Anda di halaman 1dari 17

Al Qur’an: Bagian 8

(SDIT Ibnu Sina Palopo)

Materi: 1. Surah Al Lail

2. Surah As Syams

3. Surah Al Balad

4. Gunnah

5. Qolqolah

6. Hukum Membaca Ra’

7. Hukum Membaca Mad

Al Imam Sufyan ibn Uyainah rahimahullah,


berkata:“Pujian orang lain tak akan menipu
otrang yang tau diri”
(Kitab Al Jamii’ li Akhlaqil rawy wa Adabis)
A. Surah Al Lail (Ayat 1-21)

ِ١ِ‫يم‬ِِ ‫ٱلر ِح‬


َ ِ‫ن‬ ِِ ‫ٱلر ۡح َٰم‬ َِ ِ‫ِب ۡس ِِم‬
َ ِِ‫ٱّلل‬
ِ‫ ِ ِ ِإ َن‬٣ِ ‫ى‬ َِٰ ‫ ِ ِوما ِخلق ِٱلذَكرِ ِوِ ۡٱۡلُنث‬٢ِ ‫ار ِ ِإذا ِتجلَ َٰى‬ ِِ ‫ ِ ِوِٱلنَه‬١ِ ‫ل ِإِذا ِي ۡغش َٰى‬ ِِ ‫وٱلَ ۡي‬
ُِ‫ ِفسنُيس ُِر ۥه‬٦ِ ‫ى‬ َِٰ ‫ ِ ِوصدَق ِِِب ۡٱل ُح ۡسن‬٥ِ ‫ى‬ َِٰ ‫ ِ ِفأ َما ِم ۡن ِأ ۡعط َٰى ِوِٱتَق‬٤ِ ‫سعۡ ي ُك ۡم ِلشت َ َٰى‬
ِ‫ِفسِنُيس ُِر ۥهُِ ِل ۡلعُ ۡسر َٰى‬٩ِ‫ى‬ َِٰ ‫ِِوكذَبِِِب ۡٱل ُح ۡسن‬٨ِ‫ى‬ ۡ ِ‫ِِوأ َماِم ۢنِب ِخلِو‬٧ِ‫ِل ۡليُ ۡسر َٰى‬
َِٰ ‫ٱست ۡغن‬
ِ‫ ِِو ِإ َن ِلناِل ۡۡل ِخرة‬١٢ِ ‫ن ِعل ۡيناِل ۡل ُهد َٰى‬ َِ ‫ ِ ِإ‬١١ِ ‫ ِِوماِيُ ۡغنِيِع ۡنهُِمالُهۥُِِ ِإذاِترد ََٰى‬١٠
ِ‫ِِٱلَذِيِكذَب‬١٥ِ‫ِلِِيصۡ ل َٰىهاِ ِإ َلِ ۡٱۡل ۡشقى‬١٤ِ‫ظ َٰى‬ َ ‫ِِفأنذ ۡرت ُ ُك ۡمِن ٗاراِتل‬١٣ِ‫ى‬ َِٰ ‫وِ ۡٱۡلُول‬
ُِ‫ِوماِ ِۡلحدٍِ ِعندِهۥ‬١٨ِ‫ِِٱلَذِيِيُ ۡؤتِيِمال ِهۥُِيتز َك َٰى‬١٧ِ‫ِوسيُجنَبُهاِ ۡٱۡل ۡتقى‬١٦ِ‫ى‬ َِٰ َ‫وتول‬
ِ٢١ِ ‫ ِِولس ۡوف ِي ۡرض َٰى‬٢٠ِ ‫ى‬ َِٰ ‫ ِِ ِإ َل ِ ۡٱبتِغاءِ ِو ۡج ِه ِر ِب ِه ِ ۡٱۡل ۡعل‬١٩ِ ‫ِمنِنِعۡ م ٖة ِت ُ ۡجز َٰى‬
ِ ]٢١-١,‫[سورةِاللـيـل‬
Terjemahan:

1. Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)


2. dan siang apabila terang benderang
3. dan penciptaan laki-laki dan perempuan
4. sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda
5. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa
6. dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)
7. maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah
8. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup
9. serta mendustakan pahala terbaik
10. maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar
11. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa
12. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk
13. dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia
14. Maka, kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala
15. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka
16. Yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman)
17. Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu
18. yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya
19. Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang
harus dibalasnya
20. Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya
yang Maha Tinggi
21. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan

Asbabun Nuzul
Ada beberapa riwayat yang memberitakan Asbabun Nuzul (sebab-sebab
turunnya) surah al-Lail, diantaranya dari Ibnu Hatim, Al-Hakim, dan Al-Bazzar.
Dalam riwayat Ibnu Hatim dikatakan bahwa surah al-Lail turun berkenaan
pemilik pohon kurma yang bakhil. Diceritakan bahwa pemilik pohon kurma tersebut
memiliki pohon yang mayangnya menjulur hingga ke rumah tetangganya
yang fakir dan memiliki banyak anak. Tiap kali berbuah, ia memetik hasilnya dari
rumah tetangganya, namun bila kurma tersebut jatuh dan dipungut oleh anak-anak
tetangganya yang fakir, ia segera merampasnya. Bahkan yang sudah masuk ke mulut
anak-anak itu juga dipaksa dikeluarkannya. Kemudian, orang fakir itu mengadukan
hal itu kepada Nabi Muhammad yang berjanji akan menyelesaikan masalahnya. Nabi
kemudian bertemu dengan pemilik kurma dan bersabda, "Berikanlah kepadaku pohon
kurma yang mayangnya menjulur ke rumah si Anu, dan bagianmu sebagai gantinya
pohon kurma di surga." Pemilik pohon kurma itu berkata, "Hanya sekian tawaran
tuan? Aku mempunyai banyak pohon kurma dan pohon kurma yang diminta itu
paling baik buahnya." Kemudian pemilik pohon kurma itu pergi. Pembicaraan itu
didengar oleh seorang dermawan yang langsung datang kepada Nabi dan berkata,
"Apakah tawaran tuan itu berlaku juga bagiku, jika pohon kurma itu telah menjadai
milikku?" Nabi menjawab "Ya." Orang itu kemudian menemui pemilik pohon kurma.
Pemilik pohon kurma itu berkata, "Apakah engkau tahu bahwa Muhammad SAW
menjanjikan pohon kurma di surga sebagai ganti pohon kurma yang mayangnya
menjulur ke rumah tetanggaku? Dan bahwa aku telah mencatat tawarannya, akan
tetapi buahnya sangat mengagumkan, padahal aku banyak mempunyai pohon kurma,
dan tidak ada satupun pohon yang selebat itu." Orang dermawan itu bberkata,
"Apakah kau mau menjualnya." Ia menjawab, "Tidak, kecuali apabila ada orang yang
sanggup memnuhi keinginanku, akan tetapi pasti tidak akan ada yang sanggup."
Dermawan itu berkata lagi, "Berapa yang engkau inginkan?" Ia berkata, "Aku
inginkan empat puluh pohon kurma." Ia pun terdiam kemudian berkata lagi, "Engkau
minta yang bukan-bukan, baik aku berikan 40 pohon kurma kepadamu, dan aku minta
saksi jika engkau benar mau menukarnya." Ia memanggil sahabat-sahabatnya untuk
menyaksikan penukaran itu. Dermawan itu pun menghadap kepada Nabi dan berkata,
"Ya Rasulullah! Pohon kurma itu telah menjadi milikku dan akan aku serahkan
kepada tuan." Nabi Muhammad kemudian menemui fakir itu, "Ambillah pohon
kurma ini untukmu dan keluargamu." Kemudian turun seluruh surah al-Lail yang
membedakan kedudukan dan akibat orang yang bakhil dengan orang dermawan.
Riwayat-riwayat lain menyebutkan, bahwa sebagian besar isi surah Al-Lail
turun berkenaan kedermawanan Abu Bakar. Al-Hakim menyebutkan bahwa ayat 5
hingga ayat terakhir surah ini turun berkenaan dengan kedermawaan Abu Bakar yang
memerdekakan hamba-hamba yang lemah. Sementara riwayat Ibnu Abi Hatim yang
bersumber dari Urwah menyebutkan Abu Bakar telah memerdekakan 7 hamba-hamba
yang disiksa majikannya karena beriman kepada Allah sehingga turun ayat 17 hingga
21 surah ini berkenaan kedermawaannya. Riwayat lain juga menyebutkan bahwa ayat
19 hingga 21 surah ini turun berkenaan dengan kedermawaan Abu Bakar.1

B. Surah Asy Syams (Ayat 1-15)


ِ١ِ‫يم‬ ِِ ‫ٱلر ِح‬
َ ِ‫ن‬ِِ ‫ٱلر ۡح َٰم‬ َِ ِ‫ِب ۡس ِِم‬
َ ِِ‫ٱّلل‬
ِ‫ل ِإِذا‬ ِِ ‫ ِِوِٱلَ ۡي‬٣ِ‫ار ِ ِإذاِجلَ َٰىها‬ِِ ‫ ِِوِٱلنَه‬٢ِ‫ ِِوِ ۡٱلقم ِِر ِ ِإذاِتل َٰىها‬١ِ‫ضح َٰىها‬ ُ ‫س ِو‬ ِ ِ ‫ش ۡم‬َ ‫وٱل‬
ِ‫ ِِون ۡف ٖس ِوماِس َو َٰىها‬٦ِ‫ض ِوماِطح َٰىها‬ ِ ِ ‫ ِو ۡٱۡل ۡر‬٥ِ‫سما ِِء ِوماِبن َٰىها‬ َ ‫ ِِوِٱل‬٤ِ‫ي ۡغش َٰىها‬
ِِ١٠ِ‫س َٰىها‬ َ ‫ِوق ِۡدِخابِمنِد‬٩ِ‫ِِق ۡدِأ ۡفلحِمنِز َك َٰىها‬٨ِ‫ِفأ ۡلهمهاِفُ ُجورهاِوت ۡقو َٰىها‬٧
َِِ ِ ‫ٱّللِ ِناقِة‬
ِ‫ٱّلل‬ ُ ‫ ِفقالِ ِل ُه ۡم ِر‬١٢ِ‫ ِِ ِإ ِذ ِ ۢٱنبعثِ ِأ ۡشق َٰىها‬١١ِ ‫كذَب ۡت ِث ُمودُِبِط ۡغو َٰىها‬
َِ ِ ‫سو ُل‬

1
https://id.wikipedia.org/wiki/Surah_Al-Lail (di Akses 31 Desember 2019)
ِ‫ ِ ِول‬١٤ِ ‫ ِفكذَبُو ِهُ ِفعق ُروها ِفد ۡمدم ِعل ۡي ِه ۡم ِربُّ ُهم ِ ِبذ ۢن ِب ِه ۡم ِفس َو َٰىها‬١٣ِ ‫س ۡق َٰيها‬
ُ ‫و‬
ِ ِ١٥ِ‫ع ۡق َٰبها‬
ُ ِ‫اف‬
ُ ‫يخ‬
Terjemahan:

1. Demi matahari dan cahayanya di pagi hari

2. dan bulan apabila mengiringinya

3. dan siang apabila menampakkannya

4. dan malam apabila menutupinya

5. dan langit serta pembinaannya

6. dan bumi serta penghamparannya

7. dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya)

8. maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya

9. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu

10. dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya

11. (Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas

12. ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka

13. lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: ("Biarkanlah) unta betina
Allah dan minumannya"

14. Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka
membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan
mereka (dengan tanah)

15. dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu

Nama-nama Surah Asy Syams


Surah ini dinamai Asy-Syams karena pada awal surah Allah swt bersumpah
atas Asy-Syams (Matahari).

Allah swt berfirman:


﴾‫﴿و الش َّْم ِس َو ضُحاها‬
َ "Demi matahari dan tebaran cahayanya di pagi hari." (QS Asy-
Syams [91:1)

Nama lain surah ini adalah "Naqat Saleh" karena pada surah ini menyinggung
tentang kisah Nabi Saleh dan untahnya

Identitas Surah Asy Syams


Surah Asy-Syams terdiri dari 15 ayat, 54 kata dan 253 huruf. Menurut
sebagian qari, surah Asy-Syams terdiri dari 16 ayat. Namun pendapat pertama yang
lebih masyhur. Surah Asy-Syams adalah surah ke-91 berdasarkan
susunan mushaf dan surah ke-26 sesuai urutan pewahyuan Al-Quran serta tergolong
sebagai surah Makkiyah. Dari sisi isi, surah Asy-Syams adalah surah Al-Ausath al-
Mufasshalat. Demikian juga surah ini adalah surah ke-18 yang dimulai dengan
sumpah (pada awal surah terdapat 11 awal yang menjadi obyek sumpah). Dianjurkan
(mustahab) untuk membaca surah ini pada salat Idul Fitri.

Tema Pembahasan

Surah Asy-Syams menekankan pada tema akhlak berupa tazkiyah dan


penyucian jiwa. Demikian juga menyinggung tentang kisah Nabi Saleh as, unta Nabi
Shaleh, terbunuhnya unta tersebut di tangan kaum Tsamud dan nasib yang menimpa
kaum ini.

Keutamaan Membaca Surah Asy Syams

Rasulullah saw bersabda, "Barang siapa yang membaca surah ini maka seolah
ia bersedekah dengan apa yang disinari oleh matahari dan bulan." [2]Demikian juga
diriwayatkan bahwa Rasulullah saw menganjurkan kepada para sahabat untuk
memmbaca surah Asy-Syams ini pada salat-salat mereka. [3] Diriwayatkan dari Imam
Ja'far Shadiq as, "Barang siapa yang membaca surah Asy-Syams maka pada hari
kiamat seluruh anggota badannya dan segala sesuatu yang ada di sampingnya
memberikan kesaksian yang memberikan keuntungan untuknya. Allah swt berfirman,
"Aku menerima kesaksian kalian atas hamba-Ku dan aku akan berikan pahala
untuknya. Antarlah mereka hingga surga sehingga ia menikmati apa pun yang ia pilih
dari nikmat-nikmat surgawi."2

C. Surah Al Balad (Ayat 1-20)

ِ١ِ‫يم‬ ِِ ‫ٱلر ِح‬


َ ِ‫ن‬ ِِ ‫ٱلر ۡح َٰم‬ َِ ِ‫ِب ۡس ِِم‬
َ ِِ‫ٱّلل‬
ِ‫ ِِلق ۡد ِخل ۡقنا‬٣ِ ‫ ِِووا ِل ٖد ِوِماِولد‬٢ِ ‫ِح ۢ ُّل ِبِ َٰهذا ِ ۡٱلبل ِِد‬
ِ ‫ ِِوأنت‬١ِ ‫لِ ِأ ُ ۡق ِس ُم ِبِ َٰهذاِ ۡٱلبل ِِد‬
ِ‫ ِِيِقُو ُل ِأ ۡهل ۡكتُ ِم ٗال ِلُّبدًا‬٥ِ ٞ‫ب ِأنِلَنِي ۡقدِر ِعلِۡي ِهِأحد‬ ُِ ‫ ِأي ۡحس‬٤ِ ‫نسنِ ِفِيِكب ٍد‬ ِۡ
َٰ ‫ٱۡل‬
ِ٩ِ ‫ن‬ ِِ ‫ ِِو ِلسا ٗنا ِوشفت ۡي‬٨ِ ‫ ِ ِأل ۡم ِن ۡجعل ِِلَ ِۥهُ ِع ۡين ۡي ِن‬٧ٌِ‫ب ِأن ِلَ ۡم ِيرهۥُِ ِأحد‬ ُِ ‫ ِأي ۡحس‬٦
ِ‫ك‬ُِّ ‫ ِف‬١٢ِ ُ‫ ِِوما ِأ ۡدر َٰىك ِماِ ۡٱلعقب ِة‬١١ِ ِ‫ ِِفَل ِ ۡٱقتحمِ ِ ۡٱلعقبة‬١٠ِ ‫ن‬ ِِ ‫وهد ۡي َٰن ِهُ ِٱلنَ ۡجد ۡي‬
ِ‫س ِك ٗينا‬ ِ ‫ِِأ ۡو‬١٥ٍِ‫ِيتِِ ٗيماِذاِم ۡقربة‬١٤ِ‫مِفِيِي ۡو ٖمِذِيِم ۡسغب ٖة‬ٞ ‫ِِأ ۡوِإِ ۡط َٰع‬١٣ٍِ‫رقبة‬
ِۡ ‫ِم‬
ِْ‫ص ۡب ِِر ِوتواصوِۡا‬ َِ ‫ِمن ِٱلَذِينِ ِءامنُواْ ِوتِواص ۡواْ ِبِِٱل‬ ِ ‫ ِث ُ َِم ِكان‬١٦ِ ‫ذا ِم ۡترب ٖة‬
ِ‫ب‬ ُ ‫ِوِٱلَذِينِِكف ُرواِْبِِ َٰاي ِتناِ ُه ۡمِأِصۡ َٰح‬١٨ِ‫بِ ۡٱلم ۡيمن ِِة‬ُ ‫ِِأ ُ ْو َٰل ِئكِأصۡ َٰح‬١٧ِ‫ِِب ۡٱلم ۡرحم ِِة‬
]٢٠-١,‫ِ[سورةِالـبلد‬٢٠ُِ ‫ارِ ُّم ۡؤصد ۢة‬ٞ ‫ِِعل ۡي ِه ۡمِن‬١٩ِ‫ۡٱلم ۡشِم ِِة‬
Terjemahan:

1. Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah)

2. dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini

3. dan demi bapak dan anaknya

4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah

5. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorangpun yang


berkuasa atasnya

6. Dan mengatakan: "Aku telah menghabiskan harta yang banyak"

7. Apakah dia menyangka bahwa tiada seorangpun yang melihatnya

8. Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata

9. lidah dan dua buah bibir

10. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan

2
http://id.wikishia.net/view/Surah_Asy-Syams (di Akses 31 Desember 2019)
11. Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar

12. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu

13. (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan

14. atau memberi makan pada hari kelaparan

15. (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat

16. atau kepada orang miskin yang sangat fakir

17. Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan
untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang

18. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan
kanan

19. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah
golongan kiri

20. Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat

Surah Al-Balad (bahasa Arab: ‫ )البلد‬adalah surah ke-90 dalam al-Qur'an. Surah
ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 20 ayat. Dinamakan "Al-Balad" yang
berarti Negeri diambil dari perkataan "Al-Balad" yang terdapat pada ayat pertama
surah ini. Yang dimaksud dengan kota dalam ayat ini ialah kota Mekkah.

D. Gunnah

Pengertian Hukum Ghunnah dalam Al Qur’an


Ghunnah menurut Bahasa adalah Mendengung (Dengung) dan Pengertian
Ghunnah menurut Istilah ialah bacaan ilmu tajwid yang harus dibaca Mendengung
(Suara Nyaring) yang keluar dari Lubang Hitung, dengan tak memakai Lidah ketika
mengucapkannya. Bisa kalian coba terapkan sendiri, bahwa Bacaan Ghunnah yang
Mendengung ini dipraktekan oleh kalian dengan menutup Lubang Hitung maka
dipastikan Suara Mendengung Ghunnah yang dikeluarkan oleh kalian tidak akan
Nyaring (Jelas).
Cara Membaca Hukum Ghunnah

Sekali lagi didalam Cara Membaca Ghunnah didalam Al Qur’an Yang Benar
ialah dibaca secara Mendengung (Suara Nyaring), dan Bacaan Tajwid Ghunnah yang
Mendengung ini dibacakan ketika kalian menemukan Huruf Hijaiyah NUN
Bertasydid dan MIEM Bertasydid didalam Ayat – Ayat Al Qur’an. Oleh karena itu
jika kalian saat membaca Al Qur’an bertemu dengan NUN Tasydid dan MIEM
Tasydid maka harus dibaca Mendengung.
Contoh Gunnah:

E. Qolqolah

Kalkalah atau qalqalah (bahasa Arab: ‫قلقلة‬, "qalqalat") adalah bacaan pada
huruf-huruf qalqalah dengan bunyi seakan-akan berdetik atau memantul.[2] Huruf
qalqalah ada lima yaitu qaf (‫)ق‬, tha (‫)ط‬, ba' (‫)ب‬, jim (‫)ج‬, dan dal (‫)د‬. Qalqalah terbagi
menjadi dua jenis:
 Qalqalah Sugra yaitu apabila salah satu daripada huruf qalqalah itu berbaris
mati dan baris matinya adalah asli karena harakat sukun dan bukan
karena waqaf.

Contoh: ‫َﻥﻮُﻌَ ْمﻄَﻴ‬, ‫ﻋﺪَﻴ‬


ْ ُ‫َﻥﻮ‬
 Qalqalah Kubra yaitu apabila salah satu daripada huruf qalqalah itu dimatikan
karena waqaf atau berhenti. Dalam keadaan ini, qalqalah dilakukan apabila
bacaan diwaqafkan tetapi tidak diqalqalahkan apabila bacaan diteruskan.3

Contoh: ِ‫ٱلْﻔَلَﻖ‬, ٍ‫ﻋَلَﻖ‬

F. Hukum Membaca Ra’

Huruf hijaiyah ketika bertemu ra itu ada 3 hukum bacaan yaitu Tafkhim ( Tebal )
Tarqiq ( Tipis ) dan jawazul wajhain ( Boleh tebal boleh tipis ). Namun ada syarat
tersendiri mengapa kok ra' bisa dibaca seperti 3 model seperti itu. Oleh karena itu
mari kita bersama - sama muthala'ah tentang hukum tajwid bacaan ra'. Agar tajiwd
kita dalam membaca Al-Qur'an itu benar.

Hukum bacaan ra sukun tanpa kita sadari ternyata kita telah mempelajarinya pada
waktu duduk dibangku sekolah dasar , namun karena sangking lamanya kita tidak
mengulangi jadi wajar deh , kalau kita lupa , akan tetapi berbeda lagi ceritanya ,
meskipun kita tidak pernah mempelajarinya secara terus menerus tetapi setiap
membaca Al-Qur'an langsung di praktekan ilmu tajwidnya , maka dengan sendirinya
kita akan ingat terus sampai akhir hayat hehhehe.

Tanpa panjang lebar mari kita belajar hukum ra' , tapi sebelumnya alangkah baiknya
jika kita melihat terlebih dahulu , skema hukum ra sebagai berikut ;

3
https://id.wikipedia.org/wiki/Kalkalah (di Akses 31 Desember 2019)
Bacaan Ra' Tafkhim Contoh dan Cara Membacanya
Tafkhim menurut bahasa adalah tebal , sedangkan menurut istilah Tafkhim
(‫ )تَ ْﻔ ِخ ْﻴ ُم‬adalah menebalkan huruf tertentu dengan cara mengucapkan huruf tertentu
dengan cara mengucapkan huruf di bibir (mulut) dengan menjorokkan ke depan
(bahasa Jawa mecucu).Cara membacanya yaitu dengan bibir sedikit kemuka atau
monyong.
Ra' Wajib hukumnya dibacal tebal ( tafkhim ) manakala:

 Ra bertanda baca fathah. Contoh:

َّ َ ‫ا‬، ‫ا َ ْلفُقَ َرآ َء‬


َ‫للاه َرحْ َمة‬، ‫ َحش ََرة‬، ‫لر هحي هْم‬

 Ra bertanda baca dammah. Contoh:

ْ ُ ‫الَ ْخ َي‬، ‫ َكفَ ُر ْوا‬، ‫للاَ اُذْ ُك ُروا‬، ‫ت‬


َ‫ار ا‬ ْ ‫ُرفه َع‬

 Ra bertanda sukun (mati), sedang huruf di belakangnya berupa huruf yang


difathah. Contoh:
‫ َم ْر َحبًا‬، ‫ن َْر ُزقُ ُك ْم‬، ‫ َم ْريَ ُم‬، ‫قَ ْريَة‬

 Ra bertanda suku, sedang huruf di belakangnya berupa huruf yang didammah.


Contoh:

ً‫ذ ُ ه ِّريَّة‬، ً‫قُ ْر َبة‬، ‫ع ُْر َيانًا‬، ً‫ُح ْر َمة‬

 Ra yang bertanda baca sukun, sedang huruf di belakangnya berupa huruf yang
dikasrah, namun kasrah ini bukan asli tetapi baru datang. Contoh:

‫ا ْهر هج هع ْي‬، ‫ا ْهر َح ْم‬، ‫ا ْهر هجعُ ْوا‬، ‫ارت َاب ُْوا اَ هم‬
ْ

 Ra bertanda baca sukun, sedang huruf di belakangnya berharakat kasrah asli


ُ ‫ )اه ْسته ْعالَء َح ْر‬yang terdapat tujuh
dan sesudah ra bertemu dengan huruf isti’la (‫ف‬
َّ ‫ض ْغط ُخ‬
huruf yang terkumpul pada kalimat: <‫ص‬ ْ ‫ قه‬Contoh:
َ ‫ظ‬

ُ‫ضاه‬ َ ‫لَبه ْال هم ْر‬، ‫طاس‬


َ ‫يَ ْر‬، ‫فُ ْرقَة‬، ‫صا هد‬ َ ‫قه ْر‬

Bacaan Ra' Tarqiq Contoh dan Cara Membacanya


Menurut bahasa Tarqiq (‫ )ت َْرقهيْق‬adalah tibis sedangkan menurut istilah Tarqiq
(‫ )ت َْرقهيْق‬adalah membunyikan huruf-huruf tertentu dengan suara atau bacaan tipis.
dan Cara membacanya yaitu dengan menarik bibir sedikit mundur sehingga agak
meringis.

Ra' wajib dibaca tarqiq apabila ;

 Huruf ra’ itu sendiri di baca kasroh, contoh: ‫ْل َجنَّ ِة ا فِي يْﻖ َف ِر‬

 Huruf ra’ di baca sukun dan terletak setelah huruf yang di baca kasroh, Dan
sesudahny a bukan huruf isti’la’, contoh ‫ﻥَ ﻋ َْﻮ فِ ْر‬ ‫يَ ٍة ْرِِم‬

 Apabila dalam keadaan waaf atau di waqafkan, sedangkan huruf


sebelumumnya bertanda baca kasrah. Contoh ‫فِ ُر ْلكَا ا ه َُﻮ‬ ‫ِص ٍر نَا ِم ْن‬
‫ستَ ْك ِث ُر‬
ْ َ ‫ ت‬Atau dalam keadaan waqaf atau di waqafkan, sedangkan di antara
Huruf ra dengan huruf yang bertanda baca kasrah terdapat huruf bertanda
baca sukun, contoh: ‫لسِّحْ ِر ب ِا‬
ِ

 Apabila dalam keadaan di waqafkan, sedang huruf sebelumnya huruf ya


,Yang bertanda baca sukun, contoh: ,‫ْل َم ِصﻴ ُْر اِ هلل ا لَي اِ َو‬ َ ‫ ش َْيءٍ ُك ِِّل‬4‫قَ ِﺪيْر‬
‫ﻋلَي‬

Hukum Bacaan Ra' jawazul wajhain Beserta Contohnya

Jawazul wajhain ( ‫ ) الـﻮجـهـﻴـن جﻮاز‬secara bahasa artinya boleh wajah dua


sedangkan menurut istilah jawazul wajhain adalah ra yang boleh dibaca tafkhim
(tebal) atau tarqiq (tipis). Jika ada ra sukun didahului oleh huruf berharakat kasrah
sesudahnya ada huruf isti’la bearharakat kasrah . (huruf isti’la’ yang dikasrah + ‫ ْر‬+
‫ ) ـهـ‬.contohnya : ‫ ِﻋ ْر ِض ِه ِم ْن‬- ‫ص‬
ٍ ‫بِ ِح ْر‬

G. Hukum Membaca Mad

Mad (bahasa Arab: ‫المد‬, "al madd") secara harfiah bermakna melanjutkan atau
melebihkan, secara istilah mad dapat diartikan sebagai tanda bunyi panjang
dalam bahasa Arab (bunyi pendek menjadi bunyi panjang) [1]. Dari segi istilah ulama
tajwid dan ahli bacaan, mad bermakna memanjangkan suara dengan lanjutan menurut
kedudukan salah satu dari huruf mad. Terdapat dua bagian mad, yaitu mad asli dan
mad far'i. Terdapat tiga huruf mad yaitu alif, wau, dan ya' dan huruf tersebut haruslah
berbaris mati atau saktah. Panjang pendeknya bacaan mad diukur dengan
menggunakan harakat.
Secara umum, bacaan mad terbagi menjadi dua saja, yaitu mad thabi’i (mad
asli) dan mad far’i (mad cabangnya atau bagiannya). Dari mad far’i ini, dibagi lagi
hukum mad menjadi 14 macam-macm mad.

Mad Thabi’i
Mad Thabi’i(mas asli) merupakan macam-macam mad yang terjadi apabila
ada alif yang terletak sesudah fathah, atau ya’ sukun terletak sedudah kasrah atau juga
huruf wau yang terletak sesudah dhammah maka ini dihukumi sebagai bacaan mad
thabi’i. Dimana Mad berarti panjang dan Thabi’i yang artinya biasa.
Cara membacanya harus sepanjang dua harakat atau disebut satu alif, contohnya:

4
http://www.masyadi.com/2015/03/hukum.bacaan.ra.tafkhim.tarqiq.danjawazul.wajhain.html
(di Akses 30 Desember 2019)
‫ ب كتَا‬- ‫ يَقُ ْو ُل‬- ‫سميْع‬
‫ه‬

Mad Far'i
Mad Far'i secara bahasa artinya adalah cabang. Sedangkan menurut istilah
Mad Far'i adalah mad yang merupakan hukum tambahan dari mad asli (sebagai
hukum asalnya), yang disebabkan oleh hamzah atau sukun. Nah, Mad Far'i ini terbagi
menjadi beberapa macam, diantaranya sebagai berikut:
1. Mad Wajib Muttasil

Macam-macam mad selanjutnya adalah bagian dari Mad Far’I, pertama yaitu
Mad Wajib Muttasil. Terjadinya mad ini apabila mad thabi’I bertemu dengan
hamzah pada satu kalimat atau ayat. Untuk cara membacanya, wajib dipanjangkan
sepanjang lima harakat atau setara dengan dua setengah kali dari mad thabi’i (dua
setengah alif). Contohnya:

‫س َوآء‬
َ - ‫ َجآ َء‬- ‫هج ْي َء‬

2. Mad Jaiz Munfashil

Mad Jaiz Munfasil terjadi apabila ada mad thabi’i yang bertemu dengan
hamzah, namun hamzah tersebut berada pada lain kalimat. Jaiz sendiri berarti
boleh, sedangkan Munfashil memiliki arti terpisah.

Nah, untuk membaca mad ini adalah boleh seperti Mad Wajib Muttasil tadi dan
boleh juga seperti Mad Thobi’i. Begini contohnya:

‫أ ُ ْن هز َل هب َما َوالَأ ْنت ُ ْم‬

3. Mad Lazim Mutsaqqal Kilmi

Mad Lazim Mutsaqqal Kilmi ini masih termausk ke dalam macam-macam


mad. Mad ini terjadi jika ada Mad Thabi’i bertemu dengan tasydid pada satu kata
atau ayat. Cara membaca mad ini adalah harus panjang selama tiga kali Mad
Thabi’i atau sekitar enam harakat. Contohnya:
َ‫صا َخةُ َوالَالضَّآ هلِّين‬
ِّ ‫اَل‬

4. Mad Lazim Mukhaffaf Kilmi

Mad Lazim Mukhaffaf Kilmi ini adalah mad yang terjadi jika ada Mad Thob’i
bertemu dengan huruf mati atau sukun. Cara membacanya adalah sepanjang enam
harakat. Contohnya:

‫آالَن‬

5. Mad Layyin

Macam-macam mad selanjutnya adalah Mad Layyin. Mad ini terjadi jika
setelah huruf yang berharakat fatha wau sukun atau ya’ sukun. Cara membacanya
adalah dengan membaca mad dengan sekedar lunak dan lemas saja. Contohnya:

‫خ َْوف َريْب‬

6. Mad ‘Arid Lisuukun

Mad ‘Arid Lissukun dibaca jika terdapat waqaf atau tempat pemberhentian
membaca, sedangkan sebelum waqaf tersebut terdapat Mad Thobi’i atau Mad
Lein. Cara membacanya adalah terbagi menjadi tiga macam:

 Yang paling utama dibaca panjang seperti halnya mad wajib muttashil atau
setara 6 harakat.
 Yang pertengahan bisa dibaca sepanjang empat harakat ya’ni dua kalinya
mad thobi’i.
 Yang pendek ya’ni boleh hanya dibaca seperti mad thobi’i biasa
Contohnya:
‫صيْر‬ ‫س هميْع والنَّ ه‬
‫اس خَا هلد ُْونَ َب ه‬ َ

7. Mad Shilah Qashirah


Mad Shilah Qashirah terjadi jika ada haa dhamir sedangkan sebelum haa tadi
terdapat huruf hidup (berharakat). Maka untuk cara membacanya haruslah panjang
seperti halnya mad thobi’i. Contohnya:

ُ‫لَهُ الَش هَريْك َكانَ اهنَّه‬

8. Mad Shilah Thawilah

Macam-macam mad selanjutnya adalah Mad Shilah Thawilah. Mad ini


dihukumi jika ada Mad Qashirah bertemu dengan hamzah ( ‫) ء‬. Cara untuk
membacanya adalah seperti Mad Jaiz Munfashil. Contohnya adalah:

ُ‫ا َ ْخلَدَهُ لَهُ اهالَِّبهاذْنهه هع ْندَه‬

9. Mad ‘Iwad

Mad ‘Iwadl adalah mad yang dibaca jika terdapat fathatain yang ditemukan
pada waqaf atau pemberhentian pada akhir kalimat atau ayat. Untuk cara membaca
mad ini adalah seperti mad thobi’i. Contohnya adalah:

‫سم ْي ًعا‬
َ ‫َح هكي ًما َع هل هِ ْي ًما َبصي ًْرا‬

10. Mad Badal

Mad Badal terjadi jika terdapat hamzah ( ‫ ) ء‬bertemu dengan sebuah Mad ,
maka cara untuk membacanya 11. Mad Lazim Harfi Musyabba’
Mad Lazim Harfi Musyabba’ adalah bacaan mad yang biasanya kita temukan pada
permulaan surat dari beberapa surat di Al-Qur’an. Beberapa huruf mad yang
biasanya kita temukan pada surat-surat di Al-Qur’an tersebut ada 8 huruf dimana
diantaranya adalah sebagai berikut:
‫م–ك–ل–س–ع–ص–ق–ن‬
Cara membaca mad ini sama seperti Mad Lazim yaitu sepanjang enam harakat.
Contohnya adalah:
‫يس ن آلم َوالقلَم‬
adalah seperti Mad Thobi’i. Contohnya:
‫إيْماَن آدَ َم‬
11. Mad Lazim Harfi Musyabba’
Mad Lazim Harfi Musyabba’ adalah bacaan mad yang biasanya kita temukan
pada permulaan surat dari beberapa surat di Al-Qur’an. Beberapa huruf mad yang
biasanya kita temukan pada surat-surat di Al-Qur’an tersebut ada 8 huruf dimana
diantaranya adalah sebagai berikut:
‫م–ك–ل–س–ع–ص–ق–ن‬
Cara membaca mad ini sama seperti Mad Lazim yaitu sepanjang enam harakat.
Contohnya adalah:
‫يس ن آلم َوالقلَم‬

12. Mad Lazim Harfi Mukhaffaf

Yaitu apabila ada permulaan surat dari Al-Qur’an ada terdapat salah satu atau
lebih dari antara huruf yang lima ya’ni :
‫ر–ﻫ–ط–ي–ح‬
Contohnya adalah:
‫الم حم‬
13. Mad Tamkien
Macam-macam mad selanjutnya adalah Mad Takien. Mad ini terjadi jika
terdapat ya’ sukun yang didahului dengan ya’ yang bertasydid dan harakatnya
kasra. Contohnya:
َ‫ُحي هِّي ْيت ُ ْم النَبهيِّيْن‬

14. Mad Farq


Terakhir adalah mad farqi, yaitu bertemunya dua hamzah dimana satu hamzah
istifham sedangkan yang kedua hamzah washol pada lam alif ma’rifat. Cara
membacanya adalah sepanjang 6 harakat. Contohnya:5
ْ َِ‫ءٰ ِٰالذَّك ََر‬
‫ي قُ ْل ءٰ ِٰاللاُ َخيْرا َ ِّمايُ ْش هر ُكون لَ ُك ْم اذهنَ ءٰ اللاُ قُ ْل‬

5
https://hot.liputan6.com/read/4003325/macam-macam-mad-bacaan-tajwid-alquran-
dilengkapi-penjelasan-dan-contohnya (di Akses 31 Desember 2019)