Anda di halaman 1dari 4

1

PANDUAN PRAKTEK
KLINIK

Abses hati adalah rongga patologi yang timbul dalam jaringan hati akibat
infeksi bakteri, parasit, jamur, yang bersumber dari saluran cerna, yang
ditandai adanya proses supurasi dengan pembentukan pus yang terdiri
dari jaringan hati nekrotik, sel-sel inflamasi atau sel darah di dalam
parenkim hati. Abses hati dibagi atas:

DEFINISI  Abses hati piogenik: abses yang timbul akibat infeksi


bakteri.seperti enterobacteriaceae, microaerophilic streptococci,
anaerobic streptococci, Klebsiella pneumonia, bacteroides,
fusobacterium, Staphylococcus aureus, Salmonella typhi.
 Abses hati amebik: abses yang disebabkan infeksi Entamoeba
histolytica.

ANAMNESIS Abses hati piogenik:


 Demam
 Nyeri spontan perut kanan atas
 Nyeri pada bahu kanan
 Batuk
 Atelektasis
 Mual muntah
 Penurunan berat badan
 Penurunan nafsu makan
 Malaise
 Ikterus
 BAB seperti dempul
 BAK berwarna gelap

Abses hati amebik:


 Berlangsung beberapa minggu
 Diare berdarah
 Nyeri perut terlokalisir pada kuadran kanan atas
 Demam
2

 Malaise
 Mialgia
 Artralgia
 Keluhan paru-paru
 Ikterik (jarang)

Abses hati piogenik:


 Peningkatan suhu tubuh
 Berjalan membungkuk ke depan dengan kedua tangan diletakkan
di atasnya
 Ikterus
 Hepatomegali dengan nyeri tekan
 Nyeri tekan perut kanan atas
 Asites
 Hipertensi portal
PEMERIKSAAN FISIK
Abses hati amebik:
 Tidur posisi miring ke kiri
 Peningkatan suhu tubuh
 Menggigil <10 hari
 Ikterik
 Nyeri tekan abdomen menjalar
 Inspirasi dalam
 Massa di kuadran kanan atas abdomen
 Friction rub di hati

Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan


KRITERIA DIAGNOSIS penunjang

 Hepatoma
 Kolesistitis
DIAGNOSA BANDING  TB hati
 Aktinomikosis hati

PEMERIKSAAN Abses hati piogenik:


PENUNJANG  DPL : leukositosis, pergeseran ke kiri, anemia, peningkatan LED
 Alkali fosfatase, enzim transaminase dan serum bilirubin:
meningkat
 Albumin serum: dapat menurun
 Waktu protrombin dapat memanjang
 Tes serologis
3

 Kultur darah
 Foto toraks : diafragma kanan meninggi, efusi pleura, atelektasis
bilier, empiema, atau abses paru, posisi PA sudut kardiofrenikuss
tertutup, posisi lateral sudut anterior tertutup, air fluid level
 Foto polos abdomen
 CT scan abdomen : lesi hipodens, lokasi abses.
 USG

Abses hati amebik :


 Isolasi organisme dari tinja
 USG

TERAPI Abses Hati Piogenik


- Pencegahan dengan mengatasi penyakit bilier akut dan infeksi
abdomen dengan adekuat
- Tirah baring, diet tinggi kalori tinggi protein
- Antibiotik spectrum luas atau sesuai kultur kuman :
 Kombinasi antibiotik sebaiknya dari golongan beta laktamase
generasi I atau III denga atau tanpa aminoglikosida.
 Kombinasi lain : gol ampisilin, aminoglikosida (jika dicurigai
adanya sumber infeksi dari system bilier) atau sefalosporin
generasi III ( jika dicurigai adanya sumber infeksi dari kolon) dan
klindamisin atau metronidazol ( untuk bakteri anaerob)
 Jika dalam waktu 4-72 jam belum ada perbaikan maka
antibiotik diganti sesuai dengan hasil kultur. Pengobatan secara
parenteral selama minimal 14 hari lalu dapat diubah menjadi
oral sampai 6 minggu kemudian. Jika hasil kultur didapatkan
streptokokus maka antibiotik oral dosis tinggi diberikan sampai
6 bulan
- Drainase terbuka cairan abses terutama kasus yang gagal dengan
terapi konservatif atau bila ukuran > 5cm. Jika abses kecil dapat
diberlakukan aspirasi berulang. Pada abses multipel aspirasi
dilakukan pada ukuran terbesar, abses kecil akan hilang dengan
pemberian antibiotik
- Surgical drainage dilakukan jika drainase perkutaneus tidak komplit
dilakukan, ikterus persisten gangguan ginjal, multiloculated abcess,
atau adanya ruptur abses

Abses hati Amebik


- Metronidazol
Harus diberikan sebelum aspirasi
4

Metronidazol 3x 750 mg setiap hari/ oral atau secara intravena


selama 7-10 hari
- Aspirasi cairan abses
Indikasi:
 Tidak ada respon terhadap pemberian antibiotik selama 5-7
hari
 Jika abses di lobus kiri berdekatan dengan pericardium
 Dilakukan jika diagnosis belum dapat ditentukan

EDUKASI Edukasi mengenai diagnosis, rencana terapi, dan prognosis

Baik jika diterapi dengan antibiotika yang sesuai dan dilakukan drainase
Buruk jika:
- Terjadi keterlambatan diagnosis dan penanganan
- Abses multipel, mengenai traktus bilier, terjadi ruptur peritoneum
PROGNOSIS - Hasil kultur memperlihatkan adanya bakteri yang multipel
- Tidak dilakukan drainase
- Adanya ikterus, hipoalbuminemia, efusi pleura, atau adanya
penyakit lain seperti keganasan bilier, disfungsi multiorgan, sepsis

PENELAAH KRITIS Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD Ciawi, kab. Bogor

INDIKATOR MEDIS -

LAMPIRAN -
1. Sherlock S, Dooley J. Tumours of the Gallbladder and Bile Ducts. In;:
Dooley J, Lok A, Burrougins A, Heathcole. Disease of the Liver and
biliary System. 12th ed. UK: Blackwell Science. P.632-659.
2. Kim AY, Chung RT. Bacterial, Parasitic, and Fungal Infections of the
Liver, Including Liver Abscess. In: Fieldman M, Friedman L, Brandl L.
Sleisenger and Fordtran’s Gastrointestinal and Liver Diseases.
Pathophysiology/Diagnosis/Management. 9th ed.USA: Elsevier. Chapter
82.
KEPUSTAKAAN
3. Nazir NT, Penfield JD, Hajjar V, Pyogenic liver abscess. Cleveland Clinic
Journal of Medicine July 2010 vol. 777 426-427. Diunduh dari
http://www.ccjm.org/content/77/7/426.full pada tanggal 20 Juni
2012.
4. Alwi I, Salim S, Hidayat R, Kurniawan J, Tahapary D, editors. Panduan
Praktik Klinis Penatalaksanaan di Bidang Ilmu Penyakit Dalam.
Indonesia. Interna Publishing. 2015. P217-222.