Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

AKUNTANSI KEPERILAKUAN

Dosen: Ratna Wijayanti, SE., M.M./Latifah

ASPEK KEPERILAKUAN DARI PRINSIP AKUNTANSI YANG BERTERIMA


UMUM

Disusun :
1. Gaga Tri Cahyono (216132623)
2. Moch. Sukhlan Alman (216132630)

Program Studi Akuntansi


STIE WIDYA GAMA LUMAJANG
2019

i
KATA PENGANTAR

Dengan mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan karunianya
kami dapat menyelesaikan pembuatan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini berjudul
“aspek keperilakuan dari prinsip akuntansi yang berterima umum “.

Di dalam pembuatan makalah ini, kami berusaha menguraikan dan menjelaskan


mengenai aspek keperilakuan dari perinsip akuntansi yang berterima umum. Dalam
kesempatan ini dengan segala kerendahan hati kami menyampaikan terima kasih kepada
dosen pembimbing kami yang telah memberikan waktu dan kesempatan untuk menyelesaikan
makalah ini.

Akhir kata kami menyadari bahwa pembuatan makalah ini masih jauh dari sempurna
dan banyak kekurangannya, oleh karena itu kami mengharapkan saran, kritik dan petunjuk
dari berbagai pihak untuk pembuatan makalah ini menjadi lebih baik dikemudian hari.

Semoga makalah yang telah kami buat ini dapat bermanfaat dan menjadi bahan
informasi pada masa yang akan datang, khususnya bagi Mahasiswa STIE WIDYA GAMA
LUMAJANG. Terima kasih.

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... i

DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ................................................................................................ 1

1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................... 1

1.3 Tujuan ............................................................................................................. 1

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 Prinsip Akuntansi Berterima Umum ................................................................. 2

2.2 PABU Kecil Versus PABU Besar .................................................................... 3

2.3 Kebijakan dan Perubahan Metode Akuntansi ................................................... 4

2.4 Kebutuhan untuk Mempertimbangkan Implikasi Keperilakuan ....................... 5

2.5 Area yang Menjadi perhatian Sekarang ............................................................ 12

BAB 3 PENUTUP

3.1 Kesimpulan ..................................................................................................... 18

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................ 19

iii
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Akuntansi menghadapi masalah di mana usaha kecil terlalu dibebani oleh biaya
administrasi dan akuntansi dalam rangka mematuhi aturan yang tidak relevan, dan kebutuhan
akan kebebasan. Bila mengingat bahwa lebih dari separuh industri manufaktur, perdagangan,
dan penjualan ritel di Amerika Serikat dihasilkan oleh usaha skala kecil dan menengah,
permasalahan menjadi semakin bertambah besar. Permasalahan yang menjadi pernyataan
adalah apakah memang terdapat perbedaan vang nyata antara usaha besar dan kecil serta di
antara kebutuhan pengguna informasi dari usaha besar dan kecil sehingga membenarkan
perbedaan dalam aturan akuntansi dalam bentuk dua PABU, yaitu: PABU kecil untuk usaha
kecil atau yang dikelola secara tertutup dan PABU besar untuk perusahaan besar.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud prinsip akuntansi berterima umum?
2. Apa yang dimaksud prinsip akuntansi yang berterima umum kecil versus prinsip
akuntansi berterima umum besar?
3. Apa saja kebijakan dan perubahan metode akuntansi?
4. Apa kebutuhan untuk mempertimbangkan implikasi keperilakuan?
5. Dimana saja area yang menjadi perhatian sekarang?
1.3 Tujuan

1. Mengetahui tentang prinsip akuntansi berterima umum?


2. Mengetahui tentang prinsip akuntansi yang berterima umum kecil versus prinsip
akuntansi berterima umum besar?
3. Mengetahui tentang kebijakan dan perubahan metode akuntansi?
4. Mengetahui tentang kebutuhan untuk mempertimbangkan implikasi keperilakuan?
5. Mengetahui tentang area yang menjadi perhatian sekarang?

1
BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 PRINSIP AKUNTANSI BERTERIMA UMUM

Akuntansi dipraktikkan dalam suatu kerangka yang implisit. Kerangka ini dikenal
sebagai prinsip akuntansi berterima umum (PABU). Prinsip-prinsip akuntansi yang diterima
secara umum dapat menjadi syarat bagi keputusan manajer serta juga sebagai ukuran kinerjanya.
Sayangnya, hal ini tidak selalu memberikan hasil yang diinginkan. Sejumlah prinsip telah
menimbulkan bias sehingga justru memotivasi manajer pada lingkungan tertentu untuk
mengadopsinya dengan keinginan untuk mendapatkan prinsip alternatif yang dapat
mencerminkan hasil operasi dan kondisi keuangan perusahaan dengan lebih baik. Selain itu,
prinsip-prinsip akuntansi yang diterima secara umum lainnya mungkin membuat manajer
mengadopsi kebijakan operasi khusus walaupun kebijakan tersebut mungkin tidak tepat.

Pernyataan No. 4 Accounting Principles Board (APB) menyatakan bahwa PARI dilihat
dalam "pengalaman, alasan, kebiasaan, penggunaan, dan kebutuhan praktis dan PABU
mencakup konversi, aturan, dan prosedur yang perlu untuk mendefinisikan prinsi akuntansi yang
dapat diterima pada suatu waktu tertentu. Beberapa cara dilakukan untuk memberi makna yang
dapat diakui terhadap istilah "yang diterima secara umum" sehingga istilah tersebut
menggambarkan kondisi di mana metode akuntansi akan dianggap diterima secara umum.
Literator tentang PABU telah meluas mencakup sejumlah persyaratan, opini, dan pernyataan lain
dari berbagai sumber yang berwenang. PABU mencakup pernyataan dari badan penetapan
standar, yaitu pernyataan standar akuntansi keuangan dari FASB dan interpretasiya, opini APB,
dan buletin riset akuntansi dari AICPA. Sumber lain PABU adalah sebagai berikut.

1. Pedoman audit dan akuntansi industri dan pernyataan posisi AICPA serta interpretasi
akuntansi AICPA.
2. Publikasi lain dari FASB, seperti buletin teknis, dan literator pendahulunya, seperti
pernyataan APB.
3. Publikasi SEC, seperti terbitan seri akuntansi.

2
4. diakui dan sering muncul sebagaimana dicerminkan dalam publikasi Praktik yang AICPA
tahunan, Accounting Trends and Techniques.
5. Makalah terbitan AICPA, pernyataan konsep FASB, buku teks, dan artikel.

Sumber-sumber di atas dapat dipandang sebagai hierarki. Oleh karena itu, hierarki tersebut
dapat digambarkan sebagai rumah yang mampu menampung semua opini yang dikeluarkan oleh
badan akuntansi yang berwenang. Tampilan berikut merupakan gambaran yang menjelaskan
hierarki dari prinsip akuntansi yang diterima secara umum.

2.2 PRINSIP AKUNTANSI BERTERIMA UMUM KECIL VERSUS PRINSIP AKUNTANSI


BERTERIMA UMUM BESAR

Akuntansi menghadapi masalah di mana usaha kecil terlalu dibebani oleh biaya
administrasi dan akuntansi dalam rangka mematuhi aturan yang tidak relevan, dan kebutuhan
akan kebebasan. Bila mengingat bahwa lebih dari separuh industri manufaktur, perdagangan, dan
penjualan ritel di Amerika Serikat dihasilkan oleh usaha skala kecil dan menengah,
permasalahan menjadi semakin bertambah besar. Permasalahan yang menjadi pernyataan adalah
apakah memang terdapat perbedaan yang nyata antara usaha besar dan kecil serta di antara
kebutuhan pengguna informasi dari usaha besar dan kecil sehingga membenarkan perbedaan
dalam aturan akuntansi dalam bentuk dua PABU, yaitu: PABU kecil untuk usaha kecil atau yang
dikelola secara tertutup dan PABU besar untuk perusahaan besar.

Berkaitan dengan perbedaan di antara pengguna, masalahnya adalah bagaimana cara


untuk mengidentifikasi: (a) apakah terdapat perbedaan yang nyata antara kebutuhan pengguna
laporan keuangan perusahan publik dan pengguna laporan keuangan perusahaan privat, dan (b)
apakah terdapat perbedaan yang nyata di antara pengguna mengenai derajat kepercayaan
terhadap laporan keuangan perusahaan privat sebagal sumber informasi. Riset empiris terhadap
kedua pernyataan tersebut menghasilkan temuan yang berbeda. Bukti menegaskan bahwa
pemegang dana dan saham dari perusahaan publik merupakan pengguna utama laporan keuangan
perusahaan. Namun, bukti lain menegaskan bahwa pejabat bank di bidang kredit dan analisis
sekuritas memiliki derajat kemiripan yang tinggi dalam hal preferensi terhadap berbagai jenis
informasi yang umumnya dimasukkan dalam laporan keuangan. Hal ini merupakan sedikit
contoh di mana dua kelompok memiliki perbedaan dalam preferensi terhadap informasi dengan

3
fokus yang berbeda. Temuan terakhir ini menjadi posisi yang sering diambil oleh para pihak
yang berwenang untuk menetapkan standar ketika harus mendefenisikan kebutuhan pengguna.

FASB menyatakan bahwa tujuan pelaporan keuangan adalah untuk melayani kebutuhan
pengguna laporan keuangan secara umum dan bukan kebutuhan khusus dari pengguna tertentu.
Indikasi lain mengenai pandangan FASB dinyatakan dalam rancangan paparan (exposure draft)
FASB yang diterbitkan sebelum penerbitan FASB No. 14 mengenai Pelaporan Keuangan untuk
Segmen Perusahaan Bisnis. Pandangan yang intuitif dan akurat adalah bahwa pengguna utama
laporan keuangan perusahaan publik adalah para analis keuangan dan pemegang saham publik,
sementara laporan keuangan perusahaan kecil dan/atau yang dikelola secara tertutup biasanya
diarahkan pada pemilik sekaligus manajer serta pada bankir atau kreditor lainnya.

2.3 KEBIJAKAN DAN PERUBAHAN METODE AKUNTANSI

Perusahaan perlu memilih di antara berbagai metode akuntansi dalam mencatas transaksi
yang menyusun laporan keuangannya. Pilihan ini, yang diatur oleh akuntansi yang diterima
umum, mencerminkan kebijakan akuntansi dari perusahaan. APB dalam Opini No. 22,
Disclosure of Acceding Politicies (April 1972), paragraf 6 mendefinisikan kebijakan akuntansi
sebagai berikut.

Kebijakan akuntansi dari pelaporan suatu entitas adalah prinsip akuntansi spesifik dan
metode penerapan prinsip tersebut yang oleh manajemen dari entitas yang bersangkutan
dipandang paling tepat untuk menyajikan posisi keuangan, perubahan dalam posisi
keuangan, dan hasil operasi dengan sewajarnya sesuai prinsip akuntansi yang diterima
secara umum dan oleh karenanya diadopsi untuk penyusunan laporan keuangan".

Perusahaan juga membuat perubahan metode akuntansi sebagai bagian kebijakan


akuntansinya. Keyakinan umum adalah bahwa perusahaan melakukan perubahan metode
akuntansi guna memoles masalah kinerjanya. Literator akuntansi menjelaskan perubahan dalam
prinsip dan estimasi akuntansi dalam hal keinginan manajemen untuk mencapai tujuan tertentu
seperti perataan laba, atau pengurangan biaya keagenan berkaitan dengan pelanggan perjanjian
utang. Rangkuman hasil riset yang menunjukkan bahwa semakin ketat perjanjian utang, maka
semakin keras perusahaan berusaha untuk mengendorkan ketatnya batasan perjanjian tersebut
melalui perubahan metode akuntansi yang tepat.

4
Badan pengatur akuntansi telah mencoba membatasi keleluasaan manajemen dalam
menggunakan perubahan metode akuntansi untuk meningkatkan atau menurunkan laba neto.
Sejak tahun 1970-an, APB No. 20 telah menetapkan bahwa perubahan metode akuntansi harus
diperlakukan sebagai perubahan dengan dampak kumulatif, perubahan laba neto pada periode
terjadinya perubahan, dan pengungkapan dalam catatan atas laporan keuangan mengenai dampak
dari pengadopsian prinsip akuntansi yang baru terhadap laba sebelum laba luar biasa dan laba
neto dari perubahan periode. SEC melalui Accounting Release No. 177 menentukan bahwa
perubahan metode akuntansi dilakukan untuk memperoleh metode akuntansi yang lebih baik
yang didasarkan pada pertimbangan bisnis yang masuk akal. Sementara kedua pernyataan
tersebut berfungsi sebagai mekanisme pengendalian, tetapi hal itu tidak menghilangkan
kemampuan manajemen untuk meningkatkan atau menurunkan laba melalui perubahan metode
akuntansi.

2.4 KEBUTUHAN UNTUK MEMPERTIMBANGKAN IMPLIKASI KEPERILAKUAN

APB dan pendahulunya Committee on Accounting telah mengurangi sejumlah prinsip


akuntansi yang tidak diinginkan secara keperilakuan, tetapi masih terdapat beberapa masalah.
Tujuan akuntansi dan profesi manajemen adalah mengeliminasi praktik yang memberatkan ini
dan menciptakan sekumpulan prinsip akuntansi yang diterima secara umum yang akan
memotivasi manajer untuk membuat keputusan ekonomi yang kuat. ika hal ini dipandang tidak
mungkin, maka sistem pelaporan keuangan perusahaan setidaknya tidak mendorong manajer
untuk bertindak menentang apa yang menjadi képentingan terbaik dari pemegang saham dan
masyarakat.

APB dan badan-badan lainnya yang memengaruhi definisi dari apa yang membentuk
prinsip-prinsip akuntansi yang diterima secara umum harus menanyakan: 1) Apakah prinsip-
prinsip atau praktik akuntansi ini memotivasi manajer untuk berperilaku mementingkan diri
sendiri, dan 2) Apakah tindakan ini dapat merusak kinerja aktual manajerial karena didasarkan
pada ilusi kinerja yang sebenarnya tidak pernah ada atau menghasilkan tindakan ekonomi yang
tidak bagus. Jika jawaban terhadap kedua pertanyaan ini adalah ya, dan hal ini sangat mungkin
terjadi, maka penggunaan praktik akuntansi tersebut seharusnya tidak didorong, kecuali secara
jelas dibenarkan oleh lingkungan bisnis yang didefinisikan secara jelas.

5
Faktor penentu penting lainnya dari kekuatan, karakter, dan prevalensi respons manajerial
terhadap beberapa perbaikan dalam aspek keperilakuan akuntansi keuangan adalah sikap manajer
terhadap sistem pelaporan perusahaan. Manajer dalam hal ini meliputi Komisi Bursa dan
Sekuritas, Bursa Saham Utama, Komite Pajak Profesional dan Etika dari AICPA, pengadilan,
dan kongres.

Kelanjutan kontroversi terhadap penanganan yang tepat terhadap pajak tangguhan


mengilustrasikan perlunya untuk mempertimbangkan aspek keperilakuan dari prinsip akuntansi.
Pajak tangguhan muncul ketika perusahaan menggunakan metode akuntansi berbeda untuk
tujuan pajak. Perbedaan waktu antara nilai buku dan pengakuan pendapatan dan beban secara
pajak menghasilkan penundaan pembayaran pajak.Terdapat tiga metode berbeda untuk
menangani pajak tangguhan ini dalam laporan keuangan. Metode arus (flow) akan melaporkan
pajak kepada otoritas pajak sebagai beban pajak untuk tujuan buku. Pendekatan alokasi
komprehensif mendasarkan beban pajak terhadap keuntungan buku sebelum pajak. Pendekatan
alokasi parsial adalah variasi dari metode arus. Pendekatan ini dapat meliputi perhitungan
kewajiban pajak tangguhan hanya pada pajak yang dianggap oleh manajemen sebagai pajak yang
benar-benar dapat dibayarkan pada periode mendatang ditambah pajak pada periode sekarang.

APB masuk untuk memperbaiki keputusan ini dengan memutuskan pendekatan


berdasarkan metode alokasi komprehensif, tetapi hal ini dilakukan berdasarkan latar belakang
pembukuan. Tidak satupun dewan atau pihak yang mengajukan keputusan tersebut yang
tampaknya mengakui aspek keperilakuan dari pendekatan yang diajukan Terdapat beberapa
implikasi motivasi yang tidak diinginkan berkaitan dengan alokasi parsial dan metode arus
(flow), sehingga kedua pendekatan tersebut ditolak oleh APB.

Penolakan ini didasarkan pada dua fakta, yaitu: 1) keuntungan tahun pertama mendorong
metode yang inheren dengan penundaan pembayaran pajak, dan 2) dibutuhkan keputusan
akuntansi guna menciptakan lingkungan yang menimbulkan pajak tangguhan, sehingga ketika
menghasilkan keputusan untuk menggunakan metode penyusutan garis lurus untuk tujuan
pelaporan publik sementara menggunakan metode saldo menurun ganda untuk tujuan pajak.
Dengan demikian, dengan mengadopsi dua pembukuan, perusahaan dapat memperbaiki
keuntungan melalui perbedaan di antara dua metode penyusutan akuntansi ditambah biaya
diferensial dikali tarif pajak.

6
Sebaliknya, pendekatan alokasi komprehensif terhadap alokasi pajak mempunyai kualitas
perilaku diinginkan yang mendorong dan memungkinkan manajemen untuk menentukan pajak
sendiri dan untuk mengambil keputusan akuntansi secara independen satu sama lain. Selain itu,
hal ini mengurangi kekuatan insentif untuk membuat pembukuan berbeda guna menciptakan
perbedaan waktu pengakuan antara nilai buku dan laporan pajak.

EFEK SAMPING

Potensi implikasi motivasi yang tidak diinginkan dari metode arus (flow) terhadap
akuntansi pajak meluas pada banyak keputusan akuntansi dan pajak yang menciptakan
perbedaan waktu antara pengakuan pendapatan dan beban untuk tujuan pajak dan untuk tujuan
pembukuan. Dalam banyak kasus perusahaan marginal, akuntansi yang menghasilkan perbaikan
keuntungan ini bekerja dengan baik karena manajemen menerima beberapa metode tersebut guna
memperbaiki laba, terlepas dari implikasi pajak tangguhan dan pertimbangan bisnis yang
mendasarinya. Bonus tambahan yang didasarkan pada besaran laba mengakibatkan penerapan
seluruh arus (flow) guna menunda pajak sehingga akan semakin sulit untuk mempertahankan
penggunaan metode ini.

PROFESI KUAT

Dapat dipahami bahwa contoh khusus metode akuntansi yang disebutkan tersehur
mungkin paling wajar dalam mencerminkan lingkungan aktual. Misalnya, beberana
pembelanjaan untuk aktivitas penelitian mungkin sama baiknya dengan investasi dalam aset
fisik. Dalam kasus ini pembelanjaan harus dikapitalisasi dan dibebankan ke periode akuntansi
mendatang. Namun demikian, lingkungan yang mungkin membenarkan kapitalisasi tidak selalu
dinyatakan secara jelas.

Masalahnya adalah dapatkah metode akuntansi dengan karakteristik motivasi yang tidak
diinginkan dieliminasi dari daftar prinsip-prinsip akuntansi yang diterima secara umum tanpa
mengurangi responsivitas dari pelaporan perusahaan terhadap karakteristik unik masing-masing
perusahaan?

Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah ya. Sebenarnya, profesi akuntansi harus
melanjutkan pekerjaannya dalam mengurangi dorongan penyalahgunaan metode akuntansi.

7
Selain itu, profesi akuntansi harus mengeliminasi praktik yang tidak dapat dibenarkan oleh
lingkungan yang berbeda. Di luar tindakan ini, dilema yang muncul adalah sebagai berikut.

1. Kebutuhan terhadap fungsi audit publik berpengetahuan dan independen dengan


komitmen kuat terhadap kewajaran dalam pelaporan perusahaan dan melindungi pihak
ketiga dari salah interpretasi atas informasi akuntansi.
2. Definisi yang lebih jelas tentang lingkungan di mana praktik akuntansi alternatif dapat
dibenarkan.

ANALOGI PENGENDALIAN MANAJEMEN

Dengan satu pengecualian, sistem pelaporan keuangan perusahaan bekerja dengan cara
yang serupa secara operasional dalam pengertian perilaku dalam ekonomi secara total dengan
sistem pengendalian manajemen yang digunakan secara internal oleh manajemen puncak
perusahaan untuk mengomunikasikan, memahami, mengukur, dan memengaruhi tindakan
manajer unit operasinya. Oleh karena kemiripan ini, kita dapat bergerak pada sekumpulan
perilaku yang diinginkan dari prinsip-prinsip akuntansi untuk praktik pelaporan publik dengan
mengaplikasikan praktik dan rekomendasi akuntansi keuangan dengan cara yang sama seperti
pada penerapan pengendalian manajemen untuk memengaruhi perilaku melalui penggunaan alat-
alat pengukuran.

Laporan keuangan kepada pemegang saham menampilkan informasi output sistem publik
untuk mengontrol tindakan manajerial. Dalam kasus ini, sistem pengendalian dirancang oleh
profesi akuntansi dengan didasarkan pada 'prinsip-prinsip akuntansi yang diterima secara umum'
dan oleh manajer sendiri selama mereka membuat keputusan kebijakan akuntansi untuk masing-
masing perusahaan dalam kerangka kerja ini.

Perbedaan operasi utama antara aspek motivasi sistem pengendalian manajemen internal
dengan sistem pelaporan perusahaan terletak pada siapa yang menentukan sasaran yang akan
dicapai sistem tersebut. Dalam kasus pengendalian manajerial, setiap sistem adalah pegawai
yang bekerja untuk mencapai tujuan spesifik dari atasannya tanpa partisipasinya. Selain itu,
sumber daya perusahaan dialokasikan oleh beberapa manajer puncak perusahaan.

Sebaliknya, pelaporan unit dalam sistem pelaporan perusahaan adalah independen satu
sama lain dan bertindak menurut kepentingannya sendiri. Sumber daya masyarakat dialokasikan

8
antarunit melalui mekanisme alokasi pasar modal yang bebas dan kompetitif, yang efektivitasnya
didasarkan pada ukuran keandalan dan relevansi dari informasi dalam laporan keuangan
perusahaan.

Walaupun orang yang menentukan prinsip-prinsip akuntansi tidak bertanggung jawab


terhadap perencanaan atau pengembangan ekonomi, mereka harus berusaha untuk
mencerminkan kepentingan dan keinginan terbaik masyarakat dalam tindakan yang berhubungan
dengan prinsip-prinsip akuntansi. Ini merupakan tanggung jawab berat, tetapi akan dapat
dilakukan secara efektif jika prinsip-prinsip akuntansi dapat memengaruhi perilaku investor dan
perusahaan.

Sama seperti sistem pengendalian manajemen khusus, sistem pelaporan keuangan juga
berfungsi sebagai peralatan komunikasi antara manajemen dengan masyarakat. Setiap orang
mengakui bahwa laporan keuangan adalah komunikasi antara manajemen dengan pemegang
saham. Komunikasi dari masyarakat kepada manajemen tidak jelas didefinisikan. Aspek
komunikasi ini dicapai melalui prinsip-prinsip akuntansi bahwa masyarakat memberikan sanksi
dalam bentuk prinsip-prinsip akuntansi yang diterima secara umum.

Sulit saat ini untuk mendefinisikan mode pemikiran mengenai perilaku perusahaan
seperti apakah yang dapat díterima secara umum. Hal ini sama sulitnya dengan menyesuaikan
prinsip-prinsip akuntansi terhadap perubahan standar ini. Dengan demikian, terlalu sering sistem
pelaporan keuangan tidak responsif terhadap sikap baru. Meskipun sulit untuk membuat sistem
yang lebih responsif, pesan yang dibawa oleh prinsip-prinsip akuntansi dari masyarakat kepada
manajemen dapat menjadi lebih responsif untuk mempertahankan pelaporan perusahaan dengan
mengenall potensi komunikasi dua arah dalam sistem dan menggunakannya untuk
mengomunikasikan tujuan masyarakat kepada manajemen.

Elemen kunci dari beberapa sistem pengendalian manajemen adalah standar dimana
kinerja aktual diukur. Hubungan ini menciptakan sistem pengendalian. Ahli dalam bidang
tersebut telah lama mengakui bahwa ukuran dari indeks kinerja manajer dapat memengaruhi
perilaku manajer yang menjadi subjek sistem. Sebaliknya, jika kinerja manajer diukur menurut
nilai dolar dari laba lokal setelah penyesuaian laba terhadap devaluasi atau kerugian, maka
manajer yang bersangkutan mungkin terdorong untuk melakukan tindakan guna mengurangi
devaluasi dari investasi entitas induk.

9
Namun demikian, tindakan spesifik organisasi untuk mengurangi dampak devaluasi
sebagian mungkin dipengaruhi oleh teknik khusus yang digunakan untuk menerjemahkan mata
uang lokal ke dolar. Beberapa teknik penjabaran/translasi mendorong manajer untuk menggeser
rangkaian aset dari pos nonmoneter menjadi pos moneter. Dengan demikian, ukuran kinerja bisa
saja sama untuk dua manajer, tetapi cara yang ditentukan mungkin membuat mereka membuat
keputusan berbeda tentang cara untuk melindungi operasi mereka dari kerugian devaluasi.
Standar kinerja sistem pelaporan perusahaan dibentuk dengan berbagai cara. Manajer dapat
menentukan standar itu sendiri dengan meramalkan secara publik hasil laba per saham
mendatang dari perusahaan. Dengan cara yang sama, standar dapat ditentukan dengan ramalan
publik melalui analis sekuritas dan sumber lainnya yang digunakan oleh investor. Hasil aktual
atau ramalan dari pesaing digunakan sebagai standar perbandingan dengan kinerja aktual yang
diukur. Terlepas dari fakta bahwa manajemen kinerja per lembar saham merupakan ukuran kasar
dari kinerja, hal ini memengaruhi perilaku manajerial melalui dua cara:

1. Cara di mana korporasi dikapitalisasi.


2. Cara di mana keputusan akuntansi dan ekonomi dibuat dalam menciptakan dan
menghitung laba.

Kekuatan sistem pengendalian langsung terhadap bias motivasi tergantung pada ukuran
dari hubungan kompensasi manajemen terhadap pengukuran kinerja. Hubungan erat ini lebih
mungkin membuat sistem memengaruhi perilaku manajer.

Hasil fisik dan ekonomi yang diterima oleh manajer terhadap keberhasilannya dalam
memenuhi ukuran kinerja laba per saham yang dilaporkan oleh sistem pelaporan perusahaan
adalah menarik. Manajer yang modern memahami fakta kehidupan ini. Sayangnya, tekanan
untuk memenuhi standar terkadang sangat kuat sehingga beberapa CEO dalam situasi bisnis
bertindak berlawanan dengan melonggarkan kredibilitas laporan akuntansi mereka guna
memenuhi keinginan pemegang saham.

Insentif ini, ditambah dengan tekanan untuk menunjukkan kinerja sukses bersamaan
dengan fakta bahwa manajer juga manusia, memberi makna terhadap aspek keperilakuan dari
prinsip-prinsip akuntansi yang diterima secara umum. Masuk akal untuk memprediksi bahwa
manajer yang bertindak demi kepentingan diri mereka sendiri akan berusaha untuk memenuhi
standar kinerja dengan metode akuntansi yang tersedia baginya.

10
KEMAJUAN TERBARU

Selama lima tahun terakhir, dewan akuntansi telah membuat sejumlah keputusan
signifikan yang memengaruhi bias motivasi dari prinsip-prinsip akuntansi yang diterima secara
umum.

ENTITAS ANAK YANG TIDAK DIKONSOLIDASIKAN

Opini APB No. 10 yang merupakan amendemen terhadap Accounting Research Bulletin
No. 51 mengurangi bías motivasi yang melekat kepada prinsip konsolidasi yang lama. Prinsip ini
menampilkan dorongan kuat bagi perusahaan untuk membangun entitas anak yang tidak
dikonsolidasikan (unconsolidated subsidiary), yang aktivitas bisnis utamanya adalah sewa guna
usaha atas properti atau fasilitas untuk entitas induknya. Sering kali hal ini menghasilkan
penyajian posisi keuangan yang tidak memadai dan tidak wajar terhadap seluruh perusahaan
karena aset dan liabilitas yang signifikan dikeluarkan dari laporan konsolidasian.

KERUGIAN DAN LABA LUAR BIASA

Sebelum Opini APB No. 9, prinsip-prinsip akuntansi memutuskan untuk tidak


mencantumkan kerugian luar biasa yang memberikan dorongan hagi perusahaan untuk menunda
kemungkinan menghadapi penghapusan ( write off) terhadap biaya potensial, seperti goodwill
piutang tak tertagih, dan sebagainya kemudian menulisnya dalam saldo laba dan bukannya laba
periodik.

Opini No. 9 merevisi situasi ini. Dengan demikian, anggapan umum adalah bahwa laba
neto akan mencerminkan seluruh pos keuntungan dan kerugian yang diakui selama periode
tersebut, kecuali untuk pos-pos di mana benar-benar dilakukan penyesuaian sebelum laba
periodik perusahaan dihitung.

SAHAM BIASA EKUIVALEN

Opini No. 9 dan No. 15 menghasilkan dorongan bagi manajer untuk menerbitkan efek
konversi (convertible security), khususnya pada saat penerbitan ekuitas dengan saham biasa.
Sebelumnya, potensi dilusi dari efek tersebut tidak dimasukkan dalam perhitungan per saham.
Hal ini mendorong perusahaan menerbitkan convertible security untuk mengakuisisi perusahaan
lain dan untuk pendanaan baru. Namun demikian, sejak akhir tahun 1968, SEC menyatakan
bahwa perhitungan laba per saham aktual dari korporasi narus memasukkan seluruh kelas saham

11
biasa yang beredar, seluruh efek beredar dengan hak dividen yang sama dengan saham biasa, dan
seluruh efek yang dihasilkan terutama dari nilai konversi atau yang memiliki karakteristik
pemegang saham.

PENGUMPULAN RETROAKTIF

Sebelum Opini No. 10, kombinasi bisnis yang dilakukan selama atau segera setelah
penutupan periode akuntansi, tetapi sebelum laporan keuangan bisnis boleh diterbitkan kepada
pemegang saham, dapat dimasukkan menggunakan metode pooling of interest yang terjadi pada
saat penutupan periode akuntansi. Tidak terdapat ketentuan untuk mengungkap hasil operasi dan
kondisi fiskal sebelum perusahaan melakukan penggabungan. Pemegang saham tidak dapat
membedakan bagian yang menjadi laporan laba operasi dengan laporan laba akuisisi. Praktik
akuntansi ini menimbulkan dorongan kuat bagi beberapa manajer untuk mengakuisisi perusahaan
agar mencapai proyeksi tingkat laba yang diakuisisi sebelumnya.

Opini No. 10 tidak membuang insentif akuntansi untuk akuisisi, tetapi hal ini mengurangi
kekuatan dari insentif tersebut., Opini No. 10 merekomendasikan 'untuk menunjukkan efek
pooling terhadap tren laba perusahaan mungkin perlu disediakan rekonsiliasi antara nilai laba
sebelumnya dengan laba yang dilaporkan sekarang! Efektivitas pengungkapan tersebut masih
belum diuji secara penuh.

Kemudahan perubahan yang disponsori oleh APB mengurangi peluang bagi manajer
untuk memperbaiki laba secara tersembunyi melalui manipulasi akuntansi. Sementara APB tidak
mampu menghapus kondisi yang mendorong manajer untuk mengadopsi praktik ini untuk alasan
yang tidak sesuai, tetapi ini mengeliminasi atau mengurangi kekuatan potensial dari metode
akuntansi yang tidak diinginkan.

2.5 AREA YANG MENJADI PERHATIAN SEKARANG

Masih terdapat sejumlah praktik akuntansi yang mempunyai karakteristik perilaku yang
tidak diinginkan karena praktik-praktik tersebut dapat mengondisikan keputusan manajerial
dengan cara yang menghasilkan pengukuran kinerja yang menyesatkan. Area utamanya
dijelaskan dalam bagian berikut.

12
MENYATUKAN KEPENTINGAN

Ciri penting dari tren merger dan akuisisi perusahaan adalah praktik akuntansi 'pooling of
interest.' Sebenarnya penanganan ini digunakan untuk merger melalui pertukaran saham ekuitas
dari dua perusahaan dengan ukuran yang sama. Penjualan dan laba dari dua perusahaan
ditambahkan bersama dan ditampilkan seperti perusahaan.

Sebelum pertengahan tahun 1950-an, ukuran relatif perusahaan yang diakuisisi cenderung
menjadi kriteria penting dalam menentukan metode akuntansi untuk akulsisi tersebut. Meskipun
tidak berarti bahwa akuisisi atas perusahaan yang lebih kecil olen perusahaan yang lebih besar
untuk alasan klasifikasi diperlakukan sebagai pembelian. Dalam kasus ini, penjualan, biaya, dan
laba dari perusahaan vang diakuisisi ditambahkan ke laporan laba rugi perusahaan yang
mengakuisisi hanya sebagai laba dari tanggal akuisisi.

Metode pembelian (purchase method) tidak populer dan pada umumnya tidak mendorong
manajer untuk secara aktif melakukan akuisisi terhadap perusahaan lebih kecil. Manajer segan
menampilkan goodwill dengan nilai besar di laporan posisi keuangan, walaupun tidak terdapat
ketentuan untuk mengakui aset takberwujud atau saldo laba, kecuali terdapat penurunan
permanen pada profitabilitas dari bisnis yang diakuisisi.

Dimulai sekitar sepuluh tahun yang lalu, metode pooling secara lambat berkembang ke
semakin banyak merger dan sekarang ke setiap akuisisi yang melibatkan pertukaran saham bebas
pajak. Dengan demikian, pertimbangan akuntansi berubah dari non- insentif menjadi insentif
untuk melakukan merger. Sesungguhnya banyak pergerakan merger dapat diakibatkan oleh
pengembangan ini.

Kekuatan dari insentifpooling naik secara signifikan ketika orang mempertimbangkan


non-insentif yang melekat pada anggapan akuntansi bahwa biaya dari program seperti penelitian
dan pengembangan serta pengembangan baru dan pemasaran tidak dikapitalisasi. Jika biaya
tersebut besar, maka hal ini dapat menekan dampak laba karena pendapatan dari aktivitas
tersebut biasanya relatif kecil pada awal tahun program.

PENDANAAN DI LUAR NERACA

Faktor yang signifikan dalam pertumbuhan perusahaan sewa guna usaha adalah praktik
akuntansi yang tidak mengharuskan penyewa untuk mengapitalisasi pembayaran sewa

13
mendatang dan menampilkannya sebagai kewajiban pada laporan posisi keuangan. Fakta ini
mendorong perusahaan untuk menggunakan metode sewa guna usaha daripada mengakuisisi aset
melalui utang. Hasilnya adalah rasio utang terhadap ekuitas (debt-equity) yang lebih menarik.

Metode lain yang disebut sebagai pendanaan di luar neraca (off the balance sheet
financing) adalah menciptakan entitas anak yang bergerak di bidang keuangan (financial
subsidiary) untuk menangani pendanaan utang melalui penjualan kredit. Entitas anak ini tidak
harus dikonsolidasikan dengan entitas induknya dalam laporan kepada publik. Konsekuensinya
jika laporan keuangan entitas anak tersebut tidak dikonsolidasikan, maka utang perusahaan juga
tidak dimasukkan ke dalam rasio utang terhadap ekuitas dari entitas induk, meskipun dalam
beberapa kasus ini merupakan kredit umum yang menjamin entitas induk.

KREDIT PAJAK INVESTASI

Penanganan akuntansi arus (flow) pada kredit pajak investasi memungkinkan perusahaan
untuk mengakui laba rugi komprchensif dari kredit pajak investasi dalam tahun berjalan sehingga
memungkinkan menghasilkan laporan menyesatkan tentang laba periode sekarang. Potensi untuk
meningkatkan keuntungan dari hal ini dilakukan melalui pembelian aset.

Kekuatan dari pengaruh penanganan akuntansi terhadap kredit pajak investasi akan
berkurang jika kredit pajak investasi dicatat dengan metode penangguhan di mana peningkatan
laba dari kredit pajak investasi diatribusikan ke seluruh periode yang merupakan umur ekonomik
dari aset yang bersangkutan.

PERLINDUNGAN MELALUI PENGUNGKAPAN

Kemungkinan untuk mengurangi potensi dari implikasi perilaku yang tidak diingink dari
kasus sebelumnya dengan ketentuan pengungkapan yang berhubungan, Hal in berlaku jika analis
sekuritas dan pemegang saham memahami secara penuh prakti akuntansi yang terlibat dan secara
eksplisit melakukan penyesuaian terhadap pengand metode akuntansi terhadap laba perusahaan
dan melakukan evaluasi. Antusiasme publik dan konmunitas investasi terhadap saham dari
perusahaan konglomerasi vane manajemennya melakukan tindakan berdasarkan pengambilan
keuntungan dari metod akuntansi menunjukkan bahwa hal ini tidak menjadi masalah. Jika
demíkian, make pengungkapan tidak membutuhkan perlindungan yang memadai bagi investor da
menjadi motivator yang memadai untuk memperbaiki pelaporan.

14
Eksistensi prinsipakuntansi dengan implikasi keperilalkuan jarang mendorongmanajemen
untuk mengadopsi prinsip-prinsip akuntansi untuk tujuan pelaporan dengan sendirinya. Fakta
nonakuntansi tertentu, bila digabungkan dengan kesempatan pelaporan yang melekat pada
praktik akuntansi, akan mengaktifkan bias motivasi dalam prinsip-prinsip akuntansi.

Terdapat beberapa lingkungan lain yang mungkin menambahkan kekuatan terhadan bias
perilaku yang tidak diinginkan dari prinsip-prinsip akuntansi. Hal ini meliputi kasus di mana
perusahaan gagal mencapai standar laba per saham, sehingga manajemen mencari peluang untuk
meningkatkan laba mclalui alat akuntansi. Manajemen vang kuat sangat diperlukan untuk
menahan godaan dalam menggunakan metode tersebut. khususnya ketika pesaing mengadopsi
metode ini untuk mendorong labanya. Lingkungan umum lainnya adalah perusahaan yang
berusaha untuk memproyeksikan citra keuangan khusus. Ringkasnya, dalam praktik konsolidasi,
arah dari beberapa bias adalah jelas. Namun demikian, kekuatan bias ini tergantung pada
lingkungan yang ada.

PENGENDALIAN INTERNAL

Sejumlah perusahaan telah mengakui implikasi motivasi dari praktik akuntansi yang
diterima secara umum spesifik dan secara eksplisit membuat keputusan untuk alasan
keperilakuan selain keputusan untuk menggunakan atau tidak menggunakan prinsip ini dalam
menghitung ukuran kinerja internal melalui tindakan yang dapat dikendalikan oleh manajer.
Beberapa perusahaan menggunakan prinsip-prinsip ini untuk tujuan penyalahgunaan internal,
sehingga berlawanan dengan penggunaan untuk laporan pemegang saham. Berikut terdapat
empat contoh pengendalian internal.

1. Terdapat sedikit perusahaan yang mengungkapkan kapitalisasi sewa guna usaha pada
laporan keuangan publiknya, meskipun sebagian besar perusahaan tersebut menuntut
manajer divisional untuk mengapitalisasi sewa guna usaha pada laporan divisional.
Mengapa? Karena manajemen mengakui bahwa manajer dapat memperbaiki tingkat
imbal hasil perusahaan terhadap total aset melalui sewa guna usaha.
2. Beberapa perusahaan membolehkan manajer divisi untuk mengapitalisasi biaya penelitian
dan pengembangan, terutama karena hal ini cenderung membuat mereka keluar dari
"kesulitan."

15
3. Untuk alasan serupa sejumlah perusahaan menggunakan penyusutan dipercepar untuk
tujuan internal.
4. Tampaknya beberapa perusahaan memberi kredit kepada divisi untuk kredit pajak
investasi yang mengalir dari investasi mereka. Alasannya adalah karena hal ini dapat
mendorong divisi melakukan investasi terutama untuk mendapatkan kredit pajak.

Contoh tersebut menimbulkan pertanyaan bahwa jika metode akuntansi tidak menjadi
ukuran kinerja yang bermanfaat bagi tujuan internal karena: 1) memotivasi manajer untuk
mengikuti kebijakan operasi yang tidak diinginkan oleh perusahaan, 2) memberi manajemen
puncak ukuran kinerja menyesatkan, atau 3) gagal untuk mencerminkan prospek perusahaan,
mengapa tidak dipertimbangkan untuk memilih metode yang sama dalam melaporkan fakta sama
ini kepada pemegang saham? Asumsinya adalah bahwa aplikasi internal dan eksternal dari
prinsip-prinsip akuntansi yang diterima secara umum adalah sama.

Tantangan bagi mereka yang menciptakan prinsip-prinsip akuntansi yang diterima secara
umum adalah membuat sekumpulan prinsip yang kuat secara keperilakuan maupun teknis.
Prinsip tersebut harus kuat secara keperilakuan karena prinsip-prinsip itu menghalangi manajer
untuk tidak melakukan tindakan operasi yang tidak diinginkan guna membenarkan pengadopsian
metode akuntansi alternatif, sehingga menghalangi pengadopsian praktik akuntansi oleh
perusahaan untuk menciptakan ilusi kinerja.

Pendekatan tradisional untuk mendefinisikan prinsip-prinsip akuntansi yang diterima


secara umum terutama terfokus kepada pertimbangan teknis. Secara khusus, hal ini sangat
terlihat. Namun demikian, sudah tiba waktunya untuk memberikan perhatian yang lebih besar
kepada dampak dari praktik akuntansi terhadap tindakan manusia.

Beberapa akuntan dan lembaga perundang-undangan akan melangkah lebih lanjut


daripada apa yang disampaikan. Orang-orang ini menyatakan bahwa laporan keuangan
seharusnya menjadi laporan tentang manajemen, bukan laporan oleh manajemen. Mereka
sepertinya percaya bahwa dibutuhkan beberapa badan untuk membuat prinsip- prinsip akuntansi
untuk bisnis yang akan membuat laporan keuangan perusahaan menjadi semakin akurat dan
dapat diperbandingkan. Ini adalah tujuan yang diinginkan. Meskipun demikian, apa yang dapat
dicapai oleh badan akuntansi masih terbatas.

16
Terlepas dari pendirian penulis tentang seberapa jauh kita dapat menggunakan sistem
pelaporan keuangan guna mendorong manajer untuk melaporkan kinerjanya secara wajar dan
membuat keputusan ekonomi yang kuat, penulis berpendapat bahwa kita harus berusaha untuk
memperbaiki aspek keperilakuan dari sistem.

Untuk melakukan hal itu, kita harus mengetahuilebih banyak tentangaspekkeperilakuan


dari prinsip-prinsip akuntansi yang diterima secara umum dalam iklim bisnis. Penelitian pada
area ini lebih banyak diperlukan, khususnya yang berkaitan dengan hubungan motivasi antara
laporan eksternal dengan sistem pengendalian manajemen internal.

Sampai penelitian tersebut tersedia, kita harus mengandalkan pada banyak studi tentang
pengendalian manajer. Salah satu kesimpulan penting dari studi ini adalah bahwa kita dapat
bekerja dengan baik pada sistem pengendalian sekarang dengan atribut keperilakuan yang
memungkinkan dan mendorong manajemen untuk bertanggung jawab dengan mengendalikan
diri mereka sendiri, dan bukan menyampaikan perintah melalui aturan yang tidak fleksibel. Hal
ini yang dirasa paling tepat pada waktu perubahan lingkungan bisnis yang kompleks. Pendekatan
tersebut dibutuhkan saat ini bagi sistem akuntansi keuangan Jika ingin mendorong respons
pelaporan dan operasi manajerial yang positif.

17
BAB 3

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Akuntansi dipraktikkan dalam suatu kerangka yang implisit. Kerangka ini dikenal
sebagai prinsip akuntansi berterima umum (PABU). Prinsip-prinsip akuntansi yang diterima
secara umum dapat menjadi syarat bagi keputusan manajer serta juga sebagai ukuran kinerjanya.
Sayangnya, hal ini tidak selalu memberikan hasil yang diinginkan. Sejumlah prinsip telah
menimbulkan bias sehingga justru memotivasi manajer pada lingkungan tertentu untuk
mengadopsinya dengan keinginan untuk mendapatkan prinsip alternatif yang dapat
mencerminkan hasil operasi dan kondisi keuangan perusahaan dengan lebih baik. Selain itu,
prinsip-prinsip akuntansi yang diterima secara umum lainnya mungkin membuat manajer
mengadopsi kebijakan operasi khusus walaupun kebijakan tersebut mungkin tidak tepat.

18
DAFTAR PUSTAKA

Lubis,Arfan Ikhsan. Akuntansi keperilakuan. Edisi 3.Jakarta: Salemba Empat

19