Anda di halaman 1dari 17

BAB II

KONSEP PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN

HIPOTESIS

2.1 Konsep Stres

2.1.1 Pengertian Stres

Stres adalah suatu emosi yang sulit untuk didefinisikan atau diukur.

Hans Selye (1979) mendefinisikan stres sebagai respon nonspesifik tubuh

terhadap sebuah tekanan. Selye menyimpulkan bahwa setiap ancaman pada

tubuh selain efek spesifiknya mengaktifkan respon umum terhadap stres,

yang disebut sebagai sindrom adaptasi umum. Tahap awal yang disebut

alarm (Kalat, 2013). Teori fight or flight adalah salah satu cara untuk

mendefinisikan stres adalah reaksi fisik atau emosional tubuh terhadap

peristiwa ekternal. Teori fight or flight fokus pada respon fisiologi tubuh

terhadap stimulus yang merangsang stres. Stres dipahami sebagai aktivasi

respon biologis tubuh terhadap stimulus penyebab stres (Ragin, 2015)

Stres adalah keletihan dan kecemasan pada tubuh yang disebabkan

oleh hidup. Hans Selye (1974) seorang ahli endokrinologi mengidentifikasi

aspek-aspek fisiologis stres yang disebut syndrome adaptasi umum. Ia

mengakaji perubahan sistem biologis, tahap-tahap respon fisik tubuh

terhadap nyeri, panas, toksin, dan restrein serta respon emosional pikiran

terhadap stressor yang nyata atau dipersepsikan dan ia menetapkan tiga

tahap reaksi terhadap stres.

9
10

Pada tahap reaksi alarm, stres menstimulus pesan fisiologis tubuh dari

hipotalamus ke kelenjar adrenal untuk mengirim adrenalin dan

neuropineprin sebagai pembangkit emosi. Tahap resistensi ketika stres terus

berlanjut, sistem pencernaan dan mengurangi kerjanya dengan mengalirkan

darah ke area paru-paru memasukan lebih banyak udara, dan jantung

berdenyut lebih cepat sehingga dapat mengalirkan darah yang kaya oksigen

dan nutrisi ke otak untuk mempertahankan tubuh melalui perilaku fight,

flight, atau freeze. Apabila individu beradaptasi terhadap stres, tubuh

berespon dengan rileks dan kelenjar organ serta respon sistemik menurun.

Tahap kelelahan terjadi ketika individu berespon negatif terhadap ansietas

dan stres cadangan tubuh berkurang atau komponen emosional berubah

sehingga timbul respon fisologis yang kontinyu dan kapasitas cadangan

menjadi sedikit (Videbeck, 2008)

Stres merupakan pengalaman individu yang disembunyikan melalui

suatu rangsangan atau stressor, stressor adalah suatu dorangan yang

menggangu yang ada didalam berbagai sistem. Stres juga dalam bentuk

penghargaan atau persepsi dari stressor. Penghargaan (aprasial) adalah

bagaimana individu menginterprestasikan dampak dari stressor pada diri

mereka, apa yang terjadi dan apa yang mereka dapat lakukan pada hal

tersebut. Stres merupakan istilah umum yang menghubungkan kebutuhan

tersebut sebagai tantangan, atau ancaman. Stres pada konteks ini ditujukan

pada konsekuensi dari stressor, begitu juga dengan penghargaan seseorang

terhadap stressor (Potter & Perry 2009)


11

2.1.2 Fisiologi Respon Stres Manusia

Respon fisiologi adalah adalah proses penyesuaian tubuh secara

alamiah untuk mempertahankan keseimbangan dari berbagai factor yang

menimbulkan atau mempengaruhi keadaan menjadi tidak seimbang.

Adaptasi secara fisiologis dalam tubuh manusia dapat dibagi menjadi dua

yaitu apabila kejadian atau proses adaptasi bersifat local maka disebut

dengan Local Adaptation Syndrom (LAS) seperti ketika daerah tubuh atau

kulit terkena infeksi yang sifatnya lokal. Akan tetapi apabila reaksi lokal

tidak dapat diatasi depat menyebabkan gangguan secara sistemik tubuh akan

melakukan proses penyesuaian seperti panas seluruh tubuh, berkeringat

danm lain-lain, keadaan ini disebut dengan General Adaptation Synrom

(GAS). Pada adaptasi fisologis melalui tiga tahap yaitu alarm reaction,

tahap resistensi, dan tahap akhir (Laviola & Macri, 2013).

Tahap alarm reaction merupakan tahap awal dari proses adaptasi

dimana individu siap untuk menghadapi stressor yang akan masuk ke dalam

tubuh. Tahap ini dapat diawali dengan kesiagaan (fight or flight), dimana

terjadi perubahan fisiologis yaitu pengeluaran hormon oleh hipotalamus

yang dapat menyebabkan kelenjar adrenal mengeluarkan adrenalin yang

dapat meningkatkan denyut jantung meningkat dan menyebakan pernafasan

menjadi cepat dan dangkal, kemudian hipotalamus juga dapat melepaskan

hormon adrenokortikotropik (ACTH) yang dadapat merangsang adrenal

untuk mengeluarkan kotikoid yang akan mempengaruhi berbagai fungsi

tubuh, apabila respon tubuh terhadap stressor mengalami kegagalan tubuh


12

akan melakukan tahap resistensi untuk mengatasinya. Tahap resistensi

(stage of resistance) merupakan tahap kedua dari fase adaptasi secara umum

dimana tubuh akan melakukan proses penyesuain dengan mengadakan

berbagai perubahan dalam tubuh yang berusaha untuk mengatasi stressor

yang ada. Tahap akhir (stage of exhaustion) adalah proses adaptasi tidak

mampu mengatasi stressor yang ada, maka dapat menyebar ke seluruh

tubuh, dan efeknya dapat menyebabkan kematian tergantung dari stressor

yang ada (Sherwood, 2013).

2.1.3 Tanda dan Gejala Stres

a. Menurut Salleh (2010). Pada umumnya gejala stres dapat dibedakan

menjadi tiga golongan yaitu:

1. Gejala Fisik, gejala fisik meliputi sakit kepala, perut terasa kembung,

jantung berdebar-debar, sulit untuk bernapas, sulit menelan, mual, dan

kelelahan, otot terasa tegang dan nyeri sendi, berat badan menurun,

rasa kebas pada jari tangan dan kaki.

2. Perubahan Emosi, perubahan emosi meliputi mudah marah, ingatan

mulai menurun, mudah panik, berpikir negatif atau selalu berpikir

pesimis, rasa takut, dan cemas.

3. Perubahan Tingkah Laku, gejala perubahan tingkah laku meliputi

gelisah, susah tidur bahkan tidak bisa tidur, nafsu makan berkurang,

susah untuk membuat keputusan, mudah marah, mengkonsumsi

alkohol dan merokok berlebihan.


13

b. Menurut Davidson (2012). Ada beberapa tanda stres, yaitu:

1. Kurang konsentrasi

Kurang konsentrasi adalah ketidakmampuan seseorang untuk dapat

memusatkan pikirannya dengan baik terhadap apa yang dikerjakannya

atau ditekuninya.

2. Kecemsan atau agitasi

Kecemasan dan agitasi merupakan tanda stres dimana seseorang selalu

merasakan cemas dalam hal apapun, misalnya ingin melakukan

sesuatu tapi ia merasa sesuatu itu akan gagal.

3. Isolasi sosial

Isolasi sosial adalah keadaan dimana sesorang individu mengalami

penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan

orang lain disekitarnya. Ia merasa mungkin ditolak, tidak diterima,

kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan

orang lain.

4. Depresi

Depresi merupakan kondisi emosional, kognitif, fisik dan prilaku.

Seseorang yang mengalami depresi sering mengalami gangguan

mood, susah tidur, susah berkonsentrasi, perasaan bersalah atau harga

diri rendah, kehilangan minat dalam melakukan aktifitas, ditandai

dengan hilangnya libido.

5. Sakit fisik

Sakit fisik adalah sakit yang dialami oleh raga, tubuh, atau badan.
14

6. Perubahan gastrointestinal

Seperti pusing, mual dan muntah

7. Penurunan respon sistem kekebalan tubuh

Banyaknya perubahan hormon yang terjadi akan membuat

keseimbangan hormon tidak baik sehingga menimbulkan perubahan

fungsional beberapa organ.

8. Perubahan pola tidur (insomnia)

Insomnia adalah ketidakmampuan untuk mendapat waktu tidur yang

cukup agar menjadi segar saat bangun tidur. Gangguan insomnia

akibat stres dipengaruhi oleh derajat stres dan lamanya stres tersebut

terjadi.

2.1.4 Tahapan Stres

Stres yang dialami oleh seseorang ada beberapa tahapan menurut Van

Amberg (1979) dalam Suparni & Astutik (2016), tahapan stres terbagi

menjadi enam tahap yaitu:

a. Tahap Pertama

Tahap ringan dari stres yang ditandai dengan adanya semangat

bekerja, merasa mampu menyelesaikan pekerjaan yang tidak seperti

biasanya, kemudian merasa senang akan pekerjaannya akan tetapi

kemmpuan yang dimilikinya semakin berkurang.

b. Tahap Kedua

Pada stres tahap kedua ini sesorang memiliki ciri adanya perasaan

letih sewaktu bangun pagi, terasa lelah setelah makan siang, cepat lelah
15

menjelang sore, sering mengeluh bagian lambung atau perut merasa tidak

nyaman, jantung berdebar-debar, otot punggung dan tengkuk terasa

tegang.

c. Tahap Ketiga

Pada tahap ketiga ini sesorang mengalami gangguan seperti lambung

dan usus seperti adanya keluhan gastritis, buang air besar tidak teratur,

ketegangan otot, perasaan gelisah, gangguan pola tidur sulit untuk

memulai tidur, terbangun tengah malam, merasa lemah seperti tidak

memiliki tenaga.

d. Tahap Keempat

Pada tahap keempat seseorang cenderung merasakan segala pekerjaan

yang menyenangkan menjadi terasa membosankan, kehilangan

kemampuan untuk merespon secara adekuat, adanya gangguan pola tidur,

sering menolak ajakan karena tidak bergairah, kemampuan mengingat

atau konsentrasi menurun karena adanya rasa cemas yang tidak diketahui

penyebabnya.

e. Tahap Kelima

Tahap kelima ini merupakan tahap puncak dimana seseorang

mengalami panik dan perasaan takut akan kematian dengan ditemukan

gejala seperti detak jantung semakin keras, susah bernapas, terasa

gemetar seluruh tubuh dan berkeringat, dan bias sampai terjadi kolaps

atau pingsan.
16

2.1.5 Jenis-jenis Stres

Jenis stres menurut Schafer (2000) dalam Suparni & Astutik (2016),

membagi stres menjadi tiga jenis, yaitu:

a. Eustress

Eustress merupakan jenis stres yang netral dan tidak merugikan.

b. Distress

Disstres dapat terjadi apabila tuntutaan terlalu besar. Simtom distress

dapat berupa kurangnya daya konsentrasi, tangan dan jari-jari tremor

(gemetar), sakit punggung, cemas, gugup, depresi, mudah marah atau

emosian, mempercepat cara bicara. Distress mengarah pada dua jenis

gangguan yaitu fisik maupun psikis. Kerugian dari individu yang

mengalami distress yang panjang dan berulang adalah menurunnya

produktifitas ditempat kerja dan disekolah.

c. Positive Stress

Positive stress adalah jenis stres yang dapat membantu untuk

mengerjakan hal-hal tertentu, misalnya membantu dalam mendorong

seseorang untuk mengerjakan sesuatu tugas dalam waktu yang terbatas.

2.1.6 Respon Stres

Stres mengaktifkan dua sistem tubuh, salah satunya adalah sistem

saraf simpatik yang merpersiapkan tubuh untuk melawan atau tanggap

darurat terhadap sebuah respon. Yang merespon adalah axsis hipotalamus,

kelenjar pituitary, dan korteks adrenal. Aktivasi hipotalamus menginduksi

kelenjar hipofisis anterior untuk mensekresi hormon adrenokortikotropik


17

(ACTH) yang merangsang korteks adrenal manusia untuk mensekresi

kortisol, yang meningkatkan aktivitas metabolik dan meningkatkan kadar

gula darah dan nutrisi lainnya. Stres yang melepas kortisol membantu tubuh

memobilisasi energinya untuk melawan situasi yang sulit dan efeknya pada

jumlah dan durasi. Stres juga meningkatkan aktivitas sistem kekebalan

tubuh, membantu melawan penyakit. Namun, stres berkepanjangan dapat

merusak memori dan aktivitas kekebalan tubuh (Kalat, 2013)

Sejumlah hormon juga berperan dalam respon stres. Respon hormonal

yang dominan adalah aktivasi sistem CRH-ACTH-cortisol, kortisol

membantu tubuh mengatasi stres dengan efek metabolic kortisol memecah

lemak dan protein dalam tubuh dan membantuh penyebaran karbohidrat dan

juga membantu meningkatkan ketersedian glukosa dalam darah. ACTH juga

biasa berperan dalam menahan stres, ACTH adalah salah satu dari beberapa

peptida yang memfasilitasi pembelajaran dan perilaku. Dengan demikian

peningkatan ACTH selama stres psikososial dapat membantu tubuh

mengatasi lebih cepat tekanan respon perilaku yang tepat (Sherwood, 2013)

Respon stres adalah mekanisme bertahan hidup yang berusaha

mempertahankan kehidupan dalam situasi yang mengancam jiwa. Selama

peristiwa yang penuh tekanan otak menandakan produksi dan pelepasan

hormon. Respon otak untuk memberi energi pada tubuh seperti kenaikan

kadar gula darah, detak jantung meningkat, dan tekanan darah meningkat,

sehingga otot tegang untuk bereaksi. Jika berkepanjangan atau berulang kali

terlalu sering efek dari mechanisme ini mulai menghancurkan tubuh. Salah
18

satu dari respon yang menyebabkan tubuh mengeluarkan potassium dan

fosfor, sehingga menyebabkan keseimbangan elektrolit tidak stabil sehingga

radikal bebas terbentuk dan merusak selaput sel, dan distem kekebalan

tubuh pun akan habis, mekanisme asupan tidak normal dan tidak bias untuk

menghasilkan nutrisi dengan baik (Rona, 2008).

2.1.7 Teori Sunrise Model Leininger

Garis besar teori Leininger adalah tentang culture care diversity and

universality, atau yang kini lebih dikenal dengan transcultural nursing.

Awalnya, Leininger memfokuskan pada pentingnya sifat caring dalam

keperawatan. Untuk membantu perawat dalam menvisualisasikan Teori

Leininger, maka Leininger menjalaskan teorinya dengan sunrise model.

Model ini adalah sebuah peta kognitif yang bergerak dari yang paling

abstrak, ke yang sederhana dalam menyajikan faktor penting teorinya secara

holistik.

Sunrise model dikembangkan untuk memvisualisasikan dimensi

tentang pemahaman perawat mengenai budaya yang berdeda-beda. Perawat

dapat menggunakan model ini saat melakukan pengkajian dan perencanaan

asuhan keperawatan, pada pasien dengan berbagai latar belakang budaya.

Selain itu, sunrise model ini juga dapat digunakan oleh perawat komunitas

untuk menilai faktor cultural care pasien (individu, kelompok, khususnya

keluarga) untuk mendapatkan pemahaman budaya klien secara menyeluruh

(Sagar, 2012)
19

2.2 Konsep Unit Gawat Darurat (UGD)

2.2.1 Perawat UGD

Keperawatan merupakan profesi yang membantu dan memberikan

pelayanan yang berkontribusi pada kesehatan dan kesejahteraan individu.

Keperawatan juga diartikan sebagai konsekuensi penting bagi individu yang

menerima pelayanan, profesi ini memenuhi kebutuhan yang tidak dapat

dipenuhi oleh seseorang, keluarga atau kelompok di komunitas.

Perawat mempunyai fungsi yang unik dalam pemberian asuhan

keperawatan pada individu, baik sakit maupun sehat, melakukan pengkajian

terhadap respon mereka terhadap status kesehatannya dan membantu

mereka untuk dapat menampilkan kontribusi aktivitas kemandirian untuk

memperbaiki kesehatan atau menghargai dan menghadapi kematian dengan

tenang, kuat, mempunyai pengetahuan yang cukup untuk melakukan sesuatu

agar dapat memberikan bantuan dalam kemandirian (Sumijatun, 2010).

Perawat emergency (emergency nursing) adalah sebuah area khusus

atau spesial dari keperawatan professional yang melibatkan integrasi dari

praktek, penelitian, pendidikan, dan profesialisme. Praktek perawatan

emergency dapat dilakukan oleh seorang yang professional. Keperawatan

emergency ditujukan pada esensi dari praktek emergency, lingkungan

dimana hal tersebut terjadi pada pasien keperawatan emergeny. Dan

Register Nurse (RN) profesional yang memiliki komitmen untuk

menyelamatkan dan praktek keperawatan efektif. (Musliha, 2010).


20

Keperawatan darurat adalah perawatan yang individu dengan

perubahan kesehatan fisik atau emosional yang dirasakan atau yang tidak

terdiagnosis dan memerlukan intervensi lebih lanjut. Asuhan keperawatan

darurat besifat episodik, primer, dan biasanya dalam jangka pendek.

Keperawatan darurat tidak seperti spesialisasi keperawatan lainnya yang

brfokus padarentang usia tertentu (misalnya, pasien anak-anak atau orang

dewasa) atau sistem tubuh tertentu (misalnya, ortopedi atau kebidanan),

perawat darurat melayani semua usia yang mengalami gangguan pada

sistem tubuh (Solheim, 2016).

Menurut Azwar dan Azrul (2010). Ada dua pelayanan perawat UGD

ruang lingkup dan tugas perawat UGD, yaitu:

a. Ruang Lingkup UGD

1. Menyelengarakan pelayanan gawat darurat

2. Menyelengarakan pelayanan untuk kasus-kasus yang membutuhkan

pelayanan intensif

3. Menyelangarkan pelayanan informasi medis darurat

b. Tugas Perawat UGD

1. Menyiapkan fasilitas dan lingkungan UGD untuk kelancaran

pelayanan dan memudahkan pasien untuk menrima pelayanan.

2. Melayani pasien baru sesuai dengan prosedur dan kebutuhan yang

berlaku.

3. Melakukan tindakan medis atau intervensi kepada pasien sesuai

dengan kapsitasnya.
21

4. Membantu dokter dalam memberikan pelayanan atau pertolongan

pertama kepada pasien dalam keadaan gawat darurat.

5. Mempersiapkan peralatan medis agar selalu dalam keadaan siap pakai

ketika ingi digunakan.

6. Menciptkan kerja sama yang baik antara pasien, keluarga pasien, dan

sesame petugas lainnya.

7. Mengkaji kebutuhan dan masalah kesehatan pasien sesuai dengan

batas kemampuan.

8. Membuat asuhan keperawatan (melengkapi status UGD).

9. Menyiapkan BPH untuk keperluan UGD.

10. Membuat laporan harian pasien.

11. Mengantar pasien kerumah sakit lain (rujukan) bila diperlukan sesuai

dengan intruksi medis.

12. Bekerja secara professional

2.2.2 Kompetensi Perawat UGD

Menurut Kemenkes (2011) Kompetensi perawat yang harus dimiliki

perawat UGD adalah sebagai berikut:

a. Mampu menguasai basic assessment primary survey dan secondary

survey

b. Mampu memahami triase dan retriase

c. Mampu memberikan asuhan keperawatan kegawatdaruratan, pengkajian,

diagnose, perencanaan, memberikan tindak keperawatan, evaluasi dan

tindak lanjut
22

d. Mampu melakukan tindakan keperawatan: life saving antara lain

resusitasi dengan alat bantu atau tanpa alat bantu stabilisasi

e. Mampu memahami terapi definitive

f. Mampu menerapkan aspek etik dan legal

g. Mampu melakukan komunikasi terapeutik kepada pasien dan keluarga

h. Mampu bekerjasama dalam tim

i. Mampu melakukan pendokumentasian dan pencatatan atau pelaporan

2.3 Konsep Relaksasi otot Progresif

2.3.1 Pengertian Relaksasi Otot Progresif

Relaksasi otot progresif adalah teknik sederhana untuk dipelajari,

teknik ini melibatkan proses kelompok otot yang tegang dan merilekskan.

Relaksasi ini dilakukan secara sistematis seperti dilakukan dari jari kaki

hingga ke kepala. Tujuan dari teknik ini adalah untuk membantu

mengidentifikasi tingkat ketegangan mental dan fisik. Ketika sadar akan

ketegangan meningkat kita dapat untuk merilekskannya dan dengan

demikian dapat mengurangi efek stres dan ketegangan otot (Williams,

2015).

Menurut Solehati & Kosasih (2015). Relaksasi otot atau relaksasi

progresif adalah suatu metode yang terdiri atas peregangan dan relaksasi

sekelompok otot, serta memfokuskan pada perasaan rileks. Tujuan dari

relakasasi otot progresif ini adalah menurunkan ketgangan otot, kecemasan,

nyeri skala sedang, depresi ringan, mengurangi distrimia jantung,


23

meningkatkan rasa kebugaran dan konsentrasi, memperbaiki kemampuan

untuk mengatasi stres, mengatasi insomnia, kelelehan, spasme otot, fobia

ringan, gagap ringan, dan membangun emosi positif dan negative.

2.3.2 Manfaat Relaksasi Otot Progresif

Menurut Bourne (2015). Manfaat dari relaksasi otot progresif adalah

untuk menurunkan ketegangan otot, mengurangi tingakat kecemasan,

mengurangi masalah-masalah yang berhubungan dengan stres, menangani

hipertensi, mengurangi sakit kepala, dan mengurangi insomnia.

Efek dari relaksasi otot progresif, ada efek jangka panjang dari latihan

relaksasi ini meliputi:

a. Penurunan kecemasan

b. Penurunan kecemasan antisipatif terkait fobia

c. Pengurungan frekuensi panic

d. Membantu tingkat konsentrasi

e. Membatu untuk mengontol mood agar lebih baik

f. Meningkatkan harga diri

g. Meningkatkan spontanitas dan kreativitas

Manfaat jangka panjang ini sering disebut juga dengan efek

generalisasi.

2.3.3 Kontraindikasi Relaksasi Otot Progresif

Tidak ada kontraindikasi untuk relaksasi otot progresif ini kecuali otot

yang mengalami ketegangan yang parah dan terluka, dan yang


24

menggunakan obat penenang karena akan berpengaruh pada hasil relaksasi

otot progresif ini (Bourne, 2015).

2.3.4 Mekanisme Kerja Relaksasi Otot Progresif Pada Respon Stres Manusia

Stres pada perawat UGD yang berkaitan dengan bagaimana

menangani pasien yang kritis untuk ditangani segera serta perawat

menangani didua ruangan sekaligus, dan dengan kasus yang perlu ditangani

segara seperti kecelakaan lalu lintas yang dapat mengancam nyawa pasien.

Kondisi tersebut dapat mengakibatkan perawat mengalami ketegangan dan

merasa tidak nyaman ketika menghadapi stressor yang terjadi sehingga

membuat ketidaknyamanan dalam bekerja. Dari hal ini muncul beberapa

gejala stres pada perawat yaitu muncul seperti mengalami perasaan tertekan,

mudah marah, gelisah, gugup, cemas, merasa pegal bagian leher atau bahu,

kelelahan, sakit kepala, dan pusing (Bourne, 2015).

Ketika gejala stres tersebut menimbulkan kondisi ketidaknyamanan

secara fisik dan psikologis maka perawat akan mengalami kondisi

ketegangan pada beberapa organ tubuh dan bagian otot. Ketegangan yang

dialami perawat tersebut dapat dikurangi dengan relakasasi otot progresif,

relaksasi merupakan salah satu cara yang dapat digunakan sebagai upaya

untuk mengurangi stres. Stres pada perawat dapat dikurangi dengan

memberikan terapi relaksasi otot progresif yang merupakan salah satu

alternative terapi yang dapat diberikan. Terapi relaksasi otot progresif ini

akan menimbulkan efek rileks yang melibatkan saraf parasimpatis dalam

sistem saraf pusat. Manusia memiliki sistem saraf pusat dan saraf otonom,
25

sistem saraf pusat berfungsi mengendalikan gerakan-gerakan yang

dikehendaki seperti gerakan tangan, kaki, leher, dan jari-jari. Sisten saraf

otonom mengendalikan gerakan-gerakan yang ototmatis seperti proses

kardiovaskuler dan gairah seksual. Sistem saraf ini terdiri dari dua subsitem

yaitu saraf simpatis dan parasimpatis yang bekerja saling berlawanan. Jika

saraf simpatis bekerja maningkatkan rangsangan atau mengacu organ-organ

tubuh, meningkatkan denyut jantung dan pernapasan, serta menimbulkan

penyempitan pembuluh darah tepi, maka sebaliknya dengan sistem saraf

parasimpatis menstimulus turunnya semua fungsi yang dinaikan oleh saraf

simpatis. Ketika individu mengalami ketegangan dan kecemasan yang

bekerja dalah sistem saraf simpatis, sedangkan saat relaks yang bekerja

dalah sistem saraf parasimpatis. Jadi, relaksasi otot progresif dapat

mengurangi rasa stres, tegang pada otot dan cemas dengan cara merilekskan

otot (Everly & Lating, 2013).