Anda di halaman 1dari 2

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HIPEREMESIS GRAVIDARUM

A. Latar Belakang
Hyperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah pada kehamilan terjadi karena
pengaruh hCG, penururnan tonus otot – otot traktus digestivus mengalami penurunan
kemampuan bergerak ( Kusmiyanti, 2015 )
Hiperemesis Gravidarum adalah keadaan di mana penderita mual dan muntah
lebih dari 10 kali dalam 24 jam, sehingga pekerjaan sehari – hari terganggu dan keadaan
umum menjadi buruk. Keadaan ini rata – rata muncul pada usia kehamilan 8 – 12minggu.
( Susilawati dan Erlin, 2017 )
Menurut WHO sebagai badan perserikatan bangsa – bangsa ( PBB ) yang
menangani masalah bidang kesehatan, mengatakan bahwq hyperemesis gravidarum
terjadi di seluruh dunia, di antaranya Negara – Negara Amerika dengan angka kejadian
yang beragam yaitu mulai 0,5 - 2%, sebanyak 0,3% di Swedia, 0,5% di California, 0,8%
di Canada, 10,8% di China, 0,9% di Norwegia, 2,2% di Pakistan, dan 1,9% di Turki.
Sedangkan angka kejadian hyperemesis gravidarum di Indonesia adalah mulai 1,3% dari
seluruh kehamilan. Perbandingan insidensi secara umumnya yaitu 4 : 1000 ( Atika,
Hardians, dkk, 2016 ).
Di Indonesia, terdapat 50 – 90% kasus emesis gravidarum yang alami oleh ibu
hamil. Namun, pada kasus seperti ini tidak menyebabkan kematian pada ibu hamil karena
emesis gravidarum hanya kekurangan nutrisi dan cairan. Emesis gravidarum yang
berkelanjutan bisa berakibat hyperemesis gravidarum dengan presentase sebesar 3% dari
jumlah ibu hamil, di mana harus segera di rawatdi rumah sakit agar mendapatkan
penanganan segera ( Maharani, 2016 )
Berdasarkan data provinsi Sulawesi Selatan tahun 2018 dari 43 puskesmas di
Kota Makassar sebanyak 26.772 orang atau 62,99% mengalami hiperemsis gravidarum (
http://dinkes.sulselprov.go.id )
Ibu hamil dengan komplikasi hyperemesis gravidarum berdasarkan data di RSUD
Syekh Yusuf Gowa, pada tahun 2016 yaitu sebanyak 112 orang dengan hyperemesis
gravidarum tingkat I sebanyak 76 orang., tingkat II sebanyak 29 orang dan tingkat III
sebanyak 7 orang. Pada tahun 2017 terjadi peningkatan yaitu sebanyak 127 orang dengan
hyperemesis gravidarum tingkat I 68 orang, tingkat II sebanyak 49 orang, dan tingkat II
sebanyak 10 orang, dan semakin meningkat pada tahun 201 yaitu sebanyak 175 orang
dengan hyperemesis gravidarum tingkat I sebanyak 92 orang, tingkat II sebnayak 65
orang dan tingkat III sebanyak 18 orang.
Pada kehamilan trimester I mulai biasa terjadi pada pagi hari, malam hari bahkan
setiap saat. Gejala – gejala ini terjadi kurang lebih dari 6 minggu setelah hari pertama
haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu. Mual dan muntah terjadi
pada 60 -80% primigravida dan 40 – 60% multigravida. Perasaan mual ini disebabkan
oleh karena meningkatnya kadar hormon esterogen dan horrmon Chorionic Gonadotropin
(HCG). Keadaan inilah yang di sebut dengan hyperemesis gravidarum. ( Dahlan Audi
Kasrida, 2017 ).
Kebutuhan nutrisi yang tidak terpenuhi pada ibu hamil akan berpengaruh pada
janin, salah satunya adalah janin mengalami Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Hal ini
di sebebkan karena penurunan asupan zat besi dan kurangnya pengetahuan ibu tentang
pemeriksaan antenatal care ( Indrayani, Triana.2018 ).
Prinsip penatalaksanaan hyperemesis gravidarum meliputi pencegahan,
mengurangi mual dann muntah, koreksi dehedrasi dan ketidakseimbangan elektrolit,
pemberian vitamin dan kalori yang akeduat untuk mempertahankan nutrisi ( Setawati and
Ramadhian, 2016 ).