Anda di halaman 1dari 7

Prosiding Seminar Nasional 2018

Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, vol. 1, 2018, ISSN:2622-0520  


 
IDENTIFIKASI BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS DENGAN
INFEKSI NOSOKOMIAL PADA SPREI DI RUANG PERAWATAN
PASCABEDAH RSUD LABUANG BAJI KOTA MAKASSAR ”

Rizki Amelia1, Nurfardiansyah Burhanuddin2


1,2
Public Health Faculty Universitas Muslim Indonesia

Corresponding author: kikiarizkiamelia@yahoo.co.id , \

Abstrak

Infeksi nosokomial merupakan suatu masalah yang nyata di seluruh dunia dan terus
meningkat. Contohnya, kejadian infeksi nosokomial berkisar dari terendah sebanyak 1% di beberapa
Negara Eropa dan Amerika hingga 40% di beberapa tempat Asia, Amerika Latin dan Sub-Sahara
Afrika.
Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik accidental sampling (sampling
peluang) atau pengambilan sampel bebas yang dipilih sesuai kriteria inklusi dan eksklusi hingga yang
menjadi sampel yaitu 3 ruangan yang masing-masing tiga ruangan tersebut terdapat dua sampel dan
menghasilkan 6 sampel.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa Identifikasi bakteri Staphylococcus aureus pada
sprei di tiga tempat tidur yatu ruang I sampel 1.1, 1.2 dan ruang III sampel 3.2 menunjukkan hasil
positif, dan ada tiga yang negative yatu ruang II sampel 2.1 dengan jenis bakteri Staphylococcus
lentus, sampel 2.2 jenis bakteri Staphylococcus hominis, dan Ruang III sampel 3.1 jenis bakteri
Micrococcus sp.
Diharapkan agar pihak Rumah Sakit agar selalu memperhatikan kebersihan ruangan dengan
melakukan pembersihan secara rutin menggunakan cairan disinfektan yang ramah lingkungan untuk
menekan jumlah bakteri atau dengan meyediakan cairan antiseptik di setiap pintu laboratorium
khususnya bagi perawat yang terkontaminasi oleh pasien begitupun sebaliknya.

Kata Kunci: Infeksi Nosokomial, sprei, Staphylococcus aureus

PENDAHULUAN
Rumah sakit merupakan tempat maupun dari pengunjung yang berstatus karier.
pengobatan, rawat inap, rawat jalan dan Kuman penyakit ini dapat hidup dan
berbagaiaktivitas lainnya sebagai pelayanan berkembang di lingkungan rumah sakit, seperti
kesehatan dan merupakan tempat bekerjanya udara, air, lantai, makanan dan benda-benda
paratenaga kerja baik medis maupun non peralatan medis maupuu non medis. Jadi
medis yang mempunyai potensi bahaya infeksi yang mengenai seseorang dan infeksi
yangsangat berisiko.Pekerja medis di rumah tersebut diakibatkan pengaruh dari lingkungan
sakit seperti dokter, suster/perawat, Rumah sakit disebut infeksi nosokomial
apoteker,dan lain lain.Sedangkan pekerja non (Ratna Nugraheni, dkk, 2012).
medis di rumah sakit seperti pekerja Infeksi nosokomial merupakan suatu
administrasi, pekerjaoffice boy/girl, pekerja masalah yang nyata di seluruh dunia dan terus
laundry dan lain-lain (Mentari,dkk, 2016). meningkat. Contohnya, kejadian infeksi
Rumah sakit selain untuk rnencari nosokomial berkisar dari terendah sebanyak
kesembuhan juga merupakan sumber dari 1% di beberapa Negara Eropa dan Amerika
berbagai penyakit, yang berasal dari penderita hingga 40% di beberapa tempat Asia, Amerika
Seminar Nasional Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (SMIPT),  
9-10 April 2018 272  
 
 
Prosiding Seminar Nasional 2018
Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, vol. 1, 2018, ISSN:2622-0520  
 
Latin dan Sub-Sahara Afrika. Pada tahun makanan.Bakteri jenis ini dapat diisolasi dari
1987, suatu survei prevalensi meliputi 55 material klinik, carriers, makanan, dan
rumah sakit di 14 negara berkembang empat lingkungan (kuswiyanto, 2016).
wilayah WHO (Eropa, Mediterania Timur, Peningkatan mutu pelayanan dapat
Asia Tenggara, dan Pasifik Barat) menemukan dilaksanakan melalui pengembangan sarana
rata-rata 8,7% dari seluruh pasien rumah sakit dan prasarana rumah sakit, pengadaan
menderita infeksi nosokomial. Jadi pada setiap peralatan, dan ketenagaan serta
saat, terdapat 1,4 juta pasien di seluruh dunia perangkatlainnya, termasuk pengelolaan
terkena komplikasi infeksi yang didapat di kebutuhan dan persediaan linen di ruang rawat
rumah sakit. inap rumahsakit.Rumah sakit sebagai suatu
Prevalensi infeksi nosokomial di sistem terpadu terdiri dari berbagai subsistem
Indonesia sebesar 7,1%. Pasien bedah yangpaling terkait. Subsistem yang
merupakan pasien yang mempunyai risiko bertanggung jawab terhadap pengelolaan linen
tinggi untuk mendapatkan infeksi nosokomial. adalahbagian laundry, mulai dari perencanaan,
Angka pencemaran tertinggi terdapat pada pencucian linen kotor menjadi linen bersih
ruang penyakit dalam dengan nilai yangdapat membuat pasien nyaman dan
pencemaran sebesar 19–300 CFU/15'. Ruang mencegah penyebaran infeksi (Mentari
rawat inap penyakit dalam dan pasien pasca Mungesti, dkk, 2016).
bedah Rumah Sakit X Kota Semarang Hal ini dipertegas dengan Keputusan
memiliki 2 kelas yaitu kelas II dan kelas III. Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Penelitian bertujuan mengetahui perbedaan Nomor1204/Menkes/Sk/X/2004 tentang
kuman total udara antara kelas II dan kelas III persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit
serta mengidentifikasi Staphylococcus aureus bahwadalam perlakuan terhadap linen
dalam ruang rawat inap. dilakukan pengumpulan (pemilahan,
Penelitian yang dilakukan di RSUP pemberian labelberdasarkan jenisnya),
Dr. Wahidin Sudiro Husodo Makassar pengeringan, penyetrikaan, penyimpanan dan
menemukan kuman penyebab utama infeksi pendistribusian.
nosokomial didalam ruang perawatan bedah Menurut Keputusan Menteri Kesehatan
terutama yaitu Staphylococcus aureus yang Republik Indonesia Nomor
berasal dari saluran pernapasan bagian atas, 432/Menkes/SK/IV/2007 tentang pedoman
hidung dan tenggorokan perawat yang dapat manajemen dan keselamatan kerja di Rumah
berperan sebagai sumber penularan (Abdullah Sakitbagian III Sistem Manajemen Kesehatan
dan Hakim, 2011). Dan Keselamatan Kerja (K3) Rumah Sakitsub
Staphylococcus berasal dari kata bagian “B”, bagian laundry merupakan bagian
staphylo yang berarti kelompok buah anggur dari rumah sakit yang mempunyaibahaya
dan coccus yang berarti bulat dan tergolong potensial fisik, kimia, biologi, ergonomi dan
bakteri gram positif.Di bawah mikroskop, psikososial pada pekerjanya. Bahayapotensial
bakteri ini berbentuk bulat serta bergerombol fisik seperti kebisingan, lalu bahaya potensial
seperti sekelompok buah anggur.Genus kimia seperti penggunaan deterjenatau bahan
staphylococcus mencakup 31 spesies yang kimia lainnya untuk mencuci, kemudian
kebanyakan tidak berbahaya, menetap dikulit bahaya potensial biologi sepertiinfeksi dari
dan selaput lendir (membrane mukosa) baju yang telah digunakan oleh pasien
manusia serta organism lainnya.Bakteri ini penderita penyakit infeksi selanjutnyabahaya
juga mecakup mikroba tanah dan dapat ergonomi seperti pekerjaan yang dilakukan
ditemui di seluruh dunia (Kuswiyanto, 2016). dengan postur yang salah dalammelakukan
Bakteri jenis ini sering di ditemukan pekerjaannya dan yang terakhir bahaya
sebagai kuman flora normal pada kulit dan psikososial seperti beban kerja yang
selaput lendir manusia.Akan tetapi, bakteri ini berlebihan (Mentari Mungesti, dkk, 2016).
juga dapat menjadi penyebab infeksi, baik Linen kotor merupakan sumber
pada manusia maupun hewan.Beberapa jenis kontaminasi penting di rumah sakit. Meskipun
bakteri ini dapat menghasilkan enterotoksin linen tidak digunakan secara langsung dalam
yang dapat menyebabkan keracunan proses pengobatan namun dapat dilihat

Seminar Nasional Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (SMIPT),  


9-10 April 2018 273  
 
 
Prosiding Seminar Nasional 2018
Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, vol. 1, 2018, ISSN:2622-0520  
 
pengaruhnya bila penanganan linen tidak Dalam penelitian ini yang menjadi
dikelola dengan baik akan mengakibatkan populasi adalah semua tempat tidur di ruang
terjadinya penularan penyakit yaitu melalui perawatan pascabedah.Pemilihan
infeksi nosokomial. Tujuan penelitian adalah sampeldilakukan denganmenggunakan
untuk mengetahui perbedaan angka kuman teknikaccidental sampling (sampling peluang).
pada linen setelah proses akhir (penyetrikaan) Karena hanya 6 yang terdeteksi dari 4 ruangan
di ruang Laundry dan setelah pendistribusian tersebut menurut penelitian dari hasil
di ruang perawatan RSUD Tugurejo laboratorium dengan kriteria inklusi dan
Semarang(Yunita, 2008). eksklusi.
Angka kuman dan keempat faktor Teknik pengambilan sampel dalam
(pencahayaan, suhu, kelembaban) lingkungan penelitian ini dengan menggunakan
fisik merupakan sebagian dari beberapa Accidental Sampling (sampling
Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah peluang),dimana setiap seseorang diambil
Sakit yang diatur oleh Menteri Kesehatan. sebagai sampel karena hanya 6 yang terdeteksi
Mikroorganisme dapat terhembuskan dalam bakteri dari 4 ruangan tersebut menurut
bentuk percikan dari hidung dan mulut penelitian hasil laboratorium.
misalnya selama bersin, batuk dan bahkan saat
bercakap-cakap. Titik-titik air yang HASIL DAN PEMBAHASAN
terhembuskan dari saluran pernapasan
mempunyai ukuran yang beragam dari Hasil identifikasi bakteri
micrometer sampai millimeter. Staphylococcus aureus pada Sprei tempat tidur
METODE PENELITIAN di ruang perawatan pascabedah RSUD
Jenis penelitian yang digunakan Labuang Baji. Penelitian yang dilakukan pada
adalah kuantitatif dengan pendekatan tanggal 19 September 2017 untuk
deskriptif dan menggunakan analisis mengidentifikasi jenis bakteri staphylococcus
laboratorium yang bertujuan untuk aureus menggunakan analisa laboratorium.
mengidentifikasi bakteri staphylococcus Pengambilan sampel dilakukan pada Sprei
aureus sprei di RSUD Labuang Baji.Penelitian tempat tidur di tiga ruangan perawatan
ini dilakukan di ruang rawat pascabedah pascabedah yang berbeda masing-masing
Rumah Sakit Umum Labuang Baji, ruangan I sampel 1.1 dan 1.2, ruangan II
selanjutnya uji labolatorium mikrobiologi sampel 2.1 dan 2.2, dan ruangan III sampel 3.1
dilakukan di Balai Besar Laboratorium dan 3.2 dengan hasil pemeriksaan dapat dilihat
Kesehatan Makassar. pada tabel berikut:

Tabel 5.1 HasiL Pemeriksaan Identifikasi Bakteri Staphylococcus aureus pada sprei Tempat
Tidur Ruang Perawatan Pasca Bedah di RSUD Labuang Baji
Hasil Identifikasi Bakteri
NO Ruang Sampel Jenis bakteri Ket
Staphylococcus aureus
1 RI 1.1 Positif - TMS
1.2 Positif - TMS
2 R II 2.1 Negatif Staphylococcus lentus TMS
2.2 Negatif Staphylococcus hominis TMS
3 R III 3.1 Negatif Micrococcus sp TMS
3.2 Positif - TMS
Sumber : Data Primer 2017

Tabel 5.1 menunjukkan bahwa negative yatu ruang II sampel 2.1 dengan jenis
Identifikasi bakteri Staphylococcus aureus bakteri Staphylococcus lentus, sampel 2.2 jenis
pada sprei di tiga tempat tidur yatu ruang I bakteri Staphylococcus hominis, dan Ruang III
sampel 1.1, 1.2 dan ruang III sampel 3.2 sampel 3.1 jenis bakteri Micrococcus sp.
menunjukkan hasil positif, dan ada tiga yang

Seminar Nasional Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (SMIPT),  


9-10 April 2018 274  
 
 
Prosiding Seminar Nasional 2018
Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, vol. 1, 2018, ISSN:2622-0520  
 
Secara keseluruhan jumlah sampel akibat superantigen yang dilepaskan ke aliran
yang diperiksa diperoleh hasil bahwa ada 3 darah.
sprei tempat tidur yang positif ditemukan Penelitian lain dilakukan Abdul dan
bakteri Staphylococcus aureus. Serta
Tahir (2011) Mikroorganisme yang paling
ditemukan ada tiga bakteri yang berbeda pada banyak ditemukan di rumah sakit, khususnya
sprei tempat tidur lainnya yaitu
di ruang-ruang perawatan intensif pada luka
Staphylococcus lentus, Staphylococcus
operasi pasien-pasien pada hari ke-3 dan ke-6
hominis, dan Micrococcus sp. pascaoperasi adalah Klebsiella pneumonia,
Hal ini sesuai dengan penelitian yang Staphylococcus aureus, staphylococcus
dilakukan oleh sNurvita, dkk (2012) tentang epidermis, Acinetobacter calcoaciticus,
pemeriksaan bakteri staphylococcus aureus di Enterobacter agglomerans, Enterobacter
ruang rawat inap rumah sakit X Kota aerogenes, pseudomonas aeruginosa, dan
Semarang. Staphylococcus aureus merupakan Alkaligenes faecalis
satu patogen terpenting yang paling luas Penelitian yang dilakukan Efrida, dkk
penyebarannya di rumah sakit.S.aureus (2012) Bakteri terbanyak kedua pada ruang
merupakan sebagian permasalahan dalam rawat inap bedah adalah bakteri Gram positif
keperawatan.S.aureus merupakan penyebab kokus yaitu Stapylococcus epidermidis
infeksi yang relative ringan sampai yang dapat (21.95%).Karena bakteri ini merupakan flora
mengancam jiwa. Infeksi yang relative ringan normal pada kulit maka hampir setiap orang
antara lain infeksi kulit dan otitis media. mempunyai bakteri ini pada kulit, hidung atau
Infeksi yang mengancam jiwa antara lain tenggorokan.Infeksi oleh Staphylococcus
pneumonia, bakteremia, dan endo karditis. epidermidis biasanya sulit disembuhkan
Infeksi S.aureus dapat juga disebabkan oleh karena beberapa strainnya telah menjadi
kontaminasi langsung pada luka, misalnya resistensi terhadap sebagian besar antibiotic
pada infeksi luka pasca bedah atau infeksi (multiresisten).Selain Pseudomonas sp.,
setelah trauma. bakteri batang Gram negative Klebsiella sp.
S..aureusdapat menyebabkan berbagai merupakan bakteri terbanyak ketiga baik pada
macam infeksi. S. aureus menyebabkan lesi ruang rawat inap bedah (14.63%) maupun
superficial pada kulit (bisul, tembel di mata) kebidanan (16.67%).
dan abses yang bersifat local di beberapa Dilakukan penelitian, dalam ruang
tempat lain, S. aureus juga dapat menyebabkan perawatan bedah RSUDP Dr. Wahidin
infeksi profunda seperti osteomielitis,
Sudirohusodo Makassar ditemukan
endokarditis, dan infeksi kulit yang berbahaya Staphylococcus aureus, kuman penyebab
(furunkulosis), S. aureus merupakan penyebab utama infeksi nosokomial yang berasal dari
utama terjadinya infeksi nosokomial akibat saluran pernapasan bagian atas.Kuman ini
tindakan bedah, dan bersama Staphylococcus ditemukan pada tangan, hidung, dan
epidermidis, menyebabkan infeksi yang tenggorokan perawat yang dapat berperan
berhubungan dengan penanganan medis yang sebagai sumber penularan. Selain
tidak tepat, S.aureus melepasakan enterotoxin Staphylococcus aureus ditemukan juga
yang menyababkan keracunan makanan, S. beberapa kuman lain seperti pseudomonas sp,
aureus menyebabkan Toxic shock syndrome E. coli, Enterobacter sp, Proteus sp, Klebsiella
sp, dan Bacillus sp (Abdul dan Tahir, 2011).
Tabel 5.2Hasil Pemeriksaan Suhu Udara pada RuangPerawatanPasca Bedah di RSUD
Labuang Baji

Suhu Standar
No Ruangan Ket
Ketetapan
1 Ruang I 30,6ºC TMS
2 Ruang II 30,4ºC TMS
18-30ºC
3 Ruang III 31ºC TMS
Rata-rata 30,7ºC TMS
Sumber : Data Primer 2017

Seminar Nasional Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (SMIPT),  


9-10 April 2018 275  
 
 
Prosiding Seminar Nasional 2018
Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, vol. 1, 2018, ISSN:2622-0520  
 
Berdasarkan tabel 5.2 dapat dilihat ini menunjukkan kelembaban udara pada
bahwa suhu udara yang didapatkan pada ruang ruang perawatan tersebut dikategorikan
perawatan pasca bedah adalah 30,7ºC, hasil memenuhi syarat sesuai dengan Kepmenkes
menunjukkan bahwa suhu udara pada ruang Nomor 1077/MENKES/SK/V/2011 yang
perawatan pasca bedah tidak memenuhi syarat mana ambang batas yang ditetapkan adalah
dengan baku mutu yang ditetapkan 18-30 ºC. 40-60%.
Standar suhu berdasarkan Kepmenkes
Nomor 1077/MENKES/SK/V/2011 tentang Tabel 5.4
persyaratan lingkungan yang meliputi standar Hasil Pemeriksaan Pencahayaan
suhu yaitu 18-30ºC. berdasarkan hasil padaRuang Perawatan Pasca Bedah di
pengukuran suhu pada tiga ruang perawatan RSUD Labuang Baji
pasca bedah maka rata-rata pada hasil No
Ruanga Pencah Standar
Ket
pengukuran suhu tidak memenuhi syarat yaitu n ayaan Ketetapan
30,7 ºC Ruang
1 72 Lux TMS
Hal ini sesuai dengan penelitian I
(Emmi, dkk, 2016) dapat terjadi karena suhu Ruang
2 40 Lux 100-200 TMS
ruang akan mengalami kenaikan sedikit demi II
Lux
sedikit seiring dengan bertambahnya Ruang
3 75 Lux TMS
intensitasi sinar matahari yang masuk ke III
dalam ruangan. Banyaknya penunggu dalam Rata-rata 62 Lux TMS
ruang perawatan mempengaruhi suhu dalam Sumber: Data Primer 2017
ruangan terlebih lagi ruang perawatan tidak Berdasarkan tabel 5.4 dapat dilihat
dilengkapi dengan AC maupun kipas angin. bahwa Pencahayaan yang didapatkan pada
Hal ini sejalan dengan penelitian yang ruang perawatan pasca bedah adalah 62 lux,
dil-akukan An-Nafi’ (2009) dimana hasil hasil menunjukkan bahwa tingkat pencahyaan
pengukuran suhu ruangan pada ruang pada ruang perawatan pasca bedah tidak
perawatan kelas III tidak sesuai standar yakni memenuhi syarat dengan baku mutu yang
rata-rata hasil pengukuran 30,8ºC sebanyak 7 ditetapkan 100-200 lux.
ruang rawat inap. Berdasarkan standar pencahayaan
Tabel 5.3Hasil PemeriksaanKelembaban yang dipersyaratkan oleh permenkes nomor
Udara padaRuang PerawatanPasca 1204/Menkes/Sk/X/2004 mensyaratkan bahwa
Bedahdi RSUD Labuang Baji indeks pencahayaan di ruangan perawatan
Ruang Kelemb Standar yaitu 100-200 Lux. Sehingga Hasil
No Ket
an aban Ketetapan pengukuran pencahayaan pada masing-masing
Ruang ruangan dikategorikan tidak memenuhi syarat
1 57% MS
I yaitu 62 lux.
Ruang Hal ini sesuai dengan penelitian yang
2 57% MS
II 40-60% dilakukan oleh (Abdul dan Tahir, 2016) Hal
Ruang ini dapat terjadi karena kurangnya
3 56% MS
III pencahayaan buatan di dalam ruang
Rata-rata 57% MS perawatan. Perawatan I maupun perawatan II
Sumber: Data Primer 2017 hanya menggunakan satu lampu yang terletak
Berdasarkan tabel 5.3 dapat dilihat di tengah-tengah langit langit ruang
bahwa Kelembaban udara yang didapatkan perawatan. Disamping itu ditemukan tempat
pada ruang perawatan pasca bedah adalah lampu yang berukuran panjang sebanyak
57%, hasil menunjukkan bahwa tingkat empat yang terletak di setiap sisi langit-langit
kelembaban pada tiga ruang perawatan pasca tetapi keempat lampu tersebut tidak digunakan
bedah memenuhi syarat dengan baku mutu dan terlihat using atau tidak terurus.
yang ditetapkan 40-60%. Penelitian ini sejalan dengan
Berdasarkan hasil pengukuran rata- penelitian yang dilakukan Indriani (2009)
rata kelembaban udara pada tiga ruangan dalam hasil analisis menunjukkan bahwa
memiliki nilai kelembaban udara 57%. Hal kondisi pencahayaan pada ruang rawat inap

Seminar Nasional Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (SMIPT),  


9-10 April 2018 276  
 
 
Prosiding Seminar Nasional 2018
Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, vol. 1, 2018, ISSN:2622-0520  
 
Rumah Sakit Darmo dan Rumah Sakit St. Udara Ruangan di Rumah Sakit
Vincentius A. Paulo belum memenuhi standar Umum Haji Makassar, Sulawesi
sehingga perlu dilakukan beberapa cara untuk Selatan. Kesmas: Jurnal Kesehatan
mengiptimalkan tingkat pencahayaan, meli- Masyarakat Nasional. Makassar.
puti : penggantian bahan dan warna dinding Agsa, dkk.2012. Distribusi Kebersihan Tempat
serta lantai dengan warna yang lebih cerah, Tidur dan Sprei Respionden pada
penurunan plafon menggunakan drop ceiling, Kelurahan Denai Kecematan Medan
penggunaan warna perabot dengan warna yang Denai Kota Medan. Fakultas
lebih terang, penggunaan lampu TL 28-36W Kesehatan Masyarakat. Universitas
soft white dan lam-pu downlight 26W. Sumatra Utara. Medan
Agar pencahayaan di dalam ruangan Anastashia, dkk.2015. Pola Bakteri Penyebab
dapat memenuhi standar yang dipersyaratkan Infeksi Nosokomial pada Ruang
yaitu dengan cara membuka jendela lebar- Perawatan Intensif Anak di Blu RSUP
lebar dan bila perlu ditambah pencahayaan Prof. Dr.R.D Kandou
buatan seperti lampu dinyalakan pada siang Manado.Fakultas Kedokteran
hari apabila dalam ruangan masih kurang Universitas Sam Ratulangi Manado.
terang (Abdul dan Tahir, 2016). Manado.
Hal ini sesuai dengan penelitian yang Armin, dkk.2015. Gambaran Higiene Pribadi
dilakukan oleh Adina (2014) mengenai dan Keluhan Gangguan Kulit Pada
keberadaan bakteri udara pada ruang rawat Santriwati di Pondok
inap yang menyatakan bahwa cahaya matahari PesantrenAssalaam Tuminting Kota
secara langsung dapat menghambat Manado. Fakultas Kesehatan
pertumbuhan kuman sebab kuman sangat Masyarakat. Universitas Sam
menyukai kondisi gelap tetapi ada beberapa Ratulangi. Manado
kuman tertentu yang dapat hidup pada cahaya Baharuttan, Anastashia. 2015. Pola Bakteri
dan suhu yang tinngi. Penyebab Infeksi Nosokomial pada
Ruang Perawatan Intensif Anak di
KESIMPULAN Blu RSUD Prof. DR. R. D Kandou
1. Hasil identifikasi jenis bakteri Manado. Fakultas Kedokteran.
Staphylococcus aureus yang terdapat pada Universitas Sam Ratulangi. Manado.
sprei tempat ditemukan 3 sampel yang Betty Septiari. 2012. Infeksi Nosokomial.
positif, dan 3 lainnya negative yaitu Nuha Medika Yogyakarta.
bakteri Staphylococcus lentus, Cahyadi, Dwi. 2011. Pengukuran Lingkungan
Staphylococcus hominis, dan Micrococcus Fisik Kerja Dan Workstation Di
sp. Kantor Pos Pusat Samarinda.
2. Hasil pengkuran Suhu pada ruang Departemen Kesehatan RI. 2004. Tentang
perawatan bedah RSUD Labuang Baji Pedoman Manajemen Linen di Rumah
menunjukkan hasil tidak memenuhi syarat Sakit: Jakarta.
yaitu 30,7ºC Dewi Chandra Asmarhany. 2014. Pengelolaan
3. Hasil pengkuran kelembaban pada ruang Limbah Medis Padat Di Rumah Sakit
perawatan bedah RSUD Labuang Baji Umum Daerah Kelet Kabupaten
menunjukkan masih memenuhi syarat Jepara. Fakultas Ilmu Keolahragaan.
yakni hasil yang diperoleh 57%. Universitas Negeri Semarang.
4. Hasil pengkuran pencahayaan pada ruang Ismita, Uyuun Wiji, dkk., 2016. Analisis
perawatan pasca bedah menunjukkan hasil Keberadaan Bakteri pada Handphone
tidak memenuhi syarat yakni hasil yang dan Praktik Hygiene Siswa SMAN 12
diperoleh 62 Lux. Makassar. Universitas Hasanuddin.
Makassar.
DAFTAR PUSTAKA Jayanti Lisa, dkk, 2016. Kesehatan
Lingkungan Udara Ruang Rawat Inap
Abdullah, M. T., & Hakim, B. A. (2011). Rumah Sakit Syekh Yusuf Kabupaten
Lingkungan Fisik dan Angka Kuman Gowa. Fakultas Kesehatan

Seminar Nasional Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (SMIPT),  


9-10 April 2018 277  
 
 
Prosiding Seminar Nasional 2018
Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, vol. 1, 2018, ISSN:2622-0520  
 
Masyarakat. Universitas Islam Negri Metode Difusi Agar. Fakultas
Alauddin. Makassar Farmasi. Universitas Padjadjaran
Josefine D Sahilatua, dkk. 2014. Kualitas Jatinangor.
Udara Beberapa Ruang Perpustakaan Sabarguna B, S. Rubaya A, K. 2004. Sanitasi
Di Universitas Sam Ratulangi Lingkungan dan Bangunan
Manado Berdasarkan Uji Kualitas Pendukung Kepuasan pasien Rumah
Fisika.Fakultas Kedokteran Sakit. Salemba Medika.
Universitas Sam Ratulangi Manado. Warganegara Efrida, dkk. 2012. Identifikasi
Keputusan Menteri kesehatan RI.No. Bakteri Penyakit Infeksi Luka Operasi
1204/MENKES/SK/X/2004.Tentang (ILO) Nosokomial Pada Ruang Rawat
Persyaratan Kesehatan Lingkungan Inap Bedah dan Kebidanan RSAM di
Rumah Sakit. Bandar Lampung. Fakultas
Kuswiyanto. 2016. Bakteriologi 2 Buku Ajar Kedokteran Universitas Lampung.
Analisis Kesehatan: Jakarta. Bandar Lampung
Kuswiyanto, 2015. Bakteriologi 1 Buku Ajar Widiastuti Ani. 2014. Kondisi Lingkungan
Analisis Kesehatan: Jakarta Personal Higiene dengan Kejadian
Mentari, M,.dkk. 2016. Gambaran Pengelolaan Penyakit Kulit di Asrama Pondok
Linen di Bagian Laundry RSPAU Dr. Pesantren “A” Kabupaten Bekasi.
Suhardi Hardjolukito Yogyakarta. Departemen Kesehatan Lingkungan.
Prodi Kesehatan Lingkungan.STIKES Fakultas Kesehatan Masyarakat.
WIRAHUSADA Universitas Indonesia. Bekasi
Yogyakarta.Yogyakarta. Wilkansari Nurvita, 2012. Pemeriksaan Total
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1096 Kuman Udara dan Staphylococcus
MENKES/PER/VI/2011 tentang yang aureus di Ruang Rawat Inap Rumah
Disajikan dalam Persyaratan Peralatan Sakit Kota X Semarang. Fakultas
Makanan Kedehatan Masyarakat. UNDIP.
Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Semarang.
1077/MENKES/SK/V/2011 tentang Yunita.2015. Pemeriksaan Angka Kuman
Pedoman Penyehatan Udara Dalam Udara Pada Ruang Perinatologi
Ruang Rumah Rumah Sakit Islam PKU
Ratna N. dkk.2012. Infeksi Nosokomial di Muhammadiyah
RSUD Setjonegoro Kabupaten Palangkaraya.Palangkaraya:
Wonosobo. Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah
Masyarakat Universitas Diponegoro. Palangkaraya.
Wonosobo. Yunita, S. B. 2008. Studi Pengelolaan Linen di
Rissanty S, D. 2016. Hubungan antara RSUD Tugurejo Semarang. Fakultas
kualitas fisik dan mikrobiologi udara Kesehatan Masyarakat. Universitas
dengan keluhan sick building Dian Naswantoro: Semarang.
syndrome pada unit cutting dan swing
PT. Sal apparel industries semarang
tahun 2016. Fakultas Kesehatan
Masyarakat. Universitas Dian
Nuswantoro. Semarang.
Ramadhon, S, dkk. 2014. Pengaruh
Lingkungan Kerja Fisik Terhadap
Produktivitas Kerja. Universitas Bina
Darma.
Rostinawati, T. 2009. Aktivitas Antibakteri
Ekstrak Etanol Bunga Rosella
(Hibiscus Sabdariffa L.) terhadap
Escherichia coli, Salmonella thypi
dan Staohylococcus aureus dengan

Seminar Nasional Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (SMIPT),  


9-10 April 2018 278