Anda di halaman 1dari 63

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah profesi bagi pegawai negeri
sipil (PNS) dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) yang
bekerja pada instansi pemerintah. Pegawai ASN memiliki fungsi sebagai
pelaksana kebijakan publik, pelayan publik, serta perekat dan pemersatu
bangsa. Selain itu, pegawai ASN juga berperan sebagai perencana,
pelaksana, dan pengawas penyelenggaraan tugas umum pemerintahan dan
pembangunan nasional melalui pelaksanaan kebijakan dan pelayanan
publik yang profesional. Negara memerlukan aparatur sipil negara (ASN)
yang handal untuk mengantarkan Indonesia menjadi negara jaya, sejahtera,
dan maju.
Menurut UU No. 5 tahun 2014, Pegawai Negeri Sipil (PNS)
adalah Pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN) yang diangkat sebagai
pegawai tetap oleh Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK) dan memiliki
nomor induk pegawai secara nasional. PNS memiliki peranan penting
dalam mewujudkan tujuan negara sebagaimana tercantum dalam
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

I.1.1 Dasar Penyelenggaraan


Dasar penyelenggaraan pelatihan dasar CPNS adalah mengacu
pada UU Nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara dan PP No.
11 tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil. Pegawai Negeri
Sipil profesional perlu dilaksanakan pembinaan melalui jalur pelatihan.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 11 tahun 2017 pasal 34 ayat (7)
tentang pelatihan dasar calon pegawai negeri sipil, disebutkan bahwa
CPNS wajib menjalani masa percobaan selama 1 (satu) tahun. Masa
percobaan tersebut merupakan masa prajabatan yang dilaksanakan melalui
proses pendidikan dan pelatihan yang hanya dapat diikuti satu kali. CPNS
wajib menjalani masa percobaan yang dilaksanakan melalui proses diklat

1
untuk membangun integritas moral, kejujuran, semangat, motivasi
nasionalisme dan kebangsaan, karakter kepribadian yang unggul dan
bertanggungjawab, memperkuat profesionalisme, dan kompetensi bidang
sehingga peserta mampu menginternalisasi, menerapkan,
mengaktulisasikan, membuatnya menjadi kebiasaan (habituasi), dan
merasakan manfaatnya, sehingga terpatri dalam dirinya sebagai karakter
PNS yang profesional.
Peraturan Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia
nomer 12 tahun 2018 membahas tentang dasar penyelenggaraan pelatihan
dasar CPNS. Pelatihan dapat berbentuk klasikal dan non klasikal.
Pelatihan klasikal berupa tatap muka di dalam kelas, diasramakan, dan
diberi kegiatan peningkatan kesegaran jasmani. Proses pembelajaran
klasikal dilaksanakan pada 18 hari pertama pelatihan. Pelatihan
nonklasikal dilakukan paling kurang dengan e-learning, bimbingan
ditempat kerja, pelatihan di alam bebas, pelatihan jarak jauh dan atau
magang.

I.1.2 Pola Penyelenggaraan Pelatihan Dasar


Pelatihan dasar CPNS menurut Peraturan Lembaga Administrasi
Negara Republik Indonesia nomer 12 tahun 2018 bertujuan untuk
mengembangkan kompetensi CPNS yang dilakukan secara intergrasi.
Terintergrasi merupakan suatu paduan antara klasikal dan nonklasikal dan
kompetensi sosial kultural dengan kompetensi bidang. Kurikulum
pembentukan karakter yang dilaksanakan selama 51 hari kerja dengan
rincian 18 hari kerja untuk kegiatan pembelajaran klasikal (berada di
tempat pelatihan), 30 hari keja untuk pembelajaran nonklasikal (aktualisasi
di tempat kerja), dan 3 hari kerja dilaksanakan di tempat penyelenggaraan
latihan.
Struktur kurikulum Pelatihan Dasar Calon PNS Golongan III
terbagi dalam dua bagian yaitu kurikulum pembentukan karakter PNS dan
kurikulum penguatan kompetensi bidang tugas yang terdiri dari

2
kompetensi teknis umum/administrasi dan kompetensi teknis substantif.
Adapun kurikulum pembentukan karakter PNS terdiri dari tiga agenda.
Agenda pertama merupakan sikap perilaku bela Negara. Agenda
ini membekali peserta dengan pemahaman wawasan kebangsaan melalui
pemaknaan terhadap nilai-nilai bela negara sehingga peserta memiliki
kemampuan untuk menunjukkan sikap perilaku bela negara dalam suatu
kesiapsiagaan yang mencerminkan sehat jasmani dan mental menghadapi
isu kontemporer dalam menjalankan tugas jabatan sebagai seorang PNS
professional pelayan masyarakat. Kemampuan tersebut diperoleh melalui
pembelajaran mata pelatihan wawasan kebangsaan dan nilai-nilai bela
Negara, analisa isu kontemporer, dan kesiapsiagaan bela Negara secara
terintegrasi.
Agenda dua merupakan nilai-nilai Dasar PNS. Agenda ini
membekali peserta dengan nilai-nilai dasar yang dibutuhkan dalam
menjalankan tugas jabatan PNS secara professional sebagai pelayan
masyarakat yang meliputi kemampuan berakuntabilitas, mengedepankan
kepentingan nasional, menjunjung tinggi standar etika publik, berinovasi
untuk peningkatan mutu pelaksanaan tugas jabatannya dan tidak korupsi
dan mendorong percepatan pemberantasan korupsi di lingkungan
instansinya.
Agenda ketiga merupakan kedudukan dan peran PNS dalam NKRI.
Agenda pembelajaran ini membekali peserta dengan pengetahuan tentang
kedudukan dan peran PNS untuk menjalankan fungsi ASN sebagai
pelaksana kebijakan publik, pelayan publik, dan perekat bangsa sehingga
mampu mengelola tantangan dan masalah keragaman sosial-kultural
dengan menggunaan perspektif Whole of Government dalam mendukung
pelaksanaan tugas jabatannya. Kemampuan tersebut diperoleh melalui
pembelajaran mata Pelatihan Pelayanan ASN, Pelayanan Publik, dan
Whole of Government.
Agenda keempat merupakan habituasi. Agenda pembelajaran ini
memfasilitasi agar peserta melakukan proses aktualisasi melalui
pembiasaan diri terhadap kompetensi yang telah diperolehnya melalui

3
berbagai mata pelatihan yang telah dipelajari. Melalui agenda
pembelajaran ini, peserta akan dibekali dengan konsepsi dan tahap
aktualisasi, penyusunan dan penyajian rancangan aktualisasi, pelaksanaan
aktualisasi di tempat kerja dan penyajian hasil aktualisasi di tempat kerja
dengan menyajikan berbagai bukti belajar yang relevan.

I.1.3 Kompetensi selama Pelatihan Dasar


Kompetensi yang dibangun selama Pelatihan Dasar Calon Pegawai
Negeri Sipil (CPNS) Golongan III agar terbentuk PNS sebagai pelayan
masyarakat yang profesional, hal ini diindikasikan dengan kemampuan:
1. Menunjukkan sikap perilaku bela negara;
2. Mengaktualisasikan nilai-nilai dasar PNS dalam pelaksanaan tugas
jabatannya;
3. Mengaktualisasikan kedudukan dan peran PNS dalam kerangka
NKRI;
4. Menunjukkan penguatan kompetensi teknis yang dibutuhkan sesuai
bidang tugas.
Untuk memperkuat fungsi seorang PNS, dalam Pelatihan Dasar
CPNS, peserta dipersiapkan dan dibekali materi-materi sehingga memiliki
kemampuan mengaktualisasikan lima nilai dasar kemampuan mewujudkan
akuntabilitas, mengedepankan kepentingan nasional, menjunjung tinggi
standar etika publik, berinovasi untuk peningkatan mutu, dan kemampuan
untuk tidak korupsi. Peserta juga memiliki kemampuan untuk
menganalisis dampak apabila kompetensi sikap perilaku bela negara, nilai-
nilai dasar PNS, dan kedudukan dan peran PNS dalam kerangka NKRI
tidak diaplikasikan.

I.1.4 Tahapan Aktualisasi


Pada sistem pembelajaran Pelatihan Dasar CPNS, peserta pelatihan
diharapkan mampu mengaktualisasikan substansi materi pembelajaran
melalui proses pembiasaan diri untuk diterapkan pada kegiatan aktuliasasi
di tempat kerja. Dalam kegiatan aktualisasi ini diharapkan peserta mampu

4
menerapkan ilmu-ilmu yang telah dipelajari selama agenda Pelatihan
Dasar Calon PNS. Adapun tahapan aktualisasi antara lain:
1. Merancang aktualisasi
Rancangan aktualisasi merupakan dokumen atau produk pembelajaran
aktualisasi yang dihasilkan peserta pelatihan Dasar Calon PNS bagi
CPNS Golongan III. Dalam merancang aktualisasi, setiap peserta
dituntut untuk:
a. Mengidentifikasi, menyusun dan menetapkan isu atau
permasalahan yang terjadi dan harus segera dipecahkan
b. Mengajukan gagasan pemecahan isu dengan menyusunnya dalam
daftar rencana, tahapan, dan output kegiatan
c. Mendeskripsikan keterkaitan antara isu dan kegiatan yang
diusulkan dengan mata pelatihan Pelayanan ASN, Pelayanan
Publik, dan Whole Of Government dalam satu atau keseluruhan
perspektif mata pelatihan, baik secara langsung maupun tidak
langsung
d. Mendeskripsikan rencana pelaksanaan kegiatan dan kontribusi
hasil kegiatan yang didasari aktualisasi nilai-nilai dasar PNS
e. Mendeskripsikan hasil kegiatan yang dilandasi oleh substansi mata
pelatihan terhadap pencapaian visi, misi, tujuan organisasi, dan
penguatan terhadap nilai-nilai organisasi

2. Mempresentasikan rancangan aktualisasi


Tujuan presentasi yaitu untuk mendapatkan masukan agar rancangan
aktualisasi tersebut layak dan logis diterapkan. Dalam seminar
rancangan aktualisasi diberi kesempatan 15-20 menit untuk
mempresentasikan rancangan aktualisasi. Komponen utama yang harus
dipresentasikan peserta adalah:
a. Argumentasi terhadap core issue yang dipilih, konsep pokok mata
pelatihan yang melandasi core issue, dan penetapan inisiatif
pemecahan core issue yang dipilih.

5
b. Usulan-usulan inisiatif, baik berupa pikiran konseptual dan/atau
aktivitas-aktivitas dalam rangka memecahkan core issue tersebut
c. Proses dan kualitas dalam mengelola dan menjalankan inisiatif dan
identifikasi dampak hasil inisiatif, level dampak inisiatif, dan
keberlangsungan inisiatif.
d. Kontribusi hasil kegiatan terhadap visi, misi, dan tujuan organisasi
e. Kontribusi hasil kegiatan terhadap penguatan nilai-nilai organisasi

3. Melakukan aktualisasi
Setelah kembali di tempat kerja, peserta dituntut untuk segera
melaksanakan kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan dengan penuh
disiplin dan tanggung jawab, sesuai dengan jadwal yang telah
direncanakan. Ada 3 hal mendasar yang perlu dilakukan peserta saat off
campus, yaitu:
a. Melakukan pendalaman terhadap core issue yang dipilih dan
dukungan konsep pokok mata pelatihan yang melandasi pemilihan
core issue dan penetapan inisiatif pemecahan core issue yang
dipilih
b. Melakukan penerapan terhadap usulan-usulan inisiatif baik berupa
pikiran konseptual dan/atau aktivitas-aktivitas dalam rangka
memecahkan core issue
c. Melakukan analisis terhadap dampak hasil inisiatif dan menjaga
keberlangsungan inisiatif yang telah dilakukan

4. Melaporkan aktualisasi
Selama melaksanakan pembelajaran off campus, peserta membuat
rancangan aktualisasi harian atau mingguan atau periode tertentu di
bawah bimbingan coach atau mentor. Muatan rancangan aktualisasi
yaitu deskripsi core issue yang terjadi dan strategi pemecahannya,
proses menerapkan inisiatif gagasan kreatif yang telah dirancang yang
didukung dengan dukungan bukti-bukti pembelajaran seperti dokumen,
notulensi, video serta analisis terhadap dampak yang ditimbulkan dan

6
analisi dampak jika nilai-nilai dasar PNS tidak diterapkan dalam
pelaksanaan tugas jabatannya.

5. Mempresentasikan rancangan aktualisasi


Tujuannya adalah untuk mendapatkan penilaian atas aktualisasi yang
telah dilakukan dan mendapatkan masukan agar ke depan kualitas
aktualisasi dapat dilanjutkan dalam pelaksanaan tugas dan jabatannya.
Komponen utama yang harus dipresentasikan peserta yaitu:
a. Argumentasi terhadap core issue yang dipilih yang didukung
konsep pokok mata pelatihan dan penetapan inisiatif pemecahan
core issue yang dipilih
b. Proses dan kualitas mengelola dan menjalankan inisiatif dan
identifikasi dampak hasil inisiatif, level dampak dan
keberlangsungan inisiatif
c. Kontribusi hasil kegiatan terhadap visi, misi dan tujuan organisasi
d. Kontribusi hasil kegiatan terhadap penguatan nilai-nilai organisasi
e. Hasil analisis konseptual, dampak apabila nilai-nilai dasar PNS
tidak diaplikasikan dalam pelaksanaan tugas dan jabatannya

I.1.5 Profil Organisasi


1. Profil RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang (RSMH)
Nama Rumah Sakit : RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang
Kode Rumah Sakit : 167.1013
Direktur Utama : Dr. Mohammad Syahrir, Sp.P, MPH
Alamat Rumah Sakit : Jl.Jenderal Sudirman Km 3.5 Palembang
Telepon : (0711) 354088
Email : rsmhplg@yahoo.com
Kelas Rumah Sakit : Kelas A Pendidikan / SK Menkes No.634 /
12 Sept 2009

7
Gambar 1. Gedung RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang
( Sumber: yankes.kemkes.go.id)

Sejarah RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang


RSUP Dr.Mohammad Hoesin Palembang dahulu bernama Rumah
Sakit Umum Pusat Palembang, yang didirikan pada tahun 1953 atas
prakarsa Menteri Kesehatan RI Dr.Mohammad Ali (Dr.Lee Kiat Teng)
dan mulai beroperasional sejak tanggal 3 Januari 1957 dengan fasilitas
yang sederhana. Melayani Pelayanan Rawat Jalan, Pelayanan Rawat Inap
dengan 78 tempat tidur dilengkapi pelayanan laboratorium, apotik,
radiologi, emergency dan peralatan penunjang medik lainnya. Seiring
dengan perkembangan waktu rumah sakit ini semakin berkembang baik
sarana dan prasarana termasuk sumber daya manusianya, tersedia para
spesialis lengkap dan beberapa subspesialis, sehingga mengubah tipenya
dari kelas C menjadi Rumah Sakit Umum Pusat kelas B (1972) yang
ditetapkan pada tahun 1979 berdasarkan SK Menkes RI No.
134/Menkes/SK/IV/1978, dengan luas bangunan 37.000 m3 dalam area
seluas 22 hektar, sekaligus dan menjadi rumah sakit terbesar sebagai
pusat rujukan layanan kesehatan untuk Sumatera Selatan, Jambi, dan
Bengkulu.
Kebijaksanaan pemerintah terhadap beberapa rumah sakit agar
meningkatkan efisiensi dan efektifitas pengelolaan sumber daya serta
meningkatkan mutu pelayanannya, maka pada tanggal 1 November 1993

8
Rumah Sakit Umum Pusat Palembang ditetapkan sebagai Rumah Sakit
Swadana sesuai dengan SK Menkes RI No. 1134/Menkes/ SK/1993
tanggal 10 Desember 1993.
Rumah Sakit Umum Pusat Palembang sejak tanggal 4 Oktober
1997 berdasarkan SK Menkes No. 129/SK/XI/1997 berubah nama
menjadi Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang termasuk
kategori rumah sakit tipe B plus yang menunjang pelayanan kesehatan.
Dengan dikeluarkannya SK Menkes RI No. 1062/Menkes/SK/X/2001,
maka status RSMH berubah dari Perusahaan Umum Bhakti Husada
(PBH) menjadi Perusahaan Jawatan atau lebih dikenal dengan istilah
Perjan. Saat ini berdasarkan SK Permenkes RI No.
1680/Menkes/Per/XII/2005 maka status RSMH berubah menjadi Rumah
Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang.
Pada tahun 2005 dengan adanya kebijakan pemerintah terhadap 13
Rumah Sakit Vertikal termasuk RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang, berdasarkan SK Menkes RI No : 1243 / Menkes / SK / VIII/
2005, tentang penetapan 13 Eks RS Perjan Menerapkan Pola Pengelolaan
Keuangan Badan Layanan Umum (BLU). Setelah melalui berbagai
persiapan dan pembinaan serta penilaian dari tim survei komisi gabungan
Akreditasi Rumah Sakit, maka dengan keputusan Menteri Kesehatan
sejak tanggal 12 September 2009 RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang telah memperoleh status akreditasi penuh. Dan saat ini RSUP
Dr. Mohammad Hoesin Palembang berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan No. 634/Menkes/SK/VIII/2009 12 Agustus 2009 Menjadi
Rumah Sakit Umum Pusat Klasifikasi Kelas A.

9
Gambar 2. Struktur Organisasi RSMH Palembang
(Sumber : rsmh.co.id)

RSMH merupakan rumah sakit pendidikan utama Fakultas Kedokteran


Universitas Sriwijaya sesuai SK Menkes Nomor HK.0202/MENKES/192/2015
tanggal 27 Mei 2015 dengan mewujudkan Academic Health System (AHS). Selain
itu sesuai dengan PERMENKES No. HK.02.02/MENKES/390/2014 tanggal 17
Oktober 2014 ditetapkan menjadi rumah sakit pendidikan yang berkomitmen
untuk senantiasa mengutamakan peningkatan mutu yang berorientasi pada
keselamatan pasien dan kepuasan pelanggan.

10
Posisi penulis dalam struktur organisasi

Gambar 3. Struktur Organisasi


Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif
(Sumber : anestesiologi.fk.unsri.ac.id)

I.1.6 Visi, Misi, Nilai dan Moto RSMH


a. Visi
Menjadi rumah sakit pendidikan dan rujukan nasional yang berstandar
internasional tahun 2019.
b. Misi
1. Menyelenggarakan pelayanan, pendidikan dan penelitian
berstandar internasional
2. Menyelenggarakan promosi kesehatan secara komprehensif dan
berkelanjutan
3. Menjalin kemitraan dan melaksanakan sistem rujukan dengan
rumah sakit jejaring
4. Meningkatkan kompetensi, kinerja dan kesejahteraan pegawai

11
c. Nilai
1. Sinergi
Perilaku utama: koordinasi, kolaborasi, satu persepsi dalam
meningkatkan mutu dan keselamatan
2. Integritas
Perilaku utama: jujur, disiplin, konsisten, komitmen dan menjadi
teladan
3. Profesional
Perilaku utama: tanggung jawab, kompeten, bekerja tuntas, akurat,
efektif dan efisien
d. Moto
Kesembuhan dan kepuasan anda merupakan kebahagiaan kami

I.2 Tujuan dan Manfaat


I.2.1 Tujuan Umum
Pelatihan Dasar CPNS mampu menginternalisasi, menerapkan, dan
mengaktulisasikan nilai-nilai dasar PNS dan pengetahuan tentang
kedudukan dan peran PNS dalam NKRI pada peserta. Peserta mampu
menguasai bidang tugasnya sehingga menjadi PNS yang profesional dan
memberikan pelayanan yang terbaik di unit kerja masing-masing.

12.2 Tujuan Khusus


1. Peserta mampu melaksanakan nilai-nilai dasar PNS (Akuntabilitas,
Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi) di unit
kerja.
2. Peningkatan koordinasi, kerjasama antar DPJP keilmuan yang terkait,
departemen/bagian, dan instalasi dalam upaya meningkatkan mutu
pelayanan nyeri post operatif.
3. Terciptanya pelayanan nyeri post operatif di RSUP Dr. Mohammad
Hoesin Palembang yang kompherensif, berstandar tinggi, dan sesuai
Standar Prosedur Operasional.

12
I.2.3 Manfaat Bagi Peserta
1. Peserta mampu menerapkan nilai dasar dalam menjalankan tugas
sebagai Aparatur Sipil Negara selalu menjunjung tinggi nilai-nilai
Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika publik, Komitmen mutu dan Anti
korupsi.
2. Sebagai role model bagi sejawat dokter spesialis anestesi di
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif RSUP Dr. Mohammad
Hoesin Palembang.
3. Dokter Profesional yang telah melakukan Standar Operasional Prosedur
dan memenuhi pelayanan yang komprehensif.
1.2.4 Manfaat Bagi Organisasi
1. Terciptanya aktualisasi nilai nilai dasar yang mendasari pencapaian
visi,misi, tujuan organisasi RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang
2. Terciptanya pelayanan prima RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang
diharapkan menjadi rumah sakit yang dipilih masyarakat untuk
mendapatkan pelayanan kesehatan, optimalisasi, serta promosi
kesehatan.
3. Pelayanan yang komprehensif dan holistik dapat menurunkan biaya
perawatan pasien yang secara tidak langsung akan mengurangi beban
pemerintah dalam anggaran kesehatan.
4. Terciptanya standar akreditasi SNARS dan JCI pada RSUP
Dr.Mohammad Hoesin Palembang. Diharapkan dengan penerapan
pelayanan yang sesuai standart, lengkap, menyeluruh, dan melibatkan
keluarga dan pasien, mereka akan merasakan manfaat dan mengetahui
peran penting mereka dalam pelayanan.
I.3 Ruang Lingkup
Dari hasil pengamatan di Departemen Anestesiologi dan Terapi
Intensif RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang antara lain belum
optimalnya pelayanan nyeri post operatif di RSUP dr. Mohammad
Hoesin Palembang. Penyelesaian isu ini bersumber dari tugas pokok
yang diambil dari Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) dan tugas kreativitas.

13
I.4 Data Diri Peserta
Penulis adalah peserta Pelatihan Dasar CPNS Kemenkes golongan
III angkatan II yang mengikuti program pelatihan April-Mei 2019. Penulis
bertugas di unit kerja RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang, tepatnya
di Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif sebagai staf medis
fungsional. Di lingkungan Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang, seorang staf medis secara garis
besar berperan dalam fungsi pelayanan, serta dalam fungsi pendidikan dan
penelitian di rumah sakit. Proses pelayanan mencakup layanan rawat jalan,
rawat inap, kegawatdaruratan dan juga layanan operasi. Untuk proses
pendidikan, seorang staf medis berfungsi sesuai tingkatannya dalam
melakukan pengajaran, pembimbingan materi, evaluasi, serta supervisi
pelayanan pasien, di unit rawat jalan, rawat inap, maupun tindakan di
kamar operasi pada peserta didik (peserta pendidikan dokter umum,
pendidikan dokter spesialis anestesiologi).
Tugas jabatan dan target yang harus dicapai oleh seorang staf
medis dimuat dalam Sasaran Kinerja Pegawai (SKP). Selain sebagai
deskripsi tugas, SKP juga merupakan alat kendali agar setiap kegiatan
pelaksanaan tugas pokok setiap PNS selaras dengan tujuan yang telah
ditetapkan dalam rencana strategis organisasi. Setiap kegiatan tugas
jabatan yang akan dilakukan harus berdasarkan tugas dan fungsi,
wewenang, tanggung jawab dan uraian tugas yang telah ditetapkan dalam
Struktur Organisasi dan Tata Kerja. SKP wajib disusun oleh seluruh PNS,
baik jabatan struktural maupun fungsional sesuai dengan rencana kerja
organisasi yang kemudian dinilai oleh atasan langsung. Adapun data diri
peserta adalah sebagai berikut:

Nama : dr. Nurmala Dewi Maharani, Sp.An


NIP : 198605182019022001
Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta, 18 Mei 1986
Agama : Islam
Alamat : Jl. Seroja blok Y No.5, Palembang.
Pangkat/Golongan : Penata Muda Tk. I / IIIB

14
Jabatan : Dokter Ahli Pertama
SKP :
1. Kemampuan manajemen pasien preoperatif.
2. Kemampuan melaksanakan pelayanan medis rawat jalan dan rawat
inap.
3. Kemampuan terkait keselamatan pasien.
4. Kemampuan melaksanakan pelayanan prima.
5. Kemampuan komunikasi medis persuasif antar individu dengan
pasien,keluarga pasien, paramedis, sejawat dalam mengutamakan
kesehatan penderita.
6. Kemampuan dalam konsep dasar pembelajaran dan kemampuan
mengajar.

I.5 Analisis Isu


Dalam rancangan aktualisasi ini PNS harus mampu melakukan
enviromental scanning memiliki sifat peduli terhadap isu atau masalah
dalam organisasi dan sekaligus mampu memetakan hubungan kausalitas
yang terjadi Berdasarkan definisi tersebut, isu merupakan suatu hal yang
terjadi baik di dalam maupun di luar organisasi yang apabila tidak
ditangani secara baik akan memberikan efek negatif terhadap organisasi
bahkan dapat berlanjut pada tahap krisis.
Peserta melihat ada beberapa masalah yang dapat dibahas dan
dicari solusi selama masa orientasi. Hasil pengamatan di RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang menunjukkan bahwa secara umum Inform
concent telah dilaksanakan, tetapi belum optimal karena belum adanya
evaluasi dari pemahaman pasien dan keluarga atas penjelasan medis yang
diberikan. Pengetahuan, dasar pendidikan, dan perbedaan sosial budaya
pasien dan keluarga yang kurang memadai. Kurangnya waktu yang
dimiliki tim medis dan paramedis untuk memberikan penjelasan yang
lebih dapat dipahami oleh keluarga pasien. Hal ini memberikan dampak
berupa kesalahpahaman atau kekhawatiran atas tindakan yang akan
diberikan.

15
Pelayanan dokter spesialis anestesiologi dan terapi intensif
diantaranya memberikan anestesi (pembiusan) sebelum pasien menjalani
operasi atau prosedur medis khusus serta manajemen nyeri dan perawatan
pasien kritis. Pelayanan nyeri setelah operasi masih sering dikeluhkan oleh
pasien dan belum dapat ditangani sesuai standar pelayanan operasional.
Keluhan ini bersumber dari kurangnya pemahaman pasien dalam
mendeskripsikan nilai nyeri. Kurangnya waktu dari tim medis dan
paramedis dalam memberikan edukasi dan monitoring nyeri pasien post
operatif. Kurangnya koordinasi dari tim perawatan ruangan tentang adanya
keluhan nyeri yang belum dapat ditangani. Keluhan pasien ini
menimbulkan konflik ketidakpuasan pelayanan, gangguan fungsi organ
vital hingga dapat menimbulkan kematian.
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang menjadi rumah sakit
terbesar dan pusat rujukan layanan kesehatan untuk Sumatera Selatan,
Jambi, dan Bengkulu. Hal ini mengakibatkan jumlah pasien harian yang
masuk ke RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang banyak. Unit Gawat
Darurat salah satu pintu masuk pelayanan yang pelayanannya masih perlu
ditingkatkan dari segi respon time dan fasilitas pendukung yang dapat
meningkatkan kualitas mutu pelayanan.
Visi RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang rumah sakit
pendidikan dan pusat rujukan yang berstandar internasional 2019. Rumah
sakit pendidikan tentunya harus didukung oleh jumlah dosen pendidikan
program dokter spesialis anestesi yang memadai untuk mendukung proses
belajar mengajar. Hal ini perlu perhatian karena mempengaruhi kualitas
mutu pendidikan dan monitoring pelayanan kesehatan yang diberikan
peserta didik di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang.
Pendidikan program dokter spesialis anestesi yang dilakukan di
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang memerlukan teknologi dan
fasilitas sarana prasarana untuk meningkatkan kemampuan peserta didik.
Peserta didik diharapkan dapat melakukan pembelajaran dengan optimal
menggunakan teknologi dan fasilitas yang ada sehingga meningkatkan
kualitas mutu pelayanan kesehatan yang dilakukan peserta didik.

16
Pengamatan penulis diatas selama orientasi melatarbelakangi pembahasan
masalah antara lain:
1. Belum optimalnya informed concent pasien dan keluarga tentang
tindakan anestesi.
2. Belum optimalnya pelayanan nyeri post operatif.
3. Belum optimalnya fasilitas dan pelayanan pasien di unit gawat
darurat.
4. Belum optimalnya jumlah dosen PPDS anestesi dan terapi intensif.
5. Belum optimalnya teknologi dan fasilitas pembelajaran peserta
didik PPDS anestesi.

I.5.1 Alat Bantu Analisis


Berdasarkan identifikasi isu yang dipaparkan, dilakukan proses
identifikasi isu untuk menentukan isu mana yang merupakan prioritas yang
dapat dicarikan solusi oleh penulis. Proses identifikasi isu tersebut
menggunakan alat bantu penetapan kriteria kualitas isu. Kriteria yang
digunakan adalah metode APKL (Aktual, Kekhalayakan, Problematik, dan
Kelayakan) untuk memilih 3 dari 5 isu yang ada kemudian dilanjutkan
dengan metode USG (Urgency, Seriousness, dan Growth) untuk
menentukan 1 dari 3 isu teratas hasil metode APKL. Analisa dilakukan
dengan menetapkan skala penilaian (1-5) pada tiap poin.
Metode pertama yang dipakai adalah metode APKL. Aktual adalah
isu merupakan peristiwa menarik yang sering terjadi dan sedang hangat
dibicarakan. Isu atau masalah yang sekarang sering dibicarakan baik oleh
internal departemen anestesi dan terapi intensif, departemen lain, pihak
RSUP. Mohamad Hoesin Palembang maupun eksternal masyarakat.
Problematik merupakan isu yang menimbulkan masalah yang sangat
kompleks dan hal yang belum dapat dipecahkan sehingga perlu dicarikan
solusinya. Masalah yang kompleks memiliki konsekuensi yang sangat besar
dan penyelesaiannya membutuhkan kerjasama kelompok serta analsis yang
mendalam. Jangkauan masalah ini berkaitan dengan banyak individu dan
hanya dapat diselesaikan jika semua komponen yang terlibat dapat

17
memahaminya dengan baik. Kekhalayakan artinya isu tersebut menyangkut
hajat hidup orang banyak. Layak ditujukan kepada isu yang masuk akal dan
realistis serta relevan untuk dimunculkan inisiatif pemecahan masalahnya.
Secara lengkap analisis penilaian kualitas isu dengan metode APKL tersebut
dapat dilihat pada tabel 2.1 dibawah ini:

Tabel 2.1 Analisis Penilaian Isu dengan APKL

Kriteria APKL Terpilih/


No Identifikasi Isu
A P K L Tidak Terpilih
1. Belum optimalnya informed
concent pasien dan keluarga tentang + + + + +

tindakan anestesi.
2. Belum optimalnya pelayanan nyeri
+ + + + +
post operatif.
3. Belum optimalnya pelayanan pasien
+ + + + +
di unit gawat darurat.
4. Belum optimalnya jumlah dosen
+ + + - -
PPDS anestesi dan terapi intensif
5. Belum optimalnya teknologi dan
fasilitas pembelajaran peserta didik + + + - -

PPDS anestesi.

Berdasarkan tehnik analisa diatas didapatkan tiga pilihan isu berdasarkan


metode APKL, isu yang ada di analisa lagi dengan metode USG untuk memilih
isu yang akan dicarikan solusinya. Urgency(U) adalah seberapa mendesak isu
tersebut harus dibahas, dianalisa dan ditindaklanjuti. Seriousness(S) adalah
seberapa serius isu tersebut harus dibahas, dianalisa dan ditindaklanjuti.
Sedangkan Growth(G) adalah seberapa besar kemungkinan memburuknya isu
tersebut jika tidak ditangani segera. Secara lengkap analisis penilaian kualitas isu
dengan metode USG dapat dilihat pada tabel 2.2 dibawah ini:

18
Tabel 2.2 Analisa isu dengan metode USG

No Isu U S G Total Peringkat


Belum optimalnya pelayanan nyeri post
1. 5 4 4 13 1
operatif.
Belum optimalnya pelayanan pasien di
2. 4 4 3 11 2
unit gawat darurat.
Belum optimalnya informed concent
3. pasien dan keluarga tentang tindakan 3 3 3 9 3
anestesi.

Berdasarkan hasil analisis USG, isu yang akan dibahas yaitu “Belum
Optimalnya Pelayanan nyeri post operatif di RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang” sebagai core isu yang harus dicarikan solusinya. Dilihat dari
Urgency-nya, isu ini dianggap penting untuk segera dicarikan solusinya karena
jika tidak dilakukan optimalisasi upaya pelayanan nyeri post operatif akan
memberi dampak yang besar antara lain monitoring penilaian derajat nyeri yang
belum optimal dapat mengakibatkan dampak negatif mulai dari perubahan
hemodinamik hingga syok neurogenik dan kematian. Penilaian derajat nyeri yang
belum optimal karena bersifat sangat subjektif dan alat ukurnya yang paling
reliabel dan valid adalah yang dikeluhkan oleh pasien sendiri. Permasalahan
pasien jika tidak dapat secara langsung mengemukakan rasa nyerinya misalnya
pada kelompok pasien anak atau kelompok tertentu (misalnya mereka dengan
keterbatasan kognitif, mendapatkan obat anestesi, atau dalam perawatan ICU
(intensive care unit), dalam pengaruh obat-obatan hipnotik sedatif, dan kondisi
khusus lainnya).
Pelayanan nyeri post operatif di RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang
ini belum optimal maka dikhawatirkan akan terjadi ketidakpuasan. Nyeri bukan
hanya merupakan modalitas sensorik tapi juga adalah sebuah pengalaman buruk
atau trauma di antara pasien yang telah menjalani maupun akan operasi di rumah
sakit. suatu pengalaman sensoris dan emosi yang tidak menyenangkan yang
dikaitkan dengan kerusakan jaringan yang jelas atau potensial terjadi.

19
Ketidakmampuan seseorang untuk berkomunikasi tidak menjamin seseorang tidak
merasakan nyeri atau tidak memerlukan manajemen nyeri. Respon terhadap nyeri
dapat sangat bervariasi antar individu maupun pada orang yang sama namun
dalam waktu yang berbeda dan dipengaruhi oleh banyak faktor meliputi usia, jenis
kelamin pendidikan dan budaya.
Nyeri yang dialami pasien menimbulkan masalah sosial berupa kehilangan
orang yang bertanggung jawab untuk menopang kehidupan maupun memimpin
keluarga. Jika nyeri post operatif tidak ditangani menimbulkan ketidakmampuan
pasien bekerja yang memberikan dampak pada menurunnya produktivitas
penduduk. Dampak dari penurunan produktivitas pasien mengakibatkan kesulitan
ekonomi dapat mendorong perbuatan kriminalitas, keributan, hilangnya suasana
lingkungan yang damai yang akan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

I.5.2 Rumusan Isu


Berdasarkan analisis diatas isu yang terpilih “Belum optimalnya
pelayanan nyeri pasien post operatif di RSUP dr. Mohammad Hoesin
Palembang”.

I.5.3 Identifikasi Sumber Isu


Pelayanan nyeri post operatif berdasarkan pada Standar Operasional
Prosedur penanganan nyeri pasien yang dilakukan pembedahan, penanganan nyeri
dimulai dari preoperasi hingga pasca operasi dalam waktu 24 jam menjadi
tanggung jawab dokter anestesi, selanjutnya sampai hari ketiga pasca operasi,atau
bila hasil pengkajian skala nyeri > 6, di bawah tanggung jawab DPJP.
Penatalaksanaan nyeri terhadap semua pasien (dewasa, neonatus, anak, atau
pasien tidak sadar) dilakukan sesuai dengan skala penilaian derajat nyeri masing-
masing.
Bila penilaian skala nyeri  3 : pasien mempunyai derajat rasa nyeri yang
ringan. Penatalaksanaan nyerinya bisa dilakukan secara non farmakologik ( tehnik
relaksasi, distraksi, pengalihan perhatian, dll). Tatalaksana nonfarmakologik
biasanya dilakukan oleh perawat di ruangan rawat inap atau menggunakan obat
pengurang rasa nyeri ringan secara oral. Bila penilaian nyeri 4-6, pasien

20
mempunyai derajat rasa nyeri sedang, maka perawat harus melaporkan ke DPJP
untuk dilakukan penatalaksanaan yang sesuai. Apabila skala nyeri tidak berkurang
selama 2 x 24 jam, maka DPJP akan mengkonsulltasikan ke Tim Nyeri. Apabila
ditemukan skala nyeri 7-10, maka dikonsulkan ke tim nyeri. Apabila diluar jam
kerja, konsultasi ke tim nyeri akan dijawab oleh dokter jaga anestesi. Dokter
spesialis Anestesiologi telah mempunyai sertifikat dengan kualifikasi untuk dapat
melakukan diagnosis dan tindakan sampai tingkat intervensi manajemen nyeri.
Dokter yang bertugas akan ditugaskan secara bergilir sesuai dengan jadwal klinik
nyeri yang dimaksud termasuk dokter jaga yang bertugas dalam 24 jam/hari.
Pengamatan sumber timbulnya masalah pelayanan nyeri post operatif
karena kurangnya sosialisasi standart pelayanan operasional pelayanan nyeri post
operatif, kurang aktif dan koordinasi klinik nyeri dalam melakukan promosi
pelayanan nyeri post operatif , kurangnya pemahaman dan pengetahuan pasien
dan keluarga dalam mendeskripsikan nilai derajat nyeri, kurangnya waktu tim
medis dan paramedis dalam memberikan edukasi dan monitoring derajat nilai
nyeri pasien post operatif.
Pelayanan nyeri post operatif di RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang
menimbulkan masalah jika tidak ditangani sesuai standart pelayanan operasional
penanganan nyeri yang ada berkaitan dengan peran dan kedudukan ASN.
Manajemen ASN dalam pelaksana kebijakan seharusnya menjalankan standart
pelayanan operasional penanganan nyeri yang ada. Pelayanan publik ASN harus
menjaga kualitas mutu pelayanan prima dalam menanggapi setiap keluhan pasien
terutama nyeri post operatif. Pelayanan nyeri post operatif diharapkan dapat
dilakukan dengan peningkatan koordinasi, kerjasama antar DPJP keilmuan yang
terkait, departemen/bagian, dan instalasi dalam upaya pelayanan nyeri post
operatif untuk menerapkan nilai Whole Of Government (WoG).
Dampak yang dapat ditimbulkan jika isu ini tidak diatasi nilai dasar yang
harus dimiliki seorang ASN dengan baik. Dampak negatif yang terjadi antara lain
penurunan efisiensi dan efektivitas kerja yang menimbulkan permasalahan
pelayanan nyeri post operatif belum dapat ditangani sesuai prosedur. Hal ini
menimnbulkan pola kerja yang tidak akuntabel dan tidak sesuai prosedur yang
ada. Penurunan integritas pelayan publik dalam menangani keluhan nyeri post

21
operatif mengakibatkan kurangnya rasa tanggung jawab melaksanakan tugasnya
dalam mementingkan kepentingan publik, bangsa dan negara dalam melakukan
pelayanan prima. Kurangnya kesadaran pelayanan dengan etika publik dalam
bertanggung jawab, melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin, melayani
dengan sopan, tanpa tekanan terutama dalam melaksanakan tugasnya pada
pelayanan nyeri post operatif. Penurunan komitmen mutu yang bertujuan untuk
memberikan kepuasan masyarakat dalam pelayanan nyeri post operatif
disebabkan oleh penurunan kedisiplinan pelayan publik dalam melaksanakan
ketentuan peraturan undang-undang mengenai disiplin Pegawai ASN dalam
menjalankan standar operasional prosedur salah satunya dalam pelayanan nyeri
post operatif.

I.5.4 Lembar Konfirmasi

Persetujuan Coach dan Mentor


Coach Mentor

Ns. Lidia, S.Kep, MARS Dr .Riza Candra Wijaya


Widya Iswara Ka. SMF Dokter Umum
NIP. 196601171986022001 NIP. 19660601999031002

I.5.5 Judul Rancangan aktualisasi


Optimalisasi Pelayanan Nyeri Post Operatif di RSUP Dr. Mohammad
Hoesin Palembang.

22
23
BAB II
NILAI-NILAI DASAR DAN
KEDUDUKAN SERTA PERAN PNS DALAM NKRI

Berdasarkan UU No. 5 tahun 2014 tentang aparatur sipil negara (ASN),


yang dimaksud ASN adalah profesi bagi pegawai negeri sipil (PNS) dan pegawai
pemerintah dengan perjanjian kerja yang bekerja pada instansi pemerintah
(PPPK). PNS adalah warga negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu,
diangkat sebagai Pegawai ASN secara tetap oleh pejabat pembina kepegawaian
untuk menduduki jabatan pemerintahan. Tiga fungsi ASN adalah melaksanakan
kebijakan publik yang dibuat oleh Pejabat Pembina Kepegawaian sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan; memberikan pelayanan publik yang
profesional dan berkualitas; dan mempererat persatuan dan kesatuan Bangsa.

II.1 Nilai-nilai ANEKA


ASN yang profesional harus memiliki nilai-nilai profesi ASN yang
tertanam dalam dirinya. Adapun nilai-nilai tersebut dikenal dengan ANEKA
(Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi).
1. Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah kewajiban pertanggungjawaban yang harus
dicapai. Akuntabilitas merujuk pada kewajiban setiap individu, kelompok
atau institusi untuk memenuhi tanggung jawab yang menjadi amanahnya.
Akuntabilitas yang dilakukan oleh PNS akan teruji ketika PNS tersebut
mengalami permasalahan dalam transparansi dan akses informasi,
penyalahgunaan kewenangan, penggunaan sumber daya milik negara dan
konflik kepentingan.
Akuntabilitas publik memiliki tiga fungsi utama yaitu untuk
menyediakan kontrol demokratis (peran demokratis); mencegah korupsi
dan penyalahgunaan kekuasaan (peran konstitusional); dan untuk
meningkatkan efisiensi dan efektivitas alam menciptakan lingkungan kerja
yang akuntabel, ada beberapa indicator dari nilai-nilai dasar akuntabilitas
yang harus diperhatikan, yaitu kepemimpinan, transparansi, integritas,

24
tanggung jawab, keadilan, kepercayaan, keseimbangan, kejelasan, dan
konsisten. Amanah seorang ASN adalah menjamin terwujudnya nilai-nilai
publik berikut:
1. Mampu mengambil pilihan yang tepat dan benar ketika terjadi konflik
kepentingan, antara kepentingan publik dengan kepentingan sektor,
kelompok dan pribadi.
2. Memiliki pemahaman dan kesadaran untuk menghindari dan mencegah
keterlibatan ASN dalam politik praktis.
3. Memperlakukan warga negara secara sama dan adil dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik.
4. Menunjukkan sikap dan prilaku konsisten dan dapat diandalkan sebagai
penyelenggara pemerintahan.
Aspek-aspek akuntabilitas mencakup beberapa hal berikut:
1. Akuntabilitas adalah sebuah hubungan, menjaga kerjasama dalam tim
dan komunikasi.
2. Akuntabilitas beroientasi pada hasil.
3. Akuntabilitas membutuhkan adanya laporan.
4. Akuntabilitas memerlukan konsekuensi.
5. Akuntabilitas memperbaiki kinerja.
Nilai-Nilai akuntabilitas yaitu :
1. Kepemimpinan
2. Transparansi
3. Integritas
4. Tanggungjawab
5. Keadilan
6. Kepercayaan
7. Keseimbangan
8. Kejelasan
9. Konsisten

25
2. Nasionalisme
Dalam arti luas, nasionalisme berarti pandangan tentang rasa cinta
yang wajar terhadap bangsa dan negara, sekaligus menghormati bangsa
lain. Nasionalisme Pancasila merupakan pandangan atau paham kecintaan
manusia Indonesia terhadap bangsa dan tanah airnya yang didasarkan pada
nilai-nilai Pancasila. Makna nasionalisme secara politis merupakan
manifestasi kesadaran nasional yang mengandung cita-cita dan pendorong
bagi suatu bangsa, baik untuk merebut kemerdekaan atau mengenyahkan
penjajahan maupun sebagai pendorong untuk membangun dirinya maupun
lingkungan masyarakat, bangsa dan negaranya. Diharapkan dengan
nasionalisme yang kuat, maka setiap pegawai ASN memiliki orientasi
berpikir mementingkan kepentingan publik, bangsa dan negara. Pegawai
ASN akan berpikir tidak lagi sektoral, tetapi akan senantiasa
mementingkan kepentingan yang lebih besar yakni bangsa dan negara.
Fungsi nasionalisme bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah :
1. ASN yang berorientasi pada kepentingan publik dengan nilai yang
terkandungnya; ketepatan waktu, pelayanan yang akurat, ramah dan
santun dalam memberikan pelayanan, tanggung jawab, kelengkapan,
kemudahan mendapatkan pelayanan, variasi model pelayanan,
kenyamanan, bersikap adil dan tidak deskriminatif.
2. ASN yang berintegritas tinggi, dengan melaksanakan tugasnya dengan
jujur, bertanggung jawab dan berintegritas tinggi, melaksanakan
tugasnya dengan cermat dan disiplin, melayani dengan sikap hormat,
sopan dan tanpa tekanan, melaksanakan tugasnya sesuai dengan
perintah atasan atau pejabat yang berwenang sejauh tidak bertentangan
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan etika
pemerintahan, menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan
negara, menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara
bertanggung jawab, efektif dan efisien, menjaga agar tidak terjadi
konflik kepentingan dalam menjalankan tugas, memberikan informasi
secara benar dan tidak menyesatkan kepada pihak lain yang

44
memerlukan informasi, tidak menyalahgunakan informasi, dan
melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan.
3. ASN sebagai pemersatu bangsa bersikap netral dan adil, mengawoni
kepentingan kelompok minoritas, menjadi teladan di lingkungan
masyarakat.

3. Etika Publik
Etika publik adalah refleksi tentang standar/norma yang menentukan
baik/buruk, benar/salah perilaku, tindakan dan keputusan untuk
mengarahkan kebijakan publik dalam rangka menjalankan tanggung jawab
pelayanan publik. Ada tiga fokus utama dalam pelayanan publik, yakni :
1. Pelayanan publik yang berkualitas dan relevan.
2. Sisi dimensi reflektif, etika publik berfungsi sebagai bantuan dalam
menimbang pilihan sarana kebijakan publik dan alat evaluasi.
3. Modalitas etika, menjembatani antara norma moral dan tindakan
faktual.
Nilai-nilai dasar etika publik sebagaimana tercantum dalam undang-undang ASN,
memiliki indikator sebagai berikut :
1. Memegang teguh nilai-nilai ideologi pancasila.
2. Setia dan mempertahankan UUD NKRI 1945.
3. Menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak.
4. Membuat keputusan berdasarkan keahlian.
5. Menciptakan lingkungan kerja yang non-diskriminatif.
6. Memelihara dan menjunjung tinggi prinsip standar etika luhur.
7. Mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada publik.
8. Kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan program pemerintah.
9. Memberikan pelayanan kepada publik secara jujur, tanggap, cepat,
akurat, berdaya guna, berhasil guna dan santun.
10. Mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi.
11. Menghargai komunikasi, konsultasi dan kerjasama.
12. Mengutamakan pencapaian hasil & mendorong kinerja kesetaraan
pekerjaan.

45
13. Meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang demokratis
sebagai perangkat sistem karir.
Adapun kode etik dan kode perilaku ASN yakni sebagai berikut :
1. Melaksanakan tugasnya dengan jujur, bertanggung jawab, dan
berintegritas tinggi.
2. Melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin.
3. Melayani dengan sikap hormat, sopan, dan tanpa tekanan.
4. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan peraturan perundangan yang
berlaku.
5. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah atasan atau pejabat
yang berwenang sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan dan etika pemerintahan.
6. Menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan negara.
7. Menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara bertanggung
jawab, efektif, dan efisien.
8. Menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam melaksanakan
tugasnya.
9. Memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan kepada
pihak lain yang memerlukan informasi terkait kepentingan kedinasan.
10. Tidak menyalahgunakan informasi intern negara, tugas, status,
kekuasaan, dan jabatannya untuk mendapat atau mencari keuntungan
atau manfaat bagi diri sendiri atau orang lain.
11. Memegang teguh nilai dasar ASN dan selalu menjaga reputasi dan
integritas ASN.
12. Melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai
disiplin pegawai ASN.

4. Komitmen Mutu
Komitmen mutu merupakan tindakan untuk menghargai efektivitas,
efisiensi, inovasi, dan kinerja yang berorientasi mutu dalam
penyelenggaraan pemerintah dan pelayanan publik. Ada empat indikator
dari nlai-nilai dasar komitmen mutu yang harus diperhatikan, yaitu:

46
1) Efektif
Efektif adalah berhasil guna, dapat mencapai hasil sesuai dengan target.
Sedangkan efektivitas menunjukkan tingkat ketercapaian target yang telah
direncanakan, baik menyangkut jumlah maupun mutu hasil kerja. Efektifitas
organisasi tidak hanya diukur dari performans untuk mencapai target
(rencana) mutu, kuantitas, ketepatan waktu dan alokasi sumber daya,
melainkan juga diukur dari kepuasan dan terpenuhinya kebutuhan
pelanggan.
2) Efisien
Efisien adalah berdaya guna, dapat menjalankan tugas dan mencapai hasil
tanpa menimbulkan keborosan. Sedangkan efisiensi merupakan tingkat
ketepatan realiasi penggunaan sumberdaya dan bagaimana pekerjaan
dilaksanakan sehingga dapat diketahui ada tidaknya pemborosan sumber
daya, penyalahgunaan alokasi, penyimpangan prosedur dan mekanisme
yang ke luar alur.
3) Inovasi
Inovasi Pelayanan Publik adalah hasil pemikiran baru yang konstruktif,
sehingga akan memotivasi setiap individu untuk membangun karakter
sebagai aparatur yang diwujudkan dalam bentuk profesionalisme layanan
publik yang berbeda dari sebelumnya, bukan sekedar menjalankan atau
menggugurkan tugas rutin.
4) Mutu
Mutu merupakan suatu kondisi dinamis berkaitan dengan produk, jasa,
manusia, proses dan lingkungan yang sesuai atau bahkan melebihi harapan
konsumen. Mutu mencerminkan nilai keunggulan produk/jasa yang
diberikan kepada pelanggan sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya,
bahkan melampaui harapannya. Mutu merupakan salah satu standar yang
menjadi dasar untuk mengukur capaian hasil kerja. Mutu menjadi salah satu
alat vital untuk mempertahankan keberlanjutan organisasi dan menjaga
kredibilitas institusi.

47
Berikut adalah nilai-nilai yang perlu diperhatikan dalam komitmen mutu
antara lain:
1. Bekerja dengan berorientasi pada mutu.
2. Inovatif.
3. Selalu melakukan perbaikan mutu.
4. Membangun komitmen pegawai untuk jangka panjang.
5. Membangun kerjasama antar pegawai yang dilandasi kepercayaan dan
kejujuran.
6. Memfokuskan kegiatan pada kepuasan pelanggan, baik internal maupun
eksternal.
7. Menampilkan kinerja tanpa cacat (zerodefect) dan tanpa pemborosan
(zerowaste), sejak memulai setiap pekerjaan.
8. Menjalankan fungsi pengawasan secara efektif dan efisien dalam bekerja.

5. Anti Korupsi
Korupsi adalah tindakan melanggar hukum dengan tujuan untuk
memperkaya diri sendiri maupun golongan. Dampak korupsi tidak hanya
sekedar menimbulkan kerugian keuangan negara namun dapat menimbulkan
kerusakan kehidupan jangka pendek maupun jangka panjang. Kesadaran diri
anti korupsi sangat penting dibangun oleh ASN dalam melaksanakan
tugasnya dan dapat dibangun salah satunya dengan pendekatan spritual
dimana seseorang selalu ingat akan tujuan keberadaannya dan selalu ingat
bahwa seluruh ruang dan waktu kehidupannya harus
dipertanggungjawabkan, dapat menjadi benteng yang kuat untuk anti
korupsi. Ada 9 (sembilan) indikator dari nilai-nilai dasar anti korupsi yang
harus diperhatikan, terdapat indikator dari nilai-nilai dasar anti korupsi yang
harus diperhatikan, yaitu :
a. Jujur
Kejujuran merupakan nilai dasar yang menjadi landasan utama bagi
penegakan integritas diri seseorang. Tanpa adanya kejujuran mustahil
seseorang bisa menjadi pribadi yang berintegritas. Seseorang dituntut
untuk bisa berkata jujur dan transparan serta tidak berdusta baik

48
terhadap diri sendiri maupun orang lain, sehingga dapat membentengi
diri terhadap godaan untuk berbuat curang.
b. Peduli
Kepedulian sosial kepada sesama menjadikan seseorang memiliki sifat
kasih sayang. Individu yang memiliki jiwa sosial tinggi akan
memperhatikan lingkungan sekelilingnya di mana masih terdapat
banyak orang yang tidak mampu, menderita, dan membutuhkan uluran
tangan. Pribadi dengan jiwa sosial tidak akan tergoda untuk
memperkaya diri sendiri dengan cara yang tidak benar tetapi ia malah
berupaya untuk menyisihkan sebagian penghasilannya untuk
membantu sesama.
c. Mandiri
Kemandirian membentuk karakter yang kuat pada diri seseorang
menjadi tidak bergantung terlalu banyak pada orang lain. Mentalitas
kemandirian yang dimiliki seseorang memungkinkannya untuk
mengoptimalkan daya pikirnya guna bekerja secara efektif. Pribadi
yang mandiri tidak akan menjalin hubungan dengan pihak-pihak yang
tidak bertanggungjawab demi mencapai keuntungan sesaat.
d. Disiplin
Disiplin adalah kunci keberhasilan semua orang. Ketekunan dan
konsistensi untuk terus mengembangkan potensi diri membuat
seseorang akan selalu mampu memberdayakan dirinya dalam
menjalani tugasnya. Kepatuhan pada prinsip kebaikan dan kebenaran
menjadi pegangan utama dalam bekerja. Seseorang yang mempunyai
pegangan kuat terhadap nilai kedisiplinan tidak akan terjerumus dalam
kemalasan yang mendambakan kekayaan dengan cara yang mudah.
e. Tanggung Jawab
Pribadi yang utuh dan mengenal diri dengan baik akan menyadari
bahwa keberadaan dirinya di muka bumi adalah untuk melakukan
perbuatan baik demi kemaslahatan sesama manusia. Segala tindak
tanduk dan kegiatan yang dilakukannya akan dipertanggungjawabkan
sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa, masyarakat, negara, dan

49
bangsanya. Dengan kesadaran seperti ini maka seseorang tidak akan
tergelincir dalam perbuatan tercela dan nista.
f. Kerja Keras
Individu beretos kerja akan selalu berupaya meningkatkan kualitas
hasil kerjanya demi terwujudnya kemanfaatan publik yang sebesar-
besarnya. Ia mencurahkan daya pikir dan kemampuannya untuk
melaksanakan tugas dan berkarya dengan sebaik-baiknya. Ia tidak
akan mau memperoleh sesuatu tanpa mengeluarkan keringat.
g. Sederhana
Pribadi yang berintegritas tinggi adalah seseorang yang menyadari
kebutuhannya dan berupaya memenuhi kebutuhannya dengan
semestinya tanpa berlebih-lebihan. Ia tidak tergoda untuk hidup dalam
gelimang kemewahan. Kekayaan utama yang menjadi modal
kehidupannya adalah ilmu pengetahuan. Ia sadar bahwa mengejar
harta tidak akan pernah ada habisnya karena hawa nafsu keserakahan
akan selalu memacu untuk mencari harta sebanyak-banyaknya.
h. Berani
Seseorang yang memiliki karakter kuat akan memiliki keberanian
untuk menyatakan kebenaran dan menolak kebathilan. Ia tidak akan
mentolerir adanya penyimpangan dan berani menyatakan
penyangkalan secara tegas. Ia juga berani berdiri sendirian dalam
kebenaran walaupun semua kolega dan teman-teman sejawatnya
melakukan perbuatan yang menyimpang dari hal yang semestinya. Ia
tidak takut dimusuhi dan tidak memiliki teman kalau ternyata mereka
mengajak kepada hal-hal yang menyimpang.
i. Adil
Pribadi dengan karakter yang baik menyadari bahwa apa yang dia
terima sesuai dengan jerih payahnya. Ia tidak akan menuntut
untukmendapatkan lebih dari apa yang ia sudah upayakan. Bila ia
seorang pimpinan maka ia akan memberi kompensasi yang adil
kepada bawahannya sesuai dengan kinerjanya mewujudkan keadilan
dan kemakmuran bagi masyarakat dan bangsanya.

50
II.2 Kedudukan dan Peran Serta PNS dalam NKRI
1. Manajemen ASN
Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan
Pegawai ASN yang profesional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas
dari intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Pelayanan ASN lebih menekankan kepada pengaturan profesi pegawai
sehingga diharapkan agar selalu tersedia sumber daya Aparatur Sipil
Negara yang unggul selaras dengan perkembangan jaman.
a. Kedudukan ASN
Kedudukan atau status jabatan PNS dalam sistem birokrasi selama ini
dianggap belum sempurna untuk menciptakan birokrasi yang profesional.
Untuk dapat membangun profesionalitas birokrasi, maka konsep yang
dibangun dalam UU ASN tersebut harus jelas. Berikut beberapa konsep
yang ada dalam UU No. 5 Tahun 2014 tentang ASN:
 Berdasarkan jenisnya, pegawai ASN terdiri atas Pegawai Negeri
Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja
(PPPK). PNS merupakan warga negara Indonesia yang memenuhi
syarat tertentu, diangkat sebagai pegawai ASN secara tetap oleh
pejabat pembina kepegawaian untuk menduduki jabatan
pemerintahan, memiliki nomor induk pegawai secara nasional.
Sedangkan PPPK adalah warga negara Indonesia yang memnuhi
syarat tertentu, yang diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian
berdasarkan perjanjian kerja sesuai dengan kebutuhan instansi
pemerintah untuk jangka waktu tertentu dalam rangka
melaksanakan tugas pemerintahan.
 Pegawai ASN berkedudukan sebagai aparatur negara yang
menjalankan kebijakan yang ditetapkan oleh pimpinan instansi
pemerintah serta harus bebas dari pengaruh dan intervensi semua
golongan dan partai politik. Pegawai ASN dilarang menjadi
anggota dan/atau pengurus partai politik. Selain itu untuk
menjauhkan birokrasi dari pengaruh partai politik, hai ini
dimaksudkan untuk menjamin keutuhan, kekompakan dan

51
persatuan ASN, serta dapat memusatkan segala perhatian, pikiran
dan tenaga pada tugasyang dibebankan kepadanya. Oleh karena itu
dalam pembinaan karir pegawai ASN, khususnya di daerah
dilakukan oleh pejabat berwenang yaitu pejabat karir tertinggi.
 Kedudukan ASN berada di pusat, daerah, dan luar negeri. Namun
demikian pegawai ASN merupakan kesatuan. Kesatuan bagi
pegawaiASN sangat penting, mengingat dengan adanya
desentralisasi dan otonomi daerah, sering terjadinya isu
putradaerah yang hampir terjadi dimana-mana sehingga
perkembangan birokrasi menjadi stagnan di daerah-daerah. Kondisi
tersebut merupakan ancaman bagi kesatuan bangsa.

b. Peran ASN
Untuk menjalankan kedudukan pegawai ASN, maka pegawai ASN
berfungsi dan bertugas sebagai berikut:
 Pelaksana kebijakan publik
ASN berfungsi, bertugas dan berperan untuk melaksanakan
kebijakan yang dibuat oleh pejabat pembina kepegawaian sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Untuk itu ASN harus
mengutamakan kepentingan publik dan masyarakat luas dalam
menjalankan fungsi dan tugasnya, serta harus mengutamakan pelayanan
yang berorientasi pada kepentingan publik
 Pelayan publik
ASN berfungsi, bertugas dan berperan untuk memberikan
pelayanan publik yang profesional dan berkualitas. Pelayanan publik
merupakan kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan
sesuai peraturan perundang-undangan bagi setiap warga Negara dan
penduduk atas barang, jasa dan/atau pelayanan administratif yang
diselenggarakan oleh penyelenggara pelayanan publik dengan tujuan
kepuasan pelanggan.

52
 Perekat dan pemersatu bangsa
ASN berfungsi, bertugas dan berperan untuk mempererat persatuan
dan kesatuan NKRI. ASN senantiasa setia dan taat sepenuhnya kepada
Pancasila, UUD 1945, negara danpemerintah. ASN senantiasa
menjunung tinggi martabat ASN serta senantiasa mengutamakan
kepentingan negara daripada kepentingan diri sendiri, seseorang dan
golongan. Dalam UU ASN disebutkan bahwa dalam penyelengaraan
dan kebijakan manajemen ASN, salah satu diantaranya asas persatuan
dan kesatuan.

c. Hak dan Kewajiban ASN


Hak dan kewajiban ASN Hak adalah suatu kewenangan atau kekuasaan
yang diberikan oleh hukum, suatu kepentingan yang dilindungi oleh hukum, baik
pribadi maupun umum. Dapat diatikan bahwa hak adalah sesuatu yang patut atau
layak diterima. Agar melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya dengan baik ,
dapat meningkatkan produktivitas, menjamin kesejateraan ASN dan akuntabel,
maka setiap SN diberikan hak. Hak ASN dan PPPK yang diatur dalam UU No. 5
Tahun 2014 tentang ASN sebagai berikut :
PNS berhak memperoleh:
1. gaji, tunjangan, dan fasilitas;
2. cuti;
3. jaminan pensiun dan jaminan hari tua;
4. perlindungan; dan
5. pengembangan kompetensi.
PPPK berhak memperoleh:
1. gaji dan tunjangan;
2. cuti;
3. perlindungan; dan
4. pengembangan kompetensi.
5. Selain hak sebagaimana disebutkan di atas, berdasarkan pasal 70 UU No.
5 Tahun 2014 tentang ASN disebutkan bahwa setiap pegawai ASN
memiliki hak dan kesempatan untuk mengembangkan kompetensi.

53
Berdasarkan Pasal 92 pemerintah juga wajib memberikan perlindungan
berupa:
1. Jaminan kesehatan;
2. Jaminan kecelakaan kerja;
3. Jaminan kematian;
4. Bantuan hukum.
Sedangkan kewajiban adalah suatu beban atau tanggungan yang bersifat
kontraktual. Dengan kata lain kewajiban adalah suatu yang sepatutnya
diberikan.Pegawai ASN berdasarkan UU No. 5 Tahun 2014 tentang ASN wajib:
1. Setia dan taat pada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik
Indonesia, dan pemerintah yang sah;
2. Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa;
3. Melaksanakan kebijakan yang dirumuskan pejabat pemerintah
yang berwenang;
4. Menaati ketentuan peraturan perundang-undangan;
5. Melaksanakan tugas kedinasan dengan penuh pengabdian,
kejujuran, kesadaran, dan tanggung jawab;
6. Menunjukkan integritas dan keteladanan dalam sikap, perilaku,
ucapan dan tindakan kepada setiap orang, baik di dalam maupun
di luar kedinasan;
7. Menyimpan rahasia jabatan dan hanya dapat mengemukakan
rahasia jabatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan; dan
8. Bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia.

d. Kode etik dan kode perilaku ASN


Dalam UU No. 5 Tahun 2014 tentang ASN disebutkan bahwa ASN
sebagai profesi berlandaskan pada kode etik dan kode perilaku. Kode etik dan
kode perilaku ASN bertujuan untuk menjaga martabat dan kehormatan ASN.
Kode etik dan kode perilaku berisi pengaturan perilaku agar pegawai ASN.

54
1. Melaksanakan tugasnya dengan jujur, bertanggung jawab,
dan berintegritas tinggi;
2. Melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin;
3. Melayani dengan sikap hormat, SPOan, dan tanpa tekanan;
4. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
5. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah atasan atau
Pejabat yang berwenang sejauh tidak bertentangan dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan dan etika
pemerintahan
6. Menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan;
7. Menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara
bertanggung jawab, efektif, dan efisien;
8. Menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam
melaksanakan tugasnya;
9. Memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan
kepada pihak lain yang memerlukan informasi terkait
kepentingan kedinasan;
10. Tidak menyalahgunakan informasi intern negara, tugas,
status, kekuasaan, dan jabatannya untuk mendapat atau
mencari keuntungan atau manfaat bagi diri sendiri atau untuk
orang lain;
11. Memegang teguh nilai dasar ASN dan selalu menjaga
reputasi dan integritas ASN;
12. Melaksanakan ketentuan peraturan perundangundangan
mengenai disiplin Pegawai ASN.
Untuk dapat membangun profesionalitas birokrasi, maka konsep
yang dibangun dalam UU ASN tersebut harus jelas. Berikut beberapa
konsep yang ada dalam UU No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil
Negara. Berdasarkan jenisnya, Pegawai ASN terdiri atas:
a. Pegawai Negeri Sipil (PNS);
b. Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

55
Pegawai ASN berkedudukan sebagai aparatur negara yang
menjalankan kebijakan yang ditetapkan oleh pimpinan instansi pemerintah
serta harus bebas dari pengaruh dan intervensi semua golongan dan partai
politik. ASN berfungsi, bertugas dan berperan untuk melaksanakan
kebijakan yang dibuat oleh pejabat pembina kepegawaian sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan. Untuk itu ASN harus
mengutamakan kepentingan publik dan masyarakat luas dalam
menjalankan fungsi dan tugasnya tersebut. Harus mengutamakan
pelayanan yang berorientasi pada kepentingan publik. ASN berfungsi,
bertugas dan berperan untuk memberikan pelayanan publik yang
professional dan berkualitas. Pelayanan publik merupakan kegiatan dalam
rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai peraturan perundang-
undangan bagi setiap warganegara dan penduduk atas barang, jasa,
dan/atau pelayanan administratif yang diselenggarakan oleh penyelenggara
pelayanan publik dengan tujuan kepuasan pelanggan. Oleh karena itu ASN
dituntut untuk professional dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat. ASN berfungsi, bertugas dan berperan untuk mempererat
persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. ASN
senantiasa dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, UUD 1945, Negara dan
Pemerintah. ASN senantiasa menjunjung tinggi martabat ASN serta
senantiasa mengutamakan kepentingan Negara daripada kepentingan diri
sendiri, seseorang dan golongan. Dalam UU ASN disebutkan bahwa
dalam penyelenggaraan dan kebijakan pelayanan ASN, salah satu
diantaranya asas persatuan dan kesatuan. ASN harus senantiasa
mengutamakan dan mementingkan persatuan dan kesatuan bangsa
(kepentingan bangsa dan negara di atas segalanya). PNS melaksanakan
tugas dan tanggung jawabnya dengan baik dapat meningkatkan
produktivitas, menjamin kesejahteraan ASN dan akuntabel, maka setiap
ASN diberikan hak. Hak PNS dan PPPK yang diatur dalam UU ASN
sebagai berikut, PNS berhak memperoleh:
a. Gaji, tunjangan, dan fasilitas;
b. Cuti;

56
c. Jaminan pensiun dan jaminan hari tua;
d. Perlindungan; dan
e. Pengembangan kompetensi
Sedangkan PPPK berhak memperoleh:
a. Gaji dan tunjangan;
b. Cuti;
c. Perlindungan; dan
d. Pengembangan kompetensi
Sedangkan kewajiban adalah suatu beban atau tanggungan yang bersifat
kontraktual. Dengan kata lain kewajiban adalah sesuatu yang sepatutnya
diberikan. Untuk mendapatkan profil pegawai yang produktif, efektif dan
efisien tersebut diperlukan sebuah sistem pengelolaan SDM yang mampu
memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan bagi individu yang
bekerja didalamnya. Sebuah sistem yang efisien, efektif, adil,
terbuka/transparan, dan bebas dari kepentingan politik/individu/kelompok
tertentu. Kondisi ini memberikan lingkungan yang kondusif bagi pegawai
untuk bekerja dan berkinerja karena merasa dihargai dan juga diperhatikan
oleh organisasi. Pelayanan ASN tidak lepas dari sistem merit. Sistem merit
berdasarkan pada obyektivitas dalam pengelolaan ASN menjadi pilihan bagi
berbagai organisasi untuk mengelola SDM. Kualifikasi, kemampuan,
pengetahuan dan juga ketrampilan pegawai yang menjadi acuan dalam
pengelolaan ASN berdasar sistem merit menjadi fondasi untuk memiliki
pegawai yang kompeten dan “bahagia” dalam organisasi karena mereka
memiliki kepercayaan diterapkannya keadilan dalam organisasinya.

2. Pelayanan Publik
Pelayanan publik adalah sebagai segala bentuk kegiatan pelayanan
umum yang dilaksanakan oleh Instansi Pemerintahan di Pusat dan Daerah,
dan di lingkungan BUMN/BUMD dalam bentuk barang dan/atau jasa, baik
dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat (Lembaga Administrasi Negara:
1998). Sedangkan definisi yang saat ini menjadi rujukan utama dalam
penyelenggaraan pelayanan publik sebagaimana termuat dalam Undang-

57
Undang Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik, dijelaskan
bahwa pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam
rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang,
jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara
pelayanan publik.
Terdapat 3 unsur penting dalam pelayanan publik, yaitu unsur
pertama, adalah organisasi penyelenggara pelayanan publik, unsur kedua,
adalah penerima layanan (pelanggan) yaitu orang, masyarakat atau
organisasi yang berkepentingan, dan unsur ketiga, adalah kepuasan yang
diberikan dan atau diterima oleh penerima layanan (pelanggan).
Pelayanan publik sebagai semua jenis pelayanan yang
diselenggarakan oleh pemerintah. Pameo yang terkenal pada saat itu adalah:
“whatever government does is public service”. Artinya semua barang/jasa
publik yang dibutuhkan oleh masyarakat dan diselenggarakan oleh negara
disebut sebagai pelayanan publik (Dwiyanto, 2010:14). Paradigma yang
melihat pelayanan publik seperti ini sering disebut sebagai paradigma kuno
atau Old Public Administration (OPA). Dalam paradigma OPA tersebut
negara dianggap sebagai satu-satunya lembaga yang paling mampu
menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi oleh masyarakat. Cara
pandang yang demikian tidak mengejutkan karena pada saat itu sektor
swasta dan juga masyarakat sipil belum berkembang dan mampu menjadi
alternatif untuk membantu pemerintah dalam menyelasaikan masalah
publik.
Perkembangan paradigma pelayanan publik yang sudah mulai
memunculkan peran swasta dalam menyediakan pelayanan publik terjadi
pada masa New Publik Management (NPM), pada masa ini para manajer
pelayanan publik dan penyedia jasa layanan publik diprogram dan dididik
untuk menjalankan pelayanan yang berorientasi pada keuntungan (profit).
Karena itu misalnya pelayanan jasa seperti di rumah sakit yang dulu masih
tinggi keberpihakannya kepada masyarakat dan cenderung gratis atau
murah, berubah menjadi pelayanan yang untuk mendapatkannya harus

58
dengan mengeluarkan sejumlah biaya yang cukup mahal. Beberapa negara
Eropa seperti contoh di Inggris, akibat ketidakmampuan membayar asuransi
kesehatan yang sangat mahal untuk mendapatkan pelayanan di rumah sakit,
membuat banyak masyarakat tidak mampu berusaha mengobati penyakitnya
sendiri tanpa mendapatkan pelayanan dari penyedia layanan kesehatan.
Setelah kenyataan ini terungkap ke publik, maka banyak mempertanyakan
serta menggugat keberadaan, posisi, peran dan tujuan pembentukan negara
(birokrasi).
Paradigma baru pelayanan yang disebut New Public Service (NPS).
Paradigma ini menekankan pentingnya keberadaan negara dalam
menyiapkan pelayanan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Negara ada dan
menunjukkan eksistensi dan keberpihakan terhadap penyediaan layanan
dasar bagi masyarakatnya. Di Indonesia, paradigma ini dapat dilihat melalui
penyediaan layanan pendidikan dasar yang gratis, layanan kesehatan dasar
dan di beberapa tempat termasuk gratis opname sampai kelas III bagi
masyarakat tidak mampu, dan banyak lagi layanan lainnya. Semuanya untuk
menunjukkan eksistensi negara dalam melayani masyarakat.
Yang berada di garis depan dalam memberikan pelayanan publik bagi
masyarakat adalah ASN. Para pakar administrasi publik menjelaskan bahwa
ada banyak prinsip yang perlu dipenuhi agar pelayanan publik dapat
diselenggarakan lebih baik. Perlu diketahui pelayanan publik yang baik
berdasarkan pada prinsip-prinsip yang digunakan untuk merespon berbagai
kelemahan yang melekat pada tubuh birokrasi. Prinsip pelayanan publik
yang baik untuk mewujudkan pelayanan prima adalah:
a. Partisipatif. Dalam penyelenggaraan pelayanan publik yang
dibutuhkan masyarakat pemerintah perlu melibatkan masyarakat
dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi hasilnya;
b. Transparan. Dalam penyelenggaraan pelayanan publik, pemerintah
sebagai penyelenggara pelayanan publik harus menyediakan akses
bagi warga negara untuk mengetahui segala hal yang terkait dengan
pelayanan publik yang diselenggarakan tersebut, seperti: persyaratan,
prosedur, biaya, dan sejenisnya. Masyarakat juga harus diberi akses

59
yang sebesar-besarnya untuk mempertanyakan dan menyampaikan
pengaduan apabila mereka merasa tidak puas dengan pelayanan publik
yang diselenggarakan oleh pemerintah;
c. Responsif. Dalam penyelenggaraan pelayanan publik pemerintah
wajib mendengar dan memenuhi tuntutan kebutuhan warga negaranya.
Tidak hanya terkait dengan bentuk dan jenis pelayanan publik yang
mereka butuhkan akan tetapi juga terkait dengan mekanisme
penyelenggaraan layanan, jam pelayanan, prosedur, dan biaya
penyelenggaraan pelayanan. Sebagai klien masyarakat, birokrasi wajib
mendengarkan aspirasi dan keinginan masyarakat yang menduduki
posisi sebagai agen;
d. Tidak diskriminatif. Pelayanan publik yang diselenggarakan oleh
pemerintah tidak boleh dibedakan antara satu warga negara dengan
warga negara yang lain atas dasar perbedaan identitas warga negara,
seperti: status sosial, pandangan politik, enisitas, agama, profesi, jenis
kelamin atau orientasi seksual, difabel, dan sejenisnya;
e. Mudah dan Murah. Penyelenggaraan pelayanan publik dimana
masyarakat harus memenuhi berbagai persyaratan dan membayar fee
untuk memperoleh layanan yang mereka butuhkan harus diterapkan
prinsip mudah, artinya berbagai persyaratan yang dibutuhkan tersebut
masuk akal dan mudah untuk dipenuhi. Murah dalam arti biaya yang
dibutuhkan oleh masyarakat untuk mendapatkan layanan tersebut
terjangkau oleh seluruh warga negara. Hal ini perlu ditekankan karena
pelayanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah tidak
dimaksudkan untuk mencari keuntungan melainkan untuk memenuhi
mandat konstitusi;
f. Efektif dan Efisien. Penyelenggaraan pelayan publik harus mampu
mewujudkan tujuan-tujuan yang hendak dicapainya (untuk
melaksanakan mandat konstitusi dan mencapai tujuan-tujuan strategis
negara dalam jangka panjang) dan cara mewujudkan tujuan tersebut
dilakukan dengan prosedur yang sederhana, tenaga kerja yang sedikit,
dan biaya yang murah;

60
g. Aksesibel. Pelayanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah
harus dapat dijangkau oleh warga negara yang membutuhkan dalam
arti fisik (dekat, terjangkau dengan kendaraan publik, mudah dilihat,
gampang ditemukan, dan lain-lain.) dan dapat dijangkau dalam arti
non-fisik yang terkait dengan biaya dan persyaratan yang harus
dipenuhi oleh masyarakat untuk mendapatkan layanan tersebut.
h. Akuntabel. Penyelenggaraan pelayanan publik dilakukan dengan
menggunakan fasilitas dan sumber daya manusia yang dibiayai oleh
warga negara melalui pajak yang mereka bayar. Oleh karena itu
semua bentuk penyelenggaraan pelayanan publik harus dapat
dipertanggung-jawabkan secara terbuka kepada masyarakat.
Pertanggungjawaban di sini tidak hanya secara formal kepada atasan
(pejabat atau unit organisasi yang lebih tinggi secara vertikal) akan
tetapi yang lebih penting harus dipertanggungjawabkan secara terbuka
kepada masyarakat luas melalui media publik baik cetak maupun
elektronik. Mekanisme pertanggungjawaban yang demikian sering
disebut sebagai social accountability.
i. Berkeadilan. Penyelenggaraan pelayanan publik yang dilakukan oleh
pemerintah memiliki berbagai tujuan. Salah satu tujuan yang penting
adalah melindungi warga negara dari praktik buruk yang dilakukan
oleh warga negara yang lain. Oleh karena itu penyelenggaraan
pelayanan publik harus dapat dijadikan sebagai alat melindungi
kelompok rentan dan mampu menghadirkan rasa keadilan bagi
kelompok lemah ketika berhadapan dengan kelompok yang kuat.

3. Whole of Government
a. Pengertian Whole of Government
(WoG) berdasarkan interpretasi analitis dan manifestasi empiris di
lapangan maka WoG didefinisikan sebagai “suatu model pendekatan integratif
fungsional satu atap” yang digunakan untuk mengatasi wicked problems yang
sulit dipecahkan dan diatasi karena berbagai karakteristik atau keadaan yang
melekat antara lain: tidak jelas sebabnya, multi dimensi, perubahan perilaku.

61
WoG adalah sebuah pendekatan penyelenggaraan pemerintahan yang
menyatukan upaya-upaya kolaboratif pemerintahan dari keseluruhan
sektor dalam ruang lingkup koordinasi yang lebih luas guna mencapai
tujuan-tujuan pembangunan kebijakan, pelayanan program dan pelayanan
publik. Oleh karenanya WoG juga dikenal sebagai pendekatan
interagency, yaitu pendekatan yang melibatkan sejumlah kelembagaan
yang terkait dengan urusan-urusan yang relevan.
Pada dasarnya pendekatan WoG mencoba menjawab pertanyaan
klasik mengenai koordinasi yang sulit terjadi di antara sektor atau
kelembagaan sebagai akibat dari adanya fragmentasi sektor maupun
eskalasi regulasi di tingkat sektor. Sehingga WoG sering kali dipandang
sebagai perspektif baru dalam menerapkan dan memahami koordinasi
antar sektor. Dalam pengertian United States Institute of Peace (USIP),
WoG ditekankan pada pengintegrasian upaya-upaya kementerian atau
lembaga pemerintah dalam mencapai tujuan-tujuan bersama. WoG juga
dipandang sebagai bentuk kerjasama antar seluruh aktor, pemerintah dan
sebaliknya. Pengertian dari USIP ini menunjukkan bahwa WoG tidak
hanya merupakan pendekatan yang mencoba mengurangi sekat-sekat
sektor, tetapi juga penekanan pada kerjasama guna mencapai tujuan-tujuan
bersama.
Pendekatan WoG dapat beroperasi dalam tataran kelembagaan
nasional maupun daerah. Penataan kelembagaan menjadi sebuah
keharusan ketika pendekatan ini diperkenalkan. Namun penataan ini tidak
serta merta merubah kelembagaan, atau sebaliknya. Sehingga pendekatan
WoG dapat dilihat dan dibedakan berdasarkan perbedaan kategori
hubungan antara kelembagaan yang terlibat. Dalam Perry 6 (2004)
menjelaskan mengenai perbedaan kategori hubungan kelembagaan dalam
sebuah kontinum sebagai berikut:
Berdasarkan kategorisasi di atas, maka WoG dapat dipraktekkan
koordinasi-merger, di mana pelaksanaan WoG dilakukan mulai dari
sebatas koordinasi tanpa ada dampak perubahan institusi atau
kelembagaan sampai dengan proses merger atau penyatuan beberapa

62
lembaga menjadi satu unit organisasi baru. Perbedaan masing-masing
kategori terletak dari posisi masing-masing kelembagaan yang terlibat atau
dilibatkan dalam WoG. Untuk kategori koordinasi, maka kelembagaan
yang terlibat dalam pendekatan WoG tidak mengalami perubahan struktur
organisasi. Sedangkan dalam kategori integrasi, kelembagaan yang terlibat
mulai cair, dan terdapat penyamaan perencanaan jangka panjang serta
kerjasama. Adapun dalam kategori kedekatan dan pelibatan, kelembagaan
menyatukan diri dalam wadah yang relatif lebih permanen.

b. Penerapan Whole of Government (WoG)


Terdapat beberapa cara pendekatan WoG yang dapat dilakukan, baik
dari sisi penataan institusi formal maupun informal. Cara-cara ini pernah
dipraktekkan oleh beberapanegara, termasuk Indonesia dalam level-level
tertentu.
 Penguatan koordinasi antar lembaga
Penguatan koordinasi dapat dilakukan jika jumlah lembaga-lembaga
yang dikoordinasikan masih terjangkau dan manageable. Dalam
prakteknya, span of control atau rentangkendali yang rasional akan
sangat terbatas. Salah satu alternatifnya adalah mengurangi jumlah
lembaga yang ada sampai mendekatijumlah yang ideal untuk sebuah
koordinasi. Dengan jumlah lembaga yang rasional, maka koordinasi
dapat dilakukan lebih mudah.
 Membentuk lembaga koordinasi khusus
Pembendtukan lembaga terpisah dan permanen yang bertugas dalam
mengkoordinasikan sektor atau kementrian adalah salah satu cara
melakukan WoG. Lembaga koordinasi ini biasanya diberikan status
lembaga stingkat lebih tinggi, atau setidaknya setara dengan
kelembagaan yang dikoordinasikan.
 Membangun gugus tugas
Gugus tugas merupakan bentuk pelembagaan koordinasi yang dilakukan
di luar struktur formal, yang setidaknya tidak permanen. Pembentukan
gugus tugas biasanya menjadi salah satu cara agar sumber daya yang

63
terlibat dalam koordinasi tersebut dicabut sementara dari lingkungan
formalnya untuk berkonsentrasi dalam proses koordinasi tadi.
 Koalisi sosial
Koalisi sosial merupakan bentuk informal dari penyatuan koordinasi
antar sektor atau lembaga,tanpa perlu mebentuk pelembagaan khusus
dalam koordinasi.

Praktek WoG dalam pelayanan publik dilakukan dengan


menyatukan seluruh sektor yang terkait dengan pelayanan publik. Jenis
pelayanan publik yang dikenal yang dapat didekati oleh pendekatan WoG
adalah:
a. Pelayanan yang Bersifat Adminisitratif
Pelayanan publik yang menghasilkan berbagai produk dokumen resmi
yang dibutuhkan warga masyarakat. Dokumen yang dihasilkan bisa
meliputi KTP, status kewarganegaraan, status usaha, surat
kepemilikan, atau penguasaan atas barang, termasuk dokumen-
dokumen resmi seperti SIUP, ijin trayek, ijin usaha, akta, kartu tanda
penduduk, sertifikat tanah, dan lain sebagainya. Praktek WoG dalam
jenis pelayanan administrasi dapat dilihat dalam praktek-praktek
penyatuan penyelenggaraan izin dalam satu pintu seperti PTSP atau
kantor SAMSAT.
b. Pelayanan Jasa
Pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk jasa yang dibutuhkan
warga masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan,
perhubungan, dan lainnya.
c. Pelayanan Barang
Pelayanan yang menghasilkan jenis barang yang dibutuhkan warga
masyarakat, seperti misalnya jalan, perumahan, jaringan telepon,
listrik, air bersih, dan seterusnya.
d. Pelayanan Regulatif
Pelayanan melalui penegakan hukuman dan peraturan perundang-
undangan, maupun kebijakan publik yang mengatur sendi-sendi

64
kehidupan masyarakat. Adapun berdasarkan polanya, pelayanan
publik dapat dibedakan juga dalam 5 (lima) macam pola pelayanan
yang masing-masing diuaraikan sebagaimana berikut ini:
a. Pola Pelayanan Teknis Fungsional
Suatu pola pelayanan publik yang diberikan oleh suatu instansi
pemerintah sesuai dengan bidang tugas, fungsi dan kewenangannya.
Pada pola pertama ini pelayanan yang dilakukan adalah pelayanan
sektoral, yang bisa jadi sifatnya hanya relevan dengan sektor itu, atau
menyangkut pelayanan di sektor lain. WoG dapat dilakukan manakala
pola pelayanan publik ini mempunyai karakter yang sama atau
memiliki keterkaitan antar satu sektor dengan yang lainnya.
b. Pola Pelayanan Satu Atap
Pola pelayanan yang dilakukan secara terpadu pada satu instansi
pemerintah yang bersangkutan sesuai kewenangan masing-masing.
Pola ini memudahkan masyarakat penguna izin untuk mengurus
permohonan izinnya, walaupun belum mengurangi jumlah rantai
birokrasi izinnya.
c. Pola Pelayanan Satu Pintu
Merupakan pola pelayanan masyarakat yang diberikan secara tunggal
oleh suatu unit kerja pemerintah berdasarkan pelimpahan wewenang
dari unit kerja pemerintah terkait lainnya yang bersangkutan. Ini
adalah salah satu bentuk kelembagaan WoG yang lebih utuh, di mana
pelayanan publik disatukan dalam satu unit pelayanan saja, dan rantai
izin sudah dipangkas menjadi 1 (satu) saja.
d. Pola Pelayanan Terpusat
Pelayanan masyarakat yang dilakukan oleh suatu instansi pemerintah
yang bertindak selaku koordinator terhadap pelayanan instansi
pemerintah lainnya yang terkait dengan bidang pelayanan masyarakat
yang bersangkutan. Pola ini mirip dengan pelayanan satu atap dan
pelayanan satu pintu. Perbedaannya tergantung pada sejauh mana
kewenangan koordinasi yang diberikan kepada koordinator.
e. Pola Pelayanan Elektronik

65
Pola pelayanan yang paling maju dengan menggunakan teknologi
informasi dan komunikasi yang merupakan otomasi dan otomatisasi
pemberian layanan yang bersifat elekronik atau on-line sehingga dapat
menyesuaikan diri dengan keinginan dan kapasitas masyarakat
pengguna.
Berdasarkan Penjelasan Umum UU No.4 Tahun 2014 tentang Aparatur
Sipil Negara (UU ASN), dalam rangka mencapai tujuan nasional
sebagaimana tercantum dalam alinea ke-4 Pembukaan UUD Negara
Republik Indonesia Tahun 1945, diperlukan ASN yang profesional, bebas
dari intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme,
mampu menyelenggarakan pelayanan publik bagi masyarakat dan mampu
menjalankan peran sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Untuk mewujudkan tujuan nasional, dibutuhkan Pegawai ASN. Pegawai
ASN diserahi tugas untuk melaksanakan tugas pelayanan publik, tugas
pemerintahan, dan tugas pembangunan tertentu. Tugas pelayanan publik
dilakukan dengan memberikan pelayanan atas barang, jasa, dan/atau
pelayanan administratif yang disediakan Pegawai ASN. Adapun tugas
pemerintahan dilaksanakan dalam rangkan penyelenggaraan fungsi umum
pemerintahan yang meliputi pendayagunaan kelembagaan, kepegawaian,
dan ketatalaksanaan. Sedangkan dalam rangka pelaksanaan tugas
pembangunan tertentu dilakukan melalui pembangunan bangsa (cultural
and political development) serta melalui pembangunan ekonomi dan sosial
(economic and social development) yang diarahkan meningkatkan
kesejahteraan dan kemakmuran seluruh masyarakat.

66
BAB III
RANCANGAN AKTUALISASI NILAI-NILAI ASN

3.1 Unit Kerja


RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang
3.2 Isu yang diangkat
Belum optimalnya pelayanan nyeri post operatif di RSUP Dr. Mohammad
Hoesin Palembang
3.3 Identifikasi Isu
Peserta melakukan pengamatan selama dua bulan bekerja di
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif RSUP Dr. Mohammad
Hoesin Palembang. Pasien sering mengeluh nyeri walaupun sudah
diberikan analgetik oleh dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP), Hal
ini disebabkan oleh beberapa faktor. Dari faktor tenaga kesehatan,
kurangnya koordinasi dan sosialisasi SOP pelayanan nyeri setelah operasi,
belum ada media elektronik yang memudahkan pasien memahami
pelayanan nyeri setelah operasi serta kurangnya waktu khusus untuk
menilai skala nyeri dan monitoring tatalaksana nyeri. Dari faktor pasien
dan keluarga, kurangnya pengetahuan pasien dan keluarga mengenai
penyakit dan pelayanan nyeri, stress dan gangguan emosi setelah operasi
yang sering diderita oleh pasien sehingga pasien tidak dapat berpartisipasi
dalam menilai skala nyeri. Pemecahan masalah tersebut diperlukan adanya
suatu upaya koordinasi aktualisasi tim medis terkait, pasien serta keluarga
dengan menggunakan metode atau cara interaktif yang menarik dan
mudah dimengerti. Diharapkan akan meningkatkan pemahaman pasien
terhadap pelayanan nyeri post operasi, mengurangi waktu tim medis untuk
menjelaskan sehingga waktu pemeriksaan dan pelayanan bisa lebih efektif
dan efisien, dan juga bisa memudahkan pelayanan pasien menjadi lebih
komprehensif, tertata, efektif, efisien, meningkatkan mutu, dan
mengembangkan suatu inovasi baru dalam pelayanan nyeri post operatif di
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang

67
3.4 Gagasan Pemecahan Isu
Optimalisasi pelayanan nyeri post operatif di RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang. Gagasan pemecahan isu dituangkan dengan melaksanakan sembilan
kegiatan, sesuai dengan berikut ini.

Tabel 3.1 Jenis, Jumlah, dan Sumber Kegiatan

No. Kegiatan Sumber


Kegiatan

1. Koordinasi kepada Kepala Departemen serta staf Tugas kreatif


anestesi dan terapi intensif

2. Pembahasan cara optimalisasi penanganan nyeri post Tugas kreatif


operatif

3. Sosialisasi optimalisasi pelayanan nyeri post operatif Tugas kreatif


kepada tim medis dan paramedis terkait

4. Pengaktifan Klinik Nyeri Online Tugas kreatif

5. Pembuatan banner pelayanan nyeri post operatif Tugas kreatif

6. Pembuatan banner pelayanan nyeri post operatif Tugas kreatif

7. Pembuatan video pelayanan nyeri post operatif Tugas kreatif

8. Pelayanan nyeri post operatif SKP

9 Monitoring pelayanan nyeri post operatif Tugas kreatif

68
Tabel 4. Rancangan Kegiatan Aktualisasi Nilai-Nilai Dasar Profesi ASN di RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang

KONTRIBUSI
TAHAPAN OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI PENGUATAN NILAI-
NO KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN KEGIATAN DAN MISI NILAI ORGANISASI
ORGANISASI

1 2 3 4 5 6 7
1. Koordinasi kepada 1. Membuat undangan Print out undangan Dalam pembuatan surat Melakukan perizinan Melakukan perizinan kepada
Kepala Departemen Kepala Departemen undangan diperlukan kepada kepada Kepala kepada Kepala Departemen
serta staf anestesi serta staf anestesi kecermatan, ketelitian, Departemen dan staf dan staf Anestesi dan Terapi
dan terapi intensif dan terapi intensif kerapian. Hal ini Anestesi dan Terapi Intensif RSUP dr.
RSUP dr. menjunjung nilai IntensifRSUP dr. Mohammad Hoesin
Mohammad Hoesin komitmen mutu. Mohammad Hoesin Palembang akan menguatkan
Palembang berkontribusi pada misi nilai-nilai organisasi RS yaitu
2. Memberikan Tanda terima undangan Dalam memberikan RS dalam sinergi dengan perilaku
undangan kepada undangan dilakukan menyelenggarakan utama: koordinasi,
Kepala Departemen dengan Sopan santun dan pelayanan berstandar kolaborasi, satu persepsi
dan staf anestesi dan tanggung jawab. Hal ini internasional, dalam meningkatkan mutu
terapi intensif RSUP menjunjung nilai etika menyelenggarakan dan keselamatan;
dr. Mohammad publik, akuntablitas. promosi kesehatan1. integritas dengan
Hoesin Palembang secara komprehensif perilaku utama: jujur,
dan berkelanjutan serta disiplin, konsisten, komitmen
3. Mempersiapkan Rancangan Kegiatan Dalam memaparkan meningkatkan dan menjadi teladan, dan
rancangan kegiatan rancangan aktualisasi kompetensi dan kinerja2. profesional dengan
aktualisasi dibutuhkan kepercayaan pegawai. perilaku utama: tanggung
optimalisasi diri, jujur, Sopan santun, jawab, kompeten, bekerja
penanganan nyeri dan tanggung jawab. (Anti tuntas, akurat, efektif dan
post operatif Korupsi, Etika Publik, efisien.
dan Akuntabilitas) serta
dengan jelas, cermat, dan
detil (Komitmen Mutu)

46
KONTRIBUSI
TAHAPAN OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI PENGUATAN NILAI-
NO KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN KEGIATAN DAN MISI NILAI ORGANISASI
ORGANISASI

1 2 3 4 5 6 7
2. Pembahasan cara 1. Mendiskusikan Berita acara kegiatan Bersikap sopan dan Membuat Penanganan Membuat Penanganan nyeri
optimalisasi dengan dengan hormat serta berbahasa nyeri post operatif yang post operatif akan
penanganan nyeri Kepala serta staf yang santun dan ramah saat dilandasi dengan nilai menguatkan nilai-nilai
post operatif Departemen berdiskusi dasar PNS akan organisasi RS yaitu
Anestesi dan (Etika Publik) berkontribusi terhadap sinergi dengan perilaku
Terapi Intensif Menjelaskan rencana dan visi dan misi dalam utama: koordinasi,
tujuan dengan jelas, menyelenggarakan kolaborasi, satu persepsi
cermat, dan detil. pelayanan berstandar dalam meningkatkan mutu
(Komitmen Mutu) internasional, dan keselamatan;
2. Menyusun hasil Hasil pembahasan Penyusunan dilakukan menyelenggarakan 3. integritas dengan
pembahasan optimalisasi pelayanan secara detail dan rinci promosi kesehatan perilaku utama:
optimalisasi klinik nyeri post operatif (Akuntabilitas) secara komprehensif jujur, disiplin, konsisten,
nyeri dengan secara tersusun sistematis Menyusun kegiatan dan berkelanjutan serta komitmen dalam menjadi
sistematis dengan tanggung jawab meningkatkan teladan, dan
(Komitmen Mutu) kompetensi dan kinerja4. profesional dengan
pegawai. perilaku utama:
3. Mencetak materi Print out materi Mencetak dengan penuh tanggung jawab, kompeten,
optimalisasi optimalisasi pelayanan tanggung jawab bekerja tuntas, akurat, efektif
pelayanan nyeri nyeri post operatif (Akuntabilitas) dan efisien.
post operatif tersusun Mencetak seefektif dan
efisien mungkin sesuai
dengan kebutuhan
(Komitmen Mutu)
Mencetak dilakukan secara
mandiri
(Anti Korupsi)

47
KONTRIBUSI
TAHAPAN OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI PENGUATAN NILAI-
NO KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN KEGIATAN DAN MISI NILAI ORGANISASI
ORGANISASI

1 2 3 4 5 6 7
3. Sosialisasi 1. Memberikan Undangan diterima Undangan sosialisasi Melakukan sosialisasi Melakukan sosialisasi
optimalisasi undangan kepada tim medis dan diberikan dengan informasi pelayanan nyeri post pelayanan nyeri post operatif
pelayanan nyeri sosialisasi kepada paramedis terkait yang jelas dan dilakukan operatif yang dilandasi akan menguatkan nilai-nilai
post operatif kepada tim medis dan dengan penuh tanggung dengan nilai dasar PNS organisasi RS yaitu sinergi
tim medis dan paramedis terkait jawab (Akuntabilitas) akan berkontribusi dengan perilaku utama:
paramedis terkait pelayanan nyeri Menggunakan bahasa terhadap visi dan misi koordinasi, kolaborasi, satu
pelayanan nyeri pasien post Indonesia yang baik dan RS yaitu dalam persepsi dalam meningkatkan
pasien post operatif operatif benar (nasionalisme) menyelenggarakan mutu dan keselamatan;
dan sopan dan santun pelayanan berstandar5. integritas dengan
(Etika Publik) internasional, perilaku utama:
menyelenggarakan jujur, disiplin, konsisten,
2. Mempersiapkan soft copy materi Mempersiapkan keperluan
promosi kesehatan komitmen dan menjadi
materi sosialisasi optimalisasi pelayanan untuk sosialisasi dengan
secara komprehensif teladan, dan
nyeri post operatif cermat, efisien efektif
dan berkelanjutan serta6. profesional dengan
disiplin dan penuh
meningkatkan perilaku utama:
tanggungjawab
kompetensi dan kinerja tanggung jawab, kompeten,
(Akuntabilitas dan
pegawai. bekerja tuntas, akurat, efektif
komitmen mutu)
dan efisien.
3. Sosialisasi Pihak tim medis dan Memimpin sosialisasi
optimalisasi paramedis terkait dengan baik, jelas, dan
pelayanan nyeri memahami pelayanan Sopan santun. Hal ini
post operatif nyeri post operatif menjunjung nilai
akuntabilitas, etika
publik, komitmen mutu.

48
KONTRIBUSI
TAHAPAN OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI PENGUATAN NILAI-
NO KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN KEGIATAN DAN MISI NILAI ORGANISASI
ORGANISASI

1 2 3 4 5 6 7
4. Pengaktifan Klinik 1. Menyusun konsep Konsep alur pengaduan Penyusunan konsep buku Membuat Pengaduan Pengaduan nyeri online
Nyeri Online alur pengaduan online dan laporan konsul laporan baru dengan nyeri online klinik nyeri klinik nyeri pasien post
online pelayanan pelayanan nyeri berat post sistematika yang jelas pasien post operatif operatif akan menguatkan
nyeri di klinik operatif yang dikonsulkan (akuntabilitas), dilakukan yang dilandasi dengan nilai-nilai organisasi RS yaitu
nyeri. di klinik nyeri. secara mandiri dan tepat nilai dasar PNS akan profesional dengan
waktu (anti korupsi) berkontribusi terhadap perilaku utama:
visi dan misi RS yaitu tanggung jawab, kompeten,
dalam bekerja tuntas, akurat, efektif
menyelenggarakan dan efisien.
2. Konsultasi kepada Persetujuan Alur Melakukan konsultasi pelayanan berstandar sinergi dengan perilaku
atasan tentang Pengaduan nyeri online kepada atasan dengan internasional, utama: koordinasi,
konsep laporan klinik nyeri penuh tanggung jawab menyelenggarakan kolaborasi, satu persepsi
pengaduan nyeri merupakan suatu koordinasi promosi kesehatan meningkatkan mutu dan
online yang baik (akuntabilitas, secara komprehensif keselamatan;
nasionalisme) dan berkelanjutan serta integritas dengan
meningkatkan perilaku utama:
kompetensi dan kinerja jujur, disiplin, konsisten,
pegawai.. komitmen

49
KONTRIBUSI
TAHAPAN OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI PENGUATAN NILAI-
NO KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN KEGIATAN DAN MISI NILAI ORGANISASI
ORGANISASI

1 2 3 4 5 6 7
3. Sosialisasi alur Alur pelayanan nyeri post Menggunakan bahasa
pengaduan nyeri operatif klinik nyeri dan Indonesia yang baik dan
online nyeri post buku laporan konsul benar penuh Sopan dan
operatif dan buku pelayanan nyeri post santun
laporan konsul operatif (Nasionalisme, Etika
pelayanan nyeri Publik)
post operatif. Sosialisasi alur pelayanan
online nyeri dengan tim
medis dan paramedis yang
terlibat dalam penanganan
nyeri post operatif yang
bertanggung jawab
terhadap setiap keluhan
pasien
(Komitmen Mutu)
Pengaduan online klinik
nyeri meningkatkan
pencatatan informasi
efisien dan efektif.
(Akuntabilitas)

50
KONTRIBUSI
TAHAPAN OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI PENGUATAN NILAI-NILAI
NO KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN KEGIATAN DAN MISI ORGANISASI
ORGANISASI

1 2 3 4 5 6 7
5. Pembuatan Leaflet 1. Merancang,menyus Leaflet Dalam pembuatan leaflet Melakukan pembuatan Melakukan pembuatan leaflet dan
un dan mencetak dilakukan dengan inovatif, leaflet dan mensosialisasikan dengan sopan,
leaflet dengan efektif, efisien dan mensosialisasikan inovatif, efektif, dan efisien
sistematis dan tanggung jawab. Hal ini dengan sopan, inovatif, meerupakan akan menguatkan
menarik menjunjung nilai etika efektif, dan efisien nilai-nilai organisasi RS yaitu
publik, akuntablitas. meerupakan kontribusi sinergi dengan perilaku utama:
2. Meminta Surat izin publikasi leaflet Dalam memberikan leaflet pada misi RS dalam koordinasi, kolaborasi, satu
persetujuan atasan dilakukan dengan sopan menyelenggarakan persepsi dalam meningkatkan
dan pihak publikasi santun dan tanggung jawab. pelayanan berstandar mutu dan keselamatan;
RS. Mohammad Hal ini menjunjung nilai internasional, 7. integritas dengan
Hoesin Palembang etika publik, menyelenggarakan perilaku utama: jujur, disiplin,
akuntablitas. promosi kesehatan konsisten, komitmen dan menjadi
3 Sosialisasi Pemahaaman pasien dan Dalam memaparkan leaflet secara komprehensif teladan, dan
penanganan nyeri keluarga tentang aktualisasi dibutuhkan dan berkelanjutan serta8. profesional dengan
post operatif penangananan nyeri kepercayaan diri, jujur, meningkatkan perilaku utama: tanggung jawab,
dengan leaflet setelah operasi Sopan santun, dan kompetensi dan kinerja kompeten, bekerja tuntas, akurat,
tanggung jawab. (Anti pegawai. efektif dan efisien.
Korupsi, Etika Publik,
dan Akuntabilitas) serta
dengan jelas, cermat, dan
detil (Komitmen Mutu)

51
KONTRIBUSI
TAHAPAN OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI PENGUATAN NILAI-NILAI
NO KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN KEGIATAN DAN MISI ORGANISASI
ORGANISASI

1 2 3 4 5 6 7
6. Pembuatan Banner 1. Merancang,menyus Banner Dalam pembuatan banner Melakukan pembuatan Melakukan pembuatan banner
un dan mencetak dilakukan dengan inovatif, banner dan dan mensosialisasikan dengan
banner dengan efektif, efisien dan mensosialisasikan sopan, inovatif, efektif, dan
sistematis dan tanggung jawab. Hal ini dengan sopan, inovatif, efisien meerupakan akan
menarik menjunjung nilai etika efektif, dan efisien menguatkan nilai-nilai organisasi
publik, akuntablitas. meerupakan kontribusi RS yaitu
2. Meminta Surat izin publikasi Dalam meminta izin pada misi RS dlam sinergi dengan perilaku utama:
persetujuan atasan Banner publikasi banner dilakukan dalam koordinasi, kolaborasi, satu
dan pihak publikasi dengan sopan santun dan menyelenggarakan persepsi dalam meningkatkan
RS. Mohammad tanggung jawab. Hal ini pelayanan berstandar mutu dan keselamatan;
Hoesin Palembang menjunjung nilai etika internasional, integritas dengan
publik, akuntablitas. menyelenggarakan perilaku utama: jujur, disiplin,
3. Sosialisasi Pemahaaman pasien dan Dalam memaparkan banner promosi kesehatan konsisten, komitmen dan menjadi
penanganan nyeri keluarga tentang dibutuhkan kepercayaan secara komprehensif teladan, dan
post operatif penangananan nyeri diri, jujur, Sopan santun, dan berkelanjutan serta9. profesional dengan
dengan banner setelah operasi dan tanggung jawab. (Anti meningkatkan perilaku utama: tanggung jawab,
Korupsi, Etika Publik, kompetensi dan kinerja kompeten, bekerja tuntas, akurat,
dan Akuntabilitas) serta pegawai. efektif dan efisien.
dengan jelas, cermat, dan
detil (Komitmen Mutu)

52
KONTRIBUSI
TAHAPAN OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI PENGUATAN NILAI-NILAI
NO KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN KEGIATAN DAN MISI ORGANISASI
ORGANISASI

1 2 3 4 5 6 7
7. Pembuatan Video 1. Merancang,menyus Video Dalam pembuatan video Melakukan pembuatan Melakukan pembuatan video dan
un video dengan dilakukan dengan inovatif, video dan mensosialisasikan dengan sopan,
sistematis dan efektif, efisien dan mensosialisasikan inovatif, efektif, dan efisien
menarik tanggung jawab. Hal ini dengan sopan, inovatif, meerupakan akan menguatkan
menjunjung nilai etika efektif, dan efisien nilai-nilai organisasi RS yaitu
publik, akuntablitas. meerupakan kontribusi sinergi dengan perilaku utama:
2. Meminta Surat izin publikasi video Dalam meminta izin pada misi RS terutama koordinasi, kolaborasi, satu
persetujuan atasan di RSMH dan media publikasi video dilakukan dalam persepsi dalam meningkatkan
dan pihak publikasi sosial dengan sopan santun dan menyelenggarakan mutu dan keselamatan;
RS. Mohammad tanggung jawab. Hal ini pelayanan berstandar integritas dengan
Hoesin Palembang menjunjung nilai etika internasional, perilaku utama: jujur, disiplin,
publik, akuntablitas. menyelenggarakan konsisten, komitmen dan menjadi
3. Sosialisasi Pemahaaman pasien dan Dalam memaparkan leaflet promosi kesehatan teladan, dan
penanganan nyeri keluarga tentang aktualisasi dibutuhkan secara komprehensif profesional dengan
post operatif penangananan nyeri kepercayaan diri, jujur, dan berkelanjutan serta perilaku utama: tanggung jawab,
dengan video setelah operasi Sopan santun, dan meningkatkan kompeten, bekerja tuntas, akurat,
tanggung jawab. (Anti kompetensi dan kinerja efektif dan efisien.
Korupsi, Etika Publik, pegawai.
dan Akuntabilitas) serta
dengan jelas, cermat, dan
detil (Komitmen Mutu)

53
KONTRIBUSI
TAHAPAN OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI PENGUATAN NILAI-NILAI
NO KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN KEGIATAN DAN MISI ORGANISASI
ORGANISASI

1 2 3 4 5 6 7
8. Pelayanan nyeri 3. Menyiapkan Ruangan klinik nyeri Dalam menyiapkan Melakukan pelayanan Melakukan pelayanan nyeri post
post operatif ruangan atau ruangan dilakukan dengan nyeri post operatif operatif dengan sopan, inovatif,
tempat klinik nyeri inovatif, efektif, efisien dan dengan sopan, inovatif, efektif, dan efisien meerupakan
yang nyaman, tanggung jawab. Hal ini efektif, dan efisien akan menguatkan nilai-nilai
penerangan menjunjung nilai etika meerupakan kontribusi organisasi RS yaitu
ruangan yang baik, publik, akuntablitas. pada misi RS terutama sinergi dengan perilaku utama:
dan tenang dalam koordinasi, kolaborasi, satu
4. Melayani Pelayanan klinik nyeri Dalam memberikan menyelenggarakan persepsi dalam meningkatkan mutu
konsultasi dan post operatif pelayanan dilakukan sesuai pelayanan berstandar dan keselamatan;
tatalaksana nyeri standar operatif pelayanan, internasional, integritas dengan
post operatif lewat inovatif, efektif, efisien dan menyelenggarakan perilaku utama: jujur, disiplin,
klinik nyeri tanggung jawab. Hal ini promosi kesehatan konsisten, komitmen dan menjadi
menjunjung nilai etika secara komprehensif teladan, dan
publik, akuntablitas. dan berkelanjutan serta profesional dengan
4 Melayani Pelayanan pengaduan Dalam memberikan meningkatkan perilaku utama: tanggung jawab,
konsultasi dan online nyeri post operatif pelayanan dilakukan sesuai kompetensi dan kinerja kompeten, bekerja tuntas, akurat,
tatalaksana nyeri standar operatif pelayanan pegawai. efektif dan efisien.
post operatif lewat inovatif, efektif, efisien dan
pengaduan online tanggung jawab dibutuhkan
kepercayaan diri, jujur,
Sopan santun, dan
tanggung jawab. (Anti
Korupsi, Etika Publik,
dan Akuntabilitas) serta
dengan jelas, cermat, dan
detil (Komitmen Mutu)

54
KONTRIBUSI
TAHAPAN OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI PENGUATAN NILAI-NILAI
NO KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN KEGIATAN DAN MISI ORGANISASI
ORGANISASI

1 2 3 4 5 6 7
9. Monitoring Penyusunan dan Kuisoner Dalam menyiapkan Melakukan monitoring Melakukan Melakukan
pelayanan nyeri pencetakan kuisoner kuisioner dilakukan dengan pelayanan nyeri post monitoring pelayanan nyeri post
post operatif evaluasi inovatif, efektif, efisien dan operatif dengan sopan, operatif dengan sopan, inovatif,
tanggung jawab. Hal ini inovatif, efektif, dan efektif, dan efisien meerupakan
menjunjung nilai etika efisien meerupakan akan menguatkan nilai-nilai
publik, akuntablitas. kontribusi pada misi RS organisasi RS yaitu
Pengisian kuisoner Kuisoner yang telah diisi Dalam meminta pengisian terutama dalam sinergi dengan perilaku utama:
oleh keluarga atau kuisioner pelayanan nyeri menyelenggarakan koordinasi, kolaborasi, satu
pasien dengan nyeri post operatif pelayanan pelayanan berstandar persepsi dalam meningkatkan
berat post operatif yang dilakukan dengan jujur, internasional, mutu dan keselamatan;
telah ditangani efektif, efisien dan menyelenggarakan integritas dengan
tanggung jawab. Hal ini promosi kesehatan perilaku utama: jujur, disiplin,
menjunjung nilai etika secara komprehensif konsisten, komitmen dan menjadi
publik, akuntablitas. dan berkelanjutan serta teladan, dan
Penilaian kuisoner Nilai hasil kuisoner Dalam menilai kuisoner meningkatkan profesional dengan
evaluasi evaluasi evaluasi dilakukan sesuai kompetensi dan kinerja perilaku utama: tanggung jawab,
standar operatif pelayanan pegawai. kompeten, bekerja tuntas, akurat,
inovatif, efektif, efisien dan efektif dan efisien.
tanggung jawab dibutuhkan
kepercayaan diri, jujur,
Sopan santun, dan
tanggung jawab. (Anti
Korupsi, Etika Publik,
dan Akuntabilitas) serta
dengan jelas, cermat,
(Komitmen Mutu)

55
III.2 Jadwal Kegiatan
Tabel 3.2 Jadwal Kegiatan
Bulan dan Minggu ke-
No Kegiatan Mei Juni Juli
4 5 1 2 3 4 1 2

1. Koordinasi kepada Kepala Departemen serta staf anestesi dan terapi intensif

2. Pembahasan cara optimalisasi penanganan nyeri post operatif

3. Sosialisasi optimalisasi pelayanan nyeri post operatif kepada tim medis dan paramedis
terkait

4. Pengaktifan Klinik Nyeri Online

5. Pembuatan banner pelayanan nyeri post operatif

6.. Pembuatan banner pelayanan nyeri post operatif

7. Pembuatan video pelayanan nyeri post operatif

8. Pelayanan nyeri post operatif

9. Monitoring Pelayanan nyeri post operatif

56
BAB IV
PENUTUP

IV. 1 Kesimpulan
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif RSUP dr. Mohammad
Hoesin Palembang memiliki beberapa isu yang perlu pembahasan antara lain
belum optimalnya informed concent pasien dan keluarga tentang tindakan
anestesi, belum optimalnya pelayanan nyeri post operatif, belum optimalnya
fasilitas dan pelayanan pasien di unit gawat darurat, belum optimalnya jumlah
dosen PPDS anestesi dan terapi intensif, belum optimalnya teknologi dan fasilitas
pembelajaran peserta didik PPDS anestesi. Hasil analisis dengan metode APKL
dan USG maka didapat isu terpilih belum optimalnya pelayanan nyeri post
operatif.
Kegiatan dalam penyelesaian isu tersebut antara lain koordinasi kepada
kepala departemen serta staf anestesi dan terapi intensif, pembahasan cara
optimalisasi penanganan nyeri post operatif, sosialisasi optimalisasi pelayanan
nyeri post operatif kepada tim medis dan paramedis terkait, pengaktifan klinik
nyeri online, pembuatan leaflet pelayanan nyeri post operatif , pembuatan banner
pelayanan nyeri post operatif, pembuatan video pelayanan nyeri post operatif,
monitoring pelayanan nyeri post operatif. Kegiatan ini bersumber dari sasaran
kinerja pegawai dan tugas kreatif dengan menerapkan nilai-nilai dasar yaitu
Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi.

24
IV. 2 Saran
1. Aparatur Sipil Negara diharapkan dapat menerapkan nilai nilai
akuntabilitas, nasionalisme, etika publik, komitmen mutu, dan anti
korupsi dalam melaksanakan pekerjaannya sehari-hari.
2. Kegiatan optimalisasi pelayanan nyeri post operatif diharapkan dapat
dilaksanakan dengan kerjasama oleh teman sejawat dokter spesialis
anestesi dan peserta PPDS anestesi sehingga semua pasien
mendapatkan optimalisasi pelayanan nyeri post operatif.
3. Pelayanan dokter perlu melakukan berbagai inovasi dalam melakukan
pelayanan, untuk meningkatkan mutu pelayanan di rumah sakit,
memberi kepuasan konsumen, dan mendorong tercapainya visi dan
misi rumah sakit.

25