Anda di halaman 1dari 524

Hak cipta dilindungi undang-undang.

Dilarang mengutip
atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari penerbit.
Kisah para Penyala Harapan Bangsa Mengajar di Pelosok
Tanah Air

PENGAJAR M UDA II
Indonesia Mengajar
Kisah Pengajar Muda II
Mengasah Mutiara-Mutiara Terpendam di Pelosok
Negeri Karya Pengajar Muda Angkatan II
Penyunting: Ikhdah Henny & Retno Widyastuti
Perancang sampul: Kuswanto Pemeriksa aksara:
Pritameani S. Penata aksara: gores_pena Foto sampul:
Pengajar Muda II Foto isi: Pengajar Muda II dan
Imang Jasmine
Diterbitkan pertama kali pada Juni 2012, oleh:
Penerbit Bentang (PT Bentang Pustaka) Anggota
Ikapi Jln. Kalimantan G-9A, Sinduadi, Mlati Sleman,
Yogyakarta 55204 Telp. & Faks. (0274) 886010 Email:
bentangpustaka@yahoo.com
http://www.mizan.com
Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan
(KDT)
Pengajar Muda II
Indonesia Mengajar: Kisah Pengajar Muda II
Mengasah Mutiara-Mutiara Terpendam di Pelosok
Negeri/Pengajar Muda II; penyunting, Ikhdah Henny
& Retno Widyastuti.— Yogyakarta: Bentang, 2012.
xviii + 438 hlm.; 20,5 cm.
ISBN 978-602-8811-82-8
1. Guru. I. Judul.
II. Ikhdah III. Retno
Henny. Widyastuti.
371.1

Didigitalisasi dan didistribusikan oleh:


Gedung Ratu Prabu I Lantai 6
Jln. T.B. Simatupang Kav. 20 Jakarta 12560 - Indonesia
Phone: +62-21-78842005
Fax.: +62-21-78842009
e-mail: mizandigitalpublishing@mizan.com
website: www.mizan.com
ISI BUKU
Pengantar Anies Baswedan

Pengantar Hendi Prio Santoso


C INTA DAN PENGABDIAN

Menjadi CikGu

Sekolah Itu Cinta!

Bukan Guru Biasa

Muhammad Idris, Permata Paya Bakong

Seribu Bahasa Sayang

Guru-Guru Luar Biasa

Mencintai Indonesia

Para Ujung Tombak Pendidikan

Di Bawah Sinar Lentera, Aku Jatuh Cinta

Meredefinisikan Bahagia

Pahlawan Gizi

Penjagal Muda

Posisi Ketiga

Mendidik Itu Soal Akhlak

Menjadi Guru
Cinta dan Cita-Cita si Kembar
C ERITA A NAK-A NAK K AMI
Anak-Anak Tambora

Sahabat Kecilku

Kili Kaleli [Memungut Kemiri]

Ibrahim yang Cerdas dan Baik Hati

Sinar Laskar Matahariku

Karyawisata Sederhana ala Anak Kapuas Hulu

Andri dan Hamdan Suka Sekolah!

Mandiri Seorang Diri

Gara-Gara Pelangi

Juara di Dapur

Senyum Bungkus

Sarif dan Daun Litap

Rojol, Bukan Amir Khan

SA.RI.A (Saya Tidak Bisa Bicara)

Suaramu Mengubah Pandanganku

Menjadi Teman Anak-Anakku

Benih-Benih Matahari
Cemburulah Kepadaku!

Si Adil

Pelajaran Kesungguhan dari Dua Murid Istimewa

Dila dan Buku Spongebob Berbahasa Inggris

Anak Pak Hujan dan Bu Sungai

Belajar di Alam Terbuka

Khodijah, OSK, dan Kata-Kata Emak


M EMUPUK O PTIMISME
Miracle does Happen!
Kapsul Masa Depan
Membaca dengan Gambar
12 Jam Perjalanan dan 1 Malam Penuh Bintang
Semangat yang Tak Retak
Cita-Cita buat Ito ...
Kisah Guru dan Muridnya
Semangat Bendera Pusaka
Merawat Mimpi
Belajar untuk Berani Bermimpi
Keterbatasan yang Tidak Menghambat

Sendiri Itu Membuat Kuat

Salah Itu Seng Apa-Apa

Harapan di Atas Bukit


Pesan Pak yang Akan Pulang

Cerita Beta Pu Kampung Pikpik

Ruh Nasionalisme

Pilihan

Murid Pertama

Surat untuk Andrew


BUAH M ANIS DARI U SAHA
Buku Kejujuran
Asalkan Mau, Pasti Bisa
“Ibu Bangga denganmu, Nak”
Misi Anak Wadankou ke Saumlaki
Lapangan Futsal Standar “FIFA”
Pasukan Bersemangat Belajar Baca
Catatan Bahagia
Melihat Kota dan Menang Lomba
Jatuh Cinta buat Bisa Baca
Ketika Aku Diam
Kalau Buku Bisa Ngomong
Eit, Mari Bersekolah
Profil Daerah Penempatan
Profil Pengajar Muda
Indonesia Mengajar “Mencerdaskan Kehidupan
Bangsa: Bersama Melunasi Janji Kemerdekaan.”
K ATA PENGANTAR

Oleh: Anies Baswedan*


* Pendiri dan Ketua Gerakan Indonesia Mengajar.

Saat buku ini terbit, sudah empat kali Bandara


Soe-karno-Hatta melepas Pengajar Muda mengabdi:
10 November 2010, Juni 2011, 10 November 2011,
dan Juni 2012. Tiap kali melepas Pengajar Muda di
bandara ini, memori yang sama selalu terulang.
Bandara ini melepas anak-anak muda terbaik, yang
rela meninggalkan kenyamanan kota, bersusah-susah
hidup di desa terpencil. Dan, Soe-karno-Hatta pula
yang menyambut mereka kembali.
Hari ini 72 Pengajar Muda kembali dari tempat
tugasnya setelah mengabdi menjadi guru sekolah
dasar di penjuru Tanah Air. Dan, hari ini sebuah tugas
telah purna. Perjalanan setahun yang penuh
kenangan telah berakhir. Mereka akan memulai
sebuah babak baru, mencari, dan menemui tantangan
baru. Perjalanan kemarin menjadi bagian dari masa
lalu mereka. Kebahagiaan, keharuan, kegetiran,
problem, tetes air mata, dan keringat yang menetes di
sana adalah bagian dari masa lalu.
Anak-anak muda ini telah tunai bertugas,
betapapun kecil mereka telah ikut memainkan peran
bagi saudara sebangsa. Sering saya diingatkan bahwa
mereka selalu risi mendengarnya dan tak pernah mau

~1~
disebut pahlawan karena itu memang bukan urusan
mereka. Bahkan, itu bukan urusan kita. Label-label itu
adalah urusan para sejarawan nanti. Urusan kita
adalah soal turun tangan atau lipat tangan. Mereka
pilih turun tangan. Mereka pilih kemuliaan, mereka
tak banyak cakap, mereka tinggalkan banyak urusan,
dan mereka terlibat langsung di berbagai penjuru
Tanah Air.
Sebelum berangkat, saya titip pesan kecil waktu
itu. Anggap setahun ini bukan sebagai pengorbanan,
tetapi sebagai kehormatan. Kehormatan untuk
mengabdi bagi Republik, bagi saudara sebangsa.
Kehormatan mewakili bangsa untuk memberi pesan
ke penjuru Tanah Air bahwa mereka yang ada di sana
pun adalah se-Tanah Air dan sebangsa.
Melalui beberapa kalimat di bawah ini, saya
menyambut kepulangan mereka. Dan, adalah
kehormatan bagi saya— bersama Soekarno-Hatta,
nama bandara ini—untuk menjemput mereka
kembali.
Pengajar Muda yang tercinta, kalian sudah lewati
sebuah fase luar biasa dalam hidup kalian. Lihat masa
depan dengan tegak dan penuh optimisme. Sesekali
boleh kalian tengok ke belakang, sesekali kalian buka
catatan harian semasa pengabdian di desa itu.
Rasakan lagi denyut suasana batin harihari kemarin.
Resapi desiran rasanya. Sesekali buka foto-foto itu.
Lihat lagi wajah murid-murid, lihat wajah adik-kakak,
juga wajah ayah-ibu angkat kalian. Permanenkan
suasana desa tempat kalian mengabdi di kenangan.

~2~
Kalian hadir di sana selama satu tahun, jadi
penyala harapan bagi mereka. Pada kalian harapan itu
ditautkan. Kemudian, beberapa hari yang lalu kalian
pulang, kalian tinggalkan mereka. Ada kekosongan
hati yang luar biasa di sana. Anak-anak di sana masih
saja menyebut nama kalian. Anakanak di sana masih
saja ingin bertemu meski hanya dalam mimpinya.
Tiap mereka lihat ruang kelas, lihat kamar tidur, lihat
tempat berenang, lihat lapangan tempat kalian
bermain dan berlari-lari, mereka seakan masih
melihat kalian, apa pun yang mereka lihat seakan
masih ada wajah kalian.
Pengajar Muda, kalian bukan sekadar rekaman
dalam memori. Kalian hidup dalam memori mereka
selamanya. Mereka buat prasasti dalam hatinya.
Prasastinya permanen karena dibangun oleh
ketulusan dan cinta saudara sebangsa. Lihatlah yang
terjadi saat kalian kemarin meninggalkan desa itu:
ada yang rakyat sedesanya turun gunung ke jalan raya
untuk melepas kalian pulang, atau yang satu kampung
berdiri di atas dermaga papan seadanya untuk
melepas kalian pulang naik perahu kecil atau warga
sekampung kumpulkan lembar seribuan rupiah lusuh
kumal sambil berkata, “Buat ongkos Pak Guru
pulang”, atau pidato perpisahan kepala sekolah yang
suaranya tersedak tangis dan tak sanggup ia teruskan.
Mereka lepaskan butir demi butir air matanya karena
hatinya tak sanggup lepaskan kalian pulang. Butiran
air di mata mereka adalah cermin kehadiran
pengabdian kalian di desa itu.

~3~
Pengajar Muda, camkan ini: bagi mereka, melepas
kalian pulang terasa seperti melepas sebuah harapan.
Harapan itu serasa terbang dari genggaman mereka.
Pasanglah foto desa dan foto murid-murid di dinding
kamar tidur kalian. Tatap foto itu dan tetapkan
sebuah kalimat di hati, “Saya akan terus hadir, saya
tidak pernah pulang, saya akan selalu bersama
saudara-saudara sebangsa.”
Pengajar Muda, selama setahun kalian mewakili
kita semua, mewakili seluruh bangsa ini, hadir di sana
memberikan harapan buat saudara sebangsa. Kalian
tak minta penghormatan karena kalian tahu
penghormatan itu bisa semu dan dipanggungkan.
Kalian terhormat bukan karena penghormatan,
melainkan karena kalian pilih sebuah langkah yang
penuh kehormatan. Kalian dapat kehormatan untuk
hadir di desa itu, kalian masih muda tetapi sudah ikut
melunasi janji kemerdekaan kita: mencerdaskan
saudara sebangsa. Sekecil apa pun peran itu menurut
kalian, kalian telah pilih langkah terhormat.
Tiap kalian bangun pagi dan menyongsong tugas
baru maka lihatlah foto itu dan ingatlah bahwa apa
pun yang kalian kerjakan nanti, yang serbasulit, yang
serbaberat adalah untuk meneruskan harapan
mereka. Ingat lambaian tangan di tepi jalan raya, di
tepi dermaga kayu, di depan sekolahsekolah.
Lambaian cinta tulus memancarkan harapan buat
kalian untuk tetap berjuang demi masa depan semua.
Bayangkan kesuksesan kalian itu dibayar dengan
peluk kuat anak-anak yang mencintai kalian.

~4~
Bayangkan suatu saat nanti kalian pulang ke desa itu
lagi, mendatangi tempat itu lagi, dan dipeluk oleh
anak-anak itu lagi. Suatu saat nanti, kalian jadi
manusia dewasa yang berperan di Republik ini, kalian
jaga ikatan batin itu dengan mereka. Biarkan tali
ikatan itu kuat agar mereka bisa selalu menarik
manfaat ke desanya.
Kemarin kalian menyalakan harapan, kalian
menyalakan pelita, supaya gelap itu berubah jadi
terang. Kini kalian masuki babak baru, tetapkan hati
untuk menyalakan pelita dan harapan di seantero
Indonesia. Kalian tidak hanya akan menerangi sebuah
desa. Kalian akan hadir untuk menyalakan Indonesia
kita jadi terang benderang.
Pengajar Muda, di depan kalian kini ada peluang
besar untuk meraih masa depan yang lebih baik buat
semua. Pasang layar besar, cari angin yang kuat, lalu
arungi samudra dengan keyakinan dan keberanian. Di
sana kalian akan temui gelombang besar, badai yang
menggentarkan. Hadapi itu dengan keyakinan bahwa
kalian akan besar, akan kuat, dan kelak setiap
kehadiran kalian akan punya efek yang dahsyat.
Jauhi sungai kecil walau indah dan tenang. Di
sana mung-kin dekat dengan pujian, banyak
ketenangan. Jauhi itu. Pilihlah sungai besar, samudra
luas yang arusnya kuat, yang penuh dengan
tantangan. Arena yang bisa membuat kalian dibentur-
benturkan, dihantam tantangan. Arena yang bisa
membuat kalian makin kuat dan tangguh.
Persiapkan diri dengan baik, tetapi jangan pernah

~5~
kalian gentar dengan benturan. Jangan pernah takut
salah. Jangan takut dunia korporasi, jangan takut
dunia pemerintahan, jangan takut dunia global.
Kalian masuki semua itu. Di semua sektor, Republik
ini perlu lebih banyak orang yang bisa menjaga
kehormatan. Republik ini perlu lebih banyak orang
yang pegang hati nurani secara radikal. Kalian jadi
harapan kita semua. Sudah kalian rasakan bagaimana
dicintai itu, sudah kalian rasakan bagaimana
ketulusan itu. Bawa itu semua di gelanggang baru.
Raihlah puncak-puncak tinggi itu, puncak-puncak
yang jangkauannya sulit, yang tetes keringatnya
banyak, yang kadang terasa pedih, yang bebannya
berat. Namun, ingatlah wajah anak-anak itu, ingat
lambaian tangan saudara sekampung itu selama kalian
meniti perjalanan kerja dan hidup kalian nanti. Dan
sesungguhnya, seberat-beratnya tantangan kalian,
tantangan yang mereka hadapi di kampung sana
sering lebih terjal, jalannya sering tanpa penunjuk
arah.
Di tempat-tempat baru kalian nanti, yang
mungkin senyap, mungkin jauh dari hiruk pikuk
“perjuangan”, tetapi yakinlah bahwa kerja itu adalah
bagian penting dari ikhtiar kolektif generasi baru
anak bangsa ini. Kerjakan hal-hal yang mungkin
tampak tak penting dan tak heroik, tetapi jalani itu
dengan kesungguhan untuk menuju keberhasilan
baru.
Ingat wajah saudara baru kalian di desa itu dan
tetapkan dengan penuh percaya diri: akan kucapai

~6~
puncak-puncak baru. Lalu, kerja keraslah dan capailah
puncak-puncak tinggi itu. Di sana kalian
kumandangkan suara hati nurani. Jangan kalian pilih
puncak-puncak rendah yang mudah dijangkau.
Sudah kalian rasakan bagaimana sebuah karya
betapapun kecilnya bisa menggulirkan perubahan.
Songsong dan rasakan perubahan itu di arena-arena
besar. Jelajahi jalan baru yang mendaki, jangan pilih
jalan yang datar atau jalan turun. Jalan datar itu
nyaman menjalaninya, jalan menurun itu ringan
melewatinya. Sesungguhnya melalui jalan mendaki
itulah kalian bisa mencapai puncak baru untuk
mengumandangkan hati nurani, mengumandangkan
pesan anakanak desa pelosok itu.
Jalan mendaki itu bisa sempit dan bisa membuat
kalian tak leluasa bergerak, tetapi jalani itu dengan
kesungguhan dan totalitas: mendakilah terus. Begitu
sampai di puncak, kalian akan leluasa bergerak.
Seruan kalian akan terdengar dan berdampak bukan
saat masih di jalan sempit yang membuat kalian tak
leluasa bergerak. Seruan kalian akan bisa
menggetarkan dan berdampak justru saat kalian
sudah sampai di puncak-puncak baru. Di puncak
itulah seruan kalian akan terdengar ke seluruh
penjuru.
Buatlah kita semua bangga karena punya saudara
seperti kalian, punya saudara anak-anak muda
tangguh yang bisa membawa kantung berisi hati
nurani sampai ke puncak. Buat kita bangga karena
menyaksikan kantung hati nurani kalian tidak bocor

~7~
di perjalanan walau terjal dan mendaki.
Pengajar Muda, terbanglah tinggi, jelajahi dunia.
Di tiap penerbangan tinggi yang melampaui benua,
kalian ingat desa itu. Di tiap pintu gerbang negara
yang kalian kunjungi, tuliskan sebuah pesan untuk
desa kalian di pelosok itu agar adik-adik kalian di sana
bisa pancangkan mimpi yang tak kalah tinggi.
Pengajar Muda, selamat menjalani fase baru
hidup. Kalian telah membuktikan bahwa kita masih
punya cukup stok anak muda pejuang. Kalian
membuktikan bahwa keluargakeluarga Indonesia
tetap keluarga pejuang dan kalian telah tanamkan
bibit optimisme yang dahsyat. Jaga ikatan
persaudaraan ini, jaga tali nurani ini, jaga ketulusan
ini, jadikan persaudaraan kita menjadi hub of trust yang
bisa mendorong kemajuan di Republik tercinta ini.
Jadikan persaudaraan ini sebagai fountain of hope yang
memancarkan harapan buat kita semua.
Banyak yang bertanya kepada saya, bagaimana
menjelaskan fenomena bahwa ribuan anak muda
Indonesia menyatakan mau bersusah-susah untuk
mengabdi di tempat sulit dengan tugas berat? Buat
mereka, ini seperti sesuatu yang baru di bangsa ini.
Jawab saya, tidak, ini bukan hal baru. Anak muda
Indonesia dan bangsa Indonesia memang sejatinya
seperti ini!
Lihatlah sejarah. Republik ini didirikan oleh
orang-orang yang pada dasarnya punya kesempatan
untuk menikmati hidup bagi dirinya sendiri, tetapi
mereka memilih mengabdi dan berbuat untuk

~8~
bangsanya. Soekarno, lulus sebagai insinyur saat 95%
bangsa kita buta huruf. Dan Mohammad Hatta
adalah doktorandus dari Rotterdam, yang memilih
bersusah-susah untuk menjadi pejuang. Padahal,
mereka bisa hidup enak, jadi pegawai pemerintah
Belanda atau korporasi lain di dunia pada masa itu.
Kita bisa menyebut ribuan contoh seperti ini.
Lihatlah sekeliling, lihatlah keluarga besar kita.
Jika dicermati dan ditelusuri, pasti ada saudara kita,
baik itu jauh atau dekat, dari kakek-nenek kita, yang
ikut berjuang pada masa lalu atau bahkan juga masa
kini. Berjuang dalam banyak hal dan dalam berbagai
bentuk.
Sejarah menulis bahwa negeri kita memiliki jutaan
pahlawan tak dikenal. Sejarah panjang bangsa kita
sampai hari ini dipenuhi oleh perjuangan panjang
para leluhur kita yang kode genetikanya ada di darah
kita.
Ya, Anda semua, anak muda Indonesia dan
seluruh bangsa Indonesia memiliki kode genetika
sederhana bernama: berjuang.
Dan, karena itu bila dihadapkan pada pilihan
sederhana, kita akan memilih dengan mudah: lebih
baik menyalakan lilin daripada sekadar mengutuki
kegelapan. Lebih baik berjuang daripada berpangku
tangan.
Pengajar Muda telah melakukannya. Dan, kita
semua sedang dan akan terus juga melakukannya.•

~9~
BERSAMA TURUN TANGAN M AJUKAN N EGERI

Oleh: Hendi Prio Santoso*


* Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara (Persero)
Tbk.

Indonesia merupakan negeri yang diberkahi


dengan kekayaan alam yang luar biasa yang
terbentang mulai dari Sabang sampai Merauke.
Namun, sejatinya kekayaan terbesar yang kita miliki
adalah manusia Indonesia; anakanak di berbagai
pelosok Indonesia. Mereka adalah berlianberlian yang
perlu diasah, sebagai penerus bangsa ini di masa
depan. Maka untuk mengasahnya, diperlukan
pembimbing terbaik yang hadir di samping mereka
untuk mengajar, mendidik, dan menginspirasi.
Perusahaan Gas Negara (PGN) melihat hal
tersebut. Maka, pada 21 Desember 2011 menjadi hari
bersejarah bagi kami, di mana PGN menyatakan
komitmennya untuk ikut aktif berkontribusi
terhadap peningkatan kualitas pendidikan di
Indonesia. Kami melihat bahwa keberadaan Indonesia
Mengajar melalui Pengajar Muda di berbagai pelosok
Tanah Air dapat mengambil peranan itu; menjadi
eskalator potensi anak-anak Indonesia.
Kini, buku yang ada di tangan kita, terpapar 72
kisah; catatan pengalaman, pengamatan, dan
pelajaran dari para Pengajar Muda yang ditempatkan

~10~
di sekolah-sekolah yang berada di 10 kabupaten di
seluruh Indonesia. Sebagai catatan kesan dan
pengalaman, buku ini kaya dengan suasana personal,
penghayatan akan kehidupan, dan keterikatan batin
antara para Pengajar Muda dan masyarakat di mana
mereka ditugaskan. Banyak di antara mereka yang
menulis begitu mendalam tentang anak-anak
didiknya, pengabdian dan keikhlasan guru-guru di
sana, serta beragam pengalaman reflektif lainnya.
Saya yakin buku ini akan menjadi pembuka mata
bagi para pembaca, bahwa di luar sana masih banyak
sisi kehidupan berwarna yang belum sempat kita
cerna, bahkan tidak kita ketahui. Dengan menghayati
penuturan cerita mereka, semoga buku ini akan
menjadi pengetuk hati para pembaca yang telah
dikaruniai kemudahan dan kemakmuran untuk tetap
peduli pada sesama. Bagi rekan-rekan muda, para
kader pemimpin bangsa, saya juga meyakini bahwa
buku ini akan menjadi sumber inspirasi untuk terus
menghadapi persoalan bangsa yang kian kompleks
dan bersama-sama mencarikan solusinya.
Atas nama PGN, saya menyampaikan apresiasi
yang tinggi atas hadirnya buku ini, semoga dapat
menebar semangat dan inspirasi bagi kita semua
untuk bersama-sama turun tangan, bergandengan
mendekatkan anak-anak di pelosok negeri dengan
jendela kemajuan bagi mereka. Hadirkan visualisasi
masa depan yang cerah untuk anak-anak bangsa.
Semakin banyak yang terlibat, semakin banyak
pula yang akan terbantu, sehingga semakin cepat

~11~
mendorong perubahan. Peran kecil maupun peran
besar, bukanlah ukuran kemuliaan.Yang menjadi
ukuran adalah bagaimana cara kita menjalankan
peran tersebut.
Semoga Gerakan Indonesia Mengajar akan terus
bergulir, dan mendorong semakin banyak pihak
untuk mendukungnya. Karena saya yakin bahwa
gerakan ini tidak saja akan menyentuh dunia
pendidikan, tetapi juga menjadi sarana bagi
persemaian pemimpin-pemimpin Indonesia masa de-
pan: pemimpin yang selalu terpanggil untuk
memajukan bangsanya. •
Jakarta, Mei 2012

~12~
CINTA DAN PENGABDIAN
M ENJADI C IKG U

Oleh: Belgis*
* Pengajar Muda Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan
Barat.
18 Juli 2011, aku resmi mengajar sebagai CikGu
(panggilan guru di daerah penempatanku) dan
mengelola kelas. Atas keputusan kepala sekolah
akhirnya aku menjadi guru kelas 5 (untuk semua
bidang studi, kecuali agama dan olahraga). Aku
mengajar SD pada pagi hari, mulai pukul 07.15–11.50.
Murid-murid SD kelas 5 berjumlah 21 anak, dengan
karakter yang berbeda-beda. Variasi usia mereka pun
beragam, antara 10-13 tahun.
Pertama berdiri di depan kelas, aku mati gaya
karena saat kutanya dalam bahasa Indonesia, mereka
menjawab dengan bahasa daerah mereka (bahasa

~13~
Hulu). Dooeenggg??? Sebenarnya mereka bisa berbahasa
Indonesia, tetapi mung-kin tidak terbiasa sehingga
sering kali tercampur.
Aku meneruskan bicara sambil menatap wajah
mereka satu per satu. Kuperhatikan dengan saksama
dari ujung ram-but hingga ujung kaki. Mereka
menyunggingkan senyum lebar kepadaku, aku
membalasnya dengan senyum riang. Kulihat beberapa
di antara mereka berpakaian lusuh, kancing bajunya
tak tahu entah ke mana, beberapa bahkan tidak
beralas kaki.
Dan, tibalah pandangku kepada sesosok makhluk
kecil di ujung kelas. Pelan-pelan kulihat anak kecil
yang sedang memegang kerupuk, mungkin usianya
baru 2 tahun. Aaahhh ... rupa-rupanya ada juga yang
ke sekolah sambil mengasuh adiknya karena tidak ada
orang di rumah.
Kulihat barang bawaan mereka. Ternyata hampir
separuhnya membawa barang selain tas. Barang lain
itu adalah dagangan, seperti satu termos es lilin,
kerupuk ikan, kerupuk basah, bakwan, es kue, dan
lain-lain. Aku hanya tersenyum melihatnya.
Kulanjutkan obrolan dengan pertanyaan-
pertanyaan lucu. Antusiasme mereka cukup tinggi,
mungkin karena aku orang baru sehingga rasa tertarik
mereka sangat terlihat. Lalu, kulanjutkan dengan
perkenalan dan sharing, disusul permainan ringan
sebagai assesment awal untuk mengenal karakter
mereka. Hasilnya, wow, mereka memiliki tingkat
kepatuhan yang cukup tinggi, lho.

~14~
Ada kejadian lucu saat aku melontarkan
pertanyaan,
“Di mana kalian tinggal?”
“Di Teluk Aur, Buuu.”
Kemudian, kulanjutkan dengan pertanyaan, “Di
provinsi manakah kalian tinggal?”
“....” Hening.

~15~
Kulanjutkan lagi dengan pertanyaan, “Di negara
manakah kalian tinggal?”
“Di Indonesia, Bu ....” Alhamdulillah, gumamku
dalam hati karena mereka tahu bahwa Indonesia
adalah negara mereka.
“Apa nama Ibu Kota Indonesia?”
“....” Hening selama 2 menit. Kemudian, ada yang
menjawab
“Serawak, Buuu ....” Aku tersentak. Namun,
beberapa anak yang lain mulai gaduh dan
menyalahkan jawaban tadi. Ah, ... rupa-rupanya anak-
anak masih tahu bahwa Serawak bukanlah bagian dari
Indonesia. Kucoba lagi dengan memberi pertanyaan
terakhir.
“Ayo, siapa yang tahu nama presiden kita saat
ini?”
“Bapak SUHARTO, Buuu ...,” kompak anak-anak
menjawab. Aku hanya terdiam, tak mampu berkata

~16~
apa-apa.
Inilah tugasku, membuka cakrawala pengetahuan
untuk mereka. Menunjukkan bahwa dunia tidak
hanya antara Sungai Kapuas dan hutan belantara. •
SEKOLAH ITU C INTA!

Oleh: Ika Martharia Trisnadi*


* Pengajar Muda Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

Sabtu pagi, jam tanganku menunjukkan pukul


07.45, tetapi hujan masih turun dengan derasnya.
Belum masuknya listrik di desa Siboru, Kecamatan
Fakfak Barat ini membuat rumah kami gelap gulita
meski matahari yang tertutup awan mendung telah
tergantung tinggi. Kutengok halaman muka, Nenek,
Bapak, dan Mama masih terlelap menikmati dingin
dan derasnya hujan yang turun pagi ini. Aku berdiri di
muka rumahku, menantikan kalau-kalau ada anak
muridku yang lewat membawa payung, maklumlah
payungku yang kubeli di Jembatan Benhil, Jakarta,
itu sudah patah karena tertiup angin beberapa
minggu lalu.
Aku harus ke sekolah, ujarku dalam hati. Aku sudah
berjanji kepada anak-anakku untuk datang pagi ini
dan membacakan mereka cerita. Sabtu pagi adalah
jadwal kami untuk berlatih upacara, membaca di
perpustakaan, dan kerja bakti di sekolah.
Sepuluh menit berlalu lagi, tetapi belum seorang

~17~
pun kulihat berjalan menerobos angin kencang itu.
Kutimbangtimbang semua opsi yang ada. Bila
kugunakan kardus, dalam setengah perjalanan saja
aku akan basah kuyup. Bila kugunakan karung beras,
kepalaku akan selamat, tetapi badanku akan basah
kuyup. Lalu, bagaimana caranya aku bisa ke sekolah?
Setengah berharap, kulayangkan permohonan
agar Tuhan meredakan hujan ini sebentar saja. Puji
Tuhan, aku teringat akan jas hujan ponco yang
kubawa dari Jakarta. Bergegas kubongkar ransel yang
telah kusimpan rapi di dalam kamar berlantai kayu
itu. AHA ... ini dia, senyum lebarku mengembang
sambil memeluk ransel dan poncoku. Terima kasih
buntalan ajaib, ujarku dalam hati.
Aku bergegas menyusuri jalan becek dan berbatu
menuju SD YPK Siboru. Aliran air itu dengan deras
mengisi setiap celah-celah batu di kiri-kanan rumah
warga. Sepanjang jalan setapak itu, banyak mata
memandangku terheran, mereka berkata satu sama
lain, “Ibu datang, Ibu datang.”
Di muka rumahnya, bapak kepala dusun dan
bapak pendeta yang ada di sana bertanya kepadaku,
“Ibu mau ke sekolah? Ini hujan, anak-anak tidak ada
yang sekolah.” Aku berhenti sejenak, kupalingkan
wajahku sambil tersenyum. “Saya mau cek anak-anak
Bapak. Kemarin saya minta mereka datang. Jangan
sampai mereka datang, lalu tidak ada gurunya,” Lalu,
kulambaikan tanganku kepada mereka dan kepada
anakanak muridku yang mengintip dari jendela-
jendela rumah itu. Ya, bisa dimaklumi bila anak-

~18~
anakku tidak sekolah pada saat hujan deras
mengguyur Siboru. Hanya sebagian dari mereka yang
memiliki payung. Termasuk di rumahku, Bapak dan
Mama tidak memiliki payung di rumah. Walaupun
begitu, aku harus tetap ke sekolah.
Dengan rendah hati kunyatakan kepada diriku
bahwa aku adalah guru, yang digugu dan ditiru, baik
oleh muridku maupun masyarakat setempat. Maka,
sudah layak dan sepantasnya aku menjadikan sekolah
sebagai rumah kedua. Rasa cinta sekolah ini kiranya
dapat mengalir pada setiap diri muridku sehingga
mereka selalu merindukan hari-hari belajar dan
bermain di sekolah. Sama ketika Ayah membuatku
mencintai sekolah. Sekolah bukanlah sekadar
kewajiban, melainkan kesenangan dan keinginan
untuk selalu mengetahui hal baru dan bergembira
bersama teman-temanku.

Di sekolah beberapa anak sudah menunggu. Aku

~19~
terharu. Dan, bertambah kagum kepada mereka
karena mereka tidak menunggu dengan berdiam diri,
tetapi memanfaatkan air hujan untuk membersihkan
lantai depan kelas mereka J. WOW, sangat inisiatif ....
Segera kubuka pintu perpustakaan dan kami
bergegas ke sana. Di tengah dinginnya pagi itu, aku
mengajak mereka menghangatkan tubuh dengan cara
Senam Riang Anak Indonesia. Alhasil, mereka pun
tertawa sambil menirukan gerakan-gerakan video di
laptopku.
Bermula dari 6 orang, lalu satu per satu anakku
mulai menyusul dan akhirnya berjumlah 36 orang.
Selesai senam, kami membaca buku-buku di
perpustakaan. Sama seperti minggu lalu, mereka
senang dan antusias menyambut bukubuku itu. Kelas
kecil ada yang sibuk melihat-lihat gambar saja, ada
pula yang dengan antusias mendengarkanku
membacakan dongeng. Sedangkan kelas 5 dan 6,
senang sekali melihat atlas, mereka senang melihat di
mana mereka berada dan bermain “Mencari ibu kota”.
Sayangnya, aku hanya punya satu atlas sehingga
mereka harus bergantian.
Semoga dalam waktu dekat, sumbangan buku dari
temanteman di Jakarta maupun dari Indonesia
Menyala segera datang. Semoga juga ada atlasnya
sehingga kami bisa mengetahui lebih banyak dan
belajar lebih banyak. Amin .... •

~20~
BUKAN G URU BIASA

Oleh: Dimas Sandya Sulistio*


* Pengajar Muda Kabupaten Aceh Utara, Nangroe Aceh
Darussalam.

Perjalanan saya mengikuti program Indonesia


Mengajar telah mengantarkan saya ke sebuah dusun
tanpa listrik dan air di pelosok negeri ini, di Tanah
Rencong, Nangroe Aceh Darussalam. Saya mengalami
irama persekolahan nun jauh di jantung Kabupaten
Aceh Utara, tepat di daerah yang dulu pernah menjadi
basis GAM. Di sanalah, segala kegelisahan saya
tentang dunia pendidikan Indonesia seperti
terbungkam.
Selama delapan bulan saya di sini, saya dihadapkan

~21~
pada realitas pendidikan bangsa kita, dari sudut
pandang seorang guru. Suatu hal yang sebelumnya
hanya bisa saya lihat di film atau cerita di media, kini
berada tepat di depan mata dan menjadi bagian dari
keseharian saya. Jalanan ke sekolah yang rusak,
bangunan sekolah yang minim fasilitas tanpa toilet,
siswa-siswi dengan seragam kumal yang menggunakan
sandal jepit, adalah nyata adanya. Maka, meski kini
saya benar-benar menjalaninya, rasanya lidah ini kelu
untuk mengeluh, terutama jika mengingat perjuangan
para guru di sini untuk mengajar.

Adalah seorang guru wanita berusia 37 tahun. Ibu


Mundliah namanya. Sejak sekolah di puncak bukit ini
dirintis, Bu Mun, panggilan akrabnya, kembali
mengabdikan dirinya sebagai guru. Padahal, lokasi
sekolah ini terletak sekitar 21 km dari rumahnya dan
pada saat itu membutuhkan waktu hingga dua jam

~22~
untuk tiba di sekolah. matan. Apalagi sejak suaminya
dituduh menjadi bagian dari GAM dan dipenjara
selama beberapa tahun, Bu Mun, harus membiayai
kedua anaknya yang masih kecil dan menjadi tulang
punggung keluarga.
Ia juga harus meninggalkan sekolah yang
dirintisnya ketika terjadi konflik, dan hidup
berpindah-pindah untuk sekadar mendapat
keamanan. Saat itu adalah masa kelam dalam
hidupnya, hingga rumah yang ia tinggali pun ikut
dirusak. Bahkan, ia sempat dengan nekat menjalani
profesi sebagai RBT (ojek) yang lazimnya merupakan
pekerjaan lakilaki. Kemudian, pasca-peristiwa
Tsunami yang menewaskan ratusan guru di Aceh,
tibalah kesempatan untuknya kembali mencicipi suka
dan duka sebagai seorang guru.
Sudah 19 tahun Bu Mun berkiprah menjadi
pahlawan tanpa tanda jasa meskipun sempat terhenti
sejenak ketika masa konflik. Dari mulai guru bakti
hingga guru honorer, sudah pernah ia jalani. Namun,
untuk menjadi seorang pegawai negeri, tampaknya
masih menjadi sebuah mimpi. Kini sebagai seorang
guru honorer, tidak banyak imbalan yang
diterimanya. Jika dibandingkan dengan ongkos
bensin dan perbaikan motornya, semua hampir
impas. Namun, hal itu tidak membuat Bu Mun
berhenti mengajar. Baginya ini kesempatan untuk
mengembangkan diri sekaligus berbakti pada negeri.
Jika hujan turun, hanya Bu Mun, satu-satunya
guru yang bertahan naik ke atas bukit. Dengan

~23~
berbekal motor tuanya, ia bahkan rela berjalan kaki
berkilo-kilometer karena motornya tak sanggup
melewati ganasnya tanjakan tanah nan berbatu di
Bukit Dama Buleuen. Saking licinnya, roda motor
bergeser ke sana kemari, tanpa pernah bisa melaju.
Sungguh membuat frustrasi! Terpaksa ia
meninggalkan motornya di tengah jalan, lalu kembali
melanjutkan perjalanan agar kegiatan belajar dan
mengajar tidak terhenti. Betapa gigih dan luar biasa
perjuangannya.
Saya jadi ingat kali pertama saya datang ke
sekolah ini. Saat itu saya bertanya kepada salah
seorang siswa, “Siapa guru favoritmu?” dan mereka
serempak menjawab, “Bu Mun!” Ketika itu, saya
belum mengenal beliau karena ia baru saja melahirkan
sehingga harus cuti selama tiga bulan. Ketika itu,
sekolah memang terasa lebih sepi. Saya hanya melihat
karya-karya sederhananya berupa alat peraga, yang
sesekali saya pakai untuk mengajari anak-anak. Saya
pun hanya bisa menduga-duga, “Seperti apa, ya, cara
Bu Mun mengajar hingga ia begitu disayangi
siswanya?”

~24~
Belakangan saya tahu, bahwa Bu Mun tidak hanya
enerjik dalam mengajar, tetapi juga interaktif dan
selalu memberikan apresiasi kepada siswanya.
Padahal, tidak banyak yang tahu bahwa untuk
membuat alat peraga itu, tak jarang Bu Mun
meminjam uang kepada tetangganya sekadar untuk
membeli karton atau lem. Namun, baginya
kebahagiaan adalah ketika melihat senyum anak-
anaknya di sekolah dan hadir bersama mereka.
Hari itu, seorang guru menyapa saya dengan
bahasa Inggris yang tidak terlalu lancar, dengan aksen
yang kaku, tetapi penuh percaya diri. “Good Morning,
Pak Dimas. I’m sorry, I’m late because of my baby,” sahutnya.
Tersenyum saya menatapnya. “It’s alright, Bu Mun. I’m
happy to see you,” balas saya. Dialah Bu Mun, seorang
guru di daerah terpencil yang sudah malang melintang
menjadi seorang pejuang pendidikan. Meskipun hanya
seorang guru honorer, dedikasi dan semangatnya

~25~
bahkan melebihi guru-guru senior yang sudah
berstatus PNS.
Dia bukan lulusan jurusan bahasa Inggris, tetapi
ketekunannya membuat ia mampu berpidato singkat
dengan bahasa Inggris pada upacara 17 Agustus dan
dipercaya sebagai Ketua Kelompok Guru Bahasa
Inggris di Kecamatan Sawang. Orang-orang sudah
sangat mengenalnya sebagai pejuang pendidikan.
Percakapan tadi seolah memberi gambaran, baginya
menjadi guru adalah proses belajar tiada henti, hingga
tak sedikit pun rasa malu yang tampak meskipun ia
tidak fasih berbahasa Inggris. Dan, tahun ini Bu Mun
bisa bersenang hati karena gelar sarjana dari
Universitas Terbuka telah diraihnya, dengan predikat
cum laude.
Bukan guru biasa, itulah kata-kata yang sering
saya katakan kepadanya. Bahkan, guru teladan
sekalipun jika diuji dengan tantangan geografis dan
sosiologis di daerah terpencil belum tentu betah
berlama-lama. Maka, untuk mereka yang selalu
mengkritik tentang bobroknya sistem pendidikan
kita, alami saja persekolahan di daerah terpencil.
Untuk guru yang ingin menguji seberapa besar
kontribusi dirinya terhadap siswa dan selalu
mengeluh tentang minimnya kesejahteraan,
datanglah kemari dan rasakan pengalamannya
sendiri.
Pun, untuk semua orang yang merasa paling tahu
solusi untuk permasalahan pendidikan, sekaligus
jemawa dengan berbagai teori kebijakan makronya,

~26~
cobalah merendahkan hati di sini. Di Dama Buleuen
ada Bu Mun, ia punya hati untuk siswa-siswanya,
bukan sekadar untuk mencari uang. Darinya saya
belajar tentang ketulusan dan pengabdian, serta
melakukan kebaikan lewat hal-hal sederhana, bukan
sekadar mengutuki keburukan yang sudah ada.
Salam dari ujung barat Indonesia! •

M UHAMMAD IDRIS, PERMATA PAYA BAKONG

Oleh: Duddy Abdullah*


* Pengajar Muda Kabupaten Aceh Utara, Nangroe Aceh
Darussalam.

“Sincerity is the way of


heaven.” —Confucius, the
Wisdom of Confucius

~27~
Izinkan saya memperkenalkan daerah
penempatan saya. Daerah penempatan saya terletak
di Desa Blang Pante, Dusun Pante Kiroe (melalui jalan
utama Pante Bahagia atau biasa disingkat menjadi
Pante), Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh
Utara. Pante merupakan kampung terujung sebelum
hutan. Angkutan umum yang ada, beroperasi hanya
sampai ke daerah yang letaknya sekitar satu jam
sebelum desa saya karena jalannya yang rusak berat.
Satu-satunya angkutan umum yang tersedia
hingga ke desa saya hanyalah ojek, yang oleh
masyarakat di sini lebih akrab disebut “RBT” yang
dipelesetkan menjadi “Rakyat Banting Tulang”.
Alternatif lainnya adalah menumpang truk pengambil
batu yang tidak dipungut biaya sama sekali, tetapi
lambat jalannya.
Saking pelosoknya desa tempat saya tinggal, saat
saya sebutkan ingin ke Pante, tidak jarang Pengemudi
RBT pun

~28~
menjawab, “O Maa, Pante!” seakan-akan saya baru
meminta ia membuat RPP untuk semua mata
pelajaran selama satu tahun. Yang lebih lucunya,
terkadang Abang RBT-nya pun menolak dan
menjawab, “O Maa, tidak jadi Bang, capek kali, jalannya,
minta ampun saya!”
Kalaupun mau, kita harus siap menemukan Abang
RBT yang sepanjang satu jam perjalanan
mengeluhkan kondisi jalan.
Akan tetapi, siapa sangka di desa yang paling
ujung sebelum hutan ini, di tempat di mana
Pengemudi RBT pun menolak untuk mengantarkan,
saya bertemu dengan sosok yang sangat luar biasa,
yang ketulusan hatinya sering membuntukan logika
saya.
Perkenalkan sahabat terbaik saya di Desa Blang
Pante. Namanya Muhammad Idris, atau yang akrab
saya panggil Pak Ri, yang sekarang ini berumur 48

~29~
tahun. Beliau lahir di Desa Blang Pante. Ia sempat
menamatkan STM di Medan pada masa ketika
hampir tidak ada orang merantau, merantau dari desa
ini untuk mengejar pendidikan. Setelah lulus dari
STM Jurusan Mesin, ia melanjutkan kuliah di ITB
Bandung. Maka, pergilah ia ke Bandung dan
sesampainya di Bandung, pengumuman kelulusan
seleksi masuklah yang ia temukan.
Ia lalu mencoba menyambung hidup dengan
melamar di pabrik pembuat kabel di Serang. Namun,
beliau hanya sanggup bertahan selama dua bulan.
Setelah itu, beliau mencoba mengadu nasib di Jakarta
dengan menjadi kuli bangunan dalam proyek
pembuatan Gedung Summitmas. Setelah proyek itu
selesai, ia menyambung hidup dengan menjadi sopir
truk trailer di Jalur Pantura se-lama empat tahun,
“Bekerja menjadi sopir trailer itu, Pak Duddy, yang
saya paling lama bekerja,” jelasnya.

~30~
Pak Idris adalah guru honorer di SD saya, SDN 07
Paya Bakong. Sudah lama ia mengabdi dan bukan
sekadar menunggu waktu. Pengorbanannya membuat
saya terpacu. Ia sempat mengajar 2–3 kelas sekaligus
pada masa yang cukup sulit bagi masyarakat Aceh,
yaitu pada masa konflik.
Keadaanlah yang memaksanya menjadi guru.
Ketika guru dari luar desa sulit untuk masuk ke
sekolah pada masa itu, panggilan hatinya tidak tega
melihat anak-anak di keluarga besarnya tidak sekolah.
Pada masa itu, kepala sekolah tidak berani datang
ke daerah Pante. Pak Ri menjemput peralatan
sekolah dari kepala sekolahnya di Kecamatan
Matangkuli, salah satu kecamatan yang cukup aman
karena berada dekat dengan sebuah fasilitas
perusahaan minyak asing di Lhoksukon, dan
kemudian ia bawa kembali ke sekolah.
Pak Idris merupakan salah satu aset utama
sekolah kami. Beliau sering memasuki kelas yang
kosong apabila ada guru yang berhalangan hadir.
Selain itu, ia pun menjemur bukubuku di lemari yang
dipenuhi dengan semut dan mengelap buku tersebut
satu per satu.
Suatu ketika, beliau baru saja belajar komputer
dan ia membantu saya mendata-entry buku-buku
perpustakaan yang kami dapat dari Dana Alokasi
Khusus yang jumlahnya ribuan. Beliau sering datang
ke tempat saya pukul 21.00 setelah menidurkan
anaknya, kemudian membantu saya mengetik dalam
aplikasi excel hingga pukul 01.00. Saya sering

~31~
mengucapkan, “Pak Idris, mohon maaf. Saya tinggal
tidur duluan, ya, saya sudah sangat mengantuk. Jika
Bapak sudah selesai dan hendak pulang, nanti
pintunya ganjal saja dengan kursi.”
Secara ekonomi, Pak Ri dan keluarga jauh dari
kategori mampu. Berkali-kali saya mendengar
anaknya meminta uang, “Ayah, bi peng!” dan ia pun
hanya menjawab, “Hana peng,” yang artinya ‘tidak ada
uang’. Istri beliau adalah orang Tegal, Jawa Tengah.
Namun, karena kondisi kesehatan istrinya yang
memburuk di kampungnya, mereka terpaksa terpisah
selama satu tahun.
Sebentar lagi kalian akan mengerti mengapa saya
memulai tulisan ini dengan kondisi jalan di tempat
saya. Pak Idris adalah orang yang selalu
mengantarkan dan menjemput saya hingga ujung
jalan negara yang jaraknya kurang lebih sekitar satu
jam dari desa. Biaya ojek satu kali jalan Rp30.000,00.
Namun, seperti yang kuduga, Pak Ri tidak ingin
dibayar. Walaupun begitu, aku ingin menyampaikan
ucapan terima kasihku dengan mengganti bensinnya
dan membekalinya satu minuman botol.
Peristiwa ini, menurut saya isunya bukan hanya
uang, melainkan juga waktu. Ia menghabiskan
waktunya sebanyak dua jam untuk mengantar saya
dan begitu pula untuk menjemput saya. Bisa
dibayangkan, berapa biaya peluang (opportunity cost),
dan biaya yang seharusnya bisa ia hasilkan dengan
tidak mengantar-jemput saya.
Frekuensi beliau mengantar-jemput saya tidak

~32~
terhitung. Pernah suatu saat mobil Jumbo (angkutan
mini bus besar) saya mogok dan baru sampai di ujung
jalan negara setelah magrib, dan karena itu beliau
menunggu saya selama satu jam. Hari sudah gelap
sekali dan kami menyusuri jalan setapak dengan
cahaya lampu redup dari motor tuanya. Tibatiba di
tengah jalan mendekati desa saya, tiba-tiba beliau
memberhentikan motornya di pinggir sungai, lalu
muntahmuntah. Saya tanya apa beliau sakit? Pak Ri
hanya menjawab, “Tidak.” Kemudian, ia kembali
melajukan motornya. Selang dua menit kemudian,
Pak Ri memberhentikan motornya lagi dan kembali
muntah-muntah.
Hati saya seperti dibelah melihat kondisi beliau
yang sakit, tetapi tetap berkorban untuk menjemput
saya. Respons spontan saya waktu itu adalah marah.
“Pak Idris, kalau Bapak sakit, kenapa Bapak tetap
menjemput saya? Bapak harus istirahat! Saya tidak
mau dijemput Bapak kalau sakit, saya bisa naik RBT.
Kenapa Bapak tadi tidak bilang?”
Dia menjawab, “Pak Duddy, saya takut kalau Pak
Duddy naik RBT, kalau ada apa-apa dengan Pak
Duddy saya tidak bisa memaafkan diri saya.”
Saya diam, bingung harus menjawab apa, selain
mengulurkan tangan saya membantu beliau berdiri.
Masih banyak hal lain yang beliau lakukan untuk
saya. Contohnya adalah ketika seminggu kemudian,
Pak Ri bersikeras membantu saya memasang kawat
nyamuk di kamar saya yang membutuhkan waktu dua
hari dari siang hingga sore. Padahal, saya tahu ini

~33~
adalah waktunya beliau memetik buah di ladang.
Beberapa hari kemudian, desa kami sedang dalam
hari Megang pertama (sehari sebelum puasa dimulai).
Megang merupakan tradisi memotong sapi di Aceh,
punya tidak punya uang sang ayah sebagai pemimpin
keluarga harus membawa pulang daging untuk
keluarganya atau sang ayah akan merasa gagal sebagai
pemimpin keluarga.
Saya tahu bahwa pada saat itu Pak Idris sedang
tidak punya uang. Kembali saya menawarkan beliau
untuk saya belikan daging satu kilogram, mengingat
semua pengorbanan yang sudah ia lakukan untuk
saya. Kembali dia mencengangkan saya dengan
ucapannya:
“Pak Duddy, bagi saya punya uang dan tidak punya
uang sama saja. Kalau saya sedang tidak punya uang,
ya, saya pin-jam. Nanti begitu punya uang, saya bayar.
Hidup saya sama saja antara saya punya uang atau
tidak. Peganglah uang Pak Duddy, di sini saya
keluarga besar semua, sedangkan Pak Duddy
sendirian. Peganglah, siapa tahu nanti Pak Duddy
butuh untuk keluarga atau kebutuhan mendadak.”

~34~
Satu minggu saya mencoba mencerna ucapannya
dan sempat merasa logika saya diputar-putar.
Bagaimana ceritanya punya uang dan tidak punya
uang sama? Namun, yang membuat saya lebih tidak
habis pikir adalah ketulusannya untuk
mendedikasikan dirinya terutama untuk orang lain,
dan terutama saya yang paling banyak menerima
manfaat dari dirinya.
Terima kasih Pak Idris, kehormatan bagi saya dan
keluarga untuk bisa kenal Pak Idris. Saya dan seluruh
Keluarga Besar Indonesia Mengajar mengucapkan
terima kasih atas dedikasi Pak Idris untuk dunia
pendidikan, surgalah Insya Allah tempat Bapak
beristirahat nanti. •
SERIBU BAHASA SAYANG

Oleh: Maisya Farhati*


* Pengajar Muda Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa

~35~
Timur.

Bapak Raitu dan Ibu Khairiyah, itulah nama kedua


orangtua angkatku di Dusun Pinang Gunung, sebuah
dusun nun jauh di atas bukit di Pulau Bawean. Sudah
lebih dari lima bulan ini aku tinggal bersama mereka,
bangun tidur di rumah mereka, membuka
perpustakaan di rumah mereka, makan bersama
mereka, dan lain-lain. Mereka memang bukan
orangtua kandungku dan tak akan pernah bisa
menggantikan kedua orangtua kandungku. Untuk
beberapa hal, kami masih saling sungkan. Namun, aku
percaya—percaya sekali—bahwa mereka
menyayangiku dengan tulus.
Pada akhir pekan, terkadang aku menginap di
kecamatan untuk koordinasi dengan Pengajar Muda
Bawean lainnya ataupun melaksanakan kegiatan
bersama. Ketika di kecamatan, aku merasa senang
karena sinyal berlimpah, banyak ragam jajanan, dan
ada pasar serta minimarket untuk berbelanja kebutuhan
sehari-hari. Aku juga biasanya menyempatkan
mampir di warnet demi mengetahui kabar dan berita
di dunia luar sana. Ketika aku di kecamatan,
terkadang aku melupakan sejenak kehidupanku di
Pinang Gunung.
Lain halnya dengan Pak Raitu dan Ibu Khairiyah.
Suatu hari, Minggu sore, aku baru pulang dari
kecamatan. Ketika makan bersama pada malam

~36~
harinya, dengan lauk ikan-ikan kecil (rencek) seperti
biasa, kami berbincang. Bapak berkata, “Kemarin
malam saya terpikir Ibu (panggilan untukku). Ibu
malam ini makan apa, ya, di Tambak (nama
kecamatan di sini)? Kemarin ada lauk sapi dari
tetangga yang maur (hajatan atau syukuran).” Glek.
Aku menelan nasi dengan perasaan tak enak, campur
haru. Ketika aku jauh, ternyata mereka masih
memikirkanku, sementara aku biasanya terlena
dengan “gemerlap” kecamatan.
Dua minggu lalu, sehari setelah Idul Adha, aku
pergi ke kecamatan karena ada keperluan. Aku pinjam
motor Bapak dan membawa sendiri sampai
kecamatan. Saat itu, jalanan sangat becek karena
sehari sebelumnya hujan turun hampir seharian. Aku
berjalan pelan-pelan, apalagi jalan dari dusunku
sebagian masih tanah, licin sekali. Jalan yang sudah
semen pun sebagian besar hancur, tambah berbahaya
karena jalannya adalah turunan curam. Aku menghela
napas setelah melewati jalan itu. Yes, aku lolos! Aku
pun melanjutkan perjalanan di jalan utama.
Di luar dugaan, ternyata hujan seharian kemarin
membuat jalan utama yang biasanya penuh tanah
berdebu menjelma menjadi jalan offroad berlumpur.
Aku berjalan pelanpelan dengan perasaan berdebar-
debar. Untunglah selamat sampai di kecamatan. Aku
pulang sore hari karena seharian itu pun hujan turun
tanpa henti. Ketika sore hari tinggal menyisakan
gerimis, aku beranjak kembali ke Pinang Gunung.
Sore itu, jalanan jauh lebih licin daripada pagi hari.

~37~
Setelah melewati tanjakan curam dan hutan, mulai
terlihat satu rumah. Saat itulah aku melihat Bapak di
antara lebatnya pepohonan di hutan sekitar Pinang
Gunung. Aku tak tahu Bapak sedang apa, aku pikir
habis mencari kayu. Aku memanggil Bapak, berniat
mengajak pulang bersama karena saat itu masih
gerimis. Lagi pula rumah masih cukup jauh jika harus
berjalan kaki dari sana. “Bapak mau pulang bareng?”
tanyaku.
“Ibu takut pulang sendiri, Bu?” Bapak bertanya
balik.
“Ya, pelan-pelan aja, Pak ...,” tetapi aku bingung
karena Bapak tidak beranjak ke motor. Lalu, aku
bertanya lagi apakah Bapak mau pulang bersama naik
motor. Namun, Bapak menyuruh aku duluan saja.
Sebenarnya aku tak enak. Ini, kan, motor Bapak.
Masa aku naik motor, tetapi Bapak berjalan kaki?
Atau, Bapak tak enak jika memboncengku? Ah,
sudahlah, akhirnya aku naik motor lagi dan
melanjutkan perjalanan sendiri. Di belakangku, Bapak
berjalan hujan-hujanan.
Sesampainya di rumah, Ibu bertanya apakah aku
bertemu Bapak di jalan. Ternyata Bapak memang
sengaja menungguku di jalan di tengah hutan.
“Tadi Bapak saya suruh ke sana, menunggu Ibu.
Jalanan licin, takutnya Ibu jatuh atau terjadi apa-apa
di jalan,” kata Ibu memberi tahu.
“Ya, ampuuun ... saya enggak tahu, Bu. Tadi Bapak
saya ajak pulang bersama, tapi Bapak menyuruh saya
duluan. Sudah lama, Bu, menunggunya?”

~38~
“Iya ... sudah lama ...,” kata Ibu sambil tersenyum.
Aku tak bisa berkata-kata. Bapak sedari tadi
menungguku di bawah hujan. Menunggu dengan rasa
khawatir.
Kawan, bahasa sayang itu bisa bermacam-macam,
ya? •

G URU-G URU L UAR BIASA

Oleh: Yuri Alfa Centauri*


* Pengajar Muda Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi
Utara.

Saya mau mencari ikan dulu, ya!” ucap seorang


guru kepada saya seusai sekolah. Bukan mencari ikan
di pasar, kemudian dibelinya, melainkan pergi ke
pantai berbatu setiap siang sampai sore hari “mengail”

~39~
ikan. Hal ini dilakukannya untuk memenuhi
kebutuhan lauk-pauk sehari-hari, untuk makanan
pada pagi, siang, dan malam. Untuk apa bersusah
payah mencari ikan?
Guru muda ini sudah memiliki keluarga, yakni istri
dan seorang anak yang tinggal jauh darinya, di pulau
dan kabupaten yang berbeda. Penghasilannya
dihemat agar uang yang didapatnya dapat dikirim
kepada istrinya di rumah. Sebagian disisihkan untuk
ditabung guna bersekolah anaknya kelak. Ia sukarela
bersusah payah pada siang hari di bawah terik
matahari mencari seekor ikan di pesisir Pulau
Matutuang dan pada pagi hari mengajar di sekolah.
Luar biasa.
Luar biasa juga cerita seorang ibu guru berumur 60
tahun yang dengan ikhlas menjadi pengajar
sukarelawan. Meskipun telah pensiun, ia tetap ingin
mengabdi karena beliau mengerti bagaimana kondisi
sekolah yang kekurangan pendidik. Tempat tinggal
beliau sebenarnya ada di pulau yang

~40~
jauhnya lima sampai enam jam menggunakan
pumpboat, di Pulau Tinakareng, daerah yang lebih
dekat dengan kota kabupaten. Namun, beliau rela
tinggal di pulau yang lebih terpencil untuk mengajar.
Padahal, beliau sudah dapat hidup tenteram di daerah
asalnya bersama keluarga. Bahkan, ada sekolah swasta
di tempat asalnya yang menawarinya mengajar dan
menjanjikan kompensasi yang bagus. Namun, Ibu
tidak mau dan rela tinggal di Pulau Matutuang.
Siapa bilang bahwa tidak ada guru yang luar biasa
di daerah? Mereka membuktikan bahwa pengorbanan
menjadi pengajar di pulau yang kekurangan guru
merupakan sebuah perjuangan untuk memajukan
generasi penerus bangsa, tidak peduli asal usul, agama,
dan ekonomi anak didiknya seperti apa, tanpa peduli
berapa besar yang didapatkan. Hal yang terpenting
bagi mereka adalah menjadi pendidik bagi mereka
yang membutuhkan, untuk tempat-tempat yang

~41~
kekurangan pengajar.
Keinginan tersebut terpatri dalam hati mereka
kuatkuat, “PADAMU NEGERI!” sang Ibu selalu bilang,
apa pun risikonya ia tempuh demi pulau kecil dan
anak-anaknya yang polos dan damai ini. Ternyata,
banyak pahlawan “tak bernama” yang mau berkorban
demi nusa bangsa. Semoga Tuhan memberikan yang
terbaik bagi mereka. •
M ENCINTAI INDONESIA

Oleh: Mutia Amsori Nasution*


* Pengajar Muda Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Ku tak menyangka, menjadi Pengajar Muda


membuatku semakin menyadari bahwa aku begitu
mencintaimu, Negeriku.
Indonesia adalah negeri kaya. Tidak hanya
alamnya, tetapi juga budaya dan nilai-nilai yang
menjadi roh dan melekat erat mengindahkan bumi
Ibu Pertiwi. Inilah yang kurasakan saat sedang
menjalankan tugas kala menjadi Pengajar Muda.
Begitu banyak hal yang membuatku terharu. Aku
seperti memiliki kantong ajaib berisi rasa syukur yang
tak pernah ada habisnya. Aku belajar, melihat,
menilai, dan semakin memahami bahwa begitu luar
biasanya potensi bangsa ini. Alamnya, sumber daya
manusianya, terlebih nilai-nilainya. Masyarakat
Indonesia patut bangga karena merekalah
sesungguhnya yang menghebatkan dan mampu
mengindahkan perilaku negeri ini.

~42~
Hal ini kurasakan sendiri, berangkat dari
permulaan yang tiada kukira. Kala itu, di sela detik-
detik menuju lokasi penempatan, aku pun tiba di
Bima, Nusa Tenggara Barat. Kali pertama
menginjakkan kaki di “Dana Mbojo” (Tanah Bima),
aku sempat dikagetkan. Sangat kaget. Kehadiranku
kurang diterima oleh seorang yang pada akhirnya
menjadi sosok yang sangat kukagumi, yakni Bapak
Kepala Sekolahku, yang juga menjadi bapak angkatku.
Mengapa demikian? Karena, aku wanita. Sampai-
sampai beliau menginginkan dilakukan pertukaran
dengan Pengajar Muda lain, yang laki-laki.
Tergerusnya hati ini saat itu. Muncul tanda tanya dan
prasangka pada awal kudiperkenalkan dengan orang
yang akan menjadi orangtuaku selama setahun ke
depan. Kemudian, aku tekadkan dalam hati untuk
berusaha tidak mengecewakan beliau dan melakukan
sebaik mungkin apa pun yang aku bisa.
Bapak angkat saya adalah kepala sekolah di SDN
Jati Baru, terletak di pesisir Tanjung Langgudu, Bima,
Nusa Tenggara Barat. Untuk mencapai sana
dibutuhkan waktu kurang lebih 30 menit mengarungi
laut, melintasi Teluk Waworada. Menggunakan kapal
kecil yang biasa warga setempat sebut dengan
“Jonson”. Kondisi desa masih sangat sederhana,
belum dialiri listrik, dengan sumur umum yang
terletak di tengah-tengah rumah warga sebagai
sumber air, termasuk mandi. Jumlah kepala keluarga
belum begitu banyak dengan kondisi keseluruhannya
adalah rumah berbentuk panggung. Bapak Kepala

~43~
Sekolahku seminggu sekali berangkat ke seberang dan
menginap di salah satu rumah di desa dekat sekolah.
Sementara itu, keluarga dan tempat tinggal bapak
angkat saya berada di kecamatan.
Awalnya, hati waswas, berangkat dengan (terlihat)
kurangnya penerimaan yang baik dari calon orangtua
angkat saya di Bima. Ternyata, alasan yang saya
peroleh demikian menyentuh. Sebelum Pengajar
Muda tiba di lokasi penempatan beliau sudah
memperkirakan yang hadir adalah Pengajar Muda
laki-laki. Maka, wajar jika ia kaget karena telah
mempersiapkan segala hal yang sesuai untuk laki-laki,
seperti keadaan tempat tinggal, kondisi kamar mandi,
dan sebagainya. Namun, hal yang paling membuatku
tersentuh adalah beliau melihatku seperti anak
perempuannya sendiri. Di mana ia sendiri tak sanggup
membayangkan bagaimana jika anak
perempuannyalah yang ditempatkan di sana. Sikap
beliau menyiratkan keresahan hati sebagai orangtua
sesungguhnya. Orangtua yang begitu khawatir,
bagaimana jika anak perempuannya sendirilah yang
ditempatkan di desa yang masih dipenuhi dengan
keterbatasan itu. Terlebih terkait masalah keamanan.
Ini yang dikhawatirkan orangtua angkatku sedari awal
aku tiba di Bima.

~44~
Tidak cukup sampai di situ. Aku yang pada
akhirnya ditempatkan di lokasi sesuai perencanaan,
benar-benar diperlakukan dengan sangat baik. Bapak
angkat memperkenalkanku kepada seluruh warga
desa sebagai guru bantu yang akan mengajar di desa
tersebut. Bapak angkatku juga secara langsung
meminta kepada warga agar menganggapku layaknya
anak atau adik mereka sendiri, tidak ada seorang pun
yang rela jika anak atau adik sendiri ada yang
mengganggu.
Aku benar-benar diperlakukan seperti saudara
sendiri. Bahkan, oleh warga desa Jati Baru, aku
dibuatkan bilik kecil di sebelah rumah Ibu angkat.
Begitu berguna dan lagi-lagi membuatku merasa
sangat terharu. Bagiku yang menggunakan jilbab,
rasanya senang sekali bisa dengan leluasa melakukan
kegiatan pribadi tidak di depan umum. Tidak sampai
di situ. Abah yang tinggal di sebelah rumah, dengan

~45~
segala keterbatasannya, berusaha mencarikan
generator dan sempat memasang lampu di rumah.
Jadi, anak-anak yang datang belajar ke rumah pada
malam hari tidak lagi harus belajar dalam kondisi
penerangan remang-remang, yang hanya berasal dari
cahaya lilin atau lampu semprong. Aku terharu tiada
habisnya. Rasanya kantong syukurku selalu terisi
penuh :’).
Nilai-nilai seperti ini yang begitu sering aku
temukan dalam praktik sehari-hari di desa
penempatan mengajar. Indonesia kaya akan nilai-nilai
anggun. Nilai-nilai penuh makna. Di Bima Nusa
Tenggara Barat ini. Pendidikan pun cukup dihargai.
Ada satu nilai yang secara alamiah melekat erat pada
masyarakat, yakni orang Bima bekerja keras untuk
menyekolahkan anak dan naik haji. Anak-anak juga
pada umumnya bersemangat belajar tinggi. Sekali lagi
kantong syukurku memenuhi hati.
Aku bersyukur. Semakin aku melihat, semakin aku
memahami dan menemukan bahwa budaya tanah air
sangatlah kaya dan penuh corak. Nilai-nilai
masyarakat di negeri ini begitu luhur. Semua berjuang
dan tetap tersenyum. Dan, saling berinteraksi dengan
tetap menjunjung tinggi rasa persaudaraan, saling
menghargai, dan tolong-menolong.
Malu sungguh malu rasanya diri ini jika masih
“hanya mementingkan” diri sendiri, seperti yang
masih sering terjadi di kota-kota besar. Semakin
banyak kita melihat, semakin banyak pula kita
ketahui bahwa negeri ini tak sedangkal yang

~46~
dipertontonkan oleh media-media semata. Lihat dan
rasakan. Kita patut percaya, bangga, dan pandang ke
dalam dengan hati.
Kantong syukurku sungguh-sungguh tak pernah
kosong di sini. Aku diberikan Allah keluarga angkat
yang luar biasa. Aku dianggap seperti anak sendiri.
Aku belajar begitu banyak. Yang tak kalah
berharganya, kesan dan kenangan ini akan kubawa
hingga aku tua nanti. Takkan terlupakan seumur
hidupku. Takkan bisa dibayar oleh apa pun. Takkan
pernah kutemui lagi di kondisi lain mana pun. Terima
kasih Indonesia Mengajar. Jika kita tulus, meluruskan
niat untuk memberi yang baik, kita akan menuai hal
yang tak kalah hebatnya. Aku percaya itu. Dan, satu
lagi. Indonesia. Aku mencintaimu! •
Terima kasih banyak untuk Pak Budiyanto dan Ibu
Tamu, bapak dan ibu angkatku di Bima. •
PARA U JUNG TOMBAK PENDIDIKAN

Oleh: Jessica Hutting*


* Pengajar Muda Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi
Utara.

Saya menulis kisah ini setelah membaca tulisan


Pengajar Muda angkatan I, Riza, yang ditempatkan di
Tulang Bawang Barat. Tulisannya sederhana dan yang
paling penting adalah mirip dengan masalah yang saya
hadapi di pulau ini atau mungkin dengan pengajar

~47~
muda di pelosok negeri yang lain. Selama setahun
terakhir ini, saya tinggal di sebuah pulau kecil yang
berjarak 12 jam perjalanan jika ditempuh dengan
kapal perintis dari Tahuna, ibu kota Kabupaten
Kepulauan Sangihe.
Nama pulau ini adalah Kawio yang merupakan
wilayah dari Kecamatan Kepulauan Marore. Pulau
dengan tanah yang begitu subur dan kekayaan laut
yang luar biasa. Di balik panorama dan kekayaan
alamnya, pulau ini tetap menghadirkan tantangan
yang harus saya lalui. Kembali ke tulisan Riza yang
mengingatkan saya pada banyak hal yang saya temui
di sini yang terkadang membuat saya kesal, sakit hati,
marah, jengkel, dongkol (apa pun namanya), tetapi
dapat berakhir dengan senyuman. Senyuman yang
seolah menertawakan diri saya sendiri, sebatas mana
batas kesabaran saya diuji, seberapa mampukah saya
menentang

~48~
pergumulan antara idealisme, prinsip, dan
kenyataan yang terjadi.
Sekolah penempatan tidaklah seperti bayangan
saya sebelumnya. Secara infrastruktur, bangunan
sekolah sangat memadai. Ruang kelas lengkap, ada
UKS (walaupun sampai saat ini belum berfungsi),
kantor guru, ruang perpustakaan, lapangan, taman,
dan toilet. Lantai semua ruangan pun sudah keramik.
Buku-buku teks pun cukup banyak. Meskipun kadang
tidak seimbang dengan jumlah siswa, sudah
mencakup semua mata pelajaran. Koleksi buku
perpustakaan pun cukup banyak dan berkualitas.
Fasilitas pendukung pelajaran seperti alat olahraga,
alat musik, komputer, printer, kit IPA, bahasa, dan
matematika, globe, peta, atlas tematik, dan kamus
sudah tersedia.
Berdasarkan informasi dari kepala sekolah, semua
ini didapatkan dari dana alokasi khusus (DAK).

~49~
Bahkan, dari dana bantuan operasional sekolah
(BOS), sekolah mampu menyediakan alat-alat
kebersihan, sepatu, dan seragam sekolah anak (baru-
baru ini anak-anak bangga sekali menggunakan
seragam batik barunya). Saya acung jempol untuk hal
yang satu ini. Pengelolaan keuangan di sekolah ini
artinya sangat baik karena telah dimanfaatkan secara
optimal untuk kepentingan siswa. Apalagi bantuan
dari pemerintah daerah maupun pusat ke Kawio
terbilang mengalir deras. Kawio merupakan salah satu
pulau terluar di Indonesia yang berbatasan langsung
dengan pulau terluar Filipina, Balut dan Saranggani.
Daerah seperti ini biasanya memang mendapat
perhatian khusus dari pemerintah.
Akan tetapi, bicara pendidikan formal di sekolah,
tak melulu soal fasilitas dan infrastruktur yang
terlihat saja. Hal yang sering dilupakan adalah apakah
fasilitas-fasilitas ini lantas kemudian difungsikan
secara optimal? Lagi-lagi kita akan bicara soal
kapasitas sumber daya manusia yang hendak
menggunakan fasilitas ini.
Saat kali pertama saya datang, guru di sekolah ini
hanya ada tiga orang PNS dan satu orang tenaga
honorer (yang adalah mantan kepala sekolah).
Jumlah ini sudah termasuk dengan kepala sekolah.
Saya mendapat jatah langsung untuk mengajar kelas
5. Kemudian, pada bulan ketiga dan kelima penugasan
saya, hadirlah satu orang guru senior yang juga sudah
PNS dan satu orang guru muda yang masih CPNS.
Secara jumlah, untuk saat ini tentunya jika dihitung

~50~
termasuk saya, jumlah guru sudah memadai, satu
orang guru dapat memegang hanya satu kelas dan
kepala sekolah dapat fokus pada manajemen sekolah.
Pada kenyataannya, kondisi ini masih belum stabil.
Pada bulan-bulan awal saya mengajar, terkadang saya
harus memegang tiga hingga empat kelas sekaligus
karena guru yang hadir di sekolah hanya dua orang.
Bahkan, hingga jumlah guru bertambah saya
terkadang masih harus memegang dua kelas. Jarang
sekali dalam satu bulan para guru hadir secara lengkap
di sekolah, ada saja yang keluar pulau dengan berbagai
alasan, mulai dari dinas luar, urusan melanjutkan
sekolah, sakit, ataupun karena pemenuhan
kebutuhan pribadi lainnya. Beberapa hal, memang
bisa ditoleransi karena saya pun terkadang harus
meninggalkan pulau untuk urusan koordinasi dengan
pengajar muda lain satu penempatan atau sakit (baca
malaria). Jadwal kapal yang juga tidak menentu
kadang juga membuat orang yang sudah keluar pulau,
butuh waktu yang lama untuk kembali (biasanya 5–14
hari). Jadi, jika masih dalam kurun waktu yang
demikian, masih dalam batas yang dapat dimaklumi.
Namun, bagaimana jika seorang guru keluar pulau
lebih dari tiga minggu (bahkan bisa sampai tiga
bulan)?
Alhasil, banyak kelas-kelas yang telantar. Saya
sendiri, jika harus memegang lebih dari satu kelas,
merasa agak kewalahan. Tak jarang satu hari saya
hanya bisa mengajar satu mata pelajaran jika harus
double or triple class. Mengajar pun rasanya kurang

~51~
optimal. Belum lagi saya harus menghadapi tantangan
daya tangkap dan tingkah laku siswa yang begitu
beragam. Stres, tetapi senang karena artinya
kehadiran saya di sini bisa sedikit membantu.
Itu baru satu temuan unik. Ada lagi tentang
ketepatan waktu hadir guru di sekolah. Dari bulan
awal saya mengajar hingga akhir bulan ketujuh, kalau
bukan saya atau kepala sekolah yang membunyikan
lonceng, anak-anak masih akan bermain atau
melaksanakan piket halaman meskipun sudah pukul
07.00. Apel pagi biasanya hanya dihadiri oleh satu
atau dua orang guru. Sisanya akan hadir sekitar pukul
08.00.
Tak jarang ketika kelas saya sudah memulai
pelajaran, harus kedatangan penyusup dari kelas lain
yang meminta perhatian untuk diberi pelajaran (dan
ini tentu saja mengganggu keadaan kelas yang tadinya
sudah kondusif). Mau tak mau saya harus turun
tangan untuk memberi soal atau sedikit penjelasan
kepada kelas yang belum kedatangan guru. Saya
bahkan pernah dicap sebagai pengacau kelas orang
oleh salah seorang guru karena memberikan pelajaran
ke salah satu kelas yang belum ada guru. Sejak itu,
saya tidak pernah mau lagi menangani kelas tersebut.
Temuan unik lain yang saya amati dari tujuh bulan
terse-but, yaitu guru yang meskipun hadir, banyak
meninggalkan kelas dan mengistirahatkan siswa lebih
daripada waktu seharusnya dengan alasan yang
kurang jelas (sering dijumpai warga sementara
mengobrol dengan tetangga). Saya paling kesal

~52~
dengan situasi ini karena sementara saya mengajar
serius di kelas, anak-anak dari kelas yang ditinggalkan
oleh gurunya masuk ke kelas saya dan melakukan hal-
hal yang sangat mengganggu. Tak jarang siswa di kelas
saya akhirnya sibuk mengusir tamu-tamu tak
diundang ini.
Herannya, meskipun guru-guru tidak setiap hari
hadir dan bilapun hadir sering meninggalkan kelas,
materi pelajaran tersampaikan dengan sangat cepat.
Saya sampai merasa malu karena meskipun saya
berkoar-koar dari pagi hingga siang dan hanya
meninggalkan kelas saat istirahat atau sekadar
minum, setengah mati saya mengejar ketertinggalan
materi. Saya merasa harus belajar banyak kepada
guru-guru ini yang tanpa perlu tinggal lama-lama di
kelas dapat menyampaikan materi dengan tepat
waktu.
Tantangan masih belum usai. Berhubungan
dengan masalah optimalisasi penggunaan bahan
pendukung mata pelajaran, baik kit IPA, Matematika,
ataupun Bahasa, yang masih tersimpan rapi di dalam
perpustakaan. Pernah suatu hari, saat saya, kepala
sekolah, dan beberapa orang guru membersihkan
perpustakaan, saya bertanya-tanya mengapa barang-
barang tersebut belum digunakan. Akhirnya, kit
Bahasa dibuka juga walaupun saya tidak tahu apakah
kit tersebut digunakan atau tidak. Saya bersyukur,
paling tidak fasilitas tersebut tersentuh juga.
Sebenarnya, kehadiran berbagai kit tersebut dapat
sangat membantu proses pembelajaran jika memang

~53~
para guru siap menggunakan alat-alat tersebut.
Namun, berdasarkan pengalaman saya, penggunaan
kit tersebut memang memerlukan pelatihan khusus.
Saya pun merasa perlu banyak latihan untuk dapat
menggunakan alat-alat tersebut secara optimal. Maka,
konklusi saya adalah pemberian bantuan berupa
fasilitas pendukung harus diimbangi dengan kesiapan
sumber daya manusia yang akan menggunakannya.
Tanpa keterampilan maka fasilitas tersebut hanya
akan menjadi onggokan barang bekas yang menunggu
ajal di tempat sampah.
Dari bulan ke bulan perlahan situasi mulai
berubah, kirakira pada awal bulan kedelapan. Guru
yang biasanya datang terlambat ke sekolah, kini jadi
pembunyi lonceng (yang dulunya saya predikatkan ke
diri saya). Bahkan, beliau pun sering memimpin apel
pagi (saya pun sekarang sudah tinggal menyambut
siswa saya di depan kelas). Menurut saya, ini sebuah
kemajuan, apa pun motivasinya. Guru-guru pun tidak
lagi pulang saling mendahului. Semuanya serempak
pulang pukul 13.00 WITA, jam pulang sekolah kelas 4,
5, dan 6.
Sistem guru jaga pun mulai diberlakukan kembali.
Guru yang sudah tiga bulan meninggalkan pulau pun
hadir kembali. Walaupun perubahan belum terlalu
drastis, beberapa orang guru mulai memberikan
pelajaran tambahan di luar jam sekolah, baik berupa
calistung atau pelajaran biasa. Tidak terlalu rutin
memang, tetapi niatan tersebut sangat saya apresiasi
(sekali lagi apa pun motivasinya). Bahkan, salah

~54~
seorang guru rutin membimbing paduan suara anak
untuk tampil tiap Minggu di gereja. Saya merasa hal
ini baik untuk menambah kepercayaan diri anak
dengan semakin sering tampil di depan publik.
Harapan saya, perubahan sekecil apa pun yang
mengarah pada perbaikan selalu terjadi dari hari ke
hari bagi para ujung tombak pendidikan di sekolah
ini. Dengan meningkatnya kualitas diri dan passion
para pahlawan tanpa tanda jasa ini dalam mendidik
siswa maka akan berkembang pulalah potensi
generasi penerus bangsa. Bagi saya, sekolah bukanlah
melulu soal seberapa baik gedung sekolah, seberapa
lengkap buku-buku dan fasilitas pendukung, atau
seberapa bagus sepatu dan seragam yang digunakan
oleh siswa, yang terpenting adalah manusia yang
mentransfer ilmu pengetahuan dari semua sumber
yang ada kepada para siswa, ialah yang disebut oleh
kami sebagai guru.
Sepengalaman saya menjadi Pengajar Muda,
memang tidaklah mudah menjadi sosok pendidik.
Guru tidaklah sekadar mengajar di depan kelas, tetapi
ia haruslah seseorang yang memiliki integritas
kepribadian yang tinggi (dan sampai sekarang pun
saya tidak merasa layak menjadi seorang guru),
mampu menjadi teladan yang baik di dalam maupun
di luar kelas, dan yang paling dasar adalah memiliki
keikhlasan yang besar untuk terus berbagi dan
menghadapi berbagai keunikan karakter anak.
Saya mungkin hanya menjadi guru dalam satu
tahun ini, tetapi bapak/ibu guru yang lain menjalani

~55~
profesi ini untuk seumur hidup mereka. Doa saya,
semoga mereka selalu dibimbing dan diberi kekuatan
untuk mampu memberikan yang terbaik bagi anak
bangsa. •
D I BAWAH SINAR L ENTERA, A KU J ATUH C INTA

Oleh: Adhiti Larasati*


* Pengajar Muda Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

“Jam begini listrik belum menyala, mungkin ada


gangguan. Biasanya jika su padam begini listrik tarada
sampai pagi.”
Itulah kalimat yang dikatakan Mamak saat pukul
18.40 WIT, listrik tak kunjung menyala di Desa Offie.
Hari ini, 18 Juni 2011 adalah hari keduaku tinggal di
desa berbukit di tepian Teluk Patipi. Gelap telah
menyelimuti seisi rumah saat itu. Mamak kemudian
menyalakan pelita yang terbuat dari botol obat bekas,
lalu berpendarlah cahaya lentera menerangi sudut-
sudut rumah. Seketika saja, rasa galau menghebat dan
memaksaku untuk menulis saat itu juga. Romantisme
lentera menuntunku untuk bercerita, bahwa hari ini
aku telah jatuh cinta.
Sejujurnya sejak kemarin siang cintaku telah
berlabuh pada desa indah di ujung timur Indonesia
ini. Betapa tidak, Mamak dan Bapak yang kepala
dusun menyambutku dengan begitu hangat. Bahkan,
Mamak memelukku saat aku tiba, seolah aku ini
anaknya yang telah lama hilang, membuatku

~56~
merindukan Ibu dan mendesak air mataku keluar dari
sudut mata. Namun, rasa itu belum memuncak
karena tertahan oleh rasa rindu akan teman-teman
Pengajar Muda dan rasa gelisah untuk terus menatap
layar ponsel yang berlabel “no service”.

Pengawas sekolah bernama Pak Kadang yang


mengantarku untuk bertugas kemudian mengajakku
mampir ke sekolah untuk melepaskanku secara resmi
kepada kepala sekolah dan guru-guru di sana. Namun,
ternyata kepala sekolah sedang mengantarkan
anaknya ke Jayapura dan guru-guru di SD Offie
sedang berkuliah di Kota Fakfak sehingga yang
menyambutku tinggal seorang Ibu Guru manis
bernama Bu Sumarni. Mereka baru akan kembali
sekitar 20 Juni. Di sana aku tak sempat berinteraksi
dengan murid-murid karena mereka sedang
melaksanakan ujian akhir sekolah. Setelah berbincang
sedikit dengan Bu Sumarni yang ternyata berasal dari

~57~
Sunda, kami kemudian pamit untuk kembali ke
rumah Mamak dan Bapak. Di sanalah Pak Pengawas
meninggalkanku dan menitipkanku kepada mereka
untuk menjadi bagian dari masyarakat Offie.
Perjalananku dimulai. Setelah berbincang-bincang
dengan Bapak, Mamak, dan Pak Penjaga Sekolah yang
ternyata adiknya Bapak, aku kemudian mengikuti
Mamak ke dapur. Tak lama setelah itu para tetangga
berdatangan ke dapur untuk menyambutku. Di sana
aku belajar bahwa dapur memang sarana yang tepat
untuk menebarkan jejaring sosial di kalangan ibu-ibu.
Banyak informasi yang kudapat tentang sekolah,
salah satunya tentang guru-guru di sana. Sekitar
pukul 14.00 WIT aku pamit untuk beristirahat.
Sedikit kebablasan, aku bangun pada pukul 16.30.
Setelah mengumpulkan nyawa, aku meminta Mamak
menemaniku menemui Bu Sumarni dan tetangga
lainnya. Aku berbincang dengan cukup seru bersama
Bu Sumarni dan keluarganya, mungkin karena kami
sama-sama berasal dari Sunda walaupun Bu Sumarni
sama sekali belum pernah menginjak tanah Sunda.
Beliau lahir dan besar di Toli-Toli, Sulawesi, dan baru
pindah ke Papua saat menjalani pendidikan PGSD di
Fakfak.
Setelah itu, Mamak mengajakku untuk melihat
perumahan guru dan Rumah Laut keluarga besar
Bapak karena saat itu tempat tinggalku belum
diputuskan. Mamak dan Bapak hanya memiliki satu
kamar di rumahnya. Hal ini sempat membuatku
sedikit khawatir walaupun Mamak berkata kepadaku

~58~
ia tidak ingin melepaskanku dan berharap aku tinggal
di rumahnya saja. Namun, berhubung guru-guru
sedang tidak ada dan penunggu Rumah Laut (Bang
Dahlan, keponakan Bapak) sedang pergi ke desa lain,
kami akhirnya berkeliling desa. Kami menemui
Sekretaris Desa Pak Umi dan keluarganya, menyapa
anak-anak yang sedang berceloteh riang bermain di
jalanan, dan akhirnya kembali ke rumah untuk mandi
dan shalat Magrib.
Semua menyambutku dengan sangat baik,
membuatku merasa tenang dan diterima. Tak lama
kemudian Pak RT Usman mengunjungi rumah kami.
Perbincangan kami seputar tujuanku datang kemari
dan masalah-masalah desa. Mereka berkata kepadaku
bahwa sebaiknya aku menjadi guru tetap saja dan
meminta diangkat menjadi PNS kepada Dinas
Pendidikan setelah mengetahui bahwa aku hanya
akan mengajar selama setahun di Offie. Hal ini
membuatku tersenyum simpul. Senyum sarat makna
dan tanda tanya (memang mungkin saja aku menjadi
terlalu jatuh cinta pada desa ini suatu hari nanti).
Pak RT juga menyinggung soal jodoh, hal yang
juga disinggung oleh hampir semua orang saat aku
berbincang-bincang. “Dulu guruguru datang kemari juga
bujang, lalu bertemu jodohnya di sini, seperti Bu Sumarni dan Bu
Nur, siapa tahu Ibu juga berjodoh di sini.” Aku kembali
tersenyum simpul, memang, sih, siapa yang tahu?
Namun, aku menjawab dengan kalimat pamungkas
bahwa aku dilarang menikah oleh Yayasan selama
bertugas. Obrolan dengan Pak RT berakhir ketika

~59~
kami sudah sama-sama mengantuk dan kekurangan
bahan pembicaraan.
Pukul 22.30 aku tidur di kamar bersama Mamak,
sementara Bapak tidur di luar (hal yang sungguh
membuatku tidak enak hati). Dengan ditemani
lentera aku masuk ke alam mimpi untuk menutup
hari dan mengawalinya kembali keesokan harinya,
yaitu hari ini.
Setelah shalat Subuh, Mamak mengajakku ke
Pasar Kaget, pasar yang hanya ada setiap Sabtu pagi.
Jaraknya cukup jauh karena berbeda kampung. Untuk
menuju pasar kami harus melewati kelokan jalan raya
berbukit, mungkin lima sampai enam tanjakan dan
turunan. Aku bersemangat sekali pergi ke pasar,
sekaligus sarana menguji stamina setelah 7 minggu
pelatihan.
Ternyata, olahraga pagi di pelatihan sangat
membantuku melewati medan ini. Aku cukup
menyesal dulu sering mengutuki olahraga pagi dengan
lolongan sirenenya yang kini aku rindukan. Sedikit
lelah, tetapi rasa segar udara pegunungan-teluk pada
pagi hari membuatku merasa hidup. Kabar lebih baik
lagi: ternyata di pasar ada warnet, oh, WOW!
Bahagianya aku. Walaupun baru beroperasi saat listrik
mulai menyala yang artinya hanya buka pada malam
hari, hal itu cukup membuat hatiku serasa ditetesi
embun pagi. Akhirnya, aku bisa punya akses ke dunia
luar tanpa harus ke kota terlebih dahulu.
Kabar baik kembali datang: ternyata di desa
seberang ada Puskesmas! Puji syukurku kuucapkan

~60~
kepada Allah karena pada awalnya aku diberi tahu di
sini tidak ada fasilitas kesehatan. Lengkap sudah
kegembiraanku pagi itu. Sepulang dari sana, aku
langsung bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Namun,
sifat leletku ketika mandi masih terbawa sehingga aku
terlambat tiba di sekolah (artinya besok-besok aku
harus mandi lebih pagi). Pukul 07.45 aku tiba di
sekolah. Terlambat 15 menit, Bu Sumarni sedang
mengawasi ujian kelas 4, kelas yang menjadi tanggung
jawabnya. Aku ditugasi untuk mengawasi ujian kelas 3
dan 5. Di sanalah rasa cintaku mulai memuncak.

TANTANGAN PERTAMAKU

Kelas 3 dan 5 berada di satu kelas tanpa sekat


walaupun SD Offie memiliki fisik bangunan yang
sangat layak dan bagus. Hari ini ujian IPA. Aku mulai
membagikan lembar soal dan lembar jawaban kepada
mereka pada pukul 07.50. Setelah selesai membagikan
soal dan lembar jawaban, aku minta izin untuk
mengambil tas di ruang guru sambil berpesan agar
tidak bekerja sama.
Saat hendak berjalan kembali ke kelas, aku
mencuri-curi waktu untuk berkenalan dengan kelas 1
dan 2 yang sudah tidak ada KBM maupun UAS. Anak-
anak di Offie ternyata anak yang pemalu. Ketika aku
minta mereka berdiri di de-pan kelas untuk
menyebutkan nama dengan suara lantang, mereka
tidak mau dan hanya duduk di bangkunya
masingmasing, tersenyum malu-malu dan tertunduk,

~61~
lalu menyebutkan namanya dengan sangat pelan.
Berhubung waktuku tidak banyak, aku biarkan saja
sikap malu-malu itu dan kembali ke kelas 3 dan 5
setelah perkenalan dengan seluruh mu-rid kelas 1 dan
2 usai.
Saat masuk kelas, kekacauan terjadi: mereka
sedang sibuk bekerja sama. Aku membiarkan kondisi
ini, menahan luapan emosi sambil memikirkan cara
untuk mengubah kebiasaan ini suatu hari nanti. Lagi
pula, salahku sendiri meninggalkan mereka walaupun
hanya sebentar. Aku hanya berpesan kepada mereka,
“Lebih baik hasil ujiannya jelek daripada kalian
menyontek teman.” Nasihatku bagaikan angin lalu,
mereka tetap saja saling bekerja sama. Aku menghela
napas. Ya, semuanya butuh proses bukan?
Pukul 09.00 satu per satu dari mereka mulai
menyelesaikan ujiannya. Tepat pukul 09.30 seluruh
murid telah menyelesaikan ujian. Bu Sumarni
memintaku untuk membahas soal ujian bersama
anak-anak setelah lembar jawaban dikumpulkan.
Sedikit kaget, aku berusaha mengingat-ingat kembali
pelajaran IPA di kala SD dan selama pelatihan I-Teach
di pelatihan. Beruntungnya, ada kunci jawaban dari
Dinas walaupun tingkat akurasi kunci jawaban cukup
diragukan karena banyak terdapat kesalahan ketika
aku periksa. Namun, aku merasa ini adalah
kesempatan yang sangat baik untuk mengenal mereka
dan mengukur sejauh mana mereka telah belajar. Aku
tidak langsung melakukan pembahasan soal.
Kukenalkan mereka pada lagu “Selamat Pagi” yang

~62~
biasa kami gunakan saat pelatihan. Kemudian, kuajak
mereka berkenalan seperti kelas 1 dan 2. Di sini aku
juga meminta mereka menyebutkan cita-cita mereka.
Hal yang membuat perasaanku membuncah-
buncah. Pada awal perkenalan, murid-murid sangat
sulit menyebutkan cita-cita mereka. Tak ada satu pun
yang mau menyebutkan cita-cita.
“Ayo, kalau sudah besar nanti, mau jadi apa?” Tak
ada sahutan, hingga akhirnya aku berkata, “Ibu bantu,
ya, mung-kin ada yang ingin menjadi petani, dokter,
guru, pedagang, polisi?” Murid-murid tetap
bergeming. Akhirnya, aku meminta murid yang
berada di pojok kanan paling depan untuk lebih dulu
menyebutkan nama dan cita-citanya.
Rijal namanya. Setelah berpikir cukup lama
akhirnya ia berkata bahwa ia ingin menjadi petani.
Ada perasaan lega dalam hatiku. Setelah Rijal, aku
minta anak-anak secara berurutan menyebutkan cita-
citanya dan barulah di sana mereka berani
menyebutkan cita-cita mereka. Kosakata mereka
tentang cita-cita masih terbatas, tetapi aku bahagia
pada akhirnya mereka mau menyebutkan cita-cita
mereka. Ada yang ingin menjadi petani, guru, dokter,
tentara, polisi, perawat, pemain bola, bahkan menjadi
dosen Matematika. Aku mengajak mereka
mengapresiasi setiap cita-cita temannya dengan
bertepuk tangan. Di sanalah perasaanku semakin
membuncah. Ada sorot bahagia di mata mereka
ketika bertepuk tangan. Ada binar-binar cahaya yang
melambangkan harapan. Ada batas-batas yang hilang

~63~
ketika mereka tertawa dan bertepuk tangan. Ya,
mereka telah berani bermimpi!
Tak cukup sampai di sini, aku lanjutkan dengan
pembahasan soal. Ketika aku membahas satu per satu
jawaban yang ada, kebanyakan dari mereka
tercengang-cengang. Ternyata, mereka belum
sepenuhnya memahami materi pelajaran se-lama ini.
Aku mafhum dengan kondisi ini karena mereka tidak
memiliki buku pegangan.
Misalnya, ketika membahas tentang pusat benda-
benda langit. Kebanyakan dari mereka menjawab
bumi. Akhirnya, kujelaskan kepada mereka bahwa
mataharilah pusat bendabenda langit dan bumi yang
justru mengelilingi matahari.

Sedikit di luar pelajaran kelas 5, kujelaskan juga


tentang tata surya dan planet-planet yang
mengelilingi matahari. Di sana mata mereka
menyiratkan tanda berpikir. Sorot mata mereka

~64~
adalah sorot mata yang penuh rasa ingin tahu,
sosoksosok yang haus akan sebuah cakrawala baru.
Ketika membahas energi yang dapat dihasilkan
matahari, tak kusalahkan ketika ada yang menjawab
listrik walaupun jawaban sesungguhnya adalah panas,
pun sesungguhnya mereka tidak mengerti bagaimana
matahari dapat menghasilkan listrik. Kupaparkan
sedikit tentang solar cell, kusebut itu sebagai “teknologi
baru” di mana energi panas matahari dapat disimpan
untuk kemudian diubah menjadi energi listrik.
Aku juga bilang bahwa teknologi ini masih mahal
dan hanya negara-negara maju yang telah
menggunakannya secara masif. Kusisipkan mimpi
kepada mereka bahwa pada suatu hari nanti, kita pun
akan dapat menghasilkan berbagai teknologi canggih
layaknya negara-negara maju itu karena merekalah
yang akan membuat hal itu menjadi nyata asal
mereka rajin belajar. Ketika aku berkata demikian,
mereka tersenyum senang. Ada binar yang
membiusku, membawa damai. “Belajar itu asyik,
kan?” Kali ini dengan cepat mereka menganggukkan
kepala dan serempak berkata riang, “Iyaaaaaaaaa,”
dan aku akan terus menyisipkan mimpi-mimpi itu
dalam hati mereka.
Pelan-pelan, ya, Nak, kita wujudkan mimpi itu
bersamasama. •
Offie, 18 Juni 2011. Sinar lentera telah
tergantikan lampu ketika tulisan ini selesai dibuat. J•
M EREDEFINISIKAN BAHAGIA

~65~
Oleh: Beryl Masdiary*
* Pengajar Muda Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Tengah hari lainnya dalam perjalanan kelas jauh di


kaki gunung, hari itu biasa saja. Ombak masih beriak
tenang, langit cerah, hamparan kebun jambu mete
sunyi. Tanjakan ekstrem menggaungkan satu suara di
kepalaku. “Indonesia, aku mencintaimu dengan segala
yang diperbuat orang-orangmu. Izinkan aku berbuat
sesuatu, biar kecil, untukmu. Aku sudah mohon izin
dengan Pencipta dan Pemilikmu. Marilah bekerja
bersama.” Kemudian, kutemukan banyak sekali
definisi bahagia di tanah baru ini.
Bahagia adalah saat kau mendengar seorang anak
muridmu menyanyikan lagu “A-B-C-D” sambil
menggendong adiknya yang tertawa-tawa. Bahagia
adalah saat mereka berusaha bilang, “Bu, ada ten guava!
Saya pakai baju yellow!” Atau, “Bu, mari kita eat mango!”
Juga saat mereka dengan ceria menyapa turis dan
berterima kasih jika dibagi permen. Bahagia adalah
saat anak-anak yang tadinya menatap asing kepadamu
kini tersenyum dan bercerita apa saja denganmu.
Bahagia adalah saat mereka berlarian memanggil
namamu dari pintu gerbang sekolah setelah tadinya
mereka lari ketika kau dekati.
Bahagia adalah saat mereka kini menulis lebih
cepat, menggambar lebih luwes, menyanyi lebih
nyaring, meminta soal tambahan, dan membaca

~66~
dengan lancar. Bahagia juga kau rasakan ketika ada
anak yang tadinya selalu malas sekolah dan selalu
menunduk jika di kelas, kini selalu bersemangat dan
menjadi juru damai di antara teman-temannya.
Bahagia adalah saat mereka dengan sigap dan
ringan tangan membersihkan kelas, lalu berebutan
menata buku-buku dan spidol kau. Bahagia, jika anak-
anakmu yang tadinya ribut di halaman sekolah, lalu
jatuh, lalu kau obati, lalu mereka berlarian pulang dan
kembali dengan nangka, jambu, mangga, bidara, dan
keripik ubi.
Bahagia adalah pada saat mereka menuliskan
cerita dan membuat gambar “Aku Sayang Ibu Riri”,
lalu berjanji akan menjadi anak pintar dan bisa ke
Jakarta, serta akan mencari alamat rumah kau, lalu
makan ikan bersama. Bahagia adalah pada saat
mereka dan kau berdoa bersama di masjid yang redup
cahayanya, tetapi terang dengan mukena dan piama
putih mereka. Bahagia adalah pada saat mereka
dengan bangga melaporkan sudah seminggu tidak
makan mi instan mentah dan makan jambu tanpa
vetsin, dan memilih untuk memakan biskuit, sereal,
atau buah-buahan segar. Kini mereka punya SOP
sendiri begitu membeli pangaha [jajanan]. Mereka akan
langsung membalik bungkusnya dan melihat
komposisi, lalu meminta approval dari kau apakah
mereka sudah menjadi smart buyer, dengan tidak
adanya tulisan MSG atau penyedap rasa di
bungkusnya.
Bahagia adalah bisa bersama-sama mereka, selama

~67~
seta-hun di Tambora, menjadi Pengajar Muda.

PAHLAWAN G IZI

Oleh: Abdul Aziz Jaziri*


* Pengajar Muda Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan
Barat. SP 3 adalah permukiman para transmigran yang
sebagian besar dari Pulau Jawa.

Mentari pagi menawarkan senyum cerah,


membuka tabir gelap malam kala itu. Muka langit
pagi ini menyembul ke-orange-an, menggoda genangan
Sungai Kapuas yang tengah berkilau keemasan. Pagi
yang cerah, awal yang indah untuk mengais rezeki.
Pukul 06.00 WIB, lanting [pangkalan/rumah
apung] penyeberangan tengah penuh antrean.
Antrean pedagang sayur keliling yang akan

~68~
menyeberang Sungai Kapuas dengan jasa tambang.
Tambang adalah perahu motor penyeberangan di
Sungai Kapuas. Hiruk pikuk suasana di lanting
penyeberangan dari Satuan Permukiman 3 (SP 3)1 ke
dua desa seberang (Desa Prigi dan Desa Baru)—ibu
kota kecamatan Silat Hilir—tertahan hingga pukul
08.00. Pemandangan ini berulang tiap hari sampai
suatu saat nanti berdiri kukuh melintang sebuah
jembatan. Pukul 08.00, babak kedua tiba.
Berbondong-bondong datang perempuan-perempuan
yang tak muda lagi, dengan bawaan di kepala, pundak,
pinggul, dan bahkan di kedua tangan. Mereka
membawa beragam pangan, mulai sayuran segar,
buah-buahan, lontong pecel, nasi kuning, daging
ayam, hingga es gula jawa. Satu per satu keluar dari
sarang— rumah—menyerbu lanting di bibir Sungai
Kapuas yang tersandar di hilir SP 3.
Suasana lanting kian ramai sarat akan panganan,
yang siap dipasok di kampung nan jauh di seberang
sana. Kehangatan terlihat di antara para pedagang
sayur saat menunggu pedagang lainnya. Ada yang
tebar senyum, saling tanya harga sayuran, saling tukar
dagangan, menyantap sarapan, dan ada pula yang
mengisap wanginya tembakau sembari menunggu
jemputan tambang.
Tepat jarum pendek jam tanganku di angka 9 dan
jarum panjang menuju angka 12. Terlihat di seberang
sana, tam-bang motor Pak Jahri bergerak mendekati
lanting penantian. Bergegas para pedagang mengecek
dan menyiapkan dagangan. Kesibukan berbalut

~69~
kepanikan tengah tampak di raut muka mereka saat
tambang mulai merapat ke lanting.
Bahu-membahu para pedagang
memindahtempatkan dagangan, yang berjubel dalam
keranjang, karung, ember, dan kardus bekas ke atas
badan tambang, sampai tak menyisakan sedikit pun
celah kosong, kecuali tempat duduk yang
berdempetan. Aku yang akan naik pun turut
membantu mereka memindahkan dagangan ke
tambang. Tambang pun penuh dengan tumpukan
sayur laiknya kebun apung. Pak Jahri, pengemudi
tambang yang mereka naiki merupakan salah satu
orang lokal, orang Melayu Desa Prigi. Sehari-hari ia
mengemudikan tambangnya untuk menjemput
rezeki.
Mungkin, beliaulah orang paling beruntung dari
petambang lainnya karena jasanya dibutuhkan 2 kali
seminggu— pada Minggu dan Rabu—oleh pedagang
sayur yang telah lama memercayakan kepadanya,
dengan tarif sekali angkat Rp300.000,00.
Tali pengikat kepala tambang segera dilucuti dari
sandarannya. Pak Jahri dengan cekatan
menghidupkan mesin tambang, tak lama kemudian
merangsek ke depan memosisikan diri sebagai
nakhoda. Perjalanan akan menghabiskan waktu
tempuh dua jam dari pusat keramaian—ibu kota
kecamatan—menuju hilir tepatnya di Desa Pulau
Bergerak Penai2.
Tambang melaju, meliuk mengikuti aliran Sungai
Kapuas. Aktivitas di atas tambang riuh rendah penuh

~70~
harapan, berharap semua dagangan ludes tak tersisa.
Obrolan ringan, sarapan, dan hitung-menghitung
dagangan yang sempat terputus kini tersambung
kembali, di ruang yang berbeda. Pepohonan menjadi
pagar hidup di kedua sisi Sungai Kapuas sepanjang
perjalanan laksana rombongan kereta kerajaan yang
melintasi karpet kehormatan dengan kawalan prajurit
bersenjata lengkap di kedua sisi jalan.
Sedari tadi aku mengamati mereka (pedagang
sayur). Aku sesekali bertegur sapa. Tak ada sekat dan
tak pula sungkan
Pulau Bergerak Penai adalah nama desa yang ramah
dengan sebutan PB. Penai. Desa yang didiami oleh
warga keturunan Tionghoa (Cina) dan Dayak. Konon,
katanya, sejarah desa ini dulunya punya pulau yang bisa
bergerak ketika terembus angin. Namun, sekarang pulau
bergerak ini diam membatu tak lagi bergerak karena ulah
tangan manusia yang melakukan penambangan emas
secara tradisional yang kini menyisakan bekas kubangan-
kubangan di sekitar pulau bergerak itu.

karena keberadaanku hampir tujuh bulan tercium


oleh mereka. Kini aku berada di tengah-tengah
mereka, di tengah keramaian di atas tambang yang
sedang melaju menuju desaku, Desa Pulau Bergerak
Penai. Obral senyum, menawarkan makan, tanya-
jawab bilingual (bahasa Indonesia dan Jawa) sampai
tertidur menjadi pernak-pernik selama perjalanan.
Aku mulai mengobrol dengan salah satu pedagang.
Bu Ham namanya. Beliau tak lagi muda, tampak dari
lipatan dan kerutan kulit yang tengah dimakan

~71~
waktu. Sesuatu yang spesial darinya adalah topi kupluk
yang tak pernah lepas dari kepalanya. “Mbeto nopo
mawon, Bu?” 3 tanyaku.
“Niki mbeto sayuran, nasi kuning, buah, kaih ayam
ma-won, Pak,” 4 jawabnya sambil menata kupluk-nya
yang miring ke kanan.
“Ooo, kok, sedikit dagangane, Bu?” 5 timpalku.
“Lah, niki sampun kathah, Pak, sekawan wadah,” 6 balas
Bu Ham.
Aku menyeringai dan berkata (dalam hati), “Wah,
banyak banget dagangan Bu Ham, bisa enggak, ya, memikul
sendiri semua dagangan itu?” serasa tak percaya. Namun,
kenyataan itulah yang dilakukan Bu Ham dan
pedagang sayur lainnya.
“Bu Ham, njenengan daleme pundi?” 7 tanyaku,
melanjutkan rasa penasaran ini.
“Kulo saking Jeporo, Pak,” 8 balasnya.
“Hmmm, sampun lami dagang sayur di Penai ini,
Bu?” 9 kilahku.
3 “Bawa apa saja, Bu?” 4 “Ini bawa sayuran, nasi

kuning, buah, sama ayam saja, Pak.” 5 “Ooo, kok, sedikit


dagangannya, Bu?” 6 “Lah, ini sudah banyak, Pak, empat
wadah.” 7 “Bu Ham, asalnya mana, ya?” 8 “Saya dari
Jepara, Pak.” 9 “Sudah lama dagangan sayur di Penai ini,
Bu?”
“Sampun 25 taun, yo, wes ngoyot neng kene, Pak,” 10
jawab Bu Ham, sambil mempertegas keberadaannya

~72~
di Kalimantan ini.
Sejenak aku terdiam, sedikit tertunduk, mencerna
jawaban terakhir Bu Ham. Tidaklah singkat 25 tahun,
sama seusiaku sekarang. Seperempat abad itu menjadi
bukti ketulusan seorang Bu Ham di Desa PB. Penai,
jauh dari mencari keuntungan semata. Pantas,
masyarakat PB. Penai terlihat santun di hadapannya.
Dua puluh menit berlalu, berlalu sudah obrolan
ringanku dengan Bu Ham. Hanya “ketulusan” yang
tersisa. Itulah pelajaran berharga yang kupetik dari Bu
Ham—si pedagang sayur hebat—yang baru kutemui
di Kalimantan ini.
Tambang melewati Desa Salad, desa yang mulai
jauh dari keramaian ibu kota kecamatan, tetapi desa
inilah markas perkebunan sawit Sinar Mas. Tambang
terus melaju meninggalkan Desa Salad, dan sebagian
besar pedagang sayur mulai tumbang terlelap satu per
satu, menyandarkan kepala di tiang-tiang pembatas
tepi tambang.
Satu-dua orang masih membuka mata, sambil
menikmati semilir angin yang berembus menerpa
tubuh dan muka mereka. Satu dari dua orang itu
berada di depan posisi dudukku, tepatnya di angka
dua jam tanganku, dan tidak saling berhadapan.
Perempuan tua itu dengan tenang mengisap sebatang
rokok, entah apa mereknya. Perempuan tua itu akrab
disapa Bu Jum.
Usai isapan itu, tertinggal kira-kira dua sentimeter
saja dari satu batang utuh, ia membuang sisanya ke
sungai. Aku mencoba memberi sapaan hangat, “Pripun

~73~
kabare, Bu?” 11
10 “Sudah 25 tahun, sudah

mengakar di sini, Pak.” 11


“Bagaimana kabarnya, Bu?”
“Alhamdulillah, sehat, Pak,” jawab Bu Jum sambil
batuk ringan.
“Banyak yang dibawa ke Penai, Bu?” timpalku
kepadanya.
“Yo, kui, kui, kui bakulane,” 12 jawab Bu Jum dengan
menunjukkan dagangannya.
Tak banyak yang kutanyakan kepada Bu Jum
karena beliau telah memberi kode kantukannya,
menguap dan menutup-buka matanya. Tak lama
kemudian hampir semua tersihir oleh kelembutan
sepoi angin pagi ini, kecuali aku dan Pak Jahri yang
masih terjaga.
Sudah 90 menit tambang ini melaju, dan kini
menyapa kampung tenda biru yang sebagian
mengapung di bibir Sungai Kapuas serta sebagian lagi
berada di daratan. Kampung tenda biru ini bernama
Emprusak, yang dikepalai oleh Pak Bujang. Emprusak
dikenal sebagai kampung sementara yang berpindah-
pindah karena berisikan orang penambang emas
tradisional yang menggunakan satu set alat tambang
yang disebut mesin jek.
Tambang merapat ke salah satu lanting berbalut
tenda biru. Ternyata, ada panggilan dari penghuni
lanting itu. Sebagian pedagang menawarkan
dagangannya, mulai dari sayuran, buah, hingga lauk-

~74~
pauk jadi (ada kari ayam, santan jengkol, dan sayur
asam). Setelah itu, tambang kembali melaju menuju
Desa PB. Penai.
Lanskap Desa PB. Penai mulai tampak dari
kejauhan 20 menit kemudian. Sedikit demi sedikit
kecepatan tambang agak berkurang. Pak Jahri mulai
mengambil ancang-ancang untuk menyandarkan
tambangnya ke lanting. Pak Jahri segera keluar dari
persembunyian dan mengikatkan tambang
12 “Ya, itu, itu, itu dagangannya.”
ke lanting. Kemudian, bergotong royong pedagang
menurunkan barang bawaannya ke atas lanting. Tak
lupa aku membantu mereka.
Satu per satu perempuan kuat itu memikul dan
memanggul dagangannya. Tidak sedikit beban yang
dipikul dan dipanggul, sampai tidak ada ruang kosong
lagi pada tubuhnya. Pukul 11.00, mentari
mengeluarkan sengatan panasnya, tak pandang bulu
menyengat apa dan siapa saja yang berada di
bawahnya. Para pedagang sayur keliling di Desa PB.
Penai memulai startnya, mengais rezeki di desa ini.
Mondar-mandir, berkeliling, menaiki bukit, menuruni
bukit, menikmati sengatan panas mentari. Itulah rute
dan risiko perjalanan yang harus ditempuh hingga
sore nanti. Bahkan, masyarakat yang membeli ada
yang berutang atau tidak langsung melunasi.
“Pantang menyerah, tak kenal lelah, tak peduli
panasnya mentari, tak takut derasnya aliran Sungai
Kapuas, dan tak memedulikan asuransi, demi pasokan
pangan dan asupan gizi bagi masyarakat di Desa PB.

~75~
Penai.” Itulah potret

para pedagang sayur keliling di Desa Penai.


Mereka laksana pahlawan bagi masyarakat
kebanyakan dan memang benar mereka adalah
“Pahlawan Gizi” yang tulus, polos, dan apa adanya.
Dua jam bersama mereka di atas tambang hari ini dan
7 bulan sudah keberadaanku di Kalimantan Barat
sedikit banyak memberikan pelajaran yang berharga
untuk memupuk semangat dan menyuburkannya.
Potret pedagang sayur keliling itu, memberikan
gambaran tentang ketulusan dan semangat hidup.
Ketulusan yang menjadi aura para pedagang
tersebut laksana mata air yang tak henti dan berhenti
memancarkan air dan mengalirkan kepada apa dan
siapa saja yang membutuhkannya. Ketulusan
mengucur deras terlihat jelas pada buliran keringat
yang mereka relakan tumpah dan mengkristal hanya

~76~
untuk membagikan asupan gizi masyarakat di Desa
PB. Penai. Ketulusan itulah yang menjadikan mereka
ada, di antara ketiadaannya di desa.
Sungguh, pengorbanan mereka akan selalu
dikenang oleh masyarakat Desa PB. Penai ini.
Walaupun lain agama, keyakinan, dan suku, jasa-jasa
mereka akan selalu terkenang. Dan, mereka layak
mendapatkan sebutan sebagai “Pahlawan Gizi
Masyarakat”. •
PENJAGAL M UDA

Oleh: Khaerul Umur*


* Pengajar Muda Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara
Timur.

Semester pertama keberadaanku di Desa


Mukekuku, Kecamatan Rote Timur, Kabupaten Rote
Ndao disibukkan dengan mengajar di dua sekolah.
Pagi hari anak-anak Sekolah Dasar GMIT Oeulu selalu
mengadukaduk perasaanku. Mereka bisa membuatku
geli, kesal, terharu, terpingkal-pingkal, jengkel, dan
perasaan lain dalam satu waktu. Dan, setelah istirahat
makan siang, aku harus berjalan kaki ke dusun
sebelah—sebelum akhirnya mendapatkan persewaan
motor—pada tengah hari yang terik untuk kembali
mengaduk perasaanku di SMP Negeri 4 Rote Timur,
sebuah sekolah baru yang hanya memiliki 50 siswa
kelas 7. Tidak ada hal lain yang mereka miliki, hanya

~77~
50 orang siswa. Gedung sekolah, kepala sekolah, guru-
guru, dan buku pelajaran semuanya masih berstatus
pinjaman kala itu.
Lalu, apa hubungannya dengan penjagal muda?
Dari sinilah kisah itu berawal.
Matahari sudah di ujung barat ketika jam
mengajarku telah selesai. Jika aku berjalan pulang ke
rumah, waktuku tidak akan cukup untuk
melaksanakan shalat Asar. Tentu tidak ada persoalan
seandainya aku sudah lama berada di sini, de

ngan mudahnya aku bisa numpang di rumah


penduduk sekitar sekolah yang sudah kukenal.
Namun, aku orang baru. Aku tidak tahu apakah
mereka bisa menerimaku untuk beribadah. Satu-
satunya orang yang saya kenal baik di dusun itu
adalah Pak Milson Nenotek yang tinggal dengan
Paulus Wahy. Mereka adalah seorang pendeta dan
calon pendeta yang bertugas di wilayah Bilba Selatan,
termasuk Desa Mukekuku. Mereka tinggal di rumah
dinas pendeta. Di sanalah tempat yang akhirnya aku
kunjungi untuk numpang shalat Asar.
Ternyata, mereka dengan sangat terbuka
mempersilakanku untuk beribadah di kediaman
mereka yang tepat bersebelahan dengan gereja. Malah
pada akhirnya, tidak hanya shalat Asar yang pernah
kulakukan di rumah mereka. Sering kali ketika aku
terdesak oleh waktu shalat, entah itu Zuhur, Asar,
Magrib, Isya, atau Subuh, mereka selalu
mempersilakanku.

~78~
Suatu hari, selepas shalat Asar, Pak Pendeta
memberitahuku bahwa seseorang memintaku untuk
menyembelih kambing untuk acara syukuran orang
meninggal. Mereka hendak mengundangku untuk
datang ke acara mereka. Dan, karena mereka tahu
bahwa muslim hanya memakan he-wan dengan tata
cara tertentu, mereka memanggilku untuk memotong
sendiri hewan yang akan kami santap.
Kegalauan menghampiriku. Memotong seekor
ayam pun belum pernah kulakukan sebelumnya. Dan,
sekarang aku harus memotong kambing. Bahkan,
tidak hanya seekor kambing, tetapi dua. Untuk kali
pertama aku langsung memotong dua ekor. Namun,
jika aku tidak melakukannya, aku akan makan daging
dengan seribu rasa gelisah. Jika aku tidak makan, aku
merasa tidak menghargai ketulusan yang mereka
berikan kepadaku. Akhirnya, dalam keragu-raguan
aku iyakan saja permintaan mereka.
Dengan ditemani Pak Pendeta, aku datang ke
rumah hajat. Di rumah itu sudah tampak ibu-ibu
sibuk mengepulkan asap di dapur. Kami disambut
dengan hangat. Tidak lama kami duduk di depan,
seseorang datang mengajak kami ke belakang rumah
untuk menemui dua calon “korban” yang akan
kusembelih. Aku mengiakan dengan menyeringai
getir. Ya, seringai getir itu adalah hasil dari senyum
yang kupaksakan dalam ketegangan. Aku merasakan
jantungku berdetak semakin cepat. Entah bagaimana
aliran darah di tubuhku, rasanya berdesir seiring
keringat yang kurasakan dingin. Belum sampai kulihat

~79~
kambing-kambing malang itu, kudengar embikan
mereka yang seakan berteriak, “Tolooong!!!
Jangaaan!!!”
Rasa belas kasih yang kurasakan seakan langsung
sirna ketika seseorang menyodorkan sebilah golok
yang terlihat mengilat. Dan, entah kenapa begitu baja
pipih itu berada di tanganku, semua keraguan sedikit
demi sedikit hilang. Dengan penuh keyakinan
kupegang leher kambing pertama dan aku berbisik,
“Bismillah .... Allahu akbar!” Ternyata, semuanya
berjalan lancar. Ketika kupegang kambing kedua,
tidak ada lagi rasa galau dan tegang yang sedari tadi
menyelimutiku.
Sejak saat itu, tanpa kusadari masyarakat
Mukekuku mulai mengetahui kemampuan baruku
menyembelih hewan. Mereka mulai sering
memanggilku untuk memotong kambing atau ayam.
Entah berapa yang sudah kusembelih.
Pernah dalam suatu acara gereja, aku diminta
untuk memotong 20 ayam seorang diri. Masyarakat
Mukekuku memang sering menunjukkan rasa syukur
dengan mengajak tetangga dan saudara mereka untuk
makan bersama. Sampai-sampai di sini ada istilah “pi
makan daging” yang artinya datang ke suatu acara.
Karena memang hampir setiap kebahagiaan yang
mereka rasakan, jika mereka mampu, setidaknya akan
memotong ayam.
Pernah sebuah keluarga mengadakan perayaan
ulang tahun. Dan, karena mereka mengundangku
untuk makan, lagi-lagi aku diundang juga untuk

~80~
memotong calon makanannya. Tidak tanggung-
tanggung, untuk merayakan ulang tahun seorang bayi
berusia satu tahun, mereka memotong tiga ekor
kambing untuk dimakan bersama tetangga dan
keluarga. Jadilah siang itu, sambil berjalan menuju
SMP, aku singgah di rumah hajat dan menyembelih
tiga ekor kambing sekaligus. Setelah itu, aku cuci
tangan dan melanjutkan perjalanan ke sekolah,
seperti tidak melakukan apa-apa sebelumnya.

Ternyata, ujian nyaliku belum selesai sampai di


situ. Belum ada riwayatku menyembelih hewan yang
lebih besar daripada kambing. Sampai pada suatu pagi
buta, tidak seperti biasanya ibu piaraku mengetuk
pintu pada pagi buta. Ibu piaraku berteriak dari luar
kamar:
“Pak Umur! Ada Pak Bulan cari!”
Aku berpikir sejenak ada apa gerangan? Dalam
waktu singkat dari tempat tidur menuju pintu aku

~81~
mencoba menerka-nerka. Apakah aku diminta untuk
menghitung volume balok?—ya, pernah aku
dikagetkan pada suatu pagi yang lain hanya untuk
membantu seseorang menghitung volume balok. Ia
merasa ditipu oleh seseorang yang
mempekerjakannya untuk membuat pembatas jalan
yang dibayar per meter kubik.
Atau, seseorang memintaku untuk mengetik
sesuatu?— diminta mengetik juga sering terjadi
walaupun belum pernah sepagi itu. Atau, jangan-
jangan, aku diminta untuk menyembelih hewan lagi?
Begitu aku membuka pintu dan mendengar
maksud Pak Bulan menemuiku, ternyata salah satu
tebakanku benar. Aku diminta untuk memotong
hewan oleh kepala desa Mukekuku untuk acara tu’u
belis. Tu’u belis adalah acara pengumpulan dana untuk
membayar belis/maskawin kepada seorang wanita
yang akan dinikahi. Selain tu’u belis ada juga tu’u
sekolah dan tu’u membuat rumah, sejauh yang aku
ketahui.
Sepertinya otakku belum panas pagi itu. Sama
sekali tidak kusadari bahwa hewan yang akan
kupotong adalah sapi. Begitu sadar, aku langsung
diam seribu bahasa. Seketika suasana pagi buta
kembali hening. Aku ingin sekali menolak permintaan
sang kepala desa. Entah bagaimana aku harus
menjelaskannya kepada Pak Bulan.
Sejak seseorang bercerita kepadaku tentang sapi
pembunuh, aku jadi agak trauma. Berhadapan dengan
sapi di jalan saja aku gemetar, apalagi

~82~
menyembelihnya. Aku utarakan keraguanku kepada
Pak Bulan karena memang ini bukan hal dan hewan
kecil. Dan, lagi pula aku belum pernah memo-tong
sapi sebelumnya.
Akan tetapi, begitu Pak Bulan berkata, “Akan
banyak tamu muslim yang datang.” Aku tidak bisa
beralasan banyak lagi. Siapa lagi di sini yang akan
memotong hewan itu agar menjadi halal?
Dengan memantapkan hati, aku pergi ke rumah
kepala desa yang berada di dusun paling ujung dari
Desa Mukekuku. Masih kurasakan dinginnya pagi saat
motorku menaiki dan menuruni bukit, berkelok-kelok
menghindari kubangan air dan lumpur. Dari kejauhan
aku bisa melihat sebuah rumah yang sudah dipagari
oleh daun kelapa. Tenda-tenda sedang didirikan oleh
bapak-bapak. Sementara itu, ibu-ibu sibuk dengan
urusan dapur.
Setelah bapak-bapak selesai dengan tendanya,
mereka— sekitar 10 orang—dengan dadung yang
mereka bawa siap untuk memegang sapi. Aku kembali
tersentak. Banyak sekali sapi yang kulihat.
Karena penasaran, aku bertanya kepada salah
seorang bapak di sampingku berapa ekor sapi yang
akan dipotong. Ternyata tiga ekor. Waaahhhh ....
Ini kali pertama aku memotong sapi dan langsung
tiga ekor. Aku pun berdiri lemas karena sudah pasrah
.... •

~83~
POSISI K ETIGA

Oleh: Gracia Lestari Tindige*


* Pengajar Muda Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara
Timur.

Langit berwarna biru berlian dan matahari


menggantung tinggi, bersinar terang, angkuh. Hari
yang panas. Rasanya saya ingin pulang, masuk ke
kamar yang sejuk dan tidur siang. Namun, di sini saya
duduk bersama anak-anak yang sedang menekuri
kertas gambar, bereksperimen dengan warna.
Musik mengalun, sembari menunggu anak-anak
yang lain datang saya ikut duduk dan mewarnai
gambar bersama mereka, maksudnya untuk memberi
contoh bagaimana cara mencampur warna dengan
berbagai macam cara.

~84~
Kami berbicara, tertawa, bercanda, kemudian
terjadilah percakapan polos yang keluar dari murid-
murid kelas 1 itu. Sebuah percakapan yang membuat
saya seketika berpikir dan mungkin akan saya ingat
seumur hidup saya.
Desi : “Gambar Ibu bagus talalu ooo ... paling bagus
....” Tika: “Sonde ... paling bagus itu Tuhan pung gambar
....” Saya: (tertawa) “Iya, .... Tuhan kalau gambar
pelangi keren,
lho ....” Sara : “Kalau begitu, Tuhan nomor 1 baru
habis itu Ibu.” Desi: “Sonde naah ... yang kedua itu
orangtua .... Tuhan
dulu, orangtua, baru Ibu ....”
Tika: “Ibu juga orangtua kotong ooo
....”
Saya tertawa mendengar polosnya kalimat yang
mereka ucapkan. Namun, hati saya mencelos dan otak
saya berpikir, sebegitu pentingkah posisi seorang guru
dalam hidup seorang anak? Bayangkan, guru berada di
posisi ketiga setelah Tuhan dan orangtua. Bahkan,
bagi mereka guru adalah juga orangtua.
Padahal, siapa, sih, guru? pikir saya dalam hati.
Saudara bukan, tetangga bukan (setidaknya saya
bukan tetangga murid-murid saya), tetapi
keberadaannya menjadi penting dalam hidup seorang
anak. Suaranya disimpan dalam hati seorang anak.
Perkataannya dipahat dalam memori otak mereka.
Perilakunya ditiru.
Seketika saya merasa tidak layak mengemban
tugas mulia itu. Sungguh tidak layak.

~85~
Kesadaran kemudian membuncah dari pikiran
saya. Sebuah kesadaran bahwa saat saya berdiri di
depan kelas, saat tangan dipenuhi debu kapur, saat
duduk dan mengeja keras-keras, saat melihat senyum
bangga seorang anak yang berhasil menjawab
pertanyaan, saat berjingkrakan di kelas mendongeng,
saat bertafakur menyusun lagu pelajaran, setiap detail
momen yang sudah saya lalui untuk mengajar anak-
anak ini ternyata adalah sebuah anugerah. Anugerah
untuk ambil bagian dalam hidup seseorang. Anugerah
untuk ikut berinvestasi pada masa depan.
Saya mungkin tidak berusia panjang. Lima puluh
tahun lagi mungkin nama saya hanya ada di atas
nisan. Namun, bagian hidup saya yang pernah saya
patrikan di hidup mu-rid-murid saya pasti sedang
bergiat dan berkarya di dunia. Dengan demikan, saya
mati, tetapi hidup.
Dari situ kemudian saya berpikir lagi, jejak macam
apa yang sudah saya tinggalkan kepada anak-anak ini?
Apakah selama ini saya sudah berusaha untuk
menyarikan bagian terbaik dari diri saya untuk
mereka simpan menjadi bagian hidup mereka?
Apakah saya sudah mencontohkan mereka untuk
menjadi pribadi yang sabar? Yang mau menegur
bukan dengan bentakan atau pukulan, yang
memberikan alasan ketika mereka harus menerima
konsekuensi dari tindakan mereka. Apakah saya
sudah mencontohkan mereka untuk menjadi pribadi
yang pantang menyerah? Yang mau putar otak,
meluangkan waktu, menyisihkan energi supaya

~86~
belajar menjadi hal yang menyenangkan dan
bersahabat, supaya tidak ada lagi cap “otak berat”
menempel di jidat mereka yang saya ajar. Apakah saya
sudah mencontohkan mereka untuk menjadi pribadi
yang berintegritas? Yang mau memberikan tindakan
terbaik dari diri saya bahkan ketika tidak ada orang
lain yang melihat.
Apakah saya sudah meninggalkan jejak yang
terbaik untuk mereka simpan dan mereka ikuti?
Hari ini panas. Namun, saya bersyukur saya tidak
pulang, masuk ke kamar, dan tidur siang.
Waktu saya pendek. Kurang dari empat bulan lagi
saya tidak akan lagi menunjuk tulisan di papan,
berkeliling melihat tangan-tangan kecil membuat
coretan, tersenyum mendengar tubuh kecil, tetapi
bersuara lantang sedang menyiapkan barisan,
bernyanyi, menari, bercerita, dikerumuni oleh
pertanyaan, dan cerita-cerita harian ketika duduk di
pintu kelas. Tak lama lagi saya akan sangat
merindukan ketika ada suara seorang anak berseru,
“Ibu Grace!”
Guru ada di posisi ketiga setelah Tuhan dan
orangtua. Sungguh sebuah kehormatan bagi saya
untuk bisa mengecap pengalaman berada di posisi
tersebut. Rasanya ingin memeluk sekaligus 36 orang
anak itu dan berbisik kepada mereka, “Ayo, kita kerja
lebih keras lagi semester ini. Ayo, berjuang lebih semangat lagi ...
karena tinggal sebentar lagi Ibu di sini.” •
M ENDIDIK ITU SOAL A KHLAK

~87~
Oleh: Indarta Kuncoro Aji*
* Pengajar Muda Kabupaten Lebak, Banten.

Ada satu hal yang sangat mengganjal di pikiranku


tiap kali berangkat ke masjid untuk menunaikan
shalat Jumat. Bisa dihitung, mungkin hanya lima,
enam, atau tujuh murid laki-laki yang menunaikan
kewajiban shalat Jumat di satu-satunya masjid di
kampungku itu. Entah apa yang terjadi dengan
kampung ini, yang seratus persen penduduknya
beragama Islam. Apakah orangtua mereka tidak
memarahi mereka seperti orangtuaku yang
memarahiku habis-habisan kalau tidak mengaji?
Apalagi ini menunaikan shalat Jumat, sesuatu yang
wajib untuk lakilaki muslim.
Kutemukan sebagian muridku pergi mengangon
kerbau atau kambing saat menjelang shalat Jumat.
Kucegat mereka. “Mau ke mana? Enggak shalat
Jumat?” tanyaku. “Disuruh Bapak ngangon kerbau,
Pak,” jawab mereka sambil menggiring beberapa
kerbau besar miliknya. Lalu, yang lain menjawab
dengan jawaban yang hampir sama.“Disuruh Bapak
ngangon kambing, Pak.” Dari jawaban-jawaban mereka,
yang membuat tercengang adalah ketika beberapa
orang anak yang sedang menggendong ayam
menjawab, “Mau adu ayam!” Seketika mukaku merah
padam sambil menahan marah .... “Astagfirullah,
ngapain adu ayam?” tanyaku, dan mereka hanya

~88~
tersenyum sambil berlalu seakan-akan sudah tidak
peduli denganku.
Keesokan harinya kutanyai satu per satu guru-
guru yang ada di sekolah dan beberapa penduduk
sekitar. Dengan ini, aku berharap akan mendapatkan
alasan tentang apa yang mereka lakukan dan
bagaimana caraku untuk menyelesaikan masalah ini.
Mungkin ini sederhana, tetapi bertindak tidak
sesederhana dengan apa yang dipikirkan.
Ternyata, memang benar apa yang ada di dalam
pikiranku. Semua orangtua pergi ke masjid,
sedangkan kambing dan kerbau mereka butuh untuk
digembalakan. Siapa lagi kalau bukan anak laki-laki
mereka yang harus bertugas menggantikan?
Soal adu ayam, mungkin inilah yang lebih menarik
perhatianku. Tidak ada objek percontohan bagi anak-
anak kecil yang suka beradu ayam ini. Sebagian besar
ayah mereka bekerja di luar kota berbulan-bulan dan
hanya sesekali pulang. Sebagiannya lagi memang
sudah tidak memiliki ayah. Selain itu semua, mungkin
memang ada miskomunikasi antara anak-anak dan
orangtua. Ketika pergi ke masjid, anak-anak selalu
saja ribut, sedangkan orangtua merasa terganggu
dengan keributan tersebut dan langsung memarahi
sehingga anak-anak enggan pergi ke masjid.
Meningkatkan standar kedisiplinan. Itulah cara
pertamaku untuk mengatasi hal ini. Semakin giat
berkeliling kampung untuk mengecek setiap aktivitas
yang dilakukan oleh murid-muridku di rumah mereka
masing-masing juga salah satunya. Di sekolah,

~89~
sebelum pelajaran dimulai, setiap hari kuku harus
sudah pendek dan bersih, baju harus sudah rapi tanpa
harus baru atau bagus, dan berdoa baru dimulai jika
semua siswa sudah tidak ada lagi yang ribut dan sudah
duduk tertib. “Kebersihan dan kerapian adalah
sebagian dari iman. Sebagai orang Islam kita harus
taat pada aturan agama kita, dan kalau berdoa harus
khusyuk, jangan main-main.” Kataku lantang di
depan kelas.

Jumat pertamaku tidak begitu berhasil. Tidak


banyak siswa yang hadir pada shalat Jumat. Sabtu-
nya kugiring mereka semua ke tengah lapangan.
Membentuk barisan dua saf. Kutanyai mereka satu
per satu tentang alasan mereka tidak pergi ke masjid
dengan jawaban yang berlainan dari setiap anak.
“Nah, sekarang yang kukunya masih panjang
dipotong sekarang, yang masih kotor dibersihkan,
ya!” Kataku di tengah-tengah lapangan. “Sekarang,

~90~
Pak?” tanya seorang mu-
ridku. “Ya .... Sekarang.” Kemudian, kusodorkan
sebuah gunting kuku kepada mereka untuk saling
bergantian menggunakannya. Setelah itu, kusuruh
mereka bersama-sama mengambil air wudu,
merapikan pakaian, dan melakukan praktik shalat
Jumat bersama-sama di tengah lapangan, lalu saling
bersalaman saat praktik shalat Jumat telah usai.
“Pak, panas!” kata murid-muridku sebelum
kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran. “Ya, ...
panas. Coba kalian pikir, segini saja sudah panas,
apalagi api neraka. Pasti lebih panas.”
“Mau, tidak, masuk api neraka?” tanyaku.
“Tidaaak ...,” jawab mereka serempak. “Ya, sudah.
Kalau begitu, kembali ke kelas. Tetapi, jangan lupa,
minggu depan harus shalat Jumat, ya ...?”
Minggu berikutnya, tepatnya pada 9 Desember
kemarin, kutemui begitu banyak sandal berukuran
kecil. Suasana masjid lebih ramai daripada sebelumnya
karena begitu banyaknya murid-muridku di dalam
masjid ini. Mereka tersenyum kepadaku, membuatku
cukup senang. Satu hal lagi yang membuatku senang,
suara cempreng mereka tidak begitu mengganggu
khatib saat berkhotbah atau saat semuanya sedang
menunaikan shalat.
Mendidik anak dimulai dengan mendidik akhlak
mereka dan agama mengajarkan tentang akhlak. •
M ENJADI G URU

Oleh: Bartolomeus Bagus Praba K.*

~91~
* Pengajar Muda Kabupaten Maluku Tenggara Barat,
Maluku.

“Mengajar
itu
memimpin.”
—Someone
IMAN TANPA PERBUATAN ITU M ATI
Lera Luturmas, biasa dipanggil Teddy. Oh, ...
bukan ... bukan, dipanggil Pak Guru Tedy. Dua hari
sebelum hari Pahlawan tahun ini genap 27 tahun. Yup
... masih muda. Tinggal di Desa Tutunametal, salah
satu desa terkaya di Kecamatan MolMaru. Memiliki
motor laut pribadi yang kadang disewakan untuk
orang mengangkut hasil tani rumput laut. Setidaknya,
hidupnya serasa cukup meskipun tidak terlalu
berlebih banyak. Serasa biasa seperti jalan hidup
banyak orang. Namun, coba simak ini ....
Dosen statistikku, Dr. Muslich yang berhasil
membuatku dapat D untuk Statistik berkata seperti
ini saat kali pertama kuliah,
“Anda kalau merasa tidak bisa apa-apa dalam mata
kuliah ini, tidak apa-apa, jangan berkecil hati. Mata
kuliah ini memang susah, dosen lain saja tidak ada
yang mau mengganti

kan saya. Jangan merasa bodoh kalau tidak aktif


dalam kelas dan hanya duduk di belakang. Saya dulu

~92~
juga biasa-biasa saja, kuliah datang, diam, kerjakan
tugas, bicara seperlunya, tidak terlalu aktif, lulus, lalu
bekerja, punya mobil, punya rumah, menikah, punya
anak, pekerjaan mapan. Jadi, jangan ngoyongoyo.”
Awalnya, berpikir dosen ini, kok, flowflow apatis
begini. Ternyata, beliau adalah salah satu dosen yang
saat mahasiswa dulu lebih memilih dosen killer sebagai
dosen pembimbingnya daripada yang “baik-baik”.
Alasannya simpel, nilai A yang beliau peroleh
memiliki NILAI yang BERBEDA dengan nilai A
mahasiswa lain yang lancar bak selancar. Bukan
kemasannya, melainkan isinya. Ya, ... ada NILAI
BERBEDA yang menjadi rule beliau dan beliau adalah
salah satu dosen yang saya segani walaupun mungkin
ingat namaku juga tidak.
Nah, Pak Teddy rupanya juga memiliki mata yang
juga melihat NILAI yang BERBEDA itu. Hari pertama
kami bertemu adalah 22 Agustus 2011. Pertemuan
dalam acara Kelompok Kerja Guru se-Molu Maru.
Style-nya paling rapi dan “gaul” untuk kategori guru.
Awalnya biasa saja. Hari kedua juga biasa saja .... Hari
ketiga, masih biasa .... Hari keempat mataharinya
terbit.
Selama pelatihan sebelum berangkat ke MTB,
kami para PM diajari bahwa mengajar itu tidak hanya
HEAD, tetapi HEARTBEAT. Mengajar dengan hati,
tidak semua orang dikaruniai itu.
Pak Teddy menunjukkan semangat “HATI” itu
dalam KKG. Dalam rangkaian acara selama satu
minggu (22–28 Agustus), kami memutuskan untuk

~93~
ada satu kali praktik mengajar dari para guru.
Bersama kami belajar materi mengajar dengan kreatif.
Telepon-teleponan dari tempat telur, wayang-
wayangan dari kardus bekas, jam dari karton bekas,
dan lain lain. Eh, ... hari itu giliran kelompok kelas 6
untuk praktik mengajar dan Pak Teddy yang maju. Di
luar dugaan, dari pagi guru muda ini membuat
gambar-gambar binatang menggunakan kertas-kertas
bekas, mencari papan-papan bekas untuk menempel
gambar. Ketika mengajar, ternyata guru muda ini
mengajar tentang klasifikasi hewan dengan metode
peran. Pak Kabungsina, seorang guru yang kebetulan
juga tetua adat Desa Wulmassa sampai mau berperan
menjadi bebek.
Saat tiba waktunya mengerjakan dokumen KTSP
(Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), guru muda
ini selalu antusias dan bekerja sampai pagi dalam
kelompok berbekal listrik dari Perusahaan Pelita
Negara hingga pagi. Bagiku yang sejak Juli hingga
Agustus hanya melihat violence dalam pengajaran
menjadi berkata, “Harapan masih ada.” Dedi pun juga
berpikir demikian. Ketika kami mengobrol dan aku
berkata, “Wah, mantap, semangat sekali Pak Tera
ini,” guru muda ini menjawab dengan senyum yang
bikin cewek Tanimbar luluh, “Karena guru memang
begini, Pak.” Ternyata, cerita hidupnya juga menarik.
Ternyata, guru muda ini seorang duda beranak satu.
Dahulu menikah pada usia muda. Masih emosional
dan menikah karena cinta tanpa fondasi kuat. Mereka
berpisah. Hal ini mendewasakan guru muda ini.

~94~
Sekarang sedang menjalin hubungan dengan wanita
yang pada September lalu menjadi honorer di SMA
Molu Maru.
Dedi dan aku hanya berharap suatu saat ada orang
yang melihat Talented Man ini.
Setelah acara tersebut, kami jarang bertemu.
Namun, setiap bertemu, beliau selalu hangat. Hingga
pada 19 November lalu, Dedi dan aku ke Desa
Tutunametal untuk mencari transportasi ke Kota
Larat. Di sana kami tinggal dua hari sambil
mensosialisasikan semangat Indonesia Mengajar.
Kami berkeliling desa bersama dan banyak obrolan
muncul. Hingga topik pembicaraan jatuh pada
kebiasaan mabuk yang ternyata jarang di
Tutunametal (Molu penghasil sopi—sejenis arak
beralkohol tinggi dan penduduknya sering
mengonsumsinya). Hingga guru muda ini bicara,
“Orang-orang sini masih ada yang mabuk, Pak.
Kalau pergi ke laut, selalu bawa sebotol sopi untuk
hangatkan badan.
“Tapi, mereka kalau mabuk tidak sampe bikin kaco.
“Kalau saya, sudah setop sopi dan rokok sejak
setahun lalu. Tepatnya sejak 1 Agustus tahun lalu.
“Dulu beta ini sopi dan rokok sekali. Badan kurang
cocok apa lae par sopi. Badan beta gemuk. Sekarang saja
par setop sopi jadi kurus.”

~95~
“Beta dulu sering dipanggil di kantor dinas
pendidikan karena ada bikin kaco waktu mabuk.
“Tapi, sekarang su seng lae, Bapak.
“Oh .... Jadi, waktu KKG kemarin baru saja setop
itu?” tanyaku.
“Betul, itu baru saja.
“Samua orang ragu akang beta. Mereka bicara-bicara
beta pasti kembali lae minum dan rokok.
“Tapi, setelah 3 bulan berjalan, orang masih ragu,
6 bulan berjalan, mulai yakin, dan setelah satu tahun
ini, mereka ya-kin par beta.”
“Woi .... mantap, Bapak. Kenapa bisa begitu?”
tanya Dedi.
PERHATIKAN JAWABAN GURU MUDA INI.
“Beta ini guru, Pak, digugu dan ditiru. Bagaimana
beta mengajar anak-anak beta untuk tidak minum dan
merokok kalau sudah besar kalau beta sendiri perbuat
akang barang itu?

~96~
“Godaan itu selalu ada, Bapak. Kalau beta sedang
mengajar di kelas, lalu dengar ada musik joget, di situ
pasti temanteman beta sedang minum ..., ya, ...
namanya daging kadang rindu sopi. Tapi, beta seng mau
lae ada orang bicara-bicara beta kalau beta ada bikin kaco
waktu mabuk.
“Bagaimana mo ajar anak-anak kalo beta ada bikin
kaco di desa?”
Jauh di ujung Pulau Tanimbar, ada pribadi yang
hatinya selalu ada dalam pekerjaannya. Pak Teddy
juga satu-satunya guru yang mengajukan beasiswa
tugas belajar di Manado karena ia yang paling
memenuhi syarat. Itu pun ia ajukan setelah ia
memastikan guru di sekolahnya tidak lagi kurang.
Dahulu di sekolahnya hanya ada enam guru. Sekarang
sudah sembilan sehingga guru muda ini bisa
meninggalkan kelas 6-nya untuk sementara.
Guru muda ini memilih pergi selama dua tahun ke
Manado dan tidak di Universitas Terbuka seperti
guru-guru lain karena beliau tidak ingin membagi
pikirannya antara kuliah dengan mengajar anak-anak.
Beliau ingin total belajar dan total saat mengajar
nanti ....
Guru tidak hanya mengajar dalam kelas, tetapi
menjadi panutan di mana pun ia berada. Sebanyak
apa pun ia berkata-kata hal baik, lebih berdampak
kalau ia memberi contoh yang baik. Tidak hanya
mengimani hal baik, tetapi memberi bukti perbuatan
baik.
SELAMAT HARI GURU. •

~97~
C INTA DAN C ITA-CITA SI K EMBAR

Oleh: Neti Arianti*


* Pengajar Muda Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan
Barat.

Hendra dan Hendri, itulah nama satu-satunya


pasangan kembar di sekolah. Saya sebagai guru
mereka, awalnya sedikit kesulitan untuk
membedakan. Namun, tak sampai selama kecebong
berubah menjadi katak, saya menemukan perbedaan
di antara keduanya. Perbedaan itu terletak pada tinggi
badan dan bentuk mata. Bahkan, sekarang model
rambutnya pun berbeda.
Perbedaan lain pada si kembar ini adalah tingkat
kelas yang berbeda. Hendra berada di kelas 6,
sedangkan Hendri masih menginjak kelas 5. Hendri
tinggal kelas karena mengikuti orangtuanya ke
Serawak (Malaysia) saat pelaksanaan ulangan akhir
semester dua tahun lalu. Kepergiannya yang kurang
lebih sama lamanya dengan induk ayam mengerami
telur hingga menetas menjadi penyesalan pada
akhirnya. Amat disayangkan

~98~
padahal Hendri termasuk anak yang pandai,
terutama untuk mata pelajaran Matematika dan
Bahasa Inggris. Hal itu sempat membuat Hendri tak
mau melanjutkan sekolah karena malu dengan
teman-temannya. Namun, dengan usaha dari semua
guru dan dukungan siswa yang lain, ia akhirnya
bersedia duduk di kelas 5.
Hendra dan Hendri ini sering terlihat saling
memotivasi dengan kompetisi. Suatu hari, kelas 5
menjadi petugas upacara dan Hendri bertindak
sebagai pemimpin upacara. Berjarak satu minggu
kemudian, giliran Hendra bertugas juga sebagai
pemimpin upacara, tak mau kalah dengan adik
kembarnya. Begitu pun saat suatu kali Hendra

~99~
memimpin permainan di kegiatan Pramuka, Hendri
pun tertantang untuk memimpin permainan
selanjutnya. Persaingan yang sehat bukan?
Kurang afdol rasanya jika pasangan kembar tak
memiliki kesamaan-kesamaan selain fisik, atau bisa
dikatakan ikatan batin yang sama. Ya, setidaknya saya
melihat satu tekad yang sama dalam diri si kembar
ini. Tekad sederhana yang sangat mulia dan
bermakna. Hendra dan Hendri sama-sama ingin
membahagiakan ibu mereka dengan prestasi yang
suatu saat ingin mereka raih. Hal itu tergambar dari
cita-cita yang mereka deskripsikan secara singkat
dalam selembar kertas “Hopes and Dreams” pada awal
tahun ajaran.
Pada saat dan tempat yang berbeda, mereka
berdua sama-sama menggambar lapangan sepakbola,
lengkap dengan 22 pemain di dalamnya. Isi intinya
adalah harapan mereka untuk menjadi pemain
sepakbola dengan tujuan membanggakan dan
membahagiakan ibu kandungnya. Saya sempat
bertanya secara terpisah kepada si kembar mengenai
alasan kuat yang menyebabkan mereka ingin
membanggakan ibu mereka. Jawabannya adalah
karena si kembar menganggap orang yang telah
melahirkannya itu berjuang sangat berat untuk
menghidupi mereka. Ayah kandungnya sudah seperti
hilang ditelan bumi sedari Hendra dan Hendri
diselimuti amnion dan diberi makan ibunda melalui
plasenta. Saya dapat melihat benih kasih sayang
murni dua orang anak kepada inangnya pada mata

~100~
bening mereka yang polos. Hmmm, salut untuk
sepasang kembar yang penuh cinta kepada bundanya.
Sayang seribu sayang, kejadian akhir semester
tahun lalu ternyata berulang pada akhir semester
pertama tahun ajaran ini. Hendri yang memiliki
empati tinggi tak sanggup membiarkan orangtuanya
merantau seorang diri ke Serawak untuk menoreh
karet. Ia pun turut serta mengikuti jejak ibunda ke
negeri seberang. Ya, memang banyak penduduk desa
di penempatan saya merantau ke negeri tetangga
untuk mengadu nasib. Jarak Kapuas Hulu-Serawak
(daerah Lubok Antu) yang relatif dekat dan lintas
perbatasan Badau yang belum resmi dibuka menjadi
pendukung hal tersebut. Hendra si kakak, melakukan
berbagai cara agar Hendri tak ikut serta merantau.
Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak,
akhirnya Hendra menyerah untuk menghalangi niat
adik kembarnya yang keras kepala dan
membiarkannya pergi menemani sang bunda.
Kali pertama mendengar hal tersebut, saya hanya
bisa menarik napas panjang seakan tak mampu
melakukan apaapa. Kecewa, sedih, dan menyesal
bercampur menjadi satu. Saya berandai-andai berada
di rumah si kembar saat orangtua mereka akan
berangkat merantau. Pastilah saya akan mencoba
sekuat tenaga menghalangi Hendri. Walaupun
misalnya usaha tersebut gagal, setidaknya saya tak
menyesal karena sudah berusaha mempertahankan
seorang penerus bangsa untuk melanjutkan
pendidikannya. Kejadian ini menjadi salah satu cerita

~101~
duka selama saya bertugas di Desa Nanga Lauk.
Saat ini Hendri dan ibunya sudah kembali dari
tanah ran-tau. Saya pun sudah berkomunikasi
kembali dengan kedua orang tersebut mengenai
kelanjutan dari pendidikan Hendri. Namun, belum
ada titik terang dan Hendri semakin malu untuk
kembali lagi bersekolah karena ia sadar telah dua kali
melakukan kesalahan yang sama. Hendri sempat
menyaksikan kakak kembarnya berangkat ke
kecamatan untuk mengikuti Ujian Nasional (UN) dan
ia hanya mampu memandangi tanpa berucap satu
kata pun.
Dari sana saya melihat bahwa masih ada
keinginan bagi Hendri untuk melanjutkan goresan
tinta cita-citanya melalui tempat pencarian ilmu dan
pengetahuan yang disebut sekolah. Saya pun bertekad
akan selalu mendorong Hendri untuk kembali
menginjak rumah sekolah dan menuntut ilmu di
sana. Mungkin tahun ajaran ini memang masih belum
berhasil. Namun, saya masih memiliki harapan besar
ia akan kembali pada tahun ajaran selanjutnya
walaupun ia harus mengulang kembali kelas limanya.
Semoga ....
Saya yang hanya berada di sekolah si kembar
selama setahun mungkin tidak bisa menyaksikan
apakah mereka berhasil melaksanakan keinginan
sederhana nan mulia untuk ibunda mereka, yang
telah tergambar dan tergoreskan dalam kertas impian
dan harapan. Namun, di dasar hati, saya berdoa agar
cita-cita kecil bermakna itu dapat dicapai oleh si

~102~
kembar. Tidak hanya sebagai pemain sepakbola,
mungkin juga sebagai dokter spesialis, pengusaha,
tentara, wartawan, arsitek, guru, atau apa pun.
Selama mereka tetap menjadi anak-anak yang
berbakti kepada orangtuanya. •

~103~
CERITA ANAK-ANAK KAMI
A NAK-A NAK TAMBORA

Oleh: Shally Pristine*


* Pengajar Muda Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Bangunan sekolah tiga lokal itu berdiri hening di


antara kantor-kantor perangkat dusun yang
terbengkalai. Riuhnya anak-anak bermain jadi satu-
satunya penanda aktivitas sekolah itu tetap
berdenyut, sementara bangunan yang lain lumpuh
fungsi. Prasasti semen dekat pagar memperjelas nama
sekolah itu: SDN Oi Marai, Kecamatan Tambora,
Kabupaten Bima. Letaknya di tepi jalan batu yang
menyusuri kaki anak gunung, menghadap ke Laut
Flores.

~104~
Matahari baru menghangatkan pagi, mengganti
dingin yang diembuskan angin gunung sepanjang
malam. Saya mengayun langkah satu-satu menuju
sekolah, menapaki jalan perkampungan yang sepi
ditinggalkan penghuninya. “Bu Guru!” terdengar
seruan memburu dari belakang. Ternyata, Jun, siswa
kelas 1. Dia berlari tertatih, lalu menyambar tangan
kanan saya, menggamitnya cepat. Kami berjalan
bersisian menuju sekolah.
Jun termasuk generasi pertama anak yang terlahir
di kampung transmigrasi berusia enam tahun ini.
Ayahnya berasal dari Kota Bima, mencari nafkah di Oi
Marai sebagai nelayan dan petani kacang mete. Selain
transmigran lokal dari Bima, seperti keluarga Jun, ada
pula pendatang dari Lombok. Mereka punya sudut
mata yang sipit, sebagian berkulit terang dengan
rambut kemerahan, lainnya berkulit gelap dengan
rambut legam.
Tambora merupakan daerah tujuan transmigrasi
di Nusa Tenggara Barat. Kepadatan penduduknya
yang paling rendah di Kabupaten Bima maupun
Dompu membuatnya ideal sebagai lokasi pemindahan
penduduk dari tempat yang sudah terlalu sesak. Selain
peserta transmigrasi lokal, ada pula transmigran dari
suku Timor, Bali, Minang, Jawa, sampai Sunda. Di
sini mereka melebur dan menyandang identitas baru
sebagai orang Tambora.
Kelompok anak Lombok biasa bermain dipayungi
rindangnya pohon sambi besar di depan sekolah. Di
lapangan, beberapa murid laki-laki sedang

~105~
menggambari pasir, yang wanita seru mengobrol
bergerombol di pojokan. Sementara itu, petugas piket
sibuk menggosok lantai kuat-kuat, menghilangkan
kotoran sapi dan kambing dari keramik teras. Ternak
di Tambora memang dilepas liar sehingga selalu buang
kotoran di mana saja.
Saya dan Jun berpisah di dekat pohon, segera dia
melesat ke arah kelasnya. Lantas, saya meniti
undakan batu menuju ruang kelas 6 yang terletak di
sebelah atas. Kesembilan mu-rid saya sudah lengkap
menunggu. Subhan, Ruhil Hidayat, Laeli Isnaen,
Haryati, Ernawati, Riansyah Anwar, Hariyanto,
Suharni, dan Jerni Jakaria. Demikianlah kami
memulai pagi, hari sekolah terakhir sebelum libur
memasuki Bulan Ramadan.
Hari itu kami belajar menulis Daftar Riwayat
Hidup. Mereka kebingungan mengisi tanggal lahir.
Entah mengapa, murid-murid saya tak satu pun yang
punya tanda bukti res-mi mengenai kemunculannya
ke dunia. Alhasil, waktu lahir mereka pun dikira-kira
sekenanya. Alasannya, dulu orangtuanya sembarang
menulis tanggal kelahiran di dinding atau balik pintu.
Begitu rumah dilabur atau mengganti pintu, hilanglah
sejarah itu.
Oleh karena itu, murid-murid saya tak pernah
hirau kapan ia berulang tahun. Apalagi, rewel
menuntut kado atas perayaan kelahirannya. Secara
kebetulan, saya membuka buku rapor Haryati untuk
mencari tanggal lahirnya dan menemukan bahwa ia
berulang tahun pada hari itu. Maka, ketika ternyata

~106~
Haryati berulang tahun ke-12 tepat pada tanggal
tersebut, mereka menyanyikan lagu “Selamat Ulang
Tahun” dengan kikuk karena tak terbiasa.
Selain tak banyak menuntut, anak-anak Tambora
pun amat sigap membantu orangtua. Setiap pelajaran
usai, ketiga murid laki-laki di kelas saya selalu
menunggui saya selesai beres-beres. Kadang proses ini
lebih cepat karena murid perempuan sering
berinisiatif menyusunkan alat tulis saya. Setelah saya
keluar, tanpa diperintah siapa pun mereka
memastikan semua jendela tertutup dan mengunci
pintu agar kelas tak dimasuki ternak.
Saya jadi teringat cerita Edward Suhadi di
Halmahera Selatan yang ia bagikan ketika
pembekalan Pengajar Muda (PM) angkatan II, dua
hari sebelum kami diberangkatkan. Ia amat terkesan
ketika seorang bocah Halsel membantunya
membersihkan celana tanpa diminta. Kurang lebih, ia
berujar bahwa anak-anak di daerah penempatan PM
lebih penolong daripada anak-anak kota yang
cenderung manja dan egois.
Anak-anak Tambora tumbuh dibesarkan alam.
Mereka belajar berjalan di atas bongkahan padas,
berlari di antara belukar ilalang, berenang di jeram
deras, dan berburu burung di hutan. Nyaris tanpa
televisi, video game, boneka Barbie, iklan-iklan
konsumtif, jajanan warna-warni, mode baju terkini,
atau telepon seluler tipe terbaru. Keterbatasan hidup
perlahan membentuk mereka menjadi pribadi yang
sederhana sekaligus meringankan.

~107~
Akan tetapi, sekarang mereka pun mulai mengerti
bahwa ada masa depan lebih baik yang bisa
diperjuangkan. Ketika hari pertama belajar dengan
saya, Rian tadinya bilang bahwa ia tak punya cita-cita.
Sekarang ia bisa menulis bahwa ingin menjadi
“montir/ahli teknik bengkel”. Subhan dan Anto
bercita-cita jadi tentara, Ruhil ingin menjadi
wartawan, sementara Eli, Suharni, Erna, Jerni, dan
Haryati kompak ingin menjadi dokter.
Mereka anak-anak Tambora, energi saya. J•
SAHABAT K ECILKU

Oleh: Marintha Eky*


* Pengajar Muda Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

Selamat jalan, Pengajar Muda. Selamat

~108~
Menginspirasi.” Kalimat itu masih kuingat jelas,
diucapkan oleh tim Galuh saat melepaskan kepergian
kami menuju tempat tugas masing-masing.
Menginspirasi adalah salah satu tugas utama kami
sebagai seorang Pengajar Muda. Tidak perlu bingung
mengenai cara kita menginspirasi orang lain karena
untuk menginspirasi tidak perlu kita niatkan dan
rencanakan. Hanya lakukan hal-hal yang baik-baik
maka kita tidak pernah tahu bahwa hal kecil yang kita
lakukan, ternyata sangat berarti untuk orang lain dan
bisa menginspirasi orang lain untuk berbuat hal
serupa.
Seperti yang kualami bersama seorang muridku
yang luar biasa. Namanya Hadijah, yang biasa
dipanggil Ijah. Ia siswiku yang duduk di kelas 6 SD,
yang memiliki semangat yang luar biasa meskipun
kondisi fisiknya tidak sesempurna teman-teman yang
lain. Ijah terlahir dengan cacat kaki. Telapak kaki
sebelah kirinya tertekuk ke belakang sehingga ia
harus berjalan menggunakan punggung telapak
kakinya. Tentu saja, rasanya tidak nyaman karena
jalanan di Kokas (daerah penempatanku) jarang ada
yang datar. Sebagian besar memiliki kontur naik-
turun dan berbatu-batu. Ia pun berjalan lebih lambat
daripada temannya yang lain sehingga sering terlihat
berjalan sendiri karena teman-temannya tak sabar
untuk tidak mendahuluinya. Namun, yang aku acungi
jempol adalah semangatnya. Ia termasuk siswa yang
rajin ke sekolah, juga tidak pernah absen untuk
datang les yang kuadakan setiap sore di rumahku.

~109~
Padahal, jarak rumahnya dan rumahku tergolong
cukup jauh. Setiap ia sampai di rumahku, bajunya
selalu basah karena keringat dan wajahnya pun kusut
karena peluh. Namun, ia tetap bersemangat
mengikuti pelajaran dari awal sampai akhir.
Pernah suatu ketika ia kutunjuk menjadi salah
satu petugas upacara, bagian pembaca doa. Di tengah-
tengah ia membaca doa, suaranya bergetar dan air
matanya mulai jatuh membasahi wajahnya. Hampir
semua peserta upacara terperangah melihatnya.
Selesai upacara berlangsung, aku menghampirinya
untuk menanyakan mengapa ia menangis saat
membaca doa. Aku menduga ia terharu karena isi doa
yang ia baca. Ternyata, jawabannya sangat berbeda, ia
merasa terharu karena baru kali pertama ia ditunjuk
sebagai petugas upacara. Karena, sebelumnya yang
biasa ditunjuk menjadi petugas upacara adalah anak-
anak yang memiliki fisik sempurna sehingga bisa
mempraktikkan PBB dengan sempurna. Ia
mengucapkan terima kasih karena diberikan
kesempatan.
Anehnya, sejak kejadian itu Ijah jadi tampak lebih
ceria. Ia pun sangat aktif di dalam kelas, sering
bertanya dan mencoba menjawab pertanyaan. Aku
baru tahu bahwa ia ternyata salah satu siswa yang
cukup cerdas. Aku pernah beberapa kali memutarkan
video tentang orang-orang yang memiliki kekurangan
fisik, tetapi masih tetap dapat berbuat banyak. Dari
tayangan video itu aku menunjukkan kepada Ijah
bahwa ia juga bisa melakukan hal-hal yang luar biasa

~110~
asal ia mau dan selalu bersemangat. Alhamdulillah,
apa yang kucoba tanamkan kepada diri Ijah, dapat ia
pahami dengan baik. Aku baru tahu setelah membaca
isi surat sahabat pena yang ia tulis untuk sahabatnya
di Jawa. Isi surat itu adalah sebagai berikut.
Assalamualaikum .... TemanTeman, bagaimana kabarmu?
Saya senang sekali mendapat surat darimu. Perkenalkan
namaku Ijah, aku tinggal di kampung baru Kokas, di
Papua Barat. Saya sekarang duduk di kelas 6 SD. Oh, ya,
Ibu Guru saya juga dari Jawa, namanya Ibu Eky. Aku dulu
hampir putus asa, tapi Ibu Eky terus memberi semangat.
Jadi, sekarang saya bersemangat lagi. Nanti kalau sudah
besar saya ingin jadi pegawai. Kalau kamu, ingin jadi apa?
Gurumu baik jugakah? Balas suratku, ya .... Terima kasih ....
Ada pelajaran yang bisa kupetik dari kejadian ini,
bahwa setiap anak harus diberikan kesempatan yang
sama, tidak peduli dengan kekurangan yang ia miliki.
Karena, dengan memberikan mereka sebuah
kesempatan, mereka akan merasa diri mereka sama
berharganya dengan orang-orang yang lain. Hanya
karena ditunjuk sebagai petugas upacara, Ijah
perlahan-lahan berubah menjadi pribadi yang lebih
ceria, percaya diri, dan penuh semangat.
Menjadi guru adalah sekaligus menjadi ibu, yang
mengenali begitu baik anak-anaknya. Mendidik
dengan hati dan terus mendorong mereka untuk
maju. Maka, tetaplah bersemangat Ijahku dan Ijah-
Ijah lain di seluruh Nusantara. Ada sebuah lagu yang
Ibu tulis dan Ibu persembahkan kepada kalian. Lagu
yang kutulis jauh sebelum bertemu kalian karena Ibu

~111~
tahu di seluruh Nusantara ada anak-anak yang
memiliki semangat yang tinggi dalam meraih mimpi
meskipun banyak rintangan yang menghalangi.
Sahabat Kecil
Sinar mentari menghangatkan
tubuhku Binar matamu menghangatkan
jiwaku Perjalanan hidup membawaku
kepadamu Sahabat kecilku yang mengisi
hatiku
Setiap pagi kau ayunkan langkahmu Tiada rasa
keluh meski kau banjir peluh Semangatmu kalahkan
rintangan di hadapmu Citacita tinggimu
membebaskan jiwamu
Reff: Kamu pasti bisa Aku yakin kau bisa
Jadi apa yang kau cita Kamu pasti bisa Aku
yakin kau bisa Ku’kan slalu mendukungmu
Sahabat kecilku.

K ILI K ALELI [M EMUNGUT K EMIRI]

~112~
Oleh: Marlita Putri Ekasari*
* Pengajar Muda Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Desember sampai Januari adalah surganya warga


Parado. Allah menurunkan berjuta-juta kaleli (kaleli
adalah buah kemiri) dari pohon di hutan Para-do yang
rimbun secara gratis. Masyarakat berlomba-lomba
pergi ke gunung untuk memungut buah kemiri yang
berjatuhan. Ada yang memilih untuk menginap di
gunung bahkan membuat pondokan kecil, ada yang
rela mengambil malam hari menjelang subuh untuk
mendahului kelompok lain, ada yang secara individu
mengambil secara untung-untungan, dapat, ya,
Alhamdulillah, tidak dapat, ya, sudah.
Budaya masyarakat dalam menyambut Desember
dan Januari sungguhlah unik. Tidak ada yang
melewatkan kesempatan mengumpulkan kemiri. Dari
anak kecil hingga orang tua berbondong-bondong di
sela kegiatan mereka untuk mencari kemiri di
gunung. Berjalan jauh dengan membawa karung
kosong dengan harapan akan mendapat banyak
kemiri. Baju panjang dan celana mereka gunakan
untuk melindungi mereka dari musuh utama, kutu
monyet. Kutu kecil dan hitam ini banyak ditemui di
gunung. Bagi orang yang

badannya tertempeli kutu itu, kulitnya akan


“habis”. Habis karena kutu ini suka mengisap darah,

~113~
berpindah-pindah, dan meninggalkan rasa gatal dan
bekas luka bagi inangnya. Hiii ....
Tidak ada kata kompetisi dalam budaya ini. Semua
masyarakat memiliki hak dan kesempatan yang sama
untuk mendapatkan kemiri. Hutan ini pun menjadi
area hutan lindung yang dijaga masyarakat setempat
dibantu polisi hutan yang kurang memadai
jumlahnya. Ada juga kelompok masyarakat di Parado
yang menamakan dirinya “Masyarakat Peduli Hutan”.
Mereka ikut membantu menjaga kawasan hutan ini
dari para peladang berpindah, individu atau
kelompok, yang menebang pohon tanpa izin. Semua
masyarakat bersatu ....
Berkah ini menjadi bencana bagi guru.
Anak-anak, entah karena tuntutan ekonomi atau
memang keinginan mereka menjauh dari sekolah,
menjadi bolos untuk mengambil kemiri. “Mengambil
kemiri” menjadi alasan mereka untuk tidak masuk
sekolah. Hal yang menggiurkan bagi anak-anak ini
karena dalam sehari mereka bisa mendapatkan 1.000
biji kemiri. Bahkan, lebih dengan setiap biji kemiri
dihargai Rp50,00. Bayangkan uang Rp50.000,00
dalam sehari! Bagi anak SD uang itu merupakan
jumlah yang besar.

~114~
Aku sendiri mengalaminya. Beberapa anak didikku
(terutama anak laki-laki) bolos sekolah karena kili kaleli
[cari kemiri dalam bahasa Bima]. Anak-anak ini ada
yang diminta orangtuanya untuk membantu, ada
yang bersama teman, ada yang sendirian. Guru-guru
yang lain juga memaklumi hal ini karena sudah
menjadi budaya. Aku menasihati mereka untuk
berburu kemiri setelah pulang sekolah saja. Beberapa
anak menerima saran itu dengan baik (terutama anak
perempuan). Anak laki-lakinya memberi alasan,
keburu habislah, ada yang bilang keburu capek karena
biasanya mereka turun pada saat Zuhur, makan siang
dulu, kemudian kembali lagi memungut kemiri di
hutan itu.
Untungnya bulan ini, musim kemiri hampir
berakhir. Walaupun berkah bagi masyarakat
berkurang, bagi guru ini adalah saat yang ditunggu-
tunggu. Tidak ada yang bolos lagi karena alasan “kili

~115~
kaleli”. •

IBRAHIM YANG C ERDAS DAN BAIK H ATI

Oleh: Gatot Suarman*


* Pengajar Muda Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Tiap melihat Ibrahim, aku selalu tersenyum


bangga. Tubuhnya kecil. Bahkan, lebih kecil dari
hampir semua anak-anak di kelasnya. Bibirnya tipis
berwarna kemerahan, tetapi tidak cukup kontras
dengan kulitnya yang gelap. Geraknya lincah dan
tergolong anak yang cerdas. Selalu saja ada
pertanyaan, komentar, atau apa saja yang ia
sampaikan ketika aku menerangkan pelajaran di
depan kelas.
Pernah suatu sore aku bertemu dengannya sedang
bermain di pematang sawah. Kuajak ia dan dua orang

~116~
temannya menemaniku berkeliling sawah sambil
memotret beberapa objek yang menarik.

Tiba-tiba ia bertanya, “Pak, matahari itu lebih


besar daripada bumi, kan, Pak?”
“Iya, Ibrahim. Matahari itu lebih besar daripada
bumi,” jawabku.
“Masa Raman bilang matahari itu sebesar Ikbal,
Pak,” seraya menunjuk ke arah Ikbal siswa kelas 1
yang berjalan di sebelahnya.
Aku tersenyum dan kembali kutegaskan bahwa
pendapat Raman itu salah.
“Tapi, Pak, saya perhatikan matahari itu memang
kecil, sebesar ini,” ia berkilah seraya menunjukkan
lingkaran yang ia bentuk dari ibu jari dan telunjuknya.
“Ni, Pak, lihat, hanya sebesar ini.” Ibrahim kembali
menegaskan dengan mengarahkan lingkaran jarinya
ke arah matahari sambil melihat ke atas mengukur
matahari dengan melihat melalui lingkaran jari
telunjuk dan ibu jarinya.
Aku tersenyum, lama kupandangi tingkah Ibrahim
yang sangat unik. Tidaklah sulit menerangkan semua
pelajaran kepada Ibrahim karena ia salah satu bintang
di kelasnya.
Kesulitan lain muncul ketika harus melayani
semua pertanyaan rasa ingin tahunya. Atau, hanya
sekadar mendengar ocehannya yang tiba-tiba muncul
di tengah-tengah pelajaran. Suatu siang, saat belajar
IPA, Ibrahim kembali muncul dengan pertanyaan
pintarnya. Waktu itu, aku sedang menjelaskan rantai

~117~
makanan.
Ketika aku katakan padi dimakan tikus, Ibrahim
tibatiba menyela, “Pak, di rumah saya tikus itu makan
baju, Pak. Banyak baju ayah saya bolong-bolong
dimakan tikus.” Semua temannya tertawa mendengar
kata-kata Ibrahim. Lalu, kujelaskan bahwa tikus
adalah hewan omnivora yang memakan segalanya.
Tikus makan padi, makan kue, makan daging, makan
sayur, bahkan ada yang makan kayu dan pakaian.
Ibrahim menciptakan perluasan materi yang
kuajarkan. Ia membuat teman-temannya mengerti
dalam rantai makanan hanyalah salah satu contoh
bahwa tikus makan padi. Namun, sesungguhnya tikus
pemakan segalanya.
Selain kukenal dengan ocehan dan pertanyaan
pintarnya, Ibrahim juga anak yang punya banyak
talenta. Ia pintar menggambar dan hebat berolahraga,
terutama olahraga olah tubuh. Ia bisa kayang dengan
sangat bagusnya, serta lincah salto hingga berkali-kali.
Ia juga pribadi yang baik. Ceritanya begini, suatu
kali ia diejek temannya bahwa ia anak yang cengeng
hingga ia benar-benar menangis. Tak lama temannya
itu kembali datang meminta tolong ia
menggambarkan kapal, lengkap dengan baling-baling
di bawah air. Dengan segera ia menggambarkan kapal
untuk temannya tersebut sambil berceloteh tentang
kapal yang digambarnya. Seperti tidak terjadi apaapa
ia menggambar untuk teman yang baru saja
membuatnya menangis.
Pernah lagi suatu hari Ibrahim dilaporkan

~118~
temannya bahwa ia melakukan kecurangan dalam
mengumpulkan bintang sebagai hadiah bagi yang bisa
menyelesaikan tugas atau menjawab pertanyaan kuis
dengan benar. Lalu, dengan tenang Ibrahim
menjawab, “Maaf, Bapak, saya lupa mestinya jumlah
yang saya kumpulkan empat bintang karena satu
bintang sudah Bapak berikan kemarin.” Dengan
sangat rendah hati pula ia mengembalikan satu
bintang ke saya.
Ibrahim bisa saja marah dan tidak mau
menggambarkan kapal untuk orang yang baru saja
membuatnya menangis. Namun, ia memilih
memaafkan bahkan meski tidak ada kata permintaan
maaf dari temannya. Ia juga bisa saja berbohong dan
mempertahankan jumlah bintang yang ia dapat
karena aku pasti akan percaya kalau Ibrahim
memperoleh bintang yang lebih banyak. Namun, ia
memilih untuk berkata jujur dan mengembalikan
bintangnya.
Begitulah Ibrahim, si bocah kecil yang cerdas.
Kata orang, sejarah terhubung dari waktu ke
waktu. Akan sangat disayangkan jika Ibrahim tidak
menjadi catatan sejarah orang-orang cerdas bangsa
ini. Akan sangat disayangkan pula Ibrahim tidak
menjadi apa-apa di negeri ini nanti.
Dialah Ibrahim yang kecil, Ibrahim yang penuh
celoteh, Ibrahim yang selalu ingin tahu, Ibrahim yang
lincah. Dialah Ibrahim sang “Mutiara” bersinar di
sudut gelap peradaban. •

~119~
SINAR L ASKAR M ATAHARI- KU

Oleh: Ambarwati*
* Pengajar Muda Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan
Barat.

Ia tak pandai bicara seperti anak-anak lainnya,


tetapi soal kelincahan ia nomor wahid. Bahkan, untuk
berfoto saja ia malu-malu dan untuk mendapatkan
fotonya aku harus rela berlama-lama berduaan
dengannya untuk mengajaknya berfoto. Entah ia
malu atau hal lain yang membuatnya tidak ingin
menonjol di antara teman-temannya. Padahal, secara
kemampuan ia lebih dari lumayan.
Pada semester pertama kemarin, ia masuk dalam
tiga besar bukan suatu kebetulan, melainkan itu

~120~
murni dari hasil penilaian ia dalam satu semester.
Jarang terlihat belajar, tetapi nilai yang dihasilkan
lebih dari rata-rata. Itulah Simon. Ia kelas 4 dan
kebetulan aku adalah wali kelasnya di SDN 04 Kepala
Gurung, Kecamatan Mentebah. Jadilah aku yang
punya intensitas pertemuan lebih dengannya.
Awal bertemu dengannya tak terlihat istimewa,
seperti layaknya anak biasanya, tetapi dengan rekam
jejak kenakalan yang lumayan luar biasa. Badannya
kecil dan kurus, dengan penampilan ala kadarnya saat
berangkat sekolah. Ia tidak termasuk murid yang rajin
karena ia selalu datang lebih siang daripada teman-
temannya yang lain dan sering mang

kir dari sekolah. Tentu saja, ketika kau punya


murid seperti ia, pasti kau akan berpikir ia mungkin
anak yang bandel dan mungkin juga akan
menyusahkan. Ya, itulah yang terlihat selama satu
pekan pertama aku bersamanya di kelas.
Selama seminggu pertama di kelas 4 aku belum
melakukan apa pun. Bahkan, aku belum
menyampaikan materi sama sekali dengan tujuan
ingin mengenal mereka lebih dekat dan mengetahui
sedikit potensi dari anak-anakku ini. Minggu pertama
itu aku lebih banyak bermain dengan mereka,
mencoba memahami mereka satu per satu. Meskipun
kelas 4 termasuk kelas tinggi, ternyata mereka belum
pandai berbahasa Indonesia karena mereka lebih
sering menggunakan bahasa daerah. Dengan
permainan-permainan yang kumiliki, aku berikan

~121~
pemahaman materi kelas rendah. Namun, ini pun
cukup membuat geleng kepala alias pusing bukan
kepalang. Dan, mungkin juga benar apa kata para
guru di sekolahku bahwa kelas 4 adalah kelasnya anak
bandel. Bahkan, pernyataan mereka kelasku adalah
kelas yang bisa bikin darah tinggi.
Pada minggu kedua aku mulai melakukan
pendekatan dengan para Laskar Matahari-ku ini. Oh,
ya, berdasarkan kesepakatan kami bersama, kelas
kami disebut “kelas Matahari” dan mereka adalah
Laskar Matahari dengan jumlah 19 anak. Dari 19
Laskar Matahari-ku ini, semuanya punya keunikan
masing-masing dan keunikan itu ada pada Simon juga.
Minggu kedua aku tahu ia termasuk murid yang
pandai, hasil rapornya pun tak jauh-jauh dari lima
besar. Hanya saja, ketika kelas 3, ia pernah tinggal
kelas.
Kemampuan baca Simon, cukup lancar dan jauh
meninggalkan teman-temannya yang lain begitu pula
untuk Matematika, ia pun cukup pandai. Namun,
tingkahnya cukup membuatku pusing, sama seperti
yang diceritakan guru yang lain. Aku pikir pasti ada
faktor lain yang membuatnya seperti itu, dan inilah
saatnya aku melakukan penyelidikan (hehe ... sok-sok
jadi detektif).
Tak seperti yang kujumpai sebelumnya, sekolah
yang aku tahu bahwa pada umumnya ketika kelas 4,
mereka sudah pandai membaca, menulis, dan tentu
saja bercerita. Yang kumaksud bukan cerita karangan
yang indah atau panjang lebar, melainkan hanya

~122~
menceritakan sepotong kejadian atau kegiatan, itu
pun menjadi hal yang asing bagi anak-anakku.
Mungkin bukan cuma aku yang mengalami ini, tetapi
juga Pengajar Muda yang lain dan itulah yang akan
menjadi PR kami bersama, membayar utang hak atas
pemahaman ilmu yang seharusnya mereka dapat jauh
sebelum kita datang kepada mereka. Akhirnya,
dengan mengetahui kenyataan tersebut, aku mencoba
dua minggu selanjutnya akan fokus pada tiga hal
tersebut: membaca, menulis, dan bercerita pendek.
Bukan tanpa tujuan itu kulakukan karena tujuan
akhirku adalah mengetahui siapa mereka dan
tindakan apa yang harus kulakukan untuk mengajar
mereka di kelas dengan multikarakter.
Dua minggu itulah waktu yang aku buat agar
paham siapa mereka. Pada minggu pertama kami
banyak membaca cerita rakyat, buku apa pun yang
bergambar, dan menarik untuk kami baca bersama-
sama di kelas dan tentu saja itu buku pilihan mereka
yang diambil dari perpustakaan kami di sekolah.
Setelah itu, aku meminta mereka menuliskan tentang
apa yang mereka pahami tentang buku yang mereka
baca, terlepas mereka paham atau tidak. Tidak bisa
dipungkiri bahwa lebih dari separuh mereka menulis
dengan sesuka hati dan tidak sesuai dengan buku yang
mereka baca. Tidak bisa dipungkiri karena aku tahu
bahwa hasilnya akan seperti ini. Namun, dari tulisan
mereka setidaknya aku bisa sedikit tahu siapa mereka.
Pada minggu selanjutnya, aku mengajak mereka
untuk bercerita tentang mereka. Karena aku merasa

~123~
mereka sudah dekat denganku, aku memutuskan
untuk menulis cerita tentang siapa mereka dan
beberapa hal di luar mereka. Dari titik inilah aku
mulai mengetahui Simon sebenarnya. Ialah Simon,
anak ke 4 dari 6 bersaudara dengan 4 anak laki-laki
yang 2 perempuan. Tinggal di rumah yang cukup
sederhana dan ternyata rumahnya di belakang
sekolah kami, pantas saja ia sangat santai ketika
berangkat ke sekolah. Satu dari saudaranya meninggal
dunia sehingga tinggallah 3 bersaudara lakilaki dan ia
berada di posisi tengah.
Penelitianku tentangnya masih berlanjut. Sejalan
dengan itu, kenakalannya pun terus berlanjut dan itu
cukup membuat para guru geram. Hukuman demi
hukuman ia jalani dan tetap dengan tanpa perubahan.
Memang saat itu aku masih membiarkan apa pun
yang ia lakukan karena aku merasa waktunya
belumlah tepat.
Ini adalah akhir dari proyek pengenalan dua
mingguku dan tepat pada saat hari terakhir, aku
mulai bisa mengetahui kenapa Simon anakku bisa
menjadi seperti itu. Seperti biasa sekolah kami
memang mempunyai jadwal masuk sekolah cukup
siang. Pukul 08.00 tepat bel masuk di sekolah kami
baru dibunyikan dan terkadang lebih dari itu. Pada
suatu pagi, tepat saat jam pertama belajar, aku
memberikan secarik kertas kepada mereka ”Laskar
Matahari-ku” untuk bercerita. Aku meminta mereka
untuk menuliskan apa pun yang ingin mereka
tuliskan, apa pun. Entah tentang keluarga mereka,

~124~
desa mereka, atau tentang diri mereka sendiri. Dan,
di luar dugaan Simon ternyata menuliskan tentang
keluarga dan perasaannya. Benar saja, di secarik
kertas itu ia menuliskan, selama ini ia begitu cemburu
dengan adiknya. Ia tidak bisa menerima bahwa
adiknya lebih manja, lebih diperhatikan daripada ia, ia
tidak menginginkan melihat itu semua ketika ia salah
atau adiknya yang bersalah maka perlakuan yang
berbeda yang ia dapat, pembelaan tetap pada adiknya.
Meskipun bukan seorang psikolog, tentu saja kau
akan tahu bagaimana perasaan anak tersebut.
Bagaimana tidak, se-lama ini ternyata ia merasa
kurang diperhatikan dan kurang mendapat kasih
sayang dari orangtuanya sehingga akhirnya ia
menyalurkan semuanya pada kenakalan-kenakalan
yang ia lakukan. Dengan begitu, mungkin ia berharap
bisa lebih diperhatikan.
Setelah mengetahui semuanya, aku menjadikan
ini sebagai proyek penting buatku dan tentu saja aku
ingin melibatkan para guru di sini, dengan harapan
kami akan belajar bersama dan bisa berbagi cerita.
Aku melakukan pendekatan secara intens dengan
siswa ini, selama sebulan satu per satu guru mulai
geram dengan tingkahnya, ia selalu bertingkah ketika
diajar guru lain yang masuk kelas 4. Namun, ketika
aku yang mengisi kelas tersebut, aku sama sekali
melihat ia sebagai siswa yang penurut. Karena
memang benar, setelah sebulan seluruh siswa kelas 4
yang sebelumnya sangat berulah dan ada saja
kenakalannya, ketika aku masuk, mereka semua

~125~
bersikap manis kepadaku bukan dengan rasa takut,
melainkan dengan rasa yang aku belum paham apa
itu. Mung-kin pula sudah ada keterikatan antara
kami, antara muridku dan aku. Ada perjanjian “saling
sayang” antara kami dan itu benar-benar tertulis di
dinding kelas kami. Perlahan apa yang kami janjikan
telah mengubah semuanya. Dan, benar
kepercayaanku bahwa tidak ada anak yang nakal di
dunia ini adalah benar, yang benar hanyalah berilah
mereka waktu untuk menjelaskan siapa dan
bagaimana mereka. Tak pernah aku marah kepada
mereka, apa pun ulah mereka. Setiap kali berulah
maka aku akan memberikan mentoring khusus ke
setiap anak secara pribadi, baik itu di sekolah maupun
di lingkungan luar sekolah. Dan, itulah yang aku
lakukan kepada Simon.
Suatu hari ia berulah di kelas Agama, tidak ada
tugas dan catatan yang ia kerjakan. Belum lagi ia
terlambat datang padahal Agama ada pada jam
pertama. Ketika Sekolah Minggu pun ia tak datang.
Akhirnya, ia mendapat hukuman dari sang guru.
Ternyata, setelah itu ia kabur dari sekolah dan tidak
mengikuti pelajaran selanjutnya. Tak ayal lagi, tentu
saja sang guru itu bercerita kepadaku tentang
permasalahan ini. Dan, aku memutuskan untuk bicara
langsung dengan Simon, tetapi di luar sekolah tanpa
ada guru lain agar lebih personal.
Aku mengajaknya duduk berdua di teras rumahku,
sambil meminum es dalam plastik kami berdua
mengobrol. Aku mulai berbicara banyak hal

~126~
dengannya dan aku memintanya untuk kembali ke
sekolah. “Simon sayang, mis ambie?” tanyaku sambil
menatap matanya. “Aok mis,” terdengar lirih dari
mulutnya. “Kalau Simon sayang mis, Simon harusnya
bisa sayang dengan guru yang lain dan menuruti apa
nasihat mereka karena mereka juga sayang Simon,”
ujarku sambil merapikan dudukku, dan menatap
sendu matanya karena benar saja saat itu aku ingin
meneteskan air mata.
Matahari tak pernah lelah untuk bersinar dan tak
pernah terlambat untuk menampakkan wajahnya.
Seolah tak mau kalah, aku berangkat sepagi mungkin
dengan semangat karena aku ingin menunggu Laskar
Matahari-ku di kelas sebelum mereka datang. Tanpa
diduga Simon hari ini datang dan aku senang sekali.
Aku masuk ke ruang guru setelah memastikan bahwa
ia benar-benar berada di kelas. Secara pribadi aku
meminta maaf kepada para guru atas perilaku Simon
selama ini. Aku juga meminta mereka untuk tidak
marah kepadanya dan bersabar dengan sikapnya. Aku
juga menjelaskan dalam rapat guru mengapa Simon
menjadi seperti ini. Ketika semuanya sudah
disepakati, tentulah kelegaan mengalir dalam hatiku.
Arah angin mulai berubah, perubahan ke arah
yang baik. Anak-anakku perlahan membaik sejalan
dengan perubahan para guru di sekolahku. Teriakan
dan hukuman fisik mulai menjadi langka di
sekolahku. Kami lebih sering berbagi ten-tang
masalah anak-anak bukan cuma di kelas 4, melainkan
juga di kelas lainnya yang dipegang guru lain. Kabar

~127~
baik tidak hanya datang dari Simon, tetapi juga dari
seluruh sudut sekolah ini. Guru-guru menjadi lebih
terbuka, anak-anak lebih bisa mengendalikan diri
mereka. Inilah untuk kali pertama, aku benar-benar
meyakini bahwa ketulusan itu benarbenar menular.
Satu semester berlalu dan Simon sudah menjadi
anakanak dengan perilaku wajar tanpa berulah lagi.
Prestasinya pun kembali terlihat, tidak hanya
denganku, tetapi juga dengan guru yang lain, keluhan
terhadapnya pun sudah sangat berkurang. Dan, kabar
baiknya prestasinya saat ini tidak hanya di sekolah,
tetapi juga di luar sekolah. Aku mengikutkannya
dalam Olimpiade Sains Kuark dan tanpa disangka-
sangka ia menjadi salah satu semifinalis pada
olimpiade tersebut. Semua orang heran. Tidak hanya
mereka yang di sekolah, tetapi juga orang sekampung.
Bagaimana tidak? Ternyata, Simon yang selama ini
terkenal anak bandel bisa lolos babak penyisihan
olimpiade.
Aku percaya bahwa mereka, 19 Laskar Matahari-
ku istimewa. Dan, mereka punya potensi berbeda
yang harus aku gali juga. Ada Acun si pelukis cilik,
Juan si penolong dengan senyum manisnya, dan
banyak lagi yang lainnya. Simon hanyalah salah satu
dari mereka, anak-anak yang menginginkan untuk
dipahami.
I Love You Full my lovely children .... •

~128~
K ARYAWISATA SEDERHANA ALA A NAK K APUAS H ULU

Oleh: Retnosari Hardaningsih*

Menjadi Pengajar Muda yang bertugas mengajar di


SDN 09 Nanga Lungu, membawaku kembali pada
memori-memori masa putih-merah. Salah satu
kenangan yang aku ingat adalah berwisata setiap
akhir semester bersama teman satu sekolah. Biasanya
tempat wisata yang menjadi tujuan kami adalah
tempat wisata edukatif, seperti museum dan
bangunan-bangunan bersejarah. Walaupun selama
wisata kami tetap belajar, karena harus mencatat
informasi yang didapat untuk kemudian dibuat
laporan perjalanan, kami sangat senang mengikuti
perjalanan wisata ini. Ya, inilah yang dinamakan

~129~
karyawisata.
Saat ini, aku—yang dulu menjalani peran sebagai
murid—sebagai guru. Pengalaman menjadi murid,
membuatku ingin memberikan yang terbaik untuk
anak-anak didikku. Hal yang dulu kuharapkan dari
guru, akan kuusahakan terwujud bagi mereka. Salah
satu hal yang aku sukai adalah karyawisata. Oleh
karena itu, mengingat letak geografis yang tidak
mudah untuk dicapai, pada awal tahun ajaran aku
bertanya kepada murid-muridku, “Anak-Anak,
siapakah di antara kalian yang pernah jalan-jalan ke
tempat rekreasi?” Ternyata, jawaban mereka sesuai
dengan dugaanku, “Naisik, Bu,” jawab mereka
serempak. Mendapati hipotesisku benar adanya, aku
kembali melontarkan pertanyaan, “Siapa ka serta Ibu
jalan-jalan?” Kelas pun kembali gaduh karena
anakanak saling beradu untuk menjawab, “AKU, BU!”
dengan sekuat tenaga. Akhirnya, aku memberikan
tawaran kepada anak-anak untuk berjalan-jalan ala
Kapuas Hulu, yaitu dengan mengunjungi kelas filial
kami yang berada di Dusun Inggut. Perjalanan wisata
kami benar-benar ber-JALAN-JALAN karena aku dan
20 orang anak murid kelas 5 dan 6 berjalan kaki
menuju Inggut. Ini adalah pengalamanku berjalan
kaki untuk jarak jauh, sekitar 6–7 kilometer dengan
medan ala Kapuas Hulu. Jadi, begini ceritanya.
Perjalanan kami jadwalkan pada Selasa, kebetulan
jam pelajaran di kelasku (kelas 5) adalah Pendidikan
Jasmani dan Kesehatan (PJK) serta Seni Budaya dan
Keterampilan (SBK). Jadi, kegiatan karyawisata ini

~130~
mengakomodasi beberapa hal. Pertama, berjalan kaki
adalah salah satu bentuk olahraga. Kedua, untuk
pelajaran SBK, aku tugaskan anak-anak untuk
membuat mahkota dari tanaman-tanaman yang
ditemukan sepanjang perjalanan. Mahkota itu akan
digunakan sebagai properti anak-anak yang
mendapatkan hukuman menari karena tidak
mengerjakan PR. Ketiga, untuk kegiatan masyarakat
Pengajar Muda, di sana aku akan membantu guru
honorer kami yang mengajar di kelas filial sekaligus
bercengkerama dengan masyarakat.

Pagi itu anak-anak sudah berkumpul di sekolah

~131~
pada pukul 07.00. Anak-anak aku minta untuk
sarapan terlebih dahulu dan membawa bekal makan
siang. Saking semangatnya mereka, sejak pukul 06.00
mereka sudah datang di rumahku yang kebetulan
bersebelahan dengan sekolah. Setelah melakukan
beberapa persiapan dan doa bersama, akhirnya kami
baru berangkat pukul 07.30. Ada dua jalur yang dapat
ditempuh, jalur PT yang lebih jauh, tetapi
pemandangannya bagus dan satu lagi jalur warga yang
lebih singkat, tetapi lewat hutan. Berdasarkan saran
anak-anak, berangkatnya kami akan lewat jalur PT
agar aku dapat melihat pemandangan yang indah,
kemudian pulangnya lewat jalur warga supaya saya
tidak terlalu lelah berjalan dan bisa mandi di Sungai
Mansat yang menurut informasi mereka airnya
jernih, sekaligus menyusuri jalan yang biasa ditempuh
anak-anak muridku yang setiap hari pergi-pulang
Nanga Lungu-Inggut.
Sepanjang perjalanan, anak-anak menjadi
pemandu wisataku. Mereka berebut untuk
menjelaskan nama tempat, binatang, buah-buahan,
atau apa pun yang kami temui sepanjang jalan. Jika
biasanya satu orang pemandu wisata memandu lebih
dari satu orang wisatawan, lain dengan aku. Dua
puluh orang pemandu wisata kecilku memandu satu
orang gadis kota yang masuk desa. Jika ada buah atau
tanaman yang baru bagiku, mereka tidak segan-segan
untuk mengambilkannya bagiku walaupun terkadang
mereka harus memanjat pohon. Bahkan, ketika
dalam perjalanan anak-anak yang berjalan lebih

~132~
dahulu menemukan kalajengking, mereka berlari
sambil berteriak memanggil-manggilku. Mereka
bersemangat sekali untuk menunjukkan kepadaku
hasil temuan mereka. Aku yang sudah agak lelah
terpaksa harus berlari sambil menaiki bukit untuk
melihat makhluk kecil yang dapat mematikan itu.
Memang itu adalah pengalaman pertamaku melihat
secara langsung yang namanya kalajengking, sebelum-
sebelumnya hanya melalui gambar. Ketika aku
bertanya hewan apa ini, mereka dengan lancar
menjelaskan tentang binatang itu.
Selain menjadi pemandu wisata, ternyata anak-
anak pun mampu menjadi orangtua bagiku.
Maksudnya? Ya, mereka rela berjalan lebih lambat
untuk menemaniku yang tidak pernah berjalan kaki
sejauh itu. Mereka takut aku tidak mampu dan
pingsan di tengah jalan. Perjalanan yang kami
tempuh sampai di Inggut adalah 2,5 jam. Padahal, jika
mereka berjalan, biasanya hanya 1–1,5 jam.
Rasa sayang mereka kepadaku tidak hanya sampai
di sini. Ketika kami hendak pulang, aku yang sedang
ngampur-ngampur dengan guru honorer di sana, sayup-
sayup mendengar anak-anak sedang berdiskusi
mengenai rute pulang. Ada beberapa anak yang
mengusulkan supaya kami pulang tetap lewat jalan
berangkat dengan risiko lebih jauh dan lelah.
Anakanak lain tidak setuju karena mereka lelah.
Kemudian, salah satu anak menjelaskan bahwa jalur
warga yang lebih singkat itu banyak melewati titian
kayu dan sungai. “Kasihan Ibu Retno, bah. Jalan tuk

~133~
nyangka titian, licin pula. Ibu, kan, takut air.”
Walaupun ada rasa berat, anak-anak lain pun
menyetujui alasan ini. Oh, Tuhan, terenyuh hati ini
ketika mendengar alasan yang diberikan anak-anak
itu, ingin rasanya aku peluk mereka satu per satu dan
mengatakan, “Anak-Anak, Ibu sayang kian.” Mereka
sangat memedulikanku. Mereka sangat tahu aku
bagaimana. Memang aku agak takut dengan air dan
aku pun belum terbiasa jalan di tengah hutan. Ketika
hendak pulang, aku kumpulkan mereka untuk briefing
pulang. Aku pura-pura bertanya, “Bagaimana rencana
pulang kita, apakah ada perubahan?” Kemudian, salah
satu anak menjelaskan hasil pembicaraan yang
sebenarnya sudah kudengar.
Setelah mendengar penjelasan mereka, aku
mengatakan kepada mereka supaya kita lewat jalan
warga saja. Mengenai jalur yang agak menantang itu,
tidak usah terlalu dikhawatirkan, biar menjadi
pengalaman baru untuk Ibu dan kita jalan pelan-pelan
saja. Setelah aku yakinkan anak-anak, akhirnya
mereka setuju untuk lewat jalur warga. Tanpa aku
ketahui, mereka menentukan dua anak untuk benar-
benar menjagaku. Selain itu, anak laki-laki yang
bertubuh besar pun selalu berada di sekitarku dan
mereka siap ketika kondisi jalan dirasa tidak aman.
Di tengah perjalanan, ada Sungai Mansat. Mereka
mengajakku untuk bermain air bersama. Aku yang
selalu menolak untuk mandi di sungai yang mengalir
di desa karena airnya yang kotor, kali itu tak ragu
untuk segera terjun ke air dan ikut menari bersama

~134~
anak-anak yang sedang menjalani hukuman. Melihat
aku ikut mandi di air yang jernih dan dingin itu,
semua anak pun ikut terjun, kecuali satu anak yang
mendapat tugas untuk menjagaku. Kami bersenang-
senang bersama.
Rasa lelah setelah berjalan sekitar satu jam, hilang
oleh segarnya air Sungai Mansat. Sungguh
pengalaman yang tak terlupakan. Tidak ada bus,
tempat rekreasi, makanan fast food, atau apa pun yang
biasa menghiasi karyawisataku pada masa sekolah
dasar. Namun, inilah karyawisata paling sederhana
dan unik yang pernah aku lakukan.
Pengalaman ini tidak hanya dirasakan oleh
Pengajar Muda, tetapi juga dirasakan oleh anak-anak,
terlihat dari tulisan mereka pada tugas menulis
laporan perjalanan yang diberikan sepulang dari
karyawisata •
A NDRI DAN H AMDAN SUKA SEKOLAH!

Oleh: Medha Ardiana Gustantinar*

* Pengajar Muda Kabupaten Lebak, Banten.

INI C ERITA TENTANG A NDRI


Namanya Andri Mukmin, perawakannya kecil,
selalu riang ceria tanpa beban pikiran. Hobinya main
bola. Ya, hampir semua anak laki-laki di sini penggila
bola. Di pikirannya hanya ada bola dan main bola
sepanjang hari. Suatu hari, saat aku mengabarkan

~135~
pemain idolanya, Bambang Pamungkas, membalas
mention-ku di Twitter yang berisi pesan semangat, ia
salah satu anak yang senang bukan main dan
menanyakan hampir setiap hari setelahnya apakah
Bambang Pamungkas menulis pesan untuknya lagi
atau tidak.
Dahulu, Andri hobi sekali tidak masuk sekolah
atau kabur saat istirahat sekolah. Tahukah alasannya?
Karena, ia pergi bermain atau bekerja di tambang
emas untuk mendapat uang jajan. Mungkin pelajaran
di sekolah membosankan atau mungkin teman-teman
tidak menarik pikirku kala itu. Hal yang menarik,
walaupun Andri sering bolos, ia tidak pernah lupa
menghampiri saat bertemu, mencium tangan dan
sekadar cerita ke mana seharian tidak pergi sekolah.
Nasihatku hanya angin lalu, ia masih tetap mencium
tanganku setiap hari walaupun juga masih tetap bolos
sekolah. Hmmm.

Suatu saat, Andri tidak masuk sekolah lama sekali.


Berminggu-minggu tanpa alasan yang jelas dan tanpa
kabar. Ancaman denda Rp2.000,00 setiap kali bolos
yang kami buat di kelas tidak mempan juga. Sampai
akhirnya kami sekelas bersama-sama mencari cara
membuat Andri kembali ke sekolah.
Siang itu pulang sekolah, saya dan seluruh anak
kelas 5 pergi ke rumahnya, sekadar melihat
bagaimana keadaannya. Dan, siang itu pun ia kabur.
Besoknya dan besoknya lagi kami mencoba cara yang
sama, tetapi Andri selalu berhasil kabur. Kami hanya

~136~
bertemu mamaknya. Esoknya, kami mengubah
strategi. Kami sekelas membuat surat untuk Andri.
Surat cinta dari semua anak untuk Andri, yang isinya
kurang lebih mengajaknya kembali ke sekolah dan
ungkapan teman-teman yang ingin sekali Andri
masuk sekolah lagi. Surat itu kami gulung dan diberi
pita warna merah-putih. Seperti hari-hari
sebelumnya, kami tak berhasil menemui Andri secara
langsung. Surat itu pun tak langsung diterimanya.
Andri berhasil kabur lagi. Surat itu akhirnya kami
berikan kepada mamak Andri. Yap, tinggal menunggu
reaksi surat cinta kami.

Olala, surat cinta pembawa pesan dan harapan itu


ajaiiib sekali. Malam harinya, aku bertemu Andri di
warung dekat masjid. Seperti biasa ia mencium
tanganku, bercerita ke mana saja ia pergi, mengapa
kabur, dan berjanji besok masuk sekolah. Bahkan,
Andri mentraktirku jajan dengan uang hasil bekerja

~137~
menggali lumpur emas. Semalaman aku tersenyum-
senyum, memeluk setiap anak yang kutemui.
Pagi harinya, Andri sudah tampil ganteng di dalam
kelas, dengan seragam sekolah dan wajah berseri-seri.
Bukan hanya karena surat cinta. Kemauan Andri
kembali sekolah juga karena dimarahi orangtuanya.
Kedatangan kami ke rumah Andri membuat
orangtuanya malu dan akhirnya bisa marah ketika
anaknya bolos sekolah atau bekerja saat jam sekolah.
Sebelumnya, orangtua Andri tidak pernah marah
ketika Andri membolos. Mereka menyayangi Andri
dengan cara menyetujui apa pun yang anaknya mau,
yang penting anaknya senang maka oke-oke saja.
Kini, Andri rajin sekolah. Ketika kelas 5 mendapat
tugas sebagai petugas upacara, ia ambil bagian menjadi
protokol pembawa teks Pancasila. Ketika kuberi tugas
di kelas, ia yang selalu semangat ingin maju ke depan
walaupun jawabannya jarang benar. Hari ini, saat
lomba peringatan Maulid Nabi, ia ada di atas
panggung, menyanyi bersama grup kasidah kelas 5.
Andri pernah berkata seperti ini, “Ibu baik sekali,
mengapa tidak pernah memukul saya? Kalau saya
bandel, pukul saja,” dan selalu kujawab, “Memang
kalau Ibu pukul, Andri berhenti bandel dan langsung
jadi anak baik? Tidak, ‘kan? Andri bisa, kok, jadi anak
baik tanpa dipukul karena sebenarnya Andri itu anak
baik.”
Di sekolah, Andri memang masih usil. Ada saja
ulahnya. Dari mulai menyanyi saat jam pelajaran
sampai menutup hidung temannya dengan tangan

~138~
penuh keringat. Namun, ia selalu cerita tentang apa
saja, tentang kenakalan-kenakalan yang ia lakukan.
Dari cerita itu selalu kutimpali dengan nasihat.
Sedikit demi sedikit.
INI C ERITA TENTANG H AMDAN
Hamdan sudah lulus SD setahun yang lalu. Aku
dekat dengannya karena rumahnya di ujung jalan
menuju sekolah yang merangkap pangkalan ojek.
Seperti anak-anak di sini, ia punya persediaan senyum
yang tak terbatas. Tak pernah sekali pun, aku lihat ia
dalam keadaan tidak tersenyum. Pernah suatu hari, ia
bercerita dengan mata biru lebam akibat dipukul
kakak kelasnya, masih dengan senyum yang lebar.
Awal mengajar, aku sering melihat Hamdan di
rumahnya. Saat berangkat dan pulang sekolah, ia
menyapaku dengan mengeluarkan kepalanya saja
melalui jendela. Dari hasil tanya-tanya tetangga,
orangtua, dan kepadanya langsung, aku tahu kalau
Hamdan tidak sekolah. Pilihannya tidak meneruskan
SMP karena ia ingin masuk pesantren yang tak tahu
kapan mulainya. Anak-anak di sini banyak yang
memilih melanjutkan pendidikan setelah SD ke
pesantren karena berpikiran SMP itu mahal dan
susah. Pilihan jatuh pada pesantren untuk
mewujudkan cita-cita kebanyakan mereka, menjadi
kiai atau ustaz. Ya, banyak anak ingin menjadi tokoh
agama.
Melanjutkan pendidikan di pesantren, tidaklah
salah. Namun, kebanyakan pesantren di sini tidak
mengeluarkan ijazah, yang berarti tidak bisa

~139~
melanjutkan pendidikan ke tingkat selanjutnya. Hal
ini sangat disayangkan karena di desa kami, SMP baru
saja dibangun. Tidak ada alasan jauh apalagi mahal
karena ada dana BOS dan berbagai bantuan lainnya.
Mengapa tidak memilih, pagi sekolah SMP, sorenya
ikut pesantren. Lebih bijaksana, menurutku.
Bujukan, rayuan, dan nasihat pun mulai aku
tembakkan kepada Hamdan. Tahap awal, pastilah
usulan itu ditolak dengan alasan banyak sekali.
Berbagai cara kukeluarkan, mengajaknya jalan-jalan,
menawarinya belajar komputer, mengajak teman-
temannya untuk membujuknya sekolah, sampai
berbicara dengan orangtuanya. Seminggu, dua
minggu, sebulan, hingga dua bulan proses ini berjalan.
Hari itu, Senin, seminggu setelah Ulangan Tengah
Semester ganjil SMP. Aku terkejut sekali, saat kulihat
Hamdan di depan SMP. Hamdan di depan SMP
memakai seragam SMP. Seragam SMP putih-biru
dengan sepatu dan tas. Ya, Allah, ini hadiah kejutan
pagi-pagi pada Senin. Memang Hamdan agak
terlambat masuk sekolahnya, sampai-sampai Ibu Guru
SMP bingung melihatnya. Hahahaha. Aku hanya
berpesan kepadanya saat itu agar belajar lebih keras
karena banyak ketinggalan. Agak susah, tetapi PASTI
bisa dilakukan.
Esok sorenya, Hamdan dan teman-teman SMP-
nya datang ke rumah. Mereka ingin diajari
menggunakan laptop. Saya berteriak melihat mereka
sendiri berkeinginan belajar. Luar biasa sekali. Dan,
perebutan kekuasaan atas laptopku mulai terjadi.

~140~
Anak-anak ini ....
Sekarang, Hamdan sekolah setiap hari. Setiap
bertemu denganku, kami melakukan ritual unik.
Saling men-tosh tangan dengan keras, baru setelah itu
ia mencium tanganku dan bercerita panjang sekali.
Cerita khas remaja puber yang berapi-api. Anak hebat!

M ANDIRI SEORANG D IRI

Oleh: Lastiani Trikusumastuti Hantoro*

Saya mengenal seorang anak perempuan dengan


ram-but hitam lurus panjang, selalu ceria dan tidak
pernah absen di sekolah. Tidak berlebihan jika anak
ini selalu menjadi inspirasi bagi teman-teman lain di
sekolah.
Anak cantik itu bernama Satratun Hoiro dan lebih
akrab dipanggil Sundu. Sundu sering diledek oleh
temantemannya dengan julukan “Ratu Kutu” karena
memang ram-but Sundu penuh dengan kutu dan
telur-telurnya. Julukan Ratu Kutu baru saya dengar
ketika sekolah kami mengikuti Lomba Gerak Jalan
untuk memperingati Hari Ulang Tahun Republik
Indonesia tahun 2011 lalu. Sundu terpilih menjadi
komandan barisan untuk kelompok putri karena ia
adalah anak perempuan paling tinggi di sekolah dan
suaranya pun lantang.
Usai mengikuti lomba, saya bertanya kepada

~141~
murid-murid saya bagaimana rasanya berpanas-
panasan dan berjalan kaki sejauh 10 kilometer?
Mereka berebutan untuk menjawab dan
menunjukkan perasaannya masing-masing. Sebagian
dari mereka mengeluh dengan teriknya matahari pada
hari itu, tetapi terdengar celetukan dari arah belakang
kerumunan murid-murid saya berkata, “Kasihan
Sundu, Bu, kutu-kutu di rambutnya keluar karena
kepanasan,” sambil disambut tawa teman-temannya
yang lain. Seketika saya melihat raut muka Sundu dan
di luar dugaan saya, Sundu tersenyum manis dan
menganggap lucu lelucon yang dilontarkan temannya
itu.
Pelajaran pertama yang saya ambil dari seorang
Sundu, ia tidak mudah tersinggung dan marah
terhadap temannya.
Di dalam ruang kelas, Sundu memang sangat
menonjol keaktifannya dalam mengikuti pelajaran
yang diberikan. Terbukti dengan keseriusannya
memperhatikan setiap materi yang sedang saya
berikan dan selalu maju ke depan kelas setiap ada
kesempatan. Saya mengibaratkan Sundu seperti
“burung beo” karena kehebatannya dalam merekam
dan menirukan setiap pelajaran dan nasihat yang saya
berikan. Hal ini terlihat ketika ia membantu
temannya yang mengalami kesulitan pelajaran, ia
mengajarkan temannya dengan bahasa dan nada yang
sama seperti yang saya ajarkan.
Akan tetapi, ada hal positif dan negatif dari sikap
yang dilakukan Sundu. Sisi positifnya, Sundu bisa

~142~
mengikuti pelajaran yang saya berikan dengan baik,
tetapi negatifnya, sikap tersebut membuat Sundu
kehilangan kreativitas dan kemandiriannya dalam
mengembangkan kemampuannya. Sedikit demi
sedikit saya memberikan pengertian terhadap sisi
positif dan negatif sikapnya tersebut, dan selalu
menanamkan kemandirian dalam dirinya. Setiap hari,
Sundu selalu rajin mengikuti pelajaran tambahan
yang saya berikan setelah pulang sekolah. Ia akan
marah ketika saya tidak bisa memberikan tambahan
pelajaran karena ada kegiatan lain. Menurutnya, kalau
saya tidak memberikan tambahan pelajaran, ia jadi
tidak punya teman dan tidak ada yang bisa
dikerjakan. Padahal, pekerjaan rumah pasti selalu saya
berikan pada setiap akhir pertemuan kelas.
Aneh betul anak ini, ucap saya dalam hati.
Buah kerja keras dan ketekunan Sundu mengikuti
pelajaran tambahan membuatnya yang belum pernah
merasakan menjadi juara kelas sebelumnya, pada
semester pertama di kelas 5, menjadi juara untuk kali
pertama.
Pada akhir Desember, saya mengambil cuti liburan
tengah semester. Pulang ke kampung halaman tidak
membuat saya melupakan tawa dan celoteh Sundu,
begitu pula sebaliknya. Hampir setiap hari ia selalu
menanyakan kabar dan kegiatan yang sedang saya
lakukan melalui pesan singkat telepon seluler. Tak
jarang ia menelepon saya hanya untuk sekadar
mendengarkan suara saya. Melalui pesan singkat,
kami saling melepas rindu untuk sementara. Besar

~143~
harapannya agar saya segera kembali ke sekolah.
Sundu sudah menganggap saya seperti ibu
kandungnya sendiri. Tak heran, hal ini dikarenakan
selama ini Sundu hanya tinggal berdua dengan
neneknya di rumah. Pada umurnya yang baru 6 bulan,
Sundu sudah ditinggal kedua orangtuanya yang
bekerja di Malaysia. Dari kecil ia hanya diasuh oleh
tetangga rumahnya.

Tidak seperti teman-teman lainnya, pada saat


penerimaan rapor yang seharusnya diambil oleh
orangtua, tidak ada orangtuanya yang mengambilkan.
Pun setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, tidak
ada tangan yang ia cium dengan penuh takzim. Tidak
pula ia rasakan masakan seorang ibu ketika pulang
sekolah.
Sundu selalu menangis ketika disinggung tentang
kedua orangtuanya. Bukan perasaan benci, melainkan
rindu. Mung-kin Sundu tidak merasakan kehadiran

~144~
kedua orangtuanya di rumah yang menemaninya
belajar dan merawatnya ketika ia terluka jatuh dari
sepeda, tetapi Sundu memiliki semangat yang sama
dengan anak-anak lainnya yang merasakan kasih
sayang orangtua di rumah. Terbukti dari awal
kecintaannya terhadap mata pelajaran IPA, ia
menunjukkan dengan kegigihan berlatih supaya dapat
lolos ke babak semifinal sebuah Olimpiade Sains
tingkat Nasional yang diadakan oleh sebuah majalah
komik sains di Indonesia dan diadakan di ibu kota
provinsi.
Ada yang menarik dari perjalanan kami di ibu kota
provinsi. Saat itu kami sedang makan di pinggir jalan,
tiba-tiba Sundu meninggalkan tempat duduknya dan
menghampiri seorang pemuda. Dari kejauhan saya
hanya melihat apa yang sedang dilakukannya di sana,
sekembalinya ke tempat duduk saya menanyakan,
“Apa yang kamu lakukan dengan anak laki-laki itu?”
Ia pun menjawab, “Itu, Bu, tadi anak itu buang
sampah sembarangan. Kan, dosa, ya, Bu membuang
sampah sembarangan. Akhirnya, saya marahi saja dan
saya suruh dia mengambil sampah yang dia buang.
Tapi, Bu, tadi saya malah dimarahi. Karena saya
merasa benar, saya balik memarahi anak tersebut
sampai dia membuang sampah itu ke tempatnya.”
Sungguh terharu melihat betapa anak ini sangat
mencintai kebersihan sekarang. Memang Sundu
sangat mencintai kebersihan, ia selalu membersihkan
kelas setiap hari walaupun hari itu bukanlah hari
piketnya.

~145~
Di samping kemandirian dan keteguhan Sundu, ia
tetaplah seorang anak kecil yang masih manja dan
terbiasa untuk mendapatkan semua yang ia inginkan.
Ketika temannya memiliki sepatu baru, ia pun pasti
selalu ingin memiliki sepatu baru. Namun, perjalanan
kami di ibu kota provinsi, untuk kali pertama Sundu
melihat seorang anak kecil yang berpakaian compang-
camping, kulit hitam legam meminta-minta sedikit
uang darinya.
Ia pun bertanya, “Ibu, anak itu kenapa minta uang
dari aku? Dia sekolah tidak, Bu?”
Saya pun menjawab, “Anak itu adalah pengemis.
Dia meminta karena mungkin uangnya tidak cukup
untuk membeli nasi atau mungkin untuk membayar
buku pelajaran sekolah. Jadi, mungkin saja setelah dia
sekolah, dia bekerja dengan cara meminta-minta.
Sundu harus tahu, mencari uang itu susah sehingga
ada baiknya kamu tidak lagi membeli barang-barang
yang sebenarnya tidak kamu perlukan.”
Adanya kejadian tersebut, mengubah sifat manja
dan tidak mau kalahnya.
Kehadiran orangtua memang penting dalam
perkembangan anak di dalam maupun di luar sekolah.
Namun, dari Sundu kita belajar, ketidakhadiran
orangtua ataupun orang-orang yang kita sayangi di
samping kita, seharusnya tidak dijadikan kambing
hitam untuk tidak berusaha, belajar, dan berkarya
lebih baik. Ketika semangat terus menyala, rintangan
sebesar apa pun akan dengan mudah kita hadapi.
Sundu menunjukkan semangatnya mengikuti

~146~
Olimpiade Sains, yang membuktikan bahwa anak
yang bersekolah di gunung dan memiliki banyak
keterbatasan sarana dan prasarana pun, tidak kalah
dengan anak-anak lain di mana pun ia berada. •
G ARA-G ARA PELANGI

Oleh: Ratu Ashri Maulina Fauzana*


* Pengajar Muda Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Pagi ini seperti biasa, setelah mandi, berpakaian


rapi, berdandan cantik, aku pergi sekolah untuk
menemui murid-muridku. Rasanya setiap hari aku
ingin bertemu mereka. Euforia karena mereka sudah
bisa membaca dua huruf gabungan, konsonan
ditambah vokal, bagiku sudah merupakan kemajuan
yang luar biasa.
Kegiatan belajar-mengajar kuawali dengan
membariskan murid-murid kecilku di luar kelas
sebelum masuk ke ruangan. Hari ini lumayan banyak
yang datang walaupun memang presensi kelas 1-ku
tidak pernah penuh. Selalu saja ada yang “bolong-
bolong” karena alasan-alasan yang diada-adakan. Tak
apalah, yang penting bagiku, berapa pun murid yang
datang, aku akan tetap memberikan pengajaran.
Pernah suatu kali aku hanya mengajar dua orang
siswa karena seluruh kampung pergi mengantarkan
orang yang berhaji ke darat. Sedikit kecewa, tetapi
dahagaku tersiram embun yang membasahi dinding

~147~
kelasku.
Kembali ke awal. Setelah mengecek kuku tangan
dan pakaian mereka, di kelas, anak-anak berdoa
terlebih dahulu

dan ia yang ditunjuk akan menyiapkan kelas


dengan memimpin teman-teman mereka untuk
berdiri, bersiap, dan memberi salam, kemudian duduk
kembali. Puji syukur aku panjatkan kepada-Nya,
setelah hampir lima bulan, sekarang anak-anakku
sudah mulai paham dan sadar serta melaksanakan
aturan di kelas. Setelah itu, menyanyi menjadi salah
satu bagian yang paling dinanti-nanti oleh anak-anak
sebelum belajar. Tak kusangka mereka sudah hafal
beberapa lagu yang aku ajarkan kepada mereka.
Dengan semangat ‘45 mereka mengeluarkan suara
dengan nyaring. Bagiku, senandung mereka terdengar
merdu di telingaku. Satu lagu, dua lagu, tiga lagu,
hingga ....
“Ibu ... Ibu .... Agung menangis!” seorang murid
berteriak kepadaku. Lagi-lagi yang menangis Agung, ia
selalu mengeluarkan air matanya ketika kami
bernyanyi bersama. Memang tangisannya tidak lama,
tetapi hal ini cukup mengganggu konsentrasi kelas.
Padahal, Agung adalah salah satu murid kelas 1-ku
yang paling rajin datang sekolah, pakaiannya selalu
rapi dengan sabuk ala remaja yang menjadi ciri
khasnya. Kulitnya hampir matang dengan bintik-
bintik yang menghiasai tangan dan mukanya. Aku
rasa karena ia selalu bermain di laut, berenang,

~148~
bertemankan matahari. Rambutnya pendek dan tidak
pernah panjang seperti kebanyakan anak-anak laki-
laki lainnya yang biasa memelihara buntut di rambut
belakangnya, ia juga selalu bersepatu lengkap dengan
kaus kakinya. Walaupun belum lancar mengeja, Agung
mau menulis dan tulisannya pun cukup baik, hanya
perlu banyak latihan. Aroma yang dibawanya juga
spesial, wangi laut air asin, dan hidungnya tidak
pernah kering dari lendir hijau yang selalu ditariknya
kembali setiap kali si hijau meleleh keluar dari
hidungnya.
Butuh waktu agak lama untuk menenangkannya.
Aku jadi pusing sendiri, mengapa pada saat anak-anak
yang lain tertawa dan bersenang-senang dengan lagu,
Agung malah menangis. Cengeng sekali. Aku suka
kesal dengan muridku yang gampang menangis
karena sesuatu hal yang ia tidak mau bilang. Begitu
juga dengan Agung, hampir setiap kali menangis, ia
hanya mau berhenti ketika sudah kuterapkan sistem
hitung 1 sampai dengan 5 sambil kuusap-usap
bahunya tanpa mau memberitahuku alasan ia
menangis. Dan, hari ini, aku bertekad untuk
mengetahui jawabannya. Menangis lagi, membujuk
lagi, ia masih saja bungkam. Kubiarkanlah Agung
tenang dan tak kutanya-tanya lagi.
Keesokan harinya terjadi hal yang sama, lalu aku
mencari ide lain, aku hitung berapa lagu yang
kunyanyikan bersama anak-anak dan kucermati judul-
judulnya. Kami biasa menyanyi enam lagu, bahkan
lebih. Diawali dengan “Bangun Tidur Kuterus Mandi”,

~149~
“1234”, “Pelanduk”, “Kapal Feri”, “Pelangi”, dan
“Bintang Kejora”. Hari berikutnya lagi, pandanganku
lebih banyak fokus kepada Agung, ia masih baik baik
saja, dengan tampang polosnya, sampai pada lagu
“Pelangi”, ia menangis. Lagi. Aku tenangkan lagi.
Esoknya lagi, “Pelangi” lagi. Apa mungkin karena
dalam lagu itu ada namanya. Masa, ya, sih??? Apa
karena teman-temannya yang selalu tersenyum malu-
malu ketika menyanyikan bait “Pelukismu agung,
siapa gerangan”?
Akhirnya, dengan peluh dan kesabaran yang aku
siapkan ekstra khusus untuknya, ketika “Pelangi”
dinyanyikan, aku luangkan lebih banyak waktu
untuknya saat ia menangis dan meminta anak-anak
lain untuk diam dan tetap tenang. Aku tanya,
“Mengapa? Apa karena lagu itu? Apa karena terdapat
namanya?” Tetap seperti biasa, ia tidak mau
menjawab. Kubawa ia ke dekat mejaku dan kuminta
ia melihat mataku ketika aku bertanya, pelan-pelan,
aku tanya mengapa ia menangis. Benar saja, setelah
beberapa rayuan dan bujukan, Agung menjelaskan
bahwa ia tidak bisa melukis pelangi, katanya, “Pelangi
itu di langit, kan, Bu’e. Saya belum pernah lihat
pelangi, Bu’e. Tapi, nyanyinya selalu sebut nama saya
yang menggambar, e saya tidak punya krayon, Bu’e.
Saya tidak bisa gambar di langit, saya tidak mau
nyanyi.” Tersenyum aku melihat celotehnya disertai
dengan isak tangisnya. Agung, Agung, ternyata yang
kukhawatirkan benar, betapa polosnya anak ini.
Kejadian ini memberiku pelajaran untuk lebih jujur

~150~
lagi dalam menjalani hidup. Seorang anak laut
berumur 6 tahun, malu namanya tertulis dan
tersebutkan di sebuah lagu hanya karena ia
berpersepsi bahwa “pelukismu agung” yang
dimaksudkan dalam syair itu adalah ia yang
menggambar pelanginya. Ia menangis karena belum
bisa menggambar pelangi, tetapi namanya seperti di
elu-elukan oleh semua teman-temannya yang
menyanyikan lagu itu.

Aku pun menjelaskan kepada Agung tentang lagu


itu, kujelaskan bahwa Agung itu bukan menuju pada
namanya, dan kuceritakan tentang bait-bait
berikutnya, bahwa yang menciptakan pelangi itu
Tuhan, bukan Agung. Ia tidak perlu berpusing
mencari krayon untuk menggambar pelangi di kanvas
langit. Ia hanya perlu menyanyikan dengan baik tanpa
menangis dan bangga karena namanya punya arti
yang sungguh baik. Untuk menjaga kebesaran

~151~
namanya, aku memintanya untuk terus menjaga sikap
baiknya karena ternyata namanya bukan sembarang
nama. Namanya akan dinyanyikan semua anak-anak
Indonesia.
Sejak saat itu, keesokan harinya walaupun ia
masih belum bisa tersenyum ketika menyanyikan itu,
ia sudah tidak menangis lagi. Setidaknya aku bisa
berlega sedikit dan melanjutkan lagu pembuka dengan
aman.
Aku berharap dan berdoa kepada Yang Maha
Agung, mudah-mudahan Agung bisa menerima dan
mengerti penjelasanku, hingga kelak ia akan
menyanyikan “Pelangi” dengan lantang dan
tersenyum bersama teman-temannya tanpa harus
menangis atau cemberut. Semoga.
Bu’e Guru. •
J UARA DI D APUR

Oleh: Andita Destiarini Hadi*

Sudah tujuh bulan aku menjadi seorang pengajar


di salah satu sekolah dasar di wilayah selatan
Indonesia, yaitu SD Inpres Batula, Rote Timur.
Bermacam-macam tingkah laku, watak, kebiasaan,
dan celotehan anak-anak telah aku temukan di
sekolah yang berada di depan pantai ini.
Muridku dalam satu sekolah berjumlah 138 orang
dan banyak dari mereka yang dijuluki “anak nakal”

~152~
oleh berbagai pihak. Namun, dengan adanya julukan
itu, justru membuatku semakin yakin bahwa anak itu
pasti memiliki kecerdasan tertentu. Seperti yang
pernah dikatakan Bapak Munif Khatib, “Tidak ada
manusia yang bodoh di dunia ini.” Dengan kata lain,
setiap manusia memiliki kecerdasannya
masingmasing. Hanya saja, banyak orang di dunia ini
yang belum menemukan kecerdasannya. Murid-
muridku yang telah mendapatkan predikat sebagai
“anak nakal” sebagian besar merupakan anak laki-laki.
Julukan “anak nakal” sering kali diikuti dengan
“bodok” atau “bodoh” (dalam bahasa Indonesia). Hu,
sangat disayangkan julukan itu ....
Salah satu muridku, Frangki Junus namanya,
duduk di bangku kelas 4. Pada usianya yang 12 tahun,
seharusnya ia berada di kelas 6. Namun, ia pernah
tinggal kelas 2 kali dan membaca pun belum lancar.
Anak ini salah satu anak yang mendapatkan julukan
“anak nakal”. Ya, memang selama ini aku
mengajarnya, indikasi sebagai anak nakal memang
muncul. Kebiasaannya yang sering izin ke kamar kecil
ketika jam pelajaran, memukul anak perempuan tiba-
tiba, mencuri pi-sang, sering berteriak-teriak di dalam
kelas, tidak mau mengerjakan tugas, dan berkelahi
dengan teman-temannya, membuatku berpikir bahwa
memang anak ini “spesial”.
Untuk mengendalikan emosiku ketika ia mulai
berulah, aku selalu berpikir bahwa ia hanya ingin
diperhatikan lebih daripada teman-temannya yang
lain. Akhirnya, pada suatu hari aku melihat

~153~
kecerdasan yang dimiliki Frangki. Ketika pelajaran
SBK (Seni Budaya dan Keterampilan), aku
memberikan materi mengenai mewarnai
menggunakan cat poster. Dari seluruh murid kelas 4,
hanya Frangki yang berani bermain warna dalam
artian berani mencampurkan warna dan memberikan
sedikit corak garis-garis yang tentunya menjadi sangat
berbeda daripada karya murid kelas 4 yang lainnya.
Bahkan, ide mewarnainya itu, mungkin tidak muncul
dalam benak teman-teman yang lain.
Pada suatu hari yang cerah, tepatnya Jumat, anak-
anak kelas 4 menjalankan ujian praktik muatan lokal
(mulok) semester ganjil. Mereka ujian memasak nasi,
mi, dan telur. Mungkin bagi orang dewasa, sangat
mudah membuat menu makanan tersebut, tetapi
cukup sulit bagi anak kelas 4 SD. Selain membuatnya,
makanan yang sudah jadi harus diatur dengan rapi di
atas meja beserta perlengkapan makan dan
hiasannya.
Saat ujian praktik inilah, aku melihat hal yang tak
biasa. Frangki, si “anak spesial” ini, dengan mudahnya
memasak nasi, membolak-balik telur mata sapi di atas
wajan, tidak kaku sama sekali. Bahkan, tampilan
makanan hasil jerih payah Frangki cukup menarik. Ia
berbeda dengan anak lainnya yang masih kesulitan
memilih beras (menapis beras), membalikkan telur,
bahkan mereka masih kebingungan mengatur
makanan dalam piring. Salah satu anak perempuan
berkata kepada Frangki, “Frangki, lu kerja dulu beta pung
telur!” [Frangki, tolong kerjakan telur saya.]

~154~
Sungguh Frangki luar biasa. Ketika aku sampaikan
kejadian ini kepada salah seorang guru, guru itu pun
tak heran lagi. Kelebihan Frangki muncul setelah ia
ditinggalkan ibunya beberapa tahun lalu. Tak ada
sosok seorang ibu di rumah, ayahnya juga sibuk
bekerja di kebun, dan sebagai anak sulung maka tak
ada pilihan lain. Ia harus bisa menggantikan
pekerjaan ibunya, yaitu memasak. Tak seperti
kebanyakan anak laki-laki lainnya yang enggan masuk
dapur, Frangki sudah biasa bergulat dengan wajan,
kompor, dan kawan-kawan. Anak yang dicap “anak
nakal” itu ternyata “juara dapur”.

SENYUM BUNGKUS

Oleh: Nia Setiyowati*


* Pengajar Muda Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara
Timur.

~155~
Jika ada pertanyaan, “Siapakah laki-laki paling
romantis yang pernah kutemui?” Maka, akan
langsung kujawab, “Para siswa laki-laki di sekolah
tempatku mengajar J.”
Suatu siang, seperti siang-siang sebelumnya, aku
berada di kelas 5. Kelas di mana para “cintaku”
berada. Biasanya, saat siang seperti itu, mereka akan
mulai kehilangan konsentrasi belajar, mulai beraksi
dengan segala keusilannya, dengan segala bentuk
keaktifan sehingga membuatku tidak akan bisa duduk
di balik meja guru. Pada kondisi seperti itu, kami
berada di posisi yang berbeda. Mereka (baca:
anakanakku) dalam posisi kelebihan energi,
sedangkan aku mulai kehabisan energi.
Akan tetapi, ada yang tidak biasa siang itu. Ada
yang sedikit janggal. Berbeda dari siang-siang
sebelumnya. Meskipun mereka sudah keluar bermain
(istilah untuk istirahat di sini), mereka kembali serius
mengikuti pelajaran berikutnya. Padahal, biasanya
mereka susah sekali untuk kembali konsentrasi. Aku
harus berusaha dengan segala cara untuk
mengembalikan konsentrasi dan semangat belajar
mereka, mulai dari sinyal, tepuk merah, lomba diam,
gerakan marina, teka-teki, dan sebagainya. Siang itu
mereka menyimak tiap penjelasan yang kuberikan,
memperhatikan dan melakukan setiap instruksi, serta
mengerjakan setiap soal dengan tekun. Aku
mengernyitkan dahi, bertanya dalam hati ada apa
dengan mereka hari ini?
Karena hari ini mereka begitu tertib, siang itu aku

~156~
bisa sejenak duduk di kursi guru. Sambil memandang
mereka yang sedang sangat serius menyelesaikan soal-
soal yang kuberikan—tapi tetap dengan ekspresi yang
lucu-lucu. Ada tepuk-tepuk dahi, gigit-gigit pensil,
bolak-balik ambil tipex, atau tertawa bangga saat
berhasil menemukan jawaban. Aku memang sengaja
membebaskan anak-anakku berekspresi asalkan
mereka mengerti, memahami, tetap hormat dan
menghargai, serta bertanggung jawab pada tugasnya.
Namun, karena hal ini, aku juga sering sekali kena
tegur kepala sekolah karena kelasku dianggap tidak
tertib :p.
Nah, pada saat aku duduk, aku sengaja tidak
berkutat pada tumpukan buku-buku latihan anak-
anak yang harus dikoreksi. Namun, saat itu aku
tertarik untuk memperhatikan para “cintaku”. Aku
melempar pandangan ke seisi ruang kelas. Geli
melihat tingkah mereka hari itu. Sungguh manis.
Dan, aku tersenyum sendiri melihat mereka hingga
tanpa sadar ada sebagian anak laki-laki di pojok
ruangan berbisikbisik dan anak-anak lain pun ikut-
ikutan tersenyum. Aneh melihat hal itu, aku bertanya
kepada mereka mengapa berbisik-bisik dan sedang
berdiskusi tentang apa? Kemudian, salah satu anakku
yang bernama Stefen, si jagoan perkalian bilang, “Ibu
dari tadi senyum-senyum bungkus na.”
Setelah itu, Yusak, si hitam manis menimpali,
“Pasti Ibu sedang mengkhayal dapat mobil mewah,
ooowww.” Diikuti tawa teman-teman yang lain.
“Sonde ... Ibu tidak mengkhayal mobil mewah. Justru

~157~
Ibu heran kenapa hari ini kalian tertib sekali?”
Akan tetapi, bukan muridku kalau tidak
menyangkal, “Ah, katong sonde percaya! Ibu pasti
melamun.”
Akhirnya, aku hanya bisa geleng-geleng kepala dan
tersenyum seraya menyuruh mereka kembali
mengerjakan. Namun, sebelum itu aku penasaran
pada satu kata yang diucapkan mereka tadi sehingga
aku melemparkan pertanyaan, “Senyum bungkus?
Apa itu senyum bungkus?” Anakku yang bernama
Yusak tadi menjawab, “Maksudnya begini, Ibu
(dengan gaya sok bijaknya). Coba Ibu senyum ulang,”
sambil tetap keheranan aku mengikuti kata-katanya
untuk tersenyum. “Nah ... Ibu senyum begitu, katong
tangkap, dibungkus, lalu dibawa pulang.” Ia
mengatakan itu lengkap dengan gerakan-gerakan
seolah menangkap sesuatu, membungkus, kemudian
memasukkannya ke dalam saku baju seragamnya
sambil tersenyum juga. Ooowww ... seketika itu aku
meleleh *serius ... dan tersenyum semakin dalam.
Ah, bagaimana, ya, menggambarkannya. Bahkan,
sampai sekarang pun aku masih suka tersenyum
sendiri jika mengingatnya.
Betapa bahagianya memiliki perhatian yang begitu
tulus, apalagi perhatian itu dari para benih-benih
matahari *meminjam istilah Citra. Ketika raga dan
jiwa mulai letih, wajah tak lagi segar, fisik tak lagi
bugar, lelah dengan segala tekanan, miris dengan
segala macam koreng di kaki dan tangan, bahkan
ketika sudah kehilangan senyum diplomatis dan lupa

~158~
bagaimana cara berprasangka baik, anak-anaklah yang
mengembalikan semuanya. Merekalah para penghibur
yang mengisi rongga jiwa dengan segenap energi
positif, menyadarkanku akan tujuan semula,
memberikan arti tentang ketulusan, mengingatkanku
akan sebuah janji dan menghadirkan kembali
senyumku yang layak untuk mereka bungkus dan
dibawa pulang.
Aku yakin, teman-teman Pengajar Muda yang lain
pun pasti punya kisah-kisah romantisnya. Pun
denganku. Kusambing cinta, anonak cinta, batu-batu
cinta, puisi dan surat cinta, gorengan cinta, dan satu
lagi, aku punya senyum bungkus penuh cinta. •

SARIF DAN D AUN L ITAP

Oleh: Nahary Latifah*


* Pengajar Muda Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan
Barat.

~159~
Kampung ini bernama Empangau. Dalam bahasa
Jawa, empangau adalah ‘walang sangit’. Padahal,
menurut Datuk Abdullah, tetua adat yang berusia
sekitar 110 tahun ini, nama kampung ini sebenarnya
Empangou. Empangou sendiri adalah nama seorang
dara cantik yang hidup pada masa lalu. Empangau
terletak di tepi Sungai Kapuas, Kecamatan Bunut
Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Di
sebelah hulu ada sebuah Sekolah Dasar satu-satunya
di kampung ini, tempat saya bertugas.
Pagi itu, di kelas tiga kami tengah belajar Pendidikan
Kewarganegaraan. Materi kali ini adalah tentang
peraturan. “Teman-Teman, siapa yang membuat
peraturan di seko
lah?” saya buka pelajaran hari itu dengan
sebuah pertanyaan. “Guruuu.” “Kepala Sekolaaah,”
jawab mereka. “Ada lagi, tidak? Kalau peraturan di
kelas, siapa yang
membuat?” “Ibu Guruuu,” serempak mereka
menjawab. “Siapa lagi?” pancing saya. “Anak
muriiiid.”
“Oooh, jadi anak murid bisa buat peraturan
bersama guru?”
“Bisaaaaaa ....”
“Auk [ya], kalau begitu, boh [ayo] kita buat
peraturan kelas!” ajak saya.
Kemudian, kelas menjadi hiruk pikuk. Mereka
berebut mengusulkan peraturan dan sanksinya.
Macam-macam saja yang diusulkan. Ada usulan sanksi
membersihkan WC, dikeluarkan dari kelas, sampai

~160~
dipukul ramai-ramai kalau ada yang nakal (Wah, kalau
yang ini tentu saja tidak saya loloskan, hehehe).
Selesai momen demokratis itu, saya tugaskan
murid-murid mencatat peraturan sekolah yang
dipasang di depan kantor guru. Semua berjalan lancar,
sampai ada seorang murid melapor kepada saya. “Ibu,
Sarif dan Kus tidak mau kerja tugas. Sidak [mereka]
malah belanja.” Hmmm, sesuai kesepakatan yang
baru saja dibuat bersama, kalau ada yang tidak mau
mengerjakan tugas, diberi sanksi. Nantilah jam
istirahat, saya akan bicara dengan mereka.

~161~
Waktu istirahat, saya ajak mereka bicara.
“Sarif, Kusnadi, kenapa tadi belanja waktu
pelajaran? Belanja itu waktu istirahat, kan?” tanya
saya.
Mereka hanya diam senyum-senyum.
“Tadi kita sudah buat peraturan, ya? Boleh kita

~162~
meninggalkan kelas waktu belajar?”
Mereka menggeleng.
“Lalu, kenapa kalian melanggar?” tanya saya pelan.
“Tadi kita sepakat, kalau melanggar, bagaimana?”
Mereka diam.
Saya lanjutkan dengan beberapa pertanyaan dan
nasihat. Tak berapa lama, Kus mulai terisak. Duh,
dikiranya saya marah kali, ya?
“Kus, kenapa nangis?”
Belum lagi Kus menjawab, Sarif pun meneteskan
air mata.
Duh, duh, lha, kok, malah dua-duanya.
“Sudah, Ibu tidak marah,” saya usap kedua kepala
anak itu. Eeeh, lha, kok, air matanya tambah deras.
Akhirnya, saya suruh istirahat untuk mengakhiri
tangis mereka.
Pulang sekolah, Muk Odat, kakak angkat saya
mengajak saya masuk hutan depan sekolah untuk
mencari daun litap. Daun litap dipercaya dapat
menyembuhkan berbagai penyakit, termasuk untuk
mengobati alergi kulit saya yang tak kunjung sembuh
sejak saya di sini. Sudah berbagai cara dilakukan Muk
Odat dan keluarganya untuk menyembuhkan gatal-
gatal saya. Mulai dari di-tangas hingga digulai
(melumuri badan) dengan remasan daun ceplukan.
Tangas adalah semacam mandi uap tradisional hasil
rebusan ramuan dedaunan di dalam sebuah bilik kecil
dan tertutup yang terbuat dari selimut atau tikar.
Kami masuk ke hutan disertai beberapa anak yang
ingin ikut mencari daun litap. Ada Yani, Malik, dan

~163~
beberapa anak lainnya. Saya terkejut, Sarif ikut serta
bertelanjang kaki pula. Padahal, kami harus melewati
semak-semak dan menginjak duri ataupun serpihan-
serpihan kayu. Hutan ini menjadi penghubung antara
permukiman dengan danau Empangau, sebuah danau
oxbow yang kini menjadi danau lindung adat untuk
melindungi berbagai spesies ikan, terutama ikan siluk
(arwana) Super Red yang kini semakin langka.
Kami menyusuri jalan setapak, jalur para
penebang kayu. Kalau Sungai Kapuas pasang, jalur ini
tertutup air dan menjadi sungai penghubung sekolah
dan danau. Kami mengamati dari pohon ke pohon
berharap menemukan tumbuhan yang hidup
menumpang itu. Agak susah mencari tumbuhan ini,
selain jarang, letaknya pun susah dijangkau, biasanya
ada di bagian atas pohon yang tinggi.
Cukup jauh kami berjalan hingga kami
menemukan pohon yang sangat tinggi dan tampak di
sana ada tumbuhan yang merambat. Muk bilang
mungkin itu daun litap, agak tidak yakin karena
letaknya yang tinggi sehingga tidak terlihat jelas. Saya
sendiri juga tidak bisa memastikan karena belum
pernah melihat bentuk daun itu.
Melihat letaknya yang tak terjangkau bagi kami
berdua, saya bilang tak usah diambil, cari yang lain
saja. Tak mung-kin memanjat pohon itu, terlalu
tinggi dan batangnya mung-kin licin. Lagi pula, tak
banyak cabang yang bisa membantu untuk dipijak.
Namun, kulihat Sarif tengah berlari menuju pohon
itu. Dengan sigap, ia memanjatnya. Saya menyuruh

~164~
Sarif segera turun. Rupanya ia tak menuruti dan
malah semakin bersemangat memetik daun-daun itu
hingga ujung pohon. Saya ketakutan sendiri
melihatnya dan terus berteriak agar ia turun.

Begitu menginjak tanah, Sarif berlari dan langsung


memperlihatkan daun-daun itu kepada Muk Odat.
Rupanya, bukan daun itu yang dimaksud. Kata Muk,
daunnya mirip, tetapi bukan itu. Kami pun
melanjutkan pencarian lebih masuk ke hutan.
Hasilnya, nihil. Tak ada satu pun tanaman itu kami
temui.
Begitu sampai di rumah, kami bertemu Pak Haji
Ali, kepala sekolah kami. Kata beliau, daun itu sudah
jarang. Daun itu ada di seberang sungai atau di hutan
pintas menuju Kecamatan Jongkong, sebuah
kecamatan di hilir desa kami.
Mendengar hal itu, Sarif mengajak kami untuk
berkayuh [berperahu dayung] ke seberang sungai. Ke

~165~
seberang sungai? Sungai Kapuas dalam dan lebar.
Berkayuh dengan sampan kecil bersama anak-anak?
Tidak! Saya tidak mau ambil risiko. Akhirnya, saya
suruh mereka pulang dan beristirahat.
Hari berikutnya, Sarif kembali berulah. Ia keluar
kelas dan pergi jajan ke kantin sebelum waktu
istirahat tiba. Lagilagi, saya ajak ia bicara. Sengaja saya
“tahan” supaya pulang belakangan.
“Sarif, kenapa tidak mau kerja tugas lagi?” tanya
saya.
“Kemarin, Sarif, kan, sudah janji mau kerjakan
tugas, mau menulis.”
“Sarif mau naik kelas tidak?”
Saya tatap wajah Sarif yang masih cengengesan.
Sarif tiap tahun memang jadi “veteran”. Menurut
umurnya, seharusnya ia sudah duduk di kelas tinggi.
Namun, tingkah lakunya masih seperti anak-anak
kelas rendah, masih ingin bermain terus. Ia juga
belum lancar membaca, menulis, dan berhitung.
“Sarif, kan, kemarin sudah janji menjadi anak
yang tertib?”
“Sarif, kan, ketua kelas. Jadi, harus bisa kasih
contoh sama teman-teman.” Saya sengaja
menunjuknya sebagai ketua kelas, selain karena cukup
“berpengaruh” di kelas, ia bisa belajar bertanggung
jawab dan menahan diri. Selama ini, ia dicap sebagai
anak yang susah diatur.
Deg, tiba-tiba raut muka Sarif berubah. Ia yang
dari tadi cengengesan jadi diam. Mukanya menjadi
merah dan tesss ... air mata mengalir deras. Waduuuh

~166~
... gawat! Harus segera saya akhiri ini.
“Ya, sudah, Sarif besok mau menjadi contoh buat
temantemannya untuk jadi anak tertib?”
Sarif hanya mengangguk.
“Sarif boleh pulang sekarang,”
saya usap-usap kepalanya, “hati-hati,
ya!” Sarif keluar kelas dan masih
menangis tersedu-sedu. Paginya,
pelajaran mulai seperti biasa.
Tibatiba, Sarif
maju ke depan.
“Bu ... ini daun litap-nya!” Ia menyerahkan daun
tebal berbentuk hati itu kepada saya.
Saya terdiam. Rasanya dada ini sesak. Beberapa
hari ini, saya membuatnya menangis terus. Kalau saya
jadi dia, mungkin saya tidak akan bicara dengan guru
yang sudah memarahi. Saya pasti kesal habis-habisan
karena dibuatnya menangis. Namun, ini? Ah, saya jadi
merasa tidak enak. Dari mana ia mendapatkan ini?
Apakah ia mengambil risiko berkayuh ke seberang
sungai? Apakah ia sendiri yang memanjat dan
mengambil daun ini demi seseorang yang kemarin
mungkin menyakitinya?
Saya tatap ia, tidak ada dendam di matanya. Saya
ingin menangis.
Saya pernah membaca sebuah kutipan tentang
pengajaran dari Joseph Joubert, seorang moralis dari
Prancis. Katanya, “Mengajar adalah belajar untuk kali
kedua.” Bagi saya, mengajar adalah belajar untuk kali
kesekian. Siapa saja bisa menjadi guru dan hari ini,

~167~
Sarif menjadi guru saya, ia telah memberi pelajaran
kepada saya. •
R OJOL, BUKAN A MIR K HAN

Oleh: Jaka Arya Sakti*

Rojol bukan aktor India. Bukan temannya Kajol,


apalagi Amir Khan. Ia murid saya. Hari Yuwono nama
aslinya. Sapaannya Rojol atau cukup Jol. Saya tak
tahu dari mana asal usul atau hubungan kedua nama
itu.
Rojol berumur sekitar 8 tahun. Ia sekarang duduk
di kelas 2 SD. Rojol selalu bahagia dan sinar matanya
memancarkan kepolosan. Apa yang istimewa dari
seorang Rojol? Selain senyum khasnya, Rojol
memiliki sesuatu yang mungkin saya dan banyak
orang akan merasa kehilangan jika ia tidak
melakukannya.
Rojol adalah makmum setia saya setiap kali shalat
di Surau Istiqomah, Desa Semalah. Begitu suara azan
berkumandang, Rojol selalu bersiap mengenakan baju
koko dan kopiahnya untuk berangkat ke masjid. Tak
jarang ia masuk ke rumah saya tinggal, berdiri di
depan pintu, dan menunggui saya sedang bersiap-siap.
Ketika anak-anak yang lain datang dan pergi silih
berganti, Rojol selalu ada di antara makmum di saf
pertama atau di samping saya saat kami hanya
berdua. Ia selalu ingin ikamah atau azan, tetapi sering

~168~
kali ia mengalah kepada abang-abangnya. Ia pun hafal
sebagian bacaan zikir dan doa setelah shalat.
Ia paling bersemangat ketika ditunjuk membaca
selawat sehabis shalat berjemaah. Saya sulit menahan
senyum bangga sekaligus geli tiap kali melihat Rojol
dengan lantang dan khas membacakan selawat
kepada Nabi Saw. Khawatir mengganggu
konsentrasinya, saya sering melemparkan senyum
kepada bapak-bapak jemaah di masjid. Mereka pun
tampak mengerti dan membalas dengan senyum
penuh kebanggaan. Bahkan, Rojol sudah didaulat
“anak mantu” oleh Pak Abdullah, seorang jemaah di
masjid yang memiliki putri seumur Rojol. Ada-ada
saja.
Suatu waktu, Rojol mencari saya hingga hilir
kampung. Ia menemukan saya sedang terlelap di
rumah salah satu warga. Ia datang dengan seragam
shalat lengkap, lalu membangunkan dan mengajak,
“Pak, sembahyang!” Saya pun terjaga, sekaligus
tercengang.
Generator listrik desa dari pembiayaan PNPM
bekerja dari pukul 17.30 hingga pukul 23.00. Praktis,
hanya shalat Magrib dan Isya yang mendapat jatah
aliran listrik. Oleh karena itu, surau pun menyala
terang dan azan berkumandang nyaring melalui
pengeras suara. Sebaliknya, waktu shalat Subuh, desa
sunyi dan gelap.
Akan tetapi, Rojol bangun saat gelap subuh. Rojol
mengambil air wudu ke sungai dan shalat, sendirian.
Rojol pernah menangis marah kepada ibunya karena

~169~
tidak dibangunkan dan terlambat shalat Subuh. Rojol
sungguh tangguh. Banyak orang harus berjuang
setengah mati untuk memilih antaramengangkat
selimut lebih tinggi atau dinginnya air wudu,
sedangkan Rojol dengan senang hati bangun dini hari.
“Pak, subuh nanti bangunkan saya!” pintanya jika
kami berjanji shalat Subuh berjemaah di surau.
Alhamdulillah, setelah saya meminjam generator
listrik portable untuk mengalirkan listrik ke surau,
cukup dengan azan subuh, Rojol pun hadir.
Rojol pun selalu khusyuk dalam shalatnya. Ketika
temantemannya kadang bermain-main ketika shalat,
Rojol tetap bergeming. Rojol seolah mengerti bahwa
ia sedang menghadap Sang Penciptanya, ia bersikap
sebaik-baiknya. Pandangannya lurus ke tempat
sujudnya, mulutnya sibuk membaca bacaan shalat.
Serius, penuh kesungguhan.
Pernah Rojol berkomentar, “Aku ndak mau ninggal
shalat, rugi!”
Gong! Sudah bisa terbangun konsep yang abstrak
di benak Rojol ketika kebanyakan anak seusianya
masih pada masa kecerdasan konkrit-operasional.
Bahkan, orang dewasa masih banyak yang gagap
dengan konsep “untung-rugi” yang satu ini. Dengan
polos, tanpa siratan sombong, Rojol kadang dengan
bangga berkata pelan, “Pak, aku sudah lima waktu
hari ini!”
Rojol sedang belajar mengaji. Belum sampai
membaca Alquran memang. Ia masih belajar dengan
metode Iqro’, sudah sampai ke tingkat 5. Ia mengaji

~170~
kepada Ngah Idah, salah seorang warga. “Ngah” adalah
panggilan untuk anak kedua dalam bahasa Ulu.
Suatu waktu, Rojol sedang belajar mengaji dengan
Ngah Idah. Kebetulan saya dan beberapa anak yang
juga belajar mengaji ada di sana. Tiba-tiba bacaan
Rojol menjadi aneh terdengar, kami mengira ia
tertawa. Namun, kami sadar ternyata ia menahan
tangis. Kami pun heran. Namun, heran kami menjadi
geli ketika kami tahu ia menangis karena belum
mampu membaca dengan baik bagian yang sedang
dibacanya. Kami pun kegelian karena lantunan bacaan
Rojol menjadi tersedu-sedu, bercampur dengan isak
tangis. Bagaimanapun, lantunan tersedunya bernilai
dua kebaikan. Kebaikan seorang pembelajar dan
kebaikan seorang pembaca kitab suci.
Semoga kita dirahmati-Nya dengan Alquran, Jol!
Pada lain waktu, pada saat sedang banyak anak-
anak gemar bermain kartu remi dengan
mempertaruhkan kartu bergambar, saya
mengingatkan untuk tidak belajar bermain judi. Di
antara sekian banyak dari mereka, Rojol mengerti dan
mematuhi. Jika ia terlihat berkumpul bersama
anakanak yang bermain kartu remi sambil bertaruh
kartu bergambar, ia menenangkan saya, “Pak, saya
tidak ikut mereka, saya cuma melihat.”
Ah, semoga Rojol selau dilindungi oleh-Nya dari
berbagai keburukan.

~171~
Rojol telah mengajarkan saya banyak hal penting
yang saya, dan mungkin banyak orang, telah lama
lupakan maknanya. Rojol mengingatkan saya bahwa
selalu ada hak Sang Pencipta dalam waktu kita.
Sesibuk apa pun, sebanyak apa pun pekerjaan,
luangkanlah waktu untuk mengingat-Nya. Tidaklah
lama, apalagi dibandingkan dengan banyak waktu
yang kita gunakan untuk urusan-urusan pribadi dalam
sehari. Tidak hanya sekadar soal kuantitas, Rojol
mengajarkan saya ten-tang ketulusan dan
kekhusyukan dalam ibadah, tanpa motif apa pun,
tanpa paksaan siapa pun, tetapi bukan pula sekadar
rutinitas.
Rojol mengajarkan saya bahwa, memang benar,
setiap orang fitrahnya baik. Setiap orang punya
potensi yang sama untuk saleh dan dekat dengan
Tuhannya. Rojol pun mengajarkan saya bahwa
hidayah bisa datang kepada siapa pun, tanpa kecuali.

~172~
Rojol buktinya. Walaupun lingkungannya tidak
mengondisikannya untuk itu, ada kecerdasan spiritual
(baca: fitrah) yang menjadi energi dan invisible hand
(baca: hidayah) yang membimbing Rojol untuk rajin
shalat dan mau belajar mengaji. Dan, Rojol
mengajarkan pula, hidayah itu memang perlu dicari
dan dipelihara. Setiap orang yang ingin
mendapatkannya, perlu melalui proses untuk itu,
hanya butuh sedikit waktu dan kesabaran. Jika Rojol
saja bisa, kita pun bisa, insya Allah.
Rojol pernah menyampaikan cita-citanya.
Katanya, “Aku ingin jadi ustaz turun dari jamban!”
Kenapa turun dari jam-ban? Tanyalah sendiri pada
imajinasi Rojol. Yang penting, mari bantu saya
mengamini tekadnya menjadi seorang yang berilmu,
guru bagi keluarganya, bagi teman-temannya, dan
bagi masyarakat di sekelilingnya. Semoga di mana pun
berada, kebaikan selalu diberkahkan bagi kita, Jol!
Amin. •
SA.RI.A (SAYA TIDAK BISA BICARA)

Oleh: Eko Budi Wibowo*


* Pengajar Muda Kabupaten Lebak, Banten.

Hak, hak, hak,” ... demikian suara mirip burung


gagak ketika Saria mencoba memberitahukan
kepadaku bahwa ia menemukan buku. Aku mengerti
maksud yang akan ia katakan karena menunjukkan

~173~
buku dan tangannya bergerak-gerak menunjuk
sesuatu tem-pat. Ya, aku sudah mengerti maksudnya
apa. Walaupun ia berteriak tak beraturan dan
mengganggu kelasku, tetapi tetap aku tersenyum
dengan anggukan dan acungan jempol kepada Saria
seraya meneruskan kembali materiku di kelas.
Itulah Saria, siswa kelas satu di sekolah tempatku
mengajar, SDN Pasir Haur 2, Desa Gunung Haur,
Kecamatan Cipanas. Ketika jam belajarnya di sekolah
sudah selesai sekitar pukul 10.00, ia pulang sebentar
ke rumahnya untuk mengganti baju dan setelah itu
kembali lagi ke sekolah. Ia berdiri di depan pintu
kelasku ketika anak-anak kelas enam masih harus
meneruskan pelajaran sampai pukul 12.00 nanti. Ia
biasanya duduk di pojokan pintu sambil
memperhatikan kelas 6 belajar dan tentu saja
memperhatikan aku mengajar. Entah ketertarikan
apa yang membuat Saria selalu datang ke kelasku.
Saria menurutku adalah siswa yang paling lebar
senyumnya di antara teman seusianya yang berlarian
menyambut tanganku ketika pagi hari di depan
sekolah. Kebiasaan anakanak yang tidak mungkin bisa
terbayarkan dengan apa pun adalah ketika aku datang
dan disambut anak-anak yang be-rebut untuk
mencium tanganku. Salah satunya adalah Saria,
dengan senyum yang lebar dan mungkin cuma bahasa
senyum itulah yang bisa dimengerti olehku, dari sana
terpancar guratan-guratan bahwa Saria senang sekali
menyambutku setiap pagi di depan kelas 1.
Saria sudah dua kali tinggal kelas, sekarang ia

~174~
tetap di kelas 1. Guru-guru menganggap ia anak
bawang, orangtuanya juga menitipkan Saria kepada
guru di sini dengan berpesan, “Yang penting Saria bisa
ikut ke sekolah sama seperti teman lainnya.
Walaupun dianggap anak bawang atau tidak dinaikkan
kelas, juga tidak apa-apa.”
Aku mulai bisa menerawang perasaanku andai aku
jadi anak seperti Saria yang “ada, tetapi dianggap
tidak ada”. Ya, Saria memang “tidak sama” dengan
siswa lain. Namun, di sini pun tidak ada sekolah
untuk mendidik siswa yang berkebutuhan khusus.
Akhirnya, jalan yang terbaik adalah mengikutkannya
untuk sekolah, tetapi dianggap tidak pernah ada.
Keluarga Saria pernah bercerita kepadaku bahwa
sewaktu balita ia pernah sakit, sekujur tubuhnya
demam tinggi. Panas itulah yang akhirnya membuat
Saria seperti sekarang ini. Ya, Saria tumbuh menjadi
anak yang tidak bisa bicara (tunarungu dan
tunawicara).
Perkenalanku dengan Saria adalah ketika malam
pertama mengajar mengaji di sesompangan1. Di antara
murid-murid mengaji ada dua anak yang teriakannya
sangat membising
Pengajian.—red.
kan telinga. Mereka teriak tidak beraturan dan
tanpa intonasi lafal pada umumnya. Mereka itu Saria
dan Ajat, dua anak kecil yang bisu dan meramaikan
pengajianku setiap malam.
Aku memang tidak punya ilmu mengajar anak
berkebutuhan khusus. Namun, setiap malam aku

~175~
berusaha mengajarkan Saria untuk mengaji. Saria dan
Ajat sangat bersemangat. Pernah suatu ketika aku
melihat Saria berteriak sambil memegang buku Iqro’.
Dalam ketidakjelasan ucap, dia mengatakan
kegembiraannya bisa melafalkan kata. Aku sangat
tersentuh hingga membuatku sesekali menangis,
sembari mensyukuri apa yang ada padaku. Dari sana
aku selalu mencoba untuk membimbing Saria
mengaji.
Aku memegang tenggorokanku seraya berucap
kata “A” dengan mulut yang terbuka lebar, kemudian
Saria pun mengikutiku dengan susah mengeluarkan
kata “A”. Aku merapatkan dua bibir menjorok ke
dalam dan tiba-tiba mengentakkan dan melepaskan
dua bibir yang rapat tadi sambil berkata “BA”.

Kemudian, Saria pun mengikuti dan


mengeluarkan kata “BA” dengan susah payah. Yang
lebih susah adalah melafalkan huruf “SA”, aku

~176~
mencoba mencontohkan dengan menjepit lidah
dengan gigi atas dan bawah dan mengeluarkan bunyi
“SA”. Namun, apa daya Saria pun tidak pernah bisa
mengucapkan “SA” dengan baik. Yang jelas, untuk
tiga huruf iqro’ itu Saria bisa dengan jelas
membedakannya.
Saria pernah ditanya oleh Mak Ruk, pemilik rumah
tem-pat kami mengaji, sambil tangan Mak Ruk
menunjuk diriku. Saria dengan spontan menunjukkan
dua jempolnya. Mak Ruk berkata kepadaku dengan
bahasa Sundanya bahwa aku ini guru yang “bageur”
kata Saria. Aku pun kemudian mengusap kepala Saria
dengan tersenyum, mungkin itu ucapan terima
kasihku tanpa harus berkata-kata lagi. Aku yakin
sikapku kepada Sarialah yang membuat senyum
lebarnya pada setiap pagi ketika ia dan bersama anak-
anak lain berebut mencium tanganku di depan kelas
mereka. Saria merasa dirinya diberi kesempatan
untuk bisa belajar sama dengan anakanak yang lain.
Itulah yang seharusnya setiap guru lakukan untuk
setiap anak berkebutuhan khusus.
Saria hampir setiap hari duduk di pojokan ruangan
kelasku, sambil memperhatikan kelas 6 sedang
belajar. Sesekali ia bermain sendirian di depan
kelasku. Pernah ada muridku yang ingin mengusir
Saria keluar kelas, tetapi aku mencegahnya dan
memberitahukan muridku itu. “Selama Saria tidak
mengganggu, Bapak mohon, biarkanlah dia tetap di
sini,” ujarku.
Bagiku kehadiran Saria di kelasku bukanlah untuk

~177~
mengganggu sehingga aku tidak pernah mengusirnya.
Kubiarkan ia asyik memperhatikan gayaku mengajar
karena mungkin itu adalah sebuah kesenangan
tersendiri untuk Saria .... •
SUARAMU M ENGUBAH PANDANGANKU

Oleh: Dwi Lastomo*


* Pengajar Muda Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara
Timur.

Pekan kedua Ramadan yang bertepatan dengan 7


Agustus 2011, aku resmi pindah ke sebuah kampung
Muslim Dusun Leteduluk, Desa Oeseli, Kecamatan
Rote Barat Daya. Sebelumnya, aku tinggal di Desa
Hurulai, kampung di sebelah desaku saat ini. Seorang
imam Masjid Nurul Bahar, Bapak Akbar Balich,
banyak membantuku dalam proses kepindahanku ini.
Sejak saat itu, se-gala kegiatan ibadah seperti shalat
lima waktu kulakukan secara berjemaah bersama
beliau, begitu pula untuk shalat Tarawih, sahur, dan
buka bersama. Tidak hanya itu, aku juga mendapat
kehormatan untuk mengajar mengaji siswa-siswi SD
Negeri Oeseli yang beragama Islam.
Senin, bertepatan dengan tanggal 9 Agustus 2011
adalah hari pertamaku mulai perjalanan dari Pantai
Oeseli menuju SD Negeri Hurulai, tempat aku
mengemban amanah selama setahun ke depan.
Perjalanan ke sana harus kutempuh dengan berjalan

~178~
kaki sejauh hampir 5 kilometer selama hampir satu
jam. Cucuran keringat pun selalu mengiringi
langkahku menuju sekolah tercinta. Terlebih saat
sang surya sedang giatgiatnya menemani langkahku
pulang sekolah. Namun, rasa lelah itu terbayar lunas
dengan kebersamaanku dengan para murid dalam
perjalanan menuju sekolah dan rumah. Selama
perjalanan, kami isi dengan menyanyi seperti: “Maju
Tak Gentar”, “Halo-Halo Bandung”, dan “Indonesia
Pusaka”. Tak jarang kami menyanyikan soundtrack
sinetron yang biasa mereka lihat.
Sore itu, aku mulai mengajar mengaji untuk kali
pertama. Hampir 20 santriwan-santriwati Oeseli
hadir sore itu, mulai yang berusia 4 tahun (belum
bersekolah formal) sampai 14 tahun (kelas 6 SD).
Hampir setengah santri sudah pernah belajar mengaji
(sudah empat guru yang mengajar: Hadijah Baco,
Muhayan Baco, Jamal Balich, dan Yadi Baco), ada
yang sudah sampai Iqro’ 2 ada yang Iqro’ 3. Namun, aku
terpaksa mengulangnya kembali karena banyak yang
belum tepat pengucapan hurufnya. Saat sudah selesai
mengaji, biasanya aku meneruskannya dengan
permainan seperti: menyanyi lagu untuk menghafal
nama malaikat, rukun iman, rukun Islam, 25 Nabi,
menghafal tata cara shalat dan bacaannya, doa, surat
pendek, azan-ikamah untuk laki-laki, wudu-tayamum,
bahasa Inggris, dan cara hidup sehat. Dari situlah, aku
melihat bakat santri dan mulai kuasah.
Hari demi hari aku lalui. Namun, kemudian aku
merasa kewalahan dengan jumlah santri yang terlalu

~179~
banyak sehingga akhirnya aku terpaksa membatasi
yang sudah berusia 7 tahun (usia sekolah). Akhirnya,
diperoleh 16 siswa. Berjalan hampir seminggu, aku
merasa kesulitan lagi mengontrol semua santri karena
usia mereka yang beragam, akhirnya aku memilih 10
santri tertua dan terajin untuk dibina serius dengan
harapan, kelak bisa mengajarkan kepada adik-adik
mereka.
Tawa canda, suka duka kami lewati bersama.
Berenang di laut, memancing bersama di atas sampan,
membersihkan masjid, membangun masjid, dan
bermain hujan mewarnai kebersamaan kami. Sampai
tibalah liburan semester yang pertama, tepatnya
Desember.
Dimulai dengan rangkaian kegiatan pengabdian
masyarakat, yaitu sunatan massal bekerja sama
dengan marinir penjaga Pulau Dana dan pelatihan
komputer. Sunatan massal itu berlangsung dua hari,
Minggu–Senin, 25–26 Desember 2011. Pada hari
kedua, datanglah surat undangan dari Masjid Al
Ikhwan Ba’a untuk mengikuti Lomba MTQ dan
Kasidah se-Kabupaten Rote Ndao. Lomba tersebut
akan diadakan pada 29–30 Desember 2011,
sedangkan technical meeting diadakan pada 28
Desember 2011.
Mendadak memang, tetapi tidak mengurungkan
niat kami untuk mengikuti lomba tersebut. Segera
setelah membaca surat tersebut, saya
menyampaikannya kepada Pak Akbar selaku imam
untuk membimbing persiapan dan pemberangkatan.

~180~
Tidak hanya itu, koordinasi juga dilakukan dengan
Masjid An Nur Batu Tua selaku masjid kecamatan
karena lomba ini adalah perwakilan dari tiap
kecamatan. Tanpa berlama-lama, malam itu juga kami
langsung berlatih untuk mengikuti kategori Lomba
Azan Anak-Anak dan Remaja, serta Qariah Anak-
Anak dan Remaja.
Latihan pun berjalan intensif karena bertepatan
dengan libur sekolah. Saat itu yang ada di pikiranku
adalah memberi kesempatan kepada santriwan dan
santriwati Kecamatan Rote Barat Daya tanpa
memikirkan kemenangan. Ada sedikit harapan untuk
mengambil juara di Azan Anak-Anak, melalui
Mahmud Dome anak dari Pak Asdin Dome, seorang
nelayan Oeseli. Suaranya bening merdu saat mengaji
dan sudah biasa mengumandangkan azan dan ikamah
saat shalat Magrib. Dalam waktu kurang dari 24 jam
aku melatih teknik bernapas dan pengucapan lafal
azan dengan urut dan benar.
Techincal meeting pun berlangsung lancar sesuai
jadwal. Pengambilan undian dan teknis
keberangkatan, serta penilaian sudah disepakati
bersama. Peserta yang akan berangkat pun sudah
dipilih Kontingen Kecamatan Rote Barat Daya sebagai
berikut.
Kategori Asal
Nama Usia Kelas
Lomba Desa
Muhammad 17 Azan Batu
11
Azari tahun Remaja Tua

~181~
Maulana 15 9 Azan Oeseli
Baco tahun Remaja
Nur Hasyim 14 Azan
6 Oeseli
Baliang tahun Remaja
Idin Sardi 11 6 Azan Oeseli
Baliang tahun Anak-
Anak
Harlin 12 6 Azan Oeseli
Konde tahun Anak-
Anak
Mahmud 12 5 Azan Oeseli
Dome tahun Anak-
Anak
Iyang Baco 12 6 Qariah Oeseli
tahun Anak-
Anak
Risna Baco 12 6 Qariah Oeseli
tahun Anak-
Anak
Halimah 10 3 Qariah Oeseli
Baliang tahun Anak-
Anak
Sakdiah 15 Qariah Batu
9
Bakuama tahun Remaja Tua

~182~
Hari lomba pun tiba, dengan menggunakan
angkutan desa yang disewa, kami berangkat pukul
07.00 WITA menghampiri saudara kami yang tinggal
di Desa Batu Tua. Kami berangkat didampingi oleh
dua imam masjid di Rote Barat Daya. Abah Karabi
Imam Masjid An Nur Batu Tua dan Akbar Balich
Imam Masjid Nurul Bahar Oeseli.
Sampai di Masjid Al Ikhwan Ba’a pukul 09.30
WITA dengan perasaan cemas karena takut terlambat
dan dihantui awan gelap yang menaungi langit Ba’a.
Alhamdulillah, Allah masih memberi keselamatan dan
kesempatan. Setibanya kami di masjid ternyata acara
belum dimulai karena menunggu kehadiran Pak
Bupati dan hujan menyambut sesampainya
rombongan masuk ke masjid.
Daftar ulang dan pemasangan nomor urut pun
dilakukan oleh sekretariat. Rasa cemas, deg-degan,
dan penasaran mulai terlihat dari wajah para santri.
Lomba pun segera dimulai, lomba azan anak-anak dan
remaja dimulai terlebih dahulu. Muhammad Azari
pun mendapat kesempatan untuk melakukan azan
yang pertama dan sukses dengan baik
mengumandangkannya. Secara berurutan, aku terus
menenangkan para santri yang panik dan gugup
karena ternyata ini adalah lomba pertama mereka.
Aku melihat berbagai tingkah laku dan ekspresi
wajah mereka, ada yang buang air berulang-ulang dan
ada juga yang telapak tangannya sangat dingin. Satu
hal yang selalu kuingatkan kepada mereka, “Jika
kalian mau mencoba dan mau berusaha, kalian pasti

~183~
bisa.” Giliran Mahmud tiba, dengan gagahnya ia
mengumandangkan lafal demi lafal azan. Dengan
penuh keterkejutan, akhirnya aku mendengar lafal
yang terlewat, yaitu “hayya ‘alashsholah”. Ia
melewatkannya dan langsung mengucapkan “hayya
‘alalfalah”. Walaupun ia melakukan kesalahan, ia tetap
percaya diri dan tanpa bingung terus melanjutkan
azannya sampai selesai. Hal itu yang membuat aku
bangga dan menjadi obat yang paling mujarab saat
ada perasaan kecewa yang cukup mendalam.
Setelah lomba azan, lomba qari dan qariah
dilanjutkan hingga pukul 22.00 WITA. Setelah peserta
qariah terakhir dari rombongan kami selesai
menjalankan tugasnya, kami lang-sung pulang. Ketika
pulang, mereka pun tertidur dalam angkutan desa
yang hanya tinggal aku dan peserta remaja yang
masih terjaga. Sambil mengevaluasi dan menceritakan
perasaan masing-masing, kami menyantap makan
malam dalam perjalanan menuju Batu Tua dan
mengakhirinya di Oeseli.
Keesokan harinya adalah lomba kasidah serta
pengumuman pemenang dan pembagian hadiah.
Namun, tim dari Rote Barat Daya tidak mengikuti
kegiatan pada hari kedua sehingga belum ada yang
tahu hasil perlombaan yang kami ikuti tersebut.
Sampai akhirnya pada 7 Januari 2012 yang
bertepatan dengan rencana kunjungan ke rumah
bupati sekaligus silaturahim tahun baru, aku
mendapat SMS dari Pak Mukhtar Ali selaku ketua
pelaksana kegiatan tersebut. Tim Rote Darat Daya

~184~
mendapatkan tiga penghargaan, yaitu Juara II Azan
Remaja atas nama Muhammad Azhari, Juara III Azan
Anak-Anak atas nama Mahmud Dome, dan Juara III
Qariah atas nama Sakdiah Bakuama.
Sungguh di luar perkiraan. Jika dilihat dari
komponen nilai, Mahmud sudah tidak bisa masuk
juara. Kesalahan pelafalan azan adalah kesalahan
fatal. Setelah dikonfirmasi kepada dewan juri Pak
Ghofur, ternyata yang mereka cari adalah suara
terlebih dahulu. Masalah pelafalan masih bisa
diperbaiki saat pembimbingan menuju tingkat
provinsi.
Selain itu, Pak Ghofur juga ingin memberi
kesempatan kepada Oeseli (populasi Muslim terkecil
di Rote Ndao) untuk dikenal dan mendapat perhatian
Kementerian Agama Rote Ndao. Para santriwan dan
santriwati berhak mendapat piala, piagam, dan uang
pembinaan.
Berita kemenangan ini langsung kukabarkan ke
Jemaah Batu Tua melalui Pak Alimudin Sili, wakil
kepala sekolah SMP Negeri 2 Rote Barat Daya tempat
aku pernah mengajar Matematika kelas 8 dan 9.
Begitu pula ke Oeseli melalui Pak Alex, salah seorang
anggota marinir penjaga Pulau Dana, mengingat
Oeseli tidak mendapat sinyal. Ekspresi kegembiraan
terdengar dari suara Pak Alimudin. Ucapan syukur
kepada Allah menghiasi lisannya saat menerima
telepon dariku, sedangkan di Oeseli terlihat
kepulanganku dari Ba’a langsung disambut oleh
sekumpulan santriwan-santriwati kemudian

~185~
menciumi tanganku.
Satu hal yang terus kuingat dalam peristiwa ini
adalah terus memberikan kesempatan seluas-luasnya
kepada siapa pun untuk mencapai prestasi karena kita
tahu apa yang anak-anak miliki dan Allah yang
memberikan segala sesuatu yang terbaik. Tidak hanya
itu, berlatih setiap hari membuat kita siap dalam
menghadapi kesempatan yang datang tiba-tiba. Selalu
optimis dan memberi apresiasi dalam setiap
perubahan kecil berdampak sangat baik untuk
membangkitkan semangat dan optimisme anak.
Terima kasih Allah, Engkau memberikan
kesempatan untuk membimbing mereka dan
memberikan sedikit kenangan. Walaupun sedikit,
ternyata hal ini terasa dinilai sangat besar di tengah
keterbatasan mereka. Terima kasih Allah, suara
Mahmud telah mengubah pikiranku bahwa mereka
bukan terbelakang, hanya kurang mendapat
kesempatan. •
M ENJADI TEMAN A NAK-A NAKKU

Oleh: Erma Dwi Purwantini*


* Pengajar Muda Kabupaten Aceh Utara, Nangroe Aceh
Darussalam.

Saya memang bukan penulis unggul seperti Mas


Andrea Hirata yang pernah saya temui di Pelatihan
Pengajar Muda II di Jakarta. Ataupun, sutradara

~186~
ulung setenar kakaknya teman SMA saya, Mas
Hanung Bramantyo. Saya hanyalah seorang guru SD
di daerah terpencil di salah satu dusun di Kabupaten
Aceh Utara. Tak banyak huruf yang mampu saya
rangkai menjadi kata, sedikit saja kata yang mampu
memberi makna pada kalimat-kalimat yang terangkai
menjadi paragraf sederhana.
Dalam bahasa Jawa, guru itu ‘digugu lan ditiru’.
Yang artinya dalam bahasa Indonesia, yaitu diteladani
dan dicontoh. Tentu berat rasanya ketika hal tersebut
menjadi suatu beban tanggung jawab yang harus
diemban. Lebih dari itu, bagi saya guru itu orang yang
mampu berbagi. Berbagi apa saja. Ilmu tentunya dan
yang terpenting adalah motivasi. Motivasi untuk
berpikir ke depan, motivasi untuk maju, motivasi
untuk menjadi orang yang bermanfaat, motivasi
untuk selalu berpikiran positif, dan semua hal yang
berkaitan dengan kebaikan. Bolehlah, ilmu-ilmu yang
ada di buku

~187~
tersebut menjadi acuan ilmu yang akan
disampaikan seorang guru kepada murid-muridnya.
Namun, tak akan pernah lupa seorang guru
memberikan energi-energi positif kepada mu-rid-
murid di celah-celah memberikan pelajaran.
Di sini, saya tak hanya merasakan bagaimana
serunya menjadi guru dalam memberikan pelajaran di
kelas. Anakanak gaduh, tidak fokus dalam belajar,
bahkan tidak mendengarkan guru berbicara di depan.
Itu semua menjadi hal seru dalam mengatasinya.
Sering kali saya merasa gagal dalam membuat mereka
konsentrasi belajar. Namun, tak apalah, namanya juga
anak-anak. Maunya bermain dan melakukan apa yang
menjadi kesukaan mereka.
Saya pun tak mau rugi tidak mengalami serunya
menjadi anak-anak. Selepas sekolah, saya
menyempatkan diri untuk masuk di dunia mereka.
Dunia yang penuh dengan canda tawa.

~188~
Kring ... kring .... “Ibu, ayo, ke sungai.” Anak
perempuan yang bernama Lidya memanggil saya
untuk ikut dalam hangatnya sukacita. Di tengah
padatnya apa yang menjadi tugas saya, saya tak bisa
tahan dengan godaan anak-anak itu. Mulai dari
melihat dengan muka tercengang saat mereka
menceburkan badan ke sungai dengan gaya saltonya.
Hingga berebut buah belimbing yang pohonnya
dipanjat salah satu anak yang sangat lihai
menggerakkan tangan dan kakinya ke atas pohon.
Tak hanya buah belimbing, buah markisa pun menjadi
santapan segar pada siang hari, di tengah teriknya
matahari.
Saya menaiki sepeda roda dua milik Lidya untuk
mengarungi medan pegunungan sawit yang banyak
tanjakan dan bisa dibilang sedikit turunan. “Ayo, Bu,”
teriak mereka bersemangat. Jalanan naik-turun tak
jelas tak menyurutkan keriangan mereka. Ya, riang
dan gembira adalah hak mereka sebagai anak-anak.
Saya pun mengeluarkan sesuatu dari keranjang
sepeda. Saya tiup dan alunan nada mulai terdengar,
“La si la sol la si la sol la si do si do ....” Anak-anak
kaget dan langsung berkumpul mendekati saya.
Dengan serempak, mereka menyenandungkan lagu
daerah kebanggaan mereka, “Bungoung Jeumpa”.
Anak-anak terpesona melihat jari tangan saya
memencet alat yang berbunyi ketika ditiup. Wajah
mereka penuh ingin tahu bagaimana cara memainkan
alat musik itu. Mereka be-rebut meminjam pianika
yang sengaja saya beli di kota itu, dan saya tidak

~189~
keberatan karena alat itu memang untuk mereka.
Hmmm ... terkadang saya merasa apa, iya, saya ini
guru? Memang saya sudah melaksanakan tugas
mengajar di kelas, tetapi itu hanya kurang lebih 4 jam
dalam satu hari. Saya lebih merasa kalau saya ini
teman mereka, bagian dari mereka. Saya ikut
bercanda tawa, bermain, bersukacita, bahkan
ber-“euphoria” asyiknya menjadi anak-anak. Terima
kasih anak-anakku. •
BENIH-BENIH M ATAHARI

Oleh: Citra Dita Maharsi Suaidy*


* Pengajar Muda Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara
Timur.

Beberapa nama tersirat untuk menamai anak-


anak didikku yang ajaib. Sampai akhirnya kuputuskan
menamai mereka dengan BENIH MATAHARI.
Pekerjaan menghadapi manusia untuk banyak
orang lebih mengasyikkan daripada menghadapi
mesin, daripada menghadapi komputer dan benda-
benda mati lainnya. Nah, guru SD adalah pekerjaan
menghadapi manusia yang lebih menyenangkan lagi.
Yang dihadapi setiap hari adalah wajah dan tatapan
mata polos tanpa prasangka. Kehausan mereka akan
ilmu benar-benar dapat membuatmu bertahan sedikit
lebih lama berada di sekolah.
Di sini aku akan bercerita tentang anak-anakku.

~190~
Pertama tentang murid baru yang kita sebut saja
Nona Tomboi. Ia adalah murid baru di SD ini. Raut
mukanya tegas, matanya menyorotkan keberanian,
postur tubuhnya mengingatkanku akan masa kecilku.
Nona tomboi ini merupakan mu-rid perempuan
tertinggi di kelas 5. Awal mula kami belajar, ia adalah
seorang anak perempuan yang kesulitan
mengendalikan emosi dan egonya. Egonya sebagai
jagoan kecil membuatnya tidak kesulitan
melayangkan pukulan kepada setiap teman yang
menggodanya.

Konon, ia pernah menjadi preman kecil di kota


besar tempat ia bersekolah sebelumnya. Cerita dari
ruang guru, ia pernah memalak oto penuh penumpang
di tengah jalan. Ia memaksa berhenti sopir.
Pada awal semester, kutargetkan untuk
membiasakan murid-murid dengan pengelolaan
kelasku. Tidak boleh terlambat, wajib mengumpulkan
tugas, harus gigih berusaha, sayang teman, dan lain-
lain.
Nona manis jagoan dari kota besar ini termasuk
yang harus beradaptasi dengan pengelolaan kelasku.
Pada awal-awal minggu, karena sering terlambat, ia
adalah pelanggan setia kursi berpikir. Kursi ini
diletakkan di depan kelas di dekat papan tulis
tempatku menulis menerangkan pelajaran. Di kursi
ini anak-anak diperbolehkan tidak terlibat dalam
pelajaran, tetapi tetap berada di dalam kelas.
Keterlambatannya yang kesekian kali membuatku

~191~
memberinya soal untuk dijawab. Kenapa terlambat,
untuk apa datang sekolah tepat waktu, dan lain-lain.
Memikul air, merapikan tempat tidur, membantu
Mama adalah deretan alasan yang ia tuliskan.
Perjalanan pulang berikutnya aku sempatkan untuk
melihat sekilas kesehariannya. Ia tidak berbohong.
Adakah preman sebenarnya membantu ibunya
sebanyak itu?

Pernah, dalam suatu kesempatan, aku berjalan


bersisian dengannya. Bernyanyi dan bercerita
dengannya. Melihatku kesulitan membawa dua tas
penuh, ia memegang salah satunya.
“Sudah, Ibu, biar be sa yang bawa.”
Adakah anak nakal mempunyai empati spontan
seperti itu?
Dan, apakah anak nakal itu? •
Nona manis ini kemudian aku ketahui sebagai

~192~
seorang yatim piatu korban kerusuhan Timor-Timur.
Ia kehilangan kedua orangtuanya sejak umur 2 tahun.
Ia diangkat anak oleh tetanggaku sejak itu.
Itulah cerita tentang si Nona Tomboy yang
katanya preman, tetapi ternyata manis. Sekarang
akan kuceritakan tentang anak-anakku yang lain,
teman si Nona Tomboy yang manis.
Anak-anakku, anak Rote biasa bangun pukul
05.00, bahkan pukul 04.00. Cuci piring, pikul air, buat
kue adalah jenis rutinitas pagi mereka sebelum
berangkat sekolah. Di salah satu jurnal anakku, cerita
setiap paginya, dia selalu senang karena dapat
membantu mamanya membuat bubur untuk adik.
Kelangkaan air membuat anak-anak ini pagi-pagi
harus memikul air dari sumur ke bak mandi, ke bak
air minum, ke bak pendingin generator. Jarak dari
sumur ke bak-bak terse-but bervariasi. Sepuluh meter
adalah jarak minimum. Yang dipikul adalah dua
ember air ukuran sedang.
Menurutku, anak-anak di sini tak peduli dengan
jarak. Untuk membuktikan ini, berikut kuceritakan
kisahku. Suatu ketika, adik salah satu anakku
meninggal dunia. Aku mengajak anak-anakku yang
lain untuk takziah ke rumah duka untuk mengajarkan
kepedulian dengan sesama.
“Jauh ko rumah Yakob?”
“Sonde Ibu ... dekat sa. Di balik gunung sa. Son jauh,
Bu.”
Kami ber-33 berjalan bersama-sama melewati
luasnya padang rumput, rimbun hutan, permukiman

~193~
umanitu, dan pohon-pohon lontar yang menjulang.
“Ayo, Ibu! Mai kotong bernyanyi bersama-sama.
Potong Bebek Angsa! Nyanyi I Love You Jesus!”
Perjalanan duka itu menjelma jalan-jalan piknik.
Ya, .... Apa yang engkau harapkan dari anak umur 11
tahun? Keriangan yang muncul dari anak-anakku
membuatku bertanya. Apakah baru kali pertama ini
mereka berjalan bersama-sama satu kelas?
Di tengah perjalanan, napasku berubah satu-satu.
Jarak yang telah kami tempuh membuat kakiku
meminta diistirahatkan. Tas berisi laptop dan buku
anak-anak sekelas yang harus aku periksa mulai terasa
berat. Puasa pertamaku mengingatkan bahwa ada
alasan staminaku tidak sekuat biasanya.
“Su dekat ko?”
“Sudah, Ibu.”
“Son ada yang capai ko?”
“Perlu sonde kotong duduk beristirahat?”
“Son usa, Ibu. Lanjut!”
Baiklah ....
Satu padang rumput dan satu tanjakan gunung
kecil kami lewati untuk akhirnya sampai ke rumah
duka. Aku duduk bersimpuh dan mengangkat kedua
tangan mengucap syukur. Tuhan ... terima kasih,
akhirnya sampai juga. •
Jadi, kawan-kawanku, para handai taulan, Mamah
Bapak yang terhormat, betul, benar-benar, sungguh,
aku bersaksi demi surga dan neraka, jangan pernah
sembrono membawa berbagai definisimu ke mana
pun kau pergi. Setiap tempat memiliki arti masing-

~194~
masing. Atau, engkau akan celaka. Jelas, aku dan
anak-anakku punya definisi yang sangat berbeda
mengenai “jauh” dan “dekat”.
Anak-anakku terbiasa menempuh jarak satu
kilometer, dua kilometer, bahkan tiga kilometer
untuk sampai ke sekolah. Berkilometer jalan yang
mereka lalui adalah jalanan berbatu naik-turun,
bukan aspal mulus yang datar. Ya, setelah mereka
memikul air, memasak bubur, mencuci piring, mereka
harus berjalan jauh ke sekolah. Sungguh sangat
berbeda jauh versi kami.
Ingatanku kemudian menerawang ke masa muda
ketika hidup single di kos-kosan. Kegiatan mencuci
piring, memasak, mencuci pakaian seminggu, biasanya
dapat membuatku tidur beristirahat seharian penuh.
Jadi, anak-anak ini punya modal lebih menjadi
manusia yang lebih kuat daripada gurunya ini.
Keajaiban lain dari anak Rote adalah sarapan
mereka. Gula air dan kadang nasi kosong.
Gula air adalah air nira yang dimasak menjadi gula
dan diencerkan dengan air. Ini merupakan sarapan
populer di Rote. Sari Nira disadap petani lontar di
puncak pohon lontar yang memiliki ketinggian
puluhan meter. Nira yang dimasak menjadi gula
berubah bentuk menjadi cair kental berwarna kuning
berwujud dan berasa sangat mirip dengan madu. Bisa
jadi khasiatnya sama dengan madu. Menurut
penduduk Rote, seteguk gula air dapat menahan lapar
hingga siang.
Nasi kosong. Nasi kosong artinya adalah nasi

~195~
putih masak yang disantap tanpa lauk, tanpa sayur.
Nasi kosong kadang termasuk sarapan mewah untuk
anak-anakku. Pikul air dan sebagainya membuat
mereka hanya sempat meminum seteguk gula air
sambil berlari mengejar ketepatan waktu sampai di
sekolah. Tentunya, ketiadaan beras menjadi hal klasik
yang membuat mereka tidak sarapan.
Selanjutnya, mengenai prestasi mereka di sekolah.
Ah, ... apa makna prestasi? Jajaran piala? Tumpukan
piagam?
Anak-anakku adalah anak-anak berprestasi
versiku. Di kelas Bahasa Inggris kelas 6, angkat
tangan menjawab berbagai pertanyaanku diacungkan
oleh anak-anak dari deretan bangku depan hingga ke
belakang. Mereka acungkan tangan hingga berdiri. Di
kelas PPKN kelas 5, ketika aku meminta mereka
menyebutkan pulau-pulau besar di Indonesia, tanpa
kuminta mereka semua maju melihat peta Indonesia
yang aku bawa. Mereka berdesakan mencari jawaban.
Mereka antusias belajar. Jurnal-jurnal yang mereka
tulis setiap hari menghasilkan tulisan-tulisan satu
halaman penuh bahkan lebih. Mereka selalu punya
cerita. Anak-anak ini harus membantu orangtua
sebelum berangkat ke sekolah, jarak berkilometer
harus mereka tempuh untuk sampai ke sekolah,
bahan bakar mereka adalah semangat membara dan
gula air, terakhir, mereka antusias belajar. Tuhan,
anak-anak ini luar biasa.
Pendidikan. Jika diizinkan memadankan dengan
education, education berasal dari bahasa Latin: educare.

~196~
Educare artinya ‘menarik ke luar’. Yang ditarik keluar
adalah potensi-potensi unik setiap peserta didik.
Pendidikan bertugas menemukan tipe kecerdasan
masing-masing siswanya. Pendidikan
memfasilitasinya, membantunya berkembang.
Dengan demikian, seperti yang sering dikutip, setiap
anak menemui juaranya masing-masing.
Jadi, apa yang bisa kau harapkan dari anak SD
berumur 10–11 tahun? Kalau kau tanyakan apa yang
bisa kau harapkan dari anak SD berumur 10–11 tahun
di SD Inpres Oenitas Rote Barat, Kabupaten Rote
Ndao, jawabannya adalah silakan berharap apa saja.
Asal engkau bisa menarik keluar setiap potensinya,
mereka adalah calon anak-anak terbaik. Mereka
adalah benih-benih matahari yang akan menyinari
dunia, kelak. •
C EMBURULAH K EPADAKU!

Oleh: Maria Jeanindya Wahyudi*


* Pengajar Muda Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

Aku tidak tahu bagaimana mendeskripsikan


inspirasi. Aku tidak tahu cara paling efektif untuk
berbagi inspirasi. Dan, aku tidak tahu rangkaian
kalimat paling mujarab untuk menyiarkan inspirasi.
Padahal, langkahku sudah menginjak bulan ketujuh di
Arguni, Fakfak. Sebuah pulau terapung yang harusnya
“kecipratan” inspirasi dari program asuhan Anies

~197~
Baswedan ini. Aku malah tetap garuk-garuk kepala
kalau ditanya soal barang bernama inspirasi.
Ya, kita tinggalkan saja kebingunganku dengan
inspirasi. Satu hal yang pasti, aku jatuh cinta mati
dengan pulau bernama Arguni. Bukan hanya soal
geografis yang eksotis atau ramah senyum macepace
yang terkulum bersama merahnya buah pinang di
bibir mereka. Bukan juga karena kudapan senikmat
asida, papeda, colo-colo, pisang ijo, atau ikan kuah
kuning.
Satu hal yang pasti (lagi), aku malah jatuh cinta
dengan profesi sebagai guru. Pekerjaan yang masuk
daftar cita-citaku pun tidak. Tingkah polos dan
celoteh “miring” anak-anak Arguni selalu mampu
memberi semburat warna hari-hariku.
Beberapa kisah berikut, mungkin akan
membuatmu ikut merasakan. Hari-hari bahagia yang
membuatku jatuh cinta pada Arguni dan anak-anak
muridku.
Gerombolan Anak TK
Aku bukan ibu guru mereka. Pun demikian,
mereka tetap memanggilku “Ibu”. Beberapa yang
belum lancar bicara bahkan membuat sebutan baru,
“ubu” atau “bubu” saat memanggilku.
Polosnya kata dan pertanyaan mereka kadang
membuatku melongo, diam tak berkutik, atau
tergelak.
Mahfud Mumuan, pernah menunjukkan kepadaku
di mana Allah tinggal.
“Ibu, Allah itu tinggalnya di atas awan-awan itu,

~198~
ya?” katanya sambil menunjuk awan abu di hitamnya
langit malam.
“Mungkin di atasnya awan itu, di atasnya lagi, di
atasnya lagi,” jawabku.
“Ah, Ibu salah! Allah tara tinggal di situ mo,”
balasnya.
Aku masih diam, menanti kalimat berikutnya.
Tiba-tiba ia membuka mulutnya lebar-lebar.
“Allah tinggal di dalam sini,” kata Mahfud sambil
menunjuk anak tekak yang tergantung di dalam
rongga mulutnya.
“Karena Allah tinggal di situ, makanya Dia bisa
jaga katong terus-terus,” lanjutnya, polos.
Kepolosan Mahfud tak berhenti di situ.
Suatu saat, aku memutar lagu “Di Sini Senang Di
Sana Senang” melalui laptopku. Ia begitu terkesima
mendengar suara anak-anak yang menyanyi. Rupanya
itu menggelitik rasa ingin tahunya.
“Ibu, itu siapa dorang yang menyanyi?”
tanyanya.
“Ibu juga tara tau. Tapi, mungkin anak-anak kecil di
Jakarta,” jawabku.
Ia terus memperhatikan laptop di hadapannya.
Saking gemasnya, ia mengangkat benda berwarna
hitam itu dan melihat ke bagian bawahnya.
“Baru dorang menyanyi di manakah?” katanya sambil
menunjuk ke arah pengeras suara laptopku.
Tergelak.
Hanya itu reaksiku untuknya saat itu.
Murid Kelas 1

~199~
Polos, lucu, menggemaskan.
Teriak, menangis, berkelahi, mengadu kepada
guru.
Itulah kombinasi yang selalu ada di kelas paling
bungsu di sekolah. Mereka juga punya “jurus” untuk
membuat guru tertawa. Salah satunya adalah dengan
“melagukan” sebuah mars saat guru membacakan nilai
tes atau ulangan.
“Bella, dapat sepuluh,” kata si guru di depan kelas.
“Meeemmmaaanggg ...,” teriak 16 orang teman
Bella di kelas itu.
“Zul, dapat sepuluh,” kata si guru, lagi.
“Meeemmmaaanggg ...,” suara mereka kembali
menggema, sampai di kelas paling ujung.
“Yahya, dapat telor.” Kali ini hasil ulangan sang
murid berbeda dengan dua orang sebelumnya.
“Ahhhaaaeee!!!” mereka pun “melagukan” mars
yang berbeda untuk teman yang mendapat nilai
“telor” tersebut.
“Jurus” lain yang dimiliki oleh murid kelas 1
adalah polosnya celoteh mereka. Jawaban spontan,
yang mereka tak peduli, betul atau tidak.

~200~
“Mata gunanya untuk apa?” kata si guru, suatu
hari saat pelajaran IPA.
“Melihaaatttt!” kata 17 orang murid kelas 1,
kompak seperti biasa.
“Kalau telinga?” si guru memberi pertanyaan
lanjutan.
“Untuk mendengar, Ibuuu!” paduan suara falsetto
itu kembali menjawab.
“Bagus. Kalau hidung, gunanya untuk apa, ya?” si
guru (terlalu cepat) puas. Merasa muridnya sudah
pintar-pintar.
“Untuk kasih keluar ingus, Buuu!” jawab mereka,
masih tetap kompak.
Si guru pun tertawa terbahak di depan kelas dan
tidak melanjutkan pertanyaan.
Murid Kelas 2
Namanya juga anak-anak. Itu yang selalu
kukatakan dalam hati. Tingkah mereka selalu

~201~
berasaskan kepolosan, ketidaktahuan. Termasuk apa
yang dilakukan Nasir Bahamba hari itu.
Entah apa penyebab perkelahian antara Zul
dengan Nasir. Aku datang terlambat ke lokasi
kejadian karena keduanya sudah menangis saat aku
tiba. Nasir, sambil masih menangis, meninggalkan
sekolah.
Aku tak mencegah karena masih ada Zul, siswa
kelas 1 yang sedang menangis pula. Tak ada guru lain
di sekolah.
Lima menit berlalu, kondisi sekolah sudah kembali
kondusif.

Tingkah polos nan ajaib tak hanya dimiliki murid


kelas kecil. Mereka yang menjelang puber pun sering
bertingkah konyol yang mengundang tawa. Tak
jarang, kepolosan itu mengundang senyum sipu dan
rona merah pipi si guru.
Suatu hari, usai belajar tentang sistem pencernaan
manusia, si guru memberi tes tertulis.
Pertanyaan pertama: Apa nama enzim di dalam
mulut manusia?
Ali Turua menjawab: Baygon.
Si guru hanya bisa tertegun membaca jawaban
muridnya.
Pada hari berbeda, si guru sedang memberikan
ulangan PKn kepada murid-muridnya. Topik ulangan
kali ini adalah tentang peraturan dan undang-undang.
Pertanyaan no.8: Selain memakai helm,
pengendara motor juga harus membawa ....

~202~
Mudasir Rimosan menjawab: minyak bensin.
Si guru tersenyum simpul dan membiarkan
jawaban itu tetap benar. Di Arguni, bensin adalah
barang langka. Meskipun bawa SIM, kalau tidak bawa
minyak bensin, tetap saja motor tidak akan berfungsi.

Pada hari lain, si guru meminta semua anak murid
membuat satu puisi untuk mengisi majalah dinding
bertema “Bulan Kasih Sayang”. Ada dua tema pilihan:
“Sekolah” atau “Orang yang Tersayang”.
Ali, memilih tema “Sekolah” untuk tugas
membuat puisi. Begini bunyi bait terakhir puisi milik
Ali:
Ibu, beta betul bersyukur pada ibu
Karena ibu sudah datang mengajar ke kampung
Ibu, beta betul bersyukur pada ibu
Karena ibu su mau ajar katong di kampung
Ibu, beta betulbetul mengucap syukur pada ibu
Ada banyak penggunaan kata yang kurang tepat
dalam puisi itu. Namun, si guru tetap terharu. Lewat
tulisan yang acakadut, kekurangan satu huruf di sana
sini, si guru tetap paham bahwa muridnya hanya
ingin mengucapkan terima kasih setulus hati.
Sekelumit cerita ini mungkin tak bisa
mendefinisikan inspirasi. Namun, aku berharap
sedikit cerita ini bisa membuatmu ikut merasakan
betapa bahagianya aku. Aku juga berharap sedikit cerita ini
membuatmu iri, cemburu, dan ingin menjadi sepertiku.
Dan, menikmati kebahagiaan seperti yang
kurasakan 256 hari belakangan. •

~203~
SI A DIL

Oleh: Atika Fara Amalia*


* Pengajar Muda Kabupaten Aceh Utara, Nangroe Aceh
Darussalam.

~204~
elajar dan mengajar tanpa lelah itu memang
dibutuhkan oleh seorang guru. Kita tidak hanya
mengajar, tetapi juga harus belajar dari anak murid
kita. Kadang kita bisa belajar ikhlas, sabar, mengelola
emosi, dan masih banyak lagi. Aku sudah hampir
enam bulan berada di SDN 6 Payabakong, Aceh Utara,
hampir semua anak dari kelas 1 sampai kelas 6 adalah
anak muridku. Hal ini dikarenakan aku bukan wali
kelas dan selalu masuk semua kelas ketika guru yang
lain belum hadir. Tak jarang aku menjadi rebutan
anak murid agar masuk kelasnya.
“Ibu tamong kelas lung, ya, Bu [Ibu masuk kelas saya,
ya].”
Mereka pun selalu menggandeng aku ke kelas
mereka padahal tidak ada jam pelajaranku di kelas itu.
Andaikan aku bisa dibelah menjadi enam, pasti
mereka tidak akan rebutan seperti ini. Sedih dan
terharu bila pagi-pagi mereka sudah semangat belajar,
sedangkan guru belum semua datang. Namun, aku
yakin lambat laun akan ada perubahan walaupun
tidak signifikan. Semua itu selalu membutuhkan
sebuah proses yang tidak sebentar. Aku yakin akan
hal itu.
Selama enam bulan ini aku mengamati seorang
anak kelas 5 bernama Adil. Menurut teman-teman
dan guru di sekolah, ia sangat “bandel”. Aku merasa
penasaran dengan latar belakangnya. Pasti ada sebab
yang membuatnya menjadi seperti ini. Biasanya anak
yang bandel itu kurang kasih sayang dari lingkungan
sekitar.

~205~
Hari demi hari kulalui untuk mengamati anak
muridku, tidak lupa Adil pun juga kuperhatikan.
Berbagai sumber kutelusuri, dari bertanya kepada
guru sekampung, anak muridku, hingga mamakku.
Dan, memang benar Adil adalah anak broken home. Ia
dan adiknya (Devi namanya) ditinggal mamaknya ke
negeri jiran. Mereka tinggal dengan neneknya.
Perhatian dari keluarganya sangat kurang, apalagi dari
lingkungan.
Kucoba untuk mendekatinya secara perlahan,
dengan mengajak mengobrol atau sekadar bercanda di
depan kelas atau sewaktu jalan pulang. Jurusku ini
belum juga mempan. Adil masih saja terlambat
datang ke sekolah bahkan sering bolos. Ditambah lagi
bila pelajaran berlangsung, ia anjang sana anjang sini
alias berkunjung ke kelas sebelah. Hingga pelajaran
usai pun terkadang ia masih berada dalam misi
berkunjungnya tersebut. Benar-benar belum bisa
berubah sedikit pun padahal semua jurus sudah
kukeluarkan. Nah, pada 14 Desember 2011, ketika
aku mengajar Matematika di kelas 5, terjadilah
perkelahian yang luar biasa dahsyat antara Adil vs
Mulyadi. Perkelahian terjadi karena Mulyadi tidak
terima kalau meja sekolah dipatahkan oleh Adil. “Bu
Faraaa, ada yang berkelahi, Buuu ...,” teriak salah
seorang murid di kelas 5. Sontak aku berbalik badan
dan mengingatkan mereka berdua untuk tidak
melanjutkan perkelahian tersebut.
“Hai, Nak, ayo, saling memaafkan,” kataku dari
belakang kelas.

~206~
Saat itu, aku sedang mengajar Matematika di
papan tulis yang berada di belakang kelas. Ternyata,
mereka tetap tidak memperhatikan aku. Lalu,
kudatangi mereka untuk menghentikan perkelahian
tersebut. Dibantu dengan beberapa anak muridku,
akhirnya mereka bisa dipisahkan. Namun,
perkelahian tidak berarti berhenti begitu saja. Mereka
selalu saja memberontak dan ingin melanjutkan
perkelahian tersebut. Adil tidak mau kupegang dan
tidak mendengarkan kata-kata yang aku ucapkan.
Matanya merah dan nafsu untuk berkelahi selalu saja
memuncak.
Adil berhasil lepas dari peganganku dan mengejar
Mulyadi untuk memulai perkelahian lagi. Untungnya
Mulyadi berhasil aku pegang dan ajak keluar.
“Mulyadi anak pintar, kenapa berkelahi, Nak?”
aku ajak ia berbincang santai di luar
“Dia sudah mematahkan meja, Bu. Kan, kasihan
Ibu nanti,” jawabnya.
Aku terharu dan sedih mendengar jawabannya. Ia
kasihan sama gurunya hingga rela berkelahi dengan
Adil.
“Nak, Ibu selalu bilang, kan, bahwa sesama teman
harus saling menyayangi?” kataku.
Ia hanya bisa mengangguk. Belum sempat aku
selesai berbicara, Adil sudah ada di dekatku dan siap
untuk memukul Mulyadi. Untungnya dengan sigap
aku dan beberapa anak muridku mencegah
perkelahian ini. Aku pegang Adil kuat-kuat.
Bel istirahat pun berbunyi, Mulyadi lari

~207~
menghindari Adil. Namun, Adil tidak mau kalah, ia
berusaha dengan sekuat tenaga untuk bisa lepas dari
peganganku. Sembari memegang Adil, aku
memberikan beberapa nasihat kepadanya. Sedikit
demi sedikit emosinya agak mereda. Teman-
temannya hanya bisa memandangiku dan Adil yang
berada di dekat pintu kelas.
Akhirnya, kupersilakan Adil dan teman-temannya
untuk beristirahat. Hingga pulang sekolah saya tidak
melihat Adil lagi.

Kutanya beberapa temannya, mereka bilang tidak


tahu. Tasnya masih di kelas. Hmmm ... mungkin ia
main di desa sebelah. Seperti biasa, pagi ini aku
berangkat sekolah bersama beberapa orang murid.
Pagi ini aku mengajar kelas 5 lagi. Jadwalnya
Matematika. Beberapa anakku terlambat datang ke
kelas. Mereka menunggu di luar hingga kami selesai
berdoa. Selalu aku biasakan dan mengingatkan kepada

~208~
anak muridku agar datang tepat waktu dan tertib.
Dan, syukurnya sedikit demi sedikit ada perubahan ke
arah lebih baik. Beberapa anak perempuan masuk
kelas seusai kami berdoa. Sebelum memulai
pembelajaran, aku selalu memberikan cerita-cerita
atau motivasi kepada mereka. Ketika aku sedang
bercerita, tiba-tiba tidak disangka tidak diduga, ada
yang memberi salam dari luar.
“Assalamualaikum, Bu.”
“Waalaikumsalam warrahmatullah,” jawabku
dengan hati yang terkejut sekaligus bahagia. Benar-
benar kejutan luar biasa pada pagi ini.
“Bu, maaf terlambat. Lung telat beudoh [saya
terlambat bangun],” ucap Adil.
“Iya, Nak, masuklah,” jawabku sambil
mempersilakan ia masuk dan duduk di kursinya.
Dalam hati, aku sangat terkagum-kagum. Anak
yang selama ini dicap sebagai anak bandel, hari ini
masuk kelas dengan mengucap salam dan meminta
maaf akan keterlambatannya. Luar biasa.
Selama pelajaran berlangsung pun ia tidak henti-
hentinya bertanya kepadaku. Terkejut untuk kali
kedua, Adil ternyata bisa langsung menangkap apa
yang aku jelaskan. Ia langsung bisa menyelesaikan soal
yang kuberikan kepada kelompoknya. Ketika ada
teman yang berbicara, Adil lang-sung mengingatkan
agar tidak berisik. Bener-bener kejutan pada enam
bulan aku berada di SD 6 Payabakong.
Air mata ini sudah tidak tahan untuk keluar.
Lelah sekali menahan air mata hingga akhir pelajaran.

~209~
Bahagia bercampur terharu. Setelah pelajaran usai,
Adil memanggilku.
“Bu Fara, preh lung [tunggu saya],” teriaknya.
“Kiban Adil [gimana Adil]?”
“Salam dulu, Bu,” katanya sambil menarik
tanganku dan menciumnya. “Adil anak carong [pintar]
belajar terus, yuk, Nak.”
“Iya, Bu, saya mau.”
Serasa mendapatkan berlian mendengar jawaban
yang tulus dari Adil. Subhanallah Adil berubah.
Hingga sempat terlintas dalam benakku, Benarbenar
Adilkah yang kuhadapi saat ini? Bukan mimpi ternyata
setelah kurasakan cubitan di badanku. Adil benar-
benar sudah adil kepada dirinya. Sedikit demi sedikit
ia mulai berubah ke arah yang lebih baik. Waktuku
hanya enam bulan lagi di sini, waktu yang terbilang
cukup singkat untuk bisa membentuk mereka semua.
Aku yakin Adil akan menjadi seorang pemimpin yang
adil kelak nanti. Adil yang benar-benar adil.
Salam dari ujung barat Indonesia! •
PELAJARAN K ESUNGGUHAN DARI D UA M URID ISTIMEWA

Oleh: Hety Apriliastuti Nurcahyarini*


* Pengajar Muda Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa
Timur.

Setelah sekian bulan mengajar, berada di tengah


anakanak, hidup sendiri di sebuah desa antah-
berantah Indonesia, tidak ada sinyal, “Tok,” hati saya

~210~
seperti sedang dipukul oleh suatu kenyataan. Saya
baru tersadar. Saya baru mengerti apa itu
“kesungguhan”. Ini benar-benar tidak disengaja atau
direka-reka. Sungguh!
Kalau kalian menantikan kesungguhan dari
seseorang dan tak kunjung datang, sudahlah. Orang
itu memang tidak bersungguh-sungguh dengan kalian.
Lupakan! Kalau kalian bosan akan suatu hal karena
belum juga menemukan kesungguhan sebagai diri
pribadi, mari belajarlah dari kedua murid saya, In’am
dan Kholil.
Namanya In’am. Sesuai usianya, seharusnya ia
sudah duduk di bangku SMP. Namun, sebuah
kenyataan pahit membuat In’am harus duduk di
bangku SD, hingga kini ia menjadi salah satu muridku
di kelas 6. Tahukah, Kawan, In’am be-
IN'AM

~211~
lum dapat membaca. Kata orang-orang, In’am
mempunyai kelainan yang menyebabkannya belum
dapat membaca dan merespons sesuatu dengan baik.
Saya tak percaya. Saya mencoba mengajari In’am
membaca. Terpatah-patah, terbata-bata. Mudah
sekali In’am lupa. Ingatannya dalam mengenali huruf
berantakan, sering tertukar. Namun, saya tak putus
asa mengajarinya. “Ikuti Ibu, In’am. In’am pasti bisa
membaca. Pasti bisa!” kata saya penuh tekad sambil
mengepalkan tangan di hadapan In’am. “Iya, Bu,”
jawab In’am sederhana.
Hari berganti hari, saya membuat sesi kelas
membaca untuk In’am. Semakin In’am lupa huruf,
tertukar huruf, semakin sering saya meyakinkan
In’am, suatu saat ia pasti bisa membaca. Begitu
seterusnya. Dan, tahukah? Ia tak pernah sekali pun
membolos sesi kelas membaca sepulang sekolah. Ia
selalu di sana. Menunggu sampai semua teman
sekelasnya pergi dan menghampiri saya, gurunya. “Bu,
membaca,” kata In’am lirih.
Itulah yang dapat kubaca dari seorang In’am,
kesungguhan. Walaupun hasilnya belum tampak, saya
yakin suatu saat nanti, pasti In’am bisa membaca.
Pasti.
KHOLU
Kholil. Begitulah nama yang tertulis di buku rapor
dan buku pendataan siswa. Sederhana, hanya satu
kata. Namun, entah mengapa, ia selalu menuliskan
namanya “Holil”. Saat ulangan, di buku tulis, mengisi
formulir, selalu begitu, Holil.

~212~
Kholil sering tidak masuk sekolah. Alasannya pun
sesederhana namanya. “Mengasuh adik, Bu,” kata
Kholil polos. Walaupun Kholil sering tidak masuk
sekolah, ia termasuk anak yang pandai. Sekali
dijelaskan, ia langsung dapat mengerjakan soal yang
saya berikan. Kalaupun salah, tidak terlalu parah.
Kholil dan In’am bersahabat dekat. Keduanya
sering terlihat bermain bersama. Selain itu, Kholil
dan In’am ahli dalam memenangkan hati saya.
Bagaimana tidak, tidak ada angin, tidak ada hujan,
tidak ada janjian, “Ibu, Ibu ...,” seru mereka dari luar
rumah, “belajar, Bu.” Begitu setiap malam pukul
tujuh.
Gila, dua anak ini! batin saya sambil tersenyum
penuh arti setiap menyambut kedatangan mereka.
Rasanya bagaimana, ya, entah. Saya tidak mampu
mendeskripsikannya. Antara senang, terharu, jadi
satu. Dan lagi-lagi, kesungguhan. Kesungguhan Kholil
untuk terus belajar walaupun sering tidak masuk
sekolah, sampai bersedia datang ke rumah.
Tuhan, tolong jagalah kedua anak pada masa
sekarang dan masa depan. Hanya lima bulan waktu
saya yang tersisa untuk melihat dan merasakan arti
kesungguhan dari mereka. Terima kasih atas
kesempatan untuk mengenal arti kesungguhan dari
dua anak istimewa. Saya bahagia bisa menjadi guru
bagi mereka. •
D ILA DAN BUKU SPONGEBOB BERBAHASA INGGRIS

Oleh: Putri Rizki Dian Lestari*

~213~
* Pengajar Muda Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa
Timur.

Hoy, ayo bantu ja Ibu na bawa buku sa sak dari Kepoa


rea!” [He, ayo, bantu. Ibu bawa buku sekarung dari
Kepu], teriak seorang anak saat melihatku turun dari
kol membawa kardus berisi buku-buku dari Penyala.
Sejak pagi mereka memang sudah menunggu saat aku
pamit mau mengambil buku di Desa. Buku-buku
Penyala memang beberapa kali tertahan. Kali pertama
tertahan di Kabupaten Gresik karena satu-satunya
kapal menuju Bawean sedang diperbaiki, lalu tertahan
di rumah Lasti, rekanku sesama Pengajar Muda di
Bawean yang tinggal di dekat kecamatan. Setelah itu,
tertahan di desa karena jalan menuju Dusun Tanah
Rata sedang diperbaiki. Begitulah perjalanan panjang
buku-buku Indonesia Menyala menuju tangan-tangan
kecil ini.
Ketika kukatakan bahwa buku-buku baru sudah
sampai di Desa, hampir setiap hari mereka bertanya.
Pertama-tama pertanyaannya adalah, “Kapan Ibu mau
ambil bukunya?” Aku jawab, “Nanti, ya, kalau kol
sudah bisa lewat lagi, kan, jalannya masih
dibetulkan”. Lalu, pertanyaan selanjutnya adalah,
“Kapan jalannya selesai dibetulkan?” Aku jawab, “Ibu

tidak tahu, mungkin seminggu lagi.” Keesokan


harinya mereka mengulang pertanyaan dari awal, aku

~214~
jawab pula dengan sabar, hari ketiga mereka bertanya
lagi dari awal, jawabanku berubah, “Kan, kemarin
sudah Ibu kasih tahu, kok, tanya lagi?” dengan riang
mereka tertawa, “Oh, ya, ya ... hehehe.”
Percaya atau tidak, hari keempat mereka bertanya
lagi, “Ibu, kapan mau ambil bukunya?” Aku menarik
napas panjang dan tersenyum penuh arti entah
mereka mengerti atau tidak. Satu hal yang pasti, aku
mulai menyesal memberi tahu bahwa mereka akan
punya buku baru. Belum sempat aku menjawab,
mereka menjawab sendiri dengan pertanyaan lain,
“Masih belum bisa lewat kolnya, ya, Bu?” Aku
mengangguk sedikit lega karena aku tidak lagi merasa
déja vu. Tibatiba, “Kalau angkot sudah bisa lewat kapan
mau diambil?” Haduuuh, ampuuunnn ...!!!
Akhirnya, penantian panjang anak-anak ini usai,
tas berputar dengan logo Indonesia Mengajar di
bagian depan lang-sung dikerubuti anak-anak. Tasnya
saja sudah membuat mereka terkagum-kagum
(termasuk aku sebenarnya). “Hadaaah ... gagahna, Ibu
[Aduuuh, bagusnya, Bu]!” Begitu buku dibuka dari tas
dan dikeluarkan satu per satu, mereka langsung
ramai, berbicara satu sama lain yang tak terjangkau
oleh kemampuanku dalam berbahasa Bawean, hehehe
.... Yang kebanyakan kudengar adalah kata, “Hadaaah
....”

~215~
Dila, kelas 4 SD, matanya langsung tertuju pada
buku bergambar Spongebob dan Patrik, “Hadaaah,
Spongebob sama Patrik rai, libur na!” Namun,
senyumnya langsung berubah manyun saat melihat
isinya yang berbahasa Inggris, “Yaaah, Ibu, pake bahasa
Inggris, Bu, tak paham eshon!” Lalu, ia ngomong
sendiri pakai bahasa Inggris asal-asalan, persis seperti
ketika aku dan teman-teman yang ditempatkan di
Bawean mengarang bebas dalam bahasa Bawean saat
pelatihan dulu, hehehe.
Kemudian, aku bilang kepadanya, “Dil, kan, ada
gambarnya. Coba Dila bikin cerita dari gambarnya.
Ayo, kira-kira ceritanya tentang apa, ya? ” ucapku.
Matanya melebar seperti mendapat ide gemilang, ia
mengangguk dan membalikkan badan. Lalu, ia
bercerita dalam bahasa Indonesia tentang gambar itu,
sesekali ia menjadi Patrik atau menjadi Sponge-bob.
Ketika menjadi Spongebob, suaranya sedikit

~216~
dikecilkan dan serak. Ketika menjadi Patrik, suaranya
berat, persis seperti dubber Spongebob di televisi. Dila
asyik bercerita sampai akhir gambar. Tak ada teman
yang memperhatikannya karena semua asyik pada
buku pilihannya masing-masing. Namun, aku
memperhatikannya dan Dila membuatku takjub
dengan caranya bercerita. Walaupun setelah kubaca,
cerita versi Dila dengan yang asli jauh berbeda.
Namun, itu semakin membuatku takjub.
Terima kasih untuk Para Penyala Bawean: Evi,
Yenni, Maya, Cinta, Andri, Chendra, dan Sugi. Cuma
Tuhan Yang Maha Kuasa yang mampu membalas
semua ketulusan kalian J.
Buku menjadi mainan baru bagi mereka J. Terima
kasih Penyala! •
A NAK PAK H UJAN DAN BU SUNGAI

Oleh: Jairi Irawan*

* P ENGAJAR MUDA KABUPATEN KAPUAS HULU, KALIMANTAN


BARAT .

Aku menjadi orang yang tak tahu diri jika hanya


mengikuti keinginan pribadi membawa anak-anak
kampungku untuk berakrab ria dengan pena dan
buku. Padahal, mereka telah menjadi anak dari hujan
dan sungai. Sementara pena dan buku, ibarat saudara
tiri yang belum diketahui apakah kelak benar menjadi

~217~
saudara ataukah malah menjadi bencana.
Sore itu mata mereka berbinar tatkala hujan
mulai turun bersapaan begitu ramai dengan atap seng
sekolah kami. Seolah-olah mereka mendapatkan
hadiah istimewa yang dirindukan pada hari Natal dari
seorang Paman Sinterklas berbaju merah dan
berkendara rusa yang kebetulan melintas di atas
hutan Kalimantan, di atas sekolah kami. Hujan
semakin deras dan gelagak petir juga tidak kalah
hebatnya seolah-olah mengiakan binar mata anak-
anak yang pikirannya sedang melayang-layang melihat
hujan di halaman sekolah kami.
Pikiran dan perasaanku beberapa saat terbang
melintasi waktu ke beberapa tahun silam ketika aku
sebaya mereka. Hujan selalu kutunggu karena ia tak
pernah menuntutku untuk membuka buku,
mengguritkan pena, dan memikirkan rumus
matematika yang saban hari aku rasakan semakin tak
mau berkompromi dengan otakku. Hujan membuat
beban kekanakanku pada masa itu luruh mengikuti
aliran air lewat lekukan tubuh dari ujung rambut
hingga kuku kakiku.
Aku dengan ringan melangkahkan kaki pergi ke
sawah untuk menangkap burung yang kebetulan
sedang terlambat pulang atau lagi sial terhadang
hujan sehingga jatuh terkapar karena kedinginan.
Kalaupun tidak pergi berburu burung, segera aku
ambil bola, lalu berlarian memanggil teman untuk
bermain bola di lapangan dekat rumah kami. Tanah
lapang yang terpaksa jadi lapangan karena dikeruk

~218~
habis oleh alat berat yang tak berperasaan.
Tubuh kami bercampur dengan lumpur dan kami
hampir tidak mengenali satu sama lain karena yang
terlihat dari kami hanyalah sepasang mata di kepala
kami. Anggota tubuh lainnya telah berubah menjadi
berbagai bentuk sesuai tubuh pahlawan yang kami
suka. Aku menjadi Kesatria Baja Hitam. Itulah
kemerdekaan kami, mimpi-mimpi kami, diri kami
yang sesungguhnya tanpa ada yang memaki, kecuali
ibu-ibu kami yang suka khawatir akan derasnya hujan.
Setelah usai menikmati kebebasanku, aku akan
kembali menjadi “anak baru” yang siap berhadapan
dengan persoalan buku, pena, dan rumus. Walaupun
tubuh terasa panas dingin dan Ibu terus mengomel
akibat “pemberontakanku”, aku masih bisa terus
tersenyum melihat hujan yang pelanpelan menjauh
dan hilang sambil melambaikan tangannya kepadaku.
Aku tersentak, terkaget terlempar kembali ke
masa kini ketika mereka meneriakkan, “Ayo, main
bola, Pak Guru!”
Kontan saja sebelum romantisme ini benar-benar
hilang aku menuju lapangan depan sekolah mengikuti
mereka menyapa hujan.
Murid laki-laki dan perempuan berbaur jadi satu
untuk bermain bola. Menendang, saling bertabrak,
terjengkang mengikuti arah bola. Seolah bola itu
adalah nasib yang perlu mereka mainkan dan
menangkan. Mungkin seperti itulah sebenarnya nasib
dan masa depan kita semua.
Aku biarkan mereka merayakan masa

~219~
kekanakannya. Tak sedikit pun keinginanku
menyekat perbedaan fisik mereka. Aku biarkan
mereka menemukan jati diri dan kesiapannya. Aku
ingin mereka merayakan kebersamaan untuk menjadi
manusia yang sama, utuh dalam bertindak, bermain,
dan bersaing. Aku ingin mereka merasa satu tanpa
perbedaan ketika sama-sama menyulam cita-cita dan
merajut masa kekanakan dalam lembaran kertas
putih hati dan pikiran mereka.
Aku yang sempat terpaku melihat keceriaan
mereka tak sanggup bila harus terus-menerus menjadi
pengamat kebahagiaan saja. Aku pun ingin menyapa
masa laluku, masa kanakku. Aku ingin juga mengurai
lembar-lembar kenanganku yang mulai terlipat dan
tertinggal di belakang. Aku ingin juga membiarkan
setitik jiwa kanak ini berbaur dengan embusan napas,
aroma, dan teriakan keras mereka. Aku ingin mereka
melihatku tidak hanya menjadi “Pak Guru” untuk
saat ini, tetapi menjadi teman mereka yang dapat
mereka umpat, jahili, dan tertawai.

~220~
Hujan terus-menerus mengguyur tubuh kami.
Teriakan demi teriakan mereka bercampur jadi
satu bersama gelegak petir dan desah angin
pedalaman Kalimantan. Peluh, rasa dingin, rasa takut,
penasaran, jijik, kotor telah tercerabut dari akar dan
perasaan mereka. Mereka menjadi lebih berani, lebih
agresif, lebih lepas seperti sifat dasar kanak mereka.
Aku melihat diri kecilku turut bersukacita dengan
mereka.
Sikap dan sifat seperti inilah yang kelak ada pada
dada mereka. Nanti, jika mereka telah akrab dengan
buku dan pena, aku berharap hati dan perasaan
mereka selepas ketika menikmati hujan dan petir
tanpa ada paksaan dari siapa pun, termasuk diriku.
Mereka dapat merayakan kebebasan dalam
menggerakkan mata pena dan menyelami makna
kalimat-kalimat yang mereka sapa dari buku-buku
diktat maupun cerita.

~221~
Aku tahu pelan dan “kejam”, besok atau lusa
mereka akan meninggalkanku, meninggalkan bangku
mereka untuk ikut orangtua yang sesungguhnya,
ayah-ibu mereka. Kembali bergulat dengan dinginnya
Sungai Kapuas demi secuil bijih emas dan
“kemerdekaan” mereka.
Benar saja. Setelah seminggu aku menulis esai ini,
satu per satu mereka menulis surat kepadaku untuk
ikut menyelam mencari emas di Hulu Kapuas. Aku
sempat menangkap sorot mata yang berat ketika ayah
mereka meminta izin untuk dirinya (sesuatu yang
sebelumnya tak pernah dilakukan. Sebelumnya,
sekolah dan tidak sekolah mereka anggap sama, pergi
atau tinggal tak pernah konfirmasi kepada guru).
Sebenarnya, dalam hati kecil, aku tidak mengizinkan
mereka pergi meninggalkan bangku ini. Namun,
apalah dayaku sebagai guru baru yang masih sangat
baru mengisi hati dan perasaan mereka, masih
separagraf dalam tabula rasanya. Aku masih belum
sekuat arus Sungai Kapuas dan kemilau emas di
dalamnya yang bisa membuat mereka terus bertahan
mengeja hari untuk merangkai masa depan dengan
bangku sekolah.
Meskipun demikian, aku, bangku, dan sekolah ini
terus ingin membangun kapal bersama mereka untuk
dapat berlayar mengarungi luas dan ganasnya
kehidupan. Aku ingin seperti hujan dan desau angin
hutan Kalimantan yang akrab di dada mereka. Aku
ingin menjadi Sungai Kapuas yang deras yang terus
membelai rambut dan kepala mereka. Aku ingin

~222~
menjadi kilaunya emas yang mampu menjadi titian
masa depan mereka. Aku ingin mereka menyapa buku
dan pena semesra mereka menyapa dinginnya angin
di kala hujan dan petir kala hujan sore itu.
Walaupun begitu, aku masih tetap berdiri di pintu
gerbang sekolah menunggu kedatangan mereka.
Sebagian mu-rid di belakangku pun sama. •

BELAJAR DI A LAM TERBUKA

Oleh: Arif Lukman Hakim*


* Pengajar Muda Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

Aku yakin, murid-muridku adalah kelompok anak


genius. Seperti yang ditulis oleh Thomas Armstrong,
ciri-ciri orang genius adalah humoris, rasa ingin tahu
yang besar, senang mencoba hal baru, dan lainnya.
Seperti Sabtu pagi ini, aku menawarkan kepada

~223~
muridku, mau belajar bahasa Inggris atau Pramuka?
Mereka langsung menjawab, “Bahasa Inggrisss!” Aku
paham, mereka penasaran dan ingin tahu betul apa
dan bagaimana bahasa Inggris karena baru mulai
tahun ajaran ini pelajaran Bahasa Inggris diajarkan di
sekolah.
Akan tetapi, entah karena bisikan dari mana aku
merasa hari ini aku malas mengajar. Aku jenuh
melihat barisan bangku yang diisi secara berdesakan
oleh anggota kelas 4, 5, dan 6 dalam satu ruangan ini.
Aku ingin sedikit melepas penat, menatap teriknya
mentari dan senyum mesra langit biru Papua. Aku
malas mengajar di kelas, ingin sekali membebaskan
anak-anak belajar, bermain, dan berpetualang di alam
mereka.
“Ibu, saya mau minta izin, saya mau ajak anak-
anak ke belakang Pulau. Kita mau belajar di luar
kelas,” kataku kepada Ibu Suhemi, satu-satunya guru
tetap di sekolah dengan jumlah siswa 100 ini. “Iyo,
sudah, hati-hati, Pak Guru,” Ibu Suhemi menjawab.
Jarum jam sudah berlabuh di angka sepuluh. Aku
lang-sung berpamitan kepada bapak angkatku.
Namun, melihat antusias anak-anak yang sudah
menunggu di depan rumahku, Bapak akhirnya
berganti baju dan bersiap mengantarku.
Aku dan bapak angkat melaju di atas Laut Seram
menggunakan perahu pokpok (ketinting) kesayangan.
Selang beberapa menit, di depanku sudah hadir
sampan kecil yang sepertinya diisi oleh tiga orang.
Ternyata, ada Sahid, Ida, dan Umi yang sedang

~224~
mendayung sambil menyanyikan lagu favorit mereka.
Nenek moyangku seorang pelaut
Gemar mengarung luas samudera
Menerjang ombak tiada takut
Merengkuh badai sudah biasa
Mereka semakin kencang bernyanyi saat aku dan
bapak angkat melintas di depannya. Menyenangkan
sekali melihat mereka ceria seperti ini, sangat kontras
dengan pemandangan muka anak-anak saat di dalam
kelas tadi.
Sebelum sampai di belakang pulau, Bapak berseru,
“Pak Guru, coba cek karang di sini dulu. Sepertinya
bagus.” Aku langsung buka baju dan
byuuuuuuuuuuuuuuuuuur ....
Alamak, indah nian sepenggal karang di bawah
laut ini. Bermacam jenis karang yang melintang
terlukis alami dihiasi ikan-ikan hias di bawah sana.
Bapak ternyata juga ikut lompat ke air garam. Ya,
keakraban orangtua, anak, dan alamnya sedang
terjadi. Bapak menyelam sampai ke dasar laut,
menilik setiap baris karang dan ikan.
Setelah puas mengenyangkan mata dengan
pemandangan bawah laut, aku dan Bapak kembali
melanjutkan perjalanan ke daerah yang sering disebu
Bom. Kulihat anak-anak sudah banyak berjajar di
sana.
“Anak-Anak, ayo, kumpuuul.” Aku berseru kepada
muridmuridku yang mulai amburadul, ada yang
bermain dayung, bermain bola di pantai, dan tak
sedikit mulai mencari buah kelapa.

~225~
“Pak Guru ingin kalian bermain sambil mengingat
apa yang Pak Guru ajarkan di kelas. Coba anak-anak
kelas 4, kalian masih ingat apa itu simbiosis?
Kemudian, karnivora? Yang kelas 5, kembali pikirkan
tentang fotosintesis, dan kelas 6 bisa memahami ciri-
ciri makhluk hidup,” aku berseru di antara suara
ombak.
“Nah, ini ada pohon. Coba lihat, struktur pohon
terdiri atas apa saja? Kemudian, kalian amati baik-
baik, kira-kira di hutan ini ada hewan apa saja?”
“Akar itu ada dua jenis, akar tunggang dan akar
apa?” aku bertanya. “Akar serabuuuttt!” mereka
kembali menjawab. Aku kembali menanyai mereka,
“Akar tunggang itu contohnya pohon mangga. Kalau
akar serabut, contohnya pohon apa?” “Iniii, Pak
Guru!” kata Ibrahim sambil menunjukkan ilalang.
Dasar anak alam, cepat sekali mereka menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang di dalam kelas tadi tak

~226~
terjawab.
Aku juga kembali mempraktikkan Matematika ala
Papua. “Kemarin katanya Jufri bingung tentang KPK.
Ayo, yang lain, bantu Jufri kumpulkan kayu dan batu.
Katong hitung KPK sudah.”
Sambil mereka mengumpulkan batu, kulit siput,
dan kayu, aku memberikan soal. “Carilah KPK dari 2
dan 5.” Anakanak mulai menulis di atas pasir, mereka
mengurutkan kelipatan 2 dan 5. Supri menjawab, “10,
Pak Guru!” Aku lang-sung tersenyum sambil
menyapanya, “Ko kasih ajar dorang supaya tahu dari
mana ko dapat angka 10 itu,” kataku sambil menunjuk
Jufri. Jufri kemudian dikerubuti Ramli, Ruslan, dan
anak-anak lainnya. Hampir semua anak bermain
dengan batu dan potongan batang pohon sambil
mencari-cari hasil KPK.
Kulanjutkan materi IPS, kembali kulakukan
pengayaan materi tentang laut. “Laut kita itu dibagi
ke beberapa bagian, ada perairan nusantara, laut
teritorial, landas kontinen, dan zone ekonomi
eksklusif,” kataku.
Selesai kujelaskan pengertian-pengertiannya,
kuajak anakanak berpikir, “Kalian setiap hari makan
nasi lauknya apa?”
“Ikaaaaaan!” mereka menjawab mantap.
“Ya, Pak Guru juga. Apalagi kalau Pak Guru
memancing. Pak Guru tanya, ikan hidup di laut,
rumahnya di mana?”
“Karaaaaaang!” suara mereka tak pernah surut.
“Kalau rumah ikan rusak, nanti ikan akan pergi.

~227~
Terus, kalian makan apa? Sekarang begini, kira-kira
untuk menjaga rumah ikan, agar ikan tidak pergi,
supaya kita bisa makan ikan tiap hari, apa saja yang
harus kita lakukan?”
Satu-satu mulai mengangkat tangan dan
memanggilku. “Pak Guru, katong tara boleh bom ikan,”
kata Rahim Patur.
“Pak Guru, tara boleh pakai potas.” Moksen
langsung memangkas. “Tara bole pakai akar bori.
Sebentar karang rusak!” suara Sahid muncul ke
permukaan.
“Ya, betul! Memang ... anak-anak Karibia ini
pintar-pintar! Selain itu, kalian juga harus menjaga
kebersihan pantai dan laut. Dengan cara apa?”
tanyaku menantang.
“Tidak membuang sampah di lauuut!” Supri Patur
lagilagi mencuat.
“Itu sudah. Sekarang katong boleh bermain lagi,
menikmati alam kita ini, Pak Guru mau molo! Siapa
ikut?” tanyaku.
“Sayaaaaaa!” Sahid, Moksen, Ruslan, dan beberapa
anggota tiga kelas yang kuajar mulai menarik
dayungnya menuju laut. •
K HODIJAH, OSK, DAN K ATA-K ATA E MAK

Oleh: Nur Wahidah*


* Pengajar Muda Kabupaten Lebak, Banten.

R ANGKASBITUNG, 28 A PRIL 2012

~228~
Hari masih subuh betul saat kami, enam orang
Pengajar Muda Lebak, sampai di lokasi Semifinal
Olimpiade Sains Kuark 2012 di SDN 1 Rangkasbitung
Timur. Olimpiade ini merupakan kompetisi sains yang
diadakan setiap tahunnya secara nasional oleh sebuah
majalah komik sains anak-anak, Kuark. Sebagai
panitia, kami tentu saja harus mengurus semua
pelaksanaan teknis demi kelancaran semifinal OSK
yang kali pertama diadakan di Kabupaten Lebak.
Masih jelas teringat amanat yang diberikan Kepala
Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak kepada para
Pengajar Muda pada saat menginjakkan kaki di Lebak.
“Tolong, carilah mutiara-mutiara di penempatan
kalian, asah dengan baik, jaga dengan ilmu serta
akhlak dan perlihatkan kepada saya ketika mereka
siap.”
Mendengar amanat pertama ini, ada perasaan
tertantang dan semangat yang tinggi untuk
mewujudkannya. “Mencari mutiara”, mungkin
terdengar puitis, tetapi memang itulah tugas pertama
kami. Menemukan bakat anak-anak yang selama ini
tersembunyi oleh kabut gunung, tanjakan curam, dan
hutan di desa-desa terpencil.
Hari ini, kupenuhi tugasku dengan membawa 12
anak “Mutiara” dari Kecamatan Muncang yang akan
berjuang kembali mengasah otak di Semifinal
Olimpiade Sains Kuark. Tujuh orang di antaranya
berasal dari SD tempatku mengabdi, SDN 1
Mekarwangi. Dua orang Level I (Kelas 2 SD), satu
orang Level II (Kelas 4 SD), dan empat orang Level III

~229~
(Kelas 5 SD dan 6 SD). Hal ini sangat membanggakan
sekolah dan tentu saja tiga kampung tempat anak-
anak ini tinggal. Membanggakan karena sebelumnya
sekolah tempatku mengabdi adalah SD dengan
peringkat terendah dari segi nilai pada UASBN tahun
lalu, membanggakan karena lima dari tujuh muridku
yang lulus hingga semifinal adalah anak-anak yang
bekerja pada luar jam sekolah.
Badriah dan Neni membantu orangtuanya setiap
musim tanam di sawah, Andrian tiap pulang sekolah
“angon kebo’ [menggembala kerbau]” orang lain untuk
membantu orangtuanya, dan Ata hampir setiap siang
mencari “suluh [kayu bakar]” di hutan untuk dijual.
Berat? Susah? Tidak. Mereka tidak merasakan itu,
malah mereka sangat senang karena bisa membantu
orangtua. Prinsip belajar bisa di mana saja dan kapan
saja sudah mampu mereka terapkan. Majalah Kuark
yang diberikan oleh Penyala Lebak, dibaca baik-baik
oleh mereka. Dibaca saat duduk setelah mencari kayu,
dibaca sehabis menjemur pakaian, dibaca di atas
kerbau, hingga majalah ini lebih terlihat lusuh saat
kali pertama dibuka dari kardus.
Latihan mengerjakan soal baru dilakukan satu
bulan sebelum OSK. Setiap malam sepulang mengaji,
anak-anak berkumpul untuk membahas soal bersama.
Masih mengenakan sarung dan peci, mereka
berdiskusi mengenai tata surya, Ceres, Pluto,
Makemake, Eris, cincin Uranus, lini (bahasa Sunda dari
gempa bumi), dan makhluk hidup yang mereka baca
di buku. Tiba-tiba saya merasa ada di ruang kuliah lagi

~230~
saat berhadapan dengan mereka. Terkadang ada
beberapa pertanyaan yang sulit terjawab, dan
untungnya di Lebak sinyal broadband selalu ada untuk
membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan dahsyat
mereka. “Bu, eta Planet Uranus kumaha warnana biru?
[Bu, Planet Uranus kenapa warnanya biru?)” “Bu,
kunaon bapa abdi upami kulem sok kerek? [Bu, kenapa bapak
saya kalau tidur suka ngorok?]” dan masih banyak
lagi.
Hingga hari semifinal tiba, anak-anak merasa
sangat cemas. Mereka bukan cemas karena takut
dengan soal, melainkan cemas karena ini kali pertama
mereka menginjakkan kaki di Rangkasbitung, ibu
kota kabupaten mereka. Perjalanan jauh ditempuh
anak-anak menggunakan mobil dari pengawas UPTD
Muncang untuk sampai ke lokasi perlombaan. Bagi
anak-anakku tiga jam dengan berjalan kaki jauh lebih
menyenangkan daripada tiga jam ditempuh dengan
mobil. Sesampai di lokasi perlombaan, Khodijah yang
paling kecil mabuk dan muntah berkali-kali.
Aku cuma bisa menenangkan Khodijah kecil,
menggosok perut dan punggungnya dengan minyak
kayu putih dan meminumkan teh manis. Namun,
tetap saja wajahnya pucat saat mengerjakan soal.
Tidak tega rasanya melihat anakku seperti itu, kucoba
tanyakan kepada Khodijah, bagaimana kalau Khodijah
istirahat saja dan berhenti mengerjakan soal. Namun,
Khodijah kecil menolak dan berkata, “Alim, Bu, saur
Emak kedah di pidamel sadayana. [Enggak mau, Bu, kata
Emak harus dikerjakan semuanya.]” Ada rasa haru

~231~
melihat keteguhan hati anak kecil ini, masih kelas 2
SD, tetapi semangatnya mengalahkan semangat
orang-orang muda yang putus asa.
Meskipun selesai paling terakhir di kelasnya,
Khodijah masih merasa mantap bisa lulus semifinal
OSK. Ketika pulang, kucoba tanyakan kepada
Khodijah, “Kunaon soalna tadi, Nak? Hese teu, Nak?
[Bagaimana soalnya tadi, Nak? Susah enggak?]” Dan,
si kecil Khodijah menjawab dengan optimis
“Lumayan, Bu, tapi abdi tiasa ngerjakeun. [Lumayan, Bu,
tapi saya bisa mengerjakan.]”
Ah, senang sekali mendengarnya .... Dari Khodijah
kecil dan anak-anak yang mengikuti OSK hari itu, aku
belajar banyak tentang semangat kompetisi, pantang
menyerah, kekuatan doa orangtua, dan memegang
teguh janji.
Apa yang menyebabkan Khodijah kuat menahan
sakit di ruang kelas untuk mengerjakan soal? Tidak
lain adalah semangat dari dalam dirinya, doa, dan
pesan orangtuanya, serta tentu saja karena ia ingin
selangkah lebih maju dan dekat dengan sukses.
Khodijah kecil paham kalau ia berhenti sekarang,
sama dengan pulang sia-sia dan ia tidak mau hal itu
terjadi.
Terima kasih, Anak-Anak, semoga semangat
belajar dan mencintai ilmu itu terus tertanam dalam
diri kalian .... •

~232~
MEMUPUK OPTIMISME
M IRACLE DOES H APPEN!

Oleh: Diastri Satriantini*


* Pengajar Muda Kabupaten Maluku Tenggara Barat,
Maluku.

“And when you want


something, the entire
universe conspires in
helping you to achieve it.”
—Paulo
Coelho
keajaiban malam hari ini bermula dari dua bulan
yang lalu. Saat itu Agustus, kira-kira sudah dua bulan
saya menikmati peran baru sebagai ibu guru yang

~233~
dalam sehari bisa mencapai puluhan kali dipanggil
oleh makhluk-makhluk kecil yang tingginya tak
melebihi bahu saya. “Ibu, ada yang menangis!” atau
“Ibu, Sole pukul beta!” atau “Ibu, anak kelas 6 lari-lari!”
atau “Ibu, Feri angkat buku beta!” atau “Ibu, ada yang
angkat buku dari kantor!” atau “Ibu, ada yang
berkelahi!” atau “Ibu, anak-anak keluar kelas!” dan
sebagainya, dan sebagainya ....
Di balik chaos seperti yang tersebut di atas, terselip
juga memori akan raut wajah malu-malu yang
mengiringi tangan terulur menyerahkan buku tulis
lusuh sambil bibir mereka berkata, “Ibu, beta su selesai.
Kasi beta kali-kali lagi.” Atau, takkan terlupa juga gigi-
gigi putih yang tersungging kontras

dengan kulit gelap mereka ketika melodi-melodi


lagu anakanak mulai dilantunkan di kelas kami.
Singkatnya bisa dirangkum dalam tiga kata: SAYA
JATUH CINTA.
Ya, sekitar dua bulan sejak saya memulai lembaran
baru sebagai penduduk Desa Lumasebu, Kecamatan
Kormomolin, Maluku Tenggara Barat, saya sudah
mulai jatuh cinta kepada anak-anak ini.
Seperti layaknya orang jatuh cinta pada umumnya,
waktu itu saya pun mulai berkhayal.
Saya berkhayal bisa mengajak anak-anak ini
melihat dunia. Saya berkhayal menggandeng tangan
anak-anak ini menyusuri jalanan Surabaya,
menyaksikan kelip lampu perkotaan pada malam hari,
mengamati air mancur, mengajak mereka naik kereta

~234~
api, nonton bioskop, menjilati es krim, bahkan
sekadar menaiki lift di pusat pertokoan. Pokoknya
melakukan hal-hal kecil yang tidak pernah mereka
ketahui ada sebelumnya.
Khayalan saya pun melebarkan sayapnya ke area
otak saya yang bertanggung jawab atas logika dan
analisis. Saya kemudian berpikir: kira-kira kapan, ya,
saya bisa mengajak mereka ke Jawa? Oooh, nanti
waktu saya cuti saja! Saat itu, mereka juga liburan
semester sehingga mereka bisa ikut. Berikutnya, saya
berpikir: hmmm tidak mungkin mengajak semua
anak itu, sepertinya harus dipilih satu saja untuk saya
ajak ke Jawa. Duh, lalu bagaimana cara memilih salah
satu tanpa menyakiti perasaan yang lain? Apa harus
dibuat semacam perlombaan cerdas cermat begitu?
Lalu, yang menang akan ikut saya liburan ke Jawa?
Kira-kira warga desa lainnya akan memandang sinis
atau tidak, ya? Eh, tetapiii .... Libur semester nanti,
kan, jatuh pada Desember, nah tidak
mungkin mereka bisa ikut. Orangtua pasti tidak
mengizinkan, pasti mereka harus merayakan Natal di
sini bersama keluarga. Wah ... susah juga, ya, tidak
ada jalan keluar yang bisa memungkinkan saya
membawa mereka liburan.
Kira-kira seperti itulah perdebatan yang terjadi di
dalam kepala saya. Saya pun dipaksa untuk mengakui
kekalahan: membawa satu anak Lumasebu untuk
liburan dua minggu bersama saya di Jawa adalah ide
yang tidak mungkin diwujudkan.
Tanpa saya ketahui, Allah Swt. telah merancang

~235~
jalan-Nya sendiri untuk dapat membolak-balik segala
kemungkinan dan ketidakmungkinan.
Tidak lebih dari tiga hari setelah saya mengakui
“kekalahan” tadi, kebetulan saya harus pergi ke
Saumlaki untuk membeli barang-barang kebutuhan
lomba 17 Agustus. Berada di daerah bersinyal, tentu
saya tidak melewatkan kesempatan untuk mengecek
surel dan berbagai akun jejaring sosial milik saya.
Salah satu surel dari Ibu Evi Trisna, Manajer
Rekrutmen dan Kemitraan IM, mengabarkan bahwa
akan diadakan Konferensi Anak Indonesia 2011, kerja
sama antara majalah Bobo dan Indonesia Mengajar.
Konferensi ini akan dilangsungkan di Jakarta selama
enam hari, sekitar pertengahan November 2011.
Akan dipilih 36 anak dari seluruh Indonesia,
seleksinya dilakukan dengan cara mengirimkan
karangan tentang kejujuran.
Harapan saya pun merangkak naik satu level.
Ini dia.
Ini kesempatan saya memperlihatkan dunia
kepada mu-rid-murid saya.
Saya pun pulang ke desa dengan semangat baru.
Langsung saya instruksikan kepada tujuh anak kelas 5
yang sudah bisa baca-tulis dan ditambah anak-anak
kelas 6 untuk membuat karangan pendek. Saya cuma
mau menilai dulu, seberapa tinggi kemampuan
mengarang mereka. Hasilnya? Amburadul.
Mereka banyak yang belum mengerti format S-P-
O-K, belum bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan
benar, bahkan tidak mengerti kegunaan tanda koma

~236~
maupun tanda titik. Walaupun begitu, seperti biasa,
saya mendapati karangan Foni (anak kelas 5 yang
paling pintar di kelas) terbilang acceptable meskipun
masih sangat jauh dari status “karangan yang bagus”.
Saya pun mencanangkan program Menulis Cerita
(ini ikut kata anak-anak, lho). Tiap kali mereka submit
cerita untuk saya periksa, saya pun dengan telaten
menunjukkan apa saja yang masih belum benar dari
tulisan mereka, sekaligus menekankan kewajiban
menulis huruf besar di setiap awal kalimat. Saya
jelaskan kegunaan dari tanda petik, sekaligus
penjelasan tentang apa itu “kalimat langsung”. Dan,
karena tidak ada buku cerita dalam bentuk apa pun di
desa ini, saya print cerita-cerita anak dari ebook yang
saya kumpulkan dari berbagai buku pelajaran Bahasa
Indonesia, lalu saya bagikan kepada anak-anak ini,
supaya mereka bisa melihat contoh penulisan cerita
yang benar.
Hari-hari berlalu, tanggal deadline pengumpulan
karangan untuk seleksi Konferensi Anak sudah
semakin dekat. Namun, belum banyak improvement
yang dihasilkan oleh anakanak ini. Meskipun
demikian, ada satu karangan yang sudah menggelitik
hati saya sejak kali pertama membacanya, yakni
karangan Foni tentang pengalamannya menginjak
tanaman di kebun orang. Ceritanya, pada suatu hari ia
dan temantemannya pergi mencari kayu bakar di
hutan. Dalam perjalanan pulang, salah satu dari
mereka tidak sengaja mengin-
jak tanaman keladi di kebun milik Pak

~237~
Batlajangin. Mereka pun memutuskan untuk diam
saja dan tidak mendatangi pemilik kebun untuk
mengaku bersalah. Satu kalimat tulisan Foni di
karangan itu berbunyi: “Aku mau kasih tahu Pak
Batlajangin, tapi aku tidak suka melihat temanku
dipukul orang, aku jadi sedih melihat mereka sedih.” I
thought it was a pretty powerful sentence.
Jadilah saya memutuskan untuk memilih
mengirimkan karangan itu ke Redaksi Majalah Bobo.
Terus terang, banyak pula perbaikan yang harus
dilakukan atas tulisan Foni ini, mengingat awalnya
cerita tersebut hanya sepanjang satu paragraf. Saya
membimbing Foni menggali aspek-aspek cerita
tentang kejadian itu untuk ditulis di karangan.
Hasilnya, saya mengirimkan karangan sederhana
sebanyak 278 kata (ketentuan panitia maksimal 500
kata) ke Redaksi majalah Bobo melalui pos pada 17
September 2011, tiga hari sebelum deadline cap pos 20
September 2011.
Malam sebelum saya berangkat ke kota untuk
mengirimkan karangan itu, saya bilang kepada Foni,
“Foni, kita sudah berusaha semampunya, sekarang
tinggal berdoa, ya, …

~238~
karena Foni masih belum tentu berangkat ke
Jakarta. Kalau Foni tidak jadi pergi ke Jakarta, tidak
apa-apa, ya, yang penting kita sudah berusaha dan
berdoa.” Dia pun mengangguk, “Iya, Ibu.”
Dengan banyaknya kegiatan yang harus kami
lakukan pada minggu-minggu setelahnya, saya pun
dengan cepat melupakan Konferensi Anak ini
meskipun dalam hati masih selalu memimpikan
untuk bisa memperlihatkan dunia kepada murid-
murid saya.
Hingga pada malam ini saat saya, Matilda, dan
Ratih (dua orang Pengajar Muda lain yang bertugas di
Maluku Tenggara Barat) sedang berkumpul di
Saumlaki, pesan masuk di smartphone Ratih
memberitakan bahwa murid teman kami, Angga (PM

~239~
Fak-Fak) terpilih sebagai delegasi Papua Barat di
Konferensi Anak. Perasaan saya biasa saja
mendengarnya, dalam arti ikut senang untuk Angga,
tetapi tetap tidak memikirkan harapan atau peluang
terpilihnya Foni, mengingat karangan yang kami
kirimkan sangat sederhana.
Beberapa menit kemudian smartphone Ratih
kembali berbunyi. Saat itulah, dunia saya mulai
berubah! Masuk satu pesan dari Mas Susilo IM yang
berbunyi: “Ada delegasi dari Maluku Tenggara Barat
juga, lho ....”
Langsung kami heboh!
Kebetulan, kami bertiga adalah tiga PM MTB yang
mengirimkan karangan murid kami ke Bobo,
sementara empat PM MTB lainnya tidak sempat
mengirim.
Matilda pun menelepon Mas Susilo, menanyakan
siapa nama anak MTB yang terpilih itu. Seolah
memang diharuskan untuk kami senam jantung dulu,
Mas Susilo meminta kami untuk menunggu sebentar,
sementara ia mencarikan data nama-nama delegasi
yang terpilih. Ia berjanji untuk

~240~
menelepon kami kembali jika sudah mendapatkan
nama lengkap delegasi Maluku. Telepon pun ditutup.
Kami bertiga saling bertukar argumen bahwa
kalau anak ini memang benar dari MTB (jangan-jangan
sebenarnya maksudnya NTB dan Mas Susilo cuma
salah baca?), sudah pasti ia adalah salah satu dari
murid kami bertiga. Hal itu bisa dipastikan karena di
sini tidak ada majalah Bobo.
Hmmm, lalu bagaimana perasaan saya saat itu? I
was busy telling myself bahwa murid Ratih atau Matilda-
lah yang terpilih. Saya takut sedih kalau sudah
berharap lalu kecewa.
Kira-kira 30 menit kemudian, Mas Susilo
menelepon ke smartphone Matilda. Posisi saya waktu
itu berdiri bersandar di tembok, memandangi Matilda
yang duduk di kasur dengan ponsel menempel di
telinga.
“Gimana, Mas, namanya sudah ada?” tanya

~241~
Matilda.
Secara refleks, bibir saya lalu berbisik, “Alfonsina
...? Alfonsina ...?”
Dan, Matilda pun memandang saya seraya
mengucapkan kata yang sama: “Alfonsina ... Alfonsina
Melsasail.”
Jantung saya mencelos.
Ya, rasanya seperti ketika kita turun tangga dan
kelupaan satu anak tangga. Atau, seperti ketika kita
terbangun dari tidur dengan kaget karena mimpi
jatuh ke jurang.
Seperti itu rasanya.
Alfonsina Melsasail, murid kelas 5 SD Kristen
Lumasebu, akan berangkat ke Jakarta sebagai delegasi
Konferensi Anak Indonesia 2011 mewakili Provinsi
Maluku.
“Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepadaKu, niscaya
akan Kuperkenankan bagimu ....” (QS. 40: 60) •
K APSUL M ASA D EPAN

Oleh: Wintang Haryokusuma*


* Pengajar Muda Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa
Timur.

semua ini berawal dari sebuah pernyataan dan


juga pertanyaan yang sering dilontarkan oleh
masyarakat bahkan anak-anak di pulau kecil ini, Pulau
Gili. Pasalnya, pernyataan dan pertanyaan tersebut

~242~
tidak hanya membuat pedih di hati, tetapi juga pedih
mata dan juga pedih di otak. Padahal, pernyataan
tersebut sangat sederhana dan mudah dicerna oleh
siapa pun. Seketika perasaan hati bergetar dan mata
bereaksi dengan cepat saat mendengar, “Pak, jangan
lupakan kita, ya, Pak, kalau nanti Bapak sudah ada di
Jakarta.”
Ucapan tersebut sering dilontarkan oleh anak
didikku, anak-anak yang sering aku lihat tiap harinya,
anak-anak yang selalu menghampiriku hingga waktu
mereka habis hanya ingin bersama-sama dengan aku.
Itu celoteh anak yang terus terngiang di pikiranku.
Ada lagi pertanyaan yang juga membuat jengkel dan
membuatku harus berpikir untuk menghilangkan
paradigma seperti itu, “Pasti Bapak nanti akan lupa
sama kita-kita yang ada di pulau kecil ini.” Aku
memaklumi semua hal tersebut karena aku sendiri
hanya memiliki jatah selama satu tahun untuk
bertugas di pulau kecil ini. Kadang, aku bingung juga
ketika ada pemuda yang bertanya kepadaku, “Pak,
kira-kira pulau ini memiliki potensi apa, ya, Pak?”
Aku menjawab, “Saya belum melihat banyak di
sini. Tapi, sepertinya pulau ini punya potensi alam
dan manusianya,” jawabku.
“Lalu, alam ini ingin seperti apa, Pak?”
Dari pertanyaan itu, aku berpikir, mengapa
pertanyaan itu harus mereka lontarkan kepadaku?
Lalu, mengapa pertanyaan itu harus mereka yang
lontarkan, bukan aku yang berikan? Lagi-lagi pikiran
dan otakku harus bekerja lebih cepat seperti cepatnya

~243~
kecepatan cahaya. Waktu terus berjalan, tak tahu itu
berjalan lebih cepat atau berjalan lebih lambat atau
berjalan konstan. Hanya saja, semakin hari pikiranku
terus dihantui oleh pertanyaan dan pernyataan
dahsyat dari anak-anak, orang tua, dan juga pemuda
di Pulau Gili.
Aku semakin bingung, seperti menghadapi ujian
mata kuliah Fisika Kuantum, membuat pusing.
Akhirnya, kuputuskan “melupakan sementara”
kebingunganku dengan bermain di laut lepas bersama
anak-anak. Namun, tanpa disengaja, Hirwan, anak
kelas 3 SD, telah membantuku menjawab
kebingungankebingunganku dan juga telah
membantuku mengambil sebuah keputusan besar
yang dapat mengubah Pulau Gili.
Waktu itu, Hirwan, muridku yang hebat dalam
bertualang mengarungi alam ini memberikan sebuah
ikan laut yang tidak dapat kukenali. Ia menangkapnya
hanya dengan tangan kosong. Ditaruhnya ikan
berwarna biru tersebut di dalam wadah kecil seperti
gelas yang terbuat dari logam. Ia memberikan gelas
beserta isinya kepadaku sambil mengatakan, “Pak
Guru, ini buat Bapak. Saya mau ikan ini dipelihara
sama Bapak. Saya juga mau ikan ini terus hidup, Pak.
Nanti bulan depan saya lihat ikannya lagi, Pak.”
“Kamu cuma mau ikan ini bisa terus hidup, Wan?”
“Iya, Pak. Apalagi kalau ikan itu bisa besar,”
jawabnya sambil tersenyum.
Dari sana aku berpikir, Hirwan memberikan ikan
kepadaku dengan harapan ikan tersebut dapat terus

~244~
hidup. Walaupun harapannya kusimpan, ia tetap
berupaya menengok ikan yang ia tangkap itu. Ya,
akhirnya aku dapat menemukan jawabannya.
Jawaban dari segala pertanyaan dan pernyataan
orang-orang selama ini. Jawaban tersebut aku susun
dalam sebuah program yaitu, Kapsul Masa Depan.
Kapsul yang dimaksud adalah berupa kertas yang
berisi tulisan harapan-harapan dari masyarakat di
pulau ini, entah itu anak-anak, orang tua, apalagi
pemuda. Setiap orang akan menulis di satu kertas.
Kertas kemudian dilipat dan dimasukkan ke dalam
sedotan. Lalu, sedotan yang berisi kertas harapan
tersebut dimasukkan lagi ke dalam botol plastik.
Botol tersebutlah yang menjadi simbol Kapsul.
Kemudian, mengapa harus masa depan? Masa
depan diambil karena harapan-harapan yang ditulis
tersebut adalah harapan 20 tahun terhadap Pulau
Gili. Sehingga, masyarakat dan juga aku “dipaksa”
untuk berencana sesuai kemampuan dan dituangkan
dalam selembar kertas kecil yang berisi jawaban dari
pertanyaan, “Tuliskan harapanmu terhadap Pulau Gili
ini pada masa 20 tahun yang akan datang.” Selain itu,
dinamakan masa depan karena 20 tahun yang akan
datang aku dan juga masyarakat yang sudah menulis
harapannya tersebut akan bersama-sama membuka
kapsul yang sudah ditimbun puluhan tahun. Semua
harapan itu bukan saja harapan yang ditulis begitu
saja sehingga kita dapat melupakannya, melainkan
harapan yang berupa janji untuk ditepati dari apa
yang sudah ditulis. Masyarakat dan aku pun

~245~
mempunyai beban moral untuk membangun terus
Pulau Gili. Untuk terus menjaga semangat Indonesia
juga, Kapsul Masa Depan ini juga bertepatan dengan
hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober.
Jadi, pada 28 Oktober 2031 aku dan murid-muridku
akan bertemu kembali. Pasti akan menjadi momen
yang indah nantinya.
Hampir tiga minggu lamanya, aku ditemani teman
guru, berjalan mengelilingi dan menghampiri para
masyarakat untuk mau membuat janjinya sekaligus
rencananya untuk Pulau Gili. Antusiasme masyarakat
sangat tinggi. Rasa optimis juga ikut menghampiri
mereka dan juga aku untuk dapat membangun pulau
ini. Ada warga yang berteriak, “Gili akan punya kepala
desa sendiri,” ada juga yang berani berteriak, “Gili
harus punya listrik yang normal lagi.” Tidak lupa juga
aku turut menulis janjiku untuk pulau ini.
Ada yang mengatakan, “Pak, aku mau Gili punya
tempat bermain yang luas biar nanti adikku bisa main
terus.” Ada yang juga yang bilang, “Pak, Gili harus
punya kapal besar, aku yang mau buat nanti.” Ada
yang lebih menarik lagi, “Pak, Gili harus punya pasir
yang utuh lagi.” Semua harapan-harapan tersebut
sangat luar biasa hingga dapat membuat hatiku
bergetar dan terharu. Anak-anak yang baru kelas 1 SD
saja, sudah punya harapan dan janji yang besar untuk
daerahnya, apalagi mereka yang sudah tua. Sungguh
luar biasa mereka.
28 Oktober 2011 pun tiba, sebagian tokoh
masyarakat Pulau Gili dan juga para orang tua hadir

~246~
dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda sekaligus
penguburan Kapsul Masa Depan yang dilaksanakan di
sekolah. Mereka disuguhi apiknya para petugas
upacara bendera yang untuk kali pertama dapat
dilakukan dengan sangat khidmat. Aku terharu
bercampur senang saat itu, anak-anak juga senang
karena dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.
Selesainya upacara ini, menandakan tersimpannya
148 janji dari anak SD, 123 janji dari warga, 9 janji
dari petugas pemerintahan, dan 1 janji dariku. Kami
mengubur kapsul masa depan kami di sekolah. Hingga
pada 20 tahun lagi, aku kembali melihat apa yang
sudah dijanjikan, apakah sudah ditepati atau belum.
Aku berharap 20 tahun yang akan datang aku dapat
melihat kembali murid-muridku, yang mungkin
mereka sudah memiliki anak, istri ataupun suami.
Yang tidak kalah penting lagi pada 20 tahun yang
akan datang aku dapat melihat senyum semua
masyarakat karena telah terjadi perubahan yang lebih
baik. Tidak lupa juga pastinya aku harus bertemu
kembali dengan Hirwan, untuk berterima kasih
kepadanya karena telah memberikan inspirasi besar.
Berkat inspirasinya pula, semua dapat bersatu untuk
membangun Pulau Gili ke arah yang lebih baik
dengan membangun harapan dan janji dari masa lalu.
N.B.: Terima kasih Hirwan, teman kecil yang selalu
menemaniku ketika harus pergi ke gunung dan laut lepas.
Gapailah citacitamu untuk menjadi seorang kapten kapal,
Nak. Teruslah bermimpi dan sampai bertemu kembali 20
tahun yang akan datang. Oh, ya, maafkan Bapak karena

~247~
ikan kecilmu tidak dapat hidup lama. •
M EMBACA DENGAN G AMBAR

Oleh: Sazkia Noor Anggraini*


* Pengajar Muda Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi
Utara.

"Bu, kata orang Amerika pe bendera juga


ditancapkan di Bulan?” celetuk Ongki (kelas
5) saat mendengar pertanyaan Aldi (kelas 3)
tentang pendaratan manusia pertama di
bulan. Aku tersenyum dan bingung juga
menjawabnya. Memang benar bendera
Amerika ditancapkan ketika Neil Amstrong
menginjakkan kakinya di bulan untuk kali
pertama. Namun, kurasa tidak mungkin
bendera itu ditinggalkannya. Kalaupun
memang ditinggalkan, berarti
pengetahuanku tentang “perbulanan”
ternyata kurang.
Pagi tadi, setelah sekolah Minggu kuputuskan
untuk “memindahkan” perpustakaan sempit sekolah
ke Tenene— kami biasa menyebutnya—sebuah
tempat di lembah bukit Pulau Kalama yang memiliki
dataran landai dengan banyak pohon rindang
melingkupinya. Tenene juga dipilih karena jaraknya
yang tidak terlalu jauh, hanya 15 menit berjalan kaki.
Untuk mencari tempat landai lain di pulau ini

~248~
setidaknya butuh lebih dari 30 menit berjalan kaki
naik-turun bukit. Meskipun wilayah pesisir, abrasi
yang menerpa Pantai Kalama Kola telah meniadakan
daerah landai satu-satunya ditempat ini, yaitu pantai,
tempat yang digunakan sebagai “lapangan” sepak bola
murid-muridku.
Hari sebelumnya, kusiapkan beberapa buku bacaan
ringan penuh gambar di dalam tas hitam yang gagah
bertuliskan Indonesia Mengajar. Setelah kulihat anak-
anak mulai berganti baju sepulang bersekolah Minggu,
aku siap dengan sebuah harapan; minat baca murid-
muridku yang semakin tinggi. Biasanya kegiatan
membaca selalu dilakukan di perpustakaan dadakan
sekolah kami. Ya, perpustakaan dadakan karena
sekolah kami memang tidak punya ruang khusus
penyimpanan buku dan tempat membaca yang
disebut perpustakaan. Satu-satunya ruang nonkelas
yang kami punya adalah ruang kantor guru di lantai
atas. Ruangan ini hanya sebesar 6x6 meter dan
dipenuhi dengan meja dan kursi guru, alat-alat peraga,
serta tumpukan buku dengan lemari berdebu di sana
sini. Sekolah kami mendapatkan semua ini dari dana
DAK (Dana Alokasi Khusus), dana “penyelamat” yang
membuat sekolah-sekolah di daerah terpencil pun
“terlihat” seperti sekolah-sekolah di kota.
Awalnya, rak-rak buku terletak di sudut ruangan.
Bukubuku masih tertata rapi dan sangat berdebu,
jauh dari tangan-tangan kecil murid-muridnya. “Pak
Guru bilang nimbole ba’ambil buku di situ,” alasan salah
seorang muridku pada awal-awal kedatanganku dulu.

~249~
Namun, berkat kesepakatan guru-guru dan murid,
pada beberapa bulan lalu, kami memanfaatkan jam
pengembangan diri pada Sabtu untuk kerja bakti.
Agenda utamanya adalah memfungsikan lagi WC dan
mendekorasi ulang ruang kantor menjadi dwifungsi,
kantor dan perpustakaan. Akhirnya, ruangan sempit
itu dipersempit lagi. Rak-rak buku menjadi batas
antara ruang privasi guru dan ruang privasi murid
(perpustakaan). Meskipun sempit, anak-anak selalu
antusias karena buku yang dulu berdebu dan lengket
cetakannya, karena ditumpuk saat masih baru, kini
bisa dengan leluasanya dibuka-buka, dibolak-balik,
diambil, lalu dikembalikan lagi, berganti dengan buku
yang baru.
Dari kebiasaan baru ini, masih agak sulit membuat
muridmuridku untuk benar-benar membaca dalam
arti sebenarnya. Menyusun huruf menjadi kata, lalu
menemukan makna dan merangkainya dalam satu
kesatuan cerita, sebuah pemahaman utuh. Melihat
buku saja adalah barang baru bagi mereka. Tradisi
buku adalah sesuatu yang sakral, tidak boleh disentuh
apalagi rusak telah sekian lama meracuni mereka.
Guru-guru biasa memperlakukan buku dengan cara
seperti itu sehingga yang terjadi adalah keengganan
membaca. Jangankan membaca, memegang saja pun
tidak biasa, tidak boleh bahkan. Jadi, ketika mereka
dibiarkan membaca (melihat buku lebih tepatnya),
tidak bisa disembunyikan kegembiraan mereka.
Lebih gembira lagi murid-muridku yang pagi itu
terkumpul 11 orang sudah siap sedia di sekolah saat

~250~
misa Minggu. Biasanya mereka menghabiskan Minggu
dengan bermain di pantai yang telah termakan abrasi
atau bermain pasir di halaman rumah yang sedang
dibangun, selebihnya suara mereka selalu dianggap
sebagai gangguan saat orang-orang sedang khusyuk
beribadah di gereja. Maka, memanfaatkan momen ini,
kurangkul tas berat bertuliskan Indonesia Mengajar
yang berisikan buku-buku penuh gambar dan warna.
Sengaja memang tidak kubawa buku dengan banyak
tulisan karena yakin mereka tidak akan membacanya,
litterally.
Kami berjalan mendaki anak tangga, melewati
kuala1 yang kering karena hujan reda, menaiki jalanan
beton yang berlumut dan sangat licin saat hujan
menuju Tenene. Bebe
Sungai.—red.
rapa anak kemudian membantuku membawa tas
mahaberat itu. Syukurlah kami sampai ke Tenene
dengan basuar2. Kami memilih tempat yang landai
dengan batu-batu agak besar di sampingnya untuk
tempatku duduk. Salah seorang muridku
mengingatkan untuk menjauhi pohon kelapa karena
kalau angin bertiup, rawan sekali kelapa terjatuh, bisa
berabe kalau kena kepala malaikat-malaikat kecil ini.
Kubuka tikar dan mulai menggelar “dagangan”.
Sengaja komik dan majalah dulu yang kukeluarkan.
Dalam sekejap, mereka mengeluarkan kata-kata
takjub, “Anu ... barang kerawo ini ang? Masidada’e, Ibu, ia
medorong ... [Ya, ampun, banyak sekali ini, ya? Bagus,
Ibu, aku mau ...].” Majalah bergambar Naruto adalah

~251~
yang paling laris, lalu buku stiker yang ceritanya
kehidupan bawah laut, komik Upin dan Ipin, lalu
buku cita-cita marinir.
Buku berbahasa Inggris sumbangan dari salah satu
instansi internasional adalah buku yang dilirik paling
belakang, mungkin karena terlihat tebal. Pasti bukan
karena bahasanya, karena lagi-lagi aku yakin, mereka
tidak benarbenar membacanya.
Akan tetapi, tiba-tiba Jesika (kelas 4) tertarik
mengambil salah satu dari buku tebal tersebut. Ia
melihat banyak sekali gambar, awalnya kelinci, lalu
babi, lalu suasana perkemahan, dan banyak lagi yang
selalu ia ungkapkan dengan kata-kata setiap melihat
gambar yang menurutnya menarik. Ketika melihat
tenda di dalam perkemahan, ia menanyakan
kepadaku kapan jadwal berkemah dalam Pramuka.
Ketika melihat orang sedang makan, ia bertanya
kepadaku, “Apa yang mereka makan Ibu?” Ketika
melihat burung dan telurnya, ia pun pernah bercerita
tentang burung peliharaannya yang
Berkeringat.—red.

~252~
pernah bertelur lalu mati. Antusias Jesika
menular juga ke Aldi dan Jovi (kelas 3).
Penasaran dengan buku yang dilihat Jesika, Aldi
lalu mengambil buku yang serupa. Lebih ekspresif,
Aldi langsung menunjuk pada ikan besar berwarna
merah muda. Ia sangat penasaran dan bertanya ini
dan itu. Aku pun kewalahan kalau tidak membaca
caption di bawah gambarnya. Untung saja dalam
bahasa Inggris sehingga mereka tidak mengerti. Kalau
saja buku itu berbahasa Indonesia dan mereka mau
meluangkan waktunya sedikit saja dengan membaca,
pasti pengetahuanku tidak lebih banyak daripada
mereka. Dalam buku itu banyak sekali hal-hal baru
yang mereka temui bahkan tanpa membaca.
Aldi terus membolak-balik buku menunjuk apa
pun yang menarik perhatiannya dan menanyakan aku
banyak hal, mulai dari, “Kenapa begini tanahnya di
bulan, Bu?” ketika melihat gambar struktur bulan

~253~
hingga, “Apa dorang nyanda takot jaga terjun dari
helikopter, Bu?” saat melihat para pemadam
kebakaran hutan beraksi. Jovi dan Aldi larut di dalam
dunianya, dengan buku tebal dan gambar-gambar di
depannya. Dalam bahasa Sangir yang lamat-lamat
kumengerti ia bercerita banyak hal yang menyangkut
dirinya, keluarganya, dan pengalamannya terkait
dengan gambar-gambar yang dilihatnya.
Murid-muridku memang tidak benar-benar
membaca, mereka hanya membolak-balik buku dan
terkadang kembali lagi ke halaman sebelumnya hanya
untuk mengomentari setiap gambar yang menarik
hatinya. Namun, dengan begitu, dengan banyaknya
pertanyaan yang mereka ajukan, aku pun dapat
menjelaskan banyak hal dan mereka sama
khusyuknya mendengarkanku. Aku bisa bercerita
mengenai tank yang bisa beroperasi di darat dan laut,
aku bisa menceritakan sejarah pendaratan manusia di
bulan dan peringatan bahwa hanya orang pintar yang
bisa pergi ke bulan, hingga menceritakan rasanya naik
pesawat dan suasana di kota. Murid-muridku memang
tidak (atau belum) memperoleh makna dengan
membaca (litterally), tetapi dengan membaca gambar-
gambar. Toh, setidaknya esensi dari membaca sebagai
referensi dan penambah ilmu pengetahuan bagi
mereka pun bertambah meskipun dalam konteks dan
metode yang berbeda.
Siang itu kami pulang setelah semua anak berfoto
dengan buku favoritnya. Mereka membawa senyum
dan peluh yang tidak sia-sia. Di kejauhan sayup

~254~
kudengar beberapa dari mereka masih membicarakan
apa yang barusan mereka baca.
Untuk murid-muridku, mulailah dari yang terkecil
sekalipun. Karena, setiap perubahan kecil yang kau
alami akan menjadi pengalaman belajar yang tidak
ternilai bagi kehidupanmu kelak.
Ibu guru Anggi yang masih tersenyum mengagumi
kalian. J•
12 J AM PERJALANAN DAN 1 M ALAM PENUH BINTANG

Oleh: Bagus Handoko*


* Pengajar Muda Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Kita tak pernah tahu ke mana kita akan


melangkahkan kaki. Setinggi apa pun cita-cita kita,
sejauh apa pun imaji kita melanglang buana, kita tak
pernah tahu kapan dan di mana petualangan besar
akan dimulai. Kita hanya memiliki kaki-kaki kecil
yang setapak demi setapak menjalani kehidupan
ruang dan waktu.
Begitu juga aku di sini. Di tempat yang aku tak
pernah membayangkan sebelumnya. Sebuah tempat
sunyi sepi jauh dari centang-penerang dan klakson
yang melenguh panjang bernama Tambora. Sebuah
tempat di mana hanya ada bayu yang mendesir dan
tanah sabana beratap langit penuh sebaran bintang
pada malam hari.
Selama dua belas jam aku berguncang-guncang
dari Bima menuju Kecamatan Tambora—tempatku

~255~
mengajar selama setahun. Di jalan-jalan berdebu nan
terjal diapit oleh Gunung Tambora di selatan dan
Laut Flores di utara, aku seakan tersedot perlahan-
lahan menuju sebuah negeri baru. Dari keramaian
kota, berlanjut ke jalanan beraspal yang menanjak,
lalu perlahan memasuki pekatnya malam
perkampungan di padang sabana. Dua belas jam yang
pendek, tetapi juga terasa panjang di jalan yang
seakan tak berujung.
Petualangan besarku berawal di sini. Di negaraku,
di suatu tempat yang sering kali kulihat dalam peta,
tetapi seakan tanah antah-berantah tak tersentuh.
Petualanganku ternyata tidak dimulai di sebuah tanah
bernama Amerika, tempat di mana aku menjejakkan
kaki dua tahun lalu. Bukan kopi Star-bucks dan
sepotong muffin yang kunikmati pada pagi hari,
melainkan segelas kopi hitam pekat Tambora
bercampur manisnya gula dan sepotong puncak
gunung yang berwarna emas. Tak ada seribu kunang-
kunang di Manhattan, tetapi langit mahaluas dengan
kerlip bintang-bintangnya diselingi sesekali bintang
jatuh.
Setahun ke depan, bersama anak-anak yang akan
kuajar, aku belajar menjadi Indonesia. Indonesia yang
selama ini hanya kuketahui dari televisi, majalah, dan
buku-buku pelajaran. Ribuan lembar kubaca selama
bertahun-tahun tentang negeri ini dan berjam-jam
kutonton videonya, tetapi aku tak pernah tahu secara
pasti negeriku ini. Aku akan belajar menjadi
Indonesia. Indonesia yang cantik molek dengan

~256~
alamnya, Indonesia yang yang belum dipoles
hedonisme dan modernisasi sehingga terlihat kumuh.
Aku teringat kala itu, seorang teman di hadapan
Wakil Presiden berkata, “Tempat-tempat terindah di
Indonesia se-ring kali adalah tempat-tempat
termiskin.” Entah mengapa, pada saat-saat terakhir
aku meninggalkan Jakarta yang seperti lautan neon,
kalimat itu selalu terngiang. Bahkan, di tengah rasa
sendu ketika melepas teman-teman satu pelatihan di
bandara, aku masih mengingatnya. Kami semua akan
menuju tempat-tempat terindah di Indonesia, tetapi
kami juga akan mencemplungkan diri dalam
keseharian penuh keterbatasan yang keras.
Aku berpikir, Apa yang dapat kuperbuat di tengah
keterbatasan itu? Aku hanya anak kota yang telanjur
dibuai lama oleh kenikmatan. Apakah aku bisa
bertahan di tengah padang sabana tanpa listrik dan
sedikit air? Bisakah aku menamatkan petualangan
besar ini? Sejak aku di bandara, dalam 12 jam
terguncang-guncang di truk sapi, aku selalu berpikir.
Akan tetapi, pada suatu malam penuh bintang di
Tambora, entah mengapa aku mulai yakin bahwa
petualangan ini bisa kulewati. Mungkin yang kujalani
nanti tak melulu berisi romansa. Mungkin aku akan
terjatuh dan terperosok beberapa kali. Mungkin aku
akan merasa lelah dan mengumpat di tengah jalan.
Mungkin kehadiran dan karyaku di sini nan-ti tak
semegah yang aku bayangkan. Dan, ketika aku pulang,
takkan ada sambutan meriah bak seorang kesatria
menang pertarungan.

~257~
Akan tetapi, aku yakin bahwa aku bisa
menjalankan tugasku di sini, di tengah keterbatasan
fasilitas, bersama orang-orang dengan keramahan
melimpah. Aku yakin aku mau mengajar dengan baik
... dan anak-anak yang aku ajar nantinya yang akan
mengubah tempat-tempat terindah Indonesia
menjadi lebih baik. •

SEMANGAT YANG TAK R ETAK

Oleh: Mohamad Arif Luthfi*


* Pengajar Muda Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi
Utara.

Juli 2011. Hari masih pagi. Sorot cahaya pagi itu


menerobos masuk cela-cela rajutan karung
kelongsong beras yang terlilit sebagai kelambu pada

~258~
jendela kamar rumah tinggalku. Cahaya itu remang-
remang menelusup menerangi kamar berukuran 2x3
meter. Dinding kamar yang berlubang-lubang, tiada
plafon, dan di sudut kamar bertengger empat lembar
seng sisa renovasi rumah.
Pagi itu suasana kampung masih sunyi. Aku hanya
mendengar suara sayup-sayup kokok ayam yang
sedang bersahutan. Suara jangkrik yang terus
bergeming di balik lipatan dan sudut-sudut kolong
tempat tidurku. Aroma lembap sangat terasa
menyesaki ruangan kamar yang tepat di samping
luarnya berjajar belasan ember dan bak penampung
air hujan.

Dua hari yang lalu, saat hujan turun dengan


derasnya pada malam hari, belasan ember dan bak
penampung air hujan itu menimbulkan suara
kecimpung yang tak keruan. Gemerecik air
menciptakan irama yang mengalun tidak pasti.
Karung kelongsong beras yang melilit sebagai kelambu
pada jendela kamarku itu dirembesi air. Bagian bawah
dinding kamarku basah. Lantai yang terbuat dari
campuran pasir dan semen yang tak sempurna itu
diresapi air. Dan, mataku yang terpejam lelap malam
itu terbangun akibat cipratan-cipratan air hujan itu
masuk melalui lubang-lubang karung kelongsong
beras yang robek.
Pagi itu tepat hari Senin. Arloji digitalku
menunjukkan angka 110711, tanggal sebelas Juli
tahun dua ribu sebelas. Ini adalah hari pertama masuk

~259~
sekolah pada tahun ajaran baru setelah kurang lebih
sekitar dua minggu libur. Dan, ini merupakan hari
pertamaku sebagai Pengajar Muda di pulau kecil
wilayah Provinsi Sulawesi Utara, Lipang. Pulau yang
tiada sumber air bersih, tiada listrik, tiada jaringan
telekomunikasi yang memadai, dan terletak di
wilayah perairan Samudera Pasifik yang sangat
dikenal dengan ombak dan anginnya yang sangat
kencang membadai.
Kemudian, aku beranjak menuju ruang tamu
rumah tinggalku. Aku pandangi jalanan depan rumah
masih sepi. Tiada aktivitas yang tampak berarti.
Dalam hati, mulai terbit rasa ragu. Akankah ruang-
ruang kelas SD terisi penuh pada hari pertama ini?
Sementara, tiada teman guru satu pun yang akan
menemani hari pertama ini. Keraguan itu menghias
lubuk hati. Dengan celana panjang hitam dan batik
berlengan pendek, aku berdiri termangu melihat hari,
“Ini hari pertama yang sangat spesial. Aku tak boleh
melewatkan setiap jengkal peristiwa sedikit pun.”
Lalu, aku pandangi obrolan SMS terakhirku dengan
Mbak Ami, karibku, kemarin.
“Salam. Esok adlh hr prtama masuk
sekolah (11 Juli) serentak untuk SD.
SD Lipang (Sangihe) dkenal olh
masyarakat Pulau Lipang dg SD yg sgt
molor jadwal masuk sekolahnya (bs
smp 2-3minggu) br masuk sekolah dr
tgl yg sdh dtentukan. Hal ini trjadi
krn smua guru SD Lipang bukan warga
asli Lipang. Slain itu adlh kendala

~260~
iklim dan cuaca yg ekstrim. Hingga
hr ni pun, tak ada satupun guru
bahkan kepsek pun tdk ada d Lipang.
Namun, optimisme hrs mulai dletakkan
dan dbangun. Sjk kmrin sore, sy jln
dr rmh k rmh, mnemui dr orang k
orang hingga ke sudut2 desa dan sy
sampaikan bhw esok SD Lipang buka
dan sdh mulai masuk. Alhmdlh
masyarakat mrasa surprise dan bangga
mndengar kbr trsbut dan mreka ada yg
katakan ‘br kali ini SD Lipang masuk
sekolah tepat waktu’. Mhn doa dan
bimbingannya sll. Mari kian kita
rekatkan niat utk mncapai agungnya
ketulusan dan indahnya rendah hati.”
Pikiranku mulai menerawang jauh ke Pulau Jawa.
Perasaanku mulai membanding-bandingkan. Sesuai
tradisi, saat sekolah kali pertama masuk pada tahun
ajaran baru, pada pagi yang masih buta di kampungku
hampir dipastikan semua anak SD sudah bangun
dengan penuh semangat. Mereka mengenakan
seragam baru, sepatu baru, tas baru, buku tulis baru,
segalanya serbabaru. Mereka dengan senyum
mengembang menenteng segala perlengkapannya
yang serbabaru. Hati mereka riang gembira seolah tak
ada ruang tersisa bagi kelabu untuk menghuni.
Sementara di sini, aku belum melihat satu pun
batang hidung anak-anak SD yang muncul di
hadapanku. Padahal, arloji digitalku sudah
menunjukkan pukul 06.05 Wita. Aku masih berharap
penuh, tiga puluh siswa SD Lipang hari ini pada duduk

~261~
di kursi ruang-ruang kelas mereka. Ataukah, karena
sudah terbiasa dengan molornya tanggal masuk
sekolah, anak-anak SD ini tidak memedulikan
ajakanku untuk ke sekolah? Hatiku gundah.
Tanganku kemudian merogoh ponsel di saku
celanaku. Aku mengingat kembali apa yang sudah
terlewati semalam. Dan, SMS itu,
“Mbak Ami. alhmdlh akhirny tempat
trakhir bs sy kunjungi mlm ni (tepat
selesai pukul 21.45 wita) utk
mnyampaikan bhw esok SD Lipang sdh
mulai masuk. Ini sy sdg prjalanan
pulang mnuju rmh tinggal. Saat ni sy
mampir d pantai guna mncari sinyal
utk sampaikan sms ini. Dg hanya pake
lampu senter sy susuri jln2 setapak
pulau ini dg pekat gulita tanpa
listrik. Dg harapan, smoga esok
ruang2 klas SD trisi siswa. Esok pg,
hanya sy seorang diri yg akn
mnyambut skaligus mngajar anak2. Krn
kepsek sdh
knfirmasikan bhw pr guru blm bs
hadir smp batas wkt
yg tak tentu. Mhn doa dan
bimbinganny sll.”
Aku terdiam. Menatap lekat langit pagi itu. Gurat-
gurat awan bertebaran tipis menghias cakrawala.
Seolah mencari pesan yang tersurat pada langit pagi,
aku pandangi jengkal demi jengkal lazuardi pagi.
Dalam hati aku berbisik, Seandainya tidak tiga puluh siswa
yang hadir pada hari ini, satu siswa pun akan aku julurkan

~262~
tanganku untuk mendekap hangat semangatnya.
“Assalamualaikum ... Pak Guru!” Tiba-tiba teriak
mungil itu memecah heningku. “Waalaikumsalam.”
Mataku berkerling menuju sumber suara.
Tiba-tiba hatiku berdegup kencang. Seorang anak
berpakaian seragam warna merah-putih berdiri di
depan rumahku. Sambil tersenyum lepas ia
menatapku lekat.
“Siapa namamu?” sambutku riang.

“Fitra.”
“Fitra, kelas berapa?”
“Kelas lima.”
Senyumku mengembang rekah menyaksikan
kehadiran bocah kecil itu, Fitra. Kehadirannya seolah
menjadi teman akrab yang sudah sekian lama sangat
aku rindukan kedatangannya.
“Pak Guru, ayo, kita berangkat ke sekolah sama-
sama,” ajak Fitra.
Pagi itu sinar mentari sudah agak meninggi. Jam
menunjukkan pukul 06.25 Wita. Aku menyusuri jalan-
jalan setapak pulau ini menuju sekolah bersama Fitra.
Ia menggenggam erat telapak tangan kananku seolah
tak ingin terlepas dari sampingku. Semak-semak di
samping kanan-kiri sepanjang jalan tampak rimbun
memadat. Meskipun di sampingku telah ada Fitra,
hati kecilku masih menyisakan tanya dan ragu,
Benarkah pada hari pertamaku ini, hanya satu siswa yang akan
terduduk di depanku? Sementara itu, akankah dindingdinding
sekolah itu menerimaku dengan senang hati sebagai seorang guru
baru dengan hanya satu murid yang ada di depanku?

~263~
Rindang pohon di sepanjang jalan itu semakin
membuatku gusar. Berdiri tegaknya seolah menjadi
tiang-tiang jala penghalang yang tidak ingin melihat
layang-layangku terbang menari di atas awan.
Kakiku terus melangkah. Aku berusaha meredam
kuat rasa gundah yang membenteng melingkar hati
dan perasaanku. Di pulau kecil di wilayah titik-titik
terluar kepulauan nusantara seperti ini sungguh
membutuhkan pemaknaan semangat yang tidak
biasa. Antara yang tegak dan yang tergeletak nyaris
sama. Butuh keteguhan jiwa yang kuat untuk
senantiasa menjaga bara api semangat. Tidak hanya
sekadar mampu menghidupkan api. Sekali lagi, tidak
hanya sekadar mampu menghidupkan api. Namun,
jauh yang lebih penting daripada itu adalah menjaga
bara api itu agar terus membara memberikan
percikan-percikan kecil apinya yang akan terus
menyulut nyalanya api.
Tiba-tiba di antara jajaran pohon yang berdiri
tegak itu, telingaku mendengar sayup-sayup suara
samar. Aku tarik tangan Fitra sebagai pertanda agar
jangan melangkah. Berhenti. Aku ingin memastikan
suara apa itu? Fitra diam tak berkutik. Dengan wajah
polosnya, ia tengadahkan kepalanya ke atas sambil
sesekali ia putar-putar matanya turut memastikan
suara yang muncul. Langkah kami sejenak terhenti di
antara jajaran pepohonan yang sudah tidak jauh lagi
dari sekolah. Sayup-sayup suara samar itu terdengar
lagi. Kali ini agak kedengaran jelas meskipun sedikit.
“Itu suara teman-teman, Pak Guru!” jelas Fitra.

~264~
“Teman-teman kamu? Anak-anak SD?” Aku
mencari kepastian.
“Iya, Pak Guru!”
Kembali aku pasang telingaku tajam-tajam.
Sungguh gema suara pada medan seperti ini
membutuhkan kejelian pendengaran untuk
mendeteksi datangnya suara.
“Siap gerak!”
“Tegak gerak!”
Dua kalimat itu yang tiba-tiba terdengar lantang
hinggap
di telingaku. “Itu suara teman-teman, Pak Guru. Ayo,
kita ke sekolah,” pinta Fitra. “Hormat gerak!” Suara
itu kian terdengar jelas.
Kemudian, dengan segera aku tarik Fitra. Aku
langkahkan kaki menuju sekolah. Setelah berbelok
dan beberapa langkah ke depan, atap gedung sekolah
sudah terlihat. Langkahku semakin kupercepat. Fitra
terus membuntuti di sampingku. Dan, terlihatlah
mereka. Sumber suara itu. Enam orang anak SD.
Empat laki-laki, dua perempuan. Sesaat aku hentikan
langkahku. Fitra aku dekap erat di depanku. Aku
berdiri menyaksikan keenam anak itu di pintu masuk
sekolah. Aku terdiam menyaksikan mereka. Aku tak
ingin mengganggu mereka barang sekejap. Pintu
ruang-ruang kelas masih tertutup rapat. Keenamnya
tengah berdiri tegak, hormat pada tiang bendera yang
tidak ada benderanya. Satu laki-laki memimpin di
depan dan yang lima, menjadi pengikut baris di
belakangnya. Rapi.

~265~
Hatiku tersentuh.
Demi Allah, butir-butir hangat tiba-tiba keluar
dari sudut kedua mataku. Butiran-butiran itu meleleh
perlahan, mengalir pelan di pipiku. Dengan
mengenakan seragam SD yang tampak kumal pada
hari pertama masuk sekolah, mereka hormat.
Membayangkan sang Merah Putih berkibar di de-pan
mereka. Sungguh aku menyaksikan semangat yang
tak retak pada jiwa-jiwa mereka. •

C ITA-C ITA BUAT ITO ...

Oleh: Dimas Budi Prasetyo*


* Pengajar Muda Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan
Barat.

Pagi ini, merupakan salah satu pagi spesial pada

~266~
Minggu. Kutengokkan pandangan sedikit ke tanggal.
Ya, memang 22 Januari saat ini, persis satu hari
sebelum perayaan hari Tahun Baru Cina. Spesial? Ada
apa gerangan? Yang membuatnya spesial adalah
karena sepanjang hari dari pagi sampai malam,
diwarnai oleh keramaian, di mana pun, seantero desa.
Bagaimana tidak? Kini desaku, Jangkang, sebuah desa
yang persis terletak di tengah belantara Kalimantan
Barat, sudah dapat diakses jalan darat. Jalanan
selebar kurang lebih 10 meter telah menghubungkan
desa ini dengan Desa Tanjung Beruang, desa yang
memang sudah terjamah akses transportasi darat.
Keramaian diwarnai oleh kedatangan Pastor Puan,
pastor yang bertugas di wilayah ini, yang khusus hari
ini hadir di Jangkang untuk memimpin ibadat
Minggu. Aku, seperti biasa, pada Minggu adalah hari
bersih-bersih. Mencuci pakaian, membersihkan
kamar, itu sudah menjadi agenda wajib tiap Minggu
pagi. Hingga ibadat Minggu itu berakhir pukul 10.30
pun, aku masih sibuk dengan berbenah diri. Tak
banyak yang kulakukan pada siang itu, hanya
mengobrol bersama sang Pastor dan warga, hingga ia
pulang dengan mengendarai motornya. Selepas itu,
aku kembali ke kamar, mencoba untuk menata ulang
target capaian materi untuk kelas 5 dan 6, yang
kususun dalam sebuah timeline per minggu; hal ini
memudahkanku untuk melihat minggu mana yang
heavy dan minggu mana yang slowing down. Namun,
kenyataannya adalah tidak pernah ada slowing down; at
least sampai menjelang ujian nasional kelas 6 yang

~267~
berlangsung pada minggu kedua Mei.
Timeline itu ku-print pada sebuah kertas A4 dan
kutempel baik-baik di salah satu sudut kamar. Setelah
itu, aku keluar, yang ternyata ada salah satu tetangga
jauh dari Desa Tanjung Beruang yang tengah
berkunjung. Sekitar satu jam percakapan yang
diselingi dengan makan siang berlangsung, aku
dipanggil oleh siswa-siswa kelas 6 yang sudah siap
mengikuti pelajaran tambahan. Ya, jarak antara
sekolah dengan rumahku memang tidak jauh, hanya
sekitar 50 meter. Aku pun mempersiapkan diri dan
berjalan menuju bangunan sekolah ....
Sepanjang perjalanan aku memikirkan materi apa
yang akan aku ajarkan pada tambahan kali ini. Hal ini
terkait dengan jadwal agenda yang kujanjikan dengan
mereka sebelumnya, yaitu tambahan bagi mereka
yang akan mengikuti Olimpiade Sains Kuark yang
akan berlangsung dalam waktu kurang dari satu
bulan. Pembahasan utama pada siang menjelang sore
itu adalah membahas soal Kuark tahun sebelumnya
....
Soal cukup sulit; dan memang sangat sulit, at least
bagi mereka anak muridku. Namun, karena
antusiasme mereka dalam menjawab soal, waktu 1,5
jam berjalan sangat cepat.
Padahal, kami baru membahas 20 soal yang
bertajuk pilihan ganda itu. Ya, mau gimana lagi?
Waktu telah menunjukkan pukul 16.00, ditambah
langit yang mendung memperparah keinginan mereka
untuk segera pulang. Aku sedikit terdiam di kelas itu

~268~
sambil menunggu mereka semua keluar satu per satu
dari dalam kelas. Aku pun keluar, melangkahkan kaki
kanan yang mengenakan sandal jepit gunung ke
serambi sekolah yang hanya terdiri atas dua ruang
kelas ini. Aku melihat sekeliling, ramai, cukup ramai
oleh kegempitaan warga yang tengah menikmati
bermain dan menonton permainan bola voli. Namun,
bukan itu yang tebersit dan terbayang dalam pikiran
dan benakku. Persis tujuh bulan yang lalu, aku
menginjakkan kaki untuk kali pertama di sekolah ini,
sekolah yang akhirnya menjadi kantorku hingga saat
ini. Dulu, belum seperti ini keadaannya. Ya, dulu, aku
adalah orang asing yang memasuki dunia baru, bahasa
baru, alam baru, semuanya serbabaru, hingga saat itu
meneteslah air mata karenanya ....
Kemudian, Ito, murid kelas 4, anak kepala desa,
yang telah menjadi kawan sehari-hariku,
mendekatiku perlahan dan mengajakku mandi. Ya,
memang sudah jadwal tetapku pada pukul 16.00
untuk mandi. Jika terlalu sore, mandi di sungai bisa
seperti tengah berkunjung ke gua kelelawar vampir.
Bagaimana tidak? Sekitar pukul 17.30, serangga
sebesar lebah, berbentuk seperti lalat buah, terbang
berkeliaran di sungai. Orang desa menamakannya
cukup unik: PITAK. Hobi si pitak adalah nemplok di
kulit dan menggigit; yang pada praktiknya adalah
mengisap sedikit darah kita layaknya nyamuk. Salah
satu temanku pernah digigitnya hingga berdarah.
Dan, beberapa orang di desa mengatakan bahwa
gigitan keladi ini bisa menyebabkan bisul. Aku sendiri,

~269~
jika waktu kedatanganku di sungai bertepatan dengan
kemunculannya, cukup menjadi sasaran empuknya.
Bagaimana tidak? Mandi di sungai merupakan salah
satu kenikmatan dan hiburan di desa; aku bisa
membersihkan diri sambil berenang, layaknya
bermain di sebuah kolam renang arus.
Ketika ia menggandengku, aku mengajaknya
berdiri sejenak di pagar sekolah, melihat ke arah
orang yang tengah bermain voli. Terdiam, aku tidak
mengajaknya berbicara satu patah kata pun. Namun,
tiba-tiba terdengar suara darinya,
“Pak, cita-cita Bapak banyak, ya?”
Kaget. Asli, aku kaget! Karena, sebelumnya aku
tidak pernah bercerita banyak hal mengenai cita-
citaku dengannya. Namun, ia bertanya seolah-olah
tengah mengafirmasi sebuah cerita yang pernah
kunyatakan kepadanya.
Aku memang memiliki banyak cita-cita, tetapi aku
tidak pernah menceritakan itu secara gamblang ke
siapa pun. Dan, praktis, inilah kali pertama aku
menjawab secara gamblang dan kepada seorang siswa
kelas 4. Pertanyaannya itu membuat aku harus
berpikir untuk menjawab karena aku tidak pernah
mensistematikakan cita-citaku.
“Ya, Bapak punya banyak cita-cita. Bapak ingin jadi
dosen, ingin jadi rektor, ingin punya sebuah usaha
sendiri di bidang perkopian, dan menikah cepat ....”
Ia tertawa dan aku pun melontarkan kembali
pertanyaan yang serupa.
“Kamu gimana, punya banyak cita-cita juga?”

~270~
Ia menganggukan kepala dan kuteruskan
pertanyaanku.
“... lalu apa cita-cita kamu?”
“Aku mau jadi guru, Pak.”
“Katanya banyak, selain guru?”
“Ya, kalau tidak jadi guru, mau jadi polisi.”
“Hmmm, gitu, ya. Kenapa kamu mau jadi
guru?”
Ito terdiam. Seperti tidak tahu apa yang baru saja
ia sebutkan, ia membisu, menengok ke arahku dan
tersenyum simpul. Aku pun membalas senyumannya,
seraya melanjutkan.
“Kamu yakin mau jadi guru? Pikirkan baik-baik.
Menurut Bapak, tugas guru adalah tugas yang paling
berat dibandingkan tugas pekerjaan lainnya ....
Setelah Bapak perhatikan, di Kapuas Hulu ini ada
beberapa pekerjaan yang bisa dibilang banyak dicari
orang ... guru, polisi, tentara, dan perawat. Se-lain itu,
kayaknya jarang. Yang mau Bapak tekankan di sini,
tugas guru tidak mudah. Tugas guru adalah mendidik
hingga siswanya mengerti. Pekerjaan guru tidak akan
berhenti setelah jam pelajaran dia berakhir atau
setelah jam sekolah berakhir; tugas guru akan
berhenti setelah anak didiknya mengerti dan paham
akan materi yang diajarkan. Oleh karena itu, tugas
guru berat ....”
Ia tersenyum dan mengangguk, lalu menatap ke
arah lapangan seolah mencerna apa yang baru saja
aku lontarkan kepadanya. Aku pun melanjutkan.

~271~
“... dan satu lagi, kalau kamu ingin kaya atau gaji
besar, jangan pernah berpikir untuk menjadi guru.
Kalau kamu sibuk mencari uang dengan menjadi guru,
tugas utama kamu untuk mengajar akan terganggu
dengan tujuan untuk mengumpulkan uang sebanyak-
banyaknya. Menurut Bapak, pekerjaan guru adalah
pekerjaan sosial, guru tidak punya keinginan dan
harapan untuk mendapatkan gaji besar atau uang
banyak. Masih banyak pekerjaan yang bisa
mendatangkan uang banyak: karyawan kantoran,
wirausahawan, dokter, dan lain-lain. Selesaikan dulu
keinginan untuk mencari dan mengumpulkan uang,
jangan nyampurin dengan tugas mulia kamu dalam
mengajar dan mendidik anak bangsa ....”
Ia terdiam, senyumnya agak berkurang, tetapi
masih menatap ke arah lapangan. Aku mengusap
kepalanya yang berambut sedikit pirang, seraya
mengatakan, “... sekarang kamu tahu, kan, mengapa

~272~
Bapak ngotot kamu untuk segera hafal perkalian satu
sampai sepuluh?”
“Hmmm, iya, Pak ...,” tukas Ito.
Aku kembali merangkulkan lenganku ke bahunya.
“Sekarang, mandi boh. Tar kalau kesorean banyak
pitak di sungai, badan Bapak udah banyak bentol
gara-gara tuh serangga.”
“Hehehe, iya, Pak.”
Matahari yang siap membenamkan diri ke ufuk
barat menjadi saksi akan cita-cita Ito, siswa kelas 4 SD
yang belum hafal perkalian dan lancar membaca.
Namun, siapa tahu, suatu saat nanti aku percaya ia
akan menyusulku ke ibu kota .... •
K ISAH G URU DAN M URIDNYA

Oleh: Furiyani Nur Amalia*


* Pengajar Muda Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi
Utara.

Tersebutlah sebuah desa yang sedang dilanda


musim utara yang cuacanya sangat tidak menentu.
Kadang panas, panasss sekali, kalau hujan deras, tidak
berhenti-henti ditambah lagi bunyi petir, ombak,
gemuruh, dan angin yang membuatnya menjadi
lengkap.
Seperti hari itu. Mulai dari malam hari sampai
pagi harinya, desa itu tak henti-hentinya diberikan
berkah hujan deras. Bahkan, matahari tak sedikit pun

~273~
menampakkan sinarnya sepanjang hari itu.
Seorang guru kebingungan hari itu. Pukul 07.00
masih tampak seperti pukul 05.00. Masih gelap. Dan,
pada pukul
07.00 itu ia tidak mendengar derap langkah
malaikat-malaikat kecilnya yang turun dari gunung.
Rasa takut dan khawatir mulai dirasakan guru itu.
Takut jalan licin di bukit, lalu muridnya terpeleset
atau ada muridnya jatuh, atau bahkan karena cuaca
buruk banyak muridnya yang sakit. Prasangka buruk
bersarang di kepalanya. Semua kekhawatiran akan
malaikat-malaikat kecil itu merasuki pikirnya.

Gagal, sekitar pukul 07.00 akhirnya guru itu


memutuskan untuk pergi tanpa ditemani jagoan-
jagoan kecilnya. Ia harus ke sekolah dengan cepat,
lantaran hari ini UAS.
Gontai dan khawatir masih ada di benaknya.
Namun, tak lama ketika guru tersebut mulai menapak
kakinya ke arah tanjakan, dari ujung mulai terdengar
tawa dan napas yang tak teratur dari ujung sana.
Derap larian kaki sambil teriak khas anak-anak,
memanggil nama guru itu. Napasnya tersengal-sengal,
tangan kanannya memegang daun pisang, tangan
kirinya memegang sepatu di dalam tas kresek, entah
itu keringat atau air hujan yang menetes deras dari
kepala ke wajahnya. Yang guru itu tahu, tas punggung
mereka sudah basah air hujan. Ia pun berhenti
menatap secercah cahaya tawa dan ketulusan di balik
wajah mereka.

~274~
Lega, guru itu lega. Senyum-senyum itu seakan
mengembalikan kelesuan dan kekhawtirannya. UAS
pun berjalan dengan baju kuyup dan kaki telanjang.
Guru itu benar-benar haru.
Sampai sore pun, hujan masih ingin berbagi
berkah untuk desa itu. Namun, rumah kecil tempat
guru itu tinggal sudah ramai dikerumuni bocah-bocah
yang ingin belajar seperti biasanya. Riuh sekali. Tanya,
canda, tawa, baca, semua bisa dilihat di rumah itu.
Guru itu melihat murid-muridnya satu per satu seraya
membangunkan ingatan semacam absensi murid-
murid yang sudah datang. Lega, hanya satu orang
yang absen.
Selang satu jam, berbagai pertanyaan, tatapan
mata bingung, ayunan pensil, dan goyangan kaki
sambil tiduran di lantai dingin itu, serta kerutan dahi
menghiasi pemandangan sore hujan itu. Soal latihan
dan bukulah penyebabnya.
Tiba-tiba rumah itu dikejutkan oleh tangis isak
seorang anak dari jauh. Ia menangis sesenggukan
diantar ayahnya dari melaut. Bajunya basah kuyup
hujan, badan dan tangannya mengerut kedinginan. Ia
tak henti-hentinya menyalahkan bapaknya yang
membuatnya terlambat berangkat les. Ia menangis
karena tertinggal satu jam dengan temannya.
Guru itu hanya memeluknya. Bapaknya hanya
menjelaskan seadanya. Bapaknya bilang, si anak ini
sudah meronta ingin pulang lantaran kedinginan dan
ingin les. Guru itu hanya senyum sambil merangkul
anak itu. Bapak itu lalu meninggalkannya. Seraya

~275~
pergi, guru itu mempersilakan masuk, menenangkan,
dan menghibur, lalu mengajaknya bicara. Suasana
kembali tenang. Apalagi murid itu sudah bisa
bercanda dengan teman yang lain.
Masih hujan. Dan, saatnya les diakhiri, mereka
harus pulang. Istirahat dan belajar di rumah untuk
besok. Satu per satu murid-murid meninggalkan
rumah dengan senyum sapa dan salam yang khas.
Bahagia sekali guru itu.
Namun, satu yang tersisa. Anak yang terlambat
itu tadi. Ia ingin mengajak bicara gurunya.
“Bu, saya ingin minta maaf kepada ayah saya.”
“Kenapa, Nak?”
“Itu keinginan saya ikut melaut karena saya harus
bantu jual ikan buat beli buku tulis. Buku tulis saya
habis.”
Bu guru itu diam. Ia terenyuh. Anak itu
melanjutkan, “Ta-pi, saya menyalahkan Bapak,”
menunduk dan sedih si bocah itu.
“Tidak apa-apa, kamu sudah benar mau
mengakuinya.”
“Bu, ketika semua teman-teman saya bercita-cita
ingin jadi dokter atau tentara, saya tidak ingin jadi
apa-apa. Saya hanya ingin jadi nelayan. Jadi, nelayan
seperti ayah saya. Apa ada yang salah, Bu, jika saya
jadi nelayan?”

~276~
Guru itu diam. Percakapan singkat itu membuat
guru itu menarik napas panjang, lalu berpikir sambil
melihat tatapan sayu anak didiknya.
“Nak, jadi apa pun kamu nanti, setinggi apa pun
kamu nanti, jadilah orang yang baik dan pintar. Kalau
jadi dokter, jadilah dokter yang pintar dan baik. Jadi
polisi, jadilah polisi yang baik dan pintar. Jadi
nelayan, juga jadilah nelayan yang baik dan pintar.
Sekolahlah yang baik dan pintar maka kelak kamu
harus jadi orang yang baik dan pintar pula.”
Murid itu diam.
“Saya tidak ingin jauh-jauh ke tanah itu. Saya
hanya ingin di sini, di sini saja. Akan aku jadikan di
sini seperti di sana,” jawabnya sambil meringis dan
tertawa.
Guru itu hanya bisa mengusap kepalanya seraya
menyuruhnya pulang karena hari sudah hampir gelap.
Guru itu hanya menatap dari jauh kepergian

~277~
muridnya yang dengan kakinya yang sedikit berirama.
Mungkin tanda ia senang. Sore menjadi gelap. Hari
ini sempurna bagi guru itu. Ia banyak belajar dari
kegigihan, ketangguhan, dan kejujuran muridnya.
Bahwa jadi apa pun kita nanti dan sekarang,
jadilah orang yang baik dan orang yang
pintar.Berganti hari, berganti waktu. Entah musim
apa sekarang, yang jelas hujan masih gagah
memberikan sumber air kehidupan, tetapi ia tidak
serakah. Ia izinkan matahari untuk juga muncul di
sela hujan, kadang juga dengan sengatannya yang
menguatkan luar biasa. Hingga tak jarang juga pelangi
muncul di sela hujan dan biasnya matahari. Ombak
masih tinggi, angin juga masih bertiup kencang.
Kokohnya nyiur sudah mulai diragukan, ketika
hempasan ombak berhasil mengalahkan kokoh
akarnya. Namun, biru laut, biru langit, dayungan
nelayan, jejak kaki bocah-bocah si pasir selalu menjadi
anugerah tetap yang kuasa, menghiasi pulau itu.
Membuat suasanya lengkap. Damai. Terkenang.
Pagi membangunkan sang Guru. Entah mengapa
ia begitu merindukan ruangan itu. Sederhana, tetapi
nyaman. Kecil, tetapi bermakna luas. Betapa gembira
hatinya ketika bocah-bocah datang menjemputnya,
bersama-sama menuju ruang itu.
Ruang ini jauh dari kata layak. Atapnya bocor.
Kayunya rapuh. Kalau hujan, akan banjir, becek, dan
lantainya licin. Tidak berjendela, hanya celah kecil di
setiap sisi ruangan yang membuat angin leluasa
masuk ke dalamnya. Jika hujan, siapa pun yang

~278~
masuk di dalamnya harus hati-hati kalau tidak ingin
terpeleset. Juga yang tidak biasa dingin maka bersiap
untuk banyak makan atau pakai pakaian agak tebal
jika tidak ingin masuk angin. Namun, tahukah kalian,
penghuninya begitu mencintai ruang ini. Mereka
selalu setia menyapu sisa-sisa air hujan yang tak
tersaring oleh atap pada pagi hari. Baju mereka juga
tak tebal. Jika mereka berdiri membelakangi
matahari, dapat terlihat jelas serat kainnya, juga akan
terlihat kulit tubuhnya dari kain itu.
Permukaan alas sepatu atau sandal mereka juga
tidak rata lagi. Ajaibnya mereka tak pernah masuk
angin dan tak juga terpeleset saat berlari di ruang ini.
Teriakan, acungan tangan, segala gerak tubuh,
candaan, kerutan dahi, diamnya mereka seakan
membuat ruangan ini begitu akrab dengan hadirnya
mereka.
Guru itu terdiam di tempat duduknya. Hatinya
kelu, mengapa masih banyak orang yang meragukan
kalau sebenarnya banyak mutiara terpendam pada diri
mereka ini? Mengapa banyak yang masih menganggap
mereka sebagai pembuat keonaran? Bukannya anak-
anak punya masa untuk banyak bergerak dengan
batas? Mengapa tidak sedari dulu kemampuan mereka
digali? Padahal, mereka adalah anakanak cerdas. Guru
itu mengakumulasi banyaknya “mengapa” dan di balik
banyaknya “padahal”. Kesederhanaan kelas itu
membuatnya begitu nyaman. Keceriaan, kepolosan,
segala tawa kadang juga tangis jail melengkapinya.
Seakan tak peduli apa omongan orang, yang mereka

~279~
tahu adalah mereka senang, mereka ingin, dan
mereka mau.
Hari itu materi baru. Bukan masalah yang berarti
menerangkan materi baru di kelas itu. Mereka cerdas.
Bahkan, lebih kocak dari apa yang guru itu kira
pastinya. Namun, ada yang hal selalu guru ini tunggu
pada setiap materi baru yang diajarkan, yaitu
pertanyaan rasa ingin tahu. Berbagai pertanyaan
terlontar, dari keinginan tahunya, dari
kebingungannya, atau protes karena ketidaksesuaian
mereka dengan kenyataan hari-harinya.
Ambillah contoh, saat itu ekskul budidaya
makhluk hidup. Setelah menerangkan dan
mempraktikkan tanaman, guru itu membimbing
bagaimana membudidayakan hewan. Tak ingin
bingung dan rumit, cukup mengambil ikan sebagai
contohnya. Awalnya, tak sulit dengan menerangkan
dan mempraktikkannya. Akuarium buatan dan ikan
yang mereka pelihara tumbuh berkat kasih sayang
muridnya yang selalu memberinya makan. Ia
diletakkan di ujung ruangan itu, sebagai teman baru
bagi murid-muridnya itu. Bertambah besarkah? Pasti.
Senang? Jelas.
Akan tetapi, beberapa minggu kemudian dua dari
ikan yang mereka pelihara mati. Ikan itu kedapatan
mati mengambang di permukaan ketika salah seorang
murid hendak memberinya makan. Padahal, ukuran
ikan itu sudah lumayan besar. Guru itu memeriksa
seraya mengambil bangkai ikan itu. Keluarlah
komentar dari salah satu murid,

~280~
“Ibu, kenapa kita harus susah-susah memelihara
ikan kalau pada akhirnya ikan itu akan mati juga?
Kita juga tidak tahu kapan ikan itu mati! Terus, ikan
kalau sudah mati tidak enak dimakannya. Kalau
begitu, kita tidak mau memelihara ikan lagi.”
Kepalanya miring ke kanan. Sambil bicara, bola
matanya mengisyaratkan entah apa. Mungkin kesal
atau juga berpikir.
Guru itu hanya diam, senyum, seraya mengusap
kepalanya. Membawa ikan itu keluar, lalu mengubur
bersama-sama. Sang Guru yakin, jawaban tidak bisa
sekadarnya karena akan timbul-timbul pertanyaan
lain jika jawabannya tak sesuai. Melihat muridnya
mendengar jawabannya dengan garukan kepala,
anggukan, sanggahan, membuatnya begitu bangga.
Sekali lagi meyakinkan, mengapa masih banyak yang
menganggap anak-anak ini sebelah mata saja?
Seperti hari itu. Guru itu menerangkan lanjutan
penjumlahan berulang alias perkalian. Sebelumnya, ia
menerangkan bahwasanya 4x2 berasal dari 2+2+2+2.
“Siapa di rumah punya ayam?”
“SAYAAA!” hampir semua muridnya
mengacungkan tangannya.
“Ada berapa kaki ayam???”
“DUAAA!” semua kompak menjawab dua.
“Sekarang kalau Ibu punya 4 ayam, berapa kaki
ayamnya?”
Ada yang langsung bisa menjawab, ada yang harus
gambar dulu, ada yang masih menerawang, dan juga
ada yang masih menghitung dengan jari seraya

~281~
komat-kamit mulutnya.
“DELAPAAAN!”
“Dari mana dapat delapan?”
“Kakinya ditambahkan semuaaa, dua kaki
ditambahkan sampai empat kali.”
Dari situlah pelajaran perkalian dimulai. Semua
setuju bahwa perkalian itu penjumlahan berulang.
Namun, beberapa hari kemudian datang protes kali
kedua ketika guru itu menerangkan materi lanjutan.
Guru itu merasa materinya tuntas untuk
penjumlahan berulang. Sekarang waktunya membuat
tabel perkalian, di mana murid-murid harus bisa
dengan cepat menyebutkan berapa kali berapa sama
dengan berapa dalam sebuah tabel. Merasa sudah bisa
membuat tabel perkalian, guru itu juga mengajarkan
jaritmatika perkalian. Di sela-sela guru itu
menerangkan, terlontarlah pertanyaan, “IBU!!!
Kenapa kita dulu harus diterangkan 4x5 itu sama
dengan 5+5+5+5 sama dengan 20 kalau sekarang kami
harus diajari hitung cepat 4x5=20? Kita mau yang
cepat saja kalau begitu.”
Mau jawab apa? Guru itu hanya diam dan
tersenyum saja.
“Besok kalau kamu jadi orang pintar dan sukses,
dan menjadi pengusaha kopra misalnya, ada 10
karung orang jual kopra ke kamu. Tiap 1 karung ada 9
kilogram. Jadi, total ada berapa kilo kopra yang
terjual ke kamu sekarang? Nah, jika tiap kilogram
dihargai 30.000 misalnya, berapa uang yang harus
kamu beri ke orang itu?”

~282~
Diam. Hening. Semua menghitung.
“Seratusss jutaaa!”
Semua kelas tertawa. Mulai jawaban asal. Anak
tadi hanya tersenyum dan kakinya goyang-goyang.
Guru itu menerka, sepertinya ia tahu dengan
sendirinya jawabannya.
“Apa jadinya kalau kalian tidak bisa menghitung
dengan cepat? Bisa-bisa pembeli kalian pergi ke
penjual lain karena kalian lama menghitung. Namun,
kalian harus tahu, dari mana asal perkalian itu. Kalian
bisa hitung lagi tiap karung supaya hasilnya bisa lebih
benar. Berarti ada 9 kilo+9 kilo ditambah terus
sampai 10 kali, lantas setelah itu dikali ulang dengan
30.000. Dengan begitu, kalian bisa menerangkan ke
pelanggan kalian. Betul, tidak?”
“BETUUUL!” serempak sebagian. Namun, ada lagi
yang masih belum puas.
“IBUUU! Berarti orang yang pintar itu orang yang
jago matematika?”
Semua kelas tertawa. Kelas kembali mencair.
Serius dan canda. Dengan cepat mereka mengisi tabel
perkaliannya dengan cara yang mereka anggap paling
cepat. Dihiaslah tabelnya agar bisa dipakai sewaktu-
waktu mereka belajar.
Menghela napas. Lega. Sampai beberapa hari
kemudian muridnya bisa memahami perkalian tiga
bilangan satu angka, menentukan pasangan bilangan
satu angka yang hasil kalinya ditentukan, juga
menyelesaikan soal cerita dengan baik.

~283~
Guru itu meyakini, setiap pembelajaran hidup
tidak berasal dari pendidikan formal atau kegiatan
masyarakat saja. Kejadian yang ia alami selama
mengajar bisa dikatakan memberikan pemikiran,
kadang kita lupa, segala sesuatu itu berasal dari hal
yang sederhana. Dan, juga kadang kita lupa, yang
sederhana itu lebih memudahkan. Segala pertanyaan
yang tidak terbayang sebelumnya, yang seharusnya
kita bisa jawab dengan mudah, harfiahnya sudah
terlupakan oleh sesuatu yang datang lebih rumit dulu.
Sehingga, kita juga lupa esensi dari perkalian adalah
sebuah penjumlahan yang diulang.
Salah satu catatan harian sang Guru saat itu
adalah, “Bukan pintar atau sukses sebenarnya hasil
akhir dalam hidupmu, Nak. Namun, lebih penting
pada bagian, bagaimana kalian menyikapi, menikmati
setiap proses yang ada. Seperti 4x5 tidak mungkin
bisa menjadi 20 kalau kalian tidak tahu bahwa

~284~
5+5+5+5 adalah jawaban dari 10+10 atau 15+5. Atau,
kenapa kalian harus memelihara ikan jika ujung-
ujungnya ikannya mati juga? Karena, kita sebenarnya
tidak berpatokan pada hasil, tetapi bagaimana kalian
bisa mengisi dan memaknai tiap proses kalian
memelihara ikan kalian sampai akhirnya menjadi
tumbuh berkembang, tanpa kalian ketahui kapan
matinya.”
Guru itu meyakini suatu saat muridnya akan
menemukan jawaban yang sebenarnya. Suatu saat
nanti kelak ketika mereka beranjak dewasa.
Dan, satu lagi, “Nak, orang pintar dan sukses itu
tidak selalu jago matematika. Namun, kebanyakan
orang yang dianggap pintar dan dibilang sukses,
mereka bisa salah satunya jago matematika. Jadi, apa
pun itu, selain jadi orang baik dan pintar, maka kelak
jadilah orang yang selalu mencintai dan menekuni apa
yang dikerjakan.” •
SEMANGAT BENDERA PUSAKA

Oleh: Fendi Mulyo*


* Pengajar Muda Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi
Utara.

Kulangkahkan kaki dengan penuh harap, menanti


panji-panji kebesaran berkibar. Tanpa ragu
kusongsong tebing terjal yang siap melahap jika salah
melangkah.

~285~
Saat itu Senin pukul 07.00, ingin kulihat
pelaksanaan upacara bendera kali pertama diadakan di
desaku, Desa Nanedakele, Kecamatan Nusa Tabukan,
Kabupaten Kepulauan Sangihe. Terik mentari
bersinar menyulut semangatku, menabuh genderang
di dada. Aku terus melangkahkan kaki dengan penuh
harap. Di sepuluh tangga terakhir dari Tangga Seribu,
aku berbelok ke arah sekolah. Sejuta tanya di hati
terus bergumam. Aku bertanya-tanya bagaimana
prosesi upacara di sebidang tanah sempit yang tersisa
di tebing tem-pat sekolah berdiri?
Lima belas menit telah berlalu. Tak kunjung
terlihat satu anak pun di lapangan upacara. Aku mulai
sedikit ragu dengan kondisi ini. Namun, kemudian
serombongan anak mulai berdatangan.
Aku memandang apa yang akan mereka lakukan.
Susan, siswi yang memiliki perawakan paling besar,
diamanahkan

~286~
sebagai ketua kelas. Ia pula yang berperan sebagai
juru kun
ci. Pintu terbuka dan semua anak-anak dari kelas
1 sampai kelas 6 sibuk dengan kegiatan bersih-bersih
sembari memandangku dengan senyum kecil.
“Apakah tidak ada upacara?” tanyaku kepada mereka.
Sudah setengah jam berlalu, tidak satu pun guru
terlihat hadir pagi itu. Ternyata, hari itu aku menjadi
single fighter. Satu anak kemudian menghampiriku dan
berkata “Pak Guru, lonceng eh.” Lonceng pun
kubunyikan.
Tanpa banyak berkata-kata, langsung saja kuampu
semua kelas dan memberikan materi pelajaran
semampuku.
Kemudian, sambil mencari tahu tentang upacara,
kulontarkan sebuah pertanyaan kepada semua siswa.
Namun, jawaban mereka begitu mengagetkan, “Di
sini nyandak ada upacara, Bapak,” jawab mereka

~287~
serempak.
Susan, sang ketua kelas, berkata kepadaku bahwa
di kecamatan ada upacara, tetapi di sekolah ini tidak
ada. Mungkin, inilah yang menjadi tantangan
terbesar bagi perbatasan, terlebih terpencil. Isu
nasionalisme menjadi sangat signifikan.
Keesokan harinya, aku berbincang dengan salah
satu guru di sekolah. Di sekolah ini, hanya ada tiga
orang guru dan semua wanita. Itu pun sudah lengkap
dengan kepala sekolah. Dapat dibayangkan,
bagaimana sibuknya hari-hari mereka harus mengajar
enam kelas.
Lanjut tentang upacara. Ketika aku singgung
tentang upacara, para ibu guru mengatakan tidak ada
tempat untuk melakukan upacara. Benar juga, tiang
upacara berdiri di sela-sela selokan dan memiliki
lapangan yang amat sempit. Namun, bagiku tidak ada
alasan untuk tidak mengadakan upacara.
Akhirnya, kucoba mencari cara agar Senin depan
upacara dapat terlaksana. Hal pertama yang
kulakukan adalah meyakinkan semua guru tentang
pentingnya upacara untuk meningkatkan rasa cinta
tanah air. Alhamdulillah, para guru mendukung
masukan dan inisiatif ini.
Sabtu sore, saatnya kuajak anak-anak berlatih
upacara. Wah! Semangat mereka sangat luar biasa.
Namun, saat kutunjuk siswa untuk menjadi petugas,
semua tidak mau. Kemudian, muncullah suara.
“Nyandak dapat biking torang, Pak. [Kami tidak dapat
melakukannya, Pak.]”

~288~
Pemalu, tidak pede, dan suka ramerame. Inilah sifat
anakanak di Nanedakele, Kepulauan Sangihe.
Pertama-tama aku ajak mereka untuk belajar lagu
secara beramai-ramai.
Ternyata, yang ada di benakku benar adanya.
Mereka tidak hafal lagu-lagu kebangsaan, bahkan
“Indonesia Raya” yang sering dikumandangkan setiap
Senin di sekolah pada umumnya.
Kala itu, Aldo siswa kelas 6 yang memiliki
perawakan kecil, kutunjuk sebagai pemimpin upacara.
Nah, saat latihan tengah berlangsung, tepat pada saat
hormat bendera, apa yang terjadi ...???
Hormaaattt ... hem ... hem ….
Mendadak semua siswa menjadi gaduh, tertawa
melihat ulah si Aldo. Sambil menenangkan suasana,
kutunjuk siswa pengganti karena ia sudah tak lagi bisa
dibujuk. Begitu pula dengan petugas lain yang merasa
tidak mampu mengemban tugasnya. Walaupun
begitu, latihan upacara akhirnya selesai juga dengan
petugas yang berubah-ubah sampai tidak ada teriakan
tangis.
Senin, 29 Juli 2011, tepat pukul 07.00. Hari
pertama anakanak berangkat pagi dan siap dengan
seragamnya, sedangkan untuk sepatu, sebagian besar
tidak memakainya karena tidak punya.
Tiga puluh menit berlalu, tetapi lagi-lagi tidak ada
seorang guru pun yang terlihat datang. Akhirnya, aku
memulai proses upacara seorang diri.
Haru. Inilah untuk kali pertama sang Saka Merah
Putih dijunjung dan dihormati di SDN Inpres

~289~
Nanedakele. Inilah kali pertama lambang negara ini
berkibar dengan gagahnya di desa ini. Semoga sang
Merah Putih akan terus menebarkan semangatnya
dan menerbangkan cita-cita anak pedalaman ini,
selamanya.
Berkibarlah benderaku ... berkibarlah .... •
M ERAWAT M IMPI

Oleh: Surahmansah Said*


* Pengajar Muda Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan
Barat.

Masa kecil merupakan masa yang banyak


digunakan untuk bermain bersama teman-teman dan
bermanja-manja dengan kedua orangtua. Namun, hal
ini tidak bisa dialami oleh salah satu anak di Badai
(nama julukan desa tugas saya di Landau Badai,
Kecamatan Silat Hulu, Kapuas Hulu). Ahmad Sapri
nama anak itu. Aku kali pertama mengenal Ahmad
saat naik sampan menuju desa seberang. Saat itu,
Ahmad adalah nakhoda sampan yang saya naiki.
Sembari mengayuh sampan, ia bercerita banyak
hal kepada saya. Aku sempat tak percaya ketika
mendengar ceritanya bahwa ia adalah anak angkat
dari lima bersaudara. Ia mulai diasuh oleh orangtua
angkatnya sejak berumur 1 bulan 8 hari karena kedua
orangtuanya tidak sanggup untuk merawatnya,
dengan alasan persoalan ekonomi. Dan, Ahmad

~290~
mengetahui bahwa ia anak angkat sejak berumur 7
tahun (kelas 1 SD). Lalu, di mana orangtua
kandungnya? Menurut informasi yang diterima
Ahmad, orangtuanya meninggal beberapa bulan yang
lalu.
Sehari-hari, Ahmad bekerja membantu orangtua
angkatnya menoreh pohon karet. Pekerjaan ini ia
kerjakan dengan rutin pada pagi hari hingga
menjelang siang. Ahmad yang sekarang kelas 1 SMP
ini bisa rutin membantu orangtua angkatnya
menoreh pohon karet tanpa mengganggu sekolahnya
karena ia masuk siang.
Untuk mencapai kebun karet tempatnya
menoreh, ia harus berjalan kaki menaiki dan
menuruni bukit selama 30 menit. Meskipun
demikian, tidak tiap hari ia memperoleh hasil. Ketika
berbincang-bincang dengannya, ada satu hal yang
membuat saya bangga dengannya, bahwa ia bercita-
cita menjadi pembuat robot dan pesawat. Dilihat dari
kondisinya, mungkin hal ini mustahil terwujud.
Namun, dari ceritaceritanya, tampak bahwa Ahmad
sangat yakin cita-citanya akan tercapai. Dan, saya
lihat ia sangat tekun belajar dan berdoa untuk
mewujudkan mimpi-mimpinya.
Melihat anak hebat seperti itu, saya sangat
terharu dan bangga. Saya turut mendukung usaha
kerasnya dan memupuk mimpi-mimpinya agar terjaga
sampai bisa benar-benar terwujud. Saya pun sering
mengajaknya menonton film tentang teknologi
canggih. Ahmad selalu melihat takjub film-film yang

~291~
saya sodorkan. Ia selalu mengucapkan harapan dan
doanya untuk menjadi pembuat robot dan pesawat
saat melihat film. Semoga mimpimu kelak akan
benar-benar terwujud, Nak. •
BELAJAR UNTUK BERANI BERMIMPI

Oleh: Sandra Prasetyo*

Bermimpi, itulah yang selalu aku ajarkan kepada


anakanakku di SDK Wunlah. Setiap aku mengajar
mereka, aku selalu menyampaikan kata-kata ini:
“Jangan pernah takut bermimpi, dan jika bermimpi,
janganlah bermimpi hal sederhana. Semua berawal dari
mimpi, orang sukses juga dari bermimpi, dengan mimpi kalian
bisa menggenggam dunia, tetapi ingat, bermimpi itu berbeda
dengan khayalan. Bermimpi harus disertai dengan kerja keras
dan doa, kalau khayalan itu hanya imajinasinya yang bergerak,
tetapi tidak ada usaha untuk mewujudkannya ....”
Awal aku mengajar di SD ini, aku hanya
mendengar mereka hanya ingin jadi guru, tentara,
dan polisi, hanya itu ... tak ada mimpi lainnya yang
lebih tinggi. Aku mulai menyadari jika selama ini
memang hanya pekerjaan itu yang mereka lihat, tidak
ada yang lain. Maka dari itu, di sela-sela pelajaran, aku
selalu memperkenalkan profesi lainnya yang ada di
dunia ini, yang bisa mereka raih jika terus bermimpi
dan berusaha keras, selain cerita singkat tentang
orang-orang
* Pengajar Muda Kabupaten Maluku Tenggara Barat,

~292~
Maluku.
sukses di dunia ini, apa yang mereka lakukan dan
bagaimana meraih mimpi mereka dahulu kala.
Suatu hari, aku menayangkan video tentang
duniaku, dunia mechanical engineering, video “How It’s
Made”. Kujelaskan kepada mereka bagaimana kertas
itu dibuat, bagaimana kaca itu dibuat, dan sebagainya.
Di akhir tayangan video, aku tersentak dengan
perkataan salah seorang anak, Agusitnus namanya.
“Pak Guru, beta ingin bisa membuat barang-barang
seperti di video itu. Beta ingin jadi insinyur seperti Pak
Guru. Nanti beta ingin buat kapal agar beta bisa bawa
beta pung mama keliling MTB dan dunia, seng usah pake
motor lai”.
Muka serius tampak di wajahnya. Mereka sedikit
demi sedikit berani bermimpi meskipun baru sekadar
ucapan dari seorang anak kecil. Lain lagi dengan
Immanuel, anak ini satu-satunya anak di kelas saya
yang bermimpi ingin menjadi dokter jika dewasa
kelak.
Meskipun dia tak tahu latar belakang ingin
menjadi dokter apa, setidaknya mereka sudah berani
belajar bermimpi, tinggal bagaimana mimpi ini
dikembangkan dan dijaga mimpi ini. •
K ETERBATASAN YANG TIDAK M ENGHAMBAT

Oleh: Muhammad Habibilah*


* Pengajar Muda Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

~293~
Mungkin masih terpikir oleh masyarakat
Indonesia bahwa untuk belajar itu mahal, butuh biaya
yang tidak sedikit, dan pengorbanan yang besar.
Apalagi pada era modern ini, di mana semua fasilitas
untuk belajar itu butuh sejumlah uang menggantinya.
Bahkan, untuk persiapan menerima pelajaran pun
perlu sejumlah uang untuk sekadar mengganjal perut,
mengurangi rasa lapar. Memang, hal inilah yang
selama ini dialami oleh penduduk, terutama yang
berada di perkotaan atau di kawasan masyarakat
dengan sejumlah uang yang memadai.
Sama halnya dengan masyarakat di sini, di Dusun
Tambora, Desa Oi Bura, Kecamatan Tambora.
Masyarakat suku Bima, Sasak, Bali, dan Timor,
masyarakat dengan beberapa rumah yang masih
terbuat dari papan, masih ada yang beralaskan tanah,
tanpa listrik, dan sedikit air. Makanan pokok masih
sangat terbatas, lauk untuk makan pun sangat jarang
ditemukan, maklum saja di tengah perkebunan kopi
yang terletak di kaki gunung, dikelilingi pepohonan
hutan yang masih rimbun dengan babi hutan dan ular
hijau yang menjadi musuh bagi masyarakat sekitar.
Buruh pemetik kopi merupakan pekerjaan yang
sebagian besar masyarakat tekuni selama bertahun-
tahun dengan gaji yang sangat minim. Anak-anak
mereka pun terkadang ikut membantu mencari
nafkah, mereka ikut berladang hingga “leles kopi” saat
musim panen tiba. Anak-anak itu, sebagian besar
masih berstatus pelajar di SDN Tambora, sekolah
yang hanya memiliki satu lokal dengan tiga ruangan

~294~
dan beberapa bangku. Ketika pelajaran berlangsung,
mereka harus berbagi ruang dan papan tulis dengan
kelas yang lain. Satu ruang dan papan harus dibagi
untuk 2–3 kelas.
Buku penunjang masih sangat terbatas, tidak
semua guru memiliki buku penunjang, hanya satu-dua
orang yang memilikinya. Itu pun tidak semua mata
pelajaran dimiliki. Anak-anak juga masih
mengandalkan ilmu yang diberikan oleh sang guru di
sekolah. Tidak memungkinkan bagi mereka untuk
menambah materi baru di rumah karena tidak adanya
buku yang dimiliki dan terbatasnya penerangan di
rumah mereka, penerangan yang tidak selamanya
nyala, hanya waktu-waktu tertentu. Bahkan, ada pula
rumah yang tidak memiliki penerangan sama sekali
sehingga hanya mengandalkan sinar mentari pada
siang hari. Mereka hanya memiliki buku dan alat tulis
dalam jumlah terbatas, terkadang satu buku untuk
semua pelajaran. Bukan karena mereka malas untuk
mengganti-ganti buku, melainkan karena tidak ada
dana yang cukup untuk membeli buku baru. Begitu
pula dengan peralatan belajar yang lain.
Dalam kondisi terbatas, kami juga tidak bisa
memaksa mereka melengkapi keperluan untuk
belajar. Datang ke sekolah secara rutin saja sudah
merupakan prestasi karena mereka harus melewati
jalanan menanjak dan menurun, tumbuhan hutan
yang masih lebat, dan jarak tempuh yang tidak dekat,
serta aktivitas mereka membantu orangtua mencari
penghidupan. Apalagi ketika musim hujan tiba,

~295~
jalanan licin dan berair, tak sedikit mereka temukan
lintah darah dan ular hijau di sekitar jalan yang
mereka lalui. Apalagi kondisi sekolah yang bocor, air
masuk ke dalam kelas yang memaksa mereka untuk
bergabung menjadi satu dengan kelas yang lain.
Belajar pun menjadi hal yang tidak bisa
dipaksakan. Sebelum ini, ada guru yang datang sudah
merupakan hal yang membahagiakan mereka.
Terlihat dari raut muka dan senyuman kecil dari diri
mereka, serta sapaan sopan kepada sang guru yang
datang pada hari itu. Antusiasme mereka tunjukkan
dengan sangat aktif mengikuti pelajaran, menjawab
pertanyaan-pertanyaan sang guru dan mengajukan
pertanyaan yang sekiranya tidak mereka pahami.
Itulah yang menjadi salah satu alasan saya ingin selalu
berada di sekolah, melihat keceriaan mereka,
semangat yang tetap membara di tengah-tengah
keterbatasan ekonomi serta sarana dan prasarana.
Layaknya guru yang lain, saya pun ingin
memberikan ilmu dan pengetahuan yang saya miliki
kepada mereka walaupun fasilitas sulit untuk didapat.
Salah satunya, pengetahuan untuk menggambar,
kemampuan untuk menggunakan otak kanan dalam
bidang seni menggambar, dengan pewarna buatan
baik pensil warna, spidol, ataupun krayon. Beberapa
perlengkapan dasar yang harus dimiliki ketika akan
menggambar, yang paling utama adalah kertas, tidak
mereka miliki. Memang perlu dimaklumi, sekolah ini
sangat terpencil, jauh dari mana-mana, dari toko
peralatan ATK juga.

~296~
Suatu kali, saya sempatkan untuk membeli sebuah
kertas manila dengan ukuran yang lumayan besar
serta krayon dan spidol sebagai pewarna. Jumlahnya
saya perkirakan cukup untuk siswa-siswi kelas tinggi
yang jumlahnya sekitar 20 orang. Setelah saya
berangkat ke sekolah, ternyata kertas yang saya bawa
tidak mencukupi. Tercetus dalam benak saya untuk
membagi kertas secara merata kepada sejumlah anak
yang hadir.
Satu kendala telah teratasi, tetapi masih ada
kendala lagi. Pewarna yang saya bawa (krayon dan
spidol) tidak mencukupi. Tanpa berpikir panjang, saya
bilang kepada anak-anak, “Sekarang cari rumput,
daun, ataupun bunga yang ada di sekitar, atau apa pun
yang bisa digunakan untuk mewarnai. Hari ini kita
akan menggambar dan mewarnai dengan bahan-
bahan alami.” Dengan semangat mereka merespons
dan seketika itu juga semua berlarian keluar mencari
segala hal yang dapat digunakan untuk mewarnai.
Beberapa menit kemudian, semua siswa datang
dengan membawa daun, bunga, dan rumput, serta ada
yang membawa arang kayu sisa pembakaran pohon di
sebelah sekolah. Secara serentak, mereka pun mulai
mewarnai. Hanya rasa haru dan bangga yang ada
melihat semangat dan ketekunan mereka dalam
belajar. Tidak ada sedikit pun keluhan selama mereka
belajar, sungguh.
Inilah potret generasi bangsa. Walaupun jauh dari
peradaban, jauh dari informasi, jauh dari apa pun, semangat
tidak kalah jauh dari mereka yang lebih dahulu menerima

~297~
informasi. Tetap semangat, anakanakku, Pak Guru selalu
mendukungmu. •
SENDIRI ITU M EMBUAT K UAT

Oleh: Ratih Diasari*


* Pengajar Muda Kabupaten Maluku Tenggara Barat,
Maluku.

Ada sekitar empat obat yang kudapat dari dokter


sore ini, dengan satu jenisnya adalah berbentuk tablet
dengan warna hitam pekat seperti arang. Satu
bulatan ini adalah obat mujarab. Tepatnya merupakan
obat yang harus segera kuminum dua jam, setelah
terlahap tiga obat yang lain pasca-mengisi makanan
ke perutku yang sejak tadi sudah terkuras habis
karena muntah. Aku muntahmuntah, pening
seketika, dan sakit perut. Tepatnya aku keracunan
makanan. Sebuah fenomena alam yang kali pertama
terjadi dan semoga terakhir kali ini saja aku rasakan.
Sebenarnya, aku tahu bahwa hari ini dan hari-hari
sebelumnya adalah ujian sekaligus anugerah yang
Tuhan berikan kepadaku, untuk menguji seberapa
kuat diriku dalam meniti garis kehidupan yang Ia
berikan. Bagaimana tidak? Sudah terhitung kurang
lebih satu bulan, Me’tua dan Bapak Piara
meninggalkanku untuk menghadiri anak keduanya
yang pada 17 September lalu diwisuda di Malang,
Jawa Timur.

~298~
Namanya Mira. Katanya, ia adalah anak yang rajin
lagi ramah. Berkat ketekunan dan kegigihannya, ia
dapat melanjutkan sekolah di Fakultas MIPA Jurusan
Kimia Universitas

Brawijaya, Malang. Jauh-jauh tinggal di Maluku


akhirnya berhasil juga anak ini ke Pulau Jawa untuk
mengemban ilmu menggapai cita. Maka, pantaslah
jika kedua orangtuanya mau berkorban sekuat tenaga
hanya untuk melihat peletakan toga, sekadar lihat
seonggok senyum bahagia.
Untuk pergi menghadiri wisuda, Bapak menjual
motor agar bisa mendapatkan biaya untuk ongkos
perjalanan yang begitu jauh dari pulau ini menuju
Malang. Tergolong sebagai keluarga yang kurang
mampu, Bapak lebih memilih menggunakan kapal
laut untuk berlabuh menuju Pulau Jawa. Jangka
waktunya tentu bukan satu, dua hari, atau paling
lama satu minggu. Bukan, bukan itu. Jangka waktu
standarnya adalah dua sampai tiga minggu. Itu pun
baru berangkat menuju Malang, belum terhitung
untuk perjalanan pulang. Namun, apa mau dikata?
Bukankah ini hidup dan bukankah ini momen
wisuda? Sebuah seremonial yang mengharuskan
orangtua untuk dapat menyaksikan sendiri peletakan
toga tanda kelulusan seorang anaknya.
Menghadirinya akan terasa haru, pilu, bahagia, dan
campuran rasa lainnya yang tak dapat diungkapkan
kegembiraannya lewat kata-kata. Mungkin begitu juga
dengan gambaran diriku yang ditinggal dengan dua

~299~
anak terkecil mereka.
Hidup itu keras dan itulah fakta kehidupan.
Hidup sendirian dan tidak ada yang melayani
memang tak enak. Memasak sehari tiga kali.
Menyetrika bajuku dan baju mereka. Menimba air ke
sumur yang jaraknya begitu tinggi dan selalu
membuat tanganku mengepul karena saking
beratnya. Menyapu halaman pekarangan yang begitu
luas di sekeliling rumah. Memastikan tanaman tak
mati karena panas yang begitu menyengat. Mengepel
dalam rumah yang selalu kotor karena bercakan kaki
yang terkena pasir. Memanggil-manggil Dani kecil
untuk mandi. Mengejar-ngejar anak ini untuk pergi
ke sekolah. Membantu mereka untuk mengerjakan
PR. Menyisir pantai untuk mendapatkan ikan.
Mencari bumbu dapur di pasar dekat pantai. Bersama-
sama bermain di laut. Mencari bia1 untuk makan bila
tak ada ikan dan telur. Memetik kelapa, mangga, atau
pisang di kebun sana. Memanjat dan membawa hasil
kebun tergopoh-gopoh karena beratnya. Mencuci
belanga yang tak kunjung hilang karena bercakan
putih yang begitu tinggi kadar kapurnya. Mencuci
piring yang tak pernah ada habisnya, dan yang
terpenting adalah mendengarkan cerita dan imajinasi
luar biasa dari kepala mereka. Secara tiba-tiba tugas
mulia ini aku emban dan tentu beberapa hari sempat
membuat tubuhku panas seketika.
Pada hari-hari ini, hari-hari kepergian mereka,
sebenarnya pernah terlintas olehku untuk sejenak
bernapas seperti biasa. Sejenak melakukan

~300~
pendinginan, tak lagi lari maraton, tak lagi berenang
gaya kupu-kupu, tak lagi melakukan smes seperti
dalam permainan bulu tangkis, atau sekadar terburu-
buru mengejar angka 15 dalam permainan tenis.
Kerang.—red.
Melihat banyak anak muda yang joging pada sore
hari dengan memandangi langit cerah sambil
memandangi ciptaan-Nya sepertinya akan terasa
begitu indah. Namun, tentu hal tersebut hanya bisa
menjadi omongan belaka atau mungkin bisa menjadi
suatu kesia-siaan yang fana. Ah, manusia memang
selalu tak pernah istikamah untuk bersabar,
mengemban tugas-tugas mereka di dunia! Dan, atas
kurang bersabarnya diriku menuai pahala pada
beberapa waktu lalu, aku pun diuji oleh-Nya dengan
sebuah refleksi atas amal-amalku. Aku diuji bertubi
oleh-Nya, jauh hari sebelum aku keracunan tomat
tanimbar yang tak biasa untuk dijadikan jus sebagai
pelengkap makanan pembuka.
Ujian itu seperti tamu tak diundang yang tiba-tiba
saja datang. Ia begitu istimewa. Ia istimewa karena
mengingatkanku untuk berefleksi atas amal-amalku.
Ia adalah gambaran masalah riil di masyarakat yang
harus secara langsung aku hadapi. Tamu istimewa itu
adalah orang mabuk. Orang mabuk datang ke rumah
kami, mengganggu, kemudian menahan kami dalam
rumah tanpa bisa berteriak ataupun lari untuk
sekadar meminta bantuan.
Hidup itu keras maka gebuklah! Sebuah ungkapan
optimis yang selalu kusuka dari buku Ipung karya Prie

~301~
J.S. Namun, sayang! Badan si pemabuk begitu besar
dan tak mampu kami menggebuknya. Kalaupun
sekadar menggebuk badannya, bukankah ia adalah
seorang pria2?
Lama aku bertengger dengannya, berdialektika
ngalorngidul tak jelas ke mana arah juntrungannya.
Makian anjing, babi, binatang, semua keluar dari
dalam mulutnya. Perintahnya untuk mengunci semua
pintu dan menyam
Ikhwan.—red.
biti murid-muridku yang datang untuk les
Matematika juga telah membuat kami salah tingkah
harus berbuat apa dan bagaimana. Teriak takut
digampar, lari takut dikejar, gebuk takut dibalas,
nangis takut akan tambah dimaki. Intinya hanya
perasaan takut.
Akan tetapi, setelah satu jam kami berkutat
dengannya di dalam, entah mimpi atau petuah dari
mana, tiba-tiba ada seorang ibu yang ingin pergi bacuci
ke sumur belakang dekat rumah. Suara yang berisik
berisi makian dan bantingan pintu yang keras,
mengagetkan si ibu untuk datang sekadar melihat.
Kami terselamatkan. Pemabuk diceramahi dan ia pun
lari pergi. Bagaikan seorang pendekar kami hanya
mampu bergerak saat acara penutupan. Lumayan
walaupun hanya sekadar menutup pintu dan jendela
dengan sangat rapat.
Dalam refleksi ini, tak selamanya memang hidup
itu harus selalu digebuk! Hidup itu keras maka
seharusnya hidup itu digarami, dibanting, diinjaki,

~302~
dikuliti, dimasak, direbus, dididihkan, dipecahkan,
diperas sampai keluar santan-santan kanilnya seperti
membuat santan untuk kolak. Berada sendiri berdiri
di sini memang tak enak. Namun, sendiri untuk
mengabdi adalah jauh lebih lezat karena dapat
membuat kita jauh lebih kuat. Tempaan hidup sebagai
PM tak seberapa dibandingkan tempaan masyarakat
yang sudah lama hidup di negara yang berdaulat. Mau
sampai kapan menangisi malam yang tak kunjung
pagi? Mau sampai kapan berteriak pada awan yang
tak kunjung putih? Cahaya itu telah ada pada orang
yang sabar menanti. Sabar menanti sebuah kepastian
datangnya mentari. Sabar menanti, kapan tanggal
pasti sebenarnya Me’tua ‘kan datang lagi. •
SALAH ITU SENG A PA-A PA

Oleh: Matilda Narulita*


* Pengajar Muda Kabupaten Maluku Tenggara Barat,
Maluku.

adi,” ujarku di kelas Matematika pagi itu, “siapa


berani
mencoba mengerjakan soal ini?”
Hening.
Beberapa kepala tampak menunduk cepat-cepat.
Satu, dua, lima kepala. Tanganku masih menunjuk
deretan angka yang tertera di papan tulis.
“Ayo, .... Siapa mau coba? Angkat tangan dolo baru

~303~
maju ke muka!”
Masih hening.
Garis bilangan yang kugambar di papan tulis sudah
mulai terhapus di sana sini setelah tadi kami asyik
bermain lompat angka. Anak-anak kelas 6 begitu
antusias ketika kupandu mengerjakan operasi hitung
bilangan negatif pada pertemuan pertama ini.
Tadinya.
Ya, tadi kelas begitu riuh ketika kami bersama-
sama “melompati” angka-angka di sepanjang garis
bilangan untuk mencari hasil 3 dikurangi 7.
“Jadi, kalau katong lompat 7 kali ke arah kiri,
berhenti di angka berapa?”

“NEBFATIF EMPAT, IBUUU!”


“Negatif, bukan nebfatif. Ne!”
“NE!”
“Ga!”
“GA!”
“Tif!”
“TIF!”
“Negatif!”
“NEBFATIF!!!”
Ah, baiklah ... (^_^).
Sayangnya keriuhan itu mendadak surut ketika
aku menantang anak-anak untuk mengerjakan soal di
depan kelas.
Satu, dua, tiga, ..., sembilan. Aku berhitung dalam hati.
Hmmm .... Semakin banyak kepala yang tertunduk
rupanya. Kupandangi angka yang berderet di bawah
garis bilangan.

~304~
4–6 = ....
Rasanya soal tersebut tak terlalu sulit. Toh,
sebelum ini kami sudah mengerjakan beberapa
contoh soal bersama-sama.
“Ayo, katong coba jawab sama-sama, ya, ...,”
kembali kurayu mereka.
”Salah itu seng apa-apa. Ibu seng akan pukul katong.
Kalau seng tau, nanti Ibu bantu.” 1
Ah! Tiba-tiba mereka mengangkat wajah dan
menatapku! Sebagian tampak mengernyitkan
dahinya. Sebagian lagi saling berpandangan dengan
teman sebangkunya.
Lima detik, sepuluh detik. Nihil. Tetap saja tidak
ada yang mengangkat tangannya.
Aku sedang menghela napas kecewa. Namun,
seketika kulihat sebuah jari mungil teracung dari
barisan tengah.
Salah itu tidak apa-apa. Ibu tidak akan pukul kalian.
Kalau tidak tahu, nanti Ibu bantu.
“Ya?” tanyaku.
“Ibu, beta mau coba kerjakan soal,” ucapnya lirih.
Aku terkesiap. Kusorongkan spidol hitam ke
tangannya yang agak gemetar. Dengan ragu ia
menggoreskan spidolnya di bawah angka 4, membuat
garis lengkung ke kiri.
“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam.”
Ia menghitung dengan lirih. Enam garis lengkung
dan berhenti di angka -3.
4–6=3
Ia menatapku penuh harap.

~305~
Di belakang, anak-anak sudah riuh. Rupanya
mereka menyadari garis lengkungnya kurang tepat
sehingga berhenti di angka yang salah.
“Ha, jawabannya salah! Mati ose! Dapat pukul itu!”
Bisikan provokatif mulai muncul dari belakang,
satu de-mi satu, sampai-sampai raut muka si anak
pemberani ini mulai kecut. Ia pun tertunduk.
“Salah itu seng apa-apa. Katong belajar sama-sama
supaya bisa to,” ujarku sambil tersenyum dan
menepuk pundaknya pelan, memberikan suntikan
kepercayaan diri kepadanya.
Kupegang tangannya, lalu kutuntun perlahan-
lahan, membuat lengkungan dari 1 angka ke angka
yang lain. Satu demi satu, sampai angka -2. Senyum
mulai mengembang di bibir mungilnya.
“Bet su tau, Ibu!” serunya riang.
Kutantang ia mengerjakan satu soal lagi.
7–8= ....
Hanya beberapa detik yang ia butuhkan untuk
membuat lengkungan dan menggoreskan angka -1 di
sebelah tanda “sama dengan”.
“Bisa?” tanyaku sambil tersenyum.

~306~
“Bisa, Ibu!” ucapnya sambil tertawa lebar dan
kembali ke tempat duduknya. Kepalanya tidak lagi
tertunduk. Tepuk tangan riuh dari seisi kelas jadi
bonus untuknya yang berani maju ke depan dan
mengerjakan soal J.
Aku menginstruksikan anak-anak untuk
membuka buku Matematika dan mengerjakan 10 soal
yang kutulis di papan tulis. Sambil menunggu mereka
menyelesaikan pekerjaan, aku duduk di kursi guru.
Sepuluh menit, lima belas menit, masih belum
selesai. Semua sibuk dengan bukunya, mengerjakan
soal itu. Tampak wajah-wajah yang semangat
menghitung. Sebagian lainnya tampak mengernyitkan
keningnya. Tiba-tiba terdengar percakapan dari
seberang mejaku. Pelan saja, tetapi cukup jelas
kudengar.
“Susah sekali. Bet seng dapa’ jawab,” 2 katanya lirih.
2

~307~
Susah sekali. Saya tidak bisa menjawab.
“Coba sendiri dolo. Salah seng apa-apa. Ibu seng akan
pukul katong! Ingat ka seng, yang Ibu bilang setiap pagi?”
teman di sebelahnya menimpali, masih sambil
berbisik.
“Oh, iyoo .... Saya bisa! Saya bisa! Saya pasti bisa!”
seru mereka bersamaan. Lalu, keduanya kembali
menekuni pekerjaannya. Kali ini dengan senyuman
dan semangat yang kuat terasa.
Aku tertegun.
Setiap pagi, sebelum memulai pelajaran, aku selalu
meminta anak-anak untuk berdiri dan bernyanyi
bersama. Juga meneriakkan yel kelas 6.
“Kelas enaaaaaammm?” teriakku.
“Saya bisa! Saya bisa! Saya PASTI BISA!” teriak
mereka tak kalah kuatnya sambil mengacungkan
tangan.
Yel yang kugunakan untuk membangkitkan
semangat anak-anak, yel yang hanya kuteriakkan
sekali sehari, nyatanya menjadi kalimat yang selalu
mereka pegang. Yang selalu mereka yakini. Yang
membuat mereka percaya mereka pasti bisa.
“Ibu, su habis!” teriak seorang anak. Sudah selesai,
katanya. Teriakannya membuyarkan lamunanku. Ah,
ternyata sudah banyak yang menyelesaikan
pekerjaannya.

~308~
“Siapa berani maju ke muka?” tanyaku setengah
berharap.
Dan, kejutan! Lima anak mengacungkan
tangannya, ingin menjawab pertanyaan. Soal
berikutnya, lebih banyak lagi anak yang
mengacungkan tangan. Begitu seterusnya sampai pada
soal kesepuluh, hampir semua anak berdiri,
mengacungkan tangannya tinggi-tinggi, berteriak,
memohon-mohon agar ditunjuk untuk maju ke depan
kelas. Beberapa bahkan mulai menaiki kursi, berharap
bisa menarik perhatianku dan menunjuk mereka.
Aku tak bisa menahan senyumku. Betapa mereka
ingin sekali mencoba menjawab pertanyaan dengan
kemampuannya sendiri. Betapa mereka menikmati
rasa deg-degan yang muncul ketika maju ke depan.
Betapa meluap-luapnya perasaan mereka yang baru
kali ini diberi kesempatan untuk mengerjakan soal di
depan kelas.

~309~
Tepuk tangan membahana untuk kali kesekian
ketika se-orang anak bisa mengerjakan soal terakhir,
bertepatan dengan bel tanda istirahat. Aku sedang
menghapus papan tulis ketika sepintas kulihat ada
beberapa anak yang tetap berdiri sambil mengangkat
tangannya.
“Ya?” tanyaku dengan bingung. Soal di papan tulis
sudah habis.
“Ibu, beta mau jawab pertanyaan!” serunya. “Ibu,
seng usah istirahat lai. Katong belajar, sudah. Kasih soal
yang banyak e, Ibu! Beta mau maju lai!” 3
Ah .... J• Ibu, tidak usah istirahat lagi. Kita belajar
saja. Kasih soal yang banyak, ya, Ibu. Saya mau maju lagi.
H ARAPAN DI A TAS BUKIT

Oleh: Rr. Cahya Wulandari*


* Pengajar Muda Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

Namaku Lumba. Kulalui hari-hariku dengan


sangat sederhana, sesederhana melihat terbit-
tenggelamnya matahari. Di tempat asalku setiap
orang melalui hari dengan kesederhanaan. Kami
bangun tidur pada pagi hari dengan tujuan kembali
tidur pada malam hari. Semua berjalan dalam sebuah
siklus yang sempurna. Tak banyak ragam dan warna
dalam hidup kami. Semua menurut pada suratan
takdir; kami lahir, kami tumbuh, kami makan
seadanya, kami sekolah seadanya, kami suatu saat

~310~
akan menikah, kami beranak sebanyak kucing
beranak, lalu menularkan kesederhanaan yang sama
kepada anak-cucu kami. Sebuah kesederhanaan yang
lama-kelamaan menjadi pasung bagi cita-cita kami.
Sebuah kebaikan yang menjelma menjadi racun bagi
kami sendiri.
Aku tidak pernah benar-benar menyukai sekolah.
Bagiku, pergi ke sekolah adalah berarti menyerahkan
diri menjadi sasaran pukulan dan makian. Jika salah
menjawab pertanyaan, aku kena pukul. Jika bicara
sedikit, aku kena pukul. Anehnya, jika aku ditanya
dan diam, aku juga kena pukul. Sungguh sekolah itu
serbasalah. Tidak berangkat pun, orangtua pasti
memukul kepalaku. Jika tidak pukul, syukur mereka
hanya memakiku. Aku tidak tahu apa yang salah dari
diriku, tetapi setiap hari di sekolah orang-orang
dewasa bilang aku selalu salah. Mereka bilang aku ini
anak bodoh. Yah, bisa jadi aku memang anak bodoh
sehingga mereka selalu marah kepadaku. Andai saja
aku tahu cara agar aku bisa pintar.
Maka, suatu hari aku bertanya kepada Pak Guru
cara agar aku bisa pintar yang ia jawab dengan satu
sabetan tongkat rotan. Hingga tiga hari memar di
paha kananku akibat rotan itu tak kunjung hilang.
Aku hanya bisa menangis dalam diam.
Itu sudah. Aku tak pernah lagi menanyakan cara
bagaimana agar aku bisa pintar. Aku juga jadi tak
berani bicara apaapa di kelas. Apa pun. Bahkan, untuk
izin buang air kecil.
Kali pertama aku bisa bicara di dalam kelas adalah

~311~
ketika ia datang ke kampung kami. Kampung Urat,
sebuah desa yang berjarak 140 km dari ibu kota
Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Untuk mencapai
kampungku, dibutuhkan waktu dua setengah jam
dengan perahu.
Ia adalah ibu guru baru di sekolahku. Aku tak
ingat lagi hari apa ia datang, yang aku ingat hanya
perasaan hangat selaiknya disayangi orang dewasa.
Aku ingat perasaan itu karena tak banyak orang
dewasa yang menyayangi aku.
Pagi hari aku berangkat ke sekolah mana kala Ibu
Guru sudah mericau menungguku di depan pintu
rumahku. Sungguh mata ini masih mengantuk dari
menonton sinetron tadi malam. Rupanya Ibu itu tak
mau mengalah dan membiarkan aku tertidur dalam
empuknya bantal. Tanpa ampun ia tunggui aku sambil
tersenyum-senyum mencurigakan. Kenapa ia tersenyum
saat guruku yang lain memukulku? pikirku dalam hati. Ah,
tetapi aku tak punya waktu banyak untuk berpikir,
Ibu Guru sudah tersenyum semakin lebar sambil
memanggil namaku.
“Lumba, ... ayo, nanti terlambat ....”
“Iya, Ibu, sedikit lagi,” jawabku. Buru-buru aku
berlari keluar, sagu pokpok pun belum lagi habis
kumakan. Ibu Guru melihatku, lututnya menekuk
sedikit hingga pandangan matanya setingkat dengan
pandangan mataku. Diam-diam aku takut. Mungkin ibu
guru mau memukulku, selaiknya orangtua dan guruguruku yang
lain. Tangan itu pun datang menghampiri kepalaku.
Kututup mata ini dan bersiap menahan sakitnya

~312~
pukulan yang sebentar lagi aku terima. Satu ... dua
detik aku tunggu, tetapi tak ada rasa sakit yang
kurasakan. Sebaliknya, ada rasa hangat di kepalaku.
Ibu ini sedang mengusap kepalaku. Aneh ... benarbenar
aneh. Kenapa dia tidak memukulku dan justru mengelusku?
Kurasa ada yang salah dengan ibu guru satu ini.
Ibu Guru datang pada suatu pagi dengan perahu
Johson. Siapa sangka bahwa ia akan tinggal lama di
tempat asalku. Satu tahun. Kata Bapak, ia datang dari
Jakarta. Sebuah kota yang katanya besar dan banyak
gedung bertingkat. Ah, tetapi dari mana ia berasal
bukanlah hal yang penting bagiku. Yang jelas, hari
ketika ia datang adalah hari di mana aku sadar bahwa
kampungku tak lagi semata tentang diriku, Mamak,
dan Bapak. Bahwa, ada harapan di luar kampung ini.
Bahwa, ada banyak cerita dan cita-cita di jauh sana. Di
seberang lautan itu dan dari balik hutan rimba itu.
Tak akan aku lupakan pagi itu saat Ibu Guru turun
dari perahu dan menjabat tanganku.
“Halo. Siapa namamu?” tanyanya sambil
tersenyum. Aku hanya bisa menatap wajahnya lekat-
lekat. Kutengok kiri dan kanan mencari pertolongan
dari Mamak dan Bapak, tetapi mereka tak
kutemukan. Aku takut. Aku takut dengan kulitnya
yang lebih terang daripada kulitku. Aku takut pada
rambutnya yang lurus dan bulu matanya yang pendek.
Ia sangat berbeda dariku dan karenanya aku takut. Ia
tak juga menyerah dan mengusap kepalaku. “Anak
pintar, namanya siapa?”
“Lumba,” bisikku pelan akhirnya. Ia tergelak

~313~
mendengar jawabanku.
“Iyo. Mamaknya melahirkan dia di atas perahu,
Ibu. Waktu itu ada ikan lumba-lumba melintas di
dekat perahu. Jadi, dia pu nama itu Lumba sudah,”
sahut seorang bapak yang kebetulan berdiri di dekat
kami.
Aku heran, memang ada yang aneh, ya, dengan namaku?
Ia akan memulai pelajaran pagi, setiap pagi dengan
menyuruh kami berbaris rapi sebelum masuk kelas. Ia
akan memulai dengan nyanyian pagi. Setiap hari lagu
yang ia ajarkan selalu berbeda. Satu lagu kesukaanku
adalah “Aku Cinta Semua Orang”. Kira-kira begini
liriknya:
♪ Aku cinta semua orang
Yang tinggi, yang pendek
Aku cinta semua orang
Yang gemuk, yang kurus
Aku cinta semua orang
“Lumba, jangan kau melamun. Masuk kelas
sudah,” tibatiba lamunanku teralihkan oleh suara Ibu
Guru. Aku tersenyum malu. Teman-teman sekelasku
sudah mendorongdorong supaya aku lekas masuk
kelas.
Hari itu ia mengajak kami keluar kelas. Ia
membagikan kertas dan pensil, lalu berkeliling
berbaris membentuk kereta. Di tempat asalku tidak
ada kereta. Mendengarnya pun aku baru sekali ini.
Kata Ibu Guru, kereta itu seperti mobil, seperti
motor, dan seperti juga perahu. Ia membawa orang
dari satu tempat ke tempat yang lain. Namun, tidak

~314~
seperti motor dan mobil yang bentuknya pendek,
kereta bentuknya panjang. Ibu menggambarkan
kereta di papan tulis. Bagiku, kereta mirip ular.
Sebagai anak yang termasuk paling pendek di kelas
4, aku ada di barisan terdepan kereta. Di depanku ada
Ibu Guru yang mengarahkan ke mana pun kami harus
pergi. Kereta kami pertama berhenti di bawah pohon
besar di pekarangan sekolah. Namanya pohon
mangga.
“Apa warna buah mangga?” tanya Ibu Guru.
Seluruh kereta menjadi ribut. Ada yang bilang hijau,
kuning, hitam, merah, dan lain-lain. Aku menjawab
dengan sangat lantang: “Mangga enak!” yang langsung
diikuti gelak tawa seluruh isi kereta. Ibu Guru
terdiam, tersenyum simpul, lalu menatapku ramah.

~315~
“Warna ... lumba, bukan rasa. Iya, rasanya enak ...
tapi buahnya bewarna apa?” tanya Ibu Guru kembali.
Aku menengok ke kiri dan kanan, mencoba mencari
jawaban dari teman-teman. Ishak, murid paling
pandai di kelas, berbisik “hijau”. Maka, lalu aku

~316~
katakan, “Hijau?” yang lebih terdengar sebagai
pertanyaan dan bukan jawaban.
“Iya, ada yang hijau ... ada juga yang kuning ...
macammacam, ya,” jawab Ibu Guru. Aku menghela
napas lega, lalu mengedipkan sebelah mata kepada
Ishak. Ia balas dengan senyumnya.
Hari demi hari selama satu tahun Ibu Guru
mengajari kami semua hal-hal yang tadinya kami
tidak tahu. Ia ajak kami bertualang dan menemukan
hal-hal menyenangkan.
Ruang kelas kami di sekolah hanya dua, itu dipakai
untuk enam kelas. Maka, Ibu terkadang menjadikan
pantai, kebun, hutan, dan laut sebagai ruang kelas
kami. Sering kami belajar di luar. Kami menangkap
ikan, siput, bintang laut, kurakura, dan banyak lagi,
untuk kemudian belajar bersama-sama. Di bawah atap
langit biru dan angin yang berdesir kami belajar. Jika
kami salah menjawab, ia berikan kami senyuman dan
perkataan seperti, “Terima kasih, Lumba, sudah berani
menjawab.” Jika kami menjawab dengan benar, ia akan
ajak seisi kelas memberikan tepuk tangan.
Ibu Guru tak selalu sehat, terkadang Ibu Guru
jatuh sakit dan berwajah sangat pucat. Namun, ia
tetap datang ke sekolah. Aku jadi malu ketika suatu
kali aku bangun agak siang dan malas sekali berangkat
ke sekolah. Waktu itu Ibu Guru berjalan lewat depan
rumahku dengan wajah yang pucat dan bersin-bersin.
Badannya tampak lemas, tetapi ia tetap berjalan
menaiki tangga yang tinggi itu hingga sampai ke
sekolah kami di atas bukit. Melihat itu, buru-buru aku

~317~
menyambar seragam sekolahku dan berlari
menyusulnya dari belakang.
“Ibu Guru!” sapaku pagi itu. Ia menoleh ke arahku,
lalu tersenyum kecil.
“Halo, Lumba. Mari cepat, bel sudah mau berbunyi
sebentar lagi.”
“Iya ...!” jawabku. Aih, betapa aku suka sekolah.
Tak sabar rasanya menanti pengetahuan baru apa lagi
yang akan aku dapatkan hari ini. •
PESAN PAK YANG A KAN PULANG

Oleh: Rian Ernest Tanudjaja*


* Pengajar Muda Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara
Timur.

Ingatkah kalian ketika waktu itu, Pak sedang


duduk di mes guru pada pagi hari itu, tegang luar biasa
karena akan memiliki kesempatan mengajar kalian
selama satu tahun? Itu adalah hari pertama tugas
Bapak di SDN Daepapan, sebuah sekolah di tengah
ladang di antara tiga hutan. Tempat kita
menghabiskan waktu bersama hampir satu tahun ini.
Pak ingat, dulu Pak Rian sangat gugup waktu akan
masuk ke kelas pertama itu. Jauh lebih gugup
daripada se-gala wawancara yang sudah pernah Pak
lewati.
Waktu berjalan panjang, Nak. Sebentar lagi Pak
Rian pamit. Masih banyak hal yang belum kita

~318~
lakukan, tetapi lebih banyak lagi yang sudah kita
perjuangkan bersama.
Pak Rian akan kembali ke dunia korporat. Pak
Rian adalah lawyer di lawfirm. Kalian ingat, kan, cerita
Pak Rian, kalau kantor Bapak ada di lantai 19? Tidak
jauh dari istana tempat Presiden? Kalau boleh, Pak
ingin ajak kalian ke kantor Pak. Pasti kalian senang
kalau Pak ajak naik escalator dan elevator melihat kota
Bapak dari lantai 19 itu. Bisa jadi, kalian adalah satu-
satunya murid SD yang Pak pernah ajar.

Setelah mencoba menanamkan mimpi di lubuk


benak kalian, Pak Rian akan kembali ke rumah Pak,
dan berharap semoga apa yang ditanam dapat
mengarahkan hidup kalian. Supaya kalian menjadi
pribadi yang unggul dan peduli sesama kalian. Menjadi
pribadi yang kreatif di tengah impitan dan mampu
memecahkan persoalan. Bukan lari dari persoalan.
Di dalam hati Pak, Pak tidak tahu apakah kita
akan bertemu lagi. Mungkin saja, sepuluh tahun dari
sekarang, kita akan berpapasan di Jakarta dan Pak
tidak lagi mengenal wajah kalian. Jadi, kalau hal itu
sampai terjadi, jangan marah, ya.
Ingat, kan, pesan Pak Rian? Hidup berisi usaha
yang disertai kejujuran. Itu saja. Tidak usah muluk-
muluk. Biarkan hal-hal lain diatur oleh orangtuamu,
keluargamu, dan pejabat. Pesan Bapak hanya satu,
kalau kalian jadi pejabat, to-long jangan seperti
pejabat yang sekarang ada di televisi bai tua di sebelah
rumah kalian. Ingat cerita Pak bahwa negeri kita

~319~
sudah terlalu banyak orang pintar, tetapi tidak jujur
dan tidak mau usaha. Maunya jalan singkat saja.
Begitu luar biasanya hal ini, sampai kalian bisa di luar
kepala menyebutkan KPK sebagai Komisi
Pemberantasan Korupsi pada saat kalian seharusnya
sudah lancar menyebutkan KPK sebagai Kelipatan
Persekutuan Terkecil.

Di dalam hati terdalam, Pak Rian tidak tahu


apakah kalian akan diajar kembali oleh teman Bapak
dari Indonesia Mengajar. Pak Rian tidak tahu apakah
kalian akan kembali diajar dengan cara yang menurut
kalian menyenangkan dan tanpa kekerasan. Pak Rian
mohon maaf apabila Bapak sering terlewat disiplin.
Ingatlah selalu, bahwa disiplin yang Bapak terapkan
semata-mata demi kebaikan kalian. Mohon maaf, ya,
Nak, Pak Rian memang bukan guru sempurna. Pak
Rian hanya seorang guru karbitan dari Jakarta yang
bahkan tidak memiliki gelar Sarjana Pendidikan.

~320~
Terlepas dari siapa pun guru kalian setelah ini, Pak
hanya minta kalian usaha dan jujur. Itu saja. Pak Rian
yakin berkat Tuhan pasti selalu bersama kalian dan
menerangi kalian.
Teringat Pak Rian waktu mendengar pengakuan
dari salah satu guru bahwa Pak Rian waktu sampai di
Daepapan ternyata ditunjuk menangani “kelas
kambing”. Ya, Nak, memang mengagetkan pengakuan
guru itu. Anak-anak cemerlang dan aktif seperti
kalian disamakan dengan mamalia berkaki empat.
Kita sudah buktikan bersama, kan? Sekarang kalian
tertib, aktif dalam belajar. Dan, yang terpenting,
sekarang kalian semua sudah lancar baca, tulis, dan
berhitung.
Ingat tidak waktu Pak mengajar hari pertama di
sekolah? Tidak ada dari kalian yang bisa menjawab
8+4. Sekarang kalian dengan enteng bisa menghitung
pohon faktor dan luas bangun datar. Pak Rian mohon
maaf, ya, apabila belum bisa mengajarkan kalian ilmu
yang lebih tinggi lagi.
Waktu satu tahun ini Pak Rian berusaha
menanamkan dasar pembelajaran yang kuat sehingga
kalian tidak akan bingung setelah ini. Kalian bisa
belajar sendiri pada saat guru-guru tidak ada yang
hadir di sekolah. Kalian bisa memanfaatkan
perpustakaan yang Pak Rian buat bersama guru lain di
mes guru sekolah. Kalian bisa mulai mengambil buku
teks dan mulai membacanya. Yang penting usahamu,
Nak, yang lain tidak jadi soal.
Ini bukan surat terakhir bagi kalian. Pak masih

~321~
akan mengajar dua bulan lagi. Namun, pada
penghujung masa ini, Pak jadi sering melamun dan
memikirkan kalian. Pak Rian sangat sedih akan
meninggalkan kalian. Sering hati ini tercekat saat
memikirkan kepulangan. Menulis hal seperti ini juga
menguras emosi Pak, tetapi membuat segalanya juga
jadi lebih mudah. Pak Rian akan sangat rindu ucapan,
“Selamat pagi,” “Selamat siang,” dan “Selamat sore,”
yang terus menjadi vitamin bagi Pak di sini, di tengah
rasa kepanasan, kelaparan, dan keletihan Pak dalam
mengajar kalian.
Kalian sudah menjadi candu bagi Bapak. Mengajar
kalian itu mendamaikan. Perhatikan, Nak, pasti
waktu mengajar Pak selalu paling lama, kan? Kita
sering keluar sekolah pukul 17.00 malah, mengejar
pelajaran. Bapak hanya mau beranjak dari
kompentensi dasar ke satu ke kompetensi dasar lain
hanya bila sudah tujuh puluh lima persen dari kalian
mengerti dan paham apa yang Pak ajarkan. Pak Rian
pernah merasakan tersesat dalam pembelajaran. Pak
Rian tidak mau kalian juga merasakan apa yang
pernah Pak rasakan di bangku SD dulu.
Pembelajaran dua arah yang kita lakukan sangat
membius Nak. Sering sekali setelah melepaskan kalian
pulang dan anak terakhir keluar kelas, seluruh badan
Pak akan letih
sekali. Namun, luar biasanya, sama sekali tidak
terasa selama mengajar kalian. Kalian adalah candu
bagi Pak. Agak aneh memang ungkapan ini, tetapi
begitulah adanya, Nak.

~322~
Nak, sampai sini dulu. Tolong simpan surat ini
baik-baik, ya. Simpan di tempat yang paling aman.
Baca lagi ketika kalian sudah agak besar supaya kalian
bisa mengerti maksud Pak dan mengingatnya terus
sampai dewasa, dan menerapkannya di setiap segi
kehidupan kalian. Terima kasih, Nak, karena kalian
sudah bersedia menjadi guru Pak Rian. Kalian
mengajarkan Bapak kesabaran dan keikhlasan. Dua
hal yang tidak pernah diajarkan kepada Bapak. Bapak
yang lebih beruntung karena mendapatkan
kesempatan di kelas bersama kalian.
Terima kasih, Nak! Tuhan memberkati. •

C ERITA BETA PU K AMPUNG PIKPIK

Oleh: Angga Prasetyawan*


* Pengajar Muda Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

~323~
Ada sebuah kampung bernama Pikpik di Distrik
Kramongmongga, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua
Barat. Kampung itu menjadi tempat saya mengajar
sejak Juni 2011 lalu. Saya menjadi guru selama
setahun di kampung itu. Kampung itu berada di
perbukitan yang dikelilingi hutan. Hutannya masih
sangat alami dan udaranya segar. Dari kota
kabupaten, saya mudah menjangkau Kampung Pikpik.
Saya hanya membutuhkan waktu dua jam melalui
perjalanan darat dengan menggunakan taksi (sebutan
angkutan umum di Fakfak).
Kampung Pikpik adalah kampung kecil. Mata
pencarian utama penduduknya adalah berkebun.
Mereka berkebun di dalam hutan dan pala menjadi
hasil utama mereka di sini. Di kampung itu,
penduduknya mayoritas beragama Kristen Protestan.
Kampung Pikpik tidak ber-PLN dan tidak bersinyal
operator seluler. Untuk penerangan, penduduk biasa
menggunakan cahaya pelita atau motor generator
kampung.
Penduduk di Kampung Pikpik berasal dari suku
Baham Matta. Penduduknya masih asli dan belum ada
perkawinan campuran. Saat kali pertama masuk ke
dalam kampung, saya berkeyakinan bahwa saya
mampu beradaptasi dan berbaur me

nyatu bersama-sama mereka. Saya pun melakukan


pendekatanpendekatan dengan penduduk. Saya tidak
memerlukan metode khusus untuk melakukan
pendekatan dengan penduduk karena saya ingin

~324~
proses pendekatan tersebut berjalan secara alami
sehingga akan terjalin ikatan emosional yang baik
antara saya sebagai Pengajar Muda dan penduduk
setempat.
Pendekatan yang saya lakukan adalah dengan
mulai berkeliling kampung dan bertegur sapa dengan
penduduk. Saya sempat mampir ke beberapa rumah
penduduk untuk sekadar mengobrol santai diselingi
canda tawa. Saya juga memperkenalkan diri kepada
aktor-aktor penting yang ada di kampung, seperti
kepala kampung, pendeta, ketua adat, dan pejabat
kampung lainnya. Bagian dari proses pendekatan yang
tidak kalah seru adalah bermain bersama anak-anak
dan berpetualang di dalam hutan. Saya sangat
menikmati hal itu.
Di kampung itu, memang hanya ada satu sekolah
dasar yang bernama SD YPK Pikpik. Di sekolah itulah,
saya bertugas sebagai seorang Pengajar Muda. Saya
menyadari bahwa suasana di sini jauh berbeda dengan
suasana di perkotaan. Saya ambil contoh mengenai
kualitas guru. Kualitas guru di sini jelas tertinggal
jauh. Di sini, banyak guru yang masih Diploma 1 atau
Diploma 2. Bahkan, ada guru-guru yang hanya
berpendidikan terakhir SMA. Kita memang tidak
dapat membandingkannya dengan guru-guru yang ada
di Pulau Jawa, yang sebagian besar berpendidikan
tinggi S-1 atau S-2.
Selain itu, secara kuantitas, jumlah guru di SD
YPK Pikpik sudah cukup memadai, yaitu ada delapan
orang guru. Setelah saya datang, jumlah guru

~325~
bertambah menjadi sembilan orang. Saya diberi
amanat untuk mengajar di kelas 6 bersama seorang
guru laki-laki. Kepala sekolah memutuskan bahwa
kelas 6 dipegang oleh dua orang guru agar hasil ujian
nasional maksimal. Walaupun begitu, seiring
berjalannya waktu, saya pun sering mengisi di kelas-
kelas lain karena di sekolah itu sering adanya jam-jam
kosong. Jam-jam kosong terjadi karena ada beberapa
guru yang tidak hadir di sekolah dengan alasan ada
urusan tertentu yang harus diselesaikan di kota
kabupaten atau alasan lainnya.
Ada hal yang juga sangat perlu mendapat
perhatian, yaitu guru-guru juga kurang memahami
bagaimana cara membuat Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) yang seharusnya dijadikan
sebagai pedoman Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).
Hal itu membuat saya tergerak untuk berbagi
pengetahuan yang saya terima dari Pelatihan Intensif
Pengajar Muda mengenai cara membuat RPP dan
menerapkannya saat KBM berlangsung. RPP itu
merupakan bagian penting dari KBM karena KBM
akan tidak mempunyai arah jika tidak berpedoman
pada RPP.
Pada seminggu awal saya mengajar, saya sempat
terkejut karena menemukan beberapa anak kelas
tinggi (kelas 4, 5, dan 6) yang belum dapat membaca
dan menulis bahasa Indonesia dengan lancar, serta
belum hafal perkalian pada pelajaran Matematika.
Saya memeriksa tulisan mereka satu per satu dan
menemukan beberapa kesalahan tulis yang

~326~
seharusnya sudah tidak terjadi di kelas tinggi.
Sebagian besar dari mereka belum mengenal spasi dan
tanda baca sehingga antara kata yang satu dengan
kata yang lainnya itu dirangkaikan saja penulisannya.
Selain itu, ada beberapa huruf yang hilang ketika
mereka menulis sebuah kata. Fakta itu membuat saya
bertanya kepada diri sendiri, Jadi, selama ini
bagaimanakah mereka belajar di sekolah ini?
Saya pun tidak mau bertanya lebih banyak lagi
kepada diri saya sendiri. Saya lebih baik bertindak
untuk mengatasi ini. Atas izin kepala sekolah, saya
pun mulai memberikan pelajaran tambahan bagi
mereka setiap sorenya. Mereka tampak semangat
menerima pelajaran tambahan yang saya berikan.
Saya percaya bahwa setidaknya hal kecil ini bisa
sedikit membantu mereka untuk lebih baik.
Meskipun banyak kenyataan yang memilukan,
saya tidak patah semangat selama bertugas di
kampung tersebut. Saya harus mampu melayani
murid-murid saya dengan baik, seperti yang pernah
saya ucapkan ketika kali pertama menginjakkan kaki
di Bandara Torea, Kabupaten Fakfak. Pernyataan yang
saya ucapkan dalam hati adalah, “Saya datang bukan
untuk dilayani, melainkan melayani mereka.” Selama setahun,
saya harus bisa menjadi role model dan inspirator mereka
karena pada dasarnya guru itu digugu lan ditiru (didengar
dan dicontoh).
Saya selalu mengatakan kepada murid-murid saya
bahwa, “Kemong samua itu mutiara yang terpendam
[Kamu semua itu mutiara yang terpendam].” Setiap

~327~
anak memiliki kecerdasan tertentu yang pada
dasarnya merupakan potensi yang mereka miliki.
Mereka adalah anak-anak yang potensial dan layak
untuk dikembangkan. Mereka mempunyai energi
positif yang luar biasa. Jika dibimbing dan diarahkan
dengan baik, anak-anak itu pasti akan menjadi
mutiara yang luar biasa dan sangat mahal harganya.

Pada 2011, salah satu murid SD YPK Pikpik


berhasil meraih prestasi sebagai delegasi pada
Konferensi Anak Indonesia 2011. Nova Rut
Herietrenggi (Nova) adalah nama siswi tersebut yang
saat ini masih duduk di bangku kelas 5. Ia telah
mewakili Provinsi Papua Barat sebagai delegasi dalam
Konferensi Anak Indonesia 2011 yang berlangsung di
Jakarta. Di Jakarta, ia bertemu dengan delegasi-
delegasi dari provinsi lain yang ada di Indonesia. Ini
adalah salah satu bukti nyata bahwa ada mutiara yang
terpendam di Kampung Pikpik.

~328~
Keberhasilan Nova telah menginspirasi banyak
orang. Saya semakin yakin bahwa di dalam
keterbatasan masih ada harapan dan semangat yang
melampaui batas untuk mengejar mimpi dan prestasi.
Mimpi dan prestasi menjadi modal masa depan kita
semua. Menjadi anak-anak Indonesia haruslah
menjadi anak-anak yang berani bermimpi untuk
mendapatkan masa depan yang cemerlang agar
orangtua kita pun bangga.
“Bapak Guru, beta rasa senang pi Jakarta. Beta bisa
kenal teman-teman baru. Beta mau bikin beta pu
Mamah bangga. Beta mau kejar beta pu mimpi dan cita-
cita!” Itulah kata Nova ketika berada di Jakarta.
Setahun menjadi Pengajar Muda memang terlalu
cepat. Saya selalu percaya bahwa apa yang kita tanam
sekarang akan berbuah pada masa yang akan datang.
Menjadi Pengajar Muda adalah cara saya untuk
mencintai Indonesia. Demikianlah cerita dari beta pu
Kampung Pikpik. •
R UH N ASIONALISME

Oleh: Siti Muthmainnah*

Pada 6–8 Februari, tim Pengajar Muda Lebak


mengadakan PSK (Pelatihan Sains Kreatif) yang
dilaksanakan di tiga zona. Pelaksanaan hari pertama
pelatihan adalah di ibu kota, yakni Rangkasbitung
yang berlangsung menarik. Antusiasme peserta, yang

~329~
awalnya lesu dan meminta pelatihan dipercepat,
berubah dan berbalik 180 derajat setelah suatu
eksperimen dilakukan. Mereka bilang, “Lanjut terus
saja, pulang magrib juga tidak apa-apa.” Wow ....
Padahal, dari 220 peserta yang semuanya guru ini, ada
yang rumahnya mencapai setengah hari perjalanan.
Melihat antusiasme itu, kami tersenyum lebar
meskipun lelah fisik melanda.
Malam harinya kami melakukan evaluasi kecil.
Satu di antaranya ada yang terlupa dari acara
pembukaan, mung-kin tidak terlalu berpengaruh pada
acara, tetapi cukup bisa menambah aura semangat
semakin membara. Apa itu? Menyanyikan Lagu
Kebangsaan “Indonesia Raya”! So simple and will be
meaningful if we’d sing the song, pikirku.
Pada hari kedua, kami menuju zona Muncang.
Seperti rencana, kami membuka acara dengan doa,
kemudian me
* Pengajar Muda Kabupaten Lebak, Banten.
nyanyikan Lagu Kebangsaan “Indonesia Raya”,
dipimpin oleh Ipat, mahasiswa Lebak semester I, yang
ikut membantu kami di kepanitiaan. Lagu terlantun
dengan penuh semangat. GOR Kagum, tempat
berlangsungnya acara serasa penuh aura nasionalisme
dan semangat guru-guru yang akan berbagi ilmu hari
itu.
Tebersit dalam ingatan tentang esai yang saya
tulis dulu, tentang apa yang akan dilakukan ketika
menjadi Pengajar Muda. Salah satunya adalah
merasakan ruh nasionalisme di daerah, di pelosok

~330~
Indonesia. Saya ingin merasakan gelora semangat
keindonesiaan. Menyerukan “Indonesia Raya”
bersama para pejuang pendidikan atau bersama anak-
anak dengan semangat cinta Indonesia mengalir
deras, hikmad, dan sakral. Dan, terlihat para guru
tegap berdiri, lantang menyeru “Indonesia Raya”.
Seperti mengucap janji pada bangsanya,
menyerukan rasa cinta untuk negerinya. Lantang dan
mengalirkan desir darah penuh semangat
menghidupkan “Indonesia Raya”.
Dan, lanjut melakukan eksperimen sains dengan
rasa ingin tahu bertubi. Membincangkan cara terbaik
mengajarkan ilmu pengetahuan pada generasi penerus
bangsa, anakanak didik mereka. Ya, mereka, para guru
menepati janji pada bangsanya; mencerdaskan anak-
anak generasi penerus bangsa.
Tebersit akan kata pudarnya nasionalisme bangsa
kita saat ini. Di sini kami selalu memupuk subur
nasionalisme yang menjadi ruh perjuangan. Tidak
muluk-muluk, tetapi dengan cara sederhana guru di
daerah bagi saya menjadi cerminan nyata tentang
bagaimana perjuangan dilakukan. Keterbatasan yang
tak menjadi penghalang. Keterbukaan akan informasi
dan akses untuk menjadi lebih baik.
Optimis. Kata ini sepertinya meresap dalam
sanubari. Optimis bahwa Indonesia akan menjadi
lebih baik. Lewat pendidikan yang sarat akan muatan
perjuangan nyata dari para guru kepada anak-anak.
Bukankah begitu?
Jadi, mari berbuat untuk Indonesia Raya—

~331~
Indonesia kita.
Salam Indonesia! •
PILIHAN

Oleh: Yohannes Kinskij Boedihardja*


* Pengajar Muda Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi
Utara.

Ada sebuah kebiasaan unik bagi saya ketika malam


menjelang, yakni tiduran di seluncuran punya PAUD
yang persis berada di depan rumah dinas Pak
Jonathan Karame, kepala sekolah saya. Malam ini
gelap menyelimuti Pulau Para (Kabupaten Kepulauan
Sangihe), pulau tem-pat saya mengajar, karena
generator desa sedang kehabisan solar. Saya pun
berharap menghabiskan sisa malam dengan
menyandarkan kepala dan menatap langit yang
berhiaskan bintang-bintang bersanding dengan sang
bulan. Suara he-wan malam bersahut-sahutan dipadu
dengan deburan ombak yang terdengar sayup-sayup,
seakan menambah syahdu malam ini.
Entah, dimulai dari mana, tiba-tiba pikiran saya
melayang-layang, menembus waktu, mengingat
kejadian tadi pagi, ketika anak-anak kelas 6 sedang
mengikuti pra-UAN. Masih teringat jelas dalam
memori, keringat menetes, wajah bingung memutar-
balik halaman soal, sibuk menyilang jawaban,
dihapus, disilang lagi, garuk-garuk kepala. Saya sadar

~332~
mereka sedang menjejakkan langkah kecil untuk
menuju ujian-ujian lain, mungkin nanti di SMP,
mungkin nanti di SMA, atau mungkin nanti ketika
mereka kuliah, harap saya.

Seperti sebuah lagu, semua pasti akan ada akhir.


Sama seperti ujian pagi itu, pasti ada sang waktu yang
mengakhirinya. Lonceng berbunyi, anak-anak kelas 6
bersiap istirahat untuk mengikuti pelajaran tambahan
IPA kelas 4–5 dari saya. Sembari anak-anak
melenggang keluar, saya beranjak mengambil satu per
satu lembar jawaban dari meja mereka. Kemudian,
saya membaca lembar jawaban mereka. Hmmm ...
lembar jawaban pilihan ganda dan sebuah pertanyaan
muncul tiba-tiba mencoba menggelitik saya untuk
berpikir. Mengapa kita harus memilih? Pertanyaan
itu yang terus berdengung di kepalaku, sebuah
pertanyaan tentang pilihan.
Sejak kecil hingga sekarang saya hampir hidup 25
tahun lamanya di dunia ini, tidak terhitung berapa
juta pilihan yang sudah saya buat. Mulai dari bangun
tidur hingga kita tidur lagi malamnya. Beberapa
pilihan sederhana yang kita ambil tanpa harus
memeras otak, tetapi beberapa pilihan juga terasa
rumit hingga menguras emosi. Beberapa pilihan
berujung tawa, tetapi beberapa pilihan terkadang juga
bisa berujung penyesalan.
Dosen saya pernah berkata, “Semua orang
mempunyai pilihan, kita berhak memilih, tetapi
ingat, setiap pilihan mempunyai konsekuensi.” Saya

~333~
baru bisa memahaminya semakin dalam malam ini
bahwa setiap pilihan yang kita ambil akan membuka
beberapa pilihan lainnya dan akan terus bercabang
dengan konsekuensi-konsekuensi lainnya. Apakah
kalian pernah membaca buku serial horor Goosebumps,
yang kita bisa memilih sendiri akhir cerita
berdasarkan pilihanpilihan yang kita buat pada tiap
halamannya? Kira-kira seperti itulah gambaran
kasarnya. Perbedaannya, kita tidak bisa mengulang
kembali semua pilihan yang telah kita ambil apabila
pilihan itu berujung tangis karena sang waktu seperti
kereta api yang selalu berjalan lurus, maju, menindas
semua orang yang tidak siap akan konsekuensi dari
pilihan yang mereka ambil. Sang waktu tidak pernah
memiliki hati yang lemah. Tidak pernah.
Ketika saya mengajar, terkadang saya juga
membuat anak-anak belajar memilih. Mereka boleh
tidak mengerjakan PR, boleh tidak les. Saya tidak
memaksa mereka, tetapi saya selalu memberi
pengertian bahwa ketika mereka tidak membuat PR
dan tidak ikut les, mereka akan tertinggal satu
langkah dari teman-teman lainnya. Memang beberapa
tetap ada yang tidak ikut les pada awalnya. Namun,
lama-kelamaan mereka juga ikut karena merasa
semakin tertinggal. Setidaknya mereka sudah belajar
memilih, sebelum nanti mereka akan menghadapi
pilihan yang lebih sulit ketika mereka besar nanti.
Sekali lagi saya berharap ....
Hidup di pulau memang besar tantangannya.
Perjalanan ke kota dengan kapal taksi selama 6–7

~334~
jam, tidak bisa berenang, hidup tanpa sinyal, tidak
ada suara keluarga atau kawan yang bisa diajak
berbagi. Terkadang sulit sayuran, ikan ketika laut
sedang kencang, atau sulit air ketika musim panas. Di
sekolah pun juga begitu, jarak sekolah yang jauh dan
harus ditempuh dengan berjalan kaki, terkadang
membuat lelah saya sebelum mengajar, atau mungkin
tidak ada listrik seperti malam ini, gelap gulita.
Terkadang saya mengeluh, manusiawi, bukan?
Namun, saya berusaha untuk tidak mengeluh malam
ini, mungkin karena sang bulan terlalu cantik untuk
diajak berbagi keluh kesah atau mungkin karena saya
sadar, saya berada di sini, malam ini, karena ini semua
merupakan pilihan saya sendiri. Tidak ada yang
memaksa saya untuk berada di sini, meninggalkan
semua kenyamanan kota, untuk berbagi tawa dan
pengetahuan dengan mereka. Tidak ada seorang pun
yang memaksa saya, tidak ada.

~335~
Malam ini saya belajar bersyukur, saya memilih
menukar semua kenyamanan itu untuk sebuah
perjalanan, pengalaman yang tak tergantikan. Malam
ini saya bersyukur, saya mengerti arti pentingnya
sebuah pilihan. Malam ini mung-kin akan menjadi
tonggak pengingat bahwa saya mencoba tidak
mengeluh akan pilihan yang telah saya ambil.
Sebuah panggilan lembut membuyarkan
lamunanku. “Mas, kumang!” Bapak memanggil.
Kumang dalam bahasa Sangir artinya ‘makan’. Saya
jawab, “Iya, Pak!” Saya pun dihadapkan pada pilihan,
saya akan segera beranjak masuk atau tidak, saya rasa
malam ini terlalu nyaman untuk dilewatkan. Namun,
seiring sang waktu meniti malam, perut saya pun
merengek-rengek, memaksa saya untuk segera
beranjak masuk. Ketika saya melihat hidangan ikan
yang lezat di atas meja serta sayur daun gedi, saya pun
tersenyum dan berujar dalam hati, hmmm ... pilihan yang
bagus, Kawan. •
M URID PERTAMA

Oleh: Agung Yansusan Sudarwin*


* Pengajar Muda Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara
Timur.

Pagi, pukul 06.30, aku berdiri di depan rumah


memandang ke arah SD Inpres Oeoko, SD tempatku
mengajar. Jarak keduanya hanya 30 meter, dekat.

~336~
Kulihat anak-anak sudah datang dan berlarian di
depan teras sekolah. Aku sudah menggunakan kemeja
lengan panjang berwarna ungu dan celana bahan
warna hitam, siap melangkah ke arah sekolah.
Aku pun melangkahkan kaki, dimulai kaki kanan
dan membaca, “Bismillah”.
Aku berjalan dan berjalan. Entah kenapa tiba-tiba
ada perang di hatiku. Aku seperti mendengar sesuatu
di diriku berkata, “Ayo, Gung, ayo kembali ke kamarmu, tidur
saja lagi.” Aku memejamkan mata dan berusaha terus
berjalan ke arah SD-ku. Kulawan rasa malasku itu.
Sesampai di kelas, kulihat anak-anak masih santai
sambil memandangku sekaligus menyapa. Aku balas
sapaan mereka dengan senyumanku. Setelah itu, aku
masuk ke dalam kelas. Kotor sekali keadaan kelas ini,
keluhku dalam hati. Aku pun memanggil siswa-siswa
yang seharusnya bekerja piket hari itu. Kuminta
mereka melakukan kewajibannya sebelum pelajaran
dimulai. “Iyaaa, Pak,” jawab mereka.

Akan tetapi, tahukah apa yang mereka lakukan?


Mereka hanya berlari-lari tanpa mau mengerjakan
pekerjaan piket kebersihan. Aku mulai agak dongkol.
Teknik penguasaan diriku mulai diuji. Mereka berlari-
lari tanpa menghiraukan permohonanku.
Kuminta kembali mereka dengan nada yang
tinggi. Akhirnya, mereka yang piket mau
mengerjakan pekerjaannya.
Setelah itu, aku berpikir bahwa ada yang salah
denganku, ada yang salah dengan semangatku, ada

~337~
yang salah dengan gaya kepemimpinanku di kelas.
Prinsipku, aku tidak mau menjadikan siswaku seperti
gajah sirkus yang bekerja karena takut dipecut. Aku
ingin mereka bekerja sesuai hati mereka.
Aku terus mencoba untuk seperti itu walaupun
terkadang sering terjadi eror dalam usahaku itu.
Ada definisi bagus mengenai leadership yang saya
baca pada akun Twitter @goodmotivator. Disebutkan
bahwa, “Leadership is the art of getting someone else to do
something you want done because he wants to do it.”
Melihat belum respeknya muridku terhadap
permohonanku, tampaknya ada yang salah dengan
gaya kepemimpinanku. Harus ada perubahan. Aku
harus bisa menggali potensi diri dalam hal
memengaruhi orang lain dari hati ke hati.
Aku akan menjadikan itu catatan dalam hidupku.
Aku rasa memengaruhi hati orang lain agar mau
melakukan apa yang kita inginkan adalah latihan
sepanjang masa bagi se-orang pemimpin.
Murid pertama dari segala ucapan kita adalah diri
kita sendiri.
Setelah kejadian itu, aku memulai mengajar
pelajaran. Kami belajar seperti biasa, hari itu tumben
kelas menjadi tidak kondusif, ada yang mengantuk,
ada yang semangat, ada yang melamun. Aku mencoba
memberikan yang terbaik kepada anak-anakku.
Semuanya berlalu dan saatnya istirahat di luar
kelas. Aku sudah mengajarkan kepada muridku agar
mencuci tangan sebelum makan jajanan sekolah.
Namun, entah mengapa ketika itu aku makan tanpa

~338~
mencuci tangan terlebih dahulu. Aku makan “hap”
dan khilaf makan tanpa mencuci makan terlebih
dahulu. Aku sempat terdiam dan tidak meneruskan
memakan makanan itu.
Aku mengunyah ....
Aku mengunyah perlahan-lahan dan makanan
pun habis, tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.
Memang keadaanku sudah lelah, tetapi aku selama ini
menyuruh anak-anakku mencuci tangan sebelum
makan, sementara aku? Aku mengingkari apa yang
kuucapkan sendiri.
Ternyata, benar bahwa murid pertama dari segala
ucapan kita adalah diri kita sendiri. Akulah yang
seharusnya menggunakan setiap kata-kata yang aku
ucapkan. Oh, Tuhan, sungguh hari ini serasa banyak
sekali kesalahan yang kuperbuat.
Marah ketika mengerjakan sesuatu hanya akan
membuat kita seperti keledai.
Kejadian hari yang penuh pembelajaran bagiku
terus berlanjut. Aku masih marah, marah akan diriku.
Setelah itu, datanglah pelajaran Seni Budaya dan
Keterampilan. Aku melihat anak-anakku menganyam
kerajinan tangan. Keadaan sedang kacau, kotor,
berserakan, daun lontar berserakan di mana-mana.
Semakin marah sekali. Aku marah, aku sudah tak
terkontrol lagi.
....
Aku marah.
....
Anak-anak menjadi diam dan terfokus kepadaku.

~339~
Fokus kepadaku. Mereka fokus tidak dengan hati
mereka, tetapi dengan ketakutan.
Ya, langkahku salah. Aku terbawa suasana dan
kecerdasan emosionalku sedang tidak bekerja dengan
baik.
Sekali lagi, aku harus banyak memperbaiki diri,
khususnya dalam hal penguasaan diri.
Ya, Allah, khusus untuk hari ini dan seterusnya,
saya mohon selaku hamba-Mu, tolong jadikan saya
manusia yang mampu menguasai diri sendiri sehingga
bisa membagikan banyak manfaat bagi semesta.
Keesokan harinya, aku meminta maaf kepada
siswaku. Mereka tampak terdiam dan akhirnya sama-
sama meminta maaf juga.
Aku tiba-tiba berubah menjadi sentimentil. Entah
mengapa, sedih. Kami pun saling memaafkan dan
memulai proses belajar-mengajar seperti sediakala,
penuh canda dan tawa. •
SURAT UNTUK A NDREW

Oleh: Marcella Chandra Wijayanti*


* Pengajar Muda Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara
Timur.

Andrew, aku tidak akan mengawali cerita dengan


kalimat sedih mendayu-dayu meskipun kabar burung
yang beredar di Jogja berat badanku turun delapan
kilo karena kurang asupan protein, menderita herpes,

~340~
dan dekil. Oh, ya, kamu pasti lebih senang jika kita
membicarakan itu dulu. Ha, aku sudah bisa
membayang cuping hidungmu bergerak-gerak
menahan geli. Sayangnya, bukan itu yang akan kita
bicarakan. Kita akan membicarakan kegembiraan.
Sampai di sini kamu pasti akan bilang, “Tidak
mungkin! Kamu tinggal di kabupaten terselatan yang
masuk dalam wilayah provinsi termiskin di Indonesia.
Bagaimana bisa kamu bicara tentang kegembiraan?
Ayolah, Marcella, jangan mengada-ada.”
Andrew, ini bukan cerita fiksi. Rote Ndao memang
sulit jika dikatakan sebuah kabupaten. Luas Pulau
Rote, pulau utama Kabupaten Rote Ndao tak sampai
sepuluh ribu hektare. Penduduknya hanya sekitar
seratus ribu jiwa. Angka kepadatan penduduk yang
masih rendah membuat kamu akan

lebih sering bertemu rombongan hewan daripada


sesama manusia jika berkendara dari kecamatan satu
ke kecamatan lainnya. Di beberapa ruas jalan bahkan
diberi tanda, “Hatihati banyak hewan melintas!”
karena angka kecelakaan kendaraan bermotor dengan
hewan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sesama
kendaraan bermotor. Bahkan, ketika kamu sedang di
kota kabupaten, kamu tetap akan merasa sedang di
tengah hutan karena jarak bangunan satu dengan
bangunan lainnya diselingi rangkaian tumbuhan
perdu atau gerombolan pepohonan yang cukup rapat.
Ardi Sutriono, Wakil Kepala Kepolisian Resor Rote
Ndao punya istilah mengesankan untuk menyebut

~341~
kabupaten ini, Jurassic Park. Hahaha, awalnya aku
tidak sepakat. Namun, kondisi geografisnya yang
diselimuti tiga campuran alam yang unik, yaitu
padang rumput luas, garis pantai yang memukau, dan
hutan muson membuat istilah Mas Ardi tidak bisa
disangkal.
Tidak seperti di kota sana, di tempat yang
memukau secara geografis, tetapi minim barang
hiburan ini, justru kegembiraan mudah dan murah
didapat. Senyum dan tawa anak-anak tak perlu
dipancing dengan Ipad, es krim Baskins and Robin,
atau sepasang sepatu Nike.
Kegembiraan, anak-anak terutama, bisa di mana
saja. Kadang-kadang di benda-benda yang terdengar
ganjil di telinga city kid seperti kamu.
Pertama, pada truk-truk pengangkut barang.
Bangunan SD Onatali, SD tempat aku mengajar,
sangat strategis untuk ukuran Rote, terletak di
pinggir jalan raya pelabuhan—kota kabupaten.
Orang-orang bilang SD Kota. Namun, tolong jangan
terjebak dengan kata jalan raya dan kota. Meskipun
namanya jalan raya, kondisinya tidak sama seperti
jalan raya yang biasa kita temui di kota. Kanan jalan
hutan, kirinya pantai. Jalannya beraspal, tetapi tidak
lebar. Kalau ada dua truk berlawanan, satunya harus
menepi dan berhenti agar truk dari arah berlawanan
bisa lewat. Konturnya juga tidak lurus, naik-turun.
Setiap jam istirahat siang yang juga bertepatan
dengan jam kapal sandar, anak-anak selalu bisa
mendapat hiburan gratis menonton truk aneka

~342~
ukuran dan warna lalu-lalang di depan sekolah. Aku
sering ikut anak-anak berdiri di belakang pagar dan
menyoraki truk yang menggerung-gerung gagal
memenangkan jalan yang mendaki sehingga harus
berhenti untuk “menarik napas”. Selalu
menyenangkan ikut menonton truktruk sarat
muatan itu merayap sekuat tenaga di jalanan yang
kondisinya memang tidak bersahabat bersama anak-
anak.
Lebih menyenangkan lagi melihat binar mata
murid-murid SD Onatali yang terkagum-kagum setiap
kali menikmati gagahnya tubuh truk-truk yang lewat.
Meskipun, kadangkadang aku juga harus kesulitan
menemukan jawaban atas pertanyaan murid-murid
tentang arti tulisan-tulisan yang tertulis di badan
truk. Truk-truk ini semacam truk yang se-ring kita
lihat parkir di rest area sepanjang Pantura, ditinggal
sopirnya menikmati dangdut koplo dan meneriakkan
yel, “Woyo woyo joss!”
Truk di Rote sebagian besar didatangkan dari
wilayah Pantura Jawa. Banyak di antaranya masih
memiliki nomor polisi dengan kode wilayah Surabaya
dan sekitarnya. Ini merupakan trik pengusaha
setempat untuk menghindari pajak kendaraan di
Kabupaten Rote Ndao yang relatif lebih tinggi
dibandingkan dengan daerah lain. Trik yang cerdas,
tetapi tidak bijak. Truk mereka nyaris setiap hari
menggerus jalanan Rote Ndao yang dibangun dengan
dana APBD, tetapi menghindar membayar pajak yang
masuk kas daerah. John Elim, teman akrabku di Rote

~343~
yang juga juragan material bangunan, hanya nyengir
lebar ketika kusentil tentang masalah ini. Ia
menjawab dengan enteng, “Siapa suruh pasang pajak
tinggitinggi dan belum tentu juga kalau aku bayar
pajaknya benarbenar masuk kas daerah.” Akhirnya,
aku memilih ikut nyengir gaya kuda dan ikut tertawa.
Bingung mau jawab apa lagi.
Rendahnya kepercayaan pengusaha terhadap
pemerintah memang menjadi salah satu penyebab
rendahnya investasi di Kabupaten Rote. Ini masih
bisa kita bahas lebih panjang dan serius lain waktu.
Sekarang kembali ke truk sumber penghiburan. Truk-
truk barang tersebut masih dilukis dan diberi tulisan
dengan gaya Pantura. Kalimat yang sering kali
membuat kita terbahak jika membacanya. Namun,
tentu saja tidak layak untuk diketahui artinya oleh
anak-anak usia sekolah dasar. Jadi, lebih tepatnya,
setiap kali menonton pawai truk-truk barang, murid-
murid terhibur karena kegagahan truk dan gurunya
terhibur dengan tulisan-tulisan dan gambar norak
yang ada di bak truk! Hahaha, mudah, ya, membuat
kami bahagia?
Kedua, pada papan kayu, bulu ayam, dan bonggol
jagung. Mereka menggunakan benda-benda itu untuk
bermain bulutangkis. Bonggol jagung ditancapi bulu
ayam sebagai shuttle cock dan papan kayu sebagai raket.
Susah membayangkan? Carilah di perpustakaan buku
cerita anak-anak yang ditulis pada ‘90-an dan berlatar
‘70-an. Metode bermain bulutangkis semacam ini
pasti diceritakan dan hebatnya sampai saat ini

~344~
permainan itu masih langgeng. Ketika musim panas,
permainan bulutangkis jadi permainan favorit.
Selama jam istirahat, murid-murid tertawa,
berteriak girang, tergelak jika sudah bermain
bulutangkis bonggol jagung ini. Mereka adalah anak-
anak dengan orangtua berpendapatan tak lebih dari
sepuluh ribu sehari. Namun, lihatlah, Andrew,
mereka sepertinya tidak peduli orangtua mereka tidak
bisa membelikan raket bulutangkis. Bukan karena
mereka tidak tahu bentuk raket dan shuttle cock yang
sebenarnya. Mereka tahu dengan pasti. Pada musim
Sea Games mereka menonton televisi—di rumah
yang sedikit beruntung memiliki televisi—atlet-atlet
bulutangkis kita bertanding dengan mulut ternganga.
Paginya ketika mereka memegang raket papan,
mereka sudah membayangkan diri bahwa mereka
Taufik Hidayat. Dan, mereka gembira sekali.
Setelah bak truk dan bonggol jagung, laut surut
juga jadi sumber kegembiraan tersendiri. Laut surut
atau dalam bahasa setempat disebut meting biasa
terjadi pada sore hari menjelang malam pada bulan-
bulan kemarau. Keceriaan seketika terasa ada di
mana-mana. Orang-orang berbondongbondong ke
laut menenteng keranjang daun lontar dengan
senyum lebar, sapaan selamat sore yang lebih keras,
dan kunyahan daun sirih yang lebih cepat dari
biasanya. Aku tentu saja juga ambil bagian. Selesai
memberi les, aku segera menyambar keranjang dan
bergabung dengan rombongan. Mata memang belum
terlatih untuk menandai teripang yang bersembunyi

~345~
di balik batu karang. Satu jam mencari teripang
biasanya keranjang masih kosong melompong,
sedangkan rombongan yang lain bahkan sudah tidak
tahu lagi harus menampung teripang di mana lagi.
Namun, tenang, aku tidak mungkin pulang dengan
keranjang kosong. Murid-murid atau orangtua murid
yang aku temui dan melihat kemajuan berburu
teripangku yang memprihatinkan pasti akan
mengulurkan satu-dua hasil buruan mereka ke
keranjangku.
Ketika matahari terbenam sempurna, barulah
orang-orang bubar jalan menenteng keranjang
teripang sambil bersiulsiul gembira. Mengapa mereka
begitu gembira, toh, itu hanya teripang? Jangan
mengernyit dulu. Ketika laut surut, bisa dipastikan
malam itu tidak ada rumah tangga yang makan nasi
kosong (nasi tanpa lauk apa pun) seperti biasanya.
Akan ada teripang dan kerang yang terhidang di meja.
Kerang dan teripang adalah dua jenis makanan laut
enak yang tersedia melimpah di Pantai Termanu
ketika laut surut. Pantai Termanu itu pantai dengan
sunset terbaik dan yang paling penting terletak di
belakang rumahku. Willingness to pay (WTP) masyarakat
untuk makanan bergizi sangat rendah.
Catat, ini WTP, bukan daya beli. Harga bahan
mentah seperti sayuran dan ikan sama dengan harga
di Jawa, dengan penghasilan 10 ribu per hari saja,
orangtua seharusnya bisa membeli satu ikat sayur
seharga seribu untuk anakanaknya setiap hari.
Namun, makan nasi kosong menjadi kebiasaan.

~346~
Sebiasa memakai celana pendek ketika tidur.
Menyuruh orangtua menyediakan makanan bergizi
untuk anak-anak sama saja dengan menyuruh
memakai celana jin untuk tidur. Terasa ganjil. Anak-
anak biasa makan nasi tanpa lauk sepanjang hari.
Daging hanya bisa dimakan ketika ada pesta.
Makanya, kami orang Rote menyebut pergi ke pesta
pernikahan atau pesta syukuran lainnya dengan
istilah “pi makan daging” [pergi makan daging]. Seolah-
olah haram kalau daging dan sayuran menjadi
makanan sehari-hari, makanan itu hanya untuk
pesta. Bahkan, oleh keluarga yang punya sapi dan
kambing ratusan ekor, anaknya sehari-hari hanya
makan nasi kosong. Kalau sedang beruntung, mereka
makan dengan nasi ditaburi Masako rasa ayam (kalau
ingin tahu rasanya, coba saja di rumah).
Nah, jika anak-anak identik dengan pilih-pilih
makanan, tidak mau makan ini-itu sampai
orangtuanya harus berkonsultasi dengan ahli gizi,
anak Rote mungkin perkecualian. Mereka tidak
memilih makanan karena memang tidak ada pilihan.
Namun, mereka bahagia-bahagia saja dengan nasi
kosong. Mereka tetap makan banyak. Setiap pulang
sekolah mereka pasti memburu meja makan dan
menyendok sepiring nasi kosong mereka dengan
bersemangat. Dan, ketika ada teripang dan kerang?
Kecepatan menyendok mereka bisa naik dua kali lipat.
Andrew, laut surut benar-benar membahagiakan.
Kegembiraan yang meluap-luap lainnya juga ada
pada bebak, batang daun lontar tua yang biasa

~347~
dijadikan alat seluncur di jalan yang berkontur
menurun. Ada juga pada ban bekas yang didorong
dengan tongkat kayu. Anak-anak biasa berlomba-
lomba mendorong ban bekas itu sepanjang jalan dan
melihat ban siapa yang lebih lama tegak. Jangan
remehkan permainan ini. Enam bulan berlatih keras,
ban yang kudorong tak pernah bisa tegak lebih dari
30 detik.

Setahun yang lalu kita berdua duduk menghitung-


hitung untung rugi dengan costbenefit analysis yang
rumit, tetapi tidak bisa dipertanggungjawabkan secara
ilmiah ketika aku kesulitan memutuskan apakah akan
bergabung dengan gerakan ini, tetap menggeluti
karier profesional yang baru saja aku mulai, atau
bergabung ke persatuan pemburu beasiswa master
yang kamu dirikan. Kalau coretan hitungan itu masih
ada, tolong dirobek, lalu dibuang. Setelah enam bulan
tinggal di sini, hitungan itu rasanya tidak perlu.

~348~
Andrew, nyatanya aku tidak berkorban apa-apa untuk
bisa tinggal di sini. Justru aku mendapat tabungan
kegembiraan yang tidak akan pernah habis. Sekali-kali
datanglah ke Rote dan bergabung bersama kami,
merasakan kegembiraan yang mudah didapat, di
mana-mana.
*Andrew adalah tokoh nyata. Posisinya bagi saya tidak
pernah pasti, kawan atau lawan, mendadak juga bisa menjadi
pembimbing rohani. Pilihan pekerjaannya juga belum pasti,
diplomat atau akademisi. Yang pasti umurnya nyaris seperempat
abad dan lajang. •

~349~
BUAH MANIS DARI USAHA

BUKU K EJUJURAN

Oleh: Milastri Muzakkar*


* Pengajar Muda Kabupaten Aceh Utara, Nangroe Aceh
Darussalam.

Sebulan yang lalu, saya membagi notebook kecil ke


setiap siswa di kelas. Di desa ini, buku seperti itu biasa
digunakan untuk mencatat jual-beli buah pinang.
Sampai suatu hari, seorang siswa menjaili temannya
yang kebetulan tidak hadir saat buku itu dibagi.
“Bu, apa ini? Ini untuk menulis jualan pinang, ya?
Saya enggak ada pinang sekarang, Bu, udah dipetik

~350~
kemarin,” teriak Hanafiah.
Dengan wajah sedikit heran, saya menjawab,
“Pinang?” “Iya, kata Nasaruddin buku ini untuk
menulis jual pinang,” jelas Hanafiah.
“Oh, bukan, ini adalah Buku Kejujuran. Setiap
hari, sebelum pulang sekolah, setiap siswa harus
mengisi buku ini dengan menceritakan semua yang
dirasakan hari ini. Misalnya, kecewa, senang, sedih,
marah, dan semuanya. Selain itu, di buku ini juga bisa
ditulis kritik, masukan, dan saran untuk teman-
teman dan Ibu. Teman-teman kalian tidak akan
membacanya karena buku ini kalian pegang sendiri.
Hanya Ibu yang boleh membacanya. Nah, setiap hari
harus dibawa ke sekolah, ya,” jelasku.

“Oh, saya dibohongi, Bu, sama Nasaruddin. Dia


bilang untuk tulis pinang,” tambah Hanafiah sambil
tersipu malu. “Hehehe ... saya cuma bercanda, Bu.
Siapa suruh dia tidak datang waktu dibagi buku ini,”
celetuk Nasaruddin seraya membela dirinya.
“Tahu enggak kenapa kita namakan Buku
Kejujuran? Karena, di buku ini kalian bebas
menuliskan apa saja yang kalian mau, yang mungkin
tidak berani atau malu kalian ucapkan di depan
umum,” tambahku lagi. “Oh, berarti tidak boleh
bohong di sini, ya, Bu?” tanya Maulidin. “Iya, dong,
harus jujur. Kalian enggak perlu takut karena ini buku
rahasia, hanya Ibu yang baca,” tambahku lagi.
Ide awal mengadakan buku ini sebenarnya
berangkat dari hal sederhana. Saya mengidentifikasi

~351~
karakter anak-anak di sini sangat pemalu, tidak
berani, dan cukup tertutup dalam banyak hal.
Pada hari-hari pertama saya masuk ke kelas ini,
hampir tidak ada siswa yang mau berbicara jika
ditanya. Mereka pun kurang merespons hal-hal yang
saya sampaikan. Namun, saya melihat di wajah
mereka ada rasa ingin tahu. Senyuman mereka
memperkuat itu.
Awalnya, saya berasumsi mungkin mereka masih
malu atau tidak mengerti bahasa Indonesia, atau
bahkan tidak mengerti dengan materi yang saya
sampaikan. Setiap hari saya selalu mendorong mereka
untuk berani bicara, tanpa peduli salah atau benar.
Sebelum berbicara, saya mendorong mereka untuk
berani dulu mengangkat tangan, tanpa peduli apakah
akhirnya ia akan bicara atau tidak.
Selang beberapa hari, berganti minggu,
kemampuan mereka mulai terungkap. “Siapa yang
mau menolong saya menjawab pertanyaan ini ...,”
tanyaku. “Saya, Bu, saya, Bu, saya, Bu ...,” jawab
beberapa anak secara bergantian. Mereka pun mulai
menjawab meskipun dengan kalimat yang tak selesai
atau dengan kata yang sebagian menggunakan bahasa
Aceh, sebagian bahasa Indonesia.
Pernah juga keberanian itu menjadi candaan.
“Siapa yang berani ke depan membacakan puisi ini?”
tanyaku. “Saya, Bu!” teriak seorang siswa. Dengan
senang hati, saya mempersilakan ia ke depan. Dengan
wajah tanpa bersalah siswa terse-but malah berkata,
“Hehehe ... enggak, Bu. Saya cuma angkat tangan,

~352~
enggak bisa jawab. Cuma bercanda aja.”
Hmmm ... baiklah, jawabku dalam hati. Bukan
masalah. Anggap saja ini proses awal bagi siswa untuk
mulai berani.
Setiap Sabtu, buku kejujuran dikumpul untuk saya
periksa di rumah. Dan, seperti asumsi saya pada awal,
banyak hal yang tak terungkap di kelas, tetapi
terungkap di cerita-cerita mereka di buku ini. Mulai
dari rasa senangnya karena dapat belajar bahasa
Inggris—yang sebelumnya hampir tak ada, bakat
menulis puisi, sedih karena ada temannya yang
berantem, benci kepada teman yang memukulnya tadi
di kelas, kasihan kepada temannya yang hari ini
dihukum membersihkan WC, sedih karena hari ini ibu
guru datang terlambat, dan masih banyak lagi.
Berikut beberapa tulisan yang saya kutip dari Buku
Kejujuran siswa.
“Saya senang hari ini karena akhirnya saya sudah bisa
bikin puisi. Terima kasih, ya, Bu Mila karena tadi sudah
mengajarkan saya.”
“Saya senang hari ini karena Ibu Guru membagi kami
menjadi kelompokkelompok. Saya senang bisa belajar kelompok,
kami bisa bekerja sama, bisa kompak. Saya senang kerja
kelompok itu meriah karena saling memakai pendapat orang
lain. Kata Bu Mila, kita bisa menyatukan banyak pikiran dan
menghargai sesama teman juga.”
“Hari ini saya tidak senang karena saya mendengar teman
saya mengucapkan katakata kotor. Saya mau bilang sama Ibu, tapi
takut dipukul sama teman itu.”
“Saya sedih hari ini karena Ibu Mila datang terlambat.

~353~
Karena terlambat, jadinya kelas ribut, semua larilari. Enggak
suka!”
“Aku selalu senang, tapi enggak senang juga. Maksudnya, di
kelas ini, tuh, lakilaki selalu berantem. Bagaimana, ya, caranya
mengubah akal mereka? Saya merasa tidak aman. Apakah mereka
tidak suka kalau tertib? Memangnya mereka merasa enak, ya?
Saya tidak senang kalau begini. Ibu jangan lupa bilang sama
mereka, ya!”
“Saya sedih hari ini karena dua teman saya mengejek
pekerjaan bapak saya.”
“Saya senang banget karena hari ini Ardiansyah dihukum.
Dia emang bandel kali. Dia sering memukul saya. Dia juga sering
berantem dengan teman yang lain. Tetapi, setelah saya melihat
dia di WC, saya jadi kasihan juga. Jadi, saya sedih lagi, deh. Lebih
baik dia tidak usah dihukum.”

Dari cerita-cerita mereka itulah saya belajar


tentang siswa saya. Melalui buku ini, saya dapat
melihat perkembangan mereka setiap hari. Fungsi
lain dari buku ini adalah untuk melatih siswa menulis
dengan baik. Salah satu kekurangan siswa di sini
adalah kekacauan dalam penggunaan kata, tanda baca,
dan kalimat dalam menulis. Meskipun mereka kelas 5,
dalam hal menulis tak jauh beda dengan siswa kelas 2.
Nah, dengan setiap hari mengisi Buku Kejujuran,
paling tidak mereka terus berlatih menulis dan
memilih kata, serta tanda baca yang baik digunakan
karena setiap minggu saya mengevaluasi tulisan
mereka. Cara ini juga membantu saya khususnya,
dalam pelajaran Bahasa Indonesia.

~354~
Dari cerita-cerita itu juga, saya mulai
mengidentifikasi beberapa siswa yang terlihat punya
bakat dalam menulis. Ini juga membantu saya untuk
kepentingan pelatihan menulis—yang juga menjadi
salah satu rencana program selama di sini—nanti.
Mereka semakin termotivasi ketika saya
menempel salah satu tulisan saya, yang dimuat di
koran, di Mading kelas. “Ini tulisan Ibu dari koran?
Wah, saya ingin seperti Bu Mila. Nanti tulisanku juga
harus masuk koran atau majalah Bobo,” kata salah
seorang siswa.
Karena saya tahu mereka punya motivasi belajar
yang tinggi, saya pun punya harapan besar untuk
selalu mendorong dan memfasilitasi mereka menjadi
anak yang lebih be-rani, apalagi dalam hal prestasi. •
A SALKAN M AU, PASTI BISA

Oleh: Shinta Ulan Sari*


* Pengajar Muda Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan
Barat.

Satu kalimat dari Andi F. Noya, “ Kalau mau, pasti


bisa!” adalah satu kalimat yang selalu saya berikan
untuk memotivasi anak murid saya di desa di Kapuas
Hulu, Kalimantan Barat. Saya selalu menekankan
bahwa semua kesulitan akses, baik informasi maupun
transportasi, bukanlah kendala untuk meraih semua
mimpi besar mereka. Banyak hal kecil yang saya alami

~355~
bersama anak-anak saya di desa ini telah
membuktikan kalimat ampuh itu.
Cerita 1
Satu dari beberapa muridku di kelas 6 yang sangat
lemah dalam mata pelajaran Matematika adalah
Rovina, yang biasa dipanggil Pina. Bahkan, konsep
paling mendasar dari Matematika saja ia belum bisa.
Penjumlahan dan pengurangan saja susah baginya,
apalagi perkalian dan pembagian. Kerap kali ia minder
dengan teman-temannya ketika mengerjakan soal
Matematika. Sebelum diperiksa benar dan salahnya,
ia pun sudah berkata, “Pasti salah.” Sekarang sedikit
demi sedikit ia sudah menjadi anak yang optimis
bahwa dirinya pun mampu mengerjakan semua soal
penjumlahan, pengu

rangan, perkalian, maupun pembagian. Semuanya


tidak terlepas dari kemauan kuat Pina untuk bisa
memahami.
Setiap hari ia selalu meminta soal Matematika
kepada saya. Jika masih salah menjawab, ia tidak
akan berhenti sampai apa yang dikerjakan betul.
Tidak peduli jam pelajaran sekolah sudah habis, ia
tetap akan mengerjakannya. Pun ketika lima soal
yang saya suah berikan benar, dengan tersenyum kecil
ia akan berkata, “Bu, saya mau soal lagi.” Itulah Pina,
kalau mau, pasti bisa.
Cerita 2
Sabtu itu, tidak seperti Sabtu-Sabtu yang lalu.
Sabtu itu aku tidak mengajar SMA di kecamatan.

~356~
Sabtu itu aku memutuskan untuk berkunjung ke
rumah salah satu murid yang berada di kaki bukit
Kedang. Seperti biasa setiap Sabtu, selepas sekolah,
semua anak bukit akan berbondong-bondong pulang
ke bukit dengan berjalan kaki. Sabtu itu, aku pun
turut serta dalam rombongan anak-anak bukit.
Hampir setengah dari seluruh anak-anak murid
sekolahku merupakan anak-anak bukit. Secara
geografis, dusunku dikelilingi oleh perkebunan sawit
dengan beberapa bukit. Bukit yang paling dekat
dengan dusunku dikenal dengan nama Bukit Kedang.
Karena tempat tinggal mereka kebanyakan di kaki
bukit, mereka sering disebut oleh warga yang lain
dengan sebutan anak bukit.
Dua tahun terakhir ini mereka tinggal di pusat
dusun kami yang merupakan tempat berdirinya
sekolah. Mereka tinggal di rumah-rumah lama yang
sudah ditinggal penghuninya. Satu rumah biasanya
ditinggali 4–5 anak. Ada sekitar tujuh anak juga yang
tinggal di asrama sekolah. Asrama ini adalah salah
satu rumah dinas guru yang kosong. Setiap Minggu
pagi mereka turun dari bukit untuk sembahyang di
gereja dusun dan sekaligus untuk bersekolah keesokan
paginya. Mereka akan pulang ke bukit lagi setiap
Sabtu sepulang sekolah. Pergi-pulang mereka ke Bukit
Kedang mereka tempuh dengan jalan kaki dan
terkadang ada yang diantar dengan menggunakan
motor.
Sabtu itu, ketika kukatakan akan turut serta
dalam rombongan mereka, serentak mereka berkata,

~357~
“Mana Ibu mampu berjalan kaki bersama kami?
Rumah kami jauh, Bu. Panas pula. Udah enggak usah
aja.” Aku pun meyakinkan mereka, “Ibu mampu, kok,
nuan [baca: kamu] tenang ^^.” Memang benar rumah
mereka terbilang tidak dekat ketika ditempuh dengan
jalan kaki. Waktu tempuh dengan menggunakan
kendaraan roda dua sekitar 30–45 menit. Sepulang
sekolah aku dan sekitar 10 orang lebih memulai
perjalanan kami. Jam tepat menunjukkan pukul
11.00.
Di bawah terik matahari, kami lalui setapak demi
setapak jalan yang berbukit-bukit itu. Bukan hanya
badan ini yang harus kami bawa berjalan, sebuah tas
punggung yang berisi beberapa bekal juga turut
menemani perjalananku. Begitu pula dengan anak-
anak, ada yang membawa tas berisi baju, makanan,
dan lain-lain. Setengah jam pertama belum terasa
melelahkan bagiku. Satu jam berikutnya, rasa ingin
berhenti di tengah jalan itu muncul. Kaki susah tak
mampu berjalan. Matahari benar-benar tepat di atas
kepala. Bibirku sudah mau berucap, “Berhenti dulu,
yuk, Ibu capek.” Namun, melihat mereka masih
bersemangat berjalan, kuurungkan niatku. Aku
meyakinkan diriku, pasti bisa. Anak-anak saja bisa,
aku pun juga harus bisa.
Kembali aku bulatkan tekad untuk berjalan
menaiki bukit dan menuruni lembah di sekeliling
perkebunan sawit. Untuk melawan semua rasa
lelahku, aku mulai ajak anak-anak bernyanyi. Berbagai
lagu kami nyanyikan dengan riang, “Dari Sabang

~358~
Sampai Merauke”, “Indonesia Raya”, “Indonesia
Merdeka”, dan “Bangun Pemudi Pemuda”. Sudah
hampir 1,5 jam kami berjalan di bawah terik
matahari, rumah mereka belum juga terlihat. Setelah
bernyanyi, akhirnya kami pun mulai menghafal
beberapa vocab bahasa Inggris. Melihat tawa dan
keriangan anak-anak, sedikit demi sedikit rasa lelah
yang semakin tak tertahankan mulai pudar.
Dua setengah jam kemudian mulai tampak satu
per satu rumah di kaki bukit itu. Teriak kegirangan
sontak keluar dari bibirku. Segera aku percepat
langkahku dan anak-anak karena sudah tidak sabar
meletakkan badan di salah satu rumah anak murid
yang akan menjadi tempat bermalamku. Sesampai di
rumah singgahku aku langsung ber-galai
[tidurtiduran] ria bersama salah satu muridku.
Itulah murid-muridku yang hebat, mereka semua
sudah terlatih oleh alam. Meskipun kondisi
mengharuskan mereka berjalan kaki berjam-berjam
untuk pergi menuntut ilmu, tekad mereka tak pernah
luntur. Tekad untuk bersekolah. Kalau mereka mau,
pasti bisa. Begitu pula denganku. Meskipun tak
pernah terbayangkan oleh diriku untuk berjalan kaki
berjam-jam, ternyata aku pun bisa melewati itu
semua. Asalkan ada keiginan, ASALKAN MAU, PASTI
BISA.
“IBU BANGGA DENGANMU, N AK”

Oleh: Astuti Kusumaningrum*


* Pengajar Muda Kabupaten Lebak, Banten.

~359~
“Ketika kamu mencintai anakanak dengan sepenuh hati,
mereka akan membalas cintamu berkali lipat dalam porsi
yang besar dan tak berbatas ....”
—Astuti, 30
Oktober 2011
Siang itu, di bawah terik matahari dalam upacara
penutupan kegiatan Latihan Tingkat II di lapangan
Pasir Kupu-kupu, Cokel, jantungku berdetak keras.
Aku tidak tega melihat kekecewaan dan kesedihan di
mata mereka lagi ketika mengetahui bahwa mereka
tidak menang.
Saat itu, detik-detik pengumuman juara dari
lomba-lomba yang diadakan selama PERJUSAMI
(Perkemahan Jumat Sabtu Minggu) tingkat
Kecamatan Curugbitung mulai 28–30 Oktober 2011.
Satu per satu kegiatan lomba yang telah dilakukan
disebutkan. Begitu pula dengan regu-regu yang
menjadi pemenang. Ternyata, kekhawatiranku tidak
terbukti, bahkan sebaliknya! Nama sekolah kami pun
disebutkan. Tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali ….
Juara III Lomba Baris-berbaris Regu Putra, Juara I
Lomba Pildacil Putra, Juara I Lomba Masak Rimba
Putri, Juara II MTQ Putra, Karnaval Terbaik per-
Pangkalan. Dan yang terbaik, mereka meraih predikat
Regu Putra Terbaik II dan Regu Putri Terbaik III!!!
Sorak-sorai mewarnai pengumuman terse-but …. Yel
“good … we are ... we are good! 2 Mayak is good!” terus
diteriakkan oleh anak-anak itu. Yang paling
membahagiakanku adalah binar-binar yang terlihat di
mata mereka. Binar-binar yang menunjukkan bahwa
“AKU BISA!”

~360~
10 Hari Sebelumnya
Hari itu, datang surat pengumuman untuk
mengirimkan regu Pramuka untuk Latihan Tingkat
(LT) II dalam PERJUSAMI, tingkat Kecamatan
Curugbitung, sebagai persiapan LT III menuju
Jambore Nasional. Sebuah kabar baik, mengetahui
bahwa perkemahan akan dilakukan di kampungku,
Kampung Gobang, Desa Mayak. Lokasi kampungku
yang terpencil dan jauh dari kecamatan sempat
membuat dewan guru berpikir beberapa kali untuk
mengajukan murid-murid apabila perkemahan
dilakukan di kecamatan. Dengan adanya kabar ini,
kami bisa memaksimalkan jumlah murid yang akan
dikirimkan. Maklum, ini adalah perhelatan Pramuka
pertama setelah dua tahun tanpa kegiatan di
kecamatan kami. Dengan mengajukan lebih banyak
anak, murid-muridku akan mendapatkan lebih
banyak kesempatan dan pengalaman berkumpul dan
berkompetisi dengan orang yang banyak dan berbeda.
Persiapan pun diserahkan kepadaku. Diputuskan
bahwa SD kami, SDN 02 Mayak akan mengirimkan 3
regu, 2 regu putra, dan 1 regu putri dengan jumlah
masing-masing anggota regu 15 orang. Dengan
ditemani olehku dan Pak Ndeng (salah seorang guru
di SD kami), anak-anak berlatih mempersiapkan diri.
Karena sudah dekat, kami pun memutuskan untuk
meningkatkan porsi latihan. Latihan yang
sebelumnya hanya seminggu 1 kali diperbanyak
menjadi 5 kali dalam seminggu. Ada banyak yang
harus dikejar dan dipelajari karena sudah dua tahun

~361~
kegiatan Pramuka di sekolah kami tidak berjalan.
Awalnya, aku sempat khawatir bahwa anak-anak
akan merasa itu terlalu berat dan melelahkan.
Ternyata, dugaan kami salah! Anak-anak malah
sangat semangat untuk terus berlatih. Bahkan, tanpa
sepengetahuanku, Mita dan temanteman yang
tergabung dalam regu putri berlatih setiap sore di
sawah untuk mengompakkan barisan. Semangat
mereka sungguh tidak terkalahkan!
7 Hari Sebelumnya
Hari ini, kami akan berlatih seperti biasanya.
Latihan akan mulai pukul 14.00, tetapi anak-anak
laki-laki sudah menghampiriku pada pukul 13.00
untuk berangkat bersama. Sepanjang perjalanan,
mereka dengan semangat mempraktikkan apa yang
sudah dipelajari. Bendera semafor berkibar dan
bergerak seiring gerakan tangan Diki, P ... R ... A ... M
... U ..., “PRAMUKA!” teriak Dede dan Oib serempak.
Mereka bertiga adalah perwakilan Regu Ayam Jago
untuk lomba semafor.
Sementara itu, dari belakang terdengar siulan
peluit. Rupanya, Cecep dan Alipsyah dari Regu
Scorpion sedang berlatih sandi morse. Sesampainya di
sekolah, Regu Kamboja (putri) sudah berkumpul,
bahkan sedang berlatih baris tongkat di bawah
pimpinan Mita. Mereka tidak membuang-buang
waktu. Begitupun denganku. Sudah dua hari
belakangan ini, aku terpaksa melatih mereka
sendirian karena Pak Ndeng sedang mengurusi
administrasi sekolah. Anak-anak SMP kelas 3 yang

~362~
biasanya selalu menemaniku latihan juga harus
latihan sendiri karena mereka mempersiapkan diri
untuk lomba yang sama. Namun, tak mengapa.
Semangat anak-anak itu menular dan membuatku
menjadi bersemangat juga.
Hari ini kami hendak latihan pioneering (tali
temali) dan memantapkan baris tongkat. Awan
mendung menggantung di udara. Baru 30 menit
latihan baris, hujan deras mengguyur. Sontak anak-
anak berlari dan berlindung di teras depan kelas.
Lantai putih kelas yang awalnya bersih terkotori oleh
lumpur tanah merah dari sepatu mereka. Sembari
menunggu hujan reda, kubuka kelas 3 untuk
melanjutkan latihan di dalam kelas. Prok ... prok ...
suara tongkat mereka serempak dan lantang.
Setelah berlatih, melihat kelas dan teras depan
kelas yang kotor, kami memutuskan untuk
mengepelnya sebelum pulang. Menggunakan air dari
tetes-tetes hujan, kami pun mulai membersihkan
kelas.
Berawal dari keisengan, kegiatan membersihkan
kelas kemudian menjadi arena permainan. Air dan
kain pel beterbangan. Beberapa anak laki-laki bahkan
meluncur di atas lantai menggunakan badan mereka.
“PERANG AIR!” sontak semua berteriak. Tidak
terkecuali juga diriku. Satu aturan yang pasti, lantai
yang sudah bersih tidak boleh terkotori. Yang
mengotori harus membersihkan. Bersama 45
muridku, siang-sore itu dihabiskan dalam guyuran air
dan lumpur.

~363~
Pukul 16.30 hujan mulai reda, lantai sudah bersih,
tetapi kami belum. Dengan baju masih melekat di
badan, anakanak mengambil air dari sumur dan
mengguyurkannya ke badan. Basah memang, tetapi
lumpur dan kotoran menjadi bersih.
Langit mulai menggelap. Pukul 17.00 akhirnya
hujan reda dan kami pun berjalan pulang. Latihan
hari ini, diakhiri dengan bermain hujan. Walaupun
lelah dan kotor, senyum tampak tersungging di wajah
murid-muridku. Dan, itu adalah harta yang tak
ternilai.
5 Hari Sebelumnya
Biasanya, Minggu adalah saat-saat untuk bersantai
di rumah. Tidur larut, bangun siang, dan bermalas-
malasan adalah agenda pada hari sakral itu. Namun,
tidak untuk hari ini. Pagi ini, pukul 18.00, terdengar
ketukan di pintu. Dengan mata masih mengantuk,
kubuka pintu. Kudapati sekelompok muridku
berkumpul di depan pintu. Mereka sudah berbaju rapi
dan bertanya, “Ibu Engkéna jadi gitu? Latihan Pramuka
pukul delapan?” “Jadi, atuh! Ayeuna baru pukul enam,
kok, udah rapi?” balasku. “Badé latihan heula,” jawab
mereka sembari berpamitan.
Sesampaiku di sekolah, mereka sudah berkumpul
bahkan sedang istirahat menikmati es yang dibeli
bersama. Tampak semburat merah kepanasan dan
peluh di muka mereka. Ternyata sejak pukul 07.00
sampai pukul 08.00 mereka sudah berlatih baris
sendiri. Hari ini, kami akan belajar mendirikan tenda,
simulasi baris, dan pioneering. Khusus hari ini, aku

~364~
dibantu oleh Maulana dan Puji (siswa SMP Satu Atap
Curugbitung), dan Pengajar Muda Lebak, Ida dan
Main.
Pagi hari, kami mengadakan simulasi lomba baris.
Walaupun cuma di hadapan teman-teman sendiri,
ternyata perasaan nervous dan grogi tetap menghantui.
Beberapa kesalahan kecil terjadi. Bagiku tak mengapa!
Mengingat baru seminggu yang lalu mereka mulai
berlatih baris dalam kelompok, kemajuan mereka
sudah luar biasa! Setelah itu, dalam terik matahari
pukul 10.00 kami berlatih mendirikan tenda. Berbeda
dengan hari-hari biasanya, terik matahari kali ini
sangat menyengat. Dalam waktu satu jam, tenda
regu-regu putra sudah berdiri tegak. Dengan segera,
mereka merayakannya dengan berebutan memasuki
tenda dan tidur di dalamnya. Aku menghadiahkan
waktu bagi mereka untuk beristirahat. Mereka pantas
mendapatkannya bahkan ketika mereka minta izin
untuk mandi di sumur dekat sekolah. Aku mengecek
yang putri, bersama Maulana dan Puji mereka masih
berusaha mendirikan tenda mereka.
Tanggal 28 Oktober akan segera datang, berulang-
ulang aku mengecek kesiapan mereka baik dalam
materi maupun alat-alat. Semua peralatan tenda
sudah disiapkan. Mulai Jumat, guru-guru bergotong
royong membuat pagar. Secara bergantian setiap ada
waktu luang, Bu Nanah, Pak Darsa, Pak Haji, Bu Mae,
Bu Yayah, Pak Yadi, dan Pak Ndeng mengecat tongkat
dan gapura. Dalam hati, aku sangat senang dengan
kebersamaan ini. Aku juga bangga kepada murid-

~365~
muridku. Walaupun aku meminta mereka untuk terus
berlatih, mereka tidak menyerah. Mengeluh iya,
tetapi mereka tetap datang keesokan harinya dan
terus berlatih.
Setelah istirahat untuk kali kedua, mereka
berlatih bersama Ida dan Main, Pengajar Muda II
yang mengajar di Sajira dan Muncang. Mereka
membutuhkan waktu satu jam naik motor untuk bisa
mencapai tempatku. Secara khusus, mereka kuminta
tolong datang untuk mengecek latihan pioneering dan
baris tongkat. Kedatangan Ida dan Main langsung
disambut dengan cium tangan. Di dalam kelas, murid-
muridku menunjukkan kemampuan mereka baris dan
yel-yel. Walaupun sudah tengah hari, semangat
mereka tetap tinggi.
Pukul 13.00, latihan pun selesai. Seperti kata-kata
muridku, “Sudah tidak sabar untuk segera kemah!”
2 Hari Sebelumnya
Selama seminggu terakhir, hujan terus melanda
Kampung Gobang. Lapangan kampung yang akan
menjadi tempat kemah terletak di sebelah sungai.
Sampai Rabu, air sungai tinggi hampir mencapai tepi
lapangan. Oleh karena itu, diputuskan untuk
memindahkan lokasi perkemahan ke Lapangan Pasir
Kupu-Kupu di Cokel yang berjarak 1,5 jam perjalanan
dari kampungku.
Perpindahan ini membuat kepala sekolah hendak
mengurangi jumlah regu yang berangkat karena tidak
memungkinkan untuk membawa 45 anak dalam
mobil losbak. Selain itu, sekolah hanya memiliki tiga

~366~
tenda, tidak ada tenda dan tidak cukup waktu untuk
mencari satu tenda untuk guru. Karena
memperkirakan akan kemah di kampung, para guru
awalnya diminta untuk menginap di rumah masing-
masing.
Di satu sisi, aku memahami alasan tersebut. Di sisi
lain, aku tidak tega kalau harus menyampaikan berita
ini apalagi sampai harus menyeleksi lagi murid yang
berangkat. Aku melihat bagaimana murid-muridku
berusaha dan berlatih. Bagiku mereka semua sangat
hebat! Bagaimana mungkin aku harus mengecewakan
mereka yang sudah sangat bersemangat dengan
memberi tahu bahwa mereka tidak jadi
diikutsertakan? Apalagi tinggal lusa, perkemahan
akan diadakan!
Untunglah keberatanku dipahami oleh Pak Ndeng
dan guru-guru lainnya. Walaupun sempat
mempertanyakan masalah tenda guru, akhirnya
diputuskan bahwa kami akan berangkat
menggunakan truk agar semua bisa terangkut.

Hari H
Pemberangkatan dijadwalkan pukul 07.30.
Namun, sekali lagi, pintu rumahku sudah diketuk
pukul 06.00. Anak-anak mengecek dan
mengumpulkan perlengkapan mereka di rumahku.
Pagi-pagi secara bergotong royong mereka
membawanya dengan tongkat. Truk sudah menunggu
di persimpangan Jatake. Untuk mencapainya, kami
perlu berjalan 20 menit dan harus melewati jembatan

~367~
gantung yang separuh rusak. Perjalanan pun dimulai
....
Sesampainya di tempat kemah, anak-anak turun
dengan berbagai ekspresi. Ada yang mabuk, ada yang
pusing, ada yang melongo dan terkagum-kagum
karena melihat banyak orang berada di satu tempat
sekaligus, ada juga yang tak henti-hentinya tertawa.
Suatu pemandangan yang unik! Satu per satu mereka
meloncat turun dan menurunkan bawaan mereka.
Kaveling tempat tenda sudah disediakan dan
kebetulan ketiga regu berada di tempat yang terpisah
satu sama lain. Aku bertugas membantu Regu Ayam
Jago. Bersama Abdul, Dede, dan Aditia, kami bertugas
mendirikan tenda, sementara yang lain membongkar
barang-barang dan mulai mendirikan pagar dan
gapura.
“Abdul, kumaha badé ntosan lamun manehna nte bantuan
[gimana akan selesai kalau kamu tidak membantu]?”,
kataku ketika melihat Abdul terdiam dan bengong.
“Ibu, seueur nu urang! Aya beraha jelma sedaya [Ibu, banyak
sekali orangnya! Ada berapa orang semuanya]?” balas
Abdul sambil tak henti-hentinya melihat sekeliling.
Aku tertawa dan menjawab, “Ini satu kecamatan
Abdul, yang ikut ada dari 20-an sekolah lebih. Dari 1
sekolah paling tidak ada 2 regu yang ikut. Rata-rata 1
regu 13 orang, jadinya ada sekitar ... 420 orang. Belum
lagi guru pembimbing, bisa sampai 450 orang.
Itu belum ditambah sama SMP, lho!” “Ibu, banyak
amat!” teriaknya. “Terus esukesuk kami tanding jeung
sedaya, gitu? [besok, kami tanding sama semua,

~368~
gitu?],” tanyanya. “Mereun! [mungkin],” jawabku
sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Ketika mengingatnya lagi, dalam hati aku merasa geli karena
siapa sangka mereka justru akan menjadi juara umum kedua
melawan semua sekolah itu.
Begitulah kami memulai perkemahan itu.
Ternyata, se-lama hari itu, hujan terus mengguyur.
Beberapa anak kedinginan dan kebasahan.
Alhamdulillah, tidak ada yang jatuh sakit.
Tentang lomba, setiap kali selesai mengikuti satu
perlombaan dan ternyata kalah, murid-muridku selalu
mendatangiku dan meminta maaf. Aku
memahaminya. Tentu sulit bersaing dalam morse,
semafor, dan pioneering, ketika mereka baru mulai
belajar, sementara regu-regu yang lain sudah berlatih
lama. Dengan senyuman dan high five, aku membalas
kegusaran mereka. Bagiku, tidak penting kalah atau
menang. Yang aku inginkan hanyalah agar pandangan
mereka terbuka dan pengalaman mereka bertambah.
Setelah selesai lomba baris-berbaris, aku mengajak
satu per satu muridku ber-highfive agar mereka tahu
bahwa aku tahu mereka telah melakukan yang terbaik
dan aku menghargainya.

~369~
Ketika aku mengobrol dengan Sekar beberapa hari setelah
kemah, ia mengungkapkan bahwa yang paling diingat dan
membuat ia senang adalah ketika aku menanti mereka di pintu
keluar area lomba baris dan berhigh five dengannya.
Ternyata, kekhawatiranku tidak beralasan .... Hal
itu terbukti pada hari ketiga! Tidak ada seorang pun
yang menyangka, tidak diriku, murid-muridku,
maupun guru-guru lainnya. Murid-muridku berhasil
meraih Juara Umum II Putra dan Juara Umum III
Putri. Padahal, mereka baru mulai berlatih Pramuka
kurang lebih satu bulan lalu.
Hari itu, kami semua pulang dengan senyum
mengembang. Selama perjalanan, kami bernyanyi dan
tertawa di bak belakang truk yang melaju. Setelah
kelelahan, anak-anak itu pun tertidur .... Sebelumnya,
beberapa dari mereka memandangku dengan penuh
kebanggaan. Kebanggaan yang aku tahu ditujukan
kepada diri mereka sendiri. Kebanggaan karena apa

~370~
yang telah mereka usahakan dan latih dengan keras
berbuah manis …. Nyanyian, suara, dan tawa
perlahanlahan memudar seiring dengan terlelapnya
anak-anak itu dalam kelelahan.
Dalam hati, aku membisikkan dan berdoa, “Ibu
sangat bangga dengan kalian, Nak!”
Dan, mereka membalasku dengan kebanggaan
yang tidak terkira! •
M ISI A NAK W ADANKOU KE SAUMLAKI

Oleh: Dedi Kusuma Wijaya*


* Pengajar Muda Kabupaten Maluku Tenggara Barat,
Maluku.

Sebelum saya ditugaskan ke Maluku Tenggara


Barat ini, saya punya satu cita-cita: naik kapal laut,
minimal dari Surabaya–Makassarlah. Sebagai orang
kota, saya belum pernah melakukan perjalanan jauh
dengan kapal laut. Saya masih ingat waktu kecil, saya
sangat menyukai komik Tintin, yang hampir di setiap
kisahnya pasti ada adegan di atas kapal, lengkap
dengan Kapten Haddock yang pemarah itu. Saya
penasaran bagaimana “sensasi” mabuk laut yang se-
ring digambarkan di kisah Tintin itu juga.
Saat ini, enam bulan setelah mendarat kali
pertama di Saumlaki, saya boleh dibilang sudah
kenyang dengan pengalaman laut. Berbagai macam
kapal sudah saya tumpangi dengan berbagai macam

~371~
sukadukanya. Dan, saat saya menulis tulisan ini, saya
sedang di atas feri, sendirian, dengan perut yang
sudah mual karena ombak yang besar membuat feri
ini terombang-ambing ke kiri dan ke kanan sejak tadi
malam. Ibu penjual makanan sudah berkali-kali
menata kembali botol-botol air mineral, pop mi, dan
termos-termosnya yang jatuh karena goyangan kapal.
Walaupun sudah beberapa kali naik feri, tetap saja
perjalanan Saumlaki–Adodo Molu yang harus
ditempuh dalam waktu 1,5 hari ini begitu
melelahkan. Apalagi ditambah dengan goyangan si
ombak.
Semuanya dimulai dengan rencana kami, Pengajar
Muda Maluku Tenggara Barat, untuk mengadakan
acara Kampanye Berantas Buta Baca Tulis Hitung
(Calistung). Bekerja sama dengan dinas pendidikan
dan pihak sponsor, disepakati untuk diadakan sebuah
acara dengan level kabupaten yang inti acaranya
adalah perlombaan baca, tulis, dan hitung, yang
dilengkapi juga dengan atraksi seni, eksperimen sains,
dan lain-lain. Ujung dari acara ini adalah Deklarasi
Berantas Buta Calistung yang akan dilakukan oleh
perwakilan 10 kecamatan di Kepulauan Tanimbar dan
Pak Bupati sendiri. Dengan level acara yang besar
seperti ini, saya sebenarnya sangat ingin murid-murid
saya bisa berpartisipasi. Terletak jauh di sudut utara
Kepulauan Tanimbar, banyak di antara mereka yang
bahkan belum pernah ke Saumlaki, saking jauhnya
jarak dan beratnya transportasi. Sayang sekali niat
saya ini sempat kandas karena lombanya hanya akan

~372~
diadakan dalam lingkup dua kecamatan yang terletak
dekat dengan Saumlaki.

Seperti sewaktu mengadakan acara Peringatan


Hari Pahlawan di desa, kepala saya terus diganggu
dengan ide gila ini. Saya sungguh ingin anak-anak saya
datang, pasti ini akan meningkatkan kepercayaan diri
mereka. Tiba-tiba, entah dari mana terbang sebuah
potongan puzzle pemikiran yang datang melengkapi
keinginan saya tadi. Kebetulan di acara ini
direncanakan untuk menampilkan tarian daerah. Saya
lalu ingat bahwa Wadankou, desa saya, terkenal
karena budaya tari daerahnya yang masih terpelihara
dengan baik.
Berbeda dengan desa-desa lain yang sudah mulai
tergerus zaman, di desa saya bahasa daerah dan
kesenian tari masih dikuasai oleh anak-anak kecil.
Bahkan, orang dewasanya sempat diundang oleh Pak
Bupati untuk tampil di Saumlaki pada saat perayaan

~373~
17 Agustusan kemarin. Ya, kenapa tidak anak-anak
dipanggil untuk menari saja? Dengan kehadiran
mereka, selain mendatangkan kebanggaan bagi
mereka, ini akan semakin menegaskan posisi desa
saya sebagai tolok ukur kesenian daerah. Mungkin
saja dengan penampilan ini akan terbuka
kesempatan-kesempatan lain!
Walaupun sedikit ragu, saya memutuskan untuk
mengeksekusi ide ini. Ada dua permasalahan besar:
bagaimana mendatangkan anak-anak dari desa yang
sangat jauh seperti ini, pasti akan memakan biaya
besar. Selain itu, kalaupun dananya ada, bagaimana
menyampaikan informasi ini kepada mereka,
berhubung di desa tidak ada sinyal ataupun radio?
Untunglah di Molu Maru saya bekerja sama
dengan Pak Camat yang penuh semangat dan sangat
visioner. Beliau yang kebetulan juga sedang di
Saumlaki sangat mendukung ide saya ini, dan bersedia
menampung anak-anak ini di rumah pribadinya di
Saumlaki. Dengan semangat itu, saya lalu pergi ke
berbagai pihak untuk mencari bantuan pendanaan.
Hasilnya,
pemerintah daerah memberikan sedikit bantuan
untuk konsumsi dan dinas perhubungan
menggratiskan transportasi feri dari Adodo Molu ke
Saumlaki. Walaupun masih ada beberapa keraguan,
seperti apakah dana untuk akomodasinya cukup, dan
karena feri berhenti di Adodo Molu, apakah anak-
anak bisa berjalan kaki dari Wadankou ke Adodo
tepat pada saat feri datang, saya memutuskan tetap

~374~
meneruskan ide ini.
Permasalahan kedua adalah bagaimana
menyampaikan informasi ini? Saya pun memulainya
dengan menulis surat, masing-masing untuk pejabat
kepala desa saya, kepala sekolah, dan satu surat untuk
murid-murid saya. Dalam surat sudah saya tulis
selengkap-lengkapnya tentang acara ini dan mengapa
saya ingin mengajak murid-murid saya turut serta.
Saya menitip surat ini kepada Pak Epi, seorang warga
Adodo Molu yang kebetulan sedang di Saumlaki dan
akan pulang ke Adodo.
Singkat cerita, perjalanan surat ini tidak semulus
adanya. Karena buru-buru, surat ini oleh Pak Epi
ketinggalan di Kota Larat. Untunglah dua hari
sesudahnya ada ibu guru yang sedang ke Kota Larat.
Saya pun meminta tolong ibu guru itu untuk
membawa serta surat saya ke Adodo, dan dari Adodo,
lalu mencari cara lagi untuk meneruskan surat ini ke
Wadankou. Saya sendiri akhirnya memang tidak tahu,
apakah surat itu sudah dikirimkan, ataupun kalau
sudah dikirimkan, apakah anak-anak akan datang
menunggu feri sesuai waktu yang saya tentukan.
Tidak adanya sinyal, memang membuat selama ini
berita hanya bisa datang secara satu arah. Beberapa
kali saya mendapat berita dari teman-teman yang
bentuknya hanya berupa surat yang dititipkan kepada
orang yang kebetulan akan ke Molu Maru. Dalam
surat itu biasanya teman-teman meminta saya datang
ke Saumlaki pada tanggal tertentu. Karena tidak bisa
membalas, kadang saya mengusahakan untuk datang,

~375~
kadang karena berhalangan, teman-teman terpaksa
hanya menunggu tanpa tahu bahwa saya tidak bisa
datang. Ketidakmampuan memberi informasi balik
itu juga ditambah dengan transportasi yang sulit.
Satu-satunya transportasi yang hampir pasti adalah
feri, yang masuk ke Adodo Molu dua minggu sekali.
Itu pun waktunya tidak bisa dipastikan, kadang
meleset setengah hari, kadang sehari.
Kembali ke cerita awal. Ketidakpastian itu,
membuat saya harus menjemput sendiri anak-anak
itu. Saya lalu naik feri dari Saumlaki sampai ke Adodo
Molu, harapannya di Adodo nanti anak-anak sudah
menunggu. Kalau mereka tidak datang, ya, berarti
saya akan pulang dengan tangan hampa (oh, ya,
bersama dua dus pop mi yang sedianya kusiapkan
untuk konsumsi anak-anak di feri) kembali ke
Saumlaki.
Saya berangkat dari Saumlaki Selasa sore kemarin,
dan dengan perjalanan pergi-pulang ini, saya akan
kembali lagi ke Saumlaki Jumat malam lusa. Empat
hari di atas feri, dengan terjangan ombak yang
memualkan, semoga tidak siasia. Saya tahu Anda baru
membaca tulisan ini jauh setelah saya menulisnya
sehingga saya tidak bisa memohon doa Anda agar
anak-anak saya datang. Karena itu, di depan layar
laptop yang bergoyang naik-turun searah dengan
gerakan kapal, saya hanya mengirimkan doa, semoga
keinginan tulus saya ini didengar yang kuasa. Amin!
Mendatangkan 20 orang murid-murid saya untuk
pergi menari ke Saumlaki, ini sungguh adalah ide gila.

~376~
Mengapa? Karena, pertama, saya harus menjawab
pertanyaan bagaimana mengangkut mereka, plus
memberi mereka tempat tinggal dan makan selama
perjalanan. Kedua, bagaimana saya memberi tahu
mereka untuk mempersiapkan diri, berhubung pada
waktu itu saya tidak ada di desa. Ketiga, saya sendiri
sejujurnya tidak tahu apakah mereka memang siap
menari atau tidak! Saya yakin mereka bisa menari
adat hanya karena beberapa asumsi, yaitu karena
orangtua mereka memang masih memelihara tradisi
itu dengan baik dan karena saya pernah melihat
beberapa anak menari-nari di rumah saya dengan
gerakan yang luwes. Beberapa hal itu sudah
merupakan pertaruhan yang cukup besar. Belum lagi
ditambah dengan berangkatnya saya dari Saumlaki ke
Wadankou untuk menjemput mereka, pada waktu di
mana persiapan untuk acara Kampanye Calistung ini
sudah mendekat, dan tenaga saya tentunya
dibutuhkan teman-teman di Saumlaki.
Akan tetapi, sudah tidak bisa untuk mundur lagi.
Dinas perhubungan telah membantu saya untuk
menggratiskan biaya feri anak-anak ini nantinya,
Bapak Sekretaris Daerah sudah menyumbangkan
sejumlah uang untuk biaya makan mereka, Bapak
Camat sudah menyanggupi rumahnya untuk
ditinggali, dan ditambah lagi surat sudah saya titipkan
ke se-orang bapak dari Molu Maru untuk dititipkan
ke Wadankou, entah dengan cara apa.
Kembali ke penghujung tulisan pertamaku. Saya
yang menumpang feri sendirian dari Saumlaki,

~377~
akhirnya tiba di Kota Larat esok paginya, setelah 16
jam perjalanan. Ketika feri sudah merapat dan
penumpang berhamburan ke darat, tampak kepala
sekolah saya sudah menunggu di depan pintu. Saya
langsung menghampirinya, bertanya apakah ia sudah
mengirimkan kabar ke desa perihal tari menari ini.
Jawaban Pak Kepala Sekolah sempat membuat urat
saraf saya sedikit menegang karena ia mengatakan
bahwa karena kesibukan kegiatan gereja di Larat
(yang membuatnya tidak hadir di sekolah dan tidak
melaksanakan UAS untuk anak-anak), ia tidak sempat
menitipkan pesan ke kapal motor dari desa yang
datang ke Larat. Dua hari lalu katanya ada motor
yang datang. Namun, saat ia datang ke dermaga,
motor tersebut sudah berlayar. Baiklah, harapan
sedikit menipis, tetapi ia membuatnya terlihat lebih
tipis lagi ketika mengatakan rasanya agak berat
mengharap anak-anak dapat tampil karena tarian
adat ini membutuhkan waktu latihan cukup lama,
paling tidak butuh dua mingguanlah. Namun, saya
tetap bergeming, sudah separuh perjalanan saya ke
sini, apa pun yang terjadi saya akan tetap pergi ke
Wadankou dan menjemput anak-anak ini.
Saat itu feri tiba di Larat pukul 11.00. Sesuai
jadwal, setelah berhenti di Larat ia akan meneruskan
perjalanan ke Molu Maru. Ternyata, hari itu nakhoda
memutuskan berhenti lebih lama di Larat, dan baru
akan berangkat ke pulauku esok subuh. Saya lalu
memutar otak. Seandainya ada kapal kayu yang ke
Molu Maru siang ini juga, hitunghitungan saya, saya

~378~
akan punya waktu cukup untuk tiba di desa, lalu
mengecek kesiapan anak-anak, sembari menunggu
feri datang keesokan harinya. Pergilah saya ke
dermaga, dan ternyata kebetulan sekali, ada sebuah
motor dari Desa Adodo Molu (desa tetangga
Wadankou) yang akan pulang kembali ke kampung
siang itu juga. Saya lalu berkoordinasi dengan
nahkoda feri sehingga rencana saya pun terbentang:
saya akan menumpang motor Adodo Molu, lalu dari
Adodo berjalan kaki sampai ke desa saya,
mengoordinasikan anakanak untuk berangkat ke
Wadankou Lama (daerah yang terletak lebih dekat ke
Adodo Molu daripada ke Wadankou) keesokan
harinya dan lalu naik ke feri.
Rencana ini terlihat ideal sehingga berangkatlah
saya dengan kapal motor kayu Adodo yang terkenal
sangat lambat jalannya (karena hanya menggunakan
satu mesin) dan tidak nyaman (karena tidak ada
tempat duduk untuk penumpang) itu. Kebetulan
rekan Pengajar Muda lainnya, Matilda, baru saja tiba
di Larat dari desanya, tepat sebelum motor Adodo ini
berangkat. Jadilah ia ikut serta dengan saya dan
kepala sekolah melakukan perjalanan ke Molu Maru.
Saya jujur saja tidak memprediksikan bahwa
perjalanan ke Adodo Molu akan memakan waktu
sekian lamanya. Kapal yang sudah kecepatannya
rendah ini menjadi semakin lambat lagi seiring
dengan terpaan ombak. Hasilnya, kami baru tiba di
Adodo (dengan muka lusuh dan kecapaian) pukul
19.30, dengan total enam setengah jam perjalanan

~379~
laut. Saya, Matilda, dan kepala sekolah pun langsung
menuju rumah Bu Bat, ibu piara teman saya, Bagus.
Kami duduk dan meminum teh hangat untuk
menghilangkan efek perjalanan laut dengan motor
yang biasanya menyisakan telinga pekak dan kepala
masih terasa terombang-ambing.
Setelah beristirahat sejenak, kami berdiskusi dan
diputuskan bahwa Bapak Kepala Sekolahlah yang
akan berjalan kaki ke Wadankou (perjalanan
memasuki hutan selama kurang lebih 1,5 jam) dan
menyiapkan anak-anak, sementara saya dan Matilda
beristirahat di rumah Bu Bat, lalu keesokan harinya
sisa menunggu feri di Wadankou Lama (sebuah daerah
yang terletak 20 menit jalan kaki dari Adodo Molu,
lokasi janjian saya dengan Pak Nakhoda feri). Saya
merasa tidak memiliki sisa energi lagi untuk berjalan
kaki malam-malam, ditambah hujan lagi. Semoga saja
keesokan harinya anak-anak memang datang.
Keesokan harinya, saya bangun dengan semangat
tinggi (walaupun tidurnya tidak nyenyak karena
nyamuk yang merubungiku sepanjang malam). Saya
mengajak Matilda berjalan-jalan melihat Desa Adodo
Molu. Setelah itu, berjalan ke arah rumah Bu Bat lagi
untuk mempersiapkan diri. Belum sampai di rumah,
saya sudah diminta tolong oleh beberapa guru SD
Adodo Molu untuk memfotokopikan beberapa
dokumen administrasi mereka. Pekerjaan ini sangat
memakan waktu karena selain proses fotokopi
dengan printer ini lumayan lama, saya harus
menggotong printer dari rumah ke rumah untuk

~380~
mencari rumah yang generatornya bisa dinyalakan.
Saya pun mulai gelisah, jangan-jangan di Wadankou
Lama feri sudah datang, bagaimana kalau saya
membuat mereka menunggu (feri direncanakan
sampai pukul 10.00, sementara saat itu sudah pukul
11.00)?
Benar saja, selesai meng-copy semua dokumen itu,
petualangan pun dimulai. Seorang warga Wadankou
dengan terburu-buru datang ke Adodo Molu
mencariku. Ia bermaksud menjemput saya untuk
pergi ke desa karena katanya feri sudah menunggu
sejak lama. Ha, bukankah feri datang ke Wadankou
Lama? Dan, bukankah dijadwalkan datang pukul
10.00? Saya semestinya “baru” telat sejam, dong?
Ternyata, orang itu menjelaskan bahwa feri merapat
di desa saya sejak pukul 08.00, tidak sama dengan
rencana awal yang saya pikirkan.
Saya pun buru-buru mengepak barang dan
langsung berjalan kaki ke Wadankou Lama. Di situ
sudah menunggu sebuah kapal motor yang akan
mengantar saya ke Wadankou, desa saya, untuk
langsung naik ke atas feri. Motor pun melaju dengan
kecepatan penuh. Setelah dekat dengan desa memang
tampak jelas kapal feri tersebut berada di depan desa
saya. Saya pun mulai deg-degan, apakah anak-anak
ada atau tidak.
Tidak sempat berpikir lama, sebuah longboat sudah
melaju kencang ke arah saya. Ternyata, di atasnya
sudah ada Pak Pejabat Kepala Desa, yang langsung
meminta saya naik ke atas longboat itu agar lebih cepat

~381~
mencapai feri. Saya pun dengan buru-buru langsung
memindahkan barang-barang ke atas longboat, yang
tanpa basa-basi langsung memolkan gas dan
membawa saya ke feri. Jantung saya pun berdetak
kencang, melihat dari kejauhan tampak lambaian
anak-anak yang berteriak-teriak memanggil saya.
Desiran angin menerpa wajah saya yang tersenyum
lebar, ternyata awal dari misiku berhasil saya jalani.
Sampai di atas feri, saya sedikit kaget dengan
banyaknya orangtua yang ada di atas. Saya
menghitung sekilas, sudah jelas jumlah orang yang
ada di sini lebih dari 25 orang, jumlah yang kuminta
semula. Belum sempat menghitung jumlah orang dan
menyapa anak-anak saya, Kepala Sekolah langsung
menarikku dan berbisik, memberitahukan bahwa
semua orangtua ingin ikut. Total anak-anak yang ikut
29 orang, sementara orang tuanya 21 orang sehingga
total ada 51 orang di atas feri itu. Kepala Sekolah
sampai mengatakan akan mengusahakan Dana BOS
untuk menanggulangi tiket para orangtua itu.
Saya menenangkan ia, lalu naik ke atas, ke ruang
nakhoda. Di kokpit, saya pertama-tama meminta
maaf kepada Kapten Ricky, nakhoda kapal, sembari
memberi tahu bahwa penumpang membludak
menjadi 51 orang. Untungnya kapten sangat baik, ia
mengatakan bahwa wajar saja orangtua ingin ikut
menyaksikan anak-anaknya tampil, apalagi mereka
dari desa yang terpencil. Alhasil, para rombongan saya
ini tetap digratiskan olehnya. Dan, saya kembali
mengucapkan ucapan syukur dalam hati.

~382~
Apa yang sebenarnya terjadi di kampung,
bagaimana ceritanya sampai mereka akhirnya bisa
siap tampil di Saumlaki? Setelah mengumpulkan
informasi, akhirnya saya mengetahui cerita seutuhnya
dari Pak Agust, Pejabat Kepala Desa Wadankou.
Kisahnya bermula dari surat yang saya tulis. Di
Saumlaki, saya menulis surat yang ditujukan kepada
Pak Kepala Sekolah, Pak Pejabat, dan untuk anak-
anak saya (kalau-kalau mereka takut pergi sehingga
butuh “persuasi” dari saya). Surat itu saya titipkan
kepada Pak Epi yang katanya akan pulang ke Adodo
Molu, untuk lalu diteruskan ke Wadankou. Ternyata,
surat itu sempat ketinggalan di Kota Larat, lalu
dibawa lagi ke Adodo Molu oleh Bu Latuhihin, guru di
SD Adodo yang kebetulan sedang ke Larat.
Dari Adodo surat ini dititipkan kepada seorang
anak yang mau berjalan kaki ke desa saya. Dengan
perjalanan sekian jauhnya, surat itu baru tiba di desa
Sabtu malam (padahal Rabu feri yang datang
menjemput mereka sudah datang). Lebih hebohnya
lagi, sampai di desa, Pak Kepala Sekolah tidak ada
sehingga Pak Yanto, salah seorang guru honorer di
tempat saya, yang menerimanya. Pak Yanto yang
kebingungan pun meneruskan surat ini kepada Pak
Pejabat Kepala Desa.
Pak Pejabat, seorang staf kecamatan lulusan
STPDN, anak muda 26 tahun yang penuh semangat,
ternyata memang ditakdirkan membawa segenggam
semangat di desa saya. Ia menyambut baik ide gila
saya, dan langsung mengumpulkan para pejabat desa

~383~
beserta semua guru yang ada (hanya tiga orang guru).
Mereka mendiskusikan bagaimana mewujudkan
keinginan saya ini. Awalnya, semua orang yang hadir
pesimis dengan ide ini. Anak-anak sebelumnya paling
banter tampil di tingkat kampung saja, tiba-tiba
datang tawaran
untuk menari di kabupaten dalam waktu
seminggu ke de-pan. Untunglah Mama Nyora, istri
dari Pak Guru Sainlia, kemudian menyatakan siap
melatih tarian Tnabar Fanewa, tarian khas Wadankou
yang dinarikan oleh perempuan. Untuk itu pada
Minggu pagi, dikumpulkanlah 28 siswa perempuan
dari kelas 2–6. Banyak orangtua yang masih tidak
yakin dengan kegiatan yang akan dilakukan oleh
anak-anaknya ini. Namun, mereka membiarkan saja
anak mereka berlatih.
Selepas gereja, Pak Pejabat mengumpulkan lagi
orangtua, meyakinkan dan sambil “menjual” nama
saya untuk membuat orangtua mengizinkan anak-
anaknya pergi. Untunglah, orangtua murid
menghargai keberadaan saya, dan karena itu
mengizinkan anak-anaknya pergi. Biasanya orang
Wadankou terkenal tidak percayaan dan banyak
curiga. Namun, kali ini syukurlah hal itu tidak terjadi.
Anak-anak pun berlatih siang-malam selama
Minggu dan Selasa. Selasa sore, Pak Pejabat bersama
seorang guru pergi ke Desa Adodo Molu untuk
mengecek langsung berita yang saya sampaikan. Di
situlah ia bertemu Bu Latuhihin, yang sempat
telepon-teleponan dengan saya saat ia berada di Kota

~384~
Larat. Bu Latu meyakinkan bahwa saya akan datang
menjemput anak-anak. Berdasar informasi itulah Pak
Pejabat lalu pulang ke desa lagi dan menyiapkan
semua kesiapan untuk keesokan harinya sampai
malam hari tiba, ketika Pak Kepala Sekolah—yang
datang bersama denganku—berjalan kaki dari Adodo
ke desa saya, seperti di awal tulisan ini.
Sampai di desa, entah ada “angin” dari mana, Pak
Kepala Sekolah melakukan hal yang tidak sewajarnya
(detailnya tidak bisa saya ceritakan di tulisan ini).
Perilakunya sempat melahirkan keributan sejenak di
kampung bahkan dalam keadaan mabuk ia sempat
menyebarkan kepada orangtua bahwa siapa pun yang
mau berangkat ke Saumlaki akan ditanggung
tiketnya. Hal ini membuat Pak Pejabat harus
mengadakan pertemuan tengah malam untuk
mengamankan Pak Kepala Sekolah, sekaligus
menenangkan orangtua yang sudah tidak mau
membawa anak-anaknya ke Saumlaki melihat
perilaku kepala sekolah yang seperti itu.
Pagi harinya, hanya segelintir anak-anak yang
berkumpul di pusat desa. Beberapa anak mulai
menangis karena orangtuanya tidak mengizinkan
mereka berangkat ke Saumlaki. Dalam keadaan
seperti itu, Pak Pejabat tetap meminta anakanak yang
tersisa untuk memulai latihan.
Pukul 08.00, feri merapat langsung ke Desa
Wadankou (kali pertama sepanjang sejarah).
Merapatnya feri ini lalu dimanfaatkan oleh Pak
Pejabat guna meyakinkan orangtua untuk kali

~385~
kesekian agar membiarkan anak-anaknya berangkat.
Orangtua, yang juga merasa tidak enak karena usaha
yang sudah saya lakukan sampai feri bisa merapat di
desa, lalu bersedia memberangkatkan anaknya,
dengan syarat mereka semua ikut! Bapak Kepala
Sekolah, yang menyesali perbuatannya semalam pun
akhirnya menyanggupi permintaan orangtua itu,
sambil memutar otak untuk memakai dana BOS
(Bantuan Operasional Sekolah) seandainya mereka
diminta membayar tiket feri untuk orangtua yang
mau ikut.

Karena diputuskan rombongan tetap berangkat,


dilakukanlah ibadat pelepasan rombongan di gereja,
diikuti ibadat adat di pusat desa. Menurut cerita ibu-
ibu orangtua murid, suasana acara ini sangat
mengharukan. Walaupun di tengah konflik yang
terjadi sebelum berangkat, para penduduk desa
sungguh berdebar karena anak-anak mereka dapat

~386~
tampil di ibu kota kabupaten. Bagi mereka, ini adalah
hal yang luar biasa besar. Selesai upacara adat, banyak
orangtua yang sampai meneteskan air mata haru.
Sayang sekali saya melewatkan momen yang pasti
sangat berharga ini.
Sesampai mereka di atas feri, saya tidak kunjung
datang. Orangtua mulai gelisah di atas feri. Mereka
tidak akan memberangkatkan anaknya kalau tidak
ada saya. Setelah menunggu hampir satu setengah
jam, anak-anak mulai sedih, beberapa orangtua sudah
memanggil sampan untuk membawa mereka kembali
ke darat. Tepat pada momen itulah saya datang dengan
longboat bersama Pak Pejabat. Padahal, sudah ada
beberapa sampan yang siap membawa orangtua dan
anak-anak ini kembali ke desa. Setelah melompatkan
kaki ke atas feri, anak-anak bersorak kegirangan
menyambutku, dan pintu feri pun ditutup, setum
dibunyikan, dan mulailah pelayaran kami ke
Saumlaki. Saya menghela napas panjang, senang
bahwa ide gila ini ternyata bisa terwujudkan. •
L APANGAN F UTSAL STANDAR “FIFA”

Oleh: Mochammad Subkhi Hestiawan*

Tebasan golok menghujam penuh hasrat, bruk!


Kayu kasuarian lurus ambruk menghujam tanah.
“Hoi, angkat kayunya,” begitu Yayan muridku
berteriak kepada temannya yang sedang asyik
memetik buah kopi di ujung lain kebun itu. Lalu, Ari

~387~
yang bertubuh kecil anak kelas 4 menyeret kayu itu
dengan payah.
Aku dan murid-muridku sedang mencari kayu di
hutan belakang dekat tanggul 500 meter jauhnya dari
sekolah menyusuri jalan-jalan setapak berlumpur.
Kaki kecil itu melangkah pasti di antara pematang-
pematang berlumpur, sedikit meninggalkanku di
belakang. “Pak Guru, cepat, kitong su dapat kayu
banyak, su bisa balik ke sekolah, tho!” begitu kata
Ismun yang tidak sabar dengan apa yang akan kami
buat dari kayu-kayu ini.
Terik pagi yang sehat menambah semangat kami
memikul kayu-kayu itu kembali ke sekolah kami.
Mereka duduk sejenak di teras sekolah
menghilangkan sedikit penat, lalu aku mengeluarkan
setumpuk kertas, sebuah kumpulan artikel yang aku
unduh dari internet pekan lalu waktu di kota.

Dengan wajah berbinar, Ramadhan langsung

~388~
menyambar tumpukan kertas itu dan dengan terbata
membacanya agak keras, “Peraturan Futsal ‘Fifa’
2010,” begitu judulnya. Lalu, anak lain yang semula
bermalasan bersungut senang dan berebutan
melihatnya.
Anak-anak ini memang gila bola. Mereka bisa
bermain bola seharian tanpa merasa capai. Namun,
keterbatasan sekolah kami membuat mereka tak
dapat merasakan lapangan megah nan indah layaknya
di GOR ternama atau futsal center. Tumpukan sepatu
dan sandal sudahlah cukup untuk mereka jadikan
“gawang”.
Anak-anak Papua ini sungguh luar biasa. Mereka
sering kali bermain bola layaknya miniatur permainan
kelas dunia di televisi. Liukan, tendangan, tandukan,
dan operan dari kaki kecil ini mengalir terorganisasi
meskipun mereka tidak pernah latihan sungguhan.
Dalam benakku, seandainya ada lapangan futsal
standar di sini, pastilah bakat mereka sedikit
tersalurkan. Tak ada rotan akar pun jadi, begitu kata
pepatah. Akhirnya, aku mendorong mereka untuk
membuat gawang dan lapangan dari kayu seadanya,
tetapi dengan standar ukuran internasional.
“Pak Guru, ukur sudah kayunya nanti kitong
potong-potong,” begitu kata Abdul dengan nada
tinggi yang lembut. “Ko saja yang ukur, tho, lihat
ukurannya di buku Pak Guru,” begitu kataku. Dengan
sigap ia berlari ke kantor mengambil penggaris kayu
usang. “Dua meter tingginya, Pak Guru, tiga meter
panjangnya, Pak Guru,” begitu katanya sambil

~389~
melihat ujung penggaris yang sudah pudar angkanya
itu. Tebasan sadis parang menghujam kembali di
ujung kayu sesuai dengan tanda ukuran. Dan, mereka
semua mulai bekerja.
Abun di ujung lain lapangan mulai komat-kamit
dengan kertas mengukur panjang dan lebar lapangan
serta menentukan di mana letak gawang sesuai
gambar di buku. Ia mulai menandainya dengan patok
patok dan sedikit galian di tanah lembek. Mereka
semua menggambar garis-garis lapangan, menentukan
letak titik tengah lapangan, letak ruang penal-ti, dan
batas-batas luar. Semuanya ditentukan berdasarkan
ukuran standar FIFA.
Dari kejauhan di keteduhan pohon akasia, aku
memandang wajah mereka yang bersungut-sungut
campuran penasaran dan gembira. Mereka saling
berteriak memberi abaaba kepada sesamanya. Dan, di
ujung lapangan lain ada anak kecil kerempeng
bernama Lehem yang sesekali mengintip denah kusut
di tangannya. Ia memperhatikan setiap detail
lapangan dan memberitahukan kekurangannya
kepada yang lain. Lagaknya yang seperti seorang site
manager membuatku tersenyum sendiri.
Setelah beberapa saat, agak terkantuk-kantuk aku
dikejutkan oleh teriakan cempreng menggema
seorang muridku. “Pak Guru, lapangan su siap, kita su
bisa main bolakah?” tanyanya. “Panggil yang lain ke
sini,” kataku. Lalu, dengan sigap mereka telah
bergerombol mengelilingiku masih dengan wajah yang
sama. Aku memberikan sedikit pengarahan peraturan

~390~
ala FIFA mengenai futsal. Dengan cepat mereka
mengangguk, entah mengerti atau mengangguk saja
biar cepat mereka dapat bermain.
Ismun segera membagi gerombolan menjadi dua
tim, ada Ari, Ramadhan, Abun, Riyan, dan Gusdur di
satu sisi dan ia sendiri, Miftah, Yayan, Rizal, dan
Abdul di sisi yang lain. Lalu, anak yang tidak kebagian
tim menunggu kesempatan pergantian pemain ada
Nuryanto dan Lehem di pinggir lapangan, sementara
Aziz membantuku mengatur pertandingan sebagai
wasit.
PRIIITTT, PRIIITTT, PRIIITTT!!! Peluit menyalak
untuk menandai kali pertama permainan futsal
dengan lapangan standar FIFA dimulai. Di sini, di
Bomberay, ribuan kilometer jauhnya dari markas
FIFA di Zurich, sedang ada pertandingan ala FIFA.
FIFA FAIR PLAY!!! •
PASUKAN BERSEMANGAT BELAJAR BACA

Oleh: Pemi Ludi Lestari*

Beberapa anak terlihat menenteng buku tulis dan


pensil di dalam kantong plastik hitam. Saat itu baru
saja lewat sedikit dari tengah hari, anak-anak itu
berjalan menuju satu tempat yang sama, sekolah.
Saya sedang berjalan pulang dari sekolah ketika
berpapasan dengan mereka di jalan. Heran melihat
anak-anak sepulang sekolah dengan baju bebas
menenteng buku tulis menuju sekolah. Mereka adalah

~391~
anak kelas rendah yang memang pulang lebih awal
dari anak-anak kelas tinggi. Ternyata, mereka hendak
mengikuti les tambahan baca yang baru akan dimulai
sekitar satu setengah jam lagi. Semangat betul
berangkat jauh sebelum waktunya.
Padahal, sayalah yang menginisiasi jam tambahan
membaca tersebut. Setelah mendapati anak-anak
kelas 2 belum bisa membaca, saya menemukan
tambahan kesulitan ketika mengajar mereka
meskipun mata pelajaran saya adalah Matematika.
Saya pun menyadari bahwa banyak anak belum bisa
membaca, termasuk yang di kelas tinggi. Namun, saya
tidak menyangka anak-anak yang saya temui di jalan
itu ternyata hendak mendatangi kelas tambahan saya
tersebut. Apalagi saat itu bahkan saya sendiri baru
saja akan pulang dari sekolah (dan kemudian akan
berangkat lagi setelah waktunya tiba).
Ketika saya akan berangkat kembali dari rumah, di
jalan juga masih banyak ditemui anak-anak berjalan
kaki, dengan penampilan mirip-mirip dengan yang
tadi berpapasan dengan saya di jalan, baju bebas,
sandal, kantong plastik berisi buku dan alat tulis.
Lokasi yang mereka tuju sama dengan saya, sekolah.
Begitu sampai di sekolah, puluhan anak sudah
berkumpul. Antusiasme terlihat di wajah mereka.
Semangat ikut “les”. Mereka sendiri yang menamai
kegiatan ini sebagai les, saya tidak pernah
menyebutnya begitu pada awal. Se-orang guru PNS
menjadi partner saya dalam mengelola jam tambahan
membaca ini. Tidak lama kemudian, dari SDN 2

~392~
Langkahan, pada siang hari, terdengarlah suara anak-
anak yang mengeja huruf dengan keras-keras. Mereka
semangat belajar membaca.

Dua bulan berlalu. Semangat anak-anak belajar


membaca ternyata tidak berlangsung lama. Pada awal,
ada 40-an anak hadir dengan semangat. Namun,
semakin lama, semakin surut angka kehadirannya.
Alasan anak-anak bermacam-macam. Alasan yang
kerap dipakai, “Banyak pekerjaan, Bu,” “Rumah saya
jauh, Bu,” “Enggak dikasih uang sama Ayah,” dan lain-
lain. Ditambah kemudian partner saya sakit dan saya
punya urusan di Kota Lhokseumawe yang tidak bisa
ditinggalkan. Alhasil, les baca beberapa kali
diliburkan. Setelah libur, peserta berkurang.
Kemudian, musim hujan datang maka anak-anak pun
nihil kehadirannya. Les baca pada siang hari, tak
pernah seramai dulu lagi. Kemudian, libur Idul Adha,
saya cuti untuk pulang ke Jakarta. Maka, les baca

~393~
diliburkan kembali. Semangat anak-anak itu meredup
dan semakin meredup nyaris mati.
Dengan kehadiran yang bisa dihitung jari, partner
saya pun jadi malas untuk datang lagi. Ia mengusulkan
kepada saya untuk menghentikan saja les ini karena
sudah capekcapek datang, anak-anaknya tidak ada. Saya
lapor kepada kepala sekolah, tetapi tidak menemukan
solusi yang benar-benar mengena.
Kalau dipikir malas, tentu saja rasanya malas.
Sudah berjalan kaki sejauh satu kilometer dari rumah
pada siang hari terik, sampai di sekolah hanya
beberapa gelintir anak yang datang. Andai saya tetap
di rumah, saya bisa melakukan aktivitas lain atau
istirahat tidur siang. Jauh lebih menyenangkan secara
duniawi. Hehehe. Namun, saya teringat mereka, yang
belum bisa membaca padahal sudah kelas 4 bahkan 5.
Kalau les baca ini saya akhiri, adakah yang lain yang
mau peduli dan memfasilitasi anak-anak ini? Ah,
tetapi bahkan anak yang mau difasilitasi ini pun tidak
peduli. Untuk apa saya melelah-lelahkan diri sendiri?
Akan tetapi, saya tetap melanjutkan les baca ini.
Karena, kalau dipikir-pikir, sepertinya sayalah yang
belum berusaha optimal dalam menyelenggarakannya.
Saya belum memuntahkan semua amunisi, masih ada
senjata rahasia yang belum digunakan. Hehehe. Jadi,
menyerah adalah kalah, perang masih bisa
dilanjutkan.
Sebenarnya, sepinya les baca ada hikmahnya
karena guru-guru jadi lebih perhatian kepada murid-
muridnya yang belum bisa baca. Mereka jadi tidak bisa

~394~
memercayakan belajar baca pada les karena, toh,
anak-anaknya tidak ada yang datang. Anak-anak yang
minim kemampuan bacanya dipanggil ke kantor dan
diberi ekstra tambahan belajar membaca oleh wali
kelas yang bersangkutan. Baguuus. Meskipun ini juga
tidak rutin dan tidak terlalu efektif, ya, setiap hal baik
perlu disyukuri, bukan? Oleh karena itu, les baca siang
hari tetap jalan, berapa pun anak yang hadir. Anak
yang semula rajin sekarang tidak datang, saya hampiri
satu per satu. Saya mulai home visit, berbicara dengan
orangtua mereka lang-sung. Hasilnya, ya, tetap sedikit
juga. Hehehe.
Pernahkah Anda mendengar tentang seleksi
alam? Bahwa, yang kuatlah yang akan tetap
bertahan? Saya merasa seleksi alam pun ada di kelas
les baca ini. Anak-anak yang tetap hadir meskipun
bisa dihitung dengan jari adalah mereka yang benar-
benar niat, yang memang beritikad baik, yang
memang ingin untuk belajar membaca.
Pernah suatu hari saya dibuat terharu. Dahulu,
ketika anak-anak masih banyak, mereka merasa
senang saat les baca sudah selesai. Namun, anak-anak
terseleksi alam ini, waktunya les sudah selesai, semua
anak sudah mendapat giliran membaca. Lalu, saya
bilang kepada mereka, “Sudah boleh pulang, tapi
kalau masih ada yang mau baca lagi, boleh ke sini.”
Ternyata, responsnya membuat hati saya ingin
melompat, semua dari mereka bilang dengan
semangat, “Saya mau baca lagi, Buuu!”
Mungkin aktivitas ini efektif bagi mereka si

~395~
terseleksi itu, tetapi tidak efisien. Saya beberapa hari
terakhir ini banyak berpikir, bagaimana
mengefisienkan aktivitas-aktivitas ini (belajar baca
dan belajar di balai) karena semua permasalahannya
sama, partisipannya sedikit. Saya jadi teringat seorang
teman pernah bercerita, waktunya banyak habis
untuk beberapa kegiatannya di desa, sampai-sampai
tidak punya waktu luang, tetapi kegiatannya tersebut
dirasa tidak strategis olehnya. Atau, teman saya yang
lain juga cerita, nasibnya mirip dengan saya, “Anak-
anak yang datang baca ma-kin sedikit. Rugi di aku,
mending aku ikut ibu-ibu kumpul.” Saya juga beberapa
kali berpikir begitu, apa baiknya saya hentikan saja
dan memilih mencari aktivitas lain?
Siang ini luar biasa, sepanjang jalan saya sedang
memikirkan hal ini. Hari ini, untuk kali pertama saya
memindahkan jadwal les baca yang semula Selasa-
Kamis-Sabtu, menjadi Senin sampai Kamis. Jadi,
untuk kali pertama pada Senin ada les baca.
Sepanjang jalan saya cemas adakah anak yang datang,
apakah mereka ingat kata-kata saya pada pertemuan
terakhir? Ketika sampai di sekolah, ini selalu saya
lakukan semenjak les baca menjadi sepi, sebelum
masuk hal pertama yang akan saya perhatikan dengan
saksama adalah keberadaan sandal-sandal di luar
kelas. Ternyata, ada! Mereka datang! Mereka ingat
perubahan jadwal yang saya buat! Seperti biasa, ketika
saya sampai, mereka bersorak, “Ibu Ludi dataaang!”
Ah, meskipun cuma sekitar 5–6 orang yang hadir
—dari seharusnya 40 lebih, bagaimana mungkin saya

~396~
menghentikan kegiatan ini? Meskipun, hanya mereka
dan mereka lagi yang hadir, bagaimana mungkin saya
tidak melanjutkan les baca ini dan memotong
antusiasme mereka setiap mereka maju ke halaman
berikutnya? Bahkan, tadi di jalan, saya ditanya oleh
seorang ayah dari rumahnya, “Bu, Fazhil harus bawa
buku atau tidak?” Setelah sekian lama ikut les baca,
akhirnya ayahnya peduli dan memperhatikan apakah
anaknya perlu membawa buku. Maka, bagaimana
mungkin saya bisa bilang, “Rugi di aku?”
Tadi siang seorang anak bertanya, “Singoh hana jak
les, Bu [besok tidak ada les, Bu?]” dan yang menjawab
adalah teman-temannya yang lain, “Na [ada].”
Mungkin keputusan saya terasa aneh, sudah tahu
anak yang datang cuma sedikit sekali, saya malah
menambah frekuensinya. Semula tiga kali seminggu
sekarang menjadi empat kali. Namun, tahukah,
Kawan? Ketika saya ingin mengubah jadwal ini, saya
tanyakan dulu kepada mereka, “Mau tidak kalau
lesnya jadi 4x seminggu?” dan mereka sendiri yang
menjawab, “Mauuu!” dengan kerasnya, dengan
sukarela, tanpa dipaksa. Maka, bagaimana mungkin
saya menghentikannya?
Merekalah pasukan saya yang tersisa, pasukan
pilihan, yang telah melewati seleksi dengan
sendirinya. Dahulu saya menamakannya pasukan BBB
(belum bisa baca), sekarang saya ganti
kepanjangannya menjadi pasukan Bersemangat
Belajar Baca.
Keep moving forward, Anakku. Aku menantikan hari-

~397~
hari kalian membacakan cerita, untuk Ibu. •

C ATATAN BAHAGIA

Oleh: Tidar Rachmadi*

* Pengajar Muda Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa


Timur.

Begitu banyak selebrasi dalam kehidupan.


Kelahiran, kelulusan, ulang tahun, pernikahan, dan
sebagainya. Seberapa besar selebrasi tersebut
diperingati bergantung pada tiap insan yang
menjalaninya. Namun, kita banyak terlena pada hal-
hal besar sehingga kerap melupakan bahwa hal kecil
yang tampak tak penting justru layak diapresiasi.
Dengan bertambahnya usia dan pengalaman

~398~
menjadi Pengajar Muda di Pulau Bawean, saya belajar
untuk banyak bersyukur. Ternyata, hal-hal kecil yang
kelihatan sepele justru bisa sangat membahagiakan.
Begitu banyak bola-bola kebahagiaan beterbangan di
sekitar kita dan itu semua gratis. Tinggal bagaimana
kita mengasah kepekaan untuk menangkap bola
kebahagiaan tersebut, lalu merayakannya. Kalau

Anda bisa mengapresiasi hal kecil di sekitar Anda,


kebahagiaan pasti sering menghampiri. Saya jamin.
Saya akan menuliskan beberapa hal yang
belakangan ini sering membuat saya bahagia dan
bersyukur, atau paling tidak senyum-senyum sendiri.
Hal-hal inilah yang saya dapatkan semenjak menjadi
Pengajar Muda dan menjadi penduduk Pulau Bawean.
1.
Melihat Murid Terbahak Melihat mereka
memegang perut sambil mendengar alunan
riang nan kompak berbunyi HAHAHAHA dari
seantero kelas setelah saya melempar
lelucon membuat saya merasa sebagai
komedian kelas dunia. Pelawak nomor
wahid. Siapa itu Sule? Komeng? Russel
Peter? Coba suruh mereka melawak depan
murid saya. Ah, kok, rasanya saya lebih lucu
dibandingkan mereka semua. Dan, pastinya
lelucon saya ini aman dikonsumsi anak-
anak. Tidak ada unsur SARA, jauh dari
porno, ataupun mengolok-olok fisik.
2. Semua Nama Murid Berhasil Dihafalkan
Saat
Saya beri tahu, menghafalkan nama baru

~399~
dengan wajah yang sama sekali asing
bukanlah perkara mudah. Kalau tidak
sering-sering berinteraksi dan bergaul
dengan mereka, waktu setahun pun terasa
kurang untuk bisa menghafal nama murid.
Saya ingat, butuh berhari-hari bagi saya
untuk menghafalkan nama murid dari kelas
1 sampai kelas 6. Apalagi beberapa di antara
mereka merupakan anak kembar yang
tampilan fisiknya 11-12 alias mirip. Ketika
akhirnya saya berhasil menghafal nama
mereka semua, rasanya wah sekali. Pernah
seorang guru yang sudah beberapa tahun
bertugas bertanya begini
kepada saya, “Pak Tidar, murid kelas 3 yang
rambutnya keriting itu siapa, Pak, namanya?” Duarrr!
Dalam hati saya membatin, bukankah seharusnya
beliau yang lebih hafal? Kedua, murid kelas 3 tidak ada yang
rambutnya keriting, Pak ....

~400~
3. Dari Kejauhan Mendengar Murid Menyanyikan
Lagu Nasional yang Baru Diajarkan Pagi Harinya Suatu
ketika saya sedang duduk di masjid menunggu waktu
Magrib. Tiba-tiba terdengar suara lantang
menyanyikan lagu “Bangun Pemuda-Pemudi”. Pada
lain waktu, dari bukit sebelah sayup-sayup ada
beberapa suara kecil melantunkan “Hymne Guru”.
Kadang terdengar mereka bersahut-sahutan ketika
bernyanyi. Dalam sekejap, lagu kesukaan yang
dibawakan penyanyi favorit saya pun kalah merdu
rasanya. Yang tidak kalah lucu ialah mendengar lagu-
lagu yang saya ajarkan di sekolah juga
turut dinyanyikan ibu-ibu ataupun bapak-
bapak, baik ketika mereka menyapu,
menggendong anaknya, atau mengambil rumput.
Imajinasikan ini: Ibu-ibu menyanyikan
“Halo-Halo
Bandung” dengan penuh semangat sembari

~401~
menyiangi
bawang.
4. Fully Charged Laptop Percaya atau tidak, ketika
baterai laptop saya sedang penuh, rasanya seperti
dunia ada di tangan saya. Rasanya saya bisa
melakukan apa saja yang saya mau (meskipun tentu
saja tanpa sinyal internet). Mungkin terasa
berlebihan, tetapi itulah kenyataannya. Coba rasakan
sendiri hidup di tengah ketidakpastian kapan listrik
menyala. Perasaan akan mudah terombang-ambing
oleh gelombang keterbatasan. Namun, manakala
baterai laptop penuh, artinya saya dapat melakukan
banyak hal. Belajar, nonton film bersama anak-anak,
mendengarkan lagu, atau membuat RPP.
5. Tak Ada Noda Membandel Karena padatnya
tugas, selesai mencuci pakaian yang menumpuk tiga
hari dan melihat ember untuk pakaian kotor tidak
ada isinya itu sungguh menyenangkan. Hidup jadi
lebih ringan. Napas lebih segar. Senyum pun melebar.
Melangkah jadi lebih percaya diri. Rasanya persis
seperti terbebas dari lilitan utang. Menulis rencana
pembelajaran pun jauh lebih enteng, serasa dibantu
10 tangan!
6. Saat Murid Mengingatkan Ketika Kita Salah
Berbicara Tidak ada yang lebih menggembirakan
bagi seorang guru daripada mengetahui muridnya
menangkap pelajaran dengan sepenuh hati. Dari
mana kita dapat mengetahuinya? Gampang.
Ketika para murid mengoreksi ucapan atau
penjelasan gurunya. Saya pernah terbalik

~402~
menyebut kain sebagai konduktor panas. Sesaat
itu pula, para mu-rid langsung sibuk angkat
tangan dan membetulkan penjelasan saya yang
keliru. Sesaat itu pula saya meminta maaf kepada
mereka. Kesalkah saya? Tentu tidak. Justru
sangat gembira karena artinya para murid benar-
benar paham dan mendengarkan dengan saksama
pelajaran yang disampaikan. Ada banyak
kekeliruan lain yang kerap dikoreksi oleh murid.
Sebagai guru yang tak luput dari khilaf, saya
bahagia memiliki murid seperti mereka.
7. TEMPE! Hidup di Bawean artinya tiada hari
tanpa olahan ikan. Berbagai macam ikan laut nan
segar yang divariasikan penyajiannya menjadi
makanan sehari-hari. Namun, itu kalau cuaca
sedang bagus. Kalau cuaca sedang buruk, tentu
tak ada nelayan yang berani melaut. Ikan segar
menghilang dari pasaran. Lantas, lauk pun beralih
pada ikan kering. Ikan kering ialah lauk yang
sudah dipersiapkan sejak berbulan-bulan lalu
untuk menghadapi cuaca buruk. Intinya, ya, tetap
ikan. Bukannya tidak senang, tetapi yaaa, begitu,
deh. Oleh karena itu, apabila sedang berkunjung
ke kecamatan dan melihat tempe, duh, jangan
tanya seperti apa hati ini deg-degannya. Tempe
itu seperti menggoda melambai-lambai sambil
berseru, “Halo, teman lama! Eat me!”
8. Percobaan yang Sukses Wajah-wajah serius
mereka ketika melakukan percobaan, ekspresi
penasaran menunggu hasil, hingga letupan

~403~
bahagia manakala percobaan yang dinanti sukses,
bagi saya rasanya seperti seorang genius yang
mampu melahirkan ilmuwan-ilmuwan cilik. Tidur
malam yang berkurang jatahnya karena
mempersiapkan alat dan bahan rasanya tak sia-
sia. Sungguh bahagia tak terperi.
9. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Bagi seorang pengajar, kebahagiaan sejati adalah
selesai membuat RPP untuk esok hari atau untuk
seminggu ke depan. Mau diketik atau tulis
tangan, halal. Berangkat sekolah seribu kali lipat
lebih percaya diri.
10. Suara Ponsel kala Memasuki Wilayah
Bersinyal
♫♫ Tidit, hpku berbunyi, tidit tidit begitu bunyinya
♫♫
Akhirnya, ponsel ini terbangun dari tidurnya.
Bertubitubi SMS, surel, dan notifikasi lainnya
masuk membawa 1001 macam kabar. Tidak ada
yang spesial ketika Anda hidup di kota besar dan
ponsel Anda berbunyi. Namun, saat Anda tinggal
di daerah tanpa jangkauan sinyal dan ketika Anda
melancong ke daerah yang terdapat sinyal dan
ponsel itu berbunyi, seakan bunyi itu adalah
alarm bahwa sekarang sudah tahun 2012.
11. Pijat Ikhlas Nikmat Sehat Sekejap Ketika
duduk memeriksa tugas di meja guru, lalu tibatiba
ada sepasang tangan mungil hinggap di pundak.

~404~
Sesaat kemudian, tangan tersebut melakukan
manuver pijatan. Surga dunia. Jujur saja, pada
saat letih setelah mengajar, menikmati pijatan
tentu saja membuaikan. Namun, sayang, ini
semua harus diakhiri. Tidak pantas dilihat. Saya
tahu murid saya ikhlas, tetapi saya merasa tak
nyaman. Bukan karena tak enak, melainkan ini
anak orang dan saya guru. Jadi, meskipun hanya
semenit sudah sukses membuat saya bahagia.
Hilang semua lelah.
12. Ditraktir Murid Ya, di-trak-tir murid.
Ketika saya tanyakan mengapa mereka rela
membelikan kacang, olahan ikan, atau es kepada
saya, jawabannya sederhana, “Kita makan enak,
tapi Pak Guru tak makan. Biar sama.” Sehari rata-
rata mereka jajan Rp1.000,00. Dan, mereka
mengikhlaskan setengah uang jajannya dibelikan
makanan untuk saya. Silakan bayangkan sendiri

~405~
perasaan apa yang datang kepada saya.
Masih banyak sebenarnya hal-hal sederhana lain
yang membuat saya bahagia dan bersyukur
mengemban tugas sebagai Pengajar Muda di Pulau
Bawean. Saya belajar bahwa menjadi bahagia itu
mudah dan murah. Bersyukurlah pada sinar mentari
yang menghangatkan bumi, memberikan energi pada
hidup manusia, dan mengeringkan cucian kita.
Bersyukurlah pada hujan yang telah mengairi sawah
dan kebun, memberikan kita kesempatan tidur
nyenyak, dan membuat kita dapat mencium bau khas
tanah yang basah. Bersyukurlah atas hal yang
sederhana karena itu sebenarnya justru memperkaya
batin kita, manusia. •

M ELIHAT K OTA DAN M ENANG L OMBA


Oleh: Maristya Yoga Pratama*
* Pengajar Muda Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.
Malam itu, anak-anak didikku berada di kota
kecamatan. Kilau cahaya lampu tampak di mata
mereka, serasa haus akan cahaya lampu pada malam
hari untuk beraktivitas. Mereka terlihat sangat
senang bermain di tengah keramaian lapangan Desa
Rato. Keceriaan dan senyuman mereka dapat
kupandang di tengah keramaian itu. Mulut mereka
penuh dengan aneka makanan yang berwarna-warni
dan manis. Anak-anak juga bisa merasakan dinginnya
es dari sepotong es lilin. Mereka juga bisa mengerti
tentang acara-acara televisi yang menarik untuk

~406~
ditonton.
Hal ini, tentu saja, berbeda dengan keseharian
mereka di Dusun Baku, Desa Sumi, Kecamatan
Lambu. Biasanya mereka harus berjalan jauh untuk
bermain. Pada malam hari, yang bisa mereka lakukan
hanyalah tidur lebih cepat karena kegelapan yang
menyelimuti mata. Mulut mereka tidak bisa
terpuaskan oleh makanan dan minuman enak ala
anak-anak kota.
Oleh karena itu, keadaan sementara itu, berada di
kota kecamatan, benar-benar dimanfaatkan oleh
anak-anak. Mereka mengisyaratkan ingin tinggal
lebih lama dengan sinar lampu yang memancar.
Untuk sampai di pusat keramaian, anak-anak
harus menempuh waktu dua jam perjalanan. Mereka
harus melawan mabuk darat karena jalannya
berkelok-kelok. Aku rasa mereka sudah merasakan
“DUFAN” karena mereka diangkat naikturun kanan-
kiri di atas truk. Debu jalanan yang bertaburan harus
mereka hirup sepanjang perjalanan.
Mereka di dalam truk juga bergaul dengan bambu
dan beras yang akan dibawa turun gunung. Kanan-kiri
gununggunung gersang dan pantai pasir putih muncul
di layar mata anak-anak. Semua halangan ini tidak
mereka hiraukan. Yang ada di pikiran mereka hanya
kesenangan setelah mencapai kota kecamatan.
Walaupun tidak seramai Kota Jakarta yang penuh
dengan lampu mewah, kecamatan sudah mereka
jadikan kota untuk melihat dunia lebih yang
berwarna. Mereka hanya ingin merasakan senangnya

~407~
bermain dan sebuah pembuktian atas kerja keras
mereka selama ini.
Selama dua minggu mereka berlatih PBB, bersiap
untuk mengikuti lomba gerak jalan indah untuk
memeriahkan acara 17 Agustus. Lomba yang rutin
diadakan tiap tahun ini, baru kali pertama diikuti oleh
mereka. Mereka bersemangat berlatih variasi gerakan
dan gerak jalan indah untuk satu tujuan, yakni pergi
ke kota dan bertemu dengan teman-teman dari
berbagai sekolah. Itu menjadi penyemangat mereka
se-lama berada di kota.
Malam hari ketika bulan bersinar terang, mereka
sibuk mempersiapkan seragam. Khusus untuk yang
perempuan, mereka disibukkan dengan mengeriting
rambut. Kertas putih bergelantungan di atas kepala
mereka; cara tradisional untuk mengeriting rambut,
tetapi hasilnya bagus. Kehebohan ibu-ibu juga sangat
kentara malam itu. Menyuruh ke sana kemari
berharap anaknya memperoleh hasil yang terbaik.
Acara makan malam pun menjadi berbeda. Aku dan
anakanak berkumpul duduk bersama untuk makan.
Lauk seadanya terasa sangat enak. Nasi raskin
menjadi pengisi perut kami. Aku sedikit memberikan
wejangan malam itu agar anak-anak tetap semangat
dan menjaga kesehatan.
Setelah selesai makan, anak-anak terasa sangat
mengantuk. Mereka merebahkan badannya di atas
belahan-belahan bambu rumah panggung. Sarung
menyelimuti badan mereka. Ingin rasanya memeluk
mereka satu per satu agar tidak kedinginan.

~408~
Kupandang mata polos mereka, ada getarangetaran
semangat yang terpancar. Itulah energi yang
membuatku bertahan. Aku yakin pancaran energi
itulah yang akan membawa alam bawah sadar mereka
bergerak menuju kemenangan esok hari.
Langit berubah dari gelap menuju terang.
Kumandang azan terdengar di telinga anak-anak yang
tak biasa mendengar azan di dusunnya. Matahari
sedikit demi sedikit mulai terbit untuk melihat
senyum cerah anak-anakku. Mereka pun mulai
terbangun satu per satu. Kulihat tubuh mereka
semakin bugar setelah istirahat yang cukup lama. Aku
dan anak-anak bersama-sama bersujud di hadapan
Sang Pencipta agar pertandingan nanti berhasil dan
dilancarkan.
Perlombaan hari ini akan dimulai sore hari. Maka,
aku memberikan kesempatan mereka untuk bermain
dengan teman-teman yang ada di kota kecamatan ini.
Kesibukan mulai terasa setelah matahari berada di
atas kepala, memancarkan terang dan panas yang
menyengat. Anak-anak mulai mandi dan berganti
kostum yang akan digunakan untuk lomba.
Untuk mempercantik muridku yang perempuan,
aku datangkan make up artist dari Bajo Pulau. Namanya
Miss Ratu Fauzana. Ia juga merupakan Pengajar Muda
yang mendapat penempatan di kecamatan sebelah,
Kecamatan Sape. Aku mendaulat Ratu untuk
membantuku “mempermak” anakanak agar tampil
beda.
Usapan-usapan tangan Miss Ratu mulai beraksi.

~409~
Anakanakku mengantre satu per satu, seperti
mengantre beras raskin yang biasa mereka lakukan di
dusun mereka. Dengan sabar Ratu mempercantik
anak yang biasanya lusuh dan kucel. Mereka senang
sekali. Serasa jadi artis terkenal yang di-make up. Ibu-
ibu dan kakak mereka juga ikutan heboh melihat aksi
Miss Ratu. Mereka jarang melihat dandanan cantik,
seperti hasil kerja keras Ratu yang bagus itu.
Sembari Ratu mendandani, aku mengatur anak-
anak laki-laki. Otot-otot leherku mulai kelihatan.
Kecemasan juga mulai muncul karena atribut yang
digunakan anak-anak ternyata kurang. Mulai dari dasi
yang tidak tahu di mana letaknya, sampai pita merah-
putih yang kurang.
Aku mulai memberi aba-aba kepada semua
orangtua untuk membantu mengecek dasi satu per
satu. Ternyata, murid perempuan ikut mengambil
dasi padahal murid perempuan seharusnya tidak perlu
menggunakan atribut tersebut. Pita lang-sung
kudatangkan dari desa sebelah melalui perantara ojek.
Saat persiapan itu, aku tidak melihat kepala
sekolah maupun guru-guru sekolahku di sana, acara
ini. Oleh karena itu, salah seorang warga
mengamanahkanku untuk mengoordinasi semuanya.
Kata-kata itulah yang memperkuat jiwaku walaupun
ragaku mulai melemah. Berarti, sudah ada
kepercayaan dari masyarakat kepadaku. Anak-anakku
sudah cantik dan ganteng. Aku menyuruh mereka
untuk turun dari rumah panggung tempat mereka
melakukan persiapan.

~410~
Anak-anak itu tampak tidak sabar sehingga
mereka lang-sung naik ke mobil box yang akan
mengangkut mereka. Kuminta mereka untuk turun
kembali dan berbaris di depan rumah panggung itu.
Akhirnya, mereka turun dari mobil. Aku memeriksa
satu per satu kelengkapan yang dipakai mereka dan
merapikan baju yang mereka kenakan. Pesan yang
kusampaikan kepada anak-anak, yaitu yakin bahwa
kalian bisa dan berjuang total sepenuh tenaga. Aku
merasa lega menjelang keberangkatan mereka karena
ada binar-binar semangat di mata mereka.
Suasana semakin mencekam. Jam tanganku sudah
menunjukkan pukul 14.00. Anak-anak mulai naik ke
atas mobil box. Berdesak-desak di atas mobil mini
mengantarkan mereka ke lapangan untuk start awal.
Sampai di lapangan aku melihat warna-warni seragam
dan atribut yang mereka kenakan. Turun dari mobil
instruksi yang aku berikan adalah baris sesuai barisan
awal. Debu lapangan beterbangan menghampiri
wajah-wajah bersih anak-anak. Perjalanan selanjutnya
adalah menghampiri panitia untuk mengambil nomor
urut. Alhamdulillah, sekolahku mendapat urutan
pertama dan keempat karena termasuk sekolah yang
paling jauh dan terpencil di kecamatan. Alasannya,
agar sekolahku bisa pulang ke rumah lebih cepat.
Nomor satu tertempel di dada ketua regu putri dan
nomor empat tertempel di dada ketua regu putra.
Langkah pertama, kaki mereka mengentak
memecah as-pal jalan. Semangat mereka juga telihat
berkobar. Tangan penonton bertemu untuk

~411~
melakukan tepukan. Keramaian tersebut malah
membuat anak-anak semakin percaya diri.
Perjalanan gerak jalan mulai mereka rasakan.
Sorak sorai penonton sangat terdengar. Ada salah
seorang muridku kelas 1 menjadi pusat perhatian
penonton. Namanya Ayu. Selama perjalanan menuju
pos dan finis, Ayu selalu dipegang pipinya. Sering
sekali terdengar suara, “Inai ... ana toi [ibu e ... anak
kecil ...].” Penonton heboh sekali melihat anak kecil
kelas 1 ikut lomba gerak jalan indah.
Perjalanan sekitar lima kilometer akan mereka
lahap. Pos demi pos mereka lalui. Mulai dari pos
pertama, yaitu pos kelengkapan dan performance. Pos
berikutnya adalah pos PBB. Anak-anak awalnya
merasa grogi di depan juri. Aku cuma membisikkan
kata meyakinkan mereka bahwa mereka pas-ti bisa.
Alhamdulillah, PBB yang mereka lakukan tidak ada
yang salah. Perjalanan ke pos berikutnya adalah pos
variasi. Lima variasi mereka sajikan kepada dewan
juri. Mulai dari variasi kupu-kupu, belah ketupat, anak
panah, SDN Inpres Baku, dan langkah maju mereka
sajikan di depan juri. Untuk regu putri lancar
terkendali. Regu putra terjadi sedikit kesalahan
karena anak-anak kurang jelas mendengar instruksi.
Suasana di sekitar pos memang sangat gaduh. Aku
kaget juga dengan spontanitas mereka yang langsung
bertindak membetulkan gerakan. Aku salut dengan
ketenangan mereka. Tidak ada satu anak pun yang
cemas atau bingung. Santai dan dijalani sesuai alur.
Pos berikutnya adalah pos penghormatan. Pada

~412~
pos terakhir anak-anak sudah mulai terlihat lelah.
Kata-kata semangat saja yang bisa menambah
kekuatan kaki mereka sehingga selesai sampai finis.
Sesampai di finis anak-anak langsung mencari
makanan kesukaannya. Jajanan khas anak-anak
banyak diperjualbelikan. Serasa pengin bernostalgia
dengan masa anak-anak maka aku membeli jajanan
khas anak-anak.
Perjumpaan anak-anak dengan dunia kota
berakhir. Penutupan dilakukan dengan pemberian
nasihat tentang arti pentingnya proses. Anak-anak
merasa senang sekali bahwa usaha kerasnya selama
ini aku apresiasi. Penghargaan yang ditunggu-tunggu
oleh anak-anak belum bisa dirasakan karena piala
belum bisa dilihat. Pengumuman akan diketahui
setelah seminggu setelah lomba. Dalam perjalanan
seminggu itu anak-anak berasa setahun menunggu.
Akan ada pertarungan batin dan kenyataan. Proses
inilah yang aku lihat unik. Menunggu sesuatu yang pasti,
pikirku. Aku optimis anak-anakku mendapat juara.
Setiap anak dalam seminggu pasti ada saja yang
menanyakan pengumuman lomba. Pembicaraan anak-
anak di sekolah selama seminggu, yaitu masalah
perlombaan di kota. Banyak pengalaman seru yang
mereka ingat. Mulai dari perjalanan seru sampai
berdandan ala bidadari cantik dan pangeran gagah.
Gerakan-gerakan khas di perlombaan juga mereka
hafal dengan baik. Instruksi-instruksi masih
terdengar di telingaku selama seminggu itu. Seminggu
berjalan dengan lambat. Akhirnya, usai juga.

~413~
Pengumuman diketahui melalui perjalanan yang
sangat panjang. Banyak melalui orang-orang yang
akan datang di dusunku. Biasanya perjalanan
kecamatan ke dusunku hanya dua jam. Namun,
informasi ini berjalan selama dua hari setelah hari
pengumuman.
Pagi hari yang cerah aku datang ke sekolah dengan
senyum yang sangat lebar. Dua kilometer perjalanan
jalan kaki ke sekolah tidak terasa. Sampai di sekolah
anak-anak ternyata tahu bahwa aku memegang surat
pengumuman. Anak-anak aku kumpulkan di tengah
lapangan. Mereka berbaris rapi dengan debar jantung
yang terdengar kencang. Kubacakan pengumuman
secara perlahan-lahan. Sepasang telinga tertuju pada
suaraku yang keras. Begitu muncul kata-kata juara
dua, suasana hening seketika. Antara senang dan
kecewa. Senang karena juara akhirnya ada di tangan
anak-anakku. Kecewa karena mereka menargetkan
untuk juara satu.
Kutekankan kepada anak-anak bahwa menjadi
sang juara bukanlah yang dikejar, melainkan
pengalaman dan proses. Hasil hanyalah sebuah
hadiah bagi kerja keras kita.
Senyum-senyum merekah, muncul kembali dari
bibir mungil mereka walaupun tetesan air mata ada
yang muncul di salah satu anak. Bahagianya aku bisa
melihat mereka berhasil. Menurut kabar yang
beredar, sekolahku sebenarnya bisa mendapat juara
satu. Namun, jumlah pasukan kurang mengurangi
nilai. Pemenang juara satu jumlah pasukannya 31,

~414~
sedangkan muridku jumlahnya 28. Sempat ada rasa
penyesalan, tetapi murid-muridku-lah yang
menguatkanku. Aku berpikir bahwa sang pemenang
adalah mereka yang bisa menerima proses sebagai
media belajar dan menganggap menang adalah sebuah
hadiah dari kerja keras kita. •

J ATUH C INTA BUAT BISA BACA


Oleh: Annisa Widyanti
Utami*
* Pengajar Muda Kabupaten
Kepulauan Sangihe, Sulawesi
Utara.
“Ibu, Ibuuu! Kita so tau babaca!!!”
teriak Junior pada pagi itu setelah sekian lama
tak bertemu.
Alkisah, hiduplah seorang bocah laki-laki berkulit
hi-tam legam, berambut keriting, dan bermata bulat.
Barisan gigi depan yang besar dan agak
kekuningannya sangat mudah terlihat, terutama
karena seringnya ia menganga. Junior namanya.
Junior kini telah berusia 10 tahun lewat empat,
tetapi masih duduk di kelas empat.
Juniorlah yang paling menarik perhatian ketika
kali pertama saya masuk sekolah. Bagaimana tidak,
bentuk fisiknya sudah paling menonjol, ditambah
larinya yang gontai ketika bermain bola, dan muka
menganganya, siapa yang akan lupa. Terlebih lagi
dengan bumbu-bumbu cerita setiap guru.
Dengan muka minta pemakluman, wali kelas
empat berkata, “Itu Junior memang agak-agak lain,

~415~
Bu. Kita jangan terlalu banyak berharap. Sebetulnya
koak kalau di sini ada SLB so dikasih masuk no ke sana.
Aduh kasiang! Jadi, biar jo kalau cuma iko’iko’ begitu di
kelas.” Dari cerita sang wali kelas pula saya
mengetahui bahwa Junior teramat setia dengan

kelasnya, alias, satu kelas pasti ia duduki selama


dua tahun,
minimal.
“A! Mulut dibuka lebar, Junior!”
“Aaaaa!” lagi, Junior menganga.
Awalnya, saya mengira Junior adalah anak dengan
down syndrome. Ternyata, tidak karena ia bisa bercerita
panjang lebar dengan alur yang runut. Jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan sederhana saya pun dapat
dijawabnya walaupun masih dengan mulut menganga
khasnya.
“Aha! Mungkin Junior disleksia!”
Ah, entah makhluk apa lagi itu disleksia. Kata asing

~416~
itu pun baru sering saya dengar ketika di pelatihan
dulu. “Baiklah!” Dengan berlandaskan semangat ‘45,
akhirnya saya me
mutuskan bahwa Junior harus bisa membaca.
Tidak seperti anak-anak lain yang datang ke rumah
atau sekolah untuk belajar, Junior mendapat
perlakuan khusus. Setiap sore, kami
berdua memiliki janji temu di tepi pantai depan
rumahnya.
Junior belajar membaca, saya belajar mengajar
membaca.
“CA! Seperti riCA, Junior!”
“Caaaaaa,” sambut Junior dengan tetap
menganga.
Begitulah, dalam satu hari Junior belajar satu suku
kata. Satu suku kata adalah sebanyak satu halaman
buku ajar yang saya gunakan. Saya berhipotesis bahwa
menamatkan buku ajar setebal 140 halaman tersebut
sama dengan Junior bisa membaca. Maka, hasil
hitung-hitungan idealis (tanpa memperhitungkan
hujan, saya ke kota, sakit, lelah, dan terjangkit malas)
saya menghasilkan angka 7 bulan, sebagai waktu bagi
Junior untuk bisa membaca.
Satu-dua hari saya tidak datang karena hujan, dua
minggu kembali alpa karena sakit di luar kota, satu-
dua hari lain karena lelah dan malas, hingga
puncaknya satu bulan saya pergi meninggalkan Junior
karena sebuah urusan di kota.
“Ibu, Ibuuu! Kita so tau babaca!!!” teriak Junior pada
pagi itu setelah sekian lama tak bertemu.
Terkaget-kaget dan tak percaya saya memastikan

~417~
kembali, “Betul, Junior so tau babaca?”
“Betul, Ibu!” Binaran mata bulatnya-lah yang
berkata.
Junior melanjutkan, “Mamak ada kasi ajar pa
kita!”
Saya tersentak. Masih sulit percaya.
Hati ini diam-diam bergumam, Bagaimana mungkin?
Junior bahkan belum sampai pada setengah buku ajar.
Bahkan, saya tidak ikhlas, Mengapa saya
melewatkannya? Mengapa momen itu tidak terjadi nanti saja
ketika saya sudah mulai mengajar kembali? Mengapa dengan
mamak-nya? Mengapa tidak dengan saya?
Seketika itu juga saya menyesal sedalam-
dalamnya, layaknya orangtua yang hanya mampu
mengingat ketika anaknya masih berjalan tertatih-
tatih tak seimbang dan melewatkan momen ketika
anaknya kali pertama mampu melangkah tegap tak
terjatuh.
Intinya adalah bukan pada siapa yang melakukan.
Melainkan, pada apa yang dilakukan.
Begitulah kira-kira salah satu perkataan Anies
Baswedan yang paling saya ingat, terutama dalam
seminggu terakhir ini. Mungkin selama ini kita telah
terjebak dalam kubangan egoisme tak kasat mata.
Egoisme karena begitu kuatnya keinginan memiliki
sehingga sampai lupa akan apa yang utama. Merasa
ingin memiliki semua, ingin melakukan semua, ingin
mengendalikan semua, hingga lupa bahwa semua ada
takaran dan ukurannya. Junior yang mengingatkan
bahwa tidak semua harus saya miliki, saya lakukan,

~418~
dan saya kendalikan.

Tentu bagi Junior yang penting adalah ia kini


telah mampu membaca. Tentu tak penting baginya
siapa yang membimbing hingga akhirnya ia bisa.
Mamak-nya atau saya, tak ada beda. Dan, bukankah
memang baik, bahkan sangat baik, bila memang
orang terdekatnya sendiri yang membimbing?
Bukankah memang itu intinya?
Tiba-tiba saya teringat, dulu saya memutuskan
untuk mendatangi langsung rumah Junior di
kampung sebelah bukan hanya karena Junior
memang perlu didatangi, melainkan juga karena ada
keinginan untuk mengajak orangtua, bahkan
masyarakat sekitar, agar berupaya bersama.
Untungnya saya tak pandai berkata-kata sehingga
ajakan tidak saya sampaikan dengan lisan, tetapi
dengan perbuatan, dengan sengaja membuat janji
temu di pantai depan rumah Junior. Agar orangtua

~419~
melihat, agar masyarakat melihat, agar semua ikut
berbuat.
N.B.: Saya rasa salah satu pembakar semangat Junior
sehingga dapat membaca adalah karena ia sedang jatuh
cinta. Namanya Sindy, kelas enam.
Setiap orang lewat yang mendengar Junior
tertatih
tatih membaca kata berkata, “Kase bagus ko
Junior mo
babaca supaya Sindy mo suka pa ngana!”
Kontan Junior mengeraskan
suaranya, “BA CA, CA CA, A BA
CA ...!” Beginilah seharusnya
orang yang jatuh cinta. J•

K ETIKA A KU D IAM
Oleh: Arum Puspitarini Darminto*
* Pengajar Muda Kabupaten Maluku Tenggara Barat,
Maluku.
Pada hari itu, saat aku kali pertama mengajar
sebagai wali kelas 4, aku berada di depan sebelas
pasang mata dengan pandangan polosnya. Aku berdiri
di depan mereka, dengan berbekal buku besar yang
terbuka di atas meja, berisi RPP (Rancangan
Pelaksanaan Pembelajaran) untuk satu hari saja.
Gagap, canggung, kaku memang aku rasakan. Tidak
heran aku banyak menemui kegagalan pada
pengaturan kelas. Anak-anak yang berlarian ketika
aku mengajarkan temannya, lemparan-lemparan batu
marak di dalam kelas sebagai permainan “tembak-
tembakan” ala mereka, belum lagi anak-anak yang

~420~
saling memukul hingga tidak pernah terlewatkan ada
yang menangis setiap harinya.
Anak-anak ini hanya sebelas orang. Saya mengaku
kalah. Kelelahan selalu dirasakan sepulang sekolah
setelah setengah hari bersama mereka. Ya, mereka
anak-anak yang terbiasa berbicara dengan berteriak,
seperti urat tenggorokan yang hampir putus, anak-
anak yang lebih senang berada di kebun daripada di
sekolah, anak-anak yang lebih memilih dipukul
daripada mengerjakan tugas. Anak-anak itu terlihat

seperti anak-anak yang kemasukan setan. Setelah


beberapa
kali aku dibuat kalah oleh mereka, kali ini ....
Aku harus memenangkan perhatian mereka.
Aku pernah bernyanyi, “Ayo, duduk ... ayo, duduk
... semua ... semua,” sampai rasanya dada ini sesak. Ini
betulan. Aku terus bernyanyi sampai anak-anak
mengikuti instruksiku, tetapi gagal. Mengapa aku
bilang gagal? Karena, aku sudah bernyanyi sampai
lebih dari 10 kali! Aku lalu berpikir aku harus
memakai strategi manajemen kelas yang lain.
Berhitung dari angka 1. Hasilnya bukan membuat
anak duduk, malahan membuat mereka semakin
berlari sambil berhitung mengikuti hitunganku. Aku
lalu tertawa kecil di dalam hati, Sungguh strategi yang
salah, Arum! Hahaha.
Strategi lainnya, aku menghitung mundur.
Lumayan hasilnya. Ada dua anak yang tersadar
untunk duduk, sebelum kata “satu” aku ucapkan.
Untuk meminta anak-anak duduk saja sudah tiga

~421~
strategi yang aku jalankan dalam satu waktu. Aku
masih merasakan kelelahan. Berarti aku belum
memenangkan pertandingan.
Suatu hari pada akhir Oktober, aku pernah
mengalami situasi terkacau. Benar-benar tidak ada
yang mengikuti instruksi. Tidak ada nyanyian lagi
yang bisa aku andalkan, tidak ada sinyal-sinyal
panggilan lagi yang bisa membuat mereka semua
mengikuti instruksi. Strategi terakhirku adalah diam.
Aku berdiri di depan kelas, melipat tangan.
Memperhatikan anak-anakku satu demi satu. Aku
jadikan momen ini untuk banyak mengambil napas.
Menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya
perlahan-lahan. Mendinginkan hati yang sedang
panas. Strategi ini mulai kelihatan hasilnya. Satu
anakku mulai melihat ke arahku. Melihat ada yang
berbeda dari ibu gurunya. Lalu, ia kembali ke bangku,
terdiam. Aku tersenyum ke arahnya. Arti tanda
terima kasih.
Aku lalu duduk di bangku guru. Masih dengan
pandangan ke anak-anakku yang berhamburan. Butuh
kesabaran agar strategi ini berhasil. Ketika satu anak
ada yang menyadari perilakuku berbeda, mulailah
strategi ini berjalan dengan baik. Anak itu lalu
memperingati teman-temannya yang lain.
Menjalarlah kondisi saling mengingatkan di antara
mereka,

~422~
“He, Ibu Guru su diam saja itu di muka. Ose diam
sudah,” begitu peringatan dari anak-anakku yang mulai
terlihat manis. Hehehe, aku memang butuh 15 menit
untuk mendapatkan perhatian mereka, tetapi
setidaknya aku sudah berhasil.
Strategi diam dan berbicara dengan suara pelan ini
aku rasakan paling bermanfaat. Pertama, untuk
kebaikan diriku sendiri. Dengan diam, aku berusaha
mengontrol emosiku, meredam amarah,
mendinginkan otak dan hati sehingga bisa berpikir
tentang strategi apa yang aku jalankan berikutnya.
Dengan diam juga, aku berusaha untuk relaks,
mengistirahatkan suaraku yang sudah mulai serak,
menahan air mata yang rasanya ingin meledak dan
aku yakin kalau aku tidak mampu menahannya, yang
keluar bukanlah air mata, melainkan air terjun (ini
memang berlebihan). Kedua, untuk kebaikan anak-
anakku. Mereka tidak harus mendapatkan pukulan

~423~
agar mengikuti perintah guru. Mereka harus diajarkan
sadar pada lingkungan. Peka terhadap sekitar.
Memahami apa yang dirasakan oleh orang lain yang
akhirnya membuat mereka jadi individu yang empati.
Kita tidak perlu terus berlari untuk sampai ke
tempat kita. Jangan lupa untuk istirahat jika sudah
merasa lelah. Pikiran yang tenang, hati yang damai,
akan menghasilkan pengambilan keputusan yang
tepat. Ternyata, aku hanya butuh diam. Bukan
bernyanyi apalagi berteriak. Diam beberapa saat,
mendapatkan perhatian anak-anak, mengingatkan
mereka kembali tentang peraturan kelas,
mengingatkan mereka tentang kesepakatan bersama
dan kami kembali belajar. Tak lama kemudian, kelas
kembali ribut. Keributan yang mencerdaskan, mereka
berdiskusi dan berdebat memutuskan prediksi hasil
sebuah percobaan di kelompok mereka.
Ibu guru pun tersenyum. •
K ALAU BUKU BISA N GOMONG
Oleh: Agriani Stevany Kadiwanu*
* Pengajar Muda Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi
Utara.
Hai, Teman! Hampir dua tahun sejak
kita datang dari pabrik, tapi belum pernah
berjalan-jalan di pulau ini. Lihat, tubuhku
penuh dengan debu dan ... ewh! Seekor
laba-laba merambat di tubuhku!”
“Kau ini mengeluh terus, sudahlah, pasrah saja.
Kau lihat saja keadaan kita sekarang. Bagaimana
mungkin kita bisa jalan-jalan kalau kita terjebak di

~424~
ruangan terkunci ini dan bertumpukan dengan
teman-teman lainnya. Bernapas pun sulit!”
Ini khayalanku akan obrolan buku-buku di
perpustakaan SD GMIST Sion Enggohe ketika belum
diaktifkan. Setumpuk buku-buku bagus yang
tercampur aduk, tidak ada klasifikasi, masih terlihat
baru tak tersentuh, terkunci dalam suatu ruangan
yang begitu luas. Lantai ruangan merindukan dijejaki
kaki mungil murid SD ini. Buku-buku haus akan
sentuhan dan tatapan ingin tahu anak-anak. Dan,
pintunya, ia terus menunggu seseorang membukanya.
Bukan untuk menyimpan barang di dalam perut
ruangan, melainkan untuk bertemu dengan teman-
teman bukunya. Aku mendengar panggil

an mereka, kurasakan kerinduan mereka. Okay,


buddy! We will try our best!
“Hai, Buku-Buku! Apa kabar? Hari ini kalian akan
berkumpul dengan keluarga kalian!”
Semua buku kuturunkan dari tempat mereka
berdesakan dan bercampur aduk. Dipilah-pilah,
dikelompokkan dengan saudara-saudara sejenisnya.
“Hai, Ensiklopedia Biologi! Itu saudara-
saudaramu!” kuantar ia ke tempat yang sudah
kusediakan khusus bagi Klan Ensiklopedia. Mereka
bersama-sama dan berjajar manis di situ.
“Hai, Cerita Rakyat Kalimantan! Keluargamu
menunggu di pojok sana! Mari kuantarkan ke
keluargamu, Klan Fiksi!”
Hal yang sama kulakukan terhadap klan buku

~425~
lainnya. Kuantarkan mereka satu-per satu agar dapat
bergabung dengan keluarganya. Ada Klan Islami, klan
Antariksa, Klan Pengembangan Diri, serta Klan
IPTEK dan Alam Sekitar. Mereka semua terlihat
bahagia dapat bersama. Rumah setiap klan kuberi
patok pembatas yang jelas. Tentu saja agar tidak
terjadi masalah sengketa tanah. Pembatasnya
sederhana, hanya sebongkah batu yang dibungkus
plastik warna-warni. Di pojok lemari dekat pintu, ada
satu areal parkir yang kusediakan buat buku-buku
yang keluar-masuk pintu perpustakaan. Namanya,
Tempat Pengembalian Buku. Setiap buku yang
berjalan-jalan bersama seorang murid SD GMIST Sion
Enggohe, sebelum kembali ke rumahnya harus
singgah di situ dulu. Hal ini agar buku-buku itu tidak
tersesat di rumah klan yang lain. Tempat
Pengembalian Buku itu juga kuberi areal khusus buat
tiap klan.
“Oke, Teman, aku rasa kalian sudah siap bertemu
anakanak kecil yang mencintai kalian.”
Pintu perpustakaan SD GMIST Sion Enggohe
menderit gembira ketika kubuka dan dimasuki oleh
murid-muridku. Lantai perpustakaan berdecit senang
ketika sepatu-sepatu mungil bergesekan di atasnya.
Dan, yang paling berbahagia adalah buku-buku yang
terambil dari rumahnya dan dibawa pulang oleh anak-
anak ke rumah mereka. Akhirnya, mereka bisa
berjalanjalan di ruang kelas, halaman sekolah, di jalan
kampung, bahkan rumah-rumah murid. I can see they
are smiling.

~426~
Semakin hari, perpustakaan semakin ramai. Anak-
anak semakin haus akan membaca, aku sempat
kewalahan melayani administrasi peminjaman buku
di sekolah. Suatu kali, sempat kuhabiskan waktu
bercengkerama dengan Buku Peminjaman. Kami
mengobrol tentang hubungan antara anakanak dan
buku-buku.
“Hai, Buku Peminjaman! Kau ingat tidak kejadian
anak kelas 1 meminjam buku?” “Ohohoho ....
Bagaimana mungkin aku lupa. Kejadian itu lucu
sekali!”
“Benar sekali. Seperti biasa, ketika diumumkan
bahwa perpustakaan dibuka, anak-anak selalu
berbondong-bondong datang. Pada suatu kali, anak
kelas 1 yang baru saja masuk sekolah dan belum bisa
membaca juga ikut dalam kumpulan itu. Mereka ingin
meminjam buku! Bisa kau bayangkan? Bagaimana
mungkin anak kelas 1 yang belum bisa membaca dan
masih berusaha mengenal huruf ingin meminjam
buku? Dia bahkan mengambil buku dari Klan
Ensiklopedia. Dia mengambil si Ensiklopedia
Tanaman Buah.”
“Yup, benar sekali. Tapi, bukankah itu artinya
anak-anak sekarang jadi cinta buku? Aku rasa itu hal
yang bagus.”
“Ya, benar, sih. Ngomong-ngomong, hubungan
antara buku dan anak ternyata jadi seperti simbiosis
mutualisme, lho. Mereka saling menguntungkan. Ada
beberapa anak yang belum terlalu lancar membaca,
sekarang jadi lancar sekali membaca. Awalnya, ketika

~427~
disuruh membaca judul buku yang mau dipinjam
untuk data, mereka membaca dengan terbata-bata.
Sekarang, mereka dengan cepat menjawab!”
“Betul. Aku akui itu. Hal itu sangat baik aku rasa.
Oh, ya, apa kau tahu buku apa yang paling populer di
kalangan anakanak SD GMIST Sion Enggohe?”
“Tentu saja aku tahu! Mereka paling banyak
mengambil buku dari Klan Ensiklopedia serta Klan
IPTEK dan Alam Sekitar. Dari Klan IPTEK dan alam
sekitar, mereka sering sekali mengambil buku-buku
hewan.”
“Ya, betul. Aku heran, lho. Sewaktu aku kecil, aku
lebih tertarik dengan buku dari Klan Fiksi. Semua
yang berbau imajinasi, bergambar, dan berwarna-
warni. Tetapi, anakanak ini beda. Mereka haus akan
pengetahuan.”
“Mereka memang berbeda. Mereka punya rasa
ingin tahu yang tinggi. Ngomong-ngomong, sudah
waktunya jam pelajaran. Aku rasa kita harus kembali
ke tugas masing-masing.”
Waktu berlalu, perpustakaan selalu ramai. Buku-
buku semakin bahagia. Tidak ada lagi keluhan tentang
sepinya dunia mereka. Buku-buku telah menjadi
sosialita di Pulau Enggohe, khususnya di kalangan
pergaulan anak-anak. Ternyata, ada juga orangtua
yang ikut membaca buku yang dibawa pulang
anaknya. •

~428~
E IT, M ARI BERSEKOLAH
Oleh: Silvia Ramadhani*
* Pengajar Muda Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara
Timur.
Pasar Desa Kuli
Di tengah keasyikanku melemparkan pandangan
ke sana kemari, tiba-tiba dua sosok pria menyapaku.
Mereka adalah guru SMP Satu Atap Batulai (satu
kompleks dengan SD tempatku mengajar, SDN Inpres
Batulai, Desa Batulai, Kecamatan Lobalain).
Kami pun terlibat percakapan—yang akhirnya
percakapan tersebut mampu menunda jadwal
belanjaku beberapa saat. Salah satu dari mereka
adalah guru bantu yang dikirim oleh salah satu dinas
pendidikan sebuah kabupaten di pulau bagian tengah
Indonesia. Ia dan rombongannya akan mengabdi di
bumi Nusa Lontar ini selama satu tahun. Sebelumnya,
kami pernah bertemu di kediaman bupati beberapa

~429~
waktu lalu, tepatnya saat mereka baru saja
menginjakkan kaki di pulau ini.
Kami pun terlibat percakapan. Dari sanalah aku
mendapat informasi bahwa salah satu teman
perempuannya yang ditugaskan di sini telah pulang
karena tidak kuat mental. Hal ini kemudian
membuatku tersentak dan menyadarkanku dengan
sangat cepat bahwa betapa sayang Tuhan kepadaku.

Hingga saat ini, kekuatan-Nya masih melekat di


dalam jiwa hingga enam bulan penempatan aku masih
bertahan. Bahkan, aku merasa waktu berjalan
teramat cepat, menandakan aku kerasan di tempat
ini.
Hari itu, pagi itu, bukan hanya kejadian tersebut
yang terasa sangat istimewa bagiku. Tak selang berapa
lama setelah aku meninggalkan kedua guru SMP itu,
aku kembali memilih bahan makanan lain yang aku
butuhkan sebagai asupan gizi utama di rumah. Di
tengah kesibukanku memilih cabai, lewat sesosok
laki-laki kecil berbaju merah yang sangat akrab di
ingatanku. Eit Thine nama lengkapnya.
Eit adalah salah satu murid kelas 6-ku. Ia anak
yang cukup pintar dan sangat menyenangkan, baik itu
di rumah maupun di sekolah. Eit pandai menghibur
teman-temannya. Ia lucu dan kocak. Setiap datang
waktu istirahat, aku dan anak-anak kerap berkumpul
di bawah pohon atau di teras sekolah yang teduh. Di
sana, aku dan mereka, para malaikat-malaikat kecil,
selalu berbagi keceriaan. Mulai dari saling bercerita

~430~
hingga berbalas lagu antarkelompok. Dalam aktivitas-
aktivitas itu, nama Eit sering disebut anak-anak.
Darinya juga, muncul berbagai cerita-cerita yang
membuat anak-anak terpingkal-pingkal—meskipun
tidak denganku, hehehe .... Namun, kadang-kadang
iya juga, sih. :D
Sayangnya, sekitar dua atau tiga bulan yang lalu,
Eit mulai meninggalkan sekolah. Awalnya karena
membantu sang ayah pergi mencari ikan di laut, lama
kelamaan kelenyapannya semakin sering. Pada
beberapa waktu terakhir sebelum ia benar-benar
hilang, aku berkeinginan untuk mendatangi
rumahnya. Namun, karena menghargai wali kelas, aku
pun menyampaikan permasalahan tersebut ke Bapak
Kepala Sekolah (yang kebetulan merupakan wali kelas
6).
Sayangnya, Bapak Wali Kelas agak malas
menanggapi hal tersebut. Ia malah berkata, percuma
juga kalau keluarga tidak mendukung. Meskipun kita
berkali-kali datang, tak akan ada hasilnya (memang
perkataannya benar, tetapi bukan berarti perjuangan
harus berhenti bukan?). Meskipun agak enggan,
Bapak tetap menyempatkan diri pergi ke keluarga
nelayan tersebut.
Bapak boleh patah arang, tetapi tidak denganku.
Masih menghormati posisinya sebagai wali kelas, yang
juga kepala sekolah, yang juga bapak angkat di rumah,
aku pun terus mengusahakan agar Eit bisa kembali ke
sekolah. Bersama teman-teman sekelasnya, kami
membuat sebuah poster yang berisikan ajakan agar

~431~
Eit mau kembali ke sekolah. Poster itu akhirnya
diantar oleh salah satu anak ke rumah Eit. Hasilnya?
Eit kembali ke sekolah keesokan harinya. :D
Sayang, Eit muncul lagi di sekolah hanya sekitar
satu minggu. Selebihnya, ia kembali menghilang. Kali
ini, aku benar-benar tertampar. Anak-anak bilang, Eit
pergi ke Kupang untuk bekerja, mencari nafkah untuk
tambahan hidup keluarga. Dan, apa pekerjaannya?
Membantu menjaga anak dan mencuci piring di
rumah saudara. Asli ... tak ada perasaan, selain merasa
bersalah.
Waktu UAS datang. Aku pun berencana akan
menyempatkan diri pergi ke Kupang pada saat
liburan, bertemu dengan Eit dan mengajaknya
kembali bersekolah. Masalah uang? Aku yakin, aku
mampu mengajarkannya tentang berwirausaha kecil-
kecilan dan membantu perekonomian keluarga.
Sekarang yang terpenting adalah mengajaknya
kembali. Itu saja.

~432~
Waktu pun berlalu. Cuti juga begitu. Aku telah
kembali ke Nusa Lontar. Namun, sayang, sampai saat
itu aku belum bisa melaksanakan keinginanku.
Mengunjungi keluarga Eit, menanyakan kabarnya,
membujuk keluarganya, mencarinya, dan
membawanya pulang. Kemalasankah yang
membuatku lalai? Atau, berbagai alibi untuk
membenarkan diri atas waktu yang terbatas dan
membatasi? Entahlah, pada kenyataannya aku lalai
akan hal tersebut.
Sampai akhirnya kemarin, Kamis pagi itu aku
menjumpainya di pasar. Ia ada di rumah, sudah
pulang dari Kupang. Mungkin karena perayaan Natal
atau Tahun Baru. Intinya, sekarang ia ada di sini.
Sebelum ia kembali ke “kota metropolitan” tersebut,
aku harus mampu meyakinkannya untuk kembali ke
sekolah. Meyakinkan keluarganya mungkin lebih
tepatnya.

~433~
Setelah semua doa dan usaha kulakukan, tiba-tiba
aku mendengar kabar membahagiakan dari anak-anak
bahwa Eit sudah tidak akan kembali ke Kupang. Apa?
Apa pendengaranku sudah eror? Apa aku tidak salah
dengar? Eit sudah tidak akan kembali ke Kupang lagi?
Alhamdulillah, ya, Allah ....
Belum menguap rasa bahagiaku, anak-anak
kembali memberikan kabar yang jauh lebih
menyenangkan. “Ibu, Eit bilang dia ingin sekolah lagi,
tapi takut Bapak buan (Bapak Kepala Sekolah marah),”
kata salah satu anak.
Subhanallah ... Alhamdulillah, Engkau
mempermudah semuanya, ya, Allah .... Memang, tak
ada yang mustahil bagi-Nya.
Aku pun kembali menampar hati. Ayo, Cil, sekarang
giliranmu. Allah sudah sangat memudahkannya untukmu ...
ujarku dalam hati.
Sepulang sekolah, aku pun menyapa Anjas, salah
satu muridku yang rumahnya berseberangan dengan
Eit. Aku mengajaknya untuk “main” ke rumah Eit dan
mengajak Eit kembali ke sekolah. Anjas setuju, kami
pun berjanji bertemu sore atau malam ini. Dalam
perjalanan pulang sekolah siang ini, setelah menyapa
Anjas, aku melewati rumah Eit. Sekilas pandanganku
“menyapu” halaman rumahnya. Di sana kutemukan
Eit sedang berdiri di dekat teras. Aku pun menyapa
dan turun dari sepeda motor. Namun, sayang, melihat
aku datang ia justru pergi melarikan diri.
Sampai akhirnya aku berjalan memutar, mencari
gerbang pagar—batang lontar yang dianyam

~434~
memanjang—rumahnya. Asli, mencarinya lama. Aku
bingung, ini yang disebut gerbang yang sebelah mana,
sih, ... semuanya sama tinggi (hahaha ...). Sampai
akhirnya, aku sampai di semak-semak, yang ternyata
adalah tempat gerbang itu berada :D. Pintar juga ini
pemilik rumah bikin gerbangnya, pikirku.
Aku pun melompati pagar setinggi 1,5 meter.
Berjalan melewati sumur yang lagi-lagi dikelilingi
semak-semak, dan melompati pagar lagi, sampai
akhirnya menginjakkan kaki di halaman rumah Eit.
Tak begitu lama, seorang pria berumur sekitar 50-an
keluar dan langsung duduk di sebuah kursi kayu di
depan rumah. Ia membawa seperangkat bahan linting
rokok dan duduk terdiam. Benar-benar diam sampai
aku menyapanya.
Entah mengapa, aku melihat pandangannya
kosong. Menerawang ke depan. Rasanya berkarung-
karung beras sedang menindih kepalanya. Masih
dengan berbagai hal yang berkecambuk, aku pun
mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri. Ia
menerima uluran tanganku tanpa senyum. Tanpa
jawaban. “Hmmm .... Apa kabar, Pak?” tanyaku.
Nginggg, .... Suara serangga di kejauhan.
Nguuung .... Suara lalat di samping teras.
Nguing nguing nguing .... Suara kebingungan di
telingaku, yang datang dari otakku. Hmmm, aku salah
apa, ya?
Hmmm ...
Ngiiinggg ... dan nguuuuung, serta nguuing lagi ....
Hingga, dua anak SD yang sebelumnya menumpang

~435~
sepeda motorku mendekat dan berbisik, “Dia tuli Bu
....” Haaaaaaaaa???!!! Oke, langkah selanjutnya adalah
mengeraskan suara. “Ba
pak, hmmm ... (masih berpikir dan bertanya-
tanya, benar enggak, ya, tuli? Jangan-jangan dia
emang niat nyuekin lagi >.<). Eit ada, Pak?” tanyaku
ragu.
“Oh, dia baru sa pi belakang tu ... [dia baru saja pergi
ke belakang],” katanya.
Akhirnya, usai berbincang dengan suara
maksimalku dan pendengaran maksimalnya, beliau
bilang, “Besok be suruh dia pi sekolah.”
Alhamdulillah .... Keluarganya kini mendukung.
Eit, mari bersekolah, Nak. •

~436~
PROFIL D AERAH PENEMPATAN
K ABUPATEN A CEH U TARA
Untuk menuju Aceh Utara ada beberapa alternatif
penerbangan: dari Jakarta ke Medan atau dari
Jakarta ke Banda Aceh. Jarak antara Medan–Kota
Lhokseumawe (sebelumnya merupakan Ibu Kota
Kabupaten Aceh Utara) dengan Banda Aceh–
Lhokseumawe relatif sama. Namun, frekuensi
penerbangan dari Jakarta ke Medan lebih banyak
daripada penerbangan dari Jakarta ke Banda Aceh.
Penerbangan Jakarta–Medan ditempuh selama
kurang lebih 2 jam 15 menit. Waktu tempuh yang
diperlukan untuk menuju Aceh Utara dari Medan
diperkirakan sekitar 7–8 jam. Ibu Kota Aceh Utara
sekarang adalah Lhoksukon, menggantikan
Lhokseumawe yang kini telah berganti status menjadi
Kota Lhokseumawe. Namun, berhubung masih dalam
transisi, berbagai gedung perkantoran pemerintah
Kabupaten Aceh Utara masih berlokasi di Kota
Lhokseumawe.
Secara keseluruhan, prasarana pendidikan di Aceh
Utara relatif baik. Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan
Bahasa Aceh diajarkan di kebanyakan sekolah.
Meskipun demikian, ada beberapa SD yang
kekurangan guru. Sinyal telepon (GSM) bisa diterima
dengan baik di beberapa tempat. Listrik juga relatif
mudah diperoleh. Di daerah yang pernah menjadi
daerah konflik ini, masih sering terlihat gajah
melintas. Di daerah dengan mayoritas penduduk
beragama Islam yang terdiri atas suku Aceh serta suku

~437~
lain (termasuk Jawa dan Banjar) ini, sebagian besar
warganya memiliki mata pencaharian sebagai petani
maupun penggarap kebun.

Pengajar Muda Kabupaten Aceh Utara


1.
Atika Fara Amalia (SDN 6 Payabakong,
Payabakong)
2.
Dimas Sandya Sulistio (SDN 25 Sawang,
Sawang)
3.
Duddy Abdullah (SDN 7 Payabakong,
Payabakong)
4.
Erma Dwi Purwantini (SDN 16 Kutamakmur,
Payabakong)
5.
Milastri Muzakkar (SDN 4 Langkahan,
Langkahan)
6.
Pemi Ludi Lestari (SDN 2 Langkahan,
Langkahan)
K ABUPATEN L EBAK

~438~
Meskipun berada di Jawa, jangan bayangkan akses
pendidikan di Lebak sangat mudah. Keenam SD, di
mana Indonesia Mengajar beraktivitas di Banten ini,
berada di tempattempat yang sulit dijangkau.
Beberapa harus dicapai dalam 1,5 hingga 2 jam
perjalanan sepeda motor melalui jalan yang berbatu
dan berlumpur ketika hujan. Ada pula SD yang berada
di puncak bukit.
Untuk bisa mencapai Kabupaten Lebak, tidak
diperlukan pesawat terbang atau pesawat perintis.
Hanya diperlukan mobil atau sepeda motor dengan
ketahanan tinggi yang dipadu dengan tingkat
kepiawaian menyetir yang memadai.
Mata pencaharian kebanyakan penduduk di
Kabupaten Lebak adalah bertani sawah tadah hujan,
selain beternak kambing. Daerah ini juga terkenal
dengan kebudayaan Sunda Wiwitan (catatan: daerah
Lebak menggunakan bahasa Sunda “agak kasar”
sebagai bahasa pengantar sehari-hari). Listrik di Lebak
dipasok oleh PLN secara kontinyu, tetapi masih ada
beberapa daerah yang belum terjamah listrik sama
sekali sehingga penduduknya masih mengandalkan
lampu minyak sebagai alat penerangan pada waktu
malam. Sinyal telepon dan GPRS pun masih sulit.
Sejauh ini hanya satu provider GSM yang bisa diakses.

~439~
Pengajar Muda Kabupaten Lebak
1.
Astuti Kusumaningrum (SDN 2 Mayak, Curug
Bitung)
2. Budi Wibowo (SDN 2 Pasir Haur, Cipanas)
Eko
3.
Indarta Kuncoro Aji (SDN 1 Sangiang Jaya,
Cimarga)
4.
Medha Ardiana Gustantinar (SDN 1 Lebak Situ,
Lebak Gedong)
5. Wahidah (SDN 1 Mekarwangi, Muncang)
Nur
6. Muthmainnah (SDN 1 Margaluyu, Sajira)
Siti

K ABUPATEN G RESIK
SD-SD di daerah penempatan Pengajar Muda
terletak di Pulau Bawean dan pulau kecil di
sekitarnya. Dari Bandar Udara Djuanda di Surabaya,
dibutuhkan waktu dua jam untuk perjalanan darat
menuju Gresik. Perjalanan dilanjutkan lagi dengan

~440~
kapal selama tiga jam ke Pelabuhan Sangkapura di
Pulau Bawean.
Meskipun bagian
Provinsi Jawa Timur,
masih banyak infrastruktur
di Pulau Bawean yang
memerlukan peningkatan.
Misalnya, untuk menuju
beberapa SD di Kecamatan
Tambak, sinyal telepon
GSM apa pun tidak
dijumpai. Sementara itu,
jalan untuk mencapainya
juga penuh tantangan.
Setelah melalui perjalanan
laut, menembus hutan dan
jalan berlubang, kita akan
melewati pula jalan di
tebing garis pantai Pulau
Bawean.
Salah satu fenomena
yang khas di Pulau Bawean
adalah menu ikan yang
berlimpah. Masyarakat
Bawean menanam sayuran
secara terbatas seperti
sawi, bayam, kangkung,
dan singkong, sedangkan
sayuran lain seperti wortel
dan cabai dibawa dari

~441~
Gresik. Hal ini meng

akibatkan harga sayuran menjadi sangat mahal


jika tidak ada kapal yang berlabuh membawa sembako
dan sayuran.
Ada beberapa tempat yang sinyal GSM-nya cukup
bagus di Pulau Bawean atau Pulau Gili. Dibutuhkan
kreativitas dalam mencoba berbagai kartu provider
GSM di berbagai lokasi untuk memperoleh sinyal
telepon yang baik.
Pengajar Muda Kabupaten Gresik
1.
Hety Apriliastuti Nurcahyarini (SDN Kepuh
Legundi 2, Tambak)
2.
Lastiani Trikusumastuti Hantoro (SDN
Tanjungori 4, Tambak)
3.
Maisya Farhati (SDN Teluk Jati Dawang 4,
Tambak)
4. Rizki Dian Lestari (SDN Kepuh Teluk 3,
Putri

~442~
Tambak)
5.
Tidar Rachmadi (SDN Kebun Teluk Dalam 2,
Sangkapura)
6.
Wintang Haryokusuma (SDN Sidogedungbatu
4, Sangkapura)

K ABUPATEN K APUAS H ULU

Jalan Lintas Kalimantan bukanlah jalan yang


mudah. Ibarat lubang-lubang yang diserakkan secara
asal, maka jalan menuju Kapuas Hulu adalah
kombinasi kepiawaian sopir menghindari “jebakan”
dan “keikhlasan” penumpang terhadap
guncanganguncangan yang melelahkan. Dibutuhkan
lebih dari 15 jam dengan kendaraan umum dari Ibu
Kota Kalimantan Barat, Pontianak, untuk menuju
daerah penempatan di Kapuas Hulu.
Pada musim kemarau, Sungai Kapuas tidak
sedalam biasanya. Beberapa sungai sempit yang kerap
dijadikan jalan pintas tidak bisa dilewati. Sesekali
masih ada yang nekat me-

~443~
nembus sungai yang sudah dangkal, tetapi selalu
berakhir dengan mogoknya perahu di tengah sungai.
Puncak musim kemarau adalah pada Juni. Dahulu,
sebelum ada jalan darat, penduduk setempat tak bisa
ke mana-mana pada bulan itu. Namun, musim
kemarau juga menjadi musim terbaik untuk
menangkap ikan. Ikan-ikan dari Sungai Kapuas
tersebut biasanya dikirim ke Malaysia menggunakan
perahu bermesin 40 pk. Ikan Siluk (Arwana) yang
mahal itu (ukuran kecil saja harganya bisa mencapai
2,4 juta) menjadi komoditas utama di Kapuas Hulu
selain ikan air tawar konsumsi.
Perjalanan menuju kampung-kampung terdalam
di Kapuas Hulu tak pernah membosankan. Semakin
kecil sungai yang dilalui maka semakin banyak yang
bisa disaksikan. Sebuah kampung di Kecamatan Bunut
Hilir, Nanga Lauk yang letaknya jauh tersuruk ke
dalam celah sempit Sungai Kapuas menawarkan

~444~
pemandangan yang seru. Jika beruntung, kita bisa
menyaksikan burung Rangkok terbang di atas
pohonpohon atau burung warna-warni yang bahkan
mungkin belum pernah dilihat orang kota. Tentu saja,
kera ekor panjang, biawak yang melintas, serta suara
hewan lainnya mudah kita temui di daerah yang
sinyal GSM bisa didapat secara terbatas di beberapa
tempat ini.
Kapuas Hulu adalah kabupaten multietnis. Suku
yang dominan adalah etnis Melayu Kalimantan,
Dayak, Tionghoa, dan sejumlah kecil pendatang dari
Minang. Daerah Putussibau Utara dan Selatan
didominasi oleh etnis Tionghoa, Jawa, dan Minang
yang biasanya menguasai perdagangan. Sementara itu,
etnis Melayu dan Dayak (yang kemudian terbagi lagi
menjadi banyak subsuku) banyak mendiami daerah
pinggir sungai dan pedalaman. Sebagai daerah yang
multietnis dan multiagama, Kapuas Hulu yang
letaknya ribuan kilometer dari ibu kota negara ini
justru menampilkan wajah keberagaman yang
menyejukkan. Masjid dan gereja kadang berdekatan,
tidak hanya di wilayah Putussibau yang ramai, tetapi
di sejumlah kampung-kampung lainnya.
Pengajar Muda Kabupaten Kapuas Hulu
1.
Abdul Aziz Jaziri (SDN 20 Sungai
Putat, Silat Hilir)
2.
Ambarwati (SDN 04 Kepala Gurung,
Mentebah)
3.
Belgis (SDN 06 Teluk Aur, Bunut
Hilir)

~445~
4.
Dimas Budi Prasetyo (SDN 27
Gudang Suai, Putussibau Utara)
5. Irawan (SDN 17 Nanga Bungan,
Jairi
Putussibau Selatan)
6. Arya Sakti (SDN 12 Semalah, Selimbau)
Jaka
7.
Nahary Latifah (SDN 03 Nanga Empangau,
Bunut Hilir)
8. Arianti (SDN 08 Nanga Lauk, Embaloh
Neti
Hilir)
9.
Retnosari Hardaningsih (SDN 09 Nanga Lungu,
Silat Hulu)
10.
Shinta Ulan Sari (SDN 05 PB Penai, Silat Hilir)
11.
Surahmah Said (SDN 05 Landau Badai, Silat
Hulu)
K ABUPATEN K EPULAUAN SANGIHE
Kepulauan Sangihe sendiri adalah kepulauan
terluar di bagian utara Indonesia dan berbatasan
langsung dengan Filipina. Terdiri atas kurang lebih 90
pulau, sebagian besar pulau tersebut merupakan
daerah pesisir yang berbukit di bagian tengahnya.
Ibu kota kabupaten tersebut, yaitu Tahuna,
terletak di pulau terbesarnya. Untuk mencapai
Tahuna dari ibu kota provinsi (Manado), dapat
digunakan dua alternatif moda transportasi, yaitu
pesawat terbang selama 50 menit atau perjalanan
selama 7–8 jam dengan kapal cepat. Pulau-pulau yang
menjadi lokasi penempatan Pengajar Muda hanya
dapat diakses melalui jalan laut. Jarak tempuh dari
Tahuna menuju pulau-pulau kecil beragam—sekitar

~446~
tiga hingga sepuluh jam perjalanan darat dan laut. Di
daerah penempatan, sumber listrik dan sinyal telepon
termasuk minim. Listrik hanya menyala pada pukul
18.00–22.00 dan sinyal telepon seluler sulit diakses.
Masyarakat Kepulauan Sangihe sebagian besar
bekerja sebagai nelayan, terutama penduduk di pulau-
pulau yang lebih kecil. Di wilayah pulau terbesar,
penduduk di sekitar pantai berkebun kelapa untuk
diambil kopranya, sedangkan mereka

yang di daerah pegunungan memilih untuk


berkebun pala dan cengkeh. Mayoritas hasil kebun
dijual ke Manado bahkan ada pula yang dijual ke
Filipina. Sebagian besar penduduk Kepulauan Sangihe
beragama Kristen, sebagian lagi beragama Islam.
Toleransi beragama di wilayah ini sangat baik.
Pengajar Muda Kabupaten Kepulauan Sangihe
1.
Agriani Stevany Kadiwanu (SD GMIST Sion
Enggohe, Nusa Tabukan)

~447~
2.
Annisa Widyanti Utami (SDN INP
Batuwingkung, Tabukan Selatan)
3.
Fendi Mulyo (SDN Inpres Nanedakele, Nusa
Tabukan)
4.
Furiyani Nur Amalia (SDN INP Beeng Darat,
Tabukan Selatan Tengah)
5.
Jessica Hutting (SD GMIST Smirna Kawro,
Kepulauan Marore)
6.
Mohamad Arif Luthfi (SDN INP Lipang,
Kendahe)
7.
Sazkia Noor Anggraini (SDN Kalama, Kalama)
8.
Yohannes Kinskij Boedihardja (SDN Para, Para)
9. Alfa Centauri (SDN Matutuang, Kepulauan
Yuri
Marore)

K ABUPATEN BIMA
Untuk menuju Bima, umumnya penumpang dari
Jakarta melakukan transit di Bandara Ngurah Rai,
Denpasar yang kemudian dilanjutkan dengan
perjalanan menuju ibu kota kabupaten di Nusa
Tenggara Barat ini.
Secara keseluruhan, Kabupaten Bima memiliki
bentang alam yang lengkap dari pantai hingga
pegunungan. Daerah ini beriklim tropis dan
cenderung kering. Rata-rata curah hujan tahunannya
relatif rendah.

~448~
Untuk menuju sekolah-sekolah di daerah
penempatan, kita akan melalui jalan dengan berbagai
kondisi. Meskipun demikian, ada beberapa yang dapat
dicapai dengan mobil. Misalnya, di Jatibaru,
Kecamatan Langgudu, ada SD yang harus ditempuh
dengan kombinasi perjalanan darat dan perjalanan
laut (speedboat). Sementara itu, untuk menuju SD Bajo
Pulo di Kecamatan Sape, kita harus menyeberang laut
dengan perahu bermesin sekitar 10 menit setelah
sebelumnya melalui 1,5 jam perjalanan darat. Sinyal
telepon seluler (GSM) bisa ditemukan secara terbatas
di beberapa tem-pat tertentu.
Sebagai salah satu daerah di nusantara yang
memiliki sejarah kesultanan, Bima berpenduduk
mayoritas Islam. Kebanyakan dari mereka memiliki
pencaharian sebagai petani. Sementara itu, ada pula
yang mencari ikan, khususnya bagi mereka yang
tinggal di daerah pesisir.

~449~
Pengajar Muda Kabupaten Bima
1.
Bagus Handoko (SDN Sori Bura, Tambora)
2. Masdiary (SDN 01 Labuan Kenanga,
Beryl
Tambora)
3.
Gatot Suarman (SDN UPT Laju, Langgudu)
4.
Maristya Yoga Pratama (SDN Inpres Baku,
Lambu)
5.
Marlita Putri Ekasari (SDN Paradowane,
Parado)
6.
Muhammad Habibilah (SDN Tambora,
Tambora)
7.
Mutia Amsuri Nasution (SDN Jati Baru,
Langgudu)
8.
Ratu Ashri Maulina Fauzana (SDN Bajo
Pulo, Sape)
9.
Shally Pristine (SDN Oi Marai, Tambora)

K ABUPATEN R OTE N DAO

Kabupaten yang terletak di Nusa Tenggara Timur


ini merupakan kabupaten paling selatan di Indonesia.
Untuk mencapai Rote Ndao dari Jakarta bisa
menggunakan pesawat terbang dengan rute Jakarta–
Kupang dan dilanjutkan dengan penyeberangan kapal
cepat dari Kupang menuju Rote Ndao.
Ibu Kota Rote Ndao adalah Kecamatan Lobalain
dengan Jalan Ba’a sebagai pusat keramaian utama.
Rote Ndao memiliki delapan kecamatan, yakni Rote
Barat, Rote Timur, Rote Tengah, Rote Barat Daya,
Rote Barat Laut, Rote Selatan, Pantai Baru, dan

~450~
Lobalain. Pengajar Muda yang berjumlah sepuluh
orang akan diterjunkan ke semua kecamatan. Untuk
mencapai sekolah-sekolah di kecamatan-kecamatan
tersebut dibutuhkan waktu sekitar satu hingga tiga
jam lewat jalur darat, sebagian bisa ditempuh hanya
dengan kendaraan roda dua.
Rote Ndao memiliki topografi yang eksotis dengan
wilayah pesisir yang bersandingan dengan kawasan
pantai. Sebagian besar masyarakat Rote Ndao berasal
dari Suku Rote yang menggunakan bahasa Rote
sebagai bahasa sehari-hari.
Agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Rote
adalah Kristen dan sebagian beragama Islam yang
menempati ibu kota kabupaten. Rote Ndao memiliki
tanah yang termasuk subur jika dibandingkan dengan
kabupaten lain di Nusa Tenggara Timur. Mata
pencaharian utama penduduk Rote Ndao adalah
petani.

~451~
Pengajar Muda Kabupaten Rote Ndao
1.
Agung Yansusan Sudarwin (SDN Inpres Oeoko,
Rote Barat Laut)
2.
Andita Destiarini Hadi (SD Inpres Batula, Rote
Timur)
3. Dita Maharsi Suaidy (SDN Inpres Oenitas,
Citra
Rote Barat)
4. Lastomo (SDN Inpres Hurulai, Rote Barat
Dwi
Daya)
5.
Gracia Lestari Tindige (SD Inpres Bandu,
Lobalain)
6.
Khaerul Umur (SD GMIT Oeulu, Rote Timur)
7.
Marcella Chandra Wijayanti (SD Inpres Onatali,
Rote Tengah)
8. Setiyowati (SD Inpres Tesabale, Pantai
Nia
Baru)
9. Ernest Tanudjaja (SD Inpres Daepapan,
Rian
Rote Selatan)
10.
Silvia Ramadhani (SDN Inpres Batulai,
Lobalain)
K ABUPATEN M ALUKU TENGGARA BARAT
Lokasi daerah penempatan Pengajar Muda di
Kabupaten Maluku Tenggara Barat dapat ditempuh
dengan pesawat se-lama dua jam dari Ambon menuju
Saumlaki, ibu kota kabupaten ini yang terletak di
Pulau Yamdena. Sementara itu, untuk sampai di
daerah penempatan, dipe

~452~
rlukan

perjalanan lanjutan antara 2–12 jam dari Saumlaki,


dan hampir seluruhnya melalui laut.
Untuk menuju beberapa daerah penempatan,
transportasi laut hanya tersedia dua kali dalam
seminggu dari Saumlaki. Pengajar Muda bertugas di
tujuh SD di lima kecamatan dari sepuluh kecamatan

~453~
yang ada dan terletak di lima pulau yang berbeda.
Perjalanan laut antardaerah penempatan akan
melewati banyak pulau tak berpenghuni dan
pemandangan laut yang luar biasa indahnya. Baru
satu daerah penempatan saja yang terjangkau oleh
sinyal telepon seluler. Sementara itu, ketersediaan
listrik dengan generator hanya ada pada malam hari.
Daerah penempatan Pengajar Muda berada di
pesisir yang bersuhu rata-rata panas. Sebagian besar
pekerjaan penduduk di sana adalah sebagai nelayan
dan petani rumput laut. Dari lima rumpun bahasa
yang ada di Maluku Tenggara Barat, bahasa yang biasa
digunakan oleh sebagian besar masyarakat adalah
bahasa Indonesia dan bahasa Fordata (bahasa tertua
di Kepulauan Yamdena). Penduduk di Maluku
Tenggara Barat berasal dari suku Tanimbar, Molu,
Seram, Buton, dan Bugis dengan mayoritas
masyarakat beragama Kristen. Masyarakat di Maluku
Tenggara Barat sangat terbuka dengan pendatang.
Pengajar Muda Kabupaten Maluku Tenggara Barat
1.
Arum Puspitarini Darminto (SDK Werain,
Selaru)
2.
Bartolomeus Bagus Praba K. (SDK Adodo
Molo, Molo Maru)
3.
Dedi Kusuma Wijaya (SDK Wadankau,
Molo Maru)
4.
Diastri Satriantini (SDK Lumasebu,
Kormomolin)
5.
Matilda Narulita (SDK Lamdesar Barat,
Tanimbar Utara)

~454~
6.
Ratih Diasari (SDN Inpres 2 Adaut,
Selaru)
7.
Sandra Prasetyo (SDN Inpres Labobar,
Wuar Labobar)

Kabupaten Fak-fak
Kabupaten Fakfak terletak di Papua Barat.
Perjalanan menuju kabupaten tersebut dapat
ditempuh menggunakan pesawat yang memakan
waktu selama 7 jam 40 menit dari Bandara Soekarno-
Hatta Jakarta (perbedaan waktu Jakarta dan Fakfak
adalah dua jam).
Daerah penugasan Pengajar Muda di Kabupaten
Fakfak berada di tujuh distrik yang tersebar di daerah
perbukitan maupun pesisir. Daerah penempatan yang
berupa perbukitan dapat ditempuh dalam waktu dua
hingga lima jam perjalanan menggunakan angkutan
kota ataupun truk. Sementara itu, daerah
penempatan yang berupa pesisir dapat ditempuh
dengan “longboat” selama dua hingga lima jam.

~455~
Sebagian besar penduduk Kabupaten Fakfak
berkebun (pala) dan menjadi nelayan. Listrik di
hampir seluruh daerah di Kabupaten Fakfak hanya
didukung oleh adanya generator berjumlah terbatas
dari masing-masing keluarga yang hanya dapat
dinyalakan pada pukul 19.00–00.00 WIT. Di hampir
seluruh distrik penempatan tidak tersedia sinyal
telepon seluler, hanya di distrik Fakfak Barat (Siboru)
yang tersedia sinyal beberapa provider GSM di titik-
titik bukit tertentu.
Mayoritas penduduk Kabupaten Fakfak yang
menjadi daerah penempatan PM beragama Islam. Ada
dua distrik yang mayoritas penduduknya Kristen
Protestan. Suku yang mendiami daerah penempatan
PM di sini adalah Baham, Iha, Maluku, dan Jawa.
Mayoritas penduduk di daerah ini sudah
menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa
sehari-sehari. Namun, ada beberapa distrik yang

~456~
masih menggunakan bahasa suku mereka sendiri
seperti: Baham, Iha, Arguni, maupun Karas.
Pengajar Muda Kabupaten Fakfak
1.
Adhiti Larasati (SD Inpres Offie, Teluk Patipi)
2.
Angga Prasetyawan (SD YPK Pik Pik,
Kramongmongga)
3. Lukman Hakim (SDN Tarak, Karas)
Arif
4. Martharia Trisnadi (SD YPK Siboru, Fakfak
Ika
Barat)
5.
Marintha Eky Wulansari (SD Inpres Kampung
Baru, Kokas)
6.
Maria Jeanindya Wahyudi (SD Inpres Arguni,
Kokas)
7.
Mochammad Subkhi Hestiawan (SD Inpres 3
Bombaray, Bomberay)
8.
Raden Roro Cahya Wulandari (SD Inpres Urat,
Fakfak Timur)

~457~
PROFIL PENGAJAR M UDA
K ABUPATEN A CEH U TARA

Atika Fara Amalia


Fara, lulusan Sastra Nusantara Fakultas Ilmu Budaya
angkatan 2004 yang memiliki hobi karawitan ini,
pernah menjuarai Lomba Pidato Bahasa Jawa dan
Lomba Menulis Kisah Nyata Merapi dari BRI dan
Kedaulatan Rakyat. Semasa kuliah, Fara aktif dalam
Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara, serta Ikatan
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia.
Selain di kampus, ia juga aktif dalam kegiatan di
masyarakat, yaitu sebagai ketua Karang Taruna
MAPAN 45. Bagi Fara, pencapaian pribadi yang paling
ia syukuri adalah dapat menjadi mahasiswa Sastra
Nusantara UGM karena dari sinilah ia dapat belajar
secara mendalam tentang berbagai budaya daerah di
Nusantara ini.

~458~
Duddy Abdullah
Duddy adalah lulusan dari Jurusan Property and
Construction & Commerce, University of Melbourne.
Ia pernah menjadi ketua umum PPI Australia.
Keterlibatannya di PPIA, membuat Duddy aktif dalam
berbagai kegiatan yang diadakan oleh PPIA, seperti
OlimPPIA (Olimpiade Olahraga PPIA), PPIA
University of Melbourne Film Festival, dan lain-lain.
Duddy pernah mengikuti acara International Youth
Meeting—Children International Summer Village
(CISV)—di Amsterdam, Belanda serta magang di
North-star Pacific Capital dan Dwamitra Property &
Services.

Erma Dwi Purwantini


Erma, lulusan Geografi Lingkungan angkatan 2006
ini, saat SMA pernah menjadi Pembawa Bendera
Pusaka Pasukan Pengibar Bendera Pusaka
(Paskibraka) Kota Yogyakarta. Semasa kuliah, Erma
yang mendapat beasiswa PPA dan juga menjadi guru
ekskul Peleton Inti di SMPN 2 Yogyakarta, aktif di
Enviromental Geography Student Association
(EGSA), BEM Fakultas Geografi, Purna Paskibraka
Indonesia (PPI) Kota Yogyakarta dan PPI Propinsi
DIY.
Erma juga aktif di Karang Taruna Kelurahan

~459~
Panembahan Kraton dan membantu almamaternya
Jurusan Geografi Lingkungan Fakultas Geografi UGM
sebagai asisten. Experience is the best teacher, menjadi
kalimat inspirasi bagi Erma untuk menambah
pengalamannya dengan mengajar di pelosok
Nusantara.

Dimas Sandya Sulistio


Dimas, lulusan Program Studi Perencanaan Wilayah
dan Kota ITB angkatan 2004 ini, pernah mengikuti
program OXFAM International Youth Partnership
(OIYP) di New Delhi, India, dan menjadi OXFAM
Action Partner 2010–2013 dari OXFAM Australia.
Selain itu, Dimas juga aktif dalam organisasi di
kampus seperti Himpunan Mahasiswa Planologi
Pangripta Loka ITB, Kharisma Salman
ITB, dan menjadi reporter muda website kampus di
Unit Sumber Daya Informasi ITB. Sebelum menjadi
Pengajar Muda, Dimas sedang menjalani masa
magang di Yayasan Ashoka Indonesia untuk Program
Young Changemaker dan terlibat dalam
penyelenggaraan Ashoka Asian Social Youth
Preneurship Summit.
Kecintaannya pada Bandung, telah mendorong Dimas
untuk aktif dalam berbagai aktivitas di luar kampus,
seperti menjadi relawan di Komunitas Sahabat Kota,
Bandung Trails, hingga menjadi part timer di sebuah
toko city’s merchandise Mahanagari Bandung Pisan. Tak

~460~
heran jika akhirnya Dimas pernah menjuarai Story
Telling Competition: Bandung and Its Heritage
tingkat mahasiswa dari Kedutaan Besar Belanda.
Bersama Komunitas Sahabat Kota, Dimas banyak
menjalankan kegiatan edukasi kreatif jelajah kota
untuk siswa SD melalui metode experienced learning.
Hal ini sesuai dengan harapannya bahwa semua sudut
kota bisa menjadi ruang belajar untuk anak, menuju
terciptanya kota yang ramah anak dan berkelanjutan.

Milastri Muzakkar
Mila yang memiliki hobi menulis ini adalah alumnus
Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam angkatan
2006. Pengalaman menulisnya di antaranya sebagai
penulis Jurnal Wisuda UIN Jakarta, sekretaris
lapangan tim penulisan buku profil UIN Jakarta,
bahkan Koran Sindo menerbitkan tulisannya yang
berjudul “Mempertanyakan Kinerja Pansus” pada
edisi Rabu, 27 Januari 2010.
Mila aktif berkecimpung dalam Yayasan Wakaf
Paramadina sebagai peneliti dan Forum Muda
Paramadina. Ia juga pernah menjadi Ketua Ikatan
Kekeluargaan Mahasiswa (IKAMI) Sul-Sel. Aktivis
BEM Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Jakarta
ini aktif dalam berbagai studi Islam dan keagamaan di
antaranya di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan
(PSIK) Indonesia, Center For Study of Relegion and
Culture (CSRC), serta Global Peace Leadership

~461~
Conference on Peacebuilding 2010: Interfaith, Family
and Service oleh Indonesian Conference on Religion
And Peace (ICRP) dan Global Peace Festival
Foundation dan Indonesian Conference on Religion
and Peace.

Pemi Ludi Lestari


Ludi, lulusan Ilmu Keperawatan dari Universitas
Indonesia. Tidak hanya telah menyelesaikan jenjang
pendidikan sarjana, ia juga telah menyelesaikan
jenjang profesi keperawatan dan mendapatkan gelar
Ners (Ns). Ners satu ini semasa kuliah aktif di
lembaga kemahasiswaan kampus, antara lain Badan
Perwakilan Mahasiswa FIK UI (BPM FIK UI) dan
Badan Eksekutif Mahasiswa FIK UI. Semasa di
lembaga legislatif (BPM FIK UI), dirinya sempat
menjadi ketua umum dan saat itu ia menjadi satu-
satunya perempuan ketua lembaga formal di kampus
UI. Tak hanya di lembaga kemahasiswaan kampus,
Ludi juga aktif sebagai pengurus forum alumni
ekstrakurikulernya semasa SMA sejak lulus hingga
sebelum bergabung menjadi Pengajar Muda.
Ludi memulai kiprahnya dalam mendidik anak-anak
sejak masih SMA dengan menjadi tenaga pendidik
TK/TPA di lingkungan rumahnya. Sejak itulah,
kecintaannya kepada anak-anak mulai tumbuh. Selain
itu, ia juga gemar melakukan kegiatan sosial.
Kegemarannya ini mendorongnya menjadi relawan

~462~
pada Unit Kesehatan Keliling BAZNAS dan juga
mengantarkannya ke Klaten untuk menjadi relawan
di salah satu posko bantuan saat bencana gempa bumi
melanda Jogja dan sekitarnya pada 2006 lalu. Ludi
juga pernah menjadi anggota tim sunatan massal
bersama Bulan Sabit Merah Indonesia.
K ABUPATEN L EBAK

Astuti Kusumaningrum
Tuti, alumnus Fakultas Psikologi angkatan 2005,
pernah mendapatkan beasiswa dari CHEVRON IBU
Scholarship selama 4 tahun serta wisudawan Terbaik
dan Termuda Wisuda Fakultas Psikologi UGM periode
November 2009. Tuti juga meraih berbagai prestasi,
seperti Grant Program Kreati vitas Mahasiswa-
Penelitian (PKM-P) 2009, Grant Karya Inovasi
Mahasiswa 2009, Program Kreativitas Mahasiswa-
Pengabdian Masyarakat (PKM-P) 2008, dan Java
Project (penelitian kolaborasi Psychological Beyond
Border, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan
University of California-Irvine).
Walaupun memiliki aktivitas yang padat di dunia
akademik, Tuti juga mengikuti berbagai kegiatan
organisasi, baik di dalam kampus maupun luar
kampus, seperti Lembaga Mahasiswa Psikologi UGM,
Psychology English Club, Museum Anak Kolong
Tangga, Yayasan Dunia Damai, serta Teater Jubah
Macan. Salah satu pengalaman Tuti yang paling

~463~
berkesan adalah ketika ia bersama teman-temannya
mendapatkan Grant PKM-P 2008 untuk program
pelatihan keterampilan sosial bagi anak didik di
Lembaga Pemasyarakatan Anak (LAPAS) di Kutoarjo.

Eko Budi Wibowo


Lulusan Jurusan Antropologi Sosial angkatan 2006
ini, pernah mendapatkan kehormatan sebagai
pemakalah terbaik Pra Sarasehan Jaringan
Kekerabatan Antropologi seluruh Indonesia dan
mendapatkan beasiswa PPA dan beasiswa Eximbank
untuk penyelesaian skripsinya.
Eko aktif dalam berbagai organisasi, antara lain di
Himpunan Mahasiswa Antropologi, BEM FISIP UI,
ketua umum Gerakan Slayer Orange, Kuliah Kerja
Nyata (K2N) UI 2010, dan BEM FISIP UI. Selain itu,
Eko juga aktif di Perguruan Pencak Silat Langlang
Buana Jaya dan pernah menyabet juara dalam
Pertandingan Pencak Silat DIKMENTI.

Indarta Kuncoro Aji

~464~
Lulusan Fisika angkatan 2005 ini pernah
memenangkan lomba esai ITB Expo 2008 dan meraih
Grant Pekan Kreatif Mahasiswa selama 3 tahun
berturut-turut (2008, 2009, dan 2010). Dalam
kegiatan organisasi, Aji pernah aktif di 102 Fisikawan
Muda, Indonesian Nuclear Network, Nuclear Power
Plant for Electricity in Indonesia, ShARE, dan Physics
for All.
Aji memiliki minat yang besar dalam dunia penelitian.
Hal ini terlihat dari pengalaman pelatihan yang
pernah ia ikuti, seperti pelatihan di DIKTI, LIPI, dan
magang di BATAN. Pengalaman bekerja adalah
sebagai operational manager BankIT, serta fulltime officer di
Catra Tech.

Medha Ardiana Gustantinar


Medha adalah alumnus Jurusan Biologi angkatan
2006. Semasa kuliahnya, ia aktif di berbagai organisasi
seperti Kopma Biogama, JMMB (Jamaah Muslim
Mahasiswa Biologi), Yayasan Sanca Indonesia, dan
Kelompok Studi Herpetologi. Medha pernah menjadi
peserta dalam Seminar Nasional Stem Cells-
Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia. Ia juga
memiliki pengalaman sebagai Asisten Laboratorium
Anatomi Hewan, Biologi, UGM dan Laboratorium
Sistematik Hewan, Biologi, UGM, serta menjadi
tentor (tim akademik) di Lembaga GCM Ednovation.

~465~
Nur Wahidah
Alumnus Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam angkatan 2006 ini pernah meraih prestasi,
seperti finalis Pemilihan Peneliti Remaja LIPI ke-9
tahun 2010, MAPRES III-Pemilihan Mahasiswa
Berprestasi tingkat Universitas Negeri Makassar
tahun 2009, juara pertama Kompetisi Karya Tulis
Mahasiswa Tingkat Universitas Negeri Makassar
tahun 2009, beasiswa Pengembangan Prestasi
Akademik (PPA) DIKTI selama dua tahun, serta
memperoleh Student Grant IMHERE dari DIKTI.
Semasa kuliahnya, Ida aktif di Lembaga Penelitian
Mahasiswa (LPM) Penalaran UNM, dan pernah
menjabat sebagai wakil sekretaris Himpunan
Mahasiswa Kimia (HMK) FMIPA UNM. Pengalaman
kerjanya, yaitu sebagai staf Badan Penjamin Mutu
UNM, pengajar Kimia Ganesha Operation, dan guru
mata pelajaran Kimia di SMA Ammanagappa,
Makasar.

Siti Muthmainnah

~466~
Main, alumnus Fakultas Pendidikan Jurusan
Pendidikan Guru SD angkatan 2006, pernah
menjuarai POPDA-Tenis Meja dan POPDA-Voli. Main
pernah mendapatkan kesempatan pertukaran
mahasiswa program BPAP dari Kementerian Pemuda
dan Olah Raga RI ke Bengkulu dan Batam pada 2009.
Semasa kuliah, Main aktif dalam berbagai kegiatan
organisasi, antara lain UKKI UNY Kampus Wates,
Himpunan Mahasiswa PGSD, PC IPPNU KP, dan
DPC PPMI KP.
PULAU BAWEAN - KEBUPATEN GRESIK

Hety Apriliastuti Nurcahyarini


Hety adalah alumnus Jurusan Ilmu Hubungan
Internasional angkatan 2006. Hety yang memi-liki
hobi menulis dan menggambar ini, pernah menjadi
penulis utama BOX2010TEAM, menju-arai kompetisi
Komik Kompas Muda, dan Lomba Esai Bulaksumur
Pos UGM. Selama kuliah, Hety aktif dalam berbagai
organisasi seperti Korps Mahasiswa Hubungan
Internasional (KOMAHI), Pusat Studi Jepang UGM,
dan Peace Generation.
Di kampus, Hety termasuk dalam Sahabat Percepatan
Peningkatan Mutu Pembelajaran (SP2MP), yaitu
sebuah program dari UGM yang dikhususkan bagi
mahasiswa terpilih untuk mengikuti berbagai training
leadership. Hety memiliki pengalaman kerja di Climate

~467~
Resilient Cities, tutor dan asisten kuliah Pengantar
Ilmu Politik di FISIPOL UGM.

Lastiani Trikusumastuti Hantoro


Alumnus Fakultas Hukum angkatan 2006 ini pernah
menjadi juara pertama National Money Laundering
dan juara ketiga National Human Rights Moot Court
Competition. Selain itu, Lasti juga meraih beasiswa
BBM dan Grant Program Kewirausahaan Mahasiswa
tahun 2009 dari Kementerian Pendidikan Nasional.
Semasa kuliah, ia aktif berkecimpung dalam
organisasi di kampusnya, seperti BEM Fakultas
Hukum, BEM Universitas Diponegoro, dan Lembaga
Pers Mahasiswa Gema Keadilan FH Undip.

Maisya Farhati
Icha adalah alumnus Fakultas Ekonomika dan Bisnis
angkatan 2005 yang aktif berorganisasi di dalam
maupun di luar negeri. Di luar negeri, ia pernah
mengikuti ASEAN-Korea International Student
Exchange Program di Daejeon University dan
JapanASEAN Student Conference dari Japan

~468~
International Cooperation Center (JICE). Sedangkan
di dalam negeri, Icha pernah menjadi juara pertama
Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pelatihan
Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Terbaik 2009
dalam Ajang Kreasi dan Apresiasi (AKSI), program
KKN-nya berlokasi di Desa Bintet, Kecamatan
Belinyu, Kabupaten Bangka.
Ia juga berpartisipasi aktif di Badan Penerbitan dan
Pers Mahasiswa Equilibrium, Shariah Economics
Forum, Office of International Affairs UGM, serta
pernah menjadi Panitia DREaM 2010: 2nd UGM
International Summer Program. Pengalaman
kerjanya, yaitu pernah menjadi tenaga magang di
divisi Marketing and Product Division, UBNC,
Daejeon, Korea Selatan dan pernah menjadi Tenaga
Ahli Muda Kementerian Koordinasi Bidang
Perekonomian.

Putri Rizki Dian Lestari


Putri yang merupakan alumnus Fakultas Bahasa dan
Seni Jurusan Bahasa Perancis angkatan 2004 ini
sangat aktif dalam kegiatan kepramukaan. Prestasi
yang pernah diraihnya, yaitu mendapat beasiswa dari
Yayasan Orbit semasa kuliahnya, meraih Top Hand
Award dalam International Camp Staff Program Boy
Scouts of America, serta mengikuti 21th World Scout
Jamboree in UK, World Organization Scouts
Movement. Pengalaman organisasinya, yaitu

~469~
menjabat sebagai sekretaris umum Dewan Kerja
Nasional Pramuka, juga sebagai wartawan majalah
Pramuka dan connector The Climate Project Indonesia.
Selain itu, lulusan Jurusan Bahasa Perancis ini juga
aktif dalam organisasi di kampusnya, yaitu sebagai
ketua umum Racana Universitas Negeri Jakarta,
ketua umum BEM Jurusan Bahasa Prancis, redaktur
majalah Le Chambre du Monde dan tim penulis
pembuatan Buku Panduan Penyuluhan Imunisasi dan
Kesehatan Keluarga.

Tidar Rachmadi
Sebelum menjadi PM, Tidar (alumnus FISIP UI
Jurusan Ilmu Politik angkatan 2006) bekerja sebagai
staf ahli DPRD DKI Jakarta. Tidar pernah menjadi
Finalis UI Young and Smart Entrepreneurship
Program dan mahasiswa favorit Ilmu Politik Awards.
Tidar aktif dalam berbagai macam organisasi, baik di
dalam maupun luar kampus, seperti Himpunan
Mahasiswa Imu Politik, Tunas Indonesia Raya,
Children of Dream Movie Project, dan JakJazz
Festival. Untuk menambah pengalaman, Tidar
pernah bekerja di PT. Hay-Group dan PT. Platon
Niaga.

~470~
Wintang Haryokusuma
Wintang, alumnus Program Studi Fisika angkatan
2006, pernah mendapat kehormatan sebagai Dean’s
List FMIPA ITB. Wintang yang memiliki hobi dagelan
dan beragam olahraga ini, aktif di Himpunan
Mahasiswa Fisika (HIMAFI) ITB sebagai ketua, wakil
mahasiswa dalam Majelis Wali Amanat, Himpunan
Ahli Geofisika Indonesia, dan Rumah Pintar—Rumah
Belajar KM ITB.
K ABUPATEN BIMA

Bagus Handoko
Bhe, alumnus dari Jurusan Ilmu Hubungan
Internasional angkatan 2005 yang menguasai alat
musik drum, gitar, dan jimbe ini, mendapat The
POSCO Asia Fellowship selama dua tahun dan pada
2009 berkesempatan mengikuti Indonesia English
Language Study Program (IELSP) di Syracuse
University, New York-Amerika Serikat selama dua
bulan.
Bhe aktif dalam berbagai organisasi seperti Biro

~471~
Informasi dan Teknologi Korps Mahasiswa Hubungan
Internasional, Yayasan Dunia Damai-Museum Anak
Kolong Tangga, Peace Generation, dan Rumah
Singgah-Ghifari. Bhe juga menjadi panitia the 1st
Convention of European Studies in Indonesia yang
diselenggarakan oleh Jurusan Hubungan
Internasional UGM bekerja sama dengan European
Union. Bhe juga sempat bekerja di Visit Indonesia
Tour-ism-STUPPA dan Words of Magazine.

Beryl Masdiary
Beryl yang merupakan alumnus dari Fakultas Ilmu
Komunikasi angkatan 2005 ini adalah wisudawan
FIKOM terbaik 2009. Semasa kuliah, Beryl pernah
meraih juara pertama Duta Mahasiswa Universitas
Budi Luhur, dan selama kuliah ia mendapatkan
beasiswa penuh.
Dalam dunia organisasi, Beryl tergolong sangat aktif.
Beberapa kegiatannya, antara lain Senat Mahasiswa
FIKOM, Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia, Cross
Culture Program, dan Perhumas Muda. Di dunia
kerja, Beryl pernah bekerja sebagai asisten dosen di
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur
dan freelance teacher di International Language
Program.

~472~
Muhammad Habibilah
Habib adalah alumnus Fakultas Ekonomi Jurusan
Ilmu Ekonomi angkatan 2007. Prestasinya selama
kuliah, yaitu menerima beasiswa Etos selama tiga
tahun dan terpilih menjadi Etoser Berprestasi tingkat
Nasional. Habib juga pernah memenangkan juara
ketiga Debate Competition di Universitas Gadjah Mada
dan finalis Essay Competition di Universitas Indonesia.
Semasa kuliahnya, Habib aktif di Himpunan
Mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan, Unit
Aktivitas Kerohanian Islam, Ikatan Mahasiswa
Ekonomi Pembangunan Indonesia, dan Lingkar Studi
Mahasiswa Ekonomi. Pengalaman kerja Habib, yaitu
sebagai staf di Pusat Kebijakan Keuangan Negara dan
Daerah Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya,
Asisten Dosen Ilmu Ekonomi, tenaga magang di
Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi, karyawan Meco
Cell, serta tentor di LBB Tunas Cendekia.

Gatot Suarman
Gatot, alumnus Fakultas Ekonomi Jurusan

~473~
Manajemen Internasional angkatan 2006, pernah
mendapatkan kehormatan sebagai peraih Best Student
Award Universitas Andalas 2008 dan the most Striving for
Excellent Participant-Local Management Conference.
Semasa kuliah, Gatot aktif di AIESEC-Universitas
Andalas, kepanitiaan International Student
Committee Election President, pelatihan National
Leadership Development Seminar-Singapore dan
Project Based on Exchange HIV/AIDS Campaign.

Mutia Amsuri Nasution


Mutia, alumnus Jurusan Ilmu Komunikasi angkatan
2007, selama kuliahnya aktif di organisasi BEM dan
MAPALA UI. Ia juga pernah aktif di Himpunan
Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HMIK) UI dan wakil
ketua ACIKITA Foundation (Ayo Cinta Indonesia
Kita) Jakarta. Mutia yang pernah menjadi penyiar di
radio RTC UI FM ini semasa kuliahnya mendapat
beasiswa dari Bank Rakyat Indonesia.

~474~
Maristya Yoga Pratama
Alumnus Fakultas Psikologi angkatan 2006 ini pernah
aktif di Hima Psikologi Unnesa. Prestasi yang pernah
diraihnya adalah juara kedua bidang sosial dan juara
harapan pertama bidang pendidikan kompetisi karya
ilmiah, Program Kreativitas Mahasiswa-Dikti, serta
pernah meraih beasiswa PPA semasa kuliahnya. Yoga
yang tergabung dalam The Indonesian Board of
Hypnotherapy adalah juga seorang pelatih renang.
Pengalaman kerjanya, yaitu pernah menjadi asisten
laboratorium di Lembaga Psikologi Terapan dan
magang di PT. Pertamina (Persero) Wilayah Jateng &
DIY.

Marlita Putri Ekasari


Lulusan Farmasi angkatan 2005 ini mendapat
beasiswa dari Tanoto Foundation selama masa
kuliahnya. Marlita yang aktif di dunia medis, pernah
bergabung dengan Bulan Sabit Merah Indonesia,
SHEEP Indonesia-Rumah Zakat Indonesia, dan
Profetik.
Prestasi yang pernah diraihnya adalah menjadi finalis
PIMFI di Institut Teknologi Bandung. Sebagai lulusan
Jurusan Farmasi, Marlita pernah bekerja sebagai
apoteker pendamping Ramadhan Medical Center,
setelah sebelumnya memiliki pengalaman sebagai
asisten apoteker di RS PKU Muhammadiyah
Yogyakarta.

~475~
Ratu Ashri Maulina Fauzana
Sewaktu SMA, Ratu yang merupakan alumnus
Jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 2005, pernah
mendapatkan kesempatan pertukaran siswa dalam
program AFS/JF Exchange Student Scholarship ke
Tottori, Jepang. Ratu juga mendapatkan kehormatan
sebagai salah satu finalis dalam seleksi program
Pertukaran Pemuda Antar-Negara Indonesia Australia
oleh Kementerian Pemuda dan Olah Raga Republik
Indonesia.
Prestasi tersebut didukung oleh aktivitas yang Ratu
ikuti. Ia aktif di Himpunan Mahasiswa Kehumasan
FIKOM, American Fields Service (AFS), dan WOW
Production. Kesukaannya pada dunia anak-anak dan
pendidikan ditunjukkan dengan aktivitasnya sebagai
guru di Interactive English Teacher Fastreader dan TK
Santa Angela.

Shally Pristine
Shally, alumnus Program Studi Arsitektur angkatan
2004 ini, merintis kariernya sebagai Jurnalis di PT.

~476~
Media Nusa Pradana dan PT. Republika Media
Mandiri. Semasa kuliah, Shally yang mendapatkan
Beastudi Etos, memenangkan beberapa kompetisi
seperti Accessible Restroom International Design
Competition-BILIC dan IDP Norway, ITB
Entrepreneurs Challenge (IEC), dan Lomba Karya
Tulis Ilmiah Antar Himpunan. Aktivitas organisasi
dan forum pemuda yang Shally ikuti antara lain;
Forum Indonesia Muda VII, Keluarga Mahasiswa ITB,
Rumah Belajar Keluarga Mahasiswa ITB, dan Corps
Alumnus Beastudi Etos.

K ABUPATEN R OTE N DAO

Agung Yansusan Sudarwin


Agung, yang merupakan alumnus Sekolah Arsitektur
Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK)
angkatan 2006, pernah aktif dalam organisasi
Himpunan Mahasiswa Planologi Pangriptaloka ITB,
Technopreuner ITB, dan Keluarga Mahasiswa ITB.
Untuk menambah pengalamannya, ia pernah magang
sebagai asisten staf BAPPENAS, peneliti di
Laboratorium Rancang Kota ITB, dan peneliti Proyek
Kajian dan Identifikasi Perancangan Ekologis RTH
Kota Bandung. Agung yang piawai bermain alat musik
drum ini, menjadi manager di Inclusio Band
Management.

~477~
Andita Destiarini Hadi
Dita adalah alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik, Jurusan Hubungan Internasional angkatan
2006. Dita yang sejak kecil hingga dewasa tinggal di
Kota Bandung ini, pernah menjadi perwakilan Kota
Bandung untuk Provinsi Jawa Barat dalam
Pertukaran Pemuda Antar Provinsi dan Jambore
Pemuda Indonesia.Pada 2008, Dita aktif di HIMA
Hubungan Internasional UNPAD dan pernah
menginisiasi kegiatan yang diberi nama
SYMPHONESIA (Indonesia Festival and Concert)
yang menampilkan beberapa kebudayaan daerah
dalam bentuk tarian dan mengampanyekan cinta
Indonesia. Acara ini berhasil mendatangkan 3.000
orang dan karena dinilai juga berdampak positif, acara
SYMPHONESIA dilaksanakan setiap tahun sampai
sekarang. Dita juga aktif di Purna Prakarya Muda
Indonesia.

Khaerul Umur
Elung yang berasal dari Cirebon ini adalah alumnus

~478~
Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar angkatan
2006. Ia pernah mewakili Indonesia dalam
International Student Week in Ilmenau (ISWI) di
Jerman. Elung yang dapat menari klasik gaya Sunda
dan gamelan ini, memiliki pengalaman mengajar di
berbagai institusi, seperti SDIT Al Irsyad Cikutra
Bandung, Ganesha Operation Cirebon, dan
Universitas Muhammadiyah Cirebon. Semasa kuliah,
Elung pernah aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa,
Ikatan Mahasiswa Seni, dan Ikatan Mahasiswa
Cirebon.

Citra Dita Maharsi Suaidy


Citra adalah alumnus Fakultas Teknik Sipil dan
Perencanaan angkatan 2006. Citra pernah aktif di
Badan Eksekutif Mahasiswa ITS (BEM ITS), Badan
Eksekutif Lembaga Mahasiswa FTSP ITS, Gerakan
Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Komisariat
ITS, dan Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan.
Citra pernah bekerja sebagai surveyor penelitian
“Reduksi Sampah Plastik Domestik” di Surabaya atas
kerja sama LSM Uniliver dan LPPM ITS.

~479~
Dwi Lastomo
Tomo alumnus Jurusan Fisika angkatan 2005 ini
pernah menjuarai aneka kompetisi, antara lain
Lomba Karya Tulis Mahasiswa ITS, Pemilihan Peneliti
Remaja Indonesia LIPI-AJB Bumi Putera, dan Duta
Wisata. Selain itu, Tomo juga mendapat berbagai
beasiswa, seperti beasiswa PPA, beasiswa PPSDM
Nurul Fikri Regional IV Surabaya, beasiswa LG Inotek
Final Project, Grant PKM Kewirausahaan Dikti 2008,
Grant PKM Pengabdian Masyarakat dari DIKTI 2008,
dan Grant Technopreneurship Business Plan. Untuk
kegiatan organisasi, Tomo aktif di ITS Education Care
Center, Forum Studi Islam Fisika, dan UKM
Kerohanian Islam ITS.

Gracia Lestari Tindige


Gracia, yang pernah menjadi dosen di Universitas
Kristen Satya Wacana, adalah lulusan dari Jurusan
Ilmu Keperawatan angkatan 2003. Saat kuliah, Gracia
aktif dalam PK3M UI, Persekutuan Oikumene UI. Ia
juga pernah berpartisipasi dalam the 1st Asia Pacific

~480~
Conference on Health Law 2010 sebagai speaker serta
berbagai pekan ilmiah mahasiswa. Gracia memiliki
visi untuk membangun Indonesia Timur.

Marcella Chandra Wijayanti


Marcella adalah alumnus Fakultas Ekonomi angkatan
2006 yang berpengalaman menjadi delegasi Indonesia
dalam beberapa konferensi di tingkat internasional,
di antaranya sebagai delegasi Asean Student Summit
di Chulalangkorn University, Thailand dan Asian
International Model United Nations di Peking
University, RRC. Prestasi lainnya yang diperoleh
Marcella, yaitu juara ketiga Young Economist Award,
juara pertama Kompas Essai Competition, juara kedua
Lomba Studi Kelayakan-Pemerintah Kabupaten Pati,
beasiswa PPA-BBM, dan Research Grant for Student
Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM.
Marcella juga aktif berorganisasi di almamaternya,
antara lain BPPM Equilibrium, Himpunan Mahasiswa
Ilmu Ekonomi, dan Panitia DREAM UGM 2010
(UGM Summer Camp). Marcella juga memiliki
pengalaman kerja sebagai asisten peneliti di Pusat
Studi Perdagangan Dunia Pusat Pelatihan dan
Penelitian, serta marketing staff di Pusat Pelatihan
Bahasa FEB.

~481~
Nia Setiyowati
Alumnus Jurusan Pembangunan Sosial dan
Kesejahteraan (Sosiatri) angkatan 2005 ini memiliki
prestasi sebagai nominator Grand Karya Inovasi
(GKI) UGM, penerima Pendanaan (beasiswa)
Program Study Visit ke Jerman dari DAAD, serta
beasiswa biaya operasional pendidikan dari
kampusnya. Semasa kuliahnya, Nia aktif dalam
berbagai organisasi, seperti di KOMATRI (Korps
Mahasiswa Ilmu Sosiatri) UGM, JMF (Jamaah
Muslim Fisipol), Pusat Studi Jerman UGM, dan
Water Plant Community. Salah satu pengalaman
kerjanya adalah menjadi asisten peneliti Jurusan
Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan di UGM.

Rian Ernest Tanudjaja


Sebelum menjadi Pengajar Muda Indonesia Mengajar,
Rian yang merupakan alumnus Fakultas Hukum UI
angkatan 2005 ini, telah bekerja di Melli Darsa & Co
sebagai junior associates selama 1,5 tahun. Rian yang
kelahiran Berlin-Jerman ini, memiliki hobi hiking dan

~482~
bermain drum. Semasa SMA, Rian pernah bekerja
paruh waktu sebagai penyiar di Radio Prambors
Jakarta.

Silvia Ramadhani
Sisil, alumnus Jurusan Ilmu Komunikasi angkatan
2006, adalah inisiator PIJAR Organizer bersamasama
dengan Pemerintah Kabupaten Lumajang dan
penyelenggara Pemilihan Da’i Cilik Lumajang. Peraih
Grant Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan
dari DIKTI dan beasiswa Peningkatan Prestasi
Akademik ini, mengasah skil jurnalistiknya dengan
aktif di Koran Kampus BESTARI. Selain itu, Sisil juga
aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
Renaissance FISIP.
K ABUPATEN K APUAS H ULU

Abdul Aziz Jaziri


Alumnus Jurusan Teknologi Hasil Perikanan
angkatan 2005 ini memiliki beragam prestasi, seperti
juara pertama (kategori emas) Pekan Ilmiah
Mahasiswa Nasional (PIMNAS), delegasi dari

~483~
Kementerian Pendidikan Nasional untuk Universitas
Brawijaya dalam Pekan Produk Kreatif Inovatif
Kementerian Perdagangan, serta mendapatkan Grant
Dana Program Kreativitas Mahasiswa Nasional dari
Kementerian Pendidikan Nasional pada 2009 dan
2010. Aziz juga menerima beasiswa dari BP Migas
pada 2007 hingga 2008. Semasa kuliah, Aziz aktif
dalam berbagai organisasi, di antaranya sebagai ketua
umum Forum Kreativitas Mahasiswa Perikanan
(FKMPi), Ketua Umum Fisheries Study and Research
(FSR), Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam, dan
bendahara Konsorsium Mitra Bahari RC Jatim. Aziz
pernah menjadi koordinator asisten di Universitas
Brawijaya dan tim kreatif Brawijaya Broadcast Center.

Ambarwati
Ambar atau lebih akrab disapa Ambie, kelahiran
Sidoarjo-Jawa Timur ini adalah alumnus Fakultas
Teknologi Industri, Jurusan Teknik Kimia angkatan
2005. Ambar adalah penerima beasiswa penuh selama
empat tahun dari Ikatan Alumnus Teknik Kimia ITS
(IKA TEKKIM ITS) dan juga beasiswa Peningkatan
Prestasi Akademik (PPA). Semasa kuliah, Ambar aktif
di organisasi kampus, seperti di Badan Eksekutif
Mahasiswa ITS, Legislatif Mahasiswa ITS, Lembaga
Swadaya Mahasiswa Front Study Strategis, serta
pernah menjabat sebagai wakil ketua KAMMI

~484~
Surabaya. Selain itu, ia memiliki pengalaman di
berbagai perusahaan, antara lain Quality Assurance di
PT. Sari Husada Tbk, Demin Plant di PT. Pabrik Kertas
Leces (Persero) dan PT. Pabrik Gula Candi Sidoarjo.

Belgis
Belgis, yang berasal dari Jombang-Jawa Timur ini,
adalah lulusan dari Fakultas Sains dan Teknologi
Jurusan Kimia angkatan 2006. Selama menjadi
mahasiswa, Belgis yang pernah mendapatkan dua
macam beasiswa; beasiswa Supersemar dan beasiswa
PPA-Dikti ini, mendapat kehormatan untuk
berpartisipasi dalam The 2nd International
Conference on Chemical Science. Di dunia organisasi
dan kerja, Belgis aktif di Bursa Eksakta Kopma,
Himpunan Mahasiswa Kimia, Pekan Sains
Mahasiswa-BEM Fakultas Saintek, dan memiliki
pengalaman magang di PT. Petrokimia Gresik.
Semasa kuliah, Belgis juga aktif mengajarkan anak-
anak kurang mampu di sekitar tempat tinggalnya
sehingga bisa memiliki prestasi yang lebih baik,
misalnya anak-anak yang tidak bisa membaca
didampingi sampai bahkan bisa naik kelas.

~485~
Dimas Budi Prasetyo
Dimas, lulusan Jurusan Psikologi angkatan 2005 yang
bekerja di The Nielsen Company Indonesia, pernah
berkunjung ke Taiwan dalam rangka The Second
Annual Indonesia Scholars Conference (AISC II).
Dimas aktif di Senat Mahasiswa Fakultas Psikologi UI,
Forum Ukhuwah dan Studi Islam Psikologi UI, dan
Bimbingan Belajar Azzam Insani, serta beberapa
kegiatan kampus, di antaranya Psygames Fakultas
Psikologi UI, dan Symposium of National Education.
Dimas juga pernah mendapatkan beasiswa Karya
Salemba Empat. Dimas pernah bekerja di Pusat Krisis
Fakultas Psikologi UI dan Bimbingan Tes Lulusan-8
(BTA 8).

Jairi Irawan
Lulusan Fakultas Ilmu Budaya angkatan 2005 ini,
pernah aktif di dewan legislatif mahasiswa, himpunan
mahasiswa departemen Unit Kegiatan Mahasiswa
Kerohanian Islam, Center for Religious and
Community Studies (CeRCS), Pergerakan Mahasiswa

~486~
Islam Indonesia (PMII), dan IPPNU. Jairi juga aktif
dalam kegiatan workshop sosialisasi Perda rokok di
Surabaya pada 2009 dan 2010. Jairi yang semasa
kuliah pernah mendapatkan beasiswa PPA, pernah
merantau keluar Pulau Jawa untuk bekerja. Dengan
tetap menjaga keinginannya melanjutkan pendidikan
di tingkat perguruan tinggi, Jairi dapat mencapai
keinginannya dan ingin menularkan semangatnya
kepada anak-anak di berbagai pelosok Nusantara.

Jaka Arya Sakti


Sebelum menjadi Pengajar Muda Indonesia Mengajar,
Jaka adalah marketing manager dari PT. Software
Farmer Indonesia. Selama menyelesaikan studinya di
Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Jurusan
Teknik Elektro angkatan 2004, Jaka pernah
mengikuti berbagai kegiatan, baik internasional
maupun nasional. Jaka pernah mengikuti forum
internasional DHRUVA di India, Duta Provinsi Jawa
Barat, Pimpinan Sidang Kongres Anak Indonesia IV,
dan Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa Bidang
Pendidikan (2008). Aktivitas organisasinya, antara
lain di Himpunan Mahasiswa Elektroteknik ITB,
Rumah belajar KM ITB, Ikatan Alumni SMA N 3
Bandung, Keluarga Remaja Islam SALMAN ITB,
Forum Anak Daerah Jawa Barat, dan Lembaga
Perlindungan Anak Jawa Barat.

~487~
Neti Arianti
Neti merupakan alumnus Pendidikan Guru Olah Raga
Universitas Negeri Jakarta. Ia pernah menjadi juara
kedua umum putri Bogor Open Climbing
Competition-Federasi Panjat tebing Indonesia, juara
kedua kategori umur putri pada National Wall
Climbing Competition 10th , dan juara pertama Lead
Beregu Putri Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah.
Neti merupakan mahasiswa yang aktif berkegiatan
olahraga maupun terlibat dalam organisasi
keolahragaan. Neti pernah menjabat sebagai
bendahara Badan Eksekutif Mahasiswa
Somatokinetika, bendahara Fortius (Klub Panahan)
UNJ, dan panitia Kejuaraan Terbuka III Gulat
Mahasiswa-Kop Gulat UNJ. Pengalaman kerja Neti
juga masih berkaitan dengan bidang olahraga, di
antaranya ia pernah menjadi terapis di Slim and Health
Sports Therapy dan guru Pendidikan Jasmani di Sekolah
High/Scope Indonesia Bina Dasar.

~488~
Retnosari Hardaningsih
Alumnus Jurusan Psikologi UI angkatan 2004 ini,
memiliki banyak prestasi terutama dalam bela diri
Kempo. Retno pernah menjuarai Kejuaraan Nasional
Mahasiswa Beladiri Shorinji Kempo untuk kategori
Embu berpasangan campuran dan juara pertama
Embu Beregu Putri PORDA II DKI Jakarta. Di
kampus, Retno juga memiliki prestasi. Ia menjadi
Mahasiswa Berprestasi Fakultas Psikologi UI dan
mendapatkan beasiswa Peningkatan Prestasi
Ekstrakurikuler. Semasa kuliah, Retno juga aktif di
Senat Mahasiswa Fakultas Psikologi dan menjadi
Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa Kempo UI. Setelah
menyelesaikan studinya, Retno bekerja di PT.
Sapphire Assets International dan PT. Toyota Motor
Manufacturing Indonesia.

Shinta Ulan Sari


Alumnus Fakultas Ekonomika Jurusan Akuntansi
angkatan 2006 ini, merupakan peraih beasiswa
Sampoerna Foundation Scholar Club dan Grant
Pekan Kreativitas Mahasiswa-Kewirausahaan DIKTI
tahun 2008. Selain di Tony and Association
Consultant, Shinta pernah bekerja di Toko Buku
Rumah Muslim Yogyakarta, Primagama, dan PP
Ammanahtul Ummah. Semasa kuliah, Shinta aktif di
berbagai organisasi seperti HMI MPO Komisariat

~489~
Ekonomi, HTI, Syariah Economics Forum, dan Jogja
Sampoerna Foundation Scholar Club.

Surahmansah Said
Surach, asal Wajo-Sulawesi Selatan, adalah alumnus
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Jurusan Ilmu Gizi
angkatan 2006. Surach yang memiliki hobi sepak bola
dan basket ini, pernah menjuarai lomba kreativitas
siswa saat SMA. Semasa kuliah, Surach aktif di
banyak organisasi, seperti BEM FKM Unhas, Ikatan
Lembaga Mahasiswa Gizi Indonesia, Himpunan
Pelajar Mahasiswa Wajo, Nutrition Community for
Public, Forum Mahasiswa Gizi UnHas, dan Jurnal
Kesehatan Pascasarjana UnHas. Selain itu, Surach
juga pernah berpartisipasi dalam Penelitian Proyek
Gizi dan Malaria, serta kegiatan Pemecahan Rekor
MURI “Makan Telur 7.000 Butir”.

Nahary Latifah
Alumnus Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Sastra Jepang

~490~
angkatan 2004 ini memiliki pengalaman organisasi di
Lembaga Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya,
Lembaga Studi Gender Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah, Koperasi Mahasiswa UGM, Lemba-
ga Pengembangan Sumber Daya Insani PP IPM, dan
Lembaga Penanganan Bencana PW Muhammadiyah
DIY. Prestasi yang pernah diraih oleh Tifa, yaitu juara
pertama Proposal Ide dan beasiswa Film Dokumenter-
Komunitas Dokumenter, Yayasan Kampung Halaman,
dan juara pertama Business Plan Competition LAZIZ
Universitas Islam Indonesia. Pengalaman kerjanya,
yaitu menjadi asisten peneliti Institute of Public
Policy and Economy Studies dan menjadi guru di SMA
Negeri 1 Kalasan.
K ABUPATEN K EPULAUAN SANGIHE

Agriani Stevany Kadiwanu


Vany yang berasal dari Kupang, merupakan alumnus
Fakultas Ilmu Komunikasi Jurusan Print and On-line
Journalism angkatan 2006. Selama kuliah, Vany
mendapatkan beasiswa penuh dari Van Deventer-
Maas Stichting. Vany aktif dalam berbagai kegiatan
organisasi dan pengalaman kerja, seperti Ospek Camp
Kawasan Timur Indonesia, Journalism Clinic, magang
di TVRI Kupang, serta Librarian & Copy Writer di
Lia’s Associates Branding & Advertising-Surabaya.
Vany pernah menginisiasi kegiatan sosial di Surabaya

~491~
yang diberi nama “We Care”. Bentuk kegiatan “We
Care” adalah pengumpulan pakaian bekas yang
kemudian dibagikan dengan berkeliling di sekitar
Surabaya kepada tukang sapu jalan, tukang becak,
pemulung, dan orang-orang yang tinggal di kawasan
kumuh. Kegiatan ini mendapat respons positif dari
berbagai daerah di Indonesia.

Fendi Mulyo
Fendi, alumnus Jurusan Biologi 2006 ini, pernah
memenangkan Kejuaraan Pencak Silat. Semasa
kuliah, Fendi pernah aktif di Badan Eksekutif
Mahasiswa, Komunitas Sampah dan Anggrek, Fungi
Study Club, dan IKAHIMBI. Beragam prestasi pernah
Fendi raih, seperti Motivator Muda di Lembaga
Bimbingan Belajar se-Surabaya, beasiswa Penunjang
Prestasi Akademik, dan beasiswa program skripsi.

Furiyani Nur Amalia


Furi alumnus Politeknik Elektronika Negeri Surabaya

~492~
ITS Jurusan Teknik Telekomunikasi ini adalah lulusan
terbaik ITS dan peraih beasiswa Peningkatan Prestasi
Akademik selama kuliah. Selain menjadi Paskibraka
Jawa Timur, ia pernah menjuarai Environment Day
Scientific Writing. Selama kuliah, Furi pernah magang
di XL Axiata Surabaya dan aktif di ENT (EEPIS News
and Networking Team).
Furi juga terlibat dalam Himpunan Mahasiswa
Telekomunikasi, BEM PENS-ITS, kepanitiaan
Indonesia Nano Satelite Workshop, serta kontes
Robot Indonesia dan Kontes Robot Cerdas.

Jessica Hutting
Alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 2005 ini, pernah
memenangkan Proposal Campaign Competition PR
Week dari MM Communication Trisakti University
dan Bibit Emas Festival. Semasa kuliah, Jessica
pernah mendapatkan beasiswa dari Women
International Club (WIC) dan beasiswa Pertamina.
Jessica memiliki kecintaan pada dunia anakanak
sehingga ia bergabung di Taman Pengembangan Anak
Makara. Aktivitas organisasinya mencakup BSO
FISIPERS FISIP, STUDITY, dan kepanitiaan Festival
Kreativitas Anak. Sebelum menjadi Pengajar Muda
Indonesia Mengajar, Jessica pernah bekerja sebagai
staf komunikasi Dekan FISIPOL UI.

~493~
Annisa Widyanti Utami
Nisa yang merupakan alumnus Fakultas Teknik
Jurusan Teknik Kimia angkatan 2006 ini, aktif dalam
Unit Kegiatan Mahasiswa “Entropi”, ChAIN Center,
dan the14th Regional Symposium on Chemical
Engineering dan APRCE (Asia-Pacific Regional Center
of Expertise). Bersama-sama dengan temannya, Nisa
menginisiasi sebuah student community yang
bergerak dalam bidang sustainable development yang
kemudian dinamakan GamaEARTH. Saat SMA, ia
pernah mengikuti program pertukaran pelajar dalam
program Krida Nusantara Student Exchange di
Melbourne, Australia (Penleigh Essendon Grammar School-
Australia). Ia juga mendapatkan beasiswa TOTAL E&P
Undergraduate Scholarship dan Mondialogo
Engineering Award Project Grant. Mengutip dari The
Alchemist, “And, when you want something, the entire
universe conspires in helping you to achieve it,” meyakinkan
Nisa bahwa Indonesia Mengajar adalah sebuah
kesempatan yang ia perlukan.

~494~
Yuri Alfa Centauri
Yuri yang merupakan alumnus Fakultas Seni Rupa
dan Desain Jurusan Desain Produk angkatan 2006,
memiliki minat entrepreneurship yang besar.
Minatnya ini, membuahkan berbagai prestasi dan
berhasil membawanya ke Zurich-Swiss dalam rangka
pameran usaha produk usahanya, Sinjang Batik.
Semasa kuliah, Yuri aktif mengikuti berbagai
kompetisi seperti Wismilak Diplomat Success
Challenge dan Sharp Idea Awards Environment.
Selain berwirausaha, Yuri juga aktif di WANADRI,
Unit Tenis ITB, Ganesha Hijau ITB, dan Keluarga
Pecinta Alam Ciremai.

Mohamad Arif Luthfi


Alumnus Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Sastra Inggris
angkatan 2005 ini pernah meraih Penghargaan
Kemenegpora RI Karya Tulis Pemuda di Media Masa,
juara harapan kedua Lomba Karya Tulis Ilmiah
Remaja, juara terbaik ke-2 Young Entrepreneurs

~495~
Award FE UNAIR, dan beberapa beasiswa semasa
kuliahnya. Luthfi yang aktif berorganisasi, memiliki
pengalaman di Forum Lingkar Pena (FLP) wilayah
Jawa Timur, De-wan Legislatif Mahasiswa (DLM),
UKM penalaran, dan SKI (Sentra Kerohanian Islam).
Sebelumnya, ia telah bekerja sebagai Syariah Funding
Executive di PT. BANK SYARIAH MANDIRI,
instruktur TOEFL di Lembaga Pendidikan Indonesia-
Amerika (LPIA) dan guru Bahasa Inggris SMP Negeri
3 Surabaya.

Sazkia Noor Noor Anggraini


Anggi menuntut ilmu di dua institusi pendidikan,
yaitu Jurusan Antropologi Budaya FIB UGM angkatan
2004 dan Institut Seni Indonesia-Yogyakarta Fakultas
Seni Media Rekam angkatan 2005. Walaupun
berkuliah di dua kampus, hal tersebut tidak
menghalangi Anggi untuk aktif dalam berbagai
aktivitas. Anggi pernah berpartisipasi dalam acara
Community Video Forum-Freedom Film Festival 2010
di Kuala Lumpur, Malaysia dan Finalis Eagle Awards
dengan tema “Indonesia Kreatif” tahun 2009.
Anggi yang tergabung dalam Senat Mahasiswa UGM
dan Program DENGAR! Yayasan Kampung Halaman
ini, pernah mendapat berbagai beasiswa selama
kuliahnya, antara lain Supersemar dan beasiswa
Peningkatan Prestasi Akademik (PPA)-BBM. Semasa

~496~
menjadi mahasiswa, Anggi aktif di dunia akademik
dengan terlibat dalam Riset Tandem antara Jurusan
Antropologi UGM dan Department of Ethnologie
Albert-Ludwigs Universitaet, Freiburg, Germany dari
DAAD. Saat ini, Anggi bekerja di Laboratorium
Antropologi untuk Riset dan Aksi.

Yohannes Kinskij Boedihardja


Kiky yang berasal dari Malang ini adalah alumnus
Fakultas Teknik Jurusan Perencanaan Wilayah dan
Kota angkatan 2005. Kiky pernah menjadi Top High
Achievement MOSI-Olimpiade Sains Indonesia tahun
2004. Untuk menambah pengalamannya, Kiky pernah
magang di PT. Nuphidama Graha Jember dan CV
Geodata Intitama-Palangkaraya (Kalimantan Tengah).
Aktivitas organisasinya, antara lain di Eksekutif
Mahasiswa Perencanaan Wilayah & Kota, LabKom
Perencanaan Wilayah & Kota, dan Komisi Pelayanan
Anak & Remaja GKJW Jemaat Ma-lang. Kesukaannya
pada olahraga basket, membawa Kiky memenangkan
Kejuaraan Basket Antar Jurusan Planologi se-Jawa
Timur.

K ABUPATEN M ALUKU TENGGARA BARAT

~497~
Ratih Diasari
Alumnus Fakultas Hukum angkatan 2006 ini
memiliki pengalaman organisasi sebagai ketua umum
PEM FH UGM (Perwakilan Elemen Mahasiswa) UGM
dan KMFH FH UGM (Keluarga Muslim Fakultas
Hukum) UGM. Selain itu, Ratih juga aktif dalam
organisasi kemasyarakatan, yaitu di Ikatan Remaja
Muslim Muda Masjid Darul Agrari dan Pesantren
Mahasiswi Darush Shalihat. Semasa kuliahnya, Ratih
pernah menjadi koordinator Sekolah Anti Korupsi
KKN-Tematik Papua pada 2009 serta meraih prestasi
berupa juara ketiga Sayembara Karya Tulis dan
Penelitian Nasional BPN RI tahun 2009. Pengalaman
kerjanya, yaitu asisten peneliti FH UGM, corporate
secretary legal officer di GCMednovation, dan manager
operational MQ Jernih Jogja Utara.

Arum Puspitarini Darminto


Arum, alumnus Fakultas Psikologi angkatan 2006
aktif di Kencana Pradipa Psikologi UI, Liga Tari UI

~498~
dan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Psikologi
UI. Arum menguasai beberapa tarian, seperti tari
tradisi Nusantara, tari kontemporer, dan tari India.
Prestasinya di dunia tari, antara lain pernah
menjuarai perlombaan Tari Saman SPARE 2008 dan
membawa misi Budaya-KP Tari Psikologi UI dengan
menjadi duta budaya untuk tamu-tamu negara dan
para duta besar dari berbagai negara. Sebelum
diterima menjadi Pengajar Muda Angkatan II, Arum
bekerja di Yayasan Semai Jiwa Amini (SEJIWA),
majalah Bobo, serta relawan di Youthlab Indonesia.

Bartolomeus Bagus Praba K.


Alumnus Jurusan Teknologi Industri Pertanian
Institut Pertanian Bogor angkatan 2006 ini pernah
menjadi finalis Agroindustrial Day Business Plan
Competition tahun 2008, mendapat beasiswa
Perkumpulan Orangtua Mahasiswa IPB (POM IPB),
beasiswa Bantuan Belajar Mahasiswa, Grant Program
Kreativitas Mahasiswa Bidang Kewirausahaan, dan
Grant Program Kreativitas Mahasiswa Bidang
Pengabdian Masyarakat. Grant Pengabdian
Masyarakat dari Dikti tersebut digunakan untuk
mendanai kegiatan Bagus dan rekan-rekannya dalam
mendampingi anak-anak di sebuah panti asuhan di
Bogor untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi. Hal
tersebut dilakukannya ketika Bagus aktif di organisasi
Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) IPB.

~499~
Dedi Kusuma Wijaya
Dedi, lulusan Jurusan Psikologi, menerima beasiswa
selama tiga tahun pada masa kuliahnya dari
Universitas Surabaya. Sebelum menjadi Pengajar
Muda, Dedi pernah bekerja sebagai dosen di
almamaternya dan konsultan di Experd Consultant.
Semasa kuliah aktif di berbagai organisasi, seperti
Senat Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas
Surabaya dan Majelis Perwakilan Mahasiswa, serta
pernah menjadi museum guide paruh waktu di House of
Sampoerna selama dua tahun.

Diastri Satriantini
Semasa SMA, Dissa yang merupakan lulusan Ilmu
Hubungan Internasional angkatan 2005, pernah
mengikuti pertukaran pelajar AFS-Youth Exchange
Study ke New Brighton, Pennsylvania-Amerika
Serikat. Saat kuliah, Dissa aktif di BEM FISIP UNAIR,
Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional
(HIMAHI) UNAIR, ASEAN Outreach Conference, dan

~500~
berbagai kepanitiaan lainnya. Diastri pernah bekerja
di Indonesia-Australia Language Foundation (IALF)
dan Indonesia Infrastructure Initiative (InDII)
Surabaya Office. Pada 2010, Dissa menggalang
bantuan seperti pakaian, makanan, dan peralatan
sekolah dari rekan-rekan sekitarnya untuk membantu
dua SD di Ponorogo yang lokasinya terpencil.

Matilda Narulita
Matilda yang merupakan alumnus Fakultas Teknik
Kimia angkatan 2005 ini, pernah menjadi delegasi
Indonesia di APEC Youth Camp Peru, Finalis Bayer
Eco-Minds, dan menjadi salah satu juara dalam
Annual Essay Competition UGM.
Matilda pernah aktif di Keluarga Mahasiswa Teknik
Kimia UGM dan Badan Pers Entropi. Salah satu
pengalaman kepanitiaannya adalah wakil ketua acara
Blood for Life Jogja. Setelah lulus dari almamaternya,
Matilda menjadi tenaga magang sebagai production
engineer di VICO Indonesia yang berlokasi di Kutai
Kartanegara.

~501~
Sandra Prasetyo
Sandra yang berasal dari Madiun, adalah alumnus
Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara angkatan
2006. Serangkaian prestasi telah Sandra raih. Ia
pernah menjadi pelajar teladan se-Kota Madiun,
semifinalis Bayer Young Environmental Envoy, dan
juara dalam Prototyping Design Contest 2009 yang
diselenggarakan oleh Fakultas Teknik Mesin dan
Dirgantara ITB. Selama kuliah, Sandra mendapatkan
beasiswa Konan Sekkei dan beasiswa Salim. Aktivitas
organisasinya mencakup Himpunan Mahasiswa Mesin
ITB, GAMAIS, International Youth Forum 2008, dan
pengalaman magang di PT. Timuraya Tunggal. Setelah
lulus, Sandra bekerja di Lentera Angin Nusantara dan
Dago Engineering.

Adhiti
Adhiti, kelahiran Bandung, merupakan alumnus
Jurusan Matematika angkatan 2005. Setelah
menyelesaikan pendidikannya, Adhiti bekerja sebagai
supervisor-actuarial valuation di PT. Asuransi Jiwa

~502~
Indonesia. Salah satu prestasi Adhiti adalah
mendapat penghargaan sebagai Dean’s List
Achievement of Outstanding Academic Performance.
Semasa kuliah, Adhiti aktif dalam berbagai kegiatan
organisasi, antara lain di HIMATIKA ITB dan kabinet
keluarga mahasiswa ITB. Adhiti juga aktif dalam
berbagai kegiatan, di antaranya Mathematical
Challenge Festival IV pada 2008, bakti sosial
HIMADES dan KONSOLIDASI.

Angga Prasetyawan
Angga adalah alumnus Fakultas Ilmu Pengetahuan
Budaya Program Studi Indonesia angkatan 2006. Saat
kuliah, Angga pernah menjuarai berbagai kompetisi,
antara lain Lomba Penulisan tentang Iran yang
diselenggarakan oleh Kedubes Iran untuk Indonesia,
Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia VIII, serta juara ketiga
Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Utama. Selain
memiliki banyak prestasi, Angga juga aktif dalam
kegiatan organisasi, seperti di lembaga Senat
Mahasiswa tingkat Fakultas dan Ikatan Keluarga
Sastra Indonesia (IKSI). Sebelum menjadi Pengajar
Muda, Angga bekerja sebagai dosen mata kuliah
Pengembangan Kepribadian Terintegrasi di
Universitas Indonesia.

~503~
Arif Lukman Hakim
Arif, yang berasal dari Brebes-Jawa Tengah, adalah
alumnus Fakultas Ekonomika dan Bisnis/Ilmu
Ekonomi angkatan 2005. Semasa kuliah, Arif pernah
menjadi finalis paper competition “Dana Hibah
Dekan FEB UGM 2008” serta mendapat beasiswa
penuh dari Sampoerna Foundation, serta dana Hibah
Dekan FEB UGM 2008. Arif aktif dalam Sharia
Economic Forum (SEF) UGM, Himpunan Mahasiswa
Brebes (HIMABES) UGM, dan Sampoerna
Foundation Scholars Club. Selain di kampus, Arif juga
aktif mengikuti organisasi luar kampus, seperti
Sanggar Sunan dan Korps Dakwah Mahasiswa PP Ali
Maksum Krapyak Yogya. Untuk menambah
pengalamannya, Arif pernah magang di Kelompok Ka-
jian Ekonomi di Bank Indonesia-Yogyakarta dan
Pusat Ekonomi dan Kebijakan Publik.

Ika Martharia Trisnadi


Ika telah menyelesaikan studi magisternya di program
Marketing Communication dan studi sarjananya di

~504~
Jurusan Public Relations, London School of Public
Relation dengan predikat cumlaude. Prestasinya yang
cemerlang di bidang akademik tersebut, mendukung
Ika meraih penghargaan sebagai mahasiswa
berprestasi dan termasuk dalam Dean’s List.
Terkait dengan kegiatan organisasi, Ika aktif di ADSA
(AIDS Drugs & Sex Awareness), Bina Iman Anak St.
Philipus Rasul, dan Yayasan Tzu Chi dalam program
daur ulang. Untuk menambah pengalamannya, selain
menjadi guru di Pelangi Kasih School, Ika pernah
bekerja di Weber Shandwick Indonesia/PT Cahaya
Megah Kencana, dan PR Maven/PT. Indo Komunikasi
Selaras.

Marintha Eky Wulansari


Lulusan Manajemen angkatan 2005 ini aktif
berorganisasi baik di kampus maupun lingkungan
masyarakat. Eky pernah aktif di Lingkar Studi
Mahasiswa Ekonomi (LSME), Badan Eksekutif
Mahasiswa, LSO Riset dan Teknologi EM UB, serta
Komunitas AKSARA Malang-Alief Foundation. Di
bidang pendidikan, Eky aktif berkontribusi sebagai
guru Pendidikan Agama Islam di Puri Asah Dasar
Sekolah Alam Avesiena dan Trainer Outbond Grak
System Management Consultant.
Prestasi pemilik usaha Roselly Healthy Food Co. ini
tecermin dari beberapa beasiswa yang pernah
diperolehnya, yaitu beasiswa PPE-DIKTI Kemdiknas,

~505~
beasiswa peraih prestasi PIMNAS, Grant Program
Mahasiswa Wirausaha-DIKTI. Tidak hanya itu,
prestasi Eky yang lain di antaranya Ashoka
Innovators for The Public-Indonesia Representative,
The Lemelson Foundation bekerja sama dengan
RAMP (Recognition and Mentoring Program) IPB,
penyaji terbaik Kompetisi Karya Tulis Al-Quran
(KKTA) dalam Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS) XXII
2009, juara kedua Lomba Karya Tulis Mahasiswa
Nasional Universitas Negeri Yogyakarta 2009, finalis
I-STEP (Intensive Student Techno Preneurship) dan
Technical Project Suport Development Program
(TPSDP).

Maria Jeanindya Wahyudi


MJ, lulusan Jurusan Hubungan Internasional
angkatan 2004 ini, pernah mengikuti Wanadri
Women Series Expedition di Rusia. Sebelumnya, ia
telah berkecimpung di dunia jurnalistik. MJ pernah
aktif di Media Parahyangan, junior copywriter Creation
Brand dan bekerja sebagai reporter di harian Media
Indonesia. Pengalaman organisasinya mencakup Warta
Himahi dan Wanadri. Sewaktu kuliah, MJ pernah
memperoleh beasiswa orangtua asuh dan setelah
lulus, ia menjadi kakak asuh di fakultasnya. Aktivis
Wanadri ini juga merupakan trainer Disaster Risk
Reduction Arbeiter Samariter Bund.

~506~
Mochammad Subkhi Hestiawan
Subkhi adalah alumnus Jurusan Ilmu dan Teknologi
Pangan angkatan 2005 yang memiliki beragam
prestasi. Antara lain yang diraihnya, yaitu juara
pertama Student Paper Competition in Science
(LKTM)-IPB & DIKTI, finalis the 6th Edition Trust By
Danone-Danone Way of Doing Business, 5 tim terbaik
bidang business game Pagelaran Mahasiswa Teknologi
Informasi dan Komunikasi II (Gemastik II)-DIKTI
(2009–2010), Grant Student Entrepreneurship
Program Colaboration DIKTI and CDA-IPB (PPKM),
Grant Student Creativity Program in
Entrepreneurship-DIKTI 2007–2008, Grant Student
Creativity Program in Research PKM-Penelitian
(2006– 2007).
Subkhi juga aktif berorganisasi, antara lain di
Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan,
Himpunan Keluarga Mahasiswa Rembang di Bogor,
dan majalah Pangan Emulsi. Pengalaman bekerjanya,
yaitu pernah menjadi konsultan Pengemasan dan
UKM di Kementerian Kelautan dan Perikanan.

~507~
Raden Roro Cahya Wulandari
Wulan adalah alumnus Fakultas Psikologi angkatan
2006 yang memiliki berbagai prestasi. Prestasi terbaik
yang pernah diraihnya, yaitu mengikuti program AFS
International Student Exchange ke Queensland,
Australia, menjadi peserta Greifswald Internasional
Student Festival du University of Greifswald, Jerman,
meraih beasiswa dari Yayasan Supersemar, juara
ketiga Lomba Penulisan Psikologi Ilmiah Berdasarkan
Problem Kontekstual, peserta proyek Kreativitas
Mahasiswa untuk kategori Pengabdian Masyarakat-
DIKTI, dan menerima Hibah Pembelajaran Student
Teacher Aestetic Role-sharing (STAR)-UGM & DIKTI.
Selain berprestasi, Wulan aktif dalam beberapa
organisasi, baik tingkat universitas maupun tingkat
nasional, di antaranya Psikomedia, Center for
Indigenous and Cultural Psychology, Peace
Generation, dan Yayasan Bina Antarbudaya partner
of AFS. Pengalaman kerjanya, yaitu di Journal of
Indonesian Economy & Business (JIEB), guru bahasa
Inggris di Smart English, dan Asian Association for
Social Psychology (AASP).

~508~
“M ENCERDASKAN K EHIDUPAN BANGSA: BERSAMA M ELUNASI
J ANJI K EMERDEKAAN.”
SEKILAS TENTANG
GERAKAN INDONESIA MENGAJAR
yayasan Gerakan Indonesia Mengajar berdiri pada
2010. Bermula dari ide pegiat pendidikan Anies
Baswedan, PhD., gerakan ini mengajak putra-putri
terbaik di Republik ini, generasi baru yang terdidik,
berprestasi, dan memiliki semangat juang untuk
menjadi guru SD selama satu tahun di pelosok
Indonesia.
Sebagai sebuah ikhtiar untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa, Indonesia Mengajar tidak
berpretensi untuk menyelesaikan seluruh persoalan
pendidikan di Indonesia. Namun, Indonesia Mengajar
sepenuhnya percaya bahwa hadirnya putra-putri
terbaik Indonesia sebagai guru, mendorong
peningkatan kualitas pendidikan kita.
Dengan keyakinan bahwa pendidikan adalah
sebuah gerakan bersama, Gerakan Indonesia
Mengajar memiliki misi ganda, yakni membantu
mengisi kekurangan guru berkualitas di daerah yang
membutuhkan serta menjadi wahana belajar
kepemimpinan bagi anak-anak muda terbaik
Indonesia agar memiliki kompetensi kelas dunia dan
pemahaman masyarakat akar rumput yang utuh.
Pendidikan bukan sekadar program yang dijalankan

~509~
pemerintah, sekolah, dan para guru. Pendidikan
adalah gerakan mencerdaskan bangsa yang harus
melibatkan semua orang: mendidik adalah tugas
setiap orang terdidik.
Sejak 2010, 26.363 sarjana Indonesia telah mendaftar
untuk mengabdi pada negeri dan 241 dari mereka
terpilih sebagai Pengajar Muda untuk mengajar
20.359 siswa di 136 desa di 16 kabupaten.
Indonesia Mengajar menempatkan sarjana-sarjana
terbaik di pelosok negeri. Kehadiran mereka di sana
untuk mengajar, mendidik, menginspirasi, dan
menjadi jembatan bagi masyarakat desa-desa dengan
pusat-pusat kemajuan. Di pelosok negeri itu, para
Pengajar Muda akan memiliki kawan baru, rumah
baru, dan keluarga baru. Desa-desa itu akan selalu
menjadi bagian dari diri mereka. Begitu juga
sebaliknya, para Pengajar Muda itu akan
meninggalkan ilmu, inspirasi, dan kenangan kepada
masyarakat desa di pelosok negeri. Tanda pahala para
Pengajar Muda itu akan membekas di setiap prestasi
anak-anak dan di setiap kemajuan di desa-desa.
Indonesia Mengajar yakin bahwa itu semua adalah
rajutan erat yang akan menguatkan tenun
kebangsaan kita.
Indonesia Mengajar yakin bahwa “Setahun
Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi”.
D UKUNGAN KEPADA INDONESIA M ENGAJAR
Gerakan Indonesia Mengajar telah berkembang
dengan baik karena terjadinya sinergi yang harmonis
antara gagasan dan kepedulian. Gerakan Indonesia

~510~
Mengajar mengundang berbagai pihak untuk
mendukung inisiatif ini. Dukungan bisa diwujudkan
melalui: menjadi Pengajar Muda, menjadi Mitra dan
Pendukung, menjadi Penyala (Relawan Indonesia
Menyala), menjadi pendukung aktif di jaringan media
sosial (Facebook dan Twitter) Indonesia Mengajar
untuk menyebarkan semangat dan berbagi ide, serta
membuat inisiatif pribadi dan menyinergikannya
dengan Indonesia Mengajar.
Sebagai tanggung jawab publik, Indonesia
Mengajar juga diaudit laporan keuangannya oleh PWC
Indonesia (Price Waterhouse Cooper Indonesia) yang
melakukannya secara probono. Terkait pendanaan
program, Indonesia Mengajar mendapatkan
dukungan dari berbagai perusahaan nasional. Sejak
berdiri, Indonesia Mengajar didukung oleh PT Indika
Energy Tbk. sebagai Mitra Utama dan sejak Desember
2011 sampai saat ini, Indonesia Mengajar didukung
pula oleh salah satu BUMN terkemuka, yaitu PT
Perusahaan Gas Negara Tbk., juga sebagai Mitra
Utama.
DUKUNG MELALUI DONASI
“Indonesia Mengajar mengundang Anda untuk ikut
serta memberikan kesempatan kepada para siswa di
berbagai pelosok Indonesia untuk tidak hanya berani
memiliki cita-cita, tetapi juga memperjuangkannya.”
Paci, seorang siswa kelas 4 SDN Indong, Mandioli
Utara, Halmahera Selatan, menjadi juara lomba
Bahasa Inggris tingkat kabupaten. Jauhnya pulau
tempat Paci bersekolah dari kabupaten, mengundang

~511~
tawa dari penonton ketika Paci mendapat giliran
tampil dalam perlombaan Bahasa Inggris di
kabupaten. Mereka pikir, untuk bisa ikut lomba di
kabupaten saja sudah hebat. Tawa penonton seketika
berubah menjadi riuh tepuk tangan saat Paci turun
panggung. Ia keluar sebagai juara kedua!
Sabariah, seorang siswa kelas 6 di SD Negeri 28
Pangkalan Nyirih; sebuah SD di desa yang terletak di
pulau kecil yang berbatasan langsung dengan
Malaysia, Pulau Rupat. Sejak kecil Sabariah tidak
pernah meninggalkan Pulau Rupat. Namun, pada Mei
2011 Sabariah untuk kali pertama meninggalkan
Pulau Rupat, alih-alih hanya pergi ke kota kabupaten
atau provinsi, Sabariah menginjakkan kaki di Jakarta.
Ia bersama 302 finalis Olimpiade Sains Kuark
menyisihkan 84.000 peserta di seluruh Indonesia.
Paci dan Sabariah didekatkan pada kesempatan
lebih untuk memaksimalkan potensinya. Pengajar
Muda yang hadir dan tinggal setahun di Desa Indong
dan Desa Pangkalan Nyirih, menjadi jendela bagi Paci,
Sabariah, dan semua anakanak di desa tersebut. Paci
dan Sabariah hanya salah satu dari 19.000 siswa SD
yang terpapar, bertemu, dan berinteraksi intens
dengan anak-anak muda terbaik Indonesia yang
tergabung sebagai Pengajar Muda Gerakan Indonesia
Mengajar. Kehadiran Pengajar Muda mengonfirmasi
bahwa ada jutaan mutiara terpendam di seluruh
penjuru Republik.
Melalui program Public Donation, Indonesia
Mengajar mengajak Anda ikut serta bersama dengan

~512~
Pengajar Muda untuk memperjuangkan mutiara
terpendam di seluruh penjuru Republik. Donasi Anda
akan menjadi investasi bagi anak-anak tersebut untuk
melompat mencapai cita-cita yang tidak pernah
terbayangkan sebelumnya.
“Jejak kebaikan Anda akan membuat anak-anak di
pelosok, di ujung-ujung republik, bertemu dengan
guru terbaik.”
Dengan menjadi donatur Indonesia Mengajar,
Anda telah menjadi bagian dari gerakan membangun
visi bangsa ini dan turut mendukung anak-anak
Indonesia di berbagai pelosok negeri untuk memiliki
dan memperjuangkan cita-citanya. Untuk
berpartisipasi, daftarkan diri Anda dengan cara log in
dan mengisi aplikasi kesediaan menjadi donatur di
situs web Indonesia Mengajar:
http://indonesiamengajar.org/donasi.
INFORMASI LEBIH LANJUT
Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar
Jln. Galuh II No. 4, Kebayoran Baru Jakarta
Selatan, INDONESIA 12110 Telp. : +62-21-7221570
Faksimile: +62-21-7231430 Email :
info@indonesiamengajar.org Situs web :
http://indonesiamengajar.org Twitter :
@pengajarmuda Facebook : Indonesia Mengajar

~513~