Anda di halaman 1dari 81

Undang-undang ini mengatur ketentuan tentang bangunan gedung yang meliputi fungsi,

BAB. 2
persyaratan, penyelenggaraan, peran masyarakat, dan pembinaan. Bahwa setiap bangunan
gedung harus memenuhi persyaratan administratif dan persyaratan teknis sesuai dengan
fungsi bangunan gedung.

TINJAUAN PERATURAN, TEORI


• Persyaratan administratif bangunan gedung meliputi persyaratan status hak atas tanah
status kepemilikan bangunan gedung, dan izin mendirikan bangunan.

DAN LITERATUR • Persyaratan teknis bangunan gedung meliputi persyaratan tata bangunan dan
persyaratan keandalan bangunan gedung.

Persyaratan tata bangunan sebagaimana dimaksud meliputi persyaratan peruntukan dan


intensitas bangunan gedung, arsitektur bangunan gedung, dan persyaratan pengendalian
dampak lingkungan. Persyaratan tata bangunan ditetapkan lebih lanjut dalam rencana tata
2.1. TINJAUAN KEBIJAKAN PERATURAN DAN PERUNDANGAN
bangunan dan lingkungan oleh Pemerintah Daerah.
2.1.1. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung
Rencana tata bangunan dan lingkungan digunakan untuk pengendalian pemanfaatan ruang
Pembangunan nasional untuk memajukan kesejahteraan umum sebagaimana dimuat di
suatu lingkungan/kawasan, menindaklanjuti rencana rinci tata ruang dan sebagai panduan
dalam Undang-Undang Dasar 1945 pada hakekatnya adalah pembangunan manusia
rancangan kawasan dalam rangka perwujudan kualitas bangunan gedung dan lingkungan
Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia yang menekankan
yang berkelanjutan dari aspek fungsional, sosial, ekonomi, dan lingkungan bangunan
pada keseimbangan pembangunan, kemakmuran lahiriah dan kepuasan batiniah, dalam
gedung termasuk ekologi dan kualitas visual. Rencana tata bangunan dan lingkungan
suatu masyarakat Indonesia yang maju dan berkeadilan sosial berdasarkan Pancasila.
memuat persyaratan tata bangunan yang terdiri atas ketentuan program bangunan gedung
Bangunan gedung sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, mempunyai peranan
dan lingkungan, rencana umum dan panduan rancangan, rencana investasi, ketentuan
yang sangat strategis dalam pembentukan watak, perwujudan produktivitas, dan jati diri
pengendalian rencana, dan pedoman pengendalian pelaksanaan. Rencana tata bangunan
manusia. Oleh karena itu, penyelenggaraan bangunan gedung perlu diatur dan dibina demi
dan lingkungan ditetapkan oleh Pemerintah Daerah dan dapat disusun berdasarkan
kelangsungan dan peningkatan kehidupan serta penghidupan masyarakat, sekaligus untuk
kemitraan Pemerintah Daerah, swasta, dan/atau masyarakat sesuai tingkat permasalahan
mewujudkan bangunan gedung yang fungsional, andal, berjati diri, serta seimbang, serasi,
pada lingkungan/kawasan yang bersangkutan. Pengaturan bangunan gedung bertujuan
dan selaras dengan lingkungannya.
untuk:

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 1


• Mewujudkan bangunan gedung yang fungsional dan sesuai dengan tata bangunan mewujudkan struktur ruang dan pola ruang sesuai dengan rencana tata ruang melalui
gedung yang serasi dan selaras dengan lingkungannya; penyusunan dan pelaksanaan program beserta pembiayaannya.

• Mewujudkan tertib penyelenggaraan bangunan gedung yang menjamin keandalan 2.1.3. Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 2005 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-

teknis bangunan gedung dari segi keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan Undang No 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung

kemudahan; Dalam peraturan pemerintah ini disebutkan bahwa Bangunan gedung adalah wujud fisik
• Mewujudkan kepastian hukum dalam penyelenggaraan bangunan gedung. hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya, sebagian atau

2.1.2. Undang-Undang Ri No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam tanah dan/atau air, yang berfungsi sebagai
tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan
Ruang yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam
keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan sosial, budaya, maupun kegiatan khusus. Bangunan
bumi, sebagai tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan
gedung umum adalah bangunan gedung yang fungsinya untuk kepentingan publik, baik
memelihara kelangsungan hidupnya, pada dasarnya ketersediaannya tidak tak terbatas
berupa fungsi keagamaan, fungsi usaha, maupun fungsi sosial dan budaya. Bangunan
Untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif, dan gedung tertentu adalah bangunan gedung yang digunakan untuk kepentingan umum dan
berkelanjutan berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional, serta sejalan bangunan gedung fungsi khusus, yang dalam pembangunan dan/atau pemanfaatannya
dengan kebijakan otonomi daerah yang nyata, luas, dan bertanggung jawab, penataan membutuhkan pengelolaan khusus dan/atau memiliki kompleksitas tertentu yang dapat
ruang menuntut kejelasan pendekatandalam proses perencanaannya demi menjaga menimbulkan dampak penting terhadap masyarakat dan lingkungannya. Adapun klasifikasi
keselarasan, keserasian, keseimbangan, dan keterpaduan antardaerah, antara pusat dan bangunan gedung dilihat dari fungsi bangunan gedung berdasarkan pemenuhan tingkat
daerah, antar sektor, dan antar pemangku kepentingan. persyaratan administratif dan persyaratan teknisnya.
Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, Izin mendirikan bangunan gedung yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota
dan pengendalian pemanfaatan ruang. Penyelenggaraan penataan ruang adalah kegiatan kepada pemilik bangunan gedung untuk membangun baru, mengubah, memperluas,
yang meliputi pengaturan, pembinaan, pelaksanaan, dan pengawasan penataan ruang. mengurangi, dan/atau merawat bangunan gedung sesuai dengan persyaratan administratif
Pengawasan penataan ruang adalah upaya agar penyelenggaraan penataan ruang dapat dan persyaratan teknis yang berlaku. Disebutkan bahwa:
diwujudkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Perencanaan tata
1. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) yaitu angka persentase perbandingan antara luas
ruang adalah suatu proses untuk menentukan struktur ruang dan pola ruang yang meliputi
seluruh lantai dasar bangunan gedung dan luas lahan/tanah perpetakan/daerah
penyusunan dan penetapan rencana tata ruang. Pemanfaatan ruang adalah upaya untuk

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 2


perencanaan yang dikuasai sudah sesuai rencana tata ruang dan rencana tata Persyaratan arsitektur bangunan gedung meliputi persyaratan penampilan bangunan
bangunan dan lingkungan. gedung, tata ruang-dalam, keseimbangan, keserasian, dan keselarasan bangunan gedung
dengan lingkungannya, serta pertimbangan adanya keseimbangan antara nilai-nilai sosial
2. Koefisien Lantai Bangunan (KLB) adalah angka persentase perbandingan antara luas
budaya setempat terhadap penerapan berbagai perkembangan arsitektur dan rekayasa.
seluruh lantai bangunan gedung dan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang
dikuasai sudah sesuai dengan rencana tata ruang dan rencana tata bangunan dan (1) Penampilan bangunan gedung harus dirancang dengan mempertimbangkan kaidah-
lingkungan. kaidah estetika bentuk, karakteristik arsitektur, dan lingkungan yang ada di sekitarnya.

3. Koefisien Daerah Hijau (KDH) adalah angka persentase perbandingan antara luas (2) Penampilan bangunan gedung di kawasan cagar budaya, harus dirancang dengan
seluruh ruang terbuka di luar bangunan gedung yang diperuntukkan bagi pertamanan/ mempertimbangkan kaidah pelestarian.
penghijauan dan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sudah (3) Penampilan bangunan gedung yang didirikan berdampingan dengan bangunan gedung
sesuai rencana tata ruang dan rencana tata bangunan dan lingkungan. yang dilestarikan, harus dirancang dengan mempertimbangkan kaidah estetika bentuk
4. Koefisien Tapak Basemen (KTB) adalah angka persentase perbandingan antara luas dan karakteristik dari arsitektur bangunan gedung yang dilestarikan.
tapak basemen dan luas lahan/tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai (4) Pemerintah daerah dapat menetapkan kaidah-kaidah arsitektur tertentu pada
sudah sesuai rencana tata ruang dan rencana tata bangunan dan lingkungan. bangunan gedung untuk suatu kawasan setelah mendapat pertimbangan teknis tim ahli
5. Sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kabupaten/kota; bangunan gedung, dan mempertimbangkan pendapat publik.

6. Sesuai Rencana Detail Tata Ruang Kawasan (RDTR); Adapun terkait dengan tata ruang dalam:

7. Sesuai Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah panduan rancang bangun (1) Tata ruang-dalam harus mempertimbangkan fungsi ruang, arsitektur bangunan gedung,
suatu kawasan untuk mengendalikan pemanfaatan ruang yang memuat rencana dan keandalan bangunan gedung.
program bangunan dan lingkungan, rencana umum dan panduan rancangan, rencana (2) Pertimbangan fungsi ruang diwujudkan dalam efisiensi dan efektivitas tata ruang
investasi, ketentuan pengendalian rencana, dan pedoman pengendalian pelaksanaan; dalam.
Dalam peraturan ini Fungsi bangunan gedung merupakan ketetapan pemenuhan (3) Pertimbangan arsitektur bangunan gedung diwujudkan dalam pemenuhan tata ruang
persyaratan teknis bangunan gedung, baik ditinjau dari segi tata bangunan dan dalam terhadap kaidah-kaidah arsitektur bangunan gedung secara keseluruhan.
lingkungannya, maupun keandalan bangunan gedungnya.

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 3


(4) Pertimbangan keandalan bangunan gedung diwujudkan dalam pemenuhan persyaratan 3. Dalam perencanaan struktur bangunan gedung terhadap pengaruh gempa, semua
keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan tata ruang dalam. unsur struktur bangunan gedung, baik bagian dari sub struktur maupun struktur
gedung, harus diperhitungkan memikul pengaruh gempa rencana sesuai dengan zona
Terkait keseimbangan bangunan dengan lingkungannya:
gempanya.
(1) Keseimbangan, keserasian, dan keselarasan bangunan gedung dengan lingkungannya
4. Struktur bangunan gedung harus direncanakan secara detail sehingga pada kondisi
harus mempertimbangkan terciptanya ruang luar bangunan gedung dan ruang terbuka
pembebanan maksimum yang direncanakan, apabila terjadi keruntuhan kondisi
hijau yang seimbang, serasi, dan selaras dengan lingkungannya.
strukturnya masih dapat memungkinkan pengguna bangunan gedung menyelamatkan
(2) Pertimbangan terhadap terciptanya ruang luar bangunan gedung dan ruang terbuka
diri.
hijau diwujudkan dalam pemenuhan persyaratan daerah resapan, akses penyelamatan,
5. Ketentuan lebih lanjut mengenai pembebanan, ketahanan terhadap gempa bumi
sirkulasi kendaraan dan manusia, serta terpenuhinya kebutuhan prasarana dan sarana
dan/atau angin, dan perhitungan strukturnya mengikuti pedoman dan standar teknis
di luar bangunan gedung.
yang berlaku.
Terkait dengan masalah keselamatan bangunan:
Dalam pasal 34 perihal proteksi kebakaran, menyatakan:
Perihal Persyaratan keselamatan dalam pasal 31 dan 32 yaitu meliputi persyaratan
(1) Setiap bangunan gedung, kecuali rumah tinggal tunggal dan rumah deret sederhana,
kemampuan bangunan gedung untuk mendukung beban muatan, serta kemampuan
harus dilindungi terhadap bahaya kebakaran dengan sistem proteksi pasif dan proteksi
bangunan gedung dalam mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran dan bahaya
aktif.
petir.
(2) Penerapan sistem proteksi pasif didasarkan pada fungsi/klasifikasi risiko kebakaran,
1. Setiap bangunan gedung, strukturnya harus direncanakan kuat/kokoh, dan stabil dalam
geometri ruang, bahan bangunan terpasang, dan/atau jumlah dan kondisi penghuni
memikul beban/kombinasi beban dan memenuhi persyaratan kelayanan (serviceability)
dalam bangunan gedung.
selama umur layanan yang direncanakan dengan mempertimbangkan fungsi bangunan
gedung, lokasi, keawetan, dan kemungkinan pelaksanaan konstruksinya. (3) Penerapan sistem proteksi aktif didasarkan pada fungsi, klasifikasi, luas, ketinggian,
volume bangunan, dan/atau jumlah dan kondisi penghuni dalam bangunan gedung.
2. Kemampuan memikul beban diperhitungkan terhadap pengaruh-pengaruh aksi sebagai
akibat dari beban-beban yang mungkin bekerja selama umur layanan struktur, baik Dalam pasal 35 perihal penangkal petir pada bangunan:
beban muatan tetap maupun beban muatan sementara yang timbul akibat gempa dan Setiap bangunan gedung yang berdasarkan letak, sifat geografis, bentuk, ketinggian, dan
angin. penggunaannya berisiko terkena sambaran petir harus dilengkapi dengan instalasi
DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 4
penangkal petir. Sistem penangkal petir yang dirancang dan dipasang harus dapat digunakan, dan penempatannya tidak menimbulkan efek silau atau pantulan.
mengurangi secara nyata risiko kerusakan yang disebabkan sambaran petir terhadap Pencahayaan buatan yang digunakan untuk pencahayaan darurat harus dipasang pada
bangunan gedung dan peralatan yang diproteksinya, serta melindungi manusia di bangunan gedung dengan fungsi tertentu, serta dapat bekerja secara otomatis dan
dalamnya. mempunyai tingkat pencahayaan yang cukup untuk evakuasi yang aman. Semua sistem
pencahayaan buatan, kecuali yang diperlukan untuk pencahayaan darurat, harus dilengkapi
Dalam pasal 36 perihal instalasi Listrik pada bangunan:
dengan pengendali manual, dan/atau otomatis, serta ditempatkan pada tempat yang
Setiap bangunan gedung yang dilengkapi dengan instalasi listrik termasuk sumber daya
mudah dicapai/dibaca oleh pengguna ruang.
listriknya harus dijamin aman, andal, dan akrab lingkungan.
Terkait persyaratan Sanitasi :
Terkait persyaratan kesehatan bangunan dalam pasal 38, yaitu:
Untuk memenuhi persyaratan sistem sanitasi, setiap bangunan gedung harus dilengkapi
Persyaratan kesehatan bangunan gedung meliputi persyaratan sistem penghawaan,
dengan sistem air bersih, sistem pembuangan air kotor dan/atau air limbah, kotoran dan
pencahayaan, sanitasi, dan penggunaan bahan bangunan gedung. Untuk memenuhi
sampah, serta penyaluran air hujan.
persyaratan sistem penghawaan, setiap bangunan gedung harus mempunyai ventilasi
Terkait persyaratan bahan bangunan :
alami dan/atau ventilasi mekanik/buatan sesuai dengan fungsinya. Bangunan gedung
tempat tinggal, bangunan gedung pelayanan kesehatan khususnya ruang perawatan, a. Setiap bangunan gedung harus menggunakan bahan bangunan yang aman bagi
bangunan gedung pendidikan khususnya ruang kelas, dan bangunan pelayanan umum kesehatan pengguna bangunan gedung dan tidak menimbulkan dampak negatif
lainnya harus mempunyai bukaan permanen, kisi-kisi pada pintu dan jendela dan/atau terhadap lingkungan.
bukaan permanen yang dapat dibuka untuk kepentingan ventilasi alami. b. Penggunaan bahan bangunan yang aman bagi kesehatan pengguna bangunan gedung
Untuk memenuhi persyaratan sistem pencahayaan, setiap bangunan gedung harus harus tidak mengandung bahan-bahan berbahaya/ beracun bagi kesehatan, dan
mempunyai pencahayaan alami dan/atau pencahayaan buatan, termasuk pencahayaan aman bagi pengguna bangunan gedung.
darurat sesuai dengan fungsinya. Bangunan gedung tempat tinggal, pelayanan kesehatan, c. Penggunaan bahan bangunan yang tidak berdampak negatif terhadap lingkungan
pendidikan, dan bangunan pelayanan umum harus mempunyai bukaan untuk pencahayaan harus:
alami. Pencahayaan alami harus optimal, disesuaikan dengan fungsi bangunan gedung dan
 Menghindari timbulnya efek silau dan pantulan bagi pengguna bangunan gedung
fungsi masing-masing ruang di dalam bangunan gedung. Pencahayaan buatan harus
lain, masyarakat, dan lingkungan sekitarnya;
direncanakan berdasarkan tingkat iluminasi yang dipersyaratkan sesuai fungsi ruang dalam
bangunan gedung dengan mempertimbangkan efisiensi, penghematan energi yang  Menghindari timbulnya efek peningkatan suhu lingkungan di sekitarnya;
DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 5
 Mempertimbangkan prinsip-prinsip konservasi energi; dan b. kemudahan pemeliharaan dan perawatan; dan

 Mewujudkan bangunan gedung yang serasi dan selaras dengan lingkungannya. c. prinsip-prinsip penghematan energi dan kelestarian lingkungan.

 Pemanfaatan dan penggunaan bahan bangunan lokal harus sesuai dengan 4) Untuk mendapatkan kenyamanan pandangan dari dalam bangunan ke luar,
kebutuhan dan memperhatikan kelestarian lingkungan. penyelenggara bangunan gedung harus mempertimbangkan:

Terkait Kenyamanan Ruang: a. gubahan massa bangunan, rancangan bukaan, tata ruang-dalam dan luar bangunan,
dan rancangan bentuk luar bangunan;
1) Untuk mendapatkan kenyamanan ruang gerak dalam bangunan gedung, penyelenggara
bangunan gedung harus mempertimbangkan: b. pemanfaatan potensi ruang luar bangunan gedung dan penyediaan ruang terbuka
hijau; dan
a. Fungsi ruang, jumlah pengguna, perabot/peralatan, aksesibilitas ruang, di dalam
bangunan gedung; dan c. pencegahan terhadap gangguan silau dan pantulan sinar.

b. Persyaratan keselamatan dan kesehatan. Persyaratan bangunan terkait aksesibilitas:

2) Untuk mendapatkan kenyamanan hubungan antarruang, penyelenggara bangunan Kemudahan hubungan ke, dari, dan di dalam bangunan gedung meliputi tersedianya
gedung harus mempertimbangkan: fasilitas dan aksesibilitas yang mudah, aman, dan nyaman termasuk bagi penyandang cacat
dan lanjut usia. Penyediaan fasilitas dan aksesibilitas harus mempertimbangkan
a. Fungsi ruang, aksesibilitas ruang, dan jumlah pengguna dan perabot/peralatan di
tersedianya hubungan horizontal dan vertikal antarruang dalam bangunan gedung, akses
dalam bangunan gedung;
evakuasi, termasuk bagi penyandang cacat dan lanjut usia.
b. Sirkulasi antar ruang horizontal dan vertikal; dan
Setiap bangunan gedung dengan ketinggian di atas 5 (lima) lantai harus menyediakan
c. Persyaratan keselamatan dan kesehatan.
sarana hubungan vertikal berupa lift. Jumlah, kapasitas, dan spesifikasi lift sebagai sarana
3) Untuk mendapatkan kenyamanan kondisi udara ruang di dalam bangunan gedung, hubungan vertikal dalam bangunan gedung harus mampu melakukan pelayanan yang
penyelenggara bangunan gedung harus mempertimbangkan temperatur dan optimal untuk sirkulasi vertikal pada bangunan, sesuai dengan fungsi dan jumlah pengguna
kelembaban. Untuk mendapatkan tingkat temperatur dan kelembaban udara di dalam bangunan gedung. Setiap bangunan gedung yang menggunakan lift harus menyediakan lift
ruangan dapat dilakukan dengan pengkondisian udara dengan mempertimbangkan: kebakaran.

a. fungsi bangunan gedung/ruang, jumlah pengguna, letak, volume ruang, jenis


peralatan, dan penggunaan bahan bangunan;
DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 6
2.1.4. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 68 Tahun 2019 Tentang Kawasan Ekonomi Khusus penataan bangunan dan lingkungan, serta memuat materi pokok ketentuan program
Singhasari bangunan dan lingkungan, rencana umum dan panduan rancangan, rencana investasi,
ketentuan pengendalian rencana, dan pedoman pengendalian pelaksanaan pengembangan
Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 68 Tahun 2019 tentang Kawasan Ekonomi Khusus
lingkungan/kawasan. Dalam pelaksanaan, sesuai kompleksitas permasalahan kawasannya,
Singhasari, baru saja di tandatangi oleh Presiden Joko Widodo pada 27 September 2019.
RTBL juga dapat berupa:
Dalam Pasal 2 (dua) disebutkan, Kawasan Ekonomi Khusus Singhasari sebagaimana
a. rencana aksi/kegiatan komunitas (community-action plan/CAP),
dimaksud memiliki luas 120,3 ha yang terletak dalam wilayah Kecamatan Singosari,
Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Kawasan KEK Singhasari ini nanti akan menempati b. rencana penataan lingkungan (neighbourhood-development plan/NDP),
tiga desa di Kecamatan Singosari, yakni Desa Klampok, Desa Lang-Lang, dan Desa c. panduan rancang kota (urban-design guidelines/UDGL).
Purwosari.
Seluruh rencana, rancangan, aturan, dan mekanisme dalam penyusunan Dokumen RTBL
Kawasan Ekonomi Khusus Singhasari yang dimaksud terdiri atas zona pariwisata dan zona harus merujuk pada pranata pembangunan yang lebih tinggi, baik pada lingkup kawasan,
pengembangan teknologi. Pembangunan dan pengelolaan kawasan tersebut bakal dikelola kota, maupun wilayah. Kedudukan RTBL dalam pengendalian bangunan gedung dan
oleh badan usaha pembangun dan pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari. lingkungan sebagaimana digambarkan dalam Gambar 2.1. Diagram 1 berikut:
KEK Singosari nantinya akan ada tiga sektor yang dikembangkan. Yakni, pariwisata, techno
park, dan industri kreatif. KEK Singosari diharapkan menjadi KEK pertama yang
mengembangkan sektor industri kreatif di Indonesia.

Salah satu kegiatan fisik yang direncanakan pada KEk Singhasari adalah pembangunan
techno park serta rumah sakit berstandar internasional juga akan menjadi salah satu di
antara megaproyek yang akan menunjang keberadaan KEK Singosari.

2.1.5. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 06/Prt/M/2007 Tentang Pedoman Umum
Rencana Tata Bangunan Dan Lingkungan
A. Pengertian dan Kedudukan RTBL Dalam Penataan Ruang
Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah panduan rancang bangun suatu
lingkungan/kawasan yang dimaksudkan untuk mengendalikan pemanfaatan ruang,

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 7


 Pemenuhan persyaratan tata bangunan dan lingkungan;

 Peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui perbaikan kualitas lingkungan


dan ruang publik;

 Perwujudan pelindungan lingkungan; dan

 Peningkatan vitalitas ekonomi lingkungan.

c. Manfaat

 Mengarahkan jalannya pembangunan sejak dini;

 Mewujudkan pemanfaatan ruang secaraefektif, tepat guna, spesifik setempat


dan konkret sesuai dengan rencana tata ruang wilayah;

 Melengkapi peraturan daerahtentang bangunan gedung;

 Mewujudkan kesatuan karakterdan meningkatkan kualitas bangunan gedung


Gambar 2.1. Kedudukan RTBL dalam pengendalian bangunan gedung dan lingkungan dan lingkungan/kawasan;
B. Maksud, Tujuan, dan Manfaat RTBL
 Mengendalikan pertumbuhan fisik suatu lingkungan/kawasan;
a. Maksud
 Menjamin implementasi pembangunan agar sesuai dengan aspirasi dan
Sebagai dokumen panduan umum yang menyeluruh dan memiliki kepastian hukum
kebutuhan masyarakat dalam pengembangan lingkungan/kawasan yang
tentang erencanaan tata bangunan dan lingkungan dari suatu kawasan tertentu
berkelanjutan;
baik di perkotaan maupun di perdesaan.
 Menjamin terpeliharanya hasil pembangunan pascapelaksanaan, karena adanya
b. Tujuan
rasa memiliki dari masyarakat terhadap semua hasil pembangunan.
Sebagai dokumen pengendali pembangunan dalam penyelenggaraan penataan
C. Struktur dan Sistematika Dokumen RTBL
bangunan dan lingkungan untuk suatu lingkungan/kawasan tertentu supaya
memenuhi kriteria perencanaan tata bangunan dan lingkungan yang berkelanjutan Sesuai dengan ketentuan yang tercantum di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun
meliputi: 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 8


Bangunan Gedung pasal 27 ayat (2), struktur dan sistematika dokumen RTBL sebagaimana D. Program Bangunan dan Lingkungan
digambarkan dalam Gambar berikut. Program bangunan dan lingkungan merupakan penjabaran lebih lanjut dari perencanaan
dan peruntukan lahan yang telah ditetapkan untuk kurun waktu tertentu, yang memuat
jenis, jumlah, besaran, dan luasan bangunan gedung, serta kebutuhan ruang terbuka hijau,
fasilitas umum, fasilitas sosial, prasarana aksesibilitas, sarana pencahayaan, dan sarana
penyehatan lingkungan, baik berupa penataan prasarana dan sarana yang sudah ada
maupun baru.

Penyusunan program bangunan dan lingkungan dilakukan melalui analisis kawasan dan
wilayah perencanaan termasuk mengenai pengendalian dampak lingkungan, dan analisis
pengembangan pembangunan berbasis peran masyarakat, yang menghasilkan konsep
dasar perancangan tata bangunan dan lingkungan.

a. Analisis Kawasan dan Wilayah Perencanaan

Analisis kawasan dan wilayah perencanaan merupakan proses untuk mengidentifikasi,


menganalisis, memetakan dan mengapresiasi konteks lingkungan dan nilai lokal dari
kawasan perencanaan dan wilayah sekitarnya.

Hal ini penting untuk mendapatkan manfaat:

 Mendapatkan gambaran kemampuan daya dukung fisik dan lingkungan serta


kegiatan sosial ekonomi dan kependudukan yang tengah berlangsung.

 Mendapatkan kerangka acuan perancangan kawasan yang memuat rencana


pengembangan program bangunan dan lingkungan, serta dapat mengangkat nilai
kearifan dan karakter khas lokal sesuai dengan spirit dan konteks kawasan
perencanaan.

Gambar 2.2. Struktur dan Sistematika Dokumen RTBL Analisis secara sistematis dilakukan dengan meninjau aspek-aspek sebagai berikut:
DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 9
 Perkembangan Sosial-Kependudukan: gambaran kegiatan sosial-kependudukan, termasuk pertimbangan dan rekomendasi tentang indikasi potensi kegiatan
dengan memahami beberapa aspek, antara lain tingkat pertumbuhan pembangunan kawasan/lingkungan.
penduduk, jumlah keluarga, kegiatan sosial penduduk, tradisi-budaya lokal, dan b. Analisis Pengembangan Pembangunan Berbasis Peran Masyarakat
perkembangan yang ditentukan secara kultural-tradisional.
Pembangunan berbasis peran masyarakat (community-based development) adalah
 Prospek Pertumbuhan Ekonomi: gambaran sektor pendorong perkembangan pembangunan dengan orientasi yang optimal pada pendayagunaan masyarakat, baik
ekonomi, kegiatan usaha, prospek investasi pembangunan dan perkembangan secara langsung maupun tidak langsung, masyarakat diberikan kesempatan aktif
penggunaan tanah, produktivitas kawasan, dan kemampuan pendanaan beraspirasi dan berkontribusi untuk merumuskan program-program bangunan dan
pemerintah daerah. lingkungan yang sesuai dengan tingkat kebutuhannya. Proses penyusunan Dokumen
 Daya Dukung Fisik dan Lingkungan: kemampuan fisik, lingkungan dan lahan RTBL harus melibatkan peran aktif masyarakat dalam setiap tahap kegiatan.
potensial bagi pengembangan kawasan selanjutnya. Beberapa aspek yang harus Analisis ini bermanfaat untuk:
dipahami antara lain: kondisi tata guna lahan, kondisi bentang alam kawasan,
 Memupuk pemahaman dan kesadaran masyarakat akan hak, kewajiban, dan
lokasi geografis, sumber dayaair, status-nilai tanah, izin lokasi, dan kerawanan
peranannya didalam proses pembangunan, sehingga tumbuh rasa memiliki dan
kawasan terhadap bencana alam.
tanggung jawab yang kuat terhadap hasil-hasilnya.
 Aspek Legal Konsolidasi Lahan Perencanaan: kesiapan administrasi dari lahan
 Meminimalkan konflik, sehingga mempercepat proses kegiatan secara keseluruhan,
yang direncanakan dari segi legalitas hukumnya.
serta terbangunnya suatu ikatan di masyarakat.
 Daya Dukung Prasarana dan Fasilitas Lingkungan: seperti jenis infrastruktur,
 Efisiensi dan efektivitas. Keputusan yang diambil akan bersifat efisien dan efektif
jangkauan pelayanan, jumlah penduduk yang terlayani, dan kapasitas
jika sesuai dengan kondisi yang ada, baik kebutuhan, keinginan, maupun sumber
pelayanan.
daya di masyarakat.
 Kajian Aspek Signifikansi Historis Kawasan: kaitan kedudukan nilai historis
 Memberdayakan masyarakat setempat, terutama dalam hal membentuk dan
kawasan pada konteks yang lebih besar, misalnya sebagai aset pelestarian pada
membangun kepercayaan diri, kemampuan bermasyarakat dan bekerja sama.
skala kota/regional bahkan pada skala nasional.
Tahapan Perencanaan Partisipatif yang akan dilaksanakan adalah:
Hasil analisis kawasan dan wilayah perencanaan mencakup indikasi program
bangunan dan lingkungan yang dapat dikembangkan pada kawasan perencanaan,

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 10


 Persiapan: pengenalan program yang akan dilakukan kepada masyarakat  Perancangan: partisipasi dalam memberikan masukan dan pengambilan
terkait, pembentukan kelompok, pendefinisian pihak terkait, penentuan keputusan perancangan lingkungan/kawasan.
pendekatan pihak terkait, dan penyusunan strategi pengumpulan informasi.
 Pelelangan: partisipasi masyarakat dan swasta dalam pembangunan fisik.
 Identifikasi aspirasi dan analisis permasalahan: penyusunan tujuan, kebutuhan,
 Pelaksanaan: partisipasi masyarakat sebagai tenaga kerja dan partisipasi
dan kepentingan semua pihak, pelibatan seluruh pemangku kepentingan
(bantuan) masyarakat dalam pengadaan bahan bangunan.
(stakeholders), penciptaan dan sosialisasi mekanisme, serta analisis kebutuhan
 Monitoring dan Evaluasi: partisipasi dalam pelaksanaan monitoringdan evaluasi
dan sumber daya pengembangan kawasan.
kegiatan.
 Analisis perilaku lingkungan: terutama mengenai interaksi kawasan perkotaan
E. Konsep Dasar Perancangan Tata Bangunan dan Lingkungan
yang sudah memiliki struktur kota yang solid pada kawasan perencanaan.
Konsep Dasar Perancangan Tata Bangunan dan Lingkungan, yang merupakan hasil tahapan
 Rencana pengembangan: pedoman utama, arahan pengembangan, kepentingan
analisis program bangunan dan lingkungan, memuat gambaran dasar penataanpada lahan
prioritas, identifikasi hambatan, identifikasi sumber daya, dan visi
perencanaan yang selanjutnya ditindaklanjuti dengan penjabaran gagasan desain secara
pengembangan kawasan.
lebih detail dari masing-masing elemen desain.
 Strategi pengembangan dan publikasi: perencanaan tahapan, monitoring dan
Konsep Dasar Perancangan Tata Bangunan dan Lingkungan memiliki manfaat untuk:
evaluasi, persetujuan legal, strategi kerja sama dengan wakil-wakil komunitas,
penyebaran informasi dan publikasi program.  Mengarahkan penyusunan visi dan karakter perancangan.

 Penerapan rencana: publikasi rencana pelaksanaan, adaptasi perubahan,  Mengendalikan suatu intervensi desain lingkungan sehingga berdampak baik, terarah

peninjauan dan kaji ulang (review) berkala bersama dengan komunitas dan dan terukur terhadap suatu kawasan yang direncanakan.

seluruh masyarakat.  Mengintegrasikan desain elemen-elemen kota yang berpengaruh pada suatu

Proses partisipasi masyarakat meliputi: perencanaan kawasan.

 Persiapan: sosialisasi kepada masyarakat, identifikasi organisasi masyarakat  Mengarahkan indikasi program dan desain penataan yang tepat pada tiap subbagian

setempat, dan penunjukan organisasi masyarakat setempat. kawasan yang direncanakan.

 Perencanaan Tahunan: penyusunan visi-misi kegiatan, partisipasi swadaya


masyarakat dalam pendanaan suatu kegiatan.
DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 11
Beberapa hal yang menjadi Komponen Dasar Perancangan dalam penyusunan Konsep  Memperkuat/memperjelas struktur ruang lingkungan/ kawasan dalam konteks
Dasar Perancangan Tata Bangunan dan Lingkungan antara lain: makro;

1) Visi Pembangunan, yaitu gambaran spesifik karakter lingkungan di masa mendatang  Realistis dan rasional: penetapan visi yang memungkinkan dicapai pada kurun
yang akan dicapai sebagai hasil akhir penataan suatu kawasan yang direncanakan, waktu penataan dan secara rasional memungkinkan untuk dicapai berdasarkan
disesuaikan dengan seluruh kebijakan dan rencana tata ruang yang berlaku pada konteks dan potensi yang ada;
daerah tersebut.
 Kinerja dan sasaran terukur;
2) Konsep Perancangan Struktur Tata Bangunan dan Lingkungan, yaitu suatu gagasan
 Mempertimbangkan berbagai sumber daya dukung lingkungan;
perancangan dasar pada skala makro, dari intervensi desain struktur tata
 Memperhatikan kepentingan masyarakat pengguna/ masyarakat lokal.
bangunan dan lingkungan yang hendak dicapai pada kawasan perencanaan, terkait
dengan struktur keruangan yang berintegrasi dengan kawasan sekitarnya secara b) Kriteria Penyusunan Konsep Perancangan Struktur Tata Bangunan dan Lingkungan:
luas, dan dengan mengintegrasikan seluruh komponen perancangan kawasan yang  Merupakan perwujudan realistis dari Visi Pembangunan.
ada.
 Merupakan sintesa dari identifikasi permasalahan, potensi dan prospek
3) Konsep Komponen Perancangan Kawasan, yaitu suatu gagasan perancangan dasar
kawasan perencanaan yang dilakukan pada tahapan analisis.
yang dapat merumuskan komponen-komponen perancangan kawasan (peruntukan,
 Membentuk/memperkuat karakter dan identitas suatu tempat.
intensitas, dll).
 Memperhatikan keterkaitan makro dengan struktur ruang kota, dan keterkaitan
4) Blok-blok Pengembangan Kawasan dan Program Penanganannya, yaitu pembagian
mikro dengan lingkungan eksisting sekitarnya.
suatu kawasan perencanaan menjadi blok-blok pengembangan yanglebih kecil
sehingga strategi dan program pengembangannya dapat lebih terarah dan rinci.  Mengintegrasikan seluruh elemen rancang lingkungan.

Beberapa hal yang menjadi kriteria Penyusunan Komponen Dasar Perancangan c) Kriteria Penyusunan Konsep Komponen Perancangan Kawasan, Secara sistematis,
konsep harus mencakup gagasan yang komprehensif dan terintegrasiterhadap
a) Kriteria Penetapan Isi dari Visi Pembangunan:
komponen-komponen perancangan kawasan, yang meliputi kriteria:
 Spesifik mengacu pada konteks setempat;
 Struktur peruntukan lahan;
 Memiliki spirit untuk membentuk/memperkuat karakter dan identitas suatu
 Intensitas pemanfaatan lahan;
tempat;
DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 12
 Tata bangunan;  Peningkatan kualitas kehidupan ruang publik melalui penyediaan lingkungan
yang aman, nyaman, sehat dan menarik serta berwawasan ekologis.
 Sistem sirkulasi dan jalur penghubung;
4) Dari sisi pemangku kepentingan: Tercapainya keseimbangan berbagai
 Sistem ruang terbuka dan tata hijau;
kepentingan yang ada antarpara pelaku.
 Tata kualitas lingkungan;
F. Rencana Umum dan Panduan Rancangan
 Sistem prasarana dan utilitas lingkungan;
Rencana Umum dan Panduan Rancangan merupakan ketentuan-ketentuan tata bangunan
 Pelestarian bangunan dan lingkungan.
dan lingkungan pada suatu lingkungan/kawasan yang memuat rencana peruntukan lahan
d) Kriteria Penetapan Blok-blok Pengembangan Kawasan dan Program Penanganan makro dan mikro, rencana perpetakan, rencana tapak, rencana sistem pergerakan, rencana
Penetapan atau pun pembagian blok pengembangan dapat didasarkan pada: aksesibilitas lingkungan, rencana prasarana dan sarana lingkungan, rencana wujud visual

1) Secara fungsional: bangunan, dan ruang terbuka hijau. Panduan Rancangan bersifat melengkapi dan
menjelaskan secara lebih rinci rencana umum yang telah ditetapkan sebelumnya, meliputi
 Kesamaan fungsi, karakter eksisting atau pun karakter yang ingin diciptakan;
ketentuan dasar implementasi rancangan dan prinsip-prinsip pengembangan rancangan
 Kesamaan dan potensi pengembangan; kawasan.

 Kebutuhan pemilahan dan organisasi pekerjaan serta strategi a. Rencana Umum


pengembangannya.
Rencana Umum merupakan ketentuan-ketentuan rancangan tata bangunan dan
2) Secara fisik: lingkungan yang bersifat umum dalam mewujudkan lingkungan/kawasan perencanaan

 Morfologi blok; yang layak huni, berjati diri, produktif, dan berkelanjutan. Rencana Umum dan Panduan
Rancangan memiliki manfaat untuk:
 Pola/pattern blok;
 Memberi arahan secara lugas dan sistematis bagi implementasi ketentuan dasar
 Kemudahan implementasi dan prioritas strategi.
dari perancangan tatabangunan dan lingkungan.
3) Dari sisi lingkungan (daya dukung dan kelestarian ekologi lingkungan):
 Memberi gambaran simulasi bangunan secara keruangan (3-dimensional) sebagai
 Keseimbangan dengan daya dukung lingkungan, dan perwujudan sistem model penerapan seluruh arahan materi pokok rencana tata bangunan dan
ekologis yang berkelanjutan; lingkungan.

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 13


 Memudahkan pengembangan desain sesuai dengan visi dan arahan karakter  Mengalokasikan fungsi/kegiatan pendukung bagi jenis peruntukan yang ada.
lingkungan yang telah ditetapkan.
 Menciptakan integrasi aktivitas ruang sosial (socio-spatial integration) antar
 Memudahkan pengelolaan, pengendalian pelaksanaan dan pengoperasian kawasan penggunanya.
sesuai dengan visi dan arahan karakter lingkungan yang telah ditetapkan.
 Menciptakan keragaman lingkungan (diversity) dan keseimbangan yang akan
 Mencapai intervensi desain kawasan yang berdampak baik, terarah dan terukur mendorong terciptanya kegiatan-kegiatan yang berbeda namun produktif.
pada suatu kawasan yang direncanakan.
 Mengoptimalkan prediksi/projeksi kepadatan lingkungan dan interaksi sosial
 Mencapai integrasi elemen-elemen desain yang berpengaruh pada suatu yang direncanakan.
perancangan kawasan Adapun yang menjadi komponen Penataan
Materi Rencana Umum mempertimbangkan potensi mengakomodasi komponen-
 Peruntukan Lahan Makro, yaitu rencana alokasi penggunaan dan pemanfaatan
komponen rancangan suatu kawasan sebagai berikut:
lahan pada suatu wilayah tertentu yang juga disebut dengan tata guna lahan.
i. Struktur Peruntukan Lahan Peruntukan ini bersifat mutlak karena telah diatur pada ketentuan dalam

Struktur Peruntukan Lahan merupakan komponen rancang kawasan yang berperan rencana tata ruang wilayah.

penting dalam alokasi penggunaan dan penguasaan lahan/tata guna lahan yang  Peruntukan Lahan Mikro, yaitu peruntukan lahan yang ditetapkan pada skala
telah ditetapkan dalam suatu kawasan perencanaan tertentu berdasarkan keruangan yang lebih rinci (termasuk secara vertikal) berdasarkan prinsip
ketentuan dalam rencana tata ruang wilayah. Struktur peruntukan lahan memiliki keragaman yang seimbang dan saling menentukan. Hal-hal yang diatur adalah:
manfaat untuk:
- Peruntukan lantai dasar, lantai atas, maupun lantai besmen;
 Meningkatkan keseimbangan kualitas kehidupan lingkungan dengan
- Peruntukan lahan tertentu, misalnya berkaitan dengan konteks lahan
membentuk ruang-ruang kota/lingkungan yang hidup secara fisik (vibrant) dan
perkotaan-perdesaan, konteks bentang alam/lingkungan konservasi, atau
ekonomi (viable), layak huni dan seimbang, serta meningkatkan kualitas hidup
pun konteks tematikal pengaturan pada spot ruang bertema tertentu.
pengguna dan kualitas lingkungan.
ii. Intensitas Pemanfaatan Lahan
 Mengoptimalkan alokasi penggunaan dan penguasaan lahan baik secara makro
maupun mikro.

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 14


Intensitas Pemanfaatan Lahan adalah tingkat alokasi dan distribusi luas lantai  Koefisien Daerah Hijau (KDH), yaitu angka persentase perbandingan antara luas
maksimumbangunan terhadap lahan/tapak peruntukannya. Intensitas pemanfaatan seluruh ruang terbuka di luar bangunan gedung yang diperuntukkan bagi
lahan memiliki manfaat untuk: pertamanan/penghijauan dan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang
dikuasai.
 Mencapai efisiensi dan efektivitas pemanfaatan lahan secara adil.
 Koefisien Tapak Besmen (KTB), yaitu angka persentase perbandingan antara
 Mendapatkan distribusi kepadatan kawasan yang selaras pada batas daerah
luas tapak besmen dan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang
yang direncanakan berdasarkan ketentuan dalam rencana tata ruang wilayah
dikuasai.
yang terkait.
 Sistem Insentif-Disinsentif Pengembangan, terdiri atas:
 Mendapatkan distribusi berbagai elemen intensitas lahan pemanfaatan lahan
(Koefisien Dasar Bangunan, Koefisien Lantai Bangunan, Koefisien Daerah Hijau, - Insentif Luas Bangunan, yaitu insentif yang terkait dengan KLB dan diberikan
dan Koefisien Tapak Besmen) yang dapat mendukung berbagai karakter khas apabila bangunan gedung terbangun memenuhi persyaratan peruntukan
dari berbagai subarea yang direncanakan. lantai dasar yang dianjurkan. Luas lantai bangunan yang ditempati oleh
fungsi tersebut dipertimbangkan untuk tidak diperhitungkan dalam KLB.
 merangsang pertumbuhan kotadan berdampak langsung pada perekonomian
kawasan. - Insentif Langsung, yaitu insentif yang memungkinkan penambahan luas
lantai maksimum bagi bangunan gedung yang menyediakan fasilitas umum
 Mencapai keseimbangan, kaitan dan keterpaduan dari berbagai elemen
berupa sumbangan positif bagi lingkungan permukiman terpadu; termasuk
intensitas pemanfaatan lahan dalam hal pencapaian kinerja fungsi, estetis dan
di antaranya jalur pejalan kaki, ruang terbuka umum, dan fasilitas umum.
sosial, antara kawasan perencanaan dan lahan di luarnya.
 Sistem Pengalihan Nilai Koefisien Lantai Bangunan (TDR=Transfer of
Adapun yang menjadi komponen Penataan adalah:
Development Right), yaitu hak pemilik bangunan/pengembang yang dapat
 Koefisien Dasar Bangunan (KDB), yaitu angka persentase perbandingan
dialihkan kepada pihak atau lahan lain, yang dihitung berdasarkan pengalihan
antaraluas seluruh lantai dasar bangunan gedung yang dapat dibangun dan luas
nilai KLB, yaitu selisih antara KLB aturan dan KLB terbangun. Maksimum KLB
lahan/tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai.
yang dapat dialihkan pada umumnya sebesar 10% dari nilai KLB yang
 Koefisien Lantai Bangunan (KLB), yaitu angka persentase perbandingan ditetapkan. Pengalihan nilai KLB hanya dimungkinkan bila terletak dalam satu
antarajumlah seluruh luas lantai seluruh bangunan yang dapat dibangun dan daerah perencanaan yang sama dan terpadu, serta yang bersangkutan telah
luas lahan/tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai.
DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 15
memanfaatkan minimal 60% KLB-nya dari KLB yang sudah ditetapkan pada  Menciptakan berbagai citra dan karakter khas dari berbagai subarea yang
daerah perencanaan. direncanakan.

iii. Tata Bangunan  Mencapai keseimbangan, kaitan dan keterpaduan dari berbagai elemen tata

Tata Bangunan adalah produk dari penyelenggaraan bangunan gedung beserta bangunan dalam hal pencapaian kinerja, fungsi, estetis dan sosial, antara

lingkungannya sebagai wujud pemanfaatan ruang, meliputi berbagai aspek kawasan perencanaan dan lahan di luarnya.

termasuk pembentukan citra/karakter fisik lingkungan, besaran, dan konfigurasi  Mencapai lingkungan yang tanggap terhadap tuntutan kondisi ekonomi serta
dari elemen-elemen: blok, kaveling/petak lahan, bangunan, serta ketinggian dan terciptanya integrasi sosial secara keruangan.
elevasi lantai bangunan, yang dapat menciptakan dan mendefinisikan berbagai
Beberapa hal yang menjadi komponen penataan:
kualitas ruang kota yang akomodatif terhadap keragaman kegiatan yang ada,
 Pengaturan Blok Lingkungan, yaitu perencanaan pembagian lahan dalam
terutama yang berlangsung dalam ruang-ruang publik. Tata Bangunan juga
kawasan menjadi blok dan jalan, dimana blok terdiri atas petak lahan/kaveling
merupakan sistem perencanaan sebagai bagian dari penyelenggaraan bangunan
dengan konfigurasi tertentu. Pengaturan ini terdiri atas:
gedung beserta lingkungannya, termasuk saranadan prasarananya pada suatu
lingkungan binaan baik di perkotaan maupun di perdesaan sesuai dengan - Bentuk dan Ukuran Blok;
peruntukan lokasiyang diatur dengan aturan tata ruang yang berlaku dalam RTRW - Pengelompokan dan Konfigurasi Blok;
Kabupaten/Kota, dan rencana rincinya. Tata bangunan pada prinsipnya memiliki
- Ruang terbuka dan tata hijau.
manfaat untuk:
 Pengaturan Kaveling/Petak Lahan, yaitu perencanaan pembagian lahan dalam
 Mewujudkan kawasan yang selaras dengan morfologi perkembangan area
blok menjadi sejumlah kaveling/petak lahan dengan ukuran, bentuk,
tersebut serta keserasian dan keterpaduan pengaturan konfigurasi blok,
pengelompokan dan konfigurasi tertentu. Pengaturan ini terdiri atas:
kaveling dan bangunan.
- Bentuk dan Ukuran Kaveling;
 Meningkatkan kualitas ruang kota yang aman, nyaman, sehat, menarik, dan
berwawasan ekologis, serta akomodatif terhadap keragaman kegiatan. - Pengelompokan dan Konfigurasi Kaveling;

- Ruang terbuka dan tata hijau.


 Mengoptimalkan keserasian antara ruang luar bangunan dan lingkungan
publik sehingga tercipta ruang-ruang antarbangunan yang interaktif.

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 16


 Pengaturan Bangunan, yaitu perencanaan pengaturan massa bangunan dalam  Mendapatkan distribusi atau penyebaran pergerakan yang selaras dengan jenis
blok/kaveling. Pengaturan ini terdiri atas: aktivitas yang diwadahi sehingga dicapai ketertiban.

- Pengelompokan Bangunan;  Mencapai kinerja fungsi serta keseimbangan, kaitan, keterpaduan dari

- Letak dan Orientasi Bangunan; berbagai elemen pergerakan, lingkungan dan sosial, antara kawasan
perencanaan dan lahan di luarnya.
- Sosok Massa Bangunan;
Beberapa hal yang menjadi Komponen Penataan:
- Ekspresi Arsitektur Bangunan.
 Sistem Jaringan Jalan dan Pergerakan, yaitu rancangan sistem pergerakan yang
 Pengaturan Ketinggian dan Elevasi Lantai Bangunan, yaitu perencanaan
terkait, antara jenis-jenis hirarki/kelas jalan yang tersebar pada kawasan
pengaturan ketinggian dan elevasi bangunan baik pada skala bangunan
perencanaan (jalan arteri, kolektor dan jalan lingkungan/lokal) dan jenis
tunggal maupun kelompok bangunan pada lingkungan yang lebih makro
pergerakan yang melaluinya, baik masuk dan keluar kawasan, maupun masuk
(blok/kawasan). Pengaturan ini terdiri atas:
dan keluar kaveling.
- Ketinggian Bangunan;
 Sistem Sirkulasi Kendaraan Umum, yaitu rancangan sistem arus pergerakan
- Komposisi Garis Langit Bangunan; kendaraan umum formal, yang dipetakan pada hirarki/kelas jalan yang ada
- Ketinggian Lantai Bangunan. pada kawasan perencanaan.

iv. Sistem Sirkulasi dan Jalur Penghubung  Sistem Sirkulasi Kendaraan Pribadi, yaitu rancangan sistem arus pergerakan
bagi kendaraan pribadi sesuai dengan hirarki/kelas jalan pada kawasan
Sistem sirkulasi dan jalur penghubungterdiri dari jaringan jalan dan pergerakan,
perencanaan.
sirkulasi kendaraan umum, sirkulasi kendaraan pribadi, sirkulasi kendaraan
informal setempat dansepeda, sirkulasi pejalan kaki (termasuk masyarakat  Sistem Sirkulasi Kendaraan Umum Informal Setempat, yaitu rancangan sistem
penyandang cacat dan lanjut usia), sistem dan sarana transit, sistem parkir, arus pergerakan bagi kendaraan umum dari sektor informal, seperti ojek,
perencanaan jalur pelayanan lingkungan, dan sistem jaringan penghubung. becak, andong, dan sejenisnya, yang dipetakan pada hirarki/kelas jalan yang
Manfaat dari penataan sistem sirkulasi dan jalur penghubung adalah: ada pada kawasan perencanaan.

 Mengoptimalkan efisiensi pemanfaatan prasarana jalan dengan jenis arus


pergerakan yang terjadi.
DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 17
 Sistem Pergerakan Transit, yaitu rancangan sistem perpindahan arus v. Sistem Ruang Terbuka dan Tata Hijau
pergerakan dari dua atau lebih moda transportasi yang berbeda, yang Sistem Ruang Terbuka dan Tata Hijau merupakan komponen rancang kawasan,
dipetakan pada hirarki/kelas jalan yang ada pada kawasan perencanaan. yang tidak sekadar terbentuk sebagai elemen tambahan atau pun elemensisa
 Sistem Parkir, yaitu rancangan sistem gerakan arus masuk dan keluar kaveling setelah proses rancang arsitektural diselesaikan, melainkan juga diciptakan
atau grup kaveling untuk parkir kendaraan di dalam internal kaveling. sebagai bagian integral dari suatu lingkungan yang lebih luas. Penataan sistem
ruang terbuka diatur melalui pendekatan desain tata hijau yang membentuk
 Sistem Perencanaan Jalur Servis/Pelayanan Lingkungan, yaitu rancangan sistem
karakter lingkungan serta memiliki peran penting baik secara ekologis, rekreatif
arus pergerakan dari kendaraan servis (seperti pengangkut sampah,
dan estetis bagi lingkungan sekitarnya, dan memiliki karakter terbuka sehingga
pengangkut barang, dan kendaraan pemadam kebakaran) dari suatu kaveling
mudah diakses sebesar-besarnya oleh publik. Penataan sistem ruang terbuka dan
atau blok lingkungan tertentu, yang dipetakan pada hirarki/kelas jalan yang
tata hijau memiliki manfaat untuk:
ada pada kawasan perencanaan.
 Meningkatkan kualitas kehidupan ruang kota melalui penciptaan lingkungan
 Sistem Sirkulasi Pejalan Kaki dan Sepeda, yaitu rancangan sistem arus pejalan
yang aman, nyaman, sehat, menarik dan berwawasan ekologis.
kaki (termasuk penyandang cacat dan lanjut usia) dan pemakai sepeda, yang
khusus disediakan pada kawasan perencanaan.  Mendorong terciptanya kegiatan publik sehingga tercipta integrasi ruang
sosial antar penggunanya.
 Sistem Jaringan Jalur Penghubung Terpadu (Pedestrian Linkage), yaitu
rancangan sistem jaringan berbagai jalur penghubung yang memungkinkan  Menciptakan estetika, karakterdan orientasi visual dari suatu lingkungan.
menembus beberapa bangunan atau pun beberapa kaveling tertentu dan  Menciptakan iklim mikro lingkungan yang berorientasi pada kepentingan
dimanfaatkan bagi kepentingan jalur publik. Jalur penghubung terpadu ini pejalan kaki.
dibutuhkan terutama pada daerah dengan intensitas kegiatan tinggi dan
 Mewujudkan lingkungan yang nyaman, manusiawi dan berkelanjutan.
beragam, seperti pada area komersial lingkungan permukiman atau area fungsi
campuran (mixed-used). Jalur penghubung terpadu harus dapat memberikan Beberapa hal yang menjadi Komponen Penataan

kemudahan aksesibilitas bagi pejalan kaki.  Sistem Ruang Terbuka Umum (Kepemilikan Publik-Aksesibilitas Publik), yaitu
ruang yang karakter fisiknya terbuka, bebas dan mudah diakses publik karena
bukan milik pihak tertentu.

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 18


 Sistem Ruang Terbuka Pribadi (Kepemilikan Pribadi Aksesibilitas Pribadi), yaitu - Puncak bukit, sebagai titik penentu arah orientasi visual, serta
ruang yang karakter fisiknya terbuka tapi terbatas, yanghanya dapat diakses memberikan kemudahan dalam menentukan arah (tengaran alam).
oleh pemilik, pengguna atau pihak tertentu.  Area Jalur Hijau, yaitu salah satu ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai
 Sistem Ruang Terbuka Privat yang Dapat Diakses Oleh Umum (Kepemilikan area preservasi dan tidak dapat dibangun. Pengaturan ini untuk kawasan:
Pribadi–Aksesibilitas Publik), yaitu ruang yang karakter fisiknya terbuka, serta - Sepanjang sisi dalam Daerah Milik Jalan (Damija);
bebas dan mudah diakses oleh publik meskipun milik pihak tertentu, karena
- Sepanjang bantaran sungai;
telah didedikasikan untuk kepentingan publik sebagai hasil kesepakatan
antara pemilik dan pihak pengelola/pemerintah daerahsetempat, di mana - Sepanjang sisi kiri kanan jalur kereta;

pihak pemilik mengizinkan lahannya digunakan untuk kepentingan publik, - Sepanjang area di bawah jaringan listrik tegangan tinggi;
dengan mendapatkan kompensasi berupa insentif/disinsentif tertentu, tanpa
- Jalur hijau yang diperuntukkan sebagai jalur taman kota atau hutan kota,
mengubah status kepemilikannya.
yang merupakan pembatas atau pemisah suatu wilayah.
 Sistem Pepohonan dan Tata Hijau, yaitu pola penanaman pohon yang disebar
vi. Tata Kualitas Lingkungan
pada ruang terbuka publik.
Penataan Kualitas Lingkungan merujuk pada upaya rekayasa elemen-elemen
 Bentang Alam, yaitu ruang yang karakter fisiknya terbuka dan terkait dengan
kawasan yang sedemikian rupa sehingga tercipta suatu kawasan atau subarea
area yang dipergunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan publik, dan
dengan sistem lingkungan yang informatif, berkarakter khas, dan memiliki
pemanfaatannya sebagai bagian dari alamyang dilindungi. Pengaturan ini
orientasi tertentu. Penataan kualitas lingkungan memiliki manfaat untuk:
untuk kawasan:
 Mencapai kualitas lingkungan kehidupan manusia yang aman, nyaman,
- Pantai dan laut, sebagai batas yang melingkupi tepian kawasan,
sehat dan menarik, serta berorientasi kepada lingkungan mikro.
menentukan atmosfir dari suasana kehidupan kawasan, serta dasar
 Menyatukan kawasan sebagai sistem lingkungan yang berkualitas dengan
penciptaan pola tata ruang;
pembentukan karakter dan identitas lingkungan yang spesifik.
- Sungai, sebagai pembentuk koridor ruang terbuka;
 Mengoptimalkan kegiatan publik yang diwadahinya sehingga tercipta
- Lereng dan perbukitan, sebagai potensi pemandangan luas;
integrasi ruang sosial antar, penggunanya, serta menciptakan lingkungan
yang berkarakter dan berjati diri.
DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 19
 Menciptakan estetika, karakter, dan orientasi visual, dari suatu lingkungan.  Konsep Orientasi Lingkungan, yaitu perancangan elemen fisik dan nonfisik
guna membentuk lingkungan yang informatif sehingga memudahkan
 Menciptakan iklim mikro lingkungan yang berorientasi kepada kepentingan
pemakai untuk berorientasi dan bersirkulasi. Pengaturan ini terdiri atas:
pejalan kaki.
- Sistem Tata Informasi (Directory Signage System), yaitu pengolahan
Beberapa hal yang menjadi Komponen Penataan:
elemen fisik di lingkungan untuk menjelaskan berbagai
 Konsep Identitas Lingkungan, yaitu perancangan karakter (jati diri) suatu
informasi/petunjuk mengenai tempat tersebut, sehingga memudahkan
lingkungan yang dapat diwujudkan melalui pengaturan dan perancangan
pemakai mengenali lokasi dirinya terhadap lingkungannya.
elemen fisik dan nonfisik lingkungan atau subarea tertentu. Pengaturan ini
- Sistem Tata Rambu Pengarah (Directional Signage System), yaitu
terdiri atas:
pengolahan elemen fisik di lingkungan untuk mengarahkan pemakai
- Tata Karakter Bangunan/Lingkungan (Built-In Signage And Directional
bersirkulasi dan berorientasi baik menuju maupun dari bangunan atau
System), yaitu pengolahan elemen-eleman fisik bangunan/lingkungan
pun area tujuannya.
untuk mengarahkan atau memberi tanda pengenal suatu
 Wajah Jalan, yaitu perancangan elemen fisik dan nonfisik guna membentuk
lingkungan/bangunan, sehingga pengguna dapat mengenali karakter
lingkungan berskala manusia pemakainya, pada suatu ruang publik berupa
lingkungan yang dikunjungi atau dilaluinya sehingga memudahkan
ruas jalan yang akan memperkuat karakter suatu blok perancangan yang
pengguna kawasan untuk berorientasi dan bersirkulasi.
lebih besar. Pengaturan ini terdiri atas:
- Tata Penanda Identitas Bangunan, yaitu pengolahan elemen-eleman
- Wajah penampang jalan dan bangunan;
fisik bangunan/lingkungan untuk mempertegas identitas atau
penamaan suatu bangunan sehingga pengguna dapat mengenali - Perabot jalan (street furniture);
bangunan yang menjadi tujuannya. - Jalur dan ruang bagi pejalan kaki (pedestrian);
- Tata Kegiatan Pendukung Secara Formal dan Informal (Supporting - Tata hijau pada penampang jalan;
Activities), yaitu pengolahan secara terintegrasi seluruh aktivitas
- Elemen tata informasi dan rambu pengarah pada penampang jalan;
informal sebagai pendukung dari aktivitas formal yang diwadahi dalam
ruang/bangunan, untuk menghidupkan interaksi sosial dari para - Elemen papan reklame komersial pada penampang jalan.

pemakainya.

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 20


vii. Sistem Prasarana dan Utilitas Lingkungan  Sistem Jaringan Drainase, yaitu sistem jaringan dan distribusi drainase suatu

Sistem prasarana dan utilitas lingkungan adalah kelengkapan dasar fisik suatu lingkungan yang berfungsi sebagai pematus bagi lingkungan, yang terintegrasi

lingkungan yang pengadaannya memungkinkan suatu lingkungan dapat dengan sistem jaringan drainase makro dari wilayah regional yang lebih luas.

beroperasi dan berfungsi sebagaimana semestinya. Sistem prasarana dan utilitas  Sistem Jaringan Persampahan, yaitu sistem jaringan dan distribusi pelayanan
lingkungan mencakup jaringan air bersih dan air limbah, jaringan drainase, pembuangan/pengolahan sampah rumah tangga, lingkungan komersial,
jaringan persampahan, jaringan gas dan listrik, serta jaringan telepon, sistem perkantoran dan bangunan umum lainnya, yang terintegrasi dengan sistem
jaringan pengamanan kebakaran, dan sistem jaringan jalur penyelamatan atau jaringan pembuangan sampah makro dari wilayah regional yang lebih luas.
evakuasi. Manfaat dari penataannya adalah:
 Sistem Jaringan Listrik, yaitu sistem jaringan dan distribusi pelayanan
 Meningkatkan kualitas kawasan perencanaan yang menjamin tersedianya penyediaandaya listrik dan jaringan sambungan listrik bagi penduduk suatu
dukungan konkret terhadap kegiatan-kegiatan fisik yang ada. lingkungan, yang memenuhi persyaratan bagi operasionalisasi bangunan atau

 Mencapai keseimbangan antara kebutuhan dan daya dukung lingkungan lingkungan, dan terintegrasi dengan jaringan instalasi listrik makro dari wilayah

sehingga terwujud sistem keberlanjutan (sustainability) pada lingkungan. regional yang lebih luas.

Beberapa hal yang menjadi Komponen Penataan:  Sistem Jaringan Telepon, yaitu sistem jaringan dan distribusi pelayanan
penyediaan kebutuhan sambungan dan jaringan telepon bagi penduduk suatu
 Sistem jaringan air bersih, yaitu sistem jaringan dan distribusi pelayanan
lingkungan yang memenuhi persyaratan bagi operasionalisasi bangunan atau
penyediaan air bagi penduduk suatu lingkungan, yang memenuhi persyaratan
lingkungan, yang terintegrasi dengan jaringan instalasi listrik makro dari wilayah
bagi operasionalisasi bangunan atau lingkungan, dan terintegrasi dengan
regional yang lebih luas.
jaringan air bersih secara makro dari wilayah regional yang lebih luas.
 Sistem Jaringan Pengamanan Kebakaran, yaitu sistem jaringan pengamanan
 Sistem Jaringan Air Limbah dan Air Kotor, yaitu sistem jaringan dan distribusi
lingkungan/kawasan untuk memperingatkan penduduk terhadap keadaan
pelayanan pembuangan/pengolahan air buangan rumah tangga, lingkungan
darurat, penyediaan tempat penyelamatan, membatasi penyebaran kebakaran,
komersial, perkantoran, dan bangunan umum lainnya, yang berasal dari
dan/atau pemadaman kebakaran.
manusia, binatang atautumbuh-tumbuhan, untuk diolah dan kemudian dibuang
dengan cara-cara sedemikian rupa sehingga aman bagi lingkungan, termasuk di  Sistem Jaringan Jalur Penyelamatan atau Evakuasi, yaitu jalur perjalanan yang

dalamnya buangan industri dan buangan kimia. menerus (termasuk jalan ke luar, koridor/selasar umum dan sejenis) dari setiap

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 21


bagian bangunan gedung termasuk di dalam unit hunian tunggal ke tempat  Mencapai integrasi elemen-elemen desain yang berpengaruh kawasan yang
aman, yang disediakan bagi suatu lingkungan/kawasan sebagai tempat direncanakan.
penyelamatan atau evakuasi.
Panduan Rancangan memuat ketentuan dasar implementasi rancangan terhadap
b. Panduan Rancangan kawasan perencanaan, berupa ketentuan tata bangunan dan lingkungan yang bersifat

Panduan Rancangan merupakan penjelasan lebih rinci atas Rencana Umum yang telah lebih detil, memudahkan dan memandu penerapan dan pengembangan rencana umum,

ditetapkan sebelumnya dalam bentuk penjabaran materi utama melalui pengembangan baik pada bangunan, kelompok bangunan, elemen prasarana kawasan, kaveling,

komponen rancangan kawasan pada bangunan, kelompok bangunan, elemen prasarana maupun blok. Panduan Rancangan bersifat mengaktualisasikan tujuan penataan

kawasan, kaveling dan blok, termasuk panduan ketentuan detail visual kualitas minimal lingkungan/kawasan yang layak huni, berjati diri, produktif, dan berkelanjutan secara

tata bangunan dan lingkungan. lebih terstruktur dan mudah dilaksanakan (design guidelines)

Manfaat Panduan Rancangan adalah : Gambaran mengenai simulasi penerapan seluruh konsep RTBL, perancangan bangunan
dan lingkungan pada tiap kaveling/blok pengembangan, dan gambaran keseluruhan
 Memberi arahan ringkas dan sistematis bagi implementasi ketentuan dasar serta
simulasi rancangan pada kawasan perencanaan; termuat di dalamnya seperti
ketentuan detail dari perancangan tiap bangunan, kaveling, subblok dan blok
batasan/ambang volume dan sosok bangunan yang diizinkan dalam suatu “amplop
pengembangan dalam dimensi yang terukur.
bangunan” (building envelope). Gambaran tersebut merupakan salah satu simulasi yang
 Memberi gambaran simulasi bangunan secara keruangan (3-dimensional) sebagai mungkin diterapkan. Rancangan bangunan yang sesungguhnya berupa variasi dari
model penerapan seluruh rencana tata bangunan dan lingkungan dalam tiap simulasi tersebut, tergantung pada fleksibilitas dan kretivitas perancang pada waktu
kaveling, subblok dan blok. proses perencanaan teknis bangunan gedung.

 Memudahkan pengembangan desain pada tiap kaveling/subblok sesuai dengan visi G. Rencana Investasi
dan arahan karakter lingkungan yang telah ditetapkan.
Rencana investasi disusun berdasarkan dokumen RTBL yang memperhitungkan kebutuhan
 Memudahkan pengelolaan dan pengendalian kawasan sesuai dengan visi dan nyata para pemangku kepentingan dalam proses pengendalian investasi dan pembiayaan
arahan karakter lingkungan yang telah ditetapkan. dalam penataan lingkungan/kawasan. Rencana ini merupakan rujukan bagi para pemangku

 Mencapai intervensi desain kawasan yang berdampak positif, terarah dan terukur kepentingan untuk menghitung kelayakan investasi dan pembiayaan suatu penataan atau

pada suatu kawasan yang direncanakan. pun menghitung tolok ukur keberhasilan investasi, sehingga tercapai kesinambungan
pentahapan pelaksanaan pembangunan.
DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 22
Rencana ini menjadi alat mobilisasi dana investasi masing-masing pemangku kepentingan  Langkah I: Penetapan paket kegiatan pada tiap jangka waktu pentahapan dan
dalam pengendalian pelaksanaan sesuai dengan kapasitas dan perannya dalam suatu penyiapan rincian sumber pembiayaan.
sistem wilayah yang disepakati bersama, sehingga dapat tercapaikerja sama untuk
 Langkah II: Perencanaan pembiayaan meliputi perhitungan prospek ekonomi,
mengurangi berbagai konflik kepentingan dalam investasi/ pembiayaan. Rencana investasi
besaran investasi yang dibutuhkan, keuntungan setiap paket dan perhitungan
juga mengatur upaya percepatan penyediaan dan peningkatan kualitas pelayanan
investasi publik.
prasarana/sarana dari suatu lingkungan/kawasan.
 Langkah III: Penyiapan pelibatan dan pemasaran paket pembangunan untuk
a. Skenario Strategi Rencana Investasi
masing-masing pelaku pembangunan.
Aspek-aspek Perencanaan yang disusun meliputi:
 Langkah IV: Penyiapan detail investasi tahunan sebagai pengendalian selama
 Program bersifat jangka menengah, minimal untuk kurun waktu 5 (lima) tahun, pelaksanaan.
serta mengindikasikan investasi untuk berbagai macam kegiatan, yang meliputi:
b. Pola Kerja Sama Operasional Investasi
tolok ukur/kuantitas pekerjaan, besaran rencana pembiayaan, perkiraan waktu
 Kesepakatan bentuk Kerja Sama Operasional (KSO) yang menyangkut pola
pelaksanaan dan kesepakatan sumber pendanaannya.
investasi antara lain dapat berbentuk: Build Operate and Transfer (BOT), Build
 Meliputi investasi pembangunan yang dibiayai oleh pemerintah daerah/pusat (dari
Own Operate and Transfer (BOOT), dan Build Own and Operate (BOO).
berbagai sektor), dunia usaha/swasta, dan masyarakat.
 Pada prinsipnya pola Kerja Sama Operasional ini dapat dilakukan oleh 3 (tiga)
 Menjelaskan pola-pola penggalangan pendanaan, kegiatan yang perlu dilakukan
pihak, yaitu pemerintah, swasta dan/atau masyarakat (penghuni kawasan).
khususnya olehPemda setempat, sekaligus saran/alternatif waktu
 Pemilihan alternatif pola KSO dengan mempertimbangkan beberapa aspek
pelaksanaankegiatan-kegiatan tersebut.
kesepakatan kontrak dengan pemangku kepentingan, sebagai berikut:
 Menjelaskan tata cara penyiapan dan penyepakatan investasi dan pembiayaan,
- Jangka waktu kontrak harus cukup untuk pengembalian hutang dan
termasuk menjelaskan langkah, pelaku, dan perhitungan teknisnya.
memberikan keuntungan yangdisesuaikan dengan risiko kepada para investor.
 Menuntun para pemangku kepentingan dalam memperoleh justifikasi kelayakan
- Permintaan akan layanan dijamin oleh otoritas pemerintah (badan yang
ekonomi dan usulan perencanaan lingkungan dengan memisahkan jenis paket
mengontrak).
berjenis cost recovery, non cost recovery, dan pelayanan publik.

Strategi perencanaan investasi dengan skenario sebagai berikut:


DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 23
- Jaminan kerja sama berkaitan dengan minimalisasi risiko pembangunan, risiko kapasitasnya dalam suatu sistem yang disepakati bersama, dan berlaku sebagai rujukan
pengembangan lingkungan, risiko kredit pembiayaan, risiko operasional, risiko bagi para pemangku kepentingan untuk mengukur tingkat keberhasilan kesinambungan
politik, dan risiko keadaan pasar, serta pertimbangan dukungan pemerintah. pentahapan pelaksanaan pembangunan.

 Fasilitas akan ditransfer (diserahkan) kepada Pemerintah dan sebagai milik a. Strategi Pengendalian Rencana
pemerintah pada akhir periode kontrak. Kontrak harus menyebutkan secara jelas Aspek-aspek Pengendalian:
bagaimana proses pengalihan pemilikan dilakukan dan keharusan pihak Swasta
 Ketentuan administratif untuk mengendalikan pelaksanaan seluruh rencana dan
untuk menyiapkan fasilitas yang akan diserahterimakan. Sektor Pemerintah harus
program serta kelembagaan yang diperlukan pemerintah daerah dalam rangka
menyiapkan unit kelembagaan untuk menangani pemindahtanganan ini.
mendorong pelaksanaan materi RTBL agar terlaksana secara efektif termasuk melalui
 Di saat pengakhiran kontrak, sering kali terdapat penyediaan layanan untuk mekanisme perizinan (terutama IMB=Izin Mendirikan Bangunan).
dilanjutkan. Hal ini dapat dilaksanakan untuk memastikan terjadinya transisi yang
 Arahan yang bersifat mengantisipasi terjadinya perubahan pada tahap pelaksanaan,
mulus dalam manajemen.
yang disebabkan oleh berbagai hal, tetapi masih dapat memenuhi persyaratan daya
H. Ketentuan Pengendalian Rencana dukung dan daya tampung lahan, kapasitas prasarana lingkungan binaan, masih
Ketentuan Pengendalian Rencana bertujuan: sejalan dengan rencana dan program penataan kota, serta masih dapat menampung
aspirasi masyarakat.
 Mengendalikan berbagai rencana kerja, program kerja maupun kelembagaan kerja pada
masa pemberlakuan aturan dalam RTBL dan pelaksanaan penataan suatu kawasan. Strategi Pengendalian:

 Mengatur pertanggungjawaban semua pihak yang terlibat dalam mewujudkan RTBL  Strategi pengendalian rencana diatur dengan Rencana Kelembagaan, yang
pada tahap pelaksanaan penataan bangunan dan lingkungan. mencantumkan organisasi pelaksana, SDM yang terlibat, dan aturan tata laksana
kelembagaannya.
Ketentuan pengendalian rencana disusun sebagai bagian proses penyusunan RTBL yang
melibatkan masyarakat, baik secara langsung (individu) maupun secara tidak langsung  Untuk pengelolaan pelaksanaan RTBL dapat disiapkan suatu organisasi pelaksana
melalui pihak yang dianggap dapat mewakili (misalnya Dewan Kelurahan, Badan tersendiri, dengan menggambarkan pola koordinasi, alur dan pola
Keswadayaan Masyarakat/BKM dan Forum Rembug Desa). pertanggungjawaban, serta proses lainnya.

Ketentuan Pengendalian Rencana menjadi alat mobilisasi peran masing-masing pemangku


kepentingan padamasa pelaksanaan atau masa pemberlakuan RTBL sesuai dengan
DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 24
b. Arahan Pengendalian Rencana Pengendalian pelaksanaan dilakukan oleh dinas teknis setempat atau unit pengelola
teknis/UPT/badan tertentu sesuai kewenangan yang ditetapkan oleh kelembagaan
 Penetapan rencana dan indikasi program pelaksanaan dan pengendalian
pemrakarsa penyusunan RTBL atau dapat ditetapkan kemudian berdasarkan kesepakatan
pelaksanaan, termasuk kesepakatan wewenang dan kelembagaan.
para pemangku kepentingan.
 Penetapan paket kegiatan pelaksanaan dan pengendalian jangka menengah.
Pedoman pengendalian pelaksanaan dapat ditetapkan dan berupa dokumen terpisah tetapi
 Penyiapan pelibatan dan pemasaran paket pembangunan untuk setiap pemangku
merupakan satu kesatuan dengan dokumen RTBL, berdasarkan kesepakatan para pemangku
kepentingan.
kepentingan, setelah mempertimbangkan kebutuhan tingkat kompleksitasnya.
 Identifikasi dan penyesuaian aspek fisik, sosial, dan ekonomi terhadap kepentingan
a. Pengendalian Pelaksanaan
dan tanggung jawab para pemangku kepentingan.
Aspek-aspek Pengendalian
 Penetapan persyaratan teknis masing-masing aspek (fisik, sosial dan ekonomi),
 Penetapan alat-alat dan prosedur pengendalian pelaksanaan, seperti dalam
perencanaan pelaksanaan, dan pengendalian di lapangan.
mekanisme perizinan IMB, review tim ahli bangunan gedung (TABG), dan penerapan
I. Pedoman Pengendalian Pelaksanaan
insentif/disinsentif;
Pedoman pengendalian pelaksanaan dimaksudkan untuk mengarahkan perwujudan
 Pemantauan dan evaluasi atas pelaksanaan materi teknis dokumen RTBL;
pelaksanaan penataan bangunan dan lingkungan/kawasan yang berdasarkan dokumen
 Evaluasi pelaksanaan peran parapemangku kepentingan sesuai kesepakatan dalam
RTBL, dan memandu pengelolaan kawasan agar dapat berkualitas, meningkat, dan
penataan bangunan dan lingkungan, baik pemerintah daerah, dunia usaha,
berkelanjutan. Dengan pedoman pengendalian pelaksanaan diharapkan:
masyarakat, maupun Pemerintah;
 Menjamin pelaksanaan kegiatan berdasarkan dokumen RTBL;
 Pengawasan teknis atas pelaksanaan sistem perizinan dan pelaksanaan kegiatan
 Menjamin pemanfaatan investasi dan optimalisasi nilai investasi;
pembangunan di lokasi penataan;
 Menghindari fenomena lahan tidur atau bangunan terbengkalai sebagai akibat investasi
 Penerapan mekanisme sanksi dalam penyelenggaraan pembangunan sesuai
yang ditanamkan tidak berjalan semestinya;
peraturan perundang-undangan.
 Menarik investasi lanjutan dalam pengelolaan lingkungan setelah masa
b. Kriteria dan Pertimbangan Pengendalian:
pascakonstruksi.
 Memperhatikan kepentingan publik;

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 25


 Mempertimbangkan keragaman pemangku kepentingan yang dapat memiliki kepemilikan publik setempat, atau pun aset properti pribadi yang harus dikontrol
kepentingan berbeda; pemanfaatan dan perkembangannya sesuai dengan RTBL yang disepakati.

 Mempertimbangkan pendayagunaan SDM dan sumber daya alam (ekonomi, sosial  Pelaku Pengelolaan
budaya, dan lingkungan) lokal, seperti masyarakat setempat beserta kegiatan sosial- - Wewenang atas pelaksanaan pengelolaan kawasan dilakukan oleh Pihak
budayanya. Pengelola Kawasan yang anggota dan programnya disusun sesuai kesepakatan
c. Pengelolaan Kawasan antara masyarakat (pemilik lahan/bangunan), swasta
(pengembang/investor/penyewa), pemerintah daerah dan pelaku
 Tujuan Pengelolaan Kawasan: Untuk dapat melaksanakan kegiatan estate
pembangunan lain, termasuk pengguna/pemakai/penyewa dari luar kawasan.
managementdengan efektif dan terencana, suatu lingkungan perlu membuat suatu
piranti atau alat berupa dokumen tertulis yang melindungi dan memelihara berbagai - Pihak pengelola kawasan berfungsisebagai lembaga perantara/penghubung dan
aset dari lingkungan yang bersangkutan sebagai penjabaran dari berbagai lembaga perwakilandi antara berbagai pelaku yang berkepentingan dalam
kepentingan pemakai, pemilik, atau pun pihak-pihak lain yang mempunyai hak milik, pengelolaan aset properti.
hak sewa atau hak pakai di lingkungan tersebut. Pedoman Pengelolaan Kawasan - Pihak pengelola merumuskan program pengelolaan yang dirangkum dari
merupakan piranti pengelolaan yang berisi kewajiban, hak, wewenang, kelembagaan berbagai kepentingan beragam pelaku.
serta mekanisme dari pengendalian dan pengelolaan terhadap berbagai keinginan
- Pada kasus pengelolaan dengankompleksitas tinggi, pihak pengelola diizinkan
pemangku kepentingan, yang bersifat menerus dan berkelanjutan.
untuk mendelegasikan atau mengontrakkannya secara profesional kepada
 Lingkup Pengelolaan, Pengelolaan kawasan mencakup kegiatan pemeliharaan atas suatu lembaga/pihak lain secara kompetitif sesuai peraturan perundang-
investasi fisik yang telah terbangun beserta segala aspek nonfisik yang diwadahinya, undangan.
kegiatan penjaminan, pengelolaan operasional, pemanfaatan,
 Aspek-aspek Pengelolaan
rehabilitasi/pembaharuan, serta pelayanan dari aset properti lingkungan/kawasan.
- Kepentingan pengelolaan yang mengikat semua pihak dengan suatu peraturan
 Aset Properti yang Dikelola, Jenis aset properti yang dikeloladapat berupa sumber
yang saling menguntungkan, termasuk juga mengikat dan menguntungkan
daya alam, bangunan fisik, lahan, lansekap dan tata hijau, aset pelestarian budaya
lembaga penerusnya, pengguna pewarisnya, atau yang diberi kuasa.
dan sejarah serta infrastruktur kawasan, baik yang merupakan aset bersama dengan

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 26


- Kepentingan agar semua persil yang berada dalam lingkungan binaan yang Tabel 2.1. Fungsi dan Penerapan RTH pada Beberapa Tipologi Kawasan Perkotaan

ditata tersebut dapat digunakan, dikelola dan dipelihara sesuai dengan


ketentuan-ketentuan yang dimuat pada pedoman pengelolaan kawasan.

- Kepentingan pemberlakuan peraturan bagi seluruh persil yang ditujukan untuk


meningkatkan dan melindungi nilai, daya tarik, dan daya guna pakai dari seluruh
fungsi yang ada untuk kepentingan bersama.

- Kepentingan perencanaan aset eksisting yang harus mendukung kebutuhan


pelayanan lingkungan setempat.
Sumber: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 2008

- Pertimbangan lain seperti umur bangunan atau aset properti dan risiko investasi
yang harus dipertimbangkan sejak tahap perancangan kawasan. B. RTH Sumber Air Baku/Mata Air
Pemanfaatan RTH sumber air baku/mata air dilakukan untuk perlindungan, pelestarian,
- Kepentingan pengendalian yang dikaitkan dengan pola kerjasama yang berlaku,
peningkatan fungsi sumber air baku/mata air, dan pengendalian daya rusak sumber air
seperti pola BOT, BOO, dan sebagainya.
baku/mata air/danau melalui kegiatan penatagunaan, perizinan, dan pemantauan.
2.1.6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 05/Prt/M/2008 Tentang Pedoman
Tabel 2.2. RTH Sempadan Danau dan Mata Air
Penyediaan Dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau Di Kawasan Perkotaan No. Jenis RTH Dimensi Sempadan Pemanfaatan
1. Danau/Waduk Minimal 50m dari a. Jaringan Utilitas;
Beberapa hal yang perlu ditinjau dalam Peraturan ini antara lain: titik air pasang b. Budidaya pertanian rakyat;
tertinggi c. Kegiatan penimbunan sementara hasil galian
A. Karakteristik RTH tambang golongan C;
d. Papan penyuluhan dan peringatan serta rambu-
rambu pekerjaan;
Karakteristik RTH disesuaikan dengan tipologi kawasannya. Berikut ini tabel arahan
e. Pemasangan rentangan kabel listrik, kabel
karakteristik RTH di perkotaan untuk berbagai tipologi kawasan perkotaan : telepon, dan pipa air minum;
f. Pemancangan tiang atau pondasi prasarana
jalan/jembatan, baik umum ataupun kereta api;
g. Penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang bersifat
sosial, keolahragaan, pariwisata, dan
kemasyarakatan yang tidak menimbulkan
dampak yang merugikan bagi kelestarian dan
keamanan fungsi serta fisik sungai dan danau;
dan
h. Pembangunan prasarana lalu lintas air, bangunan

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 27


pengambilan dan pembuangan air. Persyaratan tahap perencanaan teknis bangunan gedung hijau terdiri atas:
2. Mata Air Radius 200 m a. Ruang Terbuka Hijau dengan aktivitas social
terbatas penekanan pada kelestarian 1) pengelolaan tapak, terdiri atas:
sumberdaya airnya;
b. Luas Ruang Terbuka Hijau minimal 90% dengan
dominasi pohon tahunan yang diijinkan.  orientasi bangunan gedung;
Sumber: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 2008
 pengolahan tapak termasuk aksesibilitas/sirkulasi;

C. Kriteria Vegetasi untuk RTH Sempadan Sumber Baku Air/Danau/Mata Air  pengelolaan lahan terkontaminasi limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3);
Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut:
 ruang terbuka hijau (RTH) privat;
 Relatif tahan terhadap penggenangan air;
 penyediaan jalur pedestrian;
 Daya transpirasi rendah;
 pengelolaan tapak besmen;
 Memliki sistem perakaran yang kuat dan dalam, sehingga dapat menahan erosi dan
meningkatkan infiltasi (resapan) air.  penyediaan lahan parkir;
 Vegetasi ideal yang ditanam pada RTH pengaman sumber air merupakan vegetasi  sistem pencahayaan ruang luar; dan
yang tidak mengkonsumsi banyak air atau yang memiliki daya transpirasi yang
 pembangunan bangunan gedung di atas dan/atau di bawah tanah, air
rendah.
dan/atau prasarana/sarana umum.
 Beberapa tanaman yang memiliki daya transpirasi yang rendah antara lain (Manan,
1976 dan Kurniawan, 1993): Cemara Laut (Casuarina equisetifolia), Karet Munding 2) efisiensi penggunaan energy, terdiri atas:

(Ficus elastica), Manggis (Garcinia mangostana), Bungur (Lagerstroemia speciosa),  selubung bangunan;
Kelapa (Cocos nucifera), Damar (Agathis loranthifolia), Kiara Payung (Filicium
 sistem ventilasi;
decipiens).
 sistem pengondisian udara;

2.1.7. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 02/Prt/M/2015 Tentang Bangunan Gedung  sistem pencahayaan;
Hijau
 sistem transportasi dalam gedung; dan
A. Persyaratan Bangunan Gedung Hijau
 sistem kelistrikan.
a. Persyaratan Tahap Perencanaan Teknis
3) efisiensi penggunaan air, terdiri atas:
DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 28
 sumber air; 1) proses konstruksi hijau, dilakukan melalui:

 pemakaian air; dan  penerapan metode pelaksanaan konstruksi hijau;

 penggunaan peralatan saniter hemat air (waterfixtures)  pengoptimalan penggunaan peralatan;

4) kualitas udara dalam ruang, terdiri atas:  penerapan manajemen pengelolaan limbah konstruksi;

 pelarangan merokok;  penerapan konservasi air pada pelaksanaan konstruksi; dan

 pengendalian karbondioksida (CO2) dan karbonmonoksida (CO); dan  penerapan konservasi energi pada pelaksanaan konstruksi

 pengendalian penggunaan bahan pembeku (refrigerant). 2) praktik perilaku hijau, dilakukan melalui:

5) penggunaan material ramah lingkungan, terdiri atas:  penerapan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3); dan

 pengendalian penggunaan material berbahaya; dan  penerapan perilaku ramah lingkungan.

 penggunaan material bersertifikat ramah lingkungan (eco labelling). 3) rantai pasok hijau, melalui:

6) pengelolaan sampah, terdiri atas:  penggunaan material konstruksi;

 penerapan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle);  pemilihan pemasok dan/atau sub-kontraktor; dan

 penerapan sistem penanganan sampah; dan  konservasi energi.

 penerapan sistem pencatatan timbulan sampah. c. Persyaratan Tahap Pemanfaatan

7) pengelolaan air limbah, terdiri atas: Persyaratan tahap pemanfaatan bangunan gedung hijau berupa penerapan
manajemen pemanfaatan yang terdiri atas:
 penyediaan fasilitas pengelolaan limbah padat dan limbah cair sebelum
dibuang ke saluran pembuangan kota; dan 1) organisasi dan tata kelola pemanfaatan bangunan gedung hijau;

 daur ulang air yang berasal dari limbah cair (grey water). 2) standar operasional dan prosedur pelaksanaan pemanfaatan; dan

b. Persyaratan Tahap Pelaksanaan Konstruksi 3) penyusunan panduan penggunaan bangunan gedung hijau untuk
penghuni/pengguna.
Persyaratan tahap pelaksanaan konstruksi bangunan gedung hijau terdiri atas:
DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 29
d. Persyaratan Tahap Pembongkaran  Penyusunan kajian kelaikan penyelenggaraan bangunan gedung hijau termasuk

Pembongkaran bangunan gedung hijau dilakukan melalui pendekatan dekonstruksi. dari segi teknis, ekonomi, sosial, dan lingkungan;

Pendekatan dekonstruksi dilakukan dengan cara mengurai komponen bangunan  Penetapan kriteria penyedia jasa yang kompeten;
dengan tujuan meminimalkan sampah konstruksi dan meningkatkan nilai guna
 Penyusunan dokumen pemrograman bangunan gedung hijau;
material. Persyaratan tahap pembongkaran bangunan gedung hijau berupa kesesuaian
 pelaksanaan pemrograman pada seluruh tahapan;
dengan rencana teknis pembongkaran yang terdiri atas:
 pengelolaan risiko; dan
1) prosedur pembongkaran, termasuk dokumentasi keseluruhan material
konstruksi bangunan, struktur dan/atau bagian bangunan yang akan  penyusunan laporan akhir tahap pemrograman bangunan gedung hijau.
dibongkar, dan material dan/atau limbah yang akan dipergunakan kembali; b. Tahap Perencanaan Teknis
dan
Tahap perencanaan teknis bangunan gedung hijau meliputi kegiatan:
2) upaya pemulihan tapak lingkungan, yang terdiri atas upaya pemulihan tapak
 pelaksanaan identifikasi pihak yang terkait dalam kegiatan perencanaan teknis;
bangunan dan upaya pengelolaan limbah konstruksi, serta upaya peningkatan
kualitas tapak secara keseluruhan.  pelaksanaan komunikasi antara pihak yang terkait tentang tujuan, lingkup, dan
target penyelenggaraan bangunan gedung hijau;
B. Penyelenggaraan Bangunan Gedung Hijau
 penetapan kriteria rancangan teknis bangunan gedung hijau;
Penyelenggaraan bangunan gedung hijau meliputi:
 penyusunan dokumen rencana teknis bangunan gedung hijau yang
a. Tahap Pemrograman
terintegrasi;
Tahap pemrograman bangunan gedung hijau terdiri atas :
 pelaksanaan kaji ulang terhadap hasil perencanaan teknis; dan
Identifikasi pemangku kepentingan yang terlibat dalam penyelenggaraan bangunan
 penyusunan laporan akhir tahap perencanaan teknis
gedung hijau;
c. Tahap Pelaksanaan Konstruksi
 Penetapan konsepsi awal dan metodologi penyelenggaraan bangunan gedung
hijau; Tahap pelaksanaan konstruksi meliputi kegiatan:

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 30


 penyusunan dokumen rencana pelaksanaan konstruksi dan dokumengambar  penyusunan laporan kegiatan pemeliharaan, pemeriksaaan berkala, dan
kerja pelaksanaan (shop drawings); perawatan.

 pengajuan perizinan; e. Tahap Pembongkaran

 pelaksanaan konstruksi bangunan gedung hijau; Tahap pembongkaran bangunan gedung hijau terdiri atas kegiatan:

 koordinasi dalam rangka pemeriksaan kelaikan fungsi, dan sertifikasi bangunan  identifikasi komponen bangunan yang dapat didaur ulang, dimanfaatkan kembali
gedung hijau; dan/atau dimusnahkan;

 penyusunan manual operasional dan pemanfaatan sebagai bangunan gedung  penyusunan dokumen rencana teknis pembongkaran;
hijau; dan  pengajuan permohonan persetujuan pembongkaran kepada instansi teknis
 penyusunan laporan akhir tahap pelaksanaan konstruksi. terkait;

d. Tahap Pemanfaatan  pelaksanaan kegiatan pembongkaran;

Pemanfaatan bangunan gedung hijau dilakukan melalui kegiatan pemeliharaan,  penanganan atas pengaduan masyarakat;
pemeriksaan berkala, dan perawatan bangunan agar tetap terjaga kinerjanya
 pemilihan dan pemisahan komponen bangunan yang dapat didaur ulang,
sebagai bangunan gedung hijau yang terdiri atas:
dimanfaatkan kembali, dan/atau dimusnahkan;
 penyusunan rencana pemeliharaan, pemeriksaan berkala, dan perawatan;
 pelaksanaan dokumentasi pada setiap tahapan pembongkaran; dan
 pelaksanaan sosialisasi, promosi, dan edukasi kepada pengguna/penghuni
 penyusunan laporan kegiatan pembongkaran.
bangunan gedung hijau;
2.1.8. Peraturan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Nomor 44 Tahun 2015 Tentang
 pelaksanaan kegiatan pemeliharaan, pemeriksaan berkala, dan perawatan; Standar Nasional Pendidikan Tinggi
 pengelolaan rangkaian kegiatan pemanfaatan, termasuk pemantauan Dalam peraturan tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi ini yang perlu dijadikan acuan
(monitoring) dan evaluasi kinerja; dan landasan terutama terkait standar sarana prasarana pembelajaran, sebagaimana yang
 pelaksanaan audit kinerja; dan diatur dalam beberapa pasal berikut :

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 31


A. Lingkup Standar Nasional Pendidikan Tinggi g. sarana olahraga;
Dalam Pasal 4 disebutkan Standar Nasional Pendidikan terdiri atas: h.sarana berkesenian;
a. standar kompetensi lulusan; i. sarana fasilitas umum;
b. standar isi pembelajaran; j. bahan habis pakai; dan
c. standar proses pembelajaran; k. sarana pemeliharaan, keselamatan, dan keamanan.
d. standar penilaian pembelajaran; 3) Jumlah, jenis, dan spesifikasi sarana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan
e. standar dosen dan tenaga kependidikan; berdasarkan rasio penggunaan sarana sesuai dengan karakteristik metode dan bentuk
pembelajaran, serta harus menjamin terselenggaranya proses pembelajaran dan
f. standar sarana dan prasarana pembelajaran;
pelayanan administrasi akademik (Pasal 32 ayat 2).
g. standar pengelolaan pembelajaran; dan h. standar pembiayaan pembelajaran.
4) Standar prasarana pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 paling
B. Standar Sarana dan Prasarana Pembelajaran
sedikit terdiri atas (Pasal 33 ayat 1) :
1) Standar sarana dan prasarana pembelajaran merupakan kriteria minimal tentang
a. lahan;
sarana dan prasarana sesuai dengan kebutuhan isi dan proses pembelajaran dalam
b. ruang kelas;
rangka pemenuhan capaian pembelajaran lulusan (Pasal 31).
2) Standar sarana pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 paling sedikit c. perpustakaan;
terdiri atas (Pasal 32 ayat1): d. laboratorium/studio/bengkel kerja/unit produksi;
a. perabot;
e. tempat berolahraga;
b. peralatan pendidikan; f. ruang untuk berkesenian;
c. media pendidikan; g. ruang unit kegiatan mahasiswa;
d. buku, buku elektronik, dan repositori; h.ruang pimpinan perguruan tinggi;
e. sarana teknologi informasi dan komunikasi; i. ruang dosen;
f. instrumentasi eksperimen; j. ruang tata usaha; dan k. fasilitas umum.
DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 32
5) Fasilitas umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf k meliputi: Kabupaten Malang termasuk dalam WP Malang Raya dengan pusat di Kota Malang. WP
malang raya secara keseluruhan meliputi: Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Malang,
a. jalan;
dengan fungsi untuk pertanian tanaman pangan, perkebunan, hortikultura, kehutanan,
b. air;
perikanan, peternakan, pertambangan, perdagangan, jasa, pendidikan, kesehatan,
c. listrik; pariwisata, dan industri. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada peta berikut:

d. jaringan komunikasi suara; dan

e. data.

6) Lahan perguruan tinggi harus berada dalam lingkungan yang secara ekologis nyaman
dan sehat untuk menunjang proses pembelajaran (Pasal 34 ayat 1).

7) Lahan pada saat perguruan tinggi didirikan wajib dimiliki oleh penyelenggara
perguruan tinggi (pasal 34 ayat 2).

2.1.9. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 05 Tahun 2012 Tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Tahun 2011 -2031

Beberapa hal yang perlu ditinjau dalam Peraturan ini antara lain:

A. Rencana Struktur Ruang Wilayah Provinsi

Rencana struktur ruang wilayah provinsi terdiri atas sistem pusat pelayanan dan sistem
Gambar 2.3. Peta Rencana Struktur Ruang Provinsi Jawa Timur
jaringan prasarana wilayah provinsi. Rencana sistem pusat pelayanan terdiri atas rencana Sumber: PerGub No 5 Tahun 2012 tentang RTRW Provinsi Jawa Timur

sistem perkotaan disertai dengan penetapan fungsi WP-nya dan sistem perdesaan. Dalam B. Rencana Pola Ruang Wilayah Provinsi
sistem perkotaan, Malang termasuk salah satu wilayah yang ditetapkan sebagai Pusat Rencana pola ruang wilayah provinsi terdiri atas rencana kawasan lindung, rencana
Kegiatan Nasional. Pusat Kegiatan Nasional yang selanjutnya disingkat PKN adalah kawasan kawasan budi daya, serta rencana kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil. Dalam Rencana
perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala internasional, kegiatan nasional, Kawasan Budi daya, Kabupaten Malang termasuk dalam penetapan kawasan andalan untuk
atau kegiatan beberapa provinsi.

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 33


Kawasan Malang dan sekitarnya dengan sektor unggulan pertanian, perikanan, industri, Pelabuhan Teluk Lamong dan sekitarnya di Kabupaten Gresik dan Kota Surabaya, dan
perkebunan, dan pariwisata. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada peta berikut: Industri Perhiasan Gemopolis di Kabupaten Sidoarjo;
b. Sistem Agropolitan Bromo-Tengger-Semeru (meliputi Kabupaten Lumajang, Kabupaten
Malang, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Sidoarjo),

c. Kawasan koridor metropolitan meliputi Kawasan Kaki Jembatan Suramadu di


Kabupaten Bangkalan, Kawasan Kaki Jembatan Suramadu di Kota Surabaya, kawasan
pusat bisnis Kota Surabaya, kawasan industri berteknologi tinggidi Kota Surabaya dan
Kabupaten Sidoarjo, Kawasan Industri Gempol di Kabupaten Pasuruan, Kawasan
Komersial Lawang di Kabupaten Malang dan perkotaan Malang, kawasan pusat bisnis
Kota Malang, dan pusat pariwisata di Kota Batu;

d. Bromo-Tengger-Semeru beserta pemukiman adat suku Tengger di Kabupaten


Lumajang, Kabupaten Malang, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Probolinggo.

e. kawasan pengembangan potensial panas bumi, meliputi Argopuro di Kabupaten


Bondowoso, Kabupaten Jember, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Situbondo;
Belawan-Ijen di Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Bondowoso, dan Kabupaten
Gambar 2.4. Peta Rencana Pola Ruang Wilayah Provinsi Jawa Timur
Sumber: PerGub No 5 Tahun 2012 tentang RTRW Provinsi Jawa Timur Situbondo; Cangar di Kota Batu; Gunung Arjuno Welirang di Kabupaten Malang,
Kabupaten Mojokerto, dan Kabupaten Pasuruan; Telaga Ngebel di Kabupaten Madiun

C. Penetapan Kawasan Strategis Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten Ponorogo; dan Tiris (Gunung Lamongan) di Kabupaten Lumajang dan

Kabupaten Malang masuk dalam beberapa kawasan strategis di Provinsi Jawa Timur yaitu Kabupaten Probolinggo.

sebagai berikut: Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada peta berikut:
a. kawasan ekonomi unggulan terdiri atas LIS (Lamongan Integrated Shorebase) dan
sekitarnya di Kabupaten Lamongan, Pelabuhan Tanjung Bulupandan dan sekitarnya di
Kabupaten Bangkalan, Pelabuhan Sendang Biru dan sekitarnya di Kabupaten Malang,

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 34


Kecamatan Karangploso dalam Rencana sistem dan fungsi perwilayahan termasuk dalam
wilayah Pengembangan Lingkar Kota Malang. Wilayah Pengembangan Lingkar Kota Malang
meliputi beberapa kecamatan di sekeliling Kota Malang yang berorientasi ke Kota Malang,
meliputi: Kecamatan Dau, Kecamatan Karangploso, Kecamatan Lawang, Kecamatan
Singosari, Kecamatan Pakisaji, Kecamatan Wagir, Kecamatan Tajinan, Kecamatan
Bululawang dan Kecamatan Pakis.

Untuk perencanaan jaringan jalan, direncananakan pengembangan jalan kolektor sekunder


antara lain jaringan jalan yang menghubungkan Kota Malang dengan Kota Batu, melalui
Karangploso – Giripurno, dan pengembangan jalan lokal primer yaitu jalan antara
Karangploso - Kota Batu yaitu dari Pendem menuju Songgoriti

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada peta berikut:

Gambar 2.5. Peta Kawasan Strategis Ekonomi Provinsi Jawa Timur


Sumber: PerGub No 5 Tahun 2012 tentang RTRW Provinsi Jawa Timur

2.1.10. Peraturan Daerah Kabupaten Malang Nomor 3 Tahun 2010 Tentang RTRW Kabupaten
Malang

Beberapa hal yang perlu ditinjau dalam Peraturan ini antara lain:

A. Rencana Struktur Ruang Wilayah Kabupaten

Pusat Kegiatan Lokal (PKL) di Kabupaten Malang diarahkan pada Perkotaan Kepanjen,
sedangkan Pusat Kegiatan Lokal promosi (PKLp) berada di Perkotaan Ngantang, Perkotaan
Lawang, Perkotaan Tumpang, Perkotaan Dampit, Perkotaan Turen dan Perkotaan
Sendangbiru. Sedangkan Kecamatan Karangploso dalam RTRW Kabupaten Malang
diarahkan sebagai Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) bersama Ibukota Kecamatan lainnya
yang tidak termasuk PKL dan PKLp yang disebutkan di atas.
DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 35
Ngantang, Kecamatan Kasembon dan Kecamatan Lawang. Sedangkan untuk rencana
kawasan budi daya, Kecamatan Karangploso ditetapkan untuk kegiatan Kawasan hutan
produksi, kawasan pertanian sawah, perikanan karamba, Kawasan pertambangan mineral
batuan, dan industri. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada peta berikut:

Gambar 2.6. Peta Rencana Struktur Ruang Wilayah Kabupaten Malang


Sumber: Perda No 3 Tahun 2010 tentang RTRW Kabupaten Malang

B. Rencana Pola Ruang Wilayah Kabupaten Malang


Rencana pola ruang wilayah provinsi terdiri atas rencana kawasan lindung dan rencana
kawasan budi daya. Dalam rencana kawasan lindung, Kecamatan Karangploso termasuk Gambar 2.7. Peta Rencana Pola Ruang Kabupaten Malang
Sumber: Perda No 3 Tahun 2010 tentang RTRW Kabupaten Malang
dalam wilayah yang ditetapkan sebagai Taman Hutan Raya yaitu Taman Hutan Raya R.
Soeryo di Kecamatan Pujon, Kecamatan Karangploso, Kecamatan Singosari, Kecamatan

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 36


C. Penetapan Kawasan Strategis Kabupaten Malang D. Arahan Penanganan Kawasan Rawan Bencana Alam Lainnya
Dalam RTRW Kabupaten Malang, Kecamatan Karangploso tidak termasuk dalam kawasan Kawasan rawan bencana alam lainnya di wilayah Kabupaten Malang yang pernah melanda
strategis di Kabupaten Malang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada peta berikut: di sekitar kawasan perencanaan yaitu bahaya angin puyuh dan terjadi hampir setiap tahun.
Dampak dari bencana angin puyuh ini adalah dapat mengakibatkan robohnya bangunan
permukiman penduduk, tumbangnya pepohonan maupun tanaman pertanian dan lainnya.
Untuk menanggulangi bahaya angin puyuh ini pada dasarnya tidak dapat dilakukan karena
termasuk dari gejala alam yang belum dapat diprediksi tetapi yang bisa dilakukan adalah
mengantisipasi bahaya, misalnya memperkuat kontruksi bangunan, mengusahakan di
sekitar bangunan tidak ada tanaman yang besar serta tinggi.

Berdasarkan uraian di atas, maka upaya perlindungan kawasan rawan bencana alam
bertujuan untuk melindungi manusia dan kegiatannya dari bencana yang disebabkan oleh
alam maupun secara tidak langsung oleh perbuatan manusia.

Gambar 2.8. Peta Penetapan Kawasan Strategis Kabupaten Malang


Sumber: Perda No 3 Tahun 2010 tentang RTRW Kabupaten Malang

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 37


pengembangan jalan lokal primer antara Karangploso-Kota Batu yaitu dari Pendem menuju
Songgoriti.

Bagian Wilayah Perkotaan Karangploso yang berbatasan langsung dengan Kota Malang masuk
dalam Wilayah Pengembangan (WP) Lingkar Kota Malang. Wilayah Pengembangan Lingkar Kota
Malang ini meliputi beberapa kecamatan di sekeliling Kota Malang yang berorientasi ke Kota
Malang, meliputi Kecamatan Karangploso, Kecamatan Lawang, Kecamatan Singosari, Kecamatan
Pakisaji, Kecamatan Wagir, Kecamatan Tajinan, Kecamatan Bululawang dan Kecamatan Pakis.
Adapun kegiatan utama yang diarahkan untuk dikembangkan di Wilayah Pengembangan (WP)
Lingkar Kota Malang ini adalah pengembangan kegiatan pelayanan umum, pengembangan kegiatan
perdagangan dan jasa, pengembangan kegiatan pertanian (tanaman pangan, hortikultura,
perkebunan), pengembangan kegiatan industri, pengembangan kegiatan pariwisata dan
sarana/prasarana penunjangnya, serta pengembangan transportasi udara nasional. Adapun
kegiatan utama yang diarahkan untuk dikembangkan di Bagian Wilayah Perkotaan Karangploso
sebagai bagian dari Wilayah Pengembangan (WP) Lingkar Kota Malang adalah pengembangan
kegiatan pelayanan umum, pengembangan kegiatan perdagangan dan jasa, pengembangan
kegiatan pertanian (tanaman pangan, hortikultura, perkebunan), dan pengembangan kegiatan

Gambar 2.9. Peta Rawan Bencana Kecamatan Karang Ploso industri.


Sumber: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang
Sehubungan dengan hal tersebut, secara otomatis Bagian Wilayah Perkotaan Karangploso akan
berkembang pemanfaatan serta perubahan penggunaan lahan di sepanjang jalur pengembangan
2.1.11. Review Penyusunan RDTR Perkotaan Karangploso Tahun 2019
jalan. Dengan perubahan tersebut secara tidak langsung akan membawa dampak lingkungan di
A. Pembagian BWP Karangploso wilayah BWP Karangploso. Secara eksisiting, penggunaan lahan di BWP Karangploso juga

Pertumbuhan dan perkembangan Bagian Wilayah Perkotaan Karangploso hingga saat ini relatif mengalami perubahan penggunaan lahan yang semula merupakan lahan pertanian dialihfungsikan

berkembang, terutama di pusat perkotaan di Desa Girimoyo. Kondisi ini dipengaruhi oleh letak menjadi kegiatan perumahan.
geografis dan administrasi wilayahnya yang merupakan jalur pengembangan jalan kolektor
Batas-batas administrasi Bagian Wilayah Perkotaan Karangploso meliputi:
sekunder yang menghubungkan Kota Malang dengan Kota Batu melalui Karangploso-Giripurno dan

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 38


Sebelah Utara : Sebagian Desa Donowarih, Desa Bocek, dan Desa B. Struktur Ruang RDTR Perkotaan Karangploso
Ngenep di Kecamatan Karanglo Mengacu pada RTRW Kabupaten Malang No. 03 Tahun 2010 Perkotaan Karangploso merupakan
Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) dan kawasan Perkotaan Karangploso termasuk dalam Wilayah
Sebelah Selatan : Kelurahan Tasikmadu dan Kelurahan Tunggulwulung
Pengembangan (WP) Lingkar Kota Malang.
di Kecamatan Lowokwaru Kota Malang
Berdasarkan RTRW kegiatan utama yang diarahka untuk dikembangkan pada kawasan perkotaan
Sebelah Barat : Desa Mulyoagung di Kecamatan Dau
Karangploso sebagai bagian dari Wilayah Pengembangan (WP) Lingkar Kota Malang adalah:
Sebelah Timur : Desa Tunjungtirto di Kecamatan Singosari
1. Pengembangan sebagai pusat pelayanan di (Kota Malang) yaitu fasilitas pusat
perdagangan skala regional
Luas wilayah Bagian Wilayah Perkotaan Karangploso adalah seluas 1.481,87 (seribu empat ratus
2. Pusat jasa skala Daerah
delapan puluh satu koma delapan puluh tujuh) hektar. Bagian Wilayah Perkotaan terbagi menjadi 3
(tiga) Sub Bagian Wilayah Perkotaan (SBWP) dan 15 (lima belas) blok. 3. Pusat kesehatan skala Daerah
4. Pusat olahraga dan kesenian regional - nasional
Review dokumen RDTR BWP Karangploso meliputi Bagian Wilayah Perkotaan (BWP) Karangploso
yang telah tertuang dalam dokumen Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Bagian Wilayah Perkotaan Dengan mempertimbangkan kebijakan struktur ruang tersebut dan perkembangan wilayah
Karangploso Tahun 2018-2038 yaitu terdiri meliputi 6 (enam) wilayah desa yang terdiri dari 3 (tiga) pada eksisting saat ini, maka fungsi dan peranan Kawasan Perkotaan Karangploso
BWP BWP sebagai berikut : diarahkan sebagai berikut:

a. SUB BWP A terdiri dari Kelurahan Girimoyo dan Desa Donowarih bagian selatan dengan luas 1. Pusat Pemerintahan Kecamatan
wilayah 489,62 (empat ratus delapan puluh sembilan koma enam puluh dua) hektar; 2. Pusat Perdagangan dan Jasa
b. SUB BWP B terdiri dari Desa Ngijo dan Desa Kepuharjo dengan luas wilayah 597,68 (lima ratus 3. Pusat Pelayanan Umum Skala Kecamatan
sembilan puluh tujuh koma enam puluh delapan) hektar; 4. Pusat Kegiatan Industri

c. SUB BWP C terdiri dari Desa Tegalgondo dan Desa Ampeldento dengan luas wilayah 394,56 Rencana Struktur Ruang BWP Karangploso meliputi Rencana Transportasi dan rencana
(tiga ratus sembilan puluh empat koma lima puluh enam) hektar pengembangan sarana prasarana.
Desa Ngenep tidak termasuk dalam Bagian Wilayah Perkotaan (BWP) Karangploso, akan tetapi
I. Rencana Transportasi meliputi:
secara administrasi lokasi desa ngenep berdampingan langsung dengan BWP Karagploso, sehingga
1) Rencana pengembangan jaringan jalan meliputi:
dengan adanya pengembangan BWP Karangploso, maka Desa ngenep dapat merasakan
perkembangan perkotaan sekitarnya.

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 39


menjadi lebih kurang 9 (Sembilan) meter.

b. Rencana jaringan jalan lingkungan primer dan lingkungan sekunder meliputi jalan
yang menghubungkan antar persil pada zona perumahan serta menghubungkan
persil di dalam zona perumahan.

2) Rencana pengembangan jalur pedestrian merupakan prasarana pejalan kaki berupa


penyediaan trotoar meliputi:

a. Pengembangan jalur pedestrian zona perdagangan dan jasa meliputi seluruh


jaringan kolektor sekunder;

b. Pengembangan jalur pedestrian di sepanjang Jalan Raya Kepuharjo – Jalan Raya


Ngijo – Jalan Panglima Sudirman (SBWP A dan SBWP B) dengan dominasi
kegiatan perniagaan (perdagangan/jasa, perkantoran, fasilitas umum), industri,
dan lahan kosong/ruang terbuka;

c. Pengembangan jalur pedestrian di sepanjang jalan akses utama disekitar pusat


kegiatan perkotaan yaitu disekitar pertigaan Desa Girimoyo/terminal/pasar
Gambar 2.10. Peta Rencana Struktur Ruang BWP Karangploso
Sumber: Review RDTRK Perkotaan Karangploso Tahun 2019 SBWP C), dengan dominasi perdagangan/jasa, perkantoran, dan fasilitas
Rencana jaringan jalan Kawasan Ekonomi Khusus adalah rencana pengembangan umum dengan intensitas cukup tinggi;
jaringan jalan propinsi yang menghubungkan Kota Batu-Kabupaten Malang-Kota d. Pengembangan jalur pedestrian di sepanjang jalan akses utama diluar
Malang melalui BWP Karangploso dengan Kecamatan Singosari sebagai salah satu kawasan pusat kegiatan yaitu disepanjang Jl. Kertanegara Desa Donowarih
Pusat Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus di Jawa Timur. (SBWP C), dengan dominasi kegiatan lahan permukiman dan fasilitas umum;
a. Rencana jaringan jalan kolektor sekunder adalah : Rencana Pelebaran ruang dan
pemanfaatan jaringan jalan kolektor sekunder yang ada pada wilayah e. Rehabilitasi trotoar disepanjang kawasan perdagangan dan jasa di jalan utama
perencanaan: yaitu Ruas jalan utama Jl. Raya Kepuharjo - Jl. Raya Ngijo – Jl. Perkotaan Karangploso
Panglima Sudirman; dan Jl. Kertanegara, Donowarih, lebar jalan ditingkatkan

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 40


3) Sistem pelayanan angkutan umum meliputi: c. Mempertahankan sistem parkir off-street pada fasilitas umum (perkantoran,
a. Mempertahankan jalur trayek yang sudah ada serta meningkatkan kenyamanan kesehatan, perdagangan jasa) yaitu di Jalan Raya Kepuharjo – Jalan Raya Ngijo
pengguna angkutan umum dan optimalisasi kondisi armada; (SBWP A);

b. Peningkatan infrastruktur pendukung dan pelayanan terminal yang memadai; d. Penyediaan lahan parkir yang dapat menampung kendaraan yang menuju pasar
maupun kawasan perdagangan yang lain; dan
c. Peningkatan terminal tipe C menjadi terminal tipe B;
e. Pengaturan parkir on street di tempat-tempat tertentu yang memiliki ruas
d. Pemindahan dan pengembangan terminal ke lokasi yang sesuai yaitu menjadi
jalan cukup lebar dengan lebar bahu jalan/jarak ambang pengaman
satu lokasi dengan rest area;
diarahkan di setiap SBWP Karangploso;
e. Pengembangan dan perluasan rest area agar dapat menampung semua moda
II. Sedangkan rencana jaringan prasarana berupa jaringan meliputi:
angkutan
1) Rencana pengembangan jaringan energi/kelistrikan meliputi:
f. Peningkatkan kelas terminal yang berfungsi menjadi terminal wisata, terminal
angkutan pedesaan serta terminal sayur dan buah; a. Pengembangan jaringan primer, merupakan jaringan distribusi tegangan menengah
tegangan 20 KV di sepanjang jaringan jalan berbentuk hantaran udara dengan tiang
g. Penambahan sarana pendukung transportasi berupa halte (tempat
beton setinggi 14 meter di arahkan di sepanjang jaringan jalan kolektor sekunder
pemberhentian).
dan/atau pada kawasan pengembangan industri menengah–besar di Kawasan
4) Sistem parkir meliputi:
Perkotaan Karangploso yaitu BWP B Desa Kepuharjo;
a. Penyediaan lahan parkir pada fasilitas perdagangan dan jasa, perkantoran,
b. Pengembangan Jaringan sekunder, yaitu jaringan distribusi tegangan rendah
kesehatan, peribadatan, pendidikan dan sejenis diutamakan sistem diluar
tegangan 220/380 V berbentuk hantaran udara pada kompleks-kompleks perumahan
badan jalan (off street) yaitu di lahan parkir terminal disekitar pertigaan
yang ada di SBWP A, SBWP B, dan SBWP C;
Girimoyo sebagai lahan parkir komunal;
c. Pengembangan Gardu distribusi atau gardu trafo, untuk menurunkan tegangan dari
b. Penyediaaan lahan parkir pada bangunan baru sebagai satu kesatuan unit
20 KV menjadi 220/380 V melalui jaringan tegangan rendah akan disesuaikan dengan
bangunan;
kemungkinan peningkatan kebutuhan daya listrik dan tumbuhnya pusat-pusat beban
baru di kompleks perdagangan baru dan perumahan baru; dan

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 41


d. Menambah jaringan distribusi baru SUTR (Saluran Udara Tegangan Rendah) dan b. Jaringan perpipaan meliputi jaringan pipa baru direncanakan berada pada sepanjang
SUTM (Saluran Udara Tegangan Menengah). jalan kolektor sekunder, jalan lokal sekunder dan jalan lingkungan;

e. Peremajaan jaringan dan mengganti jaringan distribusi hantaran udara kawat terbuka c. Bak penampung adalah sebuah unit produksi yang dibangun berdampingan dengan
menjadi jaringan distribusi kabel udara (atau kabel tanah) disesuaikan dengan kondisi bangunan penunjang dan bangunan pelengkap yang berada di SBWP A Blok A3,
lahan yang ada. SBWP B Blok B3, dan SBWP C Blok C1;

f. Penambahan kapasitas gardu distribusi lama yang melayani beban lama dan juga d. Hidran, direncanakan pada titik SBWP ABlok A4, SBWP B Blok B2, dan SBWP C Blok
untuk memenuhi penambahan kebutuhan daya. C1.

g. Rencana pelayanan listrik dilakukan pengoptimalan untuk penerangan jalan, 4) Rencana pengembangan jaringan drainase meliputi:
khususnya untuk jalan kolektor dan jalan lokal utama. a. Jaringan drainase primer berupa sungai yang melewati SBWP A, SBWP B, dan SBWP C;
2) Rencana pengembangan jaringan telekomunikasi meliputi:
b. Jaringan drainase sekunder yang terdapat pada jalan-jalan utama; dan
a. Jaringan kabel telepon meliputi : c. Jaringan drainase tersier meliputi jaringan drainase yang terdapat pada perumahan
(1) Mempertahankan jaringan kabel telepon yang sudah; dan Perkotaan Karangploso yang tersebar merata di SBWP A, SBWP B, dan SBWP C;
(2) Pengembangan jaringan kabel telepon baru sesuai kebutuhan di seluruh wilayah d. Penetapan batas Garis Sempadan Sungai sesuai dengan peraturan yang berlaku untuk
BWP Karangploso. mempertahankan fungsi sungai/anak sungai sebagai saluran drainase primer di
b. Jaringan nirkabel meliputi : Kawasan Perkotaan Karangploso.
(1) Mempertahankan dan mengoptimalkan Base Transceiver Station (BTS) yang ada; e. Peningkatan perkerasan dinding sungai dari perkerasan tanah menjadi perkerasan
(2) Pengembangan BTS sesuai kebutuhan dan peraturan perundangan beton. Diperlukan tindakan perbaikan perkerasan yang mengalami kerusakan.

c. Jaringan serat optik berupa pengembangan sesuai kebutuhan pada jaringan jalan 5) Rencana Pengelolaan Limbah terdiri atas:
utama pada BWP Karangploso berada di SBWP A, SBWP B, dan SBWP C a. Rencana pengembangan SPAL setempat meliputi :
3) Rencana pengembangan jaringan air minum meliputi: (1) IPAL domestik pada kawasan permukiman padat;
a. Bangunan pengambilan air baku meliputi: penggunaan air tanah di SBWP A, SBWP B, (2) Jamban keluarga sehat bagi yang belum terlayani;
dan SBWP C;

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 42


(3) IPAL pada setiap rumah sakit; a. Pengembangan jaringan prasarana lainnya berupa penanganan rawan bencana
kebakaran antara lain berupa kebakaran gedung perdagangan jasa dan permukiman
(4) IPAL pada industri kecil dan industri besar;
padat.
(5) Pemisahan buangan limbah cair rumah tangga dengan saluran drainase.
b. Pengembangan jaringan prasarana lainnya berupa penetapan jalur evakuasi
b. Rencana pengembangan SPAL terpusat berupa pengembangan IPAL Komunal pada
bencana dan tempat evakuasi korban bencana adalah: penanganan rawan bencana
kawasan permukiman padat, perumahan pengembang dan permukiman dekat sungai.
kebakaran di Kawasan Pasar Karangploso dan permukiman padat di perkotaan
c. Rencana pengembangan SPAL terpusat berada disetiap desa BWP Karangploso yaitu: Karangploso.
SBWP A Blok A1 di Desa Donowarih, SBWP A Blok A3 di Desa Girimoyo, SBWP B Blok B2
c. Pengembangan jaringan prasarana lainnya berupa penetapan jalur evakuasi
di Desa Ngijo, SBWP B Blok B5 di Desa Kepuharjo, SBWP C Blok C2 di Desa Ampeldento,
bencana dan tempat evakuasi korban bencana meliputi:
dan SBWP C Blok C5 di Desa Tegalgondo.
(1) Rencana jalur evakuasi bencana kebakaran meliputi jalan Raya Kepuharjo - Jl.
6) Rencana pengembangan sistem persampahan meliputi:
Raya Ngijo – Jl. Panglima Sudirman; dan Jl. Kertanegara, Donowarih.
a. Perbaikan manajemen pengangkutan sampah;
(2) Rencana tempat evakuasi korban bencana diarahkan kebeberapa titik
b. Pemilahan antara sampah organik dan sampah anorganik; evakuasi yaitu:

c. Pengembangan sistem persampahan berupa TPS di tiap desa/kelurahan; 1. 2 (dua) titik di Sub BWP A Blok A1 di Desa Donowarih

d. Penempatan pewadahan komunal diletakkan pada jalan-jalan utama pada cakupan 2. 1 (satu) titik di Sub BWP A Blok A2 di Desa Donowarih
lingkungan, di tempat yang mudah dijangkau, pengumpulan dilakukan oleh masing-
3. 2 (dua) titik di Sub BWP A Blok A3 di Desa Girimoyo
masing rumah tangga ke tempat yang telah disediakan.
4. 1 (satu) titik di Sub BWP B Blok B1 di Desa Ngijo
e. Pengembangan sistem persampahan berupa pengadaan TPS 3R di SBWP A, SBWP B,
5. 1 (satu) titik di Sub BWP B Blok B5 di Desa Kepuharjo
dan SBWP C.
6. 1 (satu) titik di Sub BWP C Blok C1 di Desa Ampeldento
7) Rencana pengembangan jaringan prasarana lainnya berupa jalur evakuasi bencana
adalah: penangan rawan bencana kebakaran 7. 1 (satu) titik di Sub BWP C Blok C4 di Desa Tegalgondo

8. 1 (satu) titik di Sub BWP C Blk C5 di Desa Tegalgondo

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 43


C. Pola Ruang BWP Karangploso - Jalan Lokal Primer : 5 meter

Pola ruang Desa Ngenep secara aturan tidak termasuk dalam Review RDTR Perkotaan - Jalan Lingkungan : 3 meter

Karangploso, sehingga pola ruang untuk Desa Ngenep masih mengikuti pola ruang dari  Tinggi bangunan maksimum yang diizinkan: 20 meter

RTRW Kabupaten Malang, yaitu peruntukan sebagai permukiman dan untuk Kawasan c) Batasan:

perencanaan di rencanakan sebagai Kawasan Tegalan.  Dibatasi hanya pada kegiatan sudah ada dan berizin
 Untuk pengajuan izin baru minimal berada di jalan kolektor dan ruas jalan
Sehingga pada review RDTR Perkotaan Karangploso, akan dibahas mengenai
eksisting dengan rumija minimal 10 meter
pengembangan zona sarana pelayanan umum, dimana salah satu yang dibahas adalah
pengembangan Kawasan Pendidikan di BWP Karangploso. Aturan Zonasi dari jenis Kegiatan: Pondok Pesantren,

Pengembangan sub zona pendidikan untuk mendukung fungsi dan peran perkotaan a) Intensitas :

Karangploso berupa: Pemerataan sarana pendidikan dini dan pendidikan dasar di semua  KDB maksimum yang diizinkan: 50%

sub BWP, Peningkatan kualitas pendidikan menengah dan tinggi bertarap internasional di  KLB maksimum yang diizinkan: 2 poin

Sub BWP A dan Sub BWP B, Mengembangkan kegiatan perguruan tinggi/akademi/  KDH minimum yang diizinkan: 10%

pendidikan keprofesian di Sub BWP B dan Sub BWP C. b) Tata Bangunan :


 GSB minimal yang diizinkan :
Aturan Zonasi dari jenis kegiatan pendidikan Tinggi (Universitas, Sekolah tinggi, Politeknik,
- Jalan Arteri Primer : 15 meter
Akademi dan Lainnya) dan komplek pendidikan meliputi :
- Jalan Kolektor Primer (JKP-1) : 10 meter
a) Intensitas: - Jalan Kolektor Sekunder : 5 meter
 KDB maksimum yang diizinkan: 50% - Jalan Lokal Primer : 5 meter
 KLB maksimum yang diizinkan: 2 poin - Jalan Lingkungan : 3 meter
 KDH minimum yang diizinkan: 10%  Tinggi bangunan maksimum yang diizinkan: 20 meter
b) Tata Bangunan: c) Batasan :
 GSB minimal yang diizinkan:  Dibatasi hanya pada kegiatan sudah ada dan berizin
- Jalan Arteri Primer : 15 meter  Untuk pengajuan izin baru harus dilengkapi rekomendasi dari lembaga/instansi
- Jalan Kolektor Primer (JKP-1) : 10 meter terkait
- Jalan Kolektor Sekunder : 5 meter
DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 44
 minimal berada pada jalan > 3 meter harus diperhatikan oleh pihak Yayasan selaku pemilik lahan dalam pembangunan kampus II
tersebut harus memperhatikan:

1. Kegiatan pembangunan yang direncanakan tidak menimbulkan dampak negatif


terhadap lingkungan dan lalulintas sekitar .

2. Berkoordinasi dengan Dinas Peternakan dan kesehatan hewan Kabupaten Malang


terkait radius aman dengan perternakan ayam.

3. Berkoordinasi dengan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu satu Pintu
Kabupaten Malang dan Kantor Pertanahan (BPN) Kabupaten Malang terkait Ijin Lokasi.

4. Sosisalisasi terhadap warga sekitar dan pemilik tanah untuk mendapatkan persetujuan
warga terkait rencana pembangunan.

5. Dilarang melakukan aktivitas pembangunan sebelum memperoleh ijin mendirikan


Bangunan (IMB) dan ijin-ijin terkait.

Berikut gambar copy surat dari Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Cipta Karya
Kabupaten Malang terkait pengajuan informasi yang telah diajukan oleh pihak Yayasan.

Gambar 2.11. Peta Rencana Pola Ruang BWP Karangploso


Sumber: Review Penyusunan RDTRK Perkotaan Karangploso Tahun 2019

2.1.12. Informasi Penataan Ruang Di Kawasan Perencanaan

Sesuai dengan RTRW Kabupaten Malang No 3 tahun 2010-2029, pola ruang di kawasan
perencanaan merupakan Kawasan Tegalan, dimana pengembangan sebuah kegiatan masih
bisa dimungkinkan dengan syarat yang ditentukan. Kemudian dari Pihak Yayasan telah
mengajukan ijin lokasi kepada Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Ciptakarya
Kabupaten Malang untuk pembangunan Kampus II Unisma. Adapun syarat-syarat yang

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 45


Gambar 2.13. Copy Lembar Surat Tanggapan dari Dinas Perumahan Kawasan
Permukiman dan Cipta Karya
Sumber: Yayasan UNISMA

2.2. TINJAUAN TEORI LITERATUR


Dalam penyusunan masterplan kawasan UNISMA Kampus II ini dilakukan pula peninjauan
dan pengkajian beberapa teori dan literatur yang relevan untuk dijadikan referensi dalam
rangka pendalaman serta pengayaan wawasan dan pengetahuan yang akan menguatkan
konsep dan muatan rencana masterplan yang akan disusun dan dikembangkan.

2.2.1. Pengembangan Kawasan Pendidikan Tinggi

Kawasan pendidikan tinggi merupakan salah satu kawasan dengan fasilitas publik yang
Gambar 2.12. Copy Lembar Surat Tanggapan dari Dinas Perumahan Kawasan harus direncanakan dengan matang, karena sebagai konsekuensi kegiatan belajar mengajar
Permukiman dan Cipta Karya
Sumber: Yayasan UNISMA yang dilakukan, kawasan dan fasilitas pendidikan tinggi menjadi titik simpul kegiatan yang
DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 46
dapat memberikan dampak positif dan negatif pada wilayah sekitarnya. Dampak positif Permasalahan yang timbul tersebut apabila dirunut, sesungguhnya berawal dari tidak
misalnya ditunjukkan dengan munculnya tempat-tempat makan, toko alat-alat tulis dan adanya perencanaan sejak semula kawasan pendidikan tinggi tersebut didirikan. Banyak
perlengkapan sekolah, kos-kosan, laundry, serta berbagai kegiatan pendukung lainnya. kawasan dan fasilitas pendidikan yang terindikasi berdiri tanpa perencanaan jangka
Tumbuhnya aktifitas tersebut akan berdampak pada peningkatan pendapatan dan panjang, mungkin hanya bermodal niat baik untuk memberikan layanan pendidikan kepada
kesejahteraan masyarakat secara luas. masyarakat. Seiring jaman, modal tersebut dirasa tidaklah cukup, karena munculnya
dampak-dampak negatif yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya. Oleh karena itu,
Namun demikian, titik simpul kegiatan tersebut juga dapat memberikan dampak negatif
sebuah perencanaan kawasan dan fasilitas pendidikan dalam lingkup kewilayahan
yang tak kalah peliknya, baik dalam aspek fisik maupun non fisik. Dampak fisik misalnya
merupakan langkah yang sangat penting untuk dilakukan, terutama ketika ketersediaan
dalam bentuk kemacetan karena besarnya arus lalu lintas yang datang maupun pergi di
lahan kian terbatas, sementara kebutuhan akan fasilitas pendidikan yang berkualitas
wilayah tersebut. Dampak ini dapat terasa lebih parah apabila dukungan infrastruktur
semakin meningkat.
menuju kawasan dan fasilitas pendidikan tinggi tersebut tidak memadai, seperti ruas jalan
yang sempit dan letaknya yang berada di permukiman penduduk, sementara kendaraan Perencanaan kawasan dan fasilitas pendidikan dapat dilakukan dengan memprediksi
yang lewat sebagian besar menggunakan mobil pribadi. dampak-dampak yang akan muncul saat ini dan beberapa tahun mendatang. Dampak fisik
sesungguhnya dapat diprediksi dari jumlah peserta didik, yang akan berimplikasi pada
Dampak fisik lainnya dapat muncul berupa penurunan kualitas lingkungan dengan
permintaan terhadap dukungan infrastruktur, seperti ruas jalan, ruang parkir, gedung
banyaknya sampah baik organik maupun non organik, penurunan kualitas udara, serta
sekolah dan fasilitas pendukung lainnya. Dampak non fisik memang lebih rumit karena
gangguan suara atau kebisingan yang muncul dari tingginya aktifitas di lingkungan
menyangkut perilaku manusia, yang membutuhkan penanganan berjangka panjang dan
pendidikan tinggi. Gangguan tersebut dapat dirasakan dan berdampak baik bagi peserta
komprehensif dengan berbagai pihak lainnya.
didik maupun masyarakat sekitar.
Yang tak kalah penting dilakukan adalah pengelolaan dampak, misalnya dalam bentuk
Dampak non fisik dapat terlihat misalnya dalam bentuk peningkatan gangguan keamanan,
pengaturan pola berkendara, pengelolaan sampah dan pengelolaan dampak negatif
seperti pencurian dan tindak kriminal fisik lainnya. Gangguan sosial juga dapat muncul
lainnya. Masalahnya, seringkali kawasan dan fasilitas pendidikan memiliki keterbatasan
karena adanya interaksi dari banyak pihak yang seringkali berbeda watak, kebiasaan dan
sedari awal, seperti lokasi pada lingkungan perumahan yang terbatas pengembangan
perilakunya, misalnya dalam bentuk perkelahian dan konflik horizontal lainnya. Gangguan
fisiknya. Akibatnya, permasalahan fisik, misalnya kemacetan akan terus berulang dari
non fisik pada akhirnya akan menurunkan kenyamanan untuk beraktifitas di lingkungan
tahun ke tahun, bahkan semakin parah. Pilihan relokasi mungkin merupakan pilihan yang
tersebut.
cukup logis, walaupun mahal dan memiliki dampak ikutan lainnya, seperti jauhnya jarak

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 47


dan lamanya waktu perjalanan yang akan berimplikasi pada menurunnya minat pada Secara fisik paths adalah merupakan salah satu unsur pembentuk kota. Path sangat
fasilitas pendidikan tersebut. Dengan demikian pengembangan kawasan dan fasilitas beraneka ragam sesuai dengan tingkat perkembangan kota, lokasi geografisnya,
pendidikan bukan merupakan hal sederhana yang hanya menyangkut aspek pendidikan aksesibilitasnya dengan wilayah lain dan sebagainya.
namun juga perencanaan ruang dan dampak sosial lainnya. Berdasarkan elemen pendukungnya , paths dikota meliputi jaringan jalan sebagai
2.2.2. Teori “Citra Kota” prasarana pergerakan dan angkutan darat, sungai, laut, udara, terminal/pelabuhan,
sebagai sarana perangkutan. Jaringan pengangkutan ini cukup penting khususnya
Kevin Lynch (The Image of The City) melakukan riset didasarkan pada citra mental jumlah
sebagai alat peningkatan perkembangan daerah pedesaan dan jalur penghubung baik
penduduk dari sebuah kota terhadap kotanya tersebut. Dalam risetnya, ditemukan betapa
produksi maupun komunikasi lainnya.
pentingnya citra mental itu karena citra yang jelas akan memberikan banyak hal yang
sangat penting bagi masyarakat kota yang hidup di dalamnya, seperti kemampuan untuk Berdasarkan frekuensi, kecepatan dan kepentingannya jaringan penghubung di kota
berorientasi dengan mudah dan cepat disertai perasaan nyaman karena tidak tersesat, dikelompokan menjadi:
identitas yang kuat terhadap suatu tempat, serta keselarasan hubungan dengan tempat- - Jalan arteri primer
tempat yang lain.
- Jalan arteri sekunder
Citra kota dapat didefinisikan sebagai gambaran mental dari sebuah kota sesuai dengan
- Jalan kolektor primer
rata-rata pandangan masyarakatnya.
- Jalan kolektor sekunder
Secara garis besar Prof.Kevin Lynch menemukan dan mengumpulkan ada lima elemen
pokok atau dasar yang oleh orang digunakan untuk membangun gambaran mental mereka - Jalan utama lingkungan

terhadap sebuah kota, yaitu sebagai berikut: - Jalan lingkungan

1. Pathways Paths ini akan terdiri dari eksternal akses dan internal akses, yaitu jalan-jalan

Pathways (jalur) adalah elemen yang paling penting dalam citra kota. Kevin Lynch penghubung antar kota dengan wilayah lain yang lebih luas.

menemukan dalam risetnya bahwa jika identitas elemen ini tidak jelas, maka umumnya Jaringan jalan adalah pengikat dalam suatu kota, yang merupakan suatu tindakan
orang meragukan citra kota secara keseluruhan. Path merupakan rute-rute sirkulasi dimana kita menyatukan semua aktivitas dan menghasilkan bentuk fisik suatu kota.
yang biasanya digunakan untuk melakukan pergerakan secara umum, yakni jalan, gang-
2. Edges
gang utama, jalan transit, pedestrian, saluran dan sebagainya.

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 48


Edges (tepian) adalah elemen linear yang tidak dipakai/dilihat sebagai path. Edges 4. Nodes
berada pada batas antara dua kawasan tertentu dan berfungsi sebagai pemutus linear, Nodes (simpul) merupakan simpul atau lingkaran daerah strategis di mana arah atau
misalnya pantai, tembok, batasan lintasan kereta api, topografi dan sebagainya. Edge aktifitasnya saling bertemu dan dapat diubah ke arah atau aktifitas lain, misalnya
lebih bersifat sebagai referensi daripada misalnya elemen sumbu yang bersifat persimpangan lalu lintas, lapangan terbang, jembatan, kota secara keseluruhan dalam
koordinasi (linkage). Edge merupakan penghalang walaupun kadang-kadang ada tempat skala makro, pasar, square, dan sebagainya. Tidak setiap persimpangan jalan adalah
masuk. Edge merupakan pengakhiran dari sebuah kawasan atau batasan sebuah node. Yang menentukan adalah citra place terhadapnya. Node adalah suatu tempat di
kawasan dengan kawasan lain. Edge memiliki identitas yang lebih baik jika kontunyuitas mana orang mempunyai perasaan ‘masuk’ dan ‘keluar’ pada tempat yang sama. Nodes
tampak jelas batasnya. Demikian pula fungsi batasnya harus jelas: membagi atau merupakan suatu pusat kegiatan fungsional dimana disini terjadi suatu pusat inti / core
menyatukan. region dimana penduduk dalam memenuhi kebutuhan hidup semuanya bertumpu di
3. District nodes. Nodes ini juga juga melayani penduduk di sekitar wilayahnya atau daerah
hiterlandnya. Node mempunyai identitas yang lebih baik jika memiliki bentuk yang jelas
District (kawasan) merupakan kawasan-kawasan kota dalam skala dua dimensi. Distrik
karena lebih mudah diingat, serta tampilan berbeda dari lingkungannya secara fungsi
yang ada dipusat kota berupa daerah komersial yang didominasi oleh kegiatan ekonomi.
dan atau bentuk.
Daerah ini masih merupakan tempat utama dari perdagangan, hiburan-hiburan dan
lapangan pekerjaan. Hal ini ditunjang oleh adanya sentralisasi sistem transportasi dan 5. Landmark
sebagian penduduk kota masih tingal pada bagian dalam kota-kotanya (innersections). Landmark (tetenger) merupakan titik referensi seperti elemen node, tetapi orang tidak
masuk ke dalamnya karena bisa dilihat dari luar letaknya. Landmark adalah elemen
Sebuah kawasan district memiliki ciri khas yang mirip (bentuk, pola dan wujudnya) dan
eksternal dan merupakan bentuk visual yang menonjol dari kota, misalnya gunung atau
khas pula dalam batasnya, di mana dapat dilihat sebagai referensi interior maupun
bukit, gedung tinggi, menara, tanda tinggi, tempat ibadah, pohon tinggi dan sebagainya.
eksterior. District mempunyai identitas yang lebih baik jika batasnya dibentuk dengan
Beberapa landmark hanya memiliki arti di daerah kecil dan dapat dilihat hanya di daerah
tampilan yang jelas dan dapat dilihat homogen, serta fungsi dan posisinya jelas.
itu, sedangkan landmark lain mempunyai arti untuk keseluruhan kota dan bisa dilihat
Proses perubahan yang cepat terjadi pada daerah ini sangat sering sekali mengancam
dari mana-mana. Landmark adalah elemen penting dari bentuk kota karena membantu
keberadaan bangunan-bangunan tua yang bernilai historis tinggi. Pada daerah-daerah
orang untuk mengorientasikan diri di dalam kota dan membantu orang mengenali suatu
yang berbatasan dengan distrik masih banyak tempat yang agak longgar dan banyak
daerah. Landmark mempunyai identitas yang lebih baik jika bentuknya jelas dan unik
digunakan untuk kegiatan ekonomi antara lain pasar lokal, daerah-daerah pertokoan
untuk golongan ekonomi rendah dan sebagian lain digunakan untuk tempat tinggal.
DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 49
dalam lingkungannya dan ada sekuens dari beberapa landmark (merasa nyaman dalam Idealnya setiap kegiatan publik di jalur-jalur utama memiliki area sendiri untuk parkir,
berorientasi), serta ada perbedaan skala masing-masing. sehingga tidak mengganggu space untuk sirkulasi lalu-lintas. Namun karena
keterbatasan lahan, tingginya nilai tanah, maka pada bangunan-bangunan perdagangan
2.2.3. Teori Elemen Perancangan Kota khususnya atau yang bersifat individu, cenderung tidak menyediakan area parkir.

Hamid Shirvani merinci 8 (delapan) elemen kota yang perlu dicermati dalam perancangan Akibatnya masyarakat pengguna bangunan / kota akan memanfaatkan badan jalan
kota (The Urban Design Process), yaitu: untuk parkir kendaraan atau menggunakan ruang-ruang terbuka untuk parkir
kendaraan, bukan pada area khusus parkir. Demikian juga pembedaan sirkulasi
a. Tata Guna Lahan (Land-Use)
berdasarkan kalsifikasi kendaraan cenderung tidak lagi mendapat tempat / perhatian,
Pola tata guna lahan menunjukkan fungsi lahan pada suatu kawasan dalam
misalnya kendaraan tidak bermotor (becak, sepeda, dsb), atau kendaraan roda 2 (dua)
menampung suatu aktivitas. Pada kota-kota biasanya fungsi lahan didominasi dengan
dengan roda 4 (empat) yang terpisah jalurnya. Dengan demikian pertimbangan
fungsi layanan publik seperti perkantoran, perdagangan, layanan jasa dan sebagainya.
kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan juga perlu diperhatikan.
Hal ini terutama pada wilayah dan zona yang menghadap jalan-jalan utama,
d. Ruang Terbuka
dikarenakan pertimbangan akses, nilai ekonomi dan sebagainya. Selain itu ada
kecenderungan pertumbuhan lebih terpusat kurang menyebar, sehingga laju urbanisasi Ruang terbuka bisa berupa hambaran ladang atau tanah kosong dan hamparan padang
sering tidak terhindarkan. hijau sawah, tetapi dalam konteks ruang kota, ruang terbuka lebih diharapkan sebagai
ruang publik sarana rekreasi warga kota, seperti lapangan, alun-alun, taman kota.
b. Bentuk dan Massa Bangunan
Ruang terbuka juga berfungsi sebagai paru-paru kota, seperti jalur hijau dan hutan
Banyaknya fungsi perdagangan atau ekonomi menuntut tingkat efisiensi ruang,
kota, sawah dan ladang. Sisi lain dari fungsi ruang terbuka adalah sebagai elemen
sehingga banyak masa bangunan ditata dengan setting merapat jalan atau tidak
estetika ruang perkotaan. Dengan demikian keberadaannya tidak cukup hanya ada,
memiliki sempadan jalan. Sedangkan pada bangunan-bangunan perkantoran dan
tetapi perlu penataan dan perencanaan.
pemerintahan masih cukup banyak ditemui penataan masa yang masih
e. Jalur Pejalan Kaki
mempertimbangkan ruang terbuka. Tatanan bentuk dan masa bangunan juga
menunjukkan karakteristik dan nilai arsitektur kota. Jalur pejalan kaki (pedestrian street) adalah wadah sirkulasi bagi manusia. Dalam
kontek kota maka jalur pejalan kaki terkait dengan keberadaan jalan / jalur kendaraan,
c. Sirkulasi dan Parkir
sehingga perlu ruang yang aman untuk aksesibilitas. Disamping itu faktor kenyamanan
juga harus dipertimbangkan, seperti jarak, keteduhan dan kemudahan akses. Dengan
DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 50
demikian hal - hal yang perlu dipertimbangkan untuk perencanaan jalur pejalan kaki 2.2.4. Teori Figure Ground, Linkage dan Place
(pedestrian street) antara lain: keamanan, kenyamanan, kapasitas dan aksesibilitas. Teori Perancangan Kota yang dikembangkan oleh Roger Trancik dalam “finding lost space”
f. Aktivitas Pendukung mengemukakan 3 (tiga) teori perancangan kota, yaitu: teori Figure-Ground, teori Linkage
dan Teori Place.
Aktivitas pendukung memberi kelengkapan terhadap aktivitas utama di kawasan
perkotaan. Keberadaan aktivitas pendukung dan aktivitas utama akan merupakan a. Figure-Ground
simbiosis mutualisme diantara berbagai elemen kota. Sebagai contoh keberadaan PKL Teori Figure-ground dipahami melalui pola perkotaan yang berkaitan dengan bentuk
yang mengikuti berbagai aktivitas - aktivitas kota seperti perdagangan, perkantoran, masa bangunan (building mass) dan ruang terbuka (open space). Melalui teori ini akan
pendidikan. Penataan PKL pada berbagai kawasan perkotaan menjadi pertimbangan membentuk identifikasi tekstur dan pola tata ruang perkotaan (urban fabric), sehingga
yang signifikan dalam perancangan kota. dapat dilihat pola keteraturan masa / ruang perkotaan. Teori ini lebih berorientasi pada
g. Elemen Penanda aspek 2 (dua) dimensi, belum menjangkau sisi tiga dimensi sehingga dinilai statis.

Elemen penanda sangat familiaer ditemui di kawasan perkotaan, baik berupa identitas b. Linkage
bangunan, nama jalan, rambu lalu - lintas dan reklame serta penerangan jalan. Teori Linkage mengidentifikasi dinamika kawasan-kawasan yang dinilai menjadi
Keberadaan elemen penanda sangat diperlukan sebagai media informasi maupun generator kota, sehingga terjalin keterkaitan dan hubungan antar kawasan secara erat.
penunjang regulasi. Namun pesatnya perkembangan kota serta tingginya tingkat Kawasan-kawasan yang menjadi generator dinamika kota tersebut antara lain pusat-
persaingan ekonomi, elemen penanda berupa papan reklame menjadi sangat dominan pusat kegiatan perdagangan, pemerintahan, rekreasi kota, pendidikan dan lain-lain.
di kawasan perkotaan. Oleh karena itu keberadaan sekaligus penataan elemen
c. Place
penanda dapat meningkatkan citra kota.
Teori Place memposisikan tempat-tempat strategis diperkotaan yang memiliki sejarah,
h. Preservasi
budaya dan sosial yang berpengaruh terhadap perjalanan kehidupan kota, beserta
Preservasi atau perlindungan pelestarian lingkungan, selain diberlakukan bagi masyarakatnya, sebagai bagian penting dalam perancangan kota. Dengan demikian
bangunan atau tempat-tempat bersejarah, juga perlu diberlakukan terhadap lahan- tempat-tempat yang memiliki makna dan memori yang melekat bagi masyarakat perlu
lahan yang memiliki fungsi lindung, seperti bantaran sungai dan hutan lindung. dikonservasi maupun direvitalisasi.

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 51


2.2.5. Teori Kawasan Tanggap Lingkungan (Responsive Environments) memperkirakan kebutuhan dimensi bangunan yang sesuai dengan jangkauan
pelayanan terhadap lingkungan.
Ian Bentley (1985) merinci 7 (tujuh) aspek yang perlu mendapat perhatian dalam
merancang kawasan perkotaan, yaitu: c. Legibility

a. Permeability Aspek legibility atau mudah tidaknya seseorang mengetahui orientasi suatu tempat di
dalam kawasan merupakan aspek ketiga yang penting untuk dianalisis. Mudah tidaknya
Aspek permeabilitas terkait dengan persoalan aksesibilitas. Aksesibilitas yang tersedia
seseorang bergerak di dalam suatu kawasan salah satunya ditentukan dengan
pada suatu kawasan sebagai ruang sirkulasi keluar – masuk ke dalam / keluar kawasan
mengenali posisinya dalam kawasan tersebut. Legibility pada lingkup bangunan juga
seyogyanya dapat dilakukan dengan mudah oleh masyarakat pada suatu kawasan.
penting untuk memberi kejelasan visual terhadap fungsi dan bentuk bangunan itu
Karena berkaitan dengan pencapaian kedalam / keluar kawasan, maka aksesibilitas
sendiri serta kesinambungannya dengan elemen lain dalam kawasan.
merupakan aspek sentral / pokok untuk menghidupkan kegiatan didalam suatu
kawasan. Semakin banyak jalan yang menghubungkan kawasan dengan lingkungannya d. Robustness
dan antar bagian di dalam kawasan, serta semakin banyak jalan-jalan tersebut yang Aspek robustness berkaiatan dengan pilihan kegunaan. Umumnya aspek ini terdapat
saling terhubung, maka permeabilitas akan semakin tinggi dibandingkan dengan jalan- pada ruang publik dan fasilitas umum yang ada di dalam suatu kawasan, dalam hal ini
jalan yang tidak saling berhubungan. Selain itu, tipe / kelas jalan dan ke arah mana jalan perancangan yang memungkinkan menentukan pilihan dalam menggunakan ruang
tersebut terhubung juga menentukan karakteristik kegiatan yang terjadi. Karena akan menciptakan interaksi kegiatan yang saling komplementer, serta akan mendukung
merupakan aspek pokok, maka analisis terhadap permeabilitas merupakan hal yang kesinambungan kegiatan yang berlangsung didalamnya jika dibandingkan dengan
paling mendasar sebelum melakukan analisis terhadap elemen lainnya yang ada pada kawasan yang hanya memiiki fungsi tunggal (single fixed use).
suatu kawasan.
e. Visual appropriatness
b. Variety
Aspek visual appropriatness atau kesesuaian / kecocokan visual berkaitan dengan
Aspek variety atau keanekaragaman fungsi / kegunaan spasial dan kegiatan yang interpretasi seseorang terhadap suatu bangunan. Bangunan-bangunan yang tampak
berlangsung pada ruang-ruang kawasan merupakan aspek kedua yang penting untuk depannya berkesan monoton akan kurang mendukung kejelasan bentuk dan fungsi
dianalisis. Semakin tinggi keanekaragaman kegiatan yang saling mendukung (mix of bangunan itu sendiri karena yang terlihat adalah kesan seragam. Berbeda dengan
uses) akan semakin mendorong perkembangan kawasan serta menjadi generator bangunan-bangunan yang bentuknya tidak monoton dan masing-masing bentuknya
perkembangan lingkungan sekitar. Analisis variety dilakukan dengan membuat menyesuaikan dengan fungsi dan letaknya.
perkiraan kebutuhan fungsi yang saling komplementer dalam kawasan, serta
DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 52
f. Richness (asrama), pusat makan dan jajanan, zona rekreasi, sarana dan prasarana lainnya akan
disediakan oleh kampus.
Aspek richness berkaitan dengan ragam pengalaman yang didapatkan oleh seseorang
ketika menggunakan sebuah ruang pada suatu kawasan. Pengalaman dalam Mahasiswa tidak perlu lagi mencari kontrakan atau kostan sebagai tempat tinggal karena
menggunakan ruang diperoleh diantaranya melalui hasil tangkapan mata terhadap asrama yang nantinya akan dibangun oleh kampus akan mampu menampung seluruh
objek fisik atau pengalaman visual maupun non visual. Jarak pandang dan waktu mahasiswa yang membutuhkan. Beberapa pusat makanan akas disediakan untuk
amatan seseorang terhadap sebuah bangunan misalnya, merupakan faktor-faktor memenuhi kebutuhan pangan mahasiswa, dan fasilitas lain akan menekankan mahasiswa
penentu kesan yang ditangkap (secara visual) oleh seseorang terhadap bangunan bahwa tidak ada alasan lain untuk keluar dari lingkungan kampus karena semua telah
tersebut. lengkap tersedia dalam lingkungan kampus.

g. Personalisation 2.2.7. Green Campus

Aspek personalisation umumnya dijumpai pada setiap pemilik bangunan dalam suatu Kampus Hijau (Green Campus) dilatar belakangi pemikiran bahwa lingkungan kampus
kawasan, tujuannya agar bangunan yang dimiliki mampu mencitrakan karakter diharapkan merupakan tempat yang nyaman, bersih, teduh (hijau), indah dan sehat.
penghuni / pemilik, sehingga setiap bangunan seringkali diberi elemen / ornamen, dan Pengertian istilah Kampus Hijau (Green Campus) dalam konteks pelastarian lingkungan
sebagainya, agar mampu menunjukkan eksistensi dan jati diri pemilik / pengguna. bukan hanya suatu lingkungan kampus yang dipenuhi dengan pepohonan yang hijau
ataupun kampus yang dipenuhi oleh cat hijau, ataupun berangkali karena kebetulan jaket
2.2.6. Educopolis
Almamater berwarna hijau, namun lebih jauh dari itu makna yang terkandung dalam
Educopolis merupakan gabungan antara 2 kata dari bahasa Yunani. “Educo” yang artinya
Kampus Hijau (Green Campus) adalah sejauh mana warga kampus dapat memanfaatkan
pendidikan dan “polis” yang artinya kota. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia,
sumberdaya yang ada di lingkungan kampus secara efektif dan efesien misalnya dalam
educopolis mempunyai arti sebagai “Kota Pendidikan”. Sebagai suatu sistem sosial,
pemanfaatan kertas, alat tulis menulis, penggunaan listrik, air, lahan, pengelolaan sampah
kawasan kampus dapat diibaratkan sebagai “kota” atau dalam istilah kemasyarakatan
dan lain-lain.
jaman Yunani disebut dengan “polis”. Tujuan kampus educopolis adalah untuk
Pengelolaan kampus yang berkesinambungan dan berkelanjutan dengan memperhatikan
menciptakan sebuah kampus dimana seluruh kebutuhan mahasiswa bisa didapatkan dalam
aspek lingkungan merupakan suatu keharusan saat ini. Permasalahan seperti perubahan
zona dan ruang kampus itu sendiri. Penjelasan yang lebih mudah adalah, mahasiswa tidak
iklim, pencemaran air, udara, dan tanah, krisis air, energi, dan sumber daya alam, serta
perlu repot-repot pergi jauh untuk mendapatkan apa yang mereka perlukan dalam
berkurangnya lahan hijau merupakan isu lingkungan global yang merupakan masalah
kehidupan sehari-hari. Dari pelayanan kesehatan, pelayanan publik, hunian mahasiswa
nyata di sekitar kita termasuk dalam kehidupan kampus.
DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 53
Kampus Hijau (Green Campus) didefinisikan sebagai kampus yang telah peduli dan tertentu atau budidaya pertanian dan juga untuk meningkatkan kualitas atmosfer serta
berbudaya lingkungan dan telah melakukan pengelolaan lingkungan secara sistematis dan menunjang kelestarian air dan tanah.
berkesinambungan. Kampus Hijau (Green Campus) merupakan refleksi dari keterlibatan b. Green Building
seluruh civitas akademika yang berada dalam lingkungan kampus agar selalu
Green Building adalah bangunan dimana sejak dimulai dalam tahap perencanaan,
memperhatikan aspek kesehatan dan lingkungan di sekitarnya.
pembangunan, pengoperasian hingga dalam operasional pemeliharaannya
Beberapa indikator terciptanya Kampus Hijau (Green Campus) antara lain adanya memperhatikan aspek-aspek dalam melindungi, menghemat, mengurangi penggunaan
kebijakan manajemen kampus yang berorientasi pada pengelolaan lingkungan, adanya
sumber daya alam, menjaga mutu dari kualitas udara di dalam ruangan, dan
upaya penghematan air, kertas, dan listrik, adanya penghijauan untuk mencapai memperhatikan kesehatan penghuninya yang semuanya berpegang kepada kaidah
proporsi ideal Ruang Terbuka Hijau (RTH), tersedianya bangunan/gedung ramah bersinambungan. Istilah Green building merupakan upaya untuk menghasilkan
lingkungan, terpeliharanya kebersihan dan kenyamanan lingkungan, terciptanya kampus bangunan dengan menggunakan proses-proses yang ramah lingkungan, penggunaan
tanpa rokok dan bebas polusi, terselenggaranya pendidikan lingkungan bagi
sumber daya secara efisien selama daur hidup bangunan sejak perencanaan,
mahasiswa, serta adanya kepedulian dan keterlibatan seluruh elemen civitas akademika pembangunan, operasional, pemeliharaan, renovasi bahkan hingga pembongkaran.
dalam budaya peduli lingkungan. Bangunan hijau (green building) didesain untuk mereduksi dampak lingkungan
Untuk mencapai indikator-indikator yang sangat komprehensif tersebut diperlukan terbangun pada kesehatan manusia dan alam, melalui: efisiensi dalam penggunaan
tindakan nyata yang berkesinambungan dan bukan sekedar ceremonial atau event belaka. energi, air dan sumber daya lain; perlindungan kesehatan penghuni dan meningkatkan
Untuk itu, perubahan pola pikir seluruh civitas akademika dalam menyikapi dan produktifitas pekerja; mereduksi limbah/buangan padat, cair dan gas, mengurangi
memperlakukan lingkungan secara benar merupakan langkah awal yang perlu terus polusi/pencemaran padat, cair dan gas serta mereduksi kerusakan lingkungan.
diupayakan. c. Green Transportation
Elemen-elemen Green Campus, meliputi: Green Transportation adalah segala jenis praktek transportasi yang ramah lingkungan,
a. Green Space rendah emisi dan tidak memiliki dampak negatif yang signifikan pada lingkungan
sekitarnya. Green Campus harus dimulai dari Green Transportation karena Green
Untuk mewujudkan sebagai Green Campus, Ruang Terbuka Hijau (RTH) harus menjadi
Transportation mendesak untuk didahulukan karena masalah emisi, keamanan dan
perhatian Perguruan Tinggi. RTH yang ideal adalah 40 persen dari luas wilayah. Selain
kerawanan sosial umumnya menjadi isu utama di dalam kampus.
sebagai sarana lingkungan, RTH juga juga dapat berfungsi untuk perlindungan habitat

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 54


Secara kumulatif, sepeda motor menghasilkan emisi yang lebih tinggi dari jenis dilakukan adalah mematikan AC saat sudah sejuk atau mematikan lampu jika ruangan
kendaraan lainnya serta polusi suara yang mengganggu kenyamanan kegiatan belajar. sudah tidak digunakan. Misalnya, lampu koridor dan teras dinyalakan saat matahari
Yang perlu diatur berkaitan dengan sepeda motor terutama adalah lokasi parkir. Bis jelang tenggelam dan dimatikan saat terbit. Tidak hanya itu, hal-hal kecil yang bisa
dan mobil listrik adalah sarana transportasi alternatif. Dapat digunakan bila tidak dilakukan adalah menampung air AC yang kemudian digunakan untuk menyiram
bersedia berjalan kaki, naik sepeda, atau karena alasan lainnya sehingga diharuskan tanaman.
membayar tarif yang berlaku sebagai biaya opportunitas. Tarif ini diberlakukan untuk e. Green Movement
mendorong kita lebih membudayakan pola hidup sehat dengan berjalan kaki atau
Keberhasilan pencapaian Kampus Hijau (Green Campus) tidak hanya ditandai dari
bersepeda.
pencapaian fisik, namun lebih pada perubahan attitude dan mindset seluruh
Green Transportation perlu ditunjang dengan pembuatan jalur sepeda yang elemen civitas akademika Perguruan Tinggi terhadap lingkungan. Untuk itu perlu
terintegrasi dengan moda transportasi yang lain, pembuatan jalur pedestrian yang dilakukan perubahan mendasar pada sikap dan pola pikir seluruh civitas akademika
nyaman dan integrated, pembuatan rambu (signage) yang informatif dan estetis,
Perguruan Tinggi melalui program green movement. Terciptanya sikap dan pola pikir
pengelolaan bike share atau sepeda bersama dalam kampus, perbaikan geometric, yang pro terhadap lingkungan akan mengkondisikan dan mendorong pelaksanaan
median, dan pulau jalan, serta kampanye safety riding bagi warga Perguruan Tinggi. program Kampus Hijau (Green Campus) secara sistematis dan berkelanjutan. Dalam
Untuk menyediakan sistem pergerakan yang nyaman dan sehat, dapat dilakukan pula jangka panjang pola pikir dan sikap tersebut akan merupakan salah satu atribut
uji emisi gas buang kendaraan bermotor secara rutin. Dengan program ini lulusan Perguruan Tinggi yang pada akhirnya akan berpengaruh besar terhadap
diharapkan suatu saat semua kendaraan yang melintas di Perguruan Tinggi telah terciptanya kepedulian dan budaya lingkungan di Indonesia, di manapun alumni
memenuhi baku mutu emisi untuk peningkatan kualitas udara ambien. Perguruan Tinggi melakukan perannya. Green movement dapat ditunjang dengan
d. Green Energy program socio engineering yang tidak hanya ditujukan untuk perubahan sikap dan
pola pikir, namun juga ditujukan untuk mengenalkan konsep, pemikiran, serta peluang
Green Energy dilakukan dengan melakukan pengurangan penggunaan energi listrik
keterlibatan seluruh pemangku kepentingan dalam program Kampus Hijau (Green
bersumber dari bahan bakar fosil (termasuk PLN) dan menggantikan dengan solar cell,
Campus).
kemungkinan untuk membuat pembangkit listrik tenaga air (MHPP) dan biogas untuk
kepentingan kampus.

Salah satu prinsip green campus adalah saving energy atau hemat energi. Artinya 2.2.8. Urban Design Guidelines
meminimalkan penggunaan energi, salah satunya adalah listrik. Contoh kecil yang bisa a. Definisi Urban Design Guidelines
DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 55
Urban Design Guidelines (UDGL) adalah panduan rancang kota yang disusun dengan tujuan 3. Terwujudnya arsitektur kawasan yang akomodatif terhadap berbagai isu lingkungan,
menjembatani hasil rancangan ke dalam suatu panduan rancang yang spesifik untuk baik yang bersifat fisik/ alami maupun sosial budaya.
menjamin kualitas pada tingkat yang mikro. UDGL adalah penghubung antara kebijakan Panduan Rancang Kota merupakan panduan perancangan dan sekaligus sebagai perangkat
pemerintah dan perancangan fisik kawasan tertentu. Panduan rancang kota merupakan kendali bagi pembangunan bangunan dengan skala besar. Sasaran utamanya adalah untuk
alat pengendali yang menjamin diimplementasikannya rencana rancang kota dalam skala menjamin agar hasil akhir dari perancangan dapat terwujud sesuai dengan
mikro dengan kualitas yang tinggi. Urban design guidelines berfungsi sebagai acuan dalam perencanaannya. Panduan ini dirumuskan agar mampu menjaga kualitas arsitektural
menentukan arahan perkembangan suatu kota atau wilayah, baik dari segi sosial, ekonomi, secara tegas namun tetap memberikan kelenturan (fleksibilitas) agat tidak bersifat terlalu
politik maupun budaya sehingga terbentuk citra spesifik suatu kota (Budihardjo, Sujarto, mengekang kreatifitas arsitek dalam merancang bangunan atau komplek bangunan dan
1998: 35). Panduan Rancang Kota (Urban Design Guidelines) setidaknya harus memiliki lingkungan. Untuk menciptakan fleksibiltas tersebut dimungkinkan adanya perubahan
tujuan dan sasaran yang jelas, memuat isu terkait baik secara makro maupun mikro dan terhadap peruntukan lahan untuk mengantisipasi perkembangan pembangunan suatu
bersifat aplikatif (Shirvani, 1983:152). kawasan, namun perubahan yang terjadi harus melalui sistem dan prosedur yang sesuai
Perancangan Kota (Urban Design) dalam penyusunan masterplan ini bertujuan untuk dengan peraturan yang berlaku.
memberikan pedoman guna mewujudkan lingkungan kampus yang berkualitas serta Panduan perancangan dirumuskan untuk memberikan arahan perancangan fisik bagi
berorientasi pada manusia dan/atau kepentingan umum dengan penekanan pada aspek pertumbuhan vitalitas baru dengan tetap mempertahankan kaidah-kaidah perencanaan
kualitas fungsional, kualitas visual, dan kualitas lingkungan. Urban Design Guidelines atau dan perancangan kota serta peraturan dan kebijakan yang berlaku. Panduan disusun
panduan rancang kota (PRK) berisi uraian teknis yang terperinci, yang berupa ketentuan- sebagai pedoman atau checklist dalam implementasi. Materi tulisan akan menjelaskan
ketentuan, persyaratan-persyaratan, standar dimensi dan standar kualitas, yang akan bagaimana panduan menjawab suatu aspek tertentu, sementara materi sketsa akan
memberikan arahan bagi terselenggaranya serta terbangunnya suatu kawasan fisik, baik memberikan gambaran/ ilustrasi bagaimana hal tersebut dapat dilaksanakan. Materi
yang menyangkut aspek tata ruang, bangunan, sarana dan prasarana, utilitas maupun panduan perancangan juga dapat menjadi bagian dari perjanjian jual beli tanah dalam
lingkungannya, sehingga sesuai dengan rencana kota yang telah digariskan. Tujuan dari proyek.
perangkat Panduan Rancang Kota (PRK) adalah:
b. Lingkup Panduan Rancang Kota
1. Terciptanya lingkungan kampus terpadu, yang pada akhirnya dapat meningkatkan
Ruang lingkup panduan Rancang Kota menyangkut suatu tinjauan atas Wilayah Tertentu
efisiensi pemanfaatan lahan serta kemampuan daya dukungnya;
Kota yaitu suatu bagian wilayah kota, kawasan atau lingkungan yang ditetapkan sebagai
2. Terwujudnya wajah kawasan dengan kinerja yang memadai; bagian wilayah, kawasan dan/atau lingkungan yang mempunyai nilai strategis yang
DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 56
diprioritaskan atau memerlukan kekhususan di dalam penataannya (overlay zone). Penjelasan pendahuluan ini merupakan gambaran kegiatan, yang berisikan batasan
Panduan Rancang Kota secara umum menyangkut kaitan wawasan kawasan perencanaan wilayah perencanaan, berbagai perangkat aturan yang berlaku, serta keterkaitannya
dengan Rencana Kota. Pada bagian ini dikemukakan keterangan mengenai hubungan dengan studi-studi atau dokumen-dokumen kebijakan lain yang terkait.
fungsi kegiatan yang direncanakan sebagaimana yang ditetapkan dalam Rencana Tata 2. Skenario Pembangunan
Ruang Wilayah yang bersangkutan dengan kawasan perencanaan. Pada dasarnya bagian ini
Skenario Pembangunan berisikan arahan batasan wilayah perencanaan, berbagai
mengandung diskripsi tentang latar belakang pembangunan kampus serta kesesuaiannya
perangkat aturan yang berlaku, serta keterkaitannya dengan studi-studi atau dokumen-
dengan kebijaksanaan pembangunan kota/kabupaten di dalam RTRW serta peruntukannya
dokumen kebijakan lain yang terkait. Prinsip distribusi nilai intensitas dan strategi
dalam rencana kawasan. Diskripsi khusus tentang kawasan fungsional yang direncanakan
penyebaran distribusi intensitas di dalam kawasan
yang menyangkut:
3. Konsep Perancangan
• Konsepsi dan rencana tapak
Bab ini menjelaskan Visi pembangunan kawasan, skenario pengembangan dan penataan
• Konsepsi yang berkaitan dengan penyesuaian lingkungan alami dan iklim mikro
fisik kawasan termasuk didalamnya konsep penyebaran fungsi dan intensitas, tata hijau
(penyinaran matahari, suhu, angin, hujan)
dan tata massa bangunan.
• Konsepsi Tata Bangunan dan Bangun-bangunan termasuk aspek-aspek arsitektural dan
4. Panduan Detail Pembangunan
kerekayasaan.
Berisikan arahan penataan fisik bangunan, diuraikan dalam skala yang lebih rinci,
• Konsepsi sirkulasi dan kemudahan pergerakan internal (dalam kawasan) dan eksternal menjadi panduan pembangunan dan pengembangan blok. Di dalamnya ditentukan
(dengan luar kawasan dan dengan bagian wilayah dan kawasan fungsional lainnya) aturan-aturan yang wajib untuk dilaksanakan dan bersifat mengikat serta aturan-aturan

• Konsepsi ruang-ruang terbuka, ruang pemeliharaan dan ruang pengamanan. lain yang lebih bersifat anjuran.

• Konsepsi kelengkapan lingkungan seperti lampu umum, rambu-rambu, dan tanda-tanda, c. Rencana Pemanfaatan Lahan.

tempat duduk umum, telepon booth, pemberhentian angkutan umum). Berikut ini adalah contoh rencana atau usulan distribusi pemanfaatan lahan Panduan

Panduan Rancang Kota (PRK) memuat: Rancang Kota Koridor Ciledug, Provinsi DKI Jakarta. Muatan yang dimuat dalam usulan
distribusi pemanfaatan lahan antara lain: luas lahan, peruntukan, KDB, KLB, KB, dan Luas
1. Penjelasan Pendahuluan
lantai. Dalam usulan juga dapat dicantumkan syarat-syarat tertentu, misalnya nilai
distribusi intensitas KLB akan berlaku jika dan hanya jika terdapat pengembangan sarana
DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 57
transportasi publik, pengembangan daya dukung jalan berupa rencana JLNT (Jembatan
Layang Non Tol) dan sebagainya.

Tabel 2.3. Usulan Distribusi Intensitas Pemanfaatan Lahan

Gambar 2.14. Contoh Rencana Sirkulasi Jalur Sepeda di Kawasan Kota Tua Jakarta

e. Rencana Ruang Terbuka dan Tata Hijau


Berikut ini adalah contoh rencana ruang terbuka dan tata hijau

d. Rencana Sirkulasi dan Sistem Penghubung

Berikut ini adalah contoh rencana sirkulasi untuk jalur sepeda di Kawasan Kota Tua Provinsi
DKI Jakarta.
Gambar 2.15. Contoh Rencana Tata Hijau

f. Rencana Tata Massa Bangunan


Berikut ini adalah contoh rencana tata massa bangunan untuk area pengembangan baru di
Area Dalam Tembok Kota Tua :

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 58


Gambar 2.16. Contoh Rencana Tata Massa Bangunan

g. Rencana Tata Informasi dan Wajah Jalan


Berikut ini contoh rencana jalan dan irisan melintang jalan Gambar 2.18. Rencana Pemanfaatan Ruang dan Irisan Penampang Jalan

h. Focal Point dan Citra


Berikut ini contoh view untuk focal point dan citra kawasan

Gambar 2.17. Contoh Rencana Jalan

Gambar 2.19. Plaza dan Landmark Kawasan

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 59


2.2.9. Lansekap Kawasan oleh masyarakat kawasan. Oleh karena itu di dalam strategi pencirian ruang kawasan
sangat penting difokuskan kepada tanaman sebagai elemen visual kawasan yang
Tujuan yang ingin dicapai dari Penyusunan Masterplan sebuah kawasan adalah untuk
memberikan makna (sense of place) bagi pengguna/masyarakat didalamnya.
menciptakan keterpaduan, keseimbangan, keserasian dan kelestarian lingkungan sebuah
kawasan, salah satunya melalui penataan lansekap di dalam kawasan agar dicapai B. Pola Penanaman
perencanaan yang efektif dan efesien. Dalam hal ini perlu dipertimbangkan disamping Di dalam suatu ekosistim, tanaman memiliki fungsi sebagai berikut:
tinjauan tata ruang dan peruntukan kawasan ruang terbuka lansekap secara keruangan hal  Menurunkan suhu udara dan kelembaban
ini akan memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut terbentuk akibat  Menahan angin dan menyerap polusi
adanya karakter bentuk lahan dengan segsala kondisinya, serta kebutuhan fungsi  Fungsi pengarah dan pembentuk ruang
ruangnya. Karakter ruang tersebut menjadi spesifik dengan adanya tata ruang, dan tata  Menciptakan habitat satwa di sekitanya
pola vegetasi yang memiliki tampilan fisik beragam, tampilan material finishing hardscape Adapun pola penanaman vegetasi akan mempertimbangkan bentuk kontur tanah, serta
serta komponen furniture lansekapnya. Karakter formal, semi formal, publik atau private konsep dari ruang-ruang yang akan tercipta. Secara garis besar pola penanaman akan
menjadi acuan penyelesaian pembentukan ruang, sehingga suasana ruang yang diinginkan dibedakan secara:
dapat terpenuhi dilain pihak faktor-faktir teknis menjadi pertimbangan penting agar tidak  Soliter, berkelompok, linier, menyebar, secara alami, bahkan memiliki strata/jenjang
terjadi kegagalan dalam implementasi. Beberapa pertimbangan perancangan lansekap jenis tanaman.
yang menentukan keberhasilan disain harus mempertimbangkan faktor ekologis, fungsi,  Pemilihan jenis vegetasi, akan mempertimbangkan konsep dari setiap pembagian zona-
estetis, keamanan, kenyamanan, pemeliharaan jangka panjang. zona di dalam Kawasan, dan akan disesuaikan bentuk karakter serta jenisnya, seperti;

A. Strategi Pencirian Ruang Lansekap jenis pohon, jenis semak/perdu, jenis ground cover.

Strategi pencirian ruang Lansekap pada sebuah kawasan adalah strategi yang dilakukan
untuk membangkitkan karakter lansekap kawasan serta memperkuat identitasnya dengan
memberikan penekanan–penekanan yang berbeda pada masing– masing distrik/zona
pembagian ruang yang ada di dalam kawasan.

Dalam menandai lingkungannya, faktor kekuatan penataan tanaman dan pemilihan jenis
tanaman secara visual menjadi sangat dominan sehingga semakin memperkuat faktor
visual maka akan semakin kuat pula karakter tanaman tersebut akan diingat/dipahami
DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 60
Gambar 2.24. Penanaman Vegetasi untuk Memberi Kesan Gambar 2.25. Penanaman Vegetasi untuk Menciptakan
Lembut Terhadap Elemen Hardscape Fungsi Ruang

Gambar 2.20. Contoh Penanaman Vegetasi sebagai Gambar 2.21. Contoh Perbedaan Pola
Pengarah dan Pembatas Ruang Penanaman Jenis/Karakter Vegetasi
Pada Jalur Pedestrian

Gambar 2.26. Penanaman Vegetasi Memperkuat Karakter Lingkungan

Gambar 2.22. Vegetasi yang Dapat Gambar 2.23. Vegetasi Menciptakan Iklim Mikro
Menciptakan Ruang Secara Tematik

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 61


2.2.10. Studi Preseden Masterplan Kampus Perguruan Tinggi
A. The University of Kent, Canterbury
The University of Kent berlokasi di atas bukit di Kota Canterbury dan memiliki view yang
bagus. Berikut ini adalah konsep masterplan dari University of Kent.

Gambar 2.28. Konsep Masterplan University of Kent

Gambar 2.27. Konsep Masterplan University of Kent

Gambar 2.29. Konsep Masterplan University of Kent

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 62


Kriteria utama dari klasifikasi embung adalah volume tampungan dan tinggi maksimun
sedangkan ukuran panjang dan lebar tidak mengikat dan dapat disesuaikan dengan kondisi
di lapangan.

Setiap embung di rencanakan mempunyai kapasitas 200.000-300.000 m3.

B. Komponen Embung yang disesuaikan dengan data serta kebutuhan

i. Sumber air dari Sungai

Air yang berasal dari sungai/saluran alami yang masuk ke dalam kolam embung. (kalau
tersedia)

ii. Sumber air dari mata air

Air yang bersumber dari mata air alami sebagai sumber air yang masuk ke dalam kolam
embung. (kalau tersedia, dari lokasi lain)

Gambar 2.30. Konstelasi Regional Kampus dengan Wilayah di Sekitarnya iii. Bak Pengendap

2.2.11. Perencanaan dan Pembangunan Embung dan Long Storage Bangunan yang berfungsi untuk mengendapkan material yang terbawa oleh air
sebelum masuk ke dalam embung.
A. Kriteria Embung
iv. Batas daerah tadah hujan
Mengikuti peraturan dan pedoman yang berlaku, Embung merupakan bangunan
konservasi air berbentuk kolam/cekungan untuk menampung air limpasan serta sumber Titik tertinggi di sekeliling embung yang menandai daerah yang dapat diisi oleh air

air lainya. Embung dapat menampung air dari berbagai sumber air misalnya air hujan, ketika hujan turun.

limpasan sungai, mata air, dan limpasan saluran pembuang irigasi. Air yang ditampung v. Kolam embung
dapat digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan yaitu untuk kebutuhan air bersih
Wadah air yang terbentuk pada cekungan embung dan tertahan oleh tubuh embung
sebuah kawasan, bangunan penunjang lainya serta untuk air baku tanaman terutama
yang berfungsi menampung air hujan.
pada musim kemarau.
vi. Pelimpah

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 63


Saluran terbuka dari galian/timbunan tanah atau batu untuk melimpaskan air yang
berlebihan pada kolam embung.

vii. Pintu penguras.

Pintu yang bias dibuka/tutup untuk menguras dan membersihkan embung dari kotoran
dan sedimentasi untuk mengosongkan seluruh isi embung bila diperlukan untuk
perawatan.

viii. Pipa distribusi/saluaran terbuka

Pipa yang menyalurkan air dari kolam embung ke lokasi dimana air akan di gunakan.

ix. Bak/tandon air untuk air bersih Gambar 2.31. Ilustrasi Embung yang SumberAirnya dari Mata Air dan Tadah Hujan

Tampungan air yang akan digunakan untuk keperluan rumah tangga. C. Long Storage dan Bak Penampung

x. Bak/tandon air untuk hewan ternak Beberapa hal yang perlu dipahami mengenai Long Storage dan Bak Penampungan :

Tampungan air yang akan di konsumsi oleh hewan ternak. 1. Kriteria Long Storage

xi. Bak/tandon air untuk tanaman Long storage adalah bangunan penahan air yang berfungsi menyimpan air dalam
sungai, kanal dan /atau parit pada lahan yang relatif datar dengan cara menahan aliran
Tampungan yang akan dipakai untuk mengairi tanaman pada sawah atau kebun.
untuk menaikan permukaan air sehingga volume tampungan airnya meningkat . Long
storage menampung air dari berbagai aliran permukaan misalnya sungai, mata air, dan
limpasan saluran pembuang irigasi.

2. Komponen Long Storage

Long Storage terdiri dari berbagai komponen antara lain:

a. Sumber air sungai

Air berasal dari sungai yang di tampung sebagai pengisi air di long storage.

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 64


b. Dinding saluran
f. Bak/tendon air untuk air bersih
Lereng/tebing di sisi kanan dan kiri sepanjang long storage dipasang turap untuk
perkuatan terhadap longsoran. Bak penampung yang akan digunakan untuk keperluan rumah tangga.

c. Saluran long storage g. Bak/tandon air untuk hewan ternak

Wadah air yang terbentuk pada saluran dan tertahan oleh tubuh bendung yang Tampungan air yang akan di konsumsi oleh hewan ternak
berfungsi menampung aliran air. h. Bak/tandon air untuk tanaman
d. Bangunan penahan Tampungan yang akan dipakai untuk mengairi tanaman pada sawah atau kebun.
Bangunan yang dapat berupa urukan tanah atau pasangan batu yang berfungsi
untuk menahan dan menampung air. /buatan/ala
m
e. Pipa distribusi/saluran terbuka

Pipa yang menyalurkan air dari kolam embung ke lokasi dimana air akan di
gunakan. Untuk saluran terbuka ditempatkan pada batas-batas zonasi kawasan
ataupun di infrastruktur jalan serta kebun.

Gambar 2.33. Ilustrasi Long Storage beserta Komponennya


Gambar 2.32. Contoh Saluran Terbuka yang Mengalirkan Air dari Embung

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 65


2.2.12. Jalan Berdasarkan sistem jaringan jalan, maka dikenal 2 (dua) istilah, yaitu:

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2004 disebutkan bahwa jalan a. Sistem Jaringan Jalan Primer
adalah suatu prasarana transportasi yang meliputi segala bagian jalan termasuk Jaringan jalan primer disusun berdasarkan rencana tata ruang dan pelayanan
bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang distribusi barang dan jasa untuk pengembangan semua wilayah di tingkat
berada di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas nasional, dengan menghubungkan semua simpul jasa distribusi yang berwujud
permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori dan jalan kabel. Jalan mempunyai pusat-pusat kegiatan sebagai berikut:
peranan penting terutama yang menyangkut perwujudan perkembangan antar wilayah
 Menghubungkan secara menerus pusat kegiatan nasional, pusat kegiatan
yang seimbang, pemerataan hasil pembangunan serta pemantapan pertahanan dan
wilayah, pusat kegiatan lokal sampai ke pusat kegiatan lingkungan.
keamanan nasional dalam rangka mewujudkan pembangunan nasional.
 Menghubungkan antarpusat kegiatan nasional.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan dijelaskan
Sistem jaringan jalan primer merupakan sistem jaringan jalan yang
bahwa penyelenggaraan jalan yang konsepsional dan menyeluruh perlu melihat jalan
menghubungkan antarkawasan perkotaan, yang diatur secara berjenjang sesuai
sebagai suatu kesatuan sistem jaringan jalan yang mengikat dan menghubungkan pusat-
dengan peran perkotaan yang dihubungkannya. Untuk melayani lalu lintas
pusat kegiatan. Dalam hubungan ini dikenal sistem jaringan jalan primer dan sistem
menerus maka ruas-ruas jalan dalam sistem jaringan jalan primer tidak terputus
jaringan jalan sekunder.
walaupun memasuki kawasan perkotaan.
Pada setiap sistem jaringan jalan diadakan pengelompokan jalan menurut fungsi, status,
b. Sistem Jaringan Jalan Sekunder
dan kelas jalan. Pengelompokan jalan berdasarkan status memberikan kewenangan
kepada Pemerintah untuk menyelenggarakan jalan yang mempunyai layanan nasional Jaringan jalan sekunder disusun berdasarkan rencana tata ruang wilayah

dan pemerintah daerah untuk menyelenggarakan jalan di wilayahnya sesuai dengan kabupaten/kota dan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk masyarakat di

prinsip-prinsip otonomi daerah. dalam kawasan perkotaan yang menghubungkan secara menerus kawasan yang
mempunyai fungsi primer, fungsi sekunder kesatu, fungsi sekunder kedua, fungsi
A. Sistem Jaringan Jalan
sekunder ketiga, dan seterusnya sampai ke persil.
Sistem jaringan jalan disusun dengan mengacu pada rencana tata ruang wilayah dan
Sistem jaringan jalan sekunder merupakan sistem jaringan jalan yang
dengan memperhatikan keterhubungan antarkawasan dan/atau dalam kawasan
menghubungkan antarkawasan di dalam perkotaan yang diatur secara berjenjang
perkotaan, dan kawasan perdesaan.
sesuai dengan fungsi kawasan yang dihubungkannya.

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 66


Berdasarkan fungsinya, maka jalan dibedakan menjadi beberapa fungsi, yaitu:  Kolektor Sekunder: Jalan yang menghubungkan kawasan sekunder

a. Jalan Arteri kedua dengan kawasan sekunder kedua atau kawasan sekunder kedua
dengan kawasan sekunder ketiga. Didesain berdasarkan kecepatan
 Arteri Primer: Jalan yang menghubungkan secara berdaya guna
rencana paling rendah 20 km per jam dengan lebar badan jalan minimal 9
antarpusat kegiatan nasional atau antara pusat kegiatan nasional dengan
meter, dan lalu lintas cepat tidak boleh terganggu oleh lalu lintas lambat.
pusat kegiatan wilayah. Didesain berdasarkan kecepatan rencana paling
c. Jalan Lokal
rendah 60 km per jam, lebar badan jalan minimal 11 meter, lalu lintas
jarak jauh tidak boleh terganggu lalu lintas ulang alik, lalu lintas lokal dan  Lokal Primer: Jalan yang menghubungkan secara berdaya guna pusat

kegiatan lokal, jumlah jalan masuk ke jalan arteri primer dibatasi, serta kegiatan nasional dengan pusat kegiatan lingkungan, pusat kegiatan

tidak boleh terputus di kawasan perkotaan. wilayah dengan pusat kegiatan lingkungan, antarpusat kegiatan lokal, atau
pusat kegiatan lokal dengan pusat kegiatan lingkungan, serta antarpusat
 Arteri Sekunder: Jalan yang menghubungkan kawasan primer dengan
kegiatan lingkungan. Didesain berdasarkan kecepatan rencana paling
kawasan sekunder kesatu, kawasan sekunder kesatu dengan kawasan
rendah 20 km per jam dengan lebar badan jalan minimal 7,5 meter, dan
sekunder kesatu, atau kawasan kawasan sekunder kesatu dengan kawasan
tidak boleh terputus di kawasan perdesaan.
sekunder kedua. Didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah
30 km per jam dengan lebar badan jalan minimal 11 meter, dan lalu lintas  Lokal Sekunder: Jalan yang menghubungkan kawasan sekunder kesatu

cepat tidak boleh terganggu oleh lalu lintas lambat. dengan perumahan, kawasan sekunder kedua dengan perumahan,
kawasan sekunder ketiga dan seterusnya sampai ke perumahan. Didesain
b. Jalan Kolektor
berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 10 km per jam dengan
 Kolektor Primer: Jalan yang menghubungkan secara berdaya guna antara lebar badan jalan minimal 7,5 meter.
pusat kegiatan nasional dengan pusat kegiatan lokal, antarpusat
d. Jalan Lingkungan
kegiatan wilayah, atau antara pusat kegiatan wilayah dengan pusat
kegiatan lokal. Didesain berdasarkan berdasarkan kecepatan rencana  Lingkungan Primer: Jalan yang menghubungkan antarpusat kegiatan di

paling rendah 40 km per jam dengan lebar badan jalan minimal 9 meter, dalam kawasan perdesaan dan jalan di dalam lingkungan kawasan

dan jumlah jalan masuk dibatasi. perdesaan. Didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 15 km
per jam dengan lebar badan jalan minimal 6,5 meter untuk jalan yang
diperuntukkan bagi kendaraan bermotor roda 3 atau lebih. Sedangkan
DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 67
jalan yang tidak diperuntukkan bagi kendaraan bermotor roda 3 atau lebih B. Status Jalan
harus mempunyai lebar badan jalan minimal 3,5 meter. Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan
 Lingkungan Sekunder: Jalan yang menghubungkan antarpersil dalam dan Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan, maka sesuai dengan
kawasan perkotaan. Didesain berdasarkan kecepatan rencana paling kewenangan/status, maka jalan umum dikelompokkan sebagai berikut:
rendah 10 km per jam dengan lebar badan jalan minimal 6,5 meter untuk 1. Jalan Nasional
jalan yang diperuntukkan bagi kendaraanbermotor roda 3 atau lebih.
2. Jalan Provinsi
Sedangkan jalan yang tidak diperuntukkan bagi kendaraan bermotor roda
3 atau lebih harus mempunyai lebar badan jalan minimal 3,5 meter. Lebar 3. Jalan Kabupaten

badan jalan paling sedikit 3,5 meter ini dimaksudkan agar lebar jalur lalu 4. Jalan Kota
lintas dapat mencapai 3 meter, dengan demikian pada keadaan darurat
5. Jalan Desa
dapat dilewati mobil dan kendaraan khusus lainnya seperti pemadan
Pengertian dari masing-masing status jalan tersebut adalah sebagai berikut:
kebakaran, ambulan, dan sebagainya.
1. Jalan Nasional

Jalan Nasional terdiri dari:

a. Jalan Arteri Primer

b. Jalan Kolektor Primer yang menghubungkan antar ibukota provinsi

c. Jalan Tol

d. Jalan Strategis Nasional

Penyelenggaraan Jalan Nasional merupakan kewenangan Kementerian Pekerjaan


Umum dan Perumahan Rakyat, yaitu di Direktorat Jenderal Bina Marga yang dalam
pelaksanaan tugas penyelenggaraan jalan nasional dibentuk Balai Besar Pelaksanaan
Jalan Nasional sesuai dengan wilayah kerjanya masing-masing.
Gambar 2.34. Jalan Kabupaten : Jalan Kelas III

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 68


Sesuai dengan kewenangannya, maka ruas-ruas jalan nasional ditetapkan oleh Ruas-ruas jalan kabupaten ditetapkan oleh Bupati dengan Surat Keputusan (SK)
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dalam bentuk Surat Keputusan (SK) Bupati.
Menteri PUPR. 4. Jalan Kota
2. Jalan Provinsi Jalan Kota adalah jalan umum pada jaringan jalan sekunder di dalam kota, merupakan
Penyelenggaraan Jalan Provinsi merupakan kewenangan Pemerintah Provinsi. Jalan kewenangan Pemerintah Kota. Ruas-ruas jalan kota ditetapkan oleh Walikota dengan
Provinsi terdiri dari: Surat Keputusan (SK) Walikota
a. Jalan Kolektor Primer yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota 5. Jalan Desa
kabupaten atau kota
Jalan Desa adalah jalan lingkungan primer dan jalan lokal primer yang tidak termasuk
b. Jalan Kolektor Primer yang menghubungkan antar ibukota kabupaten atau kota
jalan kabupaten di dalam kawasan perdesaan, dan merupakan jalan umum yang
c. Jalan Strategis Provinsi
menghubungkan kawasan dan/atau antar permukiman di dalam desa.
d. Jalan di Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
C. Kelas Jalan
Ruas-ruas jalan provinsi ditetapkan oleh Gubernur dengan Surat Keputusan (SK)
Gubernur. Kelas jalan diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu lintas dan
Angkutan Jalan. Jalan dikelompokkan dalam beberapa kelas berdasarkan:
3. Jalan Kabupaten
a. Fungsi dan intensitas lalu lintas guna kepentingan pengaturan penggunaan jalan
Penyelenggaraan Jalan Kabupaten merupakan kewenangan Pemerintah Kabupaten.
dan kelancaran lalu lintas angkutan jalan.
Jalan Kabupaten terdiri dari:
b. Daya dukung untuk menerima muatan sumbu terberat dan dimensi kendaraan
a. Jalan kolektor primer yang tidak termasuk jalan nasional dan jalan provinsi. bermotor.
b. Jalan lokal primer yang menghubungkan ibukota kabupaten dengan ibukota
Pengelompokan jalan menurut Kelas Jalan terdiri dari:
kecamatan, ibukota kabupaten dengan pusat desa, antar ibukota kecamatan,
ibukota kecamatan dengan desa, dan antar desa. a. Jalan Kelas I

c. Jalan sekunder yang tidak termasuk jalan provinsi dan jalan sekunder dalam Jalan Kelas I adalah jalan arteri dan kolektor yang dapat dilalui Kendaraan Bermotor
kota. dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter, ukuran panjang tidak melebihi
d. Jalan strategis kabupaten.

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 69


18.000 milimeter, ukuran paling tinggi 4.200 milimeter, dan muatan sumbu terberat c. Pemerintah Kabupaten, untuk jalan kabupaten
10 ton. d. Pemerintah kota, untuk jalan kota.

b. Jalan Kelas II

Jalan Kelas II adalah jalan arteri, kolektor, lokal, dan lingkungan yang dapat dilalui Tabel 2.4. Dimensi Jalan Berdasarkan Kelasnya

Kendaraan Bermotor dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter, ukuran
panjang tidak melebihi 12.000 milimeter, ukuran paling tinggi 4.200 milimeter, dan
muatan sumbu terberat 8 ton.

c. Jalan Kelas III

Jalan Kelas III adalah jalan arteri, kolektor, lokal, dan lingkungan yang dapat dilalui
Kendaraan Bermotor dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.100 meter, ukuran
panjang tidak melebihi 9.000 milimeter, ukuran paling tinggi 3.500 milimeter, dan
muatan sumbu terberat 8 ton.

Dalam keadaan tertentu daya dukung Jalan Kelas III dapat ditetapkan muatan sumbu
terberat kurang dari 8 ton.

d. Jalan Kelas Khusus

Jalan Kelas Khusus adalah jalan arteri yang dapat dilalui Kendaraan Bermotor dengan
ukuran lebar melebihi 2.500 milimeter, ukuran panjang melebihi 18.000 milimeter,
ukuran paling tinggi 4.200 milimeter, dan muatan sumbu terberat lebih dari 10 ton.

Kelas jalan pada setiap ruas jalan yang dinyatakan dengan Rambu Lalu Lintas
dilakukan oleh: Gambar 2.35. MST Kendaraan

a. Pemerintah Pusat, untuk jalan nasional


b. Pemerintah provinsi, untuk jalan provinsi

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 70


D. Jenis Jalan Berdasarkan Kelas Prasarana

Berdasarkan kelas prasarana yang ada maka jenis-jenis Jalan dapat dibedakan sebagai
berikut.

a. Jalan Bebas Hambatan

Jalan bebas hambatan merupakan jalan yang memiliki prasarana yang dapat
meminimalisir hambatan perjalanan. Sehingga jalan bebas hambatan memiliki Gambar 2.36. Jalan Tanpa Median

pengendalian akses masuk secara penuh, tidak boleh ada persimpangan sebidang,
dilengkapi pagar ruang milik jalan, dilengkapi dengan median, setidaknya
mempunyai dua lajur setiap arah dan lebar setiap lajur paling sedikit 3,5 meter.

b. Jalan Raya
Jalan Raya merupakan jalan umum untuk lalu lintas secara terus menerus dengan
pengendalian akses masuk secara terbatas. Jalan ini dilengkapi dengan median,
paling tidak ada dua lajur setiap arah dengan lebar minimum 3,5 meter.
Gambar 2.37. Jalan dengan median
c. Jalan Menengah
Lebar lajur lalu lintas : 3.00 m
Jalan menengah adalah jalan umum dengan tujuan perjalanan jarak sedang dan
Lebar Median : 8.00 m
pengendalian akses masuk yang tidak dibatasi. Jalan ini memiliki paling sedikit dua
lajur untuk dua arah dengan lebar lajur paling sedikit adalah 7 m. Lebar Bahu jalan : 1.50 m

d. Jalan Kecil Lebar pejalan kaki : 2.00 m

Jalan kecil merupakan jalan umum yang melayani lalu lintas lokal setempat. Jalan ini Lebar Jalan sepeda : 1.50 m

setidaknya memiliki dua lajur untuk dua arah dengan lebar lajur paling sedikit 5,5 Lebar Saluran : 1.00 m x 1.00 m
meter.
Box Utilitas : 1.00 m x 0.80 m usahakan jang dibawah jalan

Saluran beton : 1.00 m x 1.00 m

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 71


2.3. TINJAUAN KHUSUS NAHDLATUL ULAMA DAN UNIVERSITAS ISLAM MALANG bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926) di
2.3.1. Nahdatul Ulama (NU) Kota Surabaya. Organisasi ini dipimpin oleh K.H. Hasjim Asy'ari sebagai Rais Akbar.

A. Sejarah Berdirinya Nahdatul Ulama Ada banyak faktor yang melatar belakangi berdirinya NU. Di antara faktor itu adalah
perkembangan dan pembaharuan pemikiran Islam yang menghendaki pelarangan segala
Akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, telah menggugah kesadaran kaum
bentuk amaliah kaum Sunni. Sebuah pemikiran agar umat Islam kembali pada ajaran Islam
terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan
"murni", yaitu dengan cara umat islam melepaskan diri dari sistem bermadzhab. Bagi para
organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenal dengan "Kebangkitan Nasional".
kiai pesantren, pembaruan pemikiran keagamaan sejatinya tetap merupakan suatu
Semangat kebangkitan terus menyebar - setelah rakyat pribumi sadar terhadap
keniscayaan, namun tetap tidak dengan meninggalkan tradisi keilmuan para ulama
penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain. Sebagai jawabannya, muncullah
terdahulu yang masih relevan. Untuk itu, Jam'iyah Nahdlatul Ulama cukup mendesak untuk
berbagai organisasi pendidikan dan pembebasan.
segera didirikan.
Merespon kebangkitan nasional tersebut, didirikan Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah
Untuk menegaskan prinsip dasar organisasi ini, maka K.H. Hasjim Asy'ari merumuskan kitab
Air) pada 1916. Kemudian pada tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga
Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I'tiqad Ahlussunnah Wal
dengan "Nahdlatul Fikri" (Kebangkitan Pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik
Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam khittah NU, yang dijadikan
kaum dan keagamaan kaum santri. Dari situ kemudian didirikan Nahdlatul Tujjar,
sebagai dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial,
(Pergerakan Kaum Saudagar/Pedagang), sebuah serikat yang kemudian dijadikan basis
untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, keagamaan dan politik.

maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagai kelompok studi juga menjadi lembaga NU didirikan sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah (organisasi keagamaan
pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota. kemasyarakatan). Jam’iyyah ini dibentuk untuk menjadi wadah perjuangan para ulama dan
para pengikutnya. Kata ulama dalam rangkaian Nahdlatul Ulama tidak selalu berarti NU
Berangkat dari munculnya berbagai macam komite dan organisasi yang bersifat embrional
hanya beranggotakan ulama, tetapi memiliki maksud bahwa ulama mempunyai kedudukan
dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih
istimewa di dalam NU, karena Ulama adalah pewaris dan mata rantai penyalur ajaran Islam
mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah
yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Sebagai organisasi keagamaan, kedudukan pewaris ini
berkordinasi dengan berbagai kyai, karena tidak terakomodir kyai dari kalangan tradisional
mutlak penting adanya. Tentu kualitas keulamaan di dalam NU harus lebih terseleksi dari
untuk mengikuti konferensi Islam Dunia yang ada di Indonesia dan Timur Tengah akhirnya
pada yang lain. Ada kriteria dan persyaratan yang ketat untuk menjadi ulama NU, di
muncul kesepakatan dari para ulama pesantren untuk membentuk organisasi yang
antaranya memiliki syarat keilmuan, sikap mental, perilaku dan akhlak, sehingga patut

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 72


menjadi panutan umat. Oleh karena itu NU harus menjadi panutan pihak lain. Kualitas NU mushalla, dan sebagainya. Anehnya, mereka tidak mudah diatur sebagai jam’iyyah
sangat tergantung kepada kualitas ulamanya. NU.

Setelah ulama pesantren membentuk jam’iyyah NU, maka yang terjadi adalah sebagai Kedua macam kelompok tersebut, merupakan potensi bagi organisasi NU. Masing-masing
berikut: harus diurus secara baik dan tepat. Bahkan idealnya jam’iyyah NU dapat menjadi organisasi
kader dengan melakukan langkah-langkah taktis seperti:
1. Ulama pesantren masih memiliki dan berpegang kepada kemandirian masing-masing,
terutama dalam mengelola basis sosialnya (para santri dan keluarga serta para murid 1. Tertib administrasi dan organisasi, mulai dari pendaftaran anggota, mutasi, proses
dan santri). Campur tangan atau koordinasi yang dapat dilakukan oleh NU masih sangat pembentukan pengurus, dan sebagainya.
kecil. 2. Pembinaan ideologi dan wawasan yang mumpuni.
2. Uniknya basis sosial para ulama tersebut sangat fanatik kepada NU, sanggup berjuang 3. Disiplin operasional dan langkah-langkah perjuangan.
mati-matian mengamalkan ajaran NU seperti tahlil, talqin, dan sebagainya.
Sedangkan sebagai jama’ah NU, mereka diharapkan menjadi pendukung massal bagi
3. Hampir seratus persen alumni pesantren menjadi warga NU, meskipun tidak ada gagasan, sikap, langkah amaliyah organisasi dan sebagainya, meskipun keberadaan mereka
pesantren yang menggunakan nama NU dan tidak diberikan pelajaran tentang ke-NU- tidak terdaftar sebagai warga jam’iyyah NU.
an.

Melihat kondisi ini, maka NU mempunyai dua wajah:


B. Lambang Nahdatul Ulama
 Pertama, wajah jam’iyyah (NU jam’iyyah), yaitu sebagai organisasi formal struktural
NU mempunyai lambang yang khas dan telah dikenal dengan baik oleh seluruh masyarakat
yang mengikuti mekanisme organisasi modern seperti memiliki pengurus,
di Indonesia, baik yang muslim maupun non muslim. Pemahaman akan lambang tersebut
pengesahan pengurus, pemilihan pengurus, anggota, iuran, rapat-rapat resmi,
sedikit banyak akan membantu nantinya dalam menerapkan pendekatan filosofis religious
keputusan-keputusan resmi, dan lain sebagainya.
yang bersifat simbolik.
 Kedua, wajah jama’ah (NU jama’ah), yaitu kelompok ideologis kultural yang
mempunyai pandangan, wawasan keagamaan dan budaya ala NU. Bahkan mereka
tidak mau dikatakan bukan orang NU. Mereka tersebar dalam berbagai kelompok
kegiatan, seperti jama’ah yasinan, tahlilan, wali murid madrasah NU, jama’ah

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 73


Gambar 2.38. Foto KH. Ridwan Abdullah, tokoh NU yang telah menciptakan Lambang NU

a. Sejarah Singkat

Lambang NU diciptakan oleh KH Ridlwan Abdullah (1884-1962) dengan didasari


Gambar 2.39. Lambang Nahdatul Ulama
pertimbangan – pertimbangan yang bersifat spiritual.

Adapun secara singkat deskriptif makna dari gambar atau lambang NU dimaksud b. Kandungan Logo NU - Nahdlatul Ulama'
adalah sebagai berikut:
 Warna - Dengan Latar Hijau dan Putih
1. Tambang melambangkan agama (Berpegang teguhlah kamu sekalian pada tali Allah
 Bola Dunia dan Peta Didalamnya
dan jangan bercerai berai).
 Simpul Tali
2. Posisi tambang melingkari bumi melambangkan persaudaraan kaum muslimin
 Sembilan Bintang - Dengan Satu Bintang Besar Paling Atas
seluruh dunia.
 Tulisan Arab dan Abjad
3. Untaian tambang berjumlah 99 buah melambangkan asma'ul husna.
c. Arti Yang Terkandung Di Dalam Lambang Nahdlatul Ulama'
4. Bintang sembilan melambangkan jumlah Wali Songo.
1. Warna Hijau Dan Putih: Dalam Logo NU Makna warna hijau adalah melambangkan
5. Bintang besar yang berada di tengah bagian atas melambangkan Nabi Muhammad
betapa suburnya tanah air indonesia dan warna Putih melambangkan kesucian.
SAW.
2. Makna Bola Dunia Dalam Logo NU: Melambangkan sebuah kehidupan didunia,
6. Empat bintang kecil di samping kiri dan kanan melambangkan khulafaur rasyidin,
berbuat baik, beramal didunia sebagai bekal untuk akhirat dan mengingatkan kita
dan empat bintang kecil dibagian bawah melambangkan madzhab empat.
DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 74
yang tercipta dari tanah dan akan kembali ke tanah. Dan peta dilam bola dunia itu (bertepatan dengan tanggal 24 Jumadil Awal 1401 H.)dengan Nomor Akta 123. Dalam Akta
adalah menyiratkan peta indonesia dan memaknai bahwa Nahdlatul Ulama (NU) di Notaris Nomor 123 Tahun 1981 tersebut, Yayasan Universitas Islam Malang semula
lahirkan di indonesia, untuk negara, dan untuk rakyat indonesia. bernama Yayasan Universitas Islam Sunan Giri Malang disingkat Yayasan “UNISMA”
berkedudukan di Malang dan berstatus di bawah Lembaga Pendidikan Ma’arif Pusat di
3. Arti Simpul Tali Yang Melingkari Bola Dunia Pada Logo NU: Tali yang melingkari
Jakarta. Pada periode pertama Yayasan “UNISMA” dipimpin oleh K.H. Masjkur sebagai
bola dunia sebagai pesan agar kita selalu bersatu, lambang persatuan ummat islam,
Ketua Umum dan Drs. H.M. Tholhah Hasan sebagai Sekretaris Umum.
dan ikatan tali dibawah adalah sebagai pesan bahwa manusia mempunyai ikatan
yang hak dengan Tuhan sang maha pencipta dan untaian tali yang berjumlah 99 Yayasan “UNISMA” didirikan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945
melambangkan Asmaaulhusna. dengan berasaskan Islam Ahlusuunah Wal Jama’ah. Yayasan “UNISMA” didirikan dengan
tujuan untuk: (1) memajukan ilmu pengetahuan umum dan pengetahuan agama Islam; (2)
4. Makna Sembilan Bintang dalam Logo NU: Lima Bintang diatas garis katulistiwa.
membantu pemerintah dalam pengadaan/penyediaan sarana pendidikan umum dan
Bintang di tengah yang paling besar melambangkan kepemimpiman Nabi
pendidikan agama Islam, guna memberikan pendidikan yang lebih baik bagi generasi muda;
Muhammad SAW sebagai pemimpin ummat. Empat Bintang disisinya adalah
dan (3) mengadakan kerja sama dengan lembaga/institusi/perguruan tinggi sejenis guna
melambangkan kepemimpian para sahabat rosulullah setelah beliau wafat yang
meningkatkan mutu pendidikan.
disebut khulafa urrosyidin, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Sedangkan Empat
Bintang yang berada dibawah garis katulistiwa di dalam logo NU memaknai Empat Sesuai dengan dinamika dan perkembangan situasi internal dan eksternal, dalam
Madzhab yaitu Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi'i, dan Imam Hambali. perjalanannya, Yayasan “UNISMA” mengalami berbagai perubahan baik yang menyangkut
akta notariat maupun perubahan kepemimpinan sesuai dengan kebutuhan organisasi
5. Arti dari tulisan Arab Nahdlatul Ulama dengan singkatan NU yaitu: Kebangkitan
Yayasan. Secara kronologis sekuensial kepemimpinan di lingkungan Yayasan “UNISMA”
Ulama.
adalah sebagai berikut. Ketua Umum periode pertama adalah K.H. Masjkur (1981-1994).
2.3.2. Yayasan Universitas Islam Malang
Pada periode berikutnya Ketua Umum dijabat oleh Drs. H. Fatchullah (1994-1998), Drs. K.H.
A. Sejarah Yayasan Universitas Islam Malang M. Tholhah Hasan (1998-2004), Drs. H. Chozin Isma’il (Plh, 2001-2004), Drs. K.H. Abdul
Yayasan Universitas Islam Malang didirikan oleh para Cendekiawan dan Sarjana Muslim Ghofir (2004-2009), dan Dr. Ir. H. Chasan Bisri (Plh, 2007-2009).
yang berhaluan Ahlussunnah Wal Jama’ah pada Hari Jum’at Tanggal 27 Maret 1981
Dalam perkembangan selanjutnya, sesuai dengan tuntutan peraturan dan perundangan
(bertepatan dengan tanggal 20 Jumadil Awal 1401 H.). Yayasan Universitas Islam Malang
yang diterbitkan pemerintah melalui Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia
untuk pertama kalinya mendapatkan pengesahan dari Kantor Notaris G. Kamarudzaman
(KEMENKUMHAM), Yayasan “UNISMA” melakukan perubahan nama dengan akta pendirian
yang berkedudukan di Jalan Tengger Malang pada Hari Selasa Tanggal 31 Maret 1981
DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 75
yayasan yang baru. Melalui Akta Notaris Nomor 77 Tanggal 27 Juli 2010 yang diterbitkan B. Visi Misi dan Tujuan
oleh Kantor Notaris Sulasiah Amini yang berkedudukan di Jalan Arjuno 12 Malang, Yayasan a. Visi
Universitas Islam Sunan Giri Malang yang disingkat Yayasan “UNISMA” berubah namanya Tercapainya masyarakat terdidik, sehat jasmani dan rohani, berjiwa entrepreneur
menjadi Yayasan Universitas Islam Malang yang dipimpin oleh Prof. Dr. H. Achmad Sodiki, sebagai perwujudan masyarakat Islam yang rahmatan lil’alamin bagi terciptanya
S.H. sebagai Ketua Umum Periode 2010-2014. Perubahan akta pendirian yayasan tersebut khoiro ummah.
sudah mendapatkan pengesahan dari Menteri KUMHAM melalui Surat Keputusan Nomor: b. Misi
AHU-5064.AH.01.04 Tahun 2010. 1. Menyelenggarakan dan memajukan Pendidikan Tinggi dan pendidikan menengah;
Perubahan data terakhir Yayasan Universitas Islam Malang dilakukan berdasarkan Akta 2. Menyelenggarakan dan memajukan kegiatan keagamaan;
Notaris Nomor 17 Tanggal 12 Maret 2016 yang diterbitkan oleh Kantor Notaris Sulasiah
3. Menyelenggarakan dan memajukan layanan kesehatan;
Amini yang berkedudukan di Malang dan telah mendapatkan pengesahan dari
Kementerian KUMHAM RI Nomor:AHU-AH.01.06-0001431 Tanggal 15 Maret 2016. Dalam 4. Menyelenggarakan dan memajukan usaha-usaha ekonomi produktif;

akta tersebut, Yayasan Universitas Islam Malang saat ini dipimpin oleh Prof. Dr. K.H. M. 5. Menyelenggarakan dan memajukan pendidikan dan pelatihan manajemen,
Tholhah Hasan (Ketua Pembina), Drs. H. Amrie Anwar (Ketua Pengawas), dan Dr. M. leadership dan entrepreneurship.
Sofwan Chudhorie (Ketua Umum Pengurus).
c. Tujuan
Yayasan Universitas Islam Malang, sesuai dengan tujuan awal dibentuknya merupakan
1. Menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang beriman dan bertaqwa, menguasai
yayasan pendidikan tinggi yang berkhidmat untuk memajukan pendidikan warga Nahdlatul
ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), terampil, bermanfaat bagi masyarakat dan
Ulama khususnya dan masyarakat pada umumnya. Dalam perkembangannya, sesuai
lingkungannya, serta berakhlaqul karimah, berdasarkan Islam Ahlussunnah
dengan kebutuhan internal dan eksternal, Yayasan Universitas Islam Malang sebagai Badan
Waljama’ah melalui pendidikan tinggi Islam yang berkualitas;
Penyelenggara membentuk badan-badan pelaksana yang mendukung tumbuh dan
2. Menghasilkan sumber daya yang unggul melalui kajian keagamaan dan pelayanan
berkembangnya Universitas Islam Malang sebagai Core Bussiness Yayasan Universitas Islam
peribadatan;
Malang. Badan-badan Pelaksana yang dimiliki Yayasan Universitas Islam Malang saat ini,
yaitu: Universitas Islam Malang (UNISMA), Politeknik Universitas Islam Malang (PUM), 3. Meningkatnya kesehatan masyarakat dan terselenggaranya pendidikan dokter

Pesantren Kampus Ainul Yaqin Unisma, SMA Islam Nusantara (SMAINUS), Rumah Sakit (teaching hospital) melalui rumah sakit yang representatif;

Islam Malang (RSI UNISMA), serta Unit-unit Bisnis dan Usaha-usaha Ekonomi Produktif.

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 76


4. Meningkatnya kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat, baik material maupun Menghadapi kondisi tersebut Universitas Islam Malang perlu mempersiapkan diri secara
spiritual melalui unit-unit usaha produktif; mantap dengan membuat Rencana Strategis (Renstra) dalam mempersiapkan tantangan
masa depan. Tujuan pembuatan rencana strategi ini adalah untuk menakar dan
5. Terwujudnya masyarakat wirausaha (entrepreneur society) melalui pendidikan dan
memanfaatkan kekuatan yang dimiliki UNISMA, agar mampu memanfaatkan dan meraih
atau pelatihan manajemen, leadership dan entrepreneurship.
peluang dalam persaingan global.
Pada tahun 2015 Yayasan Unisma mempunyai badan pelaksana yang terdiri dari 3 bidang
Rencana strategis meliputi:
pendidikan, yaitu: Universitas Islam Malang, Politeknik Unisma Malang, dan SMA Islam
Nusantara), satu bidang kesehatan, yaitu: Rumah Sakit Islam Unisma, dan bidang bisnis 1. Dapat dijadikan dasar pengembangan universitas beserta Lembaga-lembaga di
yang menangani perparkiran, Unisma Press, cafetaria, dan lain-lain. bawahnya

Banyaknya dosen Unisma 233 orang, termasuk di dalamnya Dosen DPK. Jenjang 2. Dijadikan cermin keberadaan Universitas Islam Malang
pendidikan dosen sampai tahun 2015, S-1 sebanyak 11 orang, S-2 sebanyak 170 orang, 3. Sebagai dasar evaluasi kendala-kendala yang dihadapi untuk pembuatan atau
dan S-3 sebanyak 52 orang. Sedangkan tenaga penunjang sebanyak 213 orang. Karyawan penyempurnaan rencana stategis selanjutnya.
yang berada di Rumah Sakit Islam Unisma, sebanyak 320 orang, yang berada di SMA Islam
Lebih dari itu, rencana strategis ini merupakan skenario realistik yang disusun berdasarkan
Nusantara sebanyak 29 orang.
pengalaman, kondisi saat ini serta analisis situasi terhadap komponen-komponen penentu
Dalam pelaksanaan di bidang pendidikan, kesehatan, dan bisnis, Yayasan Unisma memililki (sumber daya) dalam proyeksi 4 tahun mendatang, untuk dapat diimplementasikan dalam
sarana-prasarana berupa kampus Universitas Islam Malang yang terletak di Jl. MT. menyusun langkah pengembangan menuju Research University yang mengandalkan
Haryono 193 Malang dengan luas 5,60 ha, Rumah Sakit Islam Unisma yang terletak di Jl. keunggulan spesifik UNISMA.
MT. Haryono 139 Malang dengan luas 2,01 ha, dan SMA Islam Nusantara dengan luas 0,76
a. Visi UNISMA
ha.
Menjadi universitas unggul bertaraf internasional, berorientasi masa depan dalam
C. Renstra Universitas Malang
ipteks dan budaya, untuk kemaslahatan umat yang berakhlaqul karimah, berlandaskan
Era globalisasi menuntut Pendidikan Tinggi baik PTN maupun PTS untuk mampu Islam Ahlussunnah waljama’ah.
meningkatkan daya otonomi, kompetitif, transparansi dan akuntabilitasnya dalam rangka
meningkatkan daya saing institusi baik di tingkat regional, nasional maupun internasional.

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 77


b. Misi UNISMA Agama Islam).Jumlah mahasiswa tahun 2017/2018 sebanyak 8000 orang yang berasal
dari 34 propinsi.
1. Meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat
yang berpihak pada kemaslahatan umat menuju universitas berkualifikasi Distribusi mahasiswa antar fakultas kurang merata, terdapat Fakultas dengan jumlah
internasional (world class university). mahasiswa yang cukup besar yaitu (Fakultas KIP, Fakultas Ekonomi, dan Fakultas
2. Mengembangkan dan menyebarluaskan akses pendidikan dan ajaran Islam Agama Islam), Fakultas dengan jumlah mahasiswa sedang (Fakultas Hukum, Fakultas
Ahlussunnah waljama’ah Kedokteran dan Fakultas Teknik) dan Fakultas dengan jumlah mahasiswa yang relatif
3. Menguatkan kapasitas institusi untuk mewujudkan kualitas pendidikan dan sedikit (Fakultas Pertanian, Fakultas Peternakan, dan Fakultas MIPA). Prediksi untuk
Pembelajaran yang handal serta unggul berstandar nasional dengan meningkatkan tata tahun mendatang semua fakultas diharapkan akan meningkat.
kelola yang baik (Good University Governance). Sebagian besar mahasiswa baru berasal dari disekitar Jawa Timur. sedangkan dari luar
c. Tujuan UNISMA Jawa Timur lebih kurang 20 persen dengan heteroginitas dalam hal latar belakang
sosial, budaya, politik, ekonomi. Prediksi untuk tahun-tahun mendatang diharapkan
1) Mengembangkan proses pembelajaran dan suasana akademik yang kondusif bagi
akan terjadi pergeseran proporsi mahasiswa baru berdasarkan aksesibilitasnya.
penyelenggaraan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat
berbasis teknologi informasi; Jumlah dosen UNISMA sebanyak 290 orang, termasuk di dalamnya Dosen DPK. Jenjang
pendidikan dosen sampai tahun 2018, yang berpendikan S-2 = 217 orang dan S-3 = 54
2) Mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya guna
orang. Sebagian besar tenaga kependidikan pernah mengikuti workshop maupun on
meningkatkan taraf hidup masyarakat dan kemaslahatan umat.
job training untuk tenaga pustaka maupun laboratorium.
3) Menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, bertaqwa, dan mampu
Dalam pelaksanaan proses pembelajaran dan layanan kepada mahasiswa, Pimpinan
bersaing di era global.
UNISMA menerapkan kebijakan pemanfaatan bersama beberapa fasilitas yang ada di
4) Menjadi teaching university yang bertata kelola baik (good university governance)
lingkungan UNISMA (Resources Sharing). Beberapa fasilitas yang dimanfaatkan secara
menuju research university.
bersama antara lain: Laboratorium Eksakta dan Sosial, Perpustakaan Pusat, Pusat
d. Akademisi UNISMA
Pengelolaan dan Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi, Laboratorium
Pada tahun 2018 UNISMA mempunyai 10 Fakultas Program Sarjana S-1 (20 program Pasar Modal, Laboratorium Perbankan Syariah, Laboratorium Bahasa, Laboratorium
studi), Program Pasca Sarjana (8 program studi) dan 1 Program studi S3 (Pendidikan Kewirausahaan, Inkubator Bisnis, Workshop Fakultas Teknik, Teaching Farm, Green
House, Halal Center dan Agrokompleks di Maguan.
DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 78
e. Milestone Pendidikan Universitas Islam Malang Pada tahap ini Universitas Islam Malang dari segi operasional, fasilitas, metode dan
lulusan perguruan tinggi mampu bersaing di tingkat internasional.
1) Tahap Good University Governance (2011-2015)
f. Profil Fakultas dan Program Studi di Universitas Islam Malang
Menjadi perguruan tinggi unggul menuju taraf internasional berdasarkan Islam
Ahlusunnah Wal Jamaah. Pada Tahapan ini dilakukan inisiasi pengembangan UNISMA memiliki sejumlah Fakultas dan Program Studi sebagai berikut :
jejaring internasional, dosen dosen dipersiapkan dan dibiasakan berinteraksi 1) Fakultas Agama Islam
dengan bahasa internasional seperti bahasa Inggris, Cina dan Arab. Serta  Prodi Pendidikan Agama
perintisan Summer Program dan Students Exchange.  Prodi Ahwal Al Syakhsyiyah
 Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtida'iyah (PGMI)
2) Tahap Theaching University (2015-2019)
 Prodi Pendidikan Guru Roudlotul Athfal (PGRA)
Pada tahap ini jejaring internasional terus dikembangkan, summer 2) Fakultas Ekonomi
program dan students exchange jumlah dan frekuensinya juga di tingkatkan, serta  Prodi Manajemen
mulai merintis kelas internasional.  Prodi Akuntansi
 Prodi Perbankan Syari'ah
3) Tahap Research University (2019-2023)
3) Fakultas Hukum
Pada tahap ini di lakukan kolaborasi riset dengan perguruan tinggi luar negeri (join
 Prodi Ilmu Hukum
research), pertukaran dosen (lecture exchange), penyelenggaraan konferensi 4) Fakultas Ilmu Administrasi
internasional bersama (Join committee of International Conferencee) dan kolaborasi  Prodi Administrasi Publik
Publikasi Ilmiah (joint research publication).  Prodi Administrasi Bisnis

4) Tahap Entrepreneur University (2023-2027) 5) Fakultas Kedokteran


 Prodi Pendidikan Dokter
Pada tahap ini merupakan penguatan dan pengembangan pembelajaran yang
 Prodi Farmasi
memiliki kendali mutu berstandar nasional dan internasional, peningkatan kuantitas
6) Fakultas Keguruan & Ilmu Pendidikan
dan kualitas paten yang dihasilkan
 Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
5) Tahap World Class University (2027-2031)  Prodi Pendidikan Matematika
 Prodi Pendidikan Bahasa Inggris
7) Fakultas MIPA
DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 79
 Prodi Biologi  Ruang Pelayanan Administrasi Akademik dan Keuangan
8) Fakultas Pertanian
 Ruang Pelayanan Administrasi Kemahasiswaa dan Alumni
 Prodi Agro Teknologi
 Ruang Kuliah
 Prodi Agribisnis
9) Fakultas Peternakan  Ruang Lab. Micro Teaching
 Prodi Ilmu Peternakan
 Ruang Lab. Advokasi Hukum Islam (LAHIS)
10) Fakultas Teknik
 Prodi Teknik Sipil  Ruang Lab. Komputer

 Prodi Teknik Mesin  Ruang Lab. Bahasa


 Prodi Teknik Elektro
 Ruang Perpustakaan
11) Pasca Sarjana
 Magister Pendidikan Agama Islam  Pusat Pengembangan Akademik (PPA)

 Magister Hukum Islam  Ruang Lab. Peradilan dan Ilmu Falak


 Magister Manajemen
 Ruang Unit Kreatifitas Mahasiswa (UKM) : UKM Musik (Qosidah Modern Songo
 Magister Pendidikan Bahasa Indonesia
Lintang, Gambus el-Syakhsyi, FAI Band) UKM Teater Watu, UKM Olah Raga dan
 Magister Pendidikan Bahasa Inggris
UKM Pers Idea.
 Magister Ilmu Administrasi
 Magister Kenotariatan 2) Sarana Prasarana di Fakultas Pertanian, meliputi :
 Magister Peternakan
a) Sarana Prasarana Umum :
 Program Doktor Pendidikan Islam Multikultural
12) Politeknik 1. Laboratorium

 Lab. Dasar
Berikut beberapa sarana prasarana yang tersedia di UNISMA khususnya di Kampus I.
 Lab. Fisiologi
1) Sarana Prasarana Fakultas Agama Islam, meliputi :
 Lab. Terapan
 Ruang Pimpinan Fakultas

 Ruang Dosen b) Sarana dan Prasana Program Studi Agribisnis :

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 80


1. Laboratorium:

 Laboratorium Agroindistri Model

 Laboratorium Statistik dan Komputer

 Laboratorium Agribisnis

 Laboratorium Terpadu.

2. Laboratorium Dasar

 Ruang Perkuliahan

 Perpustakaan (e-library)

 Unit Aktivitas Mahasiswa (Agama, Seni dan Olahraga)

 Pusat Informasi UKM Agribisnis

 Cafetaria

c) Sarana dan Prasana Program Studi Agroekoteknologi :

 Lab. Terapan Gambar 2.40. Laboratorium Micro Fakultas Agama Islam

 Green house

 Screen house

 Unit Produksi jamur

 Unit Biokompos dan Biopestisida

 Unit tanaman Hias.

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 2 Hal. 81