Anda di halaman 1dari 16

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

PADA NEONATUS

Di Susun oleh:

Tutor 301

Universitas Pembangunan Nasional veteran Jakarta

Program studi: S1 keperawatan

2018
1. Pengertian neonatus
Neonatus adalah bayi yang baru lahir 28 hari pertama kehidupan (Rudolph, 2015).
Neonatus adalah usia bayi sejak lahir hingga akhir bulan pertama (Koizer, 2011).
Neonatus adalah bulan pertama kelahiran. Neonatus normal memiliki berat 2.700 sampai
4.000 gram, panjang 48-53 cm, lingkar kepala 33-35cm (Potter & Perry, 2009).

Ciri-ciri neonatus
Menurut (Potter & Perry, 2009) ciri-ciri neonatus ialah:
- Berat badan 2700-4000gram
- Panjang 4853 cm
- Lingkar kepala 33-35cm
Menurut (Dewi, 2010) ciri-ciri neonates ialah:
- Memiliki frekuensi denyut jantung 120-160 x/menit
- Memiliki frekuensi pernapasan 40-60 x/menit
- Lanugo tidak terlihat
- Rambut kepala tumbuh sempurna
- Kuku agak panjang dan lemas
- Nilai APGAR >7
- Refleks-refleks sudah terbentuk dengan baik

2. Klasifikasi neonatus
a. Neonatus Berdasarkan Masa Gestasi
- Kurang bulan (preterm infant) :<259 hari ( 37 minggu)
- Cukup bulan (term infant) : 259- 294 hari (37-42 minggu)
- Lebih bulan( postterm infant) :>294hari (42 minggu)
b. Neonatus Berdasarkan Berat Lahir
- Berat lahir rendah : <2500 gram.
- Berat lahir cukup : 2500-4000 gram.
- Berat lahir lebih : >4000 gram.

3. APGAR neonatus
Nilai 0 Nilai 1 Nilai 2 Akronim
Warna Seluruh badan biru dan Warna kulit Warna kulit Apperance
kulit pucat tubuh normal tubuh, tangan
merah muda, dan kaki normal
tetapi tangan merah muda,
dan kaki tidak ada
kebiruan sianosis
Denyut Tidak ada <100 x/menit >100x/menit Pulse
jantung
Respon Tidak asa respon Meringis atau Meringis atau Grimace
reflek terhadap stimulasi menangis lemah bersin atau
ketika stimulasi batuk saat
stimulasi
saluran
pernapasan
Tonus otot Lemas atau tidak ada Sedikit gerakan Bergerak aktif Activity
Pernafasan Tidak ada Lemah atau Pernapasan baik Respiration
tidak teratur dan teratur

4. Pemeriksaan Diagnostik Pada Resusitasi Neonatus


a. Diagnosis pasti infeksi neonatal ditegakkan berdasarkan biakan darah, cairan
serebrospinal, urin, dan infeksi lokal
b. Diagnosis tidak langsung:
■ Jumlah leukosit, hitung jenis, leukopenia <5000 /mm3, leukositosis >12000/mm3,
hanya bernilai untuk sepsis awitan lambat
■ Neutropenia (<1500/mm3 ), neutrofilia (<7000/mm3) hanya bernilai untuk sepsis
awitan lambat
■ Rasio I:T ( >0,18 )
■ Trombositopenia (<100,000/mm3)
■ C-reactive protein positif (>6 mg/L), me-rupakan nilai prognostik
■ ESR (erytrocyte sedimentation rate) atau micro-ESR pada dua minggu pertama (nilai
normal dihitung pada usia hari ketiga)
■ Haptoglobin, fibrinogen dan leukocyte elastase assay.
■ Pengecatan gram cairan aspirat lambung positif (bila >5 neutrophils/LPB) atau
ditemukan bakteri.
■ Pemeriksaan fibonektin
■ Pemeriksaan sitokin, interleukin-1, soluble interleukin 2receptor, interleukin-6, dan
tumour necrosis factor –α, dan deteksi kuman patogen GBS & ECK 1 dengan,
pemeriksaan latex particle agglutination dan countercurrent immunoelectrophoresis.
■ Polymerase chain reaction suatu cara baru untuk mendeteksi DNA bakteri.
■ Prokalsitonin merupakan petanda infeksi neonatal awitan dini dan lambat,
memberikan hasil yang cukup baik pada kelompok risiko tinggi.
■ Pada neonatus yang sakit berat, kadar prokalsitonin merupakan petanda infeksi yang
lebih baik dibanding C- reactive protein dan jumlah leukosit. Kadar prokalsitonin 2
mg/ml mungkin sangat berguna untuk membedakan penyakit infeksi bakterial dari
virus pada neonatus dan anak.

Disimpulkan bahwa petanda infeksi atau sepsis neonatal dilakukan melalui pengukuran
serial petanda infeksi untuk meningkatkan sensitivitas diagnosis dan berguna untuk
penghentian secara dini terapi antibiotik. Namun tidak ada satupun uji diagnosis terbaru
yang cukup sensitif dan spesifik untuk mempengaruhi keputusan klinis dan meneruskan
terapi antibiotik pada saat awitan dugaan infeksi.
Oleh karena itu suatu petanda diagnostik yang kompeten juga harus mempunyai
spesifisitas yang tinggi (hasil negatif bila tidak ada infeksi) dan nilai prediksi positif yang
baik (ada infeksi bila hasil positif) yang sebaiknya lebih dari 85%, dalam rangka untuk
mengurangi penggunaan antibiotik yang tidak perlu pada kasus positif palsu. Sebagai
tambahan nilai potong yang optimal harus ditentukan pada populasi pasien secara spesifik
dengan menggunakan kurva ROC (receiver operating characteristics curve) untuk setiap
petanda.

c. Pemeriksaan diagnosatik
Untuk dapat menegakkan gawat janin dapat ditetapkan dengan melakukan pemeriksaan
sebagai berikut :
a. Denyut jantung janin.
b. Mekonium di dalam air ketuban.
c. Pemeriksaan pH darah janin.
Dengan menggunakan amnioskop yang dimasukan lewat servik dibuat sayatan
kecil pada kulit kepala janin, dan diambil contoh darah janin. Darah ini diperiksa pH-nya.
Adanya asidosis menyebabkan turunnya pH. Apabila pH itu turun sampai di bawah 7,2
hal itu dianggap sebagai tanda bahaya .

d. Pasca resusitasi
Program S.T.A.B.L.E dirancang sebagai sumber informasi tentang stabilisasi neonatus
untuk semua kalangan fasilitas kesehatan.
1. S-Sugar and safe care
2. T-Temperatur
3. A-Airway
4. B-Blood pressure
5. L-Laboratorium work up
Pemeriksaan laboratorium berikut dapat membantu mengevaluasi syok dan jika
hasil tidak normal, dapat membantu menentukan terapi korektif yang tepat
Analisis gas darah : Asidosis metabolik terjadi ketika pH dan bikarbonat rendah. Jika
bayi mengalami insufisiensi pernapasan, kemudian PCO2 juga akan ditingkatkan dan
bayi akan mengalami keadaan campuran asidosis respiratorik dan metabolik.
 pH < 7.30 tidak normal.
 pH < 7.25 concerning terutama bila disertai perfusi tidak bagus, takikardi, dan atau
tekanan darah rendah
 pH < 7.20 tidak normal secara bermakna
 pH < 7.10 indikasi bahwa bayi dalam keadaan krisis berat
6. E-Emotional support

e. Pemeriksaan lainnya
- Gula
- Elektrolit
- Calcium Ion
- Tes fungsi hati
- Tes Fungsi ginjal
- Pemeriksaan koagulasi
- Ekokardiogram untuk mengevaluasi fungsi jantung dan untuk menyingkirkan
penyakit jantung bawaan
- Evaluasi output urin untuk oliguria atau anuria
- Evaluasi untuk sepsis (CBC dengan diferensial dan kultur darah)
- Skrining metabolik asam amino dan asam organik (urin dan serum)

5. Penatalaksanaan medis

a. penatalaksanaan pada bayi baru lahir dengan asfiksia

1. Pengawasan suhu

Bayi baru lahir secara relatif kehilangan panas yang diikuti oleh penurunan suhu
tubuh.sehingga dapat mempertinggi metabolisme sel jaringan sehingga kebutuhan
oksigen meningkat, perlu diperhatikan untuk menjaga kehangatan suhu bayi baru lahir
dengan:

- Mengeringkan bayi dari cairan ketuban dan lemak.


- Menggunakan sinar lampu untuk pemanasan luar.
- Bungkus bayi dengan kain kering.
2. Pembersihan jalan nafas
Saluran nafas bagian atas segera dibersihkan dari lendir dan cairan amnion, kepala bayi
harus posisi lebih rendah sehingga memudahkan keluarnya lendir.
3. Rangsangan untuk menimbulkan pernafasan
Rangsangan nyeri pada bayi dapat ditimbulkan dengan memukul kedua telapak kaki
bayi, menekan tendon achilles atau memberikan suntikan vitamin K. Hal ini berfungsi
memperbaiki ventilasi.

b. Cara pelaksanaan resusitasi sesuai tingkatan asfiksia

1. Asfiksi Ringan (Apgar score 7-10)


Caranya:

- Bayi dibungkus dengan kain hangat.


- Bersihkan jalan napas dengan menghisap lendir pada hidung kemudian mulut.
- Bersihkan badan dan tali pusat.
- Lakukan observasi tanda vital dan apgar score dan masukan ke dalam inkubator.

2. Asfiksia sedang (Apgar score 4-6)

Caranya:

- Bersihkan jalan napas.


- Berikan oksigen 2 liter per menit
- Rangsang pernapasan dengan menepuk telapak kaki apabila belu ada reaksi, bantu
pernapasan dengan melalui masker (ambubag).
- Bila bayi sudah mulai bernapas tetapi masih sianosis berikan natrium bikarbonat
7,5%sebanyak 6cc. Dextrosa 40% sebanyak 4cc disuntikan melalui vena umbilikus
secara perlahan-lahan, untuk mencegah tekanan intra kranial meningkat.

3. Asfiksia berat (Apgar skor 0-3)


Caranya:

- Bersihkan jalan napas sambil pompa melalui ambubag.


- Berikan oksigen 4-5 liter per menit.
- Bila tidak berhasil lakukan ETT.
- Bersihkan jalan napas melalui ETT.
- Apabila bayi sudah mulai benapas tetapi masih sianosis berikan natrium bikarbonat
7,5% sebanyak 6cc. Dextrosa 40% sebanyak 4cc.

6. Komplikasi neonatus
a. Bayi baru lahir rendah
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah Bayi yang lahir dengan berat kurang dari 2500
gr tanpa memandang masa Gestasi.
Bayi Berat Lahir Rendah dapat digolongkan menjadi 2 yaitu
- Prematuritas murni/premature : bayi lahir dengan kehamilan kurang dari 37 minggu
dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan untuk masa kehamilan atau
disebut Neonatus Kurang Bulan-Sesuai Masa Kehamilan (NKB-SMK).
- Dismaturitas adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya
untuk masa kehamilan, dismatur dapat terjadi dalam preterm, term, dan post term.
Dismatur ini dapat juga Neonatus Kurang Bulan – Kecil untuk Masa Kehamilan (NKB-
KMK).
b. Hipotermia
Hipotermi adalah suhu tubuh kurang dari 36,5oC pada pengukuran suhu melalui
ketiak dan menyebabkan perubahan metabolism tubuh yang akan berakhir dengab
kegagalan fungsi jantung , paru dan kematian.
Hipotermia sering terjadi pada neonatus terutama pada BBLR karena pusat
pengaturan suhu tubuh bayi yang belum sempurna , permukaan tubuh bayi relative luas,
lemampuan produksi dan penyimpanan panas terbatas.

c. hipoglikemia
Hipoglikemia adalah keadaan hasil pengukuran kadar glukosa darah kurang dari
45 mg/dl (2.6 mmol/L).
Hipoglikemia adalah masalah serius pada bayi baru lahir, karena dapat
menimbulkan kejang yang berakibat terjadinya hipoksi otak.

d. Asfiksia
Asfiksia neonatorum adalah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara
spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan
hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan
atau segera setelah bayi lahir.

e. Ikterus
Ikterus adalah keadaan transisional normal yang mempengaruhi hingga 50% bayi aterm
yang mengalami peningkatan pada kadar bilirubin.
Kasus Gawat Darurat

Bayi CT, lahir dari seorang ibu umur 25 tahun; masa gestasi 37-38 minggu ,G2P1A0;
lahir dengan cara ekstraksi vakum atas indikasi presentasi oksiput posterior; ketuban pecah 3 jam
sebelum bayi lahir, hijau kental tidak berbau, bayi lahir tidak segera menangis, dilakukan
pembersihan jalan nafas dengan suction serta rangsang taktil, Apgar score 8/9;. RR: 80x/mnt,
kedalaman cukup, retraksi dan NCH minimal, sat 87-90% tanpa tambahan O2. Berat badan lahir
3200 gram; PB 48 cm; LK 34 cm; LD 33 cm; LP 33 cm. Bayi terlihat Sesak, ada sianosis, NCH,
dan retraksi dada. HR: 166x/mnt; RR: 80x/mnt,TD 63/42 mmhg, Suhu 35.6 'C. Bayi segera
dipindahkan ke NICU dengan menggunakan CPAP PEEP 6/FiO2 21%/Flow 5 lpm. Dilakukan
pemeriksaan AGD PH : 7.3, PC02 : 39, PO2 : 80, Bicarbonate 23, O2 Saturation 92.

Analisa Kasus

Identitas Pasien

Pada pengkajian diperoleh data : Identitas pasien.


Nama/ Inisial : Bayi CT ( Bayi dari Ibu X)

Nama Ibu : Ibu X


Umur : 25 tahun
Agama : Islam
Alamat : Limo, Depok
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Nomor Rekam Medik 346043


Penanggung jawab : Tn.A
Umur : 27 tahun (Suami)
Agama : Islam

PRIMARY SURVEY

A : Air way

Ada hambatan jalan nafas pada Bayi Ibu X, bayi lahir tidak segera menangis. (Dilakukan
pembersihan jalan nafas dengan suction)

B : Breathing
RR: 80x/mnt, Bayi terlihat Sesak, Kedalaman cukup, Retraksi dan NCH (Nafas Cuping
Hidung) minimal, Sat. O2 87-90%.

C : Circulation

Ada sianosis, TD 63/42 mmhg, HR: 166x/mnt

D : Dissability

Apgar score 8/9

E : Exposure

Bayi lahir dengan cara ekstraksi vakum atas indikasi presentasi oksiput posterior; ketuban
pecah 3 jam sebelum bayi lahir, hijau kental tidak berbau. Berat badan lahir 3200 gram; PB 48
cm; LK 34 cm; LD 33 cm; LP 33 cm.

Dilakukan pemeriksaan AGD PH : 7.3, PC02 : 39, PO2 : 80, Bicarbonate 23, O2
Saturation 92.

SECONDARY SURVEY

Alergi : Tidak dijelaskan


Medikasi : -
Pastilness : Bayi lahir dengan cara ekstraksi vakum atas indikasi presentasi oksiput posterior;
ketuban pecah 3 jam sebelum bayi lahir
Lastmeal : -
Environment : Bayi segera dipindahkan ke NICU dengan menggunakan CPAP PEEP 6/FiO2
21%/Flow 5 lpm
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN RESUSITASI NEONATUS

DATA FOKUS

DATA SUBJEKTIF DATA OBJEKTIF

Ibu mengatakan bayinya terlihat sesak. Bayi lahir dengan cara ekstraksi vakum
Ibu mengatakan bayinya terlihat atas indikasi presentasi oksiput posterior.
menggigil dan kulitnya teraba dingin. Ketuban pecah 3 jam sebelum bayi lahir
Ketuban berwarna hijau kental tidak
Ibu mengatakan bayinya terlihat
berbau.
membiru.
Bayi lahir tidak segera menangis.
Dilakukan pembersihan jalan napas
dengan suction serta rangsang taktil.
APGAR Score 8/9
Hasil TTV menunjukkan:
TD: 63/42 mmHg
RR: 80 x/menit
HR: 166 x/menit
S: 35,6˚C
Bayi terlihat sesak.
Bayi terlihat sianosis.
Kedalaman napas cukup.
Tampak retraksi dinding dada.
Napas bayi cuping hidung minimal.
Saturasi O2 : 87-90% tanpa tambahan
oksigen.
Hasil AGD:
pH: 7,3
pCO2: 39 mmHg
pO2 : 80 mmHg
bicarbonate: 23 mEq/l
Data tambahan:
Bayi terlihat menggigil
Kulit bayi teraba dingin
CRT > 3 detik

ANALISA DATA

No. Data Fokus Masalah Etiologi

1. DS: Ketidakefektifan Benda asing


bersihan jalan napas dalam jalan napas
Ibu mengatakan bayinya terlihat sesak.
DO: (Kode dx 00081,
Bayi lahir dengan cara ekstraksi vakum atas domain 11, hal.
indikasi presentasi oksiput posterior. 384)
Ketuban pecah 3 jam sebelum bayi lahir
Ketuban berwarna hijau kental tidak
berbau.
Bayi lahir tidak segera menangis.
Dilakukan pembersihan jalan napas dengan
suction serta rangsang taktil.
APGAR Score 8/9
Hasil TTV menunjukkan:
TD: 63/42 mmHg
RR: 80 x/menit
Bayi terlihat sesak.
Bayi tampak sianosis.
2. DS: Ketidakefektifan Keletihan otot
Pola Napas pernapasan
Ibu mengatakan bayinya terlihat sesak.
DO: (Kode dx 00032,
domain 4, hal. 228)
Hasil TTV menunjukkan:
TD: 63/42 mmHg
HR: 166 x/menit
APGAR Score 8/9
Kedalaman napas cukup.
Tampak retraksi dinding dada.
Napas bayi cuping hidung minimal.
Saturasi O2 : 87-90% tanpa tambahan
oksigen.
Bayi terlihat sesak.
Hasil AGD:
pH: 7,3
pCO2: 39 mmHg
pO2 : 80 mmHg
bicarbonate: 23 mEq/l
3. DS: Hipotermia Neonatus:
Peningkatan
Ibu mengatakan bayinya terlihat menggigil (Kode dx 00006,
Kebutuhan
dan kulitnya teraba dingin. domain 11, hal.
Oksigen
435)
Ibu mengatakan bayinya terlihat membiru.

DO:

Hasil pemeriksaan fisik:


TD: 64/42 mmHg

HR: 166 x/menit

S: 35,6˚C

Bayi terlihat sianosis


Bayi terlihat sesak
Napas bayi cuping hidung minimal.
Saturasi O2 : 87-90% tanpa tambahan
oksigen.
APGAR Score 8/9
Bayi terlihat menggigil
Kulit bayi teraba dingin
CRT > 3 detik

DIAGNOSA KEPERAWATAN

No. Diagnosa Keperawatan

1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d benda asing dalam jalan napas
2. Ketidakefektifan pola napas b.d Keletihan otot pernapasan

3. Hipotermia b.d Neonatus: Peningkatan kebutuhan oksigen

INTERVENSI

No Diagnosa Tujuan & Kriteria Hasil Rencana Keperawatan


Keperawatan
1 Ketidakefektifan Setelah dilakukan Resusitasi: Neonatus
bersihan jalan napas tindakan keperawatan Posisikan bayi pada punggung
b.d benda asing diharapkan masalah dengan leher ekstensi utnuk
dalam jalan napas keperawatan teratasi membuka jalan napas
dengan kriteria hasil : Tempatkan selimut yang digulung
Status Pernafasan: dibagian bawah bahu untuk
1. Kepatenan jalan membantu bayi dengan posisi yang
nafas (0410; hal.558) benar
- Frekuensi pernafasan Suksion secret dari hidung dan mulut
skala 5 dengan penghisap bola karet
- Irama pernafasan Manajemen jalan napas
skala 5 Auskultasi suara napas catat area
- Kedalaman inspirasi yang ventilasinya menurun atau tidak
skala 5 ada dan adanya suara tambahan.
- Suara nafas tambahan Monitor status pernapasan dan
skala 5 oksigenasi, sebagaimana mestinya

2 Ketidakefektifan pola Setelah dilakukan Resusitasi: Neonatus


napas b.d Keletihan tindakan keperawatan Berikan stimulasi taktil dengan
otot pernapasan diharapkan masalah menggosok telapak kaki atau
keperawatan teratasi menggosok punggung bayi
dengan kriteria hasil : Monitor pernapasan
1. Status Pernafasan Monitor denyut jantung bayi
(0415; hal.556) Monitor pernafasan
- Suara auskultasi nafas Monitor kecepatan, irama, kedalaman
skala 5 dan kesulitan bernafas
- Kepatenan jalan nafas Catat pergerakan dinding dada, catat
skala 5 ketidaksimetrisan, penggunaan otot
- Saturasi oksigen skala bantu nafas, dan retraksi pada
5 supraclaviculas dan intercostal
- Retraksi dinding dada Monitor suara nafas tambahan seperti
skala 5 (tidak ada) ngorok atau mengi
- Sianosis skala 5 (tidak Perawatan bayi : baru lahir
ada) Monitor frekuensi pernapasan dan
pola nafas (bayi)
Respon pada tanda-tanda distress
pernapasan (misalnya, takipnea,
[pernafasan] cuping hidung,
mendengkur retraksi, ronkhi, dan
rales

3 Hipotermia b.d Setelah dilakukan Resusitasi: Neonatus


Neonatus: tindakan keperawatan Keringkan bayi dengan selimut
Peningkatan diharapkan masalah penghangat untuk mengurangi
kebutuhan oksigen keperawatan teratasi kehilangan panas, dan memberikan
dengan kriteria hasil : stimulasi
1. Termoregulasi: Baru Tempatkan bayi baru lahir dibawah
lahir pemancar panas yang hangat
- Suhu tidak stabil Perawatan Hipotermia:
skala 5 (tidak ada) Monitor suhu pasien, menggunakan
- Hipotermia skala 5 alat pengukur dan rute yang paling
- Talipnea skala 5 tepat
- Perubahan warna kulit Bebaskan pasien dari lingkungan
skala 5 yang dingin
Gunakan penghangat pasif (mislanya,
selimut, penutup kepala, dan pakaian
hangat)
Perawatan bayi: baru lahir
Kaji penyebab hipotermi
Monitor suhu bayi baru lahir
Jaga suhu tubuh yang adekuat dari
bayi baru lahir (keringkan bayi baru
lahie, membedong baayi dalam
selimut jika tidak diletakkan di
tempat hangat, pakaikan topi rajut
bayi)
Peluk dan sentuh bayi baru lahir yang
ada di ruang isolasi secara teratur