Anda di halaman 1dari 56

SIMULASI VARIASI ECO-FRIENDLY PHOTOSENSITIZER DALAM

PENGEMBANGAN PERFORMA DYE SENSITIZED SOLAR CELLS


(DSSC)

TESIS

Oleh:

Henry Ayu Kartikasari


NIM 161820201002

PROGRAM STUDI MAGISTER FISIKA


JURUSAN MIPA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2019
2

SIMULASI VARIASI ECO-FRIENDLY PHOTOSENSITIZER DALAM


PENGEMBANGAN PERFORMA DYE SENSITIZED SOLAR CELLS
(DSSC)

TESIS

Diajukan guna melengkapi tugas akhir dan memenuhi salah satu syarat
Untuk menyelesaikan Studi pada Progam Magister Fisika (S-2)
Dan mencapai gelar Magister Sains

Oleh:

Henry Ayu Kartikasari


NIM 161820201002

PROGRAM STUDI MAGISTER FISIKA


JURUSAN MIPA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2019
3

PERSEMBAHAN

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,
saya persembahkan tesis ini kepada :

1. Ayahanda Bahri, Ibunda Henry Utami Setyowati, suamiku Arif Harimukti


Hidayatulah, serta adik tersayang yang selalu memberikan motivasi dan
do’a tiada henti yang diberikan selama ini;
2. guru-guruku TK Kartika V Singosari-Malang, SDN Candirenggo 4
Singosari-Malang dan SDN Balung Lor XI, MTs Baitul Arqom, dan MAS
Baitul Arqom yang telah memberikan bekal ilmu, membimbing dengan
kesabaran dan keikhlasan hati;
3. dosen-dosen Sarjana (S1) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan –
Program Studi Pendidikan Fisika dan almamaterku, Universitas Jember
yang telah memberikan ilmu bermanfaat;
4. dosen-dosen Magister (S2) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam dan almamaterku, Universitas Jember yang telah memberikan ilmu
bermanfaat;
5. teman-teman seperjuangan yang memberikan dukungan.
4

MOTTO

“Belajar Yakin Kepada Allah Seutuhnya, Man Jadda Wajad.”

“Boleh jadi kamu menyenangi sesuatu padahal itu tidak baik untukmu dan
boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu. Allah yang
paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(terjemahan Surat Al-Baqarah ayat 216)*)

Departemen Agama Republik Indonesia. 2017. Al Qur’an dan Terjemahannya. Bandung: CV


*)

Penerbit Diponegoro.
5

PERNYATAAN

Saya yang bertandatangan di bawah ini:

Nama : Henry Ayu Kartikasari

NIM : 161820201002

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis yang berjudul “Simulasi Variasi


Eco-Friendly Photosensitizer Dalam Pengembangan Performa Dye Sensitized
Solar Cells (DSSC) ” adalah benar-benar hasil karya sendiri, kecuali kutipan yang
sudah saya sebutkan sumbernya, belum pernah diajukan pada institusi manapun,
dan bukan karya jiplakan. Saya bertanggung jawab atas keabsahan dan kebenaran
isinya sesuai dengan sikap ilmiah yang harus dijunjung tinggi.
Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian bersama dosen dan
mahasiswa dan hanya dapat dipublikasikan dengan mencantumkan nama dosen
pembimbing.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya, tanpa adanya
tekanan dan paksaan dari pihak mana pun serta bersedia mendapat sanksi
akademik jika ternyata di kemudian hari pernyataan ini tidak benar.

Jember,
2019

Yang menyatakan,

Henry Ayu Kartikasari


NIM 161820201002
6

TESIS

SIMULASI VARIASI ECO-FRIENDLY PHOTOSENSITIZER DALAM


PENGEMBANGAN PERFORMA DYE SENSITIZED SOLAR CELLS
(DSSC)

Oleh

Henry Ayu Kartikasari


NIM 161820201002

Pembimbing

Dosen Pembimbing Utama : Dr. Edy Supriyanto, S.Si., M.Si.


Dosen Pembimbing Anggota : Dr. Lutfi Rohman, S.Si., M.Si.
7

PENGESAHAN

Tesis berjudul “Simulasi Variasi Eco-Friendly Photosensitizer Dalam


Pengembangan Performa Dye Sensitized Solar Cells (DSSC)” telah diuji dan
disahkan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember pada :
hari, tanggal : 2019
tempat : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Tim Penguji
Ketua, Sekretaris,

Dr. Edy Supriyanto, S.Si., M.Si. Dr. Lutfi Rohman, S.Si., M.Si.
NIP. 196712151998021001 NIP. 197208201998021001

Anggota I, Anggota II,

Agung Tjahjo Nugroho, S.Si., M.Phil., Ph.D. Dr. Sutisna, S.Pd., M.Si
NIP.196812191994021001 NIP.197301152000031001

Mengesahkan,
Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Jember,

Drs. Sujito, Ph.D


NIP. 196102041987111001
8

RINGKASAN

Simulasi Variasi Eco-Friendly Photosensitizer Dalam Pengembangan


Performa Dye Sensitized Solar Cells (DSSC). Henry Ayu Kartikasari:
161820201002; 2019: 72 Halaman; Jurusan Studi Magister Fisika Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember.

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumberdaya energi baik


bersifat renewable resources maupun yang bersifat unrenewable resources.
Namun, eksplorasi sumberdaya energi lebih banyak difokuskan pada energi fosil
yang bersifat unrenewable resources. Kondisi ini menyebabkan ketersediaan
energi fosil, khususnya minyak mentah semakin langka. Data menurut
Kementrian Energi dan Sumberdaya Mineral (2009) cadangan energi minyak
mentah Indonesia hanya dapat diproduksi atau akan habis dalam kurun waktu
22,99 tahun, gas selama 58,95 tahun, dan batubara selama 82,01 tahun dengan
asumsi tidak ditemukan lagi ladang-ladang baru sebagai sumber energi. Sebagai
alternatif mengatasi permasalahan tersebut, renewable energy yakni energi
matahari banyak menjadi sorotan perhatian khusunya solar cell yang diaplikasikan
dalam perangkat DSSC. DSSC merupakan solar sel generasi ketiga yang
menawarkan banyak keuntungan diantaranya biaya rendah, ramah lingkungan dan
proses fabrikasi yang mudah. Kelebihan dye sensitized solar cells (DSSC)
dibandingkan solar sel semikonduktor generasi yang lainnya adalah penyerapan
cahaya matahari dilakukan oleh molekul pewarna (dye) dan separasi muatan oleh
bahan semikonduktor TiO2 sehingga pemilihan penggunaan photosensitizer (dye)
yang baik sangat perlu dilakukan guna meningkatkan kinerja DSSC.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan 21 jenis
ECO-friendly photosensitizer (Tagetes erecta, Nyctanthes arbor-tristis, Brassica
rapa Sub. Sp pekinensis, Delonix regia, Lawsonia inermis, Callistemon citrinus,
Daucus Carota, Thevetia peruviana, Chrysanthemum indicum, Zingiber
officinale, Coffe, Spathodea campanulata, Oleina Syzygium, Hibiscus sabdariffa,
Curcuma angutifiola, Calendula officinalis, Sansevieria, Euphorbia Pulcherrima,
Capsicum annum, Gomphrena globose, dan Acalypha wilkesiana), perubahan
temperatur kerja DSSC (273 K-375 K), dan perubahan intensitas radiasi cahaya
matahari di Indonesia pada rentang pukul 08.00 sampai 17.00 WIB terhadap
kinerja DSSC.
Penelitian ini dilakukan melalui 4 kegiatan diantaranya validasi hasil
observasi dengan merujuk penelitian terdahulu guna memvalidasi script yang
telah dibuat, perhitungan estimasi energi gap dan besar koefisien absorpsi dye,
simulasi 21 variasi ECO-friendly photosensitizer, simulasi perubahan temperatur
kerja DSSC, dan simulai perubahan intensitas cahaya matahari di Indonesia.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa besar koefisien absorpsi
setiap photosensitiser (dye) mempengaruhi besar kinerja DSSC yang dihasilkan.
Semakin besar nilai koefisien absorpsi suatu dye, semakin besar pula kemampuan
dye untuk menyerap cahaya matahari. Hal ini sesuai dengan perhitungan estimasi
9

energi gap dan penelitian terdahulu yang menjelaskan karakteristik dye yang baik
adalah dye yang memiliki perbedaan energi eksitasi yang kecil dengan energi
band gap TiO2 dikarenakan dengan selisih yang kecil maka tidak terjadi
kehilangan banyak energi saat terjadi proses transfer elektron pada molekul dye
tereksitasi menuju pita konduksi TiO2. Hasil simulasi pada perubahan temperatur
menunjukkan bahwa kinerja tertinggi diperoleh pada temperatur 375°𝐾, hal ini
disebabkan perubahan temperatur yang semakin tinggi menyebabkan hambatan
pada sel DSSC semakin besar sehingga besar tegangan yang dihasilkan semakin
besar. Sementara hasil simulasi pada perubahan intensitas cahaya matahari di
Indonesia menunjukkan semakin besar intensitas cahaya matahari akan
menyebabkan kinerja DSSC semakin baik dikarenakan arus short circuit secara
langsung berhubungan dengan jumlah foton yang dikontribusikan oleh besar
intensitas cahaya matahari terhadap sel DSSC.
10

PRAKATA

Segala Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan segala rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis
dengan judul “Simulasi Variasi ECO-Friendly Photosensitizer Dalam
Pengembangan Performa Dye Sensitized Solar Cells (DSSC)” guna memenuhi
sebagian persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Fisika pada Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Jember.
Penulis menyadari kelemahan serta keterbatasan yang ada sehingga dalam
menyelesaikan skripsi ini memperoleh bantuan dari berbagai pihak, dalam
kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada :
1. Bapak Drs. Sujito, Ph.D selaku dekan FMIPA UNEJ yang telah
memberikan izin dalam penulisan tesis ini.
2. Dr. Edy Supriyanto, S.Si., M.Si., selaku Ketua Program Studi Magister
Fisika UNEJ yang terlah memberikan kelancaran pelayanan dalam
urusan Akademik dan selaku dosen Pembimbing utama.
3. Dr. Lutfi Rohman, S.Si., M.Si, selaku dosen Pembimbing anggota
yang telah memberikan dorongan dan memberikan waktu bimbingan
dalam penulisan tesis ini.
4. Agung Tjahjo Nugroho, S.Si., M.Phil., Ph.D. dan Dr. Sutisna, S.Pd.,
M.Si., selaku dosen penguji tesis.
5. Nova Alviati sahabat yang telah meluangkan waktu, pikiran, perhatian,
dan teman berdiskusi dalam penelitian ini ;
6. Seluruh Dosen Jurusan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Jember yang telah memberikan ilmunya kepada
penulis.
7. Teman-teman yang telah memberikan dukungan.
11

Penulis menyadari bahwa tesis ini masih banyak kekurangan baik isi
maupun susunannya. Semoga tesis ini dapat bermanfaat tidak hanya bagi penulis
juga bagi para pembaca.
Jember, 2019

Penulis
12

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ................................................................................... i


PERSEMBAHAN ....................................................................................... iii
MOTTO ...................................................................................................... iv
PERNYATAAN .......................................................................................... v
PENGESAHAN........................................................................................... vii
RINGKASAN .............................................................................................. viii
PRAKATA .................................................................................................. x
DAFTAR ISI ............................................................................................... xii
DAFTAR TABEL ....................................................................................... xiv
DAFTAR GRAFIK dan GAMBAR ........................................................... xvi
BAB 1 PENDAHULUAN ....................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .............................................................. 6
1.3 Batasan Masalah .................................................................. 6
1.4 Tujuan Penelitian….... ......................................................... 6
1.5 Sasaran Penelitian ............................................................... 7
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA................................................................ 8
2.1 Energi Matahari ................................................................. 8
2.2 Dye Sensitized Solar Cell (DSSC) ........................................ 9
2.2.1 Komponen-komponen ................................................... 11
2.2.2 Prinsip Kerja DSSC....................................................... 15
2.3 ECO-Friendly Photosensitizer (Natural Dye Sensitized) ..... 18
2.4 Performa Dye Sensitizes Solar Cell ...................................... 23
2.5 Validasi Simulasi Performa DSSC ...................................... 24
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN .................................................. 27
3.1 Jenis Penelitian .................................................................... 27
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ............................................ 27
13

3.3 Definisi Operasional Variabel dan Skala Pengukuran ....... 27


3.4 Prosedur Penelitian .............................................................. 28
3.5. Kegiatan Simulasi ................................................................ 30
3.6 Analisis Hasil........................................................................ 32
3.4.1 Analisa Validasi Hasil Observasi ................................... 32
3.4.2 Analisa Estimasi Energi Gap dan Besar Koefisien
Absorbsi dye ................................................................. 32
3.4.3 Analisa Hasil Simulasi 21 Variasi ECO-Friendly
Photosensitizer Terhadap Kinerja DSSC ....................... 33
3.4.4 Analisa Hasil Simulasi Pengaruh Perubahan
Temperatur Kerja .......................................................... 33
3.4.5 Analisa Hasil Simulasi Variasi Intensitas Radiasi
Cahaya Matahari ........................................................... 33

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................... 34


4.1 Analisa Hasil Observasi ....................................................... 34
4.2 Estimasi Energi Band Gap dan Besar Koefisien
Absorbsi Cahaya pada Variasi 21 ECO-Friendly
Photosesitizer......................................................................... 34
4.3 Pengaruh Variasi 21 ECO-Friendly Photosensitizer
Terhadap Kinerja DSSC ...................................................... 36
4.4 Pengaruh Perubahan Temperatur Kerja DSSC pada
Variasi 21 ECO-Friendly Photosensitizer ............................. 41
4.5 Pengaruh Perubahan Intensitas Cahaya Matahari
Terhadap Kinerja DSSC pada Variasi ECO-Friendly
Photosensitizer ...................................................................... 50

BAB 5 PENUTUP . ................................................................................... 67


5.1 Kesimpulan ........................................................................... 67
5.2 Saran . ................................................................................... 68
DAFTAR PUSTAKA………………………. .............................................. 69
14

DAFTAR TABEL

Halaman

2.1 Perbedaan ketiga generasi sel surya .................................................... 10


2.2 Perbedaan struktu kristal TiO2 ............................................................ 12
2.3 Perbedaan DSSC dengan berbagai bahan pewarna dasar ..................... 13
2.4 Hasil penelitian terkini natural dye sebagai photosensitizere................ 18
2.5 Panjang gelombang puncak spektrum UV-Vis untuk berbagai
kandidat dye........................................................................................ 19
2.6 Perbandingan parameter internal published value dan nilai perhitungan 24
3.1 Parameter-parameter input dalam penelitian........................................ 30
4.1 Panjang gelombang, energi foton, dan koefisien absorbsi pada variasi
21 ECO-friendly fhotosensitizer .......................................................... 35
4.2 Kinerja DSSC pada berbagai variasi ECO-friendly fhotosensitizer ...... 37
4.3 Pengaruh perubahan temperatur kerja DSSC pada dye Tagetes erecta .... 42
4.4 Pengaruh perubahan temperatur kerja DSSC pada dye Nyctanthes ...... 43
4.5 Pengaruh perubahan temperatur kerja DSSC pada dye Thevetia .......... 45
4.6 Pengaruh perubahan temperatur kerja DSSC pada dye Curcuma A ...... 46
4.7 Pengaruh perubahan temperatur kerja DSSC pada dye Calendula ....... 48
4.8 Pengaruh perubahan intensitas cahaya matahari pada pukul (08.00-
12.00) dye Tagetes erecta ................................................................... 50
4.9 Pengaruh perubahan intensitas cahaya matahari pada pukul (13.00-
17.00) dye Tagetes erecta ................................................................... 51
4.26 Pengaruh perubahan intensitas cahaya matahari pada pukul (08.00-
12.00) dye Curcuma angutifiola .......................................................... 53
4.27 Pengaruh perubahan intensitas cahaya matahari pada pukul (13.00-
17.00) dye Curcuma angutifiola .......................................................... 54
4.28 Pengaruh perubahan intensitas cahaya matahari pada pukul (08.00-
12.00) dye Nyctanthes arbor-tritis....................................................... 56
4.29 Pengaruh perubahan intensitas cahaya matahari pada pukul (13.00-
17.00) dye Nyctanthes arbor-tritis....................................................... 57
4.30 Pengaruh perubahan intensitas cahaya matahari pada pukul (08.00-
12.00) dye Calendula afficinalis.......................................................... 59
4.31 Pengaruh perubahan intensitas cahaya matahari pada pukul (13.00-
17.00) dye Calendula afficinalis.......................................................... 60
4.32 Pengaruh perubahan intensitas cahaya matahari pada pukul (08.00-12.00)
15

dye Chrysan-themum indicum .............................................................


........................................................................................................... 62
4.33 Pengaruh perubahan intensitas cahaya matahari pada pukul (13.00-17.00)
dye Chrysanthemum indicum ..............................................................
........................................................................................................... 63
16

DAFTAR KURVA DAN GAMBAR

Halaman
2.1 Spektrum Solar Simulator AM 1.5 Global untuk pengukuran solar sel 9
2.2 Struktur Dye sensitized Solar Cells (DSSC) ........................................ 11
2.3 Struktur DSSC dan diagram superposisi pita energi ............................ 15
2.4 Skema prinsip kerja dye sensitized solar cells ..................................... 16
2.5 Transport injeksi muatan dari dye ke semikonduktor ........................... 16
2.6 Fungsi dye membangkitkan listrik dari cahaya .................................... 17
2.7 Tagetes erecta ..................................................................................... 20
2.8 Nyctanthes arbor-tritis ........................................................................ 20
2.9 Brassica rapa Sub. Sp pekinensis ........................................................ 20
2.10 Delonix regia ...................................................................................... 20
2.11 Lawsonia inermis ................................................................................ 20
2.12 Callistemon citrinus ............................................................................ 20
2.13 Daucus carota ................................................................................... 21
2.14 Thevitia peruviana .............................................................................. 21
2.15 Chrysanthemum indicum..................................................................... 21
2.16 Zingiber officinale .............................................................................. 21
2.17 Dye Coffe............................................................................................ 21
2.18 Spathodea campanulata ...................................................................... 21
2.19 Oleina syzygium .................................................................................. 21
2.20 Hibiscus sabdariffa ............................................................................. 21
2.21 Curcuma angutifiola ........................................................................... 21
2.22 Calendula officinalis ........................................................................... 22
2.23 Sansevieria ......................................................................................... 22
2.24 Euphorbia pulcherrima ....................................................................... 22
2.25 Capsium annum .................................................................................. 22
2.26 Gomphrena globose ............................................................................ 22
2.27 Acalypha wilkesiana ........................................................................... 22
2.28 Kurva karakteristik I-V ....................................................................... 24
17

2.29 Kurva karakteristik I-V (Tayyan, 2011) .............................................. 25


2.30 Kurva karakteristik P-V (Tayyan, 2011).............................................. 25
2.31 Kurva karakteristik I-V pada berbagai ketebalan TiO2 (Ni et. al.,2008) 26
3.1 Diagram tulang ikan penelitian ........................................................... 29
3.2 Flow chart progam simulasi ................................................................ 31
4.1 Hasil replikasi penelitian ..................................................................... 34
4.2 Simulasi penelitian Ni et. al. (2008) .................................................... 34
4.3 Kurva V-J dan Kurva P-V Pada Berbagai ECO-Friendly
Photosensitizer, (a) Tagetes erecta, (b) Nyctanthes arbor-tristis, (c)
Delonix regia, (d) Brassica rapa Sub. Sp pekinensis, (e) Lawsonia
inermis, (f) Callistemon citrinus, (g) Daucus Carota.......................... 38
4.4 Kurva P-V Pada Berbagai ECO-Friendly Photosensitizer, (a) Tagetes
erecta, (b) Nyctanthes arbor-tristis, (c) Delonix regia, (d) Brassica
rapa Sub. Sp pekinensis, (e) Lawsonia inermis, (f) Callistemon
citrinus, (g) Daucus Carota ............................................................... 38
4.5 Kurva V-J dan Kurva P-V Pada Berbagai ECO-Friendly
Photosensitizer, (a) Thevetia peruviana, (b) Chrysanthemum indicum,
(c) Coffe, (d) Zingiber officinale, (e) Oleina syzygium, (f) Spathodea
campanulata, (g) Hibiscus sabdariffa................................................. 39
4.6 Kurva P-V Pada Berbagai ECO-Friendly Photosensitizer, (a)
Thevetia peruviana, (b) Chrysanthemum indicum, (c) Coffe, (d)
Zingiber officinale, (e) Oleina syzygium, (f) Spathodea campanulata,
(g) Hibiscus sabdariffa....................................................................... 39
4.7 Kurva V-J dan Kurva P-V Pada Berbagai ECO-Friendly
Photosensitizer, (a) Curcuma angutifiola, (b) Calendula officinalis,
(c) Sansevieria, (d) Eupohorbia pulcherrima, (e) Gomphrena
globose, (f) Capsium annum, (g) Acalypha wilkesiana ....................... 40
4.8 Kurva V-J dan Kurva P-V Pada Berbagai ECO-Friendly
Photosensitizer, (a) Curcuma angutifiola, (b) Calendula officinalis,
(c) Sansevieria, (d) Eupohorbia pulcherrima, (e) Gomphrena
globose, (f) Capsium annum, (g) Acalypha wilkesiana ....................... 40
4.9 Kurva V-J pengaruh perubahan kerja DSSC pada dye Tagetes erecta.. 42
4.10 Kurva P-V Pengaruh perubahan temperatur kerja DSSC pada dye
Tagetes erecta ..................................................................................... 43
4.11 Kurva V-J Pengaruh perubahan temperatur kerja DSSC pada dye
Nyctanthes arbor-tritis ........................................................................ 44
4.12 Kurva P-V Pengaruh perubahan temperatur kerja DSSC pada dye
Nyctanthes arbor-tritis ........................................................................ 44
4.13 Kurva V-J Pengaruh perubahan temperatur kerja DSSC pada dye
Thevetia peruviana ............................................................................. 45
18

4.14 Kurva P-V Pengaruh perubahan temperatur kerja DSSC pada dye
Thevetia peruviana ............................................................................. 46
4.15 Kurva V-J Pengaruh perubahan temperatur kerja DSSC pada dye
Curcuma angutifiola ........................................................................... 47
4.16 Kurva P-V Pengaruh perubahan temperatur kerja DSSC dye Curcuma
angutifiola .......................................................................................... 47
4.17 Kurva V-J Pengaruh perubahan temperatur kerja DSSC pada dye
Calendula officinalis ........................................................................... 48
4.18 Kurva P-V Pengaruh perubahan temperatur kerja DSSC pada dye
Calendula officinalis ........................................................................... 49
4.19 Kurva V-J Pengaruh perubahan intensitas cahaya (08.00-12.00) pada dye
Tagetes erecta ..................................................................................... 51
4.20 Kurva V-J Pengaruh perubahan intensitas cahaya (13.00-17.00) pada dye
Tagetes erecta ..................................................................................... 52
4.21 Kurva P-V Pengaruh perubahan intensitas cahaya (08.00-12.00) pada
dye Tagetes erecta .............................................................................. 52
4.22 Kurva P-V Pengaruh perubahan intensitas cahaya (13.00-17.00) pada
dye Tagetes erecta .............................................................................. 53
4.23 Kurva V-J Pengaruh perubahan intensitas cahaya (08.00-12.00) pada dye
Curcuma angutifiola ........................................................................... 54
4.24 Kurva V-J Pengaruh perubahan intensitas cahaya (13.00-17.00) pada dye
Curcuma angutifiola ........................................................................... 55
4.25 Kurva P-V Pengaruh perubahan intensitas cahaya (08.00-12.00) pada
dye Curcuma angutifiola..................................................................... 55
4.26 Kurva P-V Pengaruh perubahan intensitas cahaya (13.00-17.00) pada
dye Curcuma angutifiola..................................................................... 56
4.27 Kurva V-J Pengaruh perubahan intensitas cahaya (08.00-12.00) pada dye
Nyctanthes arbor-tritir ........................................................................ 57
4.28 Kurva V-J Pengaruh perubahan intensitas cahaya (13.00-17.00) pada dye
Nyctanthes arbor-tritir ........................................................................ 58
4.29 Kurva P-V Pengaruh perubahan intensitas cahaya (08.00-12.00) pada
dye Nyctanthes arbor-tritir ................................................................. 58
4.30 Kurva P-V Pengaruh perubahan intensitas cahaya (13.00-17.00) pada
dye Nyctanthes arbor-tritir ................................................................. 59
4.31 Kurva V-J Pengaruh perubahan intensitas cahaya (08.00-12.00) pada dye
Calendula afficinalis ........................................................................... 60
4.32 Kurva V-J Pengaruh perubahan intensitas cahaya (13.00-17.00) pada dye
Calendula afficinalis ........................................................................... 61
4.33 Kurva P-V Pengaruh perubahan intensitas cahaya (08.00-12.00) pada
dye Calendula afficinalis .................................................................... 61
4.34 Kurva P-V Pengaruh perubahan intensitas cahaya (13.00-17.00) pada
dye Calendula afficinalis .................................................................... 62
19

4.35 Kurva V-J Pengaruh perubahan intensitas cahaya (08.00-12.00) pada dye
Chrysantheum indicum ....................................................................... 63
4.36 Kurva V-J Pengaruh perubahan intensitas cahaya (13.00-17.00) pada dye
Chrysantheum indicum ....................................................................... 64
4.37 Kurva P-V Pengaruh perubahan intensitas cahaya (08.00-12.00) pada
dye Chrysantheum indicum ................................................................. 64
4.38 Kurva P-V Pengaruh perubahan intensitas cahaya (13.00-17.00) pada
dye Chrysantheum indicum ................................................................. 65
20

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumberdaya energi baik
energi yang bersifat unrenewable resources maupun yang bersifat renewable
resources. Namun, eksplorasi sumberdaya energi lebih banyak difokuskan pada
energi fosil yang bersifat unrenewable resources. Kondisi ini menyebabkan
ketersediaan energi fosil, khususnya minyak mentah semakin langka yang
menyebabkan Indonesia saat ini menjadi negara importir minyak mentah dan
produk-produk turunannya. Menurut Kementrian Energi dan Sumberdaya Mineral
(2009) cadangan energi minyak mentah Indonesia hanya dapat diproduksi atau
akan habis dalam kurun waktu 22,99 tahun, gas selama 58,95 tahun, dan batubara
selama 82,01 tahun. Hasil perhitungan ini menggunakan asumsi bahwa tidak
ditemukan lagi ladang-ladang baru sebagai energi fosil. Untuk mengatasi masalah
ini, renewable resources khususnya energi matahari telah menarik banyak
perhatian (Jiawei Gong, Liang, and Sumathy, 2012). Berdasarkan angka potensi
dari Draft RUEN 2016, Indonesia yang terletak di antara 6° 𝐿𝑈 − 11°𝐿𝑆 dan
95° 𝐵𝑇 − 141°𝐵𝑇 merupakan salah satu negara yang dilewati jalur khatulistiwa
yang menyebabkan sumberdaya matahari di Indonesia sangat melimpah yakni
sebesar 4,80 kWH/m2/day atau sebesar 207,9 GW. Selain itu, Indonesia juga
merupakan salah satu negara yang mempunyai karakteristik cahaya matahari yang
baik (intensitas cahaya tidak fluktuatif) (Manan, 2009). Dikarenakan
melimpahnya energi matahari di Indonesia serta karakteristik cahaya yang baik,
sehingga diperlukan perangkat yang mampu menyediakan energi listrik bersih
tanpa polusi serta mengubah cahaya matahari langsung menjadi listrik. Perangkat
ini menggunakan efek photovoltaic (PV).
Efek photovoltaic (PV) pertama kali ditemukan oleh Henri Becquerel pada
tahun 1893. Efek photovoltaic (PV) didefinisikan sebagai suatu fenomena
munculnya voltase listrik akibat kontak dua elektroda yang dihubungkan dengan
sistem padatan atau cairan saat terpapar di bawah energi cahaya (Goetzberger and
Hoffmann, 2005). Perangkat photovoltaic banyak didominasi oleh piranti solid
21

state junction device yang berbahan dasar silikon. Sel surya teknologi pertama
yang berhasil dikembangkan ini, mampu menghasilkan efisiensi yang tinggi
(Daukes, 2009; Shahzad, 2015). Akan tetapi masalah besar yang dihadapi adalah
pengembangan silikon kristal ini membutuhkan biaya yang sangat mahal dan
proses fabrikasi silikon yang sangat susah dan kompleks serta efisiensi sel surya
sudah tidak dapat dinaikkan lagi sehingga sel surya berbasis silikon kurang
efektif digunakan sebagai energi alternatif. Seiring berjalannya waktu penggunaan
perangkat yang berbahan dasar silikon mulai berubah dengan dikembangkannya
sel surya generasi ketiga. Sel surya ini dianggap mampu memberikan konsep
alternatif yang dapat dipercaya secara teknis dan ekonomis sebagai pengganti sel
surya generasi pertama (Grätzel, 2003). Perangkat ini disebut sebagai dye
sensitized solar cell (DSSC) (Dewi et al., 2016).
Dye sensitized solar cells (DSSC) adalah sel surya generasi ketiga yang
menawarkan biaya rendah, ramah lingkungan dan proses fabrikasi yang mudah
(Oktiawati, Mohamed, and Burhanudin, 2016; Yuan, 2013; Gong dan Sumathy,
2012b; Ni et al., 2008). Sel surya ini merupakan perangkat photoelectrochemical
yang mengubah cahaya tampak menjadi energi listrik berdasarkan sensitivitas
energi band gap semikonduktor (Syafinar et al., 2015b). Perangkat dye sensitized
solar cells (DSSC) terdiri dari bahan semikonduktor, molekul pewarna (dye),
elektrolit yang mengandung iodide/triiodide (I -/I3-), dan counter elektrode yang
bertindak sebagai katalis untuk regenerasi elektron. Salah satu bahan terbaik
semikonduktor yang sering digunakan dalam pembuatan dye sensitized solar cells
(DSSC) adalah TiO2 (Grätzel, 2003; Ni et al., 2008; Kumari et al., 2016; Liu et
al., 2016; Ramelan et al., 2017; Supriyanto et al., 2019b). Sementara dye sendiri
merupakan fotosensitizer yang menjadi salah satu kunci dalam mengembangkan
kinerja dye sensitized solar cells (DSSC) yang tinggi (Cahya, 2017; Syafinar et
al., 2015a; Latifataz, 2015; Supriyanto et al., 2019a). Spektrum serapan dye
sebagai fotosensitizer dan penambahan dye ke permukaan TiO2 adalah parameter
penting yang menentukan efisiensi sel DSSC (Wongcharee, Meeyoo, and
Chavadej, 2007).
Kelebihan dye sensitized solar cells (DSSC) dibandingkan solar sel
22

semikonduktor generasi yang lainnya adalah penyerapan cahaya matahari


dilakukan oleh molekul pewarna (dye) dan separasi muatan oleh bahan
semikonduktor TiO2. Pada solar sel generasi lainnya pasangan elektron-hole
dipisahkan oleh potensial p-n junction, namun pada dye sensitized solar cells
(DSSC) ketika cahaya matahari diserap oleh dye sensitizer menyebabkan elektron
dalam dye sensitizer tereksitasi dari keadaan ground state ke keadaan tereksitasi
sehingga terbentuk pasangan elektron-hole pada dye sensitizer. Selanjutnya
elektron yang tereksitasi berpindah ke lapisan TiO 2 karena adanya perbedaan level
energi. Sementara hole berpindah menuju counter electrode melalui tahapan
reaksi redoks dalam elektrolit (Jiao, Zhang, and Meng, 1991).
Dalam aplikasi DSSC, fotosensitizer (dye) dibagi ke dalam tiga golongan
yaitu dye kompleks logam, dye sintesis organik, dan dye natural (Khan, 2013).
Cahya et al., (2017) dalam penelitiannya menjelaskan perbedaan ketiga jenis dye
tersebut. Bahan dye kompleks logam memiliki karakteristik komponen logam
transisi senyawa organik yang memiliki karakteristik efisiensi 13%, tidak ramah
lingkungan, limbah berbahaya, harga sangat mahal, tahap pembuatannya multi
tahap sintesis dengan menggunakan donor (anorganik) dan akseptor (organik).
Bahan dye kedua yaitu dye sintesis organik. Bahan ini merupakan senyawa
organik sintesis yang memiliki karakteristik efisiensi 9,5%, kurang ramah
lingkungan, relatif lebih murah, dan terbuat dari hasil pengembangan donor
junction acceptor. Sementara itu, bahan dye natural merupakan senyawa organik
berbahan alam yang memiliki karakteristik efisiensi 0,70%, ramah lingkungan,
tersedia melimpah di alam, dan terbuat dari proses ekstraksi (isolasi senyawa dari
metabolit sekunder).
Meskipun efisiensi kinerja DSSC menggunakan natural dye terbilang lebih
kecil dari jenis dye lainnya, namun natural dye memiliki daya tarik tersendiri
dikalangan para peneliti karena sifatnya yang sangat ramah lingkungan dan
tersedia melimpah khususnya di negara tropis seperti Indonesia. Para peneliti
mulai berlomba-lomba untuk menemukan kandidat dye terbaik dan peningkatan
kestabilan dye alami saat diaplikasikan dalam DSSC. Tahapan eksperimen atau
penelitian konversi energi matahari dalam DSSC dengan menggunakan berbagai
23

jenis fotosensitizer (dye) berbahan alam cukup panjang, dan membutuhkan


banyak biaya. Sehingga penelitian eksperimen secara langsung guna menemukan
fotosensitizer (dye) berbahan alam yang menghasilkan efisiensi yang tinggi dirasa
kurang efektif, baik dari segi waktu, dana, dan keadaan. Oleh karenanya perlu
dilakukan simulasi terlebih dahulu untuk dijadikan acuan dalam melakukan
penelitian eksperimen.
Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Gong dan Sumathy
(2012), bertujuan untuk menyelidiki kinerja dye sensitized solar cells (DSSC) di
bawah kondisi cuaca ekstrim dan mensimulasikan pengaruh suhu pada
keseluruhan efisiensi DSSC dengan pertimbangan kehilangan tegangan pada
TiO2. Parameter input simulasi yang tepat dipilih untuk mencerminkan kondisi
cuaca musim dingin ekstrim dari Fargo, North Dakota pada suhu di bawah 0℃
yaitu −23℃ (250 𝐾) hingga suhu 70℃ (343 K). Studi tersebut mengungkapkan
bahwa kondisi suhu rendah memiliki efek merugikan yang serius pada kinerja dye
sensitized solar cells (DSSC). Akan tetapi dalam penelitian ini masih belum
disimulasikan bagaimana kinerja DSSC pada suhu diatas 70℃ (343 K) serta
belum dilakukan penelitian pengaruh perubahan intensitas radiasi matahari
terhadap kinerja DSSC.
Syafinar et al. (2015b) melakukan pengukuran koefisien absorbsi berbagai
natural dye dengan menggunakan metode ekstraksi ultrasonik dengan menetapkan
parameter 30℃ (303𝐾) selama 30 menit dalam frekuensi 37 Hz. Hasilnya
menunjukkan bahwa, kombinasi kubis ungu dan bluberry sebagai pewarna koktail
memiliki potensi yang baik dalam pengembangan dye sensitized solar cells
(DSSC) di masa depan. Kekurangan dalam penelitian ini adalah masih belum
diketahui bagaimana kinerja DSSC menggunakan dye alami tersebut. Cahya et al.
(2017) melakukan penelitian eksperimen yang difokuskan pada preparasi natural
dye antosianin, karotenoid, dan klorofil dengan metode perendaman selama dua
minggu pada kondisi netral dan asam di ruang gelap. Pada penelitian tersebut
gabungan fotosensitizer antosianin dan klorofil pada suasana asam dengan
penambahan koadsorbsi asam asetat 2% diperoleh hasil efisiensi dye sensitized
solar cells (DSSC) tertinggi sebesar 0,76% pada kombinasi anthocyanin dan
24

chlorophyll. Namun dengan dilakukan penelitian secara eksperimen akan


membutuhkan biaya yang tidak murah dan waktu yang cukup lama untuk
menemukan kandidat dye pada berbagai jenis dye alami yang memiliki nilai
efisiensi tertinggi.
Simulasi dengan pendekatan yang akurat untuk menghitung parameter
internal pada DSSC telah dilakukan oleh Tayyan (2011). Parameter internal
tersebut merupakan besaran fisis di dalam DSSC yang mempengaruhi kinerja
DSSC. Parameter internal dari dye sensitized solar cells (DSSC) meliputi panjang
difusi (𝐿), koefisien absorpsi dye (𝛼), faktor ideal (m), koefisien difusi elektron
(𝐷), konsentrasi elektron (𝑛0 ), dan life time (𝜏). Pendekatan didasarkan pada model
difusi elektron differensial dan nilai-nilai dari rangkaian arus pendek (Jsc) dan
tegangan rangkaian terbuka (Voc). Selain itu dilakukan juga analisis parametrik
untuk mempelajari pengaruh suhu dan ketebalan elektroda pada berbagai
parameter sel. Kekurangan penelitian tersebut adalah kegiatan simulasi yang
dilakukan hanya diaplikasikan pada dye syntesis dan belum diaplikasikan pada
dye alami. Lamichhane (2015) dan Chirazo (2014) melakukan penelitian tentang
sifat optik dari berbagai dye alami. Hasil penelitian tersebut diperoleh sifat optik
berupa sifat absorbansi, panjang gelombang puncak yang diserap, dan
fluorescence dari berbagai kandidat dye alami yang memiliki prospek yang sangat
baik untuk diaplikasikan dalam DSSC. Akan tetapi dalam penelitian ini belum
dilakukan penelitian terhadap kandidat dye yang digunakan saat diaplikasikan
dalam DSSC. Sehingga perlu adanya penelitian lebih lanjut guna mengetahui
besar kinerja DSSC menggunakan berbagai kandidat dye alami tersebut.
Berdasarkan uraian latar belakang dan rujukan dari beberapa jurnal di atas
dapat diketahui adanya beberapa parameter yang mempengaruhi hasil simulasi
efisiensi DSSC yang dilakukan, diantaranya koefisien absorbsi berbagai jenis dye,
intensitas radiasi matahari, dan temperatur kerja DSSC. Berkaitan hal tersebut
telah dilakukan penelitian dengan judul “Simulasi Variasi ECO-Friendly
Photosensitizer dalam Pengembangan Performa Dye Sensitized Solar Cells
(DSSC)”.
25

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang tersebut, diperoleh rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana kinerja DSSC dengan menggunakan variasi ECO-friendly
photosensitizer?
2. Bagaimana pengaruh temperatur kerja terhadap kinerja DSSC dengan
berbagai variasi ECO-friendly photosensitizer?
3. Bagaimana pengaruh intensitas radiasi cahaya matahari di Indonesia terhadap
kinerja DSSC dengan variasi ECO-friendly photosensitizer?

1.3 Batasan Masalah


1. Pada simulasi ini dihasilkan kinerja DSSC dengan 21 variasi ECO-friendly
photosensitizer.
2. Besar temperatur kerja yang disimulasikan dengan rentang suhu
0℃ (273 𝐾) − 102℃ (375 𝐾).
3. Besar intensitas radiasi cahaya matahari di Indonesia yang disimulasikan pada
rentang pukul 08.00 sampai pukul 17.00.
4. Kinerja DSSC yang dihasilkan terbatas pada besar tegangan, rapat arus, daya
maksimum, fill factor, dan efisiensi DSSC.

1.4 Tujuan Penelitian


Penelitian ini bertujuan sebagai berikut:
1. Mengetahui pengaruh penggunaan variasi 21 ECO-friendly photosensitizer
terhadap kinerja DSSC.
2. Mengetahui pengaruh temperatur kerja pada variasi ECO-friendly
photosensitizer terhadap kinerja DSSC.
3. Mengetahui pengaruh intensitas radiasi cahaya di Indonesia pada variasi ECO-
friendly photosensitizer terhadap kine rja DSSC.
26

1.5 Sasaran Penelitian


Sasaran penelitian ini adalah mendapatkan kinerja DSSC dengan menggunakan 21
variasi ECO-friendly photosensitizer berbahan lokal, kinerja DSSC pada
perubahan temperatur kerja, serta kinerja DSSC pada perubahan intensitas cahaya
matahari di Indonesia.
27

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Energi Matahari


Matahari adalah sumber energi utama yang memancarkan energi yang luar
biasa besarnya ke permukaan bumi (Manan, 2009). Pada keadaan cuaca cerah,
permukaan bumi menerima sekitar 1000 watt energi matahari per-meter persegi.
Kurang dari 30% energi tersebut dipantulkan kembali ke angkasa, 47%
dikonversikan menjadi panas, 23% digunakan untuk seluruh sirkulasi kerja yang
terdapat di atas permukaan bumi, sebagian kecil 0,25% ditampung angin,
gelombang dan arus dan masih ada bagian yang sangat kecil 0,025% disimpan
melalui proses fotosintesis di dalam tumbuh-tumbuhan yang akhirnya digunakan
dalam proses permbentukan batu bara dan minyak bumi (Widayana, 2012).
Cahaya matahari terdiri atas foton atau partikel energi matahari, dimana foton
inilah yang dikonversikan menjadi energi listrik. Foton-foton tersebut
mengandung energi yang bervariasi menurut panjang gelombangnya. Energi foton
diserap oleh sel surya sebagian atau seluruhnya oleh elektron di dalam sel surya.
Dengan adanya energi baru ini, maka elektron dapat tereksitasi dari pita valensi ke
pita konduksi sehingga menghasilkan arus dalam suatu rangkaian listrik.
Dalam kaitannya dengan sel surya, perangkat yang mengkonversikan
radiasi matahari menjadi listrik, terdapat dua parameter dalam energi surya yang
paling penting: pertama intensitas radiasi, yaitu jumlah daya matahari yang datang
ke permukaan per luas area, dan kedua yaitu karateristik spektrum cahaya
matahari. Pada pengujian solar sel, spektrum matahari global air mass 1,5 dengan
intensitas 100 mW/cm2 dan temperatur kerja 25℃ merupakan standar referensi
spektrum matahari standar (López-lópez et al., 2013). Hasil spektrum kontinyu
tersebut membentuk beberapa puncak pada beberapa panjang gelombang,
khususnya pada daerah gelombang inframerah seperti yang ditunjukkan dalam
Gambar 2.1. Selain itu, sebagai hasil proses absorpsi dan refleksi gelombang yang
terjadi, rata-rata energi yang diterima oleh bumi mendekati 100 mW/cm2 (Sun,
2009).
28

Gambar 2.1 Spektrum Solar Simulator AM 1,5 Global untuk Pengukuran Solar Sel
(Sun, 2009; Khan, 2013)

Air mass (AM) merupakan istilah yang digunakan dalam astronomi untuk
menjelaskan efek dari atmosfer bumi pada spektrum iradiasi matahari. Istilah air
mass (AM) sering digunakan untuk menjelaskan efisiensi konversi spesifik atau
efisiensi fundamental suatu solar sel. Hal ini merupakan intensitas dan distribusi
spektral yang dihasilkan dari panjang gelombang matahari yang melalui atmosfer.
Radiasi matahari secara vertikal menuju tanah dan nilai air mass-nya adalah 1
(AM 1,0). Terdapat dua definisi spektrum AM 1,5 yakni spektrum AM 1,5
langsung dan spektrum total atau spektrum global AM 1,5. Spektrum AM 1,5
langsung hanya meliputi cahaya datang langsung dari matahari, sedangkan
spektrum global AM 1,5 meliputi cahaya datang langsung dan hamburan cahaya
(Sun, 2009).

2.2 Dye Sensitized Solar Cell (DSSC)


Dye sensitized solar cell (DSSC) adalah solar sel semikonduktor yang
secara langsung mengubah sebagian radiasi matahari menjadi arus listrik
menggunakan prinsip fotoelektrokimia (Grätzel, 2003; Gong et al., 2012).
Efisiensi konversi pada DSSC telah mencapai 10%-11% (Muliani dkk., 2012).
Berbeda dengan solar sel solid state, DSSC adalah sel surya fotoelektrokimia
yang menggunakan elektrolit sebagai medium transport muatan untuk
29

mengkonversi cahaya matahari menjadi energi listrik. Sementara itu, dalam solar
sel generasi pertama (solid state), pengaruh medan listrik penting untuk proses
terjadinya pemisahan muatan yang dibentuk oleh p-n junction, sedangkan pada
DSSC pasangan elektron-hole tidak dipisahkan oleh perbedaan p-n junction,
namun dipisahkan oleh fotosensitizer. Pada solar sel generasi pertama (solid
state), muatan (hole dan elektron) memerlukan difusi dalam semikonduktor
menuju back contact. Dalam DSSC, hanya pembawa muatan yang terdifusi dalam
semikonduktor TiO2 dan hole tetap diam pada permukaan namun memerlukan
difusi larutan sebagai mediator muatan. Perbedaan DSSC dengan solar sel solid
state lainnya adalah cahaya matahari diabsorpsi oleh molekul pewarna (dye)
sedangkan pada solar sel solid state, semikonduktor digunakan sebagai pemisah
muatan. Perbedaan antara beberapa generasi sel surya disajikan dalam tabel 2.1
berikut:
Tabel 2.1 Perbedaan Ketiga Generasi Sel Surya
Sel Suya

Aspek Generasi pertama Generasi Kedua Generasi Ketiga


(silikon) (lapisan tipis) (DSSC)

Kelebihan Efisiensi konversi Daya serap tinggi, dapat Bahan baku mudah
energi tinggi menempati baik proses ditemukan, proses
vakum maupun non- fabrikasi lebih mudah
vakum, biaya lebih daripada dua generasi
rendah dibandingkan sel lainnya, dan biaya sangat
surya berbasis Si, lebih murah
substrat biaya rendah

Kekurangan Fabrikasi rumit Fabrikasi menimbulkan Elektrolit cair cepat


pencemaran lingkungan menguap pada suhu
dan bahan sulit tinggi
ditemukan

Efisiensi (12-20)% sudah berada (>10)% 11% (masih dapat


tertinggi pada fase jenuh, tidak dikembangkan lagi)
dapat ditingkatkan lagi

Gambar
30

(Sumber: Kibria et al. 2014)

2.2.1 Komponen-komponen
Material penyusun Dye Sensitized Solar Cell (DSSC) antara lain elektroda
kerja yang terdiri dari substrat kaca Transparant Conductive Oxide (TCO), metal
oksida Titanium Dioxide (TiO2), molekul pewarna (dye), elektrolit, dan elektroda
pembanding (counter elektroda) yaitu platina atau karbon hitam yang dilapiskan
pada TCO.

Gambar 2.2 Struktur Dye sensitized Solar Cells (DSSC)


a) Substrat (Kaca TCO)
Substrat yang digunakan pada DSSC yaitu jenis TCO (Transparant
Conductive Oxide) yang merupakan kaca transparan konduktif. Material
substrat itu sendiri berfungsi sebagai badan dari sel surya dan lapisan
konduktifnya berfungsi sebagai tempat muatan mengalir. Materi yang
umumnya digunakan yaitu florine-doped tin oxide (SnF atau FTO) dan
Indium Tin Oxide (ITO) (Kumara & Prajitno, 2012).
b) Semikonduktor
Material semikonduktor adalah suatu padatan (solid) yang secara
umum digunakan DSSC sebagai penghasil elektron bebas (Handini, 2008).
Sama halnya dengan logam, konduktifitas elektriknya juga ditentukan oleh
elektron valensinya. Namun material semikonduktor lebih dipilih dalam
DSSC dikarenakan konduktifitas dari material semikonduktor akan
31

meningkat secara significant saat kenaikan temperatur. Bahan


semikonduktor yang sering digunakan dalam DSSC adalah semikonduktor
berbahan dasar TiO2 (Supriyanto, 2018). TiO2 merupakan bahan
semikonduktor yang bersifat inert, stabil terhadap fotokorosi dan korosi
oleh bahan kimia. Lapisan TiO2 memiliki bandgap 3 eV pada fase rutil dan
bandgap 3,2 eV pada fase anatase (Khan, 2013). Penggunaan TiO2
diantaranya untuk manufaktur elemen optik. Selain itu TiO2 berpotensial
pada aplikasi divais elektronik seperti DSSC dan sensor gas (Grätzel,
2003). Perbedaan struktur kristal pada TiO2 disajikan pada Tabel 2.2
berikut:
Tabel 2.2 Perbedaan struktur kristal TiO2
Tipe Anatase Rutile Brookite
Kristal
Foto

Struktur
Kristal

Nama Tetragonal Tetragonal Orthogonal


Struktur
kristal
Energi Gap 3.0 3.2 3.4
(eV)
(Sumber : Liu et al. 2014)
Untuk aplikasi pada DSSC, TiO2 yang digunakan umumnya
berfase anatase karena mempunyai kemampuan fotoaktif yang tinggi.
Anatase merupakan fase metastabil dan cenderung berubah menjadi fase
rutil pada temperatur tinggi pada kisaran 700℃ − 1000℃ bergantung
ukuran kristal dan tingkat kemurnian. Fase ini mampu mengikat lebih
banyak dye dan memiliki koefisien difusi elektron yang lebih tinggi
32

dibanding dengan fase rutil. Selain itu, nilai pita konduksi fase anatase 0,1
eV lebih besar dibandingkan dengan fase rutil sehingga menghasilkan nilai
maksimum tegangan rangkaian terbuka (Voc) yang lebih besar (Gong,
2012). Disamping berfungsi sebagai pengikat dye, semikonduktor (TiO2)
juga berfungsi sebagai kolektor muatan (Narayan, 2012).
c) Fotosensitizer
Fotosensitizer merupakan bagian dari DSSC yang berfungsi
mengabsorpsi cahaya matahari kemudian mengubahnya menjadi energi
(Cahya, 2017; Syafinar et al., 2015a; Latifataz, 2015). Di dalam siklusnya
fotosensitizer dapat teradsorpsi di atas permukaan semikonduktor melalui
ikatan elektrostatik, hidrofobik, atau interaksi kimia. Selama eksitasi,
terjadi injeksi elektron menuju pita konduksi semikonduktor. Terdapat tiga
jenis fotosensitizer diantaranya bahan dye natural, dye sintesis organik, dan
dye kompleks logam. Dye natural merupakan bahan pewarna alami yang
diperoleh dari bahan alam (buah-buahan dan tumbuhan) melalui proses
ekstraksi. Dye sintesis organik merupakan bahan pewarna yang berasal
dari senyawa organik yang disintesis melalui proses pengembangan donor
junction acceptor. Sementara dye kompleks merupakan pewarna yang
berasal dari transisi senyawa organik melalui proses multi tahap sintesis
donor (anorganik) dan akseptor (organik). Perbedaan ketiga dye disajikan
dalam Tabel 2.3 berikut:
Tabel 2.3 Perbedaan DSSC dengan berbagai bahan pewarna dasar
Dye Kompleks Dye Organik Sintesis Dye Natural

Logam

Efisiensi 13% 9,5% 0,70%


tertinggi

Komponen Logam transisi Senyawa organik Senyawa


senyawa organik sintesis organik bahan
alam

Dampak Tidak ramah Kurang ramah Ramah


lingkungan, limbah lingkungan lingkungan
Lingkungan berbahaya

Harga Sangat mahal Relative lebih murah Tersedia


33

dibanding dye melimpah


kompleks logam

Pembuatan Multi tahap sintesis Pengembangan donor Ekstraksi atau


junction acceptor isolasi senyawa
Donor (anorganik) dari metabolit
Akseptor (organik) sekunder

Contoh Black dye C219 Mangossteen


(buah manggis)
N719 Y123

CdSe BG501

(Sumber : Cahya et al., 2017; Liu et al., 2014)

d) Elektrolit
Elektrolit yang digunakan pada DSSC terdiri dari iodine (I -) dan
triiodine (I3-) sebagai pasangan redoks dalam pelarut. Elektrolit redoks
berfungsi sebagai pembawa muatan yang mengumpulkan elektron pada
katode dan mengangkut elektron menuju molekul dye. Elektrolit yang
umumnya banyak digunakan adalah pasangan redoks iodide/triiodide
(I-/I3-). Oleh karena itu, keberadaan elektrolit ini berdampak signifikan
pada ketahanan divais jangka panjang dan stabilitas operasionalnya.
Karakteristik ideal dari pasangan redoks untuk elektrolit DSSC yaitu:
1) Potensial redoksnya secara termodinamika berlangsung sesuai dengan
potensial redoks dari dye untuk tegangan sel yang maksimal.
2) Tingginya kelarutan terhadap pelarut untuk mendukung konsentrasi
yang tinggi dari muatan pada elektrolit.
3) Pelarut mempunyai koefisien difusi tinggi untuk transportasi masa
yang efisien.
4) Tidak ada karakteristik spektral pada daerah cahaya tampak untuk
menghindari absorpsi cahaya datang pada elektrolit.
5) Kestabilan yang tinggi dalam bentuk tereduksi maupun teroksidasi
(Kumara & Prajitno, 2012)
Salah satu hal penting dalam penggunaan pasangan redoks (I-/I3-)
adalah konsentrasi iodin. Pada konsentrasi yang rendah, sulit untuk
34

menjaga konduktivitas elektrolit dan cepat terjadi reaksi redoks. Di satu


sisi, ketika konsentrasi iodin tinggi lebih mudah terjadi rekombinasi
elektron pada interface TiO2 sehingga berpengaruh pada performasi
DSSC. Selain itu, terjadi pula peningkatan absorpsi cahaya oleh pasangan
redoks (Zanni et al, 1999).

e) Katoda
Pada bagian belakang DSSC terdapat substrat kaca lain yang
ditutupi lapisan platina (Pt) yang digunakan sebagai katalis untuk
meregenerasi ion iodida (I-) dan sebagai bahan katoda (Jiao, Zhang, &
Meng, 1991). Ion triodida (I3-) dibentuk dengan mereduksi dye teroksidasi
dengan ion iodide (I), selanjutnya ion tersebut direduksi kembali menjadi
ion iodide (𝐼 − ) pada counter electrode. Platina (Pt) adalah bahan terbaik
untuk membuat perangkat yang efisien secara teknis. Platina merupakan
logam stabil yang dapat ditemukan di alam dalam bentuk logam mulia dan
hanya bereaksi dengan senyawa tertentu. Namun karena harganya yang
mahal sebagai alternatif, Kay dan Gratzel mengembangkan desain DSSC
dengan menggunakan counter electrode karbon sebagai film katalis.
Karena luas permukaannya yang tinggi, counter electrode karbon
mempunyai keaktifan reduksi triiodide yang menyerupai elektroda platina
(Kumara & Prajitno, 2012).

2.2.2 Prinsip Kerja DSSC


Proses transport muatan dan skema kinerja dalam DSSC dijelaskan pada gambar
2.3 dan gambar 2.4.
35

Gambar 2.3 Struktur DSSC dan diagram superposisi pita energi (Hug et al., 2014)

Gambar 2.4 Skema prinsip kerja Dye Sensitized Solar Cells (Luthiviyah et al.,2017)
Pada dasarnya prinsip kerja dari DSSC merupakan reaksi transfer elektron,
sedangkan proses yang terjadi di dalam DSSC dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Ketika foton dari sinar matahari mengenai elektroda kerja pada DSSC, energi
foton tersebut diserap oleh dye yang melekat pada permukaan partikel TiO2.
Hal tersebut mengakibatkan elektron dari dye mendapatkan energi untuk
tereksitasi. Elektron tereksitasi dari ground state (D) ke excited state (D*).
Reaksinya :
𝐷 + 𝑐𝑎ℎ𝑎𝑦𝑎 → 𝐷∗
36

Gambar 2.5 Transport injeksi muatan dari dye ke semikonduktor (Pei & Luan, 2012;
Hug, 2014)

Gambar 2.6 Fungsi dye untuk membangkitkan listrik dari cahaya (Cass et al., 205)
2) Elektron yang tereksitasi dari molekul dye tersebut akan diinjeksikan ke pita
konduksi (ECB) TiO2, dimana TiO2 bertindak sebagai akseptor/kolektor
elektron. Molekul dye yang ditinggalkan kemudian dalam keadaan teroksidasi
(D+). Reaksinya :
𝐷∗ + 𝑇𝑖𝑂2 → 𝑒− (𝑇𝑖𝑂2) + 𝐷+
𝑒 − (𝑇𝑖𝑂2 ) merupakan elektron yang sudah diinjeksikan pada lapisan TiO 2.
3) Setelah mencapai elektroda TCO, elektron akan ditransfer melewati rangkaian
luar menuju counter elektroda (elektroda karbon) melalui rangkaian eksternal.
4) Dengan adanya katalis pada counter elektroda, elektron dapat diterima oleh
elektrolit. Elektrolit redok biasanya berupa pasangan iodide dan triodide (I -/ I3-)
yang bertindak sebagai mediator elektron sehingga dapat dihasilkan proses
37

siklus dalam sel. Hole yang terbentuk pada elektrolit (I3-), akibat donor
elektron pada proses sebelumnya, berkombinasi dengan elektron membentuk
iodide (I-). Reaksinya:
𝐼3 − + 2𝑒− → 3𝐼−
5) Iodida digunakan sebagai donor elektron kepada dye yang teroksidasi, sehingga
terbentuk suatu siklus transport elektron. Dengan siklus ini terjadi konversi
langsung dari energi cahaya matahari menjadi energi listrik. Elektron yang
tereksitasi masuk kembali ke dalam sel dan bereaksi dengan elektrolit menuju
dye teroksidasi. Dengan adanya donor elektron oleh elektrolit (I-) maka
molekul dye kembali ke keadaan awalnya (ground state) dan mencegah
penangkapan kembali elektron oleh dye yang teroksidasi. sehingga dye kembali
ke keadaan awal dengan persamaan reaksi :
𝐷+ + 𝑒− (𝑒𝑙𝑒𝑘𝑡𝑟𝑜𝑙𝑖𝑡) → 𝑒𝑙𝑒𝑘𝑡𝑟𝑜𝑙𝑖𝑡 + 𝐷
(Kumara & Prajitno, 2012)
38

BAB 3. METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Penelitian yang dilakukan berupa kegiatan simulasi untuk mengetahui
kinerja DSSC dengan menggunakan 21 variasi ECO-friendly photosensitizer,
pengaruh temperatur kerja terhadap kinerja DSSC, dan pengaruh intensitas radiasi
cahaya matahari pada pukul 08.00 sampai 12.00 di Indonesia terhadap kinerja
DSSC (Voc, Jsc, Pmax, fill factor, dan efisiensi) dengan menampilkan kurva I-V dan
P-V. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif karena karakteristik I-V dan
P-V diperoleh melalui perhitungan secara numerik.

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian tentang simulasi performa DSSC telah dilakukan pada bulan
Oktober 2018- Maret 2019 di Laboratorium Fisika Komputasi, Jurusan Fisika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember.

3.3 Definisi Operasional Parameter dan Skala Pengukuran


Definisi operasional parameter adalah pengertian parameter-parameter
yang diungkap dalam definisi konsep, secara operasional, secara praktik, secara
nyata dalam lingkup objek penelitian atau objek yang diteliti. Parameter yang
digunakan dan diukur dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Koefisien absorpsi dye (α), merupakan tingkat kemampuan dye menyerap
panjang gelombang cahaya matahari (cahaya tampak).
b. Temperatur kerja DSSC (T), merupakan temperatur yang muncul akibat
aktivitas dari kinerja DSSC.
c. Intensitas cahaya matahari (𝜙), merupakan banyaknya energi yang
diterima oleh suatu permukaan per satuan luas dan per satuan waktu.
d. Tegangan Open Sirkuit (Voc), merupakan tegangan yang diukur ketika
rangkaian sel surya dalam keadaan terbuka, sehingga tidak ada arus yang
mengalir ke rangkaian luar (arus bernilai nol).
39

e. Rapat Arus Listrik Rangkaian Pendek (short circuit) (Jsc), merupakan rapat
arus yang diukur ketika tegangan dari sel surya bernilai nol dan sel surya
dalam keadaan short. Rapat arus ini terjadi ketika sejumlah pembawa
muatan (carrier) yang dikumpulkan bergerak ke rangkaian luar.
f. Daya Maksimum (Pmax), merupakan daya maksimum yang dapat
dibangkitkan oleh sel surya.
g. Fill Factor (FF), merupakan besaran tak berdimensi yang menyatakan
perbandingan daya maksimum yang dihasilkan sel surya terhadap
perkalian antara Voc dan Isc. Semakin besar harga FF, maka unjuk kerja sel
surya tersebut semakin baik.
h. Efisiensi (𝜂), merupakan daya maksimum yang dihasilkan dari sel (Pmax)
dibagi dengan daya dari cahaya matahari yang datang (Pin).
i. Koefisien difusi pada elektron (D), merupakan seberapa besar gradien atau
perbedaan konsentrasi elektron pada DSSC.
j. Ketebalan bahan (d), merupakan ketebalan dari lapisan TiO2.
k. Life time (𝜏), merupakan masa hidup elektron dari proses generasi sampai
ke proses rekombinasi.
l. Panjang difusi elektron (L), merupakan panjang lintasan yang dilalui
elektron pada DSSC.

3.4 Prosedur Penelitian


Proses kegiatan penelitian ini dilakukan melalui 3 tahap yaitu tahap
persiapan, tahap realisasi, dan tahap analisa. Tahap penelitian ini diuraikan dalam
bentuk diagram tulang ikan yang ditunjukkan pada Gambar 3.1.
40

Gambar 3.1 Diagram tulang ikan penelitian


Kegiatan penelitian diawali dengan tahap persiapan yaitu mereview
beberapa jurnal yang dijadikan referensi guna diperoleh gap penelitian dan
parameter input yang akan digunakan dalam penelitian. Selanjutnya dilakukan
penentuan parameter penelitian dan identifikasi masalah. Hasil dari kegiatan ini
adalah didapatkannya parameter-parameter penelitian yang dijelaskan pada
definisi operasional dan rumusan masalah penelitian.
Kegiatan penelitian kedua yaitu tahap realisasi. Pada tahap ini dilakukan
tiga kegiatan yaitu pembuatan script, validasi script, dan aplikasi pada penelitian.
Pada tahap ini diharapkan script yang dibuat valid sehingga dapat diaplikasikan
pada penelitian dengan menggunakan beberapa parameter yang divariasikan.
Kegiatan tahap ketiga yaitu tahap analisa. Pada tahap ini dilakukan dua
kegiatan yaitu analisa data hasil dan pembuatan laporan. Dalam kegiatan ini
diharapkan data yang diperoleh dari kegiatan simulasi dapat dianalisa mengapa
hasilnya demikian sehingga dapat ditarik kesimpulan secara umum dan mampu
menjawab rumusan masalah sebelumnya. Penulisan laporan dilakukan agar dapat
dijadikan sebagai referensi serta acuan pengembangan penelitian selanjutnya.
41

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisa Hasil Observasi


Kegiatan analisa hasil observasi ini merupakan kegiatan replikasi
penelitian yang dilakukan oleh Ni et al., (2008). Kegiatan replikasi ini bertujuan
untuk menguji kevalidan dari script m-file yang dibuat sehingga dapat digunakan
pada kegiatan simulasi selanjutnya. Perbandingan hasil replikasi dengan penelitian
Ni et al., (2008) disajikan pada gambar 4.1 dan gambar 4.2 berikut.

𝑑 = 30𝜇𝑚
𝑑 = 5𝜇𝑚

𝑑 = 10𝜇𝑚

𝑑 = 100𝜇𝑚

𝑑 = 1𝜇𝑚

Gambar 4.1 Hasil Replikasi Penelitian Gambar 4.2 Simulasi Penelitian Ni et. al.,
(2008)

Berdasarkan gambar 4.1 dan gambar 4.2 dapat disimpulkan bahwa hasil replikasi
yang dilakukan telah sesuai dengan hasil penelitian yang dijadikan sebagai
rujukan. Sehingga dengan hasil yang telah sesuai ini menunjukkan bahwa script
m-file yang dibuat sudah valid dan dapat digunakan pada kegiatan simulasi
berikutnya dengan berbagai parameter yang digunakan.

4.2 Estimasi Energi Band Gap dan Besar Koefisien Absorpsi Cahaya pada
Variasi 21 ECO-Friendly Photosensitizer
Celah antara pita konduksi dan pita valensi pada semikonduktor TiO2,
terdapat perbedaan energi yang disebut sebagai energi band gap. Energi band gap
TiO2 inilah yang digunakan untuk menganalisis kinerja DSSC yang terkait dengan
energi matahari atau panjang gelombang cahaya matahari yang diserap oleh
photosensitizer dalam DSSC. Salah satu pertimbangan utama dalam pemilihan
dye yang optimal adalah bagaimana kemampuan absorpsi dye tersebut terhadap
42

cahaya matahari. Selain itu, koefisien absorpsi dye juga menentukan seberapa
mampu suatu material dapat menyerap cahaya matahari dengan panjang
gelombang tertentu.
Berdasarkan beberapa jurnal yang dijadikan acuan referensi, diperoleh
beberapa nilai panjang gelombang tertinggi yang diserap oleh ECO-Friendly
Photosensitizer, kemudian dilakukan perhitungan energi foton yang diserap dan
besarnya koefisien absorpsi dye menggunakan persamaan (2.1) dan persamaan
(2.2). Dari hasil perhitungan maka diperoleh hubungan antara panjang gelombang,
energi foton yang diserap oleh ECO-Friendly Photosensitizer serta besarnya
koefisien absorpsi yang disajikan pada Tabel 4.1 .

Tabel 4.1. Panjang gelombang, energi foton, dan koefisien absorpsi pada variasi 21 ECO-
Friendly Photosensitizer
Panjang Energi Selisih Koefisien
No Dye gelombang foton energi absorpsi
puncak gap
TiO2
1. Tagetes erecta 394 3,15 0,05 2749,5
2. Nyctanthes arbor-tristis 414 3,03 0,17 2616,7
3. Brassica rapa Sub. Sp 434 2,86 0,34 2496,1
pekinensis
4. Delonix regia 445 2,79 0,41 2434,4
5. Lawsonia inermis 457 2,72 0,48 2370,5
6. Callistemon citrinus 486 2,53 0,67 2210,8
7. Daucus Carota 479 2,59 0,61 2261,6
8. Thevetia peruviana 400 3,10 0,1 2708,3
9. Chrysanthemum indicum 425 2,90 0,3 2548,9
10. Zingiber officinale 438 2,80 0,4 2473,3
11. Coffe 450 2,76 0,44 2407,3
12. Spathodea campanulata 480 2,58 0,62 2260,6
13. Oleina Syzygium 475 2,61 0,59 2280,6
14. Hibiscus sabdariffa 520 2,38 0,82 2083,3
15. Curcuma angutifiola 407 3,00 0,2 2661,7
16. Calendula officinalis 425 2,90 0,3 2548,9
17. Sansevieria 439 2,86 0,34 2467,7
18. Euphorbia Pulcherrima 450 2,76 0,44 2407,3
19. Capsicum annum 486 2,53 0,67 2210,8
20. Gomphrena globose 484 2,56 0,64 2238,2
21. Acalypha wilkesiana 535 2,30 0,9 2024,9

Berdasarkan Tabel 4.1 dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi nilai


panjang gelombang yang diserap oleh ECO-friendly photosensitizer, maka energi
foton yang diserap semakin kecil, sehingga ECO-Friendly Photosensitizer yang
43

menyerap panjang gelombang tinggi memiliki energi foton (energi eksitasi) yang
kecil. Hal ini sesuai dengan persamaan pada penelitian Syahfinar (2015) yang
menyatakan panjang gelombang berbanding terbalik dengan energi foton.
Syahfinar (2015) juga menyatakan bahwa besar koefisien absorpsi dye juga
berbanding lurus dengan energi foton (energi eksitasi) dan berbanding terbalik
dengan panjang gelombang yang diserap. Hal ini sudah sesuai dengan hasil
perhitungan yang dilakukan dalam penelitian ini.
Hasil perhitungan selanjutnya adalah menghitung selisih energi foton yang
diserap dye dengan energi band gap semikonduktor TiO2. Selisih energi eksitasi
antara dye dan energi band gap TiO2 terkecil adalah pada dye Tagetes erecta yakni
sebesar 0,05 eV serta selisih terbesar terdapat pada dye Acalypha wilkesiana
sebesar 0,9 eV. Diharapkan dengan perbedaan level energi yang kecil
memudahkan proses transfer elektron dari molekul dye ke pita konduksi
semikonduktor TiO2. Hal ini sesuai dengan penelitian Zid Latifataz (2015) dan
Dahlan (2016) yang menyatakan beberapa sifat yang diharapkan terdapat pada
molekul zat warna sebagai “sensitizer” adalah memiliki tingkat energi eksitasi
yang bersesuaian dengan pita konduksi material celah lebar (TiO 2). Syahfinar
(2015) juga menjelaskan karakteristik dye yang baik adalah dye yang memiliki
perbedaan energi eksitasi yang kecil dengan energi band gap TiO 2, dikarenakan
dengan selisih yang kecil tidak terjadi kehilangan banyak energi saat terjadi proses
transfer elektron pada molekul dye tereksitasi menuju pita konduksi TiO2. Untuk
membuktikan hasil perhitungan yang dilakukan pada kegiatan estimasi energi
band gap dan koefisien absorpsi dye ini maka dilakukan kegiatan simulasi guna
mengetahui kinerja DSSC pada berbagai variasi 21 ECO-friendly photosensitizer
yang digunakan.

4.3 Pengaruh Variasi 21 ECO-Friendly Photosensitizer Terhadap Kinerja


DSSC
Dye merupakan photosensitizer yang menjadi salah satu kunci dalam
meningkatkan kinerja dye sensitized solar cells (DSSC). Dalam penelitian ini
ECO-Friendly Photosensitizer yang digunakan merupakan jenis dye lokal
44

berbahan alam yang memiliki nilai ekonomis yang dapat dijangkau dan ramah
lingkungan. Penggunaan berbagai variasi yaitu 21 jenis ECO-Friendly
Photosensitizer bertujuan untuk menemukan jenis dye alam yang memiliki nilai
efisiensi DSSC yang tinggi. ECO-Friendly Photosensitizer yang digunakan tertera
pada Tabel 4.1. Hasil simulasi pengaruh variasi ECO-Friendly Photosensitizer
terhadap kinerja DSSC disajikan pada Tabel 4.2.
Table 4.2. Kinerja DSSC pada berbagai variasi ECO-Friendly Photosensitizer

Koefisien Voc Jsc Pmax FF 𝜼


No Jenis Dye absorpsi (Volt) (A/cm2) (Watt) (%)

1. Tagetes erecta 2749,5 0,6385 0,00383 0,00148 0,605 1,5%


2. Nyctanthes arbor-tristis 2616,7 0,6335 0,0037 0,00135 0,575 1,35%
3. Brassica rapa Sub. Sp 2496,1 0,6287 0,0035 0,00132 0,599 1,32%
pekinensis
4. Delonix regia 2434,4 0,6261 0,0035 0,00123 0,579 1,23%
5. Lawsonia inermis 2370,5 0,6234 0,0034 0,0012 0,566 1,2%
6. Callistemon citrinus 2210,8 0,6162 0,0032 0,0011 0,557 1,1%
7. Daucus Carota 2261,6 0,6186 0,0032 0,00115 0,580 1,15%
8. Thevetia peruviana 2708,3 0,6370 0,0038 0,0014 0,578 1,4%

9. Chrysanthemum indicum 2548,9 0,6308 0,0036 0,00133 0,585 1,33%


10 Zingiber officinale 2473,3 0,6278 0,0035 0,00127 0,568 1,27%
11. Coffe 2407,3 0,6250 0,0034 0,00122 0,574 1,22%
12. Spathodea campanulata 2260,6 0,6186 0,0032 0,00115 0,581 1,15%
13. Oleina Syzygium 2280,6 0,6194 0,0033 0,00117 0,572 1,17%
14. Hibiscus sabdariffa 2083,3 0,6101 0,0030 0,0010 0,546 1%

15. Curcuma angutifiola 2661,7 0,6352 0,0037 0,00138 0,587 1,38%


16. Calendula officinalis 2548,9 0,6308 0,0036 0,00133 0,585 1,33%
17. Sansevieria 2467,7 0,6275 0,0035 0,00125 0,560 1,25%

18. Euphorbia Pulcherrima 2407,3 0,6250 0,0034 0,00122 0,574 1,22%


19. Capsicum annum 2210,8 0,6162 0,0032 0,0011 0,557 1,1%
20. Gomphrena globose 2238,2 0,6175 0,0032 0,00113 0,571 1,13%

21. Acalypha wilkesiana 2024,9 0,6071 0,0029 0,0009 0,511 0,9%


45

Berdasarkan Tabel 4.2 dapat diketahui nilai kinerja DSSC menggunakan


variasi 21 jenis ECO-friendly photosensitizer . Nilai kinerja yang dihasilkan dari
kegiatan simulasi berupa nilai Voc, Jsc, Pmax, FF, serta efisiensi DSSC. Data kinerja
DSSC optimum terlihat pada dye Tagetes erecta sebesar 1,5% dan hasil minimum
terlihat pada dye Acalypha wilkesiana sebesar 0,9%.
Grafik hubungan tegangan, kerapatan arus, dan daya yang dihasilkan pada
berbagai ECO-Friendly Photosensitizer ditunjukkan pada Gambar 4.3 sampai
dengan Gambar 4.8 berikut:

Gambar 4.3. Kurva V-J pada Berbagai ECO-Friendly Photosensitizer, (a) Tagetes erecta,
(b) Nyctanthes arbor-tristis, (c) Delonix regia, (d) Brassica rapa Sub. Sp
pekinensis, (e) Lawsonia inermis, (f) Callistemon citrinus, (g) Daucus Carota
46

Gambar 4.4. Kurva P-V pada Berbagai ECO-Friendly Photosensitizer, (a) Tagetes erecta,
(b) Nyctanthes arbor-tristis, (c) Delonix regia, (d) Brassica rapa Sub. Sp
pekinensis, (e) Lawsonia inermis, (f) Callistemon citrinus, (g) Daucus Carota

Gambar 4.5. Kurva V-J pada Berbagai ECO-Friendly Photosensitizer, (a) Thevetia
peruviana, (b) Chrysanthemum indicum, (c) Coffe, (d) Zingiber officinale, (e)
Oleina Syzygium, (f) Spathodea campanulata, (g) Hibiscus sabdariffa
47

Gambar 4.6. Kurva P-V pada Berbagai ECO-Friendly Photosensitizer, (a) Thevetia
peruviana, (b) Chrysanthemum indicum, (c) Coffe, (d) Zingiber officinale, (e)
Oleina Syzygium, (f) Spathodea campanulata, (g) Hibiscus sabdariffa

Gambar 4.7. Kurva V-J pada Berbagai ECO-Friendly Photosensitizer, (a) Curcuma
angutifiola, (b) Calendula officinalis, (c) Sansevieria, (d) Euphorbia
Pulcherrima, (e) Gomphrena globose, (f) Capsicum annum, (g) Acalypha
wilkesiana
48

Gambar 4.8. Kurva P-V pada Berbagai ECO-Friendly Photosensitizer, (a) Curcuma
angutifiola, (b) Calendula officinalis, (c) Sansevieria, (d) Euphorbia
Pulcherrima, (e) Gomphrena globose, (f) Capsicum annum, (g) Acalypha
wilkesiana
Gambar 4.3 sampai dengan Gambar 4.8 di atas menunjukkan bahwa besar
koefisien absorpsi setiap dye mempengaruhi besar kinerja DSSC yang dihasilkan.
Semakin besar nilai koefisien absorpsi suatu dye, semakin besar pula kemampuan
dye untuk menyerap cahaya matahari. Hasil ini sesuai dengan persamaan (2.3) dan
persamaan (2.4) bahwa besar tegangan dan rapat arus berbanding lurus dengan
besar koefisien absorpsi dye. Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa kandidat
dye yang digunakan sudah dapat dikatakan sebagai kandidat dye yang baik untuk
diaplikasikan dalam DSSC. Hal ini terlihat dari nilai efisiensi DSSC yang rata-rata
mencapai 1 %. Beberapa penelitian DSSC berbasis dye alami telah dilakukan:
Zhou (2011) diperoleh efisiensi terbesar DSSC menggunakan dye Mangosteen
pericarp sebesar 1,7%, Cahya (2017) menggunakan kulit Citrus sinesis diperoleh
efisiensi sebesar 0,52%, dan Calogero (2008) menggunakan Wild silican prinkly
pear diperoleh efisiensi sebesar 2,06%, dibandingkan dengan penelitian
sebelumnya kandidat dye yang digunakan pada penelitian ini sudah mendekati
penelitian terdahulu. Akan tetapi hasil penelitian ini masih belum mendekati
penelitian yang dilakukan Ni et. al (2008) menggunakan dye sintesis N-719 secara
49

simulasi dengan efisiensi 4,9% dan Zhou (2011) menggunakan dye sintesis yang
sama secara eksperimen diperoleh efisiensi 6,1%.
50

BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil simulasi penelitian, diperoleh beberapa kesimpulan
diantaranya:
a. Besar koefisien absorpsi setiap photosensitiser (dye) mempengaruhi besar
kinerja DSSC yang dihasilkan. Semakin besar nilai koefisien absorpsi
suatu dye, semakin besar pula kemampuan dye untuk menyerap cahaya
matahari. Hal ini sesuai dengan perhitungan estimasi energi gap dan
penelitian terdahulu yang menjelaskan karakteristik dye yang baik adalah
dye yang memiliki perbedaan energi eksitasi yang kecil dengan energi
band gap TiO2, dikarenakan dengan selisih yang kecil tidak terjadi
kehilangan banyak energi saat terjadi proses transfer elektron pada
molekul dye tereksitasi menuju pita konduksi TiO2. Hal ini juga terlihat
dari nilai efisiensi DSSC yang dihasilkan rata-rata mencapai 1 % dengan
efisiensi DSSC tertinggi dihasilkan oleh dye Tagetes erecta sebesar 1,5%
dengan nilai absorpsi tertinggi. Sementara efisiensi DSSC terendah
dihasilkan oleh dye Acalypha wilkesiana sebesar 0,9% dengan absorpsi
terendah.
b. Hasil simulasi pada perubahan temperatur kerja DSSC memberikan
perubahan terhadap kinerja DSSC. Kinerja DSSC tertinggi diperoleh pada
temperatur 375°𝐾, hal ini disebabkan perubahan temperatur yang semakin
tinggi menyebabkan perubahan mobilitas elektron yang semakin lambat
dan berdampak hambatan pada sel DSSC semakin besar (sehingga besar
tegangan atau beda potensial yang dihasilkan semakin besar pula). Namun
besar Jsc yang dihasilkan besarnya sama pada saat Voc=0, hal ini
disebabkan besar arus pada saat Voc=0 bergantung pada kontribusi
elektron dari intensitas matahari yang pertama kali masuk ke dalam
perangkat DSSC.
51

c. Hasil simulasi ketiga yang telah dilakukan menunjukkan bahwa perubahan


besar intensitas cahaya matahari memberikan dampak terhadap kinerja
DSSC yang dihasilkan. Semakin besar intensitas cahaya matahari akan
menyebabkan kinerja DSSC semakin baik. Hal ini disebabkan arus short
circuit secara langsung berhubungan dengan jumlah foton yang diserap
oleh DSSC dan sebanding dengan nilai intensitas cahaya matahari.

5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa saran sebagai pengembangan
penelitian selanjutnya diantaranya:
a. Kegiatan simulasi DSSC dapat dilakukan dengan menjalankan beberapa
parameter yang berjalanan bersamaan dalam simulasi dan divisualisasikan
dalam grafik 3 dimensi.
b. Mensimulasikan kandidat dye alam terbaru di Indonesia untuk
menemukan jenis dye alam baru yang mampu menghasilkan kinerja DSSC
terbaik.
52

DAFTAR PUSTAKA

Cahya, Eka et al. 2017. Studi Performansi Natural Dye Sensitized Solar Cell
Menggunakan Fotoelektrode TiO2 Nanopartikel. (April 2013).
Cass M.J., Walker. A. B., Martinez D and Peter L.M. 2005. Grain morphology
and trapping effects on electron transport in dye sensitized nanocrystalline
solar cells, J. Phys. Chem. B. 109, 5100-5107.
Chirazo, B., Pogrebnoi, A. 2014. Impact of extraction methods upon light
absorbance of natural organis dyes for dye sensitized solar cells aplication.
Journal of Energy and Natural Resources. doi: 10.11648/j.jenr.20140303.13.
ISSN : 2330-7366.
Dahlan, D., Siaw, T., dan Aziz, H. 2016. Dye Sensitized Solar Cells (DSSC)
dengan Sensitiser Dye Alami Daun Pandan, Akar Kunyit, dan Biji Beras
Merah (Black Rice). Jurnal Ilmu Fisika. ISSN-1976-4657.
Ekasari, V, and Yudoyono, G. 2013. Fabrikasi DSSC dengan Dye Ekstraks Jahe
Merah (Zingiber Officinale Linn Var. Rubrum) Variasi Larutan TiO2
Nanopartikel Berfase Anatase dengan Teknik Pelapisan Spin Coating. Jurnal
Sains dan Seni POMITS. Vol. 2, No.1 (2013). 2337-3520 (2301-928x).
Goetzberger, a, and V U Hoffmann. 2005. Photovoltaic Solar Energy Generation.
New York.
Gong, J, and K Sumathy. 2012. A Theoretical Study on Third Generation
Photovoltaic Technology : Dye-Sensitized Solar Cells. Mechanical
Engineering.
Gong, Jiawei, Jing Liang, and K Sumathy. 2012. “Review on Dye-Sensitized Solar
Cells ( DSSCs ): Fundamental Concepts and Novel Materials.” Renewable
and Sustainable Energy Reviews 16(8): 5848–60.
http://dx.doi.org/10.1016/j.rser.2012.04.044.
Grätzel, Michael. 2003. “Dye-Sensitized Solar Cells.” Journal of Photochemistry
and Photobiology C: Photochemistry Reviews 4(2): 145–53.
Hamadanian, M, J Safaei-ghomi, M Hosseinpour, and R Masoomi. 2014.
“Materials Science in Semiconductor Processing Uses of New Natural Dye
53

Photosensitizers in Fabrication of High Potential Dye-Sensitized Solar Cells


( DSSCs ).”Materials Science in Semiconductor Processing 27: 733–39.
http://dx.doi.org/10.1016/j.mssp.2014.08.017.
Hug, Hubert, Michael Bader, Peter Mair, and Thilo Glatzel. 2014.
“Biophotovoltaics: Natural Pigments in Dye-Sensitized Solar Cells.”
Applied Energy 115: 216–25.
http://dx.doi.org/10.1016/j.apenergy.2013.10.055.
Indera, C et al. 2013. Analisa Pengaruh Komposisi Graphene-TiO2 terhadap
Unjuk Kerja Dye Sensitized Solar Cell (DSSC). Jurnal Teknik POMITS
Vo.2, No. 1, ISSN : 2337-3539 (2301-9271).
Indrajaya, Y., dan Poespawati, R., 2013. Unjuk Kerja DSSC Berbasis TiO2
dengan Dye Ruthenium. FT UI.
Jiao, Yang, Fan Zhang, and Sheng Meng. 1991. “Dye Sensitized Solar Cells.” :
149.
Khan, Imran. 2013. “A Study on the Optimization of Dye-Sensitized Solar Cells.”
(January): 74.
Kumara, Maya Sukma Widya, and Gontjang Prajitno. 2012. “Studi Awal
Fabrikasi Dye Sensitized Solar Cell (DSSC) Dengan Menggunakan Ekstraksi
Daun Bayam (Amaranthus Hybridus L.) Sebagai Dye Sensitizer Dengan
Variasi Jarak Sumber Cahaya Pada DSSC.” Jurnal Fisika.
Latifataz, Zid., Prajitno, Gontjang., 2015. Ekstrak Buah Murbei (Morus) sebagai
Sensitizer Alami Dye Sensitized Solar Cell (DSSC) menggunakana Substrat
Kaca ITO dengan Teknik Pelapisan Spin Coating. Jurnal Sains dan Seni ITS
Vol. 4, No. 1m (2015) 2337-3520.
Lamichhane, P., Prasad, Bhim., Narayan, Prem., 2015. Optical Absorbance and
Fluorescence of Natural Dyes: Prospect of Application in Dyes Sensitized
Solar Cell and OLEDs. Journal of Phamaceutical, Biological, and Chemical
Sciences. ISSN : 0975-8585.
Liu, X. 2014. TiO2 Crystal Nanorods and Their Application in Dye-Sensitized
Solar Cells.
López-lópez, Carmen, Silvia Colodrero, Mauricio E Calvo, and Hernán Míguez.
54

2013. “Supporting Information Angular Response of Photonic Crystal Based


Dye Sensitized Solar Cells.” : 1–3.
Luthviyah C, Rio Akbar, Ernawati. 2017. Biophotovoltaic Tipe-N dan Tipe-P
dengan menggunakan ekstrak kulit jeruk dari Aceh. Jurnal SIMETRIS, Vol 8
No 2 November 2017 ISSN : 2252-4983.
Mahfudli, Ulfa, et al. 2015. Fabrikasi dan Karakterisasi Ekstrak Sawi Putih
sebagai Dye Sensitized Solar Cell. Prosiding Pertemuan Ilmiah XXIX HFI
Jateng & DIY, Yogyakarta. ISSN : 0853-0823.
Manan, S. 2009. “Energi Matahari, Sumber Energi Alternatif Yang Effisien,
Handal Dan Ramah Lingkungan Di Indonesia.” Gema Teknologi: 31–35.
http://eprints.undip.ac.id/1722.
Muliani, Lia, Erlyta Septa Rosa, Jojo Hidayat, and Teknik Fisika. 2012.
“Pembuatan Sel Surya Berbasis Dye-Sensitized.” : 22–26.
Narayan, Monishka Rita. 2012. “Review: Dye Sensitized Solar Cells Based on
Natural Photosensitizers.” Renewable and Sustainable Energy Reviews
16(1): 208–15. http://dx.doi.org/10.1016/j.rser.2011.07.148.
Ni, Meng, Michael K H Leung, and Dennis Y C Leung. 2008. “Theoretical
Modelling of the Electrode Thickness Effect on Maximum Power Point of
Dye-Sensitized Solar Cell.” Canadian Journal of Chemical Engineering
86(1): 35–42.
Oktiawati, Unan Yusmaniar, Norani Muti Mohamed, and Zainal Arif Burhanudin.
2016. “Simulation on the Performance of Dye Solar Cell Incorporated with
TiO 2 Passivation Layer.” 2016.
Pei, Donghua, and Jingfei Luan. 2012. “Development of Visible Light-Responsive
Sensitized Photocatalysts.” International Journal of Photoenergy 2012.
Pradana, Indera C, and Fakultas Teknologi Industri. 2013. “Analisa Pengaruh
Komposisi Graphene - TiO 2 Terhadap Unjuk Kerja Dye Sensitized Solar
Cell (DSSC).” 2(1).
Sun, Y. 2009 : Sensitizer Molecule Engineering, Disertasi Progam Doktor
Phylosophy, Bowling Green State University, 7-10.
Sunardi dan Sari, K. 2012. Pengaruh Konsentrasi Larutan Ekstrak Daun Lidah
55

Mertua terhadap Absorbansi dan Transmitansi Pada Lapisan Tipis. Seminar


Nasional fisika. Jakarta
Supriyanto, Edy et al. 2019a. Simulasi Performa Variasi Natural Dye Berbahan
Lokal untuk Aplikasi Dye Sensitized Solar Cells(DSSC). Jurnal proceding
Internasional IC2MAM. Malang
Supriyanto, Edy et al. 2019b. Simulation Of Electron Diffusion Coefficient
Interpretation On The Optimum Thickness Of TiO2 Photoanode In Dye-
Sensitized Solar Cells DSSC. doi://10.1088/1757-899X/515/1/012058. 2019.
Syafinar, R. et al. 2015a. 79 Energy Procedia Chlorophyll Pigments as Nature
Based Dye for Dye-Sensitized Solar Cell (DSSC). Elsevier B.V.
http://dx.doi.org/10.1016/j.egypro.2015.11.584.
Syafinar, R et al. 2015b. 79 Energy Procedia Potential of Purple Cabbage, Coffee,
Blueberry and Turmeric as Nature Based Dyes for Dye Sensitized Solar Cell
(DSSC). Elsevier B.V. http://dx.doi.org/10.1016/j.egypro.2015.11.569.
Tayyan, Ahmed A El. 2011. “Dye Sensitized Solar Cell: Parameters Calculation
and Model Integration.” Journal of Electron Devices 11: 616–24.
Widayana, Gede. 2012. “Pemanfaatan Energi Surya.” ISSN 0216-3241 9: 37–46.
Wongcharee, Khwanchit, Vissanu Meeyoo, and Sumaeth Chavadej. 2007. “Dye-
Sensitized Solar Cell Using Natural Dyes Extracted from Rosella and Blue
Pea Flowers.” 91: 566–71.
Zanni, M.T., Greenblatt, B.J., Davis, A. V., Neumark, D.M. (1999) :
Photodissociation of Gas Phase I Using Femtosecond Photoelectron
Spectroscopy, Journal Of Chemical Physics, 111, 2991.
Zhou, H., Wu, L., Gao, Y., Ma Tingli. 2011. Dye-sensitized solar cell using 20
natural dyes as sensitizers. Journal of Photochemistry and Photobiology A:
Chemistry. 219 (2011) 188-194.
56