Anda di halaman 1dari 3

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Penerbang tempur angkatan udara merupakan kekuatan dari TNI-AU yang


bertugas melaksanakan upaya pertahanan dan pengamanan Negara di udara dengan
kondisi lingkungan yang mengandung berbagai tantangan mental dan fisik. Profesi
sebagai penerbang merupakan suatu profesi beresiko tinggi dengan tanggung jawab
terhadap diri sendiri dan keselamatan banyak orang. Kesamaptaan jasmani adalah
salah satu aspek dari kesamaptaan menyeluruh yang menggambarkan kemampuan
fungsionil seseorang dalam melakukan pekerjaan sehari-hari tanpa menimbulkan
kelelahan yang berarti. untuk mewujudkan derajat kesehatan yang tinggi diperlukan
upaya pembinaan kesehatan. Dalam rangka pembinaan kesehatan personil TNI AU
maka lakespra saryanto secara berkala mengadakan medical check up dan indoktrinasi
latihan aerofisiologi (ILA) terhadap penerbang TNI. Salah satu pemeriksaan adalah tes
Barany Chair dan test Samapta, yang penting untuk mengetahui indeks mabuk gerak
pada awak pesawat yang bisa timbul sebagai akibat gerakan atau guncangan dari
pesawat saat di udara serta hubungannya dengan kemampuan kesamaptaan.

Kesamaptaan jasmani adalah kesiapan dan kesanggupan untuk melaksanakan


tugas yang memerlukan tenaga fisik secara efektif dan efisien yang terdiri dari postur
tubuh, kesegaran jasmani, dan ketangkasan. Latihan kesamaptaan jasmani harus
dilakukan secara teratur, terus menerus dan berlanjut serta dilakukan dengan dosis
atau takaran yang adekuat. Oleh karena itu kesamaptaan otot dan kesamaptaan
aerobikuntuk mengetahui kemampuan tubuh menghirup, mengambil dan
memanfaatkan oksigen dalam tubuh dengan baik danefisien, meliputi daya tahan
kardiovaskuler dan komposisi tubuh.
2

Indeks mabuk gerak ( motion sickness index ) adalah istilah umum yang
digunakan untuk menggambarkan suatu kumpulan gejala yang tidak menyenangkan
seperti keringat dingin, pusing, pucat, mual dan ruktus ( mual yang mendekati muntah).

Dalam penelitian yang dilakukan oleh U.S Army Research Institute for the
Behavioral and Social Science dalam laporan yang diterbitkan mei 1995 itu dari 742
pilot dari 11 simulator penerbangan militer, “kira-kira setengah dari jumlah pilot (334)
dilaporkan mengalami gejala mabuk : 250 (34%) melaporkan bahwa gejala mabuk
hilang dalam waktu kurang dari satu jam, 44(6%) melaporkan bahwa gejala mabuk
berlangsung lebih dari 4 jam, dan 28 (4%) melaporkan bahwa gejala mabuk
berlangsung lebih dari 6 jam”. Motion sickness juga sering terjadi di sekolah
penerbangan, di inggris 39% dari siswa rata-rata menderita gangguan ini, 15%
diantaranya dianggap berat sehingga cukup kuat untuk dijadikan alasan pembatalan
pendidikannya. Pada high performance aircraft hampir seluruh navigator pernah
mengalami motion sickness dan 50% diantaranya disertai muntah-muntah. Mabuk
gerak didalam penerbangan sipil saat ini jarang ditemukan secara keseluruhan angka
kejadian berkisar antara 0,4- 1%.

Orang yang memiliki kesamaptaan jasmani yang jelek atau rendah akan menjadi
lamban dan akan mudah lelah atau capek. Pada penerbang yang hipokinetik ( orang
yang aktif bekerja namun kurang aktif dalam berolahraga) sangat mungkin mengalami
berkurangnya kemampuan untuk melawan gaya G sehingga timbul mabuk gerak
(motion sickness ).

1.2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka diidentifikasikan masalah sebagai


berikut : adakah hubungan antara tingkat kesamaptaan jasmani dengan indeks mabuk
gerak.
3

1.3. Batasan Masalah.

Pembatasan masalah pada karya ilmiah ini adalah hubungan antara tingkat
kesamaptaan jasmani dengan indeks mabuk gerak pada siswa susdokbangan XVII
tahun 2018.

1.4. Tujuan penelitian

Tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah mengetahui apakah ada hubungan
antara tingkat kesamaptaan jasmani dengan indeks mabuk gerak.

1.5. Manfaat Penelitian.

Penelitian ini diharpkan dapat bermanfaat bagi studi awal dan bisa memberikan
dasar bagi peneliti selanjutnya dengan populasi yang lebih besar. mengetahui akan
pentingnya kesamaptaan jasmani bagi penerbang sehingga dapat memberikan
pembinaan jasmani yang baik di skuadron udara. Diharapkan lebih bisa mengenal dan
merasakan gejala-gejala motion sickness sehingga penerbang tidak sampai mengalami
motion sickness dan berhasil mengemban tugas operasional dengan baik.