Anda di halaman 1dari 7

Ya, semua hal di dunia ini bisa dijadikan tema untuk membuat puisi.

Di
bawah ini kumpulan puisi pendek tentang kehilangan, cinta, islami, dan alam.

Setiap individu memiliki cara mereka masing-masing, dengan cara ekspresi


yang tidak sama. Salah satu cara dalam berekspresi yang sering digunakan
adalah melalui penciptaan puisi pendek.

Dalam praktiknya bisa menggambarkan berbagai emosi di setiap sisi


kehidupan yang berlainan. Seperti contoh puisi pendek berikut untuk
berbagai kejadian dalam hidup:

DAFTAR ISI ARTIKEL


 Puisi Pendek Religi
 1. Menyerah
 2. Butir Mutiara Dari Pendosa
 3. Hakim Maha Adil
 4. Menaklukkan Rasa Sakit
 5. Esok Hari
 6. Dalam Bumi Gelap
 7. Ampunan Kembali
 Puisi Pendek Bertemakan Alam
 1. Hijau Ku Cinta
 2. Tentang Mereka
 3. Atap Langit Berbintang
 4. Malang
 5. Cerita Lama
 6. Garang
 Puisi Pendek Percintaan
 1. Satu Kamu
 2. Tergoda
 3. Cerita Bersama Dia
 4. Terakhir
 5. Bangku Di Teras Rumahku
 6. Kantong Remah
 7. Dalam Takjub
 Puisi Pendek Tentang Rasa Sakit Hati
 1. Menuju Kematian
 2. Percuma Maka Lepaskan
 3. Catatan Kelam
 4. Tidak Hanya Aku
 5. Memilih
 6. Jalan Yang Ku Benci
 7. Menuju Yang Terakhir
 Puisi Pendek Perjuangan
 1. Kata Terlarang
 2. Seberkas Sinar
 3. Masih Ada Perjuangan
 4. Ke Lima Puluh Dua
 Puisi Pendek Kehilangan
 1. Surga Untuk Bunda
 2. Hati Yang Hilang
 3. Sejuta Tangis
 Puisi Pendek Cinta
 1. Akankah Cinta
 2. Ku Arung Cinta Bersama
 3. Ketika Jatuh Cinta
 4. Kan Ku Pinang
 Puisi Pendek Islami
 1. Doaku
 2. Jangan Sekarang Tuhan
 Puisi Pendek Keindahan Alam
 1. Keindahan Alam
 2. Tarian Ombak
 3. Hujan Pagi Hari
 4. Senja

Puisi Pendek Religi


Sisi kehidupan agama merupakan sisi yang dimiliki oleh semua orang. Aspek
religius menjadi hal utama pada setiap diri manusia. Ada banyak cerita suka
duka yang akan terangkai dalam kehidupan di bidang religi. Semua itu akan
tergambar pada puisi pendek berikut:

1. Menyerah

Cerita keteladanan membuat aku merasa mual

Semua kurasa sudah cukup, aku ingin memuntahkannya

Mual dengan apa yang ada padaku

Memuntahkan semua yang menjadi milikku

Bagaimana bisa?

Atau hanya aku yang tidak bisa

Terdiam bagai patung, mencerna tanpa memperoleh makna

Dalam satu atau dua, mati menjadi lebih terpuji

Belajar lebih banyak untuk mengerti tanpa berkuasa atas diri sendiri

2. Butir Mutiara Dari Pendosa

Aku pendosa, hilangkan taat untuk khianat

Memilih pergi dari tinggal untuk mati

Naluri memaksa aku untuk tetap seperti koloni

Liar, brutal

Aku pendosa

Mengemis, dalam iba yang dipandang sebelah mata


Takut, kecil tidak berarti

Mengais ampunan dalam sisa yang begitu memuakkan

Aku pendosa

Menitikkan air mata mutiara dalam kalut hati penuh emosi

3. Hakim Maha Adil

Untuk siapa semua kerja dan susah payah

Kabarnya ada ganjaran berupa surga dan neraka

Hingga lelah tidak lagi dapat dirasa, hingga sakit tidak lagi bisa
mempengaruhi

Mereka bermaksud apa dengan kerja keras dan susah payah

Katanya ada segunung harta yang menjadi perebutan semua manusia

Untuk apa bumi sibuk tiada henti

Kami memiliki peta hidup sendiri-sendiri

Tentang pahala dan dosa, kami tidak peduli

Hidup menjadi baik agar hidupmu baik

Yang maha adil melihat dari langit yang begitu tinggi

4. Menaklukkan Rasa Sakit

Dalam dunia yang gelap, nyatanya tidak semua memerlukan cahaya

Dalam hamparan yang bisu, tidak semua telinga memerlukan alunan merdu

Mata menjadi menyala kepada apa yang telah bulat terkunci anak panah
Sayup-sayup musik tidak lagi penting, dalam hati telah bernyanyi lagu-lagu
cambuk diri

Untuk bersujud kami berjuang

Melawan mata peluru dan anak panah bermesin

Hanya untuk bertamu ke rumah Tuhan kami

Satu langkah mungkin saja kami hanya mendapatkannya hari ini

Gerakan kecil membangunkan moncong meriam memilih kepala-kepala


menempel tanah

Seperti kesiaan kalian terus menabur lelah memberikan sakit pada kaum
kami

Tidak ada keraguan, tidak punya rasa takut, berdiri diatas duri, sujud meski
meteor menghujani

5. Esok Hari

Bilakah kau bertanya esok seperti apa dunia?

Ia yang lelah, ia yang terlalu banyak menjadi saksi

Dunia yang bosan, manusia terus mengucapkan kemunafikan

Tiang renta terus tergeruk oleh serakahnya

Bila bumi dihancurkan, kami telah membaca

Gunung dan kapas berterbangan

Kandungan yang gugur, kami menjadi lupa diri karena ngeri

Ampunan telah tertutup, hanya penyesalan yang membuat kita sama

Bila lah mana matahari lupa akan garis edarnya

Kata ampun sudah tidak lagi bermakna


6. Dalam Bumi Gelap

Tersihir, semua tertunduk karena malu

Sesaat, untuk kemudian kembali terjaga dan bertelanjang

Menari, mengucapkan mantra-mantra

Terselubung, gelap beratap sinar dari api abadi

Pantas saja Tuhan menjadi murka

Dalam bumi gelap,suara tangis tidak menjadi satu-satunya bunyi

Duka bukan pula satu-satunya rasa

Dalam bumi yang gelap

Manusia menjadi Tuhan untuk diri mereka sendiri

7. Ampunan Kembali

Tidak pernah kecewa aku meminta, tidak akan pernah ada kecewa untuk
mengiba

Permohonan kepada langit yang disampaikan senandung merdu kesunyian

Titik embun menyentuh kering untuk pertama kali

Memberikan pengharapan hidup pada gersang

Sebuah benih berakar pada mulanya

Topan kencang tidak akan lagi menggoyangkan

Kini kuat laksana gunung menjulang

Tidak ada doa yang terbengkalai dalam daftar terkabulnya


Untuk yang terbaik semua akan menjadi baik

Puisi Pendek Bertemakan Alam