Anda di halaman 1dari 9

Kata Pengantar :

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena berkat Rahmat dan Hidayah-Nya jualah
kami dapat menyelesaikan tugas makalah Mengenai “Perkembangan Pers di Indonesia”.

kami berharap makalah ini nanti dapat bermanfaat bagi banyak pihak,terutama oleh para siswa SMA Negeri 1
Simpang Empat.

Kami pun menyadari bahwa tugas makalah kami ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami
berharap seluruh siswa atau pembaca dapat memakluminya. Mengingat bahwa kami masih dangkal akan ilmu.
Terutama kami minta kepahaman dari Bapak Suryadi agus atas tugas makalah kami, jika terdapat kesalahan baik itu
dari materi, pengetikan, ataupun kata-kata yang kurang tepat. Kami harapkan kemaklumannya. Mengingat kami
hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kekurangan dan kesalahan.

Kami harapkan Anda bisa memberikan kritik atau saran kepada kami. Kami ucapkan banyak terimakasih atas
semua bantuan dan kritik atau saran dari semua pihak.

Salam hormat,

Kelompok IV

• Fenny Hadiyati Ramadhani


• Imran
• Irma Aryanti
• Syahrijal
Kelas XII IPA
Perkembangan Pers di Indonesia
a.Pers Zaman Penjajahan Belanda
Sejak pemerintah penjajahan Belanda menguasai Indonesia, mereka mengetahui
dengan baik pengaruh surat kabar terhadap masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu, mereka
memandang perlu membuat undang-undang khusus untuk membendung pengaruh pers
Indonesia karena merupakan momok yang harus diperangi.

Saruhum, dalam tulisannya yang berjudul “ Perjuangan Surat Kabar Indonesia “ yang
dimuat dalam sekilas : “Perjuangan Surat Kabar”, menyatakan : “ Maka untuk membatasi
pengaruh momok ini, pemerintah Hindia Belanda memandang tidak cukup mengancamnya
saja dengan kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Setelah ternyata dengan KUHP itu saja
tidak mempan,maka diadakanlah pula artikel-artikel tambahan seperti artikel 153 bis dan
ter. 161 bis dan ter. Dan artikel 154 KUHP. Hal itupun belum dianggap cukup, sehingga
diadakan pula Persbreidel Ordonantie, yang memberikan hak kepada pemerintah
penjajah Belanda untuk menghentikan penerbitan surat kabar / majalah Indonesia yang
dianggap berbahaya “.

Tindakan lain di samping Persbreidel Ordonantie adalah Haatzai Artikelen ,karena


pasal-pasalnya mengancam hukuman terhadap siapa pun yang menyebarkan perasaan
permusuhan ,kebencian,serta penghinaan terhadap pemerintah Nederland dan Hindia
Belanda ( pasal 154 dan 155 ) dan terhadap sesuatu atau sejumlah kelompok penduduk di
Hinadia Belanda (pasal 156 dan 157 ).Akibatnya banyak korban berjatuhan, antara lain S.K.
Trimurti sampai melahirkan di penjara , bahkan ada yang sampai di buang ke Boven Digul.

Demikian juga zaman zaman pendudukan Jepang yang totsliter daan fasistis , orang –
orang surat kabar ( Pers ) Indonesia banyak yang berjuang tidak dengan ketajaman
penanya ( tulisan),melainkan menempuh cara dan jalan lain(misalnya melalui organisasi
keagamaan,pendidikan,politik,dan sebagainya). Hal ini menggambarkan bahwa kehidupan
pers ketika itu sangat tertekan.

b.Pers di masa Pergerakan


Masa pergerakan adalah masa bangsa Indonesia berada pada detik-detik terakhir
penjajahan Belanda sampai saat masuknya Jepang menggantikan belanda. Setelah muncul
pergerakan modern Budi Utomo tanggal 20 mei 1908, surat kabar yang di keluarkan
orang Indonesia lebih banyak berfungsi sebagai alat perjuangan. Pers menyuarakan
kepedihan ,penderitaan ,dan merupakan refleksi dari isi hati bangsa terjajah. Pers menjadi
pendorong bangsa Indonesia dalam perjuangan memperbaiki nasib dan kedudukan bangsa.

Beberapa contoh harian yang terbit pada masa pergerakan ,antara lain sebagai berikut :

• Harian “Sedio Tomo “ sebagai kelanjutan harian Budi Utomo yang terbit di
Yogyakarta ,didirikan bulan juni 1920.

• Harian “ Darmo Kondo ” terbit di Solo,yang dipimpin oleh Sudarya Cokrosisworo.

• Harian “ Utusan Hindia “ terbit di Surabaya, yang dipimpin oleh HOS.Cokroaminoto.


Karena sifat dan isi pers pergerakan antipenjajahan, pers mendapat tekanan dari
pemerintah Hindia Belanda. Salah satu cara pemerintah Hindia Belanda saat itu adalah
dengan memberikan hak kepada pemerintah untuk mmberantas dan menutup usaha
penerbitan pers pergerakan. Pada masa pergerakan itu berdirilah Kantor Berita Nasional
Antara pada tanggal 13 Desember 1937.

c. Pers di Masa Penjajahan Jepang


Untuk meraih simpati rakyat Indonesia, Jepang melakukan Propaganda tentang Asia
Timur Raya. Pers di masa kedudukan Jepang semata-mata menjadi alat pemerintah Jepang
dan bersifat Pro-Jepang. Beberapa harian yang muncul pada masa itu :

• Asia Raya di Jakarta

• Sinar Baru di Semarang

• Suara Asia di Surabaya

• Tjahaya di Bandung

Pers nasional masa pendudukan Jepang memang mengalami penderitaan dan


pengekangan kebebasan yang lebih daripada zaman Belanda. Namun, ada beberapa
keuntungan yang didapat oleh para wartawan atau insan pers di Indonesia yang bekerja
pada penerbitan Jepang, antara lain sebagai berikut :

• Pengalaman yang diperoleh para karyawan pers Indonesia bertambah.


• Penggunaan bahasa Indonesia dalam pemberitaan makin sering dan luas.

• Adanya pengajaran untuk rakyat agar berpikir kritis terhadap berita yang
disajikan oleh sumber-sumber resmi Jepang.

d.Pers di masa revolusi fisik


Periode revlusi terjadi antara tahun 1945 sampai 1949. Masa itu adalah masa bangsa
Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaan yang berhasil diraihnya pada tanggal
17 Agustus 1945. Pada saat itu pers terbagi menjadi dua golongan ,yaitu :

• Pers yang diterbitkan dan di usahakan oleh tentara pendudukan Sekutu dan Belanda
yang selanjutnya dinamakan Pers Nica (Belanda).

• Pers yang diterbitkan dan diusahakan oleh orang Indonesia yang disebut Pers
Republik.

Kedua golongan ini sangat berlawanan . Pers Republik disuarakan oleh kaum Republik
yang berisi semangat mempertahankan kemerdekaan dan menentang usaha pendudukan
Sekutu. Pers ini benar-benar menjadi alat perjuangan masa itu. Sebaliknya, pers Nica
berusaha mempengaruhi rakyat Indonesia agar menerima kembali Belanda untuk
berkuasa di Indonesia. Pada masa revolusi fisik inilah Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)
dan Serikat Pengusaha Surat kabar (SPS) lahir. Kedua organisasi ini mempunyai
kedudukan penting dalam sejarah pers Indonesia. Pemerintah Republik Indonesia untuk
pertama kali mengeluarkan peraturan yang membatasi kemerdekaan pers pada tahun
1948.
Untuk menangani masalah-masalah pers, pemerintah membentuk Dewan Pers pada
tanggal 17 Maret 1950. Dewan Pers tersebut terdiri dari orang-orang
persuratkabaran,cendikiawan, dan pejabat-pejabat pemerintah,dengan tugas :

• Penggantian undang-undang pers kolonial,

• Pemberian dasar sosial – ekonomis yang lebih kuat kepada pers Indonesia (artinya
fasilitas-fasilitas kredit dan mungkin juga bantuan pemerintah ),

• Peningkatan mutu jurnalisme Indonesia,

• Pengaturan yang memadai tentang kedudukan sosial dan hukum bagi wartawan
Indonesia (artinya, tingkat hidup dan tingkat gaji ,perlindungan hukum,etika
jurnalistik,dan lain-lain)

e. Pers di Era Demokrasi Liberal (1949-1959)


Di era demokrasi liberal ,landasan kemerdekaan pers adalah konstitusi Republik
Indonesia Serikat (RIS 1949) dan Undang–Undang Dasar Sementara (1950). Dalam
Konstitusi RIS–yang isinya banyak di ambil dari Piagam Pernyataan Hak Asasi Manusia
Sedunia.

Awal perbatasan terhadap kebebasan pers adalah efek samping dari keluhan para
wartawan terhadap pers Belanda dan Cina. Pemerintah mulai mencari cara membatasi
penerbitan itu karena Negara tidak akan membiarkan ideologi “asing” merongrong
Undang-Undang Dasar. Pada akhirnya pemerintah melakukan pembreidelan pers dengan
tindakan –tindakannya yang tidak terbatas pada pers asing saja.
f. Pers di Zaman Orde Lama atau Pers Terpimpin
Lebih kurang 10 hari setelah Dekrit Presiden RI yang menyatakan kembali ke UUD
1945, tindakan tekanan terhadap pers terus berlangsung, yaitu pembreidelan terhadap
kantor berita PIA dan Surat Kabar Republik, Pedoman, Berita Indonesia, dan Sin Po yang
dilakukan oleh penguasa perang Jakarta.

Pada awal 1960 ,penekanan pada kebebasan pers diawali dengan peringatan Menteri
Muda Penerangan Maladi bahwa “ langkah-langkah tegas akan dilakukan terhadap surat
kabar, majalah-majalah, dan kantor-kantor berita yang tidak menaati peraturan yang
diperlukan dalam usaha menerbitkan pers nasional”. Masih pada tahun 1960, penguasa
perang mulai mengenakan sanksi-sanksi perizinan terhadap pers. Demi kepentingan
pemeliharaan ketertiban umum dan ketenagan, penguasa perang mencabut izin terbit
Harian Republik.

Tindakan–tindakan penekanan terhadap kemerdekaan pers oleh penguasa Orde Lama


bertambah bersamaan dengan meningkatnya ketegangan dalam pemerintahan. Tindakan-
tindakan penekanan terhadap kebebasan pers merosot ketika ketegangan dalam
pemerintah menurun.Lebih-lebih setelah percetakan –percetakan diambil alih oleh
pemerintah dan para wartawan diwajibkan untuk berjanji mendukung politik pemerintah
,sehingga sangat sedikit pemerintah melakukan tindakan penekanan kepada pers.

g. Pers di Era demokrasi Pancasila dan Orde Baru


Di awal masa kepemimpinannya, pemerintahan Orde Baru menyatakan bahwa akan
membuang jauh-jauh praktik demokrasi terpimpin dan dan menggantinya dengan
Demokrasi Pancasila. Pernyataan tersebut tentu saja membuat para tokoh plitik ,kaum
intelektual,tokoh umum, tokoh pers terkemuka, dan lain-lain menyambutnya dengan
antusias sehingga lahirlah istilah pers pancasila.

Peristiwa Malari tahun1974 menyebabkan beberapa surat kabar dilarang terbit.


Pers pasca-Malari merupakan pers yang cenderung “mewakili” kepentingan penguasa
,pemerintah ,atau Negara. Pada saat itu,pers jarang, malah tidak pernah melakukan kontrol
sosial secara kritis ,tegas,dan berani. Pers pasca-Malari tidak artikulatif dan mirip dengan
zaman rezim Demokrasi Terpimpin . Perbedaannya hanya pada kemasan , yakni rezim Orde
Baru melihat pers tidak lebih dari sekedar institusi politik yang harus diatur dan dikontrol
seperti halnya dengan organisasi masa dan partai politik.

Memasuki era Orde Baru, pers menyambutnya dengan penuh suka cita, karena
pemerintah memberikan kebebasan penuh kepada pers setelah mengalami masa
traumatik selama tujuh tahun di zaman Orde Lama. Apalagi apabila pemberitaan menyoroti
masalah kebobrokan rezim Orde Lama.

h. Kebebasan pers di Era Reformasi


Kalangan pers mulai bernafas lega ketika di Era Reformasi pemerintah mengeluarkan
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan Undang-Undang
Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Kendati belum sepenuhnya memenuhi keinginan
kalangan pers, kelahiran undang-undang pers tersebut disambut gembira karena tercatat
beberapa kemajuan penting dibanding dengan undang-undang sebelumnya, yaitu Undang-
Undang Nomor 21 Tahun 1982 tentang Pokok-Pokok Pers(UUPP).

Dalam mempertanggungjawabkan pemberitaan di depan hukum, wartawan


mempunyai hak tolak yg bertujuan agar wartawan dapat melindungi sumber informasi,
dengan cara menolak menyebutkan identitas sumber informasi. Hak tersebut dapat
dipergunakan jika wartawan dimintai keterangan oleh pejabat penyidik dan/ atau dimintai
menjadi saksi pengadilan.

Pada masa reformasi ini, dengan keluarnya Undang-Undang tentang Pers, yaitu
Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, maka pers nasional melaksanakan
peranan sebagai berikut:

• Memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui dan mendapatkan informasi.

• Menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi


hukum dan hak asasi manusia, serta menghormati kebhinnekaan.

• Mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan


benar.

• Melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang


berkaitan dengan kepentingan umum.

• Memperjuangkan keadilan dan kebenaran.