Anda di halaman 1dari 6

RISET KEPERAWATAN

HUBUNGAN IMUNISASI CAMPAK DENGAN KEJADIAN CAMPAK


PADA ANAK

DISUSUN OLEH :

NAMA : SAFITRI GUNAWAN


NIM : 616080716050

STIKES MITRA BUNDA PERSADA BATAM


TAHUN AJARAN 2019/2020
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di tingkat Association South East Asean Nation (ASEAN) tahun 2012,
Indonesia misalnya angka kematian bayinya 32/1.000 kelahiran hidup yaitu
hampir 5 kali lipat dibandingkan dengan angka kematian bayi di Malaysia, 2
kali dibandingkan dengan Thailand dan 1,3 kali dibandingkan dengan Philipina
sekitar 57% kematian bayi tersebut terjadi pada bayi berumur dibawah satu
bulan dan utamanya disebabkan oleh campak, selain itu adalah gangguan
perinatal, infeksi saluran pernapasan akut, diare, malaria dan Bayi Berat Lahir
Rendah (BBLR), 40% disebabkan oleh hipotermi, asfiksia karena prematuritas,
trauma persalinan dan tetanus neonatrium .
Masa Balita adalah usia dari lahir s/d umur sebelum 5 tahun merupakan
usia emas atau “golden period” pertumbuhan dan perkembangan anak. Angka
Kematian Balita (AKBA) adalah jumlah kematian anak sebelum mencapai
tepat umur 5 tahun (termasuk kematian bayi) per 1.000 kelahiran hidup. Pada
tahun 2016 diperoleh data bahwa jumlah Balita meninggal di Kota Batam
sebanyak 300 jiwa dengan angka kematian Balita sebesar 5,3/1000 kelahiran
hidup, tahun 2017 angka kematian balita yang dilaporkan ke Dinas sebesar 168
Balita atau 5,9/1.000 kelahiran hidup. (Dinas Kesehatan Kota Batam, 2018).
Campak merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengan
gejala demam tinggi, bercak kemerahan pada kulit (rash) disertai dengan batuk
dan/atau pilek dan/atau mata merah (SEARO, 2018). Campak ditularkan
melalui droplet dari hidung, mulut atau tenggorokan orang yang terinfeksi
(WHO, 2018).
Virus campak merupakan salah satu mikroorganisme yang sangat mudah
menular antara individu satu ke individu yang lain, terutama pada anak-anak
yang memasuki usia pra-sekolah dan tamat SD. Campak adalah penyakit
menular yang sering menyebabkan terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB).
Campak adalah anggota dari Paramyxoviridae, dalam genus Morbillivirus.
Penyakit ini mudah menular melalui sistem pernapasan, terutama percikan
ludah atau cairan yang keluar dari sistem pernapasan, seperti pada saat bersin,
batuk, maupun berbicara (Kemenkes RI, 2017).
Berdasarkan data WHO bahwa kasus campak selama Juni-November
2014, ada tujuh negara di Benua Afrika dan Asia termasuk indonesia memiliki
kasus campak lebih dari 1000 kasus dan ada 28 negara yang memilliki kasus
campak berkisar antara 100-999 kasus dalam 6 bulan terakhir (Juni 2014-
November 2014). Kematian akibat campak berkurang lebih dari tiga perempat
di semua wilayah WHO kecuali Asia Tenggara (Najmah 2016, p.77).
Kasus campak menyebar di daerah yang memiliki penduduk yang padat.
Penyebaran kasus campak paling banyak terjadi di negara berkembang, salah
satunya di Indonesia. Kejadian campak di Indonesia cenderung meningkat pada
tahun 2016, yaitu sebanyak 12.681 kasus, dengan Incidence Rate (IR) sebesar 5
per 100.000 penduduk. Jumlah tersebut lebih tinggi dari tahun sebelumnya,
tahun 2015 yaitu sebesar 10.655 kasus, dengan IR sebesar 3,20 per 100.000
penduduk. Jumlah kasus campak pada tahun 2015 lebih tinggi daripada tahun
2014, yaitu sebesar 12.944 kasus, dengan IR sebesar 5,13 per 100.000
penduduk (Kemenkes RI, 2017).
Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2015,
Indonesia termasuk 10 negara dengan jumlah kasus campak terbesar di dunia.
Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2015 menunjukkan
bahwa terdapat 19,4 juta anak yang tidak mendapatkan imunisasi dan
memperkirakan 30.000 anak akan meninggal akibat penyakit campak (WHO,
2016). Kejadian campak di Kawasan Asia Tenggara tahun 2018 bahwa
Indonesia menduduki peringkat kedua setelah India dengan presentase 20,1%
(WHO SEAR, 2018). Berdasarkan kelompok umur, proporsi kasus campak
terbesar pada kelompok umur 1-4 tahun dan 5-9 tahun dengan proporsi
masing-masing sebesar 25,4%. dan 31,6%. Kasus campak dari 12.681 kasus
ternyata hanya 4.466 (35,2%) yang divaksinasi (Kementerian Kesehatan RI,
2016).
Campak merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus, yang
menyerang anak-anak usia < 15 tahun. Penyakit ini di awali dengan
peningkatan suhu badan dan kemudian menimbulkan bercak merah. Campak
merupakan salah satu penyakit yang diamati terus menerus (surveilens) karena
sangat mudah menular. Campak dapat menimbulkan komplikasi berat, seperti
pneumonia atau radang paru dan ensefalitis atau radang otak. Akibat fatalnya
adalah kematian. Sekitar 1 dari 20 penderita campak akan mengalami
komplikasi radang paru, dan 1 dari 1000 penderita akan mengalami radang
otak. Penyakit ini memiliki angka kesakitan yang tinggi dan bisa menjadi
penyakit wabah pada suatu daerah yang endemis (Finazis, 2014).
Pada tahun 2013 kota Batam mengalami KLB Campak karena ditemukan
326 kasus dan berlanjut hingga periode trimester 1 tahun 2014 menyebabkan
kasus Campak di tahun 2014 sebesar 370. Melalui berbagai upaya seperti
Penyelidikan Epidemilogi, Surveilens aktif dan Kampanye Campak khususnya
pada daerah terindikasi KLB maka pada kasus penyakit Campak dapat
terkendali dan pada tahun 2017 kasus campak ditemukan pada di 244
penduduk. (Dinas Kesehatan Kota Batam, 2018).
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Batam 2018, kasus campak
tertinggi terjadi di wilayah Puskesmas Kabil sebanyak 34 Kasus, Puskesmas
Sei.Panas 30 Kasus dan terendah di wilayah Puskesmas Tanjung Sengkuang
karena tidak ditemukan kasus campak selama tahun 2017.
Campak merupakan salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan
imunisasi. Pencapaian target imunisasi di Indonesia mengalami penurunan dari
tahun 2014 ke 2015 (Rahmawati 2017).
Tahap penanggulangan kasus campak terdapat 3 tahapan yaitu reduksi,
eliminasi, dan eradikasi. Saat ini Indonesia sedang berada dalam tahap
eliminasi. Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan yaitu cakupan imuniasi >
95% dan daerah-daerah dengan jumlah cakupan imunisasi rendah sangat
sedikit jumlahnya. Tahap terakhir dari penanggulan penyakit ini yaitu eradikasi
dimana cakupan imunisasi merata dan sangat tinggi serta tidak ditemukan
kasus campak lagi diseluruh dunia (Ulfah et al., 2015).
Imunisasi adalah proses dimana seseorang dijadikan resisten atau kebal
terhadap penyakit seperti penyakit menular, biasanya dengan diberikan vaksin
(WHO, 2018). Imunisasi dibagi menjadi dua jenis yaitu imunisasi wajib dan
pilihan. Imunisasi wajib terdiri dari imunisasi rutin, tambahan dan khusus.
Imunisasi wajib rutin digolongkan menjadi imunisasi rutin dasar pada bayi dan
imunisasi lanjutan pada balita, anak usia Sekolah Dasar (SD) dan Wanita Usia
Subur (WUS) (Kementerian Kesehatan RI, 2014).
Imunisasi DPT, Hepatitis B, Hemophilus Influenza tipe B (Hib) dan
campak merupakan imunisasi lanjutan yang diberikan pada usia dibawah 2
tahun. Pada anak usia SD diberikan imunisasi Campak, DT dan Td. Sedangkan
pada WUS diberikan imunisasi Tetanus dan Difteri (Permenkes, 2017).
Kunjungan bayi merupakan indikator komposit, dimana bayi memperoleh
pelayanan kesehatan sesuai standar yang meliputi imunisasi dasar
(BCG,DPT/HB1-3, Polio 1-4 dan Campak), Stimulasi Deteksi Intervensi Dini
Tumbuh Kembang (SDIDTK) oleh tenaga kesehatan yang memiliki
kompetensi klinis dan penyuluhan kesehatan, minimal 4 kali pada usia 29 hari -
<1 tahun minimal satu kali setiap 3 bulan dengan ketentuan jumlah kunjungan
minimal 8 kali dalam setahun. (Dinas Kesehatan Kota Batam, 2018).
Pada tahun 2017 ini Di Kota Batam cakupan kunjungan bayi sebesar
27,9% jauh lebih rendah dibanding 3 tahun lalu, untuk itu perlu dilakukan
review atas capaian tahun 2017 ini. Puskesmas yang memperoleh cakupan
tinggi seperti Puskesmas Se.Panas, Sei.Lekop dan Belakang Padang bahkan
mencapai lebih dari 100% dapat disebabkan karena hanya menggunakan data
kunjungan bayi ditimbang setiap bulan. (Dinas Kesehatan Kota Batam, 2018).
Penyakit campak termasuk penyakit yang dapat dicegah dengan tindakan
imunisasi. Salah satu bentuk program imunisasi yang dilaksanakan oleh
pemerintah yaitu imunisasi rutin yang terdiri dari imunisasi dasar dan imunisasi
lanjutan. (Kemenkes RI, 2017). Imunisasi dasar lengkap dan lanjutan yang
diwajibkan oleh pemerintah adalah imunisasi campak. Imunisasi campak
mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah karena Indonesia ikut serta dalam
program eliminasi campak pada tahun 2020 dengan cakupan campak minimal
95% di setiap wilayah secara merata (Kemenkes RI, 2017).
Berdasarkan data Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan (P2PL), Kementerian Kesehatan RI tahun 2015 menunjukkan
bahwa cakupan imunisasi campak pada periode tahun 2013-2015 di Indonesia
mengalami penurunan sehingga menyebabkan kasus campak tinggi.
Tren cakupan imunisasi campak di Indonesia cenderung menurun
meskipun masih berusaha untuk mencapai target 95%. Cakupan imunisasi
campak program di Indonesia sejak tahun 2008 yaitu sebesar 90%. Tahun 2014
terjadi peningkatan sebesar 94,67% dan pada tahun 2015 menurun sedikit lebih
rendah dari tahun 2014 yaitu sebesar 92,30%. Tahun 2016 cakupan imunisasi
campak meningkat menjadi 93% (Kemenkes RI, 2017).