Anda di halaman 1dari 3

GEMA MALAM KARBIT

Karya: Lissa
“Allahuakbar ... Allahuakbar... Allahuakbar... Laillahaillallah huallahuakbar
....Allahuakbar walillah ilham “
Gema malam takbir pun berbunyi, masyarakat berbondong–bondong
ingin melihat dan menyaksikan Meriam Karbit yang sudah menjadi budaya dan
ciri khas kota Pontianak. Meriam karbit yang sudah sangat dikenal ini dilakukan
pada bulan Ramadhan seminggu sebelum Idul Fitri. Ratusan meriam raksasa
berjejer ditepian sungai kapuas, siap untuk menggetarkan Kota Pontianak.
Dahulu, meriam karbit bukan hanya sekedar permainan biasa bagi
masyarakat Pontianak. Permainan unik ini, memiliki makna tersendiri baik dari
kajian, historis, keagamaan dan kebudayaan. Masyarakat menjadikan meriam
karbit sebagai momentum untuk mengingat dan selalu bersyukur akan
pembangunan Kota Pontianak yang dahulunya hanya hutan yang lebat dan
sekarang menjadi kota yang padat akan penduduknya yang sangat ramah dan
telah menjadi kota yang maju.
Selain itu Meriam Karbit juga menjadi salah satu penyemarak dan
pemeriah hari raya Idul Fitri di Pontianak. Meriam karbit menjadi wadah bagi
masyarakat untuk berkumpul dan bersilaturahmi sembari menikmati menjelang
hari raya Idul Fitri. Keunikan budaya tersebut kemudian dibungkus insan dan
menjadi objek unggulan Kota Pontianak.

Cara pembuatannya pun cukup mudah, terbuat dari sebatang pohon kayu
dengan panjang antara 4–7 meter dan berdiameter 40–100 centimeter. Sebagai
bahan bakarnya menggunakan karbit, ketika sudah mencapai titik didih dalam
waktu beberapa menit, maka meriam karbit siap disulut .
Hasil sulutan itu menghasilkan bunyi dentuman yang menakjubkan
bahkan pada radius 2-10 km. Dalam jarak yang tidak begitu jauh, suara dari
meriam karbit terasa getarannya dirumah sekitarnya. Meriam karbit yang
terbuat dari sebatang bambu bulat menjadi primadona kebanggaan masyarakat
Pontianak.
Ada juga legenda asal muasal meriam karbit. Lahirnya meriam karbit
konon katanya dengan upaya Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri saat
membangun wilayah kesultanannya. Kala itu, tradisi membunyikan meriam
karbit digunakan untuk menakut-nakuti para perompak dan binatang buas yang
bersembunyi di hutan belantara. Masyarakat juga meyakini bahwa bunyi
meriam sangat di takuti Kuntilanak. Legenda itu hidup dan dipercayai secara
turun menurun, saat itu Kuntilanak di tuduh menghambat proses pembangunan
masjid Jami’ beserta istana Qadriah.
Salah satu solusi utnuk mengusirnya adalah dengan menggunakan
meriam karbit, suara keras menggelegar tetapi tak mematikan manusia, tentu
menjadi pertimbangan tersendiri. Sejak saat itulah, setiap lebaran Idul Fitri
masyarakat Pontianak menyambutnnya dengan suka cita. Alhasil gangguan dari
makhluk halus tersebut pun hilang. Sebagai tanda syukur Sultan, Beliau
mendirikan Masjid Jami’ dan Kesultanan di tempat dia menembakan meriam.
Dari situlah awal mula terbentuknya Kota Pontianak.
Berdasarkan situasi tersebutlah awal mula permainan meriam di Sungai
Kapuas. Di samping untuk memperingati awal mula Kota Pontianak,
masyarakat juga dengan membunyikan meriam maka akan mengusir hal-hal
negatif yang dapat di keluarkan. Sampai sekarang meriam kerbit menjadi
budaya dan daya tarik bagi masyarakat. Sekarang meriam kerbit menjadi
budaya dan adat istiadat yang tidak bisa di lepaskan oleh masyarakat. Meriam
kerbit yang sebelumnya hanya untuk memperingati momentum awal mula kota
dan masuknya Islam menjadi budaya yang sangat unik dan bernilai tinggi.
Kemeriahan juga terlihat di tengah-tengah sungai Kapuas, tampak
sejumlah kapal motor yang hilir mudik membawa puluhan pengunjung
menyusuri sungai Kapuas menjadi daya tarik tersendiri saat merayakan malam
takbiran. Dentuman keras meriam karbit pun menjadi momentum yang
ditunggu-tunggu, satu persatu meriam dibunyikan. Permainan meriam karbit
merupakan salah satu permainan tradisional masyarakat Kota Pontianak
khususnya etnis Melayu yang dimainkan pada malam takbiran dalam rangka
menyambut hari raya Idul Fitri. Meriam karbit yang dinyalakan setiap malam
takbiran sudah menjadi kegiatan rutin di bumi borneo barat ini. Tumpah ruah
manusia pun tak terhindarkan di setiap bunyi dentuman meriam karbit.