Anda di halaman 1dari 18

PANDUAN

INFECTION CONTROL RISK ASSESMENT (ICRA)


AKIBAT DAMPAK RENOVASI DAN KONSTRUKSI
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TAMAN SARI

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TAMAN SARI


2018
PANDUAN INFECTION PREVENTION CONTROLRISK (ICRA)
AKIBAT DAMPAK RENOVASI DAN KONSTRUKSI

BAB I

DEFINISI

A. Pengertian

ICRA (infection control risk assessment) adalah proses menetapkan risiko potensial dari
transmisi udara yang bervariasi dan kontaminasi melalui air kotor dalam fasilitas
pelayanan kesehatan selama konstruksi,renovasi dan kegiatan maintenance.

Kegiatan ICRA merupakan multidisiplin,proses kolaborasi yang mengevluasi


jenis/macam kegiatan konstruksi dan kelompok risiko untuk klasifikasi penetapan
tingkat

B. Tujuan ICRA

Tujuan dari program ICRA adalah untuk meminimalkan risiko terjadinya HAIs (health
care associated infection) kepada pasien yang dapat terjadi bila jamur atau bakteri
tersebar keudara melalui debu atau air aerosolisasi selama konstruksi,renovasi atau
proses pemeliharaan diarea terdekat dan juga untuk mengontrol penyebaran debu dari
komponen bangunan selama renovasi

RSUD Taman Sari Page 2


PANDUAN INFECTION PREVENTION CONTROLRISK (ICRA)
AKIBAT DAMPAK RENOVASI DAN KONSTRUKSI

BAB II

RUANG LINGKUP

1. Tim PPI yang bertugas membuat ICRA dan memberikan pendidikan dan
pelatihan

2. Bagian teknik untuk memfasilitasi dengan memberikan peraturan perundangan


dan perizinan

3. Sanitasi lingkungan terkait dengan pembuangan limbah (baku mutu limbah)

4. Tim K3RS untuk melakukan edukasi dan supervisi tentang keamanan dan
keselamatan

5. Security dalam hal keamanan lingkungan dari pencurian,penjarahan selama


renovasi

6. Cleaning service dalam hal pembersihan ruangan setelah pekerjaan renovasi


selesai

RSUD Taman Sari Page 3


PANDUAN INFECTION PREVENTION CONTROLRISK (ICRA)
AKIBAT DAMPAK RENOVASI DAN KONSTRUKSI

BAB III

TATALAKSANA

A. Peran Tim PPI

Peran Tim PPI pada program ini antara lain :

1. Membuat ICRA (Infection Control Risk Assessment) dampak dari renovasi

2. Mengembangkan izin renovasi yang ditanda tangani oleh ketua Tim PPI,Direktur
dan pimpinan proyek

3. Memberikan edukasi sebelum memulai pekerjaan pada penggunaan APD (alat


pelindung diri)

4. Melakukan supervise,monitoring dan evaluasi menggunakan check list

5. Mengikuti pertemuan/rapat selama proses renovasi dengan seluruh tim terkait

B. Kegiatan pembangunan

Dalam melakukan kegiatan pembangunan,ditentukan terlebih dahulu tipe/jenis aktifitas


debu yang dihasilkan,potensi terbentuknya aerosol udara,durasi dari aktifitas dan
jumlah system HVAC

Langkah 1 : Tentukan Tipe kontruksi


TIPE KRITERIA
A Pemeriksaan dan kegiatan non-invasive, seperti :
1. Pemindahan plafon langit-langit, tidak boleh lebih dari 1 plafon per 50 m2
2. Cat tembok tanpa melakukan plester/pengamplasan
3. Memasang wallpaper, saluran pipa, kabel listrik dan aktivitas dalam ruang
lingkup kecil yang tidak menghasilkan debu yang banyak, tidak memotong
tembok atau akses ke langit-langit selain untuk inspeksi visual

B Skala kecil, waktu yang dibutuhkan tidak lama dan menghasilkan debu yang
minimal seperti ;
1. Instalasi kabel telepon dan computer
2. Membuat ruang antara
3. Pemotongan tembok atau langit-langit dimana debu dapat terkontrol

RSUD Taman Sari Page 4


PANDUAN INFECTION PREVENTION CONTROLRISK (ICRA)
AKIBAT DAMPAK RENOVASI DAN KONSTRUKSI

C Pekerjaan yang menghasilkan debu yang banyak seperti demolisi/pembongkaran,


renovasi atau pemindahan komponen bangunan yang tetap, seperti ;
1. Plester, pengacian, pengamplasan tembok untuk pengecatan
2. Bongkar ubin, bongkar plafon
3. Membuat dinding baru
4. Pemasangan instalasi listrik di atas plafon
5. Pemasangan kabel besar
6. Atau pekerjaan yang memerlukan rekanan atau tim yang besar

D Kontruksi dan demolisi besar seperti :


1. Bangunan baru
2. Pemindahan gedung atau ruangan yang besar dengan semua sistem
kabelnya
3. Aktivitas yang memerlukan tenaga pekerja dengan shift yang berturut-turut

Langkah 2: Tentukan Grup Risiko Pasien


Risiko Rendah Risiko Sedang Risiko Tinggi Risiko Tertinggi
 Area kantor  Fisioterapi  IGD  Perawatan pasien
 Radiologi  Ruang bersalin immunocompromised
 Laboratorium  Perawatan pasien luka

 Unit medis bakar

 Poliklinik  Pelayanan Sterilisasi &

 R. Perawatan Penyimpanan alat-alat


Steril
 Farmasi
 Ruang Isolasi

Langkah 3 : Cocokkan Grup Risiko Pasien dengan Tipe Konstruksi untuk menentukan
tindakan yang diperlukan untuk pencegahan infeksi.

IC Matrix - Kelas Kewaspadaan: Proyek Konstruksi Menurut Risiko Pasien

RSUD Taman Sari Page 5


PANDUAN INFECTION PREVENTION CONTROLRISK (ICRA)
AKIBAT DAMPAK RENOVASI DAN KONSTRUKSI

Grup Risiko Pasien Tipe Konstruksi

Tipe A Tipe B Tipe C Tipe D

Grup Risiko Rendah I II II III/IV

Grup Risiko Sedang I II III IV

Grup Risiko Tinggi I II III/IV IV

Grup Risiko Tertinggi II III/IV III/V IV

Note : Persetujuan Tim PPI diperlukan saat Tipe Konstruksi membutuhkan prosedur
pencegahan infeksi Level III atau Level IV.

Langkah 4 :Lakukan tindakan yang diperlukan untuk pencegahan infeksi


Lv. SELAMA KONSTRUKSI SETELAH KONSTRUKSI
LEVEL 1

1. Bekerja sesuai prosedur untuk 1. Bersihkan area konstruksi setelah


meminimalkan peningkatan debu selesai, sesuai dengan SPO general
sewaktu revonasi cleaning
2. Penganggung jawab bangunan harus
mengerti dan memahami tentang
2. Segera ganti plafon langit-langit yang pencegahan dan pengendalian infeski
dibuka saat inspeksi visual 3. Segera bersihkan kotoran atau puing-
puing bangunan
LEVEL 2

1. Menyediakan alat penghisap debu 1. Bersihkan permukaan area kerja dengan


atau exhaust fan yang secara otomatis desinfektan
dapat difungsikan 2. Beri tanda keluar – masuk hanya
2. Percikkan air di permukaan area kerja petugas yang kepentingan
untuk mengontrol debu saat 3. Pel basah dan/atau vakum sebelum
melakukan pemotongan meninggalkan area konstruksi
3. Tutup rapat pintu yang tidak digunakan 4. Tutup rapat kontainer yang membawa
dan sela-sela pintu dengan puing reruntuhan
selotip/lakban 5. Gunakan petunjuk khusus jalur
4. Pintu, jendela dan ventilasi di area pembuangan puing reruntuhan
kerja harus selalu tertutup rapat 6. Penghisap debu atau exhaust fan harus
5. Tutup HVAC (Heating, Ventilation and dibersihkan dari debu setiap hari
Air Conditioning) di area konstruksi 7. Setelah selesai fungsikan kembali sistem
6. Letakkan matras/keset di tempat HVAC
masuk dan keluar area konstruksi

RSUD Taman Sari Page 6


PANDUAN INFECTION PREVENTION CONTROLRISK (ICRA)
AKIBAT DAMPAK RENOVASI DAN KONSTRUKSI

LEVEL 3 1. Pastikan sistem aliran udara dan 1. Penutup kayu lapis atau plastik dicabut
HVAC di area kontruksi tertutup setelah ada inspeksi dari Tim PPI dan
2. Pertahankan tekanan negatif di area setelah dibersihkan oleh Petugas
konstruksi Kebersihan
3. Menyediakan alat penghisap debu 2. Hati-hati saat melepas penutup
atau exhaust fan yang secara otomatis kayu/plastik agar tidak ada kotoran yang
dapat difungsikan berceceran
4. Tutup rapat kontainer yang membawa 3. Pel basah dengan cairan desinfektan
puing reruntuhan atau bahan-bahan dan/atau vakum sebelum meninggalkan
konstruksi area konstruksi
5. Lokasi konstruksi harus ditutup 4. Lakukan pemeriksaan bakteri udara
dengan kayu lapis atau plastik untuk setelah selesai dibersihkan
menutupi area konstruksi dari area 5. Setelah selesai fungsikan kembali sistem
non konstruksi HVAC

RSUD Taman Sari Page 7


PANDUAN INFECTION PREVENTION CONTROLRISK (ICRA)
AKIBAT DAMPAK RENOVASI DAN KONSTRUKSI

LEVEL 4 1. Tutup semua lubang pipa, saluran 1. Penutup kayu lapis atau plastic dicabut
ventilasi agar debu tidak keluar setelah ada inspeksi dari Tim PPI dan
2. Buat ruang pembatas antara ruangan setelah dibersihkan oleh Petugas
yang akan di renovasi dengan yang Kebersihan
tidak dilakukan renovasi 2. Hati-hati saat melepas penutup
3. Pastikan sistem aliran udara dan kayu/plastik agar tidak ada kotoran yang
HVAC di area kontruksi tertutup berceceran
4. Lokasi konstruksi harus ditutup 3. Pel basah dengan cairan desinfektan
dengan kayu lapis atau plastik untuk dan/atau vakum sebelum meninggalkan
menutupi area konstruksi dari area area konstruksi
non konstruksi 4. Lakukan pemeriksaan bakteri udara
5. Pertahankan tekanan negatif di area setelah selesai dibersihkan
konstruksi menggunakan HEPA Filter 5. Setelah selesai, fungsikan kembali
6. Semua petugas wajib menggunakan sistem HVAC
APD lengkap selama di area kontruksi
dan melepasnya saat meninggalkan
area konstruksi
7. Debu yang menempel di petugas
harus dibersihkan menggunakan
vacuum
8. Lakukan pemeriksaan udara sebelum
dilakukan konstruksi

Langkah 5 : identiffikasi kegiatan di tempat khusus,misalnya ruangan perawatan,ruang farmasi


dan seterusnya
Langkah 6 : Identifikasi masalah yang berkaitan dengan ventilasi,pipa ledeng,listrik dalam hal
terjadinya kemungkinan pemadaman
Langkah ke 7 : identifikasi langkah-langkah pencegahan,menggunakan penilaian
sebelumnya,apa jenis barriernya (misalnya bariernya dinding yang tertutup rapat),apakah
hepafilter diperlukan?
Langkah ke 8 : pertimbangkan potensial risiko dari kerusakan air,apakah ada risiko akibat
merusak kasatuan struktur (misalnya dinding atap,plafon)
Langkah ke 9: Jam kerja : dapat atau pekerjaan akan dilakukan selama bukan jam pelayanan
pasien
Langkah ke 10 : buat rencana yang memungkinkan untuk jumlah ruang isolasi/ruang aliran
udara negatif yang memadai
Langkah ke 11 : buat rencana yang memungkinkan untuk jumlah dan tipe tempat/bak cuci
tangan
Langkah ke 12 : rencanakan untuk membahas masalah pencegahan tersebut dengan tim
proyek (misalnya arus lalulintas,rumah tangga,pembersihan puing bagaimana dan kapan)

RSUD Taman Sari Page 8


PANDUAN INFECTION PREVENTION CONTROLRISK (ICRA)
AKIBAT DAMPAK RENOVASI DAN KONSTRUKSI

Alur Pembuatan ICRA :


a. Formulir ICRA renovasi diisi oleh K3
b. Formulir diberikan kepada tim PPI
c. Tim PPI akan membuat ijin pembangunan dengan mencantumkan rekomendasi-
rekomendasi yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi

RSUD Taman Sari Page 9


PANDUAN INFECTION PREVENTION CONTROLRISK (ICRA)
AKIBAT DAMPAK RENOVASI DAN KONSTRUKSI

BAB IV
DOKUMENTASI

1. Pelaporan dan kesimpulan dari hasil pertemuan tim ICRA dilaporkan ke Direktur
2. Kesimpulan yang telah diketahui direktur, diinformasikan ke setiap unit dan petugas di area
konstruksi

ICRA adalah proses multidisiplin yang berfokus pada pengurangan infeksi,pendokumentasian


bahwa dengan mempertimbangkan populasi pasien,fasilitas dan program yang berfokus pada :

 Pengurangan risiko infeksi

 Pengetahuan tentang infeksi,agen infeksi dan lingkungan perawatan,yang


memungkinkan organisasi untuk mengantisipasi dampak potensial

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengaruh dari design dan konstruksi terhadap infeksi rumah sakit (HAI’s) sulit
untuk di evaluasi. Risiko yang berhubungan dengan pekerjaan/ konstruksi/ renovasi
pada awalnya dihubungkan dengan mutu udara yang terlalu turun dan kontaminasi
lingkungan dari jamur (e.g. Aspergillus. Spp.) atau dengan air yang terkontaminasi (e.g.
Legionella. Spp) karena itu pada saat ini area konstruksi dan renovasi perlu dibersihkan

RSUD Taman Sari Page 10


PANDUAN INFECTION PREVENTION CONTROLRISK (ICRA)
AKIBAT DAMPAK RENOVASI DAN KONSTRUKSI

secara menyeluruh sebelum pasien diijinkan tinggal di tempat tersebut. Rumah sakit
seharusnya mempersatukan untuk menggabungkan issue risk assessment dari komite
PPI dalam setiap melaksanakan konstruksi/renovasi bangunan.
Infection Control Risk Assesment (ICRA) merupakan suatu pengkajian sebagai
bagian dari proses perencanaan program pencegahan dan pengendalian infeksi rumah
sakit, bersama-sama dengan perencanaan membentuk dasar dari proses serta
mendukung akreditasi surveilans yang terfokus dan memenuhi peraturan perundangan
yang berlaku. Pengkajian risiko infeksi juga diperlukan mengidentifikasi risiko untuk
mendapatkan data kawasan infeksi berdasarkan:
1. Design
a. Jumlah, lokasi dan tipe isolasi infeksi airbone dan ruang isolasi
b. Lokasi ventilasi dan filtrasi khusus seperti ruang tunggu IGD
c. Alir udara dan ventilasi diperlukan di ruang operasi, isolasi, laboratorium dan
ruang khusus lainnya
d. Sistem saluran air yang membatasi kuman pathogen yang di bawa dari air
(Waterborne)
e. Sentuhan akhir dan permukaaan
2. Konstruksi
a. Dampak mengganggu pelayanan esensial terhadap pasien dan karyawan
b. Menentukan bahaya hazard spesifik dan menentukan tingkatan masing-masing
c. Lokasi pasien berdasarkan kerentanan teerhadap infeksi dan penentuan risiko
masing-masing
d. Dampak potensi pemadaman, atau kedaruratan dan perlindungan pasien
3. Mitigasi risiko infeksi
Rekomendasi mitigasi yang di perlukan dari panel ICRA akan menyatakan :
a. Penempatan dan relokasi pasien
b. Standar bagi barrier/ sawar dan perlindungan lain yang diperlukan untuk
melindungi area sekitar dan pasien yang rentan dari kontaminasi Airbone
c. Provisi/ fase sementara bagi pekerjaan konstruksi atau modifikasi oemanas,
ventilasi, pendingin udara dan sistem suplai air
d. Perlindungan dari penghancuran
e. Persiapan dalam bentuk pelatihan staf, pengunjung dan petugas konstruksi

B. Tujuan :
1. Untuk meminimalisasi risiko infeksi rumah sakit (HAI’s) pada pasien yang mungkin
bisa terjadi ketika ada penyebaran jamur atau bakteri di udara dengan debu atau
aerosol atau air selama konstruksi dan renovasi di rumah sakit
2. Mengontrol penyebaran debu dari komponen bangunan selama renovasi di rumah
sakit

RSUD Taman Sari Page 11


PANDUAN INFECTION PREVENTION CONTROLRISK (ICRA)
AKIBAT DAMPAK RENOVASI DAN KONSTRUKSI

BAB II

LINGKUP KEGIATAN

A. Lingkup Kegiatan ICRA RS


1. Menyusun Tim ICRA RS
2. Melaksanakan pertemuan dengan Tim ICRA RS
3. Melaksanakan proses pengkajian risiko
4. Melaksanakan kegiatan/ program

B. Rincian Kegiatan
1. Menyusun Tim ICRA yang terdiri dari :
a. Staff Komite PPI
b. Petugas kesehatan lain yang berkaitan dengan pembangunan
c. Teknik dalam hal ini IPSRS
d. K3 RS
e. Sanitasi
f. Keamanan lingkungan
g. Pimpinan proyek
h. Koordinasi lain yang di perlukan
2. Melaksanakan pertemuan dengan Tim ICRA RS
a. Membuat undangan rapat
b. Mengundang seluruh tim pengkaji risiko
c. Melakukan rapat dan diskusi
d. Memprioritaskan risiko
e. Menentukan rencana/ program PPI RS

RSUD Taman Sari Page 12


PANDUAN INFECTION PREVENTION CONTROLRISK (ICRA)
AKIBAT DAMPAK RENOVASI DAN KONSTRUKSI

3. Melaksanakan Proses Pengkajian


a. Mengidentifikasi risiko untuk mendapat data transmisi berdasarkan lokasi
geografis, masyarakat dan populasi yang dilayani, perwatan dan analisis dan
surveilans lainnya
b. Faktor-faktor risiko :
- Geografi dan lingkungan
- Karakteristik populasi
- Infeksi area endemic
- Area yang terkait risiko
- Karakteristik perawatan medis
- Pelayanan tersedia
c. Kelompok risiko
- Organisme resisten antibiotic
- Kegagalan aktivasi pencegahan
- Aktivasi isolasi
- Kebijakan prosedur
- Kesiapan
- Health Care Assosiated Infection (HAI’s)
- Lingkungan
- Kesehatan petugas
d. Mengidentifikasi risiko secara berkala/ tahunan dan apabila muncul bermakna
e. Pengkajian risiko di dapat dari masukan interdisiplin, misalnya : Personal PPI-
RS, Staff Medis, Perawat/ IPCLN, pimpinan
f. Buat daftar skala prioritas dan dokumentasi
g. Persiapan dan perencanaan
h. Formulir : Formulir kajian risiko dan formulir evaluasi
i. Membuat juknis/standar ICRA
j. Membuat laporan data surveilans
k. Menentukan rencana program PPI
4. Evaluasi
a. Menentukan faktor-faktor risiko
b. Menentukan karakteristik yang meningkatkan risiko
c. Menentukan karakteristik yang mengurangi risiko
d. Menyusun formulir
5. Menentukan rencana PPI-RS/ Program rumuskan rencana kegiatan PPI-RS
a. Goal’s rencana kegiatan PPI-RS
b. Rencana kegiatan yang objektif dan terukur
c. Strategi dan implementasi

Tata cara merumuskan :

1) Prioritas : urutkan dari kajian risiko


2) Goal’s : untuk menentukan tiap prioritas
3) Tujuan : untuk mencapai tiap goal strategi dan langkah untuk mencapai tiap
tujuan
4) Metode Evaluasi : mengukur keberhasilan tiap tujuan yang dinilai dari keadaan
saat ini dan perkembangan serta analisis.

RSUD Taman Sari Page 13


PANDUAN INFECTION PREVENTION CONTROLRISK (ICRA)
AKIBAT DAMPAK RENOVASI DAN KONSTRUKSI

BAB III

TATA LAKSANA

A. Proses Pengkajian Risiko


Tentukan tiga nilai untuk tiap faktor risiko :
1. Probabilitas/ kemungkinan terjadinya kejadian
2. Dampak/ keparahan
3. Sistem yang berlangsung saat ini

B. Hal-hal yang harus di pertimbangkan:


1. Risiko yang sudah di ketahui
2. Data sebelumnya
3. Kajian literature
4. Dampak ( rencana kehidupan dan kesehatan )
5. Terganggunya pelayanan
6. Kehilangan fungsi
7. Kepercayaan masyarakat
8. Pengaruh terhadap anggaran
9. Dampak peraturan
10. Standar kebutuhan
11. Sistem yang berlaku saat ini

C. Cara Mengkaji Faktor Risiko :


1. Tidak ada jawaban yang benar/ salah
2. Utamakan diskusi
3. Mendorong kelompok untuk mencapai kesepakatan bersama/khusus
4. Mengarahkan kelompok pada target
5. Harus konsisten
6. Mendaftarkan seluruh daftar risiko
7. Tentukan seorang untuk menghitung nilai risiko

D. Menentukan Skala Prioritas


1. Urut risiko dengan menggunakan skor risiko
2. Prioritas tiap organisasi akan berbeda

Langkah – langkah ICRA Surveilans :


1. PENILAIAN DAMPAK KLINIS/KONSEKUENSI/SEVERITY

TK RISK Deskripsi Dampak

1 Tidak signifikan Tidak ada cedera

RSUD Taman Sari Page 14


PANDUAN INFECTION PREVENTION CONTROLRISK (ICRA)
AKIBAT DAMPAK RENOVASI DAN KONSTRUKSI

2 Minor • Cedera ringan, misal luka lecet


• Dapat diatasi dengan P3K

3 Moderat • Cedera sedang, misal luka robek


• Berkurangnya fungsi motorik/sensorik/psikologis
atau intelektual (reversibel. Tidak berhubungan
dengan penyakit
• Setiap kasus yg memperpanjang perawatan
4 Mayor • Cedera luas/berat, misal : cacat, lumpuh
• Kehilangan fungsi motorik/sensorik/ psikologis atau
intelektual (ireversibel), tidak berhubungan dengan
penyakit
5 Katastropik Kematian yang tidak berhubungan dengan perjalanan
penyakit

2. PENILAIAN PROBABILITAS/FREKUENSI

TINGKATRISIKO DESKRIPSI

1 Sangat jarang/ rare (> 5 tahun/kali)

2 Jarang/unlikely (> 2 – 5 tahun/kali)

3 Mungkin/ Possible (1 -2 tahun/kali)


4 Sering/Likely (beberapa kali/tahun)

5 Sangat sering/almost certain (tiap minggu/ bulan)

3. PENILAIAN REGULASI
REGULASI DEFINISI
1 Ada regulasi, ada fasilitas, selalu dilaksanakan
2 Ada regulasi, ada fasilitas, tidak selalu dilaksanakan
3 Ada regulasi, ada fasilitas, tidak dilaksanakan
4 Ada regulasi, tidak ada fasilitas, tidak dilaksanakan
5 Tidak ada regulasi

4. SKOR RISIKO
SKOR RISIKO = FREKUENSI X DAMPAK X REGULASI

 Hasil perkalian antara frekuensi, dampak dan regulasi merupakan skor dari suatu risiko.
Diurutkan dari skor yang paling besar ke skor yang paling kecil

RSUD Taman Sari Page 15


PANDUAN INFECTION PREVENTION CONTROLRISK (ICRA)
AKIBAT DAMPAK RENOVASI DAN KONSTRUKSI

 Risiko-risiko yang mempunyai skor besar dijadikanprioritas dalam melaksanakan


program PPI dan dimasukkan ke dalam tabel prioritas untuk ditentukan langkah tindak
lanjutnya.

BAB IV

DOKUMENTASI

1. Tiap unit harus melakukan pengkajian risiko infeksi yang spesifik, penilaian ini untuk
merencanakan prioritas program PPI-RS
2. Sekali prioritas teridentifikasi, goal, tujuan dan strategi di pakai untuk merancang
rencana program PPI-RS
3. Proses penilaian risiko di lakukan terus menerus dengan perubahan setiap tahun
4. Laporan perkembangan dapat melacak dan laporkan prioritas dan keberhasilan PPI-RS

RSUD Taman Sari Page 16


PANDUAN INFECTION PREVENTION CONTROLRISK (ICRA)
AKIBAT DAMPAK RENOVASI DAN KONSTRUKSI

RSUD Taman Sari Page 17


PANDUAN INFECTION PREVENTION CONTROLRISK (ICRA)
AKIBAT DAMPAK RENOVASI DAN KONSTRUKSI

RSUD Taman Sari Page 1