Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH MANAJEMEN KESEHATAN TERNAK NON RUMINANSIA

TENTANG

AFRICAN SWINE FEVER (ASF)

OLEH :

OSKAR SETIA WIRANATA

B0D017051

PROGRAM STUDI DIII AGRIBISNIS KONS. KESEHATAN HEWAN

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS MATARAM

2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan limpahan rahmat
taufiq serta hidayah-Nya, saya dapat menyelesaikan makalah Manajemen Kesehatan Ternak
Non Ruminansia tentang African Swine Fever (ASF) tepat pada waktunya.
Sholawat serta Salam saya haturkan kepada jujungan alam baginda Rasul Muhammad
SAW yang telah berjuang menegakkan Dinul Islam sehingga dunia ini terlihat indah dan
bercahaya seperti saat ini.
Ucapan terimakasih saya sampaikan kepada Drh. NP Dessy Sariyanti selaku
pembimbing mata kuliah Manajemen Kesehatan Ternak Non Ruminansia dan semua pihak
yang terkait dalam penyusunan makalah ini.
Saya menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kata
sempurna oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun dari semua pihak sangat
saya harapkan demi perbaikan makalah selanjutnya sehingga dapat menjadi acuan yang
berguna bagi para pembaca dan pihak terkait.

Mataram, 1 Desember 2019


Penyusun,

OSKAR SETIA
WIRANATA

ii
DAFTAR ISI

COVER
KATA PENGANTAR................................................................................................................................... ii
DAFTAR ISI.............................................................................................................................................. iii
BAB I ........................................................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN ....................................................................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang......................................................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah ................................................................................................................... 3
1.3. Tujuan ..................................................................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN............................................................................................................................... 4
Pengertian ....................................................................................................................................... 4
GERAK DAN SEBAB ................................................................................................................... 5
BIAKAN SEL ................................................................................................................................. 5
EPIZOOTIOLOGI .......................................................................................................................... 6
GEJALA KLINIS ........................................................................................................................... 6
PATOLOGI..................................................................................................................................... 8
PATOGENESIS DAN IMUNOLGI ............................................................................................. 10
DIAGNOSIS ................................................................................................................................. 10
DIAGNOSIS BANDING .............................................................................................................. 12
BAB III PENUTUP ................................................................................................................................... 17
3.1 Kesimpulan.................................................................................................................................. 17
3.2 Saran ........................................................................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 18

iii
BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Virus African swine fever (ASF) atau demam babi Afrika telah menyebar hingga ke
Timor Leste, apa saja gejala dan bagaimana cara penyebarannya?
African Swine Fever (ASF) atau demam Babi Afrika merupakan virus yang tidak
berbahaya bagi manusia, tetapi mematikan untuk babi. Sejauh ini, belum ada vaksin yang
dapat mencegah penularan virus tersebut.
Untuk kasus Asia, situs Antara menyebutkan, virus African swine fever pertama kali
menjangkit China lebih dari satu tahun yang lalu. Wabah kemudian meluas ke Kamboja,
Vietnam, dan kini menyebar hingga ke Timor Leste.
Timor Leste merupakan negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia, khususnya
Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dua negara itu berbagi wilayah di Pulau Timor
yang terletak di sebelah utara Australia.
Bandara El Tari Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) memperketat pemeriksaan barang,
khususnya untuk produk pertanian demi upaya mencegah penyebaran virus African swine
fever atau demam babi Afrika.
"Informasi yang kami terima virus-virus itu menyebar lewat barang-barang pertanian atau
perkebunan, sehingga proses pemeriksaan kami perketat," kata Humas PT Angkasa Pura I
Bandara El Tari Kupang Rahmat Sugeng W di Kupang seperti dilansir Antara.
China, produsen daging babi terbesar dunia, jadi salah satu negara yang cukup parah
terdampak wabah. Virus itu tidak hanya mengganggu produksi babi di China, tetapi juga
komoditas lain yang menjadi pakan babi seperti jagung dan bungkil kedelai (soymeal).

Apa itu African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika dan Gejalanya?
Menurut The Guardian, ASF adalah penyakit virus babi yang sangat menular, gejala
paling umum dari virus ini dalam bentuk akut adalah suhu tinggi dan kehilangan nafsu
makan pada babi. Gejala lain termasuk muntah, diare, dan kesulitan bernafas dan berdiri.
Tidak ada pengobatan untuk penyakit ini, bahkan berisiko memiliki tingkat kematian 100
persen dalam keadaan tertentu, tetapi tidak sama dengan flu babi.
Cara penyebarannya ASF dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan hewan yang
terinfeksi. Babi hutan telah diidentifikasi sebagai salah satu dari beberapa kemungkinan
1
penyebab penyebarannya, serta dapat menyebar melalui serangga seperti kutu.
Namun, virus ini juga dapat bertahan hidup beberapa bulan dalam daging olahan, dan
beberapa tahun dalam daging babi beku, sehingga produk daging menjadi perhatian
khusus untuk penularan lintas batas.
Penyakit ini awalnya dibawa dari Afrika timur ke Georgia oleh produk babi yang
terkontaminasi. Pihak bandara Jepang bahkan pernah menyita sebungkus sosis dari
seorang pelancong yang datang dari China karena menemukan sosisnya mengandung
virus African swine fever. Di sebagian besar negara, virus ASF akan memicu tindakan
karantina dan pemusnahan kawanan babi yang terkena dampak. Namun, ada
kekhawatiran di antara para ahli bahwa dalam beberapa kasus petani di seluruh negara -
dapat menutupi atau menunda melaporkan penyakit tersebut. Seperti Negara Belarus yang
dituduh menutupi ASF pada babi. Pemerintah Belarus membantah klaim tersebut. Salah
satu Dokter Sanitasi di Rusia, Gennady Onishchenko memperingatkan jika fisiologi babi
dekat dengan fisiologi manusia, dan karenanya mutasi virus itu juga berbahaya bagi
manusia.

Pada tahun 2007, virus tersebut juga terdeteksi di Georgia, dan sejak itu telah menyebar
secara luas, mulai Eropa timur hingga Rusia, dan baru-baru ini terdeteksi di Eropa barat,
ketika ada babi hutan ditemukan memiliki penyakit itu di Belgia. Virus ini sekarang telah
sampai ke China, rumah bagi setengah babi domestik dunia, dan berkembang biak dengan
cepat. Sementara Amerika Serikat (AS), di mana pasar ekspor babi yang mencapai 6,5
miliar dolar AS per tahun sedang meningkatkan langkah-langkah keamanan hayati demi
menceggah penularan virus ASF.
Sedangkan negara Denmark telah merencanakan untuk membangun tembok demi
mencegah babi hutan untuk beberapa waktu, dan Perancis sekarang juga membuat
rencana untuk menembok sepanjang bagian perbatasan Belgia. Serta Jerman telah
melonggarkan undang-undang tentang perburuan babi hutan sebagai bagian dari
pencegahan penyebaran penyakit.
Apakah ada vaksin untuk ASF?
The Roslin Institute sedang melakukan pengeditan gen untuk membuat babi kebal
terhadap ASF. Sebuah koalisi ilmuwan internasional juga sedang menyelidiki vaksin
untuk mencegah penyebaran penyakitnya.

2
1.2. Rumusan Masalah
- Bagaimana cara penanganan penyakit ASF?
- Bagaimana cara pengobatan penyakit ASF pada babi?
- Bagaimana pengobatan dan cara manajemen penanganan penyakit ASF pada babi?

1.3. Tujuan
- Untuk mengetahui bagaimana cara penanganan penyakit ASF
- Untuk mengetahui cara pengobatan penyakit ASF pada babi
- Untuk mengetahui pengobatan dan cara manajemen penanganan penyakit ASF pada
babi

3
BAB II

PEMBAHASAN
Pengertian
African Swine Fever (ASF) adalah penyakit viral pada babi yang serius dan sangat
menular. Penyakit ini disebabkan oleh virus ASF, termasuk dalam genus Asfivirus,
family Asfarviridae. Penyakit ini tergolong memiliki risiko kontak yang sangat tinggi
(highly contagious), dimana virus ASF memiliki karakter virulensi yang tinggi dan
dapat menyebabkan kematian hingga 100%. Virus ASF dapat menyebar sangat cepat
dalam populasi babi melalui kontak langsung atau tidak langsung. Virus ASF menjadi
endemik pada babi-babi liar, dimana siklus penularan antara babi liar dengan caplak
mempersulit eradikasi penyakit ini.

Pertama kali penyakit ASF terdeteksi di Kenya pada tahun 1920-an dan menyebabkan
wabah dengan mortalitas 100%. Wabah terjadi akibat kontak antara babi domestik
dengan spesies satwa liar, terutama warthogs (Phacochoerus aethiopicus dan
Phacochoerus africanus). Sumber infeksi diidentifikasi sebagai suatu virus yang dibawa
oleh warthogs yang tidak menunjukkan gejala klinis. Di negara-negara wilayah Afrika
timur dan selatan, virus ASF bersirkulasi pada hospes satwa liar untuk jangka waktu
lama, sehingga ASF merupakan penyakit syang menyebabkan masalah serius di
beberapa negara Afrika.

Penyakit ASF memiliki masa inkubasi 3 hingga 15 hari, dimana pada infeksi dengan
titer tinggi periode masa inkubasi menjadi lebih pendek. ASF memiliki gejala klinis
antara lain; kematian tiba-tiba dengan sedikit gejala klinis, demam dengan suhu tinggi
(>41°C), nafsu makan turun, lesu, sianosis, inkoordinasi gerakan, hemoragi pada kulit,
muntah, diare berdarah dan abortus (terkait demam dengan suhu tinggi). Beberapa
penyakit dapat menjadi diagnosis diferensial dari ASF antara lain; Hog Cholera, PRRS
akut, Salmonellosis, Salmonellosis dan sebagainya.

Dengan adanya penyebaran penyakit ASF yang sangat cepat, diperlukan peran yang
bersinergi antara Kementerian Pertanian, Dinas yang membidangi fungsi peternakan
dan kesehatan hewan, peternak dan masyarakat dalam pencegahan dan
pengendalian penyakit ASF. Diperlukan adanya peningkatan pengawasan terhadap
importasi babi dan produknya oleh Karantina Pertanian. Didukung dengan sosialisasi

4
penyakit ASF serta penerapan biosekuriti oleh peternak untuk mencegah penyebaran
penyakit

GERAK DAN SEBAB


Sifat fisika dan kimiawi

Virus penyebab PAB sangat resisten terhadap suhu kamar dan suhu lebih rendah.agen
dapat tahan lama dalam material busuk tetapi di inaktifkan oleh pemanasan selama 30
manit dengan suhu 60oC. Virus ini juga resisten terhadap PH rendah dan PH tinggi.
Sodium hhidroksida 2% dianjurkan sebagai desinfektan tetapi hendaknya di
aplikasikan selama 24 jam.

SIFAT BIOLOGIS ( jenis hewan peka)

Pes afrika babi ini merupakan infeksi pada berbagai jenis babi afrika yang liar(bush
pig.giant forest hog). Sesuda di tulari babi ini mengalam infeksi subklinis dan menjadi
pembawa virus yang dapat di buktikan dengan penyuntikan darah pada babi peliharaan
yang peka. Selain babi liar tersebut juga bai liar dan peliharaan di afrika juga peka
terhadap virus PAB. Pada babi-babi eropa infeksi berjalan perakut dan akut tetapi juga
secara subakut dan menahun. Kebanyakn babi eropa yang tertular mati dan sekali kali
menjadi pembawa virus.

BIAKAN SEL
Virus PAB berplikasi invitro dalam biakan leukosit yang di proleh dari buffycoat
darah tepi dan dalam biakan sel-sel sum-sum tulang. Pertambahan virus mengakibatkan
degenerasi sel-sel sedangkan dalam sitoplasma terbentuk nadan – badan inkubasi yang
dapat di perlihatkan dengan pulasan menurut glesma. CPE ini biasanya di sertai dengan
daya hemadsopsi. Yang terahir ini nyata karna eritrosit-eritrosit yang ada dalam biakan
sel melekat pada sel-sel yang berdegenerasi. Kejadian ini terjadi dasar tes hemadsopsi
malmquist dan hay. virus PAB tidak mnimbulkan hemagllutinasi.

Beberapa isolat harus berkali-kali di pasase in vitro sebelum menyebabkan


hemadsopsi. Virus dapat di adaptasi pada sel ginjal babi atau ginjal kera tetapi
memerlukan beberapa pasase. Oleh karna itu virus nyata mengalami daur replikasi pada
caplak maka agen penyebab PAB termasuk tergolong arbovirus.

Sifat antienis

5
Hingga sekarang hanya di kenal satu tipe walaupun ada perbedaan di antara isolat-
isolat.

EPIZOOTIOLOGI
PAB ialah pennyakit babi aprika liar. Diantaranya babi – babi itu banyak terhama
virus walaupun tidak memperlihatkan gejala-gejala sakit. Virus tidak di sebabkan
melalui tinja dan urin. Bila babi liar yang terhama berkontak dengan babi peliharaan
maka biasnya yang ahir ini di tulari. Bagaimana penularan ini terjadi belun begitu jelas,
sebab persentuha saja serupa tidak cukup walau pun sekali-kali infeksi melalui
hawa(air-borne)dapat menimbulkan penyakit.

Infeksi menyebar diantara babi peliharaan di africa melalui makanan dan di samping
tyusukan caplak tertular, karna titer virus dalam darah babi peliharaan tinggi. Babi liar
africa mempunai titer virus yang rendah dan dengan demikian tidak mungkin menulari
caplak.titer yang tinggi hanya ditemukan pada infeksi primer pada anak babi liar africa.

Yang akhirnya ini berdaya menulari caplak yang lama menjadi penyebar virus
.transmisi siklus pada caplak (jenis ornithodoros) telah di obserpasi di spanyol dan
pasase virus melalui telur caplak telah dibuktikan.

Babi peliharaan yang di tulari virus PAB dapat menyebarkan virus lewat sekreta dan
ekreta dan hal ini menimbulkan infeksi baru. Dalam suatu daerah penyakit dapat
bertahan dalam jangka waktu yang lama walaupin caplak tidak ada. Keadaan ini di
sebabkan oleh dua faktor yankni pertama semakin banyaknya pembawa virus yang
sehat dan memungkkinkan penyebaran virus melalui makanan. Dalam akhir ini di
anggap penting sampah dan sia-sia makanan atau dapur yang diproleh dari hotel-hotel.

GEJALA KLINIS
Infeksi primer oleh virus PAB pada babi peliharaan umumnya menyebakan gejala –
gejala penyakit perakut dan akut dengan angka kematian yang tinggi. Pada tahun -
tahun akhir ini juga lebih banyak di temukan kasus – kasus subakut,menahun dan
infeksi tanpa gejala – gejala. Juga gejala kelinis yang tidak kehas (atypical) semakin
bertambah diobservasi karena pemakaian vaksin yang mengandung galur - galur virus
yang diautenuasi lewat pesase biakan sel.

6
Dalam keadaan alami waktu incubasi biasnya 5-7 hari kadang – kadang lebih lama.
Infeksi tiruan biasanya mempunyai waktu inkubasi lebih pendek dan hal ini bergantung
pada galur virus dan dosis yang terpakai.

Pada penyakit yang berjalan akut hewan menderita demam dengan suhu tinggi.

Gejala – gejala klinis umumnya baru terlihat sesudah babi menderita beberapa hari
demam. Babi yang terhama kehilangan nafsu makan,bersembelit dan kadang- kadang
diare yang hemoragis. Yang mencolok adalah kesulitan bernafas, gejala – gejala SPP
umumnya timbul sebelum hewan mati, kira – kira 7 hari sesudah hewan demam mulai.
Babi sering mati dalam keadaan koma. Pada jalan penyakit yang menahun – nahun babi
dapat hidup berminggu – minggu maupun berbulan – bulan dan kadang tidak
memperlihatkan gejal sakit. Akhirnya hewan mati juga karna kambuh lagi.

Oleh karna virus PAB bersirkulasi di antara babi peliharaan di berbagai negara di
eropa. Maka sifat virulen virus lambat laun berubah. Pada banyak ledakan gambaran
klinis PAB pada babi peliharaan menyerupai gejala pes babi klasik. Dengan demikian
telah di observasi bahwa pada beberapa kejaadian hanya anak – anak babi yang jatuh
sakit dan mati, sedangkan babi dewasa tidak memperlihatkan gejala sakit. Biasanya
babi - babi akhir ini telah mengalami infeksi diam. Beberapa tahun yang lampau
gambaran penyakit ini hanya di kenal pada babi liar aprika.

7
GEJALA KLINIS YANG TERKENA ASF AKUT

PATOLOGI
Perubahan patologi-anatomi

Sebagai juga pada pes babi klasik maka gambaran seksi pada PAB yang khas ialah
septicemia yang hemogragis.pada kedua penyakit dan organ – organ yang sama
terkena. Perubahan – perubahan terutama bersifat kuantitattif. Umumnya perubahan
pada PAB lebih parah dengan titik berrat pada kerusakan-kerusakan
vaskuler(menyebkan pendarahan dan edema).

Pada PAB yang khas maka perubahan – perubahan berikut yang menyolok. Subklinis
: biasanya kekuning – kuningan di sertai degan pendarahan yang umumnya berlokasi di
bagian ketiak da bidng dalam paha. Serosa dan rongga badan : perdarahan. Dalam
prikard ditemukan cairan hemoragis yang mengandung fibrin. Perdarahan – perdarahan
subepikardial sering terlihat.

8
Traktus digesti. Gestoran-entritis bersifat hemoragis dengan perubahan yang menyolok
dalam lambung,coecum, dan rektum. Dinding bagian usus ini menebal karena edema.

Kantung empedu : perdarahan pada kantung dan dan edema pada dnding traktus
pernapasan : edema paru – paru yang menyolok. Ginjal : petekhia dan perdarahan lebih
luas. Kantung urin sekali-kali ada petekia. Kelenjar getah benih ; sangat menbesar dan
hemoragis apalagi pada kelenjar dalam rongga rongga dada dan perut.

Limpa : biannya sangat bengkak dan sering hemoragis. Bila bila penyakit berlangsung
lebih lama maka di samping busung qir ditemukan juga bronkho-pnemoni.

Pada waktu belakangan ini gambaran seksi PAB semakin menyerupai gambaran
patologiss dan anatomis pes babi klasik. Hal ini di sebabkan karna oleh karna virus
PAB khilangan sebagian besar virulensinya terhadap babi peliharaan.

Perubahan histo-patologis

Dalam SSP terdapat meningo-ensipalo-meilitis non-purulen. Dalam berbagai organ –


organ perubahan pada dinding kapiler dan dinding arteri keci menylok. Kerusakan pada
sistem hematopoitis mengakkibatkan lekopeni parah.

PERUBAHAN POSTMORTEM ASF

Haemorrhagic lesions of acute African swine fever

9
PATOGENESIS DAN IMUNOLGI
Infeksi pada babi peliharaan di duga terjadi melalui teraktus digestivus

Atau lewat kontak. Ddisamping itu trransmisi lwat caplak dianggap penting.pada
infeksi per os virus pertama – tama bereplikasi secara cepat dalam tomsil, selaput lendir
dan faring dan dalam kelenjar limfa regional (pada ekprimen sesudah 12 jam). Viremi
primer ini di susul oleh petambahan virus dalam sel-sel RES limpa, par-paru, hati
kelenjar-kelenjar getah bening dan sum-sum tulang. Replikasi kedua ini di ikuti ileh
viremi sekunder. Swaktu viremi virus terikat pada sel. Dengan metode FAT antigen
virus dapat di tunjukkan dalam makropag,sel-sel retikulum, pada endottel corong-
corong,sel-sel alveoli dalam paru-paru dan dalam sel-sel parenkim hati. Secara
histologis sering terlihat nekrosis menyolos pada makropag.RES dan medotel
pembuluh – pembuluh darah.dalam serum babi liar africa yang terlihat sehat tapi
membawa virus, demikian pula dalam serum babi peliharaan yang cukup lama tinggal
hidup sesudah di infeksi, diproduksi hemadsopsi , mengikatt komponen dan presipitasi.
Badan penangkis netrasuasi belum pernah di temukan. Hingga sekarang belum jelas
apa resistensi babi yang sembuh. Infeksi persistensi biasanya persiapan dengan
hipermaglobilinemi.

Berdasarkan informasi mengenai antibody yang menghambat hemadsopsi. Maka di


duga ada perbedaan imonologis di antara beerapa isolat. Maka di duga ada perbedaan
ini tidak jelas bia di daasarkan pada infeksi tiruan. Tesikatan komponen dan prepitasi
imunsangat terbatas untuk diagnostik. FAT mempurnyai arti lebih praktis dan sebagai
sumber anti gen dapat di pergunakan kristolat jaringan atau badan sel yang terhama.

DIAGNOSIS
Berdasarkan gejala kelinis

PAB dicurigai pada peledakan penyakit pada babi yang menyebabkan kematian
masal.

10
Berdasarkan gambaran seksi dan histo-patologi

Bila pada seksi di temukan gambaran septikemi yang hemoragis hendaknya di


perhatikan kemungknan PAB. Dalam pada itu harus di ingat dalam pada ahir ini gejala
kelinis perubahan-perubahan dan anatomi berubah.

Berdasarkan pemeriksaan laboratorium

Pada negara di mana FAB di temukan (antara lain spanyol) FAT indrek di pergunakan
untuk membuat di agnosis secara cepat. Tes ini berdasarkan fakta bahwa di dalam
oragan hewan sakit di dapatkan antigen virus bersamaan dengan antinodi terhadap virus
PAB. Suspensi yang di buat dari limpa, paru-paru dan kelenjar limfa diperlukan sebagai
serum , sebagai sumber antigen (substrat) di pakai sel-sel biakan ginjal kera tertular.
Dengan kedua komponen ini dilaksanakan FAT indrek. Disamping itu dibikin sediaan-
sediaan sentuhan dari organ-organ tersebut. Dalam sediaan ini diusahakan
menunjukkan adanya antigen dengan metode FAT direk. Bila kedua upaya ini tidak
memberikan hasil yang fositif maka langkah berikut ialah membikin maka biakan
leukosit yang kemudian di tanami dengan susfensi organ babi yang di curigai bersama
dengan leokosit di masukkan dalam tabung biakan eritrosit-eritrosit. Bila biakan
mengandung virus FAB maka sesudah beberapa hari sel-sel darah merah ini didiabsopsi
pada permukaan luar sel-sel biakan berhama. Sel-sel ini memperlihatkan juga tanda-
tanda digenerasi (mengecil, membentuk bundar, inti mengeriput) bila hnaya degenerasi
atau CEF ini terlihat maka selanjutnya FAT di aplikasi terhadap sel-sel itu.

Kini semakin bnayak virus FAB di isolasi yang tidak memperlihatkan hemadsopsi
dalam biakan sel pertama. Juga FAT tidak selamanya positif. Untuk pemeriksaan masal
kini di pergunakan juga immunoelektro-osmophoresis.

Di negara-negara yang tidak mengenal penyakit ini biasanya didiagnosis dititkberatkan


pada hewan percobaan. Untuk keprluan ini di buat susfensi limpa dan kelenjar getah
bening hewan curigai yang di bunuhi antibiotika. Kemudian susfensi ini di suntikkan
pada babi yang telah di imunisasi melawan tes babi klasik umumnya di pergunakan
bebrapa percobaan harus diisolasi dengan teliti dan suhu badan di periksa tiap-tiap hari.
Bila hewan percobaan di priksa dengan tes hemadsopsi.

11
Isolasi virus dan tes serologis

Sudah di uraikan pada halaman sebelumnya

DIAGNOSIS BANDING
Yang utama adalah pes klasik babi. Langkah pertama ialah menyingkirkan
kemungkinan PAB dengan pemeriksaan laoratorium.

PEMBERANTASAN

Sekali babi yang tertular dengan virus PAB maka ia akan menjadi pembawa virus
selama hewan hidup. Upaya untuk membuat vaksin kini gagal. Maslah pada
pembikinan vaksin berdasarkan virus yang di autensiialah bahwa babi yang telah di
vaksinasi menjadi patogen lagi sesudah berlangsung beberapa waktu.

Di afrika penularan babi peliharaan di cegah dengan menghindari dengan kontak


langsung sama babi liar. Hal ini dapat di laksanakan dengan memelihara babi dalam
kandang tertutup yang di kelilingi oleh pagar ganda.

Di eropa ada 2 pemberantasan:

1. Usaha mencegah induksi virus PAB. Dalam rangka hal ini di larang impor babi hidup
dari negara di mana penyakit ini di kenal. Larangan ini berlaku juga untuk produk-
produk babi. Sampah-sampah dapur dari kapal atau pesawat terbang yang didestruksi
dengan pembakaran.
2. Sekalipun dengan pelaksaan peraturan-peraturan tersebut, PAB berhasil memasuki
suatu negara maka pada pruhaaan yang di timpa semua babi dan didistruuduksi.
Dengan metode mahal ini prancis berhasil membebaskan daerahanya dari PAB.

Disinfection procedures at the farm

12
Further lesions of acute African swine fever

Characteristic necropsy findings and clinical signs in wild boar affected with acute African swine fever

Typical lesions observed in chronic forms of African swine fever

13
Haemorrhages in a pig with classical swine fever (CSF)

Enlarged haemorrhagic lymph node in a pig with highly pathogenic


porcine reproductive and respiratory syndrome (PRRS)

Pig suffering from porcine dermatitis and nephropathy syndrome (PDNS)

14
Characteristic diamond-shaped skin lesions in a pig with erysipelas

Piglet neurological issues due to Aujeszky’s disease

Pig suffering from salmonellosis with cyanotic ears

15
Pig suffering from mycotoxin poisoning

16
BAB III

PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Disimpulkan bahwa penyakit ASF pada babi yang di sebabkan oleh virus afian swine
fiver yang dapat berdampak kematian pada babi,gejala yang tampak pada babi yang
terkena penyakit ASF yaitu muntah,diare, dan kehilangan nafsu makan.

Penyakit ASF ini dapat di tularkan lewat babi yang telah terkena atau kontak langsung
dengan babi yang telah sakit.

3.2 Saran
Di sarankan bahwa untuk masyarakat yang mempunyai ternak yang masih sehat untuk
di karantina atau di isolasi supaya, hewan yamg masih sehat tidak terkena dengan
penyakit ASF dan juga supaya virusnya tidak meyebar dan juga, kebersihan kandang
juga harus di jaga untuk menjaga kesehatan dari ternak yang di pelihara.dan juga di
sarankan bahwa, jika ada babi yang terkena maka babi yang masih sehat harus di
pisahkan dengan babi yang terkena supaya tidak terjadi kontak lagsung dengan babi
yang sakit.

17
DAFTAR PUSTAKA
https://tirto.id/mengenal-demam-babi-afrika-atau-asf-gejala-dan-cara-penyebarannya-
ejGd

hog cholera/classical swine.fever and african swine fever and african swine fever.
Luxunbung : commission of the european communities.1977.

hess, W.R..:african swine fever virus in: virol.monogr.9,1-33,1971.

18