Anda di halaman 1dari 5

Nama : Umi Rahmiati

NIM : 70200118009

Mata Kuliah : Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat

ANALISA PENGEMBANGAN DAN PENGORGANISASIAN MASYARAKAT


DENGAN ORIENTASI KEGIATAN PBL

Narasumber : Shavira Tenriwaru (2016)

Lokasi PBL : Dusun Borongloe, Desa Pallantikang, Kecamatan Pattallassang,


Kabupaten Gowa.

Waktu PBL : 15-26 Juli 2019

Posko : 10

Pada PBL I dilakukan pendataan kepada masyarakat untuk mengidentifikasi


masalah kesehatan masyarakat yang ada di dusun tersebut. kemudian dilanjutkan
dengan merumuskan prioritas masalah serta melaksanakan intervensi dari prioritas
masalah tersebut. Sehingga adapun prioritas masalah yang ditemukan adalah sebagai
berikut :
1. Masalah Kesehatan Lingkungan
2. Masalah PHBS Sekolah
3. Masalah kesehatan kerja (Penggunaan APD)
Namun setelah dilakukan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) tingkat dusun
Borongloe dengan menghadirkan beberapa tokoh penting; tokoh masyarakat, tokoh
agama dan dan beberapa masyarakat dusun Borongloe. Dari hasil FGD tersebut
didapatkan bahwa masalah PHBS di Sekolah merupakan masalah utama untuk
dilakukan intervensi kesehatan khususnya pada siswa (i) sekolah dasar. Serta
pemanfaatan asset masyarakat berupa kegemaran masyarakat dalam bercocok tanam
di dusun tersebut.
Pada PBL II intervensi yang dilaksanakan adalah intervensi fisik dan non fisik.
Berikut yang merupakan intervensi non fisik pada PBL II, yaitu :
Penyuluhan tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Intervensi ini
adalah untuk meningkatkan pemahaman anak untuk melakukan pola hidup bersih dan
sehat dalam kehidupan sehari hari, meningkatkan kesadaran menggunakan sikat gigi,
cuci tangan dengan baik dan benar serta bahaya jajan sembarangan. Adapun sasaran
dalam kegiatan ini ditujukan kepada siswa dan siswi SD Inpres Bolangi I kelas III, IV,
dan V yang mengikuti penyuluhan PHBS.
Sedangkan intervensi fisik yang dilakukan pada PBL II yang merupakan suatu
bentuk kegiatan yang menekankan pada kinerja fisik yang merupakan wujud atau
realisasi dari proses upaya pemecahan masalah kesehatan. Adapaun intervensi fisik
yang telah terlaksana pada PBL II ini yaitu :
1. Pembentukan Duta PHBS
Kegiatan ini ditujukan pada anak siswa (i) kelas III, IV, dan V SDI
Bolangi I untuk memilih dan melatih kemampuan siswa (i) SDI Bollangi I
dalam berperilaku hidup bersih dan sehat di sekolah serta menciptakan
generasi yang mampu menjadi contoh serta bermanfaat dalam mewujudkan
lingkungan sekolah yang bersih dan sehat.
2. Pembuatan Toga Percontohan
Kegiatan ini dilakukan untuk mengenalkan dan memberikan
pengetahuan kepada masyarakat terkait manfaat kehadiran tanaman obat di
halaman rumah untuk memberdayakan masyarakat melalui pemberian contoh
berupa penanaman tanaman obat keluarga di rumah salah seorang kader
TOGA. Sasaran dalam kegiatan intervensi ini adalah Kader TOGA,
Masyarakat dan Tokoh Masyarakat dusun Borongloe.
Pada PBL III dilakukan evaluasi dari program kerja yang telah dijalankan di
PBL II, yaitu :
1. Pada interverensi Duta PHBS dianggap berhasil karena mampu menjadi
contoh bagi siswa (i) lainnya dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan
sehat di sekolah dan Duta PHBS dapat berperilaku hidup bersih dan sehat di
sekolah. Kemudian dilakukan interverensi lanjutan berupa pendampingan
kegiatan penyuluhan oleh Duta PHBS duta PHBS mampu memberikan
penyuluhan sederhana terkait Perilaku hidup bersih dan sehat di sekolah dan
meningkatknya pengetahuan siswa (i) tentang PHBS setelah mendapatkan
penyuluhan dari duta PHBS.
2. Pada interverensi tanaman obat keluarga (TOGA) dianggap kurang berhasil
karena masih banyak masyarakat belum dapat memahami tentang jenis – jenis,
manfaat serta cara mengolah tanaman obat, sehingga sebagian besar
masyarakat belum mampu memanfaatkan tanaman obat keluarga. Tetapi
masyarakat telah menambahkan jenis tanaman obat pada TOGA percontohan
sesuai dengan pengetahuan masyarakat tersebut.
Adapun faktor pendukung yang mempengaruhi sehingga kegiatan PBL ini dapat
berjalan dengan sesuai harapan karena dukungan dari tokoh masyarakat, antusias
warga setempat dalam melakukan kegiatan tersebut dan keterlibatan langsungnya
masyarakat dalam membuat tanaman obat keluarga. Sedangkan faktor penghambat
yang mempengaruhi sehingga kegiatan PBL ini tidak berjalan dengan sesuai haparan
karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pemanfaatan dan pengolahan
TOGA sehingga masyarakat cenderung mengabaikan TOGA dan hanya
menjadikannya sebagai tanaman hias dan tanaman obat tersebut mati karena dimakan
atau dirusak hewan.
Proses praktek belajar lapangan yang dilakukan mahasiswa jurusan kesehatan
masyarakat dapat memberikan pengalaman tentang peran tenaga kesehatan. Program
kerja yang dilakukan pada saat PBL dapat ditentukan dengan mempertimbangkan
prinsip pemberdayaan masyarakat, sebagai berikut :
a. Menumbuhkembangkan potensi masyarakat
Masyarakat di wilayah tersebut gemar bercocok tanam, maka
dilakukan pembuatan tanaman obat keluarga untuk mengenalkan dan
memberikan pengetahuan kepada masyarakat terkait manfaat kehadiran
tanaman obat di halaman rumah untuk memberdayakan masyarakat.
Kemudian, dengan diadakannya kegiatan Duta PHBS menciptakan generasi
yang mampu menjadi contoh serta bermanfaat dalam mewujudkan lingkungan
sekolah yang bersih dan sehat.
b. Mengembangkan gotong-royong masyarakat
Pembuatan tanaman obat keluarga mampu menumbuhkan semangat
gotong-royong pada masyarakat karena tingginya sikap saling tolong
menolong di dusun tersebut dan telah dilakukannya penyuluhan kepada kader
toga tentang manfaat tanaman obat keluarga.
c. Menggali konstribusi masyarakat
Kegiatan Forum Grup Discussion (FGD) dilakukan agar dapat
menggali kebiaasaan serta adat istiadat dalam wilayah tersebut dan
bagaiamana konstribusi masyarakat untuk dapat bekerja sama menjalankan
kegiatan tersebut.
d. Menjalin kemitraan
Anggota PBL mampu menjalin hubungan yang baik dengan
masyarakat sekitar sehingga masyarakat turut andil dalam pelaksanaan
kegiatan tersebut dan kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar.

Kesimpulan
Setelah dilakukan analisis PPM yang dilakukan pada saat PBL dapat ditarik
keseimpulan, bahwa :
1. Proses pemberdayaan dan pengorganisasian masyarakat yang dilakukan pada
saat PBL telah dilaksanakan karena masyarakat sudah diberikan pemahaman
tentang PHBS dan mereka mengaplikasikannya terkhusus anak kelas 3,4, dan
5 di SD tersebut. Kemudian, masyarakat juga turut andil dalam pembuatan
tanaman obat keluarga.
2. Pengembangan yang dilakukan adalah pembentukan Duta PHBS agar melatih
kemampuan siswa (i) SDI Bollangi I dalam berperilaku hidup bersih dan sehat
di sekolah serta menciptakan generasi yang mampu menjadi contoh serta
bermanfaat dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang bersih dan sehat
meningkatknya pengetahuan siswa (i) tentang PHBS setelah mendapatkan
penyuluhan dari duta PHBS.
3. Dilakukannya pembuatan tanaman obat keluarga agar dapat mengenalkan dan
memberikan pengetahuan kepada masyarakat terkait manfaat kehadiran
tanaman obat di halaman rumah untuk memberdayakan masyarakat. Tetapi
program ini tidak berjalan dengan lancar karena pengetahuan masyrakat
tentang tanaman dan manfaatnya sangat kurang sehingga toga hanya menjadi
tanaman hias.