Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN KASUS

Diare Dehidrasi Ringan Sedang

Disusun oleh :
dr. Vivi Ningsih Binalole

Pembimbing :
dr. Rahmi Meitia Ambon, M.Kes,Sp.A

Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Ishak Umarella


2019
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................ i
DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................. 3
BAB III LAPORAN KASUS.................................................................................. 8
BAB IV PEMBAHASAN ..................................................................................... 17
BAB V PENUTUP ................................................................................................ 19
DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

Diare adalah buang air besar yang terjadi pada bayi dan anak yang

sebelumnya nampak sehat, dengan frekuensi tiga kali atau lebih per hari, disertai

perubahan tinja menjadi cair, dengan atau tanpa lendir dan darah. Apabila pada

diare pengeluaran cairan melebihi pemasukan maka akan terjadi defisit cairan

tubuh, maka akan terjadi dehidrasi. Berdasarkan derajat dehidrasi maka diare

dapat dibagi menjadi diare tanpa dehidrasi, diare dehidrasi ringan sedang dan

diare dehidrasi berat. Pada dehidrasi berat terjadi defisit cairan sama dengan atau

lebih dari 10% berat badan. Anak dan terutama bayi memiliki risiko yang lebih

besar untuk menderita dehidrasi dibandingkan orang dewasa.2

Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara

berkembang seperti di Indonesia, karena morbiditas dan mortalitas-nya yang

masih tinggi. Survei morbiditas yang dilakukan oleh Subdit Diare, Departemen

Kesehatan dari tahun 2000 s/d 2010 terlihat kecenderungan insidens naik. Pada

tahun 2000 IR penyakit Diare 301/ 1000 penduduk, tahun 2003 naik menjadi 374

/1000 penduduk, tahun 2006 naik menjadi 423 /1000 penduduk dan tahun 2010

menjadi 411/1000 penduduk. Kejadian Luar Biasa (KLB) diare juga masih sering

terjadi, dengan CFR yang masih tinggi. Pada tahun 2008 terjadi KLB di 69

Kecamatan dengan jumlah kasus 8133 orang, kematian 239 orang (CFR 2,94%).

Tahun 2009 terjadi KLB di 24 Kecamatan dengan jumlah kasus 5.756 orang,

dengan kematian 100 orang (CFR 1,74%), sedangkan tahun 2010 terjadi KLB

1
diare di 33 kecamatan dengan jumlah penderita 4204 dengan kematian 73 orang

(CFR 1,74 %.).1

Salah satu langkah dalam pencapaian target MDG’s (Goal ke-4) adalah

menurunkan kematian anak menjadi 2/3 bagian dari tahun 1990 sampai pada

2015. Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), Studi Mortalitas

dan Riset Kesehatan Dasar dari tahun ke tahun diketahui bahwa diare masih

menjadi penyebab utama kematian balita di Indonesia. Penyebab utama kematian

akibat diare adalah tata laksana yang tidak tepat baik di rumah maupun di sarana

kesehatan. Untuk menurunkan kematian karena diare perlu tata laksana yang

cepat dan tepat.1

2
BAB II

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS

A. Identitas Penderita

Nama : An. MU

Jenis Kelamin : Laki-laki

Alamat : Tulehu

B. Identitas Orangtua

Ayah Ibu

Nama : Tn. D Nama : Ny. M

Umur : 29 tahun Umur : 24 tahun

Pekerjaan : Swasta Pekerjaan : Swasta

Agama : Islam Agama : Islam

Alamat : Tulehu

II. ANAMNESIS

Aloanamnesis dengan : Ibu kandung pasien

Tanggal/jam : 20 Oktober 2019

1. Keluhan Utama

BAB Cair

2. Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien mengeluh BAB cair sejak 5 hari yang lalu, BAB cair >8x per hari,

BAB cair disertai sedikit ampas, tidak berbau busuk, tidak ada lendir, tidak ada

3
darah. Keluhan disertai muntah sejak 5 hari yang lalu, muntah sebanyak >8x per

hari. Muntah berisi makanan yang dimakan. Tidak ada keluhan demam ataupun

kejang. Pasien lalu dibawa ke RS Marabahan, karena pasien selalu memuntahkan

makanan ataupun makanan yang dimakan pasien lalu dirawat inap. Selama

dirawat inap, pasien mendapat terapi infus (ibu tidak tau), zink 2x1 sdt, dan lacto-

b 2x1 sachet. Setelah dirawat selama 2 hari di RS Marabahann (3 hari yang lalu),

keluhan pasien berkurang, BAB mulai berampas dan frekuensi <3x per hari, tidak

ada muntah. Pasien lalu diperbolehkan pulang dengan obat pulang zink dan lacto-

b. Dua hari yang lalu (satu hari stelah pulang dari RS Marabahan), pasien

mengalami keluhan BAB cair >5x per hari, BAB cair tidak berbau busuk, tidak

ada lendir, tidak ada darah. Keluhan disertai muntah sebanyak >7x per hari,

muntah berisi sisa makanan.

3. Riwayat Penyakit Dahulu

4. Riwayat Kehamilan dan Persalinan

Riwayat antenatal : Ibu rutin ANC dan tidak mengeluhkan kelainan apapun

selama masa kehamilan

Riwayat Natal :

Spontan/tidak spontan : spontan

Nilai APGAR : Lahir langsung menangis

Berat badan lahir : 2800gr

Panjang badan lahir : 48cm

Lingkar kepala : ibu lupa

4
Penolong : bidan

Tempat : di tempat praktek bidan

Riwayat Neonatal : kejang (-) ikterik(-) demam(-)

5. Riwayat Perkembangan

Tiarap : 6 bulan

Merangkak : 8 bulan

Duduk : 10 bulan

Berdiri : 13 bulan

Berjalan : 13 bulan

Saat ini : bisa berjalan, bicara beberapa kata, memegang benda, mengenali

anggota keluarga

6. Riwayat Imunisasi :

Dasar Ulangan
Nama
(umur dalam hari/bulan) (Umur dalam bulan)

BCG 0

Polio 0 | 2 | 4 | 6

Hepatitis B 0 | 1 | 6

DPT 2 | 4 | 6

Campak -

7. Makanan (Tulis jenis/kualitas, kuantitas dan umur)

0-2 bulan : ASI

5
2-6 bulan : susu formula (400cc per hari)

6 bulan – 1 tahun : susu formula (500-700cc per hari) + bubur lunak

1 tahun – sekarang : susu formula (500-700cc per hari) + nasi, sayur, lauk 3x

sehari

PEMERIKSAAN FISIK

1. Keadaan Umum : Sakit sedang

Kesadaran : Kompos mentis

GCS : E4V5M6

2. Pengukuran

Tanda vital

TD : 110/70 mmHg

Denyut jantung: 118 x/menit

Suhu : 36,8°C

Respirasi : 32 kali/menit

Berat badan sekarang : 8 kg

Tinggi badan sekarang : 75 cm

Lingkar Lengan Atas : 9 cm

Lingkar Kepala : 43 cm

Status Gizi : SD -3 SD sampai dengan <-2SD (Gizi Kurang)

6
7
3. Kulit : warna kuning langsat, sianosis dan hemangiom tidak ada,

turgor kulit cepat kembali, kelembaban kulit cukup, pucat dan hal lainnya tidak

ada.

4. Kepala/leher

Kepala : Bentuk kepala mesosefal, scar (-).

Rambut : Distribusi rambut tipis, warna hitam. Alis mata dan bulu

mata hitam dan tidak mudah dicabut.

alopesia (-).

Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, produksi

air mata normal, sekret tidak ada, mata cekung tidak ada

d pupil = 3mm / 3mm, simetris. Refleks cahaya direk

(+/+). Refleks cahaya indirek (+/+). kornea jernih.

Telinga : bentuk simetris, tidak ada sekret, serumen minimal, tidak

ada nyeri.

Hidung : Hidung berbentuk normal, simetris, tidak terdapat

epistaksis, chonca tidak edem dan hiperemi, sekret

berlebih tidak ada.

Mulut : bentuk simetris, bibir cukup lembab, gusi tidak mudah

berdarah, tidak ada pembengkakandan gigi geligi normal.

Lidah : Bentuk normal, pucat (-), tremor (-), kotor (-), warna

merah muda.

Faring : hiperemi (-), edem (-), membran/pseudomembran (-)

8
Tonsil : warna merah muda, pembesaran (-), abses(-)

membran/pseudomembran (-)

5. Leher : JVP = R + 2 cmH20 normal tidak meningkat, pembesaran

KGB tidak ada, torticolis tidak ada.

6. Toraks :

a. dinding dada/paru :

Inspeksi : bentuk simetris, retraksi tidak ada. Pernafasan thorakal.

Palpasi : FV D=S

Perkusi : sonor all regio pulmo

Auskultasi : vesikuler all regio, Rhonki (-/-), Wheezing (-/-)

Payudara : areola menonjol berdiameter 2 cm.

b. Jantung :

Inspeksi : iktus tidak terlihat

Palpasi : apeks teraba lokasi ICS V MCLS, thrill (-)

Perkusi

Batas jantung kanan : ICS V linea parasternal dekstra

Batas jantung kiri : ICS V linea midklavikula sinistra

Batas atas : ICS II linea parasternal dekstra

Auskultasi : frek DJ 92 x/menit, reguler, S1>S2 normal. Bising (-)

7. Abdomen :

Inspeksi : distensi (-), ulkus (-), scar (-)

Auskultasi : BU= (+) N

Perkusi : pekak, shifting dullness (-), asites (-)

9
Palpasi : - Hati : (-)

- Lien : (-)

- Ginjal : (-)

- Masa : (-)

Ukuran : (-)

Lokasi : (-)

Permukaan : (-)

Konsistensi : (-)

Nyeri : (-)

8. Ekstremitas

Range of motion: tidak terbatas dalam batas normal, parese (-), edem

sendi (-), akral dingin (-), kuku pucat (-)

9. Neurologi :

Rx pupil : (+/+)

Meningeal sign :-

Refleks Fisio :

Refleks Pato : Hoffmann/Tromnar (-/-) (-/-)

Babinsky (-/-)

10. Genitalia : Jenis kelamin laki-laki, dalam batas normal

11. Anus : tidak terdapat perianal rush

10
6. DIAGNOSA

I. Dehidrasi ringan sedang post hidrasi

7. PENATALAKSANAAN AWAL

 IVFD RL 800cc/24 jam

 Zink syr 1x20mg

 Probiotik (lacto-b) 2x1 sach

11
BAB III

DISKUSI KASUS

Diare adalah buang air besar yang terjadi pada bayi dan anak yang

sebelumnya nampak sehat, dengan frekuensi tiga kali atau lebih per hari, disertai

perubahan tinja menjadi cair, dengan atau tanpa lendir dan darah. Apabila pada

diare pengeluaran cairan melebihi pemasukan maka akan terjadi defisit cairan

tubuh, maka akan terjadi dehidrasi. Berdasarkan derajat dehidrasi maka diare

dapat dibagi menjadi diare tanpa dehidrasi, diare dehidrasi ringan sedang dan

diare dehidrasi berat. Pada dehidrasi berat terjadi defisit cairan sama dengan atau

lebih dari 10% berat badan. Anak dan terutama bayi memiliki risiko yang lebih

besar untuk menderita dehidrasi dibandingkan orang dewasa.2

Prevalensi diare dalam Riskesdas 2007 adalah 9,0% (rentang: 4,2% -

18,9%), tertinggi di Provinsi NAD (18,9%) dan terendah di DI Yogyakarta

(4,2%). Beberapa provinsi mempunyai prevalensi diare klinis >9% (NAD,

Sumatera Barat, Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Nusa Tenggara Barat,

Nusa Tengara Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara,

Gorontalo, Papua Barat dan Papua). Bila dilihat per kelompok umur diare

tersebar di semua kelompok umur dengan prevalensi tertinggi terdeteksi pada

anak balita (1-4 tahun) yaitu 16,7%. Sedangkan menurut jenis kelamin prevalensi

laki-laki dan perempuan hampir sama, yaitu 8,9% pada laki-laki dan 9,1% pada

perempuan.1

12
Pada tahun 2012 angka kesakitan diare pada semua umur sebesar 214 per

1.000 penduduk dan angka kesakitan diare pada balita 900 per 1.000 penduduk.

Menurut Riskesdas 2013, insiden diare (≤ 2 minggu terakhir sebelum wawancara)

berdasarkan gejala sebesar 3,5% (kisaran provinsi 1,6%-6,3%) dan insiden diare

pada balita sebesar 6,7% (kisaran provinsi 3,3%-10,2%).3

Pada tahun 2013 terjadi 8 KLB yang tersebar di 6 Propinsi, 8 kabupaten

dengan jumlah penderita 646 orang dengan kematian 7 orang (CFR 1,08%).

Sedangkan pada tahun 2014 terjadi 6 KLB Diare yang tersebar di 5 propinsi, 6

kabupaten/kota, dengan jumlah penderita 2.549 orang dengan kematian 29 orang

(CFR 1,14%).3

Rotavirus merupakan penyebab utama diare berat pada anak usia balita

baik di negara maju maupun negara berkembang. Dilaporkan oleh WHO bahwa

setiap tahun diare rotavirus menyebabkan > 500.000 kematian anak usia balita di

seluruh dunia dan >80% di antaranya terjadi di negara berkembang. Di negara

maju mortalitas diare rotavirus rendah oleh karena sarana pelayanan yang lebih

baik, namun diare rotavirus tetap menjadi penyebab morbiditas utama dan

menjadi alasan tersering untuk berobat ke unit gawat darurat/ poliklinik dan rawat

inap. Di Indonesia rotavirus menjadi penyebab 60% diare pada anak balita yang

mengalami rawat inap dan 41% dari kasus diare rawat jalan. Perbaikan sanitasi

lingkungan dan higiene serta upaya rehidrasi oral dengan oralit saja tidak dapat

menurunkan angka mortalitas dan morbiditas diare rotavirus, sehingga vaksinasi

merupakan upaya pencegahan yang paling efektif.4

13
Diagnosis diare dengan derajat dehidrasi ditegakkan dengan anamnesis,

pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Diagnosis diare ditegakkan bila

pada anamnesis didapatkan riwayat BAB cair dengan frekuensi lebih dari 3

kali.3,5

Diagnosa Didasarkan pada keadaan


Diare cair akut - Diare lebih dari 3 kali sehari
berlangsung kurang dari 14 hari
- Tidak mengandung darah
Kolera - Diare air cucian beras yang seing
dan banyak dan cepat
menimbulkan dehidrasi berat, atau
- Diare dengan dehidrasi berat
selama terjadi KLB kolera, atau
- Diare dengan hasil kultur tinja
positif untuk V. cholerae O1 atau
O139
Disentri - Diare berdarah (terlihat atau
dilaporkan)
Diare persisten - Diare berlangsung selama 14 hari
atau lebih
Diare dengan gizi buruk - Diare jenis apapun yang disertai
tanda gizi buruk
Diare terkait antibiotik - Mendapat pengobatan antibiotik
oral spektrum luas
Invaginasi - Dominan darah dan lendir dalam
tinja
- Massa intra abdominal (abdominal
mass)
- Tangisan keras dan kepucatan pada
bayi
Tabel 3.1 Manifestasi klinis diare

14
Pada anamnesis diapatkan pasien mengalami BAB cair sejak 3 hari yang

lalu, BAB tidak berlendir, tidak berdarah. Pada pemeriksaan fisik didapatkan

berat badan pasien 8kg, dengan status gizi kurang. Pada pemeriksaan awal di IGD

didapatkan kondisi pasien gelisah, mata cekung, tidak ada produksi air mata,

mulut dan lidah kering, tampak kehausan dan kulit lambat kembali setelah

dicubit. Pasien didiagnosis diare dengan dehidrasi ringan-sedang.

Tatalaksana diare didasarkan pada derajat dehidrasi yang terjadi. Penilaian

derajat dehidrasi dapat dilihat pada tabel di bawah ini:6

1. Lihat
Kondisi Letargis, atau tidak sadar Gelisah Baik, sadar penuh
Mata Sangat cekung dan Cekung Normal
kering
Produksi air mata Tidak ada Tidak ada Ada
Mulut dan lidah Sangat kering Kering Lembab
Haus Minum sedikit atau tidak Kehausan Minum normal,
mampu minum tidak haus
2. Rasakan
Kulit Sangat lambat kembali Lambat kembali Kembali cepat
setelah dicubit setelah dicubit setelah dicubit
3. Tentukan Jika ada 2 atau lebih Jika ada 2 atau Tidak ada tanda
tanda, termasuk minimal lebih tanda, dehidrasi
1 tanda yang digaris termasuk minimal 1
bawah, termasuk tanda yang digaris
dehidrasi berat bawah, termasuk
dehidrasi ringan
sedang
4. Rencana terapi Rencana C Rencana B Rencana A
5. % dehidrasi >10% (berat) 5-10% (ringan <5% tidak ada
sedang) dehidrasi
Tabel 3.2 Penentuan tatalaksana dehidrasi berdasarkan derajat dehidrasi6

15
Gambar 3.1 Rencana terapi C5

16
Tatalaksana anak dengan dehidrasi berat harus diberi rehidrasi intravena

secara cepat yang diikuti dengan terapi rehidasi oral. Cairan intravena segera

diberikan. Jika anak bisa minum oralt juga diberikan. Pilihan cairan intravena

terbaik adalah larutan Ringer Laktat (disebut pula larutan Hartman untuk

penyuntikan). Tersedia juga larutan Ringer Asetat. Jika larutan Ringer Laktat

tidak tersedia, larutan garam normal (NaCl 0.9%) dapat digunakan. Larutan

glukosa 5% (dextrosa) tunggal tidak efektif dan tidak digunakan. pemberian 100

ml/kg larutan yang dipilih dan dibagi sesuai tabel di bawah ini:5

30ml/KgBB pertama dalam : 70 ml/KgBB kedua dalam:


Umur < 12 bulan 1 jam* 5 jam
Umur ≥ 12 bulan 30 menit* 2,5 jam
*ulangi kembali jika denyut nadi radial masih lemah atau tidak teraba
Tabel 3.3 Pemberian cairan pada derajat dehidrasi berat

17
Gambar 3.2 Rencana terapi B5

18
Pada anak dengan dehidrasi sedang/ringan diberikan larutan oralit dalam

waktu 3 jam pertama. Larutan oralit diberikan dengan perkiraan jumlah sesuai

dengan berat badan anak (atau umur anak jika berat badan anak tidak diketahui),

Jika anak ingin minum lebih banyak, anak boleh diberi minum lebih banyak.5

Pada tahun 1975, WHO mengenalkan Oral Rehydration Salt (ORS)

dengan osmolaritas 311 mOsm/L, natrium 90 mEq/L, Kalium 20 mEq/L dan

glukosa 20 g/L. Setelah dilakukan berbagai penelitian, didapatkan formula

tersebut masih belum optimal dalam menurunkan volume BAB dan durasi diare,

meskipun m,ampu menjaga status hidrasi. Konsentrasi natrium terlalu tinggi bagi

anak dengan diare bukan kolera. Hal ini menyebabkan pencarian formula ORS

yang baru. Pada tahun 2003 WHO merubah rekomendasri ORS dengan

osmolaritas lebih rendah (245 mOsm/L) dengan komposisi natrium 75 mEq/L,

dan glukosa 13,5 g/L yang lebih rendah.9

Pada kondisi anak sama sekali tidak bisa minum oralit misalnya karena

anak muntah profus, dapat diberikan cairan intravena secepatnya, pemberian

cairan sejumlah 70 ml/kg BB cairan Ringer Laktat atau Ringer asetat (atau jika

tak tersedia, gunakan larutan NaCl). 5

Umur Pemberian 70 ml/KgBB selama


Usia 12 bulan 5 jam
Usia 12 bulan sd 5 tahun 2,5 jam

19
Gambar 3.3 Rencana terapi C5

20
Pada anak dengan diare tanpa dehidrasi ditatalaksana dengan terapi A.

Tatalaksana yang diberikan yaitu:5

1. Anak dirawat jalan

2. Beri cairan tambahan

3. Beri tablet zink

4. Lanjutkan pemberian ASI

5. Berikan edukasi pada orang tua

Departemen Kesehatan RI memiliki rangkuman istilah lintas diare (lima

langkah tuntaskan diare), yaitu:8

1. Oralit, berikan segera bila anak diare, untuk mencegah dan mengatasi

dehidrasi.

2. ZINC diberikan selama 10 hari berturut-turut, mengurangi lama dan beratnya

diare, mencegah berulangnya diare selama 2-3 bulan. ZINC juga dapat

mengembalikan nafsu makan anak.

3. ASI dan makanan tetap diteruskan sesuai umur anak dengan menu yang sama

pada waktu anak sehat, untuk mencegah kehilangan berat badan serta

pengganti nutrisi yang hilang.

4. Antibiotik hanya diberikan pada diare berdarah, kolera dan diare dengan

masalah lain.

5. Segera kembali ke petugas kesehatan jika ada demam, tinja berdarah, muntah

berulang, makan atau minum sedikit, sangat haus diare makin sering atau

belum membaik dalam 3 hari.

21
Pada pasien didapatkan diare dengan derajat dehidrasi ringan sedang.

Pasien ditatalaksana dengan pemberian oralit 600 ml dihabiskan dalam 3 jam,

zink 1x20mg, dan lacto-b 2x1 sachet, namun karena pasien masih muntah, pasien

lalu diberikan infus RL 560cc habis dalam 3 jam dan dilanjutkan RL 800 cc/24

jam. Setelah pasien terhidrasi dengan derajat tidak ada tanda dehidrasi, pasien

dirawat di ruang anak.

22
DAFTAR PUSTAKA

1. Situasi diare di Indonesia. Kementrian Kesehatan RI. 2011

2. Yusuf S. Profil diare di ruang rawat inap anak. Sari Pediatri.


2011(13);4:,265-70

3. Profil kesehatan Indonesia 2014. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia


2014.

4. Widowati T, Nenny SM, Hera N, Yati S. Diare rotavirus pada anak usia
balita. Sari Pediatri. 2012;13(5):340-5

5. Buku saku pelayanan kesehatan anak di rumah sakitpedoman bagi rumah


sakit rujukan tingkat pertama di kabupaten/kota. WHO. 2005

6. Standard treatment guidelines. Ministry of Health (GNDP) Ghana. Sixth


Edition. 2010

7. Subagyo B, Santoso NB. Buku ajar gastroenterologi-hepatologi. 1st ed.


Jakarta: UKK- Gastroenterologi- Hepatologi IDAI; 2009. p.90-125.

8. Departemen Kesehatan RI. Buku saku petugas kesehatan: Lintas diare.


Jakarta: Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes
RI. 2011.

9. Suh JS, Won-Ho H, Byoung-Soo C. Recent advances of oral rehydration


therapy (ort). E&BP. 2010. 8(2). 82-6

10. Brown KH. Diarrhea and malnutrition. Prosiding simposium: nutrition and
infection, prologue and progress since 1968; Am Soc for Nutr Sci: January
2003.

11. Primayani D. Status Gizi pada pasien diare akut di ruang rawat inap anak rsud
soe, kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT. Sari Pediatri. 2009;11:2

12. Jones KD, James AB. Severe acute malnutrition and infection. Paediatrics and
International Child Health. 2014;34

13. Lazzerini M, David T. Antibiotics in severely malnourished children:


systematic review of efficacy, safety and pharmacokinetics. Bulletin of WHO.
Bulletin of WHO. 2010

23