Anda di halaman 1dari 8

Volume 18, Nomor 2, Mei 2019, pp 127-134.

Copyright © 2019 Jurnal Manajemen Maranatha, Program Studi


Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Kristen Maranatha. ISSN 1411-9293 | e-ISSN 2579-4094.
https://journal.maranatha.edu/index.php/jmm

PEMAKNAAN RASISME DALAM FILM


(ANALISIS RESEPSI FILM GET OUT)
Adlina Ghassani
Catur Nugroho

Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi dan Bisnis, Universitas Telkom, Bandung
Email: ghassaniadlina@gmail.com; mas_pires@yahoo.com

Submitted: Aug 20, 2018; Reviewed: Aug 20, 2018; Accepted: Aug 24, 2018

Abstract: Movie is one form of mass communication media which often enjoyed by people. The movie
Get Out that is directed by Jordan Peele shows about how is the act of white people discrimination
towards black people. This research uses the qualitative method with descriptive type and uses Stuart
Hall’s reception analysis approach. Reception analysis views the active audiences which are the
viewers and readers to produce and reproduce the meaning in an impression of a media. The purpose
of this research is to describe audiences’ interpretation and to know the position of the audiences
according to Stuart Hall’s three readership position towards the movie Get Out that shows racism.
This research uses paradigm of constructivism. The result of this research shows that audiences
meaning of the movie Get Out towards the four informants generates different meaning and out of
seven scene analysis units studied, the audiences’ position in their acceptance of the racism in the
movie Get Out is dominated by oppositional position. There are also some informant that are in
dominant hegemonic position. Where in each scene contains different racism material.

Keywords: Communication; Reception Analysis; Film

PENDAHULUAN Film Get Out yang disutradarai oleh


Sebagai salah satu bentuk media massa, film Jordan Peele menceritakan seorang Afrika-
dinilai dapat mempengaruhi penontonnya. Amerika yang mendapatkan perlakuan yang
Film dipandang memiliki realisme, pengaruh tidak menyenangkan dan diskriminasi dari
emosional, dan popularitas yang lebih. Seiring orang berkulit putih. Film ini mendapatkan
berkembangnya waktu, film pun dimanfaatkan rating 99% dari Rotten Tomatoes dan 77/10
sebagai alat propaganda. Fenomena film dari IMDB. Film yang hadir pada bulan Maret
sebagai alat propaganda mampu menyebabkan 2017 ini, mengangkat isu rasisme dengan
terjadinya krisis sosial di beberapa negara. dibalut genre horror dan thriller. Film ini
Rasisme adalah permasalahan universal yang menggambarkan bagaimana fenomena orang
dipengaruhi oleh banyak faktor dari sosial, kulit hitam terhadap perlakuan diskriminasi
politik, historis dan ekonomi. Dari sejak dulu, yang sering dilakukan diluar negeri sana
banyak sekali kejadian – kejadian rasis di dengan cara yang lebih modern. Selan itu, film
sekitar kita karena perbedaan warna kulit, ini juga menggambarkan perjuangan orang
suku, agama, ras dan budaya. Hingga saat ini kulit hitam yang ingin terlepas dari perlakuan
pun, masih banyak kejadian yang mengarah diskriminasi dari orang kulit putih.
kepada rasisme. Banyak sekali film-film yang Dalam penelitian ini, menggunakan
mengangkat isu rasisme seperti The Help, beberapa penelitian terdahulu untuk dijadikan
Glory Road, Selma, The Butler, 12 Years A sebagai acuan. Dua diantaranya adalah
Slave dan masih banyak lagi masing-masing penelitian skripsi dengan judul “Resepsi Film
memiliki cara yang berbeda dalam mengakat Habibie & Ainun (Studi Tentang Resepsi
isu rasisme. Penggambaran rasisme dapat juga Khalayak Terhadap Nilai-Nilai Kasih Sayang
dilihat di film Get Out. Dalam Keluarga Yang Direpresentasikan
Dalam Film Habibie & Ainun (2012)” yang

127
Jurnal Manajemen Maranatha ■ Vol. 18 Nomor 2, Mei (2019)

ditulis oleh Yovita Rimbawati pada tahun KAJIAN PUSTAKA


2013. Hasil yang didapat adalah Film Habibie Komunikasi Massa
dan Ainun merupakan salah satu film yang Komunikasi massa merupakan salah satu
merepresentasikan nilai positif dalam proses komunikasi yang berlangsung pada
keluarga. Film ini pun dinilai ringan dan peringkat masyarakat luas, yang
mudah dimengerti oleh peminatnya. Film identifikasinya ditentukan oleh ciri khas
Habibie dan Ainun juga memberikan dampak institusionalnya (gabungan antara tujuan,
psikologis yang dirasakan oleh penonton organisasi, dan kegiatan yang sebenarnya).
setelah menonton film ini. Yang membedakan Komunikasi massa mungkin lebih banyak
dengan penelitian ini adalah objek melibatkan orang untuk waktu yang lebih
penelitiannya merupakan film Habibie dan banyak pula meskipun intensitasnya lebih
Ainun. Kemudian jurnal internasional dengan rendah. Komunikasi massa bersifat
judul “Cultural Reception and Production: komprehensif, maka komunikasi masssa pun
The Social Construction of Meaning in Book melibatkan gagasan yang berkenan dengan
Clubs” ditulis oleh C.Clayton and Noah E. setiap proses. Para individu menerima dan
pada tahun 2012. Hasil yang didapat adalah menangani banyak informasi secara langsung
Seluruh informan berada pada posisi dominan dari media massa (Mcquail, 1989:7).
dan negosiasi. Komunikasi interpersonal satu Gerbner (2004: 15; dalam Ardianto,
anggota dengan anggota dapat mempengaruhi 2004:4) mengemukakan bahwa Mass
pendapat dan pemikiran seorang anggota communication is the technologically and
terhadap buku yang dibaca. Yang institutionally based production and
membedakan dari penelitian ini adalah distribution of the most broadly shared
penggunaan subjek penelitiannya adalah continuous flow of messages in industrial
pembaca buku novel yang bertema ras dan societies (komunikasi massa adalah produksi
gender. Dengan melihat dari kedua penelitian dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan
sebelumnya, menjelaskan bahwa pembacaan lembaga dari arus pesan yang
makna khalayak terhadap informasi yang berkesinambungan serta paling luas dimiliki
didapat dari media berbeda-beda. Dengan orang dalam masyarakat industri).
menggunakan film Get Out yang berlatar
rasialisme sudah menjadi sebuah budaya di Film sebagai Media Komunikasi Massa
luar negeri, ingin menguji kembali Seiring perkembangan teknologi komunikasi
berdasarkan budaya dan karakteristik di dan informasi, proses komunikasi dilakukan
Indonesia terhadap menghadapi sebuah tidak hanya langsung (face to face,
perbedaan yang dimiliki orang lain. interpersonal) namun telah menggunakan
Maka dari itu memiliki ketertarikan media. Seperti media nirmassa dan media
untuk meneliti film Get Out karena massa. Media nirmassa adalah media yang
penggambaran rasis dan penggambaran orang digunakan untuk menyampaikan informasi
kulit hitam dalam film ini. Dalam penelitian dengan sasaran tunggal seperti telepon, surat
ini, akan melihat bagaimana cara audiens dan faks. Sedangkan media massa adalah
memaknai nilai-nilai rasisme dalam film ini. media yang digunakan untuk menyampaikan
Penonton sebagai audiens aktif dan bertindak informasi dengan sasaran luas dan area seluas-
juga sebagai penghasil makna. Bagaimana luasnya. Media massa terdiri dari media cetak
respon, penerimaan, dan tanggapan terhadap dan media elektronik, media cetak contohnya
nilai-nilai rasisme yang diangkat dalam film adalah surat kabar dan majalah sedangkan
Get Out. Untuk menganalisis persepsi media elektronik contohnya adalah radio,
penonton film Get Out terhadap rasisme yang televisi dan film.
ditunjukkan dalam film, akan menggunakan Film adalah suatu media komunikasi
metode analisis resepsi encoding-decoding massa yang sangat penting untuk
Stuart Hall. Penelitian akan menggunakan mengkomunikasikan tentang suatu realita yang
analisis resepsi dengan menggunakan terjadi dalam kehidupan sehari – hari, Film
encoding-decoding Stuart Hall karena teori ini memiliki realitas yang kuat salah satunya
berfokus kepada penerimaan khalayak menceritakan tentang realitas masyarakat.
terhadap informasi dari media. Film diartikan sebagai hasil budaya dan alat
ekspresi kesenian. (Effendy 1986:239) Film
sebagai komunikasi massa merupakan

128
Jurnal Manajemen Maranatha ■ Vol. 18 Nomor 2, Mei (2019)

gabungan dari berbagai tekhnologi seperti mengancam adalah polisi yang melakukan
fotografi dan rekaman suara, kesenian baik profil rasial seperti tiba-tiba mobil
seni rupa dan seni teater sastra dan arsitektur diberhentikan karena orang hitam mengemudi.
serta seni musik. Rasisme dapat dianggap sebagai
praktik yang dengan sengaja atau tidak,
Ras dan Stereotype mengecualikan minoritas 'rasial' atau 'etis' dari
Istilah ras digunakan untuk mendefinisikan menikmati hak, tanggung jawab dan tanggung
orang berdasarkan persepsi perbedaan fisik jawab penuh yang tersedia bagi mayoritas
yang menyiratkan perbedaan-perbedaan penduduk.
genetik. Meskipun kajian Antropologi
menekankan bahwa ras bukan kategori natural, Reception Theory
namun ras telah menjadi fakta sosial dan Resepsi berasal dari bahasa latin yaitu
budaya dan hal ini digunakan unuk recipere, reception (Inggris) yang dapat
membenarkan kebijakan dan diskriminasi dan diartikan sebagai penyambutan atau
memengaruhi kehidupan, baik ras mayoritas penerimaan pembaca. Resepsi dengan
maupun ras minoritas (Storey, 2008:241) pengertian secara luas yaitu, cara-cara
Rasisme mempunyai dua jenis yaitu (Neubeck, pemberian makna dan pengolahan teks
2001:86): terhadap tayangan televisi, sehingga
a. Personal Racism memberikan respon terhadapnya. Teori
Personal Racism terjadi ketika individu resepsi (pemaknaan pembaca) memfokuskan
mempunyai sikap curiga dan/atau terlibat kepada bagaimana pembaca atau khalayak
dalam perilaku diskriminatif dan sejenisnya. dalam menerima pesan, bukan pada pengirim
Indikasi personal racism yaitu cara pandang pesan. Pemaknaan pesan bergantung pada latar
individu (stereotip) atas dasar dugaan belakang budaya dan pengalaman hidup
perbedaan ras, menghina referensi dan nama, khalayak itu sendiri.
perlakuan diskriminatif selama melakukan Riset khalayak menurut Stuart Hall
kontak interpersonal, tindak kekerasan, dan (1973:180 dalam Baran, 2003:269-270)
ancaman terhadap anggota kelompok mempunyai perhatian langsung terhadap : (a)
minoritas yang diduga menjadi ras inferior. Analisis dalam konteks sosial dan politik
b. Institutional Racism dimana isi media diproduksi (encoding) ; dan
Rasisme kelembagaan melibatkan perlakuan (b) konsumsi isi media (decoding) da;am
yang diberikan khusus untuk masyarakat konteks kehidupan sehari - hari. Analisis
minoritas di tangan lembaga tersebut. resepsi memfokuskan pada perhatian individu
Institutional Racism menarik perhatian pada dalam proses komunikasi massa (decoding),
fakta bahwa kelompok-kelompok seperti yaitu pada proses pemaknaan dan pemahaman
penduduk asli Amerika, Afrika Amerika, yang mendalam atas media texts, dan
Latino-Amerika, dan Asia Amerika sering bagaimana individu menginterpretasikan isi
menemukan diri mereka menjadi korban rutin media.
kerja struktur organisasi tersebut. Tidak seperti Menurut Stuart Hall (1980:128),
beberapa bentuk Personal Racism, rasisme khalayak melakukan decoding terhadap pesan
yang terjadi melalui operasi sehari-hari dan media melalui tiga kemungkinan posisi, yaitu:
tahun ke tahun dari lembaga berskala besar. posisi hegemoni dominan, negosiasi, dan
Banyak pengalaman rasis yang terang- oposisi.
terangan terjadi dalam interaksi antar-ras. 1. Posisi Hegemoni Dominan
Hampir setengah dari sampel probabilitas Hegemoni Dominan sebagai situasi dimana
nasional orang dewasa kulit hitam melaporkan “the media produce the message; the masses
pada tahun 2000 bahwa mereka telah consume it. The audience reading coincide
mengalami diskriminasi dalam 30 hari with the preferred reading” (media
sebelumnya (T.W. Smith, 2000 dalam Fox, menyampaikan pesan, khalayak menerimanya.
2003:120). Orang hitam yang di kelas tengah Apa yang disampaikan media secara kebetulan
sering mendapatkan perilaku yang tidak sopan juga disukai oleh khalayak). Sebuah situasi
di restoran, taksi yang kosong tidak mau yang dimana media menyampaikan pesan
berhenti, dan pegawai toko yang mencurigai dengan menggunakan kode budaya dominan
mereka sebagai pencuri. Contoh yang lebih dalam masyarakat.

129
Jurnal Manajemen Maranatha ■ Vol. 18 Nomor 2, Mei (2019)

2. Posisi Negosiasi balik (decoding) dalam suatu komunikasi,


Posisi negosiasi adalah posisi dimana khalayak maka terdapat posisi hipotekal, yakni : (1)
menerima ideologi dominan namun menolak Dominant-Hegemonic Positio n, (2)
penerapannya dalam kasus-kasus tertentu. Negotiated Position, (3) Oppositional
Dalam hal ini, khalayak bersedia menerima Position.
ideologi dominan yang bersifat umum, namun Subjek penelitian yang digunakan
mereka akan melakukan beberapa adalah informan yang dipilih berdasarkan
pengecualian dalam penerapannya yang kriteria-kriteria tertentu. Kriterianya adalah
disesuaikan dengan aturan budaya setempat. yang pernah menonton film Get Out lebih dari
3. Posisi Oposisi satu kali, hanya memiliki ketertarikan
Cara terakhir yang dilakukan khalayak dalam menonton film dengan genre horror ataupun
melakukan decoding terhadap pesan media thriller. Objek penelitian pada penelitian ini
adalah melalui oposisi yang terjadi ketika adalah tujuh scene rasisme dalam film Get
khalayak audiensi yang kritis mengganti atau Out. Film ini disutradarai oleh Jordan Peele
mengubah pesan atau kode yang disampaikan dan diproduseri oleh Sean McKittrick, Jason
media dengan pesan atau kode alternatif. Blum, Edward H. Hamm Jr. dan Jordan Peele.
Audiensi menolak makna pesan yang Film Get Out ditayangkan perdana di Festival
dimaksudkan atau disukai media dan Film Sundance pada 24 Januari 2017 dan
menggantikannya dengan cara berpikir mereka dirilis di Amerika Serikat pada 24 Februari
sendiri terhadap topik yang disampaikan 2017. Untuk di Indonesia sendiri, film ini
media. tayang di bioskop pada 29 Maret 2017.
Dalam melakukan wawancara,
METODE PENELITIAN penelitian ini menggunakan panduan
Metode penelitian yang digunakan dalam wawancara yang terdiri dari pertanyaan-
penelitian ini adalah metode penelitian pertanyaan akan ditanyakan kepada informan.
kualitatif. Penelitian kualitatif adalah Pertanyaan terdiri dari 18 pertanyaan yang
penelitian yang bermaksud untuk memahami mewakilkan hasil tiga pembacaan posisi
fenonema tentang apa yang dialami oleh khalayak menurut Stuart Hall, pemaknaan
subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, resepsi, dan hal-hal yang diperlukan untuk
motivasi, tindakan secara holistic dan dengan penelitian ini.
cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan Unit analisis merupakan fokus-fokus
bahasa pada suatu konteks khusus yang penelitian dari input, analisis dan sub analisis.
alamiah (Moleong, 2016:6). Fokus dalam penelitian ini adalah konten
Penelitian ini menggunakan metode rasisme yang ada pada tayangan film Get Out.
penelitian kualitatif deskriptif dengan Input yang digunakan dalam unit analisis
menggunakan analisis resepsi Stuart Hall. adalah konten rasisme dalam film Get Out.
Analisis resepsi khalayak atau audiens Analisis yang digunakan dalam unit analisis
memahami proses pembuatan makna yang adalah reception theory oleh Stuart Hall. Sub
dilakukan oleh audiens ketika mengonsumsi analisis yang digunakan adalah Dominant
tayangan suatu media. Analisis resepsi position, Negotiated position dan Oppositional
mencoba memberikan sebuah makna atas position.
pemahaman teks media (cetak, elektronik, Jenis sumber data yang digunakan
internet) dengan memahami bagaimana dalam penelitian ini adalah terdiri dari data
karakter teks media dibaca oleh khalayak. primer dan data sekunder. Data primer yang
Individu yang menganalisis media melalui digunakan adalah pada saat melakukan
kajian reception memfokuskan pada wawancara mendalam dengan informan film
pengalaman dan pemirsaan khalayak Get Out. Data sekunder merupakan data
(penonton/pembaca), serta bagaimana makna tambahan untuk pelengkap untuk
diciptakan melalui pengalaman tersebut. Stuart menyempurnakan penelitian ini diambil dari
Hall mengemukakan bahwa makna yang hasil pengumpulan dengan berbagai sumber
dimaksudkan dan diartikan dalam sebuah data yang sesuai dengan topik penelitian yang
pesan bisa terdapat perbedaan. Kode yang dipilih, diantaranya adalah beberapa buku,
digunakan atau yang disandi (encode) dan dokumentasi teks film dan artikel-artikel dari
yang disandi balik (decode) tidak selamanya media online yang berhubungan dengan
berbentuk simetris.. Ketika audiens menyandi penelitian ini. Teknik pengumpulan data yang

130
Jurnal Manajemen Maranatha ■ Vol. 18 Nomor 2, Mei (2019)

digunakan dalam penelitian ini menurut dianalisis dengan mempertimbangkan proses


Prastowo (2011:211) yaitu sebagai berikut: pemaknaan, karakteristik individu, cara
a. Wawancara Mendalam (in-depth pemaknaan, sekaligus juga konteks sosial dan
interviewing): Teknik pengumpulan data kultural yang melingkupi proses pemaknaan.
dengan melakukan wawancara mendalam. Pada bagian ini tidak hanya analisis dari
Cara ini dilakukan untuk menggali informasi wawancara tetapi juga studi diakronik dengan
dari responden dan mendapatkan kejujuran menggunakan prinsip interteks dari analisis
dalam menyampaikan informasi yang wacana, di mana wacana dari khalayak
sebenarnya. diinterpretasikan dengan mempertimbangkan
b. Data Dokumentasi: Data dokumentasi konteks baik itu wacana teks media maupun
merupakan data pendukung sebagai penguat konteks sosial, dan kondisi psokologis dari
data hasil observasi dan wawancara. Ketika khalayak. Tahapan ketiga adalah tema-tema
seorang peneliti mengemas sebuah laporan yang muncul kemudian dikelompokkan ke
penelitiannya melaui proses triangulasi ketiga dalam tiga kelompok pemaknaan; dominant
data yang dihimpun melalui observasi, position, negotiated position, dan oppositional
wawancara, dan dokumentasi harus saling position.
menguatkan satu dengan yang lainnya.
c. Studi Pustaka Informan 1
Teknik triangulasi yang digunakan pada Pada adegan pertama dalam Film Get Out,
penelitian ini adalah dengan triangulasi informan satu berpendapat bahwa tidak
sumber, triangulasi teknik, dan triangulasi seharusnya polisi bersikap seperti itu kepada
teori sesuai dengan Moleong (2006:330-331). penumpang berkulit hitam. Dalam adegan
Triangulasi sumber yaitu teknik pemeriksaan kedua, informan berpendapat bahwa
keabsahan data dengan cara membandingkan perbincangan yang terjadi merupakan hal yang
data yang diperoleh dari narasumber. biasa saja namun sebaiknya memilih topik
Triangulasi teknik dilakukan dengan lain. Dalam adegan ketiga, informan
membandingkan data yang dihasilkan dari berpendapat bahwa tidak seharusnya dia
beberapa teknik yang berbeda yang digunakan bersikap memandang rendah dan berbicara
dalam penelitian. Triangulasi Teori yaitu orang yang berkulit hitam memiliki badan
membandingkan beberapa teori yang terkait yang besar mengerikan. Dalam adegan
dengan penelitian. Selanjutnya akan ditambah keempat, informan berpendapat bahwa tidak
kembali data melalui dokumentasi mulai dari seharusnya mendapat perlakuan untuk
jurnal, artikel, maupun buku-buku yang membandingkan fisik orang kulit hitam
berkaitan. Tahapan proses analisis data, yang dengan orang kulit putih. Dalam adegan
akan digunakan dalam penelitian ini sesuai kelima, informan berpendapat bahwa tidak
menurut Miles dan Huberman yaitu dengan seharusnya dirinya mendapat perlakuan untuk
melakukan pengumpulan data, melakukan membandingkan fisik yang berbeda dengan
reduksi data, melakukan display data dan orang berkulit putih. Dalam adegan keenam,
menarik kesimpulan. informan berpendapat bahwa tidak seharusnya
berkata orang berkulit hitam itu keren. Adegan
HASIL DAN PEMBAHASAN ketujuh, informan berpendapat bahwa
Tahapan pertama dari analisis penelitian ini percakapan yang terjadi merupakan hal yang
adalah menganalisis data kemudian biasa karena pertanyaan tersebut hanya berasal
menginterpretasikan dari hasil wawancara dari rasa penasaran saja. Dengan demikian
yang dilakukan secara mendalam sebelumnya, informan satu berada pada tipe pembacaan
pada penelitian resepsi ini tidak ada oppositional reading karena pendapat yang
pembedaan yang khusus antara analisis dan dikemukakannya tersebut tidak menyetujui
interpretasi khalayak mengenai pengalaman terhadap makna rasisme yang digambarkan
media mereka. Setelah itu data hasil dari dalam film Get Out.
wawancara tersebut dibuat transkrip,
kemudian dikategorisasikan berdasarkan tema- Informan 2
tema yang muncul pada pemaknaan yang Pada adegan pertama dalam Film Get Out,
dilakukan dari subjek penelitian. Tahapan informan dua berpendapat bahwa tidak
kedua yaitu tema-tema yang muncul kemudian seharusnya polisi bersikap seperti itu kepada

131
Jurnal Manajemen Maranatha ■ Vol. 18 Nomor 2, Mei (2019)

penumpang berkulit hitam. Dalam adegan Informan 4


kedua, informan berpendapat bahwa Pada adegan pertama dalam Film Get Out,
percakapan yang terjadi adalah hal yang wajar. informan empat berpendapat bahwa apa yag
Dalam adegan ketiga, informan berpendapat dilakukan polisi merupakan hal yang tidak
bahwa hal yang dilakukan hanyalah memuji wajar dan tidak seharusnya dilakukan. Dalam
bentuk tubuh yang dimiliki oleh pemeran adegan kedua, informan berpendapat bahwa
utama dalam film. Dalam adegan keempat, perbincangan yang terjadi membuat suasana
informan berpendapat bahwa hal yang terjadi menjadi tidak nyaman dan menganggu lawan
adalah sangat wajar. Dalam adegan kelima, bicara karena membicarakan perbedaan warna
informan berpendapat pembicaraan mengarah kulit. Dalam adegan ketiga, informan
kepada memberikan pujian kepada pemeran berpendapat bahwa tidak seharusnya dia
utama karena bentuk tubuh yang dimilikinya. membicarakan bahwa orang berkulit hitam
Dalam adegan keenam, informan berpendapat pasti memiliki badan yang besar dan
bahwa memberitahukan warna hitam tren menyeramkan. Dalam adegan keempat,
menjelaskan bahwa pemeran utama diterima informan berpendapat bahwa tidak seharusnya
dalam acara tersebut. Adegan ketujuh, mendapat perlakuan untuk membandingkan
informan berpendapat bahwa pertanyaan yang fisik orang kulit hitam dengan orang kulit
diajukan semata-mata karena rasa penasaran. putih. Dalam adegan kelima, informan
Dengan demikian informan satu berada pada berpendapat bahwa tidak seharusnya dirinya
tipe pembacaan hegemony dominant reading mendapat perlakuan untuk membandingkan
karena pendapat yang dikemukakannya fisik yang berbeda dengan orang berkulit
tersebut tidak menyetujui terhadap makna putih. Dalam adegan keenam, informan
rasisme yang digambarkan dalam film Get berpendapat bahwa tidak seharusnya berkata
Out. orang berkulit hitam itu keren. Adegan
ketujuh, informan berpendapat bahwa tidak
Informan 3 seharusnya bertanya menanyakan apakah
Pada adegan pertama dalam Film Get Out, memiliki warna kulit hitam menjadi sebuah
informan tiga berpendapat bahwa apa yag keuntungan atau kerugian.
dilakukan polisi merupakan hal yang tidak Dengan demikian informan satu
wajar. Dalam adegan kedua, informan berada pada tipe pembacaan oppositional
berpendapat bahwa perbincangan tersebut reading karena pendapat yang
membuat tidak nyaman pemeran utama dikemukakannya tersebut tidak menyetujui
sehingga tidak menyetujui adegan tersebut. terhadap makna rasisme yang digambarkan
Dalam adegan ketiga, informan berpendapat dalam film Get Out.
bahwa rasis terlihat karena warna kulit yang
dimiliki oleh pemeran utama. Dalam adegan Tabel 1 Pengelompokkan Informan
Berdasarkan Tiga Posisi Penonton
keempat, informan berpendapat bahwa tidak
seharusnya mendapat perlakuan untuk
membandingkan fisik orang kulit hitam
dengan orang kulit putih. Dalam adegan
kelima, informan berpendapat bahwa tidak
seharusnya pemeran utama mendapatkan
perlakuan seperti yang ditujukan dalam
adegan. Dalam adegan keenam, informan
berpendapat bahwa tidak seharusnya berkata
orang berkulit hitam itu keren. Adegan
ketujuh, informan berpendapat bahwa tidak
seharusnya bertanya menanyakan apakah
memiliki warna kulit hitam menjadi sebuah
keuntungan atau kerugian. Dengan demikian
informan satu berada pada tipe pembacaan
oppositional reading karena pendapat yang
dikemukakannya tersebut tidak menyetujui Sumber: Data terolah
terhadap makna rasisme yang digambarkan
dalam film Get Out.

132
Jurnal Manajemen Maranatha ■ Vol. 18 Nomor 2, Mei (2019)

KESIMPULAN DAN SARAN McQuail, D. (1989). Teori komunikasi massa


Kesimpulan :suatu pengantar/Denis McQuail.
Berdasarkan dari hasil penelitian yang peneliti Dharma, Agus (Penerjemah). Jakarta:
lakukan melalui wawancara mendalam dan Erlangga
observasi mengenai pembacaan (resepsi) McQuail, D. (2011). Teori komunikasi massa.
khalayak tentang pemaknaan rasisme dalam Jakarta: Salemba Humanika.
film Get Out bahwa posisi penonton dalam Moleong, L. J. (2006). Metodologi penelitian
penerimaan mereka tentang makna rasisme kualitatif. Bandung: Rosdakarya.
dalam film Get Out didominasi oleh posisi Cetakan kedua puluh.
oppositional position. Dari ketujuh adegan unit Moleong, L. J. (2016). Metodologi penelitian
analisis yang diteliti, lima diantaranya berada kualitatif (Edisi Revisi). Bandung:
di oppositional position mutlak dalam satu Remaja Rosdakarya.
scene lainnya informan lain berada di posisi Mulyana, D. (2000). Ilmu komunikasi suatu
dominant position. Yang dimana dalam setiap pengantar. Bandung: PT Remaja
adegan menampilkan materi rasisme yang Rosdakarya
berbeda-beda. Neubeck, K. J. W. (2011). Racism: playing the
race card against america's poor. New
Saran York: Routledge
Berdasarkan kesimpulan yang telah Prastowo, A. (2011). Metode penelitian
disampaikan sebelumnya, selanjutnya peneliti kualitatif dalam perspektif rancangan
akan memberikan saran-saran sebagai berikut: penelitian. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
1. Saran Akademis Rakhmat, J. (1991). Metode penelitian
Disarankan untuk peneliti selanjutnya, komunikasi. Bandung: PT Remaja
dapat menggunakan objek yang lain seperti Rosdakarya.
televisi, koran ataupun media lainnya yang Storey, J. (2008). Cultural theory and popular
ada. culture: an introduction. Fifth Edition.
2. Saran Praktis New York.
Diharapkan untuk penonton film ini tidak Wiryanto. (2008). Pengantar ilmu komunikasi.
menjadikan film ini sebagai contoh dalam Jakarta: Grasindo.
kehidupan sehari-hari dan menjadikan film
ini sebagai hiburan semata. Disarankan
juga untuk memilih-milih tontonan film
yang mana dapat dijadikan contoh dalam
kehidupan sehari-hari.

REFERENSI
Ardianto, E. (2004). Komunikasi massa suatu
pengantar. Bandung: Simbiosa
Rekatama Media.
Baran, S. J. (2003). Introduction to mass
communication and media; media
literacy and culture: Third edition,
America: MC Graw Hill
Effendy, O. U. (1986). Televisi siaran, teori
dan praktek. Bandung: Alumni.
Fox, C. (2003). Race, racism, and
discrimination: bridging problems,
method, and theory in social
psychological research. American
Sociological Association.
Hall, S. (1980). Encoding/decoding. In D.H
Stuart Hall (Ed.), Culture, Media,
Language. New York : Routledge,128-
138.

133
Jurnal Manajemen Maranatha ■ Vol. 18 Nomor 2, Mei (2019)

134