Anda di halaman 1dari 57

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Remaja merupakan masa transisi rentang kehidupan manusia,
menghubungkan masa anak-anak dan dewasa. Masa remaja dikatakan sebagai
masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Perkembangan biologis
remaja putri akan mengalami fase remaja mencapai tahapan kematangan organ-
organ seksual yang mempunyai kemampuan untuk bereproduksi yang disebut
pubertas (Solihah, 2013).
Di masa remaja akan mengalami masa pubertas yang terdapat pada wanita
yang ditandai dengan datangnya menstruasi pertama (menarche). Remaja
ditandai dengan pubertas adalah perubahan di bagian kematangan fisik yang
diikuti dengan perubahan tubuh dan hormonal yang akan timbul di masa remaja
awal. Usia termuda menarche pada remaja putri di Indonesia yaitu, 9 tahun dan
usia tertua menarche yaitu, 18 tahun (Rohmaniah, 2014).
Berdasarkan Riset kesehatan dasar (Rikesdas) 2010, bahwa 5,2% anak-
anak di 17 provinsi di Indonesia mengalami menarche di bawah usia 12 tahun.
Sehingga di Indonesia menepati urutan ke 15 dari 67 negara dengan penurunan
usia menarche mencapai 0,145 tahun per dekade. Menurut (Rikesdas) 2010,
Indonesia tahun 2012 menunjukkan bahwa rata-rata usia menarche di Indonesia
adalah 13 tahun (20,0%), dengan kejadian lebih awal pada usia kurang dari 9
tahun atau lebih lambat sampai usia 17 tahun. Belakangan ini, usia menarche
semakin dini di Indonesia. Hasil SDKI 2012 menyatakan bahwa 23% perempuan
usia 12 tahun dan 7% usia 10-11 tahun sudah mengalami menarche remaja
Indonesia termasuk dalam renang usia 12-15 tahun. Di Banten usia menarche
yang belum mendapatkan haid sebesar 9,1%, umur pertama kali haid usia 9-10
tahun sebesar 1,9%, usia 11-12 tahun sebesar 22,0%, usia 13-14 tahun sebesar
34,5%, usia 15-16 tahun sebesar 21,3%, usia 17-18 tahun 2,8%, usia 19-20
sebesar 0,4% dan yang tidak enjawab sebesar 7,8% (Riskesdas, 2010). Di
Amerika Utara, rentang usia normal terjadinya menarche pada remaja putri
adalah 10,5-15 tahun dengan usia rata-rata yaitu 12 tahun 9,5 bulan. Dia Asia
sperti Hongkong dan Jepang usia rata-rata menarche remaja putri adalah 12,38
dan 12,2 tahun (Karapanou dan Papadimitriou, 2010).
Menurut World Health Organization (WHO), remaja adalah periode
pertumbuhan dan perkembangan manusia yang terjadi setelah masa kanak-kanak
dan sebekum dewasa dalam rentang usia 10-19 tahun (WHO, 2015). Menurut
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 25 tahun 2014, remaja adalah penduduk
dalam rentang usia 10-18 tahun, sedangkan menurut Badan Kependudukan dan
Keluarga Berencana (BKKBN) rentang usia remaja adalah 10-24 tahun dan
belum menikah.
Jumlah kelompok usia 10-14 tahun di indonesia menurut sensus penduduk
2019 sebanyak 45,01 juta orang. Di seluruh dunia diperkirakan kelompok remaja
berjumlah 1,2 milyar atau 18% dari jumlah penduduk dunia (WHO, 2018). Di
Indonesia terdapat (66,3 juta jiwa) remaja dan sebanyak (11,67 juta jiwa) berjenis
kelamin perempuan (BKKBN, 2018). Data dari Badan Pusat Statistik (BPS)
Pemerintah Provinsi Banten 2019 menunjukkan jumlah remaja berjenis kelamin
perempuan usia 10-14 tahun 546,4 jiwa, usia 15-19 tahun 512,0 jiwa. Di
indonesia usia remaja pada waktu menarche antara 10 hingga 16 tahun dan rata-
rata menarche pada usia 12 tahun 5 bulan (Munda et all, 2013).
Menarche adalah haid pertama kali terjadi pada perempuan dan
merupakan ciri dari kedewasaan seorang perempuan yang sehat dan tidak hamil.
Menarche (haid pertama) meruapakan haid yang datang pertama kali
mengakibatkan dinding rahim mengeluarkan darah atau dikenal dengan sebutan
haid, haid pertama ditandai dengan kesiapan biologis, dan tanda siklus subur
telah mulai. Menarche adalah menstruasi pertama yang terjadi dalam batasan usia
10-16 tahun atau pada masa awal remaja di tengah masa pubertas sebelum
memasuki masa reproduksi (Yusuf, Rina, dan Septi, 2014).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi usia saat menarche yaitu, status
gizi, genetik, kosumsi makanan tinggi kalori, tinggi lemak, sosial ekonomi,
keterpaparan media masa orang dewasa (pornografi), perilaku seksual dan gaya
hidup (Astuti, 2014). Sedangkan faktor yang mempengaruhi usia saat menarche
seperti, cuaca, lokasi geografis, pajanan terhadap cahaya, penyakit kronis, faktor
diet, stress fisik maupun emosional, faktor psikologis, dan faktor sosioekonomi
(Anwar, 2011).
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN, 2012)
menyatakan bahwa faktor risiko psikologis bahwa salah satu faktor risiko
psikologis menarche yaitu, kesiapan. Remaja yang akan mengalami menarche
membutuhkan kesiapan mental yang baik. Kesiapan menghadapi menarche
adalah keadaan yang menunjukkan bahwa seseorang siap untuk mencapai salah
satu kematangan fisik yaitu datangnya menarche. Kesiapan menghadapi
menarche dilakukan dengan memberikan informasi dan perhatian pada wanita
ketika menghadapi menarche, maka wanita akan merasa lebih tenang dan siap
menunggu datangnya menarche (Fajri dan Khairani, 2010). Remaja yang belum
siap menghadapi menarche akan timbul keinginan untuk menolak proses
fisiologis tersebut, maka akan merasa haid sebagai sesuatu yang kejam dan
mengancam, keadaan ini dapat berlanjut ke arah yang lebih negatif (Jayanti et
all. 2011).
Menurut Tim Penyusun SDKI DPP PPNI (2017), cemas (ansietas) adalah
sebuah emosi dan pengalaman subjektif individu terhadap objek yang tidak jelas
dan spesifik akibat antisipasi bahaya yang memungkinkan individu melakukan
tindakan untuk menghadapi ancaman. Kecemasan (ansietas/anxiety) adalah
gangguan alam perasaan (affective) yang ditandai dengan perasaan takut, panik,
cemas yang mendalam dan berkelanjutan, tidak mengalami gangguan dalam
menilai realitas (Reality Testing Ability/RTA), perilaku terganggu namun, masih
dalam batasan yang normal (Hawari, 2013).
Menarche datang sering di definisikan sebagai penyakit kerena sering
memicu timbulnya kecemasan. Kecemasan menghadapi menarche merupakan
keadaan dimana perasaan yang di tunjukkan dari ketengan fisik, khawatir dan hal
yang buruk akan terjadi ketika menarche. Faktor-faktor kecemasan yang
mempengaruhi dalam menghadapi menarche yaitu, pengetahuan, usia,
menarche, dukungan ibu, pola asuh orang tua, sumber informasi, dan
ketidaksiapan (Desi, 2016).
Orang tua sangat berperan penting dalam mempersiapkan anaknya
menghadapi masa pubertas karena pola asuh orang tua menjadi sumber utama
untuk membangun rasa kepercayaan diri dan tanggung jawab untuk menghadapi
rasa takut dan cemas yang akan dialami ketika terjadi hal-hal yang belum pernah
terjadi khususnya menarche. Pola asuh orang tua adalah kebiasaan orang tua
yang memiliki sifat konsisten dan persintent berarti, melindungi, mengasuh dan
membimbing anaknya. Persistent berasal dari bahasa Inggris yaitu, Persistent
disebut keras hati. Orang tua wajib untuk mengetahui informasi dan pengetahuan
terkait pola asuh yang tepat (Djamarah, 2014)
Pola asuh demokratis dapat membentuk anak menjadi mandiri, dapat
mengendalikan kontrol diri dan kepercayaan diri, mampu berinteraksi sesama
teman seumurnya dengan baik, dapat menghadapi stress, memiliki minat
terhadap sesuatu yang menantang dan baru, kooperatif dengan orang dewasa,
patuh, penurut dan berorientasi pada prestasi. Menurut hasil penelitian bahwa
tipe pola asuh demokratis merupakan yang terbanyak diterapkan oleh otang tua
kepada anaknya karena pola asuh demokratis memiliki prinsip mendorong anak
untuk lebih mandiri dalam menyikapi masalah. Sifat orang tua yang harus
dimiliki yaitu, bersikap hangat, penuh kasih sayang, dapat menerima alasan dari
semua tindakan anak, mendukung tindakan yang konstruktif, dan tidak menuju
ke tindakan yang otoriter (Dewi, 2008 dalam Nafratilawati, 2014).
Pola asuh otoriter merupakan pengendalian kekuasaan, tanpa kehangatan,
bimbingan, dan komunikasi dua arah. Orang tua menghargai kepatuhan, rasa
hormat terhadap kekuasaan mereka, dan tradisi. Anak-anak dengan orang tua
yang seperti ini akan memiliki kompetensi dan tanggung jawab yang sedang, lalu
menarik diri secara sosial dan tidak spontanitas. Kecemasan dalam menghadapi
menarche dengan pola asuh orang tuanya cenderung akan merasa tidak nyaman
karena adanya hal-hal yang pertama kali di alami remaja perempuan, sehingga
anak tidak memiliki kemandirian dalam menghadapi masalah (Dewi, 2008 dalam
Nafratilawati, 2014).
Pola asuh permisif adalah tipe orang tua yang memperbolehkan anak
berbuat apa saja yang diinginkan. Orang tua memilki kehangatan dan menerima
apa adanya. Kehangatan menjadi memanjakan, diberikan yang diberikan
keinginnannya. Sedangkan menerima apa adanya cenderung akan memberi
kebebasan kepada anak untuk melakukan apa saja. Pola asuh ini dapat
menimbulkan anak agresif, tidak patuh pada orang tua, sok kuasa, kurang
mampumengontrol diri dan kurang intens mengikuti pelajaran sekolah,
kecemasan yang terlalu tinggi (Baumrin, 2009).
Fenomena yang terjadi pada siswi menarche kecenderungan mengalami
cemas. Banyak siswi berespons cemas terhadap menarche karena mengalami
menarche dini (Santrock, 2012). Pernyataan tersebut didukung oleh penelitian
Marhamatunnisa (2012), bahwa siswi berespons cemas terhadap menarche relatif
terjadi pada usia siswi berespons cesmas terhadap menarche lebih dini yaitu usia
9 sampai 11 tahun daripada siswi yang berusia 13 tahun. Hasil penelitian Marwan
dan Veronica (2014), menunjukkan siswi berespons cesmas terhadap menarche
dini memiliki tingkat kecemasan yang paling tinggi sebesar 48% yaitu, berupa
takut, khawatir, gelisah, dan tidak ingin menceritakan kepada orang lain bahwa
sudah menstruasi karena malu bercerita kepada teman.
Menarche menjadi saat yang menegangkan karena siswi pertama kali
mengalaminya (Proverawati, 2009). Penelitian yang dilakukan oleh Lestyani
(2015), pada siswi sekolah dasar menyatakan siswi mengalami kecemasan saat
menarche yaitu, kecemasan ringan 40%, kecemasan berat 22%, dan kecemasan
berat sekali (panik) 38%. Rata-rata siswi tersebut mengatakan perasaanta takut,
gelish, dan ulit untuk berkonsentrasi. Penelitian tersebut didukung oleh penelitian
yang dilakukan oleh Simanjutak (2013), bahwa sebagaian siswi mengalami
menarche merasa cemas, bingung, sedih, gemetar, tidak peduli, dan juga yang
merasa bangga dengan dirinya karena sudah menjadi dewasa. Hasil penelitian
Amalia (2016) didapatkan bahwa siswi mengalami menarche kecemasan sebesar
79% dan tidak cemas sebesar 21%.
Menurut penelitian Dewati (2014), menyatakan 5 dari 7 siswi menyatakan
menolak saat mengalami menarche. Gambaran menolak mengalami menarche
seprti siswi menangis, marah-marah, dan menyesal telah mengalami menarche.
Kesiapan secara sosial yaitu adanya keterbukaan kepada orang tua untuk
memberikan sumber informasi atau dukungan tentang menarche. Siswi
menghadapi menarche membutuhkan kesiapan yang baik. Siswi yang belum siap
menghadapi menarche akan timbul keinginan untuk menolak proses fisiologis
tersebut dan merasa menarche sebagai sesuatu yang kejam dan mengancam.
Apabila keadaan ini tidak dipersiapkan dengan baik akan berdampak siswi
mengalami cemas (Jayanti dan Sugi, 2012).
Berdasarkan penelitian yang sebelumnya oleh Widya dan Kurnia tahun
2018 penelitian yang berjudul hubungan pengetahuan remaja tentang menstruasi
dengan tingkat kecemasan dalam menghadapi menarche pada siswi kelas IV dan
V SDI Darul Hikmah Krian Sidoarjo, diperoleh data paling banyak responden
berpengetahuan baik mengalami cemas ringan yaitu, 17 siswi (44,73%),
berpengetahuan cukup mengalami cemas sedang yaitu, 8 siswi (18,42%),dan
berpengetahuan kurang mengalami cemas berat yaitu, 3 sisiwi (7,89%). Hasil
dari uji Spearmen Rank pada nilai signifikan α = 0,05 yang artinya H1 diterima
ada hubungan antara pengetahuan remaja putri tentang menstruasi dengan tingkat
kecemasan dalam menghadapi menarche (p-value = 0,009).
Pola asuh orang tua dengan tingkat kecemasan remaja putri dalam
menghadapi menarche karena, sangat mempengaruhi kepribadian dan perilaku
anak. Seperti memberikan informasi mengenai menarche kepada anak dapat
memberikan pengaruh yang baik terhadap pola pikir yang cenderung ke arah
cemas dan takut. Informasi mengenai kesehatan reproduksi yaitu, mengenai
rendahnya pengetahuan dan informasi yang kurang dari orang tua dapat menjadi
dampak buruk oleh anak. Rendahnya pengetahuan serta informasi tentang
reproduksi khususnya menstruasi akan menimbulkan kecemasan dalam
menghadapi menarche.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan di kelas V dan VI
SDN Bojong 4, didapatkan yang belum menarche sebanyak 34 remaja putri,
sebagai studi pendahuluan di ambil sampel sebanyak 10 orang (100%) untuk
diwawancarai, setelah diwawancarai mendapatkan hasil 2 remaja (20%)
mengalami tidak cemas, sebanyak 4 remaja (40%) mengalami cemas ringan, dan
sebanyak 4 remaja (40%) mengalami cemas sedang. Mereka merasa cemas, takut
dan gelisah karena mereka belum siap mengalami menarche dan sudah ada yang
siap untuk mengalami menarche, hasil dari wawancara kelas V didapatkan
mereka cemas karena tidak tahu bagaimana cara membersihkan area genital dan
belum mendapatkan pengetahuan tentang menstruasi dari orang tuanya dan
kurikulum tapi, mereka mengetahui pengalaman dari temannya yang sudah
mengalami menstruasi. Sedangkan kelas VI didapatkan mereka tidak takut dan
sudah siap menghadapi menarche karena, mereka sudah mendapatkan
pengetahuan tentang menarche dari orang tua dan kurikulum.

1.2. Rumusan Masalah


Remaja saat mempersiapkan datangnya menarche adalah kewajiban orang
tua namun, orang tua menganggap hal ini tabu dan orang tua juga kesulitan untuk
memberikan perhatian karena keterbatasan. Pola asuh orang tua adalah mendidik,
merawat, dan memberikan pengetahuan dalam proses perkembangan dan
pertumbuhan remaja putri, terutama pada masa remaja. Memberikan informasi
tentang menarche dapat membantu mempersiapkan perasaan emosional sebelum
mengalami menarche. Meskipun banyak sumber informasi yang dapat diperoleh,
namun masih ada anak perempuan yang tidak mengetahui tentang menstruasi,
informasi yang mereka dapatkan tidak mencukupi dengan tidak memadai untuk
mempersiapkan mereka saat menstruasi khususnya pada menstruasi pertama,
sehingga pada saat terjadi menarche mereka cenderung menanggapi hal tersebut
seabagai suatu hal negatif dan muncul suatu reaksi emosional yang membuat
mereka merasa cemas (Marvan ML, 2012).
Kesiapan remaja putri dipengaruhi oleh pola asuh orang tua, dalam hal
tingkat pengetahuan dan sumber informasi. Oleh karena itu, diperlukan perhatian
dan pengasuhan yang optimal dari orang tua untuk meluruskan persepsi anak agar
anak tidak takut menghadapi menarche. Kesiapan mental sangat diperlukan,
karena perasaan cemas dan takut datang ketika kurangnya pengetahuan orang tua
untuk anaknya mengenai menarche, untuk itu remaja putri perlu mempersiapkan
dalam menghadapi munculnya menarche.
Berdasarkan hasil penelitian Gladys (2018) hubungan dukungan kelurga
dengan kesiapan remaja putri dalam menghadapi menarche. Remaja putri perlu
mendapatkan dukungan dari orang tua yaitu dukungan informasi, emosional,
penghargaan, dan instrumental mengenai menstruasi agar remaja putri memiliki
kesiapan yang baik dalam menghadapi datangnya menarche terdapat yang belum
mengalami menarche yaitu dengan sampel 32 orang. Gambaran dukungan
keluarga terdapat dalam kategori baik 66% dan gambaran kesiapan siswi dengan
kategori siap 69%. Berdasarkan uji Chi-Square menunjukkan hasil adanya
hubungan antara kedua variabel dengan nilai p = 0,001 kurang dari α = 0,05
dengan korelasi kuat (0,544). Jadi penelitian ini ada hubungan antara dukungan
keluarga dengan kesiapan remaja putri dalam menghadapi menarche di SMPN 1
Kawangkoan.
Penelitian yang dilakukan Saputri (2012), yang menghubungkan antara
pola asuh orang tua dengan kecemasan remaja yang menghadapi menarche.
Penelitian ini dilaksanakan di SDN Nayu 77 Surakarta dengan 46 responden.
Hasil didapatkan presentase kecemasan sebanyak 50% dimana hal ini sebanding
dengan presentase ketidakcemasan. Didapatkan jenis pola asuh permisif dan
otoriter berpotensi menimbulkan kecemasan pada remaja yang menghadapi
menarche karena kurangnya komunikasi verbal terhadap anak. Karena orang tua
merupakan sumber informasi terdekat dengan anak. Rendahnya pengetahuan
serta informasi yang diberikan oleh orang tua tentang reproduksi khususnya
menstruasi akan menimbulkan kecemasan dalam menghadapi menarche.
Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak remaja putri yang mengalami
kecemasan dalam menghadapi menarche. Berdasarkan uraian diatas peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Hubungan Pola Asuh Orang Tua
Dengan Tingkat Kecemasan Remaja Putri Dalam Menghadapi Menarche Pada
Siswi Kelas V dan VI di SDN Bojong 4 Kabupaten Tangerang”.

1.3. Pertanyaan Penilitian


Berdasarkan masalah penelitian tersebut diatas maka pertanyaan peneliti yang
dapat dirumuskan adalah:
1. Bagaimana pola asuh orang tua pada remaja putri kelas V dan VI di SDN
Bojong 4 tentang menghadapi menarche?
2. Bagaimana tingkat kecemasan remaja putri dalam menghadapi menarche
pada siswi kelas V dan VI Di SDN Bojong 4?
3. Bagaimana hubungan pola asuh orang tua dengan tingkat kecemasan remaja
putri dalam menghadapi menarche pada siswi kelas V dan VI di SDN Bojong
4?

1.4. Tujuan Penelitian


1.4.1. Tujuan Umum
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adakah hubungan pola
asuh orang tua dengan tingkat kecemasan remaja putri dalam menghadapi
menarche pada siswi kelas V dan VI di SDN Bojong 4 Kabupaten
Tangerang.

1.4.2. Tujuan Khusus


1. Untuk mengetahui pola asuh orang tua pada remaja putri tentang
menghadapi menarche pada siswi kelas V dan VI di SDN Bojong 4.
2. Untuk mengetahui tingkat kecemasan remaja putri dalam menghadapi
menarche pada siswi kelas V dan VI di SDN Bojong 4.
3. Untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua dengan tingkat
kecemasan remaja putri dalam menghadapi menarche pada siswi kelas
V dan VI di SDN Bojong 4.

1.5. Manfaat Penelitian


1. Institusi STIKes Yatsi Tangerang
Sebagai pegembangan ilmu keperawatan serta informasi untuk
pengetahuan mahasiswa/i khususnya dalam pola asuh orang tua dengan
tingkat kecemasan menghadapi menarche.

2. Profesi Keperawatan
Proses dan hasil penelitian ini untuk memberikan sumber dan landasan
pengembangan ilmu keperawatan khususnya tentang pola asuh orang tua
dengan tingkat kecemasan menghadapi menarche.

3. Peneliti
Manfaat penelitian ini bagi peneliti diharapkan dapat menambah
pengetahuan dan membuka wawasan berpikir penulis, serta dapat
menganalisa tentang bagaimana pola asuh orang dengan tingkat kecemasan
dalam menghadapi menarche.

4. Remaja Putri
Hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan
tentang pola asuh orang tua yang otoriter, demokratis dan permisif dengan
tingkat kecemasan dalam menghadapi menarche.
5. Bagi Orang Tua
Untuk orang tua menjadi panutan dalam mendidik dan mengasuh
anaknya yang saat ini memasuki masa remaja, karena masa remaja perlu di
dukung adanya pola asuh orang tua yang sangat penting untuk
mengendalikan rasa cemas dalam diri anak yang akan mengalami masa
pubertas.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Pola Asuh Orang Tua


2.1.1. Definisi Pola Asuh Orang Tua
Pola asuh orang tua adalah gambaran yang dipakai orang tua untuk
mengasuh (merawat, menjaga, dan mendidik) anak dan suatu cara terbaik
yang dapat ditempuh orang tua dalam mendidik anak sebagai perwujudan
dan rasa tanggung jawab kepada anak (Marsela, 2015). Pola asuh orang
tua diartikan suatu keseluruhan interaksi orang tua dan anak, dimana orang
tua yang memberikan dorongan bagi anak dengan mengubah tingkah laku,
pengetahuan dan nilai-nilai yang dianggap paling tepat bagi orang tua agar
anak bisa mandiri, tumbuh serta berkembang secara sehat dan optimal.
Memiliki rasa percaya diri, memiliki sifar rasa ingin tahu, bersahabat dan
berorientasi untuk sukses (Tridhonanto, 2014).
Pola asuh orang tua adalah pola perilaku yang diterapkan orang tua
kepada anak dan bersift relatif konsisten dari waktu ke waktu. Pola asuh
juga berarti suatu bentuk kegiatan merawat, memelihara dan membimbing
yang dilakukan orang tua kepada anak-anaknya agar anak dapat mandiri,
tumbuh berkembang secara sehat dan mandiri (Anggraini, 2014 dalam
Marchell, 2015)
Menurut Desmita (2013), yang mengemukkan bahwa pola asuh
orang tua adalah suatu cara terbaik suatu cara terbaik yang dapat ditempuh
orang tua dalam mendidik anak sebagai perwujudan dari rasa tanggung
jawab kepada anak. Peran keluarga menjadi penting untuk mendidik anak
baik dalam sudut tinjauan agama, tinjauan sosial kemasyarakatan maupun
tinjauan individu. Jika pendidikan keluarga dapat berlangsung dengan
baik maka mampu menumbuhkan perkembangan kepribadian anak
menjadi manusia dewasa yang memiliki sikap positif terhadap agama,
kepribadian yang kuat dan mandiri, potensi jasmani dan rohani serta
intelektual yang berkembang secara optimal.
Atas uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pola asuh orang
tua adalah suatu keseluruhan interaksi orang tua dan anak, dengan cara
mengasuh, mewarat, mendidik dan menjaga anaknya, orang tua juga
menerapkan untuk memberikan dorongan bagi anak dengan mengubah
tingkah laku, pengetahuan dan nilai-nilai agar anak dapat tumbuh
berkembang secara sehat dan mandiri.

2.1.2. Tipe Pola Asuh Orang Tua


Pola asuh berkaitan erat dengan hubungan antara orang tua dan
anak dalam proses pendidikan, dalam pola asuh ini orang tua nantinya
akan mempengaruhi perkembangan anak. Secara garis besar ada tiga
macam tipe pola asuh orang tua dalam keluarga yaitu, pola asuh otoriter,
pola asuh permisif, dan pola asuh demokratis (Idris, 2012).

a. Pola Asuh Otoriter (Authoritarian Parenting)


Pola asuh otoriter adalah pola asuh yang mengutamakan
membentuk kepribadian anak dengan cara menetapkan standar mutlak
yang harus di patuhi, biasanya dengan ancamn-ancaman (Tridhonanto,
2014). Orang tua menerapkan tipe pola asuh otoriter akan menuntut
dan mengendalikan semata-mata karena kekuasaan, tanpa kehangatan,
bimbingan, dan komunikasi dua arah. Mereka mengendalikan dan
menilai perilaku anak dengan standar mutlak. Mereka menghargai
kepatuhan, rasa hormat terhadap kekuasaan mereka, dan tradisi. Anak-
anak dengan orang tua seperti ini cenderung memiliki kompetensi dan
tanggung jawab sedang, cenderung menarik diri secara sosial dan tidak
memiliki spontanitas (Dewi, 2008 dalam Nafratilawati, 2014).
Pola asuh otoriter menerapkan pola asuhnya dengan aspek-
aspek sebagai berikut:
1. Orang tua mengekang anak untuk bergaul dan memilih-milih
orang yang mejadi teman anaknya.
2. Orang tua memberikan kesempata pada anaknya untuk berdialog,
mengeluh dan mengemukakan pendapat. Anak harus menuruti
kehendak orang tua tanpa peduli keinginan dan kemampuan anak.
3. Orang tua menentukan aturan bagi anak dalam berinteraksi baik di
rumah maupunn di luar rumah. Aturan tersebut harus di taati oleh
anak walaupun tidak sesuai dengn keinginan anak.
4. Orang tua memberikan kesempatan pada anak untuk berinisiatif
dalam bertindak dan menyelesaikan masalah.
5. Orang tua melarang anaknya untuk berpartisipasi dalam kegiatan
kelompok.
6. Orang tua menuntut anaknya bertanggung jawab terhadap tindakan
yang di lkukan tetapi tidak menjelaskan kepada anak mengapa
anak harus bertanggung jawab.
Menurut hasil penelitian Gunarsa (2013), bahwa pola asuh
otoriter cenderung memberi hukuman terutama hukuman fisik.
Sementara itu, menurut Hurlock (2013), dikatakan bahwa orang tua
yang otoriter tidak memberikan hak anaknya untuk mengemukakan
pendapat serta mengutarkan perasaan-perasaannya. Sedangkan
menurut Sri Mulyani (2013), orang tua yang otoriter yaitu, orang tua
amat berkuasa terhadap anak, memegang kekuasaan tertinggi serta
mengharuskan anak patuh pada perintah-perintah orang tua dengan
berbagai cara, segala tingkah laku anak dikontrol dengan ketat.
Menurut hasil penelitian Hikmah (2015), bahwa bisa dilihat
rata-rata orang tua memilih untuk mendidik anak mereka dengan
sedikit keras. Seperti membatasi anak dari hal-hal yang disukai anak
semisal bermain bersama teman-temannya. Padahal seharusnya orang
tua dapat degan bijak meilih cara yang lain agar anak menjadi patuh
dan segan. Bukan malah takut karena akan dimarahi dan dipukuli.
Pilihan itu diakui oleh para orang tua adalah yang palin tepat, unuk
menghindari anak menjadi nakal, tidak disiplin, dan susah diatur.
Batasan-batasan dalam keseharian yang diberikan adalah
berlandaskan alasan agar anak mudah dikontrol dan menjadi patuh.
Terkadang orang tua harus berteriak saat memberi perintah ketika anak
kurang cepat merespon. Bahkan orang tua mengambil jaln keluar
dengan cara memukul, menjewer, dan mencubit, sebagai suatu
hukuman bagi perilaku anak yang menurut mereka tidak sesuai dengan
aturan yang diterapkan oleh para orang tua. Cara ini dipandang oleh
para orang tua adalah yang paling ampuh untuk memberi efek jera
kepada anak agar tidak mengulangi perbuatan yang tidak sesuai dalam
pandangan orang tua.
Menurut Tridhonanto (2014), pola asuh otoriter memiliki ciri-
ciri, sebagai berikut:
1. Anak harus patuh dan mengikuti kehendak orang tua
2. Perilaku anak di kontrol dengan sangat ketat
3. Anak hampir tidak pernah diberi pujian
4. Orang tua yang tidak mengenal kompromi dan dalam
komunikasinnya biasanya bersifat satu arah.
Dampak yang akan timbul dari pola asuh otoriter, anak
memiliki sifat dan sikap, seperti: mudah tersinggung, pemurung dan
merasa tidak bahagia, penakut, mudah stress, mudah terpengaruh,
tidak mempunyai arah masa depan yang jelas, tidak bersahabat
(Tridhonanto, 2014).

b. Pola Asuh Permisif (Permissive Parenting)


Pola asuh permisif adalah pola asuh yang membentuk
kepribadian anak dengan cara memberi pengawasan yang longgar dan
memberikan kesempatan pada anak untuk melakukan sesuatu tanpa
pengawasan yang cukup. Orang tua cenderung tidak menegur atau
memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya dan sangat
sedikit bimbingan yang diberikan. Sifat dan sikap dimiliki orang tua
adalah hangat sehingga sering kali disukai oleh anak (Tridhonanto,
2014).
Menurut Yusuf (2013), menyatakan bahwa orang tua yang
mempunyai pola asuh permisif cenderung selalu memberikan
kebebasan pada anak tanpa memberikan kontrol sama sekali. Anak
dituntut atau sedikit sekali dituntut untuk suatu tanggung jawab tetapi
mempunyai hak yang sama seperti orang dewasa, dan anak diberi
kebebasan untuk mengatur dirinya sendiri dan orang tua tidak banyak
mengatur anaknya. Orang tua tipe ini memberikan kasih sayang
berlebihan. Karakter anak menjadi impulsif, tidak patuh, manja,
kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang percaya diri dan kurang
matang secara sosial.
Pola asuh permisif menerapkan pola asuhnya dengan aspek-
aspek sebagai berikut:
1. Orang tua tidak peduli terhadap pertemanan atau persahabatan
anaknya.
2. Orang tua kurang memberikan perhatian terhadap kebutuhan
anaknya, jarang sekali melakukan dialog terlebih dahulu untuk
mengeluh dan meminta pertimbangan.
3. Orang tua tidak peduli terhadap pergaulan anaknya dan tidak
pernah menentukan norma-norma yng harus di perhatikan dalam
bertindak.
4. Orang tua tidak peduli terhadap kegiatan kelompok yang diikuti
anknya.
5. Orang tua tidak peduli dengan masalah yang di hadapi oleh
anaknya.
6. Orang tua tidak peduli anaknya bertanggung jawab atau tidak atas
tindakan yang di lakukannya.
Orang tua cenderung membebaskan anak melakukan apa saja
tanpa kontrol. Pengaruhnya bagi perkembangan anak adalah anak
menjadi manja dan cenderung egois, anak tidak suka bekerja keras,
anak merasa ditelantarkan sehingga sulit untuk sukses, anak kurang
memiliki kedisiplinan (Idris, 2012).
Menurut Tridhonanto (2014), pola asuh permisif memiliki ciri-
ciri, sebagai berikut:
1. Orang tua bersikap acceptance tinggi namun kontrolnya rendah,
anak diizinkan membuat keputusan sendiri dan dapat berbuat
sekehendaknya sendiri.
2. Orang tua memberi kebebasan kepada anak untuk menyatakan
dorongan atau keinginannya.
3. Orang tua kurang menerapkan hukuman pada anak, bahkan hampir
tidak menggunakan hukuman.
Dampak yang ditimbulkan dari pola asuh membawa pengaruh
atas sikaf-sifat anak, seperti: suka memberontak, suka mendominasi,
tidak jelas arah hidupnya, prestasi rendah, bersikap impilsif dan
agresif, kurang memiliki rasa percaya diri, dan pengendalian diri
(Tridhonanto, 2014).

c. Pola Asuh Demokratis (Authoritative Parenting)


Pola asuh demokratis adalah pola asuh orang tua yang
menerapkan perlakuan kepada anak dalam rngka membentuk
kepribadian nak dengan cara memprioritaskan kepetingan anak yang
bersikap rasional atau pemikiran-pemikiran (Tridhonanto, 2014). Pola
asuh demokratis menggunakan komunikasi dua arah (two ways
communication). Kedudukan antara orang tua dan anak dalam
berkomunikasi sejajar. Suatu keputusan diambil bersama dengan
mempertimbangkan (keuntungan) kedua belah pihak (win-win
solution). Anak diberi kebebasan yang bertanggung jawab, artinya apa
yang dilakukan anak tetap harus ada di bawah pengawasan orang tua
dan dapat dipertanggung jawabkan secara moral (Helmawati, 2014).
Menurut hasil penelitian Santrock (2013), bahwa teknik-teknik
suhan orang tua yang demokratis akan menumbuhkan keyakinan dan
kepercayaan diri maupun mendorong tindakan-tindakan mandiri
membuat keputusan sendiri akan berakibat munculnya tingkah laku
mandiri yang bertanggung jawab. Hasilnya anak-anak menjadi
mandiri, mudah bergaul, mampu menghadapi stres, berminat terhadap
hal-hal baru dan bisa bekerja sama dengan orang lain.
Hasil penelitian Achmad (2010) menunjukkan bahwa 51%
orang tua menerapkan tipe pola asuh demokratis, tipe pola asuh
demokratis merupakan pola asuh yang terbanyak yang diterapkan oleh
orang tua kapda anaknya karena pola asuh demokratis mempunyai
prinsip mendorong anak untuk mandiri, tapi orang tua tetap
menetapkan batas dan kontrol. Orang tua biasanya bersikap hangat,
dan penuh welas kasih kepada anak, bisa menerima alasan dari semua
tindakan anak, mendukung tindakan anak yang kostruktif, dan tidak
sedikitpun mengarahkannya secara otoriter. Hal ini sesuai dengan hasil
penelitian yang telah dilakukan yaitu, ada 29,4% orang tua yang masih
menerapkan pola asuh otoriter. Orang tua menerapkan tipe pola asuh
otoriter akan menuntut dan mengendalikan semata-mata karena
kekuasaan, tanpa kehangatan, bimbingan, dan komunikasi dua arah.
Pola asuh demokratis menerapkan pola asuhnya dengan aspek-
aspek sebagai berikut:
1. Orang tua bersikap acceptance dan mengontrol tinggi.
2. Orang tua bersikap responsif terhadap kebutuhan anak.
3. Orang tua mendorong anak untuk menyatakan pendapat atau
pertanyaan.
4. Orang tua memberikan penjelasan tentang dampak perbuatan yang
baik dan buruk.
5. Orang tua bersikap realistis terhadap kemampuan anak.
6. Orang tua memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan
melakukan suatu tindakan.
7. Orang tua hangat dan berupaya membimbing anak.
8. Orang tua berwenang melibatkan anak dalam membuat keputusan.
9. Orang tua menghargai disiplin anak.
10. Orang tua berupaya untuk mengambil keputusan akhir dalam
keluarga.
Menurut Tridhonanto (2014), pola asuh demokratis memiliki
ciri-ciri, sebagai berikut:
1. Anak diakui sebagai pribadi oleh orang tua dan turut dilibatkan
dalam pengambilan keputusan.
2. Menetapkan peraturan serta mengatur kehidupan anak. Saat orang
tua menggunakan hukuman fisik, dan diberikan jika terbukti anak
secara sadar menolak melakukan apa yang telah di setujui bersama,
sehingga lebih bersikap edukatif.
3. Anak diberi kesempatan untuk mandiri dan mengembangkan
kontrol internal.
4. Bersikap realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharap yang
berlebihan yang melampaui kmampuan anak.
5. Pendekatannya kepada anak bersifat hangat.
6. Memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan
melakukan suatu tindakan.
7. Mempriositaskan kepetingan anak, akan tetapi tidak ragu-ragu
mengendalikan mereka.
Dampak dari pola asuh demokratis dalah membentuk perilaku
anak, seperti: bersikap bersahabat, mampu mengendalikan diri (self
control), bersikap sopan, memiliki rasa ingin tahu (Tridhonanto,
2014).
2.1.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pola Asuh
Ada beberapa hal yang mempengaruhi jenis pola asuh yang
diterapkan orang tua menurut Hurlock (2012) dalam Husaini (2013), yaitu:
a. Pola asuh yang diterima orang tua saat anak-anak
Orang tua memiliki kecenderungan yang besar menerapkan pola asuh
yang mereka terima dari orang tua mereka pada anaknya.
b. Pendidikan orang tua
Orang tua yang mendapatkan pendidikan baik, cenderung menerapkan
pola asuh demokratis ataupun permisif dibandinkan dengan orang tua
yang pendidikannya terbatas. Pendidikan membantu orang tua untuk
lebih memahami kebutuhan anak.
c. Kelas sosial
Perbedaan kelas sosial orang tua mempengaruhi pemilihan pola asuh.
Orang tua dari kelas sosial menengah cenderung lebih permisif
dibandingkan dari orang tua kels sosial bawah.
d. Konsep tentang peran orang tua
Setiap orang tua memiliki konsep bagaimana seharusnya dia berperan.
Orang tua dengan konsep tradisional cenderung memilih pola asuh
yang ketat dibandigkan orang tua dengan konsep non-tradisional.
e. Kepribadian orang tua
Kepribadian mempengaruhi interprestasi pola asuh yang mereka
terapkan. Orang tua yang berkepribadian tertutup dan konservatif
cenderung akan memperlakukan anaknya dengan ketat dan otoriter.
f. Kepribadian anak
Anak yang cenderung ekstrovert akan bersikap lebih terbuka terhadap
rangsangan-rangsangan yang datang padanya dibandingkan anak yang
introvert.
g. Faktor nilai yang dianut orang tua
Equalitarian yaitu, kedudukan anak sejajar dengan orang tua. Namun
kebanyakan di Negara Timur, orang tua masih lebih cenderung
menghargai kepatuhan anak.
h. Usia anak
Tingkah laku dan sikap orang tua terhadap anaknya di pengaruhi oleh
usia anak. Orang tua lebih memberikan dukungan dan dapat menerima
sikap ketergantungan anak usia pra sekolah daripada remaja.

2.2. Konsep Kecemasan


2.2.1. Definisi Kecemasan
Cemas adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, yang
berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan emosi
ini tidak memiliki objek yang spesifik yang bisa di komunikasikan secara
interpersonal (Stuart, 2013). Menurut NANDA (2015), definisi ansietas
adalah perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar disertai
respons autonom (sumber sering kali tidak spesifik) perasaan takut yang
disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya. Perasaan ini merupakan
isyarat kewaspadaan yang memperingatkan bahaya yang akan terjadi dan
memampukan individu melakukan tindakan untuk menghadapi ancaman.
Kecemasan berasal dari bahasa latin “angustus” yang berarti kaku
dan “ango, anci” yang berarti mencekik. Kecemasan (ansietas/anxiety)
adalah gangguan dalam alam perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang
mendalam dan berkelanjutan, tidak mengalami gangguan dalam menilai
realistis (reality testing ability), masih baik, kepribadian masih tetap utuh
tidak mengalami keretakan pribadi (spilliting personlity), perilaku dapat
terganggu tetapi masih dalam batas-batas normal (Nixson, 2016).
Kecemasan adalah gangguan alam perasaan yang ditandai dengan
perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan,
tidak mengalami gangguan dalam menilai realitas, kepribadian masih
tetap utuh, perilaku dapat terganggu, tetapi masih dalam batas-batas
normal (Jaya, 2015). Kecemasan dalam pandangan psikoanalitik,
pandangan interpersonal, pandangan perilaku, kajian keluarga, dan dari
kajian biologis (Stuart, 2013). Dalam kajian keluarga, kecemasan
diartikan sebagai hal yang biasa dijumpai dalam suatu keluarga akibat
adanya sesuatu yang dianggap telah memberikan perubahan kepada
keluarga kearah yang tidak normal (Gunarsa, 2013).
Kecemasan dianggap abnormal hanya jika terjadi dalam situsi
yang sebagian besar orang dapat menanganinya tanpa kselitan berarti.
Gangguan kecemasan adalah sekelompok gangguan dimana kecemasan
merupakan gejala utama (gangguan kecemasan umum dan gangguan
panik) atau dialami jika seseorang berupaya mengendalikan perilaku
maladaptif tertentu. Kecemasan menjadi merusak jika orang mngalaminya
dari peristiwa yang oleh sebagian besar tidak dianggap stress (Zuyina dan
Siti, 2011).
Kecemasan baik sifatnya akut maupun kronis merupakan
komponen utama bagi hampir semua gangguan kejiwaan (psyhiatric
disorder). Tidak semua orang yang mengalami stressor psikososial akan
menderita gangguan cemas, hal ini tergantung pada struktur
kepribadiannya. Perkembangan kepribadian (personlity development)
seseorang dimulai sejak usia bayi hingga usia 18 tahun dan tergantung dari
pola asuh orang tua, pendidikan di sekolah, pengaruh lingkungan,
pengaruh sosial, dan pengalaman-pengalaman hidupnya (Nixson, 2016).
Cemas tidak hanya terjadi pada anak, orangtua dan akan
mengalami hal yang sama yaitu perasaan takut, cema, rasa bersalah, sedih
bahkan konflik antara anak dengan orangtua. Anak yang mengalami
cemas ketika mendengar kata menstruasi akan mengakibatkan cemas pada
anak dan peran orangtua sangat diperlukan untuk mendukung anak agar
tidak cemas dan siap menghadapi menarche.
Berdasarkan uraian diatas kecemasan diartikan perasaan tidak
nyaman atau khawatir yang ditandai dengan perasaan takut, yang
disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya. Dalam kecemasan tidak
mengalami gangguan dalam menilai realitas, kepribadian masih tetap
utuh, perilaku dapat terganggu, tetapi masih dalam batas-batas normal
maka tidak akan mengakibatkan kecemasan panik.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dewati (2014), ketidak
siapan menghadapi menarche menyebabkan siswi mengalami cemas saat
menarche yang ditandai dengan bingung, tegang, takut, kaget, deg-degan,
badmood, khawatir dan panik.

2.2.2. Proses terjadinya kecemasan


Proses terjadinya kecemasan menurut Nixson (2016), terdiri dari
faktor predisposisi dan faktor presipitasi yaitu:
a. Faktor predisposisi
Penyebab kecemasan dapat dipahami melalui beberapa teori yaitu:
1. Teori psikonalitik
Kecemasan adalah konflik emosional antara insting dan supergo
yang mencerminkan hati seseorang. Fungsi kecemasan adalah
mengingatkan ego bahwa ada bahaya.
2. Teori tingkah laku
Kecemasan adalah hasil frustasi diaman sesuatu yang menghalangi
kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan
dapat menimbulkan kecemasan.
3. Teori keluarga
Gangguan kecemasan merupakan hal yang biasa ditemui dalam
suatu keluarga dan juga terkait dengan tugas perkembangan
individu dalam keluarga.
4. Teori biologis
Otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiazeoine yang
membantu dalam mengatur kecemasan. Penghambat asam
aminobutirikgama neroregulator merupakan mekanisme biologis
behubungan dengan kecemasan seperti endorphin. Kecemasan
mungkin disertai dengan gejala fisik dan menurunkankapasitas
seseorang untuk mengatasi stressor.

b. Faktor presipitasi
1. Ancaman terhadap integritas fisik
Ancaman ini berupa ketidakmampuan fisiologis yang akan datang
atau menurunkannya kapasits untuk melakukan aktivitas hidup
sehari-hari. Sumber internal berupa kegagalan mekanisme
fisiologis seperti jantung, sistem imun, regulasi temperature,
perubahan fisiologis normal seperti kehamilan dan penuaan.
Sumber eksternal antara lain infeksi virus dan bakter, zat polutan
dan luka trauma.
2. Ancaman terhadap sistem tubuh
Ancaman ini dapat membahayakan identitas, harga diri dan fungsi
sosial seseprang. Sumber internal antara lain kesulitan melakukan
hubungan interpersonal di rumah, ditempat kerja, dan
dimasyarakat sedangkan sumber eksternal dapat berupa kehidupan
pasangan, orangtua, teman, perubahan status pekerjaan, dan lain-
lain.

2.2.3. Faktor-Faktor Gangguan Kecemasan


Ada beberapa faktor yang menunjukkan reaksi kcemasan menurut
Savitri dalam Nixson (2016), antara lain:
a. Lingkungan
Lingkungan atau sekitar tempat tinggal mempengaruhi cara berpikir
individu tentang diri sendiri maupun orang lain karena adanya
pengalaman yang tidak menyenangkan para individu dengan keluarga,
sahabt, ataupun dengan rekan kerja sehingga individu tersebut merasa
tidak aman terhadap lingkungannya.
b. Emosi yang ditekan
Kecemasan bisa terjadi jika individu tidak mampu menemukan jalan
keluar untuk perasaannya dalam hubungan personal terutama jika
dirinya menekan rasa marah atau frustasi dalam jangka waktu yang
sangat lama.
c. Sebab-sebab fisik
Pikiran dan tubuh selalu sering berinteraksi dan dapat menyebabkan
timbulnya kecemasan. Selama mengalami kondisi-kondisi tertentu
perubahan-perubahan perasaan lazim muncul, dan ini dapat
menyebabkan timbulnya kecemasan.

2.2.4. Tingkat Kecemasan


Terdapat tingkatan kecemasan menurut Jaya (2015), adalah
sebagai berikut:
a. Kecemasan ringan
Kecemasan ringan berhubungan dengan tekanan kehidupan sehari-
hari, pada tahap ini seseorang menjadi waspada dan lapangan persepsi
meningkat. Penglihatan, pendengaran, dan pemahaman melebihi
sebelumnya. Tipe kecemasan ini dapat memotivasi seseorang untuk
belajar dan tumbuh kretif. Namun akan membawa dampak pada diri
individu yaitu pada kecemasan ini waspada akan terjadi, mampu
menghadapi situasi yang bermasalah, ingin tahu, mengulang pertnyaan
dan kurang tidur. Penelitian yang dilakukan oleh Wati (2015),
kecemasan menarche tingkat ringan ditandai dengan siswi mulai
mencari informasi mengenai menarche melalui buku, majalah atau
bertanya kepada orang yang sudah mengalami menarche.
b. Kecemasan sedang
Fokus perhatian hanya pada yang dekat, meiputi lapangan persepsi
menyempit, lebih sempit dari penglihatan, pendengaran dan
pemahaman orang lain. Dia mengalami hambatan dalam
memperhatikan hal-hal tertentu, tetapi dapat melakukan tau dapat
memperhatikn hal-hal itu bila disuruh, cukup kesulitan berkonsentrasi,
kesulitan dalam beradaptasi dan menganalisis, perubahan suara atau
nada, pernapasan dan denyut nadi meningkat serta tremor. Penelitian
yang dilakukan oleh Wati (2015), kecemasan menarche tingkat sedang
ditandai kosentrasi belajar siswi menurun atau mau untuk belajar
namun tidak optimal, mudah tersinggung, menangis, tegang,
mengalami kelelahan setelah beraktifitas.
c. Kecemasan berat
Lapangan pandang atau persepsi individu menurun, hanya
memfokuskan pada hal-hal yang khusus dan tidak mmpu berpikir lebih
berat lag, dan membutuhkan pengaturan atau suruhan untuk
memfokuskan pada hal-hal lain, tidak dapat lebih memperhatikan
meskipun diberi instruksi, pembelajaran sangat terganggu,
kebingungan, tidak mampu berkonsentrasi, penurunann fungsi,
kesulitan untuk memahami dalam berkomunikasi, serta takikardia,
sakit kepla, pusing dan mual. Penelitian yang dilakukan oleh Wati
(2015), kecemasan menarche tingkat berat ditandai dengan siswi
mengalami kesulitan tidur atau insomnia mimpi buruk, tidak mau
belajar secara efektif atau tidak sesuai dengan aktifitas yang bisa
dilakukan, emngalami disorientasi.
d. Panik
Berhubungan dengan ketakutan. Pada tahp ini hal-hal kecil terbaikan
dan tidak lagi mampu dapat diatur atau disuruh. Terjadi penigkatan
aktivitas motorik, menurunnya kemampuan berhubungan dengn orang
lain, penyimpangan persepsi, tidak mampu mengintegrasikan
pengalaman, tidak fokus pada saat ini, tidak mampu melihat dan
memahami situasi, kehilangan cara utuk mengungkapkan apa yang
dipikirkan. Menurut Amalia (2016), menyatakan bahwa seseorang
yang mengalami kecemasan sangat berat (panik) dalam menghadapi
menarche dikarenakan mereka sama sekali belum mengerti tentang
menarche dan merasa malu untuk mencari informasi baik dari eluarga,
guru, maupun medi masa.
Menurut Nixson (2016) mengidentifikasi kecemasan dalam 4
tingkatan dengan karakteristik dalam persepsi yang berbeda yaitu:
a. Cemas ringan
Cemas ini termasuk normal normal sehingga seseorang waspada dan
meningkatkan lahan persepsinya
1. Respon fisiologis
a) Sesekali nafas pendek
b) Nadi dan tekanan darah naik
c) Gejala ringan pada lambung
d) Muka berkerut dan bibir bergetar
2. Respon kognitif
a) Lapang persepsi meluas
b) Mampu menerima rangsangan yang kompleks
c) Konsentrasi pada masalah
d) Menyelesaikan masalah secara efektif
3. Respon perilaku dan emosi
a) Tidak dapat duduk tenang
b) Tremor halus pada tangan
c) Suara kadang-kadang meninggi
b. Cemas ringan
Cemas ini memungkinkan seseorang memusatkan perhatian pada hal
penting dan mempersempit lapang persepsinya.
1. Respon fisiologis
a) Sering nafas pendek
b) Nadi dan tekanan darah naik
c) Mulut kering
d) Anoreksia
e) Diare atau konstipasi
f) Gelisah
2. Respon kognitif
a) Lapang persepsi menyempit
b) Rangsang luar tidak mampu diterima
c) Berfokus pada apa yang menjadi perhatiannya
3. Respon perilaku dan emosi
a) Gerakan tersentak-sentak (meremas tangan)
b) Bicara banyak dan lebih cepat
c) Perasaan tidak nyaman
c. Cemas berat
Cemas ini sangat mengurangi lahan persepsi dan memusatkan sesuatu
yang spesifik dan tidak berpikir pada hal lain.
1. Respon fisiologis
a) Sering nafas pendek
b) Nadi dan tekanan darah naik
c) Berkeringat dan sakit kepala
d) Penglihatan kabur
2. Respon kognitif
a) Lapang persepsi sangat menyempit
b) Tidak mampu menyelesaikan masalah
3. Respon perilaku dan emosi
a) Perasaan ancaman meningkat
b) Verbalisasi cepat
d. Panik
Panik berhubungan dengan ketakutan dan terror karena kehilangan
kendali. Orang yang panik tidak mampu melakukan suatu walaupun
dengan pengarahan, panik mengakibatkan disorganisasi kepribadian,
dengan panik terjadi peningkatan aktivitas motorik, menurunnya
kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, dan lain-lain.
1. Respon fisiologis
a) Nafas pendek
b) Rasa tercekik dan berdebar
c) Sakit dada
d) Pucat
e) Hipotensi
2. Respon kognitif
a) Lapang persepsi menyempit
b) Tidak dapat berpikir lagi
3. Respon perilaku dan emosi
a) Agitasi, mengantuk, dan marah
b) Ketakutan dan berteriak-teriak
c) Persepsi kacau

2.2.5. Gejala Klinis Kecemasan


Kecemasan ditandai oleh rsa ketakutan yang difus, tidak
menyenangkan dan samar-samar. Disertai oleh gejala otonomik seperti
nyeri kepala, berkeringat, hipertensi, gelisah, tremor, gangguan lambung,
diare, takut akan pikirannya sendiri, mudah tersinggung, tidak tenang,
gangguan pola tidur, dan gangguan konsentrasi (Jaya, 2015).
Terdapat gejala kecemasan bersifat fisik dan mental menurut
Nixson (2016), antara lain:
a. Gejala fisik
1. Jari tangan dingin
2. Detak jantung semakin cepat
3. Keringat dingin
4. Kepala pusing
5. Nafsu makan berkurang
6. Tidur tidak nyenyak
7. Dada sesak
b. Gejala mental
1. Ketakutan merasa akan ditimpa bahaya
2. Tidak dapat memusatkan perhatian
3. Tidak tentram dan ingin lari dari kenyataan
4. Ingin lari dari kenyataan
Jeffrey et al dalam Nixson (2016), mengemukakan gejala
kecemasan ada tiga jenis yaitu:
a. Gejala fisik berupa kegelisahan, anggota tubuh bergetar, banyak
berkeringat, sulit bernafas, jantung berdebar kencang, merasa lemas,
panas dingin, mudah marah atau tersinggung.
b. Gejala behavioral berupa berperilaku menghindar, terguncang,
melekat dan dependen.
c. Gejala kognitif antara lain khawatir tetang sesuatu, perasaan
terganggu akan ketakutan terhadap sesuatu yang akan terjadi di masa
depan, keyakinan bahwa sesuatau yang menakutkan akan segera
terjadi, ketakutan akan ketidkmampuan untuk engatasi masalah,
pkiran berasa bercampur aduk atau kebingungan, dan sulit
berkonsentrasi.

2.2.6. Alat Ukur Kecemasan


Penilaian kecemasan dapat diuur dengan menggunakan skala
HARS (Hamilton Anxiety Ratting Scale) yang terdiri dari 14 item menurut
Nixson (2016) antara lain:
a. Perasaan cemas firasat buruk, takut akan pikiran sendiri, dan muadah
tersinggung.
b. Ketegangan merasa tegang, gelisah, gemetar, mudah terganggu dan
lesu.
c. Ketakutan seperti takut terhadap gelap, terhadap orang asing, bila
tinggal sendiri dan takut pada binatang besar.
d. Gangguan tidur sukar memulai tidur, terbangun pada malam hari, tidur
tidak pulas, dan mimpi buruk.
e. Gangguan kecerdasan seperti penurunan daya ingat, mudah lupa, dan
sulit berkonsentrasi.
f. Perasaan depresi seperti hilngnya minat, berkurangnya kesenangan
pada hobi, sedih, perasaan tidak menyenangkan sepanjang hari.
g. Gejala somatik seperti nyeri pada otot-otot dan kaku, gertakan gigi,
suar tidak stabil dan kedutan otot.
h. Gejala sensorik yaitu perasaan ditusuk-tusuk, penglihatan kabur, muka
merah, pucat dan merasa lemah.
i. Gejala kardiovaskuler yaitu takikardi, nyeri di dada, denyut nadi
mengeras, dan detak jantung hilang sekejap.
j. Gejala pernapasan yaitu rasa tertekan di dada, perasaan tercekik,
sering menarik nafas panjang dan merasa nafas pendek.
k. Gejala gastrointestinal yaitu sulit menelan, obtisipasi, berat badan
menurun, muntah dan mual, nyeri lambung sebelum dan sesudah
makan, perasaan panas diperut.
l. Gejala urogenital yaitu sering kencing, tidak dapat menahan kencing,
aminorea, ereksi lemah atau impotensi.
m. Gejala vegetatif yaitu mulut kering, mudah berkeringat, muka merah,
bulu rom berdiri, pusing atau sakit kepala,
n. Perilaku sewaktu wawancara yaitu gelisah, jari-jari gemetar,
mengerutkan dahi atau kening, muka tegang, tonus otot meningkat dan
nafas pendek cepat.
Cara penilaian kecemasan adalah dengan memberikan nilai dengan
kategori sebagai berikut menurut Nixson (2016) yaitu:

Tabel 2.1 Tabel Penilaian Kecemasan HARS

Nilai Keterangan
0 Tidak ada gejala sama sekali
1 Satu dari gejala yang ada
2 Sedang atau separuh dari gejala yang ada
3 Berat atau lebih dari setengah gejala yang ada
4 Sangat berat semua gejala ada

Masing-masing nilai angka (score) 1-14 kelompok gejala tersebut


dijumlahkan dan dari hasil penjumlahan tersebut dapat diketahui derajat
kecemasan seseorang yaitu:

a. Skor < 14 : tidak ada kecemasan


b. Skor 14-20 : kecemasan ringan
c. Skor 21-27 : kecemasan sedang
d. Skor 28-41 : kecemasan berat
e. Skor 42-56 : (panik) kecemasan sangat berat

2.2.7. Penatalaksaan Kecemasan


Penatalaksaan kecemasan menurut Hawari dalam Nixson (2016),
pada tahap pencegahan dan terapi memerlukan suatu metode pendekatan
yang bersifat holistic seperti fisik (somatik), psikologis atau psikitrik,
psikososial dan psikoreligius antara lain:
a. Upaya meningkatkan kekebalan terhadap stress
1. Makan-makanan yang bergizi dan seimbang
2. Tidur yang cukup
3. Cukup berolahraga
4. Tidak merokok
5. Tidak minum minuman keras
b. Terpi psikofarma
Terapi ini berupa pengobatan untuk cemas yang berguna untuk
memulihkan fungsi organ neuro-transmitter (sinyal penghantar saraf)
di susunan saraf pusat otak. Obat yang sering digunakan adalah obat
anti cemas (anxiolytic) seperti diazepam, clobazam, bromazepam,
lorazepam, buspirone HCL, meprobamate dan alprazolam.
c. Terapi somatik
Untuk menghilangkan keluhan-keluhan somatik (fisik) itu dapat
diberikan obat-obatan yang ditujukan pada organ tubuh yang
bersangkutan.
d. Psikoterapi
Terapi ini diberikan tergantung kebutuhan setiap individu, antara lain:
1. Psikoterapi suportif untuk memberikan motivasi, semangat dan
dorongan agar pasien yang bersangkutan tidak merasa putus asa
dan diberi keyakinan serta percaya diri.
2. Psikoterapi re-edukatif dengan memberikan pendidikan ulang dan
koreksi bila dinilai bahwa ketidakmampuan mengatasi kecemasan.
3. Psikoterapi re-konstruktif untuk memperbaiki kembali kepribadian
yang telah mengalami guncangn akibat stressor.
4. Psikoterapi kognitif untuk memulihkan fungsi kognitif seperti
kemampuan untuk berpikir rasional, kosentrasi dan daya ingat.
5. Psikoterapi psikodinamik untuk menganalisa proses dinamika
kejiwaan yang menyebabkan terjadinya kecemasan.
6. Psikoterapi keluarga untuk memperbaiki hubungan kekeluargaan
faktor keluarga tidak menjadi faktor penyebab terapi tetapi sebagai
faktor pendukung.
e. Psikoreligius
Terapi ini digunakan untuk meningkatkan keimanan seseorang yang
erat hubungannya dengan kekebalan dan daya tahan dalam
menghadapi berbagai problem kehidupan yang merupakan stressor
psikososial.
2.3. Menarche
2.3.1. Definisi Menarche
Menarche atau haid adalah perubahan psikologis dalam tubuh
wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon
reproduksi. Pada wanita siklus menstruasi rata-rata terjadi sekitar 28 hari,
walaupun hal ini berlaku umum, tetapi tidak semua wanita memiliki siklus
menstruasi yang sama kadang-kadang siklus terjadi setiap 21 hari sampai
30 hari. Biasaya menstruasi terjadi selama 5 hari, terkadang juga 2 hari-7
hari. Umumnya darah yang hilang saat menstruasi adalah 10 ml hingga 80
ml perhari dan rata-rata 35 ml perhari (Syntia, 2012).
Menarche merupakan menstruasi pertama yang biasa terjadi dalam
rentang usia 10-16 tahun atau pada masa awal remaja di tengah masa
pubertas sebelum memasuki masa reproduksi. Menstruasi adalah
perdarahan periodik dn siklik dari uterus diserti pengelupasan
9deskuamasi) endometrium. Menarche merupakan suatu tanda awal
adanya perubahan lain seperti pertumbuhan payudara, pertumbuhan
rambut daerah pubis dan aksila, serta distribusi lemak pada daerah
pinggul. Selama ini orang tua merasa tabu untuk membicarakan tentang
masalah menstruasi dalam keluarga, sehingga remaja awal kurang
memiliki pengetahuan dan sikap yang cukup baik tentang perubahan-
perubahan fisik dan psikologis terkait menarche. Kesiapan mental sangat
diperlukan sebelum menarche karena erasaan cemas dan takut akan
mumcul, selain tu juga kurangnya kepedulian, perhatian, dan pengetahuan
dari orang tuanya tentang perawatan diri ketika menarche datang
(Proverawati, 2009).
Berdasarkan uraian di atas menarche adalah suatu pertanda adanya
perubahan status sosial dari anak-anak ke dewasa dan mempunyai peran
seperti, rasa tanggung jawab, kebebasan, dan harapan untuk memulai
berproduksi. Hormon-hormon yang akan diproduksi akan merangsang
pertumbuhan tanda-tanda seks sekunder seperti, pertumbuhan payudara,
perubaha-perubahan kulit, perubhan siklus, pertmbuhan rambut ketiak da
rabut pubis serta bentuk tubuh menjadi bentuk tubuh wnita yang ideal.

2.3.2. Usia Menarche


Usia anak yang mengalami menarche yaitu berusia 12 tahun saat
mendapat menstruasi pertama kali, tapi ada yang berusia 8 tahun sudah
memulai siklusnya (Lestari, 2015). Sedangkan menurut Kusmiran (2011)
dalam Lestari (2015) menyatakn bahwa usia menarche terjadi antara 12-
13 tahun, yaitu dalam rentag usia 10-16 tahun. Dalam keadaan normal
menarche diawali dengan periode kematangan yang memakan waktu 2
tahun. Selama selang waktu itu, terjadi perkembangan payudara,
pertumbuhan rambut pubis dan axila, dan pertumbuhan badan yang cepat.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Putri dan Melaniani
(2013), usia menarche dini dapat terjadi, dimana faktor yang berhubungan
dengan usia menarche dini adalah faktor konsumsi makronutrien, faktor
gaya hidup, faktor penghasilan orang tua dan olahraga. Status usia
menarche dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu status gizi, pola makan
(Fildza, 2014) dan keterpaparan media dewasa (Natalia, 2015).

2.3.3. Faktor-Faktor Mempengaruhi Menarche


Menurut Eny (2013), menjelaskan tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi terjadnya menstruasi antara lain:
a. Faktor hormon
Hormon-hormon yang mempengaruhi terjadinya haid pada seorang
wanita yaitu Follicle Stimulating Hormone (FSH) yang dikeluarkan
oleh ovarium, Luteinizing Hormone (LH) yang dihasilkann oleh
hipofisis serta progesterone serta progesteron yag dihasilkan oleh
hipofisis serta progesteron yang dihasilkan oleh ovarium.
b. Faktor enzim
Enzim hidrolitik yang terdapat dalam endometrium mrusak sel yang
berperan dala sintesis protein yang mengganggu metabolisme
sehingga mengakibatkan regresi endometrium dn perdarahan.
c. Faktor vaskular
Saat fase proliferasi terjadi pembentukan sistem vaskularisasi dalam
lapisan fungsional endometrium. Pada pertumbuhannya ikut tumbuh
pula arteri-arteri, vena-vena, dan hubungan diantara keduanya.
Dengan regresi endometrium timbul statis dalam vena-vena serta
saluran-saluran yang menghubungkannya dengan arteri, dan akhirnya
terjadi nekrosis dan perdarahan dengan pembentukan hematoma baik
dari arteri atau vena.
d. Faktor prostagladin
Adanya desintegrasi endometrium, prostagladin terlepas dan
menyebabkan kontraksi miometrium sebagai suatu faktor untuk
membatasi perdarahan pada haid.
Menurut Proverawati (2009), terdapat faktor-faktor yang
mempengaruhi menarche sebagai berikut:
a. Aspek psikologi
Menarche merupakan bagian dari masa pubertas. Menarche suatu
pross yag melibtkan sistem anatomi dn fisiologi dari proses puberts
yaitu, sebagai betikut:
1. Disekresikannya estrogen oleh ovarium yang distimulasi oleh
hormone ptuitari.
2. Estrogen tingkat pertumbuhn uterus.
3. Fluktusi tingkat hormone yang dapat menghasilkan perubahan
suplai darah yang adekuat ke bagian endometrium.
Kematian beberapa jaringan endometrium dari hormone ini dan
adanya peningkatan fluktuasi suplai darah ke desidua.
b. Menarche dan kesuburan
Pada sebagian besar wanita, menarche bukanlah sebagai tanda
terjadinya ovulasi. Sebuah penelitian di Amerika menyatakan bahwa
internal rata-rata antar menarche dan ovulasi terjadi beberapa bulan.
Secara tidak teratur menstruasi terjadi sela 1-2 tahun sebekum terjadi
ovulasi yang teratur. Adanya ovulasi yag teratur menandakan interval
yang konsisten dari lamanya mens dan perkiraan aktu datangnya
kembali dan untuk mengukur tingkat kesuburan seorang wanita.
c. Pengaruh waktu terjadinya menarche
Menarche terjadi sekitar dua tahun setelah perkembangan payudara.
Namun, akhir-akhir ini menarche terjadi pada usia yang lebih muda
dan tergantung dari pertumbuhan individu tersebut, diet dan tingkat
kesehatannya.
d. Menarche dan lingkungan sosial
Lingkungan sosial berpengaruh terhadap waktu terjadinya menarche.
Salah satunya yaitu lingungan keluarga, yang harmonis dan adanya
keluarga besar yang baik dapat memperlambat terjadinya menarche
dini sedangkan anak yang tinggal ditengah-tengah keluarga yang tidak
harmonis dapat mengakibatkan terjadinya menarche dini. Beberapa
aspek struktur dan fungsi keluarga berpengaruh terhadap kejadian
menarche dini yaitu sebagai berikut:
1. Ketidakhadiran seorang ayah ketika ia masih kecil
2. Kekerasan seksual pada anak
3. Adanya konflik dalam keluarga
Struktur dan fungsi keluarga juga berpengaruh terhadap terjadinya
pubertas yang laambat yaitu, adanya keluarga besar, hubungan yang
positive dalam keluarga serta adanya dukungan dan tingkat stress yang
rendah dalam lingkungan keluarga.
e. Umur menarche dan status sosial ekonomi
Menarche terlambat terjadi pada kelompok sosial ekonomi sedang
sampai tinggi yang memiliki selisih sekitar 12 bulan. Orang yang dari
kelompok keluarga yang biasa mengalami menarche lebih dini.
Namun setelah diteliti lebih lanjut asupan protein lebih berpengaruh
terhadap kejadian menarche yang lebih awal.
e. Basal metabolik indek dan kejadian menarche
Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita yang mengalami
menarche dini (9-11 tahun) mempunyai berat badan maksimum 46 kg.
kelompok yang memiliki berat badan 37 kg mengalami menarche
yang terlambat yaitu, sekitar 4,5 kg lebih rendah dari kelompok yang
memiliki berat badan yang ideal.

2.3.4. Fisiologi Menarche


Fisiologi menarche adalah hipotalamus memberikan signal bagi
pituitary untuk mengeluarkan hormon FSH dan LH. Proses pematangan
folikel, hormon, ekstrogen berfungsi untuk merangsang pertumbuhan
endometrium dan pertumbuhan ciri seks sekunder. Fluktuasi tingkat
hormone ekstrogen menyebabkan perubahan suplai darah pada
endometrium. Kematian sebagai jaringan endometrium dan fluktuasi
suplai darah mengakibatkan luruhnya endometrium yang disertai dengan
pembuluh darah melalui vagina (Lestari, 2015).

2.3.5. Siklus Menarche


Siklus menarche sama dengan siklus menstruasi maka dapat
diartikan sebagai jarak tanggal memulainya menstruasi yang lalu dan
tanggal mulainya menstruasi berikutnya. Panjang siklus menstruasi
normal adalah 28 hari ditambah atau dikurangi 2-3 hari (Lestari, 2015).

2.3.6. Tanda dan Gejala Menarche


Tanda dan gejala yang terjadi ketika menarche menurut Lestari
(2015), diantaranya: perdarahan yang sering tidak teratur, darah yang
keluar berwarna lebih muda dan jumlah yang tidak terlalu banyak,
anovalotoir menstruasi pada 1-2 tahun atau lebih sebelum menstruasi yang
teratur, tetapi tidak semua remaja karena terdapat bebrapa remaja yang
telah mengalami ovulasi sebelum menstruasi yang teratur, lama
perdarahan 4-7 hari bahkan kurang, dan terkadang disertai dengan nyeri.

2.4. Remaja
2.4.1. Definisi Remaja
Remaja atau adolescene berasal dari kata bahasa lati adilescere
(kata benda, adolescentia yang berarti “tumbuh” atau tumbuh kearah
kematangan. Dalam bahasa Inggris murahaqah adalah adolecence yang
berarti at-tadaruj (berangsur-angsur). Artinya adalah berangsur-angsur
menuju kematangan secara fisik, akal, kejiwaan, dan sosial serta
emosional (Pudiastuti, 2012).
Remaja adalah usia antara 10 sampai 19 tahun dan merupakan
peralihan dari masa kanak-kanak menjadi dewasa. Peristiwa terpenting
yang terjadi pada gadis remaja adalah datangnya haid pertama yang
dinamakan menarche. Sedangkan pada laki-laki sudah mengalami mimpi
basah. Pda usia ini tubuh remaja mengalami perubahan dramatis, karena
mulai memproduksi hormone-hormone seksual yang akan mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan sistem reproduksi (Marmi, 2015).
Remaja adalah suatu periode transisi dari masa awal anak-anak,
hingga masa awal dewasa, yang dimasuki pada usia kira-kira 10 sampai
12 tahun dan berakhir pada usia 18 tahun hingga 22 tahun. Masa remaja
bermula pada perubahan fisik yang cepat, pertambahan berat dan tinggi
badan yang dramatis, perubahan bentuk tubuh, dan perkembangan
karakteristik seksual (Aryani, 2010 dalam Rifrianti, 2013).
Berdasarkan uraian di atas remaja adalah masa peralihan dari
kanak-kanak hingga dewasa yaitu usia 10 sampai 19 tahun dan terjadi
kematangan baik fisik, akal, kejiwaan dan sosial serta emosional yang
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan sistem reproduksi.
2.4.2. Perubahan Fisik pada Remaja
Menurut Proverawati (2009) dalam Adiwati (2014), terdapat
perubahan fisik remaja yaitu:
a. Ciri-ciri kelamin primer
1. Mulai berfungsinya organ reproduksi
Organ reproduksi pada laki-laki (testis) mulai berfungsi
menghasilkan hormon testoteron. Testoteron berfungsi untk
merangsang testis untuk menghasilkan sperma. Organ reproduksi
perempuan (ovarium) ulai memproduksi hormon estrogen dan
progesteron. Hormon ini mempengaruhi perkembangan organ
reproduksi perempuan. Selain itu, juga juga mempengaruhi
ovulasi, yaitu pematangan sel telur dan plepasan sel telur dari
ovarium .
2. Laki-laki mengalami mimpi basah dan perempuan mengalami
menstruasi
Produksi sperma yang meningkat, pada anak laki-laki terjadi
mimpi basah. Mimpi basah pertama dapat menjadikan tanda
bahwa seorang laki-laki telah akil baliq. Organ reproduksi yang
telah aktif pada anak perempuan ditandai dengan terjadinya
menstruasi. Ketika memsuki mas pubertas, indung telur (ovarium)
pada perempuan mulai aktif dan mampu menghasilkan sel telur
(ovum).
b. Ciri-ciri kelamin sekunder
Terjadi berupa perubahan fisik, terjadi pada anak laki-laki dan
perempuan. Ciri-ciri kelamin sekunder pada perempuan, antara lain
payudara tumbuh membesar, tumbuhnya rambut di ketiak dan sekitar
alat kelamin serta membesarnya panggul. Sedangkan ciri-ciri kelamin
sekunder anak laki-laki yaitu, tumbuhnya kumis dan jambang,
tumbuhnya rambut di ketiak dan sekitar alat kelamin serta dada lebih
bidang.

2.4.3. Karakterstik Remaja Berdasarkan Umur


Berdasarkan karakterstik remaja berdasarkan umur menurut
Andyantoro (2012) antara lain:
a. Masa remaja awal (10-12 tahun)
1. Lebih dekat dengan teman sebaya
2. Ingin bebas
3. Lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya
4. Mulai berpikir abstrak
b. Masa remaja pertengahan (13-15 tahun)
1. Mencari identitas diri
2. Timbul keinginan untuk berkencan
3. Mempunyai rasa cinta yang mendalam
4. Mengembangkan kemampuan berpikir abstrak
c. Masa remaja akhir (17-21 tahun)
1. Pengungkapan kebebasan diri
2. Lebih selektif dalam mencari tean sebaya
3. Mempunyai citra tubuh (body iamge) terhadap dirinya sendiri
4. Dapat mewujudkan rasa cinta

2.4.4. Tahapan Perkembangan Remaja


Tahapan perkembangan menurut Erikso dalam Tim Penulis
Poltekkes Depkes Jakarta (2010), terdapat delapan tahap perkembangan
dan lima tahap diantrany dilalui oleh remaja, antara lain:
a. Kepercayaan melawan ketidakpercayaan (trust vs mistrust)
Tahap ini terjadi di awal kehidupan, selama satu hingga dua tahun
pertama. Anak belajar untuk percya pada dirinya sendiri maupun
lingkungannya. Untuk itu, dibutuhkan kualitas interaksi yang baik,
khususnya ntara orang tua dan anak.
b. Otonomi melawan keraguan (utonomy vs shame and doubt)
Bagi remaja dalam membangun rasa otonomi atau kebebasan
merupakan bagian dari transisi emosional dimana terjadi perubahan
ketergantungn, yang awalnya khas kanak-kanak mengarah kepada
otonomi khas dewasa.
c. Inisiatif melawan rasa bersalah (initiative vs guilt)
Tahapan ini berlangsung pada anak pra usia sekolah dan awal usia
sekolah diamna anak cenderung aktif bertanya untuk memenuhi rasa
ingin tahu dan wawasannya dengan cara bermain aktif, bekerja sama
dengan orang lain, dan belajar bertanggung jawab dengan tingkah
lakunya.
d. Kerajinan melawan perasaan rendah diri (industry vs inferiority)
Rasa percaya diri anak mulai terasah, begitu pula dengan
kemndiriannya sehingga anak juga lebih termotivasi untuk belajar
dengan tekun.
e. Identitas melawan kebingungan identitas (identity vs identity
confusion)
Remaja berusaha mengaktualissikan dirinya untuk mengetahui jati diri
dan mengadakan upaya-upaya untuk bertindak baik dan benar sesuai
aturan.

2.4.5. Tugas Perkembangan Remaja


Tugas perkembangan remaja menurut Harlock (1991) dalam
Kumalasari dan Adhyatoro (2012) adalah sebagai berikut:
a. Mampu menerima keadaan fisiknya.
b. Mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa.
c. Mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang
berlainan jenis.
d. Mencapai kemandirian emosional.
e. Mencapai kemandirian ekonomial.
f. Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang sangat
diperluas untuk melakukan peran sebagai anggota masyarakat.
g. Mengembangkan perilaku tanggung jawab sosial yang diperlukan
untuk memasuki dunia dewasa.
h. Memahami dan menginternalisasi nilai-nilai orang dewasa dan orang
tua.
i. Memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan
keluarga.
j. Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan.

2.4.6. Masalah Umum pada Remaja


Membagi remaja menjadi beberapa kelompok yaitu remaja
normal, remaja bermasalah umum, dan remaja bermasalah patologis. Dua
kelompok pertama merupakan problem teenager group dengan didasari
pada asumsi bahwa tidak ada remja yang tidak bermasalah dalam
menghadapi transsi dalam berbagai aspek perkembangan serta
menghadapi lingkungan (Eny, 2013).
Menurut Eny (2013), masalah umum yang dialami remaja
berkaitan dengan tumbuh kembangnya sebagai berikut:
a. Dengan lingkungan rumahnya seperti, relasi dengan anggota keluarga,
disiplin, dan bertentangan dengan orang tua.
b. Dengan lingkungan sekolah.
c. Kondisi fisik (kesehatan atau latihan), penampilan (berat badan, ciri-
ciri daya tarik, bau badan, jerawat, kesesuaian dengan jenis kelamin).
d. Emosi (tempramen yang meledak, suasana hati yang berubah-ubah).
e. Penyesuaian sosial (minder, sulit bergaul, pacaran, penerimaan oleh
teman sebaya, dan peran pemimpin).
f. Masalah pekerjaan (pilihan pekerjaan, pengangguran).
g. Nilai-nilai (moral, penyalahgunaan obat-obatan, dan hubungan
seksual).
h. Masalah yang berkaitan dengan hubungan lawan jenis (heteroseksual),
seperti putus pacar, proses pacaran, backstreet, sulit punya pacar, dan
lain-lain.

2.4.7. Perubahan Kejiwaan pada Masa Remaja


Menurut Yani et al (2009), menjlaskan tentang perubahan-
perubahan yang berkaitan dengan kejiwaan pada remaja antara lain:
a. Perubahan emosi
1. Sensitif atau peka misalnya mudah menangis, frustasi, dan
sebaliknya bisa tertawa tanpa alasan yang jelas. Utamanya sering
terjadi pada remaja putri, lebih-lebih sebelum menstruasi.
2. Mudah bereaksi bahkan agresif terhadap gangguan atau
rangsangan luar yang mempengaruhinya. Itulah sebabnya mudah
terjadi perkelakihan. Suka mencari perhatian dan bertindak tanpa
berpikir terlebih dahulu.
3. Ada kecenderungantidak patuh pada orang tua dan lebih senang
pergi bersama temannya dripada tinggal dirumah.
b. Perkembangan intelegensia
1. Cenderung mengembangkan cara berpikir abstrak suka
memberikan kritik.
2. Cenderung ingin mengetahui hal-hal baru, sehingga muncul
perilaku ingin mencoba-coba.

2.5. Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Tingkat Kecemasan Dalam
Menghadapi Menarche
Pola asuh orang tua diterapkan oleh orang tua terkait dengan dukungan
komuniksi serta arus informasi yang diberikan kepada anaknya. Pada pola asuh
otoriter, orang tua akan membuat batasan dan kendali yang tegas semata-mata
karena kekuasaan, tanpa kehangatan, bimbingan, dan komunikasi dua arah. Pola
asuh demokratis, orang tua akan memberikan kebebasan yang bertanggung jawab
kepada anak untuk berekspresi. Komunikasi verbal timbal balik bisa berlangsung
dengan bebas, orang tua bersikap hangat dan bersifat membesarkan hati remaja.
Sedangkan untuk pola asuh permisif, bersifat children centered yaitu, segala
aturan dan ketetapan keluarga di tangan anak. Dengan cara memberi pengawasan
yang longgar dan memberikan kesempatan pada anak untuk melakukan sesuatu
tanpa pengawasan yang cukup. Komunikasi verbal yang terjadi juga sangat
terbatas (Tridhonanto, 2014).
Dukungan keluarga yang diberikan kepada remaja akan mempengaruhi
kecemasan dan kesiapan remaja putri tersebut. Hal ini dikarenakan anggota
keluarga merupakan orang yang paling dekat bagi remaja putri, baik fisik
maupun psikologisnya karena keluarga bersifat saling ketergantungan satu
anggota keluarga dengan anggota keluarga lainnya (Nainggolan dan Tambunan,
2013). Dukungan orang tua di dalam keluarga khususnya seorang ibu sangat
penting dilibatkan dalam perkembangan dan pertumbuhan anak, terutama pada
masa remaja. Dukungan orang tua terhadap remaja putri pada saat menarche
sebagai pendidik, pemberi informasi dan sebagai pemberi asuhan (Singgih, 2009
dalam Mayangsari, 2015) dimana dukungan orang tua mempunyai hubungan
dengan persepsi reamaja putri tentang menarche. Dukungan orang tua yang baik
dalam pemahaman menstruasi dan permasalahannya cenderung akan
memberikan persepsi remaja putri yang baik tentang menarche dibandingkan
dengan orng tua yang kurang memperhatikan anaknya (Wulandari, 2008 dalam
Mayangsari, 2015).
Kesiapan menghadapi menarche merupakan salah satu kondisi yang
memerlukan penyesuaian fisik, psikologis, dan sosial (Proverawati, 2009).
Menurut Fajri dan Khairani (2010), menyatakan kesiapan menghadapi menarche
merupakan suatu kondisi siap untuk mencapai salah satu kematangan fisik yaitu
datangnya menarche. Siswi belum siap menghadapi menarche akan timbul
keinginan untuk menolak proses fisiologis tersebut dan merasa menstruasi
sebagai suatu hal yang kejam dan mengancam. Penelitian Marvan dan Veronica
(2014), menunjukkan siswi menarche pada usia kurang 12 tahun memiliki
persiapan yang buruk sebesar 43% dari 625 responden. Apabila menarche tidak
dipersiapkan dengan baik siswi akan merespon cemas (Jayanti dan Sugi, 2012).
Menurut Santrock (2012) banyak siswi mengalami cemas terhadap
menarche karena mengalami menarche dini. Menarche dini terjadi pada usia
kurang dari 12 tahun (Goldman dan Schafer, 2015). Hasil penelitian
Marhamatunnisa (2012), bahwa siswi merespon cemas terjadi pada usia
menarche yang lebih dini yaitu usia 9 sampai 12 tahun.
Berdasarkan uraian diatas, dapat diketahui pola asuh akan mempengaruhi
peneriman informasi oleh anak dari kedua orang tuanya. Dalam hal ini, informasi
yang dimaksud adalah informasi mengenai menarche. Dari informasi yang
didapat, akan mempengaruhi tingkat kecemasan pada remaja dalam menghadapi
menarche. Dari penjelasan diatas, dapat dilihat bahwa secara tidak langsung
dapat memberikan pengaruh terhadap kecemasan pada remaja dalam
menghadapi menarche.
2.6. Kerangka Teori

Bagan 2.1
Kerangka Teori

Pola Asuh Orang Tua Konsep Kecemasan


1. Pola Asuh Otoriter 1. Definisi kecemasan
(Authoritarian Parenting) 2. Proses terjadinya kecemasan
3. Faktor-faktor gangguan
2. Pola Asuh Demokratis kecemasan
(Authoritative Parenting) 4. Tingkat kecemasan
5. Gejala klinis kecemasan
3. Pola Asuh Permisif 6. Alat ukur kecemasan
(Permissive Parenting) 7. Penatalaksaan kecemasan

Faktor-Faktor yang Menarche


Mempengaruhi Pola Asuh
1. Definisi menarche
1. Pola asuh yang diterima 2. Usia menarche
orang tua saat anak-anak 3. Faktor-Faktor yang
2. Pendidikan orang tua Mempengaruhi menarche
3. Kelas sosial 4. Fisiologi menarche
4. Konsep tentang peran orang 5. Siklus menarche
tua 6. Tanda dan gejala menarche
5. Kepribadian orang tua
6. Kepribadian anak
7. Faktor nilai yang dianut
orang tua
8. Usia anak

Sumber: Nixson (2016), Marsela (2015), NANDA (2015), Jaya (2015), Lestari (2015),
Tridhonanto (2014), Helmawati, 2014, Dewi (2008) dalam Nafratilawati (2014), Yusuf
(2013), Eny (2013), Hurlock (2012) dalam Husaini (2013), Idris (2012), Syntia (2012),
Proverawati (2009).
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1. Kerangka Konsep


Kerangka konsep adalah uraian tentang hubungan antar variabel-variabel
yang terkait dengan masalah penelitian dan dibangun berdasarkan kerangka
teori/kerangka pikir atau hasil studi sebelumnya sebagai pedoman penelitian.
Kerangka konsep merupakan bagian dari kerangka teori yang akan diteliti, untuk
mengdeskripsikan secara jelas variabel yang dipengaruhi (variabel dependent)
dan variabel pengaruh (independent) (Supardi & Rustika, 2013).
Dalam penelitian ini yang menjadi variabel penelitian meliputi variabel
bebas (independen) yaitu pola asuh orang tua dan variabel terikat (dependen)
yaitu tingkat kecemasan remaja putri dalam menghadapi menarche.

Bagan 3.1
Kerangka Konsep

Variabel Independen Variabel Dependen

Pola Asuh Orang Tua Tingkat Kecemasan


Menghadapi Menarche
1. Demokratis
2. Otoriter 1. Cemas Ringan
3. permisif 2. Cemas Sedang
3. Cemas berat
4. Panik

: Variabel yang diteliti

Sumber : Hawari, (2015)


3.2. Hipotesa
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu pertanyaan peneliti yang
seharusnya dibuktikan kebenarannya (Notoatmodjo, 2012).
Hipotesis adalah suatu asumsi pernyataan hubungan antar dua variabel
atau lebih yang disusun berdasarkan kerangka konsep penelitian. Hipotesis
diperlakukan untuk penelitian eksperimen dan analitik (Supardi & Rustika,
2013).

Hipotesis (Ho) : Tidak ada hubungan pola asuh orang tua dengan tingkat
kecemasan remaja putri dalam menghadapi menarche pada
siswi kelas V dan VI di SDN Bojong 4 Kabupaten
Tangerang Banten Tahun 2019.
Hipotesis (Ha) : Ada hubungan pola asuh orang tua dengan tingkat
kecemasan remaja putri dalam menghadapi menarche pada
siswi kelas V dan VI di SDN Bojong 4 Kabupaten
Tangerang Banten Tahun 2019.

3.3. Definisi Operasional


Definisi operasional adalah suatu batasan ruang lingkup dan pengertian
variabel-variabel diamati atau diteliti (Notoatmodjo, 2012).
Definisi operasional adalah variabel disusun dalam bentuk matrik, yang
berisi: Nama semua variabel yang diteliti pada kerangka konsep penelitian,
deskripsi variabel (DO), alat ukur, hasil ukur dan skala ukur yang digunakan
(Supardi & Rustika, 2013).
Table 3.1
Definisi Operasional
Variabel Definisi Operasional Alat & Cara Ukur Hasil Ukur Skala
Ukur

Variable Independen
Pola Asuh Pola asuh orang tua, Alat ukur : Dominansi Ordinal
Orang Tua yaitu sikap atau Kuesioner authoritative, jika
perilaku orang tua Pola asuh orang tua prosentase lebih
ketika berinteraksi terdiri dari 30 tinggi authoritative.
dengan anak, pernyataan yaitu ,
memberikan aturan, 4 pernyataan pola asuh Dominansi
mengajarkan nilai otoriter, 22 pernyataan authoritarian, jika
atau norma, pola asuh demokratis, prosentase lebih
menunjukan perhatian dan 4 pernyataan pola tinggi authoritarian.
dan perilaku yang asuh permisif
baik sehingga Cara ukur Dominansi
dijadikan panutan menggunakan permissive, jika
untuk anaknya skala Likert yaitu: prosentase lebih
(Angraini, 2013). 1. Tidak pernah (TP) tinggi permissive.
Pola asuh orang tua 2. Kadang-kadang
kepada remaja: (KK)
1. Pola asuh 3. Sering (SR)
demokratis 4. Selalu (SL)
2. Pola asuh otoriter Pernyataan jika
3. Pola asuh permisif menjwab selalu maka
akan diberi nilai skor
4, sering diberi nilai 3,
kadang-kadang diberi
nilai 2, tidak pernah
diberi nilai 1.

Variabel Dependen

Tingkat Remaja yang Alat ukur : Mengukur Ordinal


Kecemasa mengalami menarche Kuesioner kecemasan dengan
n membutuhkan kesiapan Tingkat kecemasan menggunakan
Menghada mental yang baik. menghadapi Hamilton Ranting
pi Menarche sering menarche, yaitu 10 Scale for Anxiety
Menarche dianggap sebagai pertanyaan (HRS-A).
penyakit, sehingga 1. Sangat tidak siap 1. Kecemasan
menimbulkan (STS) ringan jika skor
kecemasan. 2. Tidak siap (TS) 10-17
Menarche adalah 3. Siap (S) 2. Kecemasan
menstruasi pertama 4. Sangat siap (SS) sedang jika skor
pada masa awal remaja 18 -25
(Anggraeni, 2018) Cara ukur dengan 3. Kecemasan
menggunakan skala berat jika skor
Likert yaitu: 26-33
4. Panik
Mendapatkan skor 4 (kecemasan
jika menjawab sangat sangat berat)
siap, skor 3 jika jika skor 34-40
menjawab siap, skor
2 jika menjawab
tidak siap, skor 1 jika
menjawab sangat
tidak siap.
KUESIONER PENELITIAN
HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN TINGKAT KECEMASAN
REMAJA PUTRI DALAM MENGHADAPI MENARCHE PADA SISWI KELAS
V DAN VI DI SDN BOJONG 4 KABUPATEN TANGERANG

A. Kuesioner Data Demografi


1. Nama :
2. Umur :
3. Kelas :
4. Pendidikan orang tua
a. Ayah :
b. Ibu :
5. Pekerjaan orang tua
a. Ayah :
b. Ibu :

B. Kuesioner Pola Asuh Orang Tua


1. Isilah identitas pada kolom yang disiapkan.
2. Silakan membaca dan memahami setiap pernyataan dalam kuesioner ini
dengan teliti dan seksma sebelum menjawab.
3. Pilih satau jawaban yang sesuai dengan keadaan diri anda, berikan tanda ceklis
(√) pada kolom jawaban untuk KUESIONER POLA ASUH ORANG TUA
4. Keterangan pengisian:
SL : Selalu KK : Kadang-kadang
SR : Sering TP : Tidak Pernah
1 2 3 4
No. Pernyataan
(TP) (KK) (SR) (SL)

Pola Asuh Otoriter

1. Orang tua menghukum dengan cara


memukul.

2. Orang tua memberikan hukuman jika saya


tidak mengerjakan segala tugas di rumah.

3. Orang tua membatasisaya dalam menonton


televisi.

4. Orang tua pilih kasih terhadap anak-anaknya.

Pola Asuh Demokratis

1. Saya diikut sertakan oleh orang tua dalam


membuat peraturan keluarga.

2. Orang tua membantu saya dalam


memecahkan masalah ketika saya
menceritakannya

3. Ketika saya berbuat salah, oang tua bersedia


mendengarkan penjelasan dari saya.

4. Saya meminta izin kepada orang tua jika


hendak keluar rumah.

5. Orang tua bertanya tentang kegiatan saya


sehari-hari.

6. Ketika saya mendapat prestasi yang baik,


orang tua memberikan pujian.

7. Orang tua mengingatkan saya untuk


beribadah.

8. Ketika saya mendapat prestasi buruk, orang


tua mengingatkan saya agar lebih tekun
dalam belajar.
9. Di dalam keluarga antra kaka dan adik dan
orang tua terdapat tutur kata yang sopan
antara anggota keluarga.

10. Di dalam keluarga saling tolong menolong


dalam keluarga.

11. Orang tua memberikan kesempatan kepada


saya untuk bertanya tentang suatu hal.

12. Orang tua berkomunikasi dengan saya.

13. Orang tua memenuhi kebutuhan sekolah


saya.

14. Jika saya sakit, orang tua memperhatikan


saya.

15. Orang tua mempermisikan saya kepada guru


jika saya tidak dapat masuk sekolah karena
sakit.

16. Dalam keluarga saling menghargai antara


yang satu dengan yang lain.

17. Orang tua bersikap adil terhadap pembagian


tugas yang disesuaikan dengn tingkatan usi
terhadap kakak, adik, dan saya.

18. Orang tua menyediakan sarapan pagi


sebelum berangkt sekolah.

19. Ketika saya menyatakan pendapat, orang tua


mendengarkannya.

20. Orang tua memberikan penjelasan mengapa


hal tersebut harus dilakukan.

21. Orang tua memberi penjelasan jika melarang


saya bermain.

22. Orang tua mengingatkan saya untuk belajar.

Pola Asuh Permissif/Longgar


1. Orang tua memaklumi saya tidak pulang ke
rumah jika saya memberikan alasan yang
masuk akal bagi mereka.

2. Orang tua mengijinkan saya pulang larut


malam jika saya memberikan alasan yang
masuk akal bagi mereka.

3. Orang tua memberikan izin untuk


melaksanakan kegiatan sekolah di luar jam
sekolah.

4. Orang tua memberikan semua permintaan


yang saya inginkan.
C. Kuesioner Tentang Kecemasan Menghadapi Menarche
1. Isilah identitas pada kolom yang disiapkan.
2. Silakan membaca dan memahami setiap pernyataan dalam kuesioner ini
dengan teliti dan seksma sebelum menjawab.
3. Pilih satau jawaban yang sesuai dengan keadaan diri anda, berikan tanda
checklist (√) pada kolom jawaban untuk KUESIONER KECEMASAN
DALAM MENGHADAPI MENARCHE.
4. Keterangan pengisian:
STS : Sangat Tidak Siap S : Siap
TS : Tidak Siap SS : Sangat Siap

1 2 3 4
No. Pernyataan
(STS) (TS) (S) (SS)

1. Saya akan menanyakan tentang


menstruasi pada ibu saya.

2. Saya menghadapi menstruasi pertama

3. Saya bingung untuk menghadapi


menstruasi pertama.

4. Saya menganggap menstruasi yang akan


terjadi sebagai sesuatu yang kotor.

5. Menstruasi akan menyebabkan


ketidaknyamanan fisik dan perubahan
emosional bagi diri saya

6. Saat ini saya belum mengalami


menstruasi, oleh karena itu saya lebih
memperhatikan kualitas makan saya dan
mengurangi aktivitas yang berat.

7. Saya menganggap menstruasi sebagai


suatu hal yang akan merepotkan karena
saat menstruasi harus membawa pembalut
kemana-mana dan menggantinya
8. Saya takut menghadapi menstruasi
pertama saya nanti.

9. saya menganggap menstruasi sebagai


suatu hal yang tabu kematangan diri saya
sebagai wanita.

10. Saya menjadi remaja putri yang dewasa


jika mengalami menstruasi.