Anda di halaman 1dari 17

14

BAB II
KERANGKA TEORI

Bab ini akan memaparkan mengenai teori yang relefan terkait dengan

masalah dalam penelitian yang peneliti lakukan. Teori inilah yang berfungsi

sebagai landasan untuk menganalisis data mengenai kata-kata tabu dalam BMDN.

Teori-teori yang digunakan dalam penelitian ini antara lain 1) sosiolinguistik, 2)

komponen tutur, 3) teori tabu, dan 4) referensi eufemisme.

2.1 Sosiolinguistik

Sosiolinguistik terdiri dari dari dua unsur kata yaitu sosio dan linguistik.

Linguistik yaitu ilmu yang mempelajari bahasa khusunya unsur-unsur bahasa

(ucapan, kata, kalimat) dan hubungan antar unsur tersebut, termasuk pembentukan

unsur tersebut, sedangkan kata sosio searti dengan kata sosial yaitu yang

berhubungan dengan masyarakat. Jadi, sosiolingusitik ialah studi atau

pembahasan bahasa yang berhubungan dengan penutur bahasa yang merupakan

bagian dari anggota masyarakat.

Wijana dan Rohmadi (2013:7) mengemukakan sosiolinguistik sebagai

ilmu yang bersifat interdisipliner yang mengharap masalah-masalah kebahasaan

dalam hubungannya dengan faktor-faktor sosial, situasional, dan kulturalnya.

Sosiolinguistik sebagai cabang linguistik memandang atau menempatkan

kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pemakaian bahasa di dalam

masyarakat, karena dalam kehidupan bermasyaraakat manusia tidak lagi sebagai

individu, akan tetapi sebagai masyarakat sosial.

14
15

Sumarsono (2013:19) menyatakan sosiolinguistik memandang bahasa

sebagai tingkah laku sosial (social behavior) yang dipakai dalam komunikasi.

Interaksi sosial dan komunikasi lisan pada umumnya diciptakan oleh masyarakat

untuk masyarakat agar dapat membina jalinan kerja sama yang baik antarsesama

anggota masyarakat. Dalam interaksi dan komunikasi yang terjadi, adakalanya

masyarakat berselisih paham atau berbeda pendapat. Situasi yang seperti ini

sering membuat masyarakat menggunakan bahasa-bahasa kotor, jorok, cabul,

makian, dan sindiran halus yang sifatnya mengatai, bahasa-bahasa kasar tersebut

dikenal dengan istilah tabu. Jika seseorang memaki, lazimnya orang lain akan

menganggapnya sebagai orang yang tidak sopan, kasar, dan tidak berpendidikan

Hughes (dalam Rosidin,2010:3).

Cabang bahasa yang disebut sosiolingusitik ini menelaah semua peristiwa

bahasa di dalam konteks sosial. Sosiolingustik menelaah dan mencatat bahasa

yang digunakan oleh seseorang ketika ia bicara dengan teman, dengan

kelompoknya, dengan anggota keluarganya, dan juga dengan orang yang tidak

dikenalnya. Selain itu, sosiolingustik juga menelaah bahasa yang dipergunakan

seseorang dengan segala cara penyampaiannya, termasuk hal-hal kecil seperti

tanda-tanda berupa kata-kata maupun isyarat yang menyatakan bahwa ia sedang

mendengarkan baik-baik, setuju atau tidak setuju, bahkan pula menyadari

posisinya ketika berbicara dengan mitra bicaranya Umar (dalam Rosidin, 2010:4).

Berdasarkan pengertian tersebut didapat rumusan bahwa sosiolingustik

adalah pembahasan atau studi dari bahasa yang berhubungan dengan penutur

bahasa itu sebagai anggota masyarakat. Sosiolinguistik merupakan bagian dari


16

linguistik yang berkaitan dengan bahasa sebagai fenomena sosial dan budaya dan

bagaimana fungsi bahasa dalam komunikasi. Boleh juga dikatakan bahwa

sosiolingustik mempelajari dan membahas aspek-aspek kemasyarakatan bahasa,

khususnya perbedaan variasi yang terdapat dalam bahasa yang berkaitan dengan

faktor-faktor kemasyarakatan (sosial).

Hymes (dalam sumarsono 2013:12) mengatakan linguistik yang dapat

memberikan sumbangan terhadap etnografi komunikasi itulah yang kini dikenal

dengan nama sosiolinguistik. Dalam hal ini, Hymes menyarankan untuk

mengubah orientasi terhadap bahasa mencakup tujuh butir.

“Tekanan harus diarahkan kepada (1) struktur atau sistem tutur; (2)fungsi
yang lebih daripada struktur; (3) bahasa sebagai tatanan, dalam arti banyak
mengandung fungsi, dan fungsi yang berbeda menunjukan perspektif dan
tatanan yang berbeda; (4) ketepatan unsur linguistik dengan pesan (yang
hendak disampaikan); (5) keanekaragaman fungsi dari berbagai bahasa dan
alat-alat komunikasi lainnya; (6) guyup (komunitas) atau konteks sosial
lainnya sebagai titik tolak pemahaman; (7) fungsi-fungsi itu sendiri
dikuatkan atau dibenarkan dalam konteks, biasanya tempat, batas, dan
tatanan bahasa serta alat komunikasi lainnya diangkat sebagai problemati.”

Berdasarkan pendapat ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa

sosiolinguistik merupakan ilmu antardisiplin antarsosiologi dengan linguistik, dua

bidang ilmu empiris yang mempunyai kaitan erat. Sosiologi merupakan kajian

yang objektif dan ilmiah mengenai manusia di dalam masyarakat, lembaga-

lembaga, dan proses sosial yang ada di dalam masyarakat. Sosiologi berusaha

mengetahui bagaimana masyarakat itu terjadi, berlangsung, dan tetap ada.

Sehingga untuk mempelajari lembaga-lembaga, proses sosial dan segala masalah

sosial di dalam masyarakat, akan diketahui cara-cara manusia menyesuaikan diri

dengan lingkungannya, bagaimana mereka bersosialisasi, dan menempatkan diri


17

dalam tempatnya masing-masing di dalam masyarakat, sedangkan linguistik

adalah bidang ilmu yang mempelajari tentang bahasa, atau ilmu yang mengambil

bahasa sebagai objek kajiannya. Kalau dilihat dari batasan-batasan sosiolinguistik

tersebut kajian sosiolinguistik meliputi tiga hal, yakni bahasa, masyarakat, dan

hubungan antara bahasa dan masyarakat. Jadi, jelas dalam studi ini segi

kebahasaan berkaitan dengan linguistik dan segi kemasyarakatannya berkaitan

dengan sosiologi. Pengertian dasar inilah yang digunakan sebagai dasar penelitian

kata-kata tabu dalam BMDN.

2.2 Komponen Tutur

Hymes (Sumarsono, 2013:325) menyatakan komponen tutur sebagai

berikut, (1) bentuk tutur form of speech dan (2) norma interaksi norm of

interaction yang terdapat dalam komponen sosiolinguistik.

2.2.1 Bentuk Tutur (form of speech)

Menurut Hudson (Sumarsono, 2013:331) mencatat, register itu mengacu

kepada (variety accoding to use) varietasi berdasarkan penggunaannya, yang

dibedakan dengan dialek, yaitu (variety accoding to user) varietasi berdasarkan

penggunaanya). Hymes (dalam Sumarsono, 2013:331) meengemukakan register

bisa mencakup pengertian gaya tutur (speech style). Gaya tutur ini berlaku untuk

guyup, karena kita juga mengenal gaya perorangan (personal style). Selanjutnya

mengemukakan, bentuk tutur lebih mengarah kepada tatanan perabot kebahasaan

yang berskala bahasa, dialek, dan varietas yang dipakai secara luas, sedangkan

gaya tutur lebih mengarah kepada aspek manusianya, situasi, dan “genre”.
18

Bersama dengan saluran, bentuk bahasa membentuk komponen

(instrumentalitas).

2.2.2 Norma Interaksi (norm of interaction)

Perilaku khas dan sopan santun tutur yang mengikat yang berlaku dalam

guyup. Misalnya orang boleh saja menyela atau dilarang menyela percakapan;

suara normal tidak boleh dipakai dalam misa gereja atau sembahyang yang di

mesjid; giliran berbicara terbatas waktunya.

2.3 Tabu

Tabu atau pantangan adalah suatu larangan sosial yang kuat terhadap kata,

benda, tindakan, atau orang yang dianggap tidak diinginkan oleh suatu kelompok,

budaya, atau masyarakat. Pelanggarn tabu biasanya tidak dapat diterima dan dapat

dianggap menyerang. Beberapa kata yang sering kita gunakan bersifat tabu

bahkan dilarang secara hukum dan pelanggarnnya dapat menyebabkan pemberian

sanksi keras. Tabu dapat juga membuat malu, aib, dan perlakuan kasar dari

masyarakat sekitar. Akmajin (dalam Manopo 2014:2), menyatakan tabu adalah

kata-kata yang tidak pantas kita ucapkan di dalam masyarakat, dan penggunaan

kata tabu sebaiknya kita hindari atau paling tidak kita menggunakannya di dalam

pergaulan di masyarakat.

Senada dengan Akmajin, Wardhaugh (dalam Manopo, 2014:2)

mengatakan bahwa tabu berkaitan dengan makna budaya yang dinyatakan dalam

bahasa. Wardhaugh (Manopo, 2014:2) lebih lanjut mengatakan bahwa kata-kata

tabu adalah cara yang digunakan oleh masyarakat untuk mengungkapkan suatu

tindakan atau kebiasaan yang dipercaya dapat membahayakan mereka, yang


19

disebabkan oleh kelakuan atau sikap yang tidak mematuhi aturan moral.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa bahasa digunakan untuk

menghindari kata-kata yang jorok dan makian yang sifatnya mengatai karena hal

tersebut dianggap tidak bermoral, sopan santun, dan tidak layak untuk diucapkan

dalam kondisi apapun. Sutarman (2013:16) mengemukakan konsep “tabu” pada

sisi lain sama dengan konsep magi yaitu sebuah kata dengan kekuatan untuk

mempengaruhi peristiwa. Keyakinan terhadap hal-hal tabu banyak ditemukan

dalam BMDN dahulu maupun sekarang.

Faktor perkembangan zaman yang semakin pesat hingga menyebabkan

tidak dapat menyekat batasan-batasan dalam berkomunikasi sehingga terjadinya

modernisasi bahasa. Faktor tersebut membuat klasifikasi bagi masyarakat dalam

interaksi sosial. Fenomena ini membuktikan bahwa apa yang ditabukan dulu, saat

ini menjadi tidak tabu dan hal itu merupakan bagian dari komunikasi dan

keberadaannya tak terbantahkan lagi karena kata-kata tabu sering digunakan

sebagai kata sumpah Trudgill (dalam Manopo, 2014:3).

2.4 Tabu Bahasa

Tabu bahasa adalah larangan untuk menggunakan kata-kata tertentu karena

dianggap dapat mendatangkan malapetaka, melanggar etika sopan santun,

mencemarkan nama, mendapat amarah dari Tuhan, maupun diyakini sebagian

orang mengganggu makhluk halus yang ada pada tempat-tempat tertentu.

Masyarakat dewasa saat ini, baik di desa maupun di kota, banyak ditemukan

ungkapan yang ditabukan khususnya yang menyangkut tentang seksual.


20

Sutarman (2013:18) menyatakan tabu bahasa atau verbal adalah semua

ungkapan yang berwujud leksem, frasa, atau kalimat yang tidak boleh dituturkan

secara langsung, baik secara lisan maupun tertulis. Jika dilanggar, larangan itu

diyakini dapat mendatangkan malapetaka, amarah, permusuhan, ataupun dibenci

orang lain. Masyarakat penutur BMDN masih memegang teguh adat istiadat dari

para leluhurnya yang mana satu di antaranya adalah ungkapan kata-kata tabu.

Montagu (dalam Sutarman, 2013:19) menambahkan adanya teori tabu

sumpah serapah, atau swearing. Tindakan secara verbal mengungkapkan perasaan

yang berlebihan yang menyertai perasaan frustasi dalam kata-kata yang memiliki

hubungan emosi yang kuat.

2.5 Bentuk Kata-Kata Tabu

Bentuk kata-kata tabu terdapat dalam setiap kelompok masyarakat yang

dinilai tabu. Kata-kata tersebut tidak boleh diucapkan di tempat-tempat tertentu,

situasi-situasi tertentu, atau di depan khalayak ramai dalam kondisi formal.

Menurut Frazer (dalam Sutarman, 2013:18) tabu kata-kata digolongkan menjadi

beberapa bagaian, yaitu (1) tabu nama orang tua, (2) tabu nama kerabat, (3) tabu

nama orang yang meninggal, (4) tabu nama orang dan binatang yang disakralkan,

(5) tabu nama Tuhan, dan (6) tabu kata-kata tertentu. Pembagian jenis tabu

menurut Frezer ini spesifikasikan oleh peneliti menjadi, tabu nama orang dan

binatang yang disakralkan, tabu nama Tuhan dan,tabu kata-kata tertentu yaitu;

2.5.1 Tabu Nama Orang Tua

Sebagai seorang manusia yang baik kita tentu tahu bahwa sikap baik

terhadap orang tua merupakan suatu hal yang sangat penting. Karena, orang tua
21

adalah orang yang mengenalkan kita pada dunia dari kecil hingga dewasa. Setiap

orang tua pasti mempunyai harapan terhadap anaknya agar kelak menjadi anak

yang sukses.

Menurut Frazer (dalam Sutarman, 2013:20) orang tua adalah tokoh penting

dalam kehidupan kita. Maka dari itu, jika kita memang seorang manusia yang

baik hendaknya kita selalu berbakti kepada orang tua, melakukan apa yang telah

diperintahkan oleh orang tua, dan pantang untuk membangkang kepada orang tua

apalagi mengeluarkan kata-kata kasar. Orang tua harus dihormati dan dihargai,

baik dari segi perilaku maupun bahasa. Tatanan budaya masyarakat kita baik dari

norma agama menghormati orang tua hukumnya wajib. Nama orang tua tidak

boleh sembarangan disebut secara langsung. Dalam masyarakat penutur BMDN

memanggil nama orang tua secara langsung tanpa dengan sapaan adalah hal tabu

untuk diucapkan. Sutarman (2013:20) menyatakan, orang tua laki-laki harus

dipanggil dengan sebutan pak, bapak, ayah, papa, papi, abi, dan sebagainya.

Lebih lanjut Sutarman menjelaskan orang tua perempuan dipanggil dengan

sebutan ibu, bu, mama, mami, emak, umi, dan sebagainya. Namun dewasa ini

banyak dari kita lupa terhadap akan keberadaan orang tua. Manusia yang baik

kita harus memiliki prilaku dan tutur sapa yang baik pula terhadap orang tua kita.

2.5.2 Tabu Nama Kerabat

Seseorang yang mempunyai tali darah atau kekerabatan yang lebih tua dari

kita pantang atau tabu disebut namanya secara langsung, serta harus disertai

dengan sapaan kekerabatan. Dalam silsilah keluarga bentuk sapaan muncul

sebagai cara untuk menghormati orang yang lebih tua dari kita yang masih ada
22

hubungan darah. Sutarman (2013:21) kata sapaan atau panggilan kekerabatan

tersebut wajib disertakan jika pihak yang alur kekerabatannya lebih muda

memanggil pihak yang lebih tua.

2.5.3 Tabu Nama Orang yang Meninggal

Menghormati seseorang tidak hanya lepas pada kehidupan duniawi saja

akan tetapi menghormati seseorang juga diperuntuhkan setelah orang tersebut

meninggal dunia. Diberbagai daerah yang ada di Indonesia umumnya dan

masyarakata penutur BMDN Khususnya nama orang yang sudah meninggal tidak

boleh disebutkan secara langsung atau terang-terangan akan tetapi ada etika

bahasanya. Jika nama orang yang telah meninggal disebut secara terang-terangan

maka akan menimbulkan sebuah dampak bagi penuturnya dampak tersebut berupa

pusing kepala.

Dewasa ini masyarakat sudah banyak melupakan penggunaan sebutan

yang mengawali nama orang yang sudah meninggal sebagai bentuk rasa hormat

kita terhadap mereka atau sebagai bentuk menjaga nilai kesopanan. Sutaraman

(2013:22) menyatakan sebutan lazim bagi orang yang sudah meninggal sudah

menjadi tradisi masyarakat nusantara adalah almarhum (pria), almarhumah

(wanita), atau mendiang. Sebutan tersebut setiap daerah tentu berbeda-beda

seperti halnya pada masyarakat penutur BMDN sapaan untuk orang telah

meninggal adalah rowah contoh rowah andeng Ibrahim dan rowah Wak Long

Sulaisih. Selain sapaan tersebut sapaan dalam kekerabatan juga tetap digunakan

walaupun oranng tersebut sudah berada di balik papan (meninggal). Hal tersebut
23

diyakini oleh masyarakat kita bahwa orang yang telah meninggal ruhnya masih

hidup dan berada di sekitar kita namun di alam yang berbeda.

2.5.4 Tabu Nama Orang dan Binatang

Masyarakat tradisional masih sering kita temukan tentang keyakinan

bahwa dengan menyebut nama orang atau binatang tertentu secara langsung akan

membawa malapetakayang hebat. Misalnya, pada masyarakat Jawa zaman dulu

yang tinggal di hutan yang pekerjaannya bercocok tanam mereka tidak berani

menyebut “hama tikus” untuk menghindarinya para petani mengganti ungkapan

tersebut dengan sebutan “den baguse” (Sutarman, 2013:22).

2.5.5 Tabu Nama Tuhan

Menurut Sutarman, (2013:25) nama Tuhan tidak boleh sembarangan

disebut-sebut begitu saja. Menyebut nama Tuhan harus dengan suara yang lemah

lembut, tidak boleh dengan suara keras atau membentak. Manusia dituntut untuk

tidak boleh berprasangka buruk terhadap Tuhan walaupun kita sedang diberi

cobaan yang berat, misalnya, bencana, kemiskinan, penyakit, dan sebagainya.

Nama Tuhan tidak boleh disebutkan pada saat berbuat maksiat atau berbuat tidak

senonoh jika etika tersebut dilanggar maka Tuhan bisa murka dan memberikan

hukuman pada pelakunya.

2.5.6 Tabu Kata-Kata Tertentu

Penggunaan diksi yang tepat serta menghindari kata-kata yang dirasakan

jorok, kasar, dan menyinggung perasaan orang lain merupakan bagian dari

kesantunan berbahasa. Tabu kata-kata tertentu merupakan bentuk tabu verbal.

“Menurut Sutarman, (2013:29) tabu kata-kata tertentu yang ditemukan


dalam komunikasi sehari-hari baik secara lisan maupun tertulis adalah (1)
24

tabu menyebutkan alat kelamin, (2) tabu menyebut aktivitas seksual, (3)
tabu berkaitan profesi tertentu, (4) tabu menyebut fungsi-fungsi badaniah
tertentu, dan (5) tabu yang berhubungan dengan kebijakan penguasa.”

Jenis tabu kata-kata tertentu lebih rincinya dijelaskan di bawah ini.

1. Tabu Menyebut Alat Kelamin

Menurut Sutarman, (2013:30) menyebut alat kelamin adalah pantangan

menyebut secara langsung nama alat kelamin laki-laki maupun perempuan, baik

secara lisan maupun tertulis. Setiap daerah mempunyai istilah yang berbeda untuk

menyebut alat kelamin laki-laki maupun perempuan. Jika ‘alat kelamin’

diungkapkan dengan bahasa daerah masing-masing suku, akan terasa kasar dan

sangat tidak sopan. Misalnya pada masyarakat penutur BMDN menyebut alat

kelamin laki-laki ‘palat’ dan alat kelamin perempuan ‘puki’ maka terdengar

sangat kasar oleh pendengar tuturan tersebut.

2. Tabu Menyebut Aktivitas Seksual

Hubungan seks jika diungkapkan maka akan terdengar kasar dan

menjijikan bagi orang yang mendengar dan memahami artinya. Setiap daerah

mempunyai istilah tersendiri untuk menyebut hubungan seks misalnya pada

masyarakat penutur BMDN ‘bebini’ hubungan seks yang dilakukan oleh seorang

laki-laki dan perempuan.

3. Tabu Berkaitan Profesi Tertentu

Ungkapan-ungkapan yang menyangkut profesi tertentu jika diungkapkan

secara vulgar akan terkesan hina dan kurang menghargai. Nama profesi tersebut

tabu diungkapkan secara terang-terangan, tetapi harus disamarkan agar perasaan


25

penutur maupun pendengar lebih nyaman. Misalnya, ungkapan ‘lonte’ merupakan

suatu pekerjaan menjual diri kepada laki-laki maupun kepada perempuan.

4. Tabu Menyebut Fungsi Badaniah Tertentu

Fungsi-fungsi badaniah atau menyangkut penyebutan fungsi-fungsi

anggota badan, tabu jika diungkapkan dalam konteks khalayak ramai misalnya,

menyebut kata “berak” dan “kencing” tidak boleh disebutkan didepan umum

karena dianggap tidak sopan dan menjijikan jika didengar secara langsung

(Sutarman, 2013:33).

5. Tabu yang Berhubungan dengan Kebijakan Penguasa

Ungkapan-ungkapan yang sering muncul dalam masyarakat yang

berkaitan dengan kebijakan memang beragam ungkapan tersebut menjadi tabu

karena menyangkut tentang perasaan masyarakat dan penguasa atau pemerintah

selaku penentu kebijakan. Ucapan-ucapan penguasa di depan publik juga harus

berhati-hati, tidak boleh sembarangan menyinggung atasan atau mengganggu

kenyamanan pihak penguasa.

2.6 Referensi Eufemisme

Menurut Sutarman, (2013:55) referensi merupakan bentuk pengacuan

bahasa pada benda atau peristiwa yang ditunjukannya. Kata atau istilah yang

mengacu pada referen tertentu jika diucapkan secara langsung di depan umum

kadang dinilai tidak sopan dan tidak nyaman didengar. Supaya tidak

menimbulkan pesan yang menjijikkan kata atau istilah tersebut diganti dengan

ungkapan yang lebih halus. Ungkapan ini disebut ungkapan kata yang lebih halus

untuk menggantikan nama benda, sifat, atau peristiwa yang jika disebut secara
26

langsung menimbulkan rasa tidak nyaman bagi pendengar maupun penutur

disebut eufimesme (Sutarman, 2013:55).

Eufemisme atau eufemismus berasal dari bahasa Yunani eufhemizein yang

memiliki arti yang baik atau dengan tujuaan yang baik. Keraf (dalam Sutarman,

2013:47) eufemisme adalah acuan berupa ungkapan-ungkapan yang halus untuk

menggantikan kata-kata yang dianggap menghina, menyinggung perasaan, atau

mensugestikan sesuatu yang tidak menyenangkan. Masyarakat pedesaan

umumnya dan masyarakat penutur BMDN khusunya banyak memiliki kata-kata

yang ditabukan. Bagi penutur BMDN hal ini menyangkut pada kepercayaan

supranatural. Semakin kuat keyakinan mereka terhadap adat istiadat serta tradisi

yang ada dalam lingkungan masayarakat tersebut, maka semakin banyak ujaran

atau kata-kata yang ditabukan dan semakin banyak pula ungkapan eufemisme

yang digunakan. Dapat disimpulkan bahwa eufemisme merupakan ungkapan

pelembut untuk kata-kata yang dianggap kotor atau cabul sehingga tidak enak

untuk didengar oleh orang lain.

Eufemisme merupakan endemik masyarakat pada umumnya pemujaan

terhadap sesuatu yang biasa terkesan sepele menjadi terlihat sangat serius. Secara

tidak langsung masyarakat menggunakan ungkapan-ungkapan dan eufemisme

untuk menghindari pengucapan hal-hal yang bersinggungan dengan bagian-bagian

tubuh, fungsi-fungsi tubuh, seks, dan sebagainya yang dianggap tabu atau tidak

enak untuk diucapkan. Dalam proses komunikasi eufemisme sangat berfungsi

untuk menjaga perasaan mitra tutur atau pendengar tutur sehingga tidak ada pihak
27

yang merasa tersinggung, terhina, ataupun tidak nyaman karena penggunaan kata-

kata tertentu.

Menurut Wijana dan Rohmadi (2013:119) referensi dapat digolongkan

menjadi bermacam-macam, yakni keadaan, binatang, benda-benda, bagian tubuh,

kekerabatan, makhluk halus, aktivitas, dan profesi. Adapun bagaimana seluk-

beluk pemakaian referen-referen itu dapat dilihat dalam uraian berikut ini:

2.6.1 Keadaan

Kata-kata yang menunjukan keadaan yang tidak menyenangkan agaknya

merupakan satuan lingual yang paling umum dimanfaatkan untuk

mengungkapkan makian (Wijana dan Rohmadi, 2013:119). Secara garis besar ada

tiga hal yang dapat atau mungkin dihubungkan dengan keadaan yang tidak

menyenangkan ini, yakni keadaan mental, seperti gila, bodoh, tolol, dan

sebagainya, keadaan yang tidak direstui Tuhan atau agama, seperti kaparat,

jahanam, terkutuk, kafir, dsb., dan keadaan yang berhubungan dengan peristiwa

yang tidak menyenangkan, yang menimpa seseorang seperti celaka, sialan, mati,

modar, mampus, dan sebagainya.

2.6.2 Binatang

Masyarakat tradisional kita masih banyak yang menyakini bahwa dengan

menyebut nama binatang tertentu secara langsung akan membawa malapetaka

yang hebat (Sutarman, 2013:22). Penyebutan kata-kata tabu yang berhubungan

dengan binatang yang jorok dan menjijikan bisa menyebabkan pertikaian

antarsesama. Sifat-sifat itu adalah menjijikkan anjing, menjijikkan dan


28

diharamkan babi, mengganggu bangsat, menyakiti lintah darat, senang mencari

pasangan buaya dan bandat (Wijana dan Rohmadi, 2013:120).

2.6.3 Makhluk Halus

Makhluk halus yang sering mengganggu kehidupan manusia (Wijana dan

Rohmadi, 2013:122). Tabu makhluk halus adalah segala sesuatu yang

berhubungan dengan sifat atau perbuatan seperti, setan, setan alas, dan iblis.

Kesemuanya adalah mahluk-makhluk halus yang sering mengganggu kehidupan

manusia, seperti terlihat dalam contoh berikut ini:

(1) Setan, dia betul-betul gila.

(2) Setan alas, dari mana saja kamu ini?

(3) Iblis, kembalikan senjata itu padaku!

2.6.4 Benda-benda

Tidak jauh berbeda dengan nama-nama binatang dan makhluk halus,

nama-nama yang lazim didigunakan untuk mengungkapkan perasaan kesal juga

berkaitan dengan keburukan referennya seperti bau yang tidak sedap tai dan tai

kucing, kotor dan usang gombal, dan suara yang mengganggu sompret (Wijana

dan Rohmadi, 2013:122).

2.6.5 Bagian tubuh

Bagian tubuh yang lazim diucapkan untuk mengekspresikan kejengkelan

adalah anggota tubuh yang erat kaitannya dengan aktivitas seksual karena

aktivitas ini sangat bersifat personal, dan dilarang dibicarakan secara terbuka

kecuali dalam forum-forum tertentu. Menurut Wijana dan Rohmadi (2013:122)

dua bentuk yang sering digunakan penutur adalah puki mak dan cuki mai.
29

2.6.6 Kekerabatan

Referensi eufemisme kata-kata kekerabatan mengacu pada orang yang

dihormati, atau orang yang memberikan ajaran yang baik-baik kepada generasi

berikutnya, seperti ibu, bapak, kakek, nenek. Menurut Wijana dan Rohmadi

(2013:123) sebagai orang yang dihormati kata-kata itu tabu diucapkan secara

terang-terangan di tempat umum. Jika diucapkan di depan umum maka melanggar

norma etika atau sosial dalam masyarakat. Akan tetapi, digunakan umpatan atau

referensi eufemisme untuk mengganti kata-kata tersebut agar tidak melanggar

norma dan nilai yang ada.

2.6.7 Aktivitas

Kerja satu di antara aktivitas atau kegiatan kerja yang dilaksanakan oleh

manusia dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Wijana dan Rohmadi (2013:124)

sejauh yang berhubungan dengan aktivitas, dua buah kata tabu yang ditemukan

seluruhnya mengacu pada aktivitas seksual dan aktivitas yang lainnya. Kata-kata

itu misalnya diamput dan diancuk. Fenomena seperti ini sering terjadi dalam

masyarakat maka dari itu, perlu adanya usaha untuk memperhalus kata-kata

tersebut. Jauh sebelumnya, pada masyarakat jaman dulu atau nenek moyang kita

kata-kata tabu tersebut memiliki referensi eufemisme yang digunakan agar tidak

melanggar norma dan nilai dalam masyarakat.

2.6.8 Profesi

Profesi seseorang, terutama profesi rendah dan diharamkan oleh ajaran

agama sering kali digunakan oleh para pemakai bahasa untuk mengumpat atau
30

mengekspresikan rasa jengkelnya. Profesi-profesi itu diantaranya maling, sundal,

bagingan, copetlonte, cecunguk dan sebagainya (Wijana dan Rohmadi, 2013:124).

2.6.9 Penyakit

Masyarakat Melayu Ngabang memiliki jenis penyakit yang tidak boleh

disebutkan ketika melihatnya, jika penyakit tersebut diucapkan maka akan

mendatangkan mudarat bagi penuturnya. Terlepas dari peristiwa-peristiwa itu

maka dalam BMDN memberikan sebuah pengumpatan atau eufemisme bagi

penyakit-penyakit tertentu.