Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN AUDIT KLINIS

RUMAH SAKIT PERKEBUNAN


TRIMESTER II

1
DAFTAR ISI

Halaman Judul......................................................................................................................1
Daftar Isi...............................................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.................................................................................................................3
B. Tujuan...............................................................................................................................3
BAB II PELAKSANAAN
A. Penyusunan Standar dan Kriteria Audit Klinis................................................................4
B. Penyusunan Data dan Analisa Data..................................................................................7
BAB III MONITORING EVALUASI DAN RENCANA TINDAK LANJUT...................11
BAB IV MONITORING EVALUASI DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA............12
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A.Kesimpulan......................................................................................................................15
B.Saran.................................................................................................................................15

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam memberikan pelayanannya Rumah Sakit Perkebunan mempunyai visi untuk
mengutamakan peningkatan mutu dan keselamatan pasien. Sesuai dengan hal itu, maka Rumah
Sakit Perkebunan melakukan beragam kegiatan yang mempunyai orientasi terhadap hal tersebut
melalui kemasan program yang diintegrasikan dengan seluruh unit kerja dan instalasi terkait.
Pembuatan clinical pathway (CP) merupakan salah satu alat manajemen penyakit yang
dapat mengurangi variasi pelayanan yang “tidak perlu”, meningkatkan outcome klinis, dan
efisiensi sumber daya. Clinical pathway (CP) digunakan untuk mengukur pengendalian mutu dan
pengendalian biaya terhadap kasus-kasus yang menjadi prioritas dengan mengutamakan kasus-
kasus yang problem prone, high risk, high cost, high volume. Clinical pathway yang dipilih
sebagai layanan prioritas adalah layanan Diabetes Melitus (DM). Terdapat lima kasus prioritas
yang telah dipilih sesuai dengan faktor problem prone, high risk, high cost, high volume; yaitu
DM dengan terapi insulin, DM dengan gagal ginjal kronik / chronic kidney disease (GGK/CKD)
(non hemodialisa), DM Hipoglikemi, Katarak Diabetikum dengan tindakan Phacoemulsifikasi,
dan Diabetic Foot Ulcer (DFU) dengan tindakan Debridement.
Proses audit klinis diperlukan sebagai proses evaluasi clinical pathway (CP). Audit

klinis merupakan suatu proses peningkatan mutu yang dilakukan untuk memperbaiki outcome
dan pelayanan kesehatan kepada pasien melalui telaah sistematik terhadap pelayanan yang ada

dibandingkan dengan kriteria standar untuk selanjutnya dilakukan perubahan. Waktu

pelaksanaan audit klinis minimal setiap 3 bulan sekali.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum
Untuk mendeskripsikan pelaksanaan dan evaluasi clinical pathway di RS Perkebunan,
serta meningkatkan mutu pelayanan Diabetes Melitus (DM) di unit-unit pelayanan dan
penunjang pelayanan secara keseluruhan dan pengendalian biaya pelayanan Diabetes Melitus
(DM) dengan mengurangi risiko.

3
2. Tujuan Khusus
a. Memfasilitasi penerapan PPK (Panduan Praktik Klinis), PAK (Panduan Asuhan
Keperawatan), PAG (Panduan Asuhan Gizi), dan PAKf (Panduan Asuhan Kefarmasian)
sehingga tercapai standarisasi proses asuhan klinis di RS Perkebunan.
b. Mengidentifikasi kesesuaian dengan standar yang ditetapkan dalam pelayanan asuhan
klinis pasien di RS Perkebunan.
c. Melakukan analisa dan perbaikan atas dasar bukti secara ilmiah yang dapat
dipertanggungjawabkan.

4
BAB II
PELAKSANAAN

A. Penyusunan Standar dan Kriteria Audit Klinis


Instrumen audit klinis terdiri dari kriteria, standar, perkecualian dan petunjuk
pengambilan data adalah sebagai berikut:
A.1 Kasus Diabetes Melitus (DM) dengan Terapi Insulin
Tabel 2.1. Instrumen Audit Klinis DM dengan Terapi Insulin

Petunjuk
Kriteria Standar Perkecualian Pengambilan
Data
Apakah dokter sudah melakukan pemeriksaan
Form assesmen
kadar gula acak (KGA) kepada setiap pasien 80% Ya -
awal medis
dengan riwayat Diabetes Melitus (DM)?
Apakah hasil pemeriksaan kadar gula acak Hasil bacaan
80% Ya -
(KGA) ≥

200 mg/dL? laboratorium
Apakah setiap pasien DM dengan kadar KGA
≥

200 mg/dL mendapat pemberian insulin short 80% Ya - Form CPPT
acting saat perawatan?
Apakah Length of Stay (LOS) pasien DM
80% Ya - Form CPPT
dengan terapi insulin adalah 4 hari?

A.2 Kasus Diabetes Melitus (DM) Hipoglikemi


Tabel 2.2. Instrumen Audit Klinis DM Hipoglikemi
Petunjuk
Kriteria Standar Perkecualian Pengambilan
Data
Apakah dokter sudah melakukan pemeriksaan
Form assesmen
kadar gula acak (KGA) kepada setiap pasien 80% Ya -
awal medis
dengan riwayat Diabetes Melitus (DM)?
Apakah hasil pemeriksaan kadar gula acak Hasil bacaan
80% Ya -
(KGA) < 70 mg/dL? laboratorium
Apakah setiap pasien DM dengan kadar KGA
<70 mg/dL mendapat pemberian Dekstrosa 80% Ya - Form CPPT
40% saat perawatan?
Apakah Length of Stay (LOS) pasien DM
80% Ya - Form CPPT
dengan hipoglikemi adalah 3 hari?

A.3 Kasus Diabetes Melitus (DM) dengan Chronic Kidney Disease (CKD) (non
hemodialisa)
Tabel 2.3. Instrumen Audit Klinis DM dengan CKD

5
Petunjuk
Kriteria Standar Perkecualian Pengambilan
Data
Apakah dokter sudah melakukan pemeriksaan
Form assesmen
kadar gula acak (KGA) kepada setiap pasien 80% Ya -
awal medis
dengan riwayat DM dan CKD?
Apakah hasil pemeriksaan kadar gula acak Hasil bacaan
80% Ya -
(KGA) ≥

200 mg/dL? laboratorium
Apakah setiap pasien DM dan CKD dengan
kadar KGA ≥

200 mg/dL mendapat pemberian 80% Ya - Form CPPT
insulin short acting saat perawatan?
Apakah Length of Stay (LOS) pasien DM
80% Ya - Form CPPT
dengan CKD adalah 3 hari?

A.4 Kasus Katarak Diabetikum dengan tindakan Phacoemulsifikasi


Tabel 2.4. Instrumen Audit Klinis DM dengan Tindakan Phaecoemulsifikasi
Petunjuk
Kriteria Standar Perkecualian Pengambilan
Data
Apakah dokter sudah menanyakan riwayat
Form assesmen
Diabetes Melitus (DM) pada setiap pasien 80% Ya -
awal medis
sebelum operasi katarak?
Apakah dokter sudah melakukan pemeriksaan Form assesmen
kadar gula acak (KGA) sebelum operasi dan awal medis,
80% Ya -
hasil pemeriksaan KGA ≥

200 mg/dL? Hasil bacaan
laboratorium
Apakah setiap pasien pre-operasi katarak
dengan kadar KGA ≥

200 mg/dL mendapat 80% Ya - Form CPPT
pemberian insulin short acting saat perawatan?
Apakah Length of Stay (LOS) pasien katarak
diabetikum dengan tindakan phacoemulsifikasi 80% Ya - Form CPPT
adalah 2 hari?

A.5 Kasus Diabetic Foot Ulcer (DFU) dengan Tindakan Debridement


Tabel 2.5. Instrumen Audit Klinis Diabetic Foot Ulcer (DFU) dengan Tindakan Debridement
Pengambilan
Kriteria Standar Perkecualian
Data
Apakah dokter sudah menanyakan riwayat 80% Ya - Form assesmen

6
Diabetes Melitus (DM) pada setiap pasien pre-
awal medis
operasi dengan ulkus pada kaki?
Apakah dokter sudah melakukan pemeriksaan Form assesmen
kadar gula acak (KGA) sebelum operasi awal medis,
80% Ya -
debridement ulkus kaki (terutama pada pasien Hasil bacaan
> 40 tahun)? laboratorium
Apakah setiap pasien pre-operasi debridement Alergi
dengan ulkus diabetikum telah mendapatkan antibiotik
80% Ya Form CPPT
terapi profilaksis antibiotik Cefazolin 2 gram golongan
saat perawatan? Cephalosporin
Apakah Length of Stay (LOS) pada pasien
Diabetic Foot Ulcer (DFU) dengan tindakan 80% Ya - Form CPPT
debridement adalah 3 hari?

B. Pengumpulan Data dan Analisa Data


Pengumpulan data dilakukan dengan mengambil data secara retrospektif pada total
populasi berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Data yang telah terkumpul kemudian diolah
dan dianalisa dengan membandingkan jumlah kasus yang penanganannya patuh atau sesuai
dengan 5 clinical pathways (CP) sebagai Numerator/pembilang (N) dengan jumlah keseluruhan
kasus yang masuk dalam kriteria CP yang ditetapkan sebagai Denominator/penyebut (D).
Perbandingan tersebut diformulasikan kedalam fomula (N/D x 100%). Target pencapaian adalah
80%. Kriteria inklusi adalah semua pasien yang menderita penyakit yang ditetapkan dalam CP.
Kriteria eksklusi adalah pasien yang pulang atas permintaan sendiri atau dirujuk selama
perawatan, pasien yang meninggal, dan atau pasien yang memiliki alergi obat dari terapi yang
ditetapkan.
Grafik perbandingan pencapaian rata-rata kesesuaian clinical pathway di bulan April,
Mei, dan Juni tahun 2019 digambarkan pada grafik 2.1 sebagai berikut:

7
Grafik 2.1. Perbandingan Rata-rata Kesesuaian CP Bulan April, Mei, Juni 2019
Berdasarkan data hasil pencapaian kesesuaian CP di triwulan II 2019 dapat dilihat bahwa
pada sebagian besar kasus prioritas menunjukkan adanya peningkatan kesesuaian dari bulan
April ke Juni 2019 sebesar 7,6%. Sebagian besar pencapaian kesesuaian pelaksanaan CP masih
dibawah standar dan perlu tindak lanjut perbaikan.
Hasil rata-rata kesesuaian clinical pathway pada lima kasus prioritas dengan standar di
Triwulan II tahun 2019 digambarkan pada grafik perbandingan sebagai berikut:

Grafik 2.2. Perbandingan Rata-rata Kesesuaian CP dengan Standar Triwulan II 2019

8
Berdasarkan gambaran grafik diatas dapat dikatakan bahwa kepatuhan atau kesesuaian
pelaksanaan CP di semua kasus prioritas rata-rata 73,64% walaupun masih dibawah standar yang
diharapkan yaitu 80%, namun pencapaian tersebut menunjukkan adanya peningkatan
dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (triwulan I 2019) dengan hasil 69,63%. Rata-rata
pencapaian kesesuaian pada kasus katarak diabetikum dengan tindakan phacoemulsifikasi telah
mencapai standar yakni sebesar 80,87%. Pencapaian kesesuaian pada kasus DM dengan terapi
insulin merupakan pencapaian terendah di triwulan II tahun 2019 sebesar 72,24%
Grafik perbandingan hasil capaian audit klinis masing-masing kasus berdasarkan kriteria
yaitu: asesmen awal, penunjang, terapi dan LOS yang telah ditetapkan dengan standar pada
triwulan II tahun 2019 digambarkan pada grafik 2.3 sebagai berikut:

Grafik 2.3. Perbandingan Kesesuaian CP berdasarkan kriteria Asesmen medis, Penunjang, Terapi dan LOS
dibandingkan dengan Standar Triwulan II 2019
Berdasarkan gambar grafik diatas dapat dilihat bahwa kesesuaian kriteria CP sevagian
besar kasus prioritas masih dibawah standar yang diharapkan. Kesesuaian kriteria pengisian
asesmen medis pada semua kasus prioritas masih dibaawah standar. Kasus DM dengan terapi
insulin menunjukkan kriteria pengisian asesmen yang terendah 72,42%, sedangkan kasus DFU
dengan tindakan debridement menunjukan persentase tertinggi sebesar 78,30%, meskipun masih

9
dibawah standar yang ditetapkan. Berdasar kriteria kesesuaian terapi, implementasi pemberian
terapi pada kasus katarak diabetikum dengan tindakan phacoemulsifikasi dengan persentase
tertinggi sebesar 81,70%, dan telah memenuhi standar yang diharapkan yakni 80%. Demikian
halnya dengan kriteria pemeriksaan penunjang, kasus katarak diabetikum dengan tindakan
phacoemulsifikasi memiliki persentase tertinggi sebesar 77,61%. Kesesuaian dari aspek outcome
yaikni keseuaian Length of Stay (LOS) pada sebagian besar kasus prioritas masih belum sesuai
standar. Persentase kesesuaian LOS untuk kasus katarak diabetikum dengan tindakan
phacoemulsifikasi menujukkan hasil sebesar 88,39%, telah memenuhi standar dan merupakan
persentase tertinggi pada triwulan II tahun 2019. Persentase kesesuaian LOS terendah pada kasus
DM dengan terapi insulin sebesar 68,36%. Hal ini menunjukkan perlunya dilakukan tindak lanjut
perbaikan.

10
BAB III
MONITORING EVALUASI DAN RENCANA TINDAK LANJUT

Tabel 3.1. Monitoring Evaluasi dan Rencana Tindak Lanjut (RTL) Triwulan II tahun 2019
No Kendala Penyebab RTL Waktu PIC
1 Tingginya variasi terhadap Tingginya variasi penyakit penyerta Mengadakan pendekatan kepada Juli 2019 KMKP, Komite
penunjang dan terapi sehingga sehingga DPJP membutuhkan terapi DPJP untuk diskusi dan evaluasi medik/keperawart
berdampak pada memanjangnya dan pemeriksaan penunjang tambahan terutama mengenai kesesuaian an, Kepala Sub
lama perawatan karena kondisi pasien belum membaik. pemeriksaan penunjang dan terapi Divisi
dalam CP kasus prioritas
2 Pelaksanaan pengisian CP untuk Petugas pelaksana sering lupa dalam Melakukan sosialisasi ulang mengenai Juli 2019 Komite medis
lima kasus prioritas kurang melengkapi form CP dan melakukan tata cara pengisian CP, memberikan KMKP, Kepala
lengkap. verifikasi kepada DPJP label post it di berkas rekam medis, Sub Divisi
dan mengingatkan DPJP untuk
melakukan verifikasi CP

3 Kelalaian petugas pelaksana Petugas pelaksana terutama di garda Menempelkan daftar kasus yang Juli 2019 Komite medis
untuk melaksanakan CP depan (IGD) sering lupa untuk membutuhkan CP terutama lima kasus KMKP, Kepala
mencetak dan melakukan pengisian CP prioritas pada masing-masing unit Sub Divisi
dan petugas pelaksana di ruangan juga terutama di garda depan dan
tidak melakukan follow up terhadap meningkatkan kerja sama antar unit
lima kasus prioritas yang belum terkait
terdapat berkas CP.

11
BAB IV
MONITORING EVALUASI TERHADAP PENGGUNAAN SUMBER DAYA

Tabel 4.1. Perbandingan LOS dan COST Sebelum dan Sesudah Pelaksanaan CP

LOS Rata-Rata COST Efisiensi


No Kasus PPK
Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
4.20 3.83 Rp 6.837.489 Rp 6.545.278
1 DM dengan terapi insulin
4.67 3.33 Rp 7.566.661 Rp 7.297.882
2 DM dengan CKD
3.60 3.03 Rp 4.987.745 Rp 4.011.855
3 DM hipoglikemi
2.77 2.00 Rp 8.106.114 Rp 7.913.661
4 Katarak Diabetikum dengan
tindakan phacoemulsifikasi
4.13 3.07 Rp 7.282.305 Rp 6.959.458
5 DFU dengan tindakan Debridement

Definisi “sebelum” pada tabel diatas adalah menggambarkan data LOS dan rata-rata
COST efisiensi di triwulan sebelumnya (triwulan I 2019) sedangkan yang dimaksud dengan
“sesudah” adalah data LOS dan rata-rata COST efisiensi pada triwulan yang sedang di evaluasi
(triwulan II 2019). Berdasarkan data tabel diatas dapat dikatakan bahwa terdapat pengurangan
Length of Stay (LOS) pada semua kasus prioritas sejak diimplementasikannya CP di bulan
Oktober 2018, dan tetap mengalami penurunan rata-rata LOS setelah diimplementasikan CP dari
triwulan IV 2018 hingga triwulan II 2019. Hal ini dapat disimpulkan bahwa standarisasi dan
efektivitas LOS untuk kasus prioritas menunjukkan perbaikan di semua kasus prioritas di
triwulan II 2019. Berkurangnya LOS diasumsikan akan mengurangi biaya perawatan (cost
therapy). Rata-rata cost therapy semua kasus prioritas menunjukkan cost efficiency. Dapat
dikatakan dengan implementasi CP dapat menekan LOS dan biaya terapi selama perawatan
pasien di semua kasus prioritas
Perbandingan pemanfaatan lama dirawat (LOS) dan penggunaan biaya terapi selama
perawatan pasien pada kasus prioritas dapat dilihat pada grafik dibawah ini:

12
Grafik 4.1. Perbandingan LOS Sebelum dan Sesudah Pelaksanaan CP
Berdasarkan grafik perbandingan LOS diatas dapat dinyatakan bahwa terdapat penurunan
LOS pada semua kasus prioritas di triwulan II 2019 dibandingkan periode triwulan sebelumnya
baik triwulan III 2018 (sebelum implementasi CP) maupun di triwulan IV 2018 dan triwulan I
2019. Hal ini berarti bahwa terdapat perbaiakan outcome berupa pengurangan LOS di semua
kasus prioritas.

Grafik 4.2. Perbandingan Pemanfaatan Biaya Sebelum dan Sesudah Pelaksanaan CP


Berdasarkan grafik perbandingan pemanfaatan biaya perawatan diatas dapat dinyatakan
bahwa terdapat penurunan biaya perawatan pada semua kasus prioritas di triwulan II 2019
dibandingkan periode triwulan sebelumnya baik triwulan III 2018 (sebelum implementasi CP)
maupun di triwulan IV 2018 dan triwulan I 2019. Hal ini berarti bahwa terdapat keterkaitan
dengan pengurangan LOS sehingga berdampak cost efficiency di semua kasus prioritas.

13
14
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil capaian audit klinis pada triwulan II tahun 2019, didapatkan data
bahwa sebagian besar capaian masih berada di bawah standar. Penyebab ketidaksesuaian
diantaranya yaitu CP belum tersosialisasikan dengan baik, kelalaian tenaga PPA dalam
pelasanaan CP, dan ketidakpatuhan DPJP terhadap CP. Perlu adanya tindak lanjut berupa
sosialisai ulang, pendekatan terhadap DPJP, evaluasi berkala mengenai kepatuhan
terhadap pelaksanaan CP, dan koordinasi yang baik antar unit terkait.
B. Saran
- Perlu dilakukan monitoring evaluasi secara berkala
- Melakukan proses perbaikan (redesign) terhadap pencapaian kepatuhan PPA
mengimplementasikan CP
- Dilakukan feedback umpan balik hasil capaian terhadap PPA terus termotivasi untuk
melakukan proses perbaikan.

Jember, 18 Juli 2019


Mengetahui

(dr. M. Agus Burhan Syah) (dr. Anita Fadhilah, MMRS)


Kepala Rumah Sakit Perkebunan Ketua KMKP

15

Anda mungkin juga menyukai