Anda di halaman 1dari 40

ASUHAN KEBIDANAN PADA REMAJA

DENGAN ANEMIA RINGAN


DI PUSKESMAS BANJAR KABUPATEN BANGKALAN

Disusun guna Memenuhi Persyaratan Ketuntasan


Stase Asuhan Kebidanan Remaja dan Pranikah

Program Studi Pendidikan Profesi Bidan

Disusun Oleh :
Nama : Ernawati, S.ST
NIM : 19159010060
Kelas : B

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI BIDAN


STIKES NGUDIA HUSADA MADURA
TAHUN 2019
HALAMAN PERSETUJUAN

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA REMAJA DENGAN ANEMIA RINGAN


DI PUSKESMAS BANJAR BANGKALAN

Disusun Oleh :
Disusun Oleh :
Lia Defi Nilam S 19159010014
Zubaidah 19159010048
Ernawati 19159010060

Tanggal Pemberian Asuhan 21 November 2019


Disetujui :

Kepala Ruangan

Tanggal : 21 November 2019

Di : SUKOLILO (Masriya, Amd.Keb)


NIP : 197006141991022001

Pembimbing Institusi

Tanggal : 21 November 2019

Di : SUKOLILO (Alis Nurdiana)


NIDN: 0729068502

Pembimbing Klinik

Tanggal : 21 November 2019

Di : SUKOLILO (Susilawati, Amd.Keb)


NIP :197203231993022002
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut WHO, kesehatan reproduksi adalah kesehatan yang sempurna baik
fisik, mental, sosial dan lingkungan serta bukan semata-mata terbebas dari penyakit
atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi,
fungsi serta prosesnya (Melyana, 2005).
Menurut WHO, remaja apabila anak telah mencapai umur 10-18 tahun. Menurut
Undang-undang No. 4 tahun 1979 mengenai kesejahteraan anak, remaja adalah
individu yang belum mencapai 21 tahun dan belum menikah. Pada buku-buku
Pediatri, pada umumnya mendefi nisikan remaja remaja adalah bila seorang anak
telah mencapai umur 10-18 tahun untuk anak perempuan dan 12-20 tahun untuk
anak laki-laki. Menurut Diknas, anak dianggap remaja bila anak sudah berumur 18
tahun yang sesuai dengan saat lulus sekolah menengah (Soetjiningsih, 2004).
Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut
sistem, fungsi dan proses reproduksi remaja. Berbagai permasalahan kesehatan
reproduksi remaja antara lain: kehamilan tidak dikehendaki, kehamilan dan
persalinan usia muda, ketergantungan napza meningkatkan resiko penyakit menular
seksual (termasuk infeksi HIV/AIDS), dan resiko terkena penyakit menular
seksual.Permasalahan tersebut disebabkan kurangnya informasi, pemahaman dan
kesadaran untuk mencapai keadaan sehat secara reproduksi. Orang tua yang
diharapkan remaja dapat dijadikan tempat bertanya atau dapat memberikan
penjelasan tentang masalah kesehatan reproduksi, ternyata tidak banyak berperan
karena masalah tersebut masih dianggap tabu untuk dibicarakan dengan anak
remajanya. Guru, yang juga diharapkan oleh orang tua dan remaja dapat
memberikan penjelasan yang lebih lengkap kepada siswanya tentang kesehatan
reproduksi, ternyata masih menghadapi banyak kendala dari dalam dirinya, seperti:
tabu, merasa tidak pantas, tidak tahu cara menyampaikannya, tidak ada waktu, dan
lain sebagainya. Solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah
dengan pemberian pendidikan mengenai kesehatan reproduksi.
Menurut Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (2009:1)
bahwa jumlah remaja umur 10-19 tahun di Indonesia terdapat 43 juta atau 19,61%
dari jumlahpenduduk Indonesia sebanyak 220 juta. Sekitar 1 juta remaja pria (5%)
dan 200 ribu remajawanita (1%) menyatakan secara terbuka bahwa pernah
melakukan hubungan seksual.Sebanyak 8% pria umur 15-24 tahun telah
menggunakan obat-obatan terlarang. Sedangkanuntuk kasus HIV/AIDS dari 6987
penderita AIDS, 3,02% adalah kelompom usia 15-19tahun dan 54,77% adalah
kelompok usia 20-29 tahun (Departemen Kesehatan RI,September 2006). Ini terjadi
karena pengetahuan merekamengenai kesehatan reproduksimasih kurang. Sehingga
sangat memerlukan perhatian dari semua pihak, karena orang yang sehat aktivitas
belajarnya akan baik. Apabila kasus remaja inidibiarkan, sudah tentu akan merusak
masa depan remaja khususnya mereka dan masa depankeluarga dan masa depan
bangsa Indonesia.
Indonesia saat ini mulai lebih memperhatikan masalah kesehatan reproduksi
dengan serius.Dengan PIK KRR (Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan
Reproduksi Remaja) yang merupakan salah satu program sub BKKBN, pemerintah
mengupayakan agar remaja tidak melewati masa remajanya dengan hal-hal yang
tidak berguna. Karena pada masa-masa remajalah kita mengalami proses pencarian
jalan hidup yang seperti apa yang akan kita pilih. Melalui program ini, agaknya
pemerintah mulai concern melihat perkembangan zaman instant yang serba canggih
ini.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah di antaranya :
1. Bagaimanakah konsep remaja ?
2. Bagaimanakah pertumbuhan dan perkembangan remaja ?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini, yaitu :
1. Untuk mengetahui konsep remaja
2. Untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan remaja
D. Manfaat Penulisan
1. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penulisan makalah ini dapat dijadikan acuan untuk pengembangan
keilmuan dimasa yang akan datang terutama pada pelayanan kebidanan .
2. Bagi Penulis
Penulisan makalah yang dilakukan diharapkan dapat menambah pengetahuan
dan pemahaman mengenai kesehatan reproduksi remaja.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Remaja


1. Pengertian Remaja
Secara etimologi, remaja berarti “tumbuh menjadi dewasa”. Definisi remaja
(adolescence) menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) adalah periode usia
antara 10 sampai 19 tahun, sedangkan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB)
menyebut kaum muda (youth) untuk usia antara 15 sampai 24 tahun. Sementara
itu, menurut The Health Resources and Services Administrations Guidelines
Amerika Serikat, rentang usia remaja adalah 11-21 tahun dan terbagi menjadi
tiga tahap, yaitu remaja awal (11-14 tahun); remaja menengah (15-17 tahun);
dan remaja akhir (18-21 tahun). Definisi ini kemudian disatukan dalam
terminologi kaum muda (young people) yang mencakup usia 10-24 tahun.
Definisi remaja sendiri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu:
a. Secara kronologis, remaja adalah individu yang berusia antara 11-12 tahun
sampai 20-21 tahun.
b. Secara fisik, remaja ditandai oleh ciri perubahan pada penampilan fisik dan
fungsi fisiologis, terutama yang terkait dengan kelenjar seksual;
c. Secara psikologis, remaja merupakan masa dimana individu mengalami
perubahan-perubahan dalam aspek kognitif, emosi, sosial, dan moral,
diantara masa anak-anak menuju masa dewasa.
2. Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja
a. Pengertian
1) Pertumbuhan
Pertumbuhan adalah perubahan yang menyangkut segi kuantitatif yang
ditandai dengan peningkatan dalam ukuraan fisik dan dapat diukur.
2) Perkembangan
Perkembangan adalah perubahan yang menyangkut aspek kualitatif dan
kuantitatif. Rangkaian perubahan dapat bersifat progresif, teratur,
berkesinambungan, serta akumulatif.
b. Aspek Pertumbuhan
Fungsi fisiologis dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan gizi. Faktor
lingkungan dapat memberi pengaruh yang kuat untuk lebih mempercepat
perubahan. Perubahan dipengaruhi oleh dua organ penting, yaitu:
hipotalamus, dan hipofisis. ketika kedua organ ini bekerja, ada tiga kelenjar
yang dirangsang, yaitu: kelenjar gondok, kelenjar anak ginjal, dan kelenjar
organ reproduksi.
Ketiga kelenjar tersebut akan saling bekerja sama dan berinteraksi
dengan factor genetik maupun lingkungan.
Tabel Perubahan- perubahan yang Dipengaruhi oleh Hormon
Jenis
Perempuan Laki - laki
Perubahan

Hormon Estrogen dan progesteron Testosteron

Tanda Menstruasi Mimpi basah

Perubahan Fisik  Pertambahan tinggi badan.  Tumbuh rambut di


 Tumbuh rambut di sekitar sekitar kemaluan, kaki,
alat kelamin dan ketiak. tangan, dada, ketiak dan
 Kulit menjadi lebih halus. wajah. Tampak pada
 Suara menjadi lebih halus anak laki – laki mulai
dan tinggi. berkumis, berjambang,
 Payudara mulai membesar. dan berbulu ketiak.
 Pinggul semakin  Suara bariton atau
membesar. bertambah besar.
 Pahamembulat.  Badan lebih berotot
 Mengalami menstruasi. terutama bahu dan dada.
 Pertambahan berat
badan dan tinggi badan.
 Buah zakar menjadi
lebih besar dan bila
terangsang dapat
mengeluarkan sperma.
 Mengalaami mimpi
basah.

c. Aspek Perkembangan
Terdapat dua konsep perkembangan remaja, yaitu Nature dan Nurture .
Konsep Nature mengungkapkan bahwa masa remaja adalah masa badai dan
tekanan. Periode perkembangan ini individu banyak mengalami gejolak dan
tekanan karena perubahan yang terjadi dalam dirinya. Konsep Nurture
menyatakan tidak semua remaja mengalami masa badai dan tekanan
tersebut. Hal tersebut tergantung pada pola asuh dan lingkungan dimana
remaja itu tinggal.
1. Perkembangan Sosial
Terjadinya tumpang tindih pola tingkah laku anak dan pola
perilaku dewasa merupakan kondisi tersulit yang dihadapi remaja.
Remaja diharuskan dapat menyasuaikan diri dengan peran orang dewasa
dan melepaskan diri dari peran anak- anak. Remaja dituntut untuk dapat
menyesuaikan diri dengan orang dewasa di luar lingkungan keluarga dan
sekolah.
2. Kuatnya Teman Sebaya
Berdasarkan ciri-ciri yang dimiliki seperti menjadi egosentris,
kebingungan peran dan lain- lain, maka seorang remaja mulai mencari
pengakuan dirinya di luar rumah. Pada usia remaja, seseorang
menghabiskan lebih banyak waktu bersama teman sebayanya
dibandingkan bersama dengan orangtuanya, sehingga wajar saja jika
tingkah laku dan norma/aturan- aturan yang dipegang banyak
dipengaruhi oleh kelompok sebayanya.namun, meskipun tampaknya
remaja sangat bergantung pada teman sebayanya, pada remaja sendiri
terdapat sikap ambivalen. Di satu sisi ingin membuktikan
kemandiriannya dengan melepaskan diri dari orangtuanya, tetapi disisi
lain mereka masih tergantung pada orangtuanya.
Remaja akan tetap meminta pertimbangan dari orangtuanya
ketika menghadapi masalah yang berat atau harus menentukan sesuatu
yang berkaitan dengan masa depannya yang berakibat jangka panjang.
Hal ini merupakan bentuk ketergantungan remaja kepada orangtua.
Ketergantungan pada teman sebaya lebih mengarah pada hal-hal yang
berkaitan dengan relasi sosial atau penerimaan lingkungan (misalnya
tingkah laku/kebiasaan sehari- hari, kesukaan, aktivitas yang dipilih,
gaya bahasa, dan lainnya).
Diterima oleh teman sebaya merupakan sesuatu yang sangat
berarti bagi remaja, sehingga penyesuaian diri dengan kelompok,
misalnya penyesuaian dengan selera, cara berpakaian, cara berbicara dan
berperilaku sosial lainnya adalah penting ( Hurlock, 1973). Namun,
perilaku mengikuti kelompok akan semakin berkurang sesuai dengan
bertambahnya kematangan karena remaja semakin ingin menjadi
individu yang mandiri dan unik serta lebih selektif dalam memilih
sahabat.
Keluarga yang memberikan kehangatan serta ikatan emosi dalam
kadar yang tidak berlebihan dan senantiasa memberikan dukungan positif
dapat membantu anak mengembangkan ikatan lain di luar keluarga
secara lebih baik. Ia mampu menentukan kapan ia harus mengikuti
kelompoknya dan kapan harus menolak ajakan dari teman sebayanya
sehingga remaja tersebut akan terbebas dari tekanan teman sebaya untuk
melakukan hal- hal negatif.
Perubahan dalam perilaku sosial ditunjukkan dengan:
a) Minat dalam hubungan heteroseksual yang lebih besar;
b) Kegiatan- kegiatan sosial yang melibatkan kedua jenis kelamin;
c) Bertambahnya wawasan sehingga remaja memiliki penilaian yang
lebih baik serta lebih bisa mengerti orang lain. Remaja juga
mengembangkan kemampuan sosial yang mendorongnya lebih
percaya diri dan aktif dalam aktivitas sosial;
d) Berkurangnya prasangka dan diskriminasi. Mereka cenderung tidak
mempersoalkan orang yang tidak cocok latar belakang budaya dan
pribadinya.
3. Pengelompokan Sosial Baru
Kelompok remaja yang beranggotakan laki-laki biasanya lebih
besar dan tidak terlalu akrab, sedangkan kelompok remaja perempuan
membentuk kelompok yang lebih kecil dan lebih akrab. Remaja laki- laki
cenderung lebih banyak berbagi pengalaman petualangan atau topik-
topik tertentu yang menarik (olahraga , music, film, teknologi,dan
lainnya). Umumnya mereka jarang berbagi perasaan atau emosi dengan
teman sebayanya, sedangkan remaja perempuan lebih bisa berbagi
pengalaman dan perasaan.
Dalam pengelompokan sosial, akan muncul nilai- nilai baru yang
diadaptasi oleh remaja.Nilai- nilai tersebut antara lain adalah sebagai
berikut :
a) Nilai baru dalam memilih teman. Pemilihan teman berdasarkan
kesamaan minat dan nilai- nilai yang sama, yang dapat mengerti dan
memberi rasa aman, serta yang dapat berbagi masalah dan membahas
hal- hal yang tidak dapat dibicarakan dengan orang dewasa.
b) Nilai baru dalam penerimaan sosial. Remaja menerima teman- teman
yang disenangi dan menolak yang tidak disenangi yaitu dimulai
dengan menggunakan standar yang sama dengan kelompoknya.
c) Nilai baru dalam memilih pemimpin. Remaja memilih pemimpin
yang berkemampuan tinggi yang akan dikagumi dan dihormati oleh
orang lain dan dapat menguntungkan mereka, bukan pada penilaian
fisik melainkan pada orang yang bersemangat, bergairah, penuh
inisiatif, bertanggung jawab, banyak ide, dan terbuka.
Jenis- jenis pengelompokkan sosial remaja antara lain:
a. Teman dekat atau sahabat karib;
b. Kelompok kecil, terdiri atas kelompok teman- teman dekat, biasanya
terdri atas jenis kelamin yang sama;
c. Kelompok besar, terdiri atas beberapa kelompok kecil dan kelompok
teman dekat, biasanya berhubungan dalam aktivitas khusus;
d. Kelompok yang terorganisasi, dibina oleh orang dewasa, dibentuk
oleh sekolah, organisasi masyarakat, untuk memenuhi kebutuhan
sosial para remaja yang tidak mempunyai kelompok kecil atau
kelompok besar;
e. Kelompok geng yang terdiri atas anak- anak yang memiliki minat
utama yang sejenis untuk menghadapi penolakan teman- teman
melalui perilaku antisosial. Pengaruh geng cenderung meningkat
selama masa remaja.
4. Perkembangan Emosi
Ciri- ciri perkembangan emosi pada tahap ini antara lain sebagai berikut.
a) Emosi lebih mudah bergejolak dan biasanya diekspresikan secara
meledak- ledak.
b) Kondisi emosional biasanya berlangsung cukup lama sampai pada
akhirnya ke keadaan semula, yaitu keadaan sebelum munculnya
suatu keadaan emosi.
c) Jenis- jenis emosi sudah lebih bervariasi (perbedaan antara emosi
satu dengan lainnya makin tipis) bahkan ada saatnya emosi
bercampur baur sehingga sulit dikenali oleh dirinya sendiri. Remaja
juga sering bingung dengan emosinya sendiri karena muncul emosi-
emosi yang bertentangan dalam suatu waktu, misalnya benci dan
saying.
d) Mulai munculnya ketertarikan dengan lawan jenis yang melibatkan
emosi (sayang, cinta, cemburu, dan lainnya).
e) Remaja umumnya sangat peka terhadap cara orang lain memandang
mereka. Akibatnya remaja menjadi mudah tersinggung dan merasa
malu. Hal ini akan terkait dengan perkembangan konsep dirinya.
Faktor- faktor yang menyebabkan tingginya emosi antara lain sebagai
berikut.
1. Fisik (kelenjar dan nutrisi)
2. Lingkungan dan sosial :
a. Penyesuaian terhadap lingkungan yang baru;
b. Tuntutan sosial untuk berperilaku yang lebih matang;
c. Aspirasi yang tidak realistis ( tidak sesuai dengan kondisi dan
situasi yang nyata);
d. Penyesuaian sosial terhadap teman sejenis dan lawan jenis;
e. Masalah- masalah di sekolah;
f. Masalah-masalah dengan tugas atau bidang pekerjaan;
5. Pengendalian Emosi
Pengendalian emosi bukan merupakan upaya menekan atau
menghilangkan emosi melainkan upaya belajar menghadapi situasi
dengan rasional; belajar mengenali emosi dan menghindari penafsiran
yang berlebihan terhadap situasi; serta belajar memberikan respons
terhadap situasi tersebut dengan pikiran maupun emosi tidak berlebihan
yang proporsional sesuai dengan situasinya.
Ada tiga aturan yang harus diterapkan seseorang apabila
menghindari beban emosi.Pertama, seseorang harus menyadari dan
mampu menyadari emosi yang muncul dan sedang dicoba untuk
dikendalikan. Kedua, menempatkan aspek mental dan penilaian kognitif
dari respons emosi tersebut untuk menguji kewajaran respons tersebut
terhadap realitanya. Ketiga, seseorang perlu belajar untuk
mengemukakan emosi positif dan negatif secara benar proporsional.
Tabel jenis emosi yang sering dihadapi oleh remaja
Ciri-ciri remaja mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan,
sukses atau berhasil melakukan sesuatu sesuai yang diidamkan
Bahagia
atau terlepas dari tekanan kegelisahan.
Ciri-ciri ada kedamaian, sesuai dengan apa yang diinginkan,
Senang
ada kecocokkan dengan selera.
keadaan emosi yang relative menyenangkan, keteduhan, rasa
ingin dimiliki/memiliki dan ada rasa tak ingin kehilangan, ada
Sayang
rasa kepemilikan dan tanggung jawab.
Keadaan emosi yang relatif menyenangkan,menggetarkan diri
untuk selalu melihat dekat, rasa rindu, rasa ingin
cinta kontak/berhubungan/berkomunikasi. Kadang-kadang sifat bisa
berubah.
Emosi yang disebarkan perkembangan intelektual yang
merangsang kebutuhan untuk mengetahui jawaban dari
Ingin sesuatu yang menggelisahkan. Pada remaja tumbuh rasa ingin
tahu tahu yang besar terhadap perkembanganseksual diri dari lawan
jenis.
Keadaan emosi, dimana seseorang mengalami dan
Frustasi menghadapi hambatan dalam pemenuhan keinginan dan
kebutuhannya. Frustasi menimbulkan rasa rendah diri, bersifat
agresif fisik, dan ucapan kasar.
Keadaan khawatir atau ketakutan yang diliputi rasa marah
pada remaja muncul karena merasa diri tidak berarti, dirinya
Cemburu
digantikan oleh orang lain dan sangat pribadi.
Bentuk emosi yang ditujukan pada orang tertentu berkaitan
dengan status, pemilikan benda, atau kemampuan tertentu dari
Iri hati
orang lain yang memiliki.
Merupakan perasaan galau, perasaan depresi yang tidak
Duka cita berat,tetapi mengganggu individu, keadaan ini terjadi bila
(grief) kehilangan sesuatu yang sangat bernilai bagi dirinya.

6. Kebahagiaan pada Masa Remaja


Ketidakbahagiaan remaja lebih disebabkan masalah pribadi dari
pada lingkungannya. Jika remaja berhasil mengatasi masalah-masalah
yang dihadapi dan kepercayaan pada kemampuannya mengatasi
permasalah tanpa bantuan orang dewasa, maka kebahagiaan akan
semakin meningkat dan meletakkan tujuan sesuai dengan apa yang ia
mampu capai. Selain itu juga meningkatkan kepercayaan diri serta
keberhasilan yang ia peroleh dari pengalamannya.
Faktor yang memengaruhi adalah sebagai berikut :
a) Tingkat kematangan.
Kondisi fisik yang lebih matang menyebabkan tuntutan sosial yang
lebih besar pada remaja untuk dapat mengendalikan ekspresi emosi
yang wajar dan sesuai norma lingkungannya.
b) Jenis kelamin.
Kebanyakan kultur memberlakukan tuntutan bahwa laki-laki lebih
diizinkan untuk mengekspresikan emosinya, kecuali takut dan sedih,
dibandingkan perempuan yang lebih dituntut untuk menekandan
menahan perasaan emosi.
c) Kelas sosial atau budaya.
Terdapat beberapa budaya atau kelas sosial tertentu yang
mengizinkan atau tidak mengizinkan suatu ekspresi tertentu muncul.
7. Perkembangan Kognitif
Berdasarkan teori perkembangan kognitif piaget, kemampuan
kognitif remaja berada pada tahap formal operational. Remaja harus
mampu mempertimbangkan semua kemungkinan untuk menyelesaikan
masalah dan mempertanggung jawabkannya. Berkaitan dengan
perkembangan kognitif, umumnya remaja menampilkan tingkah laku
sebagai berikut:
a) Kritis
Segala sesuatu harus rasional dan jelas, sehingga remaja cenderung
mempertanyakan kembali aturan-aturan yang diterimanya.
b) Rasa ingin tahu yang kuat
Perkembangan intelektual pada remaja merangsang adanya
kebutuhan/kegelisahan akan sesuatu yang harus
diketahui/dipecahkan.
c) Jalan pikiran egosentris
Berkaitan dengan menentang pendapat yang berbeda. Cara berpikir
kritis dan egosentris, menyebabkan remaja cenderung sulit menerima
pola pikir yang berbeda dengan pola pikirnya.
d) Imagery audience
Remaja merasa selalu diperhatikan atau menjadi pusat perhatian
orang lain menyebakan remaja sangat terpengaruh oleh penampilan
fisiknya dan dapat mmengaruhi konsep dirinya.
e) Personal fablas
Remaja merasa dirinya sangat unik dan berbed dengan orang
lain.Tercapainya tahap perkembangan ini ditandai dengan individu
mampu :
1) Berpikir secara kontra-faktual (kontra-faktual), artinya dia
menyadari bahwa realitas dan pikiran tentang realitas bisa
berbeda, juga bisa memaknai suatu realitas sesuai kehendaknya.
2) Realitas adalah kondisi nyatanya (objektif) sedangkan pikiran
tentang realitasnya adalah kondisi subjektif (persepsi).
8. Perkembangan Moral
Perubahan mendasar dalam moralitas remaja meliputi :
a) Pada masa remaja, mereka mulai “memberontak” dari nilai-nilai
orangtua dan orang dewasa lainnya serta mulai menentukan nilai-
nilainya sendiri.
b) Pandangan moral remaja semakin lama semakin menjadi lebih
abstrak dan kurang nyata.
c) Keyakinan moral lebih berpusat pada apa yang benar, bukan pada apa
yang salah.
d) Penilaian moral menjadi semakin kritis sehingga remaja lebih berani
menganalisis norma sosial dan norma pribadi, serta berani mengambil
keputusan berbagai masalah moral yang dihadapinya.
e) Penilaian moral menjadi kurang egosentris, tetapi lebih
mengembangkan norma berdasarkan nilai-nilai kelompok sosialnya.
f) Penilaian moral cenderung melibatkan beban emosi dan
menimbulkan ketegangan psikologis.
9. Perkembangan Konsep Diri (Kepribadian)
Konsep diri merupakan semua perasaan dan pemikiran seseorang
mengenai dirinya sendiri. Gambaran pribadi remaja terhadap dirinya
meliputi penilaian diri dan penilaian sosial. Penilaian diri berisi
pandangan dirinya terhadap hal-hal, antara lain:
a) Pengendalian keinginan dan dorongan-dorongan dalam diri.
b) Suasana hati yang sedang dihayati remaja.
c) Bayangan subjektif terhadap kondisi tubuhnya.
d) Merasa orang lain selalu mengamati/memperhatikan dirinya
(kaitannya dengan perkembangan kognitif).

Remaja memiliki harapan-harapan peran dan cita-cita ideal yang


ingin dia capai yang cenderung tidak realistis.Ciri-ciri perkembangan
konsep diri remaja antara lain terdiri atas :

a) Perubahan perkembangan fisik yang cukup drastic pada masa remaja,


kadang kadang tidak/kurang proposional.
b) Sangat terpengaruh oleh pandangan orang lain terhadap dirinya.
c) Memiliki aspirasi yang sangat tinggi tentang segala hal.
d) Memandang diri lebih rendah atau lebih tinggi dari pada kondisi
objektifnya.
e) Merasa selalu diperhatikan atau menjadi pusat perhatian.
10. Perkembangan heteroseksual
Dalam perkembangan heteroseksual ini, remaja belajar
memerankan peran jenis kelamin yang diakui oleh lingkungannya.
Remaja perempuan menemukan adanya double standard , dimana remaja
laki-laki boleh melakukan hal yang bagi remaja perempuan sering sekali
disalahkan. Kondisi pandangan budaya tertentu mengenai peran jenis
kelamin remaja mengakibatkan munculnya efek penggolongan dalam
masyarakat, contohnya antara lain :
a) Remaja laki-laki memiliki perasaan lebih unggul yang relatif terus
menetap dan diharapkan dapat berperan sebagai pemimpin dalam
kegiatan masyarakat.
b) Prasangka jenis kelamin melahirkan kecenderungan merendahkan
prestasi perempuan meskipun prestasi itu menyamai atau bahkan
melebihi prestasi laki-laki.
c) Perempuan mengalami perasaan takut untuk sukses karena
didasarkan pada anggapan bahwa keberhasilan akan mendapatkan
dukungan sosial laki-laki dan menjadi halangan yang besar dalam
proses mencari pasangan hidup.

Beberapa ciri penting perkembangan heteroseksual remaja secara umum


antara lain:

a) Remaja mempelajari perilaku orang dewasa sesuai dengan jenis


kelaminnya untuk menarik perhatian lawan jenisnya.
b) Minat terhadap lawan jenis makin kuat disertai keinginan kuat untuk
memperoleh dukungan dari lawan jenis.
c) Minat terhadap kehidupan seksual
d) Remaja mulai mencari informasi tentang kehidupan seksual orang
dewasa, bahkan juga muncul rasa ingin tahu dan keinginan
bereksplorasi untuk melakukannya.
e) Minat dalam keintiman secara fisik. Dengan adanya dorongan
seksual dan ketertarikkan terhadap lawan jenis, perilaku remaja mulai
diarahkan untuk menarik perhatian lawan jenis.
3. Ciri-Ciri Kejiawaan dan Psikososial Remaja
a. Usia remaja muda (12-15 tahun)
1) Sikap protes terhadap orang tua
Remaja pada usia ini cenderung tidak menyetujui nilai-nilai hidup orang
tuanya, sehingga sering menunjukkan sikap protes terhadap orang tua.
Mereka berusaha mencari identitas diri dan seringkali disertai dengan
menjauhkan diri dari orang tuanya. Dalam upaya pencarian identitas diri,
remaja cenderung melihat kepada tokoh-tokoh diluar lingkungan
keluarganya, yaitu: guru, figur ideal yang terdapat di film, atau tokoh
idola.
2) Preokupasi dengan badan sendiri
Tubuh seorang remaja pada usia ini mengalami perubahan yang cepat
sekali. Perubahan-perubahan ini menjadi perhatian khusus bagi diri
remaja.
3) Kesetiakawanan dengan kelompok seusia
Para remaja pada kelompok umur ini merasakan keterkaitan dan
kebersamaan dengan kelompok seusia dalam upaya mencari kelompok
senasib. Hal ini tercermin dalam cara berperilaku sosial.
4) Kemampuan untuk berpikir secara abstrak
Daya kemampuan berpikir seorang remaja mulai berkembang dan
dimanifestasikan dalam bentuk diskusi untuk mempertajam kepercayaan
diri.
5) Perilaku yang labil dan berubah-ubah
Remaja sering memperlihatkan perilaku yang berubah-ubah. Pada suatu
waktu tampak bertanggung jawab, tetapi dalam waktu lain tampak masa
bodoh dan tidak bertanggung jawab. Remaja merasa cemas akan
perubahan dalam dirinya. Perilaku demikian menunjukkan bahwa dalam
diri remaja terdapat konflik yang memerlukan pengertian dan
penanganan yang bijaksana.
b. Usia remaja penuh (16-19 tahun)
1. Kebebasan dari orang tua
Dorongan untuk menjauhkan diri dari orang tua menjadi realitas.
Remaja mulai merasakan kebebasan, tetapi juga merasa kurang
menyenangkan. Pada diri remaja timbul kebutuhan untuk terkait dengan
orang lain melalui ikatan cinta yang stabil.
2. Ikatan terhadap pekerjaan atau tugas
Sering kali remaja menunjukkan minat pada suatu tugas tertentu yang
ditekuni secara mendalam. Terjadi pengembangan akan cita-cita masa
depan yaitu mulai memikirkan melanjutkan sekolah atau langsung
bekerja untuk mencari nafkah.
3. Pengembangan nilai moral dan etis yang mantap
Remaja mulai menyususn nilai-nilai moral dan etis sesuai dengan cita-
cita.
4. Pengembangan hubungan pribadi yang labil
Adanya tokoh panutan atau hubungan cinta yang stabil menyebabkan
terbentuknya kestabilan diri remaja.
4. Masa Transisi Remaja
Pada usia remaja, terdapat masa transisi yang akan dialami. Masa transisi
tersebutmenurut gunarsa (1978) dalam disertai PKBI (2000) adalah sebagai
berikut.
a. Transisi fisik berkaitan dengan perubahan bentuk tubuh
Bentuk tubuh remaja sudah berbeda dengan anak-anak, tetapi belum
sepenuhnya menampilkan bentuk tubuh orang dewasa. Hal ini menyebabkan
kebingungan peran, didukung pula dengan sikap masyarakat yang kurang
konsisten.
b. Transisi dalam kehidupan emosi
Perubahan hormonal dalam tubuh remaja berhubungan erat dengan
peningkatan kehidupan emosi. Remaja sering memperlihatkan
ketidakstabilan emosi. Remaja tampak sering gelisah, cepat tersinggung,
melamun, dan sedih, tetapi dilain sisi akan gembira, tertawa, ataupun marah-
marah.
c. Transisi dalam kehidupan sosial
Lingkungan sosial anak semakin bergeser ke luar dari keluarga, dimana
lingkungan teman sebaya mulai memegang peranan penting. Pergeseran
ikatan pada teman sebaya merupakan uapaya remaja untuk mandiri
(melepaskan ikatan dengan keluarga).
d. Transisi dalam nilai-nilai moral
Remaja mulai meninggalkan nilai-nilai yang dianutnya dan menuju nilai-
nilai yang dianut orang dewasa. Saat ini remaja mulai meragukan nilai-nilai
yang diterima pada waktu anak-anak dan mulai mencari nilai sendiri.
e. Transisi dalam pemahaman
Remaja mengalami perkembangan kognitif yang pesat sehingga mulai
mengembangkan kemampuan berpikir abstrak.

5. Tugas-Tugas Perkembangan Remaja


Menurut Havighurst (1998), ada tugas-tugas yang harus diselesaikan
dengan baik pada setiap periode perkembangan. Tugas perkembangan adalah
hal-hal yang harus dipenuhi atau dilakukan oleh remaja dan dipengaruhi oleh
harapan sosial.
Adapun tugas perkembangan pada remaja adalah sebagai berikut.
1. Menerima keadaan dan penampilan diri, serta menggunakan tubuhnya
secara efektif.
2. Belajar berperan sesuai dengan jenis kelamin (sebagai laki-laki atau
perempuan).
3. Mencapai relasi yang baru dan lebih matang dengan teman sebaya, baik
sejenis maupun lawan jenis.
4. Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab.
5. Mencapai kemandirian secara emosional terhadap orang tua dan orang
dewasa lainnya.
6. Mempersiapkan karir dan kemandirian secara ekonomi.
7. Menyiapkan diri (fisik dan psikis) dalam menghadapi perkawinan dan
kehidupan keluarga.
8. Mengembangkan kemampuan dan keterampilan intelektual untuk hidup
bermasyarakat dan untuk masa depan (dalam bidang pendidikan atau
pekerjaan).
9. Mencapai nilai-nilai kedewasaan.
6. Tujuan Perkembangan Remaja
a. Perkembangan pribadi
1) Keterampilan kognitif dan nonkognitif yang dibutuhkan agar dapat
mandiri secara ekonomi maupun mandiri dalam bidang pekerjaan
tertentu.
2) Kecakapan dalam mengelola dan mengatasi masalah-masalah pribadi
secara efektif.
3) Kecakapan-kecakapan sebagai orang pengguna kekayaan kultural dan
perbadaan bangsa.
4) Kecakapan untuk dapat terikat dalam suatu keterlibatan yang intensif
pada suatu kegiatan.
b. Perkembangan sosial
1) Pengalaman bersama pribadi-pribadi yang berbeda dengan dirinya, baik
dalam kelas, sosial, subkultur, maupun usia.
2) Pengalaman dimana tindakannya dapat berpengaruh pada orang lain.
3) Kegiatan saling tergantung yang diarahkan pada tujuan-tujuan bersama
(interaksi kelompok).
7. Konsep Kedewasaan
Karakteristik remaja (adolescence) adalah tumbuh menjadi dewasa.
Secara fisik, remaja ditandai dengan ciri perubahan pada penampilan fisik dan
fungsi fisiologis, terutama yang terkait dengan kelenjar seksual. Sementara itu,
secara psikologis remaja merupakan masa dimana individu mengalami
perubahan-perubahan dalam aspek kognitif, emosi, sosial, dan moral antara
masa anak-anak menuju dewasa.
Terdapat bukti bahwa konsep diri remaja berbeda di berbagai konteks
dan remaja memandang diri berbeda jika berada teman sebaya dibandingkan saat
dengan orang tua dan guru.
Salah satu tugas perkembangan masa remaja adalah mencapai nilai-nilai
kedewasaan. Adapun ciri-ciri kedewasaan antara lain :
a) Emosi relatif lebih stabil (mampu mengendalikan emosi);
b) Mandiri (baik secara ekonomi, sosial, dan emosi);
c) Mampu melakukan upaya menyerahkan sumber daya dalam diri dan
lingkungan untuk memecahkan masalah.
d) Adanya interdependensi (saling ketergantungan) dalam hubungan sosial.
e) Memiliki tanggung jawab.
f) Memiliki control diri yang adekuat (mampu menunda kepuasan, melawan
godaan, serta mengembangkan prestasi sendiri).
g) Memiliki tujuan hidup yang realistis.
h) Memiliki dan menghayati nilai-nilai keagamaan yang dianut.
i) Peka terhadap kepentingan orang lain.
j) Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan (bersikap luwes), bertindak
secara tepat sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi.
8. Masalah Umum Remaja
Berikut adalah masalah umum yang dialami remaja berkaitan dengan
tumbuhkembangnya.
a) Masalah yang berkaitan dengan lingkungan rumahnya seperti relasi dengan
anggota keluarga, disiplin, dan pertentangan dengan orang tua.
b) Masalah-masalah yang berkaitan dengan lingkungan sekolah.
c) Kondisi fisik (kesehatan atau latihan), penampilan (berat badan, ciri-ciri
daya tarik, bau badan, jerawat, kesesuaian dengan jenis kelamin).
d) Emosi (temperamen yang meledak ledak, suasana hati berubah ubah).
e) Penyesuaian sosial (minder, sulit bergaul, pacaran, penerimaan oleh teman
sebaya, peran pemimpin).
f) Masalah pekerjaan (pilihan pekerjaan, pengangguran).
g) Nilai-nilai (moral, penyalahgunaan obat-obatan, dan hubungan seksual).
h) Masalah yang berkaitan dengan hubungan lawan jenis (heteroseksual),
seperti putus pacar, proses pacaran, backstreet, sulit punya pacar, dan lain-
lain.
B. Konsep Dasar Anemia
1. Definisi
Kurang darah atau anemia adalah kondisi ketika tubuh kekurangan sel
darah merah yang sehatatau ketika sel darah merah tidak berfungsi dengan baik.
Akibatnya, organ tubuh tidak mendapat cukup oksigen, sehingga membuat
penderita anemia pucat dan mudah lelah.
Anemia dapat terjadi sementara atau dalam jangka panjang, dengan
tingkat keparahan yang bisa ringan sampai berat. Anemia terjadi ketika kadar
hemoglobin (bagian utama dari sel darah merah yang mengikat oksigen) berada
di bawah normal.
Orang dewasa dikatakan menderita anemia bila kadar hemoglobinnya di
bawah 14 gram per desiliter untuk laki-laki, dan di bawah 12 gram per desiliter
untuk wanita. Untuk mengatasi anemia tergantung kepada penyebab yang
mendasarinya, mulai dari konsumsi suplemen zat besi, transfusi darah, sampai
operasi.
2. Penyebab
Anemia terjadi ketika tubuh kekurangan sel darah merah sehat atau
hemoglobin. Akibatnya, sel-sel dalam tubuh tidak mendapat cukup oksigen dan
tidak berfungsi secara normal.
Secara garis besar, anemia terjadi akibat tiga kondisi berikut ini:
a) Produksi sel darah merah yang kurang.
b) Kehilangan darah secara berlebihan.
c) Hancurnya sel darah merah yang terlalu cepat.

Berikut ini adalah jenis-jenis anemia yang umum terjadi berdasarkan


penyebabnya:

a) Anemia akibat kekurangan zat besi


Kekurangan zat besi membuat tubuh tidak mampu menghasilkan
hemoglobin (Hb). Kondisi ini bisa terjadi akibat kurangnya asupan zat besi
dalam makanan, atau karena tubuh tidak mampu menyerap zat besi,
misalnya akibat penyakit celiac.
b) Anemia pada masa kehamilan
Ibu hamil memiliki nilai hemoglobin yang lebih rendah dan hal ini normal.
Meskipun demikian, kebutuhan hemoglobin meningkat saat hamil, sehingga
dibutuhkan lebih banyak zat pembentuk hemoglobin, yaitu zat besi, vitamin
B12, dan asam folat. Bila asupan ketiga nutrisi tersebut kurang, dapat
terjadi anemia yang bisa membahayakan ibu hamil maupun janin.
c) Anemia akibat perdarahan
Anemia dapat disebabkan oleh perdarahan berat yang terjadi secara
perlahan dalam waktu lama atau terjadi seketika. Penyebabnya bisa cedera,
gangguan menstruasi, wasir, peradangan pada lambung, kanker usus, atau
efek samping obat, seperti obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS).
d) Anemia aplastik
Anemia aplastikterjadi ketika kerusakan pada sumsum tulang membuat
tubuh tidak mampu lagi menghasilkan sel darah merah dengan optimal.
Kondisi ini diduga dipicu oleh infeksi, penyakit autoimun, paparan zat
kimia beracun, serta efek samping obat antibiotik dan obat untuk mengatasi
rheumatoid arthritis.
e) Anemia hemolitik
Anemia hemolitik terjadi ketika penghancuran sel darah merah lebih cepat
daripada pembentukannya. Kondisi ini dapat diturunkan dari orang tua, atau
didapat setelah lahir akibat kanker darah, infeksi bakteri atau virus, penyakit
autoimun, serta efek samping obat-obatan, seperti paracetamol, penisilin,
dan obat antimalaria.
f) Anemia akibat penyakit kronis
Beberapa penyakit dapat memengaruhi proses pembentukan sel darah
merah, terutama bila berlangsung dalam jangka panjang. Beberapa di
antaranya adalah penyakit Crohn, penyakit ginjal, kanker, rheumatoid
arthritis, dan HIV/AIDS.
g) Anemia sel sabit (sickle cell anemia)
Anemia sel sabit disebabkan oleh mutasi (perubahan) genetik pada
hemoglobin. Akibatnya, hemoglobin menjadi lengket dan berbentuk tidak
normal, yaitu seperti bulan sabit. Seseorang bisa terserang anemia sel sabit
apabila memiliki kedua orang tua yang sama-sama mengalami mutasi
genetik tersebut.
h) Thalasemia
Thalasemiadisebabkan oleh mutasi gen yang memengaruhi produksi
hemoglobin. Seseorang dapat menderita thalasemia jika satu atau kedua
orang tuanya memiliki kondisi yang sama.
3. Gejala anemia
Gejala anemia sangat bervariasi, tergantung pada penyebabnya. Penderita
anemia bisa mengalami gejala berupa:
a) Lemas dan cepat lelah
b) Sakit kepala dan pusing
c) Kulit terlihat pucat atau kekuningan
d) Detak jantung tidak teratur
e) Napas pendek
f) Nyeri dada
g) Dingin di tangan dan kaki
4. Diagnosis
Untuk menentukan apakah pasien menderita anemia, dokter akan
melakukan hitung darah lengkap. Dengan memeriksa sampel darah pasien,
dokter dapat mengetahui kadar hemoglobin yang terdapat dalam darah.
Kadar hemoglobin normal tergantung pada usia, kondisi, dan jenis
kelamin. Seseorang bisa dikatakan menderita anemia bila kadar hemoglobin
berada di bawah angka berikut:
a) Anak-anak: 11-13 gram per desiliter.
b) Ibu hamil: 11 gram per desiliter.
c) Laki-laki: 14-18 gram per desiliter.
d) Perempuan: 12-16 gram per desiliter
5. Klasifikasi berdasarkan derajat anemia
a. Kriteria yang umum dipakai
 Ringan sekali : Hb 10 – 13 gr/dl
 Ringan : Hb 8 – 9,9 gr/dl
 Sedang : Hb 6 – 7,9 gr/dl
 Berat : Hb < 6 gr/dl
b. Menurut WHO
 Derajat 0 (nilai normal) : > 11 gr/dl
 Derajat 1 (Ringan ) : 9,5 – 10 gr/dl
 Derajat 2 (Sedang) : 8 – 9,4 gr/dl
 Derajat 3 (Berat) : 6,5 – 7,9 gr/dl
 Derajat 4 (Mengancam Jiwa) : < 6,5 gr/dl

Melalui tes darah, dokter juga akan mengukur kadar zat besi, vitamin B12,
dan asam folat dalam darah, serta memeriksa fungsi ginjal. Pemeriksaan tersebut
dilakukan untuk mengetahui penyebab dari anemia.

Selain tes darah, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan lain untuk
mencari penyebab anemia, seperti:

a) Endoskopi, guna melihat apakah lambung atau usus mengalami perdarahan.


b) USG panggul, guna mengetahui penyebab gangguan menstruasi yang
menimbulkan anemia.
c) Pemeriksaan aspirasi sumsum tulang, guna mengetahui kadar, bentuk, serta
tingkat kematangan sel darah dari ‘pabriknya’ langsung.
d) Pemeriksaan sampel cairan ketuban saat kehamilan guna mengetahui
kemungkinan janin menderita kelainan genetik yang menyebabkan anemia.
6. Pengobatan
Metode pengobatan anemia tergantung pada jenis anemia yang diderita
pasien. Perlu diketahui, pengobatan bagi satu jenis anemia bisa berbahaya bagi
anemia jenis yang lain. Oleh karena itu, dokter tidak akan memulai pengobatan
sebelum mengetahui penyebabnya dengan pasti.
Beberapa contoh pengobatan anemia berdasarkan jenisnya adalah:
a) Anemia akibat kekurangan zat besi
Kondisi ini diatasi dengan mengonsumsi makanan dan suplemen zat besi.
Pada kasus yang parah, diperlukan transfusi darah.
b) Anemia pada masa kehamilan
Kondisi ini ditangani dengan pemberian suplemen zat besi, vitamin B12 dan
asam folat, yang dosisnya ditentukan oleh dokter.
c) Anemia akibat perdarahan
Kondisi ini diobati dengan menghentikan perdarahan. Bila diperlukan,
dokter juga akan memberikan suplemen zat besi atau transfusi darah.
d) Anemia aplastik
Pengobatannya adalah dengan transfusi darah untuk meningkatkan jumlah
sel darah merah, atau transplantasi (cangkok) sumsum tulangbila sumsum
tulang pasien tidak bisa lagi menghasilkan sel darah merah yang sehat.
e) Anemia hemolitik
Pengobatannya dengan menghentikan konsumsi obat yang memicu anemia
hemolitik, mengobati infeksi, mengonsumsi obat-obatan imunosupresan,
atau pengangkatan limpa.
f) Anemia akibat penyakit kronik
Kondisi ini diatasi dengan mengobati penyakit yang mendasarinya. Pada
kondisi tertentu, diperlukan transfusi darah dan suntik hormon eritropoietin
untuk meningkatkan produksi sel darah merah.
g) Anemia sel sabit
Kondisi ini ditangani dengan suplemen zat besi dan asam folat, cangkok
sumsum tulang, dan pemberian kemoterapi, seperti hydroxyurea. Dalam
kondisi tertentu, dokter akan memberikan obat pereda nyeri dan antibiotik.
h) Thalassemia
Dalam menangani thalassemia, dokter dapat melakukan transfusi darah,
pemberian suplemen asam folat, pengangkatan limpa, dan cangkok sumsum
tulang.
7. Pencegahan
Beberapa jenis anemia, seperti anemia pada masa kehamilan dan anemia
akibat kekurangan zat besi, dapat dicegah dengan pola makan kaya nutrisi,
terutama:
a) Makanan kaya zat besidan asam folat, seperti daging, sereal, kacang-
kacangan, sayuran berdaun hijau gelap, roti, dan buah-buahan

b) Makanan kaya vitamin B12, seperti susu dan produk turunannya, serta
makanan berbahan dasar kacang kedelai, seperti tempe dan tahu.
c) Buah-buahan kaya vitamin C, misalnya jeruk, melon, tomat, dan stroberi.

Untuk mengetahui apakah asupan nutrisi Anda sudah cukup, berkonsultasilah


dengan dokter spesialis gizi. Bila Anda memiliki keluarga penderita anemia
akibat kelainan genetik, seperti anemia sel sabit atau thalasemia, konsultasikan
dengan dokter sebelum merencanakan kehamilan, agar kondisi ini tidak terjadi
pada anak.

8. Komplikasi
Jika dibiarkan tanpa penanganan, anemia berisiko menyebabkan beberapa
komplikasi serius, seperti:
a) Kesulitan melakukan aktivitas akibat kelelahan.
b) Masalah pada jantung, seperti gangguan irama jantung (aritmia) dan gagal
jantung.
c) Gangguan pada paru-paru, misalnya hipertensi pulmonal.
d) Komplikasi kehamilan, antara lain melahirkan prematur atau bayi terlahir
dengan berat badan rendah.
e) Gangguan proses tumbuh kembang jika anemia terjadi pada anak-anakatau
bayi.
f) Rentan terkena infeksi
C. Konsep Dasar Manajemen Asuhan Kebidanan
1) Pengertian Manajemen Asuhan Kebidanan
Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan
sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori
ilmiah, temuan, keterampilan dalam rangkaian/tahapan yang logis untuk
mengambil suatu keputusan yang terfokus pada klien.
2) Langkah- langkah asuhan kebidaanan menurutvarney
a. Pengumpulan data dasar
Mengumpulkan semua data yang dibutuhkan secara lengkap dan akurat dari
berbagai sumber yang berkaitan dengan kondisi klien secara keseluruhan.
Untuk memperoleh data dilakukan dengancara:
1. Data subjektif /anamnesa
Nama : Untuk membedakan pasien satu dengan yang lain.
Umur : untuk memastikan usia dan sebagai identitas.
Suku/bangsa : Untuk mengetahui adat istiadat sehingga mempermudah
dalam melaksanakan tindakankebidanan.
Agama : Untuk memperoleh informasi tentang agama yang dianut
Pendidikan : Untuk memudahkan bidan memperoleh keterangan atau
dalam memberikan informasi mengenai suatu hal dengan menggunakan
cara yang sesuai dengan pendidikan.
Pekerjaan : Untuk mengetahui apakah remaja terlalu lelah dalam
pekerjaan yang berhubungan dengan keseimbangan tubuh.
2. Dataobjektif
a) KeadaanUmum : Bagaimana keadaan pasien dengan anemia.
b) Tanda-tandavital
Tekanan darah : Untuk mengetahui tekanan darah pasien dengan
anemia.
Nadi : Untuk mengetahui nadi pasien dengan anemia.
Respirasi : Untuk mengetahui respirasi pasien dengan anemia.
Suhu : Untuk mengetahui suhu pasien dengan anemia.
3. Pemeriksaan fisik
Muka : untuk mengetahui adanya pembengkakan pada wajah.
Mata : untuk melihat sklera dankonjungtiva.
Leher : untuk mengetahui adanya pembengkakan kelenjar tiroid, limfe
dan vena jugularis.
Payudara: untuk mengetahui bentuk, ukuran, keadaan putting.
Abdomen: untuk mengetahui pembesaran abdomen abnormal.
Ekstremitas : untuk mengetahui reflek patella dan adanya varices.
4. Pemeriksaan penunjanglaboratorium
Pemeriksaan ini dilakukan jika perlu atau jika ada terdapat
kelainan saat pemeriksaan.
b. Interpretasi data dasar
Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagnosa
atau masalah dan kebutuhan klien, berdasarkan interpretasi yang benar atas
data-data yang dikumpulkan. Data dasar yang telah dikumpulkan
diidentifikasikan sehingga ditemukan masalah atau masalah yang
spefisik.Interpretasi data terdiri dari diagnosa kebidanan, diagnosa masalah
dan diagnosa kebutuhan. Interpretasi data pada remaja dengan anemia
adalah:
1. Diagnosa kebidanan
Merupakan diagnosa yang ditegakkan bidan dalam lingkup praktik
kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur diagnosa
kebidanan.Dasar diagnosa tersebut adalah data subjektif berupa
pernyataan pasien tentang sering lelah, lesu, lemas, lunglai.
Hasil data objektif meliputi pemeriksaan umum, fisik, dan ginekologi
serta hasil pemeriksaan penunjang. Diagnosa kebidanan ditulis dengan
lengkap berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik, dan data penunjang
2. Masalah
Masalah adalah hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman klien yang
ditemukan dari hasil pengkajian atau yang ditemukan dari hasil pengkajian
atau yang menyertai diagnosis.Masalah dapat muncul tapi dapat pula tidak.Hal
ini muncul berdasarkan sudut pandang klien dengan keadaan yang dialami
apakah menimbulkan masalah terhadap klien atau tidak. Masalah pada kasus
ini yaitu anemia dengan keluhan sering merasa lelah dan sulit berkonsentrasi.
3. Kebutuhan
Kebutuhan adalah hal-hal yang dibutuhkan oleh klien dan belum
teridentifikasi dalam diagnosis dan masalah yang didapatkan dengan
melakukan analisis data. Kebutuhan yang muncul setelah dilakukan
pengkajian. Ditemukan hal- hal yang membutuhkan asuhan, dalam hal ini
klien tidak menyadari. Kebutuhan klien pada anemia yaitu pemberian tablet
penambah darah.
c. Identifikasi diagnose dan masalah potensial
Diagnosa potensial ditegakkan berdasarkan diagnosa atau masalah yang telah
diidentifikasi. Bidan dituntut untuk tidak hanya merumuskan masalah tetapi juga
merumuskan tindakan antisipasi agar masalah atau diagnosa potensial tidak
terjadi. Sehingga langkah ini merupakan langkah yang bersifat antisipasi yang
rasional atau logis. Diagnosa potensial pada remaja dengan anemia adalah
meningkatkan kerentanan terhadap infeksi karena daya tahan tubuh menurun. Dan
jika berdampak pada jangka panjang, kelak akan mempengaruhi saat hamil dan
persalinan. Oleh karena perlu adanya tindakan yang dapat dilakukan oleh bidan
atau tenagakesehatan.
d. Identifikasi kebutuhan segera
Menentukan kebutuhan klien terhadap tindakan yang segera dilakukan oleh
bidan atau untuk konsultasi, kolaborasi serta melakukan rujukan terhadap
penyimpangan abnormal. Antisipasi pertama yang dilakukan pada anemia yaitu
dengan memperbaiki nutrisi dan pola hidupsehat serta pemberian tablet Fe.
e. Intervensi
Merupakan pengembangan rencana asuhan yang menyeluruh dan ditentukan
oleh langkah-langkah sebelumnya.Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen
terhadap masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau diantisipasi.
Rencana harus mencakup setiap hal yang berkaitan dengan semua aspek kesehatan
dan disetujui oleh kedua belah pihak (bidan dan klien).
Rencana yang diberikan pada anemia adalah :
1. Konseling psikologis, sosial, budaya danspiritual
2. Medikamentosa meliputi pemberian tablet Fe
f. Implementasi
Langkah ini merupakan pelaksanaan dari rencana asuhan secaraefisiendan aman.
Langkah ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau anggota tim kesehatan
lainnya. Selama melakukan tindakan intervensi, bidan menganalisa dan
memonitor keadaan kesehatanpasiennya.
Pelaksanaan pada anemia adalah:
1. Setelah diberikan konseling psikologis, sosial, budaya dan spiritual diharapkan
pasien atau klien dapat mengerti tentang anemia secara umum.
2. Setelah pemberian tablet Fe selama 30 hari ke depan, diharapkan kadar Hb
meningkat.
g. Evaluasi
Evaluasi dilakukan untuk mengkaji keefektifan dari asuhan yang sudah
diberikan.Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut efektif sedangkan
sebagian belum efektif. Proses evaluasi ini dilaksanakan untuk menilai mengapa
proses penatalaksanaan efektif / tidak efektif serta melakukan penyesuaian pada
rencana asuhantersebut.
Evaluasi yang diharapkan pada anemia adalah:
1. Setelah rutin mengkonsumsi tablet Fe, rasa sering kelelahan bisa berkurang,
bisa berkonsentrasi dengan baik, dan kadar Hb meningkat
2. Pasien atau klien dapat beraktifitas sepertibiasa
3. Keadaan umum baik

Pendokumentasian asuhan kebidanan(SOAP)

1) Subjektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui
anamnesis sebagai langkah pertama.
2) Objektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil
laboratorium dan uji diagnostic lain yang dirumuskan dalam data fokus untuk
mendukung asuhan sebagai langkah kedua.
3) Analisa
Menggambarkan pendokumentasian hasil analisis dan interpretasi data subjektif
dan objektif dalam suatu identifikasi:
a) Diagnosis ataumasalah
b) Antisipasi diagnosis / masalahpotensial
c) Perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter, konsultasi / kolaborasi dan /
atau rujukan sebagai langkah II, III,danIV
4) Penatalaksanaan
Penatalaksanaan, mencatat seluruh perencanaan dan penatalaksanaan yang sudah
dilakukan seperti tindakan antisipatif, tindakan segera, tindakan secara
komprehensif, penyuluhan, dukungan, kolaborasi, evaluasi/follow up dari rujukan.
BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN PADA REMAJA DENGAN ANEMIA
DI RUANG KIA PUSKESMAS SUKOLILO

A. PENGKAJIAN
Tanggal : 14 November 2019
Jam : 10.00 WIB
B. IDENTITAS PASIEN
Identitas Pasien Identitas Penanggung Jawab
Nama : Nn “E” Nama : Ny “A”
Umur : 15 tahun Umur : 45 tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan: SMP Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Siswi Pekerjaan : Swasta
Alamat : Kesek Alamat : Kesek
1. Pengumpulan Data dasar
1.1 DATA SUBJEKTIF
a. Keluhan Utama
Merasa lemas, sering capek, dan pusing sudah hampir 2 minggu
b. Riwayat kesehatan sekarang.
Klien mengatakan tidak ada yang menderita penyakit keturunan seperti DM,
Hipertensi, Asma, Jantung, dan tidak ada penyakit menular seperti (TBC,
Hepatitis, HIV / AIDS)
c. Riwayat kesehatan keluarga.
Klien mengatakan baik dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit
keturunan seperti DM, Hipertensi, Asma, Jantung, dan tidak ada penyakit menular
seperti (TBC, Hepatitis, HIV / AIDS)
d. Riwayat kesehatan yang lalu.
Klien mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular (TBC, Hepatitis) dan
penyakit menurun (DM, Asma, Jantung) dan tidak pernah dirawat dirumah sakit.
e. Riwayat Menstruasi.
Menarche : 12 tahun
Siklus : 28 hari
Lama haid : 7 hari
Jumlah : ± 3 x / hari ganti kotex. Konsistensi encer.
Nyeri haid : kadang-kadang.
Flour albus : ada dan sebelum haid tidak bau, tidak gatal.
f. Riwayat kebiasaan sehari-hari.
a. Pola nutrisi.
Makan 3 x/ hari dengan porsi, nasi lauk,tidak suka sayur, minum ± 6-8
gelas/hari air putih. Tidak ada pantang makanan,dan tidak ada alergi.
b. Pola istirahat dan tidur.
Tidur siang ± 1-2 jam.
Tidur malam ± 7-8 jam.
c. Pola aktivitas.
Pekerjaan klien setiap hari di perusahaan swasta dan jika libur klien membantu
pekerjaan orang tuanya. Mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti
membantu. Mencuci dan menyetrika.
d. Personal hygiene
Mandi 2 x / hari,gosok gigi 3 x / hari, ganti pakaian 2 x / hari atau bila kotor,
keramas 2-3 x / minggu atau bila perlu ganti celana dalam 2-3 x / hari.
e. Pola eleminasi.
BAB I x / hari konsistensi lembek.
BAK 4-5 x / hari warna kuning jernih, bau khas, tidak ada nyeri.
f. Pola kebiasaan lain
Klien mengatakan tidak pernah merokok, minum jamu, minum alkohol, dan
obat - obatan
g. Riwayat Psiklogis, Sosial dan Spiritual
Klien merasa cemas dengan keadaannya skarang, karena mudah lelah dan pusing.
1.2 Data objektif.
a. Pemeriksaan Umum
1) Keadaan umum : Lelah
Kesadaran : Composmentis
BB/TB : 40kg/152 cm
Tensi : 90/60 mmHg
Nadi : 84 x/menit
Suhu : 20 x/menit
IMT : 17,31
2) Pemeriksaan fisik
Muka : Pucat
Mata : Simetris, konjungtiva anemis, sklera tidak ikterus
Payudara : simetris tidak terdapat benjolan abnormal
Perut : tidak ada benjolan abnormal dan tidak ada nyeri tekan.
3) Pemeriksaan penunjang laboratorium (Hb 9,5 gr/dl)
2. INTREPETASI DATA DASAR
Tanggal : 14 November 2019
Jam : 10.20 WIB
a) Diagnosis
Nn “E” usia 15 tahun dengan anemia ringan
DS:
1. Klien merasa lemas, sering capek, dan pusing sudah hampir 2 minggu
2. Tidak ada riwayat penyakit menular (TBC, Hepatitis) dan penyakit menurun
(DM, Asma, Jantung) dan tidak pernah dirawat dirumah sakit.
3. Klien tidak suka mengkonsumsi sayur-sayuran.
DO:
Keadaan umum : Lelah
BB/TB : 40kg/152 cm
Tensi : 90/60 mmHg
Nadi : 84 x/menit
Suhu : 20 x/menit
Imt : 17,31
Pemeriksaan penunjang : HB (9,5 gr/dl)
b) Masalah
-
c) Kebutuhan
-
3. IDENTIFIKASI DIAGNOSIS DAN MASALAH POTENSIAL
Potensi terjadi anemia berat
4. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA
a) pemberiaan tablet Fe
b) Konseling Gizi
5. INTERVENSI
a) Informasikan hasil pemeriksan
b) Jelaskan tentang anemia dan penyebabnya
c) Anjurkan pasien konsumsi gizi seimbang terutama sayur daun kelor
d) Berikan tablet tambah darah (Fe)
e) Jadwalkan control ulang
6. IMPLEMENTASI
a) Menginformasikan hasil pemeriksaan, bahwa Hb (9,5 gr/dl), klien mengalami
anemia ringan, pasien memahami hasil pemeriksaan.
b) Menjelaskan tentang anemia (anemia adalah kondisi dengan kadar Hb dalam
darah dibawah normal dan penyebab anemia adalah kekurangan zat bezi) klien
menerima dan memahami penjelasan petugas kesehatan.
c) Menganjurkan klien mengkonsumsi sayur-sayuran yang berwarna hijau (daun
kelor) dan makanan yang mengandung zat besi seperti ( Hati, Ikan laut, kacang-
kacangan), pasien mengerti dan akan melakukannya dirumah.
d) Memberikan tablet Fe dengan dosis 1X1 tablet sebanyak 30 tablet, pasien bersedia
meminumnya dirumah.
e) Menganjurkan pasien control ulang 1 bulan lagi ,pasien bersedia control ulang.
7. EVALUASI
Tanggal : 14 November 2019 Jam : 10.30 WIB
S : Pasien memahami konseling yang telah diberikan petugas
O : Tablet tambah darah sudah diberikan
A : Nn “E” usia 15 tahun dengan anemia ringan
P : Anjurkan control ulang 1 bulan lagi
BAB IV
PEMBAHASAN

Dampak negatif dari kekurangan zat gizi besi berpengaruh terhadap optimalisasi
pertumbuhan dan perkembangan anak remaja, menurunkan prestasi belajar karena rasa cepat
lelah, kehilangan gairah dan tidak dapat berkonsentrasi.

Remaja putri merupakan salah satu kelompok yang rentan terhadap masalah defisiensi
zat gizi. Zat gizi dalam darah dapat diketahui melalui kadar hemoglobin. Kadar Hb normal
pada remaja putri adalah 12 gr/dl. Remaja putri dikatakan anemia jika kadar Hb <12 gr/dl.
Anemia terjadi dikarenakan kadar hemoglobin yang tidak mencukupi untuk fungsi pertukaran
oksigen dan karbondioksida dalam jaringan (Proverawati & Asfuah, 2011).

Kadar hemoglobin adalah ukuran pigmen respiratorik dalam butiran-butiran dalam


darah. Hemoglobin adalah protein yang kaya akan zat besi memiliki afinitas (daya gabung)
terhadap oksigen dan oksigen akan membentuk oxihemoglobin di dalam sel darah merah.
Dengan melalui fungsi ini maka oksigen dibawa dari paruparu ke jaringan-
jaringan.Hemoglobin merupakan senyawa pembawa oksigen pada sel darah
merah.Hemoglobin dapat di ukur secara kimia dan jumlah Hb/100 ml darah dapat digunakan
sebagai indeks kapasitas pembawa oksigen pada darah. Penyebab terjadinya anemia ringan
pada kelompok kontrol disebabkan beberapa faktor yaitu kehilangan zat besi saat menstruasi,
kekurangan gizi, vitamin terutama vitamin B12 dan mineral, dan defesiensi zat besi
disebabkan kurangnya zat besi dalam makanan

Menurut hasil penelitian, daun Kelor mengandung vitamin A, vitamin C, Vit B,


kalsium, kalium, besi, dan protein, dalam jumlah sangat tinggi yang mudah dicerna dan
diasimilasi oleh tubuh manusia (Nurhayati, 2006). Daun kelor memiliki potensi zat gizi yang
cukup besar, berbagai zat gizi makro dan mikro serta bahanbahan aktif yang bersifat sebagai
antioksidan. Mengandung nutrisi penting seperti zat besi (fe) 28,2 mg, kalsium (ca) 2003,0
mg dan vitamin A 16,3 mg kaya β-karoten, protein, vitamin A, C, D, E, K, dan B (tiamin,
riboflavin, niasin, asam pantotenat, biotin, vitamin B6, vitamin B12, dan folat). juga
mengandung sejumlah zat gizi penting untuk membantu penyerapan zat besi dalam tubuh
seperti vitamin c yaitu 220 mg/ 100 gram bahan daun segar. Menurut Almatsier (2010),
kandungan vitamin C pada ektrak daun kelor memperlancar proses penyerapan besi.
Konsumsi tablet Fe yang diberikan sangatlah terbatas dikarenakan keterbatasan waktu
sehingga tablet Fe diberikan hanya dalam waktu 1 minggu saja, walaupun begitu telah dapat
dilihat adanya peningkatan kadar Hb setelah mengkonsumsi tablet Fe tersebut. Asupan zat
besi dapat mempengaruhi kadar Hb remaja putri, berdasarkan hasil penelitian di Kanada
menunjukkan bahwa fortifikasi mikronutrien menggunakan serbuk tabur yang mengandung
besi pada makanan sangat efektif dalam mengatasi anemia (Zlotkin et al., 2013).

Selain mengkonsumsi tablet Fe banyak cara lain untuk mencegah terjadinya anemia
seperti mengkonsumsi makanan yang bergizi seperti daging, ikan, ayam, hati dan telur serta
sayur-sayuran hijau, kacang-kacangan, tempe, selain itu juga makan buah-buahan yang
banyak menandung vitamin C sangat bermanfaat untuk meningkatkan penyerapan zat besi
dalam usus (Almatsier, 2009).
BAB V
PENUTUP

1. Kesimpulan
Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja, Pertumbuhan adalah perubahan yang
menyangkut segi kuantitatif yang ditandai dengan peningkatan dalam ukuraan fisik dan
dapat diukur sedangkan perkembangan adalah perubahan yang menyangkut aspek
kualitatif dan kuantitatif. Rangkaian perubahan dapat bersifat progresif, teratur,
berkesinambungan, serta akumulatif.
Masa remaja ialah periode waktu individual beralih dari fase anak ke fase
dewasa.Tugas-tugas perkembangan remaja terdiri dari : Menerima keadaan dan
penampilan diri, serta menggunakan tubuhnya secara efektif, Belajar berperan sesuai
dengan jenis kelamin (sebagai laki-laki atau perempuan), Mencapai relasi yang baru dan
lebih matang dengan teman sebaya, baik sejenis maupun lawan jenis, Mengharapkan dan
mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab, Mencapai kemandirian secara
emosional terhadap orang tua dan orang dewasa lainnya, Mempersiapkan karir dan
kemandirian secara ekonomi, Menyiapkan diri (fisik dan psikis) dalam menghadapi
perkawinan dan kehidupan keluarga, Mengembangkan kemampuan dan keterampilan
intelektual untuk hidup bermasyarakat dan untuk masa depan (dalam bidang pendidikan
atau pekerjaan),Mencapai nilai-nilai kedewasaan.
2. Saran
Saran yang ingin kami sampaikan kepada para pembaca bahwa hal yang paling
penting bagi remaja yaitu memelihara pentingnya kesehatan. Di samping itu kita
perlumengingat pergaulan remaja saat ini yang tidak terbatas sehingga pengetahuan
tentang alat reproduksi remaja sangat bermanfaat untuk mencegah dan menghindari
terjadi hal-hal yang merugikan remaja, mahasiswa diharapkan dapat melaksanakan
program yang mengajarkan perilaku sehat kepada para remaja.Pembaca diharapkan bisa
memahami pembahasan tentang kesehatan reproduksi remaja.
DAFTAR PUSTAKA

Kusmiran, Eni.2011. Kesehatan Reproduksi Remaja Wanita. Jakarta : Salemba Medika

Suseno,Tutu A.dkk.2011. Kamus Kebidanan.Yogyakarta : Citra Pustaka

Holmes,Debbie.2012.Buku Ajar Ilmu Kebidanan.Jakarta : EGC

Aizid, Rizem.2012. Mengatasi Infertilitas (Kemandulan) Sejak Dini.Yogyakarta : 2012

Wulandari, Diah.2009. Komunikasi dan Konseling dalam Praktik Kebidanan.Yogyakarta :

Nuha Medika

Priyanto, Agus.2009. Komunikasi dan Konseling Aplikasi dalam Sarana Pelayanan

Kesehatan Untuk Perawat dan Bidan.Jakarta : Salemba Medika

Widyastuti, Yani.2010. Kesehatan Reproduksi.Yogyakarta : Fitramaya

Lubis, Namora Lumongga.2013. Psikologi Reproduksi Wanita & Perkembangan

Reproduksinya ditinjau dari Aspek Fisik dan Psikologi.Jakarta : Kencana Prenada

Media Group

Saifuddin,Abdul Bari.2009.Bunga Rampai Obstetri dan Ginekologi Sosial.Jakarta :

Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

Tresnawati, Frisca. 2013. Asuhan Kebidanan Panduan Lengkap Menjadi Bidan

Profesional.Jakarta : Prestasi Pelajar Publisher

Anda mungkin juga menyukai