Anda di halaman 1dari 33

1.

JUDUL
“Infrastruktur Pendukung Pengembangan Kawasan Minapolitan Brondong
Kabupaten Lamongan”
Nama : Achmad Fariq Rohman
NIM : 153900017
Pembimbing : Siti Nuurlaily Rukmana, S.T., M.T.
2. LATAR BELAKANG
Kecamatan Brondong memiliki luas wilayah 70,14 km2 terdiri Desa
Lembor, Tlogoretno, Sidomukti, Logung, Labuhan, Brengkok, Sendangharjo,
Sedayulawas dan Sumberagung, serta Kelurahan Brondong, wilayah terluas pada
Desa Lembor dengan luas wilayah 16,07 Km2 atau sebesar 22,91% sedangkan
untuk wilayah terkecil berada pada Kelurahan Brondong dengan luas wilayah
2.35 km2 atau sebesar 3,35%. Jumlah penduduk Kecamatan Brondong tahun 2017
sebesar 76.218 jiwa dengan kepadatan penduduk tertinggi berada pada Kelurahan
Brondong sebesar 6.154 jiwa/km2 , sedangkan kepadatan penduduk terendah
berada pada Desa Lembor sebesar 158 jiwa/km2 . Mata pencaharian penduduk
Kecamatan Brondong didominasi pertanian dalam bidang perikanan sebesar
19.914 jiwa atau sebesar 26,12% sedangkan mata pencaharian dengan jumlah
terkecil adalah bidang kontruksi sebesar 685 jiwa atau sebesar 0.89%.
Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 35 Tahun 2013 tentang
Penetapan Kawasan Minapolitan, Kawasan Minapolitan perikanan tangkap
Kabupaten Lamongan berada pada Kecamatan Brondong. Peraturan Daerah
Provinsi Jawa Timur Nomor 5 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Provinsi Tahun 2011-2031 menetapkan Kecamatan Brondong sebagai kawasan
strategis pada bidang industri skala regional dan perikanan. Kawasan Minapolitan
yang didukung Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong masuk sebagai
tipe B yang melayani kawasan regional Jawa Timur, serta didukung kapal angkut
perikanan minimal 30 GT. Peraturan Daerah Kabupaten Lamongan Nomor 15
Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Lamongan Tahun
2011-2031, rencana struktur ruang ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Lokal
Promosi (PKLp) dan Wilayah Pengembangan (WP II) dengan fungsi utama
sebagai pemerintahan skala kecamatan/lokal, pusat perdaganagan dan jasa skala

1
regional, pusat industri besar dan strategis nasional, pusat transportasi nasional,
pengembangan kawasan minapolitan, pusat pelabuhan dan industri perikanan
skala regional dan nasional, pusat kegiatan pariwisata skala regional, pusat
pelabuhan barang skala regional, pusat pengembangan pendidikan, serta
pengembangan kegiatan industri kerajinan rakyat, pertanian, peternakan dan
pertambangan. Data Dinas Perikanan dan Kelautan tahun 2017, potensi perikanan
sebesar 67.890 ton sedangkan pada tahun 2016 sebesar 63.874 ton dengan
kenaikan sebesar 6%. Sarana pendukung minapolitan yang tersedia di wilayah
penelitian yaitu: tempat pelelangan ikan, pelabuhan perikanan nusantara, balai
benih, laboratorium, lembaga keuangan, lembaga masyarakat kelompok tani,
industri pengolahan ikan dan SPBU. Prasarana pendukung yang tersedia antara
lain: jaringan jalan, jaringan listrik dan jaringan telekomunikasi.
Penelitian Fatmawati, dkk (2015) tentang Analisis Efisiensi Tempat
Pelelangan Ikan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong menyatakan bahwa
sarana prasarana TPI seperti fasilitas drainase dan sanitasi masih banyak
kekurangan. Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti mengangkat judul yaitu
“Infrastruktur pendukung pengembangan Kawasan Minapolitan Brondong
Kabupaten Lamongan”
3. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan pada latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah :
1) Bagaimana karakteristik Kawasan Minapolitan Brondong Kabupaten
Lamongan ?
2) Bagaimana ketersediaan infrastruktur pendukung Kawasan Minapolitan
Brondong Kabupaten Lamongan ?
4. TUJUAN DAN MANFAAT
Berdasarkan rumusan masalah dalam penelitian Infrastruktur pendukung
pengembangan Kawasan Minapolitan Brondong Kabupaten Lamongan, maka
tujuan dan manfaat penelitian dijelaskan sebagai berikut:
Tujuan yang akan dicapai adalah:
1) Untuk mengidentifikasi karakteristik wilayah yang mendukung Kawasan
Minapolitan Brondong Kabupaten Lamongan

2
2) Untuk mengidentifikasi ketersediaan infrastruktur pendukung Kawasan
Minapolitan Brondong Kabupaten Lamongan ?
Manfaat dalam penelitian ini adalah :
1) Bagi Pemerintah
Sebagai pedoman bagi pemerintah dalam mengambil pengembangan Kawasan
Minapolitan Brondong khususnya infrastruktur.
2) Bagi Masyarakat
Sebagai pengetauan bagi masyarakat terkait infrastruktur pendukung Minapolitan
Brondong Kabupaten Lamongan.
3) Bagi Akademis
Sebagai alat pembelajaran dan wawasan mengenai tersedianya infrastruktur
Kawasan Minapolitan Brondong.
5. RUANG LINGKUP
Ruang lingkup penelitian ini mencakup ruang lingkup substansi dan ruang
lingkup spasial. Ruang lingkup substansi merupakan penjelasan mengenai batasan
substansi penelitian yang berkaitan dengan permasalahan yang akan dikaji dalam
penelitian, sedangkan ruang lingkup spasial merupakan penjelasan mengenai
batasan wilayah penelitian yang akan dikaji.

3
5.1 Ruang Lingkup Substansi
Ruang lingkup subsatansi pembahasan pada metodelogi penelitian ini yakni
melakukan pembahasan terkait dengan sasaran penelitian antara lainm :
1) Karakteristik kawasan Minapolitan :
A. Kondisi fisik
B. Kondisi sosial dan kependudukan
C. Kondisi ekonomi
D. Penggunaan lahan
2) Infrastruktur pendukung kawasan Minapolitan menurut Keputusan Menteri
Kelautan dan Perikanan Nomor 35 Tahun 2013 tentang Penetapan Kawasan
Minapolitan:
A. Sarana pendukung :
a) Tempat pelelangan ikan (TPI)
b) Pelabuhan Perikanan Nusantara
c) Penyediaan benih
d) Laboratorium
e) Gudang pengolahan
f) Pabrik es (cold storage)
g) Lembaga keuangan
h) Lembaga masyarakat kelompok tani
i) Bengkel kapal (docking bengkel)
j) Industri pengolahan ikan
k) SPDN/SPBU
B. Prasarana pendukung :
a) Jaringan jalan
b) Jaringan listrik
c) Jaringan air bersih
d) Jaringan telekomunikasi
e) Jaringan irigasi
f) Jaringan sanitasi dan air limbah
g) Jaringan persampahan
h) Dermaga

4
5.2 Ruang Lingkup Spasial
Ruang lingkup spasial dalam penelitian Pengembangan Kawasan
Minapolitan Berbasis Perikanan Tangkap Kecamatan Brondong Kabupaten
Lamongan. Secara astronomis Kecamatan Brondong terletak pada 112° 17' 01,22''
– 112° 33' 12'' Bujur Timur dan 06° 53' 30,81'' – 07° 23' 6'' Lintang Selatan.
Sedangkan secara administrasi batas – batas fisik wilayah Kecamatan Brondong
adalah :
Utara : Laut Jawa
Barat : Kecamatan Palang Kabupaten Tuban
Selatan : Kecamatan Laren dan Kecamatan Solokuro
Timur : Kecamatan Paciran
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Peta Administrasi Kecamatan Brondong
pada gambar 1.
Kawasan perencanaan wilayah Minapolitan Kecamatan Brondong adalah :
Utara : Laut Jawa
Barat : Kecamatan Palang Kabupaten Tuban
Selatan : Desa Sendangharjo, Desa Sumber Agung, Desa Brengkok
Timur : Desa Blimbing Kecamatan Paciran
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Peta Wilayah Minapolitan Kecamatan
Brondong pada gambar 2.

5
Gambar 1 Peta Administrasi Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan Tahun 2018

6
Gambar 2 Peta Kawasan Minapolitan Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan Tahun 2018

7
6. TINJAUAN PUSTAKA
6.1. Kawasan Pesisir
Untuk dapat mengelola pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa-jasa
lingkungan (en-vironmental services) kawasan pesisir secara berkelanjutan (on a
sustainable basis), perlu pemahaman yang mendalam tentang pengertian dan
karakteristik utama dari kawasan ini. Definisi wilayah pesisir bisa berbeda-beda,
karena belum ditemukan suatu istilah paten untuk mengartikannya. Sesuai dengan
UU No.27 tahun 2007, wilayah pesisir telah didefinisikan sebagai wilayah
peralihan antara ekosistem daratan dan laut yang ditentukan oleh 12 mil batas
wilayah ke arah perairan dan batas kabupaten/kota kearah pedalaman. Menurut
Kesepakatan umum di dunia bahwa wilayah pesisir adalah suatu wilayah
peralihan antara daratan dan lautan. Ada beberapa definisi mengenahi kawasan
pesisir menurut para ahli, antara lain :
1) Menurut Dahuri (2001) wilayah pesisir adalah suatu wilayah peralihan antara
daratan dan lautan. Apabila ditinjau dari garis pantaic(coastal), maka suatu
wilayah pesisir memiliki dua macam batas (boundaries),cyaitu batas yang
sejajar garis pantai (longshore) dan batas yang tegak lurus terhadap garis
pantai (cross-shore).
2) Menurt Poernomosidhi (2007) wilayah pesisir merupakan interface antara
kawasan laut dan darat yang saling mempengaruhi dan dipengaruhi satu sama
lainnya, baik secara biogeofisik maupun sosial ekonomi. Wilayah pesisir
mempunyai karakteristik yang khusus sebagai akibat interaksi antara proses-
proses yang terjadi di daratan dan di lautan. Ke arah darat, wilayah pesisir
meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih
dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut dan perembesan air
asin; sedangkan ke arah laut, wilayah pesisir mencakup bagian laut yang
masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di darat seperti
sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan
manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran.
3) Menurut Bengen (2012) wilayah pesisir adalah suatu wilayah peralihan antara
daratan dan lautan. Apabila ditinjau dari garis pantai (coast line), maka
wilayah pesisir mempunyai dua macam batas (boundaries) yaitu batas yang

8
sejajar garis pantai (long shore) dan batas yang tegak lurus garis pantai (cross
shore). Untuk kepentingan pengelolaan, batas ke arah darat suatu wilayah
pesisir ditetapkan dalam dua macam, yaitu wilayah perencanaan (planning
zone) dan batas untuk wilayah pengaturan (regulation zone) atau pengelolaan
keseharian (day to day management). Batas wilayah perencanaan sebaiknya
meliputi seluruh daerah daratan dimana terdapat kegiatan manusia
(pembangunan) yang dapat menimbulkan dampak secara nyata terhadap
lingkungan dan sumberdaya di wilayah pesisir dan lautan, sehingga batas
wilayah perencanaan lebih luas dari wilayah pengaturan.
4) Menurut Atmaja (2010) karakteristik khusus dari wilayah pesisir antara lain :
a. Suatu wilayah yang dinamis yaitu seringkali terjadi perubahan sifat
biologis, kimiawi, dan geologis.
b. Mencakup ekosistem dan keanekaragaman hayatinya dengan
produktivitas yang tinggi yang memberikan tempat hidup penting buat
beberapa jenis biota laut.
c. Adanya terumbu karang, hutan bakau, pantai dan bukit pasir sebagai
suatu sistem yang akan sangat berguna secara alami untuk menahan atau
menangkal badai, banjir dan erosi.
d. Dapat digunakan untuk mengatasi akibat-akibat dari pencemaran,
khususnya yang berasal dari darat.
Desa pesisir adalah desa yang berada di dalam wilayah pesisir (UU Nomor
27 tahun 2007). Kondisi sosial ekonomi wilayah pesisir umumnya sangat
memprihatinkan yang ditandai dengan rendahnya tingkat pendidikan,
produktivitas dan pendapatan. Ciri umum kondisi sosial ekonomi rumah tangga
pesisir adalah:
a. Rumah tangga sebagai unit produksi, konsumsi, unit reproduksi dan unit
interaksi sosial ekonomi politik.
b. Rumah tangga pesisir bertujuan untuk mencukupi kebutuhan anggota
keluarganya sehingga tujuan ini merupakan syarat mutlak untuk
menentukan keputusan-keputusan ekonomi terutama dalam usaha
produksi.

9
c. Dalam keadaan kurang sarana produksi seperti alat tangkap, maka semua
anggota keluarga yang sehat harus ikut dalam usaha ekonomi rumah
tangga.
d. Karena berada dalam garis kemisikinan, maka rumah tangga pesisir
bersifat safety first.
Mereka umumnya akan bersifat menunggu dan melihat terhadap introduksi
teknologi baru dan pengaruhnya terhadap ekonomi keluarga. Sifat dan
karakteristik masyarakat pesisir juga sangat dipengaruhi oleh jenis kegiatan usaha
yang umumnya adalah perikanan. Karena usaha perikanan sangat bergantung
kepada musim, harga dan pasar, maka sebagian besar karakter masyarakat pesisir
tergantung kepada faktor-faktor tersebut.
Menurut Kordi (2012) Kemiskinan masyarakat pesisir dan pulau-pulau
sangat ironi dan paradoks, karena data-data mengenai sumberdaya perikanan yang
cukup besar. Disamping itu, sumberdaya pesisir dan lautan juga potensial untuk
pengembangan berbagai sektor ekonomi seperti pariwisata, industri perikanan,
perhubungan dan sebagainya.
6.2. Karakteristik Zona Pesisir
Menurut (Ketchum, 1972) pesisir adalah tempat dimana daratan dan lautan
bertemu. Bila garis pertemuan ini tidak bergerak/pindah, mendefinisikan pesisir
menjadi hal yang mudah, hanya akan berarti suatu garis pada peta namun proses
alami yang membentuk pesisir sangatlah dinamis, bervariasi baik dalam hal ruang
maupun waktu. Jadi, garis yang menyatukan daratan dan lautan bergerak/pindah
secara konstan, dengan pasang surut ombak, dan lewatnya badai, menciptakan
suatu wilayah interaksi antara daratan dan lautan. Terdapat dari bagian-bagian dari
lingkungan pesisir yang jelas-jelas memiliki interaksi yang kuat antara daratan
dan lautan, termasuk pesisir, rawa-rawa, bakau dan batu-batu karang; bagian-
bagian lain mungkin lebih jauh dari pesisir (pedalaman atau laut bebas), namun
begitu bagian-bagian tersebut memainkan peranan yang penting dalam
membentuk pesisir. Salah satu yang terpenting diantaranya adalah sungaisungai
yang merupakan air tawar dan endapan untuk lingkungan pesisir. Dalam hal ini,
batas pedalaman dengan pesisir merupakan batas-batas penangkapan yang

10
mungkin jaraknya beribu-ribu kilometer ke arah pedalaman pada bagain depan
dari daerah penangkapan.
Karenanya, pesisir mungkin dianggap sebagai daerah yang memperlihatkan
suatu hubungan antara daratan dan lautan, dan suatau daerah pesisir didefinisikan
sebagai tanda dari daratan kering dan ruang lautan yang berbatasan dengannya
(perairan dan daratan yang sebagian tenggelam), dimana proses-proses teresterial
dan penggunaan-penggunaan daratan secara langsung mempengaruhi proses-
proses dan pemanfaatan kelautan dan terestrerial; daerah pesisir terdiri dari
daratan yang berinteraksi dengan lautan, dan ruang lautan yang berinteraksi
dengan daratan. Jadi daerah pesisir merupakan :
- Terdiri dari komponen daratan dan komponen lautan.
- Memiliki batas-batas daratan dan lautan yang ditentukan oleh tingkat
pengaruh dari daratan terhadap lautan dan lautan terhadap daratan.
- Tidak seragam dalam hal kelebaran, kedalaman atau ketinggian.
Tiga faktor yang memperlihatkan, untuk pesisir berpasir, kekuatan dari
interaksi antara proses-proses dan pemanfaatan-pemanfaatan pesisir dan laut, yang
disini disebut sebagai “tingkat kepesisiran”, terdapat jarak dari pesisir, dapat juga
diterapkan pada lingkungan-lingkungan pesisir lainnya, seperti delta, system
pesisir/rintangan dan pesisir muara, dimana berbagai proses fisik dan biologi dari
lingkungan tersebut akan menetukan “tingkat kepesisirannya”. Misalnya, pada
pesisir delta, faktor-faktor penentu yang penting akan merupakan tingkat penetrasi
air asin ke permukaan air tawar dan sistem air tanah, serta jarak ke arah laut
menuju endapan teresterial.
6.3. Pengelolahan Wilayah Pesisir
Setiap pengelolaan wilayah pesisir diperlukan perencanaan yang matang
dalam mengalokasikan sumberdaya alam, serta pada tahap perencanaan
diperlukan koordinasi dan kerjasama yang baik dari sektorsektor terkait baik
pemerintah maupun masyarakat lokal (Supriharyono, 2000). Menurut
(Abelshausen, 2015) menyebutkan bahwa pengelolaan wilayah pesisir yang
berkelanjutan telah mengalami pergeseran dari pendekatan yang bersifat top-down
menjadi bottom-up. Dalam masyarakat tradisional kombinasi pendekatan

11
keduanya dianggap lebih diinginkan karena merupakan gambaran pendekatan
partisipatif yang memungkinkan untuk berbagi pengetahuan secara langsung.
Wilayah pesisir merupakan tumpuan harapan manusia dalam pemenuhan
kebutuhan hidupnya dimasa mendatang, oleh sebab itu maka pembangunan yang
dilakukan di wilayah pesisir dan laut hendaknya merupakan suatu proses
perubahan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Dalam perencanaan
pembangunan pada suatu system ekologi pesisir yang berimplikasi pada
pemanfaatan sumberdaya alam perlu diperhatikan kaidah-kaidah ekologis yang
berlaku untuk mengurangi akibat negatif yang merugikan bagi kelangsungan
pembangunan secara menyeluruh.
Menurut Yuwono dalam Laporan Akhir Zonasi Wilayah Pesisir Kab.
Pemalang (2011), menyebutkan bahwa prinsip keterpaduan dalam pengelolaan
wilayah pesisir meliputi :
- Keterpaduan perencanaan sektor secara horizontal, yaitu memadukan
berbagai sektor kepentingan, antara daerah pantai dan lainya.
- Keterpaduan perencanaan secara vertikal, yaitu pengelolaan wilayah
pesisir dari tingkat desa hingga nasional merupakan satu kesatuan yang
tidak terpisahkan.
- Keterpaduan antara ekosistem darat dan laut, yaitu peningkatan yang
terdapat di pantai diupayakan tidak merusak ekosistem laut atau darat,
begitu pula sebaliknya.
- Keterpaduan antara ilmu pengetahuan dan manajemen; peningkatan
wilayah pesisir harus didasarkan pada data dan informasi ilmiah sesuai
karakter daerah.
- Keterpaduan antara lingkungan ekonomi lingkungan dan masyarakat yaitu
di dalam wilayah pesisir tidak terlepas dari aspek kemasyarakatan secara
ekonomi, ekologis dan sosial budaya.
6.4. Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat Pesisir
Masyarakat pesisir merupakan sekelompok orang yang tinggal di daerah
pesisir dan sumber kehidupan perekonomian baik secara langsung maupun tidak
bergantung pada pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir. Keterlibatan
masyarakat pesisir dalam pembangunan di wilayahnya sangat penting karena

12
menyangkut diri mereka yaitu sejak perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
Dengan partisipasi masyarakat pesisir maka pembangunan berawal dari sesuatu
yang berasal dari masyarakat (Nikijuluw, 2001).
Kondisi sosial-ekonomi masyarakat pesisir berada pada tingkat
kesejahteraan yang tergolong rendah, hal ini disebabkan oleh karena penduduk
pesisir yang sebagian besar mencari nafkah dengan menangkap ikan, sedangkan
kegiatan yang mereka lakukan dalam skala kecil sebagai akibat biaya operasional
yang tinggi. Untuk mengatasi keadaan tersebut maka perlu dilakukan upaya
peningkatan alternatif lain sebagai mata pencaharian (Tuwo, 2011).
Menurut Kusnadi (2006), menyebutkan bahwa dari sisi kebudayaan,
masyarakat pesisir memiliki indikator kualitatif berupa:
- tercapainya kesejahteraan sosial ekonomi, individu, rumah tangga dan
masyarakat
- kelembagaan ekonomi berfungsi secara optimal
- kelembagaan sosial berfungsi secara baik
- berkembangnya kemampuan masyarakat atas sumberdaya ekonomi,
informasi dan teknologi
- meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengembilan keputusan
pembangunan di wilayah pesisir kawasan ekonomi menjadi pusat-pusat
pembangunan ekonomi wilayah dan ekonomi nasional yang memiliki daya
tarik investasi
6.5. Kawasan Minapolitan
Terdapat beberapa pengertian menurut para ahli atau sumber yakni, antara
lain :
1) Menurut Dewa Gede Raka Wiadnya (Fakultas Perikanan & Ilmu Kelautan
(FPIK), Universitas Brawijaya Malang, minapolitan ialah proses yang
dinamis secara siklik, melibatkan peran multi-sektorsecara terintegrasi untuk
mewujudkan kota kecil secara mandiri dengan sektor penggerakekonomi dari
perikanan yang dilakukan secara berkelanjutan. Oleh karena itu,
programminapolitan harus selalu dievaluasi (melalui monitoring) secara
berkala untuk mengukurkeberhasilan atau bahkan kegagalan program. Hasil

13
monitoring selanjutnya digunakansebagai informasi dasar bagi pengelola
dalam memperbaiki atau memperbaharui program kedepan
2) Menurut Keputusan Menteri Perikanan dan Kelautan Nomor 18 Tahun 2011
Tentang Pedoman Umum Minapolitan, konsepsi pembangunan ekonomi
kelautan dan perikanan berbasis kawasan berdasarkan prinsip-prinsip
terintegrasi, efisiensi, berkualitas dan percepatan. Kawasan Minapolitan
adalah suatu bagian wilayah yang mempunyai fungsi utama ekonomi yang
terdiri dari sentra produksi, pengolahan, pemasaran komoditas perikanan,
pelayanan jasa, dan/atau kegiatan pendukung lainnya.
3) Menurut PUSLUH 2010 Dalam Studi Pengembangan Minapolitan di
Minahasa, minapolitan adalah Kota perikanan yang tumbuh dan berkembang
karena berjalannya sistem dan usaha perikanan serta mampu melayani,
mendorong, menarik, menghela kegiatan pembangunan ekonomi daerah
sekitarnya.
4) Menurut Bungaran Saragih Menteri Pertanian periode 2000 – 2004,
minapolitan merupakan kerangka berpikir dalam pengembangan agribisnis
berbasis perikanan di suatu daerah. Minapolitan adalah wilayah yang berisi
sistem agribisnis berbasis perikanan dengan penggeraknya usaha agribisnis.
Program minapolitan ini pada prinsipnya merupakan suatu program kegiatan
yang berupaya untuk mensinergiskan kegiatan produksi bahan baku, pengolahan
dan pemasaran dalam satu rangkaian kegiatan besar dalam satu kawasan atau
wilayah. Dengan konsep Minapolitan pembangunan sektor kelautan dan
perikanan diharapkan dapat dipercepat. Peluang yang biasanya ada di daerah
perkotaan perlu pula dikembangkan di daerah-daerah pedesaan, seperti prasarana,
sistem pelayanan umum, jaringan distribusi bahan baku dan hasil produksi di
sentra-sentra produksi. Sebagai sentra produksi, daerah pedesaan diharapkan
dapat berkembang sebagimana daerah perkotaan dengan dukungan prasarana,
energi, jaringan dstribusi bahna baku dan hasil produksi, transportasi, pelayanan
publik, akses permodalan, dan sumber daya manusia yang memadai.

14
6.6. Karakteristik Kawasan Minapolitan
Dalam Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 18 Tahun 2014
tentang Pedoman Umum Minapolitan, suatu Kawasan Minapolitan sebaiknya
mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1) Suatu kawasan ekonomi yang terdiri atas sentra produksi, pengolahan,
dan/atau pemasaran dan kegiatan usaha lainnya, seperti jasa dan perdagangan;
2) Mempunyai sarana dan prasarana sebagai pendukung aktivitas ekonomi.
3) Kawasan Minapolitan harus bisa tumbuh dan berkembang sebagai kawasan
mandiri.
4) Menampung dan mempekerjakan sumberdaya manusia di dalam kawasan dan
daerah sekitarnya.
5) Mempunyai dampak positif terhadap perekonomian di daerah sekitarnya.
6.7. Sarana dan Prasarana Penunjang Kawasan Minapolitan
Adapun prasarana dan sarana penunjang kawasan Minapolitan adalah
sebagai berikut (Lamia, dkk. 2016) :
1) Prasarana Penunjang
a) Jaringan Jalan merupakan salah satu prasarana yang sangat penting.
Dengan adanya transportasi jalan maka masyarakat dapat melakukan
aktivitasnya dengan baik. Berdasarkan standar jalan untuk panjang jalan
yaitu 40 – 60 meter/ha, sedangkan lebar jalan berdasarkan klarifikasinya
jenis jalan sebagai berikut :
- Jalan lokal sekunder (jalan poros kecamatan) yaitu 2-5 m.
- Jalan lingkungan (poros desa) yaitu 3 meter.
- jalan setapak (jalan tani) yaitu 1,5 – 2 meter.
b) Jaringan listrik merupakan utilitas yang berfungsi untuk penerangan
rumah tangga, jalan maupun untuk kegiatan lainnya
c) Jaringan air bersih utilitas untuk memenuhi kebutuhan hidup. setiap
kawasan perlu penyediaan sumber air bersih, pelayanan sumber air bersih
baik dari pelayanan PDAM dan dapat menyediakan sendiri melalui
sumur gali dan bor.
d) Jaringan telekomunikasi prasarana ini berfungsi melakukan komunikasi
untuk mengetahui informasi.

15
e) Jaringan irigasi merupakan merupakan system pengairan, yang berfungsi
untuk menyuplai air seperti sawah dan tambak.
f) Dermaga merupakan prasarana yang berfungsi sebagai tempat labuh,
bertambatnya kapal penangkap ikan dan membongkar hasil muat hasil
tangkapan dan mengisi bahan perbekalan untuk menangkap ikan di laut.
2) Sarana Penunjang
a) Lembaga Masyarakat (kelompok tani/nelayan) merupakan tempat
berdiskusi tentang hal-hal yang berkaitan dengan perikanan.
b) Tempat pelelangan ikan (TPI) pusat pelayanan pembinaan dan
pemasaran hasil perikanan baik tangkap maupun budidaya perikanan
serta tempat pengembangan industri perikanan/pelayanan ekspor.
c) Bank dan koperasi merupakan lembaga keuangan yang berfungsi sebagai
tempat peminjaman uang bagi nelayan.
d) Pabrik es merupakan sarana yang berfungsi untuk kebutuhan es, agar
dapat mempertahankan mutu produksi selama proses panen dan
didistribusikan.
e) SPBU / SPDN ; sarana untuk memenuhi kebutuhan akan bahan bakar
bagi masyarakat khususnya bagi para nelayan.
f) Lapangan penjemuran jala/ikan merupakan sarana yang digunakan
sebagai tempat untuk menjemur jala yang sudah di pakai agar tidak bau
amis dan tempat penjemuran ikan.
g) Industri pengolahan perikanan ialah usaha pengolahan perikanan yang
merupakan industri kecil dan rumah tangga, adapun hasil pengolahannya
yaitu ikap asap, ikan kering/asin dan abon.
h) Docking Bengkel, untuk perawatan dan perbaikan mesin kapal dan
kapal-kapal nelayan .
i) Gudang pengepakkan/pengolahan merupakan sarana untuk penyimpanan
dan pengolah komoditi unggulan yang akan di ekspor.
j) Penyediaan Benih merupakan sarana menyediakan benih
k) Gudang pengepakkan/pengolahan merupakan sarana untuk penyimpanan
dan pengolah komoditi unggulan yang akan di ekspor.

16
6.8. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu digunakan untuk menentukan posisi penelitian yang
dilakukan saat ini, agar tidak menyerupai dengan penelitian yang sudah pernah
dilakukan oleh orang lain. Penelitian yang sudah dilakukan oleh orang lain yang
mendekati penelitian ini dapat dilihat pada tabel 1.

17
Tabel 1 Penelitian Terdahulu
No Peneliti, Judul dan Tahun Variabel Metode Analisis Output Penelitian
1. Liwe Brian Lamia, Michael M. - Sarana dan Analisis kuantitatif. Tingkat ketersediaan untuk prasarana
Rengkung dan Esli D prasarana penunjang dikategorikan sedang dan sarana dikategori
Takumansang. Ketersediaan minapolitan rendah karena sarana dan prasarana yang ada
Prasarana Sarana Dalam saat ini pada lokasi penelitian masih dalam
Mendukung Kawasan tahap pengembangan dalam mendukung
Minapolitan Di Kabupaten kawasan minapolitan.
Minahasa Selatan. 2016
2. Jamaluddin Jahid. Studi - Ketersediaan Sarana Analisis kuantitaif dan Tingkat ketersediaan sarana dan prasarana
Pengembangan Kecamatan dan Prasarana kualitatif. penunjang yang ada dalam kawasan
Mattiro Sompe Sebagai - Kebutuhan sarana minapolitan Kecamatan Mattiro Sompe yaitu
Kawasan Minapolitan dan prasarana tingkat ketersediaan sarana dan prasarana
Kabupaten Pinrang. 2013 penunjang sedang. Adapun sarana yang dibutuhkan
gudang pengolahan, TPI, cold storage,
dermaga, docking bengkel, pabrik es dan
pengembangan sarana yang sudah tersedia,
sedangkan untuk prasarana yaitu
pengembangan jaringan jalan, air bersih dan
irigasi.
3. Hidayat Yahya. Kajian Kegiatan - Sarana, Prasarana Analisis eksploratif Potensi perikanan masih “under exploitatation”
Perikanan Tangkap di Kawasan dan penunjang kualitatif dan sehingga peluang pemanfaatan dan pengolahan
Minapolitan Kota Ternate. 2018 lainnya kuantitatif. sumberdaya perikanan Kota Ternate masih
- Mengidentifikasi perlu dikembangkan. Tingkat ketersediaan
kegiatan pemasaran sarana dikategorikan sedang dengan nilai
ikan 57,14%, tingkat ketersediaan prasarana
dikategorikan sedang dengan nilai 66,66% dan
penunjang lainnya dikategorikan tinggi dengan
nilai 100%.
4. Dira Arumsani dan Adjie - Prasarana Analisis kualitatif. Prasarana transportasi jaringan jalan diperlukan

18
No Peneliti, Judul dan Tahun Variabel Metode Analisis Output Penelitian
Pamungkas. Kajian Prasarana transportasi jaringan perbaikan dan pengembangan agar mendukung
Transportasi Pendukung jalan pengembangan kawasan minapolitan.
Pengembangan Kawasan - Prasarana Peningkatan kualitas dan kuantitas jalan
Minapolitan di Kabupaten transportasi jaringan dengan perbaikan maupun penambahan jalur
Sidoarjo. 2015 jalan dan rel kereta alternatif. Pengembangan prasarana
api transportasi kereta api dengan melakukan
peninggihan jalur kereta api pada daerah rawan
banjir.
5. Anugra Prasetyo La’lang - Tingkat ketersediaan Analisis kualitatif dan Pemanfaatan infrastruktur memiliki nilai
Surbakti, Linda Tondobala dan infrastruktur kuantitatif. tertinggi dan nilai terendah adalah variabel
Suryadi Supardjo. Analisis - Tingkat kondisi Kondisi infrastruktur. Rata-rata tingkat
Tingkat Pelayanan Infrastruktur infrastruktur pelayanan Infrastruktur Kawasan Minapolitan
Pendukung Kawasan - Tingkat Petasia adalah mencapai 71,08% dengan
Minapolitan Petasia di pemanfaatan kategori tingkat pelayanan sedang.
Kabupaten Morowali Utara. infrastruktur
2019
6 Hildani Yulia Fatmawati, Aziz - Sarana dan Analisis pendekatan Identifikasi sarana dan prasarana di TPI
Nur Bambang dan Abdul prasarana TPI studi kasus. Brondong lama yaitu lantai lelang masih
Rosyid. Analisis Effisiensi Brondong lama banyak yang berlubang, fasilitas sanitasi
Tempat Pelelangan Ikan Di - Persentase penjualan drainase dan kebersihan kurang berfungsi dan
Pelabuhan Perikanan Nusantara ikan masih banyak kendaraan masuk ke area TPI.
Brondong, Lamongan. 2015 - Tingkat efisiensi Sistem pemasaran di TPI Brondong tidak
TPI melalui sistem lelang, akan tetapi retribusi
masih berjalan. Tidak ada ikan yang dijual
diluar TPI atau 100% ikan dijual di TPI
Brondong dan hasil analisis efisiensi TPI
Brondong belum cukup efisien. Alur
pemasaran diperbaiki agar proses lelang/jual
beli berjalan cepat dan efisien. Pencapaian

19
No Peneliti, Judul dan Tahun Variabel Metode Analisis Output Penelitian
efisiensi yang sempurna memerlukan
peningkatan fasilitas teknis dan kebijakan
otoritas TPI Brondong.
7 Achmad Fariq Rohman. - Karateristrik Analisis kualitataif Evaluasi ketersediaan infrastruktur pendukung
Infrastruktur Pendukung kawasan dengan metode Kawasan Minapolitan Brondong dengan
Pengembangan Kawasan Minapolitan evaluatif Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan
Minapolitan Brondong - Infrastruktur Nomor 35 Tahun 2013 tentang penetapan
Kabupaten Lamongan. 2019 pendukung Kawasan Minapolitan.
Sumber : Hasil Kompilasi, 2018.

20
7. METODELOGI PENELITIAN
7.1. Rancangan Penelitian
Penelitian Infrastruktur Pendukung Pengembangan Kawasan Minapolitan
Brondong Kabupaten Lamongan, merupakan penelitian deskriptif kualitatif, latar
belakang berisis potensi dan permasalahan terkait ketersediaan infrastruktur
Minapolitan Brondong, rumusan masalah satu bagaimana karakteristik kawasan
Minapolitan Brondong dengan variabel topografi, hidrologi, klimatologi, geologi,
kepadatan penduduk, mata pencaharian dan hasil produksi perikanan, pada
rumusan masalah satu menggunakan metode deskriptif kualitatif dan hasi analisis
karakteristik kawasan Minapolitan Brondong.
Rumusan masalah dua bagaimana ketersediaan infrastruktur pendukung
kawasan Minapolitan Brondong Kabupaten Lamongan, dengan variabel sarana
pendukung dan prasarana pendukung, metode yang digunakan deskriptif kualitatif
menggunakan teknik analisis evaluatif, hasil rumusan masalah dua ketersediaan
infrastruktur pendukung kawasan Minapolitan Brondong dengan standart
Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 35 Tahun 2013 tentang
Penetapan Kawasan Minapolitan. Hasil penelitian ini evaluasi ketersediaan
infrastruktur pendukung Kawasan Minapolitan Brondong dengan Keputusan
Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 35 Tahun 2013 tentang penetapan
Kawasan Minapolitan.

21
Latar Belakang

- Perda Provinsi Jawa Timur Nomor 5 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Timur 2011-
2031 menetapkan Kecamatan Brondong sebagai kawasan strategis pada bidang industri skala regional dan perikanan.
- Perda Kabupaten Lamongan Nomor 15 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Lamongan
Tahun 2011-2031. Kecamatan Brondong ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Lokal Promosi (PKLp) dan Wilayah
Pengembangan (WP II).
- Data Dinas Perikan dan Kelautan tahun 2016-2017 potensi perikanan mengalami kenaikan sebesar 6%
- Kondisi eksisting sarana yang tersedia TPI, laboratorium, pabrik es, lembaga keuangan, kelompok tani, bengkel kapal
dan SPDN. Prasarana yang tersedia jaringan jalan, listrik, air bersih, telekomunikasi dan sanitasi.

Rumusan Masalah I Rumusan Masalah II

Bagaimana karakteristik Kawasan Bagaimana ketersediaan infrastruktur


Minapolitan Brondong Kabupaten pendukung Kawasan Minapolitan
Lamongan ? Brondong Kabupaten Lamongan ?

Variabel Variabel
a. Topografi a. Sarana pendukung
b. Hidrologi b. Prasarana pendukung
c. Klimatologi
d. Geologi
e. Kepadatan penduduk
f. Mata pencaharian
g. Hasil produksi perikanan

Metode Analisis Data Metode Analisis Data


Deskriptif kualitatif Deskriptif kualitatif dengan teknik analisis
evaluatif

Hasil Analisis Hasil Analisis

Karakteristik wilayah Kawasan Minapolitan Ketersediaan infrastruktur pendukung


Brondong Kawasan Minapolitan Brondong

Hasil Penelitian

Evaluasi ketersediaan infrastruktur pendukung Kawasan Minapolitan Brondong dengan Keputusan Menteri
Kelautan dan Perikanan Nomor 35 Tahun 2013 tentang Penetapan Kawasan Minapolitan

Gambar 3 Kerangka Pikir Penelitian

22
7.2. Definisi Operasional Variabel
Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang di
tetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal
tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiono, 2016). Operasional variabel
karakteristik kawasan minapolitan meliput sub variabel kondisi fisik, sosial
kependudukan, kondisi ekonomi dan penggunaan lahan. Variabel sarana
pendukung meliputi sub variabel tempat pelelangan ikan, pelabuhan perikanan,
penyediaan benih, laboratorium, gudang pengolahan, pabrik es, lembaga
keuangan, lembaga masyarakat kelompok tani, bengkel kapal, industri pengolahan
dan SPBU/SPDN. Variabel prasarana pendukung meliputi sub variabel jaringan
jalan, listrik, air bersih, telekomunikasi, irigasi, persampahan, sanitasi air limbah
dan dermaga. Secara lebih rinci operasional variabel penelitiannya dapat dilihat
pada tabel 2.

23
Tabel 2 Definisi Operasional Variabel
Metode
Data Yang Metode
No Tujuan Penelitian Variabel Sub Variabel Pengumpulan Suumber Data Output
Diperlukan Analisis
Data
1 Mengidentifikasi Karakteristik Kondisi fisik - Topografi Instansi terkait - BPS Analisis Karakteristik
karakteristik Kawasan kawasan - Hidrologi - Dinas deskriptif kawasan
Minapolitan - Klimatologi Perikanan kualitatif Minapolitan
Brondong. - Geologi dan Brondong
Sosial - Jumlah penduduk Kelautan
kependudukan - Kepadatan - BAPPEDA
penduduk
- Mata pencaharian
Kondisi - Luas produksi
ekonomi perikanan
- Hasil produksi
perikanan
Penggunaan - Jenis penggunaan
lahan lahan
2 Mengidentifikasi Sarana Tempat Jumlah dan sebaran - Instansi Deskriptif Ketersediaan
ketersediaan Pendukung pelelangan tempat pelelangan terkait kualitatif infrastruktur
infrastruktur ikan ikan - Dokumentasi dengan pendukung
pendukung Kawasan Pelabuhan - Jumlah pelabuhan teknik kawasan
Minapolitan perikanan - Tipe pelabuhan analisis Minapolitan
Brondong - Luas pelabuhan evaluatif Brondong
Penyediaan Jumlah dan sebaran
benih tempat penyediaan
benih
Laboratorium Jumlah dan sebaran
laboratorium

24
Metode
Data Yang Metode
No Tujuan Penelitian Variabel Sub Variabel Pengumpulan Suumber Data Output
Diperlukan Analisis
Data
Gudang Jumlah dan sebaran
pengolahan gudang pengolahan
Pabrik es Jumlah dan sebaran
pabrik es (cold
storage)
Lembaga Jumlah lembaga
keuangan keuangan
Lembaga Jumlah lembaga
masrayakat Masyarakat
kelompok tani kelompok tani
Bengkel kapal Jumlah dan sebaran
bengkel
Industri - Jumlah dan
pengolahan sebaran industri
SPBU/SPDN Jumlah dan sebaran
SPBU/SPDN
Prasarana Jaringan jalan - Jenis perkerasan - Instansi
pendukung jalan terkait
- Hierarki jalan - Dokumentasi
- Geometri jalan
Jaringan listrik - Peta jaringan
listrik
- Jumlah pelanggan
Jaringan air - Peta jaringan air
bersih bersih
- Sumber air bersih
Jaringan - Peta jaringan

25
Metode
Data Yang Metode
No Tujuan Penelitian Variabel Sub Variabel Pengumpulan Suumber Data Output
Diperlukan Analisis
Data
telekomunikasi telekomunikasi
- Jumlah dan
sebaran BTS
Jaringan irigasi - Peta jaringan
irigasi
- Panjang saluran
irigasi
Jaringan - Peta jaringan
sanitasi dan air sanitasi dan air
limbah limbah
- Jumlah jamban
- IPAL
- IPLT
Jaringan - Sistem
persampahan pengelolaan
sampah
- Jumlah dan
sebaran TPS &
TPA
Dermaga - Jenis dermaga
- Tipe dermaga
- Kapasitas kapal
- Panjang dermaga
Sumber : Hasil Kompilasi, 2018

26
7.3. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dibagi
menjadi dua tahapan pengumpulan data, yakni pengumpulan data secara primer
dan pengumpulan data secara sekunder.
1) Survei Primer
Survei primer merupakan kegiatan pengumpulan data yang dilakukan
secara langsung dan memiliki tujuan untuk memperkuat keadaan sebenarnya
pada lokasi penelitian (Rahmawati, dkk, 2015). Survei primer dilakukan
dengan cara yaitu dokumentasi. Dokumentasi adalah mengumpulkan data
dengan cara mengambil data-data dari catatan, dokumentasi, administrasi
yang sesuai dengan penelitian (Sugiyono, 2011). Data yang dicari melalui
teknik survei dokumentasi adalah data sarana dan prasarana pendukung
minapolitan.
2) Survei Sekunder
Data sekunder merupakan sumber data yang tidak langsung memberikan
data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen
(Sugiyono, 2013). Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan cara survei
instansi terkait dengan pengambilan data melalui instansi pemerintahan,
maupun instansi swasta yang berkaitan dengan penelitian ini sangat
dibutuhkan guna memperkuat data-data yang belum tersedia pada publikasi
masyarakat. Pengambilan data dari instansi seperti, Badan Pusat Statistik,
Dinas Perikanan dan Kelautan dan BAPPEDA yang mendukung dalam
wilayah dan unit analisis dalam penelitian. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada tabel 4
Tabel 3 Sumber dan Jenis Data Instansi Terkait
No Instansi Terkait Data Yang Diperlukan
1 Badan Pusat Statistik - Topografi
Kabupaten Lamongan - Geologi
- Klimatologi
- Hidrologi
- Jumlah penduduk
- Kepadatan penduduk
- Mata pencaharian
2 Dinas Perikanan dan - Produksi perikanan
Kelautan - Jumlah sarana dan prasarana
pendukung minapolitan

27
No Instansi Terkait Data Yang Diperlukan
3 BAPPEDA - Peta jaringan jalan
- Peta jaringan listrik
- Peta jaringan irgasi
- Peta jaringan air bersih
- Peta jaringan telekomunikasi
- Peta jaringan sanitasi dan air limbah
Sumber : Hasil Kompilasi, 2018

7.4. Metode Analisis Data


Metode analisis dalam penelitian Infrastruktur Pendukung Pengembangan
Kawasan Minapolitan Brondong Kabupaten Lamongan yaitu :
1. Analisis karakteristik kawasan dengan menggunakan metode analisis
deskriptif kualitatif bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik kawasan
Minapolitan Brondong Kabupaten Lamongan. Data yang diperlukan yakni:
topografi, hidrologi, geologi, klimatologi, jumlah penduduk, kepadatan
penduduk, mata pencaharian, luas produksi perikanan, hasil produksi
perikanan, luas wilayah dan tata guna lahan.
2. Analisis tingkat ketersediaan infrastruktur menggunakan metode deskriptif
kualitatif dengan teknik analisis evaluatif antara kondisi eksisting dengan
Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 35 Tahun 2013 tentang
Penetapan Kawasan Minapolitan seperti pada tabel 5.
Tabel 4 Ketersediaan Sarana dan Prasarana Pendukung Minapolitan
Brondong
Kepmen
Kelautan dan
No Jenis Kondisi Eksisting Ketersediaan
Perikanan No. 35
Tahun 2013
Sarana
1 Tempat pelelangan ikan Tersedia
2 Pelabuhan Perikanan Tersedia
3 Penyediaan Benih Tersedia
4 Laboratorium Tersedia
5 Gudang pengolahan Tersedia
6 Pabrik es (cold storage) Tersedia
7 Lembaga keuangan Tersedia
8 Lembaga masyarakat Tersedia
kelompok tani
9 Bengkel kapal Tersedia
10 Industry pengolahan Tersedia
ikan

28
Kepmen
Kelautan dan
No Jenis Kondisi Eksisting Ketersediaan
Perikanan No. 35
Tahun 2013
11 SPDN/SPBU Tersedia
Jumlah 11
Prasarana
1 Jaringan jalan Tersedia
2 Jaringan listrik Tersedia
3 Jaringan air bersih Tersedia
4 Jaringan
Tersedia
telekomunikasi
5 Jaringan irigasi Tersedia
6 Jaringan sanitasi dan air
Tersedia
limbah
7 Jaringan persmpahan Tersedia
8 Dermaga Tersedia
Jumlah 8
Sumber : Hasil Kompilasi 2018

29
8. JADWAL PENELITIAN
Lokasi penelitian dilakukan di Kabupaten Lamongan. Penelitian dilakukan
mulai bulan September 2018 sampai dengan Agustus 2019 selama 12 bulan.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 9.

30
Tabel 5 Jadwal Penelitian
Bulan Pelaksanaan
No Kegiatan Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Januari Februari
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Pendaftaran
1.
Proposal
Penyusunan
2.
Proposal
Seminar
3.
Proposal
Revisi
4.
Proposal
Pengumpulan
5.
Proposal
Pengajuan
6.
Skripsi
Penyusunan
7.
Tugas Akhir
Survei &
8. Analisis
Penelitian
Ujian Tugas
9.
Akhir
Revisi Tugas
10.
Akhir
Pengumpulan
11.
Tugas Akhir
Sumber : Hasil Kompilasi, 2018

31
Daftar Pustaka

Adisasmita, Rahardjo. (2013). Pembangunan Kawasan dan Tata Ruang. Yogyakarta:


PT. Graha Ilmu.
Anonim. (2012). Peraturan Provinsi No 5 Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa
Timur Tahun 2011-2031. Jawa Timur
Anonim. (2011). Peraturan Daerah No 15 tentang Rencana Tata Ruang Kabupaten
Lamongan Tahun 2011-2031.Lamongan
Anonim. (2013). Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 35 tentang
Penetapan Kawasan Minapolitan. Kementrian Kelautan dan Perikanan.
Anonim. (2018). Kecamatan Brondong Dalam Angka Tahun 2018. BPS
Arumsani, D. (2015). Kajian Prasarana Transportasi Pendukung Pengembangan
Kawasan Minapolitan di Kabupaten Sidoarjo. Jurnal Management
Pembangunan Kota.
Aswanah, Efani dan Tjahjono. (2013). Evaluasi Terhadap Implementasi Program
Pengembangan Kawassan Minapolitan Perikanan Tangkap di Pelabuhan
Perikanan Nusantara (PPN) Brondong Kabupaten Lamongan Jawa Timur.
Jurnal ECSOFiM (Volume 1 Nomor 1). Malang.
Damrah, F. Ikawati dan Amri, E. (2018). Strategi Pengembangan Kawsaan
Minapolitan Pamboang Kabupaten Majene Dalam Konsep Pengembangan
WIlayah. Jurnal Plano Madani (Volume 7 Nomor 1 Halaman 37-45). Majene.
Fatmawati, Y, H. Bambang, A, N. dan Rosyid, A. (2015). Analisis Effisiensi Tempat
Pelelangan Ikan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong Kabupaten
Lamongan. Jurnal Fisheries Resources Utilization Management and Technology
(Volume 4 Nomor 4 Halaman 50 - 56). Semarang.
Jahid, J. (2013). Studi Pengembangan Kecamatan Mattiro Sompe Sebagai Kawasan
Minapolitan Kabupaten Pinrang. Jurnal UIN Alaudin. Makassar.
Lamia. L B, Rengkung. M M dan Takumangsang. E D. (2015). Ketersediaan
Prasarana Sarana Dalam Mendukung Kawasan Minapolitan Di Kabupaten
Minahasa Selatan. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Sam
Ratulangi. Manado.
Martadwiprani, H dan Rahmawati, D. (2013). Content Analysis Dalam Identifikasi
Karakteristik Ekonomi Masyarakat Peisir Brondong, Kabupaten Lamongan.
Jurnal Teknik Pomits (Volume 2 Nomor 2). Surabaya.
Muta’ali, Lutfi. (2015). Teknik Analisis Regional. Buku Pertama. Yogyakarta:
Fakultas Geografi Universitas Gajah Mada.
Rahmawati, W. Suryono, A. dan Siswidiyanto. (2015). Pengembangan Pelabuhan
Perikanan Dalam Rencana Penyerapan Tenaga Kerja Masyarakat Pesisir.
Jurnal Administrasi Publik (Volume 2 Nomor 2 Halaman 367-373). Malang.
Riyanto, S. dan Mardiansjah, F, M. (2018). Kajian Pengembangan Industri
Pengolahan Perikanan Dalam Pengembangan Ekonomi Lokal Di Kabupaten
Pati. Jurnal Pengembangan Wilayah dan Kota (Volume 14 Nomor 1 Halaman
61-71). Semarang.
Surbakti, A, P, L. Tondobala, L. dan Suparjo, S. (2019). Analisis Tingkat Pelayanan
Infrasstruktur Pendukung Kawasan Minapolitan Petasia di Kabupaten
Morowali Utara. Jurnal Spasial (Volume 6 Nomor 1). Manado.

32
Yahya, H. (2018). Kajian Kegiatan Perikanan Tangkap Di Kawasan Minapolitan
Kota Ternate. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota (Volume 4 Nomor 2).
Bandung.
Wiratama, A (2016). Dampak Implementasi Program Minapolitan Terhadap
Kesejahteraan Masyarakat Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi. Jurnal
Kebijakan dan Managemen Publik (Volume 4 Nomor 3). Surabaya.

33