Anda di halaman 1dari 3

Sumber :

https://ikanmania.wordpress.com/2008/01/20/aspek-produksibudidaya-
pendederan-dan-pembesaran-udang-galah/

Lokasi Usaha

Udang galah merupakan komoditas perikanan air tawar yang dalam pembudidayaannya
memerlukan beberapa persyaratan dalam hal pemilihan lokasi kolam dan lingkungannya.
Untuk lokasi, persyaratan utamanya adalah ketinggian, jenis tanah dan adanya air
mengalir. Secara lengkap persyaratannya adalah sebagai berikut:

a. Syarat lokasi:

– Ideal di dataran rendah dengan ketinggian 400 M Dpl


– Tanah lumpur berpasir
– Terdapat sumber air mengalir
– Bebas banjir
– Bebas dari pencemaran
– Keamanan terjamin
– Mudah dijangkau

b. Syarat lingkungan:

– pH : 7-8
– Salinitas : 0-5 permil (namun sebaiknya air tawar)
– Tinggi genangan : 80-120 cm
– Temperatur air : 26°C-30°C
– Kecerahan air : 25-45 cm
– Oksigen terlarut : 5-7 ppm
– Karbondioksida : 2-12 ppm
– Amoniak (NH3) : < 2 ppm

Fasilitas Produksi dan Peralatan

a. Kolam

Bentuk kolam untuk budidaya udang galah sebaiknya memanjang sesuai aliran air
masuk dan keluar. Hal ini akan bermanfaat terhadap peng-gantian air yang sempurna
sehingga kandungan oksigen di dalam air akan tetap tinggi selama pemeliharaan.
Ukuran kolam yang ideal adalah lebar maksimum 20 m dan panjang 50 m atau luas
maksimal 1000 m2. Ukuran lebar ideal akan memudahkan dalam pemberian pakan,
karena pakan udang dapat ditebar secara merata dari pinggir sampai ke tengah kolam.
Hal tersebut sangat penting agar pendistribusian pakan dapat optimal karena udang
galah hidup merayap dan tersebar ke seluruh dasar kolam. Selain itu, kolam mudah
dikeringkan pada saat pemanenan.

Dasar kolam sebaiknya tanah berpasir dan diusahakan agar jumlah lumpur sesedikit
mungkin. Hal ini untuk mencegah terjadinya pembusukan bahan organik sisa pakan atau
kotoran udang yang dapat menimbulkan racun dan menyebabkan udang yang dipelihara
mabuk atau stress.

b. Pematang
Pematang atau tanggul pembatas kolam harus dibuat kokoh dan kuat agar tidak longsor
dan bocor. Lebar bagian atas dari pematang sebaiknya tidak kurang dari 1 m. Untuk
memudahkan pengelolaan kolam, maka perbandingan antara sisi tegak dan sisi
mendatar adalah 1 : 2 untuk tanah lempung dan minimal 1 : 1 untuk tanah berpasir.

c. Shelter

Udang galah selama hidupnya mengalami beberapa kali molting, dan pada saat itu
udang galah berada pada kondisi yang paling lemah. Di sisi lain udang galah juga
mempunyai sifat kanibal. Dengan demikian udang galah yang sedang molting perlu
shelter yang diberikan merata di sekeliling kolam, agar udang galah terhindar dari
kejaran udang yang sehat yang dapat memangsanya. Luas shelter sebaiknya kurang
lebih 20% dari luas kolam. Shelter dapat dibuat dari pelepah daun kelapa atau pucuk
pohon bambu yang telah dibuang daunnya atau anyaman bambu. Shelter diambangkan
di dalam kolam, diikatkan pada patok bambu/kayu dengan kedalaman 40 cm dari dasar
kolam. Foto 3. berikut ini menampilkan kolam dengan shelter berupa daun kelapa
sedangkan shelter pada Foto 4. terbuat dari bambu yang dibentuk seperti kerangka
bangunan.

Foto 3. dan 4. Kolam Pembudidayaan Udang Galah Dengan Shelter.

Sumber : Foto 3. Khulusiniah, Biro Kredit-Bank Indonesia, dan Foto 4. Fauzan Ali, Puslit
Limnologi LIPI.

d. Lubang penangkapan
Pada saat panen, udang harus dapat ditangkap dengan mudah, sehingga perlu dibuat
lubang penangkapan yang disambung dengan selokan kecil (caren) memanjang di
tengah kolam. Ukuran lubang penangkapan adalah panjang 2 m, lebar 3 m dan tinggi
0,75 m, sedangkan lebar caren adalah 0,5 m dengan kedalaman 0,4 m. Dengan adanya
lubang penangkapan ini, udang yang akan dipanen akan terkumpul di dalamnya melalui
caren.

e. Aerasi

Aerasi adalah upaya untuk menambah oksigen terlarut di dalam air. Kebutuhan oksigen
untuk udang galah relatif lebih tinggi dibandingkan dengan ikan. Semakin padat udang
galah yang dibudidayakan di kolam, semakin tinggi kelarutan oksigen yang diperlukan.
Apabila debit air kurang mencukupi maka untuk memperkaya kelarutan oksigen,
dilakukan aerasi dengan menggunakan kincir air. Apabila debit air cukup maka aerasi
dilakukan dengan sistem air kolam yang mengalir.

f. Peluap dan drainase

Peluap diperlukan untuk mengatur tinggi permukaan air di kolam agar kedalamannya
sesuai dengan yang diharapkan dan juga tidak terjadi over topping yang dapat merusak
pematang. Lubang drainase digunakan untuk membuang kelebihan air di kolam, karena
kolam yang ideal adalah yang selalu ada aliran masuk dan keluar selama 24 jam.
Lubang drainase ini dapat dibuat dari pipa tanah liat (hong) yang menembus pematang
menuju saluran drainase, kemudian disambung dengan pipa PVC vertical sebagai peluap
dengan sambungan berbentuk “L” (siku) yang sewaktu-waktu dapat dilepas untuk
mengurangi atau mengeringkan air saat udang dipanen.

Perkakas dan peralatan yang diperlukan oleh pembudidaya udang galah secara semi
intensif di Kabupaten Sleman, DIY cukup sederhana dan tidak terlalu bervariasi.
Perkakas dan peralatan tersebut antara lain meliputi seser bulat, seser kotak, cangkul,
jala, drum plastik, kelambu/jaring hapa, keranjang, timbangan sampling dan timbangan
gantung. Foto 5. berikut ini menampilkan jaring yang digunakan untuk memanen.