Anda di halaman 1dari 21

jatuh pada bulan Nopember dan tertinggi yakni 2.16 km/jam jatuh pada bulan September.

BAB. 4
Curah hujan rata-rata berkisar antara 1.800 – 3.000 mm per tahun, dengan hari hujan rata-rata
antara 54 – 117 hari/tahun.

FAKTA KONDISI KAWASAN


Topografi Kabupaten Malang terdiri dari:

 Kelerengan 0-2% yang meliputi kecamatan Bululawang, Gondanglegi, Tajinan, Turen,

PERENCANAAN 
Kepanjen, Pagelaran dan Pakisaji
Kelerengan 2-15% yang meliputi kecamatan Singosari, Lawang, Karangploso, Dau, Pakis,
bampit, Sumberpucung, Kromengan, Pagak, Kalipare, Donomulyo, Bantur, Ngajum dan
Gedangan

 Kelerengan 15-40% yang meliputi kecamatan Sumbermanjing Wetan, Wagir, dan Wonosari)

 Dan kelerengan 40% meliputi kecamatan Pujon, Ngantang, Kasembon, Poncokusumo,


4.1 WILAYAH KABUPATEN MALANG
Jabung, Wajak, Ampelgading dan Tirtoyudo.
Secara administratif, Kabupaten Malang termasuk dalam wilayah Propinsi Jawa Timur. Secara
geografis, terletak pada 112° 17' 10,90" sampai dengan 112° 57' 00" Bujur Timur dan 7° 44' 55,11" Debit sumur umumnya bervariasi sesuai dengan kondisi geologi dan topografinya. daerah

sampai dengan 8° 26' 35,45" Lintang Selatan. Batas administratif Kabupaten Malang adalah Iembah Brantas umumnya memiliki debit bervariasi antara 10-20 L/detik, meluas mengikuti

sebagai berikut: lembah tersebut sampai ke Singosari. Ke arah Timur, barat dan Utara, potensi air bawah tanah
menurun secara berangsur-angsur pada medan vulkanik sesuai dengan meningkatnya
 Sebelah Utara : Kabupaten Jombang, Mojokerto dan Pasuruan
kemiringan Iereng dan meliputi daerahdaerah dengan ketinggian di atas sekitar 300-500 m yang
 Sebelah Selatan : Samudera Indonesia potensi pengembangan penyediaun air bersihnya sangat kecil.

 Sebelah Barat : Kabupaten Blitar dan Kediri Di bagian Selatan Kabupaten Malang, air bawah tanah didapat pada batugamping

 Sebelah Timur : Kabupaten Lumajang dan Probolinggo Pegunungan Selatan. Akibat dalamnya muka airtanah dan permeabilitasnya yang terlokalisir,
sumber-sumber air tersebut tampaknya sangat sulit dimanfaatkan menggunakan sumur bor.
Kabupaten Malang mencakup 33 (tigapuluh tiga) kecamatan dengan luas wilayah keseluruhan
3347,87 km². dikelilingi oleh gunung /pegunungan Arjuno, Anjasmoro, Kelud, Bromo, Semeru dan Kabupaten Malang memiliki sumber mata air yang paling padat di Jawa Timur yakni sebanyak

Tengger. 684 sumber. Kebanyakan airnya dimanfaatkan untuk pengairan di dekat sumber atau mengalir
ke saluran atau sungai menuju aliran dasar aliran utama sungai Brantas.
Kondisi iklim Kabupaten Malang menunjukan nilai kelembaban tertinggi adalah 90.74 % yang
jatuh pada bulan Desember, sedangkan nilai kelembaban terendah jatuh pada bulan Mei, rata- Kota-kota kecamatan di Kabupaten Malang umumnya terletak di daerah yang potensi air

rata berkisar pada 87.47 %. Suhu rata-rata 26.1 – 28.3 °C dengan suhu maksimal 32.29 °C dan tanahnya terbatas dan sumber mata air merupakan bentuk penyediaan air bersih yang

minimum 24.22 °C. Rata-rata kecepatan angin di empat stasiun pengamat antara 1,8 sampai diharapkan. Karenanya, sumber mata air merupakan sumber air baku untuk air bersih yang

dengan 4,7 km/jam. Kecepatan angin terendah yakni berkisar pada 0.55 km/jam umumnya disarankan untuk kota-kota kecamatan di Kabupaten Malang, kecuali Kota Poncokusumo yang
disarankan menggunakan sumber sungai, karena sumber mata air yang ada tidak memadai 31
Sumber Bureng 120 N/A 6.000
dalam memberikan penyediaan air bersih untuk daerah tersebut.
32
Kali Pegunungan Selatan 120 N/A 15
Potensi air permukaan dan air tanah di wilayah Kabupaten Malang cukup besar untuk 33 Kali Semeru Selatan 120 N/A

kebutuhan penduduk dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, yang mana tentunya 34


Kali Sipring 120 N/A 2.000
35 Lesti Utara 120 N/A
keberadaannya diupayakan konservasi dan perlindungan antara lain dengan menetapkan 36 Lesti Selatan 120 N/A
daerah imbuhan air bawah tanah yang terletak pada ketinggian di atas 200 m dpl sebagai 37 Jaruman Kebon Alas 120 N/A
38 Is Molek 120 N/A
kawasan lindung air bawah tanah serta agar dipergunakan sehemat mungkin dandilindungi 39 Kali Metro Hilir 120 N/A
40 Sumber Metro Hilir 120 N/A
dari dampak pencemaran lingkungan. Ada 44 sungai yang mengalir di Kabupaten Malang.
41
Sumber Rowo Klampok 120 N/A 97.000
Sungai-sungai tersebut dapat dilihat pada tabel 4.1 di bawah ini. 42 Kali Lemon 120 N/A
43 Kali Gombong 120 N/A
44 Kali Biru 120 N/A
Tabel 4.1. Daerah Aliran Sungai (DAS) Wilayah Kabupaten Malang Sumber: Kabupaten Malang Dalam Angka 2019
No Nama DAS Luas (Ha) Debit (M3/Detik) Volume (M3)
1 Kali Konto 120 N/A 19.30
2 Kali Lekso 120 N/A Pembagian kecamatan-kecamatan di seluruh Kabupaten Malang sesuai dengan kondisi dan
3 Kali Lemurung 120 N/A
4 Pait Atas 120 N/A
karakteristik kegiatan dibedakan menjadi kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan.
5 Sumber Metro 120 N/A Identifikasi kawasan perkotaan dan perdesaan tersebut dimaksudkan untuk mengetahui dan
6
Kali Brantas Bawah 120 N/A 8 menentukan jenis kegiatan yang akan ditentukan sehingga sesuai dengan peruntukan tanah
7 Kali Metro 120 N/A
8 Sumber Brantas 120 N/A dan ruangnya. Adapun luas wilayah per kecamatan dan jumlah kelurahan di Kabupaten
9 Kali Brantas Atas 120 N/A
Malang dapat dilihat pada table 4.2
10 Kali Mewek 120 N/A
11 Kali Bodo 120 N/A
12 Kali Klampok 120 N/A
Tabel 4.2. Nama, Luas Wilayah per-Kecamatan dan Jumlah Kelurahan/Desa
13 Sumber Klampok 120 N/A
14 Kali Welang 120 N/A
Jumlah Luas Wilayah
15 No Nama Kecamatan
Sumber Welang 120 N/A 2.000 Kelurahan/Desa (Ha) (%) thd total
16 Kali Surak 120 N/A DONOMULYO 10 Desa 4,96%
17 Sumber Surak 120 N/A 1 17.535
18 Sumber Jilu 120 N/A KALIPARE 9 Desa 3,74%
19 Kali Jilu 120 N/A 2 13.215
20 Kali Pakis 120 N/A PAGAK 8 Desa 2,55%
3 9.010
21 Kali Cokro 120 N/A
22 Sumber Amprong 120 N/A BANTUR 10 Desa 4,97%
4 17.575
23 Kali Amprong 120 N/A
24 Is Kedung kandang 120 N/A GEDANGAN 8 Desa 4,81%
5 17.000
25 Sumber Meri 120 N/A
SUMBER MANJING
26 Kali Meri 120 N/A 15 Desa 7,68%
6 WETAN 27.160
27
Kali Kemanten 120 N/A 30 DAMPIT 11 Desa/1 Kel 4,21%
7 14.895
28 Sumber Kemanten 120 N/A
29 Sumber Kedung Kandang 120 N/A TIRTOYUDO 13 Desa 6,41%
8 22.651
30 Kali Lumbang sari 120 N/A
9 AMPELGADING 13 Desa 5,67%
20.044
PONCOKUSUMO 17 Desa 6,29%
10 22.250
WAJAK 13 Desa 3,53%
11 12.485
TUREN 15 Desa/2 Kel 1,82%
12 6.420
BULULAWANG 14 Desa 1,47%
13 5.195
GONDANGLEGI 14 Desa 1,98%
14 6.985
PAGELARAN 10 Desa 1,14%
15 4.015
KEPANJEN 14 Desa/4 Kel 1,60%
16 5.660
SUMBERPUCUNG 7 Desa 1,17%
17 4.138
KROMENGAN 7 Desa 1,26%
18 4.452
NGAJUM 9 Desa 1,87%
19 6.624
WONOSARI 8 Desa 1,75%
20 6.191
WAGIR 12 Desa 2,18%
21 7.709
PAKISAJI 12 Desa 1,26%
22 4.465
TAJINAN 12 Desa 1,14%
23 4.032
TUMPANG 15 Desa 1,83%
24 6.480
PAKIS 15 Desa 1,83%
25 6.481
Gambar 4.1 Peta Kabupaten Malang
JABUNG 15 Desa 3,59%
26 12.680
LAWANG 10 Desa/ 2 Kel 2,03%
27 7.165
4.2 WILAYAH KECAMATAN KARANGPLOSO
SINGOSARI 14 Desa/ 3 Kel 3,46%
28 12.244
Kecamatan Karangploso adalah salah satu dari 33 Kecamatan yang ada di Kabupaten Malang.
KARANGPLOSO 9 Desa 2,01%
29 7.115 Terletak di belahan Utara Kabupaten Malang, Kecamatan Karangploso ini dilalui jalur utama
DAU 10 Desa 1,63%
30 5.775 yang menghubungkan Kota Surabaya dan Kota Batu juga menjadi jalur alternatif dari arah
PUJON 10 Desa 3,42% Kediri menuju Surabaya dan sebaliknya. Secara Geografis Kecamatan Karangploso terletak di
31 12.095
NGANTANG 13 Desa 4,30% 112°35’06″ – 112°37’53″ BT dan 7°55’14″ – 7°52’27″ LS
32 15.195
KASEMBON 6 Desa 2,42% Batas-batas wilayah Kecamatan Karangploso adalah sebagai berikut:
33 8.550
378 Desa/12
Total Kelurahan 353.486 100,00%  Sebelah Timur : Kecamatan Singosari dan Kota Malang
Sumber: Kabupaten Malang Dalam Angka 2019
 SebelahSelatan : Kecamatan Dau dan Junrejo Kota Batu
 SebelahBarat : Kecamatan Bumiaji Kota Batu Wisata Gunung Mujur
Berdasarkan laman resminya, Kecamatan Karangploso memiliki luas wilayah 5.957.898 Ha.
 SebelahUtara : Kecamatan Singosari
Sebagian besar wilayah kecamatan ini didominasi oleh area tegal, kebun, hutan dan sawah.
Kecamatan Karangploso merupakan kecamatan yang terletak di wilayah Kabupaten Malang.
Tak heran jika sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani.
Kecamatan ini terdiri dari 9 (sembilan) desa.
Berkembangnya pabrik-pabrik di wilayah kecamatan ini juga mempengaruhi peralihan mata
pencaharian warga yang tadinya buruh tani menjadi karyawan pabrik.
Tabel:4.3 Luas Desa di Kec Karangploso Menurut Jenis Lahan (ha), 2018

Desa/Kelurahan Lahan Sawah Lahan Kering Total Lahan Sektor peternakan juga menjadi produk andalan Kecamatan Karangploso. Sapi perah yang
menghasilkan susu segar menjadi aset potensial bagi kecamatan ini. Menariknya, susu segar
01 Tegalgondo 179,40 40,80 220,20 hasil sapi-sapi yang dirawat warga menjadi pemasok bagi perusahaan-perusahaan susu
02 Kepuharjo 169,00 45,00 214,00 kemasan di wilayah Jawa Timur. Susu-susu segar ini terlebih dulu disetorkan melalui KUD
03 Ngenep 168,10 905,90 1 074,00 setempat untuk kemudian dikirim ke pabrik-pabrik susu hingga ke luar Kabupaten Malang.
04 Ngijo 33,60 38,40 72,00
Desa Tawangargo dan Desa Bocek merupakan desa dengan kultur agraris yang masih sangat
05 Ampeldento 114,80 38,20 153,00
06 Girimoyo 80,00 274,00 354,00 kental. Buktinya, Desa Tawangargo menjadi sentra penanaman hortikultura, terutama sayur-
07 Bocek 130,80 1 365,20 1 496,00 mayur terbesar keempat di area Malang Raya setelah Kota Batu, Kecamatan Pujon, dan
08 Donowarih 1 049,70 1 148,40 2 198,10 Kecamatan Poncokusumo. Sementara itu, Desa Bocek sendiri merupakan sentra penanaman
09 Tawangargo 206,40 443,60 650,00 cabe besar selain Kecamatan Pujon dan Kecamatan Dau.
Kecamatan Karangploso 2 131,80 4 299,50 6 431,30
Wilayah Karangploso ini bisa dibilang sebagai jalan pintas dari area Utara Jawa Timur,
Topografi Perbukitan dan dataran tinggi tepatnya dari Surabaya, Pasuruan, dan Probolinggo menuju Kota Batu. Ketimbang melalui
Pemerintahan 9 desa, 46 dusun, 105 RW dan 485 RT Kota Malang untuk ke Batu, banyak pengendara yang memotong jalan melalui kecamatan
Penduduk 55.409 jiwa ini. Tak heran jika jalanan kampung di kecamatan ini selalu padat di akhir pekan dan hari
Komposisi penduduk 27.311 (49,29%) laki-laki dan 28.098 (50,71%) perempuan libur, karena dipenuhi oleh wisatawan dadakan.
Kepadatan 938 jiwa/km²
Rest Area menjadi objek wisata andalan di kecamatan ini. Fungsinya sebagai tempat untuk
Agama Islam: 54.487, Kristen: 609, Katolik: 328, Hindu: 57, Budha 42
persinggahan bagi para wisatawan yang hendak berwisata ke Kabupaten Malang, Kota
Tempat Ibadah 48 masjid, 216 langgar, 1 gereja Katholik, 1 gereja Kristen
Malang, ataupun Kota batu. Tempat ini menyediakan banyak fasilitas umum bagi wisatawan
pertanian, peternakan, perikanan 7.168, konstruksi 1.648,
Bidang usaha per yang kebetulan mampir. Letaknya di Desa Donowarih, tepatnya sebelah barat Kantor
perdagangan 1.410, karyawan 1.585, jasa-jasa 559, penggalian
Rumah tangga Kecamatan Karangploso.
32
3 puskesmas/pustu, 61 posyandu, 5 polindes, 8 praktek dokter,
Sarana Kesehatan
9 praktek bidan, 5 toko obat
Sarana Pendidikan 31 TK, 30 SD, 12 SMP, 4 SMA, 3 SMK, 2 Perguruan Tinggi
Kubung dan Dusun Lowoksari dipimpin oleh satu Kepala Dusun karena wilayah Dusun Kubung
yang berdekatan juga Dusun Kubung cukup sempit dibandingkan dengan dusun lainnya.

Batas administrasi Desa Ngenep adalah sebagai berikut:

Sebelah Utara : Desa Lang-lang Kecamatan Singosari.

Sebelah Selatan : Desa Ngijo dan Desa Kepuharjo Kecamatan Karangploso.

Sebelah Barat : Desa Ngijo dan Desa Bocek Kecamatan Karangploso.

Sebelah Timur : Desa Kepuharjo Kecamatan Karangploso.

Wilayah Desa Ngenep masih didominasi oleh lahan pertanian warga. Sehingga, masyarakat
Desa Ngenep rata-rata bekerja sebagai petani atau buruh tani meski banyak juga yang bekerja
sebagai buruh pabrik. Lahan pertanian masyarakat Desa Ngenep cukup luas seperti nampak
pada peta desa. Masyarakat Desa Ngenep rata-rata menggarap sendiri lahanNya secara turun
temurun dilanjutkan oleh anaknya

Sedangkan dari bukti lain yang mendukung adalah jenis tanah hitam di Desa Ngenep masih
kurang bagus sebagai lahan pemukiman dan jalan, karena cenderung tidak stabil (labil).

Gambar 4.2 Peta Kecamatan Karangploso Keberadaan tekstur tanah hitam ini juga lembek an bergerak mengakibatkan jalan-jalan cepat
rusak. Karenanya pilihan tekhnologi untuk membangun jalan dari bahan-bahan yang relatif
bertahan lama menjadi pemilihan utama. Rumah-rumah di Desa Ngenep sendiri masih
4.3 WILAYAH DESA NGENEP
cenderung menggunakan bahan dari batu bata ataupun batako untuk tembok. Walaupun
Desa Ngenep sendiri adalah salah satu nama desa yang masih tertinggal diantara desa-desa
begitu pondasi rumah-rumah masyarakat di Desa Ngenep sangat kokoh sehingga tidak memiliki
yang lain di Kabupaten Malang. Didukung dari data yang diperoleh bahwa jarak tempuh Desa
resiko pecah atau rapuh sehingga tidak membahayakan masyarakat yang tinggal di rumah
Ngenep ke ibu kota kecamatan adalah 4,5 km, yang dapat ditempuh dengan waktu sekitar 2
tersebut. Dari 2.707 buah rumah yang ada, sekitar 2.506 buah rumah terbuat dari tembok dan
menit. Sedangkan jarak tempuh ke ibukota kabupaten adalah 21 km, yang dapat ditempuh
sisanya dari anyaman bambu.
dengan waktu sekitar 0,5 jam. Dengan demikian akses menuju ibukota kabupaten dan
kecamatan masih sangat terbatas. Di Desa Ngenep sendiri warganya sebagian besar bermata pencaharian petani, peternak,
buruh, dan wirausaha. Pemuda maupun masyarakat di Desa Ngenep sendiri masih kurangnya
Desa Ngenep memiliki luas wilayah 13.916,79 km². Desa Ngenep terbagi dalam delapan dusun
kesadaran akan pentingnya pendidikan tinggi, kurangnya pendidikan ini menyebabkan keadaan
yakni: Dusun Ngenep, Dusun Baba’an, Dusun Curah Kembang, Dusun Genitri, Dusun
warga yang ada di desa kurang terdidik dan berpengatahuan. Banyak yang putus sekolah dan
Tumpangrejo, Dusun Lowoksari, Dusun Mojosari, dan Dusun Kubung. Meski terdiri dari delapan
melanjutkan bekerja di pabrik. Di Desa Ngenep sendiri terdapat permasalahan lain seperti
dusun, namun hanya terdapat tujuh kepala Dusun di Desa Ngenep. Hal ini karena Dusun
pengadaan mitra usaha kerja yang belum maksimal dan belum dapat terlaksana karena
kurangnya akan pengetahuan teknologinya.
Walaupun demikian Desa Ngenep masih memiliki potensi yang dapat memajukan desa. Salah tengkulak serta kestabilan kondisi bisa terus terjaga sehingga petani bisa menikmati hasil jerih
satu contohnya adalah wilayah desa yang secara geologisnya berupa lahan tanah hitam yang payah mereka secara adil.
sangat cocok dijadikan lahan pertanian dan perkebunan. Secara prosentase kesuburan tanah Keberadaan Rukun Tetangga (RT) sebagai bagian dari satuan wilayah pemerintahan Desa
Desa Ngenep terpetakan sebagai berikut: Ngenep memiliki fungsi yang sangat berarti terhadap pelayanan kepentingan masyarakat
· Sangat subur : 359,65 Ha wilayah tersebut, terutama terkait hubungannya dengan pemerintahan pada level di atasnya.
Dari sejumlah Rukun Tetangga inilah sebuah Padukuhan (Rukun Warga/RW) terbentuk. Wilayah
· Subur : 567,9 Ha
Desa Ngenep terbagi di dalam 15 Rukun Warga (RW) yang tergabung di dalam 8 Dusun dan
Hal ini memungkinkan tanaman padi untuk dapat panen dengan menghasilkan 8,5 Ton/Ha.
posisi Kasun (Kepala Dusun) menjadi sangat strategis seiring banyaknya limpahan tugas Desa
Tanaman jenis palawija juga cocok jika ditanam di Desa Ngenep ini. Berdasarkan data yang
kepada Kasun.
masuk tanaman palawija seperti contoh: kedelai, kacang tanah, kacang panjang, jagung, dan
A. Sejarah Desa Ngenep
ubi kayu serta ubi jalar, tanaman seperti semangka, melon dan pisang juga sayuran mampu
menjadi sumber pemasukan yang cukup diandalkan bagi penduduk desa ini. Untuk tanaman 1. Asal-Usul Desa
perkebunan, jenis tanaman tebu juga merupakan tanaman andalan di desa ini. Kondisi alam di Desa Ngenep didirikan oleh dua orang yang bernama Mbah Singojoyo dan Ki Atas Angin.
Desa Ngenep terutama kondisi geologisnya ini telah mengantarkan Desa Ngenep ini sebagai Pada tahun 1837 Mbah Singojoyo membuka hutan di bagian Timur dan Ki Atas angin
penyumbang sektor pangan domestik desa bruto terbesar. membuka hutan di daerah barat. Beberapa keluarga alas tersebut, babatan Mbah
Singojoyo kesulitan untuk mendapatakan sumber air bersih. Mereka harus
Dalam catatan sejarah, selama ini belum pernah terjadi bencana alam dan sosial yang cukup
mengendapkan atau mengenepkan air keruh untuk bisa layak dikonsumsi. Karenanya
berarti di Desa Ngenep, seperti kemiskinan dan bencana alam, tidak sampai pada titik kronik
Mbah Singojoyo menanamkan babatannya Ngenep. Sedangkan di babatan Ki Atas Angin
yang membahayakan masyarakat dan sosial. Usaha kecil seperti took perancangan, pedagang
terdapat sumber air bersih untuk keperluan sehari-hari dari situ. Ki Atas Angin
pasar, dll masih banyak yang kurang berkembang akibat keterbatasan dana atau modal dari
menamakan daerahnya Babakan. Ngenep akirnya menjadi bakal dari terbentuknya Desa
para pendiri usaha. Tambahan modal sangat diperlukan bagi perkembagan usaha yang sedang
Negenp dan Babakan (sekarang disebut Baba’an) ikut bergabung menjadi dusunnya.
di jalankan, dan mampu memenuhi kebutuhan keluarga yang layak. Demikian pula bagi usaha
2. Sejarah Pembangunan Desa
produktif seperti peternak petani dan usaha produktif lainnya juga terkendala dalam hal modal,
Dilihat dari segi pembangunan yang terjadi di Desa Ngenep, dari tahun ke tahun
sekaligus juga kemampuan pengelolaan usaha yang terbatas sehingga membutuhkan
mengalami banyak peningkatan baik di bidang ekonomi, sosial maupun lingkungan.
pembinaan dan pelatihan mengenai managerial yang baik dari dinas-dinas terkait. Desa Ngenep
memiliki luas area persawahan yang sangat luas memiliki potensi sumber daya manusia SDM Dahulu Desa Ngenep banyak didominasi oleh jalan-jalan tanah yang selalu bermasalah
yang cukup handal. Namun demikian kondisi ekonomi yang menghimpit serta penetapan gabah saat musim hujan. Gedung dan rumah-rumah sederhana, serta fasilitas sangat terbatas.
atau padi maupun. hasil bumi lainnya yang sangat fluktuatif, dimana disaat mereka harus Demikian pula dari segi ekonomi, pendapatan rata-rata masih cukup rendah dengan SDM
bercocok tanam harga pupuk mahal, tetapi disaat panen hasil tanam mereka dibeli dengan yang juga masih sangat terbatas.
harga yang sangat rendah. Hal tersebut menimbulkan kerugian yang cukup besar bagi petani. Lambat laun melalui kerja keras dari seluruh pihak dan tekad masyarakat. Desa Ngenep
Untuk itu koordinasi berbagai pihak terkait untuk dapat tercegahnya spekulasi harga para mendambakan perbaikan kualitas hidup, maka saat ini hasil pembangunan di berbagai
bidang sudah dapat dirasakan dampak positifnya. Pembangunan Desa Ngenep dibiayai
secara swadaya, dana desa, APBD, swasta maupun program-program pembangunan yang
pernah ada.

Karena perkembangan jaman dan perkembangan peraturan serta infrastruktur desa, maka
Desa Ngenep terbagi menjadi 8 (delapan) wilayah dusun yaitu:

1. Dusun Ngenep Krajan

2. Dusun Lowoksari

3. Dusun Kubung

4. Dusun Baba’an

5. Dusun Curah Kembang

6. Dusun Genitri

7. Dusun Glugur/Mojosari

8. Dusun Tumpangrejo

B. Kondisi Geografis Desa Ngenep


Secara geografis Desa Ngenep terletak pada posisi 7°21'-7°31' Lintang Selatan dan 110°10'-
111°40' Bujur Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa daratan sedang yaitu
sekitar 156 m di atas permukaan air laut. Berdasarkan data BPS Kabupaten Malang Gambar 4.3 Peta Desa Ngenep

tahun 2004, selama tahun 2004 curah hujan di Desa Ngenep rata-rata
Secara administratif, Desa Ngenep terletak di wilayah Kecamatan Karangploso Kabupaten
mencapai 2.400 mm. Curah hujan terbanyak terjadi pada bulan Desember hingga
Malang dengan posisi dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah Utara
mencapai 405,04 mm yang merupakan curah hujan tertinggi selama kurun waktu 2000-
berbatasan dengan Desa Lang-lang Kecamatan Singosari Kabupaten Malang dan
2010.
Perhutani.

Di sebelah Barat berbatasan dengan Desa Ngijo dan Bocek Kecamatan Karangploso. Di sisi
Selatan berbatasan dengan Desa Ngijo dan KepuharjoKecamatan Karangploso, sedangkan
di sisi Timur berbatasan dengan Desa Kepuharjo Kecamatan Karangploso.

Luas Wilayah Desa Ngenep yang terdaftar dalam pemajakan bumi dan bangunan
adalah 10.181.509 m2. Luas lahan yang ada terbagi ke dalam beberapa peruntukan, yang
dapat dikelompokkan seperti untuk pemukiman, pertanian, perkebunan, kegiatan
ekonomi dan lain-lain. Ditambah hutan produksi, tanah adat/umbulan/sumber air, petren,
areal makam, dan fasilitas umum lainnya.
Luas lahan yang diperuntukkan untuk pemukiman adalah 90.6 Ha. Luas lahan yang Rata-rata masyarakat Desa Ngenep bekerja sebagai karyawan perusahaan swasta dengan
diperuntukkan untuk Pertanian adalah 359,65 Ha. Luas lahan untuk ladang tegalan dan total 2.474 penduduk. Selanjutnya, bekerja sebagai petani sebanyak 2398 penduduk dan
perkebunan adalah 567,9 Ha. Luas lahan untuk Hutan Produksi adalah 76 Ha. Sedangkan sebagai buruh tani sebanyak 1.513 penduduk. Penduduk Desa Ngenep banyak yang
luas lahan untuk fasilitas umum adalah sebagai berikut; untuk perkantoran 1.164m2, bekerja di bidang pertanian baik menjadi petani maupun buruh tani karena wilayah Desa
sekolah 10.007 m2, olahraga 3.661 m2 dan tempat pemakaman umum 2,2 Ha. Ngenep yang memiliki banyak lahan pertanian warga. Penduduk Desa Ngenep banyak
yang bekerja sebagai karyawan perusahaan swasta karena lokasi Desa Ngenep juga dekat
C. Sumber Mata Air
dengan pabrik yang ada di Kota Malang seperti pabrik rokok Sampoerna selain itu di
Sumber Nyolo terletak di Desa Ngenep tepatnya di Dusun Mojosari merupakan sumber
daerah Karangploso pun banyak terdapat pabrik seperti pabrik keripik, pabrik cock, dan
mata air terbesar di Kecamatan Karangploso. Sumber mata air ini mengalirkan air di tujuh
pabrik plastik. Dari situ, masyarakat Desa Ngenep tergolong pada masyarakat sub urban
desa di Kecamatan Karangploso, termasuk Desa Ngenep.
yang bekerja di daerah perkotaan namun berdomisili di desa.

Tabel 4.3 Ekonomi Masyarakat Berdasarkan Kesejahteraan Keluarga


Uraian Jumlah
Jumlah Keluarga Prasejahtera 607
Jumlah Keluarga Sejahtera 1 548
Jumlah Keluarga Sejahtera 2 789
Jumlah Keluarga Sejahtera 3 1.038
Jumlah Keluarga Sejahtera 3 Plus 72
Sumber: Data Tingkat Pekembangan Penduduk Desa Ngenep Tahun 2019

E. Agama
Gambar 4.4 Mata Air Sumber Nyolo di Desa Ngenep

Agama di Desa Ngenep mayoritas Islam, ini dapat terlihat dari data sarana peribadahan. Di
Selain untuk sumber mata air yang digunakan warga untuk kebutuhan sehari-hari, Desa Ngenep terdapat 11 Bangunan Masjid dan 39 Surau atau Langgar yang tersebar di
Sumber Nyolo ini juga digunakan sebagai tempat budidaya ikan dan sekaligus tempat desa. Sedangkan untuk prosentase Pemeluk Agama di Desa Ngenep masing-masing yaitu
rekreasi bagi warga desa. Sumber Nyolo ini dikelola paguyuban warga sekitar sumber ini. sebagai berikut: Islam sebanyak 99.10%, Kristen 0.55% dan Katolik 0.35%
Dengan tarif seikhlasnya menjadikan Sumber Nyolo destinasi wisata yang unik dan
Di Desa Ngenep untuk meningkatkan peribadatan masyarakatnya terdapat 3 Pondok
ekonomis bagi warga sekitar. Dengan disuguhi pemandangan yang asri dan udara yang
Pesantren.
masih sangat sejuk, Sumber Nyolo mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi Desa
F. Tingkat Pendidikan
Ngenep. Ketika malam hari, di Sumber Nyolo ini juga dijadikan warga sebagai tempat
melakukan peribadatan dan kegiatan spiritual lainnya. Akses jalan untuk menuju Sumber Berdasarkan tabel dapat diketahui bahwa meski tergolong dalam Desa Ngenep yang

Nyolo ini sangat mudah, karena seluruh jalan yang dilewati sudah beraspal, sehingga berkembang secara perekonomian, namun Taraf pendidikan di Desa Ngenep masih

segala kendaraan dapat memasuki area ini. terbilang rendah. Jumlah keseluruhan angkatan kerja produktif angka tertinggi masih
diraih oleh penduduk tidak tamat SD dan tamatan SD yakni sebesar 6.142 orang dari
D. Mata Pencaharian
jumlah keseluruhan Masyarakat Desa Ngenep yakni 13.449 atau hampir 50% masyarakat Tingkat perekonomian dilihat dari kesejahteraan keluarga yakni pada tingkat keluarga
Desa Ngenep hanya pernah atau sempat mengenyam pendidikan di tingkat SD. sejahtera 3 (tiga) menunjukan bahwa meski rata-rata masyarakat Desa Ngenep
Masyarakat Desa Ngenep yang memiliki tingkat pendidikan rendah ternyata tidak berpendidikan rendah yakni pada tingkat SD, namun perekonomianya sejahtera, hal itu
berpengaruh pada tingkat perekonomiannya. juga karena masyarakat Desa Ngenep rata-rata memiliki lahan pertanian sendiri tiap
keluarga sehingga perekonomianya sejahtera dari bertani.
Tingkat pendidikan masyarakat Desa Ngenep dapat terlihat seperti tabeldibawah ini:

Tabel 4.4 : Tingkat Pendidikan Penduduk H. Kebencanaan


Di Desa Ngenep dari sumber data Kantor Desa pernah terdapat Korban Bencana Alam
Uraian Laki-laki Perempuan Total
akibat Angin Ribut atau Puting Beliung pada tahun 2019.
Kursus 10 35 45
Usia 7-18 tahun yang tidak I. Pertanian
pernah sekolah 15 6 21
Di Desa Ngenep untuk Pertanian dan Perkebunan juga menjadi sumber mata pencaharian
Usia 7-18 tahun yang masyarakatnya, di Bidang Pertanian tanaman pangan yang paling banyak di budidayakan
sedang sekolah 848 766 1.614
dari komuditas lainnya adalah padi sesuai data tahun 2019 mencapai 2.610.
Usia 18-56 tahun tidak
pernah sekolah/buta aksara 22 10 32
Sedangkan dibidang Perkebunan sesuai data Kecamatan Karangploso dalam angka 2018
Usia 18-56 tahun pernah SD
tetapi tidak tamat 658 679 1.337 disebutkan komuditas tebu menjadi komuditas andalan di daerah tersebut, disusul oleh
Usia 18-56 tahun tamatan
Kopi Robusta, Kelapa, Kapuk Randu dan Cengkeh.
SD/sederajat 2356 2449 4.805
Jumlah Usia 18-56 tidak
Luas lahan sawah yang sudah diberi pengairan sebanyak 168.100 ha tahun 2019.Untuk
tamat SLTP 45 41 86
Jumlah usia 18-56 tahun produksi Tanaman Obat tahun 2017-2019 dalam tabel diatas Kunyit tahun 2018 sempat
tidak tamat SLTA 59 52 111
mengalami produksi yang cukup tinggi, namun beberapa tahun kemudiaan mengalami
Tamat SLTP/sederajat 964 952 1.916
Tamat SLTA/sederajat 261 203 464 penurunan. Sedangkan Temulawak dan Temuireng mengalami peningkatan dari tahun
Sumber: Data Potensi Desa Ngenep Tahun 2018
ketahun.
Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa meski tergolong dalam Desa Ngenep
Melihat sumber data Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan perkebunan secara
yang berkembang secara perekonomian, namun Taraf pendidikan di Desa Ngenep masih
keseluruhan dalam tahun ke tahun mengalami peningkatan produksi. Pepaya dan Apel
terbilang rendah. Jumlah keseluruhan angkatan kerja produktif angka tertinggi masih
adalah tanaman buah unggulan di kecamatan tersebut dan terus mengalami peningkatan
diraih oleh penduduk tidak tamat SD dan tamatan SD yakni sebesar 6.142 orang dari
produksi dari tahun ke tahun.
jumlah keseluruhan Masyarakat Desa Ngenep yakni 13.449 atau hampir 50% masyarakat
Desa Ngenep hanya pernah atau sempat mengenyam pendidikan di tingkat SD. J. Peternakan

Masyarakat Desa Ngenep yang memiliki tingkat pendidikan rendah ternyata tidak Populasi ternak sesuai data diatas mulai tahun 2014 sampai 2017, secara keseluruhan

berpengaruh pada tingkat perekonomiannya. rata-rata mengalami peningkatan. Walaupun terdapat penurunan yang cukup signifikan
pada jenis ternak Unggas, terutama Ayam pedaging.
G. Perekonomian
K. Perikanan penumpang Tipe C, yaitu yang berfungsi melayani kendaraan penumpang umum untuk
Produksi ikan menurut data diatas hanya perikanan darat yang diproduksi di masyarakat, angkutan pedesaan (ADES), sementara apabila ditingkatkan menjadi Terminal penumpang
melalui usaha ternak kolam. Tipe B yaitu yang berfungsi melayani kendaraan penumpang umum untuk angkutan antar
kota dalam propinasi (AKDP), angkutan kota (AK) serta angkutan pedesaan (ADES).
L. Perindustrian
Dalam bidang perindustrian Kecil/Kerajinan Rakyat di Desa Ngenep Kayu, Pada terminal yang terletak di Kecamatan Karangploso ini terdapat 4 (empat) rute
Anyaman/Gerabah/Keramik, dan industri lainnya adalah sumber mata pencaharian yang angkutan umum yang melalui kecamatan Karangploso. Akan tetapi angkutan yang
bisa diandalkan. langsung menuju ke kawasan kampus II belum dilayani trayek angkutan umum.

M. Penambangan R. Perbankan/Usaha Keuangan


Jumlah usaha penambangan / penggalian di Desa Ngenep adalah penambangan pasir. Melihat dari data kantor desa diatas terkait usaka keuangan, di Desa Ngenep belum
terdapat sama sekali, usaha-usaha baik Koperasi KUD, Koperasi Non KUD, Bank, Pegadaian
N. Perdagangan
atau Asuransi.
Jenis usaha dagang di Desa Ngenep berdasarkan data Kantor Desa tahun 2018, usaha
toko/warung kelontong terdapat 99 toko, Restoran/Rumah Makan/Kedai
Makan/Minuman 8 (delapan) toko. 4.4 Kawasan Perencanaan
O. Hotel dan Pariwisata A. Kondisi Fisik Dasar Kawasan Perencanaan
Jenis usaha bidang Hotel di Desa Ngenep melihat data tahun 2018, belum ada. Sedangkan Kawasan Perencanaan Masterplan Kampus II Unisma terletak di dalam Desa Ngenep seluas
obyek wisata yang ada di Desa Ngenep hanya 1 pemandian sesuai data Kantor Desa tahun Total 114 Ha, dengan prioritas pada lingkup Area 78 Ha, dengan peruntukan lahan eksisting
2017. berupa Tegalan. Kawasan perencanaan berada di ketinggian 800 mdpl, sehingga merupakan
P. Olah Raga daerah sejuk jika pagi hari dengan suhu rata-rata 22°c, akan tetapi jika siang hari suhu
Sarana olah raga yang ada di Desa Ngenep yaitu 1 lapangan Sepak Bola, 1 (satu) lapangan kembali memanas sekitar 34°C. Kecepatan angin yang berhembus di wilayah perencanaan ini
Bola Volly dan 1 (satu) Kolam Renang.Untuk jenis kelompok kegiatan Olah Raga di Desa sekitar 5-40 km/jam, bisa dikatakan merupakan potensi bagi pengembangan tenaga listrik
Ngenep ada Sepak Bola dan Bulu Tangkis. tenaga angin jika ingin dikembangkan lebih lanjut. Kawasan perencanaan merupakan tanah
Q. Transportasi milik yayasan, dan lahannya sebagian digarap oleh masyarakat untuk pertanian. Secara
Transportasi angkut yang banyak digunakan masyarakat kecamatan Karangploso topografi, kawasan ini memiliki kelandaian yang cukup antara 3-15 derajat. Sudah terdapat
berdasarkan data tahun 2019, 59% Ojek Sepeda Motor, 45% Mikrolet, 39% Pickup dan 7% jalan setapak untuk menjangkau kawasan ini.
Truck. Namun apabila melihat dari data desa tahun 2016, untuk Desa Ngenep transportasi
angkut hanya ada Ojek Sepeda Motor.

Berdasarkan kondisi eksisting saat ini tahun 2018 sarana dan prasarana angkutan umum di
Kecamatan Karangploso terdapat 1 (satu) sub terminal yang terletak menyatu dengan
lahan pasar Karangploso. Terminal penumpang yang terdapat di Kecamatan Karangploso
adalah tipe C yang direncanakan akan ditingkatkan menjadi terminal tipe B. Jika Terminal
Gambar 4.5 Hamparan Lokasi Perencanaan, yang sementara ini merupakan tanah garapan
warga untuk bercocok tanam B. Aksesibilitas

Aksesibilitas pencapaian ke lokasi kawasan perencanaan sementara ini melalui jalan besar di
Desa Ngenep yaitu jalan Diponegoro, kemudian mengambil jalan lingkungan yaitu jalan
Suropati. Aksesibilitas ke Kawasan Perencanaan dapat digambarkan sebagai berikut:

 Lokasi Perencanaan Terletak di Desa Ngenep, Kecamatan Karangploso, Kabupaten


Malang;
 Jarak dari Pusat Kota Malang (alun2 kota Malang) ke Lokasi perencanaan sejauh ±17 km;
Gambar 4.6 Kawasan Perencanaan dengan Gambar 4.7 Kawasan Perencanaan dengan
View Gunung Arjuna View Gunung Kawi  Jarak dari Kampus Unisma 1 ke Lokasi Perencanaan (Unisma 2) sejauh: ±13 km;
 Jarak dari Pusat Kecamatan Karangploso ke Lokasi Perencanaan ±7 km;
 Jarak dari Pintu gerbang Desa Ngenep ke Lokasi: ±3 km.

Gambar 4.9 Akses Pencapaian Ke Lokasi Perencanaan

Kawasan perencanaan saat ini sudah dapat dicapai dengan kendaraan roda 4 namun lebar
jalan hanya cukup untuk satu mobil saja. Kendaraan angkutan umum cukup banyak yang
Gambar 4.8 Delineasi Kawasan Perencanaan Masterplan Kampus 2 Unisma Malang dengan Luas Total 114 Ha melayani dari wilayah sekitar seperti kota Batu dan Kota Malang ke terminal Karangploso,
namun belum ada yang mencapai ke lokasi perencanaan. Beberapa rute angkutan umum yang
melayani Kecamatan Karangploso antara lain:
 GLA (Glugur/Karangploso – Langlang – Arjosari);
 SK (Singosari – Karangploso);
 KA (Karangploso – Arjosari);
 KB (Karangploso – Batu); dan
 KL (Karangploso – Landungsari).

Selain melalui terminal karangploso, Kampus II Unisma juga dapat dicapai dari stasiun dan Gambar 4.10. Jalan Diponegoro – Gambar 4.11. Taman Kota Karangploso
Jalan Lokal Primer di Kecamatan dan juga penanda arah masuk ke lokasi
bandara. Di sekitar desa Ngenep juga beberapa terminal lain selain terminal karangploso. Karangploso yang perencanaan (Kamus II Unisma)
menghubungkan antara
Berikut ini jarak beberapa terminal, stasiun, dan bandara dari Kampus II Unisma : Karangploso – Kota Batu

 Terminal Karangploso: 8 Km;


 Terminal Landungsari: 12 Km;
 Terminal Arjosari: 13 Km;
 Terminal Batu: 14 Km;
 Stasiun kota malang: 17 Km;
 Stasiun lawang :19 Km; Gambar 4.12. Kondisi Jalan Desa, Gambar 4.13. Gerbang Masuk Desa
rata-rata Aspal dengan lebar 4-6 Ngenep dan juga pintu masuk ke
 Bandara Abdurrachman Saleh: 17,5 km. meter kawasan Perencanaan

C. Kondisi Jalan Menuju Kawasan Perencanaan

Kondisi jalan menuju kawasan perencanaan sementara ini bisa dikatakan cukup baik dari arah
jalan Lokal Primer antara Karangploso - Kota Batu yaitu dari Pendem menuju Songgoriti, jalan
beraspal dengan lebar 16 meter sebelum masuk ke gapura Desa Ngenep.

Untuk kondisi jalan di sekitar Desa Ngenep yang banyak permukiman warga, jalan desa relatif
Gambar 4.14. Batas Desa Ngenep dengan Desa Bocek
baik, beraspal dengan lebar jalan sekitar 6 (enam) meter dengan drainase yang sudah dibangun
juga, sehingga meminimalisir adanya genangan air disaat hujan, apalagi dataran Desa Ngenep
relatif bergelombang naik dan turun mengikuti kontur alam.

Sampai batas Desa Ngenep dengan Desa Bocek, jalan desa berupa tanah perkerasan dengan
lebar hanya 3-4 meter, sehingga bisa di gambarkan jika musim kemarau panjang, sepanjang
jalan tersebut berupa jalan tanah berdebu, sedangkan jika musim hujan, jalanan tersebut
becek dengan genangan air ada di mana-mana, dikarena tidak adanya drainase, walaupun Gambar 4.15. Jalan Poros di kawasan Perencanan, hanya bisa dilalui satu mobil (searah),
motor dan pejalan kaki (lebar 3-4 meter) kondisi perkerasan tanah
drainase alam.
D. Kondisi Utilitas di Kawasan Perencanaan Karangploso. Pelayanan air minum lainnya dilayani oleh SPAM Pedesaan atau non
perpipaan. Pelayanan perpipaan PDAM saat ini belum melayani dengan Ngenep yang
1) Jaringan Listrik
merupakan rencana lokasi kegiatan.
Desa Ngenep kecamatan Karangploso telah terlayani oleh jaringan listrik PLN, namun belum
mencapai kawasan perencanaan. Kondisi eksisting kawasan perencanaan masih berupa Sumber air baku air minum yang ada di sekitar rencana lokasi dapat diindentifikasi
tegalan dan belum terlayani jaringan listrik PLN karena saat ini belum ada bangunan yang sebagai berikut:

memerlukan pelayanan listrik. Jaringan listrik terdekat dari kawasan perencanaan adalah
1. Sumber Nyolo
jaringan listrik perumahan yang terdapat di desa Bocek, sedangkan jaringan tegangan
Sumber Nyolo terletak di Desa Ngenep tepatnya di Dusun Mojosari merupakan
menengah terdekat berada di Jalan Suropati dengan jarak sekitar 3.780 meter dari lokasi
sumber mata air terbesar di Kecamatan Karangploso. Sumber mata air ini mengalirkan
perencanaan. Untuk lebih jelasnya posisi jaringan listrik tegangan menengah terhadap
air di tujuh desa di Kecamatan Karangploso, termasuk Desa Ngenep. Sumber Nyolo
kawasan perencanaan dapat dilihat pada gambar berikut:
memiliki debit limpasan 10-15 liter/detik, berada pada elevasi + 627 mdpl dengan
koordinat -7.527490, 112.373380, dengan jarak ke lokasi sekitar 4,6 km. (Sumber :
PDAM Tirta Kanjuruhan, Kabupaten Malang, 2019)
Selain untuk sumber mata air yang digunakan warga untuk kebutuhan sehari-hari,
Sumber Nyolo ini juga digunakan sebagai tempat budidaya ikan dan sekaligus tempat
rekreasi bagi warga desa. Sumber Nyolo ini dikelola paguyuban warga sekitar sumber
ini.

Gambar 4.16. Posisi Jaringan Listrik Tegangan Menengah Terhadap Kawasan Perencanaan

SUMBER NYOLO SUMBER GAMBIR


2) Jaringan Air Bersih dan Sumber Air Bersih
2. Sumber Gambir
Pelayanan Air Minum untuk masyarakat kecamatan Karangploso dilakukan oleh sistem
Sumber Gambir terletak di Dusun Sumbul, Desa Klampak, Kecamatan Singosari.
perpipaan dan non perpipaan. Pelayanan sistem perpipaan dilayani oleh PDAM
Sumber Gambir memiliki debit limpasan 10-15 liter/detik, berada pada elevasi + 828
Kabupaten Malang unit Karang Plosos yang beramat di jalan Abu Ali No.1, Ngambon,
mdpl dengan koordinat -7.5056690, 112.474740, dengan jarak ke lokasi sekitar 4.1
Girimoyo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Jumlah pelanggan PDAM di
km. (Sumber : PDAM Tirta Kanjuruhan, Kabupaten Malang, 2019).
Kecamatan Karangploso sebanyak 8.490 unit atau melayani 42.450 jiwa atau memiliki
cakupan pelayanan sebanyak 50% jumlah penduduk administrasi Kecamatan
3. Saluran Sekunder Singosari Berdasarkan data survey geolistrik diketahui potensi air yang dapat diambil terdapat
Saluran Sekunder Singosari terletak di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari. pada kedalaman 144 m dan terdapat 1 lokasi tidak memiliki potensi.
Saluran Singosari memiliki debit limpasan 10-15 liter/detik, berada pada elevasi + 518 Untuk lebih lebih jelasnya data peta cekungan tanah, peta hidrogeologi dan hasil ukur
mdpl dengan koordinat -7.529140, 112.395610, dengan jarak ke lokasi sekitar 10.8 geolistrik dapat dilihat gambar dan tabel berikut:
km. Pada saat ini Saluran Sekunder Singosari berfungsi sebagai saluran Irigasi dengan
debit 90 liter/detik dan kebutuhan irigasi sebesar 86,4 liter/detik. (Sumber : PDAM
Tirta Kanjuruhan, Kabupaten Malang, 2019).

4. Sumber Gunung Biru

Sumber Gunung Biru terletak di Kota Batu. Sumber Gunung Biru memiliki debit
limpasan sekitar 10 liter/detik, berada pada elevasi + 1.756 mdpl dengan koordinat -
7.458510, 112.301520, dengan jarak ke lokasi sekitar 26 km. (Sumber : PDAM Tirta
Kanjuruhan, Kabupaten Malang, 2019).

SALURAN SEKUNDER SUMBER GUNUNG

SINGOSARI BIRU

5. Air Tanah Dalam

Air tanah dalam merupakan salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan air
minum di rencana lokasi kegiatan. Untuk keperluan identifikasi potensi air tanah, di
lokasi kegiatan telah dilakukan penelitian geolistrik . Survei Geolistrik dilakukan pada
15 titik VES (Vertical Electrical Sounding) lokasi berdasarkan desain akuisisi yang telah
dibuat dengan bentangan elektroda 400-600 meter.
Berdasarkan peta cekungan tanah, pengukuran geolistrik termasuk kedalam cekungan
air tanah. Sedangkan berdasarkan peta hidrogeologi, lokasi pengukuran geolistrik
termasuk kedalam akuifer produktifitas sedang.
Gambar 1.1. Peta Cekungan Air Tanah Daerah Pengukuran

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 4Hal. 15


Gambar 1.2. Peta Hidrogeologi Daerah Pengukuran

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 4Hal. 16


embung dimaksudkan untuk menampung aliran air permukaan (run off) yang dapat
digunakan sebagai cadangan air permukaan. Embung juga dapat menampung hasil
2. Tabel 4.6 Kedalaman Air Tanah Berdasarkan Survei geolistrik
pengolahan air limbah dari kegiatan yang ada dan dapat diolah kembali menjadi air
Kedalaman
Name Lat Long Elevation minum/air bersih.
AT
Pembangunan embung juga sebagai upaya konservasi lingkungan sehingga air hujan
GL-01 -7.862051 112.605599 778 189 ditahan dihulu dan dapat digunakan sebagai cadangan air di musim kemarau.

GL-02 -7.862001 112.607163 769 165

GL-03 -7.863353 112.605716 765 163 3) Air Limbah


Pelayanan Air Limbah untuk masyarakat kecamatan Karangploso masih berupa sistem
GL-04 -7.863139 112.606797 764 162
sanitasi on site sanitation dengan pelayanan berupa septik tank individu (akses aman)
GL-05 -7.865407 112.605832 747 140
dengan cakupan pelayanan sebesar 69% sedangkan sisanya masih membuang
GL-06 -7.86477 112.607016 750 140 langsung ke alam (kebun/ sungai ) atau memiliki perilaku BABS. Untuk mendukung
pelayanan air limbah ini, Pemerintah Kabupaten Malang memiliki 1 unit IPLT dan truk
GL-07 -7.863654 112.609024 755 139
tinja sebanyak 1 unit. (sumber : Strategi Sanitasi Kabupaten Malang 2016-2021).
GL-08 -7.863053 112.608935 760 145
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar berikut:
GL-09 -7.863955 112.609227 752 143
Gambar 4.17 Pelayanan Sanitasi Kecamatan Karangploso
GL-10 -7.866922 112.606118 738 141

GL-11 -7.86641 112.607025 740 136

GL-12 -7.866616 112.608196 734

GL-13 -7.868056 112.606267 730 118

GL-14 -7.869627 112.608727 717 119

GL-15 -7.869841 112.607949 717 112

Sumber; Hasil Survei Geolistrik, 2019

Sumber : SSK Kabupaten Malang 2016-2021

6. Embung
Potensi sumber air lainnya yang ada di lokasi kegiatan ada embung. Kondisi topografi
lokasi kegiatan yang berkontur memungkinkan untuk dibangun embung. Adanya

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 4Hal. 17


Dari aspek Kelembagaan, pelayanan air di Kabupaten Malang berada dibawah 4.4% responden
tanggungjawab Dinas Perumahan Kawasan Permukiman Dan Cipta Karya Kabupaten melakukan pemilahan sampah rumah tangga sebelum dibuang.
Malang. Sedangkan untuk pemantauan kualitas lingkungan termasuk kulitas air
limbah berada dibawah tanggungjawab Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang.

4) Persampahan
Pengelolaan sampah rumah tangga yang ditangani oleh masyarakat di Kecamatan
Karangploso adalah diangkut oleh petugas RT/RW kemudian diangkut keTPS/Depo
terdekat selanjutnya diangkut petugas Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang.
Hasil survey EHRA untuk Kabupaten Malang tentang pengelolaan sampah di rumah
Gambar 4.19. Pemilahan sampah rumah tangga
responden menunjukkan bahwa 45.6% (729 responden) menyatakan bahwa sampah
rumah tangga di bakar dan sebanyak 30.8% (495 responden) menyatakan bahwa
sampah rumah tangga dikumpulkan dan dibuang ke TPS. Untuk mengangkut keseluruhan sampah yang dikumpulkan Dinas
Lingkungan Hidup Kabupaten Malang memiliki 12 Dump Truck 12 Arm Roll dan 1 Pick
Up Eksavator 3 unit, bulldozer 1 unit, whelloader 1 unit, dengan kondisi sebagai
berikut:

Gambar 4.18 Pengelolaan sampah rumah tangga

Berdasar hasil survey EHRA diperoleh hasil bahwa 95.6%responden tidak melakukan
praktik pemilahan sampah rumahtangga sebelum dibuang. Sedangkan sisanya, yaitu

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 4Hal. 18


Tabel 4.7. Prasana Pengelolaan Persampahan di Kabupaten Malang E. Bangunan Eksisting di Sekitar Kawasan Perencanaan

Dari pantauan di lokasi, hanya ada beberapa rumah penduduk dan peternakan ayam yang
bersinggungan langsung dengan kawasan perencanaan. Kawasan perencanaan masih berupa
tanah garapan pertanian yang letak dari rumah penduduk sekitar 2-3 km ke atas arah Gunung
Arjuna. Akan tetapi pada radius 2-3 km, sudah mulai terlihat pembangunan perumahan skala
kecil, dengan model minimalis.

Gambar 4.19 Rumah penduduk yang Gambar 4.20 Peternakan ayam yang berada
berbatasan dengan lokasi perencanaan dalam radius 500 m dari lokasi perencanaan

F. Kondisi Topografi dan Hidrologi Tapak Kawasan Perencanaan

Secara umum kondisi topografi eksisting di tapak kawasan perencanaan baik yang seluas 78
Ha maupun seluas 114 Ha, mempunyai kemiringan dengan perbedaan level kontur yang
signifikan antara sisi lahan sebelah Utara dengan sebelah Selatan maupun sisi lahan sebelah
Barat dengan sebelah Timur. Dari hasil survey Topografi yang dilakukan, maka terlihat dari
Sumber :
sisi lahan sebelah Utara arah kontur semakin menurun ke arah sisi lahan sebelah Selatan.
SSK Kabupaten Malang 2016-2021

Demikian juga dengan kemiringan lahan dari sisi Barat semakin menurun ke sisi Timur lahan
terutama ke arah cekungan lahan yang cukup dalam yang terbentuk dari aliran air hujan yang
Pengelolaan persampahan di Kabupaten Malang telah diatur dalam Perda no 4 Tahun 2003
membentuk sungai pada saat musim Hujan.
tentang pelayanan pengangkutan sampah, Perda no10 tahun 2010 tentang Retribusi jasa Umum,
Instruksi Bupati Malang no 1 tahun 2011 Tentang pengelolaan persampahan di Kabupaten Dengan kondisi topografi yang demikian maka posisi level tertinggi di dalam tapak kawasan

Malang dan Undang-Undang Republik IndonesiaNomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan perencanaan berada di area sisi paling Utara sebagaimana terlihat pada Gambar 4.21 Peta

Sampah. Topografi berikut.

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 4Hal. 19


Dari sisi Hidrologi, potensi terbentuknya air permukaan berupa sungai hanya terjadi di masa
musim Hujan. Cekungan yang membelah area lahan menjadi dua sisi, yaitu sisi Barat dan sisi
Timur, merupakan bekas aliran air hujan dari dataran yang lebih tinggi yang mengalir
melintasi lahan. Kondisi tanah yang mempunyai porositas tinggi dan susahnya sumber air
yang terdekat di kawasan ini, maka untuk keperluan mendapatkan air di kala musim kemarau
masyarakat terutama para petani membuat tampungan air secara sederhana dengan
menggali tanah dan melapisi dengan terpal dan bahan kedap air lainnya.

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 4Hal. 20


U

PETA TOPOGRAFI
TAPAK LAHAN UNISMA
KAMPUS II

Arah Aliran Air

Area Level Tertinggi


dalam Tapak

Gambar 4.21 Peta Topografi Tapak Lahan Unisma Kampus II

DRAFT LAPORAN AKHIR Bab. 4Hal. 21