Anda di halaman 1dari 18

1. Apa hubungan operasi SC dengan kejadian tersebut ?

2. Mengapa bayi tidak langsung menangis ketika dilahirkan ?


Umunya ada sumbatan jalan napas berupa lendir, cairan ketuban ataupun darah  sulit
bernapas  tidak memberikan respon menangis  asfiksia

Foktor  trauma bayi saat dalam kandungan, kolaps tali pusar (trauma), ibu yang
mengalami eklampsi dan preeklampsi, persalinan macet saat bayi mencapai bahu,

Sebelum lahir terbentuk lapisan surfaktan  perkembangan di jar. paru belum matang
 menyebabkan bayi belum menangis

Patofisiologi Respiratory Distress Syndrome


Faktor2 yang memudahkan terjadinya RDS pada bayi prematur disebabkan oleh
alveoli masih kecil sehingga sulit berkembang, pengembangan kurang sempurna karena
dinding thorax masih lemah, produksi surfaktan kurang sempurna.
Kekurangan surfaktan mengakibatkan kolaps pada alveolus sehingga paru-paru
menjadi kaku. Hal tersebut menyebabkan perubahan fisiologi paru sehingga daya
pengembangan paru (compliance) menurun 25 % dari normal, pernafasan menjadi
berat, shunting intrapulmonal meningkat dan terjadi hipoksemia berat, hipoventilasi
yang menyebabkan asidosis respiratorik.
Telah diketahui bahwa surfaktan mengandung 90% fosfolipid dan 10% protein ,
lipoprotein ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan dan menjaga agar alveoli
tetap mengembang.
Secara makroskopik, paru-paru tampak tidak berisi udara dan berwarna
kemerahan seperti hati. Oleh sebab itu paru-paru memerlukan tekanan pembukaan yang
tinggi untuk mengembang. Secara histologi, adanya atelektasis yang luas dari rongga
udara bagian distal menyebabkan edem interstisial dan kongesti dinding alveoli sehingga
menyebabkan desquamasi dari epithel sel alveoli type II. Dilatasi duktus alveoli, tetapi
alveoli menjadi tertarik karena adanya defisiensi surfaktan ini. Dengan adanya atelektasis
yang progresif dengan barotrauma atau volutrauma dan toksisitas oksigen, menyebabkan
kerusakan pada endothelial dan epithelial sel jalan napas bagian distal sehingga
menyebabkan eksudasi matriks fibrin yang berasal dari darah. Membran hyaline yang
meliputi alveoli dibentuk dalam satu setengah jam setelah lahir. Epithelium mulai
membaik dan surfaktan mulai dibentuk pada 36-72 jam setelah lahir. Proses
penyembuhan ini adalah komplek; pada bayi yangimmatur dan mengalami sakit yang
berat dan bayi yang dilahirkan dari ibu dengan chorioamnionitis sering berlanjut menjadi
Bronchopulmonal Displasia (BPD). Gambaran radiologi tampak adanya retikulogranular
karena atelektasis,dan airbronchogram
Gejala klinis yang progresif dari RDS adalah :
- Takipnea diatas 60x/menit
- Grunting ekspiratoar
- Subcostal dan interkostal retraksi
- Cyanosis
- Nasal flaring
Pada bayi extremely premature ( berat badan lahir sangat rendah) mungkin dapat
berlanjut apnea, dan atau hipotermi. Pada RDS yang tanpa komplikasi maka surfaktan
akan tampak kembali dalam paru pada umur 36-48 jam. Gejala dapat memburuk secara
bertahap pada 24-36 jam pertama. Selanjutnya bila kondisi stabil dalam 24 jam maka akan
membaik dalam 60-72 jam. Dan sembuh pada akhir minggu pertama

3. Mengapa bayi mendapatkan asupan asi dengan menggunakan NGT ?


A nasogastric (NG) tube is a small tube that goes into the stomach through the nose.
Breast milk, formula, or liquid food is given through the tube directly into the
stomach, giving your child extra calories. Feeding this way helps your child get enough
nutrition to grow, develop, recover from illness, play, and learn.
Tube feeding can be done for children of any age. Some children will depend on tube
feeding only until they are able to eat by mouth. Using the gastrointestinal (GI) tract for
feedings keeps it healthy and working normally.
Other children can continue to eat as usual, and also get tube feedings for extra calories.
There are several ways to give an NG feeding. The type of tube, how often it needs to be
changed, type and amount of formula, and length of feeding time will be decided by the
doctor and dietitian, depending on your child's needs.
Ada beberapa alasan mengapa dilaukan nasogastric tube pada bayi baru lahir :
 Telah dilahirkan terlalu dini untuk mengembangkan refleks mengisap
 Tidak dapat mengambil volume makanan yang dibutuhkan dengan payudara atau
botol karena mudah lelah
 Memiliki alasan medis yang membuat makan menjadi lebih sulit

Indications: Nasogastric tubes should be used preferentially except under conditions


below where orogastric tubes may need to be placed:

 Nasal prong CPAP


 Choanal atresia
 Respiratory distress
a. respirations >60bpm
b. grunting
c. recession
 Babies with an oxygen requirement
 Nasal trauma
Tata cara :
Follow the steps to ensure correct tube placement.

 Measure the distance from either the nostril or the mouth (depending on insertion
site) to the tragus (lobe of the ear) to the half way point between the xiphisternum
and the umbilicus.
 Swaddle infant to provide comfort
 Gently check nostrils for patency.
 Select the appropriate size gastric tube; size 6 French for the majority of infants,
alternatively size 8 French for large infants or those requiring gut drainage
 The tube is gently inserted to point obtained at measurement by nursing staff.
 Check position by aspirating and checking with pH strips using a 2 – 5 ml enteral
syringe.The pH strip needs to show a reading of 5 or less to indicate tube is in the
stomach and therefore safe to use.
 Place a duoderm base on the infant’s cheek and secure tubing with hypafix tape.

SUMBER : Oxford University Hospitals NHS Foundation Trust. 2015. Nasogastric tube
feeding at home, Information for parents and carers
4. Mengapa dilakukan pengukuran GDS pada scenario?
Selama dalam kandungan, janin sangat bergantung pada glukosa ibu yang ditransfer melalui
plasenta. Setelah lahir, bayi harus menjaga kadar glukosa dalam darahnya dengan
memproduksi dan mengatur suplai glukosanya sendiri. Kadar glukosa darah neonatus pada
umumnya normal, namun sebenarnya kadar glukosa darah tergantung pada beberapa faktor
di antaranya makanan terakhir ibu, durasi persalinan, cara persalinan, dan tipe cairan
intravena yang diperoleh ibu sebelum persalinan.
Keseimbangan produksi dan penggunaan glukosa harus dijaga agar tidak terjadi hipoglikemia
atau hiperglikemia karena kedua keadaan ini akan berpengaruh buruk terhadap bayi
terutama untuk metabolisme otak. Kadar glukosa harus dipertahankan antara 75-100 mg/dL
sebagai substrat yang adekuat bagi otak.
Kadar yang terlalu tinggi dapat menyebab kan peningkatan laktat di otak sehingga akan
merusak integritas otak, peningkatan edema, dan mengganggu auto regulasi vaskular.
Kadar yang rendah akan menyebabkan eksitotoksik asam amino sehingga akan
memperluas infark.
Hipoglikemia dapat disebabkan oleh berkurangnya glukosa karena pelepasan katekolamin
atau karena hiperinsulinisme yang dijumpai pada 82% bayi yang menderita asfiksia dapat
bertahan selama beberapa hari sampai beberapa minggu.
SUMBER : Emil Azlin. 2011. Hubungan antara Skor Apgar dengan Kada Glukosa Darah pada
Bayi Baru Lahir. Sari Pediatri, Vol. 13, No. 3, hal 174-178

5. Apa saja alur pemeriksaan fisik bayi baru lahir ?


6. Apa saja interpretasi dari hasil pemeriksaan ?
7. Apa saja indikasi dilakukan resusitasi pada bayi ?
Kondisi yang memerlukan resusitasi neonatus misalnya :
a. Sumbatan jalan napas : akibat lendir / darah / mekonium, atau akibat lidah yang
jatuh ke posterior.
b. Kondisi depresi pernapasan akibat obat-obatan yang diberikan kepada ibu
misalnya obat anestetik, analgetik lokal, narkotik, diazepam, magnesium sulfat,
dan sebagainya
c. Kerusakan neurologis
d. Kelainan / kerusakan saluran napas atau kardiovaskular atau susunan saraf pusat,
dan / atau kelainan-kelainan kongenital yang dapat menyebabkan gangguan
pernapasan / sirkulasi
e. Syok hipovolemik misalnya akibat kompresi tali pusat atau perdarahan
resusitasi lebih penting diperlukan pada menit-menit pertama kehidupan. Jika
terlambat, bisa berpengaruh buruk bagi kualitas hidup individu selanjutnya.
(www.geocities.com
8. Bagaimana proses timbulnya asfiksia?

9. Bagaimana Hubungan foto thoraks dengan didapatnya HMD gr 2 ?


paru-paru jelas lebih gelap dari mediastinum
Tidak ada gambaran airbronchogram
tidak ada ruang udara confluent opacity
c Berat/Ringan Gambaran Radiologi Thoraks

I Ringan Kadang normal / gambaran granuler, homogen,


tidak ada air bronchograms
II Ringan-Sedang Seperti gambaran diatas plus gambaran air
bronchograms
III Sedang-Berat Seperti gambaran diatas plus batas jantung kabur

IV Berat “white lung” / paru putih menyeluruh

10. Jelaskan mengenai Hyaline Membrane Disease ?


Definisi
Penyakit membran hialin (PMH) atau Respiratory Distress Syndrome (RDS) adalah suatu
sindroma yang terjadi pada bayi prematur karena imaturitas struktur paru dan insufisiensi
produksi surfaktan. Surfaktan biasanya didapatkan pada paru yang matur, sedangkan pada
bayi prematur produksi surfaktan berkurang. Hal ini disebabkan karena pada bayi prematur,
sel pneumosit tipe II yang menghasilkan surfaktan kurang matur. Defisiensi surfaktan ini
akan mengakibatkan alveolus kolap dan daya berkembang paru kurang sehingga bayi akan
mengalami sesak nafas . Sindrom ini terjadi beberapa saat setelah lahir (4-6 jam) yang
ditandai adanya pemapasan cuping hidung, dispnu atau takipnu, retraksi (suprasternal,
interkostal, atau epigastrium), sianosis, suara merintih saat ekspirasi, yang menetap dan
menjadi progresif dalam 48-96 jam pertama kehidupan.

Patofisiologi
Penyakit membran hialin merupakan suatu keadaan dimana paru secara anatomis maupun
fisiologis imatur. Secara anatomis, paru tidak mampu melakukan ventilasi secara adekuat
karena alveolus tidak berkembang dengan baik sehingga permukaan area untuk terjadinya
pertukaran gas kurang. Pada penyakit membrane hyalin juga terdapat ketidaksempurnaan
kapiler paru, serta banyak terdapat mesenkim interstisial sehingga memperjauh jarak antara
alveolus dan membrane sel endothelial.
Defisiensi surfaktan pada penyakit membran hialin teijadi karena kurangnya sel- sel
pneumosit tipe II yang matur, yang menghasilkan surfaktan. Secara fisiologi, jumlah
surfaktan yang kurang akan menyebabkan alveoli kolaps setiap akhir ekspirasi, sehingga
untuk pemapasan berikutnya dibutuhkan tekanan negatif intratoraks yang lebih besar dan
usaha inspirasi yang lebih kuat. Kolaps paru ini akan menyebabkan terganggunya ventilasi
sehingga terjadi hipoksia alveolar, retensi C02 dan asidosis. Hipoksia alveolar akan
menimbulkan: (1) oksigenasi jaringan menurun, dan asidosis. Hipoksia alveolar akan
menimbulkan: (1) oksigenasi jaringan menurun, sehingga akan teijadi metabolisme anaerob
dengan penimbunan asam laktat dan asam organik lainnya yang menyebabkan teijadinya
asidosis metabolik pada bayi, (2) kerusakan endotel kapiler dan epitel duktus alveolaris
akan menyebabkan terjadinya transudasi ke dalam alveoli dan terbentuknya fibrin.
Selanjutnya fibrin bersama-sama dengan jaringan epitel yang nekrotik membentuk suatu
lapisan yang disebut membran hialin. Asidosis dan atelektasis juga menyebabkan
terganggunya sirkulasi darah dari dan ke jantung. Demikian pula aliran darah paru akan
menurun dan hal ini akan mengakibatkan berkurangnya pembentukan substansi surfaktan.

Grade :

c Berat/Ringan Gambaran Radiologi Thoraks

I Ringan Kadang normal / gambaran granuler, homogen,


tidak ada air bronchograms

II Ringan-Sedang Seperti gambaran diatas plus gambaran air


bronchograms

III Sedang-Berat Seperti gambaran diatas plus batas jantung


kabur

IV Berat “white lung” / paru putih menyeluruh

SUMBER :
Sri Utami Fajariyah, Herman Bermawi, Julniar M. Tasli. 2016. Terapi Surfaktan pada Penyakit
Membran Hyalin

11. Bagimana Alur diagnosis pada scenario ?

12. Apa diagnosis dan diagnosis banding dari scenario ?


13. Apa saja factor resiko dan etiologi yang menyebabkan terjadinya kasus pada scenario ?
14. Bagaimana Tatalaksana dari kasus di scenario ?

15. Apa saja komplikasi dari Scenario ?


16. Periode pertumbuhan dan perkembangan neonates ?
 Pertumbuhan dan Perkembangan janin dibagi dalam beberapa periode :
1) Periode Embrionik
Pada periode ini terjadi pembentukan organ-organ. Gangguan pertumbuhan pada
periode ini dapat menyebabkan kelainan kongenital atau abortus.
2) Periode janin dini
Pada periode ini implantasi hasil konsepsi pada dinding uterus telah sempurna.
Organogenesis telah selesai dan mulai terjadi akselerasi pertumbuhan. Organ-
organ tubuh mulai berfungsi walaupun masih imatur serta bahaya abortus
berkurang.
3) Periode janin akhir
Terdapat pertumbuhan yang cepat dari tubuh sehingga didapat pertambahan
berat badan maksimal. Dalam periode ini terjadi penyelesaian persiapan untuk
hidup di luar uterus, bahaya utama ialah infeksi, partus, prematuritas,
dismaturitas, asfiksia, dan kematian janin intrauterine.
4) Periode parturient
Janin telah siap hidup di luar uterus. Untuk itu janin telah cukup mendapat
perlindungan untuk dapat melewati jalan lahir dengan aman. Bahaya utama ialah
hipoksia, infeksi, dan trauma kelahiran.
5) Periode neonatal
Dalam periode ini terjadi adaptasi kehidupan intrauterine ke kehidupan
ekstrauterin. Misalnya oksigen yang semula diperoleh janin dari darah ibu,
sekarang diperoleh melalui pertukaran gas dalam paru. Demikian pula zat
makanan yang tadinya diperoleh melalui plasenta, sekarang harus diperoleh
melalui absorbs dari traktus digestivus.
1) Periode Germinal
- Berlangsung dua minggu setelah fertilisasi
- Proses : penciptaan zigot  pemecahan sel  melekatnya zigot ke
dinding kandungan
- Seminggu setelah konsepsi : zigot terdiri 100-150 sel
- Pemisahan sel terjadi setelah lapisan dalam (blastocyst) dan lapisan luar
(trophoblast) terbentuk. Sel-sel ini menyediakan gizi dan dukungan bagi
embrio
- Implantation (melekatnya zigot ke dinding kandungan) berlangsung
sekitar 10 hari setelah konsepsi
2) Periode Embrionic
- Berlangsung dari 2-8 minggu setelah konsepsi
- Embrio terbentuk dari :
 Endoderm : lapisan bagian dalam sel yang akan berkembang menjadi
system pencernaan dan pernapasan
 Mesoderm : lapisan tengah yang akan berkembang menjadi system
peredaran, tulang, otot, system pembuangan kotoran badan, system
reproduksi
 Ectoderm : lapisan paling luar sel yang akan berkembang menjadi system
saraf, penerima sensor (telinga, hidung, mata) dan bagaian kulit (rambut
dan kuku)
- Setelah ketiga lapisan terbentuk, maka system dukungan kehidupan
embrio menjadi matang dan berkembang dengan cepat, meliputi : ari-ari
(placenta), tali pusar (umbilical cord), amnion.
3) Periode Fetal
- Berlangsung dari 2-7 bulan setelah pembuahan
- Tiga bulan setelah pembuahan : panjang 3 inci, berat 1 ons, janin mulai
aktif menggerakkan bagian-bagian tubuhnya , sudah dapat diidentifikasi
jenis kelaminnya.
- Akhir bulan ke 4 : panjang 5,5 inci, berat 4 ons, percepatan pertumbuhan
ada pada bagian bawah
- Akhir bulan ke 5 : panjang 10-12 inci, berat 0,5-1 pon. Struktur kulit
terbentuk, janin semakin aktif.
- Akhir bulan ke 6 : panjang 14 inci, berat naik 0,5-1 pon. Mata dan kelopak
mata terbentuk, reflek menggenggam, pernapasan belum beraturan.
- Akhir bulan ke 7 : panjang 14-17 inci berat 2,5-3 pon.
- Akhir bulan ke 7 : panjang 14-17 inci berat 2,5 – 3 pon.
- Bulan ke 9 dan ke 9 : bayi Amerika berat 7-7,5 pon dan panjang 20 inci.
Jaringan lemak berkembang dan berbagai system organ berfungsi,
misalnya jantung, ginjal.
 Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan janin :
1) Faktor Janin
a. Kelainan janin. Sesudah minggu ke 20 mulai terdapat perbedaan antara
pertumbuhan janin laki-laki dan janin perempuan. Menurut Kloosterman (1969)
perbedaan itu dapat mencapai 135 gram pada kehamilan 40 minggu. Jadi bayi
laki-laki seringkali lebih berat daripada bayi perempuan (factor jenis kelamin)
b. Factor etnik dan ras. Hal ini mungkin disebabkan oleh factor genetic dan
lingkungan.
c. Kelainan kongenital yang berat. Bayi yang menderita kelainan kongenital yang
berat seringkali mengalami retardasi pertumbuhan sehingga berat badan lahirnya
rendah.
2) Factor Maternal
a. Konstitusi ibu.
Pertumbuhan janin pada multipara lebih baik daripada nulipara.
Kehamilan ganda atau multiple dapat mempengaruhi pertumbuhan janin.
Pada kehamilan ganda sesudah 32 minggu mulai terdapat perlambatan
pertumbuhan.
Pada kehamialn 40 minggu bb janun dengan kehamilan tunggal lebih tinggi
700 gram dibandingkan dengan bb janin kehamilan ganda.
Usia ibu (tua) yang melahirkan bayi memiliki resiko berat badan bayi lebih
rendah.
Ibu yang besar biasanya melahirkan bayi yang lebih berat.
Terdapat beberapa penyakit ibu yang dapat mempengaruhi aliran darah ke
uterus, dapat mempengaruhi pertumbuhan janin. Misalnya DM. bayi yang
lahir dari ibu yang menderita DM, pada umumnya lebih berat bila
dibandingkan dnegan berat badan seharusnya untuk masa gestasinya. Hal ini
disebabkan oleh kelainan metabolism dengan pertumbuhan lemak yang lebih
banyak dibandingkan pertumbuhan jaringan lain.
b. Keadaan lingkungan ibu.
Dapat dibagi dalam beberapa factor yaitu :
- Keadaan social ekonomi
- Keadaan gizi
- Kebiasaan merokok (bayi yang lahir dari ibu perokok akan lahir dengan
berat badan rendah)
- Factor ketinggian tempat tinggal (menyebabkan kadar oksigen udara lebih
rendah dan dapat menyebabkan lahirya bayi dengan berat badan rendah)
3) Faktor plasenta
Dapat ditinjau dari :
 Besar dan berat plasenta
 Tempat melekat plasenta pada uterus
 Tempat insersi tali pusat
 Kelainan plasenta misalnya tumor, infark, kelainan umbilicus

Buku Ilmu Kesehatan Anak Jilid 3

17. Pentingnya kecukupan gizi pada pertumbuhan dan perkembangan neonatus ?


18. Klasifikasi Berat Badan dan Usia Kehamilan ?
Klasifikasi bayi resiko tinggi
Klasifikasi bayi resiko tinggi dibedakan berdasarkan 4 macama yaitu :

 Klasifikasi berdasarkan berat badan


Bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram (BBLR) yg dikelompokkan sbg
berikut :
a. Bayi berat badan lahir amat sangat rendah, yaitu bayi yang lahir dengan berat badan < 1000
gram.
b. Bayi berat badan lahir sangat rendah, yaitu bayi yang lahir dengan berat badan < 1500
gram.
c. Bayi berat badan lahir cukup rendah, yaitu bayi yang lahir dengan berat badan 1501-2500
gram.

 Klasifikasi berdasarkan umur kehamilan


a. Bayi prematur adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan belum mencapai 37 minggu.
b. Bayi cukup bulan adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan 38-42 minggu.
c. Bayi lebih bulan adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan > 37 minggu.

 Klasifikasi berdasarkan umur kehamilan dan berat badan


a. Bayi kecil untuk masa kehamilan (KMK) yaitu bayi yang lahir dengan keterlambatan
pertumbuhan intrauterine dengan berat badan terletak dibawah persentil ke-10 dalam
grafik pertumbuhan intra uterine.
b. Bayi kecil untuk masa kehamilan (KMK) yaitu bayi yang lahir dengan dengan berat badan
sesuai dengan berat badan terletak antara persentil ke-10 dan ke-90 dalam grafik
pertumbuhan intra uterine.
c. Bayi besar untuk masa kehamilan (BMK) yaitu bayi yang lahir dengan berat badan lebih
besar untuk usia kehamilan dg berat badan yang diatas persentil ke-90 dalam grafik
pertumbuhan intra uterine.

 Klasifikasi berdasarkan masalah patofisologis


Pada klasifikasi ini yaitu semua neonatus yang lahir disertai masalah patofisiologis atau
mengalami gangguan fisiologis.
a. Hiperbilirubinemia
Merupakan suatu keadaan pada bayi baru lahir dimana kadar bilirubin seru total lebih dari
10 mg % pada minggu pertama dengan ditandai ikterus.
b. Asfiksia Neonaturum
Merupakan keadaan dimana bayi tidak dapat bernafas spontan dan teratur setelah lahir,
yang dapat disertai dengan hipoksia.
c. Tetanus neonaturum
Merupakan tetanus yang terjadi pada bayi yang dapat disebabkan adanya infeksi melalui
tali pusat , Yang dipicu oleh kuman clostridium tetani yang bersifat anarerob dimana
kuman tersebut berkembang tanpa adanya oksigen.
d. Respiratory Distress Sindrom
Merupakan kumpulan gejala yang terdiri dari dispneo, frekwensi pernapasan yang lebih
dari 0 kali permenit, adanya sianosis, adanya rintihan, pada saat ekspirasi adanya rektraksi
suprasternal