Anda di halaman 1dari 9

PERISTILAHAN AKTIVITAS MENANGKAP IKAN DI ALIRAN SUNGAI LANDAK

DALAM BAHASA BIDAYUH DIALEK BEMAK

Bernadus Winardi, Patriantoro, Agus Syahrani


Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Untan Pontianak
Posel: bernadus.winardii@gmail.com

Abstract
This research was conducted driven by the desire to document and inventory words
and phrases in terms of fishing activities in the Sungai Landak stream. Problems
discussed in this research, namely the form of lingual units, lexical meanings, cultural
meanings and inventory of the term by using computerized linguistics Wesay. This
research uses three methods including observation method, skill method, and
descriptive method. Result of research of term fishing activity in Sungai Landak on
Bidayuh language of Bemak dialect, (1) lingual unit form, divided into single word,
derivative and phrase; (2) lexical meaning based on the category of noun appliance,
result and activity verb; (3) the cultural meaning of abstinence with 3 data, consisting
of abstinence, arrogance, not to mention crocodiles and myths with 4 data consisting
of myths of misfortune, mythological ghost of water, mythical bird of bice 'keto' as
nature marker; (4) an inventory by computerized linguistic Wesay, which produces a
mini-dictionary related to fisheries.

Keywords: Terminology, Fishing, Sense, Wesay

PENDAHULUAN melakukan segala aktivitas. Tradisi berkaitan


Bahasa Bidayuh Dialek Bemak dengan aktivitas ini merupakan sebuah
merupakan satu di antara bahasa daerah yang kearifan lokal suatu suku bangsa yang telah
terdapat di daerah Kabupaten Landak. Bahasa dilakukan dari zaman nenek moyang. Hal
Bidayuh Dialek Bemak yang selanjutnya menjadi warisan budaya harus tetap dikenal
disingkat dengan BBDB merupakan bahasa dan terus dilestarikan.
Dayak yang dituturkan oleh masyarakat Aktivitas dimaksud adalah segala hal yang
Dayak Pantu yang masuk ke dalam kelompok dilakukan oleh masyarakat, dengan masih
bahasa bidayuhik. Bahasa Bemak berdasarkan menggunakan cara-cara tradisional, terkait
tatanan kebahasaan, bahasa ini tergabung dengan penelitian ini, maka yang menjadi
dalam kelompok bahasa Bidayuhik (Alloy, fokus peneliti adalah pada aktivitas
2007:88). BBDB memiliki peranan yang menangkap ikan yang terdapat di daerah
cukup penting sebagai lambang kebangsaan penutur BBDB, baik itu aktivitas menangkap
daerah atau sebagai identitas bagi masyarakat ikan yang masih dilakukan maupun yang
dan berfungsi sebagai kekayaan kebudayaan sudah tidak pernah dilakukan lagi yang
daerah Pantu. disebabkan oleh beberapa faktor.
Selain bahasa yang menjadi simbol dari Aktivitas menangkap ikan merupakan
sebuah kebudayaan dan identitas bangsa, ada aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat
juga tradisi yang menjadi salah satu akar pesisir Sungai Landak. Dalam aktivitas
sebuah kebudayaan. Tradisi dapat diihat dari menangkap ikan, masyarakat Pantu sebagai
berbagai sudut kehidupan masyarakat, salah pengguna Bahasa Bemak masih
satunya dapat dilihat dari cara hidup dan memanfaatkan alat-alat penangkap ikan
kebiasaan masyarakat setempat dalam tradisional seperti telah disinggung di atas,

1
alat-alat tersebut terbilang ramah lingkungan, Ngabang, Kabupaten Landak. Peneliti
dan cara memasangnya dan penggunaannya memilih lokasi ini dilatarbelakangi oleh
pun bervariasi, ada yang tidak rumit dan ada beberapa pertimbangan, pertama lokasi ini
juga yang rumit, namun seiring merupakan tempat domisili peneliti, kedua
berkembangnya zaman saat ini, alat-alat daerah pesisir sungai, ketiga tempat
tersebut sudah mulai ditinggalkan yang masyarakat yang menggunakan alat
disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu (1) tradisional dalam menangkap ikan.
kondisi air sungai yang semakin keruh, Setiap penutur bahasa daerah tentu ingin
sehingga ikan-ikan pun sudah sulit untuk bahasanya dikenal dan diakui di tengah
ditemukan; (2) pergeseran penduduk masyarakat dengan keberagaman bahasa
setempat, yang awalnya bermukim daerah lainnya, selain itu juga setiap penutur
dipinggiran sungai kini sudah banyak yang bahasa tentu ingin mengembangkan
bergeser ke dataran tinggi, ada juga yang bahasanya, agar bisa dijadikan sebagai bahasa
pindah ke kota kabupaten; (3) tradisi penyumbang kosakata Bahasa Indonesia.
menangkap ikan tradisional itu dulunya Satu di antara upaya yang dilakukan
ditekuni oleh kaum-kaum tua. Saat ini kaum peneliti, yaitu dengan cara mengumpulkan
muda sudah jarang melakukan aktivitas data-data berkaitan dengan aktivitas
menangkap ikan dengan alat tradisional. menangkap ikan, tujuannya selain untuk
Istilah merupakan suatu penamaan khusus dokumentasi data-data tersebut akan diolah
untuk menamai objek tertentu yang bersifat dan dikembangkan untuk dijadikan sebuah
khusus. Istilah adalah kata atau gabungan kata kamus. Banyak teknologi perangkat lunak
yang dengan cermat mengungkapkan konsep, komputer yang dapat dimanfaatkan untuk
proses, keadaan atau sifat yang khas dalam mengolah data menjadi kamus, satu di antara
bidang tertentu (Kridalaksana, 2011:97). perangkat lunak tersebut adalah WeSay.
Peneliti tertarik untuk meneliti Wesay adalah proyek Open Source yang
Peristilahan Aktivitas Menangkap Ikan di bertujuan untuk menyediakan alat-alat
Aliran Sungai Landak dalam Bahasa Bidayuh komputer untuk membantu masyarakat
Dialek Bemak, Pertama, penelitian dengan melakukan beberapa kegiatan pembangunan
menggunakan BBDB belum ada. Kedua, bahasa mereka sendiri. Wesay membantu
melestarikan Bahasa Bidayuh Dialek Bemak orang membuat sebuah kamus dalam bahasa
melalui penelitian, sehingga BBDB dapat mereka sendiri. Wesay memiliki berbagai
dipergunakan oleh generasi-generasi cara untuk membantu penutur asli untuk
selanjutnya. mendaftar kata-kata dalam bahasa mereka dan
Ketiga, mendokumentasikan Bahasa memasukkan beberapa data dasar tentang
Bidayuh Dialek Bemak dalam bentuk istilah bahasa tersebut.
aktivitas menangkap ikan melalui penelitian, Kamus sebagai hasil akhir data ini
sehingga istilah BBDB dapat dikenal dan tetap diharapkan dapat menjadi rujukan dalam
terjaga. Keempat, mengkaji istilah maka menerangkan arti dan makna dalam sebuah
cakupan penelitian akan luas, tidak terbatas leksem. Kamus berfungsi sebagai wadah
pada kata, melainkan sampai pada frasa, penghimpun konsep-konsep budaya, kamus
klausa bahkan kalimat. Kelima, juga memiliki fungsi praktis, seperti sarana
menginventarisasikan Peristilahan Aktivitas mengetahui makna kata, sarana mengetahui
Menangkap Ikan di Aliran Sungai Landak lafal dan ejaan sebuah kata, sarana untuk
dalam Bahasa Bidayuh Dialek Bemak; mengetahui asal-usul kata, dan sarana untuk
keenam, menambah referensi untuk penelitian mengetahui berbagai informasi mengenai kata
terkait, khusus dalam Bahasa Bidayuh Dialek lainnya.
Bemak ataupun bahasa daerah lainnya. Masalah umum dalam penelitian ini “Apa
Peneliti melakukan penelitian peristilahan saja peristilahan aktivitas menangkap ikan di
aktivitas menangkap ikan di Dusun Kari Aliran Sungai Landak dalam Bahasa Bidayuh
Semosok, Desa Amboyo Selatan, Kecamatan Dialek Bemak?”. Submasalah dalam

2
penelitian ini, yaitu (1) Bagaimana bentuk hubungan makna yang satu dengan yang lain,
peristilahan aktivitas menangkap ikan di dan pengaruh terhadap manusia dan
aliran Sungai Landak dalam BBDB? (2) masyarakat.
Bagaimana arti leksikal aktivitas menangkap Etnolinguistik adalah cabang ilmu
ikan di aliran Sungai Landak dalam BBDB? linguistik yang erat kaitannya dengan
(3) Bagaimana makna kultural peristilahan kebudayaan dalam suatu kelompok
aktivitas menangkap ikan di aliran Sungai masyarakat. Etnolinguistik atau lebih dikenal
Landak dalam BBDB? (4) Bagaimana hasil dengan istilah antropoloinguistik merupakan
inventarisasi peristilahan aktivitas menangkap cabang ilmu linguistik yang mempelajari dan
ikan di aliran Sungai Landak dalam BBDB meneliti hubungan antara bahasa dan
dengan menggunakan komputerisasi masyarakat pedesaan yang biasanya belum
linguistik Wesay? mengenal tulisan dengan menerapkan metode-
Tujuan umum penelitian ini metode yang sesuai dengan keadaan budaya
“Pendeskripsian leksikon aktivitas yang bersangkutan (Sibarani, 2004:56).
menangkap ikan di Aliran Sungai Landak Menurut Salzmann (dalam Bawa,
dalam Bahasa Bidayuh Dialek Bemak”. 2004:44), bahwa istilah anthropological
Secara khusus tujuan penelitian ini untuk linguistics bersifat rendun, maka dalam
mendeskripsikan bentuk peristilahan aktivitas bahasa Indonesia linguistik antropologi,
menangkap ikan di aliran Sungai Landak dianggap berpadanan dengan istilah
dalam BBDB, mendeskripsikan arti leksikal etnolinguistik. Etnolinguistik/ linguistik
aktivitas menangkap ikan di aliran Sungai antropologi seperti juga halnya antropologi
Landak dalam BBDB, mendeskripsian makna merupakan ilmu interpretatif sehingga yang
kultural peristilahan aktivitas menangkap ikan dilihat lebih jauh ialah apa makna di balik
di aliran Sungai Landak dalam BBDB, hasil penggunaan ungkapan. Etnolinguistik
inventarisasi peristilahan aktivitas menangkap diasumsikan sebagai disiplin ilmu yang khas
ikan di aliran Sungai Landak dalam BBDB yang layak dikaji, relativitas bahasa adalah isu
dengan menggunakan komputerisasi teoretis yang utama dikaji oleh etnolinguistik.
linguistik Wesay, menyimpulkan hasil analisis Kajian bahasa dengan menggunakan
bentuk, arti leksikal, makna kultural serta hasil perspektif antropologi dengan sendirinya
inventarisasi peristilahan aktivitas menangkap akan menerapkan metode kerja lapangan yang
ikan di aliran Sungai Landak dalam BBDB. biasa digunakan oleh ahli antropologi, yaitu
Penelitian peristilahan aktivitas metode etnografi.
menangkap ikan di aliran Sungai Landak Dalam kajian semantik istilah leksem
dalam bahasa Bidayuh dialek Bemak dibatasi digunakan untuk mewadahi konsep satuan
pada ruang lingkup, yaitu aktivitas yang bahasa yang memiliki satu satuan makna.
dilakukan dalam menangkap ikan, alat yang Secara semantik yang disebut leksem adalah
digunakan dalam aktivitas dan hasil yang bisa berupa kata dasar, kata gabung, kata
diperoleh dari aktivitas tersebut. berimbuhan, maupun bentuk-bentuk yang
Semantik merupakan cabang ilmu disebut ungkapan/idiom. Leksikal adalah
linguistik, yang mempelajari tentang makna. bentuk adjektiva yang diturunkan dari bentuk
Menurut (Chaer, 2013:2) menyatakan nomina leksikon (vokabuler, kosakata,
semantik dapat diartikan sebagai ilmu tentang pembendaharaan kata). Satuan dari leksikon
makna atau tentang arti, yaitu salah satu dari adalah leksem yaitu satuan untuk bahasa yang
tiga tataran analisis bahasa: fonologi, bermakna (Subroto, 2011:42).
gramatika, dan semantik. Pendapat yang sama Satuan lingual kata (terutama kelas kata
dikemukakan oleh Suhardi (2015:5) semantik utama) pada umumnya mempunyai arti
adalah cabang linguistik yang mempelajari leksikal yang bersifat mandiri atau dapat
tentang makna dan arti dari sebuah kata, frasa ditangkap arti leksikalnya secara mandiri
dan klausa. Semantik menelaah lambang- (rumah, kursi, lari, tidur; gemuk, kurus; lima,
lambang atau tanda yang menyatakan makna, sepuluh; kemarin, besok) tanpa melihat

3
konteksnya (Subroto, 2011:22). Makna adalah berguna untuk menghimpun data-data yang
suatu maksud yang tersirat dalam sebuah kata, peneliti butuhkan dalam proses penelitian.
frase, klausa, kalimat, dan wacana. Makna Setelah semua data-data yang dibutuhkan
adalah pertautan yang ada di antara unsur- telah terkumpul, metode terakhir yag peneliti
unsur bahasa itu sendiri (terutama kata-kata) gunakan yaitu metode deskriptif, hal tersebut
(Fatimah, 2012:7). berguna untuk mendeskripsikan data-data
Arti leksikal merupakan arti yang memberi yang ada, sehingga lebih jelas dan mudah
pengertian tetap atau bersifat pasti dari bentuk untuk dipahami.
sebuah kata. Pendapat senada mengatakan Bentuk penelitian ini tidak memaparkan
bahwa arti leksikal adalah arti yang data dengan angka-angka, melainkan
terkandung dalam kata-kata sebuah bahasa menampilkan data berupa kata-kata berkaitan
yang lebih kurang bersifat tetap (Subroto, dengan objek penelitian. Peneliti
2011:31). Arti kultural dalam suatu menggunakan bentuk penelitian kualitatif
masyarakat pada umumnya dikaitkan dengan dikarenakan agar data yang akan ditampilkan
siklus kehidupan mulai dari saat lahir sampai relevan dan mudah dipahami. Menurut
dengan saat kematian. Banyak juga dikaitkan Mahsun (2012:257), mengatakan analisis
dengan upacara-upacara mencari kehidupan. kualitatif fokusnya penunjukkan makna,
Bentuk satuan lingual yang digunakan dalam deskripsi, penjernihan, penempatan data pada
penelitian ini berdasarkan rumusan masalah konteksnya masing-masing, dan sering kali
ialah bentuk satuan lingual berupa kata dan melukiskannya dalam bentuk kata-kata dari
frasa. pada dalam angka-angka.
Komputerisasi linguistik merupakan Sumber data dalam penelitian ini adalah
pemanfaatan sistem komputer untuk penutur asli Bahasa Bemak, dan masih sering
mengolah data bahasa, misalnya menjadi menangkap ikan dengan cara tradisional, yang
sebuah kamus. Dalam penelitian ini peneliti berada di Dusun Semosok, Desa Amboyo
akan menerangkan komputerisasi linguistik Selatan, Kecamatan Ngabang, Kabupaten
dengan sistim Wesay. Wesay adalah perangkat Landak. berupa Peristilahan Aktivitas
lunak yang dapat membantu seseorang Menangkap Ikan yang mencakup kata dan
membangun sebuah kamus dalam bahasa frasa yang diperoleh dari informan yang
mereka sendiri. Wesay memiliki berbagai cara merupakan penutur asli dialek Bemak, dan
untuk membantu penutur suatu bahasa dalam sebagai nelayan di aliran Sungai Landak.
menjelaskan kata-kata dalam bahasa mereka Metode dan Teknik yang digunakan oleh
dan memasukkan beberapa data dasar tentang peneliti dalam mengumpulkan data di
bahasa. lapangan yakni, metode cakap dengan teknik
pancing, teknik cakap semuka, teknik catat,
METODE PENELITIAN dan teknik rekam.
Metode adalah cara kerja, teknik kerja, Menurut Sudaryanto (1993:137) metode
langkah-langkah kerja yang dilakukan secara cakap meliputi teknik sebagai berikut: (1)
berurutan dan sistematis dalam penelitian. teknik pancing, secara praktis metode cakap
Metode yang digunakan peneliti dalam diwujudkan dengan cara pemancingan,
penelitian ini meliputi tiga metode di peneliti untuk mendapatkan data harus
antaranya metode observasi, metode cakap, memancing seseorang agar mau berbicara;
dan metode deskriptif. Cara kerja dari masing- (2) teknik rekam dan teknik catat, ketika
masing metode ini, yaitu metode observasi peneliti melakukan kegiatan penelitian, maka
merupakan metode yang pertama digunakan peneliti secara langsung melakukan
peneliti untuk pengambilan data awal sebagai perekaman, kemudian diikuti pencatatan pada
rujukan untuk merancang judul penelitian buku catatan; (3) teknik cakap semuka,
dengan berpatokan pada masalah-masalah kegiatan memancing agar informan mau
yang akan dikaji, tahap selanjutnya peneliti melakukan pembicaraan pertama langsung,
menerapkan metode cakap, hal tersebut atau bersemuka dengan informan. Alat

4
pengumpulan data merupakan hal yang paling dibantu oleh morfem lain dan tanpa morfem
penting. Alat yang digunakan dalam lain kata merogoh ini memiliki arti tersendiri
penelitian disesuaikan dengan kebutuhan berdasarkan referennya. Ditinjau dari satuan
seorang peneliti. Dalam penelitian ini peneliti gramatikalnya, Istilah ini masuk kategori
menggunakan alat-alat berupa intrumen verba, namun tergolong ke dalam bentuk
wawancara dan perekam suara. Peneliti selaku monomorfemis atau kata tunggal, karena
instrumen kunci bertindak sebagai perencana, terdiri dari satu morfem.
pelaksana, penganalisis, dan pelapor hasil Merogoh merupakan istilah
penelitian. Instrumen wawancara yang yang digunakan oleh masyarakat Pantu untuk
digunakan oleh peneliti adalah alat tulis menyebut aktivitas menangkap ikan dengan
(buku, bulpoin), instrumen pertanyaan, serta menanggok. Merogoh adalah satu di antara
alat rekam (Handphone). aktivitas yang dilakukan untuk mencari ikan,
Peneliti melakukan uji keabsahan data aktivitas ini berbeda dengan aktivitas mencari
dengan meningkatkan ketekunan berarti ikan pada umumnya.
melakukan pengamatan secara lebih cermat Aktivitas ini dilakukan di danau Pantu
dan berkesinambungan. Dengan yang alirannya terhubung langsung dengan
meningkatkan ketekunan, peneliti dapat aliran Sungai Landak. Aktivitas ini dilakukan
melakukan pengecekan kembali apakah data dengan menyusuri sisi danau dengan beramai-
yang telah didapatkan valid atau tidak. ramai, mulai dari hulu sungai sampai ke hilir
Dengan meningkatkan ketekunan, peneliti sungai. Hal tersebut satu di antara strategi
dapat memberikan deskripsi data yang akurat masyarakat yang dilakukan atas dasar
dan sistematis (Sugiyono, 2015: 370). kebiasaan mereka setiap melakukan aktivitas
Analisis data merupakan upaya yang tersebut, tujuannya agar ikan-ikan yang
dilakukan untuk mengklasifikasikan, dan bersembunyi berkumpul ke bagian hilir yang
mengelompokan data. Pada tahap ini biasanya semakin ke ujung lebar danau
dilakukan upaya mengelompokkan, semakin mengecil.
menyamakan data yang sama dan Aktivitas ini dilakukan dengan alat yang
membedakan data yang memang berbeda, dikenal masyarakat dengan ayak sorong dan
serta menyisihkan pada kelompok lain data ayak selamo kedua alat ini sama saja, hanya
yang serupa, tetapi tidak sama (Mahsun, bentuknya saja yang membedakan. Ada juga
2012:253). alat lain yang biasa digunakan, seperti jala dan
pasat seluakng. Untuk alat seperti ayak
HASIL PENELITIAN DAN selamo atau ayak sorong biasanya lebih
PEMBAHASAN cendrung dipakai oleh ibu-ibu dan anak-anak
Berdasarkan masalah, maka analisis data yang juga ikut dalam aktivitas tersebut,
yang terdiri atas tiga bagian, yaitu mengenai sedangkan untuk kaum lelaki biasanya
bentuk satuan lingual peristilahan aktivitas menggunakan jala ataupun pasat.
menangkap ikan yang didapatkan hasil berupa Bila alatnya jala biasanya laki-laki
kata ataupun frasa, arti leksikal dan makna mengguna perau ‘perahu’ sebagai sarana, dari
kutural peristilahan aktivitas menangkap ikan, atas perahu itulah mereka menebarkan
hasil inventarisasi peristilahan aktivitas jalanya, tetapi jika menggunakan pasat
menangkap ikan di aliran Sungai Landak mereka menyusuri dan masuk ke sungai atau
dalam Bahasa Bidayuh Dialek Bemak di di tepi sungai untuk menggunakan pasatnya
Dusun Kari Semosok, Desa Amboyo Selatan, yang digunakan dengan cara dibenamkan,
Kabupaten Landak. kemudian setelah kurang lebih 2 menit alat ini
Merogoh merupakan bentuk diangkat secara vertikal.
dasar dari sebuah kata. Berdasarkan Hasil yang didapat dari aktivitas ini
distribusinya, istilah merogoh digolongkan beragam, dan umumnya adalah ikan yang
sebagai morfem bebas, karena istilah merogoh suka tinggal di danau. Saat menggunakan
ini bisa berdiri sendiri sebagai kata tanpa pasat ikan yang biasanya adalah ikan

5
tengkarak  lamayan [lamayan], dalam kategori nomina yang berfungsi
banir [ dan masih banyak ikan danau sebagai atribut. Begitu juga dengan kata ayak
lainnya, dan jika menggunakan jala biasanya dan selamo, penggabungan dua kata tersebut
ikan lunuk [ lais [ dan ikan bisa menduduki fungsi pelengkap dalam
danau lainnya, sedangkan menggunakan ayak kalimat dan menjadi sebuah frasa nominal.
sorong atau ayak selamo biasanya ikan-ikan Ayak sorong dan ayak selamo ‘tangguk’
yang suka tinggal di bawah batang kayu, merupakan keranjang dari rotan atau jaring
seperti bao [bao], lusok serta ikan- berbingkai (untuk menangkap ikan, udang,
ikan kecil lainnya, seperti tengkarak dan sebagainya). Bahan yang digunakan untuk
 membuat alat ini yaitu menggunakan rotan
Dalam aktivitas merogoh terdapat atau wi yang sudah dibelah dan dijemur
pantangan tidak boleh mantus ‘membacok’ kering, bamatn ‘bemban’ yang sudah dibelah
ikan dengan parang saat melihat ikan timbul. dan telah dijemur kering, kemudian tali rapia
Pantangan tersebut merupakan pantangan jepang untuk menjahit antara anyaman
yang masih dipercaya sampai saat ini oleh dengan wi ‘rotan’.
masyarakat penutur Bemak saat mereka
melakukan aktivitas merogoh. Dipercaya
bahwa kalau pantangan atau larangan tersebut
dilanggar maka akan ada kerugian (tidak
mendapatkan ikan). Menurut kepercayaan
tersebut jika mantus ‘membacok’ ikan dengan
Gambar 2. Ayak sorong dan ayak selamo alat
parang saat ada ikan timbul akan digunakan dalam aktivitas merogoh.
menyebabkan ikan-ikan yang lain akan hilang,
karena ikan tersebut mencium bau darah ikan Jala merupakan bentuk dasar dari sebuah
yang telah dibacok dengan menggunakan kata. Berdasarkan distribusinya, istilah jala
parang. digolongkan sebagai morfem bebas, karena
istilah jala ini bisa berdiri sendiri sebagai kata
tanpa dibantu oleh morfem lain dan tanpa
morfem lain kata jala ini memiliki arti
tersendiri berdasarkan referennya. Ditinjau
dari satuan gramatikalnya, bentuk ini
tergolong ke dalam bentuk monomorfemis
atau kata tunggal, karena terdiri dari satu
morfem. Jala adalah alat untuk menangkap
ikan yang berupa jaring bulat (penggunaannya
Gambar 1. Aktivitas merogoh; dengan cara menebarkan atau mencampakkan
Sumber:https://mapofborneo.files.wordpress.com/2 ke air). Alat ini merupakan alat yang dapat
016/07/img_20160629_182047.jpg
menangkap semua jenis ikan, alat ini satu di
antara alat yang paling sering digunakan oleh
Ayak sorong  ayak masyarakat pesisir Sungai Landak.
selamo merupakan sebuah Jala sebuah alat yang berbentuk kerucut
alat yang digunakan oleh nelayan (pencari dengan jaring-jaring atau ripakng
ikan). Ayak sorong dan ayak Bahan yang digunakan dalam
tergolong ke dalam bentuk frasa, pembuatan jala ini seperti ripakng, cuban,
secara utuh frasa ini dapat menjadi pelengkap sebagai jarum dan alat pengukur ukuran jaring
dalam sebuah kalimat. Tetapi, jika dipisah jala, benang pelastik yang digunakan sebagai
kedua frasa tersebut tidak dapat mengisi bahan anyaman jala, dan yang paling penting
fungsi pelengkap dalam kalimat. Kata ayak adalah rantai sebagai pemberat jala. Rantai
berkategori nomina dan menjadi inti dalam yang digunakan dapat berupa rantai timah
frasa, sedangkan sorong juga termasuk ke

6
ataupun rantai besi, bergantung bobot jala sebagai atribut. Penggabungan dua kata
yang ingin dibuat. tersebut bisa menduduki fungsi pelengkap
Dari segi cara penggunaan alat ini dapat dalam kalimat dan menjadi sebuah frasa
dikatakan praktis, karena tinggal dilempar. nominal.
Namun, yang menjadi persoalan adalah, pada Pasat seluakng merupakan alat
saat melempar tentu ada teknik khusus yang penangkap ikan yang terbilang unik dan harus
dilakukan agar pada saat melempar jala mempunyai keahlian pada saat
tersebut terhampar atau terbuka lebar. Pertama menggunakannya. Alat ini termasuk alat
yang harus dilakukan tali nilon sebagai musiman, karena tidak setiap saat digunakan
penambat jala dilipat dan digenggam dengan biasanya berkisar 2 kali dalam satu tahun. Alat
tangan kanan, kemudian bagian jala juga ini digunakan hanya pada saat ikan seluakng
demikian dilipat sampai hanya menyisakan mudik, dan saat itu biasanya aliran Sungai
kurang lebih 30—50 cm jarak lipatan dari kaki Landak baru surut.
jala yang terdapat rantai, setelah itu bagian Alat ini berbentuk persegi empat
yang tidak dilipat dibagi menjadi tiga bagian, dilengkapi dengan jari-jari seukuran jari
bagian pertama digengam dengan tangan kiri, kelingking orang dewasa yang membentang
bagian kedua dikaitkan dengan siku lengan sebagai penahan jaring dan sebatang tangkai
kanan, dan bagian ke tiga dilepas saja. pasat. Jaring yang digunakan berbentuk
Setelah siap jala diayun kira-kira tiga persegi menyesuaikan dengan jari-jari
kali dan langsung dilempar, aktivitas tersebut pembentang, dan ukuran jaring berkisar kira-
disebut dengan nyaa [ala]. Penggunaan alat kira 1 inci. Dilengkapi dengan tangkai atau
ini bisa digunakan di atas perau bisa juga batang pasat dengan ukuran kira-kira sebesar
dengan cara menyusuri pantai. Jika lengan orang dewasa.
menggunakan perau biasanya daerah sasaran Cara penggunaan alat ini cukup rumit,
nyala di lubuk yang dasarnya tidak banyak karena membutuhkan keahlian khusus. Alat
kayu. Aktivitas nyala [ala] dilakukan pada ini digunakan di atas perau tentu saja
waktu pagi, sore, dan juga malam hari. keseimbangan sangat dibutuhkan agar bisa
mengangkat alat ini. Posisi perau juga tidak
sembarangan, perau harus diposisikan
melintang dengan kemudi menempel di sisi
sungai dan bagian depan perau menghadap
tengah sungai dan di tahan dengan pancang
kayu. Aktivitas masat dilakukan pagi hingga
siang hari, saat sore aktivitas ini tidak
dilakukan lagi.

Gambar 3. Jala

Pasat seluakng merupakan sebuah alat


yang digunakan oleh nelayan (pencari ikan).
pasat seluakng ini tergolong ke dalam frasa,
secara utuh frasa ini dapat menjadi pelengkap
dalam sebuah kalimat. Namun, jika dipisah Gambar 4. Pasat seluakng
kedua frasa tersebut tidak dapat mengisi
Tengkarak, lamayan, banir, lunuk, lais,
fungsi pelengkap dalam kalimat. Kata pasat
bao, losok merupakan istilah hasil yang
berkategori nomina dan menjadi inti dalam
diperoleh dalam aktivitas merogoh. Istilah
frasa, sedangkan seluakng juga termasuk ke
tersebut merupakan bentuk dasar dari sebuah
dalam kategori nomina yang berfungsi

7
kata. Berdasarkan distribusinya, istilah Ikan banir merupakan satu di antara jenis ikan
tengkarak, lamayan, banir, lunuk, lais, bao, berduri atau bersirip tajam.
losok digolongkan sebagai morfem bebas, Ciri fisik ikan ini seperti ikan baukng,
karena istilah ini bisa berdiri sendiri sebagai memiliki sirip yang tajam, tidak bersisik,
kata tanpa dibantu oleh morfem lain dan tanpa warna ke abu-abuan, bentuk tubuh ikan ini
morfem lain istilah ini memiliki arti tersendiri jika dilihat dari depan seperti segi tiga,
berdasarkan referennya. Ditinjau dari satuan berkumis sama halnya ikan baukng, dan ikan
gramatikalnya, bentuk ini tergolong ke dalam ini tidak ada yang ukuran besar, ukurannya
bentuk monomorfemis atau kata tunggal, kira-kira satu ibu jari orang dewasa.
karena terdiri dari satu morfem.
Tengkarak merupakan
jenis ikan yang hidup di air tawar namun di
daerah seperti danau atau sunge ‘anak sungai’.
Ikan ini memiliki ciri fisik bersisik, di tubuh
ikan tersebut terdapat corak hitam dan ikan ini
tergolong ikan yang kecil karena ukuran tubuh
ikan ini hanya ukuran 2—3 jari. Gambar 7. Banir

Lunuk merupakan jenis ikan air tawar,


ikan ini sangat mirip dengan baukng dengan
kata lain bahwa ikan lunuk ini merupakan
anak dari ikan baukng. Dari segi fisik ikan ini
sama, hanya ukurannya saja yang
membedakan ikan ini. Ikan ini masih dapat
Gambar 5. Tengkarak dikatakan lunuk, jika ukurannya kurang dari
100 gram. Jika sudah melebihi 100 gram, ikan
Lamayan merupakan satu di antara ikan tersebut bukan ikan lunuk lagi, melainkan
air tawar yang masih tergolong mudah baukng.
dijumpai, ikan ini tergolong ikan yang Ikan ini lebih suka tinggal di daerah
bertubuh kecil, namun ikan ini memiliki tubuh sungai yang terdapat banyak kayu atau
yang agak panjang. Selain itu ekor ikan ini ranting-ranting kayu di bibir sungai atau
berwarna merah, ada pula yang berwarna lubuk.
hitam. Ikan ini lebih suka di daerah pantai di
pesisir Sungai Landak.

Gambar 8. Lunuk;
Sumber: http://www.agrowindo.com/wp-
Gambar 6. Lamayan; content/uploads/2017/07/Peluang-Usaha-Budidaya-
sumber:https://upload.wikimedia.org/wikipedia/comm Ikan-Baung-Dan-Analisa-Usahanya.jpg
ons/thumb/d/d5/Labiob_fasciat_090818-
11901_tsa.JPG/180px-Labiob_fasciat_090818- Lais merupakan jenis ikan air tawar yang
11901_tsa.JPG masih dapat dijumpai saat ini, ikan ini
Banir merupakan jenis ikan air tawar termasuk ikan yang kuat terhadap kondisi
yang masih bisa dijumpai di aliran Sungai lingkungan yang tercemar seperti aliran
Sungai Landak. Secara fisik ikan ini seprti
Landak, ikan ini tergolong ikan yang kuat
beradaptasi dengan lingkungan yang kotor. ikan tapah hanya ikan ini memiliki tubuh yang

8
kecil, selain itu ikan ini juga jenis ikan yang tunggal atau monomorfemis dengan kategori
tidak bersisik, bertubuh panjang dan tipis, nomina. Dalam aktivitas tersebut di dapat
memiliki sirip yang tidak tajam dan memiliki makna kultural berupa pantangan yang tidak
kumis. Ikan ini bisa ditemukan di danau boleh di dilakukan dalam aktivitas merogoh.
khususnya danau Pantu, atau di aliran Sungai
Landak. Ukuran ikan ini tidaklah besar, kira- Saran
kira 3 jari orang dewasa dan ada juga yang Peneliti berharap hasil penelitian ini
berukuran kecil. dapat diterima dengan baik sebagai referensi
penelitian sejenis, dan semoga dapat menjadi
satu di antara inventarisasi budaya yang
berakar dari tradisi menangkap ikan
masyarakat Kari Semosok, Kecamatan
Ngabang, Kabupaten Landak.

DAFTAR RUJUKAN
Alloy, Sujarni dkk.. 2007. Mozaik Dayak di
Kalimantan Barat. Institut Dayakologi:
Pontianak.
Gambar 9. Lais Bawa, I Wayan dan I Wayan Cika. 2004.
Sumber: https://3.bp.blogspot.com/-
Bahasa dalam Perspektif Kebudayaan.
O0orCOpSFAY/VEWL7Icas5I/AAAAAAAAHXg/Xce
W3Fi3DF8/s1600/gambar-ikan-lais.jpg Universitas Undayana: Denpasar
Chaer, Abdul. 2013. Pengantar Semantik
SIMPULAN DAN SARAN Bahasa Indonesia. Rineka Cipta: Jakarta.
Simpulan Djajasudarma, T. Fatimah. 2012. Semantik:
Berdasarkan hasil peneitian dapat Makna Leksikal dan Makna
disimpulkan bahwa aktivitas merogoh Gramatikal.Bandung: PT Refika
merupakan bentuk dasar dari sebuah kata. Aditama.
Kridalaksana, Harimurti. 2011. Kamus
Istilah ini masuk kategori verba, tetapi
Linguistik. Kompas Gramedia: Jakarta.
tergolong ke dalam bentuk monomorfemis
Mahsun. 2012. Metode Penelitian Bahasa.
atau kata tunggal, karena terdiri dari satu Rajawali Pers: Jakarta.
morfem. Merogoh merupakan istilah yang Sibarani, Robert. 2004. Antropolinguistik.
digunakan oleh masyarakat Pantu untuk PODA: Medan.
menyebut aktivitas menangkap ikan dengan Subroto, Edi. 2011. Pengantar Studi Semantik
menangguk. Merogoh adalah satu di antara dan Pragmatik. Cakrawala Media:
aktivitas yang dilakukan untuk mencari ikan, Surakarta.
aktivitas ini dilakukan di danau dengan alat Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Tehnik
yang digunakan masyarakat adalah ayak Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian
sorong dan ayak selamo, jala ataupun pasat. Wahana Kebudayaan secara Linguistik.
Dari aktivitas merogoh muncul 4 leksem Duta Wacana University Press:
alat yang digunakan dalam aktivitas tersebut, Yogyakarta.
Sugiyono. 2015. Metode Penelitian
dari masing-masing leksem tersebut semua
Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif,
leksem tergolong ke dalam bentuk kata
Kualitatif, dan R&D). Alfabeta:
monomorfemis atau kata tunggal dengan Bandung.
kategori nomina. Suhardi. 2015. Dasar-Dasar Ilmu Semantik.
Dari aktivitas merogoh muncul pula 7 AR-RZZ MEDIA: Yogyakarta.
leksem hasil berupa istilah ikan tengkarak,
lamayan, banir, lunuk, lais, bao, losok.
Leksem tersebut juga termasuk ke dalam kata