Anda di halaman 1dari 8

TUGAS

KEWIRAUSAHAAN
BAB 13 PROFIL USAHA KECIL DAN METODE
PENGEMBANGANNYA

Dosen Pengampu : 1. LAMRIA SIMAMORA, SE., MSA, Ak, CA


2. Oktobria Y. Asi, SE., M.Si

Disusun Oleh Kelompok 2 (Dua):

Desintha Cahyani BCA 118 024


Erina Ameilia BCA 118 041
Jemsbry Purdayanto Sonbai BCA 118 043
Junet Alfayed BCA 118 011
Liasi BCA 117 012
Riyan Suhendra BCA 118 068
Shinta Sabrina BCA 118 005

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN


TINGGI
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
JURUSAN AKUNTANSI
TAHUN 2019
BAB 13
PROFIL USAHA KECIL DAN MODEL PENGEMBANGANNYA

Usaha kecil dalam pendefinisiannya tidak memiliki definisi yang berlaku secara universal.
Dan Steinhoff dan John F Burgess menerangkan bahwa usaha kecil didefinisikan dalam
berbagai kriteria oleh organisasi dan agensi yang berbeda-beda. Salah satu definisi usaha kecil
menurut Small Business Act adalah suatu bisnis yang dimiliki oleh perseorangan yang berjalan
secara tidak mendominasi pada bidangnya. Sebuah agensi di Universitas Winconsin yang
bernama Small Business Development Centre menerangkan ciri usaha kecil adalah memiliki
potensi yang besar dengan resiko besar pula, memiliki akses terbatas menuju pusat kota,
memiliki satu atau sedikit manager serta lebih sulit dalam mengatasi kesalahan-kesalahan besar.

Terdapat ciri yang khusus pada perangkat manajemen usaha kecil. Pada usaha kecil,
kontrol atau pengawasan usaha dapat berlangsung secara informal. Oleh karena itu, jika usaha
kecil memiliki karyawan, deskripsi pekerjaan dan segala aturan yang berlaku tidak tertulis
secara fisik. Manajemen yang berlaku cenderung merupakan manajemen mikro dimana pemilik
usaha sendiri yang turun langsung ke lapangan untuk mengatur usahanya. Ciri lainnya juga
diterangkan oleh M. Kusman Sulaeman yaitu: tidak ada pelatihan khusus, tugas yang diberikan
adalah tugas penting, suasana kerja menantang, memuaskan dan kurang formal, tugas karyawan
lebih kepada tugas teknis, tercampur dan kontak langsung, komunikasi antar karyawan
berlangsung informal dan lebih melewati telepon, penjualan kurang dari 200 juta dolar,
pendapatan rendah, produksi tidak banyak macamnya, metode finansial kurang konservatif,
pangsa pasar lemah, pekerjaan rutin dan operasional, pemikiran jangka pendek dan berorientasi
operasional.

Definisi usaha kecil di Indonesia belum diterangkan batasan dan kriteria bakunya. Akan
tetapi berbagai instansi sudah menggunakan batasan dan kriteria menurut fokus permasalahan
yang dituju. Contohnya pada UU no 9 tahun 1995 pasal 5, usaha kecil adalah usaha yang
memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 200.000.000 (dua ratus juta rupiah) tidak termasuk
tanah dan bangunan tempat usaha; atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp
1.000.000.000 (satu miliar rupiah). Biro Pusat Statistik menerangkan secara kuantitatif bahwa
usaha kecil memiliki 5 sampai 19 orang tenaga kerja, termasuk pekerja kasar yang dibayar,
pekerja pemilik dan pekerja keluarga. Stanley dan Morse memiliki batasan kuantitatif yang
berbeda tentang usaha kecil. Menurut mereka usaha kecil memiliki 10 hingga 49 orang pekerja,
sedangkan jika kurang dari 9 orang, usaha yang dimaksud adalah industri kerajinan rumah
tangga. Definisi lain dari Komisi Untuk Perkembangan Ekonomi usaha kecil memiliki ciri
manajemen yang berdiri sendiri, modal yang disediakan oleh pemilik atau sekelompok kecil,
daerah operasi yang bersifat lokal dan ukuran usaha dalam keseluruhan relatif kecil.

Usaha kecil memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari usaha kecil
diantaranya memiliki kebebasan untuk bertindak karena manajemen mikro yang menyebabkan
keputusan dapat diambil dengan cepat, fleksibilitas karena usaha kecil menyesuaikan kebutuhan
lokal serta ketahanan bahan baku dan sumber daya karena biasanya sumber daya tersebut
bersifat lokal dan mudah didapatkan. Kelemahan dari usaha kecil meliputi 2 aspek, yaitu aspek
struktural dan aspek kultural. Aspek struktural meliputi manajemen dan organisasi yang minim,
pengendalian mutu yang kurang terjaga, adopsi dan penguasaan teknologi kurang karena
sumber daya yang bersifat lokal, modal yang kurang serta terbatasnya akses pasar. Kelemahan
kultural adalah kelemahan pada budaya perusahaan yang kurang mencerminkan perusahaan
sebagai corporateculture. Akibatnya adalah timbulnya kelemahan struktural, kurangnya akses
informasi dan lemahnya persyaratan lain guna memperoleh akses permodalan, pemasaran dan
bahan baku. Persyaratan tersebut adalah:
1. Informasi peluang dan cara memasarkan produk.
2. Informasi untuk mendapatkan bahan baku yang baik, murah dan mudah didapat.
3. Informasi untuk memperoleh fasilitas dan bantuan pengusaha besar dalam menjalin
hubungan kemitraan untuk memperoleh bantuan permodalan dan pemasaran.
4. Informasi tentang tata cara pengembangan produk, baik desain, kualitas maupun
kemasannya.
5. Informasi untuk menambah sumber permodalan dengan persyaratan yang terjangkau

Banyak konsep yang dikemukakan oleh para ahli ekonomi dan manajemen modern
tentang cara meraih keberhasilan usaha kecil dalam mempertahankan eksistensinya secara
dinamis. Dalam berbagai konsep strategi bersaing dikemukakan bahwa keberhasilan suatu
perusahaan sangat tergantung pada kemampuan internal. Untuk menghadapi kondisi jangka
panjang dan dinamis, perusahaan harus dikembangkan melalui strategi yang berbasis pada
pengembangan sumber daya internal secara superior (internal resource-based strategy) untuk
menciptakan kompetensi inti (core competency).
Dalam menghadapi krisis ekonomi nasional seperti sekarang ini, baik teori dynamic strategy
maupun teori resource-based strategy sangat relevan bila khusus diterapkan dalam
pemberdayaan usaha kecil. Menurut teori resources-based strategy, agar perusahaan meraih
keuntungan secara terus-menerus, maka perusahaan harus mengutamakan kapabilitas internal
yang supe¬rior, yang tidak transparan, sukar ditiru atau dialihkan oleh pesaing dan memberi
daya saing jangka panjang (futuristik) yang kuat dan melebihi tuntutan masa kini di pasar dan
dalam situasi eksternal yang bergejolak.
Agar perusahaan kecil berhasil take-off, maka harus ada usaha khusus yang diarahkan untuk
survival, consolidation, control, planning, dan expectation. Dalam tahapan ini diperlukan
penguasaan manajemen, yaitu mengubah pemilik sebagai pengusaha (owners as businessman)
yang merekrut tenaga dan diberi wewenang secara jelas. Perubahan yang dilakukan, yaitu :
bidang pemasaran harus mengubah getting customer menjadi improve competitive situation,
bidang keuangan tahap cash flow berubah menjadi tahap tighten financial control, improve
margin, and control cost, dan bidang pendanaan usaha kecil harus sudah ventura capital (Yuyun
Wirasasmita,1993: 2)
Menurut teori the design school, perusahaan harus mendesain strategi perusahaan yang ‘fit”
antara peluang dan ancaman eksternal dengan kemampuan internal yang memadai yang
didukung dengan menumbuhkan kapabilitas inti (core competency) yang merupakan
kompetensi khusus (distinctive competency) dan pengelohaan sumber daya perusahaan.
Dalam konteks persaingan bebas yang semakin dinamis seperti sekarang ini, menurut D’Aveni
(1987), perusahaan harus menekankan pada strategi pengembangan kompetensi inti, yaitu
pengetahuan dan keunikan untuk menciptakan keunggulan. Keunggulan tersebut dapat
diciptakan melalui “The New 7-S’ strategy (The New 7-S’s)”, yaitu :
a. Superior stakeholder satisfaction, yaitu mengutamakan kepuasan stakeholder.
b. Strategic sooth saying, yaitu merancang strategi yang membuat kejutan atau yang
mencengangkan.
c. Position for speed, yaitu posisi untuk mengutamakan kecepatan.
d. Position for surprise, yaitu posisi untuk membuat kejutan.
e. Shifting the role of the game, yaitu strategi untuk mengadakan perubahan/pergeseran peran
yang dimainkan.
f. Signaling strategic intent, yaitu mengindikasikan tujuan dan strategi.
g. Simultanous and sequential strategic thrusts, yaitu membuat rangkaian penggerak/pendorong
strategi secara simultan dan berurutan

Bahan Diskusi
1. Kelemahan structural dan kultural yang terdapat pada perusahaan kecil.
Jawab :
1. Aspek Kelemahan Struktural
Aspek kelemahan struktural merupakan kelemahan dalam struktur perusahaan
misalnya kelemahan dalam bidang manajemen dan organisasi, kelemahan dalam
pengendalian mutu, kelemahan dalam mengadopsi dan penguasaan teknologi, kesulitan
mencari permodalan, tenaga kerja masih lokal, dan terbatasnya akses pasar. Jadi,
kelemahan structural adalah kelemahan usaha kecil dalam manajemen, organisasi,
teknologi, sumber daya, dan pasar. Kelemahan faktor struktural yang satu saling terkait
dengan faktor yang lain, kemudian membentuk lingkaran ketergantungan yang tidak
berujung pangkal dan membuat usaha kecil terdominasi dan rentan.
Secara struktural, salah satu kelemahan usaha kecil yang paling menonjol adalah
kurangnya permodalan. Akibatnya terjadi ketergantungan pada kekuatan pemilik modal.
Karena pemilik modal juga lebih menguasai sumber-sumber bahan baku dan dapat
mengusahakan bahan baku, maka pengusaha kecil memiliki ketergantungan pada pemilik
modal yang sekaligus penguasa bahan baku. Selain menguasai sumber-sumber bahan baku,
pemilik modal juga menguasai akses dan informasi pasar, dan dengan demikian
kebergantungan usaha kecil terhadap bahan baku menjadi kebergantungan terhadap pasar.
Karena penguasa pasar banyak mengetahui dan langsung mengenal pasar dalam hal standar
kualitas, motif, ataupun jumlah, standar desain, teknik, dan jumlah produk ditentukan oleh
pemilik informasi pasar yang sekaligus penyandang dana. Akibat ketergantungan tersebut,
otomatis harga jual produk yang dihasilkan usaha kecil secara tidak langsung ditentukan
oleh penguasa pasar dan pemilik modal, maka terjadilah pasar monopsoni. Demikian juga,
harga jual bahan baku dan bunga modal yang ditanggung oleh usaha kecil ditentukan oleh
penguasa pasar dan modal. Karena harga jual barang-barang yang dihasilkan usaha kecil
ditentukan oleh pemilik informs pasar yang juga sebagai pemilik informasi bahan baku, ia
akan menentukan harga jual bahan baku (monopoli). Dengan kondisi ini, maka batas
keuntungan pengusaha kecil ditentukan oleh batas harga jual produk dan batas harga beli
bahan baku. Terjadilah repatriasi keuntungan yang mengakibatkan permodalan usaha kecil
jumlahnya tetap kecil. Kondisi tersebut mengakibatkan ketengantungan pengusaha kecil
yang menjadi buruh pada perusahaan sendiri dengan upah yang ditentukan oleh batas
keuntungan dari pemilik modal sekaligus penguasa pasar dan penguasa sumber-sumber
bahan baku.
2. Kelemahan Kultural
Kelemahan kultural adalah kelemahan dalam budaya perusahaan yang kurang
mencerminkan perusahaan sebagai “corporate culture”. Kelemahan kultural berdampak
terhadap terjadinya kelemahan structural.. Kelemahan kultural mengakibatkan kurangnya
akses informasi dan lemahnya berbagai persyaratan lain guna memperoleh akses
permodalan, pemasaran, dan bahan baku, seperti:
a. Informasi peluang dan cara memasarkan produk.
b. Informasi untuk mendapatkan bahan baku yang baik, murah, dan mudah didapat.
c. Informasi untuk memperoleh fasilitas dan bantuan pengusaha besar dalam menjalin
hubungan kemitraan.
d. Informasi tentang tata cara pengembangan produk, baik desain, kualitas, maupun
kemasannya.
e. Informasi untuk menambah sumber permodalan dengan persyaratan yang terjangkau.
(Sumber : Buku Kewirausahaan Suryana Edisi 4, Halaman 234-235)

2. Kompetensi inti dan kompetensi distingtif apa saja yang harus dimiliki untuk
pengembangan usaha kecil.
Jawab :
Perhatian utama harus ditekankan pada penciptaan nilai tambah untuk meraih keunggulan
daya saing melalui pengembangan kapabilitas khusus sehingga perusahaan kecil tidak lagi
mengandalkan strategi kekuatan pasar melalui monopoli dan fasilitas pemerintah. Dalam
strategi ini, perusahaan kecil harus mengarah pada ketrampilan khusus secara internal yang
bisa menciptakan produk inti yang unggul untuk memperbesar pembagian produksi..
Perusahaan harus mengutamakan kapabilitas internal yang superior, tidak transparan, sukar
ditir, atau dialihkan oleh pesaing dan memberi saing jangka panjang yang kuat dan
melebihi tuntutan masa kini di pasar dan dalam situasi eksternal yang bergejolak.
(Sumber : Buku Kewirausahaan Suryana Edisi 4, Halaman 237)

3. Jelaskan kerangka dasar resouces-based strategy.


Jawab :
Teori resouces-based strategy dinilai potensial untuk memelihara keberhasilan perusahaan
ketika berada dalam situasi eksternal yang bergejolak.
Pendekatan ini banyak dianut akhir-akhir ini, menyatakan bahwa strategi akan efektif jika
dirumuskan dan diimplementasikan berdasarkan keunggulan kapabilitas dan sumberdaya
perusahaan. Strategi yang berbasis pada kapabilitas dan sumberdaya yang unggul, unik,
dan sulit ditiru akan menghasilkan keunggulan bersaing yang berkelanjutan. Pada
gilirannya akan menghasilkan kinerja baik dalam jangka panjang
Sumber : 1. Buku Kewirausahaan Suryana Edisi 4, Halaman 237
2.https://ppm-manajemen.ac.id/id_ID/blog/kolom-direksi-
20/post/the-formulation-of-resource-based-strategy-for-sustainable-
excellence-1270

4. Jelaskan bagaimana inti “The New 7-S’ strategy ( The Nw 7-S’s)”.


Jawab :
Dalam konteks persaingan bebas yang semakin dinamis seperti sekarang ini, menurut
D’Aveni (1987), perusahaan harus menekankan pada strategi pengembangan kompetensi
inti, yaitu pengetahuan dan keunikan untuk menciptakan keunggulan. Keunggulan tersebut
dapat diciptakan melalui “The New 7-S’ strategy (The New 7-S’s)”, yaitu :
1) Superior stakeholder satisfaction, yaitu mengutamakan kepuasan stakeholder.
2) Strategic sooth saying, yaitu merancang strategi yang membuat kejutan atau yang
mencengangkan.
3) Position for speed, yaitu posisi untuk mengutamakan kecepatan.
4) Position for surprise, yaitu posisi untuk membuat kejutan.
5) Shifting the role of the game, yaitu strategi untuk mengadakan perubahan/pergeseran
peran yang dimainkan.
6) Signaling strategic intent, yaitu mengindikasikan tujuan dan strategi.
7) Simultanous and sequential strategic thrusts, yaitu membuat rangkaian
penggerak/pendorong strategi secara simultan dan berurutan.
(Sumber : Buku Kewirausahaan Suryana Edisi 4, Halaman 234-235)

5. Kiat/resep apa saja yang diperlukan dalam pengembangan perusahaan kecil? Jelaskan
kerangka hipotesis untuk memberdayakan perusahaan kecil.
Jawab :
Banyak konsep yang dikemukakan oleh para ahli ekonomi dan manajemen modern tentang
cara meraih keberhasilan usaha kecil dalam mempertahankan eksistensinya secara dinamis.
Dalam berbagai konsep strategi bersaing dikemukakan bahwa keberhasilan suatu
perusahaan sangat tergantung pada kemampuan internal. Secara internal, perusahaan perlu
memiliki kompetensi khusus yang dicari dari integrasi fungsional, kemampuan internal,
kompetensi inti, rahasia wirausahawan, yaitu kreativitas dan inovasi, focus strategi, atau
yang lebih popular dari tantangan eksternal teori dinamis.
Jadi, untuk pengembangan usaha agar mampu bersaing perusahaan harus memiliki hal-hal
berikut.
1) Kompetensi khusus
2) Kemampuan internal
3) Kompetensi inti
4) Kreativitas dan keinovasian
5) Focus strategi
6) Teori dinamis
Kerangka hipotesis pengembangan usaha kecil, mencakup hal-hal berikut.
1) Tahap konsepsi
2) Tahap survival
3) Tahap stabilisasi
4) Tahap orientasi pertumbuhan
5) Tahap pertumbuhan yang cepat
6) Tahap kematangan
(Sumber : Buku Kewirausahaan Suryana Edisi 4, Halaman 235-236)