Anda di halaman 1dari 12

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN

KEPATUHAN DIET PADA PASIEN LANSIA


PENDERITA DIABETES MELLITUS
DI PUSKESMAS MINGGIR
SLEMAN YOGYAKARTA

NASKAH PUBLIKASI

Disusun oleh:
BEKTI PUDYASTI
201310201012

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2017
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN
KEPATUHAN DIET PADA PASIEN LANSIA
PENDERITA DIABETES MELLITUS
DI PUSKESMAS MINGGIR
SLEMAN YOGYAKARTA¹

Bekti Pudyasti²,Sugiyanto³

INTISARI
Latar Belakang: Dukungan keluarga merupakan hal yang dibutuhkan oleh lanjut
usia. Keluarga adalah unit pelayanan karena masalah kesehatan keluarga saling
berkaitan dan saling mempengaruhi antara sesama anggota keluarga, sehingga lansia
merasa diperhatikan dan dihargai. Dukungan keluarga yang kurang akan
mengakibatkan kesehatan pada lansia terganggu. Lansia yang menderita Diabetes
Mellitus akan termotivasi untuk mematuhi diet diabetes mellitus apabila dukungan
yang diberikan oleh keluarga itu baik. Di Puskesmas Minggir terdapat 6 dari 10
pasien lansia penderita diabetes mellitus mengalami diet diabetes mellitus yang
buruk.
Tujuan: Mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan diet pada
pasien lansia penderita diabetes mellitus di Puskesmas Minggir Sleman Yogyakarta.
Metode Penelitian: Penelitian deskriptif korelasi dengan rancangan cross sectional.
Subjek penelitian ini adalah lansia yang berusia 60 tahun lebih yang mengikuti
program prolanis di Puskesmas Minggir Sleman Yogyakarta dengan teknik total
sampling. Analisis data menggunakan uji statistik Kendall Tau.
Hasil Penelitian: hasil penelitian menunjukkan dukungan keluarga baik paling
banyak mengalami kepatuhan diet cukup sebanyak 8 orang (20,0%), sedangkan
lansia yang mendapat dukungan cukup dan memiliki kapatuhan diet cukup sebanyak
20 orang (50%). Hasil uji Kendall Tau diperoleh nilai signifikan p value sebesar
0,001 (p value < 0,05). Variabel bebas adalah dukungan keluarga dan variabel terikat
adalah kepatuhan diet diabetes mellitus.
Kesimpulan: Ada hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan diet pada pasien
lansia penderita diabetes mellitrus di Puskesmas Minggir Sleman Yogyakarta.
Saran : Lanjut usia diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan diet diabetes mellitus,
sehingga kondisi kesehatannya dapat terjaga dengan baik.

Kata kunci : Dukungan keluarga, lansia, kepatuhan diet


Daftar Pustaka : 34 buku (2006-2016), 6 jurnal, 4 skripsi, 3 website
Jumlah Halaman : vii. 88 halaman, 19 tabel, 2 gambar, 12 lampiran

1
Judul Skripsi
2
Mahasiswa PSIK Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
3
Dosen Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
THE CORRELATION BETWEEN FAMILY SUPPORT AND DIET
COMPLIANCE OF ELDERLY WITH DIABETES MELLITUS
IN PRIMARY HEALTH CENTER OF MINGGIR
SLEMAN YOGYAKARTA¹

Bekti Pudyasti², Sugiyanto³

ABSTRACT
Background: Family support is really needed by elderly. Family is a service unit as
family health problems are interconnected and influenced each of family members,
so that elderly felt respected and cared. Improper family support can cause
disturbances on elderly’s health Elderly with diabetes mellitus will be motivated to
comply the diabetes mellitus diet if the family support is good. In primary health
center of Minggir of Sleman, there were 6 of 10 elderly with severe diabetes
mellitus.
Objective: The study is to investigate the correlation between family support and
diet compliance on elderly with diabetes mellitus in primary health center of Minggir
Sleman Yogyakarta.
Method: The study used descriptive correlational method with cross sectional
design. The subject was elderly aged over 60 years who joint prolanis program in
primary health center of Minggir Sleman Yogyakarta with total sampling technique.
The data analysis used Kendall Tau statistic test.
Result: The result showed that 8 elderly (20.0%) with good family support had
adequate diet compliance, while 20 elderly (50%) with adequate family support had
adequate diet compliance. The Kendall Tau test showed that p value was 0,001 (p
value < 0,05).
Conclusion: There is a correlation between family support and diet compliance on
elderly with diabetes mellitus in primary health center of Minggir Sleman
Yogyakarta.
Suggestion: It is expected that family give good family support on elderly with
diabetes mellitus so that elderly can increase their diet compliance of diabetes
mellitus.

Keywords : family support, elderly, diet compliance


References : 34 books (2006-2016), 6 journals, 4 theses, 3 websites
Number of pages : vii. 88 pages, 19 tables, 2 pictures, 12 appendices

1
Thesis title
2
School of Nursing Student, Faculty of Health Sciences, ‘Aisyiyah University of Yogyakarta
3
Lecturer of ‘Aisyiyah University of Yogyakarta
PENDAHULUAN termasuk negara dengan struktur
penduduk menuju tua. Adapun
Lanjut usia merupakan proses propinsi di Indonesia dengan proporsi
terhadap tumbuh kembang manusia. lansia terbesar adalah DI Yogyakarta
Di mulai dari perkembangan bayi, (13,40%), Jawa Tengah (11,80%),
anak-anak, dewasa dan akhirnya Jawa Timur (11,50%), dan Bali
menjadi tua (Azizah, 2011). Lanjut (10,30%) (BPS, 2015).
usia adalah seseorang yang telah Sistem kesehatan nasional
mencapai usia 60 tahun keatas, menyatakan bahwa segala upaya
berdasarkan peraturan menteri dalam pembangunan kesehatan di
kesehatan Republik Indonesia no 25 Indonesia diarahkan untuk mencapai
tahun 2016 tentang rencana aksi derajat kesehatan yang lebih tinggi
nasional kesehatan lanjut usia tahun sehingga memungkinkan semua
2016-2019. Secara global populasi orang dapat hidup lebih produktif
lansia diprediksi akan terus baik sosial maupun ekonomi. Dengan
mengalami peningkatan. Populasi meningkatnya status sosial dan
lansia di Indonesia diprediksi ekonomi, pelayanan kesehatan
meningkat lebih tinggi daripada masyarakat, perubahan gaya hidup,
populasi lansia didunia setelah tahun bertambahnya umur harapan hidup,
2100 (Kemenkes RI, 2016). maka di Indonesia mengalami
Lansia akan mengalami pergeseran pola penyakit dari
kemunduran fisik, mental, dan sosial penyakit menular menjadi tidak
secara bertahap. Secara umum, telah menular. Kecenderungan
diidentifikasi bahwa usia lanjut pada meningkatnya prevalensi penyakit
umumnya mengalami berbagai gejala tidak menular salah satunya adalah
yang diakibatkan oleh penurunan Diabetes Mellitus (Depkes RI, 2007).
fungsi biologis, psikologis, sosial, dan Lansia dapat mengalami
ekonomi. Perubahan ini dapat diabetes lebih sering daripada
memberikan pengaruh pada aspek- kelompok usia yang lebih muda.
aspek kehidupan, termasuk Perubahan terkait usia dapat
kesehatannya. Proses menua di dalam meningkatkan risiko terkena diabetes.
perjalanan hidup manusia merupakan Salah satu perubahan terjadi pada
hal yang wajar yang akan dialami fungsi endokrin. Non insulin
oleh semua orang (Tamher & dependent diabetes mellitus
Noorkasian, 2009). (NIDDM) adalah bentuk penyakit
Jumlah lansia di Indonesia yang paling sering dijumpai pada
mencapai 13,73 juta jiwa atau 8,50% lansia. NIDDM pada lansia
dari penduduk Indonesia tahun 2015. merupakan ancaman yang serius
Angka beban tanggungan Indonesia karena terdapat beberapa komplikasi
sebesar 48,63% artinya setiap 100 kronis yang dialami dalam
orang penduduk yang masih produktif hubungannya dengan fungsi
akan menanggung 48 orang yang penglihatan, sirkulasi, neurologis, dan
tidak produktif di Indonesia. perkemihan sehingga dapat
sedangkan angka beban tanggungan menambah beban pada sistem tubuh
di propinsi DI Yogyakarta sebesar yang telah mengalami penurunan
45,05% (Kemenkes RI,2015). akibat penuaan. Selain komplikasi
Proporsi lansia di Indonesia tersebut, NIDDM pada lansia dapat
telah mencapai 8,50% dari menimbulkan sindrom hiperglikemia
keseluruhan penduduk. Hal ini hiperosmolar nonketotik, suatu
menunjukkan bahwa Indonesia komplikasi diabetes yang dapat
mengancam jiwa meliputi tidak akan terkena diabetes. Pasien
hiperglikemia, peningkatan diabetes juga beranggapan bahwa bila
osmolalitas serum, dan dehidrasi gula darah sudah normal maka
(Stanley, 2007). penyakitnya sudah dianggap sembuh.
Penderita diabetes di Indonesia Oleh karena itu, tidak perlu lagi diet,
diperkirakan akan terus melonjak dari olahraga, makan obat atau kontrol
8,4 juta penderita ditahun 2000 (Asep,2013). Padahal sampai
menjadi sekitar 21,3 juta ditahun sekarang diabetes dianggap sebagai
2030 (WHO,2014). Jumlah penderita penyakit yang akan mendampingi
diabetes di Indonesia telah mencapai seumur hidup. Dalam berbagai kasus
9,1 juta orang. Pada tahun 2011 tertentu, penderita diabetes tidak
Indonesia menduduki peringkat ke-10 memerlukan obat-obatan tetapi harus
diantara negara-negara dengan jumlah melakukan diet untuk
penderita diabetes terbanyak dunia, mempertahankan gula darah tetap
sedangkan pada tahun 2015 Indonesia pada batas normal.
bergeser menduduki peringkat ke 5 Diabetes mellitus, kencing
teratas diantara negara-negara dengan manis atau penyakit gula, merupakan
jumlah penderita diabetes terbanyak suatu penyakit yang disebabkan
dunia. Usia penderita diabetes kini adanya gangguan menahun terutama
semakin muda, 1 dari 5 penderita pada sistem metabolisme karbohidrat,
diabetes masih berumur dibawah 40 lemak dan juga protein dalam tubuh.
tahun dengan jumlah sebanyak Diabetes mellitus ini ditandai dengan
1.671.000 orang. Sedangkan sisanya, kadar glukosa darah yang melebihi
berusia 40-59 tahun dengan jumlah normal atau hiperglikemia akibat
sebanyak 4.651.000 orang, kemudian tubuh kekurangan insulin (Hasdianah,
pada usia 60-79 tahun diperkirakan 2012).
sebanyak 2.000.000 orang Mengingat terapi dan
(PERKENI, 2015). Di Indonesia perawatan DM memerlukan waktu
prevalensi diabetes tertinggi diduduki yang cukup lama sehingga dapat
oleh DI Yogyakarta (2,6%), DKI menimbulkan kebosanan pada pasien
Jakarta (25%), Sulawesi Utara DM terutama pada pasien lansia. Oleh
(2,4%), dan Kalimantan Timur karena itu selain memperhatikan
(2,3%) (Riskesdas, 2013). masalah fisik maka perlu juga
Masyarakat menganggap memperhatikan faktor psikologis
bahwa diabetes mellitus terjadi karena pasien dalam menyelesaikan masalah
banyak mengkonsumsi makanan dan diabetes mellitus. Keikutsertaan
minuman yang mengandung gula. anggota keluarga dalam memandu
Mereka juga beranggapan bahwa pengobatan, diet, latihan jasmani dan
penyakit diabetes juga akan baik pengisian waktu luang yang positif.
dengan sendirinya, sehingga makan Keluarga merupakan bentuk peran
dan minum apa saja tidak jadi serta aktif bagi keberhasilan
persoalan. Faktor keturunan juga penatalaksanaan diabetes mellitus
dijadikan penyebab terjadinya (Rifki, 2009).
diabetes, sehingga yang mempunyai Dukungan keluarga merupakan
orangtua, keluarga, saudara terkena suatu bentuk yang melayani yang
diabetes maka keturunannya juga dilakukan oleh keluarga, baik dalam
akan terkena diabetes dan sebaliknya bentuk dukungan emosional
jika tidak ada orang tua, keluarga, (perhatian dan kasih sayang),
saudara yang terkena diabetes maka dukungan penghargaan (menghargai
masyarakat menganggap mereka dan memberikan umpan balik positif),
dukungan informasi (saran, nasihat, Yogyakarta. Puskesmas Minggir
dan informasi) serta dukungan Sleman Yogyakarta Memiliki 4
instrumental (bantuan tenaga, uang puskesmas pembantu (pustu) antara
dan waktu). Sehingga keluarga lain Pustu Sendangarum, Pustu
mempunyai peran yang sangat Sendangsari, Pustu Sendangrejo, dan
penting bagi kepatuhan diet pada Pustu Sendangmulyo.
pasien diabetes mellitus
(Soegondo,2006).

TUJUAN PENELITIAN
a. Diketahuinya hubungan
dukungan keluarga dengan
kepatuhan diet pada pasien
diabetes mellitus di puskemas
Minggir.
b. Diketahuinya dukungan
keluarga pada pasien diabetes
mellitus di puskemas Minggir.
c. Diketahuinya kepatuhan diet
pada pasien diabetes mellitus di
puskemas Minggir.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Penelitian ini dilaksanakan di
Puskesmas Minggir Sleman
Yogyakarta pada tanggal 6 Mei 2017
dengan responden adalah lansia yang
mengikuti program prolanis di
Puskesmas Minggir Sleman
Tabel 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden
No Karakteristik Frekuensi Presentase (%)
1 Jenis kelamin
Perempuan 26 50
Laki – laki 26 50
Jumlah 52 100
2 Umur
60 – 70 tahun 36 69,2
70 – 80 tahun 14 26,9
>80 tahun 2 3,8
Jumlah 52 100
3 Pekerjaan
Buruh 41 78,8
Pedagang 4 7,7
Pensiunan 5 9,6
Ibu Rumah Tangga 2 3,8
Jumlah 52 100
4 Pendidikan
SD 42 80,8
SMP 2 3,8
SMA 6 11,5
Perguruan Tinggi 2 3,8
Jumlah 52 100
5 Status perkawinan
Menikah 45 86,5
Janda 5 9,7
Duda 2 3,8
Jumlah 52 100
(Sumber: Data Primer, 2017)

Berdasarkan tabel 1 dapat lansia (2,5%). Kemudian berdasarkan


diketahui dari 40 responden yang pendidikan paling banyak adalah SD
diteliti, jenis kelamin laki-laki sebanyak 20 responden (50,0%) dan
sebanyak 11 lansia (27,5%) dan paling sedikit adalah perguruan tinggi
perempuan sebanyak 29 lansia yaitu 2 responden (5,0%). Sedangkan
(72,5%). Pada karakteristik usia, berdasarkan status paling banyak
responden paling banyak adalah lansia berstatus menikah yaitu 28 lansia
yang berusia antara 60-70 yaitu (70,0%) dan paling sedikit berstatus
sebanyak 32 lansia (80,0%) dan paling duda yaitu 2 lansia (5,0%).
sedikit yaitu berusia >80 tahun hanya 1

Tabel 2 Frekuensi Dukungan Keluarga pada Lansia di Puskesmas Minggir


Sleman Yogyakarta
Kategori Frekuensi Presentase (%)
Baik 13 32,5
Cukup 24 60,0
Kurang 3 7,5
Total 40 100
(Sumber: Data Primer, 2017)

Berdasarkan tabel 2 dapat memiliki dukungan keluarga yang


diketahui bahwa dari 40 responden cukup dan presentase paling sedikit
yang diteliti sebagian besar atau diketahui memiliki dukungan keluarga
sebesar 24 responden (60,0%) lansia yang kurang sebanyak 3 responden
penderita diabetes mellitus diketahui (7,5%).

Tabel 3 Frekuensi Kepatuhan Diet Pada Pasien Lansia Penderita


Diabetes Mellitus Di Puskesmas Minggir
Kategori Frekuensi Presentase (%)
Baik 9 22,5
Cukup 29 72,5
Kurang 2 5,0
Total 40 100
(Sumber: Data Primer, 2017)

Berdasarkan tabel 3 dapat memiliki kepatuhan diet diabetes


diketahui dari 40 responden yang mellitus yang kurang.
diteliti, dapat diketahui bahwa sebagian
besar atau sebanyak 29 responden
(72,5%) lansia penderita diabetes
mellitus memiliki kepatuhan diet
diabetes mellitus yang cukup. Hanya 2
responden (5,0%) yang dikategorikan
Dukungan Keluarga

Berdasarkan hasil penelitian yang keluarga selama ini kurang pada


telah digambarkan pada tabel 1 anggota keluarga yang sedang sakit
diketahui dari 40 responden didapatkan diakibatkan keluarga yang terlalu sibuk
hasil sebagian besar atau sebesar 24 dengan urusan masing-masing, dan
responden (60,0%) lansia penderita acuh tak acuh karena kurang mengerti
diabetes mellitus diketahui memiliki dengan penyakit yang dialami klien
dukungan keluarga yang cukup dan serta yang paling penting yaitun
presentase paling sedikit diketahui ekonomi yang rendah, yang
memiliki dukungan keluarga yang mengakibatkan klien merasa diabaikan
kurang sebanyak 3 responden (7,5%). dan kurang mendapatkan perhatian
keluarga.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penelitian ini didukung oleh
60,0% dari total responden memiliki penelitian yang dilakukan oleh
dukungan keluarga dalam kategori Permatasari (2014) dengan judul
cukup. Hal ini disebabkan karena Hubungan Antara Dukungan Keluarga
dukungan keluarga adalah dua atau dan Efikasi Diri dengan Perawatan diri
lebih dari dua individu yang tergabung Lansia Hipertensi di Wilayah Kerja
karena hubungan darah, hubungan Puskesmas Ujung Berauang Indah Kota
perkawinan, dan mereka hidup dalam Bandung yang menyatakan bahwa
suatu rumah tangga, berinteraksi satu salah satu faktor yang mempengaruhi
sama lain, dan di dalam perannya keberhasilan pengobatan pada
masing-masing menciptakan serta penderita ialah keluarga.
mempertahankan kebudayaan. Sesuai
dengan fungsi pemeliharaan kesehatan, Kepatuhan Diet Diabetes Mellitus
keluarga mempunyai tugas dibidang
kesehatan yang perlu dipahami dan Berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan (Chayatin, 2009). telah digambarkan pada table 2
diketahui dari 40 responden didapatkan
Keluarga adalah unit pelayanan hasil sebagian besar atau sebesar 29
karena masalah kesehatan keluarga responden (72,5%) lansia penderita
saling berkaitan dan saling diabetes mellitus diketahui memiliki
memengaruhi antara sesama anggota kepatuhan diet yang cukup dan
dan akan mempengaruhi pula angota presentase paling sedikit diketahui
keluarga-keluarga yang ada memiliki dukungan keluarga yang
disekitarnya sehingga lansia merasa kurang sebanyak 2 responden (5,0%).
diperhatikan dan dihargai (Setiadi, Hasil penelitian menunjukkan
2008). bahwa 72,5% dari total responden
Lansia yang memiliki dukungan memiliki kepatuhan diet dalam kategori
keluarga dalam kategori kurang yaitu cukup. Hal ini disebabkan karena
sebanyak (7,5%). Hal ini menunjukkan kepatuhan diet merupakan kebutuhan
dukungan keluarga yang diberikan untuk menjaga kadar gula darah agar
kepada lansia masih belum optimal seimbang dan lansia tidak
dikarenakan banyak anggota keluarga memperburuk kondisi tubuhnya.
yang sibuk dengan pekerjaannya Hal ini sesuai dengan penelitian
sehingga kurang memperhatikan lansia yang dilakukan oleh Ridianti (2010)
sehingga lansia memenuhi Dengan judul Gambaran Faktor-faktor
kebutuhannya secara mandiri. Kepatuhan Diet Penderita Diabetes
Hal ini sesuai dengan teori dari Mellitus Tipe 2 di Puskesmas Pajangan
Mujiyono (2008) bahwa dukungan Bantul Yogyakarta yaitu menunjukkan
kepatuhan paling banyak adalah ancaman komplikasi yang timbul
kategori sedang, hal ini dikarenakan akibat Diabetes Mellitus.
kepatuhan adalah tahap pertama dari Ketidakpatuhan dapat
perubahan perilaku dimana pada tahap mendatangkan beberapa konsekuensi
ini masih perlu pengawasan. yang harus ditanggung individu.
Menurut Gunarso (2012) bahwa Beberapa konsekuensi yag harus
makin tua umur seseorang maka ditanggung beberapa individu mungkin
proses-proses perkembangan tidak dirasakan secara langsung, namun
mentalnya bertambah baik, artinya dampak serius akibat sikap tidak patuh
responden patuh dengan terapi diet mampu memebrikan efek dikemudian
yang diberikan karena kematangannya waktu Saifunurmazah (2013).
dalam berfikir. Kemampuan untuk
memahami faktor-faktor yang Hubungan Dukungan Keluarga
berhubungan dengan penyakit dan dengan Kepatuhan Diet Diabetes
menggunakan pengetahuan tentang Mellitus pada Lansia
kesehatan untuk menjaga
kesehatannya. Dari tabel 3 dapat diketahui dari
Hal ini sesuai dengan teori Niven 40 responden yang diteliti, diketahui
(2008) bahwa kepatuhan adalah sejauh persentase dukungan keluarga baik
mana perilaku pasien sesuai dengan paling banyak mengalami kepatuhan
ketentuan yang diberikan oleh diet cukup sebanyak 8 responden
profesional kesehatan. Kepatuhan (20,0%), kepatuhan diet baik sebanyak
individu juga dipengaruhi oleh 5 responden (12,5%), dan kepatuhan
motivasi dari individu untuk diet kurang sebanyak 0 responden
berperilaku yang sehat dan menjaga (0,0%). Responden yang memiliki
kesehatannya, karena motivasi dukungan keluarga cukup memiliki
merupakan suatu proses psikologis kepatuhan diet baik sebanyak 4
yang mencerminkan interaksi antara responden (10,0%), kemudian
sikap, kebutuhan, persepsi dan kepatuhan diet cukup sebanyak 20
keputusan yang terjadi pada diri responden (50,0%), dan kepatuhan diet
seseorang. yang kurang 0 responden (0,0%).
Lansia yang memiliki kepatuhan Responden yang memiliki dukungan
diet dalam kategori kurang yaitu keluarga kurang memiliki kepatuhan
sebanyak (5,0%). Hal ini disebabkan diet baik sebanyak 0 responden (0,0%),
karena pasien yang kurang patuh kemudian kepatuhan diet cukup
terhadap dietnya hanya menjalankan sebanyak 1 responden (2,5%), dan
diet saat kadar gula darah tinggi, pada kepatuhan diet kurang sebanyak 2
saat kadar gula darahnya turun dan responden (5,0%). Hal ini
kondisi badannya merasa baik, maka menunjukkan semakin baik dukungan
pasien tidak lagi mematuhi dietnya. keluarga maka semakin baik pula
Hasil penelitian yang dilakukan kepatuhan diet diabetes mellitus pada
oleh Banu (2011) dengan judul lansia.
Determinan Ketidakpatuhan Diet Lansia yang memiliki dukungan
Penderita Diabetes Mellitus Tipe-2 di keluarga yang baik maka kepatuhan
Wilayah Kerja Puskesmas Srondol dietnya cenderung baik. Hal ini
Kota Semarang yang menyatakan disebabkan karena adanya motivasi
bahwa sebagian besar masyarakat dari keluarga yang membuat lansia
masih menganggap Diabetes Mellitus merasa dihargai dan mempunyai rasa
bukan suatu penyakit yang serius percaya diri untuk sembuh. Begitu pula
sehingga masyarakat merasa aman dari sebaliknya, jika dukungan keluarga
rendah maka lansia tidak mempunyai
motivasi untuk sembuh dan tidak ada Saran
keinginan untuk memperbaiki
kesehatannya. Hal tersebut konsisten Bagi Lansia Diharapkan lansia
dengan teori yang dikemukakan oleh dapat memperhatikan kepatuhan diet
Efendi (2009), bahwa dukungan Diabetes Mellitus baik dari dalam
keluarga sangat berperan terhadap dirinya sendiri atau dari keluarga
kepatuhan yaitu pada penderita yang bahkan lingkungan sekitar sehingga
didukung oleh keluarga akan memiliki lansia dapat terkontrol kadar gula
percaya diri dan motivasi untuk darahnya. Bagi Keluarga Lansia
sembuh. Seseorang dengan dukungan diharapkan bisa meningkatkan
keluarga yang tinggi memungkinkan dukungan keluarga nya dari dukungan
lebih berhasil menghadapi dan keluarga cukup menjadi dukungan
menjalankan program diet dibanding keluarga tinggi dengan cara
yang tidak memiliki dukungan. memberikan dukungan penuh terhadap
Hasil penelitian ini semakna lansia terutama dalam kaitannya
dengan penelitian yang dilakukan oleh dengan kepatuhan diet Diabetes
Eko (2009) bahwa dukungan keluarga Mellitus sehingga bisa
memiliki hubungan terhadap kepatuhan mempertahankan kadar gula darah
diet pasien Diabetes Mellitus. Hal ini yang baik pada lansia. Bagi Pelayanan
menunjukkan bahwa dukungan Kesehatan (Puskesmas) Perawat atau
keluarga, terutama keluarga inti sangat petugas kesehatan diharapkan untuk
dibutuhkan oleh pasien yang menderita lebih memperhatikan kesehatan pasien-
Diabetes Mellitus, terutama dalam pasien yang berusia 60 tahun keatas
pengaturan pola makan. khususnya pasien Diabetes Mellitus
Menurut peneliti dalam karena dengan usia lanjut dapat
penelitian ini yaitu dukungan keluarga menimbulkan komplikasi lainnya. Serta
sangat mempengaruhi kepatuhan diet selalu mengingatkan kepada
terutama pada lansia. Karena lansia masyarakat agar lebih berhati-hati
sangat memerlukan pendampingan khususnya bagi masyarakat sehat
dalam menjalani proses terapi atau diet namun memiliki keluarga dengan
diabetes mellitus ini. Sehingga gula riwayat Diabetes Mellitus.Bagi Peneliti
darah pada lansia penderita Diabetes Selanjutnya diharapkan dapat
Mellitus dapat terkontrol dengan baik melakukan penelitian variabel lain
dan tidak menimbulkan komplikasi yang berhubungan dengan dukungan
yang akan merugikan lansia. keluarga maupun kepatuhan diet
Berdasarkan hasil penelitian Diabetes Mellitus atau dapat
yang telah dilakukan, lalu diadakan melakukan penelitian pada variabel
pengujian hipotesis dengan uji Kendall- pengganggu yang belum di teliti.
Tau secara statistik memiliki nilai
koefisien korelasi sebesar 0,378 dengan Daftar Pustaka
taraf signifikansi p value sebesar 0,001
< (0,05). Maka dapat ditarik Azizah, Lilik Ma'arifatul. (2011).
kesimpulan bahwa Ho ditolak dan Ha Keperawatan Lanjut Usia. Edisi
diterima yang artinya ada hubungan 1. Yogyakarta: Graha Ilmu.
yang signifikan antara dukungan
BPS. (2015). Statistik Penduduk Lanjut
keluarga dengan kepatuhan diet pada
Usia. www.bps.go.id: Diakses
pasien lansia penderia diabetes mellitus
tanggal 30 November 2016.
di Puskesmas Minggir Sleman
Yogyakarta. Chayatin , N. (2009). Ilmu
Keperawatan Komunitas
Pengantar dan Teori. Jakarta: Ridianti, D. (2010). Gambaran Faktor-
Salemba Medika. faktor Kepatuhan Diet
Penderita Diabetes Mellitus
Depkes RI . (2007). Profil Kesehatan Tipe 2 di Puskesmas Pajangan
Indonesia. www.depkes.go.id. Bantul Yogyakarta.
Diakses 30 November 2016.
Rifki, N.N. (2009). Penatalaksanaan
Efendi, Makhfudli. (2009). Diabetes dengan Pendekatan
Keperawatan Kesehatan Keluarga. Jakarta: FKUI.
Komunitas Teori dan Praktik
dalam Keperawatan. Jakarta: Riskesdas. (2013). Gambaran
Salemba Medika. Kesehatan Lanjut Usia Di
Gunarsa , S.D. (2010). Psikologi Indonesia. www.depkes.go.id:
Praktis: Anak, Remaja, dan Diakses tanggal 30 November
Keluarga. Jakarta: PT BPK 2016.
Gunung Mulia.
Saifunurmazah. D. (2013). Kepatuhan
Hasdianah, H.R. (2012). Mengenal Penderita Diabetes Mellitus
Diabetes Mellitus pada Orang Dalam Menjalani Terapi
Dewasa dan Anak-anak dengan Olahraga Dan Diet Diet.
Solusi Herbal. Yogyakarta: Uiversitas Negeri Semarang.
Nuha Medika.
Setiadi. (2008). Konsep dan Proses
Kemenkes RI . (2016). Situasi Lanjut Keperawatan Keluarga.
Usia (LANSIA) di Indonesia. Yogyakarta: Graha Ilmu.
www.depkes.go.id: Diakses
tanggal 15 Januari 2017. Soegondo, S. (2006). Farmakoterapi
Pada Pengendalian Glikemi
Kemenkes RI. (2015). Profil Kesehatan Diabetes Mellitus Tipe 2.
Indonesia Tahun 2015. Jakarta: FKUI.
www.depkes.go.id .Diakses 30
November 2016. Stanley, M & Patricia, G.B. (2007).
Buku Ajar Keperawatan
Mujiyono. (2008). Pengaruh Gerontik edisi 2. Jakarta: EGC.
Dukungan Keluarga terhadap
Kekambuhan Pasien Psikosis di Tamher & Noorkasian . (2009).
RSJ Daerah Surakarta. Kesehatan Usia Lanjut Dengan
Universitas Sebelas Maret: Pendekatan Asuhan
Tesis. Keperawatan. jakarta: salemba
medika.
Niven, Neil. (2008). Pengantar Untuk
Perawat dan Profesional.
Jakarta: EGC.
Permatasari, Indah. (2014). Hubungan
Antara Dukungan Keluarga dan
Efikasi Diri DenganPerawatan
Diri Lansia Hipertensi di
Wilayah Kerja Puskesmas
Ujung Beraung IndahKota
Bandung.