Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair
(setengah padat), di mana kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 g atau
200 ml/24 jam. Definisi lain memakai kriteria frekuensi, yaitu buang air besar encer lebih dari
3 kali per hari. Buang air besar encer tersebut dapat/tanpa disertai lendir dan darah. 1,2 Diare
akut adalah diare yang onset gejalanya tiba-tiba dan berlangsung kurang dari 14 hari, sedang
diare kronik yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari. Diare dapat disebabkan infeksi
maupun non infeksi. Dari penyebab diare yang terbanyak adalah diare infeksi. Diare infeksi
dapat disebabkan virus, bakteri, dan parasit.3
Diare akut sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan, tidak saja di negara
berkembang tetapi juga di negara maju. Penyakit diare masih sering menimbulkan KLB
(Kejadian Luar Biasa) dengan penderita yang banyak dalam waktu yang singkat. 4,5 Di negara
maju diperkirakan insiden sekitar 0,5-2 episode per orang per tahun sedangkan di negara
berkembang lebih dari itu. Di USA dengan penduduk sekitar 200 juta diperkirakan 99 juta
episode diare akut pada dewasa terjadi setiap tahunnya. WHO memperkirakan ada sekitar 4
miliar kasus diare akut setiap tahun dengan mortalitas 3-4 juta pertahun.5
Di negara berkembang, diare infeksi menyebabkan kematian sekitar 3 juta penduduk
setiap tahun. Di Afrika anak anak terserang diare infeksi 7 kali setiap tahunnya di banding di
negara berkembang lainnya mengalami serangan diare 3 kali setiap tahun.6
Angka kejadian diare di sebagian besar wilayah Indonesia hingga saat ini masih tinggi.
Kasubdit Diare dan Kecacingan Depkes, I Wayan Widaya mengatakan hasil Survei Kesehatan
Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004, angka kematian akibat diare 23 per 100 ribu penduduk
dan pada balita 75 per 100 ribu balita. Selama tahun 2006 sebanyak 41 kabupaten di 16
provinsi melaporkan KLB (kejadian luar biasa) diare di wilayahnya. Jumlah kasus diare yang
dilaporkan sebanyak 10.980 dan 277 diantaranya menyebabkan kematian. Hal tersebut,
terutama disebabkan rendahnya ketersediaan air bersih, sanitasi buruk dan perilaku hidup
tidak sehat.

1
Untuk Puskesmas Pangkalan Susu, penyakit diare masih menjadi salah satu masalah
utama. Hal ini terlihat dari laporan setiap tahunnya yang menyebutkan bahwa diare masih
termasuk 10 penyakit terbanyak yang ditemukan di Puskesmas Pangkalan Susu. Oleh karena
itu maka peneliti ingin menggali informasi yang lebih dalam tentang gambaran tingkat
pengetahuan, sikap, dan tindakan ibu terhadap penatalaksanaan diare pada anak di Desa Alur
Cimpedak Kecamatan Pangkalan Susu.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka dapat dirumuskan
sebagai berikut : “Bagaimana gambaran tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan ibu terhadap
penanganan diare pada anak di Desa Alur Cimpedak Kecamatan Pangkalan Susu”.

1.3. Tujuan Penelitian


1.3.1. Tujuan Umum
Mengetahui gambaran gambaran tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan ibu
terhadap penanganan diare pada anak di Desa Alur Cimpedak Kecamatan Pangkalan Susu.
1.3.2. Tujuan Khusus
Yang menjadi tujuan khusus dalam penelitian ini adalah :
1. Mengetahui karakteristik responden “Ibu” yang berkunjung ke Puskesmas
Pangkalan Susu.
2. Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan ibu terhadap
penanganan diare pada anak.

1.4. Manfaat Penelitian


Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk bidang-bidang sebagai
berikut :
1. Bidang akademik
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai gambaran
tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan ibu terhadap penanganan diare pada anak.

2. Bidang pelayanan masyarakat


Hasil penelitian ini dapat menjadi pedoman untuk mengetahui hal-hal yang selama
ini keliru mengenai pengetahuan, sikap, dan tindakan ibu terhadap penanganan diare
pada anak, sehingga dapat dilakukan edukasi yang lebih efektif mengenai diare,
terutama dalam hal penatalaksanaannya.
3. Bidang pengembangan penelitian

2
Penelitian ini dapat menjadi suatu pendahuluan dan bahan rujukan bila topik yang
serupa ingin diteliti oleh peneliti-peneliti lainnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Diare
2.1.1 Defenisi
Diare akut adalah buang air besar lembek/cair bahkan dapat berupa air saja yang
frekuensinya lebih sering dari biasanya (biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari) dan
berlangsung kurang dari 14 hari.

3
Menurut WHO diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari.
Diare akut adalah diare yang awalnya mendadak dan berlangsung singkat, dalam beberapa
jam atau hari.
Diare akut yaitu diare yang berlangsung kurang dari 15 hari. Diare kronik adalah diare
yang berlangsung lebih dari 15 hari namun tidak terus menerus dan dapat disertai penyakit
lain. Diare persisten merupakan istilah yang dipakai di luar negeri yang menyatakan diare
yang berlangsung 15-30 hari dan berlangsung terus menerus.2

2.1.2 Klasifikasi
Klasifikasi diare berdasarkan lama waktu diare terdiri dari :
a. Diare akut
Diare akut yaitu buang air besar dengan frekuensi yang meningkat dan
konsistensi tinja yang lembek atau cair dan bersifat mendadak datangnya dan
berlangsung dalam waktu kurang dari 2 minggu.
Menurut Depkes, diare akut yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari
tanpa diselang-seling berhenti lebih dari 2 hari. Berdasarkan banyaknya cairan yang
hilang dari tubuh penderita, gradasi penyakit diare akut dapat dibedakan dalam empat
kategori, yaitu: (1) Diare tanpa dehidrasi, (2) Diare dengan dehidrasi ringan, apabila
cairan yang hilang 2-5% dari berat badan, (3) Diare dengan dehidrasi sedang, apabila
cairan yang hilang berkisar 5-8% dari berat badan, (4) Diare dengan dehidrasi berat,
apabila cairan yang hilang lebih dari 8-10%.7
b. Diare persisten
Diare persisten adalah diare yang berlangsung 15-30 hari, merupakan
kelanjutan dari diare akut atau peralihan antara diare akut dan kronik.
c. Diare kronik
Diare kronis adalah diare hilang-timbul, atau berlangsung lama dengan
penyebab non-infeksi, seperti penyakit sensitif terhadap gluten atau gangguan
metabolisme yang menurun. Lama diare kronik lebih dari 30 hari. Menurut Suharyono,
diare kronik adalah diare yang bersifat menahun atau persisten dan berlangsung 2
minggu lebih. 8

2.1.2 Etiologi

4
Etilogi diare dapat dibagi menjadi beberapa faktor :
A. Faktor Infeksi
1. Infeksi enteral
Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama
diare pada anak. Infeksi parenteral ini meliputi: (a) Infeksi bakteri: Vibrio, E.coli,
Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas dan sebagainya. (b)
Infeksi virus: Enteroovirus (Virus ECHO, Coxsackie, Poliomyelitis), Adenovirus,
Rotavirus, Astrovirus dan lain-lain. (c) Infestasi parasite : Cacing (Ascaris,
Trichiuris, Oxyuris, Strongyloides), protozoa (Entamoeba histolytica, Giardia
lamblia, Trichomonas hominis), jamur (candida albicans).
2. Infeksi parenteral
Infeksi parenteral yaitu infeksi dibagian tubuh lain diluar alat pencernaan, seperti
Otitis Media akut (OMA), Tonsilofaringitis, Bronkopneumonia, Ensefalitis dan
sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur dibawah 2
tahun.
B. Malabsorbsi
1. Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa, maltose dan sukrosa),
monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Pada bayi dan anak
yang terpenting dan tersering ialah intoleransi laktrosa.
2. Malabsorbsi lemak
3. Malabsorbsi protein
C. Faktor makanan: makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.
D. Faktor psikologis: rasa takut dan cemas. Walaupun jarang dapat menimbulkan diare
terutama pada anak yang lebih besar.
E. Faktor sosial ekonomi masyarakat
Sosial ekonomi mempunyai pengaruh langsung terhadap faktor-faktor penyebab diare.
Kebanyakan anak mudah menderita diare berasal dari keluarga besar dengan daya beli
yang rendah, kondisi rumah yang buruk, tidak mempunyai penyediaan air bersih yang
memenuhi persyaratan kesehatan.
F. Faktor makanan dan minuman yang dikonsumsi

5
Kontak antara sumber dan host dapat terjadi melalui air, terutama air minum yang
tidak dimasak dapat juga terjadi secara sewaktu mandi dan berkumur. Kontak kuman
pada kotoran dapat berlangsung ditularkan pada orang lain apabila melekat pada
tangan dan kemudian dimasukkan kemulut dipakai untuk memegang makanan.
Kontaminasi alat-alat makan dan dapur. Bakteri yang terdapat pada saluran pencernaan
adalah bakteri Etamoeba colli, salmonella, sigella. Dan virusnya yaitu Enterovirus,
rota virus, serta parasit yaitu cacing (Ascaris, Trichuris), dan jamur (Candida albikan).9

2.1.3 Patogenesis
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah:
a. Gangguan osmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan
menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi
pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan ini
akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.
Mukosa usus halus adalah epitel berpori, yang dapat dilewati air dan elektrolit
dengan cepat untuk mempertahankan tekanan osmotik antara isi usus dengan cairan
ekstraseluler. Diare terjadi jika bahan yang secara osmotic dan sulit diserap. Bahan
tersebut berupa larutan isotonik dan hipertonik. Larutan isotonik, air dan bahan yang
larut didalamnya akan lewat tanpa diabsorbsi sehingga terjadi diare. Bila substansi
yang diabsorbsi berupa larutan hipertonik, air, dan elektronik akan pindah dari cairan
ekstraseluler kedalam lumen usus sampai osmolaritas dari usus sama dengan cairan
ekstraseluler dan darah,sehingga terjadi pula diare.
b. Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misal oleh toksin) pada dinding usus akan terjadi
peningkatan sekresi air dan elektrolit kedalam rongga usus dan selanjutnya diare
timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus. Akibat rangsangan mediator
abnormal misalnya enterotoksin, menyebabkan villi gagal mengabsorbsi natrium,
sedangkan sekresi klorida disel epitel berlangsung terus atau meningkat. Hal ini
menyebabkan peningkatan sekresi air dan elektrolit kedalam rongga usus. Isi rongga
usus yang berlebihan akan merangsang usus mengeluarkannya sehingga timbul diare.
Diare mengakibatkan terjadinya: (1) Kehilangan air dan elektrolit serta gangguan asam

6
basa yang menyebabkan dehidrasi, asidosis metabolik dan hipokalemia. (2) Gangguan
sirkulasi darah dapat berupa renjatan hipovolemik atau prarenjatan sebagai akibat diare
dengan atau tanpa disertai dengan muntah, perpusi jaringan berkurang sehingga
hipoksia dan asidosismetabolik bertambah berat, kesadaran menurun dan bila tak cepat
diobati penderita dapat meninggal. (3) Gangguan gizi yang terjadi akibat keluarnya
cairan yang berlebihan karena diare dan muntah. Kadang-kadang orang tuanya
menghentikan pemberian makanan karena takut bertambahnya muntah dan diare pada
anak atau bila makanan tetap diberikan dalam bentuk diencerkan. Hipoglikemia akan
sering terjadi pada anak yang sebelumnya telah menderita malnutrisi atau bayi dengan
gagal bertambah berat badan, sehingga akibat hipoglikemia dapat terjadi edema otak
yang dapat menyebabkan kejang dan koma.
c. Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk
menyerap makanan, sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun
akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan
diare pula.
Patogenesis diare akut adalah: (a) Masuknya jasad renik yang msih hidup
kedalam usus halus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung. (b) Jasad renik
tersebut berkembang biak (multiplikasi) didalam usus halus. (c) Oleh jasad renik
dikeluarkan toksin (toksin Diaregenik). (d) Akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi
yang selanjutnya akan menimbulkan diare. Patogenesis Diare kronis: Lebih kompleks
dan faktor-faktor yang menimbulkannya ialah infeksi bakteri, parasit, malabsorbsi,
malnutrisi dan lain-lain.9

2.1.4 Patofisiologi
Gastroenteritis akut (Diare) adalah masuknya Virus (Rotavirus, Adenovirus enteritis),
bakteri atau toksin (Salmonella. E. colli), dan parasit (Biardia, Lambia). Beberapa
mikroorganisme pathogen ini me nyebabkan infeksi pada sel-sel, memproduksi enterotoksin
atau cytotoksin Penyebab dimana merusak sel-sel, atau melekat pada dinding usus pada
gastroenteritis akut. Penularan gastroenteritis bisa melalui fekal oral dari satu klien ke klien
lainnya. Beberapakasus ditemui penyebaran pathogen dikarenakan makanan dan minuman
yang terkontaminasi.

7
Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah gangguan osmotik (makanan yang
tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meningkat
sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus, isi rongga usus berlebihan
sehingga timbul diare). Selain itu menimbulkan gangguan sekresi akibat toksin di dinding
usus, sehingga sekresi air dan elektrolit meningkat kemudian terjadi diare. Gangguan motilitas
usus yang mengakibatkan hiperperistaltik dan hipoperistaltik. Akibat dari diare itu sendiri
adalah kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan asam basa
(asidosis metabolik dan hipokalemia), gangguan gizi (intake kurang, output berlebih),
hipoglikemia dan gangguan sirkulasi.
Sebagai akibat diare baik akut maupun kronis akan terjadi: (a) Kehilangan air dan
elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan asam-basa
(asidosis metabolik, hipokalemia dan sebagainya). (b) Gangguan gizi sebagai akibat kelaparan
(masukan makanan kurang, pengeluaran bertambah). (c) Hipoglikemia, (d) Gangguan
sirkulasi darah. 9

2.1.5 Manifestasi Klinis


Mula-mula bayi dan anak menjadi cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat,
nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare. Tinja cair dan mungkin disertai
lendir dan atau darah. Warna tinja makin lama berubah menjadi kehijau-hijauan karena
tercampur dengan empedu. Anus dan daerah sekitarnya lecet karena seringnya defekasi dan
tinja makin lama makin asam sebagai akibat makin banyaknya asam laktat yang berasal dari
laktosa yang tidak dapat diabsorbsi usus selama diare. Gejala muntah dapat terjadi sebelum
atau sesudah diare dan dapat disebabkan oleh lambung yang turut meradang atau akibat
gangguan keseimbangan asam-basa dan elektrolit. Bila penderita telah banyak kehilangan
cairan dan elektrolit, maka gejala dehidrasi makin tampak. Berat badan menurun, turgor kulit
berkurang, mata dan ubun-ubun membesar menjadi cekung, selaput lendir bibir dan mulut
serta kulit tampak kering. Berdasarkan banyaknya cairan yang hilang dapat dibagi menjadi
dehidrasi ringan, sedang, dan berat, sedangkan berdasarkan tonisitas plasma dapat dibagi
menjadi dehidrasi hipotonik, isotonik, dan hipertonik. 10

2.1.6 Cara Penularan

8
Menurut Junadi (2002), bahwa penularan penyakit diare pada balita biasanya melalui
jalur fecal oral terutama karena: (1) Menelan makanan yang terkontaminasi (makanan sapihan
dan air). (2) Beberapa faktor yang berkaitan dengan peningkatan kuman perut : (a) Tidak
memadainya penyediaan air bersih, (b) kekurangan sarana kebersihan dan pencemaran air
oleh tinja, (c) penyiapan dan penyimpanan makanan tidak secara semestinya.Cara penularan
penyakit diare adalah Air (water borne disease), makanan (food borne disease), dan susu
(milk borne disease). Menurut Budiarto (2002) bahwa secara umum faktor resiko diare pada
dewasa yang sangat berpengaruh terjadinya penyakit diare yaitu faktor lingkungan
(tersedianya air bersih, jamban keluarga, pembuangan sampah, pembuangan air limbah),
perilaku hidup bersih dan sehat, kekebalan tubuh, infeksi saluran pencernaan, alergi,
malabsorbsi, keracunan, imunodefisiensi, serta sebab-sebab lain. Sedangkan menurut Sutono
(2008) bahwa pada balita faktor resiko terjadinya diare selain faktor intrinsic dan ekstrinsik
juga sangat dipengaruhi oleh perilaku ibu dan pengasuh balita karena balita masih belum bisa
menjaga dirinya sendiri dan sangat bergantung pada lingkungannya. Dengan demikian apabila
ibu balita atau ibu pengasuh balita tidak bisa mengasuh balita dengan baik dan sehat maka
kejadian diare pada balita tidak dapat dihindari. Diakui bahwa faktor-faktor penyebab
timbulnya diare tidak berdiri sendiri, tetapi sangat kompleks dan sangat dipengaruhi oleh
berbagai faktor yang berkaitan satu sama lain, misalnya faktor gizi, sanitasi lingkungan,
keadaan sosial ekonomi, keadaan sosial budaya, serta faktor lainnya. Untuk terjadinya diare
sangat dipengaruhi oleh kerentanan tubuh, pemaparan terhadap air yang tercemar, sistem
pencernaan serta faktor infeksi itu sendiri. Kerentanan tubuh sangat dipengaruhi oleh faktor
genetik, status gizi, perumahan padat dan kemiskinan.11

2.1.7 Pencegahan
Pencegahan diare antara lain :
1. Pemberian ASI
ASI adalah makanan paling baik untuk bayi, komponen zat makanan tersedia
dalam bentuk yang ideal dan seimbang untuk dicerna dan diserap secara optimal oleh
bayi. ASI saja sudah cukup untuk menjaga pertumbuhan sampai umur 4-6 bulan, tidak
ada makanan lain yang dibutuhkan selama masa ini. Menurut Supariasa dkk (2002),
bahwa ASI adalah makanan bayi yang paling alamiah, sesuai dengan kebutuhan gizi
bayi dan mempunyai nilai proteksi yang tidak bisa ditiru oleh pabrik susu manapun.

9
Tetapi pada pertengahan abad ke-18 berbagai pernyataan penggunaan air susu binatang
belum mengalami berbagai modifikasi. Pada permulaan abad ke-20 sudah dimulai
produksi secara masal susu kaleng yang berasal dari air susu sapi sebagai pengganti
ASI. ASI steril berbeda dengan sumber susu lain, susu formula, atau cairan lain
disiapkan dengan air atau bahan-bahan yang terkontaminasi dalam botol yang kotor.
Pemberian ASI saja tanpa cairan atau makanan lain dan tanpa menggunakan botol,
menghindarkan anak dari bahaya bakteri dan organisme lain yang akan menyebabkan
diare. Keadaan ini disebut disusui secara penuh. Menurut Sulastri (2009), bahwa bayi-
bayi harus disusui secara penuh sampai mereka berumur 4-6 bulan, setelah 6 bulan
dari kehidupannya, pemberian ASI harus diteruskan sambil ditambahkan dengan
makanan lain (proses menyapih). ASI mempunyai khasiat preventif secara imunologik
dengan adanya antibody dan zat-zat lain yang dikandungnya, ASI turut memberikan
perlindungan terhadap diare. Pada bayi yang baru lahir, pemberian ASI secara penuh
mempunyai daya lindung 4x lebih besar terhadap diare daripada pemberian ASI yang
disertai dengan susu botol.
2. Makanan pendamping ASI
Pemberian makanan pendamping ASI adalah saat bayi secara bertahap mulai
dibiasakan dengan makanan orang dewasa. Menurut Supariasa dkk (2002) bahwa pda
masa tersebut merupakan masa yang berbahaya bagi bayi sebab perilaku pemberian
makanan pendamping ASI dapat menyebabkan meningkatnya resiko terjadinya diare
ataupun penyakit lain yang menyebabkan kematian. Perilaku pemberian makanan
pendamping ASI yang baik meliputi perhatian terhadap kapan, apa, dan bagaimana
makanan pendamping ASI diberikan. Untuk itu menurut Shulman dkk (2004) bahwa
ada beberapa saran yang dapat meningkatkan cara pemberian makanan pendamping
ASI yang lebih baik, yaitu (1) perkenalkan makanan lunak, ketika anak berumur 4-6
bulan tetapi teruskan pemberian ASI. Tambahkan macam makanan sewaktu anak
berumur 6 bulan atau lebih. Berikan makanan lebih sering (4x sehari), setelah anak
berumur 1 tahun, berikan semua makanan yang dimasak dengan baik, 4 - 6x sehari,
teruskan pemberian ASI bila mungkin. (2) Tambahkan minyak, lemak, gula, kedalam
nasi/bubur dan biji-bijian untuk energy. Tambahkan hasil olahan susu, telur, ikan,
daging, kacang-kacangan, buah-buahan dan sayuran berwarna hijau kedalam

10
makanannya. (3) Cuci tangan sebelum menyiapkan makanan dan menyuapi anak,
suapi anak dengan sendok yang bersih. (4) Masak atau rebus makanan dengan benar,
simpan sisanya pada tempat yang dingin dan panaskan dengan benar sebelum
diberikan kepada anak.
3. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
Menurut Departemen Kesehatan RI (2002) bahwa untuk melakukan pola perilaku
hidup bersih dan sehat dilakukan beberapa penilaian antara lain adalah (1)
penimbangan balita. Apabila ada balita pertanyaannya adalah apakah sudah ditimbang
secara teratur keposyandu minimal 8 kali setahun, (2) Gizi, anggota keluarga makan
dengan gizi seimbang, (3) Air bersih, keluarga menggunakan air bersih (PAM, sumur)
untuk keperluan sehari-hari, (4) Jamban keluarga, keluarga buang air besar
dijamban/WC yang memenuhi syarat kesehatan, (5) Air yang diminum dimasak
terlebih dahulu, (6) Mandi menggunakan sabun mandi, (7) Selalu cuci tangan sebelum
makan dengan menggunakan sabun, (8) Pencucian peralatan menggunakan sabun, (9)
Limbah, (10) Terhadap faktor bibit penyakit yaitu (a) Membrantas sumber penularan
penyakit, baik dengan mengobati penderita maupun carrier atau dengan meniadakan
reservoir penyakit, (b) Mencegah terjadinya penyebaran kuman, baik ditempat umum
maupun dilingkungan rumah, (c) Meningkatkan taraf hidup rakyat, sehingga dapat
memperbaiki dan memelihara kesehatan, (d) Terhadap faktor lingkungan, mengubah
atau mempengaruhi faktor lingkungan hidup sehingga faktor-faktor yang tidak baik
dapat diawasi sedemikian rupa sehingga tidak membahayakan kesehatan manusia.12

2.1.8 Penatalaksanaan
Ada beberapa prinsip penatalaksanaan penderita diare, yaitu:
1. Mencegah terjadinya dehidrasi dengan banyak minum, menggunakan cairan rumah
tangga yang dianjurkan misalnya kuah tajin, air sup, kuah sayur.
2. Mengobati dehidrasi ringan dan sedang dengan pemberian oralit. Apabila terdapat
dehidrasi berat maka sebaiknya dirujuk ke Rumah Sakit.
3. Mempercepat kesembuhan dengan memberikan Zinc selama sepuluh hari berturut -
turut

11
4. Tetap memberi makanan sebagai sumber gizi. Cairan dan makanan yang diberikan
sesuai anjuran seperti ASI, susu formula, anak usia 6 bulan atau lebih makanan mudah
dicerna sedikit-sedikit tapi sering.
5. Mengobati masalah lain. Sesuai indikasi utamakan rehidrasi.
Penanggulangan kekurangan cairan merupakan tindakan pertama dalam mengatasi
pasien diare. Hal sederhana seperti meminumkan banyak air putih atau oral rehidration
solution (ORS) seperti oralit harus cepat dilakukan. Pemberian ini segera apabila gejala diare
sudah mulai timbul dan kita dapat melakukannya sendiri di rumah. Kesalahan yang sering
terjadi adalah pemberian ORS baru dilakukan setelah gejala dehidrasi nampak.
Pada penderita diare yang disertai muntah, pemberian larutan elektrolit secara
intravena merupakan pilihan utama untuk mengganti cairan tubuh, atau dengan kata lain perlu
diinfus. Masalah dapat timbul karena ada sebagian masyarakat yang enggan untuk merawat-
inapkan penderita, dengan berbagai alasan, mulai dari biaya, kesulitan dalam menjaga, takut
bertambah parah setelah masuk rumah sakit, dan lain-lain. Pertimbangan yang banyak ini
menyebabkan respon time untuk mengatasi masalah diare semakin lama, dan semakin cepat
penurunan kondisi pasien kearah yang fatal.
Diare karena virus biasanya tidak memerlukan pengobatan lain selain ORS. Apabila
kondisi stabil, maka pasien dapat sembuh sebab infeksi virus penyebab diare dapat diatasi
sendiri oleh tubuh (self-limited disease).
Diare karena infeksi bakteri dan parasit seperti Salmonella sp, Giardia lamblia,
Entamoeba coli perlu mendapatkan terapi antibiotik yang rasional, artinya antibiotik yang
diberikan dapat membasmi kuman. Oleh karena penyebab diare terbanyak adalah virus yang
tidak memerlukan antibiotik, maka pengenalan gejala dan pemeriksaan laboratorius perlu
dilakukan untuk menentukan penyebab pasti. Pada kasus diare akut dan parah, pengobatan
suportif didahulukan dan terkadang tidak membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut kalau
kondisi sudah membaik.
Dalam penatalaksanaan diare, juga sangat bergantung pada derajat dehidrasi diare
yang diderita oleh penderita. Maka dari itu perlu untuk mengetahui derajat dehidrasi terlebih
dahulu sebelum memberikan terapi.

12
2.1. Tabel Penilaian Derajat Dehidrasi

Rencana pengobatan diare dibagi menjadi 3 bagian berdasarkan derajat dehidrasi yang
dialami penderita.
a. Rencana Terapi A, jika penderita diare tidak mengalami dehidrasi yaitu diare yang jika
terjadi dan melibatkan dua atau lebih tanda berikut yaitu: Keadaan umum baik, sadar,
mata tidak cekung, minum biasa,tidak haus dan cubitan kulit perut/turgor kembali
segera.
b. Rencana Terapi B, jika penderita mengalami dehidrasi ringan – sedang yaitu diare
yang terjadi dan melibatkan dua atau lebih tanda di bawah ini yaitu: Gelisah dan rewel,
mata cekung, ingin minum terus, ada rasa haus dan cubitan kulit perut/turgor kembali
lambat.
c. Rencana Terapi C, jika penderita diare mengalami dehidrasi berat yaitu diare yang
terjadi dan melibatkan dua atau lebih tanda di bawah ini yaitu: Lesu dan lunglai/tidak

13
sadar, mata cekung, malas minum dan cubitan kulit perut/turgor kembali sangat lambat
> 2 detik.13

RENCANA TERAPI A

UNTUK TERAPI DIARE TANPA DEHIDRASI


MENERANGKAN 5 LANGKAH TERAPI DIARE DI RUMAH

1 BERI CAIRAN LEBIH BANYAK DARI BIASANYA


a. Teruskan ASI lebih sering dan lebih lama
b. Anak yang mendapat ASI ekslusif, beri ORALIT atau air matang sebagai
tambahan
c. Anak yang tidak mendapat ASI ekslusif, beri susu yang biasa diminum
dan ORALIT atau cairan rumah tangga sebagai tambahan (kuah sayur, air
tajin, air matang dsb)
d. Beri ORALIT sampai diare berhenti.
Bila muntah tunggu 30 menit dan lanjutkan sedikit demi sedikit
- Umur <1 tahun diberi 50-100 ml setiap kali berak
- Umur >1 tahun diberi 100-200 ml setiap kali berak
e. Anak harus diberi 6 bungkus ORALIT (200ml) di rumah bila:
- Telah diobati dengan rencana terapi B atau C

14
- Tidak dapat kembali kepada petugas kesehatan jika direnya
memburuk
f. Ajari ibu cara mencampur dan memberikan ORALIT
2 BERI OBAT ZINC
Beri ZINC 10 hari berturut-turut walaupun diare sudah berhenti.
Dapat diberikan dengan cara dikunyah atau dilarutkan dalam satu sendok air
matang atau ASI
a. Umur < 6 bulan diberi 10mg (1/2 tablet) perhari
b Umur > 6 bulan diberi 20 mg (1tablet) perhari
3 BERI ANAK MAKANAN UNTUK MENCEGAH KURANG GIZI
a. Beri makanan sesuai umur anak dengan menu yang sama waktu anak sehat
b. Tambahkan 1 - 2 sendok the minyak sayur setiap porsi makan
c. Beri makanan kaya kalsium seperti buah segar, pisang, air kelapa muda
d. Beri makan lebih sering dari biasanya dengan porsi lebih kecil setiap hari
(setiap 3 - 4 jam)
e. Setelah diare berhenti beri makanan yang sama dan makanan tambahan
selama 2 minggu
4 BERI ANTIBIOTIK SELEKTIF
Antibiotik hanya diberikan pada diare berdarah dan kolera
5 NASIHAT IBU/PENGASUH
Untuk membewa anak kembali ke petugas kesehatan bila:
a. Berak cair lebih sering
b. Muntah berulang
c. Sangat haus
d. Makan dan minum sangat sedikit
e. Timbul demam
f. Berak berdarah
g. Tidak membaik dalam 3 hari

RENCANA TERAPI B
UNTUK TERAPI DIARE DEHIDRASI RINGAN/BERAT

JUMLAH OBAT YANG DIBERIKAN DALAM 3 JAM PERTAMA DI


SARANA KESEHATAN
ORALIT yang diberikan = 75 ml x BERAT BADAN anak
a. Bila BB tidak diketahui berikan ORALIT sesuai tabel dibawah ini:
Umur <4 bulan 4-12 bulan 12-24 bulan 2-5 tahun
Berat Badan <5 kg 5-10 kg 10-12 kg 12-19 kg
Jumlah cairan 200-400 400-700 700-900 900-1400
b. Bila anak menginginkan lebih banyak ORALIT, berikan
c. Bujuk ibu untuk meneruskan ASI
d. Untuk bayi <6 bulan, tunda pemberian makanan selama 3 jam kecuali ASI dan
ORALIT
e. Beri obat ZINC selama 10 hari berturut – turut
AMATI ANAK DENGAN SEKSAMA DAN BANTU IBU MEMBERIKAN ORALIT

15
a. Tunjukkan jumlah cairan yang harus diberikan
b. Berikan sedikit demi sedikit tapi sering dari gelas
c. Periksa dari waktu ke waktu bila ada masalah
d. Bila kelopak mata anak bengkak, hentikan pemberian ORALIT dan berikann anak air
masak atau ASI
e. Beri ORALIT sesuai Rencana Terapi A bila pembengkakan telah hilang
SETELAH 3 - 4 JAM, NILAI KEMBALI ANAK MENGGUNAKAN BAGAN
PENILAIAN, KEMUDIAN PILIH RENCANA TERAPI A,B ATAU C UNTUK
MELANJUTKAN TERAPI
a. Bila tidak ada dehidrasi, ganti ke Rencana Terapi A.
Bila dehidrasi telah hilang, anak biasanya kencing kemudian mengantuk dan tidur
b. Bila tanda menunjukkan dehidrasi ringan/sedang, ulangi Rencana Terapi B
c. Anak mulai diberi makanan, susu dan sari buah
d. Bila tanda menunjukkan dehidrasi berat, ganti dengan Rencana Terapi C
BILA IBU HARUS PULANG SEBELUM SELESAI RENCANA TERAPI B
a. Tunjukkan jumlah ORALIT yang harus dihabiskan dalam terapi 3 jam di rumah
b. Berikan ORALIT 6 bungkus untuk persediaan di rumah
c. Jelaskan 5 langkah Rencana Terapi A untuk mengobati anak di rumah

RENCANA TERAPI C
UNTUK TERAPI DIARE DEHIDRASI BERAT DI SARANA KESEHATAN

16
2.1.9 Komplikasi
Sebagai akibat kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak, dapat terjadi
berbagai macam komplikasi seperti:
a. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonic atau hipertonik).

17
b. Renjatan hipovolemik
c. Hypokalemia (dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah, bradikardia,
perubahan pada elektrokardiogram).
d. Hipoglikemia.
e. Intoleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim lactase karena kerusakan
vili mukosa usus halus.
f. Kejang, terutama pada dehidrasi hipertonik.
g. Malnutrisi energi protein, karena selain diare dan muntah penderita juga mengalami
kelaparan.

2.2 Pengetahuan
2.2.1 Definisi Pengetahuan
Dalam Kamus Besar bahasa Indonesia (2002), disebutkan bahwa istilah pengetahuan
berasal dari kata dasar “tahu” yaitu paham, maklum, mengerti. Selanjutnya Notoatmodjo
(2005), mengatakan bahwa pengetahuan adalah hasil tahu dari manusia yang hanya menjawab
“apa”misalnya apa itu air, apa itu manusia dan sebagainya. Tafsir (2008), mengatakan bahwa
pengetahuan adalah semua yang diketahui. Dari segi motif pengetahuan dapat diperoleh
melalui dua cara yaitu pengetahuan diperoleh begitu saja, tanpa niat, tanpa motif, tanpa
keingintahuan, dan tanpa usaha serta pengetahuan diperoleh karena diusahakan, biasanya
karena belajar.14

2.2.2 Tingkat Pengetahuan


Pengetahuan yang dicakup didalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan yaitu:
a. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk
kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali terhadap suatu yang
spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh
karena itu, tahu ini merupakan tingkatan pengetahuan terendah.
b. Memahami (comprehension)

18
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar objek
yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi secara benar. Pada tingkatan ini
orang telah dapat menjelaskan, menyimpulkan, memberikan contoh, dll.
c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya.
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau subjek kedalam
komponen-komponen, tetapi masih didalam suatu struktur organisasi dan masih ada
kaitannya satu sama lain.
e. Sintesis (syntesis)
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian didalam suatu kemampuan untuk menyusun formulasi
baru dari formulasi-formulasi yang ada.
f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian
terhadap suatu objek atau materi. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria
yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.15

2.2.3 Faktor-faktor yang Memengaruhi Pengetahuan


Menurut Notoatmodjo, pengetahuan seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor,
yaitu :
a. Pengalaman
Pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman sendiri maupun orang lain. Pengalaman
yang sudah diperoleh dapat memperluas pengetahuan seseorang.

b. Tingkat Pendidikan

19
Pendidikan dapat membawa wawasan atau pengetahuan seseorang. Secara umum,
seseorang yang berpendidikan lebih tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih
luas dibandingkan dengan seseorang yang tingkat pendidikannya lebih rendah.
c. Keyakinan
Biasanya keyakinan diperoleh secara turun temurun dan tanpa adanya pembuktian
terlebih dahulu. Keyakinan ini bisa mempengaruh pengetahuan seseorang, baik
keyakinan itu sifatnya positif maupun negatif.
d. Fasilitas
Fasilitas-fasilitas sebagai sumber informasi yang dapat mempengaruhi pengetahuan
seseorang, misalnya radio, televisi, majalah, koran, dan buku.
e. Penghasilan
Penghasilan tidak berpengaruh langsung terhadap pengetahuan seseorang. Namun bila
seseorang berpenghasilan cukup besar maka dia akan mampu untuk menyediakan atau
membeli fasilitas-fasilitas sumber informasi.
f. Sosial Budaya
Kebudayaan setempat dan kebiasaan dalam keluarga dapat memengaruhi pengetahuan,
persepsi, dan sikap seseorang terhadap sesuatu.15

2.3 Sikap
Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu
stimulus atau objek yang tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih
dahulu. Seorang ahli psikologi sosial Newcomb menyatakan bahwa sikap itu merupakan
kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan dari motif
tertentu.
Sikap terdiri dari beberapa tingkatan, yaitu:
a. Menerima (Receiving), diartikan bahwa orang (subjek) mau memperhatikan stimulus
yang diberikan (objek).
b. Merespon (Responding), memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan
menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap yang berarti orang
(subjek) menerima ide tersebut.

20
c. Menghargai (Valuiting), indikasinya adalah adanya ajakan kepada orang lain untuk
mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah.
d. Bertanggung jawab (Responsible), bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah
dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi.
Notoadmodjo menemukan sikap dalam bersifat positif dan dapat bersifat negatif. Pada
sikap positif kecendrungan tindakan adalah mendekati, menyenangi, mengharapkan objek
tertentu. Sedangkan sikap negatif terdapat sikap menjauhi, menghindari, membenci tidak
menyukai objek tertentu.
Sikap tersebut mempunyai 3 komponen yaitu :
1. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep suatu objek,
2. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek,
3. Kecendrungan untuk bertindak. 14,15

2.4 Tindakan
Suatu sikap secara otomatis terwujud dalam suatu tindakan tetapi diperlukan faktor
pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan seperti fasilitas. Tingkat-tingkat tindakan
antara lain:
a. Persepsi (Perception), yakni mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan
dengan tindakan yang akan diambil.
b. Respon terpimpin (Guided Respon), yakni melakukan sesuatu sesuai dengan urutan
yang benar.
c. Mekanisme (Mecanism), yakni apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu
dengan benar secara otomatis ataupun sesuatu itu sudah menjadi kebiasaan.
d. Adaptasi (Adaption), yakni suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang
dengan baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasinya sendiri tanpa mengurangi
kebenaran tindakannya tersebut . 14,15

BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINSI OPERASIONAL

21
3.1 Kerangka Konsep
Berdasarkan tujuan penelitian diatas, maka dapat dibuat kerangka konsep penelitian
sebagai berikut :

Karakteristik Ibu :
 Usia Ibu Tingkat Pengetahuan, Sikap dan
Tindakan Ibu Terhadap
 Pendidikan Ibu Penatalaksanaan Diare Pada Anak
 Pekerjaan Ibu
Bagan 3.1. Kerangka Konsep Penelitian
 Pendapatan Keluarga

3.2 Definisi Operasional


Di bawah ini akan dijelaskan definisi operasional dari penelitian ini :
a. Ibu
Ibu adalah seorang wanita, yang telah menikah dan memiliki anak yang tinggal
bersama-sama dalam satu keluarga.
b. Anak
Anak adalah seorang anak lelaki atau perempuan yang berusia 0-14 tahun.
c. Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan adalah jenjang pendidikan formal terakhir yang telah diselesaikan
responden (ibu) saat dilakukan wawancara. Pada penelitian ini tingkat pendidikan
responden ditentukan berdasarkan pendidikan terakhir yang pernah diselesaikan
responden. Tingkat pendidikan dikategorikan sebagai berikut:
a) Pendidikan rendah, yaitu ibu yang tamat SD/SMP/ sederajat.
b) Pendidikan menengah, yaitu ibu yang tamat SMA/ sederajat.
c) Pendidikan tinggi, yaitu ibu yang tamat Perguruan Tinggi/ sederajat.

d. Usia Ibu
Usia adalah lamanya waktu hidup responden (ibu) yang dihitung sejak lahir hingga
ulang tahun terakhir saat dilakukan wawancara. Pada penelitian ini, usia dikategorikan
dengan skala ordinal, yaitu:
a) 15-24 tahun

22
b) 25-34 tahun
c) 35-49 tahun
e. Pekerjaan
Pekerjaan adalah aktivitas utama yang dilakukan sehari-sehari oleh ibu. Pada
penelitian ini, pekerjaan dikategorikan sebagai berikut :
a) Pegawai Negeri Sipil (PNS)
b) Karyawan/ Wiraswasta
c) Petani
d) Ibu Rumah Tangga
e) Lain-lain.
f. Status Ekonomi
Status ekonomi adalah jumlah penghasilan tertinggi yang diperoleh keluarga dalam
satu bulan. Pada penelitian ini, status ekonomi dikategorikan sebagai berikut:
a) Status ekonomi rendah apabila jumlah penghasilan di bawah UMR yaitu
˂ Rp. 1.000.000 per bulan.
b) Status ekonomi menengah apabila jumlah penghasilan ˂ Rp. 1.000.000 sampai
dengan Rp. 2.500.000 per bulan.
c) Status ekonomi menengah ke atas apabila jumlah penghasilan ˃ Rp. 2.500.000 per
bulan.
g. Pengetahuan
Pengetahuan adalah segala informasi yang diketahui (hasil tahu) oleh ibu tentang diare
dan cara–cara penanganan diare.
h. Sikap
Sikap adalah sejauh mana ibu setuju untuk menerapkan pengetahuan yang dimilikinya
mengenai penanganan diare.

i. Tindakan
Tindakan adalah sejauh mana upaya ibu menerapkan penanganan diare pada anak
berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya.

23
BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian

24
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional, yang
bertujuan untuk menggambarkan pengetahuan, sikap dan tindakan ibu terhadap penanganan
diare pada anak di Desa Alur Cempedak Kecamatan Pangkalan Susu. Penelitian ini disajikan
dalam bentuk distribusi frekuensi terhadap variabel yang diteliti yaitu variabel pengetahuan,
variabel sikap dan variabel tindakan.

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di Desa Alur Cimpedak Kecamatan Pangkalan Susu pada
bulan Agustus - September tahun 2017.

4.3 Populasi dan Sampel


4.3.1 Populasi Penelitian
Populasi penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak berusia 0-14 tahun yang
berdomisili di Desa Alur Cimpedak Kecamatan Pangkalan Susu.

4.3.2 Sampel Penelitian


Sampel penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak berusia 0-14 tahun yang
berdomisili di Desa Alur Cimpedak. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara convenient
sampling atau accidental sampling. Pemilihan sampel yang akan menjadi peserta penelitian
dilakukan secara subjektif oleh peneliti berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi dan jumlah
sampel bergantung seberapa banyak sampel dan memenuhi kriteria dalam kurun waktu
penelitian yang telah ditetapkan.
Kriteria inklusi :
1. Berdomisili di Desa Alur Cimpedak
2. Ibu berumur dibawah 50 tahun
3. Ibu yang memiliki anak usia 0 -14 tahun

Kriteria eksklusi :
1. Ibu tidak bersedia menjadi responden
2. Tidak berdomisili di Desa Alur Cimpedak

25
4.4 Metode Pengumpulan Data
Data diperoleh dari data primer melalui wawancara yang dilakukan peneliti kepada ibu
dengan bantuan kueisioner yang berisi pertanyaan tertulis tentang pengetahuan, sikap dan
tindakan ibu terhadap penanganan diare pada anak

4.5 Metode Pengukuran


4.5.1 Pengetahuan
Pengukuran tingkat pengetahuan ibu dilakukan dengan cara wawancara dan
menggunakan alat ukur berupa kuisioner. Kuisioner terdiri dari 10 pertanyaan. Ketentuan nilai
adalah bila jawaban “Benar” diberi skor 1 dan bila jawaban Salah” diberi skor 0 sehingga
jumlah skor maksimal yang dapat diperoleh adalah 10 sedangkan jumlah skor minimal yang
dapat diperoleh adalah 0.
Pada penelitain ini, tingkat pengetahuan dikategorikan dengan skala ordinal sesuai
dengan klasifikasi yang dibuat oleh Pratomo (1990), yaitu :
1. Pengetahuan baik, jika total skor yang diperoleh ibu berada diantara 76%-100% (total
skor : 8 - 10)
2. Pengetahuan sedang, jika total skor yang diperoleh ibu berada diantara 40%-75% (total
skor : 4 - 7)
3. Pengetahuan kurang, jika total skor yang diperoleh ibu < 40% (total skor: 0-3).

4.5.2 Sikap
Pengukuran tingkat sikap ibu dilakukan dengan cara wawancara dan menggunakan
alat ukur berupa kuisioner. Kuisioner terdiri dari 6 pertanyaan. Ketentuan nilai adalah bila
jawaban benar diberi skor 1 dan bila jawaban salah diberi skor 0 sehingga jumlah skor
maksimal yang dapat diperoleh adalah 6 sedangkan jumlah skor minimal yang dapat diperoleh
adalah 0.

Pada penelitain ini, tingkat sikap dikategorikan dengan skala ordinal sesuai dengan
klasifikasi yang dibuat oleh Pratomo (1990), yaitu :
1. Sikap baik, jika total skor yang diperoleh ibu berada diantara 76%-100% (total skor :
5-6)

26
2. Sikap sedang, jika total skor yang diperoleh ibu berada diantara 40%-75%
(total skor :3-4)
3. Sikap kurang, jika total skor yang diperoleh ibu < 40% (total skor : 0-2).

4.5.3 Tindakan
Pengukuran tingkat tindakan ibu dilakukan dengan cara wawancara dan menggunakan
alat ukur berupa kuisioner. Kuisioner terdiri dari 6 pertanyaan. Ketentuan nilai adalah bila
jawaban “Ya” diberi skor 1 dan bila jawaban “Tidak” diberi skor 0 sehingga jumlah skor
maksimal yang dapat diperoleh adalah 6 sedangkan jumlah skor minimal yang dapat diperoleh
adalah 0.
Pada penelitain ini, tingkat tindakan dikategorikan dengan skala ordinal sesuai dengan
klasifikasi yang dibuat oleh Pratomo (1990), yaitu :
1. Tindakan baik, jika total skor yang diperoleh ibu berada diantara 76%-100% (total
skor : 5-6)
2. Tindakan sedang, jika total skor yang diperoleh ibu berada diantara 40%-75% (total
skor : 3-4)
3. Tindakan kurang, jika total skor yang diperoleh ibu < 40% (total skor : 0-2).

BAB V
HASIL PENELITIAN

5.1 Gambaran Umum Wilayah Puskesmas Pangkalan Susu

27
A. Latar Belakang
Pembangunan bidang kesehatan merupakan bagian penting dari pembangunan
nasional yang secara keseluruhannya perlu ditingkatkan.Hal ini telah digariskan dalam sistem
kesehatan nasional, bahwa tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan
hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang
optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan pembangunan nasional.
Selanjutnya pembangunan bidang kesehatan mempunyai arti yang penting dalam
kehidupan nasional, khususnya didalam memelihara dan meningkatkan kesehatan. Upaya
meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas, diantaranya
meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan dasar. Disini peran Puskesmas dan
jaringannya sebagi institusi yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan di jenjang pertama
yang terlibat langsung dengan masyarakat menjadi sangat penting.Puskesmas bertanggung
jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya yaitu meningkatkan
kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi orang yang bertempat tinggal di
wilayah kerjanya agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.Dengan demikian,
akses terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas dapat ditingkatkan melalui peningkatan
kinerja Puskesmas.
Visi dan misi Puskesmas Pangkalan Susu adalah sebagai berikut:
1. Visi Puskesmas Pangkalan Susu
“Tercapainya Kecamatan Sehat Menuju Terwujudnya Indonesia Sehat”.
2. Misi Puskesmas Pangkalan Susu
 Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah Kecamatan
Pangkalan Susu
 Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di wilayah
kerjanya.
 Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan
kesehatan.
 Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat
beserta lingkungannya.

B. Data Demografi

28
Wilayah Kerja Puskesmas Pangkalan Susu terletak di Kecamatan Pangkalan Susu,
terletak di antara :
- Lintang Utara : 04o16’06’’ dan 04o03’11’’
- Bujur Timur : 98o17’06’’ dan 98o03’10’’
Dengan batas-batas wilayah kerja Puskesmas Pangkalan Susu sebagai berikut:
- Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Malaka.
- Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Sei Siur.
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Paya Tampak.
- Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Pematang Jaya.
Luas wilayah kerja Puskesmas Pangkalan Susu adalah 112,38 Km2 yang secara
topografi dapat dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu wilayah daratan dan pulau. Secara
administrasi Wilayah Kerja Puskesmas Pangkalan Susu terdiri dari 1 Kelurahan dan 5 Desa
dan 41 Dusun / Lingkungan.

C. Data Tenaga Kesehatan


No Jenis Tenaga Jumlah
1. Dokter umum 2 Dokter
2. Dokter gigi 1 Dokter Gigi
3. Perawat 8 Perawat
4. Perawat Gigi 1 Perawat Gigi
5. Bidan 14 Bidan
6. Tenaga Kefarmasian 1 Tenaga Kefarmasian
7. Analis laboratorium 1 Analis
8. Tenaga Gizi 1 Petugas
Jumlah 29 orang

5.2 Hasil Penelitian


Dari data sekunder yang telah dikumpulkan dan diolah, maka hasil yang diperoleh
dapat dilihat sebagai berikut :

5.2.1 Deskripsi Karakteristik Responden


Penelitian ini dilakukan pada 30 orang responden yang merupakan ibu yang memiliki
anak usia 0-14 tahun di Desa Alur Cimpedak. Karakteristik yang diamati terhadap responden
adalah usia ibu, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan status sosial ekonomi.

29
1. Usia Ibu
Tabel 5.1. Distribusi Responden Berdasarkan Usia Ibu

Nomor Usia Ibu f %

1 15-24 0 16

2 25-34 12 40

3 35-49 18 60

Total 30 100

Dari Tabel 5.1 dapat dilihat bahwa responden mayoritas berasal dari kelompok umur 35-
49 tahun yaitu sebanyak 18 orang (60%), diikuti kelompok umur 25-34 tahun yaitu sebanyak
12 orang (40%), dan kelompok umur 15-24 tahun tidak ada (0%).

2. Tingkat Pendidikan Ibu


Tabel 5.2. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Ibu

Nomor Pendidikan Ibu f %

1 Tidak sekolah/SD/SMP 17 57
2 SMA 12 40
3 Perguruan Tinggi 1 3
Total 30 100

Dari Tabel 5.2 dapat dilihat bahwa responden dengan tingkat pendidikan rendah yaitu
sebanyak 17 orang (57%), responden dengan tingkat pendidikan menengah yaitu sebanyak 12
orang (40%), dan responden dengan tingkat pendidikan tinggi sebanyak 1 orang (3%).
3. Pekerjaan Ibu
Tabel 5.3 Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan Ibu

Nomor Pekerjaan Ibu f %

1 PNS 0 0
2 Karyawan/ Wiraswasta 1 3
3 Petani 0 0

30
4 Ibu Rumah Tangga 29 97

Total 30 100

Dari Tabel 5.3. dapat dilihat bahwa responden yang berprofesi sebagai PNS tidak ada
(0%), responden yang berprofesi sebagai karyawan/wiraswasta sebanyak 1 orang (3%),
responden yang berprofesi sebagai petani tidak ada (0%), dan mayoritas responden adalah
seorang ibu rumah tangga yaitu sebanyak 29 orang (97%).

4. Status Ekonomi Keluarga


Tabel 5.4. Distribusi Responden Berdasarkan Status Ekonomi

Nomor Status Ekonomi F %

1 Rendah 29 97
2 Menengah 1 3
3 Menengah keatas 0 0
Total 30 100

Dari Tabel 5.4. dapat dilihat bahwa mayoritas responden mempunyai status ekonomi
keluarga rendah yaitu sebanyak 29 orang (97%), sebanyak 1 orang (3%) mempunyai status
ekonomi keluarga menengah, dan tidak ada responden mempunyai status ekonomi keluarga
menengah ke atas.
5.3 Hasil Utama Penelitian
Data lengkap distribusi frekuensi dan persentase jawaban responden untuk setiap
pertanyaan mengenai pengetahuan, sikap, dan tindakan ibu terhadap penanganan diare pada
anak terdapat pada tabel berikut.

5.3.1 Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Terhadap Penanganan Diare Pada Anak
Berdasarkan tabel dibawah dapat dilihat bahwa, mayoritas responden yaitu sebanyak
20 orang (67%) memiliki gambaran tingkat pengetahuan terhadap penanganan diare anak
dalam kategori baik, sedangkan hanya 7 orang (23%) yang memiliki tingkat pengetahuan
terhadap penanganan diare anak yang sedang dan 3 orang (10%) memiliki tingkat
pengetahuan kurang.
No. Pengetahuan Ibu Frekuensi (n) Persentase (%)

31
1. Baik 20 67
2. Sedang 7 23
3. Kurang 3 10
Total 30 100
Tabel 5.5. Distribusi Tingkat Pengetahuan Responden Terhadap Penanganan Diare Anak

5.3.2 Gambaran Sikap Ibu Terhadap Penanganan Diare Pada Anak


Berdasarkan tabel dibawah dapat dilihat bahwa, sebanyak 26 responden (87%) memiliki
gambaran sikap terhadap penanganan diare anak dalam kategori baik, sedangkan sebanyak 4
responden (13%) memiliki gambaran sikap terhadap penanganan diare anak dalam kategori sedang,
dan hanya tidak ada responden dalam kategori kurang.
No. Sikap Ibu Frekuensi (n) Persentase (%)
1. Baik 26 87
2. Sedang 4 13
3. Kurang 0 0
Total 30 100
Tabel 5.6. Distribusi Gambaran Sikap Responden Terhadap Penanganan Diare Anak

5.3.3 Gambaran Tindakan Ibu Terhadap Penanganan Diare Pada Anak


Berdasarkan tabel dibawah dapat dilihat bahwa, sebanyak 15 responden (50%) memiliki
gambaran tindakan ibu terhadap penanganan diare anak dalam kategori sedang, sedangkan sebanyak
12 responden (40%) memiliki gambaran tindakan ibu terhadap penanganan diare anak dalam kategori
baik, dan hanya 3 responden (10%) yang memiliki gambaran tindakan ibu terhadap penanganan diare
anak dalam kategori kurang.
No. Tindakan Ibu Frekuensi (n) Persentase (%)
1. Baik 12 40
2. Sedang 15 50
3. Kurang 3 10
Total 30 100
Tabel 5.6. Distribusi Gambaran Tindakan Responden Terhadap Penanganan Diare Anak

32
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
Dari uraian-uraian yang telah dipaparkan sebelumnya, maka dalam penelitian ini dapat
diambil beberapa kesimpulan, yaitu:
a. Gambaran tingkat pengetahuan ibu tentang penanganan diare pada anak di Desa Alur
Cimpedak didominasi tingkat pengetahuan baik yaitu sebanyak 20 responden (67%).
b. Gambaran sikap ibu tentang penanganan diare pada anak di Desa Alur Cimpedak
didominasi tingkat sikap baik yaitu sebanyak 26 responden (87%).
c. Gambaran tindakan ibu tentang penanganan diare pada anak di Desa Alur Cimpedak
didominasi tingkat tindakan sedang yaitu sebanyak 15 responden (50%).

6.2. Saran
Beberapa saran yang mungkin dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berperan
dalam penelitian ini adalah:

33
a. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi instansi pemerintah,
terutama dalam bidang kesehatan, dalam membuat kebijakan mengenai penyuluhan
tentang diare dan penatalaksanaannya.
b. Diperlukan upaya promotif berupa penyuluhan kepada ibu yang berhubungan dengan
masalah diare pada anak secara merata dan memadai ke setiap desa/ kelurahan agar
menambah wawasan mengenai diare.
c. Diharapkan adanya sosialisasi kepada para tenaga kesehatan khususnya di puskesmas
Pangkalan Susu sendiri dalam rangka meningkatkan kualitas kesehatan agar nantinya
dapat disampaikan pada saat posyandu sehingga dapat dilakukan edukasi yang lebih
efektif mengenai diare terutama dalam hal penatalaksanaannya.
d. Bagi peneliti lain yang ingin meneliti dengan topik yang sama, perlu penelitian
lanjutan dengan memasukkan kemungkinan faktor lain yang lebih berpengaruh, dan
pada populasi yang lebih besar.

DAFTAR PUSTAKA

1. Pickering LK and Snyder JD. Gastroenteritis in Nelson Textbook of Pediatric , 17


Edition. 2003. page1272-1276
2. Staf pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK UI. Gastroenterologi. Bagian Ilmu Kesehatan
Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.1998. hal 283-293.
3. Standar Penatalaksanaan Ilmu Kesehatan Anak. RSMH. 2006
4. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Apa yang Perlu Diketahui dari Diare Pada Anak. No.38
Tahun XXV. 2005
5. Anonim. Diagnosis Diare dan Klasifikasi Dehidrasi. Available at
http://www.medicastore.com/med/index
6. Anonim. Diare Penyebab Utama Kematian Balita : 2009 [dikutip 2010 Jul 21];
Tersedia di http://www.infeksi.com/articles.php?lng=in&pg=1410
7. Depkes RI. 2001. Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare. Dirjen PPM dan PLP.
Jakarta

34
8. Suharyono. 2008. Diare Akut, Klinik dan Laboratorik Cetakan Kedua. Rineka Cipta.
Jakarta
9. Dewi R., dkk. 2006. Faktor Resiko Kejadian Diare Akut pada Balita di Kabupaten
Kulon Progo. http://www.dinkeskulonprogo.go.id
10. Mansjoer A., 2009. Dalam: Sudoyo, Aru W., dkk ,2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Edisi Kelima, Cetakan Kedua, Interna Publishing, Jakarta.
11. Junaidi, Purnama, dkk. 2002. Kapita selekta Kedokteran Edisi 2. Media Aesculapius.
Jakarta.
12. Widoyono. 2008. Penyakit Tropis-Epidemiologi, Penularan, Pencegahan, dan
Pemberantasannya. Penerbit Erlangga. Jakarta
13. Departemen Kesehatan RI.2011.Buku Saku Petugas Kesehatan Lintas Diare. Dirjen
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Jakarta
14. Notoadmodjo, S., 2003. Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Penerbit
Rineka Cipta.
15. Notoatmodjo, S., 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
LAMPIRAN 1

KUESIONER PENGETAHUAN, SIKAP, DAN TINDAKAN IBU


TERHADAP PENATALAKSANAAN DIARE PADA ANAK
DI DESA ALUR CIMPEDAK KECAMATAN
PANGKALAN SUSU TAHUN 2017

DATA DIRI
1. NAMA IBU :
2. USIA IBU :
3. PENDIDIKAN IBU : TIDAK SEKOLAH / SD/ SMP / SMA / PERGURUAN
TINGGI
4. PEKERJAAN IBU : PNS / WIRASWASTA / PETANI / IBU RUMAH TANGGA /
LAINNYA (SEBUTKAN ).....................................................
5. PENGHASILAN KELUARGA PERBULAN : < 1.000.000 / 1.000.000- 2.500.000 / >
2.500.000

A. PENGETAHUAN
Jawablah dengan melingkari pilihan BENAR atau SALAH

35
1. BAB encer lebih dari 3 kali dalam sehari merupakan pengertian dari penyakit diare
BENAR SALAH

2. Penyebab diare pada anak paling sering adalah infeksi virus dan bakteri.
BENAR SALAH

3. Salah satu penyebab diare adalah makanan dan minuman yang tidak bersih
BENAR SALAH

4. Mencuci tangan dengan sabun sebelum memberi makan dan sesudah buang air besar
adalah salah satu pencegahan diare
BENAR SALAH

5. Bila diare tidak ditangani anak bisa mengalami kekurangan cairan


BENAR SALAH

6. Diare dapat menyebabkan kematian akibat kekurangan cairan jika terjadi terus
menerus
BENAR SALAH

7. Pemberian cairan oralit merupakan pengobatan diare


BENAR SALAH

8. Membuat oralit dengan gula- garam dan air putih yang dimasak merupakan pembuatan
oralit di rumah
BENAR SALAH

9. Pemberian oralit pada anak yang diare adalah salah satu pencegahan kekurangan
cairan
BENAR SALAH

10. Jika anak mengalami diare lebih dari 3 hari harus dibawa berobat ke dokter
BENAR SALAH

B. SIKAP
Jawablah dengan melingkari SETUJU atau TIDAK
1. Diare dapat menyebabkan anak kekurangan cairan
SETUJU TIDAK

2. Mencuci tangan dengan sabun sebelum memberi makan dan sesudah buang air besar
merupakan langkah mencegah diare pada anak
SETUJU TIDAK

36
3. Menyuci dan memasak makanan hingga matang dapat membunuh bakteri penyebab
diare
SETUJU TIDAK

4. Pemberian oralit (cairan larutan gula-garam) pada saat anak mengalami diare
SETUJU TIDAK

5. Anak harus minum lebih banyak dari biasanya saat terjadi diare
SETUJU TIDAK

6. Apabila anak mengalami diare lebih dari 3 hari harus dibawa berobat ke dokter
SETUJU TIDAK

C. TINDAKAN
Jawablah dengan melingkari YA atau TIDAK

1. Apakah anda membawa anak ke dokter atau paramedis jika diarenya tidak sembuh
YA TIDAK

2. Apakah anda menggunakan obat anti diare untuk menghentikan diare pada anak
YA TIDAK

3. Apakah anda selalu membaca cara penggunaan obat penurun diare sebelum diminum
YA TIDAK

4. Apakah anda memberikan oralit kepada anak sebagai pencegahan kekurangan cairan
YA TIDAK

5. Apakah anda membawa anak ke RS/ puskesmas terdekat jika mengalami lemas saat
diare
YA TIDAK

6. Apakah anda memberi obat antibiotik kepada anak dengan anjuran dokter
YA TIDAK

37
LAMPIRAN 2 TABULASI DATA

Nomor Usia Pendidikan Pekerjaan Penghasilan Pengetahuan Sikap Tindakan


1 29 th 1 4 1 1 1 2
2 31 th 2 4 1 1 1 1
3 34 th 3 4 1 1 1 1
4 29 th 2 4 1 1 1 1
5 30 th 1 4 1 2 1 2
6 37 th 1 4 1 2 1 2
7 46 th 1 4 1 2 1 2
8 41 th 1 2 2 1 1 2
9 25 th 1 4 1 1 2 2
10 39 th 1 4 1 2 1 2
11 39 th 1 4 1 3 1 2
12 32 th 2 4 1 1 1 1
13 37 th 2 4 1 2 1 1
14 32 th 2 4 1 1 1 1
15 40 th 1 4 1 3 2 3
16 39 th 2 4 1 1 1 1
17 26 th 2 4 1 1 1 1
18 47 th 1 4 1 2 1 2
19 36 th 1 4 1 1 1 2
20 41 th 1 4 1 1 1 1
21 43 th 2 4 1 1 1 1
22 39 th 1 4 1 3 2 2
23 32 th 2 4 1 1 1 1
24 43 th 1 4 1 2 1 2

38
25 21 th 2 4 1 1 1 1
26 24 th 2 4 1 1 1 2
27 36 th 2 4 1 1 2 2
28 44 th 1 4 1 1 1 2
29 35 th 1 4 1 1 1 3
30 44 th 1 4 1 1 1 3

Keterangan :
 Pada tabel nomor adalah nomor urut responden
 Pada tabel Pendidikan nilai 1 = Tingkat pendidikan rendah, nilai 2 = Tingkat pendidikan
menengah, 3 = Tingkat pendidikan tinggi.
 Pada tabel Pekerjaan nilai 1 = PNS, nilai 2 = Karyawan/Wiraswasta, nilai 3 = Petani,
nilai 4 = Ibu rumah tangga.
 Pada tabel Penghasilan nilai 1 = <1000.000, nilai 2 = 1000.000-2.500.000, nilai 3 =
>2.500.000.
 Pada tabel Pengetahuan nilai 1 = Pengetahuan baik, nilai 2 = Pengetahuan Sedang, nilai
3 = Pengetahuan kurang.
 Pada tabel Sikap nilai 1 = Sikap baik, nilai 2 = Sikap sedang, nilai 3 = Sikap kurang.
 Pada tabel Tindakan nilai 1 = Tindakan baik, nilai 2 = Tindakan sedang, nilai 3 =
Tindakan kurang.

39