Anda di halaman 1dari 3

LTM MPK Agama Islam III

Nama : Ade Ichsan Rusdy


NPM : 1906362521
S1 Ilmu Hukum/Reguler
MPK Agama Islam (3)

Kesenian Islam
Islam sebagai sebuah agama tidak hanya menyebarkan ajarkan perihal
keimanan dan hubungan antarmanusia, tetapi turut pula membawa kesenian yang
merupakan perwujudan dari sebuah budaya, sebagaimana pendapat
Koentjaraningrat bahwa kesenian adalah salah satu dari unsur kebudayaan.
Kesenian Islam turut pula mempengaruhi beberapa kesenian asli dari suatu daerah
melalui asimilasi maupun akulturasi budaya, salah satunya di Indonesia di masa
kerajaan-kerajaan Islam Nusantara. Tulisan ini akan membahas apa itu kesenian
secara umum dan bagaimana Islam memandang kesenian itu.
Bila menilik KBBI, seni memiliki dua makna yang masih masuk dalam
anggapan banyak orang. Bila mengambil salah satu makna adjektifanya, seni
memiliki arti “halus (tentang rabaan); kecil dan halus; (tipis dan halus).” Bila
mengambil salah dua makna nominanya, seni adalah “keahlian membuat karya
bermutu (dilihat dari segi kehalusannya, keindahannya, dan sebagainya)” dan
“karya yang diciptakan dengan keahlian yang luar biasa, seperti tari, lukisan,
ukiran.” Seni atau kesenian secara definisi kemudian melahirkan banyak pendapat.
Barangkali dua pendapat berikut bisa memberikan suatu gambaran mengenai apa
itu seni. Menurut Sidi Gazalba, seni atau kesenian adalah manifestasi dari budaya
manusia yang memenuhi syarat estetika/keindahan1. Melvin Rader dalam bukunya
Art Modern Book of Esthetic menyebutkan seni sebagai proses kreatif adalah
ekspresi daripada suasana hati, perasaan, dan jiwa2. Dapatlah ditarik sebuah poin
bahwa seni itu adalah hasil ekspresi manusia yang memiliki nilai estetika.
Islam tidak memberikan teori dan ajaran rinci tentang seni dan bentuk-
bentuknya3. Ernst Diez menyatakan bahwa seni Islam atau seni yang Islami

1
M. Asy’ari, “Islam dan Seni,” Hunafa 4 No. 2 (Juni 2007): 170.
2
Nanang Rizali, “Kedudukan Seni dalam Islam,” Tsaqfa: Jurnal Kajian Seni Budaya Islam 1, no. 1
(Juni 2012): 2.
3
Nanang Rizali, “Kedudukan Seni dalam Islam,” Tsaqfa: Jurnal Kajian Seni Budaya Islam 1, no. 1
(Juni 2012): 3.

1
mengungkapkan suatu sikap pengabdian kepada Allah (spiritualitas). Islam tidak
melarang umat Islam untuk berkesenian selama memenuhi unsur ketakwaan dan
moralitas Islam. Nur Sahid menyebutkan ada lima ciri-ciri yang harus dimiliki oleh
kesenian Islam meliputi (1) mengandung nilai-nilai ketauhidan, (2) menyirtakan
ajaran akhlaqul qarimah, (3) mengungkapkan pesan-pesan syariah Islam, (4)
kebebasan berkreasi yang dibatasi oleh akhlak, dan (5) kesenian Islam diciptakan
oleh seorang muslim4. Namun, M. Abdul Jabbar Beg sayangnya berbeda pendapat
mengenai poin kelima Nur Sahid. M. Abdul Jabbar Beg berpendapat selama suatu
karya seni mengungkapkan pandangan hidup kaum muslimin, yaitu konsep tauhid,
muslim maupun tidak sang seniman, karya seni itu bisa tetap dianggap seni Islam5.
Seni Islam adalah seni yang dapat mengungkapkan keindahan dan konsep
tauhid sebagai esensi akidah. Seni Islam tidak hanya melihat wujud suatu karya,
tetapi juga realitas batinnya (makna)6. Segi estetis kesenian Islam tidak dicapai
melalui penggambaran manusia dan alam, tetapi melalui perenungan suatu kreasi.
Estetika Islami merujuk pada nilai dan norma Alquran dan hadis karena seni Islam
dibatasi oleh konsep akidah. Menurut Imam Al-Ghazali, keindahan Islami
dibedakan menjadi keindahan bentuk luar yang terlihat oleh mata dan keindahan
bentuk dalam yang hanya bisa diterima oleh mata batin.
Kesenian Islam memiliki dasar pemikiran semata-mata niat ibadah dan
pengabdian kepada Allah dengan mengakomodasi tradisi budaya lokal. Karya seni
Islam mengandung nilai-nilai akidah dan aklak sesuai dengan ajaran Islam itu
sendiri dengan tujuan sebagai medium penyempurnaan dan pengarah nilai-nilai
positif baik bagi yang berkarya maupun yang berkhidmat dengan menikmati seni
itu. Dengan demikian, dicapailah suatu hikmah dan penghayatan akan Allah Yang
Maha Benar dan Maha Indah. Wallahu ‘alam bishshawab.

4
I Gede Arya Sucitra, “Sinkretisme dalam Karya Seni Islam,” Journal of Urban Society’s Arts 2,
no. 2 (Oktober 2015): 95.
5
Nanang Rizali, “Kedudukan Seni dalam Islam,” Tsaqfa: Jurnal Kajian Seni Budaya Islam 1, no. 1
(Juni 2012): 3.
6
Nanang Riizali, “Kedudukan Seni dalam Islam,” Tsaqfa: Jurnal Kajian Seni Budaya Islam 1, no.
1 (Juni 2012): 4.

2
Daftar Pustaka

Asy’ari, M.. “Islam dan Seni” Hunafa 4, no. 2 (Juni 2007): 169—174.
https://doi.org/10.24239/jsi.v4i2.207.169-174.
Rizali, Nanang. “Kedudukan Seni dalam Islam.” Tsaqafa: Jurnal Kajian Seni
Budaya Islam 1, no. 1 (Juni 2012): 1—8. http://eprints.uad.ac.id/1485/.
Sucitra, I Gede Arya. “Transformasi Sinkretisma Indonesia dan Karya Islam.”
Journal of Urban Society’s Arts 2, no. 2 (Oktober 2015): 89—103.
https://doi.org/10.24821/jousa.v2i2.1446.
Tim PPKPT Universitas Indonesia. Buku Ajar MPKT A. Edisi revisi, Depok:
Universitas Indonesia, 2017.