Anda di halaman 1dari 10

NAMA : NAUFAL FADURAHMAN.

M
NIM : 191711052
KELAS : 1B - TEN
HYDROPOWER

ENERGI TERBARUKAN UNTUK NEGARA MARITIM

Dilansir dari CNN News, permintaan energi global saat ini tercatat telah meningkat 3
kali sejak 1950 dan pemakaiannya diperkirakan telah mencapai 10.000 juta ton pertahun.
Sebagian besar energi itu dihasilkan dari bahan-bahan yang tidak terbarukan seperti batubara,
gas, minyak bumi dan energi nuklir. Di antar bahan-bahan tersebut minyak bumi merupakan
sumber utama energi yang paling kritis. Perkiraan menyebutkan bahwa cadangan minyak bumi
dunia akan habis dalam waktu 40 tahun lagi sedangkan batubara dan gas bumi diperkirakan
akan habis dalam waktu 250 tahun dan 70 tahun. Selain tidak terbarukan energi berbasis fosil
juga tidak ramah lingkungan karena pembakaran bahan bakar fosil menghasilkan gas CO2 yang
dapat mengakibatkan pemanasan global. Kombinasi gas buangan pembakaran batubara dengan
uap air di awan berpotensi menghasilkan hujan asam dan hujan asam ini bisa menyebabkan
terbunuhnya ikan-ikan di danau air tawar serta kerusakan pada daun-daun tanaman. Selain
pembakaran, transportasi bahan bakar fosil juga dapat dan telah meminta korban lingkungan
yang cukup besar, tengelamnya beberapa kapal tanker pengangkut minyak bumi mentah seperti
Exxon Valdez pada tahun 1989 menyebabkan 2000 km pantai Alaska tertutup lumpur minyak.
Sejak tahun 1970 tercatat 50 kali penumpahan minyak bumi dengan sekala yang sama dengan
Exxon Valdez

Mengingat ketersediaan minyak bumi yang semakin menipis dan bahaya tersembunyi
yang dimilikinya maka upaya pencarian sumber-sumber energi alternatif yang bersifat
terbarukan (Renewable Energy Resources/RES) dan ramah lingkungan perlu dilakukan. Dalam
artikel kali ini akan mengupas lebih dalam lagi mengenai Renewable Energy Resources/RES,
khususnya Hydropower

Energi listrik dari tenaga air bukan hal baru lagi. Pada jaman dahulu masyarakat Yunani
sebagian mereka yang bertani memanfaatkan air sungai sebagai media penghasil listrik secara
sederhana untuk digunakan sebagai alat menggiling gandum menjadi tepung.

Abigail (1889) mengatakan dalam bukunya “Power Plant” bahwa pada abad ke 19
hydropower menjadi sumber energi listrik pertama kalinya. Pada tahun 1879 hydropower mulai
beroperasi di air terjun Niaga, New York. Kemudian pasokan listrik yang dihasilkan mampu
menghidupkan lampu-lampu di jalanan. Setahun setelahnya, 1882 pembangkit listrik tenaga air
pertama kali dibangun di Appleton, Wisconsin , Amerika Serikat.
Hydropower Power Plant Niagara Falls Appleton, Wisconsin, USA (Source :
majarimagazine.com)

Hydropower merujuk kepada teknologi yang mengubah air menjadi energi listrik.
Sebagai salah satu aplikasi dari green technology, hydropower menghasilkan sedikit
pencemaran dibandingkan dengan teknologi pembangkit lainnya. Prinsip teknologi ini adalah
menggunakan energi kinetik dari arus air untuk memutar turbin yang nantinya akan diubah
menjadi energi listrik. Hydropower dibagi menjadi 4 kategori, yaitu conventional
hydroelectric, run-of-the-river hydroelectricity, small hydro projects, micro hydro projects,
dan pumped-storage hydroelectricity. Conventional hydroelectric merupakan
teknologi hydropower yang menggunakan DAM atau bendungan seperti Pembangkit Listrik
Tenaga Air (PLTA). Berbeda dengan Conventional hydroelectric, run-of-the-river
hydroelectricity mengubah energi kinetik sungai tanpa membuat DAM. Kategori Small hydro
projects untuk pembangkit dengan kapasitas 10 MegaWatt, micro hydro projects untuk
pembangkit berkapasitas beberapa KiloWatt, sedangkan pumped-storage hydroelectricity hanya
digunakan saat energi listrik benar-benar dibutuhkan.Di Indonesia, conventional
hydroelectric dan micro hydro project sudah diterapkan. Namun, penerapannya masih sangat
minim. Berdasarkan tabel di samping, hanya 11% energi listrik dalam negeri dipasok dari tenaga
air. Padahal, pembangkit listrik tenaga uap, gas, uap gas, dan diesel merupakan pembangkit
yang menggunakan pembakaran bahan bakar minyak, batubara, dan gas sebagai penggerak
turbin generatornya yang menghasilkan banyak gas karbon yang menjadi penyebab utama
pemanasan global.
Diolah dari Tabel Kapasitas Terpasang (MW) Perusahaan Listrik Negara (PLN) menurut Jenis
Pembangkit Listrik 1995-2011. (Sumber: bps.go.id)

Berikut beberapa alasan mengapa teknologi hydro power dapat diterapkan di Indonesia.

1. Indonesia memiliki banyak sungai yang berpotensi untuk dijadikan pembangkit listrik.
Dengan menerapkan conventional hydroelectric, run-of-the-river
hydroelectricity atau small hydro projects, sungai-sungai di Indonesia dapat
dijadikan sumber energi listrik yang ramah lingkungan. Menurut Menteri Pekerjaan
Umum dan Dirut PLN Indonesia FahmiMochtar dalam alpensteel.com, Indonesia
memiliki potensi PLTA sebesar 70,000 MegaWatt. Menurut beliau, hanya 6%-nya
saja yang sudah dimanfaatkan. Sangat disayangkan jika potensi tersebut tidak
dimanfaatkan dengan optimal. Padahal, sungai-sungai besar di Indonesia jumlahnya
cukup banyak.
2. Perairan laut di Indonesia menyimpan potensi energi listrik yang sangat besar.
Berdasarkan riset yang dikembangkan oleh BPPT, selat-selat di NTB dan NTT
diperkirakan dapat menghasilkan listrik sebesar 3000MW. Dengan memanfaatkan
teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Air laut (PLTAL), derasnya arus laut dapat
diubah menjadi energi listrik. Teknologi tersebut sudah diterapkan di Norwegia.
Sekitar 80% kebutuhan listrik negara tersebut dipasok dari PLTAL.
Gambar Saluran Irigasi. (Sumber : blog.ub.ac.id)

3. Banyaknya desa-desa yang terisolasi listrik. Menurut Drs. Agus Salim M.Eng
Direktur Teknologi Konversi dan Konversi Energi Badan Pengkajian dan Penerapan
Teknologi (BPPT) dalam alpensteel.com, sekitar 48% atau 18 juta rumah di Indonesia
belum dialiri listrik. Sebagai contoh, desa Bacu-Bacudi Makassar. Awalnya desa
tersebut tidak dialiri listrik sedangkan pemerintah tidak begitu tanggap bahwa mereka
sangat membutuhkan listrik. Namun, sejak teknologi micro hydro project atau yang
lebih dikenal dengan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) digunakan,
kebutuhan listrik desa tersebut dapat terpenuhi. Dengan membendung sungai,
memakai generator bekas, dan memanfaatkan pohon aren sebagai pipa penyalur air
ke turbin, PLTMH tersebut mampu menghasilkan listrik sebesar 3kWh yang cukup
untuk 1.500 orang yang tinggal disana. Dengan kapasitas 3kWh, warga dapat
menonton TV, anak-anak dapat belajar di malam hari, dan bahkan beberapa warga
menggunakan rice cooker.
4. Teknologi hydropower relatif tidak memakan banyak biaya. Menurut Rizal, Deputi
Menko Bidang Kerja Sama Internasional dalam okezone.com, teknologi tenaga air
(PLTAL) lebih murah dibandingkan teknologi tenaga panas bumi. Biaya investasi
mungkin telihat sangat besar tetapi biaya perawatan justru relatif lebih murah.
Sedangkan, untuk teknologi PLTMH pun demikian, dengan modal generator bekas
dan kayu pohon aren, warga desa Bacu-Bacu Makassar dapat menikmati listrik murah
dengan biaya perawatan hanya Rp20.000, – 30.000.
5. Teknologi hydro power dapat dipadukan dengan sistem irigasi. Konsep PLTMH
hampir sama dengan PLTA karena sama-sama membendung aliran sungai. Aliran
sungai yang telah melewati turbin dapat disalurkan ke sistem irigasi yang akan
mengalir ke sawah atau kebun masyarakat. Dengan membendung air, volume air
dapat dijaga sehingga sawah-sawah tidak akan kekurangan air saat musim kemarau.
Selain itu, kepedulian masyarakat terhadap hutan akan semakin meningkat.
Masyarakat akan menjaga kelestarian hutan yang merupakan sumber air.

Pada dasarnya untuk menghasilkan listrik dari air hanya memerlukan 3 media. Tempat
pembangkit untuk area menghasilkan listrik, bendungan untuk mengontrol air masuk dan
keluar, dan waduk untuk menyimpan air. Jika ketiga modal ini ada di sebuah tempat, maka
energi listrik akan mudah untuk dihasilkan. Beberapa negara yang menghasilkan energi listrik
hydropower antara lain: Tiongkok, Canada, Brazil, Amerika, dan Rusia. Tiongkok memiliki
hydropower terluas dengan lebar 2.3 Km dan tinggi 185 M. Adapun Amerika memiliki
hydropower terbesar yang berada di Utara Washington yang bersumber dari sungai Columbia
dimana pasokan air disimpan di bendungan Grand Coulee. 70% pasokan listrik negara bagian
Washington berasal dari hydropower.

Grand Coulee Dam, Washington DC, Amerika Serikat. (Sumber : indo-


amerika2010.com)

Denmark memiliki surplus listrik dari hydropower 140%. Kelebihan pasokan listrik
mereka jual ke negara lain dan tentunya mendapat keuntungan. Negara Eropa lainnya seperti
German juga sudah menghasilkan 70% listrik dari hydropower dan mampu memenuhi pasokan
listrik bagi penduduknya.

Di dalam pemaparan diatas kita sekarang sudah mengerti secara umum apa itu
hydropower dan bagaimana mekanisme singkatnya. Mari kita bahas lebih detail. Jadi
hydropower sebenarnya membutuhkan sebuah aliran arus atau aliran air yang jatuh dari atas
contohnya seperti air terjun. Apa saja komponen yang dibutuhkan dalam pembangunan sebuah
Hydropower Plant? Untuk pembangunan sebuah Hydropower Plant komponen yang diperlukan
beragam tergantung dari dimana lokasi pembangunannya dan seberapa besar output energi yang
akan diharapkan, namun komponen yang harus dimiliki dalam pembangunan hydropower plant
adalah yang pertama turbin, usahakan turbin memiliki ketahanan yang kuat karena apabila
material yang digunakan pembuatan turbin kurang bagus maka mungkin saja turbin akan patah
karena aliran air yang terlalu kuat, kemudian pilih material turbin yang tidak mudah berkarat
karena apabila turbin mengalami perkaratan maka yang akan terjadi adalah pergerakan turbin
akan tidak sempurna sehingga akan berdampak pada output energi yang dikeluarkan, material
yang efektif untuk pembuatan turbin adalah stainless steel apabila biaya pembuatan turbin
dengan stainless steel mahal bisa menggunakan kayu jati tua yang mana material ini sangat
kokoh dan dapat digunakan dalam jangka waktu lama, kemudian pemilihan converter dan
penghubung turbin dengan generator, pilihlah bahan yang berkualitas agar output yang
dihasilkan sesuai dengan harapan, kemudian pilihlah generator yang baik dengan tingkat
pengolahan energi mekanik yang baik dan efisien sehingga output energi yang dihasilkan akan
sesuai harapan. Nah seperti itulah kiat-kiat dalam pembangunan sebuah hydropower plant yang
sederhana, tips tersebut tidak berlaku apabila yang ingin dibangun adalah hydropower plant
skala besar, yang mana membutuhkan banyak sekali komponen yang lebih kompleks agar
hydropower plant tersebut bekerja secara optimal dan menghasilkan output energi yang sesuai
dengan harapan. Menurut US Energy Efficiency & Renewable Energy Government dalam artikel
yang berjudul “Types Of Hydropower Plant” menyebutkan beberapa tipe dari hydropower plant,
berikut adalah tipenya :

 Large Hydropower Plant : Tipe ini merupakan tipe hydropower plant terbesar yang
mana membutuhkan banyak sekali komponen yang kompleks untuk membangun sebuah
hydropower plant yang besar, kemudian output yang dihasilkan dari tipe hydroelectric
power plant ini lebih dari 30 Megawatt.

 Medium Hydropower Plant : Tipe ini merupakan tipe hydropower plant yang cukup
besar dengan komponen yang cukup kompleks dan output dari 15 sampai kurang dari
100 megawatt

 Small Hydropower Plant : Tipe ini merupakan tipe hydropower plant yang tergolong
medium dengan komponen yang tidak terlalu kompleks, output energi dari pembangkit
listrik ini sebesar 1 sampai 15 megawatt

 Mini Hydropower Plant : Power plant ini sangat sedehana dalam pembuatannya dan
tidak terlalu kompleks komponennya, kemudian output energi ini sebesar 100 kilowatt
sampai dibawah 1 megawatt

 Mikro Hydropower Plant : Power plant yang sangat sederhana dengan pembuatan tak
terlalu rumit dengan output energi sebesar 100 Kilowatt biasanya power plant ini
dugunakan untuk pengolahan hasil pertanian sebagai pengganti diesel
Potensi sumber daya air di Indonesia sangatlah besar dengan luas wilayah
perairan Indonesia yang 81% dari seluruh luas wilayah Indonesia. Tidak menutup
kemungkinan terdapat banyaknya tempat pada perairan di Indonesia yang bisa
dikembangkan menjadi Hydropower. Menurut Koordinator Tim Kajian Staf Ahli Bappenas
Bidang Tata Ruang dan Kemaritiman Rizal Seiful Sabirin mengungkapkan, gelombang dari
arus laut di Indonesia memiliki potensi kapasitas energi sekurangnya 5,6-9 TerraWatt
(TW).Bila dikonversikan menjadi listrik, arus laut ini bisa menghasilkan energi 30.000-
50.000 kali lipat lebih banyak dibandingkan kapasitas energi pembangkit PLTA Jatiluhur
de-ngan kapasitas 187 MW". Maka hydropower adalah salah satu potensi besar yang harus
dimanfaatkan. Hydropower terdiri dari energi pasang surut (tidal power), energi gelombang
laur (wave energy) dan energi panas laut (ocean thermal energy).

Energi pasang surut adalah energi yang dihasilkan dari pergerakan air laur akibat
perbedaan pasang surut. Prinsip kerja dari energi pasang surut ini mengadopsi dari prinsip
kerja pembangkit listrik tenaga air. Yaitu dengan cara memanfaatkan pasang surut air untuk
memutar turbin yang dapat menghasilkan energi listrik. Seperti inilah gambar ilustrasi dari
energi pasang surut air laut.

Mekanisme Kerja Energi Pasang Surut Air Laut (Sumber : dokumen.tips)


Cara kerjanya adalah sebagai berikut. Apabila muka air laut (surut) sama
tingginya dengan muka air dalam waduk maka saluran air ke turbin ditutup. Sementara
itu muka air laut (pasang) naik terus. Ketika tinggi muka air laut mencapai kira-kira
setengah tinggi air pasang maksimum, maka katup saluran air ke turbin dibuka dan air
laut masuk ke dalam waduk melalui saluran air ke turbin, dan menjalankan turbin dan
generator dalam hal tersebut tinggi muka air di dalam waduk akan naik. Apabila muka
air laut telah mencapai ketinggian maksimumnya tetapi masih lebih dari muka air dalam
waduk, turbin generator dan air dalam waduk menjadi sangat kecil.
Sehingga turbin generator tidak bekerja pada keadaan tersebut katup simpang (by
pass valve) yang menghubungkan laut dengan waduk dibuka, sehingga air laut lebih
cepat masuk mengisi waduk, ketika muka air laut dan air di dalam waduk sama tingginya,
baik katup simpang maupun katup saluran turbin ditutup. Pada keadaan tersebut tinggi
muka air dalam waduk tetap konstan sedangkan inggi muk air laut terus surut. Apabila
pebedaan tinggi antara permukaan air laut dan permukaan air dalam waduk sudah cukup
besar maka turbin dijalankan dengan membuka katup air ke turbin pada keadaan tersebut
air mengalir dari waduk ke laut melalui turbin sehingga turbin berputar dan permukaan
air dalam waduk turun. Proses ini terus berlangsung sampai tinggi air dalam waduk tidak
cukup untuk menjalankan turbin, dan katup simpang dibuka supaya air yang masih ada
di dalam waduk cepat keluar mengalir ke laut. Dalam keadaan tersebut air laut masih
surut atau telah naik tetapi masih belum mencapai tinggi turbin setelah waduk kosong
atau ketika permukaan air laut dalam waduk sama tingginya dengan muka air laut, katup
simpang dan katup masuk turbin ditutup kembali. Demikianlah proses tersebut terjadi
berulang-ulang mengisi dan mengosongkan air dalam waduk untuk menjalankan turbin
generator dengan memanfaatkan proses air pasang dan air surut. Pusat listrik tenaga
pasang surut biasanya dibuat dengan waduk berukuran besar supaya dapat dibuat secara
ekonomis dengan menghasilkan listrik yang banyak.Sedangkan energi panas laut
memanfaatkan perbedaan temperature air laut di permukaan dan di kedalaman . Seperti
kita ketahui bila kita menyelam dalam laut maka semakin dalam menyelam suhu di
kedalaman akan semakin rendah. Dan suhu di permukaan cukup hangat karena
menyerap langsung panas matahari. Ide ini digunakan untuk mengkonvensi perbedaan
suhu menjadi energi. Dibeberapa Negara telah memulai pengembangan sistem ini,
diantaranya Jepang, India, dan Amerika Serikat (Hawaii) . Sistem ini dinamakan Ocean
Themal Energy Conversion atau OTEC, perbedaan suhu yang bisa digunakan pada
system ini minimal 25 derajat celcius.

Mekanime Kerja Energi Panas Air Laut (Sumber : armand.ps.co.id)

Laut menyerap panas yang berasal dari matahari. Panas matahari membuat permukaan
air laut lebih panas dibandingkan air di dasar laut. Hal ini menyebabkan air laut bersirkulasi dari
dasar ke permukaan. Sirkulasi air laut ini juga dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin
dan menghasilkan energi listrik.

Dengan potensi besar yang bisa dihasilkan oleh Hydropower ini, maka ini merupakan
solusi dari kebutuhan listrik jangka panjang di Indonesia. Karena, jumlah sumber daya yang
masih banyak dan kebutuhan masyarakat Indonesia yang masih bisa dijangkau dengan
memanfaatkan Hydropower ini. Di Indonesia ada beberapa tempat yang telah dirintis dalam
pemanfaatan Hydropower ini diantaranya di Bali, Lombok, NTT, serta di Jembatan Suramadu
(Surabaya-Madura). Energi yang dikembangkan saat ini adalah energi arus laut, dan cara
mengubah energi itu dengan alat turbin arus laut. Alat ini mampu beroprasi dengan tenaga arus
laut lemah sampai 0,3 meter per detik. Alat ini terbuat dari bahan galvanis logam tahan karat.
Konstruksi tersebut berfungsi sebagai penopang generator di atas turbin. Kemudian disangga
oleh pelampung yang memiliki pemecah ombak, pemecah ombak ini berfungsi untuk
mengalihkan gelombang sehingga gelombang tidak menghempas dan merusak perangkat ini.
Alat ini cukup efektif untuk menghasilkan 10 ribu watt dalam pengujian di Bali oleh T-Files.

Dengan adanya perintisan memanfaatkan potensi Hydropower , maka selayaknyalah di


berbagai tempat di Indonesia meneliti dan mengembangkan hal ini. Sehingga alat-alat bisa
segera dikembangkan dan dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin demi memenuhi
kebutuhan energi listrik Indonesia. Kedepan tentu alat-alat ini memerlukan perawatan secara
berkala maka masyarakat sekitarlah yang harus diperdayakan untuk merawatnya serta
memberikan mereka peluang kerja. Dan tujuan utama dari pengembangan hydropower ini
adalah terpenuhinya kebutuhan energi listrik di Indonesia yang besar, murah, raham lingkungan,
serta membuka peluang usaha.