Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Aparatur Sipil Negara (ASN) termasuk di dalamnya Pegawai Sipil Negara

(PNS) berperan penting dalam penyelenggaraan urusan kepemerintahan. Seorang

ASN dituntut untuk melakukan fungsi sebagai pelayan publik, pelaksana

kebijakan publik juga perekat dan pemersatu bangsa. Dalam menjalankan

fungsinya tersebut ASN diharapkan untuk meningkatkan kopetensi sebagaimana

yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang

Manajemen Pegawai Negeri Sipil yaitu kompetensi teknis, kopetensi manajerial

dan kopetensi sosiokultural.

Langkah awal dalam membangun kompetensi tersebut melalui pendidikan

dan pelatihan terintegrasi yakni Pelatihan Dasar Calon PNS yang diatur dalam

Peraturan Lembaga Administrasi Nomor 12 tahun 2018 tentang Pelatihan Dasar

Calon Pegawai Negeri Sipil. Pelatihan ini bertujuan untuk mengenbangkan

kemampuan ASN dalam menjalankan manajemen serta meningkatkan

profesionalisme di tempat tugas masing-masing. Dalam pelatihan diajarkan

tentang Bela Negara, Nilai-nilai dasar PNS yaitu Akuntabilitas, Nasionalisme,

Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti korupsi, diajarkan pula bagaimana

Pelayanan Publik, Manajemen ASN serta Whole of Goverment. Sebagai tindak

lanjut dari Pelatihan Dasar Calon PNS peserta diwajibkan membuat rancangan

aktualisasi untuk mengatasi isu yang ada di tempat kerja masing-masing.


Peran ASN di bidang kesehatan melalui kegiatan pelayanan mencakup tiga

aspek yaitu promotif, kuratif dan rehabilitatif. Keseluruhan aspek terintegrasi satu

dan lainnya agar sistem pelayanan dapat dijalankan dengan maksimal. Perilaku

masyarakat Indonesia terhadap kesehatan gigi dan mulut masih tergolong buruk.

Terlihat masih tingginya tingginya tingkat kerusakan gigi dan mulut masyarakat

Indonesia pada hampir seluruh kelompok usia. Selain tingginya angka kerusakan

gigi dan mulut tingkat kesadaran untuk mendapatkan pelayanan kesehatan gigi

dan mulut juga masih rendah, padahal sebagai sebuah instansi pelayanan

masyarakat Puskesmas memiliki tugas dan fungsi yang telah diatur untuk

meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan program-program yang

dimiliknya. Puskesmas memiliki beberapa program kesehatan yang harus

dijalankan. Salah satu program di bidang kesehatan adalah kesehatan gigi dan

mulut. Program kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas memiliki beberapa

sasaran kegiatan mulai dari ibu hamil, bayi dan balita, anak sekolah dan lansia.

Masih tingginya masalah kesehatan gigi dan mulut di Indonesia mengharuskan

tiga aspek pelayanan kesehatan harus terus dijalankan secara maksimal.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2018 menunjukkan bahwa

hanya 2,8% anak tiga tahun ke atas sudah memiliki masalah kesehatan gigi. Di

Indonesia anak berusia 5 tahun ada sebanyak 90,2% memiliki masalah gigi

berlubang dengan indeks dmf-t atau jumlah kerusakan rata-rata kerusakan gigi

sebesar 8,1. Di kelompok usia selanjutnyaanak berusia 12 tahun sebanyak 72%

dengan indeks dmf-t sebanyak 1,9. Kondisi ini memburuk di usia dewasa yaitu

kelompok usia 35-44 tahun dilaporkan ada sebanyak 92,2% memiliki masalah

gigi berlubang. Data lain menunjukkan bahwa dari 57,6 penduduk Indonesia
memiliki masalah kesehatan gigi dan mulut tetapi hanya 10,2% yang

mendapatkan pelayanan medis.

Berdasarkan data diatas sangat diperlukan upaya-upaya pencegahan masalah

kesehatan gigi dan mulut untuk semua kelompok usia. Pada kelompok usia anak

sekolah tindakan preventif (pencegahan) bisa dilakukan dengan melakukan

promosi kesehatan mengenai kesehatan gigi dan mulut. Promosi kesehatan

meliputi beberapa upaya yang dilakukan yaitu penyuluhan, melakukan kampanye

sikat gigi dan pemasangan media penyuluhan berkesinambungan yaitu berupa

spanduk. Upaya yang dilakukan harus disesuaikan dengan usia kelompok anak

karena pada usia anak perubahan tingkah laku berdasarkan apa yang mereka

dapatkan dari lingkungannya.

Tingginya prevalensi karies gigi pada anak memberi dampak secara khusus ke

rongga mulut yaitu susunan gigi dewasa tidak rapi dan bisa memicu munculnya

infeksi. Secara umum akan menurunkan kualitas hidup anak. Anak akan susah

makan dan berdampak pada nutrisi anak, mengganggu cara anak berbicara dan

mempengaruhi percaya diri anak. Secara psikologis anak yang memiliki kebiasaan

buruk tidak menjaga kesehatan gigi dan mulutnya sejak dini akan terbawa sampai

anak dewasa nanti.

B. Tujuan dan Sasaran

Adapun tujuan umum aktualisasi pada kegiatan pelatihan dasar CPNS

golongan III adalah mengidentifikasi nilai-nilai dasar profesi PNS yang mencakup

Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi


yang biasa dikenal dengan ANEKA serta peran dan kedudukan PNS dalan NKRI

serta mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

C. Manfaat Aktualisasi

Manfaat yang dibangun dalam pelatihan dasar calon CPNS Golongan III PNS

sebagai pelayan masyarakat profesional, yang diperlihatkan dalam kemampuan :

a. Menunjukkan sikap perilaku bela negara

b. Mengaktualisasikan nilai-nilai dasar PNS yaitu Aktualisasi, Nasionalisme,

Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi dalam pelaksanaan tugas

jabatannya

c. Mengaktualisasi kedudukan dan peran PNS dalam kerangka NKRI

d. Menunjukkan penguasaan kemampuan teknis yang dibutuhkan sesuai

bidang tugas masing-masing dimana penulis sebagai dokter gigi

e. Mampu melaksanakan praktek kedokteran gigi yang profesional sesuai

dengan nilai dan prinsip ke-Tuhanan, moral luhur, etika, disiplin, hukum

dan sosial budaya

f. Mampu menggali potensi dan mengembangkan diri serta melakukan hal-

hal yang dapat meningkatkan pengetahuan demi keselamatan pasien

g. Mampu menggali dan bertukar informasi secara verbal dan nonverbal

dengan pasien, anggota keluarga, masyarakat, kolega dan sejawat lain

h. Mampu memanfaatkan teknologi informasi komunikasi dan informasi

kesehatan dengan menerapkan prinsip keselamatan npasien


i. Mampu mengelola masalah kesehatan individu, keluarga maupun

masyarakat secara komperhensif, terpadu dan berkesinambungan dalam

konteks pelayanan kesehatan primer.


BAB II

NILAI-NILAI DASAR ASN

A. AKUNTABILITAS

Akuntabilitas adalah kewajiban pertanggungjawaban yang harus

dilaksanakan dan harus dicapai. Akuntabilitas hampir memiliki kesamaan

makna dengan responsibilitas. Namun keduanya memiliki konsep yang

berbeda. Akuntabilitas merujuk pada kewajiban setiap individu, kelompok

atau institusi untuk memenuhi tanggung jawab yang menjadi amanahnya.

Amanah seorang PNS adalah menjamin terwujudnya nilai-nilai publik.

Nilai-nilai publik tersebut adalah:

a. Mampu mengambil pilihan yang tepat dan benar ketika terjadi konflik

kepentingan, baik kepentingan publik dengan kepentingan sektor,

kelompok maupun pribadi.

b. Memiliki pemahaman dan kesadaran untuk menghindari dan

mencegah keterlibatan PNS dalam politik praktis.

c. Memeperlakukan warga negara secara sama dan adil dalam

penyelenggaraan bpemerintah dan pelayanan publik.

d. Menunjukkan sikap dan perilaku yang konsisten dan dapat diandalkan

sebagai penyelenggara kebijakan pemerintahan.

Akuntabilitas memiliki tiga fungsi yang utama, yaitu :

a. Menyediakan kontrol demokratis

b. Mencegah korupsi
c. Meningkatkan efesiensi dan efektifitas

Pengambilan keputusan secara akuntabel berarti dapat membuat keputusan

dan tindakan yang tepat dan akurat. Sebuah keputusan yang akuntabel dan

beretika sangat penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap

pemerintah. Dalam pelaksanaannya, penempatan kepentingan umum berarti

memastikan tindakan dan keputusan yang berimbang harus jelas dan tidak bias,

adil akuntabel dan transparan. Selain itu kebijakan yang ada harus seuai dengan

standar dan harus dideklarasikan secara terbuka untuk mencegah terjadinya

konflik kepentingan.

B. NASIONALISME

Nasionalisme adalah pemahaman mengenai nilai-nilai kebangsaan.

Nasionalisme memiliki kekuatan kecintaan individu terhadap negara dan

bangsanya. Salah satu cara meningkatkan nasionalisme adalah dengan

menanamnkan dan mengamalkan nilai-nilai pancasila. Pengamalan nilai-nilai

luhur yang terkandung didalamnya harus diamalkan baik oleh penyelenggara

pemerintahan di pusat maupun daerah. Seorang PNS dituntut untuk memiliki

perilaku mencintai tanah air Indonesia (nasionalisme) dan mengedepankan

kepentingan nasional.

Nasionalisme merupakan salah satu perwujudan dari fungsi ASN sebagai

perekat dan pemersatu bangsa. Dalam menjalankan tugas, seorang ASN

senantiasa harus mengutamakan dan mementingkan persatuan dan kesatuan

bangsa. Kepentingan pribadi, golongan dan kelompok harus disingkirkan demi

kepentingan yang lebih besar yaitu kepentingan bangsa dan negara diatas
segalanya. Dalam menjalankan tugasnya PNS juga harus adil dan netral. Adil

dalam artian tidak berperilaku diskiminatif serta harus objektif, jujur dan

transparan. Sedangkan bersikap netral adalah tidak mimihak kepada salah satu

golongan atau kelompok yang ada. Dengan sikap netral dan adil dalam

melaksanakan tugasnya, PNS akan menciptakan kondisi aman, damai dan netral

di lingkungan kerjanya dan di masyarakat.

C. ETIKA PUBLIK

Etika publik adalah refleksi dari standar/norma yang menentukan baik atau

buruk, benar atau salah dalam berperilaku untuk mengarahkan kebijakan publik

dalam rangka menjalankan tanggung jawab pelayanan publik. Etika merupakan

sistem penilaian perilaku serta keyakinan untuk menentiukan perbuatan yang

pantas atau tidak guna menjamin adanya perlindungan hak-hak individu,

mencakup cara-cara dalam pengambilan keputusan untuk membantu membedakan

hal-hal yang baik dan yang buruk serta mengarahkan apa yang seharusnya

dilakukan sesuai nilai-nilai yang dianut. Kode etik mengatur tingkah laku, sudut

pandang terhadap hal-hal prinsip dalam bentuk ketentuan-ketentuan tertulis.

Nilai-nilai dasar etika publik sebagaimana tercantum dalam pasal 4 Undang-

Undang Nomor 5 tahun 2014 tentang ASN, yakni :

1. Memgang teguh nilai-nilai dalam ideologi Negara Pancasila

2. Setia dan mempertahankan Undang-Undang Dasar republik Kesatuan

Indonesia 1945 serta pemerintah yang sah

3. Mengabdi kepada Negara dan rakyat Indonesia

4. Menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak


5. Membuat keputrusan berdasarkan prinsip keahlian

6. Menciptakan lingkungan kerja yang non diskriminatif

7. Memelihara dan menjunjung tinggi standar etika yang luhur

8. Mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada publik

9. Memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan program

pemerintah

10. Memberikan layanan kepada publik secara jujur, tanggap, cepat, tepat

akurat, berdaya guna dan santun

11. Mengutamakan kepemimpinan berkulitas tinggi

12. Menghargai komunikasi, konsultasi dan kerjasama

13. Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai

14. Mendorong kesetaraan dalam pekerjaan

15. Meningkatkan efektivitas sistem pemerintah yang demokratis sebagai

perangkat sistem karir.

D. KOMITMEN MUTU

Komitmen mutu merupakan pemahaman konsep mengenai efektivitas,

efesiensi, inovasi dan mutu penyelenggaraan Pemerintah. Efektivitas merupakan

sejauh mana sebuah organisasi dapat mencapai tujuan yang ditetapkan. Sementara

efesien merupakan jumlah sumber daya yang digunakan untuk mencapai tujuan

organisasi. Efesiensi ditentukan oleh berapa banyak bahan baku, biaya dan tenaga

yang dibutuhkan untuk mencapai sebuah tujuan. Dari kedua definisi tersebut

dapat disimpulkan bahwa karakteristik utama dijadikan dasar untuk mengukur

tingkat efektifitas adalah ketercapaian target yang telah direncanakan, baik dilihat
dari capaian target yang telah direncanakan, baik dari segi mutu hasil kerja,

kepuasan yang diberikan dan tingkat efesiensi yang diukur dari penghematan

biaya, waktu, tenaga dan pikiran dalam melaksanakan kegiatan. Sementara

inovasi muncul karena adanya kebutuhan dorongan/ perusahaan untuk beradaptasi

dengan tuntutan perubahan yang terjadi disekitarnya.

Penyelenggara pemerintah yang baik dan bersih sudah menjadi keharusan di

era reformasi saat ini. berbagai upaya telah dilakukan untuk mewujudkan hal

tersebut, namun dalam implementasinya masih belum sesuai dengan harapan.

Penyelenggaraan pemerintah yang berorientasi pada layanan sudah tidak bisa

ditawar lagi ketika kinerjanya haruslah meningkatkan kepercayaan publik.

Secara singkat nilai-nilai dasar komitmen mutu adalah efektivitas, efesiensi,

inovasi dan berorientasi pada mutu.

E. ANTI KORUPSI

Korupsi berasal dari bahasa latin curuption dan corruptus yang berarti

perbuatan yang tidak baik, buruk, dapat disuap dan tidak bermoral. Berdasarkan

UU No. 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, bahwa

korupsi adalah tindakan yang melawan hukum dengan melakukan perbuatan

memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat

merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

Pada UU No. 20 Tahun 2001, terdapat tujuh kelompok tindak pidana korupsi

antara lain:

1. Kerugian keuangan negara


2. Suap-menyuap

3. Pemerasan

4. Perbuatan curang

5. Penggelapan dalam jabatan

6. Benturan kepentingan dalam pengadaan

7. Gratifikasi

Anti korupsi dapat diidentifikasi ke dalam sembilan nilai, yaitu :

1. Kejujuran berasal dari kata jujur yang dapat didefinisikan sebagai sebuah

tindakan maupun ucapan yang lurus, tidak berbohong dan tidak curang.

2. Kepedulian adalah mengindahkan, memerhatikan dan menghiraukan. Rasa

kepedulian dapat dilakukan terhadap lingkungan sekitar.

3. Kemandirian berarti dapat berdiri di atas kaki sendiri, artinya tidak banyak

bergantung kepada orang lain dalam berbagai hal.

4. Kedisiplinan adalah ketaatan/ kepatuhan kepada peraturan.

5. Tanggung jawab adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatu.

6. Kerja keras didasari dengan adanya kemauan di dalam kemauan terkandung

tekad, ketekunan, daya tahan, daya kerja dan keberanian.

7. Kesederhanaan yaitu dibiasakan untuk tidak hidup boros.

8. Keberanian dapat diwujudkan dalam bentuk berani mengatakan dan membela

kebenaran.

9. Keadilan adalah sama berat, tidak berat sebelah dan tidak memihak.

Menempatkansegala sesuatu pada tempatnya.


F. SIKAP DAN PERILAKU DISIPLIN ASN

Secara etimologis disiplin berasal dari bahasa inggris disciple yang berarti

pengikut atau penganut, latihan dan sebagainya. Disiplin merupakan suatu

keadaan tertentu dimana orang-orang yang tergabung dalam organisasi tunduk

pada peraturan dan ketentuan yang ada dengan lapang dada dan senang hati.

Beberapa pakar berpendapat bahwa pada dasarnya definisi disiplin adalah suatu

sikap tingkah laku dan perbuatan yang sesuai dengan peraturan-peraturan

organisasi, baik aturan tertulis maupun tidak tertulis. Menurut Siagian bahwa :

disiplin merupakan tindakan manajemen untuk mendorong anggota organisasi

memenuhi tuntutan berbagai ketentuan tersebut. Dengan perkataan lain,

pendispilinan pegawai adalah suatu bentuk pelatihan yang berusaha memperbaiki

dan membentuk pengetahuan, sikap dan perilaku pegawai sehingga para pegawai

tersebut secara sukarela berusaha bekerja secara kooperatif dengan para pegawai

yang lain serta meningkatkan prestasi kerjanya.

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 53 tahun 2010 tentang Disiplin

Pegawai Negeri Sipil dalam pasal 1 ayat 1 yang dimaksud dengan disiplin

aparatur sipil negara adalah kesanggupan aparatur sipil negara untuk menaati

kewajiban dan menghindari segala larangan yang ditentukan dalam Peraturan

Perundang-undangan dan/atau Peraturan Kedinasan yang apabila tidak ditaati atau

dilanggar dijatuhi hukuman disiplin. Disiplin ini merupakan pengaturan

kewajiban, larangan dan sanksi apabila kewajiban tidak ditaati atau larangan

dilanggar oleh ASN.


Berdasarkan Peraturan pemerintah RI Nomor 53 tahun 2010, Pegawai Negeri

Sipil memilik kewajiban untuk :

1. Mengucapkan sumpah/janji PNS

2. Mengucapkan sumpah/janji jabatan

3. Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, undang-Undang Dasar

Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik

Indonesia dan pemerintah

4. Menaati segala ketentuan peraturan perundang-undangan

5. Melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada PNS dengan

penuh pengabdian, kesadaran dan tanggung jawab

6. Menjunjung tinggi kehormatan kehormatan negara, pemerintah dan

martabat PNS

7. Mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan sendiri,

seseorang dan/atau golongan

8. Memegang rahasia jabatan yang menurut sifatnya atau menurut perintah

harus dirahasiakan

9. Bekerja dengan jujur, tertib, cermat dan bersemangat untuk kepentingan

negara

10. Melaporkan dengan segera kepada atasannya apabiola mengetahui ada hal

yang dapat membahayakan atau merugikan negara atau Pemerintah

terutama di bidang keamanan, keuangan dan metril

11. Masuk kerja dan menaati ketentuan jam kerja

12. Mencapai sasaran kerja pegawai yang ditetapkan


13. Menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara dengan sebaik-

baiknya

14. Memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat

15. Membimbing bawahan dalam melaksanakan tugas

16. Memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengembangkan karir

17. Menaati peraturan kedinasan yang ditetapkan oleh pejabat yang

berwenang

Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI Nomor 53 Tahun 2010, PNS memiliki

larangan yaitu:

1. Menyalahgunakan wewenang

2. Menjadi perantara untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan/atau orang

lain dengan menggunakan kewenangan orang lain

3. Tanpa izin pemerintah menjadi pegawai atau bekerja untuk negara lain

dan/atau lembaga atau organisasi internasional

4. Bekerja pada perusahaan asing, konsultasi asing atau lembaga swadaya

masyarakat asing

5. Memiliki, menjual, membeli, menggadaikan, menyewakan atau

meminjamkan barang-barang baik bergerak atau tidak bergerak, dokumen

atau surat berharga milik negara secara tidak sah

6. Melakukan kegiatan bersama dengan atasan, teman sejawat, bawahan atau

orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerjanya dengan tujuan

untuk keuntungan pribadi, golongan atau pihak lain, yang secara langsung

atau tidak langsung merugikan negara


7. Memberikan atau menyanggupi akan memberi sesuatu kepada siapapun

baik secara langsung atau tidak langsung dan dengan dalih apapun untuk

diangkat dalam jabatan

8. Menerima hadiah atau suatu pemberian apa saja dari siapapun juga

berhubungan dengan jabatan dan/atau pekerjaannya

9. Bertindak sewenang-wenang terhadap bawahannya

10. Melakukan suatu tindakan atau tidak melakukan suatu tindakan yang dapat

menghalangi atau mempersulit salah satu pihak yang dilayani sehingga

mengakibatkan kerugian bagi yang dilayani

11. Menghalangi berjalannya tugas kedinasan

12. Memberikan dukungan kepada calon Presiden/Wakil Presiden, Dewan

Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah atau Dewan Perwakilan

Rakyat Daerah dengan cara:

a. Ikut serta sebagai pelaksana kampanye

b. Menjadi peserta kampanye dengan menggunakan atribut partai atau

atribut PNS

c. Sebagai peserta kampanye dengan mengerahkan PNS lain dan/atau

d. Sebagai peserta kampanye dengan menggunakan fasilitas negara

13. Memberikan dukungan kepada calon Presiden/Wakil Presiden dengan

cara:

a. Membuat keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau

merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye dan/atau

b. Mengadakan kegiatan yang mengarahkan kepada keberpihakan

terhadap pasangan calon yang menjadi peserta pemilu sebelum,


selama, dan sesudah masa kampanye meliputi pertemuan, ajakan,

himbauan, seruan atau pemberian barang kepada PNS dalam

lingkungan unit kerjanya, anggota keluarga dan masyarakat.

14. Memberikan dukungan kepada calon anggota Dewan Perwakilan Daerah

atau calon Kepala Daerah/ Wakil daerah dengan cara memberikan surat

dukungan disertai foto kopi Kartu Tanda Penduduk atau Surat keterangan

Tanda Penduduk sesuai peraturan perundang-undangan, dan

15. Memberikan dukungan kepada calon Kepala Daerah/Wakil Kepala

Daerah, dengan cara:

a. Terlibat dalam kegiatan kampanye untuk mendukung calon Kepala

Daerah/ Wakil Kepala Daerah

b. Menggunakan fasilitas yang terkait dengan jabatan dalam kegiatan

kampanye

c. Membuat keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau

merugikan salah satu psasangan calon selama masa kampanye dan/atau

d. Mengadakan kegiatan yang mengarah kepada keberpihakan terhadap

pasangan calon yang menjadi peserta pemilu sebelum, selama dan

sesudah kampanye meliputi pertemuan, ajakan, himbauan, seruan atau

pemberian barang kepada PNS dalam lingkungan unit kerjanya,

anggota keluarga dan masyarakat.

ASN yang tidak melakukan kewajiban dan melakukan perbuatan yang

dilarang sebagaimana diatur dalam Peraturan pemerintah Nomor 53 Tahun 2010,

dianggap telah melakukan pelanggaran disiplin PNS dan tentu saja mendapatkan

hukuman disiplin. Tujuan hukuman disiplin adalah memperbaiki dan mendidik


ASN yang melakukan pelanggaran disiplin. Karena itu setiap pejabat yang

berwenang menghukum sebelum menjatuhkan hukuman disiplin harus memeriksa

terlebih dahulu ASN yang melakukan pelanggaran disiplin. Tujuan pemeriksaan

adalah mengetahui apakah ASN yang bersangkutan benar telah melakukan

pelanggaran disiplin selain itu pemeriksaan juga bertujuan untuk mengetahui latar

belakang serta hal-hal yang mendorong pelanggaran disiplin tersebut.

Pemeriksaan dilakuakan oleh pejabat yang berwenang.

Dalam rangka mewujudkan PNS yang handal, profesional dan bermoral

sebagai penyelenggara pemerintah yang menerapkan prinsip-prinsip keperintahan

yang baik (good governance), maka PNS sebagai unsur aparatur silip negara

dituntut untuk setia kepada Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik

Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan pemerintah,

bersikap disiplin, jujur, adil, transparan, akuntabel dalam melaksanakan tugas.

G. PERAN DAN KEDUDUKAN ASN DALAM NKRI

1. Whole Of Goverment (WoG)

WoG menjelaskan bagaimana instansi pelayanan publik bekerja lintas batas

atau lintas sektor guna mencapai tujuan bersama dan sebagai respon terpadu

pemerintah terhadap isu-isu tertentu. WoG merupakan pendekatan yang

menekankan aspek kebersamaan dan menghilangkan sekat-sekat sektor yang

selama ini terbangun. Menurut United States Institut Of Peace (USIP) definisi

WoG adalah sebuah pendekatan yang mengintegrasikan upaya kolaboratif dari

instansi pemerintah untuk menjadi kesatuan menuju tujuan bersama, sebagai

bentu kolaborasi, kerjasama antar isntansi, aktor pelayanan dalam menyelesikan

suatu masalah pelayanan.


WoG memiliki karakteristik integrasi antar institusi secara formal maupun

informal. Ciri lainnya adalah kolaborasi yang terjadi antar sektor dalam

menangani isu tertentu. WoG sangat menekankan adanya penyatu keseluruhan

elemen pemerintahan secara relevan. WoG juga meruapakan salah satu frame

yang dapat diterapkan dalam pemerintahan dalam rangka meminimalisir

disintegrasi bangsa dan menghilangkan fragmentasi sektor. Seluruh elemen

Pemerintah, khususnya ASN memiliki peran yang sangat besar terhadap

terwujudnya Whole of Goverment.

2. MANAJEMEN ASN

Berbagai tantangan yang dihadapi oleh Aparatur Sipil Negara (ASN)

dalam mencapai tujuan semakin berat, baik berasal dari luar atau dalam

lingkungan kerja yang menuntut seorang ASN untuk meningkatkan

profesionalismenya dalam menjalankan tugas dan fungsinya serta bersih dan

bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Perkembangan teknologi menjadikan

aksesibilitas semakin mudah untuk berhubungan dari suatu negara ke negara lain,

globalisasi ekonomi menjadi semakin nyata yang ditandai dengan persaingan

yang semakin tinggi. Ketentuan-ketentuan yang berlaku secara internasional harus

dapat diikuti oleh pemerintah dan dijalankan oleh ASN jika ingin memenangkan

persaingan.

Manajemen Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah pengelolaan ASN untuk

menghasilkan pegawai yang profesional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas

dari intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Dalam

konsep manajemen ASN ini dikenal apa yang disebut dengan sistem merit. Sistem
merit adalah kebijakan dan manajemen ASN yang berdasarkan pada kualifikasi,

kompetensi dan kinerja secara adil dan wajar dengan tanpa membedakan latar

belakang politik, ras, warna kulit, agama, asal usul, jenis kelamin, status

pernikahan, umur dan kondisi keacacatan.

3. PELAYANAN PUBLIK

Pelayanan adalah aktivitas yang dapat dirasakan melalui hubungan antar

penerima dan pemberi pelayanan yang menggunakan peralatan berupa organisasi

atau lembaga perusahaan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tahun

1990, pelayanan publik dirumuskan sebagai berikut:

a. Pelayanan adalah perihal atau cara melayani

b. Pelayanan adalah kemudahan yang diberikan sehubungan dengan jual beli

barang dan jasa

c. Pelayanan medis merupakan pelayanan yang diterima seseorang dalam

hubungannya dengan pencegahan, diagnosa dan pengobatan suatu

gangguan kesehatan tertentu

d. Publik berarti orang banyak (umum)

Jika mengacu kepada Undang-Undang No. 25 Tahun 2009 tentang pelayanan

publik pasal 1 angka 5 menyatakan, pelaksana pelayanan publik yang selanjutnya

disebut pelaksana adalah pejabat, pengawas, petugas dan setiap orang yang

bertugas melaksanakan tindakan atau serangkaian tindakan pelayanan publik.

Maka, bisa dikatakan setiap pejabat adalah pelaksana pelayanan publik dan ASN

termasuk didalamnya.
Pada dasarnya dalam penyelenggaraan pelayanan publik ada beberapa prinsip

yang harus dipegang, yaitu:

1. Keterbukaan

Pelayanan publik bersifat terbuka, mudah dan dapat diakses oleh semua

pihak. Semua informasi terkait dengan penanggungjawab/ satuan kerja pelaksana

pelayanan, prosedur/persyaratan pelayanan, rincian waktu dan biaya penyelesaian

serta hal-hal yang terkait dengan pelayanan publik wajib diinformasikan secara

terbuka agar mudah diketahui dan dipahami oleh masyarakat.

2. Kesederhanaan

Pelayanan publik diselenggarakan dengan prosedur yang tidak berbelit-

belit, mudah dipahami, mudah dilaksanakan, cepat dan tepat.

3. Kejelasan

Dalam pelaksanaan pelayanan publik harus memberikan kejelasan terkait

dengan jangka waktu penyelesaian pelaksanaan pelayanan publik, rincian biaya

dan tata cara pembayaran, unit kerja yang berwenang dalam penyelenggaraan

layanan serta informasi persyaratan teknis dan administrasi.

4. Keteraksesan

Tempat dan lokasi pelayanan mudah dijangkau, tersedianya sarana dan

prasarana kerja serta sarana pendukung lainnya yang memadai. Selain itu untuk

mendukung layanan publik maka sampai pada kemudahan dalam pemanfaatan

sistem informasi dan tersedianya akses telekomunikasi.

5. Keamanan

Proses dan prosedur pelayanan publik haruslah dapat memberikan rasa

aman dan kepastian hukum kepada penerima layanannya. Selain mengacu pada
prinsip penyelenggaraan pelayanan publik juga menerapkan standar minimal

dalam setiap pelayanan yang dilakukan.


BAB III

RANCANGAN AKTUALISASI

A. Deskripsi Organisasi dan Struktur Organisasi

UPTD Puskesmas Parangia merupakan salah satu Puskesmas di wilayah

Kecamatan Bontomatene Kabupaten Kepulauan Selayar yang dibangun diatas

tanah seluar 2.555 m2. Wilayah kerja UPTD Puskesmas Parangia mencakup lima

desa yaitu Desa Tanete, Desa Kayu Bauk, Desa Pamatata, Desa Bungaiya dan

Desa Menara Indah. UPTD Puskesmas Parangia adalah Puskesmas rawat inap dan

berdasarkan SK Bupati Kabupaten Kepulauan Selayar No. 133/III/TAHUN 2017

Puskesmas Parangia termasuk kategori terpencil.

Adapun struktur organisasi UPTD Puskesmas Parangia adalah :


B. Visi, Misi dan Nilai Organisasi

UPTD Puskesmas Parangia memiliki visi, misi dan nilai-nilai organisasi

sebagai berikut :

1. Visi

Mewujudkan Parangia Sehat

2. Misi

- Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar yang bermutu dan

berkualitas, aman dan terjangkau secara berkesinambungan dan terus

menerus

- Meningkatkan profesionalisme SDM

- Melengkapi sarana dan prasarana yang bermutu sesuai kebutuhan

masyarakat

- Menciptakan suasana kerja yang aman dan nyaman

- Meningkatkan kesadaran dan kemandirian masyarakat dalam bidang

kesehatan

- Mengembangakan UPTD Puskesmas Parangia sebagai Puskesmas

terdepan dalam memberikan pelayanan kesehatan

3. Nilai Organisasi

P = Profesionalisme

A = Amanah

R = Ramah

A = Aman
N = Nyaman

G = Giat

I = Inisiatif

A = Akuntabel

C. Deskripsi Isu

Adapun permasalahannya yaitu :

a. Rendahnya pemahaman masyarakat mengenai kesehatan gigi dan mulut.

Terlihat masih kurangnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan

kesehatan gigi dan mulutnya, biasanya pasien baru datang dengan kondisi yang

parah. Hal ini dapat dari buku register kunjungan pasien Poli Gigi.

b. Rendahnya koperatif pasien anak terhadap pelayanan di Poli Gigi. Ada

beberapa pasien anak yang menolak nemerima perawatan padahal kondisi

kesehatan gigi dan mulutnya membutuhkan perawatan segera dan serius.

c. Tingginya prevalensi karies pada anak sekolah. Terlihat dari laporan kunjungan

Poli Gigi kategori anak sekolah, keluhan pada umumnya adalah gigi berlubang

dengan keadaan akut.

d. Tingginya prevalensi gingivitis di Desa Tanete. Gingivitis merupakan salah

satu dari diagnosa penyakit yang menjadi keluhan masyarakat terutama di Desa

Tanete. Penyembuhan pasien dengan diagnosa gingivitis membutuhkan waktu

yang cukup lama dengan kunjungan berulang terkadang pasien tidak mau lagi

kembali ke Puskesmas setelah penanganan awal.

e. Tidak lengkapnya sarana dan prasarana di Poli Gigi. Keterbatasan sarana dan

prasarana sangat mempengaruhi pelayanan yang dilakukan di Poli Gigi.


Tabel 3.1 Relevansi Isu terhadap Kedudukan dan Peran PNS dalam NKRI

No Isu Kedudukan dan peran PNS dalam NKRI


Whole of Goverment Pelayanan Publik Manajemen ASN
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Rendahnya pemahaman Koordinasi antara pihak Indikator utama terselenggaranya Setiap ASN secara akuntabel
masyarakat mengenai Puskesmas dengan pelayanan publik yang prima diharuskan bekerja sesuai dengan
kesehatan gigi dan mulut pihak-pihak terkait adalah pelaksanaan kegiatan- profesi atau bidangnya, sehingga
seperti pihak desa dalam kegiatan secara maksimal agar diharapkan agar selalu tersedia sumber
rangka peningkatan dapat meningkatkan kualitas daya ASN yang unggul yang selaras
pemahaman masyarakat pelayanan publik untuk dengan perkembangan saat ini.
mengenai kesehatan gigi masyarakat.
dan mulut.
2 Rendahnya koperatif pasien Koordinasi antara pihak Indikator utama terselenggaranya Setiap ASN secara akuntabel
anak terhadap pelayanan di Puskesmas dengan pelayanan publik yang prima diharuskan memberikan pelayanan
Poli Gigi pihak-pihak terkait adalah pelaksanaan pelayanan yang profesional dan berkualitas,
seperti desa dan sekolah yang nyaman untuk pasien anak sehingga terlaksanya pelayanan yang
dalam mengedukasi demi terlayaninya pasien anak lebih baik.
orangtua mengenai dengan baik dan sesuai prosedur.
kesehatan gigi dan
mulut.
3 Tingginya prevalensi karies Koordinasi antara Indikator utama terselenggaranya Setiap ASN secara akuntabel
pada anak sekolah puskesmas dengan pelayanan publik yang prima diharuskan memberikan pelayanan
pihak-pihak terkait adalah pelaksanaan kegiatan yang profesional dan berkualitas,
terutama sekolah dalam yang dapat meningkatkan derajat terkait pencegahan terjadinya dan
rangka terciptanya kesehatan gigi dan mulut anak meningkatnya prevalensi karies.
kolaborasi pencegahan sekolah.
dan penanganan masalah
karies pada anak
sekolah.
4 Tingginya prevalensi Koordinasi antara Indikator utama terselenggaranya Setiap ASN secara akuntabel dan
gingivitis di desa Tanete puskesmas dengan pelayanan publik yang prima bertanggung jawab diharuskan
pihak-pihak terkait adalah pelaksanaan kegiatan memberikan pelayanan yang
terutama pihak desa yang dapat mencegah tingginya profesional dan berkualitas, terkait
untuk mengurangi prevalensi suatu penyakit di pencegahan terjadinya suatu penyakit
prevalensi gingivitis di suatu wilayah. dan mencegah penyakit tersebut
suatu wilayah. menjadi lebih parah lagi.
5 Tidak lengkapnya sarana Koordinasi antara Indikator utama terselenggaranya Setiap ASN secara akuntabel dan
dan prasarana di Poli Gigi puskesmas dengan pelayanan publik yang prima bertanggung jawab diharuskan
pihak-pihak terkait adalah pelaksanaan kegiatan memberikan pelayanan sesuai dengan
terutama pihak Dinas yang sesuai standar mutu untuk standar mutu yang harus dipatuhi.
Kesehatan untuk menciptakan pelayanan yang
melengkapi sarana dan baik dan berkualitas.
prasarana yang
diperlukan di Poli Gigi.
D. Analisa Isu

Alat analisis kriteria isu yang digunakan dalam penulisan rancangan

aktualisasi ini adalah alat analisi APKL (Aktual, Problematika, Kekhalayakan,

Kelayakan) sedangkan penentuan kualitas isi dilakukan dengan menggunakan alat

analisis USG (Urgency, Seriousness, Growth).

Tabel 3.2 Bobot Penetapan Kriteria Kualitas Isu dengan APKL dan USG

Bobot Keterangan
5 Sangat kuat pengaruhnya
4 Kuat pengaruhnya
3 Sedang pengaruhnya
2 Kurang pengaruhnya
1 Sangat kurang pengaruhnya

Tabel 3.3 Analisi Isu Menggunakan APKL

No Isu Kriteria APKL Total Rangking


A P K L
1 Rendahnya pemahaman 5 4 4 5 18 II
masyarakat mengenai
kesehatan gigi dan mulut
2 Rendahnya koperatif pasien 4 4 4 4 16 IV
anak terhadap pelayanan di
Poli Gigi
3 Tingginya prevalensi karies 5 5 4 5 19 I
pada anak sekolah
4 Tingginya prevalensi 3 3 4 4 14 V
gingivitis di desa Tanete
5 Tidak lengkapnya sarana 4 4 4 5 17 III
dan prasarana di Poli Gigi

Dari analisis kriteria isu dengan menggunakan alat analisis APKL tersebut

di atas diambillah tiga nilai tertinggi yaitu :

1. Tingginya prevalensi karies pada anak sekolah


2. Rendahnya pemahaman masyarakat mengenai kesehatan gigi dan mulut

3. Tidak lengkapnya sarana dan prasarana di Poli Gigi

Dari kriteria isu yang mendapat rangking tiga besar tersebut kemudian

dilakukan analisis lanjutan yaitu analisis kualitas isu dengan analisis USG yang

kriterianya meliputi :

1. Urgency : seberapa mendesak isu tersebut harus dibahas, dianalisis dan

ditindaklanjuti

2. Seriousness : seberapa serius isu tersebut dibahas dikaitkan dengan akibat yang

ditimbulkan

3. Growth : seberapa besar kemungkinan memburuknya isu tersebut jika tidak

ditangani sebagaimana mestinya

Penilaian secara USG dilakukan dengan menggunakan nilai dengan skor satu

sampai lima dimana, semakin tinggi nilai menunjukkan bahwa isu tersebut sangat

urgen dan sangat serius untuk ditangani.

Tabel 3.4 Analisis Kualitas Isu Menggunakan USG

No Isu Kriteria USG Total Rangking


U S G
1 Tingginya prevalensi karies pada anak 5 4 5 14 I
sekolah
2 Rendahnya pemahaman masyarakat 4 4 5 13 II
mengenai kesehatan gigi dan mulut
3 Tidak lengkapnya sarana dan prasarana di 4 4 3 11 III
Poli Gigi
E. RANCANGAN AKTUALISASI

Unit Kerja Puskesmas Parangia


Visi Mewujudkan Parangia Sehat
Misi 1. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar yang bermutu dan berkualitas, aman
dan terjangkau secara berkesinambungan dan terus menerus
2. Meningkatkan profesionalisme SDM
3. Melengkapi sarana dan prasarana yang bermutu sesuai kebutuhan masyarakat
4. Menciptakan suasana kerja yang aman dan nyaman
5. Meningkatkan kesadaran dan kemandirian masyarakat dalam bidang kesehatan
6. Mengembangakan UPTD Puskesmas Parangia sebagai Puskesmas terdepan dalam
memberikan pelayanan kesehatan
Nilai Organisasi 1. Profesionalisme
2. Amanah
3. Ramah
4. Aman
5. Nyaman
6. Giat
7. Inisiatif
8. Akuntabel
Identifikasi Isu Adapun hasil identifikasi isu yang didapatkan oleh penulis adalah:
1. Tingginya prevalensi karies pada anak sekolah
2. Rendahnya pemahaman masyarakat mengenai kesehatan gigi dan mulut
3. Tidak lengkapnya sarana dan prasarana di Poli Gigi
Isu yang Diangkat Tingginya prevalensi karies pada anak sekolah

Gagasan Pemecahan Melakukan kampanye ‘SI GIGI MAS KOK MERAH’


Isu
Tabel 3.5 Rancangan Aktualisasi Nilai-Nilai Dasar Aneka

No Kegiatan Tahapan Kegiatan Output Hasil Keterkaitan Nilai- Kontribusi Penguatan


Kegiatan Nilai Dasar ASN terhadap visi terhadap nilai
dan misi organisasi
organisasi
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 Melakukan konsultasi - Mengkonsultasikan - Terlaksananya Ketika saya Dengan Kegiatan
dengan Kepala Puskesmas kegiatan yang telah konsultasi dan melakukan terlaksananya konsultasi dan
direncanakan dengan adanya persetujuan konsultasi, saya konsultasi memohon
kepala puskesmas kegiatan berusaha bersikap dengan kepala arahan dari
- Membahas rencana - Adanya jadwal sopan santun dan puskesmas atasan
kegiatan atau gagasan kegiatan yang telah ramah. Pimpinan maka dapat menguatkan
- Meminta bimbingan disetujui menyambut dengan mewujudkan nilai-nilai
dan arahan terhadap baik dan visi dan mis organisasi yakni
rencana kegiatan memberikan arahan organisasi profesional
- Mencatat hasil dengan bahasa yang yaitu dengan meminta
pertemuan kegiatan mudah saya meningkatkan arahan kepada
mengerti. Saya profesionalis atasan serta
mendengar arahan me SDM ramah yaitu
dengan cermat dengan
sambil mencatat hal- mendengarkan
hal yang menjadi seluruh arahan
penekanan dari yang diberikan
pimpinan. oleh pimpinan.
Setelah pimpinan
menyetujui
rancangan saya, saya
meminta
rekomendasi sebagai
bukti persetujuan
dari pimpinan yang
menjadi alat
pertanggungjawab
an dari rancangan
kegiatan saya.

Keterkaitan nilai :
Akuntabilitas
Etika Publik
2 Membuat formulir Mendesain formulir Adanya formulir Ketika saya Dengan Kegiatan
pemeriksaan kesehatan pemeriksaan kesehatan pemeriksaan membuat formulir terlaksananya membuat
gigi dan mulut gigi dan mulut kesehatan gigi dan pemeriksaan kegiatan formulir
mulut kesehatan gigi dan membuat pemeriksaan
mulut saya membuat formulir kesehatan gigi
dengan standar kesehatan gigi dan mulut
yang telah dan mulut menguatkan
ditentukan maka dapat nilai-nilai
mencakup seluruh mewujudkan organisasi yaitu
aspek pemeriksaan, visi dan mis inisiatif dan
sehingga hasil yang organisasi inovatif karena
didapatkan nantinya yaitu adanya formulir
merupakan hasil Menyelenggar pemeriksaan
yang benar dan bisa akan merupakan hal
dipertanggung pelayanan yang baru dalam
jawabkan. kesehatan pemeriksaan
dasar yang kesehatan gigi
Keterkaitan nilai : bermutu dan dan mulut serta
Akuntabilitas berkualitas, akuntabel
Komitmen mutu aman dan karena hasil
terjangkau nantinya dapat
secara dipertanggung
berkesinambun jawabkan.
gan dan terus
menerus

3 Melakukan konsultasi - Mengkonsultasikan - Terlaksananya Ketika saya Dengan Kegiatan


dengan kepala sekolah kegiatan yang telah konsultasi dan melakukan terlaksananya konsultasi
direncanakan dengan adanya persetujuan konsultasi, saya kegiatan dengan kepala
kepala sekolah kegiatan berusaha bersikap konsultasi sekolah
- Membahas jadwal - Adanya jadwal sopan santun dan dengan kepala menguatkan
kegiatan serta kegiatan yang telah ramah. sekolah maka nilai-nilai
kesepakatan disetujui Saya juga dapat organisasi yakni
pelaksanaan kegiatan mendengarkan mewujudkan profesional.
arahan dan saran visi dan misi
yang diberikan oleh organisasi
kepala sekolah untuk yaitu
rancangan kegiatan Meningkatkan
nantinya agar kesadaran dan
rancangan saya kemandirian
dapat dilaksanakan masyarakat
dengan baik. dalam bidang
kesehatan
Keterkaitan nilai :
Akuntabilitas
Etika Publik
4 Penyuluhan mengenai - Memilih anak kelas I - Terpilihnya anak Ketika saya Dengan Kegiatan
kesehatan gigi dan mulut SD kelas I SD melakukan terlaksananya melaksanakan
anak sekolah - Melakukan persiapan sebagai peserta penyuluhan saya penyuluhan penyuluhan
media penyuluhan kegiatan menggunakan mengenai kesehatan gigi
yaitu poster aktualisasi bahasa yang mudah kesehatan gigi dan mulut anak
- Melakukan penyuluhan - Adanya poster dipahami anak kelas dan mulut anak sekolah dapat
mengenai kesehatan sebagai media I SD agar materi sekolah maka menguatkan
gigi dan mulut anak penyuluhan yang saya sampaikan dapat nilai-nilai
sekolah dengan media - Meningkatnya mudah dipahami mewujudkan organisasi yaitu
poster dan teknik pengetahuan oleh anak kelas I SD. visi dan misi amanah dan
menyikat gigi yang mengenai Saya juga organisasi giat.
baik dan benar dengan kesehatan gigi menggunakan media yaitu
alat peraga boneka gigi. dan mulut anak poster dengan desgn melengkapi
sekolah dan sesuai dengan usia sarana dan
mengetahui anak kelas I SD agar prasarana yang
teknik menyikat penyuluhan lebih bermutu sesuai
gigi yang baik menarik untuk kebutuhan
dan benar anak-anak. Selain itu masyarakat
penyuluhan akan dan
dilaksanakan sesuai meningkatkan
dengan waktu yang kesadaran dan
telah disepakati kemandirian
agar tidak masyarakat
mengganggu dalam bidang
pelajaran di Sekolah. kesehatan

Keterkaitan Nilai :
Akuntabilitas
Anti Korupsi
5 Pemeriksaan kesehatan - Memilih anak kelas I - Terpilihnya anak Ketika saya Dengan Kegiatan
gigi dan mulut SD kelas I SD melakukan terlaksananya melaksanakan
- Melakukan sebagai peserta pemeriksaan pemeriksaan pemeriksaan
pemeriksaan kesehatan kegiatan kesehatan gigi dan gigi dan mulut gigi dan mulut
gigi dan mulut aktualisasi mulut saya maka dapat dapat
- Mengetahui melakukannya mewujudkan menguatkan
tingkat kepada seluruh visi dan misi nilai organisasi
kebersihan gigi sasaran dan tidak organisasi yaitu
dan mulut anak diskriminatif serta yaitu profrsionalisme
kelas I SD pemeriksaan Menyelenggar dan akuntabel
sebagai bentuk dilakukan dengan akan
pemantauan mengedepankan pelayanan
kesehatan gigi etika kesehatan
dan mulut anak dasar yang
sekolah Keterkaitan Nilai : bermutu dan
- Adanya hasil Nasionalisme berkualitas,
pemeriksaan Etika Publik aman dan
kesehatan gigi terjangkau
dan mulut secara
berkesinambun
gan dan terus
menerus
6 Pemberian kartu rujukan - Memilih anak kelas I Terpilihnya anak Ketika saya Dengan Kegiatan
SD yang memiliki kelas I SD yang melakukan kegiatan terlaksananya pemberian kartu
masalah kesehatan gigi memiliki masalah pemberian kartu pemberian rujukan orang
dan mulut sesuai hasil kesehatan gigi rujukan saya kartu rujukan tua menguatkan
pemeriksaan dan mulut sesuai melakukannya maka dapat nilai organisasi
- Melakukan pemberian hasil pemeriksaan dengan menjelaskan mewujudkan yaitu inisiatif
kartu rujukan untuk kegunaan kartu visi dan misi dan akuntabel.
orangtua kepada guru - Diterimanya tersebut organisasi
agar orangtua kartu rujukan sebagai tindakan yaitu
membawa anaknya ke untuk orangtua berkelanjutan Meningkatkan
Puskesmas oleh guru agar dalam kesadaran dan
orangtua meningkatkan kemandirian
membawa derajat kesehatan masyarakat
anaknya ke gigi dan mulut anak dalam bidang
Puskesmas sekolah. Surat yang kesehatan
diberikan juga
sesuai standar yang
ditentukan agar
mudah dipahami.

Keterkaitan Nilai :
Akuntabilitas
Komitmen Mutu
7 Melaksanakan kampanye - Menyiapkan sarana dan - Tersedianya Ketika saya Dengan Kegiatan
‘SI GIGI MAS KOK prasarana sikat gigi sarana dan melaksanakan terlaksananya kampanye ‘SI
MERAH’ masal prasarana sikat kegiatan kampanye kegiatan GIGI MAS
- Menyiapkan materi gigi masal ‘SI GIGI MAS KOK kampanye ‘SI KOK MERAH’
sikat gigi masal - Tersedianya MERAH’ saya GIGI MAS menguatkan
materi kegiatan memberikan arahan KOK nilai organisasi
sikat gigi masal saat pelaksaan MERAH’ yaitu profesional
kegiatan sikat gigi mewujudkan dan ramah.
masal dengan jelas, visi dan misi
adil dan merata. organisasi
Kampaye dilakukan yaitu
sesuai standar yang meningkatkan
telah dilakukan dan kesadaran dan
dimodifikasi dengan kemandirian
menggunakan masyarakat
tambahan pewarna dalam bidang
makanan sebagai kesehatan dan
alat bantu melihat mengembanga
plak gigi sehingga kan UPTD
sikat gigi masal bisa Puskesmas
dilaksanakan lebih Parangia
maksimal. sebagai
Puskesmas
terdepan dalam
Keterkaitan Nilai : memberikan
Nasionalisme pelayanan
Komitmen Mutu kesehatan.

8 Pemasangan spanduk - Mempersiapkan - Tersedianya Ketika saya Dengan Kegiatan


edukasi kesehatan gigi dan spanduk yang akan spanduk yang melakukan kegiatan terlaksananya pemasangan
mulut anak sekolah di SD dipasang di sekolah akan dipasang di pemasangan spanduk kegiatan spanduk edukasi
- Memasang spanduk sekolah saya pemasangan kesehatan gigi
sebagai media edukasi - Adanya melakukan spanduk dan mulut anak
berkelanjutan di dokumentasi musyawarah dan edukasi sekolah di SD
Sekolah spanduk yang mufakat mengenai kesehatan gigi menguatkan
telah dipasang di pemasangan spanduk dan mulut anak nilai organisasi
Sekolah sebagai media sekolah di SD yaitu
edukasi mewujudkan profesionalisme
berkelanjutan di visi dan misi dan giat.
Sekolah organisasi
serta adanya inovasi yaitu
kepada masyarakat menyelenggara
sebagai bentuk kan pelayanan
simpati dan empati kesehatan
terhadap dasar yang
peningkatan derajat bermutu dan
kesehatan gigi dan berkualitas,
mulut aman dan
terjangkau
Keterkaitan Nilai : secara
Nasionalisme berkesinambun
Etika Publik gan dan terus
menerus