Anda di halaman 1dari 29

ASUHAN KEPERAWATAN KEGAWATDARURATAN KLIEN DENGAN

DIARE AKUT

SEMINAR
Disusun untuk Memenuhi Tugas Kelompok
pada Mata Kuliah Sistem KGDS2
yang Diampu oleh Ns. Maryam, M.Kep. Sp. An

Disusun Oleh : Kelompok 3 (7B)


1. Prameswari Ayu Winarsih (G2A016067)
2. Rofiqoh Hidayana (G2A016068)
3. Rizaldy Yuwananda (G2A016069)
4. Destia Ayu Wulansari (G2A016070)
5. Nur Arifin (G2A016071)
6. Kiswara Dessy Ambarwati (G2A016072)
7. Diah Ayu Puspita Ningtias (G2A016073)
8. Neng Indah Awwaliyah Putri (G2A016075)
9. Luthfina Dewi Silfiyani (G2A016076)

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
TAHUN 2019

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa , atas rahmat-Nya
maka kami dapat menyelesaikan tugas Seminar dengan judul “Asuhan Keperawatan
Kegawatdaruratan Klien dengan Diare Akut”. Penyusunan tugas ini merupakan salah
satu tugas kelompok pada mata ajar Sistem KGDS2 di Universitas Muhammadiyah
Semarang. Dalam penulisan tugas ini kami menyampaikan ucapan terima kasih yang
tak terhingga kepada :

1. Ns. Akhmad Mustofa., M.Kep selaku koordinator mata ajar Sistem KGDS2.
2. Ns. Maryam, M.Kep. Sp. An selaku pembimbing seminar Sistem KGDS2
3. Rekan-rekan semua yang mengikuti perkuliahan mata ajar Sistem KGDS2.
4. Keluarga yang selalu mendukung penyusunan.
5. Semua pihak yang ikut membantu penyusunan tugas Makalah dengan judul
“Asuhan Keperawatan Kegawatdaruratan Klien dengan Diare Akut” yang
tidak dapat disebutkan satu persatu.
Kami merasa masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini baik
pada teknis penulisan maupun materi, mengingat kemampuan yang dimiliki dalam
penyusunan. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat diharapkan demi
penyempurnaan makalah ini.

Semarang, 07 Desember 2019

Penyusun

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Diare ialah salah satu penyebab utama morbilitas dan mortalitas
anak di Indonesia. Dalam berbagai hasil Survei kesehatan Rumah
Tangga,diare menempati kisaran urutan ke-2 dan ke-3 pada tingkat kematian
yang terjadi pada bayi di Indonesia. Sebagian besar diare akut diakibatkan
oleh infeksi. Berbagai dampak terjadi karena infeksi pada saluran cerna di
antarnya dari pengeluaran toksin yang dapat mengakibatkan gangguan
sekresidan reabsorps icairan dan elektrolit akibat dehidrasi, gangguan
keseimbangan elektrolit dan keseimbangan asam basa. Invasidan
destruksisel epitel, penetrasi kelamina propria serta kerusakan mikrovili
dapat memunculkan keadaan maldiges dan malabsorpsi. Apabila tidak
memiliki pelayanan yang kuat dan akhirnya dapat mengalami invasi sistemik.
Diare merupakan salah satu penyakit dengan insidensi tinggi di dunia
dan dilaporkan terdapat hampir 1,7 milyar kasus setiap tahunnya. Penyakit ini
sering menyebabkan kematian pada anak usia di bawah lima tahun (balita).
Dalam satu tahun sekitar 760.000 anak usia balita meninggal karena penyakit
ini. Didapatkan 99% dari seluruh kematian pada anak balita terjadi di negara
berkembang. Sekitar ¾ dari kematian anak terjadi di dua wilayah WHO, yaitu
Afrika dan Asia Tenggara. Kematian balita lebih sering terjadi di daerah
pedesaan, kelompok ekonomi dan pendidikan rendah. Sebanyak ¾ kematian
anak umumnya disebabkan penyakit yang dapat dicegah, seperti kondisi
neonatal, pneumonia, diare, malaria, dan measles (WHO, 2013). Indonesia
tercatat menangani sebesar 35,5% kasus diare. Jawa Tengah dilaporkan
memiliki jumlah kasus diare sebesar 1.337.427 kasus dan telah menangani
225.332 kasus atau sebesar 16,8% sedangkan jumlah penderita diare di
Semarang sebesar 12.264.
Diare adalah buang air besar yang terjadi pada bayi dan anak yang
sebelumnya nampak sehat, dengan frekuensi tiga kali atau lebih per hari,
disertai perubahan tinja menjadi cair, dengan atau tanpa lendir dan darah.
Apabila pada diare pengeluaran cairan melebihi pemasukan maka akan terjadi
defisit cairan tubuh, maka akan terjadi dehidrasi. Berdasarkan derajat
dehidrasi maka diare dapat dibagi menjadi diare tanpa dehidrasi, diare
dehidrasi ringan sedang dan diare dehidrasi berat. Pada dehidrasi berat terjadi
defisit cairan sama dengan atau lebih dari 10% berat badan. Anak dan
terutama bayi memiliki risiko yang lebih besar untuk menderita dehidrasi
dibandingkan orang dewasa (Yusuf, 2016).
Pada diare akut dengan dehidrasi berat, volume darah berkurang
sehingga dapat terjadi dampak negatif pada bayi dan anak–anak antara lain
syok hipovolemik (dengan gejala-gejalanya yaitu denyut jantung menjadi
cepat, denyut nadi cepat, kecil, tekanan darah menurun, pasien lemah,
kesadaran menurun, dan diuresis berkurang), gangguan elektrolit, gangguan
keseimbangan asam basa, gagal ginjal akut, dan proses tumbuh kembang anak
terhambat yang pada akhirnya dapat menurunkan kualitas hidup anak di masa
depan.
Dehidrasi memicu gangguan kesehatan, mulai dari gangguan ringan
seperti mudah mengantuk, hingga penyakit berat seperti penurunan fungsi
ginjal. Pada awalnya anak akan merasa haus karena telah terjadi dehidrasi
ringan. Bila tidak ditolong, dehidrasi tambah berat dan timbulah gejala-gejala.
Karena itu, pengobatan awal untuk mencegah dan mengatasi keadaan
dehidrasi sangat penting pada anak dengan diare. Pemberian cairan yang tepat
dengan jumlah yang memadai merupakan modal yang utama mencegah
dehidrasi. Cairan harus diberikan sedikit demi sedikit dengan frekuensi
sesering mungkin. Penyakit diare dapat mengakibatkan kematian bila
dehidrasi tidak diatasi dengan baik. Sebagian besar diare pada anak akan
sembuh sendiri (self limiting disease) asalkan dehidrasi dapat dicegah karena
merupakan penyebab kematian (Yusuf, 2016).
Oleh karena itu perawat sebagai tenaga kesehatan perlu mengetahui
tanda gejala adanya diare serta derajat dehidrasi pada klien, perawat harus
mampu mengetahui kondisi pasien secara keseluruhan sehingga intervensi
yang diberikan bermanfaat untuk kemampuan fungsional pasien, perawat
harus mampu berkolaborasi dengan tim kesehatan lain dan keluarga untuk
mendukung adanya proses keperawatan serta dalam pemberian asuhan
keperawatan diperlukan pemberian pendidikan kesehatan pada keluarga
tentang penyakit, penyebab diare, pencegahan, dan penanganan.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui secara umum dan keseluruhan mangenai penyakit
“Asuhan Keperawatan Kegawadaruratan Diare Akut” agar dapat
memeberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan Kegawadaruratan
Diare Akut sebaik mungkin.
2. Tujuan Khusus
Berdasarkan tujuan umum tersebut didapatkan tujuan khusus dari
penelitian kasus ini adalah :
a. Untuk mengetahui dan memahami definisi dari Diare Akut.
b. Untuk mengetahui dan memahami etiologi dari Diare Akut.
c. Untuk mengetahui dan memahami klasifikasi dari Diare Akut.
d. Untuk mengetahui dan memahami patofisiologi dari Diare Akut.
e. Untuk mengetahui dan memahami apa saja manifestasi klinis dari
Diare Akut.
f. Untuk mengetahui dan memahami penatalaksanaan yang tepat pada
penderita Diare Akut.
g. Untuk mengetahui dan memahami proses keperawatan yang sesuai
pada Diare Akut.

C. Metode Penulisan
1. Metode kepustakaan
Yaitu dengan mengumpulkan referensi dari beberapa buku seperti buku
keperawatan kegawadaruratan, sdki, dll.
2. Media internet
Yaitu bersumber dari internet yang relevan dengan asuhan keperawatan
kegawadaruratan keracunan dan overdosis dan berbagai jurnal.

D. Sistematika Penulisan
Berdasarkan dari hasil penyusunan ini, disini kelompok mebuat sistematika
penulisan yang dimulai dari :
BAB I : Pendahuluan
Yang terdiri dari, latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan, dan
sistematika penulisan.
BAB II : Konsep Dasar
Yang terdiri dari pengertian, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis,
penatalaksanaan, pengkajian, pathways, intervensi dan rasional.
BAB III : Penutup
Yang terdiri dari kesimpulan.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Diare merupakan peningkatan jumlah tinja disertai dengan
peningkatan kadar air sebagai akibat perubahan transportasi air dan elektrolit
oleh saluran gastrointestinal (GI) yang dapat terjadi secara akut bahkan kronis
(Hockenberry & Wilson, 2015).
Pendapat lain terkait diare adalah gejala yang dihasilkan dari gangguan
yang melibatkan fungsi pencernaan, penyerapan, dan sekresi. Diare
disebabkan oleh air usus dan transpor elektrolit yang abnormal (Walker dalam
Hockenberry, 2015).

B. Klasifikasi/ Jenis
Gangguan diare melibatkan organ diantaranya lambung dan usus
(gastroenteritis), usus kecil (enteritis), usus besar (colitis) atau melibatkan
usus kecil dan besar (enterocolitis). Menurut (Hockenberry & Wilson, 2015)
diare diklasifikasikan menjadi akut dan kronis.
1. Diare Akut
Diare akut didefinisikan sebagai peningkatan frekuensi yang tiba-tiba
dan perubahan konsistensi feses, sering disebabkan oleh agen infeksi pada
saluran cerna. Kondisi ini mungkin terjadi akibat adanya infeksi saluran
pernapasan atas atau saluran kemih, terapi antibiotik, atau penggunaan
pencahar.
Diare akut biasanya sembuh sendiri (durasi 14 hari) dan reda tanpa
pengobatan khusus jika dehidrasi tidak terjadi. Diare infeksi akut
(gastroenteritis infeksi) disebabkan oleh berbagai patogen virus, bakteri,
dan parasit.
2. Diare Kronis
Diare kronis adalah peningkatan frekuensi feses dan peningkatan
kadar air dengan durasi lebih dari 14 hari. Ini sering disebabkan oleh
kondisi kronis seperti sindrom malabsorpsi, penyakit radang usus,
defisiensi imun, alergi makanan, intoleransi laktosa, atau akibat dari
manajemen diare akut yang tidak adekuat.
Penelitian telah mengaitkan kebiasaan diet yang buruk dan sensitivitas
makanan dengan diare kronis. Asupan jus dan pemanis buatan yang
berlebihan seperti sorbitol, suatu zat yang ditemukan dalam banyak
minuman dan makanan yang disiapkan secara komersial, mungkin
menjadi faktor.

C. Etiologi/ Faktor Predisposisi


Menurut (Hockenberry & Wilson, 2015) penyebab secara umum kasus diare
disebabkan oleh air usus dan transpor elektrolit yang abnormal. Mukosa usus
bayi muda lebih permeabel terhadap air daripada anak yang lebih tua. Oleh
karena itu, pada bayi muda dengan peningkatan osmolalitas luminal usus yang
disebabkan oleh diare, lebih banyak cairan dan elektrolit yang hilang daripada
pada anak yang lebih besar. Namun diare juga dapat timbul dari beberapa
proses patofisiologis meliputi :
1. Infeksi Bakteri dan Parasit
Sebagian besar patogen yang menyebabkan diare disebarkan melalui rute
fekal oral melalui makanan atau air yang terkontaminasi atau disebarkan
dari orang ke orang di mana ada kontak dekat, kurangnya air bersih,
kebersihan yang buruk, kekurangan nutrisi, dan sanitasi yang buruk adalah
faktor risiko utama untuk berkembangnya patogen jenis bakteri atau
parasit.
a) Bakteri
Infeksi bakteri penyebab diare meliputi :
1) Salmonella, Shigella, Campylobacter
Organisme ini adalah bakteri gram negatif dan dapat kontak
melalui makanan mentah atau kurang matang, makanan atau air
yang terkontaminasi, atau melalui rute fecal-oral.
2) Bakteri jenis lain : Escherichia coli, Yersinia, Aeromonas,
Clostridium difficile, Staphylococcus aureus.
b) Virus
Penyebab infeksi dari golongan virus meliputi :
1) Rotavirus
Virus ini menyebar melalui rute tinja-oral atau melalui kontak
orang-ke-orang, dan hampir semua anak terinfeksi rotavirus
setidaknya satu kali pada usia tersebut.
2) Virus yang lain meliputi : virus Norwalk, virus kecil dan bundar,
adenovirus, pestivirus, astrovirus, caliciovirus, parvovirus.
c) Parasit
Dari golongan parasit meliputi Giardia lamblia, Cryptosporidium,
Isospora belli, Microsporidia, Strongyloides, Entamoeba histolytica.
2. Kondisi Terkait
a) Infeksi saluran pernapasan atas.
b) Infeksi saluran kemih
c) Otitis media
3. Penyebab diet
a) Makan berlebihan.
b) Pengenalan makanan baru.
c) Ganti susu terlalu cepat setelah episode diare.
d) Konsumsi sorbitol atau fruktosa berlebihan.
4. Obat-obatan
a) Obat Pencahar.
b) Antibiotik
Pemberian antibiotik sering dikaitkan dengan diare karena antibiotik
dapat mengubah flora usus normal, yang mengakibatkan pertumbuhan
berlebih dari bakteri lain.
Clostridium difficile adalah pertumbuhan bakteri yang paling umum
dan menyumbang sekitar 20% dari semua diare terkait antibiotik.
Patogen lain yang terkait dengan diare yang disebabkan oleh antibiotik
termasuk Klebsiella oxytoca, Clostridium perfringens, dan
Staphylococcus aureus.
5. Penyebab dari racun (toxic)
a) Tertelan :
- Golongan logam berat (arsenik, timbal, merkuri).
- Golongan Fosfat organik.
6. Penyebab Fungsional
a) Sindrom iritasi usus (irritable bowel syndrome).
7. Penyebab Lain
a) Enterocolitis Pseudomembran.
b) Enterokolitis Hirschsprung.
Faktor Predisposisi yang dapat menjadi sebab mendasar terjadinya kondisi
diare yaitu :
1. Umur
Semakin muda umur seorang anak, tingkat kerentanan terjadinya diare
bahkan keparahan kondisi tersebut semakin tinggi. Bayi lebih rentan
terhadap serangan diare yang sering dan parah karena sistem
kekebalannya belum terpapar banyak patogen dan belum mendapatkan
antibodi pelindung.
2. Gangguan Kesehatan
Anak-anak yang kekurangan gizi atau immunocompromised lebih rentan
dan cenderung mengalami diare yang lebih parah.
3. Lingkungan
Frekuensi terjadinya kasus diare lebih sering terjadi di daerah yang ramai/
padat penduduk, sanitasi di bawah standar, fasilitas yang buruk untuk
persiapan dan pendinginan makanan, dan pendidikan perawatan kesehatan
yang umumnya tidak memadai. Frekuensi diare pada masa bayi berkaitan
erat dengan konsumsi susu yang terkontaminasi.

D. Patofisiologi
1. Patogen
Patogen masuk ke dalam tubuh melalui rute oral atau fekal.
Selanjutnya patogen akan menempel pada sel-sel mukosa pada saluran
gastrontestinal. Invasi saluran gastrointestinal oleh patogen menyebabkan
dikeluarkannya mediator kimia seperti enterotoksin dan mediator
sitotoksik. Karena pelepasan mediator kimia tersebut menyebabkan
peningkatan sekresi usus dan penurunan penyerapan usus sekunder akibat
kerusakan usus karena peradangan (Hockenberry & Wilson, 2015).
2. Gangguan Osmotik
Gangguan osmotik terjadi akibat terdapat makanan atau zat yang tidak
dapat diserap oleh organ gastrointestinal sehingga menyebabkan tekanan
osmotik dalam rongga tinggi dan terjadi pergeseran air dan elektrolit
kedalam rongga usus, isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang
usus untuk mengeluarkan sehingga timbul diare (Vivian, 2010).
3. Gangguan motilitas
Hiperperistaltik usus akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus
untuk menyerap makanan sehingga timbul diare sebaliknya bila peristaltik
usus menurun akan mengakibatkan bakteri timbul berlebihan selanjutnya
timbul diare pula (Vivian, 2010).
Jadi jika terjadi disfungsi saluran GI akan dapat menyebabkan masalah
signifikan dengan pertukaran cairan, elektrolit, dan nutrisi. Sehingga
muncul berbagai gangguan fisiologis yang paling serius dan langsung
yang terkait dengan penyakit diare parah adalah dehidrasi,
ketidakseimbangan asam-basa dengan asidosis, dan syok yang terjadi
ketika dehidrasi berlanjut ke titik di mana status peredaran darah sangat
terganggu.

E. Manifestasi Klinik
Menurut (Hockenberry & Wilson, 2015) tanda gejala diare akut :
No Etiologi Manifestasi Klinik
Virus
1. Rotavirus - Demam ringan hingga sedang
Inkubasi : 48 jam - Muntah diikuti timbulnya tinja berair
- Demam dan muntah umumnya mereda dalam
waktu sekitar 2 hari, tetapi diare berlanjut 5-7 hari.
Calcivirus - Kram perut, mual, muntah, malaise, demam ringan,
Inkubasi : 12-48 diare encer tanpa darah, durasi 2-3 hari, cenderung
jam menyerupai gejala keracunan makanan dengan
mual yang mendominasi.
Bakteri
2. Escherichia coli Diare berair 1-2 hari, kemudian kram perut parah dan
Inkubasi : 3-4 hari diare berdarah Dapat berkembang menjadi sindrom
uremik hemolitik.
Salmonella - Mual, muntah, sakit perut kolik, diare berdarah,
Inkubasi : 6-72 demam, variabel gejala (ringan hingga berat).
jam - Dapat mengalami manifestasi sakit kepala dan
serebral (mis., kantuk kebingungan, meningismus,
kejang).
- Bayi mungkin afebril dan tidak beracun.
- Dapat mengakibatkan septikemia dan meningitis
yang mengancam jiwa.
- Mual dan muntah biasanya berlangsung singkat,
diare dapat bertahan selama 2-3 minggu.
- Virus yang biasanya ditumpahkan rata-rata 5
minggu; kasus dilaporkan hingga 1 tahun.
Salmonella typhi - Manifestasi tergantung pada usia.
Inkubasi : 7-14 - Nyeri perut, diare, mual, muntah, demam tinggi,
hari atau 3-30 hari lesu Harus diobati dengan antibiotik
3. Sigella Group - Anak-anak tampak sakit.
Inkubasi : 1-7 hari - Gejala dimulai dengan demam, kelelahan,
anoreksia, nyeri perut kram sebelum diare berair
atau berdarah.
- Gejala biasanya mereda dalam 5-10 hari.
4. Yersinia - Pada pemeriksaan ELISA Pasien memiliki
enterocolitica leukositosis, peningkatan tingkat sedimentasi
Inkubasi : sesuai
dosis 1-3 minggu
5. Campylobacter Demam, sakit perut, diare yang bisa berdarah,
jejuni muntah berair, banyak, diare berbau klinis.
Inkubasi : 1-7 hari Secara klinis seperti infeksi oleh Salmonella atau
organisme Shigella Penularan tinja-oral.
6. Vibrio cholerae - Tiba-tiba muntah, diare encer tanpa kram atau
Gram-negatif, tenesmus.
Inkubasi : 1-3 hari - Dehidrasi dapat terjadi dengan cepat
7. Clostridium - Diare berair ringan yang berlangsung selama
difficile Gram- beberapa hari.
positive - Diare dan penyakit yang berkepanjangan Dapat
menyebabkan kolitis pseudomembran.
- Beberapa individu sangat sakit dengan demam
tinggi, leukositosis, hipoalbuminemia.
8. Clostridium - Onset akut - diare berair, nyeri perut kram.
perfringens - Demam, mual, dan muntah jarang terjadi Durasi
penyakit biasanya 24 jam.
9. Clostridium Sakit perut, kram, dan diare.
botulinum Gram- Jenis lainnya : gangguan pernapasan, gejala SSP.
positive
Inkubasi:6-24 hari
10. Staphylococcus Presentasi klinis tergantung pada tempat pemasukan
Inkubasi : 1-8 jam Pada keracunan makanan, diare yang banyak, mual,
dan muntah

F. Komplikasi
Komplikasi menurut (Hockenberry & Wilson, 2015) meliputi :
1. Dehidrasi
Kehilangan cairan/ dehidrasi diakibtkan oleh pengeluaran feses yang
sering dengan konsentrasi berair, asupan cairan yang bekurang akibat
mual, muntah dan anoreksia, kehilangan cairan akibat demam, hiperpnea
dan suhu lingkungan yang tinggi.

2. Ketidakseimbangan elektrolit
Kehilangan natrium, klorida, kalium, dan dalam beberapa kasus
bikarbonat juga terjadi penurunan.
3. Asidosis Metabolik
Ketosis akibat metabolisme lemak ketika toko glikogen dihabiskan dalam
dehidrasi diare yang tidak diobati atau karbohidrat yang tidak adekuat.
Asupan dapat menyebabkan kekurangan gizi.

G. Penatalaksanaan
1. Manajemen Terapi
Tujuan utama dalam pengelolaan diare akut meliputi penilaian
ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, rehidrasi, terapi cairan
perawatan, dan reintroduksi diet yang memadai.
Obati bayi dan anak-anak dengan diare akut dan dehidrasi terlebih
dahulu dengan terapi rehidrasi oral (ORT). Ini lebih efektif, lebih aman,
lebih tidak menyakitkan, dan lebih murah daripada rehidrasi IV. American
Academy of Pediatrics, Organisasi Kesehatan Dunia, dan Pusat
Pengendalian dan Pencegahan Penyakit semua merekomendasikan ORT
sebagai pengobatan pilihan untuk sebagian besar kasus dehidrasi yang
disebabkan oleh diare (Churgay dan Aftab dalam Hockenberry & Wilson,
2015). Syarat untuk melakukan rehidrasi meliputi :
a) Larutan rehidrasi harus terdiri dari 75-90 mEq natrium per liter.
b) Berikan 40-50 ml / kg larutan rehidrasi selama 4 jam.
c) Solusi penggantian dan pemeliharaan harus terdiri dari 40-60 mEq
natrium per liter.
d) Evaluasi kembali perlunya rehidrasi lebih lanjut; memulai terapi
pemeliharaan menggunakan formulasi perawatan, dengan volume
harian tidak melebihi 150 ml / kg / hari.
e) Pada anak-anak dengan diare tanpa dehidrasi yang signifikan, fase
pemeliharaan dapat dimulai tanpa perlu solusi rehidrasi.
f) Jika cairan tambahan diperlukan, gunakan cairan rendah garam seperti
ASI atau air.
Solusi rehidrasi oral (ORS) meningkatkan reabsorpsi natrium dan
air. Pedoman rehidrasi yang direkomendasikan oleh American Academy of
Pediatrics adalah sebagai berikut :
Derajat Tanda dan Terapi Penggantian Terapi Pemeliharaan
Dehidrasi gejala Rehidrasi Pengeluaran
Feses
Ringan Rasa haus ORS, 50 ml / ORS, 10 ml / - Menyusui jika sudah
(5%-6%) yang kg dalam 4 kg (untuk ada harus dilanjutkan.
meningkat, jam bayi) atau - berikan susu formula
mukosa 150-250 ml bayi reguler jika
bibir kering sekaligus toleransi
(untuk anak - Jika dicurigai
yang lebih intoleransi laktosa,
besar) untuk berikan formula bebas
setiap tinja laktosa yang tidak
diare dicairkan (atau formula
Sedang Kehilangan ORS, 100 ml / Sama seperti yang mengandung
(7%-9%) turgor kulit, kg dalam 4 di atas laktosa setengah
membran jam kekuatan hanya untuk
mukosa periode singkat) dan
kering, mata bayi dan anak-anak
cekung, yang menerima
fontanel makanan padat harus
cekung melanjutkan dietnya
Parah Tanda Cairan Sama seperti yang biasa.
(>9%) dehidrasi intravena di atas
sedang plus (Ringer
1 sebagai lactate), 40
berikut: ml / kg / jam
denyut nadi sampai nadi
cepat, dan kesadaran
sianosis, kembali
pernapasan normal;
cepat, lesu, kemudian 50-
koma 100 ml / kg
Menurut (Kemenkes, 2015) manajemen untuk anak yang mengalami diare
berdasarkan buku bagan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) sebagai
berikut :
Dengan mengacu pada manajemen terapi A B dan C meliputi :
H. Pengkajian
Pengkajian pada fokus kegawatdaruratan terdiri dari Primary
Assesment dan Secondary Assesment. Primary Assesment dilakukan untuk
menangani masalah yang mengnacam jiwa dan harus segera dilakukan
tindakan. Sedangkan Secondary Assesment bertujuan untuk mengidentifikasi
semua penyakit/masalah yang berkaitan dengan masalah klien. Menurut
(Kartikawati, 2011) Komponen pengkajian Primary Assesment meliputi :

Komponen Pemeriksaan Tindakan


Airway - Periksa apakah jalan - Periksa dan atur jalan napas
(Jalan napas) napas paten/tidak. untuk memastikan kepatenan.
- Periksa vokalisasi. - Identifikasi dan keluarkan
- Ada tidaknya aliran benda asing (darah,
udara. muntahan, sekret atau benda
- Periksa adanya suara asing) yang menyebab
napas abnormal : stridor, obstruksi parsial/total.
snoring, gurgling. - Pasang orofaringeal
airway/nasofaringeal airway
untuk mempertahankan
kepatenan jalan napas.
- Pertahankan dan lindungi
tulang servikal.
Breathing - Periksa ada dan tidaknya - Auskultasi bunyi napas.
(Pernapasan) pernapasan efektif 3M - Atur posisi klien untuk
(melihat naik turunnya meningkatan ekspansi
dinding dada, dinding dada.
mendengarkan suara - Berikan oksigen.
- Beri bantuan napas dengan
napas, dan merasakan
Masker Bag Valve Mask
hembusan napas).
- Warna kulit. (BVM)/Endotracheal Tube
- Identifikasi pola (ETT) jika perlu.
pernapasan abnormal. - Tutup luka jika ada luka
- Periksa adanya terbuka di dada.
penggunaan otot bantu - Berikan terapi untuk
pernapasan, deviasi mengurangi bronkospasme
trakea, gerakan dinding /adanya edema pulmonal dll.
dada yang asimetris.
- Periksa pola napas :
adanya pernapasam
cuping hidung,
bradipnea/takipnea.
Circulation - Periksa denyut nadi, - Lakukan tindakan CPR/
(Sirkulasi) kualitas dan karakternya. defibrilasi sesuai dengan
- Periksa adanya gangguan indikasi.
irama jantung dengan - Lakukan tindakan
atau tanpa EKG. penanganan pada pasien
- Periksa CRT, warna kulit distritmia.
dan suhu tubuh serta - Bila ada perdarahan lakukan
adanya diaforesis. tindakan penghentian
perdarahan.
- Pasang jalur IV.
- Ganti volume darah/cairan
dengan cairan kristaloid
isotonik atau darah.

Menurut (Kartikawati, 2011) Secondary Assesment meliputi anamnesis dan


pemeriksaan fisik. Anamnesis dapat dilakukan dengan format SAMPLE :
Sign and symptoms : tanda dan gejala
Allergies : alergi
Medications : pengobatan
Pertinent medical history : riwayat kesehatan terkait
Last meal (or medication or menstrual period) : terakhir
makan/pengobatan/mentstruasi
Events surrounding this incident : kejadian yang menyertai

Pemeriksaan Fisik meliputi :

No Komponen Pertimbangan
1. Observasi umum - Observasi penampilan, perhatikan postur dan posisi
tubuh.
- Periksa apakah pasien menggunakan pelindung/tidak.
- Tanyakan keluhan umum.
- Perhatikan tingkat kesadaran.
- Amati perilaku : tenang/gelisah/kooperatif.
- Kaji komunikasi verbal, apakah bicaranya jelas/
bngung/bergumam.
- Kaji apakah ada bau keton/urine/etanol atau bahan
kimia lain.
- Apakah ada tanda luka lama atau baru.
2. Kepala dan Wajah - Periksa adakah luka/perdarahan/bentuk asimetri.
- Periksa apakah ukuran dan bentuk pupil kanan-kiri
sama, apakah bereaksi thd cahaya.
- Periksa status visual pasien.
- Palpasi kulit kepala yang luka.
- Periksa apakah ada pembengkakan, perdarahan pada
hidung/telinga.
3. Leher - Periksa pembengkokan leher, adanya perdarahan atau
luka.
- Periksa adany emfisema subkutan/deviasi trakea.
- Palpasi adanya luka/jejas atau keluhan nyeri pada
servikal.
4. Dada - Periksa benjolan/luka/perdarahan.
- Periksa naik turunnya dinding dada, simetris/tidak.
- Periksa penggunaan otot bantu napas.
- Palpasi benjolan/nyeri/emfisema subkutis.
- Auskultasi suara napas kanan-kiri adakan suara napas
tambahan.
- Asukultasi suara jantung.
5. Abdomen - Periksa luka/distensi abdomen/memar.
- Auskultasi bising usus.
- Palpasi dan bandingkan denyut di kedua sisi abdomen.
- Palpasi adanya massa, rigiditas dan pulsasi abdomen.
- Perkusi untuk mengetahui adanya cairan/udara.
- Palpasi hepar.
6. Ekstremitas - Periksa dan palpasi adanya
benjolan/nyeri/memar/perdarahan dan edema.
- Perhatikan adanya bekas luka, nyeri/patah tulang.
- Palpasi dan bandingkan denyut di ekstremitas kanan-
kiri.
- Catat perbedaan warna, suhu, CRT, pergerkan dan
sensasi.
7. Punggung - Jika dicurigai ada luka pada luka pada punggung, maka
balikkan pasien dengan cara log roll.
- Periksa dan palpasi adanya benjolan/memar/nyeri/luka.
- Lakukan pemeriksaan rectal touche (RT) untuk
identifikasi darah/pembengkakan prostat/benjolan dan
hilangnya reflek spinkter internal.

Kasus Skenario
An. Sasa 2 tahun datang ke UGD RS Roemani Semarang dengan keluhan
BAB dengan frekuensi ˃ 6 kali/ hari, konsistensi tinja air dan berwarna
kuning kehijauan. An.Sasa rewel dan gelisah,mata cekung, bibir kering, UUB
cekung.

Pengkajian Sesuai Kasus


Data Pre-Hospital :-
Tindakan yang sudah lakukan : -
Keluhan Utama : BAB dengan frekuensi > 6 kali/ hari
Pengkajian Primer :
a. Airway (clear)
b. Breathing (clear)
c. Circulation (clear)
d. Disability (clear)
e. Exposure
Terlihat mata cekung, bibir kering dan UUB cekung.
Penatalaksanaan :
 Tanda-tanda tersebut merupakan tanda jika terjadi penurunan volume
cairan dalam tubuh, jadi untuk tindakannya dapat di rehidrasi.
Pemeriksaan Penunjang
Meurut (Hockenberry & Wilson, 2015) pemeriksaan penunjang yang dapat
dilakukan pada pasien dengan diare meliputi :
1. Pemeriksaan Feses
Untuk mendeteksi konsistensinya normal atau abnormal.
2. Ova and parasit (O&P)
Merupakan pemeriksaan mikroskopis untuk menilai isi tinja untuk
mengetahui apakah terdapat parasit serta telurnya.
3. Kultur Bakteri
Untuk menentukan bakteri patogen dalam tinja.
4. Pemeriksaan tinja untuk patogen vital
Untuk mendeteksi patogen virus dalam tinja, misalnya ELISA untuk
mendeteksi rotavirus atau adenovirus.
5. Lemak kuantitatif
Untuk mendeteksi jumlah lemak yang abnormal di feses, membantu dalam
diagnosis insufisiensi pankreas atau malabsorpsi.
6. Uji pH (Keasaman Feses)
pH Tinja pH <5 menunjukkan malabsorpsi karbohidrat, fermentasi bakteri
kolon menghasilkan asam lemak rantai pendek yang akan menurunkan pH
feses.
I. Pathways Keperawatan
J. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan (PPNI, 2016) :
1. Diare b/d inflamasi gastrointestinal
2. Defisist volume cairan b/d kehilangan cairan aktif.
3. Defisit nutrisi b/d penurunan intake makanan.
4. Resiko syok (Hiporvolemi) berhubungan dengan kehilangan cairan
elektrolit.
5. Risiko kerusakan integritas kulit b/d ekskresi/BAB sering.

K. Intervensi dan Rasional


No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
1 Diare b/d Setelah dilakukan asuhan Observasi :
keperawatan selama 2x 24 1. Identifikasi penyebab
inflamasi
jam eliminasi fekal teratasi diare
gastrointestinal dengan Kriteria hasil : 2. Monitor warna, volume,
frekuensi dan
 Kontrol pengeluaran konsistensi tinja
feses meningkat 3. Monitor iritasi dan
 Keluhan defekasi lama ulserasi kulit didaerah
perianal
dan sulit menurun
Teraupetik :
 Mengejan saat defekasi
menurun 1. Berikan asupan cairan
oral misalnya oralit
 Konsistensi feses
2. Ambil sampel feses
membaik untuk kultur jika perlu
 Frekuensi defekasi Edukasi:
membaik
1. Anjurkan makan porsi
 Peristaltic usus kecil tapi sering
membaik 2. Anjurkan melanjutkan
pemberian asi
Kolaborasi :
1. Kolaborasi pemberian
obat pengeras feses
misalnya atapulgit
2. Kolaborasi pemberian
obat spasmo litik

2 Defisit volume Setelah dilakukan asuhan Observasi:


keperawatan selama 2x24 1. Monitor intake dan
cairan b/d
jam status cairan membaik output cairan
kehilangan cairan dengan Kriteria hasil : Terapeutik:
 Turgor kulit 1. Hitung kebutuhan
aktif
meningkat cairan
 Output urine 2. Berika asupan cairan
meningkat oral
 Membran mukosa Edukasi:
membaik 1. Anjurkan
memperbanyak asupan
cairan oral
Kolaborasi:
1. Kolaborasi pemberian
cairan IV isotonis
(mis.NaCl, RL)
3 Deficit nutrisi b/d Setelah dilakukan asuhan Observasi :
penurunan intake keperawatan selama 3x24 1. Identifikasi status
makanan jam status nutrisi membaik nutrisi
dengan Kriteria hasil: 2. Identifikasi alergi dan
 Posikan yang intoleransi makanan
dihabiskan 3. Identifikasi kebutuhan
meningkat kalori dan jenis
 Diare menurun nutrien
 Berat badan 4. Monitor asupan
membaik makanan
5. Monitor berat badan
Terapeutik:
1. Lakukam oral hygiene
sebelum makan
2. Berikan makanan
tinggi serat untuk
mencegah konstipasi
3. Berikan makanan
tinggi kalori dan tinggi
protein
Edukasi:
1. Anjurkan posisi duduk
2. Anjurkan diet yang
diprogramkan
Kolaborasi:
1. Kolaborasi dengan
ahli gizi untuk
menentukan jumlah
kalori dan jenis
nutrien yang
dibutuhkan
4 Resikosyok Setelah dilakukan tidakan Observasi :
(Hiporvolemi) selama 3x 24 jam
1. Monitor frekuensi dan
berhubungan diharapakan tingkat syok
dengan kehilangan mernurun dengan Kriteria kekuatan nadi
cairan elektrolit Hasil : 2. Monitor berat badan
3. Monitor elastisitas
 Tingkat syok atau turgor kulit
menurun 4. Monitor intake dan
 Kekuatan nadi output cairan
meningkat 5. Identifoikasi tanda
 Output urin tanda hipovolemi
meningkat
 Tingkat kesadaran Terapeutik :
meningkat 1. Atur interval waktu
 Akral dingin pemantauan sesuai
menurun dengan kondisi pasien
2. Dokumentasikan hasil
pemantauan
Edukasi ;
1. Jelaskan tujuan dan
prosedur pemantauan
2. Informasikan hasil
pemnatauan, jika perlu
5 Risiko kerusakan Setelah dilakukan asuhan Observasi :
integritas kulit b/d keperawatan selama 2x24 1. Identifikasi penyebab
ekskresi/BAB jam integritas kulit dan gangguan integritas
sering jaringan meningkat dengan kulit
Kriteria Hasil: Terapeutik :
 Kerusakan jaringan 1. Ubah posisi tiap 2 jam
menurun jika tirah baring
 Kerusakan lapisan 2. Bersihkan perianal
kulit menurun dengan air hangat
3. Gunakan produk
berbahan ringan dan
hipoalergik pada kulit
Edukasi :
1. Anjurkan minum air
yang cukup
2. Anjurkan
meningkatkan asupan
buah dan sayur
3. Anjurkan mandi dan
menggunkan sabun
secukupmnya
4. Anjurkan menghindari
terpapar suhu ekstrim

(PPNI, 2018)

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Diare merupakan peningkatan jumlah tinja disertai dengan
peningkatan kadar air sebagai akibat perubahan transportasi air dan elektrolit
oleh saluran gastrointestinal (GI) yang dapat terjadi secara akut bahkan kronis
(Hockenberry & Wilson, 2015).
Berdasarkan pengertian diatas kelompok mengambil kesimpulan
bahwa diare adalah suatu infeksi yang menyerang membrane mukosa
lambung dan usus halus ditandai dengan frekuensi BAB lebih dari 4 kali
dalam konsistensi cair, yang mengakibatkan kehilangan cairan dan elektrolit.
B. Saran
1. Untuk mahasiswa diharapkan untuk lebih memahami tentang asuhan
keperawatan dengan diare akut sehingga dalam melakukan asuhan
keperawatan lebih komprehensif.
2. Untuk perawat diharapkan untuk meningkatkan konsep keperawatan
dengan diare akut dengan cara diskusi maupun seminar yang berkaitan
dengan masalah-masalah diare akut.
3. Untuk keluarga diharapkan untuk dapat menjaga pola hidup sehat dengan
mencuci tangan sesudah dan sebelum makan.

DAFTAR PUSTAKA

Hockenberry, M. J., & Wilson, D. (2015). Wong’s Nursing Care of Infants and
Children (10th Editi). Canada: Elsevier.
Kartikawati, D. (2011). Buku Ajar Dasar-Dasar Keperawatan Gawat Darurat.
Jakarta: Salemba Medika.
Kemenkes. (2015). Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Jakarta: Kemenkes RI.
PPNI. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). Jakarta: DPP
PPNI.
PPNI, P. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta: Dewan
Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Vivian, N. L. (2010). Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Jakarta: Salemba Medika.
Yusuf, S. (2016). Profil Diare di Ruang Rawat Inap Anak. Sari Pediatri, 13(4), 265.
https://doi.org/10.14238/sp13.4.2011.265-70