Anda di halaman 1dari 91

9.

1 PENGERTIAN PORTOFOLIO DAN INVESTASI


Portofolio merupakan sekumpulan investasi dalam bentuk sekuritas (finantial assets).
Investasi sekuritas (financial assets), merupakan selembar kertas yang menunjukan hak pemodal,
yang memiliki kertas tersebut, untuk memperoleh bagian dari kekayaan organisasi yang
menerbitkan sekuritas tersebut, dan berbagi kondisi yang memungkinkan pemodal tersebut
menjalankan haknya.
Hampir semua investasi mengandung unsur ketidakpastian yang disebut dengan resiko.
Investor tidak tahu dengan pasti hasil yang akan diprolehnya dari investasi yang dilakukan. Semua
investor tentu tidak menginginkan kerugian pada waktu melakukan investasi, yang diharapkan
adalah keuuntungan yang maksimal dengan kerugian minimal.
Untuk mengatasi risiko diatas, investor melakukan upaya meminimalisasi kerugian
dengan cara portofolio investasi.
Hari Markowitz seorang yang pertama kali mengembangkan teori pemilihan portofolio,
menyatakan bahwa sebagian besar investor termasuk dalam risk avetar (menghindari risiko).
Untuk menghindari risiko ini, investor melakukan diversifikasi investasi.
Teori portofolio juga menunjukan bahwa apabila pemodal melakukan divrsifikasi dengan
baik, maka akan ada bagian resiko yang dapt dihilangkan dengan diversivikasi. Bagian risiko ini
yang disebut risiko tidak sistematis. Sedangkan bagian yang tidak dihilangkan dengan diversifikasi
sebagai risiko sistematis.
Dua cara investor mencapai portofolio yag efisien :
1. Bersedia menerima risiko minimum, akan mendapatkan penghasilan tertentu.
2. Bersedia menerima risiko tertentu, akan mendapatkan penghasilan maksimum.

9.2 LANGKAH – LANGKAH KEGIATAN PORTOFOLIO


Agar meminimalisir risiko (menurut John Dickonson)
1. Placement analysis
2. Portfolio contruction
3. Portfolio selection
Agar meminimalisir resiko (menurut Robert Ang):
1. Melalui analisis yang cermat, dipilih instrumen investasi yang diinginkan.
2. Melakukan pembobotan masing-masing instrumen investasi terhadap nilai portofolio
secara keseluruhan.
3. Melakukan horizon investasi
4. Masing –masing instrumen investasi ditentukan expected return-nya sesuai dengan
horizon investasi.

108
5. Melakukan penghitungan expected return, rata-rata, serta standard deviasi dari
portofolio sesuai dengan horizon investasi.
Untuk mengurangi risiko investasi dapat dilakukan dengan diversivikasi. “Wise investors do
not put all their eggs into just one basket”. Investor tidak akan menempatkan semua telur
mereka dalam sebuah keranjang.

9.3 DUA RISIKO INVESTASI


1. Risiko tidak sistematik (unsystematic risk), merupakan risiko yang dapat dikurangi atau
dihindari dan terkait dengan suatu saham tertentu, apabila melakukan bisnis saham atau
surat berharga lainnya.
2. Risiko sistematik (systematic risk), merupakan risiko yang tidak dapat dihindari, apabila
melakukan bisnis saham atau surat berharga lainnya.
Penjumlahan dari kedua risiko tersebut (risiko sistematis dan risiko tidak sistematis)
disebut sebagai risiko total.
Risiko ini berhubungan dengan pasar, bersifat umum, terkait secara langsung, dan berlaku
bagi semua saham dalam pasar modal yang bersangkutam]n, karena terjadi bisnis saham.

9.4 CARA LAIN UNTUK MENGURANGI RISIKO INVESTASI


Analisis tinhkat korelasi antara instrumen investasi dalam suatu portofolio: korelasi
positif, korelasi negatif dan tidak ada korelasi. (Korelasi mana yang dipilih, mengapa?)
Korelasi positif merupakan suatu usulan investasi yang dirasa memberikan risiko yang
lebih besar harus memberikan keuntungan yang lebih besar pula agar investor mau
mengambilanya. Korelasi negatif adalah suatu usulan invstasi yang dirasa memberikan risiko yang
lebih besar, tetapi memberikan keuntungan yang lebih kecil. Sedangkan tidak ada korelasi adalah
suatu usulan investasi yang tidak ada hubungan antara investasi yang memberikan risiko dengan
yang memberikan keuntungan.
Sehubungan dengan hal tersebut, dianggap perlu mendefinisikan risiko tersebut.
Risiko dalam teori portofolio didefinisikan sebagi deviasi standar atau penyimpagan
tingkat keuntungan. Semakin besar deviasi standar ini, semakin berisiko investasi tersebut,
meskipun demikian penggunaan deviasi standar ini, yang juga disebut risiko total, hanya
diterapkan untuk portofolio – portofolio yang efisien.
Berdasarkan fenomena tersebut, dan bahwa pada umumnya investor mendeversikan
dananya, maka ada sebagian dari risiko total tersebut yang tidak relevan, yaitu yang disebut
sebagai risiko yang tidak sistematik, seharusnya tidak dimasukkan dalam penilaian usulan

109
investasi. Karena itu hanya ada sebagian risiko sistematik atau risiko pasar, yang relevan dalam
penilaian usulan investasi.
Berdasarkan keadaan tersebut diatas, kemudian dikembangkan suatu model, yang
idsebut sebagai Model Penentuan Harga Aktiva atau yang disebut Capital Assets Pricing Model
(CPAM). Model ini menjukan bahwa yang relevan sebagai pengukir resiko adalah beta (), yaitu
kepekaan suatu saham atau usulan investasi dengan perubahan-perubahan pada portofolio
pasar. Dengan model ini dibuktikan bahwa antara risiko dan keuntungan terdapat hunubungan
yang positif dan linier. Sehubungan dengan pembahasan beta ini, akan dilakukan pada
penerbitan khusus membicarakan portofolio dalam hal ini adalah saham.
9.5 JENIS SEKURITAS DIPERDAGANGAN
Sekurita yang diperdagangkan dalam pasar finansial antara lain :
1. Obligasi, adalah suart tada hutanf jangka panjang yang diterbitkan oleh perusahan
(emiten) atau pemerintah. Oleh karena itu, emiten obligasi akan memberukan
kompensasi bagi investo pemegang obligasi, berupa kipon yang dibayarkan secara
periodik terhadap investor. Dengan demikian, obilgasi bisa dikatakan sebagai salah satu
instrumen pasar modal yang memberikan pendapatan tetap (fixed-income securities)
bagi pemegang obligasi tersebut. Perusahaan penerbit obligasi (emiten) berkewajiban
untuk membayar bunga dalam jumlah tertentu secara periodik selama obligasi tersebut
belum jatuh tempo, dan juga melakukan pembayaran kembali nilai prinsipal obligasi
tersebut pada saat jatuh tempo yang telah ditentukan.
2. Saham, adalah surat tanda memiliki perusahaan yang perusahaan yang mengeluarkan
saham tersebut. Dengan demikian apabila seseorang investor membeli saham, maka ia
menjadi pemilik dan disebut pemegang saham perusahaan. Ada dua jenis saham yaitu
saham atas nama dan saham atas unjuk. Saham atas nama yaitu saham yang nama
pemilik saham tertera diatas lembaran saham tersebut. Sedangkan saham atas unjuk
yaitu nama pemilik saham tidak tertera dalam lembaran saham tersebut. Jadi, pemilik
saham adalam yang enyima saham tersebut dan mendapatkan seluruh hak-hak sebagai
pemegang saham.
3. Instrumen keungan jangka pendek, misalnya deposit jangka pendek. Yaitu suatu
tabungan berjangka biasanya jangak pendek, yang biasanya paling lama 1 (satu) tahun,
pemegang deposito mendapatkan bungan dari yang mengeluarkan deposito dan pokok
depositonya pada saat jatuh tempo.

9.6 LANGKAH – LANGKAH MELAKUKAN INVESTASI SEKURITAS


1. Menemtukan kebikjakan investasi
Pemodal menentukan tujuan investasi, dan berapa banyak investasi itu dilakukan.
Karena ada hubungan yang positif antara risiko dan keuntungan investasi, maka pemodal
110
tidak bisa mengatakan bahwa tujuan investasi adalah untuk mendapatkan kuntungan
sebesar – besarnya, harus disadari bahwa ada kemungkinan untuk menderita kerugia.
Ada beberapa prinsip yang sangat mendasar yang patut diketahui dan dipertimbangkan
ketika hendak melakukan sebuah investasi. Baik itu ivestasi dalam saham, tabungan,
obligasi maupun sekuritas lainnya.
2. Analisis sekuritas
Tahap ini melakukan analisis terhadap individual atau sekelompok sekuritas. Dipandang
dari sudut konsep ivstasi, sulit untuk memperlakukan investasi berdasarkan atas jangka
waktu instrument investasinya. Sekuritas-sekuritas yang diperkirakan mispriced (artinya
harganya terlalu tinggi maupun terlalu rendah), atau pun sekuritas-sekuritas yang sesuai
dengan karakteristik pemodal dalam hal preferensi risiko, pola penghasilan, maupun
stastus pajak yang menjado tanggungan pemodal tersebut. Ada dua cara untuk
melakukan analisis tersebut, yaitu analisis teknikal dan analisis fundamental, analisis
teknikal menggunakan data (perubahan) harga di masa yang lalu sebagai upaya untuk
memperkirakan harga sekuritas di masa yang akan datang. Analisis fundamental
berupaya mengidentifikasikan prospek perusahaan (lewat analisis terhadap faktor –
faktor yang mempengaruhinya) untutk bisa memperkirakan harga saham di masa yang
akan datang.
3. Perubahan portofolio
Portofolio berarti sekumpulan investasi. Tahap ini menyangkut identifikasi sekuritas –
sekuritas mana yang di pilih, dan berapa proporsi dana yang ditanamkan pada masing –
masing sekuritas tersebut. Pemilihan banyak sekuritas (dengan kata lain pemodal
melakukan diversivikasi) dimaksudkan untuk mengurangi risiko yang ditanggung.
4. Melakukan revisi portofolio
Tahap ini merupakan pengulangan terhadap tiga tahap sebelumnya, dengan maksud
kalau prlu melakukan prubahan terhadap portofolio yang telah dimiliki. Kalau di rasa
bahwa portofolio yang sekarang dimiliki tidak lagi optimal, bahwa pemodal bisa
melakukan perubahan terhadap sekuritas –sekuritas yang membentuk portofolio
tersebut.
5. Evaluasi kinerja portofolio
Dalam tahap ini pemodal melakukan penilaian terhadap kinerja (prformance) portofolio,
baik dalam aspek tingkat keuntungan yang diproleh maupun risiko yang ditanggung.
Karena itu diperlukan standar pengukurannya.

9.7 PELAKU TRANSAKSI DI PASAR MODAL


1. Pemodal
Mereka yang mempunyai modal, melakukan pembelian dan penjualan sekuritas. Yang
perlu dilakukan pemodal dalam menggunakan jasa pialang adalah memberikan spesid=fikasi

111
order. Dalam order perdangan saham, pemodal harus menjelaskan (1) nama perusahaan, (2)
apakah order tersebut untuk membeli atau menjual, (3) besarnya order, (4) berapa lama order
tersebut akan berlaku, dan (5) tipe order yang dipergunakan. Tipe order bsa dinyatakan dalam
bentuk market order, yang berarti bahwa pialang diminta membeli atau menjual pada harga
pasar. Pemodal bisa menentukan kepastian harga dalam menetapkan limit order.
2. Pialang/ broker
Pialang atau broker bertindak sebagai agen untuk seorang pemodal, dan memperoleh
imbalan dalam bentuk komisi. Perusahaan pialang beroperasi dengan maksud agar transaksi
sekuritas bisa dilakukan sesederhana mungkin.
3. Pedagang efek/ dealer
Mereka ini disamping melakukan jual beli sekuritas atas permintaan pemodal, juga
melakukan perdagangan sekuritas untuk dirinya sendiri.
4. Securities company
Perusahaan yang didirikan untuk melakuan kegiatan (bisnis) dalam perdangan sekuritas.
Securities company juga melaksanakan underwriter, dan menyediakan jasa pengelola
dana. Karena itu perusahaan ini harus mempunyai tenaga ahli dan modal yang cukup
untuk menjalankan bisnisnya.

9.8 MENGHARAPKAN RETURN MENGHINDARI PORTOFOLIO


Pada bab terdahulu pernah disinggung mengenai penilaian peruahaan adalahadanya
hubungan positif antara risiko dan return atau keuntungan yang diinginkan. Return merupakan
salah satu faktor yang memotivasi investor berinvestasi dan merupakan imbalan atas keberanian
investor menanggung risiko atas investasi yang dilakukannya. Karena para investor pada
umumnya mempunyai sifat tidak menyukai risiko ( risk everse), maka mereka harus ditawari
tingkat keuntungan yang lebih besar apabila merka dihadapkan pada suatau kesempatan
investasi yang mempunyai risiko lebih tinggi.
Sumber return dari investasi :
1. Yield
Merupakan komponen retur yang menceritakan aliran kas atau pendapatan yang
diperoleh secara periodik dari suatu investasi.
Contoh :
Bunga pada obligasi atau deposito, diveden saham.
2. Capital gain (loss)
Merupakan kenaikan (penurunan) harga suatu berharga yang bisa memberikan
keuntungan (kerugian) bagi investor.
Return total = Yield + capital gain (-loss).
112
Yield bisa angka nol (0) atau positif (+).
Capital gain (loss) bisa angka negatif (-) atau nol (0) atau positif (+).
Risiko suatu investasi
Merupakan kemungkinan perbedaan return aktual yang diterima dengan return yang
diharapkan. Semakin besar keungkinan perbedaannya, berarti semakin besar risiko investasi
tersebut.
Sumber –sumber yang memengaruhi besarnya risiki suatu investasi :
1. Risiko suku bunga
2. Risiko pasar
3. Risiko inflasi
4. Risiko bisnis
5. Risiko finansial
6. Risiko likuiditas.
7. Risiko niali tukar mata uang.
8. Risiko negara (country risk).
Estimasi return dan risiko sekuritas :
Return investasi hanya bisa diperkirakan memalui pengestimasian. Return investasi yang
akan datang adalah return yang diharpakn dan sangat mungkin berlainan dengan return aktual
yang diterima.
Besarnya risiko yang terkait dengan investasi sekuritas yang bersangkutan, menunjukkan
kemungkinan penyimpangan antara return yang diharpan dengan return aktual yang diperoleh.
Menghitung return yang diharapakan:
Untuk mengestimasi return sekuritas sebagai asset tunggal (stand alone risk), harus
memperhitungkan setiap kemungkinan terjadinya tingkat return tertentu, disebut probabilitas
kejadian.
Hasil dari perkiraan return yang akan terjadi dan probabilitasnya disebut sebagai
distribuso probabilitas. Dengan kata lain, distribusi probabilitas menunjukkan spesifikasi
beberapa tingkat return yang akan diperoleh dan beberapa probabilitas terjadinya return
tersebut.
Rumus menghitung return yang diharapkan dari suatu sekurutitas:

113
Dimana : E (R) = Return yang diharapkan dari suatu sekuritas.
Ri = Rerurn ke-i yang mungkin terjadi.
Pri = Probabilitas kejadian return ke – i
n = Banyaknya return yang mugkin terjadi
contoh :
perhitungan return yang diharpakan dalam kondisi ekonomi tertentu dari satu sekuritas
PT. Maju :
Perhitungan return yang diharapkan f=dari sekuritas PT. Maju sebagai berikut :
E (R) = [(0.30)(0,20)] + [(0,40)(0,15)] + {0,30)(0,10)]
E (R) = 0,60 + 0,06 + 0,030
E (R) = 0,15
Return yang diharapkan dari sekuritas PT. Maju = 0,15 atau 15%

Menghitung risiko :
Menghitung risiko dapat dilakukan dengan menghitung varians dan standar devisi return
investasi bersangkutan. Varians maupun standar deviasi merupakan ukuran besarnya
penyebaran distribusi probabilitas, yang menunjukkan sebarapa besar penyebaran variabel
random di antara rata –ratanya. Semakin besar penyebarannya, semakin besar varians atau
standar deviasi investasi tersebut. Menghitung varians maupun standar deviasi (akar kuadrat
varians), menghitung lebih dulu distribusi return yang diharapkan dengan menggunakan rumus
sebagai berikut :
Di mana:
d2 = varians return.
d = standar deviasi.
E(R) = Return yang diharpakan dari suatu sekuritas.
Ri = Return ke- yang mungkin terjadi.
pri = Probabilitas kejadian return ke-

114
9.9 PORTOFOLIO YANG EFISIEN
Untuk menjelaskan hubungan antara risiko dan tingkat keuntugan, sebagai berikut :
Tingkat keuntungan
Perhitungan investasi A dan C :
A dan C memiliki tingkat risiko yang sama, tetapi investasi A memiliki tingkat keuntungan
yang lebih besar dibandingkan dengan investasi C. Berarti investasi C diabaikan.
Perhatikan lagi investasi A dan D:
Investasi A memiliki tingkat keuntungan yang lebih besar dan risiko yang lebih,
dibandingkan dengan D. Sehingga investasi A yang dipilih oleh investor.
Pertanyaan :
Apa yang akan terjadi apabila keempat alternatif investasi tersebut muncul dalam
persaingan bebas, dengan asumsi semua individu memliki estimasi terhadap risiko dan tingkat
keuntungan yang sama ?
Semua investor menyukai investasi A, permintaan investasi A semakin besar,
mengakibatkan harga investasi A menjadi tinggi, sehingga keuntungan yang diharapkan per unit
investasi menjadi menurun.

Contoh 1 :
Harga invstasi A semula Rp10,000,000 dan tingkat keuntungan yang diharapkan sebesar
Rp. 800,000,00 per tahun, atau sebesar 8%. Harga investasi C semula juga Rp 10.000.000,00
tetapi tingkat keuntungan yang diharapkan hanya Rp750.000,00 per tahun atau sebesar 7,5%.
Investasi A dan C memiliki risiko yang sama, tetapi tingkat keuntungan investasi A lebih
tinggi, maka permintaan investasi A akan meningkat, sehingga harga invistasi A juga akan
meningkat.
Andaikan, harga investasi A meningkat menjadi Rp10.670.000, maka tingkat keuntungan
investasi A akan turun menjadi 7,5% yang sama dengan tingkat keuntungan investasi C.
Kasus ini tentu mengabaikan kemungkinan turunnya harga investasi C sebagai akibat
lemahnya permintaan investasi C.
Mekanisme penyesuaian harga dala persaingan sempurna akan menciptakan harga
keseimbangan, dengan anggapan bahwa seua investor rasional dan memiliki preferensi terhadap

115
risiko dan tingkat keuntungan yang maksimum untuk tingkat risiko tertentu, atau portofolio yang
memiliki tingkat keuntungan tertentu, dengan risiko minimum.
(berdasarkan gambar di atas, dapat didiskusikan, hubungkan dengan hukum prmintaan
dan penawaran)
Contoh 2:
Dua macam sekuritas A dan B:
Tingkat keuntungan yang diharapkan dari sekuritas A sebesar 5% dan sekuritas B sebesar
25% standar deviasi tingkat keuntujngan masing- masing sekuritas sebesar 8% dan 30%. Apabila
dana yang tersedia diinvestasikan 30% pada sekuritas A dan 70% diinvestasikan pada sekuritas B.
Berapa tingkat keuntungan yang diharapkan dari potofolio kedua saham tersebut?
Penyelesaian :
Rumus : E(RP) = Ae(RA) + (1-a)E(RB)
= (30%)(15%) + (70%)(25%)
= 0,3(15%) + 0,7 (25%)
= 4,5% + 17,5%
= 22%
Misal :
Koefisien kolerasi antara tingkat keuntungan sekuritas A dan B, sama dengan satu atau
korelasi positif sempurna, maka standar deviasi tingkat keuntungan yang diharapkan dari
portofolio berikut :
b(Rp) = va2b A2 + 2a(1-a)rABbAbB + (1-A)2bB2
= V(30%)2(8%)2+2(30%)(70%)(1)(8%)(30%)+(70%)2(30%)2
= V0,054756
= 23,40%
Kalau koefisien antara tingkat keuuntungan sekuritas A dan B, berkolerasai negatif
sempurna, maka standar deviasi tingkat keuntungan yang diharapkan dari potofolio sebagai
berikut :
Jawab :
b(Rp) = va2b A2 + 2a(1-a)rABbAbB + (1-A)2bB2
= V(30%)2(8%)2+2(30%)(70%)(-1)(8%)(30%)+(70%)2(30%)2

116
= V 0,034596
= 18,60%
Kalau sekuritas A dan B, tidak berkorelasi sama sekali, maka standar deviasi tingkat
keuntungan yang diharapkan dari portofolio, sebagai berikut :
Jawab :
b(Rp) = va2b A2 + 2a(1-a)rABbAbB + (1-A)2bB2
= V(30%)2(8%)2+2(30%)(70%)(0)(8%)(30%)+(70%)2(30%)2
= V 0,044676
= 21,13%
Berbagi kombinsai investasi, tingkat keuntungan yang diharapkan, standar deviasi tingkat
keuntungan portofolio, sebagai berikut:
Keterangan :
Secara kenyataan, kecil kemungkinannya setiap sekuritas atau kelompok sekuritas
berkolerasi sempurna atau tidak berkolerasi sama sekali. Sehingga koefisien korelasi akan
terletak antara positif satu dan negatif satu. Atau (-1 < r < 1).

Asumsi yang harus dipenuhi :


1. Setiap investor ingin kepuasan maksimum.
2. Sikap invstor tidak suka/ risk averter.
3. Tersedia data rata- rata dan standar deviasi untuk menelusuri pola perubahan tingkat
setiap sekuritas.
4. Setiap individu mempunyai kurva kepuasan atau utility yang brbentuk kuadratik.
5. Tingkat keuntungan setiap sekuritas berdistribusi normal.
6. Setiap investor dapat melakukan investasi bebas dalam satuan terkecil untuk mencapai
kombinasi optimum.
Asumsi lain, bahwa pasar modal sangat efisien dengan ciri –ciri sebagai berikut :
1. Tidak ada biaya transaksi, kalai ada biaya tarnsaksi sangat kecil.
2. Tidak ada pajak.
3. Semua investor adalah prce taker, artinya tidak ada seorang investor yang secara individu
mampu memengaruhi harga sekuritas.
4. Unvestasi bersifat fullydiversiable atau investor dapat mencari kombinasi satuan investasi
terkecil.
5. Tidak ada short selling transaksi jangka pendek yang seharusnya tidak diizinkan.

117
9.10 Capital Assets Pricing Model
Capital assets pricing model (CAPM) menjelaskan keseimbangan antara tingkat risiko yang
sistematis dan tingkay keuntungan yang disyaratkan sekuritas portofolio.
Tujuan utama penggunaan CAPM adalah untuk menentukan tingkat keuntungan
minimum yang disyaratkan atau minimu required rates of return dari investasi asset yang
berisiko.
Konsep CAPM berdasar pada asumsi bahwa pasar modal adalah efisien. Dalam pasar
modal yang efisien, semua asset dapat dibagi –bagi secara sempurna atau perfectly dicidible dan
likuid dapat diperjual belikan setiap saat. Artinya investor dapat melakukan diversifikasi sampai
satuan terkecil dan dapat melakukan jual beli sekuritas setiap saat.
Ciri utama, bahwa harga pasar sekuritas diketahui owh semua nvestor. Dengan demikian
tidak ada seorang investot yang secara konsisten dapat memperoleh keuntungan dengan
informasiyang dimiliki. Selain itu, investor dapat meminjam dan meminjamkan dana dengan
tingkat bunga yang sama sebesar tingkat bunga bebas risiko. Hal ini tentu berbeda dengan
investor besar dalam memperoleh dana.
Pengaruh diversifikasi terhadap tingkat risiko portofolio, 2 (dua) macam riisko pada setiap
sekuritas sebagai berikut :
1. Risiko sistematis (systematic risk), risiko yang tidak dapat dihilangkan/ tidak dapat
dihindari melalui diversifikasi.
2. Risiko tidak sistematis (unsystematic risk), risiko yang dapat dihilangkan/ diperkecil
melalui diversifikasi.
Risiko sistematis terjadi akibat faktor perubahan psar secara keseluruhan, misal perubahan
tingkat suku bunga, inflasi, resesi ekonomi, perubahan kebijakan ekonomi secara menyeluruh,
perubahan pengharapan investor terhadap perkembangan ekonomi. Risiko sistematis juga
disebut arket risk.
Risiko tidak sisitematis, risiko yang terjadi karena karakteristik perusahaan atau institusi
yang mengeluarkan sekuritas, berbeda satu yang lain, misal tidak sistematis disebut juga dengan
unique risk atau diversifiable rik. Karena perbedaan dan keunikan itu, maka masing –masing
sekuritas memiliki kepekaan yang berbeda setiap perubahan pasar.
Contoh :
Kepekaan sekuritas yang dikekuarkan perusahaan kayu lapis berbeda dengan sekuritas
yang dikeluarkan perusahaan perakitan mobil, perusahaan pengolahan makanan atau
perusahaan pesawat terbang.

118
Semakin besar jumlah sekuritas, seakin kecil risiko tidak sistematis. Apabila investor dapat
melakukan diversifikasi portofolio secara sempurna atau fully diversified portofolio, maka risiko
portofolio sama dengan risiko pasar (market risk).
Risiko tidak sistematis dapat dihilangkan dengan cara diversifikasi, maka risiko ini enjadi
tidak relevan lagi dalam portofolio. Jadi yang relevan bagi investor adalah risiko sistematis.
Kontribusi sekuritas terhadap risiko portofolio tergnatung atas sensitifitas atau kovarian tingkat
keuntungan sekuritas terhadap perubahan pasar yang diukur dengan koefisien beta.
Catatan berdasarkan pengertiannya:
Kovarian adalah korelasi antara dua variabel dikalikan dengan standar deviasi dari setiap
variable.
Koefisien beta adalah suatu koefisien yang mengukur hingga sejauh ana hasil
pengembalian atas investasi tertentu bergerak mengikuti pasar saham. Atau megukur
responsibillity return atas suatau surat berharga terhadap perubahan return pasar.
Sekuritas dengan koefisien beta = 1, berarti memiliki standar deviasi atau risiko = risiko
rata – rata pasar.
Portofolio sekuritas dengan koefesien Beta + 1, berarti memiliki standar deviasi = indeks pasar.
Sekuritas dengan koefesien Beta = ½, berarti memiliki resiko dibawah rata-rata. Portofolio
sekuritas semacam itu akan berubah sebesar ½ dari standar deviasi pasar. Sekuritasa dengan
koefesien Beta > 1, akan memberikan tingkat keuntungan yang lebih besar rata-rata pasar bila
kondisi pasar membaik; dan sebaliknya memberi tingkat keuntungan yang lebih rendah dari rata-
rata pasar bila kondisi pasar melemah.
Koefesien Beta portofolio mengukur besar kecilnya pengaruh perubahan pasar terhadap
tingkat keuntungan portofolio. Dengan demikian tingkat keuntungan portofolio dengan
ditentukan oleh resiko sistematis koefesien Beta dan tingkat keuntungan pasar.
Pengukuran Koefesien Beta :
Sekuritas dengan koefesien Beta = 1, apabila indeks pasar naik 10%, maka harga pasar
sekuritas cenderung akan meningkat 10%, sebaliknya apabila indeks pasar turun 15%, maka
harga pasar sekuritas akan turun 15%. Jadi harga pasar sekuritas cenderung akan bergerak atau
berubah mengikuti perubahan pasar secara sempurna.
Sekuritas dengan koefesien Beta = ½
Harga pasar sekuritas akan cenderung bergerak 1/2 x perubahan pasar. Dengan
demikian, koefesien Beta sekuritas yang mengukur perubahan pasar terhadap sebuah sekuritas
dapat dicazri dengan meregresikan tingkat keuntungan pasar portofolio yang efesien.
Contoh :

119
Tingkat keuntungan saham & portofolio pasar (%)

Bulan Saham PT. A Return Pasar XY X2


Y X

1 18.50 14.20 259.00 196.00

2 17.40 11.20 194.88 125.44

3 15.00 9.80 147.00 96.04

4 13.50 8.50 114.75 72.25

5 19.00 15.00 285.00 225.00

6 20.00 16.20 324.00 262.44

7 21.00 16.70 350.70 278.89

8 15.20 9.80 148.90 96.04

9 17.00 11.40 193.80 129.96

10 16.90 11.00 185.90 121.00

11 19.20 13.80 264.96 190.44

12 11.00 7.50 82.50 56.25

Jumlah 203.70 144.90 2.551,45 1.849,75


Average 16.97 12.08

Keterangan :
Contoh diatas merupakan data historis tingkat keuntungan saham suatu perusagaan dan tingkat
keuntungan portofolio pasar selama 12 bulan terakhir. Diestimasikan besarnya koefesien beta
saham perusahaan sebesar β = 0,9170.
Berarti apabila indeks pasar meningkat 10 poin, maka harga pasar saham perusahaan tersebut
akan meningkat sebesar 9,17 poin.
Rumus :

120
𝛽 = 𝑁 ∑ 𝑋𝑌 − (∑ 𝑋) (∑ 𝑌)
N ∑ X2 −(∑ 𝑋)2
β = (12) (2.551,45) – (144,90)(203,70)
(12) (1.849,75) – (144,90)2
β = 30.617,4- 29.516,13
22.197,00 – 20.996,01
= 0, 9170
Rumus :
ỡ = Y/N – (X/N)
ỡ = 16,96 – 0,917 (12,08)
= 5,90
Kesimpulan, CAPM dapat digunakan :
Untuk menentukan tingkat keuntungan yang diisyaratkan dan selanjutnya dipakai sebagai
discount rate untuk mengukur nilai sekarang aliran kas yang diharapkan akan diterima di masa
mendatang.
CAPM bermanfaat, khususnya dalam keputusan investasi, merger maupun ekspansi
usaha. Kelemahan CAPM, tidak dapat di tes validitasnya, karena tidak mungkin melakukan
pengujian terhadap keseluruhan sekuritas untuk memperoleh portofolio yang efisien.
9.10 OPTION PRICING THEORY (TEORI PENENTUAN HARGA OPSI)
Option(opsi) merupakan hak (right) seseorang/ pemodal/ manajer keuangan untuk melakukan
sesuatu atau tidak melakukan.
Dua tipe opsi, sebagai berikut :
1. Opsi Call, merupakan hak untuk membeli suatu saham, dengan harga tertentu (exercise
price), tanggal tertentu (untuk Eropa), atau tanggal tertentu dan sebelumnya (untuk
Amerika), tanggal jatuh tempo (exercise date).
2. Opsi out, merupakan hak untuk menjual suatu saham dengan harga tertentu (exercise price)
tanggal tertentu (untuk Eropa), atau tanggal tertentu dan sebelumnya (untuk Amerika),
tanggal jatuh tempo (exercise date).

Contoh opsi call :

121
Seseorang menawarkan opsi call untuk satu tahun yang akan datang, kita bisa membeli
saham Telkom dengan harga sebesar Rp. 15.000,00 per lembar saham. Apabila pada saat opsi
call jatuh tempo, harga saham Telkom dibawah Rp. 15.00,00 misalnya Rp. 12.000,00, maka nilai
call tersebut sama dengan (=) 0 (nol. Tetapi kalau harga saham Telkom pada saat diatas Rp.
15.00,00 misalnya Rp. 18.00,00 dan kita meng-exercise-kan opsi tersebut, maka kita kan
memperoleh keuntungan sebesar Rp. 3.000,00 (Rp. 18.000,00-Rp.15.000,00).
Jadi nilai call sebesar : Harga Pasar (-) Exercise Price.
Contoh Opsi Put
Seseorang menawarkan opsi put, ingin membeli saham Telkom yang berarti kita menjual
saham Telkom kepada orang tersebut untuk satu tahun yang akan datang dengan harga sebesar
Rp. 15.000,00. Kalau saat jatuh tempo harga saham Telkom pada saat diatas Rp. 15.00,00
misalnya Rp. 18.00,00, maka nilai put tersebut sama dengan (=) 0 (nol). Tetapi kalau harga saham
Telkom tersebut pada saat jatuh tempo dibawah Rp. 15.00,00 misalnya Rp. 12.000,00,. Maka
saat opsi pu di-exercise-kan kita memperoleh keuntungan sebesar Rp. 3.000,00 (Rp. 15.000,00-
Rp.12.000,00).
Gambar : Dengan Exercise price Rp. 15.000,00

Nilai opsi call : Nilai opsi put :


Nilai Call Nilai put

15 15
rb rb

0 15 Hrg. shm. 0 15 Hrg. shm.


rb rb

9.11 RINGKASAN

122
Portofolio, sekumpulan investasi sekuritas (financial assets), merupakan selembar kertas
hak pemodal, untuk memperoleh bagian dari kekayaan organisasi yang menerbitkan sekuritas
tersebut.
Langkah- langkah kegiatan portofolio, agar meminimalisir resiko (menurut John
Dickonson) : Placement analysis, Portofolio construction, Portofolio selection. Menurut Robert
Ang : Melalui analisa yang cermat, melakukan pembobotan, melakukan horizon investasi,
masing-masing instrument investasi ditentukan expected return-nya, melakukan perhitungan
expected return, rata-rata, serta standard deviasi.
Dua resiko investasi. Risiko tidak sistematik (unsystematic risk) dan resiko sistematik
(systematic risk). Penjumlhan dari kedua risiko tersebut, disebut sebagai resiko total.
Sekuritas yang diperdagangkan dalam pasar finansial antara lain adalah obligasi,saham,
dan surat berharga lainnya.Pelaku transaksi di pasar modal adalah pemodal, pialang atau broker,
pedagang efek atau dealer, securities company.
Capital assets pricing model (CAPM), keseimbangan antara tingkat resiko yang sistematis
dan tingkat keuntungan yang diisyaratkan sekuritas portofolio. Tujuan CAPM adalah untuk
menentukan tingkat keuntungan minimum yang diisyaratkan atau minimum required dari
investasi asset yang beresiko.
Option pricing theory (teori penentuan harga opsi), Option (opsi) merupakan hak (right)
seseorang /pemodal/ menajer keuangan untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan. Dua
tipe opsi, sebagai berikut Opsi call, dan opsi put.

123
BAB X COST OF CAPITAL
Cost of capital ( biaya penggunaan modal) adalah menentukan besarnya biaya riil atas
penggunaan modal dari masing-masing sumber dana, untuk selanjutnya menetukan biaya modal
rata- rata (average cost capital) dari keseluruhan dana yang digunakan didalam perusahaan.
Biaya modal adalah biaya yang harus dikeluarkan atau dibayarkan utnuk mendapatkan
modal, baik yang berasal dari hutang, saham preferen, saham biasa maupun laba ditahan untuk
biaya investasi perusahaan. Dalam hal ini yang akan dibahas hanya modal (dana) jangka panjang,
karena konsep biaya modal hanya relevan untuk keputusan jangka panjang (menyangkut Capital
Budgeting).
Kalau perusahaan menggunakan dana yang berasal dari laba ditahan (retained earnig),
tentu juga ada biayanya yaitu sebesar rate of return (tingkat pendapatan investasi) yang
diharapkan diterima oleh investor kalau mereka mengivestasikan sediri. Biaya penggunaan
modal yang berasal dari laba ditahan disebut “cost of retained earning”.

124
10.1 PERHITUNGAN BIAYA MODAL
Perhitungan biaya penggunaan modal biasanya didasarkan atas perhitungan sesudah
pajak (after tax).
Biaya modal dapat dibagi dari dua sisi:
1. Dari pihak investor, biaya modal merupakan tingkat keuntungan yang diisyaratkan,
merupakan pencerminan (dipengaruhi) oleh tingkat resiko, aktiva yang dimiliki dan
struktur modal serta faktor lain seperti manajemen.
2. Dari pihak perusahaan, biaya modal adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk
mendapatkan modal dari investor.

Jadi secara umum risiko perusahaan yang tinggi berakibat bahwa tingkat keuntungan
yang diminta oleh investor juga tinggi dan itu berarti biaya modal juga tinggi. Karena struktur
modal terdiri dari berbagai macam sumber, maka biaya modalnya harus berimbang.

Biaya modal rata-rata (average cost capital) biasanya digunakan sebagai ukuran untuk
menentukan diterima atau ditolaknya suatu usul investasi , yaitu dengan membandingkan “rate
of return” dari suatu investasi tersebut dengan “cost of capital”.

Cost of capital berasal dari berbagai sumber :


 Hutang jangka pendek.
 Hutang jangka panjang
 Saham preferen
 Laba yang ditahan.
 Emisi saham baru

1. Hutang Jangka Pendek


a. Hutang dagang, biaya bunga yang biasanya dibayar atas keuntungan sebelum
pajak. Jadi pajak akan lebih kecil.
b. Hutang wesel, bunga tetap dari nominal per tahun.
c. Hutang bank, bunga tetap dari nominal per tahun.

2. Hutang Jangka Panjang


Obligasi, ada biaya cost of bond.

3. Saham Preferen

125
Mempunyai sifat campuran antara hutang dan saham biasa. Sifat hutang karena
punya kewajiban yang tetap. Sifat saham preferen berhak menerima deviden (lebih
dulu).
4. Laba yang ditahan
Ada biayanya sebesar tingkat pendapatan investasi (rate of return) dalam saham
diharapkan diterima oleh para investor.
5. Emisi saham biasa baru
Biayanya lebih besar dari biaya laba yang ditahan, karena adanya baiya emisi.

10.2 BIAYA HUTANG JANGKA PANJANG (OBLIGASI)


Obligasi (cost of bond = kd ) dapat dihitung dengan 2 cara :
a. Dengan short cut formula.
f–p
C+
n
Kd = x100
P+f
2

Di mana :
C = bunga obligasi tahunan dalam rupiah
F = M= harga nominal dari obligasi atau jumlah yang akan diterima pada akhir
umurnya.
P = Vb = harga pasar obligasi
n = umur obligasi

b. Dengan menggunakan table present value (PV)


I M
Po = ∑ +
t =1 (1 + Kd) (1 + Kd)

Di mana :

126
I = C = bunga obligasi tahunan dalam rupiah
Po = harga pasar obligasi
M = harga nominal obligasi atau harga yang akan diterima pada akhir umurnya =
nilai jatuh tempo
Jika obligasi baru dijual sama dengan nilai nominalnya dan tidak ada flotation cost (biaya
emisi), maka biaya hutang = tingkat bunga yang menyamakan Present Value (PV) penerimaan
bunga dan peluanasan pokok pinjaman (Kd = tingkat bunga). Karena pembayaran bunga
merupakan pengurangan pajak, maka biaya hutang setelah pajak (Ki) harus disesuaikan dengan
cara mengalikan dengan (1-pajak) sehingga menjadi : Ki = Kd (1- pajak).
Contoh :
Pt. abc menjual 1.000.000 lembar obligasi 8,5% dengan nilai nominal Rp. 10. 000,00
dengan harga sama dengan harga nominalnya. Obligasi tersebut akan jatuh tempo 5 tahun.
Apabila tariff pajak sebesar 40%, maka tentukan biaya hutang setelah pajak.
Penyelesaian :
850 850 850 850 850+10.000
10.000 = + + + +
(1 + Kd)1 (1 + Kd)2 (1 + Kd)3 (1 + Kd)4 (1 + Kd)5

Kd = internal Rate of Return (= IRR) Kd = 8,5% Ki = Kd (1- pajak)


= 8,5% (1 – 0,40)
= 5,1 % Biaya hutang setelah pajak.

Atau :

f–p
C+
n
Kd = x100
P+f
2

127
10.000 - 10.000
850+
5
Kd = x100
10.000 + 10.000
2

Kd = 850
= 8,5%
10.000

Ki = 8,5% (1 – 0,40 ) = 5,1 Biaya hutang setelah pajak


Bila obligasi tersebut dijual dengan harga sesuai dengan harga nominalnya, maka biaya
hutang akan lebih rendah dari pada bunga yang dibayarkan.
Misal :
Untuk obligasi pt. abc tersebut laku terjual dengan harga Rp. 11.000,00, maka tingkat bunga yang
menyamakn Present Value (PV), penerimaan bunga Rp. 850,00 tiap tahun selama, serta
pelaksanaannya Rp. 10.000,00 pada akhir tahun ke 5 adalah sebesar :
Kd = 6,19%
Perhitungannya sebagai berikut :

10.000 - 11.000
850+
5
Kd = x100

11.000 + 10.000
2

Kd = 650
= 0,0619 = 6,19%
10.000

Ki = 6,19% (1 – 0,40 ) = 3,71 %

128
850 850 850 850 850+10.000
11.000 = + + + +

(1 + Kd)1 (1 + Kd)2 (1 + Kd)3 (1 + Kd)4 (1 + Kd)5

Selisih tk. Selisih PV Selisih PV of proceeds dengan PV of


Bunga Capital outlays

Kd = 5,0% 11.515 11.515


Kd = 8,5% 10.000 11.000

3,5% 1.515 515

IRR = Kd = 5% + 515 X 3,5% = 6,12%


1.515

Ki = 6,12% (1 – 0,40 ) = 3,67 % = 3,7%

10.3 BIAYA MODAL SAHAM PREFEREN


Po = dps

Kp
Po = harga saham preferen
dps = deviden saham preferen
Kp = tingkat keungtungan yang diisyaratkan oleh pemegang saham preferen

Bila ada floatation cost, maka biaya modal saham preferen diperhitungkan atas dasar kas bersih
yang diterima (p.net).

Kp = dp

p.net

129
Contoh :
PT. ABC menjual saham preferen kumulatif nominal Rp. 10.000,00 dengan harga sebesar Rp.
12.600,00. Dividen saham preferen setiap tahun diperkirakan sebesar Rp. 1.000,00. Flotation cost
setiap lembar saham Rp. 100,00 maka biaya modal saham preferen adalah:

Kp = 1.000
= 8,08%

12.600 - 100

Karena pembayaran dividen saham preferen dilakukan setelah pendapatan dikurangi


pajak, maka biaya modal saham preferen tidak perlu lagi disesuaikan dengan pajak.

10.4 BIAYA MODAL SENDIRI


Biaya modal sendiri (ke) adalah sebesar required rate of return investor saham biasa.
Perusahaan dapat memperoleh modal dengan 2 cara :

1. Laba ditahan
2. Mengeluarkan saham baru

10.5 BIAYA MODAL LABA DITAHAN


dps
Po =
Ke

d
Ke =
Po

Dalam kenyataan modal yang mengalami pertumbuhan dirasa lebih realistis, karena
bukanlah investor akan mengharapkan bahwa deviden akan terus meningkat dari tahun ke
tahun, maka :

dps
Ke = +g
Po

130
10.6 BIAYA MODAL SAHAM BIASA

d1
Ke = +g
Po (1-c)

Biaya penggunaan modal keseluruhan (over – all cost capital)

D P E
Ko = (ki) + (kp) + (kp)
E+D+P E+D+P E+D+P

Contoh :
Perusahaan ABC mempunyai struktur modal sebagai berikut :
Hutang jangka panjang = Rp. 60.000.000 (D)
Saham preferen = Rp. 10.000.000 (P)
Saham biasa/ modal sendiri = Rp. 130.000.000 (E)
Jumlah = Rp. 200.000.000
Biaya penggunaan dana dari masing-masing sumber dana tersebut adalah:
Hutang jangka panjang = 6% ( Kd ) sebelum pajak
Saham preferen = 7%
Saham/ modal sendiri = 10%
Tingkat pajak = 50%
Ki = Kd (1-0,5)
= 6% (0,5) = 3%
Ko = weight cost of capital (WACOC) = biaya modal rata-rata tertimbang

D P E

Ko = (ki) + (kp) + (kp)


E+D+P E+D+P E+D+P

131
= 30% (3%) + 5% (7%) + 65% (10%) = 7,75%
weight cost of capital (WACOC) atau biaya modal rata-rata tertimbang, tersebut akan berubah
kalau ada perubahan struktur modal atau perubahan biaya masing – masing komponen modal
tersebut. Selama struktur modal dan biaya modal masing –masing komponen modal tersebut
masih dapat dipertahankan, WACOC tidak akan pernah berubah meskipun ada tambhan modal
yang digunakan.
Contoh :
struktur modal Perusahaan ABC 31 Desember 2015 sebagai berikut :
Hutang jangka panjang = Rp. 32.000 (22%)
Saham preferen = Rp. 14.000 (1%)
Saham biasa/ modal sendiri = Rp. 1.120.000 (77%)
Jumlah = Rp. 1.454.000 (100%)
Biaya penggunaab dana dari masing-masing sumber dana tersebut adalah:
Hutang jangka panjang = 6% ( Kd ) sebelum pajak
Saham preferen = 6%
Saham/ modal sendiri = 10%
Tingkat pajak = 50%
Dengan data tersebut diatas, tentukan wacoc- nya :
Penyelesaian :
Ki = 6% (1-0,5) = 3%
Ko =22% (3%) +1% (6%) + 77%(10%)
Ko = 0,0066 + 0,006 + 0,770
Ko = 0,0842
Ko = 8,42%
Pada tahun 2015 perusahaan memperoleh laba sebesar Rp. 600.000 dan dibyarkan
sebagai devisen sebesar Rp. 200.000 dan ditahan sebesar Rp 400.000.
Untuk dapat mempertahankan wacoc sebesar = 8,42% perusahaan harus
mempertahankan pula perimbangan modalnya. Berarti laba ditahan sebesar Rp 400.000 tersebut
harus 77% dari keseluruhan tambahan dana yang akan ditarik.

132
Maka keseluruhan dana yang ditarik /diperlukan adalah :
Rp. 400.000
= Rp. 519.480 dibulatkan menjadi Rp. 519.000
0,77
Dengan proporsi sebagai berikut
Hutang jangka panjang 22% dari Rp 519.000 = Rp. 114.000
Saham preferen 1% dari Rp 519.000 = Rp. 5.000
Saham biasa/ modal sendiri 77% dari Rp 519.000 = Rp. 400.000
Jumlah = Rp. 519.000

114.000 5.000 400.000


WACOC = (3%) + (6%)+ (10%)
519.000 519.000 519.000
= 0,00659 + 0,000578 + 0,07707129
= 0, 0842
= 8,42 %
Jadi, tambahan dana maksimum untuk dapat mempertahankan wacoc = 8,42% adalah sejumlah
Rp 519.000 dengan komposisi laba Rp. 400.000 (modal sendiri/laba ditahan); saham preferen Rp.
5.000 dan hutang jangka panjang Rp. 114.000.
Apabila kebutuhan dana lebih besar dari batas maksimum tersebut maka wacoc akan lebih besar
pula dari 8,42%.
Contoh :
Perusahaan membutuhkan lagi tambahan dana sebesar Rp 100.000. Untuk mempertahankan
struktur modal optimum, maka harus dipenuhi dengan modal sendiri/daham biasa 77% x Rp.
100.000 = Rp. 77.000; saham preferen 1%xRp. 100.000 = Rp. 1.000 dan hutang jangka panjang
22%xRp. 100.000 = Rp 22.000.
Biaya emisi sebesar 10%.
Tentukan WACOC-nya

10%
Biaya saham (biasa) baru = =11,11 %
1 – 0,10

133
22.000 1.000 77.000
Wacoc = (3%) + (6%)+ (11,11%)
100.000 100.000 100.000

= 9,3%
10.7 RINGKASAN
Biaya modal (cost of capital) adalah biaya yang harus dikeluarkan atau dibayarkan untuk
mendapatkan modal. Baik yang berasal dari hutang, saham preferen, saham biasa maupun laba
ditahan untuk biaya investasi perusahaan.
Kalau perusahaan menggunakan dana yang berasak dari laba yang ditahan (retained earning),
juga ada biayanya yaitu sebesar rate of return (tingkat pendapatan imvestasi) yang diharapkan
diterima oleh investor kalau mereka menginvestasikan sendiri. Biaya penggunaan modal yang
berasal dari laba ditahan disebut “cost of retained earning”.
Perhitungan biaya penggunaan modal biasanya didasarkan atas perhitungan sesudah pajak (after
tax).
Biaya mpdal rata-rata ( average cost of capital) biasanya digunakan sebagai ukuran untuk
menentukan diterima atau ditolaknya suatu usul investasu, yaitu dengan membandingkan “rate
of return” dari suatu investasi tersebut dengan “cost of capital”.
Cost of capital berasal dari berbagai sumber :
Hutang jangka pendek, hutang jangka panjang, saham preferen, laba ditahan dan emisi saham
biasa baru.

134
135
BAB XI DIVIDEND POLICY
Dividen adalah bagian keuntungan yang diterima oleh pemegang saham dari suatu
perusahaan. Apabila keuntungan perusahaan tidak dibagikan kepada pemegang saham, dan
diinvestasikan kembali dalam perusahaan, maka disebut “laba ditahan”.
11.1 KEBIJAKAN PEMBAYARAN DIVIDEN
Kebijakan dividen adalah keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan akan
dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan
guna pembiayaan investasi di masa yang akan datang.
Dari kedua pendekatan tersebut berapa banyak keuntungan yang dibagi kepada
pemegang saham, dan berapa banyak yang akan ditahan. Besarnya dividen yang dibagikan
kepada pemegang saham ditentukan dengan persentase yang disebut “Dividend Payout Ratio”.
Dividend Payout Ratio merupakan perbnadingan antara dividen yang dibayarkan dengan laba
bersih. Semakin tinggi Dividend Payout Ratio, akan menguntungkan bagi investor selaku
pemegang saham, sebaliknya akan memperlemah inter finansial perusahaan.
Besar kecilnya Deviden Payout Ratio dipengaruhi oleh :
1. Likuiditas dari perusahaan yang bersangkuta karena kalau likuiditas perusahaan baik,
dividen dapat dibagikan lebih besar, begitu pula sebaliknya apabila likuiditas perusahaan
tidak baik, maka dividen bisa kecil atau bisa tidak dibagikan sebagai dividen tetapi ditahan
oleh perusahaan disebut laba ditahan.
2. Keperluan dana melunasi hutang, kalau perusahaan akan melunasi hutangnya dengan
segera, maka dividen bisa kecil atau laba ditahan, dan sebaliknya alau perusahaan tidak
segera melunasi hutangnya atau tidak ada hutang yang dibayar, maka dividen bisa dibayar
cukup besar oleh perusahaan dari keuntungan yang diperoleh.
3. Tingat investasi yang direncanakan kalau perusahaan tahun berikutnya merecenakan
investasi yang cukup besar, maka dividen tidak akan dibagikan kepada pemegang saham
atau dividen kecil, sebaliknyakalau perusahaan tidak ada rencana untuk investasi pada
tahun mendatang, maka dividen akan dibagikan lebih besar.
4. Pengawasan, kalau dilakukan pengawasan terhadap perusahaan sehubungan dengan
ekspansi perusahaan, maka biasanya perusahaan itu akan menggunakan dananya dari
laba perusahaan untuk ekspansi, sehingga kalau ini yang dilakukan maka ekspansi dan
perusahaan memperoleh keuntungan, maka dana keuntungan itulah yang digunakan,
sehingga dividen kecil atau dividen tidak dibayar.
5. Ketentuan dari Pemerintah, biasanya ini dilakukan terhadap perusahaan miliki
pemerintah atau negara BUMN. Kalau ditentukan lama harus ditahan, maka dividen tidak
dibagikan atau dividen kecil, begitu pula sebaliknya.
Keseimbangan:

136
Dari kedua pendekatan diatas, yaitu antara pembayaran dividen dana laba ditahan, perlu
dijaga keseimbangan antara pengguna sumber dana dari saham biasa (pembayaran dividen)
dengan laba ditahan (reinvestasi perusahaan).
Kebijaksanaan optimal akan menyeimbangkan dividden saat ini dengan tingkat
pertumbuhan dimasa yang akan datang, agar saham perusahaan dapat dimaksimalkan.
Kebijakasanaan Pembayaran Dividen:
1. Stabile dividend policy
Pembayaran dividen selalu stabil tetap, stabil turun atau stabl naik, meskipun net income
berfluktuasi.
Gambar stabile dividend policy:
Net income

Laba usaha
Stabil naik
Stabil tetap
Stabil turun
Waktu
Kebaikan dividen tetap adalah :
a. Harga saham akan naik, bahkan kenaikannya lebih tajam, hal ini disebabkan para
investor mempunyai keyakinan bahwa perusahaan selalu mendapatkan keuntungan,
dan pendapatan investor selalu ada setip tahun.
b. Kalau terjadi harag saham turun, maka tingkat penurunnya akan lamba, karena
pemegang saham masih ingin memiliki saham tersebut, dengan harapan masih
mendapatkan bagian laba berupa dividen.
c. Penjualan saham dari perusahaan yang go public (perdagangan saham di bursa efek)
akan lebih mudah, karena selain pemegang saham tersebut akan mendapatkan
dividen, mereka juga mudah menjualnya setiap saat.
2. Fluctuating dividen policy
Pembayaran dividen berdasarkan keuntungan perusahaan diakhir periode. Apabila
keuntungan perusahaan meningkat, maka pembayaran dividen juga meningkat,
sebaliknya apabila keuntungan perusahaan menurun, maka pembayaran dividen juga
menurun.

137
Gambar fluctuating dividen policy:
Net income

Laba usaha

Dividen dibayar

Waktu
3. Kombinasi stabile & fluctuating dividend policy
Besarnya dividen yang dibayar, sebagian dibayar tetap dan sebagian lagi dibayar bersifat
proporsional dengan tingkat keuntungan yang dicapai oleh perusahaan.
Gambar kombinasi stabile & fluctuating dividend policy
Net income
Laba

Dividen variabel

Dividen tetap
Waktu
Persamaan matematis terdensi harga saham

𝑅𝐴
𝐷+ (𝐸−𝐷)
𝑅𝐶
𝑉𝐶 = 𝑅𝐶
Di mana:
VC = Harga saham.
D = Dividend pay out per lembar
RA = Produtivity of return earning of firm (rasio kemampuan memperoleh hasil dari
saham).
RC = Market Computalization Rate, (Ratio nilai harga pasar saham).
E = Earning per share of common size (pendapatan per lembar saham).

APABILA:
a. RA > RC = Lebih besar porsi dividen yang dibayarkan terhadap pendapatan perlembar
saham, harga saham cenderung turun.
b. RA < RC = Lebih kecil porsi dividen yang dibayarkan terhadap pendapatan perlembar
saham, harga saham cenderung naik.
c. RA = RC = Besarnya dividen berubah-ubah, harga saham konstan.
Diketahui:
E = Rp. 1.000,00

138
D1 = Rp. 200,00
D2 = Rp. 300,00
D3 = Rp. 400,00
Buktikan:
a. Apabila RA > RC RA = 15%; RC = 10%
b. Apabila RA < RC RA = 9%; RC = 10%
c. Apabila RA = RC RA = 10%; RC = 10%
Coba lakukan perhitungan dengan menggunakan rumus seperti diatas.

11.2 STOCK DIVIDEND


Stock dividend adalah pembayaran dividen dengan menggunakan saham, tidak dengan
uang tunai. Dengan demikian pemegang saham dengan adanya pembayaran dividen berupa
saham, maka sahamnya akan bertambah. Dengan adanya stock dividen, diperlukan penyusunan
kembali struktur modal perusahaan, karena proporsi kepemilikan pemegang saham tetap atau
tidak berubah.
Contoh :
Setelah perusahaan membagikan stock dividend kepada pemegang saham, diasumsikan
Price Earning Ratio (PER) dan risiko perusahaan tidak berubah:
Laba setelah pajak Rp 3.000.000.000,00
Saham beredar 2.400.000 lembar
Laba per saham (EPS) Rp 1.250,00 (=Rp3 M : 2,4 juta)
PER (Price Earning Ratio) 20 x
Harga saham (per lembar) Rp 25.000,00
Dengan demikian:
Kalau semula seorang pemodal memiliki 100 lembar saham dengan harga Rp 30.000,00
per lembar, maka kekayaannya sebesar Rp 3.000.000.000,00. Setelah menerima stock dividen,
maka jumlah saham yang dimiliki sebanyak 120 lembar sehingga kekayaannya tetap sebesar RP
3.000.000,00.

139
11.3 STOCK SPLITS
Stock splits adalah pemecahan jumlah lembar saham. Jumlah ;embar saham akan
meningkat dan diimbangi dengan penurunan nilai nominal saham. Nilai kepemilikan pemegang
saham tidak akan berubah.
Contoh:
Perusahaan memiliki sejumlah lembar saham sebelum stock splits:
1.000 lembar saham @ Rp1.000,00 = Rp 1.000.000,00
Setelah terjadi stock splits :
2.000 lembar saham & Rp 500,00 = Rp 1.000.000,00 (nilai tetap)
Tujuannya adalah:
a. Menjaga agar harga saham tidak terlalu mahal, sehingga mereka yang ingin memiliki
saham bisa terpenuhi.
b. Perusahaan dengan pertumbuhan yang lebih cepat, akan meningkatkan harga saham
lebih cepat lagi.
11.4 REVERSE SPLITS
Reverse splits adalah pengurangan jumlah lembar saham yang dilakukan oleh
perusahaan. Reverse splits merupakan kebalikan dari stock splits.
Contoh :
Perusahaan memiliki sejumlah lembar saham sebelum reverse splits:
1.000 lembar saham @ Rp 1.000,00 = Rp 1.000.000,00
Setelah terjadi reverse split:
500 lembar saham @ Rp 2.000,00 = Rp 1.000.000,00
Contoh dapat dikatakan: “one to two reverse splits”, artinya untuk tiap 1 lembar saham
baru akan ditukar dengan 2 saham lama.
Tujuannya adalah untuk menaikkan harga pasar saham, karena selama ini harga saham
tersebut dianggap terlalu rendah.
11.5 REPURCHASE OF STOCK
Repurchase of stock adalah pembelian kembali saham yang sudah beredar, sehingga
jumlah lembar saham yang beredar akan berkurang, disamping itu pembagian laba perusahaan
akan berkurang, disamping itu pembagian laba perusahaan akan lebih banyak dimiliki oleh
perusahaan.

140
Contoh:
Perusahan mempunyai dana yang tidak dimanfaatkan untuk investasi lain yang
menguntungkan, sehingga dana tersebut dapat digunakan untuk melakukan pembelian kembali
saham perusahaan yang telah beredar atau dengan memayarkan dana tersebut seabagi cash
dividend kepada pemegang saham.
Misalkan keadaan perusahaan pada saat ini:
Laba bersih sesudah pajak (EAT Earning After Taxers) sebesar Rp 1.000.000.000,00
Jumlah lembar saham yang beredar sebanyak 2.000.000
Pendapatan/lembar saham 1.000.000.000: 2.000.000 = Rp 500,00
Harga saham per lembar (ex dividen) Rp 7.500,00
Price/Earning Ratio (PER) Rp 7.500,00 : Rp 500,00 = 15 X
Misalkan dana sebesar Rp 750.000.000,00 dibagikan sebagai dividen maka dividend per
Share (DPS) sebesar Rp 750.000.000,00 : 2.000.000 = Rp 375,00 yaitu dividend yang diharapkan
ditambah harga saham Rp 7.500,00 = Rp 7.875,00 Setelah diumumkan pembagian dividen, maka
harga saham Rp 7.875,00 Jumlah saham yang dibeli Rp 750.000.000 : Rp 7.875,00 = 95.238
lembar. Pendapatan per lembar saham sesudah pembelian kembali saham akan menjadi Rp
1.000.000.000,00 : (2.000.000 – 95.238) = Rp 525,00
Apabila price/earning ratio tetap 15 X, maka harga pasar saham tersebut sebelum dividen
sebesar 15 X Rp 525,00 = Rp 7.875,00 yaitu sama dengan harga pasar saham sebelum dividen
kalau menggunakan cara mendistribusikan daa tersebut dengan membayarkan sebagi cash
dividend. Harga saham Rp7.875,00 per lembar, merupakan ”equilibrium repurchase price”.
11.6 RINGKASAN
Dividen adalah bagian euntungan yang diterima oleh pemegang saham dari suatu
perusahaan. Apabila keuntungan perusahaan tidak dibagikan kepada pemegang saham, dan
diinvestasikan kembali dalam perusahaan disebut “laba ditahan”.
Kebijakan dividen adalah laba yang diperoleh perusahaan dibagikan kepada pemegang
saham sebagai dividen dan ditahan dalam bentuk laba ditahan guna investasi dimasa yang akan
datang.
Dividend Payout Ratio merupakan perbandingan antara dividen yang dibayarkan dengan
laba bersih.
Besar kecilnya Dividend Payout Ratio dipengaruhi oleh:
a. Likuiditas dari perusahaan yang bersangkutan.
b. Keperluan dan melunasi hutang.

141
c. Tingkat investasi yang direncanakan.
d. Pengawasan.
e. Ketentuan dari pemerintah.
Kebijaksanaan pembayaran dividen:
a. Stabile dividen policy.
b. Fluctuating dividend policy.
c. Kombinasi stabile & fluctuating dividend policy.
Jenis dividen dan perlakuan saham (stock):
a. Stock dividend.
b. Stock splits.
c. Reverse splits.
d. Repurchase splits.
SOAL DAN LATIHAN
1. Saudara seorang investor, apakah Saudara lebih menyukai investasi saham
perusahaan yang memiliki payout ratio konstan, atau saham yang membayar dividen
dalam jumlah yang semakin besar.
2. Apakah perbedaan antara pemecahan nilai saham atau stock splits dengan
pembayaran dividen dengan saham atau stock dividend? Manakah yang lebih baik?
BAB XII LONGTERM FINANCING DECISIONS
12.1 SUMBER PENDANAAN PERUSAHAAN
Dalam melakukan kegiatan operasional perusahaan, tentu perusahaan harus mempunyai
dana tiga sumber utama pendanaan yang digunakan perusahaan:
1. Arus kas internal jangka Panjang:
a. Penyusutan (depresiasi).
b. Laba ditahan.
2. Dana eksternal jangka panjang.
3. Dana eksternal jangka pendek, di peroleh dari:
a. Pendanaan swasta (Privat Financing), dana yang diperoleh langsung dari
seseorang atau beberapa orang atau Lembaga keuangan, seperti bank,
perusahaan asuransi, pengelola dana pension dan lain-lain.
b. Pendanaan publik (Public Financing), menggunakan bank emisi utuk mejual
sekuirtas kepada penanam modal (investor), baik perorangan atau Lembaga
keuangan.
Dana dari public, diperoleh dipasar modal (capital market). Pasar modal merupakan
pertemuan pihak yang memerlukan dan dengan pihak yang menyediakan dana.

142
Mengapa ada pihak yang bersedia menyerahan dananya kepada pihak lain? Hal tersebut
adalah untuk memperoleh keuntungan dari dana tersebut, berupa pembagian keuntungan yang
disebut dividen bagi yang memiliki saham dan mendapatan bunga bagi yang memiliki obligasi.
Bagi suatu perusahaan yang mengeluarkan berbagai jenis surat berharga jangka panjang
untuk memenuhi kebutuhan dana jangka panjang.
Surat berharga atau sekuritas tersebut meliputi saham biasa, saham preferen, obligasi
dan bentuk lain penyertaan modal. Selanjutnya, sekuritas perusahaan diperjual belikan di pasar
modal.
12.2 PENDANAAN DARI PASAR MODAL
Untuk diingat kembali bahwa tujuan utama perusahaan adalah memaksimalkan
kemakmuran pemegang saham atau memaksimumkan nilai perusahaan. Oleh karena iitu, konsep
penilaian surat berharga ini menjadi sangat penting bagi manajer keunganseperti halnya
pemegang saham, investor maupun para broker atau pemegang saham.
Dalam proses penilaian sekuritas terdapat hubungan antara risiko dan tingkat
keuntungan yang diharapkan. Pemegang saham secara umum biasanya menghadaoi risiko yang
lebih besar dibandingkan pemegang obligasi. Karena pemegang saham mengharapkan dividen
yang dibagikan oleh perusahaan apabila perusahaan tersebut mendapatkan keuntungan,
sedangkan pemegang obligasi selalu mendapatkan bunga tetap dari perusahaan, meskipun
perusahaan itu mengalami kerugian.

Pasar modal terdapat di mana saja dan kapan saja bisa terjadi. Maksudnya adalah kalau
pasar modal di Indonesia mulai buka pada pagi hari, di negara lain pasar modal bisa saja mulai
tutup, atau ada negara lain yang pasar modalnya mulai tutup tetapi ada negara lainnya pasar
modalnya yang mulai buka. Begitu seterusnya sehingga pasar modal dalam duapuluh empat jam
tidak pernah tutup.
Pengertian praktis:
Pasar modal sama dengan bursaefek, tempat jual beli surat-surat berharga (sekuritas),
yang bersifat jangka panjang. Dari pasar modal dapat diperoleh:
1. Dana pinjaman, dengan cara menjual obligasi satau sekuritas kredit.
2. Dana equity, dengan cara menjual saham.
12.3 TUJUAN PEMBELIAN EFEK
Bagi pemilik dana pembelian efek bertujuan untuk memperoleh keuntungan dari memiliki
efek tersebut, baik mendapatkan deviden bagi yang memiliki saham, mendapatkan bunga bagi

143
yang memiliki obligasi, maupun keuntungan yang disebut capital gain apabila efek tersebut dijual
dan mendapatkan keuntungan dari penjualan tersebut.
Selain itu kalau perusahaan mempunyai kelebihan dana yang tidak digunakan untuk
operasional perusahaan yang sudah berjalan, dapat menggunakan kelebihan dananya tersebut
untuk membeli efek (sekuritas atau surat berharga), seperti obligasi, saham preferen atau saham
(biasa).
Tujuan pembelian efek tersebut adalah:
1. Penjaga Likuiditas
Likuiditas surat berharga merupakan investasi sementara atau temporary investment,
yang dikenal dalam neraca dikelompokkan dalam aktiva lancer, yang disebut marketable
securities. Penilaian marketable securities di dalam neraca berdasarkan harga mana yang
lebih rendah antara harga beli dengan harga pasar (the lower cost-or market valuaton).

2. Untuk memperoleh pendapatan dari surat berharga


Kalau surat berharga ini dipertahankan dalam jangka panjang, maka di dalam neraca
dikelompkkan dalam kelompok investasi jangka Panjang yang sering disebut investment.
Penilaian didasarkan pada cost (valuation at cost- harga beli).

Keuntungan penarikan dana dari pasar modal:

1. Jumlah dana dihimpun dalam jumlah besar.


2. Dana dapat diterima sekaligus pada saat perdana selesai.
3. Ketergantungan kepada bank relatif kecil.
4. Cash flow penjualan saham biasanya lebih besar daripada harga nominal yang ditetapkan
perusahaan,
5. Tidak ada beban finansial yang tetap.
6. Jangka waktu pengunaan dana tidak terbatas.
7. Tidak dikaitkan dengan kekayaan sebagai jaminan tertentu.

Manfaat bagi pemodal:

Pemodal bebas memilih berbagai efek yang diinginkan, saham, obligasi, atau sekuritas
kredit.

Keuntungan pemodal memiliki efek:

1. Nilai investasi berkembang adanya Capital Gain, keuntungan atas penjualan saham atau
obligasi.
2. Memperoleh dividen (bagian keuntungan) bagi pemegang saham dan memperoleh bunga
bagi pemegang obligasi.

144
3. Hak suara pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

4. Mudah mengganti instrument investasi yang lebih menguntungkan, apakah saham,


obligasi, atau surat berharga lainnya.

Manfaat bagi pemerintah:

Dengan dihimpunnya dana oleh pemerintah, merupakan salah satu sarana dalam
memobilisasi dana masyarakat, yang dapat digunkan dalam membiayai pembangunan.

12.4 JENIS-JENIS SURAT BERHARGA

Jenis surat berharga untuk pendanaan jangka panjang, dapat dilakukan dengan :

1. Saham biasa.
2. Saham preferen.
3. Obligasi.

12.5 PENILAIAN DAN HASIL PENGEMBALIAN SAHAM

Saham (biasa) adalah tanda bukti peerta dalam suatu perseroan terbatas (PT) pada
perusahaan yang menerbitkan saham.

Uang dari penjualan saham, tetap tertanam dalam perusahaan selamanya. Bagi
pemegang saham, bukan investasi permanen, karena pemegang saham dapat menjualnya setiap
saat.

Dengan membeli saham, tentu akan mengurangi pengeluaran untuk konsumsi atas
barang dan jasa, dengan harapan untuk mendapatkan keuntungan berupa dividend dan
keuntungan berupa capital gain apabila saham tersebut dijual.

Required Rate of Return (Tingkat keuntungan saham yang diharpkan)

Kalau saham dimiliki pemegang saham dalam waktu satu tahun, berapa besarnya
Required Rate of Return atau keuntungan yang diharpkan oleh pemegang saham?

Untuk menyelesaikan pertanyaan tersebut di atas, digunaakn rumus sebagai berikut:

𝐷𝑖𝑣𝑖𝑑𝑒𝑛+(𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑝𝑎𝑠𝑎𝑟−𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑏𝑒𝑙𝑖)


𝐾𝑠 = 𝐻𝑖𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑏𝑒𝑙𝑖

Atau

𝐷1+(𝑃1−𝑃𝑜)
𝐾𝑠 = 𝑃𝑜

145
Ks = adalah tingkat keuntungan yang diharapkan

Contoh:

Seseorang membeli saham perusahaan denga harga Rp 50.000,00 diharapkan pembagian


dividen sebesar Rp 200,00 pada akhir tahun. Harga saham setelah pembayaran dividen
diharapkan sebesar Rp 55.000,00. Tingkat keuntungan yang diharapkan :

𝐷1+(𝑃1−𝑃𝑜) 2000+(55.000−50.000)
𝐾𝑠 = → 𝐾𝑠 = = 10,4%
𝑃𝑜 50.000

Cara lain untuk menghitung Ks:


𝐷1 𝑀
𝑃𝑜 = +
(1+𝐾𝑠) (1+𝐾𝑠)

2. Penilaian saham dengan pertumbuhan konstan/normal

Biasanya dividen beberapa perusahaan tahun demi tahun berkembang tumbuh seperti yang
direncanakan secara umum. Tingkat pertumbuhan ini diharapkan terus berlanjut pada tingkat
pertumbuhan yang sama. Jadi apabila dividen perusahaan saat ini adalah d0,maka dividen dimasa
yang akan datang tahun t adalah:

dt = d0 (1+g)
g = tingkat pertumbuhan yang diharapkan.

Contoh:

Perusahaan PT. Maju, baru sala membayarkan dividen sebesar Rp1.000,00 (d0 = Rp1.000,00), dan
para lnvestornya mengharapkan tingkat pertumbuhannya sebesar 8%, maka dividen yang
diestimasikan untuk tahun ke-1, ke-2 dan ke-3 sebagai berikut:

Tahun ke 1 ......... d1 = (Rp1.000,00)(1+0,08)1 = Rp1.000,00


Tahun ke 2 ........ d2 = (Rp1.000,00)(1+0,08)2 = Rp1.166,40
Tahun ke 3 ........ d3 = (Rp1.000,00)(1+0,08)3 = Rp1.259,71

Dengan menggunakan metode Ini untuk memperkirakan dividen yang akan datang, harga saat
ini Po, saham suatu perusahaan adalah:

146
Jika g konstan, maka persamaan tersebut dapat disederhanakan sebagai berikut:

Syarat untuk pertumbuhan konstan adalah ks > g, kalau tidak demikian maka persamaan diatas
Po = d1 : ks - g, hanya akan mnghasiikan jawaban yang tidak masuk akal.

jika ks = g, persamaan tidak akan dapat terselesaikan, karena harga akan tidak terbatas. Jika ks <
g, maka akan menghasilkan harga yang negatif.

3. Penilaian saham dengan pertumbuhan yang tidak konstan

Untuk memberikan penjelasan berkaitan dengan penilaian saham dengan pertumbuhan yang
tidak konstan, diberikan contoh sebagai berikut:
Perusahaan PT. Tangguh dengan pertumbuhan yang tidak selama deviden konstan (super
normal), diharapkan tumbuh dengan tingkat 27.5% untuk periode 10 tahun dan kemudian tingkat
pertumbuhan turun menjadi 8%. Nilai saham perusahaan dengan pola pertumbuhan seperti Ini,
ditetapkan dengan persamaan sebagai berikut:

Harga sekarang = PV dividen selama pertumbuhan super normal + nilai saham pada akhir periode
pertumbuhan super normal didiskontokan balik ke saat sekarang.

147
Di mana:

gs = tingkat pertumbuhan super normal.


g = tingkat Pertumbuhan normal.
n = periode pertumbuhan super normal.

Contoh:

Dari perusahaan dengan pertumbuhan yang tidak konstan diatas, diketahui bahwa dividennya
saat ini adalah Rp1.000.00 (do = Rp1.000,00). dan deviden ini diharapkan akan meningkat 27.5%
per tahun untuk jangka waktu 10 tahun dan kemudian menjadu 8% per tahun untuk waktu yang
tidak terbatas.
Apabila pemegang saham perusahaan mengharapkan tingkat hasil pengembalian atas investasi
mereka sebesar 16% dengan bobot resiko yang sama, berapa nilai saham perusahaan tersebut.
Penyelesaian:
Metode menghitung nilai saham perusahaan dengan pertumbuhan super nomal, dengan asumsi
sebagai berikut:

a. Tingkat kapitalisasi pemegang saham 16% (ks = 16%)

b. Tingkat pertumbuhan 27.5% untuk 10 tahun dan 8% sesudahnya ( gs = 27,5% ; g = 8%; dan n =
10).

c. Dividen saat ini Rp.1.000.00 (do Rp.1.000,00).

Langkah 1:
Menghitung nilai sekarang (PV) dividen selama pertumbuhan yang sangat cepat:

148
162

JumIah nilai sekarang (PV) dividen 10 tahun : Rp17.445,94

Langkah II:
Menghitung nilai sekarang (PV) harga saham tahun ke 10:

149
P10 didiskontokan balik ke saat sekarang:

Langkah III:

Untuk mengetahui jumlah keseluruhan nilai hari Ini (PV), jumlahkan antara jumlah nilai dividen
dan jumlah nilai saham:
Po = Rp17.445,94 + Rp3.475,00 = Rp20.920,94
Dengan dasar pertimbangan diatas, nilai saham mencapai Rp20.920,94 yaitu nilai sekarang dari
dividen 10 tahun pertama ditambah dengan nilai sekarang dari saham pada akhir tahun ke 10
didiskontokan balik ke saat sekarang.

12.7 PENILAIAN DAN HASIL PENGEMBALIAN SAHAM PREFEREN

Saham preferen merupakan saham disertai preferensi tertentu diatas saham biasa, dalam
pembagian dividen dan pembagian kekayaan apabila perusahan dibubarkan. Pemilik saham
preferen menerima dividen tetap.

Pada umumnya saham preferen, tidak mempunyai hari jatuh, dapat dihitung sebagai berikut:

150
Dps = dividen saham preferen
V ps = nilai saham preferen saat ini
Kps = tingkat bunga (discount rate)

Contoh:

Saham preferen komuIatif PT. ABC memberikan dividen tetap Setiap Periode sebesar Rp575,00
per lembar saham. Discount rate yang disyaratkan sebesar 9% Nilai saham preferen:

12.8 PENILAIAN DAN HASIL PENGEMBALIAN OBLIGASI

Obiigasi adalah surat pengakuan hutang, yang dapat dikeluarkan oleh pemerintah, perusahaan
atau lembaga lain sebagai pihak yang berhutang. dengan nominal tertentu, dan kesanggupan
pembayaran bunga secara periodik dengan Persentase tertentu dan tetap.

Macam obligasi:

1. Perpetual Bonds
Obligasi tidak mempunyai tanggal Jatuh tempo, bunga dibayar tanpa batas.

2. Obligasi mempunyai tanggal jatuh tempo, bunga dibayar setiap tahun.

Menentukan besarnya Rate of Return (Pendapatan Obligasi)


1. Dengan Short Cut Formula :

151
f=M = harga nominal obligasi/jumlah diterima akhir umur.
p=vb = harga pasar obligasi.
n = umur obligasi.
Contoh:

Suatu obligasi nominal Rp20.000,00. Harga pasar Rp18.000.00 selama 5 tahun. Coupon (bunga)
6% setiap tahun. Tentukan besarnya rate of return obligasi tersebut. Apabila dipertahankan yield
to maturity atau hari jatuh temponya.

penyelesaian:

2. Dengan menggunakan tabel PV


Perhitungan rate of return atau yield, sama dengan perhitungan Internetal of Return (TRR), yaitu
dengan mencari tingkat bunga yang menjadikan rate of return atau yield sama dengan Present
Value dari outlay-nya (pengeluaran awal)

152
Dengan menggunakan 2 tingkat bunga, kemudian diadakan interpolasi (penyisipan). Misalnya
untuk kasus ini selain tingkat bunga 8%, di ambil juga tingkat bunga 9%.
Atas dasar tingkat bunga 8%:
PV of yield: 3,9927 x Rp1.200,00 : Rp 4.791.24

0,681 x Rp20.000,00 = Rp13.620,00

Jumlah = Rp18.411,24

Atas dasar tingkat bunga 9%:


PV of yield : 3,8896 x Rp1.200,00 = Rp 4.667,52
0,64993 x Rp20.000,00 : Rp12.998,60
Jumlah = Rp17.666,12

Perhitungan interpolasi:

Penyelesaian:

Rate of Return : 8% + 0,55% = 8,55%


Penilaian Obligasi
Untuk obligasi dengan suku bunga tetap (fixed rate bonds) arus kas diharapkan pembayaran
bunga tahunan ditambah pokok pinjaman (prinsipal) pada saat jatuh tempo.

3. Obligasi Perpetual (waktu jatuh tempo tidak terbatas/infinite)

Besarnya M = O

153
M = Nilai jatuh tempo obligasi.
C = Bunga tahunan konstan (Rp)
Vb = Nilai pasar obligasi.
Kb = Suku bunga yang sesuai.

Contoh:

Suatu obligasi yang tidak mempunyai hari jatuh (perpetual bond), nilai nominal Rp20.000,00
dengan bunga Rp1.000,00 setiap tahunnya. Berapa nilai obligasi tersebut berdasarkan kondisi
pasar saat ini, dengan tingkat bunga 4%?

Jawab :

4. Short Term Bond (Obligasi Jangka Pendek)

Contoh:
Obligasi berjangka 3 tahun. Bunga Rp100,00 Nilai jatuh tempo Rp.1.000,00. Berapa nilai obligasi
pada saat emisi obligasi baru, apabila suku bunga 8%?

Jawab:

154
12.9 RINGKASAN

Tiga sumber utama pendanaan yang digunakan perusahaan:


1. Arus kas internal, jangka panjang:
a. Penyusutan (depreslasi).
b. Laba ditahan.
2. Dana eksternal, jangka panjang.
3. Dana eksternal, jangka pendek, diperoleh dari:
a. Pendanaan swasta (privat financing).
b. Pendanaan publik (public financing).
Dana dari publik, diperoleh dari pasar modal (capital market). Mengapa ada pihak yang
bersedia menyerahkan dananya kepada pihak lain,
karena untuk memperoleh keuntungan dari dana tersebut.

Bagi suatu perusahaan yang mengeluarkan surat berharga jangka panjang meliputi saham
biasa, saham preferen, obligasi dan bentuk Iain penyerahan modal

Pasar modal terdapat dimana saja dan kapan saja bisa terjadi, maksudnya pasar modal
terdapat di beberapa negara, buka dan tutup pasar modal terjadi tidak bersamaan antara negara
yang satu dengan negara lainnya.

Pasar modal atau bursa efek, tempat jual beli surat-surat berharga (sekuritas), yang
bersifat jangka panjang.
Dari pasar modal dapat diperoleh:

155
1. Dana pinjaman, dengan cara menjual obligasi atau sekuritas kredit.
2. Dana equity, dengan cara menjual saham.
Tujuan pembelian efek:
1. Penjagaan likuiditas.
2. Untuk memperoleh pendapatan dari surat berharga tersebut
Jenis surat berharga untuk pendanaan jangka panjang, dapat dilakukan dengan:
1. Saham biasa.
2. Saham preferen.
3. Obligasi.

SOAL DAN LATIHAN

1. Reza membeli saham perusahaan PT. Anugrah dengan harga Rp100.000,00 diharapkan
pembagian dividen sebesar Rp500.00 pada akhir tahun Harga pasar saham setelah pembayaran
dividen diharapkan Rp115.000,00.

Diminta:

Hitung tingkat keuntungan yang diharapkan.

2. Saham preferen komulatif PT. Maju Jaya memberikan dividen setiap periode sebesar
Rp2.000,00 per lembar saham. Discount rate yang disyaratkan sebesar 10%.
Diminta:
Hitung nilai saham preferen.

3. Obligasi PT. Modern nominal Rp.40.000,00. Harga pasar Rp37.000,00 solama 5 tahun. Coupon
(bunga) 5% setiap tahun.
Diminta:
Tentukan besarnya rate of return obligasi PT. Modern tersebut, apabila dipertahankan yield to
maturity.

LEASING

Pada umumnya perusahaan memiliki aktiva tetap utnuk mendukung operasionalnya.


Tetapi bagi perusahaan terebut yang terpenting adalah kegunaan aktiva tetap tersebut bukan
kepemilikan, atau aktiva tetap salah satu cara agar perusahaan dapat memnfaatkan aktiva tetap
yang diperlukan tanpa harus memilikinya, yaitu dengan leasing.
Leasing merupakan salah satu cara untuk membiayai investasi perusahaan. Dengan
demikian leasing merupakan sumber pembiayaan atau investasi pada aktiva tetap, misalnya
mesin, gedung, kendaraan dan lain-lain.

156
Leasing adalah suatu kontrak antara pemilik aktiva yang diebut dengan lessor dan pihak
lain yang memanfaatkan aktiva tersebut yang disebut dengan lesse untuk jangka waktu tertentu.
Dengan demikian ada dua pihak yang yang terlibat dalam leasing, yaitu lessee dan lessor. Lesse
adalah perusahaan yang membutuhkan aktiva tetap atau disebut pula penyewa. Sedang lessor
adalah lembaga yang memiliki aktiva tetap dan menyewakannya kepada lessee. Lessor ini dapat
juga berupa suatu lembaga pembiayaan.

13.1 MACAM-MACAM LEASING


1. Operating lease (sewa operasi)
Sewa operasi atau sewa jasa, secara umum menyediakan dua fasilitas yaitu
pembiayaan dan pemeliharaan.
Pihak lessor, selain menyediakan fasilitas pembiayaan, diharuskan juga memelihara
dan merawat aktiva tetap yang disewakan. Biaya pemeliharaan aktiva sering sudah
dimasukkan dalam pembayaran lease.
Karakteristik penting dari sewa operasi adalah bahwa aktiva yang di lease tidak
diamortisasi secara penuh. Dengan kata lain, pembayaran lease tidak cukup untuk
menutup seluruh nilai aktiva
Tetapi kontrak lease dibuat selama suatu periode yang lebih pendek dari pada uur
ekonomis aktiva, dan lessor berharap seluruh nilai aktiva akan tertutup apakah dari
pembayaran perpanjangan lease berikutnya, menyewakan kembali aktiva ke lessee
lain atau dari penjualan aktiva.
Ciri lain sewa operasi adalah bahwa kontrak menyangkut ketentuan pembatalan yang
memberi hak lessee dan mengembalikan aktiva sebelum perjanjian lease berakhir. Hal
ini merupakan pertimbangan penting bagi lessee, yang berarti aktiva terebut dapat
dikembalikan jika teknologinya ketinggalan atau tidak diperlukan karena bisnis lease
menurun.
2. Financial of Capital Lease
Lease keuangan atau lease modal berbeda dengan lease operasi karena lease
keuangan/modal ini adalah:
a. Tidak menyediakan jasa pemeliharaan.
b. Tidak dapat dibatalkan.
c. Diarmotisasi secara penuh, dalam arti lessor menerima pembayaran lease sebesar
seluruh nilai aktiva ditambah suatu tingkat hasil investasi.
3. Sale and leaseback
Perusahaan yang memiliki aktiva seperti tanah, bangunan dan peralatan pabrik
menjual aktiva tersebut kepada perusahaan lain dan sekaligus menyewa kembali
aktiva tersebut untuk periode tertentu.

157
Manfaat dan sale and leaseback ini adalah abhwa penjualan atau lease menerima
pembayaran segera sebagai tambahan dana yang dapat dinvestasikan kepada investasi
lain
4. Lease kombinasi (combination lease)
Pada saat sekarang, banyak lessor menawarkan lease dengan suatu persyaratan yang
lebih bervariasi. Oleh karena itu, lease sering merupakan gabungan dari lease operasi
dan lease keuangan. Sebagai contoh, perjanjian pembatalan umunya untuk lease
operasi, tetapi banyak lease keuangan saat ini membuat perjanjian pembatalan.
Meskipun demikian dalam lease keuangan perjanjian-perjanjian tersebut menyangkut
provisi pembayaran kembali kepada lessor yang harus dilakukan oleh lessee sebagai
penalty yang cukup untuk menutup nilai aktiva yang tidak teramortisasi aktiva yang
disewakan.

13.2 LANGKAH-LANGKAH LEASE KEUANGAN


Pertama, perusahaan pemakai menentukan aktiba yang dibutuhkan, kemudian
pergi ke penjual (pabrikasi atau distributor) aktiva tersebut. Setelah aktiva ditemukan,
lessee melakukan negosiasi harga dan pengiriman dengan produsen aktiva.
Langkah berikutnya (kedua), adalah perusahaan pengguna menghubungi
perusahaan leasing untuk membeli aktiva tersebut ke produsen, dan pada saat itu juga
perusahaan pengguna melakukan perjanjian untuk menyewa aktiva tersebut dari
perusahaan leasing (lembaga keuangan)

13.3 EVALUASI OLEH LESSEE


Lesse harus menentukan bahwa leaseing suatu aktiva lebih hemat daripada
membeli aktiva dengan sumber pembiayaan dari hutang.

13.4 TAHAPAN ANALISIS LEASING


1. Suatu perusahaan memutuskan mendapatkan suatu aktiva tertentu, keputusan ini
didasarkan pada prosedur capital budgeting biasa. Dalam analsisi leasing hanya
berhubungan dengan apakah mendapatkan kegunaan aktiva dengan ease atau dengan
membeli. Tetapi, jika biaya modal efektif yang diperoleh dengan leasing secara
subtansi lebih rendah daripada biaya hutang, kemudian biaya modal yang digunakan
dalam capital budgeting harus dihitung kembali, dan mungkin proyek yang semula
diperimbangkan ditolak mungkin menjadi dapat diterima.
2. Sekali perusahaan setelah memutuskan untuk memanfaatkan aktiva tersebut,
pertanyaan berikutnya adalah bagaimana membiayainya. Perusahaan-perusahaan
yang sudah berjalan dan tidak mempunyai kelebihan uang tunai, maka modal untuk
membiayai aktiva baru harus diperoleh dari berbagai sumber.

158
3. Dana untuk aktiva tersebut dapat diperoleh dengan meminjam, dengan menyediakan
laba ditahan, atau dengan menjual saham baru. Alternative lain adalah bahwa aktiva
tersebut dapat di-lease. Sebab dari kapitalisasi premi lease, leasing normalnya
mempunyai dampak struktur modal sama seperti hutang.

Contoh 1:
PT. Maju memerlukan suatu aktiva dengan harga Rp.1.000.000.000,00 selama 2 tahun,
dan perusahaan harus memilih antara leasing dan membeli aktiva tersebut dengan
meminjam uang tunai dari bank. Jika aktiva tersebut dibeli dengan uang pinjaman dari
bank, dan bank menentukan suku bunga sebesar 10%. Sehingga perusahaan harus
membayar bunga sebesar Rp.100.000.000,00 setiap akhir tahun, dan pengembalian pokok
pinjaman sebesar Rp.1.000.000.000,00 pada akhir tahun kedua. Metode penyusutan
menggunakan garus lurus dengan tidak ada nilai sisa.
Alternatif lain PT Manju me-lease aktivanya tersebut selama 2 tahun dengan pembayaran
lease sebesar Rp.550.000.000,00 pada setiap akhir tahun. Tarif pajak sebesar 40%.

13.5 ANALISIS LEASING VERSUS PINJAMAN


1. Estimasi aliran kas berkaitan dengan meminjam dan membeli aktiva tersebut, yaitu
aliran kas yang berkaitan pembayaran hutang.
2. Estimasi aliran kas berkaitan dengan leasing aktiva tersebut.
3. Membandingkan dua metode pembiayaan untuk menentukan metode yang
mempunyai biaya lebih rendah.
Berikut adalah aliran kas jika meminjam dana dari bank dan membeli aktiva tersebut :

159
Berikut aliran kas berkaitan dengan leasing (dalam jutaan):

Untuk memandingkan aliran kas biaya dari membeli dan leasing, kedua aliran kas harus
diperbandinggkan dengan basis nilai sekarang. Tingkat diskonto yang digunakan adalah biaya
hutang setelah pajak, untuk PT. ABC adalah 10% (1-0,4) = 6%. Sehingga diperoleh nilai sekarang
atas biaya membeli adalah Rp.60,50. Karena leasing mempunyai nilai sekarang dari biaya lebih
rendah, perusahaan seharusnya melakukan leasing terhadap leasing tersebut.
Contoh 2:
1. PT. ABADI berencana menggunakan angkuran berat dengan umur 10 tahun dan
berharga Rp.300 juta sudah termasuk biaya instalasi dan pengiriman, namun PT.
ABADI akan menggunakan angkutan tersebut hanya selama 5 tahun. PT. ABADI
dapat meminjam kebutuhan dana sebesan Rp300 juta dengan biaya sebelum pajak
10%
2. Nilai sisa angkutan tersebut diestimasikan sebesar Rp1,5 juta setelah dipakai
selama 10 tahun, tetapi nilai sisa setelah dipakai selama 5 tahun adlah Rp.30 juta.
Dengan demikian, jika perusahaan membeli aktiva terebut, berharap akan
menerima Rp30 juta sebelum pajak ketika aktiva tersebut dijual dalam 5 tahun.
3. PT. ABADI dapat melakukan leasing aktiva tersebut selama 5 tahun dengan lease
Rp82,5 juta yang dapat dibayar pada setiap awal tahun. Pihak lessor akan memiliki
aktiva tersebut setelah jatuh tempo leasing
4. Kontrak lease menetapkan bahwa lessor harus merawat aktiva tersebut tanpa
tambahan biaya. Akan tetapi, jika PT. ABADI meminjam dana dan membeli,
perusahaan harus mengeluarkan baiya pemeliharaan Rp15 juta setiap awal tahun
5. Tariff pajak adalah 40%.

13.7 ANALISIS NET PRESENT VALUE


Tabel 1 menunjukkan langkah analisi Net Present Value (NPV) dari leasing. Bagian
I merupakan analisis jika PT. ABADI meminjam uang dan kemudan membeli aktiva
tersebut. Suku bunga diskonto yang digunakan adalah 6 persen. Sedangkan bagian II

160
merupakan analisis atas biaya lease. Langkah berikutnya adalah membandingkan biaya
bersih pemilikan dengan biaya bersih leasing.
Analisa NPV (dalam jutaan rupiah) :

13.7 ANALISIS INTERNAL RATE OF RETURN


Keputusan beli versus leasing dapat juga dianalisis menggunakan pendekatan Internal
Rate of Return (IRR). Tabel 2 menunjukan analisis IRR dengan penjelasan sebagai berikut:
1. Baris 1 menunjukkan harga beli neto aktiva terebut yang perlu dihindari, jika PT.
ABADI melakukan leasing. Nilai ini merupakan aliran kas masuk, pihak lessor
membayar harga ini, sehingga PT. ABADI menyimpan Rp300 juta.
2. Kemudian dimasukkan biaya leasing setelah pajak pertahun. Seperti telah diketahui
bahwa biaya leasing pertahun adalah Rp82,5 juta, sehingga biaya leasing setelah pajak
adalah Rp49,5 juta.
3. Baris 3 merupakan penghematan atas depresiasi setelah pajak yang hilang karena
memilih leasing.

161
4. Pemilihan leasing juga menyebabkan terhindarnya biaya perwatan sebesar Rp15 juta
atau Rp9 juta setelah pajak pertahun. Ini menyebabkan keuntungan leasing sebagai
aliran kas masuk.
5. Biaya oportunitas yang hilang karena leasing selain penghematan penyusutan setelah
pajak adalah nilai sisa setelah pajak sebesar Rp18 juta seperti baris 5.
6. Baris 6 merupakan aliran kas bersih tahunan.

Tabel 2 Analisis IRR (dalam jutaan)

𝑁𝐶𝐹𝑡
NPV = ∑5𝑇=0 = 0, ketika 𝐾𝐿 = IRR = 3,78%
(1+𝐾𝐿)𝑇

Dengan menggunakan aliran kas bersih pada baris 6, maka IRR dapat
diperoleh pada saat NPV sama dengan nol
𝑁𝐶𝐹
NPV = ∑5𝑡=0 (1+𝐾 𝑡 = 0
1)𝑡

Sehingga :
KL = IRR = 3,78%
IRR kemudian dibandingkan dengan biaya hutang setelah pajak yaitu sebesar 6%.
Dengan demikian PT. ABADI seharusnya memanfaatkan aktiva tersebut dengan leasing
daripada membelinya dengan dana pinjaman dari kreditur, karena IRR sebesar 3,78%
lebih kecil daripada biaya hutang setelah pajak.

162
13.8 EVALUASI OLEH LESSOR
Lessor sebagai pihak yang menyediakan dana juga harus melakukan analisis
terhadap proposal leasing. Analisi lessor tersebut menyangkut:
1. Penetapan aliran kas keluar bersih, yang biasanya merupakan harga aktiva yang di-
leasing-kan dikurangi pembayaran leasing dimuka.
2. Penentuan aliran kas masuk periodic, yang terdiri dari pembayaran leasing dikurangi
pajak pendapatan dan setiap biaya pemeliharaan yang harus ditanggung lessor.
3. Perkiraan nilai sisa setelah pajak atas property saat leasing berakhir.
4. Penentuan apakah tingkat hasil atas leasing melebihi biaya modal lessor tersebut, atau
apakah NPV dari leasing lebih besar dari nol.

Contoh 3:
Sebagai contoh adalah diasumsikan kenyataan sama seperti leasing PT. ABADI,
dengan situasi sebagai berikut:
1. Lessor potensial adalah salah satu individu yang mempunyai pendapatan dalam
bentuk b bunga dan terkena pajak, T, 40 persen.
2. Investor tersebut dapat membeli obligasi yang memberikan kupon 9 persen sampai
dengan jatuh tempo, sehingga hasil setelah pajak adalah (9%) (1-0,4) + 5,4%.
3. Nilai sisa sebelum pajak adalah Rp30 juta pada akhir leasing 5 tahun, sehingga lessor
tersebut berharap dapat meneriman Rp18 juta setelah pajak dari penjualan aktiva
setelah leasing berakhir.

NPV leasing dari pandangan investor dapat dilihat pada table 3. Disini dapat dilihat
bahwa leasing tersebut sebagai investasi mempunyai Net Present Value (NPV)
Rp10,72 juta. NPV ini mengindikasikan bahwa investor tersebut seharusnya rela
memberikan leasing .
Investor tersebut dapat juga menghitung IRR investasi leasing berdasarkan pada
aliran kas bersih. IRR leasing adalah 7,1 %. Jadi leasing tersebut memberikan hasil
setelah pajak 7,1%. Hasil ini melebihi hasil setelah pajak 5,4% pada obligasi 9%.
Sehingga:

163
𝑁𝐶𝐹
NPV = ∑5𝑡=0 (1+𝐾 𝑡 = Rp 10,72 ; ketika K = 5,4%
1)𝑡

𝑁𝐶𝐹
IRR : NPV = ∑5𝑡=0 (1+𝐼𝑅𝑅𝑡 IRR = 7%
)𝑡

Menggunakan metode NPV atau IRR, leasing tersebut merupakan investasi yang
memuaskan.

13.9 RINGKASAN
Leasing merupakan salah satu cara untuk membiayai investasi perusahaan berupa
aktiva tetap.
Dua pihak yang terlibat leasing, yaitu lessee dan lessor. Lesse adalah perusahaan
yang membutuhkan aktiva tetap atau disebut pula penyewa. Sedang lessor adalah
lembaga yang memiliki aktiva tetap dan menyewakannya kepada lessee.
Macam-macam leasing terdiri dari operating lease (sewa operasi), financial of
capital lease, sale and leaseback, dan lease kombinasi.

SOAL DAN LATIHAN


1. Perusahaan electron telah memutuskan untuk mendapat sebuah truk berat baru. Satu
alternative adalah me-leasing-kan truk tersebut selama 4 tahun dengan biaya leasing
Rp.35.0000.000,00 per tahun, yang dibayarkan sertiap awal tahun. Biaya leasing tersebut

164
sudah termasuk biaya perawatan truk. Akternatif lain, perusahaan dapat membeli truk
tersebut secara tunai seharga Rp140.000.000,00.
2. Pendanaan pembelian tersebut dari pinjaman bank dan pengembaliannya diangsur
selama 4 tahun dengan bunga 10% per tahun. Dengan memiliki truk, perusahaan harus
mengeluarkan biaya pemeliharaan Rp3.500.000,00 setiap akhir tahun. Truk tersebut
mempunyai nilai sisa Rp35.000.000,00. Tingkat pajak perusahaan adalah 40%. Metode
penyusutan adalah garis lurus.
a. Berpakah nilai sekrang dari biaya leasing perusahaan?
b. Haruskah perusahaan melakukan leasing atau membeli truk?
3. PT. Katoda harus menginstal sebuah mesin baru seharga Rp1 Miliar. Perusahaan dapat
memperoleh suatu pinjaman bank 100% dari jumlah yang dibutuhkan. Alternative lain,
sebuah perusahaan perbankan investasi yang erupakan sebuah grup para investor
percaya bahwa perusahaan perbankan dapat menyediakan suatu pembiayaan leasing.
Anggaplah data berikut tersedia:
a. Biaya perawatan diperkirakan Rp50.000.000,00 per tahun.
b. Tarif pajak perusaaan adalah 34%.
c. Jika dana dipinjam, suku bunga hutang bank adalah 14%, pembayaran kembali hutang
adalah dalam bentuk angsuran selama 3 tahun pada setiap akhir tahun.
d. Biaya leasing adalah Rp320.000.000,00 pada setiap akhir selama 3 tahun.
e. Dalam persyaratan leasing, lessee harus membayar asuransi dan perawatan
4. PT. Katoda harus menggunakan mesin tersebut jika melanjutkan usaha, jadi perusahaan
hampir pasti membeli mesin tersebut pada akhir leasing. Perkiraan terbaik harga pasar
mesin adalah Rp200.000.000,00 tetapi harga dapat lebih tinggi atau lebih rendah pada
kondisi tertentu.
Untuk membantu manajemen dalam mengambil keputusan beli versus leasing yang
layak, saudara diminta menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
a. Asumsikan fasilitas leasing adalah tersedia, apakah perusahaan harus melakukan
leasing atau kah meminjamkan dana dan membeli mesin tersebut.
(Petunjuk: Dalam situasi ini, perusahaan berencana menggunakan aktiva tersebut
melebihi perjanjian leasing. Jadi nilai sisa menjadi suatu biaya pada leasing dalam 3
tahun. Juga tidak ada konsekuensi pajak nilai sisa 3 tahun, seperti perusahaan tidak
dapat dengan segera mengurangi harga pembelian 3 tahun dari pendapatan kena
pajak).
b. Pertimbangan perkiraan nilai sisa Rp200.000.000,00. Apakah tepat mendiskontonya
pada tingkat bunga yang sama seperti aliran kas lain? Bagaimana aliran kas –aliran kas
lain- apakah semua beresiko sama? (petunjuk: aliran kas lebih beresiko biasanya
didiskonto pada tingkat bunga lebih tinggi, tetapi ketika aliran kas adalah biaya bukan
kas masuk, prosedur normal harus dibalik).

165
14.1 PENGERTIAN MERGER DAN ACQUISTION

Dalam melakukan ekspansi atau perluasan usaha, perusahaan dapat melakukan


penggabungan perusahaan yang sudah berjalan. Penggabungan perusahaan – perusahan
tersebut dapat dilakukan dengan merger, acquisition (akuisisi), dan consolidation (konsolidasi).

Merger adalah penggabungan dua atau lebih perusahaan, biasanya hanya satu nama
perusahaan yang tetap ada, sedangkan nama perusahaan lainnya akan hilang. Sedangkan
acquisition (akuisisi) adalah pembelian perusahaan oleh perusahaan lainnya, baik dilakukan
secara tunai, maupun dibayar dengan menggunakan saham perusahaan yang membeli tersebut.

Consolidation (konsolidasi) adalah penggabungan dua atau lebih perusahaan, semua


nama perusahaan tersebut akan hilang dan muncul nama perusahaan baru. Dari ketiga
pengertian tersebut, karena terjadi penggabungan maka disebutlah dengan merger.

Apabila perusahaan memperluas usahanya dengan menambah kapasitas produksi atau


mendirikan perusahaan baru, cara ini disebut dengan ekspansi intern, yaitu dengan menambah
unit produksi, menambah kapasitas pabrik, menambah divisi baru dan lain-lain.

Dua macam ekspansi yang bisa dilakukan yaitu, pertama ekspansi usaha (business
expansion), yaitu ekspansi yang dilakukan tanpa mengubah struktur modalnya, jadi perusahaan
hanya menambah aktiva lancarnya saja, tidak menambah aktiva tetap. Kedua ekspansi finansial
(financial expansion), yaitu ekspansi menambah aktiva tetap.

14.2 SEBAB-SEBAB TERJADINYA MERGER

Alasan utama perusahaan melakukan ekspansi, juga dalam melakukan merger, dalam
kondisi persaingan yang semakin tajam atau semakin ketat ini adalah agar dapat memanfaatkan
sumber daya secara lebih efisien.

166
Law of diminishing return atau hokum tambahan hasil yang semakin berkurang, yaitu
bahwa pada tingkat output tertentu maka peningkatan output akan mengakibatkan peningkatan
biaya per satuan output.

Sehingga semakin tajamnya atau ketatnya persaingan akan mengakibatkan makin


sempitnya kesempatan di pasar. Cara untuk memperluas pasar adalah dengan penggabungan
dua atau lebih perusahaan, yang disebut dengan merger, dimana hanya satu nama yang masih
tetap hidup. Penggabungan perusahaan ini biasanya dilakukan dengan pembelian perusahaan
lain sehingga sering disebut juga dengan acquisition.

14.3 JENIS-JENIS MERGER

Merger dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu :

1. Horizontal merger, terjadi apabila perusahaan menggabungkan diri dengan


perusahaan lain dalam jenis bisnis yang sama. Dengan kata lain, perusahaan yang
menggabung, menghasilkan produk atau jasa yang sama. Contoh perusahaan
penerbangan Garuda dengan perusahaan penerbangan citilink.
2. Vertical merger, terjadi penggabungan perusahaan yang memiliki keterkaitan secara
input-output maupun pemasaran. Contoh perusahaan pembuat pakaian jadi atau
garmen bergabung dengan perusahaan tekstiel.
3. Congeneric merger, yaitu penggabungan dua atau perusahaan atau lebih yang sejenis
atau dalam industri yang sama, tetapi tidak memproduksi produk yang sama, maupun
tidak ada keterkaitan supplier, tetapi saling membutuhkan antara perusahaan yang
satu dengan perusahaan lainnya. Contoh perusahaan perhotelan bergabung dengan
perusahaan pencuci pakaian.
4. Conglomerate merger, yaitu penggabungan dua atau lebih perusahaan dari industri
yang berbeda, yang tidak ada kaitannya antara satu perusahaan dengan perusahaan
lainnya. Contoh perusahaan pengeboran minyak, gabung dengan perusahaan industri
alat rumah tangga, gabung dengan perusahaan real estate, dan lain-lain.

167
14.4 TUJUAN MELAKUKAN MERGER

Tujuan utama perusahaan melakukan merger adalah untuk meningkatkan nilai kombinasi
perusahaan, yang akan memunculkan “manfaat” yang disebut dengan “sinergi”.

Tujuan lain yang mendorong perusahaan melakukan merger adalah :

1. Economies of Scale, adalah skala operasi dengan biaya rata-rata terendah. Dengan merger
terjadi penghematan biaya yang dikeluarkan terhadap fasilitas operasi, seperti
pengadaan bahan, proses produksi, pemasaran, keuangan, personalia, dan juga bidang
administrasi, sehingga diperoleh sinergi atau manfaat dari penggunaan sumber daya yang
ada.
2. Memperbaiki manajemen, perusahaan dapat mempertahanakan karyawannya hanya
pada tingkat yang benar-benar diperlukan, serta efisiensi dan produktivitas karyawan,
di samping memperoleh manajer yang professional, sehingga kemakmuran pemegang
saham dapat ditingkatkan.
3. Penghematan pajak, yaitu dengan penggabungan perusahaan lain yang memperoleh laba
agar pajak yang dibayarkan oleh perusahaan yang profitable dapat lebih kecil.
4. Diversifikasi usaha, yaitu dengan penggabungan perusahaan yang berbeda usaha, maka
akan dimiliki bermacam-macam jenis usaha yang lebih besar tanpa harus melakukan dari
awal. Dengan diversifikasi, risiko yang dihadapi akan lebih kecil atas suatu saham akan
dapat dikompensasi oleh saham yang lain.

14.5 MENENTUKAN MANFAAT DAN BIAYA MERGER

Manfaat merger merupakan manfaat ekonomi yang diperoleh dengan adanya merger
suatu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Manfaat ini merupakan terjadi penghematan atas
pengeluaran-pengeluaran yang seharusnya bisa dihindari, sehingga diperoleh tambahan
keuntungan yang berupa manfaat atau sinergi.

168
Contoh manfaat dari merger :

Perusahaan “Dominan” akan merger dengan perusahaan “Jaya”, dengan pertimbangan


apakah ada manfaat ekonomi dari merger tersebut. Apabila hasilnya “positif”, maka dilakukan
merger.

Nilai perusahaan Dominan, dengan Present Value Dominan atau PVd sebesar
Rp5.000.000.000,00, nilai perusahaan Jaya, dengan Present Value Jaya atau PVj sebesar
Rp600.000.000,00. Merger kedua perusahaan tersebut akan menghemat biaya dengan Present
Value(PV) sebesar Rp300.000.000,00. Ini adalah “manfaat” yang bisa diperoleh dari merger
tersebut.

Untuk memperoleh nilai kombinasi antara perusahaan Dominan dengan Jaya, digunakan
rumus sebagi berikut :

PVdj = PVd + PVj + Manfaat

Penyelesaian contoh di atas:

PVd = Rp5.000.000.000,00

PVj = Rp 600.000.000,00

Manfaat = Rp 300.000.000,00

PVdj = PVd + PVj + Manfaat

PVdj = Rp5.000.000.000,00 + Rp600.000.000,00 + Rp300.000.000,00

PVdj = Rp5.900.000.000,00

Contoh Biaya dari Merger

1. Pembelian secara tunai/kas


Perusahaan Dominan membeli perusahaan Jaya, yang berarti dalam hal ini terjadi merger.
Biaya untuk merger atau pembelian oleh perusahaan Dominan terhadap perusahaan Jaya

169
apabila dibayar dengan tunai atau pembayaran dengan kas, maka digunakan rumus
sebagai berikut :
Biaya = Kas - PVj
Misalkan :
Perusahaan Jaya dibeli tunai dengan kas oleh perusahaan Domina sebesar
Rp750.000.000,00. Sedangkan nilai perusahaan Jaya Rp600.000.000,00. Maka untuk
menentukan biaya dari merger tersebut adalah sebagai berikut :
Biaya = Kas – PVj
Biaya = Rp750.000.000,00 – Rp600.000.000,00
Biaya = Rp150.000.000,00
Rp150.000.000,00 merupakan biaya dari sudut pandang perusahaan Dominan,
sedangkan dari sudut pandang perusahaan Jaya merupakan manfaat.
2. Pembelian dibayar dengan saham

Perusahaan yang dibeli atau akuisisi tidak hanya dilakukan dengan pembayaran tunai
dengan kas, tetapi dapat juga pembayaran dilakukan dengan membayar menggunakan
saham perusahaan yang membeli. Biaya merger yang diperhitungkan, dilakukan dengan
menggunakan rumus sebagai berikut :

Biaya = p.PVdj – PVj

Keterangan :

P = Saham perusahaan Dominan yang dibayarkan pada perusahaan Jaya.

PVdj = Nilai kombinasi Perusahaan Dominan dan Jaya.

PVj = Nilai perusahaan Jaya.

Misalkan :

Perusahaan Dominan mengadakan pembelian terhadap Perusahaan Jaya(merger),


dengan membayar 25.000 lembar saham perusahaan Dominan. Harga saham perusahaan
sebesar Rp2.500,00 per lembar saham; sedangkan jumlah saham perusahaan Dominan

170
sebanyak 100.000 lembar. Nilai perusahaan jaya Rp30.000.000,00. Dengan melakukan
merger, perusahaan mendapat tambahan keuntungan (manfaat) dengan Present Value
sebesar Rp10.000.000,00.

Dengan data tersebut diatas, hitung biaya merger yang sebenarnya.

Penyelesaian:

Biaya merger yang sebenarnya : p.PVdj – PVj.

Jumlah saham yang dibayarkan


p=Jlh saham perusahaan+Jlh saham yang dibayarkan

25.000 25.000
p = 100.000+25.000 = = 0,20
125.000

PV persh. Dominan = 100.000 lbr x Rp2.500 = Rp250.000.000,00

PV perush. Jaya = Rp30.000.000,00

Manfaat = Rp10.000.000,00

PVdj = PVd + PVj + Manfaat (keuntungan)

PVdj = 250.000.000 + 30.000.000 + 10.000.000

PVdj = 290.000.000

Jadi biaya merger yang sebenarnya :

0,20 x Rp290.000.000,00 – Rp30.000.000,00

Rp58.000.000,00 – Rp30.000.000,00 = Rp28.000.000,00

171
14.6 MENENTUKAN NET PRESENT VALUE DARI MERGER

Net Present Value (NPV) bagi perusahaan Dominan yang melakukan merger atau
pembelian terhadap perusahaan Jaya, diukur dengan perbedaan antara manfaat dan
biaya atau manfaat dikurangi biaya. Apabila NPV dari merger tersebut positif, maka dapat
dilakukan merger, sebaliknya apabila NPV dari merger tersebut negatif, maka tidak dapat
dilakukan merger. Rumus dari IPV merger adalah sebagai berikut :

NPVm = PVdj – (PVd + PVj) – (Kas – PVj)

Keterangan :

NPVm = Net Present Value dari merger.

PVdj = Nilai kombinasi perusahaan Dominan dan Jaya.

PVd = Nilai perusahaan Dominan.

PVj = Nilai perusahaan Jaya.

Kas = Harga beli (tunai) perusahaan Jaya

Contoh NPV dari merger (angka-angka dari contoh diatas) :

NPV merger (Perusahaan Dominan):

NPVm = PVdj – (PVd + PVj) – (Kas – PVj).

NPVm = 5.900.000.000 – (5.000.000.000 + 600.000.000) – (750.000.000 – 600.000.000)

NPVm = 5.900.000.000 – 5.600.000.000 – 150.000.000

NPVm = Rp150.000.000,00

172
14.7 PERLAKUAN AKUNTANSI DARI MERGER

Perlakuan akuntansi dari merger, maksudnya adalah melakukan akuntansi apabila


perusahaan melakukan merger, akuntansi berupa laporan keuangan setelah melakukan
merger. Dua metode perlakuan akuntansi dari merger sebagai berikut :

1. Metode Pooling of Interest


Adalah penyusunan Neraca baru perusahaan, dan Perhitungan Rugi/Laba baru,
dengan cara penggabungan kedua Neraca dan Perhitungan Rugi/Laba perusahaan
yang merger tersebut, tanpa menambah atau mengurangi angka-angka dalam Neraca
dan Perhitungan Rugi/Laba perusahaan-perusahaan tersebut.

2. Metode Purchase Accounting


Menyusun Neraca baru, dan Perhitungan Rugi/Laba baru, dengan melihat “nilai
pasar” perusahaan masing-masing yang merger tersebut, dengan menambah atau
mengurangi angka-angka dalam Neraca dan Perhitungan Rugi/Laba perusahaan-
perusahaan tersebut. Sehingga akan memungkinkan timbul “Rekening Good Will”
atau berupa nilai lebih dari Neraca dan Perhitungan Rugi/Laba perusahaan-
perusahaan tersebut.

Contoh :

Neraca dan Perhitungan Rugi/Laba Perusahaan yang Merger :

173
NERACA
per 31 Desember 2015

Keterangan Perusahaan A Perusahaan B (jutaan


(jutaan Rp) Rp)
Current Assets 50 25
Fixed Assets 50 25
Total Assets 100 50
Debt 40 20
Common Equity
@ Rp10.000,00 60 30
Total Hutang & 100 50
Modal

PERHITUNGAN RUGI/LABA
TAHUN 2015

Keterangan Perusahaan A (Rp) Perusahaan B (Rp)


Sales 100.000.000 50.000.000
Operating Cost 72.000.000 36.000.000
Operating Income 28.000.000 14.000.000
Interest (10%) 4.000.000 2.000.000
Taxable Income 24.000.000 12.000.000
Taxes (50%) 12.000.000 6.000.000
Earning after taxes 12.000.000 6.000.000
Jumlah Saham 6.000 lembar 3.000 lembar
EPS Rp2.000,00 Rp2.000,00

174
Keterangan :

Perusahaan A merger atau membeli Perusahaan B dengan harga Rp50.000.000,00. Nilai


Current Assets Perusahaan B Rp5.000.000,00 lebih besar dari nilai buku. Begitu pula jumlah nilai
Fixed Assets menjadi Rp80.000.000,00. Dengan melakukan “merger”, operating cost meningkat
Rp1.000.000,00. Pembebanan dari “Good Will” diperkirakan 10 tahun.

Dengan data tersebut di atas, buatlah “Neraca” dan “Perhitungan Rugi/Laba” tahun 2015
perusahaan tersebut setelah melakukan merger, dengan metode :

1. Pooling of Interest
2. Purchase Accounting

14.8 PERHITUNGAN DENGAN METODE POOLING OF INTEREST

Keterangan Perush. A Perush. B (jutaan Pool of Intrst AB


(jutaan Rp) Rp) (jutaan Rp)

Current Assets 50 25 75
Fixed Assets 50 25 75
Total Assets 100 50 150
Debt 40 20 60
Common Equity
@ Rp10.000,00 60 30 90
Total Hutang & Modal 100 50 150

175
PERHITUNGAN RUGI/LABA
TAHUN 2015

Keterangan Peru. A (Rp) Peru. B (Rp) P of Int AB (Rp)


Sales 100.000.000 50.000.000 150.000.000
Operat. Cost 72.000.000 36.000.000 108.000.000
Operat. Income 28.000.000 14.000.000 42.000.000
Interest (10%) 4.000.000 2.000.000 6.000.000
Taxable Income 24.000.000 12.000.000 36.000.000
Taxes (50%) 12.000.000 6.000.000 18.000.000
Earn. After tax 12.000.000 6.000.000 18.000.000
Jumlah Saham 6.000 lembar 3.000 lembar 9.000 lbr.
EPS Rp2.000,00 Rp2.000,00 Rp2.000,00

14.9 PERHITUNGAN DENGAN METODE PURCHASE ACCOUNTING

NERACA
per 31 Desember 2015

Keterangan Perush. A Perush. B Purch. Acc AB


(jutaan Rp) (jutaan Rp) (jutaan Rp)

Current Assets 50 25 80*


Fixed Assets 50 25 80
Good Will 0 0 10 **
Total Assets 100 50 170
Debt 40 20 60
Common Equity
@ Rp10.000,00 60 30 110***

176
Ttl Htg + Mdl 100 50 170

Keterangan :

*Current Assets = CA A + (CA B + 5 juta)

= 50 juta + (25 juta + 5 juta) = Rp80.000.000,00

**Good Will = Kelebihan (CA 5 juta + FA 5 juta)

= Rp10.000.000,00

***Common Equity = EA + Pembelian

= 60 juta + 50 juta = Rp110.000.000,00

PERHITUNGAN RUGI/LABA
Tahun 2015

Keterangan Peru. A (Rp) Peru. B (Rp) Purch.Acc. AB (Rp)


Sales 100.000.000 50.000.000 150.000.000
Operat. Cost 72.000.000 36.000.000 109.000.000*
Operat. Income 28.000.000 14.000.000 41.000.000
Interest (10%) 4.000.000 2.000.000 6.000.000
Taxable Income 24.000.000 12.000.000 35.000.000
Taxes (50%) 12.000.000 6.000.000 17.500.000
Earn. After tax 12.000.000 6.000.000 17.500.000
WO GoodWill 0 0 17.500.00
Net Income 12.000.000 6.000.000 1.000.000**

177
Jumlah Saham 6.000 lembar 3.000 lembar 9.000 lbr.
EPS Rp2.000,00 Rp2.000,00 Rp1.833,33

Keterangan :

*Operating Cost meningkat Rp.1.000.000,-; sehingga :

Rp108.000.000 + Rp1.000.000 = Rp109.000.000,00

*Good Will = Write Off / WO

Good Will = Rp10.000.000 : 10 tahun = Rp1.000.000,00

14.10 RINGKASAN

Merger adalah penggabungan dua atau lebih perusahaan, yang akan menimbulkan satu
nama yang masih tercantum, sedangkan yang lainnya akan hilang namanya.

Acquisition atau akuisisi yang dianggap sebagai merger adalah pembelian suatu
perusahaan oleh perusahaan lainnya. Sedangkan Consolidation atau konsolidasi penggabungan
dua atau lebih perusahaan yang akan menimbulkan nama baru, sehingga nama-nama lainnya
akan hilang.

Jenis-jenis merger adalah merger horizontal, merger vertical, merger kongenerik dan
merger konglomerat.

Tujuan melakukan merger adalah adanya manfaat atau sinergi pada perusahaan yang
merger tersebut. Selain itu merger bertujuan adalah economies scale, memperbaiki manajemen,
penghematan pajak, dan diversifikasi usaha.

Dalam merger dapat dilihat manfaat, biaya dan net present value dari merger, sehingga
dapat ditentukan apakah perusahaan-perusahaan tersebut dapat merger atau tidak.

Perlakuan akuntansi bagi perusahaan yang merger, dapat dilakukan dengan dua metode,
yaitu pooling of interest dan metode purchase accounting. Dalam metode pooling of interest
178
tidak dilakukan perubahan angka-angka dalam neraca dan perhitungan rugi/laba perusahaan
yang merger, sedangkan pada metode purchase accounting terjadi penambahan
atau pengurangan angka-angka dalam neraca dan perhitungan rugi/laba perusahaan yang
merger, sesuai dengan kenyataan yang terjadi pada perusahaan yang bersangkutan.

SOAL DAN LATIHAN

1. Apakah yang dimaksud merger, akuisisi, dan konsolidasi perusahaan?


2. Jelaskan pengertian merger horizontal, vertical, kongenerik, dan konglomerat.
3. Apa alasan utama dan tujuan perusahaan melakukan merger?
4. Perusahaan PT. Riang merencanakan merger dengan perusahaan PT. Senang. PT. Riang
mempunyai nilai (PVr) sebesar Rp9.000.000.000,00 sedangkan PT. Senang mempunyai
nilai (PVs) sebesar Rp2.000.000.000,00. Merger kedua perusahaan tersebut akan
menghemat biaya yang merupakan manfaat (sinergi) dengan present value (PV) sebesar
Rp500.000.000,00. Setelah melakukan merger, tentukan nilai kedua perusahaan tersebut
(PVrs).
5. Kalau perusahaan PT. Senang dibeli tunai oleh perusahaan PT. Riang sebesar
Rp2.250.000.000,00. Tentukan biaya merger tersebut bagi perusahaan PT. Riang!
6. Dari hasil perhitungan no.4 dan no. 5 di atas, tentukan Net Present Value dari Merger
(NPVm).
7. PT. Riang melakukan merger/ membeli PT. Senang dengan membayar 500.000 lembar
saham PT. Riang. Harga saham PT. Riang Rp4.000,00 per lembar, sedangkan jumlah
sahamnya sebanyak 3.000.000 lembar. Nilai PT. Senang Rp1.500.000.000,00. Dengan
melakukan merger, kedua perusahaan tersebut mendapat tambahan keuntungan
(manfaat) PV sebesar Rp400.000.000,00.
Dari data tersebut di atas, hitung biaya merger yang sebenarnya (menghitung p, tiga
angka dibelakang koma).

Next ketikan fitri

179
KEGAGALAN PERUSAHAAN DAN REORGANISASI
15.1 MACAM KEGAGALAN PERUSAHAAN

Kesulitan keuangan yang dihadapi oleh perusahaan akan


menyebabkan penciutan usaha, perusahaan menjaCli lebih kecil, bahkan
dala m kesulitan yang lebih berat akan menyebabkan peru:sahaan
tersebut ditutup. Dengan adanya kesulitan keuangan tersebut, perusahaan
dapat dikatakan gagal.
Kegaga lan perusahaan tidak saja karena kesulitan keuangan, tetapi
juga dalam kenyataan tidak jarang perusahaan mengalami kesulitan dalam
persaingan, sehingga memperkecil skala perusahaan,atau bahkan harus
menu1:up perusahaan atau dilikuidasi.

Kegaga lan perusahaan ada dua macam, yang terdiri dari:


. 1. Kegagalan Ekonomis (Economic Failure), pendapatan perusahaarn ti
dak dapat menutupi jumiah biay;rnya, terma suk biaya modal,
misalnya biaya listrik, biaya telepon, biaya bunga dan lain-la in:
2. Kegagalan Usaha (Business Failure}, perusahaan yang gagal,
menimbulkan kerugian bagi krediturnya, misalnya · t i dak dapat
membayar hutang perusahaan.

Perusahaan tidak mampu memenuhi kewajiban finansialnya, baik


jangka pendek maupun jangka panjang. Apabila kondisi perusahaan
sudah begitu buruk dan prospek perusahaan tidak memberikan harapan
yang baik, alternatif terakhir adalah likuidasi. Untuk mengatasi kesulitan
keuangan, perusahaan dapat menempuh beberapa alternatif antara lain
adalah dengan perpanjangan waktu kredit, komposisi,dan likuidasi.
Perpanjangan waktu kredit, merupakan perpanjangan waktu
pembayaran pinjaman, yang akan memberikan kesempatan kepada

180
manajemen untuk memperbaiki kondisi perusahaan, di samping bagi
kreditur masih ada harapan untuk memperoleh pembayaran kembali
hutang perusahaan.
Komposisi,adalah merninta kesediaan kreditur untuk menerima
pengurangan pembayaran kembali hutang perusahaan. Misalkan hutang
perusahaan sebesar Rp80.000.000,00 dengan hanya membayar sebesar
Rp45.000.000,00, yang berarti kreditur merelakan sebesar
Rp8.000.000,00. Hal ini akan lebih baik dibandingkan dengan menempuh
jalur hukum, karena kreditur masih akan menerima pembayaran dari
perusahaan meskipun jumlahnya sedikit lebih kecil.
Likuidasi, adalah pembubaran atau penutupan perusahaan dengan
melakukan pelelangan seluruh harta perusahaan untuk membayar hutang-
hutang perusahaan kepada kreditur.. Likuidasi ini atas permintaan kreditur,
dan dapat dilakukan secara hukum perusahaan dinyatakan pailit.

15.2 SEBAB··SEBAB KEGAGALAN PERUSAHAAN


1. Ketidak mampuan manajemen
2. Kurang pengalaman bidang manajerial.
3. Tidak ada keseimbangan antara permodalari, penjualan,
produksi, dan lain-lain.
4. Kurang pengalaman bidang produksi.
5. lKelalaian.
6. Musibah.
7. Penipuan.
8. Alasan lain yang tidak diketahui.

15.3 KEPAILITAN
Akibat dari perusahaan yang gaga l, maka
perusahaan tersebut dapat dinyatakan pailit. Kep2ilitan
menurut hukurn:

1. Sesuai dengan ketetapan undang-undang.


2. Dinyatakan pailit oleh keputusan pengadilan.

181
Dalam pendistribusian hasil likuidasi perusahaan
kepada kreditur, diperhatikan pembayaran berdasar
peringkatnya sebagai berikut:
1. Biaya administrasi,biaya lelang, dan lain-lain yang
dikeluarkan pada proses likuidasi.
2. Pemegang obligasi, merupakan kreditur bersyarat.
3. Hutang gaji karyawan.
4. Hutang pajak.
5. Hutang tanpa jaminan.
6. Hutang bunga.
7. Hak pemegang saham preferen.
8. Hak pemegang saham biasa.

15.4 REORGANISASI PERUSAHAAN

Kalau perusahaan gagal dalam operasinya, dan


sebelum dinyatakan pailit, perusahaan harus segera
melakukan reorganisasi. Reorganisasi ar:lalah
penyusunan kembalistruktur modal perusahaan, agar
perusahaan dengan struktur modal yang baru dapat
beroperasi lebih baik dan memperoleh laba pada
masa yang akan

15.6 JENIS-JENIS REORGANISASI PERUSAHAAN

1. Reorganisasi tanpa menambah modal baru.


Penilaian kembali unsur dalam neraca.
2. Reorganisasi dengan menambah modal baru.
Di samping menilai k8mbali dalam neraca, juga menambah

182
modal dari pemegang saham atau kreditur.

3. Reorganisasi dengan mengurangi modal:


a. Membeli kembali saharn.
b. Membeli obligasi yang beredar.

15.7 STANDAR KELAYAKAN REORGANISASI

Untuk mengetahui standar kelayakan reorganisasi dapat dilihat


dari tes permulaan dan kelayakan organisasi

Apakah keuntungan setelah reorganisasi akan man;pu ata u


belum menutup beban tetap. Untuk menutup beban tetap,
memerlukan peningkatan keuntungan atau penurunan beban
tetap atau kedua-duanya.

15.8 TINDAKAN YANG DILAKUKAN DALAM REORGANISASI

1. Jatuh hutang diperpanjang, hutang atau obligasi diubah menjadi saham.


2. Team baru dibentuk sebagai pengawas, apabila
manaje men kurang bertanggung jawab terhadap
tugasnya.
3. Persediaan yang rusak dan kuno ha rus diga nti.
4. Mesin dan peralatan (boros),harus diganti sebelum
operasi dimulai,dengan pertimbangan biaya yang
dikeluarkan lebih kecil daripada keuntungan yang akan
diterima.

5. Reorganisasi memerlukan pengembangan pada sektor produksi,


pemasaran, promosi dan fungsi- funsi lain.

6. Daerah pemasaran dapat dialihkan, baik terhadap produksi lama


maupun produksi baru.

183
Pada neraca reorganisasi menghilangkan saldo kerugian :

Cara menghilangkan saldo kerugian, sering dilakukan dalam reorganisasi, yaitu dengan
mengurangi nilai modal saham dengan cara megganti saham lama dengan saham baru, dengan
perbandingan tertentu.

Misal 5 : 2. Artinya setiap 5 lembar saham lama, diganti dengan 2 lembar saham baru.

15.9 LANGKAH-LANGKAH DALAM MELAKUKAN REORGANISASI

1. Menilai kembali aktiva di neraca, untuk menentukan nilai aktiva, dapat digunakan rumus:

Nsa = X x Nba

Nsa = Nilai sekarang dari aktiva.

X = Ratio nilai sekarang terhadap nilai buku aktiva.

Nba = Nilai buku aktiva.

Menilai kembali aktiva didalam neraca dapat juga dilakukan dengan menentukan langsung
jumlahnya.

2. Menentukan besarnya modal saham baru dan cadangan dengan rumus :


MSb = MSL – SR – CD
MSb = Modal Saham Baru.
MSL = Modal Saham Lama.
SR = Saldo Rugi.
CD = Cadangan yang ditetapkan.

Contoh:

Mengurangi jumlah hutang-hutangnya atau menghilangkan saldo kerugian peusahaan.

NERACA

(SEBELUM REORGANISASI)

(misal dalam 000 Rp)

184
Kerugian sebesar Rp18.000.000,00 tersebut adalah berdasarkan nilai buku yang belum tentu
menggambarkan nilai yang sebenarnya. Setelah diadakan reorganisasi, agar perusahaan dapat bekerja
dengan basis yang sehat, maka besarnya kerugian harus didasarkan pada hasil revaluation (menilai
kembali) terhadap pos-pos atau aktiva dalam neraca berdasar prinsip hati-hati.

Keterangan :

Dari hasil revalution, ternyata aktiva dalam neraca terjadi sebagai berikut:

(1) Kas lengkap. (2) Piutang tidak tertagih Rp1.000.000,00 sehingga sisa piutang Rp4.000.000,00
(3) Barang yang ada dalam gudang Rp10.000.000,00 berarti berkurang Rp1.000.000,00 (4) Aktiva
tetap nilainya hanya Rp18.000.000,00 berarti berkurang Rp2.000.000,00.

Dengan adanya berkurangnya aktiva aktiva tetap tersebut:

Piutang Rp1.000.000,00 + Barang Rp1.000.000,00 + Aktiva Tetap Rp2.000.000,00 =


Rp4.000.000,00 dimasukkan dalam Saldo Rugi.

Sehingga neraca berikutnya sebagai berikut:

NERACA
(SETELAH REVALUATION)
(missal dalam 000 Rp)
Kas Rp. 1.000,00 Hutang Rp. 15.000,00
Piutang Rp. 4.000,00 Modal Rp. 40.000,00
Barang Rp. 10.000,00
Aktiva Tetap Rp. 18.000,00
Saldo Rugi Rp. 22.000,00
Rp. 55.000,00 Rp. 55.000,00

Saldo kerugian setelah revaluation menjadi Rp. 22.000.000,00. Kerugian tersebut


harus dilenyapkan dari neraca, dan dibebankan kepada pemegang saham. Setelah
reorganisasi, agar perusahaan mempunyai posisi finansial yang kuat, maka
perusahaan harus mempunyai cadangan. Apabila saldo kerugian dihapuskan dan
dibebankan sepenuhnya kepada pemegang saham, dan membentuk cadangan 12,5%
dari modal saham baru, maka besarnya modal saham baru (X) dan cadangan,
ditentukan dengan cara:

MSb atau X = MSL – SR – CD


MSb atau X = 40.000.000 – 22.000.000 – (1/8x X)
1 1/8 X = Rp. 18.000.000,00

185
X = Rp. 18.000.000,00 : 9/8
X = Rp. 16.000.000,00

Modal saham baru (MSb atau X) setelah reorganisasi sebesar


Rp.16.000.000,00, sehingga dapat ditentukan besarnya cadangan : 1/8 x Rp.
16.000.000,00 = Rp. 2.000.000,00.
Kalau saldo kerugian tersebut akan dilenyapkan dari neraca, dengan cara
mengeluarkan saham baru dan menarik saham lama dari peredaran, maka saham
lama sebesar Rp. 40.000.000,00 ditarik, dan dikeluarkan saham baru sebesar
Rp.16.000.000,00; dengan perbandingan 40 : 16 atau 5 : 2. Berarti 5 saham lama
ditukar dengan 2 saham baru.
Pengurangan modal saham sebesar Rp. 24.000.000,00, karena yang semula
modal saham sebesar Rp. 40.000.000,00 menjadi Rp. 16.000.000,00.
Pengurangan modal saham sebesar Rp. 24.000.000,00 tersebut, digunakan
untuk menutup kerugian Rp. 22.000.000,00 dan untuk membentuk cadangan sebesar
Rp.2.000.000,00.
Menentukan Tingkat Penurunan Saham dengan rumus sebagai berikut:

MSL – MSb
TPS = x 100%
MSL
TPS = Tingkat Penurunan Saham.
Contoh :

40.000.000 – 16.000.000
TPS = x 100% = 60%
40.000.000
Tingkat Penurunan Saham (reduksi) sebesar 60% dari nilai nominalnya.
Sehingga nilai modal sahamnya sisa 40%. Yang menjadi korban adalah pemegang
saham yang harus mengobankan 60% dari kekayaan sahamnya.

186
Masih ketikan kampret

187
Balance of Payment (BOP) dpat diseimbangkan dengan :
 Sistem kurs tetap.
 Sistem kurs mengambang (bebas).
1. Sistem kurs tetap, ditandai dengan nilai kurs yang konstan atau berfluktuasi sangat
sempit. Tugas dan tanggung jawab pemerintah (otoritas moneter), menjaga agar Balance
of Payment (BOP) sama dengan nol (0), dengan cara intervensi dalam pasar valuta asing
(valas), dengan cadangan devisa yang dimiliki.
Apabila (X – M) dan (CI – CO) lebih besar dari 0, menunjukan kelebihan permintaan
terhadap mata uang domestik. Pemerintah melakukan intervensi pasar dengan menjual
mata uang domestik, untuk membeli mata uang asing dan emas, agar BOP sama dengan
0.

188
Apabila (X – M) dan (CI – CO) lebih kecil dari 0, menunjukan negatif kelebihan penawaran
mata uang domestik di pasar dunia, pemerintah melakukan intervensi ke pasar, membeli
mata uang domestik dengan cadangan mata uang asing dan emasnya.
2. Sistem kurs menggambang bebas (clean/freely/floating rates), dalam hal ini pemerintah
tidak perlu campur tangan dalam valuta asing (valas), karena kurs suatu mata uang
ditentukan oleh mekanisme pasar, yaitu permintaan dan penawaran.
16.3 BURSA VALUTA ASING
Bursa valuta asing (foreign exchange market), merupakan pasar terjadinya transaksi
valuta asing yang dilakukan baik antar negara maupun dalam suatu negara. Bursa valuta asing
dapat dilakukan oleh perusahaan atau perorangan.
Dalam melakukan transaksi valuta asing digunakan kurs atau nilai tukar (foreign exchange
rate), yaitu harga dari suatu mata uang dalam ukuran mata uang lain. Kurs dapat berubah-ubah
sesuai dengan kondisi dari waktu ke waktu yang disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya faktor
ekonomi, politik dan keamanan.
Dalam perdagangan valuta asing internasional, mata uang asing dibedakan antara
convertible currrencies, yaitu mata uang yang sering digunakan, antara lain adalah Dollar Amerika
Serikat (US$), Yen Jepang (JPN), Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Deutsche Mark
Jerman (DM), Franc Prancis (FRF), Dolar Singapura (SGD), Dolar hongkong (HKD), Poundsterling
Inggris (GBP), dan lain-lain. Sedangkan mata uang soft currencies, yaitu mata uang lemah atau
jarang diperjual belikan, antara lain Rupee India, Peso Philipina, Rupiah Indonesia dan lain-lain.
Transaksi valuta asing dapat dilakukan antar negara atau antar bank dengan nasabahnya.
Transaksi bank menggunakan kurs jual dan kurs beli. Kurs jual dalam hal ini bank menjual dan
nasabah membeli mata uang valuta asing. Sedangkan kurs beli dalam hal ini bank membeli dan
nasabah menjual mata uang asing.
Selisih antara kurs jual dan kurs beli, disebut spread, dalam hal ini bank bisa untung dan
bisa rugi.
Tujuan melakukan transaksi valuta asing adalah:
1. Untuk transaksi pembayaran.
2. Mempertahankan daya beli.
3. Pengiriman uang keluar negeri.
4. Mencari keuntungan.
5. Pemagaran risiko.
6. Kemudahan berbelanja.
Jenis transaksi valuta asing :
1. Spot tansaction:
a. Value today
b. Value tomorrow
c. Value spot.

189
2. Forward Transaction (Transaksi tunggak).
3. Swap Transaction (Transaksi barter).
Margin Trading
Margin trading adalah pembelian valuta asing secara terus-menerus pada suatu pasar,
kemudian dijual kembali ke pasar lain dengan harga uang lebih tinggi. Sistem jual beli valas ini
dilakukan dengan spot.
Contoh:
Di New York, nilai 1 DM sebesar 0,850 US$, sedangkan di Paris nilai 1 DM sebesar 0,840
US$. Bagi pembeli DM di Paris akan menjualnyake New York, dengan memperoleh laba sebesar
US$ 0,10 sebelum dipotong biaya transaksi, yaitu biaya komisi untuk dealer.
Persyaratan bank dalam melakukan Margin Trading adalah :
1. Dilaksanakan berdasarkan :
a. Kebijaksanaan direksi bank.
b. Suatu kontrak yang telah disetujui sebelumnya.
2. Dilaksanakan dengan tersedianya margin deposit.
3. Untuk kepentingan bank, margin trading dilakukan setinggi-tingginya sebesar 10% dari
modal bank.
4. Untuk kepentingan nasabah, margin trading dilakukan setinggi-tingginya 10 (sepuluh) kali
dari margin deposit nasabah bank.
5. Apabila mengalami kerugian sebesar 5% dari modal, maka untuk sementara harus
dihentikan, selanjutnya setelah mendapat persetujuan dari Bank Indonesia, dapat
dilakukan lagi margin trading.
6. Margin deposit nasabah atau bank, harus dicantumkan dalam laporan mingguan dan
bulanan.
Contoh:
Reza berkeinginan mlakukan margin trading dengan meminta ke Bank Mandiri untuk
membeli US$ 1,000,000.- terhadap Yen Jepang. Pada saaat transaksi terjadi nilai US$ 1 setara
dengan 26,8 Yen Jepang. Dalam hal ini Reza cukup menyerahkan ke Bnk Mandiri sebesar US$
100,000 saja. Seandainya pada besok harinya hasil tukar Yen terhadap 1 US$ menjasi 27,0 Yen,
maka jika Reza menjual Yen tersebut, Reza dalam satu hari akan mendapatkan keuntungan
sebesar US$ 200,000 yaitu dengan perhitungan (0,2 x US$ 1,000,000). Tetapi sebalikaya jika Reza
keesokan harinya memerlukan uang, dan menjual valuta asingnya, sedangkan harga 1 US$
sebesar 26,5 Yen maka Reza akan mengalami kerugian sebesar US$ 300,000 yaitu dengan
perhitungan (0,3 x US$ 1,000,000).
Kurs dapat ditentukan secara :
1. Direct Rate, dengan menempatkan mata uang domestik di depan mata uang asing, contoh
Rp 13.000,00 = US$ 1

190
2. Indirect Rate, dengan menempatkan mata uang asing di depan mata uang domestik,
contoh US$ 0.0000769231 = Rp1,00
16.4 MANAJEMEN RISIKO NILAI TUKAR VALUTA ASING
Risiko nilai tukar (exchange risk) adalah perubahan-perubahan nilai tukar atau kurs yang
tidak pasti mengarah kepada fluktuasi-fluktuasi tidak pasti pada nilai perusahaan. Perusahaan
menghadapi risiko nilai tukar pada saat terjadi perubahan-perubahan potensial yang tidak
terantisipasi dalam nilai tukar, yang berpengaruh pada nilai perusahaan. Perusahaan dikatakan
terpengaruh oleh risiko kurs valas (exposed to exchange risk), karena adanya pergerakan yang
tidak terlihat dari nilai tukar / kurs valas.
Dengan adanya keuntungan dan risiko yang tinggi dalam perdagangan valuta asing, perlu
dilakukan pengetahuan dan dikembangkan kebijakan mengatasi risiko tersebut.
Kategori utama risiko perdagangan valas:
1. Exchange rate risk
Risiko ini terjadi akibat adanya fluktuasi pergerakan secara terus menerus pada permintaan
dan penawaran di pasar valas, sehingga mempengaruhi posisi nilai tukar valas. Seorang
“trader” membuka posisi membeli (buy) valas dan menjual (sell) valas. Selama posisi ini
beluum di tutup (close position) nilai tukar valas yang selalu berubah-ubah, karena terjadi
tarik menarik antara kekuatan permintaan dan penawaran di pasar.
Fluktuasi harga ini, akan mengakibatkan terjadinya kerugian (potential loss) bagi trader.
Fluktuasi harga ini, merupakan faktor penting, sehingga terjadi perdagangan valas secara
likuid. Apabila fluktuasi ini dimanfaatkan, maka akan mendatangkan keuntungan, digunakan
secara tepat dan bijaksana.

2. Credit Risk
Risiko kemungkinan pihak lain (counter party) tidak melaksanakan kewajiban dalam
persetujuan yang telah disepakati.
Contoh:
Bank A membuat perjanjian perdagangan valas dengan Bank B. Bank A menyerahkan US$
tertentu kepada Bank B. Bank B wajib menyerahkan DM tertentu kepada Bank A, dalam
bentuk perjanjian Currency-swaps.
Apabila salah satu pihak ingkar janji (wanprestasi) dalam jangka waktu yang ditentukan, maka
pihak yang “melanggar perjanjian wanprestasi” (tidak memenuhi), pihak yang dirugikan
mengalami “credit risk”.
3. Country Risk
Risiko timbul akibat campur tangan pemerintah dalam perdagangan valas. Berbeda dengan
aktivitas intervensi bank sentral untuk mempertahankan nilai tukar.
Misal: pembekuan asset, simpanan luar negeri, deposito WNA oleh pemerintah
lokal/domestik.
Contoh:

191
Pembekuan rekening Presiden Republik Federal Yogoslavia, Slobodan Mwlosevic, yang
tersimpan pada bank-bank di Swiss oleh pemerintah Swiss, berkaitan dengan gejolak politik
di Yogoslavia pada September 2000.

16.5 MANAJEMEN KAS INTERNASIONAL


Ada anak dan induk perusahaan, maksudnya adalah untuk:
 Optimalisasi aliran kas.
 Investasi kelebihan kas.
1. Teknik- teknik mengoptimalkan aliran kas:
a. Mempercepat aliran masuk kas, semakin cepat aliran masuk kas diterima, semakin
cepat kas dapat diinvestasikan atau semakin cepat dapat digunakan.
Caranya adalah:
 Mendirikan lockboxes, atau nomor kotak pos agar pembayaran konsumen
dapat diterima dengan cepat.
 Preaauthorizet payment, merupakan ijin dari perusahaan untuk memungut
simpanan konsumen di bank dalam jumlah tertentu.
b. Menggunakan jaringan untuk meminimalkan biaya konversi valas. Jaringan dapat
dilaksanakan dengan usaha bersama antara anak perusahaan atau oleh grup
manajemen kas tersendiri, dalam hal ini perusahaan induk.
Keuntungan:
 Mengurangi jumlah transaksi lintas batas antara anak perusahaan.
 Mengurangi konversi valas, karena transaksi lebih jarang digunakan.
 Peramalan aliran kas lebih mudah, karena transfer kas neto dilakukan pada
akhir periode.
c. Meminimalkan pajak atas aliran kas. Pajak tinggi atas laba anak perusahaan yang
dikirim ke perusahaan induk.
Dapat diminimalkan dengan cara:
 Anak perusahaan jangan mengirim laba untuk sementara, investasikan
keuntungan tersebut.
 Anak perusahaan agar mengadakan divisi litbang yang menguntungkan anak
perusahaan.
 Menerapkan strategi pembiayaan dari pinjaman.
d. Transfer kas antar anak perusahaan.
Megurangi jumlah pinjaman yang dilaporkan pada neraca.
2. Investasi kelebihan kas
Investasi jangka pendek yang dipertimbangkan:
 Haruskah kelebihan kas masing-masing anak perushaan tetap terpisah atau
disatukan bersama?
 Bagaimana menentukan hasil efektif yang diharapkan dari setiap kemungkinan
alternatif?
 Apa saran paritas suku bunga tentang investasi jangka pendek?

192
 Bagaimana forward rate yang terjadi dapat digunakan untuk mengevaluasi
keputusan investor jangka pendek?
 Bagaimana tingkat kurs diramal dapat mempengaruhi keputusan investasi jangka
pendek?
 Apakah bermanfaat mendiversifikasi investasi diantara mata uang?

a. Manajemen kas terpusat.


Fungsi optimalisasi aliran kas dapat ditingkatkan dengan suatu pendekatan
terpusat, sebab semua posisi kas anak perusahaan dapat dimonitor secara
serempak.
Keunggulannya :
 Suku bunga yang dibayar atas investasi jangka pendek,sering lebih tinggi
untuk jumlah yang lebih besar (pada anak perusahaan).
 Meningkatkan efesiesi manajemen modal kerja dengan mengurangi biaya
seluruh pendanaan multinasional corporation.
Kelemahannya :
Biaya transaksi yang dikeluarkan lebih besar.
b. Menetapkan hasil efektif dari investasi asing, dapat dilakukan dengan rumus
sebagai berikut :
rd = ( 1 + id )(1 + ed) – 1
Keterangan :
rd = hasil efektif pada deposito asing
id = suku bunga deposito
ed = persentase perubahan dalam nilai valuta yang menunjukan deposito asing
Contoh :
rd ? ; id = 10% ; ed = 5%
rd = (1 + 0,1) (1 + 0,05) – 1
rd = (1,1) (1,05) – 1
rd = 1,155 – 1
rd = 0,155 atau 15,5%
c. Paritas suku bunga sebagai satu kriteria untuk keputusan investasi. (Paritas =
Setara)
d. Forward Rate sebagai satu kriteria keputusan untuk investasi.
e. Ramalan tingkat kurs sebagai satu kriteria untuk keputusan investasi.

Hasil efektif yang diharapkan:


E (rd) = (1 + id) [1 + E(ed)] – 1
Keterangan : ed tidak diketahui
Untuk mencari nilai ed yang akan meyamakan hasil efektif dari investasi luar negeri
dengan investasi domestik adalah seperti dibawah ini.

193
Persamaan di atas dapat diuraikan sebagai berikut :
rd = (1+id)(1+ed) -1 → (1+rd) = (1+id)(1+ed)
(𝟏+𝒓𝒅) (𝟏+𝒓𝒅)
= (1+ed) atau (1+ed) = (𝟏+𝒊𝒅)
(𝟏+𝒊𝒅)

(𝟏+𝒓𝒅)
ed = (𝟏+𝒊𝒅) – 1

Contoh :
Suku bunga deposito di Amerika Serikat sebesar 11% dan suku bunga deposito prancis
sebesar 14% tentukan “rd”
(𝟏+𝟏𝟏%) (𝟏,𝟏𝟏)
ed = (𝟏+𝟏𝟒%) -1 → ed = (𝟏,𝟏𝟒) – 1

ed = 0,97 – 1 → ed = -0,03 → ed = 3%
Dari hasil tersebut disarankan agar Franc Francis harus berdepresiasi dengan 3%, untuk
menjadikan deposito di Prancis menghasilkan hasil yang efektif sama dengan deposito di Amerika
Serikat.
Setiap derajat depresiasi lebih kecil akan menjadikan deposito Franc Francis lebih
menguntungkan.
Penganekaragaman kas lintas valuta
Suatu Multinational Corporate tidak yakin akan terjadi perubahan tingkat kurs setiap saat,
sehingga Multinational Corporate lebih suka menganekaragamkan kas diantara sekuritas dengan
dominan mata uang berbeda.
Cara ini menghindarkan kemungkinan terkena kerugian besar, karena depresiasi suatu
mata uang tertentu.

16.6 ARBITRASE INTERNASIONAL DAN PARITAS SUKU BUNGA


Arbitrase adalah tindakan membeli dan menjual barang pada waktu yang bersamaan,
tetapi dipasar yang berlainan.
Misal:
Membeli barang pada pasar A dengan harga yang dianggap murah, kemudian menjual
barang tersebut pada pasar B yang dianggap harganya lebih tinggi.
Arbitrase Internasional
Arbitrase internasional merupakan kapitalisasi atas suatu ketidak sesuaian harga dalam
banyak kasus, tidak ada investasi dana yang terkait untuk setiap waktu dan tidak ada risiko dalam
strategi ini.

194
Arbitrase Lokasional
Arbitrase lokasional adalah melakukan kapitalisasi atas perbedaan kurs antar lokasi.
Arbitrase segitiga
Contoh :
Bid Price Ask Price
Value of british pound USṨ Ṩ 1.99 Ṩ2.00
Value of french franc in USṨ Ṩ .2.00 Ṩ .201
Value of british pound in FF FF10.8 FF11.0
Keterangan :
Asumsikan kita mulai dengan mempunyai USṨ 10,000
1. Ṩ 10,000 ditukar atau beli 5,000 pounds, ini terjadi Ṩ10,000 dibagi Ṩ2
2. 5,000 pounds ditukar atau dijual menjadi FF 54,000. Ini terjadi 5,000 pounds x FF 10.8
3. Ff 54,000 ditukar atau dijual menjadi Ṩ10,800. Ini terjadi karena FF 54,000 x Ṩ2
Dengan terjadinya jual beli mata uang ini akan memperoleh profit sebesar Ṩ800 hal ini
terjadi karena Ṩ10,800 - Ṩ10,000.
Arbitrase suku bunga ter-cover
Arbitrase suku bunga ter-cover cenderung memaksa suatu hubungan antara suku bunga
dari dua negara dan premi atau Discount Kurs Forward mereka. Arbitrase ini meliputi investasi di
suatu negara asing dan mencakup risiko tingkat kurs.
Misalnya :
Anda ingin mengapitalisasi atas suku bunga yang relatif tinggi di inggris, dan anda
mempunyai dana yang tersedia untuk 90 hari. Tingkat suku bunga selalu tetap, tetapi tingkat kurs
yang akan datang saat anda menukar kembali pounds ke US dollar tidak kepastian.
Penjualan forward pounds dapat digunakan untuk menjamin tingkat kurs, sehingga Anda
dapat menukar pounds dengan dollars dimasa yang akan datang.
Strategi tersebut sebagai berikut:
1. Pada hari pertama, tukarkan US$ ke Pound dan membuka deposito 90 hari di suatu bank
Inggris.
2. Pada hari pertama memesan satu kontrak forward untuk menjual pound 90 hari kedepan.
3. Dalam 90 hari ketika deposito jatuh tempo, tukarkan pound ke US$ pada kuts yang telah
disetujui berdasarkan kontrak forward.
Paritas suku bunga

195
Apabila kekuatan-kekuatan pasar menyebabkan arbitrasi bunga ter-cover tidak layak,
maka dalam satu keadaan ekulibrium yang ditunjukkan sebagai paritas suku bunga
Dalam ekulibrium, forward rate berbeda dari spot rate dengan suatu jumlah yang cukup
untuk mengimbangi perbedaan suku bunga antara dua negara.
Hasil pengembalian seorang investor dari menggunakan arbitrase suku bunga ter-cover
dapat ditetpkan sebagai berikut:
Ah : Jumlah home currency yang diinvestasikan pada awal periode.
Sj : Spot rate ketika mata uang asing dibeli.
Ij : Suku bunga atas deposito asing.
Fj : Forward rate dimana mata uang asing akan ditukar kembali ke home currency.
An : Jumlah home currency yang diterima pada akhir periode deposito.
An = (Ah/Sj (1 + ij) Fj
Fj = Sj (1 + p) p = premi forward
An = (Ah / Sj) (1+ij) [Sj(1+p)]
An = Ah (1+ij) (1 + p)
Tingkat hasil pengembangan atas investasi ini (rj):
(𝑨𝒏−𝑨𝒉) [𝑨𝒉 (𝟏+𝒊𝒋)(𝟏+𝒑)−𝑨𝒉]
rj = rj =
(𝑨𝒉) (𝑨𝒉)

rj = (1+ij) (1+p) – 1
Apabila paritas suku bunga ada, tingkat hasil pengembalian antara arbitrase suku bunga
ter”cover” (rj) harus sama dengan home interest rate (Ih). Berati rj = ih.
(1+ij)(1+p) - = ih
(1+ij)(1+p) = ih + 1
(𝟏+𝒊𝒉) (𝟏+𝒊𝒉)
(1+p) = jadi p = → -1 (𝟏+𝒊𝒋)
(𝟏+𝒊𝒋)

Contoh soal :
Hasil pengembalian bagi investor yang menggunakan arbitrase suku bunga ter-cover.
Diketahui :
Ah = Jumlah home currency yang di investasikan pada awal periode = US$ 60,000
Sj = spot rate ketika mata uang asing di beli = FF 200/US$.
Ij = suku bunga atas deposito asing 1%/bulan

196
Fj = Forward rate dimana mata uang asing akan ditukar kembali ke home currency = FF
.199/US$.
Diminta :
Hitunglah berapa US$ yang diterima oleh investor pada akhir periode (An)?
Jawab:
Rumus : An = (Ah/Sj) (1 + ij )Fj
An = (60,000 / .200) (1 + ij) .199
An = (300,000) (1,01) ( .199)
An = US$ 60,297
Keuntungan yang diperoleh investor dalam 1 bulan :
US$ 60,297 – US$ 60,000 = US$ 297

16.7 RINGKASAN
1. Manajemen keuangan Internasional sangat diperhatikan dan penting bagi perusahaan
yang melakukan perdagangan internasional.
2. Dari sudut pandang risiko, perusahaan multinasional risiko lebih sedikit dibandingkan
dengan perusahaan domestik.
3. BOP atau Neraca Pembayaran Internasional merupakan suatu sistem pencatatan seluruh
transaksi ekonomi internasional suatu negara untuk periode tertentu.
4. Bursa valuta asing, pasar terjadinya transaksi valuta asing yang dilakukan baik antar
negara maupun dalam suatu negara.
5. Margin Trading adalah pembelian valuta asing secara terus menerus pada suatu pasar,
kemudian dijual kembali ke pasar lain dengan harga yang lebih tinggi. Sistem jual beli valas
ini dilakukan dengan spot.
6. Manajemen risiko nilai tukar valuta asing, perubahan nilai tukar (kurs) yang tidak pasti
pada nilai perusahaan.
7. Manajemen kas Internasional, perusahaan mempunyai anak dan induk perusahaan untuk
optimalisasi kas dan investasi kelebihan kas.
8. Arbitrase internasional dan paritas suku bunga, tindakan membeli dan menjual barang
pada waktu yang bersamaan, tetapi pada tempat yang berlarian.

SOAL DAN LATIHAN


1. Di New York, nilai 1 DM sebesar US$ 0,900, sedangkan di Paris nilai 1 DM sebesar 0,880
US$. Apabila seorang pedagang melakukan margin trading sebesar 1500 DM, berapa
keuntungan yang diperoleh pedagang tersebut sebelum dipotong biaya transaksi, yaitu
biaya komisi untuk dealer.
197
2. Bid Price Ask Price
Value of British pound in US$ $ 2.00 $ 2.05
Value of French franc un US$ $ .201 $ .202
Value of British pound in FF FF10.9 FF11.01
Dari data diatas, kalau kita mempunyai US$ 11,000, berapakah profit yang diperoleh
dengan melakukan arbitrase tersebut diatas?

198