Anda di halaman 1dari 35

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kelapa sawit (Elaeis guinneensis Jacq.) merupakan tanaman perkebunan di
Indonesia yang memiliki prospek cukup baik. Perkebunan kelapa sawit semula
berkembang di daerah Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam. Namun,
sekarang telah berkembang pesat ke bagai daerah seperti Riau, Jambi, Sumatera
Selatan, Sumatera barat, Bengkulu, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah,
Kalimantan Selatan, Bangka Belitung, Sulawesi Selatan, Maluku dan Papua
(Sunarko, 2007).
Kelapa sawit memiliki nilai ekonomis tinggi dan memegang peranan sangat
penting bagi Indonesia sebagai komoditi andalan ekspor maupun komoditi yang dapat
meningkatkan pendapatan perkebunan Indonesia. Kelapa sawit di Indonesia
merupakan sumber devisa negara yang menempati urutan ketiga dari sektor
perkebunan setelah karet dan kopi. Komoditas ini perlu ditingkatkan
pengembangannya dalam rangka mengurangi ketergantungan pada sektor minyak dan
gas (Pardamean, 2017).
Pada tahun 2017 perkebunan kelapa sawit di Indonesia mempunyai luas areal
mencapai 12.303 juta ha dengan produksi CPO sebesar 35.350 juta ton. Salah satu
provinsi yang memiliki luas areal perkebunan kelapa sawit terbesar di Indonesia
adalah Provinsi Sumatra Barat. Pada tahun 2017 Provinsi Sumatra Barat memiliki
luas lahan kelapa sawit seluas 413.1 ribu ha dengan produksi CPO sebesar 1.062 juta
ton (Ditjen Perkebunan, 2017).
Provinsi Jambi merupakan salah satu sentra produksi kelapa sawit di Indonesia.
Perkembangan kelapa sawit di Provinsi Jambi cukup baik. Tetapi produksi dan
produktivitas kelapa sawit Provinsi Jambi mengalami fluktuasi. Produktivitas kelapa
sawit Provinsi Jambi mengalami penurunan pada tahun 2016 dan 2017. Rata-rata
produktivitas kelapa sawit Provinsi Jambi masih tergolong rendah (3,190 kg/ha)
dibandingkan dengan rata-rata produktivitas nasional (3,579 kg/ha).

1
Kemampuan lahan dalam penyediaan unsur hara secara terus-menerus bagi
pertumbuhan dan perkembangan kelapa sawit yang berumur panjang sangatlah
terbatas. Keterbatasan daya dukung lahan dalam penyedian unsur hara harus
diimbangi dengan penambahan unsur hara. Salah satu cara untuk penyedian unsur
hara yaitu melalui pemupukan (Pahan, 2012).
Pemupukan adalah penambahan unsur hara ke dalam tanah sebagai sumber
nutrisi tanaman. Pemupukan merupakan faktor yang sangat penting untuk
meningkatkan produktivitas dan kualitas produksi yang dihasilkan. Tujuan
pemupukan pada tanaman kelapa sawit menghasilkan untuk menyediakan kebutuah
hara bagi tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh baik dan mampu berproduksi
maksimal dengan menghasilakn minyak berkualitas baik (Sutedjo, 2010).
Manajemen (pengorganisasian) pemupukan adalah pengelolaan pemberian
unsur hara ke tanaman secara efektif untuk mencapai target yang telah ditentukan.
Manajemen pemupukan yang dilaksanakan meliputi; perencanaan pemupukan yang
mencangkup jenis pupuk yang akan digunakan, dosis pupuk yang akan diaplikasikan,
waktu pelaksanaan pemupukan dan jumlah tenaga kerja yang diperlukan. Pemupukan
yang dilaksanakan harus sesuai dengan berbagai aspek, yaitu tepat jenis, tepat dosis,
tepat cara dan tepat waktu (Pahan, 2012).
Berdasarkan uraian diatas, dalam kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) maka
penulis tertarik untuk mempelajari ‘’Teknik Pemupukan Kelapa Sawit (Elaeis
guinneensis Jacq.) di PT. Ken Brothers Mulia Sejahtera Tanjung Jabung
Timur, Jambi ”.

1.2 Tujuan
Tujuan umum dari kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini adalah (1)
Mampu melihat perbandingan antara teori yang diterima di jenjang akademik dengan
praktek yang dilakukan di lapangan, (2) Mempererat dan meningkatkan hubungan
kerjasama antara perguruan tinggi dan perusahaan, (3) meningkatkan kemampuan
teknis lapangan dan manajerial dalam melaksanakan kegiatan.

2
Tujuan khusus Mengamati dan mempelajari Teknik Pemupukan Kelapa Sawit
(Elaeis guinneensis Jacq.) di PT. Ken Brothers Mulia Sejahtera.

3
II. METODE PELAKSANAAN

2.1 Waktu dan Tempat


Pelaksanaan kegiatan kuliah kerja lapangan akan dilaksanakan selama 8
minggu (Mulai dari 23 Agustus sampai 23 Oktober 2019) di kebun PT. Ken Brothers
Mulia Sejahtera, Desa Sungai Toman, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi.

2.2 Ruang Lingkup Kegiatan


Ruang lingkup kegiatan kuliah kerja lapangan adalah mempelajari dan
mengikuti segala bentuk kegiatan praktek atau pekerjaan yang dilakukan oleh PT.
Ken Brothers Mulia Sejahtera. Kegiatan secara khusus, melihat dan mengumpulkan
informasi yang dilakukan oleh PT. Ken Brothers Mulia Sejahtera yang berkaitan
dengan teknik pemupukan kelapa sawit.

2.3 Metode Pengumpulan Data


Pelaksanaan kegiatan kuliah kerja lapangan yang meliputi kegiatan praktek
dilapangan disesuaikan dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh PT Ken Brothers
Mulia Sejahtera sebagai tempat pelaksanaan kegiatan kuliah kerja lapangan.
Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah pengumpulan data primer dan
data sekunder.
Data Primer (secara langsung) :
1. Observasi
Metode observasi dilakukan dengan melihat dan mengamati secara langsung
untuk mengetahui cara kerja dan ikut serta dalam kegiatan yang ada di kebun.
2. Diskusi
Melakukan diskusi atau tanya jawab mengenai hal-hal yang berkaitan atau
berhubungan dengan kegiatan kuliah kerja lapangan dengan mandor dan pekerja
di kebun.
3. Dokumentasi

4
Metode ini dilakukan dengan pengambilan gambar di setiap kegiatan yang ada
di lapangan yang berkaitan dengan dengan teknik pemupukan tanaman di kebun.
Data Sekunder ( Secara tidak langsung)
Dilakukan dengan cara menelaah atau studi pustaka dan membandingkan dari
berbagai sumber dan arsip termasuk data yang diberikan oleh pihak perusahaan yang
mengenai teknik pemupukan kelapa sawit.

5
III. KEADAAN PERUSAHAAN

3.1. Gambaran Umum Perusahaan

3.1.1. Letak Wilayah


PT. Ken Brothers Mulia Sejahtera (KBMS) merupakan perusahaan yang
bergerak dalam bidang perkebunan kelapa sawit. Perusahaan ini berlokas di Desa
Sungai Toman, Kecamatan Mendahara Ulu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur,
Provinsi Jambi. Secara geografis PT. KBMS berada di sekitar 10-150 LS dan 1030-570
BT.
Sementara secara administratif PT. Ken Brothers Mulia Sejahtera hampir
diseluruh keliling kebun dibatasi dengan sungai dan berada pada batas-batas tertentu.
Arah Utara berbatasan dengan desa simpang tuan, arah Selatan dan arah Timur
berbatasan dengan pemukiman masyarakat, arah Barat berbatasan dengan PT. Bukit
Barisan Indah Prima (BBIP). PT. KBMS memiliki dua kebun yaitu, Kebun Blok
Kangkung (BKK) yang memiliki luas kebun lebih kurang 100 Ha, dan Kebun Bukit
Naga (BKN) yang memiliki luas kebun lebih kurang 430 Ha dengan keadaan tanah
datar-bergelombang dengan kemiringan 0-30%.
3.1.2. Visi dan Misi
1. Visi Perusahaan
Mewujudkan perkebunan sawit yang efisien, produktif dan berkelanjutan.
2. Misi Perusahaan
 Menjadi perusahhan agribisnis yang efisien dengan menajemen dan tean
yang terbaik dan termotivasi.
 Membangun perkebunan sawit yang terintregasi dengan peternakan sapi
dan dikelola secara professional.
 Melakukan pembunganan perkebunan kelapa sawit secara berkelanjutan.

3.1.3. Struktur Organisasi Perusahaan

6
Organisasi pada PT. Ken Brothers Mulia Sejahtera terdiri dari Owner, Estate
Manager, Audit, Head Asissten, Administrasi, Mandor 1, dan Mandor Lapangan.
(Lampiran 2).
Tugas dan fungsi dari struktur organisasi yaitu:
1. Owner merupakan pemilik perusahaan PT. Ken Brothers Mulia Sejahtera.
2. Estate Manager bertanggung jawab atas pelaksanaan seluruh aktivitas estate yang
dipimpin oleh head asissten. Menjabarkan dan melaksanakan langkah-langkah
kebijakan direksi dalam bidang budidaya tanaman, teknik, administrasi, pelaporan,
tenaga kerja dan agraria. Estate manager juga bertanggung jawab atas semua aset
yang ada di kebun termasuk Sumber Daya Manusia (SDM), merencanakan
saran/usulan kepada direksi untuk efektifitas dan efisiensi pengolahan organisasi.
3. Audit bertugas untuk mengevaluasi efektifitas dan efisiensi operaosi perusahaan
atau unit tertentu sesuai cakupan audit.
4. Head Asissten bertugas dan bertanggung jawab membantu Estate Manager dalam
menyusun anggaran tahunan, memeriksa dan mensuspensi seluruh kegiatan yang
berlangsung disetiap unit kerja dan memberi petunjuk dan mengawasi kegiatan
operasional karyawan divisi. Head Asissten bekerja berdasarkan bidang produksi,
membuat Rencana Kerja Tahunan (RKT), Rencana Kerja Bulanan (RKB),
Rencana Kerja Harian (RKH), mengevaluasi lapangan kerja, mengajukan
permintaan alat atau barang yang dibutuhkan divisi, menerima tugas-tugas khusus
dan pelimpahan wewenang dari estate manager.
5. Administrasi bertugas dan bertanggung jawab terhadap administrasi
kesekretariatan, administrasi penjualan TBS, dan produk lainnya yang
berhubungan dengan perkebunan kelapa sawit.
6. Mandor 1 bertugas membantu Head Asissten dalam melakukan supervise ke
lapangan dan memberi arahan tentang pekerjaan yang akan dikerjakan mandor
lapangan. Mandor 1 sebagai perwakilan Head Asissten di lapangan untuk
mengawasi seluruh kegiatan di divisi yang bersangkutan.

7
7. Mandor Lapangan bertangggung jawab kepada mandor 1 dan Head Asissten
dalam pelaksanaan kegiatan divisi bersangkutan. Mandor lapangan terdiri dari
mandor perawatan, mandor panen, dan mandor pengembangan.

3.2. Kegiatan Perusahaan yang Diikuti Selama KKL

3.2.1. Master (Apel Pagi)


Seluruh kegiatan PT. Ken Brothers Mulia Sejahtera dimulai dengan master.
Master merupakan kegiatan briefing (diskusi singkat) yang dilakukan pada pukul
06.00 WIB. Kegiatan ini dipimpin oleh Asisten Kebun, mandor I, dan mandor
lapangan. Dalam kegiatan master asisten kebun kemudian memberikan pengarahan
tentang kegiatan yang akan dilakukan pada hari itu dan mengevaluasi hasil kerja dan
menyampaikan masalah-masalah yang dihadapi serta mendapatkan solusi
permasalahan.

Gambar 1. Kegiatan apel pagi. (Sumber: Pengamatan di Lapangan)

3.2.2 Pemanenen
Panen merupakan serangkaian kegiatan mulai dari pemotongan Tandan Buah
Segar (TBS) yang sesuai dengan kriteria panen, kemudian mengumpulkan dan
mengutip brondolan serta menyusun TBS dan brondolan di tempat pengumpulan
hasil (TPH).
a. Organisasi Panen
Pada kegiatan panen, pemanen bertugas memotong tandan buah segar (TBS)
dari pohon dan mengumpulkannya ke tempat pengumpulan hasil (TPH) dan

8
menyusun pelepah yang dipotong ke pasar mati sedangkan pembrondol bertugas
mengutip semua brondolan dari dalam blok dan mengumpulkannya ke TPH.
b. Persiapan Panen
Kegiatan persiapan panen meliputi pembenahan sarana dan prasarana seperti
TPH, pasar pikul, dan alat-alat panen.
c. Sistem Ancak dan Rotasi Panen
Sistem panen yang diterapkan adalah sistem ancak tetap. Rotasi panen adalah
waktu yang diperlukan antara panen terakhir dengan panen berikutnya pada tempat
yang sama. Rotasi yang diterapkan di perkebunan yaitu 6/7, artinya dalam satu
minggu terdapat 6 hari panen dan kembali lagi ke areal panen yang sama dihari ke-8.
d. Pelaksanaan Panen
Menentukan blok yang akan dipanen dilakukan oleh mandor panen. Buah yang
dipanen adalah buah yang telah masak (ditandai dengan minimal 1 brondolan segar
jatuh di piringan). Pemanenan dilakukan dengan memotong pelepah dan tangkai dari
buah kelapa sawit. Setelah buah kelapa sawit dipanen, pemamen langsung
mengangkut TBS dari pasar pikul ke TPH dengan menggunakan gerobak (angkong).
Pemotongan pelepah daun pada waktu panen harus dihindari pemotongan pelepah
yang berlebih. Brondolan tidak tertinggal di piringan.

(a) (b) (c)

Gambar 2. (a) Pemanenan, (b) Tandan buah segar yang telah dipanen, (c)
Pengangkutan TBS ke tempat pengumpulan hasil. (Sumber: Pengamatan di
Lapangan).

9
3.2.3 Pengendalian Lalang
Pengendalian lalang adalah salah satu pekerjaan yang dilakukan untuk
pengendalian lalang dengan cara menyemprotkan herbisida. Herbisida yang
digunakan yaitu sistemik dengan bahan aktif Isoprofilamine Gliphospat, herbisida
kontak dengan bahan aktif Parakuat. Dikatakan pengendalian dengan menggunakan
herbisida sistemik karena bahan aktif tersebut menyerang gulma melalui akar
sehingga menyebar ke seluruh bagian jaringan tanaman.

Gambar 3. Pengendalian gulma menggunakan herbisida. . (Sumber: Pengamatan di


Lapangan)

3.2.4 Pengendalian Hama dan Penyakit


Hama yang sering menyerang tanaman kelapa sawit adalah babi, tikus,
serangga dan ulat. Dalam S.O.P perusahaan untuk pengendalian hama babi yaitu
dengan memasang pagar individu pada masing-masing tanaman kelapa sawit setelah
penanaman dilakukan dan meletakkan rambut manusia ke salah satu pelepah tanaman
kelapa sawit. untuk hama tikus maka dilakukan pencegahan dengan memasang
rodentisida pada areal yang diserang sesuai dengan dosis rekomendasi. Umtuk
serangan yang disebabkan serangga dan ulat maka dilakukan dengan penyemprotan
pestisida sesuai dengan rekomendasi pada tanaman kelapa sawit.
Untuk pengendalian lebih diutamakan dengan metode pengendalian secara
biologi, manual dan kultur tehnis dari pada menggunakan bahan kimia. Tindakan
pengendalian hama secara biologis yaitu dengan menggunakan virus yang berasal

10
dari hama itu sendiri yang terserang penyakit. Tindakan pengendalian secara manual
dengan cara mengutip dan mengumpulkan ulat dan kepompong untuk mencegah
terjadinya ledakan populasi ulat api. Pengendalian secara kultur tehnis dilakukan
dengan menenam tanaman inang dari musuh alami ulat api yaitu bunga pukul delapan
(tunera subulata).

(a) (b) (c)


Gambar 4. (a) Kepompong ulat api, (b) Ulat api, (c) Bunga pukul delapan. (Sumber:
Pengamatan di Lapangan).

3.2.5 Buka piringan


Buka piringan merupakan pekerjaan untuk membersihkan semua gulma yang
berada disekitar tanaman kelapa sawit dengan cara manual yaitu menggaruk gulma
menggunakan cangkul. Pembukaan piringan dilakukan dengan diameter 1-2 m dari
tanaman kelapa sawit secara melingkar.

Gambar 5. Buka piringan. (Sumber: Pengamatan di Lapangan).

11
3.2.6 Pemupukan

Pemupukan merupakan usaha/ kegiatan peberian pupuk tiap-tiap pokok pada


tanaman kelapa sawit yang bertujuan untuk menyediakan unsur hara bagi tanaman
kelapa sawit, dalam hal ini pupuk yang dimaksud adalah jenis pupuk anorganik
(pupuk majemuk dan kieserite/ super dolomit) dan pupuk organik (tandan kosong).
a. Pemupukan Anorganik
Sebelum melakakukan pemupukan terlebih dahulu asisten lapangan
menentukan blok yang akan dipupuk dan jumlah pokok yang akan dipupuk.
Selanjutnya membuat surat permintaan barang gudang yang disetujui dan diketahui
oleh atasan. Bagian gudang/ logistik mengeluarkan barang (pupuk) berdasarkan
permintaan yang langsung dimuat kedalam kendaraan pengangkutan pupuk lalu
didistribusikan ke lapangan dengan meletakkan di pinggir jalan blok tanaman yang
akan dipupuk.
Untuk pengaplikasiannya tenaga kerja pemupukan harus membuka tali karung pupuk
yang digunakan untuk dituang ke dalam ember. Dosis pupuk untuk Tanaman Belum
Menghasilkan (TBM) sesuai rekomendasi pemupukan kelapa sawit dan untuk
Tanaman Menghasilakan (TM) sesuai rekomendasi dari analisa daun dan tanah.
Pengaplikasian pupuk di TBM dengan cara ditabur dipiringan tanaman kelapa
sawit dengan radius 1-2 m. Untuk di TM dipiringan terluar dan di luar piringan atau
di jalur gawangan mati untuk kondisi areal yang bersih dari gulma. Aplikasi
pemupukan dilakukan dua kali dalam setahun yaitu pada awal musim hujan dan
diakhir musim hujan di mulai pada pagi hari pukul 07.00-11.00 wib. Pupuk yang di
aplikasikan di PT. KBMS adalah pupuk majemuk (NPK) dan pupuk Kiserite/ Super
Dolomit.

12
(a) (b) (c)

(d) (e) (f) (g)

Gambar 6. (a) Memuat pupuk ke kendaraan, (b) Pupuk majemuk NPK, (c) Kieserite,
(d) Dolomit, (e) Penaburan pupuk dolomit, (f) Ember dan dop buat pemupukan, (g)
Penaburan pupuk NPK. (Sumber: Pengamatan di Lapangan).
b. Pemupukan Organik
Pupuk organik merupakan pupuk dari sisa-sisa tanaman dan atau hasil dari
industi pengolahan sawit. Sisa industri kelapa sawit yang digunakan sebagai pupuk
organik untuk tanaman kelapa sawit di PT. KBMS adalah tandan kosong kelapa sawit
dengan dosis 40 to/ha. Disusun diantara tanaman kelapa sawit dengan luas 3m x 3m/
titik.

13
Gambar 7. Susunan tandan kosong kelapa sawit sebagai pupuk organik. (Sumber:
Pengamatan di Lapangan).

3.2.7 Stacking
Stacking adalah membuka areal hutan dengan menggunakan alat berat dan
menyusun potongan-potongan kayu sesuai pancang rumpukan yang telah ditentukan.
Kegiatan stacking disini menggunakan exacapator tipe hitaci SKN-02. Dalam
menentukan titik rumpukan hal pertama yang harus diketahui adalah menentukan
arah rumpukan sesuai dengan arah penanaman dengan menggunakan kompas yaitu
U-S (180/0°) dan T-B (90/270°) setelah itu baru menancapkan kayu sebagai tanda
rumpukan.

(a) (b)
Gambar 8. (a) Pemancangan, (b) Hasil stacking. (Sumber: Pengamatan di Lapangan).

3.2.8 Normalisasi Sungai dan Cuci Parit


Normalisasi sungai adalah kegiatan merubah aliran sungai dari aliran yang
tidak beraturan menjadi aliran yang beraturan dengan cara membersihkan dan
melebarkan sungai dengan menggunakan alat berat (excavator ). Cuci parit adalah
kegiatan Pencucian parit meliputi pembuangan rumput/sampah/gulma dan sebagainya
yang berada di permukaan air. Pendalaman parit dilakukan dengan pengorekan tanah
dan Lumpur. Tanah-tanah yang berada di atas dan di bawah permukaan air dibuang
ke luar parit di luar kaki lima (>2,5 m dari bibir parit).

14
Gambar 9. Kegiatan normalisasi sungai dan parit. (Sumber: Pengamatan di
Lapangan).

3.2.9 Pembuatan Titi Panen


Titi panen (harvest bridge) adalah jembatan sebagai akses mengantar buah
kelapa sawit setelah panen dari sekitar pohon menuju area pengumpulan dan akses
penyebrangan kegiatan pemupukan. Titi panen diperlukan karena umumnya setiap
blok terletak ditepi jalan sehingga pekerja harus menyeberangi saluran pengairan
yang mengelilingi setiap blok. Titi panen yang dibuat kali ini bersifat sementara
dengan memanfaatkan sisa-sisa bahan bangunan (papan) sampai menunggu titi panen
yang terbuat dari beton dengan ketebalan 10 cm dan panjang disesuaikan dengan
lebar parit sebagai titi panen permanen.

Gambar 10. Pembuatan titi panen sementara. (Sumber: Pengamatan di Lapangan).

3.2.10 Sensus Pokok


Sensus Pokok adalah Mengumpulkan data pohon tiap blok, yaitu terdiri dari
tanaman mati, sisipan, titik tanam yang kosong, tanaman abnormal. Jumlah pohon
hidup didata secara akurat dan diperbahaarui setiap tahunnya.

15
3.2.11 Pemasangan Pipa Air Pembuangan
Pipa air merupakan akses keluarnya air yang berlebihan setelah turun hujan
menuju sungai agar lahan tidak tergenang. Pipa air pembuangan dipasasng di dalam
parit dengan sisi pintu klep yang terbuat dari stainless mengarah ke sungai sedangkan
sisi lain yang terbuka mengarah ke lahan perkebunan.

Gambar 11 . pemasangan pintu klep pipa air pembuangan dan peletakan

16
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Teknik Pemupukan Tanaman Kelapa Sawit


Peningkatan produksi kelapa sawit sangat dipengaruhi oleh pemeliharaan
tanaman kelapa sawit yang baik, salah satunya adalah pemupukan. Pemupukan
merupakan kunci kesuburan tanaman karena berisi satu atau lebih unsur untuk
menggantikan atau menambah unsur yang telah diserap oleh tanaman kelapa sawit.
Dalam pelaksanaan pemupukan perlu dilaksanakan secara baik karena pemupukan
merupakan kegiatan pemeliharaan tanaman yang paling banyak mengeluarkan biaya
dari pemeliharaan kelapa sawit lainnya. Kebutuhan unsur hara bagi tanaman kelapa
sawit pada setiap fase pertumbuhannya berbeda-beda. Jumlah unsur hara yang
ditambahkan melalui pupuk harus memperhitungkan kehilangan hara akibat
pencucian, penguapan, penambahan hara dari tanaman penutup tanah (cover crop),
hara yang terikat dari udara, serta potensi fisik dan kimia tanah. Potensi fisik dan
kimia tanah Indonesia sangat bervariasi. Karena itu, komposisi kebutuhan hara di
setiap tempat berbeda-beda.
Pemupukan di PT. Ken Brothers Mulia Sejahtera dilakukan untuk memenuhi
kebutuhan hara tanaman guna menunjang pertumbuhan untuk mencapai produksi
yang optimal, serta ketahanan terhadap hama dan penyakit. Untuk meningkatkan
produksi maksimal kelapa sawit, maka dalam pelaksanaan pemupukan harus
mengacu pada 4T : tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu dan tepat cara.

4.2 Rekomendasi Pemupukan


Efektivitas pemupukan berhubungan dengan presentase hara yang diserap
tanaman. pemupukan dikatakan efektif bila banyaknya unsur harayang diserap akar
tanaman. sedangkan efisiensi pemupukan berhubungan dengan antara biaya dan
tingkat produksi yang capai. Efisiensi berkaitan dengan tindakan rekomendasi
pemupukan dan manajemen operasiolnal.
1. Pengambilan Sampel Daun (Leaf Sampling Unit)

17
Kandungan hara di dalam jaringan tanaman memberikan informasi tentang
status kebutuhan hara tanaman saat melakukan pengambilan sampel. LSU bertujuan
untuk memperoleh kandungan unsur hara melalui laboratorium, mengingat adanya
hubungan antara kandungan hara dengan fotosintesa di daun yang berpengaruh
terhadap pertumbuhan tanaman kelapa sawit. Salah satu bagian tanaman yang dapat
dianalisis yaitu daun. Sebab, daun merupakan tempat berfotosintesis dan
menghasilkan produk tanaman.
Syarat pohon contoh LSU adalah tidak dipinggir jalan, sungai, parit dan
perumahan, bukan pohon sisipan, normal dan tidak terserang OPT. Pelaksanaan
analisa daun (LSU) dilakukan setahun sekali, 2-3 bulan pemupukan terakhir pada
tahun berjalan. Satu unit sampel daun diambil dari sekitar 30 – 150 pohon.
Pengambilan sampel daun sebaiknya 07.00 – 11.00. Sementara, bila terjadi hujan
yang curah hujannya lebih dari 20 mm, pengambilan sampel daun ditunda selama 36
jam.
Pengambilan sampel daun diperoleh dari pelepah ke-17. Patokan Pelepah ke-17
yaitu dari pelepah ke-1 ketika pelepah ke-17 tepat berada 2 spiral di bawah pelepah
ke-1. Pelepah daun ke-17 dianggap sebagai pelepah kandungan unsur haranya paling
seimbang dibandingkan pelepah lain. Hal tersebut sesuia dengan pendapat Chapman
dan Gray (1994) dalam Pahan (2012) bahwa pada tanaman menghasilkan (TM),
sampel daun diambil dari pelepah ke-17. Pelepah ke-17 merupakan daun yang paling
peka karena menunjukan perbedaan yang besar dalam tinggkat hara N,P dan K.
Selain itu, status hara pada daun ke-17 mempunyai korelasi terhadap produksi
tanaman yang lebih baik bila dibandingkan daun-daun lain yang lebihh muda.
2. Defisiensi Tanaman
Selaian analisis daun, defisiensi unsur hara dapa dilihat dari visual daun seperti:
a. Unsur Nitrogen
Nitrogen bagi tanaman berperan penting pada fase vegetatif, berperan pada
pembentukan protein, asam amino, krolofil dan proses fotosintersis. Defisiensi
nitrogen dapat dilihat berdasarkan gejala yang timbul seperti daun tua hingga muda
berwarna kuning terang danpucat, lebar dan panjang daun berkurang serta lidi dan

18
pelepah menguning. Hal tersebut disebabkan ketersedian N di dalam tanah rendah
dan bahan organik yang dapat terurai cepat mengalami pelapukan. Sedangkan
kelebihan nitrogen dapat dilihat berdasarkan gejalan seperti buah lambar masak,
pelepah muda sengkleh dan mudah terserang hama penyakit.
b. Unsur Phospat
Phospat berperan dalam perkembangan akar tanaman, memperkuat batang,
berperan dalam pembentukan bunga, buah dan biji, berperan dalam pematangan buah
dan meningkatkan ketahanan penyakit. Gejala yang ditimbulkan dari defisiensi
phospat yaitu pertumbuhan tanaman lambat, batang tanaman seperti botol dan gejala
lain dapat dilihat pada tanaman sekitar seperti daun alang-alang berwarna ungu.
Terjadinya defisiensi phospat disebabkan jumlah phospat di tanah sedikit dan pupuk
phospat yang diberikan tidak dapat diambil tanaman, sebab fiksasi phospat dalam
tanah diberikan bentuk tiak tersedia (diikat Al) sehingga pupuk phospat yang
diberikan tidak dimanfaatkan tanaman. Dalam hal ini, tanah dapat diberikan pupuk
super Dolomite. Pupuk Super Dolomite diberikan untuk mengikat Al di tanah
sehingga phospat dalam tanah dapat diserap tanaman.
c. Unsur Kalium
Kalium dibutuhkan tanaman untuk membantu pembukaan stomata, berperan
dalam pembentukan minyak, translokasi karbohidrat dan produk fotosintesis serta
mempertinggi daya tahan tanaman terhadap kekeringan. Gejala defisiensi kalium
yang ditimbulkan yaitu orange spotting yakni bercak warna orange dan tembus
cahaya, orange blotch yakni warna orange diantara rachis dengan pinggiran anak
daun, white strip yakni daun muda terlihat garis putih memanjang, mid crown
yellowing yakni tajuk tengah berwarna kekuningan dan pelepah bawah mudah kering.
Defisiensi kalium disebabkan karena tanah padat sehingga kandungan kalium rendah,
pada tanah gambut disebabkan tanah bereaksi sangat masam dan defisiensi pada
tanah berpasir disebabkan oleh batuan granit atau endapan pasir serta tanah bekas
ladang.
d. Unsur Magnesium

19
Magnesium pada tanaman berfungsi dalam pembentukan krolofil, berperan
sebagai aktivator dan respirasi tanaman. Gejala yang ditimbulkan yakni daun berwana
orange merata dari daun tua sehingga pembentukan klorofil terganggu dan
berdampak terhadap proses fotosintesis dan magnesium bersifat mobile pada daun
tua. Penyebab terjadinya defisiensi magnesium yaitu magnesium di tanah rendah dan
pengaruh antagonis unsur hara (N, K dan Ca).
e. Unsur Kalsium
Kalsium pada tanaman berperan dalam penyusunan dinding sel tanaman yang
terdapat pada pelepah, berperan dalam pembelahan sel dan ikut serta dalam
menaikkan pH tanah. Tanaman yang berdifisiensi hara kalsium memiliki gejala tunas
dan perakaran tidak berkembang dan gejala lain yang ditimbulkan dapat
menggunakan kriteria kadar unsur hara kalsium di daun.
f. Unsur Boron
Boron merupakan unsur hara mikro yang dibutuhkan tanaman. boron berfungsi
sebagai sintesa karbohidrat dan gula, berperan dalam metabolisme asam nukleat dan
protein serta membantu dalam aktivitas meristematik yang berhubungan dengan
komponen jaringan tumbuhan. Gejala yang ditimbulkan akibat defisiensi borat yaitu
daun mengkerut, ujung daun membentuk mata pancing, dan pemendekan ukuran
daun muda yaitu rata bagian atas dan ujung pelepah seperti terputus. Defisiensi borat
disebabkan karena pengaplikasian pupuk tidak tepa dosis, cara dan waktu aplikasi
serta tidak adanya keseimbangan kandungan hara makro tanaman (tingginya unsur
N).
4.3 Konsep Empat Tepat
Pemupukan yang efektif dan efesien selalu mengacu pada konsep empat tepat
(4T) yaitu tepat jenis, tepat dosis, tepat cara dan tepat waktu aplikasi. Untuk
memperbaiki kondisi tanaman dan meningkatkan produksi dilakukan penambahan
bahan seperti limbah cair pabrik kelapa sawit, janjang kosong dan decanter solid.
1. Jenis Pupuk
Dalam pemilihan jenis pupuk dipengaruhi oleh pertimbangan teknis dan
ekonomis. Pengetahuan teknis tentang sifat pupuk dan sifat tanah sangat menentukan

20
efisiensi pemupukan. Usaha yang dilakukan untuk mencapai ketepatan jenis pupuk
memiliki beberapa pertimbangan, antara lain umur tanaman, gejala defisiensi hara,
kondisi lahan dan harga pupuk.
Sifat pupuk yang penting diketahui adalah kandungan unsur hara utama pupuk
tersebut, kandungan unsur hara tambahan, reaksi kimia terhadap pengaruh iklim.
Selain itu, sifat fisik tanah juga dapat perlu diketahui. Secara teknis, strategi
menentukan jenis pupuk sebaiknya dilakukan dengan cara berikut :
 Memilih kombinasi jenis pupuk berdasarkan komposisi unsur hara utama dan
unsur hara tambahan. Sebagai contoh, kombinasi urea-kieserit atau ZA-dolomit
akan lebih baik dari pada kombinasi urea-dolomit.
 Melilih jenis berdasarakan sifat kelarutannya. Pada fase tanaman muda,
penggunaan pupuk yang lambat larut (seperti ZA, RP dan dolomit) akan lebih
efektif dan efesien dari pada pupuk yanag cepat larut seperti urea, TSP, dan
kieserite. Pupuk yang cepat larut lebh cocok untuk tanaman dewasa.
 Penggunaan RP dan dolomit yang cukup banyakmengandung kalsium (Ca) akan
lebih tepat bila digunakan untuk tanah gambut yang bereaksi masam. Dengan
pemberian pupuk tersebut, kemasaman tanah dapat dikurangi.
Untuk memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman PT. KBMS menggunakan
pupuk majemuk Phonska pada semua umur tanaman dan semua keadaan tanah.
Unsur hara yang terkandung dalam pupuk majemuk phonska adalah N : 15%, P :
15%, K : 15%. Salah satu alasan penggunaan pupuk majemuk yaitu dapat
meminamalisir kebutuhan biaya dalam pemupukan meliputi biaya pengadaan pupuk,
biaya transportasi dan biaya tenaga kerja. Selain menggunakan pupuk majemuk NPK
Phonska, PT. KBMS juga menggunakan pupuk dolomit dengan kandungan MgO :
18-22%, CaO > 30%. Pupuk dolomit adalah salah satu contoh pupuk makro, yaitu
pupuk yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar.
2. Dosis Pupuk
Agar tanaman dapat dengan baik dan menghasilkan produksi yang tinggi,
diperlukan unsur hara yang cukup. Untuk hara utama yang dibutuhkan tanaman
adalah Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Dosis pupuk ditentukan

21
berdasarkan pertimbangan hasil analisis daun, umur tanaman, kondisi tanaman, iklim
serta efisiensi biaya. Salah satu cara untuk mengurangi jumlah biaya pupuk yang
diperlukan sehingga lebih efisien adalah dengan menggunakan pupuk majemuk.
Dalam penelitian sebelumnya menyatakan bahwa perlakuan pemberian pupuk
majemuk NPK Phonska berpengaruh sangat nyata terhadap peningkataan produksi
tanaman kelapa sawit umur delapan tahun, dimana perlakuan terbaik yaitu pada
perlakuan 1,0 kg / pokok tanaman dan terdapat interaksi antara perlakuan penunasan
dengan pemberian pupuk NPK Phonska terhadap peningkataan produksi tanaman
kelapa sawit, dimana kombinasi perlakuan terbaik yaitu dengan penunasaan +
pemberian pupuk majemuk NPK Phonska 1,0 kg / pokok. (Haminin, dkk. 2012)
Dosis pupuk yang digunakan di PT. KBMS pada tanaman kelapa sawit
menghasilkan (TM) dan tanaman belum menghasilkan (TBM) pemupukan pupuk
majemuk NPK dan dolomit diaplikasikan dengan dosis sebagai berikut :
Tabel 1. Dosis pupuk tanaman kelapa sawit PT. KBMS
Umur tanaman Jumlah NPK/Pokok/Tahun Dolomit atau
(Tahun) Aplikasi NPK/ (Kg) kieserite/ Pokok/
Dolomit Tahun (Kg)
TM 3-5 2/1 3 1,5
TM 6-15 2/1 4 1,5
TM > 15 2/1 4 1,5

TBM 0 3/1 1 0,5


TBM 1 3/1 2 0,5
TBM 2 3/1 2,5 0,75
TBM 3 3/1 3 0,75
Sumber : Standar Operasional Prosedur PT. KBMS
3.Cara Pemupukan
Pengaplikasiaan pupuk sebaiknya dilakukan dengan sistem sebar/tabur pada
jarak 1.5 m dari pangkal batang karena diduga pada jarak tersebut akar aktif tanaman
(feeding root) lebih efektif dalam menyerap unsur hara dan penaburan pupuk pada

22
jarak 2.5 dari pangkal batang bertujuan untuk merangsang perkembangan akar ke
arah permukaan untuk mendapatkan hara. (PPKS, 2007)
Cara pemupukan yang digunakan di PT. KBMS adalah dengan sistem sebar
(broadcast) dimana pupuk ditabur secara menyebar dan merata pada radius 1- 2
meter dari pangkal batang kelapa sawit dan tidak dibenarkan secara bertumpuk-
tumpuk. Untuk areal topografinya miring, pupuk diaplikasikan pada sisi atas
(setengah lingkaran pokok). Kelebihan pemupukan dengan cara disebar adalah
penempatan pupuk yang merata disekitar perakaran (rhizsofer) tanaman kelapa sawit.
Tujuan penggunaan sistem ini yaitu efesiensi biaya dan memudahkan dalam
pengawasan. Pemupukan dengan sistem sebar (broadcast) mudah dan murah
dilakukan dalam pelaksanaannya tetapi tingkat pencucian pupuk lebih tinggi yang
dipengaruhi curah hujan.
4. Waktu Pemupukan
Menurut Pusat Penelitian Kelapa sawit (PPKS), waktu pemupukan disesuaikan
dengan curah hujan. Pemupukan yang optimum dilakukan pada curah hujan 100 –
200 mm/bulan, sedangkan curah hujan minimum 60mm/bulan dan maksimum 300
mm/bulan.
Pemupukan dilakukan pada curah hujan 25 mm selama dua hari berturut-turut
atau satu hari hujan dengan curah hujan 50 mm . Pada kondisi ini pupuk dapat larut
karena keadaan tanah lembab sehingga akar tanaman dapat menyerap unsur hara.
Pemupukan tidak dilakukan dalam keadaan tanah jenuh air.
Kegiatan pemupukan di PT. KBMS dilakukan dua kali dalam satu tahun,
melaksanakan rencana dan realisasi aplikasi pemupukan pada dua semester yaitu
semester I (Januari–Juni) dan semester II (September–Desember). Pada pemupukan
pertama dilakukan pada awal musim penghujan dengan tujuan dari pemupukan awal
dimusim penghujan agar meminimalisir kehiangan pupuk karena penguapan, selain
itu pupuk yang diaplikasikan dapat larut ke dalam tanah karena air hujan sehingga
akar tanaman dapat menyerap unsur hara. Sedangkan tujuan pemupukan di akhir
musim penghujan dilakukan agar tersedianya atau adanya cadangan hara di dalam
tanah yang dapat diserap tanaman selama memasuki musim kemarau. Selain itu juga

23
sebagai upaya dalam mengantisipasi tanaman dan tanah kehilangan unsur hara atau
losse pupuk.
4.3 Tandan Kosong
Tandan kosong kelapa sawit adalah limbah hasil tanaman kelapa sawit yang
tidak termasuk dalam produk utama atau merupakan hasil ikutan dari pengolahan
kelapa sawit, yang dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman kelapa sawit.
Limbah tandan kosong kelapa sawit ini berfungsi sebagai pengembalian bahan
organik kelapa sawit ke tanah dan akan menjaga pelestarian kandungan bahan
organik lahan kelapa sawit demikian pula hara tanah.
Kandungan unsur hara yang terdapat dalam tandan kosong kelapa sawit
sebagian besar mengandung unsur hara kalium. Tajuddin (2006) menyatakan bahwa
tandan kosong kelpa sawit memiliki kandungan kalium mencapai 1.46-2.41%
sehingga dengan penggunaan tandan kosong kelapa sawit diharapkan dapat
mengurangi penggunaan pupuk kalium sehingga lebih efisien biaya.
Tandan kosong kelapa sawit efektif menekan pertumbuhan, dapat menurunkan
temperatur tanah, mempertahan kelembaban tanah, menambah unsur hara tanah,
memperbaiki sturktur tanah dan membantu mengurangi dampak yang kurang baik
terhadap pertumbuhan tanaman serta produksi pada saat kemarau. Untuk areal curah
hujan tinggi, janjang kosong secara signifikan dapat mengurangi kehilangan unsur
hara melalui proses pencucian dan aliran permukaan atau menjaga terjadinya erosi
tanah.
Pada tanaman kelapa sawit di PT. KBMS tandan kosong diaplikasikan diantar
baris tanam yang bukan jalur panen atau digawang mati. Janjang kosong
diaplikasikan secara rapi dengan 1 (satu) lapis dengan luas susunan 3m x 3m, susunan
lebih dari satu lapis akan mengundang hama kumbang tanduk (Orytes rhinoceros)
untuk bersarang dan bertelur di tumpukan janjang kosong. Alat yang digunakan untuk
pengaplikasian tandan kosong yaitu gerobak angkong dan gancu serta alat pelindung
diri (APD) yang digunakan yaitu sarung tangan, masker, sepatu boots.
Langkah-langkah aplikasi janjang kosong sebagai berikut; (a). Janjang kosong
diturunkan dari mobil di suatu titik. (b). Janjang kosong dimasukkan ke dalam

24
gerobak angkong dengan bantuan alat yaitu ganju. (c). Angkong yang telah terisi
tandan kosong didorong ke titik penyusunan tandan kosong tersebut. (d) Janjang
kosong diaplikasikan diantara pokok satu dengan yang lainnya. (e). Janjang kosong
disusun secara rapi dengan 1 (satu) lapis dengan luas susunan 3m x 3m/titik.

25
V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dilapangan dan hasil diskusi bersama para
mandor dan head asissten dalam kegiatan teknis di lapangan yang dilaksanakan PT.
Ken Brothers Mulia Sejahtera, khususnya pada kegiatan pemupukan tanaman kelapa
sawit maka dapat diambil kesimpulan :
1. Jenis pupuk an-organik yang diberikan untuk tanaman kelapa sawit pada PT.
KBMS adalah Pupuk Majemuk NPK phonska N : 15%, P : 15%, dan K : 15%,
dolomit/ kieserite dan pupuk organik janjang kosong
2. Pupuk phonska yang diberikan dengan dosis TM 3-4 kg/pokok/tahun, dan
dolomit/ kieserite 1,5 kg/pokok/tahun. Untuk TBM pupuk phonska yang
diberikan 1-3 kg/pokok/tahun dan dolomit/ kieserite 0,75 kg/pokok/tahun.
Pupuk organic tandan kosong 40 ton/ha.
3. Teknik pemupukan tanaman menghasilakan di PT. KBMS menggunakan
sistem sebar (broadcast) dengan radius 1 – 2 m dari tanaman kelapa sawit dan
tidak dibenarkan bertumpuk-tumpuk.
4. Waktu aplikasi pemupukan di PT. KBMS terdiri dari dua semester yaitu
semester I (Januari–Juni) dan semester II (September–Desember). pada awal
musim hujan dan diakhir musim hujan.

5.2 Saran
1. Penentuan pemberian dosis pemupukan tanaman kelapa sawit harus sesuai
dengan kebutuahan hara tanaman kelapa sawit.
2. Peningkatan manajemen pengawasan sangat penting untuk dilakukan guna
tercapainya mutu hasil kerja yang baik dan tanaman mendapatkan unsur hara
sesuai dengan kebutuhan tanaman kelapa sawit.

26
DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Jendaral Perkebunan. 2017. Statistika Perkebunan Indonesia. Kementrian


Pertanian. Jakarta.

Haminin., Tutik. N., Purwati. 2012. Pengaruh Penunasan dan Pemberian Pupuk NPK
Phonska Terhadap Produksi Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis jacq). J.
Agrifarm. Fakultas Pertanian, Universitas Widya Gama Mahakam Jl. KH.
Wahid Hasyim, Sempaja, Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia.

Lubis, U. A. 2008. Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Publikasi PPKS.


Medan.Pardamean, M. 2017. Best Management Practice Kelapa Sawit. Lily
Publisher. Yogyakarka.

Natalia, C. M., Syarifah., dan Supijatno. Pengelolaan Pemupukan Kelapa Sawit


(Elaeis guineensis Jacq.) di Kebun Tanjung Jati. Departemen Agronomi dan
Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Pahan, I. 2012. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Manajemen Agribisnis dari Hulu
hingga Hilir. Penebar Swadaya. Jakarta.

[PPKS] Pusat Penelitian Kelapa Sawit. 2007. Budidaya Kelapa Sawit. Pusat
Penelitian Kelapa Sawit. PPKS, Medan.

PT. Ken Brothers Mulia Sejahtera. 2017. SOP.

Sulaiman. 2018. 7. Sop Pemeliharaan Fixed Edit1 diakses dalam


{https://www.scribd.com/document/389236760/7-Sop-Pemeliharaan-Fixed-
Edit1} Diakses pada tanggal 08 november 2019.

Sutedjo, M.M. 2010. Pupuk dan Cara Pemupukan. PT. Rineka Cipta. Jakarta.

Sunarko. 2007. Petunjuk Praktis Budi Daya & Pengolahan Kelapa Sawit. AgroMedia
Pustaka. Jakarta.

27
LAMPIRAN
1. Peta Admministrasi PT. KBMS Kebun Bukit Naga

28
2. Bagan Struktur Organisasi PT. KBMS

Owner

Manager

Audit

Asisten Kebun Administrasi

Mandor 1

Mandor Perawatan Mandor Panen

29
3. Kerangka Acuan Kuliah Kerja Lapangan

30
4. Jurnal Harian

31
SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda-tangan di bawah ini.


Nama Mahasiswa : INDRA RAMADAN
NIM : D1A016145
Mata Kuliah yang telah diselesaikan : 133 SKS
IPK : 3,43
Menyatakan :
1. Peserta wajib berada di lokasi selama 8 minggu berturut-turut.
2. Bahwa semester ganjil 2019 ini tidak ada mengontrak mata kuliah baik dengan
status B/U/P selain mengontrak magang dan skripsi.
3. Bersedia ditempatkan di lokasi perusahaan atau instansi pemerintah di seluruh
wilayah Indonesia.
4. Seluruh biaya yang diperlukan selama di lokasi magang ditanggung oleh
mahasiswa yang bersangkutan.

Demikian pernyataan ini dibuat untuk digunakan sebagai syarat dalam pendaftaran
Kuliah Kerja Lapangan,

Jambi, 20 Agustus 2019


Mengetahui,
Dosen Pembimbing Akademik Mahasiswa

Trias Novita,S.P.,M.Si Indra Ramadan


NIP. 197202282000032004 NIM. D1A016145

32
Lampiran 2. Jurnal Harian

JURNAL HARIAN

Halaman : …………………,dari …………………


Nama/Nim : ………………………………………….
Instansi : ………………………………………….
Pembimbing lapangan : ………………………………………….

Tanggal Jenis kegiatan Uraian Kegiatan Tanda Tangan PL

33
Lampiran 3. Jadwal Pelaksanaan Magang

Tabel 1. Jadwal pelaksanaan magang di PT. Ken Brothers Mulia Sejahtera

Bulan ke 1 Bulan 2
Jenis Kegiatan Mg 1 Mg 2 Mg 3 Mg 4 Mg 1 Mg 2 Mg 3 Mg 4
Tiba dilokasi, berkenalan
dan mendapatkan arahan
dari pihak PT. Ken
Brothers Mulia Sejahtera

Orientasi lapangan atau


melihat gambaran umum
PT. Ken Brothers Mulia
Sejahtera

Peninjauan langsung ke
kantor unit kerja

Diskusi atau interview


dengan mandor, ka.Asisten
/afdeling dan wilayah

Ikut serta dalam pelaksanaan


seluruh kegiatan di PT.
Ken Brothers Mulia
Sejahtera
Pengamatan dan mengikuti
langsung kegiatan langkah -
langkah pemupukan kelapa
sawit

Penyusunan draf laporan

Kembali ke Fakultas
Pertanian, Universitas Jambi

34
35