Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN

MANAJEMEN HOMECARE PADA TUBERKOLOSIS PARU

DISUSUN OLEH KELOMPOK 6

FITRIA TAMARA (616080716010)


LIDYA NANDA SARI (6160807160
NURUL FAKHRUL DINI NURANTI (616080716037)
RANI NUR ALIF TARIGAN (616080716046)
SITI RAMADANIA (6160807160

PRODI SARJANA KEPERAWATAN DAN PENDIDIKAN PROFESI NERS


STIKES MITRA BUNDA PERSADA BATAM
TA 2018/1019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT. Karena atas berkat rahmat-Nya kami
dapat menyelesaikan tugas ini tepat pada waktunya. Tak lupa pula kami mengucapkan terima
kasih kepada dosen Mata Kuliah Keperawatan medikal bedah yang telah memberikan tugas ini
kepada kami sebagai upaya untuk menjadikan kami manusia yang berilmu dan berpengetahuan.
Keberhasilan kami dalam menyelesaikan makalah ini tentunya tidak lepas dari bantuan
berbagai pihak. Untuk itu, kami menyampaikan terima kasih pada semua pihak yang telah
membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan
masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki, untuk itu, kami mengharapkan saran yang
membangun demi kesempurnaan makalah ini, sehingga dapat bermanfaat bagi siapapun yang
membacanya.
Wassalam...

Makassar, 07 November 2014


Penulis
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Penyakit TBC dapat menyerang siapa saja (tua, muda, laki-laki, perempuan, miskin, atau
kaya) dan dimana saja. Setiap tahunnya, Indonesia bertambah dengan seperempat juta kasus baru
TBC dan sekitar 140.000 kematian terjadi setiap tahunnya disebabkan oleh TBC. Bahkan,
Indonesia adalah negara ketiga terbesar dengan masalah TBC di dunia. Survei prevalensi TBC
yang dilakukan di enam propinsi pada tahun 1983-1993 menunjukkan bahwa prevalensi TBC di
Indonesia berkisar antara 0,2 – 0,65%. Sedangkan menurut laporan Penanggulangan TBC Global
yang dikeluarkan oleh WHO pada tahun 2004, angka insidensi TBC pada tahun 2002 mencapai
555.000 kasus (256 kasus/100.000 penduduk), dan 46% diantaranya diperkirakan merupakan
kasus baru.
Diperkirakan setiap tahun 450.000 kasus baru TBC dimana sekitar 1/3 penderita terdapat
disekitar puskesmas, 1/3 ditemukan di pelayanan rumah sakit atau klinik pemerintah dan swasta,
praktek swasta dan sisanya belum terjangku unit pelayanan kesehatan. Sedangkan kematian
karena TB diperkirakan 175.000 per tahun. Penyakit TB merupakan masalah kesehatan
masyarakat yang besar karena TB merupakan penyebab kematian nomor dua terbesar di
Indonesia. Pengobatan TBC harus dilakukan secara terus-menerus tanpa terputus walaupun
pasien telah merasa lebih baik atau sehat. Pengobatan yang terhenti ditengah jalan dapat
menyebabkan bakteri menjadi resistendan TBC akan sulit untuk disembuhkan dan membutuhkan
waktu yang lebih lama maka butuh keterlibatan anggota keluarga untuk mengawasi dan jika
perlu menyiapkan obat. Dukungan keluarga penderita sangat dibutuhkan untuk
menuntaskan pengobatan agar benar-benar tercapai kesembuhan.
Banyaknya kasus TB paru dan masih rendahnya angka penyembuhan, kasus kambuh
dan kegagalan pengobatan dan resistensi kuman karena kurang disiplinnya pasien dalam minum
obat maka penulis berkeinginan untuk melakukan asuhan keperawatan keluarga dengan TBC.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah dari makalah ini adalah “Bagaimanakah Asuhan Keperawatan
keluarga dengan penyakit TBC..?”

1.3 TUJUAN
1.3.1. Tujuan Umum
Mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan TBC

1.3.2 Tujuan Khusus


1) Mengetahui konsep tahap perkembangan
2) Mengetahui tinjauan medis meliputi pengertian, etiologi, manifestasi klinis, komplikasi,
penatalaksanaan, dan prognosis
3) Mengetahui ciri-ciri klien TBC dengan melakukan pengkajian keperawatan
4) Mengetahui intervensi keperawatan pada klien dengan TBC
5) Mengetahui tindak lanjut intervensi dalam evaluasi keperawatan pada klien TBC
6) Mengetahui konsep proses keperawatan keluarga
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

KONSEP DASAR TUBERKULOSIS


A. Definisi
Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi menahun menular yang disebabkan oleh kuman
TB (Mycobacterium Tuberculosis). Kuman tersebut biasanya masuk ke dalam tubuh manusia
melalui udara (pernapasan) ke dalam paru-paru, kemudian menyebar dari paru-paru ke organ
tubuh yang lain melalui peredaran darah, yaitu : kelenjar limfe, saluran pernafasan atau
penyebaran langsung ke organ tubuh lain (Depkes RI, 2002).
Tuberkulos adalah penyakit infeksius, yang terutama menyerang parenkim paru.
Tuberculosis dapat juga ditularkan ke bagian tubuh lainnya termasuk meningen, ginjal, tulang
dan nodus limfe (Smeltzer 2001). Infeksi awal biasanya terjadi 2-10 minggu setelah pemajanan.
Individu kemudian dapat mengalami penyakit aktif karena gangguan atau ketidakefektifan
respon imun.
B. Etiologi
Penyebab Tuberculosis adalah Mycobacterium Tuberkulosis. dengan ukuran panjang 1-
4/mm dan tebal 0,3-0,6/mm. Kuman Mycobacterium Tuberkulosis adalah kuman berbentuk
batang aerobik tahan asam yang tumbuh dengan lambat dan sensitive terhadap panas dan sinar
ultraviolet (Smelzer, 2001: 5584).
Sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid). Lipid inilah yang membuat kuman
lebih tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik. Kuman dapat
tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-tahun dalam
lemari es). Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant. Dari sifat dormant ini
kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberculosis aktif lagi (Bahar, 1999: 715).
Sifat lain kuman ini adalah kuman aerob, sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih
menyenani jaringan yang lebih tinggi kandungan oksigennya. Dalam hal ini tekanan oksigen
pada bagian apikal paru-paru lebih tinggi dari pada bagian lain, sehingga bagian apikal ini
merupakan tempat prediksi penyakit tuberculosis. Kuman TBC menyebar melalui udara (batuk,
tertawa dan bersin) dan melepaskan droplet. Sinar matahari langsung dapat mematikan kuman,
akan tetapi kuman dapat hidup beberapa jam dalam suhu kamar (Dep Kes RI 2002).
C. Anatomi Fisiologi

Paru-paru adalah struktur elastik yang dibungkus dalam sangkar toraks, yang merupakan
suatu bilik udara kuat dengan dinding yang dapat menahan tekanan. Paru-paru ada dua,
merupakan alat pernafasan utama, paru-paru mengisi rongga dada, terletak di sebelah kanan dan
kiri dan di tengah dipisahkan oleh jantung beserta pembuluh darah besarnya dan struktur lainnya
yang terletak di dalam mediastinum.
Mediastinum adalah dinding yang membagi rongga toraks menjadi dua bagian.
Mediastinum terbentuk dari dua lapisan pleura. Semua struktur toraks kecuali paru-paru terletak
diantara kedua lapisan pleura.
Bagian terluar paru-paru dilindungi oleh membran halus dan licin yang disebut pleura yang
juga meluas untuk membungkus dinding interior toraks dan permukaan superior diafragma,
sedangkan pleura viseralis melapisi paru-paru. Antara kedua pleura ini terdapat ruang yang
disebut spasium pleura yang mengandung sejumlah kecil cairan yang melicinkan permukaan dan
memungkinkan keduanya bergeser dengan bebas selama ventilasi.
Setiap paru dibagi menjadi lobus-lobus. Paru kiri terdiri atas lobus atas dan bawah.
Sementara paru kanan mempunyai lobus atas, tengah dan bawah. Setiap lobus lebih jauh dibagi
lagi menjadi segmen yang dipisahkan oleh fisurel yang merupakan perluasan pleura.
Dalam setiap lobus paru terdapat beberapa divisi-divisi bronkus. Pertama adalah bronkus
lobaris (tiga pada paru kanan dan pada paru kiri). Bronkus lobaris dibagi menjadi bronkus
segmental (sepuluh pada paru kanan dan delapan pada paru kiri). Bronkus segmental kemudian
dibagi lagi menjadi bronkus sub segmental. Bronkus ini dikelilingi oleh jaringan ikat yang
memiliki arteri, limfotik dan syaraf.
Bronkus subsegmental membantu percabangan menjadi bronkiolus. Bronkiolus membantu
kelenjar submukosa yang memproduksi lendir yang membentuk selimut tidak terputus untuk
laposan bagian dalam jalan nafas. Bronkus dan bronkiolus juga dilapisi sel-sel yang
permukaannya dilapisi oleh silia dan berfungsi untuk mengeluarkan lendir dan benda asing
menjauhi paru-paru menuju laring.Bronkiolus kemudian membentuk percabangan menjadi
bronkiolus terminalis yang tidak mempunyai kelenjar lendir dan silia. Bronkiolus terminalis
kemudian menjadi saluran transisional antara kalan udara konduksi dan jalan udara pertukaran
gas. Bronkiolus respiratori kemudian mengarah ke dalam duktus alveolus dan jakus alveolar
kemudian alveoli. Pertukaran oksigen dan karbondioksida terjadi di dalam alveoli.Paru terbentuk
oleh sekitar 300 juta alveoli. Terdapat tiga jenis sel-sel alveolar, yaitu tipe I adalah sel
membentuk dinding alveolar. Sel-sel alveolar tipe II adalah sel-sel yang aktif secara metabolik,
mensekresi sufraktan, suatu fostolipid yang melapisi permukaan dalam dan mencegah alveolar
agar tidak kolaps. Sel alveoli tipe III adalah makrofag yang merupakan sel-sel fagosit besar yang
memakan benda asing, seperti lendir dan bakteri, bekerja sebagai mekanisme pertahanan yang
penting (Brunner & Suddarth, 2001: 512).

D. Patofisiologi
Tempat masuk kuman Mycobacterium Tuberculosis adalah saluran pernafasan, saluran
pencernaan dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi tuberkulosis (TBC) terjadi melalui
udara, yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal
dari orang yang terinfeksi.
Tuberkulosis adalah penyakit yang dikendalikan oleh respon imunitas dengan melakukan
reaksi inflamasi Bakteri dipindahkan melalui jalan nafas, basil tuberkel yang mencapai
permukaan alveolus biasanya di inhalasi sebagai suatu unit yang terdiri dari satu sampai tiga
basil, gumpalan yang lebih besar cenderung tertahan di saluran hidung dan cabang besar
bronkhus dan tidak menyebabkan penyakit. Setelah berada dalam ruang alveolus, basil tuberkel
ini membangkitkan reaksi peradangan. Leukosit polimorfonuklear tampak pada tempat tersebut
dan memfagosit bakteri namun tidak membunuh organisme tersebut. Setelah hari-hari pertama
leukosit diganti oleh makrofag. Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul
gejala pneumonia akut.
Pneumonia seluler ini dapat sembuh dengan sendirinya, sehingga tidak ada sisa yang
tertinggal, atau proses dapat juga berjalan terus, dan bakteri terus difagosit atau berkembang-biak
di dalam sel. Basil juga menyebar melalui getah bening menuju ke kelenjar getah bening
regional. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu
sehingga membentuk sel tuberkel epiteloid, yang dikelilingi oleh limfosit. Reaksi ini
membutuhkan waktu 10 – 20 hari .
Nekrosis bagian sentral lesi memberikan gambaran yang relatif padat dan seperti keju, isi
nekrosis ini disebut nekrosis kaseosa. Bagian ini disebut dengan lesi primer. Daerah yang
mengalami nekrosis kaseosa dan jaringan granulasi di sekitarnya yang terdiri dari sel epiteloid
dan fibroblast, menimbulkan respon yang berbeda. Jaringan granulasi menjadi lebih fibrosa
membentuk jaringan parut yang akhirnya akan membentuk suatu kapsul yang mengelilingi
tuberkel.
Lesi primer paru-paru dinamakan fokus Ghon dan gabungan terserangnya kelenjar getah
bening regional dan lesi primer dinamakan kompleks Ghon. Respon lain yang dapat terjadi pada
daerah nekrosis adalah pencairan, dimana bahan cair lepas kedalam bronkhus dan menimbulkan
kavitas. Materi tuberkular yang dilepaskan dari dinding kavitas akan masuk kedalam
percabangan trakheobronkial. Proses ini dapat terulang kembali di bagian lain di paru-paru, atau
basil dapat terbawa sampai ke laring, telinga tengah, atau usus. Lesi primer menjadi rongga-
rongga serta jaringan nekrotik yang sesudah mencair keluar bersama batuk. Bila lesi ini sampai
menembus pleura maka akan terjadi efusi pleura tuberkulosa.
Kavitas yang kecil dapat menutup sekalipun tanpa pengobatan dan meninggalkan jaringan
parut fibrosa. Bila peradangan mereda lumen bronkhus dapat menyempit dan tertutup oleh
jaringan parut yang terdapat dekat perbatasan rongga bronkus. Bahan perkejuan dapat mengental
sehingga tidak dapat mengalir melalui saluran penghubung sehingga kavitas penuh dengan bahan
perkejuan, dan lesi mirip dengan lesi berkapsul yang tidak terlepas. Keadaan ini dapat
menimbulkan gejala dalam waktu lama atau membentuk lagi hubungan dengan bronkus dan
menjadi tempat peradangan aktif.
Penyakit dapat menyebar melalui getah bening atau pembuluh darah. Organisme yang lolos
melalui kelenjar getah bening akan mencapai aliran darah dalam jumlah kecil, yang kadang-
kadang dapat menimbulkan lesi pada berbagai organ lain. Jenis penyebaran ini dikenal sebagai
penyebaran limfohematogen, yang biasanya sembuh sendiri. Penyebaran hematogen merupakan
suatu fenomena akut yang biasanya menyebabkan tuberkulosis milier. Ini terjadi apabila fokus
nekrotik merusak pembuluh darah sehingga banyak organisme masuk kedalam sistem vaskuler
dan tersebar ke organ-organ tubuh. Komplikasi yang dapat timbul akibat tuberkulosis terjadi
pada sistem pernafasan dan di luar sistem pernafasan. Pada sistem pernafasan antara lain
menimbulkan pneumothoraks, efusi pleural, dan gagal nafas, sedang diluar sistem pernafasan
menimbulkan tuberkulosis usus, meningitis serosa, dan tuberkulosis milier.

Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala yang sering terjadi pada tuberkulosis adalah batuk yang tidak spesifik
tetapi progresif. Penyakit TBC biasanya tidak tampak adanya tanda dan gejala yang khas.
Biasanya keluhan yang muncul adalah :
1) Demam : terjadi lebih dari satu bulan, biasanya pada pagi hari.
2) Batuk : terjadi karena adanya iritasi pada bronkus; batuk ini membuang / mengeluarkan
produksi radang, dimulai dari batuk kering sampai batuk purulent (menghasilkan sputum).
3) Sesak nafas : terjadi bila sudah lanjut dimana infiltrasi radang sampai setengah paru.
4) Nyeri dada : ini jarang ditemukan, nyeri timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura
sehingga menimbulkan pleuritis.
5) Malaise : ditemukan berupa anoreksia, berat badan menurun, sakit kepala, nyeri otot dan
keringat di waktu di malam hari
G. Klasifikasi
Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe penderita penting dilakukan untuk menetapkan
paduan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang sesuai dan dilakukan sebelum pengobatan dimulai.
Klasifikasi penyakit TB Paru :
1. Tuberculosis Paru
Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak, TBC Paru dibagi dalam :
a) Tuberkulosis Paru BTA (+)
· Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA (+).
· 1 spesimen dahak SPS hasilnya (+) dan foto rontgen dada menunjukan gambaran tuberculosis
aktif.
b) Tuberkulosis Paru BTA (-)
Pemeriksaan 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA (-) dan foto rontgen dada menunjukan
gambaran tuberculosis aktif. TBC Paru BTA (-), rontgen (+) dibagi berdasarkan tingkat
keparahan penyakitnya, yaitu bentuk berat dan ringan. Bentuk berat bila gambaran foto rontgan
dada memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas

2. Tuberculosis Ekstra Paru


TBC ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya, yaitu :
1. TBC ekstra-paru ringan
Misalnya : TBC kelenjar limfe, pleuritis eksudativa unilateral, tulang (kecuali tulang
belakang), sendi, dan kelenjar adrenal.
2 TBC ekstra-paru berat
Misalnya : meningitis, millier, perikarditis, peritonitis, pleuritis eksudativa duplex, TBC tulang
belakang, TBC usus, TBC saluran kencing dan alat kelamin.

Tipe Penderita
Berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya, ada beberapa tipe penderita yaitu :
a) Kasus Baru
Adalah penderita yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT
kurang dari satu bulan (30 dosis harian).
b) Kambuh (Relaps)
Adalah penderita tuberculosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberculosis dan
telah dinyatakan sembuh, kemudian kembali lagi berobat denga hasil pemeriksaan dahak BTA
(+).
c) Pindahan (Transfer In)
Adalah penderita yang sedang mendapat pengobatan di suatu kabupaten lain dan kemudian
pindah berobat ke kabupaten ini. Penderita pindahhhan tersebut harus membawa surat
rujukan/pindah (Form TB.09).
d) Setelah Lalai (Pengobatan setelah default/drop out)
Adalah penderita yang sudah berobat paling kurang 1 bulan, dan berhenti 2 bulan atau lebih,
kemudian dating kembali dengan hasil pemeriksaan dahak BTA (+).

H. Jenis-jenis Penyakit TBC

Penyakit tuberkulosis (TBC) terdiri atas 2 golongan besar, yaitu :

1. TB paru (TB pada organ paru-paru)


2. TB ekstra paru (TB pada organ tubuh selain paru) :
§ Tuberkulosis milier

§ Tuberkulosis sistem saraf pusat (TB meningitis)

§ Tuberkulosis empyem dan Bronchopleural fistula

§ Tuberkulosis Pericarditis

§ Tuberkulosis Skelet / Tulang

§ Tuberkulosis Benitourinary / Saluran Kemih

§ Tuberkulosis Peritonitis

§ Tuberkulosis Gastriontestinal (Organ Cerna)

§ Tuberkulosis Iymphadenitis

§ Tuberkulosis Catan / Kulit

§ Tuberkulosis Laringitis

§ Tuberkulosis Otitis
I. Komplikasi

Komplikasi dari TB paru adalah :

1. Pembesaran kelenjar sevikalis yang superfisial


2. Pleuritis tuberkulosa
3. Efusi pleura (cairan yang keluar ke dalam rongga pleura)
4. Tuberkulosa milier
5. Meningitis tuberkulosa
J. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan yang dilakukan pada penderita TB paru adalah :

1) Pemeriksaan Diagnostik.

2) Pemeriksaan sputum

Pemeriksaan sputum sangat penting karena dengan di ketemukannya kuman BTA diagnosis
tuberculosis sudah dapat di pastikan. Pemeriksaan dahak dilakukan 3 kali yaitu: dahak sewaktu
datang, dahak pagi dan dahak sewaktu kunjungan kedua. Bila didapatkan hasil dua kali positif
maka dikatakan mikroskopik BTA positif. Bila satu positif, dua kali negatif maka pemeriksaan
perlu diulang kembali. Pada pemeriksaan ulang akan didapatkan satu kali positif maka dikatakan
mikroskopik BTA negatif.

3) Ziehl-Neelsen (pewarnaan terhadap sputum)

Positif jika ditemukan bakteri tahan asam.

4) Skin test (PPD, Mantoux)

5) Rontgen dada menunjukkan adanya infiltrasi lesi pada paru-paru bagian atas, timbunan kalsium
dari lesi primer atau penumpukan cairan. Perubahan yang menunjukkan perkembangan
tuberkulosis meliputi adanya kavitas dan area fibrosa.

6) Pemeriksaan histology / kultur jaringan

Positif bila terdapat mikobakterium tuberkulosis.

7) Biopsi jaringan paru

Menampakkan adanya sel-sel yang besar yang mengindikasikan terjadinya nekrosis.

8) Pemeriksaan elektrolit

Mungkin abnormal tergantung lokasi dan beratnya infeksi.


9) Analisa gas darah (AGD)

Mungkin abnormal tergantung lokasi, berat, dan adanya sisa kerusakan jaringan paru.

Penatalaksanaan
Pengobatan TBC Paru
Paduan obat jangka pendek 6–9 bulan yang selama ini dipakai di Indonesia dan dianjurkan juga
oleh WHO adalah 2 RHZ/4RH dan variasi lain adalah 2 RHE/4RH, 2 RHS/4RH, 2 RHZ/4R3H3/
2RHS/4R2H2, dan lain-lain. Untuk TB paru yang berat (milier) dan TB Ekstra Paru, therapi
tahap lanjutan diperpanjang jadi 7 bulan yakni 2RHZ/7RH. Departemen Kesehatan RI selama ini
menjalankan program pemberantasan TB Paru dengan panduan 1RHE / 5R2H2.
Bila pasien alergi / hipersensitif terhadap Rifampisin, maka paduan obat jangka panjang
12–18 bulan dipakai kembali yakni SHZ, SHE, SHT, dan lain-lain.
Beberapa obat anti TB yang dipakai saat ini adalah :
1.Obat anti TB tingkat satu
Rifampisin (R), Isoniazid (I), Pirazinamid (P), Etambutol (E), Sterptomisin ( S ).
2.Obat anti TB tingkat dua
Kanamisin (K), Para-Amino-Salicylic Acid (P), Tiasetazon (T), Etionamide, Sikloserin,
Kapreomisin, Viomisin, Amikasin, Ofloksasin, Sifrofloksasin, Norfloksasin, Klofazimin dan
lain-lain.

Pengobatan tetap dibagi dalam dua tahap yakni


Ø Tahap intensif (initial), dengan memberikan 4–5 macam obat anti TB per hari dengan tujuan :
a. Mendapatkan konversi sputum dengan cepat (efek bakterisidal)
b. Menghilangkan keluhan dan mencegah efek penyakit lebih lanjut
c. Mencegah timbulnya resistensi obat
Ø Tahap lanjutan (continuation phase), dengan hanya memberikan 2 macam obat per hari atau
secara intermitten dengan tujuan :
a. Menghilangkan bakteri yang tersisa (efek sterilisasi)
b. Mencegah kekambuhan
Pemberian dosis diatur berdasarkan Berat Badan yakni kurang dari 33 kg, 33 – 50 kg dan lebih
dari 50 kg.
Evaluasi Pengobatan.
Kemajuan pengobatan dapat terlihat dari perbaikan klinis (hilangnya keluhan, nafsu
makan meningkat, berat badan naik dan lain-lain), berkurangnya kelainan radiologis paru dan
konversi sputum menjadi negatif. Kontrol terhadap sputum BTA langsung dilakukan pada akhir
bulan ke-2, 4, dan 6. Pada yang memakai paduan obat 8 bulan sputum BTA diperiksa pada akhir
bulan ke-2, 5, dan 8. Biakan BTA dilakukan pada permulaan, akhir bulan ke-2 dan akhir
pengobatan. Kontrol terhadap pemeriksaan radiologis dada, kurang begitu berperan dalam
evaluasi pengobatan. Bila fasilitas memungkinkan foto dapat dibuat pada akhir pengobatan
sebagai dokumentasi untuk perbandingan bila nanti timbul kasus kambuh.
Ada 3 Dampak masalah dari TB Paru :
1) Terhadap individu.
 Biologis.
Adanya kelemahan fisik secara umum, batuk yang terus menerus, sesak napas, nyeri dada, nafsu
makan menurun, berat badan menurun, keringat pada malam hari dan kadang-kadang panas yang
tinggi.
 Psikologis.
Biasanya klien mudah tersinggung , marah, putus asa oleh karena batuk yang terus menerus
sehingga keadaan sehari-hari yang kurang menyenangkan.
 Sosial.
Adanya perasaan rendah diri oleh karena malu dengan keadaan penyakitnya sehingga klien
selalu mengisolasi dirinya.
 Spiritual.
Adanya distress spiritual yaitu menyalahkan Tuhan karena penyakitnya yang tidak sembuh-
sembuh juga menganggap penyakitnya yang manakutkan
 Produktifitas menurun oleh karena kelemahan fisik.
2) Terhadap keluarga.
 Terjadinya penularan terhadap anggota keluarga yang lain karena kurang pengetahuan
dari keluarga terhadap penyakit TB Paru serta kurang pengetahuan penatalaksanaan
pengobatan dan upaya pencegahan penularan penyakit.
 Produktifitas menurun.
Terutama bila mengenai kepala keluarga yang berperan sebagai pemenuhan kebutuhan
keluarga, maka akan menghambat biaya hidup sehari-hari terutama untuk biaya pengobatan.
 Psikologis.
Peran keluarga akan berubah dan diganti oleh keluarga yang lain.
 Sosial.
Keluarga merasa malu dan mengisolasi diri karena sebagian besar masyarakat belum tahu
pasti tentang penyakit TB Paru .
3) Terhadap masyarakat.
Apabila penemuan kasus baru TB Paru tidak secara dini serta pengobatan Penderita TB
Paru positif tidak teratur atau droup out pengobatan maka resiko penularan pada masyarakat luas
akan terjadi oleh karena cara penularan penyakit TB Paru.
Lima langkah strategi DOTS adalah dukungan dari semua kalangan, semua orang yang batuk
dalam 3 minggu harus diperiksa dahaknya, harus ada obat yang disiapkan oleh pemerintah,
pengobatan harus dipantau selama 6 bulan oleh Pengawas Minum Obat (PMO) dan ada system
pencatatan / pelaporan.

Perawatan bagi penderita TBC


Perawatan yang harus dilakukan pada penderita tuberculosis adalah :
1. Awasi penderita minum obat, yang paling berperan disini adalah orang terdekat yaitu keluarga.
2. Mengetahui adanya gejala efek samping obat dan merujuk bila diperlukan.
3. Mencukupi kebutuhan gizi seimbang penderita
4. Istirahat teratur minimal 8 jam per hari
5. Mengingatkan penderita untuk periksa ulang dahak pada bulan kedua, kelima dan enam
6. Menciptakan lingkungan rumah dengan ventilasi dan pencahayaan yang baik (Depkes RI,
2002)
Pencegahan penularan TBC
Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah :
1. Menutup mulut bila batuk
2. Membuang dahak tidak di sembarang tempat. Buang dahak pada wadah tertutup yang diberi
lisol
3. Makan, makanan bergizi
4. Memisahkan alat makan dan minum bekas penderita
5. Memperhatikan lingkungan rumah, cahaya dan ventilasi yang baik
6. Untuk bayi diberikan imunisasi BCG (Depkes RI, 2002)

Prioritas Keperawatan
1) Meningkatakan / mempertahankan ventilasi / oksigenasi adekuat
2) Mencegah penyebaran infeksi.
3) Mendukung prilaku / tugas untuk mempertahankan kesehatan.
4) Meningkatkan strategi koping efektif.
5) Memberikan informasi tentang proses penyakit / prognosis dan kebutuhan pengobatan.
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS

A.PENGKAJIAN
1. .identitas pasien
Yang terdiri dari nama, umur, jenis kelamin, agama dan lain lain.
2. riwayat kesehatan
 Riwayat kesehatan sekarang
-keluhan utama
Kebanyakan kasus dijumpai klien masuk dengan keluhan batuk yang lebih dari 3 minggu.
-riwayat keluhan utama
Biasanya batuk di alami lebih dari 1 minggu disertai dengan peningkatan suhu tubuh,
penurunan nafsu makan dan kelemahan.
 Riwayat penyakit sebelumnya
Pasien pernah sakit batuk yang lama dan tidak sembuh sembuh . pernah berobat tetapi tidak
sembuh ,pernah berobat tetapi tidak teratur,riwayat kontak dengan penderita tb paru, daya
tahan tubuh yang,riwayat vaksinasi yang tidak teratur.
 Riwayat pengobatan sebelumnya
-kapan pasien mendapatkan pengobatan
-jenis, obat dosis yang digunakan.

3. Pola aktifitas dan istirahat


 Pola Nutrisi
Anorexia, Mual, tidak enak diperut, BB menurun
 Respirasi
Batuk produktif (pada tahap lanjut), sesak nafas, Nyeri dada.
 Riwayat Keluarga
Biasanya keluarga penderita ada yang mempunyai kesulitan yang sama
 Riwayat lingkungan
Lingkungan kurang sehat (polusi, limbah), pemukiman padat, ventilasi rumah yang
kurang, jumlah anggauta keluarga yang banyak.

4. Aspek Psikososial
 Merasa dikucilkan
 Tidak dapat berkomunikasi dengan bebas, menarik diri.
 Biasanya pada keluarga yang kurang mampu.
 Masalah berhubungan dengan kondisi ekonomi, untuk sembuh perlu waktu yang lama dan
biaya yang bayak.
 Masalah tentang masa depan/pekerjaan pasien.
 Tidak bersemangat, putus harapan.

5. Riwayat Penyakit sebelumnya


 Pernah sakit batuk yang lama dan tidak sembuh sembuh.
 Pernah berobat, tetapi tidak sembuh
 Pernah berobat tetapi tidak teratur (drop out).

6. Pemeriksaan fisik
a). Sistem integumen
Pada kulit terjadi sianosis, dingin dan lembab, tugor kulit menurun
b). Sistem pernapasan
Pada sistem pernapasan pada saat pemeriksaan fisik dijumpai
inspeksi : adanya tanda – tanda penarikan paru, diafragma, pergerakan napas yang
tertinggal, suara napas melemah. (Purnawan Junadi DKK, th 1982, hal 213)
Palpasi : Fremitus suara meningkat. (Hood Alsogaff, 1995. Hal 80)
Perkusi : Suara ketok redup. (Soeparman, DR. Dr. 1998. Hal 718)
Auskultasi : Suara napas brokial dengan atau tanpa ronki basah, kasar dan yang nyaring.
(Purnawan. J. dkk, 1982, DR. Dr. Soeparman, 1998. Hal 718)
c). Sistem pengindraan
Pada klien TB paru untuk pengindraan tidak ada kelainan
d). Sistem kordiovaskuler
Adanya takipnea, takikardia, sianosis, bunyi P2 syang mengeras. (DR.Dr. Soeparman,
1998. Hal 718)
e). Sistem gastrointestinal
Adanya nafsu makan menurun, anoreksia, berat badan turun. (DR.Dr. Soeparman, 1998.
f). Sistem muskuloskeletal
Adanya keterbatasan aktivitas akibat kelemahan, kurang tidur dan keadaan sehari – hari
yang kurang meyenangkan. (Hood Al Sagaff, 1995. Hal 87)
g). Sistem neurologis
Kesadaran penderita yaitu komposments dengan GCS : 456
h). Sistem genetalia
Biasanya klien tidak mengalami kelainan pada genitalia

Diagnosa keperawatan keluarga


1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d secret kental atau secret darah dan kelemahan

2. Kurang pengetahuan tentang pengertian TB Paru, tanda dan gejala yang ditimbulkan,
cara penularan dan pencegahan, komplikasi dan pengobatan dari penyakit TB paru
b/d kurang informasi dan keterbatasan kemampuan keluarga khususnya pasien
dalam menerima informasi
3. Resiko penularan penyakit TB Paru b/d Ketidak mampuan keluarga dalam mengenal
masalah resiko terjadinya penularan TB Paru
Intervensi keperawatan
DIAGNOSA KEPERAWATAN NOC NIC
Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d Setalah diberikan tindakan Kaji ulang fungsi
secret kental atau secret darah dan keperawatan bersihan jalan pernafasan :
kelemahan nafas efektif di dapatkan -Bunyi nafas
kriteria hasil : kecepatan, irama
Mempertahankan jalan nafas kedalaman dan
pasien penggunaan otot
Mengeluarkan secret tanpa aksesori
bantuan -Berikan posisi
mengedintifikasi potensial pasien sei fowler
komplikasi dan melakukan -Bantu atau ajarkan
tindakan yang tepat batuk efektif dan
latihan nafas dalam
-Pertahakan intake
cairan minimal 2500
ml/hari
-Bersihkan secret
dari mulut dan trakea
,suction bila perlu
-Berikan obat
bronkodilator
Kurang pengetahuan tentang Setelah a. -Diskusikan bersama
pengertian TB Paru, tanda dilakukan kunjungan keluarga khususnya
dan gejala yang ditimbulkan, keluarga diharapkan pasien
cara penularan dan keluarga mampu: tentang pengertian,
pencegahan, komplikasi dan tanda dan gejala,
pengobatan dari penyakit TB1. -Mengenal penyebab,
paru b/d kurang informasi masalah kesehatan keluarga komplikasi serta
dan dengan TB Paru pencegahan dan
keterbatasan kemampuan kel1. -Menyebutkan pengertian TB perawatan TB Paru
uarga khususnya pasien Paru
dalam menerima informasi 1. -Menyebutkan tanda dan b. -Berikan kesempatan
gejala TB Paru bertanya kepada
1. -Menyebutkan penyebab TB pasien khususnya
paru keluarga
E -Mengambil keputusan untuk
mengatasi kelanjutan dari TB c. -Motivasi keluarga
paru dengan cara menjelaskan khususnya pasien
2 akibat dari TB paru untuk mengulang
kembali apa yang
telah Dijelaskan

d. -Motivasi keluarga
khususnya Pasien
untuk
mengidentifikasi
penyebab dan tanda
gejala TB Paru yang
dialami pasien

e. -Berikan pujian atas


usaha keluarga
khususnya pasien

Resiko penularan penyakit Setelah dilakukan kunjungana. –Berikan edukasi atau

TB Paru b/d Ketidak keluarga diharapkan keluarga pendidikan kesehatan


mampuan keluarga dalam terutama pasien mampu: keluarga tentang cara
mengenal masalah resiko 1. -Mengenal masalah kesehatan penularan TB paru
terjadinya penularan TB Paru keluarga dengan TB Paru
1. -Menyebutkan pengertian TB b. –Ajarkan kepada
Paru keluarga bagaimana
1. -Menyebutkan tanda dan cara mencuci tangan
gejala TB Paru sebelum dan setelah
1. -Menyebutkan penyebab TB kontak dengan pasien
paru
c. –Meriview keluarga
dalam menyebutkan
tanda dan gejala TB
paru

d. - Motivasi keluarga
khususnya pasien
untuk
mengidentifikasi
penyebab dan tanda
gejala TB Paru yang
dialami pasien

e. -Berikan pujian atas


usaha keluarga
khususnya pasien

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dengan demikian, bahwa penyakit tuberculosis (TBC) itu disebabkan karena adanya bakteri
Mikobakterium tuberkulosa. Oleh karena itu untuk mencegah penularan penyakit ini sebaiknya
harus menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Tuberkulosis juga penyakit yang harus benar-
benar segera ditangani dengan cepat.
B. Saran
Saran yang paling tepat untuk mencegah penyakit tuberkulosis adalah
Meningkatkan daya tahan tubuh dengan makanan bergizi TBC adalah penyakit yang dapat
disembuhkan, untuk mencapai hal tersebut penderita dituntut untuk minum obat secara benar
sesuai yang dianjurkan oleh dokter serta teratur untuk memeriksakan diri ke klinik/puskesmas.
DAFTAR PUSTAKA

Barbara, C.L. 1996. Perawatan Medikal Bedah (suatu pendekatan proses keperawatan) Bandung
Doengoes, M. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: Buku Kedokteran EGC
Smeltzer and Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Buku Kedokteran EGC