Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUIDA DAN SEMISOLIDA

FORMULASI SEDIAAN PASTA GIGI

Hari, Tanggal :

Rabu, 23 Oktober 2019

Dosen Jaga :

Kuni Zu’aimah Barikah, S. Farm., M. Farm., Apt

Oleh :

Kelompok A1-1:

1. Karima Pratiwi (162210101059)


2. Anis Fitri Anggraeni (172210101003)
3. Yuniar Aisyah I (172210101004)
4. Herwindhiarti I (172210101005)
5. Dina Permatasari (172210101006)
6. Tri Unzilatur R (172210101010)

LABORATORIUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUIDA DAN SEMISOLIDA

BAGIAN FARMASETIKA FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS JEMBER

2019

i
DAFTAR ISI

I. Tujuan Praktikum ........................................................................................................... 1

II. Dasar Teori ..................................................................................................................... 1

III. Evaluasi Produk Referen ................................................................................................ 4

IV. Jenis dan Contoh Bahan Tambahan dalam Formula ...................................................... 6

V. Susunan Formula dan Komposisi Bahan yang direncanakan ....................................... 17

VI. Metode Praktikum ........................................................................................................ 19

VII. Evaluasi Sediaan Pasta Gigi ........................................................................................ 20

VIII. Pembahasan .................................................................................................................. 22

IX. Kesimpulan ................................................................................................................... 27

XI. Rancangan Etiket, Brosur, dan Kemasan ..................................................................... 28

Lampiran

Daftar Pustaka

ii
JURNAL PRAKTIKUM

I. Tujuan Praktikum
 Mahasiswa dapat memahami formulasi dan langkah-langkah pembuatan pasta gigi
serta evaluasinya
 Mahasiswa dapat membuat pasta gigi dengan baik dan benar

II. Dasar Teori


Pasta adalah sediaan semipadat yang mengandung satu atau lebih bahan obat yang
ditujukan untuk pemakaian topikal. Pasta gigi digunakan untuk perlekatan pada selaput
lendir untuk memperoleh efek lokal (FI IV, 1995).
Pasta gigi adalah pasta atau gel yang digunakan untuk meningkatkan kesehatan gigi
dan mulut dengan cara mengangkat plak dan sisa makanan, termasuk menghilangkan dan
mengurangi bau mulut. Pasta gigi juga membantu memperkuat struktur gigi dengan
kandungan flournya (Pratiwi, 2007). Pasta gigi merupakan bahan pembantu sikat gigi
dalam menghambat pertumbuhan plak secara kimiawi (Putra, 2002).
Pasta gigi dipakai untuk membantu membersihkan dan memoles gigi. Bahan untuk
membersihkan gigi tersedia dalam bentuk pasta, bubuk, dan gel. Pasta gigi merupakan
bahan yang berfungsi sebagai media bagi zat aktif penghilang bakteri dan plak (anti plak)
untuk dapat diaplikasikan pada permukaan gigi. Pasta gigi biasa digunakan saat menyikat
gigi dengan menggunakan sikat gigi. Penggunaan pasta gigi bersama sikat gigi melalui
penyikatan gigi adalah salah satu cara yang paling banyak digunakan oleh masyarakat saat
ini dengan tujuan untuk meningkatkan kebersihan rongga mulut. Penambahan zat aktif
pada pasta gigi yang bermanfaat bagi kesehatan gigi dan mulut bukan hanya bertujuan
sebagai program pencegahan kerusakan gigi pada orang dewasa, melainkan juga dapat
mencegah kerusakan gigi sedini mungkin pada anak.
Fungsi utama pasta gigi adalah untuk membersihkan gigi yang dianggap sebagai
manfaat kosmetik. Pasta gigi yang digunakan saat menyikat gigi berfungsi untuk
mengurangi pembentukan plak, memperkuat gigi terhadap karies, dan memoles permukaan
gigi, menghilangkan atau mengurangi bau mulut, memberikan rasa segar pada mulut serta
memelihara kesehatan gingiva (Sasmita et al, 2007).
Pasta gigi mengandung campuran bahan penggosok, bahan pembersih, bahan
tambahan, berbentuk semipadat yang digunakan untuk membantu membersihkan tanpa
merusak gigi dan jaringan mukosa mulut (Putra, 2002).
1
Secara umum, kandungan pasta gigi adalah sebagai berikut:
a. Bahan abrasif, merupakan bahan utama pasta gigi, menyusun 30-40% kandungan
pasta gigi. Bahan abrasif berfungsi untuk membersihkan dan memoles permukaan
gigi tanpa merusak email, mempertahankan kekebalan partikel, mencegah akumulasi
stain. Bahan yang sering digunakan antara lain natrium bikarbonat, kalsium
bikarbonat, dan kalium sulfat.
b. Bahan pelembab, berfungsi sebagai pencegah penguapan air dan mempertahankan
kelembaban pasta. Bahan yang sering digunakan antaralain gliserin, sorbitol dan air.
Bahan pelembab ini menyusun 10-30% kandungan pasta gigi.
c. Bahan perekat (binder), berfungsi sebagai pengikat semua bahan dan membantu
memberi tekstur pada pasta gigi. Bahan yang sering digunakan antaralain CMC Na,
xanthan gum, carbomer. Bahan perekat ini menyusun 1-2% kandungan pasta gigi.
d. Surfaktan, berfungsi sebagai penurun tegangan permukaan dan melonggarkan ikatan
debris dengan gigi yang akan membantu gerakan pembersihan sikat gigi serta
membantu mengikat dan mengangkat lapisan lemak sisa makanan pada permukaan
gigi dengan membentuk misel karena partikel surfaktan yang berbentuk lipid bilayer
yang meyusun 1-3% kandungan pasta gigi bahan yang sering digunakan antara lain
Natrium Lauryl Sulfat (SLS) dan Natrium N-Lauryl Sarcocinate.
e. Bahan pengawet (0,05-0,5%), berfungsi sebagai pencegah kontaminasi bakteri dan
mempertahankan keaslian produk. Bahan yang biasa digunakan adalah natrium
benzoate, nipagin, dan nipasol.
f. Bahan pemberi rasa (0-2%), berfungsi sebagai penutup rasa bahan-bahan lain yang
kurang enak, terutama SLS dan memenuhi selera pengguna.
g. Air (20-40%) berfungsi sebagai pelarut bagi sebagian bahan dan mempertahankan
konsistensi dari pasta gigi.
h. Bahan terapeutik, ada beberapa bahan aktif yang memiliki fungsi terapi bagi kesehatan
gigi dan mulut, antara lain:
1. Floride, berfungsi sebagai bahan antikaries dan berfungsi sebagai remineralisasi
karies awal. Bahan yang digunakan antaralain natriummonofluorofosfat dan
natrium fluoride.
2. Bahan desentisasi, berfungsi untuk mengurangi atau menghilangkan sensitivitas
dentin dengan cara efek desentisasi langsung pada serabut syaraf. Bahan yang biasa

2
digunakan antara lain Strontium klorida, Strontium asetat, Kaliumnitrat, dan kalium
fosfat.
3. Bahan anti kalkulus, berfungsi sebagai penghambat mineralisasi plak dan
mengubah pH untuk mengurangi pembentukan kalkulus. Bikarbonat ditambahkan
untuk mengurangi keasaman gigi. (Putri, MH, 2010)
Ciri-ciri pasta gigi yang baik yaitu:
a. Mempunyai daya abrasive yang minimal dan mempunyai daya pembersih yang
maksimal.
b. Dapat menyingkirkan kotoran-kotoran di mulut. Harus stabil dalam jangka waktu yang
lama.
c. Dapat bekerja dalam suasana asam maupun basa.
d. Dapat menghambat pertumbuhan dan membunuh bakteri dalam mulut.
e. Dapat mengurangi dan menghilangkan bau mulut.
f. Tidak beracun.
g. pH 4,5-10,5 (SNI, 1995).
h. memiliki daya sebar yang luas.
Pengelompokan pasta gigi berdasarkan fungsinya antaralain sebagai berikut:

a. Fungsi kosmetik yaitu untuk menyingkirkan alba, plak, sisa-sisa makanan dan stain
pada permukaan gigi serta menyegarkan napas.
b. Fungsi kosmetik terapeutikya itu untuk menghilangkan kalkulus dan gingivitis.
c. Fungsi terapeutik yaitu untuk mengurangi pembentukan plak, kalkulus gingivitis dan
sensitivitas gigi.
Pengertian Kalkulus, Plak, Stain dan Karies pada Gigi

 Kalkulus (karang gigi) merupakan suatu massa yang mengalami kalsifikasi yang
terbentuk dan melekat erat pada permukaan gigi. Kalkulus merupakan plak
terkalsifikasi. Jenis kalkulus di klasifikasikan sebagai supragingiva dan subgingiva
berdasarkan relasinya dengan gingival margin. Pembentukan kalkulus tidak hanya
dipengaruhi oleh jumlah plak di dalam mulut,tetapi juga dipengaruhi oleh saliva.
 Plak gigi merupakan deposit lunak yang melekat erat pada permukaan gigi, terdiri atas
mikroorganisme yang berkembang biak dalam suatu matrik interseluler jika seseorang
melalaikan kebersihan gigi dan mulutnya.

3
 Stain gigi adalah perubahan warna yang terjadi pada gigi karena adanya noda (stain).
Staining gigi dapat terjadi karena penggunaan produk tembakau, teh, kopi dan obat
kumur tertentu, dan pigmen di dalam makanan menyebabkan terbentuknya stain yang
akan menyebabkan permukaan gigi menjadi kasar sehingga mudah ditempeli sisa
makanan dan kuman yang akhirnya membentuk plak. Apabila tidak dibersihkan, plak
akan mengeras dan membentuk karang gigi (calculus) kemudian Sampai ke akar gigi,
akibatnya gusi mudah berdarah, gampang goyah dan tanggal.
 Karies gigi merupakan penyakit yang terjadi pada jaringan keras gigi yaitu email,
dentin dan sementum yang mengalami proses kronis regresif. Yang ditandai dengan
adanya demineralisasi jaringan keras gigi dan rusaknya bahan organik akibat
terganggunya keseimbangan email dan sekelilingnya, menyebabkan terjadinya invasi
bakteri serta kematian pulpa bakteri dapat berkembang ke jaringan periapeks sehingga
dapat menimbulkan rasa nyeri pada gigi. Karies gigi terjadi karena adanya interaksi
antara bakteri di permukaan gigi, plak atau biofilm dan diet, terutama komponen
karbohidrat yang dapat difermentasikan oleh bakteri plak menjadi asam, terutama
asam laktat dan asetat.

III. Evaluasi Produk Referen


a. Pasta gigi formula
Produsen : Uetra Prima Abadi
Indikasi : Memelihara gigi (email gigi) dan membuat gigi tampak putih berkilau
Komposisi : 0,1% phtalimidoperoxycaproic acid eureur 0,8% sodium
monoflourophospate precipitated calcium carbonated, sorbitol purified water,
hydratedsilica, PEG 600, sodium saurylsulphate, flavor, sodiumcarboxymethyl + cl
74260, DMDM hydantoin.
Kemasan : 190 gram
b. Pepsodent
Produsen : PT Unilever Indonesia Tbk
Indikasi : Mencegah gigi berlubang
Komposisi : Calcium carbonat, water, sorbitol, hydrated silica, sodium lauryl
sulfate, sodium monofluorophospate, flavor, cellulose gum, potassium citrate,
sodium silicate, sodium saccharin, DMDM hydantoin, CI 77891. Contains flouride.
Kemasan : 25 gram – 120 gram
4
c. Ciptadent
Produsen : PT Liver Wings Jakarta
Indikasi : Membantu mencegah gigi berlubang
Komposisi : Calcium carbonate, silica, sorbitol, propylene glycol, xanthan gum,
sodium lauryl sulfate, sodium saccharine, sodium monofluorophosphate, sodium
flouride, methyl paraben, flavour, vitamin a, vitamin c, vitamin e, xylitol, aqua.
Kemasan : 35 gram, 80 gram, 130 gram, 200 gram.
d. Antiplaque
Produsen : PT Triple Ace Corporation
Indikasi : Melindungi gigi dari masalah plaque, karang gigi, gigi berlubang, gusi
berdarah sariawan, membuat nafas lebih segar
Komposisi : Cloxifenol, Arnica tincture, Sodium Monoflourophosphate 0.8%,
Oleum Caryophyli
Kemasan : 75 gram
e. Close Up
Produser : PT Unilever Tbk Indonesia
Indikasi : Membuat gigi tampak putih, membersihkan kuman penyebab bau
mulut dan memeri kesegaran lebih lama
Komposisi : Sorbitol, water, hydrated silica, PEG 52, sodium laurylsulphate,
flavor, cellulose gum, sodium flouride, sodium saccharine, Cl 19140, Cl 42690
Kemasan : 60 gram
f. Sensodyne
Produser : PT. Sterling Products Indonesia
Indikasi : Menjaga mulut tetap bersih dan memberikan nafas yang segar dan
untuk gigi sensitive
Komposisi : Water, sorbitol, hydrated silica, potassium nitrat, coccimidiopropyl
betaine, flavour, xanthan gum, Cl 77891, sodium saccharine, sodium flouride,
sodium xydroxyde, sucralose,, sodium flouride 0,221% w/w, potassium nitrat
5,00% w/w
Kemasan :100 gram

5
IV. Jenis dan Contoh Bahan Tambahan dalam Formula
1. Abrasive agent

No Nama BM pH, Kelarutan Stabilitas Inkompatibili Pemerian


. Bahan (g/mol Titik tas
) Leleh

1. Kalsium 100,09 9,0 Praktis tidak Stabil, Tidak stabil Serbuk atau
Karbonat larut dalam harus dalam larutan kristal
825oC
(CaCO3) etanol 95%, disimpan asam dan berwarna
dan air. di tempat garam putih yang
HPE 6th
Kelarutan yang amonium tidak berasa
Ed, hal 86
dalam air tertutup dan tidak
meningkat rapat berwana
dengan
adanya
garam
amonium /
CO2.
Adanya
alkali
hidroksida
mengurangi
kelarutan

2. Kalsium 136,06 5,1-7,3 Praktis tidak Tidak Tidak dapat Serbuk atau
Fosfat larut dalam higroskop digunakan kristal padat
Tidak
eter, etanol is dan dalam berwarna
HPE 6th meleleh,
dan air. stabil formulasi putih, tidak
Ed, hal 94 terdeko
Larut dalam antibiotik berbau,
mposi
asam tetrasiklin tidak berasa
pada
425oC
untuk
terbentu

6
k
kalsium
pirofosf
at

3. Sodium 84,01 8,3 Praktis tidak Sodium Bereaksi Serbuk


Bikarbonat larut dalam bikarbona dengan garam putih tidak
270oC
etanol 95% t bubuk asam, garam berbau,
HPE 6th dengan
dan eter, stabil alkaloid berasa basa
Ed, hal pengura
larut dalam dibawah dengan
629 ian
air dengan 76% evolusi
perbandinga kelembab karbon
n 1:11; 1:4 an relatif dioksida
(100oC); pada
1:10 (25 C); 258oC
o

1:12 (18oC) dan


dibawah
48%
kelembab
an relatif
pada
408oC

Abrasive agent yang terpilih adalah Kalsium Karbonat (CaCO3)

Alasan : berupa serbuk putih yang tidak berbau dan tidak berasa sehingga akan mudah
dipadukan dengan bahan perasa dan pewarna lain. Selain itu, CaCO3 relatif stabil dalam
penyimpanannya..

2. Humektan (Bahan Pembasah)

7
N Nama BM Titik Kelarutan Stabilitas ADI Inkompatibili Pemerian
o. Bahan (g/mol) didih tas
dan
leleh

1. Gliserin 92,09 290oC Larut Higroskop 1.0–1.5 Dengan agen Cairan


dengan dalam air is g/kgBB pengoksidasi yang
(C3H8O3
pengur membentu seperti higroskopi
) Dapat
aian k cairan chromium s,
th mengkrist
HPE 6 kental trioxide, transparan
17,8oC al bila
Ed, hal potassium , tidak
disimpan
283 chlorate, atau berbau,
pada suhu
potassium tidak
rendah
permanganat berwarna,
e kental dan
rasa manis

2. Amoniu 193,16 Larut Higroskop Dengan agen Serbuk


m dalam air is, meski pengoksidasi dan
Alginat membentu stabil jika seperti asam granular
k cairan disimpan kuat dan berwarna
(C6H4N
kental, pada alkali kuning
O6)n
tidak larut kelembaba
th
HPE 6 dalam n relatif
Ed, hal etanol dan rendah
41 eter dan suhu
dingin

3. Propilen 76,09 188oC Dapat Berifat 25 Dengan agen Cairan


Glikol bercampur higroskopi mg/kg pengoksida transparan
-59oC
degan s BB sepeti , tidak
HPE 6th
aseton, potasium berbau,
Ed, hal Stabil bila
kloroform, permanganat kental,
592 dicampurk
dan eanol rasa agak

8
95%, larut an dengan manis
dalam 1:6 eanol
bagian 95%,
eter gliserin
atau air

Humektan (Bahan Pembasah) yang terpilih adalah Gliserin

Alasan : gliserin dapat sekaligus berfungsi sebagai pemanis, gliserin juga dapat larut dalam air

3. Surfaktan

9
No Nama bahan Pemerian Kelarutan ADI Inkompatibilitas Stabilitas

1. Sodium Terdiri dari Bebas larut SLS bereaksi Tidak stabil


Lauryl kristal dalam air, dengan pada ph
Sulfat berwarna praktis surfaktan dibawa 2,5
kuning pucat, tidak larut kationik (terhidrolisis)
HPE 6th Ed,
atau serbuk dalam sehingga
hal 651
berwarna putih kloroform kehilangan
halus, rasa dan eter efektivitasnya.
pahit,
Dengan logam
berbentuk
polivalen dan
serpihan
dan garam
kalium

2. Span Larutan Larut 25 Dapat Stabil dalam


(Sorbitan berminyak, dalam mg/k mengalami kondisi asam
Ester) tidak minyak, g perubahan atau basa
berwarna, bau serta warna dengan
HPE 6th Ed,
karakteristik pelarut adanya fenol
hal 675
dari asam organik, dan tanin
lemak tidak larut
dalam air
tapi dapat
terdispersi

3. Tween Cairan kental, Mudah 25 Efektivitas metil Mudah


(Polyoxyeth transparan, larut dalam mg/k paraben dapat teroksidasi dan
ylene tidak air, dalam g berkurang bersifat
Sorbitan berwarna, rasa etanol karena adanya higroskopis
Fatty Acid pahit 95%, Tween. Dapat
Esters) dalam mengalami
metanol perubahan
HPE 6th Ed,
pekat, warna dengan
hal 549
dalam etil adnya fenol dan

10
asetat tanin

Surfaktan yang terpilih adalah Sodium Lauryl Sulfat

Alasan : dapat digunakan sebagai surfaktan dalam kondisi asam maupun basa

4. Bahan pengikat (Binder)

N Nama Titik Viskosi Pemerian Kelarutan Inkompatibilita Stabilitas


o. Bahan Leleh tas s

1. Na-CMC 277oC 1% Serbuk Praktis Dengan larutan Viskositas dan


(Carboxy larutan granuler tidak larut asam dan stabilitas
methylce dengan berwarna dalam garama besi, maksimum
llulose viskosit putih, tidak aseton, alumunium, pada pH 7-9
Sodium) as 5- berbau, etanol 95%, merkuri, dan
Bersifat
th 2000 tidak eter dan zinc, serta
HPE 6 higroskopis
mPas berasa. toluena dengan xantan
Ed, hal seteleh
gum
118 dikeringkan
Dapat
membentuk
kompleks
dengan gelatin
dan pektin

2. Copovid 140oC Kurang Serbuk Larut 10% Tidak Stabil


one dari berwarna dalam 1,4- kompatibel disimpan
10% kuning butanediol, dengan bahan dalam
HPE 6th
dengan keputihan gliserol, farmasi kontainer yang
Ed, hal
viskosit butanol, organik dan kering dan
197
as 10 kloroform, anorganik tertutup rapat
mPas PEG 400.
(25oC) Larut 1 %
dalam

11
sikloheksan
a, dietil eter,
parafin cair
dan
pentana.

3. Etil 129- ≤6 Serbuk Praktis Tidak Bersifat


o
selulosa 133 C mPas berwarna tidak larut kompatibel higroskopis
75- putih cerah dalam dengan dan stabil
HPE 6th
140%; dan tidak gliserin, paraffin wax
Ed, hal
>6 berasa propilen dan
262
mPas glikol, dan microcrystallin
80- air. e wax.
120%

Bahan pengikat (Binder) yang terpilih adalah Na-CMC

Alasan : karena dapat membentuk larutan kental yang dapat mensuspensikan bahan obat
terutama untuk sediaan topikal.

5. Bahan pengawet (Preservatives)

N Nama BM pH Pemerian Kelarutan ADI Inkompatibi Stabilit


o Bahan (g/mol) optimum litas as

Pengguna Titik
an Leleh

1. Metil 152,15 4-8 Kristal Larut 1:2 10 Terhadap Stabil


paraben tidak etanol, mg/k bentonite, pada
0,015%- 125-128oC
(Nipagin berwarna, larut 1:3 gBB talc, minyak pH 3-6
0,02%
) serbuk etanol essential dengan
kristalin, 95%, larut dekomp
C8H8O2
berwarna 1:6 etanol osisi
th
HPE 6 putih tidak 50%, larut <10%.
Ed, hal berbau, 1:10 eter, Disimp

12
441 rasa larut 1:60 an pada
sedikit gliserin, wadah
seperti larut 1:400 kedap
terbakar air suhu udara
25oC, larut dan
1:50 air kering
suhu 50oC,
larut 1:30
air suhu
80oC, larut
1:5
propilengli
kol, praktis
tidak larit
dalam
mineral oil

2. Propil 180,20 4-8 Kristal Mudah 10 Aktibitas Stabil


paraben atau larut dalam mg/k antimikroba pada
0,01%- 295oC
(Nipasol serbuk aseton, gBB turun pH 3-6
0,07%
) putih, 1:1,1 dengan hingga
tidak etanol adanya 4 tahun
C10H12O
berbau, 95%; larut surfaktan tanpa
3
tidak 1:5,6 anionic mengal
th
HPE 6 berasa etanol seperti ami
Ed, hal 50%; polysorbate dekomp
596 mudah 80, nipasol osisi
larut dalam dapat (<10%)
eter, larut mengalami pada
1:250 hidrolisis suhu
gliserin, dengan ruang
larit 1:39 adanya basa
propilengli lemah atau
kol; larut
13
1:110 asam kuat
propilengli
kol 50%;
larut
1:4350 air
suhu 15oC;
larut 1:255
air suhu
15oC, larut
1:2500 air

3. Na 144,11 Kristal Air (1:8), 5 Gelatin, Ph 2-5


Benzoat granul etanol 95% mg/k garam Ca,
0,02%-
putih, (1:7,5), gBB garam Ferri
C7H5Na 0,5%
sangat etanol 90%
O2
higroskopi (1:50), air
th
HPE 6 s, amorf 100%
Ed, hal (1:1,4)
627

Bahan pengawet (Preservatives) yang terpilih adalah Metil paraben (nipagin) dan Propil
paraben (nipasol).

Alasan : kombinasi Metil paraben (nipagin) dan Propil paraben (nipasol) dapat mengatasi
mikroba dan jamur (memperluas spektrum aktivitas antimikroba).

6. Sweetening agent (Bahan Pemanis)

N Nama Pemerian Kelarutan ADI Inkompatibilit Stabilitas


O Bahan as

1. Sakarin Serbuk Dalam 25 Tidak pH 6,6 dalam


Na kristal yang etanol 95% mg/k mengalami 10% larutan
berwarna (1:50) gBB undergo
HPE 6th
putih, tidak dalam Maillard
Ed, hal

14
608 berbau, atau propilen browning
bau lemah glikol (1:33) (pencoklatan
Maillard)

2. Gliserin Jernih, tidak Dapat 1,0- Bismuth nitrat Bahan


berwarna, bercampur 1,5 jika higroskopis
HPE 6th
tidak berbau, dengan air g/kg dicampurkan
Ed, hal
higroskopis dan mineral BB dengan
283
dan rasa serta oxidazing
manis alkohol agent menjadi
berwarna
pekat

3. Sukrosa Serbuk Sangat Sukrosa bubuk Stabilitas baik


kristal, tidak mudah larut mungkin pada suhu kamar,
HPE 6th
berwarna, dalam air, terkontaminasi stabilitas sedang
Ed, hal
atau serbuk sukar larut dengan jejak pada kelembaban
703
krital putih, dalam logam berat,
tidak berbau etanol terkontaminasi
dan rasa dengan sulfit
manis dan proses
pemurnian

Bahan pemanis yang terplih adalah Sakarin Na

Alasan : karena Sakarin Na 300 kali lebih manis daripada sukrosa dan harganya murah.

7. Bahan Aroma

No Nama Pemerian Kelarutan ADI Inkompatibilit Stabilitas


Bahan as

15
1. Menthol Serbuk Larut dalam 0,4 Butilkloralhidr Stabil pada suhu
kristal tidak aseton dan mg/k at,champor 25°C dalam
HPE 6th
berwarna, benzena, gBB dan wadah tertutup
Ed, hal
dengan larut dalam kloralhidrat
433
karaktristik gliserin,
rasa dan bau praktis tidak
yang kuat larut dalam
air

2. Asam Serbuk Larut dalam Dengan agen Tidak


Adipat kristal aseton, etil pengoksidasi higroskopis,
berwarna asetat dan kuat stabil namun
HPE 6th
putih, tidak metanol, terurai diatas titik
Ed, hal 11
berbau, praktis tidak didih
struktur larut dalam
kristal petroleum
monosiklik eter
halohedral

3. Denatoniu Serbuk Larut dalam Dengan agen Stabil pada suhu


m Benzoat kristal atau kloroform pengoksidasi 140°C dalam
granul dan metanol kuat rentang pH yang
HPE 6th
berwarna serta air, luas
Ed, hal
putih dan tidak larut
217
pahit dalam eter

Bahan Aroma yang terpilih adalah Menthol

Alasan : dapat memberikan sensasi dingin dan segar

16
8. Susunan Formula dan Komposisi Bahan yang direncanakan

Formula acuan (Nursal,2001)

R/ Ekstrak daun jambu biji 2%

Na-CMC 0,75%

CaCO3 42%

Gliserin 25%

Na-Lauril Sulfat 2%

Na-Sakarin 0,2%

Minyak Permen 0,5%

Metil Paraben 0,18%

Propil Paraben 0,02%

Aquadest 27,35%
Tabel Rancangan Formula dalam Kemasan

No Bahan Fungsi Konsentrasi Jumlah 30 g Jumlah 50 g

1. Na-CMC Binder (pengikat) 2% 0,6 g 1g

2. CaCO3 Abrasive 39% 11,7 g 19,5 g

3. Gliserin Humektan 12% 3,6 g 6g

4. Na-Lauril Sulfat Surfaktan 1,5% 0,45 g 0,75 g

5. Na-Sakarin Sweetening agent 0,2% 0,06 g 0,1 g

6. Menthol Corigen odoris 0,3% 0,09 g 0,15 g

7. Metil Paraben Pengawet 0,18% 0,054 g 0,09 g

8. Propil Paraben Pengawet 0,02% 0,006 g 0,01 g

17
9. Aquadest Pelarut 44,8% 13,44 g 22,4 g

Perhitungan Bahan

1. Na-CMC
Untuk 30 gram : x 30 = 0,6 gram

Untuk 50 gram : x 50 = 1 gram

2. CaCO3
Untuk 30 gram : x 30 = 11,7 gram

Untuk 50 gram : x 50 = 19,5 gram

3. Gliserin
Untuk 30 gram : x 30 = 3,6 gram

Untuk 50 gram : x 50 = 6 gram

4. Na-Lauril Sulfat
Untuk 30 gram : x 30 = 0,45 gram

Untuk 50 gram : x 50 = 0,75 gram

5. Na-Sakarin
Untuk 30 gram : x 30 = 0,06 gram

Untuk 50 gram : x 50 = 0,1 gram

6. Menthol
Untuk 30 gram : x 30 = 0,09 gram

Untuk 50 gram : x 50 = 0,15 gram

7. Metil Paraben
Untuk 30 gram : x 30 = 0,054 gram

Untuk 50 gram : x 50 = 0,09 gram

8. Propil Paraben
Untuk 30 gram : x 30 = 0,006 gram

Untuk 50 gram : x 50 = 0,01 gram

18
9. Aquadest
Untuk 30 gram : x 30 = 13,44 gram = 13,4 ml

Untuk 50 gram : x 50 = 22,4 gram = 22,4 ml

9. Metode Praktikum
6.1. Alat
 Mortir
 Stemper
 Beaker glass
 Batang pengaduk
 Timbangan analitik
 Gelas ukur
 Tabung reaksi
 Pipet tetes
 Cawan porselen
6.2. Bahan
 CMA-Na
 CaCO3
 Gliserin
 Na lauril sulfat
 Na sakarin
 Menthol
 Metil paraben
 Propil paraben
 Aquadest
 Alkohol 96%
6.3. Cara kerja
Batch 50 g

19
Bahan yang diperlukan ditimbang sesuai dengan formula

Ditaburkan CMC Na 1 g secara merata pada air panas sebanyak 20 kali berat
CMC Na (20 ml) (a)

Metil paraben 0,09 g dan propil paraben 0,01 g dilarutkan dalam gliserin 6 g
dalam cawan porselen diaduk homogen, lalu ditambahkan ke (a)

SLS 0,75 g dilarutkan dalam air 2,4 ml hingga larut. Lalu sakarin 0,1 dilarutkan
dalam larutan SLS dan air

Campuran SLS dan sakarin dalam air tersebut dimasukkan dalam (a)

Dilarutkan menthol 0,15 g dengan alkohol 96% hingga larut kemudian CaCO3
19,5 g dimasukkan ke dalam campuran tersebut

Campuran menthol dan CaCO3 dalam alkohol 96% tersebut dimasukkan ke


dalam campuran (a) lalu diaduk homogen hingga terbentuk pasta

Pasta gigi dimasukkan dalam wadah tube dan dimasukkan dalam kemasan

10. Evaluasi Sediaan Gel


1. Uji organoleptis
Uji ini dilakukan dengan melakukan pengamatan sediaan pasta secara kualitatif yang
meliputi:
- Warna
- Rasa
- Bau
- Bentuk sediaan
2. Uji pH
Alat : Kertas indikator pH
Syarat: 6,5-7,5

20
Diambil beberapa ml sediaan pasta dalam beaker glass

Dicelupkan kertas indikator pH ke dalam larutan pasta

Kertas dikeluarkan, dicocokkan perubahan warna kertas dengan standar ukuran


beberapa pH pada kemasan indikator pH

3. Uji viskositas
Alat : VT – 03E (Viskotester)
Syarat: 200-400 cPas

Memasukkan sampel ke dalam beaker glass

Dipilih spindel yang cocok

Dimasukkan spindel dalam sediaan pasta

Dinyalakan viskotester hingga menunjukkan viskositas tertentu

4. Uji Busa
Alat : Tabung reaksi

Dilarutkan 1 gram pasta dengan 25 ml air

Dituang 5 ml larutan ke dalam tabung reaksi

Ditutup atas tabung dengan jari tangan, lalu dikocok sebanyak 25 kali

Diamati busa yang terjadi selama 30 menit untuk melihat kestabilan busanya,
lalu diukur tinggi busa dengan penggaris.

21
5. Uji daya sebar
Alat : Double plate

Pasta sebanyak 1 gram diletakkan pada lempeng kaca berskala, lalu diatasnya
ditutup lempeng kaca dan diberi beban 5 gram lalu diamkan.

Lalu beban ditambah dengan beban 5 gram tiap 2 menit, hingga pasta tidak
dapat melebar lagi diameter sebarnya

11. Pembahasan
8.1. Hasil formulasi
Pada Praktikum kali ini kami melakukan pembuatan sediaan semisolid yaitu,
pasta gigi. Pada pembuatan pasta gigi ini kami menggunakan beberapa bahan-bahan
yangkemudian kami susun menjadi sebuah formula pasta gigi dengan formula:
R/ CMC-Na 2%
CaCO3 39 %
Gliserin 12 %
Na-Lauril Sulfat 1,5 %
Na-Sakarin 0,2 %
Menthol 0,3 %
Metil Paraben 0,18 %
Propil Paraben 0,02 %
Aquadest 41,3 %
Pada Formula di atas terdapat Na-CMC, Na-CMC berfungsi sebagai pengikat,
yaitu untuk mempertahankan viskositas pasta agar diperoleh bentuk pasta yang tidak
terlalu lembek dan encer. Selanjutnya Kalsium Karbonat, disini kalsium karbonat
berfungsi sebagai bahan abrasive, yaitu menghilangkan plak dan penyebab timbulnya
bakteri seperti partikel-partikel makanan yang menempel pada lapisan. Gliserin
berfungsi sebagai humektan, yaitu untuk mempertahankan sediaan pasta agar tidak
kering. Na-lauril sulfat berfungsi sebagai surfaktan. Na-sakarin sebagai pemanis atau
sweetening agent. Menthol berfungsi dalam memberikan rasa segar di mulut dan bau
yang enak atau sering disebut sebagai corigen odoris. Metil paraben dan propil
paraben digunakan sebagai pengawet dan aquadest sebagai pelarut.
Pasta gigi dibuat dalam bentuk pasta karena suatu sediaan pasta karena sediaan
pasta lebih stabil daripada sediaan larutan. Pasta mengandung lebih sedikit air
22
sehingga dapat meminimalkan pertumbuhan bakteri dan juga sediaan pasta lebih
acceptable karena konsistensi pasta lebih padat sehingga ketika digunakan lebih
nyaman, tidak meluber, bisa menempel pada permukaan gigi sehingga dapat
membersihkan permukaan gigi.
Setelah merancang formula seperti diatas kami membuat sediaan pasta gigi,
pada proses pembuatan diperoleh suatu sedian pasta gigi yang baik pada batch kecil,
namun pada pembuatan batch besar warna yang dihasilkan berbeda dengan batch kecil
(tidak seputih batch kecil) karena CaCO3 yang digunakan di batch kecil habis dan
diganti yang baru dengan warna CaCO3 yang berbeda yaitu tidak putih melainkan
kekuningan. Meskipun begitu hasil batch besar juga baik hanya saja warnanya tidak
semenarik batch kecil. Hasil sediaan yang didapat setelah praktikum adalah sediaan
tidak terlalu lembek, kenyal, tidak keras, dan tidak berbusa. Namun setelah disimpan
beberapa hari muncul sedikit busa dalam sediaan.
Pembuatan dilakukan dengan beberapa mekanisme diantaranya yaitu pertama-
tama kami menimbang dan menyiapkan semua bahan sesuai formula dan kadar serta
bobot yang telah ditentukan. Setelah semua bahan disiapkan, selanjutnya kami
mengembangkan CMC-Na dalam air dengan cara menaburkan CMC-Na diatas
permukaan air panas dengan volume 20 kali jumlah CMC-Na pada mortir dan
didiamkan beberapa saat hingga mengembang. Sambil menunggu CMC-Na
mengembang kami melarutkan nipagin dan nipasol dalam gliserin di cawan porselen.
Selain itu kami juga mencampurkan Na-Lauril Sulfat dengan aquadest dalam beaker
glas. Setelah homogen ditambahkan Na-sakarin dan diaduk hingga homogen. Setelah
CMC-Na mengembang, CMC-Na digerus hingga homogen dengan perlahan dan
konstan. Hal tersebut dilakukan karena Na-Lauril Sulfat mudah berbusa atau terjadi
penyabunan. Lalu kami mencampurkan larutan nipagin nipasol dan Na-Lauril Sulfat
ke dalam mortir berisi CMC-Na. Menthol dilarutkan dalam beberapa tetes metanol
96% dan ditambahkan CaCO3 lalu dihomogenkan. Setelah homogen campuran
menthol dan CaCO3 dimasukkan ke mortir, lalu diaduk hingga homogen dengan
perlahan dan konstan sehingga sediaan pasta jadi dan dimasukkan ke dalam kemasan
Setelah sediaan yang kami buat jadi, untuk mengetahui apakah sediaan pasta
gigi yang kami buat itu memenuhi spesifikasi yang diinginkan maka kami melakukan
beberapa uji diantaranya adala uji viskositas, uji tingkat keasaman (pH), uji daya
sebar, dan uji busa.

23
8.2. Hasil uji evaluasi yang terpilih
1. Uji Organoleptis
Pada praktikum kali ini telah dilakukan uji organoleptis yaitu pemeriksaan yang
digunakan untuk mengetahui estetika dari sediaan pasta ini dengan menggunakan
bantuan indera, meliputi bau, tekstur, warna. Bentuk sediaan berupa pasta. Uji bau
dilakukan dengan cara mencium sediaan pasta dan dihasilkan bau menthol. Uji warna
dilakukan dengan mengamati warna sediaan dan dihasilkan warna putih kecokpatan.
2. Uji pH
Berdasarkan hasil uji pH, sediaan pasta memiliki pH 6 dan memenuhi persyaratan
mutu pasta gigi SNI 12-3524-1995, yaitu 4,5 – 10,5. pH pasta gigi hendaknya
disesuaikan dengan pH mulut (saliva). pH saliva yang optimum untuk menghambat
pertumbuhan bakteri adalah 6,5 -7,5, apabila pH saliva rendah maka akan
memudahkan pertumbuhan kuman seperti Streptococcus mutans dan Lactobacillus.
3. Uji Busa
Berdasarkan hasil uji busa, setelah 25 kali pengocokan dan diamati selama 30 menit
didapatkan ketinggian busa 5 cm. Hal ini menandakan adanya Sodium Lauril Sulfat
yang membuat pasti gigi menjadi berbusa.
4. Viskositas
Viskositas adalah suatu pernyataan tahanan dari suatu cairan untuk mengalir, makin
tinggi viskositas, akan makin besar tahanannya. Viskositas merupakan suatu sifat
cairan yang berhubungan erat dengan hambatan untuk mengalir, kekentalan
didefinisikan sebagai gaya yang diperlukan untuk menggerakkan secara
berkesinambungan suatu permukaan datar melewati permukaan datar lain dari kondisi
mapan tertentu bila ruang dalam permukaan tersebut diisi dengan cairan yang akan
ditentukan kekentalannya.Viskometer yang digunakan pada praktikum kali ini adalah
VT-03, pemeriksaan viskositas dilakukan untuk melihat konsistensi pasta dan pada
percobaan menghasilkan nilai viskositas sebesar 160 dPa.s. Sediaan pasta gigi
direncanakan memiliki viskositas atau kekentalan yang tinggi dimana pasta
merupakan sediaan yang bagian padatnya lebih besar dibanding bagian cair.
Kekentalan yang besar sesuai dengan persyaratan pasta yang mengharuskan memiliki
kekentalan yang tinggi. Oleh karena itu pasta gigi harus kental dan tidak boleh terlalu
cair seperti air.
5. Uji Daya Sebar

24
Diameter hasil pengujian daya sebar dari pasta gigi yang kami buat ialah 4,4 cm,
selama 20 menit dengan berat dari 5 gram-100 gram. Dari hasil tersebut dapat
diketahui pasta gigi yang kami buat memiliki daya sebar yang cukup luas sehingga
kemungkinan besar pasta gigi yang kami buat dapat menyebar dan memiliki
jangkauan yang luas pada bagian mulut dan gigi saat digunakan.

8.3. Titik kritis


- Penimbangan bahan
Praktikan harus memastikan bahan yang ditimbang sesuai dengan syarat
konsentrasi yang dapat digunakan. Penimbangan diusahakan tidak beda jauh
dengan berat teoritis masing-masing bahan karena perbedaan berat yang jauh
dapat mempengaruhi formulasi sediaan
- Penaburan CMC-Na
Pada saat menaburkan CMC-Na diatas air panas dalam mortir dipastikan CMC-
Na tersebar merata ke seluruh permukaan agar terbentuk mucilago yang baik.
- Pengadukan
Dalam mengaduk atau mencampur semua bahan dalam mortir, diusahakan jangan
terlalu cepat karena biasanya dapat menyebabkan sediaan menyabun. Sediaan
pasta gigi memiliki konsentrasi padatan yang lebih besar dan memiliki viskositas
yang lebih besar juga.
8.4. Kelebihan dan kekurangan sediaan pasta gigi
Kelebihan:
 Pasta gigi mempunyai banyak rasa; dapat memutihkan gigi; membersihkan dan
menghilangkan sisa makanan, plak dan noda; mencegah gigi berlubang ;menjaga
kesehatan gigi dan gusi; menghilangkan bau yang tidak sedap dalam rongga
mulut; menyegarkan dalam pernafasan, dapat mencegah kerusakan gigi yang
disebabkan oleh aktivitas bakteri dalam mulut; mencegah terjadinya karang gigi
dan radang gusi
 Terdapat kandungan flouride yang dapat mengurangi risiko karies gigi. Bakteri di
mulut hidup dari gula dan pati yang menempel pada gigi setelah makan. Fluoride
membantu melindungi gigi dari asam yang dilepaskan bakteri saat memakan gula
dan pati tersebut. Hal ini dilakukan dalam dua cara. Pertama, fluoride membuat
enamel gigi lebih kuat sehingga lebih kecil kemungkinannya untuk terjadi

25
kerusakan gigi karena asam yang dilepaskan oleh bakteri. Kedua, fluoride dapat
memineralisasi kembali daerah gigi yang sudah mulai membusuk sehingga
kerusakan gigi tidak cepat terjadi.
Kerugian
 Kandungan fluoride yang melebihi batas pada pasta gigi juga dapat merusak gigi.
Kerusakan gigi yang disebabkan karena gigi terpapar fluoride dengan kadar
sangat tinggi dinamakan fluorosis. Fluorosis biasanya terjadi pada anak-anak
karena gigi anak terpapar fluoride yang tinggi pada pasta gigi saat anak berusia 8
tahun di mana gigi permanen baru mulai tumbuh.
 Hal lain yang dapat menyebabkan fluorosis pada anak adalah karena anak dengan
sengaja menelan pasta giginya. Mungkin karena rasanya enak seperti permen
sehingga mereka berpikir ingin memakannya. Dampak dari fluorosis adalah warna
gigi anak berubah, bisa warna gigi lebih gelap berkisar dari kuning ke coklat atau
adanya tanda/bintik putih pada gigi.
 Solusinya memilih pasta gigi khusus untuk anak. Biasanya pasta gigi untuk anak
mengandung fluoride yang lebih rendah dari pasta gigi biasanya, yaitu kurang dari
600 ppm. Namun, pemilihan pasta gigi yang mengandung fluoride sangat rendah,
yaitu 250 ppm, dirasa kurang efektif dalam mencegah karies pada gigi permanen.

26
12. Kesimpulan

Pasta gigi dibuat dalam bentuk pasta, karena sediaan pasta lebih stabil daripada
sediaan larutan, yang digunakan untuk membersihkan permukaan gigi.

Dalam pembuatan sediaan pasta gigi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan,
diantaranya pada saat penimbangan bahan, penaburan CMC-Na, dan pengadukan bahan.

Sediaan pasta gigi mempunyai kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihan sediaan
pasta gigi yaitu mempunyai banyak rasa dan mengandung fluoride yang dapat mengurangi
risiko karies gigi. Sedangkan kekurangannya yaitu apabila kandungan fluoride terlalu
banyak dapat menyebabkan kerusakan gigi, pada kasus anak-anak seringkali mereka
menelan sediaan pasta gigi yang dapat berisiko menyebabkan fluorosis.

Dari penjelasan pada pembahasan dapat disimpulkan bahwa sediaan yang dibuat
kurang baik, yakni dengan hasil evaluasi:
1. Organoleptis :
Warna : putih kecokelatan (dikarenakan bahan abrasive berwarna cokelat)
Aroma : menthol
Rasa : manis
2. pH : 6
3. Viskositas : 160 dPas (no 2)
4. Daya Sebar : 4,4 cm (100 gram, 20 menit)
5. Uji Buih : 5 cm

27
XI. Rancangan Etiket, Brosur, dan Kemasan

Figure 1 Kemasan

Figure 2 Brosur

28
Lampiran

Ditimbang semua bahan CMC Na ditaburkan CMC NA dalam air panas


dalam air panas digerus setelah
mengembang (a)

Nipagin dan nipasol Campuran nipagin, Na Lauril Sulfat


dilarutkan dalam gliserin nipasol, dan gliserin dimasukkan dalam air, lalu
masuk dalam (a) dimasukkan dalam (a)

Sakarin dilarutkan dalam sls Campuran sakarin, sls, dan Menthol dilarutkan dengan
dan air air dimasukkan dalam (a) alkohol

29
CaCO3 dicampurkan Campuran CaCO3, Semua bahan masuk
kedalam menthol dan menthol, dan alkohol dalam (a) diaduk ad
alcohol dimasukkan dalam homogen
(a)

Hasil uji viskositas Hasil uji PH Hasil uji buih

Hasil uji daya sebar

30
Daftar Pustaka

Anonim, 1995, Farmakope Indonesia, Edisi IV, Departemen Kesehatan Republik

Indonesia, Jakarta

Ansel, H. C. 2005. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta : UI Press

Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI. 1996. Daftar Komposisi Zat Gizi Pangan
Indonesia. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

Lieberman, H., A., Coben, L., J. 1994. Sediaan Semisolid. dalam Lachman, L., Lieberman,
H., A., Kanig, J., L., 1994, Teori dan Praktek Farmasi Industri

Pratiwi, R. 2007. Perbedaan Daya Hambat terhadap Streptococcus mutans dari


Beberapa Pasta Gigi yang Mengandung Herbal. Dental Journal, Vol. 38 (2):65-67.

Putra, T. 2002. Pasta Gigi yang Mengandung Fluor sebagai Salah Satu Bahan untuk
Mencegah Terjadinya Stomatitis Gigi Tiruan. Jurnal PDGI. Edisi khusus tahun ke-52:
330.

Raymond C Rowe, Paul J Sheskey and Siân C Owen. 2006. Handbook of Pharmaceutical
Excipients 5th Edition. UK : Royal Pharmaceutical Society of Great Britain London

Sasmita, I., Pertiwi dan A., Halim. 2007. Gambaran Efek Pasta Gigi yang
Mengandung Herbal Terhadap Penurunan Indeks Plak. Jurnal PDGI, edisi
khusus PIN IKGA II: 37-41

Sean C Sweetman. 2009. Martindale 36th edition. London : Pharmaceutical Press

31

Anda mungkin juga menyukai