Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM MANAJEMEN SATWA LIAR DAN

DINAMIKA POPULASI (MSDP)


“ANALISIS POPULASI MONYET EKOR PANJANG DI
HUTAN KAMPUS UNIVERSITAS JAMBI-MENDALO”
KELOMPOK 6
Disusun oleh:
1. Yola Yolanda D1D015065
2. M. Yudhi Pangestu D1D015060
3. M. Andi Moses Y. Hutasoit D1D015088
4. Iyut Simanjuntak D1D015098
5. Joko Asmoro Hadi D1D016103

Dosen Pengampu Mata Kuliah:


Novriyanti, S.Hut, M.Si

Program Studi Kehutanan


Fakultas Kehutanan
Universitas Jambi
2018
ANALISIS POPULASI MONYET EKOR PANJANG DI HUTAN
KAMPUS UNIVERSITAS JAMBI-MENDALO
ANALYSIS OF A POPULATION Macaca fasicularis (Raffles,1821) IN
THE FOREST CAMPUS OF THE UNIVERSITY JAMBI-MENDALO
1Yola Yolanda, 2M. Yudhi Pangestu, 3M. Andi Moses Y. Hutasoit,4 Iyut

Simanjuntak, 5Joko Asmoro Hadi.


Mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Jambi, Jambi Indonesia
e-mail: 2 yudhpangest@gmail.com;

ABSTRAK
Universitas Jambi, Mendalo Darat merupakan habitat bagi Monyet
Ekor Panjang (Macaca fascicularis Raffles 1821) khsususnya di kawasan
Hutan Pendidikan Universitas Jambi. Monyet Ekor Panjang (merupakan
salah satu spesies primata yang memiliki persebaran wilayah geografis
yang luas. Maka dari itu dilakukan analisis populasi monyet ekor panjang
untuk mendapatkan jumlah individu dalam populasi, nisbah kelamin dalam
satu populasi dan struktur umur Monyet Ekor Panjang. Dari hasil
praktikum ditemukan bahwa populasinya sekitar 123 ekor dengan rataan
13,66 atau 14 ekor, untuk struktur umurnya dimulai dari bayi terdapat
sekitar 10 ekor dengan rataan 2.5 atau 3 ekor. Anakan terdapat sekitar 47
ekor dengan rataan 6.71 atau 7 ekor. Selanjutnya pada kelas umur muda
terdapat sekitar 37 ekor dengan rataan 4.11 atau 5 ekor dan pada
tingkatan akhir yakni dewasa terbagi menjadi 2, jantan dan betina. Pada
dewasa jantan ditemukan sekitar 11 ekor dengan rataan 2.16 ekor atau 3
ekor. Pada betina terdapat sekitar 16 ekor dengan rataan 2.66 atau 3 ekor
dan didapatkan perbadingan seks rasio jantan dan betinanya adalah 1:1.

Kata Kunci : Monyet Ekor Panjang, Populasi, Nisbah Kelamin, Struktur


Umur

ABSTRACT

University of Jambi, Mendalo Darat is the habitat for the Long-tailed


Monkey (Macaca fascicularis Raffles 1821) especially in the Jambi
University Forest Education area. Long-tailed monkeys (one of the primate
species that has a wide geographical distribution), therefore analyzes the
long-tailed monkey population to obtain the number of individuals in the
population, the sex ratio in one population and the age structure of the
Long-tailed Monkey. the population is about 123 heads with 13.66 or 14
birds average, for the age structure starting from the baby there are about
10 with a average of 2.5 or 3 tail.As about 47 animals with an average of
6.71 or 7.Then in the young age class there are about 37 tail with average
4:11 or 5 tail and at the final level of adult divided into 2, male and
female.In adult male was found about 11 tail with average of 2.16 tail or 3
tail.In female there are about 16 tail with average 2.66 or 3 tail and sex
male and female ratio is 1: 1.

Keywords: Long-tailed Monkey, Population, Sex Ratio, Age Structure


PENDAHULUAN

Latar Belakang

Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis Raffles 1821) merupakan


salah satu spesies primata yang memiliki persebaran wilayah geografis
yang luas. Monyet Ekor Panjang terdapat pada berbaiagi tipe habitat di
seluruh Asia Tenggara bahkan berada diluar wilayah persebaran aslinya.
Monyet Ekor Panjang juga sering disebut sebagai edge species
dikarenakan mereka suka berada di wilayah pinggiran hutan, sehingga
berbagai wilayah keberadaannya sering overlap dengan manusia
Monyet Ekor Panjang di Indonesia adalah satwa yang tidak dilindungi
karena mudah dijumpai dan populasinya relatif banyak. Status Monyet
Ekor Panjang di IUCN adalah LC (Least Concern) yang artinya suatu
spesies yang tidak terancam kepunahan maupun kategori nyaris
terancam. Menurut CITES Monyet Ekor Panjang termasuk dalam
Appendix II yang artinya satwa tersebut belum terancam punah namun
dapat menjadi terancam punah apabila perdagangannya tidak
dikendalikan.
Universitas Jambi, Mendalo Darat merupakan habitat bagi monyet
ekor panjang khsususnya di kawasan Hutan Pendidikan Universitas
Jambi. Terdapat berbagai macam spesies pohon yang menjadi sarang
(shellter) dan tempat berlindung (cover) seperti Pulai (Alstonia scholaris),
Waru (Hibiscus tiliaceus), Akasia (Acacia mangium) dan Medang (Litsea
sp.), dan beberapa pohon yang memiliki tajuk yang lebar lainnya.
Sehingga memudahkan untuk mengamati jumlah individu pada Monyet
Ekor Panjang. Dimana dilakukan analisis populasi monyet ekor panjang
dengan menggunkan metode observasi dan menganalisis jumlah
populasi, struktur umur dan nisbah kelamin (Seks Rasio) monyet ekor
panjang.
Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk menganalisis kondisi
populasi Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Hutan Pendidikan
Universitas Jambi dengan melakukan analisis jumlah individu dalam
populasi, nisbah kelamin dalam satu populasi dan struktur umur Monyet
Ekor Panjang.

TINJAUAN PUSTAKA

Macaca fascicularis

Sistematika Macaca fascicularis adalah :

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Mamalia

Ordo : Primata

Famili : Cercopithecidae

Genus : Macaca

Species : Macaca fascicularis

Secara umum Macaca fascicularis memiliki warna tubuh bervariasi


mulai dari abu-abu sampai kecoklatan. Bagian punggungnya berwarna
lebih gelap dibandingkan dada dan perut. Rambut di kepala dan sekeliling
wajahnya membentuk jambang yang lebat. Ekornya yang panjang ditutupi
rambut yang pendek dan halus (Napier & Napier 1967). Bayi monyet
yang baru lahir berwarna hitam, muka dan telinganya berwarna merah
muda. Setelah satu minggu kulit mukanya menjadi merah muda keabu-
abuan dan enam minggu kemudian berubah menjadi coklat (Aldrich-Blake
1976). Warna rambut yang menutupi tubuh monyet kera ekor panjang
bervariasi tergantung pada umur, musim dan lokasi. Monyet yang tinggal
di kawasan hutan umumnya berwarna lebih gelap dan lebih mengkilap
dari pada yang menghuni kawasan pantai. Hal ini mungkin disebabkan
pengaruh pemutihan oleh udara yang bergaram dan sinar matahari
langsung (Lekagul & McNeely 1977).
Pada umumnya, habitat asli Macaca fascicularis selalu berada di
sepanjang lembah yang berbatasan dengan air, baik di daratan terbuka
maupun pinggiran sungai ataupun hutan. Sehingga Macaca fascicularis ini
dapat menyesuaikan diri pada semua peringkat ekologi (ecologically
diverse). Macaca fascicularis hidupnya berkelompok dengan jumlah
kelompok sekitar 20 – 50 ekor dan selalu berpindah-pindah mengikuti
ketersediaan pakan. Dengan mengamati habitat aslinya, kemungkinan
suhu yang cukup baik bagi kehidupan Macaca fascicularis berkisar
diantara 25 - 27°C. Namun, perubahan suhu yang tidak menentu
sekarang ini menyebabkan kondisi lingkungan bagi Macaca fascicularis
tidaklah nyaman serta pakan yang diperoleh di alam juga semakin
menipis akibat dari kerusakan alam yang dilakukan oleh manusia yang
tidak bertanggungjawab.
Macaca fascicularis hidup pada hutan primer dan sekunder mulai dari
dataran rendah sampai dataran tinggi sekitar 1000 meter di atas
permukaan laut. Pada dataran tinggi, jenis monyet ini biasanya dijumpai di
daerah pertumbuhan sekunder atau pada daerah-daerah perkebunan
penduduk. Seringkali juga ditemukan di hutan bakau sampai ke hutan di
dekat perkampungan (Hendras & Supriatna 2000).

Populasi dan Penyebaran

Menurut Gummert (2011) populasi monyet ekor panjang tidak


diketahui secara pasti. Populasinya selalu menurun di habitat alaminya
dan dimungkinkan bahwa populasinya selalu meningkat di habitat yang
dekat dengan pemukiman manusia.
Daerah penyebaran monyet ekor panjang adalah Indocina, Thailand,
Burma (Myanmar), Malaysia, Philipina, dan Indonesia. Di Indonesia,
penyebaran Macaca fascicularis terdapat di Sumatera, Kepulauan Lingga
dan Riau, Bangka, Belitung, Kepulauan Tambilan, Kepulauan Natuna,
Nias, Jawa dan Bali, Matasari, Bawean, Maratua, Timor, Lombok, Sumba
dan Sumbawa (Lekagul & McNeely 1977).

Ukuran Populasi dan Kepadatan

Populasi adalah organisme yang terdiri dari satu spesies, saling


berinteraksi dan dapoat melakukan perkembangbiakan pada waktu dan
tempat yang sama, dan mengahasilkan keturunan yang sama dengan
tetuanya.
Kepadatan populasi juga sering disebut dengan kerapatan populasi.
Menurut Tarumingkeng (1994) ukuran populasi dinyatakan dalam
kerapatan sering disebut kerapatan populasi. Kerapatan populasi
menyatakan sekian banyak individu per satuan ekologi (daerah, luasan
dsb). Sedangkan kepadatan adalah jumlah individu per unit wilayah atau
unit volume (Krebs 1978, Seber 1982). Angka rata-rata kepadatan
populasi adalah total ukuran populasi per luas wilayah yang digunakan
(Seber 1982).

Struktur Umur

Struktur umur adalah perbandingan jumlah individu di dalam setiap


kelas umur dari suatu populasi. Struktur umur dapat digunakan untuk
menilai keberhasilan perkembangan satwa liar, sehingga dapat
dipergunakan pula untuk menilai prospek kelestarian satwa liar.
Melakukan identifikasi umur satwa liar di lapangan akan mengalami
banyak kesulitan, terutama karena sulitnya menangkap sejumlah contoh
satwaliar untuk diperiksa dalam menentukan umurnya, sehingga perlu
dicarikan pendekatan-pendekatan tertentu yang lebih sederhana (Alikodra
1990).
Menurut Mukhtar (1982) bahwa komposisi kelompok monyet ekor
panjang terbagi menjadi empat kelas umur yaitu :

 Dewasa (adult) terdiri dari jantan dan betina dewasa. Jantan


dewasa (JD) mempunyai ukuran paling besar, scrotum terlihat
jelas. Betina dewasa (BD) tubuhnya lebih kecil dari jantan dewasa
dan puting susu terlihat jelas. Jantan dewasa terlihat kekar dan
bergerak terlihat lebih mantap.
 Muda (sub adult), monyet hampir dewasa dapat berdiri sendiri
dalam kelompoknya. Ukuran tubuhnya hampir sama dengan
monyet dewasa tetapi dapat dibedakan dari kelakuannya. Monyet
hamper dewasa masih dalam tahap belajar dalam melakukan
aktivitas kawin dan lebih banyak melakukan pergerakan.
 Remaja (juvenile) yaitu monyet muda yang dapat berdiri sendiri
pada waktu makan, tetapi kalau tidur dekat induknya dan masih
suka bermain, ukuran tubuhnya lebih kecil dari sub adult.
 Bayi (infant), yaitu monyet yang masih bergantung pada induknya
baik siang maupun malam dan ukuran tubuhnya paling kecil.

Seks Rasio

Seks rasio/ nisbah kelamin adalah perbandingan jumlah jantan dengan


betina dalam satu populasi (Alikodra 2002) yang terdiri dari:

 Global/ kasar yaitu perbandingan antara jumlah seluruh jantan


terhadap jumlah seluruh betina dalam populasi.
 Spesifik/ khusus yaitu perbandingan antara jumlah jantan pada
kelas umur tertentu terhadap jumlah betina dari kelas umur
tersebut.

Nisbah kelamin (Sex Ratio ) pada monyet ekor panjang dapat dihitung
dengan rumus sebagai berikut :
∑𝐽
𝑁𝐾 =
∑𝐵
Dimana:
NK = nisbah kelamin
∑J = jumlah individu jantan monyet ekor panjang
∑B = jumlah individu betina monyet ekor panjang
METODE PRAKTIKUM
Lokasi dan Waktu
Praktikum Analisis Populasi Monyet Ekor Panjang ini dilaksanakan
pada hari Sabtu tanggal 19 dan Minggu tanggal 20 Mei 2018 pada pukul
06.00 s/d 08.00 WIB, yang bertempat di Hutan Kampus Universitas Jambi.

Bahan dan Alat


Adapun bahan dan alat yang digunakan adalah Binocular, alat tulis
seperti pena/pensil dan kertas, serta kamera handphone.

Jenis dan Cara Pengambilan Data


Adapun metode pengumpulan data pada pelaksanaan praktikum ini
ialah :
 Mengamati secara diam dan bergerak dalam areal yang
ditentukan selama 1-2 jam pada pagi hari mulai pukul 06.00
WIB sampai dengan selesai. Waktu pengamatan dibagi
menjadi 3 bagian dalam 1 jam, artinya batas waktu
pengamatan maksimal 20 menit setiap sesi. Jika pengamatan
dilakukan selama 2 jam, artinya ada 6 sesi pengamatan.
 Jika pengamat diam, populasi monyet ekor panjang yang
ditemukan dalam sesi yang sama tidak bisa dihitung 2 kali.
Namun jika pengamatan bergerak di sepanjang areal yang
diamati, maka populasi yang ditemukan setelah pengamatan
melintas tidak bisa dihitung atau dianalisis. Dilakukan
perhitungan dan pengamatan struktur umur maupun nisbah
kelamin.

Teknik Analisis Data


Teknik analisis datanya berupa kuantitatif dan deskriptif dimana
analisis kuantitatif dilakukan untuk mendapatkan dan mengetahui seks
rasio Monyet Ekor Panjang dalam satu populasi, struktur umur tebagi
menjadi kelompok dewasa, muda, anak, dan bayi. Analisis deskriptif
merupakan pengujian dalam bentuk table, gambar serta penguraian dan
penjelasan mengenai jumlah, struktur umur dan nisbah kelamin pada
populasi monyet ekor panjang.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil

Tabel 1. Data populasi monyet ekor panjang (Macaca fasicularis, Raffles


1821) pada praktikum di hutan kampus Universitas Jambi, Mendalo
Interval Dewasa
Kelompok Muda Anakan Bayi Jumlah
Waku Jantan Betina
1 4 7 10 14 5 40
2 3 1 2 1 - 7
Sabtu, 19 3 - - - - - -
Mei 2018
4 - - - - - -
Pukul
5 - - - - - -
06.00-
6 1 - 2 4 - 7
08.00
WIB 7 - - - - - -
8 1 - 1 - - 2
9 - - - - - -
1 1 4 4 6 3 18
Minggu, 2 - 1 10 16 1 28
20 Mei 3 - - - - - -
2018 4 - 1 3 - 1 5
Pukul 5 - - - - - -
06.00- 6 - - 1 5 - 6
08.00 7 3 2 4 1 - 10
WIB 8 - - - - - -
9 - - - - - -
Total 13 16 37 47 10 123
Rataan 2.16 2.66 4.11 6.71 2.5 13.66

Kondisi Lapangan
Kondisi lapangan pada saat melakukan praktikum adalah kondisi
hutan dengan tajuk yang sedang dengan pohon yang memiliki ketinggian
15-20 m, pada hutan bagian depan dekat dengan aktivitas manusia
dimana terdapat banyak kendaraan yang lewat. Sedangkan pada hutan
bagian belakang jauh dari aktivitas manusia.
Pada bagian hutan kampus di Fakultas Kuguruan dan Ilmu
Pendidikan (FKIP) yang berbatasan dengan tembok ditemukan aliran
sungai kecil. Berikut jenis-jenis pohon yang tumbuh yang ada disana :
No Nama Pohon Nama Latin
1 Akasia Acacia mangium
2 Pulai Alstonia scholaris
3 Mahoni daun kecil Swietenia mahagoni
4 Paku resam Dicranopteris linearis
Pada bagian hutan kampus di bagian belakang FKIP terdapat
badan air yang besar. Berikut jenis-jenis pohon yang tumbuh yang ada
disana :
No Nama Pohon Nama Latin
1 Meranti Shorea sp
2 Pulai Alstonia scholaris
3 Paku Resam Dicranopteris linearis
4 Medang Litsea sp.

Berdasarkan kondisi-kondisi lapangan yang telah dijelaskan


sebelumnya terlihat bahwa terdapat badan air yang menjadi sumber air
bagi Monyet Ekor Panjang dan kondisi tajuk yang sedang. Hal serupa
juga ditemukan pada hutan kampus bagian belakang Fakultas Hukum.
Pada hutan kampus bagian depan yakni di Pembibitan Fakultas
Kehutanan memiliki ruang yang terbuka. Jenis pohon yang tumbuh disini
didominasi oleh pohon Bulian (Eusideroxylon zwageri). Di bagian bawah
pembibitan terdapat seperti genangan air dan sumur yang menjadi
sumber air Monyet Ekor Panjang disana.

Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan Monyet Ekor Panjang ini ditemukan
jumlah total individunya yakni sekitar 123 ekor dengan rataan 13,66 atau
14 individu. Hasil rata-rata populasi dari setiap wilayah yang diamati mulai
dari kelas umur bayi, anakan, muda, dan terakhir dewasa jantan dan
betina tersebut didapatkan selama pengamatan pada pukul 06.00-08.00
selama 2 hari Sabtu dan Minggu.
Populasi Monyet Ekor Panjang hanya ditemukan sedikit
dikarenakan selama pengamatan berlangsung hanya membentuk sekitar
3-4 Individu yang saling berdekatan atau bersama. Pada kelas umur bayi
terdapat sekitar 10 ekor dengan rataan 2.5 atau 3 ekor. Kelas umur
anakan terdapat sekitar 47 ekor dengan rataan 6.71 atau 7 ekor.
Selanjutnya pada kelas umur muda terdapat sekitar 37 ekor dengan
rataan 4.11 atau 5 ekor dan pada tingkatan akhir yakni dewasa terbagi
menjadi 2, jantan dan betina. Pada dewasa jantan ditemukan sekitar 11
ekor dengan rataan 2.16 ekor atau 3 ekor. Pada betina terdapat sekitar 16
ekor dengan rataan 2.66 atau 3 ekor. Sehingga didapatkan perbadingan
seks rasio jantan dan betinanya adalah 1:1.
Dari data tahun lalau didapatkan jumlah Monyet Ekor Panjang
sekitar 28 ekor. Setelah dibandingkan dengan data pada tahun ini terlihat
bahwa populasinya mengalami penurunan hal ini mungkin diakibatkan
banyaknya kegiatan manusia yang menyebabkan polusi suara (bising),
hutan yang sudah mulai terbuka, pohon-pohon yang tidak sesuai dengan
aktivitas Monyet Ekor Panjang dan terbukanya tajuk-tajuk pohon pada
Hutan Kampus Mendalo Universitas Jambi. Namun perubahan-perubahan
tersebut hanya sedikit mengganggu aktivitas Monyet Ekor Panjang karena
terlihat bahwa aktivitas yang dilakukannya terlihat normal seperti
memanjat pohon, bermain, loncat atau berpindah dari pohon satu ke
pohon yang lainnya, memakan pucuk-pucuk daun pohon yang di
singgahinya dan minum.
Perkembangan Monyet Ekor Panjang di Hutan Kampus Mendalo
Universitas Jambi berdasarkan dari data yang telah dikumpulkan
mengalami penurunan. Hal tersebut dikarenakan tajuk hutan yang sudah
tidak rapat lagi, beberapa jenis tumbuhan tidak cocok menjadi pakan
Monyet Ekor Panjang dan banyaknya aktivitas manusia yang
mengganggu seperti suara kendaraan, alat-alat berat dan beberapa
aktivitas yang dilakukan didalam Hutan Kampus Mendalo Univesitas
Jambi.

PENUTUP
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum analisis populasi
Monyet Ekor Panjang di Hutan Kampus Universitas Jambi dengan
menggunakan metode observasi berupa pengamatan diam dan bergerak.
Di dapatkan jumlah populasinya sekitar 123 ekor dengan rataan 13,66
atau 14 ekor, untuk struktur umurnya dimulai dari bayi terdapat sekitar 10
ekor dengan rataan 2.5 atau 3 ekor. Anakan terdapat sekitar 47 ekor
dengan rataan 6.71 atau 7 ekor. Selanjutnya pada kelas umur muda
terdapat sekitar 37 ekor dengan rataan 4.11 atau 5 ekor dan pada
tingkatan akhir yakni dewasa terbagi menjadi 2, jantan dan betina. Pada
dewasa jantan ditemukan sekitar 11 ekor dengan rataan 2.16 ekor atau 3
ekor. Pada betina terdapat sekitar 16 ekor dengan rataan 2.66 atau 3 ekor
dan didapatkan perbadingan seks rasio jantan dan betinanya adalah 1:1.

Saran
Praktikum ini harus dilakukan dengan serius dan kesabaran dalam
mengamati Monyet Ekor Panjang, tepat waktu, serta membaca modul
praktikum sebelum pelaksaanaan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Swedianto, Harlendo. 2010. Profil Nilai Kardiorespirasi dan Suhu Tubuh


Monyet Ekor Panjang (Macaca fasciculasris) Tersedasi Pada
Perbedaan Mikroklimat Ruangan. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Maida, Sahri. 2010. Pemanfaatan Habitat Oleh Monyet Ekor Panjang


(Macaca fascicularis) Di Kampus IPB DARMAGA. Bogor: Institut
Pertanian Bogor.

Sajuthi, Dondin dkk. 2016. Hewan Model Satwa Primata Volume 1


Macaca fascicularis Kajian Populasi, Tingkah laku, Status Nutrien,
dan Nutrisi untuk Model Penyakit. Bogor :IPB Press.

Wulan, Cory. 2015. HUBUNGAN ANTARA FAKTOR LINGKUNGAN


DENGAN PARAMETER DEMOGRAFI POPULASI MONYET EKOR
PANJANG (Macaca fascicularis). Bogor: Institut Pertanian Bogor.