Anda di halaman 1dari 7

Lampiran 22

PRE - PLANNING PELAKSANAAN PELATIHAN PERAWAT CILIK

SISWA SD DI WILAYAH DESA KAMPILI KEC. PALLANGGA KAB. GOWA

A. Pendahuluan

Tujuan Usaha Kesehatan Sekolah secara umum adalah untuk meningkatkan

kemampuan hidup sehat dan derajat kesehatan peserta didik sedini mungkin serta

menciptakan lingkungan sekolah yang sehat sehingga memungkinkan pertumbuhan dan

perkembangan anak yang harmonis dan optimal dalam rangka pembentukkan manusia

Indonesia yang berkualitas (Suliha, 2002).

Secara khusus tujuan Usaha kesehatan sekolah adalah untuk memupuk

kebiasaan hidup sehat dan mempertinggi derajat kesehatan peserta didik yang mencakup

memiliki pengetahuan, sikap, dan ketrampilan untuk melaksanakan prinsip hidup sehat,

serta berpartisipasi aktif di dalam usaha peningkatan kesehatan. Sehat fisik, mental,

sosial maupun lingkungan, serta memiliki daya hayat dan daya tangkal terhadap

pengaruh buruk, penyalahgunaan narkoba, alkohol dan kebiasaan merokok serta hal-hal

yang berkaitan dengan masalah pornografi dan masalah sosial lainnya (Komang, 2008).

Untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat dan derajat kesehatan peserta

didik sedini mungkin serta menciptakan lingkungan yang sehat, dibutuhkan peran

petugas kesehatan dalam memberikan pendidikan kesehatan dan upaya kesehatan dasar

dalam pelaksanan program usaha kesehatan sekolah (Supari, 2008).

Petugas kesehatan puskesmas memiliki peran masing-masing dalam

pelaksanaan program usaha kesehatan sekolah ini. Tenaga dokter/dokter umum

disamping bertanggung jawab dalam pelaksanaan program juga ikut terlibat dalam
pelaksanaan program seperti penyuluhan dan pelatihan guru usaha kesehatan sekolah,

pelatihan dokter kecil serta skrening kesehatan (Murid, 2009).

Perawat komunitas melaksanakan perannya dengan melaksanakan skrening

kesehatan, memberikan pelayanan dasar untuk luka dan keluhan minor dengan

memberikan pengobatan sederhana, memantau status imunisasi siswa dan keluarganya

dan juga aktif dalam mengidentifikasi anak-anak yang mempunyai masalah kesehatan.

Perawat perlu memahami peraturan yang ada dan menyangkut anak-anak usia sekolah,

seperti memberikan libur pada siswa karena adanya penyakit menular, kutu, kudis atau

parasit lain. Disamping itu perawat juga berperan sebagai konsultan terutama untuk para

guru, perawat dapat memberikan informasi tentang pentingnya memberikan pengajaran

kesehatan di kelas, pengembangan kurikulum yang terkait dengan kesehatan, serta cara-

cara penanganan kesehatan yang bersifat khusus, kecacatan dan penyakit-penyakit yang

ada seperti hemofilia dan AIDS (Sumijatun, 2005).

Hasil pertemuan antara Mahasiswa dan Kepala-Kepala Sekolah SD se wilayah

desa Kampili bahwa semua SD yang ada belum pernah mendapatkan pelatihan perawat

kecil. Melihat hal itu Mahasiswa P2K3 merencanakan untuk mengadakan pelatihan

perawat cilik yang dikonsentrasikan di SD Kampili.

B. Tujuan Umum

Meningkatnya rumah tangga yang mengkonsumsi garam beryodium yang memenuhi

syarat (30-80 ppm) dan setelah dilakukan pemeriksaan sampel garam anak SD Ritaya,

diharapkan ditemukan gambaran tingkat pemakaian dan konsumsi garam beryodium

oleh keluarga dan masyarakat khususnya dusun lompokiti.

C. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan kegiatan pemeriksaan sampel garam dan penyuluhan garam

beryodium ini diharapkan siswa SD dapat:

1. Mengetahui garam beryodium

2. Mengetahui manfaat garam beryodium

3. Mengetahui akibat kekurangan garam beryodium

4. Mengetahui jumlah konsumsi garam yang dianjurkan

5. Mengetahui cara mendapatkan garam beryodium

6. Mengetahui cara menyimpan garam beryodium dengan benar

7. Mengetahui garam beryodium yang baik

8. Mengetahui cara menguji mutu garam beryodium

D. Sasaran dan Target

Sasaran : Seluruh Siswa SD Ritaya dusun Lompokiti

Target: Semua rumah tangga di dusun Lompokiti.

E. Strategi Pelaksanaan

1. Metode

a. Mengusulkan kepada pihak Puskesmas Kampili pengadaan yodium test sesuai

kebutuhan.

b. Melakukan pertemuan dengan kepala sekolah SD Ritaya untuk menentukan

waktu pelaksanaan.

c. Melakukan pemeriksaan sampel garam yang dibawa oleh masing-masing anak

SD selanjutnya dilanjutkan dengan penyuluhan garam beryodium.


2. Strategi Evaluasi

a. Evaluasi struktur

- Seluruh sampel garam dapat diperiksa.

- Mahasiswa dapat memberikan motivasi dalam bentuk penyuluhan

kesehatan tentang garan beryodium secara masal.

b. Evaluasi Proses

- Kegiatan pemeriksaan dan penyuluhan kesehatan garam beryodium

diharapkan berlangsung sesuai rencana.

c. Evaluasi Hasil

- Mahasiswa dapat menjangkau secara keseluruhan semua acara.

- Disamping pemeriksaan garam beryodium, juga memberikan penyuluhan

garam beryodium.

3. Waktu dan tempat

Kegiatan ini dilaksanakan mulai tanggal 5 Nopember 2010 pukul 10.00 Wita di SD

Ritaya dusun Lompokiti.

4. Pembagian Tugas

Penanggung Jawab Kegiatan :

 Bambang Hermanto, S.Kep (mahasiswa)

 Kepala Puskesmas Kampili

 Kepala sekolah SD Ritaya


LAPORAN PELAKSANAAN PEMERIKSAAN GARAM BERYODIUM

TERHADAP SAMPEL GARAM SISWA SD RITAYA

DESA KAMPILI KEC. PALLANGGA KAB. GOWA

Hari/Tanggal : Jumat, 5 Nopember 2010

Waktu : Pukul 10.00 Wita sampai selesai

Tempat : SD Ritaya dusun Lompokiti Desa Kampili

A. Persiapan :

1. Berdasarkan hasil survei mahasiswa pada beberapa rumah tangga di dusun Lompokiti

pada tanggal 18 Oktober 2010 dilaporkan masih ada rumah tangga yang tidak
menggunakan garam beryodium. Hal ini dapat menimbulkan masalah bagi gizi anak

sekolah terutama terciptanya Sumber Daya Manusia yang handal di masa depan.

Selanjutnya mahasiswa melakukan koordinasi dengan Kepala Sekolah SD Ritaya

disepakati akan dilakukan pemeriksaan terhadap sampel garam siswa SD Ritaya,

sehingga dalam penyusunan POA (Planning Of Action) direncanakan kegiatan

pemeriksaan sampel garam rumah tangga yang dibawa anak SD Ritaya pada tanggal 5

Nopember 2010, kegiatan ini juga mendapatkan dukungan dari pelaksana program

UKS Puskesmas Kampili yang bersedia menyediakan test yodium.

2. Pada tanggal 3 Nopember 2010 mahasiswa Praktek Program Profesi Komunitas PSIK-

UH mengadakan rapat dengan membicarakan pelaksanaan kegiatan dan disepakati di

awali dengan pemberian penyuluhan kesehatan tentang garam beryodium pada siswa

SD Ritaya.

B. Pelaksanaan :

Pemeriksaan sampel garam mulai dilaksanakan pukul 10.00 Wita dan selesai pukul 11.15

Wita. Tehnik pelaksanaan siswa di kumpul disatu kelas yaitu di ruang kelas 2 dengan

memanggil nama siswa satu persatu dari kelas 1 sampai kelas 6 hingga semua sampel

garam dapat diperiksa. Adapun nama siswa dan hasil pemeriksaan terhadap sampel

garam Siswa SD Ritaya disajikan pada tabel 1 (terlampir)

C. Evaluasi :

1. Evaluasi Struktur

- Semua sampel garam telah dapat diperiksa.


- Kegiatan dilaksanakan sesuai waktu yang ditentukan, yaitu dari pukul 10.00 Wita

sampai selesai.

2. Evaluasi Proses

- Dari 70 sampel garam yang diperiksa ditemukan 17 sampel (24,3%) yang tidak

mengandung garam beryodium.

- Selama kegiatan berlangsung, siswa dan guru memberi respon yang baik dan dapat

bekerjasama.

3. Evaluasi Hasil

- Terlaksananya kegiatan pemeriksaan garam beryodium di SD Inpres Ritaya

terhadap 70 sampel garam.

- Terlaksananya penyuluhan kesehatan tentang garam beryodium.