengan Mrs. Tanios. Dia mencari saya ke
lat saya kemarin, tapi saya kebetulan sedang ke-
luar.”
”Oh ya? Dia tidak cerita pada saya. Sebentar, saya
katakan kepadanya ya?”
”Terima kasih.”
Buru-buru Miss Lawson keluar dari ruang tamu-
nya. Suaranya kedengaran cukup jelas dari tempat
kami duduk.
”Bella... Bella sayang, maukah kau menemui M.
Poirot?”
Jawaban Mrs. Tanios tidak kedengaran, tapi be-
331

pustaka-indo.blogspot.com
berapa menit kemudian dia keluar ke ruang tamu.
Aku sangat kaget melihat rupanya. Sekeliling matanya
tampak hitam dan pipinya pucat sekali. Yang lebih
mengagetkan lagi, raut mukanya sangat ketakutan.
Perempuan itu tidak mengucapkan sepatah kata pun,
ia cuma duduk diam mendengarkan.
Poirot menyapanya dengan sikap penuh simpati. Ia
bangkit menghampiri Mrs. Tanios, menjabat tangan-
nya. Kemudian dibimbingnya perempuan itu ke kursi
dan dipersilakannya duduk. Ia mengambil bantal, lalu
kembali menghampiri Mrs. Tanios dan memberikan
bantal itu kepadanya. Poirot memperlakukan perem-
puan yang pucat dan ketakutan itu bagaikan putri.
”Sekarang, Madame, ayo kita mengobrol. Anda da-
tang ke lat saya kemarin?”
Mrs. Tanios mengangguk.
”Saya menyesal sekali tidak bertemu dengan Anda,
Madame.”
”Ya, saya pun begitu.”
”Ada yang ingin Anda sampaikan kepada saya?”
”Ya, maksud saya begitu...”
”Eh bien, sekarang saya ada di hadapan Anda, siap
mendengar apa pun yang ingin Anda katakan ke-
marin itu.”
Mrs. Tanios tidak menyahut. Dia duduk diam, me-
mutar-mutar cincin pada jarinya.
”Bagaimana, Madame?”
”Tidak. Saya... kalau dia tahu... dia akan... oh, dia
pasti melakukan sesuatu kepada saya!”
”Ayolah, Madame—masa begitu. Tidak mung-
kin.”
332

pustaka-indo.blogspot.com
”Bukan tidak mungkin—itu mungkin. Mungkin
sekali. Anda tidak tahu dia...”
”Yang Anda maksud ’dia’ itu suami Anda, Ma-
dame?”
”Ya. Ya. Dia.”
Semenit-dua menit lamanya Poirot berdiam diri.
Kemudian katanya, ”Suami Anda juga datang ke lat
saya kemarin, Madame.”
Sejenak wajahnya penuh ketakutan.
”Oh, tidak! Anda tidak mengatakannya kepada-
nya—pasti tidak! Anda kan tidak tahu di mana saya.
Apakah dia bilang saya gila?”
Poirot menjawab dengan sangat berhati-hati, ”Dia
cuma mengatakan bahwa Anda sangat gelisah.”
Tapi Mrs. Tanios tidak bisa dibohongi. Ia meng-
geleng-geleng.
”Tidak, dia bilang saya gila, atau saya akan jadi
gila! Dia mau mengurung saya, supaya saya tidak bisa
mengatakan apa-apa kepada siapa pun buat selama-
lamanya.”
”Mengatakan apa, Madame?”
Mrs. Tanios menggeleng. Sambil mempermainkan
jari-jari tangannya dengan gelisah, ia bergumam,
”Saya takut...”
”Tapi, Madame, kalau Anda sudah mengatakannya
kepada saya, Anda aman! Rahasianya sudah keluar!
Fakta ini dengan sendirinya akan melindungi Anda.”
Tapi Mrs. Tanios tetap tidak menjawab. Dia terus
saja mempermainkan jarinya.
”Anda akan merasakannya sendiri, Madame,” kata
Poirot sangat lembut.
333

pustaka-indo.blogspot.com
Mrs. Tanios terperangah.
”Bagaimana saya bisa merasakannya? ...Oh, ini ke-
terlaluan sekali! Dia logis! Dan dia dokter. Orang pasti
percaya dia, bukan saya. Saya tahu itu. Tidak ada
orang yang akan memercayai saya.”
”Anda tidak mau memberi kesempatan kepada
saya?”
Pandangan Mrs. Tanios mengungkapkan kebim-
bangan hatinya.
”Bagaimana saya tahu? Mungkin saja Anda ada di
pihaknya...”
”Saya tidak pernah berdiri di pihak siapa pun, Ma-
dame, saya cuma berdiri di pihak kebenaran.”
”Saya tidak tahu,” ujar Mrs. Tanios putus asa. ”Oh,
betul-betul saya tidak tahu.”
Mrs. Tanios meneruskan kata-katanya, suaranya se-
makin keras tapi terputus-putus, ”Sudah bertahun-ta-
hun begini. Berkali-kali saya menyaksikan hal yang
sama terjadi berulang-ulang. Tapi tidak ada yang bisa
saya katakan atau lakukan. Sebab ada anak-anak yang
harus saya bela. Rasanya mimpi buruk itu terus ber-
kepanjangan. Dan sekarang ini... Tapi saya tidak mau
kembali kepadanya. Saya tak akan membiarkan dia
membawa anak-anak. Saya akan pergi ke tempat yang
tak akan bisa diketemukannya. Minnie Lawson akan
membantu saya. Dia sangat baik—sangat baik dan
manis. Tidak ada orang lain yang lebih baik daripada-
nya.” Ia berhenti. Pandangannya menembus mata
Poirot. Lalu katanya,
”Apa yang dikatakannya mengenai saya? Apakah
dia bilang saya berkhayal, berangan-angan?”
334

pustaka-indo.blogspot.com
”Dia mengatakan sikap Anda terhadapnya berubah,
Madame.”
Mrs. Tanios mengangguk.
”Dan dia bilang saya berkhayal, berangan-angan...
Betul, kan?”
”Ya, Madame. Terus terang, dia memang bilang
begitu.”
”Itulah. Dia akan terus bilang begitu. Sedangkan
saya tidak punya bukti, sama sekali tidak punya bukti
yang nyata.”
Poirot bersandar pada kursinya. Ketika dia ber-
bicara lagi, sikapnya betul-betul berubah. ”Apakah
Anda mencurigai suami Anda ada sangkut pautnya
dengan pembunuhan Miss Arundell?”
Jawabannya datang sangat cepat—spontan, ”Saya
tidak mencurigainya, saya tahu.”
”Kalau begitu, Madame, Anda wajib mengatakan-
nya.”
”Ah, tapi itu sulit—ya, sulit.”
”Bagaimana dia membunuhnya?”
”Tepatnya saya tidak tahu, tapi dialah yang mem-
bunuh.”
”Anda tidak tahu cara apa yang dipakainya?”
”Tidak, itu dilakukannya pada hari Minggu se-
belum Bibi Emily meninggal.”
”Hari Minggu ketika dia datang ke Puri Hijau sen-
dirian?”
”Ya.”
”Tapi Anda tidak tahu apa persis yang dilakukan-
nya?”
”Tidak.”
335

pustaka-indo.blogspot.com
”Lalu, maaf, Madame, bagaimana Anda bisa begitu
yakin?”
”Karena dia...” Mrs. Tanios berhenti. Kemudian
katanya pelan, ”Saya yakin!”
”Maaf, Madame, ada yang Anda sembunyikan,
yang belum Anda katakan kepada saya.”
”Ya.”
”Mengapa tidak Anda katakan saja sekalian?”
Bella Tanios mendadak bangkit.
”Tidak. Tidak. Saya tidak bisa. Anak-anak. Ayah
mereka. Saya tidak bisa. Saya tidak bisa...”
”Tapi, Madame...”
”Saya tidak bisa menceritakannya kepada Anda.”
Suaranya melengking histeris. Mendadak pintu ter-
buka dan Miss Lawson masuk. Tampak sekali ada se-
suatu yang menyenangkan hatinya.
”Boleh masuk? Sudah selesai pembicaraan Anda?
Bella sayang, kupikir kau mesti minum sesuatu... se-
cangkir teh, atau malah sedikit brendi.”
Mrs. Tanios menggeleng.
”Aku tidak apa-apa,” ujarnya sambil tersenyum le-
mah. ”Aku mesti kembali ke anak-anak. Sudah terlalu
lama kutinggalkan mereka. Mereka sedang memberes-
kan pakaian mereka dari koper ketika kutinggalkan.”
”Oh,” ujar Miss Lawson, ”lucunya anak-anak itu.”
Mrs. Tanios tiba-tiba berpaling kepadanya.
”Oh, aku tak tahu apa yang harus kulakukan tanpa
bantuanmu, Minnie,” ujarnya. ”Kau... kau begitu
baik.”
”Na, na, na, jangan menangis begitu, Bella. Segala
sesuatu akan beres sendiri pada akhirnya. Kau boleh
336

pustaka-indo.blogspot.com
datang ke tempat penasihat hukumku—dia orangnya
baik dan sangat simpatik—dia pasti mau memberi
petunjuk bagaimana caranya mendapatkan surat cerai.
Di zaman sekarang, itu bukan hal sulit. Begitu yang
kudengar dari orang-orang. Oh, ada tamu kedengaran-
nya. Siapa ya?”
Miss Lawson buru-buru meninggalkan ruang tamu.
Terdengar suara orang bercakap-cakap di teras. Miss
Lawson muncul kembali. Jalannya berjingkat-jingkat.
Ditutupnya pintu pelan-pelan. Katanya berbisik, ”Oh,
Bella... suamimu yang datang. Aku tak tahu...”
Mrs. Tanios beranjak ke pintu yang menuju ke be-
lakang. Miss Lawson mengangguk-angguk.
”Benar, Sayang—masuklah ke sana. Dari situ kau
bisa menyelinap keluar sementara dia kuajak masuk
ke sini.”
Mrs. Tanios berbisik, ”Jangan katakan aku dari
sini. Jangan katakan kau barusan ketemu aku.”
”Tidak. Tentu saja tidak.”
Mrs. Tanios menyelinap keluar. Poirot dan aku sen-
diri buru-buru mengikutinya. Kami ternyata masuk
ke ruang makan.
Poirot menyeberangi ruang makan sempit itu, dan
membuka pintu yang berhubungan dengan teras. Ia
mengintip dan mendengarkan, kemudian mengang-
guk.
”Miss Lawson sudah mengajaknya masuk.”
Berjingkat-jingkat kami keluar. Pintu muka ditutup
oleh Poirot dengan sangat pelan setelah kami semua-
nya keluar.
Mrs. Tanios berlari-lari kecil menuruni tangga, ter-
337

pustaka-indo.blogspot.com
sandung, dan berpegangan pada sisi tangga. Poirot
memegang lengannya kuat-kuat, menahannya supaya
tidak jatuh.
”Du calme, du calme—tenang, tenang. Tidak ada
yang mesti Anda takuti.”
Kami masuk ke lobi.
”Temani saya,” pinta Mrs. Tanios memelas. Ke-
lihatannya perempuan itu sudah mau pingsan.
”Tentu,” ujar Poirot menenangkannya.
Kami menyeberang jalan, berjalan sedikit melewali
tikungan, dan sampai di Queen’s Road. Hotel Welling-
ton ternyata hotel kecil yang tidak banyak diketahui
orang. Modelnya seperti asrama.
Sesampai di dalam, Mrs. Tanios menjatuhkan diri
pada sofa. Tangannya memegangi dadanya yang ber-
debar-debar.
Poirot menepuk-nepuk bahunya, menenangkan pe-
rempuan itu.
”Anda lolos, Madame. Tapi dengarkan saya baik-
baik sekarang.”
”Tidak ada lagi yang bisa saya ceritakan kepada
Anda, M. Poirot. Tak benar kalau saya mencerita-
kannya. Anda—Anda tahu apa yang saya pikir—yang
saya yakini. Anda mesti puas dengan itu.”
”Saya minta Anda mendengarkan saya, Madame.
Andaikan—ini hanya berandai-andai—saya sudah tahu
semua fakta mengenai kasus ini. Andaikan saya sudah
bisa menebak apa yang Anda ketahui—masalahnya jadi
lain, bukan?”
Mrs. Tanios memandangnya ragu. Sebersit rasa sa-
kit tampak pada matanya.
338

pustaka-indo.blogspot.com
”Percayalah, Madame, saya bukan bermaksud men-
jebak Anda supaya Anda mengatakan apa yang tidak
ingin Anda katakan. Tapi, masalahnya jadi lain,
kan?”
”Saya pikir... ya.”
”Bagus. Sekarang dengar. Saya, Hercule Poirot, tahu
kebenarannya. Saya tidak meminta Anda memercayai
kata-kata saya. Ambil ini.” Poirot menyodorkan am-
plop tebal yang tadi pagi kulihat disiapkannya. ”Se-
mua faktanya tertulis di situ. Setelah Anda membaca-
nya, dan Anda puas, teleponlah saya, nomor telepon
saya tercantum di dalam situ.”
Agak enggan Mrs. Tanios menerima amplop itu.
Poirot menyambung cepat, ”Sekarang, satu hal lagi.
Anda harus cepat-cepat meninggalkan hotel ini.”
”Mengapa?”
”Anda cepat pergi ke Hotel Coniston, dekat
Euston. Jangan katakan kepada siapa pun di mana
Anda tinggal.”
”Tapi, oh—mengapa kalau di sini saja? Minnie
Lawson tidak mungkin mengatakan kepada suami
saya bahwa saya tinggal di sini.”
”Anda pikir begitu?”
”Ya, dia memihak saya!”
”Ya, tapi ingat, Madame, suami Anda sangat pan-
dai. Mudah sekali buatnya membujuk perempuan tua
macam Miss Lawson untuk membuka rahasia. Ini sa-
ngat penting—penting sekali, Madame. Suami Anda
tidak boleh tahu di mana Anda berada.”
Mrs. Tanios mengangguk tanpa berkomentar.
Poirot memberikan selembar kertas.
339

pustaka-indo.blogspot.com
”Ini alamatnya. Cepat bereskan barang-barang
Anda, dan bawa anak-anak naik taksi ke alamat itu.
Anda mengerti?”
Mrs. Tanios mengangguk.
”Saya mengerti.”
”Anak-anaklah yang mesti Anda pikirkan, Madame,
bukan diri Anda sendiri. Anda sayang pada mereka,
kan?”
Poirot menyentuh bagian yang terpeka.
Warna merah merambati pipi perempuan itu, dan
kepalanya pun menegak. Ia sekarang tampak bukan
lagi seperti orang yang ketakutan, tapi wanita gagah
dan agak angkuh.
”Oke. Semuanya beres, kalau begitu.”
Dijabatnya tangan Mrs. Tanios, dan kami pun
pergi. Tapi tidak jauh. Dari bawah naungan atap kafe-
teria di seberang jalan, kami mengamati pintu masuk
hotel tadi sambil minum kopi. Lebih-kurang lima
menit kemudian, tampak Dokter Tanios melintas di
jalan. Dia tidak menoleh sama sekali ke arah Hotel
Wellington. Hotel itu dilaluinya begitu saja. Kepala-
nya tertunduk waktu dia berjalan. Di tikungan, dia
membelok ke stasiun kereta bawah tanah.
Sepuluh menit setelahnya, kami melihat Mrs.
Tanios dan anak-anaknya masuk ke taksi dengan
membawa barang-barang mereka.
”Bien,” ujar Poirot mengacungkan bon minuman
yang dipesannya. ”Kita sudah melakukan apa yang
menjadi kewajiban kita. Semuanya sekarang ada di
tangan Tuhan.”

340

pustaka-indo.blogspot.com
27
Kunjungan Dr. Donaldson

DONALDSON datang tepat pada pukul dua. Pem-


bawaannya tenang dan serius seperti biasanya. Kepri-
badian Donaldson mulai membangkitkan minatku.
Mula-mula pemuda itu kuanggap sebagai orang yang
agak langka. Aku tidak mengerti apa yang dilihat ga-
dis secantik heresa pada dirinya. Sekarang aku baru
sadar bahwa pemuda ini tak bisa diabaikan begitu
saja. Di balik sikapnya yang ilmiah itu, ada kekuatan
yang tersembunyi.
Setelah bersapa-sapaan sebagaimana layaknya tamu
dan tuan rumah, Donaldson berkata, ”Alasan keda-
tangan saya begini. Saya tidak mengerti apa tepatnya
posisi Anda dalam kasus ini, M. Poirot.”
Jawaban Poirot hati-hati, ”Anda tentunya tahu pro-
fesi saya, bukan?”

341

pustaka-indo.blogspot.com
”Tentu. Terus terang, saya sudah bersusah payah ke
sana-sini mencari keterangan mengenai diri Anda.”
”Anda orang yang sangat berhati-hati, Dokter.”
Dengan datar Donaldson berkata, ”Saya selalu
ingin yakin dengan fakta-fakta saya.”
”Pikiran Anda sangat ilmiah.”
”Setahu saya, semua orang berpendapat begitu juga
mengenai diri Anda. Tidak diragukan lagi, Anda orang
yang sangat pandai dalam profesi Anda. Anda juga
mendapat julukan detektif yang teliti dan jujur.”
”Pujian Anda berlebihan.”
”Itulah sebabnya saya tidak habis berpikir, mengapa
Anda sampai ikut campur dalam masalah keluarga
ini? Apa hubungannya?”
”Sangat sederhana!”
”Sebaliknya,” ujar Donaldson. ”Mula-mula Anda
memperkenalkan diri sebagai penulis biograi.”
”Itu bisa dimaafkan, bukan? Hampir tidak mung-
kin detektif pergi ke sana-sini dengan setiap kali mem-
proklamirkan dirinya sebagai detektif—meskipun saya
akui, kadang-kadang ada manfaatnya pula memper-
kenalkan diri sebagai detektif.”
”Baiklah.” Nada suara Donaldson sangat datar. ”Se-
lanjutnya, Anda menemui Miss heresa Arundell dan
mengatakan ada kemungkinan surat wasiat bibinya
bisa diperkarakan.”
Poirot cuma mengangguk, mengiyakan.
”Itu sangat mengherankan dan menggelikan.” Suara
Donaldson tajam. ”Anda tahu benar bahwa surat wa-
siat itu sah menurut hukum dan itu tidak mungkin
diubah atau dibatalkan.”
342

pustaka-indo.blogspot.com
”Oh, begitukah pikiran Anda?”
”Saya bukan orang bodoh, M. Poirot...”
”Sama sekali bukan, Dr. Donaldson!”
”Saya tahu sesuatu—tidak banyak, tetapi cukup-
lah—mengenai hukum. Surat wasiat itu tidak mung-
kin dibatalkan. Mengapa Anda berpura-pura dan me-
ngatakan ada kemungkinannya? Jelas itu cuma untuk
kepentingan Anda sendiri, dan sayang sekali, maksud
itu tidak segera ditangkap Miss heresa Arundell.”
”Kedengarannya Anda begitu pasti akan reaksi-
nya.”
Seulas senyum tipis menghiasi wajah pemuda itu.
Tanpa diduga-duga, ia berkata, ”Saya tahu lebih ba-
nyak mengenai heresa daripada yang diketahuinya.
Saya yakin dia dan Charles mengira Anda akan mem-
bantu mereka. Charles orangnya nyaris tidak punya
moral sama sekali. heresa punya sifat-sifat menurun
yang kurang menguntungkan, ditambah pula dengan
didikan yang kurang bagus.”
”Jadi, itulah sebabnya Anda membicarakan tu-
nangan Anda, seolah-olah dia marmut?”
Donaldson menatap Poirot dengan tajam dari balik
kacamata tempelnya.
”Saya tidak pernah menyangkal apa yang benar.
Saya mencintai heresa Arundell, dan saya mencintai-
nya sebagaimana adanya—bukan untuk sifat-sifat baik
yang hanya khayalan.”
”Sadarkah Anda bahwa Miss heresa Arundell
begitu sayang kepada Anda, dan bahwa keinginannya
mendapatkan uang itu semata-mata supaya cita-cita
Anda bisa tercapai?”
343

pustaka-indo.blogspot.com
”Tentu saja saya sadar akan hal itu. Sudah saya
katakan kepada Anda, saya bukan orang bodoh. Tapi
saya tak mau heresa menceburkan dirinya pada si-
tuasi yang sulit cuma buat saya. Dalam banyak hal,
dia masih kekanak-kanakan. Saya mampu memajukan
karier saya dengan usaha saya sendiri. Saya tidak me-
ngatakan tidak ingin dibantu dalam hal inansial.
Bantuan semacam itu akan sangat menolong. Tapi,
itu cuma menolong memperpendek jalan saya. Cuma
itu.”
”Jadi, Anda punya keyakinan bahwa Anda bisa ber-
hasil dengan usaha sendiri, bukan?”
”Mungkin kedengarannya sombong, tapi ya—saya
yakin saya bisa,” ujar Donaldson.
”Mari kita lanjutkan. Saya akui bahwa saya mem-
peroleh kepercayaan dari Miss heresa dengan meng-
gunakan semacam taktik. Saya yakinkan dia bahwa
saya mau menolongnya, asal saya dibayar—tentu saja
ini tidak benar, Dokter—tapi, ternyata Miss heresa
segera percaya.”
”Ya, karena heresa yakin semua orang mau ber-
buat apa pun, demi uang,” ujar dokter muda itu de-
ngan apa adanya.
”Benar. Sikapnya memang begitu, demikian juga
kakaknya.”
”Charles mungkin mau melakukan apa pun demi
uang!”
”Jadi Anda sudah tahu bagaimana calon kakak ipar
Anda itu?”
”Ya. Bagi saya dia merupakan studi yang menarik.
Pada dirinya, kelihatannya, ada semacam gejala neuro-
344

pustaka-indo.blogspot.com
sis yang terpendam—ah, itu membuat pembicaraan
kita menyimpang. Kembali ke yang kita bicarakan
semula, M. Poirot—saya cuma bisa menemukan satu
jawaban sehubungan dengan pertanyaan saya tadi:
Apa sebabnya Anda berbuat seperti itu? Jelas Anda
mencurigai heresa atau Charles yang bertanggung
jawab atas kematian Miss Arundell. Jangan, jangan
menyangkal kata-kata saya! Anda menyebutkan me-
ngenai kemungkinan dilakukannya penggalian kubur
Miss Arundell—dan itu, saya pikir, cuma untuk me-
mancing reaksinya. Ngomong-ngomong, sudahkah
Anda mengambil langkah ke arah sana—maksud saya,
menghubungi yang berwenang supaya mereka meme-
rintahkan penggalian kembali kubur itu?”
”Saya akan berterus terang kepada Anda. Sampai
sekarang saya belum melangkah sejauh itu.”
Donaldson mengangguk.
”Jadi, saya pikir, Anda mulai mempertimbangkan
ada kemungkinan Miss Arundell meninggal secara
wajar?”
”Bahwa saya telah mempertimbangkan kematian
itu tampak sebagai kematian wajar—ya.”
”Keputusan Anda sudah pasti?”
”Sangat pasti. Seandainya Anda menghadapi ka-
sus—katakan, TBC yang menunjukkan gejala-gejala
tubercolusis, dan ketika Anda periksa darahnya me-
nunjukkan positif TBC—eh bien, Anda pasti mengang-
gapnya sebagai TBC, kan?”
”Begitu cara Anda melihat perkaranya? Kalau begi-
tu, apa sebenarnya yang Anda tunggu?”
”Saya menunggu bukti inal.”
345

pustaka-indo.blogspot.com
Telepon berdering. Menuruti isyarat Poirot, aku
beranjak mengangkat telepon. Suara yang kudengar
sangat kukenali.
”Kapten Hastings? Ini dari Mrs. Tanios. Maukah
Anda menyampaikan kepada M. Poirot, bahwa dia
benar? Kalau M. Poirot mau datang ke sini jam se-
puluh besok pagi, saya bisa memberikan apa yang
diinginkannya.”
”Jam sepuluh, besok?”
”Ya.”
”Baiklah. Akan saya sampaikan pesan Anda.”
Poirot bertanya dengan matanya. Dan aku meng-
angguk.
Ia kembali berpaling kepada Donaldson. Sikapnya
berubah—gesit dan yakin.
”Mari saya jelaskan,” ujarnya. ”Saya sudah men-
diagnosis kasus yang saya hadapi ini sebagai kasus
pembunuhan—dan memang, ini pembunuhan! Tak
perlu diragukan lagi.”
”Kalau begitu, di mana letak keragu-raguan Anda?
Sebab, saya merasa Anda masih ragu-ragu mengenai
sesuatu.”
”Mengenai identitas pembunuhnya. Tapi sekarang,
itu pun sudah tidak saya ragukan lagi.”
”Sungguh? Anda tahu pembunuhnya?”
”Bukti pastinya akan saya dapatkan besok.”
Alis Dr. Donaldson terangkat, sangat ironis.
”Ah,” ujarnya. ”Besok! Kadang-kadang besok itu
tak ada habisnya, M. Poirot.”
”Sebaliknya,” sahut Poirot, ”bagi saya.”
Donaldson tersenyum. Ia bangkit.
346

pustaka-indo.blogspot.com
”Saya telah menyita terlalu banyak waktu Anda
yang berharga, M. Poirot.”
”Sama sekali tidak. Saya senang mendapat kesem-
patan bertukar pikiran dengan orang lain.”
Dengan mengangguk, Dr. Donaldsan meninggalkan
kami.

347

pustaka-indo.blogspot.com
28
Korban Kedua

”DIA orang pintar,” kata Poirot sungguh-sungguh.


”Agak sulit mengetahui maksudnya.”
”Ya. Orangnya agak kurang manusiawi. Tapi sangat
cerdik.”
”Telepon tadi dari Mrs. Tanios.”
”Sudah kuduga.”
Kusampaikan pesannya. Poirot mengangguk.
”Bagus. Semuanya berjalan lancar. Dua puluh em-
pat jam lagi, Hastings, kita akan tahu.”
”Aku masih bingung. Siapa sebenarnya yang kita
curigai?”
”Mana aku tahu siapa yang kaucurigai, Hastings!”
”Kadang-kadang aku merasa kau mempermainkan-
ku.”
”Tidak, tidak. Tak akan kusenangkan diriku dengan
cara begitu, Kawan.”

348

pustaka-indo.blogspot.com
”Aku tidak yakin.”
Poirot menggeleng, tapi pikirannya seolah jauh me-
nerawang. Kuamati dia.
”Ada sesuatu, Poirot?” tanyaku.
”Aku selalu merasa ngeri setiap kali sampai pada
akhir suatu kasus. Seandainya terjadi sesuatu...”
”Memangnya ada kemungkinan terjadi sesuatu?”
”Kupikir tidak.” Ia berhenti, dahinya berkerut.
”Rasanya aku sudah memperhitungkan segala kemung-
kinan.”
”Kalau begitu, bagaimana kalau kita lupakan seje-
nak urusan ini dan kita nonton?”
”Ma foi, Hastings, idemu bagus sekali!”
Malam itu kami lewatkan dengan cukup santai dan
menyenangkan. Walaupun begitu, ada satu kesalahan
kecil yang kulakukan—aku mengajak Poirot nonton
ilm pembunuhan yang melibatkan seorang detektif.
Itu sebabnya aku ingin menyampaikan sedikit pesan
kepada para pembaca: Jangan pernah mengajak ten-
tara menonton ilm militer, mengajak pelaut menon-
ton ilm mengenai angkatan laut, atau mengajak de-
tektif menonton ilm detektif. Kau akan lelah
mendengar kritikan yang mereka lontarkan sepanjang
pertunjukan! Memang kritik yang dihujankannya itu
kadang-kadang mengena sekali. Poirot menyayangkan
detektif pelakunya kurang menguasai aspek kejiwaan
dan cara kerjanya tidak sistematis. Waktu kami ber-
pisah malam itu, Poirot masih saja menyinggung-
nyinggung kekurangan dalam babak permulaan lakon
yang baru kami nikmati.
349

pustaka-indo.blogspot.com
”Kalau semuanya menuruti jalan pikiranmu, Poirot,
cerita ilm tadi tidak akan sepanjang itu,” ujarku.
Poirot terpaksa mengakui kemungkinan itu.
Jam menunjukkan pukul sembilan lewat beberapa
menit ketika aku masuk ke ruang duduk lat Poirot
keesokan harinya. Poirot sedang sarapan—seperti
biasa, sambil membuka amplop surat yang diantarkan
petugas pos pagi.
Telepon berdering, dan aku buru-buru mengangkat-
nya.
Terdengar suara orang perempuan terengah-engah.
”Apakah di situ dengan M. Poirot? Oh, Anda Kap-
ten Hastings.”
Suaranya tersendat.
”Apakah Anda Miss Lawson?” tanyaku.
”Ya, ya, sesuatu yang tidak diharapkan terjadi!”
Kugenggam gagang telepon erat-erat.
”Apa?”
”Dia pergi meninggalkan Hotel Wellington—Bella,
maksud saya. Saya ke sana kemarin siang. Katanya
dia sudah pergi. Dan, oh... tanpa meninggalkan pesan
apa pun buat saya! Aneh! Mungkin yang dikatakan
Dr. Tanios memang benar. Laki-laki itu menceritakan
Bella dengan begitu manis dan kelihatannya begitu
sedih. Sekarang saya baru tahu, mungkin yang dikata-
kan suaminya itu memang betul.”
”Apa yang sebenarnya terjadi, Miss Lawson? Apa-
kah cuma itu—maksud saya, Mrs. Tanios cuma pergi
meninggalkan Hotel Wellington tanpa memberitahu-
kan apa-apa kepada Anda?”
”Oh, bukan. Bukan cuma itu! Kalau cuma itu ti-
350

pustaka-indo.blogspot.com
dak apa-apa. Dr. Tanios mengatakan dia kuatir istri-
nya agak... agak... oh, bukan cuma agak... katanya dia
menderita kelainan kejiwaan... per... oh, persecution
mania atau apa, katanya.”
”Ya.” (Sialan, umpatku.) ”Tapi, apa yang terjadi?”
”Oh... sangat menyedihkan! Dia mati dalam tidur-
nya. Minum obat tidur dengan dosis berlebihan! Dan
anak-anak yang malang itu... Oh! Semuanya ini me-
nyedihkan! Rasanya saya tidak bisa berbuat apa-apa
selain menangis sejak menerima berita itu.”
”Siapa yang mengabari Anda? Coba ceritakan, Miss
Lawson!”
Dari sudut mataku, kulihat Poirot tiba-tiba ber-
henti membuka surat-suratnya. Dia mendengarkan
kata-kata yang kuucapkan. Aku tak ingin memberikan
tempatku kepadanya. Kalau kuberikan telepon kepada-
nya, aku yakin Miss Lawson akan mulai meraung-
raung tidak keruan lagi.
”Orang menelepon saya dari hotel sana. Hotel
Coniston, kalau tak salah. Kelihatannya mereka me-
nemukan nama dan alamat saya di tasnya. Oh, M.
Poirot... oh, Kapten Hastings... bukankah ini sangat
menyedihkan? Anak-anak itu tidak beribu lagi.”
”Tunggu,” ujarku. ”Yakinkah Anda itu dilakukannya
tanpa sengaja? Atau dia sengaja bunuh diri?”
”Oh, Kapten Hastings, kedengarannya kok jadi
begitu mengerikan! Oh, saya tidak tahu. Betul-betul
saya tidak tahu. Mungkinkah dia sengaja bunuh diri?
Oh, mengerikan sekali! Tapi dia memang kelihatan
sangat tertekan. Sebetulnya tak perlu dia begitu. Mak-
sud saya, dia tidak akan kesulitan uang. Saya sudah
351

pustaka-indo.blogspot.com
merencanakan hendak berbagi-bagi dengannya. Sung-
guh, itu rencana saya. Saya tahu Miss Arundell ingin
begitu. Saya yakin itu keinginannya. Tapi, oh—bukan
main—dia menghabisi hidupnya sendiri, tapi mung-
kin juga tidak... Orang yang menelepon dari hotel
tadi kedengarannya mengatakan tidak sengaja.”
”Obat tidur apa yang diminumnya?”
”Salah satu obat tidur biasa. Veronal, mungkin.
Oh, bukan. Chloral. Ya, itu katanya tadi. Chloral.
Oh, Kapten Hastings... apakah...”
Seperti orang tak tahu aturan, kubanting gagang
telepon. Aku cepat berpaling kepada Poirot.
”Mrs. Tanios...”
Poirot mengacungkan tangannya.
”Ya, ya, aku tahu apa yang hendak kaukatakan,
Kawan. Dia mati. Betul, kan?”
”Ya. Kebanyakan minum obat tidur. Chloral!”
Poirot bangkit.
”Ayo, Hastings, kita mesti segera ke sana.”
”Itukah yang kaukuatirkan tadi malam? Maksudku,
waktu kau bilang kau selalu ngeri menjelang akhir
suatu kasus?”
”Aku takut terjadi kematian lagi—ya.”
Wajah Poirot geram dan kaku. Hampir tak ada
yang kami percakapkan dalam perjalanan menuju
Euston. Sesekali kulihat Poirot menggeleng-geleng.
Dengan takut-takut aku bertanya, ”Kaupikir...
mungkinkah itu kebetulan saja, Poirot?”
”Tidak, Hastings, itu bukan kebetulan atau kecela-
kaan.”
352

pustaka-indo.blogspot.com
”Bagaimana mungkin Tanios tahu tempat istrinya
tinggal?”
Poirot cuma menggeleng tanpa memberi komen-
tar.
Hotel Coniston ternyata hotel yang kurang me-
narik di dekat stasiun Euston. Poirot, dengan kartu
pengenalnya dan dengan gayanya yang sok penting,
dengan cepat bisa menerobos ke kantor direkturnya.
Faktanya sangat sederhana.
Mrs. Peters, begitu katanya, dan dua anaknya tiba
lebih-kurang pukul 12.30. Mereka bersantap siang
pada pukul 13.00.
Pada pukul 16.00, datang seorang lelaki membawa
surat untuk Mrs. Peters. Surat itu diantarkan ke ka-
marnya. Tak lama kemudian Mrs. Peters turun ber-
sama kedua anaknya dengan membawa koper. Anak-
anaknya kemudian pergi dengan tamu pria tadi. Mrs.
Peters lalu pergi ke kantor tata usaha. Dia mengata-
kan perlu satu kamar saja.
Tampaknya Mrs. Peters biasa-biasa saja—tidak ge-
lisah atau kebingungan sama sekali; orang malah me-
lihatnya sebagai wanita yang berpembawaan tenang
dan berwibawa. Mrs. Peters turun makan malam pada
pukul 19.30 dan langsung kembali masuk kamar-
nya.
Pada waktu pelayan masuk ke kamarnya pagi-pagi
esok harinya, ditemuinya Mrs. Peters sudah mening-
gal.
Dokter dipanggil dan menyatakan bahwa Mrs.
Peters sudah beberapa jam lamanya meninggal. Se-
buah gelas kosong ditemukan di atas meja di samping
353

pustaka-indo.blogspot.com
tempat tidurnya. Jelas sekali, ia minum obat tidur—
tanpa sengaja, melebihi dosis. Hidrat Chloral, begitu
kata dokter yang memeriksanya, mungkin jenis obat
yang diminumnya. Tidak ada tanda-tanda bahwa Mrs.
Peters melakukan bunuh diri. Tidak ada surat yang
ditinggalkan. Waktu orang berusaha mencari identitas
Mrs. Peters untuk memberi kabar kepada keluarganya,
ditemukan nama dan alamat Miss Lawson pada se-
carik kertas dalam tas perempuan itu. Maka Miss
Lawson pun segera diberi kabar melalui telepon.
Poirot menanyakan kalau-kalau ada surat atau ker-
tas-kertas penting tertentu diketemukan. Sebagai con-
toh, surat yang dibawa tamu pria yang datang men-
jemput anak-anaknya.
Tidak secarik kertas pun ditemukan, begitu kata
pemilik hotel, tapi kelihatannya ada bekas kertas di-
bakar di perapian.
Poirot mengangguk-angguk.
Sejauh yang diketahui orang, Mrs. Peters tidak me-
nerima tamu, dan tak ada seorang pun yang berkun-
jung ke kamarnya, kecuali orang yang menjemput
anak-anaknya.
Kutanyai portir mengenai ciri-ciri laki-laki yang
menjemput kedua anak Mrs. Peters, tapi kelihatannya
dia kurang ingat. Orangnya tidak terlalu tinggi, kalau
tidak salah rambutnya agak pirang, tubuhnya kekar.
Tapi dia yakin laki-laki itu tidak berjanggut.
”Bukan Tanios,” bisikku kepada Poirot.
”Oh, Hasting—kaupikir setelah susah payah meng-
hindari suaminya seperti itu, Mrs. Tanios segampang
354

pustaka-indo.blogspot.com
itu akan menyerahkan anak-anaknya kepada suami-
nya?”
”Lalu, siapa orangnya?”
”Jelas dia orang yang dipercaya Mrs. Tanios, atau
orang suruhan orang yang dipercaya Mrs. Tanios.”
”Orangnya tidak terlalu tinggi,” ujarku pula.
”Kau tidak perlu merisaukan bagaimana rupa laki-
laki itu, Hastings. Aku yakin laki-laki itu tidak pen-
ting dalam urusan kita. Paling-paling dia cuma orang
suruhan.”
”Dan yang menyuruhnya? Orang yang menulis su-
rat itu?”
”Ya.”
”Dan orang itu orang kepercayaan Mrs. Tanios?”
”Kelihatannya.”
”Surat itu dibakar Mrs. Tanios.”
”Atas permintaan pengirimnya.”
”Apa yang terjadi dengan ringkasan peristiwa yang
kautuliskan buatnya?”
Wajah Poirot kelihatan sangat geram.
”Dibakar juga! Tapi biar saja, itu tidak penting.”
”Tidak penting?”
”Tidak, semuanya sudah ada dalam otak Hercule
Poirot.”
Poirot meraih lenganku.
”Ayo kita pergi, Hastings. Kita bukan berurusan
dengan yang sudah mati, tapi dengan yang masih hi-
dup. Dengan merekalah aku mesti berurusan.”

355

pustaka-indo.blogspot.com
29
Pemeriksaan Lebih Lanjut
di Puri Hijau

PUKUL sebelas pagi keesokan harinya.


Tujuh orang berkumpul di Puri Hijau. Hercule
Poirot berdiri dekat perapian. Charles dan heresa
duduk di sofa, Charles pada lengan sofa itu sementara
sebelah tangannya merangkul bahu heresa. Dr.
Tanios duduk di kursi goyang. Matanya masih tam-
pak merah dan sembap. Pada pergelangan tangannya
melingkar ban hitam.
Pada sebuah kursi tegak yang terletak dekat meja
bulat, duduk pemilik rumah, Miss Lawson. Mata pe-
rempuan itu pun tampak merah. Rambutnya lebih
kusut dan acak-acakan daripada biasanya. Dr. Donald-
son duduk tepat menghadap kepada Poirot. Wajahnya
tidak menunjukkan perasaan tertentu.
Semangatku tumbuh sementara kupandang wajah
mereka berganti-ganti.

356

pustaka-indo.blogspot.com
Sejak kukenal Poirot, telah beberapa kali aku mene-
maninya dalam acara semacam itu—dikelilingi oleh
sekelompok orang yang masing-masing tampak tenang
dan berwibawa dari luar. Telah kusaksikan pula bagai-
mana Poirot biasanya membuka kedok mereka satu
per satu—menunjukkan apa yang terdapat di balik
kedok itu, wajah pembunuh!
Ya, aku tak ragu lagi. Seorang dari ketujuh orang
yang kami hadapi itu pasti pembunuh. Tapi yang
mana? Sampai sekarang aku masih bingung.
Poirot berdeham—dengan congkak, seperti biasa-
nya. Lalu ia pun mulai berbicara, ”Kita semuanya
berkumpul di sini, Ibu-ibu dan Bapak-bapak sekalian,
untuk mempertanggungjawabkan kematian Miss
Emily Arundell pada tanggal 1 Mei yang lalu. Ada
empat kemungkinan: beliau meninggal secara wajar,
beliau meninggal akibat kecelakaan, beliau meninggal
karena bunuh diri, atau bisa juga beliau meninggal
akibat perbuatan orang, seseorang yang mungkin di-
kenal atau tidak dikenal.
”Pada waktu beliau meninggal, tidak dilakukan
suatu pemeriksaan pun, karena semua orang mengang-
gap beliau meninggal secara wajar. Hal ini ditunjang
pula oleh surat pernyataan Dr. Grainger mengenai
penyebab kematian beliau.
”Dalam hal terjadi keragu-raguan mengenai sebab-
musabab kematian seseorang setelah orang yang ber-
sangkutan dimakamkan, biasanya dilakukan penggalian
makamnya dan pemeriksaan terhadap jenazahnya.
Meskipun begitu, ada beberapa alasan yang mencegah
saya meminta hal tersebut dilaksanakan atas diri Miss
357

pustaka-indo.blogspot.com
Emily Arundell. Alasan yang paling penting ialah,
karena saya tahu klien saya tidak akan menyukai cara
itu.”
Dr. Donaldson menyela, ”Klien Anda?”
Poirot berpaling kepadanya. ”Klien saya adalah
Miss Emily Arundell. Saya bertindak atas permintaan-
nya. Beliau menegaskan, bahwa beliau tidak meng-
hendaki adanya skandal.”
Kulompati saja apa yang dibicarakan Poirot selama
sepuluh menit pertama, karena itu merupakan
ulangan dari yang sudah kita ketahui. Poirot bercerita
mengenai surat yang diterimanya, menunjukkan surat
itu, dan membacakan isinya keras-keras. Ia mencerita-
kan pula langkah-langkah yang diambilnya pada wak-
tu datang ke Market Basing serta menjelaskan setiap
penemuannya yang berhubungan dengan kecelakaan
Miss Arundell.
Kemudian ia berhenti, berdeham sekali lagi, dan
melanjutkan ceritanya, ”Sekarang saya akan mengajak
Anda sekalian menelusuri kembali jalan yang telah
saya tempuh dalam mencari kebenarannya. Saya akan
menunjukkan rekonstruksi setiap fakta dalam kasus
ini, yang sangat saya yakini kebenarannya.
”Pertama-tama, perlu kiranya kita bayangkan se-
jelas-jelasnya apa yang terlintas dalam pikiran Miss
Arundell. Menurut saya, itu cukup mudah. Dia jatuh,
penyebabnya diduga bola mainan Bob, tapi dia sendiri
tahu bukan itu penyebabnya. Sementara berbaring di
tempat tidur setelah mengalami kecelakaan itu, otak
Miss Arundell yang giat dan cerdik itu tidak henti-
hentinya berpikir—memikirkan apa yang baru dialami-
358

pustaka-indo.blogspot.com
nya itu. Beliau akhirnya sampai pada kesimpulan: ada
orang yang sengaja mencelakainya, atau bahkan ingin
membunuhnya.
”Berdasarkan kesimpulan itu, Miss Arundell mulai
berpikir: siapa orangnya. Ada tujuh orang yang tinggal
di rumahnya pada waktu kecelakaan itu terjadi: empat
tamu, satu pelayan pribadinya, dan dua pembantu
rumah tangga. Dari ketujuh orang ini, cuma satu
yang secara logis dapat dibebaskan dari tuduhan. Ka-
rena orang yang satu ini tidak akan memperoleh ke-
untungan apa-apa dari kematiannya. Beliau juga tidak
bisa sungguh-sungguh mencurigai kedua pembantu
rumah tangganya, karena mereka sudah bertahun-ta-
hun mengabdi dengan setia. Karena itu, tinggal empat
orang yang bisa dicurigai—tiga orang keluarganya
sendiri, dan yang seorang lagi berhubungan keluarga
akibat perkawinan. Masing-masing dari keempat orang
itu akan mendapat keuntungan, atau tepatnya warisan,
bila Miss Arundell meninggal—tiga orang mendapatkan-
nya secara langsung, dan seorang secara tidak langsung.
”Miss Arundell merasa dirinya ada pada posisi yang
sulit. Di satu pihak beliau dikenal sebagai wanita
yang sangat kuat rasa kekeluargaannya dan tidak mau
jika keburukan keluarganya diketahui orang lain. Di
lain pihak, beliau tidak mau tinggal diam dan me-
nyerah begitu saja atas usaha pembunuhan yang telah
dilakukan terhadap dirinya!
”Akhirnya Miss Arundell memutuskan. Dia me-
nulis surat kepada saya. Bukan itu saja. Dia juga
mengambil langkah lebih jauh lagi. Langkah ini di-
ambilnya karena terdorong dua motif. Pertama, ke-
359

pustaka-indo.blogspot.com
curigaannya menimbulkan rasa benci terhadap ke-
luarganya, dan dia ingin menghukum mereka. Kedua,
dia ingin rnelindungi diri sendiri. Seperti kita sekalian
ketahui, dia menulis surat kepada pengacaranya, Mr.
Purvis—memintanya menulis surat wasiat baru yang
isinya pada dasarnya menjatuhkan seluruh kekayaan-
nya kepada satu-satunya orang yang menurut pikiran
Miss Arundell sama sekali tidak punya andil dalam
usaha pembunuhan itu.
”Melihat isi surat yang ditulisnya kepada saya, dan
juga melihat tindakan-tindakannya, saya yakin Miss
Arundell tidak lagi mencurigai keempat orang yang
semula dicurigainya, melainkan seorang saja di antara
mereka. Nada suratnya sangat menekankan bahwa
masalah ini harus sangat dirahasiakan karena menyang-
kut kehormatan keluarga.
”Saya pikir, Miss Arundell yang masih berpikiran
seperti orang-orang zaman Victoria itu mencurigai
seseorang yang menyandang nama keluarga Arundell,
dan besar kemungkinan yang dicurigainya itu pria.
”Seandainya Mrs. Tanios yang dicurigainya, saya
yakin dia juga akan menekankan agar masalahnya di-
rahasiakan. Walaupun begitu, permintaannya itu tidak
akan seserius permintaannya untuk melindungi nama
baik orang yang betul-betul dicurigainya. Bagaimana-
pun, Mrs. Tanios tidak menyandang nama keluarga.
Begitu pula dengan heresa.
”Charles merupakan seorang Arundell. Ia merupa-
kan penerus keluarga Arundell! Alasan beliau men-
curigai Charles sangat jelas. Pertama, karena beliau
sangat mengenal dan mengakui kekurangan-ke-
360

pustaka-indo.blogspot.com
kurangan pada diri Charles. Pernah Charles hampir
menodai nama keluarga. Itu sebabnya Miss Arundell
bukan saja berpendapat bahwa Charles patut di-
curigai, tapi juga menganggapnya mampu berbuat
kejahatan. Charles pernah memalsukan tanda tangan-
nya pada sebuah cek—dan baginya, kalau Charles
bisa melakukan kejahatan macam itu, tidak mustahil
ia pun bisa melakukan kejahatan yang sedikit lebih
serius, misalnya membunuh.
”Sebagai tambahan, pernah terjadi percakapan
antara Miss Arundell dan Charles yang bisa mem-
perkuat keyakinannya. Dalam percakapan yang terjadi
dua hari sebelum kecelakaan itu, Charles meminta
uang kepada bibinya dan ditolak. Charles kemudian
berkomentar, dengan cukup halus, yang pada dasarnya
menyatakan bahwa sikap bibinya begitu menantang
orang untuk membunuhnya. Miss Arundell menang-
gapi dengan mengatakan bahwa dia cukup bisa men-
jaga diri! Menurut informasi yang saya dapat, Charles
menimpali tanggapan bibinya itu dengan mengatakan,
’Jangan terlalu yakin.’ Dan, dua hari kemudian, ter-
jadilah kecelakaan yang mengerikan itu.
”Tidak perlu kiranya dipertanyakan lagi bagaimana
jalan pikiran Miss Arundell sementara ia berbaring
bingung dan gelisah memikirkan siapa yang berusaha
menghabisi nyawanya itu. Miss Arundell menyimpul-
kan bahwa Charles-lah yang merencanakan semuanya
itu.
”Urut-urutan kejadiannya cukup jelas. Percakapan-
nya dengan Charles. Kecelakaannya. Surat yang ditulis-
nya kepada saya dalam keadaan resah. Suratnya ke-
361

pustaka-indo.blogspot.com
pada Mr. Purvis. Pada hari Selasa minggu berikutnya,
tepatnya pada tanggal 21 April, Mr. Purvis datang
membawa surat wasiat baru yang siap untuk ditanda-
tangani oleh Miss Arundell.
”Charles dan heresa datang menjenguknya pada
akhir pekan berikutnya, dan Miss Arundell pun segera
mengambil langkah-langkah yang dirasanya perlu un-
tuk melindungi dirinya. Miss Arundell mengatakan ke-
pada Charles bahwa dia telah membuat surat wasiat
baru. Bukan cuma mengatakan, dia malah menunjukkan
surat wasiatnya yang baru kepada Charles! Menurut
saya, maksudnya sangat jelas. Miss Arundell ingin me-
nyatakan kepada si calon pembunuhnya bahwa dengan
membunuhnya ia tidak akan memperoleh apa pun!
”Mungkin Miss Arundell mengira Charles otomatis
akan menceritakan hal itu kepada adiknya. Tetapi,
ternyata tidak. Mengapa? Saya pikir, Charles punya
alasan yang cukup bisa diterima—dia merasa bersalah!
Charles merasa bahwa akibat perbuatannyalah maka
bibinya mengubah surat wasiat itu. Tapi, mengapa dia
merasa bersalah? Apakah karena dia memang yang
telah mencoba membunuh bibinya? Atau cuma karena
dia merasa bersalah telah mencuri sedikit uang? Yang
jelas, salah satu dari kedua alasan tadi membuatnya
merasa tidak enak. Dia tidak memberi komentar apa-
apa kepada bibinya, dan cuma berharap, pada suatu
hari nanti bibinya akan mengubah pikirannya dan
mengganti lagi surat wasiatnya.
”Mengenai jalan pikiran Miss Arundell, saya rasa
saya telah merekonstruksikannya dengan cukup jelas
dan benar. Itulah sebabnya, langkah selanjutnya yang
362

pustaka-indo.blogspot.com
harus saya ambil adalah menyelidiki apakah ke-
curigaan Miss Arundell itu pada kenyataannya me-
mang beralasan.
”Seperti dia, saya pun sadar bahwa kecurigaan saya
cuma terbatas kepada tujuh orang. Charles dan
heresa Arundell, Dr. dan Mrs. Tanios, serta kedua
pembantu rumah tangga dan Miss Lawson. Ada orang
kedelapan yang juga saya pertimbangkan—namanya
Dr. Donaldson.
”Dr. Donaldson datang bersantap malam di Puri
Hijau pada malam terjadinya kecelakaan itu. Tapi, ini
baru saya ketahui belakangan.
”Ketujuh orang yang saya curigai ini dengan mu-
dah dapat dibagi menjadi dua kategori. Enam di
antaranya—sedikit atau banyak—akan mendapat ke-
untungan dari kematian Miss Arundell. Bila salah se-
orang di antara mereka yang melakukan kejahatan,
dapat dipastikan motifnya adalah warisan. Dalam
kategori yang kedua cuma ada satu orang, yaitu Miss
Lawson. Miss Lawson sama sekali tidak akan mem-
peroleh keuntungan bila Miss Arundell meninggal
pada kecelakaan itu, tetapi akibat kecelakaan itu, ia
mendapat keuntungan yang sangat banyak di kemu-
dian hari.
”Artinya, kalau Miss Lawson yang merencanakan
kecelakaan itu...”
”Saya tidak pernah berbuat seperti itu!” sela Miss
Lawson. ”Sangat memalukan! Berdiri di depan situ
dan mengatakan begitu!”
”Bersabarlah sedikit, Mademoiselle. Dan saya mo-
hon, jangan menyela-nyela lagi,” kata Poirot.
363

pustaka-indo.blogspot.com
Miss Lawson mengempaskan kepalanya pada san-
daran kursi dengan marah.
”Saya tetap akan memprotes! Memalukan! Ya—it-
nah itu sangat memalukan!”
Tanpa memedulikan protesnya, Poirot melanjutkan
pidatonya, ”Yang sedang saya ucapkan tadi ialah, bah-
wa bila Miss Lawson yang merencanakan kecelakaan
itu, perbuatannya itu didasari oleh alasan yang lain—
yaitu, ia berusaha menciptakan situasi sedemikian
rupa supaya Miss Arundell mencurigai keluarganya
dan memusuhi mereka. Itu merupakan kemungkinan!
Saya menyelidiki kebenaran atau kemustahilan ke-
mungkinan itu, dan saya berhasil mendapatkan fakta
yang pasti. Kalau Miss Lawson memang mempunyai
keinginan supaya Miss Arundell mencurigai keluarga-
nya, dia akan menekankan fakta bahwa Bob malam
itu tidak ada di rumah. Tetapi sebaliknya, Miss
Lawson berusaha keras supaya Miss Arundell tidak
mengetahui fakta ini. Berdasarkan hal itu, saya meng-
ambil kesimpulan bahwa Miss Lawson tidak ber-
salah.”
Miss Lawson berkata tajam, ”Nah, begitu!”
”Selanjutnya yang saya pikirkan adalah masalah ke-
matian Miss Arundell. Bila orang mencoba mem-
bunuh seseorang dan gagal, biasanya ia akan mencoba
lagi. Dan menurut saya, jangka waktu dua minggu
itu cukup masuk akal. Karena itu saya memulai penye-
lidikan saya.
”Dr. Grainger rupanya tidak melihat adanya ke-
anehan dalam kematian pasiennya. Pendapatnya ini
tentu saja berlawanan dengan teori saya. Tetapi, se-
364

pustaka-indo.blogspot.com
telah bertanya kepada beberapa orang mengenai peris-
tiwa-peristiwa yang terjadi pada malam terakhir se-
belum Miss Arundell sakit, saya menemukan fakta
yang cukup berarti. Miss Julia Tripp menyebutkan
bahwa ia melihat ada semacam lingkaran kabut ber-
cahaya di sekeliling kepala Miss Arundell. Pernyataan
ini didukung saudaranya, Miss Isabel Tripp. Kedua
Miss Tripp itu tentu saja menghubungkan fenomena
tadi sesuai dengan keyakinan mereka, yaitu dengan
hal-hal yang sifatnya magis. Pada waktu saya me-
nanyai Miss Lawson, saya juga mendapat informasi
yang sangat menarik. Miss Lawson menyatakan bahwa
dia melihat ada semacam kepulan asap bercahaya
yang bentuknya seperti pita keluar dari mulut Miss
Arundell, kemudian membentuk lingkaran di sekeli-
ling kepalanya.
”Bagi saya menjadi jelas, bahwa walaupun diungkap-
kan secara sedikit berbeda, tapi kenyataannya memang
ada dan sama. Lepas dari pemikiran kaum spiritualis,
yang terjadi itu adalah sebagai berikut: Pada malam
yang dimaksud, napas Miss Arundell mengandung
fosfor!”
Dr. Donaldson bergerak.
Poirot mengangguk kepadanya.
”Nah, rupanya Anda mulai mengerti sekarang. Ba-
han yang mengandung zat fosfor dalam dosis yang
tinggi tidak banyak terdapat. Tapi, yang pertama-tama
saya temui dan kelihatannya cukup banyak dipakai
betul-betul merupakan bahan yang memang sedang
saya cari-cari. Akan saya bacakan kepada Anda seka-
lian cuplikan artikel mengenai keracunan zat ini.
365

pustaka-indo.blogspot.com
”Sebelum korban merasakan pengaruh racunnya,
mula-mula napasnya akan mengandung fosfor. Nah,
itulah yang disaksikan Miss Lawson serta kedua ka-
kak-beradik Tripp di ruang gelap tempat mereka du-
duk-duduk bersama Miss Arundell. Yang mereka lihat
itu tidak lain adalah napas Miss Arundell yang sudah
mengandung fosfor. Selanjutnya, artikel itu menyebut-
kan sebagai berikut: Gejala yang muncul kemudian
dapat disamakan dengan gejala-gejala umum yang biasa
ditemukan pada penderita penyakit kuning. Racun fosfor
merambat dan memengaruhi jaringan-jaringan darah
pada tubuh si korban. Pengaruhnya terhadap darah
sama dengan pengaruh yang ditimbulkan oleh kerusakan
pada hati penderita sakit kuning.
”Cerdik sekali, bukan? Kita semua tahu bahwa
Miss Arundell telah bertahun-tahun mengidap penya-
kit lever, dan bahwa telah beberapa kali penyakitnya
itu kambuh dengan gejala seperti yang baru saja saya
sebutkan. Gejala keracunan fosfor pada dirinya cuma
akan kelihatan seperti kambuhnya penyakit lama itu.
Tidak ada yang baru, dan tidak akan menimbulkan
kecurigaan apa pun.
”Perencanaannya memang sangat sempurna! Men-
cari fosfor bukan pekerjaan yang terlalu sulit. Di sam-
ping itu, sedikit saja sudah bisa mematikan. Dalam
obat-obatan, biasanya unsur fosfor tidak melebihi se-
perseribu sampai seperlimaratus gram.
”Voila. Pandai dan sangat mengagumkan. Dr.
Grainger jelas-jelas tertipu. Itu bisa dimaafkan, karena
saya kebetulan tahu, bahwa indra penciuman dokter
tua itu sudah rusak. Jadi, bau tajam yang dikeluarkan
366

pustaka-indo.blogspot.com
oleh napas pasiennya—ini merupakan salah satu gejala
jelas keracunan fosfor—tidak mungkin tercium oleh
dokter itu. Di samping itu, Dr. Grainger memang ti-
dak menaruh curiga sama sekali. Ini bisa dimengerti,
sebab memang dia tidak menemukan gejala yang men-
curigakan pada diri pasiennya. Satu-satunya gejala
yang terlihat tidak dilihatnya sendiri. Dan, seandainya
ia mendengar mengenai gejala ini pun, besar kemung-
kinan dia akan menganggapnya sebagai omong ko-
song penganut aliran spiritual.
”Berdasarkan kesaksian Miss Lawson dan kedua
kakak-beradik Tripp tadi, yakinlah saya, bahwa ke-
matian Miss Arundell bukan kematian wajar, melain-
kan hasil pembunuhan. Pertanyaannya ialah: Siapa pe-
lakunya? Saya tidak mencurigai pembantu rumah
tangga, karena saya tahu pemikiran mereka tidak akan
serumit itu. Begitu pula halnya dengan Miss Lawson.
Seandainya Miss Lawson yang meracuni Miss Arundell,
ia tidak akan menceritakan asap yang keluar dari mulut
Miss Arundell. Charles pun saya buang dari kemung-
kinan ini. Charles telah melihat surat wasiat yang baru
dibuat bibinya, dan ia tahu kematian bibinya tidak
akan memberinya keuntungan apa pun.
”Sisanya tinggal heresa, Dr. Tanios, Mrs. Tanios,
dan Dr. Donaldson. Dr. Donaldson saya masukkan
ke dalam pertimbangan saya, karena belakangan saya
tahu bahwa ia datang bersantap malam di Puri Hijau
pada malam terjadinya kecelakaan Miss Arundell.
”Sampai di sini, saya merasa tidak banyak lagi ke-
nyataan yang bisa membantu saya. Karena itu saya
mulai menyandarkan pemikiran saya pada psikologi
367

pustaka-indo.blogspot.com
kejahatannya dan kepribadian pembunuhnya! Secara
kasar, kedua kejahatan yang dilakukan terhadap diri
Miss Arundell itu mempunyai garis besar yang sama:
sederhana! Keduanya hasil pemikiran licik, dan dilak-
sanakan dengan sangat eisien. Untuk melaksanakan
ini diperlukan sejumlah pengetahuan tertentu, tetapi
tidak banyak. Hal-hal yang berhubungan dengan ke-
racunan fosfor mudah dipelajari. Di samping itu, zat
kimia itu sendiri tidak terlalu sulit didapat, lebih-le-
bih di luar negeri.
”Kecurigaan saya mula-mula tertuju kepada dua
pria yang mungkin melakukannya. Mereka sama-sama
merupakan dokter yang pandai. Tidak mustahil kalau
satu di antara mereka berpikir bahwa fosfor merupa-
kan racun yang paling tepat digunakan dalam kasus
ini. Tetapi, kemudian terpikir oleh saya, tidak mung-
kin percobaan pembunuhan yang pertama itu hasil
pemikiran pria. Menurut saya, kecelakaan yang diduga
disebabkan oleh bola Bob itu pasti hasil pemikiran
wanita.
”Kecurigaan saya berpindah, mula-mula kepada
heresa Arundell. heresa mempunyai sifat-sifat ter-
tentu yang potensial. Keras, kasar, kurang berperasaan.
Di samping itu, kehidupannya selama ini tamak dan
egois. Ia selalu mendapat apa yang, diingininya, dan
pada saat ini ia sudah mencapai titik di mana ia sa-
ngat membutuhkan uang—untuk dirinya sendiri, dan
juga untuk kepentingan kekasihnya. Selain itu, dari
sikapnya dapat diambil kesimpulan bahwa ia tahu
bibinya dibunuh.
”Antara dia dan kakaknya terjadi perselisihan kecil
368

pustaka-indo.blogspot.com
yang sangat menarik perhatian saya. Saya mendapat
kesan bahwa mereka saling mencurigai. Charles se-
tengah memaksanya untuk mengatakan bahwa ia tahu
mengenai surat wasiat baru yang dibuat bibinya.
Mengapa? Jelas kalau heresa mengetahui adanya su-
rat wasiat baru itu, ia tidak akan dicurigai sebagai
pembunuh. Sebaliknya, heresa tidak percaya akan
pernyataan kakaknya bahwa Miss Arundell menunjuk-
kan surat wasiat baru itu kepadanya. heresa meng-
anggap pernyataan kakaknya itu sebagai usaha yang
janggal untuk membebaskan dirinya sendiri dari ke-
curigaan.
”Ada satu hal lagi yang cukup penting. Charles me-
nunjukkan keengganan menggunakan kata ’arsenik’.
Belakangan baru saya tahu, ia pernah menanyakan ke-
kuatan obat pembasmi semak pada tukang kebun tua
di Puri Hijau. Apa yang dipikirkan Charles jelas ter-
lihat.”
Charles menggeser duduknya sedikit.
”Saya memang pernah memikirkan itu,” ujarnya.
”Tapi—yah, saya takut.”
Poirot mengangguk.
”Tepat, itu memang bukan ciri psikologi Anda. Ka-
lau Anda melakukan kejahatan, kejahatan itu pasti
sifatnya ringan. Mencuri, memalsu—ya, yang mudah-
mudah semacam itulah! Tapi membunuh—tidak! Un-
tuk membunuh, orang perlu pikiran yang bisa dibakar
oleh ide tertentu.”
Poirot kembali pada posisinya sebagai pemberi cera-
mah.
”Menurut pendapat saya, heresa Arundell punya
369

pustaka-indo.blogspot.com
cukup kekuatan untuk melaksanakan kejahatan se-
macam itu, tetapi ada beberapa hal yang patut diper-
timbangkan. heresa belum pernah dikekang—hidup-
nya selalu bebas dan egois. Tapi tipe orangnya bukan
tipe orang yang bisa membunuh—kecuali, mungkin
dalam keadaan sangat marah. Walaupun begitu, saya
yakin, heresa-lah yang mencuri obat pembasmi semak
dari kalengnya.”
Tiba-tiba heresa berkata, ”Aku akan menceritakan-
nya secara jujur. Itu memang terlintas dalam pikiran-
ku. Dan aku memang mengambil sedikit obat pem-
basmi semak itu dari kaleng di kebun Puri Hijau.
Tetapi aku tak sampai hati melakukannya! Aku begitu
senang hidup—bersyukur bahwa aku diberi hidup—
dan aku tidak tega melakukan hal itu kepada orang
lain—mengambil hidup orang lain... Aku memang
jelek dan egois, tapi ada hal-hal tertentu yang tidak
bisa kulakukan! Aku tidak tega membunuh orang
yang jelas-jelas masih hidup, masih bernapas!”
Poirot mengangguk. ”Yang Anda katakan memang
benar, Mademoiselle. Dan Anda sebetulnya tidak se-
jelek yang Anda gambarkan. Anda cuma muda—dan
sembrono.”
Kemudian lanjutnya, ”Satu-satunya yang tertinggal
adalah Mrs. Tanios. Begitu bertemu dengannya, saya
sadar bahwa ia ketakutan. Ia tahu saya menyadari hal
itu, dan dengan cepat menggunakan kesempatan itu.
Ia memberikan gambaran yang begitu meyakinkan
tentang dirinya sendiri sebagai wanita yang takut pada
suaminya. Tak lama kemudian ia mengubah taktiknya.
Ini dilakukannya dengan amat cermat, tapi toh peru-
370

pustaka-indo.blogspot.com
bahannya tak lepas dari pengamatan saya. Seorang
wanita bisa merasa takut untuk suaminya, dan bisa
juga takut pada suaminya, tapi yang jelas, tidak ke-
dua-duanya sekaligus. Mrs. Tanios memutuskan untuk
berperan sebagai yang kedua, dan ia memerankannya
dengan bagus sekali, bahkan sampai berlari mengejar
saya ke lobi hotel berpura-pura hendak mengatakan
sesuatu. Ketika suaminya keluar mencarinya, kemung-
kinan ini sudah diperhitungkannya, ia berpura-pura
tidak dapat berbicara di hadapan suaminya.
”Segera saya menjadi sadar bahwa ia bukan takut
pada suaminya, melainkan membenci suaminya. Dan
segera pula saya yakin bahwa inilah sifat yang saya
cari-cari. Ia bukan wanita yang selalu memanjakan
dirinya sendiri, melainkan wanita yang terkekang. Ga-
dis sederhana, tidak bisa menarik perhatian lelaki
yang diinginkannya, dan akhirnya menerima pria
yang tidak dicintainya cuma karena takut menjadi
perawan tua. Saya bisa menelusuri kembali ketidak-
puasan dalam hidupnya yang makin hari makin dirasa-
kannya. Kehidupan di Smyrna mengasingkannya dari
segala yang dicintainya dalam hidupnya. Kemudian
lahirlah anak-anaknya, dan ia pun melekatkan hidup-
nya pada mereka.
”Suaminya sangat setia kepadanya, tetapi ia diam-
diam jadi semakin membencinya. Suaminya pernah
menggunakan uangnya untuk berspekulasi, dan uang-
nya tidak pernah kembali—itu merupakan salah satu
penyebab perasaan dendamnya.
”Cuma ada satu hal yang menjadi titik terang da-
lam hidupnya yang merana itu: harapannya akan ke-
371

pustaka-indo.blogspot.com
matian Bibi Emily-nya. Dengan kematian bibinya, ia
akan memperoleh uang, kebebasan, biaya untuk pen-
didikan anak-anaknya—seperti yang selama ini men-
jadi cita-citanya. Ada satu hal yang patut diingat,
baginya pendidikan merupakan hal yang sangat pen-
ting: dia putri profesor.
”Ada kemungkinan dia sudah merencanakan ke-
jahatan yang akan dilakukannya, paling tidak sudah
punya bayangan—sebelum ia datang di Inggris. Dia
mempunyai pengetahuan yang cukup dalam bidang
kimia, karena dulunya ia banyak menghabiskan waktu
membantu ayahnya di laboratorium. Ia tahu penyakit
yang diderita Miss Arundell, dan sadar bahwa fosfor
merupakan zat paling ideal untuk merealisasikan ren-
cananya.
”Tapi, ketika sampai di Puri Hijau, cara yang lebih
sederhana terpikir olehnya. Bola Bob—seutas tali atau
benang direntangkan di tangga. Ini ide sederhana
yang bisa terpikir oleh perempuan yang bodoh sekali-
pun.
”Dia mencoba, tapi gagal. Saya pikir, ia tidak sadar
bahwa Miss Arundell sesungguhnya tahu penyebab
kecelakaannya. Bagaimanapun, kecurigaan Miss
Arundell tertuju pada Charles seorang. Dan karena-
nya, saya pikir, sikap Miss Arundell terhadap Bella
tidak berubah. Diam-diam, dan dengan tekad yang
bulat, perempuan pendiam yang tidak bahagia dan
ambisius itu melaksanakan apa yang semula telah di-
rencanakannya. Ia menemukan media yang cocok se-
kali untuk racunnya, yaitu sejenis kapsul yang selalu
diminum Miss Arundell setelah makan. Membuka
372

pustaka-indo.blogspot.com
kapsul, memasukkan fosfor ke dalamnya, dan menu-
tup kapsul itu kembali—merupakan permainan anak
kecil. Kapsul tadi dikembalikannya ke dalam botol-
nya. Cepat atau lambat, Miss Arundell pasti akan
meminumnya. Orang tidak mungkin mengira Miss
Arundell keracunan. Seandainya toh terbukti bahwa
Miss Arundell keracunan, ia sendiri sudah tidak ada
di dekat-dekat Market Basing.
”Meskipun begitu, ia masih mengambil langkah
buat berjaga-jaga. Dengan memalsu tanda tangan
suaminya pada lembar resep, ia membeli hidrat chloral
di apotek. Maksudnya tidak saya ragukan lagi, untuk
disimpan dan digunakan bila terjadi ketidakberesan.
”Seperti telah saya katakan tadi, saya yakin sejak
saat pertama bertemu dengannya, bahwa Mrs. Tanios
adalah orang yang saya cari-cari, tapi saya sama sekali
tidak mempunyai bukti. Karena itu, saya harus ber-
hati-hati sekali. Saya kuatir Mrs. Tanios akan mema-
kan korban lagi bila tahu bahwa saya mencurigainya.
Lebih lanjut, saya sudah bisa membayangkan siapa
korban berikut yang diincarnya. Ia ingin membebas-
kan hidupnya dari suaminya.
”Pembunuhan yang telah dilakukannya ternyata ti-
dak membawa hasil yang diharapkannya, uang yang
diidam-idamkannya semuanya jatuh ke tangan Miss
Lawson! Itu merupakan pukulan buatnya, tetapi ia
tidak kehabisan akal. Ia mulai memengaruhi perasaan
Miss Lawson dengan cara yang begitu pandai, supaya
Miss Lawson merasa semakin tidak enak.”
Tiba-tiba terdengar tangis terisak-isak. Miss Lawson
373

pustaka-indo.blogspot.com
mengeluarkan saputangannya dan menangis tersedu-
sedu.
”Jahat,” isaknya. ”Saya jahat! Sangat jahat. Oh, saya
pernah merasa begitu ingin tahu mengenai surat wa-
siat itu—maksud saya, mengapa Miss Arundell menu-
lis surat wasiat baru. Pada suatu hari, ketika Miss
Arundell sedang beristirahat, saya mencoba-coba mem-
buka laci meja tulisnya. Pada waktu itu saya tahu ia
mewariskan semua kekayaannya kepada saya! Saya ti-
dak pernah membayangkan akan menerima warisan
sebegitu banyak. Beberapa ribu saja—itu yang saya
bayangkan. Saya jadi berpikir, mengapa tidak? Toh
keluarganya tidak ada yang sayang kepadanya! Tetapi
kemudian, pada waktu ia sakit keras, ia menanyakan
surat wasiatnya. Saya tahu, dia bermaksud menyobek
surat wasiat itu... Di situ kejahatan saya timbul. Saya
katakan kepadanya bahwa surat itu sudah dikembali-
kan kepada pengacaranya, Mr. Purvis. Saya tahu dia
sangat pelupa. Dia tidak ingat lagi apa-apa yang per-
nah dilakukannya. Dan dia percaya pada kata-kata
saya. Dia menyuruh saya menulis kepada Mr. Purvis,
meminta kembali surat wasiat itu, dan saya bilang
ya.
”Oh Tuhan... tapi sakitnya semakin gawat, dan dia
tidak bisa berpikir lagi. Lalu dia meninggal. Dan,
ketika surat wasiat itu dibacakan, saya merasa bersalah.
Tiga ratus tujuh puluh lima ribu pound. Oh, kalau
tahu jumlahnya sebanyak itu, saya tidak akan berbuat
jahat. Saya pikir, uang yang diwariskan Miss Arundell
itu cuma beberapa ribu. Sungguh, kalau tahu sebanyak
itu, saya tidak akan membohongi Miss Arundell.
374

pustaka-indo.blogspot.com
”Saya merasa saya telah merampas uang sebanyak
itu, dan saya tidak tahu apa yang mesti saya lakukan
dengan uang sebanyak itu. Waktu Bella datang ke
tempat saya, saya katakan kepadanya bahwa dia akan
saya beri separuh uang yang saya terima itu. Pada
waktu itu saya yakin, bahwa dengan begitu saya bisa
gembira lagi dan bebas dari perasaan bersalah.”
”Betul, bukan? Mrs. Tanios berhasil mencapai sa-
sarannya,” sambung Poirot. ”Itu sebabnya ia menen-
tang keinginan sepupu-sepupunya untuk memperkara-
kan surat wasiat itu. Dia sudah punya rencana
sendiri, dan yang jelas-jelas tak mau dilakukannya
adalah menyerang Miss Lawson. Ia berpura-pura bah-
wa ia perlu merundingkannya dulu dengan suaminya,
tapi sama sekali tidak menyembunyikan pendapatnya
pribadi.
”Pada waktu itu ada dua hal yang menjadi tujuan-
nya: memisahkan diri bersama kedua anaknya dari
suaminya, dan menerima bagian uang yang dijanjikan
Miss Lawson. Setelah itu ia akan menjadi seperti yang
dicita-citakannya—hidup kaya dan tenang di Inggris
bersama anak-anaknya.
”Lama-kelamaan ia tidak bisa menyembunyikan
rasa bencinya terhadap suaminya. Tentu saja suaminya
merasa sangat bingung dan sedih. Ia tidak bisa me-
ngerti mengapa istrinya jadi bertingkah laku begitu.
Padahal sebenarnya tingkah lakunya itu logis. Dia se-
ngaja bertingkah laku seperti orang yang menderita
semacam kelainan jiwa—orang yang selalu dibayangi
perasaan takut. Ia sadar bahwa saya mencurigai ke-
matian Miss Arundell bukan kematian wajar melain-
375

pustaka-indo.blogspot.com
kan pembunuhan. Dan ia berusaha meyakinkan diri
saya bahwa suaminyalah yang melakukan pembunuhan
itu. Sementara itu, saya sadar bahwa setiap saat bisa
terjadi pembunuhan yang kedua. Saya yakin itu sudah
direncanakannya. Saya tahu ia menyimpan chloral de-
ngan dosis berlebih. Saya kuatir ia akan mengumum-
kan bahwa suaminya bunuh diri.
”Tapi, saya tetap belum punya bukti untuk mem-
permasalahkannya! Ketika saya sudah hampir putus
asa, saya menemukan sesuatu! Miss Lawson mencerita-
kan bahwa dia melihat heresa Arundell berlutut di
tangga pada hari Senin malam setelah Paskah. Berdasar-
kan pengamatan saya, tidak mungkin Miss Lawson
bisa melihat wajah heresa dengan jelas. Meskipun
begitu, Miss Lawson sangat yakin bahwa yang dilihat-
nya itu heresa. Dalam keadaan terpojok oleh per-
tanyaan-pertanyaan saya, Miss Lawson teringat akan
sesuatu yang membuatnya yakin bahwa yang dilihatnya
itu heresa. Perempuan yang dilihatnya dari cermin
mengenakan bros dengan inisial heresa—T.A.
”Atas permintaan saya, heresa menunjukkan bros
yang dimaksud kepada saya. Pada waktu itu heresa
menyangkal ia pernah melakukan sesuatu di tangga.
Mula-mula, saya mengira ada orang lain yang me-
minjam bros itu, tetapi ketika saya melihat bros itu
di depan cermin, saya segera tahu kebenarannya. Miss
Lawson yang terbangun dengan kaget melihat seorang
wanita mengenakan bros dengan inisial T.A. dari cer-
min di kamarnya. Dari situ dia menyimpulkan bahwa
yang dilihatnya itu heresa Arundell.
”Tetapi, bila yang dilihat Miss Lawson dicerminnya
376

pustaka-indo.blogspot.com
itu inisial T.A., inisial tersebut sesungguhnya adalah
kebalikannya, yakni A.T.
”Cermin selalu mereleksikan kebalikan dari yang
sesungguhnya—yang di kanan jadi tampak di kiri,
dan yang di kiri jadi tampak di kanan.
”Tentu saja ibu Mrs. Tanios bernama Arabella
Arundell. Bella merupakan kependekan nama itu.
Jadi, A.T. sebenarnya merupakan inisial Arabella
Tanios. Bahwa Mrs. Tanios memiliki bros semacam
itu, bukanlah merupakan hal yang aneh. Bros sema-
cam itu masih merupakan barang eksklusif sekitar
Hari Natal tahun lalu. Tapi, menjelang musim semi
tahun ini tiruannya mulai dijual dengan harga murah.
Di samping itu, saya pernah mendengar, Mrs. Tanios
suka meniru model pakaian dan topi yang dikenakan
heresa dengan biaya yang tentu saja terbatas.
”Berdasarkan penemuan itu, secara pribadi saya
berpendapat bahwa kasusnya telah terbukti.
”Lalu, apa yang selanjutnya mesti saya lakukan?
Meminta yang berwenang supaya mengeluarkan surat
perintah buat membongkar kubur Miss Arundell?
Saya yakin itu bisa saya lakukan. Mungkin saya akan
bisa membuktikan bahwa Miss Arundell memang me-
ninggal karena diracuni dengan fosfor. Tapi saya ku-
rang yakin hal itu bisa dibuktikan. Bagaimanapun,
sudah lebih dari dua bulan Miss Arundell dimakam-
kan. Di samping itu, saya dengar dalam beberapa ka-
sus keracunan fosfor tidak tampak adanya bekas-bekas
tertentu pada jenazah korbannya. Tapi, bisakah saya
membuktikan bahwa Mrs. Tanios menyimpan atau
377

pustaka-indo.blogspot.com
memiliki fosfor? Saya ragu, karena besar kemungkinan
fosfor itu dibelinya di luar negeri.
”Pada saat saya bingung memikirkan bagaimana
mendapatkan bukti yang saya perlukan, Mrs. Tanios
mulai bertindak. Ia meninggalkan suaminya, dan men-
jatuhkan dirinya pada rangkulan belas kasihan Miss
Lawson. Ia sekaligus menuduh suaminya sebagai pem-
bunuh,
”Kalau saya tidak bertindak, saya yakin Dr. Tanios
akan menjadi korban pembunuhan berikutnya. Saya
berusaha memisahkan mereka dengan alasan demi ke-
selamatan Mrs. Tanios. Mrs. Tanios tidak bisa meno-
lak anjuran saya itu. Padahal maksud saya yang se-
benarnya adalah demi keselamatan suaminya. Dan
kemudian... kemudian...”
Poirot berhenti, kali ini cukup lama. Wajahnya tam-
pak agak pucat.
”Tapi itu cuma buat sementara. Saya harus berbuat
sesuatu agar si pembunuh tidak membunuh orang
lain lagi. Saya harus melindungi orang yang tidak ber-
salah.
”Maka saya menuliskan rekonstruksi kasus ini dan
menyerahkan tulisan saya itu kepada Mrs. Tanios.”
Lama Poirot tidak menyambung bicaranya.
Dr. Tanios menjerit, ”Ya Tuhan... jadi itu sebabnya
dia bunuh diri.”
Lembut Poirot berkata, ”Bukankah itu jalan yang
paling baik? Mrs. Tanios menganggapnya begitu. Ma-
sih ada anak-anak yang perlu dipikirkan.”
Dr. Tanios menutup wajahnya dengan kedua tela-
378

pustaka-indo.blogspot.com
pak tangannya. Poirot mendekatinya dan memegangi
bahu pria itu.
”Memang begitu seharusnya. Percayalah, itu me-
mang harus terjadi. Kalau tidak, akan bertambah
jumlah korbannya. Mula-mula Anda sendiri, lalu—sa-
ngat mungkin Miss Lawson juga. Dan belum tentu
ini tidak akan berlanjut lagi.”
Poirot diam.
Dengan suara serak Tanios berkata, ”Pernah dia
menyuruh saya minum obat tidur... tapi saya lihat
ada sesuatu pada wajahnya, maka saya buang obat
itu. Itulah awal saya yakin bahwa pikirannya ti-
dak...”
”Bila dipikir-pikir, ada benarnya juga dugaan Anda
itu. Tapi bukan dalam arti kata yang sebenarnya, se-
bab sesungguhnya dia tahu apa arti tindakannya....”
Terdengar amat sedih suara Dr. Tanios waktu ia
mengatakan,
”Padahal... dia baik sekali—selalu terasa terlalu baik
buat saya.”
Kenangan yang aneh akan seseorang yang mengaku
dirinya pembunuh!

379

pustaka-indo.blogspot.com
30
Penutup

HAMPIR tidak ada lagi yang mesti kuceritakan.


heresa menikah dengan dokter pujaan hatinya tidak
lama setelah peristiwa itu. Mereka kukenal dengan
baik sekarang, dan aku mulai menghargai Donaldson—
jalan pikirannya yang jernih, serta kekuatan dan ke-
manusiaannya. Memang sikapnya masih kaku seperti
dulu; heresa sering menirukan sikap kakunya itu
waktu bergurau. Kelihatannya heresa sangat berbaha-
gia, perhatiannya tercurah pada karier suaminya.
Donaldson memang sudah mulai punya nama dan
kedudukan yang terpandang di kalangannya.
Miss Lawson, karena merasa begitu bersalah, bersi-
keras mengembalikan setiap sen yang pernah diterima-
nya. Tapi akhirnya, dengan bantuan Mr. Purvis, di-
buatlah surat persetujuan bersama—warisan Miss

380

pustaka-indo.blogspot.com
Arundell dibagi sama rata untuk Miss Lawson,
heresa, Charles, dan kedua anak Tanios.
Bagian Charles sudah habis dalam waktu setahun
lebih sedikit. Saat ini, kalau tidak salah, pemuda itu
berada di British Columbia.
Ada dua insiden yang patut kucatat.
”Kau memang pandai, kan?” tanya Miss Peabody
ketika kami melangkah keluar dari halaman Puri Hi-
jau pada suatu hari. ”Bisa menghentikan segala desas-
desus! Kubur Emily tidak jadi digali, kan? Semuanya
kaulakukan dengan sopan.”
”Tidak diragukan lagi kematian Miss Arundell me-
mang disebabkan oleh penyakit kuning akibat lever-
nya kambuh,” komentar Poirot halus.
”Kedengarannya memuaskan,” ujar Miss Peabody
pula. ”Oh ya, dengar-dengar Bella Tanios minum
obat tidur kelewat banyak?”
”Ya. Sangat menyedihkan.”
”Yah, hidup anak itu sangat menyedihkan, selalu
mengingini yang tidak dipunyainya. Orang sering kali
jadi gila kalau menuruti perasaan seperti itu. Pernah
ada pembantu, tukang masak. Begitu juga. Anaknya
sederhana. Sadar akan kenyataan itu. Ingin terkenal.
Mulai menulis surat kaleng. Masuk rumah sakit gila
akhirnya. Tapi, yah—mungkin itu yang terbaik.”
”Orang memang selalu mengharapkan yang paling
baik, Madame.”
”Yah,” kata Miss Peabody sambil bersiap-siap hen-
dak meneruskan perjalanannya. ”Kuakui, kau benar-
benar pandai. Bisa menghentikan desas-desus dengan
cara yang begitu bagus.”
381

pustaka-indo.blogspot.com
Ia pergi.
Kudengar bunyi ”Guk” di belakangku.
Aku berbalik, membukakan pintu.
”Ayo, Bob!”
Bob menerobos keluar.
”Jangan bawa bola itu ke jalan!”
Bob mengeluh, tapi dengan enggan segera men-
dorong bolanya ke dalam pagar. Dipandanginya bola
yang menggelinding, setelah itu ia kembali ke dekat-
ku.
Ia memandangku.
”Kuturuti perintahmu, Sir.”
Kutarik napas panjang.
”Oh, Poirot... senang sekali rasanya punya anjing
lagi.”
”Ingat, Kawan,” ujar Poirot, ”Miss Lawson meng-
hadiahkan anjing itu kepadaku, bukan kepadamu.”
”Aku tahu,” sahutku. ”Tapi kau kan kurang suka
anjing, Poirot. Kau tidak mengerti jiwa anjing! Bob
dan aku saling mengerti. Betul kan, Bob?”
”Guk,” sahut Bob penuh semangat.

382

pustaka-indo.blogspot.com
pustaka-indo.blogspot.com
SAKSI BISU
DUMB WITNESS
Empasan tubuhnya di lantai, teriakannya yang melengking
memecah keheningan malam, mengusik kelelapan tidur seisi
rumah. Pintu-pintu dibuka, lampu pun menyala. Miss Lawson
melongok ke luar kamarnya yang letaknya paling dekat
tangga. Berteriak histeris, perempuan itu tergopoh-gopoh
turun. Yang lain berdatangan satu per satu: Charles menguap
dan masih mengenakan jas kamar. Theresa, dengan hanya
sehelai kain sutra berwarna gelap membalut tubuhnya. Bella,
dengan kimono biru laut dan rambutnya penuh gulungan.
Suaminya, Dokter Tanios, tidak kehilangan akal...
Hercule Poirot membongkar misteri kematian Emily
Arundell, perawan tua yang kaya raya. Pembunuhan itu
direncanakan dengan begitu rapi dan mengagumkan, namun
si pembunuh lupa, ada lidah si SAKSI BISU.

NOVEL DEWASA
Penerbit
PT Gramedia Pustaka Utama
Kompas Gramedia Building
Blok I, Lantai 5
Jl. Palmerah Barat 29-37
Jakarta 10270
www.gramediapustakautama.com
pustaka-indo.blogspot.com