Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA

PASIEN DENGAN CEREBRAL PALSY

OLEH:

KOMANG NOVIANTARI
1302105006

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2017
A. KONSEP DASAR PENYAKIT

1. Definisi
Cerebral palsy adalah sekelompok gangguan perkembangan gerakan dan postur
yang menyebabkan keterbatasan aktivitas nonprogresif, yang terjadi pada
perkembangan otak janin atau bayi. Gangguan motor cerebral palsy sering disertai
dengan gangguan sensasi, komunikasi kognisi, persepsi, dan/atau perilaku
dan/atau gangguan kejang (Bax et al., 2005). Cerebral palsy merupakan brain
injury yaitu suatu kondisi yang mempengaruhi pengendalian sistem motorik
sebagai akibat lesi dalam otak, atau suatu penyakit neuromuskuler yang
disebabkan oleh gangguan perkembangan atau kerusakan sebagian dari otak yang
berhubungan dengan pengendalian fungsi motorik (Somantri, 2007).

2. Epidemiologi

Kejadian cerebral palsy tidak berubah dalam lebih dari 4 dekade, meskipun
kemajuan signifikan dalam perawatan medis dari neonatus. Di negara maju,
prevalensi diperkirakan keseluruhan cerebral palsy adalah 2-2,5 kasus per 1000
kelahiran hidup. Prevalensi gangguan ini antara bayi prematur dan sangat
prematur adalah jauh lebih tinggi. Dalam dunia berkembang, prevalensi cerebral
palsy tidak tercatat tapi perkiraan 1,5-5,6 kasus per 1000 kelahiran hidup. Angka-
angka ini mungkin dianggap remeh karena kurangnya data, kurangnya akses
kesehatan, jumlah kasus yang terlalu banyak yang parah, dan kriteria diagnostik
yang tidak konsisten (Abdel-Hamid et al., 2012). Dengan kaitannya dengan usia,
kejadian yang menimbulkan cerebral palsy terjadi selama perkembangan otak
belum matur. Menurut sebagian besar referensi, kejadian awal ini dapat terjadi
kapan saja antara perkembangan janin dan usia 3 tahun. Namun, anak-anak
biasanya tidak terdiagnosa sampai setelah usia 1 tahun, dengan kondisi tersebut
menjadi diidentifikasi sebagai anak-anak gagal memenuhi tahap perkembangan.
Seringkali, anak-anak yang lebih tua dan didiagnosis mengalami cerebral palsy-
sebagai hasil dari memiliki gejala yang ada atau masalah yang mirip dengan otak
cerebral-bukan harus diberi label dengan etiologi cedera otak mereka (yaitu,
cedera otak traumatis sekunder untuk kecelakaan kendaraan bermotor, stroke,
kondisi metabolik, dll) (Ancel et al., 2006).
Sekitar 30-50% pasien dengan cerebral palsy memiliki keterbelakangan mental,
tergantung pada jenisnya. Namun, Karena kesulitan oromotor, motorik halus, dan
motorik kasar, komunikasi pada pasien ini mungkin terganggu dan kapasitas
ekspresi intelektual terbatas. Namun, jika cerebral palsy didekati secara
multidisiplin, dengan terapi fisik, pekerjaan, dan gizi untuk memaksimalkan upaya
rehabilitatif, pasien dapat lebih terintegrasi secara akademis dan sosial. Sekitar 15-
60% anak dengan cerebral palsy memiliki epilepsi, dan epilepsi lebih sering pada
pasien dengan quadriplegia spastik atau retardasi mental (Abdel-Hamid et al.,
2012).

3. Etiologi

Penyebab cerebral palsy dapat dibagi dalam 3 bagian yaitu : (Johnston, 2007)
a. Pranatal.
Infeksi terjadi dalam masa kandungan, menyebabkan kelainan pada janin,
misalnya oleh lues, toksoplasmosis, rubela dan penyakit infeksi sitomeaglik.
Kelainan yang menyolok biasanya gangguan pergerakan dan retardasi mental.
Anoksia dalam kandungan, terkena radiasi sinar X dan keracunan kehamilan
dapat menimbulkan serebral palsi.
b. Perinatal.
1) Anoksia/Hipoksia.
Penyebab terbanyak didtemukan dalam masa perinatal ialah cedera otak.
Keadaan inilah yang menyebabkan terjadinya anoksia. Hal demikian
terdapat pada keadaan presentasi bayi abnormal, disproporsi sefalopelvik,
partus lama, plasenta previa, infeksi plasenta, partus menggunakan bantuan
alat tertentu dan lahir dengan seksio sesar.
2) Perdarahan otak.
Perdarahan dan anoksia dapat terjadi bersama-sama, sehingga sukar
membedakannya, misalnya perdarahan yang mengelilingi batang otak,
mengganggu pusat pernapasan dan peredaran darah sehingga terjadi
anoksia. Perdarahan dapat terjadi di ruang subaraknoid dan menyebabkan
penyumbatan CSS sehingga mengakibatkan hidrosefalus. Perdarahan di
ruang subdural dapat menekan korteks serebri sehingga timbul
kelumpuhan spastis.
3) Prematuritas.
Bayi kurang bulan mempunyai kemungkinan menderita perdarahan otak
lebih banyak dibandingkan dengan bayi cukup bulan, karena pembuluh
darah, enzim, faktor pembekuan darah dan lain-lain masih belum
sempurna.
4) Ikterus.
Ikterus pada masa neonatus dapat menyebabkan kerusakkan jaringan otak
yang kekal akibat masuknya bilirubin ke ganglia basal, misalnya pada
kelainan inkompatibilitas golongan darah.
5) Meningitis purulenta.
Meningitis purulenta pada masa bayi bila terlambat atau tidak tepat
pengobatannya akan mengakibatkan gejala sisa berupa palsi serebal.
c. Pascanatal
Setiap kerusakan pada jaringan otak yang mengganggu perkembangan dapat
menyebabkan serebral palsi misalnya pada trauma kapitis, meningitis,
ensefalitis dan luka parut pada otak pasca-operasi.

4. Patofisiologi

Cerebral palsy terjadi karena adanya kerusakan pada sel-sel otak yang berfungsi
untuk mengontrol pergerakan otot. Ketika sel-sel tersebut mati, maka tidak ada
lagi impuls yang diteruskan ke sel otot. Ataupun hilangnya kontrol pada otot dapat
terlihat pada gejala-gejala yang terdapat pada penderita cerebral palsy. Lesi otak
pada suatu paralisis otak walaupun bersifat permanen tetapi tidak progresif.
Hilangnya fungsi neuron otak menyebabkan terjadinya pelepasan sistem kontrol
yang menyebabkan beban berlebihan dan disebut release phenomenon (Johnston,
2007).

Perkembangan susunan saraf dimulai dengan terbentuknya neural tube yaitu


induksi dorsal yang terjadi pada minggu ke 3-4 masa gestasi dan induksi ventral
yang berlangsung pada minggu ke 56 masa gestasi. Setiap gangguan pada masa ini
bisa mengakibatkan terjadinya kelainan kongenital seperti kranioskisis totalis,
anensefali, hidrosefalus dan lain sebagainya. Fase selanjutnya terjadi proliferasi
neuron, yang terjadi pada masa gestasi bulan ke 2-4. Gangguan pada fase ini bisa
mengakibatkan mikrosefali, makrosefali. Stadium selanjutnya yaitu stadium
migrasi yang terjadi pada masa gestasi bulan 3-5. Migrasi terjadi melalui dua cara
yaitu (1) secara radial, daerah periventrikuler dan subventrikuler ke lapisan
sebelah dalam korteks serebri. (2) sedangkan migrasi secara tangensial zona
germinal menuju ke permukaan korteks serebri. Gangguan pada masa ini bisa
mengakibatkan kelainan kongenital seperti polimikrogiri, agenesis korpus kalosum
(Hankins & Speer, 2003).
Stadium organisasi terjadi pada masa gestasi bulan ke 6 sampai beberapatahun
pasca natal. Gangguan pada stadium ini akan mengakibatkan translokasi genetik,
gangguan metabolisme. Stadium mielinisasi terjadi pada saat lahir sampai
beberapa tahun pasca natal. Pada stadium ini terjadi proliferasi neuron, dan
pembentukan selubung myelin.Kelainan neuropatologik yang terjadi tergantung
pada berat dan ringannya kerusakan Jadi kelainan neuropatologik yang terjadi
sangat kompleks dan difus yang bisa mengenai korteks motorik traktus piramidalis
daerah paraventrikuler ganglia basalis, batang otak dan serebelum. Anoksia serebri
sering merupakan komplikasi perdarahan intraventrikuler dan subependim.
Asfiksia perinatal sering berkombinasi dengan iskemi yang bisa menyebabkan
nekrosis. Kerniktrus secara klinis memberikan gambaran kuning pada seluruh
tubuh dan akan menempati ganglia basalis, hipokampus, sel-sel nukleus batang
otak; bisa menyebabkan Cerebral Palsy tipe atetoid, gangguan pendengaran dan
mental retardasi. Infeksi otak dapat mengakibatkan perlengketan meningen,
sehingga terjadi obstruksi ruangan subaraknoid dan timbul hidrosefalus.
Perdarahan dalam otak bisa meninggalkan rongga yang berhubungan dengan
ventrikel. Trauma lahir akan menimbulkan kompresi serebral atau perobekan
sekunder. Trauma lahir ini menimbulkan gejala yang irreversibel. Lesi irreversibel
lainnya akibat trauma adalah terjadi sikatriks pada sel-sel hipokampus yaitu pada
kornu ammonis, yang akan bisa mengakibatkan bangkitan epilepsi (Johnston,
2007).

5. Klasifikasi

Berdasarkan kerusakan gerakan yang terjadi, cerebral palsy dibagi menjadi 6


kategori yaitu : (Suharso, 2006)

a. Spastik
Spastik merupakan bentuk cerebral palsy terbanyak (70-80%). Kerusakan
terjadi di traktus kortikospinalis, anak mengalami kelumpuhan yang kaku,
refleks menggigil. Refleks moro sering terjadi baik ketika dirangsang maupun
tidak dirangsang serta refleks menetap dan masih ada padahal seharusnya
hilang di usia tertentu. Normalnya hilang di usia 3-4 bulan, tapi pada anak
denga cerebral palsy refleks ini muncul dan tetap ada. Berdasarkan jumlah
ektremitas yang terkena, cerebral palsy spastik dibagi menjadi 4 yaitu
monoplegia, quadriplegia, diplegia dan hemiplegia.
b. Koreo-Attentoid
Dikenal juga dengan istilah cerebral palsy diskrinetik atau gerak, jadi tangan
anak atau kakinya bergerak melengkung-melengkung, sikapnya abnormal dan
gerakannya involunter dengan sendirinya. Refleks neonatalnya menetap.
Kerusakan terjadi di gangglia basalis.
c. Aktaksik
Gangguan koordinasi dengan gerakan melengkung juga, tapi gangguan terjadi
di tulang belakang, leher kaku dan tampak melengkung. Gangguan biasanya
menunjukan perkembangan motorik yang terlambat sehingga kehilangan
keseimbangan yang dapat terlihat saatanak belajar duduk, Kerusakan biasanya
terjadi di serebelum.
d. Distonia
Cerebral palsy yang ditantai dengan adanya kekauan atau kelemahan otot.
Kerusakan otak berada pada bagian korteks dan di gangglia basalis.
e. Balismus
Keadaan dimana gerakan tubuh menjadi involunter dan tidak terkoordinasi,
kadang juga disertai melengkung-melengkung. Kerusakan terjadi di gangglia
basalis.
f. Campuran
Merupakan jenis cerebral palsy dengan semua gabungan di atas, kerusakan
bisa terjadi di daerah otak mana saja.

6. Gejala Klinis
Manifestasi klinis cerebral palsy adalah sebagai berikut (Bax et al., 2005):
a. Terlambatnya perkembangan pergerakan kasar.
b. Abnormal refleks dan penampilan gerakan.
c. Abnormal postur dan tonus otot.
d. Kejang.
e. Abnormal pada refleks moro, plantar, palmar.
f. Gangguan pada intelektual.
g. Tanda-tanda yang perlu diwaspadai ; pada fisik ; kurang kontrol pada daerah
kepala setelah usia 3 bulan, kejang dan kaku pada lengan dan kaki, selalu
terdorong ke bawah/postur tidak rata, tidak dapat duduk tanpa support, hanya
menggunakan beberapa anggota badan.
h. Klasifikasi spastic.
1) Spastic ; hypertonicity dengan kurangnya kontrol pada postur tubuh
keseimbangan dan pergerakan koordinasi. Kerusakan keterampilan
gerakan halus dan kasar. Pergerakan aktif yang meningkat pada postur
dan berlebihan pada salah satu anggota tubuh.
2) Dyskenitic/athetoid ; pergerakan abnormal yang tidak disadari athetosis,
ditandi dengan pergerakan lambat, biasanya pada ekstremitas bahu, otot
wajah dan lidah.
3) Ataxic ; seperti jalan menyeret, cepat pergerakan mengulang, disintegrasi
pergerakan pada ekstremitas atas anak menggapai benda.
4) Mixed/dystonic : kombinasi spasticity dan athetosis.

7. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik, dapat ditemukan terjadiya kontraktur sendi sekunder
untuk otot spastik, hipotonik untuk tonus otot spastik, keterlambatan pertumbuhan,
dan refleks primitif persisten (Johnston, 2007). Gejala awal cerebral palsy
termasuk diantaranya hipotonia awal, diikuti dengan kekejangan. Umumnya,
kelenturan tidak terjadi sampai setidaknya anak berusia 6 bulan hingga 1 tahun
(Abdel-Hamid et al., 2012).

Pada inspeksi dapat ditemukan leher abnormal atau tonus otot trunkal (menurun
atau meningkat, tergantung pada usia dan jenis cerebral palsy), postur asimetris,
kekuatan atau gaya berjalan atau koordinasi abnormal (Johnston, 2007)

Pasien dengan cerebral palsy dapat menunjukkan refleks meningkat, menunjukkan


adanya lesi upper motor neuron. Kondisi ini juga dapat terjadi sebagai persistensi
refleks primitif, seperti Moro (refleks kejut) dan refleks leher asimetris tonik
(yaitu, postur dengan leher berubah dalam arah yang sama ketika satu lengan
diperpanjang dan yang lain tertekuk). Tonik leher simetris, genggaman palmar,
labirin tonik, dan refleks penempatan kaki juga dicatat. Refleks Moro dan labirin
tonik seharusnya hilang pada saat bayi sudah berusia 4-6 bulan, refleks pegang
palmaris pada 5-6 bulan, refleks tonik leher asimetris dan simetris pada 6-7 bulan,
dan penempatan refleks kaki sebelum 12 bulan. Pada anak dengan cerebral palsy
juga dapat terjadi keterbelakangan atau tidak adanya refleks postural atau protektif
(memperpanjang lengan ketika duduk) (Abdel-Hamid et al., 2012).

Pola perilaku anak secara keseluruhan harus diamati dan masing-masing


ekstremitas bawah dan ekstremitas atas harus dinilai, dengan penilaian sebagai
berikut (Abdel-Hamid et al., 2012):

a. Panggul - fleksi berlebihan, adduksi, dan anteversion femoralis membentuk


pola motorik dominan. Scissoring kaki adalah umum pada cerebral palsy
spastik.
b. Lutut - Fleksi dan ekstensi dengan valgus atau varus terjadi.
c. Foot - Equinus, atau berjalan dengan jari kaki dan varus atau valgus dari
hindfoot adalah umum di cerebral palsy. Kelainan gaya berjalan mungkin
termasuk posisi berjongkok dengan fleksor pinggul ketat dan paha belakang,
paha depan lemah, dan / atau dorsofleksi berlebihan.

8. Pemeriksaan Diagnostik dan Penunjang

a. Pemeriksaan mata dan pendengaran segera dilakukan setelah diagnosis


serebral palsi ditegakkan.
b. Pungsi lumbal harus dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan
penyebabnya suatu proses degeneratif. Pada serebral palsi, CSS normal.
c. Pemeriksaan EEG dilakukan pada pasien kejang atau pada golongan
hemiparesis baik yang disertai kejang yang tidak.
d. Foto rontgen kepala.
e. Penilaian psikologis perlu dikerjakan untuk tingkat pendidikan yang
dibutuhkan.
f. Pemeriksaan metabolik untuk menyingkirkan penyebab lain dari retardasi
mental.
9. Kriteria Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Beberapa
pemeriksaan neurologi yang dapat dilakukan seperti pemeriksaan terhadap
perubahan tonus otot, kekuatan otot, refleks, dan koordinasi. Terdapatnya refleks
primitif yang persisten dan tidak adanya reflek protektif pada usia yang
seharusnya, merupakan gambaran penting yang menggambarkan adanya gangguan
pada traktus kortikospinalis (Saharso, 2006)

10. Diagnosis Banding

Adapun diagnosis banding dari cerebral palsy adalah : (Adnyana, 1995)


d. Gangguan metabolik herediter
e. Myopati metabolik
f. Neuropati netabolik
g. Gangguan gerakan pada individu dengan disabilitas perkembangan
h. Trauma lesi saraf perifer
i. Tumor conus dan cauda equina
j. Malformasi vaskular dari spinal cord

11. Tindakan Penanganan


a. Medik
Terapi hanya dilakukan secara simtomatik tidak secara kausal.
Medikamentosa, untuk mengatasi spastisitas (Suharso, 2006):
1. Benzodiazepin
Usia < 6 bulan tidak direkomendasi
Usia > 6 bulan: 0,12-0,8 mg/KgBB/hari PO dibagi 6-8 jam (tidak lebih 10
mg/dosis)
2. Baclofen (Lioresal) : 3 x 10 mg PO (dapat dinaikkan sampai 40-80
mg/hari)
3. Dantrolene (Dantrium): dimulai dari 25 mg/hari, dapat dinaikkan sampai
40 mg/hari
4. Haloperidol : 0,03 mg/KgBB/hari PO dosis tunggal (untuk mengurangi
gerakan involusi)
5. Botox
Usia < 12 tahun belum direkomendasikan
Usia > 12 tahun : 1,25-2,5 ml (0,05-0,1 ml tiap 3-4 bulan)
Apabila belum berhasil dosis berikutnya dinaikkan 2x/tidak lebih 25 ml
perkali atau 200 ml perbulan (Simpson et al., 2008)

b. Fisioterapi
Tindakan ini harus segera dimulai secara intensif. Orang tua turut membantu
program latihan di rumah. Untuk mencegah kontraktru perlu diperhatikan
posisi pasien pada waktu istirahat atau tidur. Bagi pasien yang berat dianjurkan
untuk sementara tinggal di pusat latihan. Fisioterapi ini dilakukan sepanjang
pasien hidup (Abdel-Hamid et al., 2012).
c. Tindakan bedah
Bila terdapat hipertoumus otot atau hiperspastisitas, dianjurkan untuk
dilakukan pembedahan otot, tendon atau hilang untuk reposisi kelainan
tersebut. Pembedahan stereotaktik dianjurkan pada pasien dengan pergerakan
kereotetosis yang berlebihan (Abdel-Hamid et al., 2012).
d. Keperawatan
Masalah bergantung dari kerusakan otak yang terjadi. Pada umumnya dijumpai
adanya gangguan pergerakan sampai retardasi mental dan seberapa besarnya
gangguan yang terjadi juga bergantung dari berat ringannya asfiksia yang
terjadi pada otak. Dewasa ini gangguan dari pertumbuhan/perkembangan janin
di rumah-rumah bersalin yang telah maju dapat dideteksi sejak dini bila
kehamilan dianggap beresiko. Juga ramalan mengenai perkembangan bayi
dapat diduga bila mengetahui keadaan pada saat perinatal (lihat penyebab).
Selain itu setelah diketahui dari patologi anatomi palsi serebral bahwa gejala
dini dapat terlihat pada bulan-bulan pertama setelah lahir, sebenarnya beratnya
gejala sisa mungkin dapat dikurangi jika dilakukan tindakan lebih dini.
Disinilah peranan perawat dapat ikut mencegah kelainan tersebut (Abdel-
Hamid et al., 2012).
Tindakan yang dapat dilakukan :
1) Mengobservasi dengan cermat bayi-bayi lahir yang beresiko (baca status
bayi secara cermat mengenai riwayat kehamilan/kelahirannya). Jika
dijumpai adanya kejang atau sikap bayi yang tidak biasa pada neonatus
segera memberitahukan dokter agar dapat dilakukan penanganan
semestinya.
2) Jika telah diketahui bayi lahir dengan resiko terjadi gangguan pada otak
walaupun selama di ruang perawatan tidak terjadi kelainan agar dipesankan
kepada orang tua/ibunya jika melihat sikap bayi yang tidak normal supaya
segera dibawa konsultasi ke dokter.

12. Komplikasi

Komplikasi cerebral palsy dapat mempengaruhi beberapa sistem. Misalnya,


komplikasi kulit meliputi ulkus dekubitus dan luka; komplikasi ortopedi mungkin
termasuk kontraktur, dislokasi pinggul, dan/atau scoliosis (Abdel-Hamid et al.,
2012).

Mempertahankan berat badan mendekati berat badan ide penting bagi pasien
berkursi roda atau mereka yang memiliki disfungsi berjalan. Konsultasi gizi harus
dilakukan sejak dini dan secara berkala untuk memastikan pertumbuhan yang
tepat. Orang tua dan para profesional medis harus tetap mengatasi kesulitan gizi
potensial pada anak dengan cerebral palsy. Pasien-pasien ini sangat berisiko
terkena osteoporosis karena bantalan berat menurun, sehingga berikut asupan
kalsium mereka adalah penting (Johnston, 2007)

Komplikasi gastrointestinal dan gizi meliputi (Johnston, 2007):


a. Gagal tumbuh karena kesulitan makan dan menelan sekunder untuk kontrol
oromotor yang buruk; pasien mungkin memerlukan tabung gastrostomy (G-
tabung) atau tabung jejunostomy (J-tabung) untuk menambah gizi.
b. Obesitas, gagal lebih jarang daripada untuk berkembang
c. Gastroesophageal reflux dan terkait pneumonia aspirasi
d. Sembelit
e. Gigi karies. Masalah gigi juga termasuk disgenesis enamel, maloklusi, dan
hiperplasia gingiva. Maloklusi dua kali lebih umum seperti dalam populasi
normal. Insiden peningkatan masalah gigi sering sekunder untuk penggunaan
obat, khususnya obat diberikan pada bayi prematur dan agen antiepilepsi.
Komplikasi pernapasan meliputi (Johnston, 2007):
a. Meningkatnya risiko pneumonia aspirasi karena disfungsi oromotor
b. Penyakit paru kronis/displasia bronkopulmonalis
c. Bronchiolitis/asma
Komplikasi neurologis meliputi (Johnston, 2007):
a. Epilepsi
Epilepsi terjadi pada 15-60% anak dengan cerebral palsy dan lebih sering terjadi
pada pasien dengan quadriplegia spastik atau retardasi mental. Bila dibandingkan
dengan kontrol, anak dengan cerebral palsy memiliki insiden yang lebih tinggi
dengan onset epilepsi dalam tahun pertama kehidupan dan lebih mungkin untuk
memiliki riwayat kejang neonatal, status epileptikus, polytherapy, dan
pengobatan dengan lini kedua antikonvulsan. Faktor yang terkait dengan masa
bebas kejang minimal 1 tahun termasuk kecerdasan normal, jenis kejang tunggal,
monoterapi, dan kejang diplegia. Ketajaman visual berkurang pada bayi prematur
karena retinopati prematuritas dengan hypervascularization dan mungkin ablasi
retina.2
b. Gangguan pendengaran (terutama pada pasien yang mengalami ensefalopati
bilirubin akut [kernikterus], juga terlihat pada pasien yang lahir prematur atau
yang terkena obat ototoxic)
c. Penglihatan
d. Kelainan medan penglihatan karena cedera kortikal
e. Strabismus
Komplikasi kognitif/psikologis/perilaku meliputi berikut ini (Johnston, 2007):
a. Keterbelakangan mental (30-50%), paling sering dikaitkan dengan quadriplegia
kejang
b. Defisit perhatian/gangguan hiperaktivitas
c. Disabilitas belajar
d. Dampak pada kinerja akademik dan harga diri
e. Peningkatan prevalensi depresi
f. Kesulitan integrasi sensorik
g. Peningkatan prevalensi gangguan perkembangan progresif atau autisme yang
berhubungan dengan diagnosis bersamaan cerebral palsy

13. Prognosis
Morbiditas dan mortalitas cerebral palsy berhubungan dengan tingkat keparahan
kondisi ini dan komplikasi medis yang dialami, seperti kesulitan pernapasan dan
pencernaan. Pada pasien dengan quadriplegia, kemungkinan epilepsi, kelainan
ekstrapiramidal, dan gangguan kognitif parah lebih besar dari pada mereka dengan
diplegia atau hemiplegia (Abdel-Hamid et al., 2012).

Gangguan kognitif terjadi lebih sering pada orang dengan otak daripada populasi
umum. Tingkat keseluruhan keterbelakangan mental pada orang yang terkena
dampak dianggap 30-50%. Beberapa bentuk ketidakmampuan belajar (termasuk
keterbelakangan mental) telah diperkirakan terjadi pada mungkin 75% pasien.
Namun, standar pengujian kognitif terutama mengevaluasi kemampuan verbal dan
dapat mengakibatkan meremehkan kemampuan kognitif pada beberapa individu
(Abdel-Hamid et al., 2012)

Dalam beberapa penelitian, 25% pasien dengan cerebral palsy tidak dapat berjalan.
Namun, banyak pasien dengan gangguan ini (terutama mereka yang diplegia
spastik dan jenis hemiplegia spastik) dapat mandiri atau dengan peralatan bantu.
Dengan demikian, sekitar 25% anak dengan cerebral palsy memiliki keterlibatan
ringan dengan keterbatasan fungsional minimal atau tidak ada dalam berjalan,
perawatan diri, dan kegiatan lainnya. Sekitar setengah yang cukup terganggu
sampai-sampai kemerdekaan penuh tidak mungkin tetapi fungsi memuaskan.
Hanya 25% begitu sangat cacat bahwa mereka memerlukan perawatan yang luas
dan tak bisa berjalan (Hutton & Pharoah, 2006). Pasien dengan keadaan cerebral
palsy yang berat dapat memiliki peluang hidup yang berkurang secara signifikan,
meskipun hal ini terus membaik dengan meningkatnya pelayanan kesehatan dan
adanya tabung gastrostomy (Hemming, Hutton, Colver & Platt, 2005).
B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Data Subjektif:
Ibu biasanya mengeluhkan terjadinya kelemahan atau kekakuan pada ekstremitas serta
tubuh anak. Bisa juga disertai dengan kejang, gerakan tidak involuntir.

Data Objektif:
Pada pemeriksaan fisik, dapat ditemukan terjadiya kontraktur sendi sekunder untuk
otot spastik, hipotonik untuk tonus otot spastik, keterlambatan pertumbuhan, dan
refleks primitif persisten (Johnston, 2007). Gejala awal cerebral palsy termasuk
diantaranya hipotonia awal, diikuti dengan kekejangan. Umumnya, kelenturan tidak
terjadi sampai setidaknya anak berusia 6 bulan hingga 1 tahun. Pada inspeksi dapat
ditemukan leher abnormal atau tonus otot trunkal (menurun atau meningkat,
tergantung pada usia dan jenis cerebral palsy), postur asimetris, kekuatan atau gaya
berjalan atau koordinasi abnormal. Pasien dengan cerebral palsy dapat menunjukkan
refleks meningkat, menunjukkan adanya lesi upper motor neuron. Kondisi ini juga
dapat terjadi sebagai persistensi refleks primitif, seperti Moro (refleks kejut) dan
refleks leher asimetris tonik (yaitu, postur dengan leher berubah dalam arah yang sama
ketika satu lengan diperpanjang dan yang lain tertekuk). Tonik leher simetris,
genggaman palmar, labirin tonik, dan refleks penempatan kaki juga dicatat. Refleks
Moro dan labirin tonik seharusnya hilang pada saat bayi sudah berusia 4-6 bulan,
refleks pegang palmaris pada 5-6 bulan, refleks tonik leher asimetris dan simetris pada
6-7 bulan, dan penempatan refleks kaki sebelum 12 bulan. Pada anak dengan cerebral
palsy juga dapat terjadi keterbelakangan atau tidak adanya refleks postural atau
protektif (memperpanjang lengan ketika duduk).
Pola perilaku anak secara keseluruhan harus diamati dan masing-masing ekstremitas
bawah dan ekstremitas atas harus dinilai, dengan penilaian sebagai berikut :
a. Panggul - fleksi berlebihan, adduksi, dan anteversion femoralis membentuk pola
motorik dominan. Scissoring kaki adalah umum pada cerebral palsy spastik.
b. Lutut - Fleksi dan ekstensi dengan valgus atau varus terjadi.
c. Foot - Equinus, atau berjalan dengan jari kaki dan varus atau valgus dari hindfoot
adalah umum di cerebral palsy. Kelainan gaya berjalan mungkin termasuk posisi
berjongkok dengan fleksor pinggul ketat dan paha belakang, paha depan lemah,
dan / atau dorsofleksi berlebihan
2. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan Menelan behubungan dengan gangguan neuromuscular (celebral palsy)
ditandai dengan kesulitan menelan makanan, makanan jatuh dari mulut.
b. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kendali otot ditandai
dengan keterbatasan kemampuan melakukan keterampilan motorik kasar,
ketidakstabilan postur dan pergerakkan tidak terkordinasi.
c. Risiko Jatuh dengan faktor risiko gangguan keseimbangan dan gangguan
mobolitas fisik
d. Risiko Cedera dengan faktor risiko disfungsi efektor (kejang)
e. aaa
3. Rencana Asuhan Keperawatan

No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi Rasional


Hasil
1 Gangguan Menelan Setelah dilakukan NIC Label :
behubungan dengan tindakan keperawatan Enteral tube feeding Enteral tube feeding
gangguan selama ...x 24 jam, 1.Jelaskan prosedur 1. agar pasien dan keluarga
neuromuscular (celebral diharapkan kebutuhan pemasangan selang NGT mengetahui indikasi pemasangan
palsy) ditandai dengan nutrisi pasien terpenuhi, 2.Monitor ketepatan NGT
kesulitan menelan dengan kriteria hasil : pemasangan 2. Agar tidak terjadi aspirasi
makanan, makanan NOC Label : 3.Elevasikan kepala 30-45 3. mencegah terjadi aspirasi saat
jatuh dari mulut Nutritional Status derajad saat memberikan memberikan makan dan
1. Asupan nutrisi yang makan memudahkan pasien menerima
adekuat 4.Kaji residu sebelum makanan
2. Jumlah cairan dan memberikan makan 4. Untuk mengetahui apakah
makanan yang diterima Nutrition management makanan dicerna dengan baik
sesuai dengan 1. Tanyakan apakah pasien Nutrition management
kebutuhan tubuh memiliki alergi terhadap 1. Alergi terhadap makanan menjadi
pasien makanan tertentu. indikator makanan apa saja yang
3. Rasio berat badan dan 2. Kolaborasi dengan ahli gizi boleh dan tidak boleh dikonsumsi
tinggi badan dalam untuk menentukan jumlah oleh pasien dalam pemenuhan
rentang normal (IMT kalori dan nutrisi yang nutrisinya.
18,5-22,9) dibutuhkan pasien. 2. menentukan metode diet yang
Hidration 3. Anjurkan asupan kalori yang memenuhi asupan kalori dan
1. Turgor kulit normal tepat sesuai umur, aktivitas nutrisi yang optimal.
(cubitan kembali < 2 dan gaya hidup 3. Asupan kalori yang tepat sesuai
detik) dengan umur, aktivitas dan gaya
2. Membran mukosa Nutrition Therapy hidup dapat memenuhi intake
lembab 1. Lakukan pengkajian nutrisi yang optimal.
3. Intake dan output lengkap mengenai nutrisi
cairan seimbang klien. Nutrition Therapy
2. Pilih suplemen nutrisi jika 1. Mengetahui status nutrisi klien
diperlukan. sangat penting sehingga dapat
Fluid Management melakukan intervensi yang tepat.
1. Pantau berat badan pasien 2. Suplemen diberikan untuk
setiap hari meningkatkan asupan nutrisi
2. Pertahankan intake yang pasien selain dari intake makanan.
akurat dan catat output Fluid Management
cairan 1. 60% berat tubuh adalah volume
3. Monitor status hidrasi cairan sehingga apabila pasien
(membran mukosa lembab, mengalami kekurangan cairan
nadi normal (60-80 kali per dapat tercermin dari berat tubuh
menit)) pasien
4. Berikan cairan infus 2. Untuk menjaga keseimbangan
(melalui IV) bila diperlukan cairan tubuh dan mengetahui
perkembangan cairan pasien
3. Status hidrasi mencerminkan
keseimbangan cairan di dalam
tubuh
4. Pemberian cairan infus dapat
dilakukan untuk memenuhi
kebutuhan cairan yang tidak
mampu dipenuhi dengan intake
peroral
2 Hambatan mobilitas Setelah dilakukan asuhan NIC Label : Excercise therapy : joint movement
fisik berhubungan keperawatan ...x24 jam Excercise therapy : joint 1. Menentukan batas gerakan
dengan penurunan diharapkan pasien dapat movement yang akan dilakukan
kendali otot ditandai tetap mempertahankan 1. Kaji keterbatasan gerak 2. Motivasi yang tinggi akan
dengan keterbatasan pergerakannya, dengan sendi membantu proses latihan
kemampuan melakukan kriteria hasil 2. Kaji motivasi klien untuk 3. Pasien/keluarga memahami
keterampilan motorik NOC label : mempertahankan alasan pemberian latihan dan
kasar, ketidakstabilan Body mechanics pergerakan sendi mau melakukannya
postur dan pergerakkan Performance 3. Jelaskan alasan / rasional 4. Agar dapat memberikan
tidak terkordinasi a. Mempertahankan pemberian latihan kepada intervensi yang tepat
kekuatan otot pasieb/ keluarga 5. Mengetahui hal yang
b. Mempertahankan 4. Monitor lokasi dilakukan untuk mengontrol
fleksibilitas sendi ketidaknyamanan atau nyeri
c. Gerakan terkoordinir nyeri selama aktivitas 6. Pakaian yang nyaman akan
5. Ukur kemampuan baik menyerap keringat dan
Self-Care: Activities of mengontrol nyeri leluasa saat latihan
Daily Living (ADL) 6. Ajurkan klien 7. Cedera dapat memperburuk
a. Kebutuhan makan menggunakan pakaian kondisi klien
terpenuhi yang nyaman selama 8. Memaksimalkan latihan
b. Kebutuhan berpakaian latihan 9. ROM dapat mempertahankan
terpenuhi 7. Lindungi pasien dari gerak sendi
c. Kebutuan toileting cedera selama latihan 10. ROM pasif dilakukan jika
terpenuhi 8. Bantu klien ke posisi yang klien tidak dapat melakukan
d. Kebutuhan mandi optimal untuk latihan dengan mandiri
terpenuhi rentang gerak 11. Menigkatkan motivasi dan
e. Kebutuhan personal 9. Lanjurkan klienuntuk harga diri klien
higiene terpenuhi melakukan latihan range
of motion secra aktif jika Self-Care Assistance
memungkinkan 1. Kebutuhan pasien berbeda-beda
10. Lanjurkan klienuntuk sesuai dengan kebudayaan dan
melakukan latihan range kebiasaannya
of motion secra pasif jika 2. Umur mempengaruhi tingkat
diindikasikan kemandirian pasien dalam
11. Beri reinforcement positif memenuhi kebutuhannya
setiap kemajuan klien 3. Untuk mengetahui tingkat
kemandiriran dan
Self-Care Assistance ketergantungan pasien sehingga
1. Kaji kebudayaan dan dapat menentukan intervensi
kebiasaan pasien yang tepat
2. Kaji umur pasien 4. Pada pasien yang tidak mampu
3. Kaji kemampuan pasien memenuhi kebutuhan secara
untuk merawat diri secara mandiri, perawat perlu
mandiri membantu untuk dapat
4. Bantu pasien untuk memenuhinya
memenuhi kebutuhan dan 5. Keluarga merupakan orang
kebersihan diri sampai terdekat pasien sehingga pada
pasien mampu melakukan pasien yang bergantung pada
dengan mandiri orang lain, keluarga dapat
5. Instruksikan keluarga untuk membantu pasien sehingga
dapat membantu privasi pasien dapat terjaga
pemenuhan kebutuhan 6. Untuk dapat memandirikan
pasien sampai pasien bisa pasien dan menurunkan tingkat
mandiri ketergantungan kepada orang
6. Anjurkan pasien untuk lain.
mamenuhi kebutuan secara
mandiri sesuai dengan
kemampuan pasien.
7.
3 Setelah dilakukan asuhan NIC Label:
keperawatan selama
Fall Prevention Fall Prevention
…x24 jam, diharapkan
klien tidak mengalami 1. Identifikasi keterbatasan fisik 1. Keterbatasan fisik dan kognitif
risiko jatuh, dengan: dan kognitif yang mungkin biasanya terjadi pada lansia dan

NOC Label : berpotensi meningkatkan meyebabkan klien mengalami

Fall Prevention risiko jatuh keterbatasan untuk melakukan

Behaviour 2. Identifikasi perilaku dan pergerakan dan dapat

Dengan kriteria hasil : faktor yang menyebabkan meningkatkan risiko jatuh.

a. Tersedianya risiko jatuh 2. Dengan mengetahui perilaku dan

pencahayaan yang 3. Kaji riwayat jatuh faktor risiko yang menyebabkan

adekuat 4. Kaji karakteristik lingkungan jatuh, maka dapat memodifikasi

Safe environment yang meningkatkan risiko perilaku klien dan faktor risiko
a. Lingkungan yang aman jatuh pada klien sehingga klien tidak
untuk pasien 5. Sediakan pencahayaan yang mengalami jatuh
adekuat 3. Riwayat jatuh pada klien perlu
6. Intruksikan keluarga untuk dikaji untuk mengetahui penyebab
menyesuaikan tinggi tempat jatuh, faktor risiko dan mekanisme
tidur. jatuh sehingga kedepannya dapat
7. Bantu mobilitas pasien bila dihindari.
diperlukan 4. Lingkungan merupakan tempat
8. Pasang bedside trail klien untuk beraktivitas. Berbagai
9. Ajarkan keuarga tentang keadaan lingkungan mungkin
faktor risiko yang dapat dapar meningkatkan risiko jatuh
menyebabkan jatuh dan pada klien.
bagaimana cara 5. Pencahayaan yang adekuat dapat
menurunkan risiko tersebut meningkatkan jarak penglihatan
sehingga dapat mengoptimalkan
penglihatan untuk menurunkan
risiko jatuh.
6. Posisi tempat tidur untuk klien
lansia diusahakan untuk serendah
mungkin dari permukaan lantai
sehingga mengurangi risiko jatuh.
7. Klien diusahakan untuk tidak
melakukan aktivitas yang dapat
meningkatkan risiko jatuh
sehingga untuk mencegah
tersebut klien dapat dibantu
bantuan untuk melakukan
aktivitas tersebut.
8. Mencegah jatuh saat pasien
melakukan mobilitas di tempat
tidur.
9. Keluarga merupakan orang
terdekat klien yang merawat
klien sehingga keluarga perlu
diajarkan tentang faktor risiko
jatuh pada klien dan cara untuk
mengurangi risiko tersebut.
4 Setelah diberikan asuhan NIC Label:
keperawatan selama ...x Environmental Management Environmental Management
24 jam diharapkan pasien 1. Menciptakan lingkungan 1. lingkungan yang amat dapat
tidak mengalami cedera yang aman bagi pasien meminimalkan risiko cedera
dengan kriteria hasil 2. Identifikasi kebutuhan 2. menghindari faktor-faktor yang
NOC Label keamanan pasien, sesuai mungkin menyebabkan terjadinya
Risk Control dengan kondisi fisik dan cedera
a. Klien terbebas dari fungsi kognitif pasien dan 3. rangsangan lingkungan yang
cedera riwayat penyakit terdahulu berbahaya dapat meningkatkan
b. Klien mampu pasien risiko terjadinya cedera
mengikuti strategi 3. Mengurangi rangsangan 4. pasien yang didampingi anggota
pengendalian resiko lingkungan keluarga biasanya akan merasa
yang dipilih 4. Menganjurkan keluarga lebih tenang dan lebih nyaman
Coordinated Movement untuk menemani pasien 5. lingkungan yang bising dapat
a. Pasien mampu 5. Mengontrol lingkungan mencetuskan keadaan pasien
mengontrol dari kebisingan menjadi tidak nyaman sehingga
pergerakannya 6. Memberikan penjelasan memudahkan terjadinya risiko
c. Pasien mampu pada pasien dan keluarga cedera
menyeimbangkan
atau pengunjung adanya 6. agar keluarga dan pengunjung
pergerakannya
perubahan status kesehatan mengetahui bahwa pasien berada
dan penyebab penyakit. dalam kondisi kesehatan yang
kurang baik dan berisiko terjadi
cedera.
DAFTAR PUSTAKA

Abdel-Hamid, H.Z., Kao, A., Zeldin, A.S. et al. (2012). Cerebral Palsy. diakses dari
http://emedicine.medscape.com pada tanggal 23 Juli 2017

Ancel, P.Y., Livinec, F., Larroque, B., Marret, S., Arnaud, C., Pierrat, V. et al. (2006).
Cerebral palsy among very preterm children in relation to gestational age and
neonatal ultrasound abnormalities: the EPIPAGE cohort study. Pediatrics,
117(3):828-35

Bax, M., Goldstein, M., Rosenbaum, P., Leviton, A., Paneth, N., Dan, B. et al. (2005).
Proposed definition and classification of cerebral palsy, April 2005. Dev Med Child
Neurol, 47(8):571-6

Bulechek, Gloria M., Butcher, Howard K., Dochterman, Joanne M. and Wagner, Cheryl
M. 2013. Nursing Interventtions Classification (NIC), Sixth Edition.USA : Mosby
Elsevier

Hankins, G.D.V. dan Speer, M. (2003). Defining the Pathogenesis and Pathophysiology of
Neonatal Encephalopathy and Cerebral Palsy. Obstetrics & Gynecology, 102;628-
636

Hemming, K., Hutton, J.L., Colver, A., dan Platt, M.J. (2005). Regional variation in
survival of people with cerebral palsy in the United Kingdom. Pediatrics,
116(6):1383-90

Herdman, T.H. and Kamitsuru, Shigemi. 2014. Nursing Diagnoses Definitions and
Classification (NANDA) 2015-2017. Oxford: Wiley Blackwell

Hutton, J.L. dan Pharoah, P.O. (2006). Life expectancy in severe cerebral palsy. Arch Dis
Child, 91(3):254-8

Johnston, M.V. (2007). Encephalopaties: Cerebral Palsy dalam Kliegman: Nelson


Textbook of Pediatrics, 18th ed. eBook Nelson Textbook of Pediatrics

Moorhead, Sue., Jonson, Marion., Mass, Meridean L. and Swanson, Elizabeth. 2008.
Nursing Outcomes Classification (NOC), Fifth Edition. St. Louis Missouri : Mosby
Elsevier
Saharso, D. (2006). Palsi Serebral dalam Pedoman Diagnosis dan Terapi Divisi
Neuropediatri Bag./SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unair/RSU Dr. Soetomo
Surabaya. Surabaya: FK UNAIR?RS DR. Soetomo

Simpson, D.M., Gracies, J.M., Graham, H.K., Miyasaki, J.M., Naumann, M., Russman B.
et al. (2008). Assessment: Botulinum neurotoxin for the treatment of spasticity (an
evidence-based review): report of the Therapeutics and Technology Assessment
Subcommittee of the American Academy of Neurology. Neurology, 70(19):1691-8