Anda di halaman 1dari 18

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pemahaman terhadap konsep beban memerlukan analisis yang hati-hati

terhadap karekteristik dari transaksi yang berkaitan dengan laporan laba rugi

perusahaan. Ada elemen laporan lain yang sifatnya hampir sama dengan beban

namun sebaiknya tidak dimasukkan sebagai komponen beban. Karakteristik suatu

komponen laporan laba rugi dapat dipahami dengan mengenali batasan atau

pengertian yang berkaian dengan beban (Soemarso, 2013).

Dengan pemahaman seperti ini, transaksi yang berkaitan dengan beban dapat

dengan mudah diidentifikasi sehingga dapat disajikan dengan benar dalam laporan

keuangan. Dalam makalah ini akan membahas tentang beban sebagai dasar

pencatatan nilai dalam akuntansi.Sebagian besar transaksi beban menimbulkan

beberapa masalah dalam pengakuannya. Hal ini karena dalam banyak kasus,

transaksi tersebut adalah dimulai dan selesai pada waktu yang sama. Namun tidak

semua transaksi sesederhana itu.

Pengakuan beban merupakan aktivitas yang paling berisiko dimanipulasi (top

fraud risk) dan apapun standar akuntansi yang digunakan, baik IFRS maupun

GAAP, risiko atau kesalahan dan ketidakakuratan dalam pelaporan pendapatan dan

beban jumlahnya sangat besar.Beban merupakan salah satu elemen penentuan laba

rugi suatu perusahaan.Dalam beberapa dasawarsa belakangan ini, perhatian pada

perhitungan laba rugi semakin dirasakan manfaatnya. Dengan adanya informasi

mengenai pendapatan dan beban, maka dapat membandingkan antara modal yang

1
2

tertanam dengan penghasilan sebagai alat untuk mengukur kinerja efisiensi

perusahaan dan dapat memprediksi distribusi dividen di neraca yang akan datang.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam makalah ini adalah:

1. Apa yang dimaksud dengan beban ?

2. Bagaimana penggolongan beban ?

3. Bagaimana pengakuan beban ?

4. Bagaimana pengukuran beban ?

5. Bagaimana penyajian beban ?

6. Bagaimana pengungkapan beban ?

C. Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:

1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan beban.

2. Untuk mengetahui penggolongan pada beban

3. Untuk mengetahui pengakuan pada beban

4. Untuk mengetahui pengukuran pada beban.

5. Untuk mengetahui penyajian pada beban.

6. Untuk mengetahui pengungkapan beban.

2
3

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Beban

Pada umumnya beban (expense) sering dijadikan sinonim kata dengan

biaya (cost), tetapi menurut Soemarso (2013:29), beban dapat didefinisikan

sebagai aliran keluar terukur dari barang atau jasa, yang kemudian

ditandingkan dengan pendapatan untuk menentukan laba atau sebagai

penurunan dalam aset bersih sebagai akibat dari penggunaan jasa ekonomis

dalam menciptakan pendapatan atau pengenaan pajak oleh badan pemerintah.

Beban dalam arti luas termasuk semua biaya yang sudah habis masa

berlakunya yang dapat dikurangkan dari pendapatan. Beban itu sendiri terjadi

karena dua sebab, pertama yang berasal dari cost yang sudah expired

(melampaui masanya) dan yang kedua karena penggunaan maksudnya beban

itu hadir kalau kita sudah melakukan pemakaian tertentu atau utilitas.

Menurut IAI dalam bukunya Standar Akuntansi Keuangan (2007:19),

mendefinisikan beban atau expenses adalah penurunan manfaat ekonomi

selama suatu periode akuntansi dalam bentuk arus keluar atau berkurangnya

aset atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang

tidak menyangkut pembagian kepada penanam modal. Sebagaimana sudah

kita ketahui bahwa cost itu mempunyai pengertian bahwa kita mempunyai

sumber daya perusahaan yang terbatas dan untuk mendapatkannya diperlukan

sejumlah pengorbanan atau pengeluaran tertentu. Akuntan telah

mendefinisikan biaya sebagai nilai tukar, pengeluaran, pengorbanan untuk

3
4

memperoleh manfaat (Cartery usry, 2006:29). Sebagai contoh pembelian

bahan baku secara tunai, karena aset bersih tidak terpengaruh tidak ada beban

yang diakui. Sumber daya perusahaan hanya diubah dari kas menjadi

persediaan bahan baku. Bahan baku tersebut dibeli dengan biaya tertentu,

tetapi belum menjadi beban. Ketika perusahaan kemudian menjual bahan

baku tersebut yang sudah diolah menjadi barang jadi, biaya dari bahan baku

dibukukan sebagai beban dilaporan laba rugi. Setiap beban adalah biaya,

tetapi tidak semua biaya adalah beban.Contoh :aset adalah biaya, tetapi bukan

(belum menjadi) beban.

B. Karakteristik Beban

Menurut Suwardjono (2014) ada tiga karakteristik beban dalam akuntansi :

1. Penurunan Aset

Beban timbul karena terjadi transaksi yang mengakibatkan pengurangan

atau penurunan aset atau menimbulkan aliran keluar manfaat

ekonomi.Dalam hal ini, pemakaian aset mengakibatkan timbulnya beban

karena telah habis untuk pengiriman barang atau diberikan perusahaan

sehingga tidak merasakan lagi manfaat ekonomi aset tersebut. Pemakaian

bahan baku yang barangnya belum terjual belum lagi bisa dikatakan beban

tetapi biaya, apabila sudah terjual baru dapat dikatakan beban karena

pemakaian aset yang digunakan untuk segala keperluan barang tersebut.

2. Operasi utama yang berkesinambungan

Tidak semua penurunan aset dapat menjadi beban, agar terjadi maka harus

berkaitan dengan kegiatan utama perusahaan yang continue. Kegiatan

4
5

utama perusahaan adalah yang berkaitan dengan proses produksi dan

pengiriman barang. Sebagaimana berlaku untuk pendapatan, pengertian

operasi menunjuk kegiatan operasi yang merupakan elemen statemen

aliran kas yaitu : operasi (operating), investasi (investing), dan pendanaan

(financing). Sedangkan beban adalah penurunan aset yang berkaitan

dengan operasi dan bukan dengan investasi dan pendanaan.

3. Kenaikan kewajiban

Definisi FASB yang menyatakan beban sebagai kewajiban cukup tepat

karena secara konseptual semua hal yang dikeluarkan untuk kepentingan

proses produksi dan pengiriman perusahaan secara terus-menerus

dinyatakan sebagai beban. Kewajiban terdapat suatu keadaan perusahaan

telah memanfaatkan barang dan jasa namun sebelumnya tidak

mengakuinya sebagai aset atau belum mengakui kewajiban atas

penggunaan barang dan jasa yang dikuasai pihak lain. Hal tersebut

menimbulkan keharusan perusahaan untuk membayar ataumelakukan

pengorbanan ekonomik dimasa datang sehingga

timbulkewajiban.Misalnya jasa pengiriman barang yang belum dibayar

oleh perusahaan namun jasa pengirimannya telah dinikmati perusahaan

danmenimbulkan pendapatan.Dengan demikian beban (untuk pengiriman)

harustimbul dengan kenaikan kewajiban.

4. Penurunan ekuitas

Definisi APB dan IAI secara eksplisit menyebutkan bahwa penurunan aset

akhirnya akan mengubah ekuitas atau menurunkan ekuitas. Pendefinisian

ini sebenarnya menegaskan bahwa akuntansi menganut konsep kesatuan

5
6

usaha sehingga ekuitas secara konseptual adalah hutang perusahaan

kepada pemilik. Oleh karena itu turunnya aset sebagai biaya harus

mengakibatkan turunnya ekuitas. Bila ekuitas tidak terpengaruh, jelas

turunnya aset bukan merupakan biaya.

C. Penggolongan Beban

Menurut Soemarso (2013:226) jenis-jenis beban dapat diklasifikasikan

juga berdasarkan jenis perusahaan,seperti perusahaan jasa, dagang dan

manufaktur. Tetapi secara keseluruhan jenis beban pada setiap perusahaan itu

sama, hanya terdapat beberapa jenis beban yang yang tidak ada pada

perusahaan lain.

1. Perusahaan Dagang

Pengelompokkan beban pada perusahaan dagang adalah sebagai berikut:

a. Beban penjualan (Selling expenses)

Beban penjualan adalah semua beban yang terjadi dalam

hubungannya dengan kegiatan menjual dan memasarkan barang

seperti kegiatan promosi, penjualan dan pengangkutan barang-

barang yang dijual. Contoh : beban iklan dan promosi

b. Beban administrasi dan umum (General and administrative

expenses) Beban yang bersifat umum dalam perusahaan. Contoh:

beban gaji dan upah, beban pemeliharaan, dll

c. Beban lain-lain (Other Expense) Beban-beban yang tidak dapat

dihubungkan secara langsung dan pasti dengan kegiatan utama

perusahaan (perdagangan) dikelompokkan kedalam beban lain-lain

6
7

(other expenses) atau beban non-usaha (non operating expenses).

Beban bunga merupakan salah satu contoh dari beban ini, kadang-

kadang karena beban bunga timbul sebagai akibat dari kegiatan

perusahaan untuk memperoleh dana (pembelanjaan), maka disebut

beban pembelanjaan (financing expenses). Contoh lain: kerugian

dari penjualan aset tetap dalam laporan laba rugi, pendapatan dan

beban lain-lain kadang-kadang digabung.

2. Perusahaan Jasa

Pada perusahaan jasa jenis beban hanya satu yaitu beban usaha, tetapi

beban usaha ini terbagi pada beberapa jenis juga, yaitu sebagai berikut:

a. Beban gaji: beban yang berasal dari pemakaian jasa karyawan atau

buruh yang diperkerjakan dalam perusahaan. Beban ini diakui dalam

laporan laba rugi karena terjadi penurunan aset akibat pembayaran

gaji pada karyawan. Selanjutnya dicatat sebesar kas yang keluar atau

yang dibayarkan pada karyawan yang bersangkutan.

Contoh :Membayar gaji karyawan selama bulan Maret sebesar Rp

10.000.000,00 Merupakan pengeluaran perusahaan atau beban yang

dicatat dilaporan laba rugi dengan saldo normal di debet,

jurnal: Beban Gaji Rp 10.000.000,00

Kas Rp 10.000.000,00

b. Beban Sewa : beban yang timbul karena terjadi sewa atau pemakaian

sesuatu yang bersifat sewa.

c. Beban perlengkapan: beban yang timbul karena pemakaian

perlengkapan atau bahan pembantu dalam operasional perusahaan.

7
8

d. Beban bunga (interest expenses): beban yang timbul karena

peminjaman uang pada bank yang dikenai bunga.

e. Beban serba-serbi (miscellaneous expenses): beban yang terdiri dari

bermacam-macam transaksi yang jumlahnya kecil, tidak sering

terjadi dan tidak tertampung dalam salah satu akun beban yang ada

dalam bagian akun.

Beberapa jenis beban ini pengakuan, penyajian maupun pengukuran

pada dasarnya sama yaitu beban diakui dalam laporan rugilaba

kalaupenurunan manfaatekonomi masa datang yangberkaitan dengan

penurunan asetataukenaikan kewajiban telahterjadi dan dapat diukur

dengan andal.

3. Perusahaan Manufaktur

Pada umumyabeban pada perusahaan manufaktur sama denganperusahaan

lainnya.

1. Biaya Pokok Penjualan (Cost of Good Solds), Biaya Pokok Penjualan

merupakan biaya perolehan daripos-pos persediaan (harga pembelian

atau biaya pabrikasi) yang dijualuntuk menghasilkan pendapatan

penjualan. Biaya pokok barang yang tersedia untuk dijual (Cost Of

Good Available for Sale) adalah persediaan awalditambah pembelian

(biaya pokok barangyang diproduksi).Biayapokok penjualan

ditentukan dengan mengurangkan persediaan akhir dari biaya pokok

barang yang tersedia untuk dijual.

2. Beban Operasi (Operating Expenses)

8
9

Beban operasi adalah beban berkala dan lazimyang dikeluarkan

perusahaan dalam upayanyamemperoleh pendapatan. Beban- beban

inibiasanyadiklasifikasikan berdasarkankategori-kategori fungsional.

Klasifikasi yang lazimdipakai adalah dengan memisahkan beban

penjualan (selling expenses) dari beban umum dan administratif

(general administrative expenses).

Contoh beban operasi adalah beban iklan, beban pemeliharaan, beban

penyusutan, beban gaji, dan lain - lain.

3. Beban Lain-lain (Other Expense)

Beban lain-lain pada pokoknya mengandung beban-bebanyang

dikeluarkan dari aktivitas-aktivitas yang bukan merupakan kegiatan

pokok perusahaan sehingga nilai rupiah dari aktivitas ini biasanya

terhitung kecil.

Ada jenis-jenis beban lain yang mendukung kegiatan operasional

perusahaan seperti:

1. Beban Akrual (accrued expense)

Beban yang masih harus dibayar (beban-beban tertentu mungkin telah

terjadi) tetapi pembayarannya belum dilakukan sampai pada periode

berikutnya. Pada akhir periode akuntansi perlu untuk menentukan dan

mencatat beban-beban yang telah terjadi ini meskipun belum dibayarkan.

2. Beban kredit macet (bad debt expense)

Beban yang timbul atas tindakan tertagihnya piutang usaha. Contoh:

beban piutang ragu-ragu (doubhtful account expense), beban piutang

yang tidak dapat ditagih.

9
10

3. Beban Operasional

Beban yang terdiriatasbebanpenjualan danbeban umum administrasi.

Keseluruhan beban yangterlibatdalam aktivitas operasional perusahaan.

Dalam laporan laba/rugi, labaoperasi dihitung dengan mengurangkan

pendapatan dengan beban operasional.

4. Beban Penyusutan

Menurut PSAK No.16 Yang dimaksud penyusutan adalah alokasi

sistematis jumlah yang dapat disusutkan (depreciable amount) dari suatu

aset selama umur manfaatnya (useful life). Penyusutan dimulai pada saat

aset tersebut siap digunakan, yakni pada saat aset berada di lokasi dan

kondisi yang diinginkan agar aset siap digunakan sesuai dengan

keinginan dan maksud manajemen. Beban penyusutan juga merupakan

pengakuan atas penggunaan manfaat potensial dari suatu aset atau

beban yang timbul karena pemakaian aset berwujud (Soemarso, 2013)

5. Beban yang ditangguhkan

Dapat jugadikatakan beban dibayar dimuka ataupengeluaranyang telah

dibayarkan tapi belum dirasakan manfaat ekonomisnya.

6. Beban yang masih harus dibayar (accrued expenses)

Disebut juga dengan accrued liabilitiesyaitu biaya-biayayangsudah

merupakanbebanwalaupun utangyangbersangkutan belumsaatnya

merupakankewajiban.

D. Pengakuan Beban

Menurut IAIdalam bukunya“Standar Akuntansi Keuangan”

(2007:23)pengakuan beban adalah sebagai berikut :

10
11

”Beban diakui dalam laporan laba rugi atas dasar hubungan langsung antara

biaya yang timbul dan pos penghasilan tertentu yang diperoleh.Kalau manfaat

ekonomi diharapkan timbul selama beberapa periode akuntansi dan

hubungannya dengan penghasilan hanya dapat ditentukan secara luas atau tak

langsung, beban diakui dalam laporan laba rugi atas dasar prosedur alokasi

yang rasional dan sistematis.Hal ini sering diperlukan dalam pengakuan

bebanyang berkaitan dengan penggunaan aset seperti aset tetap, goodwill,

paten, merk dagang.Menurut PSAK No.16 disebutkan bahwa biaya yang

dapat dikapitalisasi kedalam harga perolehan aset maka biaya tersebut dapat

diakui sebagai aset, namun jika biaya dalam rangka perolehan aset tetap tidak

dapat dikapitalisasi ke dalam nilai aset maka biaya tersebut langsung

dibebankan, misalnya biaya perawatan sehari-hari.Prosedural alokasi ini

dimaksudkan untuk mengakui beban dalam periode akuntansi yang

menikmati manfaat ekonomi aset yang bersangkutan”.

Dalam pernyataan di atas beban merupakan arus keluar atas penggunaan lain

dari harta selama periode dari penyerahan atas produksi barang atau kegiatan-

kegiatan lainyang merupakan operasi utama perusahaan. Beban diakui dalam

laporan laba rugi berdasarkan hal-hal sebagai berikut:

1. Adanya penurunan aset tetap yang digunakan oleh perusahaan misalnya

aset tetap.

2. Adanya proses produksi untuk menghasilkan barang-barangatau jasa.

3. Adanya kewajiban perusahaan terhadap karyawan misalnya pembayaran

gaji dan upah.

11
12

4. Adanya kewajiban perusahaan tanpa diiringi dengan perolehan aset,

misalnya garansi produk dan pembayaran bunga pinjaman. Dengan

demikian dapat disimpulkan bebanyang berkaitan dengan proses

memperoleh pendapatan, harus diakui pada saat pendapatan tersebut

diperoleh, sedangkan beban yang berkaitan secara langsung dengan

proses dan untuk memperoleh pendapatan harus diakui pada saat beban

tersebut dimanfaatkan.

PSAK 46 adalah PSAK yang mengatur bagaimana entitas melaporan

pajak penghasilan dalam laporan keuangan baik dalam laporan posisi keuangan

maupun dalam laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain. PSAK 46

menggunakan konsep akrual dalam mengakui beban, aset dan kewajiban

perpajakan. Sehingga setiap penghasilan menurut akuntansi harus tetap

diperhitungkan dampak pajak yang harus dibayarkan di masa mendatang atau

telah dibayarkan pada masa sekarang. Untuk itulah timbul istilah aset dan pajak

tangguhan.

E. Pengukuran Beban

Dalam mengukur beban dalam satu periode akuntansi, dibutuhkanberbagai

keputusan atau pertimbangan untuk menentukan bagaimana bebantersebutakan

dialokasikan pada periode periode selanjutnya yang menunjukkanadanya

pendapatan. Dalam hal tersebut, terdapat berbagai standar akuntansi yangdapat

digunakan sebagai acuan atau pedoman.Misalnya, IAS 16/AASB 116

yangmenyatakan bahwa nilai-nilai aset yang dapat di depresiasi dapat diukur

denganbeberapa cara setelah pengakuannya (seperti model biaya perolehan atau

12
13

modelpenilaian) dan beberapa pilihan alternatif untuk depresiasi (seperti metode

garislurus, nilai menurun dan jumlah unit).Sejalan dengan penilaian aset,

bebandapat diukur atas dasar jumlahrupiah yang digunakan untuk penilaian aset

dan hutang. Oleh karena itu,pengukuran bebandapat didasarkan pada:

1. Kos Historis

Kos historis merupakan jumlah rupiah kas atau setaranya

yangdikorbankanuntuk memperoleh aset. Pengukuran beban atas dasar

koshistoris dapatdigunakan untuk jenis aset seperti gedung, peralatan,

dansebagainya.

2. Kos Pengganti / Kos Masukan Terkini (Replacement Cost / Curent

InputCost)

Kos masukkan terkini menunjukkan jumlah rupiah harga pertukaran

yangharus dikorbankan sekarang oleh suatu entitas untuk memperoleh aset

yang sejenis dalamkondisi yang sama. Contohnya, penilaian

untukpersediaan.

3. Setara Kas (Cash Equivalent)

Setara kas adalah jumlah rupiah kas yang dapat direalisir dengan

caramenjualsetiap jenis aset di pasar bebas dalam kondisi

perusahaannormal.Meskipun pada prakteknya metode pengukuran yang

masih banyakdigunakan adalahhistorical cost, namun dengan mulai

diadopsinya IFRS di Indonesia, maka pengukuran yang sesuai standar

adalah dengan menggunakan metodefair value.Dengan demikian, untuk

pencatatan beban sebagai akibat dari depresiasi(penyusutan), nilai yang

dicantumkan dalam beban adalah nilai selisih antara nilai wajar dengan nilai

13
14

buku (apabila nilai wajar lebih kecil dari nilaibukunya).Salah satu cara

untuk mengukur beban adalah dengan mengalokasikanbeban-bebantersebut

ke periode-periode dimana beban tersebut dinikmati. Hal inibiasanya

disebut dengan matching concept, Konsep tersebut memperlakukan

kosdengan mengalokasikan kos yang sudah kadaluarsa (beban) ke periode-

periodedimana beban tersebut terjadi. Namun,pengalokasian tersebut hanya

bersifatestimasi. Dalam akuntansi, pencocokan antara beban dan pendapatan

merupakanfungsi utama, namun hal tersebut tetap saja sulit untuk dilakukan

karenaberhubungandengan penilaian akuntan tersebut.Akuntan

harusmengidentifikasimana aset yangtelah digunakan (kadaluarsa) dan

jumlah yangharus ditulissebagai tandingan pendapatan pada periode

tersebut.

F. Penyajian Beban

Laporan labarugi dapat disusun dalam dua langkah:

1. Single Step(langkah tunggal)

Penyajiannya semua pendapatan dijumlahkan menjadi satu dikurangi

seluruh beban yang ada pada periode laporan.

2. Multi Step(langkah ganda)

Penyajiannya ialah pendapatan dikelompokkan menjadi pendapatan usaha

dan pendapatan di luar usaha.Sedangkan beban dikelompokkan menjadi

beban usaha dan di luar usaha. Penyajian dengan langkah ganda akan dapat

dilihat laba yang diperoleh dari usaha dan laba yang diperoleh dari luar

usaha.

14
15

G. Pengungkapan Beban

Pengungkapan beban terdiri dari :

1. Di dalam neraca, jumlah kewajiban yang timbul sebagai akibat perbedaan

antara jumlah pendanaan yang telah dilakukan oleh pemberi kerja sejak

pembentuk program dengan jumlah yang diakui sebagai beban selama periode

yang sama.

2. Di dalam laporan laba rugi, jumlah diakui sebagai beban selama periode yang

bersangkutan.

15
16

BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

Pada umumnya beban (expense) sering dijadikan sinonim kata dengan biaya

(cost), tetapi menurut Soemarso (2013:29), beban dapat didefinisikan sebagai aliran

keluar terukur dari barang atau jasa, yang kemudian ditandingkan dengan pendapatan

untuk menentukan laba atau sebagai penurunan dalam aset bersih sebagai akibat dari

penggunaan jasa ekonomis dalam menciptakan pendapatan atau pengenaan pajak oleh

badan pemerintah.

Beban diakui dalam laporan laba rugi jika penurunan manfaat ekonomi masa

depan yang berkaitan dengan penurunan aset atau peningkatan kewajiban telah terjadi

dan dapat diakui andal. Pengukuran suatu beban merupakan proses penetapan jumlah

uang, Beban dapat diukur atas dasar jumlah rupiah yang digunakan untuk penilaian

aset dan hutang. Penyajian beban dalam laporan keuangan perusahaan selalu

ditandingkan dengan pendapatan. Konsep beban dalam akuntansi selalu mengarah pada

pendapatan, karena hasil pendapatan bersih yang diterima oleh perusahaan tergantung

berapa banyak beban yang dikeluarkan. Beberapa ahli telah menyatakan beban itu

penurunan manfaat ekonomis suatu perusahaan karena ada sesuatu yang dikorbankan

dalam mendapatkan aset tersebut yang disebut dengan beban. Setiap perusahaan

memiliki beban yang berbeda tergantung apa yang dibutuhkannya, tetapi dari segi

kolektif, beban-beban dalam setiap perusahaan itu sama.

16
17

Oleh karena itu, konsep beban dalam akuntansi itu penting karena menyangkut

laba ruginya suatu perusahaan dalam menjalankan kegiatan atau usahanya. Semakin

tinggi beban semakin rendah laba yang diterima, sebaliknya semakin rendah beban

yang dikeluarkan oleh perusahaan semakin tinggi laba yang diterima.

17
18

DAFTAR PUSTAKA

Carter Usry. 2006, Akuntansi Biaya, Edisi ke tigabelas, Salemba Empat, Jakarta

Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan, Revisi 2007, Dewan Standar

Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia, Jakarta

Soemarso. 2013, Akuntansi Suatu Pengantar. Edisi Revisi, PT Salemba Empat, Jakarta.

Suwardjono. 2014. Teori Akuntansi. Yogyakarta, BPFE Yogyakarta.

Hery. 2013. Teori Akuntansi. Lembaga FE-UI. Jakarta.

Reeve, Jusuf, Warren, Duchar. K. 2013. Pengertian Pendapatan dan Beban. Principles of

Accounting. Volume 1. Salemba Empat. Jakarta.

Riahi, Ahmed dan Belkaoui. 2011. Teori Akuntansi. Buku 1. Edisi 5. Salemba Empat.

Jakarta.

18

Anda mungkin juga menyukai