Anda di halaman 1dari 5

BAB IV

PEMBAHASAN

Setelah kelompok melakukan tindakan keperawatan terhadap klien An.Y dengan


resiko perilaku kekerasan (RPK) di ruang Dewi Amba Rumah Sakit Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor
mulai tanggal 26 April 2017 - 3 Mei 2017 kelompok menemukan kesenjangan antara konsep teori
dengan studi lapangan yang dilakukan oleh kelompok maka dari itu kelompok akan membahas
kesamaan dan kesenjangan tersebut yaitu sebagai berikut:

A. PENGKAJIAN

Pengkajian pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan format pengkajian


keperawatan jiwa yang telah di tetapkan data yang dikumpulkan dengan wawancara langsung
dengan klien dan dari data catatan keperawatan dan medis ditemukan keserasian antara data-data
teoritis dengan apa yang didapatkan dengan kasus pendokumentasian keperawatan di ruangan.
Menurut data teoritis secara umum dari faktor predisposisi diterangkan bahwa resiko perilku
kekerasan dapat terjadi dari berbagai factor yaitu penyebab terjadinya marah menurut Stuart &
Sundeen (1995) : yaitu harga diri rendah merupakan keadaan perasaan yang negatif terhadap diri
sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan, gangguan ini dapat situasional
maupun kronik. Bila kondisi ini berlangsung terus tanpa kontrol, maka akan dapat menimbulkan
perilaku kekerasan.

Frustasi, seseorang yang mengalami hambatan dalam mencapai tujuan / keinginan


yang diharapkannya menyebabkan ia menjadi frustasi. Ia merasa terancam dan cemas. Jika ia tidak
mampu menghadapi rasa frustasi itu dengan cara lain tanpa mengendalikan orang lain dan keadaan
sekitarnya misalnya dengan kekerasan. Hilangnya harga diri ; pada dasarnya manusia itu
mempunyai kebutuhan yang sama untuk dihargai. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi akibatnya
individu tersebut mungkin akan merasa rendah diri, tidak berani bertindak, lekas tersinggung, lekas
marah, dan sebagainya. Akibatnya klien dengan perilaku kekerasan dapat menyebabkan resiko
tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan. Resiko mencederai merupakan suatu tindakan
yang kemungkinan dapat melukai/ membahayakan diri, orang lain dan lingkungan (Yosep, 2007).

Kajian kasus yang dilakukan pada An.Y dengan RPK terdapat kesamaan dengan
teori yang mana perilaku kekerasan yang muncul pada pasien kelolaan kelompok ditemui RPK
yang tidak murni yaitu disebakan oleh halusinasinya. Halusinasi tersebut berisi suara bisikan setan
dan melihat ada bayangan hitam, tapi menurut klien, klien dibawa ke rs karena emosi tidak stabil
suka marah-marah, mengamuk dan membawa pisau karena mendengar suara bisikan dan melihat
bayangan hitam sehingga menusuk – nusuk meja karena ada bayangan. . Sejalan dengan teori
bahwa perilaku kekerasan juga bisa muncul disebabkan oleh halusinasi berkepanjangan, dimana
seseorang dengan halusinasi mencederai orang lain dan mencederai diri sendiri. Secara umum,
seseorang akan berespon dengan marah apabila merasa dirinya terancam. Ancaman tersebut dapat
berupa injury secara psikis, atau lebih dikenal dengan adanya ancaman terhadap konsep diri
seseorang. Ketika seseorang merasa terancam, mungkin dia tidak menyadari sama sekali apa yang
menjadi sumber kemarahannya. (Yosep, 2007).

Klien An.Y juga didapati mencederai diri, yaitu membawa pisau dan menusuk -
nusuk meja. Sejalan dengan teori bahwa akibat dari resiko perilaku kekerasan yaitu adanya
kemungkinan mencederai diri, orang lain dan merusak lingkungan adalah keadaan dimana
seseorang individu mengalami perilaku yang dapat membahayakan secara fisik baik pada diri
sendiri, orang lain maupun lingkungannya. (Stuart & Sundeen, 1995).

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa keperawatan teoritis dengan diagnosa yang muncul di tinjauan kasus


terdapat perbedaan dan keserasian, adapun masing- masing diagnosa yang muncul sebagai
berikut :

1. Diagnosa teoritis

a. Resiko perilaku kekerasan

b. Gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran

c. Isolasi sosial : menarik diri

d. Gangguan konsep diri : haraga diri rendah

e. Defisit perawatan diri

2. Diagnosa tinjauan kasus

a. Resiko Perilaku kekerasan


b. Gangguan Sensori Persepsi : halusinasi pendengaran dan penglihatan

c. Harga Diri Rendah

d. Inefektif Regimen Therapy

C. TINDAKAN KEPERAWATAN

Tindakan keperawatan yang dilakukan sesuai dengan rencana keperawatan yang


ditetapkan dari 4 diagnosa yang diangkat hanya dilakukan 1 diagnosa keperawatan yang
diintervensi. Implementasi merupakan perwujudan dari perencanaan yang merupakan serangkaian
tindakan, disini perawat menjelaskan rencana tindakan untuk diagnosa keperawatan, resiko
perilaku kekerasan. Dari setiap diagnosa keperawatan implementasi yang dilakukan sebagai
berikut, mengidentifikasi penyebab PK, tanda dan gejala PK, perilaku kekerasan yang dilakukan,
akibat PK, membantu klien mempraktekan latihan cara mengontrol fisik dengan tarik nafas dalam
dan pukul bantal/kasur, mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien, melatih klien mengontrol
perilaku kekerasan dengan cara social/ verbal (mengungkapkan marah dengan baik, meminta
dengan baik dan menolak dengan baik), melatih klien mengontrol perilaku kekerasan dengan cara
spiritual, menjelaskan cara mengontrol perilaku kekerasan dengan minum obat

Adapun diagnosa yang kelompok laksanakan adalah Resiko perilaku kekerasan.


Perencanaan tindakan dilaksanakan pada tanggal 26 April 2017, saat melakukan tindakan
keperawatan pada diagnosa Resiko prilaku kekerasan pada tanggal 26 April 2017 pukul 16.00
WIB, telah dilakukan SP 1 sesuai teori keperawatan yaitu melatih menggontrol marah dengan cara
tarik nafas dalam, dengan hasil klien mampu melakukan tarik nafas dalam. Pada tanggal 27 April
2017, telah dilakukan SP 2 sesuai teori keperawatan yaitu melatih mengontrol marah dengan cara
pukul bantal dan kasur, dengan hasil klien mampu mempraktekkan pukul bantal dan pukul kasur.

Pada tanggal 28 April 2017, telah dilakukan SP 3 sesuai teori keperawatan yaitu melatih menerima,
menolak dan meminta dengan baik, serta menganjurkan klien untuk mengontrol marah denggan
berdo’a, dengan hasil klien mampu memperagakan cara menerima, menolak dan meminta dengan
baik,.

Tanggal 29 April 2017, telah SP 4 sesuai teori keperawatan yaitu memperagakan cara berdo’a
untuk mengontrol rasa marah menurut kepercayaan klien, dengan hasil klien tampak mampu
berdoa menyebutkan doa yang dia percayai dan memperagakannya. Tanggal 1 Mei 2017 SP 5
sesuai teori keperawatan, yaitu mengontrol perilaku kekerasan dengan minum obat teratur. Klien
sudah mampu mengenal obat dan manfaatnya, dimana klien mampu menyebutkan Clozapin 25 mg
/24 jam /peroral, fungsinya : digunakan untuk timbulnya halusinasi. Trihexiyl Phenidyl 2 mg /8
jam /peroral, fungsinya : Meredakan gejala skizofrenia dan masalah perilaku, atau emosional, serta
masalah kejiwaan lainnya.,Risperidon 2 mg/ 12 jam /peroral fungsinya : Mengurangi
perilaku agresif dan disruptif.

D. EVALUASI

Evaluasi dilakukan dari awal hingga akhir kegiatan yang setiap kali berinteraksi
menggunakan analisis SOAP (Subjektif, Objektif, Analisadan Planning). Semua tindakan
keperawatan dengan Resiko Perilaku Kekerasan, yang dibahas oleh kelompok melalui strategi
pelaksanaan dapat dilaksanakan. Hal ini didukung karena sudah terbinanya hubungan saling
percaya antara perawat dengan klien. Sehingga tindakan keperawatan yang dilakukan mulai dari
tanggal 26 April sampai dengan 3 Mei 2017 dapat dilakukan sesuai dengan strategi pelaksanaan
(SP).