Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN MATERNITAS

“POST PARTUM”

PEMBIMBING PRAKTIK KLINIK :

1. Ns. Monalisa, S.Kep., M.Kep


2. Lily Utari Am.Keb

DISUSUN OLEH :

Nama : Asep Dermawan

NIM : PO.7I.20.1.15.122

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV

JURUSAN KEPERAWATAN POLTEKKES JAMBI

KEMENTRIAN KESEHATAN JAMBI

2016/2017
POST PARTUM

MEDIS

1. Definisi
Post partum adalah masa atau waktu sejak bayi dilahirkan dan plasenta keluar lepas
dari rahim, sampai enam minggu berikutnya, disertai dengan pulihnya kembali organ –
organ yang berkaitan dengan kandungan, yang mengalami perubahan seperti perlukaan
dan lain sebagainya berkaitan saat melahirkan (Suherni, 2009).
Pada masa post partum ibu banyak mengalami kejadian yang penting, mulai dari
perubahan fisik, masa laktasi maupun perubahan psikologis menghadapi keluarga baru
dengan kehadiran buah hati yang sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang.
Namun kelahiran bayi juga merupakan suatu masa kritis bagi kesehatan ibu,
kemungkinan timbul masalah atau penyulit, yang bila tidak ditangani segera dengan
efektif akan dapat membahayakan kesehatan atau mendatangkan kematian bagi ibu,
sehingga masa post partum ini perlu dipantau (Syafrudin & Fratidhini, 2009).

2. Tahapan Masa Post Partum


Adapun tahapan-tahapan masa postpartum adalah :
a. Puerperium dini
Masa kepulihan, yakni saat – saat ibu dibolehkan berdiri dan berjalan – jalan.
b. Puerperium intermedial
Masa kepulihan menyeluruh dari organ – organ genital, kira – kira 6 – 8 minggu.
c. Remot puerperium
Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama apabila ibu selama
hamil atau persalinan mempunyai komplikasi (Suherni, 2009).

3. Kebijakan Program Nasional Nifas


Selama pasien berada pada masa nifas, paling sedikit 4 kali pasien harus melakukan
kunjungan, dilakukan untuk menilai keadaan pasien dan bayi baru lahir, dan untuk
mencegah, mendeteksi dan menangani masalah – masalah yang terjadi.
Seorang perawat pada saat memberikan asuhan kepada ibu dalam masa nifas, ada
beberapa hal yang harus dilakukan, akan tetapi pemberian asuhan keperawatan pada ibu
masa nifas tergantung dari kondisi ibu sesuai dengan tahapan perkembangannya.
Kunjungan ke – 1 (6 – 8 jam setelah persalinan) :
a. Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
b. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan.
c. Rujuk bila perdarahan berlanjut.
d. Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana cara
mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
e. Pemberian ASI awal.
f. Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.
g. Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi.
h. Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal dengan ibu dan bayi baru
lahir 2 jam pertama setelah kelahiran, atau sampai ibu dan bayi dalam keadaan sehat.

Kunjungan ke – 2 (6 hari setelah persalinan) :

a. Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus berkontraksi, fundus di bawah

umbilicus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau.

b. Menilai adanya tanda – tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal.

c. Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan, dan istirahat.

d. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tak memperlihatkan tanda – tanda

penyulit.

e. Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga

bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari – hari.

Kunjungan ke – 3 (2 minggu setelah persalinan) :

Sama seperti kunjungan hari keenam.

Kunjungan ke – 4 (6 minggu setelah persalinan) :

Menanyakan pada ibu tentang penyulit – penyulit yang ibu rasakan atau bayi alami, serta

memberikan konseling untuk KB secara dini (Suherni, 2011).


4. Manifestasi Klinis
Gejala klinis umum yang terjadi adalah kehilangan darah dalam jumlah yang banyak
(> 500 ml), nadi lemah, pucat, lochea berwarna merah, haus, pusing, gelisah, letih, dan
dapat terjadi syok hipovolemik, tekanan darah rendah, ekstremitas dingin, mual.

Gejala Klinis berdasarkan penyebab :


a. Atonia Uteri
Gejala yang selalu ada : Uterus tidak berkontraksi dan lembek dan perdarahan segera
setelah anak lahir (pendarahan post partum primer). Gejala yang kadang – kadang
timbul yaitu, syok (tekanan darah rendah, denyut nadi cepat dan kecil, ekstremitas
dingin, gelisah, mual dan lain – lain).
b. Robekan jalan lahir
Gejala yang selalu ada : Perdarahan segera, darah segar mengalir segera setelah bayi
lahir, kontraksi uteru baik, plasenta baik. Gejala yang kadang – kadang timbul yaitu
pucat, lemah, menggigil.
c. Retensio Plasenta
Gejala yang selalu ada : Plasenta belum lahir setelah 30 menit, perdarahan segera,
kontraksi uterus baik. Gejala yang kadang – kadang timbul yaitu, tali pusat putus
akibat traksi berlebihan, inversi uteri akibat tarikan, perdarahan lanjutan.
d. Tertinggalnya Plasenta (Sisa Plasenta)
Gejala yang selalu ada : Plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh
darah) tidak lengkap dan perdarahan segera. Gejala yang kadang – kadang timbul
yaitu. uterus berkontraksi baik tetapi tinggi fundus tidak berkurang.
e. Inversio Uterus
Gejala yang selalu ada : Uterus tidak teraba, lumen vagina terisi massa, tampak tali
pusat (jika plasenta belum lahir), perdarahan segera, dan nyeri sedikit atau berat.
Gejala yang kadang – kadang timbul yaitu syok neurogenik dan pucat.

5. Etiologi
Penyebab persalinan belum pasti diketahui,namun beberapa teori menghubungkan
dengan faktor hormonal, struktur rahim, sirkulasi rahim, pengaruh tekanan pada saraf
dan nutrisi (Hafifah, 2011).
a. Teori penurunan hormone
Pada saat 1 – 2 minggu sebelum partus mulai, terjadi penurunan hormone
progesterone dan estrogen. Fungsi progesterone sebagai penenang otot – otot polos
rahim dan akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his bila
progesterone turun.
b. Teori placenta menjadi tua
Turunnya kadar hormone estrogen dan progesterone menyebabkan kekejangan
pembuluh darah yang menimbulkan kontraksi rahim.
c. Teori distensi rahim
Rahim yang menjadi besar dan merenggang menyebabkan iskemik otot – otot rahim
sehingga mengganggu sirkulasi utero – plasenta.
d. Teori iritasi mekanik
Di belakang servik terlihat ganglion servikale (fleksus franterrhauss). Bila ganglion
ini digeser dan di tekan misalnya oleh kepala janin akan timbul kontraksi uterus.
e. Induksi partus
Dapat pula ditimbulkan dengan jalan gagang laminaria yang dimasukan dalam
kanalis servikalis dengan tujuan merangsang pleksus frankenhauser, amniotomi
pemecahan ketuban), oksitosin drip yaitu pemberian oksitosin menurut tetesan
perinfus.

6. Patofisiologi
Dalam masa post partum atau masa nifas, alat – alat genetalia interna maupun
eksterna akan berangsur – angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil.
Perubahan – perubahan alat genetal ini dalam keseluruhannya disebut “involusi”.
Disamping involusi terjadi perubahan – perubahan penting lain yakni memokonsentrasi
dan timbulnya laktasi yang terakhir ini karena pengaruh lactogenik hormon dari kelenjar
hipofisis terhadap kelenjar – kelenjar ibu.
Otot – otot uterus berkontraksi segera post psrtum, pembuluh – pembuluh darah
yang ada antara nyaman otot – otot uretus akan terjepit. Proses ini akan menghentikan
pendarahan setelah plasenta lahir. Perubahan – perubahan yang terdapat pada serviks
ialah segera post partum bentuk serviks agak menganga seperti corong, bentuk ini
disebabkan oleh korpus uteri terbentuk semacam cincin. Peruabahan – perubahan yang
terdapat pada endometrium ialah timbulnya trombosis, degenerasi dan nekrosis ditempat
implantasi plasenta pada hari pertama endometrium yang kira – kira setebal 2 – 5 mm
itu mempunyai permukaan yang kasar akibat pelepasan desidua dan selaput janin
regenerasi endometrium terjadi dari sisa-sisa sel desidua basalis yang memakai waktu 2
sampai 3 minggu. Ligamen – ligament dan diafragma palvis serta fasia yang
merenggang sewaktu kehamilan dan pertu setelah janin lahir berangsur – angsur kembali
seperti sedia kala.
Adanya beberapa kelainan / hambatan pada proses persalinan yang menyebabkan
bayi tidak dapat lahir secara normal / spontan, misalnya plasenta previa sentralis dan
lateralis, panggul sempit, disproporsi cephalo pelvic, rupture uteri mengancam, partus
lama, partus tidak maju, pre – eklamsia, distosia serviks, dan malpresentasi janin.
Kondisi tersebut menyebabkan perlu adanya suatu tindakan pembedahan yaitu Sectio
Caesarea (SC). Dalam proses operasinya dilakukan tindakan anestesi yang akan
menyebabkan pasien mengalami imobilisasi sehingga akan menimbulkan masalah
intoleransi aktivitas. Adanya kelumpuhan sementara dan kelemahan fisik akan
menyebabkan pasien tidak mampu melakukan aktivitas perawatan diri pasien secara
mandiri sehingga timbul masalah defisit perawatan diri.

7. Tanda dan Gejela


a. Perubahan fisik
1) Involusi uterus
Proses kembalinya alat kandungan uterus dan jalan lahir setelah bayi dilahirkan
sehingga mencapai keadaan seperti sebelum hamil. Setelah plasenta lahir, uterus
merupakan alat yang keras, karena kontraksi ini menyebabkan rasa nyeri / mules
– mules yang disebut after pain post partum terjadi pada hari ke 2 – 3 hari.
2) Kontraksi uterus
Intensistas kontraksi uterus meningkat setelah melahirkan berguna untuk
mengurangi volume cairan intra uteri. Setelah 1 – 2 jam post partum, kontraksi
menurun stabil berurutan, kontraksi uterus menjepit pembuluh darah pada uteri
sehingga perdarahan setelah plasenta lahir dapat berhenti.
3) After Pain
Terjadi karena pengaruh kontraksi uterus, normal sampai hari ke – 3. After pain
meningkat karena adanya sisa plasenta pada cavum uteri, dan gumpalan darah
(stoll cell) dalam cavum uteri.
4) Endometrium
Pelepasan plasenta dan selaput janin dari dinding rahim terjadi pada stratum
spunglosum, bagian atas setelah 2 – 3 hari tampak bahwa lapisan atas dari
stratum sponglosum yang tinggal menjadi nekrosis keluar dari lochia. Epitelisasi
endometrium siap dalam 10 hari, dan setelah 8 minggu endometrium tumbuh
kembali. Epitelisasi tempat plasenta + 3 minggu tidak menimbulkan jaringan
parut, tetapi endometrium baru, tumbuh di bawah permukaan dari pinggir luka.
5) Ovarium
Selama hamil tidak terjadi pematangan sel telur. Masa nifas terjadi pematangan
sel telur, ovulasi tidak dibuahi terjadi mentruasi, ibu menyusui mentruasinya
terlambat karena pengaruh hormon prolaktin.
6) Lochia
Cairan yang dikeluarkan dari uterus melalui vagina dalam masa nifas, sifat
lochia alkalis sehingga memudahkan kuman penyakit berkembang biak. Jumlah
lebih banyak dari pengeluaran darah dan lendir waktu menstruasi, berbau anyir,
tetapi tidak busuk.
7) Serviks dan vagina
Beberapa hari setelah persalinan, osteum externum dapat dilalui oleh 2 jari dan
pinggirnya tidak rata (retak – retak). Pada akhir minggu pertama hanya dapat
dilalui oleh 1 jari saja. Vagina saat persalinan sangat diregang lambat laun
mencapai ukuran normal dan tonus otot kembali seperti biasa, pada minggu ke –
3 post partum, rugae mulai nampak kembali.
8) Perubahan pada dinding abdomen
Hari pertama post partum dinding perut melipat dan longgar karena diregang
begitu lama. Setelah 2 – 3 minggu dinding perut akan kembali kuat, terdapat
striae melipat, dastosis recti abdominalis (pelebaran otot rectus / perut) akibat
janin yang terlalu besar atau bayi kembar.
9) Perubahan Sistem kardiovaskuler
Volume darah tergantung pada jumlah kehilangan darah selama partus dan
eksresi cairan extra vasculer. Curah jantung / cardiac output kembali normal
setelah partus.
10) Perubahan sistem urinaria
Fungsi ginjal normal, dinding kandung kemih memperlihatkan oedema dan
hiperemi karena desakan pada waktu janin dilahirkan. Kadang – kadang oedema
trigonum, menimbulkan obstruksi dari uretra sehingga terjadi retensio urin.
Pengaruh laserasi / episiotomi yang menyebabkan refleks miksi menurun.
11) Perubahan sistem Gastro Intestina
Terjadi gangguan rangsangan BAB atau konstipasi 2 – 3 hari post
partum. Penyebabnya karena penurunan tonus pencernaan, enema, kekakuan
perineum karena episiotomi, laserasi, haemorroid dan takut jahitan lepas.
12) Perubahan pada mammae
Hari pertama bila mammae ditekan sudah mengeluarkan colustrum. Hari ketiga
produksi ASI sudah mulai dan jaringan mammae menjadi tegang, membengkak,
lebut, hangat dipermukaan kulit (vasokongesti vaskuler).
13) Laktasi
Pada waktu dua hari pertama nifas keadaan buah dada sama dengan
kehamilan. Buah dada belum mengandung susu melainkan colustrum yang
dapat dikeluarkan dengan memijat areola mammae.
14) Temperatur
Temperatur pada post partum dapat mencapai 38 ºC dan normal kembali dalam
24 jam. Kenaikan suhu ini disebabkan karena hilangnya cairan melalui vagina
ataupun keringat, dan infeksi yang disebabkan terkontaminasinya vagina.
15) Nadi
Umumnya denyut nadi pada masa nifas turun di bawah normal. Penurunan ini
akibat dari bertambahnya jumlah darah kembali pada sirkulasi seiring lepasnya
placenta. Bertambahnya volume darah menaikkan tekanan darah sebagai
mekanisme kompensasi dari jantung dan akan normal pada akhir minggu
pertama.
16) Tekanan Darah
Keadaan tensi dengan sistole 140 dan diastole 90 mmHg baik saat kehamilan
ataupun post partum merupakan tanda – tanda suatu keadaan yang harus
diperhatikan secara serius.
17) Hormon
Hormon kehamilan mulai berkurang dalam urine hampir tidak ada dalam 24 hari,
setelah 1 minggu hormon kehamilan juga menurun sedangkan prolaktin
meningkat untuk proses laktasi.

8. Pemeriksaan Medis
Sebelum terjadi persalinan sebenarnya beberapa minggu sebelumnya wanita memasuki
“bulannya atau minggunya atau harinya” yang disebut kala pendahuluan (preparatory
stage of labor) ini memberikan tanda – tanda sebagai berikut :
a. Lightening atau setting atau droping yaitu kepala turun memasuki pintu atas
panggul terutama pada primigravida pada multipara tidak begitu kentara.
b. Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun.
c. Perasaan sering atau susah kencing (potakisurla) karena kandung kemih tertekan
oleh bagian terbawa janin.
d. Perasaan sakit perut dan dipinggang oleh adanya kontraksi lemah dari uterus,
kadang disebut “false labor pains”.
e. Serviks menjadi lembek, mulai melebar dan sekresinya bertambah dan bisa
bercampur darah (bloody shoe).

18) Komplikasi
Penyebab umum perdarahan postpartum adalah:
a. Atonia Uteri.
b. Retensi Plasenta.
c. Sisa Plasenta dan selaput ketuban
1) Pelekatan yang abnormal (plasaenta akreta dan perkreta).
2) Tidak ada kelainan perlekatan (plasenta seccenturia).

d. Trauma jalan lahir


1) Episiotomi yang lebar.
2) Lacerasi perineum, vagina, serviks, forniks dan rahim.
3) Rupture uteri.
e. Penyakit darah
Kelainan pembekuan darah misalnya afibrinogenemia atau hipofibrinogenemia.
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Pengumpulan Data
a. Nifas dan Pre Tubektomi.
b. Identitas pasien dan penanggung jawab.
2. Keluhan Utama
Keluhan utama yang bisa muncul nyeri pada kelaminnya karena luka bekas
episiotomi.
3. Riwayat Menstruasi
Hal yang dikaji adalah umur menarche, siklus haid, lama haid, keadaan darah
seperti warna, bau, konsistensi disertai disminorhea atau tidak, hari pertama haid
terakhir.
4. Riwayat Perkawinan
Hal yang dikaji adalah perkawinan yang keberapa, usia menikah dan lamanya
nikah.
5. Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas
Hal yang perlu dikaji adalah jumlah kehamilan, jumlah kelahiran, umur kehamilan
terakhir, tempat bersalin, jalannya persalinan, berat badan bayi saat lahir, umur
anak, jenis kelamin, apakah anak hidup atau mati dan bagaimana keadaan ibu.
6. Riwayat Penggunaan Alat Kontrasepsi
Dikaji apakah pasien menggunakan alat kontrasepsi dan pengetahuan tentang
kontrasepsi.
7. Riwayat Penyakit Yang Pernah Diderita
Kaji penyakit yang pernah diderita oleh pasien yang dapat mempengaruhi
kehamilan, persalinan, dan nifas.
8. Riwayat Penyakit Keluarga
Kaji apakah ada anggota keluarga menderita penyakit seperti TBC, jantung,
hipertensi, AIDS, diabetes mellitus, asma, penyakit hubungan seksual (seperti :
sipilis, gonorhoe).

9. Data biologis
Kaji cara bernafas, asupan dan haluaran tidak seimbang, apakah pasien perih saat
BAK, apakah pasien tampak ragu – ragu untuk BAK, apakah pasien ada gangguan
gerak dan aktivitas, istirahat tidur, kebersihan diri, dan pengaturan suhu tubuh.
10. Data Psikologis
Kaji apakah wajah pasien menahan nyeri, pasien tampak meringis, posisi pasien
melindungi bagian yang sakit, fokus pada dirinya sendiri, daya isap bayi kurang,
ketidakpuasan dengan bayinya, frustasi tentang peran, baby blues, gemetar, gelisah,
ketakutan, tidak berdaya, gugup, tidak mampu berkonsentrasi, bayi rewel, vagina
terasa nyeri bila digerakkan.
11. Pengetahuan
Kaji apakah pasien tidak tahu tentang perawatan bayi baru lahir, tidak tahu tentang
persiapan tubektomi, kurangnya informasi, pasien tampak bingung, pasien tampak
bertanya – tanya.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Diagnosa I
Gangguan eliminasi BAB dan konstipasi berhubungan dengan penurunan tonus
otot dan progesterone.
Tujuan : Eliminasi BAB lancar, klien mengungkapkan nyeri berkurang saat
defekasi.
Intervensi :
a. Auskultasi adanya bising usung, perhatian pengosongan normal.
b. Anjurkan klien untuk meningkatkan cairan, jelaskan pentingnya makan berserat
dan pengurangan normal.
c. Anjurkan tingkat aktifitas dan ambulasi sesuai toleransi.
d. Palpitasi abdomen, perhatikan listensi, ketidaknyamanan.

2. Diagnosa II
Nyeri berhubungan dengan episiotomy dan proses infeksi.
Tujuan : Meminimalkan nyeri.

Intervensi :
a. Kaji luka dan karakteristik nyeri.
b. Kaji tanda – tanda vital terutama tekanan darah dan nadi.
c. Beri posisi yang nyaman.
d. Ajarkan teknik relaksasi.
e. Kolaborasi pemberian analgetik.

3. Diagnosa III
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan laserasi
Tujuan : Tidak terjadi infeksi.
Intervensi :
a. Kaji tanda – tanda vital setiap 8 jam terutama suhu dan nadi.
b. Observasi tanda – tanda infeksi.
c. Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik.
d. Anjurkan makan makanan TKTP.
e. Kolaborasi anti biotik.

4. Diagnosa IV
Resiko tinggi shock hipovolemik berhubungan dengan kehilangan aktif bersamaan
haemorogik post partum
Tujuan : Tidak terjadi shock hipovolemik
Intervensi :
a. Monitor lokasi fundus dan tonus, kondisi episiotomi, jumlah warna, konsistensi
lockhea, dan tingkat kesadaran.
b. Bila fundus lunak lakukan massage.
c. Ganti pembalut perineal setiap 30 sampai dengan 60 menit setiap penuh.
d. Pertahankan cairan perineal dengan oksitosin sesuai kebutuhan.
e. Ukur intake dan output tiap 24 jam.

5. Diagnosa V
Kurang pengetahuan tentang perawatan diri pasca partum dan bayi baru lahir
berhubungan dengan kurangnya informasi
Tujuan : Pemahaman diri tentang perawatan diri pasca partum dan bayi baru lahir.
Intervensi :
a. Kaji kesiapan dan motivasi klien untuk belajar.
b. Perhatikan status psikologis dan respon ibu terhadap kelahiran bayi.
c. Berikan informasi yang berhubungan dengan perubahan – perubahan fisiologis
dan psikologis yang normal.
d. Berikan penyuluhan kesehatan sesuai kebutuhan dengan media yang tepat.
e. Demonstrasikan teknik – teknik perawatan bayi, perineum dan payudara.

6. Diagnosa VI
Perubahan eliminasi urine (rotensio urine) berhubungan dengan tonus otot
abdomen menurun
Tujuan : Tidak terjadi gangguan BAK
Intervensi :
a. Catat intake dan output cairan.
b. Catat, jenis, jumlah dan warna urine.
c. Anjurkan klien minum sedikit 1500 ml/hari.
d. Rangsang BAK dengan aliran air hangat di atas vulva.
e. Laksanakan kateterisasi bila diperlukan
14
DAFTAR PUSTAKA

 http://www.slideshare.net/septianraha/asuhan-keperawatan-pada-ny-d-dengan-post-
partum-normal-di-wilayah-kerja-puskesmas-delanggu-klaten.
 http://dwitasari37.blogspot.com/2013/09/post-partum.html.
 Doenges, M.E. 2004. Rencana Asuhan Keperawatan Maternal Edisi 3. Jakarta :
 Mansjoer, Arief. 2007. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III Jilid I. Jakarta : Media